--> -->

Pelantikan Para Malaikat Jilid 06

Jilid 06

Biarpun di luarnya Souw Tat Kie bersikap biasa saja, tapi di dalam hatinya terkandung niat ingin mencelakai Kiang Chu Gie, untuk membalas dendam atas kematian siluman Kecapi Batu Kumala. Maka kemudian Tat Kie membuat rencana untuk membangun sebuah menara yang sangat indah. Setiap tingkatnya terbuat dari batu marmer dengan tiang-tiang yang berukir dan di semua ruang dihias pula dengan ratna mutu manikam, yang menambah kemewahan bangunan. Bangunan itu akan diberinya nama 'Menara Menjangan', bila malam tiba akan tampak berkilauan oleh cahaya batu dan logam mulia yang digunakan menghias ruang. Touw Ong sangat gembira akan rencana dari isteri tercintanya.

"Bila Ranggon (Menara) itu selesai dibangun, bukan saja akan membuat nama Tuanku semakin terkenal di dunia, juga para Dewa tentu akan sering bertamasya ke sana. Dengan bergaul bersama mereka, Tuanku tentu akan berumur panjang", kilah Tat Kie. Semakin besarlah hasrat Touw Ong untuk membangun menara tersebut.

"Akan segera kuperintahkan orang membuatnya!", katanya.

"Tidak sembarang orang dapat membuatnya, Baginda", ucap Tat Kie.

"hanya orang yang memiliki kesaktian saja yang dapat melakukannya".

"Jadi menurutmu, siapa yang paling tepat menangani pekerjaan itu?", tanya Kaisar.

"Saya kira hanya Kiang Chu Gie yang mampu menanganinya", sahut Tat Kie. Kaisar segera memanggil Kiang Chu Gie, yang selama memangku jabatan di kerajaan, telah tinggal bersama Pi Kan. Sedangkan isterinya untuk sementara masih menumpang di rumah Song It Jin. Kiang Chu Gie yang sebelumnya telah mendapat firasat kurang enak, langsung saja meramalkan keadaan dirinya, yang diketahui ada bahaya yang tengah mengancamnya. Karenanya dia langsung mengucapkan selamat berpisah pada Pi Kandan berpesan .

"Aku telah menyisipkan sehelai surat di bak (batu) tinta. Bila di kemudian hari pak menteri terancam bahaya, segeralah baca surat itu, mungkin bapak dapat menghindari bahaya itu".

"Terima kasih atas perhatianmu terhadapku", kata Pi Kan yang berfirasat kurang enak juga.

"seandainya panggilan Kaisar akan membahayakan dirimu, biarlah aku yang mewakilimu menghadap Baginda".

"Tak usah, semua ini memang sudah merupakan garis hidup yang harus saya tempuh", ucap Chu Gie. Kemudian Chu Gie pamit pada Pi Kan, segera menghadap Kaisar di 'Menara Pemetik Bintang'. 

***

 "Aku mengharap kau dapat membangun menara ini sesuai dengan denah", Kaisat memperlihatkan denah 'Menara Menjangan' pada Kiang Chu Gie. Kiang Chu Gie memperhatikan gambar rancangan tersebut.

"Bilakah bangunan ini akan selesai?", tanya Kaisar.

"Ini merupakan proyek raksasa lagi berat, Tuanku. Hamba rasa paling cepat akan memakan waktu 35 tahun baru dapat dirampungkan". Touw Ong berpaling ke Souw Tat Kie seraya berkata.

"Apa gunanya kita membangun menara itu bila memakan waktu selama itu!?".

"Dia berdusta Tuanku", ucap Tat Kie segera.

"setiap pendusta harus dihukum dengan 'Po Lok!".

"Maaf Tuanku", sela Kiang Chu Gie sebelum Kaisar sempat memutuskan sesuatu.

