--> -->

Pelantikan Para Malaikat Jilid 22

Jilid 22

Untuk menyeberangi Huang-ho (Sungai Kuning), Kiang Chu Gie memerintahkan menyewa perahu dari penduduk di sekitarnya dengan harga yang layak. Perahu Naga istimewa disediakan untuk Bu Ong. Kiang Chu Gie bersama beberapa perwira turut di dalam perahu itu. Beberapa waktu kemudian tibalah mereka di seberang. Kiang Chu Gie memerintahkan pasukannya mendirikan kemah tak jauh dari Sungai Kuning. Keesokan harinya Kiang Chu Gie memimpin pasukannya dengan naik See-put-siang. Belum jauh mereka berjalan, telah terlihat Wan Hong mendatangi bersama pasukannya. Wan Hong menitah Tio Hao menyerang Chu Gie. Yao Su Liang yang berada di sisi Chu Gie menyambut serangan Tio Hao. Terjadi pertempuran cukup sengit. Tapi keadaan itu tak berlangsung lama, sebab setelah bertarung sekira 4 jurus, Tio Hao segera melarikan diri. Yao Su Liang mengejarnya. Tiba-tiba Tio Hao merobah diri ke bentuk aslinya, menjadi seekor ular berbisa, menyemburkan uap beracun ke muka Su Liang, yang mengakibatkan perwira See-kie itu jatuh pingsan, terguling dari kudanya, hingga dengan mudahnya Tio Hao menamatkan riwayatnya. Raja-muda Ie-chiu, Pang Chu Shou, yang kini berpihakpada Bu Ong, sangat marah ketika menyaksikan perkembangan itu, langsung terjun ke medan laga. Kehadirannya disambut oleh Gouw Liong. Seperti juga temannya, setelah bertempur beberapa jurus, Gouw Liong melarikan diri. Tatkala dikejar oleh Pang Chu Shou, dia memperlihatkan bentuk aslinya berupa seekor kelabang, yang mengeluarkan uap hitam beracun, mengakibatkan sang Raja-muda tak sadarkan diri, hingga mudah sekali Gouw Liong membunuhnya. Melihat di pihaknya jatuh dua korban, Na Cha segera melontarkan kotak Naga Apinya, tapi Gouw Liong sempat kabur dengan merobah diri menjadi sinar putih. Kini muncul Tio Hao, langsung menyerang Na Cha. Yo Chian ikut terjun ke medan perang membantu temannya. Tio Hao kewalahan dikerubuti berdua, segera melarikan diri berupa sinar merah.... Wan Hong mendatangi Kiang Chu Gie, menantang bertanding. Kehadirannya disambut oleh Yo Jim dengan menggerak, kan 'Ngo Hwe Sin Yam Shan' (Kipas Lima Api) nya. Tak berdaya Wan Hong menanggulangi kipas sakti Yo Jim, kabur menyelamatkan diri, tapi kudanya terbakar menjadi abu. 

***

 Wan Hong mengabarkan kemenangannya ke kota-raja. Tapi Louw Jin Kiat, perwira yang diperbantukan padaWan Hong, hanya menghela nafas panjang. Sebab dia telah menyaksikan bahwa Wan Hong bersama kedua temannya ternyata siluman! Namun Kaisar Touw amat bersuka-cita ketika mendengar berita kemenangan tersebut, segera mengirim pakaian perang emas dan seratus gulung kain sutera pada Wan Hong dan temantemannya. Juga arak dan kambing untuk prajurit yang mengiringinya. Sementara itu Souw Tat Kie mengucapkan selamat pada Touw Ong sehubungan dengan kemenangan gemilang yang dicapai Wan Hong dan teman-temannya, juga mengadakan perjamuan di 'Menara Menjangan', yang dihadiri juga oleh Ouw Hie Moy dan Ong Bie-jin. Cuaca musim dingin pada saat itu, terasa menggigit kulit. Gumpalan mega-mega kelabu berarak di angkasa, disusul kemudian dengan turunnya hujan salju.

"Indah nian panorama dikala hujan salju", kata Touw Ong. Mengetahui Kaisar tertarik pada keadaan seperti itu, Souw Tat Kie lantas menyuruh pelayan menguak tirai sutera ke sisi dan menempatkan meja perjamuan di dekat pagar menara. Dari 'Menara Menjangan orang dapat menyaksikan keadaan seluruh kota-raja. Bertambah senang perasaan Touw Ong, lalu menitah Souw Tat Kie menyanyi dan menari. Merdunya suara dan lemah gemulainya gerak tubuh sangPermaisuri, membuat Kaisar berulang-ulang mengeringkan cawan araknya. Beberapa saat kemudian hujan salju mulai reda. Matahari memancarkan sinar yang menghangatkan bumi. Kaisar dan Permaisuri menikmati kepermaian panorama di seputarnya dari pinggir menara. Kemudian perhatian mereka tertarik pada seorang tua dan seorang pemuda yang berjalan di atas salju. Orang tua itu seakan tidak merasakan hawa dingin, berjalan cepat sekali. Sebaliknya si pemuda tampak kedinginan dan perlahan jalannya, seolah-olah takut terpeleset. Perbedaan antara si kakek dan si pemuda mengherankan Kaisar.

"Aneh, yang kita saksikan sekarang kurang lazim, orang tua lebih sehat dari anak muda". Touw Ong mengungkapkan perasaannya.

"Itu sama sekali tidak aneh, Baginda", kata Souw Tat Kie.

"Kakek itu dilahirkan oleh ayah-bundanya yang masih muda dan kuat, hingga tulang-tulangnya penuh sumsum. Sebaliknya, pemuda yang tak tahan dingin itu, dilahirkan oleh ayah-bunda yang telah tua dan lemah, hingga tulang-tulangnya kosong, kurang sumsum. Maka biarpun tampak muda, tapi keadaan sesungguhnya tak ubahnya orang tua dan rapuh, membuatnya tak begitu kuat berjalan".

"Aku tak percaya", ujar Touw Ong.

