--> -->

Pelantikan Para Malaikat Jilid 05

Jilid 05

Di istana Giok-si di gunung Kun Lun-san, Dewa Goan Sie Tian Chun tak lagi mau menerima murid baru, sebab ada muridnya yang telah melanggar pantangan membunuh orang yang tak berdosa. Hari itu Goan Sie Tian Chun menyuruh salah seorang muridnya, Pek Hok Tongcu (Bocah Bangau Putih) untuk memanggil murid lainnya yang bernama Kiang Siang alias Kiang Chu Gie (kerap dieja Kiang Chu Ge), yang telah berusia 72 tahun. Tak lama kiang Chu Gie datang menghadap, memberi hormat pada gurunya seraya bertanya.

"Ada soal apa Suhu memanggil Teecu?".

"Rupanya kau telah ditakdirkan tidak dapat menjadi Dewa, tapi akan memperoleh ketenaran nama dan kehormatan duniawi. Kerajaan Siang tak lama lagi akan runtuh, diganti dengan dinasti Chiu. Berangkatlah kau mewakili diriku memberi anugrah kepada para arwah yang membantu Raja Chiu yang adil lagi bijaksana itu, untuk jadi Malaikat. Dengan begitu, tidaklah sia-sia kau bertapa (Bersamadhi) di sini selama 40 tahun". Agak berat bagi Kiang Chu Gie harus pisah dengan gurunya. Namun Goan Sie Tian Chun menghiburnya dan memberinya dorongan semangat. Kiang Chu Gie meminta gurunya meramalkan nasibnya. Permintaannya itu dikabulkan, sang guru meramalkan nasib muridnya yang satu ini dalam bentuk sajak, yang maknanya harus dapat dipecahkan sendiri. Chu Gie pamit pada gurunya, meninggalkan gunung Kun Lun-san. Kiang Siang atau Kiang Chu Gie ini berasal dari Khouwchiu, Tong Hay, tak memiliki sanak keluarga lagi. Tapi mempunyai saudara angkat yang bernama Song It Jin, berdiam di desa yang terletak 10 li di luar pintu Selatan dari kota-raja. Ke situlah dia menuju. Beberapa waktu kemudian tibalah dia di tempat kediaman saudara angkatnya. Song It Jin menyambut gembira kedatangan Kiang Chu Gie, mengajaknya masuk ke ruang tamu sambil memerintahkanpembantunya menyiapkan meja perjamuan. Mereka makan minum sambil berbincang-bincang, amat menyenangkan suasana pertemuan dua saudara angkat yang sekian lama pisah. Kemudian It Jin meminta Chu Gie tinggal bersamanya. Ketika tahu Kiang Chu Gie masih hidup membujang, Song It Jin segera teringat pada anak gadis dari Ma Wan-gwa di kampung lainnya. Biarpun telah berusia 68 tahun, anak Ma Wan-gwa masih belum menikah. Song It Jin menganggap cocok untuk dijadikan isteri saudara angkatnya yang telah berusia 72 tahun itu. Ketika Song It Jin mengungkapkan maksudnya itu, Chu Gie langsung menyetujuinya. Maka keesokan harinya Song It Jin datang ke rumah hartawan marga Ma itu, bermaksud melamar anak gadisnya untuk saudara angkatnya. Setelah berbasa-basi sebentar, Song It Jin mengemukakan maksudnya pada tuan rumah. Ma Wan-gwa memang telah lama cemas akan anak gadisnya yang berat jodoh, begitu mendengar lamaran It Jin, langsung menerimanya. Setelah memilih hari baik, perkawinan sepasang manusia yang lanjut usia itu pun berlangsunglah. Untuk sementara Kiang Chu Gie dan isterinya menumpang di rumah Song It Jin. Waktu beredar cepat sekali, tanpa terasa telah berjalan dua bulan sejak pernikahan Kiang Chu Gie dengan Ma-si. Dia sering teringat pada gurunya di Kun Lun-san. Ma-si ketika melihat suaminya terus menganggur dan kerap