-->

Sayap-Sayap Yang Terkembang Jilid 10

Jilid 10

“JIKA ia kehabisan uang, aku kira ia akan kembali,“ berkata Ki Prajak.

“Tidak. Ia tidak akan kembali. Ia justru telah menyerahkan pusakanya kepadaku. Sikapnya terlalu aneh. Aku belum pernah melihat matanya nampak demikian cekung seperti saat ini. Seakan-akan dihatinya telah dibebani perasaan yang hampir tidak tertanggungkan. Ia pergi dengan penuh rahasia didalam dirinya.“ berkata Ki Demang.

“Keanehan yang beruntun,“ desis Ki Prajak, “sikap ketiga orang yang begitu saja pergi itupun aneh bagiku, meskipun ia telah mengancam untuk kembali menilai kebenaran yang terjadi disini sesuai dengan pesannya.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Jika benar -benar yang kita alami ini bukan sekedar angan-angan, maka kita memang harus mulai lagi dari permulaan.”

“Apa maksud Ki Dema ng?“ bertanya Ki Prajak.

“Jika benar Ki Wirit meninggalkan Kademangan ini maka kita harus mulai lagi menyusun pemerintahan yang wajar sebagaimana kita lakukan sebelumnya. Apalagi jika ketiga orang itu pada satu saat benar-benar akan melihat Kademangan ini. Maka semuanya harus sudah tersusun baik,“ berkata Ki Demang yang kemudian telah mengajak Ki Prajak dan dua orang kawannya kembali ke Kademangan.

Dalam pada itu, Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh telah melanjutkan perjalanan mereka. Puguh yang telah memaksa diri untuk mengerahkan tenaganya, memang nampak menjadi sangat letih. Bahkan rasa-rasanya untuk melangkahkan kakinya, tenaganya sudah tidak mampu lagi. “Apakah kita harus beristirahat lagi,“ desis Sambi Wulung.

“Agaknya memang demikian,“ berkata Ja ti Wulung, “dibawah pohon yang rindang itu, kita akan dapat berteduh. Matahari memang menjadi semakin panas menyengat kulit.”

Mereka bertigapun kemudian telah berhenti dibawah sebatang pohon yang rindang. Mereka seakan-akan tidak menghiraukan apapun lagi disekitar mereka. Bahkan ada juga orang yang menjadi ragu-ragu untuk lewat. Apalagi mereka yang melihat perkelahian disimpang empat.

Namun karena ketiga orang itu agaknya tidak menghiraukan orang-orang yang lalu lalang, maka mereka yang akan lewatpun telah lewat pula, meskipun tanpa berani berpaling ke arah mereka.

“Gantar memang masih agak jauh,“ berkata Puguh. “Bukankah kita tidak tergesa -gesa. Seandainya Song

Lawa itu tidak dihancurkan oleh sepasukan prajurit, maka

kita tentu masih berada di tempat itu,” sahut Jati Wulung.

Puguh mengangguk-angguk. Katanya, “Ya kita memang tidak tergesa-gesa.”

“Nah, jika demikian berbaringlah. Mungkin dengan demikian, kau akan mendapatkan tenaga baru,“ berkata Jati Wulung.

Puguh memang tidak berbaring sebagaimana dikatakan oleh Jati Wulung. Tetapi ia duduk sambil bersandar pokok kayu yang rindang itu. Sementara angin yang sejuk mengusap wajah mereka yang semula terasa panas oleh sengatan matahari, gejolak didalam hati serta kegelisahan yang menghentak-hentak di jantung.

Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak mengusiknya ketika Puguh kemudian tertidur oleh keletihan. Namun keduanya berharap bahwa dengan demikian keadaan anak muda itu akan berangsur baik, sehingga mereka akan dapat melanjutkan perjalanan menuju ke Gantar. Sebuah Kademangan yang agaknya sudah dekat dengan tempat tinggal Puguh atau tempat-tempat yang sering dikunjunginya. Sehingga dengan demikian maka perjalanan mereka selama itu tidak sia-sia.

Ternyata Puguh memang merasa tubuhnya lebih segar ketika ia kemudian terbangun. Kesempatan beristirahat yang tidak terlalu lama itu cukup berarti baginya.

Setelah mencuci muka di sebuah parit yang berair bening, maka merekapun telah membenahi pakaian mereka. Sejenak kemudian, maka merekapun telah melanjutkan perjalanan, menuju ke Gantar.

Namun di perjalanan itu, Puguh masih juga nampak ragu-ragu. Beberapa kali ia mengatakan, bahwa sebaiknya ia pulang sendiri.

“Kenapa?“ bertanya Jati Wulung ketika sekali lagi Puguh mengatakannya.

“Jika perjalanan kita sudah mendekati Gantar, maka aku akan dapat menempuh sisa perjalanan itu sendiri. Aku tidak ingin kalian mengikuti aku sampai kerumahku dan bertemu dengan orang tuaku,“ berkata Puguh. “Apa salahnya jika aku mengantarmu pulang? Bukankah kau rasakan sendiri perjalanan ini? Banyak gangguan dapat terjadi. Sementara itu kau telah kehilangan para pengawalmu. Meskipun kau telah sampai diluar regol rumahmu sekalipun, dapat saja terjadi sesuatu yang tidak kau inginkan atasmu dalam keadaanmu seperti itu.

Memang berbeda jika kau dalam keadaan sehat. Kau akan dapat mengatasi beberapa kesulitan ringan sendiri. Tetapi dalam keadaan seperti itu, maka kau menjadi terlalu lemah,“ berkata Sambi Wulung.

Wajah Puguh nampak berkerut. Tetapi tiba-tiba saja anak muda itu berdesis, “Kalian tentu akan berusaha bertemu dengan orang tuaku.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi termangu- mangu. Apakah anak muda itu telah mendapat firasat bahwa keduanya mempunyai niat-niat tertentu atas dirinya?

Sementara itu Puguhpun berkata selanjutnya, “Kalian tentu akan mengatakan kepada mereka, bahwa aku berada di Song Lawa. Kalian tentu akan mengatakan bahwa aku masih terlalu muda untuk berada ditempat perjudian seperti itu. Dan kau tentu akan menggurui orang tuaku agar mereka melarang aku dan menuntun agar aku menempuh jalan kehidupan yang lebih baik dari kehidupanku sekarang ini.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung menarik nafas dalam- dalam. Ternyata keengganan Puguh atas kehadiran mereka diramahinya bukan karena anak itu mencurigai mereka dengan maksud-maksud mereka mengenali tempat tinggalnya. Tetapi justru karena alasan yang lain. Karena itu, maka Sambi Wulungpun menyahut, “Puguh. Sebenarnyalah ada niatku untuk mengatakannya kepada orang tuamu. Sebenarnya aku merasa berkeberatan terhadap kehadiran beberapa orang anak muda di Song Lawa termasuk kau sendiri. Bahkan jika kau ternyata dapat menunjukkan rumah anak-anak muda yang lain betapapun jauhnya, aku akan mendatangi rumah mereka dan bertemu dengan orang tua mereka.”

“Aku berkeberatan sekali,“ jawab Puguh tegas, “karena itu maka aku ingin pulang sendiri meskipun aku telah kehilangan para pengawalku.”

“Kenapa kau berkeberatan? Apakah kau benar -benar tidak ingin merubah jalan hidupmu?“ bertanya Jati Wulung.

Puguh menundukkan kepalanya. Berbagai macam pikiran bergelut di kepalanya. Tetapi yang kemudian dikatakannya adalah, “Sebaiknya kalian tidak perlu mencampuri persoalan pribadiku. Aku berterima kasih atas pertolongan kalian terhadapku. Tetapi aku minta bahwa kalian tidak berniat untuk memasuki tata cara hidup keluargaku dan pribadiku lebih dalam lagi. Biarlah kami menempuh jalan kehidupan kami sesuai dengan keadaan dan keinginan kami.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung termangu-mangu sejenak. Sementara itu bayangan senja mulai nampak di ujung-ujung pepohonan. Kemerah-merahan, sedangkan langit menjadi semakin buram.

Dalam pada itu Sambi Wulung dan Jati Wulung seakan- akan melihat, bahwa kehidupan Puguh memang bukan kehidupan yang wajar. Keluarganya bukannya keluarga sebagaimana kebanyakan keluarga yang hidup sesuai dengan batasannya. Sebenarnyalah Sambi Wulung dan Jati Wulung telah mengetahuinya, bahwa orang tua Puguh adalah orang yang telah kehilangan jalur jalan kehidupan wajarnya

Baru beberapa saat kemudian Sambi Wulung berkata, “Puguh. Kami minta maaf, bahwa kami t erlalu banyak mencampuri batas-batas kehidupan pribadimu. Tetapi semuanya itu terdorong oleh satu keinginan untuk menebus kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan. Setelah aku menjadi tua, demikian pula adikku itu, barulah kami merasa bahwa hidup kami sama sekali tidak berarti. Kami terlempar dalam kehidupan yang sangat buruk sejak kami masih terlalu muda. Akhirnya kami kehilangan pegangan dan hidup di dunia yang kelam. Yang paling menyiksaku adalah, bahwa pada suatu saat aku telah menghukum anakku sendiri karena tingkah lakunya yang aku anggap salah, sehingga anakku itu mati. Ibunyapun kemudian membunuh diri karena ia tidak tahan lagi hidup bersamaku.“ Sambi Wulung berhenti sejenak, lalu, “Ternyata peristiwa itu telah membuka mata hatiku. Aku berusaha untuk menemukan keseimbangan dalam hidupku dengan sisa-sisa keadaanku yang buruk itu. Kini aku hidup dalam dua bayangan. Bayangan hidupku yang lama, dan keinginan untuk memberikan arti disisa hidupku ini. Karena itu, aku menaruh banyak sekali perhatian terhadap anak- anak muda di tempat-tempat perjudian seperti Song Lawa itu.”

Puguh termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Sambi Wulung dan Jati Wulung berganti-ganti. Dilihatnya betapa penyesalan yang sangat dalam pada mata Sambi Wulung.

Dengan nada rendah Puguh itupun berkata, “Kenapa perhatianmu tertuju kepada anak-anak muda?” “Puguh,“ berkata Sambi Wulung, “jika anakku masih hidup, maka ia tentu sudah sebesar kau ini. Atau barangkali sedikit lebih tua. Aku memang merindukan seorang anak.

Tetapi dengan satu sikap, bahwa seandainya anak itu ada padaku, maka ia tidak boleh menirukan tingkah laku orang tuanya. Ia harus menjadi seorang yang berarti didalam hidupnya,”

“Apakah yang kau maksudkan berarti didalam hidup seseorang itu?“ bertanya Puguh.

“Hidup seseorang baru berarti jika ia menjalani kehidupan ini dengan pegangan cinta kasih. Cinta kasih kepada Sumber Hidupnya, dan cinta kasih kepada sesama,“ jawab Sambi Wulung.

“Darimana aku tahu akan hai itu, jika hidupmu sebelumnya selalu berada didalam kekelaman yang sangat dalam?“ bertanya Puguh, “bahkan kau telah membunuh anakmu sendiri.”

“Justru setelah hal itu terjadi,“ berkata Sambi Wulung, “mungkin yang Maha Agung memang menghendakinya ketika aku tersesat kedalam rumah seorang tua yang bijaksana. Yang menurut penilaian lahiriah adalah orang yang sangat lemah, tetapi ternyata orang itu memiliki kemampuan jauh diatas kemampuanku.”

Puguh termangu-mangu. Tetapi ternyata kata-kata Sambi Wulung itu diperhatikannya dengan sungguh- sungguh. Pada langkah-langkahnya yang berikut, disaat- saat gelap malam mulai membayangi perjalanan mereka, Puguh berjalan sambil menundukkan kepalanya.

Bertiga mereka berhenti dipinggir sebuah sungai kecil. Puguh ternyata ingin turun sejenak untuk membersihkan dirinya. Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak berkeberatan meskipun keduanya tidak ingin menuruni tanggul.

Demikian Puguh melangkah, maka terdengar Sambi Wulung berpesan,“ berhati -hatilah. Mungkin tanggul licin.”

Tetapi tanggul itu adalah tanggul yang rendah, sehingga Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak perlu menolongnya.

Ketika Puguh berada di sebelah tanggul dan benar-benar sedang membersihkan diri, maka Jati Wulungpun berdesis, “He, darimana kau mendapat ceritera yang menarik itu.”

“Sst,“ Sambi Wulung berdesis, “mudah -mudahan ceritera itu tidak sekedar lewat dibenaknya. Jika ada sedikit saja yang tersangkut, maka mudah-mudahan mempunyai arti bagi anak itu.”

“Ya. Ia tidak sebagaimana kami bayangkan sebelumnya,“ berkata Jati Wulung, “anak itu tidak terlalu liar dan bahkan buas sebagaimana kita duga. Tetapi ada kemungkinan-kemungkinan lain didalam dirinya yang dapat dikembangkannya.”

“Itulah sebabnya, aku mengarang sebuah ceritera yang mudah-mudahan dapat menyentuh perasaannya,“ sahut Sambi Wulung.

Tetapi Jati Wulung kemudian menunduk sambil berdesis, “Tetapi bagaimana dengan Risang? Apakah ia dapat mengerti seandainya kita mengatakan kepadanya, bahwa saudaranya seayah itu bukan seorang yang sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk hidup dengan wajar?”

“Persoalannya tidak terletak pada Risang. Tetapi kepada orang-orang disekitarnya. Kepada Kiai Badra dan Kiai dan Nyai Soka kita dapat memberikan gambaran tentang anak yang bernama Puguh. Mungkin mereka dapat mengerti.

Tetapi aku tidak tahu tanggapan ibunya. Nampaknya dua orang perempuan bekas isteri Ki Wiradana itu bagaikan minyak dengan air,“ sahut Jati Wulung.

“Itu dapat kita mengerti. Seorang dari mereka adalah perempuan yang rakus, sementara yang lain adalah seseorang yang merasa bertanggung jawab atas masa depan sebuah Tanah Perdikan dan yang pernah mengalami perlakuan bukan saja menyakitinya, tetapi hampir membunuhnya,“ jawab Sambi Wulung.

Namun mereka tidak dapat berbicara lebih panjang, karena Puguh telah melangkah mendekati tanggul. Ketika ia berusaha naik keatas tanggul yang rendah, maka Sambi Wulung telah mengulurkan tangannya dan menariknya.

“Bagaimana keadaanmu sekarang?“ bertanya Sambi Wulung.

“Aku merasa menjadi lebih baik,“ jawab Puguh, “air yang dingin itu membuat tubuhku menjadi semakin segar. Aku akan dapat berjalan lagi semalam suntuk. Bahkan untuk mencapai Gantar, meskipun perlahan-lahan.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi Sambi Wulungpun berkata, “jangan memaksa diri. Kita akan berjalan saja sejauh dapat kita capai. Jika kita merasa letih, maka kita akan beristirahat dimana-pun juga. Ternyata kita tidak banyak mengalami kesulitan antuk mencari tempat bermalam.”

Puguh mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita berjalan saja. Perlahan-lahan. Udarapun rasa-rasanya menjadi lebih segar setelah matahari terbenam.” Demikianlah, merekapun kemudian telah melanjutkan perjalanan. Puguh memang bertanya kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung, apakah mereka tidak akan mencuci muka.

Tetapi sambil tertawa Jati Wulung menjawab, “Aku sudah terbiasa hidup tanpa air di tubuhku. Kecuali untuk minum.”

“Pantas kau,“ desis Sambi Wulung, “wajahmu menjadi nampak kering seperti orang sakit-sakitan.”

“Dan kau?“ bertanya Jati Wulung.

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menyahut.

Demikianlah, maka ketiga orang itu telah melanjutkan perjalanan. Ternyata berjalan di malam hari bagi Puguh merasa lebih baik daripada berjalan disiang hari. Namun adalah wajar jika di malam hari mereka diganggu pula oleh perasaan bukan saja lelah, tetapi kantuk.

