--> -->

Pelantikan Para Malaikat Jilid 03

Jilid 03

Oey Kui Hui, sang Permaisuri muda Oey, segera menemui Kaisar di istana Dewa Panjang Umur, menceritakan bantahan Kiang Hong- houw.

"Menurut kesimpulan saya, Permaisuri Kiang telah difitnah", Oey Kui Hui mengakhiri keterangannya. Kaisar mulai ragu setelah mendengar keterangan Permaisuri mudanya. Namun Souw Tat Kie telah memperlihatkan senyum mengejek.

"Kita harus berusaha membuat Kiang Hong-houw mengakui perbuatannya, bila perlu dengan menggunakan alat penyiksa. Sebab, bila kita biarkan, perbuatannya akan ditiru oleh orang lain yang tidak senang pada Paduka". Touw Ong diam.

"Kita tak boleh menyakitinya, Tat Kie", Oey Kui Hui coba memprotes.

"biar bagaimana juga dia adalah Permaisuri, ibu dari putera mahkota! Sejak zaman dulu hingga sekarang, tak pernah ada seorang Permaisuri yang disiksa, apapun kesalahannya. Apa lagi kesalahan Kiang Hong-houw belumlah terbukti. Saya rasa, bila Baginda condong menyalahkannya, sebaiknya untuk sementara dikenakan hukuman penjara di dalam istana saja".

"Saya kira itu bukanlah merupakan pemecahan terbaik", kata Souw Tat Kie.

"orang bisa saja menyangkal perbuatannya bila diperlakukan lunak dan baru mau mengaku bila sudah disiksa". Touw Ong yang sedang mabuk kepayang, condong menuruti kata-kata Souw Tat Kie. Maka setelah diam sejenak, Kaisar memutuskan untuk menuruti saran gundik kesayangannya, memerintahkan untuk mencongkel satu biji- mata Kiang Hong-houw bila sang Permaisuri tak mau mengakui juga kesalahannya. Oey Kui Hui kembali ke istananya dengan mata berlinang dan membujuk Kiang Hong-houw untuk sebaiknya mengaku saja, agar tidak mengalami penderitaan akibat disiksa.

"Apa yang harus kuakui bila aku tidak berbuat!?", sang Permaisurimarah campur sedih.

"kasus ini menyangkut nama baik leluhurku, kesetiaan ayahku, juga kewajiban seorang isteri terhadap suami serta kedudukan anakku sebagai putera mahkota akan jadi lemah --- Aku lebih baik mati dari pada harus mengakui sesuatu yang tak pernah kulakukan. Mungkin di dalam titisan lalu aku pernah berbuat dosa, hingga kini aku mesti dihukum seperti ini".

"Saya sebenarnya ingin sekali menolong Hong-houw, tapi saya tak kuasa untuk mengatasinya", kata Oey Kui Hui dengan mata berlinang.

"Ini bukan salah Kui Hui, biarlah segalanya kutanggung sendiri", ucap Kiang Hong-houw. Petugas yang ditunjuk Kaisar terpaksa melaksanakan perintah Touw Ong. Kiang Hong-houw jatuh pingsan ketika sebelah bola matanya dikorek. Sang petugas meletakkan bola-mata itu di atas piring, membawanya ke hadapan Kaisar. Oey Kui Hui mengiringi dengan isak-tangis, kemudian berusaha meyakinkan Kaisar.

"Saya yakin Kiang Hong-houw tidak bersalah, Baginda". Touw Ong terharu juga menyaksikan akibat dari perintahnya, mulai menyalahkan Souw Tat Kie.

"Engkaulah penyebab segalanya ini --- Apa yang harus kulakukan bila para menteri pada memprotes keputusan ini?".

"Ayah Hong-houw, raja muda Timur, tentunya tak senang anaknya diperlakukan begini dan pasti akan melakukan pembalasan. Untuk itu kita membutuhkan pengakuan dari Permaisuri", tenang sekali sikap Souw Tat Kie.

"sebaiknya Baginda perintahkan untuk menjepit ke sepuluh jarinya dengan tembaga batangan yang telah dipanaskan".

