-->

Sayap-Sayap Yang Terkembang Jilid 15

Jilid 15

KARENA Warsi tidak menyahut, maka Ki Ranggapun kemudian berkata, “Sudahlah. Kita memerlukan waktu untuk berbicara dengan para pemimpin kelompok dan para perwira yang menyatukan diri dengan kita.”

“Berbicaralah dengan mereka,“ berkata Warsi, “beritahukan hasilnya kepadaku. Aku kira aku tidak perlu ikut didalam pembicaraan itu, karena bagiku, yang penting aku dapat berhadapan dan membunuh perempuan itu.

Sedang dukungan suasana sebagaimana yang kau maksudkan kau sajalah yang menyusun bersama para pemimpin kelompok-kelompok yang bergabung bersama kita itu.“

“Tetapi sebaiknya kau harus hadir, meskip un hanya mendengarkannya. Meskipun kau segan mempercayakan setiap keadaan medan kepada orang-orang kita untuk mengambil sikap sendiri, namun ada baiknya kau memberikan pendapatmu,“ berkata Ki Rangga.

“Begitukah kau menilai aku?“ bertanya Warsi, “apakah aku tidak pernah memberikan petunjuk-petunjuk kepada orang-orangku disetiap keadaan yang apalagi gawat.?”

“Bukan maksudku. Tetapi kau lebih senang berbicara tentang pokok-pokok persoalan,“ berkata Ki Rangga. “Orang -orang kita adalah orang-orang dewasa yang sudah matang. Apalagi orang-orang yang berhasil aku himpun dari gerombolan Kalamerta. Memang agak berbeda dengan bekas para prajurit. Mereka terlalu terikat kepada satu paugeran yang kaku. Bahkan dimedan perang sekalipun. Mereka memerlukan petunjuk-petunjuk terperinci untuk melakukan tugas mereka,“ berkata Warsi.

“Tidak seluruhnya benar,“ berkata Ki Rangga, “jika para prajurit itu terikat pada satu ketentuan, itu adalah karena mereka bertempur dalam satu gelar tertentu yang satu dengan lainnya saling berkait. Tetapi dalam keadaan yang memaksa, maka setiap orang harus mampu juga mengambil sikap masing-masing tanpa mengesampingkan kepentingan bersama.”

“Kau kira orang -orangku yang aku kumpulkan dari gerombolan Kalamerta tidak berbuat begitu? “ nada suara Warsi meninggi.

“Sudahlah, “potong Ki Rangga, “tetapi aku minta kau hadir Warsi termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan hadir.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian, maka Ki Ranggapun telah memanggil para pemimpin dari kelompok- kelompok yang bergabung dengan gerombolannya. Juga para pemimpin kelompok dari beberapa padepokan yang berhasil dipengaruhinya disamping padepokan Ki Rangga sendiri.

Ki Rangga yang memberikan pengantar pada pertemuan itu telah mengarahkan sikap mereka pada satu pengharapan yang besar dihubungkan dengan kemelut yang terjadi di Pajang, “Kita jadikan Tanah Perdikan ini landasan utama dari perjuangan yang lebih besar. Menuntut kembali kekuasaan Jipang. Meskipun kita tidak lagi mempunyai seseorang yang berada pada jalur garis keturunan Demak, tetapi jika kita dapat menunjukkan kekuatan kita, maka kita tentu akan berhasil. Setidak-tidaknya kita akan menguasai satu lingkungan yang lebih luas dari Tanah Perdikan Sembojan dengan kekuasaan yang jauh lebih besar. Jika kita mempunyai tempat berpijak, maka kesempatan untuk mengumpulkan kekuatan menjadi semakin besar.

Ternyata ada beberapa golongan dengan sikapnya masing-masing. Para pengikut Kalamerta yang berhasil dihimpun adalah orang-orang yang setia kepada pemimpinnya apapun yang harus mereka lakukan.

Sekelompok yang lain sama sekali tidak memikirkan hari- hari yang akan datang. Namun mereka memerlukan saluran untuk meluapkan dendam mereka. Sedangkan yang lain memang berpengharapan untuk mendapatkan satu alas berpijak sehingga dari alas itu akan dapat dicapai kesempatan yang lebih besar bagi mereka dalam percaturan pemerintahan di Tanah ini. Sementara itu sekelompok yang lain menganggap bahwa yang mereka lakukan itu bukan apa-apa sebagaimana mereka terbiasa merampok dan menyamun. Bahkan sekali-sekali membunuh. Tanpa pertimbangan-pertimbangan yang rumit asal saja mendapatkan harta benda sebanyak-banyaknya.

Kelompok yang terakhir itu tidak terlalu banyak mendengarkan penjelasan Ki Rangga Gupita. Tetapi merekapun tidak mempersoalkannya apapun yang dikatakan oleh Ki Rangga itu.

Namun beberapa orang telah menyatakan pendapatnya.

Mereka yang merasa mempunyai pengalaman yang luas, telah memberikan beberapa saran kepada Ki Rangga Gupita.

Sebenarnya Warsi menjadi jemu mendengar orang- orang itu berbicara. Menurut Warsi, jika mereka telah berada di pertempuran, maka mereka akan melupakan semua pembicaraan itu dan bertempur untuk membunuh atau dibunuh.

Tetapi yang paling menarik adalah pendapat beberapa orang tentang pertempuran yang akan datang. Tentang serangan yang sebaiknya mereka lakukan.

“Kita akan langsung menuju ke padukuhan induk,“ berkata salah seorang dari mereka. Lalu katanya, “Tanah Perdikan Sembojan tidak akan dapat mempergunakan seluruh kekuatan yang ada. Mereka tidak akan dapat mengumpulkan semua pengawal di padukuhan induk, karena setiap padukuhan tentu memerlukan pengawalan. Mungkin sebagian besar para pengawal memang ditempatkan di padukuhan induk. Namun bukan kekuatan seti tuhnya dari Tanah Perdikan Sembojan yang tentu terbagi itu.”

Ki Rangga mengangguk-angguk. Pendapat itu sesuai dengan perhitungannya dan bahkan kemudian sebagian besar dari orang-orang yang telah dikumpulkan, meskipun ada diantara mereka yang tidak mempedulikannya.

Bahkan ada orang yang berpendapat, “A pakah kita harus memberikan kesan bahwa kita akan menyerang salah satu padukuhan yang besar sebagaimana kita lakukan kemarin? Dengan demikian maka sebagian pengawal akan ditarik ke padukuhan itu.” “Tidak akan banyak gunanya. Kecuali kekuatan kita juga terbagi, merekapun akan menggerakkan pengawal- pengawal mereka dari satu padukuhan ke padukuhan lain, kecuali pengawal-pengawal yang memang direncanakan untuk tetap berada di padukuhan mereka masing-masing,“ berkata Ki Rangga.

Orang itu mengangguk-angguk. Namun ia tidak memaksakan pendapatnya.

Demikianlah, pertemuan itu setelah berbicara banyak, telah menentukan langkah yang paling baik menurut pendapat mereka. Mereka akan langsung menyergap padukuhan induk dari dua arah. Satu kelompok kecil akan memancing perhatian para pengawal dari arah pintu gerbang induk. Sedangkan kekuatan yang terbesar akan datang dari arah lain.

Dalam keremangan malam, meskipun cahaya bulan terang, tetapi mereka tidak akan mampu membuat perhitungan yang baik tentang jumlah kekuatan yang sebenarnya dari orang-orang yang menyerang padukuhan induk itu. Orang-orang padukuhan induk tidak akan sempat mencurigai jumlah yang mereka hadapi di gerbang utama, sehingga sempat memikirkan datangnya serangan dari arah yang lain.

“Karena itu, kita ha rus berusaha untuk mengaburkan jumlah kita. Terutama pasukan yang memancing perhatian para pengawal di padukuhan induk itu. Dengan gerakan- gerakan yang bersimpang siur, maka jumlah itu akan nampak lebih besar,“ berkata Ki Rangga. Lalu, “Dengan demikian maka para pemimpin Tanah Perdikan itu akan terpancing untuk bertahan di pintu gerbang utama itu.

Sementara pasukan kita yang lain akan merayap dengan hati-hati mendekati dinding diarah lain.” “Sebenarnya kita salah memilih waktu,“ tiba -tiba saja seseorang berkata, “sebaiknya kita memilih disaat malam paling gelap.”

“Bodoh kau,“ Warsi yang lebih banyak diam itu telah membentak, “kau kira aku tidak mempunyai perhitungan dengan bulan bulat itu?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kawannya yang ada disampingnya berdesis, “Sinar bulan itu sangat penting baginya.”

Orang itu tidak menyahut, meskipun ia merasa agak tersinggung. Namun orang itupun menyadari, bahwa Warsi adalah seorang perempuan yang garang dan memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Akhirnya pertemuan itupun berakhir. Semua orang memahami apa yang harus mereka lakukan. Sebagai pemimpin dari kelompok mereka masing-masing, maka mereka telah menyampaikan keputusan dari pertemuan itu kepada kelompok mereka. Terperinci dan jelas bagi setiap orang.

Namun orang-orang yang tidak begitu mempedulikan tata cara dalam setiap pertempuran memang tidak mau berpikir terlalu banyak. Mereka hanya memberikan sekedar petunjuk kepada orang-orangnya dan memberitahukan di pasukan yang mana mereka ditempatkan.

“Kita akan me nyerang padukuhan induk itu,“ berkata pemimpin mereka yang tidak mau terlalu banyak berpikir, “kita berada di pasukan kedua yang akan menyerang padukuhan induk itu dari arah lain. Bukan dari arah pintu gerbang utama. Hal-hal lain, tirukan saja orang-orang yang berpikiran rumit. Pokoknya kita menyerang, memasuki padukuhan induk dan mendapatkan harta rampasan. Jika harta rampasan itu harus dikumpulkan, maka kalian harus pandai menyembunyikan sebagian terbesar daripadanya untuk kepentingan kelompok kita, sehingga kita tidak sekedar menjadi alat mereka.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Merekapun orang-orang yang segan berpikir terlalu banyak.

Di kelompok lain, seorang pemimpin kelompok tengah memberikan penjelasan kepada orang-orangnya. Dengan hati-hati, jelas dan terperinci pemimpin kelompok itu menunjukkan kepada orang-orangnya apa yang harus mereka lakukan.

“Kita termasuk kelompok yang pertama. Kelompok yang tidak sebesar kelompok yang kedua. Tetapi kita harus memberikan kesan bahwa jumlah kita banyak. Tugas kita sangat sulit dan berat. Tetapi kita sudah berjanji kepada diri kita sendiri, bahwa kita harus dapat merebut Tanah Perdikan ini untuk menjadi tempat berpijak bagi perjuangan kita selanjutnya. Justru pada saat Pajang mulai surut,“ berkata pemimpin kelompok itu, yang kemudian disambungnya dengan kata-kata yang penuh dengan hentakan-hentakan kemarahan dan cita-cita.

Jantung orang-orang yang mendengarnya memang berkobar pula menyalakan tekad didalam dada mereka.

Setiap pemimpin kelompok, dengan cara dan keinginan masing-masing telah berbicara dengan orang-orangnya.

Apapun yang mereka katakan, namun semuanya telah mempersiapkan serangan yang bakal mereka lakukan malam nanti. Ketika matahari mulai turun, Warsi telah mulai bersiap- siap. Demikian pula setiap orang dalam kelompok mereka masing-masing. Mereka sudah cukup beristirahat di hari itu. Sebagian dari mereka telah sempat tidur lelap untuk waktu yang cukup lama.

Ketika matahari menjadi semakin rendah, Ki Rangga mulai mengatur pasukannya. Ki Rangga sudah membagi seluruh kekuatannya menjadi dua bagian. Sebagian yang lebih kecil akan menyerang pintu gerbang utama, sedangkan yang lain akan meyerang dari samping. Mereka tidak perlu memecah pintu-pintu gerbang, baik pintu gerbang induk maupun pintu gerbang samping. Tetapi mereka merasa mampu untuk meloncati dinding.

Demikianlah, ketika matahari menjadi telah semakin dekat dengan cakrawala, pasukan itu benar-benar telah bersiap.

Ki Rangga Gupita, Warsi dan tiga orang kepercayaannya yang terdiri dari seorang bekas perwira tinggi Jipang, seorang Ajar yang memiliki ilmu yang tinggi yang biasa di panggil Ki Ajar Teluh, dan seorang pemimpin gerombolan Kalamerta yang meskipun sudah tua, tetapi memiliki kemampuan yang dapat diandalkan, yang menyebut dirinya Kala Sembung, telah memeriksa seluruh kekuatan yang telah dihimpunnya. Mereka berdiri berjajar bersusun dilembah diantara bukit-bukit yang banyak memiliki goa- goa yang meskipun tidak terlalu dalam, tetapi dapat mereka pergunakan sebagai tempat berlindung dari teriknya panas dan dinginnya embun malam.

Dengan bangga Warsi dan Ki Rangga melihat wajah- wajah yang garang. Sementara itu, pada mereka masing- masing nampaknya telah tersedia bekal sehingga dalam pertempuran mereka tidak akan kelaparan meskipun mereka akan bertempur semalam suntuk, bahkan sampai besok sehari penuh. Bahkan pasukan itu akan didukung oleh sekelompok kecil orang-orang yang khusus membawa bekal bagi mereka yang akan bertempur. Orang-orang itu jika didesak oleh keadaan, akan mampu pula bergabung dengan kawan-kawan mereka di peperangan. Bukan saja sekedar menyiapkan makan dan keperluan-keperluan lain jika terjadi bencana pada pasukannya.

Orang-orang yang ada dibalik bukit itu sama sekali tidak mempergunakan pertanda-pertanda apapun juga. Mereka tidak membawa panji-panji, umbul-umbul atau apapun yang sejenis yang memberikan ciri kepada pasukan itu.

Mereka sama sekali tidak memerlukannya. Namun mereka telah memberikan pertanda itu justru sebelumnya.

Warsi dan Ki Rangga telah memasang topeng-topeng kecil dipintu gerbang utama padukuhan induk. Ciri-ciri yang bagi Warsi mempunyai arti yang lebih besar daripada rontek, panji-panji dan umbul-umbul.

Sejenak kemudian, maka langitpun menjadi kemerah- merahan. Cahaya matahari yang mulai redup justru bagaikan membakar langit. Cakrawala telah membara dan ujung-ujung megapun menjadi merah.

“Kita siap untuk berangkat,“ berkata Warsi kepada Ki Rangga.

“Apakah kau sudah merasa saat itu datang?“ bertanya Ki Rangga.

Warsi berdiri tegak sambil menengadahkan kepalanya menghadap ke Timur. Namun tiba-tiba saja ia tersenyum. Katanya, “Disaat kita mencapai punggung pebukitan ini, bulan tentu sudah terbit. Aku akan mencapai puncak kemampuanku untuk kepentingan apapun juga. Sesaat kemudian kita akan turun di lereng bukit sebelah dan dengan tekad yang menyala didalam dada kita masing- masing, kita akan menghancurkan padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.”

Ki Rangga mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Warsi. Jika matahari sepenuhnya tenggelam, maka bulan tentu akan terbit.

Demikianlah maka Ki Rangga telah memberikan apa-apa bagi pasukannya. Tidak ada sangkakala. Tidak ada genderang dan tidak ada isyarat perang. Yang terdengar adalah suitan nyaring yang bergema dilembah pebukitan itu.

Suitan itu telah disahut dan sambung bersambung, sehingga suara yang terpantul oleh dinding-dinding padaspun terdengar saling menyusul seperti sebuah lagu yang bernada datar.

Sejenak kemudian, maka sebuah iring-iringan yang cukup panjang itu mulai bergerak. Setiap orang didalam pasukan itu telah mendapat penjelasan tentang padukuhan induk yang akan menjadi sasaran serangan mereka.

Terutama para pemimpin kelompok. Mereka yang sama sekali belum pernah melihat padukuhan induk telah mendapat beberapa petunjuk sehingga rasa-rasanya mereka telah menjadi seorang yang telah memahami segala jalan dan lorong-lorong yang ada di padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan itu.

Sementara itu langitpun menjadi semakin merah. Namun cahaya yang kekuning-kuningan memang mulai memancar di Timur. Demikian matahari tenggelam, maka merekapun mulai melihat bulan memanjat langit, Warsi tertawa pendek disebelah Ki Rangga yang berjalan diujung pasukannya. Katanya, “Kau lihat? Lambang kemenangan itu telah mulai hadir diatas Tanah Perdikan Sembojan yang sebentar lagi akan jatuh ketanganku.”

Ki Rangga mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnyalah Ki Rangga lebih percaya kepada pasukannya yang nampak begitu perkasa. Di lorong-lorong sempit, dilereng bukit, iring-iringan itu bagaikan seekor ular raksasa yang menjalar merambat naik ke punggung bukit itu.