melamun, menyarankannya untuk berdagang kecil-kecilan, agar mereka tidak terlampau membebani Song It Jin. Chu Gie menganggap saran itu cukup baik, maka dia pun mulai membuat keranjang. Setelah cukup banyak jumlahnya, membawanya ke pasar untuk dijual. Senja harinya, sepulang menjual keranjang, Kiang Chu Gie merasakan bahunya sakit akibat memikul keranjang dan lecet kakinya karena harus berjalan jauh.Keadaan itu membuatnya uring-uringan, menyalahkan isterinya yang dikatakannya tak suka melihatnya hidup tenang di rumah. Sang isteri tak senang disalahkan begitu, menyanggah. Maka terjadilah pertengkaran yang cukup sengit di antara mereka. Song It Jin agak repot menengahi, selang sesaat baru dia berhasil meredakan pertengkaran suami isteri itu. Kemudian It Jin menyarankan, agar Chu Gie berjualan tepung gandum saja. Persediaan gandumnya cukup banyak, akan menyuruh pembantunya menumbuk gandum itu untuk dijadikan tepung. Kiang Chu Gie menerima saran itu, mulailah dia berjualan tepung keesokan harinya. Setelah dia berjalan hampir setengah hari, barulah ada orang yang bermaksud membelinya. Chu Gie menurunkan barang dagangannya. Bertepatan waktunya dengan itu, Oey Hui Houw yang sedang melatih ketangkasan para prajurit dalam hal menunggang kuda, salah seekor kuda yang masih agak liar, telah lepas dari kendali prajurit, kabur dan menerjang barang dagangan Chu Gie hingga terbalik, tepung berserakan di tanah. Bersamaan bertiup angin kencang, yang menerbangkan tepung gandum tersebut hingga tak terpungut lagi. Kiang Chu Gie menghela nafas, pulang dengan sikap lesu, menceritakan segalanya pada Song It Jin. Song It Jin mencarikan upaya lain, meminta Chu Gie membuka rumah makan di luar pintu Selatan kota-raja. Rumah makan itu menjual masakan dari daging babi dan kambing. Menurut perkiraan It Jin, rumah makan itu tentu akan ramai dikunjungi orang. Apa mau, pada hari pembukaannya telah turun hujan lebat sepanjang hari, hingga tak seorang tamu pun yang masuk ke rumah makan tersebut, makanan jadi rusak dan mubazir. Beruntun beberapa hari, rumah makan itu tak pernah dikunjungi tamu, hingga akhirnya Kiang Chu Gie memutuskan untuk menutupnya saja. Hari-hari berikutnya, hidup Kiang Chu Gie diliputi kemurungan. Melihat itu Song It Jin kembali mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli babi dan kambing hidup, menyuruh Chu Gie menjualnya di kota-raja.Namun rupanya Chu Gie bukanlah orang yang memiliki Hok-kie dalam dagang. Nyatanya ketika dia menggiring hewan dagangannya melewati pintu gerbang kota, petugas jaga bermaksud menangkap Chu Gie, membuatnya cepat-cepat kabur meninggalkan semua dagangannya. Petugas segera menyita babi dan kambing Chu Gie. Sesungguhnya telah setengah tahun lebih tidak turun hujan di kota Tiauw-ko, kota-raja, maka Kaisar dan rakyat bersembahyang untuk meminta hujan. Sehubungan dengan itu, diadakan larangan memotong hewan. Itu sebabnya, ketika Chu Gie menggiring ternak untuk dijualnya, dirinya langsung hendak ditangkap petugas, untung dia cepat kabur. Pucat pasi wajah Kiang Chu Gie ketika bertemu dengan saudara angkatnya.

"Kenapa kau, Hian-tee?", It Jin heran menyaksikan keadaan Chu Gie.

