-->

Suramnya Bayang-Bayang Jilid 01

Jilid 01

KETIKA hujan reda di ujung malam, maka bulan pun mulai nampak di balik bayangan mega yang kelabu. Jalan-jalan yang sunyi menjadi licin dan berlumpur. Sementara pintu-pintu sudah tertutup rapat.

Namun dalam pada itu, dalam keheningan yang semakin mencengkam, seseorang duduk di atas sebuah amben bambu sambil mengusap hulu pedangnya. Sebuah mangkuk berisi air panas masih terletak di hadapannya.

Sesekali orang itu meneguk minuman panas itu. Namun kemudian pelahan-lahan ia bangkit sambil bergumam, “Waktunya telah tiba.”

Orang itu berdiri tegak sambil memandangi ruangan itu dari sudut sampai ke sudut. Setiap benda yang ada di ruang itu diperhatikan dengan seksama. Namun kemudian ia pun telah menarik nafas dalam-dalam. Sambil melangkah ke pintu, orang itu memanggil, “Wiradana

Seorang anak muda yang mendengar panggilan itu pun bangkit dari pembaringannya. Udara yang dingin telah mendorongnya untuk berbaring sambil merenungi dirinya sendiri.

Ketika Wiradana memasuki ruang tengah, dilihatnya ayahnya berdiri dengan pedang di lambung.

“Ayah. ” desis anak muda itu.

“Ayah akan pergi. Aku tidak tahu apakah aku akan kembali atau tidak. Tetapi kau sudah cukup dewasa. Kau tahu apa yang harus kau lakukan,” desis orang berpedang itu.

“Ayah akan kemana?” tanya Wiradana.

“Baiklah. Aku akan berkata terus terang. Justru karena aku mengharap bahwa kau akan dapat menanggapi keadaan dengan sebaik-baiknya.” Ayahnya terdiam sejenak, lalu, “Wiradana, Tanah Perdikan ini mulai berkembang. Kau harus dapat berbuat sebagaimana ayah berbuat selama ini atas Tanah Perdikan ini. Seandainya ayah tidak kembali, maka aku yakin bahwa Tanah Perdikan ini tidak akan menjadi kuncup. Tetapi akan mekar dan menjadi sejahtera.”

“Apa sebenarnya yang akan ayah lakukan?” tanya Wiradana.

“Hari ini adalah hari yang sudah aku janjikan untuk bertemu dengan Gonggang Wirit,” jawab ayahnya.

“Siapakah Gonggang Wirit itu, ayah?” tanya Wiradana.

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tidak banyak orang yang mengenal namanya. Bahkan aku kira orang itu telah mati pula. Namun tiba-tiba ia datang ke Tanah perdikan Sembojan ini.”

“Apa hubungannya dengan ayah dan untuk apa ia datang kemari?” desak Wiradana. “Persoalan itu sebenarnya telah terjadi sejak kau belum dilahirkan.” Wajah orang tua itu menjadi keruh. “Persoalannya berkisar pada persoalan ibumu. Aku telah bertengkar dengan seseorang sehingga aku tidak dapat berbuat lain daripada membunuhnya. Laki-laki yang mati itu adalah adik orang yang bernama Gonggang Wirit. Untunglah bahwa ibumu sekarang sudah tidak ada lagi, sehingga ia tidak melihat, bahwa pertentangan yang terjadi lebih dari duapuluh tahun yang lalu itu masih saja berkelanjutan.”

“Apakah Gonggang Wirit datang memang untuk mempersoalkan peristiwa yang terjadi lebih dari duapuluh tahun yang lalu itu?” tanya Wiradana.

“Agaknya tidak, Wiradana,” jawab ayahnya. “Ternyata sekarang Gonggang Wirit telah menjadi seorang gegedhug yang membuat negeri ini menjadi keruh. Mungkin Tanah perdikan ini dianggapnya terlalu jauh dari pusat pemerintahan di Demak, sehingga Gonggang Wirit telah memilih daerah yang sedang tumbuh ini menjadi sasarannya.”

“Ayah, apakah Gonggang Wirit mempunyai hubungan dengan gerombolan Kalamerta yang

membuat rusuh di Tanah perdikan Sembojan ini?” tanya Wiradana. “Ternyata Kalamerta itu adalah Gonggang Wirit,” jawab ayahnya. “Ia memang

menggantikan namanya dan melakukan pekerjaan yang nista dengan kemampuannya yang

tinggi dalam olah kanuragan. Agaknya Tanah Perdikan ini akan banyak mengalami kesulitan jika kita harus berhadapan langsung dengan gerombolan itu.”

“Tetapi kenapa ayah akan menemuinya sekarang? Sebab menurut tanggapanku, ayah akan menemuinya dalam perang tanding,” sahut Wiradana dengan cemas.

“Ya. Aku memang mengharap dapat bertemu dengan Gonggang Wirit dalam perang tanding. Aku tidak mempunyai cara lain untuk menyelamatkan Tanah Perdikan ini. Jika aku berhasil memancingnya, maka aku kira para pengikutnya akan kehilangan pegangan, sehingga para pengawal Tanah Perdikan ini akan dapat menghadapi mereka,” jawab ayahnya.

“Ayah yakin akan dapat membunuhnya?” tanya Wiradana.

“Aku akan mencobanya. Tetapi jika aku tidak berhasil, dan aku justru terbunuh, maka jangan kau sesali. Mungkin aku memang harus menebus tingkah lakuku lebih dari duapuluh tahun yang lalu. Tetapi jika terjadi demikian, kau harus dengan cepat memberikan laporan, tidak usah ke pusat pemerintahan di Demak. Kau dapat menugaskan dua-tiga orang untuk melaporkan ke Kadipaten Pajang yang jauh lebih dekat. Mudah-mudahan Pajang menaruh perhatian atas tingkah laku segerombolan berandal di Tanah Perdikan Sembojan ini,” jawab ayahnya.

Wiradana termanggu-mangu. Namun kemudian katanya, “Ayah, sebaiknya ayah tidak pergi seorang diri. Apakah ayah yakin, bahwa orang itu akan menghadapi ayah dengan jujur?”

“Aku sudah berhasil memancing persoalan. Aku berhasil mengungkat persoalan lama sehingga aku berhasil membatasi persoalan itu antara aku dengan Gonggong Wirit, kakak dari seorang yang pernah aku bunuh lebih dari dua puluh tahun yang lalu,” jawab ayahnya pula.

“Jadi ayah memang sudah pernah bertemu dengan orang itu?” bertanya Wiradana pula.

“Aku bertemu dengan seseorang yang pernah aku kenal justru dari sudut pasar, di pande besi ketika aku ingin memesan sepuluh kejen bajak utuk padukuhan Gambir,” jawab ayahnya pula. “Agaknya Gongong Wirit tidak lupa kepadaku sebagaimana aku tidak lupa kepadanya meskipun kit sudah berpisah. Ternyata sorot matanya masih tetap memancarkan dendam atas kematian adiknya meskipun itu sudah terjadi lama sekali. Ketika orang itu tahu, bahwa aku adalah kepala Tanah Perdikan ini, maka

ia mengancam akan menghancurkan Tanah Perdikan itu. Satu-satunya jalan adalah memancing kebenciannya kepadaku dan membatasi persoalannya sebagai persoalan pribadi. Akhirnya, aku berhasil menjebaknya dalam satu perang tanding.” “Bagaimana jika orang itu curang ayah?” bertanya Wiradana pula.

“Tidak. Ia sudah mengatakan, bahwa dalam persoalan pribadi ini, akan berdiri di atas harga dirinya demi menuntut balas atas kematian adiknya itu,” jawab ayah Wiradana. Wiradana menarik nafas. Tetapi kecemasan tetap membayang diwajahnya. Sehingga akhirnya ia berkata, “Ayah, aku akan ikut bersama ayah.”

Tetapi ayahnya menggeleng. Katanya, “Kau tinggal di rumah. Jika aku harus terbunuh untuk menembus ketamakanku dua puluh tahun yang lalu, biarlah itu terjadi. Tetapi aku akan dapat berbuat seusatu atas Tanah Perdikan ini. Tetapi jika kau juga menjadi korban, maka akibatnya akan sangat parah bagi Semboyan.”

Wiradana menjadi semakin tegang. Namun ia tidak akan dapat mencagah ayahnya. Ia tahu benar sifat ayahnya. Jika ia sudah mengambil satu keputusan, maka sulitlah baginya untuk mengubahnya.

Namun Wiradana sadar, bahwa yang dilakukan ayahnya itu bukannya karena persoalan pribadinya semata-mata. Tetapi cenderung untuk menyelamatkan Tanah Perdikannya, meskipun mungkin ia harus mengorbankan dirinya.

Demikianlah, akhirnya Kepala Tanah Perdikan Sembojan, yang juga disebut Ki Gede Sembojan itu kemudian meninggalkan rumahnya. Ketika ia turun tanggap pendapa, sekali lagi ia berpaling kepada anaknya sambil berkata, “Hati-hatilah. Banyak kemungkinan dapat terjadi.”

Wiradana mengangguk kecil. Dengan suara sendat ia berkata, "Aku akan berusaha berbuat sebaik-baiknya ayah.". Ki Gede Sembojan tersenyum. Namun kemudian ia pun melangkah melintasi halaman.

Di gardu, di depan regol Ki Gede Sembojan terhenti sejenak. Kepada para peronda yang berada di gardu sambil kedinginan Ki Gede berkata, "Berhati-hatilah.

Meskipun jalan licin dan berlumpur, jangan segan untuk turun dan mengelilingi daerah pengamatan kalian."

"Baik Ki Gede," jawab anak-anak muda yang berada di gardu itu. Namun dalam pada itu, salah seorang dari mereka bertanya, "Ki Gede akan pergi kemana?"

"Aku akan melihat-lihat saja," jawab Ki Gede, "Mudah-mudahan gardu-gardu tidak menjadi kosong, justru dalam keadaan yang terlalu sepi ini."

Demikianlah maka Ki Gede pun telah menyusup dan hilang di kegelapan. Wiradana berdiri termangu-mangu. Ia tidak bertanya dimana perang tanding itu akan diadakan. Karena ia tahu pasti bahwa ayahnya tidak akan menunjukkannya.

Dalam pada itu, Ki Gede Sembojan pun telah menyusuri jalan padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan. Sekali-kali Ki Gede harus menyisih karena air yang tergenang.

Namun Ki Gede harus selalu berhati-hati karena jalan yang licin dan berlumpur. Sejenak kemudian Ki Gede terhenti. Dihadapannya nampak lampu obor menyala di gardu di ujung jalan. Agaknya, beberapa orang anak muda berada di gardu itu. Meskipun tidak seramai hari-hari yang lain, pada saat jalan tidak menjadi basah dan licin, namun ternyata bahwa gardu itu tidak menjadi kosong meskipun hujan turun sejak sore.

Tetapi agaknya Ki Gede tidak mau disapa lagi oleh orang-orang Sembojan. Justru karena itu, maka ia pun telah menyusup ke sebuah halaman. Kemudian Ki Gede telah keluar dari Pedukuhan Induk itu dengan meloncati dinding disebelah pintu gerbang sehingga tidak seorang perondapun yang mengetahuinya.