Tetapi Ki Rangga tidak mau mengecewakan Warsi. Ki Rangga pun tahu, bahwa kepercayaan yang tebal didalam dada Warsi atas pengaruh cahaya bulan itu, memang akan dapat benar-benar mempengaruhinya. Terutama pada segi kejiwaan perempuan yang garang itu. Sedangkan sebagai seorang perwira yang juga pernah bertugas dalam pasukan sandi, Ki Rangga tahu benar arti pengaruh kejiwaan bagi seorang prajurit. Karena pengaruh kejiwaan pula maka seorang prajurit akan kalah sebelum bertempur. Namun seorang prajurit akan dapat menjadi seekor harimau lapar di medan perang yang ganas.

Sebenarnyalah seperti yang diperhitungkan oleh Warsi. Bahkan sebelum ia sampai ke puncak pebukitan itu, bulan telah menerangi lereng-lerengnya dengan cahayanya yang telah menghangatkan darah Warsi.

Beberapa saat kemudian, ujung pasukan itu telah sampai ke atas bukit kecil itu. Warsi dan Ki Rangga memberi isyarat kepada pasukannya untuk berhenti. Dari punggung bukit itu, Warsi telah memandang ngarai yang terbentang. Dibawah terang sinar bulan, padukuhan- padukuhan yang kehitam-hitaman nampak seperti pulau- pulau kecil yang terapung dilautan yang hijau. Sekali lagi Warsi tertawa melihat Tanah Perdikan Sembojan yang terbentang dihadapannya. “Marilah,“ berkata Warsi kemudian.

Ki Rangga berpaling kepada tiga orang kepercayaannya sambil berkata, “Demikian kita menuruni bukit, maka kita sudah memasuki lingkungan medan. Kita harus mulai berhati-hati. Kedua bagian pasukan kita tidak boleh salah memilih jalan ke padukuhan induk sebagaimana sudah kita tentukan.”

Ketiga orang kepercayaan Ki Rangga itu mengangguk- angguk. Merekalah yang harus memimpin langsung semua gerakan dari pasukan itu. Ki Ajar Tulaklah yang mendapat tugas untuk memimpin pasukan yang harus memancing perhatian lawan dan menyerang pintu gerbang utama.

Sementara itu, bekas perwira tinggi Jipang yang sehari-hari disebut Ki Sumbaga dan Ki Kala Sembung akan memimpin pasukan yang benar-benar dipersiapkan untuk memasuki padukuhan induk Tanah Perdikan. Baru kemudian setelah keadaan memungkinkan, Ki Sumbagapun harus membawa pasukannya masuk ke padukuhan dan membantu pasukan yang telah berada di dalam.

“Nah,“ berkata Ki Rangga, “pergilah ke pasukan kalian masing-masing. Di bulak itu kita akan membagi pasukan. Kalian akan menempuh jalan kalian masing-masing. Jangan salah memilih jalan. Beri isyarat jika rencana tidak berjalan sebagaimana seharusnya. Kami berdua akan berada di pasukan kedua. Kami harus dengan cepat memasuki padukuhan induk, agar kami dapat segera menemui para pemimpin mereka.”

Ketiga orang itu mengangguk hormat. Sementara itu Ki Rangga berkata pula, “Siapkan dengan baik kelompok - kelompok yang akan berhadapan dengan orang-orang tua di Tanah Perdikan Sembojan, namun yang berilmu cukup tinggi. Lima kelompok harus mampu mengikat lima orang lawan yang berilmu tinggi itu. Mungkin kelima orang itu tidak berada ditempat yang sama, sehingga dengan demikian maka setiap orang wajib memberikan laporan, dimana mereka berada sehingga kelompok-kelompok yang dipersiapkan itu akan segera dapat menghadapi mereka.

Sementara itu, Warsi akan langsung berusaha bertemu dengan Iswari.”

Demikianlah, maka ketiga orang itupun telah bergeser surut. Mereka telah menuju ke pasukan masing-masing. Satu kelompok dari pasukan itu dipimpin oleh Ki Ajar Tulak akan berusaha memancing perhatian padukuhan induk di pintu gerbang utama, sementara Ki Kala Sembung dan Ki Sumbaga akan memasuki padukuhan induk dari arah lain bersama dengan Warsi dan Ki Rangga. Jika padukuhan induk itu telah menjadi kacau dan kehilangan ketahanannya maka pasukan yang dipimpin Ki Ajar harus dengan cepat berusaha memasuki padukuhan induk pula. Mereka harus menuju ke banjar, sementara pasukan yang lain akan menguasai rumah Kepala Tanah Perdikan.

Perintah yang diberikan oleh Warsi dan Ki Rangga kepada setiap orang adalah bahwa mereka harus segera membunuh jika mereka bertemu dengan seorang remaja yang bernama Risang, anak Iswari. Siapapun juga.

Ketika semuanya sudah berada ditempat masing- masing, maka Ki Ranggapun telah memberikan isyarat agar pasukan itu segera berangkat.

Dilereng bukit disaat pasukan itu bergerak menurun, maka beberapa orang masih nampak berjaga-jaga untuk mengawasi keadaan. Bagaimanapun juga mereka masih juga memperhitungkan kemungkinan orang-orang Tanah Perdikan berusaha mendaki bukit itu dan menyerang mereka disarangnya. Kehadiran orang-orang Tanah Perdikan yang kemudian membunuh beberapa orang diantara mereka dengan anak panah, telah membuat mereka semakin berhati-hati.

Namun ketika iring-iringan yang memanjang itu lewat, maka orang-orang itu telah mendapat perintah untuk masuk kedalam pasukan dan berada didalam kelompok mereka masing-masing.

Karena itu, maka orang-orang itupun segera mencari hubungan dengan para pemimpin kelompok mereka, untuk ikut bergerak turun menuju ke lembah. Selanjutnya mereka dengan cepat akan bergerak ke padukuhan induk.

Namun ketika ujung pasukan itu telah melewati lambung pebukitan, Warsi dan Ki Rangga yang berjalan dipaling depan terkejut. Mereka melihat sebuah patok bambu yang berdiri di tengah-tengah jalan sempit yang dilewati oleh iring-iringan pasukannya itu.

“Gila,“ Warsi mengumpat. Pada patok bambu itu terdapat topeng kecil menghadap ke punggung bukit sebagaimana yang sering dipergunakannya untuk memberikan pertanda atau peringatan bagi pihak lain.

Pertanda yang biasanya dihubungkan dengan kematian dan kekerasan.

“Siapa yang memasang patok dan meletakkan topeng kecil ini?“ bertanya Warsi.

Ki Ranggapun menggeram. Sambil menggeleng ia menjawab, “Aku tidak tahu. Tentu tidak seora ngpun yang tahu. Para pengawaspun tentu tidak tahu. Jika mereka tahu, topeng ini tentu sudah disingkirkannya.”

“Anak iblis,“ Warsi hampir berteriak, “tantangan yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang Tanah Perdikan. Tetapi sebentar lagi Tanah Perdikan itu akan kami hancurkan.”

Warsipun dengan marah telah mencabut patok bambu itu dan melemparkannya kedalam semak-semak.

Sambil menggeretakkan giginya Warsipun melangkah dengan dada tengadah. Terdengar ia berkata dengan geram, “Aku akan membunuhnya deng an tanganku sendiri.”

Ki Rangga tidak menyahut. Tetapi ia lebih banyak memperhatikan lingkungan yang mereka lewati. Mungkin masih akan terdapat hal-hal yang dapat mempengaruhi perasaan mereka. Bahkan mungkin jebakan-jebakan yang akan menghambat gerak pasukan itu.

Ketika pasukan itu mulai bergerak lagi, maka sekali lagi Warsi mengumpat marah sekali. Tiba-tiba saja mereka telah mendengar gonggong anjing hutan sahut-menyahut.

“Setan,“ geram Warsi, “kita harus menangkap anjing liar itu. Mereka tentu orang-orang Tanah Perdikan.”

“Ya,“ jawab Ki Rangga, “tetapi jangan hiraukan mereka.

Jika kita berusaha menangkap mereka, maka kita tentu memerlukan waktu. Mereka mungkin berada dipuncak bukit sebelah. Gaung suaranya memang menunjukkan bahwa mereka berada ditempat yang jauh.”

“Aku tidak mau dipermainkan seperti ini,“ geram Warsi. “Tetapi jika kita mengejar mereka, tertangkap atau tidak tertangkap, maka rencana orang-orang Tanah Perdikan itu berjalan sebagaimana mereka harapkan. Mereka tentu berharap kita menjadi marah atas sindiran itu dan berusaha menangkap mereka. Tetapi dengan demikian maka pasukan kita telah terhambat,“ berkata Ki Rangga.

Warsi mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita harus cepat-cepat memasuki padukuhan induk. Lihat, bulan yang bulat sudah naik. Aku berada dalam kemampuan puncakku.”

Karena itulah, maka Warsi sama sekali tidak berhenti untuk menangkap orang-orang Tanah Perdikan yang ditempat yang agak jauh telah menggonggong sebagaimana seekor anjing hutan. Bahkan bersahut- sahutan.

Demikianlah maka iring-iringan itu telah turun dengan cepat. Beberapa saat kemudian, mereka telah berada di ngarai dibawah bukit.

Ketika pasukan itu seluruhnya telah turun, maka Warsi dan Ki Rangga telah memberikan isyarat, agar semua orang didalam pasukan itu bersiap-siap. Mereka akan segera memasuki jalan-jalan Tanah Perdikan Sembojan. Di tengah- tengah bulak itu, pasukan akan berpisah. Yang sebagian akan berbelok ke kiri, sedangkan yang lain akan berjalan lurus. Yang berbelok itulah yang justru akan menuju ke pintu gerbang utama. Sedangkan yang berjalan lurus itu akan melingkar dan menuju ke padukuhan induk dari sisi yang lain.

Sejenak kemudian, maka iring-iringan itu benar-benar telah memasuki jalan-jalan Tanah Perdikan Sembojan. Padukuhan induk memang bukan padukuhan yang ada dihadapan mereka. Tetapi letak padukuhan induk tidak terlalu jauh.

Dengan dada tengadah maka setiap orang dalam pasukan itu melangkah menyusuri jalan Tanah Perdikan Sembojan yang menjadi tanah harapan bagi para pemimpin mereka. Dengan jantung yang berdebar-debar mereka bertekad untuk malam itu juga menguasai padukuhan induk dan kemudian dihari berikutnya seluruh Tanah Perdikan. Padukuhan-padukuhan yang tidak tunduk akan dihancurkan, karena jika kekuatan para pengawal di padukuhan induk sudah dipatahkan, maka kekuatan di padukuhan-padukuhan tidak akan berarti lagi.

Ketika kemudian terdengar lagi suara anjing hutan menggonggong dari lereng bukit, yang suaranya bergema oleh pantulan batu-batu padas, maka Warsi dan Ki Rangga Gupita sudah tidak menghiraukannya lagi. Mereka mengira bahwa orang-orang Tanah Perdikan bukan saja sedang mempengaruhi perasaan para pengikutnya, tetapi dengan cara itu mereka telah memberikan isyarat sambung bersambung, bahwa pasukan dari balik bukit telah menyerang.

Tetapi Warsi dan Ki Rangga Gupita sama sekali tidak berkeberatan. Mereka memang telah memberi pertanda bahwa hari itu, disaat purnama penuh, padukuhan induk akan diserang dan dihancurkan. Bagaimanapun juga, orang-orang Tanah Perdikan tidak akan dapat mengumpulkan dan memusatkan semua kekuatan Tanah Perdikannya di padukuhan induknya, karena sebagian dari mereka masih harus tetap berada di padukuhan masing- masing. Demikianlah maka pasukan dari balik bukit itupun kemudian menjalar di bulak-bulak persawahan. Mereka menyusuri jalan-jalan yang membujur diantara tanaman padi di sawah.

Namun Warsi dan Ki Ranggapun terkejut ketika mereka melihat lagi patok bambu ditengah jalan digantungi oleh topeng kecil pertanda kematian. Topeng yang mereka pasang di depan pintu gerbang padukuhan induk Tanah Perdikan.

“Gila,“ geram Warsi. Dengan sangat marah ia mencabut patok bambu itu dan melemparkannya ketepi sekaligus dengan topengnya. Tetapi ternyata bahwa iring-iringan pasukannya sama sekali tidak berhenti.

Tetapi kemarahan Warsi bagaikan membakar ubun- ubunnya ketika mereka sampai disebuah simpang empat kecil di tengah bulak itu, sekali lagi mereka menjumpai patok bambu dengan topeng kecil itu pula.

Namun ketika Warsi menghentakkan patok kecil itu sambil mengumpat-umpat. Maka Ki Ranggapun mendekatinya sambil berkata, “Kita berhenti disini.”

“Kenapa?“ bertanya Waisi.

Ki Rangga tidak menjawab ketika ia memberikan isyarat kepada pasukannya untuk berhenti,

“Ada apa?“ bertanya Warsi pula. “Kita sudah hampir sampai ditempat pasukan kita akan berpencar.”

“Orang -orang Tanah Perdikan memang iblis. Pertanda topeng kecil itu sudah genap tiga kali. Kita harus berhati- hati,“ desis Ki Rangga. “Tetapi bukankah kita yang menentukan isyarat itu.

Bukan mereka?“ bertanya Warsi.

“Itulah gila nya orang-orang Tanah Perdikan,“ jawab Ki Rangga Gupita.

Warsi mengerutkan keningnya. Ia masih belum begitu jelas apakah yang dimaksud oleh Ki Rangga Gupita itu, sehingga iapun kemudian bertanya, “Apakah sebenarnya yang terjadi?”

Ki Rangga memandang bulak yang luas itu. Dengan nada rendah ia berkata, “Kita harus berhati -hati.”

Warsi masih saja termangu-mangu. Sementara itu Ki Rangga telah memanggil seorang yang berada diantara dirinya dan pasukannya. Seorang yang memang bertugas sebagai penghubung.

“Pan ggil Ki Sumbaga,“ berkata Ki Rangga. “Untuk apa?“ bertanya Warsi.

“Ia mempunyai naluri keprajuritan yang sangat tajam,“ jawab Ki Rangga Gupita.

“Bulan sudah semakin tinggi,“ berkata Warsi, “aku ingin mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.”

“Janga n tergesa-gesa. Yang kita hadapi adalah iblis yang sangat licik,“ jawab Ki Rangga.

Sejenak kemudian Ki Sumbagapun telah mendekat. Dengan sungguh-sungguh Ki Rangga Gupita bertanya, “Bagaimana pendapatmu?” “Kita harus berhati -hati. Kita tidak akan bertempur di padukuhan induk,“ berkata Ki Sumbaga.

“Apa katamu?“ bertanya Warsi.

“Bersiaplah. Perhitungan mereka ternyata lebih rumit dari perhitungan yang kita buat,“ jawab Ki Sumbaga, “selama ini kita menganggap bahwa mereka adalah orang - orang yang hanya mempercayakan diri kepada kemampuan olah kanuragan. Namun ternyata mereka mempunyai pemikir-pemikir yang sangat baik,“ jawab Ki Sumbaga.

“Persetan,“ geram Warsi, “kita hancurkan padukuhan induk itu.”

“Kita tidak akan sampai kesana dengan cepat,“ berkata Ki Sumbaga.

“Kenapa? Jangan berteka -teki,“ Warsi menjadi tidak sabar lagi. “katakan apa yang kalian ketahui.”

Ki Sumbaga memandang Ki Rangga Gupita dengan wajah yang tegang, sementara Ki Ajar Tulak dan Kala Sembungpun telah mendekat pula sambil bertanya, “Ken apa kita berhenti disini?”

“Lihat,“ berkata Ki Rangga Gupita, “setelah orang -orang Tanah Perdikan memberikan peringatan kepada kita dengan pertanda milik kita sendiri sampai tiga kali. Atur pasukan kalian dan menebarlah sebelum terlambat.”

“Apa yang terj adi?,“ Warsi hampir berteriak. “Mereka telah menunggu kita di bulak ini,“ geram Ki

Rangga Gupita. “Siapa?“ teriak Warsi.

“Orang -orang Tanah Perdikan Sembojan,“ jawab Ki Rangga sambil memberikan isyarat kepada ketiga orang kepercayaannya. “Kita bertempur disini.”

Warsipun akhirnya mengetahui maksud Ki Rangga dan Ki Sumbaga. Karena itu, maka justru ialah yang mengumpat paling kasar. Sementara Ki Rangga berkata, “Kita tidak akan memecah pasukan kita. Ki Sumbaga akan berada ditengah. Ki Ajar akan berada di sayap kiri dan Ki Kala Sembung akan berada di sayap kanan. Usahakan menilai gelar lawan agar kita mendapatkan cara yang sebaik-baiknya untuk melawan.”

Ketiga orang itu mengangguk-angguk. Tetapi hanya Ki Sumbaga sajalah yang memahami dengan baik arti sebuah gelar. Ki Ajar Tulak terlalu yakin akan kemampuannya, sementara Kala Sembung tidak merasa perlu untuk memikirkan sebuah gelar.

