-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 06

Jilid 06

Namun yang terdengar adalah jerit melengking. Tubuhnya yang telah dipeluk oleh rantai itu ternyata telah terkoyak pula.

Laki-laki itu pun kemudian jatuh pula terguling. Masih terdengar ia mengaduh. Sementara itu, jeritnya telah memanggil orang-orang yang sedang bertempur itu untuk berpaling. Ketika ayahnya melihat laki-laki itu terputar dan kemudian jatuh terguling, ia meloncat jauh-jauh dari lawannya, ayah Warsi.

“Anakku,” terdengar suaranya patah oleh kemarahan yang menyesak di kerongkongan. Kemarahannya benar-benar telah membakar jantungnya yang membuat darahnya mendidih. Karena itu, maka dengan serta merta ia pun telah meloncat menyerang lawannya membabi buta.

“Kau menjadi gila,” geram ayah Warsi, yang bagaimanapun juga merasa bahwa laki-laki yang kehilangan anaknya itu adalah masih kadangnya sendiri.

Tetapi laki-laki itu tidak menghiraukannya. Ia masih saja menyerang dengan garangnya tanpa sempat berpikir sama sekali.

Dalam pada itu, Warsi kemudian berdiri tegak di antara kedua sosok tubuh yang terbaring diam. Ketika terlihat olehnya luwuk yang sudah terlepas dari genggaman tangan laki-laki yang menginginkannya itu, maka luwuk itu pun segera diambilnya. “Luwuk ini milik kakek,” desis Warsi sambil mengamati luwuk itu.

Sejenak kemudian ia pun telah berjongkok di samping laki-laki yang menginginkannya itu. Di amatinya laki-laki itu. Ternyata bahwa laki-laki itu benar-benar tidak bernafas. Satu kematian yang pahit, karena laki-laki itu telah terbunuh oleh perempuan yang akan diambilnya menjadi istrinya.

Perlahan-lahan Warsi telah menarik wrangka luwuk itu dari lambung laki-laki itu. Terasa cairan yang hangat telah membasahi wrangka luwuk itu. Darah yang mengalir dari lambung yang koyak oleh rantai Warsi itu sendiri.

Dalam pada itu, ayah Warsi itu pun kemudian berkata, “Kakang, cobalah menyadari keadaanmu selagi semuanya belum terlanjur. Kau masih sempat menarik diri dari arena ini, karena kau adalah masih kadangku sendiri.”

“Persetan,” geram laki-laki yang kehilangan anaknya itu. “Anak perempuanmu memang iblis betina. Ia membunuh anakku.”

“Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya,” berkata ayah Warsi. “Bukankah aku sudah

mengatakan, bahwa segala sesuatu akan dipertanggungjawabkannya sendiri.” “Kaulah yang bertanggung jawab. Kau ajari anakmu menjadi pembunuh, he?” teriak ayah laki-laki yang terbunuh itu.

“Lalu kau ajari apa anak laki-lakimu itu? Kawin berulang kali dan merampas perempuan dengan paksa? Jika hal seperti ini tidak atas Warsi, maka perempuan yang malang itu harus melayani sebagai budak kegilaannya. Tetapi karena anakmu membentur perempuan yang kebetulan adalah Warsi dengan sifat-sifatnya, maka ia harus menebus kelakuannya dengan sangat mahal,” jawab ayah Warsi.

“Persetan dengan kata-katamu. Kau dan perempuan iblis itu harus mati,” geram laki-laki yang kehilangan anaknya itu.

Ayah Warsi tidak menjawab lagi. Ia sudah cukup memberi peringatan kepada lawannya yang masih kadangnya sendiri itu. Tetapi peringatan itu sama sekali tidak dihiraukannya, sehingga ia justru berusaha menyerang ayah Warsi semakin keras.

Dalam pada itu, Warsi masih berjongkok disamping tubuh laki-laki yang akan mengambilnya menjadi istrinya itu. Namun tiba-tiba ia terkejut. Seorang pengikutnya berusaha berloncatan menjauhi lawannya. Bahkan dengan susah payah menghindari serangan-serangan yang memburunya.

Warsi mengangkat wajahnya. Seorang pengikutnya yang terluka itu benar-benar mengalami kesulitan. Karena itu, maka Warsi pun kemudian meloncat berdiri dan dengan tiba-tiba saja ia sudah berdiri disamping pengikutnya yang terluka dan sudah kehilangan harapan untuk tetap bertahan.

“Minggirlah,” desis Warsi.

Lawan pengikutnya itu tertegun sejenak. Orang itu mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh Warsi. Tetapi ia sama sekali tidak menjadi gentar. Ia memang ingin berbuat sesuatu yang dapat menentukan, sehingga kehadirannya tidak dapat dianggap sebagai sekadar pelengkap. Raksasa berkepala kecil dan bersenjata pedang lengkung itu sudah terbunuh, sehingga peranannya tidak dapat dianggap menentukan.

Kehadiran Warsi memberikan harapan kepadanya, bahwa ia akan mengalahkannya, sehingga ayah laki-laki yang menginginkan Warsi itu akan sangat berterima kasih kepadanya.

“Aku harus cepat menyelesaikan perempuan iblis itu agar kemudian aku dapat menolong orang yang harus mengupahku. Jika orang itu mati juga seperti anaknya, maka sia-sialah semua kerja yang mempertaruhkan nyawa ini,” berkata gegedug itu di dalam hatinya.

Karena itu, maka ketika Warsi benar-benar mengambil alih perlawanan salah seorang pengikutnya, maka gegedug itupun telah bergeser semakin dekat.

Senjatanya terayun-ayun mengerikan. Sebatang tombak pendek.

Tetapi ternyata Warsi memang memiliki kecepatan gerak yang mengagumkan. Ia mampu

berloncatan di sela-sela putaran tombak lawannya. Bahkan ujung rantainya seakan-akan dapat menyusup mematuk tubuh lawannya.

SEPERTI lawannya, Warsi pun mulai jemu dengan pertempuran itu. Sementara itu, ia pun mulai memikirkan malam yang semakin mendekati akhirnya.

Dengan puncak kemampuannya, ternyata bahwa Warsilah yang kemudian berhasil mendesak lawannya. Orang bertombak pendek itu tidak banyak mempunyai kesempatan. Kemampuan perempuan itu benar-benar diluar dugaannya.

Jika ia semula bersyukur bahwa ia dapat berhadapan dengan Warsi, maka ia pun mulai mencemaskan dirinya sendiri. Apalagi ketika kemudian ujung rantai Warsi mulai menyentuhnya. Maka terasa bahwa kemampuannya memang berada dibawah kemampuan perempuan binal itu.

“Ilmu perempuan ini memang ilmu iblis,” desis lawannya. Namun dalam pada itu, pemimpin gegedug yang bertempur dengan bekas tukang gendang Warsi itu pun berkata pula di dalam hatinya, “Pantas jika ia berani menyebut dirinya mewarisi ilmu Kalamerta yang terbunuh itu.

Dengan demikian maka keseimbangan pertempuran itu pun mulai kelihatan. Pengawal berambut putih yang memiliki tubuh dan kekuatan raksasa itu semakin terdesak

oleh kedua lawannya. Sementara Warsi sejenak kemudian benar-benar telah menguasai gegedug yang salah hitung. Bahkan justru pada saat lawannya itu menjulurkan tombaknya, Warsi yang bergeser selangkah, telah menyerang lawannya sambil memutar tubuhnya bersama rantai ditangannya.

Rantai yang berputar mendatar itu telah menyambar tubuh gegedug yang salah menilai kemampuan perempuan itu sebelumnya. Rantai yang menyambar mendatar setinggi dada itu telah benar-benar mengoyak dadanya. Meskipun orang itu sudah berusaha meloncat surut, tetapi ujung rantai itu bagaikan telah mengejarnya.

Dengan demikian, maka segores luka telah menganga didada laki-laki itu. Luka yang panjang dan dalam.

Terdengar laki-laki Itu menggeram. Tetapi ia tidak dapat ingkar dari kenyataan,

bahwa luka itu telah melenyapkan segala harapannya untuk memenangkan pertempuran itu.

Ternyata Warsi pun tidak tanggung-tanggung lagi menghadapi lawannya. Selagi lawannya itu kesakitan dan berusaha untuk mengerti keadaan dirinya, Warsi sudah memburunya. Sekali lagi rantainya menyambar. Dan sebuah luka telah menganga di lehernya.

Laki-laki itu sudah tidak mungkin untuk dapat ditolong lagi. Tubuhnya terlempar beberapa langkah surut dan jatuh terguling. Namun kemudian tubuh itu tidak lagi dapat bergerak.

Seorang dari lima orang gegedug itu sudah terbunuh.

Pemimpin gegedug itu menjadi sangat marah ketika ia melihat kawannya telah berkurang. Namun ketika ia meningkatkan kemampuannya sampai ke puncak, lawannya pun telah berbuat serupa. Dengan demikian, maka pemimpin gegedug itu tidak mampu dengan segera mengatasi lawannya, bekas tukang gendang Warsi. Bahkan

rasa-rasanya tukang gendang itu semakin lama menjadi semakin garang dan kasar. Dalam pada itu, Warsi berdiri tegak disamping lawannya yang telah menjadi mayat. Sejenak ia menebarkan pandangan matanya keseluruh arena. Dua orang pengikutnya yang setia benar-benar telah menguasai raksasa yang berambut putih. Sementara pengikutnya yang lain bertempur melawan seorang yang bersenjata sebuah perisai kecil dan kapak. Agaknya pengikutnya mengalami kesulitan menghadapi jenis senjata itu. Senjata yang berpasangan. Dengan perisainya lawannya mampu menangkis segala serangannya, sementara kapaknya setiap kali ternyata menyambar langsung ke arah kepala.

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Ketika sekilas ia melihat ayahnya bertempur, maka ia tidak mencemaskannya. Bahkan ia merasa bahwa ayahnya seharusnya tidak lagi memperhatikan bahwa lawannya itu adalah kadang sendiri.

“Sebaiknya ayah cepat saja mengakhirinya,” berkata Warsi di dalam hati. “Jika

ayah masih juga memperpanjang pertempuran, satu kemungkinan yang pahit dapat saja terjadi sebagaimana satu kecelakaan.”

Tetapi untuk sementara Warsi tidak mencampurinya. Ia ingin mendekati salah seorang lawan yang bersenjata perisai dan kapak itu. Rasa-rasanya sikap orang itu sangat menjengkelkan. Setiap kali ia bersembunyi dibelakang perisainya yang

tidak begitu besar namum mampu melindungi dirinya dari ujung pedang lawannya. Namun tiba-tiba saja kapaknya terayun dengan derasnya mengarah ke ubun-ubun. “Jika orang itu lengah sekejab saja, maka kepalanya akan terbelah,” desis Warsi.

Karena itu, tiba-tiba saja ia telah meloncat mendekat sambil berkata kepada pengawalnya, “Minggirlah. Atau bantu kawanmu yang lain. Aku menjadi jengkel melihat sepasang senjata yang terdiri dari perisai dan kapak ini.”

Gegedug yang mempergunakan senjata perisai dan kapak itu menggeram. Namun sebenarnyalah lawannya berusaha untuk meloncat menjauh sementara Warsi telah memasuki gelanggang melawan orang yang bersenjata perisai dan kapak itu.

Senjata itu memang sangat menjengkelkan. Dengan perisainya orang itu berhasil menangkis serangan pedang lawannya. Sementara kapaknya menyambar dengan dahsyatnya.

Tetapi agaknya berbeda dengan watak senjata yang dipergunakan oleh Warsi. Perisainya tidak dapat dipergunakan sebagaimana ia melawan pedang.

