--> -->

Pelantikan Para Malaikat Jilid 01

Jilid 01

Sebelum menjadi Kaisar, Touw Ong (kerap pula dieja Tiu Ong) bernama In Siu, lazim dipanggil Siu Tay cu, Pangeran Siu.

Tapi sering pula orang memanggilnya Sam Tay cu atau Pangeran ke tiga; sebab dia merupakan anak ke tiga dari Kaisar dinasti Siang.

Siu Taycu sangat kuat lagi perkasa, pernah membunuh harimau dan binatang buas lainnya tanpa menggunakan senjata.

Pernah pula dia membongkar tiang penyanggah bangunan yang patah dan menggantinya dengan balok yang baru tanpa bantuan alat atau orang lainnya, membuat banyak yang kagum akan kekuatan dan keberaniannya.

Maka tidaklah mengherankan kalau ada beberapa menteri yang mengusulkan kepada Kaisar, agar Pangeran ke tiga ini diangkat sebagai putera Mahkota.

Sebab dirinya dianggap memiliki kelebihan bila dibandingkan dengan kedua kakaknya.

Pangeran Wei Chiu Kie dan Pangeran Wei Chu Yen.

Dengan demikian Siu Taycu yang dipercayakan memegang tampuk pemerintahan ketika Kaisar tua mangkat, dengan gelar Touw Ong.

Touw Ong memerintah cukup adil pada awal pemerintahannya, tapi terkadang tak dapat mengekang emosi dan spontan sifatnya.

Namun lazim di dunia ini, bagaimanapun baiknya sebuah pemerintahan, pasti ada yang pro dan kontra.

Macam-macam alasan mereka, ada yang bertentangan dengan kepentingan pribadi atau golongan, hingga tak terpenuhi ambisinya, ada pula yang tak senang terhadap sikap penguasa yang dianggapnya terlampau keras serta kaku, mengabaikan saran mereka dan sebagainya.

Ada pula yang menganggap Touw Ong tak patut menjadi Kaisar, seharusnya kakak tertuanya .

Wei Chu Kie, yang menggantikan kedudukan Kaisar Teng San.

Sebab sifat Pangeran Chu Kie ramah terhadap siapa saja, tak membedakan tingkat sosial seseorang, dengan begitu dia akan dapat memegang tampuk pemerintahan secara bijaksana.

Bila rasa tak puas dibiarkan terus berkembang, tentu akanmenimbulkan hal-hal yang tak diinginkan.

Demikianlah, pada tahun ke tujuh dalam pemerintahan Touw Ong, ada 72 raja-muda di Laut Utara yang dipimpin Gouw Hok Tong, melakukan pemberontakan.

Mereka menginginkan hak otonomi yang lebih luas, tak lagi mau membayar upeti terhadap Kaisar yang baru.

Touw Ong jadi sangat marah, segera mengutus Bun Tiong, seorang penasehat kerajaan yang terkenal jujur, memimpin pasukan kerajaan untuk menumpas pemberontakan tersebut.....

Di dalam pertemuan rutin yang diselenggarakan pagi hari antara Kaisar dengan para menterinya, Menteri Utama (Perdana Menteri) Siang Yong telah mengusulkan .

"Besok adalah Shagwe Cap-go (tanggal 15 bulan ke tiga menurut penanggalan Tionghoa), merupakan hari She-jit (Ulang tahun) dari Lie Koa Nio Nio (Dewi Lie Koa), sebaiknya Paduka bersembahyang di Kuil Dewi itu".

"Kenapa aku harus bersembahyang di Kuil itu?", tanya Touw Ong.

"Dewi Lie Koa telah banyak melakukan kebaikan. Pernah suatu ketika kepala Kong Kong-cu telah membentur gunung Put Chiu, yang mengakibatkan langit dan bumi menjadi miring. Dewi Lie Koa telah menambal langit dengan batu Pancawarna, dengan demikian sang Dewi telah menyelamatkan manusia karena langit tak sampai ambruk".

