-->

Sayap-Sayap Yang Terkembang Jilid 37

Jilid 37

PERWIRA itu tidak berani membantah lagi. Apalagi beberapa orang perwira yang lain yang dekat dengan Kangjeng Adipati ternyata berpendapat lain. Karena itu, maka mereka selanjutnya lebih baik berdiam diri.

Dengan demikian maka Kangjeng Adipati Demak di Pajang sama sekali tidak mengambil sikap apapun juga yang dapat merubah sikapnya. Kagjeng Adipati masih saja merasa bahwa kekuatan Pajang dan Demak akan dapat mengusir pasukan Mataram dan Jipang kapan saja mereka berani menyerang. Hari itu beberapa orang petugas sandi dari Pajang telah disebar untuk mengetahui apa yang terjadi di perkemahan orang-orang Mataram dan Jipang. Sepuluh orang memencar untuk menyaksikan perkemahan itu dari arah yang berbeda-beda.

Namun hari itu, sampai batas waktu yang disediakan, hanya empat orang yang kembali untuk memberikan laporan.

“Tidak ada gerakan apapun hari ini,“ lapor para petugas itu, “di perkemahan prajurit Mataram nampaknya tenang - tenang saja.”

“Apakah tidak ada tanda -tanda bahwa pasukan itu akan meninggalkan perkemahan?“ bertanya Kangjeng Adipati langsung.

“Tidak Kangjeng,“ jawab petugas sandi itu. “Apakah mereka tidak akan segera meninggalkan

Pajang? Bukankah mereka sudah kalah?“ desak Adipati Demak itu.

“Tetapi mereka nampaknya masih belum akan pergi?“ jawab petugas itu.

“Omong kosong. Ternyata kau tidak mampu menjalankan tugasmu dengan baik. Kau tidak melihat bagaimana mereka menyiapkan beberapa buah pedati, menempatkan barang-barang serta perbekalan kedalam pedati itu,“ bentak Kangjeng Adipati.

Petugas sandi itu menjadi ketakutan. Karena itu, maka ia tidak mengatakan sesuatu lagi. Tetapi tiba-tiba saja Kangjeng Adipati bertanya, “Dimana kawan-kawanmu he?”

Petugas sandi memang menjadi gagap. Sementara Kangjeng Adipati telah membentaknya, “Dimana?”

Petugas itu menjawab dengan suara bergetar, “Hamba tidak tahu Kangjeng. Hamba bertugas bersama seorang kawan. Dan kami berdua telah menghadap.”

“Yang dua lagi?“ bertanya Kangjeng Adipati.

“Hamba mendapat tugas untuk mengamati perkemahan prajurit Jipang Kangjeng,“ jawab seorang dari kedua prajurit yang lain.

“Bagaimana dengan mereka?“ bertanya Kangjeng Adipati.

Petugas itu sudah ragu-ragu untuk memberikan laporan.

Namun Kangjeng Adipati telah mendesaknya, “Cepat katakan.”

Petugas itu akhirnya memberikan laporan juga.

Sedangkan laporannya tidak berbeda dengan dengan laporan yang telah disampaikan oleh kawannya, sehingga Kangjeng Adipati itu menjadi semakin marah.

Tetapi petugas itu memang tidak dapat mengatakan yang lain.

Kangjeng Adipati tidak mau mendengar laporan orang- orangnya lebih lanjut. Bahkan kemudian ia berkata, “Enam orang yang lain tentu sudah menyeberang. Aku tidak peduli.” Orang-orang yang mendengar laporan itu memang menjadi cemas. Enam petugas sandi telah hilang. Mungkin tertangkap, tetapi mungkin mereka memang telah menyeberang. Sementara itu prajurit Mataram dan Jipang masih saja berada di perkemahan mereka.

Kangjeng Adipati yang marah itu telah meninggalkan pertemuan itu, sehingga beberapa orang perwira masih saja berbincang diantara mereka.

Seorang diantara para Tumenggung itu berkata, “Nampaknya Mataram dan Jipang sedang memanggil pasukan baru untuk mendukung gerakan mereka.”

Yang lain mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, maka kita jangan memberi kesempatan. Kita harus menyerang perkemahan mereka. Selambat-lambatnya besok. Sementara itu, para petugas sandi harus mengawasi apakah ada pasukan baru yang datang ke perkemahan itu atau tidak. Sampai besok dini. Laporan mereka akan menjadi bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan besok pagi-pagi.”

“Aku sependapat. Apakah hal ini akan kita sampaikan kepada Kangjeng Adipati?“ bertanya seorang diantar a mereka.

“Siapa yang berani menyampaikannya?“ bertanya yang pertama.

“Kita bersama -sama,“ jawab yang lain. Mereka ternyata telah mengambil keputusan untuk bersama-sama menghadap Kangjeng Adipati. Mereka akan menyampaikan bahan pertimbangan bagi langkah-langkah selanjutnya. “Mudah -mudahan Kangjeng Adipati mau mendengarkan pertimbangan kami,“ berkata orang yang pertama.

“Kita harus menunjuk beberapa orang petugas sandi yang terpercaya. Empat orang adalah kalian berempat. Kemudian yang lain kita akan menunjuk petugas sandi dari Demak yang kita anggap paling baik. Kalian harus mengawasi, apakah ada bantuan datang keperkemahan orang-orang Mataram cian orang-orang Jipang,“ berkata orang yang pertama diantara para Tumenggung itu, “sementara itu, kita sejak sek arang akan mempersiapkan seluruh pasukan Pajang dan Demak.”

Dengan demikian maka para Tumenggung itupun mulai bergerak. Mereka membagi tugas. Ada diantara mereka yang mempersiapkan seluruh kekuatan yang ada di Pajang. Prajurit Demak, prajurit Pajang dan bahkan para hamba, abdi dan orang kebanyakan. Anak-anak muda dan remaja yang sudah mendekati usia dewasa sepenuhnya.

Sementara itu, beberapa orang petugas sandi harus mengawasi apakah datang pasukan baru di perkemahan orang-orang Mataram dan Jipang. Sedangkan beberapa orang yang lain akan menghadap Kangjeng Adipati. Mereka sebaiknya tidak menunggu besok lusa. Tetapi besok mereka harus bergerak menyerang perkemahan orang- orang Mataram dan Jipang.

Kangjeng Adipati ternyata bersedia menerima beberapa orang Tumenggung yang ingin menghadap. Agaknya Kangjeng Adipati juga memperhitungkan keadaan yang gawat, sehingga setiap saat dapat saja terjadi perkembangan baru di medan.

“Hari ini kita sudah cukup beristirahat Kangjeng,“ berkata salah seorang Tumenggung yang dianggap memiliki wibawa diantara para Tumenggung yang lain, “maka sebaiknya kita tidak menunggu besok lusa. Jika hari ini sampai tengah malam pasukan Mataran dan Jipang tidak meninggalkan perkemahannya, maka besok kitalah yang akan menyerang. Kita dapat bergerak dengan tiba-tiba.

Disaat fajar menjelang matahari terbit, kita akan menyerang. Mereka harus terusir dari perkemahan mereka. Sementara itu kita sudah mengirimkan petugas sandi untuk melihat apakah ada pasukan baru yang datang untuk membantu para prajurit Mataram dan Jipang.”

“Mereka harus dihancurkan sampai lumat,“ potong Kangjeng Adipati, “jika tidak, maka mereka akan bangkit lagi. Mereka akan mengumpulkan orang-orang Mataram sampai kemungkinan terakhir yang dapat mereka bawa ke medan.”

Tumenggung itu mengangguk-angguk sambil menjawab, “Ya Kangjeng.”

“Kau perintahkan. Semua Tumenggung yang memimpin pasukan harus tahu bahwa prajurit Mataran dan Jipang harus dihancurkan sampai orang terakhir,“ geram Kangjeng Adipati.

“Tetapi ... “ Tumenggung itu menj adi bimbang. “Kau masih ragu -ragu? Atau kau memang banci?

Seorang Tumenggung tidak boleh gemetar melihat darah,“ bentak Kangjeng Adipati, “Sia -sia aku membawamu dari Demak jika ternyata kau tidak lebih baik dari Tumenggung di Pajang.”

“Hamba Kangjeng Adi pati,“ jawab Tumenggung itu sambil menunduk. “Nah, masih ada persoalan lagi?“ bertanya Kangjeng Adipati.

“Tidak Kangjeng Adipati. Yang ingin kami ketahui adalah ijin Kangjeng Adipati untuk menggerakkan pasukan besok. Bukan besok lusa,“ jawab Kangjeng Adi pati.

“Lakukan. Hubungi aku jika ada perkembangan keadaan.

Juga jika kalian lihat ada pasukan baru yang datang ke perkemahan orang-orang Mataram dan Jipang,“ perintah Kangjeng Adipati.

“Hamba Kangjeng Adipati,“ sahut Tumenggung itu.

Demikianlah, maka para Tumenggung telah menjadi semakin sibuk. Pajang telah mempersiapkan perang besar- besaran dengan mengerahkan segenap kekuatan yang ada. Mereka akan menghancurkan pesanggrahan pasukan Mataran dan Jipang meskipun para panglima perangnya merasa ragu-ragu. Bagaimanapun juga mereka merasakan bahwa orang-orang Mataram dan Jipang masih merupakan bagian dari keluarga besar mereka yang terpecah. Sejak Demak kehilangan wahyu keraton dan berpindah ke Pajang, maka sejak itu Demak bagaikan terkoyak-koyak.

Tetapi bagaimanapun, rasa-rasanya urat darah mereka masih dialiri oleh darah yang sewarna.

Tetapi Kangjeng Adipati Demak yang kemudian berkuasa di Pajang sepeninggal Kangjeng Sultan Hadiwijaya, telah memerintahkan untuk menghancurkan pasukan Mataram dan Jipang.

Perhitungan Kangjeng Adipati memang dapat dimengerti, karena jika dalam waktu singkat Mataram dan Jipang mampu bangkit lagi, maka mereka tentu akan membalas kekalahan mereka dengan didorong oleh dendam yang membara di jantung Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa.

Karena itu, maka Mataran dan Jipang harus dihancurkan.

Kegiatan pasukan Pajang memang telah meningkat.

Para prajurit tidak lagi bersiap-siap untuk bertahan, tetapi mereka telah membuat persiapan untuk menyerang.

Pasukan Khusus Demak yang ada di Pajang telah dilengkapi pula dengan perisai, karena mereka memperhitungkan kemungkinan pasukan Mataram dan Jipang menyongsong pasukan Pajang yang terdiri dari para prajurit Demak dan Pajang itu dengan busur dan anak panah sebelum kedua pasukan itu berbenturan.

Sementara itu prajurit penghubung berkudapun hilir mudik lewat jalan-jalan di kota Pajang. Mereka membawa laporan atau menyampaikan perintah-perintah dari bawah keatas dan sebaliknya dari atas kebawah. Sementara para prajurit telah dipersiapkan dilandasan gerak mereka di keesokan harinya.

Para petugas sandi secara khusus mengamati kemungkinan datangnya pasukan baru dari Mataram dan Jipang.

Namun semuanya itu ternyata tidak terlepas dari pengamatan para petugas sandi dari Mataram dan Jipang. Meskipun mereka tidak dapat melihat seluruhnya, tetapi kesibukan pasukan Pajang itu sangat menarik perhatian mereka. Setiap kali para petugas sandi dari Mataram dan Jipang telah melaporkan apa yang telah mereka lihat.

Tetapi selain petugas sandi dari Mataram dan Pajang, masih ada pihak yang memperhatikan kesibukan para prajurit Pajang. Mereka adalah orang-orang yang dengan sangat berhati-hati telah dikirim oleh Ki Tumenggung Surajaya. Orang-orang yang memiliki kemampuan khusus sehingga mereka mampu menyadap keterangan bahwa pasukan Pajang besok menjelang fajar akan menyerang pasukan Mataram dan Jipang di perkemahannya.

Ki Tumenggung Surajaya menjadi berdebar-debar. Bersama beberapa orang pemimpin kelompoknya Ki Surajaya dapat mengurai dan mengambil kesimpulan, bahwa yang akan terjadi atas Pajang adalah satu bencana sebagai mana telah membayangi beberapa orang panglima Pajang dan Demak sendiri. Namun yang tidak dipercayai oleh Adipati Demak yang kemudian berkuasa di Pajang.

Tetapi Ki Surajaya tidak dapat berbuat apa-apa selain menjadi semakin berhati-hati. Apapun yang terjadi, maka seisi baraknya sudah siap. Mereka sadar, bahwa baik Pajang. Demak maupun Mataram dan Jipang akan dapat menghancurkan barak itu sampai lumat. Semua orang yang berada di barak itu akan dapat terbunuh sampai orang yang terakhir.

Sementara itu, terjadi pula kesibukan di perkemahan orang-orang Mataram dan Jipang. Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa hampir tidak percaya, bahwa Pajang telah mempersiapkan pasukannya untuk menyerang perkemahan Mataram dan Jipang.

Panembahan Senapati yang gelisah telah berbincang dengan Ki Patih Mandaraka untuk membicarakan sikap yang sebaiknya mereka ambil.

“Aku tidak mengerti cara berpikir adimas Adipati,“ berkata Panembahan Senapati, “agaknya adimas Adipati menjadi seperti orang yang mabuk tuak. Agaknya kekuasaan yang dibebankan di pundaknya telah membuatnya kehilangan penalaran bening. Jika adimas Adipati menyerang Mataram dan sekaligus Pajang, maka akibatnya akan menjadi sangat buruk. Tentu prajurit- prajurit Mataram dengan kekuatan penuh akan menghancurkan pasukan Pajang dan Demak. Demikian pula pasukan Jipang. Di perkemahan maka para prajurit Mataram dan Jipang akan merasa sangat tersinggung oleh serangan itu. sehingga mereka akan mengerahkan segala kemampuan dan sulit untuk mengekang mereka jika senjata mereka telah membentur senjata lawan.

“Apa yang harus kita lakukan, paman?“ bertanya Paneihbahan Senapati.

Ki Patih Mandaraka termangu-mangu sejenak. Katanya, “Anakmas Adipati Demak di Pajang nampaknya meman g kurang dapat melihat keadaan keadaan. Seperti yang angger katakan, anakmas Adipati merasa seakan-akan dunia sudah berada ditangannya. Ia telah salah mengartikan kekuasaannya itu.”

“Lalu apa yang menurut paman sebaiknya kita lakukan dalam keadaan seperti ini? Sudah tentu, betapapun kita mencoba untuk mengerti cara berpikir adimas Adipati, tetapi sudah tentu pula bahwa kita tidak akan dapat menerima langkahnya jika ia benar-benar akan menyerang perkemahan ini,“ berkata Panembahan Senapati.

Ki Patih Mandaraka memang menjadi gelisah juga. Lalu katanya, “Apakah hamba sebaiknya menemui angger Pangeran Benawa?”

“Ya paman. Ada juga baiknya. Tetapi sebelumnya kita harus mempunyai rencana yang dapat diperbincangkan dengan adimas Pangeran Benawa,“ sahut Panembahan Senapati.

Ki Patih Mandaraka termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Anakmas Panembahan. Aku kira tidak ada cara yang lebih baik daripada menahan agar pasukan Pajang tidak keluar dari landasan pertahanannya.”

“Maksud paman, kita mendahului menyerang Paja ng?“ bertanya Panembahan Senapati.

Ya,“ jawab Ki Patih Mandaraka, “kita akan lebih mengendalikan gejolak perasaan para prajurit disaat menyerang daripada disaat mereka bertahan. Panembahan akan memerintahkan para panglima untuk tidak memasuki dinding istana. Hanya Panembahan sajalah yang dapat memasuki dinding istana dengan pasukan yang telah dipersiapkan. Mungkin bersama-sama dengan Pangeran Benawa. Dengan demikian maka akan dapat dihindari hal- hal yang tidak diinginkan terjadi atas Kangjeng Adipati Demak dan keluarganya serta para pemimpin Pajang yang lain. Tetapi jika mereka memimpin pasukan menyerang barak perkemahan baik perkemahan Mataram maupun perkemahan Pajang, maka akibatnya akan lain. Para prajurit yang bertahan, apalagi jika mereka mengalami tekanan yang parah, maka mereka tidak akan terkendali lagi.”

