--> -->

Pelantikan Para Malaikat Jilid 02

Jilid 02

Souw Choan Tiong menemui orang tuanya. Gembira dan sedih berbaur di diri Souw Hok pada saat itu. Gembira karena dapat bertemu kembali dengan anak tertuanya, sedih karena akan mengantarkan anak gadisnya, Tat Kie, ke istana Touw Ong, sekali-gus akan mempertanggung-jawabkan kesalahannya terhadap Kaisar. Dia menyerahkan soal pemerintahan wilayahnya pada anak sulungnya, memesannya agar memerintah secara adil. Choan Tiong berjanji akan mematuhi segala amanat ayahnya. Souw Hok memilih 200 prajurit untuk mengiringi keberangkatannya bersama puterinya ke kota-raja. Souw Tat Kie pamit pada ibu dan kakaknya dengan bersimbah air mata, berat baginya untuk pisah dengan orang tua dan saudara, tapi ini adalah kehendak Kaisar, yang bila dibantah, akan dapat menimbulkan akibat fatal, bukan saja bagi keluarganya, juga bagi rakyat! Tat Kie berangkat dengan naik Joli dengan diiringi oleh ayahnya dan ratusan prajurit pilihan. Mereka melakukan perjalanan pada siang hari, beristirahat bila merasa lapar serta haus! dan pada malam hari. Pada suatu senja mereka tiba di kota In-chiu. Wali Kota menyambut rombongan Souw Hok, menempatkan mereka di Wisma kerajaan. Tapi di luar tahu mereka, di Wisma itu berdiam siluman Rase yang berekor sembilan, yang telah ditugaskan oleh Lie Koa Nio Nio untuk merayu Kaisar Touw Ong agar lupa daratan, hingga tak lagi mengurus soal negaranya. Sang siluman yang tahu Souw Hok yang akan mengantarkan anak gadisnya ke istana, telah menantinya di situ. Tengah malamnya, di kala orang-orang telah tidur nyenyak, sang siluman langsung merenggut nyawa Souw Tat Kie, lalu masuk ke dalam guha-garba (jasad) si gadis .... Keesokan harinya Souw Hok melanjutkan perjalanan tanpa menyadari apa yang telah terjadi semalam, di mana badan kasar Tat Kie telah dirasuki oleh siluman Rase berekor sembilan!Rombongan raja muda ini melintasi sungai Oey Ho (Huang Ho; Sungai Kuning) dan beberapa waktu kemudian tibalah mereka di istana Touw Ong. Kedatangan Souw Hok sekali ini juga tidak membawa hadiah untuk Hui Tiong dan Yu Hun, membuat kedua orang kepercayaan Kaisar ini tambah dongkol dan bermaksud mencelakainya. Mereka memberitahukan Touw Ong, bahwa Souw Hok telah datang mengantar puterinya dan mereka sengaja menghasut agar Kaisar menghukum mati raja muda dari Kie Chiu itu. Souw Hok menghadap Kaisar dengan mengenakan pakaian orang hukuman, berlutut di hadapan sang junjungan. Kaisar yang telah termakan hasutan kedua orang kepercayaan yang berhati licik lagi serakah, langsung saja memerintahkan untuk memenggal kepala Souw Hok. Namun Menteri Utama Siang Yong telah berusaha mencegah dengan mengemukakan alasan .

"Maaf Tuanku, Souw Hok! memang patut dihukum karena telah berani menentang Paduka. Akan tetapi kini dia telah menyadari kesalahannya itu berkat surat dari raja muda Barat. Maka adalah kurang bijaksana seandainya Paduka tetap menjatuhkan hukuman mati padanya. Elok kiranya Paduka mengampuninya". Usul Siang Yong didukung beberapa menteri lainnya. Hui Tiong yang melihat gelagat kurang menguntungkan posisinya bila dia meneruskan hasutannya, segera memutar haluan dengan berkata.

"Apa yang dikatakan oleh Menteri Utama tepat sekali Paduka. Seandainya di kemudian hari anak gadis Souw Hok tak pandai melayani Paduka, masih belum terlambat bagi kita untuk menghukum mati ayah dan anak itu!". Touw Ong mempertimbangkan sejenak, kemudian menyetujuinya. Souw Tat Kie diperintahkan untuk menghadap Kaisar. Tak lama muncullah anak gadis Souw Hok itu, cantik.wajahnya, mungil dan kemerah-merahan bibirnya, lemah gemulai langkahnya dan anggun sikapnya. Touw Ong terpesona menyaksikan kedatangan gadis itu, seakan Dewi Bulan yang muncul di istananya.Souw Tat Kie berlutut di hadapan Kaisar .

"Hamba, Souw Tat Kie, anak dari pejabat berdosa, memenuhi perintah Tuanku untuk datang menghadap. Semoga Paduka dikaruniai panjang umur!"

Merdu sekali suaranya, membuat sang Kaisar semakin tertarik pada Souw Tat Kie.

