-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 04

Jilid 04

Namun kebanyakan dari mereka menjadi cemas melihat perkelahian yang akan terjadi. Pengendang yang menyebut dirinya suaminya penari yang telah diganggu oleh orang gemuk itu bertubuh kecil meskipun agak tinggi. Umurnya sudah lebih tua dari calon lawannya. Namun bagi beberapa orang yang sempat melihat matanya, hatinya menjadi berdebar-debar. Mata orang itu demikian tajamnya memandang sasarannya bagaikan tajamnya mata burung hantu.

Sejenak kemudian kedua orang itu sudah berhadapan di arena. Warsi sendiri nampak acuh tak acuh saja. Ia duduk di antara para pengiringnya yang lain. Sekali-kali

ia mengerling ke arah orang bertubuh gemuk itu. Jika orang itu kebetulan memandanginya, maka Warsi pun tersenyum menggoda.

“Gila,” geram orang gemuk yang benar-benar telah menjadi gila itu.

“Nah,” berkata tukang gendang itu,” Apakah kau ingin meneruskan niatmu. Jika kau menang, bawa istriku kerumahmu sampai kapan kau kehendaki. Tetapi jika kau kalah, maka kau akan membayar rombongan ini sebagai-mana kau meminta kami bermain. Kau telah memberikan uang kepada istriku. Tetapi untuk sekali bermain, kami memerlukan sepuluh kali lipat.”

“Gila,” orang itu berteriak, “Kalian memang gila. Ayo, melangkah maju. Tubuhnya yang kecil dan umurnya yang lebih tua dari orang gemuk itu sama sekali tidak memberikan harap-an apa-apa kepadanya untuk dapat memenangkan perkelahian itu.

Sementara itu, salah seorang pengiring Warsi berkata, “Bukankah benar-benar orang itu harus menakut-nakuti penonton yang ugal-ugalan.”

Kawannya mengangguk, sementara Warsi berpaling kepadanya sambil berkata, “Jika gagal, apaboleh buat. Aku sendiri akan memilin leher laki-laki gila itu.”

“Kau memancing persoalan,” desis salah seorang pengiringnya yang lain. “Kenapa?” bertanya Warsi

“Kau tersenyum kepadanya, bahkan kau menyentuh tubuhnya. Karena itu ia menjadi gila,” jawab pengiringnya.

Warsi tersenyum. Katanya, “Aku memang ingin menghilangkan kejemuanku. Aku sangat mengalami tekanan batin di Tanah Perdikan Sembojan karena aku tidak dapat membunuh Wiradana. Aku ingin sekadar melepaskan kerisauan itu. Dengan permainan ini, maka aku akan merasa sedikit terhibur.” Pengiringnya mengumpat di dalam

hati. Warsi memang seorang perempuan yang berhati seruncing garangan pering wulung.

Dalam pada itu dua orang laki-laki telah berhadapan di arena perkelahian dengan taruhan yang aneh. Seorang penari yang sangat cantik.

Orang-orang yang mengerumuni arena itu menjadi berdebar-debar ketika laki-laki gemuk itu melangkah maju sambil berkata lantang, “Aku patahkan pinggangmu yang kurus itu.”

Bagi orang-orang padukuhan itu, orang yang gemuk itu adalah orang yang tidak terkalahkan. Karena itu, maka sebagian dari mereka merasa sangat kasihan kepada orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu yang harus berkelahi untuk mempertahankan istrinya.

Dalam pada itu, orang yang bertubuh gemuk itu berjalan saja maju seperti seekor kerbau tanpa menghiraukan apakah lawannya akan memukulnya. Dengan langkah tetap dan dada tengadah ia melangkah. Tangannyalah yang mengepal dan kemudian telah siap untuk memukul lawannya.

Cara itu adalah cara yang tidak dimengerti oleh orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu.

NAMUN ketika tangan itu benar-benar terayun, maka orang bertubuh tinggi itu telah bergeser sambil memutar tubuhnya.

Gerak yang sederhana itu telah menimbulkan keheranan bagi orang-orang yang menyaksikannya. Tangan orang bertubuh gemuk itu terayun dengan derasnya. Namun sama sekali tidak menyentuh sasaran. Karena itu ia justru terseret oleh ayunan tangannya sendiri dan bahkan terhuyung-huyung beberapa langkah. Hampir saja ia kehilangan keseimbangan. Namun akhirnya ia berhasil berdiri tegak.

Wajah orang itu menjadi merah menyala. Dipandanginya tukang gendang yang bertubuh tinggi itu. Dengan kemarahan yang menghentak didadanya ia berkata, "Anak setan. Aku ternyata telah salah menilai kau orang kurus. Aku kira kau adalah pengamen yang tidak berharga sama sekali. Namun agaknya kau memiliki sedikit kemampuan dalam olah kanuragan. Jika demikian, maka aku pun akan mempergunakan cara yang lain untuk menghadapimu."

Tukang gendang itu tidak menjawab. Tetapi ia menjadi tegang. Namun sementara itu Warsi masih duduk saja di antara para pengiringnya yang lain tanpa menunjukkan kesan apapun juga. Bahkan ia masih saja tersenyum meskipun ia berusaha untuk menyembunyikannya.

"Apa katamu tentang orang itu?" bertanya salah seorang pengiringnya. Pengiringnya hanya mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak bertanya lagi.

Dalam pada itu, orang yang bertubuh gemuk, yang gagal merontokkan iga tukang gendang itu telah bersikap. Benar-benar sikap seorang yang memiliki ilmu kanuragan.

"Aku akan bersungguh-sungguh sekarang," berkata orang gemuk itu. "Aku tidak lagi menganggap kau sekadar seorang pengamen yang bodoh. Tetapi kita akan berkelahi dengan ilmu."

Tukang gendang itu sama sekali tidak menjawab. Namun demikian ia sudah bersedia menghadapi segala kemungkinan.

Demikianlah, maka sejenak kemudian orang bertubuh gemuk itu benar-benar telah menyerang. Ia tidak sekadar berjalan mendekati lalu memukul dengan sekuat tenaganya. Tetapi ia benar-benar telah mempergunakan kemampuannya dalam olah kanuragan.

Serangan-serangannya kemudian menjadi lebih mapan dan bersungguh-sungguh. Ketika tangannya menyerang mengarah dada, namun dihindari, maka tiba-tiba saja tangan itu telah berubah arah dengan serangan mendatar.

Untunglah lawannya bergerak cukup cepat. Sambil merendahkan diri, maka kakinya telah terjulur mematuk lambung. Namun orang bertubuh gemuk itu masih sempat meloncat surut, sehingga kaki itu tidak mengenai sasarannya.

Orang bertubuh gemuk itu mengumpat. Ia menjadi semakin yakin bahwa lawannya memang memiliki kemampuan dalam olah kanuragan. Karena itu, maka ia pun menjadi semakin berhati-hati. Namun justru dengan demikian serangan-serangannya menjadi semakin mapan.

“Pantas jika orang ini nampaknya mempunyai pengaruh yang sangat besar di padukuhannya,” berkata orang yang tinggi kekurus-kurusan itu di dalam hati. Namun sementara itu, ia masih harus berloncatan menghindar dan sekali-kali menyerang.

Dalam pada itu orang yang bertubuh gemuk yang menjadi gila melihat kecantikan Warsi itu benar-benar tidak lagi berusaha untuk mengendalikan diri. Ketika ia sadar, bahwa lawannya memiliki kemampuan yang dapat mengimbangi kecepatan gerakannya, maka orang itu pun telah mengerahkan segenap kemampuan dan kekuatannya. Ia ingin segera menyelesaikan perkelahian yang gila itu dan membawa

Warsi pulang kerumah tanpa menghiraukan ketiga istrinya yang tinggal di rumahnya pula.

Namun orang bertubuh gemuk itu sama sekali tidak menyangka, bahwa yang dilawannya itu adalah salah seorang dari pengikut Kalamerta. Satu gerombolan yang sangat ditakuti. Bukan saja saat Kalamerta masih hidup. Tetapi sepeninggal Kalamerta gerombolan itu masih tetap garang.

Karena itu dalam perkelahian selanjutnya, orang bertubuh gemuk itu merasa heran, bahwa ia tidak segera dapat mengakhiri pertempuran itu. Bahkan orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu rasa-rasanya telah bergerak semakin lama menjadi semakin cepat.

Sambil mengumpat orang bertubuh gemuk itu telah menghentakkan segenap kemampuannya. Ia ingin dengan cepat menghancurkan tulang-tulang orang bertubuh kurus itu.

Tetapi ternyata bahwa usahanya sama sekali tidak berrhasil. Orang bertubuh kurus itu ternyata mampu bergerak dengan kecepatan yang tidak diduga dan mampu mengimbangi kekuatan yang diandalkannya.

“Anak setan,” geram orang bertubuh gemuk itu.

Namun tiba-tiba saja ia justru menyeringai menahan sakit ketika kaki lawannya telah mengenai perutnya. Sehingga perutnya yang besar itu terasa mual.

Tetapi serangan lawannya tidak terhenti. Tiba-tiba pula, tangan orang bertubuh tinggi kurus itu telah menerkam keningnya. Namun orang yang bertubuh gemuk itu masih sempat mengelak, sehingga tangan orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu tidak menyentuhnya sama sekali.

Tetapi adalah diluar dugaan, bahwa tiba-tiba saja orang bertubuh kurus itu telah menjatuhkan dirinya. Dengan kakinya ia menyapu lawannya dengan sekuat tenaganya.

Satu serangan yang semula tidak terpikirkan oleh orang bertubuh gemuk itu. Karena itu, maka serangan itu benar-benar mengejutkan sehingga ia tidak sempat lagi untuk mengelak.

Ternyata sapuan yang keras itu telah menumbuhkan akibat yang gawat bagi orang bertubuh gemuk itu. Demikian kerasnya sapuan orang bertubuh tinggi itu, sehingga orang bertubuh gemuk itu pun tidak mampu lagi bertahan. Kedua kakinya bagaikan dihempas kesamping pada pergelangan kaki itu, sehingga tiba-tiba saja orang itu sudah terbanting jatuh ketanah.

Tetapi orang bertubuh gemuk itu tidak menyerah. Dengan cepat ia berguling

menjauh dan kemudian meskipun tubuhnya gemuk, namun ia mampu dengan tangkas meloncat diri.

Demikian ia tegak, maka lawannya sudah siap menyerangnya. Tetapi karena orang bertubuh gemuk itu sudah bersiaga sepenuhnya, maka serangan itu pun dibatalkan. Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin seru. Orang-orang yang menonton perkelahian itu diseputar arena menjadi heran, bahwa orang bertubuh kecil kurus meskipun tinggi, mampu menghadapi orang yang bertubuh gemuk itu.

Bahkan orang itu nampaknya umurnya sudah jauh lebih tua dari orang yang bertubuh gemuk itu.

Namun ternyata mereka melihat satu kenyataan, bahwa kedua orang yang bertempur itu nampak seimbang.

