--> -->

Pelantikan Para Malaikat Jilid 23

Jilid 23

Perwira penjaga pintu gerbang melaporkan pada Touw Ong, bahwa pasukan lawan sudah berada tak jauh dari kota-raja. Kaisar segera memanggil para Menterinya untuk membicarakan situasi yang cukup gawat itu.

"Baginda, sebaiknya kita mengutus orang yang pandai bicara kepada musuh, untuk membujuk mereka menarik pasukannya". Louw Jin Kiat mengemukakan pendapat. Tapi pendapat itu ditentang oleh Hui Lian .

"Menurut hamba, sebaiknya kita menyiarkan maklumat . Mengundang orangorang gagah dan menjanjikan imbalan besar bila dapat mengalahkan lawan". Touw Ong lebih condong terhadap saran Hui Lian, segera membuat maklumat. Hasilnya, telah datang menghadap Hui Lian tiga orang yang bernama Tong Tiong, Teng Kie dan Kok Chin. Mereka menyatakan sanggup menghalau musuh dari kota-raja. Lalu diajaknya ketiga orang itu menghadap Touw Ong. Kaisar mengangkat mereka sebagai perwira yang diperbantukan pada Louw Jin Kiat, yang segera mendirikan perkemahan di luar pintu gerbang kota. Namun dalam pertempuran yang terjadi keesokan harinya, Tong Tiong bersama kedua temannya dibinasakan oleh anak buah Kiang Chu Gie. Louw Jin Kiat hanya dapat mengabarkan kekalahannyaitu pada Touw Ong.

"Baginda, hamba kenal Kiang Chu Gie", kata In Po Pai.

"Akan hamba temui dia dan menasehatinya agar menarik kembali pasukannya ke See-kie. Hamba rela berkorban untuk tugas ini". Dalam keadaan terdesak, Touw Ong terpaksa menyetujui In Po Pai menemui Kiang Chu Gie. 

***

 "Jenderal Kiang", kata In Po Pai seraya melangkah masuk.

"maafkan aku tak dapat berlutut memberi hormat padamu karena aku mengenakan pakaian perang".

"Tak apa-apa, aku malah senang tuan bersedia ke mari", sambut Chu Gie.

"Aku juga senang dapat bertemu lagi dengan Jenderal", In Po Pai menimpali.

"Kabar apa yang tuan bawa dari kota-raja?", tanya Kiang Chu Gie setelah menyilakan tamunya duduk.

"Aku ada usul". In Po Pai mulai berterus terang.

"Silakan kemukakan".

"Sejak dinasti Siang memerintah lebih dari 600 tahun, banyak sudah orang yang menerima kebaikan dan hidup rakyat pun cukup makmur. Tapi kini Jenderal telah mengajak para Raja-muda memberontak terhadap Kaisar, hingga banyak perwira dan prajurit yang binasa dan hidup rakyat pun banyak yang menderita. Perbuatan itu merupakan suatu dosa besar. Seyogyanya, sekarang Jenderal menarik pasukan dan meminta para Raja-mudakembali ke wilayah masing-masing, dengan demikian Kaisar tentu akan bersedia mengampuni dosa kalian dan rakyat yang mendambakan ketenangan dan kemakmuran tentu amat berterima kasih pada Jenderal", kata In Po Pai.

"Kata-kata tuan memang cukup beralasan, tapi kurang tepat", kata Chu Gie.

"dunia ini bukan hanya milik seorang, lagi pula orang yang memerintah itu harus bijaksana. Tapi Touw Ong bukan saja tidak adil, malah sering bertindak kejam, sama sekali tidak memiliki pri- kemanusiaan lagi. Apakah Kaisar seperti itu harus tetap dipertahankan dan kita junjung? ---Perjuangan kami ini hanya memiliki satu tujuan, yaitu membebaskan rakyat dari penderitaan akibat penindasan!"

"Janganlah Jenderal memandang persoalan dari satu segi saja". In Po Pai masih berusaha membela Kaisar.