"bukannya hamba ingin menentang perintah Tuanku. Sesungguhnyalah, membangun menara semacam itu merupakan suatu 'proyek mercu suar' yang menghambur-hamburkan uang. Lebih baik bila uang itu dimanfaatkan bagi kesejahteraan rakyat, hingga di sana-sini tidak lagi timbul pemberontakan seperti sekarang. Ini merupakan saran yang keluar dari lubuk hati hamba. Seandainya Tuanku tak sudi mendengar saran ini, hamba khawatir kerajaan Siang akan cepat runtuh". Touw Ong jadi sangat murka mendengar ucapan Kiang Chu Gie, segera menitahkan menangkapnya dan mencincangnya.Namun Chu Gie telah mendahului kabur. Kaisar kesal campur geli menyaksikan ulah Chu Gie.

"Ini sebagai bukti kalau dia takut mati!", ucapnya. Kiang Chu Gie terus lari sampai di 'Kiu Liong Kiauw (Jembatan Sembilan Naga). Melihat para pesuruh Raja terus mengejarnya, berkatalah dia.

"Tak ada gunanya kalian mengejarku!". Selesai berkata, Chu Gie terjun ke dalam air di bawah jembatan itu, menyelam. Para pengejar terbengong mengawasi arus air yang cukup deras. Kebetulan menteri Yo Jim lewat di situ, sangat heran menyaksikan sikap para pengawal istana itu, segera menanyakan sebabnya. Salah seorang pengejar menerangkan duduk soalnya. Yo Jim tak banyak komentar, meneruskan langkahnya menuju ke balai berkumpulnya para menteri. Begitu tiba di tempat itu, dilihatnya utusan Kaisar telah datang memanggil Chong Houw Houw. Sebab Souw Tat Kie telah memuji kepandaian raja-muda yang satu ini, yang dianggap tepat untuk membangun menara seperti yang dikehendaki Tat Kie. Yo Jim yang jujur dan setia, ketika tahu Kaisar bermaksud meneruskan rencananya membuat 'Menara Menjangan', segera dia menghadap Kaisar dan memohon pada Touw Ong untuk membatalkan saja rencananya yang akan menelan biaya yang tidak sedikit itu. Kaisar bukan saja tak pedulikan saran itu, malah menganggap dirinya dihina. Semula Touw Ong bermaksud hendak memancung batang leher Yo Jim yang dianggap lancang itu, tapi karena ingat akan jasanya, maka kemudian memutuskan untuk mencungkil sepasang matanya. Hawa penasaran dari menteri yang jujur lagi setia ini, melambung tinggi ke angkasa, terlihat oleh Dewa Cheng Si To Tek Cin-kun yang bermukim di Cheng Hong-san. Tergerak hati sang Dewa ketika tahu duduk soalnya, segera menyuruh Malaikat Oey Cheng Lek Su untuk menyelamatkan diri Yo Jim dan membawanya ke tempat pemukimannya. Oey Cheng Lek Su langsung berangkat ke 'Menara Pemetik Bintang',menyelamatkan Yo Jim dengan menggunakan kesaktiannya. Seketika bertiuplah angin kencang yang menghamburkan batu dan pasir. Setelah suasana kembali tenang, diri Yo Jim sudah lenyap dari hadapan Kaisar ....

"Persis ketika aku hendak menghukum kedua puteraku tempo hari", gerutu Touw Ong. Di lain pihak, Yo Jim telah dibawa oleh Oey Cheng Lek Su ke hadapan To Tek Cin-kun. Cin-kun mengeluarkan dua butir pil Dewa, memasukkan ke mata Yo Jim yang telah bolong, kemudian mengucapkan mantera untuk menyadarkan Yo Jim dari pingsannya. Ketika Yo Jim siuman, dari kelopak matanya tumbuh dua buah telapak tangan, yang di tengah-tengahnya terdapat mata. Dengan mata ajaibnya itu Yo Jim dapat melihat Cin-kun. Dia tahu kalau Dewa itulah yang menyelamatkan dirinya, langsung berlutut di hadapannya dengan mengucapkan terima kasih, sekalian memohon agar dirinya diterima sebagai muridnya. Cin-kun meluluskannya dan mulai saat itu Yo Jim ikut gurunya bermukim di Cheng Hong-san .... 