“Tetapi apakah mungkin Pajang akan menyerang Jipang dan Mataram dalam waktu yang berlainan. Maksudku, mereka akan menyerang Jipang dengan kekuatan penuh dan menghancurkannya, baru kemudian menyerang Mataram?“ bertanya Panembahan Senapati.

“Menurut laporan para petugas sandi, agaknya Pajang ingin menyerang Mataram dan Jipang bersama-sama. Pajang tidak akan menyerang bergantian meskipun dengan demikian kekuatan mereka terpusat, karena jika demikian maka salah satu pihak, apakah Mataram atau Jipang akan dapat memasuki kota Pajang yang tentu tidak akan dipertahankan dengan kuat, justru karena prajuritnya sedang keluar menyerang perkemahan Mataram atau Jipang.”

Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah paman, aku persilahkan paman menemui adimas Pangeran Benawa. Mudah-mudahan adimas sependapat dengan paman.”

Ki Patih Mandaraka yang meskipun rambutnya sudah mulai memutih, namun ternyata masih tangkas melaksanakan tugasnya. Berkuda dan dikawal oleh beberapa orang prajurit pilihan, Ki Patih Mandaraka telah menuju ke perkemahan Pangeran Benawa.

Pembicaraan mereka singkat saja, karena waktunya yang menjadi semakin mendesak.

“Aku sependapat paman,“ berkata Pangeran Benawa, “kita akan bergerak dini hari. Kita akan menyerang dengan kekuatan penuh serta mempergunakan tanda-tanda kebesaran yang lengkap. Kita harus menampakkan diri dengan jelas, agar petugas-petugas sandi Pajang yang mengawasi kita melihat, betapa besar pasukan kita.

Maksudku. Mataran dan Jipang. Mudah-mudahan Kangjeng Adipati Demak yang memerintah Pajang terusik hatinya untuk membuat pertimbangan-pertimbangan baru. Bukan sekedar merubah rencananya dari menyerang menjadi harus bertahan.” “Mudah -mudahan Pangeran. Namun jika terjadi perubahan sikap, baik Mataram maupun Jipang, kita akan selalu berhubungan,“ minta Ki Patih Mandaraka.

Ternyata hampir semua hal telah saling disetujui.

Merekapun telah menentukan waktu, saat mereka mulai bergerak.

“Saat ayam jantan berkokok lewat tengah m alam, kita akan bersiap,“ berkata Pangeran Benawa, “kemudian, sebaiknya Mataran melepaskan merpati dengan sen-daren. Tidak hanya seekor. Tetapi lebih dari seekor, agar kami dapat mendengar dengan jelas. Kemudian disaat bulan tua mulai terbit, kita akan bergerak. Sebelum fajar kita sudah berhadapan dengan dinding kota Pajang.”

Ki Patih Mandaraka mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan menyampaikannya kepada angger Panembahan Senapati.”

Demikianlah, maka Ki Patihpun telah berpacu kembali ke perkemahan pasukan Mataram. Sementara itu Pangeran Benawa telah memerintahkan para panglima pasukan Jipang mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

“Kita akan bersiap lewat tengah malam,“ berkata Pangeran Benawa, “karena itu, maka segala macam perbekalan harus sudah siap. Pasukan harus sudah makan sebelum berangkat. Harus ada sekelompok prajurit yang membawa perbekalan ke medan. Mungkin kita memerlukannya. Para prajurit tidak boleh kelaparan.”

Sementara itu. Mataampun telah bersiap-siap pula.

Demikian Ki Patih Mandaraka memberikan laporan maka para panglimapun segera mendapat perintah untuk mempersiapkan para prajuritnya. Namun perintah itu disertai pesan, “Beri kesempatan para prajurit beristirahat sampai menjelang tengah malam. Mereka harus tidur meskipun hanya sebentar. Selelah mereka bangun tengah malam dan berbenah diri, maka mereka tidak akan mendapat kesempatan lagi tidur sampai hari berikutnya.

Karena itulah, maka para prajurit itupun mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk beristirahat, selain mereka yang bertugas.

Para petugas sandi dari Demak yang berada di Pajang, telah melihat gerak para prajurit Mataram dan Pajang.

Meskipun para prajurit telah beristirahat, tetapi beberapa orang petugas khusus ternyata telah menjadi sibuk. Mereka mempersiapkan pertanda kebesaran pasukan Mataram dan Pajang. Umbul-umbul, rontek, klebet dan panji-panji.

Dengan cemas para petugas sandi itu memperhitungkan kemungkinan bahwa pasukan Mataram dan Jipang akan bergerak.

Ketika petugas sandi yang mengamati pasukan Mataram melaporkan persiapan pasukan Mataram itu, maka petugas yang mengamati pasukan Jipangpun telah membawa laporan yang sama.

“Mereka akan menyerang,“ berkata petugas sandi itu. Laporan itupun segera sampai kepada para

Tumenggung yang bertugas untuk memimpin persiapan

langsung dibawah perintah Kangjeng Adipati Demak di Pajang.

Karena itu, maka persiapan pasukan Mataram dan Jipang itupun telah dilaporkan pula kepada Kangjeng Adipati. “Apa pula yang akan kalian katakan?“ geram Kangjeng Adipati yang dibangunkan dari tidurnya oleh pelayan dalam yang memang sudah mendapat pesan bahwa mereka diijinkan untuk membangunkan Kangjeng Adipati jika keadaan mendesak.

Seorang diantara para tumenggung itu berkata, “Ampun Kangjeng Adipati. Ternyata hari ini Mataram dan Jipang juga telah bersiap untuk menyerang.”

Wajah Kangjeng Adipati menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “jika demikian, panggil semua Panglima. Aku akan berbicara dengan mereka.”

Dalam waktu singkat, maka para Panglima telah menghadap. Para petugas sandi diminta untuk memberikan kesaksian langsung tentang pasukan Mataram dan Jipang.

“Nah, apa kata kalian?“ bertanya Kangjeng Adipati yang gelisah.

“Menilik persiapan yang mereka lakukan, maka mereka agaknya memang akan menyerang lagi,“ berkata seorang Tumenggung yang menjadi panglima pasukan Demak di Pajang yang sudah bersiap-siap akan menyerang pasukan Mataram di perkemahannya.

“Jika demikian, apa yang akan kita lakukan?“ bertanya Kangjeng Adipati.

“Kami menunggu perintah,“ desis Panglima itu. “Baik,“ berkata Kangjeng Adipati kemudian, “kita

batalkan rencana kita menyerang perkemahan Mataram

dan Jipang. Menurut laporan para petugas sandi itu, nampaknya pasukan Mataram dan Jipang akan berangkat jauh sebelum fajar. Jika kita paksakan pasukan kita berangkat sedikit lewat tengah malam, maka kedua pasukan itu tentu akan berpapasan di jalan. Karena itu, maka kita akan bertahan. Kita akan mempersiapkan pertahanan kita sebaik-baiknya, sehingga kita akan menghancurkan pasukan Mataram di medan sebelah Barat dan pasukan Jipang di medan sebelah Timur. Jangan beri kesempatan mereka mengundurkan diri seperti pada serangan mereka yang pertama,“ Kangjeng Adipati berhenti sejenak lalu, “jika saat itu kita selesaikan mereka sampai tuntas, maka pekerjaan kita sekarang tentu sudah selesai.”

“Tetapi serangan ini nampaknya lebih besar dari yang pernah terjadi,“ berkata seorang Tumenggung yang lain.

“Kau mulai ketakutan lagi?“ bertanya Kanjeng Adipati. “Tidak, Kangjeng. Hamba bukannya menjadi ketakutan.

Tetapi sebagai seorang prajurit hamba ingin berhati-hati. Yang akan hamba bawa ke medan adalah prajurit-prajurit yang sebagian belum berpengalaman sama sekali,“ jawab Panglima itu.

“Bukankah ada diantara mereka prajurit Demak dan Pajang?“ bertanya Kangjeng Adipati itu pula.

“Hamba Ka ngjeng. Separo dari pasukan hamba adalah prajurit Demak. Sebagian lagi prajurit Pajang dan yang lain adalah laki-laki yang dapat kita kumpulkan untuk ikut bertempur. Agaknya pasukan dari para panglima yang lain juga demikian. Bahkan ada yang sebagian besar justru mereka yang kurang berpengalaman. Sementara itu, pasukan yang sepenuhnya terdiri dari prajurit Pajang telah menutup diri di baraknya,“ jawab Tumenggung itu. “Jangan sebut -sebut lagi pengkhianat itu,“ geram Kangjeng Adipati, “setelah semuanya seles ai, maka barak itu akan kita bakar bersama penghuninya. Prajurit Demak dan Pajang akan mengepung barak itu dan membunuh setiap orang yang melarikan diri dari api.“

Para Panglima yang mendengarkan kata-kata Kangjeng Adipati yang mirip dengan perintah itu tidak menyahut.

Tetapi mereka menjadi berdebar-debar karenanya. Jika hal itu benar-benar dilaksanakan, maka mereka akan melihat betapa mengerikan neraka yang akan diciptakan di barak Tumenggung Surajaya itu.

Tetapi yang mereka hadapi di keesokan harinya adalah prajurit Mataram dan Jipang. Karena itu, maka persoalan Ki Tumenggung Surajaya itupun segera mereka lupakan.

Dalam pada itu, maka Kangjeng Adipatipun kemudian telah memerintahkan para panglima untuk kembali ke pasukan masing-masing. Dengan lantang Kangjeng Adipati berkata, “Atur sebaik -baiknya. Perubahan rencana itu harus berjalan dengan baik. Pasukan yang dipersiapkan untuk menyerang itu akan bertahan.”

Namun kesatuan yang rapi telah terbentuk sehingga perubahan rencana itu tidak akan terlalu sulit untuk dilakukan. Apalagi orang-orang Pajang dan orang-orang Demak di Pajang tidak dibebani kegelisahan sebagaimana Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa yang masih berusaha untuk membatasi permusuhan diantara keluarga besar yang terkoyak sejak Demak kehilangan wahyu keraton dan berpindah ke Pajang.

Sebagaimana kebijaksanaan yang ditempuh oleh Kangjeng Adipati Demak di Pajang, maka baik Mataram maupun Jipang justru harus dihancurkan sampai lumat. Demikianlah, setelah memberikan beberapa pesan terakhir, Kangjeng Adipati itupun berkata, “Lakukan tugas kalian dengan baik. Aku akan dapat kalian hubungi setiap saat.“

Setelah Kangjeng Adipati masuk kembali keruang dalam istana, maka para panglimapun segera berada dipasukan mereka. Perubahan rencana pasukan Pajang dan Demak itupun segera sampai kepada para prajurit dan setiap orang yang ikut didalam pasukan.

Mereka tidak perlu menyerang perkemahan orang-orang Mataram dan Jipang. Tetapi mereka tinggal menunggu orang-orang Mataram dan Jipang itu datang mengantarkan nyawanya.

Meskipun demikian, maka pasukan Pajangpun telah menyusun kekuatannya berlapis. Pertahanan pertama ada didinding kota. Kemudian garis pertahanan kedua adalah di sekitar alun-alun dan yang terakhir adalah dinding istana.

Tetapi orang-orang Pajang dan orang-orang Demak yang ada di Pajang telah mempersiapkan diri untuk meloncat turun keluar dinding kota jika pasukan Mataram dan Jipang mulai mengundurkan diri. Mereka harus mengejar dan menghancurkan pasukan Mataram dan Jipang itu sampai lumat. Sekelompok prajurit telah siap di pintu-pintu gerbang. Pintu gerbang utama dan pintu gerbang butulan yang menghadap ke Barat dan Timur dekat sudut-sudut kota. Pasukan Demak dan Pajang harus dengan cepat tanggap jika pasukan Mataram dan Jipang mengundurkan diri. Pintu-pintu gerbang akan dibuka dengan mengangkat selarak-selarak yang berat. Kemudian pasukan yang berada didekat pintu gerbang akan menghambur keluar mengejar para prajurit Mataram dan Jipang serta menghancurkannya.

Ketika tengah malam berlalu perlahan-lahan, maka prajurit Mataram dan Jipang diperkemahannya sudah mulai menjadi sibuk. Para petugas didapur mulai membagi makan dan minuman bagi para prajurit. Sementara itu, sekelompok prajurit telah mempersiapkan pula makanan dan minuman yang akan mereka bawa ke medan. Dalam keadaan yang tidak tertahankan, maka satu dua prajurit tentu memerlukan makanan dan minuman meskipun seadanya.

Dengan mata yang masih setengah terpejam, maka para prajuritpun telah mempersiapkan diri. Setelah makan dan minum, maka para prajurit itupun telah berada kelompok mereka masing-masing.

Sejenak kemudian, maka terdengar suara bende baik diperkemahan prajurit Mataram maupun Jipang, untuk yang pertama kalinya. Satu isyarat bahwa para prajurit Mataram dan Jipang yang sudah menyesuaikan waktu persiapan mereka, untuk berbenah diri serta membenahi kelompok mereka masing-masing.

Ketika bende berbunyi untuk kedua kalinya, maka semuanya telah bersiap. Kelompok-kelompok telah bergabung dalam pasukan-pasukan. Sementara itu, satu satuan khusus telah bersiap dipaling depan dengan membawa segala pertanda kebesaran. Rontek, umbul- umbul, kelebet dan panji-panji yang terpancang pada tunggul-tunggul kebesaran. Sementara itu pasukan yang berperisai berjalan disebelah menyebelah. Mereka memperhitungkan bahwa pasukan Pajang yang akan bertahan tentu mempersiapkan senjata jarak jauh. Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa berharap bahwa pasukan Demak dan Pajang mengurungkan niat mereka untuk menyerang apabila mereka mengetahui bahwa pasukan Mataram dan Jipang telah bersiap untuk menyerang pula.

Sebenarnyalah laporan dari para petugas sandi disaat- saat terakhir menyatakan, bahwa Pajang agaknya tidak akan keluar dari dinding kota. Tetapi mereka mempersiapkan pertahanan yang sangat kuat dengan jumlah prajurit yang cukup banyak, ditambah dengan orang-orang yang telah berhasil dikumpulkan untuk memperkuat kedudukan Adipati Demak di Pajang.

“Agaknya telah ada laporan dari petugas sandi mereka, bahwa kitapun telah bersiap-siap untuk menyerang,“ berkata seorang petugas sandi Mataram.

Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Memang telah ada rencana pasukan Mataram menyerang setelah beristirahat sehari menunggu perkembangan penalaran Adipati Demak di Pajang. Namun mereka harus berangkat jauh lebih awal, justru karena Pajangpun siap menyerang pula.

Seperti yang disepakajti bersama Pangeran Benawa, maka pada saat bulan tua terbit didini hari, maka kedua pasukan itupun akari berangkat.

Pada saat bende berbunyi untuk ketiga kalinya, maka setiap Panglima pasukan telah memerintahkan pasukannya untuk bergerak.

Sementara itu, sekelompok petugas penghubung telah melepaskan beberapa ekor burung dara yang diberi sendaren dipangkal ekornya, sehingga sejenak kemudian, maka sendaran itupun telah bergaung diudara.

Karena burung-burung merpati itu terbang melingkar- lingkar, maka seluruh kota dan sekitarnya telah mendengar suara sendaren itu pula.

Ternyata bunyi sendaren itu bagaikan gaung kemati-an yang memanggil-manggil setiap orang yang berada di dalam dinding kota Pajang. Para prajurit, orang-orang kebanyakan, para penghuni istana dan bahkan bagi anak- anak dan perempuan.

Di baraknya Ki Tumenggung Surajaya juga mendengar gaung sendaren yang berputaran diatas kota Pajang. Para petugas sandi dari barak itupun secara khusus telah memberikan laporan perubahan keadaan. Pasukan Pajang tidak sempat menyerang, karena pasukan Mataram dan Jipang telah bergerak lebih dahulu menyerang kota. Karena itu, maka Pajang telah menempatkan prajurit-prajuritnya didinding kota untuk bertahan.

