--> -->

Pelantikan Para Malaikat Jilid 09

Jilid 09

Bun Tiong Taysu yang memimpin pasukan kerajaan Siang, telah kembali ke kota-raja setelah berhasil menumpas pemberontakan di Laut Utara. Menteri yang gagah lagi berwibawa ini, memasuki kota-raja melalui pintu-kota Utara dengan menunggang binatang Kilin Hitam. Dia heran menyaksikan peti mati Pi Kan yang disemayamkan di bangsal dan melihat pula 'Menara Menjangan' yang menjulang tinggi. Bertambah heran pada waktu melihat alat penghukum 'Po Lok' dalam istana dan akhirnya menjadi gusar ketika mendapat penjelasan dari para menteri, bahwa Tungkuapi 'Po Lok' itu digunakan untuk menghukum para menteri yang dianggap menentang kebijaksanaan Kaisar. Juga mengenai kematian Pi Kan yang tragis. Saking marahnya, ketiga mata Bun Tiong jadi menyalanyala, malah mata tengahnya bersinar terang. (Bun Tiong Taysu memiliki tiga mata). Dia segera memerintahkan seorang petugas istana untuk memukul tambur dan lonceng, meminta Kaisar menerima para menteri menghadap. Touw Ong yang telah memperoleh jantung Pi Kan, berhasil menyembuhkan sakit Souw Tat Kie dan kala itu tengah bersenang- senang di 'Menara Menjangan'. Ketika mendengar suara tambur dan lonceng dan mendapat laporan, bahwa Bun Tiong Taysu telah kembali ke kota-raja, terpaksa dia meninggalkan menara, menuju ke balairung Seusai melakukan penghormatan terhadap junjungannya, Bun Tiong menceritakan pengalamannya dalam menumpas pemberontakan di Laut Utara.

"Sungguh besar jasamu, Taysu", Touw Ong mengutarakan penghargaannya.

"Semua ini berkat doa restu Tuanku", ucap Bun Tiong sambil tetap berlutut.

"selama 15 tahun hamba melaksanakan tugas yang dibebankan di pundak hamba, belakangan ini sering hamba dengarbeberapa kasus yang kurang menyenangkan di kota-raja, membuat hamba ingin cepat-cepat kembali ke mari, tapi sayang tugas hamba belum selesai. Kini, dalam kesempatan ini, dapatkah Tuanku memberi sedikit penjelasan mengenai kabar-kabar yang kurang menyenangkan itu!?".

"Kiang Hoan Chu bermaksud membunuhku, agar dapat menduduki Tahtaku menjadi Kaisar kerajaan Siang dan Ngok Tiong Ie telah berkomplot dengannya. Maka aku terpaksa menghukum mereka sesuai dengan undang-undang yang berlaku dalam kerajaan".

"Adakah bukti dan saksi mata yang menguatkan tuduhan Tuanku terhadap mereka?", tanya Bun Tiong. Touw Ong diam. Bun Tiong bangkit, lalu menghampiri meja kerajaan dan melanjutkan ucapannya .

"Tuanku, hamba merasa sayang dan agak kecewa, pada saat hamba memusatkan segala tenaga dan pikiran untuk menumpas pemberontakan, tapi di kota-raja Tuanku rupanya telah melalaikan tugas kerajaan, hanya memperhatikan wanita cantik --- Kalau boleh saya tahu, apa kegunaan tungku-tungku api itu?"

"Ada beberapa menteri yang telah melanggar peraturan dan dapat membahayakan kelangsungan hidup kerajaan Siang, untuk merekalah kubuat benda-benda itu!".

"Ketika hamba akan memasuki kota-raja, dari jauh telah hamba lihat puncak menara yang mewah lagi menyilaukan pandang. Menara apa itu Tuanku?".

"Menara itu kunamakan 'Menara Menjangan', tempatku beristirahat di hari-hari yang panas, dari sana aku dapat memandang seputarnya". Bun Tiong yang oleh mendiang Kaisar, ayah Touw Ong, ditugaskan untuk mengawasi jalannya pemerintahan itu, membuatnya berani mengoreksi, bahkan mencela segala keputusan Touw Ong yang dianggapnya kurang bijaksana.

