--> -->

Pelantikan Para Malaikat Jilid 15

Jilid 15

Takluknya Teng Kiu Kong pada Chiu Bu Ong segera diketahui oleh Han Yong Sebelumnya Han Yong memang telah mengirim orang ke percayaannya untuk mengawasi sepak terjang Teng Kiu Kong! dalam melaksanakan tugas menggempur See-kie. Han Yong bergegas berangkat ke kota-raja untuk melapor kan prihal takluknya Teng Kiu Kong pada lawan. Tia Ong (Touw Ong) amat marah, segera memerintahkan Souw Hok, Raja-muda kichiu menggempur See-kie. Souw Hok sesungguhnya telah cukup lama jengkel terhadap ulah anak perempuannya, Souw Tat Kie, yang telah banyak mencelakai orang yang tak berdosa melalui tangan Kaisar. Dia memang sedang menanti kesempatan seperti itu untuk dapat membersihkan aib atas dirinya akibat perbuatan Souw Tat Kie. Serta merta dia menerima tugas tersebut. Souw Hok mengungkapkan isi hatinya pada isteri dan anak laki- lakinya, Souw Choan Tiong, ketika mereka makan malam bersama.

"Aku sangat malu mempunyai anak perempuan seperti Souw Tat Kie yang telah menghasut Touw Ong melakukan berbagai kekejaman, hingga aku selalu disalahkan oleh para Menteri dan Raja-muda yang jujur, dicap sebagai ayah yang! tak dapat mendidik anak. Kini di See- kie muncul seorang Raja yang bijaksana, banyak Raja-muda kerajaan Siang yang tunduk dan mengabdi padanya. Dengan adanya perintah Kaisar un tuk menggempur See-kie, telah memberi peluang yang amat baik bagiku untuk mengabdi pada Bu Ong. Besok kita sekeluar a berangkat ke See-kie, aku akan bekerja sama dengan para Raja-muda lain untuk menurunkan Kaisar yang kejam itu dari Tahtanya". Isteri maupun Souw Choan Tiong menyetujui maksud Souw Hok.Keesokan harinya berangkatlah mereka dengan membawa pasukan dalam jumlah besar. Beberapa waktu kemudian tibalah Souw Hok bersama pasukannya di luar kota See-kie, mendirikan perkemahan di situ. Kehadirannya segera diketahui pihak See-kie . Souw Hok jujur sikapnya, tak pernah menjilat Kaisar, sekali pun anak perempuannya telah jadi Permaisuri Touw Ong, bahkan sebaliknya dia membenci Kaisar yang suka berbuat sewenang-wenang". Oey Hui Houw menerangkan , ketika Kiang Chi Gie menanyakan prihal Souw Hok padanya.

"Belakangan terkandung maksud baginya untuk mengabdi pada pihak lie, Dia sering mengungkapkan maksudnya itu dalam suratnya yang dikirim padaku. Kedatangannya sekarang tentu ingin melaksanakan niatnya itu". Tapi kenapa dia tak langsung menghubungi kita?"

Tanya Chu Gie lagi. Mungkin di dalam pasukannya terdapat orang-orang yang setia pada Touw Ong, hingga dia harus menanti saat yang tepat untuk melaksanakan maksudnya itu"

Oey Hui Houw mengemukakan dugaan.

Kenyataannya, biarpun telah tiga hari berkemah di luar kota See-kie, pasukan yang dipimpin Souw Hok tidak melaku kan gerakan apa-apa, Oey Hui Houw meminta izin Chu Gie untuk menemui Souw Hok Kiang Chu Gie meluluskannya.

Ketika Oey Hui Houw mendekati perkemahan Souw Hok, kedatangannya segera disambut oleh The Lun yang menunggang binatang 'Kim Cheng Bermata Api'.

Tanpa banyak bicara lagi The Lun menyerang Hui Houw dengan senjata "Ciang Mo Chu' (Alu Penakluk Iblis).

Oey Hui Houw cepat menangkisnya, kemudian balas menyerang.

cukup seru pertarungan mereka, kendati telah berlangsung 40 jurus, belum dapat diketahui siapa yang akan ungul dalam perangtanding.

Keadaan itu membuat The Lun tak sabar untuk melanjutkan pertandingan dengan menggunakan senjata biasa, segera dia menggunakan kesaktiannya Dua sinar putih keluar dari lobang hidungnya .

Oey Hui Houw yang tak menyangka dirinya di serang dengan cara itu , taksempat mengelak .

Seketika pening kepalanyaa , jatuh dari Kerbau Saktinya, terikat pasukan musuh, di giring ke perkemahan Chu Gie terperanjat ketika menerima laporan tertangkap nya Hui Houw.

Oey Thian Hoa minta izin untuk menggempur lawan.

Chu Gie meluluskan permintaannya Namun tak lama Thian Hoa juga kena ditawan The Lam Keesokan harinya Touw Heng Sun yang mau menghadapi The Lun.

The Lun agak repot menghadapi Heng Sun yang bertubuh cebol dengan senjata Alu yang pendek sulit untuk dapat menghantam musuh.

Sebaliknya Toya Touw Heng Sun sangat leluasa untuk menyerang lawan.

membuat The Lun repot! menangkis.

The Lun tak ingin bertanding lebih lama dengan cara itu segera menyemburkan sinar putih dari lobang hidungnya, menghantam Heng Sun hingga jatuh terguling Heng Sun bermaksud melarikan diri dengan ambas kedalam tanah, tapi gagal Tamyata sinar yang dilepas The Lun menembus lapisan tanah sedalam 3 inci yang mengakibatkan permukaan tanah sekeras batu karang Para prajurit segera meringkus Touw Heng Sun Tong Sian Glok amat gugup ketika melihat suaminya ditangkap lawan segera memacu kudanya.

Melihat munculnya lawan lainnya.

The Lun menarik sinarnya Tiba-tiba saja Heng Sun lenyap Teng San Giok yang sudah kepalang mau menyerang The Lun dengangolok bergagang panjangnya The Lun menangkis dengan Alu Penakluk Iblissya Setelah pertandingan becalan beberapa uns Teng Sian Giok memutar kuda, melarikan diri The Lun mengejamya Tiba-tiba San Giok memhalikkan tubuh sambil melontarkan Batu Panca Cahaya Serangannya tepat mengenai muka The Lun.

