-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 09

Jilid 09

Wiradana tidak dapat ingkar. Maka ia pun berusaha untuk memberikan jawaban. “Gandar, kami sudah berusaha sejauh-jauh dapat kami lakukan. Ayah sudah membentuk sepasukan pengawal khusus dan aku sendiri telah menjelajahi bukan saja Tanah Perdikan ini, tetapi padukuhan-padukuhan disekitarnya. Namun kami belum menemukan petunjuk apapun. Bagi kami, Iswari seakan-akan hilang begitu saja tanpa jejak.”

Namun tanpa diduga Gandar menjawab, “Itu tidak mungkin Ki Wiradana. Tidak ada orang yang dapat lenyap begitu saja. Tentu ada sebabnya. Juga Iswari.”

Wiradana menjadi berdebar-debar. Ia menyangka bahwa Gandar dapat bersikap demikian. Namun kemudian jawabnya, “Maksudmu Gandar, Iswari telah hilang dan sampai sekarang tidak dapat diketemukan.”

“KI Wiradana,” berkata Gandar kemudian, “Bagi Kiai Badra, Iswari adalah orang yang sangat penting. Kelangsungan hidup keturunan Kiai Badra tergantung kepada Iswari. Jika Iswari itu benar-benar hilang dan tidak diketemukan, berarti kelangsungan keturunan Kiai Badra terputus. Dan nama darah keturunan Kiai Badra pun akan terhapus dari muka bumi.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku mengerti Gandar. Dan sebenarnyalah kami belum berhenti berusaha. Duapuluh lima orang pengawal yang aku latih secara khusus telah berusaha untuk mencari. Tetapi sampai sekarang masih belum berhasil seperti yang dikatakan oleh Wiradana itu.”

Karena yang menjawab Ki Gede maka Gandar pun hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia bertanya, “Ki Gede. Karena itu, apakah aku diperkenankan untuk berada di Tanah Perdikan ini barang dua tiga hari. Siapa tahu, justru pada saat aku berada disini, maka Iswari dapat diketemukan.” “O, silakan. Silakan Gandar. Kau dapat berada di Tanah Perdikan ini berapa hari saja kau kehendaki. Selama kau berada di Tanah Perdikan ini, maka kau dapat tinggal di rumah ini,” jawab Ki Gede.

“Terima kasih Ki Gede,” berkata Gandar kemudian. “Mudah-mudahan anak-anak muda Sembojan itu dapat menemukan jejaknya. Apapun yang terjadi atas Nyai Wiradana, namun jika kami sudah mendapat kejelasan, maka rasa-rasanya kami akan dapat menjadi tenang.”

“Ya, ya Gandar,” jawab Ki Gede. “Perasaan yang demikian itu dapat mengerti. Karena itu, maka kami akan berusaha sebaik-baiknya.”

Demikianlah, maka Gandar pun telah tinggal untuk beberapa lamanya di Tanah Perdikan Sembojan. Sementara itu, anak-anak muda yang duapuluh lima orang yang mendapat tempaan khusus dari Ki Gede itu telah mendapat perintah ulangan, mencari Nyai Wiradana karena Gandar ada di Tanah Perikan itu.

“Kalian jangan mencari Nyai Wiradana sebagai mencari orang secara watah,” pesan Ki Gede. “Kalian harus mencarinya dengan mencari jejak, mengurai pengamatan dan kemudian mengambil kesimpulan.

Anak-anak muda itu mengerti. Dan mereka pun kemudian telah berpencar mencari jejak. Mereka bertanya kepada siapa saja yang mungkin akan dapat memberikan petunjuk atau siapakah yang telah melihat Iswari untuk yang terakhir kalinya.

Tidak ada orang yang dapat memberikan keterangan. Sehingga dengan demikian maka jalur penyelidikan pun telah terputus.

Dalam pada itu, Wiradana sendiri juga kelihatan bertambah sibuk. Namun dengan demikian ia semakin sering tidak berada di rumah. Dengan alasan mencari jejak Iswari yang telah hilang itu, maka ia pun lebih sering berada di rumah Warsi. “Kehadiran orang itu sangat memuakkan,” berkata Wiradana kepada istrinya yang cantik itu.

“Tetapi ia tamu kakang. Bagaimanapun juga tamu itu harus dihormati,” berkata istrinya itu.

“Aku akan menghormati tamu yang memang pantas dihormati. Tetapi tamu yang seorang ini tidak,” jawab Wiradana.

Istrinya tidak menjawab lagi. Sebenarnyalah bahwa Warsi sendiri juga merasa muak mendengar nama Gandar itu disebut-sebut.

Namun, kehadiran Gandar memang bukan sekadar untuk mencari atau dengan kehadirannya, maka Tanah Perdikan Sembojan telah dibuatnya bagaikan diguncang lagi. Tetapi memang ingin berbicara dengan Ki Gede tanpa diketahui oleh siapapun juga, termasuk Wiradana. Adalah kebetulan sekali bahwa Ki Wiradana terlalu sering meninggalkan rumahnya, sehingga kesempatan itu sebenarnya cukup luas. Tetapi agaknya Ki Gede sendiri, yang merasa bersalah atas hilangnya Iswari,

lebih banyak mengarahkan perhatiannya kepada anak-anak muda yang sedang mencari jejak itu. Bahkan sekali dua kali, Ki Gede pernah ke luar pula dari halaman

rumahnya untuk bersama-sama dengan anak-anak muda itu melihat-lihat diseputar Tanah Perdikan. Meskipun kaki dan tangannya mengalami kelemahan, namun Ki Gede masih dapat duduk di atas punggung kuda. Dengan pertolongan seseorang Ki Gede naik dan duduk di atas punggung kuda, kemudian dengan tangannya yang lemah, Ki Gede masih mampu menggerakkan kendali.

Namun Ki Gede sendiri itu pun tidak pernah menemukan jejak apapun. Sementara itu, Gandar telah berusaha untuk mendapat kesempatan berbicara langsung tanpa ada orang lain. Tetapi ternyata kesempatan yang dirasanya cukup luas itu sulit dicarinya. Setiap mereka duduk di pendapa, ada saja orang lain

yang ikut duduk bersamanya. Jika bukan Wiradana, sekali-kali juga para bebahu Tanah Perdikan itu, atau bahkan Ki Gedelah yang kemudian minta diri untuk melakukan sesuatu.

Tetapi Gandar telah bertekad untuk menunggu kesempatan itu yang ia yakin pada satu saat pasti didapatkannya. Tetapi sudah barang tentu Gandar tidak akan dapat menyusul Ki Gede yang sedang duduk merenung di dalam biliknya atau sedang berbincang dengan anak-anak muda yang telah ditempanya secara khusus.

Namun Gandar cukup sabar. Meskipun ia sudah sepekan berada di Tanah Perdikan Sembojan, tetapi karena ia masih belum sempat berbicara langsung dengan Ki Gede tanpa orang lain, maka ia masih juga belum berniat untuk meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan.

Bahkan rasa-rasanya Gandar ingin mencoba berbicara dengan Ki Gede justru di perjalanan pada saat-saat Ki Gede berkeliling Tanah Perdikan untuk mencari jejak. Meskipun Gandar tahu, bahwa yang dicari Ki Gede bukan sekadar Nyai Wiradana yang hilang, tetapi juga mencari kemungkinan adanya orang-orang yang

mengganggu Tanah Perdikan karena dendam mereka atas terbunuhnya Kalamerta. Sebenarnya Ki Gede sendiri telah dibakar oleh perasaan dendam terhadap para pengikut Kalamerta, karena menurut pendapatnya Iswari adalah karena pokal para pengikut Kalamerta itu. Karena itulah, maka Ki Gede berusaha untuk menemukan seorang saja di antara para pengikut Kalamerta itu, untuk diperas keterangannya tentang hilangnya menantunya.

Ketika Gandar melihat pada satu pagi, Ki Gede bersiap-siap untuk mengelilingi Tanah Perdikan bersama lima orang pengawal berkuda, maka Ganar pun telah memberanikan diri untuk minta ijin, ikut bersama dengan sekelompok kecil orang-orang Tanah Perdikan Sembojan itu.

“Kebetulan sekali,” jawab Ki Gede. “Senang sekali pergi bersamamu Gandar. Kau akan melihat sendiri keadaan Tanah Perdikan ini. Mungkin kau melihat sesuatu

yang dapat menarik perhatianmu dan kemudian dapat dipergunakan untuk menelusuri jejak hilangnya Iswari.”

Namun ketika Ki Gede memerintahkan seseorang mempersiapkan seekor kuda, maka orang itu telah bergeremeng dengan kawannya, “Seperti mencari sepucuk jarum di lautan. Bukankah hilangnya Nyai Wiradana sudah terjadi untuk waktu yang cukup lama? Apapun yang kita lakukan sekarang, aku kira tidak akan memberikan hasil apapun juga.”

“Kau bodoh,” sahut kawannya. “Ki Gede bukan saja mencari jejak hilangnya Nyai Wiradana. Tetapi Ki Gede itu percaya bahwa di Tanah Perdikan ini masih ada

orang-orang yang ingin mengacaukan ketenangan dan ketentraman yang sumbernya adalah para pengikut Kalamerta.”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja mereka berpaling ketika mereka melihat Wiradana melintas di sebelah kandang. Namun Wiradana itu

tiba-tiba saja berhenti dan bertanya, “Ada apa? Dimanakah beberapa ekor kuda yang lain?”

Orang itu pun kemudian memberitahukan kepada Wiradana, bahwa Ki Gede akan meronda bersama beberapa orang anak muda. Akan ikut bersama Ki Gede, Gandar, tamu dari padepokan kecil, saudara Nyai Wiradana.

“Jadi Gandar akan ikut?” bertanya Wiradana.

“Ya,” jawab orang yang sedang menyiapkan kuda itu.

Wiradana berpikir sejanak. Apa kira-kira yang akan dilakukan oleh orang itu. Mungkin satu usaha untuk mempengaruhi Ki Gede, agar ia mencurigai Wiradana yang jarang-jarang di rumah.

Karena kesalahan yang dilakukannya, maka Wiradana selalu mencurigai orang-orang yang berhubungan dengan kesalahan yang dilakukannya.

Tiba-tiba saja Wiradana itu berkata, “Aku akan ikut. Siapkan kuda untukku.” Orang yang sedang menyiapkan kuda itu termangu-mangu. Namun ia pun ternyata tidak sempat bertanya, karena Wiradana telah meloncat masuk ke dalam rumahnya lewat pintu butulan.

Orang itu hanya dapat menarik nafas. Sementara kawannya berkata, “Kau tidak perlu mempersoalkannya. Siapkan saja kudanya.””

“Aku sudah mengerti,” jawabnya setengah membentak.

Wiradana yang langsung masuk ke dalam biliknya telah berbenah diri. Sebenarnya ia tidak ingin ikut bersama ayahnya meskipun ia tahu, bahwa ayahnya hari ini akan pergi. Bahkan ia telah minta diri kepada istrinya untuk pulang lebih pagi, karena Ki Gede akan pergi.

“Mungkin ayah akan memberikan beberapa pesan kepadaku,” berkata Wiradana. Istrinya tidak pernah menahannya. Apapun yang dilakukan oleh Wiradana seakan-akan selalu baik baginya, meskipun sekali-kali ia mengusulkan agar Wiradana bersikap lebih baik kepada ayahnya dan pada saat terakhir kepada

tamunya yang bernama Gandar. Karena dengan demikian Warsi yakin, bahwa akibatnya akan terjadi justru sebaliknya.