Ki Tumenggung Surajaya menarik nafas dalam-dalam ketika laporan itu sampai kepadanya. Dengan demikian Ki Tumenggung Surajaya menganggap bahwa Mataram dan Jipang telah berbuat sesuatu agar keadaan menjadi lebih baik. Korban akan dapat dibatasi sehingga pasukan Demak dan Pajang, terutama orang-orang yang tidak berpengalaman sama sekali mempergunakan senjatanya tidak terbantai dipeperangan. Mereka akan dapat berlindung di balik dinding kota dan menunggu pasukan Mataram dan Jipang menembus pertahanan. Sementara itu, mereka akan sempat ditarik mundur memasuki dinding istana sehingga pertempuran didalam halaman istana tentu tidak lagi dalam suasana yang liar dan tidak terkendali. Bagaimanapun juga, tempat dan suasana akan mempengaruhi kedua belah pihak.

“Bagaimana pun juga kuatnya pertahanan Demak dan Pajang, namun Mataram dan Jipang tentu akan dapat mematahkan pertahanan mereka,“ berkata Ki Tumenggung Surajaya.

Ketegangan yang memuncak memang telah mencengkam seluruh kota, termasuk barak Ki Tumenggung Surajaya. Para panglima pasukan menjadi tegang. Mereka telah berada diantara pasukan masing-masing yang akan bertahan didinding kota. Sementara pasukan yang dipersiapkan untuk menahan serangan Mataram dan Jipang telah memanjat dinding dan berdiri di panggungan dengan anak panah dan busur ditangan mereka.

Namun bagaimanapun juga perang adalah pembantaian.

Darah akan mewarnai bumi Pajang dan tubuhpun akan berserakkan silang melintang. Apapun alasannya, perang diantara kadang sendiri akibatnya sangat menyedihkan.

Sementara itu, pasukan Jipangpun sudah bergerak pula. Suara burung sendaren telah meyakinkan mereka, bahwa pasukan Matarampun telah bergerak pula.

Digelapnya sisa malam, maka dua pasukan raksasa telah merayap dari dua arah. Dari perkemahan orang Mataram dan perkemahan orang-orang Jipang. Ratusan obor menerangi perjalanan mereka. Kedua pasukan itu sama sekali tidak berusaha untuk menghindari pengamatan pasukan sandi Demak dan Pajang.

Dari kejauhan maka kedua pasukan itu nampak bagaikan ular raksasa yang bersisik api menjalar merunduk mangsanya. Namun ternyata yang sedang dirunduk tidak tidur. Orang-orang Pajang dan Demakpun tidak merasa perlu menyembunyikan kesiagaan mereka. Bahkan mereka berusaha untuk menunjukkan kebesaran mereka. Jika orang-orang Mataram dari sisi Barat dan orang-orang Pajang dari sisi Timur menyerang dengan memamerkan pertanda kebesaran serta lambang-lambang kesatuan yang ada didalam pasukan mereka, maka para prajurit Demak dan Pajangpun melakukan hal yang sama. Pada dinding kota, apalagi diatas pintu gerbang, telah terpajang berbagai macam pertanda dan lambang-lambang kesatuan. Rontek, umbul-umbul, panji-panji dan kelebet, diterangi oleh ratusan obor minyak dan oncor biji jarak.

Apalagi ketika para pengamat melihat kedatangan iring- iringan pasukan yang diterangi oleh obor-obor yang ratusan pula jumlahnya, maka diatas pintu gerbangpun telah mengumandang suara bende dengan irama perang, disahut oleh suara kentongan dan bunyi-bunyian yang mengumandang diseluruh kota Pajang.

Semua orang yang ada didalam kota menjadi berdebar- debar. Perang besar itu sudah dimulai. Mataram dan Jipang akan menyerang kekuatan Demak di Pajang dan kekuatan Pajang yang masih tersisa dari antara kekuatan seluruhnya yang sebagian justru telah berada diantara pasukan Mataram dan Jipang.

Sementara itu, Ki Tumenggung Surajaya dan pasukan nya telah bersiap pula didalam dinding barak mereka.

Mereka sudah bertekad pula didalam dinding barak mereka. Mereka sudah bertekad untuk tidak beranjak dari barak mereka itu apapun yang akan terjadi atas diri mereka.

Bahkan sampai orang yang terakhir, siapapun yang akan menghancurkannya. Kasadha yang ada di barak itu sempat merenung.

Dikenangnya seluruh masa hidupnya sampai usianya yang dewasa itu. Ternyata bahwa Kasadha akan merasa lebih berharga jika ia mati didalam barak itu, meskipun ia tidak tahu, dipihak mana ia berdiri dalam sengketa antara Mataram dan Jipang dengan Pajang.

Tetapi satu hal yang ia tahu, bahwa ia akan mempertahankan keyakinannya yang juga diyakini bersama oleh seluruh isi barak itu bahwa kepemimpinan Pajang harus berubah. Tanpa perubahan yang mendasar, maka Pajang akan menjadi semakin lama semakin rapuh sehingga akhirnya akan runtuh.

“Keruntuhan Pajang dengan cara yang sangat menyedihkan itu akan berakibat sangat buruk bagi bumi ini,“ berkata Kasadha didalam hatinya. Lalu katanya pula, “Tetapi jika Mataram dan Jipang berhasil memperbaiki keadaan, maka masih akan ada kemungkinan lain yang lebih baik bagi masa depan Pajang. Apakah yang berkuasa atas Pajang itu berkedudukan di Jipang atau di Pajang atau di Mataram, bahkan seandainya di Demak sekalipun.”

Satu urutan bayangan yang buram telah lewat didunia angan-angan Kasadha. Sikap ibunya, seorang laki-laki yang mengaku ayahnya, kakeknya dan Kasadha merasa beruntung bahwa ia memiliki seorang guru yang berpribadi sangat kuat, sehingga kemantapan pribadinya itu mampu mempengaruhi sikapnya meskipun ia selalu dibayangi oleh sifat dan sikap ibu dan laki-laki yang mengaku sebagai ayahnya itu.

Kasadha bagaikan terbangun dari renungannya ketika tiba-tiba saja seekor merpati dengan sendaren dipangkal ekornya terbang rendah diatas baraknya. Nampaknya merpati itu sudah menjadi letih dan ingin hinggap dimana- pun. Tetapi gelapnya malam tidak memberinya kesempatan untuk melihat cabang-cabang pepohonan. Cahaya bulan tua yang mulai memanjat langit mulai menguak kekelaman. Tetapi tidak cukup terang untuk menembus pekatnya bayangan pepohonan.

Sementara itu, pasukan Mataram dan Jipang telah menjadi semakin dekat dengan dinding kota. Dengan isyarat yang diteruskan oleh setiap pimpinan sampai ke kesatuan yang paling belakang, maka pasukan Mataram dan Jipang itupun telah menebar.

Dalam waktu yang singkat, terbentuklah gelar perang yang sempurna. Obor-obor yang bagaikan sisik ular raksasa itupun telah menebar pula. Yang nampak dari kejauhan adalah rontek, umbul-umbul, panji-panji dan kelebet yang beraneka warna. Berbagai macam bentuk lambang kesatuan yang sebagian dihiasi dengan gambar-gambar binatang yang garang. Namun ada yang dihiasi dengan gambar-gambar senjata yang mendebarkan.

Namun dalam pada itu, para pemimpin Demak dan Pajang masih belum mendapat keterangan, siapakah yang memimpin pasukan Mataram dan siapakah yang memimpin pasukan Jipang.

Namun para panglima pasukan Demak dan Pajang memang menjadi berdebar-debar melihat gelar perang para prajurit Mataram dan Jipang. Gelar perang yang nyaris sempurna dengan jumlah prajurit yang memadai. Di induk pasukan beberapa kesatuan dengan lambang kesatuan masing-masing telah tersusun rapi. Demikian pasukan yang ada di gelar. Disayap kiri dan disayap kanan. Selain lambang-lambang kesatuan, maka nampak pula lambang- lambang para Senapati perang. Tunggul yang berkilat-kilat dengan ujung yang runcing. Cakra yang kehitam-hitaman dan Nenggala yang berkait.

Di induk pasukan Jipang nampak tunggul berwarna kuning emas. Lingkaran dengan lidah api yang menjilat- jilat.

“Pangeran Benawa ada di induk pasukan,“ geram seorang Panglima yang melihat tunggul itu.

“Jipang kali ini tidak main -main seperti serangannya yang terdahulu,“ sahut yang lain.

Sementara itu, seorang petugas sandi telah melaporkan pula bahwa Panembahan Senapati memimpin sendiri pasukan Mataram.

“Bersama Ki Juru Martani, Pangeran Mangkubumi, Pangeran Singasari dan para panglima yang lain,“ berkata petugas sandi itu.

Para panglima yang memegang pimpinan seluruh pasukan Demak dan Pajang menjadi berdebar-debar. Mereka menyadari bahwa sentuhan panggraita beberapa orang Senapati ternyata benar. Pada serangannya yang pertama. Mataram dan Jipang hanya sekedar memberi peringatan kepada Pajang. Namun ketika hal itu disampaikan kepada Kangjeng Adipati Demak yang kemudian memegang pimpinan di Pajang, ternyata Kangjeng Adipati itu tidak percaya. Kangjeng Adipati yang terbius oleh kekuasaan yang disandangnya, dalam mengetrapkan kekuasaan itu agaknya tidak lagi sempat mempergunakan penalarannya yang bening.

Karena itu, maka penglihatannya atas kekerasan Mataram dan Jipang menjadi kabur. Sementara itu, para Senapati dan Panglima dari Demak dan Pajangpun berusaha untuk menyesuaikan diri.

Merekapun telah menempatkan segala macam pertanda kebesaran diatas panggung-panggung pada dinding kota. Tunggul-tunggul kebesaran dan lambang para Senapati dan Panglima perang nampak pula berkilat-kilat memantulkan cahaya obor yang makin redup. Namun dalam pada itu, langitpun menjadi semakin merah oleh bayangan fajar.

Sebenarnyalah bahwa Panembahan Senapati telah memimpin langsung pasukan Mataram. Bukan karena ia tidak percaya kepada para Senapati dan Panglima, tetapi Panembahan Senapati justru ingin mengendalikan langsung para prajurit Mataram. Diatas seekor kuda yang tegar, Panembahan Senapati berada di induk pasukannya. Namun jika dikehendakinya, ia akan dengan cepat berada di ujung gelarnya.

Sementara itu Pangeran Mangkubumi yang tenang dan cepat tanggap terhadap setiap perkembangan yang terjadi di medan berada di sayap kanan, sedangkan Pangeran Singasari yang garang dan keras berada disayap kiri.

Ki Patih Mandaraka dengan beberapa orang Senapati pilihan berada di induk pasukan-bersama dengan Panembahan Senapati. Mereka berada di hadapan pintu gerbang utama yang menghadap Ki Barat.

Seperti yang telah disepakati bersama, maka menjelang fajar menyingsing, maka Mataram dan Jipang akan menyerang bersama-sama. Karena itulah, maka ketika langit menjadi semakin merah, sementara ratusan obor dan oncor biji jarak telah meredup, Panembahan Senapati telah memerintahkan untuk melepaskan lagi beberapa ekor burung merpati dengan sendaren. Seperti yang terdahulu, maka merpati itu telah terbang melingkar-lingkar sampai ketempat yang cukup jauh, sehingga suaranya bagaikan memenuhi kota Pajang dan sekitarnya.

Sekali lagi seluruh isi kota Pajang menjadi berdebar- debar. Orang yang paling dungupun mengerti, bahwa suara sendaren yang meraung-raung di ujung hari itu tentu merupakan isyarat dari pasukan yang telah berada di luar dinding kota. Pasukan Mataram disisi Barat dan pasukan Jipang disisi Timur.

Tetapi ternyata bahwa pasukan Mataram dan Jipang tidak hanya berada disisi Barat dan Timur. Tetapi beberapa kelompok kecil prajurit Mataram berada disisi Selatan sedangkan pasukan Jipang mengawasi sisi Utara sekaligus menempatkan prajurit cadangan yang akan dipanggil setiap saat jika mereka diperlukan.

Demikian suara sendaren itu menggetarkan udara kota Pajang dan sekitarnya, maka para Senapati dan Panglimapun telah memerintahkan semua prajurit itu bersiap-siap. Prajurit Demak dan Pajang yang juga mendengar suara sendaren itupun telah memerintahkan para prajurit untuk bersiap.

“Sebentar lagi mereka ten tu akan menyerang,“ berkata para Senapati kepada para pemimpin kelompok yang segera menempatkan diri diantara prajurit-prajuritnya.

Diatas panggungan dibelakang dinding kota, maka para prajurit Demak sebagian dari mereka telah menyiapkan lembing-lembing bambu dengan bedor besi yang runcing untuk dilontarkan kearah pasukan yang akan datang menyerang. Dalam pada itu, maka ketika saatnya tiba, sementara suara sendaren meraung-raung diudara, Panembahan Senapati telah menjatuhkan perintah. Diatas punggung kudanya, maka Panembahan Senapati telah mengangkat tombak pendek yang berada ditangannya. Tombak yang merupakan sipat kandelnya. Meskipun tombak itu bukan tombak yang dipergunakannya untuk mengakhiri perlawanan Arya Penangsang dari Jipang disaat timbul perselisihan antara Jipang dimasa pemerintah Arya Penangsang dengan Sultan Hadiwijaya yang memerintah di Pajang.

Demikian tombak itu terangkat, maka para Pang- limapun segera mempersiapkan diri dalam kesiagaan tertinggi. Sejenak kemudian maka bendepun telah terdengar sebagai isyarat, bahwa pasukan Mataram mulai menyerang.

Diatas pintu gerbang, para panglima pasukan Demak dan Pajangpun telah memberikan aba-aba pula. Suara bende yang ada dipintu gerbang dengan nada yang berbeda-beda pula. Suara bende yang ada dipintu gerbang dengan nada yang berbeda telah berbunyi pula. Meraung- raung mengumandang membentur dinding-dinding kota, disambut oleh suara kentongan dan bunyi-bunyian. Semua orang di kota Pajang menyadari, saat itu pasukan Mataram telah menyerang langsung dinding kota Pajang. Demikian pula pasukan Jipang yang berada disisi Timur. Pangeran Benawapun telah mengangkat pedangnya, sementara pengawalnya yang terpercaya telah mengangkat tunggul pertanda kebesarannya.

Demikianlah, maka bagai arus banjir bandang, pasukan Mataram dan Jipang telah menyerang dinding kota Pajang. Namun dalam pada itu, demikian pasukan Mataram dan Pajang itu mendekat, maka panahpun telah menghujani mereka. Seperti semburan air yang deras, anak panah telah menghambur dari setiap busur yang ada diatas dinding.

Namun para prajurit Mataram dan Jipangpun segera tanggap. Yang melangkah dipaling depan kemudian adalah para prajurit yang menyandang perisai di tangan kirinya.

Mereka maju sambil melindungi bukan saja dirinya, tetapi juga para prajurit yang ada di belakangnya. Sementara itu, beberapa kelompok khusus prajurit Mataram dan Jipang telah membalas serangan itu dengan lontaran anak panah pula. Mereka dengan tenang dilindungi oleh perisai kawan- kawannya, membidik orang-orang Demak dan Pajang yang berada dipunggung, dibelakang dinding kota. Mereka yang tersembul diatas dinding untuk melemparkan anak-panah dari busurnya, atau melontarkan lembing-lembing bambu telah menjadi sasaran.

Beberapa orang disetiap kelompok yang memiliki kemampuan bidik yang tinggi telah menyerang orang-orang itu dengan busur-busur yang besar sehingga anak- panahnya mampu menggapai para prajurit yang berada diatas dinding kota itu.

Pertempuran berjarakpun segera terjadi. Anak panah berterbangan ke kedua arah. Dari atas dinding kota dan, dari bawah yang dibidikkan pada orang-orang yang berada diatas dinding kota itu.

Tetapi para prajurit Mataram sudah bersiap menghadapi dinding kota Pajang. Beberapa orang membawa tambang berkait. Sementara yang lain telah mempersiapkan sepotong kayu yang sangat besar dan cukup panjang, yang diusung oleh lebih dari duapuluh orang. “Lindungi mereka,“ perintah seorang Senapati yang mendapat tugas untuk memecahkan pintu gerbang.

