--> -->

Pelantikan Para Malaikat Jilid 07

Jilid 07

Selagi Kie Chiang (Chiu Bun Ong) main Khim, tiba-tiba dia mendengar suara aneh yang berasal dari snar alat musiknya, suara itu seperti orang yang sedang bertempur, saling bunuh. Chiu Bun Ong segera mengambil uang emas untuk meramalkan apa yang sesungguhnya telah terjadi. Dari ramalan itu dia mengetahui kalau anak sulungnya telah mati secara menyedihkan. Namun begitu, dia berusaha sedapatnya untuk membendung kesedihan, agar sikap luarnya tetap terlihat tenang. Tak lama datang utusan Kaisar. Chiu Bun Ong segera berlutut di hadapan pejabat yang diutus Kaisar.

"Kemarin Baginda telah pergi berburu dan memperoleh banyak hasil", sang utusan memberitahukan.

"Kaisar teringat padamu yang telah ditahan selama 7 tahun di sini, berkenan untuk mengantarkan hidangan yang dibuat dari daging binatang buruannya, agar kau dapat ikut mencicipinya". Chiu Bun Ong mengucapkan terima kasih sambil tetap berlutut, lalu membuka tutup mangkok dan memakan tiga buah bakso yang terdapat di dalamnya dengan hati yang hancur; sebab dia tahu benar, daging yang ditelannya itu adalah daging anak kandungnya. Namun dari ramalannya, dia harus berbuat begitu, agar tidak sampai jatuh korban lebih banyak lagi. Selanjutnya dia memohon pada sang utusan untuk menyampaikan terima kasihnya pada Kaisar sambil berlutut ke arah Tiauw-ko, kota- raja. Utusan Touw Ong segera kembali ke kota-raja, melaporkan pelaksanaan tugasnya kepada Kaisar, yang kala itu sedang bermain catur dengan Hui Tiong dan Yu Hun.

"Dengan memakan daging anaknya, berarti ramalan Kie! Chiang tidak lagi tepat, maka aku bermaksud membebaskannya", kata Touw Ong seterimanya laporan tersebut.

"Hamba rasa ramalannya tidak meleset", kata Hui Tiong.

"hanya dia pura-pura tak tahu kalau itu daging anaknya, untuk meluputkan diri dari hukuman".Lebih jauh Hui Tiong menyatakan, bahwa pada saat itu wilayah Timur dan Selatan kerajaan sedang dilanda peperangan, maka bila membebaskan Kie Chiang berarti menambah pula bahaya bagi kerajaan". Atas saran orang kepercayaannya itu, Tiu Ong (Touw Ong) jadi membatalkan maksudnya semula. 

***

 Kie Hoat (yang di kemudian hari lebih dikenal sebagai Bu Ong) amat sedih mendengar kematian saudara sulungnya, Peh Ip Ko. Jenderal Lam Kong Koa yang panas hatinya mendengar kekejaman Kaisar, menyarankan agar segera mengerahkan pasukan untuk menyerang kota-raja. Namun saran itu telah ditentang oleh Shan Gie Seng dengan mengemukakan alasan, bila mereka menempuh cara itu, Chiu Bun Ong yang masih ditahan Kaisar, akan segera dibunuh sebelum mereka sempat membebaskannya. Nasib buruk yang menimpa diri Peh Ip Ko adalah karena melanggar pesan ayahnya, bertindak atas kehendak sendiri. Shan Gie Seng menyarankan, untuk mendekati Hui Tiong dan Yu Hun, dengan memberi mereka hadiah, agar mereka bersedia membantu untuk membebaskan Chiu Bun Ong. Setelah Chiu Bun Ong bebas, barulah merundingkan langkah selanjutnya. Kie Hoat setuju dengan saran Shan Gie Seng. Shan Gie Seng mengutus dua orang perwiranya, Tay Tian dan Hong Thian membawa surat Gie berikut barang berharga untuk dihadiahkan kepada Hui Tiong dan Yu Hun. Ternyata pengaruh hadiah itu memang besar sekali. Ketika dalam perjamuan Touw Ong kebetulan menyebut diri Peh Ip Ko dan juga Chiu Bun Ong, Hui Tiong langsung menyatakan, bahwa dia telah mengirim orang kepercayaannya ke Yu Lie, untuk mengawasi ulah Kie Chiang. Berdasarkan pengamatan orang kepercayaannya itu, Kie Chiang sesungguhnya seorang yang berhati luhur dan setia pada Touw Ong. Biarpun dirinya telah dibuang ke Yu Lie, tapi dia bukan saja tidak berdendam pada Kaisar, malah setiap Ce-it dan Cap-go (tanggal 1 dan 15 menurut penanggalan Imlek), dia selalu memasang hio (dupa linting) untuk kesehatan Touw Ong. Yu Hun maklum kenapa sikap Hui Tiong terhadap Chiu Bun Ong mendadak berobah seratus delapanpuluh derajat. Maka dia pun mendukung ucapan temannya, bahkan kemudian menyarankan, di samping membebaskan Kie Chiang, hendaknya memberinya juga kekuasaan, agar dapat menumpas pemberontakan Ngok Sun dan Kiang Bun Hoan yang telah berlangsung tujuh tahun itu. Mendengar saran-saran kedua orang kepercayaannya, Touw Ong segera mengeluarkan perintah untuk membebaskan raja muda Barat . .... Dua buah genteng jatuh hancur, Chiu Bun Ong menganggap hal itu sebagai pertanda baginya, segera meramal prihal dirinya, yang segera diketahuinya apa yang akan terjadi.

