--> -->

Pelantikan Para Malaikat Jilid 21

Jilid 21

Kiang Chu Gie memerintahkan pasukannya berhenti di jarak 80 li dari kota Leng-tong-koan, mendirikan perkemahan di situ.

Penguasa kota itu, Ouwyang Sun, telah memperoleh informasi mengenai kehadiran pasukan Chiu, yang langsung melakukan persiapan untuk menyambut serangan lawan.

Dugaannya memang tidak meleset, dua hari kemudian Oey Hui Houw datang menantang perang.

Seorang prajurit jaga segera melaporkan hal itu pada pimpinannya.

Ouwyang Sun menitah Pian Kim Liong menyambut tantangan tersebut.

Pian Kim Liong keluar dari pintu gerbang bersenjatakan kapak bergagang panjang.

Setelah bertarung lebih dari 20 jurus, Oey hui Houw berhasil melihat kelemahan lawan, menusukkan tombaknya, yang mengakibatkan Pian Kim Liong jatuh dari atas kudanya dan tewas seketika.

Isteri Kim Liong menangis sedih benar ketika mendengar berita mengenai kematian sang suami.

Pian Kie, anak Kim Liong, panas hatinya tatkala menerima kabar kematian ayahnya, segera mendatangi markas komando, menanyakan siapa yang membunuh ayahnya!?Setelah jelas persoalannya, dia pulang dan kemudian berangkat ke luar kota dengan membawa sebuah kotak kayu.

Dia mendirikan tiang yang cukup tinggi di muka pintu gerbang, mengeluarkan isi kotak yang dibawanya, yang ternyata berupa panji yang terbuat dari tulang manusia, memasangnya di atas tiang.

Keesokan harinya Pian Kie menantang pihak Chiu berperang tanding.

Lam Kong Koa maju menghadapi lawan.

Pertempuran telah berlangsung lebih dari 30 jurus dan masih seimbang, tiba-tiba Pian Kie memutar kudanya, melarikan diri dengan melewati jalan di bawah panjinya.

Lam Kong Koa mengejarnya, tapi setibanya di bawah panji, mendadak dirinya berikut kuda tunggangannya jatuh tersungkur, segera diringkus oleh prajurit lawan.

Dibawa ke hadapan Ouwyang Sun.

Ouwyang Sun memerintahkan menjebloskannya ke dalam penjara.

Pian Kie kembali menantang perang pada esok harinya.

Tantangannya sekali ini disambut oleh Oey Hui Houw, Chiu Kie dan Liong Hoan.

Namun ketiga perwira See-kie itu mengalami nasib serupa dengan Lam Kong Koa, ditawan lawan.

Pian Kie bermaksud membunuh Oey Hui Houw untuk membalas sakit hati ayahnya, tapi dicegah oleh Ouwyang Sun.

Ia berpendapat, lebih baik mengirim Hui Houw dantawanan lainnya ke kota-raja....

30 Hari berikutnya kiang Chu Gie sendiri yang memimpin pasukan, memperhatikan panji lawannya.

Terlihat uap hitam meliputi panji tersebut.

Na Cha dapat melihat lebih jelas, bahwa panji yang terbuat dari tulang-belulang manusia itu ditempeli ?Leng Hu' (Surat Jimat).