"Tampaknya aku tak memiliki Hok-kie dalam dagang, ternyata apa yang kulakukan selalu gagal, rugi terus!". Chu Gie menghela nafas.

"ternak yang akan kujual di kota-raja telah disita petugas, sebab Kaisar telah mengeluarkan larangan menjual dan memotong ternak --- Aku benar-benar malu telah membuang-buang uang Heng-tiang".

"Tak usah kau pikirkan itu, Hian-tee", Song It Jin ternyata seorang yang cukup bijaksana.

"orang dagang bila tak untung, ya rugi. Mari kita minum minum di taman". It Jin mengajak Chu Gie ke taman di belakang rumahnya. Chu Gie melihat sebidang tanah yang cukup luas dibiarkan kosong, maka dia menyarankan, agar saudara angkatnya mendirikan pesanggrahan kecil di situ. It Jin langsung menyetujui saran itu, segera menyuruh orang mendirikan bangunan bertingkat di situ. Tapi ketika bangunan itu telah selesai didirikan, sering diganggu siluman, membuat orang-orang di rumah It Jin pada ketakutan. Hari itu Kiang Chu Gie sengaja berdiam di situ, tak lama kemudian terlihat olehnya 5 siluman dengan wajah yang berlainan warna satu dengan lainnya, amat menyeramkan keadaan mereka. Mereka muncul dengan dibarengi hembusan angin yang cukupkencang, membuat pasir dan batu krikil beterbangan kian ke mari. Kiang Chu Gie membiarkan rambutnya beriap-siap seraya mencabut pedang sambil membaca mantera. Selang sesaat dia mengangkat pedang, bersamaan dengan itu terdengar bunyi gledek yang memekakkan telinga. Kelima siluman itu ketakutan dan berlutut di hadapan Kiang Chu Gie.

"Akan kubinasakan kalian dengan api sakti!", ancam Chu Gie. Para siluman itu lantas meminta ampun. Chu Gie bersedia mengampuni mereka, melarang mereka mengganggu orang lagi, kemudian mengirim mereka dengan jimat ke gunung See Kie untuk menantinya di sana. Kelima siluman tak berani membantah perintah Chu Gie, berulang kali menganggukkan kepala, kemudian berangkat ke See Kie-san. It Jin dan isterinya sangat takjub ketika menyaksikan Kiang Chu Gie dapat menaklukkan siluman. Di samping itu mereka tahu juga kalau Kiang Chu Gie pandai meramalkan nasib, maka It Jin kemudian mengusulkan agar Kiang Chu Gie membuka sebuah tempat meramal di luar pintu Selatan kota-raja. yang ramai dengan orang yang berlalu lalang. Chu Gie langsung menerima saran itu. Dengan bantuan It! Jin, dia memperoleh sebuah rumah di jalan yang ramai, memasang papan nama yang menyatakan kalau dirinya pandai meramalkan nasib orang. Demikianlah, Kiang Chu Gie jadi ahli nujum. Namun selama empat bulan, tak seorangpun yang datang meramalkan nasib padanya. Hampir Chu Ge (Chu Gie) hendak meninggalkan profesi barunya itu, untung Song It Jin dan isterinya terus memberi dorongan semangat, hingga Chu Gie dapat terus bertahan. Sampai pada suatu hari, ketika Chu Gie hampir tertidur di atas kursinya, telah datang seorang penebang pohon yang tinggi besar. Lauw Kian, demikian nama penebang pohon itu, yang karena melihat tulisan yang tercantum pada papan nama itu begitu memuji ketepatan ramalan, jadi timbul hasratnya untuk mencoba kepandaian Chu Gie.

"Bila tepat ramalanmu, akan kuberi kau 20 Bun", kata Lauw Kian.

"Tapi bila meleset, akan kuhajar kau dan mengusirmu dari tempat ini!".Biarpun agak mendongkol, tapi Chu Gie meramalkan juga nasib penebang pohon itu.

