-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 02

Jilid 02

“He, kau pernah minum tuak?” bertanya Wiradana.

Kedua orang itu mengerutkan keningnya. Tuak adalah jenis minuman yang sangat menarik bagi mereka. Tetapi sudah beberapa lama mereka tidak sempat minum tuak, karena selama mereka berada di Tanah Perdikan Sembojan, mereka tidak mendapat kesempatan untuk membelinya. Selain mereka belum tahu dimana mereka mendapatkan,

juga uang yang mereka bahwa memang sangat terbatas. Apalagi sebelum mereka berhasil mendapatkan sesuatu pemimpin mereka, Kalamerta sudah terbunuh. “Marilah,” berkata Wiradana, “Orang-orang Keduwung memang senang minum arak. Adalah perlambang laki-laki bagi siapa yang dapat menelan tuak paling banyak.” Kedua orang itu tidak menjawab. Tetapi ketika Wiradana menuang tuak itu kebumbung-bumbung kecil, maka keduanya telah meneguknya sampai kering. Tetapi Wiradana tidak tinggal diam. Dengan cepat ia menuangkan lagi sehingga bumbung-bumbung itu menjadi penuh kembali.

Agar orang-orang itu tidak menjadi curiga, maka Wiradana yang tidak terbiasa minum tuak itu pun telah membasahi mulutnya dengan tuak pula. Bahkan ia pun pura-pura telah meneguk, beberapa bumbung pula.

Ternyata bahwa usaha Wiradana berhasil. Perlahan-lahan kedua orang itu mulai mabuk. Sementara itu Wiradana telah memerintahkan kepada pemilik kedai untuk menutup saja pintu kedainya untuk sementara.

“Aku akan berbicara dengan mereka,” berkata Wiradana.

Pemilik kedai itu tahu pasti niat Wiradana. Tetapi ia menurut saja apa yang diperintahkannya.

Dalam keadaan mabuk itulah Wiradana bertanya kepada keduanya. Siapakah mereka sebenarnya.

Tanpa dapat menahan dan mencegah diri mereka maka keduanya pun telah mengatakan rencana mereka.

“Tanah Perdikan ini akan kami hancurkan,” berkata salah seorang dari mereka. “Bagus,” sahut Wiradana, “Aku akan membantu. Tetapi siapakah kalian?”

“Kami adalah orang-orang yang harus mengamati perkembangan Tanah Perdikan ini. Kami adalah pengikut Kalamerta yang terbunuh. Dan kami sedang menyiapkan rencana untuk membalas dendam.”

Keduanya juga mengatakan, bahwa mereka sedang mengamati padukuhan terpenting selain padukuhan induk di Tanah Perdikan itu. Padukuhan itulah yang akan menjadi sasaran pertama. Kemudian padukuhan-padukuhan yang lain pula.

Wiradana berhasil menyadap beberapa keterangan penting tentang kedua orang itu dan seluruh gerombolan Kalamerta. Tetapi ia bertindak cerdik. Wiradana tidak menangkap kedua orang itu. Tetapi ia membiarkan saja kedua orang itu kembali ke gerombolannya.

Ketika keduanya mulai sadar, maka mereka berusaha untuk mengenali keadaan sekitarnya. Ternyata orang yang menyebut dirinya orang Keduwung itu sudah tidak ada ditempatnya. Yang ada adalah justru dua orang lain yang agaknya baru saja masuk.

"He," salah seorang dari kedua orang yang mabuk itu memanggil pemilik kedai, "Dimana orang Keduwung itu?"

"Orang itu telah dilempar keluar dari pasar oleh orang-orang disekitar warung ini," jawab pemilik kedai itu.

"Kenapa?" bertanya orang yang baru sadar itu.

"Orang itu mabuk. Seperti juga kalian. Tetapi kalian berdua langsung saja tidur, meskipun cukup lama sehingga pasar ini sudah sepi, jawab pemilik kedai itu.

Tetapi orang Keduwang itu akan mengamuk. Hampir saja warung ini akan menjadi berantakan karena ulahnya."

Kedua orang itu menarik nafas dalam-dalam. Ketika mereka menengok keluar, ternyata pasar sudah sepi. Matahari pun telah melampaui titik puncak dilangit. "Agaknya aku cukup lama tidur disini," gumam salah seorang dari kedua orang yang mabuk itu.

"Ya," jawab pemilik kedai, "Kalian berdua telah mempergunakan dua dingklik di warung ini, sehingga orang-orang lain yang akan membeli makanan di warung ini tidak mendapat tempat selain pada satu dingklik disebelah."

Orang yang masih sedikit pusing itu termangu-mangu. Namun terloncat pula

kata-katanya, "Kami minta maaf. Tetapi orang Keduwung itu memang gila. Ia telah membuat aku mabuk, meski dirinya sendiri juga mabuk."

"Bahkan nampaknya orang itu berbahaya," sahut pemilik kedai.

"Kami minta diri," berkata salah seorang dari kedua orang berwajah kasar itu, "Biarlah harga tuak itu dibayar oleh orang Keduwung itu jika ia datang kemari." Pemilik kedai itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, "Jadi aku harus menunggu orang Kademangan itu?"

"Bukankah ia yang memesan?" desis yang lain.

"Ya. Ya," jawab pemilik warung itu, "Biarlah aku bertanya kepadanya. Ia sering datang kemari di hari pasaran.

Kedua orang itu pun kemudian meninggalkan kedai itu. Kepala mereka masih terasa pening. Namun salah seorang dari mereka ber0kata, "Untunglah kami langsung tertidur ketika kami menjadi mabuk, sehingga kami tidak berbicara tentang

rencana yang akan kami lakukan atas Tanah Perdikan ini."

"Tetapi orang Keduwung itu memang orang gila," geram yang lain. "Untunglah bahwa ia pun mabuk dan bahkan dilemparkan keluar pasar. Jika ia memancing persoalan, dalam keadaan mabuk, kami pun akan dapat juga berbuat sesuatu yang tidak sewajarnya, sementara kami sedang mengemban tugas rahasia."

Kawannya tidak menjawab. Tetapi keduanya merasa beruntung, bahwa tidak seorang pun yang mendengar sesuatu dari mulut mereka.

"Jika kami mengungkapkan rahasia kami, maka kami tentu sudah ditangkap oleh orang-orang Sembojan," berkata mereka di dalam hati.

Namun dalam pada itu, segala rahasia itu telah didengar oleh Wiradana. Bahkan kemudian telah dilaporkannya kepada ayahnya yang masih saja terbaring di pembaringannya.

"Jadi kedua orang itu kau biarkan saja?" bertanya ayahnya.

“Ya ayah. Dengan demikian mereka akan merasa bahwa rahasia mereka masih belum kita ketahui,” jawab Wiradana.

“Bagus. Kau memang cerdik. Jika demikian, maka siapkan para pengawal. Menilik sikap mereka yang ingin menghancurkan padukuhan demi padukuhan, kekuatan mereka

tidak akan mengimbangi seluruh kekuatan padukuhan-padukuhan Sembojan jika bergabung. Karena itu, jangan menunggu. Kalian yang harus pergi, kepada mereka, dengan mengerahkan segenap kekuatan yang ada di Tanah Perdikan ini.”

“Baik ayah. Menjelang fajar kami akan berangkat. Tepat pada saat matahari terbit kami akan menghancurkan mereka dan membebaskan Sembojan dari kemungkinan yang

paling buruk,” desis Wiradana.

“Berhati-hatilah Wiradana. Ayah tidak dapat menyertaimu. Mudah-mudahan kau berhasil. Sebenarnyalah Tanah Perdikan ini selanjutnya akan banyak tergantung kepadamu,” berkata Ki Gede kemudian.

Wiradana pun kemudian telah minta diri kepada ayahnya untuk mempersiapkan segala sesuatunya, serta mohon doa restu, agar usahanya benar-benar akan berhasil.

Namun dalam pada itu, Wiradana telah mengajak Kiai Badra dan Gandar untuk ikut pula bersama pasukan itu.

“Kiai tidak usah ikut bertempur,” berkata Wiradana. “Tetapi jika terjadi

kesulitan yang gawat pada anak-anak Sembojan, Kiai akan dapat menolongnya dengan cepat tanpa menunggu membawa mereka kembali ke padukuhan induk ini.”

“Tetapi aku akan menjadi ketakutan,” berkata Kiai Badra. “Pertempuran tentu akan sangat mengerikan.”

“Sepuluh orang akan menjadi pelindung Kiai dan Gandar. Mereka tidak akan beranjak dari sisi Kiai apapun yang akan terjadi di peperangan itu,” jawab Wiradana. Akhirnya Kiai Badra tidak menolak. Namun demikian, ada masalah yang harus diatasinya. Mula-mula cucunya berkeberatan ditinggalkan sendiri oleh kakeknya. Tetapi akhirnya cucu perempuannya itu harus melepaskan Kiai Badra pergi.

Demikianlah, setelah semuanya dipersiapkan sebaik-baiknya tanpa banyak memberikan kesan yang mungkin dapat dilihat oleh pengamat yang dikirim oleh para pengikut Kalamerta, maka Wiradana pun menentukan, menjelang fajar di hari berikutnya mereka akan berangkat.

Sesuai dengan keterangan kedua pengikut Kalamerta di dalam mabuknya, mereka telah bersembunyi di hutan yang tidak terlalu besar yang terpisahkan dari padukuhan di ujung Tanah Perdikan oleh bulak persawahan dan padang perdu yang gersang.

“Kita akan memasuki hutan itu disaat langit mulai menjadi merah. Kita akan menyerang mereka tepat pada saat matahari terbit,” berkata Wiradana kepada para

pemimpin pengawal, “Aku sudah mendapat gambaran, dimana mereka membuat sarang.

Dalam mabuknya kedua orang itu telah memberikan petunjuk agak terperinci dengan ciri-ciri yang mudah dikenal. Kita, anak-anak Sembojan tentu mengenal hutan itu lebih baik dari para pengikut Kalamerta. Kita sering bermain-main di hutan

semasa kecil. Menggembala di padang rumput dan mencari kayu bakar di pinggir hutan itu pula.”

DENGAN tekad yang bulat untuk menyelamatkan Tanah Perdikan mereka, maka anak-anak muda Sembojan dan para pengawal yang berpengalaman telah mempersiapkan

diri sebaik-baiknya. Bukan saja kesiapan lahir, tetapi juga kesiapan batin. “Yang ragu-ragu, tidak usah ikut,” berkata Wiradana.

Tetapi tidak ada seorang pun yang mengundurkan diri. Mereka semuanya sudah bertekad untuk menghancurkan para pengikut Kalamerta itu lebih dahulu sebelum mereka justru menghancurkan Tanah Perdikan Sembojan.

Menjelang keberangkatan pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu, maka mereka telah berusaha untuk dapat beristirahat sebaik-baiknya, sehingga jika saatnya tiba,

mereka akan dapat mempergunakan tenaga mereka sepenuhnya.

Sebagaimana mereka merencanakan, maka menjelang fajar pasukan Tanah Perdikan Sembojan sudah siap. Sementara itu telah terjadi kesibukan pula di dapur Ki Gede dan dibeberapa tempat yang lain untuk mempersiapkan makan pagi bagi mereka yang akan pergi ke hutan disebelah padang perdu. Baru setelah segala persiapan tidak mengecewakan, maka Wiradana itu pun minta diri kepada ayahnya dipembaringannya.