“Kita tidak perlu memaksa diri untuk berjalan semalam suntuk berkata Sambi Wulung.

Puguh mengangguk. Iapun menyadari bahwa di malam hari sulit pula baginya untuk menemukan jalan yang akan langsung sampai ke Gantar. Baru kemudian dari Gantar mereka akan menuju kesatu tempat yang sebenarnya memang dirahasiakan. Tetapi jalan yang paling aman menuju ke sebuah padepokan kecil yang terpisah dari lingkungan hidup orang kebanyakan adalah lewat Gantar. Meskipun jalan menuju ke Gantar itu juga mendapat pengawasan ketat, namun jalan itulah satu-satunya jalan menuju ke padepokan itu yang dapat dilalui oleh orang lain dari penghuni padepokan itu meskipun harus melalui pengawasan yang berlapis. Itu pulalah sebabnya maka diantara orang-orang yang menjadi pengikut para penghuni padepokan itu tidak banyak mengenal langsung para pemimpinnya yang tertinggi.

Susunan yang seperti itulah sebenarnya yang menyulitkan bagi Puguh untuk menerima kehadiran kedua orang yang telah banyak menolongnya. Meskipun ia akan dapat membawanya sampai ke padepokannya lewat Gantar, namun apa yang akan terjadi setelah kedua orang itu sampai di padepokannya. Mungkin orang tuanya tidak akan menemuinya atau kebetulan tidak ada ditempat.

Sementara gurunya juga jarang sekali berada ditempat itu. Sedangkan Puguh tidak akan dapat membawa kedua orang itu langsung ke satu tempat terpencil yang lebih dirahasiakan lagi. Bahkan bagi orang-orangnya sendiri tidak ada yang mengetahui tempat itu, selain satu dua orang terpercaya. Tempat gurunya menghabiskan hari-hari tuanya ditempat yang sepi dan jauh dari kesibukan duniawi.

Seandainya kedua orang itu bertemu dengan orang tuanya atau gurunya dan mengutarakan tentang jalan yang mereka anggap sesat bagi Puguh itu sendiri, maka Puguh tidak dapat membayangkan apakah akibat yang dapat terjadi atas kedua orang itu meskipun keduanya telah banyak menolongnya, bahkan dapat dianggap telah menyelamatkan jiwanya.

Demikianlah, semakin panjang mereka berjalan, hati Puguh menjadi semakin bingung. Ia sendiri tidak mengerti, kenapa ia telah tertarik dan merasa sesuai berhubungan dengan kedua orang itu. Puguh menyadari, mungkin karena kedua orang itu telah menolongnya dan berbuat baik kepadanya. Namun justru karena itu, maka ia tidak ingin kedua orang itu mengalami kesulitan jika benar-benar ia dapat bertemu dengan orang tuanya dan memberikan pendapatnya yang tentu tidak akan sesuai dengan pendapat orang tuanya itu. Bahkan mungkin kedua orang itu akan mendapat kesulitan karenanya.

Dalam pada itu, maka Puguhpun kemudian telah mencoba untuk mengetahui jalan yang mereka lalui dengan saksama. Jika mereka mengambil jalan yang salah, maka akibatnya akan sangat parah bagi mereka. Mungkin akan terjadi salah paham dengan orang-orang yang mendapat tugas untuk menutup lingkungan dan arah menuju ke padepokan itu. Karena hanya jalan dari Gantar sajalah yang dapat dilalui oleh orang lain dengan hambatan yang paling kecil, karena orang-orang yang bertugas di jalan yang menuju kepadepokan itu lewat Gantar masih dibenarkan untuk berbicara dan bertanya kepada orang-orang yang lewat. Tetapi di jalan lain persoalannya akan lain.

Itulah sebabnya, ketika mereka menempuh perjalanan di jalan yang rasa-rasanya menjadi semakin sempit dan rumpil, maka Puguhpun berkata, “Kita berhenti sampai disini. Aku takut, bahwa jalan ini tidak akan sampai ke Gantar. Di siang hari, kita akan dapat melihat lebih baik, apakah kita tersesat atau tidak.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung sama sekali tidak berkeberatan. Merekapun kemudian mencari tempat yang paling bailk untuk beristirahat. Sebagai pengembara yang berpengalaman, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung sama sekali tidak merasa canggung berada di manapun. Namun keduanya memang menjadi heran, bahwa Puguh pun ternyata tidak pula merasa canggung untuk berada ditempat yang bagaimanapun. Dengan demikian maka keduanya mengambil kesimpulan bahwa Puguh memang telah mempunyai pengalaman yang luas.

“Jauh lebih banyak dari pengalaman Risang yang hampir selalu berada di padepokan kecil itu saja,“ berkata Sambi Wulung didalam hatinya. Sementara itu Jati Wulungpun berkata kepada diri sendiri, “Meskipun Risang selalu menempa diri, tetapi ia masih belum terbiasa untuk mengambil sikap menghadapi kesulitan-kesulitan yang dapat dihadapinya dimanapun juga.”

Dalam pada itu, Sambi Wulung dan Jati Wulung sempat mengamati keadaan disekitarnya. Mereka memang sudah berada diperbatasan antara tanah yang digarap dan padang perdu yang liar. Satu-satu telah mereka dapati pohon-pohon yang agak besar yang semakin jauh menjadi semakin banyak. Dalam keremangan malam, mereka melihat tidak terlalu jauh di hadapan mereka terdapat, sebuah hutan yang menebar.

Sambi Wulung dan Jati Wulungpun menyadari, bahwa mereka sebaiknya mengambil jalan lain untuk menuju ke Gantar. Meskipun langit bersih sehingga mereka sempat melihat bintang Gubug Penceng, sehingga mereka dapat mengerti arah, namun jalan yang mereka lalui itu bukan jalan yang baik untuk sampai ke Gantar.

Dengan demikian maka bagi mereka bertiga memang lebih baik berhenti dan beristirahat daripada menempuh perjalanan tetapi di keesokan harinya harus melangkah kembali karena jalan setapak yang mereka lalui ternyata tidak akan sampai ke tujuan.

Namun tiba-tiba saja Sambi Wulung dan Jati Wulung terkejut. Mereka tidak tahu ujung pangkalnya ketika Puguh tiba-tiba berkata, “Kita ben ar-benar salah jalan. Marilah, kita tinggalkan tempat ini.”

Dengan kerut dikening Jati Wulung bertanya, “Bukankah kita akan beristirahat sampai esok menjelang dini hari? Apa salahnya kita beristirahat disini?”

“Sebaiknya kita bergeser. Aku yakin bahwa ja lan ke Gantar tidak terlalu jauh dari tempat ini. Beberapa ratus tonggak saja ke arah Selatan,“ sahut Puguh.

“Ya, berapapun jaraknya jalan ke Gantar itu dari tempat ini, namun bukankah kita dapat menunda perjalanan ini sampai esok?“ bertanya Sambi Wulung pula.

“Apakah kalian sudah terlalu letih sehingga tidak mungkin lagi bergerak?“ bertanya Puguh.

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Namun ia berkata dengan nada rendah, “Apakah yang sebenarnya telah terjadi Puguh? Tentu bukan sekedar kita ingin berpindah tempat. Kau tentu melihat atau mengenali sesuatu yang memaksa kita berpindah dari tempat ini. Jika kau dapat meyakinkan kami, maka kami tidak akan berkeberatan untuk berpindah tempat sekarang.”

Puguh termangu-mangu sejenak, namun dengan punah kebimbangan ia berkata, “Tempat ini bukan tempat yang baik untuk beristirahat.”

“Kenapa?“ desak Jati Wulung.

Puguh tidak menjawab. Tetapi ia menunjuk ke sebuah pohon yang tidak terlalu besar di pinggir jalan kecil yang ditempuhnya itu. Pada batang pohon itu terdapat sebuah topeng kecil dari wajah yang menakutkan. Sambi Wulung dan Jati Wulung mengamati topeng itu dengan saksama. Dengan nada berat Sambi Wulung berkata, “Bagaimana kau sempat melihat topeng itu disini? Kami berdua sama sekali tidak melihatnya.”

“K alian berada di seberang lorong. Karena itu maka kalian tidak melihatnya,“ jawab Puguh, “adalah kebetulan aku melihatnya karena aku disini.”

Tetapi Sambi Wulungpun kemudian bertanya meskipun di dalam hatinya telah tumbuh dugaan tentang topeng yang terdapat di pohon itu, “Tetapi kenapa kau begitu cemas melihat topeng kecil itu?”

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Ia memang agak kebingungan untuk menjawab. Baru setelah merenung sejenak ia menjawab, “Aku adalah seorang yang hidup di daerah ini. Meskipun jaraknya masih agak jauh, tetapi aku mengenali lingkungan ini dengan baik. Setiap orang Gantar dan sekitarnya tahu, bahwa topeng itu adalah pertanda bahwa lingkungan di sekitarnya adalah lingkungan yang tidak boleh diambah oleh pihak lain.”

“Jadi topeng kecil i tu menunjukkan satu ciri kekuasaan di daerah ini? Maksudku kekuasaan yang berdasarkan pada kekuatan semata-mata? Bukan kekuasaan karena hak?“ bertanya Jati Wulung.

Puguh menjadi semakin bimbang untuk menjawab.

Tetapi akhirnya iapun mengangguk. Katanya, “Y a. Begitulah menurut pengenalan orang-orang Gantar dan sekitarnya.”

Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, Sambi Wulungpun telah mempertajam pendengarannya. Tiba-tiba saja ia meloncat ke arah sebuah gerumbul tidak jauh di belakangnya sambil berkata, “Keluarlah Ki Sanak, Tidak pantas kita bermain sembunyi - sembunyian disaat tidak ada bulan. Barangkali kita juga sudah terlalu tua untuk bermain seperti itu.”

Puguh menjadi tegang. Sementara Jati Wulung mendekatinya sambil berbisik, “Tidak hanya d i belakang gerumbul itu. Di tempat lain aku juga melihat orang yang berlari sambil membungkuk-bungkuk ke belakang gerumbul disebelah pohon yang agak besar itu itu.”

Puguh mengangguk. Katanya, “Kita sudah terlambat untuk menghindari perkelahian.”

“Kita ti dak berbuat apa-apa,“ jawab Jati Wulung. “Soalnya bukan berbuat atau tidak berbuat apa -apa.

Lingkungan ini sama sekali tidak boleh dijamah oleh orang lain. Sadar atau tidak sadar,“ jawab Puguh.

“Kau tidak mengatakan sebelumnya, bahwa disekitar Gantar terdapat tempat seperti ini,“ desis Jati Wulung.

“Aku kira kita masih cukup jauh dari tempat -tempat seperti ini. Aku memang agak bingung memilih jalan. Tetapi tiba-tiba saja kita sudah terperosok ke dalam lingkungan seperti ini,“ jawab Puguh.

“Jika demikian , apaboleh buat,“ berkata Jati Wulung, “kita tidak mempunyai pilihan lain jika mereka memaksa kita untuk bertempur.”

Puguh tidak menjawab. Tetapi nampak kegelisahan yang sangat pada sikapnya, sehingga Jati Wulung dapat mengambil satu kesimpulan tersendiri tentang hubungan antara Puguh dan topeng kecil itu. Tetapi Jati Wulung tidak mengatakannya. Yang kemudian diucapkan adalah, “Hati - hatilah. Kita akan bertempur.”

Puguh masih tetap diam. Sementara itu Sambi Wulung yang menghadapi sebuah gerumbul berkata selanjutnya, “Keluarlah, atau aku akan membakar gerumbul ini bersamamu.”

Sejenak kemudian, maka seseorang telah meloncat dari balik gerumbul itu. Seorang yang bertubuh tinggi besar berjambang lebat. Dalam kegelapan wajahnya tidak terlalu jelas untuk dikenali. Apalagi ketika Sambi Wulung yang berpandangan tajam itu melihat garis-garis yang sengaja digoreskan pada wajah itu yang agaknya dengan sengaja untuk mempersulit pengenalan seseorang atas mereka.

Yang kemudian berloncatan dari balik gerumbul bukannya hanya seorang. Namun kemudian ternyata beberapa orang yang lain. Empat orang.

“Berjongkok dihadapanku,“ terdengar orang itu menggeram, “orang yang sudah memasuki lingkungan ini harus mati. Karena itu, relakan aku memenggal lehermu.”

“Tunggu Ki Sanak,“ berk ata Sambi. Wulung, “kenapa daerah ini tidak boleh dijamah oleh orang lain kecuali kau dan gerombolanmu?”

“Yang berada disini harus mati,“ geram orang itu.

“Jika memang demikian, apaboleh buat. Kami tidak akan dapat merubah peraturan yang kalian buat. Tetapi kenapa? Tlatah ini tlatah dalam wewenang siapa?“ bertanya Sambi Wulung. Tetapi orang itu seakan-akan tidak, mendengar. Bahkan ia telah bertanya, “Satu kebaikan hati jika aku bertanya, siapa namamu agar kau mati dengan tenang karena kau tidak mati tanpa nama.”

“Namaku Wanengbaya, dan itu adalah saudaraku Wanengpati. Anak muda itu adalah kemanakanku.” Jawab Sambi Wulung.

Orang itu menggeram. Namun kemudian katanya, “berjongkoklah. Tundukkan kepalamu agar kami mudah melakukan tugas kami. Jika kami tidak dapat memenggal lehermu sekali putus, mungkin kau akan menderita.”

“Ki Sanak,“ berkata Sambi Wulung, “barangkali kau bersedia menyebutkan serba sedikit sebelum kau berniat benar-benar memenggal leherku, kenapa kalian berani menganggap lingkungan ini lingkungan kalian dan menganggap orang lain yang memasuki daerah ini bersalah.”

“Kami berkuasa, disini,“ berkata orang itu, “kami dapat menentukan apa saja yang kami kehendaki.”

“Jadi menurut pendapat mu, kekuasaan sejalan dengan kekuatan?“ bertanya Sambi Wu lung,

“Ya. Kekuatan akan menentukan kekuasaan? He jika tanpa kekuatan, siapa yang dapat berkuasa? Ternyata kau terlalu bodoh sehingga tidak dapat mengetrapkan penalaran tentang kekuatan dalam hubungannya dengan kekuasaan. Apakah kau kira seekor monyet dapat mengusir seekor harimau dari dalam hutan? Atau seekor ayam dapat mengatur kehidupan musang dalam kelompok disarangnya?“ jawab orang itu. “Tetapi bukankah daerah ini adalah satu sudut saja dari wilayah Pajang?“ bertanya Sambi Wulung, “bagaimana mungkin kau merasa berkuasa disini tanpa limpahan kekuasaan itu dari Pajang.”

“Persetan dengan kuasa Pajang,“ jawab orang itu, “kuasa Pajang tidak menjangkau daerah ini sehingga kamilah yang berkuasa disini.”

Sambi Wulung mengangguk-angguk, Katanya, “Baiklah, Jika demikian akupun akan menunjukkan kekuatanku, agar aku dapat menjadi penguasa disini.”

“Persetan, Kau akan melawan?“ bertanya orang itu. “Kau kira begitu mudah seseorang menyerahkan

lehernya?“ bertanya Sambi Wulung.

“Setan,“ geram orang itu, “bunuh me reka.“

Kawan-kawannyapun mulai bergerak. Namun Sambi Wulung masih bertanya, “Sebelum mati, siapakah kalian dan untuk siapa kalian bekerja. Satu kebaikan hati kami karena dengan demikian kalian tidak akan mati tanpa nama.”

“Cukup. Cepat, jangan beri waktu lagi,” teriak orang yang berjambang itu.

