--> -->

Pelantikan Para Malaikat Jilid 04

Jilid 04

In Po Pai dan Lui Kay yang memimpin pasukan yang telah tua dan loyo, tak dapat bergerak cepat dalam melakukan pengejaran. Akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan sebagian prajurit di suatu tempat, masing-masing memilih 50 prajurit yang belum terlampau tua dan cukup kuat untuk melanjutkan pengejaran secara terpisah, In Po Pai ke arah Tong-lo dan Lui Kay ke Lam-tu. Lui Kay bersama pasukannya tiba di muka Vihara tua setelah gelap cuaca. Sungguh di luar dugaannya telah bertemu dengan In Hong yang sedang bermalam di situ. Lui Kay segera membanguni In Hong yang tidur di kolong Altar dan memintanya untuk turut kembali ke kota raja. In Hong yang menyadari, bahwa ia tak mungkin kabur, terpaksa menuruti permintaan Lui Kay. Lui Kay memberikan kudanya untuk ditunggangi In Hong . Di lain pihak, In Po Pai yang memimpin pasukan lainnya, setelah berjalan beberapa waktu, dia lewat di muka rumah bekas Menteri Utama, tiba-tiba timbul hasratnya untuk singgah di rumah bekas atasannya itu. Ketika dia masuk, sama sekali tak menduga kalau akan bertemu dengan putera mahkota di situ. Wajah In Kiao jadi sangat pucat ketika melihat kedatangan In Po Pai.

"Sungguh kebetulan Taycu ada di sini", sebaliknya wajah In Po Pai jadi amat berseri.

"mari kita pulang Taycu".

"Tunggu sebentar, aku ingin membuat surat permohonan dulu, setelah itu aku akan menyertai kalian ke kota-raia"

Sela Siang Yong.

"Saya rasa, biarlah saya bersama Taycu berangkat duluan dan bapak menyusul kemudian", ujar In Po Pai.

"Begitu pun boleh". Siang Yong menyetujui.

"tapi hendaknya jagalah Taycu baik-baik".

"Jangan khawatir pak", In Po Pai berjanji. Bekas Perdana Menteri kerajaan Siang mengantar keberangkatan sang putera mahkota dengan mata berlinang, dia berfirasat kurang enak.

***

 Di dalam perjalanan pulang ke kota-raja, In Po Pai bertemu dengan Lui Kay yang telah mendirikan kemah di persimpangan jalan. In Po Pai mengajak In Kiao masuk ke dalam kemah. In Kiao bertemu dengan adiknya di situ. Mereka saling rangkul dengan penuh diliputi kesedihan. Mereka menyadari apa yang akan dihadapi bila kembali ke kota-raja. Lui Kay dan In Po Pai berusaha menghibur mereka, menginap semalam dalam kemah, besok baru akan melanjutkan perjalanan..In Kiao dan In Hong akhirnya pasrah, mengharapkan ada orang yang akan menolong mereka nanti. .... In Po Pai dan Lui Kay, setelah memesan para pembantunya untuk menjaga kedua Pangeran agar tidak kabur, segera masuk ke kota-raja untuk mengabarkan tentang penangkapan itu pada Kaisar. Dari kurir yang diutusnya, Oey Hui Houw diberitahu kalau putera mahkota dan adiknya telah berhasil ditangkap, maka ia segera menghubungi para kerabat Kaisar dan menteri untuk berkumpul, guna mencari daya buat menolong kedua Pangeran itu. Selagi mereka berunding untuk mencari jalan terbaik, diperoleh kabar kalau Lui Kay dan In Po Pai telah menemui Kaisar di istana Dewa Panjang Umur. Souw Tat Kie yang mendampingi Kaisar, telah menyarankan agar Touw Ong menjatuhkan hukuman mati pada kedua puteranya. Touw Ong yang sedang keruh pikirannya, bagaikan kena disihir, menuruti saja segala saran gundik kesayangannya, langsung mengeluarkan perintah tertulis untuk menghukum mati In Kiao dan In Hong. Lui Kay dan In Po Pai menerima surat perintah itu, segera pamit. Tapi baru saja mereka melangkah keluar dari pintu gerbang istana, telah dihadang oleh Oey Hui Houw dan para pembesar istana lainnya. Oey Hui Houw dan lain-lainnya jadi sangat berang ketika tahu Kaisar telah memerintahkan untuk menghukum mati kedua putera kandungnya.

"Kuucapkan selamat atas keberhasilan kalian menangkap putera mahkota dan Pangeran In Hong", kata Hui Houw dengan nada mengejek.

"semoga kalian cepat naik pangkat. Tapi aku khawatir,yang cepat naik, akan cepat pula jatuhnya". Merahlah wajah Lui Kay maupun In Po Pai, tak dapat mereka bersuara di hadapan para menteri senior itu. Sementara itu, salah seorang menteri yang bernama Tio Kie tak dapat mengendalikan emosi, segera merebut surat perintah Kaisar dari tangan In Po Pai, merobeknya seraya berkata berang.