"Akan tetapi menurut Oey Kui Hui, Permaisuriku tidaklah melakukan kejahatan seperti yang dituduhkan", kata Touw Ong, sangsi dia.

"bagaimana mungkin aku dapat menyiksanya lebih jauh?".

"Setelah sampai ke tingkat seperti ini, hendaknya Baginda jangan bertindak kepalang tanggung, singkirkan jauh-jauh rasa iba. Kita tak boleh bersikap lemah, sebab kelemahan kita akan dimanfaatkan oleh lawan nanti, untuk dapat menjatuhkan bahkan menghancurkan kita ! Maka Baginda harus bertindak sebelum terlambat!", ucap Tat Kie,"selain itu, tanpa pengakuan dari Permaisuri, Baginda akan dituduh tidak adil oleh para menteri dan raja muda". Touw Ong menganggap kata-kata itu cukup beralasan, kembali menuruti saran gundiknya yang telah membuatnya mabuk kepayang, memerintahkan seorang petugas untuk menjepit tangan Kiang Hong- houw bila sang Ratu tak mau juga mengakui kesalahannya. 

***

 Oey Kui Hui kembali membujuk Kiang Hong-houw agar mengaku saja, agar tidak disiksa lagi. Akan tetapi sang Ratu tetap pada prinsipnya semula. Petugas yang ditunjuk Raja terpaksa harus melaksanakan tugas yang diperintahkan, menjepit kedua tangan Ratu dengan tembaga batangan yang telah dipanaskan. Ratu Kiang jatuh pingsang akibat rasa sakit yang amat sangat. Hati Oey Kui Hui bagaikan disayat-sayat ketika menyaksikan segalanya itu, seakan ikut merasakan juga penderitaan yang dialami Kiang Hong-houw. Oey Kui Hui melaporkan perkembangan yang baru saja terjadi dengan bersimbah air mata. Touw Ong jadi serba salah, biar bagaimana juga Kiang Hong-houw adalah wanita yang telah sekian tahun mendampinginya, telah pula melahirkan dua orang putera baginya. In Kiao dan In Hong. Sesungguhnya di hati kecilnya dia merasa kasihan terhadap apa yang dialami Permaisurinya. Maka untuk beberapa saat lamanya sang Kaisar tak tahu apa yang harus dilakukannya !? Namun Souw Tat Kie yang berhati keji tak sudi bertindak kepalang tanggung, telah berkata lagi pada Kaisar .

"Sebaiknya kita padu saja Hong-houw dengan penjahat yang ingin membunuh Paduka!". Touw Ong menganggap usul itu merupakan pemecahan terbaik, langsung saja menyetujuinya, memerintahkan seorang pembantunya membawa Kiang Hoan ke tempat kediaman Oey Kui Hui di istana Barat, untuk dipadu dengan Permaisuri Kiang. Walau berat perasaan Oey Kui Hui, terpaksa ia melaksanakan juga perintah Raja.Kala itu Kiang Hong-houw telah siuman dari pingsannya dan tak lama Kiang Hoan tiba pula di istana Barat, berlutut di hadapan Oey Kui Hui. Panas hati sang Ratu ketika bertemu dengan orang yang menfitnah dirinya, sambil menahan sakit, dia langsung menghardiknya .

"Manusia iblis, siapa yang menyuruhmu mencelakai aku? Thian Maha Adil, engkau tentu akan mendapat hukuman yang lebih berat dariku nantinya!".

"Bukankah Ratu sendiri yang menyuruh saya untuk membunuh Kaisar?", kata Kiang Hoan sambil tersenyum licik, tak ada rasa gentar sedikitpun.

"Sebaiknya Ratu mengaku saja, agar hukuman kita dapat lebih ringan nantinya". Oey Kui Hui ikut panas hatinya ketika menyaksikan segalanya itu, tak lagi dapat membendung emosi, menghardik Kiang Hoan .