Sejenak kemudian, maka orang itupun telah menyerang Sambi Wulung. Tidak hanya dengan tangannya. Tetapi iapun telah langsung mempergunakan senjatanya. Sebuah bindi yang bergerigi.

Sambi Wulung meloncat mundur. Iapun kemudian memberi isyarat kepada Jati Wulung untuk bersiap-siap. Yang paling gelisah adalah Puguh. Memang mungkin orang-orang itu tidak mengenal wajahnya dengan baik, karena tataran-tataran yang memang dibuat dengan jarak- jarak tertentu. Orang-orang itu adalah orang-orang yang bertugas di barak-barak khusus untuk mengawasi lingkungan yang agak luas disekitar padepokannya yang terpisah. Untuk memantapkan kerahasiaan padepokannya maka tidak ada kesempatan bagi orang lain untuk mendekati padepokan itu dari arah lain kecuali dari arah Gantar. Sedangkan wajah padepokan itu dilihat dari arah Gantar adalah sebuah padepokan yang tidak banyak berbeda dari padepokan yang lain.

Dalam pada itu beberapa orang yang ada di arena itupun telah mulai bergerak. Puguhpun harus memilih satu langkah yang paling menguntungkan baginya. Ia mempunyai dan memahami bahasa sandi yang akan dapat membebaskannya, dari kemungkinan buruk. Tetapi dengan demikian, maka ia harus mempertanggung jawabkannya kepada Sambi Wulung dan Jati Wulung.

Karena itu, maka Puguh yang tubuhnya menjadi semakin segar karena luka-lukanya yang tidak lagi terasa menggigit itu, merasa telah sanggup untuk bertempur melindungi dirinya sendiri.

Demikianlah akhirnya merekapun telah bertempur. Sambi Wulung bertempur melawan orang berjambang, yang agaknya memimpin sekelompok kawan-kawannya itu. Jati Wulunglah yang harus bertempur melawan dua orang diantara mereka.

Agaknya orang-orang itu memang tidak terbiasa menjajagi kemampuan seseorang yang akan dijadikan korban mereka. Karena itu, maka merekapun langsung mempergunakan senjatanya dan berusaha membunuh lawan lawannya.

Tetapi ternyata mereka telah membentur kekuatan yang sulit untuk diatasinya. Orang berjambang itulah yang justru mengalami kesulitan melawan pedang Sambi Wulung yang tidak saja kuat untuk mengimbangi ayunan bindi lawannya yang berat, tetapi juga mampu berputar cepat sekali seperti putaran baling-baling. Kemudian terayun menebas lambung dan mematuk ke arah dada.

Orang berjambang itu mengumpat. Tetapi iapun merasa memiliki bekal yang cukup untuk melakukan tugasnya.

Itulah sebabnya, maka orang itu berusaha untuk mendesak Sambi Wulung yang bersenjata pedang.

Benturan-benturan yang terjadipun telah mengejut: kan lawannya pula. Pedang Sambi Wulung ternyata mampu membentur dan menahan bindi yang sedang terayun deras.

Sambi Wulunglah yang kemudian mendapat takaran kemampuan lawannya itu. Sehingga dengan demikian, maka iapun telah mampu menghadapinya dengan mapan.

Dengan loncatan-loncatan panjang Sambi Wulung kadang-kadang telah membuat lawannya menjadi bingung. Karena itu, maka iapun kemudian telah mengayun-ayunkan bindinya untuk melindungi dirinya dari serangan Sambi Wulung.

“He, kenapa tidak kau pergunakan golokmu itu?“ bertanya Sambi Wulung sambil meloncat kesamping sehingga bindi yang terayun itu tidak mengenai sasarannya. Orang itu tidak menyahut, ia memang tidak terbiasa bersenjata golok. Golok yang tidak terlalu panjang, tetapi cukup besar itu hanya dipergunakan untuk memenggal leher orang-orang yang telah dikalahkannya jika orang itu melawan.

Sementara itu, Puguh telah bertempur dengan orang yang bertubuh agak tinggi kekurus-kurusan. Wajahnya membayangkan kekasaran sifat dan wataknya. Dengan golok yang besar ia berusaha untuk mendesak dan kemudian membunuh anak yang masih terlalu muda itu.

Namun ternyata Puguh cukup tangkas. Ia mampu melawan golok itu dengan pedangnya. Bahkan anak itu ternyata mampu bergerak lebih cepat dari lawannya. Tetapi bagaimanapun juga, keadaan tubuh Puguh yang belum pulih sepenuhnya itupun berpengaruh pula pada tata gerak dan ilmu pedangnya.

Yang harus mengerahkan kemampuannya adalah Jati Wulung. Ia bertempur melawan dua orang yang garang. Seorang bertubuh agak gemuk sedangkan yang lain, bertubuh sedang.

Namun Jati Wulung adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi serta berpengalaman luas. Karena itu maka iapun segera dapat menyesuaikan dirinya menghadapi kedua lawannya itu. Jati Wulung justru berusaha untuk bertempur agak jauh dari Sambil Wulung dan Puguh, sehingga dengan demikian maka Jati Wulung akan dapat dengan leluasa bertempur dengan loncatan-loncatan panjang melawan kedua orang lawannya itu.

Tetapi kedua lawan Jati Wulung ternyata memang orang-orang yang garang. Keduanyapun berusaha untuk bergerak dengan cepat. Meskipun keduanya tidak memiliki jenis ilmu dari satu perguruan, tetapi karena keduanya telah lama saling bekerja bersama, maka keduanya lapat saling mengisi kekurangan masing-masing dengan baik. Keduanya dapat menyerang beruntun susul menyusul.

Tetapi kadang-kadang keduanya telah menyerang bersama-sama dalam satu gelombang namun dari arah yang berbeda.

Dengan demikian maka Jati Wulung benar-benar harus mempergunakan tenaga cadangannya untuk meloncat- loncat menghindari serangan keduanya. Tetapi sekali-sekali Jati Wulungpun telah meloncat bukannya untuk menghindar, tetapi untuk menyerang.

Namun sedemikian jauh, Jati Wulung masih belum merasa perlu untuk melepaskan ilmu puncaknya yang menggetarkan jantung. Ia masih berusaha untuk menyembunyikannya dari penglihatan Puguh. Karena ilmu yang tinggi sebagaimana yang dimilikinya, tentu akan dapat membuat jarak antara dirinya dengan padepokan atau rumah atau apapun yang dihuni oleh Puguh menjadi semakin panjang.

Karena itu, maka Jati Wulung harus bekerja keras hanya dengan lambaran tenaga cadangannya. Namun tenaga cadangan yang ada didalam diri Jati Wulung itu seakan- akan telah tergali seluruhnya oleh kemampuan Jati Wulung. Sehingga tenaga cadangan itu terasa menjadi sangat besar.

Sementara itu Puguh telah berusaha sejauh dapat dilakukannya untuk melindungi dirinya sendiri. Dengan ilmu pedangnya ia melawan golok lawannya yang terayun-ayun dengan garangnya. Tetapi ilmu pedang yang memadai itu ternyata tidak dapat bertahan terlalu lama. Keadaan tubuhnya yang kurang menguntungkan telah membuat perlawanan Puguh tidak dapat bertahan terlalu lama. Perlahan-lahan perlawanan Puguhpun mulai menjadi surut, meskipun sebenarnya ilmu pedangnya mampu mengimbangi kemampuan lawannya bermain-main dengan goloknya.

Puguh memang menjadi cemas. Sekali-sekali memang terbersit niatnya untuk mengucapkan kata-kata sandi yang akan dapat melepaskannya dari ujung senjata lawannya.

Tetapi ia masih saja ragu-ragu.

Dalam pada itu, Sambi Wulung sempat melihat keadaan Puguh yang kurang menguntungkan. Karena itu, maka Sambi Wulung telah berusaha untuk dapat bertempur tidak terlalu jauh daripadanya.

Perlahan-lahan Sambi Wulung bergeser mengitari beberapa buah gerumbul perdu, sehingga akhirnya, Sambi Wulung telah meloncat dengan loncatan panjang mendekati Puguh. Katanya, “bertahanlah. Kita akan bertempur berpasangan.”

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Ia memang memerlukan bantuan itu. Jika tidak maka keadaannya akan menjadi gawat sehingga dalam keadaan yang tidak teratasi, mungkin ia akan mengucapkan beberapa kata sandi.

Namun agaknya ia tidak perlu melakukannya karena kehadiran Sambi Wulung didekatnya.

Berdua, maka Puguh dan Sambi Wulung telah bertempur melawan dua orang pula. Sambi Wulung dan Puguh berdiri saling membelakangi. Namun Sambi Wulunglah yang telah bergerak jauh lebih banyak dari Puguh, sehingga Puguhlah yang lebih banyak harus menyesuaikan dirinya dengan keadaan Sambi Wulung. Kemampuan dan kecepatan gerak Sambi Wulung sekali- sekali memang dapat mengusir lawannya beberapa langkah surut, sehingga dengan demikian maka Puguhlah yang mendapat kesempatan untuk beristirahat, karena lawannya beberapa langkah surut, sehingga dengan demikian maka Puguhlah yang mendapat kesempatan untuk beristirahat karena lawannyapun harus menghindari serangan-serangan Sambi Wulung yang datang beruntun.

Beberapa saat lamanya pertempuran itu berlangsung. Semakin lama menjadi semakin sengit. Jati Wulung yang bertempur melawan dua orang lawan itupun ternyata telah meningkatkan kecepatan geraknya. Jati Wulung sempat mempergunakan gerumbul-gerumbul perdu dan pepohonan yang jarang itu untuk membuat lawannya semakin bingung menghadapinya.

Dalam pertarungan yang cepat dan keras, tiba-tiba saja seorang diantara lawan Jati Wulung itu berteriak mengumpat dengan kasarnya. Beberapa langkah ia meloncat surut. Sementara itu, kawannyapun telah mengambil jarak pula dari Jati Wulung.

Jati Wulung ternyata memberikan kesempatan kepada lawan-lawannya. Ia melihat orang yang berteriak itu sedang meraba lukanya yang menganga di bahunya.

Dengan geram Jati Wulungpun kemudian berkata, “Nah, tinggalkan tempat ini. Jika kau tidak juga mau pergi, maka kalian akan terkapar mati disini.”

“Persetan,“ geram orang yang terluka, “kau sudah berani melukai aku. Maka tebusannya adalah nyawamu. Kau harus mati di tanganku.” Jati Wulung tertawa. Katanya, “Kau tidak usah mengigau. Kau sudah terluka. Darahmu akan mengalir semakin banyak. Semakin kau paksakan tenagamu, maka semakin banyak pula darah akan mengalir. Akhirnya kau akan mati dengan sendirinya karena kau kehabisan darah.”

“Tidak,“ orang itu berteriak, “sebelum darah kering ditubuhku, kau sudah mati lebih dahulu.”

Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Namun sorot mata orang itu, meskipun dalam keremangan malam, tetapi terasa oleh Jati Wulung, bahwa ia benar-benar ingin membunuhnya.

Bahkan Jati Wulungpun kemudian menyadari, bahwa semua orang yang menyentuh tempat itu memang harus dibunuh.

Sebenarnyalah sesaat kemudian, kedua orang lawan Jati Wulungpun telah meloncat menyerangnya pula. Hampir berbareng dari arah yang berbeda.

Tetapi Jati Wulung telah menunggunya. Dengan cepat ia berhasil menghindar. Bahkan dengan tangkasnya pula Jati Wulung telah memutar pedangnya, terayun deras ke arah lambung orang yang sudah terluka itu. Namun orang itu sempat meloncat mundur. Meskipun dengan tergesa-gesa, tetapi ia berhasil lolos dari sentuhan ujung senjata Jati Wulung.

Jati Wulung tidak sempat memburu lawannya, karena serangan dari lawannya yang lain telah datang pula.

Demikian, derasnya. Tetapi Jati Wulung mempunyai kekuatan yang sangat besar beralaskan tenaga cadangannya yang berhasil diungkapkannya lewat ilmu kanuragannya. Karena itulah, maka telah terjadi benturan yang menggetarkan jantung ketika Jati Wulung menangkis serangan itu.

Akibatnya memang mengejutkan. Tangan Jati Wulung seakan-akan memang tidak tergetar, meskipun telapak tangannya terasa seperti disengat api. Namun dengan cepat Jati Wulung berhasil mengatasi rasa sakitnya. Tetapi sementara itu, maka senjata lawannya ternyata telah terpental lepas dari tangannya.

Namun sekali lagi Jati Wulung tidak sempat mempergunakan keadaan yang gawat bagi lawannya itu. Lawannya yang lainlah yang kemudian meloncat sambil menjulurkan senjatanya lurus ke arah punggung Jati Wulung.

Karena itulah maka Jati Wulung harus bergeser kesamping. Memperhitungkan serangan itu dan kemudian meloncat menghindar. Dengan cepat Jati Wulung berusaha urrtuk memukul senjata lawannya. Tetapi ternyata lawahnya telah berhasil menggeliat sambil memutar senjatanya sehingga Jati Wulung tidak berhasil menjatuhkannya. Bahkan sementara itu, lawannya yang kehilangan senjatanya sempat meloncat menerkam senjatanya yang terjatuh ditanah, kemudian dengan sigapnya melenting berdiri.

Sejenak kemudian kedua lawan Jati Wulung itupun telah meloncat hampir bersamaan mengambil jarak. Sementara itu, yang terluka telah berdesis menahan pedih, karena keringatnya yang membasahi lukanya. Apalagi dari luka itu telah mengalir darah yang ternyata semakin banyak karena gerak yang semakin cepat pula.

“Kau jangan mema ksa diri,“ berkata Jati Wulung kepada orang yang sudah terluka itu. Nafas orang itu menjadi semakin terengah-engah. Darahnya memang menjadi semakin banyak mengalir. Tetapi dengan garang ia masih juga berkata dengan suara yang bergetar, “Sebentar lagi kau akan mati.”

Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Agaknya memang tidak ada pilihan lain dari orang-orang itu kecuali berkelahi sampai mati apabila mereka tidak mampu membunuh lawan-lawan mereka.

Karena itu, maka Jati Wulung ternyata masih harus mengerahkan tenaga cadangannya untuk melawan kedua orang yang garang itu.

Ketika Jati Wulung kemudian menjadi semakin jemu dengan pertempuran itu, maka iapun telah berniat untuk mengakhirinya saja. Apalagi orang yang terluka itu sudah menjadi semakin lemah.

Tetapi Jati Wulung tidak memanfaatkan keadaan orang yang terluka itu. Jika ia berniat, maka akan lebih mudah baginya untuk menghentikan perlawanannya. Tetapi agaknya Jati Wulung mempunyai pikiran yang lain. Ia justru telah mengarahkan sebagian besar dari serangan- serangannya kepada lawannya yang lain.

Namun ternyata bahwa serangan Jati Wulung yang datang beruntun itu tidak sempat seluruhnya dihindarinya. Ketika ia sedang menangkis uluran pedang Jati Wulung yang mengarah kedadanya, ternyata pedang Jati. Wulung itu mampu berputar cepat, dan sekali lagi terjulur lurus.

Orang itu memang sempat meloncat menghindar. Tetapi ia tidak seluruhnya terlepas dari garis serangan Jati Wulung. Ternyata bahwa ujung pedang Jati Wulung sempat menyentuh lengannya.

Orang itu memang mengaduh. Lengannya telah koyak oleh pedang Jati Wulung. Darahpun telah mengalir pula dari luka itu, sebagaimana darah yang mengalir dari luka di bahu kawannya.

Sementara itu, Jati Wulung telah memberikan kesempatan kedua lawannya mengambil jarak. Dengan nada rendah Jati Wulung masih juga menawarkan kesempatan.

Katanya, “Tinggalkan tempat ini. Jangan ganggu kami meskipun kami berada ditempat yang kalian sangka adalah tempat kalian ini. Siapapun berhak berada ditempat ini sepanjang ia tidak mengganggu orang lain dengan cara apapun juga. Lebih-lebih dengan cara sebagaimana kalian lakukan.”

