-->

Sayap-Sayap Yang Terkembang Jilid 43

Jilid 43

TIDAK banyak yang melihat ketika siku Kasadha bergerak cepat. Telapak tangan Ki Rangga sempat menahan, tetapi ternyata bahwa ayunan kekuatan Kasadha mampu menggoyahkan tangan Ki Rangga sehingga tergetar dan bahkan Ki Rangga itupun telah terdorong selangkah surut.

Dengan cepat Kasadha mempersiapkan serangan berikutnya dengan melenting sambil berputar. Sementara kakinya terayun mendatar. Namun Ki Rangga telah sempat meloncat dua langkah surut sehingga kaki Kasadha tidak mengenainya.

Serangan beruntun yang kemudian seakan-akan telah mendesak Ki Rangga Prangwiryawan itu telah menghentak jantung para prajurit. Ketika kemudian Kasadha menghentikan serangannya, maka tiba-tiba saja telah meledak sorak para prajurit.

Wajah Ki Rangga Prangwiryawan memang menjadi panas. Ia terkejut mengalami serangan beruntun itu, sehingga ia tidak sempat menunjukkan kemampuannya yang dijadikan contoh bagi para prajurit di barak itu. “Tetapi masih banyak waktu,“ desisnya.

Sementara itu Kasadha telah berdiri tegak siap menghadapi segala kemungkinan.

Melihat sikap Kasadha itu jantung Ki Rangga berdesir. Sikap itu begitu nampak meyakinkan, sehingga Ki Rangga justru tersentuh karenanya.

Namun sadar bahwa lawannya itu adalah Lurah Penatus terbaik di barak itu, maka Ki Ranggapun justru menjadi semakin berhati-hati meskipun keinginannya untuk memamerkan kelebihannya masih saja bergejolak dihatinya.

Demikianlah, maka keduanyapun segera bersiap.

Kasadha sudah berniat untuk benar-benar bertanding. Apakah ia akan kalah atau akan menang bukan soal lagi baginya. Apalagi ketika ia kemudian teringat kata-kata Ki Rangga Prangwiryawan sendiri, bahwa di arena mereka akan benar-benar bertanding.

Ki Rangga benar-benar terkejut ketika kemudian ia mengalami serangan-serangan Kasadha yang cepat dan kuat. Meskipun satu dua kali Ki Rangga masih mampu memamerkan kemampuannya dan kelebihannya menguasai unsur-unsur gerak yang memiliki bentuk penampilan yang sangat menarik, namun selebihnya, Ki Rangga harus benar- benar berusaha mengimbangi Kasadha yang bergerak dengan cepat dan bahkan cenderung mendesaknya.

“Gila orang ini,“ berkata Ki Rangga didalam hatinya.

Sebenarnyalah Kasadha, murid Ki Ajar Paguhan itu, telah meningkatkan ilmunya merambat ke puncak. Ia tidak lagi menahan diri dan ragu-ragu. Ia hanya ingin mengerahkan kemampuannya. Kemudian akhir dari pertandingan itu terserah kepada tataran kemampuan Ki Rangga.

Ki Ranggapun harus mengimbangi kemampuan Kasadha.

Bahkan kemudian Ki Rangga harus meningkatkan kemampuannya dengan cepat pula sebagaimana dilakukan oleh Kasadha.

Dengan demikian, maka irama dari pertandingan itu dengan cepat pula meningkat. Keduanya saling menyerang dan menghindar.

Ki Tumenggung Jayayuda dan kedua Pandhega yang menunggui pertandingan itupun menjadi semakin tegang pula. Mereka menyadari, bahwa Kasadha benar-benar mulai bersungguh-sungguh.

Para prajuritpun menjadi semakin tegang. Pertandingan itu benar-benar menjadi semakin keras. Kasadha dengan cepat menyerang. Namun kemudian melenting menghindari serangan-serangan yang datang dari Ki Rangga Prangwiryawan.

Dalam pertandingan yang semakin keras, ternyata sulit bagi Ki Rangga untuk sekedar memamerkan kelebihan- kelebihannya. Setiap kali ia akan melakukan, serangan Kasadha melandanya seperti badai yang datang mengguncang pepohonan. Sehingga Ki Rangga itu harus berusaha menghindar atau menangkis serangan itu serta mencari.kesempatan untuk menyerang kembali.

Dengan demikian yang terjadi di arena itu adalah benar- benar pertandingan beradu ilmu. Desak mendesak dan serang menyerang. Satu keadaan yang tidak diinginkan sama sekali oleh Ki Rangga Prangwiryawan. Ia berniat mempermainkan Kasadha dengan unsur-unsur geraknya yang dapat dipamerkan kepada para prajurit di barak itu. Sebagai orang baru, maka para prajurit itu belum pernah melihat apa yang dapat dilakukannya dalam olah kanuragan.

Tetapi kesempatan itupun menjadi hilang sama sekali. Ia benar-benar harus mengerahkan kemampuannya, justru karena serangan-serangan Kasadha yang semakin berbahaya.

Ki Rangga itupun kemudian telah membuat perhitungan baru. Ia tidak lagi ingin melakukan pameran kekuatan dan kemampuannya lebih dahulu baru kemudian menghentikan perlawanan Kasadha. Tetapi ia akan menyusut kekuatan dan kemampuan Kasadha dahulu. Jika ia berhasil menyakiti Lurah Penatus yang muda itu, dan memperlemah tenaganya, maka ia tentu akan mendapat kesempatan untuk melakukan pameran ilmu itu.

Karena itu, maka Ki Ranggapun telah dengan serta merta meningkatkan kemampuannya sampai kepuncak. Ia ingin membuat Kasadha tidak mampu berbuat banyak.

Dengan demikian, maka Ki Rangga itupun telah menyerang Kasadha bagaikan banjir bandang. Susul- menyusul dengan kekuatan dan tenaga yang sangat besar.

Untuk sesaat Kasadha memang terdesak. Ia merasakan kekuatan lawannya yang menghentak mendesaknya.

Bahkan ketika serangan Ki Rangga mengenai dadanya, Kasadha memang telah terdorong beberapa langkah surut, sehingga keseimbangannya menjadi goyah. Karena itu, ketika Ki Rangga menyerangnya pula, Kasadha justru telah menjatuhkan dirinya untuk menghindari serangan itu. Arena dan sekitarnya di halaman barak itu benar-benar telah dicengkam oleh ketegangan.

Kedua orang yang berada di arena itu agaknya telah mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuannya.

Dalam pada itu, ketiga orang yang mengamati pertandingan itu di dalam arena memang menjadi berdebar-debar. Ki Tumenggung Jayayuda menjadi

semakin berhati-hati. Demikian pula kedua orang Pandhega yang lain. Mereka memang melihat bahwa pertandingan itu benar-benar telah menuntun keduanya untuk memperbandingkan kemampuan mereka sampai puncak.

Karena itu, jika mereka tidak berhati-hati, maka akan dapat terjadi kemungkinan yang buruk pada keduanya atau salah seorang dari keduanya.

Sementara itu diluar arena Barata menjadi tegang. Seperti para pengamat yang ada didalam arena, maka Baratapun melihat bahwa kedua orang yang bertanding itu telah bertekad untuk dengan cepat memenangkan pertandingan.

Ki Rangga Prangwiryawan yang berniat segera menguras tenaga Kasadha untuk mendapat kesempatan mempertunjukkan kemampuannya dengan unsur-unsur gerak yang tentu dikagumi oleh para prajurit, telah menghentakkan segenap kemampuannya. Serangan- serangannya datang meluncur tanpa berkeputusan. Setiap kesempatan telah dipergunakannya. Dengan demikian ia akan dapat menekan Kasadha sekaligus memaksanya untuk melepaskan segenap kemampuan dengan mengerahkan tenaganya habis-habisan.

Tetapi Kasadha, murid Ki Ajar Paguhan yang telah menempa diri dalam kehidupan yang garang itu ternyata masih mampu mengimbanginya. Pengalamannya di pertempuran telah membuat jiwanya semakin kokoh.

Karena itu, ketika ia menyadari bahwa Ki Rangga Prangwiryawan benar-benar sampai kepuncak, maka Kasadhapun telah mengerahkan segenap kemampuannya pula. Ia masih saja selalu ingat pesan Ki Rangga Dipayuda, bahwa jika ia ingin menang, maka ia harus menang. Tanpa ragu-ragu.

Dengan demikian maka sejenak kemudian, maka Kasadhapun telah mengimbangi serangan-serangan Ki Rangga dengan serangan-serangan yang lidak kalah dahsyatnya pula. Segala kemungkinan dari tingkat ilmu yang disadapnya dari Ki Ajar Paguhan telah dihentakkannya, sehingga dengan demikian, maka dua ilmu yang tinggi telah berbenturan di arena pertandingan.

Ki Tumenggung Jayayuda melihat dua kekuatan yang sangat besar itu. Tetapi ia tidak dapat menghentikan pertandingan itu, karena kedua belah pihak tidak melanggar paugeran. Keduanya telah melakukan hal-hal yang tidak diperkenankan dalam pertandingan itu.

Namun yang terjadi benar-benar benturan dua kekuatan yang dilandasi dengan ilmu yang tinggi dan jantung yang agaknya sedang memanas, sehingga memang mungkin sekali terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Tetapi menilik kemampuan keduanya, maka masing- masing agaknya akan mampu menjaga dirinya untuk tidak mengalami keadaan yang gawat.

Namun dalam pada itu, keinginan Ki Rangga untuk mempertunjukkan permainan unsur-unsur gerak yang tentu akan memukau, tidak lagi diingatnya. Apalagi ketika kekuatan Kasadha bagaikan berlipat mendesaknya dalam tatanan unsur gerak yang semakin rumit dan berbahaya.

Ki Rangga Prangwiryawan mengumpat didalam hati. Ia sadar, bahwa justru karena ia mengerahkan kemampuannya, seakan-akan telah memancing Kasadha untuk berbuat serupa. Yang ternyata bahwa anak muda itu justru memiliki kelebihan atas Ki Rangga itu.

Umurnya yang masih muda, gejolak jantungnya yang nampaknya telah terlalu lama ditahankan, membuat Kasadha menjadi sangat garang.

Ki Rangga Prangwiryawan memang agak terdesak.

Serangan-serangan Kasadha menjadi semakin cepat dan kuat. Apalagi ketika Ki Rangga Prangwiryawan yang ingin mematahkan perlawanan Kasadha dan kemudian mempermainkannya sekaligus memamerkan penguasaannya atas beberapa unsur gerak yang belum pernah dilihat oleh para prajurit, telah mengerahkan kemampuannya.

Barata memang menjadi semakin tegang. Ia melihat wajah Kasadha yang seakan-akan memancarkan api yang menyala didadanya. Sehingga dengan demikian maka Kasadha itupun tidak lagi mengekang diri serta tidak lagi mengingat dengan siapa ia berhadapan.

Pertandingan itupun menjadi semakin garang. ke duanya telah benar-benar sampai kepuncak kemampuan mereka.

Ki Rangga Prangwiryawan tidak sempat lagi memikirkan pameran kemampuan. Tetapi jika saja ia dapat bertahan maka ia telah merasa beruntung. Sementara Kasadhapun tidak lagi membuat bermacam-macam pertimbangan.

Unsur-unsur gerak dari perguruannya yang untuk beberapa lama disimpannya, telah terurai semuanya untuk mengatasi desakan ilmu Ki Rangga Prangwiryawan.

Para prajurit untuk beberapa saat justru bagaikan membeku. Mereka melihat pertandingan itu menjadi semakin sengit. Beberapa kali kedua belah pihak mampu mengenai lawan mereka dengan serangan-serangan mereka yang cepat dan kuat. Beberapa kali keduanya saling terdorong surut satu dua langkah.

Namun akhirnya, kemudian Kasadha mulai menunjukkan kelebihannya dari Ki Rangga Prangwiryawan.

Murid Ki Ajar Paguhan itu telah menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya, sehingga dengan demikian, maka seluruh isi barak itu akhirnya mengetahui, bahwa Kasadha memang seorang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Bukan sekedar desas-desus atau sanjungan para prajurit dibawah pimpinannya. Tetapi sebenarnyalah, bahwa Kasadha adalah seorang prajurit yang baik.

Ketika tubuhnya mulai disakiti oleh Ki Rangga Prangwiryawan karena serangan-serangannya yang keras dan kuat, maka Kasadha benar-benar telah mengambil ke putusan. Ia ingin menang dalam pertandingan itu sebagaimana dipesankan oleh Ki Rangga Dipayuda.

Ki Tumenggung Jayayuda, Ki Rangga Surayuda dan Ki Rangga Dipayuda benar-benar melihat satu pertandingan yang mendebarkan. Namun mereka menjadi semakin berdebar-debar ketika Ki Rangga Prangwiryawan benar- benar telah terdesak. Ki Rangga kemudian hanya mampu bertahan dan melindungi dirinya dari serangan-serangan Ki Lurah Kasadha. Jika sekali-sekali ia mendapat kesempatan untuk menyerang, maka serangannya tidak lagi terarah dengan baik karena kecepatan gerakan Kasadha.

Bahkan ketika ketahanan tubuh Ki Rangga Prangwiryawan mulai susut, maka Kasadha justru nampak menjadi semakin tegar. Serangan-serangannya menjadi semakin mantap dan menjadi semakin sering mengenai tubuh Ki Rangga.

Ki Tumenggung Jayayuda menjadi agak cemas melihat keadaan itu. Pertandingan itu akan dapat menjadi arena perkelahian yang sebenarnya. Ki Rangga Prangwiryawan yang ditugaskan untuk mengatur pertandingan itu, nampaknya tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri, sehingga ia sendiri jutru terlibat dalam perkelahian yang keras dan berbahaya.

Karena itu, maka Ki Jayayuda telah memberi isyarat kepada kedua orang Rangga yang membantunya mengawasi pertandingan itu untuk mendekat. Dengan singkat dan cepat keduanya mendengar niat Ki Tumenggung untuk menghentikan pertandingan.

Keduanya mengangguk. Niat Ki Tumenggung itu mereka anggap penyelesaian yang terbaik. Keduanya dinyatakan telah bermain dengan sangat baik dan diantara keduanya tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah.

Bagaimanapun juga mereka masih harus mempertahankan kewibawaan seorang Pandhega, meskipun sebelumnya berkali-kali telah dinyatakan, bahwa kepemimpinan seorang prajurit tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan olah kanuragan.

Tetapi ternyata Ki Tumenggung terlambat. Demikian ia mendapat persetujuan dari kedua orang Pandheganya, maka pertandingan itu telah sampai pada puncaknya. Ternyata Ki Rangga Prangwiryawan yang tersudut, berusaha memecahkan tekanan Ki Lurah Kasadha. Satu serangan yang keras dilontarkan oleh Ki Rangga dengan kakinya yang terjulur lurus ke arah dada. Namun Kasadha sempat menangkis serangan itu dengan menepisnya menyamping. Tetapi demikian kaki itu jatuh ditanah, maka Ki Rangga telah memutar tubuhnya. Kakinya yang lain terayun deras mengarah ke pelipis Kasadha.

Dengan tangkasnya Kasadha mengelakkan serangan itu. Bahkan demikian Ki Rangga berputar, Kasadha yang sedikit merendah, telah maju selangkah kedepan dengan menjulurkan serangan ke bagian bawah dadanya. Tangan Kasadha yang terbuka dengan keempat jarinya merapat, telah menusuk arah ulu hati Ki Rangga Prangwiryawan.

Ki Rangga mengaduh tertahan. Namun diluar sadarnya Ki Rangga telah terbungkuk kesakitan.

Kasadha mendapat kesempatan terakhir untuk memenangkan pertandingan itu. Ia dapat menghantam tengkuk Ki Rangga atau menyerang wajah Ki Rangga yang menunduk itu dengan lututnya.

Namun tangannya yang terayun kearah tengkuk Ki Rangga ternyata masih sempat ditahannya. Sejengkal dari sasaran, Kasadha membatalkan serangannya. Bahkan iapun telah meloncat surut dua langkah.

Ki Rangga masih saja kesakitan. Serangan jari-jari tangan Kasadha yang merapat, seakan-akan telah menghentikan pernafasan Ki Rangga Prangwiryawan selain perasaan sakit yang menyengat sampai ke jantung. Pada saat itu Ki Tumenggung Jayayuda telah bergeser dengan cepat mendekati Ki Rangga Prangwiryawan.