Dalam pada itu Warsi mulai menaruh perhatian atas pertempuran itu. Tetapi tidak lama. Sejenak kemudian ia berdesis, “Orang gemuk itu dapat cepat diselesaikan.

Aku sudah jemu. Tidak banyak kesulitan akan dihadapi, jika perlu membunuhnya sama sekali.”

“Kenapa dibunuh?” bertanya pengiringnya. “Ia sudah menghina aku,” jawab Warsi.

Pengiringnya itu mengerutkan keningnya. Tetapi hampir diluar sadarnya ia berkata, “Ia hanya menghina. Sedangkan Wiradana tidak juga kau bunuh meskipun ayahnya telah membunuh pamanmu.”

Orang itu hampir saja menjerit kesakitan. Tidak ada orang yang melihat ketika Warsi menginjak ibu jari pengiringnya itu.

“Warsi,” wajah orang itu menjadi pucat. Sementara keringat telah mengalir dari lubang-lubang dikulitnya karena menahan sakit. Rasa-rasanya ibu jarinya itu telah diremukkan oleh injakan kaki Warsi. Terasa tekanan kaki Warsi itu bagaikan ditindih segumpal tanah. “Katakan sekali lagi,” desis Warsi.

“Tidak. Aku tidak sengaja mengatakan,” minta orang itu. “Lepaskan. Nanti kakiku kau remukkan dan aku tidak dapat mengikutimu melanjutkan perjalanan kembali.” “Lain kali mulutmu jangan lancang he? Untung disini banyak orang sehingga aku hanya menginjak kakimu. Jika disini tidak ada orang, maka aku sudah mengoyak mulutmu yang tajam itu,” geram Warsi.

“Jangan. Aku minta maaf. Kalimat-kalimat itu rasa-rasanya meluncur begitu saja tidak terkendali,” jawab orang itu.

Perlahan-lahan Warsi melepaskan jari pengiringnya yang hampir menangis meskipun ia sudah bukan kanak-kanak lagi.

Kawan-kawan semula tidak tahu apa yang telah terjadi. Mereka hanya melihat salah seorang di antara mereka menjadi kesakitan. Namun akhirnya mereka pun tahu, bahwa Warsi telah menginjak ibu jari kaki orang itu.

Sambil menyeringai orang itu meraba ibu jari kakinya. Sambil mengelus jari kakinya itu ia berkata di dalam hatinya, “Betapa cantiknya Warsi, aku tidak akan mampu menjadi suaminya. Setiap hari tubuhku akan disakitinya.”

Dalam pada itu, maka pertempuran antara orang yang gemuk dan pengendang yang mengaku suami Warsi itu masih berlangsung. Namun keseimbangannya mulai nampak terguncang. Pengendang itu ternyata mampu bergerak terlalu cepat bagi lawannya yang gemuk, sehingga serangan-serangan yang tangkas mampu menembus pertahanan lawannya.

Semakin lama maka serangan tukang gendang itu menjadi semakin banyak yang berhasil. Beberapa kali kakinya telah mengenai lambung dan beberapa kali tangannya berhasil mengenai dada dan bahkan kening.

Karena itu, maka rasa-rasanya perut orang bertubuh gemuk itu menjadi semakin mual dan kepalanya menjadi pening.

Demikianlah perlahan-lahan pengendang itu pun berhasil mendesak lawannya. Ketika kakinya menyerang mendatar, maka orang bertubuh gemuk itu masih berusaha menghindar. Namun kaki itu pun segera berputar, bertumpu pada kaki yang lain.

Dengan cepat maka serangannya berganti. Kaki yang lainlah kemudian terangkat demikian kaki yang pertama menyentuh tanah.

Orang bertubuh gemuk itu terkejut. Serangan beruntun yang begitu cepat tidak sempat dihindarinya, sehingga karena itu, maka gerakan kaki itu pun telah

berhasil menghantam tubuhnya. Meskipun ia berusaha melindungi lambungnya dengan sikutnya, namun serangan itu datang demikian kerasnya sehingga orang bertubuh gemuk itu telah terlempar jatuh.

Dengan serta merta ia masih mencoba untuk berdiri. Tetapi ia tidak mempunyai kesempatan. Lawannya yang tinggi kekurus-kurusan itu telah memburunya dan dengan sekuat tenaganya, maka orang itu telah menyerang dengan cepatnya, langsung mengarah ke dada dengan kepalan tangannya.

Orang bertubuh gemuk itu baru berusaha untuk tegak itu tidak sempat mengelak sama sekali. Terasa dadanya bagaikan tertimpa sebongkah batu padas. Nafasnya menjadi sesak dan rasa-rasanya darahnya pun telah terhenti mengalir.

Orang bertubuh gemuk itu tidak berhasil bertahan untuk tetap tegak. Ia pun telah terdorong beberapa langkah surut. Namun kemudian tubuh yang gemuk itu pun telah terguling jatuh ditanah.

Tukang gendang itu meloncat mundur. Tetapi ketika ia melihat bahwa orang bertubuh gemuk itu tidak bangkit lagi, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam. Dengan kaki renggang tukang gendang itu berdiri disisi tubuh yang terbaring diam itu.

"Bangun," geram tukang gendang itu.

Orang bertubuh gemuk itu berdesis menahan sakit ditubuhnya. Dadanya bagaikan pecah dan nafasnya serasa tersumbat.

"Cepat bangun. Kita masih mempunyai waktu. Jika kau memang menghendaki kita akan dapat berperang tanding sampai salah seorang di antara kita mati," tantang

tukang gendang itu.

"Tidak, jangan," desis orang bertubuh gemuk itu dengan nafas terengah-engah, "Aku mengaku kalah. Aku minta ampun."

"Kita tidak berkelahi untuk saling mengampuni. Kita sedang bertaruh. Jika kau mengaku kalah, maka kau harus membayar taruhan itu. Jika aku yang kalah, aku pun tidak akan ingkar," berkata tukang gendang itu.

"Ya. Ya. Aku akan membayar taruhan itu. Aku akan membayar berapa saja kau minta," jawab orang bertubuh gemuk itu.

Orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu pun kemudian berkata sambil melangkah surut, "Bangkitlah. Kita akan pergi ke rumahmu. Istriku akan ikut pula. Tetapi

tidak untuk memenuhi keinginanmu, tetapi untuk mengambil uang taruhan itu." "Baik, baik. Ambillah ke rumahku," jawab orang bertubuh gemuk itu. Orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu menahan nafas dalam-dalam. Seorang yang bertubuh pendek berdesis kepada kawannya yang berdiri disebelahnya, "Orang itu sekali-sekali memang harus mendapat peringatan."

"Kenapa orang itu tidak dibunuhnya saja," geram yang lain.

"Ah, rombongan pengamen itu tentu tidak akan membuat keributan yang menyeretnya dalam persoalan yang lebih gawat. Apalagi dengan cara itu, ia telah memenangkan taruhan yang mungkin akan sangat berharga bagi mereka."

Kawannya mengangguk-angguk. Namun ia tidak menjawab.

Demikianlah, maka orang bertubuh gemuk itu pun dengan susah payah telah berusaha untuk bangkit. Seluruh tubuhnya terasa menjadi memar dan pedih. Wajahnya nampak bengap dan bernoda biru di beberapa tempat.

Dengan susah payah pula ia pun kemudian berdiri. Sambil menarik nafas

dalam-dalam dicobanya menggerakkan tangannya. Namun ia pun berdesah kesakitan. "Kau tidak akan dapat ingkar. Aku mempunyai banyak saksi dalam taruhan ini," berkata tukang gendang itu.

"Aku tidak akan ingkar. Aku akan membayar sepuluh kali lipat dari uang yang sudah aku berikan kepada istrimu itu," orang itu berusaha memperbaiki pernafasannya yang tersendat. Namun tiba-tiba ia berkata, "Bagaimana jika aku membayar duapuluh kali lipat?"

"Kenapa duapuluh kali lipat?" bertanya tukang gendang itu.

"Dengan membayar duapuluh kali lipat, maka kau menganggap akulah yang menang," jawab orang bertubuh gemuk itu.

"Apa artinya?" bertanya lawannya yang tinggi. "Aku bawa istrimu pulang," jawab orang gemuk itu.

"Gila," tiba-tiba saja orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu telah menangkap rambut orang bertubuh gemuk itu setelah ikat kepalanya terlempar, "Katakan sekali lagi."

“Tidak. Ampun. Jangan sakiti aku lagi,” minta orang yang gemuk itu.

Orang yang berada di sekitar arena itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dalam keadaan yang parah itu ia masih mengigau tentang perempuan cantik.

Para pengiring Warsi pun memandang kearahnya. Nampak keningnya berkerut. Tetapi Warsi tidak berbuat apa-apa.

Bahkan Warsi pun kemudian berdiri dan berjalan mendekati orang yang gemuk itu. Dengan senyum dibibirnya ia berkata, “Maaf Ki Sanak. Suamiku memang bertabiat seperti itu. Ia terlalu garang dan sama sekali tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk membawa istrinya.”

“Bukankah itu wajar,” bentak pengendangnya.

Warsi mengerutkan keningnya. Dipandanginya pengendangnya itu dengan sorot mata yang menyala. Namun hanya sekejap. Tetapi yang sekejap itu telah membuat pengendangnya itu memalingkan pandangan matanya.

Namun ia pun segera mengalihkan perhatian orang-orang yang ada disekitarnya kepada yang gemuk itu, “Mari. Kita akan pergi ke rumahmu sekarang.”

Orang gemuk itu mengangguk-angguk. Kemudian dengan tubuh yang bagaikan remuk ia berjalan diikuti oleh rombongan pengamen menyusuri jalan padukuhan. Sementara

itu pengendang itu masih juga berkata kepada orang-orang yang berkerumun, “Maaf Ki Sanak. Kali ini kami telah menghidangkan tontonan yang lain.”

Adalah diluar dugaan, bahwa kata-kata itu mendapat sambutan serta merta. Beberapa orang telah bersorak karenanya.

Namun ketika orang yang bertubuh gemuk itu berhenti dan berpaling ke arah orang-orang yang bersorak itu, maka tiba-tiba pula suara tertawa itu pun terhenti. Orang-orang itu telah terdiam sambil menyembunyikan wajah mereka. “He, kenapa kalian diam?” bertanya orang yang bertubuh kekurus-kurusan itu. Tidak ada jawaban.

Orang kurus itu bertanya pula, “Agaknya kalian menjadi ketakutan jika orang yang gemuk ini tahu, siapa saja di antara kalian yang mentertawakannya. Tetapi jangan takut. Pada saat-saat lain aku tentu akan lewat di padukuhan ini. Jika aku

mendengar bahwa orang gemuk ini bertindak sewenang-wenang atas kalian, maka aku tidak akan segan membunuhnya.”

Beberapa orang saling berpandangan. Tetapi tidak ada di antara mereka yang menjawab.

Demikianlah sejenak kemudian maka orang-orang itu pun telah meninggalkan sudut padukuhan mereka. Orang yang bertubuh gemuk itu diikuti oleh sebuah

iring-iringan kembali untuk mengambil uang yang dipertaruhkan dalam perkelahian itu.