***

 Chong Houw Houw ditugaskan oleh Kaisar untuk membangun 'Menara Menjangan'. Pelaksanaan pembuatan menara tersebut bukan saja menelan biaya yang besar, juga banyak jatuh korban karena dilaksanakan di luar pri- kemanusiaan, yang sekali-gus telah memperkaya diri Chong Houw Houw. Ternyata, setiap keluarga yang memiliki tiga orang lelaki, dua di antaranya diwajibkan untuk bekerja dalam 'proyek mercu suar' itu. Tapi jika yang ditugaskan cukup kaya, dapat memberi uang dalam jumlah yang cukup besar pada pimpinan proyek, dirinya dapat dibebaskan dari kewajiban tersebut. Uang itu akan masuk ke saku Chong Houw Houw, yang membuatnya kaya-raya dalam waktu relatif singkat. Sedangkan rakyat banyak mengeluh dan kian banyak yang melarikan diri ke luar kota-raja.Di laih pihak, Kiang Chu Gie yang berhasil meloloskan diri dari kejaran petugas istana melalui saluran air, segera menuju ke rumah Song It Jin. Dia menceritakan pengalamannya pada Ma-si, isterinya. Sang isteri kurang senang setelah mendengar penuturan suaminya.

"Seharusnya kau tahu diri", gerutunya.

"kau hanya tukang ramal, bukannya sarjana, tapi Kaisar telah begitu baik hati mengangkatmu sebagai Toa-hu. Seharusnya kau merasa berterima kasih, setia dan patuh pada Baginda. Tapi nyatanya, kau malah membangkang terhadap perintah Kaisar untuk membangun menara. Coba seandainya kau terima tugas itu, tentunya banyak uang dan bahan yang dipercayakan padamu, sebagian dari itu dapat kau geser untuk memperkaya dirimu. Tapi kau bukan saja menolak kesempatan baik itu, malah menggurui Kaisar lagi. Benar-benar goblok kau ini! Atau barang kali kau memang telah ditakdirkan seumur hidupmu harus jadi tukang Kwamia (peramal nasib)!?".

"Tenang Nio-cu", Chu Gie berusaha menenangkan isterinya.

"di kerajaan Siang aku takkan memiliki kesempatan untuk mengembangkan kepandaian --- Sebaiknya kita pergi ke See Kie, di sana hidup kita akan lebih menyenangkan".

"Sudah sinting rupanya kau!", mulai keras suara Ma-si.

"kesempatan baik yang sudah ada kau tinggalkan, malah ingin mencari sesuatu yang belum pasti di tempat lain".

"Aku yakin keadaan kita nanti jauh lebih baik dari sekarang".

"Aku tak percaya", seru Ma-si.

"lebih baik kita cerai saja, daripada aku harus mengikutimu ke tempat lain",sejak lahir sampai setua itu, Ma-si belum pernah meninggalkan kota Tiauw-ko (kota-raja), dia khawatir akan sengsara hidupnya bila ikut suami ke kota lain. Kiang Chu Gie berusaha membujuknya, tapi Ma-si tetap berkeras minta cerai. Song It Jin bantu membujuk Ma-si, tapi tak berhasil melunakkan tekad isteri Chu Gie. Akhirnya, atas nasehat Song It Jin, Chu Gie terpaksa harus menceraikan isterinya, mengantarkannya kembali ke orang tuanya. Beberapa hari kemudian Kiang Chu Gie pamit pada saudaraangkatnya yang baik hati itu.

"Ke mana tujuan Heng-tee?", tanya It Jin.

"Saya ingin pergi ke See Kie untuk melaksanakan tugas penting, mengabdi pada Raja yang akan menumbangkan kekuasaan Touw Ong".

"Yakinkah kau akan terjadi peristiwa semacam itu?", It Jin seakan meragukan keterangan adik angkatnya.

"Yakin seyakin-yakinnya", kata Chu Gie dengan nada pasti.