"Kaisar kita manusia juga dan setiap manusia takkan luput dari kesalahan. Kita berkewajiban untuk menasehati atau membimbing setiap orang yang salah, termasuk Touw Ong, bukannya menempuh jalan kekerasan seperti yang Jenderal lakukan sekarang ini. Hendaknya Jenderal sadari, bahwa pasukan di kota-raja masih cukup kuat untuk menangkis serangan yang datang dari mana pun. Maka biarpun Jenderal berhasil menghimpun kekuatan bersama para Raja-muda, belum tentu akan memperoleh kemenangan". Para Raja-muda dongkol mendengar ucapan In Po Paipaling belakang. Maka sebelum Chu Gie sempat berkata, Kiang Bun Hoan telah mendahului .

"Sebagai pejabat tinggi dalam Kerajaan, seharusnya kau mampu menasehati Kaisar untuk tidak melakukan perbuatan yang menyakiti hati para pembantunya yang setia. Tapi nyatanya, kau bukan saja membiarkan Touw Ong berlaku sewenang-wenang, malah sekarang mencoba membelanya. Nyata sekali jiwamu lebih rendah dari binatang. Lekas enyah kau dari sini, bila tidak akan kubunuh kau nanti!"

In Po Pai bukannya gentar, malah mengumpat Raja-muda Timur .

"Tempo hari ayahmu telah bersekutu dengan Kiang Hong-houw untuk membunuh Kaisar, hukuman mati adalah tepat baginya. Kini, kau bukan saja tidak berusaha untuk menebus dosa ayahmu dengan bersikap setia pada Kaisar, malah telah bergabung dengan para pemberontak! Perbuatanmu benarbenar tak dapat diampuni!". Kiang Bun Hoan tak lagi dapat menahan amarah, mengayunkan pedang dan tewaslah In Po Pai. Kiang Chu Gie tak sempat mencegahnya.

"Tepat sekali apa yang dilakukan saudara Kiang", kata para Raja-muda lainnya, yang memang telah mendongkol terhadap ulah dan kata-kata In Po Pai.

"Menurut aturan, kita tak boleh membunuh utusan lawan", ujar Chu Gie.

"Tapi sikapnya sudah keterlaluan", sahut Kiang BunHoan. Kiang Chu Gie menitah beberapa orang prajurit untuk memakamkan jenazah In Po Pai. 

***

 Touw Ong amat terkejut ketika mendengar berita dibunuhnya sang utusan. In Cheng Siu, anak In Po Pai, meminta izin pada Touw Ong menyerang musuh, untuk membalas sakit hati ayahnya. Touw Ong mengizinkannya. Tapi di dalam pertarungan, malah In Cheng Siu yang tewas di tangan Kiang Bun Hoan. Matinya Cheng Siu membuat Touw Ong tambah berduka. Sementara itu Kiang Chu Gie memerintahkan menyebarkan surat sebaran ke dalam kota-raja. Selebaran mana dilepaskan dengan menggunakan anak panah. Isi selebaran menganjurkan agar rakyat dan prajurit di dalam kota-raja segera menyerah dan membukakan pintu gerbang, agar pasukan Kiang Chu Gie dapat memasuki Tiauw-ko tanpa menimbulkan banyak korban. Sebab tujuan utama mereka tidak lain adalah menumbangkan Kaisar yang zalim, membebaskan rakyat dari penindasan. Seorang pengawal melaporkan perihal selebaran itu pada Touw Ong. Touw Ong yang kala itu sedang minum arak dengan ditemani Souw Tat Kie, jadi sangat terperanjat, segeramengumpulkan para Menteri dan Perwira 1 mggi yang masih setia padanya, lalu memimpin langsung menaiki tembok kota. Terlihat keempat pintu gerbang kota Tiauw-ko telah terbuka lebar, rakyat dan sejumlah prajurit keluar dari pintu gerbang seraya berseru .

"Kami serahkan Tiauw-ko pada Raja yang bijaksana". Kiang Chu Gie didampingi para Raja-muda minta bicara langsung dengan Touw Ong. Touw Ong dikawal oleh pasukan pengawal istana dan didampingi Louw Jin Kiat, Lui Kun, Lui Pang, menemui fihak See-kie. Kiang Chu Gie memberi hormat pada Touw Ong dan berkata.

"Harap Baginda sudi mengampuni hamba yang karena mengenakan pakaian perang jadi tak dapat berlutut di hadapan Paduka".

"Kau, Kiang Chu Gie?", tanya Kaisar.

