-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 08

Jilid 08

“Membunuhku? Kau bohong. Suamiku tidak akan berbuat seperti itu,” suara Nyai Wiradana hampir tidak dapat meloncat dari bibirnya.

“Jangan menyesali nasib,” berkata perempuan itu. “Aku adalah perempuan yang paling kotor di antara kaumku. Aku telah membunuh beberapa orang dalam kerjaku.

Merampok, menyamun dan merampas milik orang lain. Pada saat aku sudah melupakan darah yang tercecer pada tubuhku, maka aku mendapat tugas yang mirip kerja itu.

Membunuhmu.”

“Omong kosong,” teriak Iswari. “Tentu bukan suamiku.”

“Jangan berteriak Nyai,” desis perempuan itu. “Tidak ada gunanya. Tempat ini tidak pernah dikunjungi orang.”

“WAJAH Iswari menjadi semakin pucat. Selangkah ia bergeser surut. Tetapi nampaknya perempuan itu memang terlalu garang.

Namun tiba-tiba saja suara perempuan itu berubah, “Nya. Aku memang seorang pembunuh. Tetapi ketika aku menyadari, bahwa Nyai baru mengandung rasa-rasanya hatiku tergetar karenanya. Jika aku membunuhmu, berarti aku telah membunuh dua nyawa sekaligus. Dua nyawa yang sama sekali tidak berdosa.”

Iswari justru menjadi termangu-mangu melihat sikap perempuan itu. Namun ia menjadi bagaikan terbungkam karenanya.

Ketika perempuan itu selangkah maju, maka Iswari pun melangkah mundur. Namun perempuan itu berdesis, “Jangan mundur lagi Nyai. Kau dapat terjerumus ke dalam tebing. Jika kau terperosok masuk ke dalam kedung itu, maka kau tidak akan

pernah dapat keluar lagi. Bukankah kita sama-sama mengetahui bahwa di dalam kedung itu bahkan disungai kecil ini ka-dang-kadang terdapat buaya-buaya kerdil namun yang ternyata sangat rakus itu.”

Kulit tubuh Iswari meremang. Di luar sadar-nya ia berpaling, memandang ke arah kedung dibawahnya.

“O,” Iswari memekik kecil.

“Tenanglah Nyai,” berkata orang yang mengaku Nyai Jagabaya itu. “Aku sudah berterus terang kepada Nyai, bahwa aku mendapat perintah dari suamimu untuk membunuhmu karena aku menganggap bahwa kau tidak akan pernah dapat membuka rahasia ini. Tetapi ternyata bahwa nuraniku berkata lain. Betapapun kotornya tanganku oleh darah orang-orang yang pernah aku bunuh, tetapi sebenarnyalah

Nyai, aku tidak sampai hati membunuhmu.”

Ternyata perempuan itu seakan-akan ingin membuktikan kata-katanya. Sejenak kemudian maka ia pun telah menyarungkan patremnya sambil berkata, “Nyai. Aku tidak akan membunuh Nyai. Tetapi dengan demikian akan timbul persoalan. Jika Nyai kembali ke rumah Ki Gede, maka Ki Wiradana akan mengetahui bahwa aku tidak melakukan kewajibanku dengan baik.”

Iswari masih tetap terbungkam. Namun nampaknya perempuan itu berhasil meyakinkan

Iswari, katanya, “Karena itu Nyai. Marilah kita saling menolong. Aku tidak akan membunuh Nyai, tetapi aku minta Nyai jangan kembali ke rumah Ki Gede Sembojan. Terserah kepada Nyai, kemana Nyai akan pergi. Bukankah Nyai berasal dari sebuah padepokan yang agak jauh, sehingga Nyai dapat kembali ke padepokan itu dan minta kepada kakek Nyai perlindungan? Tetapi aku pun minta perlindungan. Kakek Nyai jangan membuka rahasia ini, karena dengan demikian justru nyawakulah yang terancam.” “O,” Iswari berdesah, “Kau berkata sebenar-nya?”

“Aku berkata sebenarnya Nyai. Aku akan mengatakan bahwa aku telah membunuh Nyai dan melemparkannya kedalam kedung itu. Mereka tidak akan ribut mencari mayat Nyai, karena mereka tentu menyangka bahwa mayat Nyai telah dimakan oleh

buaya-buaya kerdil di dalam kedung itu,” berkata perempuan itu.

ISWARI tidak dapat menahan air matanya. Meskipun ia menyadari, bahwa perjalanan ke padepokan kakeknya memerlukan perjalanan yang sangat melelahkan, apalagi pada saat ia sedang mengandung, namun agaknya hal itu lebih baik daripada ia harus

mati di tebing kedung dan kemudian mayatnya menjadi makanan buaya kerdil. Jika ia masih hidup, maka ia akan dapat berusaha dengan cara apapun juga untuk mencapai padepokan kakeknya.

“Terima kasih Nyai,” desis Iswari. “Jika kita berkesempatan untuk bertemu lagi, aku tidak akan melupakan kebaikan hati Nyai. Nyai telah menyelamatkan nyawaku

dan nyawa anakku yang masih berada di dalam kandungan,” Iswari berhenti sejenak, lalu, “Tetapi Nyai, jika aku boleh mengetahui, kenapa suamiku ingin membunuh aku?”

Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Ki Wiradana memang seorang laki-laki yang kurang bertanggung jawab Nyai. Aku minta Nyai jangan

terkejut. Keresahan dihati Nyai akan dapat berakibat buruk bagi anak di dalam kandungan Nyai. Karena itu ikhlaskan saja tingkah laku suamimu Nyai. Serahkan semuanya kepada nasib.”

“Ya, tetapi kenapa?” Iswari semakin ingin tahu.

“Ketahuilah Nyai, sebenarnya suamimu telah beristri lagi,” jawab perempuan itu ragu.

“Oh,” Iswari menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya tiba-tiba saja bagaikan terguncang.

Untunglah bahwa perempuan itu cepat meloncat dan menangkap Iswari sambil berkata, “Nyai, hati-hatilah. Dibawah itu adalah kedung yang menyimpan

buaya-buaya kerdil yang dapat mengoyak tubuh Nyai. Jika Nyai tergelincir masuk ke dalamnya, maka sia-sialah usahaku untuk membiarkan Nyai untuk tetap hidup.” Iswari menyadari keadaannya. Bahkan tiba-tba saja, darahnya yang seakan-akan berhenti mengalir, telah bergejolak. Wajahnya yang pucat telah membara. Kekuatan yang tidak dikenal telah mengalir di dalam dirinya.

Perlahan-lahan ia melepaskan diri dari tangan perempuan yang mendapat perintah dari suaminya untuk membunuhnya. Dengan suara bergetar oleh gejolak di dalam hatinya ia berkata, “Nyai, sebenarnyalah terima kasihku kepadamu tidak terhingga. Sekarang aku minta diri. Aku akan mencari jalan kembali ke padepokan.

Aku tidak mau mati sebelum aku bertemu dengan kakek. Aku berdoa dan memohon, semoga keinginanku dikabulkan oleh Yang Maha Agung.”

“Yang Maha Agung,” perempuan itu mengulang, “Sebutan yang asing bagiku. Tetapi aku akan membantumu berdoa bagi Yang Maha Agung.”

“Terima kasih. Mudah-mudahan kau pun tidak akan mengalami kesulitan,” berkata Iswari.

“Kita akan berpisah Nyai. Aku akan bertemu dengan Ki Wiradana besok pagi. Aku akan membasahi patremku. Aku akan mengatakan, bahwa patremku telah aku cuci semalam,” berkata perempuan itu.

Iswari tidak menjawab. Dipandanginya perempuan itu dengan tajamnya. Di dalam gelapnya malam, perempuan itu merasakan, bahwa sorot mata Iswari memancarikan ucapkan terima kasih yang tidak terhingga bercampur dengan kemarahan yang menyesak di dadanya.

Perempuan itulah yang lebih dahulu berkisar dan melangkah meninggalkan Iswari. Beberapa langkah ia berpaling. Perempuan itu masih sempat mengangkat tangannya, memberikan salam perpisahan yang dijawab pula oleh Iswari meskipun tangannya terasa gemetar.

Beberapa saat kemudian, perempuan itu telah hilang didalam gelapnya malam. Yang tinggal kemudian adalah Iswari sendiri. Ketika perempuan yang semula mengaku Nyai Jagabaya itu sudah tidak nampak lagi, maka malam pun seakan-akan menjadi semakin pekat. Kekuatan asing yang muncul di dalam dirinya tiba-tiba telah lenyap pula.

Iswari berjongkok di tebing itu sambil menangis. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia tidak tahu, jalan manakah yang harus ditempuh jika ia ingin kembali ke padepokannya. Ia baru sekali menempuh perjalanan itu. Dari padepokannya ke Tanah Perdikan Sembojan. Dan terlalu sulit baginya untuk mengingat kembali jalan yang ditempuhnya pada waktu itu. Apalagi di malam hari.

Iswari terpekik kecil ketika ia merasa tubuhnya digamit seseorang. Tiba-tiba saja ia bangkit berdiri sambil berputar.

Sekali lagi Iswari terkejut. Dalam keremangan malam ia melihat seseorang yang agaknya sudah dikenalnya dengan baik, sehingga demikian ia melihat bentuk bayangan kehitaman di hadapannya, ia langsung dapat mengenalinya. "Kakang Gandar?" desis Iswari.

Orang itu memang Gandar. Karena itu jawabnya, "Ya, Iswari. Aku Gandar."

Tiba-tiba saja Iswari berlari memeluknya sambil menangis. Di sela-sela tangisnya ia berdesis, "Kakang, nasibku ternyata sangat buruk kakang."

"Sudahlah Iswari," sahut Gandar. "Jangan menangis. Aku sudah mengetahui seluruhnya apa yang terjadi atas dirimu. Aku menunggui pembicaraanmu dengan perempuan itu. Tetapi karena ternyata perempuan yang disebut serigala betina itu tiba-tiba saja membatalkan niatnya, untuk membunuhmu, maka rasa-rasanya aku tidak perlu berbuat apa-apa terhadapnya."

"O," Iswari bertanya, "Jadi kakang melihat semua yang terjadi dan mendengar semua pembicaran kami?"

"Ya, Iswari. Aku tahu, bahwa perempuan itu telah mendapat perintah dari Wiradana untuk membunuhmu, karena Wiradana telah kawin lagi," jawab Gandar. "Tetapi kita wajib berterima kasih kepada Yang Maha Agung dan kepada perempuan yang telah melepaskan kau dari malapetaka itu. Betapa buramnya hatinya, tetapi rasa-rasanya

ia masih juga mendapat cahaya di dalam hatinya, sehingga ia tidak mau membunuhmu karena kau sedang mengandung."

Iswari masih saja terisak. Namun Gandar berkata, "Sudahlah Iswari. Kau harus kembali kepada tekadmu. Kau tidak mau mati sebelum bertemu dengan kakekmu, Kiai Badra."

Iswari mengangguk sambil berdesis, "Ya kakang. Aku harus bertemu dengan kakek. Kakeklah yang semula mempertemukan aku dengan Wiradana."

"Tetapi kau jangan menyalahkan kakekmu Iswari. Aku kira Wiradana menurut perhitungan kewadagan, memang seorang laki-laki yang pentas menjadi suamimu. Tetapi ternyata bahwa perhitungan itu salah."

Iswari hanya menundukkan kepalanya saja. Sementara itu, maka Gandar pun berkata, "Marilah Iswari. Aku antar kau pulang."

"Tetapi kenapa tiba-tiba saja kakang berada disini? Bukankah dua hari yang lalu, kakang telah minta diri untuk kembali ke padepokan?" bertanya Iswari tiba-tiba. "Ya, Iswari," jawab Gandar. "Tetapi aku mendapat firasat buruk tentang dirimu. Karena itu aku mengurungkan niatku untuk pulang. Bahkan timbul niatku untuk mengawasimu setiap malam. Ternyata yang terjadi adalah seperti ini."