"Bila telah tercapai maksudmu nanti, segeralah surati aku, agar tenang perasaanku", pesan It Jin. Perpisahan mereka berlangsung penuh keharuan. Kiang Chu Gie melakukan perjalanan dengan menyusuri tepi sungai Oey-ho (Huang-ho; Sungai Kuning) dengan menyamar sebagai pengail ikan. Bila letih berjalan, dia beristirahat di tepi sungai sambil memancing ikan. Selang beberapa hari, dia hampir tiba di kota Leng-tongkoan. Terlihat olehnya beberapa ratus orang yang terdiri lakilaki, wanita dan anak- anak, pada berkumpul lesu-sedih di muka pintu gerbang kota. Ternyata mereka adalah penduduk kota-raja yang melarikan diri akibat perbuatan sewenang-wenang Chong Houw Houw dalam rangka membangun 'Menara Menjangan'. Apa mau dikata, setiba di kota itu, kolonel Thio Hong, penguasa Leng- tong-koan, tak memperkenankan mereka lewat. Kiang Chu Gie kasihan melihat keadaan mereka, segera menemui Thio Hong, memperkenalkan diri sebagai menteri Kiang Siang. Dia meminta pada penguasa kota itu agar memperkenankan penduduk kota-raja lewat. Sebab bila mereka sampai tertangkap, niscaya akan jadi korban tungku api 'Po Lok' atau pun liang ular! Namun Thio Hong menyatakan, bahwa para pengungsi dari kota-raja itu dianggap sebagai pengkhianat, bila dia menolong mereka, dirinya akan dicap sebagai pengkhianat juga. Selanjutnya Thio Hong mengusir Chu Gie dari markasnya. Ketika tahu Chu Gie gagal membujuk penguasa kota Lengtong-koan untuk mengizinkan mereka lewat, para wanita dan anak-anak banyakyang menangis, begitu pula kaum prianya tampak lemas tiada daya.

"Jangan kalian bersedih". Kiang Chu Gie berusaha menghibur mereka.

"akan kubantu kalian melewati lima kota sekaligus, tapi kalian harus bersabar menunggu sampai gelap cuaca". Begitu gelap cuaca, Chu Gie meminta para penduduk itu menutup mata dan baru boleh membuka matanya setelah ada pemberitahuan darinya. Sedang Chu Gie sendiri telah berlutut ke arah Kun Lun-san sambil membaca mantera. Para penduduk merasakan tubuhnya seperti melayang dengan disertai sampokan angin, biarpun merasa heran, tapi mereka tak berani membuka mata. Sebab, bila melanggar pesan Chu Gie, diri mereka akan jatuh hancur. Beberapa waktu kemudian terdengar suara Chu Gie, yang menyuruh mereka membuka mata. Ternyata mereka telah berhasil melintasi 5 kota lewat udara dan pada saat itu telah berada di Kim Khe-leng (Bukit Ayam Emas), sudah masuk wilayah See Kie. Para pelarian itu bersyukur atas bantuan Chu Gie, meneruskan perjalanan ke kota See Kie. Keadaan kota See Kie amat tenang, jauh beda dengan kotaraja. Kedatangan mereka disambut dengan tangan terbuka oleh Peh Ip Ko, yang memberi mereka makan, tempat tinggal, juga pekerjaan. Sedangkan Kiang Chu Gie meneruskan perjalanannya ke Hoan Kie untuk bersembunyi, memanfaatkan waktu luangnya dengan memancing ikan di tepi sungai .... 

***

 Kehadiran para pengungsi dari kota-raja, telah membuat Peh Ip Ko semakin terkenang pada ayahnya, Chiu Bun Ong.