"Setelah hamba kembali ke kota-raja, adalah kewajiban hamba untuk meluruskan kembali segala yang menyimpang dari undang-undang kerajaan". Touw Ong yang menyegani sesepuh kerajaan ini, tak ingin berdebat dengannya, meninggalkan balai agung.Bun Tiong meminta para menteri dan pejabat tinggi kerajaan, agar berkumpul di rumahnya, untuk membicarakan sepakterjang Kaisar yang dianggap sudah keterlaluan, bahkan keji. Oey Hui Houw yang diangkat oleh para menteri sebagai juru bicara, telah memaparkan ulah Touw Ong sejak Souw Tat Kie memasuki istana. Setelah jelas persoalannya, Bun Tiong menyudahi pertemuan itu. Oey Hui Houw dan lain-lain kembali ke rumah masing-masing. Selama tiga hari Bun Tiong menganalisa apa yang telah terjadi, kemudian menyusun 10 usul untuk mengakhiri keadaan buruk itu. Pada hari keempat, dia menyerahkan usul itu kepada Touw Ong. Kaisar membacanya dengan saksama. Adapun ke sepuluh usul Bun Tiong Taysu sebagai berikut. 1. Membongkar 'Menara Menjangan', agar rakyat dapat hidup tenang. 2. Memusnahkan tungku api 'Po Lok', agar para pejabat kerajaan yang setia berani berterus terang mengemukakan pendapatnya. Diterima tidaknya pendapat itu, tergantung dari hasil musyawarah antara Kaisar dengan para menteri. 3. Menguruk liang ular, agar suasana dalam istana tidak dirundung ketakutan. 4. Meniadakan telaga arak dan Rimba daging, agar Kaisar tidak dikritik oleh para raja-muda dan pejabat lainnya. 5. Menyingkirkan Souw Tat Kie sebagai Permaisuri. menggantinya dengan Permaisuri lain yang bijaksana, hingga tidak menyesatkan Kaisar dalam mengambil keputusan. 6. Menghukum mati Hui Tiong dan Yu Hun, agar semua orang merasa puas. 7. Memberi sandang dan pangan secukupnya pada anak piatu dan fakir miskin, agar tidak menderita hidupnya. 8. Kirim utusan ke Timur dan Selatan, untuk menjelas kan persoalan sekaligus menghibur para raja muda yang masih setia pada kerajaan Siang.9. Cari orang pandai di hutan dan di gunung. 10. Memberi kesempatan kepada siapa saja untuk meng ajukan usul demi kebaikan dan kemajuan dinasti Siang, agar hidup rakyat dapat lebih makmur dan menikmati keadilan. Menteri yang setia ini berdiri di sisi meja kerajaan, menggosok-gosok bak (batu) tinta dan mengangsurkan Pit (pena bulu) pada Kaisar, agar Touw Ong bersedia mengesahkan usul tersebut. Namun Touw Ong tak langsung menyetujuinya. Berdiam untuk beberapa saat lamanya, seakan sedang mempertimbangkannya.

"Usul pertama, mengenai pembongkaran 'Menara Menjangan', baik kita bicarakan nanti saja. Sebab pembuatan menara itu telah menelan biaya yang cukup besar. Mengenai usul butir ke 5, yaitu menyingkirkan Souw Tat Kie sebagai Permaisuri, sulit kulakukan. Sebab selama ini dia telah menjalankan kewajibannya dengan baik, tak pernah sekali pun melanggar atau menentang kebijaksanaanku. Demikian pula dengan butir ke 6 dari usulmu sulit kulaksanakan, karena Hui Tiong dan Yu Hun bukan saja tidak pernah melakukan kesalahan, malah cukup besar jasa mereka bagi kerajaan. Mengenai butir-butir lainnya dapat kusetujui untuk segera dilaksanakan", sabda Kaisar kemudian.

"Pembangunan Menara Menjangan' telah menelan banyak korban, itu merupakan salah satu sebab yang membuat rakyat tak senang", kata Bun Tiong.

"sedangkan Permaisuri telah merancang aneka bentuk hukuman yang sadis, membuat para Dewa marah dan arwah korban pada gentayangan. Hui Tiong dan Yu Hun harus dipenggal batang lehernya, agar dapat mengembalikan citra dan kewibawaan kerajaan dalam pandangan rakyat, sekaligus memperbaiki undang-undang kerajaan yang kurang memadai. Kenapa Tuanku harus ragu melaksanakan segalanya itu?"