Sebagaimana dikatakan, Warsi sendiri menganggap peristiwa itu sebagai pengisi kejemuannya setelah ia berada di Tanah Perdikan Sembojan beberapa hari. Dengan demikian ia sudah berhasil mengurangi ketegangan yang terjadi didalam jiwanya atas peristiwa yang dialaminya di Tanah Perdikan Sembojan itu. Dengan melihat orang lain kesakitan dan menderita, maka rasa-rasanya ia telah mendapat kawan, sehingga bukan hanya dirinya sendiri sajalah yang mengalami kepahitan perasaan. Meskipun yang terasa sakit pada orang itu tubuhnya, bukan hatinya seperti yang dialami oleh Warsi.

Apalagi ternyata dengan tingkah laku orang yang gemuk itu, rombongan itu pun telah mendapat bekal yang cukup banyak. Agaknya orang gemuk itu merasa puas, meskipun ia tidak berhasil membawa Warsi pulang sebagaimana taruhan, tetapi Warsi benar-benar telah mau datang ke rumahnya. Bahkan malam itu Warsi dan rombongannya telah bermalam di rumahnya pula atas kehendak rombongan itu sendiri.

Warsi memang sering melakukan sesuatu yang sulit dimengerti. Menjelang senja, tiba-tiba saja ia berkata kepada pengendangnya, “Aku akan menari di halaman rumah orang gila ini.”

"UNTUK apa?" bertanya pengendang. "Aku ingin menari. Itu saja," jawab Warsi.

Pengendangnya menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian mempersilakan orang-orangnya untuk kebar sore itu, sementara Warsi pun telah berhias pula.

Ketika hal itu dikatakan oleh tukang gendang itu kepada orang yang bertubuh gemuk itu, maka kegembiraan yang tidak terkira terbersit di wajah orang gemuk

itu. Dengan serta merta maka ia pun telah menyiapkan halaman rumahnya yang akan dipergunakan oleh Warsi untuk mempertontonkan tarian-tariannya.

Sebenarnyalah bahwa ketika matahari telah tenggelam, Warsi dan para pengiringnya telah siap di halaman. Beberapa buah obor telah dipasang. Bukan saja untuk menerangi arena tempat Warsi akan menari, tetapi diregol dan disudut-sudut halaman, telah dipasang pula obor.

"Aku akan menari sampai aku menjadi jemu," berkata Warsi.

"Bukankah kita hanya akan sekadar memperlihatkan diri kepada orang-orang disekitar rumah orang gila ini?" bertanya tukang gendangnya.

"Aku akan menari sampai jemu. Mungkin hanya sebentar aku sudah menjadi jemu. Tetapi mungkin semalam suntuk," jawab Warsi.

Tukang gendangnya hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Segalanya memang tergantung sekali kepada Warsi. Apapun yang akan dilakukan tidak seorang pun yang akan dapat mencegahnya meskipun para pengiringnya itu berhak juga untuk

memberinya peringatan. Namun segala keputusan ada ditangan perempuan yang garang itu.

Ternyata malam itu Warsi benar-benar seperti orang yang sedang mabuk. Ia menari dengan penuh gairah meskipun segalanya itu dilakukan atas kehendaknya sendiri.

Ia menari dengan iringan gending-gending yang panas. Bahkan ia pun kemudian

mulai dengan membuka kesempatan kepada orang-orang padukuhan itu untuk ngibing. Mula-mula Warsi menyerahkan sampur kepada orang gemuk yang mempunyai rumah itu untuk ikut menari bersamanya.

Betapa gembiranya orang itu. Rasa-rasanya ia mau menyerahkan semua kekayaan yang disimpan seluruhnya kepada Warsi. Apalagi Warsi benar-benar menari dengan hangatnya.

Rasa-rasanya orang gemuk itu tidak mau berhenti. Betapapun orang lain ingin menggantikannya, tetapi tidak seorang pun yang berani mengambil sampur itu. Tetapi ketika orang itu sudah terlalu lama menari, maka Warsi pun berbisik, tidak dengan kata-kata kasar seperti biasanya, tetapi dengan lembut, "Ki Sanak.

Beristirahatlah. Aku akan menari semalam suntuk. Berilah kesempatan kepada orang lain."

Orang gemuk itu mengerutkan keningnya. Dengan nada berat ia menjawab sambil menari, "Aku pun akan menari semalam suntuk. Apapun yang kau minta, aku akan memenuhinya."

"Jangan," jawab Warsi. "Beri kesempatan kepada tentangga-tetangga. Bukankah mereka telah datang ke rumahmu untuk meramaikan malam ini bersamamu." “AKU tidak peduli dengan mereka,” jawab orang gemuk itu. “Kita akan menari. Bukan hanya semalam. Tetapi sampai kapanpun kau kehendaki. Rasa-rasanya aku sudah menjadi gila.”

Warsi justru tersenyum. Keduanya masih menari dengan iringan gending yang panas. Sementara itu halaman orang gemuk itu sudah penuh dengan penonton. Beberapa orang laki-laki yang berdarah panas hampir tidak sabar menunggu kesempatan untuk menari bersama tledek yang sangat cantik itu. Tetapi tidak seorang pun yang

berani menghentikan pemilik rumah yang di padukuhan itu sangat ditakuti.

Dalam pada itu, Warsi sekali lagi berdesis, “Sudahlah. Kau masih akan banyak mendapat kesempatan. Jika tidak malam ini, maka besok aku akan menari untukmu meskipun tidak ada orang lain yang menonton dan tidak seorang pun yang mengiringi tarian kita.”

“O, gila. Gila.” orang itu hampir berteriak. Bahkan dengan serta merta ia meloncat menerkam Warsi. Tetapi rasa-rasanya warsi itu lenyap menjadi asap, sehingga ia pun terhuyung-huyung beberapa langkah. Hampir saja ia jatuh terjerembab. Untunglah bahwa ketangkasannya masih mampu menolongnya, sehingga ia tidak terjatuh karenanya.

Ketika ia kemudian berpaling ia melihat Warsi masih menari sambil tersenyum. Sementara itu beberapa orang serentak telah mentertawakannya meskipun mereka tidak tahu pasti apa yang terjadi dan mereka pun tidak mendengar apa yang dikatakan Warsi kepada orang gemuk itu.

Dengan darah yang menjadi semakin mendidih orang gemuk itu menari semakin bergairah. Bahkan ia tidak lagi mampu mempertahankan jarak dengan Warsi.

Kadang-kadang orang itu dengan sengaja berusaha untuk menerkamnya dengan kasar.

Tetapi penari yang sangat cantik itu bagaikan bayang-bayang saja yang tidak dapat disentuhnya.

Dalam pada itu, Warsi sudah mulai menjadi jenuh. Karena itu maka katanya, “Sudahlah Ki Sanak. Berhentilah. Aku ingin berganti pasangan. Jika kau tidak mau berhenti, maka akulah yang akan berhenti sampai disini.”

“Jangan,” minta orang gemuk itu.

“Jika demikian, tolong, beri kesempatan orang lain untuk menikmati kegembiraan malam ini,” berkata Warsi sambil tersenyum cerah.

“O. Gila. Aku sungguh-sungguh menjadi gila. Tetapi kau berjanji untuk memberi kesempatan aku lagi nanti,” berkata orang gemuk itu.

“Tentu. Malam masih panjang,” jawab Warsi.

“Tetapi apakah kau dapat menari semalam suntuk?” bertanya orang gemuk itu. “Tentu saja, aku memerlukan waktu untuk beristirahat barang sejenak. Tetapi malam ini aku akan menari semalam suntuk,” berkata Warsi.

Orang gemuk itu termangu-mangu. Namun ia pun kemudian telah menyerahkan sampurnya kembali kepada Warsi.

Dalam pada itu, lebih dari selusin laki-laki telah maju bersama-sama. Saling mendorong untuk berebut kesempatan mendapatkan sampur itu. Namun untuk beberapa

saat Warsi masih menari seorang diri sambil memperhatikan laki-laki yang berdesakan di baris paling depan. Mereka adalah laki-laki yang merasa diri

mereka gegedug setelah pemilik rumah itu. Mereka merasa bahwa mereka tidak takut kepada siapapun juga, kecuali kepada orang gemuk yang baru saja menyelesaikan tari-tariannya yang kasar.

Laki-laki yang sudah menunggu itu menjadi tidak sabar. Mereka berteriak-teriak sambil mengacungkan tangan mereka untuk menerima sampur yang masih ada pada Warsi.

Namun dalam pada itu, Warsi telah tertarik oleh seorang laki-laki muda yang tampan. Dengan gerak yang cekatan ia menyibak kawan-kawannya dan berdiri bertolak pinggang.

“Kau lihat aku,” teriak laki-laki itu.

SIKAP orang itu menarik perhatian Warsi. Karena itu, maka ia pun mendekatinya dan kemudian melemparkan sampur kepadanya.

Laki-laki itu berteriak kegirangan. Dengan serta merta ia pun turun ke arena.

Irama gamelan yang panas membuat darahnya menjadi panas pula, sehingga sejenak kemudian maka ia pun telah menari bersama Warsi.

Setiap kali sebagaimana dilakukan oleh orang gemuk pemilik rumah itu, maka orang itu pun ingin menyentuh Warsi. Namun setiap kali tangannya bagaikan meraba angin. Warsi rasa-rasanya memang tidak mungkin untuk dapat disentuh.

Beberapa saat keduanya menari dalam suasana yang hangat. Namun laki-laki tampan itu ternyata cepat menjemukan bagi Warsi. Ia terlalu kasar dan sama sekali tidak mengenal irama. Karena itu, maka gerakannya pun menjadi liar dan bahkan

seakan-akan ia tidak berbuat apa-apa selain memburu Warsi di tengah-tengah arena.

Orang-orang yang menonton mulai menyorakinya. Tetapi agaknya orang berwajah tampan itu salah mengerti. Ia mengira orang-orang bertepuk karena mereka senang melihat tingkah-lakunya.

Namun ternyata bahwa orang-orang yang menontonnya pun mulai jemu dengan kehadirannya.

Karena itu, maka Warsi kemudian telah minta agar orang itu menyerahkan kembali sampurnya. Katanya, "Berilah kesempatan kepada orang lain Ki Sanak."

"Aku belum puas," jawab orang itu. "Aku belum memelukmu."

"Ah, bukankah kali ini kalian tidak sedang menyelenggarakan janggrung. Kalian sama sekali tidak mengeluarkan uang sekeping pun. Jika kali ini aku sedang kebar dan kemudian kita sepakat untuk menyelenggarakan janggrung, maka aku tidak berkeberatan. Tetapi kali ini aku menari untuk sekadar mengucapkan terima kasih kepada pemilik rumah ini yang telah memberi kesempatan kami bermalam di rumahnya," jawab Warsi.

"Tetapi beri aku kesempatan sejenak lagi," jawab laki-laki tampan itu.

Warsi menjadi jemu. Katanya, "Sudahlah, agar pemilik rumah itu tidak menjadi marah kepadamu. Apakah kau berani melawannya?"