Setelah berada di bulak persawahan yang panjang, maka langkah Ki Gede pun menjadi semakin cepat dan panjang. Ia ingin segera bertemu dengan orang yang bernama Gonggang Wirit dan yang ternyata telah mengganti namanya dengan Kalamerta, yang pada saat-saat terakhir telah mengganggu ketenangan hidup di Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan langkah pasti Ki Gede pergi ke tempat yang jarang dikunjungi oleh seseorang. Ketika ia sampai ke sebuah sungai yang kecil, maka ia pun segera menelusurinya. Ia telah berjanji bertemu dengan Gonggang Wirit di ujung Kali Pideksa. Sebuah sungai kecil yang menyusuri lereng perbukitan, namun yang kemudian saling bergabung dengan sungai-sungai kecil yang lain sehingga akhirnya

menjadi sebuah bengawan yang besar dan panjang menyusuri ngarai membelah tanah di daerah Timur.

Ki Gede memperlambat langkahnya ketika ia berada di ujung hutan yang tidak terlalu lebat. Sejenak ia berdiri termangu-mangu di atas tebing. Terdengar suara air yang gemerecik agak lebih besar dari hari-hari sebelumnya oleh curah air hujan yang tidak henti-hentinya.

Ki Gede kemudian berhenti di antara dua batang pohon yang besar yang tumbuh tidak terlalu jauh dan agak terpisah dengan pepohonan yang lain oleh beberapa puluh langkah tanah berbatu padas.

Selagi Ki Gede termangu-mangu, maka tiba-tiba saja terdengar suara tertawa berkepanjangan.

"Gila," geram Ki Gede di dalam hatinya, "Ia melihat aku datang, tetapi aku tidak melihatnya."

Ki Gede berdiri tegak di antara kedua batang pohon yang besar itu. Ia sadar, bahwa orang yang tertawa itu ingin menunjukkan kepadanya, bahwa ia memiliki kemampuan untuk menggetarkan isi dada seseorang hanya dengan suaranya saja. Sebenarnya suara itu semakin lama semakin keras. Getarannya telah mengguncang bukan hanya dedaunan, tetapi rasa-rasanya isi dada Ki Gedepun telah terguncang pula.

Namun Ki Gede adalah seorang yang telah mapan dalam olah kanuragan. Karena itu, maka iapun mampu mengungkapkan daya tahannya untuk melawan suara tertawa itu. Bahkan dengan memusatkan nalar budinya, maka Ki Gede pun segera mengetahui, dimana lawannya itu telah menunggu.

Tetapi Ki Gede masih tetap berdiri tegak. Ia sama sekali tidak berusaha melawan suara tertawa itu, kecuali bertahan agar isi dadanya tidak terguncang-guncang. Dalam pada itu, akhirnya suara tertawa itu menurun dengan sendirinya. Agaknya orang yang melontarkan suara itu menyadari bahwa suara tertawanya tidak banyak berpengaruh atas orang yang baru datang itu. Bahkan karena sikap diamnya, maka rasa-rasanya orang yang berdiri di antara dua batang pohon itu merasa terlalu yakin akan dirinya.

“Turunlah,” tiba-tiba saja terdengar suara Ki Gede.

“Persetan,” geram orang yang duduk di atas sebatang dahan pada pohon kelapa itu. “Jangan menunggu aku mengguncang pohon ini dengan tanganku,” berkata Ki Gede selanjutnya.

Tetapi orangyang di atas dahan itu telah tertawa lagi. Tetapi tertawa dengan

suara wajar. Katanya, “Kau sangka aku percya bahwa kau mampu mengguncang pohon raksasa ini?”

“Cobalah berpegangan dengan erat, agar kau tidak terjatuh dari dahan itu,” jawab Ki Gede.

“Jangan membual,” jawab orang itu, yang justru kemudian telah meloncat turun beberapa langkah saja dihadapan Ki Gede.

“Gonggang Wirit,” berkata Ki Gede, “Agaknya ilmumu memang sudah menjadi semakin matang.”

“Jangan berkata begitu Ki Gede,” jawab Gonggang Wirit, “Meskipun nampaknya kau memuji, tetapi itu merupakan suatu penghinaan. Dua puluh tahun telah lalu. Kau sangka dalam waktu itu ilmu seseorang seharusnya tidak berubah, sehingga apabila ada yang mampu meningkatkan ilmunya masih harus mendapat pujian?”

“Bukan maksudku Gonggang Wirit. Tetapi aku benar-benar kagum melihat kemampuanmu mengguncangkan dedaunan dengan suara tertawamu. Meskipun ilmu Gelap Ngampar mu

itu masih baru dalam tingkat permulaan.

Gonggang Wirit mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa pula.

Katanya, “Jangan menutupi kecemasanmu dengan penilaian yang tidak berarti

apa-apa itu. Apapun yang kau katakan, tetapi aku mampu mengguncang pepohonan dengan suaraku. Aku akan mampu juga menghancurkan isi dadamu seandainya aku mengerahkan segenap tenaga ilmuku.”

Ki Gede Sembojan tersenyum. Katanya, “Sebuah mimpi yang manis. Tetapi kalau akan segera terbangun dan melihat kenyataan yang sangat pahit dari akhir mimpimu.”

“Kita agaknya sama-sama ingin membual. Tetapi baiklah, kau sudah datang memenuhi janjimu. Aku pun datang sebagaimana seorang laki-laki karena persoalan yang kita hadapi sekarang adalah persoalan dendam pribadi,” berkata Gonggang Wirit. Lalu, “Tetapi seandainya kau berurusan dengan Kalamarta, maka aku tidak akan bersusah payah bersikap jangan. Mungkin aku akan membantumu beramai-ramai disini bersama para pengikutku.”

“Terima kasih,” jawab Ki Gede, “Persoalan kita memang persoalan antara kau dan aku. Bukan persoalan segerombolan orang yang dipimpin oleh Kalamarta, yang akan merampok di daerah Tanah Perdikan Sembojan.”

“Karena itu, maka kita akan mempergunakan waktu itu sebaik-baiknya. Kematian adikku dua puluh tahun yang lalu, tidak akan pernah dapat aku lupakan. Adikku itu adalah saudaraku satu-satunya, sehingga sejak aku kehilangan anak itu, maka hidupku menjadi sepi. Bahkan seandainya aku tidak kehilangan adikku, mungkin

jalan hidupku akan berlainan dengan jalan yang aku tempuh sekarang. Mungkin aku tidak perlu berperisai nama Kalamerta. Mungkin aku justru menjadi seorang saudagar yang kaya atau mungkin seorang kepala Tanah Perdikan seperti yang kau jabat sekarang,” berkata Gonggang Wirit.

“Aku sama sekali tidak sengaja merusak jalan hidupmu. Persoalannya adalah antara aku dan adikku. Jika kau kemudian terlibat, bahkan kemudian menjadi persoalan di antara kita, sama sekali bukan yang aku kehendaki. Tetapi karena agaknya dendammu tidak dapat kau susut, maka aku telah berjanji untuk datang malam ini,” sahut Ki Gede Sembojan.

“Ketamakanmu membuat jantungku meledak. Agaknya setelah dua puluh tahun lebih, aku baru mendapat kesempatan untuk membalas sakit hati itu. Tetapi jika aku berhasil membunuhmu, biarlah perempuan itu melihat mayatmu dibawah telapak kakiku. Tetapi mungkin perempuan itu justru akan bersyukur, karena ia telah merasa tersiksa selama ia berada di tanganmu. Karena dengan jujur harus kau akui, bahwa sebenarnya perempuan itu memilih adikku daripada kau,” geram Gonggang Wirit.

“Perempuan itu telah meninggal sejak beberapa tahun yang lalu,” desis Ki Gede Sembojan.

“Ia tentu akan sakit-sakitan selama ia menjadi isterimu. Satu-satunya hiburan baginya adalah bahwa kau telah mewarisi derajat pamanmu, Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang tentu akan kau miliki dengan cara yang licik pula. Mungkin kau bunuh pamanmu dengan racun, sekaligus anak-anaknya. Mungkin kau tipu pamanmu dengan cara apapun juga, sehingga akhirnya Tanah Perdikan ini jatuh ketanganmu.”

“Tidak,” jawab Ki Gede Sembojan, “Aku warisi Tanah Perdikan ini sebagaimana seharusnya. Paman tidak mempunyai seorang anakpun, sehingga aku mendapat kesempatan untuk menggantikannya dan menerima semua warisannya.”

“Kau dapat saja ingkar. Tetapi orang seperti kau tentu tidak dapat dipercaya.

Aku tidak akan dapat melupakan bagaimana kau licik merebut perempuan itu, dan kemudian kau peristrikan setelah kau bunuh adikku,” jawab Gonggang Wirit menjadi marah.

“Yang telah terjadi dua puluh tahun yang lalu itu tidak akan dapat diulang kembali. Jika sekarang kau ingin menuntut balas, lakukanlah. Yang terjadi itu

adalah akibat panasnya darah kami yang sama-sama masih muda,” berkata Ki Gede Sembojan.

“Kau benar,” Gonggang Wirit mengangguk-angguk, “Kita sekarang sudah menjadi tua. Umur kita sudah menjadi setengah abad. Karena itu kita akan menyelesaikan persoalan ini dengan sikap orang tua. Siapa yang lemah di antara kita, akan mendahului kembali ke kelanggengan.”

“Aku sudah siap,” desis Ki Gede.

Gonggang Wirit pun segera mempersiapkan diri pula. Mereka bergeser beberapa puluh langkah dari pohon raksasa itu dan berdiri di atas tanah berbatu padas.

Ki Gede termangu-mangu sejenak ketika ia melihat lawannya menarik sebilah keris yang sangat besar dari punggungnya. Katanya, “Keris ini dibuat khusus oleh

kakekku untuk ayahku yang kemudian diberikannya kepadaku. Dengan keris ini, aku akan menyelesaikan dendamku disini, sehingga tidak akan menjadi beban selama hidupku. Sebelum aku dapat membunuhmu, maka aku tidak akan pernah merasa tenang karena seakan-akan aku telah mengabdikan jerit adikku pada saat kau tikam

jantungnya dengan pedang.”

Ki Gede Sembojan menarik nafas dalam-dalam. Sekilas mengawang kenangan yang tidak begitu jernih melintas di angan-angannya. Hatinya memang telah ternoda hitam. Tetapi saat itu ia memang tidak dapat menghindarinya.

Dua puluh tahun lebih sudah berlalu. Ternyata segalanya telah berubah. Ia telah menjadi Kepala Perdikan, sementara saudara tua dari seorang anak muda yang ditikamnya sampai mati, justru menjadi seorang Kepala berandal yang ditakuti, yang telah datang untuk mengganggu ketenangan di Tanah Perdikannya.

Namun Ki Gede berusaha untuk mengusir kenangannya itu. Ia tidak ingin terganggu

oleh perasaan bersalah dalam menghadapi orang yang benar-benar akan membunuhnya.