"Ingin kulihat siapa yang berani membunuh Pangeran!? Mari saudara-saudara, kita menghadap Kaisar!". Tambur dan lonceng dibunyikan, sebagai tanda ada menteri yang ingin menghadap Kaisar untuk menyampaikan sesuatu yang penting. Semula Touw Ong bermaksud menerima mereka, tapi telah dicegah oleh Souw Tat Kie dengan alasan.

"Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menerima para menteri, segala persoalan seyogyanya Tuanku bicarakan besok pagi". Touw Ong kembali menuruti kata-kata Tat Kie, tak mau menemui para menterinya, hanya memerintahkan seorang pembantunya memberitahukan para menterinya, bahwa hukuman mati terhadap kedua puteranya tetap akan dilaksanakan pada hari itu juga dan pertemuan dengan para menteri akan dilangsungkan besok. Para menteri jadi sangat marah atas keputusan Raja yang tidak bijaksana, bahkan sangat kejam itu! Hawa amarah para menteri itu melambung tinggi ke angkasa dan sempat terlihat oleh dua Dewa yang sedang pesiar naik awan, yaitu Dewa Kong Seng Cu dari goa Toh Goan-tong di gunung Kiu-san dan Chia Cheng Cu dari goa In Siao-tong di gunung Tay Hua-san. Kedua Dewa ini memandang ke bawah untuk menyelidiki sebabnya timbul hawa amarah yang begitu hebat. Terlihat oleh mereka In Kiao dan In Hong diikat tangannya untuk menjalani hukuman mati. Dewa Kong Seng Cu dan Dewa Chia Cheng Cu langsung bersepakat, masing-masing akan mengambil seorang Pangeran ini, untuk dijadikan murid mereka. Mereka segera meminta bantuan Malaikat Oey Cheng Lek Su untuk menyelamatkan putera mahkota dan Pangeran In Hong dari kematian, dengan menggunakan 'angin sakti'.Maka tatkala algojo hendak memancung kepala In Kiao dan In Hong, tiba-tiba telah bertiup angin kencang yang disertai bau harum semerbak. Pasir dan batu berhamburan, membuat sekitar lapangan tempat pelaksanaan hukuman mati itu jadi gelap, hingga banyak orang yang panik, menjerit-jerit ketakutan. Ketika cuaca menjadi terang kembali, kedua Pangeran itu telah lenyap. Orang yang menyaksikannya pada bengong. Mereka tak tahu kalau In Kiao dan In Hong telah diselamatkan oleh Oey! Cheng Lek Su, yang kemudian membawa mereka ke hadapan Dewa Kong Seng Cu dan Dewa Chiang Cheng Cu untuk diangkat sebagai murid mereka. In Po Pai dan Lui Kay melaporkan kejadian luar biasa itu pada Kaisar.

"Sungguh ajaib!", kata Touw Ong ketika mendengar kabar itu. Hampir bersamaan dengan itu, Siang Yong tiba di istana. Para menteri menyambut kedatangan bekas pejabat senior kerajaan, menceritakan kejadian luar biasa tadi. Legalah perasaan Siang Yong ketika mendengar berita itu. In Po Pai yang kebetulan hadir di situ, langsung saja diejeknya.

"Tak sangka, demi memperoleh bintang jasa, kau sampai hati ingin mencelakai Pangeran. Semoga kau akan segera memperoleh kenaikan pangkat atas jasamu itu". Bersemu merah wajah In Po Pai saking malunya. Dalam pada itu Siang Yong berkata kepada para menteri lainnya.

"Kedatanganku ke mari adalah ingin menasehati Kaisar, agar sadar dari kekeliruannya, supaya bila aku meninggal nanti, tidak malu kalau bertemu dengan Kaisar terdahulu di alam baqa". Kemudian dia meminta petugas istana membunyikan lonceng dan tambur. Touw Ong terpaksa keluar dan duduk di Tahtanya dengan perasaan agak dongkol, karena merasa terganggu. Kaisar segera mengenali, bahwa yang berlutut di hadapannya adalah bekas Menteri Utamanya, Siang Yong.

"Bukankah kau telah kembali ke kampung halaman? Kenapa pula datang ke mari tanpa kuundang?", tanya sang Kaisar.

"Hamba takkan dapat melupakan kebaikan kerajaan", ucap SiangYong penuh hormat.

"Kedatangan hamba sekarang adalah ingin membalas budi itu".

"Dengan cara apa kau ingin membalas budi?", tanya Kaisar, mulai hilang dongkolnya.

"Maaf Tuanku, demi kebaikan jalannya roda pemerintahan, hendaknya Paduka tidak terus membenamkan diri di pelukan wanita cantik dan minuman yang memabukkan. Sebab hal itu dapat mengakibatkan Tuanku mengambil keputusan yang bertentangan dengan tata-krama, bahkan tak bermoral dan kejam".

"Apa kau bilang?", Kaisar membuka matanya lebar-lebar, sebab ucapan Siang Yong benar-benar berada di luar dugaannya.