Sementara Ki Rangga Dipayuda telah mendekati Ki Lurah Kasadha. Tetapi sebelum Ki Rangga Dipayuda menghentikannya, Kasadha memang sudah berhenti dengan sendirinya.

Ketika kemudian Ki Rangga Prangwiryawan berdiri tegak sambil mengatupkan giginya rapat-rapat untuk menahan sakit, maka Ki Tumenggung berkata, “Sudah cukup. Kalian berdua memiliki tingkat kemampuan yang sama.”

Sejenak Ki Rangga termangu-mangu. Ketika ia memandang Kasadha, maka diwajah anak muda itu sama sekali tidak terbayang sikapnya terhadap keputusan Ki Jayayuda itu.

Kasadha juga mendengar keputusan Ki Tumenggung Jayayuda. Dipandanginya pula Ki Rangga Prangwiryawan sejenak. Namun Kasadha nampaknya tidak ingin menyatakan pendapatnya atas keputusan itu.

Ki Rangga masih saja berdiam diri. Namun kemudian ia menggeleng lemah, “tidak,“ katanya.

Ki Tumenggung Jayayuda mengerutkan keningnya.

Dengan nada ragu ia bertanya, “Jadi, bagaimana maksudmu?”

“Kami tidak mempunyai kemampuan yang sama,“ desis Ki Rangga.

“Jadi?“ desak Ki Jayayuda yang berdebar -debar sebagaimana juga Ki Rangga Surayuda dan Ki Rangga Dipayuda. Dua orang Lurah yang pernah dikalahkan oleh Ki Lurah Kasadha juga tidak dengan serta merta menerima kekalahannya.

Namun Ki Rangga itu menjawab, “Aku harus mengakui kelebihan Ki Lurah Kasadha. Aku ternyata dikalahkannya.”

Ki Jayayuda terkejut mendengar pengakuan itu. Demikian pula Ki Rangga Surayuda dan Ki Rangga Dipayuda. Mereka tidak mengira bahwa Ki Rangga Prangwiryawan yang sebelumnya menunjukkan sikap yang terlalu yakin akan kemampuan diri itu, dengan dada yang lapang mengakui kelebihan Kasadha.

Bahkan kemudian Ki Rangga Prangwiryawan itu berkata, “Aku tidak merasa perlu untuk berpura-pura. Semua prajurit tahu bahwa aku tidak mampu mengimbangi kemampuan Ki Lurah Kasadha betapapun aku berusaha.

Satu-satunya cara untuk mempertahankan harga diri yang tersisa padaku adalah dengan mengaku kalah. Dengan demikian aku masih merasa bahwa aku bertindak jujur.”

Ki Jayayuda menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara yang seakan-akan tersangkut dikerongkongan Ki Tumenggung berkata, “Ki Rangga. Ternyata kau adalah seorang prajurit yang baik.”

“Terima kasih Ki Tumenggung. Agaknya Ki Tumenggung dapat mengumumkan, bahwa yang memenangkan pertandingan ini adalah Ki Lurah Kasadha,“ berkata Ki Rangga.

Ki Tumenggung mengangguk. Namun dalam pada itu Kasadhapun berdesis, “Aku kira pengumuman itu tidak perlu. Ki Tumenggung sudah menyatakan keputusannya. Karena itu, agaknya tidak perlu dirubah lagi.” “Tentu perlu,“ berkata Ki Rangga, “aku akan selalu diusik oleh keputusan yang tidak sewajarnya itu untuk seterusnya. Aku akan merasa bahwa setiap mata akan memandangku dengan curiga. Wibawa yang maksudnya untuk dipertahankan, justru akan terjadi sebaliknya.”

Ki Tumenggung mengangguk-angguk. Kemudian iapun berdiri tegak sambil memandang berkeliling. Setiap orang yang tersapu oleh tatapan mata Ki Tumenggung itu-pun terdiam mematung.

Sejenak kemudian, setelah suasana disekitar arena itu menjadi tenang, maka Ki Tumenggungpun berkata, “Para prajurit yang menyaksikan pertandingan ini. Setelah kita mengetahui, siapakah orang yang dianggap terbaik dalam olah kanuragan diantara para Lurah, maka hari ini diadakan semacam penjajagan yang dilakukan oleh Lurah terbaik dengan Ki Rangga Prangwiryawan. Sebagaimana kita lihat bersama, bahwa ternyata Ki Lurah Kasadha mampu mempertahankan gelar yang pernah disandangnya sebagai Lurah terbaik, sehingga dalam pertandingan ini dinyatakan bahwa Ki Lurah Kasadha telah memenangkan pertandingan ini.”

Demikian Ki Tumenggung selesai berbicara, maka halaman barak itu bagaikan meledak. Suaranya bergetar sampai keluar dinding halaman. Beberapa orang yang lewat didepan barak itu termangu-mangu sejenak. Dua orang yang sempat berhenti didepan regol telah bertanya kepada prajurit yang bertugas, “Apa yang terjadi?”

“Tidak ada apa -apa. Para prajurit sedang bergembira,“ jawab prajurit yang bertugas itu. “Kenapa para prajurit bergembira sampa i berteriak- teriak seperti itu?“ bertanya orang itu.

“Biasa saja. Bukankah orang yang bergembira kadang - kadang mempergunakan cara seperti itu untuk menyatakan kegembiraannya? Bersorak, berteriak dan mungkin melohjak-lonjak seperti anak-anak yang melihat biyungnya pulang dari pasar dengan membawa oleh-oleh?“ jawab prajurit itu.

“Apakah mereka sedang mabuk?“ bertanya orang itu lagi.

“Tentu tidak. Apakah kebiasaan prajurit Pajang menjadi mabuk dan kemudian berteriak-teriak tidak keruan? “ prajurit itu ganti bertanya.

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun ia masih berusaha melihat kedalam lewat lubang pintu gerbang yang terbuka. Tetapi yang nampak adalah prajurit-prajurit yang ada di halaman, dan tidak terlalu dekat dengan regol itu.

Sejenak kemudian maka orang itupun telah melanjutkan perjalanannya.

Dalam pada itu, diarena Ki Tumenggung Jayayuda dan para Pandhega telah memberikan ucapan selamat kepada Ki Lurah Kasadha. Bahkan, ternyata Ki Rangga Prangwiryawan sendiri telah memberikan ucapan selamat pula kepada lawannya yang telah mengalahkannya dalam pertandingan itu.

Baru kemudian, beberapa orang Lurah dan pemimpin kelompok telah menyatakan pula kekagumannya serta ucapan selamat atas kemenangannya. Barata ikut berbangga atas kemenangan Kasadha. Meskipun ia tidak segera mendapat kesempatan untuk mengucapkan selamat, namun ia masih saja berdiri sambil tersenyum-senyum. Pada kesempatan terakhir, Barata telah mendekatinya sambil berkata, “Kau memang luar biasa, Kasadha.”

“Ah,“ desis Kasadha, “hanya satu keb etulan. Ki Rangga Prangwiryawan nampaknya ingin memberikan sedikit kebanggaan kepadaku.”

Barata termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian berdesis perlahan sehingga hanya didengar oleh Kasadha, “Tidak. Kau memang lebih baik dari Ki Rangga.

Kau jangan lupa, bahwa aku mampu menilai kemampuan seseorang dalam olah kanuragan.”

Kasadha mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian menjawab, “Apakah kau menganggap bahwa Ki Rangga Prangwiryawan sudah bersungguh-sungguh.”

“Sudah. Kau tentu tahu itu,“ jawab Barat a.

Keduanyapun kemudian berjalan diantara para prajurit yang masih berada di halaman, berdiri berkelompok- kelompok. Sementara Ki Tumenggung Jayayuda dan Para Pandhega telah meninggalkan halaman.

Ki Tumenggung Jayayuda masih sempat berkata kepada para prajurit sebelum meninggalkan halaman, “Tetapi sekali lagi aku ingatkan, bahwa kemampuan olah kanuragan, bukan satu-satunya syarat untuk menjadi seorang pemimpin.”

Hari itu, Kasadha minta agar Barata tidak meninggalkan barak itu lebih dahulu. Kasadha mendengar dari Ki Rangga Dipayuda, bahwa justru Ki Tumenggung Jayayuda akan menyelenggarakan semacam sukuran bagi para prajurit di barak itu. Ternyata rencana besar mereka untuk menyelenggarakan pertandingan antara para prajurit di barak itu telah selesai dengan selamat.

“Kapan hal itu diselenggarakan?“ bertanya Barata. “Besok pagi,“ jawab Kasadha.

“Besok pagi? “ ulang Barata.

“Ya,“ jawab Kasadha, “baru saja aku mendengar dari Ki Rangga Dipayuda. Bahkan Ki Rangga juga berpesan, agar kau jangan pulang dahulu. Besok siang, kita berjalan bersama-sama.”

“Bersama -sama?“ bertanya Barata.

“Aku mendapat waktu beristirahat dua hari,“ jawab Kasadha.

“O,“ Barata mengangguk -angguk, “kau akan pergi ke Tanah Perdikan? Ibu tentu senang sekali menerimamu.”

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan pergi ke Tanah Perdikan. Aku akan bermalam semalam.

Kemudian kembali dari Tanah Perdikan aku akan singgah dirumah Ki Rangga Dipayuda yang pada hari itu akan mengambil istirahat satu atau dua hari.”

Barata tiba-tiba saja mengerutkan dahinya. Namun dengan cepat ia berkata, “Kenapa kau tidak bermalam di Tanah Perdikan Sembojan dua malam?”

Kasadha tersenyum. Katanya, “Lain kali aku akan bermalam lebih lama di Tanah Perdikan Sembojan. Jika persoalanmu dengan Rangga Kalokapraja telah selesai, itu berarti bahwa saat-saat wisudamu sudah dekat. Nah, pada saat kau diwisuda menjadi Kepala Tanah Sembojan itulah aku akan berada di Tanah Perdikan itu lebih lama lagi.”

Barata mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja terasa sesuatu yang bersangkut di perasaannya, sejak ia mendengar bahwa Kasadha akan singgah dirumah Ki Rangga Dipayuda. Namun Barata telah menyembunyikan perasaannya itu jauh-jauh didalam dasar hatinya.

Karena Barata nampaknya masih bimbang, Kasadha berkata pula, “Nah, bukankah kau b ersedia menunda perjalananmu pulang ke Tanah Perdikan sampai besok?”

Barata akhirnya mengangguk sambil berkata, “Baiklah. Tetapi malam nanti ibu akan menjadi sedikit gelisah bahwa aku masih belum pulang.”

“Tetapi besok kau sudah akan pulang bersamaku,“ s ahut Kasadha.

Demikianlah, maka Barata telah bermalam semalam lagi di barak itu.

Seperti direncanakan, maka dihari berikutnya, di barak itu telah diselenggarakan keramaian kecil. Para petugas didapur telah menyediakan makan dan minum agak berbeda dengan hari-hari lainnya. Beberapa ekor kambing telah disembelih untuk membuat acara pernyataan sukur bahwa acara-acara yang mereka selenggarakan telah berlangsung dengan selamat.

Namun demikian acara itu selesai, maka Kasadha bersama Barata telah menghadap Ki Rangga Dipayuda untuk minta diri. “Aku akan beristirahat di Tanah Perdikan Sembojan Ki Rangga. Besok, jika aku kembali, maka aku akan singgah di rumah Ki Rangga Dipayuda,“ berkata Kasadha.

“Aku besok ada dirumah,“ berkata Ki Rangga, “tetapi baru besok pagi-pagi aku meninggalkan barak ini.”

“Besok pagi -pagi aku berangkat dari Tanah Perdikan Sembojan,“ sahut Kasadha.

“Baiklah,“ jawab Ki Rangga Dipayuda, “tetapi kau harus menghadap Ki Tumenggung Jayayuda. Pada dasarnya kau sudah diperkenankan untuk beristirahat. Tetapi jika kau akan meninggalkan barak hari ini, sebaiknya kau minta diri.”

“Ya Ki Rangga. Aku akan menghadap Ki Tumenggung,“ jawab Kasadha yang sekaligus minta diri kepada Ki Rangga untuk meninggalkan barak itu bersama Barata menuju ke Tanah Perdikan Sembojan. Demikian pula dengan Barata. Iapun telah minta diri kepada Ki Rangga Dipayuda.

Ketika keduanya keluar dari bilik khusus bagi para Pandhega, maka mereka telah bertemu dengan Ki Rangga Prangwiryawan. Bagaimanapun juga, terasa jantung Kasadha berdesir. Apalagi ketika ia melihat Ki Rangga itu seakan-akan dengan serta merta mendekatinya.

Namun ternyata sambil tersenyum Ki Rangga itu berkata, “Aku dengar kau akan beristirahat barang dua tiga hari”

“Ya Ki Rangga,“ jawab Kasadha. “Beristirahatlah dengan baik. Sekali lagi aku mengucapkan selamat. Kau memang pantas untuk menjadi orang terbaik di barak ini,“ berkata Ki Rangga.

“Ah sudahlah Ki Rangga. Aku sudah melupakannya,“ jawab Kasadha.

“Tidak, bukan begitu. Aku adalah seorang prajurit. Aku harus bersikap jujur. Apalagi mengenai tingkat kemampuan diantara kita,“ berkata Ki Rangga. Lalu katanya, “Selain itu, aku merasa berkewajiban untuk minta maaf kepadamu.”

“Kenapa?“ bertanya Kasadha.

“Selama ini aku merasa diriku lebih baik dari kau,“ jawab Ki Rangga.

“Ah. Tidak. Aku tidak mempunyai perasaan apa -apa,“ jawab Kasadha.

Ki Rangga menepuk bahu Kasadha sambil berkata, “Apapun tanggapanmu, tetapi aku sudah merasa meletakkan beban perasaanku. Kau ternyata orang yang baik.”

“Ki Rangga terlalu memuji, “ desis Kasadha.

“Biarlah kawanmu ini menjadi saksi, bahwa aku berkata sebenarnya. Aku bukan sekedar memuji. Meskipun aku memang memuji, tetapi aku benar-benar menyatakannya dari dasar perasaanku,“ jawab Ki Rangga.

“Terima kasih Ki Rangga,“ jawab Kasadha . “Baikah. Beristirahatlah dengan baik,“ berkata Ki

Rangga. Ki Rangga itupun kemudian telah melangkah pergi.

Iapun telah menepuk bahu Barata sambil berkata, “Melihat ujudmu, kaupun tentu benar-benar memiliki kemampuan seperti Kasadha.”

Baratapun mengangguk dalam-dalam sambil menyahut, “Terimakasih Ki Rangga.”

Namun setelah Ki Rangga melangkah menjauh, Barata itu bertanya, “Kenapa Ki Rangga tiba -tiba saja mengatakan bahwa aku benar-benar memiliki kemampuan seperti kau?”

Kasadhapun tersenyum sambil melangkah untuk menghadap Ki Tumenggung Jayayuda. Katanya, “Sebelum pertandingan ini dilaksanakan, beberapa orang prajurit pernah berceritera tentang kau dan aku dalam perang antara Pajang dan Mataram yang pertama. Mereka, maksudku para prajurit itu, mengatakan bahwa kau dan aku memiliki ilmu yang lebih baik dari rata-rata prajurit Pajang. Agaknya rerasan itu telah didengar oleh Ki Rangga Prangwiryawan.”

Baratapun tersenyum sambil berkata, “Dan agaknya Ki Rangga memperhatikan rerasan itu.”

Kasadha tertawa. Namun ia tidak menjawab lagi. Demikianlah keduanyapun kemudian telah minta diri kepada Ki Tumenggung untuk meninggalkan barak itu.

“Sering -seringlah datang kemari,“ berkata Ki Tumenggung kepada Barata.

“Tentu Ki Tumenggung,“ jawab Barata, “aku kadang - kadang masih merindukan satu kehidupan di barak seperti ini.” Ki Tumenggung tersenyum. Katanya, “Jika saja kau tidak akan menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan, aku minta kau menjadi seorang prajurit lagi,“ Ki Tumenggung berhenti sejenak. Lalu katanya, “Tetapi pengabdian dapat dilakukan dimana saja. Sebagai seorang Kepala Tanah Perdikan kaupun dapat mengabdi sebagaimana seorang prajurit.”

“Ya Ki Tumenggung,“ jawab Barata, “mudah -mudahan aku dapat melakukannya dengan baik.”

Demikianlah, maka kedua orang anak muda itupun bersiap-siap untuk meninggalkan barak. Kasadha masih memberikan beberapa pesan kepada para pemimpin kelompoknya dan menunjuk seorang yang tertua diantara mereka untuk mewakilinya.