Ketika rantai Warsi menyerang dengan derasnya, secara naluriah orang itu telah menangkis dengan perisainya. Tetapi justru karena itu, maka ujung rantainya telah menggapai tangannya yang menggenggam perisai itu.

Orang itu meloncat surut. Ia masih tetap mempertahankan perisainya. Namun kemudian terasa tangannya itu sangat pedih. Ujung rantai perempuan iblis itu telah melukai tangannya, sehingga rasa-rasanya tangannya itu tidak lagi mampu dipergunakannya lagi. Darah yang segar mengalir dari luka itu yang nampaknya telah menganga sampai ketulang.

“Gila,” geram orang itu. Sambil menghentakkan kapaknya, orang itu terpaksa melepaskan perisainya yang sudah tidak mungkin digenggamnya lagi dengan tangannya yang terluka.

“Kau memang harus mati,” geram laki-laki bersenjata kapak itu.

Warsi tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian terlibat dalam pertempuran yang semakin cepat.

Adalah diluar kehendaknya, bahwa Warsi semakin lama menjadi semakin mendekati arena pertempuran ayahnya. Dengan demikian Warsi menjadi semakin jelas, bahwa masih ada juga sepercik keraguan dihati ayahnya untuk mengakhiri pertempuran itu.

Namun Warsi tidak akan memaksa ayahnya untuk lebih cepat membunuh laki-laki yang masih kadangnya sendiri itu. Warsi akan membunuh semua orang yang berpihak kepada laki-laki yang telah kehilangan anaknya itu. Kemudian terserah kepada ayahnya, apa yang akan dilakukannya.

Dalam pada itu, pengawal Warsi yang kehilangan lawannya yang bersenjata kapak itu, telah mendekati arena pertempuran yang lain. Dengan ragu-ragu ia pun kemudian berkata kepada seorang kawannya, “Apakah aku boleh ikut? Lawanku telah diambil oleh Warsi.”

“Marilah, selagi fajar belum menyingsing,” jawab kawannya.

“Tetapi sebentar lagi langit akan menjadi merah,” gumam orang yang kehilangan lawannya itu.

“Persetan,” geram gegedug yang kemudian harus menghadapi dua orang lawan, “Jangankan hanya dua, tujuh orang sekaligus aku tidak akan bergeser surut. Aku akan membantai kalian dengan tanpa ragu-ragu.”

TETAPI ternyata bahwa ia tidak dapat melakukannya. Ketika lawannya menjadi dua, maka ia pun segera mengalami kesulitan, karena para pengikut Warsi itu pun memiliki kemampuan bertempur sebagaimana dimiliki oleh gegedug itu. Kasar, keras dan kadang-kadang tidak menghiraukan tatanan apapun juga.

Sementara itu, Warsi yang melihat bahwa langit sudah menjadi semburat, mereka telah bertempur semakin cepat. Lawannya sama sekali tidak mendapat kesempatan lagi untuk menyerang. Bahkan sejenak kemudian ujung rantai Warsi telah menyentuh paha lawannya itu. Sekali lagi lawannya mengumpat. Namun serangan Warsi justru menjadi semakin lama semakin cepat. Sehingga sekali lagi ujung rantai Warsi menyentuh lambung

lawannya.

Kemarahan gegedug itu bagaikan memecahkan dadanya. Ia adalah gegedug yang merasa dirinya memiliki kemampuan tidak berlawan. Namun menghadapi para pengikut Kalamerta ini, mereka harus mengakui, bahwa untuk mengalahkannya mereka harus membawa kawan lebih banyak lagi.

Dalam keputusan-keputusan karena luka-lukanya, serta tanpa melihat kemungkinan untuk menyerang, maka lawan Warsi yang terluka dibeberapa tempat itu telah mengambil satu keputusan yang menentukan. Ketika Warsi berusaha untuk sekali lagi menyerangnya dengan ujung rantainya yang berputaran maka lawannya yang bersenjata kapak itu dengan serta merta telah mengambil ancang-ancang. Demikian cepatnya sehingga sulit untuk diikuti dengan mata wadag. Tiba-tiba saja kapaknya telah meluncur seperti tatit menyambar diudara mengarah ke dada Warsi.

Warsi terkejut melihat serangan itu. Namun ternyata Warsi masih sempat mengelak. Dengan loncatan kesamping maka kapak itu terbang sejengkal dari dadanya.

Namun ternyata kapak itu mengarah ke arah pertempuran antara ayah Warsi dan ayah laki-laki yang menginginkannya. Karena itu, maka hampir diluar sadarnya, Warsi berteriak, “Ayah, hati-hati.”

Ayah Warsi mendengar teriakan anaknya. Namun sebenarnya bahwa tidak seorang pun yang dapat menentukan takdir merenggut jiwa seseorang. Kapak itu sama sekali

tidak menyambar ayah Warsi, tetapi justru telah terhujam kedalam tubuh ayah laki-laki yang menginginkan Warsi dan yang telah kehilangan anak laki-lakinya itu. Tepat pada punggungnya, justru pada saat orang itu sedang mengerahkan kemampuannya melawan ayah Warsi.

Terdengar orang itu mengumpat keras-keras, Licik, pengecut,” Namun sejenak kemudian ia pun telah terhuyung-huyung. Kapak itu benar-benar telah merampas segala kemungkinan untuk dapat keluar dari pertempuran itu. Bahkan akhirnya laki-laki itu telah jatuh pada lututnya.

“Kau licik,” ia masih menggeram.

Ayah Warsi berdiri termangu-mangu. Dengan suara datar ia menjawab, “Bukan kawan-kawanku. Justru kawanmu sendiri.”

Mata laki-laki itu terbelalak. Tetapi hanya untuk sesaat. Karena sesaat kemudian ia pun telah terjatuh menelungkup. Bahkan akhirnya nafasnya pun telah terputus pula.

Kematian demi kematian pun kemudian datang beruntun. Raksasa yang berambut putih itu pun tidak mampu lagi mempertahankan diri lebih lama menghadapi dua orang lawannya. Karena itu, maka akhirnya senjata-senjata lawannya telah mulai

menghujam di tubuhnya.

Demikianlah, maka pemimpin gegedug yang bertempur melawan bekas penggendang Warsi itu pun melihat, bahwa laki-laki yang mengupahnya, ayah beranak, telah

mati terbunuh. Tidak ada lagi harapan untuk menerima upah yang tinggi. Apalagi kawannya telah ada pula yang terbunuh. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain baginya daripada menghindar, karena agaknya tidak ada gunanya lagi ia bertempur berlama-lama. Bahkan kemungkinan yang paling buruk pun akan dapat terjadi atas dirinya.

TETAPI ternyata bahwa ia tidak dapat melakukannya. Ketika lawannya menjadi dua, maka ia pun segera mengalami kesulitan, karena para pengikut Warsi itu pun memiliki kemampuan bertempur sebagaimana dimiliki oleh gegedug itu. Kasar, keras dan kadang-kadang tidak menghiraukan tatanan apapun juga.

Sementara itu, Warsi yang melihat bahwa langit sudah menjadi semburat, mereka telah bertempur semakin cepat. Lawannya sama sekali tidak mendapat kesempatan lagi untuk menyerang. Bahkan sejenak kemudian ujung rantai Warsi telah menyentuh paha lawannya itu.

Sekali lagi lawannya mengumpat. Namun serangan Warsi justru menjadi semakin lama semakin cepat. Sehingga sekali lagi ujung rantai Warsi menyentuh lambung

lawannya.

Kemarahan gegedug itu bagaikan memecahkan dadanya. Ia adalah gegedug yang merasa dirinya memiliki kemampuan tidak berlawan. Namun menghadapi para pengikut Kalamerta ini, mereka harus mengakui, bahwa untuk mengalahkannya mereka harus membawa kawan lebih banyak lagi.

Dalam keputusan-keputusan karena luka-lukanya, serta tanpa melihat kemungkinan untuk menyerang, maka lawan Warsi yang terluka dibeberapa tempat itu telah mengambil satu keputusan yang menentukan. Ketika Warsi berusaha untuk sekali lagi menyerangnya dengan ujung rantainya yang berputaran maka lawannya yang bersenjata kapak itu dengan serta merta telah mengambil ancang-ancang. Demikian cepatnya sehingga sulit untuk diikuti dengan mata wadag. Tiba-tiba saja kapaknya telah meluncur seperti tatit menyambar diudara mengarah ke dada Warsi. Warsi terkejut melihat serangan itu. Namun ternyata Warsi masih sempat mengelak. Dengan loncatan kesamping maka kapak itu terbang sejengkal dari dadanya.

Namun ternyata kapak itu mengarah ke arah pertempuran antara ayah Warsi dan ayah laki-laki yang menginginkannya. Karena itu, maka hampir diluar sadarnya, Warsi berteriak, “Ayah, hati-hati.”

Ayah Warsi mendengar teriakan anaknya. Namun sebenarnya bahwa tidak seorang pun yang dapat menentukan takdir merenggut jiwa seseorang. Kapak itu sama sekali

tidak menyambar ayah Warsi, tetapi justru telah terhujam kedalam tubuh ayah laki-laki yang menginginkan Warsi dan yang telah kehilangan anak laki-lakinya itu. Tepat pada punggungnya, justru pada saat orang itu sedang mengerahkan kemampuannya melawan ayah Warsi.

Terdengar orang itu mengumpat keras-keras, Licik, pengecut,” Namun sejenak kemudian ia pun telah terhuyung-huyung. Kapak itu benar-benar telah merampas segala kemungkinan untuk dapat keluar dari pertempuran itu. Bahkan akhirnya laki-laki itu telah jatuh pada lututnya.

“Kau licik,” ia masih menggeram.

Ayah Warsi berdiri termangu-mangu. Dengan suara datar ia menjawab, “Bukan kawan-kawanku. Justru kawanmu sendiri.”

Mata laki-laki itu terbelalak. Tetapi hanya untuk sesaat. Karena sesaat kemudian ia pun telah terjatuh menelungkup. Bahkan akhirnya nafasnya pun telah terputus pula.

Kematian demi kematian pun kemudian datang beruntun. Raksasa yang berambut putih itu pun tidak mampu lagi mempertahankan diri lebih lama menghadapi dua orang lawannya. Karena itu, maka akhirnya senjata-senjata lawannya telah mulai

menghujam di tubuhnya.

Demikianlah, maka pemimpin gegedug yang bertempur melawan bekas penggendang Warsi itu pun melihat, bahwa laki-laki yang mengupahnya, ayah beranak, telah

mati terbunuh. Tidak ada lagi harapan untuk menerima upah yang tinggi. Apalagi kawannya telah ada pula yang terbunuh. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain baginya daripada menghindar, karena agaknya tidak ada gunanya lagi ia bertempur berlama-lama. Bahkan kemungkinan yang paling buruk pun akan dapat terjadi atas dirinya.

Karena itu, adalah diluar dugaan bekas pemukul gendang itu, bahwa pada satu kenyataan, dengan tiba-tiba saja lawannya telah bergeser surut dengan satu loncatan panjang berlari meninggalkannya.

“He, pengecut, tunggu,” teriak pemukul gendang itu.

Tetapi orang itu tidak menghiraukannya lagi. Bahkan sisa kawannya yang masih ada pun dengan tergesa-gesa telah melakukan hal yang serupa. Dengan tiba-tiba, tanpa ancang-ancang telah berloncatan meninggalkan arena.

Para pengikut ayah Warsi tidak mengejar mereka. Namun dalam pada itu, terasa luka di hati Warsi pun menjadi semakin pedih. Ia melihat kawan-kawannya yang terbunuh dan terluka parah. Meskipun ada juga beberapa orang lawan yang

terbunuh, namun kematian pengikutnya yang setia itu membuat Warsi menjadi sangat geram.