"Baiklah, aku akan ke Kuil Dewi itu besok", Touw Ong menyetujui usul menterinya. Sesuai dengan anjuran Siang Yong, keesokan paginya Kaisar Touw Ong berangkat ke Kuil bersama beberapa orang menterinya, dikawal oleh pasukan yang dipimpin oleh Oey Hui Houw. Di muka rumah penduduk yang dilewati Raja, rata-rata mereka meletakkan sebuah meja sembahyang dan menggantungkan pula kain merah di pintu rumah masing-masing, sebagai tanda hormat mereka pada sang junjungan. Upacara sembahyang itu cukup mewah tapi khidmat dan berlangsung cukup lama. Seusai sembahyang, Kaisar Touw Ong menikmati panorama seputarnya yang indah mempesona. Tiba-tiba bertiup angin yang cukup keras, yang menyingkap tirai di hadapan arca Lie Koa Nio Nioyang cantik anggun. Touw Ong terpana ketika menyaksikan wajah sang Dewi yang cantik itu, segera meminta alat tulis dan menulis sajak yang bernafaskan cinta di dinding Kuil itu. Para menteri sangat terkejut menyaksikan ulah sang Kaisar.

"Lie Koa Nio Nio adalah pelindung kerajaan kita Baginda", Siang Yong memberanikan diri memperingatkan junjungannya;

"hamba khawatir sang Dewi akan tersinggung bila membaca sajak itu".

"Aku amat terpesona oleh kecantikannya, membuatku spontan membuat sajak pujian. Kurasa dia bukan saja takkan marah, tapi malah akan senang hatinya, sebab dengan adanya sajakku, orang- orang akan mengetahui, bahkan mengagumi kecantikannya". Namun para menteri tetap khawatir ulah sang Raja itu akan menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan, agak lesu sikap mereka ketika mengiringi Touw Ong kembali ke istana. Pada hari She-jit (Ulang-tahun)-nya, Lie Koa Nio Nio telah pergi menemui Dewi Ong Bu. Ketika kembali ke Kuil, tampak olehnya akan sajak Touw Ong dan jadi sangat gusar setelah membacanya.

"Kau seorang Kaisar yang brengsek, In Siu", kata hati Lie Koa Nio Nio.

"akan kuajar adat, agar kau tak lagi bersikap macam-macam padaku!"

Sang Dewi segera menuju ke istana Touw Ong dengan naik awan.

Setiba di atas istana, terlihat Touw Ong sedang kumpul bersama dua puteranya.

In Kiao dan In Hong.

Dari kepala kedua Pangeran itu memancarkan sinar merah.

Lio Koa Nio Nio segera tahu kalau sang Kaisar masih akan memegang tampuk pemerintahan selama 28 tahun, maka batallah dia memberi ajaran pada Raja yang iseng itu, kembali dengan perasaan mangkel.

Sang Dewi mengambil Buli-buli (Cupu), lalu membaca mantera.

Dari dalam Buli-buli melayang keluar sehelai panji Panca warna.

Lie Koa Nio Nio memegang panji itu sambil membaca mantera kembali, serta-merta berdatangan banyak hantu dan siluman.

Dewi Lie Koa memilih tiga siluman.

Kiu Bwe Ho Li Cheng (Siluman Rase berekor sembilan), Kiu Tauw Khe Cheng (Siluman Ayam berkepala sembilan) dan Giok Cio Pi Pee Cheng (Siluman Kecapi batu kumala).Siluman dan hantu lainnya diperintahkan untuk kembali ke tempat masing-masing.

"Dengarkan baik-baik titahku ini!", sabda sang Dewi pada ketiga siluman yang berlutut di hadapannya.

"burung Hong telah memperdengarkan nyanyiannya di Kie-san (Gunung Kie), sebagai tanda kalau Thian telah menetapkan, bahwa di See Chiu (Chiu Barat) telah lahir seorang calon Raja yang arif bijaksana. Maka hapuslah hawa siluman kalian dan pergilah ke istana Touw Ong, tutuplah akal warasnya, agar dia melalaikan segala kerajaan, hingga dibenci oleh rakyat, supaya mudah diruntuhkan. Tapi ingat, jangan sekali-kali kalian membunuh orang. Bila kalian dapat melaksanakan titahku dengan baik, akan dapat meningkatkan kesaktian serta mempercepat tercapainya apa yang kalian cita- citakan. Tapi kalau kalian tidak menaati pesanku, mencelakai manusia, akibatnya akan dapat merugikan bahkan menghancurkan kalian".