Sekelompok pasukan dengan busur dan anak panah segera menempatkan diri untuk melindungi orang-orang yang akan memecahkan pintu gerbang dengan sepotong pokok kayu yang besar dan panjang. Orang-orang yang memanggul kayu itu akan mengambil ancang-ancang, kemudian berlari mengarahkan ujung kayu itu dan kemudian membentur pintu gerbang.

Sementara ditempat-tempat lain, beberapa orang akan melemparkan tambang-tambang panjang berkait baja diujungnya. Namun untuk melakukannya harus diperhitungkan keadaan sebaik-baiknya, karena hal itu akan sangat berbahaya.

Sementara itu, beberapa orang prajurit Jipang disisi Timur justru membawa tangga-tangga bambu. Dengan tangga-tangga bambu para prajurit Jipang bersiap-siap untuk memanjat dinding jika keadaan memungkinkan.

Namun untuk beberapa saat, pertempuran berjarak itu masih saja berlangsung. Sementara para prajurit Mataram sedang sibuk mempersiapkan kayu panjangnya untuk memecahkan dinding kota.

Para prajurit Demak dan Pajang memang banyak yang berkumpul diatas pariggungan disekitar pintu gerbang.

Ketika seorang Senapati Demak melihat sepotong kayu yang besar dan panjang itu, maka iapun segera mengetahui, apa yang akan dilakukan oleh orang-orang Mataram.

Karena itu, disamping selarak yang besar, maka orang- orang Demak dan Pajang telah mempergunakan potongan- potongan kayu untuk menahan pintu gerbang mereka yang diancam untuk dipecahkan oleh para prajurit Mataram.

Demikianlah, maka anak panahpun semakin lama semakin banyak berhamburan. Sementara itu prajurit- prajurit Jipang telah berusaha mendekati dinding dengan beberapa puluh tangga bambu. Sementara prajurit Mataram telah siap untuk memecahkan pintu gerbang utama yang menghadap ke Barat.

Langitpun telah menjadi terang. Matahari telah mulai naik menggatalkan kulit.

Tetapi untuk melakukan rencananya, prajurit Mataram dan Jipang banyak mengalami kesulitan. Bukan saja anak panah dan lembing yang telah dilontarkan dari atas dinding kota. Tetapi juga bandil dan bebatuan.

Untuk beberapa saat Panembahan Senapati yang memimpin langsung pasukan Mataram telah memperhatikan keadaan dengan saksama. Menurut penilaian Panembahan Senapati prajurit Demak yang ada di Pajang serta prajurit Pajang sendiri memang termasuk prajurit yang baik. Mereka tidak saja mampu mempergunakan senjata, tetapi mereka juga mampu mempergunakan otaknya.

Sementara itu, para prajurit yang telah siap dengan sepotong pokok kayu yang cukup besar dan panjang telah mengambil ancang-ancang. Tidak hanya duapiiluh atau duapuluh lima orang, tetapi lebih dari tigapuluh orang.

Demikianlah maka aba-abapun telah dijatuhkan.

Sementara orang-orang yang memanggul pokok kayu itu mulai bergerak, maka para prajurit yang melindunginya telah melontarkan anak panah yang tidak terhitung jumlahnya kearah para prajurit Demak dan Pajang yang ada diatas dinding kota, yang dengan tanpa mengenal ampun berusaha untuk mengenai orang-orang yang memanggul pokok kayu itu.

Ternyata pekerjaan itu bukan pekerjaan yang mudah. Sebelum kedua pasukan berbenturan, maka pada kedua belah pihak telah banyak jatuh korban. Meskipun para prajurit itu telah mendapat perlindungan, serta pokok kayu itu sendiri telah melindungi sebagian dari tubuh mereka, namun satu dua orang telah terkena anak panah yang dilontarkan dari atas dinding. Tetapi demikian satu dua orang melepaskan diri karena luka-lukanya, maka prajurit yang mengusung pokok kayu itu, sehingga seakan-akan seekor lipan raksasa dengan seratus kaki berlari membenturkah diri pada pintu gerbang dinding kota Pajang.

Tetapi dinding kota itu ternyata cukup kuat. Selain daun pintunya yang sangat tebal, selarak yang besar dan kuat, juga kayu-kayu yang silang melintang menahan daun pintu itu agar tidak terbuka.

Ketika pokok kayu yang dibawa berlari dengan ancang- ancang yang panjang itu membentur pintu gerbang, maka ternyata bukan pintu gerbangnya yang pecah dan terbuka. Tetapi justru pokok kayu itulah yang terpental beberapa langkah surut. Hampir saja orang-orang yang memanggul pokok kayu yang besar dan panjang itu kehilangan keseimbangan. Namun beberapa orang prajurit dengan cepat membantu dibawah perlindungan beberapa orang prajurit yang melontarkan anak panah tanpa henti- hentinya, untuk mengurangi arus anak panah yang meluncur dari atas dinding. Dengan demikian, maka orang-orang yang berada diatas dinding itupun terpaksa melepaskan beberapa orang

kawan-kawannya yang berani. Beberapa orang telah terdorong surut dan harus dibantu oleh kawan-kawannya turun dari panggungnya. Namun ada diantara mereka yang tidak mampu lagi bertahan, karena anak panah orang- orang Mataram menancap jauh kedalam tubuhnya.

Dengan demikian maka orang-orang Mataram terpaksa membawa balok kayu yang besar itu kembali menjauhi pintu gerbang untuk mengambil ancang-ancang.

Namun sebelum mereka kembali menghantam pintu gerbang itu dengan balok kayu yang dipanggul oleh beberapa puluh orang, maka Senapati yang bertugas memimpin pekerjaan itu tiba-tiba berkata, “Kita pergunakan pedati.”

“Terlalu lambat. Tidak ada kekuatan pendorong,“ sahut salah seorang pemimpin kelompok.

“Jangan bodoh. Kita tidak mempergunakan lembu. Tetapi pedati itu didorong oleh berpuluh-puluh orang,“ berkata Senapati itu. Pemimpin kelompok itu berpikir. Tiba- tiba ia bertanya lagi, “Apakah pedati dapat mengangkat balok kayu sebesar dan sepanjang itu. Seandainya cukup kuat, bagaimana dapat menjaga keseimbangannya?”

Senapati itu langsung saja menjawab, “Kita mempergunakan dua buah pedati. Kita rangkai menjadi sebuah pedati panjang beroda empat. Dengan demikian, maka keseimbangan batang kayu itu dapat terjaga.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Iapun tiba-tiba berteriak,“ Kita ambil dua buah pedati perbekalan.” Beberapa orangpun kemudian telah berlari-lari ke belakang garis pertempuran. Ketika beberapa orang sempat bertanya, maka orang-orang itu menjawab, “Kami mendapat perintah untuk membawa dua buah pedati.”

Demikianlah, selagi beberapa kelompok prajurit mempersiapkan dua buah pedati yang menggandengnya menjadi satu dengan palang-palang kayu yang diikat dengan ijuk, maka pertempuranpun berlangsung terus. Namun tidak lebih dari saling melontarkan anak panah dari atas dan dari bawah dinding kota.

Sementara itu, pasukan Pajang dan Demak disisi Timur menjadi tegang ketika mereka melihat para prajurit Jipang telah membawa tangga-tangga mendekati dinding.

Meskipun nampak mereka sangat berhati-hati, tetapi jika tangga-tangga itu tersandar dan beratus-ratus prajurit yang tidak mengenal takut memanjat, maka para prajurit diatas dinding akan menjadi semakin sibuk sementara anak panah masih akan tetap menghujani mereka.

Sementara itu, para prajurit Mataram telah selesai dengan pedati rangkapnya. Mereka terpaksa memotong salah satu paruh dari gerobag itu.

Kemudian beramai-ramai mereka telah mengangkat pokok kayu dan meletakkannya diatas gerobag itu.

“Kita dorong gerobag ini beramai -ramai,“ perintah Senapati yang memimpin tugas memecahkan pintu gerbang itu.

Namun ternyata bahwa Panembahan Senapati sendiri telah berkenan menunggui rencana memecahkan pintu gerbang itu. Dengan tulus Panembahan Senapati memuji ketangkasan berpikir Senapati itu.

Dengan sedikit tompangan dibagian depan, maka kayu yang besar dan panjang itu terangkat di bagian ujungnya. Kemudian dipersiapkan beberapa orang yang akan menentukan arah pokok kayu itu sehingga tidak terlepas dari sasaran. Tiga puluh orang prajurit, bahkan lebih, akan mendorong pedati itu membentur pintu gerbang.

Ketika Senapati itu membuka dan menyibak para prajurit yang ada didepan pedati, maka para prajurit dan Senapati dari Demak dan Pajang sempat melihatnya. Mereka memang menjadi berdebar-debar. Jika pedati itu didorong dengan kuat, maka pintu gerbang itu akan goyah meskipun sudah di tompang dengan patok-patok kayu yang kuat.

Demikianlah, maka orang-orang yang sudah siap untuk mendorong gerobag itu sudah mengambil ancang-ancang ketika Senapatinya memberikan isyarat. Sementara itu, beberapa orang prajurit yang lain telah siap dengan busur dan anak panah mereka. Para prajurit itu akan membidik setiap orang yang ada diatas dinding kota dan melontarkan anak panah kearah para prajurit Mataram yang sedang mendorong pedati.

Dengan lantang Senapati itu telah meneriakkan hitungan “Satu, dua, tiga.”

Para prajurit yang mendorong pedati itupun telah menghentakkan tenaga mereka mendorong gerobag itu. Sementara beberapa orang berlari-lari sambil menarik tali yang mengikat ujung batang kayu itu agar arahnya tepat mengenai pintu gerbang itu. Namun satu hal yang sebelumnya tidak dilakukan oleh para prajurit Mataram, sehingga tidak diperhitungkan dengan baik oleh para prajurit Demak dan Pajang yang berada diatas panggung-panggung.

Demikian pedati yang memuat pokok kayu itu didorong berlari-lari, maka beberapa orang disebelah menyebelah pedati itu telah berlari-lari pula sambil membawa tambang ijuk yang panjang dengan kait di ujungnya.

Demikianlah, sejenak kemudian, maka gerobag yang didorong oleh puluhan prajurit itu meluncur dengan derasnya mengarah ke sasaran. Beberapa orang yang berlari-lari didepan gerobag telah menuntun arah, sementara yang lain berlari-lari sambil membidik.

Sekelompok prajurit yang mempergunakan perisai telah mendampingi mereka pula sedangkan sekelompok yang lain justru mendahului, kemudian berdiri tegak dengan busur dan anak panah.

Namun selain mereka, berpuluh-puluh prajurit yang lain juga berlari-lari sambil membawa tambang dan kait besi diujungnya.

Demikianlah, pertempuran menjadi semakin tegang. Panembahan Senapati sendiri diatas punggung kudanya ikut mendampingi pedati yang membawa pokok kayu yang besar itu. Dengan tombak ditangan, Panembahan Senapati meluncur diatas hujan anak panah. Tetapi dengan tangkasnya Panembahan Senapati mampu menangkis serangan itu dengan tombaknya. Bahkan, beberapa orang menjadi semakin yakin akan kelebihan Panembahan Senapati, bahwa beberapa anak panah yang luput dan menyusup diantara putaran tombak Panembahan Senapati dan mengenai tubuhnya, sama sekali tidak menimbulkan luka apapun. Sesaat kemudian, terjadilah benturan yang menegangkan itu. Suaranya gemuruh seperti guruh yang meledak dipintu gerbang. Pokok kayu yang besar dan panjang itu telah menghantam sasaran, tepat ditengah- tengah pintu gerbang.

Benturan yang keras telah terjadi lagi. Pintu gerbang itu memang bergetar. Tetapi ternyata pintu gerbang itu belum dapat dipecahkan.

Meskipun demikian, orang-orang Mataram itu mulai berpengharapan. Ketika pimpinan diambil alih langsung oleh Panembahan Senapati, maka para prajuritpun menjadi semakin mantap.

Dengan lantang Panembahan Senapati itupun kemudian telah meneriakkan aba-aba. Para prajurit Mataram-pun telah mendorong gerobag dengan muatannya itu beberapa puluh langkah mundur. Kemudian benturan terhadap pintu gerbang itu telah diulang dan diulang.

Ternyata bahwa usaha orang-orang Mataram itu telah membuat para prajurit Demak dan Pajang menjadi cemas. Mereka mulai melihat selarak pintu yang besar itu retak.

Karena itu, maka merekapun telah memasang penompang- penompang dari batang-batang kayu untuk menahan pintu gerbang yang mulai berderak.

Namun kemudian yang mendebarkan adalah, bahwa daun pintu gerbang itu sendirilah yang mulai retak.

Para prajurit diatas panggungan dibelakang dinding telah menyerang sejadi-jadinya untuk mengurangi tekanan pasukan Mataram. Tetapi sementara itu, para prajurit Mataram yang berada diluar dindingpun telah menyerang mereka pula dengan meluncurkan anak-panah yang tidak terhitung jumlahnya. Betapapun beraninya para prajurit Demak dan Pajang, namun mereka kadang-kadang juga merasa perlu untuk bergeser kebalik dinding jika mereka melihat anak panah yang meluncur kearahnya. Sedangkan anak panah itu meluncur tidak ada habis-habisnya.

Beberapa orang memang jatuh, terluka dan bahkan ada yang langsung tidak tertolong lagi. Namun mereka tidak dapat berbuat lain daripada menyerahkan korban-korban yang jatuh bagi kemenangan akhir.

Dan itu adalah watak dari peperangan.

Demikianlah, maka pasukan Mataram telah mengulang- ulang serangan mereka atas pintu gerbang utama disisi Barat dengan batang kayu yang diletakkan diatas gerobag. Sementara pintu gerbang itu retak, maka prajurit Mataram telah mempergunakan kesempatan yang lain.

Ketika perhatian para prajurit Demak dan Pajang tertuju sepenuhnya pada pintu gerbang yang kemudian tidak mampu dipertahankan lagi itu, maka sekelompok pasukan khusus Mataram telah mengejutkan para prajurit Demak dan Pajang itu. Mereka telah melemparkan kait-kait baja, keatas dinding kota disebelah kanan pintu gerbang. Tidak terlalu dekat, tetapi tidak pula cukup jauh.

Perhatian para prajurit Demak dan Pajang memang terpecah. Retak dipintu gerbang utama menjadi semakin besar. Ketika sekali lagi Panembahan Senapati meneriakkan perintah untuk membenturkan batang kayu diatas gerobag itu, maka ikatan-ikatan uger-uger gerbang utama itu mulai berderak. Selaraknya yang besar pun hampir menjadi patah. Meskipun beberapa batang kayu balok menompang daun pintu itu, tetapi para Senapati Demak dan Pajang telah memerintahkan kelompok-kelompok bersiap menyongsong pasukan Mataram yang akan menerobos masuk seperti banjir bandang.

Pasukan yang mempergunakan busur dan anak panah telah berdiri berlapis tiga. Dipaling depan duduk ditanah dengan busur mendatar siap melepaskan anak panah.

Kemudian di lapis kedua pasukan yang berlutut pada sebelah kaki mereka dengan busur serupa. Kemudian dilapis ketiga adalah para prajurit pilihan yang berdiri dengan busur-busur besar yang direntang tegak. Anak- panah yang besar dengan bedor baja.

Prajurit-prajurit Mataram betapapun tinggi daya tahan tubuhnya, bahkan berilmu kebal sekalipun, tidak akan sanggup menahan anak panah yang berbedor baja yang dilontarkan dengan busur-busur yang besar dan kuat, ditarik oleh tangan-tangan yang bertenaga raksasa.

Sedangkan disebelah menyebelah pintu gerbang telah siap para prajurit yang akan menyergap mereka yang memasuki pintu gerbang yang pecah itu dengan melontarkan lembing- lembing yang runcing.

Para prajurit Demak dan Jipang itu sadar, bahwa yang akan memasuki gerbang adalah prajurit prajurit yang berperisai itu tentu belum dapat dipergunakan sebaik- baiknya.