Ketika semuanya sudah siap, maka Ki Gede mengerutkan keningnya ketika ia melihat Wiradana ada di antara mereka.

“Kapan kau datang?” bertanya ayahnya.

“Baru saja ayah,” jawab Wiradana. “Aku akan ikut bersama ayah.” “Apakah kau tidak letih?” bertanya ayahnya.

“Tidak ayah,” jawab Wiradana. “Justru ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada ayah. Aku minta ayah menelusuri pinggir hutan yang berbatasan dengan bukit padas di sebelah bulak Pasungan.”

“ADA apa?” bertanya ayahnya.

“Mungkin aku hanya terpengaruh oleh perasaanku. Rasa-rasanya ada sesuatu yang pantas diamati. Mudah-mudahan dugaanku tidak benar,” jawab Wiradana.

“Ya, apa yang kau lihat,” desak ayahnya.

“Aku melihat beberapa orang di pinggir hutan dicelah-celah bukit-bukit padas. Wajah Ki Gede meremang. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Kau pasti bahwa mereka bukan orang-orang Sembojan?”

“Mereka bukan orang-orang Sembojan. Sebenarnya aku ingin mengetahui lebih banyak tentang mereka, tetapi aku cemas bahwa mereka akan dengan tergesa-gesa pergi.

Mudah-mudahan mereka masih ada disana,” jawab Wiradana. Ki Gede mengangguk-angguk. Dendamnya kepada orang-orang yang menjadi pengikut Kalamerta semakin memuncak sejak hilangnya Iswari dari Tanah Perdikan Sembojan.

Demikianlah, maka sekelompok kecil orang-orang itu pun segera mempersiapkan diri. Dibantu oleh seorang pengawal, Ki Gede pun segera naik ke atas punggung kudanya. Kemudian yang lain pun telah berloncatan pula naik, termasuk Wiradana dan kemudian Gandar.

“Marilah saudara-saudaraku,” berkata Ki Gede. “Seperti yang pernah kita lakukan, kita mencari jejak hilangnya menantu dan sekaligus mencari para pengikut Kalamerta yang masih berkeliaran di Tanah Perdikan ini.”

Para pengiringnya pun telah siap untuk berangkat. Dengan tangannya yang lemah Ki Gede pun kemudian menggerakkan kendali kudanya untuk mendorong kudanya melangkah

meninggalkan halaman itu.

Tetapi ternyata telah terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan. Justru karena perhatian semua orang, terutama Gandar, tertuju kepada Ki Gede, maka ia tidak sempat memperhatikan sesuatu di luar halaman rumah Ki Gede. Gandar yang cemas akan keadaan Ki Gede tangan dan kakinya mengalami kelemahan sementara ia duduk di punggung kuda, serta karena ia sama sekali tidak menduga, bahwa akan terjadi sesuatu dengan Ki Gede di halaman itu justru sebelum Ki Gede mulai menggerakkan kudanya, maka Gandar tidak mendengar kehadiran seseorang.

Namun yang terjadi benar-benar menggemparkan. Selagi kuda Ki Gede siap untuk bergerak, maka tiba-tiba saja terdengar Ki Gede mengeluh tertahan. Tangannya yang lemah itu pun berusaha untuk meraba punggungnya sambil berdesis,” Setan. Aku telah dikenai senjata rahasia sekarang ini.”

“Apa ayah?” Wiradana menjadi heran sementara orang-orang lain menjadi bingung. Ki Gede berusaha menahan keseimbangannya. Namun pada wajahnya nampak gejolak kemarahan dan kecemasan hatinya.

Gandarlah yang kemudian meloncat turun. Kemudian dengan hati-hati ia berusaha membantu Ki Gede turun sambil berkata, “Marilah Ki Gede, kita akan melihat, apa yang telah terjadi.”

“Punggungku,” desis Ki Gede. “Aku merasa sesuatu mengenaiku. Tentu senjata rahasia, semacam sumpit beracun.”

Demikian Ki Gede turun dari kudanya, Gandar tidak sempat membawanya naik ke pendapa. Dibiarkannya Ki Gede duduk di tanah, sementara ia mencoba untuk melihat punggung Ki Gede dengan melepas baju luriknya.

Jantung Gandar tergetar. Sebagai seorang pembantu Kiai Badra yang memahami tentang obat-obatan, maka Gandar pun mempunyai pengetahuan tidak sedikit tentang pengobatan itu pula.

Karena itu, demikian ia melihat punggung Ki Gede Sembojan, maka ia pun telah menjadi gelisah.

Gandar melihat sebuah mata sumpit yang melekat pada kulit Ki Gede agak membenam ke dalam dagingnya. Gandar pun melihat disekitar luka itu terdapat noda yang

kebiru-biruan.

“Paser beracun,” desisnya.

“Apa?” mata Wiradana terbelalak.

“Punggung Ki Gede telah dikenai semacam paser kecil yang mungkin dilontarkan dengan sumpit,” sahut Gandar.

“Gila,” wajah Wiradana menjadi tegang. “Siapa yang melakukannya?”

Gandar tiba-tiba lupa akan dirinya, seorang pembantu Kiai Badra yang agak kedungu- dunguan. Tiba-tiba saja ia pun berteriak lantang. “Cepat. Kepung padukuhan induk ini. Tentu seorang yang berilmu tinggi telah melakukan pengkhianatan yang licik ini.” Wiradana pun bagaikan kehilangan nalar. Ia tidak sempat berpikir. Seakan-akan diluar sadarnya, maka ia pun telah berlari ke arah kudanya. Sekali loncat ia sudah berada di punggung kuda sambil memberikan aba-aba, “Cepat. Pergi ke semua pintu gerbang.

Seorang di antara kalian membunyikan isyarat kentongan. Kita akan menutup semua pintu dan mengepung padukuhan induk ini.”

Sesaat kemudian, maka kuda Wiradana pun telah berderap meninggalkan halaman, disusul oleh anak-anak muda yang lain. Mereka melarikan kuda mereka ke arah yang berbeda, karena mereka akan menutup semua pintu gerbang. Sementara itu, seorang yang lain, yang kebetulan berada di halaman itu, telah berlari ke gardu di sebelah regol halaman dan memukul kentongan dengan nada titir.

Gandar sendiri termangu-mangu sejenak. Tetapi ketika ia berniat ikut mencari orang yang menyerang dengan licik itu, ia melihat Ki Gede menjadi pucat dan kejang-kejang.

Gandar tidak dapat meninggalkannya. Ia tidak sampai hati melihat keadaan Ki Gede yang menjadi sangat gawat.

Karena itu, maka ia pun kemudian telah berjongkok disamping Ki Gede sambil berdesis, “Marilah Ki Gede. Biarlah aku mencoba mengobati.”

Ki Gede tidak menjawab. Keadaannya telah menjadi sangat parah. Ketahanan tubuh Ki Gede ternyata tidak lagi seperti sebelum ia mengalami kelemahan pada tangan dan kakinya.

Gandar tidak bertanya lagi. Ia segera memapah Ki Gede dan membawanya naik ke pendapa. Membaringkannya miring agar ia dapat mengobati luka-lukanya.

Kepada seorang yang kebingungan di halaman, Gandar berteriak, “Cepat, ambilkan air.”

Berlari-lari orang itu mengambil air. Dengan air itu, Gandar telah mencairkan serbuk obat yang dibawanya. Obat yang dapat melawan racun.

Dengan obat itu Gandar mengusap luka di punggung Ki Gede yang tidak berdarah, sementara jarum paser yang dilontarkan dengan sumpit itu pun masih berada di dalam luka itu.

Ki Gede Sembojan menggeliat. Ter-nyata ia masih dipengaruhi oleh perasaan pedih karena obat Gandar. Obat yang seakan-akan menghisap racun, bukan saja pada jarum paser kecil itu, tetapi juga yang sudah mengalir di dalam darah Ki Gede.

Sementara itu, Gandar pun telah mencairkan obat yang lain pada mang-kuk yang lain pula. Perlahan-lahan ia menitikkan obat itu di bibir Ki Gede yang kemudian kepalanya berada di pangkuan Gandar.

Ternyata Ki Gede masih berpengharapan. Titik-titik air yang mengandung obat itu masih dapat melintasi kerongkongan Ki Gede.

Namun ternyata bahwa Ki Gede sudah terlalu lemah. Racun yang bekerja pada tubuh Ki Gede adalah racun yang sangat kuat, sementara daya tahan Ki Gede sendiri agaknya sudah tidak terlalu kuat.

Karena itu, usaha Gandar pun tidak akan banyak berpengaruh atas keadaan Ki Gede.

Tetapi agaknya Ki Gede masih sempat membuka matanya. Ketika dengan agak kabur dilihatnya Gandar, Ki Gede itu pun tersenyum.

“Dimana Wiradana,” desisnya.

“Sekelompok anak muda telah memencar dan menutup semua jalan keluar padukuhan induk ini Ki Gede. Sementara itu, isyarat kentongan telah dibunyikan, sehingga

tidak memungkinkan seorang pun dapat keluar dari padukuhan induk ini.”

Ki Gede masih tersenyum sambil mengangguk-angguk. Katanya, “Syukurlah bahwa mereka mampu berpikir cepat.” Namun tiba-tiba senyum dibibir Ki Gede itu larut, “Tentu orang Kalamerta. Sayang aku belum sempat menjumpainya. Tetapi Wiradana harus tetap mencari mereka dan mencari jejak hilangnya Iswari.”

Terasa jantung Gandar menjadi berdegupan. Namun katanya, “Sebaiknya Ki Gede menenangkan pikiran. Aku berusaha untuk mengobati Ki Gede.”

Tetapi Ki Gede justru menggeleng. Katanya, “Tidak ada gunanya Gandar. Keadaanku sudah sangat lemah. Aku merasa, obat yang kau oleskan pada lukaku untuk sesaat mampu menghentikan arus racun di dalam darahku. Tetapi ternyata darahku sudah terlalu dalam di kotori oleh racun yang sangat kuat itu, sehingga obat yang kau berikan hanya sekadar menahan saja. Tetapi tidak akan mampu menyembuhkannya.” “Aku akan berusaha Ki Gede,” berkata Gandar.

“Tidak akan ada gunanya,” desis Ki Gede hampir berbisik.

Gandar tidak menjawab lagi. Tetapi ia pun merasakan keadaan sebagaimana dikatakan oleh Ki Gede.

Namun dalam pada itu, pada saat-saat yang gawat bagi hidup Ki Gede, timbullah

niat Gandar untuk mengatakan sesuatu kepada Ki Gede yang menyangkut menantunya yang sangat dikasihi itu. Karena itu, untuk beberapa saat ia termangu-mangu.

Namun akhirnya ia memaksa juga bibirnya berkata setelah ia yakin tidak ada orang yang akan dapat mendengarnya. “Ki Gede. Cobalah Ki Gede mengerahkan segala daya tahan Ki Gede untuk tetap hidup. Bagaimanapun buruknya obat-obatku, tetapi aku akan mampu membantu Ki Gede jika Ki Gede sendiri menghendaki untuk tetap bertahan.”

“Apapun yang akan kau lakukan Gandar, tetapi jika seorang telah terantuk batas, maka ia tidak akan dapat berbuat banyak,” jawab Ki Gede sendat.

