--> -->

Pelantikan Para Malaikat Jilid 16

Jilid 16

Kong Seng Cu menyuruh Pek In Tongcu memanggil In Kiao, putera sulung Touw Ong yang kini jadi muridnya.

"Ada perintah apa Suhu memanggil Teecu?", tanya In Kiao sambil berlutut di hadapan gurunya.

"Sekarang kuanggap telah tiba waktunya bagimu turun gunung untuk membantu Bu Ong. Tapi ........", Kong Seng Cu tak meneruskan ucapannya, seakan ragu untuk mengungkapkannya.

"Tapi apa, Suhu?", tanya In Kiao segera.

"Kau adalah putera Touw Ong, relakah kau membantu Bu Ong memerangi ayahmu?".

"Saya rela Suhu, sebab belakangan ini ayah telah dipengaruhi Souw Tat Kie, hingga sering bertindak kejam, mengakibatkan tewasnya para menteri yang setia. Bahkan ibu kandung Teecu pun meninggal akibat hasutan Souw Tat Kie".

"Bagus bila kau berpendapat begitu", Kong Seng Cu mengangguk. Lalu menyuruh muridnya pergi ke lembah Chio Chu-gay. In Kiao pamit pada gurunya. Setiba di lembah yang dimaksud, In Kiao melihat sebuah jembatan batu putih. Di ujung jembatan terdapat sebuah goa yang terlihat indah. Ketika In Kiao melintasi jembatan, pintu goa mendadak terbuka sendiri. Di dalam goa terlihat sebuah meja batu, yang di atasnya terdapat 7 butir kacang yang mengepulkan asap dan memancarkan aroma wangi, tampaknya lezat sekali. In Kiao tak dapat menahan selera, melahap kacang tersebut tanpa sisa, kemudian meninggalkan goa itu.Begitu dia keluar, goa tersebut mendadak lenyap, membuatnya bengong. Tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang luar bisa pada dirinya. Semua tulangnya seakan bergerak, dalam sekejap bentuk tubuhnya berobah. Dia memiliki 6 tangan dan 3 muka. Di masing-masing wajahnya terdapat 3 mata. Perobahan itu benar-benar membuat In Kiao sangat terperanjat. Selagi In Kiao bengong, datanglah Pek In Tongcu memberitahukan, bahwa In Kiao dipanggil oleh guru mereka. Kong Seng Cu senang menyaksikan perobahan atas diri In Kiao.

"Dengan memiliki 3 muka dan 6 tangan, kau akan lebih perkasa dalam menghadapi lawan", katanya. Kemudian dia menyerahkan "Hoan Thian Eng' (Cap Wasiat), 'Liok Hun Cong (Genta/Lonceng Pencabut Arwah), juga sepa sang pedang wasiat kepada muridnya seorang ini.

"Sekarang berangkatlah kau ke See-kie untuk membantu Kiang Chu Gie", ujarnya lebih lanjut.

"Aku akan menyusul ke mudian". Sesaat sebelum In Kiao berangkat, sang guru telah berpesan.

"Kau harus setia pada Bu Ong, jangan sekali-kali menentangnya". Jangan khawatir Suhu", kata In Kiao.

"Seandainya Teecu ingkar janji, biarlah kepala Teecu dicangkul orang hingga binasa".

"Baik, aku percaya". Kong Seng Cu mengangguk. In Kiao pamit pada gurunya. Panorama di sepanjang jalan menuju ke See-kie yang begitu indah, menimbulkan kesan di hatinya, betapa mulia dan agungnya Tuhan pencita alam ini. Di gunung Pak Liong-san, In Kiao memperoleh dua pembantu . Bun Liang dan Ma San, yang masing-masing memiliki tiga mata juga. Beberapa waktu kemudian In Kiao telah pula bertemu dengan seorang Tosu yang menunggang macan, memperkenalkan dirinya bernama Sin Kong Pa, berasal dari perguruan Kun Lun. Setelah saling memperkenalkan nama masing-masing. Sin Kong Pabertanya .

"Bukankah kau Putera Mahkota kerajaan Touw?".

"Dari mana bapak tahu?", tanya In Kiao.

"Dari ketepatan ramalanku". Sin Kong Pa tersenyum luar biasa.

"Salah sekali kalau Taycu membantu fihak lawan untuk memerangi ayah sendiri. Bukankah setelah Kaisar Touw mangkat nanti, kau sebagai Putera Mahkota akan menggantikan kedudukannya!?". *Menurut aturan memang begitu, tapi kerajaan Touw telah ditakdirkan hancur akibat kelalim an ayahku dan digantikan dengan dinasti Chiu", kata In Kiao.

"Apa kau kira Kiang Chu Gie seorang yang baik?", Sin Kong Pa masih belum berputus asa untuk membujuk In Kiao.

"Kiang Chu Gie terkenal bijaksana, selalu memperhatikan bawahannya", ujar In Kiao.

"Dengan mendapat bantuannya, Bu Ong akan berhasil membangun dinasti baru".

"Itu hanya luarnya. Tapi sesungguhnya Chu Gie berhati kejam! Buktinya adikmu, In Hong, telah dibunuhnya".

"Aku tak percaya"

In Kiao menggelengkan kepala.

"Kau dapat membuktikan sendiri", kata Sin Kong Pa.