"Akan kami ingat pesan Nio Nio baik-baik", ucap ketiga siluman itu hampir serentak.

"masih ada titah lainnya Nio Nio?"

"Hanya itu saja", ucap sang Dewi.

"sekarang kalian boleh pergi". Ketiga siluman itu berlalu. 

***

 Sejak melihat patung Dewi Lie Koa, Touw Ong tak pernah dapat melupakan wajah yang cantik itu. Sering dalam tidurnya dia memimpikannya. Kecantikan sang Dewi seakan telah memudarkan seluruh isi istananya, yang membuatnya kerap uring-uringan, seakan dalam kehidupan istana tiada lagi memberinya kesenangan dan kenikmatan. Perasaannya itu diungkapkan pada Hui Tiong, orang kepercayaannya.

"Dapatkah kau berdaya memberi suasana segar lagi menyenangkan padaku?"

"Janganlah Baginda bermurung diri, asal saja Paduka menitahkan empat raja-muda agar mengirim 100 gadis cantik ke kota-raja, Baginda dapat memilih yang tercantik di antara mereka".

"Cukup baik saranmu itu", mulai terkembang lagi senyuman di wajahTouw Ong .... Dalam pertemuan dengan para menteri keesokan harinya, Touw Ong mengungkapkan maksudnya itu. Begitu mendengar hasrat junjungannya, menteri Siang Yong segera tampil ke muka. Sambil berlutut dia berkata.

"Maaf Tuanku, dapatkah kiranya Paduka mempertimbangkan kembali maksud itu?"

"Apa maksudmu?", Kaisar memandang menterinya dengan tatapan penuh tanda tanya.

"Ampun beribu ampun Tuanku, bukan maksud hamba ingin menghalangi hasrat Tuanku, tapi hendaknya Paduka camkan kata- kata orang bijak, bahwa bila seorang Kaisar memerintah dengan penuh kebijaksanaan dan keadilan, hidup rakyatnya tentu tenang- damai lagi sentosa, hingga perintah apapun dari junjungannya, akan dipatuhinya". Touw Ong diam. Siang Yong telah berkata lagi .

"Sudah tiga turunan keluarga hamba mengabdi pada kerajaan, maka hamba tak dapat berpeluk tangan menyaksikan tindakan Paduka yang kurang bijaksana".

"Aku kurang jelas akan maksudmu", Kaisar belum maklum akan maksud menteri itu.

"Begini Baginda, jumlah dayang di istana lebih dari seribu orang, bila Paduka memerintahkan lagi mencari 100 gadis cantik, rakyat tentu akan merasa kecewa". Touw Ong mempertimbangkan kata-kata menterinya sejenak, selang sesaat baru berkata.

"Kata-katamu memang cukup masuk di akal, maka dengan ini kubatalkan maksud tadi". Siang Yong dan beberapa menteri lainnya merasa lega mendengar putusan akhir dari junjungan mereka ...... Bun Taysu (Bun Tiong) yang berwatak jujur dan adil, belum juga kembali dari tugasnya menumpas pemberontakan. Di kalangan istana telah muncul dua orang yang disegani, bahkan ditakuti. Mereka adalah Hui Tiong dan Yu Hun. Biarpun jabatan mereka tak begitu tinggi, tapi mereka pandai sekali mengambil hati Touw Ong, membuat mereka memperoleh kepercayaan dari Kaisar. Maka tidaklah mengherankan bila banyak raja-muda yang memberihadiah yang cukup tinggi nilainya pada mereka, dengan maksud agar diri mereka tidak dibenci oleh kedua orang kepercayaan Kaisar tersebut. Tapi ada seorang raja-muda dari Kie Chiu yang bernama Souw Hok, amat jujur dan keras wataknya, di dalam kamus hidupnya tak ada istilah sogok atau membayar upeti pada pejabat istana yang sedang menempati posisi kunci, membuatnya tidak disenangi oleh Yu Hun dan Hui Tiong. Mereka menanti saat yang tepat untuk memberi pelajaran pahit pada raja-muda yang jujur dan agak keras wataknya itu, supaya nantinya mau tunduk juga terhadap mereka. Saat yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Lazim bagi para raja-muda untuk datang mengucapkan selamat Tahun Baru Imlek pada Junjungan mereka pada Cia-gwe Ce-it (Tanggal 1 bulan pertama menurut penanggalan Tionghoa). Souw Hok tak terkecuali. Touw Ong menyelenggarakan pesta bagi mereka. Kaisar memanggil kedua orang kepercayaannya, mengungkapkan maksud hatinya untuk memerintahkan para raja-muda mengirim gadis cantik ke istana. Baik Hui Tiong maupun Yu Hun kurang menyetujui hasrat Raja dengan mengemukakan alasan, bahwa sebelumnya Kaisar telah membatalkan niatnya itu atas nasehat Siang Yong, maka bila kini Touw Ong mengajukan kehendaknya itu lagi, tentu akan menghilangkan kepercayaan rakyat terhadap junjungannya. Kemudian Hui Tiong memberi saran.