"Jangan sekali-kali kalian lewat di bawah panji itu", pesan Chu Gie pada anak buahnya. Tak lama Ouwyang Sun yang didampingi Pian Kie keluar dari pintu gerbang. Pertempuran sengit segera terjadi antara Pian Kie melawan Lui Chin Cu. Kendati telah berlangsung puluhan jurus, masih belum diketahui siapa kiranya yang akan keluar sebagai pemenang. Lui Chin Cu tak sabar lagi, ingin cepat-cepat merobohkan lawannya, dia bermaksud menghancurkan panji lawan lebih dulu, kemudian baru menghadapi Pian Kie lagi. Maka terbanglah dia mendekati tiang panji, menghantamkan senjatanya... tapi bukan tiang panji yang roboh, malah dirinya yang jatuh dan ditawan oleh prajurit khusus yang disiapkan Pian Kie di sekitar tiang panji. Wie Hok melontarkan senjata-wasiatnya, namun sia-sia, senjata itu jatuh di bawah tiang panji.... Dalam pertempuran berikutnya, Na Cha berhasil melukaiPian Kie dengan 'Kan Kun Choan'nya dan dengan menahan rasa sakit Pian Kie lari masuk ke dalam kota. Di lain pihak, Lie Cheng menyerang Ouwyang Sun. Ouwyang Sun menangkis dengan tombak pula, hingga terjadi pertarungan sengit. Beberapa perwira See-kie datang membantu Lie Cheng mengurung Ouwyang Sun. Ouwyang Sun yang merasa tak mampu menghadapi lawan sebanyak itu, cepat-cepat melarikan kudanya ke dalam kota. Menulis surat ke kota-raja memohon bala- bantuan. Kaisar Touw amat terkejut menerima surat Ouwyang Sun, segera mengajak para Menterinya bermusyawarah. Di dalam pertemuan itu seorang Menterinya yang bernama Lie Tong mengusulkan, agar Touw Ong mengirim bantuan ke Leng-tong-koan di bawah pimpinan dua raja muda yang bernama Teng Kun dan Yui Kie. Touw Ong menyetujui usul itu, segera memanggil kedua raja-muda tersebut. Begitu Teng Kun dan Yui Kie datang menghadap, Touw Ong memberi mereka masing-masing tiga cawan arak, kemudian baru mengungkapkan maksudnya untuk mengutus mereka ke Leng-tong-koan, membantu Ouwyang Sun menghancurkan pasukan Chiu Bu Ong. Kedua raja-muda itu menerima tugas tersebut sambil berlutut. Mereka memilih 100.000 prajurit serta menyiapkanransum yang diperlukan. Setelah segalanya siap, berangkatlah mereka ke Leng- tongkoan dengan menyeberangi Huang-ho (Sungai Kuning). Ouwyang Sun menyambut gembira kedatangan mereka, menceritakan apa yang terjadi selama itu. Ketika mendengar Oey Hui Houw ditawan, timbul maksud Teng Kun untuk membebaskannya. Sesungguhnya isteri Teng Kun adalah saudara mendiang isteri Oey Hui Houw. Keesokan harinya kedua raja-muda ini memimpin pasukan menantang Kiang Chu Gie berperang tanding. Chu Gie menyambut tantangan tersebut, diiringi beberapa orang pembantunya yang perkasa. Begitu saling berhadapan, Na Cha dan Touw Heng Sun mewakili Chu Gie bertanding dengan Teng Kun dan Yui Kie. Pertempuran sengit segera terjadi. Sekira berlangsung 30 jurus, Teng Kun dan temannya menarik pasukannya kembali ke dalam kota. Touw Heng Sun heran menyaksikan ulah mereka, sebab dia melihat bahwa sesungguhnya pihak musuh masih sanggup mengadakan perlawanan, tapi kenyataannya mereka telah berpura-pura kalah dan melarikan diri. Mungkin mereka memiliki maksud-maksud tertentu. Maka Touw Heng Sun memutuskan untuk menyusup masuk ke dalam kota pada malam harinya.Sesungguhnyalah, baik Teng Kun maupun Yui Kie kagum melihat wibawa Chu Gie serta keperkasaan para pembantunya, juga para prajuritnya memiliki semangat tempur yang tinggi. Sekembali ke ruang peristirahatan, pada malam harinya Teng Kun dan Yui Kie memperbincangkan soal peperangan yang baru berlangsung dan