"Bila aku dusta, kau boleh memihak See-kie. Tapi bila ternyata benar apa yang kukatakan itu, kau harus membalas kematian adikmu. Aku akan mengundang orang-orang sakti untuk membantumu". Begitu selesai berkata, Sin Kong Pa segera berlalu. In Kiao melanjutkan perjalanan dengan penuh diliputi keraguan. Setiba di dekat kota See-kie, In Kiao menyuruh Bun Liang dan Ma San menyelidiki akan kebenaran ucapan Sin Kong Pa. Hasilnya benar-benar membuat panas hati In Kiao.

"Adik Taycu telah dibunuh oleh Kiang Chu Gie dengan menggunakan gambar wasiat Thay Khek", Ma San memberitahukan. Berita itu telah melenyapkan keraguan In Kiao, segera menggabungkan diri dengan Kolonel Thio San, yang kala itu mendapat tugas dari Touw Ong untuk menggempur See-kie.Keesokan harinya In Kiao memimpin pasukan, menantang pihak See- kie berperang. Kiang Chu Gie menyambut tantangan itu dengan didampingi oleh Na Cha dan lain-lainnya. Begitu melihat Chu Gie, In Kiao langsung melancarkan serangan. Namun Na Cha segera mewakili Chu Gie menghadapi In Kiao. Setelah bertempur beberapa jurus, In Kiao melontarkan 'Cap wasiat- nya, berhasil memukul jatuh Na Cha dari Roda Angin dan Apinya. Melihat Na Cha dikalahkan lawan, Oey Thian Hoa segera mengeprak 'Giok Kie Lin' (Kie Lin Kumala)-nya, menghantam In Kiao dengan sepasang gadanya. In Kiao menyambut serangan Thian Hoa. Dengan demikian Na Cha jadi lolos dari bahaya maut. Sebaliknya Oey Thian Hoa jatuh terguling dari binatang tunggangannya, akibat mendengar bunyi 'Genta Pencabut Arwah dan ditawan musuh. Oey. Hui Houw berusaha menolong anaknya, cepat memajukan 'Kerbau Sakti'-nya. Tapi sebelum tercapai maksudnya, In Kiao telah membunyikan 'Lok Hun Cong'-nya, mengakibatkan Hui Houw jatuh terguling dari kerbaunya dan diringkus musuh. Kiang Chu Gie menarik pasukannya. In Hong membawa pasukan kembali ke perkemahan. Selanjutnya membebaskan Oey Hui Houw dan anaknya, sebagai balas budi, karena dirinya pernah diselamatkan Hui Houw pada beberapa tahun yang silam. Di fihak lain, setibanya di markas, Yo Chian berkata pada Chu Gie .

"Menurut Teecu, baik Cap Wasiat yang merobohkan Na Cha, maupun 'Lonceng (Genta) Pencabut Arwah' yang di gunakan In Kiao adalah milik Kong Seng Cu. Teecu ingin menemui pertapa sakti itu di gunung Kiu Sian-san, untuk membuktikan dugaan tersebut". Kiang Chu Gie mengizinkan Yo Chian berangkat.Berkat kesaktiannya, dalam waktu singkat Yo Chian telah tiba di goa To Goan-tong di gunung Kiu Sian-san. Setelah memberi hormat pada Kong Seng Cu, Yo Chian menceritakan ulah In Kiao yang bermaksud menghancurkan fihak See-kie. Kong Seng Cu amat gusar ketika mendengar kabar itu, me nyuruh Yo Chian pulang duluan. Dia akan menyusul kemudian. 

***

 Dalam pertempuran berikutnya, Teng Kiu Kong berhasil menangkap Ma San, yang langsung membawanya ke hadapan Kiang Chu Gie. Chu Gie memerintahkan Teng Kiu Kong untuk memenggal kepala Ma San. Tapi setiap kali kepala Ma San putus terpenggal, selalu menyatu kembali dengan tubuhnya, hidup lagi. Wie Hok menggantikan pekerjaan algojo, tapi selalu sama hasilnya. Saking kewalahan menghadapi kesaktian Ma San, Chu Gie memerintahkan para pembantunya yang juga memiliki kesaktian, untuk membakar Ma San dengan menyemburkan api asli dari diri masing-masing. Ketika mendengar maksud Chu Gie, Ma San tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata.

"Maaf, aku tak dapat berdiam lebih lama di sini!". Begitu selesai berkata, Ma San menghilang dari hadapan orang banyak. Yo Chian pergi lagi, sekali ini menemui In Tiong Cu, akan meminjam 'Cermin Penglihat Siluman, untuk mengetahui, siluman apa Ma San sesungguhnya. In Tiong Cu bersedia meminjam kan cermin wasiatnya. Yo Chian mengucapkan terima kasih, pamit pada In Tiong Cu, bergegas kembali ke See-kie. Ketika bertempur melawan Ma San pada hari berikutnya, Yo Chian sempat menyorot lawannya dengan Cermin Wasiatnya, terlihat sebuah pelita yang berkelap-kelip pada cermin tersebut.Setelah mengetahui siapa Ma San sesungguhnya, Yo Chian segera meninggalkan lawannya, memberitahukan hal itu pada Chu Gie dan lain-lainnya.

"Di muka bumi hanya ada tiga pelita wasiat", kata Wie Hok pada Yo Chian.

