--> -->

Pelantikan Para Malaikat Jilid 24 (Tamat)

Jilid 24 (Tamat)

Chiu Bu Ong menitah Chu Gie mencari jenazah Touw Ong sesampainya di ruang 'Kiu Kian'. Kiang Chu Gie memerintahkan para pembantunya memadamkan api. Sementara itu perhatian Bu Ong tertuju pada 12 'Po Lok' (Tungku Api; Pilar Pembakar). Ketika tahu bahwa 'Po Lok' itu untuk menyiksa sampai mati orang-orang yang tak disukai Kaisar, tanpa terasa Bu Ong menghela nafas.

"Sungguh kejam Touw Ong". Kiang Chu Gie mengajak junjungannya menyaksikan 'Lobang Ular', 'Telaga Arak' dan 'Hutan Daging'. Bulu kuduk Bu Ong langsung berdiri, cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Setiba Raja See-kie di 'Chai Seng Louw', api masih menyala. Beberapa petugas istana turut binasa. Bu Ong memerintahkan untuk memakamkan jenazah Touw Ong yang telah hangus dengan upacara kebesaran. Chiu Bu Ong beserta rombongan melanjutkan peninjauan, tak lama tibalah mereka di 'Menara Menjangan' yang seluruhnya terbuat dari emas dan ratna-mutu-manikam serta batu pualam.

"Kaisar Touw benar-benar amat boros", kata Bu Ong.

"Justeru itulah Raja bijaksana di zaman dahulu telah memperingatkan kita. Pandanglah kebajikan lebih dari intan-permata", ujar Chu Gie.

"Sebaiknya kita bagi-bagikan harta di 'Menara Menjanganini kepada rakyat. Juga persediaan beras di gudang- gudang kerajaan untuk membantu orang-orang yang kelaparan".

"Ini merupakan berkah bagi rakyat", kata Chu Gie. nl Dia segera menitah para pembantunya untuk melaksanakan maksud Bu Ong.

"Goan-swe", Kiang Bun Hoan yang sejak semula berdiam diri, berkata pada Chu Gie.

"Setelah tercapai apa yang kita cita-citakan, kini tibalah saatnya untuk mengangkat seorang Kaisar baru".

"Siapa menurut Hian-houw yang paling tepat jadi Kaisar baru kita?", tanya Chu Gie.

"Chiu Bu Ong", sahut Kiang Bun Hoan.

"Semua orang tahu akan kebijaksanaannya".

"Kami sependapat dengan saudara Kiang", sambut Rajamuda lainnya. Aku seorang yang bodoh lagi lemah, tak berani menerima kehormatan semacam itu", tolak Bu Ong.

"Untuk menjadi Kaisar, seseorang harus memiliki kewibawaan dan tanggung jawab yang besar, sedang aku tidak memiliki syarat seperti itu. Maka sebaiknya saudara-saudara memilih orang lainnya, aku sendiri akan kembali ke See- kie untuk melaksanakan kewajiban sebagai Raja-muda".

"Saya rasa hanya saudara yang paling tepat", kata Kiang Bun Hoan.

"Maka hendaknya saudara jangan sampai mengecewakan harapan kami".

"Tepat sekali!", seru Raja-muda lainnya.

"Maksud kamiberkumpul di sini adalah ingin mengangkat saudara sebagai Kaisar. Seandainya saudara tolak, kemungkinan besar akan terjadi kekacauan di bekas kekuasaan dinasti Siang". Kiang Chu Gie yang sejak tadi tidak mengemukakan pendapat, mulai ikut bersuara.

"Tuanku telah berhasil menyatukan para Raja-muda dan mereka telah sepakat untuk mengangkat Tuanku sebagai Kaisar yang baru, menggantikan kedudukan Touw Ong. Saya harap Tuanku tidak menolak maksud baik mereka --- Bukankah burung Hong (Phoenix) telah memperdengarkan suaranya di gunung Kie-san dan mega-gega berwarna melayang di atas wilayah Chiu!? Semua itu merupakan pertanda yang diberikan Thian, bahwa akan muncul seorang Kaisar baru di muka bumi ini. Seandainya Tuanku tetap menolak, para Raja-muda akan kembali ke negerinya masing- masing dengan perasaan kecewa dan kemungkinan akan timbul kekacauan, yang mengakibatkan rakyat akan mengalami bencana yang lebih hebat lagi".