“Seandainya langit belum berwarna merah, aku akan memburu mereka sampai orang yang terakhir,” suara Warsi gemeretak oleh kemarahannya.

Tetapi ayahnya berusaha untuk menenangkannya, “Kita sudah tidak mempunyai waktu lagi. Kita harus segera kembali.”

Warsi mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Lalu apa yang akan kita katakan kepada para peronda tentang mayat-mayat ini?”

“Biarlah orang-orang lain memasuki padukuhan dengan diam-diam,” berkata ayah Warsi. “Kita akan memasuki regol. Kau akan duduk bersamaku di atas seekor kuda. Aku akan mengatakan, bahwa kita telah dirampok di simpang empat ini. Sebagian kawan-kawan kita terbunuh dan yang lain melarikan diri. Sementara itu, beberapa orang perampok telah terbunuh oleh kawan-kawan kita.”

Warsi berpikir sejenak. Namun kemudian katanya, “Terserah sajalah kepada ayah.” “Marilah, mumpung fajar belum menjadi terang,” berkata ayah Warsi yang kemudian memerintahkan kepada orang-orangnya untuk kembali dengan diam-diam.

Kawan-kawannya yang terluka harus dibawa. Tetapi yang sudah meninggal biarlah orang-orang padukuhan itu nanti akan mengurusnya bersama dengan orang-orang yang datang untuk mengambil Warsi, tetapi gagal.

Dalam pada itu, Warsi pun telah mencari kain panjangnya dan kemudian mengenakannya kembali. Bersama dengan ayahnya ia berkuda menuju ke regol padukuhan.

Kedatangan mereka memang mengejutkan. Pada wajah Warsi nampak kesan yang memelas. Ketakutan dan kebingungan. Sementara ayahnya masih nampak gemetar. “Apa yang telah terjadi?” bertanya para peronda.

Ayah Warsi tidak turun dari kudanya. Dengan suara yang bergetar ia menjawab, “Kami telah dirampok.”

“Dirampok?” bertanya para peronda sambil berloncatan mendekat, “Dimana?” “Di simpang empat,” jawab Warsi.

“Di simpang empat?” hampir bersamaan beberapa peronda telah bertanya. “Ya. Di simpang empat,” jawab ayah Warsi.

Para peronda itu saling berpandangan. Seorang di antara mereka berdesis, “Satu hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.”

“Tetapi sekarang terjadi atasku,” sahut ayah Warsi.

“Lalu apa yang terjadi kemudian?” bertanya salah seorang di antara para peronda. “Kami tidak menyerah begitu saja. Kami melawan. Terjadi pertempuran. Beberapa orang kawanku yang bersamaku lewat regol ini telah terbunuh. Yang lain melarikan diri mencari hidup sendiri-sendiri. Aku tidak tahu apa yang terjadi atas mereka.

Namun beberapa orang perampok pun telah terbunuh, sehingga aku kira, mereka telah saling melarikan diri bercerai berai. Dan aku telah membawa Warsi menyelamatkan diri pula. Semula kami berdua sempat bersembunyi. Tetapi aku terpaksa melindungi anakku dan bertempur dengan seorang di antara para perampok itu, sehingga saatnya aku sempat meninggalkan pertempuran, sambil membawa Warsi,” jawab ayah Warsi.

Para peronda itu pun saling berpandangan. Kemudian seorang di antara mereka berkata, “Marilah kita melihat.”

“Hati-hatilah,” berkata ayah Warsi. “Bawalah kawan secukupnya.”

Para peronda itu pun kemudian mempersiapkan diri. Bersama beberapa orang kawan dan bersenjata lengkap, mereka telah pergi ke simpang empat di bulak panjang.

Sementara itu Warsi dan ayah pun telah melanjutkan perjalanan mereka pulang ke rumah.

Namun dalam pada itu, Warsi pun kemudian bertanya, “Bagaimana jika anak-anak muda itu menemukan mayat kawan-kawan kita ayah?”

Ayah Warsi menjawab dengan pasti. “Mereka tidak mengenalnya. Siapapun yang menjadi mayat, anak-anak muda itu akan menganggap bahwa di antara mereka terdapat para perampok dan kawan-kawan kita.”

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia percaya akan kata-kata ayahnya. Dalam pada itu, padukuhan itu pun menjadi gempar. Sesuatu yang belum pernah terjadi, telah terjadi. Perampokan di lingkungan padukuhan mereka, meskipun hal itu terjadi di bulak panjang. Anak-anak muda itu telah menemukan beberapa sosok mayat dalam keadaan yang mengerikan. Bahkan beberapa jenis senjata yang berserakan membuat jantung mereka berdegup semakin cepat.

Ketika salah seorang dari anak-anak muda itu datang menemui ayah Warsi, agar ia menentukan yang manakah kawan-kawannya dan manakah perampok-perampok yang terbunuh, ayah Warsi menjawab, “Aku tidak berani melihat sosok-sosok mayat itu lagi.”

“Tetapi bukankah hal itu penting untuk menentukan di manakah mereka akan dikubur?” bertanya anak-anak muda itu.

“Kuburkanlah di satu tempat,” jawab ayah Warsi. “Aku adalah orang yang memang pernah belajar kanuragan. Aku pun ikut bertempur malam itu. Tetapi peristiwa itu terlalu mengerikan bagiku.”

“Bagaimanapun juga, kami ingin membedakan antara keluarga Warsi dan para perampok,” berkata anak muda itu.

Namun ayah Warsi masih saja menggeleng. Sejenak ia memandang ke sekitarnya sambil berdesis, “Bukankah Warsi tidak ada di sini?”

“Kenapa dengan Warsi?” anak muda itu bertanya.

Ayah Warsi itu pun kemudian berbisik, “Anak muda. Sebenarnyalah aku menjadi curiga, bahwa ada di antara sanak kadangku yang menjemputku itu justru terlibat. Mereka adalah kawan-kawan dari para perampok itu, sehingga aku tidak mau mempedulikannya lagi. Aku kira merekalah yang terbunuh dan sanak kadangku yang tidak tahu menahu telah menyingkir dari medan. Namun seandainya tidak, maka entahlah, apa sebenarnya yang terjadi. Biarlah mereka dikuburkan saja disatu tempat. Jika ada, maka aku akan menjawab sekenanya saja. Yang mana pun dari

kuburan yang ada itu. Bukankah mereka tidak akan menggali untuk membuktikannya.” Anak muda itu mengangguk-angguk. Keterangan itu memang masuk akal. Agaknya ada di antara sanak kadang yang justru menjadi alat dari pada perampok.

Hal itu dihubungkan dengan beberapa keganjilan yang terjadi. Mereka menjemput Warsi dan ayahnya jauh malam, pada saat-saat yang tidak sewajarnya.

“Memang mungkin ada kesengajaan untuk merampoknya, justru karena Warsi terlalu kaya,” berkata anak muda itu di dalam hatinya.

Karena sikap ayah Warsi, maka anak muda itu tidak memaksa lagi. Menurut ayah Warsi, semuanya telah dinilai sama. Perampok itu dan beberapa orang kadangnya yang menjemputnya. “Dibulak itu sebelumnya juga tidak pernah ada perampokan seperti itu,” berkata anak muda itu di dalam hatinya.

Tetapi ia tidak mau berteka-teki lagi. Ia tidak lagi mencari jawab, bahwa tentu ada di antara keluarga Warsi yang melindunginya sehingga telah terjadi pertempuran.

“Bagaimana jika yang terbunuh itu justru mereka yang bersikap baik?” bertanya anak muda itu di dalam hatinya.

“Entahlah,” anak muda itu menggeleng, “Terserah saja kepada ayah Warsi.”

Dengan demikian, maka mayat-mayat yang terdapat di simpang empat itu pun segera dikuburkan tanpa dipilih di antara mereka. Mayat-mayat itu dikubur di kuburan yang sama tanpa ciri-ciri khusus.

Dalam pada itu, malam itu merupakan malam yang sangat berkesan di hati Warsi. Di hari-hari berikutnya ia menjadi lebih banyak merenung. Ia telah kehilangan beberapa orang kawannya yang setia. Namun peristiwa itu justru mengukuhkan niatnya untuk merebut Wiradana.

“Bukankah orang yang disebut orang baik-baik itu pun telah berusaha memaksakan kehendaknya dengan kekerasan?” pertanyaan itu berulang kali melonjak di dalam dadanya.

Karena peristiwa itu, maka tekad Warsi pun menjadi semakin mantap. Ia akan mengambil Wiradana dengan caranya. Jika Wiradana tidak mau menceraikan istrinya, maka ia akan mengambil cara sebagaimana dilakukan oleh orang baik-baik.

Membunuh.

Sikap Warsi itu tidak terlepas dari pengamatan ayahnya. Karena itu, maka pada

satu malam ayahnya telah memanggilnya untuk berbicara tentang persoalan di dalam hati anak gadisnya itu.

“Jadi kau sudah memutuskan untuk segera berhubungan dengan laki-laki itu?” bertanya ayahnya.

“Rasa-rasanya aku tidak akan dapat melupakan lagi ayah. Aku sebenarnya masih berusaha untuk mempergunakan nalarku. Tetapi justru nalarku memperkuat sikapku. Aku akan mengambilnya dengan cara apapun juga, sebagaimana laki-laki yang ingin memperistri aku itu telah berusaha mengambil aku dengan cara apapun juga,” jawab Warsi.

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Warsi adalah kemanakan Kalamerta. Karena itu, maka sifat-sifat Kalamerta itu nampak juga pada Warsi, bukan hanya sekadar ilmunya saja.

Karena itu, maka ayahnya pun berkata, “Terserahlah kepadamu. Kau sudah cukup dewasa. Dewasa umurmu dan dewasa sikapmu. Juga ilmu yang kau warisi dari Kalamerta nampaknya benar-benar sudah lengkap, meskipun untuk mencapai tataran Kalamerta, kau masih harus mengembangkannya. Tetapi bahannya sudah cukup ada padamu.”

Warsi tidak segera menjawab. Namun ayahnya melihat satu gejolak di dalam hati Warsi. Meskipun demikian ayahnya tidak memberikan tanggapan apapun tentang keadaan itu. Bahkan ayahnya pun kemudian berkata, “Renungkan baik-baik. Kau masih mempunyai waktu, sehingga apa yang sudah kau lakukan, tidak akan kau sesali di kemudian hari.”

Warsi masih belum menyahut. Ia hanya memandang saja langkah ayahnya yang meninggalkannya.

NAMUN demikian ayahnya hilang di balik pintu, maka ia pun menggeram. “Aku sudah memutuskan untuk mengambil laki-laki itu dengan cara apapun juga.”

Keputusan itu telah membawa Warsi ke dalam satu angan-angan untuk menyusun kembali kelompok tarinya. Kelompok yang akan ngamen disepanjang jalan di Tanah Perdikan Sembojan, sehingga pada suatu saat ia akan dapat bertemu dengan Wiradana.

“Aku yakin bahwa aku akan dapat merebutnya,” berkata Warsi, “Tetapi aku tidak mau dimadu.”

Baru di hari kemudian, Warsi menyampaikan niatnya itu kepada ayahnya. Bahwa ia akan menyusun kembali kelompoknya. Dalam waktu dekat ia akan segera kembali ke Tanah Perdikan Sembojan.

“Aku tidak mau terlalu banyak kehilangan waktu,” berkata Warsi. “Beberapa bulan telah terlalui. Jika Wiradana benar-benar merasa terikat kepada istrinya, maka pekerjaanku akan menjadi semakin berat.”