"Bila kau berjalan ke arah Selatan dengan membawa kayu hasil jerih payahmu, kau akan bertemu dengan seroang tua di bawah pohon Siong (Pinus; Cemara), yang akan membayar kayumu seharga 120 Bun, 4 piring sayur dan 3 cangkir arak!". Walaupun Lauw Kian merasa ragu, tapi dia ingin membuktikan kebenaran ramalan Chu Gie. Orang lain yang melihat taruhan itu, pada umumnya menyarankan agar Chu Gie cepat-cepat meninggalkan tempat prakteknya, jangan sampai dia dihajar oleh Lauw Kian yang bertubuh tinggi besar itu. Namun Kiang Chu Gie hanya tersenyum menanggapi saran mereka, tetap duduk tenang di tempatnya, begitu yakin akan ketepatan ramalannya. Beberapa waktu kemudian, terlihat Lauw Kian berlarilari menuju ke tempat Chu Gie.

"Bapak benar-benar seperti Dewa", katanya begitu tiba di hadapan Chu Gie.

"apa yang bapak ramalkan memang terbukti".

"Bila demikian tepatilah janjimu!", Kiang Chu Gie menagih janji.

"Itu pasti", Lauw Kian mengangguk.

"tapi biarpun saya membayar dengan seluruh uang yang saya miliki, rasanya masih kurang --- Tunggulah sebentar, akan saya lakukan sesuatu untuk bapak!". Lauw Kian berdiri di muka pintu tempat praktek Chu Gie, menarik seorang yang kebetulan lewat di dekatnya, mendesak nya agar mau meramalkan nasibnya pada Kiang Chu Gie. Orang itu, seorang penagih pajak, menuruti juga saran Lauw Kian. Kiang Chu Gie segera menujumkan peruntungannya, memberitahukannya jumlah uang yang akan diterima penagih pajak itu. Lauw Kian menyuruh orang yang baru diramalkan nasib nya itu untuk membayar 5 Bun pada Chu Gie. Kiang Chu Gie mengucapkan terima kasih pada penebang pohon yang kasar tapi jujur hatinya itu. Lauw Kian pamit pada Chu Gie, demikian pula petugas pajak tersebut.Sekira sejam kemudian, si petugas pajak kembali menemui Chu Gie dengan wajah berseri, memberitahukan, bahwa ramalan Kiang Chu Gie benar-benar sangat tepat. Dengan demikian mulai banyak yang datang meramalkan nasibnya pada Kiang Chu Gie dan apa yang diramalkannya selalu tepat, hingga dalam waktu relatif singkat Kiang Chu Gie telah jadi peramal terkenal di kota-raja dan terus meluas ke sekitarnya. Beberapa bulan telah berlalu. Pada suatu hari telah datang seorang wanita muda yang mengenakan pakaian berkabung menemui Kiang Chu Gie. Kiang Chu Gie yang cukup tinggi ilmunya, segera mengenali, bahwa wanita muda itu sesungguhnya Giok Cio Pi Pe Cheng-Siluman Kecapi Batu Jade (Kumala) Siluman itu sebelumnya memang sering datang ke kotaraja, menjenguk Souw Tat Kie. Begitu tiba tengah malam, dirinya berobah ke bentuk aslinya dan memangsa beberapa dayang istana. Tak mengherankan kalau di bawah sebuah batu besar di taman istana, berserakan tulang belulang manusia. Suatu hari, dalam perjalanan pulang ke tempat bersemayam setelah melahap mangsanya di tengah malam sebelumnya, dari atas awan dia sempat melihat banyak sekali orang berkumpul di tempat praktek Kiang Chu Gie, timbul rasa jailnya untuk mencoba kepandaian meramal kakek yang batal jadi Dewa itu. Maka dia pun turun tak jauh dari tempat praktek Chu Gie, Pian-hoa (mero bah bentuk dirinya) menjadi seorang wanita muda yang sedang berkabung dan meminta diramalkan nasibnya.