"Tapi aku khawatir tak mampu melaksanakan kewajiban sebagai seorang Kaisar!", Bu Ong masih tetap menolaknya. Karena terus didesak oleh para Raja-muda, juga kiang Chu Gie, akhirnya bersedia pula Bu Ong menerima pengangkatan itu. Kiang Bun Hoan meminta Chu Gie menyiapkan upacara kehormatan.Maka segera dibangun panggung tiga tingkat berdasarkan denah berbentuk Pat-kwa yang dirancang oleh Chiu Kong Tan. Setelah rampung, lalu dilakukan pembakaran dupa wangi. Kemudian Chu Gie meminta Bu Ong naik ke atas panggung. Delapan ratus Raja-muda berdiri di kedua sisi. Chiu Kong Tan membacakan 'Chu Bun' (Surat Sembahyang), yang memberitahukan pada Langit, Bumi dan Para Malaikat, bahwa kekuasaan In Siu (Touw Ong) telah runtuh akibat kekejamannya. Bu Ong atas desakan para Raja-muda telah menggantikan kedudukan Touw Ong sebagai Kaisar. Memohon para Langit dan Malaikat sudi memberkahi penobatan Chiu Bu Ong. Selanjutnya 'Chu Bun' itu dibakar. Cuaca hari itu amat cerah, angin bertiup sejuk dan megamega berwarna berarak di angkasa. Para Raja-muda dan penduduk kota-raja pada bersorak gembira. Setelah menerima "Cit Po (Tanda Kebesaran Kaisar), Bu Ong duduk di Singgasana. Musik mulai dimainkan, para Raja-muda berlutut di hadapan Kaisar baru, berseru.

"Ban-swe! Hidup Chiu Bu Ong! Semoga panjang umur!". Maka mulailah dinasti Chiu membuka lembaran baru, Seorang pengawal membawa putera Touw Ong yang bernama Bu Keng ke hadapan Kaisar baru.tanSemua Raja-muda menyarankan agar Bu Keng dipenggal saja batang lehernya, tapi tidak disetujui Bu Ong dengan mengemukakan alasan, bahwa Bu Keng tidak bersalah, yang kejam adalah ayahnya. Kemudian Bu Ong juga memberi Amnesti (Pengampunan) dan menyelenggarakan pesta bagi 800 Raja-muda. Hari berikutnya Kaisar Bu Ong memerintahkan Kiang Chu Gie untuk membagi-bagikan harta yang terdapat di 'Menara Menjangan pada rakyat. Dengan hati tenang dan damai para Raja-muda pamit pada Kaisar Bu Ong, kembali ke negeri masing-masing. Kie Cu dibebaskan. Makam Pi Kan diperbaiki. Sebuah Kuil dibangun untuk mengenang Siang Yong. Atas usul Kiang Chu Gie, Bu Keng diangkat sebagai Penguasa di kota Tiauw-ko, dengan dibantu oleh dua orang saudara Bu Ong sebagai wakilnya. Sebulan kemudian Bu Ong meninggalkan Tiauw-ko, kembali ke See-kie. Sepanjang jalan yang dilalui Kaisar dipadati penduduk yang berlutut sambil menangis, mereka memohon agar Bu Ong tetap berdiam di Tiauw-ko. Namun Bu Ong tetap pada keputusannya semula, mengajak para pembantunya kembali ke See-kie....! Pada suatu hari rombongan Bu Ong lewat di Shou-yang- san, dua orang kakek menghadang dan minta bicara dengan Kiang Chu Gie. Chu Gie menemui mereka dan ternyata kedua kakek ituadalah Pek le dan Siok Chie.