Ancaman itu telah membuat leher orang tampan itu berkerut. Karena itu, maka ia pun segera menyerahkan sampurnya kembali kepada Warsi.

Demikian sampur itu kembali ke tangan Warsi, maka beberapa orang laki-laki yang lain telah berdesakan lagi. Sekali lagi Warsi memilih dan sekali lagi Ia menyerahkan sampur kepada seorang laki-laki. Tetapi ketika mereka mulai menari maka laki-laki itu pun terasa tidak menarik sama sekali.

Demikianlah terjadi beberapa kali, sehingga akhirnya Warsi benar-benar menjadi jemu, sementara malam masih cukup panjang. Baru saja terdengar suara kentongan ditengah malam.

Warsi pun kemudian memberi isyarat kepada para pengiringnya untuk menghentikan pertunjukan itu. Namun demikian pertunjukan itu berhenti, Warsi pun dengan hormat berkata kepada para penontonnya, "Pertunjukan ini belum berakhir. Aku sudah berjanji untuk menari sepanjang malam. Dan aku akan memenuhi janjiku, menari sampai ayam jantan berkokok untuk terakhir kali, atau jika para penonton sudah menjadi jemu dan meninggalkan pertunjukan ini.

Dalam pada itu, selagi Warsi beristirahat untuk sekadar minum minuman panas yang disediakan oleh pemilik rumah itu, maka beberapa penonton pun telah beristirahat pula. Mereka duduk di bawah pepohonan dan terpencar di seluruh halaman. Tidak seorang pun, terutama laki-laki yang meninggalkan halaman itu. Mereka yang belum memperoleh kesempatan dengan tidak sabar menunggu untuk dapat menari bersama seorang perempuan cantik. Sementara yang sudah pun berharap bahwa masih ada kemungkinan bagi mereka untuk menari sekali lagi.

Sementara itu, beberapa orang dengan heran telah memuji kemampuan menari tledek yang cantik itu. Bukan saja keindahan gerak dan kecantikan tubuhnya, tetapi

bahwa penari itu mampu bertahan untuk menari sampai tengah malam. Bahkan kemudian ia berjanji untuk dapat menari semalam suntuk.

“Aku hampir tidak percaya,” berkata seseorang. “Apa lagi ia menari dalam irama yang panas dan dengan gerak yang mempesona. Sama sekali tidak nampak keletihan

dan apalagi kehabisan tenaga. Ia masih mampu memanaskan suasana dengan geraknya dalam iringan yang serasi.”

“Tledek yang satu ini memang aneh,” jawab yang lain.

Namun mereka tidak sempat membicarakannya lebih panjang lagi. Sejenak kemudian, Warsi telah kembali berada di arena, sementara beberapa orang laki-laki telah kembali berdesakan.

Namun yang diberi kesempatan pertama untuk menari bersamanya adalah orang gemuk pemilik rumah itu. Ternyata bahwa kesempatan kedua ini pun telah dipergunakan sebaik-baiknya, sehingga keringatnya bagaikan terperas dari tubuhnya.

Tetapi kemudian Warsi pun menjadi sebagai-mana terjadi sebelumnya. Ia mulai memilih laki-laki yang seperti menjadi gila menunggu gilirannya. Bahkan yang dilakukan Warsi kemudian benar-benar telah memancing persoalan. Warsi sengaja memberi sampur itu kepada seseorang tetapi kemudian diambilnya lagi dan diberikan kepada orang lain. Tetapi yang benar-benar telah membuat arena itu menjadi gaduh, ketika dengan sengaja dan sadar, Warsi meletakkan sampur itu di atas dua belah tangan dari dua orang laki-laki yang sedang berdesakan.

Kedua orang itu pun kemudian saling berebut sampur itu. Masing-masing tidak mau mengalah, sehingga akhirnya keduanya telah berkelahi dengan sengitnya.

Warsi tersenyum melihat perkelahian itu. Beberapa orang justru menyibak, sementara kedua orang laki-laki itu telah mengerahkan kekuatan mereka masing-masing.

Dalam pada itu, sampur yang mereka perebutkan itu justru telah jatuh ditanah. Tanpa menghiraukan perkelahian itu Warsi telah memungut sampur itu dan melambaikannya kepada laki-laki lain yang sedang kebingungan.

Laki-laki itu tertegun melihat sikap Warsi. Tetapi kemudian justru tersenyum manis. Didekatinya laki-laki itu dan ditariknya ke tengah arena.

Dalam kebingungan laki-laki itu tidak me-lawan. Bahkan kemudian Warsi mulai menggerak-gerakkan tangan orang itu, maka orang itu pun mulai menari. Tetapi sementara itu, Warsi justru telah melemparkan sampurnya kepada laki-laki yang lain lagi, yang kemudian turun pula ke arena.

“Minggir kau,” teriak laki-laki yang membawa sampur.

Tetapi Warsi masih saja menari berhadapan dengan laki-laki itu sambil tersenyum cerah. Wajahnya menjadi semakin cantik dan gerakannya pun menjadi semakin panas.

Karena itu, laki-laki itu tidak mau pergi. Ketika laki-laki yang membawa sampur itu mendesaknya itu pun telah pula ditinjunya.

Keduanya pun kemudian telah berkelahi pula. Keduanya tidak mau mengalah dan tidak mau menepi.

Arena itu pun kemudian menjadi kacau. Dua lingkar perkelahian telah terjadi. Orang-orang yang berusaha memisah, justru telah terlibat pula. Mereka mulai berpihak kepada kawannya yang sedang berkelahi itu, sehingga perkelahian itu pun menjadi semakin kisruh.

Laki-laki gemuk pemilik rumah itu mulai menyadari, bahwa di halaman rumahnya telah terjadi perkelahian yang seru. Mereka telah berkelahi dimanapun di halaman itu, sehingga tanaman yang tumbuh di halaman dan dikebun telah menjadi rusak karenanya.

Laki-laki gemuk itu menjadi marah. Dengan tangkasnya ia meloncat ke atas tangga sambil berteriak, “Berhenti, semuanya berhenti.”

Tetapi laki-laki gemuk itu tidak sempat berteriak lagi . Ia sama sekali tidak

dapat melawan, ketika tangannya telah ditarik oleh Warsi sambil tersenyum manis. Bahkan kemudian sambil mengelus pundaknya Warsi berkata, “Biarlah terjadi, apa yang sudah terjadi. Biarlah mereka mendapat hukuman mereka, karena mereka tidak dapat menahan diri.”

Orang gemuk itu mengerutkan keningnya. Tetapi ketika dipandanginya wajah Warsi yang cantik dan senyumnya yang cerah, maka ia pun tidak dapat berbuat apa-apa.

Seperti kanak-kanak orang itu dibimbing oleh Warsi ke tangga pendapa dan kemudian mengajaknya untuk duduk bersama.

Sementara itu, para pengiring yang masih saja memukul gamelan menjadi bingung. Tidak ada lagi yang menari di halaman. yang ada justru orang-orang yang sedang berkelahi. Sekali-kali terdengar orang-orang yang mengaduh kesakitan, umpatan kasar dan perempuan yang menjerit-jerit. Namun Warsi sama sekali tidak memberikan isyarat agar gamelan itu berhenti. Bahkan ketika tukang gendang itu berusaha untuk mendapatkan isyarat dari Warsi, Warsi sama sekali tidak menghiraukannya.

“Pergilah kepada anak binal itu,” geram tukang gendang kepada salah seorang pengiring, “Tanyakan kepadanya, apakah gamelan ini sudah boleh berhenti.”

Orang itu pun segera berdiri dan mendekati Warsi yang sedang duduk di tangga pendapa dengan orang gemuk pemilik rumah itu. Sejenak ia ragu-ragu. Namun ia pun kemudian bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang gamelan itu?” Warsi memandang orang itu sejenak, sementara jantung orang itu pun sudah berdebar. Tetapi tiba-tiba saja Warsi tersenyum sabil berkata, “Hentikan.

Biarlah orang-orang itu memuaskan hatinya. Setelah wajah mereka menjadi merah biru, maka mereka tentu akan berhenti dengan sendirinya.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun dengan tergesa-gesa kembali dan memberitahukan hal itu kepada tukang gendang.

Karena itulah, maka sejenak kemudian suara gamelan itu pun telah berhenti. Sementara itu hiruk pikuk perkelahian di halaman itu pun sudah menjadi susut pula. Mereka yang sudah menjadi babak belur terhuyung-huyung meninggalkan halaman itu. Sementara yang lain pun mulai bertanya kepada diri sendiri, “Apa sebenarnya yang telah terjadi?”

Sementara itu, mereka melihat tledek itu duduk di tangga pendapa dengan pemilik rumah yang gemuk itu. Orang yang memang ditakuti oleh seisi padukuhan.

“Kita telah dipermainkan oleh perempuan binal itu,” tiba-tiba seseorang mengeluh.

“Ya. Dan kita bagaikan telah terbius untuk saling berkelahi,” jawab yang lain.

Beberapa orang yang mulai menyadari keadaan pun berusaha untuk melerai

kawan-kawannya yang masih berkelahi. Bahkan beberapa orang di antara mereka pun menjadi marah kepada Warsi yang masih saja duduk sambil tersenyum-senyum.

“Kita harus memberinya peringatan, bahwa tingkah lakunya telah membuat kita marah,” berkata salah seorang di antara laki-laki yang hidungnya berdarah. “Apa yang akan kita lakukan?” bertanya kawannya.

“Kita seret tledek itu ke tengah-tengah halaman. Kita buat perempuan itu malu sebagaimana kita telah dibuat olehnya.”

“Apakah kita akan memukulinya?” bertanya yang lain.

“Tidak. Kita seret perempuan itu dan kita bedaki wajahnya yang cantik itu dengan lumpur,” jawab yang hindungnya berdarah.

“Siapa yang akan melakukannya?” bertanya orang yang matanya menjadi biru. Ternyata pertanyaan itu telah membingungkan. Tidak ada orang yang dapat menjawabnya. Bahkan orang yang matanya menjadi biru itu berkata, “Perempuan itu tentu akan mendapat perlindungan dari kerbau dungu yang tergila-gila kepadanya itu. Sementara itu, kita telah melihatnya, bahwa tukang gendang tledek itu

memiliki kemampuan melampaui kerbau itu.”

Orang-orang yang mendengar kata-kata orang yang matanya biru dan mulai membengkak itu terdiam. Mereka sependapat dengan orang itu, bahwa tidak ada seorang pun yang akan dapat menghukum perempuan yang telah menimbulkan kegaduhan

di padukuhan itu.

Dalam pada itu, Warsi mulai memperlihatkan orang-orang yang satu demi satu meninggalkan halaman itu. Mereka berjalan tertatih-tatih sambil menyeringai menahan sakit. Bahkan ada di antara mereka yang terpaksa dipapah oleh kawannya, karena kakinya rasa-rasanya telah patah dalam perkelahian yang ribut di halaman itu.