"Benar, Baginda".

"Bukankah kau pernah mengabdi padaku? Mengapa kau lari ke See-kie dan menunjang kaum pemberontak? Kau berkhianat dan sangat berdosa! Lekas letakkan senjatamu dan mengakui dosa-dosamu, aku akan bersedia mengampunimu. Bila kau tetap keras kepala dan bersikap kurang ajar seperti sekarang ini, akan kuperintahkan pengawal memenggal batang lehermu!".

"Bila Baginda memerintah dengan adil, takkan ada seorang pun yang berani menentang Paduka. Tapi nyatanya Baginda bukan saja tidak bijaksana, malahberlaku kejam. Maka janganlah Baginda menyalahkan orang yang menentang Paduka dan mencapnya sebagai pemberontak! Tapi koreksilah kesalahan Baginda", ucap Chu Gie dengan beraninya.

"Kesalahan apa saja yang pernah kulakukan!?", tanya Touw Ong Geram.

"Cukup banyak Baginda", lantang suara Chu Gie sekarang, bermaksud agar orang-orang di sekitarnya mendengar jelas ucapannya.

"Sebagai seorang Kaisar, Baginda telah tergila-gila pada perempuan cantik yang berhati iblis, hingga mengabaikan hukum Tuhan dan menyia-nyiakan Kuil Besar. Kedua, gara-gara hasutan, Baginda telah membakar tangan Kiang Hong-houw yang bijaksana, bahkan kemudian membinasakannya secara tragis. Ketiga. Baginda telah menghukum mati putera mahkota. Keempat. Baginda telah menyiksa sampai mati Pi Kan dan sejumlah Menteri setia lainnya, padahal saran yang mereka kemukakan demi kebaikan Baginda dan Kerajaan. Kelima. Baginda telah membunuh Kiang Hoan Cu, Ngok Tiong le dan lain-lainnya, gara-gara muslihat licik Souw Tat Kie. Keenam. Baginda telah membuat Po Lok, tungku api, untuk mengancam dan membungkam para pembesar yang jujur, juga membuat liang ular untuk membunuh para dayang.Ketujuh. Bagina membangun "Menara Menjangan' yang menghabiskan biaya sangat besar dan membiarkan Chong Houw Houw memeras rakyat. Kedelapan. Paduka selalu mengikuti saran Souw Tat Kie, memancing Keh-si, nyonya Oey Hui Houw, ke 'Menara Pemetik Bintang dengan maksud keji. Akibatnya Keh-si bunuh diri dan Oey Kui Hui turut jadi korban akibat ingin membela iparnya. Kesembilan. Paduka telah mengambil Ouw Hie Moy. kemudian Ong Bie-jin jadi selir. Siang malam Baginda bersenang-senang dengan Souw Tat Kie dan kedua selir itu, hingga lupa akan kewajiban sebagai seorang Kaisar. Kesepuluh. Paduka telah membuntungi kaki kakek-kakek dan seorang pemuda, juga membedah perut wanita hamil, hanya sekedar ingin membuktikan kebenaran ucapan Souw Tat Kie". Saking gusarnya, Kaisar Touw tak dapat berkata. Dalam pada itu, para Raja-muda berseru.

"Kaisar semacam itu harus dihukum!"

"In Siu!", seru Kiang Bun Hoan sambil menuding Touw Ong.

"kau bukan saja telah membunuh ayahku, Kiang Hoan Cu. juga menyiksa saudara perempuanku yang jadi Permaisurimu secara kejam, yang mengakibatkannya menemui ajalnya. Kedatanganku sekarang ini untuk membalas dendam!".

"Kau memang Kaisar yang lalim!", seru Ngok Sun sambil memajukan kudanya.

"Aku akan membalas sakit hatiayahku!". Menyaksikan perkembangan itu, Chiu Bu Ong yang berhati lemah dan penuh kasih sayang, berkata pada Chu Gie.

"Biarpun Kaisar telah bersikap tak adil, tapi kita tetap sebagai hambanya. Tak patut kita menentangnya!".