"Saya harap nona memperlihatkan telapak tanganmu!", kata Chu Gie.

"Tangan yang mana?", tanya sang siluman Kecapi.

"Yang kanan!", sahut Chu Gie. Siluman itu mengangsurkan tangan kanannya. Chu Gie memegangnya erat-erat. Dia mengetahui kalau wanita muda itu adalah penjelmaan siluman, tak sudi dia membiarkannya kabur.

"Kenapa bapak bukannya meramalkan nasib saya, malah memegangi erat-erat?", ujar sang siluman.

"cepat lepaskan! Berlakulah sopan terhadap wanita!".Orang-orang yang berada di sekitar tempat itu jadi marah ketika menyaksikan kekasaran sikap Kiang Chu Gie.

"Sudah tua masih ingin mengganggu wanita, dasar tua keladi!".

"Aku bukannya ingin mengganggu wanita muda", ujar Kiang Chu Gie, tenang sikapnya.

"Dasar orang tua tak tahu diri", sela seseorang yang menyaksikan hal itu.

"sudah hampir masuk liang kubur masih menginginkan daun muda".

"Aku bukannya ingin melalap daun muda", Kiang Chu Gie berusaha menerangkan, tetap sabar sikapnya.

"tapi dia siluman!"

Namun orang banyak tetap tak percaya pada keterangannya, bahkan ada beberapa orang yang mulai tak dapat menahan emosi, bermaksud mengeroyok Chu Gie.

"Sabar saudara-saudara", Chu Gie berusaha menenangkan mereka.

"Lepaskan nona itu!", hardik salah seorang di antaranya.

"atau akan kuhajar kau!".

"Dia siluman", Kiang Chu Gie tetap tak sudi melepaskan pegangannya.

"Itu hanya alasan yang dibuat-buat!", ujar laki-laki yang berkata tadi.

"lekas lepaskan dia!". Kiang Chu Gie jadi serba salah. Bila dia tetap memegang tangan wanita itu, dirinya tentu akan dikeroyok masa. Seandainya dia melepaskannya, siluman Kecapi itu tentu akan mencelakai orang lebih banyak lagi. Maka kemudian diambilnya 'gosokan batu tinta'- nya, mengetukkan benda itu ke kepala sang siluman yang menyamar sebagai wanita cantik. Darah segar menyembur dari kepala wanita itu, terkulai tubuhnya. Namun Kiang Chu Gie tak pula melepaskan pegangannya.

"Jangan biarkan tukang nujum ini kabur!", teriak orang banyak.

"dia telah membunuh orang!". Mereka bersiap-siap ingin mengeroyok dan menangkap Chu Gie. Kebetulan pada saat itu menteri Pi Kan lewat di situ dengan menunggang kuda. Masyarakat yang semula telah bersiap-siap mengeroyok Kiang Chu Gie, segera berlutut di hadapan sang menteri seraya melapor, bahwakakek tukang nujum itu telah bersikap kurang ajar terhadap seorang wanita cantik. Ketika wanita itu melawannya, Chu Gie lalu membunuhnya. Biarpun Kiang Chu Gie tahu menteri Pi Kan yang ada di hadapannya, dia tetap tidak melepaskan pegangannya. Pi Kan jadi sangat marah ketika mendengar laporan masyarakat dan menyaksikan sendiri Chu Gie yang terus memegang tangan wanita itu, membuat sang meteri jadi benar-benar naik pitam, langsung memerintahkan untuk menangkapnya! Kiang Chu Gie menghampiri Pi Kan sambil tetap memegang tangan wanita itu, hingga tubuh si perempuan cantik terseret olehnya.

"Sama sekali tak ada maksud bagi hamba untuk mencelakai wanita muda ini, tapi sesungguhnya dia siluman", kata Kiang Chu Gie sambil berlutut di hadapan sang menteri.