“Aku harus berbuat sebaik-baiknya di atas alas keadaanku sekarang. Aku berbuat untuk Tanah Perdikan. Sama sekali bukan karena persoalan pribadi, meskipun aku telah menggunakannya sebagai alasan,” berkata Ki Gede di dalam hatinya.

Dengan demikian, maka Ki Gede pun menjadi mantap. Ia tidak merasa lagi bertempur karena ketamakannya. Tetapi ia berdiri sebagai seorang Kepala Tanah Perdikan

yang berhadapan dengan seorang pemimpin dari sekelompok perampok yang ganas yang akan membuat Sembojan menjadi miskin.

Sejenak kemudian, karena lawannya telah menarik kerisnya yang besar yang digantungkannya dipunggungnya, maka Ki Gede pun telah menarik pedangnya. Pedang yang dinamainya Sabet Kiai Tatit.

Sejenak kemudian kedua orang yang sudah menggenggam senjata di tangan

masing-masing itu pun mulai bergerak. Sambil menjulurkan kerisnya Gonggang Wirit berkata, “Aku ingin persoalan ini cepat selesai. Karena itu, maka aku segera mempergunakan pusakaku.”

“Aku tidak berkeberatan,” jawab Ki Gede Sembojan, “Aku pun ingin segera melihat nyawamu terkapar disini, sebelum aku memanggil para pengawal untuk menguburmu.” Gonggang Wirit menggeram, namun ia tidak menjawab lagi. Tetapi kerisnyalah yang mulai bergerak.

Sejenak kemudian, maka Gonggang Wiritlah yang mulai menyerang lawannya. Pedangnya berputaran, namun kemudian mematuk lurus ke arah jantung. Tetapi Ki Gede memang sudah siap menghadapinya. Karena itu, serangan yang pertama itu sama sekali tidak berarti. Dengan gerak yang sederhana ia memiringkan tubuhnya, sehingga keris itu sama sekali tidak menyentuhnya.

Gonggang Wirit tersenyum. Tetapi ia menggerakkan pergelangan tangannya sehingga pedang itu pun berubah arah. Serangannya menjadi mendatar setinggi dada

Ki Gede melihat perubahan itu. Karena itu, maka ia terpaksa bergeser lagi selangkah surut. Gonggang Wirit tidak menyerangnya lagi. Ia menarik senjatanya. Namun selangkah ia bergeser sambil memutar kerisnya yang besar itu.

“Kau masih mampu bergerak cepat, Ki Gede, desis Gonggang Wirit.

Ki Gede Sembojan tidak menjawab sama sekali. Tetapi ia pun telah bersiap menghadapi serangan-serangan berikutnya.

Dalam pada itu, Gonggang Wirit pun telah mulai dengan sungguh-sungguh. Selangkah ia meloncat maju, kerisnya menyambar dengan cepat, sementara Ki Gede pun telah meloncat pula menghindar secepatnya datangnya serangan. Namun Gonggang Wirit telah melibasnya dalam permainan senjata yang cepat dan berbahaya.

Tetapi serangan-serangan Gonggang Wirit masih belum membuat Ki Gede menjadi bingung. Ki Gede masih tetap melihat keris lawannya dengan jernih, meskipun ia menyadari, bahwa menilik ujudnya, keris itu tentu keris yang mempunyai tuah yang tinggi. Bahkan menurut ujung dan warnanya, keris itu tentu merupakan senjata yang paling berarti bagi Gonggang Wirit.

Sejenak kemudian, maka keduanya pun telah terlibat dalam pertempuran yang semakin sengit. Keduanya bergerak semakin cepat, sementara senjata mereka pun menyambar-nyambar dengan garangnya.

Ketika kemudian terjadi benturan-benturan antara keris Gonggang Wirit yang besar dengan sabet Ki Gede yang dinamainya Kiai Tatit, maka bunga apipun telah memercik keudara, mengoyak kelamnya malam.

Ternyata bahwa kedua orang itu adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Keduanya mampu bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, sementara kekuatan mereka pun sulit untuk dijajagi menurut ukuran kekuatan wadag orang kebanyakan. Sambaran senjata mereka telah menimbulkan desing angin yang mengguncang udara malam yang gelap.

Hanya orang-orang yang memiliki ketajaman penglihatan melampaui ketajaman mata biasa sajalah yang mampu melihat gerak ujung senjata lawan yang bagaikan seekor lalat mengitari sasarannya. Dalam pada itu, selagi kedua orang yang berilmu tinggi itu bertempur di sebelah pohon-pohon rakasa di ujung Kali Pidesa maka di rumahnya Wiradana menunggunya dengan sangat gelisah. Sekali-kali timbul niatnya untuk mencari ayahnya. Tetapi

jika hal itu diketahui oleh ayahnya, maka ayahnya justru akan menjadi marah kepadanya. Bahkan barangkali kedatangannya di arena perang tanding itu akan

dapat mempengaruhi kemampuan ayahnya menghadapi lawannya yang dikenal dengan Kalamerta, namun yang oleh ayahnya disebut Gonggang Wirit.

Namun kadang-kadang dalam kegelisahan Wiradana berniat untuk berbicara dengan para peronda, agar merekalah yang mencari ayahnya.

Tetapi niat itupun telah diurungkannya pula. Sehingga akhirnya dalam kegelisahannya Wiradana itu mondar-mandir saja di dalam biliknya. Kadang-kadang ia justru keluar ke ruang dalam dan dengan jantung yang berdebaran memandangi pintu bilik ayahnya yang tidak tertutup rapat.

Di gardu, anak-anak muda yang meronda berusaha untuk melawan kantuknya dengan saling berceritera. Bahkan ada yang sempat bergurau dan tartawa berkepanjangan.

Seorang anak muda yang kekurus-kurusan duduk di sudut gardu tanpa menghiraukan kawan-kawannya. Ia tidak ikut tertawa dalam gurau yang kadang-kadang kasar. Ia pun tidak ikut berceritera tentang lelembut yang beterbangan di dalam gelapnya malam. Tetapi tiba-tiba saja seorang kawannya menegornya, “He, apa yang kau lakukan? Itukah agaknya yang membuatmu diam saja, tetapi mulutmu tidak berhenti mengunyah.”

“Agaknya bagiku lebih bermanfaat mengunyah ketela rebus ini daripada membual ke sana kemari tidak ada ujung pangkalnya,” jawab anak muda yang kekurus-kurusan itu.

“Kau memang tidak pernah berhenti makan. Tetapi kau tetap kurus saja,” gumam kawannya itu.

Anak muda yang kekurus-kurusan itu tidak menjawab. Tetapi mulutnya masih saja mengunyah makanan tanpa henti-hentinya.

Sementara itu, dua orang yang berada di ujung Kali Pideksa, disebelah pohon raksasa yang berdiri tegak dalam kelamnya malam, masih saja bertempur dengan dahsyatnya. Ternyata keduanya adalah orang yang berilmu tinggi. Setelah lebih

dari duapuluh tahun mereka berpisah, agaknya ilmu mereka telah meningkat dengan pesatnya.

Gonggang Wirit dan Ki Gede Sembojan agaknya tanpa saling mengetahui keadaan masing-masing telah menimpa diri dalam jalannya yang ternyata pada satu saat telah bersilang.

Pertempuran yang terjadi itu, semakin lama menjadi semakin cepat, sehingga keduanya bagaikan berubah menjadi bayang-bayang yang berputaran. Senjata mereka yang terayun-ayun telah menimbulkan angin yang berputaran menggerakkan daun- daun dari pohon raksasa itu. Benturan yang terjadi itu telah menggeretakkan jantung masing-masing. Bahkan tangan-tangan merekapun terasa menjadi pedih.

Ternyata senjata ditangan masing-masing adalah senjata pilihan yang sulit dicari bandingnya. Keris yang besar ditangan Gonggang Wirit memiliki kemampuan yang sebanding dengan sabet Kiai Tatit, di tangan Ki Gede Sembojan.

Namun betapapun juga mereka memiliki kemampuan gerak yang cepat, namun setelah bermain-main dengan senjata untuk beberapa lamanya, maka ujung-ujung senjata itu telah mulai menjilat tubuh lawannya. Pedang Ki Gede Sembojan telah tergores

ditubuh Gonggang Wirit, menyilang di dada. Namun kemudian ujung keris Gonggang Wirit pun telah tergores di lengan Ki Gede pula. “Gila,” geram Ki Gede.

Sementara itu terdengar Gonggang Wirit tertawa. Katanya, “Kau akan mati. Warangan pada kerisku itu tidak akan terlawan oleh obat yang manapun juga.”

Ki Gede Sembojan menggeram. Tetapi ia menyadari, apa yang dapat terjadi atas dirinya. Karena itu, maka sambil bersiaga menghadapi kemungkinan berikutnya, ia telah mengambil sebutir obat dari kantong ikat pinggangnya. Ia sengaja membawa obat itu, karena ia menyadari, bahwa keris lawannya itu tentu mengandung bisa yang kuat. Ketika Ki Gede bertemu dengan orang itu di tempat seorang pande besi,

Ki Gede sudah melihat bahwa orang itu adalah pemimpin gerombolan Kalamerta, jika orang yang dikenalnya bernama Gonggang Wirit itu tidak mengatakannya sendiri tentang dirinya.

Tetapi ketika ia menelan obat itu, Gonggang Wirit tertawa semakin keras. Katanya, “Tidak ada gunanya. Obat apapun juga, tidak akan menolongmu.” “Gila,” geram Ki Gede.

Kemarahan yang memuncak telah menghentak di dada Ki Gede. Tiba-tiba saja diluar dugaan lawannya, pada saat lawannya tertawa berkepanjangan, Ki Gede telah meloncat menyerang. Demikian cepatnya sehingga lawannya itu tidak sempat berbuat layak.

Untuk melindungi dirinya, maka Gonggang Wirit telah menangkis serangan itu. Tetapi serangan yang datang terlalu cepat itu tidak seluruhnya dapat dihindarkannya. Meskipun ujung pedang Ki Gede tidak menghujam ke dadanya, namun pedang itu telah mengoyak pundaknya.

Gonggang Wirit menyeringai menahan pedih. Ketika terasa darah meleleh dari luka itu, maka ia pun menjadi sangat marah pula.

Karena itulah, maka pertempuran itupun menjadi semakin meningkat pula. Ki Gede yang telah terkena racun itupun mulai merasakan pengaruhnya. Tubuhnya terasa menjadi semakin lemah. Obat yang telah ditelannya hanya mampu menghambat peredaran bisa yang telah menusuk ke dalam urat dadanya.

Tetapi Gonggang Wirit yang telah menitikkan darah semakin banyak itu pun kekuatannya telah menjadi susut pula. Meskipun luka di dadanya tidak begitu dalam, tetapi darah telah menitik pula, sementara dari pundaknya yang terkoyak, darahpun mengalir bagaikan terperas.

