--> -->

Pelantikan Para Malaikat Jilid 20

Jilid 20

Pengusaha kota Choan-in-koan adalah adik kandung Chie Kay yang bernama Chie Hong. Chie Hong amat marah mendengar kabar kakaknya takluk pada Bu Ong. Pada saat itu pasukan yang dipimpin Kiang Chu Gie telah mendirikan kemah di luar kota Choan-in-koan, bersiap- siap menyerang. Chie Kay menawarkan diri untuk membujuk adiknya agar takluk pada Bu Ong. Kiang Chu Gie meluluskannya. Chie Kay mendatangi pintu gerbang kota Choan-in-koan, kepada penjaga dia menyatakan maksudnya ingin bertemu dengan Chie Hong. Ketika mendapat laporan dari penjaga, Chie Hong menitah bawahannya menyilakan kakaknya masuk. Tapi diam-diam dia menyiapkan sejumlah prajurit pilihan bersembunyi di balik pintu gerbang. Begitu Chie Kay masuk, Chie Hong memerintahkan para prajuritnya menangkap Chie Kay dan memenjarakannya. Maksud tindakannya itu adalah untuk menebus dosa keluarga Chie terhadap kerajaan Touw akan ulah kakaknya yang telah menakluk pada Bu Ong. Begitu mendengar Chie Kay ditawan, Kiang Chu Gie segera memerintahkan Lo Chia (Na Cha) untuk menggempur kota Choan-in-koan. Na Cha berangkat dengan mengendarai Hong Hwe Lun,menantang lawan berperang. Chie Hong bertanya pada para pembantunya, siapa gerangan yang bersedia melawan Na Cha. Seorang perwira yang bernama Be Chong bersedia mengemban tugas itu, Begitu berhadapan dengan lawan, tanpa banyak bicara lagi Be Chong langsung menyerang Na Cha. Segera terjadi pertarungan yang cukup sengit, saling serang dan menangkis, keadaan mereka dapat dikatakan seimbang. Kemudian Be Chong membuka mulut, menyemburkan asap hitam, yang makin lama makin tebal, hingga menutupi dirinya, Na Cha segera melayang ke angkasa dan mengubah diri yang memiliki tiga kepala dan bertangan delapan. Sewaktu kehilangan jejak lawan, Be Chong lantas menghentikan semburan asapnya. Dia sangat terkejut menyaksikan perubahan diri Na Cha, lalu melarikan diri. Akan tetapi Na Cha telah berhasil membakar lawannya dengan api saktinya hingga tewas seketika. Chie Hong amat marah mendengar kematian anak buahnya, lalu memerintah Liong An Kit menghadapi lawan. Pemunculan Liong An Kit disambut oleh Oey Hui Houw. Liong An Kit menerjang Hui Houw dengan menggunakan kapak, yang langsung ditangkis oleh Hui Houw dengan tombaknya.Pertarungan sengit berlangsung cukup lama, lebih dari 50 jurus, saling berusaha menjatuhkan lawan, tapi belum dapat diduga siapa yang akan keluar sebagai pemenang. Liong An Kit tak sabar lagi melangsungkan pertempuran lebih lama dengan cara itu, segera melontarkan dua gelang wasiat yang dirangkai jadi satu. Benda itu meluncur ke angkasa dan memperdengarkan bunyi akibat gesekan satu dengan lainnya. Oey Hui Houw mengawasi benda wasiat tersebut, seketika lemaslah sekujur tubuhnya, jatuh dari kerbau saktinya dan ditawan musuh. Kiang Chu Gie kaget mendengar kabar itu. Keesokan harinya Liong An Kit menantang Chu Gie berperang tanding. Ang Kim yang menyambut tantangannya. la bazterte Setelah bertarung sesaat, Liong An Kit melontarkan dua gelangnya yang dirangkai jadi satu. Bunyi gelang itu membuat lemas sekujur tubuh Ang Kim, yang mengakibatkannya jatuh dari kuda dan ditawan Liong An Kit. Chie Hong menitah bawahannya memasukkan Ang Kim ke penjara. Di penjara Ang Kim bertemu dengan Oey Hui Houw, keduanya menghela nafas panjang, haru campur geram. Hari berikutnya Liong An Kit kembali menantang perang. Tantangannya sekali ini disambut oleh Lam Kong Koa. Namun Lam Kong Koa juga berhasil ditawannya dengancara yang sama, membuat perwira kerajaan Touw makin besar kepala, sesumbar menantang pihak See-kie lagi. Na Cha maju ke medan tempur, Liong An Kit menggunakan cara yang sama untuk menjatuhkan Na Cha, namun usahanya sekali ini gagal, bahkan kemudian Na Cha berhasil merobohkannya dengan 'Kan Kun Choan'-nya, membarengi menusukkan tombaknya, seketika lawannya menemui ajalnya. Dengan tewasnya pembantu yang diandalkan, Chie Hong terpaksa menulis surat ke kota-raja untuk meminta bala- bantuan. Untuk sementara dia menggantung 'Papan penunda perang di atas pintu gerbang kota. Hari itu datang dua orang pertapa menemui Chie Hong. Yang seorang bernama Lu Gak, lainnya bernama Tan Keng. Lu Gak pernah melarikan diri ketika bertempur dengan Kiang Chu Gie pada beberapa waktu yang lampau. Kedatangan Lu Gak bersama Tan Keng sekali ini adalah untuk membentuk 'Un Hong Tin' (Barisan Penyakit Menular) dalam menghadapi pasukan yang dipimpin Kiang Chu Gie. Chie Hong menyambut hangat kehadiran mereka. Lu Gak dan Tan Keng mulai membangun 'Un Hong Tin' di luar kota Choan-in-koan dan berhasil merampungkannya dalam tempo beberapa hari. Begitu rampung Lu Gak meminta Chie Hong mengangkat'Papan penunda perang', lalu mengajak Tan Keng untuk menemui Kiang Chu Gie. Kiang Chu Gie diiringi para pembantunya ke luar kemah. Lu Gak langsung menantang .

"Beranikah kau menghadapi barisan kami, Kiang Chu Gie?".

"Di mana barisanmu itu?", tanya Chu Gie.

"Tak jauh dari sini", sahut Lu Gak.

"'Mari!". Kiang Chu Gie mengajak Na Cha, Yo Chian, Wie Hok dan Lie Cheng mendatangi 'Un Hong Tin'. Setelah memperhatikan beberapa saat, Kiang Chu Gie masih belum dapat mengenali barisan apa yang dibentuk lawan. Kemudian barulah dia ingat akan ramalan gurunya yang menyatakan, di kala dia hendak menyerang kota Choan-in-koan, dia akan menghadapi 'Un Hong Tin'. Chu Gie lalu memberitahukan hal tersebut pada Yo Chian. Yo Chian langsung menyebut nama itu di hadapan Lu Gak. Lu Gak dan Tan Keng terkejut ketika mendengar lawan mereka menyebut nama barisan gaib ciptaannya.

