--> -->

Pelantikan Para Malaikat Jilid 12

Jilid 12

Jian Teng Tojin memimpin para Dewa dan pendeta sakti ke depan 'Hong Hou Tin'. Namun saat itu dia menemui kesulitan untuk mencari orang yang tepat sebagai pembuka jalan menggempur barisan gaib tersebut. Sementara itu Tong Choan terus menantang pihak See-kie dari depan 'Tin'-nya. Selagi Jian Teng Tojin dalam kesulitan itulah, telah datang Oey Hui Houw yang mengajak Phuy bersaudara menghadap Kiang Chu Gie. Jian Teng Tojin segera menitah Phuy Pek untuk memukul barisan gaib lawan. Phuy Pek di samping besar tenaganya, tinggi pula kepandaian silatnya. Dia merupakan perwira yang dapat diandalkan di medan perang. Tapi sekarang dia harus berhadapan dengan Tong Choan yang memiliki ilmu hitam, yang selalu mencelakai lawannya melalui barisan gaibnya. Dia menantang dengan tujuan memancing lawan masuk ke dalam 'Tin'-nya. Itu sebabnya, setelah bertanding sejenak, dia segera melarikan diri ke dalam barisan gaibnya. Phuy Pek memburunya. Terlihat Tong Choan turun dari Menjangan tunggangannya, cepat melompat ke atas panggung, menggerak-gerakkan panji hitam. Segera meluncur ratusan pisau yang menyerang Phuy Pek. Phuy Pek tak berdaya menangkis serangan senjata tajam yang serentak datangnya, dalam sekejap tubuhnya telah tersayat lumat, yang tinggal hanyalah tulang-belulangnya. Arwahnya melayang ke Pesanggrahan Penganugrahan Malaikat. Poh Chian membimbingnya masuk ke dalam Pesanggrahan.Tong Choan menyuruh prajurit kerajaan Touw menyingkirkan tulang- belulang Phuy Pek ke luar barisan gaibnya.

"Siapa lagi yang ingin coba-coba masuk ke dalam barisan gaibku?", tantangnya angkuh. Sekali ini Jian Teng Tojin meminta bantuan Kwan Im Taysu (Dewi Kwan Im) untuk menghancurkan 'Hong Hou Tin' musuh sambil menyerahkan Mutiara Pusaka pada sang Dewi. Dewi Kwan Im menghampiri barisan gaib lawan. Tong Choan menyabetkan pedang ke diri sang Dewi. Namun Dewi Kwan Im yang terkenal sakti itu, mudah saja mematahkan serangan lawan. Setelah menyerang beberapa kali tanpa hasil, Tong Choan segera melarikan diri ke dalam barisan gaibnya. Dewi Kwan Im (Avalokites'vara) mengejar masuk. Tong Choan naik ke atas panggung, menggerak-gerakkan panji hitamnya, yang menimbulkan gulungan asap hitam, disertai angin kencang yang meluncurkan ratusan pisau. Tapi berkat kesaktian sang Dewi, yang membawanya juga "Teng Hong Chu' sebagai penangkal ilmu hitam lawan, Dewi Kwan Im tetap berdiri tenang di tempatnya. Kemudian dia mengangkat jambang (vas), seketika asap hitam berikut diri Tong Choan tersedot ke dalam jambang. Dewi Kwan Im menutup rapat mulut jambang. Dalam tempo tujuh hari tujuh malam, tubuh Tong Choan akan hancurlebur menjadi cairan darah! Arwah Tong Choan melayang ke 'Hong Sin Tay'. Kehadirannya disambut oleh Malaikat Cheng Hok Sin Poh Chian, yang segera mengajaknya masuk ke dalam Pesanggrahan. Menyaksikan temannya tewas di tangan Dewi Kwan Im, Wan Kak yang memimpin barisan gaib 'Han Peng Tin', langsung menantang Jian Teng Tojin berperang tanding.Jian Teng menitah Sie Ok Houw, murid To Heng Tian Chun, untuk menggempur barisan gaib ke 4 dari lawan. Sie Ok Houw maju seraya menghunus pedang. Wan Kak langsung menusuk Ok Houw dengan pedangnya. Sie Ok Houw menangkis, balas melancarkan serangan. Terjadilah pertempuran cukup seru dan setelah berlangsung belasan jurus, tiba- tiba Wan Kak melarikan diri ke dalam barisan gaibnya. Sie Ok Houw terus mengejarnya. Seperti juga teman-teman lainnya, begitu berada di dalam barisan gaibnya, Wan Kak segera melompat ke atas panggung, menggerak- gerakkan panji putihnya. Dari atas turun pecah anpecahan es, mirip senjata tajam dan dari bawah bermunculan pula serpih-serpih es yang menyerupai tombak, hingga tubuh Sie Ok Houw hancur tertusuk dan tercincang. Setelah berhasil menamatkan riwayat Ok Houw, Wan Kak keluar dari barisan gaibnya, menantang Jian Teng Tojin lagi. Jian Teng meminta bantuan Pouw Hian Cin-jin menghancurkan barisan gaib lawan. Pouw Hian Cin-jin maju, Wan Kak langsung menyerangnya, kembali terjadi pertarungan seru. Setelah bertanding beberapa saat, Wan Kak berpura-pura kewalahan, lari masuk ke dalam barisan gaibnya. Pouw Hian mengejar masuk. Wan Kak telah berada di atas panggung sambil menggerakgerakkan panji. Pouw Hian Cin-jin menudingkan jari telunjuk ke atas, dari ujung jarinya memancarkan cahaya putih mirip benang panjang, di ujungnya tersembur mega berwarna-warni yang tingginya sampai beberapa kaki. Di atas mega tersebut terdapat sebuah lampu emas bertaburkan mutiara, yang melindungi diri sang Cin-jin dari serpih-serpih es yang lancip tajam, sekali gus melumerkannya. Dengan demikian hancurlahbarisan gaib yang dikendalikan Wan Kak. Wan Kak bermaksud melarikan diri, tapi kepalanya telah keburu dipisahkan dari tubuhnya oleh pedang terbang Pouw Hian Cin-jin. Arwah Wan Kak menuju ke 'Hong Sin Tay' (Pesanggrahan Penganugrahan Malaikat). Menyaksikan temannya tewas, Kim Kong Sengbo kelur dari barisan gaibnya dengan menunggang Macan tutul, sepasang tangannya masing-masing memegang pedang.