setelah saling menjajaki isi hati masing-masing, barulah mereka mengungkapkan maksud sesungguhnya, bahwa lebih baik takluk pada Bu Ong. Hanya saja mereka belum memperoleh cara terbaik untuk mewujudkan maksud itu. Touw Heng Sun yang sejak tadi berada di bawah tanah mendengarkan perbincangan mereka, jadi sangat gembira ketika tahu akan maksud mereka, segera keluar dari tempat persembunyiannya. Teng Kun dan Yui Kie amat terkejut dengan munculnya Heng Sun yang tiba-tiba itu, bermaksud menyerang si cebol. Touw Heng Sun melompat menjauh seraya menjelaskan, bahwa kedatangannya bermaksud baik. Legalah perasaan kedua raja-muda itu, menyilakan Heng Sun duduk, mengajaknya berunding, mencari jalan terbaik bagi mereka untuk takluk pada pasukan Chiu. Touw Heng Sun menyarankan, sebaiknya mereka menulis surat pada Chu Gie, menjelaskan maksud mereka. Dia yang akan menyampaikan surat itu nanti. Teng Kun dan Yui Kie menyetujui usul itu, segeramenulis surat dan menitipkannya pada Touw Heng Sun untuk disampaikan kepada Kiang Chu Gie. Touw Heng Sun pamit, menyampaikan surat Teng Kun dan Yui Kie kepada pimpinannya. Kiang Chu Gie amat gembira setelah membaca surat itu. Keesokan harinya Teng Kun dan Yui Kie memilih sejumlah prajurit, menantang pihak See-kie lagi. Kiang Chu Gie menyambut tantangan tersebut dengan membawa sejumlah perwiranya, tapi sebelumnya dia telah berpesan untuk tidak melukai Teng Kun dan Yui Kie. Oey Hui Piao dan Oey Hui Pa yang melayani Teng Kun dan Yui Kie bertanding, sedang Kiang Chu Gie hanya berdiam di sisi. Tak lama kemudian pemimpin tertinggi pasukan Chiu ini menarik pasukannya, kembali ke kemah. Malam harinya Touw Heng Sun kembali masuk ke dalam kota Leng-tong-koan, menemui kedua raja-muda dari pihak Touw. Teng Kundan Yui Kie mengeluarkan dua lembar 'Surat jimat, menyerahkannya pada Heng Sung untuk disampaikan kepada Kiang Chu Gie. Kegunaan 'Leng Hu' itu adalah, orang takkan jatuh terguling bila lewat di bawah tiang 'Pek Kut Kie'(Panji Tulang Putih) yang dipancang di muka pintu gerbang kota Leng-tong-koan oleh Pian Kie. Touw Heng Sun mengucapkan terima kasih.Heng Sun dijamu oleh kedua raja-muda dari kerajaan Touw. Para penjaga di sekitar situ adalah orang kepercayaan Teng Kun, hingga Ouwyang Sun tak tahu kalau kota yang dijaganya telah diselundupi lawan. Di dalam perjamuan Heng Sun menanyakan, dari siapa kedua raja-muda itu memperoleh ?Leng Hu' tersebut!? Teng Kun menerangkan, bahwa 'Surat jimat'tadi diperolehnya dari Thio Kui, Penguasa kota 'Bien-chi-sian'. Touw Heng Sun pamit setelah kenyang perutnya, menyerahkan 'Leng Hu' itu pada Chu Gie. Kiang Chu Gie amat gembira, dia cukup faham akan pembuatan surat jimat semacam itu. Lalu memperbanyaknya, membagi-bagikannya kepada perwira dan prajuritnya. Keesokan harinya dia memimpin langsung pasukannya, menantang perang. Pian Kie diperintahkan menyambut tantangan pihak Seekie. Para perwira yang mendampingi Chu Gie segera mengeroyok Pian Kie, membuatnya kewalahan dan melarikan diri ke dalam kota dengan melewati bawah 'Pek Kut Kie'. Dia tak tahu kalau rahasianya telah bocor dan pasukan Chiu memakai penangkal 'Leng Hu', hingga tak seorangpun yang jatuh terguling ketika mengejar lewat di bawah 'Panji Tengkorak Putih'. Keadaan itu membuat Pian Kie amat terkejut, mendekati panik, cepat-cepat masuk ke kota.'Pek Kut Kie' berhasil dirobohkan oleh pasukan Chiu. Pian Kie amat murung menyaksikan perkembangan yang berada di luar dugaannya. Teng Kun menghampirinya seraya berkata.