Dengan demikian, maka kedua orang yang berilmu tinggi itu semakin lama ternyata menjadi semakin lemah pula. Dalam kemarahan yang memuncak, Ki Gede masih sempat

menghentakkan sisa tenaganya sehingga ujung pedangnya sempat menyusup sekali lagi ke sela-sela putaran keris lawannya, sehingga pedang itu telah menghujam ke lambung Gonggang Wirit. Tetapi pada saat yang hampir bersamaan pula keris Gonggang Wirit yang berbisa itu telah menyobek kulit Ki Gede pada pergelangan tangannya.

Gonggang Wirit yang lambungnya sobek itu terhuyung-huyung beberapa langkah surut. Dipandanginya lawannya yang membuatnya mendendam selama lebih dari duapuluh tahun. Kebencian yang sangat memancar dari kedua belah matanya yang merah, sementara darahnya masih saja mengalir tidak henti-hentinya.

Sesaat kemudian pandangan mata Gonggang Wirit itu pun menjadi buram. Tubuhnya menjadi semakin lemah, sementara darahnya mengalir tanpa dapat dibendung lagi.

Namun dalam keadaan yang demikian ia masih tertawa sambil berkata, “Ki Gede, kau memang berhasil melukai aku. Mungkin aku akan mati. Tetapi kaupun akan mati pula malam ini. Obat apapun juga tidak akan dapat menolongmu. Racunku akan bekerja dengan pasti, menghancurkan jaringan di dalam tubuhmu, mencengkam otakmu dan kemudian membekukannya sehingga kau akan mati.”

Ki Gede tidak menjawab. Tetapi tubuhnya mulai terasa menjadi lain.

Sendi-sendinya seakan-akan tidak lagi dapat dikuasainya. Dagingnya bagaikan menjadi kejang-kejang dan darahnya serasa mulai semakin sendat.

Ketika Gonggang Wirit kemudian terjatuh ditanah, maka Ki Gede berusaha untuk mengambil sebutir obat penangkal racunnya. Dengan susah payah ia mencoba menelannya. Tetapi obat tertelan, kaki Ki Gede tidak lagi kuat menyangga tubuhnya, sehingga Ki Gede itu pun kemudian jatuh terduduk.

Obatnya memang benar-benar tidak dapat menolak atas racun yang menghujam semakin

dalam ditubuhnya. Seperti dikatakan oleh Gonggang Wirit bahwa racun itu akan merusak seluruh jaringan tubuhnya, mencengkam otaknya dan kemudian membekunya. Sementara itu, obat yang ditelannya, hanya mampu memperlambat kepastian yang tidak akan dapat terhindar dari dirinya.

Tubuh Ki Gede semakin lama menjadi semakin lemah. Bahkan akhirnya malam serasa menjadi semakin gelap. Bintang-bintang yang mulai mengintip dari balik sisa awan dilangit, menjadi pudar dan akhirnya lenyap sama sekali.

Namun dalam pada itu, pada saat terakhir kesadarannya, Ki Gede masih sempat berkata kepada dirinya, “Jika saat ini memang harus datang kepadaku, maka tugasku memang sudah selesai. Lebih dari itu, agaknya aku memang harus menebus noda-noda yang terpercik dihatiku dua puluh tahun yang lalu.”

Malam pun menjadi semakin sepi. Dua sosok tubuh terbaring diam tidak jauh dari dua batang pohon raksasa yang tumbuh terpisah dari hutan yang tidak terlalu lebat oleh beberapa puluh langkah tanah berbatu padas.

Yang terdengar kemudian hanyalah suara burung kedasih mencium bau darah yang dibawa angin malam yang berdesah di dedaunan, sehingga gonggongannya menjadi semakin keras, bersahut-sahutan.

Di rumah Ki Gede Sembojan, kegelisahan Wiradana rasa-rasanya tidak dapat ditahankannya lagi. Dengan keringat yang membasah di punggungnya, Wiradana itupun melangkah keluar. Sejenak ia berdiri di pendapa. Namun kemudian ia pun turun ke halaman dan hampir diluar sadarnya ia pun mendekati para pengawal yang meronda. “Hampir fajar,” desis Wiradana.

“Ya,” jawab salah seorang pengawal, “Tetapi kau akan kemana?”

Wiradana tidak segera menjawab. Tetapi ia sadar, bahwa pedangnya ternyata telah menarik perhatian, sehingga pengawal itu telah bertanya kepadanya.

Beberapa saat Wiradana masih tetap terdiam. Tetapi kemudian katanya, “Ayah masih belum kembali.” Para pengawal yang berada di gardu itu baru teringat, bahwa Ki Gede telah meninggalkan halaman rumahnya dan pergi tanpa memberitahukan arahnya. Ki Gede Sembojan memang sering pergi seorang diri tanpa orang lain yang mengawalnya. Bukan saja di siang hari, tetapi juga di malam hari. Tetapi kebiasaannya, jika pergi di malam hari Ki Gede tidak pernah pergi sampai matahari terbit jika tidak ada sesuatu yang sangat penting. Itulah kebiasaan Ki Gede untuk melakukan kewajibannya menjelang pagi.

Tetapi pada malam itu, pada saat langit menjadi merah, Ki Gede ternyata masih belum kembali.

Karena itu, anak-anak muda yang berada di gardu itu pun telah menunda untuk tidak segera pulang. Mereka menunggu beberapa saat lamanya, mungkin ada sesuatu yang penting yang harus mereka lakukan.

Dengan demikian, maka rumah Ki Gede Sembojan itu telah diliputi oleh kegelisahan. Bukan saja Wiradana, tetapi anak-anak muda yang berjaga-jaga di gardupun menjadi gelisah. Apalagi ketika matahari kemudian mulai memanjat langit di sebelah Timur.

“Apa yang terjadi?” bertanya anak-anak itu kepada Wiradana.

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Ada semacam keragu-raguan untuk mengatakan apa yang telah dilakukan oleh ayahnya.

Tetapi oleh kegelisahannya sendiri, maka Wiradana pun telah terdorong berkata, “Semalam ayah telah melakukan perang tanding.”

“He,” anak-anak muda itu terkejut, sehingga mereka pun bergeser mendekat, “Perang tanding?” hampir bersamaan mereka mengulang.

Wiradana mengangguk.

“Wiradana,” berkata salah seorang di antara mereka, “Jadi kau sudah mengetahui bahwa Ki Gede telah memasuki perang tanding?”

“Ya,” jawab Wiradana singkat.

“Dan kau tidak berbuat apa-apa?” bertanya yang lain.

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Bukankah kalian juga mengenal ayahku? Jika ia ingin pergi seorang diri, maka ia harus pergi seorang diri.”

Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Mereka memang mengenal watak Ki Gede Sembojan, sehingga karena itu, maka mereka memang tidak menyalahkan Wiradana. Namun dalam pada itu, salah seorang di antara anak-anak muda itu bertanya, “Dengan siapa Ki Gede berperang tanding?”

“Dengan lawan lamanya, Gonggang Wirit. Tetapi yang kemudian bernama Kalamerta,” jawab Wiradana.

“Kalamerta,” kembali anak-anak muda itu terkejut. Kalamerta bagi mereka adalah hantu yang menakutkan. Tanah Perdikan Sembojan telah mengadakan persiapan yang kuat untuk menghadapi gerombolan Kalamerta yang mulai mengganggu. Bahkan menurut

beberapa orang yang pernah bersentuhan dengan orang-orang dari gerombolan itu, Kalamerta adalah orang yang bukan manusia biasa. Menurut para pengikutnya yang mulai mengganggu Tanah Perdikan itu, Kalamerta adalah ujud dari manusia yang memiliki kemampuan tidak terbatas.

“Wiradana,” berkata salah seorang anak muda, “Apakah kau tidak pernah mendengar nama itu?”

“Tentu pernah,” jawab Wiradana. “Sebagaimana ayah juga pernah mendengarnya.” “Tetapi kenapa Ki Gede telah turun dalam perang tanding? Seharusnya kita, para pengawal diseluruh Tanah Perdikan dikerahkan untuk menghadapi gerombolan itu. Itupun masih belum tentu kita akan dapat mengalahkan gerombolan yang dipimpin oleh seseorang yang memiliki kemampuan tidak terbatas,” sahut salah seorang di antara anak-anak muda itu. Lalu, “Tetapi tentu ada bedanya jika kita semuanya

ikut melibatkan diri dalam usaha untuk mengusir gerombolan itu.”

“Tetapi ayah tidak akan menghadapi seluruh gerombolan Kalamerta. Ayah akan melakukan perang tanding dengan pemimpin gerombolan itu, yang dikenal bernama Gonggang Wirit,” jawab Wiradana.

Tetapi salah seorang di antara anak-anak muda itu berkata, “Kalamerta itulah yang disebut memeiliki kemampuan yang tidak terbatas. Sebenarnyalah jika demikian, kami mencemaskan keselamatan Ki Gede.”

Wiradana mengerutkan keningnya. Kecemasan itu telah mencengkam jantungnya pula. Tetapi ia masih ragu-ragu untuk memerintahkan mencari ayahnya. Jika perang tanding itu masih belum selesai, maka akibatnya justru akan menyulitkan ayahnya sendiri.

Karena itu, maka Wiradana itu pun berkata, “Kita akan menunggu sampai tengah hari. Jika sampai tengah hari ayah belum kembali, maka kita akan mencarinya.” “Sampai tengah hari?” bertanya seorang di antara anak-anak muda itu. “Itu terlalu lama. Tentu kita tidak ingin terlambat.” Wiradana termangu-mangu. Tetapi ia yakin, bahwa ayahnya akan mampu melakukan perang tanding untuk waktu yang lama jika kedua-duanya masih tetap dalam keseimbangan. Tetapi sudah tentu bahwa ia pun tidak ingin terlibat jika terjadi sesuatu atas ayahnya.

Untuk beberapa saat Wiradana termangu-mangu. Ia benar-benar dicengkam oleh kebimbangan menghadapi persoalan yang mendebarkan itu.

Namun dalam pada itu, selagi anak-anak muda itu masih berbincang tentang banyak kemungkinan, mereka telah dikejutkan oleh kedatangan sebuah pedati yang diikuti oleh sederet anak muda Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan beberapa orang tua pun ikut pula bersama mereka.

Wiradana menjadi berdebar-debar. Dengan serta merta ia pun telah menyongsong pedati itu keluar regol halaman rumahnya.

“Ada apa?” Wiradana itu pun bertanya kepada seseorang yang berada di depan pedati itu.

“Ki Gede terluka parah,” jawab orang itu. “Ayah,” desis Wiradana.

“Ya,” jawab orang itu.

Wiradana pun kemudian meloncat untuk naik ke dalam pedati. Tetapi seorang tua berjanggut putih telah mencegahnya. Katanya, “Jangan anak muda.”

“Aku anaknya. Siapa kau?” bertanya Wiradana.

“O, jadi kau putera Ki Gede Sembojan?” bertanya orang tua itu. “Ya. Aku Wiradana,” jawabnya.

Orang tua itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tetap mencegahnya. Katanya, “Jika kau adalah puteranya, maka seharusnya kau mengikuti petunjukku. Ki Gede sedang dalam keadaan yang sangat gawat.”

Wiradana termangu-mangu. Namun ia pun mengurungkan niatnya untuk memasuki pedati

itu.