"Bangunlah manis", katanya. Sang Kaisar segera menyuruh pada dayang istana untuk mengantarkan Souw Tat Kie ke istana 'Dewa Panjang Umur'. Souw Hok bukan saja dibebaskan dari segala dosanya, malah telah diangkat sebagai anggota keluarga Kaisar dan Raja menyelenggarakan pesta tiga hari tiga malam untuk menghormatinya. 

***

 Sejak Souw Tat Kie yang cantik-rupawan berada di dalam istana, telah membuat Touw Ong mabuk kepayang, sepanjang hari dia terus mendampingi gundik kesayangannya, tak mengurus soal kerajaan. Selama dua bulan Kaisar tak pernah hadir di balairung; yang dilakukannya hanyalah makan minum sambil mendengarkan alunan suara Tat Kie. Sering sudah para menteri dan raja muda mengirim surat, yang bermaksud mengingatkan Kaisar mereka, agar jangan sampai melupakan urusan kerajaan. Namun Touw Ong tak pernah mau membaca surat-suratnya yang masuk, ditumpuk begitu saja! Sampai kemudian ada seorang menteri yang bernama Bwe Poh, yang mengusulkan pada Menteri Utama (Perdana Menteri) Siang Yong dan wakilnya, Pi Kan, agar mereka coba mengingatkan atas kealpaan Kaisar mereka. Siang Yong langsung menyetujui saran itu, segera menyuruh pembantunya memukul gong dan tambur, mengharapkan Kaisar sudi menerima para menterinya. Touw Ong terpaksa datang ke balairung, terlihat olehnya Siang Yong, Pi Kan dan para menteri lainnya telah berkumpul di situ, di tangan masing-masing pada memegang sepucuk surat yang berisi saran, ada pula yang ingin mengingatkan ulah Kaisar.Namun Touw Ong yang ingin cepat-cepat mendampingi Souw Tat Kie lagi, enggan untuk membaca surat yang disodorkan oleh para menterinya itu.

"Baginda, para raja muda masih tetap menantikan jawaban Paduka atas surat yang mereka kirimkan", kata Siang Yong.

"tapi selama beberapa bulan ini ternyata Paduka tak pernah menghiraukan urusan kerajaan dan hanya mencurahkan perhatian pada seorang wanita cantik. Kami mengharapkan, untuk selanjutnya sudilah Tuanku membuang kebiasaan yang kurang menguntungkan itu, agar rakyat dapat hidup tenang dan gembira. Ucapanmu memang cukup bijaksana, tapi kau dapat mewakiliku untuk mengurus tugasku hingga tidak terjadi hambatan dalam perputaran roda pemerintahan", sabda Touw Ong.

"bukankah selama ini, dalam setiap sidang, aku selalu mendengar pendapatmu bersama menteri lainnya?".

"Tapi Tuanku ....", namun sebelum Siang Yong sempat meneruskan ucapannya, telah datang laporan yang menyatakan, bahwa ada seorang Tojin (Pendeta dari agama To) yang bernama In Tiong Cu dari gunung Chong-lam, ingin menghadap Kaisar. Touw Ong girang mendengar kabar itu, sebab kunjungan sang Tojin akan memungkinkannya mengalihkan pokok pembicaraannya dengan para menterinya, segera menyuruh Pendeta itu menghadap. In Tiong Cu telah bertapa lebih dari seribu tahun, yang membuatnya berhasil mencapai kesaktian yang setaraf dengan Dewa. Hari itu, ketika dia sedang memetik daun obat untuk diolah menjadi pil, tiba-tiba melihat di arah Tenggara ada hawa siluman yang melambung tinggi di angkasa. Dengan kesaktiannya In Tiong Cu mengetahui, bahwa ada siluman Rase yang berhasil menempati guha- garba wanita cantik, telah menyusup ke istana Touw Ong. Bila tidak segera dibasmi, tentu akan menimbulkan bencana bagi kerajaan. In Tiong Cu segera menyuruh muridnya, Kim Shia Tongcu mengambil dahan pohon Siong (Pinus; Cemara), membuat pedang-pedangan kayu yang akan digunakan untuk membasmi siluman.Selesai membuat pedang, In Tiong Cu berpesan pada muridnya, agar baik-baik menjaga tempat pemukimannya. In Tiong Cu meninggalkan Chong-lam-san dengan naik awan, menuju ke kota-raja. Ketika dia tiba di istana, Touw Ong sedang mengadakan pertemuan dengan para menterinya. Dia segera meminta pada petugas jaga untuk memberitahukan kedatangannya pada Kaisar. Setelah disilakan masuk, In Tiong Cu memasuki ruang sidang sambil memegang sebuah keranjang bunga dan tangan lainnya sebuah kebutan. Dia tak berlutut di hadapan Touw Ong, hanya menganggukkan kepala seraya berkata.

"Terimalah hormat saya Baginda"

Touw Ong kurang senang menyaksikan sikap In Tiong Cu, bertanya .

"Dari manakah asal Totiang?".

"Pinto datang dari mega dan air".

"Apa maksud Totiang?".

