-->

Pendekar Bunga Cinta Jilid 19

jilid : 19 

ONG TIONG KUN diam mendengarkan. Memang sering kali dia mendengar kesan orang orang tentang persekutuan Hek liong pang, dan kesan orang orang itu memang banyak yang saling bertentangan.

"... sekarang marilah kita bicarakan tentang urusan kita....." kata lagi Phang Bun Liong, kembali dengan nada suara penuh wibawa, kelihatan bersungguh-sungguh bagaikan dia sedang menghadapi sesuatu urusan besar dan yang sangat penting, padahal Ong Tiong Kun merasa belum pernah mempunyai sesuatu urusan dengan orang orang Hek liong pang, apalagi dengan ketuanya !

" ... aku sudah mengetahui bahwa kau telah menyelamatkan nyawa putriku, selagi dia hendak membuang diri ke laut. Aku juga sudah menerima surat dari putriku yang mengatakan kau telah berlaku baik terhadap dia, dan dia menghendaki aku tak mencelakai kau, bahkan menghendaki supaya aku melepaskan kau, Ha ha ha ha , , , !"

Benar benar Ong Tiong Kun menjadi sangat terkejut meskipun sebenarnya urusan sudah menjadi jelas bagi dia.

Phang Lan Ing atau Phang kouwnio atau dara yang pernah dia tolong waktu hendak membunuh diri, ternyata adalah anak perempuannya ketua dari Hek liong pang ini. Akan tetapi mengapa dia diserang oleh orang orang Hek liong pang dan ditangkap ?

Sementara itu, Phang Bun Liong telah menyambung perkataannya; selagi Ong Tiong Kun diam berpikir.

"... pada mulanya anak buahku menyangka kau hendak mencelakai putriku, sebab mereka melihat di saat kau sedang mengejar puteriku. Mereka berhasil menangkap kau tetapi puteriku mengirim surat dan menjelaskan tentang kejadian yang sebenarnya.."

Phang Bun Liong berhenti sebentar, dia menarik tali genta yang bergantung disisi tempat dia duduk; dan waktu seorang pengawal datang, maka Phang Bun Liong minta disediakan minuman buat dia dan buat tamunya, Ong Tiong Kun.

Setelah pengawal itu pergi buat melakukan tugas yang diperintahkan, maka Phang Bun Liong berkata lagi pada Ong Tiong Kun :

" .. setahun yang lalu, puteriku Lan Ing berhubungan akrab dengan seorang pemuda perkasa yang bernama Pui Keng Kan. Keduanya kelihatan sangat rukun dan akupun menyukai pilihan puteriku itu. Akan tetapi malang bagi Lan Ing, pemuda itu tewas tanpa diketahui siapapun pembunuhnya, oleh karena hanya mayatnya yang ditemukan oleh seorang sahabatnya; dan sahabatnya itu kemudian membawa berita buat Lan Ing..."

"...sejak saat itu Lan Ing merana lalu dia berkelana hendak mencari orang yang membunuh kekasihnya. Tidak pernah Lan Ing memberi khabar padaku, sebaliknya aku selalu memerintahkan orang orang buat mengikuti dan mengawasi dia, akan tetapi dia selalu menghindar karena tidak mau ada orang orang yang mengetahui bahwa dia adalah anaknya seorang ketua Hek liong pang, kecuali kalau dia memerlukan uang, dia bisa menghutang ditempat- tempat yang ada hubungannya dengan persekutuan Hek liong pang. Baru sekali ini dia menulis surat kepadaku, dan dia bahkan memuji kau sebagai seorang pemuda yang gagah serta baik budi, sehingga aku jadi sangat merasa terharu .,"

Sekali lagi Phang Bun Liong menunda perkataannya, membiarkan seorang pelayan menyediakan minuman, lalu dia mempersilahkan Ong Tiong Kun minum setelah itu baru dia menyambung bicara :

" , , kalau kau sungguh sungguh berminat dan sungguh sungguh ingin menikah dengan Lan Ing, akan kuberikan kau lima ratus ribu tail perak. Kalau jumlah itu masih kurang akan aku tambah lagi. Kau bawa dia, kau ajak dia bertamasya kemana saja supaya dia senang, supaya dia gembira..."

"Phang Bun Liong ! kau terlalu menghina aku...!" tiba tiba Ong Tiong Kun memutus perkataan ketua Hek liong pang itu, dan dia langsung menyebut nama ayahnya Phang Lan Ing tanpa memakai basa basi lagi, lalu selekas itu pula dia menyambung perkataannya:

"....kau anggap cinta kasih seseorang dapat dibeli, kau anggap aku mau menjual cinta...!"