Perlahan-lahan pedati itu memasuki regol halaman rumah Ki Gede, dengan diikuti oleh sebuah iring-iringan yang panjang. Orang-orang Sembojan itu ingin tahu, apa yang telah terjadi dengan Kepala Tanah Perdikannya.

Pedati itu pun kemudian berhenti di depan pandapa. Orang tua berjanggut putih itupun kemudian meminta Wiradana dan beberapa orang yang lain membantunya, mengangkat Ki Gede dan membawanya ke dalam biliknya. “Apa yang telah terjadi?” Wiradana mendesak.

Orang tua itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Aku harus berusaha menolongnya lebih dahulu. Baru kemudian aku akan berceritera, meskipun aku tidak banyak mengetahui persoalannya.”

Wiradana tidak mengganggunya lagi. Ketika Ki Gede sudah terbaring di pembaringannya, maka seorang laki-laki yang masih cukup muda bergeser mendekati orang berjanggut putih itu.

“Kita harus mengulanginya lagi,” berkata orang berjanggut putih itu. “Tetapi agaknya obat kita yang pertama telah berhasil menghentikan racun yang sangat tajam itu.”

“Ya Kiai,” jawab laki-laki yang masih agak muda itu, “Mudah-mudahan Kiai dapat berhasil.”

“Ambillah air,” berkata orang berjanggut putih itu.

Laki-laki itu pun kemudian minta kepada Wiradana semangguk air bersih. “Cepat, ambil air,” desis Wiradana kepada salah seorang anak muda yang berdiri dibelakangnya.

Sejenak kemudian, anak muda itu telah menyerahkan semangkuk air kepada orang tua berjanggut putih itu.

“Maaf Ki Sanak,” berkata orang tua itu kemudian kepada orang-orang yang ada di dalam bilik Ki Gede, “Aku mohon Ki Sanak keluar dari bilik ini, kecuali yang sangat berkepentingan, agar udara di dalam bilik ini tidak menjadi terlalu pengab.”

Wiradanalah yang kemudian mempersilahkan orang-orang yang berjejalan di dalam bilik itu untuk keluar. Hanya Wiradana dan seorang pembantu terdekat Ki Gede sajalah yang kemudian berada di bilik itu.

“Angger,” berkata orang berjanggut putih itu, “Kami berusaha untuk mengobati luka-luka ayah angger dengan segenap kemampuan yang ada pada kami. Tetapi

segalanya terserah kepada Yang Maha Agung. Karena itu, berdoalah bersama dengan kami, mudah-mudahan usaha ini berhasil.”

Wiradana mengangguk kecil. Namun sebenarnyalah jantungnya bagaikan meledak oleh kecemasan.

Sejenak kemudian, maka orang tua itu telah meramu obat yang dibawanya. Sebagian dari obat-obat itu akan dimasukkan ke dalam tubuh Ki Gede lewat kerongkongannya, sementara yang lain akan dioleskan pada luka yang terkena racun yang sangat tajam itu.

“Kami sudah berusaha mengobatinya pada saat kami menemukannya,” berkata orang tua itu sambil meramu obat, “Agaknya keadaannya memang sangat parah.”

Wiradana tidak menjawab. Tetapi dengan tegang ia mengikuti usaha orang yang tidak dikenalnya itu. Di dalam hati, sebagaimana dikatakan oleh orang berjanggut putih itu, Wiradana berdoa bagi keselamatan ayahnya. Dengan hati-hati maka setelah ramuan obat itu selesai dicairkan, diteteskannya ke bibir Ki Gede yang seakan-akan telah membeku. Ketika titik-titik ramuan obat itu perlahan-lahan masuk ke dalam kerongkongan itu, maka orang berjanggut putih itu menarik nafas dalam-dalam.

“Kita masih dapat berpengharapan ngger,” desisnya.

Wiradana menjadi semakin tegang. Tetapi ia hanya dapat berdiri termangu apa yang akan terjadi.

Setelah ramuan obat itu sebagian besar dengan telaten telah dimasukkan ke dalam kerongkongan, maka dengan obat yang lain, luka Ki Gede yang sebenarnya tidak terlalu dalam itu telah diolesinya pula.

“Semoga saja obat-obat ini ada manfaatnya,” gumam orang tua itu kemudian. Wiradana yang cemas itu pun kemudian bertanya, “Apakah yang sebenarnya telah terjadi dengan ayah, Kiai?”

Orang berjanggut putih itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sambil bergeser sedikit ia pun berkata, “Marilah silahkan duduk ngger.”

Wiradana termangu-mangu. Namun ia pun kemudian telah duduk pula dibibir amben telah mengambil dingklik kayu dan duduk pula dihadapan orang tua itu.

“Angger,” berkata orang tua itu. “Sebenarnya kami berdua pun tidak terlalu banyak tahu apa yang telah terjadi. Ketika kami berdua berjalan melalui ujung Kali Pideksa, maka kami telah menemukan dua sosok tubuh yang terbaring diam. Untunglah anjing-anjing liar di hutan itu masih belum menemukan.

Tanpa mengetahui apa sebabnya, maka kami berusaha untuk melihat keadaan kedua sosok tubuh itu. Yang seorang mengalami luka parah karena ujung senjata telah menyayat kulit dan dagingnya, sementara yang lain mengalami luka tidak begitu dalam, tetapi luka itu telah menjadi pintu masuknya racun yang sangat kuat.

Ketika kami berdua mengamati keduanya, maka seorang di antaranya telah meninggal. Luka yang parah itu agaknya telah menumpahkan terlalu banyak darah, sehingga orang itu tidak dapat bertahan untuk tetap hidup. Sementara yang seorang lagi masih mampu bertahan atas tajamnya racun di dalam tubuhnya. Agaknya yang seorang itu telah berusaha mengobati dirinya sendiri, tetapi racun yang

masuk ke dalam tubuh itu memang terlalu kuat, sehingga obat itu tidak dapat menolak seluruhnya kekuatan racun yang menyusup memasuki urat darahnya. Untunglah bahwa aku juga membawa obat penangkal racun yang agaknya lebih baik dari obat yang dimiliki oleh orang ini, yang kemudian ternyata adalah Ki Gede Sembojan.”

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Menilik ceritera orang itu, maka seorang lagi yang diketemukan terbaring di ujung Kali Pideksa itu telah mati. Dan orang itu tentu Gonggang Wirit yang juga disebut Kalamerta.

Namun dalam pada itu, Wiradana itu pun masih juga bertanya untuk meyakinkan dugaannya, “Kiai, apakah Kiai mengetahui, siapakah yang telah terbunuh itu?” Orang tua itu menggeleng. Jawabnya, “Tidak ngger. Aku tidak tahu siapakah yang telah meninggal itu.”

“Dimanakah mayat itu sekarang, Kiai?” bertanya Wiradana.

“Pada saat aku menemukan, maka aku menjadi ragu-ragu atas keduanya. Aku memang sudah menduga, bahwa telah terjadi perang tanding. Karena itu, maka keduanya

telah kami bawa ke padukuhan terdekat. Kami berdua telah memapah kedua tubuh itu. Dan di padukuhan terdekat, barulah aku tahu, bahwa seorang di antara

keduanya adalah Ki Gede Sembojan menurut pengenalan orang-orang padukuhan itu,” berkata orang tua itu, “Tetapi yang lain, tidak seorang pun dapat mengatakannya.

Dan sementara ini tubuh yang kami tinggal di banjar padukuhan itu, yang ternyata adalah daerah Sembojan pula.”

Wiradana mengangguk-angguk. Ia pun kemudian menceriterakan kepada orang tua itu, apa yang telah dilakukan oleh ayahnya.

“Ayah memang memancing perang tanding dengan pemimpin brandal Kalamerta yang mulai menjamah Tanah Perdikan ini, Kiai,” berkata Wiradana.

‘’Kalamerta?” jawab orang tua itu menjadi tegang. “Jadi yang terbunuh itu agaknya adalah Kalamerta itu sendiri.”

“Mungkin sekali,” jawab Wiradana.

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin sekali. Memang aku melihat ciri-ciri pada orang yang disebut Kalamerta itu.”

“Apakah Kiai mengenal ciri-cirinya?” bertanya Wiradana.

“Ya. Aku menemukan sebilah keris yang besar sekali. Menurut pendengaranku, senjata Kalamerta adalah keris yang besar itu,” jawab orang tua itu.

“Jika demikian agaknya ayah telah berhasil membunuhnya, meskipun keadaan ayah sendiri menjadi parah,” desis Wiradana. Namun kemudian katanya, “Dengan demikian maka kekuatan gerombolan itu manjadi jauh susut, karena kekuatan mereka hanyalah bertumpu kepada kemampuan seseorang. Sedangkan yang lain tidak lebih dari orang kebanyakan, sehingga gerombolan brandal itu tidak lagi menakutkan bagi kami.” Orang tua itu mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, maka Ki Gede Sembojan ini memang orang yang luar biasa. Orang yang memiliki kemampuan yang tidak terbatas sebagaimana Kalamerta itu sendiri.”

“Aku tidak dapat mengatakan apa-apa tentang ayahku. Tetapi ayah memang seorang yang tekun berada di dalam sanggar,” berkata Wiradana.

“Tetapi bukankah dengan demikian angger juga seorang yang memiliki ilmu yang tidak terbatas seperti ayah angger itu?” bertanya orang tua itu.

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya dipandanginya pembantu ayahnya yang terdekat itu. Namun akhirnya ia berkata, “Aku adalah seorang anak yang malas. Aku memang mempelajari ilmu dari ayah. Tetapi aku baru memiliki dasar-dasarnya saja yang masih harus dikembangkan.

“O,” orang tua itu mengangguk-angguk, “Sebenarnyalah itu sudah cukup. Bukankah memang hanya dasar-dasarnya itu saja yang dapat diwariskan kepada orang lain.

Tetapi yang menerima itulah yang harus mengembangkannya sendiri.” “Begitulah yang dikatakan ayah kepadaku,” jawab Wiradana, “Tetapi aku bukan

orang yang rajin dan tekun, sehingga perkembangan ilmuku pun tidak sepesat yang ayah kehendaki.”

Orang tua itu tersenyum. Katanya, “Angger merendahkan diri. Agaknya memang menjadi tabiat orang-orang berilmu tinggi untuk merendahkan dirinya.”

“Aku tidak merendahkan diri,” jawab Wiradana. “Dengan jujur aku katakan aku memang kurang rajin menekuni ilmu itu.”

Tetapi orang tua itu berkata, “Itu bukan soal. Tetapi angger telah menguasai

dasar-dasarnya, sehingga terbersit niat angger untuk mendalaminya, maka angger dapat melakukan setiap saat.”

Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Dalam pada itu, obat yang diberikan oleh orang tua itu pun mulai bekerja.

Perlahan-lahan tetapi mampu menumbuhkan harapan bagi Wiradana. Ketika bibir ayahnya mulai bergerak, rasa-rasanya Wiradana ingin meloncat dan mengguncangkan membangunkannya.

Tetapi orang tua itu melarangnya. Katanya, “jangan kau kejutkan ngger. Biarlah ayahmu sadar dengan sendirinya oleh kekuatan obat yang bekerja di dalam tubuhnya.”