"Bila Tuanku ingin mencegah pertarungan, sebaiknya Tuanku memerintahkan memukul genderang", kata Kiang Chu Gie. Bu Ong tak tahu, bahwa memukul genderang adalah tanda melakukan serangan. Sedangkan untuk menghentikan pertempuran adalah membunyikan gembereng. Maka begitu Bu Ong menitah memukul genderang, para Raja-muda dan perwira See-kie langsung menyerbu Touw Ong. Louw Jin Kiat. Lui Kun, Lui Pang dan pengawal Kaisar lainnya, cepat-cepat memajukan diri, membantu Touw Ong menghadapi musuh. Touw Ong yang nama kecilnya In Siu itu, ternyata masih cukup tangkas berperang tanding, hingga dalam waktu singkat dia berhasil membacok tubuh Ngok Sun sampai putus dua! Di lain pihak, Louw Jin Kiat berhasil membunuh Lim San. Tapi sebaliknya Yo Chian berhasil menewaskan Lui Kun; Na Cha mengakhiri riwayat Louw Jin Kiat dan Lui Chin Cu membantai Lui Pang. Kiang Bun Hoan berhasil memukul bahu Touw Ongdengan ruyungnya, yang mengakibatkan Kaisar lari masuk ke dalam istana, menutup puri istana. Touw Ong masuk ke dalam istana dengan sikap masgul. Souw Tat Kie, Ouw Hie Moy dan Ong Bie-jin menyambut kembalinya.

"Sebelumnya aku telah meremehkan gerakan Kie Hoat (Bu Ong) dan Kiang Chu Gie. Tapi nyatanya sekarang mereka telah berhasil menghimpun para Raja-muda dan mengurungku dalam istana. Tadi aku telah coba melawan mereka, tapi bahuku terpukul ruyung Kiang Bun Hoan hingga terpaksa aku melarikan diri", kata Touw Ong dengan mata berlinang.

"Biarpun terasa berat, tapi kita harus berpisah. Aku akan mengakhiri hidup sebelum Kie Hoat dan pasukannya menyerbu masuk ke dalam istana, aku tak ingin ditawan mereka". Souw Tat Kie dan dua selir Touw Ong berlutut dengan sikap haru.

"Kami bertiga telah banyak berhutang budi pada Baginda dan kini tibalah saatnya bagi kami untuk membalas kebaikan Baginda", kata Tat Kie sambil merebahkan mukanya di pangkuan Touw Ong.

"Apa yang dapat kau lakukan?", Kaisar membelai rambut Permaisurinya.

"Hamba dibesarkan di keluarga militer, sedikit banyak hamba mengerti ilmu perang. Demikian pula dengan Hie Moy dan Ong Bie-jin", kata Tat Kie.

"Malam nanti kami akan menyerang lawan!".Wajah Touw Ong tidak semurung sebelumnya.... Selepas tengah malam, Souw Tat Kie, Ouw Hie Moy dan Ong Bi-jin mendatangi perkemahan pihak Chiu sambil melepaskan hawa siluman, yang membuat pasir dan batu melayang, ke semua penjuru, hingga suasana menjadi agak kacau. Kiang Chu Gie segera keluar, melihat ketiga siluman mendatangi. Dia langsung memerintahkan Na Cha, Yo Chian, Lui Chin Cu dan lain-lainnya menghadapi ketiga siluman tersebut. Sedang dia sendiri melepaskan 'Ngo Lui Ceng Hoat' (Lima Gledek) untuk mengenyahkan hawa siluman yang membahayakan keselamatan para prajuritnya. Souw Tat Kie bertiga dikurung oleh Na Cha dan lain- lainnya. Setelah bertarung sebentar, ketiga siluman itu menyadari, bahwa mereka tak mungkin menang, segera melarikan diri, kembali ke istana.

"Kiang Chu Gie ternyata telah bersiap-siap menyambut serangan kami, Baginda". Mereka melapor pada Touw Ong.

"Hampir saja kami tak dapat kembali lagi ke mari "Rupanya segalanya ini sudah kehendak Thian, bahwa Kerajaan Siang akan hancur di tanganku", ucap Touw Ong sambil menghela nafas.

"Sebaiknya kita saling berpisah, menyelamatkan diri masing-masing". Selesai berkata, Touw Ong pergi ke 'Chai Seng Louw (Menara Pemetik Bintang).