"Hari sebagai mega putih yang melayang-layang di angkasa dengan bebasnya; sedangkan hasrat atau keinginan bagaikan air yang mengalir bebas ke Timur dan Barat".

"Akan tetapi bila mega buyar dan air kering, ke manakah Totiang akan kembali?".

"Bila mega buyar, rembulan akan menampakkan diri, Kalau air kering, akan tampak mutiara yang berkilauan".

"Dengan sikap yang baru saja Totiang perlihatkan, hanya mengangguk tanpa mau berlutut di hadapanku, bukankah itu berarti Totiang kurang menghormati Kaisar!?"

In Tiong Cu tersenyum .

"Baginda hanya tahu kalau seorang Kaisar itu mulia, tapi Agama lebih tinggi kedudukannya". Lalu In Tiong Cu menguraikan secara panjang lebar mengenai kebaikan dan kebesaran Agama. Touw Ong amat tertarik akan uraian tersebut, kemudian bertanya .

"Kalau boleh aku tahu, siapa nama Totiang? Apa maksud sesungguhnya Totiang ke mari?".

"Nama Pinto In Tiong Cu, menetap di gunung Chonglam"

Sahut In Tiong Cu.

"Pinto melihat ada hawa siluman yang berasal dari istana,maka Pinto segera ke mari".

"Mungkin Totiang salah lihat. Bagaimana mungkin ada siluman yang bermukim dalam istana?", Touw Ong kurang percaya.

"Sekiranya Baginda mengetahuinya, siluman itu tentu takkan berani berdiam di sini".

"Lalu dengan cara apa kita dapat membasminya?", tanya Kaisar. In Tiong Cu mengeluarkan sebilah pedang yang terbuat dari dahan pohon Siong, sambil menerangkan mengenai keampuhan pedang kayu tersebut, kemudian menyerahkannya pada Touw Ong.

"Pinto mohon Paduka menggantung pedang ini di depan menara Hun Kiong", pesannya.

"Pinto jamin dalam tempo tiga hari Tuanku sudah akan melihat hasilnya". Touw Ong menerima pedang itu, bermaksud memberi hadiah pada sang Tojin. Namun In Tiong Cu menolak hadiah itu, lalu mengundurkan diri. Sepergi sang Tojin, Kaisar segera menutup sidang, membuat para menterinya jadi agak kecewa. Sesungguhnyalah masih banyak persoalan yang ingin mereka perbincangkan dengan junjungannya. Sesuai dengan pesan In Tiong Cu, Kaisar menitahkan menggantungkan pedang itu di muka menara Hun Kiong. Touw Ong bergegas menuju ke istana Dewa Panjang Umur, untuk menemui wanita kesayangannya. Namun tidak seperti biasanya, Souw Tat Kie tidak menyambut kehadirannya. Selagi sang Kaisar keheranan, datang laporan yang menyatakan Tat Kie jatuh pingsan, serta-merta Touw Ong masuk ke kamar wanita yang telah membuatnya mabuk kepayang. Kala itu Souw Tat Kie baru saja siuman dari pingsannya, begitu melihat Kaisar, dia langsung menangis.

"Kenapa sedih sayang?", tanya Touw Ong dengan penuh kasih sayang.

"Tadi, ketika saya ke luar dari istana untuk menyongsong kembalinya Tuanku dari balai-sidang, saya sempat dikagetkan oleh pedang yang tergantung di menara Hun Kiong hingga jatuh pingsan", sahut Tat Kie, lirih sedih suaranya.

"tampaknya saya tidak memiliki keberuntunganuntuk melayani Paduka lebih lama lagi".

"Akulah yang perintah untuk menggantung pedang kayu itu atas saran In Tiong Cu", Touw Ong berterus terang.

"sebab menurutnya ada siluman di istana. Tapi rupanya Tojin itu berhati dengki ingin mencelakaimu, biar nanti ku perintahkan membakar pedang kayu itu". Kaisar langsung memerintahkan untuk membakar pedang itu, dengan demikian, siluman Rase yang bersarang di guha-garba Souw Tat Kie, yang semula telah mulai merasakan kesaktian pedang In Tiong Cu, jadi terhindar dari kematian. 

***

 Sekeluar dari istana, In Tiong Cu tidak langsung kembali ke Chong- lam-san, dia ingin menyaksikan perkembangan lebih jauh. Tak lama kemudian dia melihat hawa siluman yang berasal dari dalam istana, kembali melambung tinggi. Berkat kesaktiannya, dia langsung mengetahui kalau pedang kayunya telah dibakar.