Ternyata kedua lawan Jati Wulung itu tidak menunggu ia selesai berbicara. Dengan teriakan yang membelah langit, keduanya telah meloncat menyerang dengan senjata terjulur.

“Baiklah,“ berkata Jati Wulung sambil melenting dari tempatnya. Namun ujung senjata kedua lawannya itu bagaikan mengejarnya, sehingga sekali lagi Jati Wulung harus berloncatan, kemudian memutar senjata untuk menangkis serangan lawannya itu.

Tetapi kedua lawannya itu justru telah mengejarnya dengan senjata teracu.

Jati Wulung menjadi semakin marah. Namun ia masih juga berkata, “Aku masih memberi kalian kesempatan. Kesempatan terakhir. Tinggalkan tempat ini agar aku tidak membunuh kalian, meskipun kalian berniat membunuhku.”

Tidak ada jawaban. Tetapi kedua orang itu masih saja memburunya.

Ternyata Jati Wulung benar-benar telah kehilangan kesabarannya. Ia tidak lagi berusaha untuk menghindari kematian dari kedua lawannya. Jati Wulung merasa sudah cukup berusaha. Namun usahanya sia-sia.

Dengan demikian maka Jati Wulungpun telah mengerahkan kemampuannya bermain pedang. Dengan tangkasnya, Jati Wulungpun kemudian telah memutar pedangnya, mengayunkan mendatar, dan kemudian mematuk lurus ke arah dada lawan-lawannya.

Kedua lawannya memang terkejut melihat putaran pedang Jati Wulung yang menjadi semakin cepat. Mereka terdorong selangkah surut. Namun keduanya telah kembali menyerang dengan senjata yang terayun-ayun.

Tetapi Jati Wulung telah berubah pendirian. Ia tidak lagi berusaha mencegah kematian kedua orang yang tidak mau mempergunakan kesempatan untuk menghindar dari arena, sehingga mereka tidak harus mati karenanya. Namun keduanya masih tetap berniat untuk membunuhnya.

Karena itu, maka Jati Wulungpun tidak lagi sekedar berloncatan mundur. Namun sekali ia meloncat surut, kemudian dengan garangnya ia menyergap salah seorang dari lawannya. Pedangnya terayun deras mengarah ke kepala lawannya yang telah terluka di bahunya.

Tetapi orang itu tidak membiarkan kepalanya dibelah oleh pedang Jati Wulung. Karena itu, maka iapun telah berusaha menghindar. Dengan tangkasnya ia bergeser kesamping sambil memukul pedang Jati Wulung.

Pada saat yang bersamaan, maka. dari arah samping, lawannya yang telah terluka dibahunya telah mempergunakan kesempatan itu. Dengan serta merta ia meloncat sambil mengayunkan pedangnya menebas leher.

Namun Jati Wulung telah berjongkok dengan cepat.

Demikian pedang itu menyambar diatas kepala Jati Wulung, maka ujung pedang Jati Wulunglah yang telah terjulur.

Sambil berjongkok ternyata Jati Wulung telah menusuk lawannya yang menyerangnya tepat diarah jantung.

Orang itu mengerang kesakitan. Jati Wulung yang kemudian tegak berdiri telah menarik pedangnya. Sesaat orang yang dilukainya didada itu terhuyung-huyung.

Namun orang itupun kemudian telah jatuh terjerembab.

Tetapi Jati Wulung tidak sempat mengamati orang itu terlalu lama, karena serangan yang datang bagaikan angin ribut telah melandanya. Seorang lawannya yang lain ternyata menjadi sangat marah dan bagaikan orang gila telah menerkamnya dengan ujung senjatanya.

Jati Wulung yang memang sudah menjadi marah itu menjadi muak melihat sikap lawannya. Demikian kasarnya ia menyerangnya. Karena itu, maka Jati Wulung telah bergeser menghindar. Ditangkisnya serangan itu kesamping. Demikian senjata lawannya itu tergeser, maka pedang Jati Wulungpun telah berputar pula. Satu tebasan mendatar telah menyerang lawannya dengan tiba-tiba.

Lawannya yang telah terluka itu berusaha untuk meloncat surut. Tetapi Jati Wulung tidak membiarkannya. Iapun meloncat maju sambil menjulurkan pedangnya. Demikian cepatnya, sehingga pedang itu telah mematuk dada lawannya itu pula.

Terdengar umpatan nyaring disela-sela keluhan kesakitan. Jati Wulung yang marah itupun kemudian telah menarik pedangnya yang terhunjam didada lawannya itu. Seperti lawannya yang lain, maka orang itupun terhuyung- huyung dan kemudian jatuh terguling di tanah.

Sejenak Jati Wulung berdiri termangu-mangu. Dipandanginya dengan kerut di dahinya, dalam keremangan malam, tubuh-tubuh yang terbaring diam.

“Aku terpaksa membunuh hari ini,“ desis Jati Wulung perlahan sekali sehingga hanya dapat didengar oleh dirinya sendiri.

Ketika Jati Wulung kemudian berpaling kepada Sambi Wulung, maka iapun melihat bagaimana Sambi Wulungpun terpaksa membunuh seorang lawannya.

Sementara itu, seorang diantara orang-orang yang mencegat perjalanan mereka dan siap untuk membunuh itu, berusaha untuk melepaskan diri. Tetapi Puguhlah yang telah melemparkan pedangnya dengan sekuat tenaganya yang tersisa, justru disaat orang itu sedang memutar tubuhnya, sehingga jaraknya dari Puguh masih terlalu dekat.

Orang itu menjerit keras-keras. Pedang Puguh telah menancap dipunggungnya. Namun sejenak kemudian suara itupun segera lenyap dan tenggelam dalam sepinya malam. Yang terdengar hanyalah desau angin pada dedaunan di gerumbul-gerumbul perdu. Puguh berdiri termangu-mangu. Sambi Wulunglah yang kemudian mendekatinya sambil bertanya, “Kenapa kau bunuh orang itu? Bukankah orang itu sudah akan meninggalkan arena ini?”

Puguh termenung sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Ia akan menjadi orang yang sangat berbahaya. Ia akan dapat menyebut ciri-ciri kita kepada kawan-kawannya.

Maka merekapun akan mencari kita sampai keujung langit sekalipun.”

“Kau tak ut kepada mereka?“ bertanya Sambi Wulung. Puguh memandang wajah Sambi Wulung sejenak.

Dengan nada ragu ia bertanya, “Apakah kau tidak akan merasa terganggu jika mereka selalu mengejarmu kemana kau pergi?”

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak akan pernah merasa cemas apapun yang akan mereka lakukan. Tetapi aku juga tidak dapat menyalahkanmu. Keadaanmu lain dengan keadaan kami berdua.”

Puguh mengangguk lemah. Desisnya, “Seandainya aku memiliki kemampuan sebagaimana kau miliki, maka aku kira akupun tidak akan merasa terganggu sebagaimana kau.”

“Sudahlah,“ berkata Sambi Wulung, “sekarang bagaimana dengan tubuh-tubuh itu?”

“Kawan -kawan mereka akan mengurusnya,“ berkata Puguh. “Kau yakin?“ bertanya Jati Wulung.

“Sebagaimana mereka be rkeliaran disini,“ jawab Puguh.

Sambi Wulung dan Jati Wulungpun saling berpandangan sejenak. Merekapun kemudian memutuskan untuk meninggalkan saja mereka. Namun demikian Jati Wulung berkata, “Kita letakkan mereka ditempat yang mudah dapat dilihat.”

Sambi Wulungpun kemudian bersama Jati Wulung telah menempatkan tubuh-tubuh yang mulai membeku itu dibawah sebatang pohon yang pada batangnya terdapat sebuah topeng kecil sebagai ciri kuasa sebuah gerombolan ditempat itu.

“Marilah,“ berkata Sambi Wulung kemudia n, “kita tinggalkan tempat ini.”

Jati Wulung dan Puguhpun menganguk kecil. Merekapun kemudian mulai bergerak meninggalkan tempat itu. Mereka menyusuri jalan sempit menjauhi tempat yang telah memaksa mereka untuk membunuh.

Dalam pada itu, bintang-bintang dilangitpun telah bergeser semakin jauh ke Barat. Terasa semilirnya angin pagi dari arah lautan mengusap tubuh mereka yang basah oleh keringat.

Puguh yang sebelumnya telah menjadi semakin segar, tubuhnya menjadi terasa letih kembali. Bagaimanapun juga ia telah mengerahkan tenaga yang tersisa didalam dirinya untuk bertempur melawan orang-orang yang benar-benar ingin membunuhnya. Untunglah bahwa orang yang dikenalnya bernama Wanengbaya itu sempat melindunginya. Sambi Wulung dan Jati Wulung melihat keadaan Puguh itu. Karena itu, maka ketika mereka melintasi sebuah parit yang berair bening, Jati Wulung berkata, “Kita akan membersihkan diri. Mudah-mudahan air itu dapat menyegarkan tubuh kita.”

Puguh mengangguk. Namun ia adalah orang yang pertama-tama turun kedalam parit untuk mencuci wajahnya, tangan serta kakinya.

Ternyata bahwa air yang dingin itu memang membuat tubuh-tubuh yang lelah dan berkeringat itu menjadi segar kembali. Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguhpun merasa seakan-akan telah mendapat kekuatan baru untuk melanjutkan perjalanan.

Ketiga orang itupun kemudian bukan saja telah mencuci wajah mereka, tetapi merekapun telah membenahi pakaian pula. Cahaya fajar mulai nampak bercahaya dilangit.

Sebentar lagi mereka akan mulai berpapasan dengan

orang-orang yang melintasi jalan-jalan dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain. Mungkin pergi ke pasar, tetapi mungkin pula mereka yang pergi ke sawah.

Sebenarnyalah ketika mereka memasuki jalan yang lebih besar, maka mereka telah berpapasan dengan beberapa orang yang membawa barang-barang dagangan. Mereka tentu akan pergi ke pasar. Sementara orang lain telah menuntun ternaknya untuk dijual pula.

“Kita pergi ke pasar,“ berkata Sambi Wulung. “Untuk apa?“ bertanya Puguh. “Apakah kau tidak merasa lapar dan haus? “ bertanya Sambi Wulung pula.

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya iapun mengangguk sambil menjawab, “Baiklah. Kita singgah sebentar.”

Demikianlah mereka bertiga telah mengikuti arah orang- orang yang agaknya akan pergi ke pasar. Agaknya ada sebuah pasar yang cukup ramai dipadukuhan sebelah.

Sebenarnya sebagaimana mereka duga. Ketika mereka memasuki sebuah padukuhan yang agak besar, maka merekapun telah sampai kesebuah pasar yang cukup ramai. Bahkan dibagian belakang dari pasar itu terdapat pula pasar ternak. Meskipun tidak terlalu banyak, tetapi ada beberapa ekor lembu, kerbau dan kambing yang diperjual belikan. Sedangkan disudut pasar itu terdapat pande besi meskipun agaknya hanya seorang bersama beberapa orang pembantunya.

Ketika Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh makan disebuah warung yang tidak begitu besar, merekapun sempat bertanya tanpa menarik perhatian, jalan yang menuju ke Gantar.

Dari pemilik warung itu mereka telah mendapat beberapa petunjuk, sehingga dengan petunjuk itu, maka Puguh akan dengan cepat menemukannya.

“Tidak terlalu jauh lagi,“ desis Puguh.

Ketika mereka selesai makan, maka merekapun telah melanjutkan perjalanan. Mereka menuju ke arah yang semakin dekat dengan jalan yang langsung menuju ke Gantar. Jalan yang lebih besar dari jalan yang sedang mereka lalui itu.

Demikian mereka sampai kesebuah simpang tiga, maka Puguhpun menarik nafas dalam-dalam. Ia mulai mengenali jalan yang mereka masuki. Dengan nada rendah ia berkata, “Kita telah sampai ke arah yang benar. Jalan in i akan langsung membawa kita ke Gantar. Jika kita meneruskan perjalanan kita semalam, maka kita memang akan memasuki lingkungan yang berbahaya dan tidak akan langsung menuju ke tujuan.”

“Kita sudah memasuki daerah berbahaya,“ berkata Sambi Wulung.

“Ya,“ sahut Jati Wulung, “semalam kita bukan sekedar akan memasuki daerah berbahaya, tetapi sudah.”

Puguhpun mengangguk pula. Katanya, “Tetapi sekarang, kita sudah meninggalkan tempat itu.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung menangguk-angguk. Dengan nada berat Sambi Wulung berkata, “bersukurlah bahwa kita selamat.”

Puguh tidak menjawab lagi. Tetapi iapun kemudian menengadahkan wajahnya memandang lingkungan disekelilingnya. Kemudian dipandanginya jalan yang panjang yang terbentang didepan kakinya. Jalan yang menuju ke Gantar.

Namun demikian justru Puguh telah dibebani kegelisahan yang belum dapat dipecahkan. Apakah ia akan membawa kedua orang itu menuju ke padepokannya.

Meskipun wajah padepokannya telah di selimuti dengan ujud yang tidak akan mencurigakan, namun apakah pertemuan antara kedua orang itu dengan orang tuanya akan memberikan keuntungan. Bahkan Puguhpun berharap bahwa seandainya kedua orang itu terpaksa di bawanya ke padepokannya disebelah Gantar, maka hendaknya orang tuanya kebetulan tidak berada di tempat. Sehingga dengan demikian mereka tidak akan berbicara tentang sikap masing-masing.

Tetapi Puguh tidak mengatakan kegelisahannya itu. Beberapa kali ia sudah mencoba untuk mencegah niat kedua orang itu berkunjung ke tempat tinggalnya. Tetapi agaknya kedua orang itu benar-benar ingin berbicara tentang dirinya dengan orag tuanya. Sementara itu Puguhpun tahu pasti bahwa hal seperti itu tidak akan menyenangkan hati orang tuanya itu.

Demikianlah, maka mereka bertiga berjalan menyusuri jalan yang sudah terpelihara lebih baik dari jalan-jalan yang pernah dilaluinya sebelumnya. Padukuhan-padukuhan disebelah menyebelah jalan itupun nampaknya lebih baik dan terpelihara pula. Meskipun padukuhan-padukuhan itu bukan padukuhan yang kaya, tetapi nampaknya ada usaha dari para penghuninya untuk berbuat sesuatu yang lebih baik bagi padukuhannya itu.

Dalam perjalanan itu Sambi Wulung sempat bertanya kepada Puguh, “Apakah padukuhan -padukuhan ini tidak pernah mendapat gangguan dari orang-orang yang merasa dirinya berkuasa di daerah tertentu yang semalam kita lalui?”

Puguh mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku tidak tahu pasti. Tetapi biasanya orang-orang yang terjebak dalam kehidupan yang gelap seperti orang-orang yang semalam kita jumpai itu justru tidak akan banyak menimbulkan kesulitan disekitar lingkungannya. Mereka akan mencari korban ditempat yang agak jauh. Tetapi bahwa kehadiran mereka menimbulkan ketakutan pada orang-orang yang tinggal disekitarnya itu memang mungkin sekali.”

“Dan orang -orang disekitarnya tidak pernah mengambil tindakan apa-apa,“ sahut Jati Wulung.

Puguh mengerutkan keningnya. Katanya, “Apa yang dapat dilakukan oleh orang-orang yang ada disekitar tempat ini terhadap mereka? Sepedukuhanpun tidak dapat menangkap dua orang saja diantara orang-orang yang semalam kita jumpai.”

Jati Wulung mengangguk-angguk. Iapun sadar, bahwa Pajang tidak akan dapat setiap saat mengawasi tempat- tempat yang memang letaknya tidak terlalu dekat itu.

Apalagi pada saat-saat Pajang menghadapi persoalan.