"Bolehkah kami tahu, Jenderal, di manaTouw Ong sekarang berada?", tanya Siok Chie. Sang Jenderal memberitahukan, bahwa Touw Ong telah tewas membakar diri. Begitu mendengar Touw Ong telah tewas, kedua kakek itu lantas bergulingan di tanah, menangis sedih benar. Keadaan mereka sangat memelas, tak mau makan dan minum selama tujuh hari tujuh malam, hingga akhirnya mati kelaparan. Shan Gie Seng, Oey Kun bersama Oey Thian Ciok, cucu satu-satunya yang masih hidup, dan semua pejabat, menyambut kembalinya Bu Ong beserta rombongan ke See-kie. Bu Ong sangat terharu, terkenang pada para pembantunya yang gugur di medan laga. Shan Gie Seng coba menghiburnya, bahwasanya Kaisar telah cukup memberi penghargaan kepada para pahlawannya dengan tidak melupakan anggota keluarga yang ditinggal mati suami atau ayah. Rakyat See-kie menyambut gembira kembalinya Kaisar mereka. Keesokan harinya, dalam pertemuan antara Kaisar dengan para Menterinya, Kiang Chu Gie berkata.

"Beberapa hari lagi hamba bermaksud pergi ke gunung Kun Lun untuk menerima titah guru melaksanakan Penganugrahan Malaikat pada orangorang yang gugurdalam pertempuran. Semoga Baginda mengizinkan hamba ke sana".

"Sungguh mulia maksudmu itu", ucap Bu Ong. Tiba-tiba seorang pengawal istana melaporkan mengenai kedatangan dua orang bekas Menteri Touw Ong. Hui Lian dan Ok Lay.

"Apa maksud mereka ke mari?", tanya Chiu Bu Ong pada Chu Gie.

"Mereka termasuk anasir jahat yang telah menyesatkan Touw Ong", Chu Gie menerangkan.

"Mereka bersembunyi ketika dinasti Siang hancur. Pemunculan mereka sekarang tentunya mengharapkan jabatan dalam pemerintahan Paduka. Orang-orang semacam mereka seharusnya dibunuh, tapi untuk sementara kita biarkan mereka hidup, sampai tiba waktunya nanti untuk memenggal batang leher mereka. Maka sudilah Baginda mengundang mereka masuk". Hui Lian dan Ok Lay diperkenankan menghadap Kaisar Bu Ong. Kedua bekas pejabat Touw Ong berlutut di depan Chiu Bu Ong.

"Touw Ong tak pernah mau mendengar nasehat paraMenterinya, selalu bertindak kejam, yang mengakibatkan ambruknya Kerajaannya", tutur mereka.

"Dan Paduka adalah Kaisar yang mulia lagi bijaksana, karenanya kami datang ke mari dengan harapan dapat mengabdi pada Dinasti Chiu. Selain itu kami jugamembawa 'Cap Kaisar' dan 'Buku Emas' untuk kami persembahkan pada Paduka yang Mulia". Atas saran Kiang Chu Gie. Bu Ong mengangkat Hui Lian dan Ok Lay sebagai Menteri Muda. Ma-si, bekas isteri Kiang Chu Gie, telah menikah lagi dengan orang desa yang bernama Thio San Lo. Ia telah mendengar kabar prihal suksesnya Chu Gie. Seorang tetangga Ma-si berkata.

"Kalau saja kau tidak cerai dengan Chu Gie, sekarang tentunya kau telah jadi nyonya bangsawan". Betapa menyesalnya Ma-si, namun sesal kemudian tak berguna. Kemudian ia sering murung, melamun, akhirnya gantung diri.... Dalam pada itu, atas izin Bu Ong, Kiang Chu Gie berangkat ke gunung Kun Lun untuk menemui gurunya. Dia menunggu dengan khidmat di luar pintu Istana Giok Sie sampai Pek Hok Tong-cu keluar.

