--> -->

Pelantikan Para Malaikat Jilid 10

Jilid 10

Kiang Chu Gie terus mengikuti perkembangan di Tiauw-ko (kota-raja), hingga apa yang terjadi di sana diketahui semua.

"Perbuatan Chong Houw Houw telah menimbulkan keresahan, bahkan kekacauan di kota-raja, membuat rakyat yang telah menderita jadi semakin sengsara", kata Chu Gie pada Chiu Bun Ong di suatu pagi yang cerah.

"kita tak dapat membiarkan ulahnya itu berlarut-larut. Dengan kita singkirkan dia, kemungkinan Kaisar akan sadar dari segala kesalahannya".

"Tapi kedudukan Chong Houw Houw setingkat denganku", kata Chiu Bun Ong.

"sulit bagiku untuk menghukumnya".

"Bukankah Tuanku telah diberi kekuasaan oleh Kaisar, untuk menghukum raja-muda lain yang melanggar undang-undang kerajaan? Lagi pula tujuan kita adalah membebaskan rakyat dari penindasan. Dengan menempuh cara itu, mungkin Touw Ong bersedia memperbaiki kekeliruannya, hingga untuk selanjutnya dapat menjalankan pemerintahan secara adil bijaksana, dengan begitu rakyat dapat mengecap ketenangan dan kemakmuran". Mulai tergerak juga perasaan Chiu Bun Ong.

"Siapa yang akan meminpin pasukan penghukum itu?", tanyanya.

"Saya bersedia melaksanakan tugas itu", sahut Chu Ge (Chu Gie). Tapi Chiu Bun Ong yang khawatir Kiang Chu Gie bertindak terlampau keras, maka dia memutuskan untuk menyertainya. Mereka berangkat dengan membawa sepuluh ribu prajurit. dengan Lam Kong Koa memimpin di barisan depan, menuju ke kota Chong- shia, wilayah kekuasaan Chong Houw Houw. Kala itu Chong Houw Houw masih berada di kota-raja, hingga kota Chong-shia hanya dijaga oleh Chong Eng Piao, anaknya Houw Houw. Chong Eng Piao amat marah ketika mendengar wilayahnya diserbu, memerintahkan seorang panglimanya yang bernama Oey Goan Kie, untuk menyambut serbuan pasukan Chiu Bun Ong. Lam Kong Koa dengan pasukannya yang bertindak sebagai ujung tombak barisan, telah berada di luar pintu kota, langsung menantangperang. Seketika terdengar tembakan meriam dari dalam kota, disusul dengan keluarnya Oey Goan Kie bersama pasukannya, untuk menyambut tantangan tersebut. Terjadilah pertempuran yang cukup seru, Oey Goan Kie menghadapi Lam Kong Koa. Pada mulanya pertarungan berjalan seimbang, tapi berangsur-angsur Oey Goan Kie terdesak dan setelah berlangsung lebih dari 30 jurus, kepala Goan Kie terbabat putus oleh golok panjang Lam Kong Koa, disusul dengan jatuh terguling tubuhnya dari kuda tunggangannya. Tewasnya sang pimpinan, telah membuat para prajurit pada kucar- kacir, lari masuk ke dalam kota, menutup pintu gerbang rapat-rapat. Lam Kong Koa kembali ke kemah, melaporkan mengenai kemenangannya. Berseri wajah Kiang Chu Gie mendengar kabar itu. Keesokan harinya Chong Eng Piao memimpin langsung pasukannya, bermaksud membalas atas kematian Oey Goan Kie. Terlihat olehnya, dalam pasukan Chiu Bun Ong terdapat seorang Tojin (pendeta agama To). Eng Piao segera tahu, bahwa pendeta dari agama To itu yang merupakan otak strategi dari penyerbuan tersebut. Dia segera memerintahkan salah seorang perwira yang cukup perkasa, Tan Sie Chin, untuk menangkap Chu Gie. Namun baru saja Tan Sie Chin memajukan kudanya, telah disambut oleh Sin Chia, hingga terjadi pertarungan seru. Setelah berlangsung belasan jurus, Tan Sie Chin kewalahan menghadapi serangan Sin Chia. Dua perwira lain dari pihak Eng Piao, Bwe Tek dan Kim Cheng, memacu kuda mereka untuk membantu Tan Sie Chin mengeroyok Sin Chia. Namun dari kubu Chiu Bun Ong tak pula tinggal diam, Chiu Kong Tan dan In Kong Siang segera majukan diri. Pertempuran terbagi dalam tiga kelompok, membuat suasana jadi bertambah ramai, masing-masing berusaha untuk merobohkan lawan. Namun keadaan itu tak berlangsung lama. Kepala Bwe Tek berhasilditabas putus oleh senjata In Kong Siang dan Kim Cheng dibacok hingga tewas. Sedang Sin Chia telah mengampak Tan Sie Chin hingga melayang jiwanya. Pasukan Chong Eng Piao kembali menderita kekalahan, lari masuk ke dalam kota. Sebenarnya Kiang Chu Gie bermaksud merebut kota Chong-shia dengan kekerasan, tapi telah dicegah oleh Chiu Bun Ong, sebab khawatir para penduduk yang tak berdosa turut jadi korban. Kiang Chu Gie tidak sependapat dengan Chiu Bun Ong yang dianggapnya terlampau lemah hati dalam menghadapi lawan, hal itu akan dapat membuat pertempuran jadi berlarutlarut. Maka diam-diam dia mengutus Lam Kong Koa membawa suratnya pada Chong Hek Houw di Cho-ciu. Lam Kong Koa menerima tugas itu, siang malam melakukan perjalanan. ... 