"Tak usah kau berpura-pura sedih, segalanya ini hanya untuk menutupi rencanamu yang sesungguhnya".

"Apa maksud Paduka?", Pian Kie menatap heran campur dongkol.

"Percuma saja kau berpura-pura", kata Teng Kun.

"sesungguhnya kau telah bersekutu dengan lawan, dengan harapan ingin memperoleh pangkat yang lebih tinggi. Maka kau berlaku seakan-akan kalah perang dengan maksud memberi kesempatan pada pasukan lawan yang mengejarmu memasuki kota. Untung saja kami cepat menutup pintu gerbang kota!". Tentu saja Pian Kie terus menyangkal tuduhan itu. Namun Teng Kun tetap memerintahkan untuk memenggal kepalanya! Setelah itu barulah Teng Kun mengungkapkan maksudnya pada Ouwyang Sun, bahwa dia bersama Yui Kie ingin takluk pada Bu Ong. Ouwyang Sun langsung mengumpat Teng Kun dan Yui Kie sambil mencabut pedangnya. Tapi sebelum dia sempat menyerang, telah didahului oleh tusukan pedang Yui Kie hingga tewas seketika. Lalu kedua utusan Kaisar Touw ini membebaskan Oey Hui Houw, Lam Kong Koa dan lain-lainnya, kembali keinduk pasukan mereka untuk memberitahukan Chu Gie, bahwa keadaan di dalam kota telah berhasil dibereskan. Dengan demikian kota Leng-tong-koan jatuh ke tangan Bu Ong. Setelah beristirahat beberapa hari, Kiang Chu Gie memimpin pasukannya menuju ke kota 'Bien-chi-sian'. Kota ini hanya dipisahkan oleh Huang-ho (Sungai Kuning) dengan kota-raja. lds Thio Kui, Panglima kota Bien-chi-sian, begitu mendengar pasukan Chiu datang menantang perang, segera memerintahkan Ong Cho dan The Chun menyambut tantangan tersebut. Dalam perang tanding yang terjadi kemudian, golok bergagang panjang Lam Kong Koa berhasil menabas batang leher Ong Cho hingga kepalanya pisah dengan tubuhnya. Oey Hui Houw berhasil menusuk punggung The Chun hingga jatuh dari kudanya dan tewas. Pertempuran hari itu dimenangkan oleh pihak Chiu. Kala itu telah datang Chong Hek Houw bersama tiga saudara angkatnya . Bun Peng, Chui Eng dan Chio Hiong, menemui Chu Gie. Keesokan harinya Thio Kui langsung memimpin pasukannya, maju ke medan tempur. Chong Hek Houw bersama tiga saudara angkatnya tampil menyongsong lawan. Kiang Chu Gie menyuruh Oey Hui Houw maju juga kemedan laga, membantu keempat saudara angkatnya. Belum lama bertempur, Chong Hek Houw melarikan kuda tunggangannya, bermaksud mencari kesempatan untuk melepaskan Garuda saktinya. Keempat saudara angkatnya berpurapura kabur juga. T Thio Kui diam sejenak, kemudian menepuk tanduk Bu-inshou yang dijadikan tungangannya. (Bu-in-shou adalah binatang mirip Banteng). Binatang itu lari cepat sekali, dalam sekejap Thio Kui telah berada di belakang Bun Peng, segera membacoknya. Bun Peng yang tak menyangka binatang tunggangan lawan dapat bergerak secepat itu, tak sempat lagi mengelak dan mati seketika. Chong Hek Houw hendak membuka Buli-buli (Cupu) yang berisi Garuda sakti, tapi tak keburu, sebab Thio Kui telah berada dekat sekali dengannya, membacoknya hingga tubuh Hek Houw terpotong dua. Menyaksikan kedua saudara angkatnya tewas secara tragis, Chui Eng. Oey Hui Houw dan Chio Hiong serentak menyerang Thio Kui. Kho Lan Eng, isteri Thio Kui, datang membantu suaminya dengan melepaskan 49 batang 'Kim Kong Cin' (Jarum Sinar Emas) yang keluar dari Buli-buli merah. Serangan tersebut berhasil membutakan Hui Houw bertiga,hingga dengan mudahnya Thio Kui membantai mereka.Dengan demikian, lima saudara angkat yang di kemudian hari dikenal sebagai 'Ngo Gak' (Lima Gunung) ini, tewas di tangan seorang lawan. Arwah mereka melayang ke 'Hong Sin Tay' (Pesanggrahan Penganugrahan Malaikat). Kabut duka cita meliputi pihak See-kie atas kematian mereka..... Hari berikutnya, Oey Hui Piao dan Yo Chian - yang baru kembali dari mengangkut ransum-, menghadapi tantangan Thio Kui. Oey Hui Piao yang panas hati atas kematian Hui Houw berlima, bertempur dengan diiringi emosi, terus menerus melancarkan serangan hingga mengabaikan penjagaan diri, maka beberapa saat kemudian ia telah jadi korban golok Thio Kui. Sedang Yo Chian sengaja membiarkan dirinya ditawan. Setiba di dalam kota, Thio Kui langsung memerintahkan memenggal batang leher Yo Chian dan selanjutnya menggantung kepala Yo Chian di atas pintu gerbang kota. Tapi sebelum sempat kepala Yo Chian digantung, masuk seorang pembantunya dengan sikap gugup benar.