"Tolong kau sampaikan kedatanganku pada Sucun", katanya. Pek Hok Tongcu masuk dan tak lama keluar lagi, menyilakan Chu Gie masuk. Kiang Chu Gie berlutut di hadapan gurunya, mengemukakan maksudnya.

"Pulanglah kau", kata Goan Sie.

"beberapa hari lagi akan kuutus Pek Hok Tongcu membawa Surat Penetapan ke 'Hong Sin Tay' (Pesanggrahan Penganugrahan Malaikat)". Chu Gie pamit, kembali ke See-kie, melaporkan hasilperjalanannya pada Bu Ong.no 

***

 Beberapa hari kemudian di angkasa terdengar alunan musik merdu, disertai bau harum semerbak. Kiang Chu Gie serta merta menyiapkan meja sembahyang, menyambut Penetapan Goan Sie Tian Chun yang disampaikan oleh Pek Hok Tongcu. Kiang Chu Gie berlutut ke arah Istana Giok Sie, sebagai pengungkapan terima kasihnya pada sang guru. Setelah Pek Hok Tongcu berlalu, Kiang Chu Gie membawa 'Surat Penetapan' ke gunung Kie-san. Berkat kesaktiannya, dalam waktu relatif singkat dia telah tiba di tempat yang dituju. Kedatangannya di 'Pesanggrahan Penganugrahan Malaikat' disambut oleh Po Chian. Kiang Chu Gie meletakkan 'Surat Penetapan itu di sebuah meja, lalu menitah Bu Kie dan Lam Kong Koa untuk mengerek panji Pat-kwa yang terbuat dari kertas dan sebanyak 3000 prajurit berbaris di lima sudut. Chu Gie menukar pakaian dan mulai membaca 'Surat Penetapan yang intinya menyatakan, bahwa mati hidupnya manusia merupakan suatu lingkaran, yang bila dibiarkan terus, takkan ada akhirnya dan kerap menimbulkan penderitaan. Banyak orang yang karena dosa masa lalunya, harus mati tidak wajar. Ada pula yang berkorban demi negara, tak kurang yang mati sahid, juga yang mati akibat tak dapat mengendalikan nafsu.Goan Sie Tian Chun bermaksud membebaskan mereka dari penderitaan dengan menugaskan Kiang Chu Gie untuk mengangkat mereka dalam berbagai jabatan Dewa ataupun Malaikat, dengan tugas mengganjar yang baik dan menghukum yang jahat. Kemudian Kiang Chu Gie mengitari panggung sebanyak tiga kali, menitah Po Chian menjaga di bawah. Seusai sembahyang, Chu Gie bangkit sambil memegang Sin Huang Kie' (Panji wasiat Sin Kuning) di tangan kiri dan 'Ta Sin Pian, (Ruyung Pemukul Dewa) di tangan kanan. Lalu memerintahkan Po Chian menggantung 'Daftar Penganugrahan Malaikat' di bawah panggung dan para arwah agar datang menghadap berdasarkan urutan yang tertera di dalam daftar tersebut. Po Chian melaksanakan perintah itu. Para arwah di dalam "Hong Sin Tay' berkerumun di muka Daftar itu. Dalam 'Daftar Penganugrahan Malaikat, nama Po Chian tertera di urutan paling atas. Po Chian segera berlutut di bawah panggung.

"Karena kesetiaan dan jasamu mengurus Pesanggrahan ini, atas nama Tay Siang Goan Sie, kuangkat kau sebagai 'Cheng Hok Sin', memimpin "Tiga Daerah' dan 365 Malaikat", kata Kiang Chu Gie dengan sikap berwibawa. Po Chian mengucapkan terima kasih, menanti perintah Chu Gie selanjutnya dengan memegang panji 100 arwah, Selanjutnya tiba giliran Oey Thian Hoa, yang diangkat sebagai 'Peng Leng Kong, Malaikat Murni Tiga GunungOey Hui Houw sebagai 'Tong Gak Tay-tee' (Penguasa Gunung Timur). Chong Hek Houw sebagai 'See Gak Tay-tee' (Penguasa Gunung Barat) Chio Hiong sebagai 'Lam Gak Tay-tee' (Penguasa Gunung Selatan). Chui Eng sebagai 'Pak Gak Tay-tee? (Penguasa Gunung Utara). Beng Peng sebagai 'Tiong Gak Tay-tee' (Penguasa Gunung Tengah) Kemudian Kiang Chu Gie menitah membawa menghadap arwah Bun Tiong. Seperti juga semasa hidupnya, arwah Bun Tiong amat angkuh, tak sudi dia berlutut di hadapan Kiang Chu Gie.

