-->

Sayap-Sayap Yang Terkembang Jilid 14

Jilid 14

BEBERAPA saat kemudian, maka merekapun telah melintasi puncak bukit. Seorang diantara keempat orang itu membawa mereka menuju ke tempat yang paling mungkin dipergunakan untuk berteduh sekelompok orang dari hujan dan panas.

Sambi Wulung mengisyaratkan kepada mereka agar sangat berhati-hati. Ternyata dari balik segerumbul perdu mereka memang melihat dua orang yang berjalan melintas. Tidak tergesa-gesa, sehingga mereka yakin bahwa dua orang itu adalah dua orang pengawas yang mendapat tugas untuk berjaga-jaga. “Kita sudah sangat dekat,“ desis Jati Wulung.

Sambi Wulung mengangguk. Namun dengan demikian mereka menjadi sangat berhati-hati.

Ketika mereka berempat menjadi semakin dekat, maka mereka terkejut. Dalam cahaya bulan yang terang, mereka melihat di hadapan mereka, diatas tanah yang gundul berbatu padas, sepasukan pengikut Warsi yang riah bersiap. Jantung Sambi Wulung dan Jati Wulungpun berdebaran. Menurut perhitungan orang-orang Tanah Perdikan, Warsi akan memanfaatkan bulan yang purnama penuh, yang barangkali ada hubungannya dengan kepercayaannya.

Untuk beberapa saat mereka berempat mengamati dari jarak yang jauh. Namun mampu melihat dengan jelas susunan pasukan yang bergerak.

“Mereka belum bersungguh -sungguh,“ berkata Sambi Wulung.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Mereka melihat sebagian dari para pengikut itu masih tetap berdiri diluar pasukan, sementara Ki Rangga Gupita memberikan beberapa pesan kepada mereka.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian pasukan yang telah dipersiapkan itupun telah berangkat, dipimpin oleh Ki Rangga Gupita sendiri.

Keempat orang itu harus menahan nafas ketika pasukan itu lewat beberapa langkah saja dari tempat mereka bersembunyi dibalik gerumbul. Untunglah bahwa tidak seorangpun diantara orang- orang yang berada dibalik bukit itu, termasuk mereka yang berangkat menuju ke Tanah Perdikan menduga, bahwa akan ada orang-orang dari Tanah Perdikan yang berani datang mengintai mereka dari jarak yang cukup dekat.

Demikian pasukan itu lewat, maka Sambi Wulungpun berdesis, “Ki Rangga Gupita dan Warsi ada didalam pasukan itu.”

Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi mereka belum mengerahkan seluruh kekuatan mereka.”

“Nampaknya mereka memang belum bersungguh - sungguh,“ berkata Sambi Wulung pula.

“Apakah tidak sebaiknya kita memberitahukan hal ini kepada Nyi Wiradana?“ bertanya salah seorang dari petugas sandi itu.

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kalian berdua harus segera turun. Hati-hati, jangan sampai kalian berpapasan dengan pasukan itu, agar kalian tidak menjadi lumat dicincang oleh Ki Rangga.”

Kedua orang petugas sandi itu mengangguk-angguk.

Tetapi mereka yang karena mengenali lingkungan itu dengan baik, maka mereka yakin akan dapat mendahului pasukan yang tentu akan melintasi bukit dan turun melalui jalan setapak yang ada..

“Laporan apa yang kau lihat. Besarnya pasukan dan kedua orang yang berilmu tinggi itu,“ berk ata Sambi Wulung. Para petugas sandi itu mengangguk. Merekapun kemudian bergeser dari tempatnya, melintasi puncak bukit dan turun menuju ke Tanah Perdikan Sembojan. Mereka ternyata mampu menemukan jalan pintas yang jauh lebih pendek dari jalan setapak yang berkelok-kelok yang dilalui oleh sepasukan pengikut Warsi yang dipimpin oleh Ki Rangga dan Warsi sendiri. Bahkan ketika mereka sudah berada di ngarai, maka merekapun telah berlari-lari menuju ke Tanah Perdikan.

Namun ternyata keduanyapun sempat membagi tugas.

Seorang diantara mereka berkata, “Kau langsung ke padukuhan induk untuk memberikan laporan. Aku akan berusaha untuk mengetahui, kemana mereka akan pergi. Apakah mereka akan menuju ke padukuhan induk atau tidak. Mungkin mereka akan menyerang sasaran yang mereka anggap tidak terlalu berat, sehingga mereka tidak membawa seluruh pasukan. Atau mungkin mereka ingin melakukan sesuatu untuk tujuan yang belum kita ketahui.”

Demikianlah, seorang diantara mereka langsung menuju ke padukuhan induk. Menyusuri pematang dan jalan-jalan sempit, petugas sandi itu menjadi terasa lebih cepat mencapai padukuhan induk. Sementara kawannya masih menunggu untuk mengamati pasukan yang akan memasuki Tanah Perdikan.

Ketika petugas sandi yang berlari-lari itu memasuki Tanah Perdikan, maka rasa-rasanya nafasnya telah hampir terputus di kerongkongan. Ketika ia sampai di gardu, maka kakinya seakan-akan tidak mau bergerak lagi.

Kawan-kawannya yang berada di gardu dengan serta merta telah menolongnya. Membawanya ke gardu dan membantunya naik. Tetapi anak muda yang bertugas sebagai petugas sandi itu menggeleng sambil berkata terputus-putus, “Aku harus menghadap Nyi Wiradana.”

“Beristirahatlah,“ desis seorang kawannya.

“Aku harus cepat sampai kepada Nyi Wiradana,“ kata itu sajalah yang diulang-ulang.

“Tetapi kau tidak dapat berjalan lagi. Nafasmu hampir putus dikerongkongan,“ berkata seorang kawannya.

“Bawa aku menghadap,“ desisnya.

Kawan-kawannya yang bertugas di gardu termangu- mangu. Namun seperti orang mengigau petugas itu terus saja berkata, “Cepat. Bawa aku menghadap Nyi Wiradana.”

“Katakan, apa yang harus kau sampaikan. Biarlah kami meneruskannya,“ jawab seorang kawannya.

“Tidak. Aku sendiri harus menghadap. Bantu aku berjalan,“ berkata petugas sandi itu.

Anak-anak muda itu tidak mempunyai pilihan lain. Dua orang diantara mereka telah membantu petugas sandi yang kelelahan itu menuju ke rumah Nyi Wiradana. Namun setiap saat petugas itu telah membentak kawan-kawannya yang memapahnya, agar mereka dapat berjalan lebih cepat.

Ketika petugas sandi itu sampai kerumah Nyi Wiradana, maka Nyi Wiradana sendiri masih duduk diruang tengah bersama Bibi. Karena itu, ketika seorang petugas yang berjaga-jaga dirumah itu mengetuk pintu, Nyi Wiradanapun segera membukanya. Nyi Wiradana terkejut melihat petugas yang nafasnya terengah-engah itu. Dengan cemas Nyi Wiradana bertanya, “Kenapa orang ini?”

Tetapi petugas sandi itu sendirilah yang menjawab, “Aku tidak apa-apa Nyi.“

Nyi Wiradapun segera tanggap. Karena itu, maka dimintanya orang-orang yang mengantar petugas sandi itu untuk menunggu diluar.

Betapapun keadaannya, namun petugas sandi itu masih juga dapat memberikan laporan. Suaranya terputus-putus dan bahkan kadang-kadang terbatuk-batuk. Namun akhirnya jelas bagi Nyi Wiradana apakah yang akan terjadi.

“Panggil guru,“ berkata Nyi Wiradana kepada Bibi.

Bibipun segera bangkit untuk menyampaikan permohonan Nyi Wiradana agar guru-gurunya hadir diruang tengah.

Dengan singkat Nyi Wiradana telah menyampaikan laporan petugas sandi itu. Dengan mantap pula Nyi Wiradana berkata, “Aku sendiri akan berangkat guru. Satu kesempatan untuk bertemu dengan perempuan itu. Adalah kebetulan bahwa saat ini purnama belum penuh.”

“Kau percaya pengaruh bulan penuh itu pada kekuatan ilmu Warsi?“ bertanya Kiai Bad ra.

“Bukan aku yang percaya. Tetapi perempuan itu. Ia akan merasa bahwa kekuatannya belum sepenuhnya dapat

ditrapkan disaat bulan belum bulat. Perasaan itu tentu akan sangat berpengaruh pada saat-saat yang gawat,“ berkata Iswari. “Tetapi kaupun masih mem erlukan waktu untuk dapat memulihkan kekuatanmu sepenuhnya,“ berkata Kiai Badra.

“Aku sudah merasa utuh kembali,“ jawab Iswari.

Kiai Badra berpikir sejenak. Namun kemudian katanya, “Tetapi kami, orang -orang tua masih berharap kau sempat menunggu satu dua hari lagi. Kau tidak usah memperhatikan purnama itu. Namun dalam dua hari ini, kau tentu sudah berada pada puncak kekuatan dan kemampuanmu. Keadaan wadagmu tentu akan berpengaruh betapapun kesiagaan ilmu didalam dirimu.

Jika kau menunggu dua hari atau setidak-tidaknya sehari lagi itu sama sekali tidak ada pengaruh dari bulan itu.”

“Aku mengerti guru,“ jawab Iswari, “tetapi orang itu datang sekarang. Aku tidak dapat membiarkannya sementara aku menunggu sampai besok malam.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, Nyai Soka telah bangkit sambil berkata, “berdirilah.”

Iswaripun segera bangkit pula berdiri.

Dengan kerut di dahinya yang memang sudah dilukisi dengan garis-garis umurnya Nyai Soka berkata, “Lihat telapak tanganmu.”

Iswaripun kemudian telah mengangkat kedua tangannya untuk menunjukkan telapak tangannya sebagaimana diminta oleh Nyai Soka.

Dengan ujung ibu jarinya, Nyai Soka telah memijit beberapa jalur urat nadi pada telapak tangannya.

Kemudian tangan itupun telah ditelungkupkannya pula. Seperti yang dilakukan pada telapak tangannya, maka Nyai Sokapun telah memijit-mijit pula punggung tangan Iswari. Bahkan kemudian pergelangannya dan yang terakhir pada punggung perempuan itu.

Sambil menarik nafas dalam-dalam Nyai Soka berkata, “Baikl ah. Kau boleh pergi. Tetapi kau harus sangat berhati- hati. Kami akan pergi bersamamu.”

Demikianlah, maka Iswaripun dengan cepat telah menjatuhkan perintah lewat para petugas dihalaman. Dalam waktu singkat, para pemimpin pengawal telah berada dirumah itu, sementara beberapa orang telah menyiapkan pula pasukan.

Dalam pada itu, petugas sandi yang mengintai perjalanan pasukan yang dipimpin Ki Rangga Gupita dan Warsi telah mendapat petunjuk arah. Karena itu, maka ia- pun telah mendahului pasukan itu melalui jalan pintas pula ke padukuhan yang menurut perhitungannya akan menjadi sasaran. Petugas sandi itu memang sudah memperhitungkan bahwa pasukan yang tidak lengkap itu tidak akan menuju ke padukuhan induk.

Dengan demikian maka para pengawal di padukuhan itupun sempat mempersiapkan diri. Sementara dua orang penghubung berkuda telah menuju ke padukuhan induk untuk memberikan laporan.

“Jika perlu, kita akan mempergunakan isyarat kenthongan,“ berkata Ki Bekel.

Pemimpin pengawal di padukuhan itupun mengangguk.

Katanya, “Kita akan melihat suasana.” Demikianlah, maka para pengawalpun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Bukan hanya pengawal di padukuhan itu. Tetapi padukuhan terdekatpun telah diberi tahu, bahwa para pengawal harus bersiap. Sebagian dari para pengawal di padukuhan itu telah dipersiapkan untuk bergerak dengan cepat. Mereka telah dipersiapkan pula untuk membantu padukuhan yang akan menjadi sasaran serangan orang-orang dari balik bukit itu.

Sekelompok pengawal telah bersiap dibalik dinding padukuhan yang lebih besar dari padukuhan-padukuhan yang lain, yang menurut perhitungan petugas sandi itu akan menjadi sasaran serangan orang-orang yang dipimpin oleh Warsi dan Ki Rangga Gupita.

Sebenarnyalah perhitungan petugas sandi itu ternyata tepat. Warsi yang pernah tinggal di Tanah Perdikan itu tahu benar, padukuhan yang manakah yang dapat dipergunakannya untuk menjajagi kesiagaan para pengawal serta dipergunakan sebagai pemanasan orang-orangnya yang besok lusa akan menyerang padukuhan induk Tanah Perdikan

Ketika pasukannya mendekati padukuhan yang menjadi sasaran itu, Ki Rangga Gupita dan Warsi tidak melihat kesiagaan yang khusus. Mereka dari kejauhan memang melihat obor diregol padukuhan. Tetapi itu adalah kebiasaan setiap padukuhan yang memasang obor di regolnya.

Namun demikian, ternyata bahwa pasukan yang datang itupun cukup berhati-hati. Mereka tidak dengan serta merta mendekati dan memasuki regol. Tetapi para pengikut Ki Rangga dan Warsi itupun telah memencar diluar dinding padukuhan. Para pengawal yang melihat pasukan yang datang itu dalam siraman cahaya bulan menjadi berdebar-debar.

Mereka mengerti bahwa pasukan itu tidak akan memasuki padukuhan dengan memecah regol. Tetapi mereka akan berloncatan memasuki padukuhan lewat diatas dinding.

Dengan demikian maka para pengawalpun telah menyesuaikan diri pula. Mereka harus menahan para pengikut Ki Rangga dan Warsi itu selagi mereka berusaha meloncat.

Ki Bekel dan pemimpin pengawal yang berdiri diatas mata tangga disebelah regol padukuhanpun melihat pasukan yang menyebar itu. Nampaknya bagi mereka, lebih mudah meloncat dinding dari pada mematahkan selarak pintu gerbang padukuhan.

Dalam pada itu, petugas sandi yang telah berada di padukuhan itupun memperingatkan bahwa pasukan itu dipimpin langsung oleh Warsi dan Ki Rangga Gupita.

“Apakah kau dapat mengenalinya?“ bertanya Ki Bekel. “Sambi Wulung dan Jati Wulung ada di balik bukit itu

pula sekarang,“ jawab petugas sandi itu.

Ki Bekel mengangguk-angguk. Tentu Sambi Wulung dan Jati wulung dapat mengenali Warsi dan Ki Rangga, pernah atau tidak pernah berhubungan sebelumnya.

Untuk beberapa saat, para pengikut Ki Rangga dan Warsi dalam jumlah yang besar itu menunggu. Ternyata Warsi dan Ki Rangga bersama beberapa orang pengawal terpilihnya telah melangkah mendekati pintu gerbang yang tertutup, tetapi tidak menunjukkan persiapan yang memang menunggu kedatangan mereka dalam kesiagaan tertinggi.

“Agaknya mereka tidak tahu bahwa kita akan datang,“ desis Warsi.

Ki Rangga mengangguk. Katanya, “Kita akan mellioncati dinding. Dengan demikian kita akan dengan cepat bersama-sama berada di dalam. Mungkin ada beberapa orang peronda di gardu dibelakang pintu gerbang.”

Warsi mengerutkan keningnya. Diamatinya dinding padukuhan yang berada dibawah lindungan dedaunan yang rimbun, sehingga cahaya bulan tidak dapat mencapai wajah-wajah yang dengan sangat berhati-hati mengintip dibelakang dinding.

Namun ternyata Warsi memang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Tiba-tiba saja ia telah memberikan isyarat kepada Ki Rangga.

Ki Rangga termangu-mangu. Dikerahkannya kemampuannya untuk memperhatikan keadaan. Sementara itu Warsi berbisik, “Ternyata dibelakang dinding itu terdapat barisan pengawal.”

“Kau yakin?“ bertanya Ki Rangga. “Aku yakin,“ jawab Warsi.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan?“ bertanya Ki Rangga.

“Kita akan masuk dengan cepat. Tetapi kita harus sangat berhati-hati,“ jawab Warsi. Namun tiba -tiba saja Warsi itu berkata, “Kita ambil dua buah obor diregol itu.” “Untuk apa?“ bertanya Ki Rangga.

Warsi tidak menjawab. Ia sendirilah yang kemudian meloncat mengambil obor minyak diregol. Dengan suara lantang ia berkata kepada orang-orangnya, “Cari ranting - ranting dan rumput kering. Cepat, jangan bertanya untuk apa.”

