-->

Pendekar Bunga Cinta Jilid 21

jilid 21

CIA HAY ENG berdua Cie Keng Thay merasa yakin bahwa Go Hong Lian akan terperangkap disarang berandal, akan tetapi waktu pemuda Cie Keng Thay bergerak hendak merintang, maka Cia Hay Eng telah menekan lengan pemuda itu yang masih berada di atas meja, membikin si pemuda menunda niatnya sedangkan matanya mengawasi si tukang obat, lalu ganti mengawasi Go Hong Lian yang waktu itu sedang mengikuti Sie Liu Hwa meninggalkan rumah penginapan.

Dengan memberikan suatu aba aba memakai sudut matanya, si tukang obat Cia Hay Eng memberitahukan adanya lima orang laki laki yang menjadi pengawal Sie Liu Hwa sehingga kalau tadi Cie Keng Thay bergerak merintang, pasti telah terjadi suatu pertempuran.

"Mereka itu adalah kawanan berandal dari atas gunung Hiong lam san .. , ." kata Cia Hay Eng perlahan, lalu dia mengajak Cie Keng Thay singgah dikamarnya, yang letaknya sebenarnya terpisah tidak jauh dengan kamar yang disewa oleh Go Hong Lian.

Ketika telah berada didalam kamar, maka Cia Hay Eng lalu berkata kepada kedua anaknya :

"Ah Ling, Ah Heng, kalian lekas undang Coa susiok    ”

Kedua bocah yang sebenarnya bernama Cia Kun Liong dan Cia Kun Houw itu meninggalkan kamar dengan tergesa gesa, sementara Cia Hay Eng lalu mengajak pemuda Cie Keng Thay duduk.

“Cie hiantit, kita segera menghadapi suatu pekerjaan yang berat, akan tetapi aku yakin hiantit tak akan ragu ragu untuk memberikan bantuan. Akan tetapi siapakah sebenarnya guru hiantit ?”

Melihat kesungguhan si tukang obat mengucapkan perkataannya, maka tanpa ragu ragu Cie Keng Thay memberitahukan nama gurunya, dan tukang obat itu sejenak mengawasi muka Cie Keng Thay.

“Akh, kalau begitu kau adalah adik seperguruan dari Lie Thian Pa .." kata si tukang obat Cia Hay Eng, dan dia tidak menghiraukan waktu melihat Cie Keng Thay kelihatan heran, dan dia meneruskan perkataannya :

“, .. hiantit telah menyaksikan bahwa pihak berandal sedang membawa dia yang hiantit kenal dengan nama Go Hong Gie atau siao siangkong, akan tetapi hiantit tentu tak tahu bahwa dia sebenarnya adalah Go kouwnio. Nama lengkapnya Go Hong Lian, anak perempuan dari Tiat see ciang Go Ciang Hiu, dan yang sekaligus menjadi murid tunggal dari tayhiap Wie Beng Yam dan isterinya ”

" , . , , kemudian Cie hiantit juga baru saja mendengar bahwa Lauw kouwnio, atau yang dianggap menjadi isterinya Go kouwnio oleh pihak berandal telah ditangkap dan ditahan diatas gunung Hiong lam san. Lauw kouwnio ini sebenarnya anak perempuan dari teman seperjuanganku. Kedua ayah dan anak itu sedang melakukan suatu tugas penting buat perjuangan kita, akan tetapi di tengah perjalanan temanku dihadang oleh pihak orang orang yang menentang perjuangan kami dan menjelang ajalnya aku telah bertemu dengan dia, sehingga sempat dia memberitahukan bahwa anak gadisnya sedang meneruskan tugasnya dan melakukan perjalanan bersama Go Hong Lian yang menyamar sebagai seorang pemuda ,..”

“..aku cepat cepat menyusul karena aku tahu diatas gunung Hiong lam san dan didusun ini sedang berkumpul orang orang yang jadi penentang perjuangan kami ….”

“ . , . pada saat ini sebenarnya aku sedang ditugaskan membantu kegiatan perkembangan Cie hay cian Liong Siauw Cie Hay diatas gunung Pouw to san dekat laut Selatan yang juga dibantu oleh Kanglam liehiap Soh Sim Lan. Sudah beberapa kali terjadi bahwa pihak berandal diatas gunung Hiong lam san melakukan perampasan terhadap beberapa kiriman yang ditujukan kepada kami, dari itu kami ditugaskan untuk membasmi mereka dan merampas tempat mereka untuk dijadikan sebagai suatu tempat penghubung bagi kepentingan pihak kami. Hiantit tentu telah mengetahui tentang kekuatan pihak berandal diatas gunung Hiong lam san yang tidak boleh dianggap remeh, apalagi mereka sebenarnya mendapat bantuan dari si hartawan Tan Kim An, bahkan juga dari pihak pemerintah penjajah, sehingga untuk menghadapi mereka; maka aku memerlukan bantuan yang sedang aku tunggu kedatangannya, disamping aku telah mendapat bantuan dari Coa Beng Coan, seorang anggota terkemuka dari persekutuan Selendang merah..” "Selendang merah.,,?" ulang Cie Keng Thay tanpa terasa, akan tetapi tidak sempat menyambung perkataannya, sebab tiba tiba telah masuk seseorang sambil didahului oleh suara tawanya :

"Ha ha ha! ternyata Cia enghiong gemar menceritakan seseorang ..."

Itulah suara seorang laki laki yang usianya sudah mendekati empat puluh tahun, memiara kumis yang menambah kegagahan pada wajah mukanya, bertubuh tegap dan di kepalanya dia memakai ikat rambut dengan secarik kain warna merah. Dia bernama Coa Ceng Coan, si ruyung baja (ie kong-pian) yang memang sedang dibicarakan oleh Cia Hay Eng.

“Ha ha ha! syukur kau cepat datang ..." kata Cia Hay Eng, juga sambil dia tertawa dan lalu memperkenalkan sahabatnya itu kepada Cie Keng Thay, untuk kemudian dia ceritakan kepada sahabatnya tentang beberapa peristiwa yang telah terjadi, antara lain tentang Go Hong Lian yang sedang mendaki gunung Hiong lam san.

"Kalau begitu kita harus cepat cepat bergerak, buat menolong Lauw kouwnio supaya barang itu tidak terjatuh ditangan mereka..." kata Coa Beng Coan yang kelihatan terkejut.

“Barang apakah itu...?” tanya pemuda Cie Keng Thay yang tidak mengerti, oleh karena dia tidak mengetahui tentang adanya peta harta ditangan Lauw Lan Nio, sedangkan Cia Hay Eng sengaja tidak menyebutkan hal peta itu, waktu dia menceritakan perihal tugas Lauw Lan Nio.

Dilain pihak, Cia Hay Eng bukan tidak mendengar pertanyaan Cie Keng Thay, akan tetapi agaknya dia memang tidak mau menjelaskan, dari itu dia sengaja mengawasi sahabatnya dan mengajak sahabatnya itu bicara.

“Memang kita harus cepat cepat bergerak, akan tetapi sayangnya bantuan yang aku nantikan belum kunjung datang, sedangkan kekuatan pihak berandal tidak boleh kita anggap remeh ..."

“Cia enghiong saat ini aku sudah berhasil mengumpulkan kira kira sebanyak limapuluh orang anggota Selendang merah; mereka semuanya aku pesankan supaya bersiap siap menunggu perintah meskipun sekarang mereka berpencar didusun ini, untuk mencegah curiga pihak hartawan Tan , , .” kata Coa Beng Coan yang memberikan penjelasan tentang hasil kerjanya.

"Kalau begitu sebaiknya Coa hiantee siapkan mereka berkumpul diluar dusun Lam hoan ceng, dan nanti malam kita bergerak menyerang gunung Hiong lam san dengan 56 orang tenaga. Aku pikir sebaiknya kita menyerang diwaktu malam dan kita pecah tenaga kita menjadi tiga rombongan, jadi dalam hal ini aku harapkan bantuan dan kesediaan Cie hiantit , , .”

Agaknya ada beberapa persoalan yang masih belum dimengerti oleh pemuda Cie Keng Thay. Yang pertama adalah mengenai barang Coa Beng Coan katakan ada pada Lauw kouwnio, yang dia kuatirkan akan dirampas oleh pihak berandal, barang apakah itu? Cie Keng Thay merasa yakin bahwa barang itu bukan sembarang barang sebab nada bicara Coa Beng Coan terdengar lebih mementingkan barang itu dari pada keselamatan nyawa Lauw kouwnio dan Go Hong Lian.