"Tampaknya kerajaan yang diperintah Touw Ong sudah ditakdirkan runtuh", katanya sambil menghela nafas. Dia menulis sajak di dinding bangunan pengawas bintang, kemudian kembali ke tempat bermukimnya dengan naik awan. Sajak In Tiong Cu telah menarik perhatian rakyat, membuat mereka berdesak-desakan untuk membaca sajak tersebut. Touw Goan Sian, pejabat yang ditugaskan untuk mengawasi perjalanan bintang, sempat pula membaca sajak tersebut. Namun dia tak mengerti makna yang terkandung dalam sajak itu, segera menyuruh orang menghapusnya. Tapi di dalam perjalanan pulang, dia kembali mengingatingat sajak itu dan menghubungkannya dengan kunjungan orang suci itu pada Kaisar. - Aku melihat hawa siluman pada malam hari, kian lama kian membubung tinggi di angkasa. Ini merupakan alamat buruk. Kaisar terlampau mementingkan kecantikan dan kesenangan serta membiarkan diri disesatkan oleh pegawai yang tamak, dengki. Merupakan kewajibanku untuk memperingatkan Kaisar Kini jelaslah segalanya. Keesokan harinya Touw Goan Sian masuk ke istana sambil membawasepucuk surat. Girang hatinya ketika melihat hari itu sidang dipimpin oleh Menteri Utama Siang Yong. Dia menyerahkan surat itu pada sang menteri. Siang Yong meminta Touw Goan Sian menanti, sedang dia sendiri membawa surat itu ke istama Dewa Panjang Umur, menyerahkannya pada Touw Ong yang sedang beristirahat di situ. Touw Ong jadi sangat heran karena ada lagi yang mempersoalkan hawa siluman itu, untuk sementara tak tahu dia apa yang harus dilakukannya.

"Touw Goan Sian juga mengatakan, bahwa ada siluman di istana", kata Touw Ong pada Tat Kie.

"benarkah itu?".

"Sebelumnya In Tiong Cu telah menyiarkan berita bohong, yang ingin memperdaya Tuanku dan menimbulkan kecemasan di kalangan rakyat. Kini Touw Goan Sian kembali menyiarkan kabar dusta itu. Jelas kalau dia tak bermaksud baik", ucap Souw Tat Kie.

"Jadi menurutmu, apa yang harus kulakukan terhadapnya?", tanya Touw Ong, yang seakan telah butek pikirannya.

"Sebaiknya orang semacamnya dipenggal saja batang lehernya, agar orang lain tak berani lagi mencontoh perbuatannya", Tat Kie mengusulkan. Siang Yong terkejut ketika mendengar saran itu, berusaha mencegah Kaisar .

"Janganlah Baginda melaksanakan itu. Touw Goan Sian telah mengabdi di bawah tiga Kaisar dengan penuh kesetiaan, jasanya itu patut dijadikan teladan. Lagi pula dia ditugaskan untuk mengawasi perjalanan bintang dan sudah menjadi kewajibannya untuk melaporkan bila di angkasa terlihat tanda-tanda kurang baik. Dia bersedia menanggung segala resiko demi kepentingan negara --- Seandainya dia sampai dihukum mati karena laporannya yang tidak menyenangkan, hal itu akan menimbulkan perasaan yang kurang menyenangkan, bahkan membangun suasana ketakutan di kalangan hamba negara, yang mungkin sekali akan membuat mereka jadi tak peduli. Hal semacam itu tentu takkan menguntungkan bagi perkembangan kerajaan selanjutnya". Namun Touw Ong ternyata lebih mendengar saran wanita kesayangannya dari pada Menteri Utamanya, memutuskan untukmenghukum mati Touw Goan Sian, dengan alasan, perbuatannya dapat menggelisahkan rakyat, yang bila dibiarkan, akan menimbulkan kekacauan nantinya. Touw Goan Sian yang telah lanjut usia itu langsung ditangkap, diikat dan digiring ke luar istana untuk dihukum mati dengan dipenggal batang lehernya. Di tengah perjalanan ke tempat melaksanakan hukuman, Goan Sian berpapasan dengan Bwe Poh. Setelah tahu sebabnya, Bwe Poh segera menghadap Kaisar. Di dalam perjalanan menuju ke istana, Bwe Poh telah bertemu dengan Siang Yong, yang dicaci sebagai seorang pengecut, tak berani untuk menolong Goan Sian.

"Aku telah berusaha menolongnya, tapi tak berhasil", Siang Yong menerangkan.

"Mari kita menghadap Kaisar", ajak Bwe Poh yang panas hati karena menyaksikan keputusan yang tidak bijaksana dari Touw Ong. Mereka sama-sama menghadap Raja di istana Dewa Panjang Umur. Touw Ong sangat marah ketika melihat Bwe Poh berani sembarangan memasuki istana terlarang itu.

"Rupanya kau berkomplot dengan Touw Goan Sian, maka kau pun harus dihukum bersamanya", sabda Touw Ong.

"tapi mengingat kau telah cukup lama mengabdi pada kerajaan, tak sampai hati aku menghukum mati kau, cukup kupecat dari jabatanmu!".

"Rupanya kau telah dibutakan oleh rayuan Souw Tat Kie hingga bukan saja tidak menghiraukan pemerintahan, malah telah merusak hubungan antara Raja dengan menteri", saking marahnya, Bwe Poh jadi lupa akan posisi dirinya.