"Barisan kalian ini belum rampung", kata Yo Chian lagi.

"Setelah selesai nanti, aku akan ke mari untuk menghancurkannya!". Sesungguhnya, baik Yo Chian maupun Kiang Chu Gie tak tahu cara apa menghancurkan barisan gaib lawan. Chu Gie mengajak para pembantunya meninggalkan daerah lawan. Baru saja mereka kembali ke kemah, seorang prajuritmemberitahukan bahwa In Tiong Cu dari Chong Lam-san ingin bertemu dengan Chu Gie. Kiang Chu Gie segera menyambut kedatangan pertapa sakti itu.

"Saudara sendirilah yang harus menggempur 'Un Hong Tin itu. Memang sudah ditakdirkan, bahwa saudara harus menderita selama 100 hari di dalam barisan gaib lawan. Setelah cukup waktunya, akan muncul seseorang yang akan menghancurkan 'Tin lawan", kata In Tiong Cu setelah mereka berbasa-basi sejenak.

"Aku sengaja ke mari untuk sementara menggantikanmu memegang pucuk pimpinan pasukan Chiu". Kiang Chu Gie lalu menyerahkan cap kebesaran dan pedang komandonya pada In Tiong Cu. Bu Ong sangat terperanjat dan gelisah mendengar kabar kalau Perdana Menteri yang juga sebagai ayah angkatnya, harus menderita selama 100 hari di dalam barisan gaib lawan.

"Lebih baik kita kembali saja ke See-kie", sabdanya kemudian. Namun In Tiong Cu menerangkan, bahwa segalanya itu sudah menjadi kehendak Thian. Lu Gak dan Tan Keng berhasil merampungkan 'Un Hong Tin' yang antara lain menggunakan 21 payung penyakit menular. Seorang Tojin bernama Lie Peng datang menemui Lu Gak dan temannya, menasehati mereka agar membatalkansaja niat itu, sebab apa yang dilakukan Kiang Chu Gie sesuai dengan kehendak Tuhan. Lu Gak dan Tan Keng tak menghiraukan saran itu. Bahkan kemudian Lu Gak segera menulis surat pada Chu Gie, menanyakan kapan panglima tertinggi See-kie itu akan datang ke 'Un Hong Tin!? Diperoleh jawaban, bahwa Chu Gie akan datang pada keesokan harinya. Sesaat Kiang Chu Gie akan berangkat ke barisan gaib lawan, In Tiong Cu menempelkan 'Hu' (Surat Jimat) di dada, punggung dan rambut di bawah karpus Chu Gie. Kiang Chu Gie berangkat ke 'Un Hong Tin' dengan naik 'See Put Siang', diiringi Bu Ong dan lain-lainnya. Di dalam barisan gaib tersebut terdengar tangisan hantu, sedang halilintar sebentar-sebentar menyambar. Butir- butir pasir berterbangan dan asap tebal bergulung naik. Lu Gak menyambut kedatangan Chu Gie di depan 'Un Hong Tin' dengan menunggang 'Kim Gan To' (Onta Bermata Emas)nya, tangannya memegang sebilah pedang. Terjadilah pertandingan cukup sengit antara Chu Gie dan Lu Gak, namun hanya berlangsung sebentar, sebab Lu Gak tibatiba lari masuk ke dalam barisan gaibnya. Kiang Chu Gie mengejarnya. Lu Gak turun dari 'Kim Gan To', naik ke atas panggung, membuka sebuah 'Un Hong Shan' (Payung Penyakit Menular), seketika keadaan di dalam barisan gaibtersebut menjadi gelap gulita. Kiang Chu Gie melindungi dirinya dengan mengembangkan 'Sin Huang Kie' (Panji Bunga Sin Kuning)-nya. Hanya saja dia tak dapat keluar dari barisan gaib tersebut. Lu Gak berseru .

"Kiang Chu Gie telah binasa! Suruh Bu Ong masuk ke mari untuk menerima kematiannya!". Bu Ong terperanjat mendengar seruan itu.

"Jangan percaya pada ocehannya, Tuanku", In Tiong Cu berusaha menenangkan Bu Ong.

"Mari kita kembali ke kemah". Setelah berhasil mengurung Chu Gie dalam barisan gaibnya, setiap hari, tiga kali Lu Gak masuk ke situ untuk mencelakai Chu Gie dengan menyebarkan penyakit menular, namun selama ini usahanya belum juga membawa hasil .... Pada suatu hari Lu Gak masuk ke dalam kota Choan- inkoan. Chie Hong mengungkapkan maksudnya untuk mengirim keempat tawanannya ke kota-raja, dengan demikian dia dapat membersihkan nama baik keluarga Chie lantaran menakluknya saudaranya pada pihak Bu Ong. Lu Gak menyetujui maksud itu.. Oey Hui Houw, Lam Kong Koa, Ang Kim dan Chie Kay segera dimasukkan ke dalam kerangkeng, digiring ke kota-raja dengan dikawal oleh salah seorang perwirakepercayaan Chie Hong dan sejumlah prajurit pilihan. 

***

 Di depan goa Che Yang-tong di gunung Cheng Hong-san, terlihat Cheng Si To Tek Cin-kun tengah mengajari Yo Jim ilmu tombak. Yo Jim adalah bekas Menteri kerajaan Touw yang kini menjadi murid sang Dewa. Beberapa saat kemudian, Dewa Cheng Si To Tek berhenti melatih muridnya dan berkata.

"Hari ini kau harus turun gunung untuk menghancurkan barisan gaib Penyakit Menular dan membebaskan 4 perwira See-kie yang akan dibawa ke kota-raja. Untuk itu akan kubekali kau In Shia- souw sebagai tunggangan, juga 'Ngo Hwe Sin Yam Shan' (Kipas Sakti Lima Api). In Shia-souw adalah binatang bermuka dan berekor seperti Singa, tapi tubuhnya mirip Naga. Cheng Si To Tek Cin-kun juga memberitahukan apa yang harus dilakukan muridnya setelah berada di dalam barisan gaib. Selesai menerima wejangan sang guru, Yo Jim pun turun gunung. Binatang tunggangan Yo Jim ternyata dapat melayang di angkasa, sebentar saja dia telah tiba di luar kota Choan- in-koan. Kala itu Hui Houw bersama tiga perwira See-kie lainnya mulai digiring ke kota-raja oleh anak buah Chie Hong yang dipimpin oleh Phuy It Chin.Yo Jim menghadang mereka dan berusaha membujuk Phuy It Chin agar memihak Bu Ong. Namun It Chin ternyata amat setia pada atasan, bukan saja tidak mau menuruti saran Yo Jim, malah langsung menyerangnya. Yo Jim mengelak tanpa balas menyerang, masih berusaha membujuk. Tapi Phuy It Chin terus melancarkan serangan. Melihat sikap lawan yang keras kepala, habislah kesabaran Yo Jim, segera menggerakkan kipas saktinya ke arah Phuy It Chin dan tersemburlah api disertai ular- ular emas. Tubuh Phuy It Chin lenyap tanpa bekas! Anak buah It Chin yang semula memang telah ketakutan menyaksikan keadaan Yo Jim, yang dari lobang matanya menjulur tangan dan di telapak tangan itu ada juga matanya, bertambah seram ketika pimpinan mereka hilang dikebut kipas, tunggang langgang melarikan diri. Yo Jim membebaskan Oey Hui Houw dan lain-lainnya dari dalam kerangkeng tawanan, meminta mereka agar menyusup masuk ke dalam kota dan begitu mendengar tembakan meriam nanti, segera menghantam lawan dari dalam. Selesai berperan, Yo Jim melanjutkan perjalanannya untuk menemui In Tiong Cu. In Tiong Cu menyambut hangat kedatangan Yo Jim, mengajaknya menemui Bu Ong. Bu Ong heran melihat wajah Yo Jim yang aneh itu.Bekas Menteri kerajaan Touw itu menceritakan, bagaimana Touw Ong telah mengorek kedua biji matanya dan kemudian dirinya diselamatkan oleh Dewa Cheng Si (Cheng Hi To Tek Cin-kun, yang telah membuatnya dapat melihat kembali dengan cara yang luar biasa itu. Bu Ong terharu campur kagum mendengar pengalaman Yo Jim.