Beberapa orang memang termangu-mangu. Namun Ki Rangga cepat tanggap, sehingga iapun kemudian telah memerintahkan beberapa orang mencari ranting-ranting kering dari gerumbul-gerumbul perdu diluar pintu gerbang.

Orang-orang yang ada dibalik pintu gerbang itupun menjadi heran. Apa pula yang akan dilakukan oleh Warsi itu.

Namun ternyata bahwa Warsi telah menimbuni pintu gerbang dari regol padukuhan itu dengan ranting dan daun-daun kering. Kemudian membakarnya dan bahkan satu diantara kedua obornya telah dilemparkan pula sehingga minyaknya telah membasahi ranting-ranting kering itu.

Dengan demikian maka ranting-ranting serta rerumputan dan daun-daun kering itu menjadi cepat terbakar. Bahkan kemudian beberapa orang telah melemparkan lagi ranting-ranting semakin banyak.

Pintu gerbang yang terbuat dari kayu itupun akan mudah terbakar. Sehingga karena itu, orang-orang yang berada dibelakang regolpun dengan cepat menyadari keadaan. Beberapa orang telah berlari-lari mencari air di sumur- sumur terdekat dengan alat apa saja yang mereka dapatkan. Dengan upih, dengan kelenting, bahkan jambangan di pakiwan untuk menyiram pintu gerbang agar api yang mulai menyala tidak membakar gerbang itu seluruhnya yang tentu akan merambat ke bagian atap regol dan bangunan yang lain yang berhubungan dengan regol padukuhan.

Ki Bekel dan pemimpin pasukan pengawal itupun telah mengumpat-umpat. Dengan berteriak pemimpin pengawal itu berkata, “Licik. Kau bakar regol padukuhan kami.”

Tetapi tidak terdengar jawaban. Yang nampak adalah api menjadi semakin besar dan pintu regolpun mulai terbakar.

Ternyata Warsi tidak ingin memasuki padukuhan itu lewat pintu gerbang yang akan hancur menjadi abu. Usaha untuk memancing perhatian para pengawal ternyata telah berhasil. Ketika Ki Bekel dan para pemimpin pengawal sibuk memperhatikan api yang semakin besar itu, maka lewat beberapa orang pengikutnya yang ikut sibuk di luar regol itu, ia memerintahkan agar pasukannya mulai bergerak.

Hampir bersamaan, maka Ki Bekel dan pemimpin pengawal telah memerintahkan untuk bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan apabila pintu gerbang itu tidak dapat diselamatkan.

Namun dalam pada itu, terdengar isyarat dari beberapa orang pemimpin kelompok dari antara para pengikut Ki Rangga Gupita dan Warsi. Dengan serta merta pula, maka para pengikut mereka itupun telah bergerak. Bukan sekedar merangkak mendekati dinding padukuhan. Tetapi merekapun telah berlari-larian untuk mengambil ancang- ancang.

Selagi perhatian para pengawal sebagian tertuju kepada api yang telah membakar regol padukuhan mereka, maka para pengikut Warsi dan Ki Rangga itupun telah berloncatan memanjat dinding padukuhan dan berloncatan masuk.

Sejenak kemudian, maka pertempuranpun segera telah berkobar Para pengawal segera menyadari, bahwa mereka telah terpancing oleh api di regoi itu, sehingga mereka sedikit terlambat menerima kehadiran para pengikut Warsi dan Ki Rangga itu. Namun ternyata keterlambatan yang sedikit itu mempunyai akibat yang cukup berat.

Demikian ujung dari pasukan para pengikut Warsi dan Ki Rangga berhasil masuk, maka mereka telah membuka jalan bagi kawan-kawan mereka, sehingga sejenak kemudian, seluruh kekuatan orang-orang dari balik bukit itu sudah berada didalam padukuhan.

Tetapi para pengawal padukuhan itu bersama seluruh anak-anak mudanya telah bersiap. Bahkan hampir setiap laki-laki di padukuhan itu sudah mempersiapkan diri untuk bertempur dimanapun juga.

Karena itu, ketika mereka mendengar bahwa orang- orang yang menyerang padukuhan mereka telah memasuki padukuhan, maka merekapun telah menyongsong dengan jumlah yang cukup banyak. Mereka berdatangan dari segala penjuru padukuhan dengan senjata telanjang ditangan.

Ternyata bahwa bukan anak-anak muda sajalah yang mampu mempergunakan senjata. Orang-orang yang telah merambat keusia yang lebih tua, ternyata memiliki kemampuan pula. Mereka adalah justru bekas-bekas pengawal disaat Tanah Perdikan itu bergolak. Bahkan ada diantara mereka, yang setelah sekitar sepuluh tahun kemudian masih juga menjadi pengawal. Namun mereka dalam tugas mereka sehari-hari, tidak mendapat tugas yang berat seperti anak-anak mudanya. Bahkan sebagian dari mereka justru telah mendapat kepercayaan untuk membantu memberikan latihan-latihan kepada para pengawal yang masih muda.

Dengan demikian, maka orang-orang dari balik bukit itu telah membentur kekuatan yang cukup besar di padukuhan itu. Mereka berhadapan dengan anak-anak muda yang tenaganya seakan-akan justru sedang mekar. Namun diantara mereka terdapat orang-orang yang lebih tua, yang pengalamannya justru telah mengendap. Sehingga dengan demikian, maka pertahanan para pengawal padukuhan itupun menjadi cukup kuat.

Tetapi jumlah orang-orang yang menyerang padukuhan itu memang cukup banyak. Mereka masih saja berloncatan memasuki dinding. Seakan-akan tidak ada habis-habisnya.

Ki Bekel dan pemimpin pengawal Tanah Perdikan di padukuhan itu melihat kesulitan yang bakal timbul. Apalagi jika Ki Rangga dan Warsi memasuki padukuhan itu. Maka keadaan mereka akan menjadi semakin sulit.

Karena itu, maka Ki Bekel dan pemimpin pengawal itu sepakat untuk membunyikan isyarat dengan kentongan.

Namun sebelum isyarat itu dibunyikan, maka dua orang penghubung telah berlari-lari menemui Ki Bekel dan pemimpin pengawal padukuhan itu. “Ada apa?“ bertanya Ki Bekel.

“Pintu gerbang diujung yang lain dari lorong ini telah dibuka. Pasukan Pengawal berkuda dari padukuhan induk telah masuk,“ jawab penghubung itu.

“Siapa yang memimpin pasukan?“ bertanya Ki Bekel.

Penghubung itu menggeleng. Jawabnya, “Aku belum tahu. Aku tergesa-gesa menyampaikan berita ini kemari. Para pengawal yang bertugas di regol sebelah akan membawa mereka lebih dahulu ke banjar untuk menempatkan kuda-kuda mereka. Baru pasukan pengawal berkuda dari induk padukuhan itu akan kemari.”

“Apakah pasukan itu cukup besar?“ bertanya Ki Bekel. “Tidak terlalu besar. Tetapi cukup meyakinka n,“ jawab

penghubung itu.

Ki Bekel tidak bertanya lebih lanjut. Sementara itu pertempuran menjadi semakin sengit. Orang-orang dari balik bukit telah berhasil mendesak orang-orang padukuhan semakin dalam memasuki padukuhan mereka. Sementara regol padukuhan itu telah terbakar semakin besar. Cahaya api yang kemerah-merahan telah menambah cerahnya cahaya bulan yang belum bulat benar itu.

Ki Bekel dan pemimpin pengawal itu tidak beranjak dari tempat mereka. Mereka tidak dapat menyongsong kedatangan pasukan dari padukuhan induk, karena setiap saat pemimpin pasukan yang datang dari balik bukit akan memasuki piijtu gerbang yang sebentar lagi akan roboh.

Namun dalam pada itu, pasukan yang datang dari padukuhan induk dengan cepat menyiapkan diri. Beberapa orang diantara mereka dengan tangkas telah mengatur kuda-kuda mereka di banjar padukuhan sementara yang lain langsung menuju ke medan pertempuran. Pasukan berkuda itu dipimpin sendiri oleh pemimpin pasukan disertai pemimpin pengawal Tanah Perdikan Sembojan bersama Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu sendiri. Bahkan diikuti oleh beberapa orang tua yang disebut guru oleh Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu.

Sebenarnyalah Kiai Badra dan Kiai Sokalah yang ternyata telah mengikuti Iswari ke padukuhan itu, sementara Nyai Soka dan Bibi tinggal di rumah. Mungkin sesuatu dapat terjadi di padukuhan induk yang ditinggalkan. Namun sekelompok pasukan yang kuat masih tetap berada di padukuhan induk.

Demikianlah, maka Iswari disertai Kiai Badra dan Kiai Soka telah sampai ke pintu gerbang yang telah terbakar itu. Mereka telah menerima laporan singkat dari Ki Bekel tentang apa yang terjadi. Bahkan Ki Bekel itupun kemudian bertanya, “Kenapa Nyi Wiradana tidak langsung menyergap mereka dari luar, tetapi justru masuk ke padukuhan lewat pintu gerbang yang lain?”

“Kami melihat api,“ jawab Iswari, “karena itu kami menuju pintu gerbang yang lain. Ternyata kami dapat masuk kedalam padukuhan ini. Karena itu, kami akan bertempur bersama para pengawal di dalam padukuhan.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Kami mengucapkan terima kasih atas kesediaan Nyi Wiradana untuk hadir sendiri di padukuhan ini. Dengan demikian, maka padukuhan ini akan merasa dirinya benar- benar mendapat perlindungan dari pimpinan tertinggi Tanah Perdikan ini.” “Bukankah itu sudah kewajibanku?“ sahut Nyi Wiradana.

Demikianlah maka pertempuran di padukuhan itu menjadi semakin sengit. Pasukan pengawal berkuda yang telah menebar, ternyata memberikan pengaruh yang sangat besar pada pertempuran itu. Meskipun jumlah mereka tidak terlalu banyak, namun mereka adalah pengawal-pengawal pilihan, sehingga bersama-sama dengan hampir semua laki-laki di padukuhan itu, mereka telah bertempur dengan gigihnya.

Dalam pada itu, ternyata bukan hanya pasukan berkuda sajalah yang kemudian telah datang ke padukuhan itu.

Ternyata bahwa kelompok-kelompok kecil dari padukuhan- padukuhan terdekat juga telah datang membantu. Mereka tidak dapat mengirimkan seluruh kekuatan di padukuhan mereka, karena mereka harus memperhitungkan kemungkinan yang buruk, jika para penyerang itu justru datang ke padukuhan mereka pula.

Api yang menyala di pintu gerbang merupakan isyarat yang telah memanggil mereka untuk membantu. Sehingga beberapa saat kemudian jumlah para pengawal yang bertempur disamping laki-laki di padukuhan itupun menjadi semakin banyak.

Iswari, Ki Bekel dan beberapa orang pemimpinlainnya masih menunggu di belakang api yang semakin mengecil. Bahkan sejenak kemudian maka pintu gerbang yang terbakar itupun telah runtuh menjadi abu.

Demikian gerbang itu runtuh, maka para pemimpin dari kedua belah pihak segera melihat, dengan siapa mereka berhadapan. Warsi menggeram. Ia tidak mengira, bahwa demikian cepatnya Iswari ada di padukuhan itu. Namun ia merasa juga beruntung, bahwa dengan demikian ia akan sempat menjajagi ilmunya.

Ki Rangga Gupita yang melihat kehadiran Iswari segera memperingatkan Warsi, “Kau jangan tenggelam dalam gejolak perasaanmu. Ingat, kita baru akan menjajagi kemampuan para pengawal Tanah Perdikan ini.”

Warsi mengerutkan keningnya. Sebelum ia menjawab Ki Rangga berkata pula, “Bulan belum bulat malam ini.”

Warsi memang menengadahkan wajahnya kelangit.

Bulan memang belum bulat.

Untuk beberapa saat para pemimpin itu menunggu. Mereka tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi.

Sementara itu di balik bukit Sambi Wulung dan Jati Wulung masih mengintai orang-orang yang tidak ikut dalam kelompok-kelompok yang menyerang Tanah Perdikan Sembojan. Mereka agaknya tidak mempunyai tugas tertentu selain mempersiapkan diri untuk tugas besar yang akan dilakukan oleh semua kekuatan yang ada di balik bukit itu. Dua hari lagi, saat bulan penuh, mereka akan menyerang Tanah Perdikan Sembojan dengan seluruh kekuatan ke padukuhan induk dan menghancurkan semua isinya.

Sambi Wulung dan Jati Wulung yang masih bersembunyi di belakang gerumbul-gerumbul perdu itu tidak segera meninggalkan tempat itu. Mereka yakin, bahwa Tanah Perdikan akan dapat mengatasi kehadiran beberapa kelompok orang dari balik bukit itu meskipun dipimpin langsung oleh Ki Rangga Gupita dan Warsi sendiri. Tetapi di Tanah Perdikanpun terdapat orang-orang yang akan dapat mengimbangi kemampuan mereka.

Karena itu, maka kedua orang itu ternyata telah mempunyai rencana mereka sendiri.

Beberapa saat kemudian, keduanya sama sekali tidak menjauhi tempat itu, tetapi justru semakin mendekat.

Dalam cahaya bulan, mereka melihat dua orang yang bertugas mengamati keadaan. Keduanya berjalan saja sambil berbicara perlahan-lahan. Nampaknya keduanya terlalu yakin bahwa tidak akan terjadi sesuatu di balik bukit itu.

Dengan sikap yang kurang berhati-hati kedua berdiri diatas tebing sambil memandang ke dalam bayangan bulan. Sementara itu agak kebawah terdapat beberapa buah goa yang dihuni oleh kelompok-kelompok pengikut Ki Rangga dan Warsi serta beberapa kelompok lain yang telah bergabung dengan mereka, sementara mereka membelakangi punggung pebukitan yang memang tidak terlalu tinggi. Panggung bukit yang dijalari jalan setapak yang telah dilewati kawan-kawannya yang pergi ke Tanah Perdikan Sembojan.

Nampaknya bayangan bulan yang gelap di lembah sempit dihadapan mereka telah menarik perhatian mereka. Puncak-puncak pepohonan liar nampak kehitam-hitaman. Namun yang tidak mereka perhitungkan sama sekali adalah dua orang dibalik gerumbul yang telah menarik tali busur mereka.

Sejenak kemudian, kedua orang itu bagaikan terlempar kedalam jurang yang tidak begitu dalam dan tanpa sempat mengeluh karena anak-panah telah menembus dari punggung mereka langsung mengenai jantung.

Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak segera meninggalkan tempat. Mereka itu masih merayap mendekat. Ketika mereka melihat dua orang yang berjaga- jaga sambil duduk diatas sebuah batu raksasa dipinggir jalan sempit yang menuruni tebing menuju ke goa mereka, maka sekali lagi tali busur mereka bergetar. Kedua orang itupun sama sekali tidak sempat mengaduh. Mereka terdorong dan jatuh kebalik batu raksasa itu.

Demikianlah dengan diam-diam, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mengurangi jumlah lawan yang mungkin akan datang ke padukuhan induk Tanah Perdikan. Orang- orang yang bertugas disekitar sarang dari orang-orang yang berada di balik bukit itupun telah hilang tanpa sempat memberikan isyarat.

Bahkan Sambi Wulung dan Jati Wulung telah bergerak lebih dekat lagi dengan goa-goa yang ada beberapa buah di lereng bukit yang berseberangan dengan arah Tanah Perdikan itu.

Ternyata bahwa orang-orang yang tinggal di goa itu memang belum tidur. Beberapa orang diantara mereka masih berkeliaran didepan goa. Namun agaknya yang lain memang telah beristirahat didalam.

Sambi Wulung dan Jati Wulung memang orang-orang yang berani. Selain kemampuan membidik yang tinggi, keduanya memiliki ilmu yang tinggi pula. Meskipun keduanya masih belum ingin terlibat kedalam pertempuran langsung, namun keduanya memiliki keyakinan, bahwa orang-orang didalam goa itu tidak akan mampu mengejarnya jika keduanya mengelakkan diri. Karena itu, untuk beberapa saat keduanya masih menunggu kesempatan. Orang-orang yang bernasib buruk ternyata masih saja terdapat di tempat itu. Seorang yang termangu-mangu disisi mulut goa telah jatuh pula terkulai.

Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi ragu-ragu ketika mereka melihat lima orang sedang memanaskan diri diseputar api yang tidak terlalu besar. Agaknya kelima orang itu tidak akan dapat dikenainya bersama-sama sehingga jika dua diantara mereka terbunuh, maka yang lain tentu mempunyai kesempatan untuk memberikan isyarat.

Karena itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah menunggu.

Namun agaknya seseorang telah menemukan tubuh kawannya yang terbaring jatuh. Dari kejauhan terdengar seseorang berteriak nyaring, “Kawan kita terbunuh.”

Beberapa orang didalam goa telah dengan sigapnya meloncat keluar dan berlari-lari ke arah suara itu. Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung ternyata masih mempergunakan kesempatan terakhirnya. Apapun yang dilakukan, maka sebentar lagi, semua orang ditempat itu tentu akan mengetahui bahwa kawan-kawannya telah terbunuh.

Karena itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung telah bertekad untuk membunuh kelima orang itu sebelum mereka sempat pergi.

Ternyata ketangkasan kedua orang itu sangat mengagumkan. Dalam sekejap, dua orang telah tertusuk ujung panah didada mereka. Sementara itu, ketiga orang lainnya memang sempat menarik pedang mereka sambil berteriak. Tetapi dua diantara mereka tidak mampu menangkis anak panah yang meluncur seperti tatit diudara. Sementara orang kelima memang sempat meloncat dan menjatuhkan diri berguling ditanah. Kemudian melenting berdiri dan meloncat kebelakang gerumbul. Namun akhirnya ia juga terkapar jatuh. Bahkan dua anak panah telah menembus tubuhnya.

Sarang para pengikut Warsi dan Ki Rangga Gupita itu memang menjadi gempar. Beberapa orang segera berlarian. Sebagian ke arah orang pertama yang berteriak karena melihat kawannya terbunuh oleh anak panah, sementara yang lain berlari ke arah teriakan dari orang terakhir yang terkena anak panah itu.

Ketika beberapa orang kemudian berlari-lari, ternyata bukan hanya satu dua orang saja yang terkena panah, tetapi jauh lebih banyak.

Sementara keributan itu terjadi, Sambi Wulung dan Jati Wulung telah pergi menjauh. Keduanya menyusuri jalan setapak naik kepunggung bukit. Namun kemudian mereka berdua telah keluar dari jalan setapak itu dan berada didalam gerumbul-gerumbul yang cukup lebat.

Tetapi dari tempatnya Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak sempat melihat keributan dilembah, didepan beberapa buah goa yang dihuni oleh para pengikut Ki Rangga Gupita dan Warsi.

Namun setelah beberapa saat mereka menunggu, maka yang mereka tunggu itu benar-benar telah datang.

Beberapa orang nampaknya berusaha mengejar mereka mengikuti jalan setapak. Sambi Wulung dan Jati Wulung membiarkan mereka lewat. Tetapi ketika yang nampak dari tempat keduanya bersembunyi adalah punggung orang-orang itu, maka keduanya mulai membidik.

Dalam sekejap dua orang mengaduh dan jatuh terkapar.

Demikian iring-iringan itu berhenti dan berpaling melihat kedua kawannya jatuh, dua orang lagi telah terbanting ditanah. Sementara orang ke lima dan keenampun tidak sempat menyelamatkan dirinya.

Namun orang ketujuh dan berikutnya telah menghambur kebalik gerumbul-gerumbul liar disekitarnya.

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak menghiraukan mereka lagi. Keduanya segera mengendap-endap meninggalkan tempat itu. Mereka sadar bahwa masih ada beberapa orang yang hidup. Tetapi agaknya Sambi Wulung dan Jati Wulungpun akan mengalami kesulitan untuk dapat membunuh mereka semuanya.

Dengan demikian maka sisa orang-orang itupun telah ditinggalkannya justru menuruni bukit diseberang. Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak mengalami kesulitan, karena petugas sandi dari Tanah Perdikan Sembojan telah menunjukkan jalan kepada mereka. Bukan jalan yang mengikuti jalan setapak. Tetapi jalan diantara gerumbul- gerumbul perdu dan batu-batu padas.

Karena itulah, maka para pengikut Warsi dan Ki Rangga serta orang-orang yang bergabung dengan mereka tidak dapat menemukan orang-orang yang telah menyerang kawan-kawan mereka dengan panah.

Seorang pemimpin kelompok yang menjadi sangat marah telah bersepakat dengan beberapa orang yang lain untuk mengerahkan orang-orang mereka mencari keseluruh punggung bukit. Di lembah dan relung-relung, sementara yang lain mengikuti jalan setapak sampai menuruni bukit yang menghadap ke Tanah Perdikan Sembojan. Tetapi mereka tidak menemukan seseorang. Yang mereka temukan adalah tubuh-tubuh yang terbujur membeku dengan anak panah yang menembus tubuhnya menusuk jantung.

“Gila,“ geram para pemimpin kelompok, “sangat memalukan. Serangan iblis seperti ini dapat terjadi tanpa perlawanan sama sekali.”

Namun hal itu nyatanya memang sudah terjadi.

Sementara itu agak jauh dibawah bukit, disebuah padukuhan yang cukup besar dari lingkungan Tanah Perdikan Sembojan, pertempuran telah terjadi dengan sengitnya. Para pengawal padukuhan itu dibantu oleh para pengawal berkuda serta beberapa pengawal dari padukuhan sekitarnya, yang meskipun jumlahnya kecil namun bersama-sama dari beberapa padukuhan, jumlahnya menjadi cukup pula.

Para pengikut Ki Rangga dan Warsipun mengetahui, bahwa mereka tidak bertempur sesungguhnya untuk merebut padukuhan itu. Tetapi tugas mereka adalah untuk menjajagi kemampuan para pengawal Tanah Perdikan.

Namun ketika mereka benar-benar telah terlibat dalam pertempuran, maka tidak ada lagi bedanya, apakah mereka sedang menjajagi kemampuan para pengawal atau mereka memang ingin menghancurkan padukuhan itu. Karena para pengawal itupun dengan senjatanya tidak lagi sekedar menunjukkan kemampuan mereka, tetapi mereka benar- benar ingin membunuh para pengikut Ki Rangga dan Warsi itu sebanyak-banyaknya. Demikianlah maka pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak telah meningkatkan kemampuan mereka masing-masing.

Ternyata bahwa para pengikut Ki Rangga, Warsi dan orang-orang yang bergabung dengan mereka, yang sebagian adalah bekas prajurit yang kehilangan pegangan sebagaimana Ki Rangga Gupita, harus mengakui, bahwa para pengawal Tanah Perdikan adalah anak-anak muda yang telah terlatih baik. Bahkan laki-laki yang sudah lebih tuapun mampu mempergunakan senjatanya, apalagi mereka yang pernah menjadi pengawal Tanah Perdikan justru pada saat Tanah Perdikan itu bergejolak.

Dalam pada itu, Ki Rangga, Warsi, beberapa orang pemimpin dari kelompok-kelompok yang bergabung bersamanya serta beberapa pengawal masih berada di depan regol yang telah menjadi abu. Namun sejenak kemudian, tangannya yang gemetar telah bergerak menyentuh senjatanya.

“Ingat,“ sekali lagi Ki Rangga mengingatkan, “kau masih menunggu dua hari lagi.”

Warsi berdesah. Tetapi iapun kemudian memberi isyarat kepada para pemimpin dari pengikutnya serta orang-orang yang bergabung bersamanya untuk memasuki padukuhan.

Mereka telah berloncatan diatas reruntuhan yang dibeberapa bagian masih menyala. Namun, tenaga mereka mampu melontarkan mereka melampaui reruntuhan yang panas itu.

Didalam, Iswari memang telah menunggu. Dua orang kakeknya yang juga gurunya berdiri disebelah menyebelahnya. Sementara pemimpin pengawal dan pemimpin pengawal berkuda telah siap pula bersama beberapa orang pengawal terpilihnya.

Warsi nampaknya hampir tidak dapat mengendalikan diri lagi. Setelah kekalahannya sekitar sepuluh tahun yang lalu, maka dendamnya bagaikan membakar kepalanya.

Meskipun Ki Randu Keling berusaha untuk membujuknya agar ia menganggap bahwa persoalannya dengan Iswari telah selesai, namun dendam Warsi yang membara rasa- rasanya tidak akan dapat terhapus tanpa lepasnya nyawanya atau membunuh Iswari.

Karena itu, maka tanpa menghiraukan apapun juga, maka Warsipun dengan serta merta telah menyerang Iswari yang sudah siap menunggunya.

Kiai Badra dan Kiai Soka yang ada disebelah menyebelahnya mengamatinya dengan tegang. Namun mereka-pun kemudian harus bertempur pula melawan para pemimpin yang ikut bersama Warsi, termasuk Ki Rangga Gupita.

Ki Bekel dan pemimpin pengawal dari padukuhan itu, menyadari, bahwa mereka memang harus menepi. Jika tidak, maka ilmu yang tinggi diantara para pemimpin dari kedua belah pihak itu akan dapat melumatkannya.

Beberapa saat kemudian, Warsi dan Iswari memang sudah bertempur. Dendam Warsi yang menyala telah mendorongnya untuk sampai pada tataran yang tinggi dari ilmunya, meskipun Warsi berusaha sekuat tenaganya untuk tidak sampai kepuncak, dan tidak melibatkan diri dari pertempuran hidup dan mati melawan Iswari. Sejenak kedua perempuan itu bertempur. Setelan sekitar sepuluh tahun yang lalu, maka ternyata kedua orang itu telah meningkatkan ilmunya. Warsi merasa dininya telah menjadi semakin mapan dengan ilmunya, sehingga karena itu, maka ia telah berusaha menjajaginya dengan membenturkan ilmunya itu langsung kepada Iswari, orang yang paling didendamnya.

Iswari memang terkejut melihat kekayaan unsur gerak yang kemudian dimiliki oleh Warsi. Kecepatannyapun telah meningkat serta rasa-rasanya ilmu perempuan itu memang benar-benar telah menjadi matang.

Namun Iswaripun mempergunakan perhitungan pula.

Sebagai Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan ia sadar, bahwa yang dilakukan oleh Warsi itu tentu belum seluruhnya. Warsi masih belum menyerang padukuhan induk serta belum mempergunakan seluruh kekuatannya.

Karena itu, maka Iswaripun sekedar melayani Warsi pada tataran ilmu yang seimbang. Iswari masih belum menunjukkan tingkat terakhir dari ilmu Janget Kinatelon yang telah disempurnakan oleh ketiga orang gurunya.

Meskipun demikian, meskipun kedua orang perempuan itu masih belum sampai kepuncak, namun pertempuran diantara merekapun menjadi semakin sengit. Keduanya berloncatan dengan cepat sekali dan dengan langkah- langkah panjang. Tangan Warsi bergerak-gerak kesegala arah, seakan-akan kedua tangannya itu telah menjadi beberapa pasang tangan yang bergerak bersama-sama.

Tetapi Iswaripun bagaikan tidak berjejak diatas tanah. Kakinya telah melontarkan tubuhnya yang seakan-akan menjadi tanpa bobot. Sehingga dengan demikian, maka tubuh Iswari bagaikan bayangan yang berputaran membingungkan.

Demikianlah kedua orang perempuan itu telah bertempur diantara hiruk pikuk pertempuran. Sementara itu Ki Rangga Gupitapun telah bertemu dengan Kiai Badra yang tua. Namun orang yang nampaknya sudah terlalu tua itu masih saja mampu mengimbangi ketangkasan gerak Ki Rangga Gupita.

“Iblis manakah yang merasuk didalam tubuhmu yang telah menjadi rapuh itu he?“ bertanya Ki Rangga Gupita.

“Aku memang sudah tua,“ jawab Kiai Badra, “aku sudah punya cicit. Bahkan cicitku sudah hampir dewasa. Beberapa tahun lagi aku harapkan bahwa aku akan mempunyai udeg- udeg. He, bukankah anak dari cicit itu disebut udeg-udeg.?”

“Persetan,“ geram Ki Rangga sambil menyerang Kiai Badra yang tua itu.

Kiai Badra masih saja dapat bergerak dengan tangkas.

Meskipun dukungan kewadagannya tidak lagi seperti beberapa tahun yang lalu, tetapi karena dorongan kekuatan cadangan didalam dirinya, maka ia tetap seorang yang sangat berbahaya.

Dalam pada itu, pertempuran di bagian lain dari padukuhan itupun berlangsung dengan sengitnya. Para pengikut Warsi dan Ki Rangga, yang sebagian terdiri dari bekas prajurit di masa pergolakan antara Jipang dan Pajang, harus mengakui, bahwa pengawal di Tanah Perdikan itu terdiri dari anak-anak muda yang terlatih baik, didampingi oleh orang-orang tua yang berpengalaman, sehingga dengan demikian maka mereka harus berhati-hati menghadapi Tanah Perdikan Sembojan. Pemimpin- pemimpin kelompoknyapun terpilih diantara orang-orang terbaik dari antara para pengawal. Merekapun ternyata memiliki pengetahuan perang gelar yang cukup luas serta memiliki kemampuan pribadi yang memadai.

Karena itulah, maka para pengikut Warsi dan Ki Rangga itu harus benar-benar berhati-hati menghadapi lawan mereka.

Dalam pada itu, Ki Ranggapun sempat memperhatikan beberapa orang yang bertempur disekitarnya. Iapun melihat betapa pertahanan Tanah Perdikan cukup kuat.

Sambil bertempur melawan Kiai Badra, maka Ki Rangga berusaha menilai keadaan, sementara Kiai Badra sendiri sama sekali tidak berusaha untuk menekan lawannya. Kiai Badra seakan-akan dengan sengaja memberi kesempatan kepada Ki Rangga untuk melihat keseimbangan pertempuran itu. Karena itu, setiap kali Ki Rangga berusaha menjauhinya, maka Kiai Badra sama sekali tidak memburunya.

Dengan demikian maka Ki Rangga itu berhasil mengamati pertempuran itu dengan saksama. Iapun sempat menyaksikan pertempuran antara Warsi dan Iswari yang meningkat memasuki tataran ilmu yang semakin tinggi.

Sebenarnyalah bahwa bagi Warsi dan Iswari, kesempatan itu tidak akan ada bedanya dengan kesempatan kapanpun juga yang akan mereka peroleh. Karena itu, selagi mereka bertemu di arena maka memang sulit bagi keduanya untuk mengekang diri.

Meskipun belum sampai pada puncak ilmu mereka masing-masing, maka pada setiap kesempatan, serangan mereka benar-benar merupakan serangan-serangan yang berbahaya. Bahkan serangan-serangan yang benar-benar mengarah ke tempat-tempat yang paling berbahaya pada tubuh seseorang.

Tetapi keduanyapun memiliki ketangkasan untuk menghindari. Namun sekali-sekali mereka menangkis serangan itu. Dengan demikian terjadi benturan-benturan kecil yang dapat dipergunakan untuk menjajagi kemampuan lawan.

Dalam pada itu, Ki Rangga yang memang rasa-rasanya lebih bebas untuk mengamati keadaan melihat Warsi dan Iswari justru semakin meningkatkan ilmu mereka.

Beberapa saat kemudian, Ki Rangga menganggap bahwa yang harus mereka lakukan memang sudah selesai.

Sementara itu Raden Rangga tahu, bahwa bantuan dari padukuhan-padukuhan kecil disekitar padukuhan yang agak besar itu menjadi semakin banyak sehingga Ki Rangga tidak mau menanggung akibat yang lebih buruk lagi bagi orang-orangnya yang pada saatnya akan benar-benar dipergunakan.

Karena itu, maka Raden Rangga memang menganggap bahwa penjajagan yang mereka lakukan saat itu telah cukup.

Dengan demikian, maka Ki Rangga Gupitapun telah membunyikan aba-aba untuk meninggalkan padukuhan itu. Tanda-tanda sandi yang hanya diketahui oleh orang- orangnya.

Sejenak kemudian isyarat itupun telah tersebar diseluruh medan. Dengan demikian, meskipun para pengawal padukuhan semula tidak tahu maksudnya, namun akhirnya mereka dapat menduga, apakah yang dimaksud dengan isyarat itu.

Sebenarnyalah, maka sejenak kemudian para pengikut Ki Rangga Gupita dan Warsi itu telah melakukan gerakan yang mengejutkan para pengawal. Namun sejenak kemudian, mereka memanfaatkan kesempatan yang timbul untuk menarik mundur pasukan mereka. Tidak dengan perlahan-lahan. Tetapi dalam keremangan bayangan pepohonan di padukuhan, mereka telah menghambur berlari ke dinding padukuhan.