"Bila Baginda takpercaya, perintahkanlah seorang pengawal untuk membawa mereka ke mari, agar Baginda dapat membuktikan sendiri". Touw Ong menyuruh pembantunya membawa kakek dan pemuda itu ke hadapannya, kemudian memerintahkan membuntungi lutut mereka, yang mengakibatkan tewasnya kedua orang itu karena darah terlampau banyak mengalir. Potongan kaki mereka dibawa ke hadapan Kaisar. Memang benar apa yang dikatakan Souw Tat Kie. Tulang kaki si kakek penuh sumsum, sedang kaki si pemuda sedikit sekali sumsumnya.

"Kau seperti Dewa saja", Touw Ong memuji Permaisurinya.

"Walau hamba hanya seorang wanita, tapi pernah mempelajari ilmu hayat dan ilmu fa'al", ucap Tat Kie.

"Dengan melihat perut wanita yang sedang hamil, hamba langsung tahu sudah berapa bulan kandungannya dan jenis kelamin anak yang dikandungnya".

"Oh ya!?", Kaisar menatap ragu.

"Bila Baginda meragukan ucapan hamba, dapat Baginda buktikan sendiri", Souw Tat Kie mengembangkan senyum manis. Touw Ong memerintahkan pengawal istana untuk mencari wanita hamil dan membawa ke hadapannya. Sang pengawal melaksanakan perintah dan berhasil menemukan tiga wanita hamil.Keesokan harinya mereka dibawa menghadap Kaisar. Saking takutnya dibawa ke istana, ketiga wanita itu menangis sedih benar. Suami mereka yang turut mengantar ikut merasa sedih, memeluk sang isteri tanpa dapat membendung mengalirnya air mata. Anak-anak mereka pun turut menangis, membuat suasana begitu memilukan. Suara tangisan keluarga yang malang itu telah mengagetkan beberapa orang Menteri . Kie Cu, Wie Chu, Wie Chu Kie, Wie Chu Jin dan Sun Yong, yang sedang mengadakan rapat di balairung. Cepat-cepat mereka keluar untuk menanyakan apa yang telah terjadi!? Diperoleh keterangan, bahwa kemarin Touw Ong telah membuntungi kaki seorang kakek dan seorang pemuda untuk diperiksa tulangnya. Sekarang Kaisar telah pula memerintahkan membawa wanita hamil ke hadapannya, sekedar untuk membuktikan ketepatan ucapan Permaisurinya. Kie Cu mengajak rekan-rekan sejawatnya menghadap Touw Ong di 'Menara Menjangan', berlutut di hadapan Kaisar.

"Apa maksud kalian ke mari?", tanya Touw Ong.

"Ampun beribu ampun Tuanku", Kie Cu terus berlutut.

"Bukannya hamba lancang apalagi kurang ajar, tapi ingin mengingatkan Paduka, apakah Tuanku belum juga sadar, bahwa Kerajaan sedang terancam bahaya!? Sebaiknya Tuanku mengatur siasat menghadapi musuh, daripadamelakukan perbuatan seperti sekarang ini".

"Salahkah aku membedah perut wanita hamil demi kemajuan ilmu pengetahuan?", ujar Touw Ong agak dongkol.

"Untuk menghadapi musuh adalah tugas para Menteri dan Panglima perang".

"Kedudukan musuh kita tak jauh lagi dari kota-raja, bila tidak kita hadapi secara serius, tak lama lagi mereka tentu akan menyerbu ke mari". Kata Kie Cu penuh diliputi kesedihan.

"Tapi nyatanya, Baginda bukan saja tidak menghiraukan segalanya itu, malah telah melakukan sesuatu yang melanggar larangan Thian. Sebelumnya Baginda telah membuntungi kaki dua orang yang tak berdosa, kini hendak membedah perut wanita hamil. Hamba khawatir rakyat jadi sakit hati atas perbuatan Paduka dan akan membuka pintu gerbang kota-raja pada waktu pasukan Chiu tiba di sini".

"Sungguh besar nyalimu menghina Kaisar!", hardik Touw Ong, segera memerintahkan pengawal untuk menangkap Kie Cu dan menderanya sampai mati! "Aku tak takut mati, hanya menyayangkan Kerajaan ini akan hancur di tangan Kaisar yang tidak bijaksana!", seru Kie Cu dengan beraninya. Ketika Kie Cu hendak digiring ke luar 'Menara Menjangan untuk menjalani hukuman, telah dicegah oleh Wie Chu Jin .

"Tunggu!".

"Apa maksudmu!?", tanya Kaisar.

"Maaf Baginda, bukan maksud hamba ingin menghalangiperintah Paduka", kata Wie Chu Jin dengan suara agak parau menahan sedih.

"Sesungguhnyalah saudara Kie Cu adalah Menteri yang setia lagi cukup besar jasanya bagi Kerajaan. Mungkin kata-katanya tadi agak keras dan kasar, tapi maksud sebenarnya baik, yaitu demi kepentingan Kerajaan. Tempo hari Baginda telah mencabut jantung Pi Kan dan kini Baginda kembali hendak membunuh Menteri setia lainnya. Hamba khawatir perbuatan Baginda akan menambah ketidak- puasan rakyat terhadap Kerajaan Siang. Bila hal itu dibiarkan berlarut-larut, akan dapat mengancam kelangsungan hidup Kerajaan --- Maka sudilah Baginda mengampuni Kie Cu dan mendengarkan nasehatnya". Touw Ong berdiam diri, seakan sedang mempertimbangkan kata-kata Wie Chu Jin.

"Seharusnya kesalahan Kie Cu tak dapat diampuni, tapi karena adanya pembelaan paman, aku bersedia menarik keputusan semula. Hanya saja aku akan mencopot semua pangkat dan jabatannya, biarlah dia jadi orang biasa!". Tiba-tiba terlihat Souw Tat Kie keluar dari ruang dalam seraya berkata.

"Sebaiknya Baginda mempertimbangkan kembali keputusan itu. Bila Kie Cu hanya dipecat dari jabatannya, dia tentu akan berdendam pada Tuanku dan akan berpihak pada Bu Ong dengan menimbulkan kekacauan di dalam kota-raja. Itu dapat mencelakai kita nanti"."Lalu hukuman apa sebaiknya kujatuhkan padanya?", tanya Touw Ong.