"Tujuh tahun sudah ayah ditahan di Yu Lie", kata hati Peh Ip Ko, sebaiknya aku pergi ke kota-raja untuk menebus dosa ayah". Ketika dia mengemukakan maksudnya kepada para pejabat istana, Shan Gie Seng berusaha mencegahnya, meminta agar Ip Ko sudi bersabar untuk beberapa waktu lagi. Namun kecintaannya terhadap ayahnya sangat besar, membuat PehIp Ko tak menghiraukan nasehat pejabat senior itu, seakan melupakan pula akan pesan ayahnya sebelumnya, yang melarangnya menyusul, apapun yang terjadi atas diri ayahnya. Setelah memohon diri pada ibunya dan mengangkat Kie Hoat, saudaranya, sebagai penggantinya, berangkatlah dia. Para saudara dan pejabat tinggi mengantarnya sampai cukup jauh. Ip Ko berangkat dengan naik kereta 'Tujuh Harum' dan membawa serta seekor monyet putih yang pandai menyanyi dan 10 wanita cantik. Setiba di kota-raja, beruntun lima hari dia mendatangi pintu gerbang istana, tapi tak seorang pun pejabat yang ditemuinya di situ.Baru pada hari ke enam dia melihat Pi Kan mendatangi dengan menunggang kuda. Cepat Ip Ko berlutut dan meminta tolong pada menteri itu untuk mengantarnya menghadap Kaisar. Pi Kan menyanggupinya, lalu menghadap Touw Ong di Menara Pemetik Bintang sambil membawa daftar barang-barang hadiah Peh Ip Ko untuk sang junjungan. Touw Ong berkenan untuk menerima Ip Ko. Peh Ip Ko mempersembahkan barang-barang yang dibawanya pada Kaisar. Kehadiran Ip Ko sempat terlihat oleh Souw Tat Kie, yang langsung tertarik pada ketampanannya. Makin dipandang dia semakin tertarik, membuatnya tak dapat menahan gejolak hati, keluar menemui Touw Ong yang sedang berbincang-bincang dengan Ip Ko.

"Ada apa manis?", tanya Touw Ong.

"Saya dengar Peh Ip Ko amat pandai main Khim (Siter), sudilah Tuanku menitahkannya memainkan sebuah lagu untuk kita", kata Souw Tat Kie. Touw Ong yang telah dipengaruhi siluman, langsung memenuhi permintaan Tat Kie, menyuruh Ip Ko mempertunjukkan permainan Khim-nya.

"Tuanku", kata Peh Ip Ko sambil berlutut di hadapan Souw Tat Kie.

"menurut apa yang hamba dengar dan ketahui, bila orang tua sedang sakit, sang anak tak berani makan --- Maka tidaklah patut hamba bersuka-ria dengan main Khim, sementara ayah hamba sudah tujuhtahun hidup dalam pembuangan".

"Mainkanlah Khim-mu Ip Ko, nanti akan kubebaskan ayahmu, hingga kalian dapat kembali ke negerimu", ujar Kaisar. Peh Ip Ko mulai memainkan Siternya sambil duduk di lantai. Amat indah irama yang dibawakannya, membuat Kaisar jadi sangat gembira dan memerintahkan pembantunya untuk mengadakan perjamuan. Souw Tat Kie yang amat tertarik akan ketampanan Ip Ko, berhasrat ingin merayu si pemuda untuk dijadikan kekasih gelapnya. Maka mulailah dia mengatur siasat agar tercapai maksudnya itu. Dia lantas mengusulkan pada Touw Ong untuk menahan Ip Ko dalam istana selama beberapa waktu, agar ia dapat belajar main Khim padanya. Bila telah mahir nantinya, akan dipertunjukkan untuk menghibur Kaisar. Touw Ong menganggap saran itu cukup baik, langsung menyetujuinya. Souw Tat Kie segera merayu Kaisar agar minum arak sebanyak mungkin, hingga dalam waktu yang tak terlalu lama, Touw Ong mabuk dan dipapah ke pembaringan. Kemudian Tat Kie memanggil Peh Ip Ko agar mengajarkannya memainkan Khim. Dua buah Siter disiapkan untuk keperluan itu. Peh Ip Ko tak dapat membantah, mulai mengajarkan teori, kemudian memainkan sebuah lagu berdasarkan teori yang dikemukakannya tadi. Tat Kie sama sekali tidak memperhatikan pelajaran yang diberikan, tapi berusaha menarik perhatian si pemuda dengan berbagai cara. Namun perhatian Ip Ko tercurah sepenuhnya dalam memberikan pelajaran, sama sekali tidak memperhatikan ulah Souw Tat Kie.