Wiradana mengangguk kecil. Betapapun juga terjadi pergolakan di dalam dadanya, namun ia masih harus menahan diri.

“Biarlah ayahmu sadar dari pingsannya yang gawat. Baru jika keadaan memungkinkan, kita dapat bertanya sesuatu kepadanya,” berkata orang tua itu. Dengan demikian, maka orang-orang yang ada di dalam bilik itupun kemudian hanya sekadar menunggu perkembangan keadaan Ki Gede Sembojan itu.

Dalam pada itu, maka orang-orang yang ada diluar bilik itu pun menjadi sangat gelisah. Beberapa orang telah turun kehalaman. Tetapi ada di antara mereka yang masih saja berada di ruang dalam. Mereka menunggu, apakah yang terjadi dengan kepala Tanah Perdikan mereka yang menurut orang-orang Sembojan adalah seorang yang bekerja keras untuk kepentingan Tanah Perdikan itu. Seorang yang dengan

sungguh-sungguh memperhatikan keadaan mereka, melampaui Kepala Tanah Perdikan yang terdahulu. Yang karena tidak mempunyai seorang anak pun telah melimpahkan kekuasaan kepada kemenakannya. Ki Gede Sembojan yang terluka dan dalam keadaan yang gawat itu.

Sementara itu, di dalam bilik orang tua berjanggut putih itu dengan tegang pula mengikuti perkembangan keadaan Ki Gede Sambojan.

Orang-orang yang berada di dalam bilik itu menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat Ki Gede mulai membuka matanya. Wiradana beringsut semakin dekat. Tetapi seperti pesan orang tua berjanggut putih itu. Wiradana sama sekali tidak menyentuhnya.

Akhirnya wajah yang pucat itu mulai bergerak. Ki Gede yang telah membuka matanya itu mencoba untuk melihat orang-orang yang berada di sekitarnya.

Mula-mula yang nampak adalah tubuh-tubuh yang buram tanpa dapat dikenalnya. Namun perlahan-lahan Ki Gede mulai melihat seorang yang berjanggut putih memandanginya dengan tatapan mata yang sejuk.

Perlahan-lahan Ki Gede mencoba untuk mengingat kembali apa yang telah terjadi dengan dirinya. Perlahan-lahan pula ia mulai dapat mengenang kembali perang tanding di ujung Kali Pideksa, di sebelah sepasang pohon raksasa yang terpisah oleh beberapa puluh langkah tanah berbatu padas. “Apakah aku memang sudah mati,” berkata Ki Gede di dalam hati. “Dan yang berjanggut putih ini adalah ujud-ujud aneh di akhirat?”

Namun ketika ia perlahan-lahan menggerakkan kepalanya, maka dilihatnya wajah anak laki-lakinya, Wiradana.

“Wiradana,” perlahan sekali terdengar Ki Gede berdesis.

Namun Wiradana yang dengan sungguh-sungguh memperhatikan perkembangan ayahnya

itu mendengarnya. Karena itu, maka ia pun semakin dekat sambil menjawab, “Ya ayah. Ini aku Wiradana.”

Ki Gede mencoba menarik nafas panjang. Tetapi terasa pusat dadanya masih pedih bagaikan tertusuk duri.

Namun kemudian terdengar Ki Gede itu berdesah, “Aku sekarang berada dimana Wiradana? Apakah aku masih tetap hidup?” “Ya ayah,” jawab Wiradana, “Ayah masih tetap hidup. Ayah sekarang berada dirumah.”

“O,” Ki Gede menyeringai menahan sakit diseluruh tubuhnya, “Jadi aku masih tetap hidup?”

“Ya ayah. Seseorang telah menolong ayah,” jawab Wiradana.

“Siapa? Bukankah aku telah terkena racun yang tidak dapat diobati? Obat penangkal racun yang aku bawa ternyata tidak berhasil melawan racun yang sangat kuat, yang terdapat pada ujung keris Gonggang Wirit,” desis Ki Gede.

Wiradana termangu-mangu. Ia memang belum bertanya, siapakah sebenarnya orang tua yang telah menolong ayahnya itu.

Karena itu, maka baru kemudian ia bertanya, “Siapakah sebenarnya Kiai ini?”

Orang tua itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku penghuni sebuah padepokan yang terpencil, Ki Gede. Aku tinggal bersama seorang yang masih terhitung kadangku sendiri, yang sekarang ikut bersamaku ini, serta seorang

cucuku perempuan. Yang sudi menyebut namaku adalah Kiai Badra.” “Kiai telah menolong aku?” bertanya Ki Gede.

“Secara kebetulan kami berdua menemukan Ki Gede terbaring. Menilik keadaan Ki Gede, maka agaknya Ki Gede telah terkena racun yang luar biasa, sehingga obat yang agaknya telah Ki Gede telan sebelumnya tidak berhasil menahan kekuatan racun itu selain menghambatnya.”

“Terima kasih,” suara Ki Gede masih sendat. Tetapi jelas terdengar. “Sementara ini silakan Ki Gede beristirahat sebaik-baiknya. Mudah-mudahan keadaan Ki Gede akan menjadi semakin baik,” berkata Ki Badra itu. Ki Gede menarik nafas. Dadanya masih terasa sakit. Tetapi peredaran pernafasannya terasa menjadi semakin lapang.

Dalam pada itu, maka orang tua berjanggut putih yang bernama Ki Badra itu pun berkata, “Angger Wiradana. Terserah kepada angger. Di banjar padukuhan di dekat Kali Pideksa terdapat mayat yang mungkin sebagaimana disebut oleh angger sebagai Kalamerta. Mayat itu dapat diselenggarakan sebagaimana seharusnya.”

“Baik Kiai. Kami akan mengubur mayat itu baik-baik,” jawab Wiradana.

Namun sementara itu, Kiai Badra pun berkata, “Tetapi sayang sekali ngger, bahwa aku tidak dapat terlalu lama berada di tempat ini. Aku akan segera minta diri.” “Kenapa terlalu tergesa-gesa,” bertanya Wiradana, “Aku mohon agar Kiai bersedia tinggal disini untuk sementara sampai keadaan ayah menjadi semakin baik.”

“Aku akan meninggalkan obat untuk kesembuhan Ki Gede, ngger. Tetapi aku tidak akan dapat tinggal lebih lama lagi. Aku telah meninggalkan cucuku, seorang gadis yang mungkin akan menjadi ketakutan jika aku terlalu lama pergi,” jawab Ki Badra.

“Apakah tidak ada orang lain di padepokan Kiai? Mungkin para cantrik atau putut?” bertanya Wiradana.

Tetapi Kiai Badra menggeleng. Katanya, “Aku hanya mempunyai seorang cantrik yang kebetulan adalah masih ada hubungan darah. Dan sekarang ia berada disini pula, sehingga cucuku itu benar-benar hanya seorang diri.”

Wiradana termangu-mangu. Sementara itu, Ki Gede yang juga mendengar pembicaraan itu berdesis, “Kiai jangan pergi.”

“Maaf Ki Gede,” jawab Kiai Badra. “Aku tidak sampai hati untuk meninggalkan cucuku terlalu lama. Nanti, pada saat lain, mungkin dua atau tiga hari lagi aku

akan datang. Kecuali untuk melihat kesehatan Ki Gede, aku akan membawa obat lagi seandainya obat yang aku tinggalkan nanti sudah habis.”

Dahi Ki Gede nampak berkerut. Ketika ia ingin beringsut, ternyata ia memerlukan bantuan Wiradana.

“Kiai,” berkata Ki Gede itu kemudian, “Jika cucu Kiai itu memang tidak ada kawannya di padepokan, biarlah ia dibawa kemari. Biarlah cantrik Kiai yang seorang itu menjemputnya.”

Ki Badra termangu-mangu sejenak. Dipandanginya laki-laki yang mengikutinya itu. Namun kemudian katanya, “Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya jika Ki Gede memperkenankan aku membawa cucuku ke rumah ini.

Tetapi biarlah aku sendiri menjemputnya, sementara cantrikku ini akan tinggal disini. Ia akan dapat memberikan pengobatan sebaik-baiknya, jika aku sudah menyediakan obatnya. Ia sudah memiliki pengalaman yang cukup karena ia terlalu sering melihat dan membantu aku mengobati orang sakit.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian berdesis menahan sakit. Baru kemudian katanya, “Baiklah Kiai. Jika demikian silakan. Tetapi Kiai jangan terlalu lama pergi.”

“Aku akan berusaha secepatnya kembali Ki Gede. Aku akan berada disini sampai keadaan Ki Gede menjadi baik,” berkata orang tua berjanggut putih.

“Jika demikian, apakah Kiai memerlukan kuda?” bertanya Wiradana.

“Tidak. Tidak ngger. Biarlah aku berjalan kaki saja,” jawab orang tua itu, lalu,

“Tetapi tolong selain menyelenggarakan mayat orang yang mungkin adalah Kalamerta itu, kembalikan pedati yang aku bawa untuk membawa Ki Gede itu kepada pemiliknya. Aku tidak tahu siapakah namanya. Ia tinggal di padukuhan itu pula.

Aku meminjamnya untuk membawa Ki Gede agar tidak terlalu mengganggu keadaan tubuhnya yang sangat lemah itu.”

“Baik Kiai,” jawab Wiradana. “Aku akan segera mengembalikannya.”

Demikianlah, maka orang tua itu pun segera minta diri, sementara laki-laki yang disebut cantriknya itu pun telah ditinggalkannya, untuk membantu merawat Ki Gede Sembojan.

“Siapa namamu Ki Sanak?” bertanya Wiradana kepada orang itu. “Gandar,” jawab orang itu singkat.

Wiradana mengangguk kecil. Hampir tidak didengar orang lain ia mengulang, “Gandar.”

Dengan demikian, maka sepeninggal orang tua berjanggut putih itu, Gandarlah yang menunggui Ki Gede bersama Wiradana. Dengan sungguh-sungguh Gandar selalu memperhatikan keadaan Ki Gede. Dilakukannya sebagaimana pesan Kiai Badra dengan sebaik-baiknya.

Karena itulah, maka keadaan Ki Gede memang berangsur-angsur baik. Di hari pertama, maka Ki Gede sudah dapat menelan titik-titik air yang diteteskan di bibirnya. Dengan demikian maka keadaannya pun berangsur menjadi segar.

Wiradana dan orang-orang Sembojan pun menjadi semakin berpengharapan. Meskipun Ki Gede masih berada di pembaringannya, dan masih belum mampu bangkit untuk duduk, namun wajahnya sudah berangsur nampak menjadi merah. Noda-noda yang kebiru-biruan ditubuhnya tidak lagi bertambah mekar.

Ketika malam kemudian turun, maka Wiradana pun telah memanggil beberapa orang untuk mendengarkan laporan tentang Kalamerta yang berada di banjar padukuhan di ujung Tanah Perdikan. Dari beberapa pengawal Wiradana mendapat keterangan bahwa ada sesuatu peristiwa yang penting.