Iswari menarik nafas dalam-dalam, sementara sekali lagi Gandar berkata, "Marilah. Kita tinggalkan tempat ini sebelum Wiradana datang untuk menyaksikan apakah kau benar-benar sudah tidak ada."

"Marilah kakang," jawa Iswari.

Tetapi sementara itu, Gandar berkata, "Iswari. Berjalanlah menyusuri tebing itu dahulu. Aku akan meninggalkan bekas yang akan meyakinkan Wiradana bahwa kau memang sudah tidak ada lagi. Dengan demikian, aku pun sudah membantu perempuan yang tidak sampai hati membunuhmu itu, agar ia mendapat kepercayaan dari Wiradana."

"Apa yang akan kau lakukan?" bertanya Iswari.

“DI tempat ini harus ada bekas darah,” jawab Gandar. Dengan demikian, maka perbuatan perempuan yang disebut serigala betina itu benar-benar meyakinkan. “Bagaimana kau mendapatkan darah itu,” bertanya Iswari pula.

“Tidak terlalu sulit Iswari. Aku ingin melukai tanganku sendiri dan menitikkan darah itu ditebing ini. Kemudian aku akan dapat mengobatinya sehingga luka itu pampat. Tidak terlalu banyak, asal bekas itu ada.”

Iswari menjadi berdebar-debar. Tetapi ia menurut sebagaimana dikatakan oleh Gandar. Ia pun kemudian melangkah beberapa langkah menjauh.

Dalam pada itu, Gandar melakukan sebagaimana dikatakannya. Ia telah menggigit tangannya sendiri. Kemudian menghamburkan darah yang mengalir dari luka itu di atas tebing dan dicaukannya pada lereng tebing itu pula. Memang tidak terlalu banyak, karena Gancar pun kemudian menghamburka obat pada luka itu, sehingga luka itu menjadi pampat.

Sejenak Gandar berdiri tegak. Dipusatkannya kemampuannya pada indera penglihatannya, sehingga meskipun malam menjadi bertambah gelap, namun ia dapat melihat noda-noda darah ditebing itu.

“Sudah cukup,” desis Gandar kepada diri sendiri.

Sejenak kemudian, maka Gandar pun telah menyusul Iswari yang sudah berjalan beberapa langkah menjauh. Ketika ia berada dibelakangnya, maka ia pun berdesis, “Iswari. Ingat. Kau harus sampai kepada kakekmu. Karena itu, kau harus dapat mengatasi kelemahan wadagmu, meskipun kau harus mengingat pula kandunganmu.

Kita

harus menempuh perjalanan agak jauh. Bukankah kau masih ingat serba sedikit, pada saat kau datang kemari?”

Iswari mengangguk. Dan Gandar pun berkata lebih lanjut, “Tetapi sekali lagi kau harus yakin, bahwa kau akan bertemu dengan kakekmu dalam keadaan yang baik.” Demikianlah, maka keduanya pun telah melanjutkan perjalanan. Gandar tidak merasa perlu untuk tergesa-gesa. Ia sadar, bahwa Iswari tidak akan dapat berjalan

terlalu cepat karena kandungannya. Sementara itu, ia merasa bahwa orang-orang Wiradana tentu tidak akan mencarinya lagi. Kecuali ditebing itu sudah ada bekas darah, maka seperti yang dikatakan oleh serigala betina itu, bahwa seseorang yang terperosok kedalam kedung itu, tentu akan menjadi makanan buaya-buaya kerdil yang terdapat di dalam kedung itu.

Namun dalam perjalanan itu, Gandar sempat menilai perempuan yang menyebut dirinya serigala betina itu. Ia mungkin benar, seorang perempuan yang telah

menjadi berandal dan melakukan perampokan dan pembunuhan. Tetapi sebenarnyalah menurut Gandar, dibanding dengan istri Wiradana yang cantik itu, perempuan yang disebut serigala betina itu belum bernilai sekuku irengnya. Serigala betina itu

sama sekali tidak akan berarti apa-apa bagi istri Wiradana yang cantik, yang menurut penilaian Gandar, tentu mempunyai ilmu yang sangat tinggi, sebagaimana Kalamerta.

Meskipun Gandar dan Iswari berjalan tidak terlalu cepat, namun mereka pun semakin lama menjadi semakin jauh. Namun Iswari tidak perlu cemas, bahwa ia akan kehilangan jalan. Gandar tentu tidak akan kehilangan arah kembali ke padepokannya.

Dalam pada itu, maka perempuan yang disebut serigala betina itu tidak langsung menuju ke rumah Ki Wiradana. Ia ingin pulang dan beristirahat. Baru di pagi hari berikutnya, ia akan melaporkan hasil kerjanya kepada Wiradana.

Namun, alangkah terkejutnya perempuan itu, ketika ia memasuki halaman rumahnya, Wiradana telah duduk diserambi, di atas amben bambo yang memang diletakkannya di serambi itu.

“Ki Wiradana,” desis serigala betina itu.

Ki Wiradana mengangguk, “Ya, Nyai. Aku sudah menunggumu.” “Marilah. Silakan masuk,” perempuan itu mempersilakan.

“Terima kasih. Aku sudah lama duduk di sini. Yang ingin segera aku ketahui, bagaimana hasil tugasmu itu Nyai?” bertanya Ki Wiradana.

“O, semuanya berjalan lancar. Aku sudah menyelesaikannya di tebing, di atas kedung. Kemudian melemparkannya ke dalam kedung itu sebagaimana Ki Wiradana kehendaki,” jawab perempuan itu. Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Nyai. Cobalah berikan patremmu itu kepadaku,” berkata Wiradana.

Jantung perempuan itu menjadi berdeguban. Namun kemudian katanya, “Aku sudah mencucinya.”

“O,” Wiradana mengerutkan keningnya. “Apakah menjadi kebiasaanmu mencuci patrem itu dengan air wantah? Bukankah kau setiap kali memandikan patremmu dengan warangan?”

Perempuan yang disebut serigala betina itu termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, “Aku tidak ingin patremku berbau bacin. Aku telah menusuk tubuh seorang yang sedang mengandung. Satu perbuatan terkutuk yang seharusnya tidak aku lakukan. Tetapi karena upah yang Ki Wiradana tawarkan terlalu banyak, maka aku telah melakukannya. Tetapi justru karena itu, aku telah mencuci kerisku. Tidak dengan air, tetapi dengan pasir. Aku hujamkan patrem ini ke dalam pasir beberapa kali sehingga bersih karenanya. Meskipun pasir ditepian itu basah juga oleh air, tetapi nilainya berbeda. Dan sudah barang tentu, aku harus memandikan kerisku dengan warangan, sehingga keris kecilku ini tidak kehilangan daya bunuhnya.”

Ki Wiradana bangkit dari duduknya. Ia melangkah mendekati perempuan itu sambil berkata, “Tunjukkan keris kecilmu itu.”

Serigala betina itu tidak berbuat dengan ragu-ragu. Dengan tatag diserahkannya patremnya kepada Ki Wiradana. Namun demikian patrem itu diterima, maka perempuan

itu telah melangkah surut.

Ki Wiradana telah menarik patrem itu dari sarungnya. Namun seperti dikatakan oleh perempuan itu, bahwa patrem itu telah bersih. Tidak ada bekas darah yang melekat pada daun patrem itu.

Wiradana memandang perempuan itu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Mungkin kau benar, bahwa patrem ini sudah kau bersihkan. Tetapi kau tentu tidak sempat membersihkan tempat dimana Iswari kau tusuk dengan patremmu itu.”

Perempuan itu mengerutkan keningnya. Namun ia tidak boleh ragu-ragu. Karena itu, maka ia pun bertanya, “Apa maksud Ki Wiradana?”

“Kita pergi ke tempat kau membunuh Iswari,” berkata Wiradana.

“Aku sama sekali tidak berkeberatan,” berkata perempuan itu. Namun kemudian katanya, “Tetapi kau tentu tidak akan dapat menemukan Nyai Wiradana yang sudah menjadi makanan buaya kerdil di kedung itu.” “Aku ingin melihatnya,” berkata Wiradana sambil menyerahkan kembali patrem perempuan itu.

Perempuan itu bergeser mendekat untuk menerima patremnya. Ia sama sekali tidak ragu-ragu untuk pergi bersama dengan Ki Wiradana ke tebing di atas kedung meskipun sebenarnya hatinya terasa bergejolak.

Sejenak kemudian maka keduanya pun telah pergi ke tempat yang menurut pengakuan perempuan itu, dipergunakannya untuk membunuh Nyai Wiradana. Ternyata jarak itu tidak terlalu dekat. Apalagi keduanya berusaha untuk tidak memotong jalan menyeberangi Tanah Perdikan Sembojan, karena Ki Wiradana tidak ingin bertemu dengan orang-orang Sembojan.

Karena itu, maka mereka memerlukan waktu yang cukup lama. Lebih lama dari waktu yang dipergunakan perempuan itu kembali ke rumahnya, di padukuhan di luar Tanah Perdikan Sembojan disebelah padukuhan yang dipergunakan oleh Ki Wiradana.

LEWAT tengah malam, keduanya baru sampai ditempat yang mereka tuju. Tebing di atas sebuah kedung yang dihuni oleh beberapa ekor buaya kerdil yang rakus. “Dimana kau bunuh perempuan itu?” bertanya Wiradana.

“Disini,” berkata perempuan itu tanpa ragu-ragu. “Menyingkirlah,” desis Wiradana.

Perempuan itu bergeser mundur. Ia tidak tahu, apa yang akan dilakukan oleh Wiradana.

Ternyata Wiradana telah mengambil serangkai biji jarak pada sebatang lidi yang dibawanya. Kemudian dengan thithikan ia membuat api untuk menyalakan sebuah dimik belerang. Dengan dimik itulah ia kemudian menyalakan biji jarak yang sudah kering itu.

Perempuan yang mengaku Nyai Jagabaya itu menjadi semakin berdebar-debar. Namun tiba-tiba hatinya menjadi mapan. Ia sama sekali tidak menyesal bahwa ia telah membiarkan Nyai Wiradana hidup meskipun seandainya ia sendiri harus mengalami perlakuan yang buruk. Perempuan itu sadar, bahwa Ki Wiradana adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Namun demikian, jika ia harus mati, maka biarlah ia

mati sebagaimana seorang berandal yang pernah bertualang dan melakukan pembunuhan-pembunuhan. Karena itu, jika Ki Wiradana ingin menghukumnya karena ia

ingkar akan tugas yang diberikan kepadanya, maka ia akan melawan meskipun akhirnya ia harus mati. Sejenak kemudian maka biji jarak itu telah menyala sebagaimana sebuah obor kecil. Dengan terang nyala biji jarak itu, Wiradana melihat-lihat tempat yang disebut sebagai tempat perempuan itu membunuh Iswari.

Namun tiba-tiba justru perempuan itulah yang terkejut. Dalam cahaya lampu obor kecil itu, ia telah melihat darah yang tercecer di tebing itu. Sebagian memang sudah terhapus oleh jejak kaki Ki Wiradana, tetapi di dedaunan perdu dan rerumputan mereka masih melihat darah yang mulai mengering.

“Darah,” desis perempuan itu di dalam hatinya, “Apa pula yang telah terjadi? Apakah sepeninggalanku justru Wiradana sendiri yang telah membunuh istrinya karena aku membiarkannya hidup?”

Pertanyaan itu telah menghantam dinding dadanya. Jika demikian maka yang dilakukan oleh Wiradana itu sekadar berpura-pura untuk membawanya ketempat itu dan kemudian membunuhnya pula.

Namun perempuan itu terkejut ketika ia mendengar Ki Wiradana itu berkata, “Ya.

