-->

Sayap-Sayap Yang Terkembang Jilid 17

Jilid 17

NAMUN Ki Ajar Paguhan masih saja mendesak,“ Puguh. Siapakah yang mengatakan kepadamu bahwa ayahmu dan ibumu sibuk berusaha memaksakan kehendaknya kepada siapapun juga?”

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa ia harus menjawab pertanyaan gurunya. Karena itu, maka katanya kemudian, “Guru, Guru memang tidak pernah mengatakannya. Tetapi aku sendiri tidak mengerti, kenapa aku kemudian telah mengambil satu kesimpulan.” Ki Ajar Paguhan mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian katanya, “Puguh. Aku tidak bermaksud mengatakan demikian. Jika ternyata kau mengambil kesimpulan seperti itu, maka aku harap bahwa kau tidak menjadi terlalu yakin.”

“Apakah maksud Guru aku salah menafsirka n keterangan-keterangan Guru selama ini?“ bertanya Puguh.

“Sebagian memang salah,“ jawab Ki Ajar.

“Tetapi sebagian benar bukan?“ bertanya Puguh.

Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat menolak seluruhnya, karena nampaknya Puguh sendiri merasa sangat kecewa terhadap ayah dan ibunya yang memang terlalu bersikap keras terhadapnya, namun tanpa memberikan arah sama sekali bagi masa depannya. Bahkan Ki Rangga telah mendorong anak itu untuk memasuki lingkungan-lingkungan yang tidak terpuji.

Namun dengan terhapusnya Song Lawa, maka Ki Ajar Paguhan merasa bersukur. Lingkungan yang kelam yang sering dijelajahi Puguh menjadi berkurang.

Dengan nada rendah, Ki Ajar itupun kemudian berkata, “Puguh. Seperti sudah aku katakan, ada sesuatu yang penting untuk kau ketahui.”

Puguh termangu-mangu. Namun sikap gurunya yang bersunguh-sungguh itu memang sangat menarik perhatiannya. Karena itu maka iapun telah duduk bersila dihadapan gurunya sambil menundukkan wajahnya.

Sebagaimana sikap gurunya, maka Puguhpun menjadi bersungguh-sungguh. “Puguh,“ berkata Ki Ajar Paguhan, “ada kalanya kita harus menjumpai satu kenyataan yang tidak kita kehendaki.”

Puguh mengangkat wajahnya. Kerut didahinya menunjukkan gejolak didalam dadanya. Bahkan hampir diluar sadarnya ia berdesis, “Apakah Guru membawa berita tentang ayah dan ibu?”

Ki Ajar menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk kecil ia menjawab, “Ya. Aku memang membawa berita tentang orang tuamu.”

“Kenapa dengan ayah dan ibu, atau salah seorang dari mereka?“ bertanya Puguh.

“Ibumu Puguh. Ternyata ibumu mengalami luka -luka berat dalam satu benturan kekerasan.” jawab Ki Ajar.

Tetapi tanggapan Puguh memang agak mengejutkan gurunya. Puguh seakan-akan tidak menghiraukan sama sekali. Bahkan ia bertanya, “Apakah ibu sedang memaksakan kehendaknya kepada orang lain, namun ternyata orang lain itu memiliki kemampuan dan ilmu yang lebih tinggi? Mungkin satu pengalaman yang berharga bagi ibu.”

“Dengarlah,“ berkata Ki Ajar, “telah terjadi pertempuran dalam arti yang sebenarnya antara ayah dan ibumu berserta beberapa kelompok orang yang berpendirian sama dengan kedua orang tuamu dengan orang-orang se Tanah Perdikan.”

“Tanah Perdikan mana Guru? Dan apa sebabnya pertempuran itu terjadi?“ bertanya Puguh. Ki Ajar Paguhan termangu-mangu sejenak. Ternyata bukan saja tubuh Puguh yang terpisah semakin jauh dengan orang tuanya. Tetapi perasaannyapun rasa-rasanya menjadi semakin renggang.

“Puguh,“ berkata gurunya, “disaat purnama penuh pada bulan ini, benturan itu terjadi. Ibumu memang seorang perempuan yang luar biasa. Ia memiliki ilmu yang sangat tinggi. Ilmu yang jarang ada duanya. Ibumu mampu melontarkan ilmu sejenis dengan Ilmu Gelap Ngampar.”

Puguh mengangguk-angguk. Tetapi tanggapannya nampaknya tidak bersungguh-sungguh.

Meskipun demikian tiba-tiba saja Puguh bertanya, “Jika ibu yang memiliki ilmu yang sangat tinggi itu terluka parah, bagaimana dengan ayah? Apakah ayah juga terluka parah?”

“Ayahmu tidak terluka parah Puguh. Hanya ibumu yang terlibat dalam perang tanding dengan Pemangku Kepala Tanah Perdikan itu. Yang kebetulan juga seorang perempuan,“ berkata gurunya.

“Juga seorang perempuan,“ baru Puguh terkejut, “jadi malam purnama itu terjadi perang tanding antara dua orang perempuan dan ibuku terluka parah?”

“Keduanya terluka parah. Perempuan yang menjadi Pemangku Kepala Tanah Perdikan itu juga seorang perempuan yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.” jawab gurunya.

Puguh termangu-mangu sejenak. Tiba-tiba saja ia teringat kegelisahannya ketika malam purnama itu sehingga ia merasa seakan-akan malam telah menghimpitnya. Dengan gelisah malam itu ia berkeliaran di halaman. Berjalan kesana kemari dan akhirnya tidur di serambi.

Tetapi Puguhpun kemudian bertanya, “Kenapa terjadi pertempuran dengan Tanah Perdikan itu?”

“Persoalan itu sudah lama terjadi.” jawab gurunya, “sebenarnyalah ibumu dan perempuan yang kini memangku jabatan Kepala Tanah Perdikan itu telah memperebutkan hak atas Tanah Perdikan itu. Permusuhan

yang berlangsung bertahun-tahun itu telah memaksa ibumu untuk berperang tanding dua kali dengan perempuan itu.”

“Dua kali pula ibu dikalahkan,“ jawab Puguh tanpa mengangkat wajahnya.

“Kedua perempuan itu bersama -sama terluka parah.

Tetapi menurut penilaian yang adil dalam perang tanding, ibumu memang kalah.” jawab gurunya.

“Tetap i apakah ibu memang mempunyai hak atas Tanah Perdikan itu, atau ibu telah mengada-ada sehingga seakan- akan ibu memiliki hak atas Tanah Perdikan sehingga pantas untuk memperebutkannya?“ bertanya Puguh.

Ki Ajar Paguhan menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Kau belum dewasa penuh Puguh. Pada saatnya kau akan tahu, dalam hubungan apakah hak itu ada pada ibumu.”

“Jadi ibu memang berhak atas Tanah Perdikan itu?“ desak Puguh.

Ki Ajar Paguhan tidak menjawab. Tetapi dari ungkapan pada wajah gurunya Puguh itu menarik kesimpulan, “Ibu dan ayah tentu sedang berusaha merampas Tanah Perdikan itu. Ibu mengira bahwa tidak ada perempuan yang memiliki ilmu yang tinggi, sehingga ia menantang berperang tanding justru pada saat purnama penuh. Saat yang ibu anggap sebagai puncak kejayaan ilmunya itu.

Namun perempuan itu ternyata memiliki ilmu yang lebih tinggi.”

“Jangan kau anggap bahwa kesimpulanmu itu benar seluruhnya. Jika kemudian menjadi satu keyakinan bagimu, maka sulit bagimu untuk merubah pandangan itu,“ berkata gurunya.

“Apakah menurut Guru, kesimpulanku itu salah?“ bertanya Puguh.

“Aku tidak mengatakan seluruhnya salah tetapi juga tidak seluruhnya benar,“ berkata gurunya. Namun kemudian katanya, “Tetapi yang penting kau ketahui sekarang adalah bahwa ibumu terluka parah. Namun agaknya jiwanya masih akan dapat tertolong karena kakekmu, Ki Randu Keling adalah seorang yang memiliki pengetahuan yang dalam tentang pengobatan dan jenis obat-obatan.”

Tidak ada perubahan di wajah Puguh. Tidak nampak tersirat kegembiraan sebagaimana tidak tersirat kecemasan hatinya disaat ia mendapat berita tentang ibunya yang terluka parah. Seakan-akan jantung Puguh telah membeku sama sekali meskipun panggraitanya cukup tajam.

Namun Ki Ajar Paguhan itu menarik nafas dalam-dalam ketika ia mendengar Puguh kemudian berceritera tentang kegelisahannya di malam purnama penuh sehingga ia tidur diserambi dan baginya waktu itu, menganggap awan sebagai bayangan yang menakutkan. Dengan demikian Ki Ajar Paguhan dapat mengetahui betapapun jauhnya jarak antara orang tua dan anaknya, tetapi agaknya masih ada hubungannya yang paling halus diantara mereka sadar atau tidak sadar.

Tetapi Ki Ajar kemudian mendapat kesulitan ketika Puguh bertanya, “Dimana ibu sekarang Guru. Sebagai seorang anak, agaknya aku wajib menengok ibu yang terluka parah, meskipun aku harus mengalami tekanan batin. Ayah tentu akan memaki-maki tanpa sebab apalagi jika ibu sedang dalam keadaan seperti itu. Aku tidak pernah merasa iri hati terhadap adikku yang lahir kemudian dan mendapat perhatian sepenuhnya dari ayah dan ibu. Tetapi sebenarnya akupun tidak ingin selalu disakiti hatiku dengan tindakan dan ucapan yang kasar.”

“Sekarang ibumu sedang mengalami pengobatan yang berat Puguh, sehingga Ki Randu Keling berpesan, agar kau tidak usah datang menengoknya setidak-tidaknya untuk setengah bulan atau bahkan lebih,“ berkata gurunya.

“Demikian berat luka ibu?“ bertanya Puguh.

“Ya. Lawannya memiliki ilmu yang luar biasa, ia berhasil menusuk pangkal leher ibumu menghunjam menyusuri masuk kedalam rongga dadanya. Untunglah ujung pedangnya tidak mengenai bagian tubuhnya yang menentukan. Namun ujung pedang itu tidak saja tajam sekali, tetapi lukanya seperti luka bakar,“ berkata gurunya.

“Luka bakar? Apakah pedang itu panas?“ ber tanya Puguh.

“Itulah kelebihan ilmunya yang luar biasa itu. Pedang itu bagaikan membara. Dengan demikian, ada bagian tubuh ibumu yang mati karena luka bakar itu. Dengan demikian maka Ki Randu Keling harus bekerja keras. Ia harus berbuat banyak sekali untuk menyelamatkan nyawa ibumu. Namun nampaknya Ki Randu Keling itu akan berhasil,“ berkata gurunya.

“Baiklah,“ berkata Puguh tanpa memberikan kesan apapun, “jika demikian aku akan menengok ibu setelah Guru memberikan isyarat, bahwa ibu telah dapat ditengok.”

Ki Ajar Paguhan mengangguk kecil. Katanya, “Baiklah Puguh. Pada saatnya aku akan memberi tahukan kepadamu, agar kau menengok ibumu.”

“Aku juga tidak tahu Guru, kemana aku harus pergi untuk melihat ibu karena aku tidak pernah tahu, pada satu saat ibuku dan ayahku itu berada dimana,“ berkata Puguh.

Ki Ajar termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Sudahlah. Hanya itulah yang dapat aku beritahukan kepadamu saat ini. Mungkin pada kesempatan lain, kita justru dapat pergi bersama-sama.”

Puguh itupun mengangguk-angguk.

“Hari ini kita masih belum akan memasuki sanggar,“ berkata gurunya kemudian, “mungkin besok atau lusa. Bukanlah selama ini kau tetap berlatih?”

Puguh mengangguk-angguk. Katanya, “Segalanya terserah kepada Guru.”

“Baiklah. Untuk satu d ua hari ini, kau masih akan tetap berlatih sendiri,“ berkata Ki Ajar. Namun tiba-tiba saja Puguh itupun bertanya, “Guru.

Apakah aku boleh menanyakan sesuatu?” “Tentang orang tuamu?“ desis Ki Ajar.

“Bukan Guru, meskipun serba sedikit juga akan menyangkut orang tuaku,“ sahut Puguh.

“Bertanyalah. Jika aku menganggap pertanyaanmu patut dijawab, serta aku mengerti jawabnya, maka pertanyaanmu akan aku jawab. Tetapi jika aku tidak mengerti jawabnya, sudah barang tentu aku tidak akan menjawabnya,“ berkata gurunya.

“Guru. Apakah Guru sependapat, bahwa padepokan kita ini masih saja harus dikelilingi oleh tanda-tanda maut seperti sekarang ini? Bahkan orang-orang kita tanpa segan- segan telah membunuh orang yang memasuki batas yang kita buat?“ bertanya Puguh. Lalu i apun meneruskan, “bukankah pada suatu saat, sadar atau tidak sadar Guru pernah mengatakan, bahwa hal seperti itu tidak boleh berlangsung terus?”

Ki Ajar Paguhan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku adalah gurumu disini Puguh. Tetapi aku bukan pemimpin padepokan ini. Ayah dan ibumulah yang mengatur segala-galanya. Jika ayah dan ibumu memisahkan padepokan ini dari pergaulan hidup yang wajar, maka tentu bukannya tanpa maksud.”

“Apakah ayah dan ibu akan berani menolak jika Guru pada suatu saat mengambil sikap?“ bertanya Puguh.

“Soalnya bukan berani atau tidak berani,“ jawab Ki Ajar Paguhan. “Tetapi jika hal itu aku lakukan, akan dapat menimbulkan persoalan diantara orang-orang tua. Aku kira timbulnya persoalan itu pada saat ini harus dihindari.” jawab Ki Ajar Paguhan, “sementara itu kehadiranku disini adalah atas permintaan Ki Randu Keling, sehingga akan ada tiga pihak yang berhubungan jika kita mengadakan perubahan sesuatu di padepokan ini.”

Puguh mengangguk-angguk kecil. Tiba-tiba saja anak muda itu teringat kepada dua orang yang dijumpainya di Song Lawa. Seandainya keduanya bukan orang berilmu tinggi, maka keduanya tentu sudah mati ketika mereka melintasi batas yang dipasang oleh orang-orang padepokan itu. Batas yang mereka tentukan sendiri.

Namun Puguh itu masih juga berkata, “Guru. Jika hal ini diketahui oleh Pajang, maka Pajang akan dapat mengambil tindakan khusus sebagaimana dilakukan atas Song Lawa. Meskipun padepokan ini tidak mengundang orang untuk melakukan kemaksiatan, tetapi pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang kita terhadap mereka yang tidak bersalah itu tentu merupakan satu kejahatan.

Meskipun orang-orang yang dibunuh itu tidak akan dapat memberikan laporan bahkan telah hilang untuk selamanya, namun apakah Guru tidak memikirkan kemungkinan bahwa pada suatu ketika seseorang dapat lolos dan melaporkannya ke Pajang atau seperti yang pernah terjadi, bahwa orang-orang kitalah yang telah terbunuh, karena kebetulan orang yang tidak sengaja memasuki lingkungan ini adalah orang yang berilmu sangat tinggi.”

Ki Ajar Paguhan mengangguk-angguk. Katanya, “Sebenarnya kedua orang tuamu harus membuat pertimbangan-pertimbangan seperti itu. Tetapi disini diletakkan beberapa orang dengan perintah seperti itu.”

“Mereka tidak akan dapat menentang Guru. Selagi ayah dan ibu sekarang tidak dapat berbuat banyak karena keadaannya, maka Guru dapat mengambil langkah-langkah tertentu,“ berkata Puguh.

“Bagaimana jika ayah dan ibumu nanti sembuh dari luka-lukanya dan terlepas dari kesulitan keadaan sekarang ini? Sudah aku katakan Puguh, aku tidak ingin berselisih dengan kedua orang tuamu justru karena kau adalah muridku. Kau bagiku adalah bukan saja seorang murid, tetapi kau sudah seperti anakku sendiri. Aku sudah

mengatakannya kepada ayah dan ibumu, bahwa aku minta agar aku diijinkan untuk ikut serta menjadi orang tuamu,“ berkata Ki Ajar Paguhan, “karena itu, maka aku tidak akan berbuat sesuatu yang dapat menyakiti hati kedua orang tuamu itu.”