The Lun menjerit kesakitan, melarikan diri, melaporkan kekalahannya pada Souw Hok Souw Hok yang mendengar banyak orang gagah membantu pihak See- kie , bertambah yakin kalau Chiu Bu Ong sudah ditakdirkan jadi kaisar, menggantikan kedudukkan Touw Ong.

Dia segera menyuruh anak nya untuk membebaskan Hui Houw dan Oey Thian Hoa, bersiap siap untuk takluk .

Tapi supaya tidak menyolok pandang, dia mengharapkan pihak Chiu Bu Ong menyerbu perkemahannya dan menangkapnya .

Tapi sebelum niat nya terlaksana dating seorang pembantunya melaporkan ada seorang Tojin berjubah merah bermata tiga, ingin bertemu dengannya Souw Hok menyilakan masuk Setelah saling memberi hormat, Souw Hok menanyak maksud kedatangan sang Tojin.

Tojin itu bernama Lu Gak, berasal dari Ku Liong To Tau Sembilan Naga).

Beberapa waktu yang lalu Sin Kong Pa telah datang padanya, memintanya untuk membantu Souw Hok menggempur See-kie.

Souw Hok menyilakannya duduk di dalam tenda Tiba-tiba Lu Gak mendengar The Lun yang mengerang kesakitan.

"Siapa yang merintih itu?"

Tanya Lu Gak.

"Seorang pembantuku". Souw Hok menerangkan Souw Hok lalu menyuruh seorang pembantu memapah The Lun, datang menghadapnya.Lu Gak memeriksa luka The Lun, mengeluarkan sebutir pil dari kantong kulit macan tutulnya, menghancurkan dengan sedikit air, memborehi luka The Lun. Luka The Lun sembuh seketika The Lun berlutut di hadapan Lu Gak, memohon di terima sebagai murid Lu Gak menerimanya. Souw Hok menghela nafas panjang Selama beberapa hari Lu Gak berdiam di perkemahan Souw Hok, tapi belum ada tanda-tanda kalau dia akan menyerang pihak See-kie.

"Kenapa Suhu belum juga menantang musuh?? tanya The Lun suatu ketika "Aku masih menunggu kedatangan keempat muridku "sahut Lu Gak "bila mereka telah kumpul semua, takkan sulit bagi kita untuk menghancurkan lawan"

Keempat murid yang ditunguu La Gak datang pada keesokan harinya Mereka adalah Chiu Sin.

Lie Kie, Chu Thian Lin dan Yo Bun Hui Chiu Sin berwajah biru, Lie Kie bermuka kuning, Chu Thian Lin berparas merah dan Yo Bun Hui hitam kulitnya Setelah beristirahat sejenak.

Chiu Sin mulai menantang pihak See-kie Kim Cha tampil di medan laga, menyambut tantangan itu.

Chiu Sin langsung menusukkan pedangnya.

Kim Cha cepat menangkisnya.

Setelah bertanding beberapa jurus, kemudian Chiu Sin melarikan diri.

Kim Cha terus memburunya.

Tiba-tiba Chiu Sin mengeluarkan sebuah kelen?ngan (genta) wasiat dari lengan jubahnya membunyikan sebanyak 3 ke arah Kim Cha Wajah Kim Cha langsung berobah seperti warna emas, segera masuk ke dalam kota sambil memegang kepalasya yang terasa sakit benar Hari benkutnya Lie Kie yang menantang perang Bhok Cha keluar menyambut tantangan Lie Kie.

Buru bertanding beberapa jurus, Lie Kie lari meninggalkan gelanggang pertempuranBhok Cha tak membiarkan musuhnya kabur, terus dikejar.

Tiba-tiba Lie Kie membalikan tubuh sambil menggerakkan panji ke arah Bhok Cha Seketika Bhok Cha menggigil kedinginan, pucat wajahnya dan berdebar jantungnya Cepat-cepat dia kabur dengan perasaan tak keruan.

Begitu tiba di hadapan Chu Gie, dia langsung jatuh pingan.

Dari mulutnya keluar buih putih, suhu badannya tinggi .

Kiang Chu Gie amat terperanjat, segera menyuruh seorang tabib untuk merawat Bhok Cha.

Hari ke tiganya Chu Thian Lin menantang pihak See-kie.

Kiang Chu Gie menugaskan Lui Chin Cu menghadapinya.

Seperti juga dengan kedua saudara seperguruan lainnya, setelah berperang sebentar, Chu Thian Lin melarikan diri.

Lui Chin Cu mengejarnya.

Mendadak Chu Tian Lin berhenti, membalikkan tubuh serta mengarahkan sepasang pedangnya ke diri Lui Chin Cu.

Kedua sayap Chin Cu seketika patah, jatuh terbanting ke tanah, lari masuk ke dalam kota See-kie sambil melompatlompat.

"Kenapa kau jadi begini!?"

Tanya Chu Gie terperanjat.

Lui Chin Cu hanya menggelengkan kepala, kemudian jatuh pingsan.....

Hari ke empatnya Lu Gak menyuruh muridnya yang bernama Yo Bun Hui maju ke medan laga.

Liong Sie Houw mendapat tugas menandingi lawan.

Begitu saling berhadapan muka, tanpa bertanya lagi Liong Sie Houw menghujani lawannya dengan batu, yang memaksa Yo Bun Hui melarikan diri.

Sie Houw mengejarnya.

Yo Bun Hui menghentikan langkahnya, menggerakkan ruyung wasiatnya ke diri Sie Houw.

Liong Sie Houw berlompatan sambil menimpukkan batu.

tapi sekali ini tidak menjurus ke arah Bun Hui, malah ke pihak See-kie, yangmengakibatkan banyak sekali prajurit See-kie menderita luka, Kiang Chu Gie terpaksa menyuruh beberapa anak buahnya menangkap dan mengikat Sie Houw yang sudah seperti orang kurang waras itu.

Dari mulutnya keluar buih putih dan ia tak dapat bicara.

Pada hari berikutnya Lu Gak sendiri yang maju ke medan tempur, menantang Kiang Chu Gie.

Chu Gie menerima tantangan itu dengan didampingi Na Cha, Oey Thian Hoa dan Yo Chian.

Begitu melihat Chu Gie, Lu Gak yang menunggang Kim Gan To' (Onta Bermata Emas), langsung menusuk Chu Gie dengan pedangnya Kiang Chu Gie cepat menangkisnya.