"Tiga hari lagi tepatlah 100 hari Kiang Chu Gie berada dalam barisan gaib lawan", In Tiong Cu memberitahukan Yo Jim. Setiba hari yang ditentukan, Yo Jim mendatangi 'Un Hong Tin', menantang Lu Gak berperang tanding. Bu Ong, In Tiong Cu dan lain-lainnya mengikuti dari belakang untuk menyaksikan Yo Jim menghancurkan barisan gaib lawan. Lu Gak keluar dari dalam barisan gaibnya dengan pedang! terhunus di tangannya. Kaget dia ketika melihat wajah Yo Jim yang luar biasa, namun di luarnya dia berpura-pura tenang, langsung menusuk Yo Jim. Yo Jim menangkis dengan pedang pula. Setelah bertarung beberapa jurus, Lu Gak lari ke dalam barisan gaibnya. Yo Jim mengejarnya. Lu Gak naik ke panggung Pat-kwa, membuka 'Un Hong Shan (Payung Penyakit Menular), melontarkannya ke arah Yo Jim. Dalam sekejap dia telah melontarkan lima buah 'Un Hong Shan'.Yo Jim menggerakkan kipasnya, seketika payung-payung Lu Gak lebur jadi debu. Kala itu Lie Peng yang kembali ingin membujuk Lu Gak agar membatalkan maksudnya mencelakai Chu Gie dengan barisan gaibnya, telah masuk pula ke dalam 'Un Hong Tin'. Justeru pada saat itu Yo Jim menggerakkan kipasnya lagi, hingga Lie Peng Tojin yang bermaksud baik tewas seketika! Tan Keng menyerang Yo Jim, tapi dia segera binasa oleh kebutan kipas sakti Yo Jim. Sementara itu Lu Gak masih penasaran, mengerahkan seluruh kekuatannya untuk memadamkan api, tapi api bukannya padam malah berkobar kian besar, yang memaksanya turun dari panggung, bermaksud melarikan diri. Yo Jim mengejarnya, dengan beberapa kali kebutan kipasnya, Lu Gak tak lagi dapat menyelamatkan nyawanya. Dengan demikian hancurlah barisan gaib penyakit menular ciptaan Lu Gak dan Tan Keng. Terlihat Kiang Chu Gie tertelungkup di atas 'See Put Siang'. pucat sekali wajahnya. Bu Kie segera menolong Panglima Besarnya, membawanya kembali ke kemah. In Tiong Cu memasukkan obat mujarab ke mulut Kiang Chu Gie. Beberapa waktu kemudian Chu Gie siuman daripingsannya. Selewat dua hari, setelah melihat kesehatan Chu Gie telah pulih benar, In Tiong Cu pamit, kembali ke Chong Lam-san. Kiang Chu Gie memberi komando untuk segera menyerbu Choan-in-koan. Chie Hong naik ke tembok pertahanan kota untuk melihat posisi lawan. Terlihat olehnya pasukan Chiu menyerang dari empat jurusan. Lui Chin Cu melayang di angkasa, menghancurkan menara pengawas dengan pentungannya, membuat para prajurit penjaga lari lintang pukang menyelamatkan diri. Na Cha yang mengendarai 'Hong Hwe Lun' berhasil menjebol pintu gerbang, pasukan Chiu menyerbu masuk. Chie Hong melompat ke atas kudanya, memimpin perlawanan. Oey Hui Houw, Lam Kong Koa, Ang Kim dan Chie Kay, begitu mendengar bunyi meriam, segera keluar dari tempat persembunyian mereka untuk melabrak musuh. Chie Hong menjadi panik ketika diserang dari luar dan dalam, tewas di ujung tombak Oey Hui Houw. Akhirnya jatuhlah kota Choan-in-koan ke tangan pasukan Chiu Sasaran berikutnya adalah kota Tong-koan. Panglima kota Tong-koan bernama Ie Hoa Liong, berputera lima orang . le Tat, le Chiao, le Kong, le Sian dan Ie Tek.Tapi anak bungsunya, le Tek, sedang pergi memperdalam ilmu. Ketika mendengar dentuman meriam, le Hoa Liong segera tahu bahwa pasukan Chiu telah tiba di luar kota Tong-koan. Keesokan harinya Ie Hoa Liong mengajak keempat puteranya menghadapi pihak Chiu. Pertempuran pertama berlangsung antara le Tat dan Tee Loan. Tapi selang sesaat le Tat lari dan Tee Loan mengejarnya. Tee Loan kena senjata-penyambit lawan hingga terpelanting dari kudanya dan berhasil dibinasakan le Tat. Hari kedua Souw Hok bertempur melawan Ie Chiao. Lewat beberapa jurus, le Chiao mengibarkan sehelai panji wasiat dan terpancarlah sinar emas yang menyilaukan pandang, disusul dengan lenyapnya le Chiao bersama kudanya. Namun Souw Hok merasakan seolah-olah di belakangnya memburu seekor kuda. Segera dia membalikkan tunggangannya, tapi telah kasip! Sebab saat itu juga dia tertusuk tombak le Chiao, tewas seketika. Souw Choan Tiong amat sedih atas kematian ayahnya. Tampil ke medan laga dengan penuh diliputi dendam. Yang menyambut kehadirannya bukanlah le Chiao, tapi le Kong, anak ketiga Ie Hoa Liong. Setelah bertanding sejenak, le Kong melarikan diri.Souw Choan Tiong mengejarnya, tapi dirinya terkena 3 timpukan senjata-penyambit lawan, membuatnya berteriak kesakitan dan kembali ke kemah. Dalam pertempuran keesokan harinya Souw Choan Tiong kembali kena disambit oleh le Tat hingga jatuh dari kuda tunggangannya, tapi untung sempat ditolong oleh Lui Chin Cu, yang langsung menyerang le Tat. Khi Kong cepat membawa Choan Tiong kembali ke kemah. Yo Chian yang baru kembali membawa ransum, langsung terjun ke medan tempur, menggempur le Hoa Liong. Selang sesaat Yo Chian melepaskan anjing saktinya, berhasil menggigit lawannya. Di lain pihak gelang wasiat Na Cha berhasil melukai bahu le Kong. Dalam pertempuran sekali ini, pihak Tong-koan menderita kekalahan cukup parah, langsung menggantung 'Papan Penunda perang di atas pintu gerbang kota .... Beberapa hari kemudian le Tek, putera bungsu le Hoa Liong, telah kembali dari tempatnya berguru. Dia berhasil menyembuhkan luka ayah dan saudaranya dengan memberi mereka pil mujizat. Kemudian le Tek meminta keempat saudaranya membersihkan badan. Setiba tengah malam le Tek mengeluarkan lima lembar kain yang masing-masing berwarna . Biru, kuning, merah,putih dan hitam. Membentangkannya di tanah. Lalu dia mengambil 5 takaran kecil yang berisikan kuman penyakit, menyerahkan pada saudaranya masing-masing sebuah, dia sendiri memegang sebuah.