"Siapa yang berani menggempur 'Kim Kong Tin'-ku?", serunya begitu muncul. Jian Teng Tojin memperhatikan orang di sekitarnya, tapi dia tak melihat orang yang tepat sebagai pembuka jalan dalam menggempur barisan gaib lawan. Tiba-tiba dari angkasa turun Siauw Chin, salah seorang murid dari istana Giok Sie, yang diperintahkan oleh gurunya untuk membantu pihak See-kie melenyapkan barisan gaib lawan. Baru saja Siauw Chin menginjakkan kaki di bumi, langsung diserang dengan pedang oleh Kim Kong Sengbo. Siauw Chin segera menangkisnya. Setelah bertanding beberapa jurus, Kim Kong Sengbo masuk ke dalam barisan gaibnya. Siauw Chin mengejar musuhnya. Kim Kong Sengbo melepaskan cahaya emas, menyorot diri Siauw Chin hingga tewas. Jian Teng Tojin meminta bantuan Kong Seng Cu menghancurkan barisan gaib lawan. Begitu Kong Seng Cu maju, tak ayal lagi Kim Kong Sengbo menyerang dengan sepasang pedangnya. Kong Seng Cu menyambut serangan lawan, kemudian balas menyerang. Kim Kong Sengbo lari masuk ke dalam barisan gaibnya, bersiasatmemancing lawan. Kong Seng Cu mengejarnya dengan lebih dulu melindungi kepala dan tubuhnya dengan jubah Pat-kwa wasiat. Terlihat olehnya Kim Kong Sengbo naik ke panggung, menarik tali yang diikatkan pada 21 tiang, nampak cermin-cermin yang dipasang di masing-masing tiang. Kim Kong Sengbo melepaskan suara petir, cermin-cermin itu berputar- putar serta memancarkan cahaya emas ke arah diri Kong Seng Cu. Kong Seng Cu yang mengenakan jubah Pat-kwa wasiat, terhindar dari tembakan-tembakan cahaya emas cermin. Diam-diam dia melontarkan 'Poan Thian Eng' (Cap Membalikkan Langit) ke atas panggung, berhasil menghancurkan 19 cermin wasiat musuh. Kim Kong Sengbo amat terperanjat, juga penasaran, bermaksud memanfaatkan sisa dua cermin yang masih utuh, melancarkan 'tembakan-tembakan sinar emas'-nya. Tapi cap wasiat Kong Seng Cu telah lebih dulu menghantam kepalanya hingga remuk, darah campur otak mengalir ke luar. Sun Liang amat marah ketika melihat sahabatnya tewas, se gera keluar dari dalam barisan gaib dengan menunggang Menjangan, menantang bertanding. Jian Teng Tojin meminta bantuan Thay Khek Cin-jin membereskan lawan. Thay Khek Cin-jin tampil ke muka, segera terjadi pertempuran sengit. Tapi beberapa jurus kemudian Sun Liang lari ma suk ke dalam barisan gaibnya. Thay Khek Cin-jin menuding ke tanah, segera muncul dua tangkai teratai biru. Dengan berdiri di atas kedua teratai itu, dia memasuki barisan gaib lawan. Sun Liang segera menebarkan segantang pasir hitam ke arahnya. Thay Khek Cin-jin menuding ke atas, dari ujung jarinya ke luar sinarputih yang tingginya lebih kurang dua kaki, dengan mega berwarna- warni di atasnya. Semua pasir hitam lenyap begitu membentur mega tersebut. Saking penasaran, Sun Liang menimpuk Thay Khek Cinjin dengan gantang wadah pasir hitam, tapi gantang itu ikut lenyap juga. Terperanjat sekali Sun Liang melihat perkembangan itu, bermaksud melarikan diri. Namun Thay Khek Cin-jin sempat melepaskan 'Sembilan Naga yang menyemburkan Api Suci', membakar diri Sun Liang hingga jadi debu! Bun Taysu amat sedih atas kematian beruntun para sahabatnya, meminta sahabat lainnya menunda dulu pertandingan. Dia akan berikhtiar untuk mencari bantuan teman-teman lainnya. Kepala Bun Taysu serasa mau pecah, tak tahu apa yang sebaiknya dilakukannya!? Untuk beberapa saat dia hanya berdiam diri sambil memijat-mijat keningnya. Kie Lek dan Yu Cheng yang terus mendampinginya, ikut bingung. Selang beberapa saat, wajah Bun Taysu mulai berseri, tersenyum. Sebab tiba-tiba saja dia teringat pada Tio Kong Beng yang bersemayam di goa Lo Houw di gunung Go Bie-san. Kalau saja Tio Kong Beng bersedia membantunya, segala keruwetannya tentu akan terpecahkan. Maka diputuskan untuk berangkat ke gunung Go Bi, menitah Kie Lek dan Yu Cheng menjaga perkemahan. Bun Taysu berangkat ke goa Lo Hou dengan menunggang Kie Lin hitamnya, melayang di angkasa. Beberapa waktu kemudian, tibalah dia di atas gunung yang dimaksud. Indah nian panorama di sekitar gunung tersebut, bunga-bunga bermekaran di sana-sini, terdapat pula air terjun, juga pohon-pohon Siong (Pinus). Amat cocok keadaannya bagi tempat bermukimnya seorang pertama atau manusia yang ingin menyucikan diri. Namun Bun Taysu tak berselera menikmati segalanya, dia ingin cepat-cepat bertemu dengan Tio Kong Beng, mengharapkan bantuannya menggempur pertahanan pihak See-kie. Dia turun di lereng gunung tersebut, menuju ke mulut goa Lo Hou, berkata pada seorang Totong (murid pertapa) yang berdiri di situ .