"Hari ini Kaisar akan membebaskanku", ucapnya lirih. Dia lalu menyuruh para pembantunya untuk mengemasi barang- barangnya. Tak lama kemudian sampailah berita yang menyenangkan itu. Chiu Bun Ong segera berlutut ke arah Utara, sebagai pengungkapan rasa terima kasihnya pada Kaisar. Kemudian berangkatlah dia ke kota-raja. Di sepanjang jalan yang dilalui, penduduk kota kecil Yu Lie pada berlutut, sebagai ucapan selamat jalan. Mereka mengantarnya sampai sejauh 10 lie, seakan berat untuk pisah dengan raja muda yang mereka hormati dan cintai. Kalau saja Chiu Bun Ong tidak mencegah, mereka tentu akan mengantarnya lebih jauh lagi. Setiba Chiu Bun Ong di kota-raja, telah disambut oleh para menteri. Chiu Bun Ong mengucapkan terima kasih pada mereka, kemudian dia menuju ke istana untuk menemui Kaisar. Touw Ong berkenan menerimanya.

"Hamba takkan dapat melupakan budi Tuanku yang telah bermurah hati membebaskan hamba", kata Chiu Bun Ong sambil berlutut dihadapan Kaisar.

"semoga Tuanku dikaruniai usia panjang".

"Selama tujuh tahun kau diasingkan di Yu Lie, kau sama sekali tak pernah memperlihatkan sikap dendam, malah sering mendoakan agar aku berusia panjang, hingga aku jadi sadar atas kekeliruanku dalam mengambil keputusan tempo hari", sabda Touw Ong.

"sekarang akan kupulihkan kembali jabatanmu dan memberimu kekuasaan untuk menggerakkan pasukan guna menumpas para raja-muda yang berontak terhadap kerajaan Siang. Pusat pemerintahanmu tetap di See Kie. Tiap bulannya kau akan menerima sumbangan sebanyak 1000 pikul beras Akan kuselenggarakan pesta yang meriah di istana Liong Tek. untuk menyambut kembalimu dan kau boleh berpesiar sepuasnya di kota-raja selama tiga hari". Chiu Bun Ong menggunakan kesempatan yang diberikan Kaisar, untuk berpesiar di kota Tiauw-ko sepuasnya. Pada hari ke dua dia telah bertemu dengan Oey Hui Houw, yang langsung mengajaknya mampir ke tempat tinggalnya. Mereka berbincang-bincang sampai larut malam, kemudian Hui Houw menyuruh para pembantunya meninggalkan ruang, menasihati Chiu Bun Ong, agar sebaiknya segera meninggalkan kota-raja, sebab pendirian Touw Ong sering berobah. Bila Chiu Bun Ong berdiam agak lama di Tiauw-ko, dikuatirkan akan terjadi lagi hal-hal yang tak diinginkan atas dirinya. Chiu Bun Ong menganggap saran Oey Hui Houw memang cukup beralasan. Namun dia ragu untuk pergi begitu saja, sebab dia harus melewati lima kota, baru akan tiba di See Kie. Oey Hui Houw memberi petunjuk caranya melewati kelima kota tadi, yaitu dengan membawa Tong Hu Leng Kian' (Panah komando dari tembaga) miliknya, dengan begitu penguasa dari lima kota takkan berani menghalanginya melewati kota yang mereka jaga. Pada jam dua tengah malam, dia memerintahkan dua orang pembantu setianya membuka pintu kota Barat untuk memudahkan Chiu Bun Ong meninggalkan kota-raja. Atas saran Oey Hui Houw, Chiu Bun Ong berangkat dengan lebih dulu mengganti pakaian .....