Puguh termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Bagaimana kah jika bukan guru yang merubah tatanan di padepokan ini, tetapi kita sajalah yang meninggalkan padepokan ini.”

Ki Ajar Paguhan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kecuali kedua orang tuamu, aku telah berhubungan pula dengan kakekmu. Ki Randu Keling. Ki Randu Kelinglah yang telah membawa aku memasuki lingkungan keluargamu yang sebenarnya memang agak kurang sesuai dengan seleraku. Tetapi aku sudah berusaha menyesuaikan diriku. Namun demikian, aku tetap tidak mampu membentukmu menjadi manusia sebagaimana dikehendaki oleh kedua orang tuamu.”

“Aku mengerti guru. Seharusnya aku menjadi seorang laki-laki yang kasar, garang, tidak berperikemanusiaan dan yang mempunyai kegemaran memaksakan kehendakku kepada orang lain sebagaimana kedua orang tuaku.” “Sudahlah P uguh,“ berkata Ki Ajar Paguhan, “tenanglah. Kita akan memikirkan kemungkinan yang paling baik yang dapat kita lakukan selanjutnya. Tetapi bagaimanapun juga, kau tidak akan dapat memisahkan diri dari kedua orang tuamu, dari kakekmu dan dari lingkungan yang memang dibuat untukmu. Setidak-tidaknya untuk sementara.”

Tetapi ternyata Puguh masih menjawab, “Guru. Aku memang tidak dapat memotong garis hubungan antara aku dan orang tuaku, menurut aliran darah didalam tubuhku.

Tetapi apakah aku harus berada dalam satu lingkungan yang sudah disediakan bagiku? Kenapa aku tidak dapat memilih lingkunganku sendiri? Guru, kita dapat membuat satu lingkungan sesuai dengan keinginan kita. Bukan kita yang harus terbenam dalam satu lingkungan yang tidak kita kehendaki.”

Ki Ajar Paguhan mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Kau benar Puguh. Tetapi kau harus memperhitungkan langkahmu sebaik-baiknya. Agaknya belum waktunya kau menentukan sikap meskipun bagi dirimu sendiri. Kau belum dewasa penuh meskipun penalaranmu tentang kehidupan ini cukup banyak. Tetapi kehidupan dari satu dua sisi.

Belum kehidupan yang utuh.”

“Bukankah itu disebabkan karena aku harus berada dalam satu lingkungan yang telah disediakan?“ berkata Puguh.

“Ya,“ jawab gurunya.

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Baiklah Guru. Aku akan menunggu. Meskipun jika datang saatnya akulah yang akan menentukan waktu itu. Bukan sekedar menunggu.” Ki Ajar Paguhan menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Puguhpun mohon diri. Katanya, “Aku akan berada di padepokan pertama. Suasananya lebih wajar dari padepokan ini.”

Ki Ajar tertawa. Dengan nada rendah ia menjawab. “Pergilah. Aku akan beristirahat.”

Puguhpun kemudian meninggalkan gurunya di tempat yang memang dibuat terasing oleh kedua orang tuanya. Namun bagi Puguh, gurunya adalah orang yang paling dekat dengan dirinya. Ia dapat berbicara sebagaimana bergetar didalam dadanya. Ia dapat membuka perasaannya kepada gurunya. Tetapi justru tidak kepada kedua orang tuanya.

Ketika Puguh keluar dari ruangan itu, maka gurunyalah yang kemudian merenung. Menurut pengamatannya, Puguh adalah seorang anak muda yang bagaikan sebatang pohon yang tumbuh dalam pusaran angin yang kencang, sehingga urat-uratnya melingkar-lingkar dan berputaran pula sebagaimana batangnya yang tidak tegak lurus menjulang ke langit. Hanya tangan tukang kayu yang baik dan telaten sajalah yang dapat mengerjakan kayu yang demikian sehingga dapat menjadi tulang-tulang rumah atau perkakas yang baik dan kuat. Tidak patah atau retak menyelusuri urat-urat kayunya yang melingkar-lingkar.

Ternyata yang tumbuh di hati Ki Ajar Paguhan adalah perasaan iba yang diwarnai dengan rasa kasihnya terhadap anak itu, justru karena keadaan anak itu hubungannya dengan orang tuanya serta masa depan yang diinginkan oleh orang tuanya atas anak itu. Garang, kuat dan berilmu tinggi, namun patuh dan setia yang beku dan mati kepada kedua orang tuanya, meskipun Ki Ajar Paguhan tahu dengan pasti, siapakah sebenarnya ayah dari Puguh itu. Namun kedua orang yang disebut orang tuanya itu sama sekali tidak memerlukannya seandainya Puguh tidak dilahirkan dengan ayah Ki Wiradana.

***

Sementara itu, keadaan Iswaripun menjadi berangsur baik. Ketika bekas luka-lukanya tidak lagi nampak jelas di tubuhnya, maka Iswari berniat untuk memanggil Risang. Selain karena ia telah menjadi sangat rindu kepada anak itu, iapun ingin memberikan serba sedikit iambaran pengertian, bahwa Tanah Perdikan Sernbojan ternyata tidak selalu tenang dan aman. Pada suatu saat Tanah Perdikan itu telah bergejolak. Bahkan gejolak yang keras sekali yang telah mampu mengguncang sendi-sendi kehidupan di Tanah Perdikan itu. Keresahan, kegelisahan dan bahkan ketakutan.

“Tetapi anak itu tidak boleh ikut menjadi resah, gelisah dan apalagi takut menghadapi masa depan Tanah Perdikan ini,“ berkata Iswari kemudian.

Yang mendapat tugas untuk mengambil Risang adalah Jati Wulung dan Sambi Wulung.

“Katakan, bahwa aku masih sibuk di Tanah Perdikan,“ pesan Kiai Badra.

Namun dalam pada itu, maka Bibipun berkata, “Apa aku boleh ikut bersama mereka?”

Tetapi Iswari tersenyum sambil menggeleng, “Nanti kau justru memperlambat perjalanan mereka. Kau akan dapat menjadi manja di perjalanan.” “Ah,“ Bibi mencubit betis Iswari sehingga Iswari mengaduh kesakitan.

“Belum setajam ujung rantai Peri di bulan purnama itu,“ sahut Bibi.

Dihari berikutnya maka Jati Wulung dan Sambi Wulung meninggalkan Tanah Perdikan. Agar perjalanan mereka menjadi cepat, karena mereka tidak mempunyai kepentingan lain di perjalanan, maka mereka telah berkuda menuju sebuah padepokan kecil di Kademangan Bibis.

Kedatangan mereka telah disambut dengan gembira sekali oleh Risang yang dikenal dengan nama Barata di padepokan itu. Kedatangan Jati Wulung dan Sambi Wulung rasa-rasanya seperti semangkuk minuman bagi Barata yang kehausan.

Namun Gandar, yang oleh orang-orang padepokan dan Kademangan Bibis dikenal bernama Sindura sempat menjadi berdebar-debar. Tetapi ketika dilihatnya wajah Jati Wulung dan Sambi Wulung yang tidak menunjukkan tanda- tanda yang mendebarkan, maka Gandarpun menjadi tenang.

“Kenapa lama sekali kalian tidak datang kemari?“ bertanya Risang.

Jati Wulunglah yang menjawab sambil tertawa, “Banyak sekali yang harus kami lakukan di Tanah Perdikan. Kami di Tanah Perdikan sedang membuat jalur-jalur parit yang membelah bulak-bulak panjang. Kami sedang memperbaharui pula parit-parit yang sudah tidak dapat mengangkat air dan menyalurkannya ke kotak-kotak sawah. Membuat bendungan, membuat jalan-jalan baru di samping memperbaiki dan memperkeras yang sudah ada, agar jika dilewati pedati tidak menjadi rusak.”

“Tanah Perdikan itu tentu sudah menjadi semakin baik sekarang. Semakin ramai dan semakin semarak. Apakah aku diijinkan untuk melihat Tanah Perdikan itu dalam waktu dekat ini?“ bertanya Risang.

Namun Gandarlah yang kemudian memotong, “Kau persilahkan tamu-tamu kita masuk ke bangunan induk padepokan Barata.”

“O,“ Risang mengangguk -angguk, “marilah, silahkan.”

Jati Wulung dan Sambi Wulungpun sejenak kemudian telah duduk diruang dalam bangunan induk padepokan itu bersama Gandar dan Risang.

Ternyata bahwa Jati Wulung dan Sambi Wulung tidak berputar-putar lagi. Mereka langsung menyampaikan kepada Risang, bahwa ibunya telah menjadi sangat rindu kepada anak itu.

“Jadi kita akan berangkat?“ bertanya Risang dengan gembira.

Jati Wulung tertawa sambil menjawab, “Tidak perlu hari ini. Bukankah kami perlu beristirahat?”

“O,“ Barata mengangguk -angguk. Katanya, “Maaf, aku memang terlalu rindu kepada ibu dan kepada Tanah Perdikan itu.”

Gandarlah yang menyahut sambil tertawa, “Kita harus mempersilahkan mereka beristirahat, minum dan makan. Jika kita memaksa mereka berangkat sekarang, maka kita akan sampai ke Sembojan justru tiga atau empat hari mendatang.”

“Kenapa?“ bertanya Risang.

“Mereka akan segera pingsan dan baru tiga atau em pat hari lagi sadar,“ jawab Gandar.

Risang tertawa. Jati Wulung dan Sambi Wulungpun tertawa pula.

Demikianlah, maka malam itu Jati Wulung dan Sambi Wulung telah bermalam di padepokan itu. Sementara Gandar mempersiapkan kepergiannya mengantar Risang ke Tanah Perdikan, karena sebenarnyalah bahwa Gandar-pun merasa telah terlalu lama tidak melihat Tanah Perdikan Sembojan itu.

“Apakah kita akan minta diri kepada Ki Demang Bibis?“ bertanya Risang.

Gandar berpikir sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku kira tid ak perlu. Kita tentu tidak akan terlalu lama berada di Tanah Perdikan Sembojan. Sementara itu, kita tidak akan mengatakan kepada siapapun bahwa kita pergi ke Tanah Perdikan Sembojan.”

“Jadi kita pergi ke mana?“ bertanya Risang.

“Kemana saja. Tidak seoran gpun yang akan kita percaya untuk mengetahui bahwa kita adalah orang-orang Sembojan. Bukan karena kita menganggap bahwa orang- orang Bibis termasuk yang ada di padepokan kecil ini

orang-orang jahat, tetapi pengenalan mereka itu dengan tidak sengaja dan tanpa niat jelek akan dapat tersebar. Mereka tidak mengetahui bahwa akibatnya akan dapat kurang baik bagi kita,“ berkata Gandar.

Risang mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak berkata sesuatu lagi.

Demikianlah pagi-pagi benar mereka berempat sudah siap untuk berangkat. Gandar telah menunjuk seorang yang dianggap paling tua diantara mereka yang tinggal di padepokan kecil itu, untuk mengatur kawan-kawannya selama Gandar pergi.

“Kalian akan pergi ke mana?“ bertanya orang itu. “Ke Pajang,“ jawab Gandar.

“Begitu jau h,“ desis orang itu, “Sampai kapan kalian kembali ke padepokan ini?”

“Pajang tidak terlalu jauh. Dengan berkuda kita akan dapat mencapai jarak itu dalam sehari, meskipun dari matahari terbit hingga memasuki malam hari berikutnya. Tetapi kita tidak perlu bermalam di perjalanan.” jawab Gandar yang dikenal bernama Sindura itu.

“Tentu berpacu cepat sekali,“ berkata orang itu. “Memang harus cepat. Tetapi tidak terlalu cepat seperti

sedang berpacu di arena. Termasuk istirahat beberapa kali di perjalanan.” jawa b Gandar. Lalu, “Tetapi memang lebih baik bermalam semalam diperjalanan agar perjalanan tidak terasa sangat tergesa-gesa.”

“Kapan kalian akan kembali?“ bertanya orang itu. “Jika kami memilih bermalam diperjalanan, maka kami akan kembali kira-kira lima atau enam hari. Tetapi kami memang tidak minta diri kepada Ki Demang, karena kami tidak berniat untuk pergi terlalu lama. Kami harus pergi ke Pajang untuk melihat salah seorang dari keluarga kami yang sakit. Mudah-mudahan sudah berangsur baik,“ jawab Gandar.

Orang itu mengangguk-angguk. Namun katanya, “Tetapi jangan lebih dari itu, Jika ada hal yang sangat penting, aku tidak akan dapat menyelesaikannya.”

“Kami akan kembali pada saatnya,“ jawab Gandar, “apalagi jika keadaannya sudah baik. Maka aku kira, dala m waktu sepekan kami sudah berada di padepokan ini kembali. Tetapi kemungkinan lain memang dapat terjadi. Jika keadaannya belum baik, mungkin perjalanan kembali kami tertunda. Tetapi tidak akan lebih dari sepuluh hari.”

Orang yang diserahi memimpin kawan-kawannya itu mengangguk-angguk. Sementara itu Gandar berpesan, “Tetapi ada baiknya kau bertemu dengan Ki Demang. Kami mohon maaf, bahwa kami tidak dapat datang sendiri untuk minta diri. Kami tidak sempat melakukannya, apalagi kami akan pergi hanya beberapa hari saja. Jika terjadi sesuatu, mintalah perlindungan Ki Demang.”

“Baiklah,“ orang itu mengangguk -angguk. Lalu katanya, “Mudah -mudahan tidak terjadi sesuatu selama kalian tidak ada di padepokan.”

“Bukankah selama ini juga tidak terjadi sesuatu? Yang perlu kalian jaga adalah agar parit-parit tetap mengalir. Tanaman kita jangan sampai menjadi kehausan, karena jika terjadi meskipun hanya sehari, akan dapat berpengaruh atas hasilnya nanti,“ berkata Gandar. “Kami akan selalu memperhatikannya,“ jawab orang i tu.

Ketika kemudian langit menjadi semakin terang, maka keempat orang itupun telah meninggalkan padepokan kecil di Kademangan Bibis, di pinggir Kali Lorog. Mereka berpacu meskipun tidak terlalu cepat, langsung menuju ke Tanah Perdikan Sembojan. Tidak seorangpun yang sempat melihat mereka meninggalkan padepokannya, karena padukuhan- padukuhan yang tidak terlalu dekat masih sepi. Para petani masih belum pergi ke sawah Sementara yang menunggu air di malam hari sudah pulang kerumah masing-masing.

Namun seandainya ada juga yang melihat, maka perjalanan ke Pajang memang dapat ditempuh melalui jalan yang sama dengan perjalanan menuju ke Tanah Perdikan Sembojan.

Risang yang jarang sekali meninggalkan padepokannya menjadi sangat gembira diperjalanan. Langit terasa sangat cerah sedangkan udara pagi telah menyegarkan tubuhnya.

Anak muda itu berpacu di paling depan dengan dada tengadah dan sikap yang tegar, setegar kudanya.

Namun dibelakang mereka Jati Wulung, Sambi Wulung dan Gandar yang hampir berjajar, sempat berbicara serba sedikit tentang anak muda itu.

“Sikap Puguh, anak Warsi itu, ternyata lebih dewasa dari Risang,“ berkata Jati Wulung.

Gandar mengangguk-angguk. Sementara Sambi Wulungpun memberitahukan pula, bahwa meskipun bekal ilmu Risang tidak kalah, tetapi pengalaman Puguh telah mengembangkan ilmunya lebih baik dari Risang. “Hal ini harus kita sadari sebelum terlambat,“ berkata Jati Wulung.

Gandar masih saja mengangguk-angguk. Katanya, “Kita perlu mengambil langkah-langkah yang cepat untuk mengatasinya.”

“Risang perlu mendapat pengalaman,“ berkata Jati Wulung.

“Ya. Tetapi harus diperhitungkan dengan cermat, apa yang baik dilakukan,“ berkata Gandar.

Jati Wulung mengangguk-angguk, ia memang sependapat. Tetapi iapun tahu bahwa tidak seorangpun yang pernah memperhitungkan kapan dan bagaimana sebaiknya Puguh mendapatkan pengalamannya. Tetapi bagaimanapun juga, gurunya telah berusaha mengamati dan melindunginya dengan memberikan beberapa orang pengawal.

Sementara itu, mereka berempat telah berkuda semakin jauh dari Kademangan Bibis, Mereka telah memasuki satu lingkungan yang tidak begitu mereka kenal. Namun bahwa mereka berkuda berempat memang menarik perhatian banyak orang.