"Saya dengar Souw Hok, raja- muda dari Kie Chiu, memiliki anak gadis yang sangat cantik. Bila kita hanya meminta padanya seorang untuk mengantarkan anak gadisnya, tentu takkan segempar dibandingkan bila Tuanku mengharuskan setiap raja-muda mengirim wanita cantik kemari". Touw Ong menganggap saran itu cukup beralasan, segera memanggil Souw Hok dengan alasan untuk urusan kerajaan.

"Kudengar kau memiliki anak gadis yang cerdas lagi terdidik dan aku bermaksud menempatkannya dalam istana untuk merawatku. Dengan begitu kau akan jadi salah seorang anggota keluarga Kaisar --- Tidak keberatan bukan!?", tanya Raja."Anak gadis hamba bukan saja tidak cerdas, tapi kurang pula pendidikannya, hingga kurang baik rasanya untuk melayani Tuanku", sahut Souw Hok.

"lagi pula di istana telah ada Permaisuri dan sejumlah selir, maka tidak bijaksana bila sekiranya Tuanku mengambil keputusan itu. Seandainya niat Paduka atas anjuran seseorang, sebaiknya Baginda menghukum orang itu".

"Maksudku ini tidaklah berdasarkan anjuran dari siapapun", ujar Touw Ong sambil tersenyum.

"sebaiknya kau pertimbangkan permintaanku ini dan aku sangat mengharapkan jawaban yang menyenangkan darimu".

"Maaf Tuanku", Souw Hok mulai tak dapat mengendalikan emosi.

"banyak sudah kerajaan yang hancur gara-gara wanita dan arak, kenapa pula Paduka ingin mencontoh perbuatan yang tak patut itu. Bila seorang Kaisar hanya mementingkan wanita cantik dan gemar berfoya-foya, tak lama lagi kerajaan itu pasti akan runtuh".

"Jangan coba kau bantah perintahku!", Touw Ong mulai gusar.

"segala titah Raja adalah hukum dan siapa yang berani menentangnya berarti mati! --- Bila kau tidak setuju akan permintaanku, katakan saja terus terang, tak usah kau berdalih mengenai hancurnya sebuah kerajaan gara-gara wanita!". Saking dongkolnya, Touw Ong bermaksud menangkap Souw Hok, tapi telah dicegah oleh Hui Tiong dan Yu Hun.

"Sebaiknya Tuanku membiarkannya kembali ke negerinya", kata Hui Tiong.