Yo Chian, Oey Thian Hoa dan Na Cha tak tinggal diam.

membantu Chu Gie menyerang lawan.

Melihat dirinya dikerubuti, Lu Gak menggoyangkan tubuh.

seketika terjadi perobahan atas dirinya, tangannya jadi 6 buah dan tiga kepalanya Tangan yang satu memegang Thian Eng' (Cap Langit); tangan satunya lagi memegang "Un Ku Cong' (Genta/Kel?n?ngan Kuman penyakit).

tangan lainnya memegang "Heng Un Kie" (Panji Pembuat Kuman).

Tangan ke empat memegang "Chi Un Kiam (Pedang Penyebar Penyakit).

Dan kedua tangannya lagi memegang Pokiam (Pedang Pusaka).

Juga wajah Lu Gak terlihat semakin menakutkan, hijau dan bertaring.

Namun Chu Gie dan para pendampingnya sama sekali tak gentar menghadapi lawan seperti itu.

Yo Chian menyuruh kedua muridnya, Kim Tongcu dan Mo Tongcu menimpuk lawan de ngan "Kim Wan (Pil Emas), tepat mengenai punggung Lu Gak Oey Thian Hoa telah pula menimpuk paha Lu Gak dengan Hwe Liong Piao (Badi-badi Naga Api)nya, tepat mengenai sasaran.

Kiang Chu Gie membarengi menimpukkan Ta Sin Pian (Ruyung Pemukul Dewa)nya menghajar keras pinggang Lu Gak yangmengakibatkannya jatuh dari "Onta Mata Emas mya, kabur dengan amblas ke dalam tanah.

Lu Gak penasaran atas kekalahan yang dideritanya.

Makin diingat semakin panas hatinya.

"Akan kumusnakan seluruh penduduk See-kie!". begitu tekadnya Menjelang tengah malam, Lu Gak menyerahkan pada keempat muridnya masing masing sebuah guci yang berisi kuman penyakit menular dan juga pil pil beracun, yang harus di sebarkan ke empat penjuru kota See-kie Lu Gak sendiri akan melakukan hal yang sama di tengah kota. Kuman dan Pil beracun ini di larutkan kedalam sungai dan sumur. Bila orang menggunakan air dari tempat itu , akan segera jatuh sakit . Dalam sekejap seluruh penduduk kota See-kie jatuh sakit, temasuk Kiang Chu Gie dan Bu Ong. Hanya Lo Chia (Na Cha) yang tubuhnya tercipta dari bunga Lotus (teratai) dan Yo Chian yang sangat sakti , luput dari wabah penyakit, kedua nya jadi sibuk mempertahankan kota. Dipihak lain , The Lun telah melaporkan pada Lu Gak , bahwa sejak pagi dia tak melihat seorang penjaga pun di atas tembok kota See-kie "Tak lama lagi seluruh penduduk kota See-Kie akan mati "

Kata Lu Gak The Lun segera memimpin pasukan untuk merebut kota itu . Na Cha terperanjat menyaksikan perkambangan tersebut , tapi Yo Chian tetap tenang , mengambil sedikit tanah dan rumput , melontarkan keatas seraya berseru " ."

Diatas tembok kota yang semula kosong , tiba tiba penuh dengan prajurit yang tegap tegap siap siaga di situ .

The Lun membatalkan maksudnya semula, menarik mundur pasukannya .

Namun para prajurit ciptaan Yo Chian hanya dapat dimunculkan selama 3Sie (6Jam) setelah itu sirna semuaSelagi Yo Chian dan Na Cha bingung memikirkan cara menghadapi lawan selanjutnya , datanglah Oey Liong Cin-jin dan Giok Teng Cin-jin.

Dengan munculnya kedua petapa sakti ini , melegakan perasaan Yo Chian dan Na Cha.

GIok Teng Cin-jin meminta Yo Chun segera pergi ke goa Hoa Intong, untuk memohon pil obat pada Sam Seng Thaysu.

Sam Seng Thaysu sesungguhnya terdiri dari tiga Kaisar yang jadi panutan dari Kaisar di Langit di Bumi dan Kaiser Kaiser di antara manusia Yo Chian berlutut di hadapan ketiga Kaisar Suci itu, memberitahukan maksud kedatangannya, Kaisar Hu Si yang duduk di tengah berkata pada Kaisar Sin Nung.

"Dengan melihat kesungguhan hatinya untuk menyelamatkan Bu Ong beserta para pembantunya, tanpa menghiraukan rintangan yang dihadapinya, sepatutnya kalau kita penuhi permintaannya". Kaisar Sin Nung menyetujui saran itu, memberikan tiga butir pil pada Yo Chian. Sebutir untuk menyembuhkan Bu Ong! beserta orang-orang di istana, yang sebutir lagi untuk Kiang Chu Gie beserta para pembantunya, sipil maupun militer dan sebutir lainnya harus dilarutkan ke dalam air, lalu air larutannya dipercikkan ke seluruh See- kie dengan memakai tangkai pohon Yang-liu, agar rakyat sembuh dari penyakit menular tersebut. Selain pil tersebut, Kaisar Sin Nung memberikan pula seikat rumput pada Yo Chian dengan keterangan, bahwa rumput itu amat manjur untuk mengobati penyakit menular. Yo Chian mengucapkan terima kasih, lalu bergegas kembali ke See-kie. Selewat seminggu, Lu Gak memperkirakan, bahwa penduduk See-kie telah meninggal semua. Souw Hok amat sedih jadinya, lalu ke luar kemahnya, memandang ke kota See-kie. Tiba-tiba saja kesedihannya berobah menjadi sukacita, sebab terlihatolehnya, bukan saja panji-panji tetap tegak teratur rapi, juga para prajurit tetap bersiap siaga di atas tembok kota. Dia memberitahukan apa yang dilihatnya pada Lu Gak. Lu Gak segera menujumkan apa yang telah terjadi sesungguhnya.

"Kiranya Giok Teng Cin-jin telah menyuruh Yo Chian meminta obat di goa Hua In-tong"

Ucapnya dongkol.

Namun dia belum berputus asa untuk menghancurkan See-kie.

Menurut pendapatnya, walaupun pihak lawan tak sampai meninggal akibat penyebaran racun dan kuman, akan tetapi keadaan fisik mereka tentu masih lemah.

Dia hendak menggunakan kesempatan itu untuk menggempur lawan.

Segera memanggil keempat muridnya.

