-->

Pendekar Bunga Cinta Jilid 22

jilid 22

SEKALI LAGI Phang Lan Ing menunda langkah kakinya, memutar tubuhnya dan membiarkan Ong Tiong Kun berdiri lagi dihadapannya.

"Apa yang hendak kau jelaskan ... ?" tanya dara yang merana itu, sementara nada suaranya tetap terdengar dingin tidak mengesankan.

"Aku bukan sebangsa manusia yang biasa membeli atau menjual cinta ... " sahut Ong Tiong Kun yang menyimpan rasa marah.

Dara yang merana itu berdiri diam tanpa mengucap apa apa, akan tetapi pandangan matanya menusuk pemuda yang berdiri dihadapannya. "Lalu...?” akhirnya dara yang merana itu terdengar menanya; dengan nada suara yang terdengar lembut perlahan.

"Aku datang untuk memberitahukan tentang orang yang

telah membunuh kekasihmu.”

Terdengar begitu cepat Ong Tiong Kun mengucapkan perkataannya, namun secepat itu pula Phang Lan Ing berkata lagi dengan nada suara seperti orang yang merasa tersinggung :

"Siapa kekasihku, , ,?”

Sejenak Ong Tiong Kun terdiam seperti dia sedang berpikir, atau merasa ragu ragu, namun akhirnya dia berkata dengan suara yang terdengar perlahan, bahkan mungkin terlalu perlahan :

“Pui Keng Han, , ,”

Phang Lan Ing tetap berdiri diam dengan sikap dingin; akan tetapi pada detik itu sepasang matanya berobah kelihatan sayu atau hampa. Untuk kemudian sepasang mata itu keIihatan seperti membasah dengan air mata.

“Kau minggir ....!" akhirnya Phang Lan Ing berkata

dengan suara membentak.

Ong Tiong Kun menyisih, membiarkan dara yang merana itu melewati dia, dan pemuda itu masih berdiri diam sampai dara yang merana itu hilang dari pandangan mata setelah itu dia kembali kekamarnya; tidak lagi dia menemui Phang Bun Liong.

Ketika hari sudah cukup larut; akhirnya Ong Tiong Kun hendak menemui Phang Bun Liong, namun ternyata tidak berhasil dia bertemu dengan ketua dari Hek liong pang itu. Hanya ada pesan untuk Ong Tiong Kun, yang mengatakan supaya Ong Tiong Kun jangan meninggalkan markas Hek liong pang, karena masih ada yang hendak dibicarakan oleh Phang Bun Liong kepada pemuda itu.

Sementara itu Ong Tiong Kun tidak lagi bertemu dengan Phang Lan Ing, sebaliknya dia kembali memasuki kamar tidurnya, padahal hasrat hatinya ingin benar dia mempunyai kesempatan untuk bertemu lagi dengan dara yang sedang merana itu.

Sampai mendekati waktu subuh Ong Tiong Kun tidak dapat pulas tertidur. Pikirannya lebih banyak memikirkan Phang Lan Ing.

Disuatu saat terpikir oleh pemuda itu kalau kalau Phang Lan Ing sudah pergi meninggalkan markas Hek liong pang, sehingga Ong Tiong Kun bagaikan merasa kehilangan sesuatu.

( ecer o Z ooooo )

ESOK paginya Ong Tiong Kun keluar dari kamarnya setelah dia membersihkan tubuh dan mengganti pakaian.

Langkah kakinya seenaknya menuntun dia memasuki suatu taman bunga yang banyak mengeluarkan bau harum, disamping dia dapat menikmati udara segar sambil pikirannya melayang jauh entah kemana.

“Tiong Kun ...?” tiba tiba didengarnya suara seseorang

yang menyapa, dan seseorang itu adalah Phang Lan Ing.

Ong Tiong Kun memutar tubuh mengawasi Phang Lan Ing yang berdiri beberapa langkah disebelah belakang, dan saat itu Phang Lan Ing kelihatan sedang bersenyum. Suatu senyum yang baru sekali itu dilihat oleh Ong Tiong Kun.

“Phang kouwnio.   ,” “Lan lng,” dara itu memutus perkataan Ong Tiong Kun, tetapi cepat cepat dia menunduk seperti anak perawan yang merasa malu.

"Lan Ing,” ulang Ong Tiong Kun, lalu dia melangkah

mendekati.

“Semalam aku telah bicara dengan ayah,” dara Phang Lan Ing berkata selagi dia mengawasi muka pemuda yang berdiri dihadapannya, sementara Ong Tiong Kun ikut mengawasi tetapi membiarkan dara yang lama merana itu meneruskan perkataannya.

“..rupanya orang yang telah membunuh Keng Han

adalah Hong bie kauwcu..."

Ong Tiong Kun manggut membenarkan, dan berkata :

“Mungkin dia atau mungkin hanya anak buahnya, dari

persekutuan Hong bie pang..”

Ganti Phang Lan Ing yang manggut, lalu dia berkata lagi

;

“Aku sudah minta ijin dari ayah buat mendatangi

markas Hong bie pang, maukah kau mengantarkan aku.,,.?”

Ong Tiong Kun menjadi terkejut menghadapi ketabahan hati Phang Lan Ing yang hendak mendatangi markas Hong bie pang, sehingga untuk sesaat dia diam seperti terpesona, setelah itu baru dia berkata.

“Akan tetapi aku tidak mengetahui dimana letak markas mereka. Tempat aku melakukan pengintaian dan mendengarkan pembicaraan mereka, pasti bukan merupakan markas pusat mereka . „”

“Ayah tahu dan aku sudah mendapat keterangan selengkapnya,.” sahut Phang Lan Ing yang kembali perlihatkan senyumnya. "Apakah hanya kita berdua yang mendatangi markas mereka .?" tanya Ong Tiong Kun bagaikan tanpa dia merasa, karena begitu cepatnya dia mengajukan pertanyaan itu.

"Apakah kau takut „.?" ganti Phang Lan Ing yang menanya akan tetapi tetap sambil dia menyertai senyumnya.

"Aku bukan takut, akan tetapi harus menyadari sampai dimana kekuatan pihak musuh yang tidak boleh kita anggap remeh...." sahut Ong Tiong Kun, akan tetapi anehnya dia tidak merasa tersinggung dengan pertanyaan Phang Lan Ing tadi. Suatu kejadian yang menyimpang dari kebiasaannya !

Sekali lagi Phang Lan Ing perlihatkan senyumnya, yang sempat menggetarkan hati Ong Tiong Kun.

"Ayah juga berkata begitu; dari itu ayah menegaskan agar kita jangan sembarang bergerak," kata Phang Lan Ing yang kemudian menambahkan lagi perkataannya :

"Sebagai langkah pertama dari kedatangan kita adalah untuk melakukan penyelidikan dan membikin peta selengkapnya tentang kedudukan markas mereka, sesudah itu yalah memimpin pasukannya untuk melakukan penyerangan terhadap markas mereka.''

“Bagus kalau begitu, kapan kita berangkat?" Ong Tiong Kun berkata dan ganti menanya dengan perlihatkan muka girang.

“Sekarang. Kalau kau tidak keberatan," Phang Lan Ing memutuskan dan untuk yang kesekian kalinya dia perlihatkan senyumnya yang sangat menawan hati.

“Baik. Marilah kita berangkat," sahut Ong Tiong Kun penuh semangat dan dia bahkan langsung menarik sebelah tangan Phang Lan Ing. “Eh, nanti dulu. Kita harus menemui ayah," Phang Lan

Ing ikut gembira sehingga diperlihatkannya kemanjaannya.

Demikian pasangan muda mudi itu melakukan perjalanan bersama, untuk mengadakan penyelidikan ke markas Thian tok bun.

Mula pertama mereka memakai sebuah perahu kecil yang didayung oleh Ong Tiong Kun, sementara Phang Lan Ing mengawasi sambil menyertai senyum yang menawan hati, namun terkadang tak lepas dari pandangan Ong Tiong Kun bahwa dara itu kelihatan seperti termenung mengawasi sesuatu yang sebenarnya kosong belaka. Agaknya dara cantik itu sedang terkenang dengan masa selagi dia erat berhubungan dengan almarhum Pui Keng Han. Betapa indahnya untuk hari hari yang mereka hadapi, betapa mesranya mereka berdua mendayung perahu yang kadang kadang bahkan disertai dengan Phang Lan Ing bernyanyi perlahan, menikmati paduan kasih dengan Pui Keng Han yang kemudian terbinasa ditangan si iblis penyebar maut.