"Nyatanya tak mudah untuk belajar main Khim", kata Souw Tat Kie setelah berselang sesaat. Dia lalu menyuruh dayang untuk menyiapkan meja perjamuan, meletakkan kursi lain di sebelah tempat duduknya, yang disediakan untuk Ip Ko. Peh Ip Ko terperanjat mendapat perlakuan istimewa seperti itu,segera berlutut di hadapan Tat Kie seraya berkata .

"Tak patut saya duduk sejajar dengan Hong-houw (Permaisuri)".

"Bila dipandang dari hirarki kerajaan, kau memang tak dapat duduk sejajar denganku", ujar Souw Tat Kie.

"tapi dengan kau mengajarku main Siter, itu sudah merupakan hubungan antara guru dan murid. Maka apa salahnya bila seorang guru duduk di sebelah muridnya!?". Akan tetapi Peh Ip Ko tetap menolaknya. Tat Kie tak memaksanya lebih jauh.

"Mari kita teruskan pelajaran", katanya kemudian.

"tapi karena tempat dudukku lebih tinggi darimu, sulit bagiku untuk mempelajarinya. Sebaiknya kau duduk di sebelahku, agar lebih mudah bagiku untuk mengikuti pelajaran".

"Asal Hong-houw mengikutinya sungguh-sungguh, perlahan-lahan Sri Ratu tentu akan dapat memainkannya", Ip Ko menolak halus.

"Apa yang harus kukatakan pada Baginda besok seandainya malam ini aku tak dapat mempelajarinya? Duduklah kau di kursi yang lebih tinggi, aku akan duduk di pangkuanmu. Kau pegangi tanganku dan membimbing tanganku memainkan snar-snarnya. Dengan demikian aku tentu akan lebih cepat menguasai permainan Khim ini", ujar Souw Tat Kie. Pucat pasi wajah Peh Ip Ko ketika mendengar saran Tat Kie, berkata dengan suara gemetar .

"Maaf Hong-houw, bila hamba menuruti kehendak Hong-houw, diri hamba akan seperti binatang yang tak menghiraukan lagi etika dan moral --- Apa pula kata orang nanti bila mereka menyaksikan keadaan itu? Mereka tentu akan menuduh Hong- houw sudah menyeleweng, tak setia lagi pada Kaisar! Maka sebaiknya Sri Ratu mempelajari seperti sekarang, asal sabar dan tekun, pastilah Honghouw dapat memainkannya dengan baik". Merah padam wajah Tat Kie saking malu, dari malu berobah menjadi marah dan mulai timbul maksud untuk mencelakai Ip Ko. Maka dia pun tidak merayu lebih jauh, menyuruh Ip Ko meninggalkannya .... 

***

 *Bagaimana hasil belajar main Khim-mu?", tanya Touw Ong pada keesokan harinya, setelah hilang mabuknya.

"Ip Ko bukan saja tidak sungguh-sungguh mengajari saya, malah telahmengeluarkan kata-kata yang tak sopan", sahut Tat Kie. Touw Ong jadi sangat marah, segera memerintahkan untuk memanggil Peh Ip Ko.

"Kenapa kau tidak sungguh-sungguh memberi pelajaran main Khim pada Hong-houw?", tanya Kaisar.

"Orang yang ingin mahir main Khim harus memusatkan seluruh perhatian dan murni perasaannya", Peh Ip Ko menerangkan. Touw Ong tak memiliki alasan untuk menghukum Ip Ko, maka kemudian dia menyuruhnya menyanyi. Ip Ko tak berani menentang perintah Kaisar, mulailah dia mengalunkan suara, membawakan lagu yang bernafaskan kesetiaan terhadap kerajaan. Souw Tat Kie yang ingin menyalurkan rasa kecewa dan dongkolnya pada si pemuda, menyarankan Kaisar .