Aku memang melihat darah. Agaknya kau memang benar-benar telah membunuhnya.” Perempuan itu tidak menjawab. Tetapi ia masih tetap curiga.

Namun dalam pada itu, obor kecil itu ternyata tidak tahan terlalu lama. Sebentar kemudian obor itu pun telah menyalakan biji jarak yang terakhir, sehingga sejenak kemudian api pun telah padam.

“TERIMA kasih,” berkata Wiradana. “Dengan kematian Iswari aku telah bebas dari persoalan-persoalan yang sangat rumit, meskipun belum berarti bahwa persoalanku telah selesai seluruhnya.”

Perempuan itu masih termangu-mangu. Ia melihat Wiradana mengambil sesuatu dari kantong ikat pinggangnya dan kemudian diserahkannya kepada perempuan itu sambil berkata, “Ini upah yang aku janjikan. Tetapi ingat, bahwa jika rahasia ini

bocor, maka nyawamu akan menjadi taruhannya. Aku tidak akan dapat memaafkanmu meskipun aku akan dapat mengelakkan segala tuduhan.”

Perempuan itu diam saja. Tetapi dengan hati-hati ia menerima upah yang diberikan oleh Wiradana. Tetapi ia tidak sempat menghitung apakah upah itu sudah sesuai dengan jumlah yang dijanjikan.

Sejenak kemudian Wiradana telah meninggalkan tempat itu. Ternyata obor kecilnya tidak cukup lama menyala, sehingga Wiradana tidak sempat melihat rerumputan di lereng. Jika ia teringat akan hal itu, mungkin ia akan mempertanyakan, kenapa rerumputan di lereng itu tidak menunjukkan bekas bahwa seseorang telah menelusur kebawah, sehingga rerumputan dan daun-daun perdu akan berpatahan.

Dalam pada itu, sepeninggalan Ki Wiradana, perempuan itulah yang justru mulai merenung. Di tempat itu benar-benar ada darah. Cukup banyak, berhamburan di tanah dan terpercik pada rerumputan dan daun-daun perdu, meskipun sebagian telah terhapus oleh kaki-kaki mereka.

“Darah siapa?” pertanyaan itu selalu bergejolak di dalam hatinya.

Tetapi akhirnya perempuan itu pun melangkah meninggalkan tempat itu. Namun bagaimana pun juga ia masih tetap berteka-teki di dalam hatinya.

Dalam pada itu, sejenak kemudian maka matahari pun telah naik ke sisi langit disebelah Timur. Iswari yang merasa dirinya terlalu kusut itu pun telah mencari sebuah belik. Setelah mencuci muka dan membersihkan tangan dan kakinya, maka Iswari pun telah membenahi dirinya.

“Perjalanan kita masih cukup jauh Iswari,” berkata Gandar. “Biarlah jika kau sependapat, singgah barang sejenak di sebuah warung makan dan minum. Aku masih mempunyai sisa bekal yang aku bawa dari rumah.”

Iswari tidak berkeberatan. Mereka telah berada di luar Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan agak jauh, sehingga tidak akan ada orang yang akan dapat mengenalinya lagi.

Ternyata dengan makan dan minum di sebuah kedai, tubuh Iswari terasa menjadi lebih segar. Ia pun kemudian mampu berjalan lebih cepat lagi meskipun tetap sangat terbatas.

“Jika kau merasa lelah, berkatalah. Kita mencari tempat untuk istirahat. Biarlah kita sampai di padepokan dalam waktu tiga hari atau lebih, asal saja dengan selamat. Kau dan kandunganmu.”

Iswari mengerti maksud Gandar. Karena itu, maka ia pun menjadi tidak tergesa-gesa pula karenanya dan berjalan tidak terlalu cepat. Sementara itu,

mereka makan dan minum di perjalanan dengan sisa uang yang masih ada pada Gandar.

Demikianlah betapapun lambatnya, namun akhirnya Iswari dan Gandar sampai juga di padepokan.

Kedatangan Iswari benar-benar telah mengejutkan Kiai Badra. Karena itu, maka ia pun segera bertanya apa artinya kedatangan cucunya itu.

Gandar tidak mau berteka-teki. Ia pun segera mengatakan apa yang telah terjadi dengan Iswari sehingga perempuan itu telah pulang bersamanya. Ketika Kiai Badra mendengar laporan itu, maka rasa-rasanya jantungnya telah berhenti berdetak. Sesaat wajahnya menjadi pucat. Namun sesaat kemudian wajah itu menjadi merah membara.

NAMUN akhirnya ia berkata, “Tuhan Maha Kasih. Ternyata Tuhan masih berbelas kasihan kepadamu Iswari, Kau masih diperkenankan menatap matahari. Sementara itu, kau pun harus berterima kasih kepada perempuan yang telah mengaku Nyi Jagabaya itu.”

“Ya kakek,” suara Iswari menjadi sangat dalam. Air matanya kembali menitik di pipinya mengenang peristiwa yang dialaminya, “Tetapi aku tidak mengenal perempuan itu, kakek. Ia menyebut dirinya serigala betina, karena ia memang dinamai demikian oleh orang-orang di sekitarnya karena ia pernah menjadi salah

seorang di antara orang-orang sepadukuhan yang menjadi perampok. Agaknya memang tidak banyak perempuan yang menjadi perampok. Salah seorang di antaranya adalah perempuan itu.”

“Apakah kau tahu nama sebenarnya?” bertanya Kiai Badra.

“Tidak kakek. Aku tidak tahu namanya yang sebenarnya,” jawab Iswari. “Tetapi apakah kau masih akan tetap mengenalinya jika kau bertemu lagi?” bertanya kakek itu pula.

Iswari termangu-mangu. Katanya, “Aku bertemu dengan orang itu menjelang senja. Tetapi aku masih dapat melihat wajahnya dengan jelas. Agaknya jika aku berkesempatan untuk bertemu lagi, aku masih akan tetap mengenali wajahnya.

Wajahnya memang nampak keras. Tetapi waktu itu ia adalah seorang perempuan yang ramah.

“Baiklah Iswari,” berkata Kiai Badra. “Semua peristiwa yang kita alami kita kembalikan kepada Yang Maha Agung. Kita pasrahkan hidup kita kepada yang memberikan hidup itu, sehingga dengan demikian kita akan merasa bahwa hidup mati kita bukanlah kita sendiri yang memilikinya.”

Iswari mengangguk-angguk kecil. Ia pun berusaha untuk mengembalikan persoalannya kepada Yang Maha Agung sehingga dengan demikian maka Iswari pun akhirnya dapat menerima keadaan itu dengan hati yang lebih tenang.

Namun demikian, bagaimanapun juga sebenarnya di dalam dada Kiai Badra telah timbul pergolakan yang dahsyat. Untuk beberapa saat Kiai Badra mengalami kebingungan. Tetapi akhirnya dengan susah payah ia berhasil mengekang dirinya sambil berdesis, “Jangan bodoh. Serahkan semuanya kepada kuasa Tuhan yang Maha Kasih.”

Dalam pada itu, di Tanah Perdikan Sembojan juga telah terjadi kegemparan. Pada saat Iswari pergi dari rumahnya, suaminya masih berada di rumah. Malam itu juga, Wiradana pulang setelah ia memastikan kematian istrinya.

Tetapi sementara itu, di rumah Ki Gede telah terjadi kegelisahan karena Nyai Wiradana belum kembali.

Wiradana yang sudah memastikan bahwa istrinya dibunuh oleh orang yang dipercayanya, kemudian ikut pula kebingungan meskipun hanya berpura-pura. Wiradana telah memerintahkan orang-orangnya untuk mencari istrinya di seluruh sudut Tanah Perdikan Sembojan.

“Ia pergi ke rumah Pasih,” bertanya Wiradana.

Tetapi ketika seseorang menanyakannya ke rumah Pasih ternyata bahwa malam itu Nyai Wiradana tidak pergi ke rumah itu.

Dengan demikian maka seisi Tanah Perdikan Sembojan telah menjadi gempar. Istri Ki Wiradana ternyata telah hilang.

Dalam pada itu, semua orang telah terlibat dalam pencarian. Bahkan anak-anak

yang mengembala pun telah mendapat pesan untuk mencari Nyai Wiradana di ladang, disemak-semak dan di antara batu-batu padas di bukit. Tetapi ternyata Nyai Wiradana tidak pernah diketemukan.

Dalam pada itu, Wiradana sendiri, dalam sepekan masih juga berdebar-debar. Jika seseorang menemukan sesosok mayat di kedung atau barangkali kerangkanya atau tanda-tanda lain, maka orang-orang Sembojan tentu akan menghubungkannya dengan hilangnya Nyai Wiradana.

“SEANDAINYA diketemukan di kedung itu, orang-orang Sembojan tidak akan tahu, apa yang sebenarnya terjadi,” berkata Wiradana di dalam hatinya.

Namun sebenarnya tidak seorang pun yang menemukan sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai pancadan untuk mencari jejak hilangnya Nyai Wiradana.

Sementara itu, Ki Gede Sembojan sendiri menjadi sangat berprihatin atas

hilangnya menantunya. Ki Gede sebenarnya sangat mengasihi menantunya itu, yang pada saat-saat tertentu dapat diajaknya berbincang tentang isi kidung yang dibacanya. Bahkan Iswari yang mempunyai suara yang jernih itu kadang-kadang membaca kidung itu dalam tembang beberapa bait. Baru kemudian mereka membicarakan isinya. Pembicaraan yang tidak dapat dilakukan dengan orang lain, bahkan dengan Wiradana sekalipun karena Wiradana sama sekali tidak tertarik pada kesusastraan.

Selain itu, Iswari adalah seorang perempuan yang dengan cepat berusaha menyesuaikan diri. Meskipun ia seorang gadis padepokan yang lugu, namun setelah ia menjadi istri Wiradana maka ia pun segera dikenal dengan baik oleh semua perempuan di Tanah Perdikan itu sebagai seorang perempuan muda yang ramah, terampil dan rendah hati.

Namun tiba-tiba saja perempuan yang bernama Iswari itu telah hilang.

Ketika orang-orang Sembojan sudah yakin bahwa mereka tidak akan dapat menemukan Nyai Wiradana, maka Ki Gede telah memanggil Wiradana dan beberapa orang bebahu, untuk membicarakan tentang hilangnya Iswari dari Tanah Perdikan Sembojan.

Ketika semua orang sudah berkumpul, maka Ki Gede pun langsung berkata kepada mereka, “Saudara-saudaraku, agaknya kita menghadapi suatu masalah yang sangat rumit. Aku tidak dapat mengambil kesimpulan lain daripada menuduh keluarga Kalamertalah yang telah mengambil Iswari. Dendamnya kepadaku ternyata telah ditumpahkannya kepada orang yang tidak ber-salah sama sekali, apalagi Iswari sedang mengandung. Sayang, kaki dan tanganku terlalu lemah untuk berbuat sesuatu. Tetapi jika aku masih memiliki kemampuanku seutuhnya, maka aku sendiri akan mencarinya. Sementara itu, aku juga tidak sampai hati memerintahkan kepada

Wiradana untuk mencarinya dengan akibat menghadapi gerombolan Kalamerta, karena ia sendiri pernah mengalami satu keadaan yang hampir saja merenggut nyawanya.

Karena itu, maka aku perintahkan Tanah Perdikan Sembojan harus menyusun satu kekuat-an. Dengan kekuatan itu kita harus menemu-kan Iswari atau jika tidak, maka keluarga Kala-merta harus kita musnahkan. Aku tidak yakin bahwa Tanah Perdikan Sembojan akan mampu melakukannya. Sementara itu, kita harus memerintahkan dua orang untuk pergi ke padepokan Kiai Badra. Hilangnya Iswari harus kita beritahukan kepada kakeknya, apapun akibatnya. Aku tidak akan

mengingkari tanggung jawab jika kakeknya itu marah dan menuntut dikembalikannya cucunya. Kita, seluruh isi Tanah Perdikan ini harus berusaha.”