Menjelang tengah hari, maka mereka merasa perlu untuk beristirahat. Terutama memberikan kesempatan kepada kuda-kuda mereka untuk beristirahat, minum dan makan rerumputan segar. Karena itu, maka merekapun telah berhenti dan beristirahat di dekat sebuah pasar.

Mereka melihat sebuah kedai yang nampaknya menyediakan bukan saja makan dan minum bagi para tamunya, tetapi juga memberikan tempat untuk memberi minum dan makan bagi kuda-kuda mereka yang menempuh perjalanan jauh.

Karena itulah, maka keempat orang itu telah memilih untuk berhenti di kedai itu. Menyerahkan kuda-kuda mereka kepada seseorang yang memang bertugas untuk mengurusi kuda-kuda para tamu.

Demikian keempat orang itu masuk kedalam kedai, maka kuda-kuda merekapun telah mendapat minum dan makan pula secukupnya.

“Nampaknya pasar ini sangat ramai,“ berkata Gandar hampir kepada dirinya sendiri.

Namun pemilik kedai itulah yang menyahut, “Hari ini adalah hari pasaran.”

“O,“ Gandar mengangguk -angguk, “pantas. Pasar itu penuh, sehingga seakan-akan tidak menampung lagi.”

“Hari sudah menjelang tengah hari,” berkata pemilik kedai itu, “ju mlah orang di pasar itu sudah jauh susut. Pagi tadi para pedagang dan pembeli berhimpitan bukan saja di pasar, tetapi disepanjang lorong ini sampai kesimpang empat itu. Tadi pagi tempat kuda yang aku sediakan disebelah kedai ini tidak menampung lagi. Tetapi sekarang sudah sepi. Hanya tinggal lima atau enam ekor kuda. Itu- pun yang empat milik kalian.”

Gandar mengangguk-angguk. Katanya pula, “Apakah dihari-hari biasa pasar ini tidak ramai sepert ini?”

“Tidak,“ jawab pemilik kedai itu, “meskipun pasar ini termasuk pasar yang besar, tetapi tidak seramai saat ini, saat pasaran seperti ini. Pasar dihari pasaran ini akan tetap ramai sampai lewat tengah hari.”

Gandar mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

Beberapa saat kemudian maka pesanan merekapun telah dihidangkan. Risang nampak gembira sekali diantara ketiga orang yang mengawaninya.

“Kalian pernah singgah di kedai ini?“ bertanya Risang kepada orang-orang yang mengawaninya itu.

“Beberapa kali aku lewat jalan ini, tetapi aku belum pernah singgah disini. Biasanya kami tidak begitu memperhatikan kedai-kedai seperti ini. Tetapi pasar ini ternyata telah menarik perhatian sementara kuda-kuda kita perlu beristirahat.” jawab Jati Wulung.

Risang yang jarang menempuh perjalanan mengangguk- angguk. Tetapi iapun segera menikmati hidangan yang dipesannya.

Tetapi selagi mereka menghirup minuman hangatnya, seseorang telah memasuki kedai itu. Dengan tegang orang itu menemui pemilik kedai itu. Meskipun keduanya berusaha berbicara perlahan-lahan, namun tamu-tamu di kedai itu telah mendengarnya. Bukan hanya keempat orang dari padepokan di Kademangan Bibis itu. Tetapi tamu-tamu yang lainpun telah mendengar pula.

“Ki Krema Waras nampaknya mau datang ke pasar mi,“ berkata orang itu.

“Gila,“ geram pemilik kedai itu, “s udah beberapa pasaran ia tidak datang. Kenapa tiba-tiba saja ia datang lagi? Bukankah ia sudah berjanji untuk tidak mengganggu isi pasar ini kepada Ki Demang dan Ki Jagabaya?

Betapapun kuatnya orang itu, tetapi ketika Ki Demang dan Ki Jagabaya sendiri turun, ternyata Ki Krema Waras itu dapat juga ditangkap. Jika sekarang ia datang lagi, maka sebaiknya kita laporkan saja kepada Ki Jagabaya. Bukankah Ki Jagabaya sudah berpesan agar kita memberi isyarat saja dengan kentongan dalam irama tertentu?”

“Tetapi ia tidak datang sendiri,“ berkata orang yang memberikan laporan itu. “Ia datang bersama empat orang lainnya.”

“Jadi berlima dengan Ki Krema Waras?“ bertanya pemilik kedai itu.

“Ya,“ jawab orang yang datang memberikan laporan itu. “Gawat,“ desis pemilik ked ai itu, “yang bertugas

mengamankan pasar ini bersama Ki Demang dan Ki Jagabaya akan mengalami kesulitan mengatasi mereka berlima. Kawan-kawan Ki Krema itu tentu juga orang-orang kuat dan kasar. Karena itu, maka agaknya Ki Demang harus mengerahkan anak-anak muda cukup banyak.”

“Jadi bagaimana menurutmu?“ bertanya orang yang memberikan laporan itu.

“Kita beritahukan kepada petugas yang menjaga pasar ini,“ berkata pemilik kedai, “apapun yang akan mereka lakukan.”

Orang itupun segera meninggalkan kedai itu. Namun yang nampak kemudian adalah kegelisahan. Orang-orang lain yang ada di kedai itu segera menyelesaikan hidangan mereka dan minta diri setelah membayar harga makanan dan minuman yang mereka pesan. Bahkan orang lain yang juga membawa kuda, dengan tergesa-gesa telah mendahului keluar dari kedai itu sebelum mereka menyelesaikan makanan dan minuman mereka.

Bahkan kemudian pemilik kedai itupun berkata kepada Gandar, “Ki Sanak. Orang yang bernama Krema Waras itu senang sekali kepada kuda yang baik. Karena itu, sebelum orang itu datang, aku persilahkan kalian meninggalkan kedai ini. Aku tidak minta kalian membayar harganya.

Tetapi demi kebaikan kalian, karena Krema Waras itu termasuk orang yang tidak mau terikat paugeran apapun juga.”

“Bukankah ia pernah ditan gkap?“ bertanya Gandar. “Ya. Ki Demang dan Ki Jagabaya sendiri. Meskipun

Krema Waras berusaha melawan. Namun karena itu, maka ia telah menjadi babak belur karena Ki Demang dan Ki Jagabaya telah berkelahi bersama-sama melawannya.” jawab pemilik kedai itu.

“Kenapa harus Ki Demang sendiri?“ bertanya Gandar, “apakah tidak ada orang lain selain Ki Demang dan Ki Jagabaya?”

“Tidak ada seorangpun yang berani melakukannya,“ jawab pemilik kedai itu. Lalu katanya, “Seandainya ada beberapa orang bersama-sama, maka pada kesempatan lain orang itu tentu diancam oleh Ki Krema itu, seorang demi seorang.”

Gandar mengangguk-angguk. Iapun kemudian berkata kepada Jati Wulung dan Sambi Wulung, “Marilah. Kita berangkat.” Tetapi Jati Wulung termangu-mangu sejenak. Bahkan iapun kemudian berbisik kepada Sambi Wulung, “Apakah kita mencari kesempatan sebagaimana pernah kita lakukan dengan Puguh?”

“Kita akan mencobanya,“ berkata Sambi Wulung. “Mencoba apa?“ bertanya Gandar.

“Kita tidak akan pergi,“ berkata Jati Wulung.

Gandar mengerutkan keningnya. Namun ternyata ia tanggap. Sambil memandang Risang yang termangu- mangu, Gandar berkata, “Jadi, kita pergunakan kesempatan ini?”

“Ya, selama kita yakin tidak akan terjadi sesuatu atas diri anak itu,“ jawab Jati Wulung.

Gandar termangu-mangu. Namun kemudian iapun berkata kepada Risang, “Kita tidak akan menghindar. Kita justru harus menolong orang-orang yang sekarang ada di pasar ini.”

“Maksudmu?“ bertanya Risang.

“Jangan biarkan orang yang berniat buruk itu dengan leluasa melakukan niat buruknya itu,“ berkata Gandar, “bukankah kakekmu selalu mengatakan bahwa memberikan pertolongan kepada orang yang membutuhkan itu satu pekerjaan yang baik?”

Risang itupun tiba-tiba saja bangkit dan berkata lantang, “Bagus. Aku akan melakukan sebagaiman a dikatakan kakek.” “Tetapi kau harus berhati -hati Risang,“ desis Gandar, “kau belum banyak mengenal sifat -sifat kerasnya dunia olah kanuragan.”

“Aku akan menjumpai orang itu,“ berkata Risang sambil menggeser pedang dilambungnya, “buat apa aku membawa senjata jika aku tidak dapat berbuat sesuatu yang berarti.”

“Ingat. Kau tidak boleh menuruti perasaanmu. Kau harus tetap mempergunakan akalmu,“ berkata Gandar.

Risang tersenyum. Iapun kemudian melangkah ke pintu.

Namun Jati Wulunglah yang kemudian mencegahnya, “Tunggu. Kita harus membayar makanan dan minuman kita.”

Tetapi sementara itu, pemilik kedai itupun bertanya, “Apa yang akan kalian lakukan?”

“Mencegah orang -orang itu,“ Risanglah yang menjawab. “Kalian belum mengenal Ki Krema Waras. Aku sarankan,

lebih baik kalian secepatnya meninggalkan tempat ini.

Apalagi kalian membawa kuda yang nampaknya kuda yang baik,“ berkata pemilik kedai itu. Lalu katanya pula, “Orang itu memiliki banyak kelebihan, sehingga untuk menangkap satu orang saja, Ki Demang dan Ki Jagabaya harus melakukan bersama-sama.”

“Kami berniat untuk mencegahnya Ki Sanak. Bukankah orang itu sering mengganggu isi pasar ini? Termasuk orang-orang yang membuka kedai disekeliling pasar?“ bertanya Gandar. “Tetapi jangan kalian ikut campur. Kalian akan menyesal,“ berkata pemilik kedai itu.

“Terima kasih atas peringatan Ki Sanak. Tetapi kami sudah berniat untuk mencoba mencegahnya jika kami mampu,“ jawab Gandar.

Pemilik kedai itu hanya dapat menarik nafas dalam- dalam. Sementara itu Risang telah menghambur keluar. Sambi Wulunglah yang cepat-cepat menyusulnya.

Sementara Jati Wulung masih sempat berbicara dengan Gandar sambil melangkah keluar, “Aku pernah mencari kesempatan seperti ini ketika aku mengantar Puguh pulang ke padepokannya. Bukan saja untuk meyakinkan tingkat kemampuan Puguh, tetapi untuk mendapatkan kepercayaan dari anak itu bahwa anak itu masih tetap harus dikawani diperjalanan karena kadang-kadang dapat timbul persoalan.”

“Kita akan melihat, apa yang dapat dilakukan oleh Risang menghadapi persoalan diluar padepokan,“ berkata Gandar.

“Namun masih ada orang yang sempat memberinya peringatan. Sedangkan Puguh nampaknya dilepas begitu saja apapun yang akan terjadi atas dirinya, karena para pengawalnya yang diberikan kepadanya kadang-kadang justru harus mendapat perlindungan dari Puguh, meskipun maksudnya sebaliknya,“ desis Jati Wulung.

Gandar tidak menjawab. Namun iapun segera menyusul Risang dan Sambi Wulung.

Ketika mereka berada disebelah kedai itu, ternyata suasana sudah berubah sama sekali. Masih banyak orang yang ada di pasar itu, tetapi suasananya seakan-akan menjadi lengang. Beberapa orang hanya termangu-mangu saja, sementara yang lain berjongkok didepan para penjual yang bagaikan membeku ditempatnya. Ternyata berita tentang hadirnya Ki Krema Waras telah didengar oleh seisi pasar. Sehingga dengan demikian merekapun menjadi cemas dan takut menghadapi kemungkinan-kemungkinan buruk sebagaimana pernah terjadi.

Pemilik kedai itupun telah berdiri di pintu butulan kedainya. Tiba-tiba saja ia berdesis dari balik pintu butulan kepada keempat orang yang baru saja keluar dari kedainya, “Ki Sanak. Itulah yang dipanggil Ki Krema Waras. Lima orang yang berjalan kemari itu, yang paling depan adalah Ki Krema Waras itu. Kalian masih mempunyai kesempatan. Meloncat kepunggung kuda dan lari ke arah lain.”

Tetapi Jati Wulung menyahut, “Aku akan menunggu mereka.”

Pemilik kedai itu masih saja berdesis, “Tetapi mungkin kedai ini akan menjadi korban pula.”

“O,“ desis Jati Wulung, “jika demikian, aku akan menyongsong mereka.”

Demikianlah, untuk menjauhi kedai itu agar tidak terkait dalam benturan yang mungkin terjadi, maka Jati Wulung telah mengajak Gandar untuk menyongsong saja kelima orang itu.

Gandarpun mengerti maksud Jati Wulung karena ia-pun medengar kecemasan pemilik kedai itu.

Keempat orang itupun kemudian telah berjalan, dengan sengaja menyongsong kelima orang itu. Agak berbeda dengan orang-orang lain, yang apabila masih ada kesempatan lebih baik menghindar.

Ternyata Ki Krema Waras memang berbuat sewenang- wenang terhadap orang-orang yang ada di pasar itu.

Terhadap orang-orang yang berjualan di pinggir jalan karena pasar itu sudah tidak menampung mereka di pagi hari, Krema Waras kadang-kadang telah melakukan perbuatan yang sangat merugikan. Dengan kakinya ia telah menendang tambir seorang penjual makanan sehingga isinya jatuh berserakan. Bahkan iapun telah menginjak- injak setenggok kulit melinjo yang ditumpahkannya.

Jati Wulung, Sambi Wulung, Gandar dan Risang yang berjalan ke arah yang berlawanan melihat apa yang dilakukan oleh Krema Waras itu. Namun Gandar masih menggamit Risang yang ingin berlari mendahului.

“Kita harus mencegahnya bukan?“ bertanya Risang. “Sudah aku katakan. Jangan terseret oleh perasaanmu

tanpa mempertimbangkannya dengan penalaran,“ desis Gandar.

“Jadi bagaimana?“ bertanya Risang.

“Kita harus berhati -hati. Kita belum tahu tataran kemampuan mereka,“ jawab Gandar.

Risang mengerutkan keningnya. Namun ia justru tertegun dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Sementara itu Jati Wulung, Sambi Wulung dan Gandar memang mengajaknya untuk menepi. Mereka berdiri diantara beberapa orang yang bagaikan membeku didepan seorang penjual telur. Bahkan ada diantara orang-orang itu yang berpura-pura memilih telur. Sedangkan penjualnya sendiri hanya menundukkan kepalanya saja.

Ketika kemudian Ki Krema Waras itu sampai dihadapan penjual telur yang dikerumuni oleh orang-orang itu, termasuk Jati Wulung, Sambi Wulung, Gandar dan Risang, tiba-tiba saja telah berhenti.

Sejenak Ki Krema Waras itu termangu-mangu. Namun kemudian ia telah melangkah mendekati penjual telur itu. Didorongnya beberapa orang yang berdiri disekitar dagangan itu untuk menyibak.

“He,“ berkata Ki Krema Waras kepada penjual telur itu, “berapa pedati kau bawa telur hari ini.”

Penjual telur itu menjadi gemetar. Tetapi ia menjawab, “Hanya sedikit, Ki.”

“Sudah berapa keranjang telurmu laku hari ini?”

“Baru sedikit Ki. Nampaknya pasaran terlalu sepi,“ jawab penjual telur itu.

“Aku perlu uangmu,“ berkata Ki Krema Waras. Lalu katanya pula, “Sudah lama aku tidak datang. Hutangmu kepadaku tentu sudah menjadi berlipat. Sekarang bayar seadanya saja.”

“Telurku belum banyak yang laku Ki,“ suara penjual telur itu semakin gemetar.

“Cepat,“ bentak Ki Krema Waras, “tentu ada uang dibakui kecil itu.” Penjual telur itu tidak berani membantah lagi. Ia terpaksa menyerahkan bakul kecil yang biasanya memang untuk tempat uang hasil penjualan telurnya. Untunglah sebagian dari uang itu telah disimpannya, sehingga yang tersisa tidak lagi terlalu banyak.