Chiu Sin diperintahkan memimpin 3000 pasukan menggempur pintu gerbang kota Timur.

Lie Kie ditugaskan menggempur pintu gerbang kota Barat dengan membawa pasukan yang sama banyaknya.

Sedang Chu Thian dan Yo Bun Hui masing-masing memimpin 3000 prajurit juga untuk menggempur pintu gerbang kota Selatan dan Utara Lie Kie menyerbu pintu gerbang Barat dengan kekuatan 3000 prajurit.

Kedatangannya disambut Na Cha.

Ganas sekali Lie Kie menyerang Na Cha dengan pedang, yang langsung ditangkisnya dengan tombak Kepandaian Lie Kie berada beberapa tingkat di bawah Na Cha.

Dan baru saja pertandingan berlangsung tiga jurus, Na Cha melontarkan "Kan Kun Choan-nya.

Lie Kie berhasil menghindari serangan gelang wasiat, tapi tak keburu menangkis tusukan tombak Na Cha.

Ujung tombak merobek dadanya, terus menembus sampai ke punggung.

MeLayanglah nyawa Lie Kie.

Di lain pihak, Chu Thian Lin yang ditugaskan menggempur pintu gerbang kota Selatan, telah disambut oleh Yo Chian.

Terjadi pertarungan sengit dan menegangkan.

Saling serang! dan menangkis.

Walau telah berlangsung belasan jurus, belum dapat diketahui siapayang akan keluar sebagai pemenang.

Tiba-tiba Chu Thian Lin melihat Giok Teng Cin-jin datang membantu Yo Chian, membuatnya gugup dan lengah, hingga kepalanya dibabat putus oleh 'Sam Kong To' (Golok Tiga Sinarnya Yo Chian.

Arwahnya segera melayang ke 'Hong Sin Tay' pasukan yang dipimpinnya kucar- kacir.

Mendengar kedua muridnya tewas, Lu Gak lantas merobah siasat perang, dia memimpin langsung penyerbuan pintu gerbang Utara kota See-kie.

Tak tampak pasukan Chiu Bu Ong berjaga-jaga di situ, hingga dengan leluasa Lu Gak masuk ke dalam kota.

Begitu dia masuk, dari angkasa tiba-tiba terdengar bentakan.

"Lekas menyerah Lu Gak!". Lu Gak mendongak, terlihat Oey Liong Cin-jin duduk di atas bangau saktinya. Lu Gak sedikitpun tak gentar, langsung menusuk Oey Liong Cin-jin dengan pedangnya. Oey Liong Cin-jin menangkis dengan pedang juga. Lu Gak tak bersedia melayani bertempur lebih lama, meninggalkan lawan dengan mengambil jalan bawah tanah. Sementara itu, Chiu Sin dengan 3000 prajurit menggempur pintu kota Timur. Tapi di tengah jalan telah dihadang oleh Yo Chian, yang langsung membackokkan senjatanya. Chiu Sin cepat menangkis dengan pedangnya. Pertandingan itu berjalan timpang. Chiu Sin hanya mampu menangkis tanpa dapat balas menyerang, ia terus terdesak. Yo Chian yang ingin cepat-cepat mengakhiri pertarungan, melepaskan 'Anjing Langit'nya menggigit leher Chiu Sin hingga terluka. Ketika Chiu Sin hendak melarikan diri. Yo Chian telah lebih dulu membabat tubuhnya hingga tewas. Kiang Chu Gie berada di markasnya ketika mendengar "Kim Ku'(Tambur Emas)nya berbunyi. Dia langsung memerintahkan Lui Chin Cu memeriksa keadaan. Lui Chin Cu segera terbang ke angkasa, terlihat olehnya Lu Gak menyerbu masuk ke dalam kota. Melaporkan hal itu pada Chu Gie. Kiang Chu Gie menitah Kim Cha, Bhok Cha dan Liong Sie Houw menghadapi Lu Gak Begitu bertemu lawan, Kim Cha segera melontarkan Teng Liong Chun. Melihat dirinya terancam senjata pusaka itu, Lu Gak mengeprak "Kim Gan To'nya. Onta Saktinya langsung melesat ke angkasa. Namun Bhok Cha tak ingin membiarkan lawannya kabur, melontarkan pedang wasiatnya. Lu Gak tak sempat mengelak, sebuah tangannya terbabat putus. Sambil menahan sakit, melarikan diri. Melihat gelagat yang tidak menguntungkan, Yo Bun Hui ikut gurunya buron. Lu Gak terus melarikan diri sampai di kaki sebuah bukit, turun dari binatang tunggangannya, mengajak muridnya beristirahat. Tiba-tiba terdengar suara orang mendehem. Lu Gak berpaling ke asal suara itu. Terlihat seorang pemuda gagah berdiri di belakangnya.

"Siapa kau?", tanya Lu Gak seraya melompat bangun saking terperanjatnya.

"Namaku Wie Hok, diperintah oleh guruku turun gunung untuk membantu See-kie", si pemuda menerangkan.

"Siapa gurumu?", tanya Lu Gak lagi.

"To Heng Tian Chun dari gunung Kim Teng-san", sahut Wie Hok.

"ketika aku tiba di daerah ini, kulihat kalian berusaha meloloskan diri dari serangan pihak See-kie --- Kini adalah tugasku untuk menangkap kalian!". Yo Bun Hui amat marah, bermaksud menyerang Wie Hok. Tapi Wie Hok telah mendahuli menghajar dengan 'Ciang Mo Chu (Alupenakluk Iblis)nya. Bun Hui berusaha mengelak, tapi tak keburu, kepalanya pecah terpukul Alu. Wie Hok bermaksud menghajar Lu Gak juga, tapi Lu Gak sempat kabur, amblas ke dalam tanah. Wie Hok melanjutkan perjalanan ke See-kie. Kedatangannya disambut hangat oleh Kiang Chu Gie Wie Hok memberitahukan maksud kedatangannya, menceritakan juga, bahwa dia berhasil membunuh Yo Bun Hui..... Pek Hok Tongcu datang ke tempat persemayaman Chi Ching Cu, menyampaikan pesan gurunya, agar Chi Ching Cu sudi membantu Kiang Chu Gie lagi. Chi Ching Cu menyanggupi permintaan itu. Pek Hok Tongcu pamit. Sepergi Pek Hok Tongcu, Chi Ching Cu segera memanggil muridnya, In Hong.