"Aku datang dari ribuan li, ingin bertemu dengan gurumu".

"Bapak siapa?", tanya Totong.

"Namaku Bun Tiong".

"Baiklah, akan segera saya sampaikan kedatangan bapak pada Suhu", kata si Totong, masuk ke goa. Bun Taysu berdiri di muka pintu goa. Ketika mendengar yang datang adalah Bun Taysu, Tio Kong Beng bergegas ke luar goa.

"Senang sekali Taysu sudi datang ke tempat saya yang buruk ini", katanya sambil memberi hormat pada Bun Taysu.

"Maaf saya terlambat menyambut kedatangan Taysu''.

"Siao-teelah yang seharusnya memohon maaf, karena telah mengganggu ketenangan Toheng", kata Bun Taysu sambil membalas hormat si pertapa. Setelah berbasa-basi sejenak, Tio Kong Beng menyilakan Bun Taysu masuk.

"Taysu tampak murung", ucap Tio Kong Beng setelah masing-masing mengambil tempat duduk.

"apa yang telah terjadi sesungguhnya?".

"Kalau diceritakan sungguh memalukan", sahut Bun Taysu dengan suara agak parau.

"rendahnya kepandaian Siao-tee, telah mengakibatkan sering menderita kekalahan dalam menghadapi musuh. Maksud Siao-tee ke mari adalah ingin memohon bantuan To- heng untuk menghajar lawan. Saya takkan melupakan budi To-heng". Tio Kong Beng adalah seorang yang berwatak jujur, selalu bersedia membantu memecahkan kesulitan orang lain tanpa pamrih.

"Taysu tak usah khawatir, selama saya masih mampu melakukan, akan saya bantu", katanya.