"Kie Cu harus digunduli kepalanya dan dijadikan budak!". Seperti biasa, Kaisar menuruti saran Souw Tat Kie. Wie Chu Jin, Wie Chu Kie dan Wie Chu amat sedih mendengar keputusan Kaisar, memohon diri, turun dari 'Menara Menjangan'. Setiba di bawah, para anggota keluarga Kaisar ini saling rangkul dan bercucurkan air mata.

"Nyatalah sudah, bahwa Thian telah menakdirkan dinasti Siang akan hancur dan digantikan oleh kerajaan baru ---- Apa yang harus kita lakukan sekarang?", ujar Wie Chu Kie.

"Sebaiknya kita menyingkirkan tempat sembahyang mendiang Kaisar Ke-28 dari Kuil Agung". Wie Chu Jin menyarankan.

"Memindahkannya ke suatu tempat yang sunyi, agar tetap dapat disembahyangi oleh para anggota keluarga kerajaan dan keturunannya nanti". Diam-diam ketiga anggota keluarga Touw Ong meninggalkan kota-raja.... Di pihak lain, setelah Wie Chu, Wie Chu Kie dan Wie Chu Jin turun dari menara, Kaisar memerintahkan membawa naik ketiga wanita hamil. Souw Tat Kie menuding salah seorang di antaranya.

"Dia telah mengandung enam bulan, bayinya laki-laki", ujarnya. Touw Ong menitah membedah perut dan peranakanwanita itu. Ternyata benar apa yang dikatakan Tat Kie. Hal yang sama dilakukan terhadap dua wanita hamil lainnya dan apa yang dikatakan Souw Tat Kie tepat sekali. Tentu saja ketiga wanita hamil itu tewas semua. Tapi Touw Ong bukan saja tidak memperlihatkan rasa sesal, malah sebaliknya sangat senang dan memuji Permaisurinya! Ketika perbuatan sadis itu dilakukan, cuaca yang semula cerah tiba-tiba saja jadi gelap pekat. Lenyapnya Wie Chu, Wie Chu Kie dan Wie Chu Jin dilaporkan kepada Touw Ong. Namun Kaisar tak begitu mengacuhkan.

"Mereka memang tak dibutuhkan lagi oleh Kerajaan", katanya. Tampaknya Touw Ong tak khawatir terhadap pasukan lawan yang dipusatkan di Beng-kun. Dianggapnya Wan Hong dan teman-temannya mampu menahan gerak maju musuh, Touw Ong terus saja berpesta-pora bersama Permaisuri dan para selirnya.... 

***

 Touw Ong tambah bersuka-cita ketika Menteri Hui Lian membawa dua orang bertampang menyeramkan. Kho Beng dan Kho Kak, yang dikatakan memiliki kesaktian yang luar biasa. Kaisar mengangkat mereka sebagai Panglima perang, mengirim mereka ke Beng-kun untuk diperbantukan pada Wan Hong.Wan Hong menyambut gembira kedatangan Kho Beng dan Kho Kak, sebab sebelumnya memang telah saling kenal satu sama lain. Wan Hong adalah siluman Monyet Putih di gunung Bwe-san. Sedangkan Kho Beng dan Kho Kak merupakan siluman pohon To dan pohon Liu di gunung yang sama. Keesokan harinya Kho Beng dan Kho Kak menantang pihak Chiu berperang tanding. Na Cha menyambut tantangan lawan dengan menggerakgerakkan 'Hwe Kong Tiang' (Tombak Sinar Api)nya dan dihadapi oleh Kho Kak dan Kho Beng yang bersenjatakan kapak bergagang panjang. Pertempuran telah berlangsung puluhan jurus, namun Na Cha belum berhasil meraih kemenangan, maka dia melontarkan Kan Kun Choan' untuk menghantam kepala Kho Kak. Menyusul melontarkan juga Kotak Naga dan Apinya sambil bertepuk tangan, dari dalam kotak wasiat itu keluar sembilan naga api yang membakar diri Kho Beng. Na Cha mengira kedua lawannya telah berhasil dibinasakan oleh kedua benda wasiatnya. Dia kembali ke kemah melaporkan hal itu pada Chu Gie. Kiang Chu Gie amat gembira mendengar kabar itu. Kenyataannya Kho Beng dan Kho Kak tidak binasa, tapi melarikan diri ke induk pasukannya. Keesokan harinya mereka kembali menantang perang.

"Katamu kemarin telah berhasil membunuh mereka, tapiternyata sekarang mereka menantang perang lagi", kata Chu Gie pada Na Cha.

"Rupanya mereka memiliki ilmu menghilang", Na Cha heran kedua lawannya masih hidup.

"Sebaiknya paman saja yang menghadapi mereka". Kiang Chu Gie mengajak para perwira maju ke medan tempur. Di lain pihak Kho Kak berkata pada Kho Beng.