***

 Hui Tiong amat terkejut ketika mendengar laporan dari pembantunya yang disuruh mengawasi gerak-gerik Chiu Bun Ong, bahwa raja muda Barat itu telah meninggalkan kota-raja tanpa pamit. Dia segera mengajak Yu Hun menghadap Touw Ong. Kaisar amat menyesalkan mereka, justeru merekalah yang mengusulkan untuk membebaskan Chiu Bun Ong. Dengan berangkatnya tanpa pamit, berarti dia telah melanggar undangundang kerajaan, dapat dianggap sebagai buronan. Hui Tiong dan Yu Hun memohon maaf atas kekeliruan mereka, menyarankan pada Kaisar, agar memerintahkan In Po Pai dan Lui Kay untuk melakukan pengejaran dengan membawa 3000 prajurit. Touw Ong menyetujui saran itu. In Po Pai dan Lui Kay segera melaksanakan perintah. Melalui ramalannya, Chiu Bun Ong mengetahui kalau dirinya dikejar oleh pasukan Kaisar, maka segera memacu kudanya. Namun In Po Pai dan Lui Kay beserta pasukannya ternyata mampu bergerak cepat, rupanya tak lama lagi diri Chiu Bun Ong! akan terkejar dan dapat mereka tawan ..... 

***

 In Tiong Cu yang sedang duduk seorang diri, tiba-tiba merasa tak enak perasaannya. Dengan melalui kesaktiannya, dia mengetahui kalau Chiu Bun Ong sedang berada dalam bahaya. Dia segera menyuruh memanggil Lui Chin Cu, muridnya. Sang murid datang menghadap, memberi hormat seraya, bertanya.

"Ada titah apa Suhu?".

"Kie Chiang, ayah angkatmu, sedang menghadapi kesulitan di dekat kota Leng Tong-koan, segeralah kau berangkat ke sana untuk menolongnya --- Tapi sebelum ke Leng Tong-koan, hendaknya kau pergi dulu ke Houw-jie-gay (Lembah anak harimau) untuk mengambil sebuah senjata, nanti akan kuturunkan kau ilmu menggunakan senjata itu".

"Baik Suhu". Lui Chin Cu cepat-cepat meninggalkan goa tempat bersemayam gurunya, pergi ke lembah yang dimaksud untuk mencari senjataseperti yang diperintahkan oleh gurunya. Namun dia tidak menemukan sesuatu di lembah itu. Lui Chin Cu bermaksud kembali ke tempat gurunya untuk meminta keterangan yang lebih jelas, tapi tiba-tiba dia mengendus bau yang amat harum serta mendengar suara gemerciknya air. Dia amat terpesona menyaksikan keindahan panorama di sekitar tempat itu. Tiba-tiba melihat buah Sing (sejenis kenari) yang ranum di antara daun yang hijau. Chin Cu segera naik ke pohon itu dan memetik dua buah Sing yang telah masak, mencicipi sebuah, terasa manis lezat. Buah satunya yang semula hendak dipersembahkan untuk gurunya, tanpa terasa telah dimakannya juga. Kemudian dia meneruskan pencarian senjata yang dimaksud sang guru .... Mendadak terdengar suara ledakan, disusul di bahu kirinya tumbuh sayap. Lui Chin Cu berseru kaget, bermaksud mencabutnya. Namun biar bagaimana dia mengerahkan tenaga, tak juga berhasil mencabutnya. Lalu terdengar lagi suara yang keras, kini di bahu kanannya telah pula muncul sayap, wajahnya berobah bentuknya, mulutnya berupa paruh burung, kulitnya berobah biru dan merah rambutnya! Lui Chin Cu terkulai lemah melihat perobahan bentuk dirinya. Kala itu datang Kim Shia, murid In Tiong Cu lainnya, yang disuruh memanggil Lui Chin Cu.

