-->

Sayap-Sayap Yang Terkembang Jilid 31

Jilid 31

KEDUANYA kemudian telah berjongkok disamping tubuh prajurit yang terbunuh itu. Bahkan kemudian mereka mengenali siapa yang mati itu.

“Pinta. Bukankah ini Pinta?“ berteriak yang seorang. “Ya. Pinta. Baru setengah bulan ia datang dari Demak

dan bertugas pada jajaran keprajuritan Pajang,“ sahut yang lain.

“Tadi pagi kami masih bergurau bersama,“ desis yang lain.

Kawannya tidak menjawab. Wajahnya menjadi merah seperti darah. Kemarahannya tidak lagi tertahankan melihat seorang kawannya mati terbunuh dengan luka didadanya menembus jantung. Keduanya kemudian berdiri tegak memandang kelima orang yang ada di pategalan itu. Dengan geram ia bertanya, “Siapa yang telah membunuhnya?”

Barata termangu-mangu. Jika ia mengatakan bahwa keempat orang itulah yang membunuh, maka keempat orang itu tentu akan mengalami nasib buruk. Apalagi jika kedua prajurit itu memiliki kelebihan dari kawannya yang terbunuh, yang hanya seorang diri. Apalagi keempat orang itu sudah menjadi semakin lemah karena darah yang mengalir ditubuh mereka.

Namun, Barata terkejut seperti disengat lebah ditengkuknya. Salah seorang dari keempat orang itulah yang kemudian menjawab hampir berteriak, “Orang muda itulah yang telah membunuhnya. Justru karena prajurit itu berusaha melindungi kami. Sekarang, kami tidak berdaya menghadapinya. Setelah prajurit itu, maka kamilah yang akan mati seorang demi seorang. Kami telah terluka semuanya sehingga kami benar-benar tidak berdaya.”

Kedua prajurit yang marah itu begitu cepat percaya.

Kemarahannya agaknya telah mengaburkan penalarannya yang bening. Apalagi prajurit yang mati itu adalah kawan mereka bukan saja dari kelompok yang sama, tetapi mereka sering melakukan langkah-langkah bersama, meskipun langkah-langkah yang sering mereka lakukan itu sebenarnya melanggar paugeran. Sehingga dengan demikian maka kedua orang prajurit itu benar-benar menganggap kawannya yang terbunuh itu senasib.

Karena itu, maka keduanya telah maju selangkah demi selangkah mendekati Barata. Dengan nada geram seorang diantaranya bertanya, “Anak muda, kenapa kau telah membunuh kawanku?”

Barata memang menjadi bingung sejenak. Ia memang hampir berteriak marah dan mengatakan bahwa keempat orang itulah yang telah membunuh prajurit itu. Tetapi niat itu diurungkannya. “Apakah kau bisu, tuli atau kau juga dengan sengaja menghina kami?“ bertanya prajurit itu.

Barata menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya ia telah menjawab, “Ki Sanak. Apakah kalian juga berasal dari Demak seperti kawanmu yang terbunuh itu?”

“Aku berasal dari Demak. Aku mendapat tugas untuk berada dalam jajaran keprajuritan Pajang.“ jawab kawannya. Namun prajurit yang pertama justru menjawab, “Aku sejak s emula adalah prajurit Pajang.”

“Jadi tugas prajurit Pajang sekarang telah berubah?“ bertanya Barata.

“Kenapa?“ bertanya prajurit yang memang berasal dari Pajang itu, “tugas kami adalah melindungi rakyat dari tindakan sewenang-wenang. Kenapa kau akan membunuh keempat orang itu, dan bahkan kau telah berani membunuh seorang prajurit yang akan melindunginya?”

“Ketahuilah,“ jawab Barata, “kawanmu itu telah keluar dari harkat dan martabat seorang prajurit. Ia telah mengganggu rakyat Pajang terutama di padesaan. Ia telah mengambil lembu, kambing dan bahkan kuda. Bukankah prajurit Pajang tidak mendapat tugas untuk mengambil pajak karena sudah ada petugasnya sendiri? Tetapi kawanmu itu telah melakukannya.”

“Cukup,“ teriak prajurit itu, “kau telah memfitnah pula, apakah kau sadar, hukuman apa yang dapat kau terima?”

“Apakah kau akan membawa aku kepada pimpinanmu atau kepada seorang petugas yang berhak mengadili?“ bertanya Barata.

“Persetan kau. Aku bunuh kau disini. Kau telah membunuh seorang prajurit,“ geram prajurit itu.

Barata termangu-mangu sejenak. Tetapi iapun kemudian bertanya, “Apakah sudah seharusnya kau menghukum langsung seorang yang bersalah?”

“Apakah kau sudah mendapat wewenang untuk membunuh seorang prajurit? Prajurit yang terbunuh itu adalah sahabatku, bukan saja sesama prajurit. Karena itu, maka aku akan membalaskan kematiannya langsung,“ jawab prajurit itu.

“Kau kira seseorang yang menghadapi kematian akan begitu saja menyerah? Selama masih ada kemungkinan untuk menyelamatkan diri, maka aku akan melindungi diriku sendiri,“ berkata Barata.

“Kau akan digantung di alun -alun. Dengan sikapmu itu, jiku memang tidak akan membunuhmu. Aku akan menyeretmu dan menyetahkanmu kepada pemimpinku dan akan meneruskan perkaramu. Kau telah berusaha membunuh empat orang yang tidak bersalah ini. Kemudian membunuh seorang prajurit yang akan melindunginya Sekarang kau melawan kami berdua yang akan menangkapmu. Jika kami membunuhmu disini, maka kau akaln merasa sangat beruntung. Karena sebaiknya kau digantung di alun-alun atau bahkan dihukum picis,“ geram salah seorang dari prajurit itu.

“Bersiaplah untuk mengalami nasib buruk itu,“ berkata prajurit yang lain, “tetapi jika dalam perlawananmu terhadap kami berdua kau terbunuh, bukan salah kami. Orang-orang ini akan menjadi saksi.”

Barata memandang keempat orang itu dengan tatapan mata buram. Anak muda itu memang menjadi sangat kecewa terhadap mereka. Tetapi Barata tidak sampai hati untuk membebankan kesalahan atas kematian prajurit itu kepada mereka.

Sementara itu, keempat orang itu memang menjadi termangu-mangu. Mereka menjadi heran, bahwa anak muda itu sama sekali tidak membela diri atas tuduhan yang mereka berikan. Bahkan terasa usaha anak muda itu untuk melindungi keselamatan mereka.

Dalam pada itu, kedua orang prajurit yang marah itu sudah bersiap untuk menangkap Barata. Menangkap hidup atau mati. Agaknya mereka justru mengurungkan keinginannya untuk membunuh karena kematian bagi pembunuh kawannya itu akan menjadi hukuman yang terlalu ringan. Kedua orang itu ingin memberikan hukuman yang lebih berat dari mati. Sakit dan penghinaan menjelang kematiannya.

Namun Baratapun telah bersiap pula. Ia sadar, bahwa melawan kedua orang prajurit itu tentu lebih berat daripada melawan empat orang yang justru telah menuduhnya membunuh prajurit yang terbaring itu.

Sejenak kemudian, maka kedua orang prajurit itupun telah mulai menyerang dari arah yang berbeda. Senjata mereka terayun-ayun mengerikan.

Namun Barata bukannya orang kebanyakan dalam olah kanuragan. Ia adalah bekas seorang prajurit Pajang yang dikagumi karena kemampuannya. Bahkan seorang anak muda yang lain, yang memiliki kemampuan yang seimbang telah diangkat menjadi seorang Lurah Penatus meskipun baru ditetapkan sebagai pemangku jabatan itu.

Dengan demikian, maka Barata tidak segera terdesak oleh prajurit itu. Bahkan pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit.

Para prajurit itu memang memiliki kemampuan lebih tinggi dari keempat orang padukuhan yang telah membunuh seorang prajurit di pategalan. Karena itu, maka Barata harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan dirinya.

Namun dalam pada itu, Barata masih saja dicengkam oleh kebimbangan. Ia sama sekali tidak ingin membunuh prajurit-prajurit itu. Tetapi iapun tidak ingin membiarkan keempat orang padukuhan itu diketahui dan kemudian mendapat hukuman. Namun demikian Barata juga tidak sependapat dan tidak membenarkan sikap keempat orang yang menghakimi sendiri prajurit yang melanggar paugeran itu, sementara itu prajurit itupun memang pantas mendapat hukuman karena telah merampok milik orang- orang padukuhan.

Kebimbangan itu telah membuat Barata kadang-kadang, kehilangan pengamatannya atas lawan-lawannya, sehingga beberapa kali ia menjadi terkejut karena serangan- serangan yang hampir menyentuhnya.

Dengan meningkatkan kemampuannya, Barata memang berhasil mengatasi desakan kedua lawannya. Bahkan pedangnya yang bergerak cepat mampu sekali-sekali mendesak kedua lawannya untuk berloncatan mundur mengambil jarak.

Namun kedua prajurit itupun telah meningkatkan kemampuannya pula. Bahkan seorang diantara kedua orang itu sempat menggeram, “Dimana kau belajar ilmu kanuragan anak muda, sehingga kau mampu bertahan beberapa lama menghadapi kami berdua?”

Barata tidak menjawab. Tetapi ia memang menjadi semakin tangkas. Berloncatan dengan cepatnya. Sedangkan pedangnya terayun-ayun mendebarkan.

Menurut pengamatan Barata kemudian, prajurit yang datang dari Demak itu memiliki kemampuan yang lebih baik dari prajurit Pajang. Bahkan sebagai bekas prajurit Pajang pula Barata mengenal beberapa watak dan sifat ilmu prajurit itu, yang nampaknya ia tidak berbekal atau sedikit membawa bekal sebelum ia memasuki dunia keprajuritan. Agaknya ia memasuki dunia keprajuritan sebelum penyaringan menjadi semakin ketat, sehingga dengan bekal yang sedikit, namun dengan kemungkinan jasmaniah yang baik, seseorang dapat diterima menjadi seorang prajurit.

Namun prajurit yang mengaku datang dari Demak itu memiliki jenis ilmu kanuragan yang lebih rumit. Bukan sekedar patokan-patokan tata gerak yang cukup memadai bagi seorang prajurit yang bertempur dalam gelar. Tetapi prajurit dari Demak itu mampu menyerang dengan cepat dan bahkan serangan-serangan ganda.

Beruntunglah Barata telah dipersiapkan dengan masak untuk mewarisi ilmu yang jarang ada duanya, sehingga dengan demikian maka Barata masih mampu mengimbangi, bahkan mengatasi kedua orang prajurit itu. Serangan-serangan yang cepat dari prajurit Demak itu masih mampu dielakkannya. Bahkan sekaligus menyerang kembali dengan putaran-putaran langkah yang mengejutkan. Sambaran pedang prajurit dari Demak itu sekali-sekali sengaja tidak dibiarkan lewat dengan mengelakkannya, namun Barata telah mencoba membenturnya.

Dengan benturan-benturan itu Barata dapat menjajagi bahwa kemampuan lawannya masih akan mampu diatasinya.

Pertempuran itu semakin lama memang menjadi semakin cepat. Kedua orang prajurit yang gagal mengalahkan dan apalagi menangkap lawannya itu menjadi gelisah. Keduanya merasa bahwa anak muda itu memang memiliki kemampuan yang tinggi.

Yang kemudian terjadi adalah justru Barata mulai mendesak lawannya. Serangan prajurit yang datang dari Demak itu, seolah-olah sudah dapat dibaca arah dan sasarannya sehingga dengan demikian maka Barata selalu dapat menghindarinya atau menangkisnya. Sementara itu, prajurit Pajang itu justru mulai mengalami kesulitan. Ujung pedang Barata rasa-rasanya menjadi semakin dekat dengan kulitnya, bahkan rasa-rasanya seperti seekor nyamuk yang mulai terdengar desingnya ditelinganya.

Ketika prajurit yang datang dari Demak itu meloncat dengan pedang terjulur kearah dada Barata, maka Barata sempat memiringkan tubuhnya. Tetapi prajurit itu tiba-tiba telah bergeser. Pedangnya justru menggeliat dan menebas mendatar. Barata masih sempat meloncat surut sambil merendah. Pedang yang terayun menebas mendatar itu meluncur diatas kepalanya yang menunduk. Sementara itu, prajurit yang lain telah meloncat pula sambil menjulurkan pedangnya.

Barata dengan tangkasnya telah menghindar. Ia justru menjatuhkan dirinya dan berguling sekali. Dengan a tangkasnya ia meloncat bangkit. Namun lawannya yang datang dari Demak itu cukup tangkas pula. Demikian Barata tegak, maka ujung pedangnya telah memburunya, langsung mengarah ke jantung.

Barata tidak menghindarinya. Tetapi dengan cepat ia telah menangkis serangan itu. Dengan pedangnya Barata menepis pedang yang terjulur itu menepi. Demikian padang itu berkisar, maka dengan serta merta, Barata meloncat menyamping. Satu kakinya terjulur lurus ke lambung lawannya.

Prajurit yang sedang berusaha menguasai pedangnya itu tidak sempat mengelak dan tidak sempat menangkis.

Serangan kaki Barata yang keras itu telah mendorongnya sehingga sulit baginya untuk mempertahankan keseimbangannya.

Prajurit itulah yang kemudian jatuh terguling. Namun berbeda dengan Barata yang sengaja menjatuhkan dirinya. Tetapi prajurit itu ternyata tangkas pula. Iapun dengan sigapnya segera bangkit berdiri dengan, pedang yang menyilang didada siap menghadapi segala kemungkinan.

Namun Barata tidak sempat memburunya. Lawannya yang lain. telah meloncat menyerangnya pula. Demikian cepatnya, sehingga serangan itu telah mendorong Barata untuk bergerak cepat pula.

Tetapi dengan demikian, maka Barata kurang dapat mengendalikan dirinya. Ketika ia menangkis serangan lawannya itu dan memutar pedangnya, maka hampir saja lawannya kehilangan senjatanya. Namun demikian perhatiannya pada senjatanya yang hampir terlepas itu, pedang Barata telah bergetar mendatar.

Terdengar prajurit itu mengaduh tertahan. Sebuah goresan ternyata telah mengoyak kulitnya pada lengannya. Tidak terlalu dalam. Tetapi selain bajunya yang juga terkoyak, maka darahpun mulai mengalir. Prajurit itu kemudian menggeram marah. Wajahnya menjadi merah seperti bara. Dengan geram ia berkata, “Kau akan menyesal nanti anak iblis.”

Barata mundur selangkah. Ia melihat luka ditangan prajurit itu. Sementara prajurit yang lainpun menjadi semakin garang.

“Kau pantas dihukum picis sampai mati,“ geram prajurit itu.

Barata tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

Dalam pada itu, keempat orang padukuhan itu menyaksikan pertempuran itu dengan hati yang berdebar- debar. Mereka tidak tahu, siapakah yang diharapkan untuk menang.

Mereka tidak ingin kedua orang prajurit itu kalah. Mereka tidak yakin apakah anak muda itu tidak marah kepada mereka dan benar-benar akan membunuh mereka. Sementara itu, merekapun tidak ingin anak muda itu terbunuh. Jika demikian, maka mereka akan merasa menjadi sebab kematian anak muda yang sekilas nampak justru melindungi mereka.

Keempat orang itu memang menyesal, bahwa mereka telah bersikap kasar terhadap anak muda yang ternyata memang tidak berniat buruk. Bahkan mereka benar-benar, akan membunuhnya untuk menyelamatkan diri mereka karena telah membunuh seorang prajurit.

Selagi keempat orang itu termangu-mangu, maka mereka telah dikejutkan bahwa prajurit yang seorang lagi itupun telah mengaduh sambil mengumpat kasar. Pedang Barata ternyata telah menyentuh pundaknya, sehingga kedua orang prajurit itu benar-benar telah terluka.

Dalam pada itu, ketika kedua orang prajurit itu merasa tidak akan segera mampu menangkap anak muda itu, maka seorang diantara mereka berteriak kepada keempat orang padukuhan itu, “Bantu kami menangkap iblis kecil itu. Jika iblis itu mendapat kesempatan, tentu benar-benar akan membunuh kalian. Karena itu daripada kalian akan dibunuhnya, maka lebih baik kita menangkapnya. Jika mungkin tertangkap hidup agar iblis itu sempat mendapat hukuman picis di simpang empat jalan raya di Pajang.”