“Tetapi semua pengawal Tanah Perdikan harus selalu bersiap-siap,” berkata Wiradana. “Gonggang Wirit yang dikenal bernama Kalamerta itu mempunyai pengikut

yang kuat. Jika mereka menjadi marah atas kematian pemimpinnya, maka mereka akan dapat berbuat apa saja diluar dugaan kita.”

“Kami selalu bersiaga,” jawab pemimpin pengawal Tanah Perdikan Sembojan. “Setiap saat anak-anak kami dapat dikerahkan.”

“Terima kasih,” berkata Wiradana. “Meskipun agaknya gerombolan yang sudah kehilangan pemimpinnya itu tidak akan segarang sebelumnya pada saat Kalamerta masih memimpin mereka.”

“Tetapi dapat juga sebaliknya,” jawab pemimpin pengawal. “Kematian pemimpinnya, membuat mereka menjadi gila dan berbuat apa saja diluar batas-batas peradaban manusia.”

Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Memang mungkin. Sebaiknya kita memang

harus bersiap-siap.”

Pemimpin pengawal itu pun kemudian meninggalkan Wiradana. Dengan para pemimpin pengawal di padukuhan-padukuhan yang termasuk dalam daerah Tanah Perdikan Sembojan, ia telah mengadakan satu pembicaraan untuk menanggapi kemungkinan yang

dapat terjadi.

Sebenarnyalah, bahwa kematian Gonggang Wirit yang juga disebut Kalamerta itu sudah sampai ke telinga para pengikutnya. Kemarahan yang luar biasa telah

membakar jantung mereka. Seorang yang paling mendapat kepercayaan dari Gonggang Wirit dengan serta merta telah mengangkat dirinya menjadi pemimpin gerombolan Kalamerta itu.

“Kita akan menghancurkan Tanah Perdikan Sembojan,” berkata orang itu, orang yang bertubuh tinggi kekar dan berambut ikal.

“Tetapi kita sudah kehilangan pemimpin kita,” desis seorang pengikutnya.

“Tanah Perdikan Sembojan sudah kehilangan pemimpinnya, setidak-tidaknya untuk sementara. Ki Gede Sembojan dalam keadaan luka parah, sehingga ia tidak akan turun ke medan. Tanpa Ki Gede, maka Sembojanpun tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan kita,” berkata orang bertubuh kekar itu. “Kita akan menghancurkan Sembojan dan membakarnya menjadi karang abang, setelah itu kita

mengambil semua kekayaan yang ada di Tanah Perdikan itu. Kita juga akan membunuh Ki Gede yang sedang terluka parah itu. Kematian pemimpin kita harus ditebus

dengan sangat mahal oleh orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.”

Para pengikut Kalamerta itu mengangguk-angguk. Sebagian terbesar dari mereka sependapat dengan orang yang bertubuh tinggi dan kekar itu, agar mereka menghancurkan Tanah Perdikan Sembojan setelah mereka mengambil semua kekayaan yang ada di Tanah Perdikan itu.

“Kapan kita akan melakukannya?” bertanya salah seorang di antara pera pengikut Kalamerta itu, “Malam nanti?”

“Jangan tergesa-gesa. Hari ini seluruh Tanah Perdikan itu tentu sedang mempersiapkan diri. Kita akan menunggu dua tiga hari. Jika mereka lengah, maka kita akan menyergap. Meskipun kita tidak gentar melawan para pengawal yang kehilangan pemimpinnya itu dalam kekuatan puncak mereka. Tetapi sebaiknya kita juga memperhitungkan korban di pihak kita sendiri. Kita dapat menghancurkan Tanah Perdikan itu dengan korban yang sekecil-kecilnya,” jawab orang bertubuh kekar itu.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Ternyata orang yang bertubuh kekar itu mempunyai perhitungan yang mapan dan mampu menahan gejolak perasaannya.

Sehingga

karena itulah, maka para pengikut Kalamerta itu harus bersabar untuk beberapa hari. Namun demikian, setiap hari dua atau tiga orang di antara mereka telah

keluar dari persembunyian mereka, turun ke daerah Tanah Perdikan untuk mengamati keadaan.

Namun dalam pada itu, anak-anak muda Sembojan ternyata tidak pernah lengah. Setelah dua hari dari peristiwa yang terjadi di ujung Kali Pideksa itu,

anak-anak muda Sembojan justru memperketat penjagaan mereka. Gardu-gardu setiap malam dipenuhi oleh anak-anak muda, sementara para pengawal yang terlatih telah bersiap di banjar-banjar. Jika terjadi sesuatu dimana pun juga, mereka siap untuk bertindak.

Meskipun kesiagaan itu tidak lepas dari pengamatan para pengawas yang dikirim oleh gerombolan Kalamerta, namun akhirnya orang bertubuh tinggi kekar itu mempunyai pertimbangan lain.

“Kita tidak dapat menunggu lebih lama lagi,” berkata orang bertubuh tinggi kekar itu. “Jika dalam dua hari lagi, kesiagaan mereka tidak menurun, maka kita harus

bertindak. Aku kira, meskipun mereka mengerahkan segenap pengawal dan anak-anak muda yang ada di Tanah Perdikan, mereka tidak akan dapat melawan kekuatan kita.

Meskipun jumlah kita jauh lebih sedikit, tetapi kita mempunyai pengalaman yang jauh lebih banyak. Kita akan menghancurkan padukuhan demi padukuhan. Selagi padukuhan itu memanggil para pengawal dari padukuhan lain, kita sudah selesai dengan penghancuran para pengawal di padukuhan itu.”

“Dan kita masih sibuk merampok semua harta benda yang ada di tempat itu,” berkata yang lain.

“Tidak. Kita tidak akan merampok pada hari yang sama. Kita akan menghancurkan padukuhan demi padukuhan,” berkata orang bertubuh tinggi itu, “Baru kemudian setelah Tanah Pardikan itu tidak mempunyai kekuatan, kita akan merampok.” Tetapi seorang yang berumur lebih tua dari orang bertubuh tinggi itu berkata, “Kita jangan lengah. Jika hal ini telah didengar oleh Adipati Pajang, maka

mereka akan dapat mengirim pasukan kemari.”

Orang bertubuh tinggi itu mengerutkan keningnya sambil mengangguk-angguk. Katanya, “Kau benar. Karena itu, maka kita akan melihat keadaan. Kapan kita akan merampok. Tetapi seandainya prajurit-prajurit dari Kadipaten Pajang itu datang, apalagi dari Demak, maka kita akan meninggalkan tempat ini. Meksipun seandainya kita tidak mendapat apa-apa, kita sudah dapat membalaskan dendam kematian pemimpin kita. Syukurlah jika kita sempat membunuh Ki Gede yang sudah tidak berdaya itu.”

Kawan-kawannya pun mengangguk-angguk. Agaknya demikianlah yang akan dapat mereka

lakukan atas Tanah Pardikan yang telah membunuh pemimpin mereka yang sangat mereka banggakan. Kalamerta, orang yang sebelumnya dianggap memiliki kemampuan yang tidak ada batasnya. Namun yang dalam parang tanding melawan Ki Gede Sembojan telah terbunuh di arena. Dalam pada itu, sebagaimana mereka memperhitungkan sebelumnya, maka dalam waktu

dua hari lagi, kesigapan anak-anak muda Sembojan sama sekali tidak mengendor. Gerdu-gardu masih tetap penuh setiap malam, dan banjar-banjar pun tidak pernah kosong oleh para pengawal yang siap dengan senjata-senjata mereka.

Sementara itu, keadaan Ki Gede menjadi berangsur baik. Wajahnya tidak lagi pucat, karena darahnya telah mengalir sewajarnya.

Namun demikian, Ki Gede masih tetap berbaring ditempatnya. Ia masih belum dapat bangkit untuk duduk. Anggota badannya masih terasa sangat lemah.

Pada hari keempat, obat yang ditinggalkan oleh Kiai Badra telah hampir habis seluruhnya. Gandar yang setiap hari merawat Ki Gede sudah mulai gelisah. Jika Kiai Badra tidak segera datang, Maka ia akan kehabisan obat, sementara keadaan Ki Gede masih sangat lemah.

Namun dalam pada itu, ternyata bahwa Kiai Badra tidak melupakan janjinya. Pada saat obat yang ditinggalkan bagi Ki Gede sudah habis, maka Kiai Badra telah datang bersama cucunya perempuan, seorang gadis yang sudah meningkat dewasa.

Gandar yang menyabut kedatangan Kiai Badra itu menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Aku sudah gelisah Kiai.”

“Aku sebenarnya ingin datang lebih cepat,” berkata Kiai Badra. “Tetapi adikmu telah menghambat keberangkatanku sehari.”

Gandar memandang wajah cucu perempuan Kiai Badra itu. Kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Kau merajuk?”

Gadis itu tidak menjawab. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam. “Marilah,” Wiradana mempersilakan.

Kiai Badrapun kemudian naik ke pendapa. Sementara itu, Wiradana telah memerintahkan untuk membersihkan gandok sebelah kiri karena untuk sementara Kiai Badra akan tinggal di Kabuyutan itu bersama Gandar dan cucunya.

Setelah beristirahat sejenak, dan setelah mereka minum air panas dengan hidangan beberapa potong makanan, maka Kiai Badra pun dipersilakan untuk melihat Ki Gede, sementara cucu perempuannya dipersilakan untuk beristirahat di gandok sebelah kiri.

“Hampir saja aku gagal mengajaknya,” berkata Kiai Badra kepada Gandar. “Aku memang sudah mengira,” jawab Gandar.

“Untunglah, akhirnya ia mau juga ikut bersamaku,” berkata Kiai Badra kemudian, “Tetapi hanya untuk dua tiga hari.”

Demikianlah, sejenak kemudian, maka bersama Wiradana dan Gandar, Kiai Badra telah memasuki bilik Ki Gede yang masih saja terbaring di pembaringannya. “Selamat datang Kiai,” desis Ki Gede yang melihat kehadiran orang berjanggut putih itu.

“Selamat Ki Gede,” jawab Kiai Badra. “Bagaimana keadaan Ki Gede?” “Sebagaimana Kiai lihat, aku sudah berangsur baik. Tetapi aku masih belum dapat bangkit Kiai. Rasa-rasanya tubuhku telah kehilangan segenap urat nadinya dan bahkan tulang-tulangnya,” jawab Ki Gede.

Kiai Badra mengerutkan keningnya. Sepercik kecemasan melonjak didadanya. Namun demikian, ia sama sekali masih belum mengatakan sesuatu sebelumnya ia melihat keadaan Ki Gede.

Sejenak kemudian, maka Kiai Badra pun mulai meraba tubuh Ki Gede yang sudah menjadi hangat kembali. Namun demikian, ada sesuatu yang membuat jantung Kiai Badra berdegup semakin keras.

Perlahan-lahan Kiai Badra mengangkat tangan Ki Gede, menggerakkan pergelangannya dan kemudan menekuk sikunya perlahan-lahan. Demikian pula atas kaki Ki Gede yang ternyata masih belum dapat digerakkan sama sekali.

Wajah Ki Badra menjadi tegang. Dipandanginya Ki Gede yang terbaring itu. Tetapi untuk beberapa saat ia masih tetap berdiam diri.