“Hanya dua atau tiga hari,“ berkata Kasadha. Beberapa saat kemudian, maka kedua orang anak muda itu sudah berada di luar barak. Kuda mereka berlari-lari kecil menyusuri jalan yang cukup ramai.

Ternyata Barata masih sempat berhenti sejenak didepan sebuah kedai didekat pasar untuk membeli beberapa potong makanan.

“Bibi sering menanyakan, apakah aku membawa oleh- oleh,“ berkata Barata sambil tersenyum.

Kasadhapun tersenyum pula. Katanya, “Ternyata kau seorang anak muda yang tahu diri. Bibi itu tentu akan senang sekali menerima oleh-olehmu.”

“Bibi sudah mulai merajuk seka rang. Beberapa tahun lagi, Bibi akan menjadi kanak-kanak kembali,“ jawab Barata. “Bukankah itu wajar sekali. Seorang yang mulai memasuki hari-hari tuanya sering bertingkah seperti kanak- kanak,“ sahut Kasadha.

Sambil menyimpan bungkusan makanannya, Baratapun telah meloncat ke punggung kudanya. Demikian pula Kasadha telah siap pula untuk meneruskan perjalanannya.

Ketika keduanya keluar dari Kotaraja, maka mereka berpacu lebih cepat. Jalanpun tidak lagi terlalu ramai. Namun demikian keduanya tidak berpacu seperti dalam arena pacuan kuda.

Sepanjang perjalanan keduanya nampak gembira. Langit yang bersih dan batang-batang padi yang hijau. Air di parit yang mengalir jernih berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari pagi. Semuanya terasa cerah secerah suara kicau burung dipepohonan.

Kasadha dan Barata masih saja berbincang sambil menempuh perjalanan. Mereka terutama berbicara tentang masa depan Tanah Perdikan Sembojan. Ternyata Kasadha juga menaruh banyak perhatian tentang Tanah Perdikan peninggalan kakeknya itu. Namun tercermin dalam pembicaraannya, bahwa hati Kasadha memang bersih, ia sama sekali tidak berniat untuk menuntut meskipun hanya sekeping kecil sawah atau ladang di Tanah Perdikan.

Kedudukan Kasadha sendiri, meskipun masih sedang merambat, namun seorang Penatus yang menjabat dihidang pemerintahan telah mendapat tanah pelungguh seluas seratus Karya, sehingga hasilnya cukup untuk hidup dan menghidupi satu keluarga yang sudah tentu tidak berlebih-lebihan. Dalam pada itu, maka Baratapun telah menceriterakan bahwa persoalannya dengan Ki Rangga Kalokapraja memang sudah selesai. Semua kekurangan dari laporannya telah dipenuhi. Sementara itu Ki Rangga sendiri telah melihat kenyataan yang ada di Tanah Perdikan Sembojan, sehingga Ki Rangga Kalokapraja yakin bahwa seisi Tanah Perdikan akan menerima kehadiran Barata sebagai Kepala Tanah Perdikan.

Tanpa singgah dimanapun keduanya langsung menuju ke Tanah Perdikan Sembojan.

Kedatangan mereka disambut dengan gembira oleh keluarga di Tanah Perdikan. Seperti dugaan Barata, ibunya memang sempat menjadi cemas, bahwa Barata tidak pulang sebagaimana waktu yang direncanakan.

Ketika Barata kemudian memberikan oleh-olehnya kepada Bibi, maka Bibi benar-benar menjadi gembira. Baginya bukan makanan yang diterimanya itulah yang sangat membesarkan hatinya, tetapi ternyata Barata selalu mengingatnya sebagai seorang yang ikut menumpang mengakunya sebagai anaknya.

“Aku akan menyimpannya,“ berkata Bibi sambil membawa makan itu kebelakang. Sementara Iswari hanya tersenyum saja memandanginya.

Namun Bibi bukan sekedar memindahkan makanan itu dari bungkusnya ke sebuah mangkuk. Tetapi beberapa kali ia telah mengusap air yang mengembun di pelupuknya.

Di pendapa, Iswari menemui Kasadha yang datang bersama anaknya itu ditemani oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung. Setelah menanyakan keselamatannya, maka Iswaripun telah berbincang dengan Kasadha dalam suasana yang akrab. Nampaknya kebesaran jiwa dari keduanya telah menghapuskan pagar yang membatasi hubungan mereka.

Bahkan Barata telah sempat pula berceritera bahwa ia telah menyaksikan, bagaimana Kasadha mampu menjadi orang terbaik di baraknya dalam olah kanuragan.

“Bagus sekali, Kasadha,“ sahut Iswari, “mudah -mudahan kemenanganmu itu akan memberikan arti bagimu, khususnya kedudukanmu sebagai seorang prajurit.

Bagaimanapun juga, pimpinan barakmu telah mencatat, bahwa kau adalah seorang prajurit yang baik dalam olah kanuragan. Jika kau kemudian mampu melengkapi kele- bihanmu dengan unsur-unsur yang lain, maka tentu kau mempunyai harapan untuk mendapatkan kedudukan yang lebih baik.”

“Ada unsur yang tidak mungkin dapat aku paksakan ibu,“ jawab Kasadha.

“Unsur apa?“ bertanya Iswari.

“Umur,“ jawab Kasadha, “nampaknya umur juga diperhitungkan. Tentu saja dalam umur yang masih terlalu muda, seseorang tidak akan mendapat kedudukan yang lebih tinggi, karena tentu dinilai pengalamannya masih belum cukup.”

Iswari tersenyum sambil mengangguk. Namun kemudian iapun berkata, “Tetapi umur adalah syarat pelengkap, meskipun memang diperhitungkan.”

Kasadhapun tersenyum. Katanya, “Mudah -mudahan. Tetapi nampaknya ujudku memang lebih tua dari umurku yang sebenarnya. Ternyata bahwa hampir semua orang mengatakan bahwa umurku tentu lebih tua dari Risang.”

“Bukan kau yang nampak terlalu tua dari umurmu. Tetapi agaknya aku yang memang awet muda,“ sahut Risang.

Kasadha tertawa. Sambi Wulung dan Jati Wulungpun tertawa pula.

Ketika kemudian Bibi keluar lagi sambil membawa hidangan, maka pertemuan itu menjadi semakin ramai. Ternyata Bibi telah menghidangkan pula makanan yang dibeli oleh Risang di Pajang. Jenang dodol dan sejenis makanan yang jarang ada di Tanah Perdikan Sembojan, jenang pelok.

Setelah beberapa saat mereka berbincang di pendapa, maka Barata, yang di Tanah Perdikan dikenal dengan nama Risang, telah membawa Kasadha ke gandok. Sebuah bilik telah disiapkan baginya.

Disore hari, setelah keduanya mandi, maka keduanya telah menyiapkan kuda-kuda mereka. Risang akan mengajak Kasadha untuk melihat-lihat perkembangan Tanah Perdikan Sembojan. Tanah Perdikan yang pernah menjadi sumber sengketa antara ibu Risang dan ibu Kasadha, yang kedua-duanya adalah isteri Ki Wiradana, yang seharusnya mewarisi Tanah Perdikan Sembojan itu dari Ki Gede Sembojan yang terbunuh setelah Ki Gede mengalahkan pimpinan gerombolan Kalamerta.

Ketika matahari semakin rendah, maka keduanya telah meninggalkan padukuhan induk Tanah Perdikan. Mereka berkuda diantara kotak-kotak sawah dan hijaunya dedaunan. Matahari yang tidak lagi terasa teriknya menyengat kulit, sinarnya masih mewarnai puncak-puncak pebukitan yang membujur panjang menyusuri sisi Selatan Tanah Perdikan Sembojan.

“Tanah ini telah menjanjikan kesejahteraan bagi masa depan,“ berkata Kasadha sambil memandangi hijaunya hutan lereng pegunungan.

Kami masih bekerja keras untuk mengatasi tanah-tanah yang gersang dilereng pegunungan. Kami sedang mencoba untuk membuat teras-teras di tanah yang miring itu. Kami sedang berusaha untuk menemukan pepohonan yang paling sesuai untuk lereng-lereng kering seperti itu,“ berkata Barata sambil menunjuk ke lereng-lereng yang masih belum berhasil ditanami.

“Tetapi tanah yang gersang itu sudah tidak begitu banyak lagi,“ sahut Kasadha, “dalam waktu lima sampai sepuluh tahun lagi, semuanya tentu sudah menjadi hijau. Padukuhan dibawah lereng tidak lagi takut tertimpa tanah yang longsor jika hujan turun.”

“Mudah -mudahan,“ desis Barata, “kami memang sedang bekerja keras untuk itu.”

Kasadha mengangguk-angguk. Sementara itu kuda mereka meluncur terus menyusuri jalan-jalan Tanah Perdikan yang termasuk cukup terpelihara. Parit-paritpun mengalir dengan lancar membelah kotak-kotak sawah yang terbentang di bulak yang luas.

“Aku yakin, kau akan menjadi seorang Kepala Tanah Perdikan yang baik, Barata,“ desis Kasadha.

“Bukan aku. Tetapi seluruh rakyat Tanah Perdikan inilah yang telah membuat Tanah Perdikan ini menjadi Tanah Perdikan yang diharapkan menjadi gemah ripah lohjinawi,“ jawab Kasadha.

“Tetapi mereka memerlukan seorang yang berwibawa untuk mengikat mereka dalam satu keutuhan keluarga besar yang tertib, rukun, damai tetapi hidup dan berkembang, “gumam Kasadha sambil memandang jauh ke bibir cakrawala. Bahkan kemudian seakan-akan ia berkata kepada dirinya sendiri, “Sawah dan ladang seluas ini tentu akan dapat menjadi sumber kesejahteraan hidup bagi rakyat Tanah Perdikan ini.”

“Kita akan saling berdoa, semoga kita dapat berhasil dalam tugas kita masing-masing,“ berkata Barata kemudian.

Setelah mengelilingi beberapa bagian Tanah Perdikan, maka Barata telah mengajak Kasadha kembali ke rumahnya.

Ketika kemudian malam turun, setelah makan, Kasadha dan Barata masih berbincang-bincang diserambi gandok. Cahaya lampu minyak menggapai-gapai menerangi serambi itu. Sementara di gardu, para peronda duduk melawan kantuk.

Ada saja yang dibicarakan oleh Kasadha dan Barata. Rasa-rasanya pembicaraan itu tidak akan ada habisnya.

Namun ketika malam sampai kepertengahannya, maka Baratapun berkata, “Sudahlah. Kau tentu juga ingin beristirahat.”

Kasadha tersenyum. Katanya, “Aku sudah terbiasa tidur lewat tengah malam.” Tetapi Baratapun kemudian telah masuk keruang dalam langsung kedalam biliknya karena ruang dalam rumahnya itupun telah menjadi sepi. Agaknya ibunyapun telah berada dibiliknya pula.

Pagi-pagi sekali Kasadha telah bangun. Namun ketika ia pergi ke pakiwan, maka Baratapun telah mulai menimba air.

“Kau masih melakukannya sendiri?“ bertanya Kasadha. “Aku sengaja melakukannya. Pagi dan biasanya juga

sore hari,“ jawab Barata.

Kasadha tersenyum. Katanya, “Satu cara untuk melemaskan urat-urat darah.”

Baratapun tertawa. Katanya, “Y a. Baru kemudian setelah berkeringat, bersiap-siap untuk mandi. Cara ini juga dapat untuk mengusir dingin.”

Kasadhapun tertawa. Katanya, “Jika demikian sisakan jambangan itu. Jangan diisi sampai penuh. Aku juga ingin mengusir dingin.”

Demikianlah keduanyapun segera bergantian mandi.

Kemudian Kasadhapun segera berkemas. Ia akan meninggalkan Tanah Perdikan itu untuk kembali ke Pajang, namun ia akan singgah dirumah Ki Rangga Dipayuda yang hari itu juga akan pulang kerumahnya.

Setelah makan pagi, maka seperti yang direncanakan, Kasadha telah minta diri kepada seluruh keluarga di Tanah Perdikan. Kehadirannya di Tanah Perdikan itu telah memberikan kesegaran baru setelah untuk beberapa lama ia tenggelam dalam bukan saja pertandingan, tetapi bahkan semacam pendadaran baginya.

Ketika Kasadha kemudian meninggalkan rumah Barata, maka Barata berkata, “Aku akan mengantarmu sampai ke batas Tanah Perdikan ini.”

“O,“ Kasadha mengangguk -angguk, “terima kasih. Kita masih akan sempat berbincang-bincang untuk beberapa lama.”

Barata tertawa. Katanya, “Seharusnya kau berada di Tanah Perdikan ini lebih lama lagi.”

“Hati -hatilah diperjalanan,“ pesan Iswari. “Ya ibu, aku mohon restu,“ sahut Kasadha.

Iswari tersenyum. Kebenciannya kepada anak itu benar- benar telah larut. Apalagi ketika ia mendengar bahwa anak itu merupakan orang terbaik di baraknya. Jika anak muda itu mendapat tempat yang baik dan mapan, maka tidak akan ada iblis yang manapun yang akan dapat membujuknya untuk mengganggu Tanah Perdikan Sembojan.

Sejenak kemudian, maka Kasadha dan Barata telah berkuda menyusuri jalan-jalan bulak di Tanah Perdikan Sembojan. Sekali-sekali mereka memasuki padukuhan yang pada umumnya nampak bersih. Kemudian muncul lagi dibulak berikutnya.

Ketika keduanya kemudian sampai di perbatasan, maka Barata pun berkata, “Sudahlah Kasadha. Aku tidak dapat mengantarmu sampai ke Pajang. Aku kira seorang Lurah terbaik dari satu pasukan akan berani berkuda sendiri sampai ke Pajang.”

Kasadha tertawa. Katanya, “Antarkan aku sampai ke Pajang. Nanti jika kau tidak berani kembali ke Tanah Perdikan, aku antar kau pulang.”

Baratapun tertawa. Namun kemudian katanya, “Hati - hati. Masih ada orang yang berkeliaran mencari seorang anak muda yang bernama Puguh.”

Kasadha tertawa semakin keras. Katanya, “Bukanka h kau yang bernama Puguh?”

Keduanyapun tertawa berkepanjangan. Mereka rasa- rasanya melihat kembali peristiwa yang aneh itu. Kedua- duanya pada satu saat bersama-sama dianggap seorang anak muda yang bernama Puguh justru karena wajah mereka yang mirip.

Namun sesaat kemudian, Kasadha telah minta diri. Ia harus melanjutkan perjalanannya kembali ke Pajang.

Namun kepada Barata ia berkata, “Aku sudah berjanji untuk singgah dirumah Ki Rangga Dipayuda.”

Dengan demikian, maka beberapa saat kemudian Kasadha telah meninggalkan Barata yang termangu-mangu diperbatasan. Beberapa saat kemudian, Kasadha masih berpaling sambil melambaikan tangannya. Namun kemudian kudanyapun berlari semakin cepat meninggalkan Barata yang termangu-mangu.

Namun ketika Kasadha telah hilang dikelok jalan, maka Baratapun menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan maka ditariknya kendali kudanya, sehingga kudanyapun telah berputar dan berjalan kembali menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.

Seperti penunggangnya, kudanya berjalan saja sambil terangguk-angguk. Sementara Barata mulai merenungi perjalanan Kasadha.

“Ia akan singgah dirumah Ki Rangga,“ desis Barata.

Lalu, “Anak muda itu akan segera bertemu dengan Riris.”

Baratapun segera teringat kepada seseorang yang ada dirumah itu. Sumbaga. Ketika ia bermalam di rumah Ki Rangga, maka ia harus berkelahi dengan Sumbaga.

Namun karena Ki Rangga malam nanti ada dirumahnya, maka Kasadha tentu tidak perlu berkelahi dengan anak muda itu.

Tetapi tiba-tiba saja Barata menarik kekang kudanya, sehingga kudanya itu berhenti ditengah-tengah bulak.

Matahari yang mulai memanjat langit mulai terasa panasnya menggatalkan kulit.

“Kenapa Kasadha kemarin pergi ke Tanah Perdikan?“ Tiba-tiba pertanyaan itu timbul dihatinya, “kenapa ia tidak lebih baik pergi menemui ibunya sendiri dari pada menemui ibuku?”

Barata diluar sadarnya telah berpaling. Tetapi ia tidak melihat Kasadha lagi yang telah menjadi semakin jauh.

Tetapi tiba-tiba saja Barata telah diganggu oleh dugaan- dugaan yang muncul didalam hatinya.