Keringat dingin mulai membasahi punggung Wiradana. Meskipun ia tahu, bahwa ayahnya sangat mengasihi Iswari, tetapi ternyata bahwa sikap ayahnya akan melampaui dugaannya atas hilangnya Iswari.

Dalam pada itu, maka Ki Gede itu pun berkata kepada Wiradana, “Kau siapkan sepasukan yang kuat. Aku sendiri akan menempa pasukan itu sebagai pasukan khusus untuk menghadapi keluarga Kalamerta.” “Bagaimana ayah akan melakukannya?” bertanya Wiradana.

“Hanya tangan dan kakiku yang menjadi lemah. Tetapi otakku tidak. Mata dan telingaku pun tidak,” jawab Ki Gede Sembojan, “Karena itu, lakukanlah secepatnya. Aku memerlukan duapuluh lima orang terpilih.”

Wiradana tidak menjawab. Namun ia mulai membayangkan kesulitan-kesulitan baru didalam hidupnya. Apakah ia akan dapat meyakinkan ayahnya bahwa sepantasnya ia kawin lagi dengan perempuan cantik yang sebenarnya telah menjadi istrinya itu?

Apa kata ayahnya jika ayahnya mengetahui, bahwa perempuan itu adalah seorang tledek yang mencari nafkahnya dengan menari dari satu tempat ke tempat yang lain.

Dengan demikian maka Ki Gede pun kemudian telah memanggil dua orang penghubung yang harus pergi berkuda secepatnya ke padepokan Ki Badra.

“Bukankah kau pernah mengunjungi padepokan itu?” bertanya Ki Gede kepada kedua orang itu.

“Sudah Ki Gede,” jawab salah seorang dari keduanya.

“Nah, pergilah ke padepokan itu dengan segera. Kalian harus menyampaikan satu berita yang akan dapat mengejutkan Kiai Badra,” berkata Ki Gede.

Kedua orang itu mengerti, bahwa keduanya harus memberitahukan kepada Kiai Badra bahwa cucunya yang menjadi menantu Ki Gede di Sembojan telah hilang.

Setelah Ki Gede memberikan beberapa pesan, maka kedua orang itu pun segera berangkat berkuda menuju ke padepokan Kiai Badra.

Dalam pada itu, di padepokan Kiai Badra, keadaan Iswari secara wadag sudah berangsur baik. Ia tidak merasa lagi kelelahan dan perutnya sudah tidak terasa sakit lagi setelah perjalanan sekian jauhnya. Kakeknya telah memberinya berbagai macam obat yang berguna sekali bagi kepulihan tenaganya setelah berjalan jauh dan bagi kebaikan kandungannya.

Namun demikian batinnya masih saja terasa betapa pedihnya. Ia tidak menduga sama sekali, bahwa ia akan dilemparkan kedalam satu keadaan yang sangat pahit.

Meskipun ia terbebas dari pembunuhan, tetapi rasa-rasanya hidup memang sudah tidak menarik lagi.

Meskipun demikian, kakeknya dan Gandar selalu berusaha untuk menenangkannya. Setiap kali Kiai Badra berusaha untuk mendekatkan cucunya kepada sikap pasrah kepada Yang Maha Agung, dengan tidak terlepas dari doa yang tulus.

Tetapi Kiai Badra pun mengerti, betapa sakitnya hati cucunya yang mengalaminya. Sementara sebelumnya ia sama sekali tidak melihat tanda-tanda yang dapat mengarahkannya kepada persiapan jiwani menghadapi persoalan yang demikian. Namun dalam pada itu, Kiai Badra pun kemudian berkata kepada cucunya, “Iswari. Mungkin hatimu merasa sangat pedih atas peristiwa yang telah terjadi. Tetapi kau harus tetap tabah menghadapinya, karena sebentar lagi kau akan melahirkan anakmu. Bahkan seperti yang sudah dilakukan, dan untuk seterusnya kau harus tetap merasa berterima kasih, bahwa kau sudah terlepas dari maut. Namun kita tidak boleh berhenti sampai disini. Pada saatnya suamimu atau Ki Gede tentu akan mengirimkan orang kemari, memberitahukan bahwa kau telah hilang. Karena itu, maka jika utusan itu melihat kau ada disini, maka nasib perempuan yang telah mengurungkan kewajibannya membunuhmu itu akan menjadi sangat buruk.

Sebagaimana

ia membebaskan kau dari kematian, maka kau pun harus berusaha untuk menyelamatkannya.”

“Apa yang harus aku lakukan kakek?” bertanya Iswari.

“Sebaiknya untuk sementara kau tidak berada di padepokan ini,” berkata Kiai Badra.

“Aku harus tinggal dimana?” bertanya Iswari.

“Kau sebaiknya untuk sementara berada di tempat nenekmu, maksudku adikku yang berada di padepokan kecil yang dinamainya padepokan Tlaga Kembang,” jawab Kiai Badra. “Bukankah kau pernah pergi ke sana?”

Iswari mengangguk kecil. Ia memang pernah pergi ke padepokan adik kakeknya itu. Padepokan yang disebut padepokan Tlaga Kembang. Padepokan kecil yang terletak di tepi sebuah telaga yang tidak begitu besar, tetapi di dalam telaga itu terdapat

banyak ikan dari berbagai jenis yang dapat dijadikan sumber pencaharian dari penghuni padepokan kecil itu, di samping tanah pertanian dan peternakan. “Nah, bagaimana pendapatmu Iswari?” bertanya kakeknya.

Rasa-rasanya Iswari tidak lagi mempunyai keinginan apapun. Karena itu, maka kemanapun ia akan di singkirkan, ia tidak akan berkeberatan. Apalagi di padepokan kecil yang sejuk itu.

Karena itu, maka jawabnya, “Aku menurut saja perintah kakek. Jika hal itu akan

dapat menyelamatkan perempuan yang tidak membunuhku itu, maka aku akan merasa senang sekali.”

“Baiklah,” berkata Kiai Badra, “Besok kau akan berangkat dengan sebuah pedati. Biarlah kau di antar kakangmu Gandar. Tetapi jika kau sudah sampai di padepokan kecil itu, maka biarlah Gandar segera kembali. Aku akan menunggui padepokan dan barangkali jika benar ada tamu dari Tanah Perdikan Sembojan.”

ISWARI hanya mengangguk saja. Ia memang tidak lagi mempunyai keinginan apapun juga bagi dirinya sendiri.

Di hari berikutnya Iswari benar-benar berangkat ke padepokan Tlaga Kembang. Namun belum lagi perjalanannya mencapai dua tiga Kabuyutan, maka utusan dari Tanah Perdikan Sembojan itu benar-benar telah datang.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam ketika ia mengetahui bahwa dua orang berkuda yang datang itu adalah orang-orang Sembojan. Untunglah bahwa Iswari sudah tidak ada di pade-pokan itu lagi.

Kiai Badra yang berpura-pura tidak mengeta-hui persoalan dibawa oleh kedua orang itu mempersilakan mereka dengan ramah. Bahkan ia sama sekali tidak menyinggung mengenai cucunya itu.

Kedua orang yang datang itu pun menjadi bimbang untuk mulai dengan persoalan mereka yang sebenarnya. Nampaknya Kiai Badra menyambut mereka dengan gembira. Jika mereka mengata-kan sebagaimana pesan Ki Gede, maka kegembiraan Kiai Badra itu tentu akan larut seketika.

Tetapi keduanya tidak dapat berbuat lain. Dengan sangat berhati-hati, maka

keduanya berganti-ganti telah menyampaikan pesan Ki Gede di Sembojan, bahwa cucu Kiai badra telah hilang.

“Hilang?” wajah Kiai Badra tiba-tiba menjadi tegang, “Jangan bergurau ngger.

Gandar baru saja datang dari Tanah Perdikan itu barang tiga empat hari yang

lalu. Ia sama sekali tidak mengatakan apa-apa tentang adik perempuannya. Bahkan ia mengatakan, sebentar lagi akan dilakukan upacara tujuh bulan kandungan cucuku itu.”

Kedua orang itu termangu-mangu. Namun salah seorang di antara mereka berkata, “Ya Kiai. Gandar memang baru saja mengunjungi Tanah Perdikan. Ketika Gandar kembali, memang tidak terjadi sesuatu dengan Nyai Wiradana. Tetapi beberapa hari setelah Gandar pergi, tiba-tiba saja Nyai Wiradana itu hilang. Ia minta ijin

kepada suaminya untuk mengunjungi seorang tetangga padukuhan yang baru melahirkan. Tetapi Nyai Wiradana tidak pernah mencapai rumah itu dan untuk seterusnya juga tidak kembali ke rumahnya.”

“Ah,” suara Kiai Badra menjadi bergetar, “Bagaimana mungkin hal itu terjadi?” “Itulah yang membingungkan kami Kiai,” jawab utusan itu.

“Ki Sanak,” berkata Kiai Badra kemudian, “Jika benar yang kalian katakan tentang cucuku, maka aku kembalikan segalanya kepada Ki Wiradana dan Ki Gede Sembojan. Aku telah menyerahkan cucuku untuk menjadi istri Ki Wiradana dan menjadi menantu Ki Gede di Sembojan. Maka tanggung jawab atas cucuku itu sudah beralih dari tanganku kepada Ki Wiradana terutama, karena ia adalah suaminya. Aku minta agar cucuku segera diketemukan. Jika tidak, maka aku akan minta pertanggungan jawab

Ki Wiradana.”

Jawaban Kiai Badra itu memang sudah diduga. Karena itu, maka salah seorang dari kedua orang itu segera menjawab “Ki Gede sudah mengatakan Kiai bahwa ia bertanggung jawab atas hilangnya Nyai Wiradana. Bahkan Ki Gede sudah memerintahkan, menyusun satu pasukan khusus yang terdiri dari dua puluh lima

orang dibawah pimpinan Ki Gede akan berusaha untuk menemukan Nyai Wiradana dan menghancurkan sisa keluarga Kalamerta, karena menurut dugaan Ki Gede, tidak ada pihak lain yang melakukannya selain sisa keluarga Kalamerta yang mendendamnya.” “Tetapi bukankah tangan dan kaki Ki Gede masih terasa sangat lemah?” bertanya

Kiai Badra.

“Ki Gede menyadari,” jawab salah seorang dari kedua orang itu. “Tetapi Ki Gede akan tetap melakukannya dibantu oleh Wiradana.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia masih akan mengucapkan banyak sekali tuntutan dan penyesalan atas hilangnya cucunya. Tetapi ketika ia mendengar sikap Ki Gede meskipun tangan dan kakinya sudah menjadi cacat itu merasa bertanggung jawab sepenuhnya, maka kata-katanya tidak lagi dapat dilontarkan lewat bibirnya. Bahkan yang dikatakannya kemudian adalah, “Ki Sanak. Sampaikan kepada Ki Gede, aku mengucapkan beribu terima kasih atas tanggung jawab Ki Gede terhadap cucuku itu. Mudah-mudahan cucuku dapat diketemukan dengan

selamat dan kembali lagi ke rumah Ki Gede, hidup rukun dan damai bersama suaminya. Sebenarnyalah cucuku itu adalah satu-satunya orang yang akan menyambung keturunanku kelak.”

Kedua orang itu mengerutkan keningnya. Tetapi mereka hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Bagi Kiai Badra, Iswari merupakan orang yang sangat penting yang akan dapat menyambung garis keturunannya. Jika Iswari tidak dapat diketemukan atau katakanlah mengalami nasib sangat buruk, sehingga Nyai Wiradana itu tidak dapat diketemukan hidup, tetapi diketemukan meninggal, maka garis keturunan Kiai Badra akan terputus sampai cucunya itu saja.