Keempat orang itu menjadi semakin bimbang. Mereka benar-benar tidak mengerti apa yang sebaiknya harus mereka lakukan.

Yang juga menjadi bingung adalah Barata. Ia sama sekali tidak berniat untuk membunuh. Namun tiba-tiba saja ia telah tersudut dalam satu permusuhan yang tidak diketahui ujung pangkalnya. Ia telah dihadapkan kepada kemungkinan untuk hidup atau mati.

Karena keempat orang padukuhan itu masih belum bergerak, maka prajurit itu sekali lagi berteriak, “Cepat. Jangan menunggu lagi. Kita selesaikan tugas ini untuk membalaskan kematian prajurit yang telah mencoba melindungi kalian itu.”

Keempat orang itu bagaikan orang-orang yang terbius.

Mereka tiba-tiba saja telah bergerak sambil memutar senjata mereka meskipun nampak tanpa getaran kehendak sama sekali.

Untuk beberapa saat Barata masih bertempur. Tetapi ketika keempat orang itu mulai berpencar, maka Barata telah mengambil sikap yang paling mungkin dilakukan.

“Aku harus menyingkir dari pategalan ini. Jika kedua orang prajurit itu mengejarku, apaboleh buat,“ berkata Barata didalam hatinya. Ia berharap bahwa dengan demikian, maka keempat orang itu akan dapat menyingkir. Sebab, jika Barata harus bertempur melawan enam orang itu, maka mungkin ia akan dapat kehilangan kendali akan dirinva sendiri.

“Marilah,“ prajurit itu masih berteriak, “jangan takut. Kami berdua akan menyelesaikan segala sesuatunya.”

Ketika keempat orang yang kehilangan kesadaran diri itu bergerak maju, maka Baratalah yang telah bergerak dengan cepat sehingga mengejutkan keempat orang itu. Dengan satu ayunan pedang kemudian dengan putaran yang cepat, Barata telah berhasil melemparkan dua senjata diantara keempat orang padukuhan itu. Demikian cepatnya sehingga orang-orang itu tidak segera menyadari apa yang terjadi.

Tetapi Barata tidak meloncat maju dan melukainya, tetapi ia telah mengambil sikap yang tidak diduga-duga. Barata justru meloncat mundur dan kemudian dengan cepat, berlari meninggalkan tempat itu.

“Jangan lepaskan iblis kecil itu,“ teriak seorang diantara kedua prajurit itu.

Kedua prajurit itupun segera mengejarnya. Dua orang diantara orang-orang padukuhan itu juga ikut berlari.

Namun hanya beberapa langkah. Merekapun segera berhenti dengan nafas terengah-engah. Sementara itu, kedua orang prajurit itulah yang mengejar Barata sampai keluar pategalan.

Namun Barata seperti hilang dari pandangan mata mereka. Meskipun mereka kemudian mencari jejaknya kian kemari, tetapi keduanya tidak menemukannya. Apalagi keduanya harus memperhitungkan pula kemampuan anak muda yang melarikan diri itu.

Karena itu, maka keduanyapun segera memutuskan untuk kembali ke tengah-tengah pategalan, menjumpai keempat orang yang kebingungan itu.

Sebenarnya keempat orang itu sudah mengambil keputusan setelah berdebat beberapa saat untuk melarikan diri. Mereka tidak mengira, bahwa kedua orang prajurit itu begitu cepatnya kembali. Namun niat mereka terpaksa harus diurungkan.

“Kami k ehilangan jejaknya,“ geram salah seorang diantara kedua orang prajurit itu.

Para penghuni padepokan yang telah membunuh seorang prajurit itu termangu-mangu. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi atas mereka kemudian. Tetapi mereka merasa beruntung bahwa kedua orang prajurit itu masih saja belum tahu, bahwa mereka berempatlah yang telah membunuh seorang prajurit yang datang sebelum keduanya.

Yang kemudian dilakukan oleh kedua prajurit itu adalah memerintahkan keempat orang padukuhan itu untuk membawa kawannya yang terbunuh itu dan menguburkannya di kuburan.

Orang-orang padukuhan yang tidak tahu persoalannya menjadi heran. Sementara itu keempat orang yang membunuh prajurit itupun kemudian telah menjelaskan kepada tetangga-tetangganya sebagaimana dikatakannya kepada kedua orang prajurit itu.

Namun ketika penguburan itu sudah selesai, maka keempat orang itu terkejut ketika salah seorang prajurit itu bertanya, “Kenapa orang itu berusaha membunuh kalian?”

Mereka termangu-mangu sejenak. Namun yang tertua diantara mereka menjawab, “Persoalan keluarga Ki Sanak. Sebenarnya adalah persoalan pribadi antara aku dan orang itu. Persoalan yang sudah lama terjadi. Seharusnya kami sudah melupakannya. Tetapi anak itu tiba-tiba muncul lan mewakili ayahnya berusaha membunuh kami.”

Kedua prajurit itu mengangguk-angguk. Meskipun sebenarnya keduanya masih ingin tahu, kenapa mereka telah bertempur di pategalan, namun nampaknya orang- orang padukuhan itu menjadi resah. Sehingga karena itu, maka kedua orang prajurit itu menganggap bahwa kehadirannya akan membuat keresahan itu berkepanjangan.

“Baiklah,“ berkata salah seorang dari antara kedua orang prajurit itu, “kami akan kembali ke tugas kami. Kami memang sedang meronda.”

“Terima kasih,“ berkata yang tertua diantara ampat orang itu, “ji ka Ki Sanak berdua tidak datang, maka aku tentu sudah terbaring pula di pategalan itu.“ Namun kemudian seorang yang lain menyambung, “Ki Sanak berdua telah terluka. Apakah Ki Sanak tidak lebih dahulu beristirahat.”

“Kami telah menaburkan obat yang kami baw a.

Darahnya sudah pampat,“ jawab salah seorang dari antara kedua orang prajurit itu.

Dengan demikian maka kedua orang prajurit itupun telah meninggalkan padukuhan itu. Rasa-rasanya memang ada dorongan untuk segera pergi jauh-jauh dari padukuhan itu. Kedua prajurit itu sadar sepenuhnya, bahwa kawannya yang terbunuh itu telah melakukan tindakan yang kurang terpuji sebagaimana dikatakan oleh anak muda yang berhasil melarikan diri. Bahkan kawannya yang terbunuh itu telah melakukan pemerasan beberapa kali.

Namun masih ada teka-teki yang belum terpecahkan oleh kedua orang prajurit itu. Anak muda yang berhasil melarikan diri seperti hilang begitu saja di telan bumi.

Sambil berjalan menjauhi padukuhan itu, kedua orang prajurit Pajang itu masih juga berusaha untuk bertemu dengan anak muda yang telah melukai mereka. Meskipun mereka ragu-ragu, apakah mereka akan dapat berbuat sesuatu, atau bahkan mereka berdua akan dapat terbunuh karenanya.

Namun keduanya masih saja dicengkam oleh keinginan tahu, apakah yang sebenarnya terjadi. Sementara mereka tidak ingin terlalu lama berada diantara orang-orang padukuhan, justru karena cacat-cacat pada diri mereka dan pada kawannya yang telah terbunuh itu.

Disepanjang perjalanan, keduanya memang menjadi bimbang, apakah mereka akan memberikan laporan atau tidak tentang kawannya yang terbunuh. Jika mereka memberikan laporan, maka ada kemungkinan akan terjadi pengusutan, yang akan dapat mengungkap kesalahan- kesalahan beberapa orang prajurit yang secara pribadi telah melakukan pelanggaran-pelanggaran atas paugeran keprajuritan. Tetapi jika mereka tidak memberikan laporan, maka hilangnya seorang prajurit tentu akan menjadi persoalan. Apalagi jika kemudian terdengar berita bahwa ada seorang prajurit terbunuh disebuah padukuhan.

Sementara itu, Barata yang berhasil melepaskan diri dari pengamatan kedua orang prajurit itu ternyata masih belum meninggalkan padukuhan itu. Bahkan dari kejauhan ia berhasil mengamati kegiatan yang terjaid. Dari kejauhan Barata sempat melihat beberapa orang yang membawa prajurit yang terbunuh itu ke pekuburan. Kemudian dari kejauhan pula ia melihat kedua orang prajurit itu meninggalkan padukuhan menyusur jalan-jalan bulak.

“Tentu akan ada pengusutan,“ berkata Barata kepada diri sendiri. Namun kemudian desisnya, “Tetapi jika kedua orang prajurit itu bertindak jujur. Meskipun keempat orang itu untuk sementara sempat menghilangkan jejak pembunuhan yang mereka lakukan, namun persoalannya agaknya tidak akan berhenti.”

Untuk beberapa saat Barata merasa ragu. Namun kemudian setelah kedua prajurit itu menjadi semakin jauh, Barata telah kembali ke padukuhan itu.

“Aku harus bertemu dengan keempat orang itu,“ geram Barata. Bukan karena Barata mendendam mereka. Tetapi ia justru ingin memberitahukan bahwa persoalan itu belum selesai. Barata juga ingin meyakinkan keempat orang itu, bahwa langkah yang diambilnya salah.

Dengan bertanya kepada satu dua orang, Barata berhasil mengetahui rumah justru yang tertua diantara mereka berempat.

“Mereka memang bersaudara,“ berkata seorang yang menunjukkan rumah itu, “mereka hampir terbunuh oleh seseorang. Prajurit yang berusaha menolongnya justru yang telah terbunuh oleh orang itu.”

“Mereka kakak beradik?“ bertanya Barata.

“Ya. Tetapi seorang diantara mereka adalah adik sepupu,“ jawab orang itu. Namu n tiba-tiba nampak dahi orang itu berkerut, “Aku tidak tahu banyak tentang peristiwa itu.” “Tetapi kenapa orang -orang padukuhan ini tidak senang terhadap prajurit Pajang termasuk yang terbunuh itu?“ bertanya Barata.

“Siapa yang mengatakannya? Prajurit Paja ng adalah pelindung kami justru dalam keadaan yang rumit seperti ini,“ jawab orang itu.

“Tetapi prajurit itu sering mengambil ternak milik penghuni padukuhan ini,“ berkata Barata kemudian.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Katanya, “Satu dua orang prajurit memang melakukan hal seperti itu. Aku tidak tahu siapa kau sebenarnya. Mungkin kau petugas sandi yang ingin mendapat bahan-bahan laporan tentang para prajurit untuk mengambil langkah-langkah penertiban.

Tetapi mungkin kau orang lain sama sekali. Namun segala sesuatunya tergantung sekali kepada kepribadian manusianya. Aku yakin bahwa tingkah laku itu bukan tingkah laku prajurit Pajang secara umum.”

Barata menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Terima kasih Ki Sanak. Jarang ada orang yang terbuka seperti Ki Sanak.”

“Mudah -mudahan lidahku tidak menjerat leherku sendiri,“ sahut orang itu.

Baratapun kemudian telah meninggalkan orang itu. Demikian Barata melangkah pergi, orang itupun dengan tergesa-gesa telah pergi pula. Ia yakin, Barata tidak akan dapat menemukannya jika anak muda itu memerlukannya. Apalagi tidak ada orang lain yang dapat memberikan keterangan tentang dirinya, karena tidak ada orang lain yang melihatnya.

Sementara itu Barata telah melangkah menuju ke-rumah orang yang tertua diantara keempat orang itu. Tanpa memberikan salam, Barata langsung melangkah masuk setelah mendorong pintu lereg yang ternyata tidak diselarak.

Ternyata keempat orang itu masih berkumpul diruang dalam. Demikian mereka melihat Barata, maka mereka-pun terkejut bukan kepalang. Serentak mereka berempat berdiri dengan wajah yang tegang.

Barata menutup pintu lereg itu kembali. Dengan tajamnya ia memandangi keempat orang itu berganti-ganti.

Orang tertua diantara keempat orang itu menggeram, “Kau mendendam kepada kami? Kau jangan berlaku bodoh. Kami berada di padukuhan kami. Dengan satu isyarat, maka seluruh isi padukuhan ini akan keluar dari rumahnya. Kedua orang prajurit itupun akan segera kembali bersama kawan-kawannya.”

“Aku hanya memerlukan waktu sekejap untuk membunuh kalian berempat. Sebelum kalian sempat memberikan isyarat apapun, jika aku berniat, maka kalian tentu sudah mati di ruang ini,“ berkata Barata, “tetapi aku datang tidak untuk membunuh. Sejak semula aku tidak ingin membunuh. Jika hal itu ingin aku lakukan, maka aku tentu sudah membunuh kalian berempat serta kedua orang prajurit itu. Kau harus menyadari, bahwa kemampuanku melampui kemampuan semua orang di padukuhan ini meskipun mereka bertempur bersama-sama. Dalam satu hari, aku dapat menghabiskan orang-orang sepadukuhan ini. Jika itu terjadi, maka kalian berempatlah yang bertanggung jawab.”

Keempat orang itu termangu-mangu sejenak. Ketika Barata melangkah maju, maka keempat orang itu dengan serta merta telah menarik senjata mereka masing-masing sambil melangkah surut.

Tetapi Barata seakan-akan tidak menghiraukannya.

Dengan tenang ia duduk di amben besar satu-satunya yang ada diruang itu selain geledeg bambu dan ajug-ajug lampu minyak.

“Duduklah,“ berkata Barata.

Keempat orang itu menjadi ragu-ragu.

“Kalian s elalu bersikap permusuhan sejak kita bertemu. Sejak aku hadir dipategalan kau sudah menantang untuk membunuhku karena aku melihat kalian membunuh seorang prajurit. Kemudian ketika datang kedua orang prajurit itu, kalian telah memutar balikkan kenyataan dengan menuduh aku telah membunuh prajurit yang kau sebut ingin melindungimu itu. Dan sekarang kalian telah mencabut senjata-senjata kalian,“ berkata Barata.

Keempat orang itu termangu-mangu sejenak. Sementara Barata berkata selanjutnya, “Apakah kau dapat membayangkan akibatnya jika aku berkeras mengatakan bahwa kaulah yang telah membunuh prajurit itu, karena kau dan saudara-saudaramu telah menuduh prajurit itu merampok ternak milik kalian? Aku akan dapat meyakinkan kedua orang prajurit itu, bahwa kalianlah yang bersalah.

Bukan aku.”

Orang-orang itu tertunduk diam. Sementara Barata berkata, “Duduklah.”

Seperti dicengkam oleh kekuatan diluar kemampuannya untuk menolak, maka keempat orang itupun kemudian telah duduk di amben itu pula.

“Nampaknya kalian telah meng obati luka-luka kalian,“ desis Barata.

“Ya,“ jawab yang tertua singkat.

“Tetapi lukamu tidak separah luka perasaanku,“ berkata Barata kemudian.

Keempat orang itu tertunduk dalam-dalam. Senjata mereka masih berada ditangam Tetapi mereka seakan-akan sudah tidak mampu lagi untuk mengangkatnya.

“Kau tahu akibatnya, seandainya aku tidak mampu mempertahankan diri terhadap kedua orang prajurit itu. Bahkan sebelumnya terhadap kemarahan kalian yang kehilangan akal. Padahal kalian tahu bahwa aku tidak bersalah sama sekali. Aku hanya kebetulan lewat, mendengar hiruk pikuk dan menjenguknya,“ berkata Barata selanjutnya.

Keempat orang itu masih saja menunduk. Namun mereka mulai sempat membuat penilaian atas tingkah laku mereka. “Jika aku mati, maka kalian telah membunuh o rang yang tidak bersalah sama sekali,“ geram Barata.

Kecemasan semakin mencengkam jantung keempat orang itu. Namun Barata kemudian berkata, “Aku datang tidak untuk membalas dendam. Aku datang untuk memberi peringatan kepada kalian, bahwa persoalan yang kalian hadapi belum tuntas. Terserah kepada kalian, bagaimana kalian akan mengatasi persoalan itu. Aku sudah mengekang diriku sendiri untuk tidak membantah ketika kau tuduh aku membunuh prajurit yang telah kalian bunuh itu.”