"Na Cha menyatakan kita memiliki ilmu menghilang, maka Kiang Chu Gie yang maju menghadapi kita dengan dikawal para perwiranya". Kho Beng tersenyum lebar mendengar ucapan temannya.... Dalam pertempuran yang berlangsung itu, Lie Cheng dan Yo Jim melawan Kho Kak dan Kho Beng. Yo Chian mengawasi pihak lawan dengan saksama dan dapat diketahui pula, bahwa mereka bukanlah manusia, tapi siluman. Ketika Yo Jim hendak menggerakkan kipas wasiatnya, tiba-tiba diri Kho Beng berubah menjadi sinar hitam, menghilang. Dalam pada itu, Kho Kak tiba-tiba lenyap ketika Lie Cheng bermaksud melontarkan pagoda-pusakanya. Wie Hok yang menempur Wan Hong, telah kehilangan jejak lawan tatkala ingin menggunakan senjata wasiatnya. Tio Hao dan Gouw Liong yang bertempur melawan YoChian dan Na Cha, telah pula buron secara gaib. Dengan kejadian itu, Kiang Chu Gie memutuskan untuk membentuk barisan gaib 'Pat-kwa', juga melumuri pentung-pentung dengan darah anjing hitam. Yo Chian ditugaskan untuk memancing Kho Beng dan Kho Kak masuk ke dalam barisan gaib tersebut. Kemudian memukul mereka dengan 'Lima Kilat'! Wie Hok ditugaskan untuk menimpuk mereka dengan botol yang berisi campuran darah ayam hitam, darah anjing hitam dan sedikit air seni wanita, agar punah kesaktian lawan hingga tak dapat menghilang lagi. Tapi di perkemahan lawan, Kho Kak telah mendenga semua perintah Kiang Chu Gie pada anak buahnya, lalu menyampaikannya pada Kho Beng. Mereka jadi tertawa terbahak-bahak.... Pada pagi harinya Wan Hong memerintahkan Kho Beng dan Kho Kak menggempur lawan. Mereka mengejar Yo Chian masuk ke dalam barisan gaib 'Pat-kwa'. Pihak Chiu segera melaksanakan pesan Kiang Chu Gie, tapi kenyataannya Kho Kak dan Kho Beng tetap dapat meloloskan diri... Kiang Chu Gie geram melihat usahanya gagal.

"Rupanya di kubu kita ada mata-mata musuh, hingga segala rencana kita dapat diketahui mereka", katanya.

"Teecu yakin tak ada penghianat di antara kita", kata Yo Chian.

"tapi kedua lawan kita itu bukan manusia. Teecu bermaksud pergi ke sebuah tempat untuk mencari tahusiapa mereka sesungguhnya".

"Ingin ke mana kau?", tanya Chu Gie.

"Untuk sementara belum dapat Teecu beritahukan", jawab Yo Chian. Chu Gie mengizinkannya. Yo Chian pamit, pergi menemui gurunya, Giok Teng Cin- jin, menanyakan prihal kedua siluman yang membantu Wan Hong.

"Keduanya adalah siluman pohon 'To' dan pohon 'Liu' dari gunung Bwe-san", sang guru menerangkan.

"Akar kedua pohon itu mencapai sejauh 30 li. Mereka telah menyedot sari langit, bumi, matahari dan rembulan selama puluhan tahun, hingga menjadi siluman. Tak jauh dari kediaman kedua siluman itu terdapat Kuil 'Soan Goan'. Di dalam Kuil tersebut ada dua patung setan. Chian Li Gan (Si mata seribu) dan Sun Hong Nyi (Si Kuping Angin Baik). Dengan menggunakan pengaruh Chian Li Gan, Kho Beng dapat menyaksikan segala sesuatu sampai sejauh 1000 li. Sedang Kho Kak dengan mengandalkan kesaktian Sun Hong Nyi, dapat mendengar pembicaraan orang dalam jarak 1000 li. Di luar batas itu mereka tak lagi dapat melihat ataupun mendengar pembicaraan orang. Beritahukan Kiang Chu Gie, bahwa dia harus mengirim sejumlah prajurit untuk mencabut pohon 'To' dan pohon 'Liu' sampai ke akar-akarnya, lalu membakarnya. Sedangkan kedua patung yang terdapat dalam Kuil 'Soan Goan' harus dihancurkan juga, dengan begitukesaktian Kho Beng dan Kho Kak akan lenyap seketika".

"Tapi apa yang harus Teecu lakukan, agar mereka tidak dapat melihat atau mendengar pembicaraan Teecu dengan Kiang Chu Gie!?", tanya Yo Chian. Giok Teng Cin-jin memberitahukan caranya. 

***

 "Saya belum dapat mengatakan apa-apa sekarang, paman", kata Yo Chian setibanya kembali di kubu Chiu. Walau merasa heran, Kiang Chu Gie tidak mendesaknya.

"Saya ingin meminta izin untuk melakukan sesuatu", kata Yo Chian lagi.

"semoga paman tidak keberatan".

"Silakan!", kata Chu Gie, yang telah dapat menduga, bahwa Yo Chian tentu akan melakukan sesuatu yang penting bagi kubu mereka. Dengan membawa sebuah 'Leng Kie' (Panji Perintah) yang diterimanya dari Chu Gie, Yo Chian menuju ke bagian belakang perkemahan. Memerintahkan untuk membawa 2000 panji yang terdapat di situ ke depan perkemahan dan terus mengibarkannya. Bila salah seorang yang mengibarkan bendera merasa letih, harus segera diganti dengan prajurit lainnya. Yang penting panji itu tak boleh berhenti berkibar. Di samping itu dia menyuruh seribu orang prajurit untuk menabuh genderang dan gc.nbreng (alat tabuh Tionghoa yang bundar-gepeng, terbuat dari tembaga). Jika ada yang letih, harus diganti dengan prajurit lainnya. Setelah segala perintahnya dilaksanakan, barulah YoChian menemui Kiang Chu Gie lagi, berkata.

"Sekarang baru dapat Teecu jelaskan sebabnya saya melakukan segalanya itu". Yo Chian memberitahukan siapa sesungguhnya Kho Beng dan Kho Kak itu. Juga menyampaikan pesan gurunya untuk Chu Gie. Setelah mendengar penjelasan Yo Chian, Kiang Chu Gie segera menitah Lie Cheng membawa 3000 prajurit berkuda berangkat ke gunung Bwe-san untuk mencabut kedua pohon tersebut, menugaskan Lui Chin Cu untuk menghancurkan patung 'Sun Hong Nyi' dan patung 'Chian Li Gan' yang terdapat di Kuil 'Soan Goan'.... Kho Kak mendengar bunyi genderang dan gembereng yang berasal dari kubu lawan.

"Coba kau lihat, apa yang terjadi di kubu musuh kita!?". katanya pada Kho Beng.

"Tak ada apa-apa kecuali kibaran panji merah, pening aku dibuatnya", sahut Kho Beng setelah memperhatikan sejenak.

"Coba kau dengarkan apa yang mereka bicarakan!?".