“Sebentar lagi, langit akan menjadi merah ayah,” berkata Wiradana. “Kami akan berangkat. Sebelum matahari terbit, kami harus sudah mengepung sarang gerombolan Kalamerta itu dan kemudian menghancurkannya.”

“Pergilah. Berhati-hatilah menghadapi gerombolan itu,” pesan ayahnya. Demikianlah, sejenak kemudian maka sebuah iring-iringan yang panjang meninggalkan rumah Ki Gede Sembojan. Sementara kelompok yang lain telah berangkat dari banjar dan beberapa kelompok kecil dari padukuhan-padukuhan yang lain pula. Mereka telah menentukan satu tempat di sebuah pategalan, di pinggir padang perdu, untuk berkumpul sebelum mereka menyeberangi padang itu.

Dengan isyarat kentongan dalam nada yang tidak mencurigakan, maka kelompok-kelompok itu tahu pasti, kapan mereka harus berangkat. Karena itu,

ketika mereka mendengar kentongan dalam nada daramuluk ganda, maka mereka pun segera menuju ketempat yang telah ditentukan.

Ternyata segalanya berlangsung sebagaimana direncanakan. Pada saat hari masih gelap, meskipun bayangan fajar telah nampak di langit, pasukan Tanah Perdikan yang cukup besar itu pun telah menyeberangi padang perdu. Untuk tidak menarik perhatian, seandainya secara kebetulan para pengikut Kalamerta yang mengawasi padang perdu itu, maka mereka telah berpencar. Dengan sangat hati-hati mereka berusaha untuk tetap berlindung oleh gerumbul-gerumbul liar yang tumbuh disana sini di padang itu.

Demikian pasukan itu sampai ketepi hutan, maka sebagaimana telah di atur oleh Wiradana, pasukan itu pun segera berpencar. Meskipun hari masih tetap gelap, tetapi mereka harus menemukan ciri-ciri dari arah yang harus mereka lalui.

Meskipun gerak pasukan itu menjadi lamban, tetapi kelompok-kelompok yang lebih kecil telah mencapai tempat-tempat yang sudah ditentukan. Sebenarnyalah, mereka menemukan apa yang dikatakan oleh Wiradana. Mereka telah menemukan gumuk- gumuk

kecil disatu arah, sementara yang lain menemukan sebatang pohon raksasa yang dahannya telah patah di arah yang lain.

Dengan demikian, maka pasukan itu merasa, bahwa mereka telah menempatkan diri di tempat yang benar.

Yang harus mereka lakukan kemudian adalah menunggu saat matahari terbit yang akan mereka pergunakan sebagai ancar-ancar untuk mulai bergerak. Ternyata bahwa waktu yang tidak panjang itu terasa sangat menegangkan.

Disela-sela pepohonan hutan yang tidak begitu lebat, mereka melihat langit menjadi semakin cerah. Sementara itu, lima orang di antara mereka menunggu dipinggir hutan, mengamati langit yang mulai dibayangi oleh cahaya matahari. “Hanya tinggal menunggu sekejap lagi,” desis salah seorang di antara mereka. “Ya. Lihat. Bayangan itu mulai nampak,” sahut yang lain.

“Nah, sekarang,” terdengar orang tertua di antara mereka memberi aba-aba. Demikianlah, maka sejenak kemudian telah terdengar suara kentongan kecil yang dibawa oleh seorang dari mereka. Suara kentongan yang bernada tinggi itu telah menyusup di antara pepohonan dan dedaunan. Suaranya bergema memecah keheningan pagi di hutan yang sepi.

Anak-anak muda Sembojan dan para pengawal yang tegang, tiba-tiba saja telah bangkit. Mereka segera menarik senjata-senjata mereka dari sarungnya. Dengan jantung yang serasa berdegup semakin cepat mereka menunggu pemimpin-pemimpin kelompok mereka memberikan aba-aba.

Demikianlah sejenak kemudian aba-abapun telah mengumandang di dalam hutan itu. Berbareng dengan itu, maka anak-anak muda Sembojan dan para pengawal itu pun telah dengan cepat melangkah maju ke sasaran.

Sebagaimana digambarkan oleh Wiradana, maka di dalam hutan itu memang terdapat beberapa buah gubug yang terpencar. Gubug yang dihuni oleh gerombolan Kalamerta yang ganas yang ditakuti oleh banyak orang dan telah membuat gelisah di beberapa tempat.

Kedatangan orang-orang Sembojan itu memang mengejutkan. Orang-orang yang berada di dalam gubug-gubug itu sama sekali tidak menyangka, bahwa justru orang-orang Sembojanlah yang telah menyerang mereka lebih dahulu. Karena itu, beberapa orang telah terbangun dan mendengar suara kentongan dan kemudian teriakan aba-aba para pemimpin kelompok, telah berteriak-teriak pula di dalam gubug mereka.

“Bangun,” teriak orang-orang yang mendengar kedatangan serangan yang tiba-tiba itu, “Cepat bangun jika kalian tidak ingin dibantai di pembaringan.”

Para pengikut gerombolan Kalamerta itu pun menjadi terkejut karenanya. Beberapa orang yang dengan tergesa-gesa bangkit dan tidak segera dapat menanggapi keadaan, sehingga seorang di antara mereka sempat bertanya, “Ada apa?”

“Cepat ambil senjatamu sebelum dipenggal kepalamu,” jawab kawannya. Demikianlah, gubug-gubug itu pun menjadi riuh. Orang-orang yang ada di dalam gubug itu pun serentak menggapai senjata mereka tanpa dapat membenahi diri. Dengan tergesa-gesa mereka berloncatan keluar dari gubug-gubug mereka menyongsong kedatangan anak-anak muda Sembojan.

Tetapi anak-anak muda Sembojan sudah terlalu dekat, sehingga karena itu, maka rasa-rasanya mereka menjadi kebingungan. Anak-anak muda itu datang dari segala penjuru, seakan-akan bermunculan dari setiap batang pohon disekitar gubug-gubug mereka.

Tetapi para pengikut Kalamerta adalah orang-orang yang penuh dengan pengalaman.

Hidup mereka selalu diwarnai oleh kekerasan, sehingga karena itu, maka mereka pun segera menyesuaikan diri dengan keadaan yang mereka hadapi.

Tiba-tiba saja para pengikut Kalamerta itu pun berteriak nyaring, menyambut kedatangan anak-anak muda Sembojan dan para pengawal dengan senjata mereka. Ketika kedua belah pihak berteriak, maka suasana pun menjadi sangat gaduh. Namun segera senjata pun berdentangan.

Anak-anak Sembojan dan para pengawal Tanah Perdikan itu mempunyai kesempatan dan

peluang yang lebih baik dari lawannya yang baru saja bangkit dari tidurnya. Bahkan masih ada di antara mereka yang meloncat dari pembaringan dan berlari keluar sambil mengusap mata yang masih kabur.

SELAIN kesempatan yang lebih baik, jumlah anak-anak muda dan pengawal Tanah Perdikan Sembojan adalah jauh lebih banyak dari jumlah para perampok yang tinggal di gubug-gubug itu. Orang yang bertubuh tinggi dan kekar yang telah mengambil alih pimpinan gerombolan itu mengumpat-umpat dengan kasar. Ia pun tidak menyangka sama sekali, bahwa orang-orang Sembojan itu mengetahui persembunyian mereka dan bahkan telah datang menyerang dengan kekuatan yang tidak dapat diimbangi.

Kemarahan yang mencengkam jantungnya telah membuatnya bagaikan seekor harimau yang kelaparan. Senjatanya sebuah canggah bertangkai pendek menyambar-nyambar dengan dahsyatnya.

Namun sebenarnyalah lawan memang terlalu banyak. Sehingga bagi para perampok itu, hampir tidak ada kesempatan sama sekali untuk dapat menyelamatkan diri.

Dalam pada itu, Wiradana yang berdiri tegak sambil mengamati seluruh medan itu masih juga sempat berteriak, “Hancurkan mereka. Gerombolan itu adalah gerombolan yang paling ganas yang pernah disebut namanya. Ayah sudah membunuh pemimpinnya, sehingga karena itu, maka kalian harus menghancurkan sisanya.”

Anak-anak muda dan pengawal Tanah Perdikan Sembojan ternyata berbuat cepat dan sebaik-baiknya. Perlawanan orang-orang yang bersarang digubug itu tidak terlalu berarti. Satu di antara mereka mengamuk dengan garangnya. Tetapi untuk menghadapi orang-orang yang demikian, maka dua atau tiga orang anak muda dan pengawal telah menghadapinya bersama-sama.

Terpisah dari pertempuran itu, Kiai Badra dan Gandar mengikuti hiruk pikuk itu dengan jantung yang berdebaran. Sepuluh orang pengawal Tanah Perdikan Sembojan menunggui mereka dengan senjata siap ditangan. Jika keadaan menjadi gawat, maka sepuluh orang itu telah siap untuk bertempur melindungi Kiai Badra yang hadir di pertempuran itu sambil membawa obat-obat yang mungkin diperlukan.

Sementara itu Wiradana masih sibuk meneriakkan aba-aba. Namun ketika ia melihat perlawanan para pengikut Kalamerta itu menjadi semakin lemah, maka ia pun kemudian berdiri sambil tertolak pinggang.

Di bibirnya membayang sebuah senyuman, sementara itu terdengar ia berdesis yang hanya dapat didengarnya sendiri, “Ayah, aku berhasil menghancurkan gerombolan yang paling garang yang pernah disebut namanya di tlatah Pajang.”

Sebenarnyalah pada saat itu, anak-anak muda dan pengawal Sembojan benar-benar telah menguasai keadaan. Gerombolan Kalamerta tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mempertahankan dirinya. Bahkan setiap orang di antara mereka, tidak mempunyai peluang untuk melindungi dirinya sendiri.

Karena itu, maka orang-orang yang tersisa di antara mereka, tidak dapat berbuat lain kecuali melarikan diri. Selagi ada kesempatan, tanpa menghiraukan

kawan-kawan mereka, maka para pengikut Kalamerta itu telah bercerai berai untuk mencari hidup masing-masing.

Tetapi anak-anak muda dan para pengawal Sembojan tidak melepaskan mereka begitu saja. Beberapa orang yang bernasib buruk, telah kehilangan kesempatan sama

sekali ketika punggung mereka tertembus ujung tombak.

Namun akhirnya pertempuran yang terhitung singkat itu segera selesai. Sementara matahari pun sudah memanjat semakin tinggi.

Yang tinggal kemudian adalah tubuh-tubuh yang terkapar berlumuran darah. “Kumpulkan kawan-kawan kita yang terluka,” teriak Wiradana kemudian. Ternyata bahwa selain yang luka-luka, ada juga empat orang anak muda Tanah Perdikan Sembojan yang gugur dalam pertempuran itu.

Wiradana merenungi kedua sosok mayat itu dengan wajah yang murung. Sambil menghentakkan tangannya ia menggeram, “Seharusnya semua orang di dalam gerombolan itu dibunuh saja”.

Anak-anak muda yang kemudian mengerumuni kawan mereka yang gugur itu pun menjadi

marah pula. Namun orang-orang Kalamerta itu sudah benar-benar dihancurkannya. Yang tersisa telah berusaha untuk menyelamatkan dirinya.