"Kau benar- benar manusia berhati iblis! Tidakkah kau lihat betapa menderitanya Hong-houw gara-gara fitnahmu? Thian tentu takkan mengampuni dosamu!". Baru selesai Oey Kui Hui berkata, telah terdengar suara panggilan dari luar ruang .

"Ibu!". Menyusul masuk dua orang anak laki-laki yang berusia belasan tahun. Mereka adalah kedua putera sang Ratu, In Kiao yang berusia 14 tahun dan telah diangkat sebagai putera mahkota dan In Hong yang berusia 12 tahun. Ketika Permaisuri disiksa tadi, mereka sedang bermain catur di istana Timur. Belakangan seorang Thay-kam (Sida-sida atau Kasim) yang bernama Yo Yong memberitahukan mereka, bahwa ibu mereka telah disiksa, agar mau mengakui perbuatannya yang menyuruh orang untuk membunuh Kaisar dan kini sedang dipertemukan dengan orang suruhannya itu di istana Barat.

"Tak mungkin!", seru In Kiao dan In Hong hampir bersamaan, bergegas menuju ke istana Barat. Terlihat kemudian, bahwa ibu mereka telah cacad matanya dan terluka parah tangannya. Mereka langsung memeluk Kiang Hong-houw sambil menangis.

"Apa salah ibu?", suara In Kiao amat memilukan.

"Ibu adalah Permaisuri, dosa apapun yang ibu lakukan, tak patutmereka menyiksa ibu sekejam ini". Kiang Hong-houw terbaring lemah di lantai ruang sambil memejamkan mata. Tangis kedua puteranya semakin memilukan, membuatnya membuka matanya yang tinggal satu, silih berganti mengawasi kedua puteranya.

"Semua ini gara-gara Kiang Hoan yang berhati binatang serta fitnah dari Souw Tat Kie, yang membuat ibu kehilangan s? buah mata dan sepuluh jariku pun dibakar", lemah sekali suara Kiang Hong-houw, juga mengandung kesedihan yang dalam.

"anak-anakku, kalian harus membalas sakit hati sekali-gus membersihkan nama baik ibu". Selesai berkata, Hong-houw telah menutup mata untuk selama- lamanya.

"Ibu!", jerit kedua puteranya. Namun sang Permaisuri tak dapat mendengarnya lagi. Kala itu In Kiao jadi mata gelap, langsung mengambil sebilah pedang yang tergantung tak jauh darinya, membacok batang leher Kiang Hoan yang kala itu tengah berlutut di dekat! ibunya, hingga kepala manusia keji itu pisah dari tubuhnya! Namun In Kiao masih belum puas, berlari keluar seraya berseru.

"Akan kubunuh Souw Tat Kie, untuk membalas sakit hati ibu!". Dua petugas kerajaan yang membawa kiang Hoan ke istana Oey Hui, bergegas lari ke istana Dewa Panjang Umur, untuk melaporkan perkembangan di luar dugaan itu pada Touw Ong. Sementara itu, Oey Kui Hui telah menyuruh In Hong mengejar kakaknya dan mengajaknya kembali. Setelah kakak beradik kembali, berkatalah Oey Kui Hui.

"Taycu masih terlampau muda, hingga tak mampu mengekang emosi. Dengan Taycu membunuh manusia keji itu, persoalannya akan jadi tambah ruwet". Oey Kui Hui menghela nafas, kemudian meneruskan ucapannya .

"Semula aku ingin membakar juga tangan manusia berhati binatang itu dengan alat penyiksa, agar dia mau mengaku siapa sebenarnya yang berdiri di belakangnya, tapi kini tak mungkin lagi. Di samping itu tadi Taycu mengancam hendak membunuh Tat Kie, tentu wanita licik dan kejam itu akan berusaha untuk menyingkirkan Taycu juga! ---Yang penting sekarang, Taycu berdua harus berusaha menyembunyikan diri". Mendengar penjelasan Oey Kui Hui, In Kiao jadi sangat menyesal atas perbuatannya tadi, bersama adiknya dia berlutut di hadapan Permaisuri muda yang bijaksana itu, memohon bantuannya. Kalian tak dapat bersembunyi di istana Barat ini", kata Oey Kui Hui seraya menghela nafas.