"yaitu di Istana Pat Cheng, di istana Giok Sie dan di gunung Leng Kiu-san. Pergilah ke tiga tempat itu dan lihatlah, apa pelita di sana masih menyala!?". Yo Chian segera berangkat. Ternyata pelita wasiat milik Jian Teng Tojin di gunung Leng Kiu-san yang tidak menyala lagi. Ia menuturkan apa yang terjadi di See-kie kepada sang pertapa. Jian Teng menyatakan, akan segera berangkat ke See-kie untuk menemui Chu Gie. 

***

 Kedatangan Kong Seng Cu di See-kie disambut gembira oleh Kiang Chu Gie. Kong Seng Cu berjanji akan menghadapi muridnya besok. Sang pertapa menepati janji, begitu terang cuaca pada keesokan harinya, dia mendatangi perkemahan pasukan Touw, minta bertemu dengan In Kiao. In Kiao agak gugup ketika bertemu dengan gurunya, menyilakan Kong Seng Cu masuk ke perkemahan.

"Tidak usah", tolak Kong Seng Cu.

"Kita bicara di sini saja!".

"Ada soal apa Suhu datang ke mari?". In Kiao berpura-pura tak tahu akan maksud kedatangan gurunya.

"Sudah lupakah kau akan sumpahmu?", Kong Seng Cu balik bertanya sambil menahan geram hati.

"Sama sekali tidak Suhu", sahut In Kiao. Lalu menceritakan keterangan yang diperoleh dari Sin Kong Pa, bahwa adik kandungnya tewas oleh gambar wasiat Thay Khek. Teecu menyadari sepenuhnya, bahwa ayah Teecu tidak adil. Tapi apa salahnya adik Teecu sampai harus dibunuh oleh Kiang Chu Gie denganmenggunakan gambar wasiat!?", ujarnya lebih lanjut "Harus kau ketahui In Kiao, Sin Kong Pa amat membenci Kiang Chu Gie. Itu pula sebabnya dia menghasutmu untuk memusuhi Chu Gie", kata Kong Seng Cu.

"Mengenai kematian adikmu memang sudah ditakdirkan begitu".

"Tapi sulit dipercaya kalau In Hong sengaja masuk ke dalam perangkap gambar wasiat itu. Dia tentu dipancing masuk hingga binasa. In Kiao tetap penasaran.

"Teecu mohon janganlah Suhu melibatkan diri dalam kasus Kiang Chu Gie ini. Setelah Teecu berhasil membalas sakit hati In Hong, saya akan segera menemui Suhu untuk membicarakan soal lainnya".

"Ingat akan sumpahmu In Kiao!", Kong Seng Cu memperingati muridnya.

"Bisa celaka kau bila mengingkarinya!".

"Biarpun harus binasa saya rela, asal sebelumnya dapat membalas sakit hati In Hong pada kakek yang berhati kejam itu!". Kong Seng Cu tak lagi dapat menahan diri menghadapi muridnya yang kepala batu, menyerangnya dengan perasaan tak keruan. Tiga kali berturut-turut In Kiao hanya mengelak atau menangkis, sebagai pengungkapan rasa hormat seorang murid terhadap gurunya. Tapi ketika Kong Seng Cu masih menyerang lagi, In Kiao langsung melontarkan cap wasiat ke udara, yang membuat Kong Seng Cu terpaksa harus melarikan diri. Sebab dia sadar, bila dirinya sampai terhajar cap wasiat, akan berakibat fatal. Kong Seng Cu menemui Chu Gie.

"Muridku telah dihasut oleh Sin Kong Pa", ucapnya jengkel. Selagi Kiang Chu Gie dan lain-lainnya tengah mencari siasat untuk menghadapi senjata sakti yang dimiliki In Kiao dan Ma San, tiba-tiba datang Jian Teng Tojin. Pemunculan pertapa sakti itu telah melegakan perasaan orang banyak Jian Teng Tojin mengajarkan Chu Gie, cara bagaimana menyingkirkan Ma San.Keesokan harinya, seorang diri Kiang Chu Gie maju melawan Ma San. Setelah bertanding beberapa jurus, Kiang Chu Gie melarikan diri ke arah Tenggara. Ma San terus mengejarnya. Di situ telah menanti Jian Teng Tojin, yang langsung menimpuk Ma San dengan pelitanya. Diri Ma San tersedot ke dalam pelita tersebut. Jian Teng Tojin meminta bantuan Malaikat Oey Cheng Leksu membawa pelita itu ke tempat persemayamannya. Kini In Kiao memimpin sendiri pasukannya, bertekad menghancurkan kubu See-kie. Jian Teng meminta Chu Gie menghadapi In Kiao dengan membawa 'Sin Huang Kie' (Panji pohon Sin Kuning) dan 'Chian To Pek Lian' (Seribu bunga Teratai Putih), untuk melindungi diri dari serangan benda-benda wasiat In Kiao. Kenyataannya, diri Chu Gie tak terpengaruh oleh daya cap wasiat yang dilontarkan In Kiao, malah cap wasiat itu yang tergantung terus di udara, tak dapat turun menghantam lawan. Sekarang giliran Chu Gie melontarkan 'Ta Sin Pian'-nya, yang menghajar telak diri In Kiao, membuat sang Putera Mahkota jatuh terguling dari kudanya, melarikan diri dengan menempuh jalan bawah tanah. Sedang pembantunya, Bun Liang, yang gelang wasiatnya telah dihancurkan oleh 'Kan Kun Choan'-nya Na Cha, sebelum sempat melarikan diri, jantungnya telah ditembus oleh ujung tombak pusa ka Lo Chia (Na Cha), melayang jiwanya. 