"Ada apa?", tanya Thio Kui.

"Apa yang telah terjadi?".

"Bu-in-shou bapak, mendadak putus kepalanya", sang pembantu menerangkan.

"Celaka!", Thio Kui terperanjat.

"Binatang itu besar jasanya bagiku".Menyusul dia memperoleh kabar, bahwa Yo Chian yang sudah ditabas batang lehernya hidup kembali dan kini menantangnya berperang tanding. Mengertilah Thio Kui, bahwa dia telah disiasati Yo Chian. Dia segera menyambut tantangan Yo Chian dengan menunggang kuda biasa. Setelah bertarung beberapa saat, Yo Chian kembali kena ditawan. Kho Lan Eng menyarankan pada suaminya, sebelum dipenggal kepalanya, sebaiknya diri Yo Chian disiram dengan darah ayam hitam dan anjing hitam yang diaduk dengan kotoran manusia serta ditempeli sehelai 'Leng Hu'. Thio Kui menuruti saran isterinya. Pelaksanaan hukuman mati diri Yo Chian disaksikan sendiri oleh Thio Kui dan isterinya. Seusai membunuh Yo Chian, barulah Thio Kui dan Kho Lan Eng masuk ke dalam rumah. Mereka yakin Yo Chian takkan hidup kembali. Tapi baru saja mereka masuk, telah datang seorang pelayan yang mengabarkan.

"Celaka tuan! Ibu tuan yang sedang duduk di kamar, tahu-tahu tersiram darah kotor, menyusul kepalanya jatuh ke lantai!".

"Ini pasti perbuatan Yo Chian!", kata Thio Kui, sedih campur geram.

"Kita kembali telah disiasatinya". Begitu selesai memakamkan jenazah ibunya, Thio Kui kembali menantang pihak See-kie.Na Cha yang menyambut tantangan tersebut. Setelah bertanding beberapa saat, Na Cha melontarkan 'Kotak Sembilan Naga dan Api Suci'nya. Thio Kui yang mengetahui kehebatan senjata wasiat lawan, segera melarikan diri melalui bawah tanah....! 

***

 Kho Lan Eng mengusulkan pada suaminya, agar Thio Kui menggunakan ilmunya berjalan di bawah tanah untuk membunuh Bu Ong, Kiang Chu Gie dan pejabat penting See-kie lainnya. Thio Kui menganggap usul isterinya cukup baik, maka begitu gelap cuaca, berangkatlah dia ke perkemahan See-kie. Malam itu Yo Jim bertugas mengawasi perkemahan. Dengan mata di telapak tangan yang keluar dari kedua rongga matanya, Yo Jim dapat melihat jelas keadaan di langit bila dia mengarahkan mata anehnya itu ke atas. Kalau dia menujukan ke bawah, segala yang terdapat di dalam tanah bukan merupakan rahasia lagi baginya. Dan bila dia menjuruskan ke muka, benda-benda yang berada dalam radius 1000 li akan dapat terlihat jelas olehnya. Itu sebabnya, ketika Thio Kui menyelinap ke kemah dengan berjalan di bawah tanah, langsung saja diketahuinya. Dia terus mengikuti ke mana Thio Kui pergi. Thio Kui yang menyadari dirinya diikuti orang, lalu mempercepat langkahnya.Melihat gerak langkah Thio Kui yang begitu cepat, Yo Jim lantas berteriak.

"Ada musuh!". Touw Heng Sun yang sempat mendengar teriakan Yo Jim, segera masuk ke dalam tanah, bermaksud menangkap Thio Kui. Melihat gelagat yang tidak menguntungkan dirinya, Thio Kui cepat melarikan diri. Touw Heng Sun berusaha mengejarnya, tapi tak berhasil. Ternyata Thio Kui dapat berjalan di bawah tanah sejauh 800 li sehari, sedangkan Touw Heng Sun hanya mampu menempuh jarak 600 li seharinya. Keadaan itu membuat si cebol tak berhasil mengejar lawan, terpaksa kembali ke perkemahan, melaporkannya pada Kiang Chu Gie.