Sejenak Warsi termangu-mangu. Namun kemudian tiba-tiba saja ia bangkit. Pemilik rumah itu terkejut. Dicobanya untuk menahan tangan Warsi. Tetapi tangan orang gemuk itu telah dikibaskannya, sehingga pegangannya pun telah lepas.

Tidak seorang pun yang tahu apa sebabnya, ketika tiba-tiba saja Warsi telah berlari kebilik yang sudah disediakan baginya. Pemilik rumah itu kemudian

bangkit sambil memandanginya dengan wajah yang tegang. Sekali-kali ia memandang tukang gendang yang kemudian telah bangkit pula.

Jantung orang gemuk itu menjadi semakin cepat berdetak ketika ia melihat tukang gendang yang dikiranya adalah suami tledek itu melangkah satu-satu. Dengan sorot mata yang tajam tukang gendang itu mendekatinya.

“Aku tidak berbuat apa-apa. Aku hanya duduk saja. Istrimulah yang membimbingku dan membawaku duduk disini,” berkata orang itu gagap sebelum tukang gendang itu bertanya sepatah kata pun.

Tukang gendang itu berdiri tegak dengan kaki renggang. Sementara orang yang gemuk itu menjadi semakin ketakutan.

Kemudian dengan nada berat tukang gendang itu bertanya, “Kau tentu menyentuhnya. Justru disaat ia tidak menghendaki.”

“Tidak. Sungguh mati aku tidak menyentuhnya. Malahan istrimu yang menyentuhku,” jawab laki-laki gemuk yang ketakutan itu.

Tukang gendang itu tidak bertanya lagi. Tiba-tiba saja ia pun meninggalkan pemilik rumah itu dan menyusul Warsi ke dalam biliknya.

Tukang gendang itu tertegun ketika ia melangkah memasuki pintu. Dilihatnya Warsi tidur menelungkup masih lengkap dengan pakaian penarinya, menangis tersedu-sedu.

“Warsi,” desis tukang gendang yang kemudian duduk disebelahnya, “Apa yang sebenarnya terjadi atas dirimu?”

Warsi tidak segera menjawab. Namun ia pun kemudian bangkit dan duduk disisi tukang gendang itu.

Dengan sampurnya ia mengusap air matanya yang masih saja mengalir, menghanyutkan bedaknya yang masih tersisa.

“Tingkah lakumu memang sulit dimengerti Warsi. Aku tahu akan hal itu. Tetapi kali ini kau benar-benar membuat aku kehilangan akal. Aku bukan saja tidak mengerti, tetapi kau telah membingungkan aku dan kawan-kawan kita yang pergi bersama kita,” desis tukang gendang itu.

“Aku memang sudah menjadi gila,” jawab Warsi disela-sela isaknya yang belum mereda, “Kegagalanku untuk membunuh anak Sembojan itu benar-benar membuat hatiku

bagaikan diguncang oleh ketidakpastian.”

“Aku adalah orang tua Warsi,” berkata penggendang itu, “Aku sudah dapat melihat meskipun samar-samar, apa yang telah terjadi di dalam dirimu.”

Warsi tidak menyahut. Dibiarkannya pengendangnya itu berkata selanjutnya, “Kau tidak dapat membunuh laki-laki itu karena kau adalah seorang perempuan yang pada satu saat telah terlibat dalam garis getaran batin terhadap laki-laki.”

Warsi menutup wajahnya dengan sampurnya. Tangisnya justru menjadi semakin mengeras. Dengan sendat ia berkata, “Aku berusaha melupakannya dengan membuat satu permainan. Siang tadi aku merasa kurang puas. Aku ingin melihat laki-laki padukuhan ini saling berkelahi. Tetapi setelah hal itu terjadi, ternyata tidak memuaskan aku. Juga usahaku untuk menemukan seorang laki-laki yang dapat sekadar mengisi kekosongan hatiku pun sama sekali tidak berhasil.

Suara Warsi hilang ditelan isaknya. Sementara itu, pengendangnya pun berkata, “Sudahlah. Kita akan segera kembali. Kita akan melaporkan semua yang telah terjadi.”

“Apakah ayah tidak akan marah kepadaku?” bertanya Warsi sambil menangis. “Kau katakan saja apa yang sebenarnya terjadi di dalam hatimu. Bagaimana pun

juga kau adalah seorang perempuan yang mempunyai penilaian yang sangat pribadi terhadap seorang laki-laki. Ternyata Wiradana, laki-laki Sembojan itu telah

memikat hatimu sehingga kau tidak sampai hati untuk membunuhnya,” berkata tukang gendangnya.

“Aku dihadapkan pada satu kesulitan untuk memilih. Jika aku tetap pada sikapku sekarang dengan tidak membunuhnya apakah aku akan dapat mempertanggungjawabkan

hal ini kepada ayah. Padahal kaupun tahu, ayah terlalu kecewa dan marah atas kematian paman Kalamerta,” jawab Warsi.

Tukang gendang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Kau masih belum mencobanya. Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh ayahmu. Tetapi bagaimana pun juga, kau adalah anaknya. Menurut perhitunganku bagaimanapun juga ia mengasihi pamanmu, tetapi ia tentu lebih mengasihi anaknya sendiri.”

“Soalnya bukan sekadar adik dan anak,” jawab Warsi. “Soalnya adalah harga diri dan kehormatan.”

Pengendangnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,

“Kau telah dihantui oleh perasaanmu sendiri. Aku juga orang tua yang dirumah mempunyai anak meskipun berbeda dengan kedudukanmu. Aku juga seorang yang barangkali dapat disebut buas seperti serigala. Tetapi pada saat-saat hatiku

bening aku bermimpi agar anak-anakku mendapatkan kebahagiaan didalam hidupnya.” Warsi berusaha untuk berhenti menangis, meskipun dengan demikian ia bagaikan dicekik oleh isaknya sendiri. Namun akhirnya iapun menjadi tenang.

“Tidurlah,” berkata pengendangnya. “Besok kita akan meninggalkan tempat ini, langsung kembali. Tanpa singgah disepanjang jalan. Kau tidak akan menari lagi agar jiwamu yang luka itu tidak bergejolak sehingga dapat menimbulkan persoalan-persoalan baru.”

SIKAP Warsi ternyata agak berbeda. Biasanya ia tidak mau tunduk kepada siapapun juga. Ia lebih senang menuruti keinginannya sendiri. Namun saat itu, ternyata bahwa ia dapat mengerti petunjuk pengendangnya yang dipadukuhan itu diaku sebagai suaminya, tetapi di Tanah Perdikan Sembojan disebutnya sebagai ayahnya. Dalam pada itu, Warsi pun kemudian membaringkan dirinya masih lengkap dengan pakaiannya. Sejenak ia merenung, sementara itu, pengendangnya pun telah bangkit berdiri dan berkata, "Aku pun akan bersiap-siap."

Ketika pengendangnya kemudian keluar dari biliknya, langkahnya tiba-tiba tertegun. Dilihatnya pemilik rumah yang gemuk itu berdiri termangu-mangu. "Apa yang telah terjadi?" bertanya orang gemuk itu.

"Ada sesuatu yang mengganggunya," jawab pengendangnya.

"Maksudmu ada orang yang mengganggu dengan halus, maksudku dengan guna-guna atau tenung?" desak pemilik rumah itu.

"Ya. Tetapi segalanya telah teratasi," jawab tukang gendang itu sambil memegang hulu kerisnya. "Keris ini tidak dapat dikalahkan dengan cara apapun juga. Aku telah mengusirnya dan agaknya tidak dengan sengaja aku telah melukai seseorang. Mudah-mudahan orang itu tidak mati," jawab tukang gendang itu.

"Maksudmu orang padukuhan ini? Aku akan menyelesaikannya," geram orang gemuk itu.

"Aku tidak tahu. Tetapi mungkin orang padukuhan lain yang kami datangi di malam-malam sebelumnya," jawab tukang gendang itu.

Orang bertubuh gemuk itu menjadi semakin ketakutan terhadap tukang gendang yang mengaku suami dari tledek yang cantik itu.

Kecuali ia memang pernah dikalahkan, ternyata orang itu memiliki kemampuan untuk melawan tenung dengan sebuah pusaka yang menurut tukang gendang itu tidak dapat dikalahkan dengan cara apapun juga.

Dalam pada itu, maka tukang gendang itu pun kemudian telah pergi kepada teman-temannya. Di sisa malam itu juga mereka harus berkemas. Besok pagi-pagi benar mereka akan meninggalkan padukuhan ini.

Menjelang fajar, Warsi telah bangkit dari pembaringannya. Ia memang tidak tidur barang sekejap pun. Setelah melepas pakaian tarinya maka Warsi pun segera pergi ke pakiwan.

Namun sesuatu telah terjadi, sama sekali diluar dugaan Warsi sendiri. Ketika ia berada di dalam pakiwan, tiba-tiba saja seorang laki-laki yang mengenakan sebuah topeng telah meloncat masuk. dengan pisau terhunus laki-laki itu mengancam, "Jangan berteriak tledek yang binal. Kau telah mengacaukan kehidupan padukuhan ini. Kau telah membuat kami saling berkelahi. Karena itu, maka kau harus mendapat hukuman.

"Apa yang telah aku lakukan?" bertanya Warsi. "Bukankah mereka saling berkelahi atas kehendak sendiri?"

"Jika kau tidak sengaja memancing kekeruhan, maka perkelahian itu tidak akan terjadi. Orang-orang padukuhan ini biasanya hidup rukun. Tetapi kehadiranmu telah merusakkan persaudaraan itu."

"Jadi apa maksudmu sekarang?" bertanya Warsi.

"Ikut aku, sejak keributan itu berakhir aku menunggu kesempatan seperti ini," jawab laki-laki itu. "Kemana?" bertanya Warsi.

"Kau harus menebus kebinalanmu," jawab laki-laki itu sambil mengacungkan pisaunya ke dada Warsi. Lalu katanya, "Kau harus menebus bengkak-bengkak di pundakku dengan kecantikanmu."

"Kau sudah gila," desis Warsi.

"Ya, aku memang sudah gila. Tetapi kaulah yang menyebabkan aku gila. Bahkan laki-laki sepadukuhan ini menjadi gila," jawab laki-laki itu.

WARSI merenungi wajah laki-laki itu. Fajar masih belum menyingsing, sehingga dini masih disapu oleh keremangan sisa malam.

"Cepat ikut aku sebelum fajar," bentak orang itu.

Warsi berusaha untuk menahan diri. Katanya, "Tinggalkan aku sendiri. Aku akan mandi."

"Jangan membantah. Pisauku dapat membelah dadamu dan kencantikanmu akan tinggal

menjadi dongeng saja," geram laki-laki itu.

"Jika suamiku mengetahui hal ini, kau akan dibunuhnya. Bukankah kau tahu, bahwa pemilik rumah ini yang kalian takuti itu pun dapat dikalahkannya?" berkata

Warsi.

"Karena itu, aku berbuat sebagaimana aku lakukan sekarang, agar suamimu tidak mengatahui," jawab laki-laki itu. Lalu, "Cepat. Ikuti aku ke rumah yang akan aku tunjukkan kepadamu. Rumah pamanku yang kosong."