"Lekas kau berlutut untuk mendengarkan Penetapan dari Istana Giok Sie!", ujar Chu Gie sambil memegang 'Ta Sin Pian' nya. Baru pada saat itu Bun Tiong berlutut. Bun Tiong diangkat sebagai 'Lui Po Kiu Thian Eng Goan Lui Sin Pouw Hoa Tian Chun' (Dewa Gledek) yang memimpin 24 Malaikat Gledek. Lo Soan sebagai 'Hwe Tek Seng Kun' (Dewa Api) yang memimpin 5 Malaikat Api. Lu Gak diangkat sebagai 'Un Po Cin Kun' (Dewa Penyakit Menular), yang memimpin 6 Malaikat Penyakit Menular. Peh Ip Ko diangkat sebagai 'Pak Khek Cai Hui Tay-tee (Dewa Bintang Kutub Utara).Di samping Ip Ko, masih terdapat banyak 'Dewa Bintang lainnya, di antaranya Teng Kiu Kong. Juga Touw Ong diangkat sebagai 'Thian Hee Seng'. Permaisuri Kiang sebagai "Thay Im Seng'. Liong Sie Houw sebagai 'Kiu Chou Seng Touw Heng Sun sebagai "Touw Hu Seng'. Teng Sian Giok sebagai 'Liok Hap Seng'. Liong Kit Kong-ciu sebagai 'Ang Loan Seng'. Souw Hok sebagai 'Tong Tou Seng Adapun 'Dewa Bintang lainnya, yang bila disebut satu demi satu, akan dapat membosankan pembaca yang budiman. Lagi pula kedudukan mereka bagi kehidupan manusia tidak penting. Tio Kong Beng diangkat sebagai 'Cin Ie Hian Tan', memimpin 4 Malaikat. Mo Bersaudara diangkat sebagai 'Kim Liong See Ta Thian Ong' (Naga Emas Penjaga Istana Langit). In Siao, Kiong Siao dan Pek Siao Nio Nio, diangkat sebagai Cui Sin Sung Cu Nio Nio, yang bertugas mengatur kelahiran manusia. In Kiao diangkat sebagai 'Chi Ni Tay-swe' dan Yo Jim sebagai 'Chia Cu Tay-swe', yang berkewajiban mengamati sepak terjang manusia di dunia. In Hong sebagai 'Ngo Ku Sin'. Ie bersaudara sebagai Ngo Tou Cin Sin'. Phuy bersaudara sebagai 'Khay Lo Hian To Cu Sin' (Malaikat Pembuka dan Penunjuk Jalan). Sin Kong Pa diangkat sebagai 'Hun Sui Liong Sin' (DewaNaga Pembagi Air). Seusai penganugrahan para Malaikat dan Dewa, suasana di 'Pesanggrahan Hong Sin' menjadi sunyi-senyap, angin bertiup sejuk, mentari memancarkan sinar keemasan.... Kiang Chu Gie, keluar dari pesanggrahan, memerintahkan Lam Kong Koa mengundang semua pejabat sipil dan militer datang ke gunung Kie-san untuk menerima perintah. Lam Kong Koa melaksanakan perintah tersebut. Setelah para Menteri berkumpul, yang pertama dilakukan Chu Gie adalah menangkap Hui Lian dan Ok Lay.

"Apa salah kami, pak?"

Keduanya berseru kaget.

"Dosa kalian besar sekali", sahut Chu Gie.