"Hamba rela mengorbankan jiwa-raga demi dapat memperbaiki ulah Paduka, yang hamba anggap sudah menyimpang dari rel kebijaksanaan yang seharusnya dimiliki seorang Kaisar --- Tuanku tak patut menyiksa Permaisuri sampai menemui ajalnya, juga tak pantas mengeluarkan perintah untuk membunuh putera sendiri --- Elok kiranya bila Tuanku memerintahkan Souw Tat Kie membunuh diri, sebagai tanggung-jawabnya atas kematian Hong-houw serta penderitaan kedua Taycu!". Touw Ong jadi sangat marah mendengar ucapan terakhir dari bekas menterinya, segera mengeluarkan perintah untuk menangkap dan membunuh Siang Yong. Namun tak seorang pun yang berani menangkap bekas Menteri Utama itu.

"Siapa yang berani menangkapku!?", ujar Siang Yong dengan sikap menantang.

"telah tiga turunan hamba mengabdi kepada kerajaan dan mendiang ayahanda Paduka telah pula meminta hamba untuk membimbing Tuanku --- Tapi, betapa kecewanya hamba menyaksikan sikap paduka demikian buruk dan kejam!". Kaisar langsung menggebrak meja seraya mengulangi perintahnya untuk menangkap dan membunuh bekas menteri yang telah berusia 75 tahun itu. Siang Yong tak menunggu sampai dirinya ditangkap, mendahului membenturkan kepalanya ke pilar emas hingga pecah dan tewas seketika.Touw Ong memberi perintah untuk membuang jenazah Siang Yong, melarang menguburnya. Salah seorang menteri yang hadir di situ, Tio Kie, yang memang telah lama tak menyukai ulah Kaisar, ketika menyaksikan peristiwa tragis itu, tak lagi dapat membendung emosi, mengucap lantang.

"Sikap Tuanku sudah melewati batas, selain membunuh Permaisuri dan ingin menghabisi nyawa putera sendiri, para menteri dan abdi lainnya yang setia pun telah jadi korban kelaliman Paduka, akan jadi apa nantinya kerajaan Siang ini!?". Touw Ong yang sedang marah jadi semakin naik pitam, langsung memerintahkan pengawalnya untuk menangkap Tio Kie, melucuti pakaian kebesarannya dan diikat di tungku api yang panas! Kembali seorang menteri yang jujur dan setia harus jadi korban keganasan Touw Ong, hangus terbakar tubuhnya! Kaisar segera meninggalkan balairung, kembali ke istana Dewa Panjang Umur. Begitu bertemu Tat Kie, Touw Ong segera menceritakan apa yang baru dilakukannya. Berseri wajah Souw Tat Kie mendengar segalanya itu, lebih mesra melayani dan menghibur sang Kaisar, yang membuat Tiu Ong (Touw Ong) benar-benar merasa dirinya berada di Surga. ... Atas saran Hui Tiong, tak lama kemudian Kaisar telah mengangkat Souw Tat Kie sebagai Permaisuri, menggantikan kedudukan Kiang Hong-houw yang meninggal akibat siksaan keji. ... 

***

 Touw Ong khawatir kalau kiang Hoan Chu, ayah Kiang Hong-houw, akan membalas dendam atas kematian anaknya dengan memberontak terhadap kerajaan Siang. Baik dilakukannya sendiri maupun menghimpun bantuan para raja muda lainnya. Souw Tat Kie menyarankan pada Kaisar agar meminta pendapat Hui Tiong. Touw Ong segera memanggil menteri yang pandai menjilat lagi licik itu. Setelah berpikir sejenak, Hui Tiong mengusulkan agar Kaisar memanggil empat orang raja-muda yang besar pengaruhnya, yaituKiang Hoan Chu, Ngok Tiong le, Chong Houw Houw dan Kie Chiang, ke kota-raja, kemudian membunuh mereka. Dengan demikian Touw Ong tak perlu cemas akan terjadinya pemberontakan, sedangkan dari 800 raja muda lainnya tak perlu dikhawatirkan, sebab kecil pengaruh maupun pasukan yang mereka miliki. Kaisar langsung menyetujui usul itu, mengutus beberapa orang untuk mengundang keempat raja muda tersebut.... Hari itu utusan Kaisar tiba di tempat kediaman Kie Chiang, raja muda Barat. Kie Chiang yang lebih dikenal sebagai Chiu Bun Ong, berlutut selama utusan Kaisar membacakan surat undangan itu. Baru bangkit seusai dibacakan. Kemudian Kie Chiang menjamu para utusan Kaisar, memberi mereka hadiah juga. Para utusan Kaisar pamit setelah dijamu, untuk kembali ke kota-raja. Sepergi para utusan, Kie Chiang memanggil putera sulungnya, Peh Ip Ko dan berkata.

"Kaisar telah memintaku untuk datang ke kota raja. Menurut ramalan, selama tujuh tahun ini bintangku agak suram, bahkan kemungkinan besar diriku akan menghadapi bahaya. Selama aku pergi, kuminta kau menggantikanku memerintah See Kie, nak. Patuhilah segala peraturan dan undang-undang yang berlaku, jangan sekali-kali kau merobahnya. Di samping itu kau harus hidup rukun dengan saudarasaudaramu, setiap kali ingin memutuskan sesuatu, hendaknya kau meminta pendapat dan nasehat pejabat senior yang setia. Semua orang muda yang belum berkeluarga, anjurkanlah untuk menikah dan memberi mereka tunjangan hidup. Anak yatim dan fakir miskin harus kau bantu dengan sandang dan pangan setiap bulannya - -- Selewat 7 tahun, aku pasti akan kembali dengan selamat. Tapi kau harus ingat baik-baik, apa pun yang terjadi nanti, jangan sekali-kali kau mengutus orang untuk menjengukku!"