Demikianlah, kedua orang itu tidak terlalu lama berada di padepokan Kiai Badra. Ketika mereka sudah menyampaikan persoalan yang mereka bawa, serta mendapat hidangan sekadarnya, maka mereka pun segera meninggalkan padepokan Kiai Badra. Dalam pada itu, ternyata Iswari yang naik pedati, memerlukan watu yang lama di perjalanan. Menurut perhitungan Gandar, mereka baru akan sampai di keesokan harinya menjelang tengah hari. Namun di malam hari mereka berhenti sepenuhnya. Ternyata mereka tidak mengalami hambatan sesuatu di perjalanan. Seperti perhitungan Gandar, maka mereka memasuki padukuhan Tlaga Kembar menjelang tengah

hari.

Dalam suasana yang buram, Iswari memasuki satu padepokan yang meskipun sudah dikenalnya, tetapi bukan daerah bermainnya sendiri semasa kecilnya.

Kedatangan Iswari dan Gandar disambut dengan senang hati oleh adik Kiai Badra. Mereka gembira sekali melihat kedatangan Iswari yang jarang sekali mengunjunginya.

Karena itu, maka dengan tergopoh-gopoh adik Kiai Badra bersama suaminya telah mempersilakannya naik ke pendapa padepokan kecil itu.

Tetapi kegembiraan itu tidak terlalu lama meliputi suasana pertemuan itu. Karena setelah mereka duduk bersama dan saling menanyakan keselamatan masing-masing, maka nenek Iswari itu pun bertanya keperluannya datang.

Sebagaimana dilakukan terhadap Kiai Badra, Gandar pun berkata terus terang tanpa ada yang disembunyikan. Sejak Iswari dibawa ke Tanah Perdikan Sembojan, sampai saat ia harus meninggalkan Tanah Perdikan itu dengan hati yang terluka.

Kedua orang tua pemilik padepokan itu mengangguk-angguk. Dengan nada lembut neneknya itu pun bertanya kepada Gandar, “Jadi, segala sesuatunya telah diatur sendiri oleh suaminya itu?”

“Ya Nyai,” jawab Gandar. “Memang sungguh menusuk perasaan. Namun sudah barang tentu bahwa kita akan sampai pada saatnya menerima kenyataan itu dengan hati

yang pasrah kepada Yang Maha Kuasa.”

“Ya Gandar,” berkata nenek Iswari. “Karena itu, aku akan menerima Iswari dengan senang hati. Biarlah ia tinggal untuk sementara disini. Aku kira sampai saatnya ia melahirkan, akan lebih baik jika ia berada disini. Di rumah kakeknya, tidak

ada seorang perempuan yang akan dapat membantu kelahiran anak di dalam kandungan itu. Tetapi disini, aku akan dapat menolongnya, karena aku memang seorang dukun bayi.”

“Terima kasih Nyai,” sahut Gandar. “Biarlah Iswari menetap untuk sementara disini. Ia akan dapat menghirup satu suasana yang baru yang mungkin akan dapat sedikit menjernihkan nalar budinya. Sementara itu, kita tidak akan mencemaskan jika saat-saat kelahiran itu tiba.”

Demikianlah, sejak saat itu Iswari telah berada di rumah suami istri yang oleh para cantriknya disebut Kiai dan Nyai Soka di Tlaga Kembang.

Kedua suami istri yang sudah tua itu merasa sangat kasihan kepada Iswari yang mengalami satu nasib yang sangat buruk, sementara kedua orang suami istri itu sama sekali tidak mempunyai seorang anak pun. Sebenarnya Nyai Soka telah melahirkan dua kali. Tetapi kedua-duanya telah diambil kembali oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dengan demikian, maka kedua orang tua itu pun merasa seakan-akan kehadiran Iswari di padepokannya, sebagai kedatangan anak kandungnya sendiri yang telah lama meninggalkan mereka.

Karena itulah maka sikap kedua suami istri itu kepada Iswari bagaikan sikap dua orang tua kepada anaknya sendiri.

Dengan sungguh-sungguh Nyai Soka mengamati perkembangan kandungan Iswari yang semakin lama menjadi semakin besar itu. Menjelang saat kelahiran, maka Nyai Soka memberikan beberapa petunjuk khusus bagi Iswari.

“Di saat-saat senggang, sebaiknya kau berjalan-jalan perlahan-lahan mengelilingi padepokan ini. Dengan demikian, mudah-mudahan akan dapat berpengaruh, mempercepat kelahiran anakmu jika saatnya tiba,” berkata Nyai Soka.

Iswari pun melakukan semua pesan dengan sebaik-baiknya. Kadang-kadang dipagi hari menjelang fajar, Iswari sudah berjalan beberapa kali mengelilingi

padepokan. Tetapi seperti pesan Nyai Soka, jangan terlalu me-maksa diri apabila kakinya sudah merasa lelah.

Sementara itu, di Tanah Perdikan Sembojan, Ki Gede Sembojan benar-benar menjadi sangat berprihatin. Nampaknya Ki Gede jauh lebih bersedih daripada Wiradana sendiri.

Seperti yang diminta, maka telah disiapkan dua puluh lima orang pengawal terpilih di Tanah Perdikan Sembojan. Ternyata meskipun Ki Gede mengalami kelemahan kaki dan tangan, tetapi ia benar-benar telah memberikan

latihan-latihan khusus kepada dua puluh lima orang itu. Dengan isyarat kata dan perintah-perintah, Ki Gede telah memberikan latihan khusus kepada mereka dan terutama kepada Wiradana sendiri.

“Wiradana. Kau sudah memiliki semua dasar ilmuku. Kau harus mampu mengembangkannya dan memecahkan beberapa persoalan dalam ilmu kanuragan. Kau akan memimpin dua puluh lima orang ini kelak untuk menghancurkan keluarga Kalamerta yang tersisa, yang agaknya masih tetap mengancam Tanah Perdikan Sembojan. Hilangnya Iswari merupakan penghinaan yang paling besar di dalam hidupku sampai setua ini. Kau dan dua puluh lima pengawal ini harus dapat menghancurkan sisa keluarga Kalamerta. Jika masih ada orang yang memiliki ilmu yang tinggi, maka seharusnya kau mampu mengalahkannya dengan landasan ilmumu yang sudah lengkap itu,” berkata Ki Gede Sembojan setiap kali kepada anak

laki-lakinya.

Wiradana hanya menundukkan kepalanya saja. Tetapi ternyata ia lebih sering berada di rumah Warsi daripada berada di sanggarnya. Sehingga menurut penilikan Ki Gede, kemajuan ilmu Wiradana terasa sangat lamban sekali.

Ki Gede memang menjadi sangat berprihatin atas anak laki-lakinya yang tunggal itu. Setiap kali ia selalu memberikan nasehat agar anaknya menyadari kedudukannya. Bahkan kadang-kadang ia masih marah kepada anaknya itu. Apalagi setelah Iswari hilang dari Tanah Perdikan

“Wiradana,” berkata Ki Gede, “Seharusnya kaulah yang menangis karena istrimu itu hilang. Kaulah yang paling terhina karenanya. Jika kau setiap malam pergi ke

daerah-daerah yang kurang aman meskipun di luar Tanah Perdikan untuk mengetahui dan mempelajari perkembangan keadaan, maka seharusnya kau sudah dapat mengambil kesimpulan. Katakanlah, bahwa keluarga Kalamerta masih saja membayangi Tanah Perdikan Sembojan.”

WIRADANA tidak dapat menjawab setiap ayahnya mempersoalkannya. Bahkan semakin lama rasa-rasanya ia lebih baik menghindari ayahnya daripada harus menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

Tetapi Ki Gede justru menjadi semakin keras menempa dua puluh lima pengawal yang dipersiapkan untuk menghancurkan sisa-sisa keluarga Kalamerta yang masih dianggap selalu membayangi Tanah Perdikan Sembojan. Sementara itu, selagi Ki Gede sibuk dengan para pengawal terpilihnya, Warsi merasa bahwa jalan menjadi semakin lapang baginya. Rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu saat-saat ia dibawa pulang ke rumah Wiradana. Ia akan menjadi orang yang penting di Tanah Perdikan Sembojan, sekaligus kesempatan untuk membalas sakit hati pamannya menjadi makin luas pula.

Tetapi Warsi harus menahan diri. Setiap kali Wiradana masih minta waktu, karena sikap ayahnya yang keras.

“Aku tidak tergesa-gesa,” berkata Warsi. “Bahkan sebenarnya aku tidak ingin untuk pindah dari rumah ini. Rasa-rasa-nya rumah kecil ini telah memberikan kesejukan dihatiku, asal kakang Wiradana selalu berada disisiku. Aku sama sekali tidak menginginkan apapun juga, selain kakang Wiradana. Karena itu, bi-arlah Ki Gede melakukan apa yang ingin dilakukan.”

“Aku menjadi jemu untuk mengikuti perintahnya,” berkata Wiradana.

“Ah, seharusnya kakang tidak berbuat seperti itu,” berkata Warsi. “Bukankah Ki Gede itu ayah kakang. Bukankah menjadi kewajiban kakang untuk mengikuti segala perintahnya.”

“Ayah ingin memenjarakan aku di da-lam sangkar sehingga aku tidak mempunyai kesempatan berbuat lain. Waktuku untuk datang kepadamu menjadi sangat terbatas,” jawab Wiradana.

Tetapi Warsi tersenyum. Senyumnya masih tetap manis sekali bagi Wiradana. Katanya, “Kakang. Semakin sering kau berada di dalam sangkar, maka me-nurut ceritamu, ilmumu menjadi sema-kin meningkat. Karena itu kenapa kau berkeberatan.”

Wiradana menarik nafas dalam-da-lam. Katanya, “Aku tidak dapat terlalu lama berpisah denganmu Warsi. Biar sajalah ilmuku sama sekali tidak meningkat. Di Tanah Perdikan Sembojan terdapat anak-anak muda yang menjadi pengawal yang tangguh. Mereka akan dapat melindungi aku dan Tanah Perdikan karena jumlah mereka cukup banyak.”

Warsi tidak mendesak. Sebenarnyalah ia tidak ingin Wiradana meningkatkan ilmunya, karena ia menjadi cemas, bahwa pada suatu saat, ilmu Wiradana akan dapat melampaui ilmunya sendiri, sehingga jika perselisihan di antara mereka, Wiradana tidak lagi dapat dikuasai dengan ilmunya.

Namun dengan demikian, maka sikap Wiradana membuat Ki Gede menjadi sangat berprihatin. Semakin lama Wiradana menjadi semakin jarang berada di rumah. Bermacam-macam alasan yang dikatakannya kepada ayahnya. Bahkan suatu hari ia berkata, “Ayah, aku tidak dapat berada di rumah ini terlalu lama. Aku tidak

dapat menenangkan diriku sepeninggal istriku. Setiap aku melihat pintu bilik itu, aku selalu teringat akan Iswari yang hilang itu.”

“Jangan cengeng,” jawab ayahnya. “Kau jangan meratap seperti itu. Tetapi kau harus berbuat sesuatu karena hilangnya istrimu. Kau harus meningkatkan ilmumu, kemudian mencari istrimu yang hilang, merebutnya dengan kekerasan, jika perlu mengorbankan nyawamu sendiri.”

Wiradana termangu-mangu. Tetapi ia diam saja.

“Wiradana, meskipun aku sudah cacat, tetapi aku berniat untuk mencarinya, apapun yang akan terjadi. Aku harus menemukan satu cara untuk menghadapi lawan, tanpa tangan dan kakiku yang lemah ini,” geram ayahnya yang kehilangan kesabaran.

Seperti yang dikatakan, maka Ki Gede itu pun telah bekerja keras. Duapuluh lima orang pengawal itu akan menjadi tangan-tangan dan kakinya. Mereka berlatih tanpa mengenal lelah untuk mencapai satu tataran tertentu jika mereka pada suatu saat benar-benar dihadapkan pada para pengikut Kalamerta yang sudah kehilangan pimpinannya itu.