"Tempo hari kau dapat ditangkap oleh gurumu karena menggunakan ilmu 'Chi Tee Kim Kong Hoat' (Menuding tanah menjadi sekeras baja). Maka sebaiknya kau mempelajari ilmu itu untuk menangkap Thio Kui". Touw Heng Sun berangkat menemui gurunya di Chia Liong-san, dengan membawa surat Chu Gie. 

***

 Tiupan angin kencang telah mematahkan tiang bendera di depan markas Thio Kui. Seorang prajurit melaporkan hal itu pada Thio Kui yang sedang murung. Thio Kui segera meramal dengan keping uang emas, hasilnya membuatnya terperanjat. Ternyata Touw Heng Sun telah berangkat ke Chia Liong-san untuk memintadiajari ilmu mengeraskan tanah pada gurunya. Bila si cebol berhasil memiliki ilmu tersebut, akan celakalah dirinya. Thio Kui segera berangkat ke Chia Liong-san, menghadang Heng Sun. Hal itu tak sulit dilakukannya, sebab langkahnya lebih cepat dari si cebol. Ketika Heng Sun telah berada dekat goa gurunya, Thio Kui menabas batang lehernya hingga putus.... Kiang Chu Gie amat terperanjat ketika mendengar kabar, bahwa di atas pintu gerbang Bien-chi-sian tergantung kepala Touw Heng Sun. Panglima See-kie ini segera meramalkan apa yang telah terjadi, hingga jelas duduk soalnya dan menjadikannya sangat berduka. Teng Sian Giok, isteri Heng Sun, lebih sedih lagi. Tanpa menghiraukan cegahan Chu Gie, dia menantang lawan berperang tanding, hendak membalas dendam suaminya. Tantangannya disambut Kho Lan Eng. Setelah bertarung sejenak, Lan Eng melepaskan 'Kim Kong Cin' dari dalam Buli-buli merahnya. Jarum-jarum emas itu membuat penglihatan Teng Sian Giok menjadi kabur, hingga dengan mudahnya dia dibinasakan oleh Kho Lan Eng.... Keesokan harinya Kiang Chu Gie menyerbu kota Bien- chisian, tapi gagal. Melihat keadaan lawan yang jauh lebih kuat, maka untuk sementara Thio Kui hanya bertahan dan menulis surat kekotaraja agar dapat secepatnya dikirim bala-bantuan. Menerima laporan bahwa 5 kota telah jatuh di pihak Seekie, Touw Ong sangat murka, bermaksud memimpin sendiri pasukan menyerang pihak Chiu. Tapi maksudnya telah dicegah Menteri Hui Lian dan menyarankan agar membuat saja pengumuman . Mencari orang-orang pandai. Touw Ong menerima saran itu. Tiga orang datang menghadap Kaisar Touw setelah membaca pengumuman yang ditempelkan di tembok kota. Mereka ialah. Wan Hong, Gouw Liong dan Tio Hao. Ketiganya berasal dari satu daerah, yaitu gunung Bwe- san. Wan Hong diangkat sebagai pemimpin pasukan. Setelah dijamu, dia diperintahkan bersama Gouw Liong, Tio Hao, Louw Jin Kiat, Lui Kun. Lui Kay dan sejumlah perwira kerajaan Siang (Touw) lainnya, segera membantu Thio Kui untuk menghancurkan pasukan Chiu. Namun Wan Hong berpendapat lain. Dikatakannya, bila mereka pergi ke Bien-chi-sian membantu Thio Kui, pasukan Rajamuda Utara dan Selatan yang memihak See-kie dan kini berada di Beng-kun, tentu akan memutus jalur ransum mereka. Dengan demikian mereka dapat diserang dari depan dan belakang. Menurut Wan Hong, cara terbaik, dia bersama pasukannya menjaga perbatasan Beng-kun, agar kedua Raja-muda itu terhambat gerak majunya.Kaisar Touw menyetujui pendapat tersebut, dengan demikian Thio Kui jadi tidak memperoleh bala bantuan.... 