“Tetapi Ki Gede,” berkata Gandar. “Ada sesuatu yang akan dapat dijadikan satu pancadan bagi Ki Gede untuk bergairah tetap hidup,” berkata Gandar.

Ki Gede memandang Gandar dengan pandangan yang kabur. Namun ia pun bertanya, “Apa maksudmu Gandar?”

“Ki Gede,” berkata Gandar kemudian. “Sebenarnya bahwa Iswari masih hidup.” “He,” Tiba-tiba terasa Ki Gede akan bangkit. Tetapi tubuhnya sudah terlalu letih, sehingga kepalanya yang sedikit terangkat itupun telah terkulai jatuh kembali di pangkuan Gan-dar.

“Ya Ki Gede, sebenarnyalah demikian,” berkata Gandar kemudian. “Tetapi dimana anak itu sekarang?” bertanya Ki Gede.

“Ia sudah berada di rumah kakeknya?” jawab Gandar. “Bagaimana hal itu mungkin terjadi?” bertanya Ki Gede pula.

“Ki Gede,” berkata Gandar. “Sebenarnyalah bahwa Iswari akan dibunuh. Seorang

telah menyelamatkannya dan membawa Iswari kembali ke kakeknya. Untuk sementara Iswari disembunyikan agar orang yang ingin membunuhnya tidak mengetahui bahwa Iswari sebenarnya masih belum mati. Sementara itu aku datang kemari untuk memberitahukan hal ini kepada KiGede, tetapi untuk memberikan kesan agar Iswari memang sudah mati, maka aku pun berpura-pura mencari perempuan itu.”

“O,” Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. “Apakah kau tahu, siapakah yang akan membunuhnya?” bertanya Ki Gede.

Gandar menjadi ragu-ragu. Dalam keadaan yang demikian, Gandar tidak sampai hati mengatakan bahwa Wiradana sendirilah sumber dari usaha pembunuhan itu. Jika benar obatnya tidak dapat menyembuhkannya, maka persoalan itu agar tidak menjadi beban pada saat-saat terakhir.

Karena itu, maka Gandar pun menjawab, “Ki Gede. Agaknya dugaan Ki Gede benar. Sisa gerombolan Kalamerta.”

“Nah apa kataku,” desis Ki Gede lemah. “Syukurlah jika ia masih hidup. Biarlah kakeknya melindunginya untuk selamanya. Tetapi apakah Wiradana sudah tahu akan hal ini?”

Gandar menjadi ragu-ragu. Tetapi katanya kemudian, “Sudah Ki Gede.”

“O,” Ki Gede mengerutkan keningnya. Seakan-akan ia ingin melihat lebih jelas lagi wajah Gandar yang menjadi kabur. Dengan suara parau Ki Gede kemudian berkata, “Tetapi Wiradana sama sekali tidak memberikan kesan, bahwa ia sudah

mengetahui,” Ki Gede menyeringai menahan sakitnya yang seakan-akan menghimpit seluruh tubuhnya. Namun kemudian dengan ketabahan seorang laki-laki yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan, maka Ki Gede pun tersenyum, “Itulah agaknya yang membuatnya tidak terlalu bersedih atas hilangnya istrinya. Bahkan seakan-akan ia tidak menghiraukannya lagi setelah lewat beberapa pekan. Agaknya ia memang sama sekali tidak merasa kehilangan.”

Gandarlah yang terkejut mendengar jawaban itu. Bahkan rasa-rasanya jantungnyalah yang berdeguban semakin cepat. Di dalam hati ia memaki Wiradana tidak

habis-habisnya. Namun dihadapan Ki Gede yang dalam keadaan yang parah itu, Gandar masih berusaha untuk tetap mengekang diri.

“Gandar,” berkata Ki Gede. “Agaknya aku benar-benar tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi. Umurku sudah sampai pada batasnya. Sampaikan kepada Kiai Badra bahwa aku mohon maaf atas peristiwa yang terjadi atas cucunya. Meskipun Iswari masih tetap selamat, namun percobaan pembunuhan atas dirinya sudah merupakan satu peristiwa yang dapat mengguncang hati orang tua itu. Juga sampaikan ucapan terima kasihku yang tidak terhingga, seakan-akan Kiai Badra sudah dapat menyambung hidupku untuk beberapa lama, sehingga tugasku benar-benar telah selesai. Aku sudah mengawinkan anak laki-laki satu-satunya yang aku miliki.”

“Ya Ki Gede,” desis Gandar. “Tetapi Ki Gede harus berusaha untuk bertahan dan memohon kepada Sumber Hidup. Bukankah Ki Gede masih ingin bertemu dengan cucu Ki

Gede?”

“Cucu?” bertanya Ki Gede dengan suara yang semakin lemah.

“Ya. Cucu Ki Gede. Cucu Ki Gede itu sudah lahir. Seorang anak laki-laki yang

sehat, tampan dan nampaknya memiliki kecerdasan dan bekal yang diwarisinya dari kakeknya,” sahut Gandar.

Ki Gede yang sudah menjadi gemetar itu sempat tersenyum. Meskipun wajahnya bagaikan sudah hampir membeku, namun ia masih berusaha untuk berkata, “Aku mengucap sukur kepada Tuhan, bahwa Iswari sudah melahirkan anaknya. Laki-laki atau perempuan bagiku sama saja. Kurnia Yang Maha Agung itu harus mendapat tempat sewajarnya di dunia yang ternyata merupakan arena pergolakan yang sangat keras ini,” Ki Gede terdiam sejenak, lalu, “Gandar. Apakah Wiradana belum datang?”

“Belum Ki Gede,” jawab Gandar.

“Baiklah. Aku titipkan kepadamu. Pertanda penguasa di Tanah Perdikan ini,” desis Ki Gede. Suaranya menjadi parau dan hampir tak kedengaran lagi.

Dalam pada itu Ki Gede rasa-rasanya ingin menggerakkan tangannya. Tetapi ia sudah menjadi sangat lemah.

Gandar menjadi berdebar-debar. Ia menyesal, bahwa ia agak terlambat bertindak. Apalagi tubuh Ki Gede yang cacat itu tidak memiliki daya tahan yang cukup untuk melawan racun yang sangat tajam. Sehingga dengan demikian, agaknya obat yang diberikan oleh Gandar itu hanya mampu menunda saat-saat kematian. Tetapi tidak akan dapat menyelamatkannya.

“Seandainya Kiai Badra ada disini,” berkata Gandar di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu, karena Ki Gede tidak mampu menggerakkan tangannya, maka ia pun berkata dengan suara yang lemah bergetar, “Gandar. Tolong ambilkan sebuah bandul beserta rantainya di kantong ikat pinggangku.” “Bandul, Ki Gede,” ulang Gandar.

“Ya,” desis Ki Gede. Suaranya menjadi semakin lirih.

Gandar tidak menjawab lagi. Perlahan-lahan ia mulai meraba kantong ikat pinggang Ki Gede sementara Ki Gede masih tetap berbaring beralaskan pangkuan Gandar.

Ternyata bahwa di kantong ikat pinggang Ki Gede memang terdapat sebuah bandul yang tergantung pada seutas rantai. Semuanya terbuat dari emas yang kuning gemerlap. Bandul yang bulat sebesar biji jengkol itu bertatahkan lukisan kepala seekor burung elang.

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Benda itu tentu mahal sekali harganya.

Dalam pada itu, Ki Gede pun kemudian berkata, “Gandar. Tolong berikan benda itu kepada Wiradana. Ia akan berhak memiliki benda itu sebagai pertanda bahwa ia akan memimpin Tanah Perdikan ini.”

Jantung Gandar terasa berdenyut semakin cepat. Namun ia menjawab, “Baiklah Ki Gede. Aku akan memberikan nanti jika ia kembali.”

Ki Gede tersenyum. Katanya, “Tugasku memang sudah selesai, Gandar. Pesanku kepada Wiradana. Hati-hatilah ia dengan istrinya. Ia harus ikut bertanggungjawab atas keselamatannya meskipun untuk sementara istrinya berada di padepokannya. Tetapi pada suatu saat, cucuku itulah yang akan memiliki bandul itu sesudah Wiradana. Karena cucuku itulah yang kelak akan berhak menggantikan Wiradana menjadi Kepala Tanah Perdikan ini.”

“Ya Ki Gede,” jawab Gandar dengan suara datar.

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berdesis, “Agaknya aku tidak sempat menunggu orang-orang Tanah Perdikan ini. He, siapa yang berada di halaman?”

Gandar berpaling ke halaman. Ia melihat empat orang berdiri tegang dibawah

tangga pendapa. Namun Gandar yang cerdik itu telah membelakangi mereka sehingga orang-orang itu tidak melihat dan tidak mendengar apa yang telah dibicarakan

antara Gandar dan Ki Gede.

Sementara itu, suara titir yang mengumandang bukan saja di padukuhan induk, telah memanggil anak-anak muda. Selain mereka yang mengepung padukuhan induk itu, beberapa di antara mereka telah terkumpul di depan regol rumah Kepala Tanah Perdikannya. Tetapi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi di

pendapa. Mereka hanya melihat seseorang berusaha untuk mengobati Ki Gede, sedangkan empat orang yang terdahulu tegang dibawah tangga pendapa. Nampaknya mereka telah berbicara di antara mereka. Menebak apa yang kira-kira terjadi dan menurut selera mereka sendiri-sendiri memberikan arti dari peristiwa itu.

Sementara itu, keadaan Ki Gede menjadi parah. Gandar tidak mampu berbuat apa-apa. Obat yang dibawanya tidak dapat menahan arus racun di dalam darah Ki Gede, justru selagi daya tahan Ki Gede sudah menurun.

Sejenak kemudian maka Ki Gede itu pun berkata, “Gandar. Kau adalah orang satu-satunya yang ada disini, justru pada saat umurku sampai ke batas. Tetapi

aku percaya kepadamu. Kau akan membantu memecahkan masalah yang akan timbul di Tanah Perdikan ini sepeninggalanku.”

“Ya Ki Gede,” jawab Gandar. “Aku akan berusaha.”

“Terima kasih,” desis Ki Gede sambil tersenyum. Namun wajahnya menjadi semakin pucat. Noda yang berwarna kebiru-biruan mulai muncul di wajah itu.

Akhirnya, Ki Gede itu benar-benar menjadi semakin lemah. Ketika Ki Gede itu

sempat membuka matanya yang mulai terpejam, maka serasa sebuah senyuman masih saja membayang.

“Ki Gede,” panggil Gandar.

Tetapi Gandar tidak dapat berbuat apa-apa. Ki Gede itu meninggal dalam suasana yang pasrah. Ia merasa bahwa tugasnya memang sudah selesai. Apalagi ketika ia mendengar bahwa menantunya yang sangat disayanginya masih hidup dan bahkan cucunya telah lahir pula dengan selamat.

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Ki Gede sudah tidak bernafas lagi ia masih berbaring dipangkuannya. Sejenak Gandar menimang bandul dan rantai yang diambilnya dari kantong ikat pinggang Ki Gede. Benda berharga bukan saja karena terbuat dari emas, tetapi juga nilainya sebagai pertanda seorang Kepala Tanah Perdikan di Sembojan itu telah menimbulkan persoalan di dalam dirinya. Benda itu sesuai dengan pesan Ki Gede harus diserahkan kepada Wiradana. Tetapi tumbuh satu pertanyaan dihati Gandar. “Seandainya Ki Gede mengetahui apa yang telah

dilakukan oleh anak laki-lakinya terhadap istrinya, apakah sikap Ki Gede tidak akan berubah?”