Dengan nada rendah, orang tertua diantara keempat orang itu berkata, “Kami mohon maaf.”

“Mudah -mudahan kedua orang prajurit itu tidak meneruskan usahanya untuk mengetahui kenapa kawannya terbunuh disini dan langsung dapat mempercayai keterangan kalian tentang aku. Tetapi jika tumbuh dugaan yang lain, maka kalian harus siap menghadapinya. Setidak- tidaknya kalian harus siap dengan keterangan yang meyakinkan. Aku sendiri akan melanjutkan perjalanan ke arah yang tidak perlu kalian ketahui,“ berkata Barata.

“Apakah kami tidak boleh tahu siapakah anak muda sebenarnya?“ bertanya orang yang tertua.

“Tidak ada gunanya. Aku tidak mau terlibat lagi persoalan yang tidak aku ketahui ujung pangkalnya ini. Karena jika aku sekali lagi terlibat, mungkin aku harus membunuh seseorang tanpa aku kehendaki,“ jawa b Barata.

Keempat orang itu mengangguk-angguk. Sementara Barata berkata, “Yang perlu kalian ketahui, cara kalian dengan membunuh prajurit itu tidak menguntungkan sama sekali apapun alasan kalian.”

“Kami tidak melihat jalan lain,“ berkata yang tertua, “oran g itu telah melakukan banyak sekali kesalahan di padukuhan ini. Sebenarnyalah bahwa ia tidak saja ingin mengambil kuda kami. Tetapi orang itu sudah mulai bertanya-tanya tentang gadis kemanakanku. Suatu ketika ia akan dapat mengambilnya sebagaimana ia mengambil lembu kami, kambing-kambing kami dan kuda kami. Bukan saja milik kami berempat, tetapi milik orang-orang padukuhan ini. Kematiannya tentu disambut dengan perasaan bersukur oleh orang-orang padukuhan ini.”

“Tetapi apakah orang -orang padukuhan ini dapat mengungkapkan perasaan sukurnya? Apakah mereka juga bersedia ikut bertanggung jawab seandainya kematian prajurit itu benar-benar diusut?“ bertanya Barata.

Keempat orang itu termangu-mangu.

“Dengar. Tidak semua prajurit baik yang berasal dari Demak maupun yang memang berasal dari Pajang jahat atau baik. Seperti juga kebanyakan orang. Ada yang baik dan ada yang tidak baik. Karena itu, kalian dapat melihat suasana dan mengambil langkah yang tidak menyimpang dari paugeran. Jika sekali lagi kalian membunuh, maka kalian harus melakukannya lagi dan lagi untuk menutupi perbuatan yang pernah kalian lakukan. Karena itu, jika kalian mampu menyembunyikan peristiwa ini, maka sebaiknya kalian tidak boleh melakukannya lagi. Bahkan seandainya hal ini diketahui oleh para petugas, maka sebaiknya kalian berterus terang. Mungkin kalian akan dihukum. Tetapi setelah itu kalian tidak akan merasa mempunyai hutang lagi kepada siapapun,“ berkata Barata. Lalu katanya, “Seluruh padukuhan akan dapat menjadi saksi tanpa harus ikut bertanggung jawab. Tetapi mereka akan dapat meringankan hukuman kalian.”

“Tetapi apakah aku tidak akan jatuh ketangan prajurit - prajurit yang mendendam?“ bertanya yang tertua diantara mereka.

“Pergilah ke Pajang. Mintalah petunjuk kepada seorang Lurah Prajurit muda yang bernama Kasadha. Ia akan membantumu,“ berkata Barata yang memberi sedikit ancar - ancar letak barak Kasadha di Pajang. Namun kemudian ia berpesan, “Tetapi kau tidak usah menyebut tentang aku.

Kau tidak usah membawa-bawa aku lagi, agar aku tidak terlibat kedalam persoalan kalian, karena bagaimanapun juga kalian telah pernah melukai hatiku.”

“Sekali lagi kami mohon maaf,“ berkata yang tertua diantara mereka.

“Sudahlah. Aku akan melupakannya. Tetapi ingat, kalian jangan melakukan kesalahan lagi,“ berkata Barata.

“Terima kasih anak muda,“ jawab yang tertua, “aku akan memikirkan kemungkinan untuk pergi ke Pajang dan menemui Ki Lurah Kasadha sebagaimana yang anak muda katakan.”

“Bagus,“ berkata Barata, “kau tentu akan mendapat petunjuk daripadanya, jia kau bersikap jujur dan berkata terus-terang sesuai dengan peristiwa yang sebenarnya.”

“Aku mengerti anak muda,“ jawab orang itu.

Baratapun kemudian telah minta diri. Ia sudah tertahan terlalu lama diperjalanan. Ia harus segera meninggalkan tempat itu sebelum kedua orang prajurit itu mengambil langkah-langkah yang tidak dapat diduga sebelumnya.

Sejenak kemudian Barata telah meninggalkan padukuhan itu. Ia telah menempuh perjalanannya kembali menuju ke Tanah Perdikan Sembojan yang cukup jauh.

Ketika ia masih berada disekitar padukuhan itu, ia masih selalu berhati-hati agar ia tidak bertemu lagi dengan kedua orang prajurit yang telah dilukainya.

Sementara itu, langit telah menjadi buram. Ternyata senja telah turun. Dipadukuhan dihadapan langkahnya, Barata melihat obor telah menyala di regol padukuhan. Regol yang nampak rapi dan terawat baik.

Ketika Barata melewati regol itu, ia melihat bahwa regol itu baru saja diperbaiki. Sementara dua obor biji jarak menyala disebelah menyebelah.

Demikian Barata memasuki padukuhan itu, maka rasa- rasanya malam sudah menjadi semakin dalam. Di dalam padukuhan yang banyak terdapat oncor-oneor biji jarak diregol-regol halaman itu suasananya justru seakan-akan terasa sudah menjadi semakin malam.

Tetapi Barata masih berniat untuk berjalan terus. Ia sudah setengah hari tertahan, sehingga rasa-rasanya ia sudah menjadi semakin lama diperjalanan menuju ke Tanah Perdikannya setelah terhenti dirumah Ki Lurah Dipayuda.

Dipadukuhan berikutnya Barata sempat melewati sebuah rumah yang sedang mengadakan peralatan. Rumah yang cukup besar itu halamannya menjadi terang benderang.

Agaknya ada pertunjukan pula di pendapa, sehingga suasananya menjadi semakin meriah. Bahkan di pinggir jalan di depan rumah itu terdapat beberapa orang yang berjualan diatas tambir dan bakul. Anak-anaklah yang lebih banyak membelinya. Pertunjukkan hanya menarik baginya jika terdengar suara gamelan yang menggeletar. Ketika kemudian gamelan menjadi rep, anak-anak itu telah berlari- lari lagi di halaman dan turun kejalan untuk membeli makanan.

Namun menurut pengamatannya yang sepintas, Barata mengerti bahwa padukuhan itu bukan padukuhan yang tenang. Agaknya di padukuhan itu sering terdapat gangguan-gangguan yang meresahkan.

Ketika ia melewati jalan didepan rumah yang sedang mengadakan peralatan itu, ia sempat melihat beberapa orang bersenjata yang berjaga-jaga. Tidak saja di regol. Tetapi beberapa orang berjalan hilir mudik di sepanjang jalan didepan rumah itu. Orang-orang itu nampaknya selalu mengawasi orang-orang yang sedang lewat. Bahkan dua orang sempat mengikuti Barata beberapa langkah. Tetapi karena Barata tidak berhenti dan seakan-akan tidak berkepentingan dengan rumah itu, maka kedua orang itu membiarkannya lewat.

Namun dalam pada itu, perasaan Barata memang telah terganggu. Ia mulai menduga-duga, apakah yang menyebabkan suasana padukuhan itu terasa resah. “Tentu bukan karena ulah para prajurit,“ berkata Barata kepada diri sendiri, “seandainya keresahan itu ditimbulkan oleh para prajurit, maka betapapun kuatnya kemampuan padukuhan itu, mereka tidak akan berani menghadapinya dengan terang-terangan seperti beberapa orang bersenjata disekitar tempat peralatan itu.”

Karena itu, maka kesimpulan Barata adalah, bahwa kelompok-kelompok perusuh telah memanfaatkan keadaan yang belum mapan benar untuk menggali keuntungan sebanyak-banyaknya. Mereka tentu telah melakukan perampokan-perampokan di padukuhan-padukuhan.

Agaknya mereka sering mendatangi pula tempat orang yang sedang mengadakan peralatan, sehingga orang yang sedang mengadakan peralatan yang baru saja dilewatinya telah minta tetangga-tetangganya atau bahkan juga termasuk orang-orang upahan untuk menjaga dan melindungi peralatan yang sedang diselenggarakan.

“Nampaknya orang itu cukup kaya,“ berkata Barata didalam hatinya, “sehingga mampu mengupah beberapa orang untuk berjaga-jaga.”

Sementara itu, malam menjadi bertambah malam.

Barata masih saja berjalan didalam usapan embun yang mulai turun. Barata memang tidak berjalan terlalu cepat, karena sebenarnyalah ia mulai merasa letih justru karena ia harus bertempur melawan orang-orang padukuhan yang kehilangan penalaran serta dua orang prajurit.

Baru setelah lewat tengah malam, maka Barata merasa perlu untuk berhenti. Ia ingin beristirahat barang sejenak menjelang dini hari.

Namun Barata merasa ragu untuk berhenti dan minta ijin untuk beristirahat di banjar. Jika hal itu dilakukan menjelang malam, agaknya tidak banyak pertanyaan yang diajukan kepadanya. Tetapi justru karena malam telah la rut, maka ia harus mempertimbangkan kecurigaan orang- orang padukuhan. Karena itu, maka Barata memilih untuk bermalam di sebuah gubug yang kosong yang tidak berada tepat dipinggir jalan. Jika sebelum fajar ia meneruskan perjalanan maka pemilik gubug itu tidak akan merasa terganggu karena kehadirannya. Pemilik gubug itu biasanya baru datang ke sawah setelah matahari terbit, kecuali jika mendapat giliran mengairi sawah.

Setelah Barata yakin tidak ada orang yang melihatnya, maka Barata telah naik keatas gubug dan membaringkan dirinya yang terasa letih. Sejenak kemudian maka Baratapun telah tertidur nyenyak. Namun naluri telah membuatnya berpegang erat pada hulu pedangnya yang diletakannya disisinya,

Sebagai seorang yang terlatih, baik sebelum maupun setelah menjadi prajurit, Barata seakan-akan mampu mengatur dirinya, seberapa lama ia ingin tidur. Karena itu, maka sebelum fajar Barata memang sudah terbangun.

Namun anak muda itu terkejut ketika ia melihat seorang tua duduk disebelahnya. Demikian ia bangkit, maka Baratapun segera turun dari gubug itu sambil mengangguk hormat.

“Duduklah. Duduklah anak muda,“ berkata orang tua itu, “aku sudah agak lama duduk disini setelah membuka pematang untuk mengairi sawah. Anak muda nampak sangat letih sehingga aku tidak mengganggu ketika anak muda tidur dengan nyenyak.”

“Aku minta maaf kek, bahwa aku tidak minta ijin lebih dahulu,“ berkata Barata.

“Tidak apa -apa. Bukankah aku tidak kehilangan apa-apa jika kau tidur disini?“ jawab orang tua itu.

Dengan ragu-ragu Barata duduk. Diamatinya orang tua yang duduk bersila itu dengan saksama. Dibawah kakinya diletakkannya cangkulnya. Sebuah sabit terselip pada dinding gubug yang hanya tiga sisi dan tidak sampai keatapnya itu. Barata memang menjadi heran. Kenapa ia tidak terbangun saat orang tua itu naik dan duduk digubug itu pula. Apalagi orang tua itu telah mengangkat kedua kakinya naik pula dan duduk bersila.

“Ada sesuatu yang menarik pada orang tua ini,“ berkata Barata didalam hatinya. Namun ia tidak menanyakannya langsung kepada orang tua itu.

“Kau tentu sedang menempuh perjalanan panjang,“ berkata orang tua itu.

Barata mengangguk sambil menjawab, “Ya kek. Karena itu, maka semalam aku merasa sangat letih. Lewat tengah malam aku lewat dijalan sebelah. Aku tidak dapat menahan kantuk justru ketika aku melihat gubug ini. Karena itu, sebelum aku minta ijin, aku telah berani tidur di gubug ini.”

“Tidak apa -apa ngger,“ jawab orang tua itu, “kau tidak mengganggu sama sekali. Kau juga tidak merugikan aku.”

“Terima kasih kek. Sebelum matahari terbit aku ingin meneruskan perjalanan,“ berkata Barata.

“Kenapa begitu tergesa-gesa? Duduklah. Sebentar lagi anakku akan datang membawa minuman hangat. Minumlah lebih dahulu,“ berkata orang tua itu.

Tetapi Barata tidak ingin menunda perjalanannya lagi. Karena itu, maka katanya, “Aku mohon diri kek. Terima kasih atas segala kebaikan kakek.”

Orang tua itupun telah turun pula dari gubug itu. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Baiklah. Nampaknya kau tergesa-gesa. Tetapi pada kesempatan lain, jika kau tidak tergesa-gesa seperti sekarang ini, singgahlah di padepokanku.”

“Padepokan?“ bertanya Barata.

“Ya. Mungkin dapat disebut padepokan anakan. Hanya ada beberapa gubug buat anak-anakku. Maksudku anak- anak angkatku,“ berkata orang tua itu.

“Murid -murid kakek?“ bertanya Barata.

“Ah, jika aku orang berilmu, apakah itu ilmu kan uragan atau ilmu kajiwan, aku berani mengangkat satu dua orang murid. Tetapi karena aku tidak lebih dari seorang petani yang kebetulan mendapat warisan tanah yang cukup luas dari orang tuaku serta pamanku yang tidak mempunyai keturunan, maka aku telah mengangkat beberapa orang anak angkat,“ jawab orang tua itu.

Barata mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian menyadari, bahwa orang tua itu tentu pemimpin sebuah padepokan meskipun padepokan kecil. Itulah agaknya ia memiliki kemampuan untuk naik keatas gubug itu tanpa membangunkannya ketika ia tidur.

Selagi Barata termangu-mangu kakek itu berkata, “Kau lihat pohon beringin diseberang bentangan sawah ini?”

“Ya kek,“ jawab Barata sambil mengamati sebatang pohon beringin raksasa yang nampak dari kejauhan.

“Nah, be berapa langkah di belakang pohon beringin itu, terdapat sebuah gerbang. Itu adalah gerbang padepokanku,“ berkata kakek tua itu.

Hampir diluar sadarnya Barata bertanya, “Apakah nama padepokan itu kek?”

Orang tua itu tertawa. Katanya, “Aku tidak memberinya nama apapun juga. Tetapi tetangga-tetanggaku menyebutnya dengan namaku. Rumeksa.”

“Jadi nama kakek adalah Kiai Rumeksa dan padepokan itu disebut Padepokan Rumeksa?“ bertanya Barata.

“Begitulah anak muda,“ jawab orang tua itu, “pada kesempatan lain aku sangat mengharap kehadiranmu. Meskipun aku belum mengenalmu sebelumnya, tetapi nampak pada ujud dan sikapmu, bahwa kau menyimpan satu kelebihan dari anak muda kebanyakan.”

“Kiai memuji,“ desis Barata, “aku tidak mempunyai kelebihan apapun juga. Satu-satunya kelebihanku adalah, bahwa aku telah menempuh perjalanan yang panjang, yang belum pernah ditempuh oleh anak-anak muda yang lain.”

Orang tua itu tersenyum sambil mengangguk-angguk. Ia tidak bertanya anak muda itu berjalan darimana ke-mana. Iapun tidak bertanya pula namanya, karena anak muda itu akan dapat mengatakan apa saja. Meskipun ia tidak berprasangka buruk terhadap Barata, tetapi nampaknya Barata tidak terlalu terbuka tentang dirinya.