“A gaknya Kasadha sengaja ikut ke Tanah Perdikan agar aku tidak singgah dirumah Ki Rangga Dipayuda,“ berkata Barata kepada diri sendiri. Yang kemudian terbayang adalah seorang gadis yang cantik berlari-lari menyambut kedatangan Kasadha dihalaman rumahnya yang bersih.

Barata menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian menggeleng kecil, seolah-olah ingin mengibaskan angan- angannya itu. Bahkan iapun kemudian berkata kepada diri sendiri, “Iblis manakah yang telah merasuk kedalam hati ini, sehingga aku telah berprasangka buruk terhadap Kasadha! Tidak. Ia tidak sengaja ingin menggiring aku pulang agar aku tidak singgah dirumah Riris. Ia sama sekali bukan seorang yang curang dan licik.”

Barata tiba-tiba saja telah menghentakkan kendali kudanya dan berpacu kencang-kencang menuju ke padukuhan induk.

Dibulak-bulak panjang, satu dua orang yang melihatnya menjadi heran. Barata yang dikenal bernama Risang itu tidak pernah berpacu demikian kencangnya.

“Apakah ada sesuatu yang sangat penting sehingga anak muda itu berpacu demikian cepatnya? “ seorang petani bertanya kepada diri sendiri.

Namun petani itupun kemudian tidak menghiraukannya lagi. Ia kembali sibuk dengan kerjanya. Menyiangi sawahnya. Mencabut batang-batang rumput liar yang tumbuh diantara batang-batang padinya.

Ternyata Risang tidak langsung pulang. Jlistru ketika kudanya mendekati padukuhan induk, maka Risangpun telah menarik kekang kudanya dan berbelok kekanan, menuju ke pebukitan yang gersang. Akhirnya kudanya berhenti dibawah sebatang pohon yang rindang. Setelah mengikat kudanya di pohon itu, maka Risangpun telah berjalan dengan cepat memanjat bukit yang kering dan keras.

Tanpa mengingat matahari yang semakin tinggi dan mulai memanasi kulitnya, Barata naik semakin tinggi. Meskipun agak mengalami kesulitan, namun akhirnya ia berdiri dipuncak sebuah bukit yang tidak begitu tinggi, kering dan tandus.

Sejenak Risang berdiri termangu-mangu, memang ada beberapa batang pohon di puncak bukit! Kemudian lapangan rumput yang tidak begitu luas. Selebihnya batu dan padas.

Tetapi melihat beberapa batang pohon yang dapat tumbuh, maka Risangpun berpendapat, bahwa batang- batang yang lainpun tentu akan dapat tumbuh pula.

Dari tempatnya Risang melihat dataran dibawah bukit yang subur. Batang padi yang hijau. Parit-parit yang berkelok seperti seekor ular yang sedang menjalar. Jalan- jalan yang membelah bulak-bulak panjang menghubungkan padukuhan dengan padukuhan.

Risang menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian duduk diatas sebongkah batu padas justru dibawah panasnya matahari yang menjadi semakin tinggi.

Tiba-tiba mulai terbayang diatas hamparan sawah didataran dibawah bukit itu, arena pertandingan antara para prajurit di barak Kasadha. Terbayang bagaimana Kasadha dengan tangkasnya berhasil mengalahkan seorang Rangga, yang menjadi salah seorang Pandhega di pasukan yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Jayayuda itu. Risang menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia berusaha mengibaskan angan-angannya itu. Namun ia tidak berhasil. Seakan-akan ia telah berdiri lagi diluar gawar arena pertandingan antara Kasadha dan Ki Rangga Prangwiryawan. Terbayang jelas di hadapannya, bagai mana Kasadha menunjukkan sikap seorang laki-laki muda dengan ilmunya yang tinggi.

“Kenapa aku tidak mendapat kesempatan untuk melakukannya dihadapan Ki Rangga Dipayuda,“ geram Risang. Ketika ia mengalahkan Sumbaga yang ternyata juga memiliki kemampuan yang cukup, tidak seorangpun yang mengetahuinya. Kasadha juga tidak. Apalagi Ki Rangga Dipayuda. Sehingga dengan demikian yang akan didengar oleh Riris tentu hanya kelebihan Kasadha di arena barak pasukannya, karena Ki Rangga Dipayuda tentu akan berceritera tentang kemenangan Kasadha itu kepada keluarganya. Kepada Jangkung dan kepada Riris.

Diluar sadarnya, tiba-tiba saja Risang itupun bangkit. Dilepasnya bajunya dan diletakkannya diatas batu padas. Dengan sigapnya anak muda itu telah meloncat dan mulai menggerakkan tangannya perlahan-lahan.

Namun gerakan itu semakin lama menjadi semakin cepat. Mula-mula gerakan-gerakan yang sederhana sekedar untuk memanaskan tubuhnya. Namun kemudian Risang mulai berloncatan. Tangannya berputaran dengan gerak yang cepat dan kuat. Unsur-unsur gerak yang semakin lama semakin rumit telah dilakukannya pula.

Dibawah panasnya matahari yang merambat ke puncak bukit, Risang telah berlatih seorang diri. Bukan hanya sekedar melepaskan kebekuan urat-urat darahnya. Namun ia benar-benar telah mengungkapkan segenap Jcemam- puannya. Dasar-dasar ilmu yang tumurun dari ketiga orang yang berilmu tinggi. Ki Badra, Ki Soka dan Nyai Soka, sebagai landasan ilmu Janget Kinatelon.

Tidak ada orang yang menyaksikannya. Tidak ada satu dua orang pemimpin kelompok prajurit yang mengaguminya dan terheran-heran melihat puncak-puncak kemampuan Risang yang ternyata juga mampu memecahkan batu-batu padas sebagaiana dilakukan oleh Kasadha. Tidak pula ada sorak gemuruh para prajurit yang melihat kemenangannya atas lawannya.

Namun apa yang dilakukan Risang tidak kurang dari apa yang dapat dilakukan Kasadha. Bahkan mengalahkan Ki Rangga Prangwiryawan.

Beberapa lama Risang tenggelam dalam latihan yang ternyata cukup berat dan bersungguh-sungguh.

Keringatnya kemudian mengalir bagaikan terperas dari tubuhnya. Batu-batu padaspun telah pecah berserakan.

Tetapi akhirnya, Risangpun mengurangi ungkapan ilmunya perlahan-lahan, sehingga akhirnya berhenti sama sekali. Perlahan-lahan ia menarik sikunya dan mengangkat telapak tangannya yang menengadah. Namun kemudian diputarnya tangannya menghadap kedepan dan bersamaan dengan itu Barata telah melepaskan nafas panjang.

Risang itupun kemudian telah berhenti latihan.

Dipandanginya lembah dan ngarai yang diterpa oleh teriknya matahari yang memanjat sampai kepuncak. Udara nampak bagaikan bergetar kepanasan.

Risang melangkah mendekati sebatang pohon yang tidak terlalu rimbun. Namun ia dapat sedikit terhindar dari panasnya sinar matahari. Ketika sekali lagi ia memandang bulak yang terbentang luas, maka tiba-tiba saja ia menggeretakkan giginya dan berkata kepada diri sendiri, “Iblis mana lagi yang menyusup kejantungku. Kenapa aku berpikir buruk seperti ini.”

Risang membanting dirinya duduk diatas batu. Kemudian kedua telapak tangannya telah menutup wajahnya yang berkeringat.

“Tidak. Tidak. Kasadha tidak seburuk itu. Jika hatinya berbulu, maka ia tentu tidak akan melepaskan kesempatan yang pernah didapatnya untuk mengambil Tanah Perdikan ini dari tanganku.”

Namun seakan-akan terdengar suara jauh di bawah relung hatinya, “Tetapi persoalannya lain Risang.

Persoalannya bukan Tanah Perdikan. Persoalannya adalah seorang gadis cantik yang bernama Riris Respati, anak Ki Rangga Dipayuda.”

Wajah Risang menjadi panas. Namun iapun kemudian berteriak keras-keras, “Tidak. Tidak. Hatikulah yang berbulu seperti hati iblis.”

Suaranya hanyut diudara dan melontarkan gema yang bersahutan.

Untuk beberapa saat Risang mendengarkan getar gema disela-sela puncak-puncak bukit. Namun kemudian dengan tergesa-gesa RiSang telah mengambil bajunya.

Mengenakannya dan kemudian berjalan tergesa-gesa menuruni lereng. Ketika Risang sampai dikaki bukit, dilihatnya kudanya masih terikat pada sebatang pohon dan makan rerumputan yang hijau.

Risang menarik nafas dalam-dalam, ia mencoba untuk menenangkan hatinya yang tiba-tiba saja gelisah. Meskipun ia mencoba untuk menguasainya dengan penalarannya, namun setiap kali jantungnya terasa berdetak semakin cepat.

Selangkah demi selangkah Risang mendekati kudanya yang masih saja makan rerumputan dibawah pohon yang cukup rindang itu. Ketika tangannya menggapai tali kudanya, tiba-tiba saja Risang dikejutkan oleh suara orang tertawa.

Risang dengan tangkasnya memutar tubuhnya menghadap kearah suara itu. Wajahnya berkerut ketika ia melihat seorang yang nampaknya sudah menginjak pertengahan abad.

“Siapa kau?“ bertanya Risang dengan tatapan mata tajam.

Orang itu melangkah mendekatinya. Meskipun rambutnya yang nampak sedikit tersembul dibawah ikat kepalanya sudah nampak memutih, demikian pula dengan kumis dan sedikit janggutnya yang pendek, namun tubuhnya masih nampak segar. Apalagi orang itu termasuk bertubuh tinggi kekar, sehingga memberikan kesan seorang yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan.

“Angger memang luar biasa,“ desis orang itu. “Apa yang luar biasa?“ bertanya Risang. Orang itu tertawa pula. Katanya, “Aku melihat apa yang angger lakukan dipuncak bukit. Aku belum pernah melihat orang seumur angger mampu melakukan sebagaimana yang angger lakukan itu. Tentu angger telah berguru kepada seorang guru yang sangat tinggi ilmunya.”

“Ah,“ desah Risang. Tetapi ia tidak mau terbenam dalam pujian orang yang belum dikenalnya. Karena itu, maka sekali lagi ia bertanya, “Siapa kau?”

“Aku adalah orang yang tidak berarti apa -apa. Namaku Ki Labdagati. Aku berasal dari daerah yang tidak terlalu jauh dari Tanah Perdikan Sembojan. ini,“ jawab orang itu.

“Ki Sanak berasal darimana?“ bertanya Risang mendesak.

“Aku berasal dari hutan Ketawang. Hutan yang tidak terlalu luas, termasuk Kademangan Wangon,“ jawab orang itu.

“Ki Lebdagati tinggal di dalam hutan itu?“ bertanya Risang lebih jauh.

“Ya, begitulah. Atas ijin Ki Demang, aku memang membuat sebuah Pakuwon kecil dipinggir hutan Ketawang,“ jawab orang itu.

“Kenapa dipinggir hutan?“ bertanya Risang pula. “Aku tidak mempunyai sanak kadang ngger. Aku

memang ingin hidup menyepi. Tetapi bukan berarti bahwa aku tidak berhubungan lagi dengan orang lain. Aku justru berusaha untuk lebih banyak membantu orang lain.

Dipinggir hutan setiap hari aku dapat mencari dedaunan yang berguna bagi pengobatan. Aku kemudian juga mempunyai banyak kesempatan untuk merenungi kehidupan ini. Menerawang menembus batasan waktu dan ruang.”

Risang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya, “Sekarang, apakah yang Ki Sanak kehendaki?”

“Tidak apa -apa ngger. Aku benar-benar hanya ingin menyatakan kekagumanku kepadamu. Tidak lebih,“ sahut orang itu.

“Terima kasih,“ jawa b Risang, “dan sekarang, Ki Sanak akan pergi ke mana?”

“O,“ orang itu mengangguk -angguk kecil, “aku hanya sedang berjalan-jalan. Maaf, aku telah menjelajahi Tanah Perdikan ini tanpa memberi tahukan kepada angger sebagai calon Kepala Tanah Perdikan ini.”

“Tanah Perdikan ini terbuka bagi siapapun,“ jawab Risang, “bukan hanya Ki Lebdagati, siapapun boleh keluar dan masuk Tanah Perdikan ini dengan bebas, asal mereka tidak mengganggu ketenangan Tanah Perdikan ini serta melakukan tindakan yang bertentangan dengan paugeran.”

“Tentu tidak ngger,“ jawab orang itu, “aku justru merasa betapa tenang dan damainya Tanah Perdikan ini.”

“Nah, jika demikian silahkan. Ki Lebdagati dapat berada di Tanah Perdikan Sembojan setiap saat Ki Lebdagati menghendaki,“ berkata Risan g.

“Dan sekarang? Angger akan pergi kemana?“ bertanya Ki Lebdagati. “Pulang,“ jawab Risang.

“Silahkan ngger, silahkan,“ berkata Ki Lebdagati.

Risangpun kemudian telah meloncat kepunggung kudanya. Kemudian kuda itupun telah berlari meninggalkan kaki bukit. Sementara itu Ki Lebdagati memperhatikannya sampai anak itu hilang dibalik pepohonan.

Orang itupun mengangguk-angguk kecil. Katanya kepada diri sendiri, “Memang luar biasa. Landasan ilmunya terlalu tinggi bagi anak-anak muda sebayanya. Jika saja anak muda itu dengan sungguh-sungguh meningkatkan ilmunya, maka ia akan menjadi seorang yang pilih tanding.”

Tetapi orang itupun kemudian tersenyum sambil memandang jalan yang memanjang dihadapannya. Didalam hatinya ia berkata, “Jika saja aku dapat memasang ke ndali pada anak itu.”

Ki Lebdagati itupun kemudian melangkah kejurusan yang berbeda dengan jalan yang dilalui Risang. Ia masih saja berkata kepada diri sendiri, “Tetapi agaknya memang terlalu sulit untuk dapat mengetrapkan kendali pada anak itu. Namun bagaimanapun juga aku harus berusaha. Tanah Perdikan ini harus dapat menjadi bagian dari satu kesatuan yang besar menentang kekuasaan Panembahan Senapati di Mataram. Apalagi jika Madiun benar-benar dapat bangkit dengan segera. Selagi Mataram masih belum terlalu kuat.”

Sementara itu Risang telah berpacu kembali ke padukuhan induk. Ibunya memang agak terlalu lama menunggu. Ia mengira bahwa Risang tidak akan terlalu lama. Demikian ia melepas Kasadha diperbatasan, maka Risangpun akan segera kembali pulang. Dalam pada itu, Kasadha masih berada pula diperjalanan. Namun karena kudanya berlari cukup kencang, maka iapun sudah menjadi semakin dekat dengan tempat tinggal Ki Rangga Dipayuda.

Meskipun Kasadha berhenti juga sejenak untuk memberi kesempatankudanya minum, makan rumput dan ber istirahat, namun ada semacam dorongan agar ia berusaha untuk secepatnya sampai dirumah Ki Rangga Dipayuda.

Sebenarnyalah Ki Rangga telah pula berada dirumahnya. Karena jarak rumahnya dari Pajang tidak terlalu jauh, maka sebelum matahari terlalu tinggi, Ki Ranggapun telah berada di rumahnya.

“Aku mendapat istirahat dua atau tiga hari,“ berkata Ki Rangga itu kepada keluarganya.

“Dua atau tiga hari,“ desak Jangkung, “biasanya bagi seorang prajurit hitungan hari itu selalu pasti.”

Ki Rangga tersenyum. Katanya, “Aku mendapat waktu istirahat dua hari. Tetapi jika aku menambahnya satu hari lagi, maka aku tidak akan dianggap bersalah, karena kesempatan untuk itu memang ada.”

“Lalu ayah akan mempergunakan atau tidak?“ bertanya Jangkung pula.

Ki Rangga tertawa. Katanya, “Ya. Aku akan mempergunakannya.”

“Ayah nampak ragu -ragu,“ berkata Jangkung. “Tetapi apa kepentinganmu? Biasanya kau tidak pernah mempersoalkan berapa hari aku beristirahat,“ berkata Ki Rangga kemudian.

“Soalnya aku ingin min ta agar ayah mengantarkan aku menghadap Ki Tumenggung Ranamanggala,“ berkata Jangkung.

“Untuk apa kau menghadap Ki Tumenggung Ranamanggala?“ bertanya Ki Rangga.