"Hampir tuli telingaku oleh suara genderang dan gembereng itu", keluh Kho Kak.

"membuatku tak lagi dapat menangkap segala percakapan mereka". Keduanya jadi amat masgul. Sementara itu, Lui Chin Cu telah kembali, melaporkan pada Kiang Chu Gie, bahwa dia telah membakar Kuil 'Soan Goan'. Chu Gie menyuruh Na Cha dan Bu Kiemembangun sebuah panggung dan setelah rampung ditempel dengan 'Hu'.... Wan Hong melakukan penyerbuan malam terhadap perkemahan pasukan See-kie. Namun sebelumnya Kiang Chu Gie telah mengetahui maksud lawan dari alamat/isyarat yang dibawa oleh tiupan angin aneh. Dia segera menempelkan 'Leng Hu' di sekitar perkemahan. Di atasnya dipasang jala langit dan di bawahnya jala bumi. Kiang Chu Gie sendiri telah membersihkan badan dan menanti kedatangan Wan Hong di panggung yang baru selesai dibangun. Sekira tengah malam tibalah barisan depan lawan yang dipimpin Kho Beng dan Kho Kak. Kiang Chu Gie membaca mantera dengan membiarkan rambutnya terurai lepas dan sebilah pedang di tangan. Di atas perkemahan Chiu mendadak turun awan tebal disertai halilintar. Kho Beng dan Kho Kak menyerang Chu Gie, yang disambut oleh pemimpin tertinggi pasukan Chiu. Setelah bertempur belasan jurus, Chu Gie melontarkan "Ta Sin Pian'nya dan berhasil meremukkan kepala Kho Kak dan Kho Beng. Tak lama Wan Hong, Tio Hao dan Gouw Liong telah tiba juga. Wie Hok menimpuk Gouw Liong dengan senjata wasiatnya, tapi sang lawan segera sirna dari pandangan Wie Hok.Demikian pula Tio Hao, ketika Na Cha bermaksud menangkapnya dengan 'Kiu Liong Sin Hwe Co' (Kotak Sembilan Naga dan Api Sakti)nya, langsung menghilang. Di pihak lainnya, Yo Jim menghadapi Wan Hong dengan menggunakan Ngo Hwe Shan' (Kipas Lima Api)nya. Namun kepala Wan Hong tiba-tiba memancarkan sinar putih dan dari dalam sinar keluar sebuah tangan yang memegang pentungan besi dan langsung memukul kepala Yo Jim. Yo Jim tak sempat menangkis atau mengelak, hingga remuk kepalanya. Kiang Chu Gie menarik mundur pasukannya, kematian Yo Jim membuatnya amat berduka.

"Teecu rasa, Wan Hong dan teman-temannya juga merupakan kawanan siluman yang sulit dikalahkan. Bila paman mengizinkan, saya bermaksud pergi ke gunung Chong Lam untuk meminjam 'Cho Yao Ceng' (Cermin Penglihat Siluman)". Kiang Chu Gie mengizinkannya. Yo Chian berangkat dengan berjalan lewat bawah tanah, dalam tempo relatif singkat sampailah di Chong Lam-san, langsung menemui In Tiong Cu.

"Wan Hong adalah salah satu dari tujuh siluman di Bwesan", In Tiong Cu memberitahukan.

"Hanya engkau yang dapat menangkap dan memusnakan mereka!". Kemudian In Tiong Cu memberikan 'Cho Yao Ceng' yang diingini Yo Chian.Yo Chian mengucapkan terima kasih, pamit dari sang pertapa sakti.... Dalam pertempuran pada hari berikutnya, Yo Chian menghadapi Tio Hao. Setelah bertanding sesaat, Yo Chian mengarahkan cermin ke musuhnya. Seketika Tio Hao berubah ujud menjadi seekor ular putih. Yo Chian segera pula merubah diri menjadi kelabang raksasa, menggigit kepala ular hingga putus. Ia menjelma kembali, membacok badan ular jadi beberapa potong, lalu membakarnya dengan sambaran gledek yang dilepas dari telapak tangannya. Wan Hong amat marah ketika tahu ular putih tewas, segera menyerang Yo Chian. Na Cha melibatkan diri terjun ke medan laga, bermaksud melontarkan 'Kiu Liong Sin Hwe Cho'nya. Wan Hong yang tahu akan kehebatan senjata wasiat Na Cha, cepat-cepat melarikan diri. Muncul Gouw Liong, menempur Na Cha dengan bersenjatakan sepasang kapak. Yo Chian mengarahkan 'Cho Yao Ceng' ke diri Gouw Liong, membuat siluman itu memperlihatkan bentuk aslinya berupa seekor kelabang. Yo Chian segera 'Pian Hoa' (Merubah diri) menjadi seekor 'Ayam Lima Warna', mematok kelabang beberapa kali, hingga badan kelabang terpenggal menjadi beberapa potong dan tewaslah Gouw Liong.Yo Chian kembali ke kemah. Lui Kay dan lain-lainnya dapat melihat jelas siapa sebenarnya Tio Hao dan Gouw Liong.