Tetapi ketiga orang itupun dengan cepat telah kembali ke pasukan masing-masing. Seperti yang diperintahkan oleh Ki Rangga Gupita, maka pasukan yang semula berjalan beriringan itu telah menebar. Ki Ajar Tulak berada disisi sebelah kiri, sementara Kala Sembung membawa pasukannya kesebelah kanan. Sedangkan Ki Sumbaga dan orang-orangnya berada di tengah.

Dalam keadaan yang gelisah itu, Ki Sumbaga masih sempat memberi peringatan kepada orang-orangnya, agar kelompok-kelompok yang dipersiapkan untuk melawan orang-orang yang disegani di Tanah Perdikan tetap utuh. Disisi kiri, Ki Ajar memang mencoba untuk mengatur orang-orangnya. Mereka menebar tanpa menghiraukan tanaman padi disawah yang hijau subur. Tanaman itu telah terinjak-injak oleh kaki orang-orang yang bersiap dengan senjata.

Tetapi Ki Ajar memang tidak pernah mempelajari dengan sungguh-sungguh arti sebuah gelar meskipun secara sepintas diketahuinya pula.

“Kita berada disayap sebelah kiri,“ berkata Ki Ajar kepada para pemimpin kelompoknya, “kita harus menyesuaikan diri dengan lawan. Mungkin mereka bertempur dalam gelar yang mapan. Tetapi kita tidak perlu gentar. Meskipun demikian kita harus membagi kekuatan dengan merata. Dari ujung sayap, sampai ke pangkal sayap. Namun setiap saat, kelompok-kelompok dapat bergeser menutup kelemahan-kelemahan yang terjadi pada sayap kita dari ujung sampai ke pangkal. Yang penting, setiap kelompok tidak boleh terpecah.”

Berbeda dengan Ki Ajar yang berusaha, Kala Sembung telah berpesan kepada para pengikutnya, “Hancurkan dan bunuh setiap orang. Apakah ia sayap atau paruh atau cakar sebuah gelar. Jangan pedulikan. Tetapi ingat, kalian harus saling membantu. Jangan biarkan kawan-kawan kalian terbunuh seorang demi seorang, karena jika demikian akan datang giliran kalian akan terbunuh juga. Karena itu, tidak ada pilihan lain. Bunuh semua orang siapapun yang kalian hadapi dan dalam kedudukan yang manapun.”

Orang-orangnya mengangguk-angguk. Orang-orang yang garang itu memang tidak menghiraukan apakah lawannya ada dalam gelar atau tidak. Yang penting bagi mereka adalah membunuh sebanyak-banyaknya. Tetapi ada diantara mereka yang merasa kecewa, bahwa mereka harus bertempur di bulak yang luas itu. Mereka ingin bertempur di padukuhan. Menghancurkan padukuhan induk dan kesempatan memasuki rumah-rumah orang kaya untuk merampas harta benda yang ada didalamnya. Jika mereka menghancurkan lawan di bulak itu, maka mereka akan memasuki padukuhan induk dengan tertib dan terkendali oleh Ki Rangga dan Warsi.

Sejenak kemudian, maka pasukan Ki Rangga Gupita itu telah menebar. Mereka telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa pasukan Tanah Perdikan telah menunggu. Betapapun beratnya hati mereka, namun mereka memang harus mengorbankan tanaman di sawah. Pasukan Tanah Perdikan Sembojan ternyata tidak menunggu di padukuhan induk. Para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan telah memperhitungkan bahwa mereka lebih baik menghadapi lawan di bawah bukit daripada harus menunggu di padukuhan induk. Di bawah bukit mereka memang harus mengorbankan tanaman mereka. Tetapi di padukuhan, korban akan semakin besar. Bukan saja rumah-rumah yang rusak, harta benda yang pasti akan dirampok, tetapi juga perempuan dan anak-anak ikut terancam jiwanya.

Lebih daripada itu, maka menurut perhitungan para pemimpin Tanah Perdikan, jika mereka menunggu lawan dibawah bukit, mereka akan dapat mengerahkan pasukan lebih besar. Para pengawal hampir seluruhnya dapat digerakkan. Mereka memperhitungkan bahwa para pengikut Warsi tidak akan sempat memasuki padukuhan- padukuhan yang manapun juga. Karena itu, maka Iswari telah membawa kekuatan yang ada di Tanah Perdikan hampir sepenuhnya kebawah bukit. Dengan sangat hati-hati orang-orang Tanah Perdikan itu bergerak. Menjelang senja semua kekuatan sedikit demi sedikit telah mengalir ke padukuhan terdekat. Kemudian disaat matahari terbenam dan bulan mulai naik, pasukan itu bagaikan merangkak memasuki bulak-bulak yang luas. Dengan perhitungan yang cermat, maka para pengawas di lereng bukit memang tidak dapat melihat apa yang terjadi di balik batang padi yang mulai meninggi. Sehingga pada saatnya, pasukan Tanah Perdikan telah menunggu menebar dalam gelar yang mapan. Gelar Wulan Tumanggal. Karena menurut perhitungan para pemimpin dari Tanah Perdikan Sembojan, kekuatan lawan akan berada di induk pasukan, sehingga sayap-sayap pasukannya tentu tidak akan terlalu kuat. Karena itu, maka gelar yang dipergunakanpun adalah gelar yang meletakkan kekuatan terbesar di induk pasukan.

Sambi Wulung dan Jati Wulung memang merasa ragu- ragu untuk ikut langsung memasuki arena. Mereka masih selalu memikirkan kemungkinan bahwa Puguh atau orang- orang yang pernah melihatnya di padepokan itu, ikut pula dalam pasukan yang siap menyerang Tanah Perdikan itu.

Namun akhirnya keduanya mempunyai cara untuk berada diantara para pengawal. Mereka telah membagi diri. Seorang berada di sayap kiri dan seorang yang lain di sayap kanan. Mereka telah memberikan kelainan di wajah mereka masing-masing, sehingga mereka tidak akan mudah dikenal. Sementara itu merekapun telah mengenakan pakaian yang tidak terbiasa mereka pakai.

“Jika ada seorang saja yang mengenaliku, maka usahaku untuk menemukan tempat tinggal Puguh itu akan kehilangan artinya,“ berkata Sambi Wulung. Tetapi dengan caranya mereka berharap bahwa mereka tidak akan dapat dikenali lagi.

Di induk pasukan, Iswari duduk dipematang bersama Kiai Badra, Kiai dan Nyai Soka. Beberapa langkah daripadanya adalah pemimpin pengawal Tanah Perdikan yang duduk bersama dua orang pembantunya.

Ketika terdengar pertanda terakhir sebagaimana mereka sepakati dengan suara gonggong anjing hutan, maka Iswaripun menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “Mereka telah datang.”

“Ya,“ berkata Kiai Badra, “mereka telah datang. Siapkan pasukanmu. Kita harus menghentikan mereka di sini. Jika mereka berhasil mencapai padukuhan induk, maka keadaan kita akan sulit. Bahkan seandainya kita berhasil mengusir mereka, namun mereka tentu akan merusak dan barangkali membakar rumah-rumah penduduk yang tidak bersalah serta mengganggu perempuan dan anak-anak. Bahkan mungkin membunuh.”

“Marilah. Kita bersiap -siap,“ desis Iswari. Iswari tidak menunggu lagi. Iapun kemudian telah bangkit berdiri bersamaan dengan isyarat yang berbunyi. Tidak lagi gonggong anjing hutan, tetapi suara kentongan dengan nada titir yang dipukul di pasukan induk.

Isyarat itupun segera disahut oleh para penghubung di sayap-sayap pasukan, sehingga dengan demikian, maka terdengar suara titir yang sangat riuh.

Dalam waktu singkat, maka sebuah gelar telah muncul dari balik batang-batang padi dan dari belakang tanggul- tanggul parit. Rasa-rasanya orang-orang Tanah Perdikan itu telah terlalu lama menunggu dengan pakaian yang basah oleh embun di daun padi yang mulai menitik serta basahnya air yang mengalir di parit-parit.

Tetapi orang-orang dari balik bukit tidak terkejut.

Bahkan Kiai Soka sempat memuji, “mereka tanggap akan isyarat yang kita berikan dengan topeng-topeng mereka. Ternyata merekapun telah menebar.”

“Kita tidak lagi mempunyai hutang kepada mereka.

Sebagaimana mereka memberikan isyarat kepada kita saat- saat mereka akan menyerang, maka kitapun telah memberikan isyarat pula. Kita bukan orang-orang yang justru lebih licik dari mereka,“ desis Nyai Soka.

Kiai Soka mengangguk-angguk. Dalam cahaya bulan mereka melihat orang-orang dari balik bukit itu bergerak maju. Kemarahan benar-benar telah membakar jantung Warsi dan Ki Rangga Gupita. Ternyata orang-orang Tanah Perdikan itu mengenal perhitungan yang tajam untuk menghadapinya. Mereka tidak sekedar menggantungkan kepada kemampuan dan jumlah, tetapi mereka juga berpikir.

Tanpa menghiraukan tanaman padi yang tumbuh dengan suburnya, maka pasukan Ki Rangga yang menebar itu bergerak maju. Mereka tidak memperhatikan lagi apakah mereka akan berjalan diatas pematang. Tetapi batang-batang padi yang subur itu telah terinjak-injak kaki orang-orang yang akan bertempur untuk mengungkapkan permusuhan yang sudah mencengkam seluruh isi dada.

Bahkan bukan saja dendam yang menyala, tetapi juga ketamakan dan nafsu untuk menguasai Tanah Perdikan itu.

Sementara itu, orang-orang Tanah Perdikanpun sudah siap pula. Agak berbeda dengan orang-orang dari balik bukit. Orang-orang Tanah Perdikan memang merasa agak ragu-ragu untuk menginjak batang-batang padi yang sudah menjadi semakin besar dan hampir menjadi bunting itu.

Tetapi merekapun tidak mempunyai pilihan lain. Mereka memang harus dan terpaksa menginjak-injak tanaman itu justru untuk mempertahankan tanah mereka, agar mereka di hari kemudian dapat menanam padi lagi tanpa mengalami pemerasan atas hasil panenannya.

Demikianlah kedua pasukan itu semakin lama menjadi semakin dekat. Pasukan Tanah Perdikan Sembojan tidak saja terdiri dari para pengawal yang dikumpulkan dari semua padukuhan, tetapi juga bekas para pengawal dan bahkan semua laki-laki yang meskipun usianya sudah menjadi semakin tua, namun mereka masih mampu bermain dengan senjata. Hanya sebagian kecil saja diantara mereka yang ditinggalkan di setiap padukuhan sekedar untuk mengamati keadaan dan membunyikan isyarat jika keadaan memaksa, sehingga bantuan dari padukuhan-padukuhan terdekat akan berdatangan.

Bagi Tanah Perdikan Sembojan, menunggu lawan di bawah bukit itu adalah cara yang terbaik dapat mereka lakukan. Selain mampu mengerahkan tenaga lebih banyak, maka kerusakan di padukuhan induk akan dapat dihindari. Namun demikian, para pemimpin Tanah Perdikan sudah mempersiapkan perempuan dan anak-anak untuk mengungsi apabila perlu.

Ketika kedua pasukan itu semakin dekat, maka ternyata bahwa orang-orang didalam pasukan Tanah Perdikan Sembojan lebih banyak jumlahnya dari pasukan orang- orang dibalik bukit. Namun merekapun menyadari bahwa orang-orang dari balik bukit itu adalah gabungan dari orang-orang yang kecewa, penuh kebencian dan dendam serta dibekali dengan pengalaman yang sangat luas tanpa merasa bertanggung jawab atas segala tingkah lakunya dihari-hari yang abadi.

Tangan dan senjata mereka dihari-hari yang lewat memang telah menjadi merah oleh darah. Dan hati merekapun telah dibasahi oleh air mata dari keluarga mere ka yang terbunuh. Namun mereka tidak pernah merasa kulitnya meremang.

Namun dalam pada itu, para pengawal, anak-anak muda dan semua laki-laki yang berada didalam pasukan Tanah Perdikan telah meyakini apa yang mereka lakukan. Mereka memang tidak mempunyai pilihan lain, sehingga dengan demikian, maka mereka sama sekali tidak merasa gentar atas apa yang mereka hadapi. Namun mereka tidak ingin menyerahkan kampung halaman mereka ketangan-tangan orang yang tidak berhak.

Ketika kedua pasukan itu menjadi semakin dekat, maka terdengar suitan nyaring. Ki Rangga telah memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk bersiaga sepenuhnya. Kedua pasukan itu akan segera bertemu dan bertempur.

Beberapa orang didalam pasukan Ki Rangga itu justru tertawa. Mereka melihat orang-orang Tanah Perdikan itu bagaikan melihat batang ilalang. Senjata yang mencuat diatas kepala mereka, dalam cahaya bulan nampak bagaikan gelagah ilalang yang mekar keputih-putihan.

“Kita akan segera menebas ilalang,“ berkata salah seorang pengikut Kala Sembung.

“Senjataku akan puas minum darah orang -orang dungu itu. Mereka mengira bahwa mereka akan dapat mengimbangi kemampuan kita. Meskipun jumlah mereka lebih banyak, tetapi sama sekali tidak berarti bagi kita. Semakin banyak mereka turun ke arena, maka semakin menarik bagi kita,“ sahut yang lain.

Tetapi pemimpin kelompoknya yang mendengar menyahut, “jangan lengah. Mereka adalah pengawal - pengawal yang terlatih.”

Namun yang terdengar adalah suara tertawa berkepanjangan.

Sementara itu, para pemimpin dari kedua pasukan memang berada diinduk pasukan. Kecuali dipasukanTanah Perdikan, Sambi Wulung dan Jati Wulung berada diujung sayap kiri dan kanan. Mereka bukan saja memimpin kedua sayap itu, tetapi mereka harus merintis keduanya juga mendapat tugas untuk mengawasi sayap-sayap lawan, agar tidak dengan licik meninggalkan arena dan menyerang padukuhan-padukuhan terdekat untuk sekedar menumpahkan kemarahan dan dendam. Meskipun padukuhan-padukuhan terdekat sudah dikosongkan karena perempuan dan anak-anak sudah disingkirkan ke padukuhan-padukuhan lain.

Warsi rasa-rasanya sudah tidak sabar lagi. Ia yakin bahwa Iswari berada di antara para pemimpin Tanah Perdikan itu. Sehingga rasa-rasanya ia ingin segera meloncat menerkamnya.

Namun dalam kegelisahan itu ia menggeram, “Apakah iblis betina itu berani keluar dan turun di arena ini?”

“Ia tentu akan datang,“ sahut Ki Rangga.

“Aku kira perempuan cantik itu hanya dapat men unggu. Tetapi ternyata ia mempunyai keberanian juga untuk keluar dari sarangnya,“ berkata Warsi sambil menengadahkan kepalanya. Seakan-akan ia sedang mencari perempuan yang disebut-sebutnya itu diantara seleret pasukan yang bergerak maju itu.

Di pihak lain, Iswaripun telah bersiap sepenuhnya untuk menghadapi segala kemungkinan. Ia telah berada pada tataran tertinggi dari ilmu yang dikuasainya. Sementara itu, ternyata Bibi telah berhasil membantunya, membuka simpul-simpul syarafnya yang masih tertutup sehingga dengan demikian, maka tingkat ilmunya seakan-akan menjadi semakin tinggi. Tubuhnya menjadi semakin mudah dikuasainya dan kehendaknyapun telah menyatu dengan setiap unsur pada tubuhnya itu.

Disebelah menyebelah gurunya selalu mendampinginya.

Apalagi dalam keadaan yang keras dan gawat. Untuk menghadapi Warsi, maka ketiga gurunya tidak begitu mencemaskannya lagi, meskipun segala kemungkinan dapat terjadi. Warsipun tentu sudah berusaha meningkatkan ilmunya pula untuk menghadapi Iswari pada hari yang telah ditunggunya itu. Namun Iswaripun telah bersiap. Tetapi jika di samping Warsi ada Ki Randu Keling dan barangkali satu dua orang kawannya, maka orang- orang tua itu memang diperlukan.

Ketika kedua pasukan itu menjadi semakin dekat, maka para pemimpin dari kedua belah pihakpun telah memberikan pertanda. Sambi Wulung dan Jati Wulung yang berada diujung sayap, sekaligus memimpin sayap- sayap itu telah memberikan isyarat pula kepada para pengawal. Sementara itu, pemimpin pasukan pengawal yang memimpin induk pasukan telah memberikan pertanda pula, bukan saja kepada para pengawal di induk pasukan, tetapi juga yang berada di sayap dengan bunyi kentongan. Demikianlah, maka senjatapun telah mulai merunduk.

Orang-orang Tanah Perdikan yang pernah mendapat tuntunan perang dalam gelar telah menyesuaikan dirinya dengan gelar yang mapan. Namun jika keadaan memaksa, maka merekapun telah berlatih untuk bertempur secara pribadi.