Sejenak Gandar termangu-mangu. Namun ia pun kemudian teringat pesan Ki Gede pula, bahwa kelak anak Iswari itu akan berhak memiliki bandul itu pula.

Sekilas Gandar berpaling ke halaman. Ia masih melihat orang-orang yang gelisah. Sementara diregol halaman semakin lama menjadi semain banyak orang yang berkumpul. Bukan saja anak-anak muda, tetapi juga beberapa orang lain yang mengetahui dan mendengar dari anak-anak muda yang hilir mudik dengan sibuknya, apa yang telah terjadi dengan Ki Gede.

Dalam pada itu, Gandar masih dalam kegelisahan karena bandul yang diberikan oleh Ki Gede kepadanya, yang harus disampaikannya kepada Wiradana. Di dasar hatinya ada semacam ketidakrelaan, bahwa Tanah Perdikan ini akan dipimpin oleh Wiradana yang mempunyai seorang istri lain kecuali Iswari. Bahkan istrinya itu adalah

seorang yang memiliki ilmu yang tinggi.

“Ki Gede benar,” desis Gandar. “Memang keluarga Kalamerta yang telah mengacaukan ketenangan Tanah Perdikan ini.

Tiba-tiba Gandar mengambil keputusan untuk menyimpan bandul itu.

Setidak-tidaknya untuk sementara. Ia akan melihat keadaan sebelum ia akan menyerahkan bandul itu kepada Wiradana. Meskipun ia sadar bahwa sebenarnya ia sama sekali tidak berhak untuk berbuat demikian.

Karena itu, maka bandul itu pun telah dimasukkan ke dalam kantong ikat pinggangnya sendiri tanpa diketahui oleh siapapun.Baru kemudian Gandar itu meletakkan Ki Gede perlahan-lahan. Kemudian ia pun bangkit dan melangkah ke tangga pendapa, mendekati orang-orang yang sedang gelisah itu.

“Ki Gede sudah meninggal,” desis Gandar.

“He,” orang-orang di halaman itu menjadi tegang. Salah seorang di antara mereka telah melangkah naik perlahan-lahan mendekati tubuh Ki Gede yang terbaring.

Ketika ia berjongkok sambil meraba tangan Ki Gede yang bersilang didada, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam. Ki Gede sudah memejamkan matanya dan tidak bernafas lagi.

“Ya,” desisnya. “Ki Gede sudah meninggal.”

Demikianlah, maka beberapa orang yang lain pun telah naik pula ke pendapa.

Mereka memang melihat tubuh Ki Gede yang pada wajahnya terdapat noda-noda yang kebiru-biruan. Sehingga beberapa orang di antara mereka dapat mengenali, bahwa

Ki Gede memang terkena racun.

“Aku gagal mengobatinya,” desis Gandar. “Aku mohon maaf. Seandainya Kiai Badra sendiri ada disini, mungkin ia dapat meramu obat yang lebih baik, yang sesuai dengan kemampuan racun yang sangat tinggi ini.”

Memang tidak ada orang yang menyalahkan Gandar. Ia sudah berusaha. Tetapi usahanya tidak berhasil.”

Karena itu, maka atas kesepakatan beberapa orang itu, maka Ki Gede pun kemudian telah diangkat dibawa masuk ke ruang tengah. Diletakkan di atas amben yang besar dan ditutup dengan sehelai kain dari ujung kakinya sampai ke ujung kepalanya.

Namun mereka masih belum berbuat apa-apa, karena mereka masih menunggu Wiradana.

Sementara itu, Wiradana memimpin anak-anak muda mengepung seluruh padukuhan induk. Ia memerintahkan anak-anak muda itu tidak saja menutup semua regol.

Tetapi setiap jengkal tanah yang melingkar padukuhan induk harus diawasi.

Ketika semua jalan keluar sudah tertutup, maka Wiradana memerintahkan anak-anak muda Tanah Perdikan untuk mencari orang yang pantas dicurigai diseluruh padukuhan induk, semua rumah harus dimasuki tanpa terkecuali. Meskipun rumah itu bebahu Tanah Perdikan itu sekalipun.

“Jangan satu atau dua orang untuk setiap kelompok. Tetapi lebih dari itu.

Sedikit-dikitnya lima orang, agar setiap pengamatan dapat meyakinkan,” perintah Wiradana.

Dengan demikian, anak-anak muda dan bahkan hampir setiap laki-laki di Tanah Perdikan Sebojan, terutama di padukuhan induk itu menjadi sibuk. Me-reka melihat setiap rumah. Halamannya, ruang dalamnya bahkan kandang dan lumbung- lumbungnya.

Mungkin seorang bersembunyi atau dengan sengaja menyembunyikannya diri sepengetahuan pemilik ru-mahnya.

Wiradana sendiri hilir mudik di atas punggung kudanya, sambil setiap kali meneriakkan aba-aba bagi anak-anak muda yang berkumpul di gardu-gardu dan bagi mereka yang sedang sibuk melihat setiap halaman dan isi rumah dan

bangunan-bangunan yang ada. Bahkan banjar padukuhan induk itu pun tidak luput dari pengamatan anak-anak muda yang ma-rah itu.

Tetapi mereka tidak menemukan seorang pun yang pantas mereka curigai. “Cari sampai dapat,” setiap kali Wiradana membentak.

Namun mereka tidak menemukan orang yang dikehendaki. Tidak ada orang asing di padukuhan induk itu. Bahkan kebetulan sekali, tidak ada tamu seorang pun di rumah penghuni padukuhan induk. Orang-orang dari tetangga padukuhan pun tidak ada yang kebetulan berada di padukuhan induk.

Wiradana menjadi semakin geram. Namun ketika ia masih akan mengelilingi padukuhan itu sekali lagi, seorang telah menemuinya untuk mengabarkan, bahwa Ki Gede telah meninggal.

“Ayah telah meninggal?” wajah Wiradana menegang. “Ya,” jawab orang yang memberitahukan itu.

“Bukankah Gandar sudah berusaha mengobatinya?” bertanya Wiradana.

“Ya. Tetapi gagal. Gandar telah berusaha sejauh dapat dilakukan. Namun obat yang kebetulan dibawanya tidak mampu menyelamatkan Ki Gede. Entahlah, jika Kiai Badra sendiri ada disini sekarang,” jawab orang itu.

Wiradana pun mengurungkan niatnya untuk sekali lagi mengelilingi padukuhan itu. Tetapi ia langsung kembali ke rumahnya untuk melihat keadaan ayahnya.

Kepada para pemimpin kelompok yang ditemuinya ia berpesan, agar usaha itu terus dilakukan.

“Aku yakin, orang itu tentu masih ada di padukuhan induk ini,” berkata Wiradana. “Jika tidak ada orang lain, tentu salah seorang di antara kita sendiri.”

Dengan demikian maka anak-anak muda itu pun masih sibuk dengan usaha mereka, sementara Wiradana sendiri telah kembali ke rumahnya setelah ia mendengar bahwa ayahnya telah meninggal.

Demikian kudanya memasuki halaman, maka Wiradana itu pun segera meloncat turun. Dengan tergesa-gesa ia naik ke pendapa dan bertanya kepada Gandar yang duduk dipendapa itu pula, “Dimana ayah?”

Gandar pun bangkit dan membawa Wiradana masuk ke ruang dalam. Demikian ia masuk,

maka ia pun tertegun. Dilihatnya sesosok tubuh yang terbaring, diselubungi oleh kain dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.

"AYAH," desis Wiradana. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati sosok tubuh yang membeku itu. Perlahan-lahan ia membuka selubung itu di arah kepala.

Jantung Wiradana terasa berdegup semakin cepat ketika ia melihat wajah ayahnya yang bernoda kebiru-biruan dibeberapa tempat. Bahkan ternyata juga di tangannya dan bahkan diseluruh tubuhnya.

"Racun," desis Wiradana.

"Aku sudah mencoba mengobatinya. Aku sudah mengobati di arah lukanya. Aku berharap bahwa obat itu akan dapat membantu menghisap racun yang mulai bekerja ditubuh lewat saluran darah Ki Gede. Dan aku pun sudah menitikkan obat dibibirnya. Sebenarnya aku berpengharapan bahwa obat-obatku akan bermanfaat setelah obat itu berhasil melewat kerongkongan. Tetapi ternyata aku gagal," jawab Gandar.

Wiradana berdiri dengan kepala tunduk. Bagaimana pun juga kematian ayahnya merupakan suatu peristiwa yang pahit baginya. Setelah ia kehilangan ibunya, maka ia pun kini kehilangan ayahnya, sehingga dengan demikian ia menjadi yatim piatu.

Gandar melihat mata Wiradana menjadi basah. Tetapi Wiradana bertahan untuk tidak menangis.

"Agaknya sebagaimana dikatakan oleh Ki Gede sendiri, saatnya memang telah tiba," berkata Gandar.

"Ya," Wiradana mengangguk. Namun ia sempat menelusuri jalan hidup yang ditempuhnya selama ini. Sekilas ia teringat pula kepada istrinya yang disangkanya sudah mati, Iswari. Istrinya itu adalah seorang perempuan yang sangat dikasihi oleh ayahnya. Kini ayahnya justru telah menyusul Iswari yang disangkanya sudah mati.

"Sudahlah," berkata Gandar. "Yang perlu dipikirkan kemudian adalah bagaimana menyelenggarakan jenazah Ki Gede."

Wiradana mengangguk kecil. Katanya, "Baiklah Gandar. Apapun yang terjadi atas ayahku, aku tetap mengucapkan terima kasih atas segala usahamu. Tetapi agaknya memang sudah sampai saatnya ayah harus menghadap kembali kepada Yang Maha Agung."

Gandar mengangguk-angguk. Namun ia menjawab, " Sudah menjadi kewajiban setiap orang untuk berusaha saling menolong. Tetapi kali ini aku memang telah gagal menolong Ki Gede."

Wiradana pun kemudian melangkah keluar. Kepada orang-orang yang berada di pendapa ia berkata, "Tolong, marilah kita selenggarakan jenazah ayah. Sementara itu anak-anak muda masih berusaha untuk mencari orang yang dengan curang telah membunuh ayah."

Demikianlah, di halaman rumah Ki Gede telah terjadi kesibukan tersendiri, sementara di seluruh padukuhan induk-pun masih juga sibuk mencari orang yang pantas dituduh membunuh Ki Gede di Sembojan.

Namun sementara itu, dalam kesibukan di dalam dan di luar halaman rumah Ki Gede, Gandar masih sempat merenungui bandul yang diberikan oleh Ki Gede Sem-bojan.

Apakah ia akan memenuhi permin-taan Ki Gede menyampaikan bandul itu kepada Wiradana, atau ia akan menempuh satu kebijaksanaan lain, meskipun tidak untuk dimilikinya sendiri.

"Jika aku memberikan bandul ini kepada yang berhak sekarang, maka aku telah menunaikan satu beban yang dipercayakan kepadaku. Dari seseorang yang sekarang sudah meninggal," berkata Gandar di dalam hatinya. "Tetapi jika aku menyerahkan bandul itu, maka aku yakin bahwa akan terjadi sesuatu yang akan dapat mengeruhkan susana masa depan Tanah Perdikan ini. Jika perempuan yang memiliki ilmu yang tinggi itu juga mempunyai seorang anak, maka Wiradana tidak akan dapat berbuat adil dengan menyerahkan bandul itu kepada anaknya yang sulung. Apalagi

agaknya Wiradana tidak akan mampu melawan kehendak perempuan cantik itu apabila pada saatnya perempuan itu menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya.