Ong Tiong Kun tak kuasa meneruskan bicara lagi, padahal waktu itu Phang Bun Liong tidak merintang buat dia meneruskan perkataannya sebanyak dia mau. Ayahnya Phang Lan Ing itu hanya tunduk bagaikan dia tak mendengarkan perkataan Ong Tiong Kun, kelihatan dia benar benar sedang diliputi suasana haru.

Ketika diketahuinya bahwa Ong Tiong Kun tidak meneruskan bicara maka Phang Bun Liong menengadah dan menatap Ong Tiong Kun lalu dia berkata dengan suara yang lebih perlahan.

“Lain bulan pada tanggal yang sama aku akan merayakan hari ulang tahunku. Kalau kau ada waktu; aku mengharapkan kedatangan kau. Aku masih ingin bicara lebih banyak akan tetapi waktu ini aku sedang menghadapi suatu pekerjaan yang penting; dari itu kau maafkan aku ..."

Sehabis berkata begitu, maka Phang Bun Liong menarik tali genta, lalu kepada seorang pengawal dia memerintahkan supaya mengantarkan Ong Tiong Kun, dan mengembalikan senjata milik pemuda itu.

Dalam perjalanan keluar dari markas Hek Liong pang, maka diketahui oleh Ong Tiong Kun bahwa letak markas itu ada diteluk Hek liu ouw. Mereka harus menggunakan perahu yang laju mengambang perlihatkan keahlian orang orang Hek liong pang yang memegang kemudi.

Setelah tiba didarat yang ternyata merupakan pantai kota In tay, maka Ong Tiong Kun melihat adanya sebuah pos penjagaan, dimana dia menerima kembali kuda dan segala perlengkapannya, berikut pedangnya.

Sepanjang perjalanan memasuki kota In-tay, maka tak sudahnya Ong Tiong Kun memikirkan peristiwa yang baru dia alami.

Dara Phang Lan Ing memang sangat cantik. Pada kesempatan pertemuan yang pertama; hati Ong Tiong Kun terasa begitu terguncang, apalagi karena adanya sikap agung meskipun dara itu sedang merana. Apakah pemuda ini jatuh cinta dengan dara yang sedang merana atau yang sedang patah hati ? Dia sendiri tak tahu meskipun orang seringkali mengatakan, bahwa kadang kadang cinta itu bersemi dikala pertemuan yang pertama kali. ('memang mungkin bersemi; akan tetapi cinta tak dapat dibeli dengan uang ’) bisik Ong Tiong Kun didalam hati,

sebab dia benar tenar merasa amat tersinggung dengan perkataan perkataan Phang Bun Liong, yang hendak memberikan dia sejumlah uang kalau dia mengawini puterinya pemimpin persekutuan Hek Liong pang itu.

Kemudian waktu Ong Tiong Kun sudah berada ditengah keramaian kota In tay, maka pemuda ini memasuki sebuah rumah makan untuk dia bersantap siang.

Sambil dia menikmati hidangannya sempat Ong Tiong Kun mendengarkan percakapan beberapa orang tamu, yang katanya habis melamar pekerjaan pada Intay piauw kiok yang waktu itu sedang memerlukan tambahan beberapa orang tenaga piauwsu.

Maksud kehendak Ong Tiong Kun melakukan perjalanan memang adalah untuk mencari pekerjaan, dan pekerjaan menjadi piauwsu justeru dia anggap sesuai dengan jiwa petualangannya sebab dia memang gemar merantau melakukan perjalanan sambil mengawal kereta piauw, oleh karena itu cepat cepat Ong Tiong Kun menyudahi makannya; lalu dia bergegas mendatangi perusahaan pengangkutan yang katanya sedang membutuhkan tenaga itu.

Intay piauwkiok waktu itu dipimpin oleh Lie Tiauw Eng, seorang laki laki berusia empat puluh tahun lebih, bertubuh agak pendek dan agak gemuk, akan tetapi mahir ilmu silatnya dan lincah gerak tubuhnya.

Dari sekian banyaknya para pelamar, piauwtauw Lie Tiang Eng yang luas pengalamannya telah memilih dan menerima antara lain Ong Tiong Kun, dengan janji bayaran yang cukup baik, lengkap dengan makan dan tempat pemondokan, sehingga mulai hari itu juga Ong Tiong Kun menempati kamarnya didalam perusahaan pengangkutan yang cukup kenamaan diwilayah utara.

Malam harinya, diadakan perjamuan makan sambil merupakan malam perkenalan bagi para piauwsu yang baru diterima bekerja, dengan para tenaga lama dari Intay piauwkiok.