"Ada titah apa Suhu?", In Hong berlutut di hadapan gurunya. ''Sekarang sudah tiba saatnya bagimu untuk turun gunung, membantu Kiang Chu Gie mendirikan dinasti Chiu. Tapi ada satu hal yang memberatkanku. Kau anak Touw Ong, tentunya merasa berat menumbangkan kekuasaan ayah kandung sendiri". Walau benar saya anak Touw Ong, tapi Souw Tat Kie adalah musuh besar saya"

Kata In Hong.

"Seorang anak takkan dapat berbakti pada ayah yang kejam. Lagi pula telah cukup lama saya bermaksud membalas dendam pada Souw Tat Kie yang telah mengakibatkan kematian tragis bagi ibu Teecu". Chi Ching Cu puas mendengar pernyataan muridnya. Dia memberikan seperangkat pakaian wasiat pada In Hong, agar dirinya terlindung dari bahaya. Juga 'Im Yang Ceng' (Cermin Im yang).

"Cermin Im Yang ini terdiri dari dua bagian", sang guru menerangkan.

"Bila menyorot orang dengan bagian putihnya, akan membuat orang itu pingsan. Kalau menyorotnya dengan bagian merah, akanmembuatnya sadar kembali". Namun begitu Chi Ching Cu masih tetap khawatir akan kesungguhan ucapan In Hong. Maka ketika sang murid bersiap-siap berangkat, dia menyuruhnya bersumpah, bahwa akan mentaati perintahnya.

"Suhu tak usah khawatir", kata In Hong.

"Seandainya Teecu berobah pendirian, biarlah tubuh Teecu hancur jadi debu".

"Bagus", sang guru mengangguk sambil tersenyum puas. In Hong pamit pada gurunya, menuju ke kota See-kie. Di tengah jalan In Hong bertemu dengan Sin Kong Pa, yang memperkenalkan diri sebagai paman gurunya. In Hong segera berlutut di hadapan Sin Kong Pa.

"Ingin ke mana kau?", tanya Sin Kong Pa sambil membanguni In Hong.

"Suhu menyuruh Teecu membantu Bu Ong untuk menghancurkan Touw Ong", In Hong menerangkan.

"Bukankah kau anak Kaisar Touw Ong?", tanya Sin Kong Pa.

"Benar", In Hong mengangguk. Tak patut seorang anak memerangi ayahnya sendiri", kata Sin Kong Pa.

"Tapi Touw Ong lalim, hingga banyak yang berontak terhadapnya". Kata In Hong.

"Aku ingin membela pihak yang benar lagi bijaksana".

"Salah sekali pendapat Jie Taycu", ujar Sin Kong Pa.

"Dengan berbuat begitu Taycu akan dicap sebagai anak durhaka. Bayangkan, seandainya Bu Ong berhasil merebut kekuasaan dari tangan ayahmu, Kuil leluhurmu akan ikut dimusnakan. Apakah nantinya kau masih punya muka untuk bertemu dengan leluhurmu di alam baqa?". In Hong menganggap ucapan itu cukup beralasan, membuatnya ragu untuk melaksanakan maksudnya semula.

"Tapi saya telah bersumpah di hadapan Suhu untuk membantu pihak Chiu Bu Ong", katanya kemudian.

"Sumpah apa yang pernah kau ucapkan?", tanya Sin Kong Pa.

"Seandainya Teecu berobah pikiran, badan Teecu akan hancur jadidebu", In Hong menerangkan.

"Jangan takut! Bagaimana mungkin manusia akan berubah jadi debu!?". Sin Kong Pa tersenyum luar biasa.

"Sebaiknya kau turut nasehatku, agar kau tak malu terhadap leluhurmu. Kini Souw Hok telah memimpin pasukan kerajaan untuk menggempur pihak See-kie. Sebaiknya kau bergabung dengannya. Aku sendiri akan menghubungi orang-orang sakti lainnya untuk membantu kalian".

"Justeru Souw Tat Kie, anak perempuan Souw Hok, yang telah membunuh ibuku dengan cara yang amat keji", kata In Hong penuh dendam.

"Bagaimana mungkin sekarang Teecu dapat bekerja sama dengan ayah dari musuh besar saya!?".

"Tunggu sampai kau membuat jasa bagi kerajaan, barulah kau membalas kematian ibumu!".

"Tapi...", In Hong tetap ragu.

"Biar bagaimana juga, kau harus berbakti terhadap ayahmu", desak Sin Kong Pa. In Hong mempertimbangkan sejenak, kemudian memutuskan untuk menuruti saran Sin Kong Pa. Sin Kong Pa meninggalkan sang Pangeran dengan wajah berseri. In Hong merobah maksud semula, datang ke perkemahan Souw Hok, minta penjaga menyampaikan kedatangannya. Sang penjaga segera masuk, memberitahukan kedatangan In Hong pada Souw Hok. Souw Hok segera keluar menyambut sang Pangeran, menyilakannya masuk ke dalam perkemahan. Banyak soal yang mereka perbincangkan, mulai dari lenyapnya In Hong, yang ternyata ditolong oleh Chi Ching Cu, sampai tugas yang dibebankan pada Souw Hok untuk menggempur kota See-kie..... Keesokan harinya In Hong memimpin pasukan kerajaan Touw, menantang perang pihak See-kie. Mendapat tantangan itu, Oey Hui Houw berkata pada Kiang Chu Gie,bahwa dia kenal baik In Hong, yang pernah diselamatkan nyawanya pada sepuluh tahun yang silam. Dia minta diberi kesempatan untuk menemui Pangeran itu. Kiang Chu Gie meluluskan permintaannya. Oey Hui Houw keluar kota bersama keempat anaknya. Namun In Hong tak mengenalinya, tanpa banyak bicara lagi menyerang dengan tombaknya. Oey Hui Houw terpaksa menangkisnya. Keempat putera Hui Houw serentak membantu ayahnya, menyerang In Hong. Dikeroyok begitu, In Hong agak kewalahan. Maka suatu ketika, setelah berhasil mengelak dari serangan Hui Houw dan anak-anaknya, dia agak menjauhkan kuda tunggangannya, menyorot diri Hui Houw dengan bagian putih dari cermin wasiatnya. Seketika Oey Hui Houw jatuh terguling dari atas Kerbau Saktinya dan pingsan hingga dengan mudahnya ditawan oleh The Lun. Oey Thian Hoa berusaha menolong ayahnya, tapi dirinya pun ditangkap dengan cara yang sama. Ketiga anak Oey Hui Houw lainnya, yang merasa tak mampu menghadapi kesaktian lawan, terpaksa harus lari masuk ke dalam kota. Oey Hui Houw dan Oey Thian Hoa dibawa ke perkemahan lawan. In Hong yang ingin memperlihatkan kehebatannya pada anak buah Souw Hok, memerintahkan membawa kedua tawanan yang masih pingsan itu ke hadapannya. Kemudian menyorot mereka dengan bagian merah dari cerminnya. Seketika Hui Houw dan Thian Hoa siuman dari pingsannya.