"dengan menghukum mati Touw Goan Sian, berarti kau telah menghukum seluruh rakyat. Aku tak keberatan kau pecat, tapi merasa sayang kalau dinasti Siang akan hancur di tanganmu. Seharus nya kau merasa malu pada leluhurmu atas ulahmu ini!". Touw Ong jadi sangat gusar mendengar umpat caci Bwe Poh, langsung memerintahkan untuk memenggal kepala menterinya yang jujur tapi keras wataknya ini. Souw Tat Kie mencegahnya. Menurutnya, seorang pejabat yang beranimelototi, apa lagi mencaci maki Kaisar, terlalu enak kalau dihukum mati begitu saja. Dia akan menggunakan sebuah alat, yang akan membuat orang yang berani bersikap kurang ajar itu menderita sebelum mati, agar pejabat lainnya tak berani bersikap seperti itu pada Raja mereka. Siang Yong berusaha menenangkan Kaisar dan sudi merobah hukuman Bwe Poh, tapi tidak digubris oleh Touw Ong. Kaisar malah telah bertanya pada Tat Kie.

"Dengan cara bagaimana kita menghukumnya?".

"Kita gunakan tungku api (pilar pembakaran) setinggi 10 elo dengan diameter dua elo. Dari atas ke bawah ada tiga lobang untuk tempat menyalakan api, yang akan membuat alat penghukum yang terbuat dari tembaga itu benar-benar panas. Setiap pejabat yang berkhianat atau mengajukan usul yang dianggap dapat menimbulkan keresahan disamping menghina raja, sebaiknya diikat pada tungku panas itu dalam keadaan bugil dan baru dilepaskan setelah mati terbakar --- Alat itu bernama Po Lok". Touw Ong memuji ide gundik kesayangannya itu, langsung memerintahkan memenggal batang leher Touw Goan Sian dan menjebloskan Bwe Poh ke penjara, untuk menunggu pelaksanaan hukuman di Po Lok yang segera dibuat. Menteri Utama Siang Yong hanya dapat menghela nafas mendengar keputusan yang tidak bijak itu, kemudian mengajukan permohonan meletakkan jabatannya. Touw Ong menerima permintaan Siang Yong itu. Banyak pejabat tinggi kerajaan yang mengantar kembalinya Siang Yong ke kampung halaman. Sesungguhnyalah mereka berat untuk berpisah dengan Menteri Utama yang bijaksana tersebut.

"Adalah hal yang sangat menggembirakan, bahwa bapak dapat melewati hari tua secara tenang di kampung halaman sendiri", kata salah seorang pejabat yang dekat dengan Siang Yong,"tapi sungguh disayangkan, pada saat kerajaan membutuhkan pejabat sebaik dan sebijaksana bapak, tapi justru bapak melepaskan jabatan. Saya khawatir keadaan kerajaan kita akan semakin buruk nantinya".

"Saya merasa terharu menyaksikan kesetia-kawanan saudarasekalian", kata Siang Yong terharu.

"sesungguhnyalah, saya merasa berat meletakkan jabatan pada saat seperti ini. Tapi hal ini terpaksa saya lakukan juga, sebab segala saran dan nasehat saya tidak lagi didengar oleh Kaisar yang telah dipengaruhi Souw Tat Kie, hingga sering mengambil keputusan yang tak adil terhadap para pembantunya maupun rakyat. Saya mengharapkan, setelah saya mundur, jabatan saya akan diisi oleh orang yang lebih pandai dan lebih berwibawa". Para pejabat lain tak berkata lagi, hanya memandang keberangkatan pejabat senior yang jujur itu dengan tatapan haru .......... Po Lok berhasil dirampungkan dan Souw Tat Kie menyatakan kepuasaannya setelah memeriksa alat penyiksa itu. Pada suatu pagi Touw Ong mengadakan rapat dengan para menterinya. Para menterinya sangat heran menyaksikan di balai sidang kerajaan terdapat 20 buah tungku api, tak tahu mereka, akan digunakan apa alat itu? Ada yang menduga sebagai penghangat! ruang di musim dingin. Touw Ong memerintahkan untuk mengisi bahan bakar ke salah sebuah alat itu, lantas menyalakannya. Setelah alat penyiksa mulai panas, sang Kaisar memerintahkan membawa Bwe Poh ke ruang itu.

"Hamba Bwe Poh menghadap Baginda", Bwe Poh berlutut di hadapan Kaisar.

"Kau manusia yang tak patut dikasihani", dingin suara maupun sikap Kaisar, lalu menuding ke alat penyiksa.

"perhatikan baik-baik olehmu, benda apa yang ada di sana!?".

"Belum pernah hamba saksikan benda semacam itu Tuanku", kata Bwe Poh setelah memperhatikan sejenak.

"Benda itu sengaja kubuat untukmu!", kata Kaisar.

"Untuk hamba Baginda?", Bwe Poh membelalakkan mata.