Yang kedua adalah mengenai persekutuan Selendang merah, persekutuan apakah sebenarnya. Akan tetapi pada saat itu pemuda Cie Keng Thay bagaikan tidak mempunyai kesempatan bagi dia melakukan pertanyaan, sebab dilihatnya si tukang obat Cia Hay Eng berdua Coa Beng Coan sedang mengawasi, sehingga akhirnya dia manggut dan memberikan jawaban kesediaannya sehingga benar benar telah menggirangkan bagi si tukang obat Cia Hay Eng.

Sementara itu, Go Hong Lian dengan diantar oleh Sie Liu Hwa telah tiba di markas berandal diatas gunung Hiong lam san, dimana langsung dia dibawa menghadap kepada Ma Kong Ek, yang waktu itu ternyata sudah berkumpul dengan pemuda Leng Cun Siu yang menjadi pemimpin kedua, lalu dua bersaudara Yo Keng dan Yo Heng, juga hadir Ong Bun Kiat dengan temannya yang sekarang memakai pakaian seragam militer. Si pendeta Oey Goan Cu yang mendampingi hartawan Tan Kim An dan hartawan itu membawa lima orang kauwsu pilihan, ditambah lagi dengan seorang pemuda bermuka pucat seperti mayat hidup, yang katanya bernama Ho Teng Toan.

Mengenai Leng Cun yang menjadi pemimpin kedua diatas gunung Hiong lam san, sebenarnya dia adalah kakak seperguruan dari Sie Liu Hwa, dan guru mereka adalah si tosu Goan Cu.

Sementara itu Go Hong Lian yang menyamar sebagai seorang pemuda, tidak merasa gentar meskipun dia berada disarang berandal. Waktu kemudian dia mengetahui maksud pihak penjahat yang menghendaki peta harta dengan janji akan membebaskan Lauw Lan Nio, maka Go Hong Lian yakin bahwa pihak penjahat itu belum berhasil memperoleh peta yang berharga itu, yang entah disimpan dimana oleh Lauw Lan Nio.

Dengan siasat hendak menipu pihak penjahat, maka Go Hong Lian berlaku seolah-olah peta harta itu memang disimpan olehnya dan dia membangkang tidak mau menyerahkan peta harta itu.

Dipihak berandal, adalah si pemuda Ho Teng Toan yang kelihatan tidak dapat menahan sabar. Pemuda dengan muka bagaikan mayat hidup itu perdengarkan suara mengejek dan berkata :

"Mumm ! aku sudah mendengar perihal kau yang katanya gagah perkasa, akan tetapi cara kau menyamar aku tahu bahwa kau adalah seorang perempuan jalang !"

Semua yang hadir menjadi kaget waktu mendengar perkataan pemuda bermuka pucat itu, terlebih Sie Liu Hwa yang sedang tergila gila dengan Go Hong Lian.

Dalam hubungannya dengan Leng Cun Siu sebenarnya Sie Liu Hwa sudah berulang kali memadu kasih dan bermain cinta dengan kakak seperguruannya itu, akan tetapi waktu dia bertemu dengan Go Hong Lian yang menyamar sebagai seorang pemuda, maka Sie Liu Hwa sudah terpikat dan ingin bermain cinta, kalau perlu dengan membawa lari pemuda itu dari atas gunung Hiong lam san.

Waktu kemudian Sie Liu Hwa mendengar perkataan pemuda Ho Teng Toan, bahwa Go Hong Lian sebenarnya adalah seorang perempuan yang sedang menyamar sebagai seorang pemuda maka bukan main rasa kecewa Sie Liu Hwa, sehingga dari rasa kecewanya itu telah membangkitkan rasa marahnya.

Akan tetapi, sebelum dara itu sempat mengucap sesuatu perkataan, maka dilihatnya gurunya, yakni si tosu Oey Goan Cu telah bangun berdiri dari tempat duduknya, dan dengan muka bengis si tosu itu mendekati tempat Go Hong Lian duduk. Dilain pihak Go Hong Lian juga menjadi terkejut. Dia tidak tahu dimana letak kesalahannya sehingga mengakibatkan penyamarannya diketahui oleh Ho Teng Toan, pemuda yang bermuka pucat seperti mayat hidup itu.

Sesungguhnya dara dalam penyamaran itu tidak mengetahui; bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang 'biang' penyamar yang tiada taranya, oleh karena Ho Teng Toan sebenarnya adalah Hong bie kauwcu Gan Hong Bie yang saat itu sedang menyamar sebagai ujut seorang pemuda bermuka pucat seperti mayat hidup, suatu ujut penyamaran yang pernah waktu dia tempur dan binasakan Kim an ngo kiat atau lima persaudaraan Yo dari Kim an !

Cara Hong bie kauwcu Gan Hong Bie menyamar sesungguhnya sangat istimewa. Dia tidak memakai alat hias untuk merobah wajah mukanya, akan tetapi dia bikin semacam topeng dari bahan plastik yang lembut merupai kulit manusia. Berbagai ujut muka dia bikin memakai semacam cetakan, dan dengan caranya itu dia bahkan dapat meniru muka seseorang yang pernah dilihatnya, sehingga kadang kadang dia bisa menyamar sebagai seorang musuh.

( oooO X O ooo )

SEMENTARA itu waktu Go Hong Lian melihat si tosu Oey Goan Cu mendekati, maka dara yang penyamarannya sudah diketahui orang itu merasa yakin tidak akan dapat dia menghindar dari suatu pertempuran yang harus terjadi.

Go Hong Lian tidak mengenal rasa takut buat menghadapi sedemikian banyaknya lawan yang tangguh, akan tetapi dia berada didalam sarang berandal yang sukar buat dia melarikan diri; apalagi dengan menolong Lauw Lan Nio yang belum diketahui tempat ditahannya.

Setelah berada saling berdekatan dan tangan si pendeta Oey Goan Cu bergerak hendak menyentuh tutup kepalanya, maka Go Hong Lian lompat menghindar sambil dia menyiapkan pedang ku tie kiam ditangan kanannya.

“Suatu pedang yang bagus, , ,!” seru Ho Teng Toan alias Hong bie kauwcu Gan Hong Bie yang berdiri menyaksikan, dan selekas dia berkata begitu, maka selekas itu juga dia lompat mendekati Go Hong Lian.

Tangan kanan Hong bie kauwcu Gan Hong Bie bergerak mengancam bagian dada Go Hong Lian, dan waktu dilihatnya dara dalam penyamaran itu Iompat lagi untuk menghindar, maka tangan kirinya Hong bie kauwcu yang bergerak hendak merampas pedang ku tie kiam.

"Kauwcu, hati-hati, dia lihai , , , !" terdengar Oey Goan Cu berteriak memperingatkan.

"Bagus kalau tangan kau mau buntung, , ,!” Go Hong Lian membentak dan menabas tangan Hong bie kauwcu Gan Hong Bie; memakai gerak tipu 'garuda sakti mementang sayap’.

“Kurang ajar, , ,!” seru Hong bie kauwcu, dan dia sempat menahan gerak tangan kirinya, batal merampas pedang ku tie kiam, akan tetapi kaki kanannya menendang, dan pada ujung sepatunya kelihatan suatu mata pisau yang mengandung bisa racun maut !

Go Hong Lian terkejut. Dia tak menyangka gerak Hong bie kauwcu demikian gesit dan demikian cepatnya ganti berganti serangan! Untung dara ini telah memiliki ilmu ringan tubuh yang sudah mencapai batas kemampuannya. Sekali lagi dia lompat menghindar, sehingga dalam waktu yang sangat singkat itu sudah tiga kali lompat menghindar dari serangan dua orang musuh. Baru saja Go Hong Lian berhasil menyingkir dari tendangan Hong bie kauwcu Gan Hong Bie mendadak dia mendengar bentak suara pemuda Leng Cun Siu:

"Lepaskan pedangmu ..,.!” demikian bentak pemuda itu; lalu pedang dia yang juga merupakan pedang mustika, bergerak cepat dan keras membentur pedang ku tie kiam yang bentuknya lebih pendek dan lebih kecil, sampai terjadi mengeluarkan lelatu anak api, namun tidak berhasil pemuda itu membikin Go Hong Lian melepaskan pedangnya, sebaliknya dara dalam penyamaran itu lagi lagi tetap lompat menyingkir sampai berhasil dia berada dihalaman luar dari ruang pertemuan itu.