"belakangan ini hamba melihat dari istana Kaisar telah menyorot keluar hawa siluman dan Siao-jin merasa berkewajiban untuk membasmi siluman, agar rakyat dapat terhindar dari mala-petaka". Namun masyarakat mengharapkan Pi Kan menghukum Kiang Chu Gie, sebab dalam pandangan mereka, Kiang Chu Gie telah membunuh seorang wanita muda.

"Bukankah wanita itu telah mati Kiang Siang? Kenapa kau terus memegangi tanggannya?", tanya Pi Kan.

"Bila hamba lepas, siluman ini akan kabur, Tay-jin", Chu Gie menerangkan.

"Dapatkah kau membuktikan ucapanmu?", desak sang menteri.

"Sulit saya terangkan dengan kata-kata, sebab siluman itu takkan dapat terlihat oleh mata biasa", ujar Chu Gie. Pi Kan tak dapat memutuskan kasus itu.

"Akan kulaporkan hal ini pada Kaisar, biar Baginda yang memutuskan nanti", katanya kemudian.

"Saya kira begitu memang lebih baik", sambut Chu Gie. Pi Kan mengajak Kiang Chu Gie menemui Touw Ong di 'Menara Pemetik Bintang Chu Gie ikut sang menteri sambil menyeret-nyeret tubuh wanita siluman itu.Setiba di hadapan Kaisar, Kiang Chu Gie berlutut di hadapan Touw Ong sambil tetap memegangi tangan si wanita, kemudian menceritakan apa yang diketahuinya pada Kaisar.

"Yang jelas dia seorang wanita", kata Touw Ong.

"tapi kenapa kau mengatakan dia siluman? Dapatkah kau membuktikan kebenaran kata-katamu?".

"Bila Tuanku meragukan keterangan hamba, akan hamba usahakan supaya siluman itu memperlihatkan bentuk aslinya, yaitu Kecapi Batu!", kata Chu Gie.

"hamba harap sudilah Tuanku memerintahkan untuk mengumpulkan kayu bakar buat membakarnya!". Touw Ong memenuhi permintaannya, menyuruh para pembantunya mengumpulkan kayu bakar di bawah 'Chai Seng Louw' (Menara Pemetik Bintang). Kiang Chu Gie menempelkan 'Hu' (kertas jimat) di kepala wanita itu, barulah dia melepaskan pegangannya dan meletakkan tubuhnya di atas tumpukan kayu bakar. Mulailah dia membakar kayu tersebut. Namun biarpun telah dua jam api membakar wanita itu, tapi tubuhnya tetap tak mau hangus, apa lagi memperlihatkan bentuk aslinya. Melihat itu, Touw Ong mulai menuduh Kiang Chu Gie telah menipunya.

"Hendaknya Tuanku sudi bersabar beberapa waktu lagi", tetap tenang sikap Chu Gie.

"akan segera Paduka saksikan keadaan aslinya". Seusai berkata, dari mulut, hidung dan mata Chu Gie menyemburkan api, membakar si wanita siluman dengan api saktinya. Sang siluman tak lagi dapat menahan diri, bergerak-gerak kepanasan, kemudian terdengar teriakannya.

"Kiang Chu Gie, kita toh tak saling berdendam, kenapa kau bakar aku dengan api saktimu!?". Touw Ong amat terkejut mendengar teriakan itu. Namun Chu Gie tetap tenang, meminta Kaisar agar masuk ke dalam menara. Touw Ong menurut. Belum lama Kaisar berada di dalam menara, Kiang Chu Gie menggerakkan tangan. Dari telapak tangannya melesat gledek yang langsung menyambar tubuh si wanita siluman, seketika tubuhnya berobah ke bentuk aslinya --- Kecapi Batu! Baru sekarang Touw Ong percaya akan kebenaran ucapan Kiang ChuGie, lantas mengangkatnya sebagai Toa-hu, yang bertugas sebagai 'Pengawas Langit'. Di lain pihak, Souw Tat Kie ketika mendengar kabar kematian Kecapi Batu, menjadi sangat sedih. Dia meminta Kecapi itu dari Kaisar, kemudian menggantungnya di 'Chai Seng Louw', agar dapat menyedot sari Langit dan Bumi, yang lima tahun kemudian siluman itu niscaya akan hidup kembali. 