Seperti yang diperintahkan, maka orang-orang Tanah Perdikan itu tidak menunggu. Tetapi sebelum lawannya mendahului, maka dengan irama tertentu, pemimpin pengawal itu telah memerintahkan pasukannya menyerang.

Dengan cepat pasukan Tanah Perdikan itu telah bergerak maju. Ujung sayap pasukan Tanah Perdikan yang mempergunakan gelar Wulan Tumanggal itu terdiri dari para pengawal terpilih meskipun jumlah mereka tidak terlalu banyak. Dibawah pimpinan Sarribi Wulung dan Jati Wulung disebelah-menyebelah maka ujung sayap pasukan itu harus berusaha secepat-cepatnya menusuk ke sayap lawan. Sementara itu, di induk pasukan, orang-orang terpilih memang berada di paling depan. Sedangkan bekas penwal yang telah menjadi semakin tua, namun masih memiliki kekuatan dan kemampuan yang memadai akan berada dilapisan berikutnya. Mereka adalah orang-orang yang berpengalaman meskipun kekuatannya tidak lagi sedahsyat diusia mudanya. Sedangkan dilapisan berikutnya adalah anak-anak muda Tanah Perdikan yang meskipun bukan pengawal yang terpilih, tetapi merekapun telah mendapat tuntunan olah kanuragan cukup memadai.

Namun diantara mereka terdapat juga justru orang-orang terpilih, karena hanya orang-orang berilmu sajalah yang akan dapat menyusup lapisan-lapisan sebelumnya hingga sampai lapisan anak-anak muda itu.

Dengan susunan yang telah diperhitungkan dengan masak oleh para pemimpin Tanah Perdikan itu, maka pasukannya dalam gelar Wulan Tumanggal telah bergerak dengan cepat menyerang pasukan lawan yang menebar meskipun tidak berujud gelar.

Namun dalam pada itu, para pemimpin dari pasukan yang datang dari balik bukit itupun telah pula maju dengan cepat. Mereka justru telah berlari-lari dan berteriak-teriak dengan kasarnya. Bahkan ada yang mengumpat-umpat dengan kata-kata kotor dan tidak pantas diucapkan oleh mulut seseorang yang mengenal sedikit unggah-ungguh.

Iswari memang terkejut mendengarnya. Ia tidak menduga, bahwa ia akan mendengar kata-kata kotor dan sangat kasar itu. Namun ia segera mampu menguasai perasaannya. Apalagi ketika ia melihat ujung senjata di kilatan cahaya bulan.

Sejenak kemudian kedua pasukan itu telah berbenturan.

Senjatapun mulai beradu. Hentakan pada benturan pertama telah menguji kemampuan pasukan dari kedua belah pihak.

Pada pasukan Tanah Perdikan, maka orang-orang yang berada di lapisan pertama tidak sekedar mempergunakan keberanian dan kemampuan mereka. Tetapi mereka juga mempergunakan penalaran mereka. Sekali-sekali lapisan pertama itu memang menguak sehingga beberapa orang lawan menyusup masuk. Namun pada lapisan kedua orang- orang itu terkejut. Di lapisan kedua ujung ujung senjata dari orang-orang yang berpengalaman telah menunggu mereka.

Orang-orang dilapisan kedualah yang harus bertahan. Mereka berusaha agar tidak ada orang yang menyusup kebelakang mereka. Setidak-tidaknya mereka berusaha untuk membatasi orang-orang yang menyusup ke lapisan ketiga sekecil mungkin, meskipun dilapisan ketiga itu terdapat juga orang-orang pilihan. Namun sebagian besar mereka adalah anak-anak muda Tanah Perdikan yang dengan suka rela ikut mempertahankan kampung halaman mereka dari orang-orang yang bukan seharusnya menguasainya.

Sejenak kemudian, maka disepanjang tebaran pasukan kedua belah pihak itu, telah terjadi pertempuran yang sengit.

Namun dalam pada itu, pemimpin dari kedua belah pihak justru tidak segera dapat bertemu. Ketika kedua pasukan itu maju dengan cepat menjelang benturan terjadi, maka pasukan itu justru telah mendahului para pemimpin dari kedua belah pihak.

Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan memang merasa terganggu oleh teriakan-teriakan dan umpatan-umpatan kasar dari orang-orang yang terutama dipimpin oleh Kala Sembung. Karena itu, maka seorang diantara para pengawal Tanah Perdikan itu justru berteriak nyaring, “Hentikan teriakan -teriakan kasar dan kotor itu.”

Ternyata untuk mengimbangi teriakan-teriakan yang menyakiti telinga itu, orang-orang Tanah Perdikanpun telah berteriak pula, “Hentikan mereka. Hentikan mereka.”

Jati Wulunglah yang berada disayap yang kebetulan berhadapan dengan sayap yang dipimpin oleh Kala Sembung itu. Karena itu, maka kemarahannyapun segera telah membakar jantungnya.

Namun sebagai seorang yang telah berpengalaman, maka Jati Wulung tidak segera kehilangan penalaran. Betapapun marahnya, namun ia masih mampu membuat perhitungan-perhitungan yang mapan, sehingga Jati Wulung masih dapat melakukan langkah yang terbaik bagi pasukan diujung sayap itu.

Namun ternyata bahwa Jati Wulungpun tidak segera bertemu dengan Ki Kala Sembung. Karena itu, untuk beberapa saat lamanya, Jati Wulung harus bertempur dengan orang-orang yang kasar dan kadang-kadang justru menjadi liar.

Tetapi sesuai dengan tugasnya, bersama beberapa orang terpilih di sayap itu, Jati Wulung harus menusuk masuk kedalam pasukan lawan. Ujung-ujung gelar Wulan Tumanggal itu akan menghunjam dalam-dalam, dan menghancurkan kekuatan lawan didalam pasukan lawan itu sendiri. Jika tugas itu dikedua sayap berhasil, maka pada saatnya gelar Wulan Tumanggal itu akan berkerut dan bidang gerak lawanpun akan menjadi semakin sempit sejalan dengan susutnya kekuatan mereka.

Tetapi menghadapi lawan yang tidak mengenal gelar dan bertempur dan kasar dan liar, maka Jati Wulung memang agak menemui kesulitan. Namun demikian, hal yang terjadi itu sebelumnya memang sudah diduganya sehingga serba sedikit sudah diberitahukan kepada pasukannya.

Namun, bagaimanapun juga lawan yang dihadapi, Jati Wulung tidak berkisar dari rencana yang telah disepakati. Karena itu maka Jati Wulung dan beberapa orang terpilih benar-benar telah merintis jalan memasuki jantung sayap pasukan lawan.

Namun Jati Wulung memang terhambat ketika ia mendapat laporan bahwa pimpinan sayap lawan itu ada di tengah-tengah benturan kedua sayap itu. Karena itu maka Jati Wulungpun telah mengatur orang- orangnya. Orang-orang terpilih itu harus meneruskan usahanya untuk menusuk pasukan lawan yang kasar dan liar itu. Sementara Jati Wulung akan menemui pemimpin sayap lawan itu.

“Jangan terpengaruh oleh sikap mereka yang kasar itu. Kalian sedang bertempur. Karena itu, maka yang penting, perhatikan kemampuan tempur mereka. Mereka tidak akan dapat membunuh kalian dengan mulut mereka. Dengan umpatan-umpatan kasar atau dengan sikap yang menakutnya. Mereka akan membunuh kalian dengan senjata mereka. Karena itu perhatikan saja senjata mereka.“ pesan Jati Wulung kepada para pengawal.

Para pengawal itupun kemudian telah berusaha dengan kemampuan mereka tanpa Jati Wulung yang harus bertempur melawan pimpinan sayap lawan. Namun pesan Jati Wulung itu ternyata sangat berarti bagi mereka.

Dengan hanya memperhatikan senjata lawan, maka para pengawal itu tidak terlalu terpengaruh oleh kekasaran dan keliaran mereka. Serta tiak terlalu terganggu oleh ucapan- ucapan dan umpatan-umpatan kotor yang tidak pantas.

Para pengawal terpilih itu ternyata memang mempunyai kemampuan yang cukup untuk melakukan tugasnya.

Diiikuti oleh para pengawal yang lain, orang-orang yang lebih tua, bekas pengawal yang masih memiliki kekuatan cukup untuk bertempur, baru kemudian anak-anak muda, yang berbekal tekad dan, sedikit tuntunan olah kanuragan.

Perlahan-lahan, tetapi pasti, maka ujung sayap itu memang berhasil menusuk masuk kedalam sayap pasukan lawan. Tetapi para pengawal terpilih itupun mengerti, bahwa mereka tidak boleh tergesa-gesa. Mereka harus selalu memperhatikan pasukan yang menyangga kekuatan mereka. Jika jalur itu terputus, maka sekelompok pengawal diujung pasukan itu justru akan terkurung didalam pasukan lawan.

Namun para pengawal Tanah Perdikan itu mampu melakukan tugas mereka dengan baik. Setapak demi setapak mereka maju. Bahkan kadang-kadang mereka harus berhenti untuk memberikan kesempatan pasukan penyangganya maju.

Sementara itu, pangkal sayap itupun telah bertempur dengan garang pula. Mereka berbenturan pada satu garis pertempuran yang sengit, sehingga ternyata bahwa pertempuran di pangkal sayap itu cukup banyak menghisap tenaga. Dengan demikian maka hambatan pada ujung sayap pasukan Tanah Perdikan Sembojan itu rasa-rasanya telah terpengaruh juga oleh pertempuran di pangkal sayap itu. Karena kekuatannya memang terhisap untuk bertahan dari tekanan pasukan Tanah Perdikan yang kuat. Sehingga dengan demikian maka para pengawal terpilih diujung sayap itu tidak menjadi terlalu berat mengatasi hambatan itu.

Dalam pada itu, Kala Sembung memang menjadi marah melihat orang-orang Tanah Perdikan yang membentur kekuatannya. Kebiasaan Kala Sembung dan orang- orangnya adalah menakut-nakuti orang-orang padukuhan. Dengan sekelompok kecil saja dari kekuatan yang ada, Kala Sembung telah dapat menguasai seluruh padukuhan dan merampas harta benda yang ada didalamnya. Dengan tujuh atau delapan orang, seluruh padukuhan telah menjadi ketakutan. Namun saat itu Kala Sembung telah mengerahkan segenap kekuatan yang ada padanya, kemudian sekelompok bekas prajurit Jipang, yang merupakan bagian dari kekuatan Ki Sumbaga. Beberapa kelompok kecil para penghuni sarang-sarang yang kelam dari orang-orang berilmu hitam yang dapat dipengaruhinya. Baik dengan kata-kata maupun dengan ancaman kekuatan, serta beberapa kelompok yang lain yang memiliki sifat yang bersamaan dengan sifat orang-orangnya. Tetapi orang- orang padukuhan yang termasuk lingkungan Tanah Perdikan Sembojan itu sama sekali tidak gentar. Mereka justru telah membentur kekuatannya pada satu perang gelar yang mapan, sebagaimana dilakukan oleh para prajurit.

Kemarahan itu ternyata telah membuat Kala Sembung menjadi semakin garang. Dengan sebuah bindi yang berduri runcing dari pangkal sampai ke ujungnya, maka Kala Sembung bagaikan telah kehilangan akalnya.

Mengamuk tanpa menahan diri sama sekali.

Para pengawal Tanah Perdikan memang menjadi berdebar-debar melihat Kala Sembung yang mengayunkan bindi berputaran seperti angin pusaran. Tidak seorangpun yang berani langsung membentur senjata yang mengerikan itu.

Karena itu, maka para pengawal telah menyusun kekuatan khusus untuk menghadapinya sebelum seorang penghubung berhasil menemukan Jati Wulung untuk memberikan laporan tentang Kala Sembung itu. Jika mungkin Jati Wulung dapat menghadapinya, sedangkan jika ia tidak dapat meninggalkan tempatnya, maka perintahnyalah yang ditunggu sebagai petunjuk untuk mengatasi amuk pemimpin sayap pasukan lawan itu.

Lima orang pengawal telah mengkhususkan diri untuk menghadapi putaran bindi yang dahsyat itu. Namun sekali- sekali orang-orang Kala Sembung itu juga mengganggunya. Berbeda dengan Jati Wulung yang memperhatikan keadaan seluruh sayap pasukan itu, Kala Sembung yang terbiasa bertempur tanpa menghiraukan gelar itu, menyerahkan segala sesuatunya kepada orang-orangnya. Dengan demikian maka Kala Sembung itu dapat berbuat sesuai dengan keinginannya tanpa memperhatikan orang lain yang berbuat sendiri-sendiri.

Ternyata bahwa para pengawal yang menghadapi Kala Sembung itu mendapat kesulitan. Pedang-pedang mereka tidak akan mampu membentur bindi bergerigi tajam itu, jika mereka tidak ingin pedang mereka terlepas. Ternyata kekuatan Kala Sembung itu sedemikian besarnya sehingga tidak akan mungkin ditahan.

Karena itulah, meskipun para pengawal telah menyiapkan satu kelompok khusus, namun kelompok yang khusus itu setiap kali telah terdesak, sehingga mempengaruhi garis pertahanan seluruh sayap pasukan.

Pada saat yang gawat itu, Jati Wulung yang menyusup diantara pertempuran telah mencapai pangkal sayap. Dari jarak beberapa langkah ia sudah melihat, betapa Kala Sembung mampu menciptakan satu putaran pertempuran yang mengerikan, yang perlahan-lahan mendesak pangkal sayap pasukan Tanah Perdikan Sembojan.

Karena itu, maka Jati Wulungpun telah mempercepat langkahnya mendekati arena yang mendebarkan itu.

Ketika ia muncul diantara kelima pengawal yang khusus menghadapi Kala Sembung itu, maka ia tidak segera memberi isyarat agar para pengawal itu menyingkir. Tetapi Jati Wulung justru telah bertempur diantara mereka. Tetapi sudah barang tentu, bahwa Jati Wulung tidak sekedar memiliki kemampuan sebagaimana para pengawal itu.

Sambil mengayunkan pedangnya Jati Wulung berbisik, “Untuk sementara biarlah kalian tetap disini.”

Para pengawal itu memang tidak meninggalkannya.

Mereka masih saja bertempur melawan Kala Sembung itu.

Tetapi Kala Sembung terkejut ketika sekali-sekali bindinya membentur kekuatan yang terasa lebih besar dari kekuatan para pengawal yang lain. Bahkan ketika satu kali Jati Wulung dengan sengaja menangkis serangan bindi Kala Sembung, maka orang itu telah terkejut bukan kepalang.

Terasa bindinya telah membentur kekuatan yang sangat besar.

“Setan alas,“ Kala Sembung mengumpat, “ada juga diantara kalian yang memiliki kekuatan yang pantas.”

Jati Wulunglah yang menjawab, “Ki Sanak. Apakah kau pemimpin dari sayap pasukanmu ini?”

“Ya,“ jawab Kala Sembung bangga, “aku akan menggilas orang-orang Tanah Perdikan Sembojan, menghancurkan mereka dan kemudian menguasai Tanah Perdikan dengan segala isinya.”

“Bagaimana dengan Warsi?” bertanya Jati Wulung. “Ia adalah pemimpin kami. Ialah yang kelak akan

memimpin Tanah Perdikan ini,“ jawab Kala Sembung. “Dan anak laki -lakinya?“ bertanya Jati Wulung pu la. “Anak itu sudah dipersiapkan untuk berkuasa. Nah, menyerahlah. Kalian akan diampuni. Kalian akan dibunuh dengan cara yang terbaik. Tetapi jika kalian melawan, maka kalian akan mati dengan cara yang paling pahit.”

Jati Wulung tertawa. Sementara itu serangan-serangan Kala Sembungpun menjadi semakin lamban, sehingga seakan-akan telah berhenti sama sekali, meskipun ia sama sekali tidak mengurangi kewaspadaan, bahkan senjatanya masih saja bergerak-gerak dan siap terayun menghantam tubuh lawan.

Disela-sela tertawanya, Jati Wulung bertanya, “jadi itukah ukuran diampuni menurut pengertianmu? Siapa yang dibunuh dengan cara yang baik itulah yang diampuni.

Sedangkan yang tidak diampuni akan mengalami siksaan menjelang kematiannya?”

“Ya. Itulah akibat yang harus kalian perhitungkan bahwa kalian telah berani melawan kehendak kami.“ Kala Sembung itu menggeram.

Tetapi Jati Wulung masih saja tertawa, sehingga Kala Sembung itu membentak, “He, kenapa kau tertawa?

Apakah kau menjadi gila karena ketakutan?”

“Kau memang pandai bergurau,“ jawab Jati Wulung, “Kau selalu mengatakan bahwa kau akan membunuh kami dengan cara apapun. Tetapi kau tidak pernah menyebut cara kematian yang kau ingini.”