"Bila aku bilang 'sebar, kalian harus berbuat seperti itu juga", kata Ie Tek kemudian.

"Dengan cara ini semua lawan kita akan binasa tanpa kita menggunakan senjata lagi". le bersaudara berdiri masing-masing di atas kain yang berlainan warna. le Tek mulai membaca mantera dan melontarkan selembar 'Hu' ke angkasa. Seketika bertiup angin kencang, yang mengangkat kelima helai kain tersebut, menerbangkannya ke perkemahan pasukan Chiu. Maksud le Tek adalah menyebarkan sejenis kuman penyakit kulit. Dia baru berhasil merampungkan pekerjaannya menjelang fajar. Akibatnya memang cukup fatal. Semua orang dari pihak Chiu terserang penyakit yang mengerikan. Hanya Na Cha yang tubuhnya terjelma dari bunga teratai dan Yo Chian yang malam itu berjaga di luar kemah, terhindar dari serangan penyakit tadi.

"Keadaan ini mirip dengan yang dilakukan Lu Gak tempo hari", kata Na Cha pada Yo Chian setelah menyaksikan keadaan itu.

"Pada saat itu kita berada di kota See-kie, tapi kini di lapangan terbuka. Keadaan ini lebih berbahaya", kata YoChian.

"Bagaimana kita dapat menangkis bila lawan melancarkan serangan!?". Kecemasan Yo Chian memang beralasan. Sesungguhnya le Tat menyarankan pada saudara-saudaranya untuk menyerbu perkemahan pihak Chiu, tapi ditolak oleh le Tek, yang menganggap mereka tak perlu berbuat begitu. Sebab dia yakin, tanpa mengerahkan pasukan pun, para prajurit See-kie akan binasa sendiri. Na Cha dan Yo Chian baru merasa lega ketika melihat kedatangan Giok Teng Cin-jin. Setelah memeriksa keadaan Chu Gie, Giok Teng berkata.

"Sering sudah kau menanggung sengsara, Chu Gie! Tapi kini telah berhasil kau lewati 7 bencana dan 3 celaka! Namamu akan jadi harum dan tercatat dalam sejarah!". Kemudian Giok Teng Cin-jin menyuruh Yo Chian pergi ke Hwe Hong Tong (Goa Angin dan Api) di gunung Tay Ku- san, untuk meminta 3 butir Sian-tan (pil Dewa) pada Dewa Sin Nung, guna mengobati penyakit kulit yang belum diketahui namanya. Yo Chian segera berangkat. Dewa Sin Nung memberikan 3 butir pil yang diminta Yo Chian. Sebutir untuk Bu Ong, sebutir untuk Chu Gie dan sebutir sisanya dilarutkan di dalam air untuk menyembuhkan para prajurit dengan memercikkan air kasiat itu ke empat penjuru perkemahan. Yo Chian menanyakan penyakit apa sesungguhnya yang diderita orang-orang dari kubu Chiu itu. Diperolehjawaban, bahwa itu adalah penyakit cacar. Pil pemberian Dewa Sin Nung ternyata sangat mujarab, semua orang yang terserang penyakit cacar dapat disembuhkan, tapi meninggalkan cacad di wajah mereka, bopeng. Kiang Chu Gie segera berdaya untuk merampas kota Tongkoan. Hari itu merupakan hari ke delapan bagi le Tek menggunakan ilmunya untuk membunuh para lawannya. Namun keadaan di kubu See-kie tampak tenang-tenang saja, segalanya berjalan seperti biasa. Sadarlah dia kalau usahanya menemui kegagalan. Dia terpaksa meminta ayahnya untuk menyerang kubu lawan. Tapi baru saja mereka hendak melancarkan serangan, telah didahului oleh pihak See-kie. Na Cha telah berhasil mendobrak pintu gerbang kota. Lui Chin Cu berhasil membunuh Ie Kong dengan pentungan. Wie Hok menamatkan riwayat le Tat dengan 'Ciang Mo Chu". Yo Jim menggerakkan kipas wasiatnya, seketika le Chiao dan Ie Sian menjadi abu. Ie Tek masih berusaha melakukan perlawanan, tapi dirinya tertembus pedang Lie Cheng, tewas seketika. Melihat kelima puteranya binasa, le Hoa Liong lantas bunuh diri. I Kiang Chu Gie memimpin pasukannya, menerobos masukke dalam kota Tong-koan, menenangkan rakyat, memeriksa gudang perlengkapan lawan. Kemudian Chu Gie memerintahkan untuk memakamkan jenazah Ie Hoa Liong beserta kelima puteranya. Berhubung di bagian depan terdapat 'Ban Sian Tin' (Barisan Gaib Puluhan Ribu Dewa), Giok Teng Cin-jin menyuruh Chu Gie meminta Bu Ong untuk sementara berdiam di Tong-koan. Sedang Chu Gie bersama sejumlah pasukannya boleh bergerak maju sampai jarak tertentu, kemudian membangun panggung peristirahatan para orang suci dan Dewa. Setelah panggung itu rampung, hanya murid-murid Kun Lun yang diperkenankan berkunjung ke situ. Sedangkan para prajurit See-kie ditempatkan sejauh 40 li di belakang panggung tersebut, menanti sampai 'Ban Sian Tin' berhasil dimusnakah, barulah mereka diperkenankan bergerak maju lagi. Tak lama kemudian, para orang suci dan Dewa mulai berdatangan ke panggung peristirahatan. Didahului oleh Kong Seng Cu, Chi Ching Cu, Bun Chiu Kong Hoat Tian Chun, Pouw Hian Cin-jin. Menyusul Tay It Cin-jin, Cheng Si To Tek Cin-kun. Kie Liu Sun. In Tiong Cu, Jian Teng Tojin dan lain-lainnya lagi. Kiang Chu Gie menyambut kedatangan mereka dengan sikap hormat benar. Kim Leng Seng-bo yang berada di dalam barisan gaib 'Ban Sian Tin', ketika melihat tiga tangkai bunga yangkeluar dari kepala Jian Teng, yang memancarkan sinar terang ke angkasa, segera menyadari, bahwa para Dewa dan orang suci itu telah datang. Dia segera melepaskan gledek, yang membuyarkan kabut yang semula menutupi 'Ban Sian Tin', hingga barisan gaib itu jadi terlihat jelas. Para orang suci dan Dewa itu menghampiri, untuk dapat melihat barisan gaib tersebut dari dekat. Tiba-tiba terdengar suara lonceng di dalam 'Ban Sian Tin', menyusul keluar seorang Tojin yang bernama Be Sui dengan pedang di tangannya. Oey Liong Cin-jin menyambut kehadiran Be Sui dengan membawa pedang juga. Be Sui tidak menyerang Oey Liong Cin-jin dengan pedangnya, tapi melontarkan gelang emas. Oey Liong Cin-jin tak sempat mengelak, hingga gelang emas itu menjepit kepalanya, membuat sang Cin-jin kesakitan, terpaksa kembali ke panggung peristirahatan. Dia berusaha melepaskan benda itu, tapi usahanya ternyata sia-sia belaka, malah gelang emas tersebut kian keras menjepit kepalanya. Saking menahan sakit yang amat sangat, dari kepala Oey Liong Cin-jin mengepulkan asap .... Goan Sie Tian Chun dan Lam Khek Sian Ang datang juga untuk melihat-lihat barisan gaib tersebut. Goan Sie naik 'See Put Siang' dan Lam Khek Sian Ang naik Bangau Saktinya.Begitu tiba, Goan Sie Tian Chun memanggil Oey Liong Cinjin, menuding kepala sang Cin-jin. Seketika lepaslah gelang emas yang menjepit kepala Oey Liong. Dia mengucapkan terima kasih pada Goan Sie Tian Chun. Tak lama kemudian Thay Siang Loo-kun telah pula tiba di situ. Di lain pihak, Tong Thian Kauw-cu juga tiba di dalam barisan gaib 'Ban Sian Tin'. Kehadirannya langsung disambut oleh para muridnya, mengajaknya naik ke atas panggung Pat-kwa. Begitu datang. Tong Thian Kauw-cu menyuruh Teng Kong Sian yang bertelinga panjang, untuk membawa surat tantangannya ke pihak Kun Lun. Kedatangan Teng Kong Sian disambut Yo Chian, yang menerima surat tantangan Tong Thian, lalu menyampaikannya pada Thay Siang Loo-kun. Selesai membaca surat itu, Loo-kun berkata pada Teng Kong Sian .