"sebaiknya kalian pergi ke istana Yo Kui Hui, bersembunyilah selama beberapa hari di sana. Nanti tentu akan ada menteri yang memohon belas kasihan pada Kaisar untuk kalian, dengan begitu akan selamatlah nyawa kalian". In Kiao dan In Hong pamit seraya mengucapkan terima kasih pada Oey Kui Hui, bergegas menuju ke istana Hiong Cheng yang dihuni oleh Yo Kui Hui. Kala itu Yo Kui Hui tengah menanti kabar perihal Kiang Hong-houw di muka pintu istananya. Dia jadi sangat terkejut ketika tiba-tiba In Kiao dan In Hong muncul dan berlutut di hadapannya. Dengan tersedu-sedu kedua Pangeran itu mengabarkan tentang meninggalnya ibu mereka yang dengan terlebih dahulu disiksa. Lebih jauh In Kiao memberitahukan, bahwa dia telah membunuh Kiang Hoan dan memohon pada Yo Kui Hui agar sudi menerima mereka bersembunyi di situ. Yo Kui Hui amat sedih mendengar kematian Kiang Honghouw, mengajak kedua putera Raja itu masuk, membiarkan mereka untuk sementara bersembunyi di situ.

"Seandainya ada utusan Raja yang mencari kalian ke mari, akan kuusir mereka", kata Yo Kui Hui. In Kiao dan In Hong mengucapkan terima kasih pada Permaisuri muda dari istana Hiong Cheng itu.... 

***

 Tepat sekali dugaan Yo Kui Hui, tak lama kemudian telah datang ke istananya dua orang utusan Kaisar yang bernama Chiao Tian dan Chiao Lui. Kehadiran mereka membawa pedang kerajaan, sebagai tanda kalau mereka benar-benar diutus Kaisar.

"Sungguh besar nyali kalian berani memasuki istana terlarang", hardik Yo Kui Hui.

"seandainya kalian tidak membawa pedang kerajaan, sudah akan kuperintahkan pengawal istana untuk menangkap dan memenggal batang leher kalian --- Ayo lekas enyah dari sini!"

"Maaf Nio Nio", kata Chiao Tian sambil menyoja Yo Kui Hui, Kami telah diperintah oleh Kaisar untuk menangkap Taycu kakak beradik. Sebagai bukti kami dibekali Liong Hong Kiam ini oleh Baginda, jadi kami bukan ingin berlaku kurang ajar terhadap Nio Nio". Yo Kui Hui tambah marah.

"Tempat tinggal Taycu kan di Tong Kiong (Istana Timur), kenapa kalian mencarinya ke mari? Ini jelas kalau kalian ingin berbuat kurang ajar padaku! Bila kalian tak mau pergi juga, akan segera kupanggil pengawal untuk menangkap kalian!". Diancam begitu, Chiao bersaudara tak berani bersuara lagi, terpaksa meninggalkan istana Hiong Cheng untuk melapor pada Touw Ong di istana Dewa Panjang Umur. Yo Kui Hui menyadari, bahwa Touw Ong yang telah dibikin lupa daratan oleh Souw Tat Kie, sulit rasanya dapat mengambil keputusan yang bijaksana. Dia pun menyadari, kalau istananya tidak lagi aman untuk digunakan sebagai tempat bersembunyinya kedua Pangeran. Maka kemudian Yo Kui Hui menyuruh In Kiao dan In Hong pergi ke balai agung tempat berkumpulnya para menteri.