"nanti dia tentu akan menyadari kekeliruannya dan bersedia mempersembahkan anak gadisnya pada Paduka". Dengan demikian selamatlah jiwa Souw Hok, kembali ke pesanggrahannya. Para perwira yang mengiringi Souw Hok ke kota-raja, jadi sangat marah ketika mendengar perlakuan Touw Ong terhadap raja-muda mereka, mengusulkan agar Souw Hok tak lagi mengakui kepemimpinan kerajaan Siang atas wilayah mereka. Souw Hok yang sedang panas hati, mengikuti saja saran bawahannya, menulis sebuah sajak di dinding pintu-gerbang istana, yang menyatakan, bahwa dia tak lagi tunduk pada dinasti Siang, kemudian mengajak para pengiringnya kembali ke negerinya.Penjaga pintu gerbang istana memberitahukan hal itu pada Touw Ong. Sang Kaisar langsung naik pitam, serta merta memerintahkan raja- muda yang memimpin wilayah Utara - Chong Houw Houw-, dan raja- muda yang memerintah wilayah Barat -Kie Chiang-, untuk menangkap Souw Hok. Kie Chiang yang terkenal bijaksana, agak ragu untuk melaksanakan perintah itu, sebab dia tahu benar Souw Hok adalah seorang yang jujur. Tapi untuk menolak perintah Kaisar dia tak berani, maka kemudian dia bermaksud mengulur-ulur waktu dengan menyatakan ingin pulang dulu ke negerinya untuk menghimpun pasukan. Akan tetapi Chong Houw Houw yang berwatak keras, bersikap sebaliknya, dia tak ingin menunda-nunda waktu lagi, segera memimpin pasukannya yang berjumlah puluhan ribu untuk menyerbu kota Kie Chiu. Namun serangan Chong Houw Houw bukan saja gagal menghancurkan daerah pertahanan lawan, malah dia telah kehilangan seorang perwira serta prajurit dalam jumlah yang cukup besar. Bahkan pada keesokan malamnya, perkemahannya telah diobrak- abrik oleh pasukan Souw Hok, yang dipimpin oleh puteranya yang bernama Souw Choan Tiong. Kembali banyak sekali prajurit Houw Houw yang tewas berikut beberapa orang perwiranya. Houw Houw sendiri telah kena dilukai tombak Choan Tiong. Chong Eng Piao, puteranya Houw Houw, majukan diri untuk melindungi ayahnya yang terluka, namun dia pun bukanlah lawan Choan Tiong yang tangguh, dalam sekejap, lengan kirinya telah dilukai oleh ujung tombak Choan Tiong. Houw Houw mengajak anak bersama sisa pasukannya melarikan diri. Choan Tiong yang memperoleh kemenangan besar, membiarkan saja musuhnya kabur. Sepanjang hari itu Chong Houw Houw beserta anak dan sisa pasukannya melarikan diri, sebab khawatir dikejar lawan. Dia menyalahkan Kie Chiang yang belum juga datang bersama pasukan untuk membantunya menggempur kota Kie Chiu. Kala itu pasukan yang dipimpin Houw Houw hanya tinggal belasanribu saja, yang rata-rata telah kehilangan semangat juangnya, sudah loyo! Chong Houw Houw sendiri juga merasa letih benar, bermaksud memerintahkan anak buahnya beristirahat setelah berada di tempat yang dirasa aman. Tiba-tiba dari arah depan terdengar ringkikan kuda. Houw Houw yang belum tahu siapa yang datang, mengira dirinya akan dihadang lawan lagi, membuat hatinya agak keder juga. Tak lama kemudian muncul seorang yang berwajah hitam dan berjenggot, memegang sepasang kapak, menunggang seekor binatang mirip singa yang berkumis panjang serta panjang pula bulu tengkuknya. Legalah hati Houw Houw setelah melihat jelas siapa yang datang, yang ternyata adik kandungnya sendiri, yaitu Chong Hek Houw, yang menjadi raja muda di Cho Chiu. Kedatangan Hek Houw bersama tiga ribu pasukannya adalah ingin membantu kakaknya untuk menggempur daerah pertahanan Souw Hok. Tak tahunya kedatangannya agak terlambat, kakaknya telah dipaksa melarikan diri karena tak tahan oleh gempuran musuhnya.

"Kenapa Toako jadi begini?", tanya Hek Houw ketika melihat kakaknya. Houw Houw yang angkuh sifatnya, sudah barang tentu tak sudi mengakui kelemahannya.

"Souw Hok sangat licik", katanya.