“Perempuan jalang, jangan kau coba lari ..,,!” bentak si tosu Oey Goan Cu yang lompat dan menghadang, bahkan langsung dia menyerang memakai goloknya yang juga sudah dia siapkan.

Go Hong Lian sangat gusar terhadap si tosu itu. Sekali lagi dia berkelit dengan menunduk, membiarkan golok lewat dibagian atas kepalanya, lalu pedangaya menikam memakai suatu gerak tipu ‘sang dewi memberikan hadiah', mengarah bagian perut lawan !

Oey Goan Cu terkejut sehingga terpaksa dia harus lompat mundur buat menghindar dari tikaman pedang lawan, dan tempatnya diganti oleh pemuda Leng Cun Siu yang menyerang Go Hong Lian dengan suatu bacokan.

Go Hong Lian putar pedangnya dan menangkis lagi pedang 'ceng liong kiam' yang terkenal tajam dan mengeluarkan sinar hijau, dan sebagai akibat dari benturan itu, pedang Go Hong Lian terpental akan tetapi sengaja diarahkan kepada si tosu Oey Goan Cu yang waktu itu hendak menyerang lagi. Si tosu Oey Goan Cu mengangkat goloknya hendak menangkis pedangnya Go Hong Lian yang sedang menyeleweng kearahnya, akan tetapi gerak pedang ‘ku tie kiam' sangat pesat dan sangat cepat mengganti arah penyerangan; sehingga hampir saja tenggorokan si tosu itu kena tikaman, kalau dia tidak lekas lekas lompat mundur lagi, sedangkan Sie Liu Hwa yang sejak tadi masih terdiam berdiri, saat itu juga telah bantu mengepung Go Hong Lian.

Bukan main marahnya si tosu Oey Goan Cu yang merasa dipermainkan oleh lawannya, padahal lawan itu dikepung oleh pihaknya. Dia hendak mengejar lagi waktu dilihatnya Go Hong Lian sedang lompat ingin meIarikan diri, akan tetapi dia terpaksa harus membatalkan niatnya, sebab dilihatnya Go Hong Lian telah dihadang dan dilibat dalam pertempuran melawan Hong bie kauwcu Gan Hong Bie.

Hong bie kauwcu Gan Hong Bie merasa sangat penasaran waktu melihat kegesitan tubuh Go Hong Lian. Dengan perlihatkan kemahiran ilmu ringan tubuh, dara dalam penyamaran itu selalu dapat menghindar dari beberapa lawan yang menyerang, dari itu Hong-bie kauwcu Gan Hong Bie lalu memegat waktu dia melihat Go Hong Lian menghindar dari serangan Leng Cun Siu berdua Sie Liu Hwa.

Dengan sebuah sabetan memakai senjata cambuk lemas (joan pian) yang sudah disiapkan, maka Hong bie kauwcu Gan Hong Bie menyerang Go Hong Lian. Dara dalam penyamaran itu tidak menangkis memakai pedangnya, akan tetapi lagi lagi dia perlihatkan keIincahan tubuhnya buat berkelit menghindar.

Sekali lagi Go Hong Lian diserang memakai cambuk lemas penuh duri yang mengandung bisa racun itu, namun dara dalam penyamaran itu tetap menghindar dengan suatu lompatan yang indah dan lompatannya itu justeru memilih arah ketempat si tosu Oey Goan Cu yang sedang berdiri mengawasi, akan tetapi tosu itu agak lengah waktu secara diluar dugaan dia diserang pada bagian kepalanya.

"Hayaaa…” teriak Oey Goan Cu yang buru buru berusaha menghindar dengan menangkis, akan tetapi pedang ku tie kiam yang tajam berhasil merobek baju pada bagian pundaknya!

Dua orang lompat hendak menolong Oey Goan Cu.

Mereka adalah dua bersaudara Yo Keng dan Yo Heng.

Yo Keng hendak menangkis pedang ku tie kiam yang mengarah Oey Goan Cu, dan Yo Heng menyerang dengan suatu tikaman memakai goloknya. Tetapi dia jadi kecewa karena lawannya menghilang dari hadapannya, karena Go Hong Lian sudah lompat lagi menyerang hartawan Tan Kim An yang waktu itu sedang mementang suara, memberikan semangat bagi para pengepungnya Go Hong Lian. Hartawan Tan Kim An menjadi sangat terkejut. Dia tidak pandai ilmu silat meskipun lagak dan gayanya seperti seorang ahli. Dia memutar tubuh hendak lari waktu dilihatnya Go Hong Lian lompat kearahnya dengan pedang mengancam hendak menyerang bagian kepalanya.

Dua orang kauwsu atau tukang pukulnya hartawan Tan Kim An bergerak menangkis pedang ‘ku tie kiam’. Mereka bertindak gugup dan cemas karena tidak menduga musuh yang dikepung dapat menyerang majikan mereka, mereka menjadi bertambah gugup dan cemas waktu tiba tiba golok mereka dibabat putus oleh pedang 'ku tie kiam' yang tajam, dan pedang itu bahkan meluncur terus, sampai berhasil melukai pundak dari salah seorang dari kedua kauwsu itu, yang lalu berteriak kesakitan ! Hong-bie kauwcu Gan Hong Bie menjadi bertambah marah. Dia benar benar merasa dipermainkan, merasa belum pernah menghadapi seorang musuh yang selincah dara dalam penyamaran itu, oleh karenanya meskipun dari jarak yang cukup jauh terpisah; dia menyerang memakai sebatang "tok piao" atau piao yang mengandung bisa racun maut.

Disaat 'tok piao' itu melayang kearahnya, maka disaat itu pula Go Hong Lian justeru sedang lompat kearah Sie Liu Hwa yang sedang ada didekat pemuda Leng Cun Siu, sehingga ‘tok piao’ itu meluncur terus dan membenam di bagian dada seorang kauwsu atau tukang pukulnya hartawan Tan Kim An.

Kauwsu atau tukang pukul itu terkejut waktu tiba tiba dia merasakan dadanya terkena senjata rahasia yang dia tidak tahu dari mana datangnya. Dia merasa sakit seperti diantup binatang kala, lalu kepalanya menjadi pusing dan pandangan matanya menjadi samar. Dia berusaha hendak mencabut "tok piao" itu memakai tangan kirinya, akan tetapi dia merasa bahwa seluruh bagian tubuhnya menjadi lemas tidak bertenaga, sehingga dia rubuh dan tewas seketika!

Sia-sia Hong bie kauwcu Gan Hong Bie berteriak karena meluap kemarahannya. Dia tidak berdaya untuk melakukan penyerangan lagi memakai senjata rahasia, sebab waktu itu Go Hong Lian sudah dilibat dalam pertempuran melawan Sie Liu Hwa dan Leng Cun Siu.

Memang adalah menjadi siasatnya Go Hong Lian, bahwa dia akan tempur segenap musuhnya secara bergilir tanpa memberikan kesempatan pihak musuh sekaligus mengepung dia. Dalam hal ini dia dapat bergerak bebas berhubung dengan ilmu ringan tubuh dari Thian hiang siancu yang sejak dulu sangat sukar dicari tandingannya! Dengan ilmu kepandaiannya dara dalam penyamaran itu merasa yakin akan sanggup melawan setiap musuhnya, asal dia jangan dikepung secara rapat. Di dalam hatinya, dara dalam penyamaran itu sedang memikirkan hendak menggunakan senjata rahasia Lian hoan cu bo piao, akan tetapi dia masih ingat dengan pesan gurunya supaya jangan sembarangan menggunakan senjata itu.

Kemudian Go Hong Lian menjadi sengit waktu dia didahulukan oleh Hong bie kauwcu Gan Hong Bie yang menyerang dia memakai senjata rahasia, sehingga tanpa dilihat orang, sebelah tangan kirinya telah menyiapkan sebuah piao induk yang berisi jarum jarum halus itu, lalu sambil masih tetap melayani Sie Liu Hwa berdua Leng Cun Siu, maka secara tiba tiba tubuhnya melesat melepas lian hoan cu bo piao yang dia arahkan kepada Hong bie kauwcu Gan Hong Bie !

“Ha ha ha ha .... !" tawa Hong bie kauwcu Gan Hong Bie. Dia tertawa oleh karena menganggap remeh, karena dia menganggap dirinya sebagai ahli dalam menggunakan berbagai macam senjata rahasia, sekarang dia diserang dengan sebatang piao.