Ketika Ki Krema Waras menerima bakul itu dan melihat uang yang ada didalamnya terlalu sedikit, maka iapun menjadi marah. Katanya, “Kau kira kau dapat menipu aku he? Lihat, dibelakangmu terdapat beberapa keranjang kosong. Kau kira aku tidak tahu, bahwa sebanyak itu telurmu yang telah laku? Jangan berbohong. Berikan uang itu kepadaku.”

Penjual telur itu memang ketakutan. Namun ia masih saja bimbang. Apakah ia akan bertahan untuk tetap berbohong, atau ia harus menyerahkan uangnya.

Yang tidak kalah gelisahnya adalah Risang. Namun setiap kali Gandar menepuk bahunya agar anak itu tetap tenang.

Karena penjual telur itu dirasa terlalu lama tidak menuruti perintah Ki Krema waras, maka iapun telah berteriak, “Cepat.”

“Tetapi, tetapi ... “orang itu menjadi bin gung.

Ternyata Ki Krema Waras menjadi marah. Tiba-tiba saja ia melangkah maju. Satu kakinya dimasukkannya ke dalam sebuah keranjang yang berisi telur. Meskipun di antara telur-telur itu diberi jerami, namun karena injakan kaki Ki Krema Waras, maka telur-telur didalam keranjang itu telah hancur semuanya. “Jangan,“ teriak penjual telur itu. Tetapi Ki Krema Waras tidak menghiraukannya.

Bahkan Ki Krema Waras itupun berkata, “Jika kau tidak memberikan uang itu, semua telurmu akan aku hancurkan.”

Orang itu menjadi sangat bingung. Ia mencoba menilai, apakah uang yang telah diterimanya itu seimbang dengan jumlah telur yang masih tersisa.

Tetapi Ki Krema Waras itu berteriak, “Cepat.”

Namun sebelum orang itu mengambil keputusan, maka Jati Wulunglah yang bergeser mendekat. Diangkatnya keranjang telur yang ada didekat Krema Waras. Bahkan katanya kepada Sambi Wulung dan Gandar, “Bantu menyingkirkan telur ini, agar tidak diinjak lagi. Jika telur- telur ini pecah semua, maka penjual telur ini akan menjadi rugi. Mungkin telur-telur yang dibawanya dari padukuhannya dan diambilnya sepuluh dua puluh dari tetangga-tetangganya ini belum dibayar lunas.”

Ki Krema Waras terkejut melihat empat orang yang kemudian mengangkat menyingkirkan telur-telur dalam keranjang itu dan menjauhkannya dari kakinya.

Sejenak Ki Krema Waras justru termangu-mangu.

Dipandanginya empat orang yang membawa pedang dilambung. Biasanya orang-orang yang pergi ke pasar membawa golok dan diselipkan pada ikat pinggangnya meskipun juga dilambung sebagaimana laki-laki yang berdiri disekitarnya. Dengan suara yang berat garang Ki Krema Waras itu bertanya kepada Jati Wulung, yang pertama kali menyingkirkan telur yang ada di keranjang didekat kakinya, “Siapa kalian he?”

Jati Wulung yang sibuk itu mengangkat wajahnya memandang Ki Krema Waras yang garang itu. Baru kemudian ia menjawab, “Bukankah tidak pantas jika kau injak telur sekeranjang itu? Coba kau kira-kirakan, berapa harga telur yang pecah itu.”

“Persetan,“ geram Ki Krema Waras, “ia tidak mau membayar hutangnya kepadaku.”

“Hutang apa?“ bertanya Jati Wulung.

Ki Krema Waras termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Apa pedulimu. Ternyata kau adalah orang yang malang karena kau telah mencampuri persoalanku. Bersiaplah untuk mengalami nasib yang paling buruk diantara mereka yang telah bersentuhan dengan kemarahanku.”

“Bukankah kami tidak berbuat apa -apa? Bukankah kami sekedar menyingkirkan telur-telur ini?“ bertanya Jati Wulung.

“Persetan,“ geram Ki Krema Waras yang kemudian telah menarik kakinya dari keranjang telur. Perlahan-lahan ia berjalan mendekati Jati Wulung yang juga mundur perlahan-lahan.

Orang-orang yang ada disekitar tempat itu telah menyibak menjauh. Mereka menjadi cemas dan bahkan ketakutan. Jika Ki Krema Waras marah maka seisi pasar akan mengalami kesulitan. Pasar itu akan diporak porandakan. Apalagi Ki Krema Waras datang bersama empat orang kawannya.

Sebenarnyalah bahwa Ki Krema Waras itupun kemudian berteriak, “Saatnya telah datang. Aku pernah dihinakan oleh Ki Demang dan Jagabaya itu disini. Sekarang kalian harus melihat, bahwa aku tidak dapat ditundukkan oleh siapapun. Yang akan memanggil Ki Demang dan Jagabaya itu, lakukanlah sekarang. Nanti kalian akan melihat, bahwa Ki Demang dan Jagabaya itu tidak berarti apa-apa lagi bagiku.“ I a berhenti sejenak, lalu, “Sekarang aku akan menyelesaikan tikus-tikus ini dahulu.”

Jati Wulung, Sambi Wulung dan Gandar telah bergeser ke jalan sambil menarik tangan Risang. Agaknya mereka memang mencari tempat yang agak luas jika mereka terpaksa harus mempergunakan kekerasan.

Sementara itu, Gandar telah berpesan kepada Risang, “Hati -hatilah menghadapi mereka. Mereka adalah orang- orang kasar yang tidak sempat mengekang diri menghadapi siapapun juga. Karena itu kau harus berhati-hati.”

Risang mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan melawan orang yang telah memecahkan telur sekeranjang itu.”

“Jangan. Pilih yang lain. Orang itu terlalu kasar bagimu,“ jawab Gandar, “sebaiknya kau menjajagi dahulu kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dengan memilih lawan yang lain.”

Risang tidak menjawab. Sementara itu Jati Wulung dan Sambi Wulung telah siap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan Jati Wulung masih juga berkata, “Ki Sanak. Jika Ki Demang dan Ki Jagabaya pernah turun tangan, maka berarti bahwa tindakan yang kau lakukan itu salah. Karena itu, maka kenapa hal itu masih kau ulangi lagi?”

Ki Krema Waras tidak menjawab. Tetapi ia telah melangkah maju mendekati Jati Wulung. Bahkan dengan tangkasnya Ki Krema Waras itu telah meloncat menyerang dengan garangnya.

Tetapi Ki Krema Waras tidak mengetahui, siapakah yang telah diserangnya. Karena itu, maka dengan gerak yang sederhana Jati Wulung telah menghindar. Bahkan demikian serangan itu meluncur disebelahnya, tangannya telah terjulur. Tidak terlalu keras. Tetapi Ki Krema Waras berteriak nyaring karena kemarahan yang menghentak- hentak jantungnya.

Ternyata keempat orang kawannyapun tidak tinggal diam. Mereka telah bergerak pula mendekat. Seorang diantara mereka berkata, “Serahkan kepadaku Ki Krema Waras.”

Tetapi jawab Ki Krema Waras, “Selesaikan yang lain, yang telah ikut pula melibatkan diri. Biarlah orang ini aku selesaikan sendiri.”

Keempat orang itupun kemudian berpaling kepada tiga orang yang dianggap telah terlibat dalam persoalan telur itu.

Ketika seorang diantara mereka bergerak, maka Risang nampaknya sudah tidak sabar lagi. Ternyata ia terlepas dari pengamatan Gandar ketika ia sempat meloncat menyerang orang yang sedang bergerak itu.

Orang itu terkejut. Ia sama sekali tidak mengira bahwa anak muda itu telah berlari langsung menyerangnya. Sehingga karena itu maka ia tidak sempat menghindari serangan itu yang tiba-tiba itu. Namun demikian orang itu telah berusaha untuk menangkis serangan Risang yang mengarah langsung ke dadanya dengan pukulan tangannya.

Dengan cepat orang itu berusaha memiringkan tubuhnya sambil menangkis serangan itu dengan tangannya pula.

Namun agaknya serangan Risang lebih mapan, sehingga karena itu, ketika terjadi benturan, maka orang itulah yang tergetar beberapa langkah surut sambil menyeringai menahan sakit.

Risang sendiri memang tergetar juga. Tetapi ia masih mampu bertahan sehingga ia tidak terpental surut.

Orang itu telah mengumpat kasar. Iapun menjadi sangat marah mengalami serangan itu. Namun katanya, “Anak yang licik. Kau curi kesempatan. Jika kau sudah mulai, maka aku tidak akan memberimu kesempatan berhenti.

Kau akan berhenti jika tanganmu itu sudah aku patahkan.”

Tetapi Risang tidak menjawab. Ia telah melangkah maju dan bersiap untuk menyerang.

“Anak ini agaknya telah kerasuka n iblis,“ geram seorang yang lain, “ia sama sekali tidak menunjukkan kewajarannya lagi.”

Ternyata Risang menjadi marah mendengar kata-kata itu. Juga dengan tiba-tiba ia telah menyerang orang yang menyebutnya kerasukan itu. Tanpa ancang-ancang dan seakan-akan seperti tidak direncanakan sama sekali.

Orang itupun terkejut pula. Seperti orang yang pertama, maka serangan Risang telah menggetarkannya. Bahkan mendorongnya beberapa langkah surut, karena orang itu tidak sempat menghindari. Orang itu hanya berusaha untuk menangkis dengan tergesa-gesa.

Ternyata bahwa tenaga Risang yang masih sangat muda itu cukup besar. Latihan-latihan yang berat yang dilakukannya telah memberikan bekal yang cukup padanya. Meskipun ia masih belum berpengalaman sama sekali, namun kemampuannya pada dasarnya cukup memadai.

Dua orang yang sudah diserang oleh Risang itu menjadi sangat marah. Merekapun telah mempersiapkan diri untuk membalas. Seorang diantara mereka berteriak, “Anak tidak tahu diri. Jangan menyesal jika tanganmu aku patahkan disini.”

Risang segera bersiap menghadapi dua orang sekaligus.

Tetapi Sambi Wulung dan Gandar tidak membiarkannya. Merekapun segera bergeser mendekat.

Namun dalam pada itu, dua orang kawan Krema Waras yang lainpun telah melibatkan diri pula. Mereka telah meloncat langsung menyerang. Seorang menyerang Sambi Wulung dan seorang lagi menyerang Gandar.

Dengan demikian maka Jati Wulung, Sambi Wulung dan Gandar telah terikat dalam pertempuran dengan lawannya masing-masing, sehingga dengan demikian maka Risang harus bertempur melawan dua orang sekaligus.

Sebenarnyalah Gandar dapat saja menyelesaikan lawannya dalam waktu singkat kemudian membantu Risang. Tetapi dengan sengaja Gandar membiarkan Risang bertempur melawan dua orang itu selagi keduanya tidak bersenjata. Dengan demikian maka Gandar akan dapat mengukur kemampuan Risang, sementara Jati Wulung dan Sambi Wulung akan sempat memperbandingkannya dengan kemampuan Puguh, anak Warsi.

Demikianlah Risang benar-benar bertempur melawan dua orang lawan. Dengan tangkasnya ia berloncatan.

Sekali-sekali menghindar dan sekali-sekali menyerang.

Jati Wulung yang bertempur dengan Ki Krema Waras segera dapat mengukur kemampuan lawannya. Karena itu, maka ia tidak lagi terlalu merasa terikat. Bahkan ia sempat memperhatikan bagaimana Risang mempergunakan ilmunya.

Sementara Sambi Wulungpun tidak merasakan beban pertempuran yang dilakukannya sendiri. Ia sengaja mengikat diri, agar dengan demikian Risang harus bertempur melawan dua orang lawan. Karena menurut pendapat Sambi Wulung, Gandar juga membiarkannya demikian.

Risang yang berbekal ilmu yang cukup karena ia telah menempuh latihan-latihan yang berat itu, untuk beberapa saat merasa betapa sulitnya melawan dua orang itu.

Perhatiannya harus terbagi, sehingga kadang-kadang ia telah kehilangan beberapa kesempatan dan bahkan sekali- sekali Risang merasakan serangan lawannya yang mengenainya karena tidak sempat dihindari atau ditangkisnya.

Namun semakin lama anak itu justru menjadi semakin mapan. Ia tidak mau melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, sehingga karena itu, maka iapun menjadi semakin berhati-hati. Akhirnya justru ia teringat kepada pesan Gandar, bahwa ia tidak boleh sekedar hanyut dalam arus perasaannya, tetapi ia harus tetap mempergunakan penalarannya. Karena itu, maka beberapa kali Risang justru meloncat mengambil jarak. Ia mulai membuat perhitungan- perhitungan atas keadaan dan kedudukan lawannya. Baru kemudian ia meloncat kembali memasuki arena pertempuran.

Dengan demikian, maka kedudukan Risang menjadi semakin baik. Ia tidak lagi terlalu sering dikenai disaat kedua lawannya menyerang berbareng dari arah yang berbeda. Jika lawannya masih melakukannya, maka Risang justru telah meloncat menjauh. Kemudian dengan tiba-tiba meloncat kembali menyerang salah seorang diantara kedua lawannya itu.

Berdasarkan pengalamannya yang pendek, maka Risang ternyata melihat kelemahan lawan-lawannya. Karena itu, maka setiap kali Risang telah berloncatan, berusaha untuk berada dalam perpanjangan garis lurus yang menghubungkan kedua titik kedudukan lawannya. Dengan demikian ia dapat menyerang seorang diantara lawannya yang berada dipaling depan.

Tetapi lawannya memang tidak diam mematung.

Merekapun mengerti bahwa kedudukan yang demikian, tidak menguntungkan bagi kedua orang yang bertempur berpasangan itu, sehingga setiap kali mereka harus menyesuaikan diri memencar keluar dari garis lurus itu.

Ternyata Risang dapat memanfaatkan perhatian lawannya atas kelemahan mereka sendiri. Dengan tiba-tiba saja Risang telah menyerang tempat-tempat yang paling lemah dari pertahanan kedua lawannya itu.

Gandar, Jati Wulung dan Sambi Wulung yang memperhatikan pertempuran antara Risang dengan kedua lawannya itu melihat, bahwa Risang mampu memanfaatkan bekal yang telah dibawanya.

Namun kadang-kadang Risang masih juga dipengaruhi oleh gejolak perasaannya. Kadang-kadang ia nampak tergesa-gesa mengambil sikap, sehingga ternyata sikap itu tidak menguntungkannya. Justru pada saat ia meloncat menyerang lawannya yang seorang, ia telah memberi peluang lawannya yang lain menyerangnya dengan cepat, sehinga Risang itu tidak mempunyai kesempatan untuk mengelak.

Ketika tubuh Risang menjadi semakin kesakitan karena serangan-serangan kedua lawannya yang kadang-kadang berhasil menerobos pertahanannya, maka Risang-pun menjadi semakin marah. Namun ia masih saja selalu ingat akan pesan Gandar. Ia tidak boleh kehilangan akal, sehingga setiap langkahnya tidak terlepas dari penalaran yang mapan, meskipun kadang-kadang Risang menjadi tergesa-gesa dan tidak sempat memperhitungkan sikapnya.

Jati Wulung, Sambi Wulung dan Gandar sendiri masih juga bertempur melawan lawan masing-masing. Namun mereka sama sekali tidak mengalami kesulitan. Ketiga orang itu seakan-akan hanya sekedarnya saja melayani lawan masing-masing.

Bahkan Jati Wulung bertempur dengan kesan tersendiri.

Ia memang ingin memberitahukan kepada Krema Waras, bahwa ilmunya itu masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan ilmu yang mapan dalam dunia olah kanuragan.

Namun dalam pada itu, selagi Jati Wulung, Sambi Wulung dan Gandar menunggu, apakah yang akan terjadi atas Risang dan kedua orang lawannya itu, telah terdengar isyarat suara kentongan yang dipukul dalam irama yang rampak terputus-putus.

“Setan,“ geram Ki Krema Waras, “jika Ki Demang dan Ki Jagabaya datang, mereka hanya akan dipermalukan saja disini. Aku akan membuat mereka kehilangan harga diri mereka dihadapan orang-orang sepasar.”

“Jangan mengigau,“ potong Jati Wulung, “jika kau mampu menginjak telur sekeranjang sampai lumat itu sama sekali bukan satu kebanggaan ilmu. Setiap orang akan dapat melakukannya.”