“Panggil Kiai Badra,” gumam Wiradana.

Sejenak kemudian maka Kiai Badra pun telah berada di antara anak-anak muda Sembojan. Dengan tekun dibantu oleh Gandar dan anak-anak muda itu sendiri. Kiai Badra berusaha untuk mengobati mereka yang terluka. Terutama mereka yang terluka parah.

Ketika tugas itu telah dilakukan dengan sebaik-baiknya, maka ia pun mulai menanyakan tentang orang-orang dari gerombolan Kalamerta. Katanya, “Aku akan mengobati mereka yang terluka pula.”

Wiradana menjadi heran. Sambil berdiri bertolak pinggang ia bertanya, “Apakah gunanya Kiai?”

“Bukankan menjadi kewajibanku untuk mengobati setiap orang yang terluka?” jawab Kiai Badra. “Bagiku tidak ada batasnya kawan atau lawan di medan perang. Semua orang yang terluka memang harus mendapat pengobatan.”

Wiradana mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian berpaling kepada anak- anak

muda Sembojan. Dengan wajah yang aneh ia memandang anak-anak muda itu seorang demi seorang.

Tiba-tiba saja terdengar suaranya meledak. Wiradana dan anak-anak muda Sebojan itu tertawa berkepanjangan, sehingga Kiai Badra menjadi heran.

“Kenapa kalian tertawa?” bertanya Kiai Badra.

“Sikap Kiai memang aneh,” jawab Wiradana, “Mereka adalah orang-orang yang garang yang sangat berbahaya bagi pergaulan sesama. Bagi mereka, tidak ada jalan yang

lebih baik daripada jalan ke neraka. Seandainya Kiai menolongnya sekarang, maka hal itu akan sama artinya bahwa Kiai telah ikut terlibat kedalam satu langkah yang akan dapat mengakibatkan korban yang berjatuhan dikemudian hari. Tindakan yang tidak berperikemanusiaan dan mungkin lebih dari itu semua.”

Kiai Badra termangu-mangu. Ia tidak begitu mengerti jalan pikiran anak-anak muda Sem-bojan itu sebagaimana anak-anak muda itu juga tidak mengerti jalan pikiran Kiai Badra.

Namun ternyata bahwa tidak ada usaha sama sekali untuk menolong orang-orang terluka parah pada gerombolan Kalamerta.

“Kiai,” berkata Wiradana kemudian, “Kita akan segera meninggalkan tempat ini. Kita akan kembali ke Sembojan.”

“Bagaimana dengan orang-orang itu? Apakah kita tidak akan menguburkannya?” bertanya Kiai Badra.

“Jangan cemas. Kawan-kawan mereka tentu akan kembali. Mereka akan mengubur kawan-kawan mereka yang terbunuh dipertempuran ini. Meskipun aku sangsi, apakah mereka mau membawa kawan-kawan mereka yang terluka parah,” jawab Wiradana.

Sungguh satu sikap yang sulit untuk diterima. Tetapi Kiai Badra tidak dapat mencegah mereka. Sejenak kemudian orang-orang Sembojan itu pun terlah

bersiap-siap untuk kembali sambil memapah kawan-kawan mereka yang terluka serta membawa dua sosok mayat yang membuat anak-anak muda Sembojan semakin marah kepada orang-orang dalam gerombolan Kalamerta.

Demikianlah, maka iring-iringan yang panjang pun kemudian keluar dari hutan yang tidak begitu lebat menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan. Mereka telah membawa hasil yang gemilang sekaligus membawa empat sosok mayat yang telah gugur dan beberapa kawan mereka yang terluka. Namun kehadiran Kiai Badra di hutan itu memberikan banyak pertolongan kepada anak-anak muda yang terluka, sehingga mereka tidak terlambat mendapatkan perawatan.

Kehadiran pasukan Sembojan itu disambut dengan gembira oleh keluarga mereka. Namun di antara kegembiraan dan kebanggaan atas kemenangan mereka atas segerombolan berandal yang ditakuti, beberapa orang telah menangisi keluarganya yang terpaksa meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.

“Setiap usaha yang besar tentu memerlukan pengorbanan,” berkata Wiradana yang berusaha menghibur keluarga yang kehilangan itu. “Seluruh Tanah Perdikan akan tetap mengenang jasa-jasanya. Pengorbanan kalian tidak sia-sia. Ternyata kita telah menghancurkan sebuah gerombolan yang paling ditakuti di seluruh Pajang.”

Orang-orang yang berduka itu mencoba untuk mengerti. Tetapi sebagian dari mereka masih saja meratapi kematian keluarganya.

“Jika harus jatuh korban, kenapa korban itu harus salah seorang dari kami,” berkata salah seorang dari mereka didalam hati, “Kenapa bukan orang lain.”

Dengan demikian, maka bagaimana pun juga kebanggaan menghentak-hentak di dalam dada, namun Tanah Perdikan Sembojan memang harus berkabung.

Dalam pada itu, maka Wiradana pun telah menghadap ayahnya pula. Dengan bangga ia pun melaporkan kemenangan yang telah didapatkannya di hutan yang tidak begitu lebat itu.

“Sebagian besar dari mereka memang telah kami hancurkan,” lapor Wiradana. “Kami datang dengan tiba-tiba. Orang-orang di dalam gerombolan itu tidak menyangka, sehingga mereka tidak sempat memberikan perlawanan sebaik-baiknya. Meskipun demikian ada empat orang di antara kami yang terbunuh. Sedangkan beberapa orang lain telah terluka.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Nampaknya kau memiliki kemampuan yang dapat

dibanggakan. Karena itu, maka apapun yang terjadi atasku, aku tidak akan berkecil hati. Aku yakin bahwa Tanah Perdikan ini akan justru menjadi semakin berkembang.”

“Semoga ayah,” jawab Wiradana. “Kami, anak-anak muda Sembojan akan berusaha untuk tidak mengecewakan ayah.”

“Terima kasih Wiradana,” gumam ayahnya. Lalu, “Bagaimana dengan mereka yang terluka?”

“Kiai Badra yang kebetulan ada di Tanah Perdikan ini telah sangat membantu. Ia ikut pergi ke hutan itu dan menyiapkan pengobatan dengan segera, sehingga dengan demikian tidak terjadi seorang anak yang terluka kehilangan kesempatan untuk sembuh karena keterlambatan pengobatan,” jawab Wiradana.

Ayahnya mengangguk-angguk. Nampak kepuasan membayang diwajah orang yang sedang

sakit itu.

Dalam pada itu, Ki Gede itu pun kemudian bertanya pula, “Dimana Kiai Badra sekarang?”

“Ia berada digandok,” jawab Wiradana.

Ki Gede tidak bertanya lagi. Bahkan Wiradana pun kemudian telah keluar dari bilik ayahnya dengan dada yang berkembang atas keberhasilannya. Namun hampir di luar sadarnya, maka tiba-tiba saja ia telah singgah di gandok. Ketika ia mengetuk pintu, yang membuka pintu gandok adalah seorang gadis yang sedang meningkat dewasa. Demikian pintu dibuka, maka gadis itu pun berdiri membeku sambil menundukkan kepalanya.

"O," Wiradana pun termangu-mangu. Tetapi ia pun kemudian bertanya, "Dimana Kiai Badra?"

"Ia pergi kesungai," suara gadis itu sendat. "Ke sungai?" ulang Wiradana.

"Ya. Bersama kakang Gandar," jawab gadis itu pula masih sambil menundukkan kepalanya.

Wiradana tidak bertanya lebih lanjut. Ia pun kemudian meninggalkan gandok itu dan melihat orang-orang yang terluka. Namun agaknya semua sudah mendapat perawatan sebaik-baiknya. Bahkan mereka yang terluka ringan, telah diantarkan kembali ke rumah masing-masing, sementara yang terluka agak berat, telah ditempatkan di serambi di rumah Ki Gede. Mereka akan berada ditempat itu agar pengobatan mereka dapat dilakukan secara teratur dan baik oleh Kiai Badra.

Namun dalam pada itu, Wiradana juga tidak lengah. Ia memerintahkan para pengawal untuk tetap berjaga-jaga disetiap padukuhan. Di antara para perampok itu ada

yang berhasil melari-kan diri. Karena itu, para pengawal masih harus selalu memperhitungkan kemungkinan pembalasan dendam.

"Tetapi kita benar-benar telah menghancurkan mereka," berkata salah seorang di antara anak-anak muda Sembojan.

"Ya. Tetapi mungkin mereka masih mempunyai kawan ditempat lain. Atau mereka bersama-sama dengan gerombolan-gerombolan lain datang untuk sekadar membalas sakit hati," sahut Wiradana.

Anak-anak itu mengangguk-angguk. Mereka mengerti, bahwa kemungkinan yang demikian memang ada. Sehingga karena itu, maka setiap pemimpin pengawal di padukuhan-padukuhan telah mengatur penjagaan sebaik-baiknya.

Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa Kiai Badra dan Gandar tidak pergi ke sungai sebagaimana yang dikatakan oleh cucunya, karena kepada cucunya ia memang mengatakan demikian.

Tetapi Kiai Badra dan Gandar telah pergi ke hutan yang menjadi ajang pertempuran antara anak-anak muda Sembojan dengan para perampok itu. Bahkan Kiai Badra telah singgah dipadukuhan diujung Tanah Perdikan dan mengajak beberapa orang untuk pergi ke hutan itu. Terutama anak-anak mudanya. "Untuk apa?" bertanya orang-orang padukuhan itu.

"Mayat-mayat yang terkapar ditempat itu masih belum dikuburkan," jawab Kiai Badra.

"Bukankah Wiradana sudah mengatakan, bahwa kita tidak usah memperdulikannya?" bertanya salah seorang anak muda.

"Tetapi jika benar-benar kita membiarkannya, maka yang paling parah terkena akibatnya adalah padukuhan ini. Padukuhan ini adalah padukuhan yang terdekat," berkata Kiai Badra.

"Apakah mereka akan menjadi hantu? Dan kemudian mengganggu padukuhan ini?" bertanya orang-orang padukuhan itu.

"Tidak. Bukan menjadi hantu. Tetapi jika tubuh itu membusuk, maka akan dapat menimbulkan berbagai penyakit yang akan dapat menjalar sampai padukuhan ini. Binatang-binatang kecil mungkin akan terbawa angin atau lalat yang beterbangan di padang perdu itu telah membawa bibit-bibit penyakit. Aku adalah orang yang menekuni berbagai penyakit dan penyebabnya," sahut Kiai Badra.

Orang-orang di padukuhan kecil itu mulai berpikir. Sementara itu Kiai Badra berkata, "Penyakit menular itu tidak akan kalah mengerikan daripada kedatangan para perampok itu dimasa hidupnya. Bahkan penyakit menular tidak hanya akan memusuhi anak-anak muda dan orang-orang tua. Bukan hanya para pengawal dan bebahu padukuhan ini. Tetapi anak-anak pun akan mereka bunuh juga dengan kejamnya."

Ternyata bahwa keterangan Kiai Badra itu dapat masuk ke dalam akal mereka. Karena itu, maka orang-orang padukuhan itu pun telah pergi bersama-sama dengan Kiai Badra dan Gandar sambil membawa cangkul dan alat-alat yang diperlukan ke hutan diseberang padang perdu.