"Sudah kubilang, aku keberatan melaksanakan ketiga macam usulmu itu!", Touw Ong tetap menolak.

"Justeru Tuanku harus bertindak tegas terhadap ketiga usul hamba tersebut!". Hui Tiong yang sejak tadi berdiam diri, segera maju dan berlutut di hadapan Kaisar.Bun Tiong yang tak mengenalnya, menegur .

"Siapa dia?".

"Saya Hui Tiong", sahutnya.

"Oh, kau yang bernama Hui Tiong? Apa maksudmu menghadap Kaisar?", tanya Bun Tiong lagi.

"Walau Taysu merupakan penasehat Kaisar dan membawahi semua menteri, tapi hendaknya Taysu jangan bersikap melewati batas dengan memaksakan kehendak agar Baginda menyetujui semua usulmu. Di samping itu, sebagai pejabat kerajaan, tak patut Taysu menghina Permaisuri dan juga tak adil bila Taysu mendesak Kaisar agar menghukum saya dan saudara Yu, sebab seingatku, belum pernah kami melakukan pelanggaran terhadap undang-undang kerajaan, apalagi mengandung maksud untuk memberontak". Baru selesai Hui Tiong berkata, kepalanya telah merasakan bugem- mentah Bun Tiong, yang membuat matanya berkunangkunang dan terguling tubuhnya. Melihat temannya dijotos, Yu Hun panas hatinya, segera maju seraya berseru .

"Dengan memukul Hui Tiong di hadapan Kaisar, berarti Taysu memukul Kaisar!".

"Siapa kau!?", hardik Bun Tiong sambil melotot.

"Aku Yu Hun", sahut Yu Hun, angkuh sikapnya.

"Oh, kau penjilat satunya!". Bun Tiong kembali menggerakkan tangan, menghantam dada Yu Hun hingga roboh. Bun Tiong yang sedang naik pitam, segera memerintahkan pengawal istana untuk memenggal kepala Hui Tiong dan Yu Hun, tapi telah dicegah Touw Ong.

"Selain ketiga usulmu yang tak dapat kupenuhi, sisanya yang tujuh itu dapat kuterima", kata Kaisar.

"walau Hui Tiong dan Yu Hun telah bersikap kurang ajar terhadap Taysu, tapi tindakan mereka hanya merupakan kesalahan kecil yang tak patut sampai harus dijatuhi hukuman mati. Baiklah segalanya kita serahkan pada pengadilan dan apabila harus dihukum, supaya mereka menerimanya dengan rela hati". Menyaksikan sikap Kaisar yang membela Hui Tiong dan Yu Hun, Bun Tiong sadar, bahwa dia tak dapat terlampau memaksakan kehendaknya."Hamba bukannya ingin memaksakan pendapat pada Tuanku, tapi usul hamba semata-mata demi kebaikan kerajaan Siang", katanya kemudian.

"Segalanya akan kupertimbangkan dan akan kulaksanakan pada saatnya nanti", sabda Kaisar.