***

 Kiang Chu Gie mengungkapkan dalam suratnya, bahwa Chong Houw Houw telah menindas rakyat untuk keuntungan pribadinya, membuatnya amat dibenci rakyat, hingga timbul kesan, bahwa setiap orang dari marga Chong adalah penjahat dan harus disingkirkan dari muka bumi. Sebagai penutup, Chu Gie mengharapkan Hek Houw dapat membantu menangkap saudaranya, Chong Houw Houw, untuk kemudian menyerahkannya pada Chiu Bun Ong, agar dapat merobah kesan buruk orang terhadap marga Chong.

"Memang tepat saran Chu Gie", kata hati Hek Houw seusai membaca surat Kiang Chu Gie.

"lebih baik berdosa terhadap keluarga sendiri dari pada kemanusiaan. Setelah meninggal nanti, aku akan memohon ampun pada leluhur terhadap apa yang telah kulakukan". Dengan adanya pendapat itu, dia segera menjamu Lam Kong Koa. Setelah puas makan minum, Lam Kong Koa pamit pada tuan rumah.

"Tolong Ciangkun sampaikan pada pimpinanmu, bahwa aku akan menangkap saudaraku dan membawanya ke hadapan Chiu Bun Ong", kata Chong Hek Houw sambil mengantar tamunya. Sepergi Lam Kong Koa, Chong Hek Houw menyerahkan urusan pemerintahan kota Cho-ciu pada anaknya yang bernama Chong EngLoan, dibantu oleh Kho Teng. Hek Houw berangkat ke Chong-shia dengan membawa 3000 pasukan. Kehadiran Chong Hek Houw disambut oleh keponakannya, Eng Piao. Hek Houw memberitahukan keponakannya, bahwa kedatangannya adalah untuk membantu melawan pasukan Chiu Bun Ong. Chong Eng Piao mengucapkan terima kasihnya. Keesokan harinya Chong Hek Houw menantang perang. Kiang Chu Gie mengutus Lam Kong Koa menyambut tantangan tersebut. Setelah berpura-pura bertanding sejenak, kesempatan itu dimanfaatkan untuk memberitahukan Lam Kong Koa, bahwa dia akan bertanding untuk sekali ini saja, selanjutnya akan menanti kembalinya saudaranya dari kota-raja. Kemudian Hek Houw meminta agar Lam Kong Koa berpura-pura kalah. Lam Kong Koa memenuhi permintaan Hek Houw, purapura keteter, lalu melarikan diri. Hek Houw tak mengejarnya. Sekembali Hek Houw ke dalam kota, segera ditanya oleh Eng Piao .

"Kenapa dalam perang tanding tadi Siok-hu (paman) tidak melepaskan garuda sakti?".

"Aku khawatir tidak akan membawa hasil yang diharapkan, sebab Kiang Chu Gie juga memiliki kesaktian", sahut Hek Houw.

"sebaiknya segeralah kau surati ayahmu, memintanya segera pulang, sekali gus mengirim laporan pada Kaisar". Chong Eng Piao menuruti saran pamannya, mengirim surat ke kota- raja, melaporkan apa yang telah terjadi pada ayahnya. Chong Houw Houw amat terperanjat ketika menerima berita itu, segera melaporkannya pada Touw Ong.