"Sebaiknya kalian meminta perlindungan pada menteri yang menjadi kerabat Raja, seperti Oey Hui Houw dan lainnya", katanya. Kedua Pangeran itu mengucapkan terima kasih, pamit pada Yo Kui Hui yang baik hati. Yo Kui Hui memandang kepergian kedua Pangeran itu dengan mata berlinang penuh haru, kemudian menggantung diri.... Beberapa waktu kemudian ada petugas istana yang melaporkan mengenai kematian Yo Kui Hui pada Touw Ong. Kaisar heran kenapa Yo Kui Hui bisa nekad menggantung diri. Tapi dia enggan untuk menyelidiki sebabnya, menyuruh pembantunyauntuk memasukkan jenazah Permaisuri mudanya ke peti mati, membaringkannya di ruang Macan Putih. Sedangkan berita mengenai kematian Kiang Hong-houw ditanggapinya secara dingin. Baru setelah Oey Kui Hui mengingatkannya mengenai hubungan suami isteri yang telah berlangsung cukup lama, Touw Ong bersedia juga mengurusi pemakaman Permaisurinya. Kemudian menyuruh Oey Kui Hui kembali ke istananya. Tak lama Chiao Lui dan Chiao Tian datang menghadap, melaporkan, bahwa mereka belum juga berhasil menemukan jejak putera mahkota beserta adiknya. Touw Ong memerintahkan kedua orang itu untuk meneruskan pencariannya ke balai agung.. 

***

 In Kiao dan In Hong menuruti saran Yo Kui Hui, segera menuju ke istana Kiu-kian, balai agung. Setiba di sana, kedua Pangeran ini melihat Oey Hui Houw, segera menghampirinya.

"Tolonglah kami, Oey Ciangkun", kata In Kiao sambil memegangi lengan baju Oey Hui Houw.

"Apa yang telah terjadi sebenarnya, Taycu?", Oey Hui Houw heran. In Kiao menceritakan apa yang terjadi. Oey Hui Houw menarik nafas dalam-dalam, untuk sementara tak tahu apa yang sebaiknya dilakukannya!? Bersamaan dengan itu, para menteri lainnya pada berdatangan ke balai itu. Mereka ikut terharu mendengar pengalaman kedua Pangeran itu.

"Perkembangan ini sesuai dengan apa yang diramalkan oleh In Tiong Cu dari Chong Lam-san", kata Yo Jim.

"Kaisar sekarang telah dipengaruhi siluman, hingga tega membunuh putera dan Permaisuri. Dengan demikian jiwa kita pun terancam, sewaktu-waktu akan dibunuhnya juga".

"Kita harus menentang perbuatan yang menyalahi hukum Langit!", seru seorang perwira yang bernama Phuy Pek.

"akan kulindungi kedua Pangeran ini dan akan membawa mereka ke Tong-lo, kemudiandengan meminjam pasukan dari raja muda Kiang Hoan Chu, memaksa Touw Ong turun dari Tahta dan mengangkat In Kiao sebagai penggantinya!". Pendapat Phuy Pek langsung didukung oleh saudaranya, Phuy Siang. Phuy Pek segera memanggul In Kiao dan Phuy Siang menggendong In Hong. Keduanya meninggalkan ruang berkumpulnya para menteri, berlari ke luar pintu kota Selatan. Oey Hui Houw dan menteri lainnya pada berdiam diri. Tak lama Chiao Lui dan Chiao Tian datang, menanyakan prihal kedua Pangeran.

"Tadi memang kedua Taycu itu ke mari, tapi kini telah dibawa pergi oleh Phuy Pek dan Phuy Siang. Bila kalian menginginkan kedua Pangeran itu, lekaslah kejar Phuy bersaudara", kata Oey Hui Houw. Oey Hui Houw tahu kalau Chiao bersaudara bukanlah tandingan Phuy Pek dan Phuy Siang. Kenyataannya, Chiao Lui dan Chiao Tian memang menyadari hal itu, tak berani mereka mengejar Phuy bersaudara, tapi kembali ke istana Dewa Panjang Umur untuk melaporkannya pada Kaisar. Touw Ong jadi sangat gusar ketika mendengar laporan itu.

"Kenapa kalian tak kejar mereka?", hardik Kaisar.

"Maaf Tuanku, hamba berdua bukan tandingan Phuy bersaudara", Chiao Lui berterus terang.

"maka percuma saja kami mengejar mereka".

"Goblok, pengecut! Lalu menurut kalian, siapa yang mampu untuk melakukan pengejaran?", tanya Touw Ong yang sedang butek pikirannya.