"Sampaikan pada gurumu, besok kami akan datang untuk menghancurkan barisan gaibnya!". Teng Kong Sian meninggalkan panggung peristirahatan para Dewa, kembali ke 'Ban Sian Tin'. Keesokan harinya Thay Siang Loo-kun (sering pula disebut orang sebagai Loo-cu) mengajak Goan Sie Tian Chun ke 'Ban Sian Tin'. Orang suci lainnya turut mengiringi. Terlihat Tong Thian Kauw-cu telah menanti di mukabarisan gaibnya.

"Kenalkah kalian pada "Tin' ciptaanku?", tanya Tong Thian.

"Apa sih sulitnya", Thay Siang Loo-kun tertawa.

"Ini adalah 'Thay Khek Liang Gie See Siang Tin' (Gabungan tiga barisan gaib)". Kemudian Loo-kun bertanya pada para orang suci .

"Siapa yang berminat memecahkan 'Thay Khek Tin' ini?". Chi Ching Cu tampil ke muka, yang langsung disambut oleh salah seorang murid Tong Thian yang bernama Ouw In Sian. Terjadilah perang tanding di antara mereka, saling menyerang dan menangkis dengan pedang, untuk sementara belum dapat diketahui siapa yang lebih unggul. Ouw In Sian tak sabar bertempur lebih lama dengan cara itu, mengeluarkan 'Kun Goan Chui' (Martil wasiat)-nya, menimpuk Chi Ching Cu. Chi Ching Cu tak sempat mengelak, terpukul hingga jatuh. Ouw In Sian bermaksud menghabiskan nyawa Ching Cu. Kong Seng Cu segera maju untuk membantu teman, tapi dirinya pun kena dihajar oleh Martil wasiat lawan, membuatnya harus melarikan diri ke arah Barat Laut.

"Tangkap dia!", titah Tong Thian Kauw-cu pada muridnya. Ouw In Sian segera mengejar Kong Seng Cu..Ketika dia hampir berhasil menangkap Seng Cu, tiba-tiba muncul Chun Tie yang menghalangi maksudnya. Ouw In Sian amat marah, mengayunkan pedangnya bermaksud menabas kepala Chun Tie. Chun Tie membuka mulut, keluar setangkai bunga lotus, yang langsung menangkis serangan tersebut.

"Janganlah kita bertikai, sebab kita telah ditakdirkan untuk bersahabat", kata Chun Tie dengan nada membujuk.

"Mari ikut aku ke Sorga Barat!".

"Ngaco!", seru Ouw In Sian dongkol, jangan kau bicara yang bukan-bukan!". Kembali dia melancarkan serangan. Tapi Chun Tie sempat mengeluarkan setangkai teratai putih, menangkis serangan In Sian.

"Jangan kau keras kepala, mari ikut aku!", kata Chun Tie pula. Ouw In Sian tetap tak peduli, kembali dia menusuk Chun Tie. Chun Tie menggerakkan jarinya dan setangkai bunga lotus emas menahan maju pedang tersebut. Chun Tie masih berusaha membujuk, tapi Ouw In Sian bukannya menurut, malah bertambah berang, lagi-lagi melancarkan serangan. Chun Tie mengebutkan lengan jubahnya, seketika pedang In Sian lenyap .... Ouw In Sian bukannya takut malah penasaran, mengeluarkan Martil wasiatnya, melontarkan ke diriChun Tie. Chun Tie cepat menghindar sambil berseru .