“Tutup mulutmu,“ Kala Sembung berteriak. Tetapi iapun kemudian bertanya, “Siapa kau? Apakah kau pemimpin dari sayap pasukan Tanah Perdikan Sembojan ini?” Jati Wulung masih tertawa. Iapun kemudian mengangguk sambil menjawab, “Ya. Aku pemimpin sayap dari pasukan Tanah Perdikan Sembojan. Sudah beberapa lama aku mencarimu. Sekarang kita bertemu. Karena itu, maka kita akan dapat berhadapan sebagai lawan yang tanggon.”

“Bagus,“ geram Kala Sembung, “majulah kalian berenam. Aku akan melakukan tugasku dengan baik. Membunuh kalian dengan cara yang paling pahit karena kalian melawan.”

Jati Wulung telah bergeser. Nampaknya ia memang harus segera mulai. Tetapi tiba-tiba ia justru memberi isyarat kepada kelima orang yang semula bertempur bersamanya agar mereka meninggalkannya.

“Aku akan bertempur seorang melawan seorang,“ berkata Jati Wulung.

Kala Sembunglah yang kemudian tertawa. Katanya, “Kau terlalu sombong.”

“Kita akan melihat, siapakah yang terlalu sombong,“ jawab Jati Wulung.

Demikianlah maka kedua orang itupun segera mempersiapkan diri. Sementara itu, kelima orang pengawal Tanah Perdikan telah bergeser menjauh. Mereka telah bersiap memasuki perang yang semakin sengit.

Ketika kedua pemimpin sayap pasukan itu telah mulai bertempur, maka orang-orang yang berada disekitarnya dari kedua belah pihak mulai menjauh. Mereka tidak lagi merasa perlu melindungi kedua pemimpin mereka yang sedang berbicara, karena mereka justru merasa perlu untuk menghindar. Kedua pemimpin yang berilmu tinggi itu akan menjadi sangat berbahaya bagi mereka, apalagi jika keduanya mengungkapkan ilmu puncak mereka. Jika mereka tidak menguak, maka justru merekalah yang akan mengalami akibat buruk dari serangan-serangan kedua orang pemimpin itu jika keduanya saling mengelakkan diri.

Sebenarnyalah, maka sejenak kemudian, Kala Sembung dan Jati Wulung telah terlibat kedalam pertempuran yang sengit. Bindi yang bergerigi tajam diseluruh batangnya itu terayun-ayun mengerikan. Sementara itu pedang Jati Wulungpun berputaran dengan cepatnya. Namun Jati Wulung menyadari bahwa ayunan bindi yang berat itu tentu didorong oleh kekuatan yang besar serta dorongan kekuatan ayunan itu sendiri, sehingga Jati Wulung tidak berusaha langsung membentur bindi itu jika tidak terpaksa sekali. Tetapi bahwa pedangnya lebih ringan dari bindi itu, memberinya kemungkinan untuk dapat bergerak lebih cepat.

Demikianlah, maka keduanyapun segera terlibat kedalam pertempuran yang semakin meningkat. Apalagi ketika tangan-tangan mereka telah menjadi basah oleh keringat.

Di sayap yang lain, Sambi Wulung harus berhadapan dengan seorang pemimpin padepokan yang nampak lebih bersungguh-sungguh. Ki Ajar Tulak yang menurut rencananya harus memancing kekuatan para pengawal di padukuhan induk untuk berkumpul di pintu gerbang utama, sementara yang lain akan memasuki padukuhan induk itu dari samping.

Namun ternyata bahwa orang-orang Tanah Perdikan telah memaksa pasukan Ki Rangga itu merubah rencana mereka dengan tiba-tiba, karena pasukan Tanah Perdikan telah bergerak maju dan menunggu dibawah bukit.

Dengan wajah yang buram Ki Ajar Tulak yang langsung dapat bertemu dengan Sambi Wulung itu telah berkata, “Ki Sanak. Jangan terlalu bodoh untuk menemuiku di pertempuran seperti ini hanya seorang diri.”

Sambi Wulung mengerutkan keningnya. Ia bergeser setapak surut. Sementara itu pertempuran telah terjadi disekitarnya. Kedua belah pihak telah mengerahkan kekuatan yang ada untuk melumpuhkan lawan.

“Kau harus mempersiapkan sebuah kelompok untuk melawanku. Sedikitnya terdiri dari sepuluh orang. Jika seorang diantara mereka terbunuh, orang lain harus cepat menggantikannya. Kalau tidak, maka sepuluh orang itu akan segera habis dalam waktu sekejap,“ berkata Ki Ajar Tulak.

Sambi Wulung termangu-mangu sejenak. Menurut penglihatannya, orang itu memang seorang yang terlalu yakin akan dirinya sendiri. Namun Sambi Wulung sempat bertanya, “Siapa namamu Ki Sanak?”

Ternyata orang itu tidak ingin bersembunyi. Dengan tegas ia menjawab, “Namaku Ajar Tulak. Orang -orang memanggilku Ki Ajar Tulak.”

“Kau seorang Ajar. Tentu kau memiliki kebijaksanaan yang lebih dari orang-orang kebanyakan,“ berkata Sambi Wulung.

“Apapun yang dikatakan orang tentang seorang Ajar, aku tidak pernah menghiraukannya. Siapa kau?,“ Ki Ajar itu bertanya. “Namaku Sambi Wulung,“ jawab Sambi Wulung yang hampir salah menyebut namanya dengan Wanengbaya.

“Apakah kau seorang pemimpin yang terbaik di Tanah Perdikan ini sehingga kau berani menyongsongku?“ bertanya Ki Ajar.

“Tetapi menurut perhitunganku, kau bukan yang terbaik dipasukanmu. He, apakah kau memiliki ilmu lebih baik dari Ki Rangga Gupita? Dari Warsi atau orang-orang lain di pasukan induk?“ bertanya Sambi Wulung.

“Apakah kau tahu tingkat kemampuan Ki Rangga dan isterinya itu?“ bertanya Ki Ajar.

Sambi Wulung tertawa. Katanya, “Tetapi kami dapat memperhitungkan. He, apakah Warsi itu isteri Ki Rangga.”

“Persetan. Apa urusanmu ? Sekarang kau sajalah yang harus memanfaatkan saat-saat terakhirmu dengan sebaik- baiknya. Sebelum mati adakah kau ingin berbuat sesuatu?“ bertanya Ki Ajar.

“Ya,“ jawab Sambi Wulung. “Apa?“ bertanya Ki Ajar pula.

“Membunuhmu,“ jawab Sambi Wulung, “agakn ya kau memang seorang Ajar yang justru dungu. Kau tidak dapat menilai baik dan buruk. Kesalahan dan kebenaran.

Ketamakan dan berbudi. Agaknya pada suatu saat kau juga tidak akan dapat membedakan lagi, terang dan gelap. He, lihat. Yang dilangit itu matahari atau bulan?” Wajah Ki Ajar menjadi merah. Ia adalah seorang yang sangat disegani oleh orang-orangnya dan bahkan ia merasa bahwa orang-orang lainpun sangat menghormatinya.

Tetapi orang Tanah Perdikan ini telah menghinanya dan memperlakukannya seperti seorang anak kecil.

Karena itu, maka iapun menggeram, “Kau harus dibunuh dengan cara yang khusus karena kau telah menghinaku.”

Sambi Wulung justru tertawa. Katanya, “jangan marah Ki Ajar. Seorang Ajar harus bijaksana, sabar dan berbudi luhur.”

Ki Ajar Tulak itu tidak lagi dapat menahan kemarahannya. Karena itu, maka iapun segera bergeser sambil berdesis, “bersiaplah untuk mati. Kau sudah terlalu banyak berbicara.”

Sambi Wulung masih juga menjawab, “He, apakah kau juga dapat menghisap kekuatan dari cahaya bulan?”

Ki Ajar sudah tidak mau mendengarkan lagi. Ia mulai menyerang dengan garangnya. Tetapi Sambi Wulungpun telah bersiap. Ki Ajar Tulak yang sudah berada di medan itu segera memutar senjatanya. Senjata seorang Ajar yang memiliki ilmu yang tinggi. Sebilah keris yang besar melampui keris kebanyakan. Batangnya yang berkelok dan berwarna kehitam-hitaman memang nampak mendebarkan.

Sementara itu Sambi Wulung telah menggenggam senjatanya pula. Sebilah pedang.

Sejenak kemudian, maka keduanya telah bertempur.

Nampaknya Ki Ajar yang marah itu berusaha untuk dengan cepat mengalahkan bahkan membunuh lawannya. Kerisnya yang mendebarkan itu dengan cepat berputaran. Sekali- sekali terayun mendatar menebas ke arah dada, namun kemudian menyambar leher dan dengan cepat pula mematuk ke arah jantung.

Tetapi Sambi Wulungpun cukup tangkas. Meskipun pedangnya tidak sebaik senjata lawannya, tetapi di tangan Sambi Wulung, maka pedang itupun menjadi sangat berbahaya. Pedang itu berputar bagaikan segulung asap putih yang menyelubungi tubuhnya. Namun kadang-kadang gulungan asap itu berkisar kesebelah kanan dan kiri tubuh Sambi Wulung. Sekali-sekali gulungan asap itu bahkan bagaikan terhembus ke arah tubuh Ki Ajar Tulak.

“Setan alas,“ Ki Ajar itu mengumpat, “ilmu pedangnya luar biasa.”

Sambi Wulung tertawa. Namun gulungan putaran pedangnya itu sama sekali tidak mengendor. Bahkan gulungan putaran pedang itu telah menyambarnya sehingga Ki Ajar terpaksa berloncatan menjauh. Namun dengan tangkas pula Ki Ajar itu telah meloncat dengan kerisnya terjulur lurus mengarah ke lambung, menyusup diantara putaran pedang lawannya.

Sambi Wulung ternyata terus bergeser surut. Ki Ajar-pun memiliki ilmu pedang yang cepat pula, sehingga senjatanya itu mampu menyerang langsung ke arah lambungnya tanpa tersentuh putaran pedangnya.

Dengan demikian maka pertempuran antara kedua pemimpin sayap itu menjadi semakin sengit. Keduanya mampu menguasai senjata masing-masing dengan baik. Ilmu pedang mereka adalah ilmu pedang pada tataran tertinggi, sehingga untuk kebanyakan orang, pertempuran itu sulit dipahami. Sementara itu, orang-orang yang berada disayap itu-pun telah mengerahkah segenap kemampuan mereka pula. Baik para pengawal dari Tanah Perdikan, maupun orang-orang dari balik bukit. Namun ternyata orang-orang dari balik bukit itu telah salah menilai. Ternyata para pengawal Tanah Perdikan yang masih muda itupun memiliki kemampuan seorang prajurit yang tangguh. Sementara itu, yang lebih tua, telah memiliki pengalaman yang panjang. Termasuk perang yang serupa disekitar sepuluh tahun yang lalu ketika Ki Rangga dan Warsi mencoba menguasai Tanah Perdikan itu sebagaimana mereka lakukan sekarang.

Dengan demikian maka para pengawal Tanah Perdikan itupun tidak terlalu mudah untuk didesak. Meskipun diantara mereka ada pula anak-anak muda yang baru mengenal olah kanuragan pada tataran yang permulaan, namun disebelah menyebelah adalah kawan-kawan mereka yang lebih banyak menarik perhatian lawan. Apalagi anak- anak muda itu telah mendapat beberapa pesan, agar mereka bergerak berpasangan.

Dengan demikian maka pertempuran disayap kanan itu memang menjadi semakin sengit. Orang-orang dari balik bukit semakin lama menjadi semakin keras dan kasar.

Tetapi para pengawal Tanah Perdikan sama sekali tidak menjadi gentar. Apalagi para pengawal yang telah berpengalaman. Mereka sudah sering mengalami pertempuran dengan cara yang demikian. Namun justru karena itu, maka mereka harus tetap menyadari kedudukan mereka di medan. Mereka tidak boleh kehilangan akal, sehingga tidak mampu lagi mempergunakan penalaran mereka.

Sementara itu, Ki Ajar Tulak mulai menyadari, bahwa lawannya yang bernama Sambi Wulung itu bukan hanya seorang yang pandai membual. Ternyata dalam benturan- benturan senjata selanjutnya. Sambi Wulung benar-benar menunjukkan kemampuannya bermain pedang. Bahkan iapun ternyata memiliki kekuatan yang cukup besar.

Namun dengan demikian, Ki Ajar menjadi semakin berhati-hati. Ia tidak lagi dengan tergesa-gesa ingin mengakhiri pertempuran itu. Karena ia sadar, jika demikian maka mungkin ia sendiri yang akan terjerat kedalam kesulitan.

Sementara itu Sambi Wulung masih berusaha untuk menilai bukan saja lawannya. Tetapi seluruh medan di sayap itu. Sekali-sekali ia memang mencari kesempatan untuk memperhatikan pertempuran disebelah-menyebelah. Namun menurut penilaiannya, para pengawal Tanah Perdikan tidak terlalu banyak mengalami kesulitan meskipun lawannya bertempur dengan garangnya. Bahkan kasar dan liar.

Ki Ajar sendiri memang bertempur dengan keras. Tetapi ia masih menunjukkan sikap seorang yang memiliki harga diri yang tinggi. Ki Ajar tidak mau merendahkan dirinya dengan keliaran sebagaimana dilakukan oleh orang- orangnya.

Dalam pada itu, pertempuran di induk pasukanpun terjadi dengan sengitnya pula, Ki Sumbaga memiliki kemampuan untuk bertempur dalam gelar. Meskipun ia tidak mempersiapkan gelar untuk menghadapi orang-orang Tanah Perdikan, tetapi ternyata bahwa ia mampu dengan aba-aba mengatur orang-orangnya.

Yang menjadi sangat garang justru Warsi yang merasa bahwa dirinya telah dipenuhi oleh kekuatan cahaya bulan. Karena itu, maka Warsi itu telah bergerak dengan garangnya. Ia tidak terikat menghadapi seorang lawan. Tetapi ia meloncat-loncat dari satu tempat ke tempat lain.

Orang-orang Tanah Perdikan memang tergetar melihat sikapnya. Setiap tempat yang disinggahinya, maka korban akan jatuh.

Demikian Ki Rangga Gupitapun telah mengamuk bagaikan harimau yang terluka. Sebagai seorang yang berilmu tinggi, maka orang-orang Tanah Perdikan Sembojan mengalami kesulitan untuk menghadapinya. Karena itu, dengan naluri seorang prajurit, orang-orang Tanah Perdikan itu menghadapinya berpasangan. Bahkan tidak hanya berdua, tetapi bertiga atau bahkan berempat.

Sementara itu, kelompok-kelompok yang memang sudah dipersiapkan oleh orang-orang dari balik bukit itupun mulai bergerak. Oleh beberapa orang penghubung mereka telah dibawa menghadapi orang-orang tua dari Tanah Perdikan Sembojan.

Oleh kemampuan Ki Sumbaga mengatur orang- orangnya, maka tiba-tiba saja Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka telah dikurung oleh sekelompok orang yang telah dipersiapkan. Demikian pula Iswari.

Demikianlah maka pertempuran di pasukan induk itupun menjadi semakin sengit. Warsi dengan sengaja memang tidak segera berusaha menemui Iswari. Ketika ia berada di medan, maka tiba-tiba saja ingin memanaskan darahnya lebih dahulu dengan membunuh lawan sebanyak- banyaknya.

Ternyata yang dilakukan oleh Warsi itu tidak dilakukan oleh para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan. Mereka sama sekali tidak mempunyai niat sebagaimana dilakukan oleh Warsi. Karena itu, maka para pemimpin Tanah Perdikan itupun bertempur dengan sikap seorang Senapati.

Meskipun didalam peperangan mereka tidak mempunyai pilihan lain daripada menyingkirkan lawan-lawannya, tetapi dada mereka tidak dibakar oleh nafsu yang tidak terkendali. Orang-orang Tanah Perdikan masih mengendalikan diri menghindari kematian sejauh dapat dilakukan, meskipun merekapun berusaha untuk menghentikan perlawanan lawan-lawannya.

Namun akhirnya laporan tentang tingkah laku Warsi dan Ki Rangga itu sampai juga ketelinga Iswari. Ketika seorang penghubung dengan susah payah menerobos kepungan dan bertempur disisi Iswari sambil berkata, “Setan betina itu ada disisi kanan induk pasukan ini. Sementara itu, Ki Rangga bertempur tidak jauh daripadanya.”

“Ap akah mereka memimpin induk pasukan ini?“ bertanya Iswari. Sambil bertempur.

“Tidak. Orang lain memimpin pasukan induk ini,“ jawab penghubung itu.

Iswari terdiam sejenak. Sementara penghubung itupun melaporkan bahaya yang gawat, yang ditimbulkan oleh Warsi dan Ki Rangga yang sama sekali tidak mengekang diri.

Iswari mengangguk kecil. Sambil bertempur ia berkata, “Bawa aku menemui mereka.”