“Hati-hatilah,” pesan ayahnya.

Warsi pun mengangguk kecil. Katanya seakan-akan kepada diri sendiri, “Aku akan ber-hasil.”

Demikianlah, maka Warsi telah menyusun kelompoknya kembali. Namun ia selalu menghindari orang-orang disekitarnya. Tidak seorang pun dari

tetangga-tetangganya mengetahui apa yang dilakukan oleh Warsi itu. Bahkan tetangga-tetangganya, termasuk anak-anak muda padukuhan itu tidak mengetahui bahwa sebenarnyalah Warsi mempunyai beberapa orang pengikut, yang setiap saat dapat dipanggil untuk datang ke rumahnya. Bahkan beberapa orang memang berada di rumah itu.

Ketika kelompok Warsi itu sudah siap, dengan pengendangnya yang dahulu juga, maka Warsi pun menyampaikan niatnya kepada ayahnya, bahwa ia akan berangkat ke Tanah Perdikan Sembojan.

“Pada satu saat, ayah akan mendengar kabar, bahwa aku sudah kawin dengan Wiradana,” berkata Warsi. “Sebentar kemudian, Wiradana akan diangkat menjadi Kepala Tanah Perdikan karena Ki Gede Sembojan yang tua, akan meninggal. Dengan demikian maka pembalasan atas kematian Kalamerta sudah terjadi.”

Ayah Warsi itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku percaya kepadamu Warsi. Meskipun demikian, aku berpesan, bahwa kau harus menguasai laki-laki yang bernama

Wiradana itu. Bukan kau yang akan dikuasainya dan tunduk kepada segala perintahnya. Kaupun harus tetap pada sikapmu untuk membalas dendam kematian pamanmu, Kalamerta. Orang yang memiiki nama besar dan pengaruh yang luas.” “Ayah jangan mencemaskan aku,” jawab Warsi. “Aku mengerti, apakah yang sebaiknya aku lakukan.”

Demikianlah, setelah semuanya bersiap, maka Warsi pun telah meninggalkan rumahnya dengan cara yang sama seperti yang pernah dilakukannya.

Tetapi seperti yang terdahulu, maka Warsi pun menghindarkan diri dari kemungkinan penglihatan tetangga-tetangganya. Karena itu, kecuali ia sama sekali tidak menunjukkan sikap sebagai seorang penari yang berangkat ngamen, maka tidak sepotong gamelan pun yang pernah dilihat oleh tetangga-tetangganya.

Warsi meninggalkan kampung halamannya di larut malam. Dengan hati-hati ia mencari jalan yang sepi, yang jauh dari satu kemungkinan bertemu dengan seseorang.

Namun rombongan Warsi saat itu menjadi agak lebih besar dari rombongannya yang pertama. Ia telah mengganti orangnya yang terbunuh dengan orang lain. Namun Warsi memang sudah menyiapkan bahwa apabila diperlukan, maka rombongannya itu sudah merupakan satu kekuatan yang dapat diandalkan.

Di siang hari di hari pertama, rombongan itu seakan-akan masih bersembunyi di padang perdu. Jarak yang mereka tempuh masih belum begitu

Baru di hari berikutnya lagi, Warsi mulai mengenakan pakaian penarinya. Ketika matahari mulai tenggelam, Warsi dan kelompoknya telah kebar di sudut sebuah padukuhan. Padukuhan yang dahulu belum pernah dilaluinya.

Seperti beberapa bulan yang lewat, rombongan penari itu memang menarik perhatian. Dengan penari yang muda dan cantik, maka laki-laki pun segera berkerumun. Bahkan dengan serta merta, beberapa orang pun telah menye-diakan uang untuk menyelenggarakan janggrung.

Seperti yang terdahulu, maka sebelum mereka memasuki Tanah Perdikan Sembojan, maka pengendangnya telah diakunya sebagai suaminya. Karena itu dalam banyak hal, maka Warsi selalu dekat dengan pengendangnya itu.

Kepada laki-laki yang terlalu kasar, maka Warsi telah memperingatkan sambil tersenyum, bahwa ia bersama suaminya yang mengiringi tariannya dengan gendangnya itu.

Seorang laki-laki muda bergumam, “Suamimu sudah setua itu?” “Kenapa?” bertanya Warsi.

“Kau dapat mencari suami yang lebih muda,” jawab laki-laki itu.

“Yang dapat memukul gendang dan mengiringi aku menari,” bertanya Warsi pula. Laki-laki muda itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun bertanya, “Kenapa suamimu harus dapat memukul gendang?”

“Karena aku adalah seorang penari,” jawab Warsi.

“Kau dapat berhenti menari. Kau dapat menjadi istriku. Aku mempunyai sawah yang luas dan rumah yang besar,” berkata laki-laki itu.

“Apakah kau tidak mempunyai seorang istri?” bertanya Warsi pula.

“Istri?” ulang orang itu. “Ya, aku memang mempunyainya. Tetapi aku dapat mengusirnya.”

Warsi tersenyum sambil mencubit orang itu. “Jangan kau perlakukan istrimu seperti itu. Jika kelak aku menjadi istrimu, dan datang orang yang lebih cantik lagi, maka aku pun akan kau usir.”

“Tidak. Aku tidak akan melakukannya atasmu,” berkata laki-laki muda itu.

Warsi tertawa kecil. Namun katanya, “Besok malam aku masih berada di padukuhan ini. Jika diperkenankan oleh bebahu padukuhan ini, aku akan bermalam disini.” Ternyata malam ini Warsi dan rombongannya mohon diijinkan untuk bermalam di padukuhan itu. Besok malam mereka masih akan berkeliling dan kebar di beberapa tempat di padukuhan itu, sebelum dihari kemudian mereka akan meninggalkan tempat itu. Di malam hari, ketika para penabuh gamelan sudah berbaring di serambi banjar, Warsi telah menemui pengendangnya. Dengan nada yang ragu ia berkata, “Seorang laki-laki akan mengambil aku menjadi istrinya.”

“Jangan hiraukan,” jawab pengendangnya.

“Aku memang tidak ingin menjadi istrinya yang sesungguhnya,” jawab Warsi. “Tetapi laki-laki ini dapat aku pergunakan sebagai latihan menghadapi Wiradana. Laki-laki ini juga sudah beristri.”

“Ah,” pengendangnya menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Kau juga akan minta laki-laki itu membunuh istrinya?”

“Jika ia bersedia menceraikannya seperti yang dikatakan, aku tidak keberatan. Dalam dua tiga pekan, kita akan meninggalkannya,” jawab Warsi.

“Warsi,” berkata pengendangnya yang diakuinya sebagai suaminya. “Kenapa kau bersikap seperti itu. Sebaiknya kau berpikir jernih. Bukankah istri laki-laki

itu akan menderita tanpa sebab. Memang agak berbeda dengan suami Wiradana. Jika ia terpaksa tersingkir, maka kau memang benar-benar menghendaki laki-laki itu berlandaskan dendam yang harus kau lepaskan kepada keluarga Ki Gede Sembojan, meskipun cara ini adalah cara yang aneh. Tetapi jika kau berhasil membunuh Ki Gede Sembojan, maka tugasmu sudah kau tunaikan, sementara kau akan menjadi seorang istri kepala Tanah Perdikan.”

“AKU tidak akan bersungguh-sungguh,” berkata Warsi. “Aku hanya ingin mencoba saja.”

“Aku tidak akan sependapat Warsi,” berkata pengendangnya. “Meskipun kita adalah orang-orang yang tidak terikat lagi oleh paugeran hidup dan tidak mengakui

nilai-nilai kemanusiaan yang berlaku bagi kebanyakan orang, tetapi sebaiknya

kita juga menimbang segala tingkah laku dengan sungguh-sungguh, agar kita tidak terlalu banyak menimbulkan petaka kepada orang lain. Lebih-lebih orang lain yang tidak bersalah sama sekali. Karena itu, jangan lakukan rencanamu. Mungkin kau sekadar mencoba atau mengalami perasaan sebagaimana akan kau alami jika kau merebut Wiradana dari istrinya. Tetapi bagi orang lain hal itu akan dapat merupakan bencana seumur hidupnya, bahkan mungkin akan mengancam jiwanya. Sejenak Warsi termangu-mangu. Namun akhirnya ia berdesis, “Baiklah. Aku tidak akan melakukannya.”

Pengendangnya itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Syukurlah. Aku senang mendengar keputusan itu.” Demikianlah rombongan penari itu telah bermalam di banjar padukuhan. Malam berikutnya mereka masih mengadakan pertunjukan di beberapa tempat dan bermalam pula di banjar. Baru pagi harinya rombongan itu minta diri.

Laki-laki muda yang tergila-gila kepada Warsi itu telah menemuinya dan berkata, “Bagaimana dengan kau? Katakan, apa yang kau minta asal kau bersedia menjadi istriku. Aku bukan orang miskin dan bukan pula orang kebanyakan. Aku termasuk orang terhormat di padukuhan ini.”

Warsi tersenyum. Katanya, “Jika kau orang terhormat, maka biarkan saja aku meneruskan perjalananku dan perjalanan hidupku dengan cara ini. Kembalilah kepada istrimu yang selalu menunggumu dengan setia.”

“Istriku tidak secantik kau. Aku kawin karena kehendak orang tuaku. Sekarang aku dapat menentukan hidupku sendiri,” berkata laki-laki muda itu.

“Aku akan mengambilmu. Jika perlu akan membunuhnya,” berkata laki-laki muda itu.

Warsi mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya sambil tersenyum pula. “Kau tidak akan dapat membunuhnya. Jika kau mulai dengan persoalan, maka kaulah yang akan dibunuhnya. Ia adalah seorang laki-laki yang memiliki ilmu yang tinggi. Ia

dapat membunuh beberapa orang sekaligus dengan gendangnya itu.”

Laki-laki itu termangu-mangu. Namun ternyata kata-kata itu berpengaruh juga atas laki-laki muda itu, sehingga ia pun telah mengurungkan niatnya.

Namun dalam pada itu, Warsi telah mendengar, seorang lagi di antara orang yang dikenalnya akan membunuh untuk mendapatkan seseorang yang diinginkannya. Dengan demikian, maka sikap Warsi pun menjadi semakin mantap. Namun ia tidak langsung menuju ke Tanah Perdikan Sembojan. Ia dan rombongannya mendekati Tanah Perdikan itu dengan wajar, sebagaimana serombongan pengamen yang mencari nafkah. Bahkan seperti beberapa waktu yang lampau, Warsi dan rombongannya benar-benar telah mendapatkan uang yang cukup banyak.

TETAPI perjalanan rombongan itu bukannya tidak pernah mengalami kekerasan. Kadang-kadang ada juga laki-laki kasar yang membuat Warsi menjadi muak, sehingga ia telah minta perlindungan pengendang yang diakunya sebagai suaminya itu.

Bahkan sekali rombongan itu telah diusir dari sebuah padukuhan karena tingkah laku seorang laki-laki yang berpengaruh di padukuhan itu. Karena Warsi menolak dibawanya pulang, maka laki-laki itu telah mengambil langkah yang kasar. Tetapi ternyata bahwa pengendang yang diakuinya sebagai suaminya itu telah bertindak. Namun demikian, karena laki-laki itu mempunyai pengaruh yang besar di padukuhannya, maka bebahu padukuhan itu telah mengambil keputusan, untuk saat itu juga mengusir rombongan itu dari padukuhan mereka.

"Satu pengalaman baru," berkata pengendangnya kepada Warsi. "Aku ingin membunuh laki-laki itu," geram Warsi.