Ketika mereka tiba di pos penjagaan, pasangan muda mudi itu disambut oleh Cin Siok Hin, temannya Siangkoan Hek yang dahulu pernah juga ditempur oleh Ong Tiong Kun.

Sambil mengawasi Ong Tiong Kun dan menyertai senyum bersahabat, Cin Siok Hin menyediakan sepasang kuda yang memang menjadi milik pasangan muda mudi itu, sehingga sesaat kemudian Ong Tiong Kun berdua Phang Lan Ing meneruskan penjalanan mereka memasuki kota Intay, dan Ong Tiong Kun memerlukan singgah ditempat Intay Piauwkiok untuk dia mengabarkan pada Lie Tiauw Eng, sambil dia perkenalkan Phang Lan Ing sebagai anak perempuannya It cie sian Phang Bun Liong, si Jeriji Sakti, setelah itu mereka meneruskan perjalanan mereka menuju dusun Cui lok cun, yang memerlukan waktu dua hari dengan memakai kuda.

Pada malam pertama mereka beristirahat dan memesan dua kamar disuatu rumah penginapan, lalu pada hari berikutnya mereka memacu lagi kuda kuda mereka karena agaknya mereka ingin sekali untuk selekasnya mencapai tempat tujuan.

Dalam melakukan perjalanan mereka itu, pasangan muda mudi ini sengaja memakai pakaian semacam suami isteri muda yang sedang melakukan perjalanan jauh, sehingga sepintas lalu tak mudah orang orang mengenali Ong Tiong Kun. Sebaliknya Phang Lan Ing justeru menjadi tertawa melihat cara Ong Tiong Kun melakukan penyamaran, demikian pula Ong Tiong Kun juga menjadi tertawa sebab melihat Phang Lan Ing menyulap diri mirip seperti seorang perempuan desa yang memakai rambut dikepang dua, dibiarkan lepas dibagian belakang.

“Kau sangat mirip dengan isteri seorang petani miskin yang hidupnya melarat,” kata Ong Tiong Kun kemudian menyambung tawanya.

"Dan kau mirip tukang obat keliling,” ganti Phang Lan Ing yang juga meneruskan tertawa, memperlihatkan keadaannya yang benar benar sedang riang, berlainan dengan waktu pertama kali Ong Tiong Kun kenal sebagai seorang perempuan yang sedang merana.

“KaIau begitu aku perlu mengganti pakaian yang mirip sebagai seorang petani miskin, supaya tepat menjadi suamimu." Ong Tiong Kun menambahkan perkataannya secara berkelakar.

"Dan aku perlu mengganti pakaian sebagai seorang

nyonya tukang obat, supaya tepat jadi isterimu.” Sejenak Ong Tiong Kun terdiam mengawasi Phang Lan Ing, juga dara itu ikut mengawasi. Lalu Ong Tiong Kun tertawa secara jenaka, mengajak Phang Lan Ing ikut menjadi tertawa.

Dengan saling memegang tangan, keduanya Ialu mendekati kuda mereka untuk meneruskan perjalanan, sehabis mereka puas berkelakar dan tertawa.

Ketika mereka tiba didusun Cui lok cun, mereka singgah disuatu kedai nasi untuk mengisi perut, sebab tujuan mereka masih mendaki sebuah pegunungan yang belukar, penuh jurang jurang yang sangat curam, bahkan malahan kadang kadang mereka harus melalui lorong lorong atau tebing tebing yang tinggi.

Diluar dugaan mereka, waktu itu didusun Cui lok cun justeru sedang dimulai dengan acara pesta panen yang diselenggarakan oleh penduduk setempat. Pesta panen itu biasa mereka adakan tiga tahun sekali, sehingga tidak mengherankan apabila pesta panen itu diadakan secara meriah dan akan berlangsung selama seminggu.

Beberapa orang hartawan dusun Cui lok cun yang tahun itu memperoleh banyak laba dari hasil panen mereka, bahkan telah mengundang seorang ahli pembuat kembang api dari kota raja, sehingga bertambah banyak orang orang yang sengaja datang dari tempat jauh, juga dari berbagai kota lain yang berduyun duyun memenuhi dusun Cui lok cun, khusus untuk menyaksikan dan ikut memeriahkan pesta panen itu.

Phang Lan Ing yang memang gemar dengan berbagai acara meriah, apalagi waktu itu hatinya baru 'terbuka' penuh riang, maka dia mengajak Ong Tiong Kun untuk menginap semalaman, untuk menikmati acara yang benar benar sangat meriah dan memikat hati. Pada waktu tengah malam, diantara ribuan orang orang yang sedang berpesta itu, terdengar bunyi suara dentuman yang memekakkan telinga, lalu bunga bunga api meluncur dan menghias diangkasa dalam corak dan berbagai warna yang cemerlang, bahkan ada beberapa diantaranya yang berbentuk seperti naga yang sedang menari.

Lupa dengan tugas yang sedang mereka lakukan; pasangan Ong Tiong Kun berdua Phang Lan lng ikut bersorak ramai bahkan mereka ikut berlompat lompat saling rangkul dan menari-nari, mengikuti gerak dan gaya orang banyak, sampai kemudian mereka saling tertawa dalam keadaan masih saling rangkul.

Semalaman suntuk acara itu berlangsung, dan semalaman suntuk pula Ong Tiong Kun berdua Phang Lan Ing ikut menikmati acara pesta panen itu. Lupa mereka istirahat dan lupa untuk tidur, sehingga pagi dan siang harinya mereka lupa bangun untuk meneruskan perjalanan mereka.

Mendekati sore hari pasangan muda mudi itu berangkat dengan tergesa gesa; untuk mengejar waktu mendaki daerah pegunungan Cui lok san.

Jalan yang berliku liku dan banyak jurang yang curam, mengakibatkan mereka tidak dapat melakukan perjalanan yang cepat. Mereka harus memilih jalan dengan berhati hati agar kuda mereka tidak terperosok atau tergelincir jatuh.

Menjelang waktu magrib, pasangan muda mudi itu tiba disuatu dusun kecil diatas pegunungan Cui lok san, dimana mereka singgah disuatu rumah penduduk setempat untuk istirahat dan mengisi perut.

Dari keterangan penghuni rumah yang mereka tumpangi, dikatakan bahwa didusun mereka yang kecil itu, juga sedang berlangsung acara pesta panen di malam hari. Pesta panen diatas pegunungan Cui lok san sudah tentu tidak sama dengan pesta panen yang diselenggarakan didusun Cui lok cun, yang tempatnya lebih besar dan lebih ramai. Penduduk dusun yang kecil itu hampir semua terdiri dari kaum tani, malam hari mereka berkumpul disuatu lapangan dan ditempat itulah mereka melangsungkan acara pesta panen semewah yang dapat mereka lakukan.

Umumnya mereka menari nari disertai dengan bunyi alat tabuhan mereka yang gemuruh dan serba primitif, disertai dengan api unggun yang menyala tinggi dan menerangi keadaan disekitar tempat mereka.

Mereka menari kadang kadang secara berpasangan antara laki laki dan perempuan, disusul kemudian dengan acara tarian bersama dari orang orang yang ikut hadir, bahkan dengan cara saling bertukar pasangan. Sedangkan sebagai alat penerang, disamping api unggun ada yang membawa bambu bambu lodong yang mereka buat semacam obor.

Tahun itu dusun Cui lok cun mendatangkan seorang ahli pembuat kembang api, dan mereka yang menghuni dusun diatas pegunungan Cui lok san, juga telah memesan kembang api sehingga diatas gunung yang biasanya sunyi dan gelap; berobah menjadi ramai dengan suara hiruk pikuk, disertai dengan sinar gemerlapan dari kembang kembang api yang bagaikan menari diatas angkasa luas.

Penghuni rumah yang kelihatannya ramah tamah dan baik hati itu kemudian menambahkan keterangannya bahwa apabila pasangan muda mudi itu mau ikut menikmati pesta yang hanya tiga tahun sekali diadakan, maka dia akan menyediakan tempatnya untuk tamunya menginap. Cerita yang didengarnya itu sangat berkesan didalam hati Phang Lan lng. Rasanya tak dapat dia melupakan kegembiraan yang semalam dia nikmati; selagi menari sampai lupa derita bahkan lupa diri didalam rangkulan seorang pemuda yang sebenarnya belum cukup lama dia kenal, namun yang agaknya sudah dapat mengisi kekosongan hatinya; sejak dia ditinggal mati oleh kekasihnya.