Ada empat orang piauwsu yang baru diterima bekerja termasuk Ong Tiong Kun; dan dalam pandangan atau pendapat pemuda ini yang mahir ilmu silatnya dan yang menarik perhatiannya adalah seorang tenaga baru yang bernama Kiang Hui Him, usia tiga puluh atau lebih sedikit, bermuka hitam tapi ramah tamah. Kemudian ada seorang pemuda yang bernama Lie Thian Pa, yang katanya merupakan keponakan dari piauwtauw Lie Tiauw Eng, sementara dikalangan rimba persilatan, nama Lie Thian Pa katanya sudah terkenal sebagai si 'tangan geledek' atau 'Pan lui ciu'.

Adalah pada kesempatan perkenalan itu, maka piauwtauw Lie Tiauw Eng membentangkan tentang usaha Intay piauwkiok.

Bertahun tahun perusahaan pengangkutan ini mengembang tanpa banyak menghadapi rintangan atau gangguan dari pihak para penjahat atau dari golongan persekutuan mana pun juga, akan tetapi sejak dua bulan terakhir berturut-turut perusahaan itu mendapat gangguan dari pihak penjahat yang tidak diketahui berasal dari mana atau persekutuan mana, bahkan tempat kediamannya pun tidak diketahui.

Pertama kali terjadi peristiwa perampasan adalah disuatu daerah pegunungan yang letaknya masih di daerah Kanglam. Iringan kereta piauw itu dikawal oleh dua orang piauwsu pembantu serta puluhan tenaga pengawal yang berpengalaman, akan tetapi semua tenaga Intay piauwkiok itu tewas, dan kereta piauw hilang tidak berbekas, sedangkan peristiwa itu diketahui oleh piauwtauw Lie Tiauw Eng sebab rombongan itu tidak pernah tiba ditempat tujuan, dan tidak pernah kembali ketempat mereka bertugas; sementara pihak pemilik barang menyatakan belum menerima kiriman barang barang itu.

Piauwtauw Lie Tiauw Eng memerintahkan pemuda Lie Thian Pa mengajak dua orang pembantu, untuk mencari jejak kereta piauw berikut para pengawalnya yang hilang itu sampai kemudian mereka menemukan bekas-bekas terjadinya pertempuran, tanpa ada mayat mayat atau orang orang terluka yang ditemukan, meskipun terdapat sisa darah yang berceceran, Lie Thian Pa bertiga telah berusaha untuk mencari keterangan pada para penduduk dusun yang letaknya tak terlalu jauh terpisah dari bekas tempat peristiwa ditemukan; akan tetapi tak ada seseorang yang mengetahui atau mendengar bahwa ditempat itu pernah terjadi pertempuran atau perampokan. Hal ini tak terlalu mengherankan sebab jarak terpisah kedua tempat itu tak kurang dari dua puluh mil.

"Bagaimana piauwtauw dapat memastikan kalau bekas tempat pertempuran itu memang benar pernah terjadi pertempuran; adalah menjadi tempat hilangnya kereta piauw , , ?” tanya Ong Tiong Kun yang mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Suatu pertanyaan yang tepat , , ,” sahut Lie Tiauw Eng

yang kemudian menambahkan perkataannya :

" , , Lie Thian Pa bertiga mengetahui oleh karena mereka menemukan sebuah bendera kecil sebagai lambang perusahaan kita , . “ Ong Tiong Kun diam tidak mengucap apa apa, juga rekan-rekannya yang lain tidak ada yang mengajukan pertanyaan, sementara piauwtauw Lie Tiauw Eng kemudian menambahkan keterangannya:

Iringan kereta piauw kedua yang hilang atau dirampok, adalah suatu kiriman buat daerah selatan. Suatu kiriman jarak jauh yang besar nilainya, dari itu dikawal oleh dua orang piauwsu kepercayaan yang berpengalaman luas, antaranya yang seorang bernama Sun Ang Jin, bermuka agak merah dan bertenaga raksasa serta tiga puluh orang tenaga pengawal yang pilihan.

Dihari kelima setelah iringan kereta ini berangkat, lalu kami dikejutkan dengan kedatangannya seorang sahabatnya LieThian Pa yang bernama Suma Eng. Dia datang dengan membawa Sun Ang Jin tewas disaat Lie Tiauw Eng baru saja menemui pembantu yang diandalkan itu. Jadi, sebelum sempat Sun Ang Jin maupun Lie Tiauw Eng mengucap sesuatu perkataan.