Oleh karena senjata cambuk lemas cukup panjang, maka Hong bie kauwcu Gan Hong Bie memukul selagi piao masih berada diudara dan sedang mengarah dia.

Sebagai akibat dari benturan itu, maka pecah piao induk atau 'cu bo piao’ berikut tabung penyimpanan jarum jarum halus itu yang mengandung bisa racun, dan jarum jarum halus itu berhamburan keberbagai arah, membikin Hong bie Kauwcu Gan Hong Bie menjadi kelabakan lompat kian kemari buat berusaha menghindar, akan tetapi sebatang ‘tok beng oey hong ciam' membenam dibetisnya; membikin dia merasa kesemutan, tidak kuasa berdiri! Dan sebagai akibat dari pecahnya 'cu bo piao' itu yang menjadi korban ternyata tidak melulu Hong bie kauwcu Gan Hong Bie, akan tetapi tidak kurang dari empat belas orang yang terkena jarum jarum ‘tok beng oey hong cam', terhitung Ma Kong Ek, dua bersaudara Yo Keng dan Yo Heng, Ong Bun Kiat dan temannya, sebaliknya si tosu Oey Goan Cu, Leng Cun Siu dan Sie Liu Hwa tidak terkena sebab mereka berada diluar sasaran meluncurnya 'cu bo piao' tadi.

“Itulah cu bo piao dari 'sin kiam' Kiu lie giap ... !” teriak Oey Goan Cu yang mengenali piao induk sebagai miliknya si pedang sakti Kiu Siok Ing!

Dilain pihak Go Hong Lian terpaksa harus membatalkan niatnya yang hendak mengulang serangannya terhadap semua musuhnya, oleh karena secara tiba tiba dia mendengar suatu suara halus tetapi tegas :

"Lian jie, lekas tinggalkan tempat ini   !”

Itulah suara gurunya, tayhiap Wei Beng Yam yang tak mungkin dia lupakan. Dari itu dia lompat kearah suara itu terdengar, berbareng dia melihat adanya sesuatu benda yang melayang kearah Oey Goan Cu, disertai dengan suara gurunya:

"Inilah obat buat kalian   !"

Si tosu Oey Goan Cu lompat menghindar waktu dilihatnya ada sesuatu benda yang melayang kearahnya. Waktu benda itu jatuh di tempat bekas dia berdiri, maka dilihatnya benda itu merupakan suatu bungkusan, dan menurut suara yang tadi dia dengar; dikatakan bahwa bungkusan itu berisi obat buat mereka yang amat berguna bagi yang kena bisa racun dari 'tok beng oey hong ciam'. Oey Goan Cu merasa yakin bahwa obat yang dimaksud adalah obat untuk menyembuhkan orang orang yang terkena bisa racun tok beng oey hong ciam, akan tetapi siapakah gerangan orang itu? mengapa dia menolong tetapi tidak mau memperlihatkan diri ?

Sebelum bungkusan tadi dilontarkan kearahnya, sempat pula Oey Goan Cu mendengar suara seseorang yang mengajak Go Hong Lian lari, dengan menyebut 'Lian jie’ atau 'anak Lian', oleh karenanya tosu itu berpendapat yang menolong mereka adalah ayahnya Go Hong Lian yang entah siapa namanya, namun yang bisa dia tanyakan kepada Lauw Lan Nio yang masih ditahan oleh mereka.

Di lain pihak, Go Hong Lian lari menyusuri gunung Hiong lam san dengan mengikuti seseorang yang lari disebelah depannya, dan yang dia yakin adalah gurunya yakni tayhiap Wei Beng Yam.

Disepanjang jalan yang menyusuri gunung Hiong lam san, sempat Go Hong Lian melihat adanya beberapa orang penjaga pihak penjahat; yang sudah rubuh tidak berdaya, tanpa cedera dan tidak binasa akan tetapi terkena ilmu menotok jalan darahnya, tentunya telah dilakukan oleh gurunya, dan orang orang itu akan sembuh pada batas waktu pengaruh menotok jalan darah itu berakhir.

Setelah tiba dikaki gunung Hiong lam san maka dilihat Go Hong Lian bahwa gurunya tidak mengambil arah tempat penginapan, akan tetapi dara dalam penyamaran itu tidak menghiraukan dan dia terus lari mengikuti.

Disuatu tempat yang cukup sunyi; tayhiap Wei Beng Yam duduk dibawah suatu pohon yang lebat, juga Go Hong Lian ikut duduk setelah lebih dahulu dia memberi hormat kepada gurunya. “Kau minumlah ini , ,” kata gurunya sambil menyerahkan suatu tempat arak dan Go Hong Lian tahu bahwa isinya adalah anggur dari sari kolesom, untuk melepas haus dan menambah tenaga.

Mengawasi muridnya yang sedang menyamar sebagai seorang pemuda, maka tayhiap Wei Beng Yam kelihatan menjadi tersenyum dan setelah muridnya ikut tersenyum kemalu-maluan, maka guru itu berkata:

"Lian jie, kau telah salah memilih kawan." Dara dalam penyamaran itu tidak segera memberikan jawaban. Dia mengawasi gurunya dengan hati merasa heran, sebab sejak dia meninggalkan gunung Oei san atau tempat gurunya, dia baru berteman dan berkenalan dengan Lauw Lan Nio serta ayahnya, mengapa gurunya mengatakan dia telah salah memilih kawan?

Sementara itu tayhiap Wei Beng Yam bagaikan tidak menghiraukan dengan yang dipikirkan oleh muridnya, dan dia berkata lagi.

" , , sebentar lagi kalau sudah malam, kau pulang ketempat penginapan dan kemaskan bawaanmu lalu kau teruskan perjalananmu.”

“Akan tetapi suhu, aku justeru hendak menolong Lauw

kouwnio , . ,”

“Justeru karena dia itu; maka aku mengatakan kau telah salah memilih kawan,,,” kata lagi gurunya yang lalu menjelaskan lebih lanjut.

Ternyata waktu Go Hong Lian berdua Lauw Lan Nio sedang bertempur melawan rombongannya Ma Kong Ek; seseorang telah menyaksikan dan orang itu mengenali ilmu silat Go Hong Lian, sebab diantaranya dara dalam penyamaran itu memainkan jurus jurus ilmu silat ciptaan orang itu, yang sebenarnya adalah Sin eng Kiu It, si garuda sakti yang menjadi ayahnya Kiu Siok Ing, isterinya tayhiap Wei Beng Yam.

Sin eng Kiu It bukan tidak mengetahui bahwa anak dan menantunya mempunyai seorang murid, akan tetapi murid perempuan, bukan murid laki laki.

Setelah jago tua itu meneliti lebih cermat, maka dia tertawa seorang diri, sebab dia menyadari bahwa Go Hong Lian sedang menyamar sebagai seorang pemuda.

Kemudian Sin eng Kiu It mengikuti perjalanan kedua dara itu sampai mereka tiba di tempat penginapan di dusun Lam hoan ceng dan jago tua ini bahkan sempat mencuri dengar pembicaraan tentang peta harta, sampai dia menjadi terkejut waktu diketahuinya hadirnya Cia Hay Eng, si Dewa mabok yang menjadi pembantu utama dari gerakan 'si-orang gagah' yang selalu memakai selubung penutup kepala, yang waktu itu sedang dihebohkan disebelah selatan negeri cina.

“ , , muridku, aku hanya mengetahui sedikit mengenai 'si orang gagah' yang dimaksud, disamping aku juga mengetahui serba sedikit tentang Kim Lun Hoat ong yang bermaksud hendak merebut pemerintahan dari tangan ayahnya sendiri. Baik ‘si orang gagah' itu maupun Kim Lun Hoat ong, tetap merupakan orang orang Mongolia dan negeri kita akan tetap dijajah oleh bangsa asing, kalau gerakan mereka berhasil untuk mengambil alih pemerintahan, dari itu aku tidak mau kau melibatkan diri dalam gerakan mereka, sampai nanti disuatu saat ada bangsa kita sendiri yang bangkit semangatnya untuk mengusir kaum penjajah ..."