"Terima kasih To-heng", Bun Taysu segera menyojanya sebagaipengungkapan rasa terima kasihnya. Tio Kong Beng menyilakan Bun Taysu berangkat duluan, dia akan menyusul kemudian. Bun Taysu amat bersyukur akan kesediaan Tio Kong Beng membantunya, pamit. Sepulang Bun Taysu, Tio Kong Beng memanggil dua orang muridnya, Tan Kauw Kong dan Yao Siao Sie, mengajak mereka ke See-kie. Di tengah jalan mereka bertemu seekor Macan. Kong Beng berhasil menaklukkan ?raja hutan' itu dengan menggunakan ke saktiannya, lalu menjadikannya sebagai tunggangannya. Berkat kesaktian Tio Kong Beng, perjalanan selanjutnya mereka lakukan dengan naik awan. Maka dalam waktu yang tidak terlalu lama mereka telah tiba di perkemahan pasukan kerajaan Touw. Bun Taysu ke luar kemah, menyambut kedatangan tamu agungnya. Keesokan harinya Tio Kong Beng ke luar kemah dengan menunggang Hek Houw (Macan Hitam) dan membawa sepasang ruyung, menantang Kiang Chu Gie berperang tanding. Seorang prajurit melaporkannya pada Kiang Chu Gie. Chu Gie menyambut tantangan lawan dengan menunggang See Put Siang', didampingi oleh Na Cha, Lui Chin Cu, Oey Thian Hoa, Yo Chian, Bu Kie dan beberapa perwira gagah lainnya lagi. Begitu berhadapan, tanpa banyak bicara lagi Tio Kong Beng menghantam Chu Gie dengan ruyungnya. Chu Gie segera menangkis serangan lawan dengan pedangnya, kemudian balas menyerang. _Pertandingan telah berlangsung sampai beberapa puluh jurus, tapi masih sulit diduga siapa yang akan memperoleh kemenangan akhir. Tio Kong Beng di samping gagah, juga cukup kuat, biarpun telah cukup lama bertanding, dia masih tampak segar. Namun dia tak ingin pertempuran itu berlangsung terlalu lama, maka diam-diam dia melontarkan sebuah ruyungnya ke atas, membarengi menyerang ChuGie dengan senjata ruyung satunya. Chu Gie menangkis serangan musuh, tapi dia tak menyangka akan muncul serangan ruyung lainnya dari angkasa, membuatnya tak keburu mengelak atau menangkis, hingga tubuhnya terhajar telak, jatuh terguling dari binatang tunggangannya dan tewas. Na Cha segera maju, menyerang Kong Beng dengan menusukkan tombaknya. Sementara itu Kim Cha membopong tubuh Chu Gie, membawanya ke dalam kota. Namun Na Cha bukanlah lawan yang seimbang bagi Tio Kong Beng, setelah bertanding belasan jurus, Kong Beng berhasil melukai Na Cha dengan ruyungnya hingga jatuh dari Roda Angin dan Apinya. Menyaksikan temannya terluka, Oey Thian Hoa yang menunggang 'Giok Kie Lin' (Kie Lin Kumala), menyerang Tio Kong Beng dengan sepasang gadanya. Sedang Lui Chin Cu ikut menyerang Kong Beng dari angkasa dengan menghantamkan 'Huang Kim Kun' (Pentungan Emas)- nya. Dalam pada itu Yo Chian telah pula melepaskan ?Anjing Menyalak Langit-nya dan binatang itu berhasil menggigit dan melukai bahu Tio Kong Beng, membuatnya terpaksa harus melarikan Macannya ke perkemahan ..... Kong Seng Cu di panggung peristirahatan para Dewa dan orang suci, mengetahui kalau Kiang Chu Gie tewas oleh pukulan ruyung Kong Beng, segera masuk ke kota See-kie, berhasil menghidupkan kembali Chu Gie dengan pil mujizatnya. Di lain fihak, di kubu pasukan kerajaan Touw, Tan Kauw Kong dan Yao Siao Sie segera mengambil obat mujarab dari dalam Buli-buli untuk mengobati luka guru mereka. Dan berhasil disembuhkan tak lama kemudian. Keesokan paginya Tio Kong Beng bermaksud menantang perang lagi. Tapi telah dicegah oleh Bun Taysu.

"Luka To-heng baru saja sembuh,sebaiknya beristirahatlah dulu. Setelah sehat benar barulah kita gempur lagi pihak See-kie".

"Kesehatan Pinto telah pulih seperti sedia kala", kata Kong Beng.

"Inilah saat yang paling tepat bagi kita untuk menyerang lawan, jangan kita beri mereka kesempatan menyusun kekuatan kembali". Melihat tekad Kong Beng, Bun Taysu tak mencegah lebih jauh. Tio Kong Beng keluar dari perkemahan dengan menunggang macan hitamnya, menantang Jian Teng Tojin. Jian Teng Tojin menyambut tantangan musuhnya dengan naik Menjangan dan siap pula dengan pedang terhunus di tangannya. Begitu berhadapan dengan lawan, tanpa berkata lagi Tio Kong Beng menghantamkan ruyungnya. Jian Teng menangkis senjata lawan dan cepat pula balas menyerang. Setelah bertempur beberapa jurus, Kong Beng melontarkan 'Teng Hay Chu' (Mutiara Penentram Laut), yaitu untaian mutiara yang terdiri sebanyak 24 butir. Jian Teng Tojin memperhatikan senjata pusaka lawan yang tengah melayang di angkasa, memancarkan cahaya aneka warna dan menyilaukan pandang. Biarpun dia tak tahu senjata macam apa itu, tapi telah dapat menduga, pasti sangat ampuh! Tak ingin dia menyerempet bahaya, segera memacu Menjangannya ke Barat Daya. Merasa dirinya berada di atas angin, Kong Beng tak sudi melepaskan musuhnya begitu saja, terus mengejarnya sampai di sebuah bukit. Tak jauh dari bukit itu, terlihat ada dua orang yang sedang main catur di bawah pohon Siong (Pinus; Cemara); yang satu berjubah hijau, lainnya merah. Kedua orang itu berpaling ketika mendengar suara derap Menjangan menuju ke arah mereka. Setelah dekat, mereka menanyakan maksud kedatangan Jian Teng Tojin ke situ. Jian Teng tak kenal mereka, tapi dia berterus terang menyatakankeadaan dirinya dan menceritakan prihal Tio Kong Beng yang hendak menghancurkan kota See-kie.

"Menyisilah Loosu (Guru), biar nanti kami tanyakan padanya", kata mereka hampir bersamaan. Selang sesaat Tio Kong Beng telah pula tiba di situ, bertanya .

"Siapa kalian?".

"Aku Cho Po dan temanku ini Siauw Seng, kami dari Ngo Ie-san", sahut orang berjubah hijau.