Demikianlah, sejenak kemudian Barata telah meninggalkan orang tua itu. Namun ia merasa tertarik kepada padepokan kecil dibelakang pohon beringin yang nampak dari kejauhan itu. Pada satu kesempatan ia memang ingin untuk singgah barang sejenak. Tetapi selagi ia ingin segera berada di Tanah Perdikannya, maka ia tidak ingin menunda lagi perjalanannya pulang. Barata berharap bahwa siang itu ia sudah memasuki Tanah Perdikan, sehingga saat matahari turun ia sudah dapat bertemu dengan ibunya.

Di padukuhan-padukuhan berikutnya, pengaruh perang itu sendiri memang tidak begitu terasa. Ketika matahari terbit, maka Barata telah bertemu dengan orang-orang yang nampaknya akan pergi ke pasar. Bahkan bersamaan arah dengan perjalanannya, beberapa orang telah pulang dari pasar setelah menjual dagangannya. Barata sempat melihat dua orang perempuan yang membagi uang dari hasil kebun mereka yang mereka jual di pasar.

Tetapi Barata tidak tahu dimana letak pasar itu, karena ia sendiri tidak melewatinya.

Dengan langkah yang cepat Barata menyusuri jalan- jalan bulak seolah-olah ia takut terlambat. Hanya setiap kali ia memasuki padukuhan, maka ia berjalan sewajarnya, agar tidak menarik perhatian orang.

Ketika matahari semakin tinggi maka Barata mulai berkeringat. Ia telah membersihkan wajahnya di sebuah sungai kecil yang berair jernih. Namun wajah itupun kemudian telah menjadi basah pula oleh keringat yang mengembun di kening.

Menjelang tengah hari, Barata telah berhenti dise-buah kedai yang tidak begitu besar. Ketika ia masuk, maka dua tiga orang sudah ada didalamnya. Dari pembicaraan mereka, maka Barata dapat mengetahui bahwa pengaruh perubahan pimpinan pemerintahan di Pajang tidak terlalu merisaukan mereka. Mereka tidak mengeluh karena ada beberapa orang yang dalam kedudukannya sebagai prajurit atau sebagai bebahu padukuhan bertindak sewenang-wenang serta mengambil ternak milik mereka. Yang mereka katakan adalah bahwa ketenangan agak terganggu karena gelombang kejahatan yang agak meningkat. Sementara itu para bebahu justru sedang pening memikirkan cara untuk mengatasinya.

Barata tidak terlalu banyak memperhatikan pembicaraan yang tidak dirasa penting serta tidak memberikan petunjuk keadaan kepadanya. Yang dilakukannya kemudian adalah menikmati makan dan minuman yang dipesannya.

Beberapa saat kemudian, maka Baratapun telah melanjutkan perjalanan. Matahari telah bergeser pula sementara Barata telah menjadi semakin dekat dengan tujuannya.

Ketika matahari menggapai puncak langit, maka Barata telah memasuki sebuah bulak panjang. Bulak panjang itu memang bukan tanah persawahan dari Tanah Perdikannya. Tetapi dibalik bukit-bukit kecil diujung bulak itulah terbentang Tanah Perdikan Sembojan.

Barata justru berjalan semakin cepat. Rasa-rasanya ia ingin langsung meloncat ke rumahnya di tengah-tengah Tanah Perdikan yang cukup luas itu.

Beberapa saat kemudian, Barata memang telah melewat bulak panjang itu. Berjalan di lereng bukit kecil, kemudian iapun kembali berjalan di sebuah bulak. Dan Baratapun merasa telah berada di rumah sendiri. Tanah Perdikan Sembojan.

Dengan langkah tegap Barata berjalan menyusuri jalan- jalan di Tanah Perdikan itu. Ia tidak lagi dibayangi oleh kecemasan ibunya, bahwa ada orang yang dengan diam- diam ingin menyingkirkannya. Ia tidak lagi takut bahwa Puguh atau orang-orangnya akan menyerangnya dan membunuhnya, justru karena kepentingan mereka atas Tanah Perdikan itu. Setelah menjadi prajurit di Pajang, maka Barata merasa bahwa kepercayaannya kepada diri sendiri semakin meningkat.

Karena itu, maka Barata di Tanah Perdikannya sendiri tidak merasa perlu lagi untuk bersembunyi atau menyingkir atau berlindung kepada siapapun juga.

Ketika ia melewati padukuhan yang pertama dari Tanah Perdikannya, maka seseorang telah mengenalinya. Dengan serta merta orang itu telah memberikan ucapan selamat atas kedatangannya kembali ke kampung halamannya.

Demikian pula menyusul beberapa orang lain dan hal seperti itu terjadi disetiap padukuhan yang dilewatinya sehingga perjalanan Barata justru menjadi semakin lambat.

Namun mereka tidak mengenalnya dengan nama Barata.

Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan mengenalinya dengan namanya sendiri Risang.

Justru karena hambatan-hambatan diperjalanannya itu, maka menjelang matahari turun, Barata baru memasuki padukuhan induk. Namun di padukuhan induk, orang-orang padukuhan ternyata menjadi ramai. Berita kedatangan Barata cepat tersebar mendahului langkah kakinya yang tertahan-tahan.

Tetapi akhirnya Barata telah sampai pula kerumah-nya.

Beberapa telah menghambur keluar untuk menyongsongnya. Sebelum Iswari sempat menyentuhnya, Bibilah yang telah memeluknya sambil menangis.

“Akhirnya kau kemba li anakku,“ berkata Bibi disela -sela isaknya.

“Kenapa Bibi menangis?“ bertanya Risang.

“Aku takut, jika umurku tidak akan sempat menunggu kedatanganmu,“ berkata Bibi.

Ketika Bibi melepaskannya, maka Baratapun segera mendekati ibunya yang menunggunya ditangga pendapa. Iswaripun telah menyambutnya dengan titik-titik air mata dipelupuknya. Sambil mencium tangan ibunya Barata berdesis, “Aku telah kembali ibu.”

“Marilah, masuklah. Tentu ada segerobag ceritera yang akan kau sampaikan.”

Barata melangkah naik. Di pringgitan ternyata telah berkumpul Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka. Jati Wulung, Sambi Wulung dan Gandar. Mereka telah bangkit berdiri dan menyambutnya pula.

Namun bahwa mereka berkumpul itu, telah membuat jantung Barata menjadi berdebar-debar. Tidak seorangpun yang berada di padepokan kecilnya.

“Kau datang tepat pada waktunya,“ berkata ibunya, “tetapi aku ingin bertanya, apakah kau kembali hanya untuk beberapa hari, atau kau sudah menyelesaikan semua tugasmu dan kembali pulang untuk seterusnya.”

“Aku p ulang untuk seterusnya ibu,“ jawab Risang. “Bagus,“ hampir berbareng beberapa orang telah

menyahut.

Risang mengerutkan keningnya. Ia memang merasakan sesuatu yang agaknya memang sedang diperbincangkan oleh para pemimpin di Tanah Perdikan Sembojan itu.

Tetapi ternyata ibunya tidak segera mengatakan kepadanya. Ibunya kemudian justru menanyakan keselamatannya serta kabar tentang perjalanannya dan pengalamannya.

“Tentu banyak yang menarik,“ berkata ibunya.

Risangpun kemudian telah menceriterakan, justru saat ia mulai memasuki Tanah Perdikannya. Katanya, “Sebenarnya aku dapat sampai dirumah sedikit lewat tengah hari. Tetapi hampir disetiap padukuhan aku harus berhenti dan berceritera serba sedikit tentang pengalamanku selama ini, sehingga akhirnya baru sore hari aku sampai dirumah.”

Ibunya tersenyum. Katanya, “Semua orang Tanah Perdikan ini tentu menunggu kehadiranmu. Tetapi baiklah. Kau tentu masih sangat letih. Kau harus beristirahat dahulu. Mandi, membenahi pakaianmu dan kemudian makan lebih dahulu. Baru kau akan berceritera panjang dan mendengarkan ceritera kami.”

Barata mengangguk-angguk. Namun ia masih juga bertanya, “Apakah ada sesuatu yang penting, sehingga para pemimpin Tanah Perdikan ini berkumpul?”

“Sebaiknya kau mandi saja dahulu atau membersihkan diri dan membenahi pakaianmu jika kau belum merasa perlu mandi,“ berkata ibunya.

Risang merasakan sentuhan kata-kata ibunya sebagaimana saat ia masih kanak-kanak. Ibunya termasuk seorang yang selalu bersih dan setiap kali mengingatkannya untuk mandi. Jika saat mandi itu datang, sebelum ia benar-benar mandi ibunya selalu memperingatkannya sampai ia benar-benar masuk ke pakiwan.

Namun Risang masih juga menunggu minuman. Baru setelah ia tidak merasa haus lagi, iapun telah diantar ibunya kebilik yang sudah disediakan Bibi untuknya.

Seperti yang dikatakan oleh ibunya, maka setelah mandi dan membenahi diri, Barata telah diminta untuk makan bersama-sama dengan para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan. Bibi yang juga ada di ruang dalam, tidak bersedia untuk makan bersama, tetapi ia ingin ikut mendengarkan pembicaraan yang tentu akan dilakukan saat-saat mereka sedang atau setelah makan.

Sebenarnyalah, disaat mereka makan, sekali-sekali Risang telah sempat menceriterakan perjalanannya ke Pajang, memasuki lingkungan keprajuritan dan dengan pendadaran dan kemudian tinggal disatu barak bersama dengan seratus orang dibawah pimpinan seorang Lurah Penatus yang dianggapnya cukup baik.

Sekali-sekali Barata juga menyinggung tentang seorang anak muda yang bernama Kasadha, yang memiliki kelebihan dari kawan-kawannya yang lain. Namun dalam ceritera yang singkat itu, Barata tidak sempat menyebut Kasadha secara khusus sehingga tidak banyak menarik perhatian mereka yang mendengarnya. Yang justru banyak diceriterakannya adalah Ki Lurah Dipayuda, pertempuran di Randukerep dan di tepian Kali Opak. Kemudian kehadiran para pemimpin Demak di Pajang dan saat-saat ia meninggalkan lingkungan keprajuritan.

Ibunya mendengarkan ceritera Risang dengan sung-suh- sungguh. Bahkan kemudian tidak terasa, matanya menjadi basah. Dengan nada lembut ia berkata, “Bersukurlah terhadap Tuhan, Risang. Bahwa kau masih sempat kembali dengan selamat. Aku dan orang-orang tua disini-pun mengucap sukur bahwa Tuhan telah mengirim kau kembali ke Tanah Perdikan ini.”

Risang mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian berpaling ketika ia mendengar isak seseorang. Ternyata Bibi telah mulai menangis lagi.

“Kenapa kau menangis lagi, Bibi,“ bertanya Risang. “Aku sekarang memang menjadi cengeng,“ sahut Bibi,

“tetapi ceriteramu membuat bulu -buluku berdiri. Ternyata selama ini kau selalu bercanda dengan maut.”

“Tetapi Yang Maha Agung selalu melindungi aku, Bibi,“ jawab Risang.

“Itulah sebabnya ibumu minta agar kau mengucap sukur. Dan selalu mengucap sukur dalam keadaan yang bagaimanapun juga,“ sahut Bibi.

“Tentu Bibi,“ jawab Risang, “kita semuanya akan selalu mengucap sukur.”

Bibi mengusap matanya yang basah sambil bergumam, “Aku dahulu adalah seorang yang tidak mengenal air mata. Sejak bayi aku hampir tidak pernah menangis, karena menangis hanya akan menambah kesulitan saja bagiku.

Dimasa kanak-kanak ayah dan ibuku selalu memaksa aku diam jika aku menangis. Setitik air mata dapat berarti cambuk dipunggungku. Kemudian aku tumbuh dan menjadi liar. Ketika aku berhasil dijinakkan oleh ibumu, aku justru menjadi cengeng.” “Sudahlah Bibi,“ Iswarilah yang kemudian berbicara lirih, “sebaiknya Bibi ikut makan saja bersama kami.”

“Kau kira aku menangis karena lapar?“ bertanya Bibi. Gandar tidak dapat menahan tertawanya.

Namun iapun segera terdiam ketika Bibi membentaknya, “Kenapa kau tertawa.”

Yang lainpun tersenyum. Namun mereka tidak berbicara lagi. Mereka kemudian menikmati hidangan yang telah dengan tergesa-gesa disiapkan karena kehadiran Risang.

Namun demikian, didalam setiap dada mereka yang duduk diruang tengah mengelilingi hidangan yang hangat itu, tersimpan persoalan yang hampir melonjak kepermukaan.

Demikianlah, ketika mereka sudah selesai makan, tanpa menunggu mangkuk-mangkuk disingkirkan, Risang sudah tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Karena itu, maka iapun telah bertanya kepada ibunya, “Ibu, apa yang sebenarnya terjadi di Tanah Perdikan ini? Rasa-rasanya aku ingin segera mendengarnya.”

Iswari memandang Kiai Badra, Kiai dan Nyai Soka berganti-ganti, seakan-akan ingin mendapat pertimbangan dari mereka. Bahkan kemudian Iswari itu bertanya, “Apakah sebaiknya kita mengatakannya?”

Kiai Badra, Kiai dan Nyai Soka termangu-mangu. Iswari tidak menyebut salah seorang diantara mereka. Namun Kiai Badralah yang kemudian berkata, “Baiklah. Aku akan mengatakannya kepada Risang. Ia sudah dewasa sepenuhnya. Jiwanya sudah ditempa oleh garangnya peperangan, sehingga ia bukan lagi anak-anak yang selalu diselubungi oleh kekhawatiran sehingga tidak pernah diajak berbincang. Jika dengan demikian ia selalu dibayangi oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab, maka hal itu akan dapat mengganggu ketenangan jiwanya.”

Risang dengan sungguh-sungguh memperhatikan setiap kata yang kemudian diucapkan oleh Kiai Badra, “Risang.

Selama kau tidak ada di Tanah Perdikan, sebenarnya tidak ada hal yang penting yang terjadi disini. Perang yang terjadi antara Pajang dan Mataram, asapnya tidak menggelapkan tatanan kehidupan Tanah Perdikan ini. Sampai akhirnya Mataram telah meninggalkan Pajang dan pemerintahan justru jatuh ke tangan Adipati Demak. Bukan ketangan Pangeran Benawa.“ Kiai Badra berhenti sejenak. Lalu katanya pula, “Adalah wajar, bahwa setiap pergantian puncak pimpinan pemerintahan, terdapat pula pergantian kebijaksanaan. Nampaknya Adipati Demak yang kemudian berada di Pajang telah mejigetrapkan kebijaksanaannya di Demak untuk dipergunakan di Pajang, sementara beberapa orang pemimpin Demak dan Pajang sendiri masih harus berusaha menyesuaikan dirinya dengan keadaan yang baru.”

Risang termangu-mangu sejenak. Namun ternyata ia tidak sabar menunggu sehingga ia telah menebak mendahului keterangan Kiai Badra, “Maksud kakek, tentu kebijaksanaan tentang Tanah Perdikan.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Sementara Iswari bertanya, “Darimana kau tahu Risang?”

“Kebijaksanaan itu tela h aku dengar ketika aku masih berada dalam lingkungan keprajuritan di Pajang.

Kebijaksanaan itu pulalah salah satu pendorong sehingga aku meninggalkan Pajang dan kembali ke Tanah Perdikan ini,“ jawab Risang.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Katanya kemudian. “Yang kau dengar tentu baru kebijaksanaannya saja secara umum. Tetapi apakah kau juga sudah mendengar langkah- langkah yang diambil oleh Pajang terhadap Tanah Perdikan ini?”

“Itulah yang menggelisahkan aku, kek,“ jawab Risang.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Memang ada keraguan untuk mengatakannya justru karena Risang belum lama berada di rumahnya. Tetapi nampaknya Risang sendiri demikian mendesak untuk segera mengetahuinya. Karena itu, maka Kiai Badrapun telah berkata, “Risang. Tiga hari yang lalu telah datang utusan dari Pajang. Justru kedatangannya yang kedua, karena sekitar sepuluh hari yang lalu utusan itu telah datang. Utusan itu telah mencari beberapa keterangan tentang Tanah Perdikan ini.