“Aku mengenal anaknya dengan baik. Ia mengatakan kepadaku bahwa ayahnya memerlukan seekor kuda yang paling baik,“ jawab Jangkung Jaladri.

Ki Rangga tertawa semakin keras. Katanya, “Kau sudah dewasa. Seharusnya kau dapat menyelesaikan persoalanmu sendiri tanpa harus membawa nama ayah. Beristirahat atau tidak, ayah agak berkeberatan membawamu menghadap Ki Tumenggung Ranamanggala.”

“Kenapa?“ bertanya Jangkung.

“Sudah tentu aku merasa segan untuk berhubungan dengan seorang Tumenggung karena seekor kuda. Jika aku bukan seorang prajurit, tentu aku tidak akan berkeberatan,“ jawab ayahnya. Namun katanya selanjutnya, “Apalagi dalam dua hari ini kita akan mendapatkan seorang tamu.”

“Siapa?“ bertanya Jangkung. “Kasadha,“ jawab ayahnya!

“Kakang Kasadha? “ tiba -tiba saja Riris mengulang diluar sadarnya. “Kalau Kasadha kenapa?“ bertanya Jangkung.

Wajah Riris memang menjadi merah. Namun ia menjawab, “Kalau Kasadha kenapa? Kalau bukan Kasadha kenapa? Bukankah aku hanya bertanya?”

“Pertanyaanmu agak lain,“ desis Jangkung.

Riris tiba-tiba saja sudah bergeser sambil mencubit lengan kakaknya.

“Riris, Riris, “kakaknya menyeringai kesakitan. “Sudahlah,“ berkata Ki Rangga, “sebaiknya kalian

mempersiapkan sebuah bilik dan mungkin menambah

sedikit lauk agar tamu kita akan makan dengan senang disini.”

Riris tidak menjawab. Sementara Nyi Rangga yang mendengar keterangan Ki Rangga bahwa Kasadha akan datang, telah pergi pula kedapur untuk bersiap-siap agar makan yang akan dihidangkan menjadi lebih baik.

Sementara Riris membersihkan bilik di gandok.

Ketika Riris keluar dari gandok sebelah kanan, Sumbaga menemuinya sambil bertanya, “Siapa lagi yang akan datang, Riris? Anak Sembojan itu?”

“Bukan,“ jawab Riris, “yang akan datang adalah kakang Kasadha. Seorang Lurah Prajurit dalam kesatuan ayah.”

“Untuk apa ia datang kemari?“ bertanya Sumbaga.

Riris termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Tidak apa -apa. Ia mendapat waktu beristirahat sebagaimana ayah. Ia kemarin menurut ayah, telah pergi ke Tanah Perdikan Sembojan. Hari ini ia akan kembali ke Pajang. Dalam perjalanan kembali itulah ia akan singgah disini dan mungkin akan bermalam semalam.”

Dengan wajah berkerut Sumbaga bertanya, “Kenapa anak-anak muda itu bergantian datang kemari?”

Riris menjadi semakin heran mendengar pertanyaan Sumbaga itu. Karena itu, iapun justru bertanya, “Siapa yang kau maksud dengan anak-anak muda itu? Ada berapa anak muda yang sering datang kemari?”

“Anak Sembojan itu juga,“ jawab Sumbaga. “Bukankah hanya dua orang?“ sahut Riris, “Kakang

Barata dan kakang Kasadha?”

Wajah Sumbaga menjadi tegang mendengar nama itu. Dengan suara yang agak gemetar ia bertanya, “Untuk apa sebenarnya mereka kemari?”

“Pertanyaanmu aneh kakang,“ jawab Riris, “kakang sudah tahu bahwa keduanya adalah bekas anak buah ayah. Bahkan kakang Kasadha kini kembali menjadi bawahan ayah.”

“Jika semua bawahan paman Dip ayuda datang kemari, apakah rumah ini akan dapat menampung?“ bertanya Sumbaga kemudian.

“Aku menjadi semakin tidak mengerti maksudmu,“ desis Riris. “Aku tidak senang melihat anak -anak muda itu datang kemari. Apakah itu Barata, apakah itu Kasadha,“ geram Sumbaga.

Tetapi Riris tidak sempat bertanya lebih jauh. Sumbaga itu kemudian meninggalkan Riris yang terheran-heran.

Namun Riris yang sudah menginjak dewasa itu, dapat menduga apakah maksud Sumbaga sebenarnya. Meskipun ia tidak yakin akan kebenaran dugaannya. Tetapi Riris mulai berpikir tentang sikap Sumbaga. Bahkan Riris mulai menilai sikap Sumbaga sehari-hari kepadanya.

Tetapi Riris berusaha untuk tidak memikirkan lebih panjang lagi. Ia masih harus menilai sikap Sumbaga lebih jauh lagi dihari-hari mendatang.

Sebenarnyalah, hari itu Kasadha telah singgah di rumah Ki Rangga Dipayuda. Justru karena Ki Rangga ada dirumah, maka rasa-rasanya kedatangan Kasadha menjadi lebih banyak mendapat perhatian. Apalagi kedatangannya memang sudah diketahui lebih dahulu oleh keluarga Ki Rangga Dipayuda.

Sumbaga yang memperhatikan anak muda yang bernama Kasadha itu termangu-mangu. Wajahnya mirip dengan anak muda yang pernah datang kerumah itu. Anak muda dari Tanah Perdikan Sembojan.

Darahnya memang terasa menjadi semakin cepat mengalir melihat kehadiran anak muda yang seakan-akan diterima dengan lebih baik dari Barata. Menurut dugaan Sumbaga, Ki Rangga telah memerlukan pulang untuk menerima kedatangan anak muda yang sebenarnya tidak lebih dari anak buah Ki Rangga itu sendiri. Seakan-akan Kasadha bagi Ki Rangga Dipayuda adalah seorang yang khusus bagi keluarganya.

Sebenarnyalah, seisi rumah itu menjadi gembira karena kedatangan Kasadha. Jangkungpun segera mengucapkan selamat kepadanya atas kemenangannya dalam pertandingannya melawan Ki Rangga Prangwiryawan.

“Memang tidak selalu seseorang yang memiliki pangkat dan jabatan lebih tinggi akan dapat mengalahkan orang yang pangkat dan jabatannya lebih rendah dalam olah kanuragan,“ berkata Jangkung kepada Kasadha setelah mereka duduk di pendapa.

“Bukan hanya olah kanuragan,“ justru Ki Rangga menyambung, “dalam pengetahuan yang lainpun anak - anak muda memiliki kelebihan dari orang-orang tua yang pangkat dan jabatannya lebih tinggi. Tetapi meskipun dalam banyak hal anak-anak muda memiliki kelebihan, namun satu hal yang anak muda dimanapun di seluruh permukaan bumi ini tidak dapat melebihi orang-orang tua.”

“Tentang apa? Pengalaman?“ bertanya Jangkung. “Tidak .Tentang pengalaman anak -anak muda akan

dapat melebihi orang tua. Apalagi orang tua yang terbiasa hidup dibawah ruang lingkup yang sangat sempit,“ jawab Ki Rangga Dipayuda.

“Jadi tentang apa?“ bertanya Jangkung. “Umur,“ jawab Ki Rangga sambil tersenyum.

Kasadhapun tertawa pula. Namun Jangkung nampaknya tidak mau kalah, Iapun berkata, “Tetapi apa pula yang tidak dapat ditandingi pada anak-anak muda oleh orang- orang tua diseluruh muka bumi.”

“Kemudaannya itulah,“ jawab Ki Rangga.

Kasadha justru tertawa semakin keras. Demikian pula Jangkung sendiri.

Ketika kemudian Riris datang membawa minuman dan makanan, serta kemudian ikut duduk bersama mereka, maka pembicaraanpun menjadi semakin meluas.

Bertebaran antara perjalanan Kasadha dan keadaan Tanah Perdikan Sembojan yang baru saja dikunjunginya.

“Kenapa kakang Barata tidak singga h ketika kembali ke Tanah Perdikan?“ bertanya Riris.

Kasadha mengerutkan dahinya sejenak. Namun kemudian wajahnya cepat berubah. Senyumnya mulai membayang lagi dibibirnya. Jawabnya, “Barata ingin segera kembali. Ia sudah terlambat sehari sehingga ibunya sudah mulai cemas.”

“Seharusnya ia pulang sehari lebih cepat,“ berkata Ki Rangga Dipayuda.

Riris hanya mengangguk-angguk saja. Sementara itu Jangkung minta agar Kasadha menceriterakan kesibukan baraknya disaat diselenggarakan pertandingan.

“Tidak ada yan g menarik,“ jawab Jangkung sambil memandang kepada Ki Rangga. Lalu katanya, “Namun agaknya Ki Rangga lebih banyak mengetahui daripada aku. Aku hanya sekedar menonton atau masuk ke arena.

Selebihnya tidak tahu. Ki Rangga tentu tahu sejak pertandingan itu dirancang.” “Ah, aku ingin mendengar ceritera itu dengan nada yang berbeda. Aku sudah mendengarkan ayah berceritera.

Tetapi baru dalam garis besarnya. Kau tentu lebih banyak mengerti pelaksanaan dari pertandingan itu daripada ayah.”

Tetapi Kasadha tetap mengelak. Katanya, “Mungkin aku akan berceritera dari sisi pandang yang khusus. Tidak menyeluruh.”

Jangkung mengangguk-angguk. Katanya, “Kau tentu takut membuat kesalahan agar penilaian atasanmu terhadapmu tidak menurun.”

“Ah kau,“ potong Ki Rangga Dipayud a. Jangkung tertawa. Kasadhapun tertawa pula.

Ki Ranggapun kemudian mempersilahkan minum minuman yang sudah tidak terlalu panas lagi sambil mencicipi makanan yang dihidangkan.

Setelah makan bersama-ama dengan keluarga Ki Rangga, maka Kasadhapun dipersilahkan untuk beristirahat di bilik gandok yang memang telah dipersiapkan. Jangkung mengantarkannya ke bilik itu sambil berkata, “Beristirahatlah. Nanti sebelum senja kita berjalan -jalan ke sudut desa. Kita dapat melihat bulak disebelah. Besok pagi- pagi kita akan pergi ke pasar. Pasar yang tentu akan menarik, karena kebetulan besok adalah hari pasaran.”

Kasadha mengangguk-angguk sambil berkata, “Terima kasih. Tetapi besok siang aku sudah harus kembali ke barak.” “Ayah ada disini. Kau mendapat kesempatan ber istirahat sampai sepekan,“ berkata Jangkung.

“Ah, tentu tidak,“ jawab Kasadha.

“Nah, silahkan. Aku akan melihat kuda -kuda yang ada dikandang,“ berkata Jangkung kemudian.

Ketika Jangkung meninggalkannya, Kasadha duduk sendiri di serambi gandok sambil memandang halaman yang nampak sejuk dan bersih. Riris sempat datang ke serambi untuk menghidangkan minuman hangat.

Beberapa saat mereka bercakap-cakap diserambi gan- idok. Bahkan Kasadha sempat bertanya, “Kenapa kau tidak pernah pergi ke Pajang selagi Ki Rangga ada di Pajang.

Mungkin kau dapat melihat-lihat keadaan kota. Pasarnya atau tata kehidupannya yang tentu agak lain dengan tata kehidupan disini.”

“Aku sudah sering pergi ke Pajang. Tetapi hanya sebentar-sebentar saja. Aku memang tidak sempat melihat kehidupan di Pajang seutuhnya. Namun agaknya aku tidak akan kerasan tinggal disana.”

“Kenapa?“ bertanya Kasadha.

“Rasa -rasanya tidak ada ketenangan. Di padukuhan ini, kehidupan terasa tenang. Meskipun sekali-sekali terjadi gejolak karena gelombang kehidupan yang dapat menempuh siapa saja, namun rasa-rasanya tidak selalu diburu seperti hidup di Pajang,“ jawab Riris,

Kasadha tersenyum. Katanya, “Tetapi untuk mencapai tataran kehidupan yang lebih tinggi, maka di Pajang rasa- rasanya lebih banyak kemungkinannya.” “Jika semua orang berpendirian seperti itu, maka padukuhan dan padesan akan menjadi kosong,“ jawab Riris.

Kasadha tertawa. Katanya, “Kau benar Riris. Ada kalanya orang yang terdampar di Pajang yang ramai justru kehilangan kesempatan sama sekali. Tidak demikian halnya hidup di padukuhan. Tanah memang perlu diolah untuk dapat menghasilkan pangan bagi kita semuanya.”

“Seperti kakang Barata. Ia tentu tidak akan meninggalkan Tanah Perdikannya. Ia pernah hidup di kota untuk beberapa lama. Namun akhirnya ia kembali pula ke Tanah Perdikannya,“ jawab Riris.

Wajah Kasadha berkerut mendengar nama Barata terlontar dari bibir Riris. Namun ia sudah terbiasa mengendalikan perasaannya sehingga sama sekali tidak membayang di wajahnya.

Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Ya. Orang - orang seperti Barata tidak seharusnya meninggalkan kampung halamannya. Tenaga dan pikirannya sangat diperlukan oleh putaran kehidupan dilingkungannya.”

Namun Riris tidak berbincang lebih lama lagi. Sambil mempersilahkan Kasadha minum dan beristirahat, maka Ririspun berkata, “Ah, sudahlah kakang. Aku harus membantu ibu.”

Sepeninggal Riris, Kasadha menarik nafas dalam-dalam.

Setelah beberapa kali bertemu, maka Riris tidak lagi nampak terlalu canggung. Ia sudah dapat berbicara lancar serta mengemukakan pendapatnya. Namun Kasadha memang menjadi berdebar-debar jika Riris menyebut nama Barata.

Ketika Kasadha baru menghirup minuman hangatnya sambil duduk bersandar dinding serambi dengan melipat kakinya, tiba-tiba Sumbaga telah menghampirinya.

Kasadha memang terkejut. Ia belum begitu mengenal Sumbaga, meskipun ia sudah tahu serba sedikit tentang anak muda yang ada di rumah Ki Rangga itu.

“Marilah, duduklah,“ Kasadha mempersilahkan anak muda itu untuk duduk disebelahnya.

Namun Sumbaga menggeleng lemah. Katanya, “Terima kasih. Aku tidak merasa perlu untuk duduk.”

“O,“ justru Kasadhalah yang bangkit berdiri, “jadi, apakah ada pesan untukku?”

“Ya,“ jawab Sumbaga.

“Dari Ki Rangga atau dari Riris?“ bertanya Kasadha pula. Namun dengan tegas Sumbaga menjawab, “Tidak dari

Riris. Dan tidak pula dari Ki Rangga.”

“Jadi, pesan dari siapa?“ Kasadha menjadi agak heran. “Dari aku sendiri,“ jawab Sumbaga.

“O,“ Kasadha mengangguk -angguk meskipun ia masih tetap merasa heran melihat sikap anak muda itu, “pesan apa yang kau maksud?”

“Kenapa kau datang kemari?“ bertanya Sumbaga. Wajah Kasadha menjadi tegang. Ia tidak segera tahu arah pertanyaan Sumbaga. Namun iapun kemudian menjawab, “Aku hanya sekedar singgah. Aku baru pulang dari Tanah Perdikan Sembojan menuju ke Pajang.”

“Jika kau hanya sekedar singgah, kenapa kau tidak segera melanjutkan perjalanan?“ bertanya Sumbaga kemudian.

“Aku akan bermalam semalam disini,“ jawab Kasadha. “Kenapa kau bermalam disini? Bukankah Pajang tidak

terlalu jauh dari sini?“ desa k Sumbaga.

Kasadha memang menjadi bingung. Dengan tanpa mengetahui latar belakang sikap Sumbaga, Kasadha itupun menjawab, “Ki Rangga minta aku bermalam disini.”

“Apakah kau tidak tahu, bahwa itu hanya sekedar basa - basi? Seharusnya kau tanggap akan sikap Ki Rangga Dipayuda. Ia tidak senang jika seseorang bermalam dirumah ini,“ berkata Sumbaga.

“Tetapi tidak ada kesan seperti itu. Juga pada Jangkung dan Riris,“ jawab Kasadha lugu.

“Sudahlah. Sekarang, sebaiknya kau tinggalkan rumah ini. Jika kau tidak pergi sekarang juga, maka akibatnya akan kurang baik bagimu. Meskipun kau seorang prajurit pilihan yang mampu memenangkan pertandingan di barakmu, namun disini kau bukan apa-apa bagiku,“ berkata Sumbaga.