"Kau terus menyudutkan Jian Teng Loosu". Tio Kong Beng tak ingin banyak bicara, langsung saja menyerang mereka dengan ruyungnya. Cho Po dan Siauw Seng cepat menangkis dengan pedang mereka. Setelah bertanding beberapa jurus, tiba-tiba Tio Kong Beng melontarkan 'Po Liong So' (Tali Pengikat Naga). Siauw Seng segera mengeluarkan sekeping uang emas yang bersayap dari dalam kantong Macan tutul. Melontarkan juga ke angkasa. Terlihat kemudian.

"Po Liong So' mengikuti keping uang emas yang jatuh ke tanah. Cho Po segera memungut benda pusaka itu. Tio Kong Beng amat marah benda pusakanya jatuh ke tangan lawan, cepat mengeluarkan Teng Hay Chu'-nya, melontarkannya ke angkasa, memancarkan sinar aneka warna yang menyilaukan pandang. Siauw Seng menimpukkan lagi keping uang emas bersayapnya. Seperti juga Tali wasiat tadi, Teng Hay Chu'-nya Tio Kong Beng mengikuti keping uang emas meluncur turun ke tanah. Cho Po bergegas memungutnya. Tio Kong Beng bertambah berang kehilangan kedua senjata pusakanya, lalu menimpukkan ruyungnya ke diri Siauw Seng, Serangan itu dilakukan begitu cepat dan di luar dugaan lawan, hingga Siauw Seng tak sempat mengelak, pecah kepalanya terkena ruyung sakti Tio Kong Beng.Jian Teng Tojin yang menyaksikan pertandingan dari tempat tinggi, segera melontarkan Kan Kun Chi' (Elo/Alat Pengukur Jagad)-nya. Tio Kong Beng yang tak bersiaga, kena dihantam oleh alat pengukur wasiat itu, yang membuatnya nyaris terguling dari binatang tunggangannya. Dia cepat-cepat melarikan diri ke Selatan sambil menahan sakit. Jian Teng Tojin turun dari Menjangan, menyoja pada Cho Po sebagai pengungkapan rasa syukurnya. Cho Po menyerahkan kedua benda pusaka milik Tio Kong Beng pada Jian Teng Tojin. Jian Teng menerima pemberian itu sambil mengucapkan terima kasihnya, kembali ke See-kie. Setelah memakamkan jenazah Siauw Seng, Cho Po menyusul Jian Teng Tojin ke See-kie, mengabdi pada Bu Ong. Jian Teng menceritakan pertemuannya dengan Cho Po dan Siauw Seng kepada para Dewa dan orang sakti yang berkumpul di panggung peristirahatan. Kemudian dia memperlihatkan 'Teng Hay Chu' pada mereka. Para Dewa dan orang suci kagum ketika melihat benda pusaka tersebut. Tio Kong Beng yang kehilangan 'Teng Hay Chu' dan 'Po Liong So', jadi uring-uringan setibanya di kemah. Kemudian dia memanggil Tan Kauw Kong dan Yao Siao Sie, meminta mereka menjaga kemah, sedangkan dia sendiri akan pergi ke Sam Sian To (Pulau Tiga Dewi) untuk meminjam pusaka pada tiga adik perempuannya yang kini telah jadi Dewi Dia bermaksud merebut kembali kedua benda wasiatnya dari tangan lawan, dengan menggunakan senjata pusaka milik adik perempuannya. Selesai memesan, dia berangkat dengan menunggang Macan hitamnya, kemudian melanjutkannya dengan naik awan.Dalam waktu relatif singkat sampailah di mulut goa 'Sam Sian Tong' (Goa Tiga Dewi). Kong Beng turun dari tunggangannya, sedianya hendak langsung masuk ke dalam goa, tapi tiba-tiba dia melihat Tan Kauw Kong dan Yao Siao Sie. Ternyata kedua muridnya itu telah mengikuti sang guru dengan menempuh jalan bawah tanah.

"Kenapa kalian ke mari juga?", tanya Tio Kong Beng.

"Kami ingin terus mendampingi Sucun", sahut Tan Kauw Kong.

"agar sewaktu-waktu siap menerima perintah Sucun". Tergerak juga hati Tio Kong Beng ketika mendengar kesetiaan muridnya.

"Tunggulah kalian di luar", kata Kong Beng.

"Tapi ingat, jangan sekali- kali ikut masuk".

"Baik Sucun". Kedua muridnya mengangguk. Tio Kong Beng masuk, di tengah goa bertemu seorang Totong.

"Aku Tio Kong Beng, ingin bertemu dengan Sam Wi Nio Nio (Tiga Dewi). Ada persoalan penting yang ingin kubicarakan". Sang Totong lantas memberitahukan kedatangan Tio Kong Beng pada ketiga Dewi. Ketiga adik perempuan Kong Beng yang telah jadi Dewi itu, segera ke luar menyambut kedatangan sang kakak. Mereka adalah In Siao Nio Nio, Kiong Siao Nio Nio dan Pek Siao Nio Nio. Tio Kong Beng disilakan masuk ke ruang dalam.

"Angin apa yang membawa kakak ke mari?", tanya In Siao Nio Nio pada Kong Beng setelah masing-masing mengambil tempat duduk.