"Ya, untukmu dan untuk siapa saja yang berani membangkang perintah atau menghina Kaisar!". Bwe Poh bukannya takut, malah tak lagi dapat menahan emosi, mencaci-maki Raja, namun menyayangi juga, bahwa dinasti Siangakan ambruk di tangan Touw Ong! Sang Kaisar jadi tambah marah, langsung memerintahkan menelanjangi Bwe Poh, mengikat tangan dan kakinya dengan rantai, menyeret dan menekan tubuhnya ke tungku api yang telah panas. Bwe Poh langsung memperdengarkan jeritan yang memilukan sambil meronta-ronta ingin melepaskan diri, namun terus ditekan oleh pengawal Raja, yang membuatnya tak berkutik dan pingsan tak lama kemudian. Bau daging dibakar memenuhi seluruh ruang. Para pembesar yang hadir marah campur ngeri ketika menyaksikan kelaliman itu, banyak di antaranya yang bermaksud meletakkan jabatan. Pertemuan antara Kaisar dan menteri usailah sudah dengan matinya Bwe Poh di tungku api 'Po Lok'. Touw Ong masuk ke istana Dewa Panjang Umur. Souw Tat Kie menyambut kehadiran sang junjungan sambil tersenyum manis, mengajak Touw Ong bersantap dengan dihibur nyanyian dan tarian.

"Alat ciptaanmu hebat sekali manis", Touw Ong memuji gundik kesayangannya.

"Bwe Poh merupakan korban pertama dari alat itu. Semua menteri tampak merasa ngeri menyaksikan hukuman tersebut, untuk selanjutnya tentu takkan ada lagi yang berani bersikap kurang ajar padaku". Makan minum yang diiringi lagu dan tarian itu terus berlangsung sampai larut malam.

"Di mana orang yang mengadakan pesta?", tanya Kiang Hong-houw (Permaisuri Kiang) pada dayangnya ketika mendengar suara tetabuhan dan nyanyian. Sudah lewat tengah malam pada saat itu.

"Di istana Dewa Panjang Umur, Hong-houw", sang dayang menerangkan.

"Thian-cu (Kaisar) sedang bersenang-senang dengan Souw Bie-jin!". (Souw Bie-jin = Si cantik Souw, maksudnya Souw Tat Kie). Kiang Hong-houw jadi kurang senang mendengar kabar itu.

"Ulah wanita jalang itu makin lama tambah melewati batas, bila tidakkuajar adat sekarang, nantinya tentu akan tambah jahat dan kemungkinan Baginda takkan mau lagi mengurus soal kerajaan, tahunya hanya bersenang-senang saja dengannya; akan bertambah banyak menteri jujur yang akan jadi korbannya". Sang Permaisuri segera menyuruh para dayangnya mengantarnya ke istana Dewa Panjang Umur. Setibanya di tempat yang dimaksud, terlihat bahwa Touw Ong sudah setengah mabuk. Melihat kedatangan Permaisurinya, Touw Ong segera menyuruh Tat Kie menyambutnya. Souw Tat Kie langsung berlutut dalam menyambut kehadiran Kiang Hong-houw di ruang itu. Permaisuri Kiang menyuruhnya bangkit. Gundik Touw Ong yang cantik berdiri, mengantar Permaisuri Kiang masuk ke dalam istana. Sesuai dengan tata krama istana, Kiang Hong-houw memberi hormat pada Touw Ong. Kaisar menyilakannya duduk di sisi kanannya, sedangkan Souw Tat Kie sebagai selir Raja, hanya berdiri di samping. Touw Ong menyuruh Souw Tat Kie menari untuk Permaisurinya. Namun Kiang Hong-houw hanya menunduk, sama sekali tidak memperhatikan tarian Tat Kie. Kaisar heran melihat sikap Permaisurinya, bertanya.

"Apa yang membuatmu bermuram durja?".

"Seorang Kaisar seharusnya menghargai jasa dan pengabdian dari para pembantunya yang setia dan harus menjauhkan diri dari berfoya- foya, agar tidak melupakan tugas menjalankan roda pemerintahan dan mengatur negara dengan adil lagi bijaksana", sahut Kiang Hong- houw.

"tapi kenyataannya Tuanku selalu bersenang-senang dengan wanita cantik dan arak, segala nasehat tak Paduka hiraukan lagi. Beberapa pejabat yang setia telah Tuanku singkirkan, bahkan menghukum mati mereka. Segalanya itu Baginda lakukan karena percaya pada kata-kata dan saran wanita yang telah berhasil membuat Paduka mabuk kepayang, hingga menimbulkan benih kebencian dan dendam dari orang atau pihak yang jadi korban, yangsewaktu-waktu dapat meledak menjadi kekacauan --- Sebagai wanita, tak banyak yang saya ketahui mengenai pemerintahan, tapi saya tak dapat berdiam diri setelah mendengar dan melihat kekeliruan yang Paduka lakukan, sebab biar bagaimanapun saya isteri sah Paduka, Permaisuri. Harapan saya, setelah mendengar suara hati saya ini, Tuanku dapat memperbaiki kekeliruan itu". Seusai berkata, Kiang Hong-houw pamit dan kembali ke istananya.

"Dasar perempuan tak tahu diri!", gerutu Kaisar sepergi sang Permaisuri.