“Keluarga Kalamerta tanpa Kalamerta itu sendiri tentu,” kata-kata Ki Gede di dalam hatinya, “Meskipun ia menyadari bahwa di antara mereka ada yang memiliki kemampuan melampaui Wiradana apapun yang pernah dikatakan oleh Wiradana tentang

lawannya itu.”

KARENA itu, maka yang dilakukan oleh Ki Gede itu bukan hanya satu dua hari saja tetapi ia telah melakukannya dalam hitungan bulan.

Sementara Ki Gede bekerja keras dalam keadaan cacat, di padepokan Tlaga Kembang, Iswari sudah sampai pada suatu waktu, dimana kandungannya sampai pada saat kelahirannya.

Di bawah perawatan Nyai Soka serta para pembantunya maka Iswari kemudian benar-benar telah melahirkan anak-nya dengan selamat. Seorang anak laki-laki yang besar dan tampan. Berkulit kuning dan bermata hitam.

“O,” desisnya Nyai Soka, “Alangkah gagahnya.”

Ketika Iswari kemudian untuk pertama kali melihat wajah anak laki-lakinya, maka ia ti-dak lagi dapat menahan air ma-tanya yang meleleh dipipinya. Anak itu mirip sekali dengan ayahnya, Ki Wiradana. Anak Kepala Tanah Perdikan di Sembojan. “Sudahlah Iswari,” berkata Nyai Soka. “Bersyukurlah kepada Tuhan, bahwa kau telah melahirkan anakmu dengan selamat.”

Iswari hanya dapat mengangguk kecil. Namun bagaimana mungkin ia dapat melupakan peristiwa yang sangat pahit dalam hidupnya. Disingkirkan oleh suaminya sendiri, bahkan hampir saja nyawanya telah direnggutnya sama sekali.

Namun kemudian atas tuntunan Nyai Soka, Iswari berhasil mengatasi gejolak perasaannya. Sementara Nyai Soka pun mengerti, betapa sakitnya perasaan Iswari. Namun Iswari tidak dapat dibiar-kan perasaannya itu menderita tanpa akhir.

Kabar gembira itu pun segera disampaikan oleh Kiai dan Nyai Soka kepada Kiai Badra dan Gandar yang telah kembali ke padepokannya. Betapa perasaan gembira membuat keduanya melupakan sejenak apa yang pernah terjadi atas cucu Kiai Badra itu.

Karena itu, maka keduanya telah ber-niat untuk segera mengunjungi Iswari dan anaknya yang baru lahir. Namun dengan pesan, agar tidak seorang pun dari penghuni padepokan yang ditinggalkan itu mengatakan kepada siapapun juga bahwa Iswari masih hidup dan bahkan melahirkan anaknya di padepokan Tlaga Kembang.

Kehadiran Kiai Badra dan Gandar di Tlaga Kembang membuat Kiai dan Nyai Soka semakin bergembira. Meskipun Iswari tidak dapat menahan perasaannya pada saat ia melihat kakeknya me-ngunjunginya, namun kemudian wajahnya menjadi cerah pula. “Anak laki-laki itu adalah keturunan Kepala Tanah Perdikan Sembojan,” desis Gandar ditelinga Kiai Badra.

“Maksudmu?” bertanya Kiai Badra.

“Ia berhak atas kedudukan kakeknya,” jawab Gandar. “Bukan semata-mata karena kedudukan yang baik itu, tetapi pada suatu saat, harus dinyatakan kepada

orang-orang Sembojan, bahwa anak Iswari itu adalah satu-satunya orang yang berhak menggantikan kedudukan Wiradana. Bukan anak dari perempuan cantik yang gila itu, seandainya ia kelak mempunyai juga seorang anak.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengatakannya kepada Iswari, karena ia yakin, bahwa Iswari akan menolak setiap usaha untuk menghubungkan kembali anak itu dengan ayahnya, yang menganggap bahwa Iswari telah mati.

Namun dalam pada itu, ketika pada malam hari, Kiai Badra, Gandar dan Nyai Soka sedang duduk di pendapa maka terbersitlah satu pikiran pada Nyai Soka untuk membentuk Iswari menjadi seorang yang lain dari Iswari sebelumnya.

“Apa maksudmu?” bertanya Kiai Badra. “Kakang,” berkata Nyai Soka. “Sebenarnya aku merasa aneh akan sikap kakang dan yang kemudian juga sikap Gandar. Selama ini kalian benar-benar seperti dua orang penghuni padepokan yang tidak berarti apa-apa selain sekali-sekali menolong mengobati orang yang sedang sakit.”

“Ah, bagaimana mungkin kau menyebut aku tidak berarti selain menolong orang yang sakit,” jawab Kiai Badra. “Coba, sebutkan Soka, apa yang lebih baik daripada menolong orang yang sedang sakit dan kemudian menyembuhkannya dalam batas jangkauan kemampuannya?”

“Aku mengerti kakang,” jawab Nyai Soka. “Tetapi bukankah kalian memiliki sesuatu yang lebih daripada sekadar mengobati seseorang? Bukankah kakang jika menghendaki akan mampu menolong orang lain lebih banyak lagi.”

“Aku tahu maksudmu? Membunuh lagi?” sahut Kiai Badra.

“AH. Kakang terlalu menyudutkan diri sendiri,” berkata Kiai Soka. “Kenapa kakang mempergunakan istilah itu? Bukankah kakang dapat mengatakan, menolong seseorang yang mengalami kesulitan karena dirampok orang misalnya. Atau membebaskan satu padukuhan dari keganasan para berandal yang ingin merampas semua kekayaan di padukuhan itu.”

“Kenapa begitu? Bukankah tidak pernah ada lagi perampokan dan tindakan kekerasan seperti itu lagi sekarang ini?” bertanya Kiai Badra.

“Kenapa tidak? Bukankah hal itu telah terjadi atas cucumu sendiri?” sahut Nyai Soka.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Itu bukan persoalan satu perampokan.”

“Apapun namanya, tetapi peristiwa itu adalah peristiwa kekerasan. Kenapa kakang atau Gandar sama sekali tidak berbuat apa-apa untuk mencegah hal itu terjadi?” bertanya Nyai Soka.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam, sementara Gandar hanya dapat menundukkan kepalanya saja.

“Sekarang kita tidak akan dapat berbuat banyak atas Iswari yang seakan-akan tidak lagi mempunyai keinginan apa-pun juga di dalam hidupnya,” berkata Nyai Soka. Lalu, “Karena itu, aku harus membentuknya menjadi orang lain.”

“Apa yang akan kau lakukan?” ber-tanya Kiai Badra.

“Aku yakin, bahwa di dalam tubuh Iswari itu mengalir darah sebagaimana yang mengalir ditubuh kakang,” jawab Nyai Soka. “Sehingga karena itu, maka aku tidak akan banyak mengalami kesulitan jika aku dan kakang Soka menjadikan seseorang yang akan mampu mengimbangi kemampuan perempuan yang dikatakan oleh Gandar, sebagai istri muda Ki Wiradana yang memiliki ciri gerak dan sikap dari perguruan Kalamerta.”

Wajah Kiai Badra menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “Sebenarnya aku tidak ingin mengotori Iswari dengan darah. Sejak ia tumbuh menjadi seorang gadis remaja, aku dibayangi oleh keinginan untuk membuatnya seorang gadis yang lain.

Tetapi ternyata aku berpendapat, bahwa sebaiknya Iswari menjadi seorang yang bersih, yang tidak dibekali dengan satu keinginan untuk bermusuhan. Sebagaimana aku sendiri, yang merasa bahwa sebaiknya aku meninggalkan dunia yang penuh dengan dengan tetesan darah sesama itu.

“Tetapi yang terjadi adalah seperti yang kita lihat bersama atas Iswari sekarang ini,” berkata Kiai Soka, “Ia mengalami perlakuan yang sangat tidak adil. Jika ia memiliki ilmu kanuragan mungkin akibatnya akan lain.”

“Ya. Mungkin Iswari sudah mati,” jawab Kiai Badra. “Jika Iswari mempunyai ilmu kanuragan, maka ia tentu ber-sikap lain terhadap perempuan yang akan membunuhnya itu, sehingga mungkin sekali timbul perkelahian antara Iswari dengan perempuan

itu. Karena Iswari baru mengandung, maka geraknya tentu sangat terbatas, sehingga akhirnya ia justru akan terbunuh karenanya.”

Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang segala sesuatunya dapat dipandang dari sudut yang berbeda-beda. Demikian juga ilmu kanuragan. Ilmu ini akan dapat dipergunakan untuk menambah dosa, tetapi juga dapat dipergunakan untuk berbuat kebajikan. Melindungi orang-orang yang lemah dan menegakkan keadilan. Pada satu saat kakang sendiri adalah orang yang ditakuti di dunia olah kanuragan. Namun pada saat yang lain, kakang menganggap bahwa kakang lebih baik menarik diri dan tinggal di sebuah padepokan kecil dengan pesan yang berbeda

bagi sesama.”

Kiai Badra termangu-mangu. Namun akhirnya ia pun bertanya kepada Gandar, “Apa pendapatmu Gandar?”

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah jika Iswari memiliki ilmu

yang cukup, ia tidak terdorong untuk membalas dendam sakit hatinya dan membunuh orang-orang yang dianggap pernah bersalah kepadanya?”

“Jangan takut Gandar,” berkata Kiai Soka. “Jika kami menampanya, maka kami tidak hanya akan menempanya dalam olah kanuragan saja, tetapi juga dalam otak kejiwaannya.”

Gandar mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Segala sesuatunya terserah kepada Kiai dan Nyai Soka. Aku percaya bahwa yang akan dilakukan itu tentu sudah dipertimbangkan masak-masak dan dipertanggungjawabkan.”

“Ya Gandar. Aku akan bertanggung jawab terhadap kakeknya dan lebih dari itu, aku bertanggung jawab pula terhadap Yang Maha Kuasa. Jika ternyata kemudian dengan ilmunya Iswari akan melepaskan dendamnya kepada siapapun juga tanpa alasan, maka akan terjadi kewajiban kami untuk mencegahnya.”

Gandar mengangguk-angguk. Sambil memandang kepada Kiai Badra ia berkata, “Kita serahkan saja semuanya kepada kebijakan Kiai Soka berdua.”

Kiai Badra pun mengangguk-angguk pula. Lalu katanya, “Baiklah Soka. Seperti yang dikatakan Gandar, maka segalanya terserah kepadamu. Tetapi bukankah kau menunggu sampai saatnya Iswari mampu melakukannya setelah ia melahirkan?”

“Ya kakang. Bukankah kita tidak tergesa-gesa,” jawab Nyai Soka.

Kiai Badra pun kemudian mempercayakan Iswari sepenuhnya kepada Kiai Soka dan Nyai Soka yang sementara belas kasihan yang mendalam kepada Iswari. Karena itu, maka mereka benar-benar ingin membentuk agar pada suatu saat Iswari dapat membawa anaknya itu kembali ke kedudukan yang seharusnya Kepala Tanah Perdikan di Sembojan.

Ternyata Kiai Badra dan Gandar berada di padepokan Tlaga Kembang itu tidak terlalu lama. Meskipun rasa-rasanya Gandar tidak ingin meninggalkan padepokan itu, namun setelah ia yakin bahwa Iswari justru akan tumbuh dan berkembang dalam olah kanuragan, maka rasa-rasanya Gandar pun menjadi yakin atas masa depan anak yang baru dilahirkan oleh Iswari.

Karena itu, maka Kiai Badra dan Gandar hanya bermalam dua malam saja di padepokan kecil itu, dan kemudian minta diri untuk kembali ke padepokannya. Kiai dan Nyai Soka melepaskan mereka dengan pesan, agar Kiai Badra dan Gandar atau salah seorang di antara mereka sering datang ke padepokan kecil itu untuk

melihat perkembangan Iswari dalam olah kanuragan, dan melihat pertumbuhan anak yang dilahirkannya itu.