Sejenak kemudian, maka orang-orang dari balik bukit itu telah berloncatan keluar dari dinding padukuhan.

Di bagian dalam regol padukuhan itu, Warsipun telah bersiap-siap untuk meninggalkan padukuhan itu. Ki Rangga telah mengatur beberapa orang pengikutnya untuk menimbulkan suasana yang memungkinkan mereka keluar dari padukuhan itu. Mereka tidak perlu lagi meloncati abu yang panas dari pintu gerbang yang telah terbakar, karena api memang telah padam.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, orang-orang dari balik bukit itupun telah berloncatan meninggalkan arena. Ketika para pengawal akan mengejar mereka, maka Iswari telah memberikan isyarat, agar mereka tidak melakukannya.

“Mungkin kalian akan memasuki satu jebakan di luar padukuhan,“ pesan Iswari kepada para pemimpin pengawal.

Para pengawal memang menjadi kecewa. Tetapi mereka mengerti sikap hati-hati Iswari, karena lawan mereka adalah orang-orang yang sangat licik. Sehingga dengan demikian maka para pengawal memang tidak berusaha untuk mengejar lawan-lawan mereka yang melarikan diri.

Pertempuran yang terjadi memang bukan pertempuran antara hidup dan mati dari kedua belah pihak. Meskipun demikian ada juga korban yang jatuh. Baik dari antara para pengawal, maupun dari orang-orang di balik bukit. Bahkan diantara para penyerang terdapat pula beberapa orang yang tertangkap karena mereka tidak berhasil melarikan diri oleh luka-lukanya.

Tetapi para pemimpin di Tanah Perdikan itu memang tidak terlalu banyak mengharap keterangan dari mereka. Mereka tentu sudah mendapat petunjuk-petunjuk, bahkan perintah yang disertai dengan ancaman, agar mereka tidak memberikan penjelasan tentang kedudukan mereka.

Namun Iswari masih berpengharapan untuk mendapatkan keterangan itu. Mungkin keterangan yang didengar dari orang-orang yang tertawan itu akan dapat digabungkan dengan keterangan dari Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Dalam pada itu, untuk beberapa saat Iswari dan Ki Bekel telah membenahi padukuhan itu. Mereka berusaha untuk menemukan semua orang yang terluka. Setiap orang harus melaporkan jika mereka tidak melihat seseorang yang dikenalnya. Apakah tetangganya, apakah justru keluarganya atau siapa saja, sehingga dengan segera dapat diketahui para korban yang jatuh malam itu.

Karena itulah, maka pencaharian telah dilakukan dengan mengerahkan semua orang, terutama di bekas arena pertempuran. Sedangkan orang-orang yang tertawan telah dibawa ke banjar. Adapun orang-orang padukuhan itu yang terluka dan yang menjadi korban telah dibawa kerumah Ki Bekel.

Meskipun pertempuran itu terhitung tidak terlalu lama, namun memang ada korban yang jatuh diantara orang- orang padukuhan itu. Seorang pengawal dan dua orang yang lain telah gugur. Sedangkan lima orang terluka cukup parah dan lebih dari sepuluh orang telah tergores senjata.

Beberapa orang telah sibuk membantu seorang tabib yang disegani di padukuhan itu. Dengan kepandaiannya meramu berbagai macam dedaunan dan beberapa jenis akar-akaran, maka ia telah membuat obat yang dapat dipergunakan untuk mengobati luka-luka baru sehingga dalam wiaktu singkat darahpun telah menjadi pempat.

Sementara di padukuhan itu terjadi kesibukan untuk merawat orang-orang yang gugur dan terluka, bahkan juga merawat orang-orang dari balik bukit yang tertawan, Warsi dan Ki Rangga telah membawa orang-orangnya kembali.

Merekapun dengan cepat mengetahui bahwa tujuh orang tidak ada lagi diantara mereka. Mungkin terbunuh, tetapi mungkin juga tertawan.

Sebenarnyalah diantara tujuh orang itu, dua orang memang terbunuh. Empat orang terluka parah, sedangkan yang seorang benar-benar tertawan tanpa segores lukapun ditubuhnya. Sedang juga lebih dari sepuluh orang yang terluka ringan sempat ikut serta melarikan diri dari padukuhan itu.

Diperjalanan beberapa orang pemimpin kelompok terpaksa mengobati luka orang-orangnya yang mengalirkan darah, agar mereka tidak mengalami nasib buruk, justru karena kehabisan darah, sementara luka-lukanya tidak termasuk luka yang parah. Iring-iringan pasukan dari balik bukit itu memang menghindari padukuhan-padukuhan yang tentu sudah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Meskipun padukuhan-padukuhan itu kecil dan kekuatan para pengawal dan anak-anak mudanya tidak seberapa, tetapi mereka akan dapat membunyikan syarat, sehingga pengawal berkuda akan dapat dengan cepat datang ke padukuhan itu, sementara mereka memang tidak berniat untuk merebut kedudukan yang manapun juga.

Ketika iring-iringan itu mencapai kaki bukit, maka dua pasang mata mengikutinya dari kejauhan. Ternyata Sambi Wulung dan Jati Wulung belum kembali ke padukuhan induk. Meskipun keduanya telah menjauhi sarang para pengikut Ki Rangga dan Warsi sehingga keduanya telah melintasi bukit sehingga mereka sudah berada dilereng yang menghadap ke Tanah Perdikan Sembojan, namun keduanya masih bersembunyi dibalik gerumbul sambil menunggu iring-iringan yang tentu akan melintasi jalan setapak, mendaki bukit dan turun keseberang.

Beberapa saat Sambi Wulung dan Jati Wulung mengamati iring-iringan itu. Ternyata pasukan itu masih cukup segar. Tidak terlalu banyak orang yang harus dirawat.

“Pertempuran tidak berlangsung lama,“ desis Jati Wulung.

“Tentu belum pertempuran yng sesungguhnya,“ berkata Sambi Wulung, “tetapi mereka tentu akan memaki -maki setelah mereka mendapat laporan tentang orang-orang mereka yang terbunuh.” Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian berdesis, “Apakah kira -kira Puguh ada diantara mereka?”

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Dari tempatnya, mereka tentu tidak akan dapat melihat seandainya Puguh ada pula didalam iring-iringan itu. Meskipun masih remaja, tetapi ujudnya sudah tidak dapat dibedakan dengan orang-orang dewasa. Jika Puguh ada diantara orang-orang itu, maka bentuk tubuhnya tentu tidak akan dapat menunjukkan bahwa seorang anak muda remaja ada diantara mereka.

“Kemu ngkinan kehadirannya harus kita perhitungkan,“ berkata Sambi Wulung kemudian.

“Maksudmu?“ bertanya Jati Wulung.

“Mungkin Puguh tidak sendiri. Mungkin ia membawa pengawal yang pernah melihat kita di padepokannya. Karena itu, jika kita akan turun kedalam pertempuran yang sebenarnya jika mereka menyerang padukuhan induk, maka kita harus dapat menyamarkan diri,“ berkata Sambi Wulung.

Jati Wulung mengangguk-angguk. Topeng-topeng kecil yang ujudnya menakutkan itu terdapat didekat pintu-pintu gerbang padukuhan induk. Agaknya mereka memang akan menyerang padukuhan induk itu. Sejalan dengan kepercayaan Warsi tentang bulatnya bulan, maka memang dapat diperhitungkan, kapan Warsi akan menyerang.

Namun dalam pada itu, Jati Wulung itupun bertanya, “Masih ada beberapa anak panah. Apakah kita akan mempergunakannya?” Tetapi Sambi Wulung menggeleng. Katanya, “jangan. Biarlah mereka berjalan dengan tenang sampai ke sarang mereka. Baru mereka akan mengumpat-umpat.”

Jati Wulung tidah menyahut. Diamatinya iring-iringan yang menjadi semakin jauh dibawah siraman cahaya bulan yang cerah meskipun belum bulat.

Beberapa saat kemudian, maka ujung dari iring-iringan itu mulai merambat naik, mengikuti jalan setapak seperti seekor ular raksasa yang merambat.

Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya dapat memandanginya dari kejauhan. Bahkan kemudian setelah iring-iringan itu memanjat semakin tinggi, maka Sambi Wulungpun berkata, “Marilah. Kita lihat, apa yang telah terjadi.”

“Kita akan kemana? Kembali ke padukuhan induk?“ bertanya Jati Wulung.

“Iring -iringan itu tentu tidak pergi ke padukuhan induk.

Kita akan bertanya kepada para peronda di padukuhan, kemana orang-orang itu pergi,“ desis Sambi Wulung.

Demikianlah, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah meninggalkan lereng bukit itu menuju ke padukuhan. Dari orang-orang padukuhanlah maka Sambi Wulung dan Jati Wulung menduga dari mana iring-iringan itu pergi.

Apalagi ketika keduanya mendapat keterangan tentang api yang menyala dipintu gerbang sebuah padukuhan.

“Mereka tentu dari sana,“ b erkata Sambi Wulung. Dengan tergesa-gesa dan hati yang berdebar-debar keduanya telah pergi menuju ke padukuhan yang pintu gerbangnya telah terbakar.

Sebenarnyalah, bahwa orang-orang dari balik bukit itu telah membakar regol padukuhan yang lebih besar dari padukuhan-padukuhan yang lain disekitarnya, sehinga sejenak kemudian maka Sambi Wulung dan Jati Wulung sempat melihat akibat dari pertempuran yang terjadi di padukuhan itu, sementara Iswari, Kiai Badra dan Kiai Soka masih berada di padukuhan itu pula.

Sementara itu, maka para pengikut Ki Rangga Gupita dan Warsi telah melintasi puncak bukit dan kemudian menuruni tebing diseberang. Namun mereka terkejut ketika mereka melihat beberapa buah obor yang dipasang didepan sarang mereka. Apalagi ketika mereka menjadi semakin dekat. Mereka melihat beberapa sosok tubuh yang terbaring diam di plataran goa yang terbesar yang terdapat di lekuk pebukitan itu.

“Apa yang telah terjadi disini?“ Warsi hampir berteriak.

Orang yang diserahi tanggung jawab selama Ki Rangga dan Warsi meninggalkan sarangnya itu melangkah mendekat dengan jantung yang terasa berdegup semakin keras. Katanya dengan suara bergetar, “Sarang kita sudah kemasukan iblis.”

“Apa maksudmu?“ bertanya Warsi dengan mata terbelalak.

“Seseorang telah memasuki lingkungan ini dan membunuh kawan-kawan kita dengan licik,“ jawab orang itu. Wajah Warsi menjadi merah membara, sementara Ki Rangga bertanya dengan suara gagap, “Apa yang telah dilakukannya?”

“Mereka membunuh kawan -kawan kita dengan panah,“ jawab orang yang bertanggung jawab disaat Warsi dan Ki Rangga pergi itu.

Ki Rangga mengumpat dengan kasar. Dengan garangnya ia meloncat mendekati tubuh-tubuh yang terbaring itu. Disebelah setiap orang memang terdapat sebuah anak panah.

Dengan sorot mata yang penuh kemarahan dan dendam Ki Rangga melihat setiap anak panah yang telah membunuh orang-orangnya.

Sementara ia mengumpat-umpat kasar, maka seorang yang sudah berambut putih mendekatinya sambil berkata, “Kau tidak dapat mengumpat -umpat saja. Kau harus berbicara dengan para pemimpin dari kelompok ini.

Kematian orang-orang kita disarang sendiri adalah pertanda, betapa beratnya lawan yang akan kita hadapi. Tentu ada satu atau dua orang yang dengan sangat berani telah datang ke tempat ini.”

“Sedikitnya dua orang,“ be rkata salah seorang diantara mereka yang pada saat-saat terakhir hampir saja ikut menjadi sasaran anak panah Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Kita harus membalas kematian itu dengan kematian,“ geram Warsi.

“Apa yang akan kita lakukan?“ bertanya orang yang sudah berambut putih. “Kita membunuh orang -orang Tanah Perdikan Sembojan sebanyak-banyaknya,“ berkata Warsi.

“Apakah pantas jika kita membunuh orang -orang yang tidak terlibat langsung dalam pertentangan ini?“ bertanya orang berambut putih itu.

“Aku tida k peduli. Bahkan perempuan dan anak-anak. Mereka harus menebus kelicikan mereka dengan harga yang mahal,“ geram Warsi.

“Mereka sama sekali tidak licik. Mereka justru menunjukkan keberanian yang luar biasa. Jika kita kemudian membunuh siapa saja, termasuk perempuan dan anak-anak itulah yang disebut licik dan bahkan buas. Aku tidak sependapat. Kecuali jika kita dapat membedakan diantara orang-orang Sembojan, yang manakah pengawal dan yang manakah bukan,“ berkata orang berambut putih itu.

“Tetapi ketika kita memasuki padukuhan itu, kita harus melawan semua orang laki-laki. Bahkan yang tua-tua sekalipun. Sama sekali bukan hanya pengawal,“ geram Warsi.

Orang berambut putih itu mengangguk-angguk. Ia-pun ikut serta memasuki padukuhan itu untuk menjajagi kemampuan dan perlawanan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Menurut pengamatannya memang semua laki- laki telah melibatkan diri kecuali mereka yang telah menjadi pikun.

Dan seperti yang diduga, Warsipun berteriak, “Kita akan membunuh semua orang laki-laki di Tanah Perdikan Sembojan dimanapun kita bertemu untuk membalas kematian kawan-kawan kita karena kelicikan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan.”

Dalam pada itu, Kiai Badra dan Kiai Soka memang tengah berbincang dengan Iswari, Sambi Wulung dan Jati Wulung. Kedua orang tua itu memang menjadi sangat cemas karena langkah-langkah yang diambil oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung.

“Bagaimana jika orang -orang diseberang bukit itu mendendam kepada setiap orang Tanah Perdikan ini?“ bertanya Kiai Badra.

“Aku tidak sempat memikirkannya,“ berkata Sambi Wulung, “karena aku melihat sasaran yang menarik, maka aku telah melepaskan anak panahku.”

“Baiklah,“ berkata Kiai Badra, “kita harus cepat mengatasi kemungkinan yang paling buruk yang dapat terjadi. Kita harus menyebar penghubung keseluruh padukuhan di Tanah Perdikan ini. Tidak seorangpun dibenarkan keluar dari padukuhan, siang dan malam. Hanya untuk dua hari saja. Setelah bulan purnama, mungkin akan terjadi perubahan.”

“Jika pada saat purnama naik mereka tidak mengambil langkah-langkah penting, maka kita akan menyergap goa diseberang bukit itu guru,“ desis Iswari.

Kiai Badra mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti jalan pikiran Iswari, sementara Iswari itupun berkata, “Kita tidak mau selalu dibayangi oleh ketakutan hanya karena sekelompok orang berada di balik bukit. Dimalam purnama naik, kita akan menentukan sikap. Mereka atau kita yang akan menyerang. Jika malam itu mereka tidak menyerang, maka menjelang fajar, kitalah yang akan menyerang sehingga ketika matahari terbit, maka kita sudah memasuki lingkungan mereka.”

Kiai Sokapun kemudian menyahut, “Iswari, kita masih mempunyai kesempatan untuk memikirkannya. Besok siang kita akan berunding. Mungkin rencanamu itu baik untuk ditrapkan. Namun kita tidak boleh tergesa-gesa, karena banyak segi yang harus kita perhitungkan.”

“Tetapi kita tidak mau membiarkan Tanah Perdikan ini seakan-akan berada dibawah pengaruh orang-orang dibalik bukit itu. Seakan-akan kita hanya dapat melayani kemauan mereka tanpa dapat mengambil sikap sesuai dengan keinginan kita sendiri,“ berkata Iswari dengan wajah yang bersungguh-sungguh.

Kiai Badra dan Kiai Soka mengangguk-angguk. Mereka tidak membantah lagi. Mereka menyadari, bahwa jiwa Iswari memang sedang terbakar, sehingga mereka membiarkannya menjadi lebih tenang untuk sempat diajak berbicara.

Dalam pada itu, yang dapat dilakukan adalah perintah lewat para penghubung berkuda, bahwa tidak seorang-pun dibenarkan keluar dari padukuhan masing-masing untuk keperluan apapun. Nyawa mereka dapat terancam sehingga karena itu, maka setiap orang harus berjaga-jaga.