"Sekarang sebaiknya Taysu beristirahat dulu". Kenyataannya, sebelum usul Bun Tiong sempat dilaksanakan, telah diterima berita mengenai berontaknya raja muda Peng-leng di Tong- hay (Laut-timur). Mendengar kabar itu, Bun Tiong Taysu segera berunding dengan Oey Hui Houw, kemudian memutuskan, bahwa Bun Tiong akan membawa sepuluh ribu pasukan untuk menumpas pemberontakan tersebut. Touw Ong amat bergirang hati dengan adanya perkembangan baru itu. Sebab dengan berangkatnya Bun Tiong ke luar kota-raja, dia dapat melaksanakan cara hidup seperti sebelumnya. Touw Ong bermaksud mengantar keberangkatan Bun Tiong sampai ke luar kota, tapi telah ditolak oleh sang Taysu, dengan mengemukakan alasan, bahwa dia tak ingin merepotkan Kaisar. Maka kemudian Touw Ong memberikan secawan arak, sebagai ucapan selamat bertugas dan mengharapkan dapat menumpas pemberontakan tersebut. Bun Tiong menyambut pemberian itu, meminumnya, lalu memesan pada Oey Hui Houw, yang mengharapkannya supaya tetap berlaku waspada dan menjaga keamanan serta ketenteraman kota-raja; tak usaha sungkan-sungkan menasehati Kaisar bila Touw Ong bermaksud melakukan sesuatu yang keliru dan dapat! menjatuhkan wibawa kerajaan di mata rakyat. Oey Hui Houw berjanji akan melaksanakan pesan itu ..... Tak lama setelah Bun Tiong Taysu berangkat, Touw Ong membebaskan Hui Tiong dan Yu Hun, memulihkan pula jabatan mereka. Kehidupan dalam istana kembali diisi penuh kemeriahan dan kemewahan. Beberapa hari kemudian, bunga-bunga Tutan di taman istana bermekaran. Touw Ong amat bersuka-cita menyaksikan keindahan bunga di tamannya, memanggil para menterinya untuk ikutmenikmatinya sambil makan minum. Kesempatan yang jarang ada itu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para menteri, hingga ramailah suasana di dalam balai taman istana. Menjelang malam, para menteri bermaksud pamitan, tapi ditahan oleh Touw Ong, yang menyatakan, bahwa kesempatan kumpul dalam suasana santai seperti itu jarang mereka temui. Kaisar mengharapkan mereka meneruskan makan minum dalam suasana semarak diliputi semerbaknya bunga-bunga yang sedang mekar. Para menteri jadi membatalkan maksudnya untuk pulang, perjamuan dilanjutkan. Touw Ong telah memerintahkan untuk menyalakan lilin, hingga keadaan di balai itu menjadi terang benderang. Di luar tahu Kaisar, malam itu Souw Tat Kie telah berobah ke bentuk aselinya menjadi seekor Rase, pergi ke taman untuk mencari mangsa. Pemunculannya di taman didahului oleh desiran angin keras, yang membuat sinar lilin berkelap-kelip seakan hendak padam. Banyak menteri yang berteriak ketakutan. Berlainan dengan Oey Hui Houw, kendati telah setengah mabuk, tetap tenang sikapnya. Dia memperhatikan sumber angin yang aneh itu, terlihat olehnya siluman Rase sedang mendatangi. Oey Hui Houw lantas menyuruh pembantunya mengambil Kim Gan Sin Eng' (Garuda Sakti Bermata Emas) yang diperolehnya dari Pak-hay (Laut-utara). Tak lama pembantunya telah kembali sambil membawa sangkar berisi burung sakti itu. Oey Hui Houw membuka tutup sangkar dan tak ayal lagi burung Garuda itu melayang ke angkasa, menerkam siluman Rase. Sang siluman berusaha menghindar, tapi tak urung wajahnya kena cakar, yang membuatnya cepat-cepat melarikan diri. menyelusup masuk ke dalam gunung-gunungan di taman istana. Touw Ong yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri, segera memerintahkan untuk menggali tempat itu.

"Kim Gan Sin Eng' kembali ke sangkarnya. Ketika tempat menghilangnya siluman Rase digali, terlihat tumpukan tulang-belulang manusia di situ.Barulah Kaisar percaya akan keterangan beberapa orang suci, juga pembantunya, bahwa hawa siluman berasal dari istananya. Pesta taman' usai dalam suasana yang kurang menyenangkan. Para menteri kembali ke rumah masing-masing. Touw Ong juga masuk ke peraduan untuk tidur. Keesokan harinya, Touw Ong melihat di wajah Souw Tat Kie terdapat beberapa goresan, seperti bekas kena cakar.

"Kenapa wajahmu?", tanyanya.

"Saya amat tertarik akan keindahan dan keharuman bunga mawar, ketika ingin mencium bunga itu, karena kurang hatihati, wajah saya tergores duri". Touw Ong percaya saja penjelasan Permaisurinya. Kemudian dia menceritakan apa yang dilihatnya semalam, bahwa ada siluman Rase yang berhasil dilukai oleh burung Garuda sakti milik Oey Hui Houw. Souw Tat Kie seakan mendengarkan dengan saksama, tanpa memperlihatkan reaksi.