"Tak kusangka kalau mereka adalah siluman", Wan Hong berpura-pura sambil menghela nafas untuk menutupi 'kedok'nya sendiri. Lui Kay dan teman-temannya menyarankan, sebaiknya mereka menarik pasukan ke kota-raja. Namun Wan Hong tetap berkeras untuk bertahan di situ. Ketika dikabarkan, bahwa ransum mereka hanya cukup untuk lima hari lagi, dia tetap tak gentar, malah menulis surat ke kotaraja untuk meminta tambahan ransum. Louw Jin Kiat memanfaatkan kesempatan itu menawarkan diri untuk menyampaikan surat Wan Hong tersebut. Sementara itu, dari kota-raja telah mengirim pula bantuan berupa seorang laki-laki yang tingginya beberapa 'Chang', sangat besar tenaganya, mampu menarik perahu di darat. Makannya pun luar biasa, dapat menghabiskan seekor sapi. Keadaannya benar-benar mirip raksasa. (1 Chang = 10 elo). Dia telah mengoyak maklumat yang mengundang orang pandai, yang ditempelkan di tembok kota. Namanya U Bun Hoa. Kiang Chu Gie terperanjat ketika U Bun Hoa yang mirip raksasa itu menantang perang. Namun begitu, dia takgentar, menyuruh Liong Sie Houw menghadapinya. Tapi setelah bertanding beberapa jurus, Liong Sie Houw tak sanggup melayaninya lebih lama, lari masuk ke dalam perkemahan. U Bun Hoa kembali ke pasukan Wan Hong. Malam harinya U Bun Hoa dan Wan Hong menyerbu kubu See-kie. Kiang Chu Gie yang tak menyangka akan datangnya serangan tersebut, sama sekali tak mengadakan persiapan. Akibatnya banyak sekali prajurit See-kie yang binasa oleh senjata garu U Bun Hoa. Chu Gie, Bu Ong dan lain-lainnya terpaksa melarikan diri. U Bun Hoa terus menghantam apa saja yang ditemuinya, akhirnya tibalah dia di bagian belakang, tempat menyimpan ransum yang dijaga Yo Chian. Yo Chian mencabut selembar rumput, membaca mantera, rumput itu lalu berobah menjadi raksasa yang jauh lebih besar dari U Bun Hoa.

"Celaka! Ayahku datang!", U Bun Hoa berteriak ketakutan, melarikan diri. Wan Hong ikut kabur juga. Kerugian yang diderita pihak See-kie cukup parah. Belasan ribu prajurit dan beberapa belas perwiranya, termasuk Liong Sie Houw tewas di tangan U Bun Hoa. Setelah berhasil menghimpun sisa pasukannya, Kiang Chu Gie menyuruh Yo Chian memperhatikan keadaan bukit 'Poan Liong'.Yo Chian segera berangkat ke bukit yang dimaksud, mengamati keadaannya sejenak, kemudian melaporkannya pada Chu Gie. Kiang Chu Gie menitah Lam Kong Koa dan Bu Kie membawa 2000 prajurit ke 'Poan Liong-leng', menunggu sampai U Bun Hoa tiba di situ, lantas serentak membidikkan panah api. Keesokan harinya Kiang Chu Gie datang ke dekat perkemahan lawan, berpura-pura seakan sedang menyelidiki posisi pasukan yang dipimpin Wan Hong. Betapa marahnya U Bun Hoa mendengar kabar itu, keluar dari kemah, bermaksud menghantam Chu Gie dengan senjata garunya. Kiang Chu Gie segera melarikan diri dengan menunggang See Put Siang U Bun Hoa mengejarnya. Biar bagaimana cepat larinya, dia tak berhasil menyusul 'See Put Siang'. Keadaan itu berlangsung hampir sejam, nafas Bun Hoa mulai memburu. Kala itu mereka telah tiba di jalan masuk ke bukit 'Poan Liong'. Girang hati Bun Hoa, mempercepat langkahnya. Tapi beberapa waktu kemudian Chu Gie telah menghilang dan Bun Hoa sendiri tak dapat maju lebih jauh, sebab dari atas bukit berhamburan balok dan batu besar. Untuk mundur pun dia tak dapat, karena jalan baliknya juga telah tertutup oleh timbunan balok danbatu besar. Saat itu para prajurit See-kie mulai menghujaninya dengan panah api. Bun Hoa memaksakan diri untuk maju lebih jauh, tapi tanah yang diinjaknya mendadak meledak, sebab sebelumnya telah dipendam bahan peledak. Maka tewaslah 'sang raksasa'! Walau U Bun Hoa berhasil dibinasakan, tapi pasukan See- kie tetap tak dapat bergerak maju karena selalu dihadang Wan Hong.

"Baiklah kita tunggu sampai tibanya pasukan Raja-muda Timur", kata Chu Gie. Di lain pihak, Wan Hong telah memperoleh bantuan dengan datangnya Chu Cu tin, seorang Padri berkulit hitam dari gunung Bwe-san. Hari itu Chu Cu Tin maju ke medan perang, dihadapi oleh Ie Ciong. Setelah bertanding beberapa saat, Chu Cu Tin membuka mulut, menyemburkan asap hitam yang menutupi sekujur tubuhnya dan dalam bentuk aslinya ia menggigit le Ciong hingga binasa. Yo Chian mengarahkan 'Cho Yao Ceng' ke diri Chu Cu Tin, langsung mengetahui kalau Cu Tin adalah siluman Babi. Dia segera menerjang maju. Chu Cu Tin yang masih berupa bentuk aslinya, segera menyedot Yo Chian ke dalam perutnya, kemudiankembali ke perkemahan. Wan Hong menjamu Chu Cu Tin. de Di kala mereka tengah berpesta pora, datanglah seorang tamu yang bernama Yo Soan. Yo Soan bermuka putih, berjenggot dan bertanduk dua. Dia juga berasal dari Bwe-san. Senang sekali Wan Hong atas kedatangan tamunya, mengajaknya makan minum bersama. Perjamuan itu berlangsung sampai larut malam, tiba-tiba terdengar suara misterius.

"Chu Cu Tin, tahukah engkau siapa aku?".

"Siapa kau?", Chu Cu Tin amat terkejut.

"Di mana kau?".

"Aku Yo Chian, berada di dalam perutmu. Entah telah berapa banyak korbanmu selama ini dan kini dosamu telah luber, akan kucabut jantungmu!", Yo Chian membetot sedikit jantung Chu Cu Tin.

"Ampun, ampun Dewa!", teriak Chu Cu Tin kesakitan.

"Aku tak berani berbuat begitu lagi!".

"Bila demikian, segeralah perlihatkan bentuk aslimu dan berlututlah kau di depan perkemahan Chiu!". Chu Cu Tin tak berani membantah, memperlihatkan bentuk aslinya berupa seekor babi, lari ke perkemahan Chiu dan berlutut di muka kemah. Ketika itu Lam Kong Koa yang sedang meronda, menyangka kalau babi yang berada di muka perkemahan adalah binatang peliharaan penduduk yang terlepas. Namun tiba-tiba terdengar suara Yo Chian dari perutbabi, menyatakan bahwa binatang itu adalah penjelmaan Chu Cu Tin, meminta Lam Kong Koa menyampaikannya pada Chu Gie. Kiang Chu Gie keluar dengan diiringi para perwiranya. Atas saran Yo Chian, Chu Gie memerintahkan Lam Kong Koa untuk menabas kepala siluman babi itu. Yo Chian keluar dari perut siluman tersebut. 