“Bagaimana dengan orang -orang ini?“ bertanya penghubung itu. Iswari tidak menjawab. Namun dengan kemampuannya yang sangat tinggi, maka sepasang pedangnya tiba-tiba saja berputar semakin cepat, Beberapa orang yang mengepungnya tiba-tiba terdorong surut. Dua orang kehilangan pedangnya, sementara seorang yang lain mengaduh kesakitan karena dadanya tergores tajamnya senjata. Ketika dua orang lagi menyerang bersama-sama, maka keduanyapun harus berloncatan mundur. Seorang diantaranya pundaknya telah tertusuk ujung senjata Iswari. Sedang yang lain senjatanya telah terlempar. Namun hampir tidak dengan sengaja, bahwa penghubung yang bertempur disebelah Iswari itu telah mengacukan pedangnya lurus kedada orang itu.

“Kenapa kau bunuh orang itu?“ bertanya Iswari.

“Aku tidak sengaja membunuhnya,“ jawab penghubung itu.

Iswari tidak menjawab lagi. Iapun kemudian dengan sepasang pedangnya menyibak pertempuran itu. Namun ia sempat memberikan isyarat kepada orang-orang tua yang juga bertempur dalam kepungan, bahwa ia akan menemui Warsi disisi kanan induk pasukan.

Kiai Badra yang mengetahui bahwa Warsi datang bersama Ki Rangga tidak ingin membiarkan Iswari pergi sendiri. Sementara Kiai Soka dan Nyai Sokapun ingin melihat, apa yang akan terjadi dengan murid mereka itu.

Karena itu, maka sambil bertempur merekapun telah bergeser pula. Orang-orang yang telah disusun dalam kelompok-kelompok tertentu berusaha untuk menahan mereka. Tetapi meskipun kelompok-kelompok itu terdiri dari orang-orang pilihan, namun Kiai Badra, Kiai Soka dan Nyai Soka tidak mengalami kesulitan sama sekali untuk bergeser mengikuti Iswari.

Kelompok-kelompok yang sudah dipersiapkan itu, memang berusaha untuk mencegah orang-orang terpenting dari Tanah Perdikan itu. Namun mereka tidak berdaya untuk melakukannya. Bahkan ketika orang-orang itu menjadi semakin keras bertempur, maka satu persatu mereka terpelanting dari medan, sehingga orang-orang baru telah tampil untuk menggantikannya. Bahkan kelompok-kelompok itu menjadi semakin besar. Tetapi bagi orang-orang tua itu, semakin banyak jumlah orang yang mengepung mereka, bukan berarti semakin sulit bagi mereka. Kecuali mereka memang berilmu tinggi, tetapi para pengawal Tanah Perdikanpun tidak membiarkan hal itu terjadi. Karena orang-orang dari balik bukit itu semakin banyak yang mengerumuni orang-orang tua dari Tanah Perdikan, maka para pengawalpun semakin banyak mendapat kesempatan untuk memecah kepungan itu, karena mereka telah kehilangan lawan.

Sementara itu, di medan perang yang semakin sengit itu, para pengawal Tanah Perdikan Sembojan telah mempergunakan akal mereka pula. Dalam gelar Wulan Punanggal itu, para pengawal yang berada di pasukan induk itu telah mempergunakan anak gelar pula. Gelar Jurang Grawah.

Ketika orang-orang dari balik bulkit dengan marah dan mengerahkan segenap kemampuan nereka, maka para pengawal dilapisan pertama telah menyibak, sehingga orang-orang itu menganggap mereka telah berhasil menguakkan pasukan induk dari Tanah Perdikan itu.

Tetapi demikian mereka memasuki lapisan berikutnya, maka para pengawal di lapisan pertama itu telah mengatup kembali, sementara para pengawal yang telah berpengalaman di lapisan kedua dengan cepat mengambil alih orang-orang yang terjerumus masuk itu.

Dengan demikian maka beberapa kali orang-orang dari balik bukit itu terjebak juga. Jika mereka dengan garangnya berhasil menembus pertahanan di lapisan kedua, maka mereka masih harus berhadapan dengan anak-anak muda dari Tanah Perdikan dilapisan ketiga yang bertempur berpasangan. Bahkan ada diantara mereka orang-orang yang justru terpilih, sehingga orang-orang dari balik bukit itu akan kehabisan kesempatan untuk mempertahankan dirinya.

Ketika satu dua orang diantara mereka dilepaskan oleh lapisan terakhir, maka mereka justru merasa terkurung dibelakang gelar dari Tanah Perdikan itu. Sehingga ketika beberapa orang pengawal mendekatinya, maka dengan gemetar mereka telah melemparkan senjatanya dan menyerah.

Untuk menjaga segala kemungkinan, maka para pengawal Tanah Perdikan itu telah mengikat tangan dan kaki orang-orang yang menyerah dan meletakkan mereka dipematang. Beberapa orang duduk berjajar tanpa dapat menyingkir dari basahnya lumpur. Bahkan beberapa orang menjadi kebingungan karena semut-semut merah telah menggigit kulit mereka. Tetapi ikatan pada tangan dan kaki mereka sama sekali tidak akan dilepas.

Beberapa orang pengawal dan anak-anak muda telah mendapat tugas untuk menjaga para tawanan itu, sementara perang masih berlangsung dengan garangnya.

Untuk beberapa saat lamanya, garis perang itu masih belum bergeser dari tempatnya. Ujung-ujung gelar Wulan Punanggal itu masih belum pula berhasil meremas pasukan lawan dengan kemampuan pasukan di sayap-sayapnya.

Ternyata bahwa orang-orang dari balik bukit yang memiliki pengalaman yang keras dan kasar serta tangan yang memang sudah direndam didalam darah itu, tidak mudah ditundukkan.

Sementara itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung yang memimpin pasukan pada sayap gelar, telah berusaha untuk dengan cepat menyelasaikan lawan-lawan mereka.

Keduanya masih terbatas pada kemampuan ilmu pedang mereka yang didukung oleh tenaga cadangan yang semakin besar.

Namun ternyata bahwa lawan-lawan merekapun memiliki kemampuan yang tinggi dan kekuatan yang sangat besar. Merekapun ternyata begitu akrab dengan senjata mereka, sehingga seakan-akan anggauta badan mereka sendiri.

Pertempuran di kedua sayap itupun menjadi semakin sengit. Karena orang-orang dari balik bukit itu tidak mempergunakan gelar yang mapan, maka mereka seakan- akan justru mempergunakan gelar Emprit Neba. Namun di induk pasukan gelar itu ternyata telah merugikan mereka sendiri, karena para pengawal dari Tanah Perdikan Sembojan di induk pasukan justru mempergunakan anak gelar Jurang Grawah.

Orang-orang dari balik bukit, terutama yang berada disayap yang dipimpin oleh Ki Kala Sembung, ternyata telah membentur kekuatan yang tidak diduganya. Orang-orang kasar yang memiliki pengalaman yang sangat luas, serta dapat membunuh lawannya dengan jantung yang sama sekali tidak berdebar itu, menjadi semakin marah karena orang-orang Tanah Perdikan tidak dapat diper-lakukan seperti orang-orang padukuhan yang pernah mereka rampok sebelumnya. Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan tidak menjadi ketakutan dan gemetar. Bahkan mereka sempat mengangkat wajah mereka sambil menepuk dada dan berkata lantang, “Inilah para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Sedumuk bathuk, senyari bumi, taruhannya mati.”

Orang-orang dari balik bukit itu menggeram. Mereka mengumpat dan memaki dengan kata-kata kotor. Namun orang-orang Tanah Perdikan itupun telah berteriak pula untuk mengatasi kegelisahan mereka mendengar kata-kata kotor, “Memakilah. Makianmu tidak akan dapat membunuhku. Jika kau merasa puas memaki-maki sebelum mati, lakukanlah.”

Orang-orang kasar itu menjadi semakin marah. Namun semakin mereka menjadi marah, maka merekapun menjadi semakin liar dan buas. Tetapi juga mereka menjadi semakin bermata gelap sehingga mereka tidak sempat mempergunakan otak mereka lagi. Sehingga dengan demikian maka mereka tidak lagi membuat perhitungan- perhitungan yang mapan. Mereka bertempur asal saja mempergunakan kekuatan dan kemampuan mereka tanpa akal dan penalaran.

Para pengawal Tanah Perdikan memang sudah mendapat pesan sebelumnya, bahwa mungkin sekali mereka akan berhadapan dengan orang sebagaimana dihadapinya itu. Karena itu, mereka sudah mempersiapkan diri mereka baik-baik. Bahkan mereka sudah mempersiapkan perlawanan yang paling baik menghadapi orang-orang yang bagaikan menjadi mabuk itu.

Dalam pada itu, Iswari yang bergeser perlahan-lahan sambil menyibak pertempuran yang sengit diinduk pasukan, memang menjadi semakin dekat dengan lingkaran pertempuran antara Warsi dengan sekelompok pengawal. Karena itu, maka ia mulai melihat kegelisahan pada pasukannya. Nampaknya Warsi masih saja berbuat kasar dan keras.

Ketika orang-orang Tanah Perdikan ini melihat kehadiran Iswari, maka tiba-tiba saja dengan serta merta orang-orang Tanah Perdikan itu telah bersorak. Mereka yang mengalami tekanan oleh kekasaran dan kekerasan sikap Warsi, merasa bahwa seorang pelindung telah datang,

Orang-orang dari balik bukit itu terkejut. Sorak yang bagaikan hendak meruntuhkan langit itu telah menggetarkan jantung mereka. Karena sesuatu tentu telah terjadi.

Baru kemudian mereka menyadari, bahwa Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan telah hadir di arena pertempuran itu.

Iswari bergeser terus. Yang mula-mula ditemuinya adalah justru putaran pertempuran melawan Ki Rangga Gupita. Menurut perhitungan Iswari, agaknya Warsi tentu lebih berbahaya dari Ki Rangga. Karena itu, maka Iswari itupun telah meninggalkan Ki Rangga untuk mencari Warsi.

Ternyata jarak mereka memang tidak terlalu jauh.

Sebentar kemudian, maka orang-orang diseputar Warsilah yang bersorak kegirangan. Rasa-rasanya, nyawa mereka yang sudah berada diujung ubun-ubun itu telah mantap kembali didalam tubuh mereka.

Iswari dengan jantung yang berdebaran mendapat laporan dari seorang penghubung yang lain yang mengikuti terus tingkah laku Warsi. Beberapa orang memang sudah terbunuh dan terluka, sehingga mereka telah diangkat dan disingkirkan keluar arena.

“Jika Nyi Wiradana tidak segera datang, maka di putaran pertempuran ini, orang-orang kita akan dilumatkan.

Pasukan kita tentu akan koyak dan gelar Wulan Punanggal ini akan kehilangan arti,“ berkata penghubung itu.

Iswari mengangguk-angguk. Hampir diluar sadarnya ia telah mengangkat wajahnya. Dilihatnya bulan yang bulat memancar dilangit yang bersih.

Tetapi Iswari itupun telah mengatupkan giginya rapat- rapat. Ia tidak percaya bahwa cahaya bulan itu akan dapat membuat seseorang semakin tinggi tingkat ilmunya selain sebagaimana pernah dikatakan oleh gurunya, bahwa pengaruhnya justru ada dalam sikap kajiwan. Kepercayaan dan keyakinan yang mendalam akan membuat seseorang berjiwa teguh dan penuh harapan.

Agaknya Warsipun akan bersikap demikian. Justru dibawah siraman cahaya bulan yang penuh.

Beberapa saat kemudian, maka Iswari telah melihat, bagaimana kekasaran Warsi di medan itu. Ia mulai melihat orang-orang Tanah Perdikan harus memeras kemampuannya dalam kelompok yang cukup besar untuk menahan agar Warsi tidak berloncatan di medan pertempuran itu sambil menyebarkan maut. Untuk menahan kebebasan geraknya, maka beberapa orang pengawal telah berusaha untuk menahannya dengan senjata bertangkai panjang dari beberapa arah. Namun tidak seorangpun diantara mereka yang mampu menyentuh tubuhnya. Apalagi ketika Warsi kemudian telah mempergunakan senjatanya yang mendebarkan. Seutas rantai yang kadang- kadang terjulur panjang, namun kadang-kadang rantai itu digulungnya, sehingga juntainya hanya pendek saja.

Namun juntai yang pendek itu di tangan Warsi justru menjadi sangat berbahaya, karena rantai itu seakan-akan dapat berubah menjadi tongkat baja yang kuat yang bukan saja dapat dipergunakan untuk menebas, tetapi juga untuk menusuk.

Ketika Iswari mendekati lingkaran pertempuran itu, tiba- tiba saja debar jantungnya serasa semakin cepat. Ia mulai dibayangi oleh perasaannya sendiri. Seolah-olah beberapa orang di medan itu telah memandanginya dengan bibir yang mencibir. Seolah-olah beberapa orang tidak yakin, bahwa ia telah menempatkan dirinya untuk melawan Warsi itu karena tanggung jawabnya atas Tanah Perdikan Sembojan. Namun menurut perasaan Iswari, ada saja orang yang menganggapnya Iswari bertempur menghadapi Warsi karena sakit hati, bahwa suaminya telah diambil oleh perempuan itu. Seolah-olah yang dilakukan Iswari itu adalah persoalan antara dua orang perempuan yang pernah dimadu oleh Ki Wiradana, sehingga kesempatan itu tidak lebih dari kesempatan melepaskan dendam seorang yang kehilangan suaminya.

Iswari terkejut ketika ia mendengar teriak kesakitan. Seorang pengawal telah terlempar dari arena sehingga terguling beberapa kali, justru jatuh dikaki pengikut Warsi.

Iswari terkejut melihat pengikut Warsi itu masih juga mengangkat senjata untuk membunuh orang yang sudah tidak berdaya itu.

Adalah diluar sadarnya, bahwa dengan kecepatan seekor burung sikatan, Iswari meloncat dan ujung pedangnya tiba- tiba telah mengoyak pundak orang yang akan membunuh lawan yang sudah tidak berdaya itu.

Baru kemudian, dua orang Tanah Perdikan sempat berlari mendekat menolong orang yang terluka oleh ujung rantai Warsi itu. Namun seorang dari orang-orang yang menyerang Tanah Perdikan itupun jatuh berguling-guling sambil menahan sakit, karena pundaknya yang koyak.

Dengan demikian maka Iswaripun semakin menyadari, apa yang telah terjadi disekitar Warsi. Karena itu, maka iapun telah bertekad untuk segera memasuki arena pertempuran melawan perempuan iblis itu.

Orang-orang Tanah Perdikan yang melihatnya telah bersorak lagi, sementara mereka menyibak memberikan jalan kepada Iswari untuk memasuki arena, sementara yang lain berusaha menahan orang-orang dari balik bukit yang ingin menyerang Iswari itu.

“Kau anak manis “ tiba -tiba saja Warsi menggeram. “Kita bertemu lagi dimalam terang bulan seperti ini. Aku

sengaja menunggumu sampai kau menemukan satu waktu

yang dapat memberimu sedikit dukungan jiwani karena sinar bulan itu kau sangka akan dapat membantumu,“ berkata Iswari.

Warsi mengerutkan keningnya. Namun kemudian terdengar ia tertawa berkepanjangan. Namun yang sama sekali tidak diduga oleh Iswari, perempuan itu telah bertanya, “jadi kau masih sakit hati ka rena suamimu kemudian meninggalkanmu dan mengawini aku, sehingga kau perlukan malam ini mencariku?” Telinga Iswari menjadi merah. Namun ia berusaha agar jiwanya tidak menjadi lemah dan terpengaruh oleh kata- kata perempuan itu. Karena itu Iswari justru menjawab, “Agaknya pertanyaan itu sudah lama kau persiapkan. Kau ingin mempengaruhi perasaanku dengan pertanyaan- pertanyaan cengeng seperti itu.”

“Kau memang selalu berprasangka buruk. Memang agak bertentangan dengan wajahmu yang cantik itu. Setelah umurmu bertambah dengan kurang lebih sepuluh tahun, kau justru nampak lebih cantik dan muda. He, apakah kau tidak ingin kawin lagi? Tentu ada segerobag laki-laki yang akan bersedia menjadi suamimu. Kau cantik, berilmu dan seorang yang kini mendapat kesempatan untuk menguasai Tanah Perdikan ini,“ berkata Warsi.

Tetapi Warsipun terkejut ketika Iswari bertanya, “Apakah kau juga kawin lagi? Atau sekedar mencari kepuasan dari segerobag laki-laki yang kau kuasai lahir dan batinnya?”

Warsi memang tidak mengira bahwa ia akan mendapat pertanyaan seperti itu dari mulut Iswari. Seorang perempuan yang dianggapnya lebih banyak diam dan menunggu itu. Seorang perempuan yang meskipun berilmu tinggi tetapi tetap cengeng dan menutup diri.