Bagaikan orang yang masih terpengaruh, tak pernah lepas Phang Lan Ing memegang sebelah lengan Ong Tiong Kun selama dia mendengarkan penghuni rumah itu bicara.

Dilain pihak Ong Tiong Kun dapat menyelami dan dapat mengerti dengan hasrat hati dara yang sekarang dia anggap telah menjadi kekasihnya, sehingga sambil bersenyum Ong Tiong Kun ikut memegang erat tangan Phang Lan Ing, sambil dia manggutkan kepala memberikan persetujuan untuk bermalam dirumah penduduk dusun itu, membuat Phang Lan Ing sangat kegirangan dan dia bahkan bernyanyi kecil ketika dia diantar ke kamar untuk dia beristirahat.

Ong Tiong Kun kemudian mengeluarkan sepotong uang perak yang bernilai puluhan tail. Uang itu dia serahkan kepada si penduduk dusun yang menyediakan tempat dan makanan untuk dia berdua kekasihnya.

Menggunakan kesempatan selagi Phang Lan Ing tidur beristirahat, sebab tengah malam nanti mereka hendak ikut memeriahkan acara pesta panen, maka seorang diri Ong Tiong Kun keluar memperhatikan keadaan disekitar dusun kecil itu, sampai kemudian dia mengambil kudanya lalu dia mendaki gunung Cui lok san semakin tinggi.

Beberapa kali Ong Tiong Kun harus melalui jalan kecil dan jalan belukar, sampai kemudian dari jauh dia melihat adanya suatu bangunan tua yang sangat besar dan luas. Berdasarkan cerita lama yang Ong Tiong Kun pernah dengar, bangunan tua itu dahulu katanya merupakan tempat pertahanan tentara Cina waktu bertempur melawan tentara Mongolia. Tempat itu sekarang telah tidak digunakan lagi, tetapi sebagai suatu bangunan yang mengandung sejarah, maka telah dibiarkan oleh pihak pemerintah bangsa Mongolia.

Dengan tetap menunggang kudanya Ong Tiong Kun terus mendaki hendak mendekati letak bangunan tua itu, tetapi disuatu saat dia hentikan jalan kudanya, karena dia terpesona dengan sesuatu yang dilihatnya.

Diseberang tebing yang curam dan tidak terlalu jauh terpisah dari tempat dia berada, dilihatnya ada seseorang laki laki yang digantung memakai tambang diatas sebuah dahan pohon yang cukup tinggi. Laki laki itu digantung sedemikian rupa; yakni dengan kaki di bagian atas yang diikat dan digantung, dan kepalanya dibagian bawah. Di waktu angin pegunungan meniup dan dahan pohon itu bergoyang, maka terayun juga tubuh laki laki yang digantung itu.

Terdorong oleh rasa ingin mengetahui, maka Ong Tiong Kun turun dari kudanya. Diikatnya kuda itu pada suatu pohon yang terdekat, lalu dia mencari jalan hendak menyeberangi tebing yang curam itu.

"Apakah hiantee hendak menyeberangi tebing itu?" sapa seseorang yang benar benar sangat mengejutkan Ong Tiong Kun, karena terasa sangat aneh bagi pemuda ini apabila ada seseorang yang dekat dengan dia, namun dia tidak mengetahui dan tidak menyadari!

Ong Tiong Kun memutar tubuh untuk mengawasi sehingga didapatinya bahwa orang yang menyapa itu adalah seorang laki laki tua yang bertubuh kurus serta bongkok bagian punggungnya.

Didalam hati Ong Tiong Kun merasa bercekat. Dia menganggap bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang tua sakti yang tentunya telah hidup mengasingkan diri dari pergaulan luas.

Kakek tua yang bongkok itu kelihatan tersenyum ramah sambil dia mengelus jenggotnya yang tumbuh tidak panjang, lalu kakek tua itu yang menyambung bicara;

“Kalau aku boleh mengatakan, sebaiknya hiantee jangan menyeberang atau mendekati orang yang digantung itu,” demikian kata orang tua yang bongkok itu sambil semakin dia mendekati tempat Ong Tiong Kun berdiri.

"Tahukah lo cianpwee siapa gerangan orang itu, dan mengapa dia digantung?” tanya Ong Tiong Kun yang merasa curiga, namun tak mengetahui apa sebabnya.

“He he he! tidak banyak yang aku ketahui, tetapi cukup untuk menjawab pertanyaan kau. Laki Iaki yang digantung itu bernama In Ceng Ho, seorang Iaki laki muda yang gagah dari golongan Kun lun pay,” sahut si kakek bongkok itu sambil dia tertawa dan tetap mengelus jenggotnya yang tumbuh pendek.

Ong Tiong Kun terkejut, bukan sebab dia kenal dengan nama In Ceng Ho tetapi dengan disebutnya golongan Kun lun pay, maka dia merasa yakin bahwa In Ceng Ho pasti memiliki kepandaian ilmu silat yang mahir.

“Mengapa dia digantung dan perbuatan siapakah gerangan?” akhirnya tanya lagi Ong Tiong Kun bahkan dia merasa bertambah curiga tetapi tetap tanpa dia mengetahui entah apa sebabnya. Sekali lagi kakek bongkok itu tertawa, sebelah tangannya tak lepas dari jenggotnya.

"Aku kurang yakin mengapa dia digantung tetapi aku mengetahui sebabnya; karena sebelumnya dia pernah bertemu dan bertanya sesuatu kepadaku.”

"Apa yang dia tanyakan kepada lo cianpwee?” Ong Tiong Kun menanya lagi.

“Tentang bangunan tua diatas gunung Cui lok san itu,” sahut si kakek bongkok sambil dengan jari tangannya dia menunjuk kearah bangunan tua yang dilihat oleh Tiong Kun tadi.

“Apakah karena menanya tentang bangunan tua itu dia harus digantung?" Ong Tiong Kun menanya dan merasa heran bercampur curiga, dan dia bahkan berlaku waspada karena dari jarak yang cukup jauh terpisah dilihatnya sedang mendatangi empat orang laki laki bertubuh tegap, namun semuanya mengenakan pakaian semacam penduduk dusun.

Dilain pihak si kakek bongkok lagi lagi menjadi tertawa, lalu dia menjawab pertanyaan Ong Tiong Kun tadi:

“Dia digantung karena si penghuni bangunan tua itu menjadi marah apabila ada seseorang yang ingin menyelidik tentang dia dan tentang bangunan tua itu.”

“Siapakah dia, si penghuni bangunan tua itu?” masih Ong Tiong Kun menanya, tetapi si kakek bongkok semakin menjadi tertawa dan memberikan jawaban yang sangat mengejutkan bagi Ong Tiong Kun.

"He he he he! dia adalah si iblis penyebar maut !”

Dan naluri hati Ong Tiong Kun memerintahkan agar dia menyiapkan pedangnya, tetapi pemuda ini kurang cepat dengan gerak ke empat orang laki laki yang berpakaian semacam penduduk dusun sebab secara serentak mereka telah bergerak dengan suatu terkaman, dan salah seorang dari mereka berhasil memegang lengan kanan Ong Tiong Kun yang memegang pedang, lalu memutar tangan pemuda itu dengan suatu tekanan yang kuat.

Sia sia Ong Tiong Kun berusaha hendak melepaskan diri, terlebih ketika yang lain-lain berhasil mengunci pundak dan tengkuknya dihajar oleh sebuah kepalan yang kuat.

Pedang Ong Tiong Kun terlepas dari pegangannya dan terjatuh ditanah, tetapi Ong Tiong Kun sempat bergantung dibawah tiga orang lawannya, lalu dengan meminjam tenaga lawan ia sengaja mengayun diri, sampai kakinya naik keatas melewati kepala dan berhasil menjepit leher seorang lawan, sehingga terlepas dia dari pegangan pada pundaknya, lalu menyusul gerakannya itu maka tangan kirinya bergerak menghantam iga lawan yang memegang lengannya !