"dia membokongku, menyerang dan membakar perkemahanku pada tengah malam, hingga terpaksa aku mundur untuk menyusun kekuatan kembali. Syukur kau cepat datang". Hek Houw menggabungkan pasukan yang dipimpinnya dengan pasukan yang dipimpin kakaknya, mengajak kembali menggempur kota Kie Chiu. Souw Hok mendengar kabar itu dari orang kepercayaannya yang ditugaskan untuk memata-matai pasukan Chong Houw Houw. Dia tahu, bahwa Chong Hek Houw adalah murid Kie Kiao Cinjin yang terkenal sakti, memiliki buli-buli (cupu) wasiat. Dia menunggangbinatang aneh yang mirip singa, yang dinamakan orang 'binatang bermata api dan berbiji mata emas'. Souw Hok cemas, sebab menyadari, bahwa di negerinya tak ada orang yang dapat menandingi kesaktian Chong Hek Houw ini. Keesokan harinya Chong Hek Houw yang menunggang binatang aneh itu dan memegang sepasang kapak, menantang Souw Hok perang tanding. Ketika tak dilayani, dia memaki-maki raja-muda dari kota Kie Chiu itu dengan ucapan yang kasar lagi jorok. Souw Choan Tiong yang masih muda dan berdarah panas, tak dapat mengendalikan emosi, segera ke luar menyambut tantangan Hek Houw tanpa menghiraukan lagi cegahan ayahnya, Segera terjadi perang tanding yang seru, tapi tak lama kemudian Hek Houw tampak terdesak, segera melarikan diri. Choan Tiong mengejarnya. Tiba-tiba Chong Hek Houw membuka tutup buli-buli wasiatnya sambil membaca mantera. Serta merta dari dalam benda wasiat itu mengepulkan asap hitam, disusul dengan melayang ke luar seekor burung garuda sakti. Burung itu membentangkan paruhnya yang sekeras baja, hendak mematuk diri Choan Tiong. Choan Tiong menghalau burung sakti itu dengan tombaknya. Namun sang garuda cukup gesit gerakannya, begitu gagal mematuk Choan Tiong, balik menyerang kuda tunggangan putera Souw Hok itu, berhasil mematuk sebelah mata kuda tersebut. Sang kuda meringkik kesakitan sambil mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi, yang mengakibatkan Souw Choan Tiong jatuh dari atas pelana dan berhasil ditawan oleh Hek Houw. Chong Houw Houw sangat gembira menyaksikan adiknya dapat menawan anak lawan, segera memerintahkan memasukkan Choan Tiong ke dalam kerangkeng, menempatkannya di kemah belakang. Lalu menjamu adiknya atas keberhasilannya menawan putera lawan. Souw Hok jadi gelisah dan hampir putus asa. Bila kota ini sampai jatuh ke tangan lawan dan dirinya tertawan, tentu dia bersama keluarga akan dijatuhi hukuman mati, dipancung, di lapangan terbukadi kota-raja. Dia tak ingin hal itu sampai terjadi. Dia menganggap Souw Tat Kie, anak gadisnya, yang menjadi penyebab segalanya itu. Dari pada tertawan oleh pasukan yang setia pada Kaisar, lebih baik dia membunuh dulu anak gadisnya, kemudian keluarga lainnya dan terakhir akan membunuh dirinya sendiri. Maka dia pun segera mendatangi mereka dengan menghunus pedang. Souw Tat Kie menyambut kedatangan ayahnya, sangat terkejut menyaksikan Souw Hok menghunus pedang.

"Apa yang telah terjadi sebenarnya Thia?", tanyanya sambil menatap heran.

"kenapa Thia menghunus pedang?". Lemah hati Souw Hok setelah berhadapan dengan anak kesayangannya, batal dia melaksanakan niat semula.

"Toakomu telah ditawan musuh nak", ucapnya sedih, kota ini telah dikurung oleh pasukan yang setia pada Kaisar Touw Ong".

"Kenapa Kaisar menyerang wilayah kita, Thia?", Souw Tat Kie bertambah heran. Souw Hok terpaksa menerangkan sebab musabab sampai terjadinya peristiwa itu, kemudian menambahkan .