Hal itu akhirnya telah didengar pula oleh Wiradana. Karena itu, ketika malam turun di Tanah Perdikan Sembojan, Wiradana telah memanggil Kiai Badra untuk

mendapat keterangan tentang usahanya menguburkan orang-orang dari gerombolan Kalamerta yang terbunuh.

“Aku tidak sampai hati membiarkan hal itu terjadi ngger,” jawab Kiai Badra. “Tetapi yang lebih mencemaskan bagiku, adalah keselamatan padukuhan kecil itu sendiri. Angger dapat membayangkan, bahwa binatang buas akan dapat membawa mayat-mayat itu berserakan di dalam hutan. Atau karena hal yang lain, mayat-mayat yang membusuk akan dapat menumbuhkan penyakit mengerikan dan sulit untuk diatasi.”

Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Jika alasan Kiai bahwa hal itu Kiai lakukan demi keselamatan orang-orang Sembojan, maka aku tidak berkeberatan. Bahkan aku mengucapkan terima kasih atas usaha Kiai.”

Kiai Badra tidak menjawab.Tetapi rasanya ada sesuatu yang kurang mapan di dalam hatinya. Meskipun demikian, Kiai Badra sama sekali tidak mengatakannya.

Dalam pada itu, kehancuran gerombolan Kalamerta telah membuat kehidupan di Sembojan menjadi tenang kembali. Orang-orang Sembojan tidak lagi merasa dibayangi oleh kekuatan yang akan dapat mengejutkan mereka di malam hari.

Namun dalam pada itu, keadaan Ki Gede masih saja mencemaskan. Bagaimanapun juga Kiai Badra berusaha, tetapi perkembangannya memang sangat lambat. Apalagi kaki

Ki Gede yang seolah-olah telah lumpuh sama sekali.

“Kiai,” berkata Ki Gede pada suatu hari, “Apapun yang terjadi atasku, akan aku terima dengan senang hati. Dengan melihat perkembangan pribadi Wiradana, maka rasa-rasanya tugasku memang sudah selesai.”

“Ki Gede,” jawab Kiai Badra, “Aku masih akan berusaha. Menilik keadaannya, maka

Ki Gede tidak akan mengalami kelumpuhan mutlak, meskipun kaki dan tangan Ki Gede tidak akan dapat pulih seperti sediakala. Namun setidaknya Ki Gede masih dapat berjalan sendiri dan berbuat sesuatu dengan tangan sendiri.”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara datar ia berkata, “Terima kasih Kiai. Ternyata yang Kiai lakukan jauh melampaui harapan.”

“Itu sudah menjadi kewajibanku, Ki Gede,” jawab Kiai Badra.

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Sebenarnya aku ingin mempersiapkan

Kiai untuk tetap berada di Sembojan. Aku dapat membuat sebuah padepokan yang Kiai perlukan. Bukankah Kiai tidak meninggalkan seorang cantrik di padepokan Kiai? Gandar dan cucu Kiai sudah berada disini.”

Kiai Badra tersenyum. Namun kemudian katanya, “Terima kasih Ki Gede. Tetapi sebenarnyalah padepokan kecil itu rasa-rasanya sudah mengikat aku untuk tetap berada disana.”

Ki Gede tidak menjawab. Tetapi yang ditanyakan kemudian adalah cucu Kiai Badra. “Apakah cucu Kiai itu krasan tinggal disini?” bertanya Ki Gede. Kiai Badra tersenyum. Katanya, “Pada mulanya ia hanya memberi aku waktu dua atau tiga hari. Tetapi ternyata ia betah tinggal disini. Apalagi ketika ia sudah

mulai mengenal satu dua orang pembantu Ki Gede. Sekarang cucuku sudah sering berada di dapur.”

“O,” Ki Gede pun tersenyum. “Tetapi jangan Kiai suruh anak itu bekerja. Kasihan. Biarlah ia tinggal di gandok.”

Tetapi jawab Kiai Badra, “Anakku adalah gadis padepokan Ki Gede. Jika ia harus tinggal di gandok saja, maka ia akan benar-benar minta pulang. Biarlah ia bekerja. Justru di padepokan ia bekerja jauh lebih keras. Ia harus mencari kayu, mencari air dan bekerja sendiri di dapur.”

“Kasihan anak itu,” desis Ki Gede. Namun hampir di luar sadarnya Ki Gede bertanya, “Tetapi Kiai, dimanakah ayah dan ibu anak itu?”

KIAI Badra mengerutkan keningnya. Wajahnya tiba-tiba saja menjadi buram. Nampak sesuatu terbayang di wajahnya itu.

“Peristiwa itulah yang membuat aku lebih senang tinggal menyendiri Ki Gede,” jawab Kiai Badra dengan suara dalam.

“Maaf Kiai,” berkata Ki Gede kemudian. “Aku tidak ingin membuat Kiai bersedih karena peristiwa yang telah terjadi.”

“Tidak Ki Gede,” jawab Kiai Badra. “Yang terjadi itu memang sudah terjadi.” Ki Gede tidak bertanya lagi. Tetapi Kiai Badralah yang kemudian berceritera sendiri. “Suatu kecelakaan yang sulit diterima dengan nalar. Pada saat itu,

cucuku baru berada di rumahku yang tidak jauh dari rumah anakku itu. Tiba-tiba rumah anakku itu terbakar dan anakku serta istrinya tidak sempat menyelamatkan diri. Mereka ikut terbakar di dalam rumah itu,” Kiai Badra itu berhenti sejenak.

Lalu, “Bukankah sulit diterima nalar, bahwa dua orang yang sudah tua tidak mampu keluar dari api yang membakar rumahnya? Seandainya pintu rumah itu sudah terbakar, apakah mereka tidak dapat menerobos dinding bambu?”

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Memang aneh. Dan apakah pintu rumahnya itu hanya ada satu?”

“Ya. Itulah agaknya yang membuat aku menjadi sangat prihatin. Sehingga timbul dugaanku, bahwa telah terjadi sesuatu yang tidak dapat kami duga sebelumnya. Mungkin satu permusuhan. Tetapi menurut pengamatanku, anakku suami istri adalah orang yang bergaul dengan wajar. Mereka tidak pernah bersikap bermusuhan dengan siapapun.” Ki Gede mengangguk-angguk. Sementara itu Kiai Badra meneruskan, “Karena itu, maka akupun telah mengambil satu keputusan untuk menyingkir. Memang ada perasaan

takut, bahwa akupun akan dimusuhinya. Sementara itu aku telah merawat cucuku yang secara kebetulan tidak ada dirumahnya pada saat kebakaran itu.”

“Kasihan anak itu,” desis Ki Gede. “Siapakah nama cucu Kiai itu?” Ia sudah berada disini beberapa hari. Tetapi aku masih belum mengetahui namanya.”

“Ia anak padepokan,” jawab Kiai Badra. “Na-manya juga seburuk anak itu sendiri. Orang memanggilnya Endang Iswari.”

“Bagus sekali,” sahut Ki Gede. “Namanya yang bagus. Jika tidak disebut dengan endang, maka orang tidak akan membayangkan bahwa ia adalah gadis padepokan.” “Nama yang asal saja menyebutnya,” jawab Ki Badra.

“Kiai,” berkata Ki Gede kemudian, “Daripada cucu Kiai itu bekerja di dapur, maka biarlah ia membantu merawatku. Biarlah anak itu membawa minuman dan makananku.

Biarlah aku mengenal anak yang malang itu semakin dekat. Aku tidak mempunyai anak perempuan Kiai.”

“Ah,” desis Kiai Badra, “Anak itu adalah anak yang dungu dan bodoh. Mungkin Ki Gede akan kecewa jika Ki Gede mengenalnya lebih banyak.”

Ki Gede tersenyum. Katanya, “Biarlah ia mendapat kesempatan untuk mengembangkan pribadinya dalam lingkungan yang lebih besar. Disini terdapat banyak orang,

karena kebetulan aku adalah seorang pamong dari Tanah Perdikan. Dengan demikian maka hidupnya tidak terlalu terbatas pada sebuah padepokan kecil. Biarlah ia

belajar bergaul dengan sesamanya, karena pada saatnya nanti, bekal itu akan sangat diperlukan.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Meskipun demikian ia bergumam, “Aku tidak dapat meninggalkan padepokan kecil itu.”

“Jika Kiai ingin kembali kelak, biarlah anak itu tinggal disini. Kiai akan dapat menengoknya kapan saja Kiai inginkan,” berkata Ki Gede.

“Dan aku akan selalu sepi tanpa cucuku itu,” berkata Kiai Badra.

“Maaf Kiai, tetapi sebaiknya Kiai jangan terlalu mementingkan diri sendiri,” berkata Ki Gede Sembojan. “Berilah cucu Kiai itu kesempatan.”

Kiai Badra termangu-mangu. Namun katanya, “Dalam beberapa hari ini biarlah ia melakukan sebagaimana Ki Gede kehendaki. Tetapi jika Ki Gede kecewa, sebaiknya Ki Gede berterus terang.” Ki Gede tersenyum. Sambil mengangguk kecil ia menjawab, “Baiklah. Tetapi seandainya cucu Kiai itu masih belum dapat melakukannya dengan baik, maka ia masih mempunyai kesempatan untuk belajar.”

Dengan demikian, maka dihari-hari berikutnya, cucu Kiai Badra itu mendapat tugas untuk melayani Ki Gede yang sedang sakit. Dengan cekatan, Iswari menyediakan minuman dan makan Ki Gede pada saatnya. Sementara Gandar masih juga merawatnya dengan sungguh-sungguh, sedang Kiai Badra dengan tekun berusaha untuk mengurangi kelumpuhan pada kaki dan tangan Ki Gede.

Ternyata bahwa usaha Kiai Badra itu tidak sia-sia. Sedikit demi sedikit, kaki dan tangan Kia Gede itu pun telah mampu digerakkan. Kekuatan racun yang

mencengkam dengan garangnya dengan menumbuhkan beberapa kerusakan pada jaringan

tubuh, lambat laun dapat diatasi meskipun tidak akan mampu memulihkannya. Namun dengan demikian, justru Kiai Badra tidak dapat beringsut sama sekali dari Tanah Perdikan Sembojan. Dengan sangat Ki Gede minta agar Kiai Badra tetap tinggal sampai puncak usahanya.

“Jika sudah sampai pada batas yang dapat dicapai, apa boleh buat,” berkata Ki Gede kepada Kiai Badra.

Namun dalam pada itu, Ki Gede justru menjadi semakin tertarik kepada cucu Kiai Badra. Ki Gede merasa, bahwa ia mempunyai seorang anak laki-laki yang sudah dewasa. Sementara itu, cucu Kiai Badra itu pun telah menginjak usia dewasa pula bagi seorang gadis. Bahkan ternyata kemudian, bahwa Endang Iswari bukannya seorang gadis yang dungu. Ia memiliki kelebihan dari gadis-gadis lain di Tanah Perdikan itu.

Ketika Ki Gede melihat Iswari memperhatikan huruf-huruf pada sarung pedang yang tergantung didinding dengan tidak sengaja telah menanyakan apakah Iswari dapat membaca. Maka sambil menundukkan kepalanya gadis itu berkata, “Ayah mengajariku untuk membaca. Tetapi aku belum pandai.”