"Kau dipanggil Suhu", ujar Kim Shia begitu bertemu Chin Cu. Lui Chin Cu terpaksa bangkit, pergi menghadap gurunya.

"Sungguh luar biasa!", kata In Tiong Cu ketika melihat perobahan diri muridnya.

"mari ikut aku!". In Tiong Cu mengajak muridnya ke taman belakang, mengeluarkan sebatang 'Kim Kun' (Toya atau pentungan emas), memberikan pada muridnya dan mulai mengajarkan cara menggunakannya. Lui Chin Cu ternyata sangat cerdas, sekali diajari langsung faham. Kemudian In Tiong Cu menuliskan huruf 'Hong' (Angin) disayap kiri sang murid, sedang di sayap kanan Chin Cu diterakan huruf 'Lui' (Gledek), lantas membaca mantera. Segera terjadi keajaiban, tubuh Lui Chin Cu langsung dapat melayangdan meluncur turun sesuka hatinya. Sekarang berangkatlah kau ke perbatasan kota Leng Tong-koan untuk menolong ayahmu melintasi lima kota, tapi jangan kau ikut ke See Kie setelah selesai menjalankan tugasmu, cepatlah kembali ke mari. Ingat baik-baik, kau tak boleh membunuh seorang pun prajurit dalam usaha menolong ayahmu". Lui Chin Cu pamit pada gurunya, terbang menuju ke perbatasan Leng Tong-koan. Dia turun di sebuah bukit, dari kejauhan melihat ada orang yang tengah memacu kudanya.

"Mungkin dia ayahku", Lui Chin Cu menduga-duga, lalu berseru.

"Apakah kau raja muda Barat!?". Chiu Bun Ong mengangkat muka dengan sikap terperanjat, terlihat olehnya seorang yang berwajah menakutkan. Tapi yang membuat sang raja muda agak tenang, manusia aneh itu dapat juga bicara, jadi dia pasti bukan siluman! Dia lantas menghampirinya seraya bertanya.

"Bagaimana Kiat-su bisa kenal aku?". (Kiat-su = Orang gagah). Lui Chin Cu segera berlutut seraya berkata.

"Saya adalah anak yang ayah pungut di gunung Yen-san, bernama Lui Chin Cu".

"Anakku telah 7 tahun diangkat murid oleh In Tiong Cu". kata Chiu Bun Ong yang ragu melihat keadaan fisik Lui Chin Cu,"dia berada di Chong-lam-san".

"Saya justeru telah diperintah Suhu untuk membantu ayah melintasi 5 kota dan menghalau para pengejar". Lui Chin Cu juga menceritakan kenapa keadaan dirinya jadi begitu aneh.

"Hendaknya dalam menolongku jangan sampai kau membunuh orang, anakku", pesan Chiu Bun Ong.

"agar tidak menambah dosaku".

"Guru saya pun berpesan begitu", ucap Lui Chin Cu. Dia segera terbang menyongsong pasukan kerajaan yang kala itu tengah mendekati bukit. Lui Chin Cu turun di hadapan pasukan pengejar sambil melintangkan tongkat emasnya seraya menghardik.

"Jangan kalian maju lebih jauh bila masih sayang nyawa kalian".Melihatnya mendadak turun dari langit dan bertampang aneh, pasukan pengejar jadi ketakutan, segera lari lintang pukang, sebagian dari mereka melaporkan hal itu pada In Po Pai dan Lui Kay yang berada di barisan belakang.

"Kenapa kalian pada lari?", tanya In Po Pai.

"Ada Malaikat yang bertampang seram menghalangi jalan maju kami", menerangkan salah seorang prajurit dengan sikap ketakutan. Lui Kay dan In Po Pai serta merta memacu kuda mereka. Begitu bertemu dengan Lui Chin Cu, In Po Pai sama sekali tak gentar, malah menghardik.

"Siapa kau? Sungguh besar nyalimu, berani menghalangi gerak maju pasukan kerajaan!".

"Aku Lui Chin Cu, anak ke 100 dari See Pek Houw (raja muda Barat)", sahut Lui Chin Cu dengan suara lantang.