"Tak lama lagi Thia pasti akan ditawan mereka dan dijatuhi hukuman mati". Sebelum Tat Kie sempat berkata, telah terdengar tambur dipukul bertalu-talu. Ternyata Chong Hek Houw telah muncul kembali di muka pintu gerbang kota, menantang Souw Hok berperang tanding. Selagi Souw Hok dan puterinya cemas, tiba-tiba seorang pembantunya mengabarkan, bahwa The Lun, perwira yang bertugas mengangkut ransum ingin bertemu dengan sang raja-muda. Souw Hok segera menyuruhnya masuk. The Lun memberi hormat pada Souw Hok seraya berkata.

"Sudah lama saya mengabdi di sini, kini setelah Kongcu ditawan musuh, izinkanlah saya maju ke medan laga dan saya akan berusaha untuk menangkap Chong Hek Houw". Souw Hok tahu, bahwa kepandaian The Lun cukup tinggi, langsung mengizinkannya. The Lun menunggang binatang aneh sejenis dengan tunggangan Hek Houw, bersenjatakan 'ruyung iblis'.Dia memimpin 3000 'pasukan gagak sakti' untuk menyambut tantangan lawan. Langsung terjadi pertempuran yang seru. Chong Hek Houw langsung menghadapi The Lun dengan mengangkat sepasang kapaknya. Segera terjadi perang tanding di antara kedua pemimpin pasukan itu. Walau telah berlangsung cukup lama, tapi keadaan mereka masih tampak seimbang. The Lun adalah murid To Nie Cinjin dari Kun Lun-san, telah berhasil menyerap kesaktian sang guru. Kini, dengan senjata ruyung, dia tak berhasil menjatuhkan lawan, maka dia pun tak ingin bertempur lebih lama dengan cara itu. Dia juga tahu buli-buli Chong Hek Houw amat sakti, tak mau dia memberikan kesempatan pada lawan untuk membuka tutup buli- bulinya, telah mendahului mengeluarkan kesaktiannya, menyemburkan sinar putih dari lobang hidungnya. Begitu melihat sinar putih, sekujur tubuh Chong Hek Houw menjadi lemah dan berkunang-kunang matanya, jatuh dari binatang tunggangannya, yang segera ditangkap oleh 'pasukan gagak sakti?- nya The Lun. Begitu sang pemimpin tertangkap, pasukan Hek Houw jadi kucar-kacir dan melarikan diri. The Lun membawa Chong Hek Houw menghadap Souw Hok. Souw Hok bukan saja tidak menghukum Chong Hek Houw, malah telah langsung melepaskan tali pengikat Hek Houw sambil minta maaf akan segala perlakuan yang telah terjadi atas dirinya. Kemudian dia menyuruh orangnya menyiapkan hidangan untuk menjamu Hek Houw, memperlakukannya sebagai tamu terhormat ..... Kie Chiang yang ditugaskan Kaisar Touw Ong, telah pula tiba di luar kota Kie Chiu, menggabungkan diri dengan Chong Houw Houw. Houw Houw yang mendapat tambahan tenaga, ingin menyerang lagi kota Kie Chiu, akan segera menghancurkan daerah kekuasaan Souw Hok, sekali-gus untuk membebaskan adiknya, Hek Houw. Namun niatnya tidak disetujui oleh Kie Chiang, yang lebih condong menyelesaikan kasus ini dengan jalan damai dari pada memakaikekerasan. Maka Kie Chiang mengutus orang kepercayaannya, Shan Gie Seng, untuk menyampaikan suratnya pada Souw Hok. Walau di hati kecil Chong Houw Houw kurang setuju akan cara itu, tapi karena menyadari rapuhnya tenaga sendiri, maka dia tak berani menghalangi maksud Kie Chiang. Shan Gie Seng disambut ramah oleh Souw Hok. Gie Seng mengemukakan maksud kedatangannya, menyerahkan surat Kie Chiang pada Souw Hok. Souw Hok membaca surat tersebut. - Saudara Souw yang saya hormati, Sebelumnya saya mohon maaf telah mengganggu kesibukan saudara, tapi demi perdamaian di kerajaan kita, saya memberanikan diri untuk membuat surat ini. Saudara Souw, sesungguhnya saya kagum akan keberanian anda dalam mempertahankan prinsip dan menentang hal yang saudara anggap kurang bijaksana dari Kaisar kita. Tapi hendaknya saudara saudari, bahwa sulit bagi kita untuk menentang perintah Kaisar, sebab sebagai Thian-cu (Anak Langit), segala ucapannya adalah hukum, yang harus dipatuhi oleh orang biasa maupun oleh kita, para raja-muda. Seharusnya saudara Souw merasa gembira memiliki anak gadis yang cantik menawan lagi cukup baik pendidikannya, hingga Kaisar berkenan untuk menerimanya sebagai salah seorang pendampingnya. Adalah salah besar bila saudara menolak titah Kaisar, bahkan menulis sajak yang bernada negatif bagi junjungan kita. Sesungguhnyalah telah lama saya mendengar kesetiaan dan ketulusan hati saudara dalam mengabdi untuk kerajaan Siang, itu sebabnya saya tidak ingin berpeluk tangan dalam kasus anda. __- Saudara Souw yang baik, Izinkanlah saya mengemukakan beberapa saran di sini. Saya mengharap sudilah saudara mengantarkan puterimu ke istana Touw Ong, dengan berbuat begitu, anda sekali-gus akan memperoleh tiga keuntungan . Pertama, puteri saudara akan sangat dicintai Kaisar,yang bukan saja akan menyenangkan dirinya, juga orang tuanya. Ke dua, saudara tetap akan memerintah kota kie Chiu dan sekitarnya dan ke tiga, rakyat akan terhindar dari penderitaan akibat perang dan para prajurit tak sampai harus banyak yang binasa, demikian pula para perwiranya. Akan tetapi, seandainya saudara tetap kukuh berpegang pada prinsip semula, kemungkinan saudara sekeluarga akan mengalami mala- petaka. Sebab sulitlah bagi kita untuk dapat mempertahankan wilayah dengan kemampuan terbatas, sedangkan Kaisar memiliki kekuasaan yang amat besar dan kemampuan menghimpun kekuatan yang dapat menghancurkan wilayah para rajamuda yang membangkang perintahnya. Dengan begitu, saudara bukan saja akan kehilangan Kie Chiu, juga akan terbengkelai tempat arwah leluhur saudara dan keluarga anda juga akan turut dibinasakan. Sedangkan rakyat! akan sangat menderita akibat peperangan --- Sebagai seorang yang berjiwa besar, hendaknya saudara dapat menyingkirkan soal pribadi untuk melaksanakan tugas yang lebih mulia. Sudilah saudara mempertimbangkan secara saksama saran saya ini dan saya harap saudara bersedia membalas surat saya --- Salam bahagia, Kie Chiang. - Souw Hok berdiam sejenak seusai membaca surat Kie Chiang, seakan sedang mempertimbangkan saran itu.