"Bila sedang gelap bintang ayah selama 7 tahun ini, biarlah saya saja yang menggantikan ayah pergi ke kota-raja", kata Peh Ip Ko.

"Semua ini sudah menjadi kehendak Thian, sudah merupakan garis hidupku, nak. Maka percuma saja aku coba mengelaknya", Kie Chiangmenghela nafas.

"cara yang terbaik, selama aku pergi, berdiamlah terus kau di See Kie, patuhilah segala pesan ayah, dengan demikian aku dapat kembali dengan selamat".

"Baiklah ayah", Peh Ip Ko patuh. Setelah memesan puteranya, Kie Chiang menemui ibunya untuk berpamitan sekalian memohon doa restunya. Kemudian dikemasi barang-barangnya bagi keperluan keberangkatannya besok. Shan Gie Seng, Lam Kong Koa dan beberapa pejabat penting pemerintah, tak ketinggalan pula Peh Ip Ko mengantarkan keberangkatan Kie Chiang. Setelah mengantar sejauh 10 li ke luar kota, Kie Chiang (Chiu Bun Ong) menyuruh putera dan pembantunya kembali ke kota. Sedang dia meneruskan perjalanan menuju ke kotaraja dengan diiringi beberapa puluh orang perwira dan prajurit pilihani. Pada suatu hari, tatkala rombongan Chiu Bun Ong melalui kaki gunung Yen-san, cuaca yang semula terang benderang, mendadak menjadi gelap tertutup gumpalan awan hitam, disertai kilat yang sambung menyambung. Chiu Bun Ong segera melarikan kudanya ke dalam hutan belukar, diikuti oleh para pengiringnya. Hujan turun deras sekali disertai oleh suara gledek yang memekakkan telinga. Tak lama curah hujan itu berhenti, kembali terang cuaca. Tapi pakaian Chiu Bun Ong dan para pengiringnya telah basah kuyup ketika keluar dari hutan.

"Suara gledek dan disusul dengan terangnya cuaca lagi, merupakan tanda telah lahirnya 'bintang panglima'. Coba kalian cari bayi yang baru lahir itu!", ujar Chiu Bun Ong. Maka sibuklah para pembantunya mencari bayi yang dimaksud, biarpun sebenarnya di hati masing-masing menganggap perintah itu agak aneh. Tak lama kemudian terdengar suara tangis bayi di dekat makam tua, ke sanalah mereka menuju.

"Mungkin bayi ini yang dimaksud", kata salah seorang prajurit, segera membopong bayi tersebut, membawanya ke hadapan Chiu Bun Ong.Chiu Bun Ong menyambutnya, membopong bayi itu sambil menatapnya tajam. Wajah sang bayi terlihat cerdik, terang sorot matanya, tentunya akan menjadi insan yang pandai nantinya. Senang hati sang raja muda ketika menyaksikan segalanya itu. Menurut ramalan, Chiu Bun Ong akan mempunyai 100 anak laki-laki. Pada saat itu sudah memiliki 99 anak dari 24 isteri dan selir.

"Baiklah bayi ini kupungut anak, hingga genap anakku 100, sesuai dengan apa yang tersirat di dalam ramalan", Chiu Bun Ong memutuskan. Mereka melanjutkan perjalanan lagi, sambil mencari orang yang bersedia mewakili sang raja muda untuk merawat bayi tersebut. Selewat tujuh tahun nanti, Chiu Bun Ong akan mengambil anak itu dari tangan pengasuhnya dan membawanya ke See Kie. Belum begitu jauh mereka berjalan, telah bertemu dengan seorang Tojin (Pendeta agama To), yang mengangguk hormat pada Chiu Bun Ong seraya berkata.

"Terimalah hormat saya Paduka". Sang raja muda segera melompat turun dari kuda tunggangannya, membalas salam sang Tojin. Kalau boleh saya tahu, dari mana asal Totiang dan apa maksud Totiang ke mari?", tanya Chiu Bun Ong.

"Pinto bernama In Tiong Cu, berasal dari gunung Chong lam. Tadi telah turun hujan lebat yang disertai bunyi petir yang memekakkan telinga, sebagai tanda telah lahir 'bintang panglima'. Maka aku sengaja ke mari untuk mencari 'bintang itu dan betapa girangnya hati saya dapat bertemu dengan Paduka di sini". Chiu Bun Ong memerintahkan orangnya untuk menyerahkan bayi itu pada In Tiong Cu.

"Saya akan membawa bayi ini ke pemukiman saya dan mengangkatnya sebagai murid", kata In Tiong Cu sambil membopong bayi itu.

"bila Paduka pulang nanti, saya akan mengembalikannya".

"Tapi kita harus memberinya nama, agar sekembali saya nanti akan dapat mengenalinya", kata Chiu Bun Ong.