"Di mana kau. muridku?". Tiba-tiba muncul seorang bocah sambil membawa sebatang bambu. Dia menggerakkan bambu itu dengan gaya orang mengail, segera muncul sinar-sinar terang dari ujung bambu tersebut, yang langsung mengurung diri Ouw In Sian. Baru pada saat itu Ouw In Sian memohon belas kasihan. Chun Tie menyuruhnya memperlihatkan bentuk aslinya . Seekor kura-kura berjenggot emas! Murid Chun Tie langsung naik ke batok kura-kura tersebut, membawanya ke telaga delapan kebajikan di Sorga Barat untuk mengecap ketenangan dan kebahagiaan. Chun Tie sendiri menggabungkan diri dengan para Dewa yang bermaksud menghancurkan barisan gaib ciptaan Tong Thian Kauw-cu. Tak lama tiba pula Kiat In Taysu, pemimpin agama Buddha lainnya, ikut menggabungkan diri juga. Kala itu dari dalam barisan gaib keluar murid Tong Thian Kauw-ci lainnya yang bernama Chiu Shou Sian seraya menghunus pedang. Bun Chiu Tian Chun menerima panji "Pan Ku Kie' dari Goan Sie, lalu menyongsong Chiu Shou Sian. Setelah bertempur sebentar, Chiu Shou Sian lari masuk ke dalam barisan gaib.Bun Chiu mengejarnya. Begitu Bun Chiu berada di dalam barisan gaib, Chiu Shou Sian segera melontarkan "Thian Eng' (Cap atau Tera Langit). Bun Chiu menggerakkan panji 'Pan Ku Kie', seketika lenyaplah 'Thian Eng' lawan. Bersamaan, diri Bun Chiu telah berobah . Wajahnya menjadi biru, merah rambutnya dan sekujur tubuhnya bercahayakan sinar keemasan, sedang hawa di sekitarnya menjadi harum sekali. Chiu Shou Sian sadar kalau dirinya bukanlah tandingan lawannya yang amat sakti, bermaksud melarikan diri. Akan tetapi telah keburu diringkus oleh tali wasiat Bun Chiu, membawanya ke hadapan Goan Sie Tian Chun. Goan Sie memerintahkan Lam Khek Sian Ang memukul Chiu Shou Sian agar kembali ke bentuk aslinya. Lam Khek Sian Ang melaksanakan perintah itu, memukul Chiu Shou Sian sambil membaca mantera. Chiu Shou Sian menggoyangkan kepalanya beberapa kali, menyusul terguling tubuhnya dan memperlihatkan bentuk aslinya, yaitu berupa seekor 'Ceng Mao Say Cu' (Singa berbulu hijau). Goan Sie memberikan singa itu pada Bun Chiu untuk dijadikan tunggangannya. Keesokan harinya Thay Siang Loo-kun bersama Goan Sie dan lain-lainnya datang lagi ke muka barisan gaib Tong Thian Kauw-cu.Tong Thian ternyata telah berdiri di muka 'Tin'-nya, begitu melihat rombongan Thay Siang Loo-kun, segera bertanya .

"Kalian dapat menghancurkan 'Liang Gie Tin?- ku?". Baru selesai Tong Thian berkata, terlihat Leng Ge Sian keluar dari barisan gaib sambil menggenggam pedang. Goan Sie menitah Pouw Hian Cin-jin menghancurkan barisan gaib lawan. Setelah bertanding beberapa jurus, Leng Ge Sian lari masuk ke dalam barisan gaib. Pouw Hian memburu lawannya. Tapi baru saja dia masuk, segera disambar petir yang dilepaskan Leng Ge Sian. Pouw Hian merobah bentuk dirinya menjadi berkepala tiga dan bertangan enam. Tubuhnya dilindungi oleh untaian mutiara dan bunga teratai. Sedangkan keenam tangannya menggenggam senjata tajam. Leng Ge Sian terperanjat menyaksikan perobahan yang terjadi atas diri Pouw Hian, bermaksud melarikan diri. Namun sebelum dia sempat kabur, telah lebih dulu diringkus oleh tali wasiat yang dilontarkan Pouw Hian, membuatnya tak dapat bergerak lagi. Pouw Hian meminta tolong Malaikat Oey Cheng Lek Su membawa Leng Ge Sian ke panggung peristirahatan para Dewa. Thay Siang Loo-kun menugaskan Lam Khek Sian Ang mengembalikan ke bentuk asalnya. Sian Ang memukul tubuh Leng Ge Sian beberapa kalidengan 'Sam Po Giok Ju le' (Perhiasan Kumala Tiga Mustika). Leng Ge Sian terguling dan tampak bentuk aslinya, berwujud seekor gajah putih. Thay Siang Loo-kun menyerahkan gajah putih itu pada Pouw Hian untuk dijadikan tunggangannya. Sementara itu Tong Thian Kauw-cu telah memerintahkan Kim Kong Sian keluar dari dalam barisan gaib, untuk menghadapi lawan. Pemunculan Kim Kong Sian langsung dihadapi oleh Dewi Kwan Im. Tanpa bersusah payah, sang Dewi yang terkenal sakti dan welas asih itu, berhasil meringkus Kim Kong Sian dengan menggunakan 'Sam Po Giok Ju Ie', lalu meminta Malaikat Oey Cheng Lek Su membawanya ke bawah panggung peristirahatan para Dewa. Lam Khek Sian Ang menepuk punggung Kim Kong Sian beberapa kali, terwujudlah bentuk aslinya, seekor 'Kim Mao Kung' (Binatang 'Kung-mirip Singa-berbulu emas). Binatang ini diserahkan kepada Dewi Kwan Im untuk dijadikan tunggangannya. Pertarungan hari itu berakhir sampai di situ, Goan Sie Tian Chun menyerahkan 4 pedang pusaka milik Tong Thian Kauw-cu-yang berhasil dirampas dari barisan gaib 'Pembinasa Dewa' tempo hari-, kepada Kong Seng Cu, Chi Ching Cu, Giok Teng dan To Heng, seraya berpesan .

"Besok, setelah kami masuk ke dalam barisanTong Thian, kalian harus menerobos masuk dan menuju ke pagoda tinggi yang terdapat di barisan gaib itu. Setiba di sana lepaskanlah pedang-pedang ini. Dengan begitu kita membinasakan murid-murid Tong Thian dengan menggunakan senjata wasiatnya sendiri". Di lain pihak, Tong Thian Kauw-cu telah berpesan pada salah seorang muridnya yang bernama Teng Kong Sian .

"Selagi aku bertempur dengan kedua paman gurumu dan pemimpin agama Buddha, kau harus mengibarkan panji 6 arwah".