“Aku tidak tahu maksudmu. Jika demikian, baiklah aku berbicara berterus terang. Setidak-tidaknya kepada Jangkung. Apakah yang kau katakan itu benar. Sebab menilik sikap mereka, maka mereka merasa senang aku bermalam disini,“ jawab Kasadha.

“Kau terlalu dungu. Kau tidak perlu bertanya kepada siapapun juga. Mereka semuanya lamis. Sekarang, kemasi pakaianmu dan pergilah. Aku akan membawa kudamu kemari,“ berkata Sumbaga pula.

Kasadha memang menjadi agak bingung. Tetapi ia tidak langsung mempercayai kata-kata itu. Ia yakin bahwa tentu ada sesuatu yang tidak wajar pada anak muda yang bernama Sumbaga itu. Karena itu, maka iapun berkata, “Tidak Ki Sanak. Aku tidak akan pergi sebelum aku berbicara dengan Ki Rangga Dipayuda atau Jangkung. Aku bukan pengemis yang dapat kau usir begitu saja dari tempat ini. Aku datang kerumah Ki Rangga, pimpinanku yang aku kenal dengan baik. Jika kau mengada-ada, apa sebenarnya kepentinganmu?”

Wajah Sumbaga menjadi merah. Katanya, “Jika kau tidak mau pergi, kau jangan menyesal. Kau akan membuat perhitungan dengan aku. Jika kau jantan, maka kau tidak akan mengatakan hal ini kepada siapapun juga. Kecuali jika kau tidak lebih dari seorang perempuan yang hanya pantas mengenakan kain panjang dengan sabuk kemben dan memotong berambang di dapur. Nanti tengah malam aku akan menemuimu lagi.”

Sumbaga tidak menunggu jawaban Kasadha. Iapun kemudian telah meninggalkan Kasadha termangu-mangu.

Kasadha itupun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil duduk kembali. Dihirupnya minumannya sambil berdesah perlahan, “Ada apa pula dengan Sumbaga.” Tetapi Kasadha tidak menunjukkan kegelisahannya itu.

Ia berlaku wajar saja.

Setelah mandi dan berbenah diri, menjelang senja bersama-sama dengan Jangkung, Kasadha melihat-lihat jalan padukuhan. Kemudian keduanya pergi ke mulut jalan induk padukuhan itu untuk melihat bulak yang luas, yang terbentang disebelah padukuhan itu.

“Sawah, batang padi dan air yang mengalir diparit -parit selalu menarik perhatian,“ berkata Kasadha ketika mereka berdiri ditanggul parit diluar padukuhan.

“Di ujung Kademangan ini masih terdapa t sebuah hutan yang memanjang, menusuk masuk kedaerah Kademangan sebelah. Tetapi hutan itu terjulur lebih luas lagi sampai kelereng bukit,“ berkata Jangkung.

“Apakah padukuhan -padukuhan terdekat dengan hutan itu tidak merasa terganggu? Bukankah hutan itu masih dihuni binatang buas?“ bertanya Kasadha.

“Diluar hutan itu terdapat semacam padang perdu yang seakan-akan memisahkan lingkungan hutan dan lingkungan padesan yang berpenghuni. Kemudian sawah dan pategalan. Meskipun demikian para petani cukup berhati- hati, sehingga hampir tidak pernah terjadi seorang petani diserang oleh binatang buas meskipun hal itu memang pernah terjadi tiga tahun yang lalu,“ jawab Jangkung.

Kasadha mengangguk-angguk. Ada keinginannya untuk melihat padang perdu itu. Namun nampaknya senja menjadi semakin suram, sehingga keduanyapun kemudian memutuskan untuk kembali saja. “Besok pagi kita akan melihat -lihat lebih banyak. Jika kau ingin pergi ke hutan, besok kita melihat hutan itu,“ berkata Jangkung.

Kasadha tertawa. Katanya, “Besok kita pergi ke pasar. Jika tidak terlalu siang kita dapat pergi ke padang perdu itu. Tetapi jika kesiangan, biarlah kita tidak usah kesana.”

Jangkungpun tertawa. Katanya, “Agaknya kau sudah sering melihat hutan. Dan hutan dimana-mana tentu tidak akan banyak bedanya.”

Kasadha masih tertawa. Namun iapun kemudian mengangguk-angguk, sambil berkata, “Tanah masih cukup luas. Tetapi apakah disini ada hutan khusus?”

“Maksudmu?“ bertanya Jangkung.

“Hutan yang menghasilkan kayu -kayuan atau buah- buahan yang dipelihara secara khusus. Tidak dibiarkan begitu saja seperti hutan-hutan yang liar itu?“ bertanya Kasadha.

“Tidak,“ jawab Jangkung.

Kasadhapun tidak bertanya lagi. Namun tiba-tiba saja niatnya untuk berbicara dengan Jangkung tentang sikap Sumbaga tidak tertahankan. Berbeda dengan Barata yang tidak mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan penghuni rumah itu sebelum ia memenuhi tantangan Sumbaga. Tetapi Barata juga tidak mengatakan apapun sesudahnya, sehingga Sumbaga sempat mengaku telah terjatuh ketika isi rumah itu bertanya tentang wajahnya yang memar. Ketika Jangkung mendengar ceritera Kasadha sambil melangkah menyusup jalan padukuhan yang menjadi semakin suram itu, ia terkejut. Dengan nada tinggi ia berkata, “Aku akan memanggilnya. Aku akan berbicara dengan kakang Sumbaga.”

“Jangan tergesa -gesa,“ cegah Kasadha, “aku masih belum tahu apa yang akan dilakukannya.”

“Jadi?“ bertanya Jangkung.

“Aku akan melihat apa yang akan dilakukannya,“ jawab Kasadha.

“Aku akan berada dibilikmu malam nanti,“ berkata Jangkung lalu katanya pula, “aku akan berada dibelakang selintru jika ia benar-benar mendatangimu malam nanti.”

“Tetapi sebaiknya kau tidak usah mengatakan kepada Ki Rangga lebih dahulu,“ desis Kasadha.

Jangkung mengangguk-angguk. Perlahan-lahan ia berdesis, “Agaknya ada sesuatu yang tidak wajar terjadi atasnya. Atau pada dasarnya kakang Sumbaga memang agak terganggu keseimbangan jiwanya?”

Kasadha tidak menyahut. Sementara itu, langkah merekapun sudah hampir sampai regol halaman rumah Ki Rangga Dipayuda.

Dua orang anak muda yang berpapasan sempat menyapa Jangkung. Namun mereka berjalan terus.

Setelah makan malam dan berbincang-bincang dengan keluarga Ki Rangga beberapa lama maka Ki Ranggapun berkata, “Nah, jika kau sudah lelah, beristirahatlah. Sebaiknya kau tidak usah kembali ke barak besok. Lusa kita bersama-sama kembali. Ki Tumenggung tentu tidak akan menyalahkan kau.”

Kasadha memang menjadi ragu-ragu. Jika yang berkata demikian itu adalah atasannya langsung, maka ia percaya bahwa ia memang tidak akan dianggap bersalah.

Tetapi iapun merasa segan untuk bermalam dua malam dirumah Ki Rangga. Apalagi mengingat sikap Sumbaga.

Karena itu, maka Kasadhapun kemudian berkata, “Ki Rangga. Agaknya Ki Tumenggung Jayayuda memang tidak menganggap aku bersalah. Tetapi rasa-rasanya aku akan meninggalkan kesatuanku terlalu lama. Para pemimpin kelompoklah yang tentu menunggu-nunggu.”

Ki Rangga Dipayuda tersenyum. Katanya, “Jika aku bukan salah seorang Pandhega di barak kita, maka aku akan dapat, mengabaikan alasanmu. Tetapi aku justru salah seorang pimpinan di barak itu.”

“Justru itu,“ sahut Jangkung, “ayah dapat memerintahkan Kasadha untuk mengawal ayah sampai lusa.”

Ki Rangga tertawa. Katanya, “Kau kira aku dapat berbuat apa saja menurut kemauanku tanpa menghiraukan paugeran yang berlaku.”

“Tetapi bukankah ayah sudah menganjurkan agar Kasadha pulang besok lusa bersama ayah,“ berkata Jangkung. “Itulah yang dapat aku lakukan tanpa menyimpang dari paugeran. Bukan memerintahkan Kasadha untuk mengawalku,“ jawab Ki Rangga.

Jangkung mengerutkan dahinya. Katanya, “Itulah yang membuat aku sulit untuk berada didunia keprajuritan sebagaimana ayah.”

Kasadhapun tertawa. Katanya, “Kau sendiri yang mempersulit persoalan yang sebenarnya cukup sederhana.”

Jangkung juga tertawa. Tetapi ia tidak menjawab lagi.

Ki Ranggapun kemudian telah mempersilahkan sekali lagi agar Kasadha beristirahat di bilik gandok.

“Marilah,“ berkata Jangkung, “aku antar kau ke bilikmu.” Sebenarnya Jangkung ingin tetap berada di bilik

Kasadha sampai Sumbaga datang kepadanya.

Beberapa saat kemudian, rumah Ki Rangga Dipayuda itu menjadi sepi. Semua orang telah berada didalam bilik masing-masing kecuali Jangkung yang sengaja berada di bilik yang diperuntukkan bagi Kasadha.

Didalam bilik itu memang terdapat sebuah selintru yang dibuat dari kayu.

“Aku akan tidur dibelakang selintru ini,“ berkata Jangkung, “jika Sumbaga datang, aku tentu akan terbangun. Bukankah ia harus mengetuk pintu lebih dahulu?”

Kasadha inengangguk. Katanya, “Tentu. Pintu itu diselarak dan hanya dapat dibuka dari dalam.” Jangkungpun kemudian telah membentangkan sebuah tikar. Ia sengaja tidur ditempat yang sempit diantara dinding bilik itu dengan sebuah selintru kayu. Sementara itu, ia mempersilahkan Jangkung tidur di amben bambu yang memang tersedia didalam bilik itu.

Ternyata baik Jangkung maupun Kasadha tidak segera dapat tidur. Mereka bahkan seakan-akan menunggu sampai tengah malam.

Sebenarnyalah seperti yang pernah terjadi dengan Risang, maka tengah malam Sumbaga itu telah mengetuk pintu bilik gandok.

Kasadha dan Jangkung ternyata masih belum tidur. Karena itu, maka dengan cepat Kasadha menyahut, “Ya. Aku belum tidur.”

Kasadhapun segera bangkit. Namun Jangkung yang juga sudah bangkit memberi isyarat agar Kasadha berhati-hati.

Ketika kemudian pintu terbuka, dilihatnya Sumbaga berdiri termangu-mangu dimuka pintu. Dengan nada rendah Sumbaga berkata, “Apakah kau mengatakan hal ini kepada seseorang?”

“Tidak,“ jawab Kasadha, “tetapi apa maksudmu?” “Kita akan pergi ke halaman belakang. Aku s udah

menyalakan sebuah obor kecil dibawah rumpun bambu. Kita akan berkelahi. Jika kau kalah, kau berjanji untuk tidak akan datang lagi ke rumah ini. Jika kau memaksa untuk datang, maka aku akan memukulimu. Tetapi jika kau masih datang lagi, maka aku akan membunuhmu,“ berkata Sumbaga. “Jika kau yang kalah?“ bertanya Kasadha.

“Aku tidak akan berbicara tentang sesuatu hal yang tidak mungkin,“ jawab Sumbaga.

“Jadi menurut dugaanmu, kau tidak mungkin kalah?“ bertanya Kasadha.

“Ya. Aku tidak mungkin kalah. Ak u adalah seorang laki- laki sejati,“ jawab Sumbaga.

Kasadha memang masih ragu-ragu. Namun Sumbaga itu kemudian berkata, “Pergilah. Aku menunggu. Jangan takut bahwa aku akan membunuhmu.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak sempat bertanya lagi. Sementara Sumbaga telah meninggalkan gandok menuju ke halaman belakang rumah Ki Rangga. Agak jauh dibawah rumpun bambu Sumbaga telah menyalakan sebuah obor kecil yang hanya dapat menerangi sebuah lingkaran kecil dibawah rumpun bambu itu.

Didalam biliknya Kasadha termangu-mangu sejenak.

Jangkung yang telah keluar dari balik selintru itupun berdesis, “Memang aneh. Tetapi pergilah ke kebun belakang. Aku akan melihat apa yang akan dilakukan oleh Sumbaga itu.“

Kasadha mengangguk. Namun iapun telah meninggalkan senjatanya dibilik itu. Meskipun ia belum pernah membicarakan persoalan Sumbaga itu dengan Barata, tetapi seperti Barata, ia tidak ingin kehilangan pengamatan diri dan mempergunakan senjata untuk melawan Sumbaga dalam keadaan yang sulit.

Sejenak kemudian, Kasadha sudah berada di kebun belakang dibawah rumpun bambu. Ternyata apa yang telah terjadi atas Barata telah terulang lagi. Sumbaga telah mengancam Kasadha agar tidak datang lagi ke tempat itu dan apalagi bertemu dengan Riris.

Ternyata Kasadha kemudian mengetahui, kenapa Sumbaga itu mengancam agar ia pergi dan tidak kembali. Ternyata Sumbaga tidak mau melihat seseorang bertemu dan berbicara dengan Riris, apalagi kemudian berhubungan lebih erat lagi.

Dalam pada itu Jangkung ternyata telah dapat mendengar semuanya. Diluar pengetahuan Sumbaga, maka Jangkung mendengar apa yang telah dikatakan Sumbaga kepada Kasadha.

Jantung Jangkung memang menjadi berdebar-debar.

Hampir saja ia kehilangan kekang diri dan meloncat menyerang Sumbaga yang telah berani mengancam tamunya. Bahkan Sumbaga telah mengulangi keterangannya, bahwa sebenarnya Ki Rangga juga membenci orang-orang yang bermalam dirumahnya.

Namun untunglah bahwa Jangkung masih tetap menahan diri. Bahkan kemudian timbul keinginannya, untuk mengetahui apa yang akan terjadi kemudian, ia yakin, bahwa Kasadha tidak akan mengalami kesulitan karena Kasadha adalah seorang prajurit yang sangat baik. Bahkan ia telah mampu mengalahkan salah seorang pimpinannya, Ki Rangga Prangwiryawan. Sejenak kemudian, maka Kasadhapun telah bertempur pula melawan Sumbaga. Ternyata Sumbaga adalah seorang yang memiliki kekuatan yang sangat besar.

Namun apa yang pernah terjadi dengan Barata, telah terulang kembali. Kasadha semakin lama semakin menekannya. Bahkan seperti juga Barata, Kasadha memberinya kesempatan untuk menghentikan perkelahian Tetapi Sumbaga tidak pernah mengakui bahwa ia akan kalah dalam perkelahian itu.

Beberapa kali Sumbaga telah icrlempar jatuh. Bahkan kemudian nafasnya menjadi semakin terengah-engah.

Tenaganya sudah jauh susut. Bahkan berdiripun seakan- akan tidak lagi mampu untuk tegak.

Tetapi setiap kali Kasadha mengatakan bahwa ia akan kalah, Sumbaga telah menolaknya. Bahkan iapun kemudian berkata dengan penuh keyakinan akan kemenangannya, “Nah Kasadha. Se karang kau harus menyadari, bahwa kau ternyata tidak dapat berbual apa-apa. Berjanjilah, bahwa kau tidak akan datang kembali kerumah ini.”

Kasadha bergeser beberapa langkah surut. Katanya, “Bukan aku yang akan kalah. Kau harus melihat kenyataan, bahwa kau sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi.”

“Menyerahlah. Berjanjilah agar aku tidak menjadi marah dan membunuhmu,“ geram Sumbaga.

Kasadha memang menjadi jengkel. Dengan kerasnya ia menyerang. Kakinya yang terayun dengan derasnya telah mengenai lambungnya sehingga Sumbaga yang sudah lemah itu terlempar selangkah menyamping dan kemudian jatuh terbanting ditanah. Tetapi anak muda itu telah terbangun lagi meskipun agak kesulitan untuk bangkit. Sekali lagi Sumbaga mengancam, “Nah, kau harus melihat kenyataan. Kau sudah aku kalahkan. Pergilah dan jangan kembali.”

Kasadha yang jengkel itu menjawab, “Tidak. Aku akan kembali seribu kali. Aku akan mengunjungi Riris sesuka hatiku. Aku senang kepada gadis itu dan gadis itu senang kepadaku. Nah, apa pedulimu.”

Sumbaga mengumpat kasar sambil menyerang.