Go Hong Lian tidak mengucap apa apa, akan tetapi dia mendengar dengan penuh perhatian, sehingga jelas bagi dia tentang siapa sebenarnya Lauw Lan Nio berdua ayahnya, yang mengabdi atau menjadi pendukung gerakan dari 'si orang gagah' yang ternyata juga bermaksud hendak merebut pemerintahan yang sekarang, Hasrat hatinya ingin Go Hong Lian menanya kepada gurunya tentang siapa gerangan nama 'si orang gagah' yang dimaksud, akan tetapi pada saat itu gurunya mengatakan bahwa guru itu sedang tergesa-gesa hendak menemui Kanglam liehiap Soh Sim Lan, yang katanya juga berada disekitar tempat itu, sehingga sekali lagi sang guru memesan supaya Go Hong Lian meneruskan perjalanannya, tanpa menghiraukan urusan politik.

Setelah berpisah dan sesuai dengan pesan gurunya, maka Go Hong Lian tiba di tempat penginapan ketika hari sudah berganti menjadi malam.

Suasana ditempat penginapan kelihatan sunyi, Go Hong Lian tidak bertemu dengan si tukang obat Cia Hay Eng yang ternyata adalah ‘si dewa mabok' yang memang sudah sangat terkenal namanya, dan Go Hong Lian tidak pula bertemu dengan Cie Keng Thay yang dia belum kenal namanya akan tetapi wajah muka pemuda itu berkesan baik didalam hatinya.

Sejenak Go Hong Lian berdiam didalam kamarnya, mengenangkan masa pergaulannya dengan Lauw Nio, setelah itu dia selesaikan pembayaran sewa kamar, dan malam itu juga dia meneruskan perjalanannya menuju gunung Hiong lam san tanpa dia mengetahui malam itu telah terjadi suatu pertempuran yang menentukan diatas gunung Hiong lam san antara pihaknya Cia Hay Eng melawan pihak Ma Kong Ek, didalam usaha hendak merebut peta harta yang disimpan oleh Lauw Lan Nio.

Sambil melakukan perjalanan ditengah malam itu, Go Hong Lian sangat terpengaruh dengan perkataan gurunya, tanpa sempat dia mengetahui tentang siapa gerangan nama ‘si orang gagah’ yang gerakannya dibantu atau didukung oleh si dewa mabok Cia Hay Eng serta Lauw Lan Nio berdua ayahnya.

Dibeberapa tempat Go Hong Lian melakukan perjalanan dengan menggunakan ilmu lari cepat, dan dilain saat dia berjalan perlahan sambil dia menikmati cahaya sinar bulan yang tidak terlalu terang, bahkan bintang bintang juga kurang memancarkan sinarnya.

Perjalanan seorang diri, sehabis dia biasanya ditemani oleh Lauw Lan Nio maka terasa benar Go Hong Lian menjadi kesepian. Hanya suara binatang binatang malam yang didengarnya sebagai ganti suara dara Lauw Lan Nio; yang biasanya banyak bicara dan banyak tertawa.

Setelah beberapa hari melakukan perjalanan seorang diri maka hari itu dia memasuki suatu dusun yang tidak terlalu ramai; dan Go Hong Lian memesan kamar pada satu satunya rumah penginapan yang terdapat didusun itu.

Di hari berikutnya ketika dia sudah berkemas hendak meneruskan perjalanannya maka dia memerlukan kebelakang hendak ke kamar kecil, akan tetapi waktu dia kembali kekamarnya, alangkah terkejutnya karena dia mendapati pedang dan bungkusannya hilang dicuri seseorang.

Go Hong Lian keluar dan berpapasan dengan seorang pelayan, akan tetapi pelayan itu mengatakan tidak melihat seseorang yang memasuki kamar tamunya itu, sehingga dengan tergesa gesa Go Hong Lian bergegas hendak mengejar orang yang mencuri pedangnya, sampai kemudian dia melihat seseorang yang sedang berjalan membawa bungkusannya, sehingga terjadi dia bertempur dengan orang itu dan bertemu dengan pemuda Pouw Keng Thian; dan mereka akhirnya kembali kedusun tempat semalam Go Hong Lian menginap, lalu keduanya saling menceritakan tentang dirinya masing masing.

Malam harinya mereka beristirahat didalam kamar masing-masing, akan tetapi sampai larut malam keduanya tak tidur, sebaliknya mereka siap dan siaga menantikan kedatangan pihak penjahat yang mereka yakin akan kembali lagi.

Pukul dua menjelang subuh, Pouw Keng Thian keluar dari kamarnya melalui jendela. Dia lompat naik keatas genteng, akan tetapi baru saja kakinya mencapai tempat tujuan, mendadak suatu bayangan hitam lompat dan mendekati dia.

"Pouw heng...” tegur suara halus yang ternyata adalah

suara Go Hong Lian.

Sejenak Pouw Keng Thian diam terpesona. Siang hari tadi dia melihat dara itu berpakaian sederhana warna hijau, dengan rambut dikepang dua seperti orang perempuan desa; sekarang dia melihat dara itu berpakaian serba ringkas warna hitam, sedangkan rambutnya diikat menjadi satu, dibiarkan memanjang kebagian punggung. Tubuh langsing dari dara itu kelihatan jelas dengan pakaiannya yang serba ketat itu.

"Lian moay, kau belum tidur . , . ?" sahut Pouw Keng Thian dengan nada menanya, lalu keduanya lompat turun dengan niat menyambung pembicaraan akan tetapi niat itu mereka batalkan ketika dari jauh mereka melihat adanya dua sosok bayangan hitam yang sedang mendatangi tempat mereka menginap.

Segera Pouw Keng Thian memerintahkan Go Hong Lian masuk kedalam kamar, sedangkan dia lalu umpatkan diri diatas sebuah pohon didekat jendela kamar dara itu. Kedua bayangan yang sedang mendatangi itu memang bermaksud mencari Go Hong Lian, salah seorang dari mereka adalah yang siang tadi bertempur dengan Go Hong Lian, sampai kemudian dia dikalahkan oleh Pouw Keng Thian.

Laki laki yang bermuka bengis itu sebenarnya bernama To Tian Bu, si kepala lembu hitam dan bersama kawannya yang bernama Lie Kong Cit, mereka pernah mencuri bungkusan berikut pedang 'ku tie kiam', di saat dara Go Hong Lian sedang meninggalkan kamarnya.

Adalah menjadi maksudnya Tio Tian Bu buat menunggu dan menyergap dara Go Hong Lian didalam kamarnya, sebab dia sangat terpikat dengan kecantikan perempuan desa yang berjalan seorang diri itu, akan tetapi diluar dugaan mereka mendengar suara tawa mengejek dari seorang laki laki yang berada diluar kamar dara Go Hong Lian.

Kedua pencuri itu sangat terkejut karena seseorang telah melihat perbuatan mereka. Keduanya lompat keluar dari jendela, dan masih sempat melihat adanya seseorang yang dari bagian belakang kelihatan berkaki buntung sebelah, berjalan pincang dengan bantuan sebatang tongkat besi panjang yang bahkan melebihi tinggi tubuh orang itu, dan tongkat besi itu perdengarkan bunyi suara gemercik dari genta genta kecil yang bergantungan dibagian kepala tongkat itu.

Kedua pencuri itu lompat menyusul dengan niat menggertak si pincang, tetapi diluar dugaan si pincang dapat bergerak cepat berlari menghindar dari kedua pencuri itu, dan kedua pencuri itu mengejar karena mereka merasa penasaran, sampai mereka tiba disuatu tempat sunyi yang jauh terpisah dari rumah penduduk setempat. Si pincang kemudian menghentikan larinya yang lebih mirip dengan orang lompat memakai tongkat panjang, dan si pincang memutar tubuhnya buat menunggu kedatangan kedua pencuri itu.

“Kurang ajar, siapa kau yang berani mengganggu kami ,

.. !” Tio Hian Bu membentak waktu dia sudah mendekati si pincang, akan tetapi waktu dia sudah melihat paras muka orang itu, maka secara tiba tiba tubuhnya menjadi gemetar karena sangat ketakutan, sebab yang dia lihat adalah suatu muka yang penuh cacad bekas kena guratan pedang, sementara sebelah kaki dan sebelah tangan orang itu sudah buntung !

Jadi si pincang tidak melulu sudah buntung sebelah kakinya, akan tetapi sebelah tangannya juga buntung sebatas pundak. Dia berdiri dengan menunjang diri memakai tongkat besi yang panjang dan berat, lalu dengan tawa yang menyeramkan si pincang kemudian berkata dengan suara bengis :

"Kalian maling maling kecil, hari ini harus merasa beruntung dapat bertemu dengan aku tok pie koay to Pit Leng Hong. Ha ha ha . , .!”