“Seandainya aku memberimu sebuah kidung yang tertulis di atas rontal, apakah kau dapat membacanya?” bertanya Ki Gede.

Gadis itu hanya menunduk saja. Namun dari sorot di wajahnya Ki Gede menangkap pengakuan, bahwa serba sedikit, gadis itu akan dapat membacanya.

Demikianlah ketika malam mulai turun, Ki Gede telah memanggil Kiai Badra untuk datang ke dalam biliknya. Dengan senyum dibibirnya ia berkata, “Kiai. Dalam kegelisahan ini, rasa-rasanya aku ingin sesuatu yang dapat membuat jiwaku

menjadi segar. Kiai sudah berhasil merawat tubuhku sehingga harapan-harapan baru telah tumbuh. Namun, apakah Kiai sependapat, jika malam ini aku minta Iswari untuk membaca sebuah kidung bagiku?”

“Membaca kidung?” ulang Kiai Badra. “Cucuku adalah seorang gadis yang bodoh.” Tetapi Ki Gede tertawa. Katanya, “Meskipun ia tidak mengatakannya, tetapi aku tahu, bahwa Kiai sudah mengajari cucu Kiai membaca dan menulis. Sungguh satu kelebihan bagi seorang gadis.”

Kiai Badra tidak menjawab, tetapi tampak senyum di sela-sela bibirnya.

Karena itu, maka Ki Gede pun kemudian minta Iswari untuk membaca sebuah cerita yang tertulis pada setumpuk rontal yang ada di sisi pembaringannya.

Semula Iswari menolak. Tetapi akhirnya gadis itu pun telah mencobanya juga membaca kidung dalam tembang yang mengalun disepinya malam, ditunggui oleh ayahnya.

Ternyata bahwa suara itu telah menyusup di sela-sela dinding dan menyentuh telinga anak-anak muda yang sedang bertugas di luar. Beberapa orang anak muda yang sedang duduk digardu di dekat regol halaman pun mulai tergelitik hatinya mendengar tembang yang menggetarkan udara malam yang dingin.

SEMENTARA itu, di dalam bilik yang lain, Wiradana pun mendengar suara tembang itu. Hampir di luar sadarnya ia pun bangkit dari pembaringannya. Jelas terdengar olehnya, bahwa suara tembang itu berasal dari bilik ayahnya.

Dengan hati-hati Wiradana keluar dari biliknya. Hampir berjingkat ia mendekati pintu bilik ayahnya. Sementara di antara suara tembang yang merdu ia mendengar ayahnya kadang-kadang berbicara dengan Kiai Badra tentang makna isi tembang itu.

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Sesuatu telah bergejolak di dalam hatinya.

Ia jarang-jarang bertemu dengan cucu Kiai Badra itu. Karena itu, ia jarang memperhatikannya. Namun ketika telinganya menangkap suara tembang itu ia mulai membayangkan, betapa lembutnya wajah cucu Kiai Badra.

“Wajah itu memang tidak cantik sekali,” gumam Wiradana di dalam hati tetapi kelembutan yang terpancar dari wajah itu membayangkan betapa lembut pula hatinya. Apalagi ketika terdengar suaranya dalam nada tembang yang menawan.” Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian kepada diri sendiri pula, “Anak itu ternyata anak yang pandai. Ia mampu membaca kitab itu.” Untuk beberapa saat Wiradana mendengarkan suara tembang itu. Namun akhirnya seakan-akan ada sesuatu yang memaksanya untuk masuk ke dalam bilik ayahnya itu.

Namun ketika bilik itu terbuka, dan Wiradana masuk dari bilik pintu, dengan serta merta, cucu Kiai Badra itu pun telah berhenti. Kepalanya menunduk dalam-dalam, sehingga malampun menjadi hening sepi.

“O, kau Wiradana,” sapa Ki Gede.

“Aku mendengar suara tembang,” desis Wiradana.

“Gadis itulah yang sedang membaca,” jawab Ki Gede, “Ternyata ia adalah gadis yang pandai dan suaranyapun jernih sekali. Aku sedang mendengar ia melagukan tembang itu.”

Wiradana pun tiba-tiba saja jadi bingung. Apalagi yang akan dikatakannya kepada ayahnya. Sekilas ia memandang gadis itu. Tetapi gadis itu tetap menunduk

dalam-dalam.

Namun akhirnya ia berkata, “Ah, biarlah ia membaca terus. Aku akan mendengarkan diluar saja.”

Wiradana tidak menunggu jawaban. Ia pun kemudian melangkah surut sambil menutup pintu bilik ayahnya kembali.

Namun dalam pada itu, Iswari tidak lagi berminat untuk membaca. Ketika ia sempat memandang ayahnya, maka nampak sorot matanya, bahwa gadis itu tidak ingin lagi meneruskannya.

Karena itu, maka Kiai Badra pun justru bertanya kepadanya, “Bagaimana Wari? Apakah kau masih akan meneruskannya?”

Iswari menggeleng lemah. Tetapi ia tidak menjawab.

Ki Gede tertawa pendek. Ia mengenal sifat gadis-gadis.Agaknya cucu Kiai Badra

itu pun menjadi malu karenanya. Dengan demikian, maka sulit baginya untuk mulai lagi membaca kelanjutan ceritera yang sebenarnya menarik itu.

“Baiklah,” berkata Ki Gede, “Sebenarnya aku senang sekali kau membaca untukku. Suaramu jernih dan landung. Las-lasan dan dengan greget yang mapan.”

“Ah. Ki Gede terlalu memuji,” sahut Kiai Badra.

“Aku berkata sebenarnya. Biarlah Iswari sering membaca untukku. Bukan saja dapat membuat hatiku semakin cerah. Tetapi hal itu penting bagi Iswari sendiri. Ia

menjadi semakin lancar membaca dan suaranya akan menjadi semakin matang,” jawab Ki Gede.

Kiai Badra tidak menjawab. Tetapi ia pun tertawa pula. Namun dalam pada itu, maka Kiai Badra pun kemudian minta diri untuk kembali ke gandok bersama anak gadisnya. Agaknya gadis itu telah mengantuk pula.

Demikianlah, pada hari-hari tertentu, Ki Gede minta Iswari untuk membaca

buatnya. Mula-mula Kiai Badra masih harus menungguinya sambil mengamati keadaan Ki Gede yang menjadi semakin baik pula. Namun kemudian Iswari itu menjadi

semakin berani. Ia sudah mau membaca ceritera sendiri di bilik Ki Gede Sembojan.

Sebenarnyalah sikap Ki Gede pun terasa sangat baik kepada gadis itu. Gadis yang telah kehilangan ayah dan ibunya itu, merasa seakan-akan ia menemukan ayahnya yang baru. Ki Gede bukan saja mendengarkan Iswari membaca. Tetapi kadang-kadang Ki Gede masih harus membetulkan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh Iswari.

Bahkan kadang-kadang kalimat-kalimat dalam tembang yang dibacanya, sehingga lancar membaca tetapi ia pun menyadap pengertian-pengertian yang tersirat dari kita yang dibacanya. Mirip sekali sebagaimana dilakukan oleh kakeknya jika kakeknya itu sedang mengajarnya membaca dan mengerti arti dan makna dari bacaannya itu.

Namun dalam pada itu, ternyata Iswari tidak saja pandai membaca ceritera dalam ungkapan tembang yang merdu. Tetapi ternyata Iswari pandai juga bermain rinding. Dengan alat yang sederhana itu ia dapat melahirkan lagu-lagu yang dapat menyentuh hati.

Dengan demikian, maka rasa-rasanya Ki Gede menjadi semakin dekat dengan gadis itu. Bahkan, di dalam angan-angannya Ki Gede mulai membayangkan, bahwa gadis itu akan dapat diambilnya menjadi menantunya.

Tetapi Ki Gede tidak dapat mengambil keputusan itu sendiri. Karena itu, maka ia sudah berniat untuk berbicara dengan Wiradana, apakah Wiradana sependapat jika Ki Gede berniat untuk mempertemukan Wiradana dengan gadis itu.

Untuk membicarakan hal itulah, maka Ki Gede telah memanggil Wiradana. Ketika Wiradana memasuki biliknya, wajah anak muda itu berubah menjadi cerah. Ternyata ayahnya tidak lagi berbaring saja di pembaringannya. Tetapi Ki Gede itu sudah duduk di bibir pembaringannya itu.

“Ayah,” desis Wiradana.

“Ya Wiradana. Aku sedang mencoba untuk duduk. Semalam Kiai Badra menolong aku bangkit. Kemudian aku telah dimintanya untuk mencoba dan mencoba bangkit.

Ternyata bahwa pagi tadi aku sudah berhasil untuk bangkit sendiri dan duduk, meskipun aku belum dapat berbuat apa-apa selain duduk ini,” berkata ayahnya. “Tetapi bukankah hal itu sudah merupakan suatu kemajuan yang sangat menggembirakan dan memberikan harapan-harapan,” jawab Wiradana.

“Ya. Tetapi sebagaimana dikatakan oleh Kiai Badra, bahwa kaki dan tanganku terutama, tidak akan dapat pulih seperti semula. Meskipun barangkali aku akan dapat berjalan lagi dan tanganku dapat aku pergunakan, namun tidak akan seperti sebelum jaringan tubuhku dirusakkan oleh racun keris Kalamerta itu,” berkata Ki Gede.

“Ayah dapat minta kepada Kiai Badra untuk berbuat apa saja agar keadaan ayah dapat pulih kembali. Ayah dapat menawarkan upah berapa saja yang diminta,” berkata Wiradana.

“O,” Ki Gede mengerutkan keningnya, “Jangan salah menilai orang tua itu. Ia berbuat tanpa pamrih sama sekali. Ia tidak akan mau menerima apapun yang akan aku berikan kepadanya.”

“Ah, apakah begitu ayah? Ia memang seorang dukun. Karena itu mengobati orang adalah pekerjaannya. Ia hidup dari pekerjaan itu. Jika orang yang diobatinya

tidak memberikan upah kepadanya, maka ia tidak akan dapat membiayai hidupnya dengan cucu serta seorang cantriknya itu,” jawab Wiradana.

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jangan berprasangka begitu dangkal terhadap dukun yang satu ini. Ia bukan orang yang menjajakan jasanya untuk mendapatkan sedikit upah buat hidupnya. Agaknya ia memang orang lain dari

orang-orang yang kau sebutkan itu. Karena itu, maka duduklah. Barangkali aku dapat berbicara agak panjang.”

Wiradana pun kemudian duduk dipembaringan disisi ayahnya. Sementara itu Ki Gede berkata, “Wiradana. Ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu.”

Wiradana termangu-mangu. Rasa-rasanya ayahnya memang ingin mengatakan sesuatu yang penting kepadanya.

Tetapi untuk beberapa saat Ki Gede tidak mengatakan sesuatu. Memang ada keseganan Ki Gede untuk mengatakannya berterus terang. Seandainya anaknya menerimanya apakah gadis itu bersedia. Dan apakah Kiai Badra dapat menyetujuinya.

Namun akhirnya Ki Gede memutuskan untuk menanyakannya lebih dahulu kepada Wiradana, kalau Wiradana bersedia, baru Ki Gede akan membicarakannya dengan Kiai Badra. Demikianlah, betapapun beratnya, maka Ki Gede pun telah mengatakan niatnya kepada Wiradana. Bahwa ia ingin melihat Wiradana dapat hidup bersama dengan cucu Kiai Badra.