***

 Selagi In Kiao bermurung diri akibat kekalahan yang dideri tanya, tiba- tiba seorang Tojin datang menemuinya. Pendeta yang berambut merah dan bermata tiga itu bernama Lo Soan, bergelar Yam Tiong Sian, berasal dari Hwe Liong-san (Gunung Naga Api). Kedatangannya atas undangan Sin Kong Pa untuk membantu In Kiao menghancurkan fihak See-kie.In Kiao menyambut hangat. Menjamunya. Lo Soan memimpin pasukan kerajaan Touw, tampil di me dan perang. Kiang Chu Gie maju menghadapi lawan. Lo Soan langsung menyerang Chu Gie dengan sepasang 'Hui Yam Kiam' (Pedang Asap Terbang)-nya. Chu Gie waspada, menangkis dengan pedang pula. Oey Thian Hoa dan lain-lainnya membantu Chu Gie menempur Lo Soan. Menghadapi pengeroyokan yang tak bisa dianggap enteng itu, Lo Soan segera menggerakkan tubuh, seketika dirinya jadi memiliki 3 kepala dan 6 tangan. Dengan 'Ngo Liong Lun' (Roda Lima Naga) dia berhasil memukul jatuh Thian Hoa dari 'Giok Kie Lin'-nya. Kim Cha dan Bhok Cha cepat menolongnya. Kiang Chu Gie melontarkan ruyung wasiatnya, Lo Soan ja tuh dari kudanya terkena senjata wasiat lawannya. Lo Soan cepat-cepat melarikan diri. Namun Lo Soan masih penasaran. Pada tengah malamnya dia mendatangi pintu gerbang See-kie. Dengan menggunakan senjata wasiat 'Pembuat Mega dalam jarak jauh', menembaki kota See-kie dengan api, hingga menimbulkan kebakaran hebat di berbagai tempat. Markas Kiang Chu Gie juga tak luput dari am ukan api. Belum puas akan hasil perbuatannya, Lo Soan melepaskan juga Poci wasiat, yang mengeluarkan ribuan burung gagak api, terbang melayang di atas kota, menambah besar bencana itu. Kemudian Lo Soan melepaskan pula 'Ngo Liong Lun' (Roda Lima Naga). yang menjelma menjadi lima ekor Naga Api, menyembur-nyemburkan api, membuat kota See-kie menjadi lautan api! Di mana-mana terdengar jerit tangis rakyat. Bu Ong berlutut di tangga istana, memohon pada Thian .

"Ya Tuhan, seandainya perbuatan hamba ini salah, hukumlah saya, tapi hindarkanlah rakyat See-kie dari mala-petaka dan kesengsaraan".Pada saat See-kie dicekam kepanikan, muncullah Liong Kit Kong-ciu, puteri Hao Thian Siang-tee yang dibuang ke bumi dan bermukim di Hong Hong-san. Liong Kit Kiong-ciu yang sedang melayang di angkasa dengan didampingi Pek In Tong-jie, melihat kota See-kie tengah dilanda api. Dia segera menyuruh Pek In Tong-jie menebarkan 'Jala Embun dan Es' yang dapat melingkup kobaran api. Seketika api padam. Lo Soan amat marah menyaksikan perkembangan itu, segera melontarkan 'Ngo Liong Lun' ke arah Puteri Langit. Liong Kit Kiong-ciu mengeluarkan 'Su Hay Peng' (Vas/Jambangan Empat Samudera), menyedot 'Ngo Liong Lun' ke dalamnya. Kemudian sang puteri menudingkan 'Jie Liong Kiam' (Pedang Sepasang Naga)- nya ke kuda Lo Soan, membuat kuda berikut penunggangnya jatuh terguling. Lo Soan cepat melompat bangun, bermaksud menyerang Liong Kit Kiong-ciu dengan senjata wasiat lain, tapi sang Kiongciu telah lebih dulu menudingkan 'Jie Liong Kiam'-nya, yang mengakibatkan Lo Soan terguling lagi. Melihat lawannya jauh lebih sakti, Lo Soan tak berani me nandingi lebih lama lagi, cepat-cepat melarikan diri. Puteri Liong Kit tak mengejarnya, membaca mantera, tak lama turun hujan deras, yang memadam kan sisa kebakaran di kota See-kie. Setelah itu dia turun dari burung tunggangannya, menemui Kiang Chu Gie. Chu Gie menyambut gembira kehadiran sang Puteri Langit, mengharapkannya sudi membantu Bu Ong. Dengan jasa-jasa yang didirikannya nanti, kemungkinan akan dapat menebus kesalahannya dan diperkenankan kembali ke Istana Langit! Liong Kit Kiong-ciu bersedia memenuhi harapan Chu Gie. Sebuah kamar khusus disediakan bagi Liong Kit Kiong-ciu, sebagaitempat beristirahatnya selama berada di See-kie. 

***

 Lo Soan sedang beristirahat di kaki sebuah gunung. Tibatiba dia mendengar orang bersenandung. Lo Soan cepat melompat bangun, berpaling ke asal suara, terlihat seseorang sedang mendatangi. Sedang apa Toheng di sini?", tanya orang itu begitu berada di depan Lo Soan.

"Sedang beristirahat sehabis melakukan perjalanan jauh", sahut Lo Soan. Kemudian balik bertanya.

"Siapa saudara?".