“Bagaimana Kiai?” bertanya Ki Gede.

Kiai Badra tidak segera menjawab. Terasa sesuatu telah tertahan didalam hatinya.

Ternyata Ki Gede melihat kegelisahan di wajah orang tua itu. Karena itu, maka katanya, “Kiai. Katakan apa yang Kiai ketahui. Kiai tidak usah menjadi

ragu-ragu. Aku bukan kanak-kanak lagi, yang mungkin akan mengingkari satu kenyataan yang harus disandang. Tetapi aku sudah cukup tua mengalami apapun yang telah terjadi atas diriku sebagai satu kenyataan.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Ki Gede. Sebenarnya terlalu berat bagiku untuk mengatakannya tentang keadaan Ki Gede.” "Katakan Kiai, bahkan seandainya aku mati sekalipun," desis Ki Gede. Tetapi Kiai Badra menggeleng. Katanya, "Agaknya Yang Maha Murah masih memperkenankan Ki Gede untuk tetap menjadi pemimpin Tanah Perdikan ini untuk beberapa lama lagi. Namun ada sesuatu yang pantas Ki Gede ketahui. Aku mohon Ki Gede dapat menerimanya dengan sikap dewasa, karena menurut pendapatku, semakin cepat Ki Gede mengetahui, akibatnya akan menjadi semakin baik."

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Baiklah Kiai. Katakanlah."

Kiai Badra merenung sejenak. Namun kemudian katanya, "Ki Gede. Kita memang wenang untuk berusaha. Tetapi segalanya terserah kepada Yang Maha Agung.

Sebagaimana kita sudah berusaha bagi kesembuhan Ki Gede. Tetapi segala sesuatunya terserah kepada Yang Maha Bijaksana."

"Apa yang akan terjadi Kiai?" bertanya Ki Gede, "Apakah aku akan segera mati?" "Tidak Ki Gede. Menilik perkembangan keadaan Ki Gede serta keadaan tubuh Ki Gede, maka Ki Gede agaknya akan sembuh, jika tidak terdapat keadaan yang sangat khusus," jawab Ki Badra. Lalu, "Tetapi ternyata bahwa terdapat kelainan pada tangan dan kaki Ki Gede, yang nampaknya mengalami suatu keadaan yang kurang sewajarnya"

Wajah Ki Gede menegang sejenak. Kemudian dengan nada dalam ia bertanya, "Maksud Kiai, apakah aku akan lumpuh?"

Kiai Badra tidak segera menjawab. Tetapi kemudian katanya, "Ki Gede. Agaknya memang demikian. Tetapi menurut pengamatanku, kelumpuhan Ki Gede bukan kelumpuhan mutlak. Mungkin Ki Gede masih akan dapat berjalan dan menggunakan tangan, sebagaimana anggota badan Ki Gede yang lain. Tetapi tangan dan kaki Ki Gede tidak akan mempunyai kekuatan sewajarnya."

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Dengan sendat ia berkata, "Aku mengerti,

Kiai. Racun dari pusaka Gonggang Wirit itu telah melenyapkan segenap kemampuan ilmuku, karena kelemahan anggota badanku, sehingga kemudian aku tidak akan lebih dari sesosok golek yang terbuat dari daging dan tulang tanpa dapat berbuat

apa-apa."

Ki Badra tidak menyahut. Tetapi sebenarnyalah, bahwa Ki Gede menurut pengamatan Kiai Badra akan mengalami kesulitan dengan ilmunya, karena anggota badannya akan menjadi sangat lemah.

"Baiklah Kiai," berkata Ki Gede kemudian, "Biarlah aku masih tetap mengucapkan terima kasih bahwa aku tidak mati. Meskipun aku tidak akan memiliki ilmuku sebagaimana sebelumnya, namun aku masih mampu berbuat sesuatu."

"Ya Ki Gede," jawab Kiai Badra kemudian, "Sebenarnyalah bukan ilmu Ki Gede yang akan hilang dan tidak dapat Ki Gede kuasai lagi. Tetapi anggota badan Ki Gede sebagai alat untuk mengungkapkan ilmu itu tidak lagi memadai. Dengan demikian Ki Gede masih akan tetap memiliki kemampuan untuk memberikan petunjuk dan

pengarahan kepada angger Wiradana, agar angger Wiradana mampu menguasai seluruh kemampuan Ki Gede."

Ki Gede mengangguk-angguk kecil. Dipandanginya Wiradana sambil berkata, "Kau dengar Wiradana. Karena itu, maka satu-satunya harapanku adalah kau."

Wiradana menundukkan kepalanya. Ada semacam kegelisahan di dalam hatinya, justru karena ayahnya akan kehilangan kesempatan untuk memiliki kembali semua ilmunya, karena tidak ada lagi dukungan wadagnya.

"Tetapi menurut ayah, aku harus berusaha untuk memiliki semua ilmunya," berkata Wiradana di dalam hatinya.

Untuk sejenak, bilik itu dicengkam oleh keheningan. Ki Gede yang terbaring itu menatap langit-langit di atas pembaringannya dengan kegelisahan yang

menghentak-hentak di dadanya. Namun kemudian, Ki Gede itu pun berhasil menguasai perasaannya. Seperti yang dikatakan, akhirnya ia masih juga mengucapkan syukur, bahwa ia masih tetap hidup dan mendapat kesempatan untuk membuat anak

laki-lakinya menjadi lebih baik dan menuntunnya dalam memimpin Tanah Perdikan Sembojan yang besar itu

Karena itu, maka yang mula-mula memecahkan keheningan itu adalah Ki Gede sendiri, "Kiai. Jika demikian maka aku akan tetap mengharap, agar untuk sementara Kiai tetap berada di Tanah Perdikan ini. Selain dengan demikian Kiai dapat menolong keadaanku, mungkin Kiai akan dapat menolong aku pula, menyempurnakan ilmu Wiradana."

"Maksud Ki Gede ilmu kanuragan?" bertanya Kiai Badra. "Ya," jawab Ki Gede.

Tetapi Kiai Badra itu pun menggeleng. Katanya, "Maaf Ki. Aku sama sekali tidak bersentuhan dengan ilmu kanuragan."

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Dengan demikian, maka Kiai Badra pun kemudian berkata, "Sudahlah Ki Gede, silakan beristirahat sebaik-baiknya. Aku pun akan beristirahat di gandok. Cucuku kini telah berada disini pula."

"Syukurlah Kiai," jawab Ki Gede. "Mudah-mudahan ia kerasan tinggal disini." Demikianlah, Kiai Badra itu pun meninggalkan Ki Gede berbaring di dalam biliknya. Wiradana yang mengikutinya dengan nada gelisah bertanya, "Apakah ayah benar-benar tidak akan mampu berbuat apa-apa lagi dalam olah kanuragan?" "Bukan tidak dapat berbuat apa-apa lagi, ngger. Tetapi kemampuan wadagnya akan sangat terbatas. Karena itu, maka aku ingin mempersilakan angger untuk mengambil alih segala sesuatunya. Dengan demikian yang akan memperingan perasaan ayah angger, angger memiliki kemampuan sebagaimana ayah angger, maka Ki Gede tentu akan merasa seakan-akan kemampuan dirinya telah pulih kembali, meskipun dengan mempergunakan harapannya," jawab Kiai Badra.

Wiradana mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud Ki Badra. Namun akan berarti ia harus bekerja sangat berat.

"Angger Wiradana," berkata Kiai Badra kemudian, "Dalam keadaan wajar, bukankah Ki Gede pada satu saat tentu akan meninggalkan angger juga? Ki Gede tentu akan meninggalkan Tanah Perdikan ini pula untuk selama-lamanya? Bukankah dalam keadaan yang demikian angger juga yang harus bangkit untuk menerima semua tugas dan kewajiban Ki Gede atas Tanah Perdikan ini?"

Wiradana mengangguk-angguk. Katanya, "Aku mengerti Kiai."

"Nah. Agaknya segalanya memang harus dipercepat. Tetapi seperti ayah angger, maka angger dapat bersyukur, sementara ini ayah masih dapat menuntut angger. Baik dalam olah kanuragan, maupun dalam memimpin Tanah Perdikan ini." "Ya, ya Kiai," jawab Wiradana. "Aku akan mencobanya."

"Angger tentu akan dapat melakukannya," berkata Kiai Badra sambil tersenyum. "Bukankah sekarang angger sudah memiliki modal untuk itu. Angger sudah memiliki kemampuan dalam olah kanuragan, sementara itu angger pun telah mulai ikut dalam mengatur pemerintahan di Tanah Perdikan ini."

Wiradana mengangguk-angguk. Tetapi yang terbayang adalah beban yang akan diletakkan dipundaknya.

Demikianlah, maka dari hari ke hari Kiai Badra masih berusaha untuk berbuat

sesuatu atas Ki Gede. Namun kemampuannya memang terbatas sebagaimana orang lain dalam keterbatasannya masing-masing.

Karena itu, Kiai Badra tidak dapat berbuat apa-apa juga atas kemungkinan yang buruk pada anggota badan Ki Gede Sembojan. Namun setidak-tidaknya Kiai Badra akan dapat mengurangi kemungkinan kelumpuhan mutlak.

Namun dalam pada itu, ternyata para pengikut Kalamerta yang kehilangan pemimpinnya sudah tidak sabar lagi. Mereka benar-benar sudah siap untuk menyerang Tanah Perdikan Sembojan.

Tetapi orang yang bertubuh tinggi kekar yang memimpin gerombolan Kalamerta itu cukup cerdik. Ia tidak akan melawan seluruh kekuatan Tanah Perdikan Sembojan. Karena itu, maka ia telah membuat rencana sebaik-baiknya. Gerombolan Kalamerta akan menghancurkan padukuhan demi padukuhan.

Tetapi yang terjadi adalah tidak seperti yang dikehendaki oleh orang bertubuh tinggi itu. Adalah satu kecelakaan bahwa Wiradana sendiri yang kebetulan berada disebuah kedai itu dalam pasar yang ramai telah melihat orang yang agak mencurigakan. Dua orang yang bertubuh besar dan berwajah keras. Tingkah laku mereka sama sekali tidak mencerminkan tingkah laku orang-orang Sembojan atau Kademangan disekitarnya.

Tetapi Wiradana tidak tergesa-gesa bertindak atas mereka. Bahkan Wiradana berusaha untuk dapat duduk didekat mereka dan mulai bercakap-cakap. “Apakah Ki Sanak orang Sembojan?” bertanya Wiradana.

“Kau orang mana?” salah seorang dari keduanya bertanya. “Aku orang Keduwung,” jawab Wiradana.

“Kenapa kau sampai ke Sembojan?” bertanya orang itu.

“Aku seorang pedagang wesi aji,” jawab Wiradana yang kemudian memesan tuak. “Beri aku tuak,” minta Wiradana.

Pemiliki warung itu heran. Wiradana tidak pernah memesan tuak. Tetapi dengan matanya Wiradana sempat memberi isyarat, sehingga pemilik warung itu pun kemudian memberikan sebumbung tuak aren yang keras.