"Angin malam yang membuatku kangen sama kalian", sahut Kong Beng sambil memaksakan diri tersenyum. Setelah berbasa-basi sebentar, barulah Tio Kong Beng menceritakan kesulitan yang sedang dihadapinya dan bermaksud ingin meminjam'Gunting Naga Emas'. Dengan senjata pusaka itu dia mengharapkan dapat merebut kembali kedua benda wasiatnya yang jatuh di tangan musuh.

"Kami tidak keberatan", kata Pek Siao Nio Nio.

"Tapi setelah berhasil usaha kakak, harus segera mengembalikannya pada kami".

"Itu pasti", Tio Kong Beng menyanggupi dengan wajah berseri Pek Siao Nio Nio memberikan gunting wasiatnya. Tio Kong Beng menerimanya, kemudian pamit pada ketiga adik perempuannya. Ketiga adiknya mengantar sampai ke luar goa. Kong Beng menunggang macan hitamnya, kemudian melayang ke angkasa dengan naik awan, menuju ke perkemahan pasukan Tiu Ong (Touw Ong). Bun Taysu menyambut gembira kembalinya. Dengan didampingi oleh Tio Kong Beng, pada esok paginya Bun Taysu keluar dari kemah, menantang Jian Teng Tojin. Na Cha melaporkan tantangan itu pada Jian Teng, Jian Teng menyambut tantangan lawan dengan naik Menjangan. Begitu berhadapan dengan Jian Teng Tojin, Tio Kong Beng meminta si Pendeta mengembalikan kedua benda pusakanya. Jian Teng menolaknya, hingga terjadi perang tanding yang sengit di antara mereka. Pertempuran telah berlangsung beberapa puluh jurus, namun masih belum dapat dipastikan siapa yang akan jaya. Tio Kong Beng tak dapat bersabar lebih lama lagi, segera melontarkan 'Gunting Naga Emas'. Gunting wasiat itu sesungguhnya adalah penjelmaan dari dua ekor Naga yang telah menyedot sari Langit dan Bumi, juga Cahaya Matahari serta Bulan. Kedua Naga itu masing-masing selalu bergerak dengan arah yang berlawanan, menyerupai gerakan menggunting. Jangankan manusia, Dewa pun akan terpotong dua olehnya. Jian Teng Tojin menyadari akan bahaya itu, maka begitu Tio KongBeng melontarkan benda wasiat tersebut, dia cepat melarikan diri dengan menempuh jalan melewati anasir kayu. Menjangannya yang jadi korban, terpotong dua! Jian Teng Tojin yang berhasil menyelamatkan diri, kembali ke panggung peristirahatan para orang suci dan Dewa, memberitahukan akan keampuhan 'Gunting Naga Emas' lawan. Mereka segera merundingkan cara menghadapi gunting wa siat tersebut. Tiba-tiba datang Na Cha memberitahukan, bahwa ada seorang Tojin yang ingin bertemu dengan Jian Teng dan lain-lainnya. Jian Teng menyilakan tamunya masuk. Tojin itu memperkenalkan diri sebagai Liok Ya, berasal dari gunung Kun Lun-san Barat. Kedatangannya khusus ingin menyingkirkan Tio Kong Beng yang telah menggunakan gunting wasiat untuk membantu pihak yang salah dan menghancurkan pihak yang benar. Keesokan harinya Tio Kong Beng menantang Jian Teng berperang tanding.

"Biar Pinto yang menghadapinya", Liok Ya majukan diri. Begitu bertemu lawan, Tio Kong Beng langsung menghantamkan ruyungnya. Liok Ya cukup waspada, menangkis dengan pedangnya. Setelah bertarung beberapa jurus, Kong Beng lantas melontarkan 'Gunting Naga Emas'-nya ke angkasa, yang secepat kilat, meluncur ke diri Liok Ya, menggunting leher Tojin itu hingga kepalanya pisah dengan tubuhnya. Namun terjadi suatu keajaiban, kepala dan tubuh yang telah pisah itu tidak jatuh, seakan ada yang menahannya pada posisi semula, malah kemudian sirna dari hadapan lawan. Perkembangan yang luar biasa itu benar-benar berada di luar dugaan Tio Kong Beng, membuatnya untuk sesaat hanya berdiam diri dengan mata terbelalak.Ternyata Liok Ya amat sakti, dia tahu akan keampuhan "Gunting Naga Emas', maka begitu melihat Tio Kong Beng melontarkan benda wasiat itu, dia langsung menciptakan duplikatnya, sedang dirinya sendiri telah berubah menjadi sinar terang, melarikan diri ke dalam kota See- kie. Kiang Chu Gie menyambut kedatangannya, menyilakannya duduk. Liok Ya mengambil keranjang bunga, dari dalamnya dikeluarkan se

Jilid buku. Di dalam buku itu terdapat 'Hu' (Kertas jimat) dan mantera, menyerahkannya pada Kiang Chu Gie.