"aku telah berbaik hati menyuruh Tat Kie menari di hadapannya, tapi dia malah melontarkan kata-kata yang melukai perasaanku --- Kalau saja dia bukan Permaisuri, akan kujebloskan ke dalam penjara!". Kala itu hampir jam tiga malam, telah hilang mabuk Touw Ong, segera menyuruh Tat Kie menari lagi. Namun Souw Tat Kie bukannya menari, malah berlutut di hadapan Kaisar.

"Kenapa kau? Cape?"), Touw Ong heran menyaksikan ulah gundik kesayangannya.

"Bukan", Tat Kie menggelengkan kepala.

"Lalu kenapa?'.

"Saya tak berani menari di hadapan Baginda lagi".

"Sebabnya?", Touw Ong bertambah heran.

"Tadi Kiang Hong-houw telah memperingatkan Paduka agar tidak bersenang-senang lagi, sebab hal itu dapat mengakibatkan Tuanku melalaikan tugas negara dan Permaisuri pun mengatakan, bahwa sayalah yang menjadi penyebab segalanya itu, menyesatkan Tuanku, hingga Paduka sering melakukan keputusan yang tidak bijaksana, bahkan kejam terhadap para pembantu setia kerajaan". Tat Kie menangis sedih seakan-akan sangat tertekan batinnya.

"Tak usah kau hiraukan perempuan yang tak tahu diri itu, manis", Touw Ong menghibur gundik kesayangannya, memeluknya penuh kasih sayang.

"aku kucilkan dia nanti dan akan kuangkat kau sebagai penggantinya". Mulai terkembang senyum manis di wajah Souw Tat Kie, meletakkan kepalanya di dada Kaisar. Tercium oleh Kaisar bau harum semerbak yang berasal dari rambutTat Kie, membuatnya tambah mabuk kepayang, memeluk gundiknya lebih erat lagi ..... Beberapa hari setelah peristiwa di atas, Kiang Hong-houw menyelenggarakan pertemuan antara Permaisuri dengan isteri muda dan para selir Kaisar, juga para dayang. Hadir dalam pertemuan itu Permaisuri-muda Oey Kui Hui dari istana Barat, yang merupakan adik perempuan Oey Hui Houw; juga Yo Kui Hui dan berikut selir dan dayang. Souw Tat Kie turut hadir juga, berlutut di hadapan Permaisuri. Kiang Hong-houw menyuruhnya bangun. Tat Kie bangkit dan berdiri di sisi, agak jauh. Yo Kui Hui dan Oey Kui Hui memperhatikan Tat Kie sejenak, kemudian bertanya pada Kiang Hong-houw .

"Diakah Souw Bie-jin?".

"Benar", Kiang Hong-houw mengangguk. Kemudian berkata pada Tat Kie .

"Sejak kau ditempatkan di istana Dewa Panjang Umur, sepanjang hari Baginda selalu bersenang-senang denganmu, hingga melalaikan tugas kerajaan, banyak urusan penting yang terbengkelai dan tindakan yang diambilnya sering tidak bijaksana, bahkan kejam. Kau yang selalu mendampinginya, bukan saja tidak pernah menasehati Baginda, malah sering menganjurkan mengambil keputusan yang bukan-bukan. Siang malam kau mengajak Baginda bersenang-senang sambil menghasutnya untuk menyingkirkan para pembantunya yang setia. Sikapmu itu telah melanggar peraturan mendiang Kaisar Cheng Tong. Pada kesempatan ini ingin aku memperingatimu, seandainya kau tidak merobah perangaimu yang buruk itu, akan kuhukum kau sesuai dengan peraturan yang berlaku di dalam istana!". Biarpun panas hati Souw Tat Kie dimaki oleh Hong-houw di hadapan umum, tapi dia berusaha mengekang emosi, berjanji akan berusaha memperbaiki tingkah lakunya.

"Sekarang kau boleh kembali ke tempatmu!", ujar Kiang Hong-houw berwibawa. Souw Tat Kie mengucapkan terima kasih pada Permaisuri, padahal ia merasa malu bahkan panas hatinya, kembali ke istananya dengan tekad ingin membalas dendam!Seorang pelayan yang setia melayani Tat Kie telah menyarankan, agar majikannya menghubungi Hui Tiong. Souw Tat Kie segera menyuruh pembantu kepercayaannya itu, untuk memanggil menteri yang tamak lagi licik serta keji hatinya itu, untuk menemuinya di istana Dewa Panjang Umur pada saat Touw Ong sedang mencari hawa segar di tamansari istana. Pelayan setia Tat Kie menyerahkan sepucuk surat Souw Tat Kie pada Hui Tiong di muka pintu gerbang istana Dewa Panjang Umur, memintanya untuk membacanya di rumah. Setelah membaca surat Tat Kie, Hui Tiong jadi agak gelisah, muram wajahnya. Sebab Kiang Hong-houw yang ingin dicelakai Tat Kie itu adalah puteri Kiang Hoan Chu, raja muda Timur di Tong-lo yang memiliki pasukan cukup besar. Kakak! Permaisuri juga seorang yang perkasa. Namun imbalan yang dijanjikan Tat Kie amat besar, inilah yang menggelitik hati menteri yang tamak akan harta ini. Di samping itu, Souw Tat Kie kini merupakan gundik kesayangan Kaisar, yang bila tidak diturut perintahnya, tentu dengan mudah dapat mencelakai dirinya. Buat beberapa saat lamanya Hui Tiong ragu, otaknya bekerja keras, selang beberapa waktu dia mendapat ide bagus, segera memanggil Kiang Hoan yang berasal dari Tong-lo, daerah kekuasaan ayahnya Hong-houw. Hui Tiong menjanjikan imbalan yang sangat besar bila Kiang Hoan bersedia membantunya menjalankan siasat Souw Tat Kie. Kiang Hoan yang tamak akan harta, langsung menerima ajakan itu. Hui Tiong segera mengabarkan hal itu pada Souw Tat Kie, sekalian meminta petunjuk mengenai langkah berikutnya ..... 