"Hamba kira Oey Hui Houw, Oey Ciangkun, adalah orang yang paling tepat melaksanakan tugas itu!", kata Chiao Lui. Tanpa pikir panjang lagi Touw langsung menyetujui usul tersebut, segera memeritahkan Oey Hui Houw untuk menangkap kedua saudara Phuy serta In Kiao dan In Hong. Oey Hui Houw yang menyandang gelar raja muda Bu Cheng, tak berani menolak perintah Kaisar, terpaksa melakukan pengejaran dengan menunggang 'Kerbau sakti lima warna'-nya. Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 li, dia pun berhasil menyusulkedua saudara Phuy yang sedang menggendong In Kiao dan In Hong. Sebenarnya pada saat itu Phuy Pek dan Phuy Siang bermaksud beristirahat sejenak dan mereka jadi sangat terkejut ketika melihat kedatangan Oey Hui Houw yang menunggang kerbau saktinya.

"Kedatangan Oey Ciangkun pasti membawa berita yang tidak menyenangkan bagi kita, Taycu", kata Phuy Pek sambil menurunkan In Kiao dari gendongannya. Phuy Siang pun menurunkan In Hong. Dalam sekejap Oey Hui Houw telah tiba di hadapan mereka. In Kiao dan In Hong langsung berlutut pada Hui Houw. Hui Houw cepat-cepat turun dari binatang tunggangannya, membangunkan kedua Pangeran itu.

"Apa maksud kedatangan Ciangkun?", tanya In Kiao setelah berdiri.

"Saya telah diberi 'Liong Hong Kiam' (Pedang Naga dan Cendrawasih; Pedang kerajaan) oleh Kaisar untuk membunuh Taycu berdua", Oey Hui Houw menerangkan. In Kiao segera memasang lehernya seraya berkata.

"Ciangkun boleh memenggal leher saya, tapi hendaknya sudi membebaskan adik saya". Sebaliknya In Hong telah pula berkata.

"Saya mohon Ciangkun memenggal leher saya dan membebaskan kakak saya. Sebab dia adalah putera mahkota, yang nantinya dapat meminjam pasukan pada para raja muda untuk membalas sakit hati saya dan ibu kami". Kedua saudara Phuy terharu menyaksikan ulah kedua Pangeran itu, segera majukan diri .

"Ciangkun boleh membunuh kami, asal sudi membebaskan kedua Pangeran". Sesungguhnya Oey Hui Houw terpaksa melaksanakan tugas yang dibebankan Kaisar padanya, hatinya sangat terharu setelah menyaksikan keadaan mereka sekarang ini.

"Segalanya ini hanya kami berlima yang tahu", katanya kemudian.

"hal ini hendaknya jangan sampai bocor". Oey Hui Houw menyuruh Phuy Pek mengantarkan In Kiao ke tempat kediaman Kiang Hoan Chu di Tong-lo dan Phuy Siang membawa In Hong ke Ngok Tiong le, raja muda Selatan. Kelak mereka dapat meminjam pasukan pada kedua raja muda itu untuk menggempurkota-raja. Hui Houw memberi mereka beberapa perhiasan yang mahal harganya untuk dijual, yang dapat digunakan sebagai biaya di perjalanan. In Kiao dan In Hong maupun kedua saudara Phuy amat bersyukur atas kebaikan Oey Hui Houw.... 