"Touw Ong pasti akan bunuh diri, sebab tak sudi dirinyaditawan lawan", kata Souw Tat Kie pada kedua siluman lainnya.

"Kita terlibat dalam runtuhnya Kerajaan Siang, apa yang harus kita lakukan sekarang?".

"Kita kembali saja ke sarang kita di makam kuno", Ouw Hie Moy menyarankan.

"Ya, sebaiknya kita kembali ke sana", sambut Ong Bie- jin. Kiang Chu Gie bermaksud lebih dulu membinasakan tiga siluman yang mendampingi Touw Ong, menyiapkan meja sembahyang dan meramalkan keadaan para siluman dengan menggunakan uang-keping-emas. Dia kaget ketika tahu, bahwa Souw Tat Kie bersama Ouw Hie Moy dan Ong Bie-jin hendak melarikan diri. Segera memerintahkan Yo Chian, Wie Hok dan Lui Chin Cu menangkap siluman Rase, siluman Ayam dan siluman Kecapi. Yo Chian bersama kedua temannya berjaga-jaga di angkasa. Tak lama terlihat Souw Tat Kie, Ouw Hie Moy dan Ong Bie-jin melayang di angkasa setelah memangsa beberapa dayang istana. Yo Chian bertiga segera menghadang mereka.

"Kami sengaja merobohkan Kerajaan Touw, agar kalian memperoleh pahala", siluman Ayam berkepala sembilan mewakili kedua temannya bicara.

"Maka seharusnya kalian berterima kasih pada kami, bukan sebaliknya ingin mencelakai kami.""Diam kau siluman keparat!", hardik Yo Chian.

"Sebaiknya kau menyerahkan diri kami tawan!". Sudah barang tentu ketiga siluman itu tak sudi menyerah begitu saja, maka terjadilah pertarungan cukup sengit. Tapi keadaan itu tak berlangsung lama, Tat Kie dan kedua temannya melarikan diri. Yo Chian, Wie Hok dan Lui Chin Cu berusaha mengejar. Bahkan Yo Chian telah melepaskan Anjing wasiatnya dan berhasil menggigit siluman Ayam. Akan tetapi siluman itu masih dapat juga meloloskan diri. Selagi mengejar ketiga siluman itu, Yo Chian melihat di bagian depan berkibar panji kuning dan udara di seputarnya berbau harum. Seorang Dewi yang menunggang burung 'Cheng Loan' datang menghampiri. Di sisi kiri-kanannya berdiri beberapa muridnya, laki-laki dan perempuan. Yo Chian mengenali, bahwa Dewi itu adalah Lie Koa Nio Nio, yang diiringi oleh para muridnya. Sang Dewi menghadang larinya para siluman. Ketiga siluman itu berlutut di hadapan Lie Koa Nio Nio.

"Tolonglah kami Nio Nio", kata siluman Rase sambil terus berlutut.

"Yo Chian dan teman-temannya bermaksud menangkap kami". Lie Koa Nio Nio bukannya menolong, malah menyuruh salah seorang muridnya menangkap ketiga siluman itu, mengikat mereka dengan 'Yao So' (Tali Iblis), untuk diserahkannya pada Yo Chian dan kawan-kawannya."Tolong kami Nio Nio", ketiga siluman itu terus meratap sedih. Lie Koa Nio Nio berdiam diri, tak berkata.

"Bukankah Nio Nio yang menitah hamba merobah watak Touw Ong menjadi kejam, supaya dibenci oleh para pembantunya dan rakyat, yang pada gilirannya akan menghancurkan kerajaannya!?", kata siluman Rase dengan nada memilukan.

"Kini hamba bertiga telah berhasil melaksanakan tugas itu dan bermaksud melaporkannya pada Nio Nio. Tapi kenapa hamba bertiga malah ditangkap?".

"Memang benar aku memerintahkan kalian untuk menghancurkan Kerajaan Siang dan itu sesuai dengan kehendak Thian". Baru pada saat itu Lie Koa Nio Nio bersuara.