Dalam pada itu, terdengar sekali lagi perintah Panembahan Senapati untuk mengambil ancang-ancang. Para prajurit Mataram pun yakin, bahwa sekali lagi batang kayu diatas gerobag itu membentur pintu gerbang, maka pintu gerbang itu tentu akan pecah. Selaraknya akan patah, bahkan mungkin uger-ugernya akan roboh bersama-sama dengan seluruh pintu gerbang itu. Para prajurit yang ada didalam dinding kotapun telah bersiap sepenuhnya. Para Senapati yang berada di kelompok dan kesatuan masing-masing menjadi sangat tegang menunggu dinding itu runtuh.

Demikian gerobag itu mulai didorong, maka dengan isyarat Panembahan Senapatipun telah memerintahkan para prajurit mempergunakan tambang-tambang ijuk yang sudah terkait pada dinding-dinding kota.

Prajurit Demak dan Pajang memang menjadi-bingung sesaat. Mereka mendengar prajurit Mataram berteriak- teriak sambil memanjat berpuluh-puluh tali yang sudah terjulur dari atas dinding karena besi yang terikat diujung tali itu sudah terkait pada dinding.

Beberapa orang prajurit Demak dan Pajang sempat memutus tali-tali itu. Beberapa orang yang sudah menggelantung berjatuhan. Namun bersamaan dengan itu, maka batang kayu yang dimuat didalam gerobag sekali lagi telah menghantam pintu gerbang kota sehingga pintu gerbang yang sudah retak serta selarak yang hampir patah itupun berderak-derak. Bersamaan dengan itu, maka pintu gerbang utama yang menghadap ke Barat telah dirobohkan.

Sorak prajurit Mataram membahana bagaikan meruntuhkan langit. Sementara itu, para prajurit Demak dan Pajang telah bersiaga sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan.

Saat yang sekejap itu ternyata dapat dimanfaatkan, “oleh beberapa orang prajurit khusus Mataram. Mereka telah berloncatan keatas dinding dan panggungan dibela- kang dinding. Dengan jumlah yang kecil itu mereka melindungi tali-tali ijuk yang masih tertinggal, sementara beberapa orang yang lain memanjat terus.

Keberhasilan para prajurit yang memanjat tali-tali ijuk itu juga mengejutkan para prajurit Demak. Mereka menyadari kelengahan mereka bahwa perhatian mereka telah terhisap oleh runtuhnya pintu gerbang utama yang menghadap ke Barat, sehingga saat yang penting itu dapat dimanfaatkan oleh para prajurit Mataram.

Dengan demikian maka pasukan Mataram telah berhasil memasuki kota Pajang lewat dua jalur. Betapapun berbahayanya, namun Mataram benar-benar telah memanfaatkan kemungkinan itu. Yang pertama-tama menembus pintu gerbang yang roboh adalah pasukan yang berperisai. Mereka adalah pasukan khusus yang terlatih untuk menghadapi keadaan yang paling gawat.

Dengan menutup diri dibelakang perisai-perisai yang kuat, maka para prajurit khusus itu, telah menghambur memasuki kota. Sementara itu, diatas dindingpun prajurit Mataram telah berloncatan dan bertempur dengan garangnya.

Para Senapati Demak dan Pajang memang menjadi berdebar-debar. Tetapi sebagian dari mereka telah membayangkan, bahwa keadaan seperti itulah yang akan terjadi.

Kekisruhan yang terjadi dibelakang pintu gerbang yang roboh dan dibelakang bagian dinding yang berhasil ditembus oleh para prajurit Mataram yang memanjat tali, telah mengacaukan pertahanan prajurit Demak dan Pajang.

Beberapa orang pemimpin Demak telah menilai langkah yang diambil oleh para prajurit Demak dan Pajang ternyata keliru. Mereka seharusnya tidak bertahan di dinding kota. Tetapi mereka sebaiknya menyongsong pasukan Mataram keluar dinding kota.

“Kita sudah berhasil mengusir mereka sebelumnya,“ berkata seorang pemimpin pemerintahan Demak di Pajang.

“Tidak,“ berkata seorang Panglima, “kita sudah meragukan keseimbangan pasukan. Kita sudah memperhitungkan, bahwa Mataram dan Jipang, meskipun tidak mendatangkan pasukan baru, namun akan datang dengan sepenuh kekuatan. Jika kita tidak bertahan dibelakang dinding kota, maka akibatnya tentu akan lebih parah. Mungkin pasukan kita akan hancur sebelum kita sempat menarik diri kebelakang dinding.”

“Tetapi Kangjeng Adipati yakin akan menang,“ berkata pemimpin pemerintahan Demak di Pajang itu.

“Tentu ada kerag u-raguan pula dihati Kangjeng Adipati betapapun yang diucapkan lain,“ jawab seorang panglima, “Ternyata Kangjeng Adipati tidak berusaha merubah tatanan pertahanan kita dalam tiga lapis itu. Justru lapisan pertama sudah berada didalam dinding kota.”

“Kalia nlah yang membuatnya ragu-ragu,“ berkata orang itu.

“Kami adalah prajurit. Kami mempergunakan perhitungan seorang prajurit,“ sahut panglima yang mulai tersinggung itu.

Sementara itu, pertempuran masih berlangsung terus.

Pasukan Mataram menembus pertahanan Demak dan Pajang seperti arus banjir bandang yang tidak tertahankan, memecahkan bendungan yang memang sudah rapuh. Panembahan Senapati sendiri memimpin pasukan Mataram memasuki kota dari arah Barat. Sementara itu, dari arah Timur pasukan Jipangpun telah berhasil menghentakkan pertahanan Demak dan Pajang. Apalagi ketika pasukan Mataram yang bagaikan mengalir memenuhi kota, membantu menyerang pasukan Demak dan Pajang justru dari dalam kota.

Kekuatan Mataram dan Jipang memang tidak terbendung lagi. Pertahanan kedua sama sekali tidak banyak berarti. Ketika Demak dan, Pajang berusaha menarik pasukannya memasuki lingkungan pertahanan kedua, maka justru pasukan Mataram dan Jipang telah mendesaknya pula sehingga pasukan Demak dan Jipang harus memasuki dinding halaman istana sebagai garis pertahanan ketiga.

Tetapi garis pertahanan inipun tidak bertahan terlalu lama. Bahkan dalam keadaan yang gawat itu, ada beberapa orang prajurit Pajang yang justru membantu Panembahan Senapati, sehingga perang yang terjadi menjadi semakin kabur. Terutama bagi para prajurit Demak dan Pajang sendiri.

Sementara itu, ketika pasukan Mataram berhasil menghentak masuk ke halaman istana, maka Panembahan Senapati tiba-tiba telah meloncat turun dari kudanya.

Ki Juru Martani dengan heran bertanya, “Marilah ngger. Kita harus segera memasuki puri istana dan dengan cepat menguasainya agar tidak terjadi kekacauan yang lebih parah lagi.”

“Marilah paman,“ jawab Panembahan Senapati. “Tetapi kenapa angger harus turun dari kuda dan menuntunnya memasuki medan?“ bertanya Ki Juru Martani.

Panembahan Senapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku masih menghormati tahta yang pernah diduduki oleh ayahanda Kangjeng Sultan Hadiwijaya.”

Ki Juru Martani menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk kecil Ki Juru berkata, “Kau betnar. Kau masih tetap menghormati ayah angkatmu karena kau masih tetap mengenang dan teringat akan kebaikannya kepadamu. Jika demikian, serahkan kudamu kepada orang lain. Kita harus cepat memasuki istana agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan atas para penghuni istana.”

Panembahan Senapati mengangguk. Sekilas dipandanginya istana Pajang yang megah itu. Didalamnya tinggal Adipati Demak yang diserahi pimpinan tertinggi atas Pajang mewarisi kekuasaan Sultan Hadiwijaya.

Namun Panembahan Senapati tidak dapat merenung, terlalu lama. Ia sadar, bahwa keluarga yang tinggal diis- tana itu terancam bahaya. Jika adik-adik Panembahan Senapati lebih dahulu memasuki istana dan bertemu dengan Adipati Demak yang berkuasa di Pajang, maka akan dapat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, karena adik-adik dari Panembahan Senapati merasa tidak mempunyai ikatan langsung serta hubungan keluarga dengan Adipati Demak yang ada di Pajang itu.

Karena itu, maka Panembahan Senapatipun kemudian bersama dengan Ki Juru Martani dengan tergesa-gesa mendahului para pengawalnya memasuki istana menyusup diantara pertempuran yang masih terjadi antara prajurit Mataram dengan prajurit Demak dan Pajang yang menarik diri pada garis pertahanan ke tiga. Namun keadaan pasukan Demak dan Pajang telah terpecah belah. Sebagian dari mereka telah meletakkan senjata dibawah ujung tombak dan pedang dari para prajurit Mataram yang diawasi langsung oleh para panglimanya.

Sementara itu, Panembahan Senapati yang cemas atas nasib Adipati Demak di Pajang, telah menembus paseban dan pertahanan yang semakin kacau dari para pengawal istana bersama beberapa orang Senapati dan prajurit terpilihnya.

Demikian Panembahan Senapati menembus orang terakhir, kemudian memasuki ruang dalam istana, maka yang pertama-tama dijumpainya adalah isteri Kangjeng Adipati yang justru adalah adik angkatnya, karena isteri Kangjeng Adipati itu adalah putera Puteri Kangjeng Sultan Hadiwijaya di Pajang yang telah wafat.

“Kakangmas Panembahan Senapat i,“ tangis Gusti Putri isteri Kangjeng Adipati, “hamba mohon ampun kakangmas.”

Panembahan Senapati tertegun. Ketika ia melihat adik angkatnya itu menangis, maka hatinyapun menjadi luluh. Diangkatnya lengan adiknya itu sambil berkata, “Bangkitlah Diajeng. Berdirilah.”

Gusti Putri itupun kemudian bangkit berdiri. Air matanya mengalir dengan deras. Sementara itu, pertempuranpun telah mereda. Para prajurit Demak dan Pajang yang bertahan disekitar istana menjadi tidak berdaya lagi.

Ternyata para prajurit yang telah bertempur dengan sengitnya itu baru menyadari kemudian, bahwa matahari justru telah turun disisi Barat langit yang jernih. Awan yang menjadi kemerah-merahan seakan-akan mencerminkan darah yang telah membasah diatas bumi Pajang.

Sementara itu tangis Gusti Putri masih saja meledak- ledak.

Panembahan Senapati telah membimbing adiknya di persilahkannya untuk duduk sambil bertanya, “Dimana Adimas Adipati?”

Putri itu mencoba menahan tangisnya. Namun dengan demikian ia justru terisak-isak. Nafasnya menjadi sesak dan dadanya terasa sakit.

“Sudahlah Diajeng,“ desis Panembahan Senapati, “aku ingin bertemu dengan adimas Adipati.”

“Kakangmas Adipati sedang bersembunyi, kakangmas,“ desis adik angkatnya itu.

“Kenapa ia bersembunyi? Bukankah ia seorang Adipati dan sekaligus Panglima pasukan Demak dan Pajang?

Bukankah seharusnya ia berada di medan?“ bertanya Panembahan Senapati.

Adik angkatnya itu termangu-mangu sejenak. Ketika isaknya mereda, maka iapun berkata, “Kakangmas Adipati memang bersembunyi. Bukannya kakangmas Adipati tidak bertanggung jawab. Kakangmas Adipati juga turun kemedan. Tetapi kakangmas Adipati harus mengakui kenyataan yang dihadapinya. Karena itu maka kakangmas Adipati telah masuk kembali ke istana dan bersembunyi.“

“Aku ingin berbicara deng an adimas Adipati,“ berkata Panembahan Senapati. Adik angkatnya itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berlutut kembali sambil berkata, “Ampun kakangmas. Aku mohon kakangmas sudi mengampuni kakangmas Adipati. Sebenarnya kesalahan utama tidak terletak pada kakangmas Adipati. Kakangmas Adipati sama sekali tidak berniat untuk menguasai tahta Pajang. Jika ia berada di Pajang, hanyalah karena kakangmas Adipati terpaksa menerima kedudukan yang dibebankan di pundaknya.”

Panembahan Senapati mengangguk-angguk. Sementara pertempuran disekitar istana telah berhenti. Para prajurit Demak dan Pajang benar-benar telah menyerah.

Sementara itu seorang utusan memberitahukan bahwa Pange ran Benawa telah berada didepan istana.”

“Silahkan adimas Pangeran Benawa masu k. Aku sudah ada di sini sejak tadi,“ berkata Panembahan Senapati.

Sejenak kemudian, maka Pangeran Benawapun telah hadir pula diistana. Sementara isteri Kangjeng Adipati itupun telah bangkit berdiri pula. Dengan nada rendah dan tersendat ia berkata, “Adim as Pangeran Benawa. Kami mohon maaf bahwa kami telah membuat adimas Pangeran Benawa dan kakangmas Panembahan Senapati marah.”

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Hampir di luar sadarnya ia bertanya, “Dimana kakangmas Adipati.”

“Aku juga sedang mem pertanyakannya,“ sahut Panembahan Senapati.

Gusti Putri, isteri Kangjeng Adipati itupun kemudian berkata pula diantara isaknya yang semakin mereda, “Kakangmas Panembahan Senapati serta adimas Pangeran Benawa. Biarlah aku memanggil kakangmas Adipati. Tetapi aku mohon kakangmas Panembahan Senapati dan Adimas Pangeran Benawa sudi memaafkannya. Ia sudah menyatakan untuk menyerah.”

Panembahan Senapati menarik nafas dalam-dalam.

Meskipun terasa sesuatu bergejolak didalam hatinya, tetapi ia tidak ingin menyinggung perasaan adik angkatnya yang memang sudah dicengkam oleh ketakutan itu.

Karena itu, maka Panembahan Senapati itupun berkata, “Kami tidak akan menyakitinya. Ajaklah ia kemari.”

Adik angkat Panembahan Senapati yang juga kakak perempuan Pangeran Benawa itu masih juga ragu-ragu. Tetapi iapun kemudian telah bergeser dan kemudian masuk keruang dalam, istana untuk memanggil Adipati Demak.

Demikian isteri Kangjeng Adipati itu menghilang, maka Panembahan Senapati berkata, “Aku lebih menghormatinya jika ia berada di medan.”

“Ya kakangmas,“ sahut Pangeran Benawa, “seharusnya kakangmas Adipati tidak bersembunyi.”

“Anakmas Adipati Demak juga seorang prajurit yang baik,“ sahut Ki Juru Martani, “tetapi dihadapan Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa, Kangjeng Adipati tentu mempunyai perhitungan tersendiri.”

Panembahan Senapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Mudah -mudahan ia tidak kehilangan sikap keprajuritannya itu.”

Pangeran Benawa tidak sempat menjawab. Sejenak kemudian Adipati Demak itupun telah datang. Berjalan sambil menundukkan kepalanya dibelakang Gusti Putri. Agaknya Adipati Demak itu tidak dapat berbuat lain daripada berperisai Gusti Putri.

Sejenak kemudian, maka Kangjeng Adipati itu telah duduk bersama-sama dengan Panembahan Senapati, Pangeran Benawa, Ki Juru Martani dan Gusti Putri.

Sementara itu, di pintu nampak prajurit Mataram yang berjaga-jaga.

“Pertempuran telah selesai Adimas Adipati,“ berkata Panembahan Senapati.

Adipati Demak itu masih saja menunduk. Sementara itu Panembahan Senapatipun berkata pula, “Aku ingin mendengar pernyataanmu Adimas?”

Wajah Adipati Demak menjadi panas. Sikap Panembahan Senapati itu membuat hatinya bergejolak. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Adipati Demak di Pajang itu sudah mendapat laporan bahwa prajurit Demak dan Pajang sudah terkoyak disegala sudut medan pertempuran. Bahkan di halaman istana sebagai landasan pertahanan lapis ketiga, sudah tidak mampu bertahan lagi. Disegala bagian halaman istana telah dikuasai oleh para prajurit Mataram dan Jipang. Bahkan para prajurit Demak dan Pajang sudah menyerah hampir seluruhnya.