"Dia lahir diiringi bunyi gledek, maka kita namakan saja Lui Chin Cu, putera gledek!", ucap In Tiong Cu.

"kalian, ayah dan anak akanbertemu tujuh tahun kemudian". Selesai berkata, In tiong pamit pada Chiu Bun Ong, berlalu sambil menggendong bayi itu. Chiu Bun Ong melanjutkan perjalanan. Setiba di kota-raja, ternyata tiga raja muda lainnya. Kiang Hoan Chu, Ngok Tiong le dan Chong Houw Houw, telah lebih dulu tiba dan menginap di Wisma Negara. Mereka lalu makan minum bersama.

"Entah apa maksud Kaisar memanggil kita ke mari?", tanya Chiu Bung Ong setelah berselang sesaat. Ketiga raja muda lainnya juga tak tahu, sama herannya. Namun Ngok Tiong le telah sempat mendengar sedikit mengenai tindakan Kaisar belakangan ini. Dia menasehati para raja muda lainnya agar dapat mawas diri, tidak menyulitkan apalagi memeras rakyat, menjauhkan diri dari Hui Tiong dan Yu Hun yang terkenal licik dan keji.

"Kita tak boleh sembarangan menuduh orang sebelum ada bukti nyata", sela Chong Houw Houw yang sudah setengah mabuk.

"Tapi apa yang kukatakan sudah merupakan rahasia umum", kata Ngok Tiong le.

"semua menteri di kota-raja ini membenci kedua manusia licik itu, terutama Hui Tiong".

"Biarpun begitu, kita harus punya bukti", ujar Chong Houw Houw.

"Kau ingin membela mereka?", Tiong Ie mulai panas hatinya.

"Bukan, yang kuutamakan adalah fakta", ujar Chong Houw Houw. Segera terjadi pertengkaran sengit di antara mereka. Chiu Bun Ong dan Kiang Hoan Chu segera melerainya. Dalam dongkolnya Chong Houw Houw masuk ke ruang dalam hendak tidur. Sedang ketiga raja muda lainnya meneruskan makan minum. Selagi mereka asyik makan minum, tiba-tiba Chiu Bung Ong mendengar orang menghela nafas disusul dengan gumamnya.

"Sekarang kalian dapat makan minum sepuasnya, tapi besok aku khawatir lapangan rumput akan berwarna merah bersimbah darah segar. Sungguh menyedihkan". Chiu Bun Ong segera melompat keluar, yang bergumam ternyata YaoHu, pesuruh dari Wisma itu. Sang raja muda segera menariknya masuk dan menanyakan mengapa dia bisa berkata begitu!? Yao Hu terpaksa menceritakan apa yang telah terjadi di dalam istana. Tewasnya Permaisuri akibat disiksa, lenyapnya kedua Pangeran secara misterius dan juga maksud keji yang terkandung di balik undangan keempat raja muda ke kotaraja. Kiang Hoan Chu amat sedih campur marah ketika mendengar puterinya mati secara menyedihkan, juga mengenai hilangnya kedua cucunya. Chiu Bun Ong dan Ngok Tiong le berupaya menenangkannya.

"Dari mana kau ketahui segalanya itu?", tanya Chiu Bun Ong pada si pesuruh.

"Hamba kebetulan sempat mendengar perbincangan antara Kaisar dengan Souw Tat Kie dan Hui Tiong', menerangkan sang pesuruh. Ketiga raja muda itu segera berunding, kemudian memutuskan untuk sama-sama menemui Kaisar besok pagi, menyampaikan surat protes mereka. 

***

 Touw Ong yang mendengar keempat raja muda telah tiba di kota-raja, besok paginya mengadakan pertemuan dengan para menteri. Tak lama kemudian petugas jaga melaporkan, bahwa empat raja muda ingin menghadap Kaisar. Touw Ong menyilakan mereka masuk. Dengan lebih dulu melakukan tata-krama istana, Kiang Hoan Chu sambil berlutut mengangsurkan sepucuk surat pada Kaisar. Seorang petugas mengambil surat itu, menyerahkannya pada Touw Ong. Kaisar jadi sangat marah seusai membaca surat protes tersebut.