"Aku Lie Cheng, murid Jian Teng Tojin", sahut orang itu. Sesungguhnya orang yang baru datang itu ayah Na Cha. Setelah meninggalkan jabatannya, dia berguru pada Jian Teng Tojin, menanti tiba saat yang tepat untuk membantu Chiu Bu Ong. Beberapa waktu yang lalu, Jian Teng menitah Lie Cheng turun gunung untuk membantu Kiang Chu Gie memerangi Touw Ong. (Cerita tentang Lie Cheng dapat anda baca dalam KISAH NA CHA (LO CHIA' di buku 'DEWI KWAN IM SANG PENOLONG' terbitan kami juga -- - Pen.).

"Ke mana tujuan saudara?", tanya Lo Soan lagi.

"Ke See-kie untuk membantu kiang Chu Gie". Begitu mendengar nama Kiang Chu Gie, Lo Soan langsung menyerang Lie Cheng. Kenapa kau menyerangku?", Lie Cheng melompat ke sisi.

"Setiap orang yang ingin membantu Kiang Chu Gie akan kumampuskan!", Lo Soan melancarkan serangan lagi.

"Siapa kau sesungguhnya?", lagi-lagi Lie Cheng harus menghindari serangan lawan.

"Namaku Lo Soan, musuh Kiang Chu Gie!", kembali Lo Soan menyerang Lie Cheng. Lie Cheng menangkis, kemudian balas menyerang. Terjadipertarungan sengit. Tangkis-serang silih berganti, masing-masing berdaya merobohkan lawan. Beberapa jurus kemudian Lie Cheng berhasil membunuh Lo Soan dengan pagoda wasiatnya. Lie Cheng melanjutkan perjalanan ke See-kie. Kiang Chu Gie menyambut gembira kedatangan Lie Cheng, mengajaknya bersama-sama dengan orang sakti lainnya merundingkan cara menghadapi In Kiao. Lie Cheng juga gembira bertemu gurunya di markas Chu Gie.

"Dengan cara apa kita dapat menaklukkan In Kiao?", tanya Kong Sen Cu pada Jian Teng Tojin.

"Cap wasiat yang ada di tangannya amat berbahaya", sahut Jian Teng.

"Untuk menghadapinya kita harus menggunakan 'Yam Kong Kie' (Panji Sinar Api). 'Cheng Lian Po Sek Kie! (Panji Teratai Hijau), 'Kie Sian Kie' (Panji Pengumpul Dewa) dan 'Sin Huang Kie' (Panji Pohon Sin Kuning) --- Pada saat ini kita baru memiliki 'Sin Huang Kie'.".

"Di mana kita dapat meminjam Panji sakti lainnya?", tanya Kong Seng Cu pula.

"Panji Sinar Api adalah milik Loo Cu dan Panji Teratai Hijau milik Surga Barat", Jian Teng menerangkan.

"Tapi aku belum tahu siapa yang memiliki Panji Pengumpul Dewa".

"Akan kupinjam kedua Panji itu", kata Kong Seng Cu.

"Mengenai Panji Pengumpul Dewa dapat kita cari kemudian". Kong Seng Cu segera berangkat menemui Loo Cu dan Chun Tee Cin-jin di Surga Barat. Usahanya ternyata membawa hasil yang diharapkan. Kini tinggal Panji Pengumpul Dewa yang belum diperoleh. Tak seorang pun tahu siapa yang memiliki Panji sakti tersebut!?! Touw Heng Sun memperbincangkan soal panji itu dengan isterinya. Kamar Touw Heng Sun bersebelahan dengan kamar yang ditempati Liong Kit Kiong-ciu, hingga sang Puteri Langit sempat mendengar pembicaraan Heng Sun dengan isterinya.Liong Kit Kiong-ciu menemui Touw Heng Sun, memberitahukannya, bahwa Panji Pengumpul Dewa adalah milik ibunya. Hanya Lam Khek Sian Ang yang dapat meminjam panji tersebut. Touw Heng Sun segera menyampaikan hal itu pada Jian Teng Tojin, Kong Seng Cu dan lain-lainnya. Kong Seng Cu segera pergi ke Kun Lun-san menemui Lam Khek Sian Ang, meminta pertolongannya untuk meminjam Panji Pengumpul Dewa'. Lam Khek Sian Ang menyatakan kesediaannya untuk membantu, berangkatlah dia ke Yao Chi menemui Sengbo. Lam Khek Sian Ang berlutut di depan pintu istana Yao Chi yang tertutup rapat, mengemukakan maksud kedatangannya. Terdengar alunan musik merdu, pintu istana terbuka sendiri. Keluar empat pasang Dewi sambil membawa 'Panji Pengumpul Dewa', memberikan kepada Lam Khek Sian Ang. Lam Khek Sian Ang mengucapkan terima kasih, bergegas menuju ke See-kie. Bersamaan dengan sampainya Lam Khek Sian Ang, Bun Chiu Kong Hoat Tian Chun telah pula datang di See-kie. Dengan lengkapnya Panji-panji sakti itu, Jian Teng Tojin mulai mengatur siasat menghadapi In Kiao. Bun Chiu Kong Hoat Tian Chun dengan membawa Panji Te ratai Hijau dan Chi Ching Cu membawa Panji Sinar Api, pergi ke gunung Kie-san. Sedang Jian Teng dengan membawa Panji Pohon Sin Kuning milik Chu Gie, akan menjaga di tengah gunung. Bu Ong dengan membawa Panji Pengumpul Dewa menghadang In Kiao di bagian Barat. Setiba kentongan pertama, Oey Hui Houw memimpin pa sukan menyerbu perkemahan tentara Touw. In Kiao yang mendengar suara ribut-ribut di luar kemah, segera ke keluar. Empat putera Oey Hui Houw . Thian Hoa, Thian Lok, Thian Ciok danThian Siang, langsung mengurungnya. Mereka dibantu pula oleh Na Cha dan Yo Chian. In Kiao menggerakkan Genta/Lonceng Pencabut Arwah ke arah Na Cha. Na Cha segera menimpukkan 'Kim Choan' (Bata Emas), tepat mengenai Genta In Kiao. Benturan itu menimbulkan percikan sinar emas. In Kiao amat terkejut, tapi dia belum berputus asa, menimpukkan cap wasiatnya ke diri Yo Chian, tapi cap wasiat itu tak berhasil melukai Yo Chian. Menjadi ciut nyali In Kiao, segera menjauhi Na Cha dan Yo Chian, menggerakkan gentanya ke arah Oey Thian Hoa, yang mengakibatkan Thian Hoa jatuh terguling dari atas "Giok Kie Lin-nya. In Kiao menggunakan kesempatan itu menerobos keluar kepungan lawan, melarikan diri ke gunung Kie-san. Tapi begitu sampai di kaki gunung tersebut, tiba-tiba melihat Bun Chiu Tian Chun telah berdiri di depannya. In Kiao memberi hormat, bertanya.