"Bukankah engkau Jie Taycu?", tanya Hui Houw begitu siuman, agak dongkol dia.

"Bagaimana kau tahu?", In Hong balik bertanya.

"Aku takkan pernah dapat melupakan Taycu yang pernah kubantumeloloskan diri dari istana".

"Jadi kau Jenderal Oey yang pernah menolongku?", In Hong terperanjat, segera beranjak dari tempat duduknya, membuka tali pengikat tubuh Hui Houw dan anaknya. Oey Hui Houw menuturkan apa yang dialaminya. In Hong membebaskan ayah dan anak itu seraya memperingatkan.

"Dengan kubebaskan Jenderal sekarang ini, berarti telah kubalas budimu tempo hari. Lain waktu hendaknya Jenderal berlaku hati-hati, bila sampai tertawan lagi, aku takkan dapat mengampunimu lagi!". Hui Houw mengucapkan terima kasih, mengajak anaknya meninggalkan kubu lawan. The Lun memprotes kebijaksanaan In Hong itu.

"Nanti aku akan dapat menawan mereka lagi". Kata sang Pangeran. Hari berikutnya In Hong menantang Kiang Chu Gie. Kiang Chu Gie menyambut tantangan tersebut dengan naik "See Put Siang'nya. Didampingi oleh Yo Chian dan Teng Sian Giok. Begitu berhadapan dengan Chu Gie, In Hong langsung menyerang dengan tombaknya. Chu Gie segera menangkis dengan pedangnya. Setelah bertanding beberapa jurus, Kiang Chu Gie melontarkan "Ta Sin Pian' (Ruyung Pemukul Dewa)nya. In Hong yang mengenakan pakaian wasiat, biar kena dihajar ruyung wasiat, tidak sampai melukainya. Dia mengeluarkan 'Im Yang Ceng- nya. Yo Chian yang mengetahui kehebatan cermin itu, segera memperingatkan Chu Gie.

"Lekas mundur Susiok, dia memegang cermin wasiat!". Chu Gie segera mengundurkan diri. Teng Sian Giok maju, menyerang In Hong dengan 'Ngo Kong Cio'nya. In Hong yang sedang memusatkan perhatiannya ke diri Chu Gie, tak sempat mengelak atau menghalau batu yang dilontarkan Sian Giok,mengakibatkan wajahnya matang biru oleh hajaran batu, membuatnya terpaksa harus melarikan diri. Kiang Chu Gie menarik pasukannya kembali ke dalam kota.

"Teecu yakin cermin wasiat yang dipergunakan In Hong adalah milik Chi Supek", kata Yo Chian pada Chu Gie setiba mereka di markas.

"Untuk membuktikan kebenaran dugaan saya, Teecu akan pergi ke Tay Hoa-san menemui Chi Supek". Kiang Chu Gie menyetujui usul itu. Yo Chian menemui Chi Ching Cu di goa In Siao-tong di gunung Tay Hoa-san, berpura-pura ingin meminjam cermin Im Yang "Untuk apa kau meminjam cermin itu?", tanya Chi Ching Cu. Baru pada saat itu Yo Chian berterus-terang mengenai ulah In Hong yang memerangi pihak See-kie dengan menggunakan 'Im Yang Ceng'.

"Benar-benar durhaka anak itu, disuruh membantu Seekie, malah memusuhinya", gumam Chi Ching Cu. Chi Ching Cu menyuruh Yo Chian pulang duluan, dia akan menyusul kemudian. Sehari setelah Yo Chian kembali, Chi Ching Cu tiba di markas Chu Gie. Kiang Chu Gie menyambut gembira kedatangan pertapa sakti itu. Keesokan harinya Chi Ching Cu tampil di medan tempur menghadapi In Hong. In Hong amat terperanjat ketika melihat gurunya.

"Suhu", sapanya dengan suara agak gemetar.

"Sudah lupakah kau pada sumpahmu sendiri, In Hong?", tanya Chi Ching Cu.

"Ingat Suhu", sahut In Hong.

"Tapi saya adalah putera Touw Ong. Bagaimana mungkin Teecu membantu Chiu Bu Ong untuk memerangi ayah sendiri!? Teecu yakin, Suhu tentu tak ingin Teecu menjadi anak durhaka".

"Sudah menjadi kehendak Thian, bahwa Touw Ong akan musna dan digantikan oleh Chiu Bu Ong. Bila kau membantu Bu Ong, keluargamutakkan habis tersapu dari muka bumi ini. Ingatlah akan sumpahmu In Hong, robahlah pendirian itu, agar dirimu tidak ikut hancur!".

"Tidak Suhu", In Hong tetap pada pendiriannya.

"Izinkanlah saya menghancurkan See-kie, setelah itu Teecu akan meminta maaf pada Suhu". Chi Ching Cu amat gusar, menyerang muridnya dengan pedangnya. Tiga kali In Hong hanya mengelaki serangan gurunya, kemudian berkata.

"Teecu rasa cukup sudah menjalani kewajiban sebagai murid dengan tak membalas serangan Suhu. Bila Suhu masih juga menyerang, Teecu terpaksa akan membalasnya".