"Jangan Warsi," jawab pengendangnya. "Pengalaman ini termasuk pengalaman yang berharga. Kita harus dapat mencari keseimbangan antara peristiwa-peristiwa yang kita alami selama perjalanan. Mungkin akan berharga bagimu kelak jika kau menjadi istri seorang Kepala Tanah Perdikan, karena bukankah kau benar-benar ingin hidup sebagai istri seorang Kepala Tanah Perdikan, bukan hanya untuk satu dua hari saja?"

Warsi mengangguk kecil.

"Baiklah. Kau dapat merenunginya sepanjang perjalanan," berkata pengendangnya itu.

Demikianlah rombongan pengamen itu telah berjalan dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain. Pada umumnya mereka lewat melalui daerah baru yang sebelumnya belum pernah dilaluinya. Tetapi satu dua padukuhan ternyata adalah padukuhan yang pernah dilewatinya dahulu. Tetapi karena rombongan itu tidak membuat persoalan yang sungguh-sungguh di daerah itu, maka rombongan itu masih tetap diterima dengan baik oleh penduduknya. Bahkan jika Warsi dan rombongannya kebar di sudut padukuhan, maka sudut padukuhan itu menjadi penuh oleh penonton yang ingin mendapatkan hiburan yang jarang sekali mereka dapatkan.

Dengan demikian, maka semakin lama rombongan itu memang menjadi semakin dekat dengan Tanah Perdikan Sembojan. Namun rasa-rasanya Warsi menjadi berdebar-debar Ada sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya. Rasa-rasanya ia memasuki satu

daerah yang lain dari daerah-daerah yang dilewatinya. "Aku merasa aneh," desis Warsi.

"Tentu," jawab pengendangnya. "Daerah ini merupakan daerah yang khusus bagimu. Ada jalur yang menghubungkan daerah ini dengan alas perasaanmu. Karena kau sudah menempatkan dirimu pada satu keadaan yang baru akan kau alami kemudian." "Tidak," tiba-tiba saja Warsi membentak.

Tetapi pengendangnya itu berdesis, "Ingat. Disini aku adalah ayahmu Warsi."

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba merenungi kata-kata pengendangnya itu. Namun ternyata kemudian ia memang menemukannya. Katanya, "Kau benar. Aku memang sudah menempatkan diriku dalam satu khayalan tentang masa depan. Aku memang menginginkan laki-laki itu untuk menjadikannya seorang suami. Apapun yang harus aku lakukan," Warsi berhenti sejenak, lalu, "Tetapi aku agak menyesal, kelak aku datang sebagai seorang pengamen. Seandainya kelak aku benar-benar menjadi istri Wiradana, apakah kata orang di Tanah

Perdikan ini. Aku tidak lebih dari bekas seorang tledek yang ngamen disepanjang jalan. Menari dan melayani keinginan laki-laki yang ingin menari janggrung.

Bahkan tentu ada dugaan yang lebih buruk dari itu."

"Kau kelak harus membuktikan bahwa kau pantas menjadi seorang istri Kepala Perdikan," jawab pengendangnya.

“Sebenarnya aku agak menyesal,” desis Warsi. “Tetapi aku akan mencobanya untuk berbuat sebaik-baiknya.”

“Masih banyak terdapat kemungkinan-kemungkinan,” berkata pengendangnya. Demikianlah, rombongan itu kembali telah memasuki Tanah Perdikan Sembojan. Demikian rombongan itu mulai kebar di sebuah padukuhan, maka orang-orang di padukuhan itu segera mengenalnya kembali, bahwa rombongan itu pernah datang beberapa bulan yang lalu di Tanah Perdikan itu.

Karena rombongan itu dimasa yang lewat tidak menimbulkan banyak persoalan, selain perasaan cemburu pada beberapa orang istri, maka kedatangannya pun tidak mendapat banyak tantangan. Bahkan rasa-rasanya beberapa orang telah menyambut kedatangan rombongan itu dengan senang hati karena mereka akan dapat menonton sejenis hiburan yang jarang mereka lihat.

Dalam pada itu, Warsi menjadi lebih berhati-hati lagi dari masa yang lewat. Ia

tidak sekadar ingin mendapat jalan, mengenal anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang akan dibunuhnya, tetapi ia justru ingin mengambilnya dan menguasainya sebagai suaminya.

Karena itu, Warsi bersikap lebih sopan dari masa yang terdahulu. Ia menolak permainan janggrung bersama laki-laki kasar dengan tari yang kasar pula.

Tetapi Warsi tidak menolak untuk menyelenggarakan tayub di rumah tertentu dengan suasana yang lebih halus dan tertib. Meskipun dalam acara janggrung yang kasar, Warsi akan mendapat uang yang lebih banyak, karena kadang-kadang laki-laki yang ingin menari bersamanya justru memberi saling melebihi yang lain jika mereka

ingin mendapat kesempatan lebih dahulu. Tetapi di acara tayub Warsi hanya mendapatkan uang dari seseorang yang memanggilnya untuk menari di rumahnya, sementara para tamu orang itu menari bergantian dengan teratur dan tidak saling berebut dahulu. Namun demikian, kadang-kadang ada juga satu dua orang tamu yang memberikan uang kepada penari yang cantik itu tetapi justru setelah ia selesai menari.

Berita kedatangan rombongan penari itu cepat menjalar dari padukuhan ke padukuhan. Bahkan jika Warsi mendapat panggilan untuk menari dan tayub di rumah seseorang, orang-orang dari padukuhan lain telah datang pula untuk melihat pertunjukan itu.

Dengan demikian, maka seperti yang diharapkan oleh Warsi, maka berita kedatangannya telah didengar pula oleh Wiradana, anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Berita itu telah menimbulkan keinginan Wiradana untuk melihat, bahkan bertemu dengan penari yang cantik dan muda itu. Namun ia masih berusaha untuk mengekang dirinya. Ia tidak mau tergesa-gesa bertemu dengan penari itu, seolah-olah ia

sudah merindukan sedemikian lama.

“Biarlah rombongan itu mendekat pada padukuhan di sebelah padukuhan induk,” berkata Wiradana di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu, pada saat-saat senggang, baik Warsi maupun para penabuhnya sempat berbicara dengan orang-orang Sembojan. Jika di malam hari rombongan itu mendapat kesempatan tidur di serambi banjar, maka pagi harinya orang-orang yang merawat banjar itu sempat berbincang-bincang dengan rombongan itu.

Beberapa persoalan telah mereka bicarakan. Orang-orang Sembojan sering bertanya tentang perjalanan yang pernah mereka tempuh sebagai serombongan pengamen.

Namun

ada yang sempat bertanya tentang keluarga yang mereka tinggalkan di rumah. “Apakah kalian tidak takut, bahwa suatu ketika kalian akan bertemu dengan sekelompok perampok yang dapat merampas uang yang sedikit demi sedikit kalian kumpulkan, bahkan pakaian tari dan gamelan? Apalagi jika mereka merampok penari muda yang cantik itu?” bertanya seseorang.

“KAMI telah memperhitungkannya,” jawab pengendangnya. “Karena itu, pada umumnya

kami berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain di siang hari. Di malam hari kami menari di padukuhan-padukuhan yang biasanya ramai dikerumuni penonton.” Orang-orang yang bertanya itu mengangguk-angguk. Memang penari yang cantik itu pernah juga menari di siang hari, tetapi pada umumnya Warsi menari di malam hari, apalagi selama di Sembojan.

Namun dalam pada itu, ada satu berita yang telah mengejutkan Warsi. Dalam pembicaraan yang berkepanjangan, hilir mudik tidak menentu, maka Warsi telah mendengar bahwa istri Wiradana, anak Kepala Perdikan yang sudah disiapkan untuk menggantikan kedudukan ayahnya di Sembojan itu, telah mengandung.

Berita itu benar-benar telah menggelisahkan Warsi, sehingga ia seolah-olah memerlukan mendapat keterangan atas kebenaran berita itu.

Ternyata bahwa beberapa orang yang sempat terpancing untuk mengatakan bahwa istri Wiradana telah mengandung.

“Gila geram Warsi di dalam bilik banjar padukuhan yang diijinkan untuknya tinggal satu dua malam, “Kita telah terlambat.”

“Kenapa?” bertanya pengendangnya. “Tidak ada keterlambatan. Meskipun perempuan itu telah mengandung, maka kemungkinan sebagaimana kau harapkan masih dapat terjadi.”

“Aku sendiri akan membunuh perempuan itu,” geram Warsi.

Tetapi pengendangnya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Jangan kotori tanganmu. Biarlah Wiradana melakukan sendiri. Mungkin ia akan dapat menceraikannya.” “Tetapi anak yang akan lahir itu? Jika ia laki-laki maka ia berhak atas Tanah

Perdikan ini kelak,” jawab Warsi.

“Soalnya, apakah anak itu akan hidup terus sampai masa dewasa,” jawab pengendangnya.

Warsi merenungi kata-kata itu. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata, “Memang kemungkinan yang demikian itu dapat saja terjadi. Tetapi kau harus memperhitungkan kemungkinan, bahwa kehamilan istri Wiradana itu adalah pertanda bahwa mereka telah memasuki satu kehidupan yang manis. Dengan demikian, maka Wiradana tidak akan berpaling lagi dari istrinya.”

“Kita akan mencoba,” berkata pengendangnya. “Menilik sikapnya, maka aku yakin bahwa Wiradana akan tertarik kepadamu jika kau berhasil memikatnya dengan modal yang ada padamu. Kau harus bersikap sebagai seorang perempuan. Bukan seekor harimau betina yang garang.”

“Diam,” bentak Warsi. “Aku dapat merontokkan gigi-gigimu seluruhnya.”

“Ingat. Aku adalah ayahmu. Jika kau berani melawan ayahmu, maka dimata Wiradana kau bukan seorang perempuan yang baik,” jawab pengendangnya. “Anak setan,” geram Warsi.

“Kau memang harus bersikap sebagai seorang perempuan. Aku berkata sebenarnya untuk kebaikanmu. Dan kau pun harus bersikap lain terhadapku sekarang ini. Bukan maksudku memanfaatkan keadaan ini untuk keuntunganku. Percayalah, bahwa kau sudah aku anggap benar-benar seperti anakku sendiri. Aku ingin kau berhasil dengan baik sebagaimana kau kehendaki. Kali ini aku sama sekali tidak berusaha menjilat agar aku mendapat pujian, atau keningku tidak kau tampar. Tetapi hubungan kita menjadi lain.”

Warsi mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ia memang merasakan sikap yang berbeda dari pengendangnya itu. Ia benar-benar bersikap kebapakan yang ingin melihat anak gadisnya berbahagia.

Ternyata Warsi berusaha untuk menyesuaikan diri. Ia berusaha untuk berubah sikapnya, agar ia tidak nampak sebagai seorang perempuan yang kadang-kadang menjadi kasar. Bahkan pengendangnya itu menasihatinya.

“Kau datang sebagai seorang penari, Warsi. Penari yang ngamen dari pintu ke pintu yang lain. Jika pada saat-saat tertentu kau menjadi kasar, maka lengkaplah alasan orang-orang Sembojan untuk mencelamu apabila kau berhasil menjadi istri Wiradana.

Warsi mengangguk kecil. Katanya, “Aku akan mencoba. Namun aku tidak dapat melupakan pesan ayah, bahwa aku harus menguasai Wiradana, bukan akulah yang harus dikuasai.”

“Menguasai seseorang mempunyai banyak pengertian. Bukan berarti bahwa kau harus menguasai secara wadag karena mungkin kau dapat mengalahkan jika kalian kelak bertengkar dan bahkan berkelahi. Menguasai dalam pengetian jiwani akan lebih penting artinya meskipun tidak nampak pada kewadagan,” berkata pengendangnya.