"Sikap Kie Chiang benar-benar sudah keterlaluan", ucapnya.

"kini dia menyerang negeri hamba"

Kaisar jadi sangat gusar, segera menitah Chong Houw Houw kembali ke negerinya sambil membawa sejumlah pasukan.

Touw Ong berjanji akan mengirim pasukan juga untuk membantunya.

Chong Houw Houw mengucapkan terima kasih, meninggalkan kota- raja dengan sejumlah pasukan, menuju ke Chongshia.Chong Hek Houw ketika mendengar kabar itu, diam-diam menyuruh orang kepercayaannya, Sim Kong, memimpin 20 orang yang pandai silat, untuk menyergap Houw Houw di pintu kota.

Kemudian Hek Houw ikut keponakannya untuk menyambut kedatangan saudaranya.

Houw Houw amat girang melihat saudaranya datang membantunya, mengajaknya jalan bersama.

Tapi begitu tiba di pinggir pintu gerbang kota, Hek Houw mendadak mencabut pedang, sebagai isyarat pada Sim Kong.

Sim Kong memimpin 20 prajurit pilihan menangkap Chong Houw Houw dan anaknya.

"Kenapa kau menangkap kami, dik Hek Houw?", Houw Houw menatap saudaranya dengan sikap terperanjat.

"Sebagai seorang pejabat kau bukan saja tidak pernah berbuat baik, malah telah membantu Kaisar berlaku sewenang-wenang, hingga dibenci rakyat! Chi Bun Ong mengirim surat padaku, hingga aku dapat membedakan yang baik dan yang buruk --- Walau aku berdosa terhadap leluhur dengan menangkapmu, tapi di dunia namaku tidak sampai cacad seperti halnya dirimu". Seterusnya Hek Houw menggiring kakak dan keponakannya ke perkemahan pasukan Chiu Bun Ong, memohon diperkenankan bertemu dengan Kiang Chu Gie. Chu Gie menyambutnya dengan wajah berseri, kemudian mengundang Chi Bun Ong untuk memutuskan perkara Chong Houw Houw dan anaknya. Tak lama kemudian Chiu Bun Ong datang ke kemah. Setelah tahu akan kunjungan Hek Houw, lantas bertanya.

"Sebagai adik kandung Houw Houw, kenapa kau begitu sampai hati mencelakai saudara sendiri?". Kiang Chu Gie cukup maklum akan maksud Chiu Bun Ong, sebelum Hek Houw sempat menyahut, dia mendahului menerangkan .

"Chong Houw Houw telah melakukan berbagai kejahatan. Saudara Hek Houw menangkapnya demi memenuhi permintaan saya melalui surat. Perbuatannya itu tak dapat dikatakan dosa, tapi semata-mata untuk memberantas kejahatan yang kebetulan dilakukan oleh saudaranyasendiri. Tindakannya itu merupakan sikap yang bijaksana dan patut diberikan penghargaan". Chiu Bun Ong dapat menerima alasan yang dikemukakan Chu Gie, segera memerintahkan untuk memenggal kepala Chong Houw Houw dan anaknya, Chong Eng Piao. Tapi ketika kemudian kedua kepala itu diperlihatkan padanya, Chiu Bun Ong jadi sangat ngeri, menutup mukanya dengan lengan bajunya. Selang beberapa waktu, barulah raja-muda Barat menitah Hek Houw untuk memimpin kota Chong-shia, merawat janda dan anak gadis Chong Houw Houw baik-baik, serta memerintah dengan adil dan bijaksana, tak boleh menyakiti hati rakyat. Hek Houw berjanji akan melaksanakan amanat itu dengan baik. Chiu Bun Ong kemudian memerintahkan untuk menarik pasukannya, kembali ke See-kie. 

***

 Dalam beberapa hari belakangan ini amat tak tenang perasaan Chiu Bun Ong, akhirnya dia jatuh sakit. Setiap kali memejamkan mata, Chong Houw Houw dan anaknya seakan berdiri di hadapannya, membuat sakitnya kian hari bertambah parah. Berbagai ikhtiar telah dilakukannya, juga mengundang tabib yang pandai, tapi tak banyak menolong. Sampai pada suatu hari, Chiu Bun Ong memanggil Kiang Chu Gie menghadap dan berkata padanya.