Demikianlah mereka bertiga berjalan terus. Matahari-pun semakin tinggi bertengger dilangit. Cahayanya mulai terasa mencubit-kulit.

Namun dalam pada itu, pagi terasa menjadi semakin segar. Embun yang bergantungan diujung dedaunan telah mulai menghindari panasnya matahari.

Perjalanan selanjutnya adalah perjalanan yang tidak menjumpai kesulitan apapun. Jalan yang mereka lalui ternyata cukup ramai. Mereka banyak berpapasan dengan orang-orang yang pulang dan pergi ke pasar. Juga orang- orang yang turun kesawah.

“Kita sudah mendekati da erah yang berada dalam wilayah Gantar,“ berkata Puguh, “satu lingkungan yang termasuk ramai ditempat ini. Dari Gantar terdapat beberapa simpangan menuju kebeberapa arah. Dengan demikian maka Gantar termasuk daerah persinggahan para pedagang. Karena itu, maka Gantar termasuk satu diantara Kademangan yang cukup besar.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk.

Namun hampir diluar sadarnya Jati Wulung bertanya, “Apakah daerah ini bukan merupakan daerah rawan? Apakah orang-orang dari daerah yang ditandai dengan topeng kecil dengan ujud yang menakutkan itu tidak sering berkeliaran didaerah ini? Seandainya mereka sering mengganggu daerah ini, maka sudah barang tentu daerah Gantar tidak akan berkembang maju untuk selanjutnya, bahkan mungkin akan menjadi surut.”

Pertanyaan yang terlontar begitu saja itu ternyata merupakan pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab oleh Puguh. Untuk beberapa saat ia merenung. Namun akhirnya ia berkata, “Aku tidak tahu apakah gangguan itu ada atau tidak. Tetapi yang aku ketahui, Gantar merupakan daerah yang justru berkembang semakin maju.”

Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih jauh. Agaknya Jati Wulung mengerti, bahwa pertanyaan-pertanyaan lebih banyak lagi, akan membuat Puguh semakin bingung.

Namun yang dikatakan oleh Jati Wulung adalah, “Kita dapat membeli makan dan minum lebih baik di Gantar daripada dipasar itu.”

“Apakah kau sudah menjadi lapar lagi?“ bertanya Sambi Wulung. Lalu katanya, “rasa -rasanya nasi itu belum turun sampai keperut.” Jati Wulung tertawa. Katanya, “Kita akan melihat -lihat keadaan lebih dahulu.”

Sambi Wulung tersenyum pula sambil berkata, “Baiklah.

Kita akan melihat suasana di Gantar nanti.”

Puguh tidak mengatakan sesuatu. Ia memang sedang sibuk merenungi apakah yang sebaiknya dilakukannya. Tetapi agaknya ia tidak akan dapat mengelak untuk membawa orang itu sampai ke tempat tinggalnya.

Untuk beberapa saat lamanya ketiganya berjalan sambil berdiam diri. Mereka memperhatikan keadaan sebelah- menyebelah jalan. Halaman dan rumah-rumah yang nampaknya memang dipelihara secukupnya.

Beberapa saat lagi mereka telah sampai kesebuah padukuhan kecil. Dimulut jalan terdapat sebuah gapura yang dibuat dengan baik. Gapura yang terlalu besar untuk sebuah padukuhan kecil.

“Gapura itu adalah gapu ra Kademangan Gantar,“ berkata Puguh.

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Ternyata mereka benar-benar sudah memasuki daerah Gantar. Dengan nada rendah Sambi Wulung berkata, “perjalananmu akhirnya akan berakhir juga. Agaknya kau akan selamat sampai kerumahmu meskipun bukan berarti pada jarak yang pendek ini tidak akan dapat terjadi sesuatu.”

Puguh mengangguk-angguk. Katanya, “Nampaknya sudah tidak akan terjadi sesuatu jika kita sudah berada di sini. Daerah ini bukan daerah yang ganas.” “Meskip un tidak terlalu jauh dari tempat ini terdapat tempat yang mengerikan itu,“ sahut Jati Wulung.

“Ya,“ jawab Puguh, “seperti aku katakan, agaknya mereka tidak akan mengganggu tetangganya sendiri.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Agaknya apa yang dikatakan oleh Puguh itu benar. Ketika kemudian mereka memasuki Kademangan Gantar, maka rasa-rasanya lingkungan itu bukannya lingkungan yang gelisah sebagaimana juga beberapa padukuhan yang mereka lalui sebelumnya.

Ternyata ketiga orang itu tidak menarik perhatian orang- orang Gantar. Puguh sendiri nampaknya juga tidak dikenal oleh orang Gantar, karena tidak seorangpun yang berpapasan di jalan-jalan menegurnya. Kadang-kadang seseorang memang memperhatikan mereka. Tetapi hanya sekilas sebagaimana orang itu memperhatikan orang-orang lewat yang lain.

“Apakah kau tidak sering memasuki Kademangan ini? “ tiba-tiba saja Jati Wulung bertanya.

“Kenapa? “ Puguhlah yang ganti bertanya.

“Kau tidak mengenal orang -orang Gantar?“ bertanya Jati Wulung.

Puguh menggeleng. Katanya, “Aku jarang sekali berada di Gantar. Sekali-sekali aku pergi ke Gantar untuk membeli barang-barang yang kami perlukan. Kemudian kami segera kembali lagi.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk.

Agaknya Puguh memang jarang-jarang meninggalkan tempat tinggalnya. Jika ia keluar dari lingkungannya adalah justru pergi ke Song Lawa untuk berjudi.

Untuk beberapa saat lamanya Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak bertanya sesuatu. Mereka berjalan menyusuri jalan-jalan padukuhan. Namun kemudian mereka sampai pula ketengah-tengah bulak panjang. Sawah dan ladang yang terbentang antara padukuhan yang satu dengan padukuhan yang lain, nampak hijau segar, sehingga memberikan kesan, betapa suburnya tanah di Gantar itu.

Beberapa padukuhan telah mereka lewati. Akhirnya mereka memasuki padukuhan yang lebih besar dari padukuhan-padukuhan yang lain. Dari seberang bulak nampak padukuhan itu memanjang di atas cakrawala. Sementara bulak dihadapan mereka yang luas bagaikan lautan yang kekuning-kuningan oleh padi yang hampir masak merunduk diujung tangkainya.

“Kita menuju ke padukuhan induk Kademangan Gantar,“ berkata Puguh.

“O,“ Sambi Wulung menyahut, “apakah kita masih harus berjalan jauh untuk sampai ketempat tinggal mu?”

Kita akan keluar dari Gantar diseberang padukuhan induk. Kita akan mengambil jalan ke Utara. Beberapa saat setelah kita keluar dari Kademangan ini, maka kita akan memasuki jalan yang lebih kecil yang menuju ke tempat tinggalku. Sebuah padepokan yang tidak berarti apa-apa bagi orang lain.”

“Tentu padepokan yang kaya,“ tiba -tiba saja Jati Wulung memotong. “Kenapa kau dapat menebak bahwa padepokanku adalah padepokan yang kaya?“ bertanya Puguh.

“Jika tidak, maka kau tidak akan setiap kali berada di Song Lawa,“ jawab Jati Wulung.

Puguh memang menjadi semakin gelisah. Namun ia-pun kemudian menjawab, “tidak. Padepokanku bukan padepokan yang kaya.”

Jati Wulung mengerutkan keningnya. Tetapi ia telah menahan diri untuk tidak mendesak, agar Puguh tidak menjadi semakin bingung.

Namun Sambi Wulunglah yang kemudian berbicara seperti ditujukan kepada diri sendiri, “Gantar memang sebuah lingkungan yang sangat subur.”

“Ya,“ desis Puguh, “sementara itu orang -orangnya juga orang-orang yang rajin bekerja.”

Sambil melihat-lihat keadaan, maka mereka bertigapun kemudian telah melintasi bulak panjang yang kuning memasuki padukuhan induk Kademangan Ganjar. Seperti yang sudah mereka duga, bahwa di padukuhan itu suasananya cukup ramai. Ada beberapa warung yang terdapat dipusat padukuhan, berjajar di simpang empattNamun mereka bertiga masih belum menjumpai pasar.

Karena itu, maka Jati Wulungpun bertanya, “Apakah di padukuhan induk ini tidak ada pasar?”

“Ada,“ jawab Puguh, “Tetapi memang agak ke pinggir.” “Apakah kita juga akan melewati pasar itu?“ bertanya Jati Wulung.

“Ya,“ suara Puguh merendah, “tetapi kita dapat mengambil jalan lain yang tidak melewati pasar itu.”

“Aku justru ingin melewati pasar itu,“ berkata Jati Wulung.

“Jika kau lapar, maka disini ada beberapa warung. Tidak hanya warung makan, tetapi juga warung yang menjual kebutuhan-kebutuhan lain,“ berkata Puguh.

Jati Wulung tertawa. Katanya, “Tidak. Aku tidak akan membeli makanan di sini. Aku akan pergi ke pasar.

Mungkin ada yang menjual dawet legen.” Sambi Wulung hanya tersenyum saja.

Namun keduanya melihat bahwa Puguh agaknya tidak tertarik dengan percakapan itu. Wajahnya masih saja diliputi oleh suasana yang muram. Agaknya ia masih agak ragu-ragu untuk mengambil keputusan, apakah ia akan membawa kedua orang yang pernah menolongnya itu ke tempat tinggalnya, yang sebenarnya sejauh mungkin dipisahkan dari pengenalan orang lain.

Tetapi agaknya Puguh tidak dapat berbuat demikian. Ia merasa sudah terlalu banyak berhutang budi kepada keduanya.

Tetapi sekali-sekali terbesit pula pertanyaan didalam hatinya, “Kenapa aku harus menghiraukan pertolongan yang telah diberikan oleh kedua orang itu? Aku tidak pernah memintanya, sehingga aku tidak perlu mempedulikannya.” Namun ternyata ia tidak dapat mengelakkan diri dari tuntutan nuraninya untuk menyatakan terima kasih kepada kedua orang itu, meskipun itu merupakan satu sikap yang baru didalam hatinya, bahkan ia harus menyatakan terima kasih kepada orang lain.

Dalam pada itu, mereka bertiga telah berbelok untuk dapat lewat disebelah pasar sebagaimana dikehendaki oleh Jati Wulung.

Sebenarnyalah ketika mereka melewati jalan disebelah pasar yang cukup ramai, maka Jati Wulung telah tergoda untuk singgah kedalamnya. Apalagi ketika dilihatnya sebuah pikulan yang khusus dari seorang penjual dawet legen sebagaimana yang sangat digemarinya.

Namun yang tidak diketahui oleh Jati Wulung dan Sambi Wulung adalah dua pasang mata yang selalu mengawasinya.

Ketika kemudian Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh duduk di sebuah lincak kecil didepan penjual dawet, maka dua orang telah mengamatinya dari kejauhan.

“Siapakah yang datang bersama Puguh itu?“ bertanya salah seorang diantara mereka.

Kawannya menggeleng. Tetapi ia berdesis, “Kemana para pengawalnya?”

“Tentu telah terjadi sesuatu,“ berkata orang yang pertama. “Tetapi na mpaknya mereka tenang-tenang saja minum dawet tanpa menunjukkan kegelisahan atau sesuatu yang pantas dicurigai,“ sahut kawannya.

Orang yang pertama mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

Untuk beberapa lama keduanya menunggui ketiga orang yang masih saja duduk dilincak kecil itu. Agaknya mereka memang sedang beristarahat. Ketiganya sempat memperhatikan kesibukan beberapa orang yang berjualan di pasar itu. Sementara Jati Wulung tiba-tiba saja berdesis, “Nasi megana.”

Sambi Wulung menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian ia bertanya, “Apakah kau akan membelinya?”

Jati Wulung termangu-mangu. Namun kemudian iapun berpaling kepada Puguh sambil bertanya, “Kapan kita kira - kira akan sampai ke tempat tinggalmu?”

Puguh termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menengadahkan wajahnya kelangit. Matahari sudah terlalu tinggi. Karena itu, maka katanya, “Jika kita berjalan selambat perjalanan kita sampai saat ini, maka sore hari kita baru akan sampai.”

“Sore hari? Bukankah kita sekarang sudah berada di Gantar?“ bertanya Sambi Wulung.

“Jalan yang kemudian akan kita lalui bukan jalan selebar dan serata jalan yang baru saja kita lalui. Tetapi jalan akan menjadi sempit dan rumpil. Naik dan turun, bahkan kita akan menyusuri jalan dipinggir hutan,“ jawab P uguh. Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Mereka memang sudah mengira bahwa tempat tinggal Puguh tidak akan dapat mereka capai dengan mudah sebagaimana mereka mencapai Kademangan Gantar itu sendiri. Bahkan jalan ke tempat tinggal Puguh tentu akan sesulit dan serumpil jalan menuju ke Song Lawa.

Dalam pada itus maka Jati Wulungpun kemudian berkata, “Aku akan membeli nasi megana. Jika kita baru sampai ke tempat tinggal Puguh menjelang sore hari, maka kita akan memerlukan makan siang di perjalanan.”

Sambi Wulung tertawa. Tetapi ia tidak menahan ketika Jati Wulung kemudian berdiri dan melangkah mendekati seorang perempuan yang menjual nasi megana.

Namun ketajaman matanya, tiba-tiba saja telah menangkap dua orang yang sedang mengawasinya. Keduanya justru bergeser ketika mereka melihat Jati Wulung bangkit dan melangkah mendekati penjual nasi megana, justru searah dengan arah kedua orang itu berdiri.

Tetapi Jati Wulung tidak dengan serta merta mengambil langkah. Ia bahkan berpura-pura tidak melihat sesuatu.

Karena itu, maka iapun telah langsung menuju ketempat seorang perempuan penjual nasi megana. Tetapi karena sudah terlalu siang, maka nasi yang dijualnya itu telah hampir habis.

Meskipun demikian Jati Wulung masih dapat membeli tiga bungkus nasi megana yang akan dibawanya sebagai bekal di perjalanan.

“Apakah nasi megana ini dapat bertahan sampai sore?“ bertanya Jati Wulung. Perempuan penjual nasi itu termangu-mangu. Namun kemudian ia menggeleng. Katanya, “Tidak. Sebaiknya jangan terlalu sore.”

Jati Wulung mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah.

Terimakasih.”

Ketika Jati Wulung kemudian membayar harga nasi megana itu, ia masih sempat sekilas memandang ke arah kedua orang laki-laki yang dianggapnya mengamatinya itu. Ternyata ia masih melihat kedua laki-laki itu meskipun berusaha bergeser dua tiga langkah dari tempatnya.

Bahkan Jati Wulungpun kemudian telah melangkah lebih dekat lagi ketika ia mendekati seorang penjual semangka.

Jati Wulung membeli semangka itu meskipun tidak direncanakannya. Justru satu kesempatan baginya untuk lebih memperhatikan orang itu yang ternyata tidak menaruh curiga kepadanya. Kedua orang itu masih saja menganggap Jati Wulung tidak mengetahuinya bahwa keduanya sedang memperhatikannya.

Ketika kemudian Jati Wulung kembali kepada Sambi Wulung dan Puguh, iapun tidak segera mengatakannya.

“Kau membeli apa saja?“ bertanya Sambi Wulung. “Jika kita akan menempuh perjalanan panjang yang

rumpil, maka kita akan memerlukan bekal,“ jawab Jati Wulung, “nah, aku telah membelinya. Kalianla h yang membawanya.”

“Aku tidak akan kelaparan,“ jawab Sambi Wulung.

Jati Wulung mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tertawa. Sejenak kemudian, maka merekapun telah meninggalkan lincak penjual dawet legen itu, setelah membayar harga dawet yang telah mereka minum. Perlahan-lahan mereka keluar dari pasar. Namun sebelum mereka melewati gerbang pasar itu, Jati Wulung sempat berbisik ditelinga Sambi Wulung tanpa didengar oleh Puguh, “Dua orang mengawasi kita.”