***

 Hari itu Touw Ong mengadakan pesta di istananya. Agar lebih bersemarak suasana pesta, Souw Tat Kie tampil untuk menyanyi dan menari di hadapan Kaisar. Para dayang memuji dan bertepuk tangan menyambut tarian sang Permaisuri baru itu. Tapi ada beberapa puluh dayang yang tak ikut bertepuk tangan, bahkan berlinang-linang karena terkenang pada majikan mereka sebelumnya. Souw Tak Kie sempat melihat keadaan mereka, berhenti menari. Setelah menanyakan sebabnya, baru dia tahu, bahwa beberapa puluh dayang itu adalah bekas pelayan di istana Kiang Hong-houw yang telah meninggal secara tragis. Souw Tat Kie melaporkan hal itu pada Touw Ong sambil marah-marah. Kaisar langsung memerintahkan untuk segera menghukum mati beberapa puluh dayang itu. Namun Tat Kie mencegahnya dengan alasan ada cara lain yang lebih baik dalam menghukum bekas pelayan Kiang Honghouw. Maka untuk sementara, beberapa puluh pelayan itu dijebloskan ke dalam penjara, menanti tibanya saat hukuman dilaksanakan. Souw Tat Kie memerintahkan menggali lobang besar di bawah 'Menara Pemetik Bintang, kemudian mewajibkan setiap kepala keluarga dari penduduk di kota-raja menyumbang empat ekor ular beracun, yang harus diserahkan dalam keadaan hidup, yang kemudian dimasukkan ke dalam liang besar tersebut. Para dayang mendiang Kiang Hong-houw akan dilucuti pakaiannya sebelum dilempar ke dalam liang, untuk dijadikan santapan ular beracun!Ular-ular di kota-raja ternyata tidak mencukupi, hingga sebagian penduduk harus membelinya dari luar kota-raja. Ramailah para penduduk yang membawa keranjang berisi ular ke istana. Keadaan itu mengherankan menteri Chiao Ke yang sempat melihatnya.

"Kenapa kalian mengantarkan ular ke istana?", bertanya sang menteri.

"Kaisar telah mewajibkan setiap kepala keluarga di kotaraja untuk mengantarkan empat ekor ular ke istana", menerangkan salah seorang penduduk. Mendengar itu, Chiao Ke bergegas menuju ke balai berkumpulnya para pejabat kerajaan. Terlihat Oey Hui Houw, Pi Kan, Hui Cu, Kie Cu dan lainlainnya pada berkumpul di situ. Chiao Ke menceritakan apa yang baru disaksikan kepada para menteri itu. Oey Hui Houw dan lain-lainnya heran mendengar kabar itu, segera mengutus orang untuk menyelidiki sebabnya.... Kala itu seluruh kepala keluarga di kota-raja telah selesai mengantarkan ular. Souw Tat Kie berkata pada Touw Ong .

"Bekas dayang Kiang Hong- houw harus ditelanjangi, lalu melempar mereka ke liang ular, dengan demikian segala kejahatan di istana dapat disapu bersih". Para dayang menangis sedih ketika digiring ke tepi liang ular, sebab mereka tahu apa yang akan terjadi atas diri mereka. Chiao Ke yang mengetahui hal itu, sangat panas hatinya akan kekejaman Kaisar, segera meminta izin untuk menemui Touw Ong di 'Menara Pemetik Bintang Setelah diperkenankan menghadap, Chiao Ke memberitahukan Kaisar, bahwa hukuman yang dijatuhkan terhadap para dayang itu sangat sadis dan tak pernah dilaksanakan oleh Kaisar manapun.