Hanya para pengawal saja yang dibenarkan untuk meronda dibulak-bulak panjang. Sementara itu di perbatasan, di gerbang-gerbang, para pengawal harus mengembalikan orang-orang dari luar Tanah Perdikan yang akan memasuki Tanah Perdikan itu untuk keperluan apapun. Mereka harus diyakinkan bahwa memasuki Tanah Perdikan Sembojan dalam suasana seperti saat itu adalah sangat berbahaya. Dengan demikian maka kehidupan di Tanah Perdikan Sembojan memang menjadi bagaikan terhenti. Kesibukan hanya terjadi di dalam padukuhan-padukuhan. Orang-orang yang tidak sempat pergi ke pasar harus mencukupi kebutuhannya dengan meminjam tetangga-tetangganya atau mencarinya dikebun belakang.

Namun dengan kesadaran yang tinggi, rakyat Tanah Perdikan Sembojan telah mematuhinya sebagaimana mereka patuh untuk tidak keluar malam dari padukuhan, karena saat itu mereka ditakut-takuti oleh gerombolan- gerombolan serigala.

Karena itulah, maka yang kemudian lewat menyusuri bulak-bulak panjang hanyalah para pengawal yang cukup kuat. Diantara mereka tentu ada yang menyandang busur dan membawa anak panah endong dipunggung. Jika orang-orang dari balik bukit akan membalas menyerang

mereka dengan anak panah, maka para pengawalpun telah bersiap melawan mereka.

Ketika kemudian langit menjadi merah, maka jalan- jalanpun tetap sepi. Tidak ada suara pedati yang memuat barang-barang dagangan yang akan dibawa kepasar. Tidak ada perempuan yang mendukung hasil bumi di sawahnya sambil berdendang disepanjang jalan. Dilereng-lereng gelap tidak nampak obor-obor yang menyala, yang biasanya beruntun berurutan menerangi kegelapan dibawah pohon- pohon besar di pinggir jalan.

Bahkan sampai saatnya matahari terbit, jalan-jalan di Tanah Perdikan Sembojan tetap sepi. Orang-orang dari luar Tanah Perdikan itu terpaksa kembali ke padukuhan masing- masing. Namun pada umumnya mereka merasa berterima kasih atas keterangan yang mereka dapatkan dari para pengawal di regol-regol jalan yang memasuki Tanah Perdikan itu.

“Keamanan jiwa kalian terancam,“ berkata para pengawal.

“Terima kasih. Mudah -mudahan keadaan seperti ini cepat dapat diatasi oleh para pemimpin dan rakyat Tanah Perdikan Sembojan,“ berkata orang yang terpaksa kembali itu.

Sebenarnyalah maka di balik bukit Warsi telah mengatur orang-orangnya. Beberapa orang harus turun ke Tanah Perdikan Sembojan. Mereka mendapat perintah untuk membunuh siapa saja yang mereka jumpai. Dengan senjata apapun yang dapat mereka pergunakan.

Justru karena Warsi yang hatinya bagaikan terbakar oleh peristiwa yang sama sekali tidak diduganya itu telah lupa berpesan bahwa hanya laki-laki sajalah yang boleh dibunuh.

Beberapa orang pilihan telah melintasi bukit dan turun ke lingkungan Tanah Perdikan Sembojan. Mereka nampaknya memang seperti orang-orang kebanyakan yang akan pergi kesawah atau ke pasar. Tidak nampak senjata di lambung mereka. Tetapi mereka membawa senjata-senjata pendek dibawah baju mereka. Sementara beberapa orang yang lain telah turun ke Tanah Perdikan dengan cara yang lain. Mereka berusaha untuk dilihat oleh siapapun. Mereka berusaha untuk menemukan orang-orang yang sedang pergi ke sawah dan membunuh mereka.

Tetapi ternyata mereka tidak menemukan seseorang. Disawah tidak ada petani yang mengairi sawah mereka. Dijalan-jalan tidak ada orang yang lewat. Bahkan jalan yang biasanya ramai dilalui orang yang pergi ke pasar, nampaknya terlalu sepi dan lengang.

Beberapa orang yang berpura-pura pergi ke pasar, telah mengikuti jalan yang biasanya ramai itu. Namun ketika ia sampai kesebuah padukuhan, maka para pengawal di pintu gerbang telah memberitahukan, sebaiknya mereka kembali saja.

“Kenapa?“ bertanya orang itu.

“Tanah Perdikan ini sedang dibayangi oleh kegelisahan.

Bahkan keadaan menjadi sangat gawat sekarang ini,“ berkata pengawal itu.

“Tetapi jika demikian pasar akan menjadi kosong.

Sedangkan kebutuhanku sangat mendesak,“ jawab orang itu.

“Kami hanya menginginkan kebaikanmu saja,“ jawab pengawal itu.

Terima kasih Ki Sanak. Tetapi beri kesempatan kami melihat pasar di padukuhan induk. Mungkin ada beberapa orang yang berjualan meskipun tidak sepenuh biasanya,“ berkata orang itu, “mungkin ada yang kami butuhkan itu.”

“Apakah Ki Sanak tidak yakin, bahwa pasar -pasar di Tanah Perdikan ini kosong? Ki Sanak, sebenarnya Ki Sanak ini dari mana? Apakah Ki Sanak tidak memasuki Tanah Perdikan ini lewat jalan induk atau beberapa jalan yang biasanya dilalui oleh sanak kadang dari luar Tanah Perdikan? Dan apakah Ki Sanak tidak mendapat pemberitahuan di pintu gerbang disaat Ki Sanak memasuki Tanah Perdikan ini?“ bertanya pengawal itu. Orang-orang itu termangu-mangu. Sementara itu, pemimpin pengawal padukuhan itu justru merasa heran melihat sikap mereka meskipun ia masih berdiam diri.

“Ki Sanak,“ berkata seorang diantara mereka,“ jangan hiraukan keselamatan kami. Kami yakin bahwa kami akan dapat menjaga diri kami.”

“Kami tidak menyangkal Ki Sanak,“ jawab seorang pengawal, “nampaknya kalian memang memiliki kemampuan untuk melindungi diri sendiri. Tetapi kami memang tidak ingin terjadi sesuatu di Tanah Perdikan kami. Jika disatu tempat kalian benar-benar diserang oleh orang- orang yang tidak dikenal disini, maka tentu akan terjadi pertempuran. Siapapun yang akan mati, maka kami, orang- orang Tanah Perdikan Sembojan tidak akan dapat begitu saja mencuci tangan. Kami harus menjawab pertanyaan- pertanyaan dari keluarga kalian atau siapapun yang berhubungan dengan kalian jika kalian gagal mempertahankan diri.”

Orang-orang itu termangu-mangu. Namun seorang diantara mereka berkata, “Terima kasih atas peringatan kalian. Kami akan meneruskan perjalanan. Kami akan menempuh jalan padukuhan ini dan menghindari jalan- jalan bulak sejauh mungkin.”

Para pengawal itu nampaknya masih saja berkeberatan.

Namun tiba-tiba saja pemimpin pengawal padukuhan itu berkata, “Baiklah Ki Sanak. Jika kalian memang akan meneruskan perjalanan. Asal segala tanggung jawab ada pada Ki Sanak sendiri. Mumpung masih pagi. Ki Sanak akan melihat bahwa pasar-pasar di Tanah Perdikan ini benar- benar kosong.” Beberapa orang itu saling berpandangan. Kemudian seorang diantara mereka berkata, “Terima kasih atas kesempatan ini. Kami mohon diri.”

Beberapa orang itupun kemudian melangkah meninggalkan regol padukuhan. Seorang diantara mereka sempat berbisik, “Kita tidak akan dapat membunuh seorangpun jika kita tidak memasuki padukuhan seperti ini. Ternyata semua orang telah di perintahkan untuk tinggal di padukuhan.”

“Nampaknya langkah kami benar. Kita harus membunuh siapa saja yang berpapasan dengan kita. Sokur dapat kita lakukan dengan diam-diam, jika tidak, kita harus mengambil sikap.”

“Kita mencari kesempatan. Kita membunuh dengan perhitungan,“ berkata yang lain.

Yang lain mengangguk-angguk. Merekapun kemudian berjalan tanpa melakukan sesuatu yang mencurigakan. Merekapun tidak menghiraukan meskipun mereka tahu, beberapa orang padukuhan itu memperhatikan mereka dari dalam regol-regol halaman mereka.

Seorang diantara mereka telah menggamit kawannya, ketika mereka melihat seorang laki-laki yang sedang menyapu jalan didepan regol halaman rumahnya. Dengan nada rendah ia berkata, “Mungkin orang itu akan menjadi korban pertama. Kita bunuh dan kita lemparkan kebelakang dinding halaman sebelahnya yang masih banyak ditunbuhi rumpun-rumpun bambu itu.”

“Dua orang diantara kita akan berjalan didepan. Semua harus berlangsung cepat tanpa menimbulkan kesan apapun. Orang itu tidak boleh mendapat kesempatan untuk berteriak.

Yang lain mengangguk-angguk. Setidak-tidaknya mereka telah membunuh seseorang. Senjata mereka telah basah oleh darah yang akan dapat mereka tunjukkan kepada para pemimpinnya.

Dua orang diantara mereka telah mendahului kawan- kawannya. Mereka siap menyergap orang yang sedang menyapu jalan yang penuh dengan daun bambu itu, tanpa menghiraukan bahwa orang itu sudah melampaui separo baya. Rambutnya sudah mulai memutih dan menilik badannya yang kurus, orang itu sama sekali tidak termasuk seorang yang pernah terlibat dalam pertempuran yang manapun.

Tetapi orang-orang itu tidak peduli. Mereka harus membunuh orang-orang Tanah Perdikan sebanyak- banyaknya.

Ketika dua orang yang mendahului kawan-kawannya itu menjadi semakin dekat, tiba-tiba saja mereka terkejut.

Mereka mendengar suara orang berlari-lari dibelakang mereka.

Ketika mereka berpaling, mereka melihat tiga orang anak muda saling berkejaran. Bahkan seorang diantara mereka yang mengejar dua orang yang lain telah memungut batu sambil berkata, “berhenti, kalau tidak aku lempar kepalamu dengan batu.”

Tetapi kedua orang anak muda yang dikejarnya hanya tertawa saja berkepanjangan sambil berlari. Namun kemudian mereka telah mendahului orang-orang yang melewati padukuhan itu dan justru keduanya berhenti dan bersembunyi dibelakang orang yang sedang menyapu itu.

“Paman, itu anakmu nakal,“ berkata salah seorang dari kedua orang anak muda yang ternyata sedang bergurau itu.

Pemimpin dari beberapa orang dari balik bukit itu menggeram. Anak-anak muda itu telah mengacaukan rencana mereka. Namun tiba-tiba ia berkata, “Kita bunuh ketiga anak muda itu pula. Jika mereka sempat melawan dan memanggil kawan-kawannya, kita melarikan diri mengikuti jalan ini dan kemudian berpencar keluar dari padukuhan ini. Kita harus menyelamatkan nyawa kita masing-masing. Mudah-mudahan kawan-kawan kita yang berada di bulak-bulak dengan senjata jarak jauh akan dapat membantu kita.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka membiarkan saja anak muda yang mengejar kawan- kawannya itu mendahului mereka. Sementara orang yang sedang menyapu jalan itupun harus berhenti pula karena anak-anak muda yang berdesakan itu.

Tetapi orang-orang itu sudah bertekad untuk membunuh. Angan-angan mereka yang buram diliputi oleh ke mauan membunuh itu saja sehingga mereka tidak sempat membuat perhitungan yang lebih cermat lagi.

Namun sekali lagi mereka terkejut. Mereka mendengar lagi suara tertawa dibelakang. Ternyata bukan saja anak- anak muda yang sedang bergurau, tetapi beberapa orang pengawal yang berjalan menyusuri jalan padukuhan itu sambil berkelakar. “Setan,“ geram pemimpin dari beberapa orang itu.

Bagaimanapun juga mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Para pengawal itu berjalan searah dengan mereka.

Karena itu, maka mereka harus membiarkan saja orang yang menyapu jalan itu menepi bersama anak-anak muda yang sedang bergurau itu. Mereka tidak dapat membunuhnya apalagi anak-anak muda itu karena dibelakang mereka beberapa orang pengawal yang agaknya dari bertugas kembali ke rumah masing-masing.

“Para pengawal itu akan segera memasuki halaman rumah masing-masing,“ berkata pemimpin pengawal itu.

Kawan-kawannya mengangguk. Sebelum mereka keluar dari padukuhan itu, maka para pengawal itu tentu sudah keluar dari jalan induk menuju kerumah masing-masing.

Tetapi ternyata dugaan itu keliru. Para pengawal itu berjalan terus menyusuri jalan induk itu, seakan-akan telah mengikuti mereka kemana mereka pergi.

“Setan,“ geram pemim pin dari orang-orang dari balik bukit itu, “kenapa mereka berjalan dibelakang kita terus?”

“Apakah mereka mengetahui siapa kita?“ desis yang lain. “Tentu tidak. Justru mereka berusaha minta agar kita

tidak berada di Tanah Perdikan ini untuk keselamatan kita,“ berkata yang lain.

“Tetapi kenapa mereka mengikuti kita?“ bertanya yang lain.

“Agaknya mereka sudah menjadi gila,“ geram pemimpin dari sekelompok orang-orang dari balik bukit itu. Beberapa saat lamanya orang-orang itu mencoba untuk menahan diri. Namun ternyata mereka tidak mampu lagi mengendapkan perasaan mereka yang bergejolak.

Sehingga karena itu, maka merekapun justru telah berhenti ketika pemimpin mereka memberikan isyarat.

Para pengawal yang berjalan dibelakang merekapun tertegun. Namun mereka berjalan terus. Semakin lama semakin dekat dengan orang-orang yang datang dari balik bukit.

“Kenapa kalian mengikuti kami? “ tiba -tiba saja pemimpin dari orang-orang dari balik bukit itu bertanya.

Para pengawal itu terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun yang tertua diantara mereka berkata, “Kami sama sekali tidak mengikuti kalian. Tetapi kami akan pergi ke mulut lorong disebelah lain karena kami harus menyampaikan beberapa pesan dari pemimpin kami kepada mereka.”

“Tentu kalian telah mencurigai kami,“ desis pemimpin dari beberapa orang pendatang itu.

Para pengawal itu saling berpandangan. Yang tertua diantara merekapun kemudian justru bertanya, “jadi kalian merasa kami curigai dan kemudian kami awasi?”

Pemimpin dari para pendatang itu ragu-ragu sejenak.

Tetapi katanya kemudian, “Baiklah. Lebih baik kami meninggalkan padukuhan ini.”

“Itu lebih baik Ki Sanak,“ berkata orang tertua diantara para pengawal itu, “sikap kalian telah menyinggung perasaan kami, para pengawal padukuhan ini.” Orang-orang dari balik bukit itupun kemudian memang memutuskan untuk keluar dari padukuhan itu.

Pemimpinnyapun berkata, “Kami akan keluar dari padukuhan ini lewat gerbang yang tadi kami masuki.”

“Sikap kalian memaksa kami untuk mengantarkan kalian sampai keluar regol padukuhan,“ berkata orang tertua diantara para pengawal itu.

Orang-orang dari balik bukit itu memang tertegun.

Mereka sebenarnya ingin memanfaatkan keadaan, justru pengawal yang ada di regol telah berkurang. Mungkin mereka akan dapat membunuh mereka sebelum melarikan diri.

Tetapi beberapa orang pengawal itu justru telah mengikuti mereka. Para pengawal itu telah mempersilahkan orang-orang dari balik bukit itu untuk berjalan dihadapan mereka.

“Kami terpaksa mencurigai kalian,“ berkata pengawal itu.

Orang-orang dari balik bukit itu hanya dapat mengumpat. Tetapi mereka tidak dapat menolak. Bahkan rasa-rasanya mereka memang telah digiring keluar dari padukuhan itu.

Beberapa saat kemudian mereka sudah berada di pintu gerbang. Ternyata dipintu gerbang itu hanya tinggal empat orang saja yang bertugasSeandainya sekelompok pengawal itu tidak kembali menggiring mereka, maka orang-orang dari balik bukit itu akan dapat membunuh keempat orang pengawal itu dengan tiba-tiba tanpa menarik perhatian mereka sebelumnya. “Setan ,“ geram pemimpin dari orang -orang dari balik bukit itu didalam hatinya. Tetapi ia tidak dapat mengatakan sesuatu.