Warsi mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Tetapi apa yang harus aku lakukan sekarang?”

“Seperti yang kita rencanakan. Ngamen di daerah Tanah Perdikan Sembojan. Aku yakin, bahwa Wiradana masih akan menemuimu dan jika kau dapat memanfaatkan bekal

yang ada pada dirimu, maka kau tentu akan dapat memikatnya, meskipun istri Wiradana sudah mengandung,” jawab pengendangnya itu.

Warsi mengangguk-angguk pula, sementara pengendangnya itu berkata lebih lanjut, “Seterusnya kita harus menilai setiap keadaan. Kita akan melangkah setapak demi setapak.”

“Aku akan menurut semua petunjukmu, dan aku akan mencoba untuk bersikap sebagaimana sikap seorang anak perempuan terhadap ayahnya,” desis Warsi kemudian.

“Bagus, mudah-mudahan kita berhasil,” jawab pengendangnya itu.

Demikianlah maka Warsi pun telah meneruskan pekerjaan yang telah dilakukannya itu. Ia mulai bergerak dari satu padukuhan ke padukuhan lainnya. Jika ia terlalu lama berada di satu padukuhan, maka penghuni padukuhan itu akan menjadi jenuh dan tidak berminat lagi untuk menonton tari-tariannya. Meskipun ada juga beberapa orang laki-laki yang tidak dapat ingkar dari perasaannya, bahwa

rasa-rasanya setiap saat ingin melihat wajah Warsi.

Dengan demikian, maka akhirnya Warsi pun telah berada di sebuah padukuhan terdekat dengan padukuhan induk. Beberapa orang di padukuhan induk telah pergi menyaksikan pertunjukan Warsi dimalam itu. Dan mereka pun mulai mempercakapkannya sebagaimana mereka mempercakapkannya dahulu. “Perempuan itu memang cantik,” berkata seorang laki-laki yang masih muda. “Bahkan rasa-rasanya ia menjadi bertambah cantik.”

“Sayang,” jawab kawannya. “Kenapa ia tidak mencari pekerjaan yang lebih baik dari menjadi seorang penari keliling yang ngamen dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain. Beberapa bulan yang lalu ia sudah datang ke padukuhan ini. Sebelum kami melupakannya ia sudah datang untuk kedua kalinya.”

“Mungkin Tanah Pardikan ini dapat memberi nafkah yang agak baik bagi rombongan itu, sehingga mereka mencoba untuk mengulangi keuntungan yang pernah didapatkannya itu,” jawab yang lain pula.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka memang sependapat, bahwa agaknya Tanah

Perdikan itu merupakan daerah yang subur bagi pengamen yang cantik itu.

Dalam pada itu, ketika Warsi sedang menari di padukuhan sebelah pada satu malam, maka beberapa orang dari padukuhan induk pun telah datang untuk menonton pula. Bahkan di antara mereka dengan diam-diam Wiradana pun telah menyaksikan pertunjukan itu pula. Meskipun ia tidak datang sebagai seorang anak Kepala Perdikan, tetapi justru dengan diam-diam dan berada di antara orang-orang yang berkerumun sambil berselimut kain panjang dan berusaha untuk tidak dikenali oleh orang-orang disebelah menyebelah karena pakaian yang dikenakannya bukan pakaian yang biasa dipakainya, namun Wiradana sempat menyaksikan pertunjukan itu cukup lama.

TERNYATA dimata Wiradana Warsi tetap cantik sebagaimana dilihatnya beberapa bulan yang lalu. Senyumnya masih tetap cerah dan bahkan perempuan itu nampak lebih lembut dan luruh.

“Kasihan,” guman Wiradana yang kemudian mendahului orang-orang lain meninggalkan

tempat pertunjukan itu, “Perempuan secantik itu harus menjalani kehidupan yang memelas. Bahkan menilik sikapnya ia adalah perempuan yang baik. Berbeda dengan perempuan-perempuan lain yang mencari nafkahnya sebagai penari yang ngamen dari rumah ke rumah. Mereka nampaknya agak rongeh sehingga memberikan kesan

sifat-sifat mereka yang lebih bebas. Meskipun tidak selalu bahwa yang rongeh dan bebas itu menjurus kepada hal-hal yang tidak baik.”

Bagaimana pun juga Warsi tetap menarik perhatian Wiradana, meskipun sebenarnyalah sebagaimana disebut oleh beberapa orang, bahwa istri Wiradana memang sudah mengandung.

Ketika Wiradana kemudian sampai ke rumahnya, maka ia pun mulai merenungi dirinya sendiri. Ketika dilihatnya istrinya yang tertidur nyenyak, terasa hatinya telah

tersentuh pula.

Tetapi yang terbersit dihati Wiradana adalah sekadar perasaan kasihan. Istrinya yang mengandung itu seakan-akan merupakan seorang perempuan yang bersih dari segala macam kesalahan. Seakan-akan perempuan itu hatinya putih seperti kapas. Di dalam tidurnya perempuan itu seolah-olah tersenyum. Ia sedang menunggu kehadiran seorang bayi yang tumbuh karena perkawinannya dengan anak Kepala Perdikan Sembojan itu.

Namun dalam pada itu, ketika Wiradana sempat memandang wajah Iswari, maka sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata kepada istrinya, “Kenapa Iswari tidak

secantik penari itu.”

Ketika Wiradana berbaring disamping istrinya, maka ia pun berusaha untuk melupakan penari yang dimatanya adalah seorang perempuan yang sangat cantik. Meskipun untuk beberapa lamanya Wiradana tidak dapat memejamkan matanya, namun

akhirnya Wiradana pun tertidur pula.

Namun di hari-hari kemudian, hati Wiradana pun mulai menjadi gelisah. Meskipun sikapnya kepada Iswari tidak berubah, tetapi ada sesuatu yang mulai bergetar dihatinya. Wiradana tidak dapat melupakan penari yang disepanjang jalan-jalan di Tanah Perdikan Sembojan.

Bahkan akhirnya, Wiradana tidak lagi dapat bertahan untuk tidak menemui Warsi. Meskipun ia masih juga berselubung dengan melakukan tugasnya, namun akhirnya Wiradana telah berada di banjar padukuhan disebelah padukuhan induk untuk mengunjungi serombongan pengamen.

Pertemuan itu adalah saat yang sangat dinanti-nantikan oleh Warsi dan seluruh rombongannya. Perkembangan keadaan selanjutnya tergantung kepada Warsi. Apakah ia akan dapat berhasil memikat hati Wiradana atau tidak.

WARSI memang bertindak hati-hati. Ia selalu mengingat pesan pengendangnya yang disebutnya sebagai ayahnya. Ia harus merupakan seorang perempuan yang halus dan luruh. Sehingga dengan demikian, maka hidupnya sehari-hari tidak mengesankannya sebagai seorang penari yang menari disepanjang jalan dan menyusuri halaman dari rumah ke rumah.

Tetapi tanpa cara yang demikian, maka sulitlah agaknya bagi Warsi untuk menarik perhatian Wiradana. Karena sikap bagi perannya sebagai penari, maka Warsi sempat memikat hati Wiradana dengan kecantikannya, karena di dalam penampilannya, Warsi tentu merias diri. Justru sebaik-baiknya.

Ternyata pertemuan itu adalah permulaan dari pertemuan-pertemuan selanjutnya yang kemudian berlangsung. Warsi yang dengan sengaja memikat hati Wiradana telah berbuat apa saja untuk mencapai maksudnya. Sementara pengendangnya, yang diakunya sebagai ayahnya selama mereka berada di Sembojan telah memberikan petunjuk-petunjuk yang berarti.

Namun dalam pada itu, segala sesuatunya masih tetap tersembunyi bagi Iswari. Wiradana sendiri setiap kali tersentuh hatinya melihat Iswari. Ia selau bersikap baik sebagai seorang istri. Bahkan ia memiliki ketrampilan dan ter-nyata ia

mampu menempatkan dirinya sebagai istri seorang anak Kepala Tanah Perdikan yang hampir tiba saatnya untuk memegang kendali pemerintahan.

Apalagi ketika kemudian kakeknya, Kiai Badra dan Gandar telah meninggalkan rumah Ki Gede Sembojan. Maka sikap Iswari menjadi semakin baik.

Sementara itu, Ki Gede Sembojan sendiri, ternyata sangat mengagumi menantunya.

Ia memang menganggap bahwa Iswari memiliki kelebihan. Jika ia ingin mengambilnya sebagai menantu bukan saja karena ia merasa berhutang budi kepada Kiai Badra. Tetapi menurut pendapat Ki Gede, Iswari memang seorang perempuan yang cerdik dan trampil.

Dalam pada waktu yang singkat, Iswari berhasil menempatkan diri di antara perempuan-perempuan Tanah Perdikan. Karena Ki Gede tidak lagi banyak dapat berbuat bagi Tanah Perdikannya, maka segala sesuatunya telah dilakukan oleh Wiradana didampingi oleh istrinya, Iswari.

Ketika Ki Gede mengetahui, bahwa Iswari telah mengandung, maka alangkah senang hati orang tua itu. Bahkan ketika ia makan bersama Wiradana dan istrinya,

terucap dari bibir Ki Gede, “Wiradana. Satu-satunya keinginanku sekarang adalah menimang seorang cucu. Aku tidak peduli, apakah cucuku laki-laki atau perempuan. Bagiku sama saja. Jika laki-laki, maka ia adalah pewaris Tanah Perdikan ini.

Sedangkan jika ia perempuan, maka kita akan menunggu saat lahirnya seorang laki-laki. Jika anak laki-laki itu tidak lahir juga, maka akhirnya yang

perempuan itu pun akan mempunyai seorang suami yang akan dapat melakukan tugas seorang Ke-pala Tanah Perdikan sepeninggalanmu.”

Jantung Wiradana berdegup semakin keras. Di luar sadarnya terkilas wajah penari yang cantik itu, yang lambat laun telah berhasil menghujamkan tajamnya duri menusuk ke pusat perasaannya.

Namun Wiradana ternyata mampu menyembunyikan perasaannya. Bahkan ia masih sempat

tersenyum sambil menjawab, “Kita akan merayakan hari kelahiran anak itu dengan meriah, ayah.”

“Tidak saja pada hari kelahiran. Tetapi pada upacara tujuh bulan, seluruh Tanah Perdikan akan menyambutnya. Upacara yang harus terasa sampai ke setiap pintu rumah.”

“Ah,” desis Iswari. “Itu berlebih-lebihan Ki Gede. Sebaiknya semua upacara dilakukan dengan sederhana. Tetapi memberikan kekhidmatan. Karena pada hakikatnya, upacara tujuh bulan adalah satu permohonan. Selain keselamatan bagi bayi akan lahir kemudian, juga permohonan agar kepada bayi yang lahir dikurniakan ujud kewadagan dan sifat kejiwaan yang baik.”

KI Gede mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk. “Kau benar Iswari. Agaknya memang demikian.”

“Karena itu, yang penting adalah permohonan itu sendiri. Ungkapan lahiriahnya dapat saja dilakukan dengan sederhana tanpa mengurangi kesungguhan permohonan itu,” berkata Iswari kemudian.

Ki Gede masih mengangguk-angguk. Baginya Iswari memang seorang perempuan yang memiliki banyak kelebihan dari perempuan-perempuan yang lain. Jika semula ia

agak meragukan, karena Iswari adalah gadis sebuah padepokan kecil, ternyata kemudian bahwa gadis itu jauh lebih baik dari yang diduganya.

Namun dalam pada itu, bagi Wiradana sendiri, segalanya justru menjadi kabur.