Demikianlah, maka Kiai Badra dan Gandar pun meninggalkan padepokan itu dengan berbagai macam pikiran. Bahkan diperjalanan Gandar berkata kepada Kiai Badra, “Kiai, tiba-tiba saja aku mempunyai satu pikiran yang barangkali kurang baik

bagi Kiai. Aku tiba-tiba saja seperti yang pernah dikatakan ingin mendapatkan satu keyakinan bahwa anak Iswari itu akan kembali ke Tanah Perdikan Sembojan dan mendapatkan kedudukannya.”

“Kenapa kau berpikiran demikian,” berkata Kiai Badra. “Apakah kau menganggap bahwa kedudukan itu adalah satu-satunya jalan yang akan dapat membahagiakan cucuku dan anak laki-lakinya itu? Sebenarnya aku pun menyadari bahwa tujuan utama dari Soka suami istri adalah seperti yang kau katakan itu pula.”

“Entahlah Kiai,” berkata Gandar kemudian. “Tetapi aku membayangkan, seandainya perempuan cantik itu mempunyai anak laki-laki pula dan kelak menggantikan kedudukan Wiradana, apakah yang akan terjadi dengan Tanah Perdikan Sembojan itu. Namun yang lebih menggelisahkan aku lagi adalah bahwa perempuan cantik itu menurut penilaianku sekilas, mempunyai ciri-ciri dari perguruan Kalamerta sebagaimana yang Kiai pernah memberitahukan kepadaku. Ciri-ciri yang khusus pada setiap usaha pemusatan kemampuan pada orang-orang yang termasuk tataran yang tinggi. Dan sikap itu telah aku lihat dilakukan oleh perempuan itu sebagaimana pernah aku katakan kepada Kiai dan Kiai pun agaknya sependapat, bahwa ciri-ciri

itu adalah ciri-ciri perguruan Kalamerta.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Adalah kebetulan bahwa aku mengenal ciri-ciri perguruan Kalamerta dan perguruan Sembojan. Agaknya aku pun mengerti maksudmu dan aku pun mengerti dasar kecemasanmu. Jika perempuan itu berhasil masuk ke dalam keluarga Wiradana yang sudah tidak mempunyai istri lagi itu, maka perempuan itu akan menjadi sangat berbahaya bagi Ki Gede di Sembojan itu, karena Ki Gedelah yang telah membunuh Kalamerta.”

“YA Kiai,” sahut Gandar. “Hal itu tentu sudah diperhitungkan pula oleh perempuan cantik itu.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan kemudian Gandar?” bertanya Kiai Badra. “Sudah tentu dengan sangat hati-hati dan perlahan-lahan Kiai. Aku ingin menyampaikan semua persoalan ini kepada Ki Gede Sembojan,” berkata Gandar.

“Ah,” Kiai Badra berdesah. “Apakah kau akan dapat meyakinkan Ki Gede bahwa hal seperti ini telah sebenarnya terjadi?”

“Mudah-mudahan Kiai. Tetapi aku memang memerlukan waktu yang panjang. Mudah-mudahan aku tidak terlambat, karena perempuan cantik itu telah ber-tindak lebih dahulu,” berkata Gandar. “Tetapi aku berharap, bahwa Wiradana pun tidak

akan dapat dengan serta merta membawa perempuan itu kembali ke rumahnya, karena ia baru saja kehilangan istrinya. Ki Gede agaknya masih berusaha untuk menemukan Iswari meskipun Wiradana sendiri tidak membantunya.”

“Terserahlah kepadamu Gandar. Tetapi berhati-hatilah. Jika benar kau akan berhadapan de-ngan perguruan Kalamerta, maka kau benar-benar harus mempersiapkan

dirimu. Agaknya dengan demikian, kau harus kembali kepada alat-alat pembunuh yang sudah kau letakkan itu,” berkata Kiai Badra.

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya firasatnya memang sudah mengatakannya lebih dahulu bahwa pada suatu saat, ia akan kembali meraba alat-alat pembunuh itu. Ketika ia akan pergi ke Sembojan, sebelum terjadi

malapetaka atas Iswari, ia pun sudah menyentuh senjatanya yang sudah disimpannya itu. Dan agaknya ia benar-benar akan mempergu-nakannya kembali atau jenis senjata lain yang manapun. Namun ia pada suatu saat akan mempergunakan senjata lagi.

“Gandar,” berkata Kiai Badra kemudian, “Jika kau pada suatu saat mengambil satu keputusan untuk melakukan langkah yang akan dapat berakibat luas, aku minta kau menghubungi aku lebih dahulu jika waktunya memungkinkan.”

Gandar mengangguk sambil menjawab, “Ya Kiai. Bagaimana pun juga aku tidak berbuat sendiri.”

Namun dalam pada itu, Gandar tidak segera mendapatkan jalan, bagaimana yang sebaiknya. Setiap kali ia mendekati Tanah Perdikan Sembojan, maka rasa-rasanya ia akan memasuki satu daerah yang tertutup baginya.

“Apa yang akan kau lakukan? Menemui Ki Gede? Atau memaksa Wiradana untuk mengatakan apa yang telah dilakukan?” bertanya kepada diri sendiri.

Namun setiap kali Gandar selalu menunda usahanya untuk berbicara dengan orang-orang Sembojan.

Karena itu, maka Gandar pun kemudian menjadi semakin berhati-hati. Ia tidak perlu tergesa-gesa, karena jika sekali ia salah langkah, maka kemungkinan yang buruk akan dapat terjadi bukan saja atas dirinya, tetapi mungkin atas Ki Gede

Sembojan atau perempuan yang pernah me-nyelamatkan Iswari dari pembunuhan yang keji.

Dalam pada itu, di Tanah Perdikan Sembojan, Ki Gede telah berhasil menempa duapuluh lima orang pengawal itu pun mulai memberikan tugas-tugas kepada mereka. Pada pengawal itu mendapat pe-rintah untuk menilai keadaan di Tanah Perdikan Menoreh dan sekitarnya. Tetapi duapuluh lima orang itu sama sekali tidak menemukan tanda-tanda bahwa Tanah Perdikan itu masih dibayangi oleh kekuatan yang dapat membahayakan Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan menurut pengamatan mereka, di padukuhan-padukuhan di perbatasan di luar Tanah Perdikan itu pun tidak ada gejala yang dapat

menunjukkan adanya gangguan terhadap ketenangan dan ketentraman.

Karena itu, maka salah seorang dari anak-anak muda yang mendapat tempaan khusus itu berkata, “Bagaimana jika kita melangkah keluar Tanah Perdikan Ki Gede?”

Ki Gede masih merasa ragu-ragu. Ketika ia memanggil Wiradana dan berbicara tentang hal itu, maka Wiradana itu pun berkata, “Ayah, sebaiknya kita tidak me-langgar wewenang orang lain. Dalam hal hilangnya Iswari, kita sudah tidak kekurangan langkah. Segala usaha sudah kita lakukan. Dua puluh lima orang pengawal khusus itu telah memeriksa setiap rumah dan bertanya hampir setiap

orang yang mungkin melihat Iswari pada saat-saat terakhir. Sementara aku sendiri siang dan malam telah berusaha mencarinya, bahkan dengan diam-diam tanpa menimbulkan gangguan di daerah tetangga kita aku sudah berusaha untuk menemukan pula. Tetapi semuanya sia-sia saja. Iswari hilang begitu saja. Bahkan akhirnya

aku curiga, bahwa Iswari memang berusaha untuk meninggalkan kita.”

“Itu tidak mungkin,” jawab ayahnya. “Aku yakin, bahwa Iswari telah menjadi kerasan tinggal disini. Ia menganggap aku sebagai ayahnya sendiri, karena ia sudah tidak berayah. Ia melakukan kewajibannya sebagai seorang istri yang baik

menurut pengamatanku. Ia tidak pernah mengeluh meskipun hampir setiap malam ia kau tinggalkan justru pada saat ia mengandung. Ia tetap melakukan tugasnya,

bukan saja sebagai seorang istri yang setia, tetapi juga kewajibannya terhadap para tetangga bahkan di padukuhan-padukuhan lain di Tanah Perdikan ini. Ia hilang pada saat ia akan pergi ke rumah Pasih yang baru saja melahirkan anak.” Wiradana tidak menjawab. Setiap kali ia berbicara dengan ayahnya tentang Iswari yang hilang itu, rasa-rasanya ada saja persoalan yang tidak dapat bertemu.

“Pada saatnya ia akan melupakannya,” berkata Wiradana di dalam hatinya. Karena itu, setiap kali Wiradana selalu berusaha untuk menghindari pembicaraan dengan ayahnya tentang Iswari. Yang dilakukan oleh Wiradana kemudian adalah kerja. Ia berusaha untuk menutupi kelemahannya dengan kerja keras bersama anak-anak Tanah Perdikan di siang hari. Dengan rajin ia mengamati parit-parit

dan bendungan. Jika terdapat kekurangan, maka ia pun segera memanggil anak-anak muda untuk bersama-sama memperbaikinya. Namun di malam hari, Wiradana hampir tidak pernah ada di rumahnya. Ia selalu berada disisi istrinya yang cantik yang telah membuatnya menjadi bagaikan gila. “Kakang,” berkata Warsi pada satu saat, “Aku harap kakang tidak salah mengerti. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada kakang.”

“Tentang apa Warsi?” bertanya Wiradana.

“Tentang hubungan kita,” jawab Warsi. “Tetapi sekali lagi, kakang jangan salah mengerti kata-kataku.”

Wiradana mengerutkan keningnya. Namun dengan sungguh-sungguh ia mendengarkan Warsi berkata, “Kakang, sudah sekian lama aku menjadi istri kakang. Namun

rasa-rasanya aku masih dibayangi oleh keragu-raguan. Seolah-olah rumah tangga kita bukannya rumah tangga yang sewajarnya.”

“Apa yang kau maksudkan Warsi?” bertanya Wiradana.

“Kakang ada di rumah hanya pada malam hari,” berkata Warsi kemudian, “Bahkan kadang-kadang malam hari pun tidak atau hanya sebentar sekali. Jika aku melihat orang-orang lain dalam hubungan keluarga, mereka berkumpul hampir di setiap saat dalam waktu-waktu lepas dari kerja. Maksudku, setiap kali seorang suami akan pulang untuk makan bersama istrinya. Bukan hanya di malam hari. Tetapi juga di siang hari. Jika matahari mulai turun ke Barat, maka seorang suami akan meninggalkan kerjanya dan pulang untuk makan bersama istri di rumah. Mungkin ia akan pergi lagi di sore hari. Tetapi ia akan segera pulang untuk mandi dan

sekali-kali bergurau bersama keluarga menjelang malam. Itulah yang sebenarnya aku risaukan kakang. Bukan karena rumah ini terlalu kecil. Tetapi jika kakang selalu ada, maka rumah ini merupakan istana yang paling berharga bagiku.”

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada berat ia berkata, “Aku me-ngerti Warsi. Sabarlah. Aku akan berusaha untuk segera membawamu ke rumah.”

“Jangan salah mengerti kakang. Bukankah aku sudah mengatakannya sebelumnya,” sahut Warsi. “Aku tidak ingin pindah dari rumah ini. Rumah ini memberikan kesan tersendiri kepadaku. Tetapi yang aku inginkan, rumah tangga kita menjadi wajar, sebagaimana rumah tangga yang lain.”

Wiradana mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia berkata, “Tetapi selama kau masih ada disini, maka tidak akan terjadi satu kehidupan yang serasi di antara kita.