Adalah tiba-tiba saja, bahwa Gandar telah melontarkan dugaannya atas kematian Ki Gede itu kepada perempuan yang menjadi istri Wiradana. Dengan ilmunya yang tinggi, ia akan dapat melakukan seperti apa yang telah terjadi. Ia dapat melontarkan paser-paser kecil itu dengan sumpit. Kemudian dengan ilmunya yang tinggi itu pula, ia dapat melarikan diri sebelum padukuhan induk itu sempat dikepung.

"IA tentu memiliki ilmu iblis," geram Gandar.

Ia menyesal bahwa ia tidak berusaha mengejarnya, menangkapnya dan menunjukkan kebenaran tentang istri mudanya itu kepada Wiradana. Jika ia menyadari bahwa akhirnya Ki Gede juga akan tidak tertolong lagi, maka ia mungkin masih mempunyai kesempatan untuk mengejar orang itu. Meskipun Gandar pun tidak yakin, bahwa ia akan dapat menangkap perempuan itu. Tetapi seandainya ia sempat bertahan beberapa lama, maka anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan akan dapat mengepungnya dan menjadi saksi, bahwa perempuan itu adalah perempuan yang berbahaya bagi Sembojan.

Tetapi semuanya sudah telanjur. Pembunuh itu sudah pergi. Namun besar dugaan Gandar, bahwa pembunuh itu adalah istri muda Wiradana sendiri, yang merasa rencananya akan selalu dapat dihambat oleh Ki Gede Sembojan.

Namun untuk dapat mengatakan demikian Gandar harus dapat meyakinkan diri dan menemukan bukti-bukti yang dapat meyakinkan orang lain bahwa hal itu memang terjadi.

Hari ini Sembojan telah berkabung. Pemimpin Tanah Perdikan yang untuk waktu yang lama bekerja keras dan menjadikan Sembojan sebuah Tanah Perdikan yang besar, telah meninggalkan hasil kerjanya oleh kelicikan seseorang. Terakhir pemimpin yang disegani itu telah berhasil membunuh seorang penjahat yang namanya ditakuti bukan saja oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan dan sekitarnya, bahkan namanya disegani oleh seluruh daerah Pajang dan Kadipaten-kadipaten yang lain.

Dengan kepala tunduk orang-orang Sembojan mengantarkan jenazah Ki Gede ke makam yang akan menjadi tempat peristirahatannya yang terakhir. Terasa betapa pahitnya untuk berpisah dengan seorang pemimpin yang hatinya berada di antara rakyatnya. "Tetapi saat kematian memang datang di luar kehendak seseorang. Meskipun

seseorang wenang berusaha, namun terakhir keputusan berada di tangan Tuhan Yang Maha Kasih," guman beberapa orang yang mengantar tubuh Ki Gede dan memberikan penghormatan terakhir.

Namun dalam pada itu, padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan itu masih tetap dikepung. Tidak seorang pun boleh keluar dari Tanah Perdikan itu. Ketika

iring-iringan janazah Ki Gede melintasi regol diikuti oleh sederet panjang rakyat Tanah Perdikan Sembojan, bukan saja dari padukuhan induk, tetapi dari

padukuhan-padukuhan yang lain, maka ternyata pengawasan atas setiap orang yang keluar masuk regol padukuhan induk menjadi kendor. Namun para pemimpin pengawal Tanah Perdikan itu telah memberikan perintah kepada para pengawal untuk

mengamati setiap orang dalam iring-iringan itu. Jika mereka melihat seseorang yang mencurigakan, maka setidak-tidaknya orang itu harus dimintai keterangan. Gandar pun ikut pula bersama iring-iringan itu ke makam. Tetapi para pengawal sudah banyak yang mengenalnya. Mereka sama sekali tidak menaruh curiga kepadanya, karena justru Gandar dan Kiai Badra telah banyak memberikan jasanya kepada Tanah Perdikan itu, khususnya kepada Ki Gede Sembojan.

Di perjalanan menuju ke makam, Gandar masih selalu digelisahkan oleh bandul sebesar biji jengkol yang bergambar kepala burung elang dan tergantung pada seutas rantai, yang semuanya terbuat dari emas.

"Aku akan menyimpannya untuk sementara," akhirnya Gandar mengambil keputusan. Demikianlah, akhirnya upacara penguburan jenazah Ki Gede itu pun selesai. Satu persatu orang-orang yang memberikan penghormatan terakhir itu pun meninggalkan makam itu. Semakin lama makam itu pun menjadi semakin senyap.

Sementara itu, matahari pun menjadi semakin rendah pula, mendekati punggung bukit di sebelah Barat.

Yang terakhir di makam itu adalah Wiradana yang ditunggu oleh beberapa orang pengawal di regol makam. Sejenak Wiradana memandangi makam ayahnya yang masih basah oleh air bunga yang ditaburkan oleh orang-orang yang memberikan penghormatan terakhirnya.

Namun kemudian sambil menarik nafas ia pun melangkah meninggalkan makam yang membeku itu.

Namun ternyata masih ada seseorang yang tertinggal. Gandarlah yang kemudian mendekati makam itu. Bahkan ia pun telah berlutut disisi makam Ki Gede yang masih merah itu.

“Maafkan aku Ki Gede,” desis Gandar. “Aku tidak melakukan sebagaimana yang Ki Gede pesankan tentang bandul pertanda pemimpin Tanah Perdikan Sembojan itu. Aku untuk sementara tidak akan menyerahkan bandul itu kepada Wiradana, karena aku tahu, bahwa tingkah laku anak itu tidak sebagaimana yang Ki Gede kehendaki.” Suasana di makam itu terasa hening. Yang terdengar kemudian adalah desis angin yang lembut menggerakkan daun semboja yang tumbuh dengan suburnya. Bunganya yang

putih bersih bergayutan di ranting-rantingnya yang nampak segar dilekati oleh daunnya yang hijau.

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian bangkit berdiri dan meninggalkan makam itu sambil berkata kepada diri sendiri. “Anak Iswari itulah yang berhak menerima pertanda ini. Wiradana sudah menyimpang dari kebenaran tingkah laku seorang pewaris jabatan tertinggi di Tanah Perdikan ini. Bahkan seandainya hal ini didengar oleh Adipati Pajang, maka dapat terjadi hak atas Tanah Perdikan ini dapat dicabut.”

Tetapi Gandar tidak ingin mempersoalkan Tanah Perdikan itu sampai ke Adipati Pajang. Karena jika demikian, dan hak atas Tanah Perdikan beberapa Kademangan dalam kedudukan yang sama dengan kademangan-kademangan yang lain, maka anak Iswari itu pun akan kehilangan haknya pula.

Karena itu, maka Gandar harus mencari jalan lain untuk membuat penyelesaian atas Tanah Perdikan itu dalam persoalan yang gawat, karena ia sadar, bahwa ia akan berhadapan dengan kekuatan keluarga Kalamerta. Dalam persoalan berikutnya, mau tidak mau maka istri Wiradana yang cantik itu tentu akan melibatkan seluruh kekuatan keluarga Kalamerta yang tertinggal.

Tetapi Gandar pun mempunyai keyakinan pada dirinya sendiri dan kepada

orang-orang yang tentu akan bersedia membantunya. Bahkan pada saatnya ia yakin, rakyat Tanah Perdikan Sembojan akan mampu memilih, siapakah yang akan mereka kehendaki. Iswari atau perempuan cantik yang tentu akan segera memasuki rumah Wiradana sebagai istrinya yang sah, yang memiliki kekuatan paugeran sebagai seorang istri.

Malam itu Gandar masih berada di Tanah Perdikan Sembojan. Ia berada di antara orang-orang yang berduka di pendapa rumah Ki Gede. Terbayang di wajah

orang-orang Tanah Perdikan Sembojan, penyesalan yang mendalam atas peristiwa yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.

Para bebahu Tanah Perdikan itu saling membicarakan hasil yang pernah dicapai oleh Ki Gede selama ia memegang pemerintahan di Tanah Perdikan itu. Sementara itu, beberapa orang di antara mereka pun mulai berbicara tentang Wiradana. “Tetapi dimana Ki Wiradana sekarang?” bertanya salah satu di antara mereka. “Kemarahan dan dendam di hatinya tidak terbendung lagi. Ia telah meninggalkan rumah ini sebelum senja,” jawab seseorang.

“Kemana?” bertanya yang lain.

“Seperti seseorang yang berkelana di dalam kelam. Tanpa tujuan dan tanpa titik arah. Ia berusaha untuk menemukan orang yang telah membunuh Ki Gede dengan licik. Tetapi tentu suatu usaha yang sangat sulit. Mungkin orang yang membunuh Ki Gede sudah berada beratus bahkan beribu tonggak dari tempat ini, atau bahkan masih tetap di dalam persembunyiannya,” jawab orang itu.

Yang lain mengangguk-angguk. Mereka membayangkan, Ki Wiradana memacu kudanya dengan marah kesegenap arah dan menyusuri semua jalan di Tanah Perdikan ini.

Tetapi ia tidak akan menemukan seorang pun yang akan dapat dicurigainya. Hanya Gandar yang tahu pasti, kemana Wiradana itu pergi.

Sebenarnyalah Wiradana telah berada di rumah istrinya yang cantik. Dengan nafas terengah-engah ia menceriterakan apa yang telah terjadi dengan ayahnya. “Seorang dengan licik telah membunuh ayah,” geram Wiradana.

Warsi tidak menyahut. Tetapi kepalanya semakin lama semakin menunduk. Bahkan kemudian titik-titik air matanya telah jatuh di pangkuannya.

“Kakang,” desisnya disela-sela isaknya. “Aku adalah orang yang paling malang.

Aku sudah terlalu lama menunggu satu kesempatan, kapan aku dapat bersimpuh sujud di kaki Ki Gede Sembojan. Bagaimanapun rendahnya martabatku sebagai penari jalanan, tetapi aku adalah menantunya. Namun Ki Gede itu kini sudah tidak ada

lagi. Aku merasa bahwa perkawinan kita belum pernah mendapat restunya.” “Sudahlah,” berkata Wiradana. “Semuanya sudah terjadi. Aku tidak akan dapat berbuat apa-apa. Segalanya agaknya memang sudah menjadi takdir Yang Maha Agung, sehingga hal itu harus terjadi.”

Warsi mengusap matanya. Tetapi ia masih terisak. Katanya kemudian, “Perkawinan kita adalah perkawinan yang aneh kakang. Meskipun aku sudah menjadi istrimu, tetapi aku merasa orang asing bagimu dan bagi keluargamu, sehingga akhirnya aku terlambat mencium kaki ayah mertuaku. Meskipun mungkin aku akan dikibaskannya dari kulit kakinya yang tersentuh oleh bibirku akan dicuci tujuh kali, namun

adalah menjadi kewajibanku untuk datang bersimpuh dan mencium kakinya itu.” “Bukan salahmu,” berkata Wiradana. “Mungkin akulah yang terlalu lemah sehingga aku belum berani membawamu pulang ke rumah.”