Jika sebelumnya ia mulai melihat kelebihan itu pada istrinya, namun sejak

kehadiran Warsi untuk yang kedua kalinya, maka yang nampak pada Wiradana hanya sekadar kesederhanaannya. Memang Iswari masih tetap sederhana. Ia jarang sekali merias diri, apalagi berlebih-lebihan sebagai seorang tledek yang sudah siap

untuk menari.

Dalam pada itu, kegelapan yang menyelubungi hati Wiradana semakin lama memang menjadi semakin tebal. Bahkan akhirnya dunianya telah benar-benar menjadi kelam, ketika pada suatu saat, ia tidak dapat lagi mengekang dirinya untuk mengucapkan satu keinginan kepada Warsi, “Warsi, sebenarnyalah aku ingin memperistrimu.”

Satu kalimat yang menentukan bagi Warsi. Sejenak ia menunduk sambil bermain-main dengan jarinya. Seolah-olah ia tidak kuasa untuk mendengarkan kata-kata yang

baru saja diucapkan oleh Wiradana. Sehingga dengan demikian maka Wiradana pun mengulanginya, “Kau dengar Warsi. Kau terlalu cantik bagi seorang penari yang setiap hari berjalan menyusuri lorong-lorong di padukuhan-padukuhan.

Sebenarnyalah sudah sepantasnya jika kau menjadi seorang istri yang baik. Karena itu, maka aku ingin memintamu untuk menjadi istriku.”

Wajah Warsi masih menunduk. Namun kemudian dari sela-sela bibirnya yang tipis kemerahan ia berkata lambat sekali, hampir hanya dapat didengar sendiri, “Apakah kau bergurau?”

“Tidak Warsi,” jawab Wiradana dengan serta merta, “Aku tidak bergurau. Sejak aku melihat kau untuk yang pertama kali, maka rasa-rasanya ada sesuatu yang menyentuh perasaanku, dan seakan-akan terdengar suara yang berbisik di telingaku, bahwa kau adalah seorang perempuan yang pantas menjadi jodohku.” Wajah Warsi menjadi semakin menunduk. Tetapi semakin lirih ia berkata, “Sebenarnyalah demikian pula telah terbersit dihatiku. Ketika aku melihat kau datang mengunjungi rombongan kecilku yang hina ini, maka perasaanku telah menjadi bergolak. Tetapi aku tidak dapat ingkar akan kenyataanku, bahwa aku adalah seorang pengamen yang tidak berharga.” “Ah,” sahut Wiradana, “Pekerjaan bagi kita tidak ubahnya seperti selembar baju. Jika itu sudah kita tinggalkan, maka kita akan dapat memakai baju yang lain.

Demikian jika saatnya kau melepaskan pekerjaanmu sebagai penari yang menyusuri jalan-jalan, maka kau akan dapat mengenakan baju yang lain.”

Tetapi sambil menunduk Warsi menggeleng lemah, “Tidak. Sebaiknya kau tidak melakukannya. Kau akan menyesal di kemudian hari. Apalagi, bukankah kau sudah beristri?”

Wajah Wiradana menjadi merah. Tiba-tiba saja dirinya bagaikan dilemparkan pada satu kenyataan, bahwa ia memang sudah beristri.

Tetapi ternyata bahwa kegelapan benar-benar telah menyelubungi hatinya. Dengan sendat ia berkata, “Benar Warsi. Aku memang sudah beristri, tetapi apa artinya seorang istri yang kehadirannya seakan-akan dilontarkan begitu saja kedalam dunia oleh kekuasaan seseorang yang tidak dapat aku sanggah. Ayahkulah yang memaksaku untuk mengawini perempuan padepokan yang bodoh itu.”

SAMBIL masih menundukkan kepalanya Warsi berdesis, "Tetapi bukankah istrimu sudah mengandung? Seorang istri yang mengandung merupakan satu pertanda, bahwa hidup keluarga yang dibinanya telah menemukan satu keserasian yang manis. Tentu keduanya saling mencintai sehingga cinta itu kemudian telah menumbuhkan tunas bagi masa depan."

"Kau salah sangka Warsi," jawab Wiradana. "Sebagaimana aku menerima Iswari menjadi istriku, maka yang aku lakukan kemudian adalah sekadar melakukan kewajiban."

"Bukankah itu satu dosa?" bertanya Warsi.

"Yang berdosa adalah yang memaksa aku untuk mengawini seorang perempuan yang tidak aku cintai," jawab Wiradana.

Namun Warsi juga menjawab, "Biarlah aku sekadar bermimpi menjadi istri seorang anak Kepala Tanah Perdikan yang tampan dan yang menurut pengakuannya juga mencintaiku. Tetapi jika kemudian, maka yang tinggal adalah perasaan pedih oleh luka dihati."

"Tidak. Tidak Warsi," berkata Wiradana. "Kita akan kawin. Apapun yang akan terjadi."

"Aku tidak ingin menemukan kebahagiaan di atas penderitaan orang lain. Jika kau kawin dengan aku, maka istrimu akan mengalami kepahitan hidup yang mungkin tidak akan tertanggungkan lagi," jawab Warsi. "Aku dapat mengatur segala-galanya," berkata Wiradana. "Biarlah ia merasa tetap menjadi seorang istri dari anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Biarlah ia tetap dapat keadaannya. Tatapi ia akan dapat memiliki jiwaku, karena aku akan menyerahkan kepadamu sebulat-bulatnya."

"Lalu, siapakah aku kemudian dihadapanmu?" tiba-tiba saja Warsi bertanya. "Kau akan menjadi istriku pula. Kita dapat tinggal ditempat yang tidak akan diketahui oleh siapapun juga. Kita akan dapat membangun satu keluarga yang berbahagia, karena kita saling mencintai," berkata Wiradana.

Tetapi Warsi menggeleng, katanya, "Jangan berpikir begitu. Kau kira kita akan dapat menemukan satu kehidupan yang sewajarnya dengan cara yang kau lakukan itu."

"Kenapa tidak?" jawab Wiradana. "Bukankah yang kita perlukan dalam hidup keluarga yang saling mencintai adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kau dan aku? Kita tidak memerlukan orang lain, suasana yang lain dan apa pun juga diluar kita berdua."

Warsi tidak menjawab. Tetapi kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk. Karena Warsi tidak segera menjawab, maka Wiradana telah mendesaknya, "Katakan, apakah kau bersedia melakukannya?"

Warsi mengusap matanya. Sebenarnyalah dari matanya menitik butir-butir air mata. Dengan suara yang sendat ia berkata, "Wiradana. Biarlah cinta kita biarkan suci tanpa dinodai oleh apapun juga. Tanpa menyakiti hati orang lain, dalam hal ini istrimu dan ayahmu. Biarlah kita saling mengenang masa-masa yang penuh dengan mimpi-mimpi yang nikmat ini. Meskipun aku tahu, bahwa hidupku akan menjadi kering. Berbeda dengan hidupmu yang dikelilingi oleh suasana yang dapat membantu dirimu untuk menemukan satu ujud kepribadian yang baru setelah kau berhasil mengatasi gejolak di dalam hatimu."

Tetapi Wiradana menggeleng. Katanya, "Kita dapat mencoba Warsi. Ada banyak jalan yang dapat kita tempuh."

Warsi tidak menjawab lagi. Sementara itu, Wiradana pun kemudian berkata, "Pikirkanlah baik-baik. Kau jangan meninggalkan Tanah Perdikan ini lebih dahulu. Kita dapat berbicara di kesempatan lain."

Demikian sejenak kemudian Wiradana itu pun telah meninggalkan Warsi di banjar tempat ia menginap. Demikian Wiradana pergi, maka pengendangnya pun telah menemui Warsi yang menunggunya sambil tersenyum cerah. Sambil mengusap matanya ia berkata, "Aku terpaksa menangis." “Kenapa kau harus menangis?” bertanya pengendangnya.

Warsi pun kemudian menceriterakan pembicaraannya dengan Wiradana. Sebenarnya jalan telah mulai terbuka. Tetapi Warsi memang harus berhati-hati.

“Kau memang pandai Warsi. Kau memang tidak boleh tergesa-gesa memasuki pintu yang sudah terbuka itu. Kau dapat meniru anak-anak yang menaikkan layang-layang. Kau ulur benangnya, namun sekali-kali kau tahan. Wiradana akan menjadi semakin gila. Pada saat-saatnya ia akan berjongkok dibawah kakimu,” berkata pengendangnya.

Sementara itu, memang ada perubahan sikap Wiradana di rumahnya. Tetapi dengan sungguh-sungguh Wiradana berusaha untuk menyembunyikannya. Bahkan pada saat- saat

tertentu, rasa-rasanya ia menjadi semakin sayang kepada istrinya yang sedang mengandung itu. Tetapi pada saat-saat tertentu Wiradana itu nampak merenung diri.

Namun dalam pada itu, Iswari sama sekali tidak menyangka, bahwa di dalam hidup kekeluargaannya, telah terselip duri yang menusuk semakin dalam. Namun agaknya Wiradana memiliki kemampuan berpura-pura sebagaimana Warsi.

Tetapi saat-saat yang mengkhawatirkan itu pun menjadi semakin dekat. Wiradana semakin dalam terbenam ke dalam jebakan Warsi. Namun Warsi yang cerdik itu tidak ingin merenggut Wiradana sekaligus. Apalagi istrinya sedang mengandung.

Karena itulah, maka diambilnya Wiradana perlahan-lahan. Meskipun nampaknya Warsi dengan terpaksa sekali menerima desakan Wiradana untuk tinggal disatu tempat

yang tersembunyi, namun Warsi memang sudah mulai dengan langkahnya untuk mengikat Wiradana.

Sebenarnyalah, atas persetujuan tukang gendang yang diaku sebagai ayah Warsi, maka Wiradana telah membuat rumah tersendiri bagi Warsi. Tidak di Tanah Perdikan Sembojan tapi diluarnya. Di daerah yang tidak banyak mengenalnya, ia mempunyai kebebasan untuk lebih banyak berbuat.

Dengan demikian, maka Wiradana mulai memasuki satu kehidupan dalam dua wajah. Ia harus dapat berbuat sesuatu yang mungkin bertentangan dengan nuraninya. Bahkan

ia harus menunjukkan satu sikap yang berbeda dengan gejolak di dalam jiwanya. Di rumah Wiradana tetap merupakan seorang suami yang baik, yang nampaknya mengasihi istrinya dan bersikap sangat hormat kepada ayahnya. Bahkan melampaui masa-masa sebelumnya. Sehingga dengan demikian ayahnya menduga, bahwa menjelang kelahiran anaknya, maka Wiradana ingin menunjukkan satu sikap yang akan dapat berpengaruh atas bayi yang masih ada di dalam kandungan, agar bayi itu pun kelak bersikap

baik seperti yang dilakukannya.

Namun di balik sikapnya itu, Wiradana menyimpan satu rahasia yang rumit. Setiap saat Wiradana harus berpura-pura, dan bahkan berbohong kepada istri dan ayahnya.

Di hari-hari terakhir, Wiradana menjadi lebih banyak melakukan kewajibannya di luar padukuhan induk. Setiap kali ia membawa kudanya untuk berkeliling Tanah Perdikan. Kepada ayah dan istrinya Wiradana mengatakan, bahwa ada tanda-tanda keadaan telah memburuk pada saat terakhir.

“Dendam Kalamerta itu masih belum terhapuskan sama sekali ayah,” berkata Wiradana.

Ki Gede Sembojan menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Berhati-hatilah menghadapi keluarga Kalamerta. Ia bukan saja memiliki beberapa orang yang berilmu tinggi, tetapi segala cara yang licik dan pengecut. Namun mereka tidak segan-segan melakukan apa saja. Kau pernah mengalami sendiri, betapa berbahayanya para pengikut Kalamerta. Mereka berilmu tinggi, tetapi otak mereka tumpul dan tidak terhormati peradaban.”

Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan selalu berhati-hati ayah.” “Jika kau nganglang Tanah Perdikan, jangan pergi seorang diri,” berkata ayahnya lebih lanjut. “Kau dapat dijebak oleh kelicikan mereka.”

WIRADANA mengangguk-angguk pula. Sekali lagi ia menjawab, “Aku akan berusaha untuk menjaga diri.”

Dengan demikian, maka penilaian ayah dan istrinya terhadap Wiradana justru

berbeda dengan keadaannya yang sesungguhnya. Ayah dan istrinya menganggap bahwa Wiradana telah bekerja keras menjelang kelahiran bayinya. Namun ter-nyata bahwa sebagian besar waktunya telah dipergunakan untuk berada di rumah yang dibuatnya bagi Warsi. Meskipun rumah itu kecil, tetapi ternyata bahwa rumah itu cukup baik

bagi kehidupan kedua orang yang berada di dalam dunia bayang-bayang yang suram. Dalam pada itu, setelah Warsi tinggal di sebuah rumah kecil bersama Wiradana, maka para pengiringnya telah minta diri untuk meninggalkannya. Bahkan

pengendangnya yang disebut ayahnya pun telah meninggalkannya pula. Sebenarnyalah bahwa pengendang itu cukup percaya kepada Warsi untuk menyelesaikan masalahnya. Masalah yang akan menyangkut satu kehidupan yang panjang. Bahkan untuk

selama-lamanya, karena Warsi telah memilih cara untuk membalas dendam yang lain dari yang pernah dilakukannya. Warsi tidak membunuh keluarga Kepala Perdikan Sembojan yang telah membunuh pamannya, tetapi ia justru berusaha untuk memilikinya dengan menguasainya. Bukan saja anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu, tetapi dengan Tanah Perdikan itu pula, karena Warsi ingin mempunyai

keturunan yang akan dapat mewarisi Tanah Perdikan itu lewat Wiradana.

Pada saat-saat permulaan dari kehidupan mereka sebagai suami istri, Warsi masih tetap merupakan seorang istri yang lembut dan luruh. Namun ia tidak meninggalkan kebiasaannya menghias diri, agar di mata Wiradana ia tetap merupakan seorang perempuan yang cantik.

Namun kehidupan mereka pun berkembang sejalan dengan perkembangan kandungan Iswari. Menjelang tujuh bulan dari masa kandungan itu, Ki Gede Sembojan

benar-benar sudah bersiap-siap untuk merayakan upacara itu meskipun tidak sebesar yang direncanakan semula karena Iswari berkeberatan.

Pada saat-saat yang demikian, wajah Warsi mulai nampak muram. Sekali-kali Warsi mulai menunjukkan sikap yang lain. Kadang-kadang nampak sedih dan merenung. Namun jika Wiradana bertanya tentang sikapnya itu, maka Warsi pun kemudian menjadi cerah dan berusaha untuk tersenyum.

“Aku tidak apa-apa kakang,” jawab Warsi.

“Tetapi aku lihat kau merenung,” berkata Wiradana.

“Tidak. Aku tidak merenung,” Warsi mencoba untuk tertawa.

“Jangan menyembunyikan sesuatu Warsi,” berkata Wiradana. “Di rumah ini aku menemukan satu kehidupan yang lebih baik dari di rumahku sendiri. Kau mempunyai perbedaan dengan Iswari. Kau benar-benar merupakan seorang istri yang mengerti tentang suami. Tetapi Iswari lebih banyak mengerti perasaan ayah dari pada perasaanku. Ia selalu berusaha untuk menyenangkan hati ayah karena memang

ayahlah yang melemparkannya memasuki duniaku yang sebenarnya bukan maksudnya.” Pada hari-hari pertama Warsi tetap tidak mau mengatakan persoalan yang ditumbuhkannya di dalam lingkungan keluarga kecil itu. Dengan sempurna ia tetap berpura-pura ganda. Ia berpura-pura berduka, namun kemudian ia menyaput dukanya dengan kepura-puraannya pula. Seolah-olah ia sama sekali tidak sedang dalam

keadaan pedih.

Namun setelah didesak oleh Wiradana, akhirnya ia berkata juga sebagaimana telah direncanakan, “Kakang, sebenarnya aku tidak ingin mengatakan sesuatu yang akan dapat menambah rumitnya persoalan di dalam hatimu.”

“Tetapi tanpa mengatakan sesuatu, maka aku selalu merasakan satu gejolak yang tidak dapat aku endapkan. Tanpa mengatakan sesuatu, bagiku justru merupakan persoalan tersendiri. Aku tahu Warsi, bahwa kau ingin menanggung beban itu sendiri, karena kau terlalu menjaga ketenanganku. Tetapi akibatnya justru sebaliknya,” berkata Wiradana.

Warsi menundukkan kepala. Bahkan tiba-tiba saja ia telah menitikkan air mata. Katanya, “Kakang, aku memang sudah menduga, bahwa akhirnya hidupku akan menjadi seperti ini.”

“Seperti apa Warsi?” bertanya Wiradana. “Bukankah hal ini memang sudah kita kehendaki?”

“Kakang, rasa-rasanya memang demikian. Aku memang tidak akan dapat menentang nasib hidupku. Agaknya derajatku memang seperti ini,” berkata Warsi.

“Aku tidak tahu maksdumu Warsi,” jawab Wiradana.

“Kakang. Pada masa kanak-kanak aku memang sering mendengar ceritera tentang kehidupan yang pahit dari seorang anak tiri. Ceritera tentang ibu tiri,

seakan-akan telah menjadi ceritera yang wajar, bahwa ibu tiri tentu seorang yang kejam dan bahkan sampai hati mencelakai anak tirinya yang tidak bersalah,” berkata Warsi.

Lalu, “Tetapi di samping ceritera tentang ibu tiri, aku juga mengenal ceritera yang lain, ceritera tentang kehidupan yang sunyi dan tidak wajar.

Sembunyi-sembunyi dan berusaha menyelubungi diri.” “Ceritera tentang apa?” bertanya Wiradana.

“Ceritera tentang istri muda. Ceritera tentang seorang perempuan yang dimadu,” jawab Warsi.

Wajah Wiradana tiba-tiba menjadi merah. Namun ia pun segera memaklumi perasaan istrinya yang cantik itu. Ia pun kemudian berkata di dalam hatinya, “Tidak

berlebih-lebihan. Pada umumnya seorang perempuan memang tidak akan bersedia dimadu.”

Namun dalam pada itu, Wiradana tidak akan dapat berbuat sesuatu atas istrinya yang tua, karena istrinya yang tua itu sangat disayangi oleh ayahnya, Ki Gede Sembojan.

Tetapi selesai Wiradana merenungi keadaan itu, tiba-tiba saja Warsi berkata dengan nada rendah, “Tetapi kakang. Aku mohon maaf. Bukan maksudku untuk menuntut perbaikan keadaanku yang sekarang. Aku sudah mengakui, bahwa keadaan yag demikian ini sudah aku ketahui sejak sebelum aku menerimamu menjadi suamiku. Karena itu, aku mohon jangan hiraukan aku. Aku akan berusaha untuk mengatasi kepahitan ini demi cintaku kepadamu.”

Wiradana menundukkan kepalanya. Namun tiba-tiba saja ia menghentakkan diri sambil berdiri, “Tidak. Kau tidak boleh terlalu lama menderita.”

“Kakang,” desis Warsi. “Lalu apa yang dapat kakang lakukan? Sudahlah. Biarlah aku bawa beban perasaan ini. Adalah salahku sendiri, bahwa aku menerima beban yang sebenarnya sudah aku ketahui sejak semula.”

“Tidak Warsi,” berkata Wiradana. “Kau tidak boleh terlalu lama menderita. Aku akan berbuat sesuatu sehingga kau akan benar-benar menjadi istri seorang Kepala

Tanah Perdikan kelak. Satu-satunya. Tetapi aku minta waktu. Aku harus memikirkan cara untuk menyingkirkan Iswari. Mungkin setelah ia melahirkan.

Mungkin pada saat-saat lain yang akan aku tentukan kemudian. Untuk menceraikannya, aku lakukan harus berhadapan dengan ayahku. Hampir mustahil hal itu dapat aku lakukan.”

“JANGAN kakang. Jangan,” minta Warsi dengan serta merta, “Jangan kau korbankan istrimu yang sekarang sedang mengandung itu. Bukankah dari istrimu itu kau akan mendapatkan seorang anak yang kelak akan dapat menyambung pemerintahan di Tanah Perdikan ini? Bukankah anak yang dikandung itu akan menjadi pewaris yang sah

atas Tanah Perdikan Sembojan.”

“Sekali lagi aku katakan Warsi,” jawab Wiradana. “Bukan akulah yang menghendaki Iswari berada di rumah itu. Tetapi ayahku. Sekarang ayahku sudah tidak banyak berdaya. Meskipun ia sudah mampu mempergunakan tangan dan kakinya, tetapi tidak lebih dari sekadar berjalan dan mengambil sesuatu. Memegang benda-benda kecil yang tidak berarti. Pada saat-saat tertentu ayah sudah akan kehilangan segala kemungkinan untuk dapat berbuat apa-apa atas Tanah Perdikan ini, sehingga pada saat ia akan tunduk kepadaku”

“O,” tiba-tiba saja Warsi telah menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya. Dengan sedu sedan ia berdesis, “Dosa apakah yang akan aku sandang jika ternyata aku telah membawa malapetaka bagi keluargamu kakang. Sekali lagi aku mohon maaf, biarlah aku seorang diri yang memikul beban ini, beban yang memang sudah aku sengaja, aku letakkan dipundakku sendiri.” “Itu tidak adil Warsi,” berkata Wiradana. “Dengan demikian kau akan menderita seumur hidupmu. Padahal perkawinan tentu bukan begitu maksudnya.”

Ada bedanya antara aku dan istrimu yang tua,” berkata Warsi. “Ia datang dengan wajar, siapapun yang membawanya. Ia tidak membuat orang lain mengalami kesulitan, apalagi mengalami perla-kuan yang dapat mengancam jiwanya. Tetapi kedatanganku telah membuat istrimu yang tua itu mengalami kesulitan. Bahkan ancaman bagi keselamatannya jika ia harus disingkirkan. Padahal kau tidak mungkin dapat menceraikannya ka-kang, jika kau tidak ingin berhadapan dengan ayahmu sendiri. Meskipun ayahmu sekarang cacad, tetapi ia tetap ayahmu. Kau tidak dapat menolaknya.”

“Tetapi aku sekarang sudah dewasa penuh, Warsi. Aku sudah kawin dan menentukan langkah-langkah yang aku anggap baik bagiku dan bagi masa depanku. Ayah tidak akan dapat selamanya memaksakan kehendaknya atasku,” berkata Wiradana.

Warsi masih tetap menangis. Di sela-sela isak-nya ia berkata, “Tetapi aku mohon kakang mempertimbangkan segala langkah-langkah yang akan kakang ambil sebaik-baiknya.”

“Aku akan bertanggung jawab atas segala tingkah lakuku, Warsi. Aku tidak akan

dapat membiarkan kau menderita seumur hidupku karena cintamu kepadaku. Dengan demikian, maka kau harus berkorban untukku, sementara aku tidak berbuat apa-apa bagi kebahagiaanmu. Karena aku tahu, bahwa kebahagiaan bukan berarti aku telah mencukupi segala kebutuhan lahiriah. Makan, pakaian dan perhiasan. Tetapi kau