"Pergilah kau ke gunung Kie-san, dirikan panggung di sana, letakkan sebuah boneka rumput yang bagian dadanya ditempelkan nama 'Tio Kong Beng'. Di atas kepala dan di bawah kakinya kau letakkan sebuah pelita dan bakarlah 'Hu' ini. Kau harus bersembahyang selama 21 hari di depan boneka rumput itu. Setiap harinya bersembahyang 3 kali. Aku akan datang pada hari terakhir untuk membantumu menyelesaikan persoalan. Dengan demikian Tio Kong Beng akan binasa". Kiang Chu Gie menuruti saran Liok Ya. Pek Lip yang memimpin barisan gaib 'Liat Yam Tin' (Barisan Api Membara), tak lagi dapat menahan sabar, hingga melupakan pesan Bun Taysu yang melarangnya menantang lawan. Hari itu Pek Lip dengan menunggang Menjangan keluar dari barisan gaibnya, menantang pihak See-kie. Liok Ya menyambut tantangan tersebut. Terjadilah pertarungan sengit di antara mereka. Setelah berlangsung belasan jurus, Pek Lip lari masuk ke dalam barisan gaibnya. Liok Ya tak membiarkan musuhnya lolos, terus mengejarnya. Pek Lip menggerak-gerakkan tiga panji merah, melepaskan Api Langit, Api Bumi dan Api Asli! Namun ketiga api itu tak berhasil melukai Liok Ya, sebabsesungguhnya Liok Ya termasuk dalam anasir/unsur api. Dia tetap berdiri tenang, kemudian mengeluarkan Buli-buli (Cupu), membuka penyumbatnya. Dari mulut Buli-buli keluar cahaya yang menyilaukan pandang. Dari tengah-tengah sinar itu melayang sebilah pedang, yang langsung menabas putus kepala Pek Lip. Arwah Pek Lip segera melayang ke 'Hong Sin Tay'. Liok Ya menyimpan kembali Buli-bulinya. Mendengar temannya tewas, Yao Pin yang menguasai 'Liok Hun Tin' (Barisan Pencabut Nyawa), segera ke luar dengan naik Bangau, menantang lawannya. Jian Teng Tojin menitah Phuy Siang menggempur barisan gaib musuh. Phuy Siang maju dengan bersenjatakan tombak, terjadilah pertarungan sengit dengan Yao Pin di luar barisan gaib. Yao Pin tak ingin bertarung terlalu lama, setelah beberapa jurus, dia kabur ke dalam 'Liok Hun Tin-nya. Phuy Siang memburu lawannya. Yao Pin menimpukkan pasir hitam ke diri Phuy Siang. Phuy Siang tak sempat mengelak, dagingnya hancur oleh timpukan pasir hitam tersebut. Arwahnya segera melayang ke Hong Sin Tay.. Melihat Phuy Siang tewas di tangan lawan, Jian Teng Tojin meminta Chi Ching Cu menggempur barisan gaib musuh. Chi Ching Cu maju seraya menghunus pedang. Yao Pin langsung menyerang Ching Cu dengan pedang pula. Chi Ching Cu menangkisnya, kemudian balas menyerang. Ilmu pedang Chi Ching Cu ternyata jauh lebih unggul dari ketangkasan Yao Pin, hingga tak sampai empat jurus, Yao Pin melarikan diri, masuk ke dalam barisan gaibnya. Chi Ching Cu mengejar masuk, terlihat olehnya Yao Pin telah berdiri di atas panggung, menebarkan segantang pasir hitam. Chi Ching Cu yang mengenakan jubah Pat-kwa, tak mempan ditembus pasir sakti lawan.Yao Pin penasaran, bermaksud melompat turun dari panggung, untuk melancarkan serangan berikutnya. Tapi Chi Ching! Cu telah mengeluarkan 'Im Yang Ceng (Cermin Pusaka Negatif dan Positif), menyorot diri Yao Pin. Yao Pin jatuh dari atas panggung, hingga dengan mudahnya kepalanya ditabas putus oleh Ching Cu. Chi Ching Cu meninggalkan barisan gaib itu setelah berhasil mengambil kembali gambar Thay Khek yang tempo hari jatuh di barisan gaib musuhnya, membawanya ke goa Hian-tu dan mengembalikannya pada pemiliknya. Menyaksikan kekalahan yang diderita oleh kedua temannya, sisa pemimpin barisan gaib, Ong Ek dan Thio Sao tak berani gegabah menantang lawan bertempur, segera menemui Tio Kong Beng, mengharapkan bantuannya. Tapi yang mereka dapati, justru sikap Tio Kong Beng yang amat lesu, maunya tidur melulu. Kong Beng sendiri heran kenapa dirinya jadi begitu!? Ong Ek dan Thio Sao mengajak Kong Beng melaporkan keadaan aneh tersebut pada Bun Taysu. Bun Taysu segera menujum, selang sesaat dia berseru kaget.

"Celaka! Liok Ya di gunung Kie-san bermaksud membinasakan Tio Toheng dengan kesaktian buku wasiatnya!". Tio Kong Beng amat terperanjat mendengar ramalan Bun Taysu, memohon sang Taysu membantu menyelamatkan dirinya.

"Jangan khawatir Tio Toheng", kata Bun Taysu.