"Jangan bodoh," desis Warsi. "Jika aku hilang, maka suamiku dan pemilik rumah ini akan mencari aku diseluruh padukuhan. Akhirnya kita akan diketemukan juga." "Aku bukan sedungu kerbau anak manis," jawab laki-laki itu. "Kau memang akan diketemukan di rumah yang kosong itu. Tetapi tanpa aku. Kau sendiri terkapar sambil merintih. Dengan demikian kau sudah menebus kebinalanmu."

"Aku akan mengatakan siapa yang membawa aku," jawab Warsi. "Kau tidak akan mengenal aku," jawab laki-laki itu.

Warsi memandang wajah laki-laki itu. Wajah yang tertutup oleh topeng yang buruk.

Tetapi menurut bayangan Warsi, wajah laki-laki itu sendiri tidak lebih dari topeng yang dikenakannya.

Dalam pada itu, Warsi mulai menjadi jemu melayani laki-laki gila itu. Tetapi terasa ada juga sedikit kebanggaan dihati perempuan itu. Ia menjadi semakin yakin, bahwa ia memang cantik, sehingga beberapa orang laki-laki benar-benar telah kehilangan akal. Bahkan ada juga laki-laki yang berusaha untuk mengambilnya.

"Laki-laki ini terlalu berani," berkata Warsi didalam hatinya. Namun tiba-tiba saja ia menjadi sangat benci kepada laki-laki itu. Justru karena Warsi membayangkan wajah laki-laki itu sebagai wajah topeng yang dikenakannya. "Cepat," laki-laki itu membentak. Ketika Warsi masih saja berdiam diri, maka tiba-tiba saja laki-laki itu menggapai lengan Warsi dan berusaha menariknya. Selangkah Warsi membiarkan dirinya terseret oleh tangan laki-laki itu. Namun kemudian langkahnya terhenti dimuka pintu pakiwan.

"Aku dapat berteriak," desis Warsi.

"Jika kau berteriak, kau akan mati," ancam laki-laki bertopeng itu.

"Jangan membuat aku menjadi muak. Lepaskan," berkata Warsi kemudian. "Cepat. Jangan banyak bicara," bentak orang itu.

Ketika Warsi menengadahkan wajahnya, maka dilihatnya cahaya merah sudah membayang dilangit. Tiba-tiba saja ia menghentakkan kaki dan berusaha untuk berlari.

Laki-laki itu terkejut. Dalam waktu yang sekejap itu ia benar-benar kehilangan akal, sehingga ia tidak mempunyai pilihan lain daripada mempergunakan pisaunya.

Nalarnya yang tiba-tiba saja menjadi buntu telah mendorongnya untuk mengejarnya sambil mengayunkan pisaunya, justru oleh perasaan takut yang menghentak.

Sebenarnya Warsi tidak perlu melarikan diri. Jika ia melakukannya, maka ia sekadar ingin tahu, apakah laki-laki itu benar-benar akan membunuhnya.

Ternyata bahwa Warsi pun kemudian melihat laki-laki itu benar-benar mengayunkan pisaunya ke arah punggungnya.

Namun yang terjadi kemudian sama sekali tidak sebagaimana dibayangkan oleh laki-laki itu.

KETIKA pisau itu terayun kepunggung Warsi, maka terasa tangan laki-laki itu telah diterkam oleh kekuatan yang tidak dapat diukurnya, sehingga tangannya seakan-akan menjadi remuk karenanya. Sejenak kemudian maka tangan itu sudah

terpilin menyamping, sementara terdengar suara lembut ditelinganya, "Inikah yang kau kehendaki anak manis."

Orang itu sempat berpaling. Dilihatnya Warsi berdiri disampingnya sambil memegang tangannya yang terpilin itu.

"Baiklah," berkata Warsi. "Bawalah aku ke rumah pamanmu. Apa saja yang kau kehendaki aku tidak akan menolak."

Kata-kata itu sangat membingungkan laki-laki yang kesakitan itu. Karena itu, maka sejenak kemudian ia berdesis. "Lepaskan. Tanganku sakit."

"Tanganmu inilah yang akan kau pergunakan untuk benar-benar membunuhku. Kau tidak hanya mengancam dan bermain-main. Tetapi kau benar-benar akan membunuh," geram Warsi tiba-tiba.

Wajah yang cantik dan kata-kata yang lembut itu tiba-tiba saja telah berubah.

Wajah itu bagaikan menjadi wajah hantu betina yang menyeramkan dan suaranya pun telah berubah pula bagaikan ringkik hantu yang sedang marah.

Laki-laki itulah yang kemudian akan menjerit. Tetapi tiba-tiba saja suaranya patah sebelum terloncat dari sela-sela bibirnya. Tangannya yang terpilin itu terasa benar-benar patah. Namun pisau yang digenggamnya itu ternyata telah terhunjam di lambungnya sendiri.

Laki-laki itu tidak sempat berteriak. Tubuhnya kemudian terhuyung-huyung. Warsi masih sempat menahannya dan meletakkannya perlahan-lahan.

Sejenak Warsi memandang tubuh yang terbujur itu. Baru kemudian ia melangkah pergi dan kembali ke pakiwan. Dan sesaat kemudian yang terdengar adalah debur air yang segar di pagi hari menjelang matahari terbit.

Tanpa kesan apapun Warsi pun telah kembali ke dalam biliknya. Pagi itu

iring-iringan pengamen itu akan meninggalkan padukuhan yang telah sempat menjadi ribut. Beberapa orang laki-laki telah menjadi korban kegilaan mereka dan saling menghantam di antara mereka, sehingga beberapa orang telah menjadi luka-luka.

Dalam pada itu, ternyata pemilik rumah itu pun masih sempat menyuruh para pelayannya bahkan istrinya untuk menyediakan minuman panas bagi rombongan tledek itu. Seperti yang dijanjikan maka ia telah menyediakan uang taruhan dan bahkan

lebih dari itu.

Demikian matahari naik dilangit, maka pengendang dari rombongan pengamen itu pun telah minta diri. Mereka akan melanjutkan pengembaraan mereka sebagaimana selalu mereka lakukan.

"Sebenarnya kalian tidak usah mengembara," berkata orang gemuk itu, "Jika kalian mau tinggal disini, maka segala kebutuhan kalian akan aku cukupi."

Wajah pengendang itu menjadi tegang. Dengan nada yang tiba-tiba menjadi garang itu bertanya, "Dan istriku harus menjadi selirmu?"

"O, tidak. Tidak. Bukan maksudku begitu. Aku sudah puas dengan menari saja bersamanya," jawab orang gemuk itu.

"Sekarang kau berkata begitu. Tetapi jika aku benar-benar tinggal disini, maka

kau tentu akan mulai bertingkah. Dan kami yang merasa berhutang budi kepadamu, tidak akan dapat menentang lagi niat iblismu," geram pengendang itu.

"Tidak. Tentu tidak," jawab orang gemuk itu dengan wajah yang pucat. Namun tiba-tiba saja penari yang cantik itu telah menggamit pengendangnya.

Sambil tersenyum ia berkata kepada pemilik rumah itu, "Kami mohon maaf atas segala kekasaran dan kesalahan kami. Sekarang biarlah kami mohon diri. Tetapi kami, terutama aku sendiri tidak akan melupakan rumah ini dengan segala kemurahan hatimu."

“Ah,” orang gemuk itu hanya berdesah saja. Tetapi ia justru tidak dapat menjawab.

Sejenak kemudian, maka sekelompok pangamen itu telah bersiap untuk pergi. Para pengiring sudah mempersiapkan gamelan yang akan mereka usung di atas pundak. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja rumah itu menjadi gempar. Seseorang telah berteriak-teriak seperti kerasukan setan.

“Ada apa?” bertanya beberapa orang yang mendengar keributan itu.

Beberapa orang pun kemudian berlari-larian. Mereka dengan cemas mengguncang tubuh seorang perempuan yang berteriak-teriak tidak menentu.

“Ada apa? Ada apa?” bertanya seorang laki-laki tua.

Sementara itu pemilik rumah yang gemuk itu pun telah mendekat pula. Dengan lantang ia berkata, “Jangan diguncang-guncang begitu. Ia justru akan semakin bingung.”

Beberapa orang pun kemudian menyibak. Orang yang bertubuh gemuk itulah yang kemudian bertanya, “Ada apa? Kau melihat apa?”

Perempuan itu tidak menjawab. Ia masih saja berteriak-teriak. Namun kemudian ia pun menunjuk ke satu arah, di sebelah pakiwan.

Orang bertubuh gemuk itu pun segera meloncat. Namun langkahnya pun tertegun. Dilihatnya sesosok tubuh yang terbaring di dekat pakiwan itu. Dari lambungnya mengalir darah yang membasahi tanah yang lembab.

“Siapa orang ini?” desis pemilik rumah itu.

Beberapa orang telah berkerumun pula. Ketika seseorang berjongkok disamping mayat itu, orang itu pun berdesis, “Ia mengenakan topeng.” “Lepaskan topeng itu,” perintah pemilik rumah yang gemuk itu.

Orang yang berjongkok itu pun kemudian berusaha untuk melepaskan topeng itu. Namun demikian topeng itu terlepas, maka orang-orang yang mengelilingi tubuh yang terbaring itu ter-kejut. Orang itu adalah orang padukuhan itu sendiri. “Kenapa orang ini?” desis seseorang.

“Mungkin ia terbunuh ketika terjadi perkelahian yang kisruh itu,” sahut yang lain.

“Tetapi kenapa ia mempergunakan topeng,” bertanya yang lain lagi.

Ternyata teka-teki itu tidak terjawab. Berlari-lari seseorang telah

memberitahukan kematian orang itu kepada keluarganya, sementara orang gemuk pemilik rumah itu pun telah menemui sekelompok orang-orang ngamen yang akan meninggalkan rumahnya.

“Satu peristiwa yang aneh,” berkata orang yang gemuk itu. “Apa yang terjadi?” bertanya Warsi.

Orang gemuk itu pun kemudian menceriterakan apa yang dilihatnya. “Mungkinkah hal itu terjadi karena kehadiranku disini?” bertanya Warsi dengan penuh penyesalan. “Jika demikian maka kehadiranku di padukuhan ini, dan justru

karena aku telah berusaha menghibur tetangga-tetangga semalam, akibatnya adalah sebuah kematian.”

“Tidak,” jawab orang gemuk itu dengan serta merta karena ia menjadi cemas, bahwa penari itu tidak akan mau datang lagi kelak, “Tentu ada sebab lain. Jika

perkelahian yang telah terjadi itu memang merenggut nyawanya, ia tentu tidak

sempat mempergunakan topeng. Menurut dugaanku tentu ada persoalan lain meskipun sulit untuk ditebak. Dan tentu merupakan satu perkelahian yang sukar sekali

untuk menemukan pembunuhnya.”

Warsi mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Dengan demikian, apakah aku akan dapat melanjutkan perjalananku?”