"Dayang-dayang itu telah berlaku kurang ajar", kata Touw Ong.

"kurasa hanya inilah hukuman yang paling cocok untuk mereka".

"Walaupun di dunia ini manusia terbagi atas golongan yang tinggi dan rendah, tapi pada dasarnya keadaan mereka sama saja, yaitu terdiridari tulang dan daging", ujar Chiao Ke dengan beraninya,"tidakkah Tuanku dapat membayangkan, betapa sakit dan menderitanya mereka dilempar ke dalam liang dan dipatuk oleh binatang beracun itu!? Hamba mohon dengan sangat, sudilah Tuanku mengampuni kesalahan mereka sekali ini!".

"Saranmu memang cukup baik, tapi aku terpaksa menjatuhkan hukuman seperti itu, untuk menghindari hal yang mungkin ditimbulkan oleh oknum-oknum yang merasa tak senang bila aku bersikap terlampau lunak", ujar Touw Ong. Chiao Ke tak dapat lagi membendung emosi, mengumpat Touw Ong sambil membeberkan segala kekejaman yang telah dilakukannya. Touw Ong jadi sangat marah, segera memerintahkan untuk menangkap Chiao Ke, melucuti pakaian kebesarannya, melamparnya ke liang ular. Namun sebelum sempat pengawal Kaisar menangkap Chiao Ke, sang menteri telah mendahului melompat dari 'Menara Pemetik Bintang', tewas seketika. Touw Ong yang belum hilang dongkolnya, memerintahkan untuk melempar jenazah Chiao Ke ke dalam liang ular. Menyusul berpuluh dayang itu dilemparkan juga ke dalam liang tersebut. Jerit tangis terdengar sangat memilukan, tapi Souw Tat Kie yang mendampingi Kaisar, memandang segalanya itu seperti pertunjukan yang menarik lagi menyenangkan, senyum puas terkembang di wajahnya. Melihat Permaisurinya gembira, Kaisar ikut senang, mengusap sayang bahu Souw Tat Kie. Dalam kesempatan itu Souw Tat Kie telah mengusulkan lagi.

"Saya harap Tuanku memerintahkan untuk membuat liang lainnya di sebelah kiri lobang ular, di tengah-tengahnya dibuat gundukan tanah yang dihias dengan cabang-cabang pohon yang digantungi potongan daging. Tempat itu kita beri nama 'Rimba Daging'. Di sebelah kanan liang ular dibuat sebuah kolam yang diisi dengan arak dan tempat itu dapat kita namakan 'Telaga Arak'. Bila terlaksana, Tuankulah merupakan Kaisar pertama yang menciptakan karya besar tersebut".Touw Ong langsung menyetujui usul itu, segera memerintahkan untuk membangun tempat tersebut. Pada suatu hari, ketika Kaisar makan minum di dekat 'Rimba Daging' dan 'Telaga Arak', Souw Tat Kie berkata pada Touw Ong .

"Makan minum yang disemarakkan dengan tari dan nyanyian telah membosankan, saya kira akan lebih menarik bila Tuanku menggantinya dengan acara perang tanding antara pengawal istana. Bagi yang menang kita suguhkan arak dari 'Telaga Arak' dan yang kalah tak perlu dibiarkan hidup lagi, sebab kita tak butuh tenaga loyo seperti mereka dan daging mereka lebih tepat bila dijadikan hiasan di 'Rimba Daging'!". Tanpa pikir panjang lagi Kaisar langsung menyetujui saran itu. Tidaklah mengherankan, dalam waktu relatif singkat, cukup banyak jiwa Pengawal istana yang melayang akibat saran Souw Tat Kie. Selewat tengah malam, Souw Tat Kie merobah dirinya ke bentuk asalnya, menjadi siluman Rase, yang makan daging kurban-kurban perang tanding itu....