"He he he ! Bagus!" tawa si kakek bongkok memberikan pujian: ketika dia melihat gerak beruntun dari Ong Tiong Kun yang berhasil melepaskan diri dari pegangan lawan. Setelah itu si kakek berkata lagi: “Kalian semua mundur!”

Ke empat orang laki laki yang menyergap dan mengepung Ong Tiong Kun segera lompat mundur. Gerak mereka bertepatan benar dengan gerak si kakek bongkok yang lompat mendekati, dan langsung dia menyerang Ong Tiong Kun memakai sepasang tangannya.

Ong Tiong Kun merasa yakin bahwa si kakek bongkok ini memiliki tenaga eng jiauw kang', terbukti dari cara si kakek menyerang dan dari sambaran angin pukulannya, terlebih karena lengan baju si kakek yang lebar dan panjang. Namun demikian Ong Tiong Kun hadapi si kakek dengan hati tabah dan tenang, tetapi tetap waspada terhadap serangan bokongan ke empat orang laki laki yang sedang berdiri mengurung.

Suatu hal yang masih diragukan dan menjadi pertanyaan bagi Ong Tiong Kun adalah, apakah dia sedang berhadapan dengan orang orang Thian tok bun, persekutuan dari si iblis penyebar maut?

Memang tidak banyak orang yang mengetahui bahwa si iblis penyebar maut adalah si manusia muka seribu yang pandai menyamar. Orang hanya tahu dan mendengar tentang keganasan 'toat beng sim' berdasarkan jejak berdarah yang ditinggalkan sehabis si iblis menyebar maut, antara lain dari sisa paku paku 'tok liong teng' atau dari jarum-jarum maut 'hek tek ciam' yang mengandung bisa racun. Orang orang yang mengetahui karena pernah berhadapan dengan si iblis penyebar maut dalam bentuk ujut berbagai penyamaran adalah almarhum Ong Su Gie, Ong In Thian dan Tan Hui Beng. Yang lain hanya meraba atau menduga duga kalau 'toat beng sim' adalah 'koan bin jin yao' atau si manusia muka seribu. Sedangkan In Ceng Ho hanya sekali pernah bertemu dengan si hartawan Cie Eng Liong yang mengaku sebagai si iblis penyebar maut, dan yang kedua kalinya dalam ujut si kakek tua bongkok yang berhasil membinasakan In Ceng Ho dengan suatu muslihat keji !

Jelas bahwa si kakek bongkok itu adalah ujut penyamaran si iblis penyebar maut atau si manusia muka seribu yang sedang menyebar maut, maka sudah pasti dia merupakan manusia yang pandai menggunakan berbagai macam racun yang berbisa, termasuk bubuk racun 'cian lian lo hap sie’ yang ditaburkan pada lengan bajunya yang lebar dan panjang, sehingga setiap kali serangannya datang mengarah muka Ong Tiong Kun, maka bekerjalah bubuk beracun yang melemahkan tenaga dan mendatangkan rasa pemuda itu jadi mengantuk.

Didalam hati pemuda itu memaki dirinya sendiri, karena dia memang kurang tidur akibat menikmati kemeriahan pesta panen, sehingga menjadikan dia merasa sangat mengantuk disaat dia menghadapi lawan tangguh. Akhirnya tak tertahankan lagi rasa mengantuknya Ong Tiong Kun. Hanya suatu tendangan ringan dari si kakek bongkok, tak sanggup Ong Tiong Kun menghindar. Dia terjatuh dan sempat mendengar si kakek bongkok memerintahkan keempat rekannya untuk meringkus, tetapi tak kuasa Ong Tiong Kun untuk melakukan perlawanan lagi, malahan sebaliknya dengan sepasang matanya meram dan pulas dia tertidur. Kemudian bagaikan didalam mimpi dia merasakan tubuhnya terayun ayun dengan nikmatnya, bahkan terlalu erat dia merasakan tangan tangan Phang Lan lng merangkul tubuhnya, padahal tubuhnya itu diikat erat erat memakai tambang yang kokoh kuat.

{ oooq X O300 )

RASA penasaran telah mengakibatkan In Ceng Ho membatalkan niatnya yang hendak mengunjungi gurunya diatas gunung Kun lun san, membawa berita tentang tewasnya Lam san koaihiap Cian Yan Kiong.

Rasa penasaran membuat In Ceng Ho memutar haluan perjalanannya; mengikuti jejak si iblis penyebar maut yang telah dia ketahui berujut sebagai seorang hartawan setengah tua dan mengaku bernama Cio Eng Liong.

Hari sedang panas terik ketika dia memasuki dusun, tetap dengan menggunakan kudanya sementara pakaiannya basah dengan peluh bercampur debu.

In Ceng Ho singgah disuatu kedai nasi tidak terlalu besar, karena ingin beristirahat dan memesan makanan. Setelah selesai bersantap maka In Ceng Ho cepat cepat meneruskan perjalanannya, tanpa dia menghiraukan panas terik dari sinar matahari yang memancarkan sinarnya.

Ketika hendak melintas suatu jalan pegunungan yang sunyi, tiba tiba In Ceng Ho mendengar pekik suara seorang wanita, sehingga dia lalu percepat lari kudanya untuk mendekati asal suara tadj sampai disaat berikutnya dia melihat adanya seorang laki laki bermuka hitam menyeramkan, sedang berusaha hendak merebut sebuah bungkusan dari seorang wanita muda.

Agaknya wanita muda itu sedang berusaha mempertahankan miliknya dari rampasan laki laki yang bermuka hitam menyeramkan itu sampai kemudian secara tiba tiba wanita muda itu memukul muka laki laki itu memakai kepelan tangannya.

Laki laki bermuka hitam menyeramkan itu lompat mundur untuk menghindar dari pukulan tadi. Dia marah dan memaki.

"Kurang ajar! rupanya kau berani melakukan perlawanan

!”

Sehabis memaki maka laki laki bermuka hitam

menyeramkan itu bersiap siap hendak menyerang wanita muda itu, yang rupanya juga pandai ilmu silat.

Tangan kanan laki laki yang besar itu lalu menghajar mengarah bagian dada calon korbannya, tetapi dengan tangkas wanita muda itu berkelit mundur selangkah, lalu sebelah kaki yang kecil menendang muka laki laki bengis itu.

Diluar dugaan In Ceng Ho yang menyaksikan tendangan wanita itu tepat mengenai sasaran sehingga terdengar pekik kesakitan dari laki laki yang tubuhnya ikut sempoyongan namun sempat laki laki itu mengeluarkan senjatanya yang berupa golok.

“Kurang ajar! rupanya kau benar benar sudah bosan hidup!” laki laki bermuka hitam menyeramkan itu memaki lagi; lalu mulai dia menyerang dengan suatu bacokan maut memakai goloknya.

Wanita muda itu berkelit dari serangan golok yang mengarah bagian pundaknya, tetapi dengan sengit laki laki bermuka hitam menyeramkan itu sudah mengulang serangannya secara bertubi tubi, sehingga dia berhasil membikin wanita muda itu repot dan kewalahan, terlebih karena wanita muda itu tidak memiliki senjata.

Sampai disitu In Ceng Ho tidak dapat menonton lebih lama. Dengan gerak 'burung walet menembus angkasa' maka In Ceng Ho melesat dari atas kudanya, sementara pedangnya yang telah siap ditangannya langsung dia gunakan untuk menangkis golok laki laki bermuka hitam menyeramkan itu yang sedang mengarah wanita muda lawannya.

Suatu bunyi suara keras terdengar akibat benturan kedua senjata tajam itu.

Laki laki bermuka hitam menyeramkan itu lompat mundur, untuk dia memeriksa goloknya dan mengawasi In Ceng Ho yang menjadi penantangnya.

“Kurang ajar! siapa kau yang berani mencampuri urusan lain orang!” bentak laki laki hitam itu dengan suara yang besar atau keras.

“Disiang hari begini kau hendak merampok milik seorang wanita, apakah aku harus diam saja?" sahut In Ceng Ho sambil perlihatkan muka mengejek. "Kurang ajar!" seru laki laki bermuka hitam menyeramkan itu yang bertambah marah, lalu dengan gerak tipu 'tay san ap teng' atau gunung tay san menindih goloknya datang menyambar hendak membelah kepalanya In Ceng Ho!