Tubuh Tio Hian Bu menjadi bertambah gemetar karena bertambah ketakutan ketika dia telah mendengar sipincang mengaku sebagai si begal tunggal yang memang sangat terkenal kejam dan ganas, juga Lie Kong Cit ikut ketakutan karena juga pernah mendengar tentang nama si begal tunggal dari kawan kawan mereka yang lebih berpengalaman dan lebih mahir silatnya.

“Ampun, tay ong ...” kata Tio Hian Bu yang mendahului

berlutut; diikuti kemudian oleh Lie Kong Cit. "Berikan pedang itu kepadaku . ,,” bentak tok pie koay to Pit Leng Hong waktu dia melihat Lie Kong Cit memegang pedang hasil curian mereka.

Waktu pedang itu telah diterimanya maka si begal tunggal menari, mengeluarkan sebuah pedang itu dari dalam sarungnya, dan suatu sinar agak berwarna hitam segera terlihat.

"Ha ha ha! tidak aku sangka hari ini aku memperoleh pedang ku tie kiam, yang pernah merajai kalangan rimba persilatan ... !”

Si begal tunggal itu tertawa dan terus tertawa, meskipun dia telah meninggalkan Thio Hian Bu berdua Lie Kong Cit yang masih terus berlutut, sampai tidak terdengar lagi suara tawa dari orang yang mereka sangat takuti itu.

Setelah si begal tunggal itu menghilang; maka Tio Hian Bu menjadi sangat penasaran. Pedang hasil curian mereka telah dirampas orang, sedangkan niatnya yang hendak memperkosa Go Hong Lian belum terlaksana.

Oleh karena rasa penasarannya itu, terlebih waktu kemudian dia dikalahkan oleh Pouw Keng Thian, maka Tio Hian Bu menghasut kawannya, sehingga berhasil dia mengajak Lie Kong Cit buat mendatangi lagi tempat Go Hong Lian menginap sampai tiba tiba mereka disergap oleh Pouw Keng Thian.

"Penjahat yang bernyali besar, ternyata kamu benar benar datang lagi , , .. !" bentak Pouw Keng Thian yang langsung menyerang memakai goloknya.

Thio Hian Bu menjadi sangat terkejut. Seorang diri dia takut menghadapi Pouw Keng Thian, akan tetapi setelah berada berdua dengan temannya; dia menjadi berani dan melakukan perlawanan. Go Hong Lian ikut keluar dari dalam kamarnya, dia tidak bersenjata lagi pula dia lihat Pouw Keng Thian sanggup menghadapi kedua penjahat itu maka dia diam siaga menjaga agar jangan ada penjahat yang melarikan diri.

Disaat Thio Hian Bu dengan licik hendak lari meninggalkan temannya, maka Go Hong Lian melepaskan sebatang hui piao yang tepat mencapai sasaran pada betisnya Thio Hian Bu, membikin penjahat itu jatuh terduduk dengan golok lepas dari tangannya.

Go Hong Lian ambil golok yang terjatuh itu kemudian dia mendekati si penjahat yang duduk kesakitan tidak bersuara, sementara menyusul kemudian Pouw Keng Thian berhasil melumpuhkan lawannya, yang berlutut memohon keampunan supaya tidak dibinasakan.

Pouw Keng Thian tertawa, dibawah ancaman golok kemudian Thio Hian Bu mengakui perbuatannya yang telah mencuri pedang 'ku tie kiam', dan kemudian pedang itu telah direbut oleh si begal tunggal Pit Leng Hong.

"Tok pie koay to Pit Leng Hong ... ?" ulang Go Hong Lian setelah mendengar pengakuan dari Thio Hian Bu.

Dahulu ayahnya pernah bercerita tentang Pit Leng Hong yang dikatakan sebagai pemuda berwajah tampan dan gagah perkasa. Kemudian karena urusan sebatang pedang pusaka, maka dia telah dikalahkan oleh seorang yang mahir ilmu silatnya, sehingga muka Pit Leng Hong rusak bahkan sebelah tangan dan sebelah kakinya kena dibuntungkan.

Setelah terjadinya peristiwa itu, lama tidak terdengar lagi tentang nama Pit Leng Hong sampai kemudian orang menemukan dia sebagai begal tunggal yang ganas dan kejam. Go Hong Lian percaya dengan keterangan Thio Hian Bu, dari itu dia membiarkan kedua pencuri itu kabur menghilang sebaliknya berdua Pouw Keng Thian dia melakukan pembicaraan sampai pagi harinya.

Oleh karena Go Hong Lian bertekat hendak merebut kembali pedangnya dari tangan Tok pie koay to Pit Leng Hong, maka dia jadi melakukan perjalanan bersama sama dengan Pouw Keng Thian yang hendak mencari jejak Gan Hong Bie, sehingga akhirnya mereka jadi bertemu dengan Ong Tiong Kun yang malam itu sedang dikepung oleh orang orang Hong bie pang yang bekerja sama dengan pihak para perwira bangsa Mongolia.

( oooO X Oooo )

ONG TIONG KUN yang sempat mengintai dan mendengarkan pembicaraan yang dilakukan oleh Hong bie kauwcu Gan Hong Bie dengan pihak Lie ciangkun, waktu itu dia tidak mengetahui bahwa dia sedang berhadapan dengan Hong bie kauwcu Gan Hong Bie yang pada malam itu sedang menyamar sebagai hartawan Cio Eng Liong yang pernah dibantu oleh Pouw Keng Thian, dan yang kemudian menjadi orang buruan dari pemuda itu.

Dalam pembicaraan antara Lie ciangkun dengan Hong bie kauwcu Gan Hong Bie, antara lain mereka sedang membincangkan tentang siasat merampas kereta piauw yang menurut berita mempunyai nilai besar. Mereka justeru tidak mengetahui kalau pihak Intay piauwkiok sedang memasang perangkap dengan mengatur kiriman kereta piauw yang tidak ada nilainya sama sekali.

Dilain pihak, ketiga laki laki bangsa Mongolia yang sebenarnya merupakan perwira perwira menengah yang diperbantukan pada Lie ciangkun, telah pula ikut memasuki kancah pertempuran melawan Pouw Keng Thian berdua Go Hong Lian yang menggunakan pedang rampasan. Tindakan mereka ini adalah untuk menyombongkan diri dihadapan Hong bie kauwcu Gan Hong Be, tanpa mereka sadar bahwa tindakan mereka itu justeru merugikan Gan Hong Bie yang tidak berkesempatan melepas senjata rahasia yang mengandung bisa racun, karena rapatnya cara pertempuran yang sedang berlangsung.

Kemudian Hong bie kauwcu Gan Hong Bie memisah diri keluar dari arena pertempuran. Niatnya hendak melepas senjata rahasia menyerang Ong Tiong Kun yang sedang bertempur melawan Lie ciangkun, akan tetapi pada saat itu dia membatalkan diri karena adanya seorang anak buahnya yang membawa berita tentang rekan rekan mereka yang katanya telah berhasil merampas kereta piauw.

Setelah menerima berita itu, maka Hong-bie kauwcu Gan Hong Bie lalu memerintahkan semua anak buahnya berangkat untuk berkumpul disuatu tempat yang memang sudah mereka tentukan, sedangkan kepada Lie ciangkun yang masih bertempur, maka dia berteriak :

“Lie ciangkun, orang orang kita sudah berhasil merampas kereta piauw, mari kita berangkat ...!”

Lie ciangkun tertawa waktu mendengar teriak suara itu, lalu dia pun berteriak memberitahukan ketiga perwira bangsa Mongolia yang menjadi pembantunya, untuk kemudian mereka mengikuti jejak Hong bie kauwcu Gan Hong Bie yang sudah lebih dahulu meninggalkan mereka.

Sementara itu Ong Tiong Kun menjadi sangat terkejut waktu dia ikut mendengar teriak suara Hong bie kauwcu Gan Hong Bie. Dia merasa sangat tidak mengerti, mengapa kereta piauw dengan mudah dapat dirampas oleh pihak musuh ? Lalu bagaimana dengan para piauwsu yang bertugas mengawal serta Lie Thian Pa yang ikut melindungi

?

Pemuda ini menjadi cemas hatinya memikir rekan rekan sejawatnya, dari itu dia tak menghiraukan pihak musuh yang melarikan diri, sebaliknya dia cepat cepat kembali ketempat penginapan berlainan dengan Pouw Keng Thian berdua Go Hong Lian yang sudah melakukan pengejaran terhadap Hong bie kauwcu Gan Hong Bie yang waktu berujut muka sebagai si hartawan Cia Eng Liong.