Orang gemuk itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja timbul satu keinginan

untuk mempergunakan kesempatan itu menahan kepergian sekelompok pengamen yang membawa perempuan yang cantik itu. Katanya, “Sebenarnya memang tidak ada keberatan apapun. Tetapi sebaiknya kalian menunggu sampai persoalan ini menjadi jelas. Kami tentu akan melaporkan kepada Ki Demang. Sementara itu, kalian tetap tinggal disini.”

Wajah pengendang itu tiba-tiba menjadi tegang. Katanya, “Jadi kau mencurigai kami, atau salah seorang di antara kami?”

“Tidak. Bukan maksudku,” jawab orang gemuk itu.

“Jadi apa maksudmu, bahwa kau berusaha menahan keberangkatan kami? Kalau kau mencurigai salah seorang dari kami, katakanlah berterus terang. Siapakah yang

telah melakukan pembunuhan itu. Dan kenapa orang itu justru bertopeng. Tetapi jika tidak, biarlah kami melanjutkan perjalanan,” berkata pengendang itu sambil bangkit berdiri.

Namun Warsi telah mengamitnya. Sambil tersenyum ia berkata, “Sebaiknya, beri kesempatan kami untuk berangkat, agar kesan kami terhadap padukuhan ini tetap baik. Dengan demikian, akan ada keinginan kami untuk kembali ke padukuhan ini pada saat lain.”

Orang gemuk itu mengerutkan keningnya. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia pun berkata, “Baiklah, jika hal itu memang sudah menjadi keputusan kalian. Silakan.

Kami memang tidak dapat menahanmu lebih lama lagi tinggal di padukuhan ini.” “Terima kasih,” jawab Warsi sambil tersenyum. Katanya kemudian, “Kami akan langsung kembali ke rumah kami. Kami tidak akan ngamen lagi disepanjang jalan pulang, karena kami telah mendapat bekal yang terlalu banyak bagi anak-anak kami di rumah.”

“Itu tidak seberapa,” berkata orang gemuk itu, “Jika lain kali kalian datang, maka aku akan memberi kalian lebih banyak lagi.”

Dengan demikian, maka sekelompok pengamen itu, sama sekali tidak menunggu penyelesaian tentang orang yang terbunuh di halaman rumah orang gemuk itu. Yang menjadi teka-teki adalah justru orang itu berusaha menyembunyikan wajah aslinya dengan mempergunakan topeng. Dengan demikian maka orang-orang telah menduganya

bahwa orang itu datang dengan maksud yang tidak sewajarnya.

“Tetapi siapakah yang telah membunuhnya?” pertanyaan itu pun telah mengganggu perasaan orang-orang yang menyaksikannya.

Namun dalam pada itu, keluarga orang yang terbunuh itu telah menyatakan menerima peristiwa itu sebagai satu bencana bagi keluarga mereka. Mereka tidak akan mempersoalkannya lebih lanjut, karena mereka pun menyadari, bahwa tentu ada ketidakwajaran dalam tingkah laku orang yang terbunuh itu. Sehingga dengan demikian maka keluarga orang yang terbunuh itu menganggap bahwa persoalannya telah selesai. Dalam pada itu, Warsi dan iring-iringannya telah meninggalkan padukuhan itu. Warsi tidak mengenakan pakaian seorang penari, sementara para pengiringnya telah membawa gamelan tidak dalam keadaan siap untuk dimainkan.

Sementara itu, tiba-tiba saja seorang di antara para pengiring Warsi berdesis, “Kematian yang memang aneh. Orang bertopeng itu memberikan kesan yang ganjil. Sangat ganjil.”

Warsi memandang orang itu sejenak. Ketika ia berpaling kepada pengendangnya, maka pengendangnya itu pun sedang memandanginya dengan tajamnya. “Kenapa kau memandang aku begitu?” bertanya Warsi.

“Bagaimana aku memandangmu?” orang itu ganti bertanya.

Tiba-tiba saja Warsi menarik nafas dalam-dalam sambil menjawab dengan nada dalam, “Aku memang yang membunuhnya.”

Pengendangnya itu hampir saja berdesis, “Aku sudah menduga. Untunglah bahwa ia sempat menahan diri, sehingga ia tidak mengucapkannya. Namun yang kurang dimengertinya, kenapa laki-laki itu mempergunakan sebuah topeng.

Tanpa diminta, maka Warsi pun kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi di pakiwan, sehingga karena ia menjadi sangat muak terhadap tingkah laku laki-laki itu, maka laki-laki itu telah dibunuhnya.

Pengendang dan para pengiring lainnya pun menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka mengerti, kenapa Warsi telah membunuh orang itu. Apalagi Warsi menganggap bahwa orang itu pun benar-benar berusaha membunuhnya.

Tidak seorang pun di antara para pengiringnya yang mempertanyakannya. Pengendangnya itu pun tidak. Sementara Warsi sendirilah yang kemudian berkata, “Aku tidak dapat menyakitinya tanpa membunuhnya. Jika ia tidak mati, ia akan berceritera tentang aku.”

Para pengiringnya masih berdiam diri. Mereka tidak tahu, tanggapan apakah yang sebaiknya diberikan tentang hal itu.

Namun agaknya Warsi pun tidak menghiraukan tanggapan para pengiringnya. Ia tidak menanyakannya dan kemudian persoalan itu pun seolah-olah telah dilupakannya.

Namun yang menjadi persoalan kemudian adalah kemungkinan ada orang yang dapat mengenal mereka. Karena itu, maka untuk perjalanan berikutnya, mereka telah memilih malam hari. Dengan demikian, sebagaimana saat mereka berangkat, tidak seorang pun yang akan dapat mengenali mereka. Terutama orang-orang yang telah mengenal mereka dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dalam rombongan kecil itu, orang-orang yang telah mengenal mereka akan menjadi curiga.

Demikianlah, maka setelah menempuh perjalanan yang menegangkan, maka akhirnya Warsi telah berjalan mendekati rumahnya. Di tengah malam iring-iringan kecil itu menuju ke sebuah padukuhan yang cukup besar.

Semakin dekat mereka dengan padukuhan itu, maka jantung Warsi terasa berdentangan semakin cepat. Ia harus mempertanggungjawabkan semua yang telah dilakukannya kepada ayahnya. Ia harus melaporkan kegagalannya untuk membunuh Wiradana apalagi Ki Gede Sembojan. Sehingga dengan demikian, maka dendam atas kematian Kalamerta masih belum dapat ditebusnya.

Hampir di luar sadarnya, ketika iring-iringan itu mendekati padukuhannya, maka tiba-tiba saja Warsi berhenti. Sejenak ia berpaling kepada para pengiringnya.

Bahkan kemudian ia pun telah melangkah menepi duduk di atas sebuah batu padas dipinggir jalan.

“Warsi,” desis pengendangnya, “Marilah. Kita tinggal selangkah lagi.”

Warsi termangu-mangu. Bahkan rasa-rasanya nafasnya menjadi semakin sesak. Rasa-rasanya ingin ia berteriak keras-keras untuk melepaskan himpitan pada perasaannya. Namun untunglah bahwa nalarnya masih dapat mengekangnya.

“Warsi,” pengendangnya itu pun kemudian duduk disebelahnya. Meskipun ia termasuk salah seorang yang buas dan garang dalam lingkungannya, tetapi pada saat ia

merasa dirinya sebagai seorang yang telah berusia tua menghadapi seseorang gadis yang sedang bergejolak jiwanya. Katanya kemudian, “Marilah. Segala sesuatunya dapat kita bicarakan di rumah. Kau tidak akan dapat merenungi segalanya itu

untuk mendapatkan satu penyelesaian. Kau harus menghadap ayahmu dan mengatakan semuanya dengan utuh.”

Warsi mengusap matanya yang mulai basah. Namun kemudian ia pun menengadahkan wajahnya sambil berdesis, “Marilah. Kita akan melanjutkan perjalanan.”

Warsi berusaha untuk berjalan dengan menengadahkan kepalanya. Ia ingin tetap merupakan seorang gadis yang garang dihadapan ayahnya.

Namun demikian, Warsi tidak dapat ingkar kepada dirinya sendiri. Ketika ia memasuki regol halaman rumahnya, jantungnya terasa berdentang semakin cepat. Meskipun rumah itu bukan rumah seorang demang, atau seorang bebahu padukuhan yang penting, apalagi rumah seorang Kepala Perdikan, namun setiap saat rumah itu selalu dijaga oleh dua orang pengikut ayahnya yang setia, sebagaimana para pengiring yang menyertainya ngamen ke Tanah Perdikan Sembojan. Ketika dua orang penjaga itu melihat sekelompok orang memasuki halaman, mereka pun segera bersiaga. Tetapi demikian cahaya obor menggapai wajah Warsi, maka kedua orang itu pun menarik nafas dalam-dalam. Sambil menyongsong kedatangan iring-iringan kecil itu, maka salah seorang di antara mereka bertanya, “Kapan

kalian datang, he?”

Warsi yang berada dipaling depan tidak menyahut. Ia langsung menuju ketangga pendapa dengan diikuti oleh para pengiringnya.

Penjaga yang bertanya itu merasa tersinggung. Sambil berjalan disisi Warsi ia mengulangi pertanyaannya, “Kapan kalian datang?”

Warsi berpaling ke arahnya. Dipandanginya penjaga itu dengan tajamnya. Dengan nada datar ia bergumam, “Kau lihat, bahwa kami baru saja datang? Jika kau bertanya sekali lagi, aku patahkan semua gigimu.”

Penjaga itu mengerutkan keningnya. Namun ia benar-benar tidak berani bertanya lagi. Ia sudah mengenal watak dan sifat Warsi. Karena itu, ia pun bahkan

bergeser menjauh. Ketika Warsi kemudian naik ke pendapa, maka kedua penjaga itu justru tetap tinggal di halaman.

“Ketuk pintu,” desis Warsi.

Pengendangnya kemudian melangkah ke pintu dan mengetuknya perlahan-lahan. Sejenak kemudian, maka pintu pun terbuka. Seorang laki-laki berambut putih berdiri dipintu.

Demikian ia melihat Warsi, maka orang itu pun tersenyum. Ditepuknya pundak anak perempuannya sambil berdesis, “Marilah Warsi. Aku tahu bahwa kau akan kembali dengan selamat dengan membawa hasil yang gemilang.”

Warsi menundukkan kepalanya. Tetapi ayahnya kemudian membimbingnya masuk ke ruang dalam. Katanya kepada para pengiring,

“Marilah. Masuklah. Biarlah gamelan itu kalian tinggalkan saja di pendapa.”

Para pengiring Warsi itu pun kemudian mengikuti masuk ke ruang dalam. Mereka pun kemudian duduk disehelai tikar pandan yang terbentang di tengah-tengah ruang dalam itu.

Ternyata suasana di ruang itu terasa tegang. Wajah-wajah pun menjadi suram dan jantung pun terasa berdegupan.