***

 Oey Hui Houw kembali ke kota-raja dengan tangan kosong, mengemukakan alasan pada Kaisar, bahwa dia tak berhasil menemui kedua Pengeran, biar telah cukup jauh melakukan pengejaran. Touw Ong tak mendesaknya lebih jauh. Berlainan dengan Souw Tat Kie yang ingin 'mencabut rumput sampai ke akar-akarnya', segera mempengaruhi Kaisar untuk melanjutkan pengejaran. Kaisar yang sedang mabuk kepayang, langsung saja menuruti saran itu. Sekali ini Touw Ong memerintahkan In Po Pai dan Lui Kay dengan membawa 3000 prajurit untuk mengejar Phuy bersaudara yang membawa kabur kedua puteranya. Oey Hui Houw diperintahkan menyiapkan pasukan yang dibutuhkan. Oey Hui Houw sengaja memperlambat keberangkatan mereka dan baru menyiapkan prajurit pada keesokan harinya. In Po Pai dan Lui Kay berangkat dengan pasukan yang rata-rata telah loyo, sudah tua!.... Di lain pihak Phuy Pek menyarankan pada saudaranya agar mereka berpencar saja, supaya tak mudah ditawan oleh utusan Kaisar. Setelah kedua Pangeran itu kelak dapat menyiapkan pasukan, barulah mereka bergabung kembali, untuk menggempur kota-raja. Padahal maksud Phuy Pek sesungguhnya, disamping takut ditangkap oleh utusan Kaisar, juga ingin menguasai barang perhiasan pemberian Oey Hui Houw yang bernilai sangat mahal. Diam-diam Phuy bersaudara telah bersepakat meninggalkan In Kiao dan In Hong Sungguh malang nasib kedua Pangeran cilik itu, mereka saling berpelukan, berat rasanya bagi mereka untuk berpisah, tapi apa mau dikata, keadaan yang memaksa mereka harus berbuat begitu. Phuy Pek dan Phuy Siang jalan bersama dengan menempuh jalankecil. Sedang In Hong terpaksa jalan sendiri menuju ke tempat kediaman raja muda Selatan Ngok Tiong Ie. In Hong yang sudah biasa tinggal di istana yang serba cukup dan serba dilayani, terasa berat baginya untuk melakukan perjalanan seorang diri tanpa bekal uang dan menahan lapar. Untung baginya, tak lama kemudian telah mendapatkan sebuah rumah penduduk, yang penghuninya sedang makan. Dia terpaksa harus menebalkan muka meminta makan. Orang tadi yang melihat pakaian In Hong yang indah dan sopan pula sikapnya, segera menyuruhnya masuk dan mengajaknya makan bersama. Tanpa sungkan-sungkan lagi In Hong makan sampai kenyang benar. Setelah mengucapkan terima kasih, dia pun berpamitan.

"Siapa namamu nak? Di mana rumahmu?", tanya pemilik rumah.

"Saya putera Touw Ong, bermaksud pergi ke Lam-tu untuk menemui raja muda Selatan", In Hong berterus terang. Pemilik rumah bersama anak isterinya segera berlutut di hadapan In Hong. In Hong segera meminta mereka bangun, kemudian meninggalkan tempat tinggal orang kampung yang baik hati itu. Entah telah berapa jauh dia berjalan lagi, tanpa terasa telah mulai gelap cuaca. Tak jauh dari tempatnya berada terdapat sebuah Vihara tua. In Hong tidur di kolong altar Vihara itu. Di lain pihak, In Kiao yang menempuh arah yang berlawanan dengan adiknya, setelah gelap cuaca sampailah di muka sebuah rumah yang besar. Dia memberanikan diri mengetuk pintu, bermaksud memohon menginap barang semalam di situ. Pemilik rumah itu ternyata Siang Yong, bekas Menteri Utama (Perdana Menteri). Siang Yong amat terperanjat ketika melihat yang mengetuk pintunya adalah putera mahkota, langsung berlutut di hadapannya.

"Jangan paman bersikap begini", In Kiao segera membanguninya.

"Apa yang telah terjadi sesungguhnya, Taycu?", tanya Siang Yong.In Kiao menuturkan pengalamannya sambil menangis. Panas hati Siang Yong setelah tahu duduk soalnya.

"Biarpun saya telah mengundurkan diri dari jabatan di kerajaan, tapi saya tetap mengikuti perkembangan dalam pemerintahan", katanya gemas.

"Taycu tak usah khawatir, nanti saya akan menemanimu menghadap Kaisar. Saya akan berusaha membela Taycu dengan segenap kemampuan saya". Agak tenang perasaan In Kiao ketika mendengar janji bekas menteri yang mulia hati itu. Siang Yong menyuruh pembantunya menyediakan hidangan untuk putera mahkota.