“Aku sangat berhutang budi kepada Kiai Badra,” berkata Ki Gede. “Namun aku pun mengerti, bahwa dasar hidup bersama bukanlah sekadar membalas budi. Tetapi harus ada keserasian perasaan dan nalar dari kedua orang yang ingin mempertautkan hidupnya. Karena itu, aku bertanya kepadamu. Kau mempunyai kesempatan untuk merenungkan. Dan aku memang tidak ingin kau menjawab sekarang.”

Wiradana menundukkan kepalanya. Di luar sadarnya ia mulai membayangkan gadis yang bernama Iswari, cucu Kiai Badra itu. Seorang gadis yang sederhana tetapi mempunyai kecerdikan alamiah. Bahkan kakeknya telah mengajarinya membaca dan melagukan kidung-kidung yang merdu. Bermain rinding dan ketrampilan bekerja melampaui perempuan-perempuan lain yang ada dirumah itu. Bukan saja bekerja di dapur dan membersihkan isi rumah, tetapi gadis itu trampil juga bekerja yang

lebih berat lagi. Mengambil air, menumbuk padi dan dipagi-pagi benar menyapu halaman.

“Pikirkanlah anakku,” berkata Ki Gede. “Tetapi segalanya terserah kepadamu. Kau dapat mempertimbangkan banyak hal. Tetapi kau harus lebih banyak melihat masa depanmu sendiri.”

Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan memikirkannya ayah. Aku mengerti kenapa ayah mengusulkan hal itu. Meskipun demikian aku ingin mengenal gadis itu lebih banyak lagi.”

“Lakukanlah yang baik menurut pertimbanganmu. Aku akan menahan Kiai Badra untuk tinggal disini beberapa saat lagi, sementara kau sudah dapat mengambil satu keputusan,” berkata Ki Gede. “Namun dalam pada itu, aku sama sekali masih belum berhubungan dengan Kiai Badra untuk membicarakan persoalan ini. Baru jika kau setuju aku akan mulai merintis pembicaraan, agar tidak menimbulkan salah paham.”

Wiradana mengangguk-angguk pula. Jawabnya, "Baiklah ayah. Aku minta waktu beberapa hari." Ketika kemudian Wiradana itu meninggalkan bilik ayahnya, maka pikirannya selalu saja dipengaruhi oleh keinginan ayahnya. Wiradana mengerti, bahwa Kiai Badra sudah berhasil menolong jiwa ayahnya. Tetapi seperti yang dikatakan ayahnya, jika ia mengambil keputusan untuk menerima keinginan ayahnya, dasar utamanya bukanlah sekadar membalas budi. Tetapi ternyata bahwa hal itulah yang lebih tebal menyelubungi perasaannya. Bagaimanapun juga, ayahnya telah berhutang budi kepada seorang yang bernama Kiai Badra itu, terikat pada suatu keadaan yang sulit untuk dilupakan Ayahnya itu.

Dihari-hari berikutnya. Wiradana mulai memperhatikan Iswari dengan sungguh-sungguh, meskipun ia tetap memelihara jarak agar Iswari sendiri tidak mengetahuinya. Hampir semua sikap dan tingkah lakunya tidak terlepas dari pengamatan Wiradana.

Namun kebimbangan masih saja menyelubungi hati anak muda itu. Sebagai seorang anak Kepala Tanah Perdikan, maka ia mempunyai kesempatan untuk menggantikan kedudukan ayahnya karena ia memang tidak mempunyai seorang pun saudara yang akan

dapat memperkecil kesempatan itu. Karena itu, maka segalanya selalu dihubungkannya dengan kedudukan yang kelak akan diterimanya sebagai warisan itu.

"Apakah gadis itu pantas menjadi isteri Kepala Tanah Perdikan," berkata Wiradana di dalam hatinya. "Ia terlalu sederhana. Kehidupan padepokan telah membentuknya menjadi gadis lugu dan nampaknya sedikit dungu, meskipun ia dapat membaca, menulis dan bahkan melagukan kidung-kidung pujian. Ia terlalu terbiasa bekerja

keras. Mengambil air untuk mengisi jambangan, menumbuk padi dan kerja-kerja yang lain meskipun beberapa orang sudah berusaha mencegahnya. Tetapi hal yang demikian akan menguntungkan kedudukannya sebagai seorang istri Kepala Tanah Perdikan yang besar? Apakah hal itu tidak akan mengurangi wibawaku kelak?" Demikianlah, berhari-hari Wiradana membuat pertimbangan-pertimbangan yang kadang-kadang justru membingungkan.

Namun lambat laun ia berhasil melihat kelebihan gadis itu. Gadis itu memang

gadis yang cekatan meskipun pendiam. Cepat mengambil keputusan dalam keadaan yang memerlukan. Sifat yang nampaknya lugu itu ternyata adalah ujud dari sikapnya yang jujur, sementara ia sama sekali bukan gadis yang dungu seperti

yang nampak pada ujud lahiriahnya.

Dari hari kehari, Wiradana berhasil melihat kelebihan gadis itu dari gadis-gadis sebayanya. Jarang sekali seorang gadis yang mendapat kesempatan untuk dapat membaca dan menulis. Mengenali kitab-kitab yang berisi ceritera tentang para pahlawan, nasehat tentang kebaikan budi dan kidung pujian bagi Yang Maha Agung. Diberati pula dengan perasaan berhutang budi, maka ketika kemudian Wiradana menghadap ayahnya, maka ia pun berkata, "Ayah. Aku telah membuat pertimbangan-pertimbangan. Agaknya gadis itu memang mempunyai beberapa kelebihan

dari perempuan-perempuan lain ayah."

"Jadi kau tidak keberatan jika aku melamar gadis itu kepada kakeknya?" bertanya Ki Gede.

"Terserahlah kepada ayah," jawab Wiradana.

"Jangan berkata begitu. Jangan menyerahkan persoalan yang menyangkut masa depanmu sepenuhnya kepada ayah," berkata Ki Gede.

"Baiklah," jawab Wiradana. "Aku dapat menerimanya. Namun bukankah segalanya masih tergantung juga kepada gadis itu sendiri?"

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, "Aku akan berbicara dengan Kiai Badra. Mudah-mudahan tidak akan timbul masalah."

Wiradana tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian meninggalkan bilik ayahnya.

Ki Gede yang berbaring dipembaringannya tersenyum sendiri. Rasa-rasanya ia sudah melihat secercah cahaya yang menerangi Tanah Perdikannya bagi hari hari depan.

Wiradana, anaknya satu-satunya akan mendapat seorang istri yang rajin, trampil, dan mempunyai kepandaian yang jarang dimiliki oleh kebanyakan perempuan.

Ketika hal itu disampaikan kepada Kiai Badra pada satu kesempatan, maka terasa sesuatu membayangi kejernihan sorot mata Kiai Badra. Satu hal yang tidak terduga oleh Ki Gede. Ia berharap bahwa keinginannya itu akan disambut dengan gembira oleh orang tua itu.

“Bagaimana pendapat Kiai Badra?” bertanya Ki Gede.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian jawabnya tidak pasti. “Ki Gede. Segala sesuatunya tergantung kepada cucuku itu. Aku akan menyampaikannya. Dan ia akan mengambil satu keputusan. Namun aku sebagai kakeknya, mengucapkan terima kasih yang tidak dapat aku gambarkan betapa besarnya, karena perhatian Ki Gede terhadap cucuku. Seorang anak padepokan yang bodoh dan malas.”

“Jangan terlalu merendahkan diri Kiai. Aku tahu, cucu Kiai adalah seorang gadis

yang pandai dan yang membuatnya nampak bodoh adalah justru kejujurannya,” jawab Ki Gede. Tetapi kemudian, “Namun demikian, segalanya memang tergantung kepada anak itu sendiri. Aku hanya berharap, agar keinginanku ini tidak tersia-siakan.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Rasa-rasanya ia telah menerima beban yang sangat berat.

Karena itu, maka sejenak kemudian, ia pun telah mohon diri. Katanya kemudian, “Aku akan berbicara dengan cucuku Ki Gede.”

“Silakan Kiai. Aku menggantungkan harapan kepada usaha Kiai meyakinkan cucu Kiai itu,” jawab Ki Gede.

Dengan kepala tunduk, Kiai Badra pun kemudian meninggalkan bilik Ki Gede kembali ke gandok. Ketika ia membuka pintu biliknya, dilihatnya Gandar masih duduk merenungi jari-jari tangannya yang dikembangkannya.

Tetapi demikian pintu berderit, ia pun segera bangkit dan menarik nafas dalam-dalam.

“Nampaknya ada sesuatu yang penting Kiai?” bertanya Gandar. Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Penting sekali.”

“Apakah ada tanda-tanda bahwa gerombolan itu bangkit kembali dan akan menyerang Tanah Perdikan ini?” bertanya Gandar pula.

Kiai Badra menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Bukan soal gerombolan itu lagi. Bukan pula tentang penyakit Ki Gede yang semakin baik. Tetapi persoalannya menyangkut hubungan antara aku dan Ki Gede.”

“Maksud Kiai?” desak Gandar.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Gandar. Aku sebenarnya memang ingin mempertimbangkanmu sebelum aku menyampaikannya kepada adikmu.”

Wajah Gandar menjadi tegang. Tetapi kesan itu pun sejenak kemudian telah lenyap dari wajahnya. Dengan nada dalam ia bertanya, “Apakah ada persoalan yang menyangkut pribadi Kiai?”

“Ya Gandar,” jawab Kiai Badra.

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Keduanya yang kemudian duduk di amben kayu nampak menjadi bersungguh-sungguh.

“Gandar,” berkata Kiai Badra kemudian, “Sebenarnyalah bahwa Ki Gede menaruh minat terhadap adikmu untuk diambilnya menjadi menantu.”

Terasa sesuatu bergejolak di dalam jantung Gandar. Tetapi seperti semula, semua kesan itu tidak nampak di sorot matanya. Bahkan ia pun kemudian

mengangguk-angguk sambil berkata, “Satu penghargaan yang sangat tinggi.” “Itulah yang aku cemaskan Gandar. Hal ini dilakukan oleh Ki Gede justru karena aku telah mengobatinya. Mungkin Ki Gede merasa bahwa aku telah menyelamatkan jiwanya. Padahal yang aku lakukan bukan apa-apa. Aku hanya sebagai lantaran. Jika ia menghargai aku terlalu tinggi maka akibatnya akan kurang baik bagi Iswari sendiri. Apalagi jika angger Wiradana akan menerimanya dengan agak terpaksa,” berkata Kiai Badra dengan wajah yang muram.

Gandar mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Ki Gede tentu sudah mempertimbangkannya dari segala segi. Ki Gede pun tentu sudah membicarakannya dengan Wiradana. Bahkan mungkin permintaan ini datang dari Wiradana sendiri setelah ia mengenal Iswari lebih dekat.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Lalu ia pun bertanya, “Bagaimana pendapatmu Gandar. Sebelum aku menyampaikannya kepada adikmu.” “Jika Iswari setuju, maka tentu tidak akan ada keberatannya Kiai. Bukankah

Wiradana pada saatnya akan menggantikan kedudukan ayahnya menjadi seorang Kepala Tanah perdikan yang cukup besar?”