"aku disuruh oleh guruku untuk menolong ayahku dan mengantarkan beliau pulang ke negeri asal. Sebaiknya kalian jangan meneruskan pengejaran, agar tak sampai terluka oleh kemplangan toyaku!". In Po Pai dan Lui Kay bukannya menuruti anjuran Lui Chin Cu, malah jadi sangat marah, langsung menyerang Lui Chin Cu dengan senjata masing-masing. Lui Chin Cu tak mau melayani mereka bertanding, tak berani melanggar pesan guru maupun ayah angkatnya yang melarangnya membunuh siapapun. Dia segera terbang dan turun di atas wadas lereng gunung yang cukup jauh jaraknya dengan kedua lawannya.

"Aku enggan bertanding dengan kalian", katanya.

"bila kepala kalian lebih keras dari batu gunung ini baru mau aku melayani kalian!". Begitu selesai berkata, Lui Chin Cu menggerakkan tongkat emasnya, menghantam batu wadas hingga hancur berkepingkeping. Menyaksikan itu, ciutlah nyali In Po Pai dan Lui Kay, mengajak pasukannya kembali ke kota-raja .... Lui Chin Cu mendatangi ayahnya, menceritakan apa yang baru terjadi. Berseri wajah Chiu Bun Ong mendengar penuturan anak angkatnya.

"Akan saya gendong ayah melintasi lima kota", ujar Lui Chin Cu kemudian. Chiu Bun Ong menyetujui usul itu. Lui Chin Cu terbang sambilmenggendong ayah angkatnya. Chiu Bun Ong memegang bahu Lui Chin Cu erat-erat sambil memejamkan mata, membuatnya hanya mendengar desiran angin dan bunyi halilintar. Beberapa saat kemudian, terasa Lui Chin Cu menukik turun, disusul dengan terdengar suaranya.