"Kenapa Susiok menghalangi jalan majuku?".

"Hari ini tibalah saatnya kepalamu dihancurkan dengan cangkul!", sahut Bun Chiu. In Kiao sangat marah, segera menusuk Bun Chiu Tian Chun dengan tombaknya. Bun Chiu menangkis dengan pedangnya. In Kiao melontarkan cap wasiatnya. Bun Chiu mengembangkan Panji Teratai Hijaunya, yang memancarkan sinar keemasan ke angkasa dan membuat cap wasiat In Kiao seakan tergantung di angkasa, tak dapat bergerak ke sasaran. In Kiao terpaksa menarik kembali cap wasiatnya, melarikan diri ke arah Selatan. Tapi belum jauh jarak yang ditempuhnya, di depannya telah berdiriChi Ching Cu. Tanpa berkata lagi In Kiao melontarkan cap wasiatnya ke arah Chi Ching Cu. Chi Ching Cu segera membuka Panji Sinar Apinya, menggerakkannya beberapa kali, membuat cap wasiat itu tak dapat meluncur turun. In Kiao terpaksa harus menariknya kembali, lari ke tengah-tengah gunung. Tapi di situ telah dihadang oleh Jian Teng Tojin, berkata .

"Gurumu telah menyediakan 100 cangkul untuk menghancurkan kepalamu". Alangkah geramnya In Kiao mendengar ucapan itu, menimpuk Jian Teng Tojin dengan cap wasiatnya. Jian Teng segera membentangkan Panji Pohon Sin Kuning. Kiang Chu Gie yang mendampingi Jian Teng, melontarkan Ruyung Pemukul Dewa'-nya, membuat cap wasiat In Kiao terus menggantung di udara. In Kiao sangat gugup, segera menarik kembali cap wasiatnya, kabur ke Utara. Jian Teng Tojin melepaskan gledek dari telapak tangannya, di empat penjuru terdengar suara pertempuran, mengakibatkan In Kiao mempercepat lari kudanya. Namun jalan gunung dirasakan makin sempit, terpaksa In Kiao harus turun dari kudanya, melanjutkan buronnnya. Tiba-tiba terdengar suara dentuman meriam. Di bagian de pan berdiri banyak sekali pasukan See-kie, sedang Jian Teng terus mengejarnya. In Kiao bermaksud melarikan diri dengan amblas ke dalam tanah. Jian Teng merangkapkan tangan, tubuh In Kiao terjepit di antara dua bukit, hanya kepalanya saja yang masih menongol keluar. Bu Ong yang menyaksikan peristiwa itu dari atas gunung, memohon agar para orang sakti sudi membebaskan In Kiao, sebab dia tak sampai hati melihat Putera Mahkota kerajaan Touw disiksa begitu. ?Tak mungkin Tuanku, dia musuh kita!", kata Chu Gie.

"Lagi pulasegalanya sudah merupakan takdir, kita tak dapat menentang kehendak Thian". Jian Teng menyilakan Bu Ong turun gunung. Kemudian meminta Kong Seng Cu membawa naik cangkul yang memang telah disiapkan. Walau sesungguhnya hati Kong Seng Cu sangat sedih, karena mengingat hubungannya selama ini dengan In Kiao, muridnya. Tapi apa hendak dikata, semua itu sudah merupakan tak dir, maka diturutinya permintaan Jian Teng Tojin. Bu Kie yang ditugaskan melaksanakan hukuman mati tersebut. Bu Kie memacul kepala In Kiao hingga sang Putera Mahkota ini menemui ajalnya. Arwah In Kiao tidak langsung melayang ke Pesanggrahan Penganugrahan Malaikat, tapi menuju ke kota-raja untuk menghadap ayahnya, Touw Ong, yang kala itu sedang tidur nyenyak sehabis minum arak bersama Souw Tat Kie di Menara Menjangan. Roh In Kiao menyarankan pada ayahnya, agar membuang sifat buruknya selama ini. Memerintah dengan adil, mencari pembantu yang jujur lagi perkasa dan berpandangan jauh ke depan. Sebab tak lama lagi Kiang Chu Gie akan menyerang kerajaan Touw (Siang). Arwah Putera Mahkota itu pun memberitahukannya, bahwa kini dia tak lagi dapat membela ayahnya, sebab telah tewas akibat dicangkul kepalanya. Touw Ong amat terperanjat, terjaga dari tidurnya. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat dingin. Kaisar menceritakan mimpinya pada Souw Tat Kie dan Ouw Hie Moy. Sang Permaisuri bersama Ouw Hie Moy berusaha menghibur Kaisar. Selang beberapa waktu Touw Ong mulai tenang kembali. Beberapa hari kemudian Han Yong melaporkan mengenai kematian In Kiao pada Kaisar. Touw Ong amat gusar, segera memerintahkan Kolonel Ang Kim menggempur kota See-kie.