***

 Kie Liu Sun mengirim seorang muridnya mengantarkan surat pada Kiang Chu Gie. Dalam suratnya itu, Liu Sun memberitahukan, bahwa Chu Gie harus menugaskan Yo Jim dan Wie Hok untuk bertempur dengan Thio Kui dan memerintahkan Yo Chian ke tepi Sungai Kuning dengan membawa 'Leng Hu' yang disertakan dalam sampul surat, untuk kemudian menangkap pimpinan pasukan dari Bien- chi-sian itu. Sedang untuk merampas kota cukuplah menugaskan Na Cha dan Lui Chin Cu. Yang penting adalah menggunakan siasat, memancing 'Harimau keluar dari goa'. Untuk melaksanakan siasat yang disarankan Kie Liu Sun, Kiang Chu Gie sengaja melancarkan serangan pada malam hari. Sudah barang tentu serangannya tak berhasil karena memang tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh. Keesokan harinya Chu Gie dan Bu Ong sengaja meninjau sampai ke dekat tembok kota. Thio Kui segera keluar untuk menangkap mereka. Kiang Chu Gie dan Bu Ong melarikan diri ke arah Barat. Thio Kui tak sudi melepaskan mereka begitu saja, terus mengejar, tanpa terasa dirinya telah berada di sebuah tempat yang berjarak 20 li dari kota Bien-chi-sian. Di lain pihak pasukan See-kie mulai menyerang kota. Lo Chia (Na Cha) terbang ke atas tembok, bertempur denganKho Lan Eng yang berjaga di situ. Sempitnya ruang membuatnya tak dapat bergerak leluasa, segera lari turun dan pertempuran berlanjut di bawah. Sementara itu, Lui Chin Cu telah pula melayang masuk ke dalam kota dan berhasil membuka pintu gerbang kota lebarlebar, hingga para prajurit See-kie leluasa menyerbu masuk. Di dalam pertempuran sekali ini Kho Lan Eng tak sempat menggunakan 'Kim Kong Cin'nya. Malah roboh akibat kena hantam 'Kan Kun Choan'nya Na Cha. Na Cha tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, menusukkan tombaknya hingga Lan Eng tewas seketika.... Mendengar dentuman meriam, Kiang Chu Gie yang bersama Bu Ong masih dikejar oleh Thio Kui, segera membalikkan tubuh seraya berseru.

"Kotamu telah jatuh ke tangan kami, Thio Kui! Lekaslah kau balik ke sana!". Baru kini Thio Kui sadar, bahwa dirinya telah tertipu, cepatcepat dia melarikan kudanya untuk kembali ke dalam kota. Di tengah perjalanan pulang dia bertemu dengan Na Cha, yang berusaha menangkapnya dengan menggunakan "Kotak Naga dan Api wasiatnya'. Tapi Thio Kui sempat meloloskan diri dengan masuk ke dalam tanah. Setiba di depan pintu gerbang kota, Thio Kui melihat Lui Chin Cu di atas tembok kota, maka dia batal masuk, memutuskan untuk pergi ke kota-raja.Yo Jim yang memperhatikan ulah Thio Kui dari kejauhan, berkata pada Wie Hok.

"Saudara Wie, Thio Kui datang! Harap kau terus memperhatikan arah yang kutunjuk, ke situlah kau lontarkan senjatamu!". Ketika Thio Kui yang berjalan dalam tanah, telah dekat pada mereka, Yo Jim berseru.

"Jangan lari Thio Kui! Ajalmu telah sampai!". Thio Kui mempercepat larinya, tapi Yo Jim terus mengejarnya dengan menunggang binatang anehnya, yang diikuti Wie Hok dengan terus memperhatikan gerak tangan Yo Jim. Beberapa waktu kemudian tibalah mereka di tepi Huang- ho, tempat Yo Chian ditugaskan.

"Jaga baik-baik saudara Yo Chian, Thio Kui datang!", seru Yo Jim. Yo Chian segera membakar 'Leng Hu' pemberian Kie Liu Sun, seketika tanah berobah jadi sekeras baja! Thio Kui amat terperanjat tatkala dirinya tak dapat bergerak maju. Ketika dia hendak mundur, tak bisa juga, sebab tanah di belakangnya pun jadi sangat keras. Wie Hok menghantam tanah di bawahnya dengan senjata wasiatnya, kepala Thio Kui hancur dan tewas seketika. Merebut kota Bien-chi-sian ternyata cukup sulit, harus mengorbankan banyak perwira dan prajurit Chiu.Lie Koa Nio NioYo Chian Oey Cheng Lek Su, Bentuk asli Kim Toa Sin