"Sejak kita memperoleh kemenangan dari Chong Houw Houw, setiap malam aku mendengar suara tangis yang memilukan. Begitu aku memejamkan mata, Chong Houw Houw dan anak laki-lakinya muncul di hadapanku. Ini sebagai tanda, bahwa hidupku takkan lama lagi. Bila aku meninggal nanti, hendaknya kau jangan melakukan perlawanan terhadap Touw Ong, apapun kejahatan yang dilakukannya, jangan kau mendengar hasutan dari para raja-muda lainnya untuk menghukum Kaisar, agar tidak menambah penderitaan rakyat akibat peperangan. Bila kau tak memenuhi permintaanku, di kala bertemu di alam baqa nanti, pertemuan kita tentu takkan menyenangkan".

"Akan saya usahakan memenuhi harapan Tuanku", Kiang Chu Gie berlutut di depan peraduan Chiu Bun Ong.Kala itu Kie Hoat masuk. Sungguh kebetulan kedatanganmu, puteraku", sambut Chiu Bun Ong.

"kau masih terlampau muda, bila aku mangkat nanti, jangan sekali- kali kau mendengarkan hasutan orang jahat, hingga melakukan peperangan, yang dapat menyengsarakan rakyat. Touw Ong memang kejam, tapi biar bagaimana juga kita harus menghormatinya sebagai junjungan kita, janganlah sekali-kali kau berlaku sebagai pembunuh Kaisar ---Mendekatlah anakku, kau harus mengangkat Kiang Chu Gie sebagai orang tua asuhmu dan harus patuh terhadapnya". Kie Hoat patuh, meminta Kiang Chu Gie duduk, berlutut di hadapannya seraya memanggilnya .

"Ayah". Kiang Chu Gie cepat membangunkan Kie Hoat, kemudian berlutut di hadapan Chiu Bun Ong seraya berkata .

"Saya amat berhutang budi pada Tuanku, biar sampai mati pun, sulit bagi hamba untuk membalas budi Tuanku --- Sebaiknya Tuanku jangan memikirkan yang bukan- bukan, tapi peliharalah diri baik-baik, tak lama lagi tentu akan sehat- wal'afiat kembali".

"Kurasa sakitku ini sulit disembuhkan", Chiu Bun Ong menghela nafas, kemudian berpaling pada Kie Hoat.

"Kau harus hidup rukun dengan saudara-saudaramu dan bijaksana dalam memerintah, agar rakyat dapat hidup tenang dan damai --- Yang penting kau lakukan . Memerintah dengan adil, mengayomi rakyat!". Kie Hoat mendengarkan wejangan ayahnya sambil berlutut. Kemudian Chiu Bun Ong berpaling ke arah Tiauw-ko(kota-raja) seraya berucap .

"Aku telah berhutang budi pada Touw Ong dan mulai saat ini aku tak lagi dapat meramal dan melihat kota Yu Lie". Tak lama setelah itu Chiu Bun Ong menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam usia 97 tahun. Kie Hoat menggantikan kedudukan ayahnya dengan menyandang gelar Bu Ong. Dia memerintah See-kie dengan adil dan penuh kebijaksanaan. Dalam waktu singkat telah ada 200 raja-muda lain yang menyatakan tunduk pada Bu Ong dan bersedia membayar upeti. 

***

 Touw Ong sangat gusar ketika menerima kabar, bahwa Chiu Bun Ong telah menghukum mati Chong Houw Houw beserta anaknya, ChongEng Piao. Semula Kaisar ingin memimpin langsung pasukan untuk menyerbu See-kie. Namun banyak menteri yang mencegah maksud sang Kaisar, dengan mengemukakan alasan, bahwa sesungguhnya Houw Houw memang telah sering melakukan perbuatan yang menyengsarakan rakyat. Ditambah pula kemudian diperoleh kabar, bahwa Kie Chiang (Chiu Bun Ong) telah wafat dan kedudukannya digantikan oleh Kie Hoat yang belum dewasa. Touw Ong jadi membatalkan masudnya semula. | Kie Ho?t masih ingusan, sedangkan Chu Ge (Chu Gie) adalah peramal yang biasa berdusta", katanya dengan sikap meremehkan.

"tak perlu aku khawatirkan keadaan mereka!". Han Yong yang telah melaporkan segalanya itu pada Kaisar, meninggalkan 'Menara Pemetik Bintang' sambil menghela nafas.

"Tampaknya dinasti Siang memang sudah ditakdirkan runtuh di tangan Kie Hoat!".