***

 Kedatangan pasukan yang dipimpin Ang Kim justru menggembirakan hati Chu Gie, sebab dengan munculnya serangan sekali ini, genaplah sudah jumlah 36 serangan yang dilancarkan musuh, seperti yang telah ditakdirkan. Hari pertama, Ang Kim memerintahkan perwira bawahannya yang bernama Kie Kong, menantang perang. Lam Kong Koa yang menyambut tantangan tersebut. Kie Kong langsung menabaskan golok bergagang panjangnya begitu bertemu lawannya. Lam Kong Koa menangkis dengan tombaknya. Dalam waktu relatif singkat pertarungan telah berlangsung lebih dari 30 jurus, masing-masing berusaha ingin menang, tapi nyatanya masih sulit diduga siapa yang akan unggul dalam perang tanding Kie Kong membaca mantera, dari kepalanya mengepul uap hitam dan dari dalam uap muncul seekor anjing siluman yang menggigit tangan Lam Kong Koa, membuat perwira See-kie itu harus melarikan diri. Keesokan harinya Pe Hian Cong ditugaskan oleh Ang Kim maju bertanding Teng Kiu Kong mendapat giliran menghadapi lawan. Begitu berhadapan, Teng Kiu Kong segera menyerang dengan golok bergagang panjangnya, yang cepat ditangkis oleh tombak Pe Hian Cong. Pertarungan itu berjalan tidak seimbang, ilmu golok Teng Kiu Kong ternyata jauh lebih tinggi, membuatnya terus memperlancar serangannya. Dalam beberapa jurus saja kepala Hian Cong tertabas putus oleh golok Kiu Kong. Ang Kim amat marah ketika mendengar pembantunya tewas, memimpin langsung pasukannya menantang Kiang Chu Gie. Kiang Chu Gie tampil menyambut tantangan lawan. Ang Kim bermaksud membacok Chu Gie dengan golok gagang panjangnya.Kie Siok Beng, perwira muda See-kie, yang merupakan putera ke 72 Chiu Bun Ong, telah mewakili Kiang Chu Gie me. nangkis serangan lawan dengan tombaknya. Terjadilah perang tanding yang sengit. Setelah berlangsung sekitar 30 jurus, Ang Kim melarikan diri sambil melemparkan sebuah Panji Putih ke tanah, mengacungkan golok ke atas. Tiba-tiba saja Panji itu berobah menia di sebuah pintu gerbang. Ang Kim lari masuk ke dalam pintu gerbang tersebut. Kie Siok Beng mengejarnya, tapi tak dapat melihat langsung lawannya. Sebaliknya Ang Kim dapat melihat jelas Siok Beng, hingga dengan mudahnya dia menamatkan riwayat musuhnya dengan tabasan goloknya. Kemudian Ang Kim menghapus ilmunya, hingga dirinya terlihat kembali. Teng Sian Giok yang hendak membalas kematian Siok Beng, langsung menyerang Ang Kim. Setelah bertanding beberapa waktu, Ang Kim bermaksud memanfaatkan ilmu menghilangnya lagi. Tapi Sian Giok cukup cerdik, dia tak memasuki pintu gerbang ajaib itu, hanya menimpukkan batu ke dalam dan berhasil melukai wajah Ang Kim, memaksanya harus melarikan diri. Akan tetapi pada keesokan harinya Ang Kim kembali menantang Teng Sian Giok berperang tanding lagi. Sebelum berangkat, Touw Heng Sun telah mengingatkan isterinya, agar jangan sekali-kali masuk ke pintu gerbang ajaib ciptaan Ang Kim. Pembicaraan mereka terdengar oleh Liong Kit Kiong-ciu, yang langsung menemui suami isteri itu, meminta penjelasan mengenai kepandaian Ang Kim. Setelah jelas persoalannya, sang Puteri Langit menemui Chu Gie, minta diberi seekor kuda untuk menangkap lawan. Kiang Chu Gie memenuhi permintaan Liong Kit Kiong-ciu. Dengan demikian, pertarungan sekali ini berlangsung antara Ang Kimdengan Puteri Langit. Setelah bertanding beberapa jurus, Ang Kim melemparkan Panji Putihnya dan begitu jauh ke tanah, berobah menjadi pintu gerbang. Liong Kit Kiong-ciu juga melemparkan sehelai Panji Putih, begitu menyentuh tanah, berobah pula menjadi pintu gerbang. Sang puteri masuk ke dalam pintu gerbang ciptaannya, lenyap dari pandangan Ang Kim. Ang Kim terperanjat menyaksikan perkembangan itu, bengong untuk beberapa saat lamanya. Sementara itu Liong Kit Kiong-ciu telah keluar dari bagian belakang pintu, menabaskan pedang ke lawannya. Walau dia seorang bidadari, tapi tenaganya sebagai wanita hanya mampu melukai bahu lawan. Ang Kim berteriak kesakitan, cepat-cepat kabur tanpa menghiraukan bendera putihnya lagi. Liong Kit Kiong-ciu mengejarnya. Untuk dapat meloloskan diri, Ang Kim melompat turun dani kudanya, kabur melalui lapisan bawah tanah, Akan tetapi sang puteri amblas pula ke dalam tanah, terus mengejarnya! Setiba di pantai Utara, Ang Kim melepas sebuah benda wasiatnya ke atas air, yang menjelma menjadi seekor ikan Paus. Ang Kim naik ke punggung ikan raksasa itu meneruskan buronnya. Puteri Liong Kit juga melemparkan sebuah benda wasiatnya ke permukaan laut, segera berobah wujud menjadi seekor Paus Suci. Liong Kit Kiong-ciu melanjutkan pengejarannya dengan naik ikan Pausnya itu, yang jauh lebih laju berenangnya dibandingkan dengan ikan ciptaan Ang Kim, sehingga jarak di antara mereka semakin menciut. Akhirnya Liong Kit Kiong-ciu melontarkan 'Tali Penangkap Naga' ke angkasa dan meminta bantuan Malaikat Oey Cheng Lek-su untukmenangkap Ang Kim dan membawanya ke Seekie ...... Kiang Chu Gie beserta para pembantunya menyaksikan Ang Kim jatuh di depan markas mereka dalam keadaan terikat. Tak lama kemudian tampak pula Liong Kit Kiong-ciu. Kiang Chu Gie mengucapkan terima kasihnya pada sang puteri. Liong Kit Kiong-ciu hanya tersenyum, kembali ke kamarnya. Kiang Chu Gie memutuskan hukuman mati bagi Ang Kim. Lam Kong Koa ditugaskan untuk melaksanakan hukuman tersebut. Akan tetapi, ketika putusan itu akan dilaksanakan, telah muncul Goat Hee Loo-jin, yang meminta Lam Kong Koa menunda dulu pelaksanaan hukuman mati tersebut. (Goat Hee Loo-jin adalah Dewa yang berkuasa menetapkan jodoh manusia --- Pen.). Goat Hee Loo-jin diajak menemui Kiang Chu Gie. Chu Gie menyambut ramah kehadiran Dewa jodoh. Menurut Goat Hee Loo-jin. Ang Kim memang berjodoh dengan Liong Kit Kiong-ciu. Bila Ang Kim telah jadi suami Puteri Langit yang dibuang ke bumi itu, akan banyak membantu pihak See-kie dalam menghancurkan pasukan Touw nanti. Kiang Chu Gie menerima saran Goat Hee Loo-jin, membatalkan hukuman mati atas diri Ang Kim. Kemudian mengutus Teng Sian Giok menemui Liong Kit Kiong-ciu untuk menyampaikan pesan Goat Hee Loo-jin.