Aku masih harus selalu berpura-pura. Mengatakan yang tidak sebenarnya. Dan bahkan kadang-kadang aku kehilangan akal untuk menyusun alasan-alasanku berikutnya.” Warsi menundukkan kepalanya. Setiap kali ia berbuat seakan-akan menyesali sikapnya sendiri.

“Maafkan aku kakang. Lupakan saja kata-kataku semuanya. Aku tidak ingin membuat kau menjadi semakin terdesak dalam kesulitan,” berkata Warsi.

“Tidak Warsi,” jawab Wiradana. “Yang kau kehendaki adalah sesuatu yang wajar sekali. Adalah menjadi kewajibanku untuk dapat membantumu bahagia lahir dan batin.”

“Tetapi aku tidak ingin membebanimu dengan berbagai macam persoalan. Aku tahu, bahwa tugas-tugasmu cukup banyak di Tanah Perdikan,” jawab Warsi.

Dalam keadaan demikian, Wiradana justru merasa semakin terdesak. Ia merasa bahwa selama ini ia tidak dapat berbuat sebagaimana seorang laki-laki yang bertanggung jawab atas istrinya. Seorang laki-laki yang seharusnya mampu memberikan kesejahteraan kepada istrinya. Bukan sebaliknya, justru seakan-akan telah menyiksanya.

“Warsi tidak ingin apa-apa, apalagi yang berlebihan,” berkata Wiradana di dalam hatinya. “Ia hanya menginginkan kewajaran dalam rumah tangga.”

Dengan demikian, maka keinginan Wiradana untuk membawa Warsi ke rumahnya menjadi

semakin terdesak di dadanya. Ayahnya yang masih saja bersedih karena hilangnya Iswari, rasa-rasanya benar-benar telah menjadi penghalang baginya.

“Seharusnya ayah mengerti keadaanku,” berkata Wiradana di dalam hatinya. Namun Wiradana tidak akan berani mengatakannya sebelum ia menemukan satu keadaan yang paling tepat.

Pada saat Wiradana masih dikekang oleh kegelisahan tentang keinginan Warsi untuk hidup wajar, maka di padepokan Tlaga Kembang, Iswari telah mampu sedikit demi sedikit melepaskan diri dari kepahitan perasaan karena sikap suaminya. Selain anaknya yang tumbuh dengan cepat menjadi anak yang gemuk dan segar, maka Kiai Soka suami istri telah berusaha untuk benar-benar membuatnya menjadi orang lain.

Ketika keadaan tubuh Iswari telah pulih kembali setelah ia melahirkan, serta anaknya nampak sehat dan tidak mengalami gangguan apapun, Nyai Soka mulai membawa Iswari memasuki satu dunia yang sebelumnya terasa asing baginya. “Iswari,” berkata Nyai Soka. “Dengarlah. Bahwa di dalam kehidupan ini

kadang-kadang kita dihadapkan pada satu keharusan yang tidak kita kehendaki. Mungkin di saat kita berjalan di tengah-tengah bulak yang panjang tiba-tiba saja hujan turun.”

Iswari mengerutkan keningnya. Ia tidak segera menangkap maksud Nyai Soka. Dalam pada itu, maka Nyai Soka itu pun melanjutkannya, “Karena itu Iswari, jika kita sudah melihat mendung dilangit, dan kita akan menempuh perjalanan lewat bulak-bulak panjang, maka sebaiknya kita membawa payung. Seandainya hujan tidak jadi turun, kita tidak dirugikan karenanya. Tetapi jika hujan benar-benar akan

turun maka kita tidak akan menyesal karenanya.”

Iswari masih belum menangkap maksud Nyai Soka. Sehingga Nyai Soka akhirnya menjelaskan. “Iswari. Cobalah melihat kepada dirimu sendiri.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Barulah ia mengerti maksud Nyai Soka. Namun demikian, ia masih juga bertanya, “Lalu apakah yang sebaiknya aku lakukan, nek?”

“Nenek sudah tua,” jawab Nyai Soka. “Sementara itu nenek tidak mempunyai seorang anakpun. Seorang anak yang akan mewarisi harta yang paling berharga yang aku miliki berdua bersama kakekmu Kiai Soka,” Nyai Soka diam sejenak, lalu, “Tetapi harta yang paling berharga itu bukannya benda yang besar. Tetapi yang nenek

miliki adalah sekadar ilmu. Ilmu yang jika tidak aku wariskan kepada siapapun juga, akan hilang tidak berarti bersama jasad nenek dan kekek Soka yang tua ini.

Sementara dua orang cantrik yang ada di padepokan ini, tidak dapat kami harapkan untuk dapat menjadi murid yang benar-benar memenuhi keinginan nenek dan kakekmu disini. Selebihnya, jika kau anggap penting maka ilmu itu akan merupakan payung

yang akan dapat kau bawa mengarungi kelangsungan hidupmu dan hidup anakmu.” Iswari menarik nafas dalam-dalam. Katanya,”Apakah artinya ilmu itu bagiku, nek. Aku sudah merasa senang tinggal disini bersama nenek dan kakek. Aku tidak ingin berbuat lebih banyak daripada berbuat sesuatu sesuai dengan kemampuan yang ada padaku, sekadar menanak nasi, mencuci pakaian dan membersihkan rumah.” “Benar,” jawab Nyai Soka. “Tetapi meskipun kau hanya akan menanak nasi, mencuci

pakaian dan membersihkan rumah, alangkah baiknya jika kau mampu berbuat sesuatu jika anakmu berada dalam bahaya. Sekarang aku dan kakekmu masih ada, sehingga meskipun kami sudah tua, tetapi masih mungkin untuk membantu dan berusaha menyelamatkan anakmu. Tetapi pada saatnya kami akan kembali dipanggil oleh Tuhan yang maha menitahkan kami, sementara itu anakmu tumbuh makin besar. Iswari, apakah kau menyadari bahaya yang dapat menerkam anakmu setiap saat?” Iswari menarik nafas dalam-dalam. Ia menyadari arah pembicaraan Nyai Soka. Dan ia pun menyadari kemungkinan itu atas anaknya, karena anaknya adalah anak Wiradana.

Karena Iswari masih saja merenung, maka Nyai Soka itu lalu bertanya, “Iswari, apakah kau mengerti maksudku?”

Iswari mengangguk kecil, sementara itu Nyai Soka berkata, “Karena anakmu itu mempunyai kemungkinan untuk memegang pimpinan di Tanah Perdikan Sembojan menurut

hak atas dasar keturunan, maka tentu ada orang yang tidak atas dasar keturunan, maka tentu ada orang yang tidak senang menerimanya, sebagaimana orang itu tidak senang menerima kehadiranmu di Tanah Perdikan ini.”

“Ya nek,” suara Iswari terdengar lirih.

“Nah, jika kau menyadari, maka ikutilah nenek yang tua selagi nenek masih berkesempatan,” berkata Nyai Soka.

Iswari tidak membantah. Ia sadar, bahwa sejak saat itu, ia akan memasuki satu dunia yang selamanya belum pernah disentuhnya.

Di hari berikutnya, neneknya telah mengajak Iswari berjalan-jalan. Mereka memutari padepokan kecil itu beberapa kali. Demikian yang mereka lakukan dari hari kehari. Semakin lama semakin bertambah jumlah putaran yang mereka tempuh. “Karena kau sedang menyusui Iswari, maka kita akan mulai dengan perlahan-lahan saja. Kita tidak tergesa-gesa. Kita memerlukan waktu bukan hanya satu dua bulan.

Bukan hanya satu dua tahun. Tetapi mungkin sampai bertahun-tahun, sementara itu anakmu tumbuh semakin besar. Waktu kita memang terbatas Iswari. Sampai saatnya nenek dan kakek Soka ini dipanggil menghadap Yang Maha Agung.”

Iswari hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi ternyata ia adalah seorang yang patuh. Sejak ia dianggap oleh adik kakeknya itu sebagai muridnya, maka apapun yang harus dilakukan, telah dilakukannya meskipun terasa berat. Karena Iswari yakin, bahwa neneknya itu tahu pasti, ukuran yang dipergunakan untuk menakar kemampuan Iswari.

Sebenarnyalah yang dilakukan Iswari itu sama sekali tidak mengganggunya dalam saat-saat ia sedang menyusui, karena Nyai Soka telah memperhitungkan segala sesuatunya sebaik-baiknya.

Di hari-hari berikutnya Nyai Soka mulai dengan latihan-latihan di sanggar dengan gerakan-gerakan yang sangat sederhana. Nyai Soka mengerti, bahwa Iswari sama sekali belum pernah mengenal ilmu kanuragan. Tetapi karena di dalam tubuhnya mengalir darah keturunan Kiai Badra, maka Nyai Soka yakin, bahwa perempuan itu akan dapat dibentuknya menjadi seorang perempuan yang memiliki kelebihan dari orang lain.

Pada hari pertama, maka gerak-gerak yang sederhana itu sudah terasa sangat sulit bagi Iswari. Tetapi demikian ia mulai dengan gerak yang pertama dari

latihan-latihan yang diikutinya untuk selanjutnya, terasa oleh Iswari

seakan-akan ia memang dituntut untuk mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.

Karena itu, maka Iswari pun kemudian mengikuti segala latihan dengan

sungguh-sungguh tanpa mengabaikan kewajibannya terhadap anak laki-lakinya yang tumbuh dengan suburnya.

Sementara itu, betapapun kuatnya kemauan Ki Gede di Sembojan untuk berusaha menemukan Iswari hidup atau mati, namun akhirnya ia mulai dibayangi oleh satu kenyataan, bahwa Iswari tidak akan dapat diketemukan. Kemarahannya yang tertuju kepada keluarga Kalamerta harus dikekangnya, karena para pengawal yang terlatih itu sama sekali tidak menemukan sekelompok orang yang dapat dicurigai sebagai sisa-sisa gerombolan Kalamerta itu.

Saat-saat yang demikian itulah sebenarnya yang ditunggu oleh Wiradana. Tetapi ia memang tidak mau salah langkah. Ia tidak tergesa-gesa mengatakan kepada ayahnya bahwa ia ingin beristri lagi. Tetapi untuk beberapa saat lamanya Wiradana masih menunggu.

Namun tiba-tiba hati Wiradana telah terguncang ketika pada suatu hari, Gandar telah datang ke Tanah Perdikan Sembojan. Gandar yang untuk beberapa lama selalu ragu-ragu dan kebingungan untuk menemukan suatu jalan menuju ke sebuah pertemuan

dengan Ki Gede, akhirnya menemukannya.

Ia tidak ingin datang dengan diam-diam mengintip dan mengikuti segala

gerak-gerik Wiradana. Tetapi ia ingin dengan terbuka langsung menuju ke rumah Ki Gede di Sembojan.

Kedatangannya memang cukup mengejutkan. Tetapi karena di wajahnya tidak terbayang kesan-kesan yang mendebar-kan, bahkan nampaknya Gan-dar datang sambil tersenyum-senyum, maka Wiradana menjadi agak tenang menghadapinya.

Gandar telah diterima oleh Ki Gede dan Wiradana di pendapa. Ki Gede yang selalu merasa bersalah, berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya atas temuannya itu, meskipun menurut anggapannya, Gandar tidak lebih dari seorang pembantu Kiai Badra yang agak kurang tinggi kemampuan daya nalar-nya.

Setelah hidangan disuguhkan, maka mulailah Gandar mengatakan kepentingannya datang ke rumah Ki Gede. Katanya, “Ki Gede, sebenarnyalah bahwa aku telah diperintahkan oleh Kiai Badra untuk menyampaikan satu pertanyaan tentang cucunya. Apakah telah didapat kabar atau keterangan tentang Iswari. Apakah ia masih hidup atau sudah mati. Jika masih hidup dimanakah orangnya, tetapi jika mati dimanakah kuburnya?”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ditatapnya wajah Wiradana sambil berkata, “Jawablah, karena Iswari adalah istrimu.”