Sebagaimana sekelompok orang-orang yang tidak disukai lagi disatu tempat, maka orang-orang dari balik bukit itupun telah diusir pula dari padukuhan itu. Beberapa orang pengawal berdiri di pintu gerbang sambil memandangi orang-orang yang melangkah menjauh itu.

Sekali-sekali beberapa orang diantara mereka masih berpaling. Namun mereka tidak mempunyai kesempatan untuk berbuat sesuatu.

Bahkan sejenak kemudian, maka seakan-akan dire-gol padukuhan itu menjadi semakin banyak orang yang menyaksikan kepergian mereka dengan jantung yang berdegup semakin keras dan wajah yang menjadi panas oleh kemarahan yang menghentak-hentak dada mereka.

Bahkan seorang diantara mereka bertanya, “Kenapa mereka tidak kalian tangkap saja?”

Para pengawalpun termangu-mangu. Namun peminpin sekelompok pengawal yang bertanggung jawab saat itu berkata, “Kami memang mencurigainya. Tetapi kami masih menghindari benturan kekerasan. Mungkin mereka sengaja memancing persoalan sementara mereka telah mempersiapkan jebakan yang tidak kami ketahui. Karena itu, kami masih berusaha menghindari benturan kekerasan itu.”

Yang lain mengangguk-angguk. Tetapi pada umumnya mereka mengerti alasan pemimpin kelompok pengawal yang bertugas itu. “Mudah -mudahan padukuhan-padukuhan lain tidak dapat dikelabuinya pula,“ berkata pemimpin sekelompok pengawal itu. Lalu katanya pula, “sejak kehadirannya kami sudah mencurigainya. Jika mereka orang-orang dari daerah tetangga, maka mereka tentu masuk Tanah Perdikan melalui jalan-jalan utama atau jalan-jalan simpang yang ramai, sehingga disaat mereka melintasi batas Tanah Perdikan, tentu sudah ada sekelompok pengawal yang memberitahukan agar mereka kembali. Tetapi orang-orang itu tiba-tiba saja sudah sampai di padukuhan ini.”

Para pengawalpun mengangguk-angguk. Bahkan ternyata hal itu telah didengar oleh Ki Bekel pula, sehingga Ki Bekelpun telah datang ke regol padukuhannya untuk minta keterangan tentang beberapa orang yang memasuki padukuhannya.

Dengan singkat pemimpin kelompok pengawal yang bertugas itupun memberikan laporan tentang orang-orang yang tidak dikenal yang memasuki padukuhan itu, justru pada saat keadaan sedang gawat.

“Kita memang harus mencurigai orang-orang yang tidak kita kenal,“ berkata Ki Bekel, “kalian sudah melangkah ke arah yang benar. Sikap kalian dapat aku mengerti. Namun kemudian, kita harus bersiap semakin kuat. Mungkin ada langkah-langkah lain yang akan diambil oleh orang-orang itu. Jika perlu, kita membunyikan isyarat kentongan atau panah sendaren.”

Sebenarnyalah, bahwa para pengawal telah dipanggil.

Mereka yang sedang beristirahatpun harus datang ke banjar. Mereka dipersilahkan untuk tidur dibanjar, terutama bagi mereka yang bertugas di malam hari. Sementara itu, yang bertugas menggantikan mereka telah bersiap pula dengan berbagai macam pesan. Dalam pada itu, orang-orang yang datang dari balik bukit itu ternyata bahwa mereka telah gagal menjalankan tugas, di Tanah Perdikan yang luas itu. Tidak seorang-pun yang dapat mereka bunuh untuk melepaskan dendam dan kemarahan pemimpin mereka, serta membalaskan kematian kawan-kawan mereka.

Demikian pula orang-orang yang bertugas dengan diam- diam berkeliaran di Tanah Perdikan untuk menyergap orang-orang yang pergi ke sawah. Ternyata mereka tidak menemukan seorangpun yang dapat menjadi sasaran pembunuhan.

Karena itu, maka ketika mereka telah hampir setengah hari menunggu dan tidak mendapat kesempatan sama sekali, merekapun menjadi kehilangan harapan untuk dapat berhasil dengan tugas mereka, sehingga meskipun dengan jantung yang berdebaran, mereka telah memanjat tebing dan pergi keseberang bukit.

“Bagaimana mungkin hal itu terjadi,“ Warsi berteriak - teriak seperti orang gila, “kalian ternyata sama s ekali tidak berarti bagi kita semuanya disini. Tentu tidak masuk akal, bahwa diseluruh Tanah Perdikan, tidak seorangpun yang dapat kalian bunuh. Aku berharap kalian dapat membunuh tiga puluh atau bahkan seratus orang, siapapun di Tanah Perdikan. Di pasar, di sawah, di padukuhan-padukuhan atau dimana saja.”

“Agaknya orang -orang Tanah Perdikan Sembojan sudah bersiap-siap menghadapi kemungkinan seperti itu. Tidak seorangpun yang keluar dari padukuhan, sementara setiap padukuhan berada dibawah pengawasan yang ketat oleh para pengawal dan anak-anak mudanya. Bahkan setiap jengkal tanah seakan-akan tidak luput dari pengawasan mereka.”

“Omong kosong,“ teriak Warsi, “aku sendiri akan membuktikan.”

Tetapi Ki Rangga Gupita berkata, “Tidak ada gunanya. Kau masih mempunyai tugas yang lebih berarti daripada membunuh tikus-tikus kecil. Bukankah kau pada saatnya harus membunuh seekor harimau?”

Warsi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian katanya dengan suara bergetar dan dengan mata yang merah, “Kita sudah dihinakan oleh orang-orang Tanah Perdikan itu. Bukan kita yang berhasil menakuti-nakuti mereka dengan gaya segerombolan serigala atau dengan cara-cara lain menjelang bulan purnama, tetapi justru mereka yang datang memasuki sarang kita dan dengan begitu mudahnya membunuh orang-orang kita.”

“Bukankah akan datang saatnya kita membalas dendam?“ bertanya Ki Rangga, “tetapi tidak perlu sekarang. Besok malam bulan bulat dilangit.“

Warsi menggeretakkan giginya. Hampir saja ia terlempar kedalam sifat seorang perempuan, betapa keras dan kasarnya perempuan itu. Hampir saja ia memekik dan menjerit menangis sejadi-jadinya untuk melepaskan kejengkelannya. Namun untunglah bahwa ia segera sadar, bahwa ia bukan seorang perempuan cengeng yang hanya pandai menangis dan merengek.

Namun Warsi memang dapat menahan dirinya. Ia tidak lagi berniat untuk turun keseberang bukit karena kemarahan yang membakar jantungnya. Dengan upacara sederhana, para pengikut Ki Rangga Gupita dan Warsi yang telah terbunuh oleh panah Sambi Wulung dan Jati Wulung itu dikuburkan. Namun diha-dapan para pengikutnya Warsi telah membakar jantung mereka.

Warsi telah berhasil mengorek rasa dendam dihati para pengikutnya, sehingga merekapun telah berjanji kepada diri sendiri, bahwa jika saatnya datang, mereka harus membunuh orang-orang Tanah Perdikan sebanyak- banyaknya.

Dalam pada itu, Tanah Perdikan Sembojan memang masih dibayangi oleh perasaan cemas dan bahkan bagi perempuan dan kanak-kanak, rasa-rasanya mereka memang dicengkam oleh ketakutan. Apalagi mereka yang tinggal dipadukuhan yang menghadap ke bukit. Mereka tahu bahwa di seberang bukit itu terdapat kekuatan yang besar yang setiap saat dapat menerkam mereka.

Dengan demikian maka para pengawal di setiap padukuhan itu telah bersiap-siap sepenuhnya. Para pengawas tidak pernah menjadi lengah. Mereka mengawasi sekeliling padukuhan mereka masing-masing dengan saksama. Kentongan telah dipersiapkan hampir segala tempat, yang dapat dibunyikannya setiap saat. Suaranya akan dapat menjangkau padukuhan-padukuhan bukan saja yang terdekat, tetapi dua tiga padukuhan yang lain yang akan dapat menyambung suara isyarat itu ke padukuhan- padukuhan yang lain dengan pertanda sandi atas padukuhan sumber isyarat itu.

Disisa hari itu tidak terjadi sesuatu di Tanah Perdikan.

Namun masih berlaku larangan untuk keluar dari padukuhan karena keadaan yang semakin gawat, justru disaat bulan purnama tinggal kurang satu malam lagi. Ketika malam turun, maka bulan memang nampaknya sudah bulat. Tetapi menurut perhitungan waktu, bulan baru akan bulat penuh besok malam.

Malam itu, Warsi berniat untuk beristirahat sepenuhnya.

Namun ternyata masih ada satu hal yang perlu dipertimbangkan. Apakah ia besok akan turun ke arena dan menantang Iswari untuk berperang tanding sebagaimana pernah dilakukan, atau begitu saja menyerang Tanah Perdikan, membunuh, membakar dan mengacaukan

segala-galanya tanpa menghiraukan apakah ia akan bertempur. Bagi Warsi, tidak ada lagi orang yang ditakutinya, bahkan seandainya Ki Randu Keling berpihak kepada Tanah Perdikan Sembojan sekalipun.

Tetapi tiba-tiba Warsi berkata, “Aku akan tidur. Aku tidak mau memikirkannya sekarang. Aku akan tidur dibawah cahaya bulan, agar tenaga yang memancar daripadanya membuat tenaga didalam diriku semakin penuh. Dengan demikian besok aku akan turun ke arena dengan kekuatan yang tidak akan dapat diatasi oleh siapa- pun juga.”

Tidak ada yang mencegahnya. Ki Ranggapun tidak.

Iapun justru percaya bahwa ilmu Warsi dipengaruhi oleh cahaya bulan. Jika semalaman ia tidur dibawah cahaya bulan, seakan-akan kekuatan cahaya bulan itu menyusup dan memenuhi wadah yang sudah tersedia didalam diri Warsi.

Bahkan Ki Ranggapun berkata, “Aku temani kau tidur dibawah cahaya bulan.”

Warsi tidak menjawab lagi. Seorang pengikutnya telah memberikan sehelai tikar kepadanya dan sehelai kepada Rangga Gupita. Keduanya kemudian telah membentangkan diatas rerumputan dibawah cahaya bulan jauh dari pepohonan, sehingga sampai saatnya bulan turun ke Barat, cahayanya masih akan menyentuh tubuh Warsi.

Namun dalam pada itu, setelah kedua orang itu berbaring, Warsi masih sempat berdesis, “Dalam keadaan seperti ini ada baiknya Puguh kita bawa.”

“Bukankah aku sudah mengatakannya,“ desis Rangga Gupita. “Kau wajib memberikan benih didalam hatinya kebanggaan atas Tanah Perdikan ini. Ia adalah anak Kepala Tanah Perdikan ini. Jika kita semuanya berhasil, maka ia masih akan tetap memiliki hak itu. Apalagi jika Iswari dan Risang telah mati. Karena tidak ada orang lain yang akan tumbuh. Iswari yang tidak bersuami lagi itu tidak akan beranak. Tetapi kau, setelah Puguh masih mempunyai anak lagi.”

“Persetan,“ geram Warsi, “sayang, Puguh tidak kita bawa.”

Ki Rangga Gupita tidak menjawab lagi. Tetapi iapuh mulai memejamkan matanya. Nampaknya Ki Rangga justru telah tertidur lebih dahulu dari Warsi yang gelisah. Bahkan sambil berbaring Warsi masih sempat memandang bulan bulat sambil memohon, agar bulan itu memberikan kekuatan jauh lebih besar dari yang pernah diberikannya.

Ternyata langit memang bersih. Tidak selembar awanpun yang hanyut dipermukaan wajah bulan, sehingga cahayanya yang penuh telah menyiram tubuh Warsi yang terbaring diatas sehelai tikar rasa-rasanya seluruh tubuh Warsi memang bergetar. Cahaya itu bagaikan mengusap dan kemudian menyusup diantara lubang-lubang kulitnya. Namun Warsi tidak sempat melihat, bahwa dedaunanpun telah bergerak oleh angin malam yang lembut. Tetapi keyakinannya sendiri itu ternyata memang dapat memberikan dorongan kekuatan yang besar baginya dalam keadaan yang paling gawat dan disaat-saat yang paling diperlukan.

Seperti sebuah jambangan, maka Warsi berharap dirinya akan dituangi kekuatan semalam suntuk, hingga jambangan itu benar-benar penuh dan bahkan meluap.

Sehingga saat dipergunakan, maka ia akan menjadi semakin perkasa dan tidak dapat di imbangi oleh siapapun juga.

Di Tanah Perdikan Sembojan, kesiagaanpun benar-benar telah berada pada tataran tertinggi. Namun menurut perhitungan para pemimpinnya, serangan orang-orang dari balik bukit baru akan terjadi malam berikutnya. Tetapi mungkin sekali terjadi sebagaimana malam sebelumnya.

Nampaknya orang-orang dibalik bukit itu sedang mengadakan pemanasan.

Dari orang yang tertangkap para pemimpin Tanah Perdikan menjadi semakin yakin, bahwa serangan yang sebenarnya akan datang disaat bulan bulat sepenuhnya.

Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung malam itu tidak merasa perlu untuk mendekati lagi sarang orang-orang yang berada diseberang bukit. Menurut perhitungannya, penjagaanpun tentu akan menjadi lebih rapat, sehingga jika ia memaksa juga untuk mendekat, maka ia akan mengalami kesulitan.

Meskipun tidak ada hubungannya dengan bulan, namun malam itu Iswari telah berada didalam sanggarnya. Sekali lagi ia menilai ilmu puncaknya yang telah disempurnakan oleh ketiga gurunya. Dalam pemusatan nalar budinya, Iswari sempat mengingat apa yang pernah terjadi hampir sepuluh tahun yang lalu, ketika ia berperang tanding melawan Warsi. Iswari mencoba mengingat tata gerak, unsur-unsur gerak, senjata yang dipergunakan dan ilmu- ilmu puncak yang ada pada lawannya. Dalam waktu yang panjang Iswari memang yakin, bahwa ilmu itu tentu sudah meningkat. Namun Iswaripun meyakini dirinya sendiri, bahwa dalam sepuluh tahun ia bukannya berdiam diri.

Bahkan disaat terakhir, ilmunya telah melonjak dengan loncatan panjang, karena guru-gurunya berhasil menyempurnakan Ilmu Janget Kinatelon.

Namun kemudian dengan kepala tunduk dan telapak kedua tangannya menelakup didepan dadanya, maka Iswari telah berdoa kepada Sumber Hidupnya. Yang Maha Agung.

“Semoga apa yang hamba lakukan, berkenan dihati Yang Maha Agung, karena hamba berniat untuk melindungi sesama dan menyingkirkan keangkara murkaan. Betapa hamba mendambakan kedamaian di atas Tanah ini, namun ternyata bahwa terpaksa sekali harus terjadi kekerasan.

Tetapi apa yang hamba lakukan bersama-sama dengan seisi Tanah pemberian Yang Maha Agung ini, semata-mata didorong oleh tanggung jawab hamba atas kewajiban hamba.”

Ternyata Iswari berada beberapa lama didalam sanggarnya. Baru menjelang tengah malam Iswari keluar dari sanggar dengan kepala tunduk. Memang kadang- kadang masih juga terngiang pertanyaan di telinga hatinya, kenapa harus terjadi kekerasan di atas Tanah yang diasuhnya itu. Kenapa darah masih harus tertumpah diatas Tanah yang hijau segar oleh pepohonan dan rerumputan. Kenapa kehidupan masih harus diwarnai dengan permusuhan dan bahkan pembunuhan. Kadang-kadang Iswari memang merasa bimbang, apakah yang dilakukannya itu sudah sesuai dengan kewajiban dan tanggung jawabnya. Bukan saja sebagai Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan, tetapi juga sebagai titah Yang Maha Agung.

Iswari menarik nafas dalam-dalam ketika kemudian ia berada di halaman. Dilihatnya para pengawal benar-benar berada dalam kesiagaan tertinggi. Dua orang pengawal agaknya bertugas khusus untuk mengawasi sanggar selama ia berada didalamnya tanpa mendapat perintahnya.

“Mereka terlalu baik,“ berkata Iswari didalam hatinya. “mereka telah menyerahkan apa saja yang dimilikinya bagi Tanah kelahirannya.”