"Keparat! Setelah menyuruh anak perempuanmu membunuhku untuk merebut kerajaan ini, masih juga kau berpurapura jujur untuk menasehatiku". Touw Ong segera memerintahkan pengawal untuk melucuti pakaian kebesaran Kiang Hoan Chu, lalu menyeret! keluar ruang untuk dihukum pancung.Kiang Hoan Chu mengumpat-caci Kaisar, melampiaskan kemendongkolannya, namun tak berlangsung lama, sebab dirinya telah keburu diseret keluar. Ketiga raja muda lainnya serentak memajukan diri, berlutut di depan Tahta kerajaan sambil menyerahkan surat yang berisi imbauan mereka. Menteri Pi Kan yang mengambil surat mereka, menyerahkannya pada Kaisar. Namun Touw Ong bukan saja tidak membaca surat tersebut, malah langsung merobeknya dan memerintahkan pula untuk menghukum mati mereka. Louw Hiong yang ditugaskan untuk melaksanakan hukuman mati tersebut. Namun sebelum hukuman dilaksanakan, Hui Tiong dan Yu Hun -yang diam-diam telah mengadakan persengkongkolan dengan Chong Houw Houw- langsung berlutut di hadapan Kaisar, memohon pengampunan bagi Chong Houw Houw, dengan mengemukakan alasan, bahwa biarpun Houw Houw tampak kasar luarnya, tapi jujur hatinya. Dia telah kena dipengaruhi oleh tiga raja muda lainnya untuk bersama- sama melakukan aksi protes. Touw Ong memenuhi harapan kedua menteri yang menjadi orang kepercayaannya itu, membebaskan Chong Houw Houw dari hukuman mati. Sementara itu ada tujuh orang menteri lainnya yang berlutut dan memohon pengampunan bagi ketiga raja muda lainnya pada Kaisar. Namun mereka hanya dapat menyelamatkan nyawa Chiu Bun Ong dari kematian, yang dianggap cukup setia kepada kerajaan Siang Sedang dua raja muda lainnya, Kiang Hoan Chu dan Ngok Tiong le yang dianggap terbukti ingin menggulingkan kerajaan, tetap dihukum mati. Louw Hiong yang ditugaskan melaksanakan hukuman mati bagi kedua raja muda itu, segera memerintahkan algojo untuk memenggal batang leher Kiang Hoan Chu dan Ngok Tiong Ie.... Menteri Pi Kan memohon pada Kaisar agar diperkenankan untuk memakamkan jenazah kedua raja muda yang telah menjalanihukuman mati itu dan memohon pula agar Kie Chiang (Chiu Bun Ong), diizinkan untuk kembali ke negerinya. Touw Ong meluluskannya. Seusai memakamkan jenazah Ngok Tiong le dan Kiang Hoan Chu, Pi Kan mengunjungi Chiu Bun Ong di Wisma Negara untuk menyampaikan kabar gembira itu. Chiu Bun Ong keluar menyambutnya seraya mengucapkan terima kasihnya. Setelah saling berbasa-basi sejenak, Pi Kan membisiki Chiu Bun Ong.

"Sebaiknya Hian Houw segera kembali ke negerimu sebelum Kaisar berobah pikiran". Chiu Bun Ong kembali mengucapkan terima kasih pada menteri yang jujur lagi baik hati itu. Keesokan harinya, Chiu Bun Ong pergi ke muka pintu balairung yang kosong karena tak ada pertemuan pada hari itu. Dia menyoja ke dalam sebagai tanda terima kasih atas kebaikan Kaisar yang telah bersedia membebaskan dirinya. Kemudian mengajak para pengikutnya meninggalkan kotaraja dengan melalui pintu Barat. Setelah berjalan sekira sepuluh li, tibalah dia di Tiang Teng (Gardu Panjang), di situ terlihat Oey Hui Houw, Pi Kan, Hui Cu, Kie Cu dan beberapa menteri lainnya, yang ingin mengucapkan selamat jalan pada Chiu Bun Ong dengan menyediakan meja perjamuan. Setelah makan minum secukupnya, Chiu Bun Ong hendak berpamitan dan berterima kasih pada mereka. Namun tiba-tiba muncul Hui Tiong dan Yu hun yang menyiapkan perjamuan untuk Chiu bun Ong. Oey Hui Houw dan menteri lainnya tak senang pada kedua pejabat yang licik keji itu, segera berlalu. Sedang Chiu Bun Ong merasa tak enak untuk menolak ajakan makan minum dari Hui Tiong dan Yu Hun. Ketika Chiu Bun Ong telah mulai pening kepalanya karena kebanyakan minum arak, Hui Tiong berkata.

"Saya dengar Hian Houw pandai meramalkan nasib orang --- Kini Kaisar telah melanggar undang-undang kerajaan, apa akibatnya nanti?".

"Masa depan kerajaan sangat suram bila tak ingin dikatakan gelap,",sahut Chiu Bun Ong yang sudah setengah mabuk itu,"tampaknya dinasti Siang akan runtuh di tangan Touw Ong --- Dengan perbuatannya yang kurang terpuji, bila tak ingin dikatakan kejam, Baginda telah mempercepat keruntuhan kerajaan Siang!".

"Bilakah itu akan terjadi?", Yu Hun ikut bertanya.

"Paling lama hanya dapat bertahan selama 47 tahun". Kedua menteri penjilat ini meminta diramalkan juga peruntungan mereka.

"Aneh! Benar-benar aneh!", seru Chiu Bun Ong setelah menghitung- hitung petangannya.

"Apanya yang aneh?", tanya Hui Tiong dan Yu Hun bersamaan.

"Akhir hayat kalian akan terpendam dalam es", menerangkan Chiu Bun Ong. Yu Hun dan Hui Tiong jadi kurang senang mendengar akhir dari hidup mereka. Namun mereka masih bertanya lagi. *Bagaimana dengan peruntungan Hian Houw sendiri?".