Sekali-kali para pengiring itu berusaha untuk dapat menatap wajah Warsi. Tetapi Warsi yang mereka kenal sebagai seorang gadis yang garang itu, nampak menunduk dengan wajah yang muram. Orang tua berambut putih itu ternyata mampu menangkap suasana yang dihadapinya. Ia melihat wajah-wajah yang muram dan suasana yang mencengkam sekelompok orang yang baru saja datang dari Sembojan itu.

Karena itu, maka ia tidak sabar lagi. Dengan serta merta maka ia pun kemudian bertanya, “Warsi. Apakah kau berhasil membalas dendam pamanmu? Apakah anak Kepala Tanah Perdikan Sembojan itu sudah kau bunuh, atau justru Kepala Tanah Perdikan itu sendiri?”

Jantung Warsi terasa bagaikan runtuh dari tangkainya. Pertanyaan itu memang sudah ditunggunya. Namun ia masih juga merasakan ketegangan yang luar biasa mencengkam dadanya.

“Warsi,” berkata ayahnya pula. “Sikapmu dan para pengiringmu membuat aku berdebar-debar. Sebenarnya aku ingin mempersilakan kalian beristirahat. Minum minuman panas dan barangkali mandi dan membersihkan diri setelah menempuh perjalanan. Tetapi aku tidak dapat menunggu justru karena sikap kalian semuanya.”

“Ayah,” berkata Warsi kemudian, “Aku sudah berusaha untuk melakukan perintah ayah sebaik-baiknya. Tetapi ternyata aku telah gagal.”

“Aku baca dari ungkapan wajahmu,” berkata ayahnya. “Kenapa kau gagal?” Apakah kau tidak mendapat kesempatan untuk membunuhnya atau kau sudah mencobanya, tetapi anak itu memiliki kemampuan melampaui kemampuanmu?”

Jantung Warsi bagaikan akan meledak. Tetapi ia sudah bertekad untuk segera mengatakannya. Apapun yang terjadi.

Karena itu, maka ia pun kemudian bergeser setapak sambil berdesis, “Aku akan mengatakan segalanya ayah. Sebelumnya aku mohon ayah memaafkan aku.”

Wajah ayahnya menjadi semakin berkerut. Namun ia pun memberi kesempatan kepada anaknya untuk mengatakan persoalan yang dibawanya dari Sembojan.

Warsipun kemudian menceriterakan sejak awal hingga akhir perjalanan sampai ia memasuki kembali regol rumahnya dengan hati yang berdebar-debar.

Wajah ayahnya menjadi merah, sementara telinganya bagaikan di sentuh api. Dengan suara bergetar ia berkata, “Anak iblis. Jadi kau korbankan harga dirimu sebagai kemenakan Kalamerta?”

“Bukan maksudku ayah,” jawab Warsi. “Tetapi aku tidak dapat melakukannya. Ada sesuatu yang telah menahan diriku, justru di dalam.”

“Kau sudah ditempa oleh satu keadaan yang aku kira akan dapat membuatmu menjadi masak lahir dan batin,” berrkata ayahnya dengan nada yang keras. “Ternyata bahwa hatimu terlalu lemah untuk melakukan tugas-tugas yang berat.”

“Aku mohon maaf ayah,” jawab Warsi. “Tetapi dalam hubungan kami yang singkat, pada saat-saat orang itu mengunjungi kami di banjar, terasa ada sesuatu yang menjerat perasaanku yang kemudian ternyata telah berkembang dan menghambat usahaku untuk membuhnya.”

“Persetan,” ayahnya hampir berteriak. “Kau telah terbius oleh ujud lahiriah yang seharusnya kau abaikan. Kau telah menjadi seorang yang sangat lemah hati dan bertekuk lutut dihadapan wajah yang tampan dari seorang yang telah membunuh pamanmu.”

“Bukan anak muda itu yang telah membunuh paman,” jawab Warsi.

“Tidak ada bedanya,” ayahnya benar-benar berteriak. “Ayahnya atau anaknya. Tetapi hal itu tidak kau lakukan. Nyawanya yang sudah berada di telapak tanganmu, telah kau lepaskan lagi,” ayahnya berhenti sejenak, sorot matanya bagaikan membakar tubuh Warsi. Namun tiba-tiba ia bertanya dengan nada yang

menekan, “Warsi, apakah kau sebenarnya hanya sekadar membual? Apakah sebenarnya kau telah dikalahkannya dan kau harus melarikan diri dari arena perkelahian?”

Wajah Warsi pun kemudian menjadi merah. Tetapi ia masih berusaha menahan dirinya, karena ia berharap dengan ayahnya. Namun demikian ia menjawab, “Laki-laki itu sudah terluka di seluruh tubuhnya. Aku tinggal menjerat lehernya saja setelah senjatanya terlepas. Tetapi aku tidak dapat melakukannya ayah.

Justru karena aku adalah seorang perempuan dan Wiradana adalah seorang laki-laki.”

“Itulah yang gila,” geram ayahnya. Bahkan dengan suara yang bergetar ayahnya pun kemudian berkata dengan suara lantang, “Warsi. Sekarang kau harus kembali ke Sembojan. Kau harus berhasil membunuh laki-laki keparat itu bersama ayahnya. Kau tidak mempunyai pilihan lain dari perintahku ini.”

Jantung Warsi bagaikan bergetar oleh runtuhnya Gunung Kelud. Dipandanginya ayahnya dengan tajamnya. Dengan suara yang sendat ia menjawab, “Ayah. Sudah aku katakan. Aku tidak dapat melakukannya. Ia terlalu tampan dan hatinya terlalu lembut untuk dibunuh karena kesalahan ayahnya.”

“Aku tidak mau mendengar alasan apapun lagi,” kata ayahnya.

Namun ternyata bahwa watak Warsilah yang kemudian melonjak dalam pembicaraan yang panas itu. Katanya, “Baik. Jika ayah tidak mau mendengar alasan-alasan, aku tidak akan menyebut satu alasan pun.”

“Jika demikian lakukan perintah ini. Sekarang kau harus kembali ke Sembojan.” “Tidak,” jawab Warsi tegas. “Aku tidak akan ke Sembojan dan aku tidak akan membunuh Wiradana.”

“Gila,” bentak ayahnya. “Warsi. Apakah kau sudah gila?”

Warsi tidak menjawab. Tetapi wajahnya masih saja nampak kemerah-merahan. “Warsi,” suara ayahnya semakin keras. “Kau harus pergi. Kau harus membela kehormatan keluarga kita. Kematian pamanmu merupakan salah satu penghinaan yang tidak dapat dimaafkan. Kau harus berhasil menebus penghinaan ini.”

Warsi sama sekali tidak menjawab, sementara ayahnya berteriak semakin meninggi, “Warsi. Apakah kau sudah menjadi tuli dan bisu he?”

Warsi bergeser setapak. Namun ketika ayahnya kemudian bangkit berdiri, maka Warsi pun telah berdiri pula sambil berkata, “Aku tidak akan melakukannya. Itu saja. Ayah tidak mau mendengar alasanku. Dan aku tidak akan memberikan alasan.” Kemarahan ayah Warsi telah sampai ke puncak. Selangkah ia maju. Tiba-tiba saja tangannya telah terayun menampar pipi anak gadisnya.

Warsi sama sekali tidak mengelak. Tetapi tamparan pada pipinya itu sama sekali tidak dirasakannya. Ia masih saja berdiri tegak sambil memandangi ayahnya yang bagaikan kesurupan itu.

Dalam pada itu, pengikut Warsi yang selama menjadi pengiringnya menjadi tukang gendang itu pun memberanikan diri untuk bergeser setapak sambil berkata, “Aku minta maaf, bahwa aku tidak berani mencampuri persoalan ini.”

Ayah Warsi yang berambut putih itu berpaling kepadanya. Namun tiba-tiba saja terdengar ia mengumpat, “Kau orang tua yang tidak tahu diri. Buat apa kau ikut bersamanya, jika kau sama sekali tidak dapat menentukan, apakah Warsi dapat melakukan tugasnya atau tidak.”

“Warsi masih belum memberikan alasannya yang paling mendasar,” berkata tukang gendang itu.

“Aku tahu. Ia tertarik kepada ketampanan wajah anak yang seharusnya dibunuhnya. Apalagi ia sudah kawin dan mempunyai ikatan paugeran yang kuat sebagai anak seorang Kepala Tanah Perdikan. Apa yang dapat dilakukan Warsi atasnya?

Merenunginya setiap malam dan kemudian menjadi gila?” berkata ayah Warsi. “Bukan begitu,” jawab pengendang itu. “Sebenarnya adalah sangat wajar jika seorang perempuan pada suatu saat tertarik kepada seorang laki-laki.” “O, jadi kau menganggap hal itu wajar? Apakah agaknya kau justru yang telah mencegah Warsi membunuh laki-laki itu? Kau yang telah mencari keuntungan dari kehinaan ini,” bentak ayah Warsi.

“Cobalah aku memberikan sedikit pendapatku tentang hal ini,” berkata orang itu. “Apa yang dapat kau katakan tentang anakku? Selama ini kau tidak mampu berbuat sesuatu bagi dirimu sendiri,” jawab ayah Warsi.

“Agaknya memang demikian,” desis orang itu. “Namun kali ini aku ingin mencoba berbicara serba sedikit tentang Warsi. Mungkin yang aku katakan ini tidak ada gunanya sama sekali. Tetapi mungkin akan dapat memberikan sedikit kemungkinan untuk menyelesaikan persoalan.”

Ayah Warsi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Katakan. Tetapi jika ternyata justru kau yang telah menyebabkan anakku berpikiran sesat, maka kaulah yang akan mengalami nasib yang paling buruk.”

Orang yang selama mengiringi Warsi ke Sembojan menjadi pengendang itu pun kemudian berkata, “Ada hal yang harus dipertimbangkan. Warsi adalah seorang gadis dan Wiradana adalah seorang laki-laki muda. Mereka bertemu dalam keadaan yang sangat khusus. Dan sebagai orang tua aku dapat mengatakan, bahwa keduanya menjadi saling tertarik. Bukankah itu wajar?”

“Tidak. Sama sekali tidak wajar. Wiradana sudah kawin dan ia adalah orang yang harus dibunuh karena ia menjadi sasaran dendam keluarga Kalamerta,” jawab ayah Warsi.

“Tetapi bukankah pikiran kita mampu berkembang,” berkata bekas pengendangnya itu. “Membalas dendam bukanlah sekadar membunuh. Tetapi bukankah ada cara lain yang lebih baik dari membunuh? Bukankah sekaligus untuk satu tujuan yang jauh lebih besar dari sekadar kematian.”

“Aku tidak tahu, apa yang kau katakan,” geram ayah Warsi.

“Sudah sejak diperjalanan aku pikirkan. Aku sadar, bahwa akan terjadi hal seperti itu. Dan aku pun sadar, bahwa kekakuan watak Warsi akan membuatnya terdiam seperti patung. Tetapi bukan berarti bahwa ia akan melangkah surut,” berkata orang itu.

“Cepat, katakan,” bentak ayah Warsi yang menjadi tidak sabar.