Sambi Wulung mengangguk kecil. Tetapi ia tidak menjawab.

Demikianlah merekapun kemudian menempuh perjalanan menuju ketempat tinggal Puguh yang memang disebutnya sebagai sebuah padepokan.

Dipaling depan Puguh berjalan sambil membawa semangka yang besar. Kemudian Sambi Wulung dan Jati Wulung yang membawa tiga bungkus nasi megana.

Mereka meninggalkan jalan induk di Kademangan setelah mereka keluar dari padukuhan induk Kademangan Gantar. Jalan yang mereka lalui bukan lagi jalan seluas jalan yang baru saja mereka lewati. Ditengah-tengah bulak yang panjang, mereka berbelok memasuki jalan yang lebih kecil.

Sebenarnyalah seperti yang dikatakan Puguh, maka jalan yang mereka lalui selanjutnya memangu menjadi semakin kecil dan bahkan licin.

“He,“ berkata Jati Wulung yang kemudian melihat agak jauh dibelakangnya dua orang yang berjalan mengikutinya. Dua orang yang agaknya telah dilihatnya di pasar. “Nasi itu sebaiknya kita makan lebih dahulu. Lihat, kita sudah berjalan sampai lewat tengah hari. Apalagi penjual nasi itu berpesan, agar kita tidak membiarkan sampai sore, karena nasi itu tidak akan dapat dimakan lagi.”

Sambi Wulung yang mendapat isyarat dari Jati Wulungpun melihat pula kedua orang yang berjalan agak jauh dibelakang mereka. Meskipun keduanya mungkin orang yang yang akan pergi kesawah, atau orang lain yang kebetulan juga lewat dijalan itu menuju ke padukuhan kecil diseberang bulak, tetapi karena Jati Wulung telah melihatnya di pasar, maka iapun menjadi semakin curiga.

Karena itulah maka Sambi Wulung tidak menolak ketika Jati Wulung mengajak mereka berhenti.

Puguh yang berada didepan beberapa langkah dari keduanya telah berbalik pula. Tiba-tiba iapun melihat kedua orang yang mengikutinya. Wajahnyapun menjadi tegang dan dahinya berkerut dalam-dalam. Tetapi iapun segera berusaha untuk menghilangkan kesan itu dari wajahnya.

“Marilah,“ ajak Jati Wulung, “kita berhenti sebentar. Apa salahnya kita makan dipinggir jalan kecil yang tidak banyak dilalui orang ini. Orang-orang yang ada disawahpun makan dialam terbuka. Jarang sekali mereka makan di gubug, karena tidak semua kotak-kotak sawah mempunyai gubug yang memadai.”

Puguh termangu-mangu sejenak. Namun ia memang tidak dapat menolak. Nampaknya Sambi Wulungpun ingin segera makan nasi megana yang dibelinya di pasar.

Akhirnya mereka bertigapun telah berhenti dibawah sebatang pohon yang tidak terlalu besar. Merekapun telah mengambil masing-masing satu bungkus nasi megana. Sementara Sambi Wulung dan Jati Wulung menunggu kedua orang yang mengikutinya itu lewat.

Puguh memang ikut pula duduk diantara mereka betapapun jantungnya bergetar semakin cepat. Namun Puguh itupun kemudian menarik nafas panjang ketika kedua orang itu ternyata cepat pula mengatasi keadaan. Keduanya tidak berjalan terus sampai melewati ketiga orang yang berhenti itu, dan barangkali menemui kesulitan. Tetapi keduanya telah meloncati parit dan kemudian berjalan menelusuri pematang.

Jati Wulung dan Sambi Wulung menjadi kecewa bahwa kedua orang itu telah berbelok. Sebenarnya Jati Wulung ingin menangkap keduanya dan memaksa mereka berbicara, untuk apa mereka mengikuti Sambi Wulung, Jati Wulung dan Puguh.

Tetapi Jati Wulung tidak berkata apa-apa kecuali bergeramang didalam hati.

Namun sejenak kemudian, Jati Wulungpun telah dengan nikmatnya menyuapi mulutnya. Nasi megana adalah jenis nasi yang sangat di gemarinya sebagaimana dawet legen.

Sambi Wulung yang sebenarnya masih belum lapar itu, terpaksa makan juga meskipun nampaknya tidak senikmat Jati Wulung. Demikian pula Puguh. Sehingga karena itu, maka Puguh ternyata tidak dapat menghabiskan nasi sebungkus.

“He, kenapa tidak kau habiskan?“ bertanya Jati Wulung. “Aku masih kenyang,“ jawab Puguh. “Kita akan berjalan sampai sore. Jangan biarkan kita kelaparan diperjalanan. Makanlah sampai habis agar kita mempunyai tenaga cukup untuk berjalan sampai sore hari.“

“Seandainya kita tidak makan sekalipun aku akan dapat berjalan sampai sore,“ jawab Puguh.

Jati Wulung mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tersenyum sambil berkata, “Agaknya hanya aku sajalah yang selalu kelaparan.”

Puguh tidak menyahut lagi. Tetapi ia benar-benar tidak dapat menghabiskan nasi megana itu.

Beberapa saat ketiga orang itupun beristirahat. Bahkan Sambi Wulung sempat mencuci kakinya diparit yang mengalirkan air yang jernih dipinggir jalan yang semakin sempit itu.

Setelah beristirahat beberapa saat, maka Jati Wulung- pun kemudian berdiri sambil menggeliat. Ternyata ia sudah tidak melihat seseorang lagi disekitar mereka. Bahkan orang-orang yang pergi kesawahpun tidak dilihatnya.

Agaknya sawah yang tanamannya sudah tumbuh subur itu, tidak terlalu banyak memerlukan perawatan lagi. Hanya di saat-saat tertentu saja para petani turun untuk mengairi sawahnya itu.

“Apakah kita sudah cukup beristirahat?“ bertanya Jati Wulung kemudian.

“Kaulah yang ingin beristirahat,“ jawab Sambi W ulung.

Jati Wulung tertawa pendek. Tetapi ia masih juga bertanya kepada Puguh, “Bagaimana dengan kau?” Puguh memandang Sambi Wulung sekilas. Jawabnya kemudian, “Marilah.”

“Kita akan membuka semangka itu nanti saja, jika kita sudah merasa sangat haus,“ b erkata Jati Wulung.

Puguh mengangguk. Ia sependapat, bahwa dalam keadaan yang haus oleh terik panasnya matahari, maka semangka akan menjadi sangat segar bagi mereka.

Demikianlah, maka sejenak kemudian ketiga orang itupun telah meneruskan perjalanan. Mereka melewati

jalan-jalan yang semakin sempit. Bahkan kemudian menjadi jalan setapak yang agaknya hanya dilalui oleh orang-orang yang akan pergi ke sawah dari padukuhan kecil yang nampak dihadapan mereka.

Beberapa saat kemudian, mereka memang memasuki padukuhan kecil itu. Padukuhan yang nampaknya memang agak miskin. Tetapi jalan dipadukuhan itu menjadi agak lebih lebar dari sebelumnya.

Ketika mereka kemudian berjalan di jalan padukuhan itu, ternyata beberapa orang penghuni padukuhan itu memandangi mereka dengan wajah-wajah yang berkerut.

Tetapi tidak seorangpun yang menyapa dan bertanya kepada mereka bertiga.

“Orang -orang padukuhan ini agaknya memang pemalu,“ berkata Puguh, “mereka tidak banyak bergaul dengan orang-orang dari padukuhan lain. Mereka merasa terlalu miskin untuk berada didalam lingkungan yang lebih luas dari lingkungan mereka sendiri.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk.

Tetapi padukuhan itu memang sepi. Bahkan tidak ada sebuah warungpun yang terdapat dipinggir jalan induk padukuhan itu.

Ketika kemudian mereka keluar dari padukuhan itu, Sambi Wulungpun bertanya, “Apa masih ada padukuhan yang terdapat di sebelah padukuhan ini?”

“Masih,“ jawab Puguh, “tetapi padukuhan -padukuhan kecil. Diujung jalan ini terdapat sebuah hutan yang lebat. Kita akan berjalan menyusuri tepi hutan itu, kemudian menerobos sebuah hutan perdu sebelum sampai ketempat tinggalku.”

“Sebuah padepokan yang terpisah dari pergaulan?“ bertanya Jati Wulung.

“Kami tidak berniat untuk memisahkan diri. Tetapi kami tidak ingin terganggu oleh kesibukan kehidupan wajar, karena kami mempunyai cara hidup tersendiri,“ jawab Puguh. Agaknya anak itu merasa tidak akan dapat menyembunyikan diri lagi, bahkan juga tentang kehidupannya dan lingkungannya.

Sambi WuJung dan Jati Wulung mengangguk-angguk.

Namun apa yang dikatakan oleh Puguh itu merupakan isyarat baginya untuk lebih berhati-hati.

Demikianlah, setelah melalui padukuhan-padukuhan kecil yang hampir tidak ada perbedaannya yang satu dengan yang lain, maka merekapun memasuki daerah yang nampaknya menjadi semakin gersang. Mereka tidak lagi menjumpai parit-parit yang mengalir serta kotak-kotak sawah. Yang ada kemudian adalah padang perdu yang ditumbuhi ilalang dan pohon-pohon perdu disana-sini.

Sementara itu, matahari yang telah turun ke Barat menyengat kulit panas sekali. “Agaknya tanah ini tidak begitu subur,“ desis Jati Wulung.

“Aku kira tidak,“ sahut Sambi Wulung, “bukan tanahnya yang tidak subur. Tetapi karena daerah ini tidak digarap dan tidak dijangkau oleh parit-parit, maka daerah ini nampaknya menjadi gersang. Tetapi sebagaimana kau lihat, dihadapan kita adalah hutan yang lebat.”

Jati Wulung mengangguk-angguk. Sementara itu Puguh berkata, “Ya. Tanah ini bukannya tanah yang gersang.

Disebelah adalah tanah yang digarap oleh orang-orang dari padepokanku. Setelah kita menyusuri jalan di pinggir hutan itu, maka kita akan menjauhi hutan lagi, memasuki tanah garapan setelah melintasi padang perdu pula seperti ini.”

“Kenapa kalian tidak membuat jalan yang langsung menuju kepadepokan kalian?“ bertanya Jati Wulung.

“Jalan yang sulit akan menjadi saringan. Semakin sulit semakin sedikit orang yang akan mencapai padepokan kami,“ jawab Puguh,

“Sebaiknya kalian tidak memisahkan diri dari kehidupan,“ berkata Sambi Wulung, “bagaimanapu n juga, manusia adalah mahluk yang saling berhubungan, Saling memerlukan dan saling mengisi dalam kehidupannya.”

“Kami tidak memisahkan diri,“ berkata Puguh, “kami hanya ingin tidak terganggu oleh cara hidup yang lain daripada cara yang telah kami pilih. Didalam padepokan kamipun terdapat sekelompok orang yang hidup saling berhubungan, saling memerlukan dan saling mengisi didalam kehidupan kami, sesuai dengan cara yang telah kami pilih.” Sambi Wulung mengangguk-angguk. Puguh yang sangat muda itu agaknya memang telah mendapat bekal yang cukup dari lingkungannya sehingga ia telah dapat meyakini bahwa lingkungannya memiliki satu cara hidup tersendiri.”

Dalam pada itu, maka merekapun telah berjalan semakin dekat dengan hutan yang nampaknya masih sangat garang dihadapan mereka. Pepohonan raksasa sudah nampak menyembul diantara pohon-pohon tumbuh pepat seakan- akan tanpa jarak.

“He, apakah kita akan membawa semangka itu sampai ke padepokanmu?“ bertanya Jati Wulung kepada Puguh.

Puguh tersenyum. Katanya, “Kita d apat berhenti sebentar dibawah pohon perdu ini. Kita pecahkan semangka ini. Agaknya memang akan terasa segar sekali.”

Ketiga orang itupun kemudian telah duduk dibawah pohon perdu. Tanpa pisau, maka semangka itupun dipecah. Mereka tidak dapat mempergunakan pedang mereka yang sudah pernah dibasahi oleh darah.

Sebenarnyalah perasaan haus dileher mereka, telah hilang oleh segarnya semangka yang besar dan manis itu.

Namun dalam pada itu, selagi mereka duduk dibawah pohon perdu itu, maka empat orang yang tiba-tiba saja muncul dari arah hutan telah mendekati mereka. Empat orang yang nampak keras dan garang.

“Siapakah kalian he? “ terdengar seorang diantara mereka menyapa dengan suara serak. Namun tiba-tiba keempat orang itupun bergeser surut ketika mereka melihat seorang anak muda ada diantara mereka.

“Kau anak muda,“ desis salah seorang diantara keempat orang itu.

Puguhlah yang kemudian berdiri. Dihampirinya empat orang itu. Kemudian katanya, “Mereka adalah tamu - tamuku.”

“Kami baru tahu sekarang anak muda,“ jawab salah seorang diantara mereka.

“Tinggalkan kami. Kami akan menyelesaikan kerja kami,“ berkata Puguh kemudian.

Keempat orang itu termangu-mangu. Namun kemudian salah seoarang diantara mereka bertanya, “Kenapa kau sendiri. Dimana para pengawalmu itu anak muda?”

“Biarlah aku sendiri yang mengatakan kepada paman,“ sahut Puguh.

Keempat orang itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka memang tidak berani mendesaknya. Namun ketika terlihat luka ditubuh Puguh, maka seorang diantara mereka bertanya, “Ka u teriuka lagi?”

“Tidak apa -apa,“ jawab Puguh. Lalu katanya, “pergilah. Siapkan padepokan itu. Aku akan menerima kedua orang tamuku.”

Keempat orang itu tidak berkata lebih lanjut. Merekapun kemudian telah meninggalkan Puguh yang kembali mendapatkan Sambi Wulung dan Jati Wulung yang masih sibuk makan semangka tanpa menghiraukan pembicaraan antara keempat orang itu dengan Puguh. Bahkan Puguh- pun kemudian telah ikut menghabiskan sisa semangka yang besar itu.

Baru beberapa saat kemudian, maka ketiga orang itu sudah merasa cukup beristirahat dan menghilangkan haus. Merekapun kemudian telah bangkit dan melanjutkan perjalanan.

Namun, demikian mereka mulai bergerak, maka Sambi Wulungpun kemudian bertanya, “Siapakah keempat orang yang datang itu?”

“Orang -orang padepokan,“ jawab Puguh.

Sambi Wulung mengangguk-angguk, sementara Jati Wulungpun bertanya, “Nampaknya mereka begitu garangnya. Apakah mereka selalu meronda disekitar padepokan?”

“Ya,“ jawab Puguh, “terutama sepanjang garis perjalanan dari Gantar. Hanya orang-orang yang tidak dicurigai yang diijinkan memasuki padepokan Gantar.”

Namun tiba-tiba telah timbul pertanyaan yang membuat jantung Puguh berdebaran. Hampir diluar sadarnya Jati Wulung bertanya, “Apakah yang terjadi jika orang -orang padepokanmu itu bertemu dengan orang-orang yang merasa dirinya berkuasa dan meletakkan tanda-tanda di daerah kuasanya itu? Sebagaimana kita lihat, sebuah topeng yang ujudnya menakutkan itu?”

Wajah Puguh nampak menjadi tegang sesaat. Namun kemudian katanya,“ jarak dari pade pokanku ketempat yang diberi tanda-tanda itu cukup jauh, sehingga orang-orangku tidak akan bertemu dengan mereka.”

“Tetapi siapa tahu, bahwa orang -orang itu akhirnya akan memperluas kuasanya,“ desis Jati Wulung.