Karena Adipati Demak di Pajang itu tidak segera men jawab, maka Panembahan Senapati itupun mengulangi kata-katanya, “Adimas Adipati. Aku ingin mendengar pernyataanmu setelah perang ini berakhir.”

Kangjeng Adipati memang tidak dapat berkata lain kecuali menyatakan, “Aku sudah tidak berkekuatan lagi kakangmas.” “Apakah kau menyerah?“ desak Panembahan Senapati.

Adipati Demak itu memandang isterinya sekilas.

Kemudian memandang Pangeran Benawa yang tegang.

Nampaknya Adipati Demak memang ragu-ragu untuk menyatakan kekalahannya. Meskipun ia tidak akan dapat ingkar dari kenyataan itu.

Namun isterinyalah yang tidak tahan lagi sehingga menjawab, “Sudah tentu kakangmas Adipati menyerah.”

Adipati Demak di Pajang itu berpaling sekilas kepada isterinya. Ada seleret ketidak relaan membayang di wajahnya.

Panembahan Senapati tanggap akan hal itu. Namun sebelum ia mengatakan sesuatu, Pangeran Benawa, adik Gusti Putri itu bertanya, “Atau kakangmas Adip ati mempunyai persyaratan tertentu? Misalnya, karena kakangmas Adipati seorang prajurit, maka kekalahannya baru diakui setelah ia benar-benar kalah sebagaimana kekalahan seorang prajurit?”

“Apa maksudmu adimas?“ bertanya Gusti Putri.

“Mungkin kakangmas A dipati ingin menentukan siapakah sebenarnya yang paling kuat diantara kita. Seorang pemimpin memang harus memiliki kelebihan. Kakangmas Adipati, aku atau kakangmas Panembahan Senapati.

Karena itu, jika hal itu menjadi persyaratan kakangmas Adipati untuk menentukan sikapnya, maka aku bersedia. Kakangmas Panembahan Senapatipun tentu bersedia pula,“ berkata Pangeran Benawa selanjutnya. “Maksudmu perang tanding ?“ bertanya isteri Kangjeng Adipati itu.

“Ya,“ jawab Pangeran Benawa, “aku tidak berkeberatan.”

“T idak, tentu tidak,“ desis Gusti Putri itu. “Yang menentukan bukan kakangmbok. Tetapi

kakangmas Adipati,“ jawab Pangeran Benawa.

Adipati Demak di Pajang itu tidak dapat terus-menerus berdiam diri. Agaknya Pangeran Benawa memang menjadi marah melihat sikap Adipati Demak. Apalagi Pangeran Benawa tahu, bahwa kakak iparnya itu bukan seorang Senapati yang tangguh di peperangan.

Karena itu, maka Adipati Demak itupun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Adimas Pangeran Benawa dan kakangmas Panembahan Senapati. Aku tidak dapat berkata apa-apa selain mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan yang telah aku lakukan.”

“Hanya itu?“ bertanya Pangeran Benawa, “seperti yang ditanyakan oleh kakangmas Panembahan Senapati bagaimana sikap serta pernyataan kakangmas Adipati.

Bukan sekedar pengakuan bahwa kakangmas sudah tidak mempunyai kekuatan lagi.”

“Baiklah,“ berkata Kangjeng Adipati itu, “aku menyerah.” Pangeran Benawa mengangguk-angguk kecil. Sementara

Panembahan Senapati berkata, “Pernyataan itula h yang aku harapkan. Dengan demikian, adimas Adipati akan selalu teringat-apa yang sudah adimas ucapkan sebagai seorang Adipati. Tentu bukan sekedar igauan di waktu tidur nyenyak. Apa yang adimas ucapkan tentu sudah adimas pikirkan masak-masak dan kemudian menjadi satu keyakinan, bahwa jalan itu adalah jalan terbaik bagi Pajang.”

“Ya kakangmas,“ jawab Adipati Demak di Pajang, “sebenarnya sejak semula aku tidak berniat merebut kedudukan yang memang pantas bagi adimas Pangeran Benawa. Tetapi keputusan sidang agung itu telah mengikat aku dalam kedudukanku itu. Apalagi aku menganggap bahwa kedudukanku itu adalah kedudukan yang sah.”

“Kedudukan kakangmas sah,“ sahut Pangeran Benawa dengan serta merta, “sampai sekarangpun kami tidak pernah mempersoalkan kedudukan itu. Yang kami persoalkan adalah cara kakangmas memerintah Pajang. Sikap kakangmas dan orang-orang yang ada disekitar kakangmas, yang memanfaatkan keadaan bagi keuntungan diri sendiri. Aku tidak tahu apakah kakangmas memang tidak melihat atau berpura-pura tidak melihat, apa yang dilakukan oleh para pemimpin disini. Baik para pemimpin dari Demak yang telah mendapat kenaikan pangkat dan jabatan bagi mereka yang bertugas di Pajang, maupun para pemimpin dari Pajang sendiri. Mereka telah

menginjak-injak paugeran yang seharusnya ditegakkan di Pajang. Mereka telah memeras bukan saja lewat pungutan pajak yang tidak masuk akal. Tetapi juga beberapa tanah perdikan telah mereka peras dengan alasan-alasan yang dibuat-buat serta ancaman-ancaman yang licik.”

Kangjeng Adipati mengangguk-angguk kecil sambil menjawab perlahan, “Aku juga telah menerima laporan. Aku baru mulai melakukan pengusutan.”

“Kami belum melihat tanda -tanda itu adimas,“ sahut Panembahan Senapati, “karena itu, kami datang untuk mempercepat langkah-langkah penertiban itu sebelum Pajang benar-benar menjadi lumat.”

Kangjeng Adipati tidak menjawab. Ia, tentu tidak akan dapat menyembunyikan kelemahan-kelemahan dalam pemerintahannya karena kelemahan-kelemahan itu sudah menjadi demikian besarnya sehingga pemerasan dan penindasan telah terjadi dimana-mana.

Karena itu, maka Kangjeng Adipati itu merasa lebih baik diam saja.

“Baiklah,“ berkata Panembahan Senapati kemudian, “besok kita akan membuat satu persetujuan. Sekarang, aku harus kembali kepada prajurit-prajuritku. Menentukan langkah-langkah berikutnya bukan saja atas Pajang, tetapi juga atas para prajurit Demak dan Pajang yang menyerah. Kita harus mengurus korban yang jatuh dari kedua belah pihak. Kita juga harus mengurus tempat-tempat yang dapat dipergunakan untuk beristirahat bagi para prajurit Mataram dan Jipang. Kita masih harus berbuat banyak.”

Kangjeng Adipati mengangguk kecil. Katanya, “Aku akan melakukan apa yang kakangmas perintahkan.”

“Baiklah. Aku minta adimas sama sekali tidak meninggalkan istana kemanapun perginya. Jika itu adimas lakukan, maka akan menjadi sangat berbahaya, karena tidak semua prajurit Mataram dan Jipang mengetahui siapakah Adimas sebenarnya. Karena itu, kemungkinan buruk akan dapat terjadi atas Adimas,“ berkata Panembahan Senapati pula.

Kangjeng Adipati Demak di Pajang itu mengerti maksud Panembahan Senapati pula. Kangjeng Adipati Demak di Pajang itu mengerti maksud Panembahan Senapati. Maksud Panembahan Senapati, ia telah menjadi seorang tawanan. Karena itu, Kangjeng Adipatipun sadar, bahwa istana itu tentu akan dikelilingi oleh para prajurit Mataram dan Jipang. Sementara itu, Adipati Demak itupun tidak lagi dapat berhubungan dengan para Panglimanya sehingga ia telah menjadi seorang diri.

Meskipun Gusti Putri ada disampingnya, namun tidak banyak yang dapat dilakukannya bagi pemerintahan di Pajang disaat keadaan menjadi semakin gawat.

Demikianlah, maka Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa telah minta diri. Mereka masih mempunyai tugas yang cukup banyak untuk menertibkan para prajurit mereka masing-masing.

Sementara itu, Ki Juru telah mendapat perintah untuk menempatkan seorang Panglima di istana Adipati Pajang.

“Biarlah Panglima itu menemani Adimas Adipati,“ berkata Panembahan Senapati.

“Bagaimana jika angger Pangeran Si ngasari?“ bertanya Ki Juru.

“Jangan,“ jawab Panembahan Senapati, “Adimas Pangeran Singasari bukan orang yang dapat bersabar. Aku takut bahwa ia akan melakukan tindakan yang keras terhadap adimas Adipati.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Panembahan. Hamba akan mendapatkannya nanti. Mungkin Pangeran Mangkubumi, tetapi mungkin orang lain lagi yang pantas.” Demikianlah, maka Panembahan Senapati dan Pangeran Benawapun telah kembali ke induk pasukan mereka masing-masing. Para penghubung telah hilir mudik untuk dengan cepat mendapatkan hubungan antara kesatuan baik dari Mataram maupun dari Jipang.

Sementara itu langitpun telah menjadi semakin buram Dimana-mana lampu mulai dinyalakan. Namun rumah- rumah penduduk kota Pajang masih saja menutup pintu rumah mereka. Jika mereka menyalakan lampu, maka terangnya terbatas sekali diruang yang paling dalam.

Para panglimapun segera memerintahkan untuk membersihkan kota. Bukan saja prajurit Mataram dan Jipang yang mengelilingi setiap lorong untuk menemukan prajurit-prajuritnya yang terluka dan gugur dipeperangan, tetapi baik Mataram maupun Jipang telah membawa pula prajurit Demak dan Pajang yang tertawan untuk merawat kawan-kawan mereka yang terluka dan terbunuh di pertempuran.

Beberapa buah rumah yang cukup besar telah dipinjam oleh para prajurit untuk tempat peristirahatan mereka.

Banjar-banjar padukuhan, banjar-banjar Kademangan dan tempat-tempat lain yang memungkinkan. Sementara itu barak-barak para prajurit Demak dan Pajang justru telah dipergunakan untuk menawan prajurit-prajurit Demak dan Pajang itu sendiri.

Sejauh mungkin dapat dilakukan, maka mereka yang terluka telah dikumpulkan pula ditempat-tempat yang telah ditentukan. Sedangkan yang telah terbunuh dipeperangan telah diusahakan untuk dapat dikuburkan dikeesokan harinya.

Dalam pada itu para pemimpin kelompok telah sibuk menghitung anak buah mereka. Sementara yang kehilangan telah berusaha untuk mencari keterangan tentang orang-orang yang terbunuh dan yang terluka parah.

Suasana kota Pajang tidak ubahnya dengan suasana kematian itu sendiri. Hanya prajurit yang meronda sajalah yang hilir mudik disepanjang jalan-jalan kota dan lorong- lorong yang silang menyilang.

Sementara itu, di barak pasukan Pajang yang dipimpin oleh Ki Tmenggung Surajaya masih berada dalam kesiagaan penuh. Ki Tumenggung sama sekali tidak dapat membayangkan, apa yang dapat terjadi atas barak dan pasukannya. Tetapi Ki Tumenggung merasa bahwa sikap para prajurit yang ada di barak itu sudah menyatu. Ki Tumenggung tidak merasa bahwa ia telah menipu, membujuk atau mengelabui para prajuritnya atau menyalah gunakan kekuasaannya untuk memaksa mereka agar mengikuti jejak. Ia sudah memberikan keleluasaan kepada setiap orang yang tidak sependapat, agar meninggalkan barak itu sebelum pintu gerbang barak itu ditutup rapat- rapat.

Malam itu, Ki Tumenggung telah memanggil para pemimpin kesatuan dalam pasukannya. Beberapa orang Panji dan Lurah Penatus. Dengan tegang mereka membicarakan apa yang telah terjadi di Pajang, diluar dinding barak mereka.

“M ataram dan Jipang telah menguasai keadaan sepenuhnya,“ berkata Ki Tumenggung.

“Ya. Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa telah menemui Kangjeng Adipati di istana,“ sahut petugas sandi yang baru saja kembali dari tugasnya mengamati keadaan. “Kita belum tahu apa yang mereka bicarakan. Tetapi kita akan tetap bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Buruk atau baik,“ berkata Ki Tumenggung Surajaya. Lalu katanya pula, “Karena itu, maka setiap orang harus bersiap lahiriah dan batiniah.”

Para pemimpin di barak itu mengangguk-angguk.

Namun nampak pada wajah-wajah mereka, bahwa jantung mereka telah dicangkok oleh ketegangan. Semakin lama ketegangan itu rasa-rasanya semakin kuat menekan jantung mereka sehingga rasa-rasanya jika keadaan tidak segera menjadi jelas, jantung mereka akan dapat berhenti dengan sendirinya.

Ki Tumenggung Surajaya menyadari akan hal itu. Tetapi ia masih belum merasa perlu mengambil langkah-langkah khusus, karena keadaan yang gawat itu belum ke tataran tertinggi.

Ketika kemudian Ki Tumenggung mempersilahkan para pemimpin kesatuan itu kembali ke prajurit mereka masing- masing, maka beberapa orang diantara mereka masih berkelompok untuk mencoba mengurusi peristiwa yang terjadi di Pajang.

Kesadha yang merasa letih, bukan saja tubuhnya tetapi juga jiwanya, telah berbaring di serambi belakang barak itu. Yang membuatnya gelisah, bukan saja pasukan Pajang. Demak. Mataram atau Jipang. Tetapi juga tentang dirinya sendiri.

Seandainya ia tidak lagi menjadi seorang prajurit, lalu apa yang akan dilakukannya kemudian? Berkeliaran seperti Ki Rangga Gupita, seorang yang selalu mengaku sebagai ayahnya dimana-mana, namun yang sebenarnya sekedar untuk mendapat kesempatan memperalatnya menguasai Tanah Perdikan Sembojan.

Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Satu-satu muncul diangan-angannya, kenangan masa lampaunya. Bayangan hitam yang selalu menyelubunginya serta masa depannya yang tiba-tiba saja menjadi kabur kembali.

Ketika ia diterima menjadi seorang prajurit, maka ia merasa bahwa ia telah mendapatkan tempat yang mapan untuk hinggap. Seandainya ia seekor burung, maka ia tidak lagi berterbangan kian kemari tanpa tujuan. Sebelumnya justru disaat nya mulai mengembang serta keinginannya melihat dunia lebih luas lagi, terasa bulu-bulu sayapnya telah diikat oleh orang yang tamak meskipun orang itu adalah ibunya sendiri bersama laki-laki yang dianggapnya sebagai suaminya untuk menentukan arah terbangnya.

Tetapi Kasadha merasa beruntung, bahwa ia telah mampu memutuskan tali-tali yang mengikat nya itu dan bahkan mampu menempuh perjalanan hidupnya sendiri, melepaskan diri dari bayangan hitam orang tuanya.

Namun, disaat ia merasa mendapat tempat untuk hinggap itu, Pajang telah diguncang. Goncangan pertama, disaat Mataram mengalahkan Pajang dan kemudian Kangjeng Sultan Hadiwijaya wafat, ia masih tetap bertahan di tempatnya. Tetapi goncangan kedua yang tidak berselang lama, telah membuatnya gelisah.

Tetali betapapun ia memikirkan keadaannya sampai terasa keningnya berdenyut, ia menyadari, bahwa ia tidak akan dapat mengambil kesimpulan apa-apa. Karena itu, maka ia justru berusaha melepaskan diri dari kegelisahan itu. Tiba-tiba Kasadha itu telah bangkit. Iapun kemudian menempatkan diri diantara prajuritnya yang bertugas di bagian belakang barak itu.

“Ki Lurah tidak beri stirahat ?“ bertanya salah seorang pemimpin kelompoknya.

Ki Lurah Kasadha yang masih terhitung muda itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata, “Aku masih ingin melihat suasana.”

“Sepi,“ berkata pemimpin kelompok itu, “jika kita naik ke panggungan dibelakang dinding dan melihat keluar, kita hanya melihat kegelapan. Seandainya kita harus meloncat turun, rasa-rasanya kita tidak tahu, apakah yang ada dibawah kaki kita. Apakah amben yang bergalar lembut, atau sekedar potongan-potongan kayu yang silang melintang, atau bahkan potongan bambu yang runcing yang ditanam tegak menghadap kebadan kita.”