"Murid murtad!", Chi Ching Cu tambah marah, kembali melancarkan serangan. In Hong membuktikan ucapannya, dia mulai balas menyerang. Terjadilah perang tanding sengit antara guru dan murid, saling menyerang dan menangkis. Setelah bertempur beberapa saat, In Hong mengeluarkan cermin Im Yang. Chi Ching Cu terpaksa harus melarikan diri, bila tidak, dirinya akan celaka oleh cermin miliknya yang telah disalahgunakan oleh muridnya. In Hong menarik pasukannya. Memperbincangkan kehadiran gurunya pada Souw Hok, juga taktik yang akan digunakan selanjutnya dalam menggempur See-kie. Tiba-tiba masuk seorang prajurit melaporkan ada seorang Tojin bernama Ma Goan ingin bertemu dengan In Hong. In Hong segera menyambutnya dengan wajah berseri, menyilakannya masuk ke dalam kemah dan menjamunya. Kedatangan Ma Goan yang bergelar It Kie Sian ini, ternyata atas permintaan Sin Kong Pa untuk membantu In Hong. Senang benar perasaan In Hong. Keesokannya Ma Goan maju ke medan perang, menantang pihak See-kie. Kiang Chu Gie yang menyambut langsung tantangan tersebut, didampingi para pembantunya yang perkasa. Begitu berhadapan, Ma Goan menyerang Chu Gie dengan pedangnya. Kiang Chu Gie menangkis dengan pedang pula. Setelah pertarungan berlangsung belasan jurus, Chu Gie melontarkan 'Ta Sin Pian' ke arah Ma Goan. Tiba-tiba dari tengkuk Ma Goan tersembul tangan raksasa, menangkap 'Ruyung Pemukul Dewa' Chu Gie, memasukkannya ke dalam kantong kulit macan tutul. Kiang Chu Gie amat terperanjat menyaksikan perkembangan itu. Bu Yong, salah seorang pembantu Chu Gie yang tugas pokoknya mengangkut ransum, tanpa mendapat perintah langsung menyerang Ma Goan. Tangan raksasa Ma Goan yang semula siap mencengkeram Chu Gie, jadi berbalik menangkap Bu Yong, membantingnya ke tanah, lalu membeset kedua kakinya, hingga tubuh Bu Yong terbelah dua, diambil jantungnya dan dimakannya lahap sekali. Kiang Chu Gie dan para pembantunya ngeri melihatnya, cepat-cepat lari masuk ke dalam kota. Selagi Chu Gie kebingungan menghadapi Ma Goan tiba-tiba datang Bun Chiu Kong Hoat Tian Chun, yang mengajarkan siasat pada Chu Gie. Legalah perasaan Chu Gie setelah mendapat petunjuk dari pertapa sakti itu. Tengah hari, Chu Gie seorang diri mendekati perkemahan lawan dengan menunggang 'See Put Siang', seakan sedang mengamati posisi lawan. Seorang prajurit melaporkan munculnya Chu Gie pada pimpinannya. Ma Goan yang sedang berbincang-bincang dengan Souw Hok dan In Hong, menjadi geram mendengar laporan itu, langsung keluar kemah,memburu Kiang Chu Gie.

"Jangan kabur kau!"

Hardiknya setelah dekat.

Chu Gie tetap duduk tenang di atas "See Put Siang'nya, bahkan memandang Ma Goan sambil senyum.

Sikap Chu Gie membuat Ma Goan semakin dongkol, dianggapnya pemimpin pasukan See-kie itu memandang remeh terhadapnya.

Tanpa banyak bicara lagi, dia langsung menyerang Chu Gie dengan pedangnya.

Chu Gie menangkis dengan pedang pula, kemudian balas menyerang.

Tapi setelah bertanding beberapa jurus, dia melarikan diri.

Ma Goan mengejarnya.

Setelah menikung, mendadak Kiang Chu Gie menghilang.

Beberapa saat Ma Goan mencarinya, tapi tak berhasil menemukannya, hingga akhirnya dia beristirahat di kaki bukit.

Tiba-tiba terdengar dentuman meriam yang berasal dari atas bukit.

Ma Goan mendongak, terlihat olehnya Kiang Chu Gie sedang menemani Bu Ong makan minum.

Sedang para pengawal dengan sikap sinis mencemo'ohkan Ma Goan.

Ma Goan tambah panas hatinya, segera memburu ke atas.

Namun ketika Ma Goan sudah dekat, mendadak Bu Ong dan lain- lainnya lenyap.

Ma Goan lantas turun lagi ke bawah dengan hati kesal.

Setibanya di kaki bukit, kembali terlihat Chu Gie sedang menemani Rajanya makan di atas bukit.

Ma Goan memburu ke atas lagi, tapi orang yang diburunya tiba-tiba lenyap pula.

Demikianlah dia naik turun bukit sebanyak 10 kali, dari mulai senja sampai malam, hingga terang cuaca kembali.

Akibatnya dia jadi sangat letih dan lapar.

Tiba-tiba dia melihat seorang wanita jalan mendatangi.

Ma Goan segera menangkap wanita itu, melucuti pakaiannya,menusuk dadanya dengan pedang.

Darah muncrat, langsung direguknya.

Kemudian merogohkan tangannya ke dalam dada wanita itu, mencari jantungnya untuk dimakan.

Tapi tak berhasil menemukan jantung yang diinginkannya.

"Aneh!?', gumamnya.

"bagaimana mungkin orang bisa hidup tanpa jantung?". Ia tercenung heran. Tiba-tiba muncul Bun Chiu Kong Hoat Tian Chun seraya menghardiknya.

"Lekas berlutut manusia keji! Saat ajalmu telah tiba!". Ma Goan bermaksud melompat bangun untuk melakukan serangan, tapi dia merasakan sekujur tubuhnya lemah, tak lagi memiliki tenaga. Diliputi rasa takut akan kematiannya, la segera berlutut sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan memegang 'Ta Sin Pian' yang berhasil direbutnya dari Kiang Ch? Gie. Memohon Bun Ch?u Kong Ho?t Tian Chun sudi mengampuninya.

"Sudah terlambat". Kata Bun Chiu Tian Chun sambil mengangkat pedang, bersiap memeganggal kepala Ma Goan. Tiba-tiba terdengar suara mencegah.

"Sudilah Toheng mengampuninya". Bun Chiu Tian Chun berpaling, ternyata yang mencegahnya tadi, adalah Chun Tee Cin-jin.

"Nama Ma Goan tidak tercantum dalam Daftar Penganugrahan Malaikat", Chun Tee Cin-jin menerangkan.

"'Di samping itu dia memang telah ditakdirkan untuk menjadi pengikut Agama Buddha. Sudilah Toheng menyerahkannya padaku, agar keburukan sifatnya dapat dibersihkan oleh ajaran-ajaran Sang Buddha". Bun Chiu Kong Hoat Tian Chun meluluskan permintaan orang suci dari wilayah Barat itu. Sementara itu Chun Tee Cin-jin lalu berkata pada Ma Goan.