"Malam nanti kita suruh Tan Kauw Kong dan Yao Siao Sie ke Kie-san untuk mencuri buku wasiat itu". Liok Ya yang sedang bersamadhi, tiba-tiba perasaannya tak keruan. Melalui kesaktiannya, terungkaplah sebab-musababnya. Dia langsung menyuruh Na Cha dan Yo Chian berangkat ke gunung Kie-san, untuk memberitahukan Kiang Chu Gie agar berhati-hati, karena akan munculmusuh yang hendak mencuri *Thian Su' (Buku Wasiat)-nya. Na Cha mendahului berangkat dengan naik 'Hong Hwe Lun' nya. Yo Chian menyusul kemudian. Sementara itu Bun Tay su telah memerintahkan Tan Kauw Kong dan Yao Siao Sie berangkat ke Kie-san untuk mencuri buku pusaka milik Liok Ya. Tan Kauw Kong berdua segera berangkat ke gunung itu dengan naik awan. Tak lama tibalah mereka di tempat tujuan. Dari angkasa mereka melihat Kiang Chu Gie sedang membaca mantera yang terdapat di buku wasiat milik Liok Ya. Kemudian dia berlutut di depan meja sembahyang. Tan Kauw Kong dan Yao Siao Sie menggunakan kesempatan itu, segera meluncur turun dari angkasa, merampas buku pusaka yang diletakkan di atas meja, lalu cepat-cepat melarikan diri. Chu Ge (Chu Gie) yang sedang sembahyang dengan khusuknya, tak tahu kalau buku tersebut telah dicuri orang. Baru setelah Na Cha datang dan memberitahukannya akan muncul orang yang bermaksud mencuri buku, Kiang Chu Gie amat terperanjat ketika tak melihat lagi buku wasiat tersebut di atas meja.

"Celaka! Buku pusaka itu telah dicuri orang", serunya. Na Cha segera naik 'Hong Hwe Lun'-nya, mengejar musuh. Belum jauh dia berlalu, dilihatnya Yo Chian tengah bertempur dengan Tan Kauw Kong dan Yao Siao Sie. Na Cha langsung terjun ke medan laga, pada suatu kesempatan dia berhasil menghunjamkan tombaknya ke tenggorokan Yao Siao Sie dan tewas seketika. Sementara itu Yo Chian telah pula berhasil menusuk iga Tan Kauw Kong, menjadikannya menyusul arwah Siao Sie ke 'Hong Sin Tay'. Yo Chian dan Na Cha kembali ke gunung Kie-san, mengembalikan buku wasiat kepada Chu Gie. Mulai saat itu Kiang Chu Gie lebih hati-hati menjaga buku pusakatersebut. Bun Taysu dan lain-lainnya menanti kembalinya Tan Kauw Kong dan Yao Siao Sie. Namun sampai dua hari, orang yang ditunggu belum juga kembali. Bun Taysu menyuruh beberapa orang pembantunya menyusul mereka. Kemudian diperoleh kabar, bahwa Kauw Kong dan Siao Sie telah tewas. Bun Taysu sangat prihatin mendengar kabar itu, langsung menyampaikannya pada Tio Kong Beng. Tio Kong Beng amat murung, sadar kalau tak lama lagi akan tiba ajalnya. Dia lalu meminta Bun Taysu untuk membungkus "Gunting Naga Emas' dengan jubahnya. Ong Ek ikut terharu menyaksikan keadaan itu, dia langsung menantang lawan untuk menghadapi 'Ang Sui Tin' (Barisan Air Merah)-nya. Jian Teng Tojin menitah Cho Po untuk menandingi Ong Ek. Cho Po segera maju, namun dia kalah sakti, hingga tewas tenggelam di Air Merah. Melihat kegagalan usahanya, Jian Teng meminta To Tek Chin Kun yang menghadapi lawan. Setelah bertanding sejenak, Ong Ek lari masuk ke dalam barisan gaibnya. Chin Kun mengejarnya. Ong Ek yang telah berada di atas panggung, segera menuang Air Merah dari dalam Buli-bulinya. Setetes saja Air Merah itu mengenai tubuh lawan, pasti akan mencair menjadi darah. To Tek Chin Kun yang berdiri di atas teratai dan di atas kepalanya keluar Mega-mega berwarna yang melindungi dirinya, membuatnya terhindar dari percikan maupun genangan Air Merah tersebut. Kemudian dia mengeluarkan 'Ngo Hwe Cit Chin Shan' (Kipas Lima Api dan Tujuh Burung), mengebutkannya ke diri Ong Ek.Seketika tubuh Ong Ek lebur menjadi debu. 

***

 Telah 21 hari Kiang Chu Gie bersembahyang di gunung Seekie. Pagi itu Liok Ya datang menemui Chu Gie, menyerahkan busur beserta tiga batang anak panah pada Perdana Menteri Seekie itu dengan pesan, agar Chu Gie membidikkan ketiga panah itu pada boneka rumput pada jam Ngo-sie (selewat jam 11.00 sampai jam 13.00). Chu Gie menuruti petunjuk itu, begitu tiba jam Ngo-sie, dia segera membidikkan panah pertama ke mata kiri boneka rumput. Bersamaan, mata kiri Tio Kong Beng menjadi buta. Panah ke dua diarahkan ke mata kanan boneka rumput, maka mata kanan Kong Beng langsung buta. Ketika Chu Gie membidikkan panah ke tiga ke jantung boneka rumput, Tio Kong Beng langsung tewas. Arwahnya segera melayang ke 'Hong Sin Tay'. Bun Taysu sangat berduka atas kematian Tio Kong Beng.Goan Tu Toa Hoatsu Thay Siang Loo-kun