***

 Touw Ong telah mengirim seorang yang bernama Tay Li untuk membantu Wan Hong. Sesungguhnya Tay Li adalah siluman anjing dari gunung Bwe pula. Wan Hong kembali menantang perang. Dalam pertarungan kali ini, Yo Soan tampil dengan membawa tombak. Kehadirannya disambut oleh Yo Chian, yang dapat melihat dalam cermin wasiatnya, bahwa Yo Soan adalah siluman kambing. Setelah bertanding sekira 30 jurus, Yo Soan memutar kudanya, melarikan diri. Yo Chian tak membiarkan lawannya kabur, terus dikejarnya. Tiba-tiba Yo Soan menyemburkan asap putih yang menutupi dirinya dan berubah ke bentuk aslinya, yaitu siluman kambing. Yo Chian langsung 'Pian Hoa' menjadi seekor harimau. Yo Soan bermaksud melarikan diri, tapi terlambat,dirinya keburu dibinasakan Yo Chian. Tay Li melontarkan mutiara wasiatnya ke diri Yo Chian, tapi tenggorokannya digigit oleh Anjing wasiat' yang dilepas Yo Chian. Ketika dia hendak melarikan diri, Yo Chian sempat meremukkan kepalanya, maka melayanglah nyawanya. Wan Hong amat berduka mendengar kematian para pembantunya. Kesedihan Wan Hong agak berkurang dengan datangnya seorang yang bertubuh tinggi besar, memiliki sepasang tanduk di kepalanya. Orang itu mengaku bernama Kim Toa Sin, berasal dari Bwe-san pula. Kim Toa Sin yang maju ke medan laga pada keesokan harinya, menantang pihak Chiu. Tantangannya disambut oleh The Lun. Setelah bertempur selama belasan jurus, tiba-tiba Kim Toa Sin menyemburkan sebuah benda aneh sebesar cawan dan tepat mengenai batang hidung The Lun, yang mengakibatkannya jatuh dari kuda, kena dibacok hingga tubuhnya terpotong dua. Melihat temannya tewas di tangan musuh, Yo Chian segera majukan diri dan sebelum dia sempat mengenali lawan lewat cermin wasiatnya, Kim Toa Sin telah menyemburkan benda aneh, karenanya Yo Chian cepat- cepat melarikan diri ke arah Selatan. Kim Toa Sin mengejarnya.Dalam buronnya barulah Yo Chian sempat memandang ke cermin wasiatnya. Ternyata Kim Toa Sin adalah siluman kerbau. Selagi Yo Chian melarikan diri, tercium olehnya bau harum yang terpancar di sekitarnya, disusul dengan munculnya Lie Koa Nio Nio yang naik burung 'Cheng Loan' (Sejenis burung Cendrawasih). Yo Chian segera memberi hormat pada Dewi yang telah membuat Touw Ong mabuk kepayang itu. Lie Koa Nio Nio menyatakan akan membantu Yo Chian menangkap siluman Kerbau dari Bwe-san. Tatkala Kim Toa Sin tiba di situ dan bermaksud menyerang Lie Koa Nio Nio, tiba-tiba hidungnya terjerat oleh Malaikat Oey Cheng Lek Su dengan menggunakan tali wasiat sang Dewi. Oey Cheng Lek Su memukul bahu Toa Sin sebanyak tiga kali dan siluman itu kembali berwujud seekor kerbau! Lie Koa Nio Nio menyerahkan kerbau itu pada Yo Chian dan berjanji akan membantunya lagi dalam menangkap siluman kera putih. Yo Chian mengucapkan terima kasih pada sang Dewi, kemudian membawa kerbau itu ke hadapan Kiang Chu Gie. Chu Gie menitah untuk memenggal kepala kerbau tersebut.

"Berapa siluman dari gunung Bwe yang telah berhasil dibunuh?", tanya-nya kemudian."Sudah enam, paman", sahut Yo Chian.

"Beritahukan pada perwira lainnya, bahwa tengah malam ini kita akan menyerbu kubu pertahanan musuh", pesan Chu Gie.