***

 Keesokan harinya Souw Tat Kie memohon pada Touw Ong untuk mengadakan pertemuan dengan para menterinya. Namun di dalam perjalanan ke balairung, mendadak muncul seseorang yang menghunus pedang, bermaksud membunuh Kaisar seraya berseru .

"Kubunuh kau Kaisar lalim!". Akan tetapi si penyerang telah berhasil diringkus oleh pasukanpengawal Kaisar sebelum dia berhasil melaksanakan maksudnya. Para menteri jadi sangat terkejut ketika mendengar kabar itu.

"Siapa yang ingin mewakiliku untuk memeriksa penjahat itu?", tanya Kaisar kepada para menteri. Hui Tiong langsung menyatakan kesediaannya. Penyerang gelap itu dibawa ke ruang lain untuk diperiksa. Beberapa waktu kemudian, Hui Tiong telah kembali ke ruang sidang, melaporkan hasil pemeriksaannya.

"Tuanku, penjahat itu mengaku bernama Kiang Hoan. Dia diperintah oleh Permaisuri Kiang untuk membunuh Paduka, dengan harapan nantinya ayahnya, Kiang Hoan Chu, dapat naik Tahta setelah Tuanku tewas di tangan orang suruhannya itu. Tapi syukur Thian Maha Adil, hingga Paduka lolos dari percobaan pembunuhan itu". Kaisar yang sedang butek pikirannya, langsung saja mempercayai keterangan tersebut, segera memerintahkan Oey Kui Hui untuk memeriksa Kiang Hong-houw dalam kasus ini. Perintah Raja itu benar-benar berada di luar dugaan para menterinya, membuat mereka jadi pada bengong. Sulit dipercaya Permaisuri yang baik hati lagi bijaksana, mau melakukan perbuatan seperti itu", kata Yo Jim pada Oey Hui Houw.

"pasti ada komplotan yang ingin menjatuhkannya".

"Sebaiknya kita tak usah memberi komentar dulu, tunggu saja hasil pemeriksaan Kui Hui nanti", ucap Oey Hui Houw. Kiang Hong-houw mendengar petugas membacakan surat perintah Kaisar sambil berlutut. Setelah jelas persoalannya, sang Permaisuri pun berseru sedih.

"Sungguh kejam orang yang menfitnahku! Oh Thian, berilah saya kekuatan untuk menghadapi segala percobaan ini". Kiang Hong-houw lalu ikut petugas yang membacakan surat perintah Kaisar ke istana Barat, tempat berdiamnya Oey Kui Hui. Berbeda dengan biasanya, sekali ini Kiang Hong-houw yang berlutut di hadapan Oey Kui Hui dan memohon bantuannya untuk menjelaskan kasus itu pada Kaisar.

"Kui Hui yang baik", katanya sambil diselingi sedu sedannya, percayakah kau bahwa seorang Permaisuri bermaksud membunuhsuaminya yang jadi Kaisar, untuk kemudian mengangkat ayahnya sendiri sebagai Raja yang baru? Apa lagi aku telah mempunyai anak laki-laki, yang nantinya tentu akan mewarisi Tahta kerajaan. Selama ini, biarpun kedudukanku sebagai ibu negara, tapi aku tak pernah mencampuri urusan kerajaan, apa lagi ingin memberontak dari kekuasaan suami sendiri --- Di pihak ayahku, biarpun beliau memiliki kekuasaan dengan membawahi 200 raja muda dan memiliki pasukan lebih dari sejuta prajurit, tapi seandainya beliau berniat memberontak, tentu akan dikepung dan diserang oleh para raja muda lainnya. Dengan demikian sulit bagi beliau untuk dapat mempertahankan diri -- - Harap Kui Hui mempertimbangkan kata-kataku dan tolong sampaikan pada Kaisar akan hal ini".

"Akan saya sampaikan nanti pada Kaisar", Oey Kui Hui mengangguk.

"Terima kasih Kui Hui, aku takkan melupakan budimu", kata Kiang Hong-houw.