Warsi tidak menjawab. Sementara itu Wiradana berkata selanjutnya, “Warsi, marilah kita mengambil manfaat dari kematian ayah. Bukan aku tidak bersedih karena aku ditinggalkan oleh ayahku. Tetapi karena hal itu sudah terjadi diluar kehendakku, maka aku merasa tidak bersalah jika aku akan berbuat sesuai dengan kehendakku sepeninggalan ayahku.”

“Apa yang akan kau lakukan kakang?” bertanya Warsi.

“Aku akan segera menjadi kepala Tanah Perdikan,” berkata Wiradana. “Aku akan dapat berbuat apa saja tanpa seorang pun yang dapat mencegahnya. Aku akan dapat membawamu pulang.”

“Itulah yang aku takutkan kakang,” jawab Warsi. “Kenapa takut?” bertanya Wiradana.

“Rasa-rasanya aku datang sambil bersembunyunyi. Meskipun Ki Gede sudah tidak ada, tetapi jiwa dari perbuatanku adalah demikian. Aku datang pada saat Ki Gede mengetahuinya, sebagai laku seorang pencuri yang masuk ke dalam rumah seseorang,” jawab Warsi.

“Kau terlalu banyak mempertimbangkan persoalan-persoalan yang sebenarnya tidak usah kau pikirkan,” jawab Wiradana. “Rumah itu adalah rumahku. Kau adalah istriku. Apalagi?”

Warsi tidak menjawab. Tetapi kepalanya masih saja menunduk. Sekali-kali ia mengusap matanya yang basah oleh air mata.

“Sudahlah Warsi,” berkata Wiradana. “Semuanya akan dapat diatur sebaik-baiknya. Semuanya akan berlangsung dalam waktu yang dekat. Kau tidak usah membuat pertimbangan yang akan dapat membantumu kecewa atau mungkin menyesal atau perasaan-perasaan lain semacamnya.” Warsi mengangguk perlahan.

“Aku akan bertanggung jawab. Aku akan segera menjadi kepala Tanah Perdikan yang dapat menentukan apa saja di Tanah Perdikan ini. Tidak seorang pun akan dapat mengganggu aku, apalagi dalam persoalan pribadi,” berkata Wiradana kemudian.

Warsi masih saja berdiam diri dan mengangguk kecil.

Namun dalam pada itu, Wiradana pun kemudian minta diri. Katanya, “Malam ini sebaiknya aku kembali ke Tanah Perdikan. Di rumah tentu banyak orang

berjaga-jaga.”

“Silakan kakang,” jawab Warsi yang masih saja mengusap air matanya.

Sejenak kemudian, maka Wiradana pun telah berkemas meninggalkan Warsi untuk kembali ke Tanah Perdikan, berjaga-jaga bersama orang-orang Tanah Perdikan yang berduka.

Namun, demikian Wiradana berderap dan hilang di dalam gelapnya malam, terdengar suara Warsi tertawa. Suaranya bagaikan iblis betina yang menemukan sosok mayat baru di pekuburan yang basah.

“Sekarang tidak ada lagi yang dapat menghalangi aku untuk memasuki rumah Kepala Tanah Perdikan itu,” berkata Warsi disela-sela tertawa iblisnya, selebihnya.

“Aku sudah menunaikan tugasku yang paling sulit. Aku tidak sabar menunggu untuk meracunnya. Justru dengan cara ini, sekaligus aku membuka jalan untuk masuk ke rumah Wiradana.” Suara tertawa Warsi menjadi semakin meninggi.

“Sebentar lagi kau akan tunduk kepadaku anak manis,” katanya pula.

Sambil tersenyum puas Warsi masuk ke dalam biliknya. Sambil membaringkan diri, tangannya sempat meraba sebuah sumpit dibawah tikar di pembaringannya.

Sebenarnyalah sebagaimana diduga oleh Gandar, Warsilah yang telah melakukan pembunuhan itu. Ia telah menyamar sebagai seorang laki-laki memasuki padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan, demikian suaminya meninggalkannya pagi itu.

Dengan kemampuan seorang berilmu tinggi, maka ia dapat melakukan tugasnya dengan sangat licik. Kemudian dengan ilmunya pula ia berlari jauh melampaui kecepatan

lari orang kebanyakan. Sehingga ketika ketika padukuhan induk itu dikepung, Warsi memang sudah berada diluarnya.

Karena itu, Wiradana tidak dapat menemukan seorang pun yang pantas untuk dicurigai di padukuhan induk.

Pada sisa malam itu, Wiradana memang kembali ke rumahnya. Ia pun kemudian duduk di antara orang-orang Tanah Perdikan Sembojan yang berjaga-jaga. Termasuk Gandar.

Namun rasa-rasanya Wiradana menjadi berdebar-debar setiap ia memandang wajah orang itu. Baginya, seakan-akan Gandar itu pun selalu memandanginya tembus sampai kejantung. Seakan-akan Gandar itu ingin melihat kebersihan hatinya tentang kematian Iswari sebelum kematian ayahnya itu terjadi.

"Setan," geram Wiradana di dalam hatinya. "Jika ia selalu mengganggu ketenanganku, aku akan membunuhnya."

Namun ternyata, disaat itu Gandar sudah memikirkan saat ia akan minta diri. Agaknya ia memang tidak perlu terlalu lama berada di Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan rasa-rasanya ada sesuatu yang mendesaknya untuk segera bertemu dengan Kiai Badra. Bandul yang dibawanya itu memang selalu membebani perasaannya, karena telah terjadi pertentangan di dalam dirinya. Ia merasa bersalah karena ia tidak memenuhi permintaan seseorang yang ternyata sudah meninggal. Namun ia sadar, bahwa jika ia memenuhinya, maka akan terjadi ketidak adilan karena sikapnya itu.

Dengan demikian maka Gandar ingin segera bertemu dan berbicara dengan Kiai Badra. Seakan-akan ia ingin membagi beban yang memberati perasaannya itu. Karena itulah, ketika malam kemudian lewat, pagi-pagi Gandar sudah menemui Ki Wiradana. Dengan nada yang menyesal, ia minta diri, karena ia tidak dapat lebih lama lagi berada di Tanah Perdikan Sembojan.

"Kenapa tergesa-gesa?" bertanya Wiradana untuk berbasa-basi.

"Aku tidak ingin mengganggu Tanah Perdikan yang berduka ini," berkata Gandar. "Meskipun demikian bukan berarti bahwa aku telah melupakan adikku Iswari yang hilang di Tanah Perdikan ini. Dengan kematian Ki Gede aku semakin yakin, sebagaimana dikatakan oleh Ki Gede, bahwa keluarga Kalamerta masih tetap membayangi Tanah Perdikan ini."

Wiradana memaki di dalam hati. Tetapi ia menjawab, "Yang terjadi adalah diluar kemampuan kami. Kematian Iswari juga berada di luar kemampuan kami untuk mencegahnya. Bahkan kematian ayah sendiri."

"Aku mengerti," berkata Gandar. "Yang penting bagi Tanah Perdikan ini kemudian adalah menemukan. Siapakah keluarga Kalamerta yang masih berkeliaran dan melakukan pembunuhan-pembunuhan itu. Jika orang itu masih belum diketemukan, maka pada suatu saat, kau juga akan menjadi sasaran." Wiradana mengerutkan keningnya. Tetapi yang dikatakan oleh Gandar itu memang mungkin sekali terjadi. Seseorang dengan licik membunuhnya dengan paser-paser kecil beracun yang dilontarkan dengan sumpit.

Sambil mengangguk-angguk Wiradana berkata, "Baiklah Gandar. Agaknya aku sependapat. Sisa-sisa kekuatan Kalamerta yang masih ada di Tanah Perdikan ini memang harus dihancurkan sampai tuntas. Jika tidak, aku pun percaya kepada pendapatmu itu, mungkin pada suatu saat, akulah yang akan menjadi korbannya." "Terima kasih jika kau masih mau memikirkan hal itu, karena hal itu akan berarti bahwa kau juga memikirkan keselamatan sendiri," berkata Gandar.

Demikianlah maka Gandar pun hari itu telah meninggalkan Tanah Perdikan Sembojan. Tidak seorang pun yang mengetahui, bahwa Gandar telah membawa bandul yang tergantung pada seutas rantai yang terbuat dari emas.

Adalah diluar kehendaknya sendiri ketika kaki Gandar telah membawanya menelusuri pematang dan kemudian tanggul sungai yang pernah dilalui oleh Iswari dibawah ancaman patren seseorang perempuan yang disebut Serigala Betina. Tetapi ternyata bahwa Serigala Betina yang pernah terlibat kedalam dunia yang hitam itu masih

juga berjantung, sehingga Iswari tidak juga dibunuhnya. Meskipun seandainya hal itu akan dilakukan juga oleh Serigala Betina, Gandar sudah siap untuk menyelamatkannya.

Tetapi ternyata bahwa Gandar telah mengagumi sikap perempuan itu. Betapapun kelam hatinya namun masih juga ada sepercik cahaya yang memancar di dalam hatinya itu.

“Aku tidak boleh melupakannya,” berkata Gandar. “Jika saatnya Iswari muncul, maka perempuan itu harus diberitahu, agar ia menyingkir dari kemungkinan yang paling buruk karena pembalasan dendam Ki Wiradana.”

Sementara itu, di Tanah Perdikan Sembojan, kepergian Gandar ternyata mampu melapangkan dada Wiradana. Ia merasa bebas dari tatapan mata yang seakan-akan selalu menusuk-nusuk sampai ke jantung. Mata yang ingin melihat kenyataan dari tingkah lakunya terhadap istrinya yang dikatakannya hilang tanpa diketahuinya.

Dalam pada itu, sepeninggal Ki Gede, maka pemerintahan di Tanah Perdikan Sembojan telah dipegang sepenuhnya oleh Wiradana. Ia berusaha untuk menyesuaikan diri dengan apa yang pernah dilakukan oleh ayahnya. Setiap kali Wiradana pergi mengelilingi Tanah Perdikannya untuk melihat perkembangan kesejahteraan rakyatnya. Dengan demikian, maka Wiradana dapat mengamati dengan langsung apa yang sebenarnya diperlukan oleh rakyatnya.

Namun ternyata bahwa Wiradana memang bukan Ki Gede Sembojan. Bagaimanapun juga,

ada perbedaan di antara mereka. Wiradana mulai menunjukkan sifat-sifat yang lain dari ayahnya. Dengan kuasanya ia mulai menunjukkan sifat-sifat yang membingungkan orang-orang Sembojan.

Namun yang paling mengherankan orang-orang Sembojan, terutama para bebahu, setiap malam Wiradana masih saja tidak ada di rumahnya. Meskipun ia masih mempergunakan alasan yang mungkin dipercaya, mencari jejak hilangnya istrinya yang sudah lama terjadi serta mencari kemungkinan adanya sisa keluarga Kalamerta yang masih mendendam, namun beberapa orang mulai kurang mengerti atas tingkah lakunya.

Tetapi Wiradana memang tidak akan terlalu lama diombang-ambingkan oleh hubungannya yang samar-samar dengan istrinya. Ketika ia merasa kedudukannya sebagai Kepala Tanah Perdikan sudah mapan, meskipun belum diwisuda oleh penguasa Pajang, namun ia merasa berhak untuk menentukan sikap sesuai dengan

keinginannya.

Karena itu, maka ia mulai merintis jalan untuk mengambil istrinya dan membawanya kerumah.

Tetapi Wiradana tidak akan memberikan kesan bahwa ia sudah berhubungan dengan perempuan itu untuk waktu yang lama, agar tidak memancing pertanyaan bahkan mungkin dapat menuntun arah pikiran beberapa orang tua di Tanah Perdikan Sembojan tentang kematian istrinya.