Kasadha mengangguk-angguk. Tetapi ia berkata, “Aku ingin melihat kesepian itu.”

Pemimpin kelompok yang sudah lebih tua dari Kasadha itu melihat kegelisahan dihati Lurah yang masih muda itu sejak beberapa lama. Sejak ia mendapat perintah untuk memasuki Tanah Perdikan Gemantar. Kemudian persoalan Tanah Perdikan Sembojan serta yang nampak membuatnya semakin parah adalah kehadiran orang yang mengaku ayahnya itu.

Ketika kemudian Kasadha naik keatas punggung dibelakang dinding baraknya, pemimpin kelompok itu mengikutinya. Dua orang prajurit telah berada diatas untuk mengamati keadaan. Sebenarnyalah seperti yang dikatakan oleh pemimpin kelompok itu, bahwa keadaan disekitar barak itu memang sepi sekali. Bahkan rumah-rumah yang nampak di padukuhan terdekat, seakan-akan tidak lagi mempergunakan lampu. Jika ada satu dua nyala obor, maka hal itu terbatas sekali di pintu-pintu gerbang padukuhan atau di banjar-banjar yang menjadi bagian dari tempat-tempat yang dipergunakan oleh prajurit Mataram dan Jipang.

Beberapa saat lamanya Kasadha merenungi kesepian disekitarnya. Yang nampak adalah dunia yang sejalan dengan dunianya sendiri.

“Ki Lurah,“ tiba -tiba pemimpin kelompok yang mengikutinya itu berkata, “sebaiknya Ki Lurah beristirahat. Ada banyak hal yang menguntungkan jika Ki Lurah sempat tidur barang sejenak.”

“Aku tidak dapat tidur,“ jawab Kasadha.

“Jika Ki Lurah berhasil melepaskan segala persoalan didalam diri Ki Lurah, maka Ki Lurah akan tidur barang sejenak. Ki Lurah sebaiknya menyadari, bahwa segala macam kerisauan didalam diri itu tidak akan dapat diselesaikan sendiri malam ini. Karena itu, maka sebaiknya hal itu dapat di letakkan barang sebentar untuk memberikan kesempatan wadag Ki Lurah beristirahat.

Bahkan juga hati Ki Lurah,“ berkata pemimpin kelompoknya itu.

Kasadha termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Baiklah. Aku akan mencoba sekali lagi untuk beristirahat. Tetapi tidak diserambi. Aku justru merasa mengantuk disini.” “Ki Lurah akan tidur disini?“ bertanya pemimpin kelompok itu.

“Ya. Sebentar lagi bulan tua itu akan terbit. Kemarin bulan tua itu agaknya menjadi isyarat kedua pasukan Mataram dan Jipang mulai bergerak,“ berkata Ki Lurah Kasadha, “sekarang aku akan mencoba tidur disini, apakah aku sempat melihat bulan tua itu terbit atau tidak.”

“Mudah -mudahan tidak Ki Lurah. Jika Ki Lurah sempat melihat bulan tua itu terbit, maka Ki Lurah tidak akan tidur sama sekali, karena bulan akan terbit lebih pagi dari malam sebelumnya,“ jawab pemimpin kelompok itu Kasadha menarik nafas dalam-dalam.

Namun sejenak kemudian iapun telah duduk disudut panggungan itu sambil menyandarkan kepalanya. Angin malam yang sejuk berhembus mengusap wajahnya yang gelisah.

Namun rasa-rasanya Kasadha menjadi lebih tenang berada diantara kedua prajuritnya yang sedang bertugas. Namun iapun kemudian berkata kepada pemimpin kelompok itu, “Beristirahatlah. Bukan hanya aku yang perlu beristirahat.”

“Aku sudah tidur sejak lewa t senja. Aku belum lama terbangun,“ jawab pemimpin kelompok itu.

Kasadha tidak bertanya lagi. Ia memang mencoba untuk menyingkirkan kegelisahannya dari angan-angannya.

Pemimpin kelompok itu tidak mengganggunya lagi.

Iapun kemudian duduk saja disudut yang lain. Sementara kedua orang prajurit yang bertugas itu menjadi gelisah pula. Bukan karena persoalan-persoalan yang menyangkut Pajang dan Mataram. Tetapi keduanya memang merasa terganggu oleh kehadiran Kasadha dan pemimpin kelompok itu. Meskipun demikian kedua orang prajurit itu tidak dapat mengusir mereka.

Sebenarnyalah ditempat itu, Kasadha justru dapat memejamkan matanya sambil duduk bersandar sudut panggungan. Demikian juga pemimpin kelompok yang mengaku baru saja terbangun itu. Ternyata iapun telah tertidur pula.

Malam itu, seluruh kota memang terasa hening. Tidak ada peristiwa yang menghentakkan para prajurit dan para penghuni kota. Lewat tengah malam, para prajurit yang membersihkan bekas arena pertempuran telah beristirahat dan akan dilanjutkannya dikeesokan harinya. Namun malam itu telah terkumpul sebagian besar para prajurit yang terluka dan terbunuh.

Ketika fajar mulai membayang, pemimpin kelompok yang tertidur dipanggungan itu telah terbangun. Dua orang prajurit yang bertugas telah berganti orang. Namun Kasadha masih juga tertidur ditempatnya. Agaknya ia justru dapat beristirahat cukup baik ditempat itu daripada ditempat yang telah disediakan baginya.

Tetapi ketika pemimpin kelompok itu bangkit, maka Kasadhapun telah membuka matanya pula. Sambil menggeliat ia bertanya, “Apakah bulan sudah terbit?”

“Ternyata bulan tua itu baru saja mulai memanjat langit,“ jawab pemimpin kelompok itu.

“Kau lihat saat bulan itu terbit?“ bertanya Kasadha itu pula. Pemimpin kelompok itu termangu-mangu. Ia tidak mengerti, kenapa Kasadha yang keras dan garang itu tiba- tiba hatinya menjadi lunak dan bahkan seolah-olah sedang merajuk. Apakah kegelisahannya itu sudah demikian memuncak sehingga ia tidak lagi mampu mengatasinya?

Namun pemimpin kelompok itu tidak akan segera mendapat jawabannya. Justru ialah yang harus menjawab pertanyaan Kasadha.

“Ternyata aku juga tertidur Ki Lurah, sehingga aku tidak dapat melihat bulan itu terbit.”

Ki Lurah Kasadha menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian berkata, “Aku akan ke barak.”

Ketika matahari terbit, Ki Lurah Kasadha telah selesai berbenah diri, Demikian juga para prajurit yang lain.

Sejenak kemudian, maka para pemimpin kesatuan di barak itu telah dipanggil oleh Ki Tumenggung Surajaya.

“Ada sesuatu yang penting,“ berk ata Ki Tumenggung.

Para pemimpin yang ada dibarak itupun menjadi berdebar-debar. Semalam Ki Tumenggung belum mengatakan hal yang dianggapnya penting itu.

“Aku telah menerima utusan langsung yang dikirim oleh Ki Juru Martani,“ berkata Ki Tumenggung.

“Unt uk apa?” bertanya salah seorang perwira.

Ki Tumenggung itupun termangu-mangu sejenak.

Dengan nada dalam iapun berkata, “Ki Juru Martani akan datang ke barak ini siang nanti, menjelang tengah hari.” Berita itu membuat setiap orang menjadi berdebar- debar. Mereka tidak tahu, perintah atau petunjuk atau ancaman apakah yang akan dibawanya. Namun sudah tentu bahwa mereka tidak akan dapat menolak kehadiran Ki Juru Martani itu sendiri.

Sementara itu, Ki Tumenggung Surajayapun berkata lebih lanjut, “Kita semuanya akan menemuinya. Aku ingin kalian semuanya mendengar langsung apa yang akan dikatakan oleh Ki Juru Martani itu.”

Para pemimpin dari padepokan itupun mengangguk- angguk. Mereka semuanya memang ingin mendengar pembicaraan Ki Tumenggung dengan Ki Juru Martani. Mungkin ada angin baru yang lebih segar dari udara berdebu yang menyesakkan sebelumnya.

Selanjutnya Ki Tumenggung berkata, “Bersiap -siaplah apapun yang akan dikatakan oleh Ki Patih mengenai barak kita ini. Hitam, putih atau kuning, kita tidak akan dapat ingkar akan akibatnya.”

Para perwira yang ada di barak itu mengangguk-angguk.

Mereka memang menyadari bahwa sesuatu yang paling buruk akan dapat terjadi. Mungkin orang-orang Mataram menganggap seisi barak itu sudah berkhianat, sehingga memang harus dihukum. Atau kesalahan lain, bahwa Ki Tumenggung Surajaya tidak tegas-tegas membantu Mataram atau Jipang.

Namun selain kehadiran Ki Juru Martani, maka Ki Tumenggung juga berkata, “Kemudian persoalan lain yang ingin aku katakan kepada kalian ialah bahwa kita tidak lagi mempunyai persediaan beras. Hari ini kita masih dapat makan meskipun tidak lagi sebanyak sebelumnya. Tetapi nasi yang kita makan sore nanti adalah nasi yang terakhir dapat disediakan buat kita.”

Para perwira itu termangu-mangu sejenak. Ternyata kekurangan makanan juga akan dapat menjadi ancaman bagi seisi barak itu. Jika keadaan di luar barak itu dapat segera menjadi baik, maka Ki Tumenggung akan dapat membuat hubungan dengan pihak-pihak tertentu untuk membeli atau meminjam beras. Tetapi jika tidak, maka para perwira itu tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi.

“Aku ingin mendengar pendapatmu,“ berkata Ki Tumenggung.

Seorang diantara para perwira itu kemudian mencoba untuk berpendapat. Katanya, “Kita kumpulkan uang yang ada didalam barak ini. Kita akan membeli beras keluar.”

“Itulah yang sulit. Apakah kita akan dapat membawa beras dari tempat kita membeli memasuki barak ini?“ berkata Ki Tumenggung. Lalu katanya pula, “Jika beras kita itu kemudian dilihat oleh sepasukan prajurit darimanapun, dari Mataram atau Jipang, maka pembawa beras itu tentu akan mereka tangkap dan berasnya mereka rampas.”

Para perwira itu terdiam. Mereka menyadari, bahwa sikap prajurit di peperangan kadang-kadang tidak dapat dimengerti oleh banyak orang.

“Apakah kit a akan menghubungkan kesulitan ini dengan kehadiran Ki Juru Martani?“ bertanya Ki Tumenggung pula.

“Hubungan yang bagaimana Ki Tumenggung?“ bertanya seseorang. “Aku belum dapat mengatakannya. Tetapi bahwa kita kehabisan beras itu akan menjadi dasar utama keputusan kita dalam pembicaraan dengan Ki Patih,“ berkata Ki Tumenggung.

Para perwira itu mengetahui maksud Ki Tumenggung. Mereka memang tidak dapat ingkar, bahwa mereka benar- benar tidak berdaya dalam keadaan yang sulit itu. Tanpa beras maka mereka akan mengalami bencana.

Karena tidak ada seorangpun yang menyahut, maka Ki Tumenggung berkata, “Baiklah. Agaknya kalian sependapat. Tetapi aku berjanji bahwa aku tidak akan merendahkan martabat dan harga diri kalian dalam pembicaraan nanti. Kalian akan dapat mendengar langsung pembicaraan itu.”

Dengan demikian pertemuan itupun telah dapat diakhiri. Para perwira itu harus mempersiapkan diri untuk bertemu dengan tidak kurang dari Ki Juru Martani sendiri yang akan datang mengunjungi barak itu.

Dalam pada itu, sebelum Ki Juru Martani pergi ke barak KiiTumenggungSurajaya, maka Ki Patih telah mendapat tugas untuk menyertai Panembahan Senapati menemui Kangjeng Adipati Demak di Pajang bersama Pangeran Benawa. Namun sebelum mereka memasuki istana, maka mereka telah sepakat untuk menjatuhkan hukuman kepada Kangjeng Adipati Demak di Pajang itu.

“Kita kirimkan Adipati Demak itu kembali ke Demak.

Biarlah ia berada dilingkungannya kembali.”

Semua pemimpin yang dibawanya dari Demak harus dibawanya kembali. Sementara itu, para prajurit Demak yang tertawan akan dilepaskan berangsur-angsur,“ ulang Panembahan Senapati atas kesepakatan mereka.

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Katanya, “Biarlah kakangmas Adipati membawa kembali budak dan hamba sahaya yang banyak dibawanya dari Demak. Budak- budak yang kemudian dipersenjatai dan tampil di medan itu, sengaja atau tidak disengaja, banyak yang jatuh menjadi korban. Tetapi bukankah itu bukan salah prajurit- prajurit kita?”

Panembahan Senapati menarik nafas dalam-dalam.

Iapun menaruh perhatian yang besar terhadap para budak, hamba sahaya dan orang-orang yang dianggap lebih rendah martabatnya dari orang-orang Demak itu sendiri.

Dengan landasan pendapat Pangeran Benawa dan Panembahan Senapati itu, maka keduanya bersama dengan Ki Patih Mandaraka telah menemui Kangjeng Adipati yang sudah tidak berdaya untuk menentukan sikap sendiri.

Karena itulah, maka ia tidak dapat menolak keputusan Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa yang disampaikan kepada Kangjeng Adipati itu, bahwa Kangjeng Adipati akan diantar kembali ke Demak.

“Siapakah yang akan mengantar aku?“ bertanya Kangjeng Adipati, “prajurit -prajuritku sendiri atau prajurit Mataram dan Jipang?”

“Prajurit Mataram dan Jipang,“ jawab Panembahan Senapati.

“Tetapi ... “ Gusti Puteri memo tong, “tetapi bukankah kakangmas Panembahan Senapati dan Adimas Pangeran Benawa bertanggung jawab atas keselamatan kakangmas Adipati?”

“Tentu diajeng,“ jawab Panembahan Senapati, “orang - orang yang kami tugaskan membawa adimas dan diajeng berdua akan bertanggungjawab sepenuhnya atas keselamatan kalian berdua. Mereka adalah orang-orang kami yang terpercaya. Namun dalam pada itu, adimas juga kami persilahkan menunjuk sekelompok prajurit Demak yang akan mengiringi perjalanan itu. Sekelompok orang yang akan membawa tandu bagi diajeng Adipati. Aku yakin bahwa sekelompok prajurit Demak yang terpercaya itu tidak akan melakukan tindakan yang akan dapat merugikan adimas Adipati sendiri.”

Kangjeng Adipati Demak mengerti ancaman Panembahan Senapati itu. Tetapi iapun berkata, “Terima kasih atas kepercayaan kakangmas Panembahan Senapati.”

“Baiklah besok adimas berangkat menuju ke Demak. Besok sebelum matahari terbit kami persilahkan adimas beserta iring-iringan itu berangkat menuju ke Demak. Satu perjalanan yang panjang dan memerlukan waktu yang lama. Yang akan naik kuda hanyalah adimas Adipati dan beberapa orang perwira. Yang lain akan berjalan kaki sambil mengusung tandu. Karena itu, harus dibawa orang secukupnya yang akan dapat berganti-ganti membawa tandu itu,“ berka ta Panembahan Senapati.

Kangjeng Adipati tidak dapat berpendapat apapun juga.

Ia memang hanya sekedar menjalaninya.

Namun dalam pada itu, Gusti Putri, isteri Kangjeng Adipati yang juga kakak perempuan Pangeran Benawa dengan nada rendah berkata, “Apakah k akangmas Panembahan Senapati dan adimas Pangeran Benawa menganggap Wakangmas Adipati sumber dari peristiwa ini dan kemudian menganggap bahwa kakangmas Adipati harus dihukum ?”

“Apakah kita masih perlu mencari siapakah yang bersalah? “ justru Pangeran Bena walah yang bertanya.

Kakak perempuan Pangeran Benawa itu menarik nafas dalam-dalam. Sebagai putera puteri Kangjeng Sultan Hadiwijaya maka iapun memiliki pandangan yang cukup tentang pemerintahan meskipun berbeda dengan kesempatan yang diperoleh saudaranya laki-laki.