"Coba dinda Hek Houw baca surat ini", Souw Hok mengangsurkan surat Kie Chiang pada Chong Hek Houw. Sejenak Hek Houw membacanya, kemudian berkata.

"Raja muda Barat ini sesungguhnya orang yang bijaksana, sebaiknya kak Souw menuruti sarannya".

"Aku sependapat denganmu", Souw Hok mengangguk. Keesokan harinya, utusan Kie Chiang pamit dari Souw Hok, kembali ke tempat atasannya berkemah dengan disertai Chong Hek Houw. Begitu kembali ke pasukannya, Hek Houw segera membebaskan Souw Choan Tiong.

"Kak Houw Houw rupanya telah termakan siasat oknum bermental buruk yang telah berhasil mempengaruhi Kaisar. Hendaknya, di masa mendatang, pikirkanlah baik-baik sebelum kakak bertindak, hinggatidak terulang peristiwa seperti sekarang ini. Sepucuk surat dari raja muda Barat ternyata lebih berhasil dari pasukan besar yang kakak pimpin, hingga menjatuhkan pamor dari keluarga kita. Untuk selanjutnya saya takkan mencampuri lagi persoalan kak Houw Houw". Selesai berkata, Hek Houw pamit pada kakaknya, berlalu bersama pasukannya.