"Kita telah melintasi lima kota, ayah". Chiu Bun Ong membuka mata dan betapa herannya dia ketika mengetahui telah berada di perbatasan negerinya. Sesuai dengan pesan gurunya, Lui Chin Cu segera pamit pada ayah angkatnya. Sebenarnya berat bagi Chiu Bun Ong untuk pisah lagi dengan anak angkatnya, ingin dia mengajak Lui Chin Cu ke istananya, namun sang anak tak berani melanggar pesan gurunya. Ayah dan anak terpaksa berpisah dengan perasaan sedih. Chiu Bun Ong meneruskan perjalanan seorang diri, dia tiba di rumah penginapan menjelang gelap cuaca. Bermalamlah dia di situ. Keesokan harinya baru Chiu Bun Ong menyadari kalau dirinya tidak membawa uang, maka dia bermaksud meninggalkan rumah penginapan secara diam-diam, tapi sempat diketahui oleh pelayan penginapan tersebut, yang langsung mengejarnya dan memaksanya untuk membayar sewa penginapan. Tak lama muncul pula pemilik rumah penginapan. Chiu Bun Ong terpaksa memberitahukan identitasnya. Sun Kiat, pemilik rumah penginapan itu, segera berlutut, memohon maaf atas sikapnya sebelumnya. Chiu Bun Ong tidak menyalahkannya, menganggapnya wajar kalau dia harus menagih biaya menginap. Kemudian dia mengemukakan maksudnya untuk meminjam kuda, yang akan dipergunakan sebagai tunggangannya dalam meneruskan perjalanan ke See Kie. Namun Sun Kiat tak memiliki kuda, dia hanya dapat menyediakan keledai yang biasa digunakan untuk menggiling terigu. Chiu Bun Ong melanjutkan perjalanan dengan menunggang keledai dan Sun Kiat mengikutinya dengan berjalan kaki Hari itu, ibu Chiu Bun Ong, Tay Kiang, telah mendengar tiga kali hembusan angin keras yang disertai suara yang aneh. Ia segeramenitah menyediakan meja sembahyang, menyalakan lilin dan memasang hio, kemudian meramal dengan uang emas. Dari ramalannya itu ia mengetahui, bahwa tak lama lagi puteranya akan kembali. Betapa suka-citanya dia. Ia segera menitah para menteri dan panglima serta cucucucunya ke luar kota untuk menyambut kembalinya Chiu Bun Ong. Seluruh penduduk See Kie bersuka-ria, menyediakan meja sembahyang di luar rumah masing-masing, bersyukur akan kembalinya pemimpin mereka. Kie Hoat, putera kedua Chiu Bun Ong, berlutut di tepi jalan, yang diikuti lainnya dalam menyambut kembalinya Chiu Bun Ong. Chiu Bun Ong diminta menukar pakaian dengan 'pakaian kebesaran yang sengaja mereka bawa, menyilakannya duduk di joli. Tapi atas permintaan rakyat yang ingin melihatnya, Chiu Bun Ong lantas menunggang kuda. Tiba-tiba raja muda Barat ini teringat akan Peh Ip Ko yang tak dapat menyambut kembalinya karena telah mati secara tragis, membuat Chiu Bun Ong sedih dan merasa mual, mendadak memuntahkan bakso yang terbuat dari daging anaknya. Bakso itu bukan saja tak hancur di dalam perut Chiu Bun Ong malah ketika jatuh ke tanah, berobah menjadi kelinci, yang langsung lari ke Barat. Bakso ke dua dan ke tiga pun menjelma menjadi kelinci ketika menyentuh tanah, berlari ke arah yang sama. Para pembantu Chiu Bun Ong segera menolong pemimpin mereka turun dari kuda, memindahkannya duduk di joli kerajaan dan melanjutkan perjalanan. Setelah melewati saat-saat yang gelap selama tujuh tahun, akhirnya Chiu Bun Ong kembali ke negerinya dengan mendapat sambutan hangat dari para pembantunya maupun rakyat See Kie. Tay Kiang menyiapkan perjamuan untuk anaknya. Shan Gie Seng memberitahukan Chiu Bun Ong, bahwa dengan kacaunya keadaan di dalam negeri dinasti Siang, telah membuat banyak raja muda yang mengangkat Chiu Bun Ong sebagai pimpinan mereka. Menurutnya, tak lama lagi kota-raja akan jatuh ke tanganRaja lain. Sedangkan Lam Kong Koa menyarankan agar melakukan pembalasan atas kematian Peh Ip Ko, sekaligus menggulingkan Touw Ong dari Tahta, mengangkat Kaisar baru yang bijaksana. Chiu Bun Ong dapat memaklumi perasaan para pembantunya. Namun dia tak setuju menggunakan cara kekerasan. Walau Kaisar yang sekarang sering bertindak kejam, tapi sebagai orang! yang setia pada kerajaan, sulit baginya untuk menentang apa lagi mengangkat senjata terhadap junjungannya. Dia mengharapkan ada raja muda lain yang dapat mengakhiri kekuasaan Touw ?ng ....

***

 Chiu Bun Ong mengeluarkan maklumat, yang isinya menyatakan bermaksud membuat sebuah 'Leng Tay' (Menara Pengamat) di bagian Barat kota See Kie. Fungsi menara itu adalah untuk mengamati peredaran benda-benda di angkasa dan memecahkan rahasia yang terkandung di dalamnya. Banyak penduduk See Kie secara spontan bersedia menyumbangkan tenaganya untuk mengerjakan menara tersebut. Biarpun rakyat bersedia membantu secara suka-rela, tapi Chiu Bun Ong menghargai tenaga mereka, memberi bayaran yang layak, membuat mereka tambah bersemangat dalam melaksanakan pekerjaan. Maka tidaklah mengherankan menara itu dapat dirampungkan dalam waktu sebulan. Chiu Bun Ong amat bersuka-cita ketika berkunjung ke sana, berkeliling ke seputarnya dan malam harinya menginap di menara. Dalam tidurnya Chiu Bun Ong telah bermimpi ada Hui Him (Biruang Terbang) menerobos masuk ke balik kelambu, bersamaan terdengar suara letusan yg disertai cahaya menyilaukan di belakang 'Leng Tay'. Sang raja muda Barat berseru kaget dan terjaga dari tidurnya. Untuk sesaat Chiu Bun Ong duduk termenung di tepi pembaringan, tak tahu makna dari mimpinya itu ... Keesokan harinya raja muda Barat menceritakan mimpinya pada Shan Gie Seng. Sang menteri langsung mengucapkan selamat pada Chiu Bun Ong. Sebab menurut penafsirannya, tak lama lagi Chiu Bun Ong akan memperoleh seorang menteri yang bijaksana lagi sakti