Kiai Badra memandang wajah Gandar sejenak. Seolah-olah ia ingin membaca isi hatinya. Tetapi ia tidak melihat kesan apapun pada orang itu.

Bahkan Gandar pun kemudian berkata, “Bukankah dengan demikian Kiai akan dapat menanggalkan satu beban? Gadis itu memang merupakan beban bagi Kiai. Jika ia sudah mendapat tempat yang baik, maka sebaiknya Kiai melepaskannya.”

“Tempat yang baik itulah yang aku sangsikan,” jawab Kiai Badra. “Kiai terlalu berprasangka,” jawab Gandar.

“Gandar, adikmu adalah anak yang dungu. Kurang mempunyai wawasan terhadap lingkungan, justru ia cukup lama hidup dalam dunia terpisah. Ia mengenal masyarakat dari satu jarak, sehingga ia tidak masuk ke dalamnya,” berkata Kiai Badra kemudian.

“Tidak Kiai. Meskipun Iswari tinggal di padepokan terpencil, tetapi ia bergaul dengan sesamanya. Ia sering pergi ke pasar untuk menjual hasil tanah kita. Ia mempunyai beberapa orang kawan gadis-gadis padukuhan yang sering bergurau bersamanya di sungai ketika mereka sedang mencuci,” sahut Gandar.

“Tetapi Iswari tidak melihat kehidupan yang utuh dari satu lingkungan. Ia melihat orang-orang yang berada di pasar. Ia bergurau dan bergembira bersama dengan kawan-kawannya di sungai. Tetapi ia tidak melihat kesulitan, kesedihan disamping kegembiraan pada persoalan-persoalan hidup yang lain dari satu lingkungan keluarga. Ia tidak melihat masalah-masalah yang dapat timbul.

Kelaparan, kekerasan, perselisihan dan bahkan kekuasaan. Ia tidak pernah mengalami bencana kekeringan karena kemarau yang panjang atau banjir di musim hujan. Padepokan kita yang terpencil itu bukan satu gambaran yang utuh kelak ia menjadi istri seorang Kepala Tanah Perdikan, maka bekal pengalamannya atas rakyatnya akan sangat miskin,” berkata Kiai Badra kemudian.

Gandar mengangguk-angguk kecil. Ia mengerti alasan Kiai Badra yang mendasar itu.

Meskipun demikian, Gandar itu masih juga berkata, “Tetapi dengan jujur kita dapat mengatakan, bahwa Iswari adalah seorang gadis yang cerdas. Ia akan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sebagaimana kita lihat sekarang. Ia

pandai mengambil pengalaman yang tidak dihayatinya dalam kehidupan sehari-hari itu dari kitab-kitab yang dibacanya. Dan Iswari mampu menyerap keadaan disekitarnya untuk dicernakannya.”

Kiai Badra menarik nafas pula. Namun kemudian katanya, “Segalanya akan terserah kepada Iswari sendiri. Mudah-mudahan ia mendapat terang dihatinya sehingga ia akan dapat menentukan pilihannya dengan tepat,” kemudian suara Kiai Badra pun merendah, “Gandar, sebenarnyalah bahwa ada sesuatu yang kurang aku mengerti terhadap sifat angger Wiradana.

Ia adalah anak tunggal Ki Gede yang mewarisi ilmunya dan kelak tentu Tanah Perdikannya. Namun nampaknya wataknya agak jauh berbeda dengan watak Ki Gede itu sendiri.”

“Wiradana masih muda sekali,” jawab Gandar. “Memang wajar sekali jika nampak perbedaan dari kedua orang itu didalam menentukan sikap. Tetapi bukan berarti bahwa Wiradana akan berbuat dengan pertimbangan yang dangkal itu untuk selanjutnya. Umurnya akan mempengaruhinya, sehingga pada suatu saat akan datang masanya, sikap Wiradana akan seperti sikap ayahnya.”

Kiai Badra mengangguk-angguk meskipun ia tidak sependapat sepenuhnya. Ia tidak dapat melupakan sikap Wiradana terhadap orang-orang yang sudah dikalahkannya. Rasa-rasanya ada sesuatu yang kurang mapan baginya.

Tetapi ia berusaha untuk mengerti penjelasan Gandar. Karena itu, maka katanya kemudian, “Aku akan berbicara dengan Iswari. Gadis itu sudah cukup dewasa. Ialah yang akan mengambil keputusan yang menentukan.”

“Ya Kiai. Sebaiknya Kiai berbicra langsung dengan Iswari. Tetapi sudah barang tentu ia memerlukan alasan untuk menentukan sikapnya,” berkata Gandar.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya, “Memang akhirnya aku akan tergantung kepada sikapnya.” “Ya Kiai. Iswari cukup dewasa untuk menentukan,” sahut Gandar dengan suara yang merendah.

“Besok aku akan berbicara dengan anak itu,” gumam Kiai Badra kemudian. Sebenarnyalah, Kiai Badra ingin segera menyampaikan hal itu kepada cucu perempuannya. Meskipun Kiai Badra itu tidak dapat mengesampingkan kesannya yang didapatkannya terhadap Wiradana dalam beberapa kali sentuhan kepentingan.

Karena itulah, maka Kiai Badra justru menjadi gelisah.

Di hari berikutnya, ketika gelap malam mulai turun, maka Kiai Badra telah memanggil cucunya untuk berbicara tentang dirinya ditunggui oleh Gandar. Dengan hati-hati dan sedikit gambaran tentang kehidupan, Kiai Badra menyatakan kepada cucunya, apakah ia bersedia untuk menerima keinginan Ki Gede yang ingin mengambilnya menjadi menantu

Meskipun Kiai Badra sudah mengambil jalan yang melingkar, namun hal itu masih juga mengejutkan Iswari. Ia sama sekali tidak memikirkan persoalan yang demikian, sehingga karena itu, maka seolah-olah telah dihadapkan kepada satu persoalan yang tidak diduganya.

Karena itu, maka beberapa saat ia justru tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. Mulutnya bagaikan terbungkam dan jantungnya segera berdegup semakin keras.

Kiai Badra mengerti perasaan cucunya. Karena itu ia tidak dengan tergesa-gesa memaksa cucunya untuk menjawab.

“Pikirkan dengan tenang. Tetapi adalah wajar, bahwa pada suatu saat kau akan menghadapi masalah seperti ini. Kau sudah menjadi seorang gadis dewasa. Bukan saja umurmu, tetapi juga ujud lahiriahmu. Karena itu, maka persoalan yang kau hadapi sekarang adalah persoalan yang tidak dapat kau singkiri di dalam kehidupan ini. Karena di dalam hidup seseorang, maka persoalan ini akan dilintasinya. Tanpa menghadapi persoalan seperti ini, maka tugas hidup ini masih belum lengkap karenanya.

Iswari masih tetap menunduk. Namun kakeknya kemudian berkata. “Baiklah Iswari, pergilah ke bilikmu. Mungkin malam ini kau dapat merenunginya. Besok kau dapat memberikan jawaban yang sudah kau pertimbangkan dengan masak-masak sehingga langkah-langkah berikutnya tidak akan digayuti oleh penyesalan yang akan selalu mengganggu.”

Iswari pun kemudian meninggalkan kakeknya. Demikian ia sampai di dalam biliknya, maka ia pun langsung merebahkan dirinya di pembaringannya.

Namun demikian, matanya sama sekali tidak dapat dipejamkannya. Semalam suntuk Iswari dibebani oleh pertanyaan kakeknya yang terasa sangat sulit untuk dijawabnya.

Tetapi dengan demikian, mau tidak mau ia harus mulai menilai seorang laki-laki

muda yang bernama Wiradana, anak Ki Gede yang kelak akan menggantikan kedudukan sebagai Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Sebagai seorang gadis yang hidupnya lebih banyak terpisah dari pergaulan yang besar, maka Iswari merasa sangat sulit untuk menentukan sikap. Ia selalu disaput oleh pengertian sebagaimana dikatakan oleh kakeknya. Bahwa pada suatu saat setiap orang akan sampai pada suatu keadaan seperti yang dihadapinya. Seseorang

tentu akan kawin dan melanjutkan hadirnya anak-anak manusia yang akan meneruskan sejarah hidupnya.

Karena itu, maka dalam kesulitan untuk menentukan sikap, Iswari menjadi pasrah kepada nasibnya. Ia memang tidak ingin memilih. Jika seorang laki-laki akan hadir di dalam hidupnya, maka ia akan menerimanya dengan segala senang hati, asal masih dalam batas-batas kewajaran.

Dengan demikian, ketika keesokan harinya, kakeknya memanggilnya, maka Iswari telah memutuskan untuk menyerahkan segala sesuatunya kepada kakeknya saja. Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mengerti sepenuhnya. Cucunya memang tidak akan menentukan sikap apapun. Ia tentu akan bersandar kepada keputusan yang diambil oleh Kiai Badra.

Yang kemudian dibebani oleh perasaannya adalah Kiai Badra. Ia tidak segera dapat menentukan sikap menghadapi persoalan cucunya itu.

Namun Gandar kemudian berkata, “Kiai, bukankah Kiai dapat merasakan keikhlasan hati Ki Gede?”

“Ya,” Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun ia tidak mengatakan jawabannya, karena cucunya ada di antara mereka. Tetapi di dalam hati ia berkata, “Aku percaya

kepada keputusan hati Ki Gede. Tetapi aku kurang mengerti sikap anak laki-lakinya.”

Namun dalam pada itu, maka akhirnya Kiai Badra pun telah disudutkan oleh satu keadaan untuk mengambil sikap. Dengan keragu-raguan yang masih saja bergejolak di dalam jantungnya, maka ia pun kemudian berkata, “Baiklah Iswari. Jika kau tidak berkeberatan, maka biarlah aku menghadap Ki Gede dan menyampaikan jawaban.”

Iswari tidak menjawab. Tetapi kepalanya yang tunduk benar-benar merupakan suatu isyarat, bahwa ia memang tidak menolak.

Jawaban Kiai Badra sangat menggembirakan Ki Gede serta merta maka ia pun telah memanggil Wiradana untuk menyampaikan jawaban Kiai Badra tentang cucunya.

Wiradana mengangguk-angguk. Tidak banyak yang dikatakannya kepada ayahnya, selain ucapan terima kasih.

Namun dalam pada itu, Kiai Badra rasa-rasanya dapat juga membaca perasaan itu. Hambar.

Tetapi ia sudah menyatakan keputusannya. Tidak mungkin baginya untuk menarik kembali, jika ia tidak ingin memutuskan hubungannya dengan Ki Gede yang menerima hal itu sebagai satu kegembiraan.

Dengan demikian, maka pembicaraan di antara Ki Gede dan Kiai Badra itu

seakan-akan telah menjadi satu keputusan yang sudah sependapat. Bahkan Ki Gede pun kemudian berkata,

“Kiai Badra. Buat apa kita menunggu terlalu lama. Kita sudah sependapat.

Anak-anak kita sudah bersedia. Maka sebaiknya segalanya terjadi dengan cepat, sebelum umurku ditelan oleh penyakitku.”

“Ki Gede justru bertambah baik,” berkata Kiai Badra.

“Tetapi aku sudah cacat. Keadaanku akan dapat berubah-ubah dengan cepat. Hari ini aku nampak sehat. Besok mungkin keadaanku akan menjadi sangat buruk dengan tiba-tiba. Karena itu, mumpung aku masih berkesempatan, biarlah hari perkawinan anak-anak kita itu dilangsungkan lebih cepat,” berkata Ki Gede.