Kekancingan yang memberikan wewenang kepada Tanah Perdikan ini, juga mereka lihat. Semula kekancingan itu akan dibawa, tetapi kami telah menyatakan berkeberatan. Pertanda Kepala Tanah Perdikan inipun di pertanyakan pula. Namun ibumu menjawab, bahwa pertanda itu berujud bandul pada sebuah kalung yang kau pakai. Pada kedatangan mereka yang pertama, ketika ibumu menjawab bahwa Kepala Tanah Perdikan Sembojan telah meninggal, kemudian yang berhak menggantikannya juga sudah meninggal, sehingga jabatan itu akan berada di tangan cucu Ki Gede Sembojan, maka agaknya keberadaan Tanah Perdikan ini akan menjadi persoalan. Namun setelah ibumu menjelaskan bahwa cucu Ki Gede itu berada, di Pajang dan menjadi prajurit maka mereka tidak bertanya terlalu banyak lagi.“ Kiai Badra terdiam sejenak. Namun kemudian iapun meneruskannya, “Tetapi ternyata utusan itu datang lagi.

Jika semula hanya terdiri dari empat orang, maka kedatangan mereka yang kedua terdiri dari enam orang. Persoalannya yang dikemukakan lebih banyak lagi dan merekapun ingin tahu, jika kau berada di lingkungan keprajuritan, kau berada di kesatuan yang mana. Kami berterus terang menyatakan bahwa kami tidak tahu, karena kau tidak pernah datang untuk memberitahukan keadaanmu. Agaknya utusan itu merasa perlu untuk mempersoalkannya lebih jauh. Nampaknya mereka masih akan kembali lagi beberapa hari yang akan datang.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Aku memang sudah merasa gelisah. Karena itu, maka aku tergesa-gesa pulang.”

“Kami sudah memutuskan untuk mengirimkan Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk mencarimu ke Pajang. Kami memang ingin minta kau pulang meskipun hanya satu dua hari untuk mengambil keputusan yang pasti, apakah kita akan menyerahkan semua yang diminta oleh utusan yang akan datang lagi atau tidak,“ berkata Kiai Badra.

Jantung Risang telah berdebar semakin cepat. Meskipun ia sudah menduga sebelumnya, namun ternyata ketika ia benar-benar menghadapi persoalan itu, dadanya telah bergejolak.

Sementara itu ibunya telah berkata pula, “Kau yang kebetulan juga berada di Pajang, mungkin kau akan dapat memberikan sedikit pendapatmu, apakah yang sebaiknya kita lakukan.”

Dengan serta merta Risang menjawab, “Kita berpegang kepada kekancingan yang ada.”

“Tetapi kekancingan itu juga dibuat oleh kekuasaan yang sama seandainya ada kekancingan baru yang mencabut kekancingan yang lama,“ berkata Kiai Badra.

“Ada bedanya,“ berkata Risang, “kedudukan Pajang sekarang tidak sama dengan kedudukan Pajang sebelumnya setelah kehadiran Mataram.“

“Tetapi Pajang telah mendapat pengesahan,“ berkata Kiai Badra pula.

“Kakek,“ berkata Risang kemudian , “bagaimanapun juga Pajang masih harus mengakui keberadaan Mataram. Jipang yang dipimpin oleh Pangeran Benawa ternyata juga telah memperbesar pengaruhnya. Pajang bukan lagi bayangan kekuasaan Demak yang kuat dan berwibawa meskipun yang kemudian berkuasa di Pajang adalah Adipati Demak. Tetapi bukan Demak sebelum Pajang berdiri.”

“Jadi bagaimana pendapatmu Risang. Aku kira, jika kau pernah mendengar kemungkinan sebagaimana kita alami, kau sudah pernah memikirkan pemecahan yang harus kita lakukan,“ berkata Ki ai Badra.

“Pada dasarnya kita akan mempertahankan isi dari kekancingan itu. Aku tahu gejolak yang terjadi di Pajang sekarang. Sehingga dengan demikian maka Pajang tentu harus berpikir ulang jika Pajang akan mengambil langkah- langkah yang keras,“ berkata Ri sang.

Kiai Badra termangu-mangu sejenak. Sementara itu Kiai Soka bertanya, “Bagaimana sikap kita jika utusan yang akan datang kemudian berkeras untuk mengambil kekancingan dan pertanda Kepala Tanah Perdikan?”

“Kakek,“ jawab Risang, “sebelum ada kekancingan baru, maka kekancingan yang lama masih tetap berlaku sepenuhnya. Bahkan seandainya ada kekancingan baru yang dikeluarkan oleh Pajang, kita masih harus menilainya,“ berkata Risang.

“Dengan demikian, maka sikapmu condong untuk mempertahankan keberadaan Tanah Perdikan ini,“ berkata Kii Soka.

“Ya kakek,“ jawab Risang.

“Kami akan mendukung setiap keputusan yang kau ambil. Tetapi apakah dengan menolak keputusan Pajang, kita tidak terjerumus kedalam satu pemberontakan terhadap kekuasaan yang sah?“ bertanya Kiai S oka.

Wajah Risang menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “Kita memang harus mempertimbangkan, kek. Pajang memang akan menuduh kita memberontak. Tetapi apakah sikap Mataram dan Jipang juga sama?”

“Apakah hubungannya dengan Mataram dan Jipang,“ bertanya ibunya.

“Ibu, Pangeran Benawa yang semula dianggap sebagai Pangeran Pati di Pajang memiliki pengaruh yang cukup besar. Sebagaimana Adipati Demak yang datang ke Pajang dengan beberapa orang kepercayaannya, maka Pangeran Benawapun telah pergi ke Pajang dengan beberapa orang pemimpinnya. Sementara itu aku mengenal Ki Lurah Dipayuda yang baik, yang tentu mempunyai kenalan pula di Jipang,“ berkata Risang.

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam, “Jipang terlalu jauh ngger. Mungkin kau berniat untuk melepaskan diri dari Pajang, kemudian bergabung dengan Jipang.” “Tetapi kekuatan Jipang pernah berkeliaran disini sebelum Pajang berkuasa. Bukankah hal itu pernah terjadi?“ bertanya Risang.

“Baiklah,“ berkata ibunya, “kau masih perlu berpikir dengan bening. Aku kira bukan besok atau lusa utusan itu datang. Mungkin masih dua tiga pekan lagi. Karena itu, selama ini kau akan sempat berpikir. Kita sempat berbicara lebih bersungguh-sungguh.”

“Aku sependapat,“ berkata Kiai Badra, “sebaiknya kau beristirahat.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, lampupun mulai menyala di mana-mana. Bibi yang duduk termangu-mangu itupun sempat berkata, “Beristirahatlah ngger. Kau tentu letih.”

“Barangkali kau ingin duduk -duduk di pendapa?“ bertanya Nyai Soka, “agaknya baru saja kau makan dan minum. Kau tentu tidak akan segera peugi ke pembaringan.”

“Ya nek,“ jawab Risang, “sudah lama aku tidak melihat suasana di Tanah Perdikan ini. Aku minta diri untuk turun ke halaman. Mungkin di gardu dapat aku temui beberapa orang kawan yang sudah terlalu lama berpisah.”

“Kau sudah terbiasa tidak berada di rumah, Risang,“ berkata Nyai Soka, “sebelum kau menjadi seorang prajurit, kau lebih sering berada di padepokan.”

“Tetapi penghuni Tanah Perdikan ini mengenalku dengan baik,“ berkata Risang.

“Tentu,“ ja wab Nyai Soka, “kau adalah tumpuan harapan mereka. Kau adalah calon Kepala Tanah Perdikan yang akan menjadi pengikat keutuhan Tanah Perdikan ini.”

Beberapa saat kemudian Risang telah berada di tangga pendapa rumahnya. Sambi Wulung. Jati Wulung dan Gandar mengawaninya ketika Risang turun dan berjalan- jalan di halaman yang mulai gelap.

“Sebaiknya kau beristirahat,“ berkata Sambi Wulung. Tetapi Risang itu menjawab, “Aku ingin berjalan -jalan. Rasa-rasanya aku menjadi sangat rindu kepada jalan-jalan padukuhan induk di Tanah Perdikan ini.”

“Apakah kau tidak merasa letih?“ bertanya Jati Wulung. “Tentu juga letih. Tetapi aku masih belum dapat tidur.

Apalagi aku baru saja makan,“ jawab Risang. “Sebenarnya aku ingin mendengar ceritamu lebih

lengkap lagi,“ Gandarlah ya ng kemudian berdesis, “rasa - rasanya aku dapat melihat sendiri, pertempuran yang sengit di Randu Kerep.”

“Itu tidak aneh,“ berkata Risang selanjutnya sambil melangkah keluar regol halaman, “pertempuran itu memang mendebarkan. Tetapi satu peristiwa yang aneh telah terjadi. Aku dan seorang prajurit muda, yang barangkali sedikit lebih tua dari aku telah bertemu dalam satu perjalanan dengan sekelompok orang. Mereka tiba-tiba saja mengira aku seorang anak muda yang bernama Puguh.”

“Bukankah hal itu memang pernah kau alami sebelumnya?“ bertanya Sambi Wulung.

“Ya. Tetapi yang aneh adalah, bahwa kami berdua telah disangka Puguh. Dari sekelompok orang itu sebagian menyebut aku Puguh, sedang sebagian lagi menyebut Kasadha sebagai Puguh. Aku memang menjadi bingung.

Tetapi aku pernah mendengar nama Puguh. Sedangkan kawanku itu menjadi semakin bingung. Ia tidak tahu sama sekali hubungannya dengan nama Puguh itu,“ berkata Risang.

Ceritera itu memang sangat menarik bagi Sambi Wulung dan Jati Wulung yang pernah mengenal Puguh. Mereka memang menganggap bahwa Risang dan Puguh memiliki kemiripan. Hal itu bukan sesuatu yang aneh, karena keduanya memiliki seorang ayah yang sama.

Namun baik Sambi Wulung maupun Jati Wulung tidak menanyakannya lebih jauh. Gandarlah yang menanggapinya. Dengan nada tinggi ia berkata, “Memang sangat lucu. Bagaimana mungkin kalian berdua disangka Puguh.”

“Ya,“ Risang berceritera lebih jauh, “akhirnya sekelompok orang itu memutuskan untuk menangkap kami berdua.”

Gandar tertawa. Sambil menepuk Sambil Wulung ia bertanya, “He, bukankah peristiwa itu sangat menggelikan. Sayang aku tidak dapat menyaksikannya. Seandainya saja aku ada pada waktu itu tentu tidak sempat membantu, karena aku harus tertawa berkepanjangan. Bagaimana dua orang dapat disangka Puguh.”

Risangpun tertawa. Katanya, “Dalam suasana yang kacau memang mungkin saja terjadi hal-hal yang tidak masuk akal.”

Gandar mengangguk-angguk. Namun ternyata bahwa banyak hal yang ingin diketahuinya dalam pertempuran. Baik di Randukerep, maupun di Prambanan. Serta saat-saat berakhirnya kekuasaan Kangjeng Sultan Hadiwijaya yang harus menghadap kembali kepada Yang Maha Agung.

Sumber hidupnya.

Sambil berjalan-jalan Risang sempat berceritera tentang kehadiran seorang pimpinan pasukannya yang baru setelah Ki Lurah Dipayuda mengundurkan diri. Bahwa tanpa diketahui kesalahannya ia bersama Kasadha harus melakukan pendadaran ulang yang ternyata berekor panjang.

“Pengalamanmu menarik sekali,“ berkata Gandar.

Sementara itu keempat orang itu telah berada di jalan yang membelah padukuhan induk itu. Mereka menyusuri jalan yang gelap namun yang sekali-kali diterangi oleh nyala obor di regol halaman rumah sebelah menyebelah.

Tetapi padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan itu memang mulai menjadi sepi jika malam turun. Beberapa buah gardu yang mereka lewati masih kosong. Pada saat sepi bocah, satu dua orang mulai berdatangan ke gardu. Sampai saatnya sepi uwong biasanya mereka yang bertugas sudah siap berada di gardu-gardu.”

Ketika mereka berada ditikungan, di depan gardu yang masih kosong, tiba-tiba saja Risang bertanya, “Bagaimana dengan para pengawal Tanah Perdikan ini?”

“Mereka masih tetap merupakan kekuatan yang melandasi setiap gerak Tanah Perdikan ini.” jawab Sambi Wulung.

“Tetapi mereka belum kelihatan sama sekali di gardu - gardu,” berkata Risang pula.

“Bukankah kau melihat para petugas di regol rumah kita?“ bertanya Sambi Wulung.

“Hanya itu?“ bertanya Risang.

“Disetiap padukuhan, di rumah para bekel. Tetapi jika kau ingin bertemu dengan para pengawal, kita dapat pergi ke banjar,” desis Sambi Wulung.

Risang termangu-mangu sejenak. Sementara Sambi Wulung berkata pula, “Tetapi sebaiknya tidak sekarang. Kau masih letih. Sebaiknya kau beristirahat.”

Risang mengangguk kecil. Namun kakinya masih saja melangkah justru berbelok menyusup jalan-jalan kecil. Agaknya Risang memang belum ingin pergi ke banjar.

Risang sadar, jika ia memasuki halaman banjar, berarti ia akan berada ditempat itu sampai semalam suntuk. Ia akan sulit untuk mencari kesempatan meninggalkan banjar itu.

Karena itu, maka sebelum gardu-gardu itu terisi, maka Risang bersama Sambi Wulung. Jati Wulung dan Gandar telah berada kembali di halaman rumahnya. Beberapa saat Risang sempat berbicara dengan para petugas di gardu.

Namun tidak sampai tengah malam Risang sudah berada didalam biliknya.

Sebenarnyalah bahwa Risang memang merasa letih. Tetapi iapun merasa gelisah karena persoalan-persoalan yang timbul di Tanah Perdikannya itu.

Namun akhirnya Risang itupun telah tertidur pula. Sejak hari berikutnya, maka bersama ibunya, Risang berusaha melihat-lihat keadaan Tanah Perdikannya. Bukan saja ujud lahiriahnya. Tetapi ia telah melihat segi-segi kehidupannya serta kemampuan yang tersimpan didalamnya. Risang telah mengumpulkan para pemimpin kelompok pengawal yang tersebar di padukuhan- padukuhan untuk berbicara langsung dengan mereka di banjar padukuhan induk.

Semakin mendalami segi-segi kehidupan di Tanah Perdikannya, maka Risang menjadi semakin gelisah. Ia benar-benar tidak rela melepaskan kedudukan Tanah Perdikan bagi Sembojan. Ia sama sekali tidak bermimpi untuk melakukan satu pemberontakan. Tetapi justru karena Risang mengetahui permainan yang kurang wajar yang terjadi di Pajang yang kalut itulah maka ia merasa perlu untuk menentukan sikap.

Namun dalam pada itu, kakek dan neneknya ternyata mempunyai persoalan lain. Mereka merasa bahwa umur mereka menjadi semakin tinggi. Mereka merasa bahwa umur mereka itu bagaikan menggapai saat-saat terakhir dalam hidup mereka.

Dengan demikian, maka rasa-rasanya mereka ingin meletakkan beban yang terasa masih berada di pundak mereka. Menurunkan ilmu puncak yang telah mereka susun bersama kepada Risang. Janget Kinatelon.

Meskipun ibu Risang juga sudah menguasai ilmu itu.

Namun rasa-rasanya mereka akan lebih puas, jika mereka bertiga sempat melakukannya atas Risang.

Namun ketiga orang tua itu tidak dapat ingkar pada satu kenyataan, bahwa Tanah Perdikan itu telah merenggut perhatian mereka sepenuhnya, sehingga untuk sementara mereka tidak akan dapat mengurung Risang dalam sanggar untuk waktu yang berbulan-bulan sebelum ia benar-benar menguasai ilmu Janget Kinatelon, meskipun landasannya telah mereka persiapkan didalam diri anak muda itu sejak beberapa tahun sebelumnya. Yang dilakukan Risang kemudian bukannya sekedar memberikan petunjuk-petunjuk kepada para pemimpin kelompok, tetapi Risang ingin melihat kemampuan para pengawal dari semua tataran.