"Kalian telah ikut menyesatkan Kaisar Touw Ong, yang menyebabkan kematian para pejabat yang jujur, mengakibatkan runtuhnya Kerajaan Siang". Chu Gie memerintahkan untuk memenggal kepala mereka, kemudian masuk kembali ke 'Pesanggrahan Penganugrahan Malaikat, menyuruh Po Chian membawa arwah kedua orang yang baru dihukum mati itu, mengangkat Hui Lian sebagai Malaikat Pelumer Es' dan Ok Lay sebagai 'Malaikat Pelempar Batu' Dengan demikian selesailah sudah tugas Kiang Chu Gie, mengajak para pembesar Kerajaan Chiu kembali ke See- kie, melaporkan apa yang dilakukannya pada Bu Ong. Kemudian Chu Gie mengusulkan para Kaisar untuk memberi imbalan yang memadai pada para Raja-muda,perwira, prajurit dan juga murid-murid pertapaan yang berjasa. Lie Cheng. Kim Cha, Bhok Cha, Na Cha, Yo Chian, Wie Hok dan Lui Chin Cu segera berlutut di hadapan Bu Ong. Bu Ong dan lain-lainnya agak heran menyaksikan ulah orang-orang sakti itu. *Baginda, kedatangan kami ke mari atas perintah guru kami untuk membantu Paduka menenteramkan keadaan yang kacau akibat ulah Touw Ong", kata Lie Cheng mewakili lainnya.

"Kini selesailah sudah tugas kami dan kami harus kembali ke gunung, sebab dalam benak kami tak pernah tersirat untuk memperoleh kemuliaan, kesenangan dan kekayaan duniawi".

"Berat rasanya aku harus berpisah dengan kalian", kata Bu Ong.

"Berkat jasa kalian, maka aku berhasil menumbangkan kelaliman".

"Sesungguhnya kami pun merasa berat untuk pisah dengan Baginda yang bijaksana. Tapi titah guru tak boleh dibantah", kata Lie Cheng. Kendati Bu Ong dan Kiang Chu Gie berusaha menahan kepergian mereka, tapi Lie Cheng dan lain-lainnya tetap teguh pada pendirian semula. Dengan perasaan sangat berat, Kaisar, Kiang Chu Gie dan lainnya. terpaksa harus melepaskan Lie Cheng dan lain-lainnya. Di kemudian hari Lie Cheng, Kim Cha, Bhok Cha, Na Cha (Lo Chia), Yo Chian, Wie Hok dan Lui Chin Cu menjadi'Panglima Langit'. Sampai sekarang pun nama mereka masih sering disebut-sebut oleh umat yang percaya, bahkan banyak dipuja. 

***

 Semua orang yang berjasa dinaikkan pangkatnya oleh Bu Ong. Sedangkan ayah Bu Ong, Chiu Bun Ong, dianugrahi gelar Kaisar. Bu Ong juga menganugrahkan 72 gelar Raja-muda bagi Panglima yang berjasa, yang di kemudian hari dikenal sebagai 'Liat Kok', berbagai negara. Kiang Chu Gie termasuk salah seorang Raja-muda yang baru diangkat itu, menjadi Penguasa di negeri Chi. Di samping itu Chu Gie diberi kekuasaan untuk menghukum Raja-muda lain yang bersalah. Berhubung usianya yang telah lanjut, Chu Gie tak lagi aktif selaku Perdana Menteri dan Panglima Tertinggi, melewatkan hari tuanya di negeri Chi dan orang banyak menyebutnya Kiang Tay-kong, sebagai pengungkapan rasa hormat mereka terhadap Chu Gie. Kiang Chu Gie tak pernah melupakan saudara angkatnya, Song It Jin, yang telah banyak membantunya. Dia mengutus beberapa pembantunya membawa hadiah yang berharga untuk saudara angkatnya itu. Tiang An menjadi Kota-raja baru, Kaisar Bu Ong memerintah dengan adil dan bijaksana.

T A M A T