“Persetan,“ geram Krema Waras, “aku ingin membungkammu.”

Jati Wulung tertawa. Katanya, “Kau harus menukar telur yang telah kau pecahkan. Jika kau tidak punya uang, maka timangmu itulah yang harus kau jual. He, darimana kau mendapatkan timang emas itu? Merampok seperti kebiasaanmu?”

Wajah Krema Waras menjadi merah oleh kemarahan yang membakar jantungnya. Dengan berteriak nyaring ia menyerang Jati Wulung. Namun serangan itu tidak berarti apa-apa.

Sementara itu, orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu menjadi berdebar-debar. Mereka mengenal Krema Waras sebagai seorang yang berilmu tinggi dan tidak terkalahkan kecuali jika Ki Demang dan Ki Jagabaya turun langsung menanganinya.

Namun suara kentongan itu tentu memanggil Ki Demang dan Ki Jagabaya. Tetapi Ki Krema Waras itu sama sekali tidak berhasil menekan lawannya. Bahkan semakin lama tangan orang itu semakin sering menyentuhnya. Semakin lama terasa semakin sakit. Ketika tangan Jati Wulung itu mengenai pipinya, maka rasa-rasanya beberapa buah giginya telah patah, sehingga mulutnya telah berdarah.

Krema Waras mengumpat sejadi-jadinya. Namun Jati Wulung justru tertawa sambil berkata, “Kau pamerkan gigimu yang patah itu kepada Ki Demang.”

“Setan kau,“ geram Ki Krema Waras. Dua giginya meloncat keluar, satu gigiku justru telah tertelan.”

Jati Wulung tertawa semakin keras. Bahkan Sambi Wulungpun sempat tertawa pula karena ia juga mendengar teriakan Krema Waras yang marah itu.

Krema Waras masih mengumpat-umpat. Namun ia memang tidak dapat berbuat apa-apa menghadapi Jati Wulung.

Karena itulah, maka Krema Waras yang ditakuti oleh seisi pasar itu benar-benar merasa terhina. Dengan serta merta ia telah mencabut goloknya yang besar sambil berkata lantang, “Jika golok ini sudah keluar dari sarungnya, maka tentu akan terjadi kematian.”

“Krema Waras,“ berkata Jati Wulung, “apakah kau benar-benar akan membunuh?”

“Kau menjadi ketakutan, he?“ bentak Ki Krema Waras sambil mengusap darahnya yang masih saja keluar dari mulutnya karena giginya yang patah.

“Aku memang menjadi ketakutan,“ jawab Jati Wulung. “Jika demikian menyerahlah. Aku ingin menginjak kepalamu dengan kakiku yang telah aku pergunakan untuk menginjak telur ini,“ geram Krema Waras.

“Aku bukan ketakutan karena kau bersenjata,“ jawab Jati Wulung, “tetapi aku menjadi ketakutan bahwa aku akan terpaksa membunuh orang disini.”

“Persetan,“ geram Krema Waras itu sambil meloncat menyerang dengan goloknya.

Jati wulung meloncat surut beberapa langkah. Tetapi Krema Waras telah memburunya dan menyerangnya dengan goloknya yang terjulur lurus.

Tetapi dengan tangkasnya Jati Wulung kemudian mengelak kesamping dengan loncatan kecil. Namun Krema Waras tidak melepaskannya. Iapun segera menebas mendatar.

Jati Wulung menjadi muak melihat sikapnya. Ia ingin melihat perkembangan pertempuran antara Risang dengan kedua lawannya. Karena itu, maka ketika ujung pedang itu terayun diatas kepalanya yang menunduk, maka Jati Wulung telah menjulurkan kakinya. Dengan cepatnya sehingga Krema Waras tidak sempat mengelak.

Lambungnya yang terkena serangan Jati Wulung, sehingga ia telah terlempar dan jatuh terguling ditanah.

Goloknya telah terlepas dari tangannya. Sementara lambungnya terasa betapa sakitnya. Perutnya menjadi mual dan punggungnya serasa patah. Ketika dengan susah payah ia berusaha untuk bangkit, maka iapuh telah terhuyung-huyung dan bahkan jatuh lagi terbaring ditanah.

Krema Waras menyeringai menahan sakit. Tetapi punggungnya benar-benar seakan-akan patah sehingga tidak mampu lagi menegakkan tubuhnya disaat ia bangkit berdiri.

Jati Wulung memandanginya sejenak. Namun ketika ia kemudian melihat kawan-kawan Krema Waras, maka merekapun telah tidak mampu lagi melawan tanpa sempat menarik senjata mereka.

Jati Wulung, Sambi Wulung dan Gandar sempat mencari tali untuk mengikat tangan dan kaki ketiga orang itu.

Sementara Risang masih harus mengerahkan tenaganya melawan kedua orang lawannya.

Sejenak kemudian, maka Jati Wulung, Sambi Wulung dan Gandar dapat memperhatikan anak muda itu dengan saksama. Sementara kedua lawannya justru menjadi gelisah. Apalagi ketika Jati Wulung, Sambi Wulung dan Gandar melangkah mendekat. Tetapi ternyata ketiga orang itu tidak mengganggu pertempuran itu.

Risang sendiri ternyata tidak ingin mendapat bantuan.

Karena itu maka iapun telah berteriak, “Jangan ganggu aku.”

Gandar tersenyum. Ialah yang menjawab, “Kami hanya ingin menonton bagaimana kau mengatasi lawan- lawanmu.”

Risang tidak menjawab. Tetapi ia masih saja berloncatan dari lawan yang seorang melawan yang lain. Jika kedua lawannya menyerang bersama-sama, maka Risang telah berusaha untuk meloncat keluar dari garis serangan mereka.

Ternyata pertempuran itu benar-benar telah memberikan satu pengalaman yang baru bagi Risang. Ia tidak saja berkelahi dengan anak-anak muda padukuhan. Tetapi ia telah bertempur melawan dua orang yang berpengalaman luas. Namun tidak memiliki bekal olah kanuragan yang cukup.

Ternyata latihan-latihan yang berat yang dilakukan oleh Risang telah mampu mendukung kemampuannya. Apalagi tubuhnya yang memang sedang berkembang itu tumbuh dengan baik. Sehingga dengan demikian, maka beberapa saat kemudian, terasa bahwa kedua lawannya mulai dibayangi oleh susutnya tenaga mereka, sementara Risang masih tetap nampak segar.

Kedua lawannya memang menjadi bimbang menghadapi kenyataan yang terjadi. Tiga orang kawannya telah tidak berdaya, sementara tiga orang kawan lawannya yang muda itu telah berdiri disekitar arena. Ketika terlintas di benak merka untuk menarik golok dipinggang mereka, maka telah timbul pula pertanyaan, apakah hal itu tidak justru memancing ketiga orang kawan anak muda itu untuk melibatkan diri.

Karena itu, maka kedua orang itu tidak mempunyai pilihan lain. Ketika serangan-serangan Risang masih saja cepat dan kuat, serta beberapa kali mengenai mereka, sementara itu ketiga orang kawan anak muda itu berada di pinggir arena, sehingga setiap saat mereka akan dapat berbuat apa saja bahkan membunuh keduanya, maka seorang diantara kedua orang itu telah memberikan isyarat kepada kawannya untuk menghentikan perlawanan. Agaknya kawannyapun menyadari kesulitan yang akan timbul seandainya mereka bertempur terus. Tenaga mereka semakin susut sementara anak muda itu rasa-rasanya justru menjadi semakin garang.

Karena itu, maka akhirnya kedua orang itupun telah mengambil jarak. Bukan untuk menarik senjatanya dilambung, tetapi merekapun telah menyatakan menghentikan perlawanan.

“Kami menyerah,“ berkata salah seorang diantara keduanya.

Risang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Gandarlah yang melangkah maju sambil berkata, “Pertempuran ini sudah selesai. Mereka telah menyerah.”

Risang mengangguk-angguk. Namun ternyata bahwa anak muda itupun telah mengerahkan tenaga dan kemampuannya. Seluruh pakaiannya ternyata basah oleh keringat, sementara nafasnyapun mengalir semakin cepat.

“Kenapa mereka berhenti?“ bertanya Risang. “Mereka menyerah,“ jawab Gandar.

“Pengecut. Laki -laki akan bertempur sampai kemampuan terakhir,“ geram Risang.

“Mungkin. Tetapi sifat seorang laki -laki yang jantan adalah mereka yang mengakui kenyataan,“ jawab Gandar.

“Itu sangat membingungkan. Mana yang benar dari kedua sifat yang bertentangan itu?“ bertanya Risang. Gandar tersenyum. Katanya, “Menurut persoalannya.

Jika ia mempertahankan kebenaran yang diyakininya, maka ia akan mengerahkan kemampuannya sampai batas terakhir. Tetapi jika sekedar menuruti gejolak ketamakan diri, maka keduanya memang harus berhenti berkelahi.

Mengakui kesalahan dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi.”

Risang mengerutkan keningnya. Ia masih belum begitu jelas. Tetapi nampaknya memang bukan waktunya untuk membicarakannya saat itu. Apalagi ketika sejenak kemudian terdengar derap kaki kuda mendatang.

Ternyata Ki Demang, Ki Jagabaya dan beberapa bebahu Kademangan telah datang.

Seorang petugas di pasar itu telah menemui orang- orang yang telah mengalahkan Krema Waras dan kawan- kawannya itu untuk memberitahukan kehadiran Ki Demang dan para bebahu itu.

“Jadi mereka telah datang?“ bertanya Jati Wulung. “Bawa orang -orang ini kepada mereka,“ berkata J ati

Wulung.

Petugas di pasar itu termangu-mangu. Namun kemudian Jati Wulung mendesaknya, “Ikat tangan mereka. Ambil senjatanya dan serahkan mereka kepada Ki Demang.”

Petugas itu tidak mau berpikir lebih lama. Iapun kemudian melakukan apa yang dikatakan oleh Jati Wulung. Dicarinya tali untuk mengikat tangan kedua orang itu.

Sementara itu dengan tergesa-gesa Ki Demang dan para bebahu itu meloncat turun dari kuda mereka. Mengikat pada batang-batang perdu di pinggir jalan didekat simpang empat. Kemudian dengan langkah panjang mereka memasuki lingkungan pasar yang nampak dibayangi oleh kebingungan dan kecemasan.

“Dimana Krema yang gila itu?“ bertanya Ki Demang yang marah.

Beberapa orang telah menunjuk ke arah arena perkelahian itu.

Ketika Ki Demang kemudian mendekat, maka dilihatnya lima orang telah terikat.

Ki Demang dan Ki Jagabaya saling berpandangan sejenak. Dengan nada berat Ki Demang berdesis, “Mereka berlima?”

Petugas di pasar itu mengangguk. Jawabnya, “Ya Ki Demang. Ki Krema datang bersama empat orang kawannya.”

“Siapa yang mengikat mereka?“ bertanya Ki Demang. Petugas pasar dan beberapa orang telah berpaling.

Tetapi mereka sudah tidak menemukan keempat orang yang telah menangkap Ki Krema Waras itu.

“Tadi mereka ada disini,“ berkata petugas pasar itu. “Dimana?“ desak Ki Demang.

Jati Wulung, Sambi Wulung, Gandar dan Risang memang sudah meninggalkan mereka. Namun sejenak kemudian empat orang berkuda telah menyibak orang- orang itu. Dengan lantang Risanglah yang diminta oleh ketiga orang mengawaninya untuk berkata, “Hukumlah mereka, Ki Demang. Jika kemudian mereka mendendam, maka kami akan datang lagi untuk membuat perhitungan. Mungkin kami pada kesempatan lain akan membunuh mereka bersama anak cucu mereka. Tumpas tapis tanpa bekas.”

“Tetapi ... . “ Ki Demang tidak sempat menyelesaikan kata-katanya karena keempat orang berkuda itu telah menggerakkan kendali kudanya dan beranjak dari tempatnya, “Selamat tinggal Ki Demang,” teriak Risang sambil memacu kudanya meninggalkan tempat itu.

Ki Demang termangu-mangu. Demikian pula dengan Ki Jagabaya.

“Orang -orang aneh,“ desis Ki Demang. Lalu iapun bertanya kepada petugas pasar itu, “Apa yang telah terjadi?”

Petugas pasar itulah yang kemudian bercerita tentang empat orang penunggang kuda itu. Sejak kedatangan Krema Waras bersama kawan-kawannya, tentang makanan yang tumpah, mlinjo yang diinjak-injak dan telur sekeranjang yang lumat, sehingga mereka terikat tangan dan kakinya.

Ki Demang mengangguk-angguk. Kepada Ki Jagabaya ia berkata, “Orang -orang aneh. Kenapa mereka justru pergi ketika kita datang?”

Ki Jagabaya menggeleng. Namun ia berdesis, “Entahlah. Agaknya mereka orang-orang yang memang berilmu tinggi dan juga rendah hati, sehingga mereka tidak memerlukan ucapan terima kasih dan puji-pujian yang lain.” Ki Demang mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun berpaling kepada Ki Krema Waras. Wajahnya menjadi merah oleh kemarahan yang membakar jantung.

Sementara itu Jati Wulung, Sambi Wulung, Gandar dan Risang telah menjadi semakin jauh. Seperti perjalanan sebelumnya, Risang berada dipaling depan, sementara Jati Wulung, Sambi Wulung dan Gandar ada dibelakangnya.

“Pada dasarnya bekal Risang cukup memadai dibandingkan dengan Puguh,“ berkata Jati Wulung, “tetapi Puguh nampak lebih dewasa menghadapi persoalan- persoalan. Ia lebih berpengalaman dan nampaknya perasaannya lebih mengendap pula. Padahal umur mereka terpaut beberapa lama justru Risang lebih tua, meskipun hanya sekitar setahun.”

“Agaknya hal itu dapat dimengerti,“ berkata Gandar, “Puguh mendapat lebih banyak kesempatan dari Risang. Sementara ini Risang masih sangat terbatas geraknya.”

“Memang sulit untuk menjaga anak -anak muda seperti Risang dan Puguh. Kita tentu tidak akan dapat melepaskan Risang sebagaimana melepaskan Puguh. Kali ini saja, rasa- rasanya kita tidak dapat membiarkan Risang bertemepur tanpa pengawasan. Sementara itu Puguh hanya diserahkan kepada orang-orang yang tentu tidak akan dapat banyak berbuat dengan banyak memberikan tuntunan, sehingga Puguhlah yang harus lebih banyak mengambil sikap,“ berkata Jati Wulung.

“Ya. Agaknya kedua orang yang mengaku orang tua Puguh tidak akan menyesali seandainya Puguh itu hilang ditelan oleh liarnya dunia olah kanuragan. Katakan Puguh mati di Song Lawa, maka kedua orang yang mengaku orang tuanya itu tidak akan menyesalinya. Mungkin yang mereka sesali adalah karena mereka tidak akan dapat lagi memperaiat anak itu untuk menguasai orang-orang Tanah Perdikan Sembojan,“ berkata Sambi Wulung.

“Agaknya memang demikian,“ berkata Gandar. Tetapi sudah tentu bahwa ia tidak akan mungkin melepaskan Risang untuk mendapatkan pengalaman sebebas Puguh.

Adalah diluar perhitungan Jati Wulung dan Sambi Wulung, bahwa mendekati Tanah Perdikan Sembojan, di lereng bukit-bukit kecil yang memanjang, dibawah rimbunnya pepohonan, terdapat sekelompok orang yang sedang duduk dibawah bayangan dedaunan disaat matahari miring ke Barat.

Orang-orang itupun bagaikan terbangun dari mimpi mereka yang buruk selama mereka duduk terkantuk- kantuk. Yang mula-mula bangkit berdiri adalah orang yang paling disegani diantara mereka, karena orang itu adalah pemimpin dari sekelompok orang-orang yang terkantuk- kantuk itu.

“Bukan kebiasaan kita untuk merampas milik orang lain,“ berkata orang itu, “tetapi dalam keadaan seperti ini, maka kuda-kuda itu sangat berarti buat kita. Mungkin mereka juga membawa barang-barang berharga yang akan dapat membantu kita untuk beberapa saat sebelum kita bertemu dengan Ki Rangga Gupita dan Warsi yang seakan-akan telah hilang begitu saja.”

“Apa yang akan kita lakukan Ki Sumbaga ,“ bertanya seseorang.