Sementara itu, alangkah terkejutnya Ong Tiong Kun karena waktu dia tiba di tempat penginapan, dia menemukan semua barisan pengawal berikut para piauwsu telah tewas didalam kamar mereka masing masing, menandakan bukan akibat telah terjadi pertempuran akan tetapi akibat mereka keracunan yang ditaburkan pada arak yang mereka minum.

Waktu Ong Tiong Kun berusaha hendak menemui para pelayan atau pengurus tempat penginapan, maka tidak dijumpai mereka sehingga Ong Tiong Kun merasa yakin bahwa dia telah terperangkap ketempat penginapan yang memang dikuasai oleh pihak orang orang Hong bie pang!

Seorang diri Ong Tiong Kun terpaksa kembali ke kota Intay, membawa laporan buat piauwtauw Lie Tiauw Eng, dengan mengatakan semua peristiwa yang dia ketahui dan alami.

“Seorang hartawan bersenjata Joan pian seperti yang kau katakan, belum pernah aku dengar siapa gerangan dia ..." kata Lie Tiauw Eng yang kelihatan sangat berduka, terlebih dia merasa cemas dengan nasib keponakannya, si 'tangan geledek' Lie Thian Pa yang mayatnya tidak ditemukan sehingga diragukan apakah Lie Thian Pa juga sudah tewas atau entah kemana gerangan pemuda itu. "... tentang Lie ciangkun yang kau sebutkan, rupanya dia menjadi orang kepercayaan dari seorang pangeran atau putera raja, namun entah pangeran yang mana atau siapa namanya ..." Lie Tiauw Eng menambahkan perkataannya, sementara Ong Tiong Kun yang diam mendengarkan, kemudian menyarankan agar Lie Tiauw Eng bekerja sama dengan pihak Hek Liong pang' buat menghadapi pihak Hong bie pang yang menjadi musuh mereka.

“Kalau piauwtauw memikir hendak bekerja sama dengan pihak Hek liong pang, barangkali aku bisa menghubungi mereka ..." demikian Ong Tiong Kun menambahkan pertanyaan.

"Sangat menggirangkan kalau kau dapat membawa aku bertemu dengan pemimpin Hek liong pang itu,” kata Lie Tiauw Eng sambil dia mengawasi muka pemuda pembantunya itu.

“Maaf Lie piauwtauw; aku terikat dengan janji untuk tidak mengajak siapapun juga memasuki markas Hek liong pang. Kau berikan waktu paling lambat sebulan buat aku berangkat ketempat mereka,” sahut Ong Tiong Kun yang membikin Lie Tiauw Eng kelihatan merasa kecewa akan tetapi akhirnya piauwtauw Lie Tiauw Eng membiarkan Ong Tiong Kun berangkat seorang diri.

Waktu Ong Tiong Kun tiba dipos penjagaan tempat dahulu dia diantar memakai perahu, maka secara kebenaran dia bertemu dengan si tinggi besar yang sudah dikenal bernama Siangkoan Hek, dan Siangkoan Hek menyambut kedatangan pemuda itu dengan perlihatkan muka girang, oleh karena urusan salah paham dulu dia sudah mendapat penjelasan sehingga hilang semua sikap permusuhannya. Dengan muka cerah serta ditambah gelak tawa, Siangkoan Hek mendekati Ong Tiong Kun yang dia pukul bagian punggung pemuda ini sampai Ong Tiong Kun terjerumus tidak siaga, akan tetapi pemuda ini ikut tertawa karena mengetahui si tinggi besar sedang berkelakar;

“Eh, Ong hiantee, kau kehilangan tenagamu. Bagaimana, apakah kau sudah bertemu lagi dengan Phang kouwnio .,?”

Merah muka Ong Tiong Kun waktu dia mendengar pertanyaan Siangkoan Hek, akan tetapi segera dia memberikan jawaban :

“Aku belum bertemu lagi dengan Phang-kouwnio, akan tetapi ada suatu urusan penting yang memerlukan aku bertemu dengan pangcu, sudikah Siangkoan heng mengantar aku . ,.?”

Sejenak Siangkoan Hek diam berpikir. Dia mengawasi muka Ong Tiong Kun, setelah itu baru dia berkata :

"Aku tidak yakin ketua kami dapat menerima kau pada waktu ini. Kelihatannya dia sangat sibuk sekali, terlalu banyak tokoh atau gembong persekutuan kita telah dipanggil menghadap dari beberapa kota lain, akan tetapi marilah, akan kita coba ...”

Ong Tiong Kun kelihatan girang dan tak lupa mengucap terima kasih, lalu keduanya memilih sebuah perahu yang ukurannya untuk dua orang. Dayung dipegang oleh Siangkoan Hek, sedang Ong Tiong Kun juga ikut membantu, membikin perahu itu melaju dengan sangat pesatnya.

Didalam markas Hek liong pang, langsung Ong Tiong Kun dibawa memasuki ke ruang tamu; tempat dahulu untuk pertama kalinya dia bertemu dengan si jeriji sakti Phang Bun Liong, ketua atau pemimpin dari persekutuan Naga hitam.

Setelah cukup lama menunggu sambil membalik-balik halaman sebuah buku; maka Siangkoan Hek kembali menemui Ong Tiong Kun dan berkata :

“Ong hiantee, mungkin baru sore hari ini ketua sempat menemui kau. Ketua mempersilahkan untuk kau menginap kalau kau ada waktu, atau kalau kau mempunyai kesibukan lain, ketua mengatakan supaya kau datang lagi lain hari , .

,”

Sejenak Ong Tiong Kun diam berpikir. Dia yakin bahwa si jeriji sakti Phang Bun Liong benar benar dalam menghadapi suatu kesibukan yang istimewa, sehingga dia mengalah dan menyatakan kesediaannya untuk menginap dan dia lalu diantar untuk menempati sebuah kamar yang khusus untuk para tamu menginap setelah itu Siangkoan Hek tinggalkan Ong Tiong Kun untuk kembali pada tugasnya.

Ong Tiong Kun menunggu sampai jauh malam, akan tetapi tiada panggilan buat dia menemui si jeriji sakti Phang Bun Liong, sehingga pada esok paginya baru dia berkesempatan bertemu dengan pemimpin Hek-liong pang itu.

"Maafkan aku karena tidak dapat aku segera menemui kau , , ," kata Phang Bun Liong yang menyertai tawa ramah dan hangat, meskipun pada wajah mukanya terlihat tanda- tanda dia sedang menghadapi pekerjaan yang berat akhir akhir ini.

“Justeru aku yang harus mengucap maaf, karena kedatanganku telah mengganggu kesibukanmu,,,” sahut Ong Tiong Kun dengan gaya bahasa seenaknya, akan tetapi justeru hal ini yang mendatangkan rasa suka bagi pemimpin Hek Liong pang itu, yang biasanya amat dihormati dan ditakuti oleh orang orang. Rasa sukanya telah diperlihatkan dengan lagi lagi Phang Bun Liong tertawa girang, setelah itu baru dia berkata :

"Kau sudah bertemu lagi dengan puteriku..?”

Merah muka Ong Tiong Kun. Lebih merah daripada dia mendapat pertanyaan yang sama dari Siangkoan Hek. Pemimpin Hek liong pang ini benar benar sangat merisaukan keadaan puterinya. Pertanyaan pertama yang diajukan kepada Ong Tiong Kun, justeru adalah mengenai anaknya itu. "Belum, akan tetapi . , ."

"Ha ha ha .,..!” Phang Bun Liong tertawa yang jadi memutus perkataan Ong Tiong Kun, dan ketua persekutuan Hek liong pang ini yang menyambung bicara, selagi Ong Tiong Kun belum sempat mengucap apa apa :

" , .. aku justeru menerima laporan yang mengatakan

bahwa puteriku sedang menuju kesini…”

Tergoncang hati Ong Tiong Kun yang mendengar perkataan ketua Hek Liong pang itu. Benarkah Phang kouwnio akan pulang setelah sedemikian lamanya dia hidup merana diperantauan ? dan mungkinkah dia sempat bertemu lagi dengan Phang kouwnio itu ?