"Baik Sucun". Walau di mulut Teng Kong Sian berkata begitu, tapi di hati kecilnya berat untuk melaksanakan pesan itu, sebab dia tak ingin bertikai dengan Goan Sie dan lain-lainnya. Keesokan harinya, ketika kedua belah pihak sudah saling berhadapan, tiba-tiba datang Ang Kim dan Liong Kit Kiong-ciu, yang sebenarnya ditugaskan di kota Tong- koan, tapi mereka ingin ambil bagian dalam pemecahan 'Ban Sian Tin' dan hal itu mendapat perkenan dari Bu Ong. Mereka langsung menyerbu ke dalam barisan gaib. Liong Kit Kiong-ciu berhasil memukul roboh beberapa murid Tong Thian Kauw-cu. Tiba-tiba di dalam 'Tin' timbul angin kencang dan suasana pun menjadi gelap gulita. Kemudian Liong Kit Kiong-ciu bertemu dengan Kim Leng! Seng-bo yang duduk di atas kereta tujuh wewangian. Kim Leng segera turun dari kendaraannya danmenyerang! puteri Liong Kit. Berlangsunglah pertarungan sengit di antara kedua wanita sakti itu. Selang sesaat Kim Leng Seng-bo melontarkan 'See Siang Ta' (Pagoda Empat Gajah) dan berhasil memukul bahu sang puteri hingga jatuh dari kudanya. Begitu jatuh, Liong Kit Kiong-ciu langsung dibantai oleh murid-murid Tong Thian yang banyak berkumpul di situ. Kematian sang isteri telah membuat Ang Kim kalap, segera menyerang Kim Leng Seng-bo. Namun Seng-bo ternyata cukup sakti, dapat menangkis atau menghalau setiap serangan Ang Kim, bahkan kemudian berhasil menghancurkan kepala Ang Kim dengan senjata 'Liong Houw Jie Ie' (Perhiasan Naga dan Harimau). Menyaksikan kematian tragis tersebut, Thay Siang Loo- kun dan Goan Sie masuk ke dalam 'Ban Sian Tin'. Loo-kun lantas menciptakan 3 duplikat dirinya yang menempur sengit diri Kim Leng Seng-bo. Selagi seru-serunya berlangsung pertarungan itu, tiba- tiba muncul Jian Teng Tojin sambil melontarkan 'Teng Hay Chu' dan tepat mengenai kepala Kim Leng Sengbo hingga tewas seketika. Saat itu Kong Seng Cu, Chi Ching Cu, To Heng Tian Chun dan Giok Teng Cin-jin telah pula menyerbu masuk ke dalam barisan gaib, begitu masuk mereka segera melontarkan keempat pedang wasiat yang berhasildirampas tempo hari .

"Chu Sian Kiam', 'Lu Sian Kiam', 'Sian Sian Kiam' dan 'Kiat Sian Kiam'. Keempat pedang wasiat itu membabad murid-murid Tong Thian Kauw-cu. Orang-orang yang namanya tertera dalam Daftar Penganugrahan Malaikat, gugur dalam pertempuran sengit tersebut. Di pihak lain, Thay Siang Loo-kun dan Goan Sie Tian Chun bertempur dengan Tong Thian Kauw-cu. Walau agak keteter, tapi Tong Thian Kauw-cu masih dapat memaksakan diri menghadapi dua lawannya yang amat sakti. Tapi setelah lewat sesaat lagi, Tong Thian Kauw-cu benarbenar keteter, berseru .

"Teng Kong Sian, lekas bawa ke mari Panji Enam Arwah!". Namun sang murid yang kagum menyaksikan sinar-sinar terang yang dipancarkan oleh murid-murid Giok-sie, bertambah yakin kalau ilmu yang dimiliki Goan Sie dan lain-lainnya adalah murni. Sedangkan ilmu Tong Thian Kauw-cu jauh berada di bawahnya dan tidak murni lagi. Maka dia bukan saja tidak menyerahkan Panji Enam Arwah yang diminta gurunya, malah membawanya ke luar barisan gaib dan bersembunyi di bawah panggung peristirahatan para Dewa. Tanpa panji sakti itu, hilanglah sudah semangat Tong Thian Kauw-cu untuk bertempur lebih lama, bahkan keadaannya sudah seperti orang yang putus asa,penjagaan dirinya mengendor, akibatnya harus merasakan hajaran tongkat Thay Siang Loo-kun. Pukulan itu membuat Tong Thian amat marah, segera menimpuk Loo-kun dengan Martil wasiatnya, Tapi di kepala Thay Siang Loo-kun segera muncul 'Leng Long Ta' (Pagoda wasiat yang cantik), yang melindungi dirinya, sekali-gus memunahkan senjata wasiat lawan. Sementara itu Goan Sie telah pula menghajar Tong Thian dengan 'Ju Ie', yang tepat menghantam iganya. Sambil menahan sakit Tong Thian memutar Kerbau Saktinya, melarikan diri ke luar barisan gaibnya. Demikianlah, Thay Siang Loo-kun dan Goan Sie berhasil menghancurkan 'Ban Sian Tin' (Barisan gaib Laksaan/Puluhan Ribu Dewa)nya Tong Thian Kauw-cu. Thay Siang Loo-kun dan lain-lainnya kembali ke panggung peristirahatan. Mereka melihat Teng Kong Sian berdiri di sisi panggung sambil memegang 'Panji Enam Arwah'.

"Apa maksudmu ke mari?", tanya Loo-kun.

"Maaf kalau kehadiran Tee-cu telah mengganggu Jie-wie Supek", kata Teng Kong Sian sambil berlutut.

"Suhu telah membuat 'Lak Hun Kie' (Panji Enam Arwah) ini untuk membinasakan Supek berdua, juga dua pimpinan Agama Buddha, serta Bu Ong dan Kiang Chu Gie. Beliau telah mempercayai Tee-cu untuk memegang panji ini. Tapi berhubung Tee-cu melihat ilmu Supek berdua adalah bersih dan murni, saya langsung sadar, bahwa Suhu telahkena dihasut orang, hati kecil Tee-cu tidak mengizinkan Suhu mencelakai Jie-wie Supek dan lainlainnya dengan panji ini. Itu sebabnya, ketika dimintai tadi, tidak saya berikan, malah Tee-cu membawanya ke mari".

"Walau kau termasuk murid Kiat-kauw, tapi ternyata hatimu bersih, tidak seperti saudara-saudara seperguruanmu lainnya", Goan Sie Tian Chun yang bicara sekarang.

"Sesungguhnya panji ini tak ada pengaruhnya bagiku, juga bagi Loo-kun maupun kedua pemimpin agama Buddha. Tapi bagi Bu Ong dan Kiang Chu Gie mungkin akan merasakan akibatnya". Goan Sie memerintahkan murid Tong Thian mengibarkan panji itu dengan lebih dulu menghilangkan nama Bu Ong dan Kiang Chu Gie. Goan Sie dilindungi mega-mega berwarna, Thay Siang Lookun oleh Pagoda wasiat cantiknya. Sedangkan kedua pemimpin agama Buddha oleh buah-buah apel yang muncul di atas kepala mereka! Menyaksikan segalanya itu, tambah yakinlah Teng Kong Sian akan kesucian dan kesaktian mereka. Pertumpahan darah yang baru berlangsung adalah kesalahan gurunya. Dia segera melempar panji enam arwah, berlutut di hadapan Goan Sie dan lain-lainnya.

"Teng Kong Sian telah ditakdirkan menjadi pengikut agama Buddha", ujar Kiat In. Berseri wajah Teng Kong Sian, mengangkat Kiat In dan Chun Tie sebagai gurunya.