Namun justru karena itu, maka kemarahan Warsi menjadi semakin terungkat. Dengan garang ia menjawab, “Mulutmu ternyata tajamnya melampui ujung tombak. Aku tidak mengira. Tetapi baiklah. Mulutmu itu akan segera tertutup rapat untuk selamanya. Mulutmu yang mungil, Serasi dengan bentuk hidung dan matamu, sehingga membuat kau menjadi seorang perempuan yang cantik itu, tidak akan dapat mengucapkan kata-kata lagi, karena kau akan mati.” Iswari tersenyum. Katanya, “Kenapa tiba -tiba saja kau menjadi sangat marah? Apakah aku telah menyinggung perasaanmu? Tetapi kau memang menjadi semakin cantik jika kau marah. Apalagi dibawah sinar bulan purnama.”

“Cukup,“ bentak Warsi, “bukankah kita datang ketempat ini tidak untuk berbicara tentang diri kita masing-masing, tentang suami kita yang sudah mati dan tentang kecantikan kita?”

“Bukan aku yang mendahuluinya,“ jawab Iswari, “kaulah yang pertama-tama menyinggung hal itu. Aku kira aku memang masih berminat untuk sedikit mengenang masa lalu. Sebagai perempuan maka kita tidak dapat ingkar.

Yang cengeng itu kadang-kadang memang muncul di hati kita.”

“Baiklah,“ berkata Warsi, “sekarang kita akan bertempur. Apapun alasannya. Apakah itu karena kita pernah menjadi madu, atau karena kita menjadi kehilangan akal setelah suami kita mati, atau karena Tanah Perdikan Sembojan yang seharusnya jatuh ke tangan anakku. Terbuka atau tidak, kau tentu mengakui, bahwa sebenarnya kau sudah tidak lagi berarti bagi Ki Wiradana, orang yang paling berhak atas Tanah Perdikan ini. Anakmu lahir sesudah kau disingkirkan, bahkan sudah dicoba untuk membunuhmu.

Jika kau mempunyai sedikit harga diri, maka kau tentu tidak akan mau menyentuh lagi semua warisan orang yang telah berusaha membunuhmu itu. Karena anakmu lahir setelah kau disingkirkan, maka anakmu sudah tidak mempunyai hak apapun atas Tanah Perdikan ini. Anakkulah yang berhak memimpin Tanah Perdikan ini.”

“Sesudah kau membunuh Ki Wiradana?“ bertanya Iswari. “Omong kosong itu tidak akan dipercaya oleh siapa - pun,“ jawab Warsi, “kami adalah pasangan yang serasi. Dalam pertempuran, kakang Wiradana menjadi lengah.”

Sebenarnyalah bahwa kata-kata Warsi bagaikan bara yang menyentuh telinganya. Hampir saja Iswari kehilangan pengendalian diri. Namun latihan yang mantap serta penderitaan lahir batin yang lama, telah menempanya, sehingga ia memiliki kemampuan yang tinggi untuk mengendalikan perasaannya dan mempergunakan penalaranannya. Tetapi katanya kemudian, “Ingat, kau pernah mengakui membunuhnya.”

Namun Warsi lah yang membentak, “Cukup. Apapun yang terjadi, kau akan mati sekarang ini. Lihat, cahaya bulan yang bulat, sedangkan langit bersih tanpa selembar awanpun. Pertanda bahwa aku mendapat perlindungan sepenuhnya dari Dewi Penguasa Langit yang cantik itu.

Ilmuku ada dipuncak malam ini dan selanjutnya cahaya bulan yang cantik ini akan membuat aku tetap muda dan segera serta menambah kecantikanku sehingga aku akan dapat menguasai semua laki-laki di muka bumi ini. Tanah Perdikan Sembojan akan aku kuasai dan akan menjadi landasan perjuangan selanjutnya untuk memecah Pajang yang kini sedang disaput awan karena Alas Mantaok itu. Tetapi Alas Mentaok itu sendiri tidak akan pernah dapat bangkit menjadi satu pusat pemerintahan sesudah Pajang, karena pimpinan Tanah ini akan dikendalikan dari Tanah Perdikan Sembojan.”

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “jangkauanmu memang cukup jauh. Sayang, kau telah menempuh jalan yang sesat.” “Kau tahu apa yang dilakukan oleh Sultan Hadiwijaya, ketika ia berusaha mendapatkan kekuasaan di Pajang?“ bertanya Warsi.

“Apa hubungannya dengan jalan yan g kau tempuh?“ bertanya Iswari.

“Sultan Hadiwijaya adalah seorang gembala dimasa kecilnya. Namun akhirnya ia berhasil menguasai tahta Pajang. Nah, setiap orang ternyata akan dapat melakukan hal sama? Kau pernah mendengar dongeng tentang seorang penyamun, perampok dan pembunuh yang dapat menjadi Raja di Singasari?“ bertanya Warsi.

“Alangkah nyamannya, dongeng menjelang tidur di bulan terang,“ desis Iswari.

Warsi menggeram. Katanya kasar, “Kau memang harus dibunuh dengan cara yang paling buruk.”

“Kita sud ah siap untuk saling membunuh. Marilah selagi bulanmu masih ada dilangit. Jika kau terlambat sehingga saatnya bulan tenggelam besok pagi, maka kau menjadi lampu yang kehabisan minyak. Semakin surut dan akhirnya padam sama sekali,“ jawab Iswari.

“Tutup mul utmu. Bersiaplah untuk mati. Tetapi kau tidak perlu menangisi nasibmu yang buruk sekarang ini. Berikan pesan terakhir kepada pengawalmu untuk disampaikan kepada anakmu yang akan menjadi yatim piatu,“ geram Warsi.

Tetapi Iswari tidak menjawab lagi. Ia sudah bersiap dengan sepasang pedangnya menghadapi Warsi yang mulai mengayun-ayunkan rantainya. Demikianlah, maka sejenak kemudian keduanya mulai bergesek Dendam memang membayang di wajah kedua orang perempuan itu. Tetapi mereka memang mempunyai ungkapan yang berbeda. Warsi adalah orang yang tidak lagi terikat dengan paugeran dan unggah-ungguh apapun, sementara Iswari masih tetap seorang perempuan yang utuh. Perasaannya maupun penalarannya.

Warsi yang telah menahan kemarahan beberapa saat lamanya itupun tiba-tiba telah mengayunkan rantainya menyambar ke arah kening lawannya. Namun Iswari dengan tangkasnya mengelak. Bahkan ia masih sempat berkata, “Rasa -rasanya gerak tanganmu seperti gerak tangan seorang penari yang seblak sonder. Jari-jarimu yang lentik mampu mengibas rantai seperti mengibaskan sonder disaat kau menari dipinggir-pinggir jalan diwaktu gadismu.”

“Tutup mulutmu,“ Warsi berteriak, “kita bertempur.

Bukan berbicara berkepanjangan.”

Iswari justru tersenyum. Namun serangan Warsi kemudian telah datang membadai. Rantainya terayun-ayun dan berputaran dengan cepatnya.

Iswari memang sudah bersiap sepenuhnya. Kedua pedang di kedua tangannyapun telah bergetar pula. Kakinya dengan cepat bergerak melontarkan tubuhnya yang berloncatan menghindari serangan lawannya.

Meskipun keduanya pernah bertempur bahkan justru berperang tanding, namun itu sudah terjadi di waktu yang telah lama berlalu. Keduanya tentu sudah meningkatkan ilmu mereka masing-masing, sehingga keduanya merasa perlu untuk kembali saling menjajagi. Sementara itu, pertempuran diseluruh medan itu menjadi semakin sengit. Bulan yang menjadi semakin tinggi memancarkan cahayanya yang kekuning-kuningan. Seakan- akan bulan itu tengah mengerahkan segala kemampuan cahayanya untuk menerangi bumi yang mulai basah bukan saja oleh embun, tetapi oleh darah.

Pertempuran yang liar telah terjadi di sayap-sayap gelar yang tidak merata itu. Meskipun gelar pasukan pengawal Tanah Perdikan mapan, tetapi lawannya tidak mempergunakan gelar yang baik. Mereka asal saja menebar dan bertempur dengan garang dan kasar. Lebih- lebih lagi para pengikut Ki Kala Sembung. Sedangkan pasukan yang ada disayap yang dipimpin oleh Ki Ajar Tulakpun rasa-rasanya tidak, mungkin lagi dikuasai oleh pangeran atau tanggung jawab terhadap perbuatan yang dilakukan baik oleh seluruh kekuatan disayap itu, oleh kelompok-kelompok yang berada di sayap itu, ataupun secara pribadi. Sehingga dengan demikian, maka orang- orang dari balik bukit itu, dikedua sayapnya, telah bertempur dengan liar dan tidak terkekang.

Namun orang-orang Tanah Perdikan ternyata mampu mempertahankan gelar mereka. Apalagi diinduk pasukan yang berhasil memanfaatkan anak gelar Jurang Grawah.

Ki Ajar Tulak yang tidak mampu menguasai seluruh gerak orang-orangnya itupun telah membiarkan mereka. Bahkan tiba-tiba saja ia berteriak, “Kita mempergunakan gelar Samodra Rob. Pasukan kita akan menghantam tebing beruntun terus-menerus. Tidak ada jemu-jemunya sampai tebing itu runtuh dan pasukan kita akan naik melanda gelar lawan dan menggulungnya, seperti ombak lautan yang sedang naik didorong oleh prahara yang tidak terkekang oleh kekuatan apapun.” Teriakan Ki Ajar Tulak itu justru semakin membakar jantung para pengikutnya serta orang-orang yang ada di dalam kelompoknya. Yang kasar menjadi semakin kasar. Yang buas menjadi semakin buas. Bagi mereka sama sekali tidak ada lagi yang mengekang tingkah laku mereka.

Tetapi aba-aba Ki Ajar Tulak itu juga merupakan aba- aba bagi para pengawal Tanah Perdikan Sembojan. Mereka yang mendengarnya segera mempersiapkan diri menghadapi apa yang disebut gelar Samodra Rob itu.

Bahkan di pangkal sayap yang bertempur pada garis pertempuran, para pengawal Tanah Perdikan Sembojan mempergunakan anak gelar seperti yang dilakukan di induk pasukan. Menghadapi Gelar Samodra Rob, maka para pengawal itu telah mempergunakan anak gelar Jurang Grawah. Gelombang yang datang menghantam tebing itu tidak dilawan dengan kerasnya batu padas yang semakin lama akan dapat menjadi semakin aus. Tetapi gelombang yang beruntun datang membadai itu telah menimpa tebing yang terbuka dan meluncur masuk kedalam jurang yang dalam. Jurang yang tidak akan penuh betapapun juga gelombang yang ganas meluap kedalamnya, karena air yang masuk kedalam jurang itu langsung dihisap kedalam bumi.

Namun diujung-ujung sayap gelar, para pengawal tidak mempergunakan anak gelar seperti itu. Ujung-ujung sayap gelar itu justru menusuk semakin lama semakin dalam.

Meskipun kemudian para pemimpin dari sayap-sayap itu bertempur seorang melawan seorang, namun rencana yang sudah masak yang oleh orang-orang Tanah Perdikan.

Beberapa pengawal terpilih, diikuti oleh para pengawal yang tidak terputus, telah berusaha untuk bertempur didalam lingkungan lawan, dibelakang garis pertahan mereka. Bahwa para pengawal terpilih itu berhasil menusuk masuk, maka pengaruh yang terbesar sebenarnya tidak pada imbangan kekuatan pasukan, tetapi condong pada pengaruh kejiwaan. Para pengawal yang sudah ada didalam pasukan lawan dan bertempur didalamnya serta hubungan yang tidak terputus dengan induk pasukan sayap itu, membuat lawan mereka menjadi sangat gelisah.

Sementara itu, pasukan sayap lawan itu tidak dapat memusatkan perhatian mereka untuk menghancurkan para pengawal yang menyusup masuk itu, karena dibagian lain kekuatan sayap itu seakan-akan juga tidak terbendung.

Bahkan dengan gelar Samodra Rob yang diterima oleh pasukan disayap lawan dengan anak gelar Jurang Grawah itu, maka rasa-rasanya orang-orang dari balik bukit itu menjadi cepat susut.

Namun akhirnya para pemimpin kelompok orang-orang dari balik bukit itu menyadari, bahwa lawan mereka terlalu cerdik sehingga merekapun telah mengekang diri. Mereka tidak lagi membentur kekuatan lawan seperti gelombang samodra yang didorong oleh angin prahara, namun yang kemudian. meluap masuk kedalam jurang yang tidak akan dapat menjadi penuh itu. Tetapi mereka telah bertempur dengan orang-orang yang langsung ada di hadapannya dan berusaha membunuhnya.

Sementara itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung masih saja bertempur dengan Ki Ajar Tulak dan Ki Kala Sembung. Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak merasa perlu untuk merambah sampai ke ilmu pamungkas mereka, karena dengan kemampuan ilmu pedang mereka dengan landasan tenaga cadangan yang mampu dibangkitkannya, mereka telah dapat mengatasi kemampuan lawan-lawan mereka. Bahkan Sambi Wulung yang bertempur melawan Ki Ajar Tulak itu telah mendesaknya sehingga Ki Ajar Tulak itu telah mengumpat-umpat. Ternyata bahwa sikap Ki Ajar itu semakin lama menjadi semakin berubah. Jika mula-mula ia masih bertahan pada sikap seorang yang berpegang pada harga dirinya, namun kemudian sikap itu menjadi semakin kabur. Ternyata Ki Ajar itupun menjadi semakin kasar pula.

“Ki Ajar,“ berkata Sambi Wulung kemudian sambil mendesaknya, “aku mohon Ki Ajar mampu membuat penilaian pada saat-saat yang gawat ini. Sebagai seorang Ajar, maka Ki Ajar tentu mempunyai wawasan dan pertimbangan yang sangat luas. Bukan saja berdasarkan unsur-unsur yang lebih tinggi nilainya, yaitu hubungan antara kita dengan Yang Maha Tinggi.”

Tetapi Ki Ajar itu justru berteriak, “Tutup mulutmu. Aku tidak ingin mendengar sesorahmu.”

Sambi Wulung tertawa. Katanya, “Jika kau sudah menobatkan dirimu menjadi seorang Ajar, maka tentu kau harus memikul tanggung jawab yang besar karenanya.”

Tetapi Ki Ajar sama sekali tidak menjawab. Dengan garangnya ia menyerang Sambi Wulung. Namun Sambi Wulung benar-benar memiliki kemampuan ilmu pedang yang sangat tinggi.

Di sayap yang lain, Jati Wulung telah menekan Ki Kala Sembung dengan kerasnya. Karena Kala Sembung juga hanya berlandaskan pada kemampuan kewadagan serta pengalamannya yang keras, maka Jati Wulungpun telah melayaninya pula dengan landasan ilmu pedangnya pula pada alas kekuatan cadangan didalam dirinya. Kala Sembung yang keras dan kasar itu ternyata mendapat banyak kesulitan melawan ilmu pedang Jati Wulung. Beberapa kali ia telah terdesak. Namun setiap kali orang-orangnya telah membantunya, sehingga dua tiga orang bersama-sama memancing perhatian Jati Wulung.

Tetapi sejenak kemudian, maka para pengawalpun telah hadir pula untuk mengikat orang-orang itu dalam pertempuran tersendiri, sehingga Kala Sembung harus kembali bertempur seorang melawan seorang.

Dipasukan induk, pertempuranpun menjadi semakin sengit. Bulan dilangit merayap semakin tinggi, sehingga akhirnya telah mencapai puncaknya. Cahayanya yang cerah kekuningan telah menerangi bukan saja seluruh medan dan seluas Tanah Perdikan Sembojan, tetapi hampir seluruh belahan bumi.

Sementara itu, Warsi yang disiram cahaya bulan penuh itu memang merasa bahwa dirinya berada dipuncak kemampuannya. Rasa-rasanya cahaya bulan itu telah menusuk masuk kedalam simpul-simpul syarafnya sehingga keseluruhannya telah terbuka. Tubuhnya serasa seringan kapas dan sampai keujung-ujung rambutnya mampu dikuasainya dengan mudah lewat kehendaknya.

Ketika bulan itu sampai kepuncak, maka Warsi itu-pun telah meningkatkan ilmunya pula. Dengan wajah tengadah ia berkata, “Lihat Iswari. Dewi langit itu telah tersenyum kepadaku. Itu pertanda yang sangat buruk bagimu.”

Tetapi Iswari tertawa sambil menghindari serangan Warsi. Katanya, “Di bulan itu hanya terdapat seorang bidadari yang sedang menjalani hukuman karena kesalahannya yang sangat besar. Ia dikawani oleh seekor kucing candramawa yang setia. Kerjanya tidak lebih daripada menenun kain. He, apakah kau mengharapkan bantuan bidadari yang tidak dapat menolong dirinya sendiri itu?”

Warsi mengerutkan keningnya. Katanya, “Kau telah menghinanya. Kau memang harus mati.”

Putaran rantai Warsi menjadi semakin cepat. Desing yang timbul karena putaran rantai itu terdengar menyentuh telinga dengan tajamnya. Bahkan rasa-rasanya telah menusuk sampai ke pusat dada.