Kiai Badra akhirnya menyerahkan segala-galanya kepada Ki Gede. Karena keadaan tubuhnya, maka Ki Gede ingin segera melihat, anak laki-laki satu-satunya itu hidup sebagai seorang suami.

“Aku sudah tidak pantas lagi untuk memimpin Tanah Perdikan ini,” berkata Ki Gede itu di dalam hatinya,

“Aku harus berani melihat kenyataan bahwa pimpinan Tanah Perdikan ini harus berpindah tangan. Apalagi anakku sudah cukup dewasa dan agaknya mempunyai kemampuan untuk mela-kukan sebagaimana aku kehendaki, meskipun ada sedikit sifatnya yang perlu mendapat teguran.”

Dengan demikian, maka Ki Gede pun dalam waktu yang pendek, telah mengundang orang-orang tua di Sembojan. Agaknya Ki Gede benar-benar ingin melakukan niatnya secepat-cepatnya.

Sementara itu, Kiai Badra masih berusaha dengan segenap kemampuannya untuk mengobati keadaan Ki Gede yang sudah berangsur baik. Pada saat-saat terakhir, tangan dan kakinya sudah dapat bergerak. Kemudian perlahan-lahan Kiai Badra telah dapat menyaksikan Ki Gede itu mencoba berdiri meskipun masih harus ditelekan tongkat.

“Tuhan Maha Besar,” desis Ki Gede itu pada saat menjelang hari-hari perkawinan anaknya. “Aku akan mendapat seorang menantu sebagaimana aku kehendaki, sementara itu keadaan tubuhku menjadi berangsur baik.”

Sebenarnyalah Ki Gede sudah mulai dapat menapakkan kakinya dan mulai melangkah. Meskipun kakinya masih terasa sangat lemah, tetapi harapan untuk dapat mempergunakan kakinya itu menjadi semakin besar, meskipun tidak sebagaimana semula.

Pada saat-saat Ki Gede benar-benar sudah dapat berjalan meskipun harus bertongkat, maka saat-saat perkawinan anak Ki Gede dengan Iswari itu pun akan segera berlangsung.

Rumah Ki Gede di Sembojan telah mulai dibersihkan. Di halaman belakang, orang-orang telah membelahi kayu sebagai persiapan untuk kayu bakar. Dinding yang mulai kendor telah dibetulkan.

Sementara atap yang tiris telah diperbaiki. Beberapa orang memperbaiki pagar bukan saja halaman tetapi juga kebun belakang.

Namun dalam pada itu, wajah Wiradana sendiri nampaknya masih saja hambar. Tidak ada gairah yang menyala di dalam dadanya menjelang hari perkawinannya.

Bahkan seperti juga Iswari, Wiradana itu cenderung untuk melakukan perkawinan itu sebagaimana ia menjalani satu kewajiban. Tidak ada ungkapan kegembiraan dan pandangan yang hidup bagi masa depan.

Meskipun dengan nalar keduanya dapat menerima keinginan Ki Gede itu, tetapi seakan-akan perkawinan itu akan berlangsung tanpa jiwa.

Tetapi Ki Gede tidak begitu menghiraukan keadaan itu. Baginya kedua orang yang berkepentingan sudah menyatakan kesediaan mereka. Apalagi pada saat-saat terakhir, Ki Gede benar-benar telah mampu berjalan dan mempergunakan tangannya sebagaimana sewajarnya.

Tetapi tangan dan kaki itu tidak lagi mampu mengungkapkan ilmunya yang dahsyat, karena kaki dan tangannya itu menjadi terlalu lemah untuk mendukung kemampuannya yang sangat tinggi.

Namun demikian Ki Gede tidak terlalu banyak menghiraukan lagi. Ia ingin melihat anaknya kawin dengan seorang gadis yang memiliki kelebihan dari kebanyakan gadis. Bahkan tidak seorang pun gadis Sembojan yang memiliki kepandaian dan kecerdasan, apalagi ketrampilan seperti Iswari. Dari menyapu halaman, mengambil air, menumbuk padi, tetapi juga memasak dan membersihkan isi rumah dan juga

kemampuan untuk bermain rinding dengan gending-gending ngelangut serta membaca kitab berisi ceritera-ceritera dan kidung puji-pujian.

Ketika saatnya tiba, maka Tanah Perdikan Sembojan telah menjadi ramai di siang dan malam hari sampai tiga hari tiga malam. Hampir disetiap padukuhan diselenggarkaan keramaian dengan pertunjukan-pertunjukan.

Di padukuhan induk suasananya benar-benar sangat meriah. Mereka ikut bergembira tanpa banyak mengetahui persoalannya. Sementara orang-orang tua mengalir tidak putus-putusnya ke rumah Ki Gede untuk menyatakan kegembiraannya.

Ki Gede sama sekali tidak mau mengecewakan mereka. Dengan wajah yang jernih diterimanya tanda ikut bergembira atas perkawinan anak Kepala Perdikan

satu-satunya itu. Kelapa, beras ketan, sayur-sayuran dan bermacam-macam barang hasil kerajinan. Kain tenun yang paling baik yang dibuat oleh orang-orang Sembojan, terumpah dari kulit dan beberapa jenis barang yang lain.

Perkawinan antara Wiradana dan Iswari benar-benar merupakan satu perkawinan yang meriah.

Dalam pada itu, bagaimana pun juga, kemeriahan saat-saat perkawinan itu berpengaruh juga terhadap kedua orang anak muda itu. Meskipun sebelumnya perkawinan itu terasa hambar bagi mereka, tetapi dalam kemeriahan keramaian itu, wajah keduanya mulai nampak cerah. Wiradana menerima kunjungan anak-anak muda dengan gurau yang segar dan tawa yang lepas. Sementara Iswari di dalam biliknya nampak tersenyum renyah, meskipun kepalanya lebih banyak menunduk daripada memandang orang-orang yang mengerumuninya.

Meskipun Iswari bukan gadis Sembojan, tetapi rasa-rasanya ia sudah menjadi akrab dengan kehidupan di Tanah Perdikan itu. Agak meleset dugaan kakeknya, bahwa kehidupannya mengasingkan diri akan menghambat usaha cucunya untuk menyesuaikan

diri dengan kehidupan di Tanah Perdikan itu.

Meskipun demikian, berbeda dengan Ki Gede yang tenggelam dalam kegembiraan, maka Kiai Badra berusaha untuk memperhatikan keadaan cucunya dengan seksama. “Bagaimana menurut pendapatmu Gandar?” bertanya Kiai Badra. “Meskipun Iswari menerima keinginan Ki Gede tetapi nampaknya segalanya hanya pada permukaannya saja.”

“Tetapi ia tidak merasa terpaksa Kiai,” jawab Gandar. “Mungkin pada saat itu, ia tidak dapat menolak karena berbagai pertimbangan. Tetapi setidak-tidaknya ia tidak merasa Kiai memaksanya. Bahkan menurut pengamatanku, pada saat-saat terakhir, anak itu sudah mulai nampak gembira. Perlahan-lahan ia mampu menyesuaikan dirinya.”

“Syukurlah,” Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. “Aku semula merasa cemas, bahwa anak itu sulit untuk menyesuaikan diri.”

“Tetapi ternyata tidak demikian Kiai. Iswari berhasil menyesuaikan dirinya. Ia benar-benar akan menjadi seorang perempuan yang memiliki kelebihan dari

perempuan-perempuan lain di Sembojan, sehingga ia akan mempunyai wibawa yang besar sebagai istri seorang Kepala Tanah Perdikan,” berkata Gandar.

“Mudah-mudahan segalanya terjadi seperti yang kau katakan,” desis Kiai Badra. Sebenarnyalah perkawinan antara Wiradana dan Iswari itu terjadi dengan sangat meriah. Ki Gede seakan menyatakan syukur atas kesembuhannya meskipun tidak dapat pulih seperti sediakala.

Demikianlah, maka saat-saat kedua orang pengantin itu dipertemukan, halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang luas itu pun menjadi penuh sesak. Orang-orang Sembojan ingin melihat sepasang pengantin itu. Beberapa orang di antara mereka berdesis dengan penuh kekaguman, “Benar-benar pasangan yang serasi. Wiradana dalam pakaian penganten benar-benar nampak seperti Arjuna.” “Ya,” sahut yang lain, “Istrinya seperti Sumbadra.”

“Benar. Meskipun agak kehitam-hitaman,” berkata yang lain lagi.

“Hitam manis. He bukankah Sumbadra juga berkulit hitam manis sehingga ia disebut Rara Ireng?” berkata orang yang pertama.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Menurut penglihatan mereka pasangan pengantin

itu benar-benar pasangan yang pantas. Bukan saja ujudnya, tetapi setiap orang Sembojan akhirnya mengetahui, bahwa Iswari memiliki kepandaian yang tidak dimiliki perempuan pada umumnya di Sembojan.

Namun dalam pada itu selagi orang-orang Sembojan sedang merayakan hari perkawinan putra tunggal Ki Gede Sembojan, maka dua orang yang tidak dikenal sehari-hari di Sembojan telah memasuki keramaian di halaman. Tidak seorang pun yang memperhatikan. Meskipun halaman rumah Ki Gede menjari terang benderang seperti siang oleh obor yang terpasang di banyak tempat, tetapi orang yang berdesakan itu sama sekali tidak memperhatikan siapa saja yang berada disebelahnya.

“Bukan main,” desis perempuan, salah seorang dari kedua orang itu.

Kawannya seorang laki-laki, mengangguk-angguk. Katanya, “Satu keramaian yang sangat meriah. Tetapi anak itu memang seorang yang cerdik.

Dalam keramaian seperti ini untuk merayakan hari perkawinannya, ia tidak lupa mengerahkan pengawal-pengawal Tanah Perdikan untuk mengamati keadaan sampai ke ujung-ujung padukuhan yang terpencil sekalipun.”

“Ya, jawab yang perempuan. Tetapi itu adalah wajar sekali. Wiradana adalah anak tunggal,” jawab perempuan itu.

Keduanya pun kemudian terdiam. Mereka memperhatikan kedua orang mempelai yang sedang dipertemukan dengan upacara yang utuh.

“Perhatikan benar-benar,” berkata yang laki-laki. “Pengantin laki-laki itu

adalah Wiradana. Ia adalah anak Ki Gede Sembojan yang telah membunuh pamanmu, Kalamerta.”

Perempuan itu mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia berdesis, “Anak itu memang tampan.”

“Tampan atau tidak tampan, kau tidak berurusan,” berkata yang laki-laki.

“Tugasmu membinasakannya dengan cara apa saja. Syukur kau akan dapat membunuh ayahnya. Tetapi agaknya sulit untuk melakukannya. Pamanmu pun tidak berhasil.

Bahkan ia telah terbunuh. Apalagi sekarang nampaknya ia sudah menjadi agak baik. Dan ternyata ia memang sudah dapat berdiri mendampingi anak laki-lakinya.” Perempuan itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi akhirnya ia mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan membunuhnya. Bukan satu kesulitan bagiku. Aku kira, kemampuannya belum setingkat dengan kemampuanku. Dimana pun aku akan dapat melakukannya.”