"Saya dengar Peh Ip Ko memiliki seekor kera putih yang pandai menyanyi, sebaiknya Tuanku menyuruh binatang itu menyanyi". Touw Ong segera menyuruh Ip Ko mengambil kera itu. Ip Ko patuh, memberikan sebuah alat musik pada binatang peliharaannya. Sang kera segera memainkan alat musik itu, disertai alunan suaranya yang cukup merdu. Semua yang hadir kagum akan kepandaian monyet itu. Perasaan Souw Tat Kie sendiri ikut larut dalam alunan lagu tersebut, tanpa disadari mulai tampak bentuk aslinya. Biarpun perobahan yang terjadi pada diri Tat Kie itu hanya berlangsung sekejap dan tak dapat dilihat oleh mata manusia biasa, tapi tidak lolos dari penglihatan sang kera putih yang telah bertapa beribu-ribu tahun. Binatang itu segera melompat dan menerkam diri Tat Kie. Souw Tat Kie cepat menyingkir ke sisi. Touw Ong langsung menyabet kera putih itu dengan pedangnya, hingga tewas seketika. Perkembangan itu benar-benar berada di luar dugaan semua orang. Berarti Peh Ip Ko ingin membunuhku dengan menggunakan keranya", Souw Tat Kie mulai menghasut Touw Ong dengan nafas agakmemburu.

"syukurlah Tuanku dapat menolong saya". Touw Ong langsung memerintahkan untuk melempar Ip Ko ke liang ular.

"Kera hamba itu berasal dari hutan, mungkin dia ingin mencicipi buah- buahan di atas meja, hingga meninggalkan alat musiknya dan melompat untuk mengambil buah itu. Jadi bukannya ingin menerkam Hong-houw", Peh Ip Ko mengemukakan alasan.

"Cukup masuk di akal alasanmu itu", Kaisar membatalkan putusannya semula.

"Sekarang kau harus menyanyi lagi dengan diiringi Khim", Souw Tat Kie yang memerintah sekarang.

"seandainya kau benar-benar setia pada kerajaan dan Kaisar, aku pun tak ingin mempersoalkan peristiwa tadi".

"Tampaknya wanita ini selalu ingin mencari gara-gara denganku, maka biar bagaimana pun, sulitlah bagiku untuk lolos dari hukuman", kata hati Ip Ko.

"baiklah kugunakan kesempatan ini untuk memperingatkan Kaisar dengan nyanyianku, biarpun untuk itu aku harus binasa, namun akan mengangkat derajat keluargaku karena setia terhadap kerajaan". Dengan adanya pendapat itu, mulailah Ip Ko menyanyi sambil duduk di lantai. Dalam syair lagunya itu dia mengecam Tungku api (Po Lok; Pilar pembakar), liang ular, telaga arak dan rimba daging. Semula Kaisar tak menyadari akan adanya kecaman terselubung dalam nyanyian Peh Ip Ko, tapi setelah dijelaskan oleh Souw Tat Kie, Touw Ong pun jadi sangat gusar, segera memerintahkan menangkap Ip Ko. Peh Ip Ko melompat bangun, menghantam kepala Souw Tat Kie dengan Khim-nya. Souw Tat Kie sempat mengelak, kabur dia, tapi apa mau, terpeleset hingga jatuh terguling. Khim Peh Ip Ko hanya dapat menghajar meja hingga hancur. Dan dia langsung ditangkap pengawal istana. Touw Ong bermaksud melempar tubuh Ip Ko ke liang ular, namun Souw Tat Kie mencegahnya, menyatakan bahwa dia memiliki caralain. Ia menyuruh algojo untuk membaringkan tubuh Ip Ko di atas papan, kemudian memantek kaki dan tangannya, lalu mencincang tubuhnya. Touw Ong memerintahkan untuk membuang jenazah Ip Ko yang telah hancur itu ke liang ular, tapi lagi-lagi dicegah oleh Souw Tat Kie.

"Saya dengar, seorang yang bijak takkan mau memakan daging anaknya", kata Tat Kie.

"sebaiknya Tuanku menitahkan membuat bakso dari daging Ip Ko dan menyajikan hidangan istimewa itu pada Kie Chiang. Bila dia bersedia memakannya, berarti ramalannya tidak tepat lagi --- Tapi kalau dia menolak untuk memakannya, sebaiknya dia dibunuh juga, agar tidak menimbulkan mara-bahaya di kemudian hari". Seperti biasanya, Touw Ong langsung menyetujui usul Tat Kie. _ Chiu Bun Ong.In Tiong ChuLui Chin Chu