"Berdasarkan ramalan, menunjukkan bahwa hari tuaku cukup menyenangkan dan matiku pun dalam keadaan tenang". Namun Chiu Bun Ong segera menyadari kalau dirinya telah kelepasan kata, tak bersuara lagi. Hui Tiong dan Yu Hun juga tak bertanya lebih jauh, segera pamit. Chiu Bun Ong mengajak para pengikutnya untuk kembali ke negerinya. Sedangkan Hui Tiong dan Yu Hun langsung menemui Touw Ong, melaporkan perbincangan mereka dengan Chiu Bun Ong di tempat peristirahatan di pinggir kota-raja.

"Dia meramalkan kerajaan Siang paling lama dapat bertahan 47 tahun lagi dan akan hancur di tangan Tuanku", Hui Tiong mengadu.

"akhir hayat Tuanku tidak menyenangkan bila tak ingin dikatakan menyedihkan. Sedangkan bagi dirinya dikatakan cukup menyenangkan hari tuanya dan mati secara tenang. Tapi hamba rasa segalanya itu hanya omong kosong belaka, cuma buat menyesatkan rakyat. Padahal jiwanya sendiri sesungguhnya berada di tangan Tuanku --- Nasib hamba berdua pun telah diramalkannya, bahwa akan mati dalam es.. Tapi hamba tak percaya, sebab hamba berdua Yu Hunselalu mendapat perlindungan dari Tuanku".

"Benar-benar kurang ajar dia!", Touw Ong berseru marah.

"Orang semacam itu memang patut dihukum, agar nantinya tak berani bicara yang bukan-bukan lagi", Yu Hun sengaja lebih memancing emosi Kaisar. Akibatnya, Touw Ong jadi tambah marah, segera memerintahkan untuk menangkap Chiu Bun Ong....! Sebelumnya Chiu Bun Ong memang merasa heran karena dirinya dapat kembali dengan selamat dari kota-raja. Sebab hal itu bertentangan dengan ramalan sebelumnya. Dia beranggapan, kemungkinan dirinya telah salah meramal. Atau mungkin juga akan menghadapi sesuatu dalam perjalanan pulangnya nanti. Seandainya dia masih akan mengalami kesulitan, bisa jadi disebabkan oleh pembicaraannya dengan Hui Tiong dan Yu Hun. Dan dugaannya mendekati kenyataan ketika Chiao Tian menyusulnya serta memberitahukan dirinya dipanggil Kaisar. Chiu Bun Ong maklum apa arti segalanya itu. Maka para pengikutnya dimintanya pulang duluan, sedang dia baru akan kembali ke See Kie selewat 7 tahun lagi. Kemudian Chiu Bun Ong ikut Chiao Tian menghadap Kaisar. ... 

***

 Oey Hui Houw sangat terkejut ketika Chiu Bun Ong kembali ke kota- raja, dia segera menyuruh Chiu Kie untuk mengundang Hui Cu, Pi Kan dan menteri lainnya, untuk menolong raja muda Barat bila keadaan memerlukan. Dia menduga segalanya ini adalah ulah Hui Tiong dan Yu Hun yang ingin mencelakai Chiu Bun Ong. Kala itu Chiu Bun Ong telah dibawa menghadap Kaisar di balai agung. Chi Bun Ong berlutut di hadapan Kaisar.

"Dasar orang tak tahu diri, sudah kubebaskan dari hukuman mati, masih juga kau berani menjelek-jelekkanku!", maki Touw Ong.

"Biarpun hamba seorang yang bodoh, tapi hamba tahu, bahwa di atas ada Langit, di bawah ada Bumi dan di tengah ada Kaisar. Selain itu, orang tua mengaruniai kehidupan pada anaknya dan guru memberi ilmu bagi anak didiknya", Chiu Bung Ong berusaha membela diri,"berdasarkan segalanya itu, bagaimana mungkin hamba berani menghina Tuanku yang dapat mengakibatkan kematian bagi diri hamba!?".

"Coba sebutkan ramalanmu mengenai kerajaan Siang!", perintah Kaisar.

"Maaf Baginda, Kaisar Shin Nung dan Kaisar Hok See menciptakan Pat-kwa (Delapan trigram) untuk menetapkan peruntungan manusia --- Berhubung ilmu itu bukanlah ciptaan hamba, hingga hamba tak berani sembarangan membicarakannya".

"Tapi pada orang lain kau telah meramalkan, bahwa kerajaan ini akan ambruk dan aku akan mati secara menyedihkan, sedangkan kau akan mati dalam usia lanjut dan keadaan tenang. Itu merupakan suatu penghinaan bagiku! Akan kubuat ramalanmu itu tidak menjadi kenyataan, sekarang juga kuputuskan hukuman mati bagimu!". Selesai berkata, Kaisar memerintahkan untuk segera memenggal batang leher Chiu Bun Ong. Namun sebelum perintah itu sempat dilaksanakan, Oey Hui Houw dan para menteri lainnya telah tiba di balairung. Mereka segera berlutut dan memohon pengampunan bagi Chiu Bun Ong pada Kaisar.

"Sebelumnya rakyat sangat bersyukur atas keputusan Tuanku yang sangat bijaksana dengan membebaskan Kie Chiang (Chiu Bun Ong) dari hukuman mati", ujar Oey Hui Houw, seandainya kini Baginda menghukum mati dia, bagaimana kesan rakyat terhadap sabda Tuanku?".