"Baik paman". Yo Chian pamit. Wan Hong tak menyangka perkemahannya mendadak diserbu, yang menimbulkan kerugian cukup besar di pihaknya. Dia sendiri bertanding melawan Yo Chian, berawal di darat, tapi dilanjutkan di angkasa. Masing-masing mengeluarkan kesaktian dengan merubah diri ke bentuk lain, berusaha merobohkan lawan. Wan Hong sadar, bahwa perkemahannya sulit dipertahankan lagi, timbul niatnya untuk memancing Yo Chian ke Bwesan. Dia yakin, di Bwe-san akan lebih mudah menangkap perwira See-kie yang sakti itu. Maka dia pun menghilang dari hadapan Yo Chian, merubah dirinya menjadi batu aneh, bertegak di tepi jalan. Namun Yo Chian tak dapat ditipunya, dia mengenali batu aneh tersebut, segera 'Pian Hoa' menjadi pemahat dan bermaksud memahat batu itu. Batu itu mendadak lenyap, Wan Hong merubah dirinya menjadi angin, melayang ke Bwe-san. Yo Chian terus mengejarnya. Setiba di gunung Bwe, Yo Chian disambut oleh ribuan kera kecil sambil memegang pentungan, ramai-ramai mengeroyok Yo Chian.Yo Chian kewalahan menghadapi kawanan kera itu, terpaksa harus meninggalkan gunung tersebut. Belum jauh Yo Chian berjalan, telah muncul Dewi Lie Koa, yang memberikan 'Gambar gunung, sungai dan istana' sebagai sarana menangkap Wan Hong. Yo Chian mengucapkan terima kasih. Lie Koa Nio Nio meninggalkan gunung Bwe, kembali ke tempat bersemayamnya. Setelah mempelajari cara menggunakannya, Yo Chian menggantung Gambar wasiat' pemberian Dewi Lie Koa di sebuah pohon, kemudian kembali lagi mendaki Bwe-san. Kehadirannya disambut Wan Hong, di lain saat telah terjadi pergumulan yang cukup sengit. Yo Chian tak mau melayani Wan Hong terlalu lama, khawatir dikeroyok kawanan kera kecil lagi, lari ke arah pohon tempat 'gambar wasiat' digantung, yang kala itu telah berubah bentuknya menjadi sebuah gunung. Yo Chian mendaki gunung itu. Namun tak lama Yo Chian lantas melompat turun dari gunung tersebut. Wang Hong sendiri telah kembali ke bentuk aslinya, berupa seekor kera putih. Dia mengendus sesuatu yang harum, segera memanjat pohon untuk mencari sumber bau harum itu, yang ternyata berasal dari pohon "To' (Perzik) yang ranum buahnya. Tanpa terasa si kera putih menelan liur, memetiknya sebuah, turun ke bawah, memakannya sambil duduk dibatu. Begitu si monyet habis memakan buah itu, tiba-tiba Yo Chian muncul di hadapannya. Sang kera bermaksud melompat bangun, tapi tak berdaya. Ternyata buah 'To' itu telah menguras habis tenaganya. Dengan demikian mudah sekali Yo Chian menangkap lawannya. Setelah berlutut ke arah Selatan sebagai pengungkapan terima kasihnya atas bantuan Lie Koa Nio Nio, Yo Chian membawa kera putih itu ke hadapan Kiang Chu Gie. Pimpinan tertinggi See-kie memerintahkan untuk memenggal kepala kera tersebut. Tapi ketika ditabas kepalanya, sama sekali tidak mengeluarkan darah, hanya keluar sinar biru dari lehernya dan tak lama; muncul lagi kepala baru menggantikan kepala yang putus itu! Kiang Chu Gie mengeluarkan Buli-buli pemberian Liok Ya, meletakkannya di atas meja sembahyang yang memang telah disiapkan, membuka tutup Buli-buli, keluarlah sinar dari dalamnya. Chu Gie menyoja seraya membaca mantera, tak lama dari sinar itu muncul sebuah pisau, yang berputar-putar sebentar, kemudian mena bas leher kera putih hingga kepalanya jatuh menggelinding di tanah.... Lui Kay dan lain-lainnya melarikan diri bersama sisa pasukan ke kota-raja.Begitu mendengar berita buruk itu, Touw Ong segera berunding dengan para Menterinya. Kemudian memutuskan untuk mengangkat Louw Jin Kiat sebagai Panglima yang bertugas mempertahankan kota-raja. Kiang Chu Gie mengutus Kim Cha dan Bhok Cha untuk masuk ke dalam kota 'Yun-hun-koan' dengan menyamar sebagai pendeta pengelana, berpura-pura ingin membantu penguasa kota itu dalam menghadapi serangan pasukan penentang kekuasaan Kaisar. Kim Cha dan Bhok Cha menemui To Yong, Penguasa 'Yun-hun-koan'. Di hadapan To Yong mereka mengaku dari pulau Hong Lay, bernama Sun Tek dan Chie Jin. Maksud kedatangan mereka ingin membalas sakit hati murid-murid mereka yang tewas di tangan para perwira See-kie. To Yong yang memang kekurangan pembantu yang dapat diandalkan, bersedia menerima kehadiran mereka. Keesokan harinya Kiang Bun Hoan, Raja-muda dari Timur, menantang To Yong berperang. Kim Cha dan Bhok Cha menyambut tantangan tersebut sambil menghunus pedang.

"Siapa nama kalian, siluman?', hardik Kiang Bun Hoan.

"Nama kami Sun Tek dan Chie Jin", sahut Bhok Cha. Kiang Bun Hoan segera membacok dengan golok bergagang panjangnya. Bhok Cha menangkis dengan pedang. Kim Cha ikut melibatkan diri dalam pertarungan tersebut.Setelah bertanding belasan jurus, Kiang Bun Hoan memutar kuda, melarikan diri. Kim Cha dan Bhok Cha mengejarnya, setelah dekat, Bhok Cha membisiki Kiang Bun Hoan.

"Harap Hian-houw menyerang kota pada kentongan kedua nanti, aku akan membukakan pintu gerbang". Setiba kentongan kedua, terdengar dentuman meriam. Kiang Bun Hoan melancarkan serangan malam hari sesuai dengan saran Bhok Cha. To Yong menitah Bhok Cha menemani isterinya menjaga kota, sedang dia bersama Kim Cha menyambut serbuan lawan. Begitu saling berhadapan, To Yong segera menyerang Kiang Bun Hoan. Untuk sesaat keduanya bertanding sengit. Kim Cha yang berada di belakang To Yong, melontarkan Teng Liong Chun' ke arah penguasa kota Yun-hun-koan, membuat To Yong tak mampu bergerak, hingga dengan mudahnya ditewaskan Kiang Bun Hoan. Di lain pihak Bhok Cha telah pula membunuh isteri To Yong, kemudian memerintahkan untuk membuka pintu gerbang kota, menyambut kedatangan Kiang Bun Hoan. Dengan demikian jatuhlah kota Yun-hun-koan. Kiang Bun Hoan memeriksa gudang ransum dan menenangkan rakyat. Kim Cha dan Bhok Cha mendahului berangkat menemui Chu Gie.Kiang Chu Gie amat gembira ketika mendengar jatuhnya Yun-hun-koan ke tangan mereka. Baru pada esok harinya Kiang Bun Hoan datang menemui Chu Gie di Beng-kun. Pasukan para Raja-muda yang kala itu bergabung dengan Bu Ong, seluruhnya berjumlah 1.600.000 jiwa. Setelah melepaskan tembakan meriam, mereka mulai bergerak ke kota-raja.Touw (Tiu) Ong