Dengan demikian, maka Wiradana mempunyai gagasan untuk mengulangi perkawinannya

dengan Warsi sebagaimana dilakukan dengan Iswari, seolah-olah ia belum pernah melakukan perkawinan itu dengan Warsi.

Ketika rencana itu disampaikan kepada Warsi, maka sambil menarik nafas dalam-dalam Warsi berkata, “Segalanya terserah kepadamu kakang.” Meskipun demikian namun nampak wajah Warsi menjadi suram.

“Warsi,” berkata Wiradana kemudian. “Apakah kau mempunyai keberatan? Aku minta kau berterus terang. Meskipun seandainya pendapatmu itu sama sekali berlawanan dengan pendapatku. Karena bagiku, meskipun kau menyerahkan segala sesuatunya, tetapi hatimu tidak ikhlas, maka hal itu akan merupakan persoalan tersendiri bagi keserasian hidup kita kelak.”

Warsi memandang suaminya sekilas. Kemudian katanya, “Kakang. Aku memang tidak mempunyai pilihan lain. Meskipun dengan demikian aku menyadari, bahwa perkawinan kita selama ini benar-benar perkawinan yang tidak sewajarnya. Tetapi semuanya

itu sudah berlalu. Aku memang mengharap bahwa hari-hari kita yang akan datang akan menjadi lebih baik dari masa yang telah kita lalui, itu kakang.”

“Semua akan berubah Warsi. Kita akan hidup sewajarnya sebagai seorang suami istri. Tidak ada yang akan dapat menghalangi kita lagi, karena kekuasaan Tanah Perdikan ini sudah berada di tanganku meskipun aku belum diwisuda,” jawab Wiradana.

Warsi mengangguk-angguk. Katanya, “Memang segalanya terserah kepada kakang.” “Tetapi apakah kau juga melihat kemungkinan yang lebih baik bagi masa depan seperti yang kau katakan?” desak Wiradana.

Warsi termenung sejenak. Namun kemudian ia pun menganggukkan kepalanya. Demikianlah, maka Wiradana pun mulai membuka jalan bagi perkawinan yang akan diselenggarakannya lagi dengan upacara sebagaimana pernah dilakukannya.

Kepada orang-orang tua di Tanah Perdikan Sembojan, Wiradana menyampaikan keluhannya, bahwa baginya terlalu sepi untuk hidup seorang diri.

“Angger Wiradana,” berkata salah seorang tetua Tanah Perdikan, “Hilangnya angger Iswari telah melampaui waktu seratus hari. Bahkan sudah jauh lewat. Karena itu, seandainya memang ada niat di hati angger Wiradana untuk kawin lagi, maka aku kira memang tidak ada halangannya. Angger dapat memilih gadis yang manakah yang paling sesuai bagi angger Wiradana. Setiap orang tua akan dengan senang hati memenuhi permintaan angger atas anak gadis yang angger kehendaki.”

Tetapi Wiradana menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku belum mempunyai pilihan paman. Yang ingin aku dapatkan petunjuk, apakah pantas jika aku kawin lagi dalam waktu yang dekat ini. Jika hal itu memang pantas aku lakukan, baru kemudian aku akan memilih calon istriku itu.”

Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Seperti yang sudah aku katakan. Waktu yang diperlukan sudah lama lewat. Apalagi angger kini telah memangku jabatan ayah angger yang sudah tidak ada lagi. Aku kira memang sudah sepantasnya jika angger mengambil seorang istri yang pantas yang

setidak-tidaknya mendekati angger Iswari.”

Wiradana mengerutkan keningnya. Terbayang sekilas wajah, sikap dan tingkah laku Iswari yang sangat dikasihi ayahnya itu. Terngiang pula suara Iswari yang

kadang-kadang membaca kidung di malam hari, mengumandangkan, menggetarkan sepinya malam dengan suara-nya yang jernih.

Tidak seorang pun yang dapat menyangkal, bahwa Iswari telah meletakkan dirinya sesuai dengan kedudukannya, sebagai seorang menantu Kepala Tanah Perdikan.

Karena pada saat itu, Ki Gede tidak lagi mempunyai seorang istri, maka

seakan-akan Iswarilah yang mengisi kedudukan istri Kepala Tanah Perdikan itu. Meskipun umurnya masih cukup muda, tetapi ternyata Iswari berhasil menarik perhatian perempuan-perempuan di Tanah Perdikan Sembojan dengan sikap, tingkah laku dan kecapakannya.

Untuk sekejab Wiradana sempat memperbandingkan kedua orang perempuan yang menjadi istrinya itu. Warsi bagi Wiradana adalah seorang perempuan yang lembut, luhur budi dan hatinya yang mudah tersentuh.

“Mudah-mudahan dengan bekal sifat-sifatnya itu, Warsi akan merebut hati perempuan Tanah Perdikan ini melampaui Iswari’’ berkata Wiradana di dalam hatinya.

Meskipun demikian agaknya Wiradana sendiri kurang yakin. Hampir seluruh Tanah Perdikan ini mengetahui, bahwa Warsi adalah seorang penari keliling yang mendapat nafkahnya dari belas kasihan orang atau yang ingin melihat tariannya.

Bahkan ada yang terdorong oleh satu keinginan yang kasar untuk menari bersama dalam satu acara tayub atau bahkan janggrung.

“Aku tidak peduli,” Wiradana akhirnya tidak mau lagi membuat

pertimbangan-pertimbangan. Agaknya hatinya memang sudah terbius oleh kecantikan penari itu.

Namun pendapat salah seorang tetua Tanah Perdikan itu membuat hati Wiradana menjadi agak terang. Ketika ia menghubungi beberapa orang lain, maka mereka pun sependapat. Bahwa tidak ada lagi kesulitannya jika Wiradana memang ingin kawin lagi.

Dengan cermat Wiradana mengatur segalanya. Ia tidak percaya kepada siapapun juga untuk ikut memikirkan tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kemudian. Namun ia sudah bertekad bahwa segalanya harus berlangsung.

Ketika saatnya sudah tiba, maka Wiradana pun memanggil beberapa orang tua di Tanah Perdikan Sembojan. Dengan beberapa penjelasan dan bahkan bernada tekanan, Wiradana akhirnya menyampaikan kepada orang-orang tua itu, “Paman dan para tetua Tanah Perdikan. Ternyata bahwa setelah aku berusaha untuk menemukan seorang perempuan yang pantas untuk menjadi istriku, akhirnya aku mendapatkan juga.” Orang-orang tua itu saling berpandangan. Namun kemudian salah seorang di antara mereka bertanya, “Siapakah perempuan itu ngger?”

“Besok pada saatnya, paman akan mengetahuinya juga,” jawab Wiradana. Orang tua itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tidak bertanya lagi, karena agaknya Wiradana masih belum ingin mengatakannya.

Sementara itu, di padepokan kecil Kiai Badra, Gandar telah melaporkan semua yang dialami. Bahkan kecurigaannya kepada istri Wiradana pun telah dikatakannya pula kepada Kiai Badra.

Orang tua itu menjadi sangat berprihatin mendengar laporan Gandar tentang Tanah Perdikan Sembojan. Terbayang di angan-angan Kiai Badra, bahwa jika Wiradana masih saja berpijak pada watak dan sifat-sifatnya, serta dikendalikan oleh perempuan yang termasuk keluarga Kalamerta menilik sikap ilmunya, maka Tanah Perdikan Sembojan akan menjadi Tanah Perdikan yang paling buruk di seluruh Pajang, sehingga apabila hal itu diketahui oleh Adipati Pajang, maka Wiradana tentu tidak akan diwisuda.

Namun dalam pada itu, Gandar pun telah memberitahukan pula tentang bandul yang dibawanya. Bandul yang bergantung pada seutas rantai dan terbuat dari emas. “Benda itu tentu akan dibutuhkan saat Wiradana akan diwisuda,” berkata Kiai

Badra.

“Bagaimana jika tanpa benda itu?” bertanya Gandar.

“Aku tidak tahu. Tetapi mungkin Wiradana akan mendapat kesulitan,” jawab Kiai Badra.

Gandar termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Aku tidak rela menyerahkan benda

ini kepada Wiradana. Apalagi jika kelak perempuan yang menjadi istrinya itu melahirkan anak pula. Maka anak Iswari itu tentu akan tersisih dari kemungkinan untuk mendapatkan haknya.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Sebenarnya Kiai Badra sama sekali tidak terikat kepada satu keinginan bahwa anak cucunya itu harus menjadi Kepala Tanah Perdikan. Ia bukan termasuk salah seorang yang tergila-gila kepada pangkat dan kedudukan. Namun seperti juga Gandar, maka ia tidak mau rasa keadilannya tersinggung. Disingkirkannya Iswari dengan cara yang kotor itu telah membuat darahnya menjadi panas. Untunglah bahwa ia masih mampu menahan diri dan tidak melakukan satu langkah tanpa dipertimbangkan dengan nalar. Sementara itu Tuhan masih memberikan titik terang dihati perempuan yang disebut Serigala Betina itu, yang menilik sifat-sifatnya tidak akan mungkin mempunyai perasaan yang jernih terhadap Iswari. Namun ternyata Tuhan menghendaki demikian.

Karena itu, maka Kiai Badra pun kemudian berkata, “Baiklah Gandar. Kita akan

dapat menyimpan untuk sementara bandul itu. Kita akan melihat perkembangan Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, kau dapat setiap kali jika kau senggang dan tidak

ada pekerjaan untuk pergi ke Tanah Perdikan itu. Mungkin kau akan mendapat bahan pertimbangan untuk mengambil langkah selanjutnya.”

Gandar mengangguk. Katanya, “Rasa-rasanya memang menarik untuk setiap kali pergi ke Tanah Perdikan itu Kiai. Nampaknya Tanah Perdikan itu tidak akan berkembang menjadi baik. Tetapi justru sebaliknya.”

“Hal itu sudah dapat dibayangkan Gandar,” berkata Kiai Badra. “Tetapi apakah untuk seterusnya tidak ada usaha yang dapat menolong Tanah Perdikan itu dari kehancuran.”

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun berdesis, “Anak itu pada suatu saat harus mampu menjadikan Tanah Perdikan itu jauh menjadi lebih baik.”

Kiai Badra tidak menyahut. Sementara itu, maka Gandar pun berdesis, “Aku akan pergi ke kandang Kiai.”

“Pergilah,” jawab Kiai Badra. “Kuda yang berwarna coklat merah itu sudah agak lama tidak mendapat kesempatan untuk berlari-lari.”

Gandar pun kemudian meninggalkan Kiai Badra yang duduk merenungi diri. Namun tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk bertemu dengan Iswari dan sekaligus melihat, apa saja yang dilakukan di Tlaga Kembang.

Pagi-pagi benar Gandar sudah menyiapkan dua ekor kuda. Mereka akan pergi berkuda menuju ke Tlaga Kembang.

Tidak ada persoalan apapun yang timbul di perjalanan. Demikian mereka memasuki regol padepokan Tlaga Kembang, maka para cantrik yang ada di padepokan itu telah menyambut mereka dengan ramahnya

“Marilah Kiai,” cantrik itu mempersilakan.

Setelah menyerahkan kuda mereka kepada para cantrik maka keduanya pun kemudian duduk di pendapa rumah induk padepokan itu.