“Kakangmbok,“ berkata Pangeran Benawa kemudian, “aku tahu yang kakangmbok maksudkan. Kakangmas Adipati berada di Pajang bukan karena kemauannya sendiri. Kakangmas ditunjuk untuk memimpin pemerintahan sepeninggal ayahanda Sultan Hadiwijaya oleh keputusan pertemuan keluarga istana Pajang. Tetapi seperti yang sudah aku katakan, kami tidak dapat membiarkan kekacauan pemerintahan terjadi. Jika kami datang sekarang, adalah karena kami tidak sampai hati melihat perkembangan keadaan Pajang dipandang dari beberapa segi. Bukankah kakangmbok sebagai putera puteri ayahanda Sultan Hadiwijaya juga merasakannya, betapa pahitnya hati kita melihat perkembangan keadaan Pajang dimasa-masa terakhir.”

Gusti Putri itu menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya dipandanginya Kangjeng Adipati sekilas, seakan- akan iapun ikut menyesali apa yang telah terjadi di Pajang. Terutama sikap Kangjeng Adipati disaat-saat terakhir, karena Kangjeng Adipati tidak berusaha untuk mencari jalan keluar menghindari pertempuran yang terjadi antara Mataram dan Jipang melawan Demak dan Pajang. Demikianlah, maka Kangjeng Adipati tidak dapat mengelak lagi. Iapun sebenarnya menyesal pula bahwa perang telah terjadi, sehingga ia harus terusir dari Demak seakan-akan prajurit yang kalah perang. Jika ia mengambil jalan lain, mungkin ia akan kembali ke Demak dengan cara yang lebih terhormat.

Tetapi segala sesuatunya telah terlanjur.

Hari itu, Kangjeng Adipati dan keluarganya telah berbenah diri. Mereka besok pagi-pagi akan kembali ke Demak diantar oleh iring-iringan prajurit Mataram dan Jipang. Meskipun Panembahan Senapati mengijinkannya membawa pasukan khusus dari Demak, tetapi jumlahnya tentu hanya kecil saja. Sedangkan yang banyak diperlukan adalah orang-orang yang akan memanggul tandu bagi Gusti Putri.

Dalam pada itu, setelah pertemuan dengan Kangjeng Adipati, maka Ki Juru Martani telah minta ijin kepada Panembahan Senapati untuk bertemu dengan Ki Tumenggung Surajaya.

“Aku telah mengirim utusan untuk memberitahukan kepadanya bahwa aku akan datang,“ berkata Ki Juru Martani.

“Silahkan paman,“ jawab Panembahan Senapati, “Tumenggung Surajaya memang memerlukan penanganan khusus. Pasukannya cukup kuat untuk mengacaukan Pajang jika kita tidak dapat melakukan pendekatan dengan baik. Aku yakin, bahwa Ki Tumenggung Surajaya memiliki pendirian yang kuat sehingga ia memerlukan penjelasan yang masuk diakalnya. Meskipun jika sangat terpaksa kita akan dapat menghancurkan pasukan itu, tetapi kita harus memberikan korban yang cukup banyak, sementara Ki Tumenggung Surajaya nampaknya sudah siap untuk mati sampai orang yang terakhir.”

“Ya anakmas. Tetapi nampaknya sikap Ki Tumenggung Surajaya itu ditujukan kepada angger Adipati Demak di Pajang,“ berkata Ki Juru.

“Mula -mula memang begitu,“ jawab Panembahan Senapati, “tetapi kita tidak dapat menduga perkembangan jalan pikiran Tumenggung Surajaya itu. Karena itu, maka aku sependapat sekali jika Paman Juru Martani sendiri datang menemuinya. Mudah-mudahan besok demikian adimas Adipati Demak kembali ke Demak, persoalan Tumenggung Surajaya itu segera dapat diselesaikan, sehingga keadaan Pajang benar-benar menjadi tenang.

Dengan demikian maka kita akan dapat menentukan langkah-langkah berikutnya tanpa merasa terganggu.”

Ki Juru Martanipun kemudian telah minta diri. Bersama dengan dua orang pengawal terpercaya diiringi ampat orang perwira, Ki Juru telah menuju ke barak Ki Tumenggung Surajaya sebagaimana pernah diberitahukan sebelumnya.

Menjelang tengah hari, maka Ki Juru telah berada didepan pintu gerbang halaman barak pasukan Ki Tumenggung Surajaya. Ketika para pengawal melihat kedatangannya, maka merekapun segera melaporkannya kepada Ki Tumenggung.

Ki Tumenggung telah membawa beberapa orang perwiranya untuk menjemput Ki Juru diregol, sementara yang lain telah diminta berkumpul dipendapa bangunan induk barak pasukan yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Surajaya itu. Ketika Ki Juru Martani telah sampai dimuka pintu gerbang, maka pintu gerbang itupun telah dibuka dari dalam.

Beberapa orang prajurit yang bertugas di pintu gerbang telah memberi hormat kepada Ki Juru. Sementara Ki Tumenggung telah berdiri menunggu beberapa langkah dari pintu gerbang. Dengan hormat pula Ki Tumenggung telah mengangguk menyambut kedatangan Ki Juru Martani.

Ki Juru Martani belum mengena! Ki Tumenggung Surajaya dengan baik. Namun melihat sikap orang yang menyambutnya itu, Ki Juru segera berdesis, “Apakah aku berhadapan dengan Ki Tumenggung Surajaya?”

“Ya Ki Juru,“ jawab Ki Tumenggung, “aku adalah Tumenggung Surajaya. Sebaliknya, meskipun secara pribadi aku belum kenal dengan Ki Juru, tetapi aku sudah pernah melihat Ki Juru beberapa kali, sehingga aku langsung dapat mengenalinya.”

“Apakah Ki Tumenggung telah menerima utusanku pagi tadi?“ bertanya Ki Juru.

“Ya Ki Juru. Kami akan mempersilahkan Ki Juru untuk naik kependapa bangunan induk barak ini. Aku telah memanggil semua perwira yangadadibarak ini untuk ikut mendengarkan persoalan yang Ki Juru bawa ke barak ini,“ berkata Ki Tumenggung Surajaya.

Ki Juru Manani tersenyum. Katanya, “Sebenarnya cuk up dengan ampat atau lima orang terpenting saja. Tetapi jika semuanya sudah dipanggil, tidak apa.”

“Biarlah semua pimpinan yang ada di barak ini mendengar langsung, Ki Juru. Selanjutnya Ki Jurupun dapat mendengar langsung pendapat para perwira dibarak ini sehingga Ki Juru dapat menilai, apa yang telah terjadi di barak ini,“ berkata Ki Tumenggung Surajaya.

Ki Juru mengangguk-angguk sambil berkata, “Baiklah. Aku senang dapat bertemu keluarga barak ini, sehingga kita akan dapat berbicara dengan terbuka.”

Demikianlah, maka Ki Juru bersama para pengawalnya telah dipersilahkan menuju kependapa, sementara para prajurit di barak itu telah menerima kuda-kuda mereka dan membawanya kesebelah pintu gerbang, mengikatnya pada patok-patok kayu yang telah disediakan.

Ki Juru diiringi oleh Ki Tumenggung kemudian telah naik dan duduk dipendapa bangunan induk barak para prajurit. Para pemimpin dan perwira yang ada di barak itupun telah berkumpul pula.

Ki Juru memang mendapat kesan, bahwa sikap Ki Tumenggung Surayuda terhadap Pajang. Mataram dan Jipang memang telah disepakati bersama. Sama sekali bukan karena Ki Tumenggung memaksa atau menakut- nakuti mereka dengan ancaman.

Ketika Ki Juru Martani kemudian telah beristirahat sejenak, maka Ki Tumenggungpun membuka pertemuan itu.

“Kita akan mendengarkan perintah apakah yang dibawa oleh Ki Juru,“ berkata Ki Tumenggung.

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian telah diminta menguraikan keperluannya datang ke barak pasukan itu. “Baiklah,“ berkata Ki Juru, “aku telah men gemban tugas yang dibebankan oleh Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa untuk menyampaikan pesannya kepada Ki Tumenggung dan para perwira serta para prajurit semuanya,“ Ki Juru terhenti sejenak. Suasana pertemuan itu memang menjadi hening. Didalam dada setiap prajurit memang bergejolak kecurigaan bahwa Mataram dan Jipang akan menjebak mereka. Tetapi juga berpengharapan, bahwa keadaan mungkin akan dapat menjadi lebih baik.

“Kedua -duanya dapat terjadi,“ berkata para prajurit itu didalam hati.

Sementara itu, Ki Juru justru bertanya, “pesan itu mula - mula sekali berisi satu pertanyaan. Alasannya apa, bahwa seisi barak ini telah memilih satu cara yang justru tidak diperhitungkan sebelumnya, baik oleh Demak dan Pajang maupun oleh Mataram dan Jipang. Namun satu kenyataan, Ki Tumenggung Surajaya dan pasukannya telah menutup pintu baraknya rapat-rapat tanpa dapat diajak berbicara lagi oleh pihak yang manapun. Sekarang semuanya telah lewat. Panembahan Senapati ingin mengetahui persoalan yang sebenarnya sehingga dapat mengambil langkah yang paling baik bagi semua pihak.”

Ki Tumenggung Surajaya menarik nafas dalam-dalam.

Namun kemudian iapun berkata, “Baiklah Ki Juru. Aku mohon Ki Juru mempercayai aku. Aku sama sekali tidak ingin mengada-ada. Apa yang akan aku katakan, adalah apa yang sebenarnya terpikir oleh kami seisi barak ini.”

“Katakan Ki Tumenggung,“ desis Ki Juru.

Ki Tumenggung Surajayapun kemudian telah mengatakan dengan jujur, apa yang terjadi sebelum ia mengambil keputusan. Sikap segala pihak dan landasan berpikir yang mendasari keputusannya menutup baraknya.

Ki Juru mendengarkan keterangan Ki Tumenggung dengan sungguh-sungguh. Sambil mengangguk-angguk ia mencoba untuk mengerti serta mencoba untuk menelusuri kaitan sikapnya dengan perang yang terjadi antara Mataram dan Jipang melawan Demak dan Pajang.

Ketika Ki Tumenggung sampai pada kesimpulan sikapnya, maka Ki Jurupun mengangguk-angguk sambil berkata, “Aku percaya kepadamu Ki Tumenggung. Menilik kata-katamu serta sikapmu, maka kau telah mengatakan yang sebenarnya sesuai dengan pandangan serta keyakinanmu.”

“Ya Ki Juru,“ desis Ki Tumenggung.

“Nah, apakah kau akan memberikan pesan yang lain, yang dapat aku sampaikan kepada Panembahan Senapati?“ bertanya Ki Tumenggung.

“Tidak Ki Juru. Aku suah mengatakan s egala-galanya. Aku justru menunggu, perintah apakah yang harus aku pertimbangkan selanjutnya,“ berkata Ki Tumenggung.

Ki Juru tersenyum. Bagaimanapun juga Ki Tumenggung masih membatasi dirinya, sehingga ia masih akan mempertimbangkan perintah yang akan diberikan kepadanya. Ki Tumenggung itu sadar sepenuhnya, bahwa ia masih belum menjadi prajurit yang berada dibawah jalur perintah Ki Juru Martani.

“Baiklah,“ berkata Ki Juru kemudian, “kau masih berhak mempertimbangkannya.” Ki Tumenggung iidak menjawab. Namun nampak bahwa ia menjadi sangat berhati-hati.

Dalam pada itu, Ki Juru Martanipun berkata, “Ki Tumenggung. Mungkin Ki Tumenggung juga sudah mengetahui, bahwa perang antara Demak dan Pajang melawan Mataram dan Jipang telah berakhir. Hari ini Panembahan Senapati dan Pangeran Benawa telah mengambil keputusan, bahwa Kangjeng Adipati harus kembali ke Demak.”

Ki Tumenggung Surajaya mengangkat wajahnya. Dipandanginya Ki Juru sekilas, seakan-akan ia ingin mendengar kata-kata itu sekali lagi.

Sebenarnyalah Ki Juru memang mengatakan sekali lagi bahwa Kangjeng Adipati Demak akan segera dikembalikan ke Demak.

Sepercik harapan telah timbul di hati Ki Tumenggung serta para pemimpin yang ada di barak itu. Dengan demikian berarti bahwa pimpinan pemerintahan di Pajang akan berubah. Akibatnya tentu akan merubah pula segala macam kebijaksanaan yang telah berlaku di Pajang.

Kebijaksanaan yang sama sekali tidak bijaksana, karena arti kebijaksanaan sudah bergeser menjadi penyimpangan dari paugeran.

Sementara itu, Ki Jurupun berkata selanjutnya, “Tetapi belum ada pembicaraan lebih lanjut, siapa yang akan memerintah Pajang sebagai warisan Kangjeng Sultan Hadiwijaya. Menurut pengamatanku, salah seorang puteranya adalah Pangeran Benawa yang lahir sebagai seorang laki-laki. Meskipun aku tidak berani mengatakan dengan pasti, tetapi kemungkinan terbesar Pajang akan diperintah oleh Pangeran Benawa. Meskipun selama ini Pangeran Benawa seakan-akan menyerahkan segala macam keputusan kepada Panembahan Senapati, tetapi agaknya Panembahan Senapati lebih mementingkan, dan memperhatikan Mataram daripada harus berada di Pajang.”

Ki Tumenggung Surajaya termangu-mangu sejenak, tetapi bagi Ki Tumenggung, orang yang paling mungkin mewarisi tahta Pajang memang Pangeran Benawa.

Sementara itu Pangeran Benawapun bukan seorang yang berhati batu. Ia seorang yang tanggap akan keadaan meskipun igak lemah karena pengaruh masa-masa remajanya yang sering mengalami kekecewaan karena tingkah laku ayahandanya.

Sementara itu, Ki Jurupun berkata selanjutnya, “Ke mudian yang harus menjadi bahan pertimbangan

Panembahan Senapati atas kalian adalah sikap kalian. Apakah kalian mempunyai sikap khusus atau kalian akan menempatkan diri sesuai dengan perintah dari pemegang kekuasaan di Pajang kemudian.”

Ki Tumenggung Surajaya tidak segera menjawab.

Sedangkan Ki Juru berkata selanjutnya, “Ki Tumenggung, aku dapat mengerti sikapmu sebagaimana telah aku katakan. Tetapi kaupun harus mengerti, bahwa untuk selanjutnya, kau tidak akan dapat bersikap seperti ini.

Dalam pemerintahan yang mendatang, kau harus bersikap pasti. Sikap yang dapat menentukan kedudukan Ki Tumenggung selanjutnya.”

Ki Tumenggung Surajaya mengangguk kecil. Katanya, “Aku akan mempertimbangkannya Ki Juru.”

“Kau akan diberi waktu dua hari. Dalam dua hari ini ka u harus menentukan satu sikap. Apakah kau akan menempatkan dirimu sebagai prajurit Pajang dalam susunan dan tatanan pemerintahan yang baru dengan segala macam ikatan paugeran sesuai dengan paugeran prajurit atau kau masih akan bersikap sebagaimana kau lakukan sekarang, menutup diri.”

Ki Tumenggung tidak segera menjawab. Ia sadar, bahwa pernyataan yang diucapkan itu juga pernyataan seorang prajurit. Ki Tumenggung menyadari, jika ia menolak untuk menempatkan diri dibawah perintah Pajang dalam tatanan pemerintahan yang baru, maka barak itu benar-benar akan dimusnakannya.

“Tetapi bagaimana ujud tatanan pemerintahan yang baru Itu? “ pertanyaan itu telah mengusik hatinya pula.

“Ki Tumenggung,“ desis Ki Juru sehingga Ki Tumenggung itu terkejut, “aku akan segera minta diri. Dalam dua hari ini, aku menunggu jawabanmu. Kau tidak usah datang mencari tempat tinggalku yang masih berpindah-pindah diantara para prajurit Mataram di Pajang. Biarlah dalam dua hari lagi aku datang kembali. Pikirkan masak-masak. Bicarakan dengan para perwira yang ada dibarak ini.”