"Tapi perbuatan kalian sungguh keterlaluan, sangat sadis. Kalian telah meminjam tangan Touw Ong untuk menganiaya, menyiksa dan membunuh manusia. Bahkan diam-diam kalian telah memakan daging manusia untuk memuaskan nafsu kebinatangan kalian. Hal itu berlawanan dengan kehendak Thian --- Dosa kalian kini telah luber dan kalian tak lagi dapat menghindari hukuman!". Kala itu Yo Chian dan kedua temannya tiba di hadapan sang Dewi, mengajak Wie Hok dan Lui Chin Cu berlutut di hadapan Lie Koa Nio Nio.

"Terimalah sembah sujud kami, Nio Nio".

"Yo Chian", kata Dewi Lie Koa.

"Telah kutangkap ketigasiluman itu, bawalah dan serahkan mereka pada Kiang Chu Gie, biar nanti Chu Gie yang memutuskan, hukuman apa yang patut dijatuhkan terhadap mereka!?". Yo Chian mengucapkan terima kasih, pamit pada sang Dewi. 

***

 Ketiga siluman itu dibawa ke hadapan Kiang Chu Gie.

"Perbuatan kalian selama ini amat keji, entah sudah berapa banyak daging manusia yang kalian makan, di samping membujuk Touw Ong melakukan berbagai kekejaman. Dosa kalian tak dapat diampuni", kata Kiang Chu Gie.

"Saya adalah puterinya Souw Hok, Raja-muda Kie-chiu", ucap Souw Tat Kie sambil menangis.

"Sejak kecil saya sudah dipingit, hingga tak tahu banyak mengenai persoalan dunia, sampai kemudian saya dibawa ke istana. Selama berada di istana saya hanya mengurus soal rumah tangga dan melayani Kaisar, sama sekali tidak pernah menyampuri urusan Kerajaan. Sering memang saya dengar mengenai kekejaman Touw, tapi apa yang dapat saya lakukan sebagai wanita yang lemah, sedangkan nasehat para Menteri saja tak pernah digubrisnya!? Maka tak seharusnya kau bunuh aku, lebih baik tangkap Touw Ong! Pepatah pun mengatakan. 'Dosa suami takkan mengikut-sertakan isterinya'. Maka sudilah kau membebaskan aku". Semua Raja-muda berpendapat, bahwa ucapan Souw TatKie cukup beralasan, merasa kasihan padanya. Tapi Kiang Chu Gie sama sekali tidak terpengaruh.

"Orang lain mungkin dapat kau tipu dengan mengatakan, bahwa kau adalah puterinya Raja-muda Kie-chiu", ujarnya kemudian.

"Tapi aku tahu benar, bahwa kau sesungguhnya adalah siluman Rase, kau telah membunuh Souw Tat Kie yang asli, agar dapat masuk ke dalam guha-garba (badan kasar) nya. Dengan begitu kau dapat mempengaruhi Touw Ong melakukan perbuatan di luar pri-kemanusiaan! Kini, setelah kau tertangkap, jangan harap bisa luput dari hukuman". Kiang Chu Gie segera memerintahkan untuk menabas batang leher ketiga siluman tersebut. Hukuman mati terhadap siluman Ayam Ouw Hie Moy dan siluman Kecapi telah dilaksanakan. Tapi tak dapat dilaksanakan terhadap siluman Rase. Sebab kata-kata Souw Tat Kie yang mengharukan dan wajahnya yang cantik, membuat orang yang ditugaskan melaksanakan hukuman mati tak tega untuk membunuhnya. Lui Chin Cu lalu melaporkan keadaan itu pada Kiang Chu Gie. Chu Gie menitah menyiapkan meja sembahyang. Dan dengan menggunakan 'Pisau terbang' Liok ya sebagai sarana untuk memusnahkan siluman Rase. Pisau wasiat itu berputar beberapa kali di angkasa, kemudian menabas putus kepala Souw Tat Kie.... Ketika mendengar kabar, bahwa tiga wanita yangdicintainya telah tewas dan kepalanya digantung di muka kemah lawan, Touw Ong amat terperanjat campur sedih. Cepat-cepat ia mendaki 'Ngo Hong Louw (Menara Lima Phoenix), serasa hancur hatinya ketika menyaksikan kenyataan yang ada. Kaisar keluar-masuk ruangan istana dengan hati getir, sampai akhirnya tiba di 'Chai Seng Louw. Tiba-tiba bertiup angin kencang yang membuat Touw Ong menggigil, disusul dengan munculnya banyak wanita dari liang ular dalam keadaan bugil dan menyiarkan bau busuk. Mereka memburu Kaisar seraya berseru.