Ternyata bahwa Puguh menjawab dengan cerdik, “Jika memang terjadi demikian, maka biarlah kita tanggapi kemudian.”

Jati Wulung menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

Sementara itu, mereka bertiga telah berjalan semakin dekat dengan hutan yang masih nampak sangat lebat itu. Dipinggir hutan itu memang terdapat jalan setapak yang lembab. Yang agaknya merupakan satu-satunya jalan menuju ke padepokan yang terpencil itu.

“Dimana orang -orangmu tadi?“ bertanya Jati Wulung kemudian.

Puguh mengerutkan keningnya. Iapun kemudian menjawab, “pergi. Agaknya mereka akan mendahului kembali ke padepokan untuk menyiapkan tempat bagi kalian.”

“Kami bukan tamu -tamu yang sangat terhormat. Kami hanya sekedar ingin singgah,“ berkata Jati Wulung kemudian.

Puguh menarik nafas dalam-dalam. Namun ia berharap bahwa dengan demikian, maka orang-orang yang merasa tidak perlu bertemu dengan tamu-tamunya akan menyingkir. Sejenak kemudian, maka merekapun telah berjalan menyusuri jalan setapak dipinggir hutan. Daun-daun yang rapat telah menaungi mereka dari terik matahari sehingga rasa-rasanya mereka tengah berjalan di tempat yang sejuk. Apalagi jika mereka memandangi cahaya matahari yang bagaikan bergetar diatas batang-batang ilalang.

Dalam pada itu, Puguhpun berkata, “Hutan ini masih terlalu liar. Masih banyak sekali binatang-binatang buas berkeliaran.”

“Apakah hutan ini tidak berbahaya bagi orang -orang dipadepokanmu yang keluar masuk lingkunganmu. Mungkin kalian memerlukan sesuatu yang harus kalian beli dari orang-orang padukuhan atau kalian harus keluar dari padepokan untuk pergi ke pasar,“ bertanya Sambi Wulung.

“Binatang buas bukan hantu bagi kami. Kami kadang - kadang justru masuk kedalam hutan itu untuk mencari binatang buas. Kulitnya akan dapat ditukarkan dengan barang-barang keperluan kami sehari-hari. Beberapa orang pedagang yang hilir mudik didaerah Gantar dan sekitarnya akan bersedia membelinya,“ jawab Puguh.

“Kulit harimau misalnya?“ desis Jati Wulung,

“Segala jenis harimau,“ jawab Puguh, “harimau loreng, harimau tutul, harimau kumbang yang berkulit hitam lekam dan jenis-jenis yang lebih kecil sekalipun.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Mereka dapat membayangkan bahwa isi padepokan itu tentu orang-orang yang perkasa. Mereka adalah juga pemburu-pemburu yang berani dan tangguh.” Karena itu maka Sambi Wulung dan Jati Wulung menganggap bahwa dunia Puguh lebih menguntungkan dari dunia Risang dibidang penempaan diri. Namun di segi lain dari kehidupan, beruntunglah Risang bahwa ia tidak terperosok dalam pergaulan sebagaimana Puguh.

Beberapa saat mereka menelusuri hutan itu, maka merekapun segera melihat betapa seramnya isi hutan itu. Langkah nerekapun kemudian tertegun ketika Puguh yang berjalan dipaling depan memberikan isyarat agar mereka berhenti.

“Apa?“ bertanya Sambi Wulung dengan se rta merta, Puguh tidak menjawab. Namun mereka bertigapun segera melihat seekor ular yang besar dan panjang yang menyusuri ilalang memasuki hutan yang lembab.

“Ular itu kepanasan,“ berkata Puguh, “agaknya ia mencari tempat yang lebih sejuk.”

“Ular raksasa ,“ desis Jati Wulung.

“Bukan satu -satunya jenis yang terdapat di hutan dan sekitarnya. Banyak ular yang lebih besar dari ular itu. Ular yang termasuk tidak berbisa. Atau katakanlah bisanya tidak terlalu tajam. Tetapi ular sebesar itu dapat menelan seseorang dalam keadaan utuh,“ berkata Puguh pula.

“Mengerikan,“ desis Jati Wulung.

“Kami juga sering berburu ular,“ berkata Puguh kemudian, “kulitnya juga dapat kami jual dengan harga yang mahal.“ Puguh berhenti sejenak, lalu, “tetapi kita harus berhati-hati terhadap ular, karena ular adalah sejenis binatang pendendam.” Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk.

Merekapun sudah mengetahui, betapa ular dapat mengingat ujud musuhnya sampai mati. Matanya seakan- akan mempunyai daya serap akan penglihatannya dan kemudian dipahatkannya pada ingatannya.

Ketiga orang itupun kemudian melangkah lagi ketika ekor ular yang besar itu telah hilang dibalik gerumbul- gerambul di dalam hutan. Puguh sudah dapat mengenali kapan ular menjadi berbahaya dan kapan tidak. Ular yang tidak sedang lapar, jarang sekali menyerang jika ia tidak merasa diganggu.

Namun beberapa saat kemudian, di tengah hutan itupun telah terdengar pula aum harimau yang agaknya merasa lapar atau haus. Atau saling berebut mangsa.

“Mereka mencium bau kita, “ desis Puguh.

“Ya,“ berkata Sambi Wulung, “agaknya angin bertiup ke arah hutan itu.”

Puguh mengerutkan keningnya. Ternyata kedua orang yang mengaku sebagai pengembara itu mengenali juga serba sedikit watak binatang hutan.

Namun mereka bertiga sama sekali tidak menunjukkan kecemasan mereka sama sekali. Seolah-olah jalan dipinggir hutan itu adalah jalan yang tidak sering disentuh oleh binatang-binatang buas.

Tetapi bagi Sambi Wulung dan Jati Wulung, jalan sempit dipinggir hutan itu sama saja berbahayanya dengan jalan yang jauh lebih lebar di Gantar atau bahkan di Pajang sekalipun. Bahkan binatang-binatang buas itu tidak akan pernah berbuat dengan perhitungan yang licik. Mereka menyerang sebagaimana mereka biasa menyerang. Mungkin merunduk diam-diam. Mungkin menunggu. Tetapi mereka tidak pernah membuat perhitungan-perhitungan yang rumit untuk menjebak lawannya sebagaimana dilakukan oleh manusia. Di dalam kota yang ramai sekalipun, kadang-kadang bahayanya justru lebih besar daripada di pinggir hutan yang lebat dan liar itu.

Beberapa saat lamanya mereka bertiga berjalan menyusuri jalan dipinggir hutan. Tetapi seekor binatang- pun yang menyerang mereka. Ketika Sambi Wulung dan Jati Wulung melihat sekelompok kera bermain-main di dahan dan ranting pepohonan, mereka menjadi semakin tenang. Karena menurut pengertian mereka, selama kera- kera itu masih tenang, berarti bahwa tidak ada bahaya yang mengancam disekitarnya. Jika muncul seekor harimau atau jenis binatang buas yang lain, maka kera-kera itu tentu akan lari bercerai berai.

Namun mereka tidak terlalu jauh menyusuri jalan dipinggir hutan itu. Ketika matahari kemudian menjadi senakin rendah, maka merekapun telah memisahkan diri dari hutan itu menuju ketempat yang suasananya lain sama sekali.

Setelah menyeberangi padang perdu yang tidak terlalu luas, maka merekapun mulai merambah lagi daerah persawahan.

Tetapi sawah yang terbentang luas itu tidak digarap oleh para petani dari padukuhan manapun. Sawah itu adalah tanah garapan orang-orang padepokan.

Sambi Wulung dan Jati Wulung termangu-mangu sejenak. Dengan demikian mereka dapat membayangkan, bahwa penghuni padepokan yang didiami oleh Puguh tentu padepokan yang besar. Tentu dihuni oleh banyak orang. Jika tidak demikian, maka mereka tidak akan mampu mengerjakan sawah yang demikian luasnya. Bahkan sawah-sawah itu telah dialiri air lewat parit-parit yang merambat sampai keujung-ujung.

“Satu tatanan kehidupan yang kelihatannya mulai mapan dari satu masyarakat yang terpisah,“ berkata Sambi Wulung dan Jati Wulung didalam hatinya.

Demikianlah, maka mereka bertigapun telah memasuki satu daerah yang seakan-akan terpisah dari dunia kehidupan yang lain. Ternyata bahwa jauh diseberang nampak hutan yang lebat itu bagaikan melingkari lingkungan itu.

“Darimana kalian mendapat a ir?“ bertanya Sambi Wulung kemudian.

“Kami mengangkat air dari sebuah sungai yang tidak terlalu besar. Tetapi airnya ternyata cukup untuk membasahi tanah pertanian kami,“ jawab Puguh.

Sambi Wulung mengangguk-angguk. Namun yang kemudian menjadi pertanyaan didadanya dan juga didada Jati Wulung adalah, bahwa tidak mungkin padepokan itu menjadi kaya dan dapat membiarkan Puguh memasuki Song Lawa dengan bekal yang tidak terbatas. Penjualan kulit dan hasil perburuan lainnyapun tidak akan memberikan harta yang melimpah kepada Puguh, karena keluarga besar merekapun tentu memerlukan bahan-bahan untuk hidup mereka. Bahan makanan dan bahan pakaian serta kebutuhan-kebutuhan yang lain.

Tetapi Sambi Wulung dan Jati Wulung tidak mempertanyakannya. Mereka masih banyak menahan diri untuk tidak berbicara tentang Puguh, tempat tinggalnya dan terutama sumber pendapatan mereka.

Ketika mereka bertiga berjalan melewati bulak yang luas, maka mereka memang bertemu dengan beberapa orang yang bekerja disawah. Namun yang mereka bawa bukan sekedar cangkul dan alat-alat pertanian yang lain. Tetapi dilambung mereka tergantung pedang atau jenis senjata yang lain. Bahkan ada diantara mereka yang membawa busur menyilang dipunggung serta bumbung anak panah yang tergantung dilambung.

“Inilah warna kehidupan disini,“ desis Jati Wulung.

“Ya,“ jawab Puguh, “kami sudah menentukan cara hidup kami sendiri. Tidak ada orang lain yang dapat merubahnya.”

“Tentu tidak akan ada orang lain yang berusaha untuk merubah tata kehidupan disini,“ desis Sambi Wulung.

“Selama kalian tidak mengganggu tatanan kehidupan yang lain, maka tentu tidak akan ada orang lain yang mengganggu tatanan kehidupan disini,“ sahut Jati Wulung.

Tiba-tiba saja kening Puguh berkerut. Namun dengan cepat ia dapat menguasai perasaannya. Sambil mengangguk-angguk ia kemudian berkata, “Kamipun berharap demikian. Selama kami tidak mengganggu orang lain, maka biarlah kami tidak diganggu karenanya.”

Merekapun kemudian terdiam. Mereka berjalan semakin dekat dengan sebuah padepokan yang berada di tengah- tengah bulak. Seperti sebuah pulau yang terapung dilautan yang hijau. Ketika mereka kemudian mendekati padepokan itu, maka yang mereka lihat adalah sebuah padepokan yang tidak banyak berbeda dengan padepokan-padepokan yang lain. Didepan sekali nampak sebuah pintu gerbang.

Kemudian disekeliling padepokan yang ditumbuhi dengan berjenis-jenis pohon buah-buahan itu dipagari dengan balok-balok kayu yang utuh. Terikat dengan rapi, bukan saja dengan tali ijuk, tetapi diikat dengan penjalin. Dengan demikian maka dinding itu merupakan dinding yang sangat kuat.

Ternyata kedatangan Puguh telah diketahui oleh orang- orang padepokan itu. Empat orang yang terdahulu telah memberikan laporan bahwa Puguh akan kembali bersama dengan dua orang tamunya.

Dua orang ternyata telah menunggunya dipintu gerbang yang dijaga pula oleh dua orang pengawal.

Ketika ketiga orang itu memasuki gerbang padepokan, maka kedua orang itu telah menyambutnya dengan hormat. Sementara itu dengan serta merta Puguhpun bertanya, “Apakah aya h dan ibu ada disini?”

Salah seorang dari kedua orang itu menggeleng.

Jawabnya, “Tidak anak muda. Ayah dan ibumu beberapa hari yang lalu telah pergi mengujungi keluarga di Jipang.”

Puguh mengerutkan keningnya. Namun iapun mengangguk-angguk. Dengan nada ragu iapun bertanya, “Guru?”

“Juga sedang pergi. Mereka mengira bahwa anak muda masih akan berada di pengembaraan barang dua tiga pekan lagi. Tetapi agaknya anak muda telah mempercepat perjalanan,“ jawab orang itu. “Ya. Aku datang bersama dua orang sahaba tku,“ berkata Puguh kemudian.

“Marilah, silahkan,“ orang itu mempersilahkan ketiganya masuk.

Demikianlah mereka bertigapun telah berada di bangunan induk padepokan yang cukup luas itu. Mereka bertiga duduk diatas sebuah tikar pandan yang putih, dengan garis-garis silang berwarna hijau dan merah.

“Anak -anak membuat tikar ini sendiri,“ berkata Puguh. “Satu lingkungan kehidupan yang baik,“ gumam Sambi

Wulung sambil memperhatikan keadaan disekitarnya.

Namun yang dilihatnya adalah berbeda dari dugaannya. Ia mengira bahwa di padepokan itu hilir mudik beberapa kelompok orang yang jadi penghuni padepokan itu. Untuk mengerjakan sawah yang luas serta pategalannya, maka tentu diperlukan tenaga yang cukup banyak. Namun nampaknya padepokan itu lengang sekali. Hanya satu dua orang yang menyandang senjata sajalah yang dilihatnya lewat dihalaman.

Tetapi Sambi Wulung itu mencoba untuk menenangkan hatinya, “Mungkin orang -orang itu sedang berada di sawah atau sedang mengerjakan keperluan-keperluan lain.

Sambi Wulung itu terkejut ketika ia mendengar Puguh berkata, “Sayang, ayah dan ibu tidak ada di padepokan. Sementara gurupun sedang pergi karena menurut rencana aku baru akan kembali dalam dua atau tiga pekan lagi.

Seandainya tidak terjadi sesuatu dengan Song Lawa, maka aku kira akupun baru-akan kembali tiga pekan lagi. Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnyalah mereka tidak memerlukan orang tua Puguh itu. Apalagi keduanya tahu, bajiwa Puguh tidak lagi berbapa, tetapi ibunyalah yang masih ada. Jika kemudian ia hidup bersama seorang laki-laki bekas Senapati Jipang itu, maka agaknya laki-laki itulah yang telah disebut ayahnya.

Bahkan mereka merasa kebetulan sekali bahwa kedua orang tua dan guru Puguh tidak ada dipadepokan. Dengan demikian, tidak akan mudah untuk timbul kecurigaan karena wawasan yang tajam dari mereka, termasuk gurunya. Yang penting bagi keduanya adalah, bahwa mereka telah melihat lingkungan tempat tinggal Puguh.

Satu kesempatan yang telah mereka dapatkan dengan susah payah. Meskipun keduanyapun yakin, bahwa tempat itu bukan satu-satunya tempat tinggal Puguh. Namun agaknya ia lebih sering beradaditempat ini.

Sementara itu, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah mendapat hidangan minuman hangat dan beberapa macam makanan yang dibuat sendiri oleh para penghuni padepokan itu. Puguh yang menemui mereka mempersilahkan untuk meneguknya dan barangkali Jati Wulung telah menjadi lapar lagi.

Jati Wulung tersenyum. Katanya, “Kaulah yang tidak menghabiskan bekal nasi megana itu. Barangkali kaulah yang telah menjadi lapar.”

Puguh tersenyum. Katanya, “Aku justru tidak lapar setelah aku sampai di padepokanku.”

Sambil meneguk minuman hangat dengan gula kelapa, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah memperhatikan langit yang mulai menjadi buram.