"Tapi dia telah menghinaku dengan meramal yang bukanbukan", Touw Ong masih terus diliputi kemarahan.

"Ilmu meramal itu berasal dari zaman Kaisar Hok See dan Kaisar yang mendahuluinya, bukan diciptakan oleh Kie Chiang. Seandainya ada ramalannya yang meleset, itu disebabkan oleh salah hitung. Tapi seandainya tepat ramalannya, itu adalah berkat ketekunannya, hingga dia jadi peramal yang pandai --- Maka hamba bersama menteri lainnya memohon dengan sangat, sudilah kiranya Paduka mengampuninya". Namun Touw Ong tetap berkeras ingin melaksanakan hukuman mati itu. Pusing juga Oey Hui Houw dan menteri lainnya yang ingin membelaChiu Bun Ong. Untung tak lama kemudian Oey Hui Houw memperoleh cara yang dianggapnya cukup baik, segera mengusulkan pada Kaisar.

"Maaf Tuanku, bukanlah maksud hamba ingin menentang keputusan Paduka, tapi sudilah Tuanku memberi kesempatan pada Kie Chiang".

"Maksudmu?", Kaisar menatap tajam.

"Hamba harap sudilah Tuanku memberinya kesempatan untuk meramalkan apa yang segera akan terjadi? Bila ramalannya meleset, barulah Tuanku menghukum mati dia". Touw Ong mempertimbangkan sejenak usul itu, kemudian mengangguk.

"Baiklah, kuterima saranmu itu". Oey Hui Houw mengucapkan terima kasih. Kaisar segera memerintahkan Chiu Bun Ong meramalkan peristiwa yang bakal terjadi dalam waktu singkat. Chiu Bun Ong mengambil alat peramalnya, mulai menghitung, selang sesaat telah berkata dengan sikap terperanjat. *Tuanku, esok siang 'Tay Bio' akan dilalap api. Sebaiknya tabung abu leluhur cepat disingkirkan dari sana!". (Tay Bio = Rumah berhala besar). **Jam berapa peristiwa itu akan terjadi?", tanya Kaisar, seakan kurang yakin terhadap ramalan itu.

"Tengah hari", sahut Chiu Bun Ong.

"Kie Chiang harus ditahan, perkaranya akan diputus besok", sabda Touw Ong. Untuk sementara selamatlah jiwa Chiu Bun Ong. Atas saran Hui Tiong dan Yu Hun, Kaisar menetapkan, bahwa besok tidak boleh ada api di Tay Bio dan dupa pemujaan pun dilarang dipasang. ... Keesokan harinya, semua menteri menanti di balairung dengan hati berdebar, mereka cemas akan nasib Chiu Bun Ong yang akan ditentukan pada tengah hari itu.... Tepat tengah hari, tiba-tiba terdengar suara gledek secara beruntun dan hampir bersamaan waktunya, para penjaga di Tay Bio lari ketakutan dan melaporkan mengenai kebakaran di rumah berhala besar tersebut."Pertanda buruk bagi kerajaan", gumam Pi Kan seraya menghela nafas. Wajah Touw Ong jadi pucat. Hui Tiong dan Yu Hun gemetar tubuhnya. tapi ketika Kaisar meminta pendapat mereka, Hui Tiong masih dapat memberi saran pada Kaisar dalam menghadapi kasus itu. Di lain pihak, para menteri lainnya memohon pengampunan bagi Chiu Bun Ong, agar Kaisar sudi membebaskannya. Namun Touw Ong yang telah mendapat saran dari Hui Tiong, bersabda.

"Ramalan Kie Chiang ternyata sangat tepat, dengan begitu kubebaskan dia dari hukuman mati. Tapi untuk sementara ditahan di Yu Li. Bila keadaan kerajaan tetap aman, barulah dia akan dibebaskan dan kembali memangku jabatan semula". Oey Hui Houw dan para menteri lainnya mengucapkan terima kasih pada Kaisar, karena putusan Touw Ong tersebut telah menyelamatkan jiwa Chiu Bun Ong. Chiu Bun Ong juga mengucapkan terima kasih pada Kaisar dan amat bersyukur atas bantuan Oey Hui Houw dan lainlainnya, kemudian berangkatlah dia ke Yu Lie. Kedatangannya di kota kecil itu disambut oleh para penduduk yang bersujud di sepanjang jalan yang dilalui Chiu Bun Ong, yang telah lama sebelumnya mereka mengagumi raja muda yang adil lagi bijaksana itu. Beberapa waktu kemudian, Oey Hui Houw menerima kabar, bahwa Kiang Bun Hoan (putera Kiang Hoan Chu) di Tonglo dan Ngok Sun (putera Ngok Tiong Ie) di Lam-tu, telah mengangkat senjata melawan kerajaan Siang. Dalam waktu relatif singkat mereka telah berhasil merebut kota Yun-hun-koan dan kota Sam-san-koan. _ Goan Sie Thian Chun Chiu Bu ?ng.Kiang Chu Gie (Kiang Chu Ge)