Tangannya terjulur lurus mengarah kekening Kasadha. Tetapi Kasadha menghindari, maka hampir saja Sumbaga itu jatuh terjerembab dengan sendirinya.

Yang tidak dilakukan oleh Barata adalah dengan sengaja membakar hati anak muda itu. Kasadha ingin tahu, sampai sejauh mana sikap Sumbaga yang tidak sewajarnya itu.

Jika Barata memaksa Sumbaga untuk melihat kenyataan dan mengakui kekalahannya, maka Kasadha telah menggelitik hati Sumbaga. Katanya, “Sumbaga. Ketahuilah. Beberapa hari lagi, orang tuaku akan datang kemari.

Mereka akan melamar Riris untuk menjadi isteriku. Kau tidak akan dapat mencegahnya, karena kau tidak dapat mengalahkan aku.”

“Iblis kau,“ sekali lagi Sumbaga meloncat menyerang. Tetapi ketika Kasadha berhasil menghindarinya, maka Sumbaga justru telah terseret oleh kekuatannya yang tersisa. Sejenak Sumbaga terhuyung-huyung. Namun kemudian Sumbaga itu telah jatuh tertelungkup.

Tertatih-tatih anak muda itu bangkit. Sementara Kasadha masih tetap memanasi hati anak muda itu, sehingga beberapa kali Sumbaga menyerang, namun beberapa kali anak muda itu jatuh terjerembab. Sehingga akhirnya, Sumbaga itu tidak dapat lagi untuk bangkit. Ketika ia mencoba untuk berdiri, maka iapun telah terjatuh pada lututnya.

Namun ia masih berkata, “Ingat Kasadha. Aku telah mengalahkanmu. Kau telah berjanji untuk tidak akan kembali lagi ke rumah ini untuk selama-lamanya.”

“Tentu aku akan kembali bersama orang tuaku. Dalam waktu dekat, Sumbaga. Kau boleh menyaksikan apa yang akan dikatakan oleh orang tuaku,“ jawab Kasadha.

Sumbaga menggeram. Namun ketika ia mengerahkan sisa tenaganya untuk menyerang, maka iapun telah terjatuh lagi.

Sumbaga kemudian duduk sambil mengerang. Namun ternyata ia tidak sekedar mengerang kesakitan. Tetapi Sumbaga itu telah menangis.

“Sumbaga,“ Kasadha terkejut. Dengan hati -hati ia mendekat sambil bertanya, “Kenapa kau menangis?”

Sumbaga justru menangis semakin keras. Betapa ia berusaha menahan tangisnya, namun ia tidak mampu melakukannya. Air matanya mengalir diantara jari-jari tangannya yang menutup wajahnya.

“Kenapa kau tidak menepati janjimu Kasadha,“ suaranya mengambang disela-sela isaknya, “kau berjanji untuk tidak kembali lagi.”

Kasadha menjadi bingung. Ia tidak pernah ingin berjanji sebagaimana dimaksud oleh Sumbaga. Tetapi ia ingin agar Sumbaga itu tidak menangis semakin keras. Dalam pada itu, Jangkung tidak dapat terus menerus bersembunyi. Semula ia mengagumi Kasadha yang memiliki ilmu yang tinggi. Namun kemudian ia menjadi jengkel dan marah melihat sikap Sumbaga. Tetapi ketika ia melihat Sumbaga menangis, maka Jangkungpun menjadi bingung.

Karena itu, maka Jangkungpun justru telah meloncat dari persembunyiannya dan melangkah mendekat Sumbaga yang menangis.

“Kakang Sumbaga, kenapa kau menangis?“ bertanya Jangkung.

Sumbaga terkejut. Sekejap tangisnya terhenti. Namun kehadiran Jangkung telah membuat hatinya semakin kacau. Diluar sadarnya ia bertanya, “Apa yang kau lakukan disini?”

Jangkung menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun bertanya pula, “Kenapa semu anya itu kau lakukan? Kau adalah sanak kadang kami. Kau adalah keluarga kami.”

Sumbaga termangu-mangu sejenak. Namun isaknya masih saja terdengar. Sementara air matanya masih juga mengembun di pelupuknya.

Tetapi Sumbaga tidak menjawab.

“Sudahlah,“ berka ta Kasadha kemudian, “kembalilah kedalam bilikmu.”

Sumbaga tidak menjawab. Namun Jangkung masih juga bertanya, “Apakah kau berbuat seperti ini juga kepada Barata saat ia berada disini? Pagi-pagi kami melihat wajahmu memar dan tubuhmu seolah-olah kesakitan.

Setiap kali kau ditanya tentang memar itu maka kau selalu menjawab, bahwa kau tergelincir dan jatuh. Ternyata yang terjadi atasmu waktu itu sebagaimana terjadi sekarang.”

Sumbaga mengangguk kecil.

“Untunglah kau berhadapan dengan Barata dan Kasadha. Jika hal ini kau lakukan terhadap orang lain, mungkin kau sudah dibunuhnya,“ berkata Jangkung.

Namun jawab Sumbaga mengejutkan, “Aku tidak pernah dikalahkan oleh siapapun juga.”

“Apalagi sikapmu seperti itu,“ sahut Jangkung, “seseorang yang sebenarnya tida k ingin membunuhmu, justru kau dorong untuk melakukannya. Aku tahu sebenarnya kau tahu bahwa kau telah dikalahkan oleh Barata dan Kasadha. Tetapi tentu ada sesuatu yang tidak wajar atasmu.”

Wajah Sumbaga menegang. Namun kemudian tangisnya tiba-tiba meninggi.

“Sudah. Sudahlah,“ berkata Kasadha, “kembali sajalah ke bilikmu. Mumpung masih malam. Kau dapat beristirahat sejenak sebelum besok pagi-pagi kau harus mandi. Kecuali wajahmu yang tentu pengab bukan saja karena memar,

tetapi juga karena kau telah menangis seperti perempuan.”

“Aku adalah laki -laki sejati,“ jawabnya disela -sela isaknya.

Jangkung menarik nafas dalam-dalam untuk mengendapkan perasaannya yang bergejolak melihat sikap Sumbaga. Namun iapun kemudian berkata lebih keras, “Cepat kembali ke bili kmu.” Sumbaga mencoba untuk diam. Meskipun nampak dadanya yang justru menjadi sesak, tetapi Sumbaga memang diam. Sambil menunduk iapun telah bangkit dan berjalan meninggalkan rumpun bambu dan obor kecilnya.

Jangkunglah yang kemudian memadamkan obor kecil itu dan membawanya kembali kebelakang rumah, karena obor kecil itu sering dipergunakan jika ada keperluan malam hari dibelakang rumah dekat sumur. Jika malam hari masih harus mencuci mangkuk atau alat-alat dapur yang lain karena satu keperluan. Atau harus pergi ke pakiwan di malam hari, maka obor itu dinyalakan.

Kasadhapun kemudian telah kembali pula ke biliknya setelah membersihkan dirinya di pakiwan. Sementara Jangkung telah ikut pula ke bilik Kasadha di gandok.

Beberapa saat keduanya masih berbincang. Kasadha sependapat dengan Jangkung, bahwa hal yang sama tentu pernah terjadi pula atas Barata.

“Waktu itu tidak ada seorang saksipun,“ berkata Jangkung, “karena itu kakang Sumbaga masih dapat mengelak dengan mengatakan bahwa ia terjatuh.

Sementara Barata tentu agak segan pula untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.”

Kasadha mengangguk-angguk. Dengan nada dalam ia berdesis, “Jangkung, apakah dengan demikian Sumbaga justru berbahaya bagi Riris.”

“Ya. Selama ini kami sangat percaya kepadanya. Jika aku pergi sementara ayah berada di Pajang, Sumbagalah yang aku serahi untuk melindungi rumah ini. Tugas itu dilakukan dengan baik karena ia memang masih mempunyai hubungan keluarga dengan kami. Namun dalam keadaan kecewa, maka hal-hal yang tidak diinginkan akan dapat terjadi,“ desis Jangkung.

“Kau dan Ki Rangga harus segera mengambil langkah - langkah tertentu untuk melindungi Riris. Meskipun kehadirannya itu juga dalam rangka usaha Ki Rangga untuk melindungi seisi rumah ini termasuk Riris,“ berkata Kasadha pula.

Jangkung, mengangguk-angguk. Katanya, “Mumpung ayah ada dirumah. Besok pagi-pagi aku akan berbicara dengan ayah tentang kakang Sumbaga.”

Kasadha mengangguk-angguk. Agaknya itulah yang terbaik yang dapat dilakukan oleh Jangkung.

Demikianlah sejenak kemudian, Jangkung telah mempersilahkan Kasadha untuk tidur lagi. Katanya, “Aku akan kembali ke bilikku. Pintu samping tentu tidak diselarak oleh ayah karena ayah tahu aku mengantarmu kedalam bilikmu.”

Sepeninggal Jangkung, maka Kasadhapun telah berbaring di amben bambu didalam biliknya. Angan- angannya menerawang kebeberapa saat mundur. Ia membayangkan Barata yang juga mendapat perlakuan sebagaimana dirinya oleh Sumbaga.

“Tentu Sumbaga melihat apa yang terjadi dengan Barata dan Riris. Mungkin karena itu, ia menjadi curiga kepada setiap anak muda yang datang kerumah ini, karena sebenarnya Sumbaga sendiri juga menaruh hati kepada gadis itu,“ berkata Kasadha didalam hatinya. Kasadha justru menjadi gelisah karena angan-angannya itu. Karena itu, ia justru tidak dapat tertidur lagi.

Beberapa kali ia justru bangkit dan berjalan hilir mudik.

Namun kemudian ia duduk lagi dipembaringannya dan bahkan membaringkan diri.

Ketika Kasadha mendengar ayam jantan berkokok menjelang fajar, maka Kasadhapun tidak lagi berniat untuk tidur, sehingga semalam suntuk anak muda itu tidak tertidur sama sekali. Bahkan kemudian iapun telah bangkit dan melangkah keluar bilik di gandok itu.

Ternyata hari telah menjadi terang tanah. Ayam-ayam sudah keluar dari kandangnya dan berkeliaran dihalaman meskipun beberapa ekor diantaranya masih nampak kedinginan di sudut pendapa.

Lampu minyak dipendapa masih menyala. Namun di jalan padukuhan di depan rumah Ki Rangga telah terdengar pedati yang lewat. Suara tembang para pedagang yang duduk memeluk lutut didalam pedati yang berjalan lamban menuju ke pasar.

“Kebetulan hari pasaran,“ berkata Kasadha kepada diri sendiri.

Beberapa saat kemudian Kasadha telah pergi ke pakiwan. Ternyata jambangannya masih belum terisi. Karena itu, maka Kasadhapun telah menarik senggot timba untuk mengisi jambangan. Baru setelah jambangan itu penuh, Kasadhapun mandi pula.

Betapa sejuknya air dingin dipagi hari. Bukan saja badannya yang menjadi segar. Tetapi penalarannya dan perasaannyapun terasa menjadi lebih bening. Ketika langit menjadi terang dan matahari mulai bangkit, Jangkung telah pergi ke bilik Kasadha. Ia termangu-mangu sejenak ketika ia melihat Kasadha justru sudah berbenah diri.

“Kau mandi atau tidak?“ bertanya Jangkung.

“Tentu,“ jawab Kasadha, “bukankah ka u lihat, bahwa aku sudah siap?”

Jangkung yang juga sudah mandi dan berpakaian rapi mengangguk-angguk. Katanya, “Aku kira kau terlambat bangun karena letih dan mengantuk. Ternyata kau tentu bangun lebih dahulu dari aku.”

“Aku bukan saja bangun lebih dahul u. Tetapi aku memang tidak tidur semalam,“ jawab Kasadha.

“Jangan terlalu kau pikirkan. Aku datang untuk mengajakmu berbicara dengan ayah sebelum kita pergi ke pasar. Agaknya ayah sudah duduk di ruang dalam.

Minuman panasnya telah tersedia,“ ajak Jangkung .

Berdua mereka kemudian telah masuk keruang dalam. Ternyata Riris sedang sibuk mempersiapkan minuman dan makanan. Ketika ia melihat Jangkung dan Kasadha datang, maka Ririspun berkata, “Marilah, silahkan kakang.”

“Bukankah kau tidak terbiasa mempersilahk an aku seperti itu? Kau biarkan saja aku minum atau tidak minum,“ sahut Jangkung.

“Aku tidak mempersilahkanmu,“ jawab Riris. “Jadi siapa?“ bertanya Jangkung. “Ah, entahlah,“ wajah Riris terasa menjadi panas.

Bahkan iapun kemudian telah meninggalkan ruang itu.

“Kau selalu mengganggu adikmu,“ desis Ki Rangga Dipayuda yang juga sudah duduk diruang tengah. Lalu katanya, “Sebenarnya biar saja ia duduk disini. Riris yang sudah menjadi semakin dewasa sudah harus tidak lagi menjadi seorang pemalu.”

“Tetapi sud ah saatnya ia dipingit ayah,“ jawab Jangkung. Ia sengaja berbicara agak keras asar Riris dapat mendengarnya.

Tetapi Ki Rangga Dipayuda justru tertawa. Katanya, “Pada saatnya gadis itu memang harus dipingit. Beberapa orang gadis anak tetangga kita juga ada yang dipingit.

Tetapi aku mempunyai cara sendiri untuk memingit anak gadisku.”

Jangkung tidak menjawab. Tetapi ia tersenyum ketika ia mendengar nampan yang dilemparkan ke geledeg rendah di ruang samping. Tentu Riris yang tersinggung.

“Sudahlah, duduklah ,“ minta Ki Rangga kepada Jangkung. Iapun kemudian juga mempersilahkan Kasadha duduk.

“Minumlah,“ Ki Rangga mempersilahkan, “mumpung masih hangat.”

Kasadha yang tidak tidur semalam suntuk itupun menghirup minuman hangat, sehingga tubuhnya yang menjadi agak segar setelah mandi, menjadi lebih segar lagi. Darahnya serasa menjadi hangat menjalar keseluruh tubuhnya. Namun dalam pada ituJangkungpun kemudian berkata, “Ayah, sebenarnya ada sesuatu yang penting aku katakan kepada ayah.”

“Tentang apa?“ bertanya a yahnya. “Kakang Sumbaga,“ jawab Jangkung.

“Ada apa dengan Sumbaga?“ bertanya Ki Rangga pula.

Jangkung termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Ada sesuatu yang tidak wajar.”

Ki Rangga mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian berkata, “Aku be lum melihatnya pagi ini. Tetapi apa yang sudah dilakukannya?”

Jangkung memang agak ragu-ragu. Tetapi ia telah melihat sendiri apa yang telah terjadi. Iapun mencemaskan Riris dimana-mana datang apabila ia berada dirumah sendiri. Jangkungpun teringat kepada anak muda yang menjadi seperti kehilangan akal karena ia mencintai Riris, tetapi Riris tidak menanggapinya, sehingga anak muda itu telah mencoba mempergunakan kekerasan. Untunglah saat itu ada Barata, dan secara kebetulan ketika kekerasan itu terjadi lagi, Kasadha sempat menolongnya.

“Kau nampaknya ragu -ragu untuk mengatakannya,“ desis ayahnya kemudian.

Jangkung menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian dipaksakannya bibirnya untuk mengatakan apa yang dilihatnya semalam. Ki Rangga Dipayuda mendengarkan keterangan Jangkung itu dengan saksama. Namun terasa betapa jantungnya berdenyut semakin keras.

Demikian Jangkung selesai dengan keterangannya tentang Sumbaga, maka Ki Ranggapun berkata, “Jangkung, sebaiknya kau panggil Sumbaga. Biarlah aku berbicara dengan anak itu.”

“Baik ayah,“ jawab Jangkung.

“Hati -hatilah. Dalam keadaan seperti itu, Sumbaga akan menjadi terlalu cepat tersinggung,“ pesan Ki Rangga.

“Baik ayah,“ jawab Jangkung kemudian.

Sejenak kemudian maka Jangkungpun telah keluar dari ruang dalam itu untuk memanggil Siimbaga. Sementara itu Ki Rangga bertanya tentang beberapa hal kepada Kasadha dalam hubungannya dengan Sumbaga.

Seperti Jangkung, maka Kasadhapun telah berkata terus terang. Bahkan Kasadhapun berkata bahwa hal serupa telah terjadi pula terhadap Barata beberapa saat yang lalu. Tetapi agaknya Barata tidak dapat mengatakan hal itu kepada siapapun.