Sebagian kecil dari para pengawal memang orang-orang yang telah mendekati pertengahan abad. Mereka adalah orang-orang yang berpengalaman sejak kekuatan Jipang mulai merambah Tanah Perdikan itu. Orang-orang yang sudah mendekati usia setengah abad itu adalah pelatih- pelatih yang baik bagi para pengawal. Sedangkan yang terbanyak diantara para pengawal adalah anak-anak muda yang tumbuh kemudian. Namun inti kekuatan yang sebenarnya dari para pengawal adalah orang-orang muda yang masih kuat namun sudah memiliki pengalaman yang cukup. Meskipun pada umumnya mereka sudah berke luarga dan bahkan mempunyai satu dua orang anak yang masih kecil, tetapi pengabdian mereka kepada Tanah Perdikannya sama sekali tidak menyusut.

Pada kesempatan-kesempatan berikutnya, bersama Sambi Wulung. Jati Wulung dan Gandar, Risang telah menjajagi kemampuan para pengawal. Mereka menyaksikan di setiap padukuhan, latihan-latihan yang khusus diadakan. Sehingga dengan demikian maka Risang mampu menilai tataran kekuatan Tanah Perdikan Sembojan.

Iswari serta orang-orang tua di Sembojan itu mencoba mengerti, bahwa perhatian Risang terbesar justru pada kekuatan para pengawal, karena Risang telah beberapa lama berada dalam lingkungan keprajuritan.

Namun dalam pada itu, orang-orang tua itupun menjadi cemas. Risang terlalu sibuk dengan para pengawal. Bahkan latihan-latihan khusus yang semula sekedar untuk melihat tataran kemampuan rata-rata para pengawal, telah berubah menjadi latihan-latihan yang sebenarnya untuk meningkatkan kemampuan para pengawal. Para pelatih telah berusaha menunjukkan, bagaimana mereka menempa para pengawal itu.

Risang memang merasa puas dengan pengamatannya, karena pada umumnya para pengawal memang memiliki kemampuan seorang prajurit.

Ibunya, pada satu saat terpaksa memperingatkan Risang agar mengurangi kegiatan bagi para pengawal.

“Bukankah hal itu sangat diperlukan ibu?“ justru Risang bertanya kepada ibunya.

“Kita harus beranggapan bahwa selam a ini kita baru mendapat perhatian khusus dari Pajang. Persoalan Tanah Perdikan ini masih belum selesai. Karena itu, jika kau terlalu banyak mengadakan latihan-latihan bagi para pengawal, maka Pajang akan dapat salah mengerti. Mungkin satu dua orang petugas sandi sekali-sekali lewat di Tanah Perdikan ini. Mereka akan dapat menjadi salah paham. Mungkin mereka mengira bahwa kita disini telah mempersiapkan kekuatan untuk mempertahankan Tanah Perdikan ini dengan kekerasan sehingga dengan demikian kami akan dapat dituduh telah memberontak,“ jawab ibunya.

“Tetapi menempa kekuatan para pengawal di Tanah Perdikan ini sangat kita perlukan ibu,“ jawab Risang.

“Kau benar Risang,“ jawab ibunya. Selama kau pergi, kami telah melakukannya pula. Tetapi tidak justru dalam keadaan seperti ini.”

“Ibu terlalu berhati -hati,“ berkata Risang.

“Mungkin memang demikian Risang. Tetapi ibumu -lah yang selama ini menunggui Tanah Perdikan ini, sehingga ibumu rasa-rasanya sudah menjadi satu dengan tanah ini. Angin yang berhembus di pebukitan adalah nafas yang menghidupi Tanah Perdikan ini. Sedangkan udara di Tanah Perdikan ini pulalah yang selalu mengalir didalam rongga dada ibumu ini,“ berkata Iswari.

Risang menarik nafas dalam-dalam.

“Aku tidak berkeberatan kau berusaha untuk mengetahui tataran kemampuan para pengawal. Tetapi jangan melakukan kegiatan yang dapat menimbulkan salah paham,“ berkata ibunya.

Risang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun mengangguk sambil berkata, “Baiklah ibu. Aku akan melakukan kegiatan-kegiatan yang lebih kecil.”

Ibunya tersenyum. Sambil menepuk bahu anaknya ia berkata, “Kau sendiri juga memerlukan waktu. Pada suatu saat kakek dan nenekmu ingin melihat, landasan yang pernah dipasang didalam dirimu untuk membangunkan satu kekuatan ilmu yang sangat tinggi. Jika kau berhasil, maka kau akan menjadi salah seorang diantara mereka yang berilmu tinggi. Justru pada umurmu yang masih terhitung muda.”

Risang menarik nafas dalam-dalam, ia memang mempunyai keinginan untuk meningkatkan ilmunya. Tetapi rasa-rasanya Tanah Perdikannya menuntut lebih banyak pengabdiannya. Ia merasa sudah terlalu lama berada diluar Tanah Perdiannya karena keluarganya terlalu mementingkan diri sendiri. Seolah-olah mereka dibayangi ketakutan bahwa ia akan dapat dibunuh dengan cara yang curang, sebagaimana pernah terjadi dengan kakeknya. Ki Gede Sembojan.

Namun seharusnya hal itu tidak berarti bahwa ia harus melarikan diri begitu jauhnya. Mengganti namanya dan menutupinya dengan berbagai macam kepalsuan.

Sebenarnyalah bahwa ibunya, kakek dan neneknya serta para pemimpin yang terhitung tua di Sembojan menjadi cemas. Mereka menganggap bahwa Risang telah berbuat terlalu banyak bagi para pengawal Tanah Perdikan, sehingga mungkin sekali menimbulkan salah penilaian.

Risang yang beberapa kali mendapat tegoran ibunya, telah merubah cara yang dipergunakannya. Ia tidak lagi berhadapan dengan kelompok-kelompok yang berjumlah besar. Tetapi ia telah membuat satu kelompok kecil yang terdiri dari para pemimpin kelompok. Lewat para pemimpin kelompok itulah Risang menyalurkan gejolak hatinya dalam hubungannya dengan Tanah Perdikannya yang mendapat penilaian kembali dari Pajang, yang ujudnya antara lain adalah peningkatan kemampuan.

Sementara itu Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka telah berusaha pula mengurangi kegiatan Risang dengan cara yang lain lagi. Kiai Badra yang beberapa kali mendapat pengaduan dari Iswari telah memanggil Risang untuk menemuinya.

Ketika Risang menghadapnya, maka telah hadir pula Kiai Soka dan Nyai Soka.

“Risang,“ berkata Kiai Badra, “keda tanganmu telah memberikan harapan ganda bagi kami yang tua-tua. Kami berharap bahwa kau akan dapat memecahkan persoalan Tanah Perdikan ini bersama ibumu jika utusan dari Pajang itu datang. Sebenarnyalah bahwa kami yang tua-tua ini tidak mempunyai wewenang apapun atas Tanah Perdikan ini, karena Tanah Perdikan ini merupakan warisan yang mengalir dari kakekmu, ayah dari ayahmu. Sedangkan kami adalah keluarga dari sisi ibumu. Karena itu, maka kami ingin memberikan warisan yang akan dapat mengimbangi warisan yang akan kau terima dari sisi ayahmu itu, meskipun barangkali nilai dari warisan yang ingin kami berikan tidak memadai dibandingkan dengan warisan yang akan kau terima dari ayahmu. Kami sudah sepakat, bahwa kami akan mewariskan ilmu Janget Kinatelon. Dengan demikian maka kau akan mendapat warisan Tanah Perdikan ini dan kau selanjutnya akan mampu memimpinnya dan mengembangkannya.”

Risang termangu-mangu. Sementara Kiai Badra berkata selanjutnya, “Namun demikian, segala sesuatunya kita memang tidak akan dapat menyimpang dari paugeran.”

Risang mengangkat wajahnya yang menunduk. Namun Kiai Badra telah berkata selanjutnya, “Karena itu, maka aku ingin mulai membawamu kembali ke sanggar. Sudah tentu akan disesuaikan dengan waktumu yang sempit. Namun sebaiknya kau tidak menunda-nunda lagi, selagi umurku dan umur kedua kakek dan nenekmu itu masih belum sampai pada satu batas akhir.”

Risang termangu-mangu sejenak. Ia sadar, bahwa hal itu dilakukan oleh ketiga orang tua itu tentu dalam kaitan pesan ibunya agar ia mengurangi kegiatannya.

Namun Kiai Badra nampaknya mampu membaca perasaan anak muda itu, sehingga karena itu maka katanya, “Jangan mengelak Risang. Jika kau masih mengakui kami sebagai guru-gurumu. Agaknya kami tidak perlu memakai bahasa seorang guru dalam olah kanuragan kepada muridnya. Kau tentu tahu maksudku.”

Risang memang tidak mungkin mengelak lagi. Ia sadar akan kewajiban seorang murid terhadap seorang atau beberapa orang gurunya. Karena itu, maka Risangpun kemudian telah mengangguk hormat sambil berkata, “Ak u akan melakukan segala perintah kakek dan nenek.”

“Nah,“ berkata Kiai Badra, “jika kau sudah memiliki ilmu Janget Kinatelon, maka kau tidak perlu lagi untuk menjadi seorang anak di padepokan Bibis yang jauh itu, meskipun bukan berarti bahwa kau tidak akan pergi lagi ke padukuhan Bibis. Juga seandainya kau kelak kembali ke Pajang dalam urusan apapun, maka kau dapat dengan tengadah menyebut namamu, Risang. Putera Tanah Perdikan Sembojan.”

Risang sekali lagi. mengangguk hormat. Namun sebenarnyalah ia tentu akan merasa bangga bahwa jika pada suat u kali ia bertemu lagi dengan Kasadha, dengan Ki Lurah Dipayuda dan dengan seorang gadis yang bernama Riris serta kakaknya Jangkung Jaladri ia dapat menyebut dirinya Putera Tanah Perdikan Sembojan.

Bahkan cucu Ki Gede Sembojan, yang berhak mewarisi Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Ia tidak perlu lagi menunduk dengan hati yang berdebar-debar jika seseorang bertanya tentang asal-usulnya. Bahkan jika seseorang ingin datang menengoknya. “Nah,“ berkata Kiai Badra kemu dian, “bersiap -siaplah untuk kembali memasuki sanggar. Untuk memantapkan landasan ilmumu, maka diperlukan waktu beberapa bulan. Dalam keadaan yang demikian, maka kau masih belum perlu membatasi diri terlalu ketat. Kau masih dapat berada diantara para pengawal Tanah Perdikan serta masih dapat setiap saat melihat-lihat keadaan. Sambil menunggu kedatangan utusan dari Pajang dalam hubungannya dengan kedudukan Tanah Perdikan ini.”

Risang mengangguk-angguk kecil. Sementara Kiai Badra berkata, “Namun nanti pada sa atnya, kau harus mengurung diri dalam sanggar selama ampat puluh hari ampat puluh malam.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Namun masa untuk mengurung diri ampat puluh hari ampat puluh malam itu tentu jika ia sudah sampai pada tahap akhir dari usahanya untuk mewarisi ilmu Janget Kinatelon. Itupun masih harus diikuti dengan usaha mengembangkannya, sehingga diperlukan waktu lagi.

Tetapi selama ia masih memantapkan landasan untuk menguasai ilmu Janget Kinatelon itu, maka ia masih akan dapat berada diantara para pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itu, maka Risangpun kemudian berkata, “Kakek dan nenek. Aku mengucapkan terima kasih atas segala perhatian kakek dan nenek terhadapku. Aku akan patuh menjalani segala laku yang harus aku tempuh.”

“Bagus,“ berkata Kiai Badra, “untuk sementara kita akan berada disanggar disetiap sore hari. Mungkin kita akan mempergunakan waktu agak panjang, sehingga malam hari. Tetapi aku sudah berbicara dengan ibumu, bahwa di pagi hari kau tidak perlu bangun pagi-pagi sekali sebagaimana kau lakukan. Kau dapat bangun setelah matahari terbit. Bahkan jika kita berlatih sampai dini, kau dapat bangun lebih lambat. Atau, kau tetap membiarkan kebiasaanmu bangun pagi-pagi, namun kemudian kau akan diperkenankan tidur lagi beberapa saat sebelum matahari naik.”

Risang mengangguk-angguk kecil. Ia sadar, bahwa guru-gurunya itu ingin mempersempit waktunya. Tetapi Risang tidak akan dapat menolak.

“Risang,“ berkata Kiai Badra kemudian,“ bersiaplah untuk sepekan ini. Dalam sepekan ini, kau aku minta untuk mempersiapkan diri. Mulailah kadang-kadang memasuki sanggar sendiri. Mungkin kau dapat dibantu oleh paman- pamanmu, Sambi Wulung. Jati Wulung, Gandar atau Bibi. Bahkan mungkin jika sempat ibumu dapat langsung turun pula ke sanggar.”

Risang mengangguk hormat sambil menjawab, “Ya kakek. Aku akan melakukannya.”

Kiai Badra mengangguk-angguk. Namun seperti juga Kiai dan Nyai Soka, ia melihat kekecewaan yang membayang di hati anak muda itu disamping kebanggaannya sebagai murid yang mendapat kepercayaan gurunya untuk mewarisi ilmu tertinggi yang pernah disusun oleh ketiga orang gurunya yang memiliki latar belakang ilmu yang berbeda.

Namun juga karena itu, maka ilmu Janget Kinatelon memiliki unsur yang sangat lengkap.

Tetapi disamping tanggung jawabnya sebagai seorang murid, Risangpun merasa bertanggung jawab atas Tanah Perdikannya meskipun dengan sikap seorang anak muda yang jantungnya masih cepat bergejolak dan darahnya mudah menjadi panas.

Usaha orang-orang tua itu memang sedikit berhasil.

Selain permintaan ibunya yang berulang kali disampaikan kepada anak muda itu, agar Risang tidak terlalu memacu peningkatan kemampuan para pengawal yang sudah terhitung baik itu.

Dengan laku yang harus dijalani, maka Risang hanya mempunyai waktu luang sedikit sekali. Di pagi hari, anak- anak muda termasuk para pengawal harus bekerja disawah. Di sore hari sampai jauh malam Risang sendiri harus berada di Sanggar.

Namun ternyata bahwa gairah para pengawalpun cukup tinggi. Mereka sadar bahwa waktu Risang menjadi sangat sempit. Karena itu, mereka telah menyediakan waktu kapan saja dikehendaki oleh Risang. Apalagi yang kemudian mendapat tempaan khusus adalah hanya para pemimpin kelompok yang kemudian harus melakukannya pula kepada para pengawal.

Namun dalam pada itu, Risang yang tumbuh menjadi dewasa itupun telah mendapat perhatian khusus dari beberapa orang tua yang terpandang di Tanah Perdikan. Bukan sebagai seorang pemimpin yang bakal memegang Jabatan Kepala Tanah Perdikan, bukan pula sebagai seorang yang berilmu tinggi. Tetapi sebagai seorang anak muda yang menjadi dewasa, yang sudah sepatutnya mempunyai kawan hidupnya.

Beberapa orang yang mempunyai anak gadis menjadi berharap-harap cemas. Jika Risang berada di padukuhan- padukuhan dalam rangka tugasnya, maka orang-orang tua yang memiliki kelebihan dari orang-orang lain, apakah karena kekayaannya, apakah karena pengaruhnya atau karena ia menjadi seorang Bekel di padukuhan atau karena sebab-sebab lain, berusaha untuk minta agar Risang singgah dirumahnya.

Sementara itu, gadis-gadis yang pergi ke pasar, jika mereka bertemu dengan Risang di jalan, ada-ada saja ulah mereka. Gadis-gadis itu kadang-kadang kehilangan kendali yang mengikat mereka sesuai dengan tata kehidupan, sehingga sekali-sekali mereka justru saling mendorong, tertawa tertahan-tahan dan apabila mereka menyadari tingkah lakunya itu, maka wajah merekapun menjadi merah.

Beberapa orang gadis yang sedang mencuci pakaian dipinggir kali tidak lagi ingat sepotong kainnya hanyut jika kebetulan Risang dan beberapa orang kawannya berjalan di tanggul untuk melihat-lihat ketahanan tanggul-tanggul sungai menghadapi musim basah.