“Ada berapa orang yang bersama kita sekarang?“ bertanya Ki Sumbaga. “Tujuh orang.“ jawab kawannya.

“Jadi sembilan orang bersama kita?“ bertanya Ki Sumbaga.

“Tujuh orang bersama kita berdua,“ jawab orang itu. “Kau memang dungu. J ika demikian berarti lima orang

yang bersama kita sekarang,“ geram Ki Sumbaga. “Bukankah itu sudah cukup?“ bertanya pengikutnya itu. “Kumpulkan mereka,“ berkata Ki Sumbaga itu.

Sejenak kemudian, tujuh orang telah berkumpul termasuk Ki Sumbaga. Sementara itu empat ekor kuda semakin lama menjadi semakin dekat.

“Kita memerlukan kuda,“ berkata Ki Sumbaga, “sekarang ada orang yang mengirimkan kuda bagi kita. Jangan lewatkan. Bahkan mungkin selain kuda, mereka dapat memberikan sumbangan bagi perjuangan kita yang panjang.”

“Tetapi siapakah mereka?“ bertanya salah seorang pengikutnya.

“Siapapun mereka. Nampaknya mereka sedang menuju ke Sembojan. Mudah-mudahan mereka orang-orang Sembojan. Mungkin seorang saudagar, atau siapapun juga,“ berkata Ki Sumbaga. Lalu, “Bukankah tujuan kita duduk-duduk disini juga melihat-lihat barangkali ada sesuatu yang berarti bagi kita? Nah, yang pasti, kuda-kuda itu akan sangat berarti.” Ketujuh orang itupun kemudian telah mulai bergerak turun. Mereka tidak mau kehilangan empat ekor kuda. Karena itu, maka tiga orang diantara mereka telah menyusuri lereng bukit itu. Mereka harus turun di jalan dibelakang keempat ekor kuda itu, sehingga kuda-kuda itu tidak akan dapat berlari ke arah yang berlawanan.

Jati Wulung, Sambi Wulung, Gandar dan Risang terlambat melihat orang-orang yang berada dilereng, diantara pepohonan dan batang-perdu. Ketika mereka melihat beberapa orang berlari-larian menuruni lereng, maka merekapun segera menarik kekang kuda mereka. Dengan cepat Gandar bergeser kesamping Risang yang ada dipaling depan.

Memang ada niat Gandar untuk menghindar saja, karena diantara mereka ada Risang. Tetapi ketika Gandar berpaling ke arah Jati Wulung dan Sambi Wulung, maka iapun melihat tiga orang yang lain yang sedang turun pula dari lereng.

Karena itu, maka memang tidak ada kesempatan lain. Sisi lain dari jalan yang mereka lalui, adalah lereng yang rendah, kemudian sebuah sungai kecil yang mengalir menelusuri seurut jalan yang mereka lalui itu. Diseberang sungai kecil itu terdapat sawah yang terhampar.

Gandar menarik nafas dalam-dalam. Jika orang-orang berniat buruk, maka mereka akan terpaksa membenturkan kemampuan mereka.

“Siapakah mereka?“ bertanya Risang. Gandarlah yang menjawab, “Aku tidak tahu.“ Jati Wulung dan Sambi Wulung juga belum pernah mengenal orang yang berdiri di tengah jalan itu. Didalam perang yang terjadi antara Sembojan dengan orang-orang dari balik bukit, keduanya tidak bertemu dengan Ki Sumbaga.

“Maaf Ki Sanak,“ berkata Ki Sumbaga, “jika Ki Sanak tidak berkeberatan, apakah kami boleh mengetahui, Ki Sanak ini akan pergi ke mana.”

Gandar termangu-mangu. Tetapi ia terpancang kepada pernyataan disaat mereka berangkat dari padepokan.

Karena itu, hampir diluar kesadarannya ia menjawab, “Kami akan pergi ke Pajang.”

“Ke Pajang?“ Ki Sumbaga termangu -mangu. Namun kemudian katanya, “Memang ada jalan ke Pajang lewat Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi Ki Sanak dari mana?”

Gandar memang agak bingung. Namun kemudian jawabnya, “Kami memang orang -orang Pajang. Kami akan kembali dari perjalanan panjang.”

“Dari mana?“ bertanya Ki Sumbaga.

Akhirnya Gandar menjawab asal saja “ Kami adalah pedagang keliling.”

“Pedagang keliling?“ ulang Ki Sumbaga, “apa saja yang kalian bawa sehingga kalian harus pergi berempat? Apakah kalian pedagang-pedagang emas intan, atau pusaka-pusaka dan wesi aji atau apa?”

Gandar memang menjadi semakin bingung. Namun kemudian ia masih saja asal menjawab, “Batu -batu bertuah. Batu akik dan sebangsanya. Sayang, dagangan kami sudah habis dalam perjalanan kami.”

“Sebenarnya kami memerlukan batu-batu berharga yang mungkin mempunyai tuah tertentu. Tetapi sayang batu- batu berharga itu sudah habis. Namun bukankah dengan demikian uang sudah terkumpul di tanganmu?“ bertanya Ki Sumbaga pula.

Gandar yang tidak mengira akan mendapat pertanyaan itu tidak segera dapat menjawab. Ia harus berpikir sejenak, bagaimana ia harus menjawabnya.

Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Ki Sanak. Bukan kebiasaan kami menjual barang-barang kami untuk mendapat uang langsung. Kami meninggalkan barang-barang kami pada orang-orang yang membutuhkan, sementara uangnya dapat dibayar kemudian. Bahkan diangsur sedikit demi sedikit.”

“Kau memang baik hati Ki Sanak,“ jawab Ki Sumbaga, “namun perjalananmu kali ini tentu sekaligus memungut angsuran bagi barang-barangmu yang kau tinggalkan lebih dahulu, mungkin sepekan yang lalu atau sebulan yang lalu atau kapanpun juga.”

Gandar menjadi jengkel karenanya. Namun sudah terbayang niat buruk dari orang-orang yang menghentikannya itu. Tidak hanya lima orang sebangsa Krema Waras. Tetapi orang-orang ini nampaknya lebih garang dan memiliki kemampuan yang jauh lebih tinggi dari Krema Waras dan kawan-kawannya itu.

Namun Gandar yang sebenarnya ingin menghindar karena ia bersama Risang itu, tidak mendapat kesempatan lagi. Sehingga mau tidak mau, ia harus menghadapi orang- orang itu. Bahkan mungkin dengan kekerasan.

Karena itu, maka Gandar tidak menjawab lagi pertanyaan orang itu. Bahkan ialah yang bertanya, “Ki Sanak. Siapakah sebenarnya Ki Sanak?. Kami belum sempat bertanya tentang Ki Sanak.”

“Kami juga belum bertanya tentang kalian,“ jawab Ki Sumbaga.

“Bukankah kami sudah menyatakan diri, bahwa kami adalah pedagang keliling yang tinggal di Pajang.” jawab Gandar.

“Kau kira aku percaya kepada jawabmu itu?“ Ki Sumbaga justru tertawa.

“Baiklah. Jika demikian tidak ada gunanya aku bertanya kepada kalian, karena kalian tentu akan menjawab asal saja. Tetapi meskipun demikian aku ingin juga bertanya tentang maksud kalian menghentikan kami disini,“ berkata Gandar.

Ki Sumbaga itu termangu-mangu sejenak.

Bagaimanapun juga sebagai seorang perwira dari prajurit yang mapan di masa Demak dan selanjutnya Jipang, Ki Sumbaga masih juga berpijak pada harga dirinya.

Namun akhirnya iapun berkata, “Ki Sanak. Kami memerlukan kuda-kuda kalian. Karena itu serahkan kuda- kuda kalian kepada kami.”

Gandar mengerutkan keningnya, sementara seorang pengikutnya berdesis di belakang Ki Sumbaga, “Sekaligus uangnya.” Tetapi Ki Sumbaga ragu-ragu, sehingga ternyata akhirnya tetap tidak terucapkan.

Gandar yang sudah mengira itupun kemudian menjawab, “Ki Sanak. Kuda -kuda kami adalah milik kami yang paling berharga. Karena dengan kuda-kuda kami, kami mencari nafkah. Kami yang setiap kali harus menempuh perjalanan panjang, tidak akan dapat berbuat apa-apa tanpa kuda-kuda kami. Karena itu, maka sudah barang tentu kami tidak akan menyerahkannya.”

“Ki Sanak,“ berkata Ki Sumbaga, “apakah harga kuda - kuda kalian itu lebih tinggi dari nilai nyawa kalian?

Meskipun kalian memiliki kuda berapapun banyaknya, tetapi tanpa nyawa kalian, maka kuda-kuda itu sama sekali tidak berarti apa-apa. Karena itu, serahkan kuda-kuda kalian, sehingga nyawa kalian selamat.”

“Maaf Ki Sanak,“ jawab Gandar, “kami tidak dapat melakukannya. Kami akan mempertahankan milik kami. Nah, tingkah laku kalian merupakan jawaban, kenapa kami harus pergi berempat.”

Ki Sumbaga mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sudah mengira. Kalian tentu akan mempertahankan kuda-kuda kalian. Karena kuda-kuda kalian itu mempunyai arti yang sangat penting bagi kalian dan keluarga kalian. Tetapi tidak lebih penting dari nyawa kalian. Meskipun demikian, apaboleh buat. Kami harus memaksa kalian. Jika dalam hal ini satu atau dua atau bahkan semuanya diantara kalian mengalami nasib yang paling pahit, bukankah salah kami, karena kami telah menyatakan niat kami dengan cara yang baik. Tetapi kalian telah memaksa kami untuk mempergunakan kekerasan.” “Dongeng yang lucu,“ jawab Gandar, “barangkali akan dapat membuat anak-anak gembira mendengarnya menjelang tidur, bahwa tanggung jawab dari benturan yang terjadi antara perampok dan orang-orang yang dirampok adalah justru pada mereka yang dirampok.”

“Kami bukan perampok,“ teriak Ki Sumbaga.

“Lalu siapakah kalian,“ bertanya Gandar, “menghentikan orang-orang berkuda, merampas kudanya dengan kekerasan? Apakah namanya jika bukan perampok?

Penyamun atau apa?”

Wajah Ki Sumbaga menjadi merah. Tetapi ia tidak dapat mengelak. Ia memang akan merampok kuda-kuda itu.

Memang tidak ada nama lain yang pantas diberikan kepadanya dan para pengikutnya selain perampok atau penyamun.

Apalagi ketika seorang yang lain, Jati Wulung, berkata, “Daerah ini memang menjadi tidak aman setelah terjadi perang yang cukup besar antara pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan melawan Warsi yang membawa pengikut dan pendukungnya masing-masing. Nampaknya memang satu perebutan hak atas Tanah ini, namun sebenarnya tidak lebih dari usaha merampok secara besar- besaran yang dilakukan oleh bekas prajurit Jipang yang bernama Ki Rangga Gupita dan Warsi sebagai salah seorang pewaris gerombolan Kalamerta yang terkenal itu.”

“Cukup,“ geram Ki Sumbaga, “kau telah menghina kami.

Kau hubungkan kami dengan usaha perampokan besar- besaran itu.”

Jati Wulung mengerutkan keningnya. Sementara Sambi Wulunglah yang bertanya, “Apakah kalian bukan sisa -sisa dari pengikut Ki Rangga yang menurut pendengaran kami dapat dikalahkan oleh para pengawal Tanah Perdikan itu?”

“Serahkan kuda -kuda kalian,“ Ki Sumbaga berteriak lebih keras, “aku tidak peduli apa yang kalian katakan.”

Gandar, Jati Wulung dan Sambi Wulung termangu- mangu sejenak. Hamir diluar sadarnya Gandar berpaling ke arah Risang. Ternyata Risang sedang memperhatikan Ki Sumbaga dengan saksama. Nampaknya anak muda itu secara naluriah dapat membedakan antara orang yang menghentikannyasaat itu dengan Krema Waras dan kawan- kawannya. Sehingga karena itu, maka Risangpun nampaknya tidak mau bertindak dengan tergesa-gesa.

Dalam pada itu, karena orang-orang berkuda itu tidak segera menjawab, maka Ki Sumbaga telah membentak sekali lagi, “Cepat. Turun dari kuda -kuda kalian dan tinggalkan kuda itu disitu.”

Gandar tidak melihat kemungkinan lain daripada bertempur. Karena itu, maka iapun kemudian memberi isyarat kepada Jati Wulung dan Sambi Wulung untuk turun dari kuda-kuda mereka.

Risanglah yang menjadi termangu-mangu. Dengan tegang ia bertanya kepada Gandar, “Kenapa kita turun?”

“Di jalan yang tidak terlalu luas ini, lebih baik kita bertempur diatas kaki kita sendiri, karena kita akan dapat lebih menguasai kaki kita daripada kaki-kaki kuda,“ jawab Gandar.

Ki Sumbaga yang bertanya-tanya melihat sikap orang- orang yang turun dari kudanya karena takut mendengar ancamannya. Tetapi mereka justru akan mempersiapkan diri untuk bertempur.

Karena itu, maka iapun telah mengumpat. Kemudian sambil berteriak ia telah memberikan aba-aba kepada orang-orangnya untuk bersiap.

Dalam pada itu, keempat orang berkuda itu telah mengikat kuda mereka pada batang-batang perdu yang tumbuh di pinggir jalan itu diarah lereng bukit. Kemudian berempat mereka bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Risang sempat melihat ke lereng yang tidak cukup dalam. Namun dibawahnya terdapat sebuah sungai kecil berbatu-batu. Jika mereka bertempur diatas punggung kuda, memang ada kemungkinan kudanya tergelincir dan terguling masuk kedalam sungai itu. Meskipun tidak dalam, namun akibatnya akan dapat menjadi gawat.

Namun sebenarnyalah Risang menganggap orang-orang itu tidak sebagaimana yang pernah dihadapi di pasar yang ramai itu. Orang-orang yang menghentikan perjalanannya itu nampaknya memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Sehingga karena itu maka Risangpun menjadi lebih berhati- hati.

Ketiga orang yang mengawaninya itu, memang agak mencemaskan keadaan Risang. Namun setidak-tidaknya Risang akan dapat melindungi dirinya sendiri untuk sementara. Dengan demikian maka Jati Wulung, Sambil Wulung dan Gandar itu harus berusaha secepatnya mengurangi jumlah lawan-lawan mereka.

Dalam pada itu, melihat sikap keempat orang berkuda itu Ki Sumbaga menjadi semakin marah. Tetapi ia tidak dapat menakut-nakuti orang-orang itu dengan menyebut dirinya seorang bekas perwira Jipang.

Sejenak kemudian, maka Ki Sumbagapun telah memberikan aba-aba kepada orang-orangnya untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan. Tujuh orang yang terbagi menjadi dua, menghadapi empat orang.

Ki Sumbaga bersama tiga orang pengikutnya menghadapi keempat orang itu dari satu sisi, sedangkan tiga orang yang lain menjaga agar keempat orang itu tidak melarikan diri dan karena itu menghadapinya dari sisi yang lain. Disebelah jalan itu adalah lereng pebukitan, sementara sebelah yang lain adalah lereng yang meskipun tidak begitu dalam, tetapi dibawahnya terdapat sungai kecil yang berbatu-batu.

Sejenak kemudian, kedua belah pihak telah bersiap.

Gandar dan Risang menghadap ke arah tiga orang lawan, sementara Jati Wulung dan Sambi Wulung rnenghadapi empat orang lawan.

Ketika sekali lagi Ki Sumbaga meneriakkan aba-aba, maka tiba-tiba saja Jati Wulung tertawa. Katanya, “Bagaimanapun juga kau menyamarkan dirimu, namun kau tidak dapat menyembunyikan kebiasaanmu meneriakkan aba-aba.”

“Apa maksudmu?“ bertanya Ki Sumbaga. “Kau tentu seorang perwira prajurit. Menurut

pengenalanku atas kebiasaan dan bunyi aba-abamu, maka kau tentu seorang perwira prajurit Jipang,“ berkata Jati Wulung. “Persetan, jangan mengigau,“ geram Ki Sumbaga, “aku tidak pernah melihat seorang prajuritpun.”

“Apalagi karena kau mengaku tidak pernah melihat seorang prajuritpun. Kau tentu berbohong. Kau tentu bekas prajurit dan bahkan perwira dari jajaran keprajuritan Jipang, sebagaimana pemimpin pasukan yang pernah menyerang Tanah Perdikan ini menurut pendengaranku.