Pada benturan senjata mereka tadi, In Ceng Ho telah mengetahui bahwa laki laki itu memiliki tenaga yang besar. Oleh karenanya serangan lawan dia tidak tangkis, sebaliknya dia hanya membungkuk sambil miringkan tubuhnya, membiarkan golok musuh lewat disisinya, lalu dia membarengi menikam memakai pedangnya dengan gerak tipu 'ular berbisa keluar dari liang’.

"Kurang ajar!" teriak laki laki bermuka hitam menyeramkan itu yang harus mundur beberapa langkah kebelakang, karena tak sempat dia menangkis serangan In Ceng Ho tadi. Akan tetapi ketika In Ceng Ho mengulang serangannya memakai gerak tipu yang sama, maka golok laki laki itu menyapu hendak menangkis, memakai gerak tipu ‘angin barat menyapu daun'.

Menghadapi musuh yang bertenaga seperti banteng, In Ceng Ho perlihatkan kelincahan tubuhnya serta kegesitan serangannya yang cepat dapat berganti haluan. Pedangnya berputar sedemikian rupa mengikuti arah tangkisan golok lawannya sehingga terhindar dari suatu benturan, sebaliknya pedang itu berhasil merobek baju dan melukai pundak kiri lawannya itu.

"Kurang ajar!" teriak lagi laki laki bermuka hitam menyeramkan itu sambil dia lompat mundur; dan menutup luka pada pundaknya memakai sebelah tangannya, sambil dia menyambung bicara:

“Kalian tunggu, aku akan kembali untuk merebut nyawa kalian berdua!'' Sehabis berkata begitu, maka laki laki bermuka hitam menyeramkan itu lari kabur dengan sangat cepatnya.

“Syukur inkong datang tepat pada waktunya,” kata wanita muda itu malu malu, sambil dia memberi hormat dan mengucap terima kasih.

“Namaku In Ceng Ho,” sahut In Ceng Ho yang tidak mau disebut inkong atau tuan penolong, dan sekaligus dia telah perkenalkan namanya.

"Namaku Go Hong Lian," sahut wanita muda itu malu malu, dan atas pertanyaan In Ceng Ho maka dikatakan oleh Go Hong Lian bahwa sebenarnya baru semalam dia telah kecurian bungkusan berikut pedangnya, waktu dia menginap disebuah rumah penginapan.

"Kemanakah tujuan Lian moay?” kemudian tanya In Ceng Ho yang langsung membasakan adik, karena usianya lebih tua dari Go Hong Lian.

Go Hong Lian tidak segera memberikan jawaban. Dia mengawasi In Ceng Ho sampai dia merasa yakin bahwa laki laki yang baru menolong itu dapat dia percaya, setelah itu baru dia berkata.

"Aku bermaksud mendaki gunung Lam san untuk menemui Lam san koayhiap."

In Ceng Ho kelihatan terkejut setelah dia mengetahui maksud perjalanan Go Hong Lian, sebab dia mengetahui akan sia sia perjalanan yang jauh itu.

“Lam san koayhiap adalah paman guruku, tetapi dia telah wafat," akhirnya In Ceng Ho berkata, dan dia lalu menerangkan lebih lanjut perihal dia yang telah mendaki gunung Lam san dengan menemui beberapa makam, diantaranya terdapat nama paman gurunya itu. "Heran .." kata Go Hong Lian perlahan; lalu dia meneruskan bicara :

"Padahal sudah dua bulan ayah pergi; katanya hendak menyambangi Lam san koayhiap. Karena belum pulang, maka aku menyusul."

"Siapa nama ayah Lan moay ?” In Ceng Ho menanya lagi.

"Go Ciang Hin", sahut Go Hong Lian.

“Go Ciang Hin yang dikalangan rimba persilatan dikenal sebagai si tangan pasir besi ?” tanya In Ceng Ho untuk menegaskan.

“Betul," sahut Go Hong Lian bersenyum, karena kelihatannya dia merasa bangga dengan nama ayahnya yang cukup terkenal.

“Lian moay, ada sesuatu berita mengenai ayahmu yang ingin aku beritahukan; tetapi sebaiknya kita jangan bicara disini, sebab kemungkinan si berandal tadi akan kembali dan membawa kawannya,” akhirnya In Ceng Ho berkata setelah sejenak dia terdiam berpikir.

“Apakah kau takut menghadapi mereka ?" tanya Go

Hong Lian yang kelihatan merasa kecewa.

“Bukan begitu, tetapi apa gunanya kita harus merepotkan diri melawan segala kurcaci?” sahut In Ceng Ho dan perlihatkan senyumnya.

“Tetapi pedangku dicuri orang. Aku justeru menduga komplotan orang tadi yang telah melakukan pencurian; sedangkan pedang ku itu adalah pedang Ku tie kiam."

“Ku tie kiam ?” ulang In Ceng Ho terkejut berbareng heran, sebab pedang Ku tie kiam atau pedang besi hitam itu adalah miliknya tayhiap Wei Tan Wie yang kemudian menjadi miliknya Wei Beng Yam, putera tunggal tayhiap Wei Tan Wie. Setelah itu pernah didengarnya bahwa pedang itu digunakan oleh "Cheng hwa liehiap" atau si pendekar wanita penyebar bunga cinta, sehingga bagaimana mungkin sekarang pedang itu menjadi miliknya Go Hong Lian yang mengaku sebagai anak perempuannya Go Ciang Hin. Adakah hubungan antara Go Ciang Hin dengan Wei Beng Yam atau dengan Cheng hwa liehiap?

"Tidak terpisah jauh dari sini ada sebuah dusun bekas semalam aku menginap, marilah kita kesana untuk aku menceritakan tentang kisah pedang Ku tie kiam, dan kau ceritakan tentang berita mengenai ayahku," kata Go Hong Lian yang agaknya dapat meraba tentang yang dipikirkan oleh In Ceng Ho.

“Baiklah. Tadipun aku beristirahat didusun itu", akhirnya sahut ln Ceng Ho, lalu dia memaksa Go Hong Lian naik diatas kudanya, sedangkan dia mengikuti dengan menuntun tali kendali, sehingga lagak mereka mirip dengan pasangan suami isteri orang orang desa yang sedang menuju ke kota.

Dalam melakukan perjalanan yang lambat itu, maka In Ceng Ho menceritakan perihal dia yang pernah mendaki gunung Lam san, sampai kemudian dia menemukan banyak makam yang baru saja dibuat orang secara darurat, sebagian terdapat nama nama sebagai pengenal pada makam itu, yang antara lain terdapat juga adanya nama Go Ciang Hin.

“Mereka semuanya tewas sebagai korban keganasan si iblis penyebar maut,” kata In Ceng Ho yang menambahkan penjelasannya.

Tak hentinya Go Hong Lian mengeluarkan air mata ketika dia mendengar ayahnya telah binasa, dia bahkan hampir pingsan diatas kuda sekiranya dia tidak berusaha mengatasi diri.

"Heran, ayah cukup gagah terutama dengan ilmu tangan pasir besi. Lagi pula tidak kurang dari 15 orang yang sedang berkumpul di atas gunung Lam san itu seperti yang kau katakan. Tetapi mengapa mereka dapat dikalahkan oleh si iblis penyebar maut?” Go Hong Lian berkata diantara isak tangisnya.

"Menurut dugaanku dan berdasarkan hasil penyelidikan yang aku lakukan, tentunya si iblis penyebar maut telah melakukan serangan secara menggelap, memakai senjata rahasia yang mengandung bisa racun atau mungkin pula dia menyebar bubuk racun pada makanan atau minuman, sehingga mereka yang sedang berkumpul diatas gunung Lam san dapat dibinasakan semuanya," sahut In Ceng Ho, kemudian dia pun menceritakan tentang kisah perjalanannya sehubungan dengan tewasnya isterinya ditangan si iblis penyebar maut.

"Apabila kau bertemu lagi dengan si iblis penyebar maut itu, apakah kau dapat mengenali dia?” tanya Go Hong Lian yang berpikir ikut merasa iba dengan nasib laki laki muda itu.

“Tentu,” sahut In Ceng Ho memastikan, dan dia lalu melukiskan wajah muka si iblis penyebar maut sebagai ujut si hartawan yang mengaku bernama Cio Eng Liong.