"Kau memang sudah ditakdirkan untuk menjadi pengikut Buddha, maka sebaiknya kau ikut aku ke Barat, agar dapat menghayati Tiga Seni' ditepi telaga 'Delapan Kebajikan' dan mengecap kebahagiaan di 'Hutan Tujuh Pusaka'.". Ma Goan mengangguk. Chun Tee Cin-jin mengambil Ruyung Pemukul Dewa milik Chu Gie yang berhasil direbut Ma Goan, menyerahkannya pada Bun Chiu untuk dikembalikan pada pemiliknya. Kemudian mengajak Ma Goan meninggalkan tempat itu. Tak kunjung kembalinya Ma Goan ke perkemahan pihak Touw, membuat In Hong amat gelisah. Hari berikutnya dia memimpin pasukan, menantang pihak See-kie berperang tanding. Kiang Chu Gie keluar dari pintu gerbang dengan menunggang 'See Put Siang'nya. In Hong langsung menyerang dengan menusukkan tombaknya, begitu lawannya muncul. Kiang Chu Gie melawannya dengan bersenjatakan pedang. Tapi setelah bertanding beberapa jurus, Chu Gie melarikan diri. In Hong mengejarnya. Chi Ching Cu yang berada di angkasa, membuka 'Thay Khek To' (Gambar/Denah Thay Khek), segera muncul sebuah Kim Kiauw' (Jembatan Emas) di depan Chu Gie. Kiang Chu Gie naik ke jembatan emas itu. Ketika In Hong tiba di tepi jembatan, Chi Ching Cu menggerakkan gambar Thay Kheknya, yang menimbulkan tiupan angin yang cukup keras. Tiba-tiba saja In Hong kehilangan jejak Kiang Chu Gie. Ketika In Hong hendak memutar kuda meninggalkan tempat itu, telah terlambat baginya. Dirinya telah berada di dalam gambar wasiat itu, yang membuatnya melihat segala apa yang ada dalam pikirannya. Bila dia menganggap dirinya masuk ke dalam perangkap lawan, langsung muncul prajurit yang menyerangnya, membuatnya harus menghadapimereka dengan sekuat tenaga. Begitu timbul keinginannya untuk menangkap Chu Gie, sang Perdana Menteri See-kie itu mendadak muncul di hadapannya. Ketika ingat akan kota-raja, dirinya seperti memasuki istana Kaisar, bertemu dengan Oey. Nio Nio dan Yo Nio Nio. Setibanya di ujung gambar wasiat tersebut, dia bertemu dengan arwah ibunya, yang menyesalkannya.

"Engkau telah mengingkari sumpah pada gurumu, tubuhmu akan lebur jadi debu!".

"Tolonglah saya ibu!", In Hong memohon. Namun Kiang Honghouw telah lenyap dari hadapannya. Tiba-tiba In Hong mendengar suara gurunya.

"Masih kenalkah kau akan suaraku, In Hong?".

"Kenal Suhu", sahut In Hong.

"Ampunilah saya Suhu, Teecu berjanji akan membantu Bu Ong dengan sepenuh tenaga".

"Sudah kasip! Siapakah yang telah membuatmu berobah pikiran?", suara Chi Ching Cu lagi.

"Sin Kong Pa", In Hong memberitahu.

"Ampunilah saya Suhu". Walau merasa berat, namun Chi Ching Cu mengeraskan hati menggulung 'Thay Khek To'nya. In Hong bersama kudanya lebur menjadi debu! Chi Ching Cu mengucurkan air mata setelah muridnya tiada, biar bagaimana hubungan antara guru dan murid membekas cukup dalam. Kemudian dia pamit pada Kiang Chu Gie. Di lain pihak. Souw Hok amat terperanjat mendengar kematian In Hong. Segera mengirim kurir untuk menyampaikan berita duka-cita itu pada Kaisar. Tapi di hati kecilnya ingin cepat-cepat takluk pada pihak See-kie, hanya saja dia belum dapat menemukan cara terbaik untuk itu. Kiang Chu Gie seakan dapat menyelami hasrat Souw Hok. Tengah malamnya dia memerintahkan para pembantunya memimpin sejumlah pasukan menyerbu perkemahan musuh. Souw Hok dan anaknya sama sekali tidak melakukan perlawanan,membiarkan diri mereka ditawan. Sebaliknya The Lun berusaha melakukan perlawanan, tapi tak lama kemudian dirinya pun kena diringkus. Dengan ditangkapnya para pemimpin mereka, sebagian besar pasukan kerajaan Touw menyerah atau tertawan. Hanya sebagian kecil saja yang berhasil meloloskan diri. Souw Hok bersama anak buahnya digiring ke dalam kota See-kie. Kiang Chu Gie bukan saja memerintahkan untuk membebaskan Souw Hok dan anaknya, juga The Lun. Memperlakukan mereka baik sekali. Setelah berbincang-bincang sejenak, Chu Gie mengharapkan mereka bersedia membantu Bu Ong. Tawaran Chu Gie langsung diterima oleh Souw Hok dan lain-lainnya. Berita takluknya Souw Hok disampaikan pada Touw Ong. Kaisar kaget campur sedih ketika mendengar kabar itu. Dia tak menyangka kalau mertuanya bersedia mengabdi pada pihak See-kie. Segera memanggil Souw Tat Kie. Souw Tat Kie pun telah mendengar kabar itu dari seorang pembantu kepercayaannya. Maka begitu berada di hadapan Kaisar, dia langsung berlutut sambil menangis.

"Saya benarbenar amat sedih mendengar kabar, bahwa ayah saya telah mengabdi pada Bu Ong. Itu merupakan suatu penghianatan terhadap kerajaan. Dengan demikian ayah beserta seluruh anggota keluarga harus dihukum mati. Saya sebagai salah seorang anggota keluarga Souw, rela dipenggal untuk menebus sebagian dosa dari ayah saya".

"Jangan menangis manis". Kaisar membangunkan Permaisurinya.

"Bila kau terus bersedih, akan dapat merusak kecantikanmu nanti. Aku memanggilmu bukan untuk memenggal kepalamu, tapi ingin menegaskan, bahwa perbuatan ayah dan saudaramu sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan dirimu. Kau tetap merupakan Permaisuriku!".

"Oh, terima kasih Baginda. Sampai matipun saya takkan dapatmelupakan budi Baginda". Souw Tat Kie kembali berlutut, memeluk kaki Kaisar....