Diruang dalam Iswari masih bertemu dengan ketiga orang gurunya yang duduk bersama Sambi Wulung dan Jati Wulung. Ketika mereka melihat Iswari yang sudah keluar dari sanggarnya, maka merekapun kemudian beringsut untuk memberikan tempat kepadanya.

Beberapa saat mereka masih berbincang. Namun tidak seorangpun diantara mereka yang mengetahui, apa yang akan terjadi besok. Namun Iswari memang sudah siap, seandainya Warsi menantangnya sekali lagi berperang tanding.

Nampn hampir diluar sadarnya, Iswari berkata, “Mudah - mudahan Risang dimasa pemerintahannya kelak tidak mengalami pergolakan seperti ini.”

Kiai Badra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bagaimanapun juga Risang harus dipersiapkan untuk menghadapi segala kemungkinan.” “Tetapi ia harus berpegang pada alas kewajibannya,“ berkata Iswari, “sementara ini aku merasa, seakan -akan pertentangan yang ada sekarang adalah persoalan pribadi. Kadang-kadang aku merasa malu, bahwa darah anak-anak muda terbaik dari Tanah Perdikan ini harus tertumpah karena persoalan pribadi yang timbul antara aku dan perempuan itu. Justru karena seorang laki-laki.”

“Tidak. Bu kan itu, “sahut Nyai Soka,“ persoalan itu sudah lama selesai. Apalagi Wiradana sudah tidak ada lagi sekarang. Yang terjadi sekarang adalah persoalan hak dan kewajiban atas Tanah Perdikan ini.”

Iswari tidak menjawab. Tetapi kepalanyapun kemudian telah menunduk.

“Sudahlah,“ berkata Kiai Soka,“ beristirahatlah. Kau perlu beristirahat lahir dan batin. Lupakan segala persoalan.

Malam ini tidak akan terjadi sesuatu. Kau harus meyakini itu, sehingga kau benar-benar akan dapat beristirahat.”

Iswari mengangguk. Iapun kemudian minta diri untuk pergi ke biliknya.

Iswari tertegun ketika ia melihat Bibi masih duduk di bibir pembaringannya.

“Bibi,“ desis Iswari yang terkejut melihat di mata Bibi tergenang air yang kemudian menitik dipipinya yang mulai menjadi berkeriput oleh umurnya.

“Kenapa kau menangis?“ bertanya Iswari.

Tanpa menjawab pertanyaan itu, Bibi telah memeluk Iswari. Tangisnya tidak dapat ditahannya lagi. Meskipun ia pernah disebut Serigala Betina, tetapi ia adalah seorang perempuan.

“Bibi, kenapa?“ be rtanya Iswari kemudian setelah Bibi menjadi agak tenang.

“Tidak apa -apa Nyi,“ jawab Bibi, “tiba -tiba saja aku telah dicengkam oleh kenangan buruk dari tingkah lakuku sendiri. Sementara itu, sebuah pertanyaan telah timbul didalam hatiku, kenapa kau tidak boleh hidup tenang. Sejak kau kawin dengan Wiradana, kau sudah mengalami cobaan yang berat. Sekarang, ketika umurmu merambat semakin tua, kau masih juga harus mengalaminya. Alangkah mengerikan saat-saat aku berusaha membunuhmu justru ketika kau sedang hamil. Kemudian kau tersingkir untuk beberapa saat. Kaupun pernah mengalami perang tanding sehingga kau menjadi terluka didalam. Ternyata sekarang kau masih harus mengalaminya lagi.“ Bibi itu berhenti sejenak, lalu, “Kapan kau dapat hidup tenang seperti kebanyakan orang. Agaknya Ki Wiradana adalah seorang yang menyebabkan hidupmu mengalami goncangan terus- menerus.”

“Sudahlah Bibi,“ berkata Iswari, “yakinlah akan kekuasaan Yang Maha Agung. Kita sandarkan hidup kita kepada-Nya.”

Bibi itu mengangguk-angguk. Dengan suara bergetar ia berkata, “Tidurlah Nyi. Kau perlu beristirahat.”

Iswaripun berdesis, “Aku akan beristirahat lahir dan batin. Mudah-mudahan besok aku mendapatkan tenagaku yang utuh.“ Lalu katanya kepada Bibi, “Silahkan Bibi juga beristirahat.” “Aku ti dak akan berbuat apa-apa Nyi. Biarlah aku menunggui Nyi Wiradana disini,“ jawab Bibi.

Nyi Wiradana tersenyum. Pada wajah Bibi masih nampak sikapnya yang keras dan bahkan garang. Dimasa umurnya masih lebih muda, maka ia adalah seorang perempuan yang ditakuti. Namun ternyata Bibi itu dapat menemukan jalan yang baik pada sisa hidupnya.

Ketika Iswari kemudian berbaring, maka Bibipun tanpa diminta telah memijit kaki Iswari. Sebagai seorang yang bertualang didunia yang keras, Bibi mempunyai pengetahuan tentang urat dan syaraf serba sedikit yang diwarisinya dari orang tuanya. Karena itu, maka dengan memijit kaki Iswari, ia berharap dapat membantu memperlancar jalan darah serta membenahi urat syarafnya, sehingga penguasaan Iswari atas tubuhnya menjadi semakin mapan.

Adalah diluar dugaan Iswari, maka tangan Bibi yang besar dan berat itu terasa lunak di kakinya. Rasa-rasanya darahnyapun telah mengalir semakin lancar dan urutan urat syarafnyapun seolah-olah menjadi semakin peka.

Tanpa terasa, maka Iswari itupun kemudian benar-benar telah tertidur nyenyak. Sementara Bibi dengan penuh kesungguhan hati masih saja memijit kaki Iswari. Rasa- rasanya hatinya menjadi berat untuk melepaskannya.

“Sebaiknya kau tidak melakukan perang tanding lagi,“ bisik Bibi sambil mengelus kaki Iswari, “sepantasnya kau adalah seorang ibu yang mengasuh anakmu dirumah.

Menyediakan makan dan minumnya, mendidiknya dengan lembut, mengajarinya mengenal sastra dan berceritera tentang baik dan buruk serta keluhuran budi. Lebih dari itu, kau ajari anakmu mengenal Yang Maha Pencipta dan kau ajari anakmu itu berbakti kepadanya. Aku tidak pernah mendapat kesempatan untuk melakukannya karena sejak remaja aku sudah tersesat sehingga aku memang tidak pantas mempunyai anak. Tetapi anak itu kau punyai, Iswari. Namun kenapa kau tidak sempat melakukannya, dan bahkan anakmu satu-satunya itu harus disisihkan oleh pertentangan yang tidak berkeputusan.”

Tanpa disadarinya, dari mata Serigala Betina itu telah menitik lagi air matanya yang hangat. Namun dengan cepat iapun telah mengusapnya.

Ketika Iswari kemudian telah benarbenar tertidur nyenyak, maka Bibi itupun telah melepaskannya. Ia tidak mau justru akan dapat membangunkannya. Ia ingin Iswari benar-benar beristirahat.

“Tidurlah anak manis,“ desisnya.

Setiap kali Bibi masih saja bersukur bahwa ia tidak membunuhnya disaat Iswari mengandung Risang atas perintah Ki Wiradana. Bahkan saat-saat itu adalah garis batas ia melangkah kembali ke jalan lurus setelah untuk waktu yang lama ia menjelajahi jalan-jalan gelap.

Tetapi Bibi tidak keluar dari bilik itu. Iapun kemudian begitu saja berbaring dilantai disebelah pembaringan Iswari.

Namun Iswari tidak mengetahuinya, karena Bibi itu bangun lebih dahulu dari Iswari. Menjelang dini hari Bibi keluar dari bilik itu dan pergi ke pakiwan.

Iswari terbangun disaat fajar mulai menyingsing. Perlahan-lahan Iswari bangkit dari pembaringannya. Ternyata sesuatu telah terjadi pada wadagnya. Ia tidak mengira, bahwa akibat pijitan Bibi pada anggauta badannya, maka rasa-rasanya tubuhnya menjadi semakin mapan. Sementara arus darahnya terasa lebih lancar diseluruh tubuhnya.

“Apakah gejala yang terasa ini menguntungkan atau sebaliknya,“ bertanya Iswari kepada diri sendiri.

Ketika ia kemudian keluar, maka langit pun nampak kemerah-merahan. Ayam mulai bekejaran di halaman.

Tanpa memberitahukan kepada siapapun Iswari telah pergi ke Sanggar untuk mengamati gejala yang terasa pada tubuhnya.

Sejenak Iswari memanaskan tubuhnya dengan meloncat-loncat kecil. Kemudian menggerakkan tangannya dalam putaran yang ajeg. Baru ia mulai mengamati tubuhnya sendiri. Mengamati gejala yang baru dikenalnya sejak ia bangun dari tidurnya.

Ternyata bahwa pengaruhnya memang menguntungkan bagi gerak dan penguasaan tubuhnya. Badannya menjadi terasa semakin ringan sehingga ia mampu bergerak lebih cepat. Bahkan ketika ia mulai merambah pada ilmu andalannya Janget Kinatelon, maka rasa-rasanya keadaan tubuhnya menjadi semakin membantu pancaran ilmunya itu.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ternyata Bibi mempunyai keahlian yang khusus. Ia mengenal dengan cermat tata hubungan urat darah dan susunan syaraf sehingga ia mampu membantu membuka kemungkinan- kemungkinan baru dalam pengerahan tenaga cadangan didalam diri lebih baik dari sebelumnya.” Meskipun Iswari hanya sampai pada ujung ilmunya, tetapi ia sudah merasakan kelebihan dukungan wadagnya.

Beberapa saat kemudian, Iswari telah keluar dari sanggarnya. Namun demikian untuk meyakinkan dirinya, maka iapun telah menemui Nyai Soka. Dengan singkat Nyai Soka mendengarkan laporan Iswari tentang pijitan jari-jari Bibi.

Dengan pengetahuan yang ada padanya, maka Nyai Soka telah melihat gejala yang ada didalam diri Iswari. Namun kemudian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Ternyata Serigala Betina itu memiliki kemampuan yang khusus. Berterima kasihlah kepadanya. Aku sudah berusaha untuk melakukannya, tetapi hasilnya tidak sejauh yang dilakukan oleh Bibi ini.”

“Jadi menurut guru, Bibi telah membantu meningkatkan - kemampuanku?“ bertanya Iswari.

“Berterima kasihla h kepada Bibi. Penguasaanmu atas ilmu yang ada didalam dirimu menjadi semakin mapan. Demikian pula ilmu Janget Kinatelon. Kau memang harus mengucapkan terima kasih kepadanya,“ berkata Nyai Soka.

Iswari menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk ia berkata, “Aku akan menemuinya.”

Iswaripun kemudian telah mencari Bibi ke dapur. Ditemuinya orang itu duduk didepan perapian sambil merenungi api yang menyala memanasi periuk berisi beras yang sedang ditanak.

“Bibi,“ desis Iswari ketika ia memasuki pintu dapur . Bibipun berpaling. Sambil bangkit berdiri ia bertanya “Kau sudah bangun?”

“Aku sudah berada di sanggar untuk beberapa lama,“ jawab Iswari.

“Sepagi ini?“ bertanya Bibi pula.

Iswari tersenyum. Kemudian dibimbingnya Bibi duduk di amben yang cukup besar di dapur.

Bibi terheran-heran melihat sikap Iswari. Bahkan kemudian iapun bertanya, “Ada apa?”

“Kau memijit aku semalam Bibi?“ bertanya Iswari.

Wajah Bibi menjadi tegang. Katanya dengan gagap, “Ya, kenapa? Apa aku telah melakukan kesalahan sehingga mempengaruhi ilmumu?”

Iswari termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, “Bibi memang sudah memperngaruhi kemungkinan ungkapan ilmu yang ada didalam diriku. Beberapa titik simpul syarat yang masih tertutup telah terbuka sehingga jalur penguasaan seluruh tubuhku menjadi semakin mapan.”

“Nyi,“ wajah Bibi masih tegang, “apakah dengan demikian akibatnya menjadi lebih buruk?”

“Tentu tidak. Bukankah kau mengetahui bahwa karena itu, maka segalanya menjadi lebih baik? Bibi, aku ingin mengucapkan terima kasih. Kau telah memberikan kemungkinan baru padaku untuk lebih memantapkan perlawananku terhadap ketamakan dan kerakusan itu,“ jawab Iswari. Bibi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sokurlah jika hal itu mempunyai arti yang baik bagimu. Mudah-mudahan justru tidak sebaliknya. Tetapi yakinlah, bahwa aku memang bermaksud baik.”

“Semuanya berakibat baik Bibi,“ jawab Iswari. “Apakah kau yakin hanya karena kau berada di dalam

sanggar beberapa saat saja?“ bertanya Bibi.

“Aku sudah menghadap guru. Nenek sudah mengamatinya. Ternyata yang Bibi lakukan memberikan kemungkinan yang jauh lebih baik bagiku. Bahkan guru mengatakan, ia sendiri tidak akan mampu melakukannya. Karena itu, maka guru menganjurkan, agar aku segera menemuimu dan mengucapkan terima kasih kepadamu,“ jawab Iswari.

Bibi mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Aku bersukur jika dengan demikian aku dapat memberikan sedikit bantuan kepadamu.”

“Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih Bibi,“ berkata Iswari pula.

Bibi masih mengangguk-angguk. Katanya, “Malam nanti bulan penuh. Mungkin sesuatu akan terjadi.”

“Aku sudah siap Bibi,“ jawab Iswari, “apalagi setelah kau membuka simpul-simpul sarafku yang masih tertutup. Yang belum dapat dimanfaatkan akan dapat bekerja dalam tata hubungan jaringan didalam tubuhku.”

“Bagaiman apun juga kau harus hati-hati, Nyi,“ desis Bibi. “Ya Bibi. Aku harus berhati -hati sebagaimana seluruh rakyat Tanah Perdikan harus berhati-hati menghadapi lawan yang satu ini,“ jawab Iswari.

Bibi mengangguk-angguk kecil. Matanya kembali menatap api yang menyala diperapian. Semakin lama nampak menjadi semakin besar. Namun Bibi itupun yakin, bahwa api yang lebih besar telah menyala dihati Iswari, Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.

Dalam pada itu, tiba-tiba saja keduanya terkejut.

Seorang pengawal telah langsung mencari Iswari didapur. Katanya sedikit gagap, “Ada. laporan Nyi.”

“Tentang apa?“ bertanya Nyi Wiradana.

“Petugas sandi itu berada diluar pintu dapur ini,“ jawab pengawal itu.

“Suruh ia masuk,“ berkata Nyi Wiradana.

Pengawal itupun kemudian telah memanggil petugas sandi itu dan mempersilahkan duduk pula di amben dapur itu.

“Ada apa?“ bertanya Iswari.

Ternyata petugas sandi itu lebih tenang dari pengawal yang gagap itu. Katanya, “Yang akan aku laporkan agaknya memang sudah kita duga sebelumnya Nyi.”

“Tentang apa?“ bertanya Nyi Wiradana.

“Topeng kecil di regol itu bertambah satu lagi,“ jawab petugas sandi itu. Nyi Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Kemudian iapun bertanya, “Apakah kau sudah melaporkan kepada pimpinanmu?”

“Sudah Ny i. Sekarang pemimpin petugas sandi itu sedang berada diregol untuk menyaksikan sendiri topeng- topeng itu. Menurut pendapatnya, maka saatnya sudah tiba untuk menentukan siapakah yang akan hancur malam nanti. Tanah Perdikan ini atau orang-orang yang kini berada di balik bukit,“ jawab petugas sandi itu.

Nyi Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Segalanya kita serahkan kepada Yang Maha Agung.

Namun menurut perhitungan maka jumlah kita jauh lebih banyak dari mereka. Jika setiap laki-laki menggenggam senjata di tangan, maka pasukan Tanah Perdikan ini jumlahnya akan tidak terhitung.”

“Benar Nyi,“ jawab petugas sandi itu. Namun kemudian katanya, “Tetapi menurut keterangan yang kami peroleh, sebagian dari orang-orang yang berada di balik bukit itu adalah bekas prajurit serta anak-anak mereka yang kecewa setelah kekalahan Jipang.”

“Perang itu sudah terjadi sekitar sepuluh tahun yang lalu,“ desis Nyi Wiradana, “tetapi dendam masih tetap menyala di hati sebagaimana Ki Rangga Gupita itu sendiri.”