Risang sendiri bukannya seorang yang berperasaan sekeras batu-batu padas di pebukitan yang membujur bagaikan dinding bagi Tanah Perdikannya itu. Risang sekali- sekali juga memperhatikan gadis-gadis yang pernah ditemuinya di Tanah Perdikannya. Bahkan Risang juga mengenal beberapa orang diantara mereka.

Tetapi Risang tidak pernah menjadi akrab dengan mereka. Seorangpun tidak. Risang mengenal mereka sebagaimana ia mengenal perempuan-perempuan di Tanah Perdikan itu. Yang muda, yang tua, yang berusia senja atau bahkan anak-anak sekalipun.

Yang menggelisahkan Risang adalah, justru pada saat- saat ia bertemu dengan gadis-gadis di Tanah Perdikannya, maka ia mulai membayangkan wajah gadis yang pernah ditemuinya dalam perjalanannya pulang ke Tanah Perdikan Sembojan, Riris Respati. Anak Ki Lurah Dipayuda.

Kadang-kadang Risang juga menyesal, bahwa ia tidak berterus terang tentang dirinya. Bahwa ia adalah cucu Kepala Tanah Perdikan Sembojan. Seandainya ia berterus terang, maka Jangkung tentu pernah menengoknya sekali- sekali, sehingga ia akan dapat membuat alasan untuk datang kembali ke rumah Ki Lurah Dipayuda.

Setiap kali Risang memang berusaha untuk melupakan Riris. Tetapi setiap kali wajah itu justru membayang jika ia mendengar suara gadis-gadis yang bergurau di tepi sungai saat mereka mencuci pakaian, atau gadis-gadis yang pergi ke sawah mengirimkan makanan dan minuman bagi keluarga mereka yang sedang bekerja.

***

Sebenarnyalah, Riris, anak gadis Ki Lurah Dipayuda juga sering pergi ke sawah. Tetapi ia tidak pernah pergi tanpa kakaknya. Jangkung. Bagaimanapun juga, Riris tidak dapat melupakan, bahwa seseorang tentu mendendamnya.

Ririspun sekali-sekali masih membayangkan, bahwa seseorang telah menyelamatkannya dari kemarahan anak muda yang menjadi kecewa kepada sikapnya. Seorang bekas prajurit yang bernama Barata, yang ternyata memiliki kemampuan yang sangat tinggi, sehingga dengan mudah ia dapat mengalahkan orang-orang yang mengganggunya.

Dari hari ke hari, maka Riris mulai menjadi semakin tenang karena menurut perhitungannya, laki-laki itu tentu sudah menjadi jera. Meskipun demikian, Riris masih saja tidak mau keluar rumahnya tanpa kakaknya atau ayahnya. Bahkan pergi ke rumah tetanggapun Riris selalu mengajak seseorang pembantunya, meskipun juga seorang perempuan.

Tetapi hari yang sama-sekali tidak diduga-duga itupun telah terjadi. Ketika Riris pergi ke sawah bersama dengan kakaknya sambil membawa minuman karena Setra telah membawa makanan lebih banyak dari biasanya, justru saat kerja disawah menjadi lebih banyak sehingga memerlukan tenaga yang lebih banyak pula, beberapa orang laki-laki telah menghadangnya.

Jangkung yang berjalan bersama Riris terkejut. Lima orang laki-laki nampaknya telah menunggunya disimpang ampat.

Mula-mula Jangkung memang ragu-ragu, apakah orang- orang itu ada sangkut pautnya dengan kehadirannya.

Namun ketika ia melihat laki-laki yang sering mengganggu adiknya, maka jantungnyapun menjadi berdebar-debar.

Riris yang juga melihatnya telah dengan serta merta berhenti. Sambil menarik tangan kakaknya ia berdesis, “Kakang. Mari kita kembali.”

Jangkung termangu-mangu sejenak. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya jalan bulak yang cukup panjang.

Seandainya ia kembali, maka orang-orang itu tentu akan mengejarnya dan karena ia bersama dengan Riris, maka orang-orang itu tentu akan dapat menyusulnya.

Karena itu, maka Jangkung itupun kemudian berkata, “Jangan takut Riris. Aku berdua dengan Setra akan menyelesaikan mereka.”

“Mereka te rnyata berlima kakang,“ desis Riris yang menjadi ketakutan.

“Apa boleh buat,“ berkata Jangkung, “kita tidak mempunyai pilihan.”

Sementara itu, karena Jangkung, Riris dan Setra berhenti, kelima orang itulah yang mendekatinya. Sementara Jangkung berkata, “Le takkan makanan itu Setra.”

Setra telah meletakkan makanan yang dibawanya.

Sementara Jangkung bertanya, “Kau berani melawan atau tidak? Jika tidak, larilah ke padukuhan untuk mencari bantuan. Tetapi agaknya mereka tentu tidak akan melepaskanmu.”

Setra menarik nafas dalam-dalam. Ia bukan seorang yang sering berkelahi. Tetapi dengan mantap ia berkata, “Aku tidak takut kepada mereka.”

“Bagus,“ berkata Jangkung, “kita akan berkelahi jika mereka mengganggu Riris.”

“Jumlah mereka terlalu banyak kakang,“ berkata Ri ris. “Pada saat seperti ini banyak orang berada disawah

Riris. Mereka tentu akan melihat jika terjadi perkelahian disini. Tetapi seandainya tidak, maka aku akan berbuat apa saja untuk melawan mereka,“ berkata Jangkung.

Riris memang melihat kesebelah menyebelah. Tetapi ia tidak melihat orang berada disawah. Disebelah parit induk pekerjaan seakan-akan memang sudah selesai, sehingga tidak banyak lagi orang berada disawah. Satu dua orang yang pergi kesawah hanya sekedar menengok aliran parit. Kemudian segera pulang. Baru diseberang parit induk sawah memang baru disiangi, sehingga banyak orang yang berada disawah. Antara lain sawah Ki Lurah Dipayuda. Namun Riris tidak mendapat kesempatan lagi. Kelima orang itu sudah berdiri beberapa langkah didepannya.

“Aku sudah lama menunggu kesempatan seperti ini,“ berkata laki-laki yang sering mengganggu Riris.

“Apakah kau masih belum jera?“ bertanya Jangkung. “Laki -laki itu sudah pergi. Tidak ada lagi orang yang

dapat menghalangi kami,“ berkata laki -laki itu. “Tetapi ayah sud ah tahu, siapakah yang sering

mengganggu adikku. Kau kira ayah terlalu bodoh untuk berdiam diri jika terjadi sesuatu atas adikku,“ berkata Jangkung.

Yang kemudian melangkah maju adalah kakaknya yang juga pernah dikalahkan oleh Barata, “Sudah aku katakan berkali-kali. Aku tidak takut kepada Ki Lurah Dipayuda meskipun ia bekas seorang prajurit. Apa kau kira seorang prajurit itu menjadi seperti hantu? Sayang anak muda.

Kami yang pernah merasa terhina datang untuk menuntut balas.”

“Terhina oleh siapa?“ bertanya Jangkung.

“Calon suami Riris. Karena itu, Riris sekarang harus bertanggung jawab,“ berkata kakak orang yang sering mengganggu Riris itu.

“Itu tidak masuk akal. Jika kau memang laki -laki, cari orang yang kau sebut itu. Jangan membebankan kesalahan orang itu kepada seorang gadis yang tidak tahu apa-apa.

Itupun jika Barata dapat dianggap bersalah,“ jawab Jangkung.

“Kami tidak mau berpikir berbelit -belit. Sekarang aku ingin membawa Riris. Jika kau ingin selamat, menyingkirlah. Biarlah ayahmu datang mengambilnya. Itu jika ada keberanian padanya,“ berkata orang itu.

“Gila,“ Jangkung hampir berteriak, “Kau menghina ayahku.”

“Berteriaklah. Tidak akan ada orang yang mendengar.

Sawah ini telah menjadi sepi sejak pekerjaan menyiangi itu selesai. Mungkin disawah diseberang parit induk sebagaimana sawah ayahmu, yang masih sedang dikerjakan,“ berkata orang itu.

“Kau akan menyesal karena kau menghina ayahku,“ geram Jangkung.

“Laki -laki bakal suami Riris itupun telah menghina seluruh keluargaku,“ berkata orang itu.

“Perseta n. Kau kira aku mau melepaskan adikku,“ suara Jangkung menjadi gemetar oleh kemarahan yang memuncak.

Tetapi orang itu tertawa. Katanya, “Sebaiknya kau tidak ikut campur Jangkung. Atau kau akan mengalami nasib buruk.”

“Riris adalah adikku,“ Jangkung berkata lantang.

Orang itu memberi isyarat. Kelima orang itupun mulai memencar. Namun Jangkung berkata lantang pula kepada laki-laki yang sering mengganggu Riris itu, “Apakah kau ingin mempergunakan kesempatan ini untuk memenuhi tantanganku? Ketika aku datang dibawah rumpun bambu itu, kau dalam keadaan lemah. Sekarang kau nampak segar dan siap untuk berkelahi.”

Tetapi kakaknya tertawa sambil menjawab, “Aku tidak akan membiarkan ia berkelahi seorang diri. Kami akan berkelahi bersama-sama. Berapapun tinggi ilmumu, maka kau akan kami bantai disini. Besok atau nanti sore orang- orang yang pergi ke sawah akan menemukan kau setengah mati di jalan ini. Kau dapat saja berceritera siapa kah yang telah memukulimu sampai kau tidak mampu bangkit dan berjalan pulang. Kami akan menunggu kedatangan ayahmu atau barangkali ia akan membawa orang-orang upahannya, “orang itu berhenti sejenak, lalu, “Tetapi ingat. Riris ada ditanganku. Jika ayahmu menjadi gila, maka nasib Riris akan menjadi sangat buruk. Bakal suaminya akan menyesalinya sepanjang umurnya.”

Jangkung menggeram. Tetapi ia memang tidak mempunyai pilihan lain. Sejenak kemudian. Jangkungpun telah bersiap. Namun ia masih sempat berbisik kepada Setra, “Jika ada kesempatan, bawa Riris lari.”

Tetapi seorang diantara kelima orang itu mendengar.

Katanya sambil tertawa, “Setra akan membawa Riris pergi,“ Yang lainpun tertawa pula.

Namun Jangkung tidak menunggu lebih lama lagi.

Sebelum gema suara tertawa itu hilang, maka Jangkung telah meloncat menyerang seorang yang terdekat. Kakinya meluncur dengan derasnya. Orang itu terkejut. Sebelum ia bersiap sepenuhnya, kaki Jangkung telah menghantam dadanya.

Orang itu telah terdorong beberapa langkah. Tanpa dapat menguasai keseimbangannya, maka orang itupun telah terjadi.

Tetapi orang itu masih beruntung, karena kepalanya tidak membentur batang turi yang tumbuh dipinggir jalan atau menghantam padas. Tetapi ia telah terjebur kedalam parit yang berair jernih.

Beberapa orang yang lain segera telah berloncatan mendekat, sehingga Jangkung tidak sempat memburu orang yang terjatuh diparit itu.

Ketika Jangkung kemudian bersiap menghadapi keempat orang yang lain, maka orang yang tercebur ke dalam parit itupun telah berusaha untuk bangkit.

Tetapi ternyata Setra tidak membiarkannya. Iapun telah meloncat mendekat. Demikian orang itu berdiri, maka Setra telah mengayunkan tangannya. Orang itu belum siap menghadapinya ketika tangan Setra yang terayun itu menghantam keningnya.

Sekali lagi orang itu terjatuh. Tidak diparit. Tetapi orang itu telah terlempar ke sawah.

Tetapi pukulan Setra tidak sekeras serangan kaki Jangkung. Karena itu, maka orang itupun segera telah bangkit pula sambil mengumpat-umpat. Dadanya memang terasa sesak sementara kening- nyapun terasa agak sakit. Namun ia masih mampu bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Setra memang tidak sering berkelahi sejak anak-anak. Tetapi didorong oleh kemarahan dan kesetiaannya kepada keluarga Ki Lurah Dipayuda, maka dengan serta merta ia telah menyerang orang yang berdiri dilumpur itu.

Kedudukan Setra memang lebih baik. Ia masih berdiri dipematang, sementara lawannya, kakinya dicengkam oleh lumpur yang agak dalam.

Dengan demikian Setra mampu bergerak lebih ringan dari lawannya ketika iapun kemudian menyerang dengan kakinya, lawannya terayun kearah pundaknya.

Orang itu berusaha melindungi pundaknya dengan tangannya. Tetapi Setra yang marah itu seakan-akan telah mendapatkan satu tenaga baru. Karena itu, maka serangannya itu menjadi demikian kuatnya sehingga tangan yang melindungi pundak orang itu justru terdorong dan menekan pundaknya sendiri.

Orang itu memang tidak menjadi kesakitan. Tetapi dorongan itu memang membuat keseimbangannya terguncang.

Ternyata Setra sempat pula mempergunakan keadaan itu. Sekali lagi ia menendang kearah perut. Setra sendiri tidak tahu kekuatan apa yang telah menggerakkan kakinya, sehingga kakinya benar-benar dapat mengenai perut orang itu.

Orang itu memang menjadi kesakitan. Ia yang sudah hampir kehilangan keseimbangan benar-benar telah jatuh terduduk. Sementara perutnya merasa mual.

Namun Setra tidak sempat berbuat apa-apa lagi. Tiba- tiba ia merasa seseorang menarik bajunya.

Demikian Setra berpaling, maka sebuah pukulan yang sangat keras telah mengenai rahangnya, sehingga setra itu telah terlempar dan terjebur ke sawah berlumpur itu pula. Ketika Setra kemudian berusaha untuk bangkit sambil mengusap rahangnya yang bagaikan retak, maka lawannya yang terjatuh disawah itupun telah bangkit pula. Sementara itu, seorang yang lain berdiri sambil bertolak pinggang di pematang.

Setra termangu-mangu sejenak. Tetapi ia sudah melihat Jangkung bertempur dengan garangnya melawan ketiga orang yang lain.

Ternyata Jangkung memiliki kemampuan yang cukup tinggi untuk melawan ketiga orang itu. Ia sempat berloncatan kian kemari. Sekali ia menyerang, namun iapun kemudian meloncat mengambil jarak.

Tetapi ketiga orang lawannya agaknya juga memiliki bekal untuk bertempur melawannya. Terutama kakak anak muda yang sering mengganggu Riris dan seorang lagi, seorang laki-laki yang agak pendek tetapi bertubuh kuat dengan otot-otot yang menonjol dipermukaan kulitnya.

Sedangkan anak muda yang sering mengganggu Riris itupun berusaha untuk menyesuaikan dirinya mengimbangi kedua orang yang lain meskipun ternyata ia adalah orang yang paling lemah diantara mereka.

Dengan segenap kemampuan yang ada padanya.

Jangkung melawan ketiganya. Namun Jangkung ternyata bukan saja mempergunakan tenaga dan kemampuannya, tetapi ia juga mempergunakan otaknya. Justru karena itu, maka ia melihat lawannya yang paling lemah, sehingga ia telah memusatkan serangan-serangannya kepadanya.

Tetapi ternyata kedua orang lawannya yang lain setiap kali selalu berhasil menyelamatkan orang yang paling llemah diantara mereka itu. Beberapa kali Jangkung telah membangunkan kesempatan. Tetapi pada saat-saat terakhir, lawan-lawannya yang lain telah menggagalkannya. Sehingga dengan demikian maka Jangkung masih juga belum berhasil mengurangi jumlah lawannya. Namun Jangkung tidak segera kehilangan akal. Ia masih saja memikirkan kemungkinan itu sebelum lawannya yang lain sempat menjatuhkan Setra.

Sementara itu, Setra sengaja membiarkan dirinya berendam di dalam lumpur. Ketika lawannya yang seorang lagi menyerangnya, maka mereka telah berkelahi sambil berendam. Sekali-sekali keduanya jatuh berguling. Ketika kemudian mereka bangkit, maka tubuh mereka telah berlumuran dengan lumpur.

Orang yang berdiri dipematang itu menyaksikannya sambil tertawa. Semakin lama semakin keras.

Tetapi- suara tertawanya telah tertahan ketika ia mendengar kawannya yang agak pendek itu berteriak memanggilnya, “Kita selesaikan anak yang sombong ini.”