"Cio Eng Liong? Tidak pernah ayah bercerita tentang adanya nama seperti itu dari orang orang dikalangan rimba persilatan," Go Hong Lian berkata seperti menggerutu, tetapi In Ceng Ho tidak berkata apa apa lagi karena waktu itu mereka pun telah memasuki dusun tempat tadi In Ceng Ho beristirahat dan makan siang, lalu atas saran Go Hong Lian yang merasa penasaran dengan pihak penjahat yang telah mencuri pedangnya serta memegat perjalanannya, maka keduanya memesan dua kamar ditempat bekas semalam Go Hong Lian menginap.

Sambil melewatkan waktu keduanya duduk diruang tamu sambil mereka saling membicarakan diri masing masing. Agaknya mereka sengaja berbuat hendak menarik perhatian orang orang, terutama agar diketahui oleh pihak penjahat bahwa mereka menginap ditempat itu.

Tiat see ciang Go Ciang Hin atau si tangan pasir besi sebenarnya telah belasan tahun menjelajah dikalangan rimba persilatan. Dia dimalui banyak orang karena mahirnya ilmu silat ‘tangan pasir besi' yang dia miliki. Sikapnya yang agung dan terkadang sangat ganas dalam menghadapi lawan, telah mengakibatkan dia kurang disukai oleh beberapa orang kenalannya.

Tiat see ciang Go Ciang Hin menetap di dusun Oei kee cip bersama isteri dan seorang anak perempuan mereka yang bernama Go Hong Lian, tetapi sejak kecil anak perempuannya itu belajar ilmu silat diatas gunung Oei san yang letaknya tidak terlalu jauh terpisah dari dusun Oei kee cip, dan gurunya Go Hong Lian adalah pasangan suami isteri perkasa; yakni tayhiap Wei Beng Yam dan Kui Siok Ing, puteri tunggal Sin eng Kiu It, si garuda sakti yang kenamaan.

Dahulu kala tayhiap Wei Beng Yam pernah merajai kaum rimba persilatan sehingga dia mendapat gelar sebagai tayhiap atau pendekar besar, tetapi sangat banyak pengalaman pahit yang dia alami, sehingga setelah dia menikah dengan Kiu Siok Ing maka pasangan suami isteri itu menghilang dan hidup menyendiri di atas gunung Oei san. Tayhiap Wei Beng Yam memilih tempat di atas gunung Oey san untuk dia hidup menyendiri bersama isterinya, karena diatas gunung itu dahulunya merupakan tempat bersemayam Thian hian siancu almarhum yang menjadi guru dari Kiu Siok Ing (isterinya Wei Beng Yam), sedangkan Thian hian siancu ini adalah bekas isterinya almarhum gurunya Wei Beng Yam yang bernama Jie Cu Lok.

Jelas bahwa Kiu Siok Ing ini bukan merupakan sembarang wanita yang lemah, karena dia adalah ahliwaris tunggal dari Thian hian siancu yang terkenal sakti ilmunya. Dan Go Hong Lian tidak hanya menjadi muridnya tayhiap Wei Beng Yam, tetapi dara ini mendapat juga didikan dari Kiu Siok Ing, yang bahkan telah memberikan pelajaran ilmu ‘Hui eng cit cap jie sut bo tie sin ciang’, ilmu silat burung garuda merebut maut yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus ganti berganti, berasal dari ilmu kebanggaan Sin eng Kiu It, si garuda sakti yang menjadi ayahnya Kiu Siok Ing, serta ilmu coh siang hui (terbang diatas rumput), dan ilmu melepas senjata rahasia 'lian hoan cu bo piao atau piao induk yang apabila tersentuh akan menjadi pecah selubungnya, dan didalam selubung induk piao itu tersimpan jarum jarum halus "tok beng oei hong ciam" yang mengandung bisa racun maut. Kedua macam ilmu itu adalah peninggalan dari Thian hian siancu.

Oleh karena telah lama ayahnya pergi padahal ketika pamit katanya hendak menyambangi Lam san koayhiap Cian Yan Kiong, maka Go Hong Lian menjadi merasa cemas, terlebih karena dia mengetahui bahwa ayahnya banyak musuhnya. Dari itu dia menyatakan hasratnya hendak menyusul kepergian ayahnya itu.

Sesudah mendapat perkenan dari ibunya, maka dara Go Hong Lian pamitan juga dari kedua gurunya diatas gunung Oei san, sementara tayhiap Wei Beng Yam yang mengetahui niat muridnya, telah pula menitipkan salamnya untuk Lam san koayhiap Cian Yan Kiong, serta dia meminjamkan juga pedang Ku tie kiam untuk bekal Go Hong Lian ditengah perjalanan. Pedang Ku tie kiam atau pedang besi hitam yang berada ditangan tayhiap Wei Yam ini ada hubungannya dengan pedang Ku tie kiam yang ada ditangan Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing.

Dalam melakukan perjalanan menuju gunung Lam san, maka Go Hong Lian sengaja menyamar dengan berpakaian semacam seorang pemuda pelajar, karena dia tidak ingin adanya orang mengganggu hanya disebabkan mukanya yang cantik.

Dihari ketiga setelah meninggalkan gunung Oei san, maka dara manis yang sedang menyamar sebagai seorang pemuda pelajar itu memasuki daerah pegunungan yang sunyi; sampai kemudian secara mendadak dara dalam penyamaran itu menjadi tersentak, karena telinganya yang tajam mendengar bunyi suara senjata tajam yang saling bentur, menandakan didekat tempat itu terdapat seseorang yang sedang bertempur.

Karena merasa ingin mengetahui, maka dara dalam penyamaran itu mendekati, sampai kemudian dia melihat adanya seorang dara remaja, yang sedang bertempur melawan dua orang laki laki bermuka bengis, dan kedua- laki laki itu sedang melancarkan berbagai serangan maut, membuat dara remaja itu kelihatan terdesak dan terancam nyawanya.

“Budak hina ! kau serahkan saja peta itu pada kami akan mengampuni jiwamu !” bentak salah seorang dari kedua laki laki yang sedang mengepung itu, tanpa dia mengurangi desakan serangannya. Dara remaja itu tidak menghiraukan perkataan laki laki yang sedang mengepung itu, sebaliknya dia memusatkan segenap perhatian dan kemampuannya untuk dia membikin pertahanan yang ketat, sehingga pedangnya berputar sedemikian rupa, membuat kedua lawannya tidak mudah melukai atau mengalahkan dara remaja itu.

Namun demikian laki laki yang tadi membentak sebenarnya bukan merupakan sembarang lawan, sebab dia adalah pembantu dan kepercayaan ciangkun Lie Eng Liang, seorang perwira muda pada pemerintah penjajah; dan laki laki itu bernama Ong Bun Kiat yang terkenal ganas.

Ong Bun Kiat memiliki senjata yang istimewa, yakni sepasang kait baja berukuran sama dengan pedang, dan keistimewaan senjata itu disamping dapat mengkait kepala atau tubuh lawan, juga dapat digunakan untuk merebut senjata lawannya.

Agaknya dara remaja itu merasa jeri dengan lawannya yang bernama Ong Bun Kiat, dia berusaha mendekati musuh yang seorang lagi, yang sebenarnya juga merupakan seorang perwira pembantu pada pemerintah penjajah, tetapi pada saat itu keduanya tidak memakai pakaian seragam militer.

Kawannya Ong Bun Kiat yang bersenjata sebatang golok, merasa mendongkol dan penasaran sebab mengetahui bahwa lawannya menganggap dia sebagai orang yang terlemah. Dia perlihatkan perlawanan yang dahsyat untuk mengatasi keadaannya yang terdesak, dan dia bermaksud hendak memberikan tekanan yang berat bagi dara lawannya. Usahanya itu kemudian kelihaian berhasil berkat bantuan Ong Bun Kiat yang tetap ikut mengepung.

Melihat keadaan yang berbahaya bagi nyawa dara remaja itu, maka Go Hong Lian siapkan pedangnya dan dia memasuki kancah pertempuran. Pedang Ku tie kiam yang ampuh bergerak menangkis serangan golok yang sedang mengarah dara remaja yang dibantunya sehingga bertepatan dengan terdengarnya bunyi benda logam yang saling bentur, maka golok itu putus menjadi dua, sementara pedang yang tajam itu dengan meminjam tenaga benturan tadi, telah meluncur terus mencari sasaran pada tenggorokan sipemilik golok bagaikan seekor ular melepas bias.

Meskipun dia terkejut karena datangnya bantuan bagi pihak lawan, namun Ong Bun Kiat bergerak gesit mendorong tubuh rekannya sehingga rekan terjerumus hampir jatuh, tetapi nyaris menjadi mangsa pedang Ku tie kiam.