Ki Rangga Dipayuda menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berdesis, “Kenapa hal itu harus terjadi. Aku semula percaya kepada anak itu. Namun tiba- tiba ia telah berubah.”

Dalam pada itu, dengan tergesa-gesa Jangkung telah masuk keruang dalam. Dengan wajah yang nampak gelisah ia berkata, “Sumbaga tidak ada ayah.” “Kemana?“ bertanya Ki Rangga.

Jangkung tidak menjawab. Tetapi ia menunjukkan sesobek kain yang ditulisi dengan kapur yang agaknya di colek dari botekan kapur sirih.

Wajah Ki Rangga menjadi tegang. Tulisan itu berbunyi, “Jangkung, pagi ini aku pergi entah kemana.”

Ki Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya. Ketika kemudian Nyi Rangga masuk ke ruang dalam dan duduk bersama mereka, maka Ki Ranggapun berkata, “Satu persoalan lagi telah timbul.”

“Persoalan apa Ki Lurah?“ bertanya Nyi Rangga yang sudah terbiasa memanggil Ki Lurah.

“Dalam hubungannya dengan anakmu, Riris,“ jawab Ki Rangga.

“Apakah laki -laki yang pernah menjadi kehilangan akal itu mengganggu Riris lagi?“ bertanya Nyi Rangga pula.

“Tidak,“ Ki Rangga Dipayuda menggeleng. Iapun kemudian telah menceriterakan tentang tingkah laku Sumbaga dan bahwa anak muda itu ternyata telah pergi.

“Jadi Sumbaga telah pergi?“ suara Nyi Rangga menjadi dalam sekali.

“Aku juga tidak mengira sama sekali,“ jawab Ki Rangga. “Kenapa ia berbuat seperti itu? “ mata Nyi Rangga

menjadi basah, “aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri.” “A ku juga tidak mengira sama sekali,“ jawab Ki Rangga.

“Aku mohon maaf, bahwa kedatanganku kerumah ini sudah menimbulkan persoalan,“ desis Kasadha sambil mengangguk dalam-dalam.

“Tidak. Bukan salahmu,“ jawab Ki Rangga, “aku kira bahwa hal ini terjadi, justru lebih baik. Persoalannya segera kita ketahui sebelum terjadi sesuatu atas Riris.

Bagaimanapun juga Sumbaga adalah seorang laki-laki dewasa. Jika hatinya telah ditumbuhi perasaan yang satu itu terhadap seorang gadis, maka matanya akan dapat menjadi buta. Ia tidak lagi tahu siapakah yang dihadapinya.”

Kasadha menundukkan kepalanya. Tetapi bagaimanapun juga ia juga merasa menjadi salah satu sebab kepergian anak muda yang bernama Sumbaga.

“Jangkung,“ berkata Ki Rangga, “jika demikian, maka kau sekarang menjadi satu-satunya pelindung adikmu. Jika

besok aku kembali ke Pajang, maka keselamatan Riris akan sangat tergantung kepadamu.”

Jangkung mengangguk kecil. Namun iapun kemudian bertanya, “Apakah Riris tidak perlu tahu tentang hal ini?”

“Aku kira ia lebih b aik mengetahuinya sehingga ia dapat menjadi lebih berhati-hati jika ia bertemu dengan Sumbaga di manapun juga,“ berkata ayahnya. Lalu katanya kepada Nyi Rangga, “Terserah kepadamu, bagaimana caranya kau berbicara dengan anak gadismu.”

Nyi Rangga mengangguk kecil sambil menjawab, “Aku akan mencobanya. Aku akan berbicara dengan Riris.” “Baiklah,“ desis Ki Rangga Dipayuda, “kau dapat mengatakan kepadanya secepatnya.”

Nyi Rangga itupun kemudian minta diri untuk menemui Riris. Namun ia masih sempat mempersilahkan Kasadha untuk minum dan makan makanan yang telah dihidangkan.

Namun dalam pada itu, Kasadha dan Jangkungpun telah minta diri pula. Mereka akan melihat keramaian pasar yang sedang pasaran. Hari yang paling ramai dalam waktu sepekan.

Seperti yang direncanakan, maka Jangkung telah mengajak Kasadha untuk pergi ke pasar. Ketika mereka melihat matahari yang mulai memanjat langit, Jangkung berkata, “Sudah agak kesiangan.”

“Masih belum,“ jawab Kasadha, “bahkan sepagi ini pada umumnya pasar belum temawon.”

Jangkung mengangguk. Tetapi katanya, “Jika kita dapat datang pagi-pagi, maka kita akan dapat melihat para pedagang membuka dagangannya. Aku senang melihat bagaimana mereka mengatur dagangan mereka. Kemudian menjajakannya.”

Kasadha mengangguk-angguk. Katanya, “Ya, memang ada sesuatu yang menarik, bagaimana seorang penjual telur menghitung telur yang dibawanya atau saat ia membeli telur dari pedagang yang mengumpulkan telur di padesan dan menjualnya dipasar.”

“Juga para pedagang gula kelapa. Mereka menghit ung dagangannya sambil berdendang,“ desis Jangkung. Namun mereka masih sempat melihat pasar itu menjadi semakin ramai menjelang temawon. Orang-orang yang datang untuk berbelanja semakin lama semakin banyak.

Biasanya mereka berbelanja untuk sepekan, karena dihari- hari lain, kecuali hari pasaran, pasar tidak seramai itu.

Biasanya tidak lebih dari beberapa orang saja yang berjualan dipasar. Sedangkan dipinggir pasar hanya ada satu saja pande besi yang membuka bengkelnya. Tetapi dihari pasaran ada tujuh atau delapan pande besi yang sibuk bekerja membuat alat-alat pertanian dan barang- barang keperluan rumah tangga yang lain.

Sementara itu, dirumah, Nyi Rangga Dipayuda telah memanggil Riris. Dengan hati-hati Nyi Rangga memberitahukan, apa yang telah dilakukan Sumbaga. Baik terhadap Kasadha, maupun terhadap Barata. Nyi Ranggapun lelah memberitahukan, kenapa Sumbaga telah berlaku demikian.

Wajah Riris terasa menjadi panas. Namun kemudian air matanya mulai mengalir dipipinya. Dengan menahan isak iapun bertanya, “Ja di kakang Sumbaga telah pergi?”

“Ya Riris,“ jawab ibunya, “akupun merasa kehilangan.“

“Aku sudah menduga perasaan apa yang tersembunyi dijantung kakang Sumbaga. Tetapi aku masih belum yakin benar sehingga aku tidak berbuat apa-apa.”

“Apa yang dapat kau lakukan seandainya hal itu dikatakan kepadamu?“ bertanya ibunya.

Riris tidak segera menjawab. Tetapi ia masih saja mengusap air mata yang mengalir dari pelupuknya. “Riris,“ berkata ibunya, “kemungkinan itu masih ada.

Suatu ketika Sumbaga datang untuk melamarmu mendahului orang lain.”

Suara Riris menjadi semakin sendat, “Ibu. Aku menganggap kakang Sumbaga sebagai kakak kandungku sendiri. Aku tidak dapat merubah perasaan itu. Tetapi seandainya aku dapat berbicara dengan kakang Sumbaga, maka aku akan dapat menjelaskannya.”

Nyi Rangga termangu-mangu sejenak. Iapun tahu, bahwa Riris menganggap anak muda itu sebagaimana saudara kandung sendiri.

“Baiklah Riris,“ berkata ibunya, “sekarang kau sudah mengetahuinya. Bahkan kakakmu Sumbaga itu telah melakukan perbuatan yang tidak kita duga sebelumnya. Ia masih beruntung, bahwa ia berhadapan dengan Barata dan Kasadha sehingga mereka tidak berbuat lebih jauh daripada memenuhi keinginan Sumbaga itu.”

Riris mengangguk. Namun ia tidak menjawab lagi. “Meskipun selama in i Sumbaga tidak pernah melakukan

satu hal yang tidak sepantasnya, namun kau harus berhati-

hati Riris. Kita tidak dapat membayangkan apa yang dapat dilakukan oleh seseorang. Meskipun sebelumnya nampak baik-baik saja, tetapi kekecewaan dan harapan yang pudar bahkan padam sama sekali akan dapat merubah seseorang,“ pesan ibunya.

Riris mengangguk kecil. Tetapi ia tidak menjawab.

Namun peristiwa itu ternyata membekas dalam di hati gadis itu. Ketika ia kemudian berada di dalam biliknya, maka Riris mulai merenung. “Aku sama sekali tidak berniat mengecewakan siapapun juga,“ berkata Riris kepada diri sendiri, “tetapi akupun tidak dapat mengorbankan diriku untuk sesuatu yang akan dapat menyiksaku seumur hidupku.”

Anak muda yang pernah kecewa itupun pernah berbuat diluar kendali nalarnya bahkan dengan dibantu oleh beberapa orang keluarganya telah berniat mempergunakan kekerasan. Sumbagapun seperti tidak lagi berpijak pada kesadaran nalarnya, sehingga ia telah melakukan sesuatu yang tidak masuk akal terhadap tamu-tamu keluarganya.

Tetapi angan-angn Riris tidak berhenti sampai sekian. Yang kemudian terbayang adalah dua orang anak muda yang sering datang ke rumah itu. Keduanya pernah mengalami perlakuan yang tidak sewajarnya dari Sumbaga.

Kasadha dan Barata. Yang seorang adalah seorang Lurah prajurit yang nampaknya akan mempunyai masa depan yang baik dilangsungkan keprajuritan, karena ternyata memiliki beberapa kelebihan dari prajurit-prajurit yang lain, bahkan dengan seorang yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi. Sedang seorang yang lain pada wakili yang tidak terlalu lama akan diwisuda menjadi Kepala Janah Perdikan Sembojan.

“Keduanya adalah sahabat yang sangat akrab,“ berkata Riris didalam hatinya.

Namun Ririspun sadar, bahwa pada suatu saat akan dapat terjadi perubahan.

Sebagai seorang gadis yang telah dewasa Riris serba sedikit dapat menangkap sikap kedua orang anak muda itu. Keduanya pernah menolongnya, menyelamatkannya dari tangan seorang yang kehilangan nalarnya. Juga karena kecewa.

Diluar sadarnya Riris berharap, bahkan berdoa, semoga ia tidak dihadapkan pada satu keadaan yang tidak dapat diatasinya lagi. Jika kedua orang anak muda itu bersama- sama mempunyai perasaan yang sama terhadapnya, maka ia benar-benar akan terjebak kedalam persoalan yang sangat sulit untuk dipecahkan.

Riris dengan cemas membayangkan, seandainya, ya, seandainya kedua-duanya menaruh hati kepadanya, apakah ia akan dapat memilih satu diantaranya? Tetapi sudah tentu tidak mungkin kedua-duanya. Jika ia memilih seorang diantaranya dan yang lain menjadi kecewa, maka yang kecewa itu akan dapat berbuat sesuatu diluar kendali nalarnya.

Hati Riris tentu akan hancur jika ia melihat Kasadha dan Barata itu pada suatu saat akan berselisih karena dirinya. Namun bayangan itu agaknya tidak mustahil akan terjadi.

Sementara itu Kasadha dan Jangkung sudah beberapa lama berada si pasar. Mereka sempat melihat pande besi yang bekerja keras didepan perapian yang panas untuk membuat alat-alat dari besi dan baja. Cangkul, parang, kejen bajak, pisau dan bahkan kapak pembelah kayu.

Kasadha memang tertarik melihat pande besi yang sedang bekerja mengayunkan alat pemukul dari besi yang berat untuk menempa besi yang tengah membara membentuk alat-alat yang dikehendaki.

Untuk beberapa lama mereka menunggui pande besi di satu dua bengkel kerja dipinggir pasar itu. Suara besi beradu saat mereka menempa terdengar seperti irama yang menghentak-hentak dari sebuah kerja yang keras.

Beberapa orang pande besi itu sudah mengenal dengan baik Jangkung yang sering datang untuk membeli alat-alat bagi orang-orang yang bekerja disawahnya, sehingga Jangkung dapat berbicara bahkan berkelakar dengan mereka sambil melihat-lihat para pande besi itu bekerja.

Beberapa saat kemudian, maka Jangkung dan Kasadha telah melangkah keluar dari pasar. Tetapi mereka masih melihat-lihat pasar hewan disebelahnya. Berbagai macam binatang peliharaan diperjualbelikan. Kambing, kerbau, lembu dan bahkan ada juga beberapa ekor kuda. Tetapi bukan kuda tunggangan sebagaimana diperdagangkan oleh Jangkung. Kuda yang ada di pasar itu adalah kuda beban.

“Kau tentu tidak tertarik kepada kuda -kuda itu Jangkung?“ bertanya Kasadha.

Jangkung tertawa. Katanya, “Tetapi kuda -kuda seperti itu banyak dibutuhkan oleh para pedagang untuk membawa barang-barang dagangannya. Kecuali pedati, kuda beban merupakan alat angkutan yang cukup baik, yang dapat lewat melalui jalan-jalan sempit.”

Kasadhapun mengangguk-angguk. Sebuah pedati yang dapat membawa beban yang cukup banyak, namun tidak dapat melalui jalan-jalan sempit sebagaimana dapat dilalui oleh kuda beban.

Beberapa saat kemudian, maka keduanyapun merasa sudah cukup lama melihat-lihat pasar, karena keduanya ternyata tidak membeli apapun juga. Bagi Kasadha agaknya lebih senang membeli apapun juga di Pasar Pajang yang memang lebih besar dari pasar yang dilihatnya itu, meskipun pasar itu cukup ramai.

“Nah,“ berkata Jangkung, “kita nanti akan melihat -lihat padang perdu di tepi hutan. Kau harus pulang besok pagi sebagaimana dikatakan ayah.”

Kasadha termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Bukan karena aku tidak betah tinggal dirumahmu, tetapi apakah para pemimpin kelompok di pasukanku tidak menunggu-nunggu. Aku mengatakan kepada mereka, bahwa aku akan kembali hari ini.”

“Tentu tidak. Bukankah pasukanmu tidak akan berangkat kemedan perang? Seandainya sore nanti pasukanmu harus berperang dan kau tidak kembali hari ini, maka kau akan dapat dipersalahkan,“ berkata Jangkung, “tetapi hal itu tidak akan terjadi.”

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia memang lebih senang tinggal satu hari lagi dirumah Ki Rangga Dipayuda. Tetapi ia juga merasa terganggu oleh peristiwa yang menyangkut anak muda yang bernama Sumbaga itu.

Jangkung seakan-akan dapat membaca perasaan Kasadha. Karena itu maka iapun bertanya meskipun agak ragu, “Apakah kau kecewa karena sikap Sumbaga?”

“Tidak,“ jawab Kasadha dengan serta merta meskipun sebenarnya memang demikian, “bukankah sudah aku katakan sejak belum terjadi persoalan dengan Sumbaga itu, bahwa aku hanya akan bermalam satu malam saja? Aku tidak dapat mengabaikan kegelisahan para pemimpin kelompok itu.” “Mereka tidak akan gelisah. Kau adalah seorang yang pilih tanding. Para pemimpin kelompokmu tahu bahwa kau dapat melindungi dirimu sendiri,“ berkata Jangkung.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku belum dapat mengambil keputusan. Tetapi baiklah kita pergi ke padang perdu.”

“Kita pulang dahulu mengambil kuda,“ berkata Jangkung.

Keduanyapun kemudian telah meninggalkan pasar yang ramai itu. Namun mereka tidak melihat sepasang mata yang memandangi mereka dari sela-sela banyak orang.

Ternyata Sumbaga masih berada dipasar. Ia memang kebingungan kemana ia harus pergi. Ia tidak dapat begitu saja pulang, karena keluarganya tentu akan segera menghubungi Ki Rangga Dipayuda lagi.

Namun dalam pada itu, diluar sadarnya, sepasang mata Sumbaga itu masih juga nampak basah. Sekali-sekali ia mengusap matanya dengan lengan bajunya. Begitu kecewa ia menghadapi kenyataan itu, maka hatinya yang sebenarnya memang lemah, terasa bagaikan terkoyak- koyak.

Tetapi Sumbaga memang sudah bertekad untuk meninggalkan rumah Ki Rangga Dipayuda yang baginya tidak lebih dari neraka yang selalu menyiksanya.

Sumbaga tahu bahwa Ki Rangga dan Nyi Rangga Dipayuda, bahkan Jangkung dan Riris bersikap baik kepadanya. Bahkan ia sudah diakunya sebagai keluarga sendiri. Namun kenyataan yang dihadapinya ternyata terlalu pahit.