“Segala sesua tunya kami serahkan kepada Nyi Wiradana,“ berkata petugas sandi itu.

Nyi Wiradana mengangguk-angguk. Ia seakan-akan sudah mendapat kepastian, bahwa malam nanti adalah malam penentuan. Bahkan Nyi Wiradana sudah bertekad, jika malam nanti, orang-orang Tanah Perdikanlah yang akan menyerang mereka. Menurut perhitungan Nyi Wiradana, Sambi Wulung dan Jati Wulung yang pernah mendekati sarang itu akan dapat menjadi penuntun jika merekalah yang harus datang ke balik bukit. Bagi Iswari, maka ia sama sekali tidak terikat pada sinar rembulan.

Justru menurut rencananya jika orang-orang dari balik bukit tidak menyerang, Iswari akan mendatangi sarang mereka menjelang fajar. Demikian matahari terbit, maka pasukannya akan menyerang sehingga akan terjadi pertempuran disiang hari.

Dalam pada itu, maka Iswaripun kemudian berkata kepada petugas sandi itu, “Baiklah. Aku terima laporanmu. Terima kasih. Aku akan membicarakannya dengan para pemimpin Tanah Perdikan ini. Setelah pimpinanmu nanti datang, mungkin ia membawa keterangan lebih banyak sementara pemimpin pengawal Tanah Perdikan ini sudah sudah datang pula.”

Petugas sandi itupun kemudian mohon diri. Ia akan menemui pemimpinnya untuk menyampaikan dari Nyi Wiradana.

Sesaat kemudian, maka Nyi Wiradanapun telah membenahi dirinya. Demikian pula ketiga orang gurunyapun telah berada diruang dalam. Sambi Wulung dan Jati Wulung masih berada diserambi gandok bersama beberapa orang pemimpin pengawal yang telah berada dirumah itu.

Hampir semua orang sependapat, bahwa orang-orang di balik bukit akan mengadakan gerakan dimalam hari. Para pengawas yang bertugas menjelang dini untuk menjaga kemungkinan orang-orang dibalik bukit datang dan menyerang disaat matahari terbit, telah memberikan laporan, bahwa mereka tidak melihat gerakan pasukan sama sekali. “Warsi memang mempunyai kepercayaan yang berhubungan dengan cahaya bulan,“ berkata Sambi Wulung.

“Ya,“ jawab seorang yang umurnya sudah setua Sambi Wulung yang masih juga dianggap salah seorang pengawal karena orang itu memiliki kemampuan pengobatan, “tetapi ternyata bahwa ia tidak memperhitungkan kekuatan dan kemampuan bertempur di malam hari meskipun dibawah terangnya cahaya bulan? Sementara itu, para pengikutnya masih harus benar-benar mengenali medan jika pertempuran terjadi di malam liari. Betapapun terangnya bulan, namun didalam padukuhan, keadaannya tentu cukup gelap bagi mereka yang belum mengenal medan dengan baik.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Ternyata orang itu juga memiliki ketajaman perhitungan tentang medan. Bahkan orang itupun kemudian berkata, “Warsi terlalu mementingkan dirinya sendiri. Yang memerlukan cahaya bulan itu hanya satu orang, Warsi sendiri. Tetapi ia sudah menentukan sikap seakan-akan dirinya sendirilah yang dapat menentukan kemenangan pertempuran itu. Kecuali jika ia menantang perang tanding seperti yang pernah terjadi.”

Tetapi Jati Wulung menyahut, “Jika yang dimaksud adalah perang tanding, tentu sudah ada tantangan sampai kepada Nyi Wiradana. Ternyata sampai saat ini tantangan itu belum ada. Entahlah jika Nyi Wiradana masih merahasiakannya karena menganggap belum waktunya di beritahukan kepada kita. Tetapi bagaimanapun juga tentu ada orang yang telah mendengarnya.” Yang lain mengangguk-angguk. Sebenarnya orang- orang Tanah Perdikan sendiri menganggap lebih baik bertempur disiang hari. Mereka akan dapat melihat kawan dan lawan lebih jelas daripada dimalam hari meskipun diterangi oleh cahaya bulan yang paling bulat sekalipun.

Sementara itu di balik bukit, Warsipun telah berbenah diri. Wajahnya nampak segar dan sekali-sekali ia tersenyum sambil berkata, “Aku benar -benar sudah siap.”

Semalam suntuk Warsi telah bermandikan cahaya bulan.

Ia tidur di tempat terbuka, sehingga seakan-akan jambangan kemampuan didalam dirinya sudah diisi dengan tenaga sepenuhnya.

“Sehari ini kita mempunyai kesempatan menyusun pasukan,“ berkata Warsi kepada Ki Rangga.

“Kita akan bertempur malam hari sehingga di siang hari ini orang-orang kita harus banyak beristirahat,“ berkata Ki Rangga.

“Kita mempunyai banyak waktu,“ be rkata Warsi, “anak manis itu tidak akan berani menyergap kita. Mereka hanya dapat menunggu. Kitalah yang menentukan kapan pertempuran akan terjadi.”

“Mungkin mereka hari ini bersikap lain, sehingga kita harus lebih berhati-hati,“ berkata Ki Rangga Gupita.

“Tidak. Mereka tidak akan bersikap lain. Sudah menjadi kebiasaan perempuan-perempuan cantik itu hanya dapat menunggu. Kitalah yang akan bergerak dengan perhitungan dan kepentingan kita.” Rangga Gupita mengangguk-angguk. Nampaknya orang- orang Tanah Perdikan Sembojan memang hanya dapat menunggu dengan gelisah. Bahkan dengan ketakutan.

Tetapi pemanasan yang pernah dilakukan menunjukkan kesiagaan para pengawal Tanah Perdikan di setiap padukuhan, sementara merekapun dapat bergerak dengan cepat dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain.

Namun Warsi merasa terlalu yakin akan dirinya. Ia nampak gembira semental gerakanyapun seakan-akan menjadi lebih cekatan.

Ketika matahari naik kekaki langit, maka Warsi telah membawa beberapa orang pengawalnya untuk naik ke atas bukit. Sekelompok pengawal telah mendahului mereka untuk meyakinkan bahwa tidak ada bahaya diatas bukit itu.

Dengan sikap dan keyakinan seorang panglima perang Warsi kemudian berdiri tegak diatas punggung bukit diikuti oleh Ki Rangga Gupita.

Dari tempatnya berdiri Warsi melihat lembah yang hijau terbentang luas dibawah bukit itu. Beberapa gumuk dan bukit-bukit kecil nampak diantara hijaunya tanaman disawah dan ladang. Jalur-jalur air yang mengalir berliku- liku di antara kotak-kotak sawah membuat lukisan alam Tanah Perdikan Sembojan menjadi semakin indah dimata Warsi.

“Betapa suburnya Tanah Perdikan itu,“ berkata Warsi. “Ya,“ sahut Ki Rangga. “Hijaunya sawah dan hutan di

lereng pegunungan itu. Hutan yang merambat semakin meluas di lereng-lereng bukit. Pada suatu saat lereng bukit inipun tentu akan menjadi hutan yang lebat pula seperti lereng-lereng pegunungan yang lain. Hutan perdu ini akan segera berubah menjadi hutan pohon-pohon raksasa pada saatnya nanti.”

“Tidak,“ jawab Warsi, “bukit ini memang ta ndus. Kau lihat batu-batu padas itu? Satu dua batang pohon dapat hidup dicelah-celahnya disamping gerumbul-gerumbul perdu. Berbeda dengan bukit-bukit hijau yang lain yang tanahnya memang memungkinkan untuk ditumbuhi pepohonan hutan.”

Warsi mengangguk-angguk. Namun wajahnya masih tetap cerah. Dengan nada ringan ia berkata, “Puguh mempunyai hak atas Tanah ini. Tetapi anak itu sulit untuk diharapkan.”

“Kitalah yang mengemudikannya,“ berkata Ki Rangga, “tetapi bagaimanapun juga, kita memerlukannya. Jika pergolakan di Pajang dapat menyala menjadi pertentangan, maka Pajang tidak akan sempat lagi mengurusi Tanah Perdikan ini. Tidak akan ada orang di Pajang yang sempat mengingat pertanda kedudukan Kepala Tanah Perdikan ini, dan bahkan tidak ada lagi pejabat yang menghiraukan apa yang terjadi. Nah, pada saat yang demikian Puguh kita perlukan. Ia harus tampil meyakinkan. Jika malam ini kita dapat membunuh Iswari, serta menghancurkan kemampuan perlawanan Tanah Perdikan ini, maka jalan kita menjadi semakin rata.”

“Bag aimana dengan Pajang itu?“ bertanya Warsi.

“Nampaknya Pajang mulai di sibukkan oleh dirinya sendiri. Seperti yang aku katakan, kita berharap api akan membakar Kerajaan kerdil yang diperintah oleh Jaka Tingkir itu,“ geram Ki Rangga Gupita. Warsi mengangguk-angguk. Bagaimanapun juga, keinginannya untuk menguasai Tanah Perdikan itu masih menyala dihatinya. Sedangkan alat yang mungkin dapat dipergunakan, satu-satunya adalah Puguh. Anak yang dilahirkannya dari suaminya Ki Wiradana. Meskipun bagi Warsi Puguh adalah anak yang seolah-olah sama sekali tidak akan dapat diharapkannya, tetapi sebagai alat ia akan dapat dipergunakannya.

Ketika cahaya matahari yang semakin tinggi memantul dari hijaunya dedaunan, maka rasa-rasanya Tanah Perdikan Sembojan memang merupakan tanah harapan. Bukan saja hasil yang dapat dipetik dari Tanah Perdikan itu, tetapi di Tanah Perdikan itu ia juga akan menyandang kekuasaan.

Untuk beberapa saat Warsi masih berdiri di punggung bukit. Ia melihat beberapa orang pengawalnya berada agak jauh di lereng yang menghadap ke Tanah Perdikan. Mereka tidak mau diperbodoh lagi dengan orang-orang yang bersenjata panah dan membunuh beberapa orang diantara mereka.

Ketika Warsi sudah puas memandang Tanah Perdikan yang terhampar dilembah yang berbukit-bukit itu, maka iapun kemudian telah mengajak Ki Rangga kembali ke sarang mereka. Namun beberapa orang pengawas telah ditugaskan untuk tetap berjaga-jaga.

“Mungkin perempuan cantik itu menjadi gila karena ketakutan sehingga ia memerintahkan orang-orangnya untuk menyerbu kita disiang hari,“ berkata Warsi.

“Tidak seorangpun akan sempat mencapai punggung bukit ini,“ berkata Ki Rangga Gupita, “pasukan panah yang sudah kita siapkan akan menyapu mereka selagi mereka memanjat tebing. Sementara itu bebatuan dan batang- batang kayu yang ada di atas akan dapat menjadi senjata yang baik. Batu-batu padas itu akan dapat menggelinding turun menimpa dan menghanyutkan bebatuan dibawahnya, sehingga akan terjadi banjir batu padas.”

Warsi tertawa. Katanya, “Kita tidak perlu mencemaskannya. Sudah aku katakan, biasanya perempuan cantik seperti Iswari itu hanya dapat menunggu tanpa berani mengambil sikap lebih dahulu.”

Demikianlah, maka Warsi dan Ki Rangga Gupita itu-pun kemudian telah turun kembali ke sarang mereka. Mereka sama sekali tidak menghiraukan kemungkinan orang-orang Tanah Perdikan Sembojan akan menyerang mereka.

Meskipun demikian orang-orang diseberang bukit itu masih juga menempatkan beberapa orang pengawas. Memang mungkin yang dianggap tidak akan terjadi itu dapat juga terjadi.

Sambil menuruni lereng bukit, Warsi masih juga sempat berkata sambil tertawa, “Aku membayangkan, betapa orang-orang Tanah Perdikan menjadi ketakutan melihat

topeng-topeng kecil yang kita pasang. Bukankah kita bukan manusia-manusia licik yang menyerang dengan diam-diam? Kita sudah memberikan peringatan dan sekaligus tantangan kepada mereka.”

Ki Rangga mengangguk. Katanya, “Mudah -mudahan mereka mengetahui makna dari topeng-topeng itu.”

“Jika mereka tidak mengetahuinya, bukan salah kita. Tetapi kita sudah memberikan pertanda dan kita akan melakukan sebagaimana yang biasa kita lakukan. Topeng- topeng itu adalah pertanda maut.“ Suara tertawa Warsi telah mengumandang memantul tebing pegunungan. Ki Rangga Gupita mengangguk-angguk. Namun sebagai seorang prajurit yang berpengalaman, Ki Rangga mempunyai perhitungan yang lebih luas dari Warsi yang terlalu yakin akan dirinya sendiri. Karena itu, maka Ki Rang- gapun berkata, “Tetapi kita harus berhati -hati. Di Tanah Perdikan Sembojan terdapat orang-orang yang mempunyai pengalaman yang luas. Orang-orang tua yang meskipun sudah mulai pikun, namun pereka tentu masih sempat memberikan banyak petunjuk kepada Iswari.”

“Ya,“ Warsi mengangguk -angguk, “tugasmulah untuk mengatasi Tanah Perdikan itu dengan kemampuan keprajuritanmu. Aku memang kurang mengetahuinya. Aku hanya tahu, bahwa jika aku sempat berhadapan dengan perempuan cantik itu, aku akan membunuhnya.”

“Kau tidak akan dapat melakukannya tanpa dukungan suasana disekitarmu. Kecuali jika kau menantangnya berperang tanding,“ jawab Ki Rangga.

“Aku tidak yakin ia mau menerima tantanganku.

Mungkin ia akan mengelak dengan alasan bahwa ia baru saja sembuh dari sakit. Alasan yang paling pantas dikemu- kakan untuk mengelakkan perang tanding tanpa menghancurkan harga dirinya. Tetapi sudah tentu ia akan mengajukan syarat waktu yang lain. Orang-orang Tanah Perdikan Sembojan nampaknya mengetahui bahwa ada hubungan antara ilmuku dengan bulan yang bercahaya di langit. Karena itu, maka mungkin sekali Iswari akan mengajukan waktu justru disaat langit gelap sama sekali,“ berkata Warsi. Namun katanya kemudian, “kita akan mengaturnya bersama para bekas perwira Jipang.

Segalanya harus tuntas sehingga kita dapat menganggap bahwa yang kita lakukan sekarang ini selesai pada satu tahap sebelum kita akan memasuki tahap berikutnya, bersamaan dengan saatnya Pajang dibakar oleh api pertentangan. Sementara itu Puguh sudah menjadi semakin dewasa, meskipun ia seorang yang dungu dan tidak berarti apa-apa selain sebagai alat yang akan dapat menempatkan kita disini.”

“Anak itu tidak boleh terlalu pandai memang,“ berkata Ki Rangga.

“Ia akan tetap dungu seperti ayahnya,“ sahut Warsi. “Itu bukan soal,“ berkata Ki Rangga Gupita, “semakin

dungu anak itu, bagi kita akan menjadi semakin baik.”

Warsi termangu-mangu. Namun Ki Ranggapun kemudian tertawa. Katanya, “Untunglah bahwa anak itu dungu seperti ayahnya. Jika ia cerdik seperti ibunya, maka kitalah yang akan diperalatnya kelak.”

Warsi tidak ikut tertawa. Wajahnya justru menjadi tegang. Memang terkilas di angan-angannya satu kehidupan yang saat itu dianggapnya paling manis, ketika ia berhasil menjadi isteri bakal Kepala Tanah Perdikan Sembojan dan apalagi ketika ia berhasil membalaskan dendamnya, membunuh ayah Wiradana.

Namun yang kemudian tinggal didalam kepalanya kini adalah kebencian. Bahkan kebenciannya telah melimpah pula kepada anak Wiradana meskipun anak itu dilahirkannya sendiri. Anak kandungnya. Betapa segannya ia mengasuh anak itu, sehingga anak itu begitu saja diserahkan kepada seorang yang dianggapnya akan dapat mengajari anak itu serba sedikit tentang olah kanuragan. Bahkan didorongnya anak itu untuk melakukan hal-hal yang dapat membentuk sifatnya menjadi kasar dan garang.

Tetapi otaknya harus tetap tumpul sebagaimana ayahnya yang memang kurang cepat menanggapi keadaan. Dengan sengaja di biarkannya anaknya itu berada di tempat-tempat yang kusam sebagaimana Puguh sering berada di Song Lawa.