Kemudian ketika pedang yang ampuh itu merobah haluan, menyerang Ong Bun Kiat dengan gerak tipu 'burung garuda mementang sayap’, maka dengan tabah Ong Bun Kiat hanya menundukkan kepala, lalu dia menyabet memakai senjatanya yang istimewa, dengan suatu gerak tipu 'nelayan melepas jala’, dan selagi dara dalam penyamaran itu lompat untuk menghindar, maka Ong Bun Kiat juga lompat keluar dari kancah pertempuran langsung kabur menyusul temannya yang telah mendahulukan lari.

Go Hong Lian yang sedang menyamar sebagai seorang pemuda; merasa penasaran hendak melakukan pengejaran, tetapi dia membatalkan niatnya ketika dengan langkah kaki ragu ragu atau malu malu dilihatnya dara remaja yang ditolongnya sedang mendekati.

“Terima kasih atas bantuan kongcu,” dara remaja itu berkata, menganggap yang menolong dia adalah seorang pemuda. Dara dalam penyamaran itu tersenyum dan balas memberi hormat, membuat dara remaja itu bertambah malu.

“Mengapa kouwnio bertempur dengan mereka ?" tanya Go Hong Lian membawa lagak seperti seorang pemuda.

"Aku pun kurang mengetahui,” sahut dara remaja itu setelah sejenak dia kelihatan ragu ragu, namun kemudian dia menambahkan perkataannya :

"Telah berulangkali mereka menghadang aku jika aku sedang melakukan perjalanan. Mungkin ayah dapat memberikan penjelasan."

"Apakah kouwnio menetap didekat tempat ini ?” tanya lagi dara dalam penyamaran itu, tetap dengan membawa lagak seperti seorang pemuda.

Dara remaja itu manggut membenarkan, lalu dia berkata lagi :

"Sekiranya kongcu sudi singgah, ayah pasti akan gembira sekali.”

Go Hong Lian yang sedang menyamar sebagai seorang pemuda perlihatkan senyum nakal, sehingga senyuman itu sekali lagi telah mengakibatkan dara remaja itu jadi merasa malu, namun keduanya kemudian jalan bersama sama saling berdampingan, menuju ke tempatnya dara remaja itu yang mengaku bernama Lauw Sin Lan.

Ayahnya Lauw Sin Lan adalah seorang laki laki tua yang umurnya sudah lebih dari lima puluh tahun, memiara jenggot sebatas dada, bertubuh masih sehat dan mengaku bernama Lauw Keng Lim.

Di hadapan orang tua itu; juga dihadapan dara Lauw Sin Lan, sengaja Go Hong Lian umpatkan namanya dan mengaku bernama Go Hong Gie. Tetapi orang tua yang luas pengalaman itu ternyata tak bisa dikibuli, karena dia segera mengetahui tentang penyamaran dara Go Hong Lian, sehingga Go Hong Lian lalu mengakui dan mengatakan hal yang sebenarnya.

“Akh, ternyata kau adalah puterinya Tiat see ciang Go Ciang Hin, dan menjadi murid dari tayhiap Wei Beng Yam," kata Lauw Keng Lim yang kelihatan terkejut, tetapi pada saat berikutnya wajahnya kelihatan girang bahkan tanpa ragu ragu dia telah menceritakan suatu rahasia kepada dara Go Hong Lian.

Pada awal permulaan abad ke empat belas itu, pihak pemerintah bangsa Mongolia yang menjajah seluruh daratan Cina sedang menghadapi masa kekacauan atau kerusuhan kerusuhan akibat adanya gerakan gerakan yang bersifat menentang atau hendak melakukan pemberontakan, tidak hanya yang dilakukan oleh para pangeran tetapi juga dilakukan oleh para pejuang bangsa Cina.

Diantara pejuang bangsa Cina yang sedang giat melakukan gerakan pada waktu itu adalah rombongan Cu Juan Csang yang dianggap sebagai salah satu rombongan terkuat dan banyak memperoleh dukungan dari segenap lapisan masyarakat.

Markas rombongan Cu Juan Csang itu sering berpindah tempat; disamping Cu Juan Csang banyak memiliki para pembantu setia yang bertugas digaris belakang, yakni untuk mencari bantuan tenaga maupun harta benda untuk membeayai gerakan perjuangan bangsa dan negara itu.

Lauw Keng Lim mendapat tugas membawa dua pucuk surat, yang sepucuk untuk seorang pendekar pedang kenamaan di dalam kota Intay, sedangkan yang sepucuk lagi untuk seorang wanita yang dikatakan menjadi pemimpin dari persekutuan 'pelangi merah', sedangkan pada surat yang kedua ini bahkan berisi sebuah peta tempat menyimpan harta yang tak ternilai harganya.

Akan tetapi pihak pemerintah penjajah mengetahui maksud perjalanan Lauw Keng Lim berdua anaknya, bahkan mengetahui pula tentang adanya peta tempat penyimpanan harta itu, sehingga pihak pemerintah penjajah segera memerintahkan melakukan pengejaran dan merampas kedua surat berikut peta harta itu dari tangan Lauw Keng Lim.

Diantara para petugas yang melakukan pengejaran itu, terdapat pula Ong Bun Kiat berdua temannya. Dalam pertempuran melawan Lauw Sin Lan berdua Lauw Keng Lim telah mengakibatkan Lauw Keng Lim luka kena senjata rahasia yang mengandung bisa racun, sehingga sebelah kakinya bagaikan lumpuh, dan mereka terpaksa umpatkan diri tak dapat meneruskan perjalanan mereka sampai kemudian datang Go Hong Lian yang memberikan pertolongan tanpa disengaja.

Ketika baru mengetahui bahwa dara dalam penyamaran itu adalah anaknya Go Ciang Hin, maka Lauw Keng Lim kelihatan terkejut, karena dia cukup mendengar tentang nama ‘tangan pasir besi’ yang dianggap terlalu ringan tangan, seringkali bertentangan meskipun diantara sesama golongan. Tetapi ketika kemudian diketahuinya juga bahwa Go Hong Lian merupakan murid tayhiap Wei Beng Yam, maka lain lagi kesan Lauw Keng Lim terhadap dara dalam penyamaran itu.

Oleh karena lukanya yang merintang tugasnya, maka Lauw Keng Lim memutuskan meminta bantuan Go Hong Lian, untuk melakukan perjalanan bersama sama dara Lauw Sin Lan membawa kedua pucuk surat untuk diserahkan kepada yang berkepentingan.

Go Hong Lian menyatakan tidak keberatan memenuhi permintaan Lauw Keng Lim, karena perjalanan yang harus dia lakukan adalah searah dengan tujuannya sendiri. Sebaliknya Lauw Sin Lan kelihatan tidak rela meninggalkan ayahnya seorang diri, namun akhirnya dapat dibujuk mengingat pentingnya tugas membela bangsa dan negara yang sedang dijajah oleh bangsa asing.

< oooO X Oooo )

SELAGI udara cukup cerah dan angin pegunungan meniup perlahan kelihatan muda mudi yang sedang melakukan perjalanan seperti pasangan suami isteri muda yang sedang berbulan madu, padahal mereka adalah Lauw Sin Lan berdua Go Hong Lian yang tetap menyamar sebagai seorang pemuda pelajar.

Mereka telah cukup jauh terpisah dari tempat mereka tinggalkan Lauw Keng Lim tetapi mereka masih menyusuri daerah pegunungan yang sunyi, ketika secara tiba tiba mereka dikejutkan dengan melesatnya sebatang tombak kearah mereka, yang datangnya dari atas sebuah pohon yang lebat.

Pasangan remaja itu dengan gesit lompat menghindar, tetapi secepat itu juga mereka telah dikurung oleh tidak kurang dari belasan laki laki bermuka garang, siap dengan perlengkapan senjata tajam.

“Adik Lan; agaknya ada juga orang orang yang hendak merintang perjalanan bulan madu kita," Go Hong Lian berkata secara berkelakar.

“Kita sapu mereka sampai bersih?" sahut Lauw Sin Lan yang segera menyiapkan pedangnya. “Mengapa kalian memegat kami?” Go Hong Lian kemudian tanya kepada salah seorang perintang yang dia anggap menjadi pemimpin.