Tetapi Iswari tidak membiarkannya saja. Iapun telah memutar sepasang pedangnya pula. Pedang itu memang tidak berdesing terlalu keras, tetapi udara yang dihembus- kannya terasa menerpa kulit Warsi.

Demikianlah kedua orang perempuan yang berilmu sangat tinggi itu bertempur dengan sengitnya. Keduanya telah meningkatkan ilmunya dengan cepat. Rasa-rasanya keduanya tidak memerlukan lagi penjajagan yang lebih dalam, karena pada dasarnya keduanya sudah mengenali ilmu mereka masing-masing.

Karena itulah, maka pertempuran diantara keduanya- pun telah meningkat dengan cepat. Namun rasa-rasanya keduanya akan mendapat kepuasan yang lebih besar jika salah seorang diantara mereka dapat mengalahkan lawannya dengan ilmu dan ketrampilan tangan mereka meskipun harus dilandasi dengan tenaga cadangan yang sangat tinggi didalam diri mereka masing-masing.

Namun nampaknya mereka masing-masing menyadari, bahwa tidak mungkin lagi mereka untuk mengalahkan mereka itu dengan ilmu kewadagan semata-mata betapapun mereka mempunyai kemampuan yang sulit diukur. Dengan demikian maka keduanya agaknya telah mengambil kesimpulan bahwa mereka memang harus beranjak dari landasan kemampuan mereka memasuki tingkatan ilmu yang lebih tinggi. Ilmu yang mampu menyerap kekuatan dari dalam dan dari luar diri mereka masing-masing.

Beberapa langkah dari mereka, Ki Rangga bertempur dengan garangnya pula. Beberapa orang telah dilukainya. Bahkan ada diantaranya yang terbunuh.

Tetapi Ki Rangga tidak dapat berbuat sekehendaknya untuk seterusnya, karena tiba-tiba saja muncul Kiai Badra di hadapannya.

“Sudahlah ngger,“ berkata Kiai Badra, “kau sudah cukup banyak menyakiti orang. Dan bahkan mungkin satu dua orang tidak tertolong lagi. Aku mohon berhentilah. Aku kira gurumu disaat mengajarimu ilmu sama sekali tidak terbayangkan, bahwa akan terjadi pembunuhan yang tidak terkendali seperti ini.”

“Persetan,“ geram Ki Rangga,“ jangan kau kira bahwa ilmuku tidak meningkat, sehingga aku tidak mampu menghadapimu. Bagiku kau tidak lagi seorang yang menakutkan.”

Kiai Badra tertawa. Katanya, “Aku percaya ngger. Tetapi akupun mengemban tugas kemanusiaan sehingga aku wajib mencegahmu.”

Ki Rangga tidak menjawab lagi. Iapun kemudian telah bersiap untuk menyerang orang tua itu. Sementara itu, Kiai Badra memang masih harus mengimbangi beberapa orang yang selalu memburunya. Beberapa orang yang bertugas didalam kelompok sengaja untuk mengurungnya, sebagaimana dilakukan atas Kiai Soka dan Nyai Soka.

Tetapi Kiai Badra tidak berbuat seperti yang dilakukan oleh Ki Rangga. Ia memang berusaha untuk mengurangi tekanan orang-orang yang mengepungnya. Mungkin Kiai Badra yang bersenjatakan pedang kebanyakan itu telah menggores tubuh lawannya. Namun yang dilakukan sekedar mengurangi tekanan lawan dalam keseluruhan menguiangi jumlah orang-orang dari balik bukit itu. Jika orang-orang yang terluka itu dibawa menepi, maka mereka tidak lagi berusaha untuk memasuki arena kembali. Mereka lebih senang berbaring sambil mengerang. Bahkan ada yang dengan sengaja menggoreskan darah dari lukanya kebagian tubuhnya yang lain, sehingga nampaknya lukanya menjadi sangat parah. Dengan demikian maka ia tidak akan terpaksa memasuki arena itu kembali.

Berbeda dengan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Para pengawal yang terlukapun kadang-kadang tidak mau berhenti bertempur. Bahkan pemimpin-pemimpin kelompoknya kadang-kadang terpaksa memaksa satu dua orang pengawal yang terluka untuk berhenti bertempur.

“Beristirahatl ah. Nanti jika lukamu telah pempat, kau dapat bertempur kembali,“ bentak pimpinan kelompok itu.

Dorongan untuk bertempur didalam hati anak-anak muda Tanah Perdikan memang berbeda dengan dorongan dihati orang-orang dari balik bukit. Ada diantara mereka yang dengan setia bertempur sampai lepas nyawanya.

Tetapi ada yang lebih senang berpura-pura tidak mampu bangkit lagi karena lukanya yang parah daripada harus memasuki medan yang garang itu. Sementara itu mereka tidak meyakini apa yang sedang mereka perjuangkan.

Nampaknya gairah perjuangan dalam kadar yang berbeda itu mempunyai pengaruh pula pada pertempuran itu dalam keseluruhan. Hanya para pengikut Kala Sembung sajalah yang ternyata tidak mampu berpikir lain kecuali membunuh atau dibunuh.

Dengan demikian maka mereka benar-benar bertempur seperti seekor kerbau yang terlepas dari tali pembantaian. Mengamuk dan tidak mengenal perhitungan apapun juga.

Jati Wulung yang menghadapi Kala Sembung dan orang- orangnya yang bagaikan gila itu memang agak mengalami kesulitan. Ia terdesak oleh keadaan untuk tidak berpikir terlalu panjang. Jati Wulung tidak sempat menghitung langkah para pengawal agar mereka tidak asal saja membunuh. Namun ternyata bahwa para pengawal memang tidak dapat berbuat lain jika ia sendiri tidak ingin terbunuh dalam pertempuran itu.

Di induk pasukan Ki Sumbaga dengan sengaja tidak berada di garis pertempuran. Dengan cerdik ia telah membetengi dirinya. Namun dengan demikian ia mampu mengamati medan itu hampir secara keseluruhan. Ia masih sempat mengatur perubahan-perubahan langkah yang harus dilakukan oleh orang-orangnya. Bahkan kadang- kadang mengambil langkah yang sempat mengejutkan lawannya.

Ternyata seorang penghubung diantara para pengawal Tanah Perdikan sempat mengenalinya. Menilik dari hubungan yang dilakukan oleh beberapa orang antara seseorang yang berada dibelakang garis pertempuran dengan para pemimpin kelompok. Juga sumber dari segala macam aba-aba yang dilontarkan.

Karena itu, maka penghubung itupun telah melaporkannya kepada pemimpin pengawal Tanah Perdikan Sembojan.

“Jadi pasukan induk ini dikendalikan oleh seseorang yang bersembunyi dibalik tirai orang-orangnya?“ bertanya pemimpin pengawal itu.

“Ya, Ki Lurah,“ jawab penghubung itu.

“Baiklah. Tunjukkan kepadaku, dimana orang itu bersembunyi,“ berkata pemimpin pengawal itu.

“Sangat sulit untuk mencapainya. Orang itu seakan -akan telah dibentengi oleh kekuatan yang sulit tertembus.

Kecuali jika Nyi Wiradana sendiri atau salah seorang dari orang tua-tua itu,“ jawab penghubung itu.

“Suda hlah. Bawa aku mendekati orang itu, “perintah pemimpin pengawal itu.

Demikianlah, maka pemimpin pengawal itu telah bergeser dari tempatnya. Ia menuju ke arah pemimpin pasukan induk dari balik bukit itu bersembunyi dibelakang para pengawal terpilihnya.

Namun sebenarnyalah, bahwa didepan pemimpin pasukan induk itu terdapat selapis orang terpilih yang melindungi pemimpinnya itu. Mereka adalah bekas-bekas prajurit pilihan dari Jipang. Meskipun pada umumnya mereka sudah tidak muda lagi, namun ketangguhan mereka benar-benar sulit untuk dipecahkan. “Bagaimana kau mengetahui tentang pemimpin pasukan itu?“ bertanya pemimpin pengawal itu.

“Hanya satu kebetulan. Kami berusaha mengawasi pasukan lawan secermat-cermatnya. Ketika Warsi dan Ki Rangga sudah bertempur melawan lawan yang mengikat mereka, bahkan seakan-akan tidak mampu lagi mengendalikan keadaan sekelilingnya, maka aku berpikir, tentu ada orang lain yang mengendalikan pasukan induk ini. Terbukti dengan beberapa perubahan sikap yang terjadi selagi pertempuran serasa bagaikan membakar. Dengan demikian maka aku telah bertekad untuk mencari. Akhirnya aku ketemukan orang itu. Namun aku hanya dapat memandanginya dari kejauhan. Ketika setiap kali orang itu dihubungi oleh orang-orangnya, maka aku mengambil kesimpulan bahwa orang inilah pemimpin dadi pasukan induk yang datang dari balik bukit. Dengan demikian maka aku mengambil kesimpulan, bahwa hal ini perlu aku sampaikan kepada Ki Lurah.”

Pemimpin pengawal itu termangu-mangu sejenak. Dari tempat yang agak jauh ia sempat melihat orang-orangnya bertempur. Sejenak ia tertegun. Pertempuran itu ternyata pertempuran yang sangat keras.

“Bagaimana caraku untuk dapat mencapainya,“ desis pemimpin pasukan pengawal itu.

“Aku mohon Ki Lurah jangan kesana. Ki Lurah dapat bertempur disini. Mungkin orang itu akan terpancing keluar dari bingkai prajurit yang mengelilinginya. Baru kemudian Ki Lurah menghadapinya,“ berkata penghubung itu. Namun tiba-tiba penghubung itu berdesis, “Tetapi hati -hatilah Ki Lurah. Orang itu sangat berbahaya.”

“Aku akan berhati -hati,“ berkata pemimpin pengawal itu. Demikianlah, maka pemimpin pengawal itu telah memasuki pertempuran ditengah-tengah garis lengkung dari pasukan induk. Dengan tangkasnya ia menebaskan pedangnya mendatar. Namun kemudian pedangnya berputar mengarah leher. Tetapi sejenak ujung pedang itu mematuk dengan garangnya.

Pemimpin pengawal itu telah bertempur dengan garang. Ia memang berusaha untuk memancing Ki Sumbaga keluar dari bingkai pasukannya.

Tetapi Ki Sumbaga menganggap dirinya lebih berarti jika ia berada dibelakang garis benturan. Meskipun ia kemudian mendapat laporan tentang orang yang berilmu cukup tinggi telah bertempur dengan garang di garis benturan kedua pasukan itu.

“Aku perintahkan dua atau tiga orang prajurit untuk menghadapinya. Jika aku terpancing untuk bertempur melawannya, maka pasukan ini akan kehilangan kemudi. Semua akan terserah kepada para prajurit yang akan bertindak menurut kemauan mereka sendiri-sendiri.”

“Tetapi bukankah pasukan lawan juga tidak lagi perlu seorang pemimpin yang setiap kali mengatur pasukannya?“ bertanya penghubung itu.

“Kau memang bodoh. Aku adalah bekas seorang perwira dari pasukan Jipang. Kaupun bekas seorang prajurit.

Seharusnya kau tahu bahwa pasukan Tanah Perdikan sudah dipersiapkan sejak semula. Pasukan itu sudah berada dalam satu gelar yang mapan. Para pemimpin kelompok sudah tahu dengan pasti, apa yang harus mereka lakukan. Hanya dalam keadaan yang khusus saja maka diperlukan sekali sikap pemimpin pasukan itu. Berbeda dengan pasukan kita. Kita tidak siap dalam gelar yang mapan.”

Penghubung itu mengangguk.

Sementara Ki Sumbaga itu berkata, “Ternyata bahwa orang-orang Tanah Perdikan itu cukup cerdik. Mereka tidak menunggu di padukuhan induk. Tetapi mereka telah menyongsong kita disini, sehingga mereka dapat mempergunakan kekuatan yang lebih besar dari yang dapat mereka pergunakan di padukuhan induk. Disini mereka tidak mencemaskan padukuhan lain yang mungkin akan kita jamah, sehingga para pengawal padukuhan itu sebagian besar akan dapat ditarik disini.”

Penghubung itu mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Sumbaga tengah memperhatikan pertempuran yang terjadi di induk pasukan itu. Meskipun ia tidak dapat melihat dengan jelas dari ujung sampai keujung, namun naluri keprajuritannya mampu menangkap peristiwa yang sedang terjadi itu dengan melihat pertanda-pertanda yang terdapat dalam pertempuran itu.

Namun kening Ki Sumbaga itu berkerut ketika ia melihat pertahanan pasukan di induk pasukan itu goyah. Menurut pengamatan Ki Sumbaga maka pasukan yang paling mapan adalah pasukan yang dipimpinnya, karena pasukannya sebagian besar terdiri dari bekas para prajurit Jipang.

Beberapa orang keluarga para bekas prajurit yang sempat dikumpulkan telah mendapat latihan keprajuritan pula secara khusus.

Tiba-tiba saja Ki Sumbaga itu berkata, “jalankan perintahku. Dua atau tiga orang terpilih agar menghadapi pemimpin pasukan induk Tanah Perdikan itu. Kemudian lihat, apa yang terjadi atas Ki Rangga dan Nyi Wiradana. Kemudian apakah kelompok-kelompok yang dipersiapkan itu dapat melakukan tugasnya dengan baik. Aku tunggu laporannya atau kawanmu yang lain.”

“Baik,“ jawab penghubung itu.

Demikianlah maka penghubung itu telah meninggalkan Ki Sumbaga untuk menyaksikan keadaan seluruh pasukan induk itu lebih cermat lagi.

Namun dalam pada itu, Ki Sumbaga memang menjadi cemas bahwa garis benturan kedua pasukan itu telah menjadi goyah. Perlahan-lahan pasukan Tanah Perdikan mulai mendesak pasukannya. Meskipun banyak kemungkinan masih dapat terjadi, tetapi satu pertanda telah dilihatnya, bahwa keseimbangan pasukan itu memang mulai goncang.

Beberapa saat kemudian, maka seorang penghubung yang lain telah datang mendekatinya. Dengan nafas terengah-engah ia berkata, “Ki Sumbaga, kita agaknya mengalami kesulitan.”

“Apakah Ny i Wiradana tidak segera dapat mengalahkan lawannya? Bagaimana dengan Ki Rangga?”

“Segera Ki Sumbaga akan mendapat laporan. Seorang kawan sedang pergi untuk melihat mereka. Aku bertemu di tengah-tengah medan,“ jawab penghubung.

“Kau sendiri dari mana?“ be rtanya Ki Sumbaga. “Aku sempat menyaksikan orang -orang tua Tanah

Perdikan. Ternyata kelompok-kelompok yang disusun itu mengalami kesulitan. Orang-orang tua itu seakan-akan tidak terbatas oleh mereka, sehingga orang-orang tua itu dapat berbuat apa saja sesuai dengan kehendak mereka. Meskipun nampaknya orang-orang tua itu tidak terlalu bernafsu untuk membunuh, namun nampaknya merekapun tidak ingin dibatasi geraknya oleh siapapun,“ berkata penghubung itu.

“Bukankah mereka tentu tidak jauh dari arena pertempuran antara Nyi Wiradana melawan Iswari serta Ki Rangga Gupita,“ bertanya pemimpin itu.

“Agaknya aku terlalu tergesa -gesa sehingga aku tidak melihat pertempuran itu. Tetapi kawanku yang tadi menghadap Ki Sumbaga sekarang sedang menuju ke arena itu,“ jawab penghubung itu.

Ki Sumbaga termangu-mangu. Sebagai seorang bekas Senapati, maka ia telah dapat membayangkan kesulitan yang lebih besar yang dapat terjadi, jika Ki Rangga dan Warsi tidak segera dapat mengalahkan lawan-lawan mereka dan membantu para pengikutnya untuk menghancurkan para pengawal Tanah Perdikan.

Namun Ki Sumbaga itu tiba-tiba telah memberikan perintah, “Lihat pasukan kita pada sayap -sayapnya.”

“Sayap yang mana? Kiri, atau kanan?“ bertanya penghubung itu.

“Sayap yang dipimpin oleh Kala Sembu ng,“ jawab Ki Sumbaga.

Penghubung itu tidak bertanya lagi. Iapun segera meninggalkan Ki Sumbaga untuk melihat keadaan sayap pasukan itu. Dalam pada itu penghubung yang lain tengah menyaksikan apa yang terjadi dengan Ki Rangga. Ternyata Ki Rangga tidak mampu beranjak dari tempatnya karena ia harus menghadapi Kiai Badra. Orang yang nampaknya sudah terlalu tua untuk berada di medan. Tetapi ternyata bahwa Ki Rangga tidak terlalu banyak mendapat kesempatan melawannya. Apalagi ketika sekelompok orang yang dipersiapkan untuk melawan orang tua itu sudah pecah disergap oleh para pengawal Tanah Perdikan.