***

 Tong Thian Kauw-cu mengajak murid-muridnya, yang berhasil meloloskan diri dari serbuan Goan Sie dan lain- lainnya, beristirahat di kaki sebuah gunung. Tiba-tiba terlihat di arah Selatan memancar sinar kemilau dengan disertai mega-mega berwarna, disusul dengan tersiarnya hawa yang harum semerbak. Hong Kun Loo-cu yang merupakan guru Tong Thian Kauwcu, sekali-gus sebagai guru dari Thay Siang Loo-kun dan Goan Sie Tian Chun, mendatangi sambil memegang tongkat. Tong Thian Kauw-cu mengajak para muridnya berlutut di hadapan Hong Kun Loo-cu. Atas pertanyaan sang guru, Tong Thian menerangkan sebabnya dia membentuk "Ban Sian Tin', yang telah mengakibatkan jatuh banyak korban.

"Semua ini adalah salahmu, hingga menimbulkan pertikaian di antara saudara seperguruan sendiri", kata Hong Kun Loo-cu.

"Gila hormat dan nafsu serta tamak lazim menggoda manusia biasa. Marah adalah sifat kanak-kanak dan wanita. Kenapa kau yang telah cukup lama melatih diri masih membiarkan diri dikuasai segalanya itu? Aku tahu benar, bahwa kedua kakak seperguruanmu tidak memiliki cacad seperti itu, tapi mereka terpanggil oleh kealpaanmu yang tak berhasil mengendalikan murid-muridmu dengan baik. Seandainya aku tidak datang menengahi, pertikaian kalian akanterus berlanjut dan menimbulkan korban yang lebih besar pula!". Hong Kun Loo-cu menyuruh para murid Tong Thian kembali ke goa masing-masing untuk melanjutkan tapanya. Para murid Tong Thian pamit pada sang Guru Besar. Hong Kun Loo-cu mengajak Tong Thian ke panggung peristirahatan para Dewa. Tong Thian tak berani membantah, berjalan di muka dan Hong Kun Loo-cu mengikutinya. Setiba di panggung peristirahatan, Tong Thian meminta Na Cha mengabarkan pada Thay Siang Loo-kun dan lain- lain mengenai kedatangan sang Guru Besar. Thay Siang Loo-kun dan Goan Sie Tian Chun beserta para muridnya segera turun dari panggung, menyambut kedatangan Hong Kun Loo-cu.

"Memang sudah ditakdirkan, bahwa murid-murid beserta cucu muridku harus mengalami bencana perang, maka di antara kalian harus saling bertarung", kata sang Guru Besar.

"Se karang aku datang untuk mendamaikan, agar untuk selanjutnya kalian tidak saling bertikai lagi, juga tidak berdendam!".

"Kami selalu patuh pada perintah Sucun", kata Goan Sie dan Thay Siang Loo-kun dengan suara hampir bersamaan. Lalu mereka membimbing sang guru naik panggung peristirahatan.Di atas panggung Hong Kun Loo-cu disambut oleh kedua pemimpin agama Buddha. Hong Kun Loo-cu memuji kesaktian dan kebijaksanaan mereka. Setelah Thay Siang Loo-kun, Goan Sie Tian Chun dan ke- 12 murid berlutut sebagai penghormatan mereka terhadap Hong Kun Loo-cu, sang Guru Besar memanggil Thay Siang Loo-kun, Goan Shie dan Tong Thian agar lebih mendekat.

"Berhubung dinasti Chiu akan menggantikan kerajaan Siang (Touw) dan para Dewa ditakdirkan harus berperang, maka aku menitahkan kamu bertiga untuk menyusun Daftar Penganugrahan Malaikat, supaya dapat ditetapkan, Dewa Dewa mana yang mesti dimasukkan ke dalam golongan yang lebih tinggi atau lebih rendah. Siapa-siapa saja yang patut jadi Dewa dan siapa pula yang akan jadi Malaikat. Tapi tak sangka Tong Thian telah mendengar hasutan para muridnya, yang mengakibatkan pertempuran dahsyat. Aku mengatakan hal ini bukan lantaran aku berpihak --- Sekarang kalian harus pulang ke goa masing-masing, jangan bertikai lagi, apa lagi berdendam!". Selesai berkata, Hong Kun Loo-cu mengeluarkan Buli-buli (Cupu) dari lengan bajunya, mengeluarkan tiga butir pil dari dalam Buli-buli tersebut, memberikan pada muridnya masingmasing sebutir dan meminta mereka menelannya.

"Ini bukan obat atau pil panjang umur. Tapi bila kaliantidak memperbaiki kelakuan kalian, terus bertikai, pil ini akan segera memperlihatkan reaksinya dan dalam waktu singkat akan menewaskan kalian", kata Hong Kun Loo-cu setelah ketiga muridnya menelan pil tersebut. Tong Thian Kauw-cu, Thay Siang Loo-kun dan Goan Sie Tian Chun mengucapkan terima kasih. Mereka sadar, apa yang dilakukan sang guru adalah demi kebaikan bagi semua pihak. Hong Kun Loo-cu pamit, mengajak Tong Thian Kauw-cu meninggalkan panggung peristirahatan. Beberapa saat kemudian Chun Tie dan Kiat In juga memohon diri Terakhir Thay Siang Loo-kun bersama Goan Sie Tian Chun dan Dewa lainnya juga pada pamit pada Kiang Chu Gie.

"Dengan perpisahan kita sekali ini, sulitlah bagi kita untuk dapat saling bertemu lagi", kata Kong Seng Cu, yang seakan berat untuk berpisah. Kiang Chu Gie amat terharu mendengar ucapan itu.... 

***

 Sin Kong Pa berusaha melarikan diri setelah barisan gaib "Ban Sian Tin berhasil dihancurkan oleh para Dewa. Namun kepergiannya sempat terlihat oleh Pek Hok Tong- cu yang sedang mengiringi Goan Sie Tian Chun pulang. Pek Hok segera memberitahukan gurunya.

"Sebelumnya dia telah bersumpah di hadapanku untuktidak mengganggu Chu Gie lagi, tapi nyatanya dia telah mengulangi pula perbuatan licik dan kejinya", kata Goan Sie. Dia segera memerintahkan Malaikat Oey Cheng Lek Su menangkap Sin Kong Pa. Sang Malaikat segera melaksanakan tugasnya dengan baik. Setiba Goan Sie di bukit Kie Lin, Oey Cheng Lek Su membawa Sin Kong Pa ke hadapannya.

"Bukankah sebelumnya kau telah bersumpah, bila kau melakukan kejahatan atau menghasut orang untuk memusuhi Chu Gie, badanmu akan menyumbat sumber Laut Utara?,"

Tanya Goan Sie.

Sin Kong Pa membisu.

Goan Sie Tian Chun menyerahkan 'Po-toan' (Tikar atau alas duduk pertapa) pada Oey Cheng Lek Su, menyuruhnya membungkus tubuh Sin Kong Pa dengan benda itu, membawanya ke Laut Utara sesuai dengan sumpahnya....

Sementara itu Kiang Chu Gie beserta pengikutnya kembali ke Tong-koan untuk menghadap Bu Ong.

Setelah beristirahat beberapa hari, Kiang Chu Gie mengerahkan pasukannya untuk menyerbu Leng-tong- koan.

Yo JimLu Gak