Orang yang berdiri dipematang itu telah meloncati parit dan melangkah mendekati lingkaran pertempuran yang sengit. Sementara ia telah mempercayakan orang yang berlumpur itu kepada seorang diantara mereka.

Sebenarnyalah bahwa bagi Setra adalah terlalu sulit untuk dapat mengalahkan lawannya yang meskipun hanyi sebiang iur. Scua hukannva orang yang memiliki kemampuan berkelahi. Sementara lawannya adalah orang yang terbiasa menjelajahi lingkungan kekerasan.

Hanya oleh dorongan kemarahan, kesetiaannya kepa da keluarga Ki Lurah serta kemauannya untuk ikul melindungi Riris sajalah, maka ia mampu bertahan untuk beberapa lama.

Yang kemudian mengalami kesulitan adalah Jangkung.

Ketika ia merasa bahwa usahanya untuk mengurangi lawannya hampir berhasil, maka lawannya telah bertambah dengan seorang lagi. Sehingga dengan demikian, maka Jangkung justru menjadi semakin berat kedudukannya, ia harus bertempur melawan ampat orang. Tiga di antaranya memiliki kemampuan yang cukup. Bahkan dua diantaranya adalah orang-orang upahan sebagaimana orang yang berkelahi melawan Setra. Dengan demikian, maka beberapa saat kemudian.

Jangkung memang mulai terdesak. Beberapa kali serangan lawannya telah mengenainya. Sementara anak muda yang sering mengganggu Riris itu telah bangkit lagi karena se- akan-akan ia selalu mendapat perlindungan dari kakaknya.

Jika sebelumnya sekali-sekali Jangkung mampu mengenai lawannya, terutama anak muda yang sering mengganggu Riris itu, bahkan sekali-sekali kakaknya dan orang upahan itu, maka kemudian Jangkunglah yang beberapa kali telah dikenainya. Sulit baginya untuk menghindari serangan-serangan yang datang dari arah yang berbeda-beda, sementara lawan-lawannya adalah orang yang mempunyai pengalaman yang cukup luas.

Sekali Jangkung memang masih sempat mengenai orang yang bertubuh agak pendek itu dengan serangan kakinya kearah dada. Tetapi serangan itu tidak berhasil menjatuhkannya. Orang bertubuh pendek itu memang terdorong beberapa langkah surut. Namun Jangkung tidak sempat memburunya. Serangan yang lain datang dari arah yang berbeda, sehingga Jangkung harus meloncat menghindar.

Tetapi demikian ia berdiri tegak, serangan yang lain pun lelah menerkamnya pula, sehingga semakin lama, keadaannya memang menjadi semakin sulit. Jangkung lidak mampu bergerak melampaui kecepatan keempat orang itu berturutan. Satu atau dua serangan mampu dihindarinya, tetapi serangan serangan berikutnya terasa sulit untuk diatasinya.

Ketika serangan yang lidak dapat dihindarinya menghantam punggungnya, maka Jangkung telah terdorong beberapa langkah maju. Namun sebelum ia sempat memperbaiki keseimbangannya yang terguncang, serangan yang lain telah menyusulnya. Kaki salah seorang lawannya lelah mengenai lengannya, sehingga langkung benar-benar telah kehilangan keseimbangannya itu dan jatuh terbanting di tanah. Jangkung berusaha untuk cepat bangkit, tetapi ketika ia berhasil meloncat berdiri, maka serangan telah datang pula menghantamnya. Justru diarah dadanya.

Jangkung terdorong beberapa langkah surut, ia sama sekali tidak mampu menghindar ketika orang bertubuh pendek itu menangkapnya dari belakang. Kemudian dengan kuatnya ia mendorong Jangkung kearah anak muda yang sering mengganggu Riris.

Satu kesempatan yang baik sekali. Demikian Jangkung terhuyung-huyung karena dorongan orang bertubuh agak pendek itu, anak muda itu telah mengayunkan tangannya dengan sekuat tenaganya. Sambil sedikit merendah maka tangan itu telah menghantam perut Jangkung demikian kerasnya.

Jangkung tertunduk sambil mengeluh tertahan. Perutnya terasa menjadi mual. Namun ia masih sadar sepenuhnya akan keadaannya. Karena itu, ketika anak muda itu mengangkat kakinya untuk menyerang lambungnya, maka Jangkung justru telah menjatuhkan dirinya. Dengan kuatnya ia menyapu kaki lawannya sehingga lawannya itu telah terbanting jatuh pula.

Demikian anak muda itu bangkit, maka Jangkung telah melenting pula dengan satu serangan kaki yang terjulur lurus. Sekali lagi kakinya mengenai lawannya itu. Namun bersamaan dengan itu, sebuah serangan kaki yang keras sekali telah mengenai punggungnya. Sekali lagi ia terdorong maju, hampir menimpa anak muda yang sering mengganggu Riris. Tetapi seorang yang lain meloncat tepat pada waktunya. Dengan garangnya ia menerkam Jangkung, kemudian memukul tengkuknya. Ketika Jangkung hampir terjerembab, maka kakinya telah diangkatnya. Lututnya telah mengenai dahi Jangkung sehingga Jangkung justru terlempar surut.

Jangkung kemudian benar-benar kehilangan kesempatan untuk melawan bukan saja empat orang lawannya, tetapi lima orang. Setra telah menelungkup di pematang sambil mengerang kesakitan. Satu giginya terlepas sementara perutnya terasa bagaikan teraduk. Kepalanya menjadi pening dan pandangan matanya berkunang-kunang. Setra rasa-rasanya tidak lagi mempunyai kekuatan untuk bangkit betapapun ia mengerahkan segenap sisa tenaganya.

Riris yang menyaksikan perkelahian itu, menjadi semakin ketakutan. Sekali-sekali ia menjerit memanggil nama kakaknya. Tetapi ia kemudian memalingkan wajahnya, jika ia melihat kakaknya tidak mampu menghindari serangan yang datang semakin sering.

Tetapi Riris memang tidak dapat berbuat apa-apa.

Kakaknya telah mengalami kesulitan dihadapan matanya, justru untuk melindunginya. Serangan yang datang susul menyusul kemudian menjadi semakin sulit untuk dihin darinya. Meskipun sekali-sekali Jangkung masih juga sempat menyerang dan mengenai lawannya, tetapi kesempatan itu semakin lama menjadi semakin tipis.

Jangkung kemudian menjadi bagaikan permainan yang dilemparkan oleh seorang diantara lawan-lawannya kepada yang lain.

Riris memang sudah menjadi putus asa. Setra tidak juga sempat bangkit. Ketika timbul niat Riris untuk berlar mencari bantuan, maka kakinya rasa-rasanya menjadi lumpuh.

Namun dalam pada itu, ketika keadaan Jangkung menjadi semakin gawat, tiba-tiba saja telah terdengar derap kaki kuda.

Orang-orang yang sedang menyerang Jangkung bergantian itupun sempat berpaling. Namun ketika mereka melihat hanya seorang saja yang berkuda mendekat, maka orang-orang itu sama sekali tidak banyak menaruh perhatian. Namun mereka telah menyeret Jangkung menepi untuk memberikan jalan kepada orang berkuda itu untuk lewat. Tetapi orang berkuda itu dari kejauhan telah melihat sesuatu yang tidak wajar terjadi. Karena itu, maka iapun telah mempercepat lari kudanya.

Beberapa langkah dari beberapa orang yang memegangi Jangkung yang menjadi semakin lemah itu, penunggang kuda itu telah menarik kekang kudanya, sehingga kudanyapun telah berhenti.

Riris yang ketakutan, yang mengharap bantuan dari siapapun dalam keputus asaannya, tiba-tiba saja berlari mendekati orang berkuda itu sambil menjerit tertahan, “Kakang Barata.”

Penunggang kuda itu terkejut. Iapun segera meloncat turun. Namun ketika Riris menjadi semakin dekat, langkahnya telah tertahan.

“Kau bukan kakang Barata,“ desisnya.

Kelima orang yang telah menyekap Jangkung itupun semula memang menjadi berdebar-debar. Tetapi kemudian merekapun yakin bahwa orang itu bukan anak muda yang telah mengalahkan mereka dibawah rumpun bambu itu.

Namun tiba-tiba saja orang berkuda yang telah meloncat turun itu bertanya, “Apa yang telah terjadi disini? Dan apakah kau mengenal Barata? Siapakah kau?”

Riris termangu-mangu sejenak. Tetapi iapun telah menyingkirkan berbagai macam perasaan. Ia ingin mendapat bantuan dari siapapun.

“Mereka telah menganiaya kakak ku,“ jawab Riris. “Tetapi kau telah menyebut nama Barata,“ desis orang

itu, “Apakah kau mengenalnya?”

“Barata adalah kawan ayahku,“ jawab Riris. “Siapakah ayahmu?“ bertanya orang itu.

“Ki Lurah Dipayuda,“ jawab Riris yang sebenarnya menganggap keterangan itu tidak penting. Yang penting adalah persoalan dan kesulitan yang dihadapi kakaknya. Karena itu, maka katanya mengulang, “Orang -orang itu telah menganiaya kakakku.” “Bohong,“ teriak kakak anak muda yang sering mengganggu Riris, “persoalan ini adalah perso alan yang sangat pribadi. Orang-orang ini dengan sengaja telah merusak sawahku. Aku berusaha untuk mencegahnya. Tetapi mereka tidak mau mendengar kata-kataku. Seorang diantara kedua orang yang merusak sawahku itu telah tidak berdaya.”

Orang berkuda itu memang melihat Setra yang mulai berusaha untuk bangkit betapapun sulitnya.

Namun orang berkuda itupun kemudian berkata, ”Jika kau anak Ki Lurah Dipayuda, maka aku berkewajiban untuk membantumu. Aku bukan Barata. Akan tetapi aku kenal baik dengan anak muda itu. Aku adalah Kasadha.”

“Kasadha,“ Jangkung yang lemah itu tiba -tiba meronta. Demikian tiba-tiba sehingga pegangan orang-orang yang menangkapnya itu terlepas. Dengan sisa tenaganya Jangkung mendekati Kasadha sambil berkata, “Ayah sering berceritera tentang kau. Namamu selalu dihubungkan dengan nama Barata.”

Kasadha masih sempat tersenyum meskipun kelima orang itu mulai bergerak. Katanya, “Dimana kau kenal Barata?”

“Ketika ia meninggalkan Pajang, ia singgah dirumahku,“ jawab Jangkung.

“Aku sebenarnya juga ing in mengunjungi Ki Lurah Dipayuda. Sudah lama aku tidak bertemu, sehingga rasa- rasanya aku menjadi rindu. Dari beberapa orang aku mendapat ancar-ancar rumahnya, sehingga aku hari ini memerlukan datang mengunjunginya. Namun agaknya disini aku telah bertemu dengan dua orang anaknya,“ berkata Kasadha, “karena itu, maka biarlah aku ikut bersama kalian. Sudah tentu setelah menyelesaikan persoalan kalian dengan orang-orang ini.”

“Persetan,“ geram kakak anak muda yang menginginkan Riris, “kau jangan ikut campur.” “Mereka juga pernah bertempur melawan Barata,“ berkata Jangkung tiba-tiba, “tetapi mereka tidak berdaya.”

“Apa sebenarnya persoalannya?“ bertanya Kasadha. “Anak itu mengingini adik perempuanku. Tetapi adikku

sama sekali tidak menaruh perhatian kepadanya,“ j awab Jangkung.

Kasadha tertawa kecil. Katanya, “Lalu ia mendendam dan melakukan satu perbuatan yang tidak bertanggung jawab.”

“Ya,“ jawab Jangkung.

Kasadha mengangguk-angguk. Diluar sadarnya ia memandang Riris yang menjadi berpengharapan lagi. Matanya yang membayangkan kemungkinan lain itu menjadi bagaikan bercahaya.

Debar jantung Kasadha bagaikan menjadi semakin cepat. Bukan karena lima orang itu. Tetapi justru karena Riris segera menundukkan kepalanya ketika ia menyadari, Kasadha memandanginya.

“Gadis yan g cantik,“ berkata Kasadha didalam hatinya.

Namun Kasadha itu memang terkejut ketika ia mendengar salah seorang dari kelima orang itu berteriak, “He, jangan turut campur jika kau tidak ingin mengalami nasib seperti anak sombong itu.”

Kasadha yang menyadari keadaan sepenuhnya telah mempersiapkan diri. Bahkan dengan sikap yang tenang meyakinkan ia masih mengikatkan kendali kudanya pada batang pohon turi yang banyak tumbuh dipinggir jalan.

“Aku ingin menasehatkan kepada kalian,“ berkata Kasadha, “sebaiknya kal ian tidak mempergunakan cara yang kasar itu. Seandainya dengan paksa kalian mendapatkan gadis itu, apakah yang sebenarnya kau dapatkan? Tubuhnya. Sama sekali bukan hatinya. Apakah kau sudah puas sekedar mendapatkan tubuhnya itu?”

“Kau tidak usah sesorah di hadapanku. Sekarang, pergilah. Aku akan menyelesaikan persoalanku dengan anak ini,“ berkata kakak anak muda yang menghendaki Riris itu.

Tetapi Kasadha justru tertawa.

“Cukup,“ berkata orang itu, “jika kau benar benar tidak ingin menyelamatkan diri, maka baiklah. Kau akan menyesal sepanjang hidupmu karena kau akan dapat menjadi cacat. Bahkan jika kau keras kepala, maka persoalannya akan melampaui sekedar menjadi cacat.”

“Sudahlah,“ berkata Kasadha, “aku akan melayani apa yang kalian inginkan, “Lalu katanya kepada Jangkung, “jaga adikmu baik -baik. Kau tentu sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Aku akan mengusir mereka. Jika mereka tidak mau pergi, biarlah orang lain yang nanti mengangkatnya ke kuburan.”

“Tutup mulutmu,“ geram orang bertubuh pendek itu, “t ernyata kau sombong melampaui anak itu.”

“Aku memang berusaha untuk dapat menyombongkan diriku sehingga membuat kalian marah,“ berkata Kasadha, “sudah agak lama aku tidak bekelahi.”

Orang bertubuh pendek itu tidak tahan lagi mendengar kata-kata anak muda yang mengaku bernama Kasadha itu. Karena itu, maka iapun segera meloncat menyerang.

Kasadha melihat serangan itu. Tetapi ia memang sudah bersiap menghadapinya. Ia sengaja membuat orang-orang itu marah, karena dengan demikian, maka penalaran mereka akan menjadi kabur. Kasadha sama sekali tidak berniat merendahkan orang itu. Tetapi segala sesuatunya dilakukan atas dasar perhitungan, justru karena ia belum mengenal keempat orang itu.

Dengan memancing serangan itu, Kasadha ingin menjajagi kemampuan mereka. Jika ia dapat mengetahui tataran kemampuan salah seorang diantara mereka, maka Kasadha akan dapat mengetahui rata-rata kemampuan mereka meskipun tidak dengan pasti. Namun akan dapat dipergunakannya untuk memperhitungkan langkah-langkah selanjutnya. Karena itu, ketika orang bertubuh pendek itu menyerang, Kasadha dengan sengaja tidak menghindar sepenuhnya. Sambil memiringkan tubuhnya, ia menangkis serangan itu.

Satu benturan kecil telah terjadi. Namun dengan demikian Kasadha dapat menjajagi kekuatan lawannya yang bertubuh pendek itu. Sambil meloncat mundur Kasadha mempersiapkan dirinya lebih baik lagi, karena ternyata orang bertubuh pendek itu mempunyai kekuatan yang menurut perhitungan Kasadha cukup besar.

Jangkung yang kesakitan itu telah bergeser mendekati adiknya. Namun setelah mendapat kesempatan sejenak, serta terasa silirnya angin dibulak panjang itu menyentuh tubuhnya, maka sedikit demi sedikit kekuatan Jangkung telah tumbuh kembali. Bahkan Setra yang hampir pingsan itupun telah mampu berdiri tegak dan berjalan tertatih-tatih mendekati Jangkung. Tekadnya yang membara untuk ikut melindungi Riris telah membuatnya menjadi seorang yang mempunyai daya tahan yang tinggi.