Bukan hanya satu kali. Tetapi beberapa kali.” jawab Jati Wulung.

“Omong kosong, “teriak Ki Sumbaga. Namun kemudian katanya, “Siapapun kau, dan siapapun ak u, itu tidak penting, Serahkan kuda-kuda itu. Cepat.”

Tetapi Gandarlah yang menjawab, “Sudah aku katakan.

Kami memerlukan kuda-kuda kami.”

Ki Sumbaga tidak menunda lagi. Perintahnya telah jatuh.

Mereka segera mulai menyerang.

Gandar dengan cepat berusaha menarik perhatian dua orang diantara lawan-lawannya, sementara seorang yang lain telah bertempur melawan Risang.

Tidak sebagaimana mereka bertempur melawan Krema Waras. Maka sejak mereka mulai membenturkan kekerasan, maka mereka telah mempergunakan senjata mereka.

Gandar memang agak berdebar-debar melihat lawan Risang itu ternyata menggenggam tombak pendek ditangannya. Senjata yang tidak dipergunakan oleh Risang. Namun untunglah bahwa dalam latihan-latihan, Risang sudah dibiasakan untuk bertempur melawan segala macam senjata. “Tetapi kali ini ia tidak sedang berlatih. Lawannya tidak akan menahan diri jika ujung tombaknya akan menyentuh kulit anak itu,“ berkata Gandar didalam hatinya. Namun ia percaya bahwa bekal yang dibawa oleh Risang cukup memadai.

Gandar sendiri harus bertempur melawan dua orang prajurit. Namun dengan kemampuannya yang tinggi, maka Gandarpun merasa bahwa ia akan mampu mempertahankan dirinya.

Dalam pada itu, Jati Wulung dan Sambi Wulung telah bertempur pula melawan keempat orang lawan mereka, termasuk Ki Sumbaga. Dengan tangkasnya keduanya berloncatan menghindar dan kemudian menyerang lawan- lawan mereka.

Namun beberapa saat kemudian, Jati Wulung telah merasakan tekanan yang sangat berat. Ki Sumbaga ternyata seorang yang memiliki ilmu yang tinggi pula. Sedangkan Sambi Wulung yang bertempur melawan dua orang pengikut Ki Sumbaga, masih juga sempat bernafas. Keduanya memang bekas prajurit Jipang. Mereka mampu bekerja bersama dengan baik. Tetapi Sambi Wulung adalah seorang yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan.

Dalam pada itu, ternyata Risang mampu mengimbangi kemampuan dan kekuatan lawannya yang bersenjata tombak pendek itu. Dengan tangkasnya anak muda itu berloncatan sambil memutar pedangnya. Sekali-sekali Risang memang harus meloncat menjauh jika ujung tombak itu hampir menggapai dadanya. Namun kemudian iapun telah menyerang sambil mengibaskan pedangnya, menepis ujung tombak lawannya itu. Ternyata bahwa setelah mereka terlibat dalam pertempuran yang semakin sengit, orang-orang yang mencegat Risang dan ketiga orang yang menempuh perjalanan bersamanya itu tidak dapat mempertahankan kedudukan mereka. Mereka bertempur berputaran, dan saling menyesuaikan diri. Dengan demikian maka Risangpun telah bergeser menjauh. Sementara justru telah mulai bertempur di batas kaki bukit.

Namun ternyata bahwa Gandar memang seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Dengan garangnya ia telah membuat kedua lawannya setiap kali justru terdesak.

Bahkan keduanya seakan-akan telah kehilangan kesempatan untuk menyerang.

Ki Sumbaga terkejut ketika dengan tiba-tiba saja ia melihat seorang diantara pengikutnya yang bertempur melawan Gandar telah terlempar jatuh. Bukan pedang Gandar yang mengenai dadanya, namun pada saat orang itu berusaha menangkis serangan pedang Gandar, Gandar teiah menyerangnya dengan kakinya yang terjulur lurus menyamping.

Orang itu terlempar dan jatuh pada punggungnya. Sekali ia terguling. Dalam keadaan kalut orang itu telah melenting dan mencoba untuk bangkit. Namun kakinya justru telah tergelincir sehingga orang itu telah terguling di lereng yang tidak begitu dalam. Tetapi tubuhnya telah membentur sebuah batu yang besar didasar sungai kecil itu.

Terdengar orang itu mengaduh. Namun orang itu ternyata tidak menyerah. Dengan susah payah ia telah merangkak naik. Tangannya menggapai-gapai rerumputan dan pohon-pohon perdu untuk pegangan. Orang itu memang dapat mencapai bibir jurang yang rendah itu. Tetapi nafasnya yang bekejaran lewat hidungnya seakan-akan justru teiah berputus. Karena itu, maka demikian ia mencoba untuk berdiri, maka iapun telah terhuyung-huyung sesaat. Adalah malang baginya. Sekali lagi ia tergelincir dan sekali lagi ia terguling jatuh kebawah.

Orang itu tidak pingsan. Tetapi ternyata ia sudah tidak mampu lagi merayap keatas. Tubuhnya tidak lagi terangkat. Apalagi tulang belakangnya memang serasa telah patah.

Ki Sumbaga melihat keadaan itu. Iapun telah menggeram marah. Karena itu, maka iapun telah melepaskan Jati Wulung dan berlari menghadapi Gandar sambil berkata kepada lawan Gandar yang tersisa, “Minggir. bertempurlah bersama orang itu.”

Lawan Gandar itu termangu-mangu. Namun iapun segera menyadari bahwa ia harus bertempur bersama kawannya melawan orang yang telah ditinggalkan oleh Ki Sumbaga itu.

Dengan demikian maka Gandar telah berganti lawan. Ia harus bertempur melawan Ki Sumbaga. Sementara Jati Wulung dan Sambi Wulung masing-masing masih harus bertempur melawan dua orang.

Gandar memang menjadi berdebar-debar. Bukan karena ia merasa gentar menghadapi lawannya itu. Tetapi ia memang merasa cemas bahwa ia akan kehilangan kesempatan untuk mengawasi Risang yang bertempur melawan seorang yang menurut penilaian Gandar, tentu bekas seorang prajurit. Jati Wulung dan Sambi Wulung ternyata mempunyai perasaan yang sama. Karena itu, maka merekapun segera mengerahkan kemampuan mereka. Namun masih terbatas pada kemampuan wajar mereka. Keduanya tidak ingin dikenali karena ciri-ciri ilmunya. Karena itu, maka jika tidak terpaksa sekali, mereka tidak akan mempergunakan kekuatan ilmu mereka yang melampaui kewajaran.

Namun ternyata bahwa Jati Wulung dan Sambi Wulung benar-benar tangkas. Dengan pedang di tangan mereka telah mampu mendesak lawan-lawan mereka. Meskipun sekali-sekali keduanya harus berloncatan surut pada saat- saat yang gawat, karena kedua lawannya menyerang berbareng dari sisi yang berbeda, sementara kedudukan mereka sendiri kurang menguntungkan.

Di lingkaran pertempuran yang lain, Risang dengan tegar bertempur melawan seorang lawan yang memang bekas seorang prajurit. Prajurit yang mengalami tempaan yang keras. Apalagi prajurit Jipang dibawah pemerintahan Adipati Jipang yang bergelar Arya Penangsang yang keras dan agak cepat terbakar oleh kemarahannya menghadapi persoalan-persoalan yang apalagi menyinggung harga dirinya.

Namun Risangpun pernah mengalami tempaan yang keras pula justru melampaui seorang prajurit, karena secara khusus Risang dituntun oleh lebih dari seorang guru.

Tetapi bagaimanapun juga, pengalaman seseorang ikut serta menentukan ketangkasan mengambil sikap pada saat- saat tertentu. Karena itu, kadang-kadang Risang memang menjadi bingung menghadapi gerak senjata lawannya.

Meskipun demikian Risang masih tetap menunjukkan perlawanan yang tangguh. Ia selalu ingat pesan Gandar, bahwa ia tidak boleh kehilangan akal. Karena itu, pada keadaan yang terasa sulit, ia tidak mau membiarkan dirinya hanyut tenggelam didalamnya. Ia selalu berusaha untuk keluar dari kesulitan itu dengan loncatan-loncatan panjang agar mendapat kesempatan untuk memperbaiki keadaannya.

Ternyata dengan demikian Risang memerlukan arena yang cukup luas, sehingga seakan-akan ia telah terpisah dari lingkaran-lingkaran pertempuran yang lain.

Lawannya yang memiliki pengalaman yang luas itu, agaknya berusaha untuk mendesak Risang menepi.

Lawannya ingin mengurung Risang ditepi jurang yang tidak terlalu dalam itu. Namun dengan demikian, Risang akan berada dalam bahaya. Jika ia tergelincir, maka lawannya akan dengan mudah melontarkan tombak pendeknya pada saat-saat ia tidak mungkin menghindar. Atau menyusulnya terjun turun ke tepi sungai kecil itu untuk menghunjamkan tombaknya disaat Risang belum mapan karena tergelincir jatuh.

Namun agaknya Risang menyadari maksud lawannya. Karena itu, maka ia menjadi sangat berhati-hati, Ia tidak mau tergelincir jatuh kedalam jurang yang meskipun tidak dalam itu.

Karena itu, maka selain mempertahankan diri dari serangan ujung tombak lawannya yang seakan-akan berputaran disekililing tubuhnya itu, Risang juga berusaha untuk menembus usaha lawannya yang mendesak ke bibir jurang.

Beberapa saat Risang harus berjuang. Namun dengan kecepatan gerak yang menghentak, Risang sempat menyerang lawannya dengan menjulurkan pedangnya lurus ke arah dada demikian ia berhasil menangkis serangan ujung tombak lawannya yang mengarah ke lambungnya.

Demikian cepatnya serangan itu sehingga lawannya tidak mempunyai cara lain untuk menghindarinya selain meloncat surut.

Kesempatan itu telah dipergunakan oleh Risang sebaik- baiknya. Sekali lagi ia meloncat memburu. Ketika lawannya menahan serangannya dengan menjulurkan ujung tombak pendeknya, Risang sempat melibat tombak itu dengan pedangnya dan memutarnya, kemudian mengibaskannya menyamping. Demikian ujung tombak itu berkisar dari sasaran, maka Risang sekali lagi telah meloncat menyerang.

Lawannya harus menghindar sekali lagi. Sambil mengumpat ia meloncat surut beberapa langkah sekaligus. Namun dengan demikian ia telah kehilangan kesempatan untuk mengurung Risang di bibir jurang, karena Risang telah meloncat justru keseberang.

Dengan demikian, maka pertempuran selanjutnya terjadi di kaki lereng pebukitan. Sekali-sekali Risang harus naik beberapa langkah kelereng. Namun kemudian meloncat lagi turun dan bergeser ke jalan. Namun ia berusaha untuk tidak terdorong ketepi jurang. Bahkan sebagaimana dilakukan oleh lawannya, maka iapun telah berusaha untuk mengurung lawannya meskipun setiap kali usaha itu harus dilepaskannya.

Jika sekilas-sekilas Gandar sempat melihat anak itu, maka hatinya memang menjadi tenang. Ternyata bahwa Risang akan mampu mempertahankan dirinya. Setidak- tidaknya untuk sementara, karena Gandar mengharapkan Jati Wulung dan Sambi Wulung akan segera menyelesaikan pertempuran itu.

Jati Wulung dan Sambi Wulung memang tidak melepaskan ciri ilmunya yang tinggi. Ia masih berusaha untuk mengatasi lawan-lawannya dengan ketangkasannya.

Ternyata bahwa tingkat kemampuannya yang tinggi dalam olah kanuragan, telah membuat kedua lawannya menjadi kebingungan. Pedang kedua orang itu berputaran semakin cepat. Menyambar-nyambar. Sekali-sekali bergulung-gulung melibat lawannya yang seorang. Namun tiba-tiba pedang itu terjulur lurus ke arah lawannya yang lain. Ketika lawannya yang lain sempat menghindar, maka sebelum lawannya yang pertama meloncat menyerangnya, justru merekalah yang datang menyerang lebih dahulu.

Sebenarnyalah bahwa lawan-lawan Jati Wulung dan Sambi Wulung telah mengalami kesulitan. Namun mereka masih tetap bertahan. Lawan Jati Wulung bahkan bagaikan membabi buta. Keduanya menjadi sangat marah, bahwa mereka telah terdesak oleh lawannya yang hanya seorang itu.

Dengan mengerahkan kemampuannya, maka kedua orang itu berusaha untuk memecah perhatian Jati Wulung. Keduanya berusaha menyerang dan menghindar dalam kecepatan yang sangat tinggi. Namun Jati Wulunglah yang telah membuat keduanya menjadi kebingungan, karena kadang-kadang keduanya justru hampir berbenturan.

Sementara itu lawan Sambi Wulung telah mempergunakan cara yang lain. Mereka berusaha melibat Sambi Wulung dalam pertempuran jarak pendek. Keduanya berdiri disebelah menyebelah. Namun ujung-ujung senjata mereka dengan cepat menikam bergantian. Tetapi seperti Jati Wulung, Sambi Wulungpun memiliki ketangkasan yang sangat tinggi, sehingga dengan demikian, maka lawan-lawannyalah yang setiap kali justru harus berloncatan menjauh.

Dalam pada itu, Ki Sumbaga sempat memperhatikan keadaan orang-orangnya. Ia menyadari, bahwa ternyata orang-orang berkuda yang mengaku pedagang akik dan batu-batu berharga dari Pajang itu memang memiliki ilmu yang tinggi. Karena itu, maka ia halus segera menyelesaikan lawannya dan kemudian membantu orang- orangnya menyelesaikan orang-orang berkuda itu yang lain.

Karena itu, maka Ki Sumbaga yang tidak mengenali lawannya itu telah mengetrapkan ilmunya.

Gandar yang bertempur melawan Ki Sumbaga itu mulai merasakan perbedaan pada lawannya. Sekali-sekali jika terjadi benturan, terasa seakan-akan lawannya semakin lama menjadi semakin kuat, sehingga rasa-rasanya setiap kali kekuatan lawannya itu justru telah meningkat.

Gandar segera menyadari, bahwa itu bukan satu kewajaran. Tentu ada sejenis ilmu yang telah mendukung sehingga kekuatan lawannya itu menjadi semakin besar. Bukan sekedar karena kekuatan cadangan yang dikerahkan meskipun sampai tuntas.

Namun Gandar yang mengenal ilmu jenis itu mengerti, bahwa pengerahan tenaga akan dapat menimbulkan persoalan lain pada orang itu. Dengan ilmunya maka seakan-akan orang itu harus merangkap kekuatannya, sehingga ia akan menjadi lebih cepat kelelahan sehingga tenaga itu akan segera susut kembali. Tetapi dalam kesempatan tenaga itu berlipat, maka lawannya akan dapat lebih mudah ditundukkannya.

Gandar sendiri yakin bahwa ia akan dapat bertahan sampai saatnya kekuatan orang itu menyusut. Tetapi yang digelisahkannya adalah justru Risang. Pengalaman lawannya yang luas, akan dapat ikut menentukan akhir dari pertempuran itu.

Karena itu, maka Gandar telah berusaha untuk mengimbangi kekuatan lawan dengan kecepatan geraknya. Dengan dukungan ilmu yang ada didalam dirinya, maka Gandar telah mempercepat tata geraknya. Tubuhnya yang besar itu seakan-akan menjadi tidak berbobot lagi. Kakinya yang kokoh itu telah melempar-lemparkan tubuhnya seakan-akan mengelilingi lawannya yang meningkatkan kekuatannya sampai pada tingkat diluar kemampuan orang yang manapun juga tanpa rangkapan ilmu.

Namun kecepatan gerak Gandar ternyata telah menimbulkan kesulitan pada orang itu. Gandar berusaha untuk tidak membenturkan senjatanya, karena Gandar mencemaskan senjatanya itu akan dapat terlepas dari tangannya. Dalam sentuhan yang lunak sudah terasa tangannya bagaikan terkelupas kulitnya ketika ia mempertahankan senjatanya agar tidak terlepas.

Tetapi pada suatu saat, ketika Gandar berusaha menghindari benturan pedang, maka ia menjadi lengah. Tiba-tiba saja kaki lawannya telah menghantam pundaknya.