"Hmm!" laki laki itu bersuara mengejek, lalu dia berkata dengan suara garang;

“Kau boleh meneruskan perjalanan tetapi Lauw kouwnio harus kau tinggalkan!"

"Hi hi hi,” tawa Go Hong Lian, lalu dia menyambung dengan perkataannya yang ditujukan kepada Lauw Sin Lan:

"Adik Lan, kau lihat. Kita baru menikah dan sekarang ada orang yang hendak menceraikan kita. Agaknya kau memang tepat menjadi seorang wanita rebutan!"

Meskipun Go Hong Lian sengaja bergurau tetapi didalam hati dia terkejut. Tidak disangka bahwa perjalanan mereka secepat itu telah diketahui pihak kaki tangan pemerintah penjajah, dan mereka yang menghadang tentunya hendak merebut surat berikut peta yang berada pada Lauw Sin Lan.

Dilain pihak pemimpin penghadang itu kelihatan gusar dan membentak.

“Kurang ajar! kau jangan menjual lagak dihadapanku!"

“Baik tetapi jika kalian hendak menahan Lauw kouwnio kalian harus meminta ijin pada pedangku ini!” sahut dara dalam penyamaran itu dengan suara mengejek, membuat pihak penghadang itu menjadi bertambah gusar lalu dengan suatu tanda maka serentak 4 orang mulai membuka serangan, sementara yang lain tetap mengambil sikap mengurung. Sepasang dara remaja itu tidak menjadi gentar, meskipun mereka berada didalam kepungan belasan orang orang laki laki garang. Mereka mengambil sikap punggung menempel dengan punggung, mencegah adanya serangan bokongan.

Go Hong Lian kemudian berkelit dari suatu tikaman, tubuhnya gesit bergerak menyamping, tetapi dia mendekati seorang lawan lain sementara pedangnya bergerak mengarah bagian leher, menggunakan jurus dari ilmu 'garuda sakti mementang sayap'.

Karena tidak mengetahui tajamnya pedang Ku tie kiam, musuh yang diserang mengangkat goloknya hendak menangkis pedang itu. Waktu kedua senjata mereka saling bentur, maka golok itu putus menjadi dua sedangkan pedang Ku tie kiam meluncur terus mencapai sasaran, membuat leher orang itu putus dan nyawanya melayang seketika.

Pihak para penghadang menjadi geram ketika dalam sekejap seorang rekan mereka telah gugur. Yang semula hanya berdiri dengan sikap mengurung, serentak perdengarkan pekik suara mereka dan serentak pula mereka menyerang Go Hong Lian.

Menghadapi sedemikian banyaknya lawan, tetap dara dalam penyamaran itu tidak menjadi gentar; sebaliknya pedang Ku tie kiam bergerak gesit memilih sasaran si pemimpin rombongan, menyerang dengan suatu tikaman memakai gerak tipu garuda sakti merebut mutiara.

Si pemimpin rombongan itu ternyata bukan merupakan seorang lawan yang lemah. Mukanya hitam menyeramkan sedangkan tubuhnya penuh otot tetapi agak pendek bentuknya. Dia hanya berkelit sedikit membiarkan pedang Ku tie kiam lewat didekat mukanya, setelah itu tangan kirinya bergerak hendak memegang lengan Go Hong Lian, karena maksudnya adalah hendak merampas pedang besi hitam itu!

Pada saat tangan si pemimpin rombongan itu hampir berhasil menyambar lengan Go Hong Lian, maka tangan kiri dara dalam penyamaran itu juga telah bergerak menyambar dan menyerang dengan tipu "garuda sakti mematok mata”, dan dua jari tangan Go Hong Lian mencari sasaran pada sepasang mata laki laki, membuat laki laki itu cepat cepat membatalkan niatnya yang hendak memegang lengan Go Hong Lian, sebaliknya dia lompat mundur beberapa langkah kebelakang sehingga dia terhindar dari ancaman buta mata, sementara dara dalam penyamaran itu juga terbebas dari ancaman pedangnya direbut lawan.

Membarengi selagi musuhnya melompat mundur, sebetulnya Go Hong Lian bermaksud mau menyusul untuk menyerang lagi, tetapi saat itu dia telah diserang oleh dua musuh lainnya sehingga batal niatnya dara dalam penyamaran itu, sebaliknya si pemimpin rombongan justeru yang telah mendekati lagi, dan menyerang lagi membantu kedua anak buahnya, sedangkan Go Hong Lian lalu bersilat mengerahkan ilmu "hui hwa pok tiap" atau kupu kupu beterbangan mendekati bunga; suatu ilmu peninggalan dari Thian hian siancu yang sangat mengutamakan kelincahan dan keringanan tubuh, disamping untuk bertahan sekaligus juga untuk melakukan penyerangan.

Dilain pihak, Lauw Sin Lan juga harus mengamuk diantara para pengepungnya. Pedangnya dengan cepat telah berhasil melukakan dua orang lawannya, sebaliknya pihak lawan sukar menembus pertahanan Lauw Sin Lan yang juga telah perlihatkan kegesitan tubuhnya.

Si pemimpin rombongan penghadang yang sebenarnya bernama Ma Kong Ek, sangat mendongkol dan penasaran karena tidak menduga kalau orang orang muda yang mereka kepung itu tidak mudah dikalahkan.

Ma Kong Ek ini sebenarnya adalah kepala rombongan berandal dari atas gunung Hiong lam san yang terkenal ganas. Seringkali dia melakukan perampokan namun tidak diganggu oleh pihak pemerintah penjajah, karena rombongan Ma Kong Ek justeru adalah merupakan kaki tangan pihak pemerintah penjajah.

Dalam menghadapi kerusuhan dan banyaknya terjadi pemberontakan dibeberapa tempat, maka pihak pemerintah penjajah mengatur siasat mengadu domba, dan untuk melaksanakan siasatnya itu pihak penjajah sengaja mendekati dan membikin persekutuan dengan orang orang rimba persilatan, khususnya dari golongan hitam yang dapat dibeli dengan harta maupun janji akan diberi pangkat.

Sebagai akibat dari siasat pihak pemerintah penjajah itu, maka seringkali terjadi pertentangan pertentangan di antara sesama golongan, bahkan diantara para pendekar yang sedang berjuang seringkali terjadi pertentangan dan pertarungan.

Waktu Ong Bun Kiat dan temannya dikalahkan oleh Go Hong Lian yang menyamar sebagai seorang pemuda pelajar, maka Ong Bun Kiat berdua temannya memerlukan singgah diatas gunung Hiong lam san untuk minta bantuan kepada Ma Kong Ek, dan Ma Kong Ek memang sudah kenal dengan perwira yang diperbantukan pada ciangkun Lie Kim Liang, segera memimpin anak buahnya untuk melakukan pengejaran terhadap Go Hong Lian berdua Lauw Sin Lan.

Setelah berhasil melakukan pengejaran dan terjadi pertempuran itu; maka ternyata Ma Kong Ek dan rombongannya tidak berhasil mengalahkan Go Hong Lian berdua Lauw Sin Lan, sebaliknya Ong Bun Kiat berdua temannya tidak kelihatan datang memberikan bantuan sehingga Ma Kong Ek merasa bagaikan dia telah dijerumuskan.

Oleh karena pikiran Ma Kong Ek sedang merasa penasaran terhadap Ong Bun Kiat, maka dia kena ditendang oleh Go Hong Lian sampai tubuhnya terpental keluar arena pertempuran, dan Ma Kong Ek kemudian berteriak mengajak sisa anak buahnya untuk melarikan diri.

Dua dara yang gagal dirintang perjalanannya itu tidak melakukan pengejaran terhadap rombongan Ma Kong Ek yang melarikan diri, dan Lauw Sin Lan lalu mendekati teman seperjalanannya serta berkata:”Cici, kau hebat sekali!” demikian Lauw Sin Lan memberikan pujian sambil dia membersihkan pedangnya dari noda noda darah yang melekat.

"Kau juga sehat !" ikut Go Hong Lian memberikan pujian sambil dia bersenyum, lalu dia menambahkan perkataannya;

"Tetapi berhati hatilah agar kau jangan menyebut cici kalau dihadapan lain orang. Ingat aku adalah suaminya."

"Baik, siangkong,” sahut Lauw Sin Lan bersungut, tetapi

akhirnya dia juga ikut menjadi tertawa.