"Aku dibuang ke dunia gara-gara pernah melakukan kesalahan di Yao Chi", kata Liong Kit Kiong-ciu dalam menanggapi saran itu.

"Aku tak ingin menambah kesalahan lagi!". Teng Sian Giok menyampaikan jawaban sang Puteri pada Chu Gie. Goat Hee Loo-jin meminta Sian Giok mengantarnya ke kamar sang Puteri Langit.

"Pembuangan Tuan Puteri ke dunia ini bukanlah sematamata ataskesalahan yang kau lakukan, tapi maksud utamanya adalah untuk terlaksananya jodohmu dengan Ang Kim. Nantinya kau pasti akan diterima kembali di tempat kediamanmu di Langit. Di samping itu, tak lama lagi pasukan yang dipimpin Kiang Chu Gie akan bergerak ke Timur dalam menumbangkan kekuasaan Touw Ong. Tuan Puteri dan Ang Kim akan memperoleh pahala dalam pertempuran tersebut. Setelah itu istana Yao Chi akan mengirim utusan untuk menjemputmu kembali". Kata Goat Hee Loo-jin. Liong Kit Kiong-ciu diam, masih ragu dia.

"Semua ini sudah menjadi kehendak Thian, biarpun kau ingin menentangnya, akan sia-sia belaka", kata Goat Hee Loo jin pula.

"Bila demikian, baiklah". Sang Puteri akhirnya menerima juga. Ang Kim dibebaskan. Dia bersama pasukannya takluk pada pihak See- kie. Pernikahan Ang Kim dan Liong Kit Kiong-ciu dilangsungkan pada tanggal 3 bulan ke tiga dalam tahun pemerintahan Touw Ong yang ke . T A M A TMENYUSUL PUNCAK HIKAYAT HONG SIN HANCURNYA SEBUAH KERAJAAN Karya . Siao Shen Sien Penyadur . Benny L. Jayasaputra * Dapatkah Chiu Bu Ong menumbangkan Touw Ong? Tindakan apa yang diambil Kiang Chu Gie yang dibantu para orang sakti dan Dewa terhadap Kaisar yang zalim? Bagaimana nasib Souw Tat Kie? Siapa saja yang memperoleh penganugrahan Malaikat? Para Dewa terlibat dalam api peperangan, saling adu kesaktian!