Ternyata kekuatan lawannya benar-benar mengagumkan. Gandar yang tinggi dan besar itu telah terlempar beberapa langkah dan jatuh terbanting ditanah. Namun ternyata Gandar memiliki daya tahan yang luar biasa. Dalam landasan ilmunya, maka dengan cepat Gandar bangkit berdiri dan dengan cepat pula memperbaiki keadaannya.

Gandar menggeram menahan sakit. Tulangnya serasa menjadi retak. Sementara lawannya tertawa sambil berkata, “Jangan menyesal. Kau akan mati karena kau telah mempertahankan kuda-kudamu.”

Tetapi Gandar tidak mau kehilangan waktu. Ia memiliki kecepatan bergerak lebih tinggi dari lawannya. Karena itu, maka tiba-tiba saja tanpa menunggu lawannya selesai berbicara, Gandar telah menyerangnya.

Lawannya terkejut. Ia tidak menyangka bahwa lawannya masih akan mampu menyerangnya demikian cepat seakan- akan tidak merasakan akibat sentuhan kakinya yang menjadi sangat kuat itu.

Betapapun kuatnya, namun Ki Sumbaga bukannya menjadi kebal senjata. Ketika dengan cepat Gandar yang disangka belum mampu mengatasi rasa sakit itu menyerang seperti laju tatit dilangit, maka ia berusaha untuk bergeser sambil membenturkan senjatanya menangkis serangan itu. Tetapi Gandar selalu menghindari benturan karena akibatnya akan dapat melemparkan senjatanya sendiri. Namun dengan cepat, Gandar telah merubah serangannya. Ia tidak lagi menjulurkan pedangnya. Tetapi sambil merendah ia menebas mendatar. Perubahan sikap Gandar itu benar-benar tidak teratasi.

Karena itu, meskipun Ki Sumbaga berusaha mengelak, tetapi ujung pedang Gandar telah menggores dilengannya.

Ki Sumbaga telah meloncat surut. Dengan geram ia mengumpat. Bahkan kemudian katanya, “Kau memang luar biasa Ki Sanak. Kau dapat mengetahui langkah-langkah yang aku ambil serta mampu mengatasinya. Bahkan kau telah dapat melukai lenganku. Namun dengan demikian akan berarti mempercepat kematianmu.”

Gandar berdiri tegak dengan pedang menyilang dida- danya. Ia sudah siap menghadapi apapun juga. Jika orang itu mengerahkan ilmunya yang lain, maka Gandarpun harus meningkatkan ilmunya pula. Jika perlu segala macam ilmu yang ada didalam dirinya.

Namun dalam pada itu, ia sempat melihat arena pertempuran yang lain. Jati Wulung dan Sambi Wulung masing-masing benar-benar telah menguasai kedua lawannya, sehingga keduanya seakan-akan hanya dapat berloncatan menghindar. Bahkan semakin lama semakin jauh. Sementara Sambi Wulung telah berhasil melukai kedua orang lawannya meskipun hanya dengan goresan- goresan kecil.

Tetapi dalam pada itu, lawan Risang kadang-kadang mampu membuat Risang kebingungan. Lawannya yang mengetahui bahwa ia masih sangat muda dan belum berpengalaman sama sekali, maka ia mampu membuat tipuan-tipuan yang kadang-kadang membingungkan Risang. Namun setiap kali Risang mengalami kebingungan, maka iapun telah meloncat surut mengambil jarak dan memperbaiki kedudukannya.

Ternyata Ki Sumbagapun melihat perkembangan pertempuran itu. Karena itu, maka betapapun ia mengerahkan ilmunya dan mampu mengalahkan lawannya, tetapi orang-orangnya tidak mempunyai harapan lagi.

Apalagi ketika ia mengalami satu kenyataan, bukan ia yang dapat melukai lawannya, apalagi mengalahkannya. Tetapi justru lengannyalah yang telah dilukainya. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain baginya daripada menghindar. Jika ia memaksa untuk bertempur terus, maka akibatnya akan dapat justru menyulitkannya, sementara orang-orangnya masih berkeliaran di balik bukit, digoa-goa dengan penuh kekecewaan. Bukan saja atas kegagalan yang pernah mereka alami, tetapi juga karena orang yang dianggap bertanggung jawab atas kegagalan itu telah hilang tanpa diketahui ujung pangkalnya lagi. Meskipun beberapa orang telah dikirim untuk mencarinya, namun Ki Rangga Gupita dan Warsi belum dapat mereka ketemukan.

Dengan demikian, maka dengan perhitungan seorang prajurit, maka Ki Sumbagapun telah bergeser beberapa tangkah, ia memang mulai lagi dengan serangan- serangannya. Namun kemudian terdengar isyarat dari mulutnya. Suitan yang nyaring.

Isyarat itu cepat sampai ketelinga para pengikutnya. Merekapun menganggap bahwa tidak ada kemungkinan lain yang dapat mereka lakukan selain melarikan diri.

Seandainya Ki Sumbaga mampu mengimbangi dan bahkan mengalahkan lawannya, tetapi ia tentu memerlukan waktu lebih lama dari kedua orang diantara orang-orang berkuda itu untuk melumpuhkan keempat lawannya. Sementara seorang diantara pengikut Ki Sumbaga itu masih belum dapat menunjukkan satu kepastian.

Karena itu, maka isyarat itu tidak perlu diulangi lagi. Ki Sumbaga dengan para pengikutnya, segera mengambil kesempatan untuk berlari memanjat lereng.

Ketika Risang berusaha untuk mengejar lawannya, Gandar segera memanggilnya dengan bertepuk tangan, karena Gandar tidak ingin menyebut namanya sehingga dapat didengar orang lain. Meskipun hampir saja ia lupa dan berteriak memanggil.

Risang memang berpaling ketika ia mendengar tepuk tangan. Kemudian dilihatnya Gandar memberikan isyarat, agar Risang yang sudah mulai memanjat tebing itu kembali.

Risang termangu-mangu sejenak. Sekali-sekali dipandanginya orang-orang yang berlari memanjat tebing dan yang kemudian menyusup diantara batang-batang perdu.

Ketika kemudian Risang mendekati Gandar, maka iapun bertanya, “Kenapa kita tidak mengejar?”

“Kita tidak tahu, apakah yang ada di bukit itu. Mereka tentu bukan hanya tujuh orang itu saja. Mungkin ada orang lain yang dapat mereka panggil, sehingga kita justru akan mengalami kesulitan.”

Risang kemudian berpaling kepada Jati Wulung dan Sambi Wulung. Ternyata keduanyapun sama sekali tidak berniat untuk mengejar orang-orang yang melarikan diri itu.

“Sangat berbahaya,“ berkata Jati Wulung, “dengan isyarat khusus mereka dapat memanggil orang yang lebih banyak lagi.”

Risang mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia berkata, “Seorang diantara mereka tergelincir ke dalam sungai itu. Mungkin kita akan mendapat keterangan dari mereka.” Gandar mengangguk-angguk. Tetapi Jati Wulung dan Sambi Wulung justru nampak termangu-mangu. Namun kemudian Jati Wulungpun berkata kepada Gandar, “Tunggu disini bersama Risang. Kami akan melihat orang itu.”

Sejenak kemudian, maka Jati Wulung dan Sambi Wulungpun telah turun ke sungai dibawah jurang yang rendah itu.

Namun ternyata orang itu sudah tidak diketemukan lagi. Menilik bekasnya, orang itu sempat mempergunakan sisa- sisa kekuatannya untuk melarikan diri. Agaknya ia sadar jika ia tetap berada ditempat itu, sementara kawan- kawannya melarikan diri, maka ia akan dapat menjadi sasaran. Ia akan diperas untuk memberikan keterangan tentang dirinya dan kelompoknya. Maka demikian ia mendengar isyarat untuk menarik diri, maka dengan sisa tenaga yang ada padanya, maka iapun telah meninggalkan tempatnya tertatih-tatih menelusuri sungai itu. Tetapi dikelokan, ia telah berusaha memanjat naik dan merangkak dibalik gerumbul-gerumbul yang rimbun. Perlahan-lahan orang itu telah bergeser semakin lama semakin jauh.

Jati Wulung dan Sambi Wulung tidak berusaha untuk mengikuti jejak itu. Mereka tidak mau terlibat lebih jauh lagi dalam benturan kekerasan. Jati Wulung dan Sambi Wulung mengerti, bahwa orang-orang itu tentu sisa-sisa dari pengikut Ki Rangga Gupita yang masih tetap berada dibaiik bukit dengan rencana mereka yang belum diketahui.

Karena itu, maka kedua orang itupun telah naik ke atas tanggul di pinggir jalan itu.

“Bagaimana dengan orang itu?“ bertanya Risang ketika ia melihat Jati Wulung dan Sambi Wulung muncul dari jurang yang rendah itu. “Orang itu sudah tidak ada lagi.” jawab Jati Wulung, “agaknya ia sempat melarikan diri meskipun harus merangkak.”

“Apakah kita tidak perlu mencarinya?” bertanya Risang.

Jati Wulung menggeleng. Katanya, “Ibumu telah menjadi sangat rindu kepadamu. Kita jangan terlalu lama berada di perjalanan, apalagi melibatkan diri dalam persoalan-persoalan yang tidak perlu seperti ini. Kita sudah berhasil mengusir mereka. Aku kira itu sudah cukup.”

Risang menarik nafas dalam-dalam. Ketika Jati Wulung menyebut tentang ibunya, maka Risang tidak membantah lagi. Iapun kemudian diiringi oleh ketiga orang yang menyertainya mendekati kudanya dan kemudian melepaskan talinya.

Sejenak kemudian, ketupat orang itu telah berpacu melanjutkan perjalanan mereka. Kuda-kuda merekapun telah berlari semakin cepat.

Dari balik gerumbul-gerumbul yang lebat dilereng bukit, Ki Sumbaga melihat debu yang mengepul itu sambil mengumpat. Hampir diluar sadarnya ia berkata, “Tentu orang-orang Sembojan.”

“Kenapa?“ bertanya seorang pengikutnya.

“Han ya dengan orang-orang seperti itu sajalah Sembojan dapat mengalahkan kita,“ berkata Ki Sumbaga.

“Tetapi bukankah di Sembojan ada tiga orang tua yang sangat disegani?“ berkata salah seorang pengikutnya. “Mereka sudah terlalu tua, meskipun masih juga dapat mempengaruhi medan. Tetapi agaknya mereka sudah malas untuk langsung bertempur.” jawab Ki Sumbaga, “tentu orang -orang inilah yang berada diantara pasukan Sembojan itu.”

“Siapakah anak yang masih terlalu muda itu?” tiba -tiba saja salah seorang pengikutnya yang kebetulan bertempur melawan Risang itu bertanya.

Ki Sumbaga merenung sejenak. Kemudian katanya seakan-akan kepada diri sendiri, “Jika benar orang -orang itu adalah orang-orang Sembojan, maka anak itu tentu anak perempuan pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan yang bernama Risang itu. Jika benar ia Risang maka anak itulah yang harus dibunuh, agar anak Warsi mendapatkan haknya sebagai anak laki-laki kedua dari Ki Wiradana. Ketika Pajang sedang kemelut sekarang ini, maka adalah satu kesempatan untuk menguasai Tanah Perdikan ini karena Pajang tidak akan dapat membantunya.”

Namun seorang pengikutnya berkata, “Tanpa kekuatan Pajangpun kita tidak dapat merebutnya. Disaat kekuatan kita masih utuh.”

Ki Sumbaga, bekas seorang perwira prajurit Jipang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Selagi kita masih utuh, termasuk Ki Rangga, Warsi dan orang-orang Kalamerta, kita tidak mampu mengalahkan Tanah Perdikan.

Perhitungan kita telah dikoyak oleh ketajaman panggraita orang-orang Sembojan. Mereka tidak menunggu di seputar padukuhan induk dan bertahan dibelakang dinding padukuhan, tetapi mereka justru datang menyongsong kita yang baru turun dari bukit dengan gelar yang utuh. Satu langkah yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Karena itu, maka kitalah yang telah dihancurkan. Sementara itu nafsu Warsi yang bergejolak tanpa kendali sehingga Ki Rangga tidak sempat memikirkan pasukannya. Namun akhirnya Warsi itupun dikalahkan, bahkan hampir mati sementara orang-orang Kalamerta yang dikumpulkan dengan susah payah, seakan-akan telah disapu bersih sepeninggal Kala Sembung.”

Para pengikutnya mengangguk-angguk. Namun sementara itu mereka melihat seseorang merayap naik lereng bukit. Ternyata orang itu adalah orang yang dilemparkan Gandar kedalam jurang yang rendah itu.

“Ternyata ia mampu menolong dirinya sendiri,“ berkata Ki Sumbaga.

“Kita harus menemukan Ki Rangga,“ berkata salah seorang pengikutnya.

“Dipadepokan -padepokannya yang terpencar, Ki Rangga dan Warsi tidak dapat diketemukan. Mungkin kedua orang itu telah disembunyikan oleh Ki Randu Keling,“ sahut Ki Sumbaga. Lalu katanya, “Seharusnya Warsi berani melihat dirinya sendiri, ia tidak akan dapat mengalahkan Iswari, isteri tua Ki Wiradana. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, perang tanding itu pernah terjadi. Khusus perang tanding. Sekarang hal itu terulang lagi. Meskipun didahului dengan satu pertempuran yang ikut menentukan. Seandainya pasukan Ki Rangga menang, maka tentu tidak akan terjadi perang tanding itu. Ki Rangga dan para pengikut Kalamerta tentu tidak akan menghormati paugeran perang tanding.

Mereka tentu beramai-ramai mengeroyok Iswari dan kemudian membunuhnya.”

Para pengikutnya mengangguk-angguk. Namun dalam goncangan-goncangan yang terjadi dalam pengembaraan mereka, maka harga diri mereka sebagai prajurit dari satu kadipaten yang kokoh dan besar memang menjadi semakin pudar. Kadang-kadang Ki Sumbaga harus merenungi kembali apa saja yang pernah dilakukannya. Bahkan apa yang baru saja dilakukannya. Berusaha merampas beberapa ekor kuda, namun gagal. Sementara itu, bekas prajurit-prajurit yang berpangkat pahng rendah, tentu akan berbuat lebih buruk lagi dari yang dilakukan. Mereka tentu akan menyamun, merampok dan bahkan perbuatan- perbuatan yang lebih kasar lagi.

Namun menurut penilaian Ki Sumbaga, justru pada saat- saat Pajang mengalami kesulitan itulah, maka akan terbuka kesempatan yang paling baik. Tetapi ketika satu langkah telah diambil, mereka telah gagal.

Sejenak kemudian, maka Ki Sumbaga itupun berkata, “Suruh orang yang tergelincir ke jurang itu kem ari. Kita akan kembali ke balik bukit.”

Ki Sumbagapun telah melangkah naik ketika orang yang tergelincir itu mendekatinya.

“Kau masih beruntung, bahwa kau masih hidup,“ berkata Ki Sumbaga.

“Aku sempat merayap menyingkir,“ berkata orang itu.

Ki Sumbaga tidak menyahut lagi. Tetapi iapun kemudian melangkah terus diikuti oleh para pengikutnya. Beberapa orang masih berbekas darah di luka-luka mereka yang sudah pempat, setelah mereka menaburkan obat-obat seadanya yang mereka bawa. Sementara itu, Risang telah berpacu memasuki tlatah Tanah Perdikan Sembojan. rasa-rasanya ia telah memasuki kembali rumah yang telah beberapa lama ditinggalkannya.

Dengan gembira Risang berpacu dipaling depan, melintasi jalan-jalan bulak yang panjang, padukuhan- padukuhan yang keheran melihatnya lewat dan tidak sempat menyapanya, kemudian mendekati pintu gerbang padukuhan induk.

Dari kejauhan Risang telah melihat pintu gerbang itu. Kegembiraannyapun telah melonjak. Sementara warna langitpun telah menjadi kuning kemerahan.

“Alangkah segarnya udara di Tanah Perdikan Sembojan,“ Risang hampir berteriak di atas punggung kudanya selagi ia masih berada di bulak panjang dimuka pintu gerbang Tanah Perdikan.

Sejenak kemudian, Risang itupun telah memasuki gerbang padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan. Namun di gerbang itu sudah tidak lagi terpasang topeng- topeng kecil yang menakutkan, karena topeng-topeng itu justru telah dipindahkan ke bukit.