Bayangan senja yang merah hinggap diujung pepohonan. Sementara itu beberapa orang penghuni padepokan itu telah mulai menyalakan lampu minyak. Juga di pendapa itu.

Puguhpun kemudian telah mempersilahkan Sambi Wulung dan Jati Wulung untuk pergi ke pakiwan, Namun sebelumnya, Puguh telah memerintahkan seorang penghuni padepokan itu untuk mengantarkan kedua orang tamu itu kedalam bilik yang telah disediakan.

“Setelah kalian mandi, kita akan makan malam,“ berkata Puguh. Lalu, “Seseorang telah memotong ayam. S elama perjalanan kita makan tidak teratur dan kadang-kadang kurang mantap. Sekarang kita akan mencoba makan lebih baik dari makanan yang kita makan selama diperjalanan.”

Jati Wulung tertawa. Katanya, “Di warung -warung yang kita singgahi kita dapat memilih makanan apa saja, termasuk daging ayam. Tetapi tentu berbeda dengan jika kita makan dirumah sendiri.”

Sejenak kemudian, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah dibawa ke sebuah bilik yang telah dibersihkan. Sebuah lampu minyak telah menyala diatas ajug-ajug disudut bilik itu.

“Silahkan,“ berkata orang yang mengantarkan mereka berdua. Namun Sambi Wulungpun kemudian bertanya, “Dimanakah letak pakiwannya?”

“Marilah. Aku antarkan kalian ke pakiwan,“ berkata orang itu.

Tetapi ternyata Sambi Wulung dahululah yang pergi ke pakiwan sementara Jati Wulung menunggu didalam biliknya. Baru kemudian Jati Wulung telah diantar oleh Sambi Wulung ke pakiwan. Namun mereka tidak hanya sekedar pergi ke pakiwan.

Mereka sempat memperhatikan beberapa bagian dari padepokan itu. Bahkan mereka sempat memperhatikan bilik mereka dari luar meskipun hanya dari satu sisi.

Setelah keduanya membenahi diri, maka merekapun telah diundang oleh Puguh untuk makan malam. Ternyata bukan hanya mereka bertiga sajalah yang makan bersama, tetapi seorang lagi yang dipanggil Puguh dengan Paman.

Sambil makan maka orang yang dipanggil paman itu- pun telah memperkenalkan dirinya. Dengan ramah orang itu berkata, “Namaku Gagaklahan. Nama yang tidak pantas untuk disebut-sebut.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk. Mereka memperkenalkan diri dengan nama Wanengbaya dan Wanengpati.

“Aku sudah mendengar semuanya tentang kalian dari Puguh,“ berkata orang itu, “aku atas nama orang tuanya dan gurunya mengucapkan terima kasih atas kebaikan kalian berdua.”

“Ah,“ desah Sambi Wulung, “bukan apa -apa. Hanya secara kebetulan kami melakukannya.”

“Bukan kebetulan. Tetapi kalian benar -benar telah menolong Puguh. Obat yang kalian berikan, ternyata sangat berarti bagi luka-luka pada tubuh Puguh. Tanpa obat-obat itu, maka lukanya akan dapat menjadi sangat berbahaya baginya,“ berkata Gagaklahan.

Sambi Wulung dan Jati Wulung hanya mengangguk- angguk saja sambil tersenyum. Demikianlah, maka pembicaraan merekapun kemudian telah berkisar tentang berbagai macam persoalan. Sambi Wulung dan Jati Wulung telah bertanya tentang padepokan itu. Sawah yang luas dan tatanan kehidupan yang berlaku di padepokan itu.

Gagaklahan tersenyum sambil menjawab beberapa hal yang tidak terlalu langsung berhubungan dengan dasar- dasar kepentingan padepokan itu. Namun terasa oleh Sambi Wulung dan Jati Wulung bahwa banyak hal yang telah disembunyikannya.

Ketika mereka kemudian telah selesai makan malam dengan lauk yang disediakan khusus untuk menghormati tamu-tamunya, maka Puguhpun kemudian telah memper- silahkan Sambi Wulung dan Jati Wulung beristirahat.

“Masih terlalu sore,“ berkata Jati Wulung.

“Maaf, aku terlalu letih,“ berkata Puguh, “aku ingin beristirahat.”

Sambi Wulung dan Jati Wulung mengangguk-angguk.

Mereka mengerti bahwa keadaan Puguh masih belum pulih seluruhnya. Karena itu, maka katanya, “Silahkan Puguh.

Kau memang harus lebih banyak beristirahat. Kau akan merasa tenang tidur didalam bilikmu daripada tidur di gubug dalam hujan angin atau tidur sambil bersandar sebatang johon dipinggir jalan.”

Puguh tersenyum Namun katanya kemudian, “Aku minta maaf.” Sepeninggal Puguh, maka orang yang dipanggilnya paman itupun minta diri pula. Katanya, “Ada tugas yang harus aku lakukan.”

“O, silahkan,“ sahut Sambi Wulung dan Jati Wulung hampir bersamaan.

Tetapi dengan demikian maka mereka berduapun sadar, bahwa mereka berdua harus masuk kedalam bilik mereka meskipun mereka belum merasa mengantuk. Adalah kurang pada tempatnya jika mereka berdua duduk di ruang dalam itu tanpa ada orang yang menemuinya.

Karena itulah, maka keduanyapun telah bangkit pula bersamaan dengan Gagaklahan. Sambi Wulungpun kemudian berkata, “Kamipun agaknya lebih baik untuk beristirahat barang sejenak.”

“Kalian dapat beristirahat semalam suntuk,“ jawab Gagaklahan sambil tertawa.

Sambi Wulung dan Jati Wulungpun tertawa pula. Mereka terbiasa beristirahat hanya untuk sejenak, karena mereka harus selalu siap menghadapi segala kemungkinan.

Demikianlah, maka Sambi Wulung dan Jati Wulungpun telah pergi pula kedalam biliknya. Sementara itu, malam memang sudah turun, sehingga langitpun menjadi kelam. Tetapi dalam kegelapan itu, ketajaman penglihatan Sambi Wulung dan Jati Wulung masih melihat dua orang yang berdiri dalam kelam sambil mengamati mereka berdua.

Namun Sambi Wulung dan Jati Wulung itu justru berpura- pura tidak menghiraukannya, sehingga akhirnya keduanyapun telah masuk kedalam bilik yang disediakan bagi mereka. Tetapi kedua orang itu menjadi lebih berhati-hati.

Keduanya telah mengamati dinding dari'bilik yang disediakan untuk mereka itu, sehingga akhirnya merekapun menda patkan satu lubang kecil yang nampaknya memang sengaja dibuat untuk dapat mengawasi orang yang ada didaiam bilik itu. Lubang yang langsung dapat mengintip ke pembaringan.

Karena itulah, maka Sambi Wulung dan Jati Wulung yang menyadari bahwa mereka selalu diawasi itu, menjaga tingkah laku dan kata-kata mereka agar mereka tidak terjebak dalam kesulitan.

Dalam pada itu, Puguh yang berada didaiam biliknya, menunggu dengan gelisah kedatangan pamannya yang menyebut dirinya bernama Gagaklahan itu. Satu hal yang harus mereka bicarakan tentang kedua orang tamu Puguh itu, adalah apakah mereka percaya atau tidak terhadap keduanya.

Ketika pintu bilik Puguh diketuk, maka Puguhpun segera membukanya. Gagaklahan agaknya memang telah berada didepan pintu biliknya itu.

“Marilah paman,“ berkata Puguh mempersilahkan. “Puguh,“ berkata Gagaklahan, “sebaiknya kita berusaha

untuk mengurangi tanggung jawab. Biarlah kita menghadap gurumu. Apa kata gurumu tentang kedua orang itu. Bagiku, keduanya adalah orang orang yang sama sekali tidak dapat dipercaya. Mereka mempunyai kemampuan yang tinggi dan sengaja menolongmu agar mereka dapat ikut masuk kedalam padepokan ini.” “Untuk apa mereka mengikutiku masuk ke padepokan ini? Mereka tidak mempunyai kepentingan apa-apa dengan aku dan dengan kita seluruhnya,“ berkata Puguh.

“Mungkin kita tidak tahu apakah pamrihnya. Tetapi menilik sikap, kata-katanya dan apa yang telah mereka lakukan sesuai dengan ceriteramu, maka keduanya justru harus dibinasakan. Mereka hanya berpura-pura baik terhadapmu. Mereka akan menjadi lebih berbahaya jika mereka benar-benar ingin merubah tatanan kehidupanmu. Karena apa yang kau lakukan sekarang ini benar-benar sudah sesuai dengan keinginan ayah dan ibumu,“ ber kata Gagaklahan.

“Tetapi guru kadang -kadang bersikap agak berbeda,“ sahut Puguh.

“Yang berbeda adalah kulitnya. Tetapi isinya tetap sama,“ berkata Gagaklahan.

“Tetapi guru pernah berkata, bahwa aku wajib menilai tingkah lakuku menjelang usia dewasaku,“ berkata Puguh.

“Itu benar,“ berkata Gagaklahan, “jadi kau artikan apa pesan gurumu itu? Kau kira gurumu memberimu peringatan bahwa ada tingkah lakumu sekarang ada yang salah? Jika gurumu berpesan begitu, maka sebaiknya kau mengartikan, bahwa kau harus memiliki bekal yang cukup menjelang saat-saat dewasamu itu. Kau memang harus menilai apakah kemampuan yang ada sudah cukup bagimu.”

Puguh termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Kita menghadap guru.”

Demikianlah, maka diam-diam keduanya telah meninggalkan bangunan induk padepokan itu. Bahkan mereka telah keluar dari padepokan yang sebenarnya tidak lebih dari tempat persinggahan dari para pemimpinnya.

Karena di tempat lain yang tidak begitu jauh terdapat padepokan lain yang lebih dirahasiakan lagi. Padepokan yang mempunyai wewenang lebih besar daripada padepokan yang mereka tinggalkan itu.

Dalam gelapnya malam, mereka berjalan dengan tergesa-gesa. Mereka menyusuri jalan setapak, yang sempit dan rumpil. Padepokan yang satu lagi memang terletak di balik padang perdu yang agak banyak ditumbuhi pepohonan, meskipun tidak selebat hutan.

Keduanya sama sekali tidak merasa cemas bahwa mereka akan bertemu dengan binatang buas. Keduanya merasa yakin bahwa mereka akan dapat membunuh jika mereka bertemu dengari seekor harimau. Apalagi orang yang menyebut dirinya Gagaklahan itu membawa busur dan anak panah sebagai senjata yang biasa dibawa untuk melintasi padang padang perdu dan bahkan untuk memasuki hutan. Karena dengan busur dan anak panah itulah Gagaklahan sering pergi berburu ketengah-tengah hutan yang lebat, keras dan liar itu.

Beberapa saat kemudian, maka mereka memang menembus hutan yang menjorok. Gelapnya malam bagaikan selimut hutan yang menutup pandangan. Namun mereka berdua telah sangat terbiasa menempuh jalan itu.

Ketika mereka muncul dibalik bagian dari hutan yang menjorok itu, maka tiba-tiba saja terdengar bunyi yang menghentak-hentak. Bukan bunyi binatang hutan meskipun agak mirip dengan suara seekor kera yang berongga dilehernya. Gagaklahan telah menyahut dengan bunyi yang lain, tetapi yang ternyata adalah isyarat sandi. Tanpa dapat mengucapkan isyarat sandi, maka mereka tidak akan dapat meneruskan perjalanan karena mereka tentu akan dibantai sebagaimana hampir saja terjadi atas Puguh dan kedua orang yang bersamanya itu. Namun hal itu tidak pernah diceriterakannya kepada Gagaklahan.

Akhirnya kedua orang itupun telah mendekati sebuah padepokan yang lain sekali dari padepokan yang baru saja mereka tinggalkan. Padepokan yang berada direlung sebuah hutan yang lebat, dikaki sebuah bukit kecil yang terdiri dari batu-batu padas itu, nampaknya terlalu gelap dibandingkan dengan padepokan yang sebuah lagi.

Ketika Gagaklahan dan Puguh mendekati pintu gerbang, maka tiba-tiba saja dari arah yang tidak diketahui, beberapa orang bagaikan terbang ke arah mereka. Namun merekapun segera mengenali kedua orang itu, sehingga ke duanyapun telah diberi jalan untuk masuk kedalamnya.

Malam itu juga Puguh minta kepada pemimpin pengawal yang bertugas untuk bertemu dengan gurunya.

“Kenapa tidak besok saja?“ bertanya pemimpin pengawal itu.

“Aku memerlukan sekarang,“ jawab Puguh. “Tetapi sudah terlalu malam,“ berkata pemimpin

pengawal itu.

Wajah Puguh menjadi tegang. Katanya dengan nada keras, “jadi kau ingin persoal anku terlambat diselesaikan?” Pemimpin pengawal itu termangu-mangu. Wajahnya yang keras menunjukkan sikap ragu-ragu menghadapi persoalan yang diminta Puguh itu. Namun Puguhpun akhirnya membentak, “Biar aku sendiri yang membangunkan guru.”

“Jangan,“ cegah pemimpin pengawal itu, “biarlah aku yang menyampaikannya.”

“Tidak,“ geram Puguh.

Ketika orang itu mencoba menghalangi Puguh, maka orang itupun telah didorongnya kesamping sambil berkata dengan nada keras, “Kau terlalu lamban. Di medan perang, lehermu telah putus ketika datang kesadaranmu untuk melawan.”

Orang itu tidak dapat mencegahnya lagi. Puguhlah yang kemudian memasuki ruang dalam.

Dua orang lagi berada di ruang dalam itu. Tetapi Puguh tidak menghiraukannya. Ketika keduanya berdiri mendekatinya, justru keduanya telah didorongnya menyibak.

Tetapi tidak seorangpun yang berani mengganggu Puguh, sehingga kedua orang pengawal itupun tidak berkata sesuatu. Mereka hanya menonton saja ketika Puguh mendekati pintu bilik gurunya.

Dalam pada itu Gagaklahan dan pemimpin pengawal yang bertugas telah masuk pula keruang dalam. Tetapi keduanya juga membiarkan Puguh kemudian mengetuk pintu bilik gurunya itu.

“Siapa? “ terdengar pertanyaan dari dalam bilik itu. “Aku guru. Puguh,“ jawab Puguh.

Pintupun kemudian terbuka perlahan-lahan. Seorang yang rambutnya telah memutih berdiri sambil menyilangkan tangannya didada.

Puguh bergeser surut. Dipandanginya wajah orang tua itu. Wajah yang tenang berwibawa.

Orang tua itupun kemudian melangkah keluar. Seorang yang bertubuh kekar. Bajunya di jinjingnya, sementara ikat kepalanya disangkutkannya dibahunya.

Namun orang tua itu tersenyum. Katanya, “Aku sudah memperhitungkan kehadiranmu sekarang ini Puguh.

Puguh menundukkan kepalanya. Sementara itu gurunya berkata, “Duduklah .”

Puguhpun kemudian duduk disebuah amben panjang. Sementara itu gurunyapun berkata kepada para pengawal, “Tinggalkan Puguh dan Gagaklahan disini.”

Para pengawalpun kemudian meninggalkan ruang tengah itu dan berjaga-jaga diluar, dipendapa.

“Aku sudah me ndapat laporan tentang semuanya yang terjadi,“ berkata gurunya.

“Ya guru,“ jawab Puguh.

“Kau membawa dua orang tamu yang sebelumnya kau jumpai mereka di Song Lawa,“ berkata gurunya.

“Ya guru,“ jawab Puguh. “Pamanmu Gagaklahan telah mengirimkan seseoran g untuk memberikan laporan tentang hal itu. Pamanmu tidak membenarkan sikapmu itu, karena kedua orang itu akan dapat membawa malapetaka bagi padepokan kita,“ berkata gurunya.