"Kembalikan nyawa kami!". Menyusul muncul pula arwah Kiang Hong-houw sambil berseru.

"Kau adalah Kaisar yang kejam, tega membunuh anak isteri! Setelah hancur Kerajaanmu, masih ada mukakah kau bertemu dengan leluhur di alam baqa!?". Arwah Oey Kui Hui muncul juga.

"Kau begitu sampai hati membunuhku, Kaisar lalim! Sekarang tiba waktunya kau mendapat balasannya!". Rohnya Keh-si menampakkan diri juga.

"Kaisar keji, aku bunuh diri karena tak sudi kau nodai. Sekarang kau harus mengembalikan nyawaku!". Saking malunya, Kaisar jadi geram, membelalak matanya. Arwah-arwah itu segera lenyap dari hadapannya. Touw Ong meneruskan langkah, mendaki tangga Menara, baru beristirahat setibanya di ruang atas. Untukbeberapa saat lamanya dia berdiri di tepi pagar, tak keruan perasaannya ketika itu. Kemudian dia memanggil seorang pembantu setianya yang bernama Chu Sin. Chu Sin mendaki tangga menara, berlutut di hadapan Touw Ong.

"Aku menyesal tak menghiraukan nasehat para Menteri yang setia, hingga harus mengalami bencana seperti sekarang ini. Tapi daripada ditawan musuh, lebih baik aku mati membakar diri. Lekas kau kumpulkan kayu bakar di bawah menara, lalu bakarlah kayu itu!". Hamba tak sampai hati melakukannya, Baginda", kata Chu Sin diselingi isak-tangisnya.

"Semua ini sudah merupakan kehendak Thian, bila tak kau lakukan, kau malah berdosa", kata Touw Ong. Namun Chu Sin masih berusaha membujuk Kaisar agar membatalkan maksudnya. Tapi Touw Ong tetap pada pendiriannya, hingga Chu Sin akhirnya terpaksa memenuhi permintaan junjungannya, turun ke tingkat bawah, mengumpulkan kayu, menumpuknya di sekitar "Menara Pemetik Bintang'. Touw Ong mengenakan pakaian yang terindah dan termahal, kemudian duduk di atas kursi. Nampaknya dia sudah pasrah untuk menerima kematiannya. Setelah menumpuk kayu cukup tinggi, Chu Sin berlutut dengan mata berlinang mulai membakar tumpukan kayu itu.Kobaran api kian lama kian membesar. Suasana di dalam istana agak kacau, di mana-mana terdengar jeritan dan tangisan. Ketika api telah mengurung seluruh menara, Chu Sin tak dapat lagi membendung isak-tangisnya, berkata.

"Izinkanlah hamba menyertai Baginda". Dia pun terjun ke dalam kobaran api itu. Di lain pihak, ketika mendengar terbitnya kebakaran di 'Chai Seng Louw', Kiang Chu Gie, Bu Ong beserta para Rajamuda segera keluar dari perkemahannya, Di antara kepulan asap tebal, tampak seseorang duduk di bagian atas menara.

"Bukankah itu Touw Ong!?", tanya Chiu Bu Ong dengan sikap cemas.

"Benar", ucap Raja-muda lainnya.

"Semua itu karena salahnya sendiri!". Chiu Bu Ong menutup muka dengan lengan bajunya yang lebar, memutar kuda, menjauhi tempat itu.

"Kenapa Tuanku menutup muka?", tanya Kiang Chu Gie sambil mengejarnya.

"Kendati Touw Ong jahat, tapi kita semua tetap merupakan hambanya. Tak sampai hati aku melihatnya membakar diri".

"Hati Tuanku terlampau lembut", ucap Chu Gie. Tak lama kemudian 'Menara Pemetik Bintang' ambruk. binasalah Kaisar terakhir dari dinasti Touw (Siang) pada tahun 1122 Sebelum Masehi.Selang sesaat, pintu istana dibuka lebar-lebar. Para Thaykam (kasim; orang kebiri), dayang dan pengawal Kaisar menyambut Bu Ong dan para Raja-muda...Kiang Chu Gie Po Chian.