"Ada berita lain buat kau yang tidak ada hubungannya dengan urusan Lan Ing , .. ,” kata Ong Tiong Kun kemudian, akan tetapi lagi lagi telah diputuskan dengan suara tawa dari Phang Bun Liong. Soalnya, si jeriji sakti Phang Bun Liong benar benar merasa girang karena Ong Tiong Kun menyebut nama Lan Ing tanpa embel embel 'kouwnio’ atau 'nona'. Ong Tiong Kun membiarkan Phang Bun Liong tertawa sampai puas; setelah itu baru dia menyambung perkataannya :

" , , , berita itu adalah tentang pihak pemerintah penjajah yang hendak mengganyang persekutuan Hek liong pang dengan meminjam tenaga suatu persekutuan yang baru mulai muncul dikalangan rimba persilatan , , ,”

“Ha ha ha , . , , !" Phang Bun Liong tertawa lagi. Agaknya dia menganggap remeh berita yang dibawa Ong Tiong Kun, namun dia kelihatan sangat girang sekali, setelah itu dia berkata lagi.

" , , . kau benar benar calon menantuku yang baik. Aku justeru sedang berpikir hendak memerintahkan mencari dan mengundang kau datang, tiba tiba kau muncul dengan membawa berita yang berhubungan dengan maksudku mengundang kau datang, Ha ha ha ,, ,"

Ong Tiong Kun terpesona dan penasaran, akan tetapi dia sedang menghadapi urusan jabatan dan janji dengan piauwtauw Lie Tiauw Eng, dari itu dia diam membiarkan Phang Bun Liong meneruskan perkataannya.

" . , persekutuan yang kau maksud tentunya yang memakai lambang kepala binatang rase didalam lingkaran putih dan nama persekutuan itu sebenarnya adalah Hong bie pang…”

Ong Tiong Kun menjadi sangat terkejut, sehingga sepasang matanya sampai membelalak. Terpikir olehnya bahwa Hek liong pang benar benar sangat luas pengaruhnya, sehingga dengan cepat telah mengetahui nama pihak penentangnya yang belum banyak dikenal orang! Sementara itu It ci sian Phang Bun Liong masih meneruskan perkataannya.

“, , Hong bie pang diperalat oleh seorang pangeran yang bernama Kim Lun Hoat ong, dan Kim Lun Hoat ong ini sangat pandai menjilat sehingga kelihatannya dia disukai oleh sri baginda maharaja yang berkuasa sekarang, sedangkan kepada orang orang yang memberikan dukungan, telah dijanjikan suatu jabatan tinggi pada pemerintah penjajah terlebih kalau kelak Kim Lun Hoat Ong yang menggantikan menjadi raja. Sayang aku belum mengetahui nama pemimpin persekutuan Hong bie pang itu yang sampai saat ini dikatakan satu suami isteri yang disebut sebagai Hong bie kauwcu dan Hong bie niocu. Kedatangan kau kesini, barangkali untuk memberitahukan nama ketua perkumpulan itu, benarkah begitu , . ?"

"Aku justeru tidak mengetahui nama persekutuan itu, apalagi nama ketuanya yang aku lihat merupakan seorang laki laki berusia kira kira lima puluh tahun dengan gaya seorang hartawan .." sahut Ong Tiong Kun, selekas It ci sian Phang Bun Liong menyudahi perkataannya.

Si jeriji sakti Phang Bun Liong tertawa lagi. Dia bahkan tertawa meskipun Ong Tiong Kun telah menceritakan pengalamannya yang mengintai pihak musuh; setelah itu Phang Bun Liong berkata dengan kalimat yang lebih mengejutkan Ong Tiong Kun:

"Orang orangku memberikan laporan bahwa katanya kau telah bekerja pada Intay piauwkiok di kota Intay. Padahal perusahaan pengangkutan itu sudah setengah lumpuh karena tidak bekerja lagi, sebab sudah tiga kali diganggu oleh orang orang Hong bie pang..."

"Orang orang Intay piauwkiok banyak yang binasa

secara aneh,” Ong Tiong Kun memutus perkataan Phang Bun Liong, akan tetapi perkataan itu justeru telah diputus lagi oleh Phang Bun Liong :

"Tidak aneh, sebab persekutuan Hong bie pang terkenal pandai menyebar racun maut. Kebanyakan orang orang Intay piauwkiok tewas terkena senjata rahasia hek tok ciam, sejenis jarum halus yang direndam didalam larutan bisa racun dari lalat pembawa maut yang berasal dari gurun pasir, dekat pegunungan Ngo bie san. Kau mengatakan pemimpin Hong bie pang orangnya setua umurku, sebaliknya orang orangku melaporkan bahwa pemimpin Hong bie pang selalu muncul dengan pakaian seragam warna hijau yang lengkap dengan kain selubung penutup kepala yang juga warna hijau, dan jejak yang lebih jelas menyatakan bahwa si pemimpin itu sangat pandai menyamar memakai topeng, sehingga sewaktu waktu dia bisa mengganti ujut muka sebagai orang muda maupun sebagai orang tua .. ,”

Ong Tiong Kun semakin terbelalak dan semakin heran ketika mendengar perkataannya Phang Bun Liong, sementara ketua dari Hek liong pang itu kemudian menyambung perkataannya, tanpa dia menghiraukan keadaan Ong Tiong Kun :

“Memang sudah beberapa kali aku dibikin sibuk dengan sepak terjangnya kaum Hong-bie pang, yang kadang kadang bekerja sama dengan pihak pemerintah penjajah. Dilain pihak, aku pun mengakui bahwa sepak terjang Hek liong pang merupakan duri bagi pihak pemerintah penjajah oleh karena setidaknya Hek liong pang dianggap sebagai pengacau keamanan, kemudian ada lagi hal lain yang mengenai kau yang aku terima laporannya. Kau pulang kekota Intay menemui Lie piauwtauw, kemudian kalian bersepakat hendak bekerja sama dengan pihak Hek liong pang untuk menghadapi persekutuan Hong bie pang. Dengan memandang kau sebagai calon mantuku, aku tidak keberatan buat mengadakan hubungan dengan pihak Lie piauwtauw…”

“Mengapa kalian memperdagangkan aku di dalam mengurus kepentingan kalian,,,.,?" tiba tiba terdengar suara seseorang yang memutus perkataan Phang Bun Liong, suara yang halus merdu akan tetapi bernada dingin, dan yang sudah tidak asing lagi buat Phang Bun Liong, bahkan juga bagi Ong Tiong Kun sebab suara itu adalah suaranya Phang Lan Ing yang datang dan langsung berdiri diambang pintu ruang tamu.

“Lan Ing...” kata Phang Bun Liong dengan nada suara penuh kasih sayang, akan tetapi Phang Lan Ing memutar tubuh dan meninggalkan ruang tamu itu.

“Phang kouwnio..,!” Ong Tiang Kun berseru, dan pemuda ini malah mengejar keluar, membiarkan Phang Bun Liong seorang diri yang masih duduk terpesona didalam ruang tamu itu.

Sempat Ong Tiong Kun melihat bagian punggung Phang Lan Ing, tubuh yang ramping dan semakin kelihatan bertambah langsing karena saat itu Phang Lan Ing mengenakan pakaian yang serba ringkas, dengan sebelah tangan kanan masih memegang cambuk kuda, sementara dibagian pinggangnya terselip sebatang pedang yang indah. Suatu cara berpakaian yang khas dari orang orang yang sedang melakukan perjalanan dikalangan rimba persilatan, berbeda dengan cara berpakaian waktu Ong Tiong Kun menemui dara itu dimeja perjudian.

Dengan dua kali lompatan, Ong Tiong Kun berhasil mendekati dan berada disebelah belakang Phang Lan Ing.

“Phang kouwnio ..." sekali lagi Ong Tiong Kun bersuara

menyapa. Dara yang masih merana itu memutar tubuhnya, mengawasi Ong Tiong Kun yang sekarang berdiri dihadapannya. Untuk sesaat dia tetap mengawasi tanpa dia mengucap apa apa, juga Ong Tiong Kun bagaikan kehilangan daya dan tak ada kemampuannya untuk mengucap apa apa, sampai secara tiba tiba tangan kanan Phang Lan Ing bergerak dan cambuk kuda yang dipegangnya digunakan untuk menghajar muka Ong Tiong Kun.

"Kau „.,!" kata Phang Lan Ing selagi dia memukul

memakai cambuk kuda.

Ong Tiong Kun berhasil melompat menghindar; akan tetapi dara yang merana itu sudah memutar lagi tubuhnya berjalan meninggalkan Ong Tiong Kun!

“Phang kouwnio, aku perlu memberikan penjelasan.,”

Ong Tiong Kun berseru dan mengejar lagi.