Sejenak kemudian maka seorang cantrik telah menghidangkan minuman dan makanan serta mempersilakan mereka minum.

“He,” bertanya Kiai Badra, “Dimana Kiai dan Nyai Soka?”

Cantrik itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Mereka berada di sebuah pondok kecil di tepi Tlaga Kuning, disebelah grojogan air di lereng bukit.”

“O, apakah mereka sedang berjalan-jalan?” bertanya Kiai Badra kemudian. “Tidak. Mereka sudah disana selama lebih dari sepekan,” jawab cantrik itu. “Untuk apa? Dan dimana Iswari?” bertanya Kiai Badra pula dengan gelisah. “Iswari ikut bersama mereka,” jawab cantrik itu.

“Dan anaknya?” bertanya Kiai Badra selanjutnya.

“Anak itu dibawa serta,” jawab cantrik itu. “Tetapi mereka membawa seorang pemomong yang akan dapat membantu Iswari melayani anaknya yang mulai nakal itu.”

“O,” Kiai Badra tersenyum. “Apa yang sudah dilakukan oleh anak itu?” “Berteriak-teriak,” jawab cantrik itu. “Setiap pagi sebelum dini hari bersahut-sahut dengan kokok ayam jantan.”

Kiai Badra tertawa. Keinginannya untuk bertemu dengan cucu dan cicitnya itu menjadi semakin mendesaknya. Karena itu, maka katanya kemudian, “Apakah letak Tlaga Kuning itu jauh?”

“Tidak,” jawab cantrik itu.

“Tolong, bawa aku ke Tlaga itu,” berkata Kiai Badra kemudian.

“Tetapi Kiai bermalam disini saja untuk malam ini. Sekarang langit sudah menjadi merah,” jawab cantrik itu.

“Tetapi bukankah Tlaga Kuning itu tidak terlalu jauh?” sahut Kiai Badra. “Memang tidak terlalu jauh,” jawab cantrik itu. “Tidak ada setengah malam perjalanan.”

“He, setengah malam perjalanan? Dan itu kau katakan tidak terlalu jauh?” berkata Kiai Badra kemudian.

Cantrik itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya pula, “Bukan kah tidak terlalu jauh dibandingkan dengan padepokan Kiai itu?”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Memang tidak terlalu jauh. Tetapi aku sependapat, bahwa besok aku akan pergi ke Tlaga Kuning.”

Malam itu Kiai Badra dan Gandar telah sepakat untuk bermalam saja di luar padepokan.” “Ada apa sebenarnya?” bertanya Kiai Badra.

Cantrik itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kiai. Sebenarnyalah Kiai dan Nyai Soka berusaha untuk menghindarkan diri dari satu pertumpahan darah. Seorang sahabat Kiai Soka dimasa mudanya merasa kehilangan seorang ayah. Orang itu menduga, bahwa ayahnya telah dibunuh oleh guru Kiai Soka pada saat itu. Pada satu waktu yang sudah lama. Tetapi dendamnya tiba-tiba beralih kepada Nyai dan Kiai Soka sekarang ini.”

Kiai Badra mengerutkan keningnya. Hampir diluar sadarnya ia bertanya, “Apakah orang itu orang yang sangat luar biasa. Maksudku, bahwa Kiai dan Nyai Soka terpaksa mengungsi?”

“Bukan mengungsi Kiai. Tetapi mereka menghindari pertumpahan darah. Agaknya Kiai Soka masih ingin memberikan penjelasan. Tetapi tidak dalam keadaan seperti ini.

Orang itu tentu tidak akan mendengarkannya. Karena itu, maka padepokan ini lebih baik dikosongkan. Mereka tidak akan menemukan lawan di padepokan ini.”

“Siapa orang yang memusuhi adikku itu?” bertanya Kiai Badra.

“Aku kurang tahu Kiai. Tetapi sebaiknya Kiai juga menghindarkan diri dari kemungkinan yang buruk yang dapat terjadi,” berkata cantrik itu.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, “Lalu bagaimana dengan kalian?”

“O,” jawab cantrik itu. “Kami hanya cantrik-cantrik padepokan. Tentu mereka tidak akan berbuat apa-apa terhadap kami.”

Kiai Badra memandang Gandar sejenak. Namun kemudian katanya, “Gandar. Marilah kita menyingkir. Malam ini padukuhan ini akan didatangi oleh orang-orang yang ingin membalas dendam kepada Kiai Soka karena peristiwa sekian puluh tahun yang lalu.”

“Baiklah Kiai. Aku akan ikut saja apa yang Kiai perintahkan,” jawab Gandar.

Namun dalam pada itu Kiai Badra bertanya, “Lalu bagaimana dengan kuda-kuda kami. Orang-orang yang membalas dendam itu mungkin seorang yang gemar sekali mengumpulkan kuda. Bukankah dengan demikian semua kuda di padepokan ini akan dibawa oleh penjahat itu.

Para cantrik itu termenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Kiai benar. Kuda-kuda itu pun harus disingkirkan.”

Dengan demikian, maka para cantrik di padepokan itu pun telah membawa Kiai

Badra, Gandar dan beberapa ekor kuda menyingkir. Mereka telah membawa kedua tamu mereka jauh dari padepokan itu. Karena di halaman rumah itu tidak ada kandang, maka kuda-kuda itu pun telah diikat saja pada batang-batang pohon.

Pemilik rumah itu ternyata orang yang sangat ramah. Mereka mempersilakan Kiai Badra dan Gandar untuk berada di ruang dalam.

“Silakan Ki Sanak,” berkata orang itu, “Menurut para cantrik, padepokan itu akan didatangi oleh orang-orang yang berniat buruk, sehingga Ki Sanak terpaksa diungsikan kemari.”

“Begitulah menurut para cantrik,” jawab Kiai Badra. “Kami sama sekali tidak menyangka, bahwa akan terjadi hal seperti itu disini. Jika kami mengetahuinya, maka lebih baik kami tidak datang di padepokan ini.”

“Tetapi Ki Sanak dapat tinggal disini dengan tenang. Aku sudah kenal dengan baik Kiai dan Nyai Soka. Bahkan sudah seperti keluarga sendiri. Karena itu, aku sama sekali tidak berkeberatan Ki Sanak berada di rumah ini semalam justru untuk menghindarkan diri dari kemungkinan-kemungkinan buruk,” berkata pemilik rumah itu. “Anggaplah rumah ini sebagai bagian dari padepokan Kiai dan Nyai Soka.” “Terima kasih Ki Sanak,” jawab Kiai Badra.

Ketika kemudian malam turun dan gelap pun menyelubungi padepokan kecil itu, maka Kiai Badra dan Gandar telah berada di dalam bilik yang disediakan untuk mereka. “Kenapa kita tidak pergi saja ke Tlaga Kuning Kiai?” bertanya Gandar. “Bukankah

itu lebih baik daripada kita berada disini.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Rasa-rasanya ada yang mengikat aku disini. Aku sebelumnya tidak pernah mendengar adikku itu pernah bermusuhan dengan siapapun juga. Kini tiba-tiba seseorang telah datang untuk membalas dendam. Seandainya benar kata cantrik itu, bahwa yang datang untuk membalas dendam itu adalah sahabat Kiai Soka di masa mudanya, memang mungkin aku

tidak mengetahuinya. Hal itu mungkin sekali terjadi sebelum Kiai Soka kawin dengan adikku. Tetapi adalah mengherankan sekali, bahwa tiba-tiba setelah sekian

puluh tahun, orang yang pernah menjadi seorang sahabat itu datang untuk membalas dendam.”

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Ia pun sebenarnya juga dihinggapi keinginan untuk mengetahui apa yang akan terjadi, dan kenapa tiba-tiba saja sahabat itu teringat untuk membalas dendam.

Karena itu, maka Gandar pun kemudian sependapat dengan Kiai Badra untuk berada di rumah kecil itu. Bahkan seandainya sahabat itu tidak datang malam itu, Kiai Badra akan menunggu di malam berikutnya.

Ketika keduanya sudah mendapatkan su-guhan makan malam, maka kedua orang itu telah berada kembali di dalam biliknya. Untuk mengisi waktu maka Gandar mulai berbicara tentang anak laki-laki Iswari dan bandul yang dibawanya.

Sebenarnyalah bahwa malam itu dua orang berkuda telah mendekati padepokan Tlaga Kembang. Dua orang yang bertubuh tegap kekar. Meskipun umur mereka sudah melampaui pertengahan abad, namun nampak bahwa mereka masih tetap orang-orang yang memancarkan kemampuan yang tinggi yang tersimpan di dalam dirinya.

Di dalam sepinya malam kuda itu berderap di atas jalan berbatu-batu. Kemudian mereka mulai memperlambat kuda mereka setelah mereka mendekati regol padepokan Kiai dan Nyai Soka yang kosong, selain beberapa cantrik yang tidak mengetahui persoalan yang dibawa oleh kedua orang itu secara pasti. Yang mereka ketahui

adalah sebagaimana yang mereka katakan kepada Kiai Badra dan Gandar yang mereka singkirkan ke rumah seorang penghuni padukuhan sebelah.

Namun satu hal yang harus diingat oleh para cantrik, bahwa mereka tidak perlu mengatakan dimana Kiai dan Nyai Soka berada. Apapun yang terjadi atas mereka, namun mereka harus tetap merahasiakannya.

Sejenak kemudian, maka kedua orang itu pun sudah turun dari kuda mereka dan mengetuk regol padepokan. Seolah-olah mereka adalah tamu-tamu yang memang sudah diharapkan tanpa keseganan dan apalagi berusaha memasuki padepokan dengan

diam-diam.

Beberapa kali orang itu mengetuk pintu. Baru kemudian seorang cantrik berlari-lari membuka pintu regol.

Jantung cantrik itu menjadi berdebar-debar. Ia sudah menduga bahwa yang datang itu tentu orang yang dikatakan oleh Kiai Soka sebagai orang-orang yang ingin membalas dendam.

Namun justru karena itu, maka cantrik itu menjadi bagaikan terbungkam. Ia berdiri saja memandangi kedua orang itu dengan mata yang tidak berkedip. Namun mulutnya tidak dapat mengucapkan sepatah katapun.

Karena cantrik yang membuka pintu regol itu tidak mengucapkan kata-kata, maka salah seorang dari kedua orang itulah yang bertanya, “Apakah kau ingin mempersilakan aku masuk?”

Cantrik itu menjawab dengan gagap, “Ya. Ya. Silakan.” Kedua orang itu pun kemudian menuntun kuda mereka memasuki halaman padepokan itu. Rasa-rasanya padepokan kecil itu memang sepi. Apalagi di malam hari.

Keduanya pun kemudian mengikatkan kuda mereka pada tonggak-tonggak yang sudah tersedia di halaman. Kemudian berdiri tegak sambil menunggu.

Cantrik yang mengikutinya itu pun kemudian menyadari, bahwa ia harus mempersilakan kedua orang itu sebagaimana ia mempersilakan seorang tamu. Karena itu, maka katanya kemudian, “Marilah Ki Sanak. Silakan naik ke pendapa.”

Kedua orang itu saling berpandangan. Namun kemudian keduanya pun telah naik pula ke pendapa.

Sejenak kemudian cantrik-cantrik yang memang sudah siap telah menghidangkan minuman panas dan makanan. Tetapi keduanya yang duduk di pendapa itu menunggu, kenapa Kiai dan Nyai Soka tidak segera keluar menemui mereka.