"Pasti terlalu parah lukanya ....." kata seorang piauwsu yang baru saja diterima bekerja ketika Lie Tiauw Eng menunda bercerita.

"Justeru tidak ada sedikitpun tanda tanda dia terluka, Sun piauwsu tewas akibat kena racun yang sangat dahsyat ,

, .!" sahut piauwtauw Lie Tiauw Eng yang kelihatan sangat penasaran bercampur dendam sebab seseorang atau sesuatu golongan sedang mengganggu usahanya.

Waktu keterangan yang diperoleh dari Suma Eng sangat sedikit, sebab pemuda itu hanya mengatakan bahwa dia kebenaran sedang dalam perjalanan menuju ke kota Intay, dan di tengah perjalanan yang agak sunyi tetapi terik dengan sinar matahari dia menemukan piauwsu Sun Ang Jin yang setengah rebah bersandar pada sebuah pohon. Suma Eng turun dari kudanya dan mendekati piauwsu Sun Ang Jin yang memang sudah dia kenal, namun keadaan Sun Ang Jin sudah tidak dapat mengucap sesuatu perkataan. Dari mulutnya keluar busa putih sedangkan sekujur tubuhnya kejang berwarna agak biru, akan tetapi selain dari itu tidak ada tanda tanda dia terluka.

Suma Eng tidak mengetahui bahwa Sun Ang Jin sedang tugas mengawal kereta piauw, dan Suma Eng tidak pula mengetahui apakah telah terjadi sesuatu perampasan, akan tetapi pemuda ini menyadari bahwa dia harus cepat cepat menolong Sun Ang Jin yang langsung dia bawa pulang kekota Intay, yang terpisah seharian perjalanan dengan kuda.

“Kalau benar terjadi perampasan, tentu tempat peristiwa itu tak jauh terpisah dari tempat ditemukannya Sun piauwsu; dalam arti kata masih tetap diwilayah Kanglam ..” Ong Tiong Kun ikut bicara :

“Pikiranmu sama dengan pikiran Suma-hiantit berdua Lie Thian Pa ..” sahut Lie Tiauw Eng yang kemudian meneruskan bercerita :

Lie Thian Pa berdua Suma Eng kembali ketempat bekas diketemukannya piauwsu Sun Ang Jin, dan didekat tempat itu tidak terdapat tanda tanda bekas terjadi suatu pertempuran.

Dengan cermat kedua pemuda itu melakukan penyelidikan, sampai mereka menemukan bekas jejak tubuh Sun Ang Jin yang merangkak bahkan menyeret tubuh sampai dia ditemukan oleh Suma Eng.

Yang mengherankan kedua pemuda itu, jejak bekas piauwsu Sun Ang Jin ternyata menuntun mereka berdua menuju ketempat yang belukar; jadi bukan sepanjang jalan raya yang umumnya dipakai oleh jalan kereta piauw. Lie Thian Pa berdua Suma Eng meneruskan penyelidikan mereka, sampai mereka tiba disuatu hutan pohon jati; disini mereka menemukan tanda tanda bekas terjadinya sesuatu pertempuran, artinya ada noda noda darah yang berceceran akan tetapi tiada mayat ataupun orang orang terluka yang ditemukan, sampai akhirnya menemukan tubuh Kho piauwsu atau teman seperjalanan piauwsu Sun Ang Jin; dan Kho piauwsu itu tewas dengan lengan kanan putus sebatas pundak.

Baik Suma Eng maupun Lie Thian Pa mempunyai pendapat yang sama, bahwa tewasnya Kho piauwsu bukan melulu akibat lengannya yang putus, akan tetapi dia juga terkena racun; terbukti pada mulutnya yang keluar busa yang serupa dengan Sun Ang Jin, dan tubuhnya juga berwarna biru gelap.

"Tentunya akibat bisa racun dari senjata , ,” Ong Tiong Kun menyelak bicara lagi.

“Tentu , .. !” sahut piauwtauw Lie Tiauw Eng menegaskan, dan dia lalu meneruskan perkataannya:

“, , .rombongan kita biasa berlaku waspada terhadap racun didalam makanan maupun minuman, akan tetapi menurut Suma hiantit maupun Lie Thian Po yang menemukan mayat Kho piauwsu dan luka pada lengannya yang putus, adalah akibat kena ditebas oleh senjata tajam, dan mereka yakin bahwa senjata tajam itu tidak mengandung racun. Oleh karena itu Suma hiantit berdua Lie Thian Pa memeriksa Iagi kalau kalau ada luka lain ditubuh Kho piauwsu, namun mereka tidak menemukan adanya tanda tanda luka yang lain . , , .”

“Heran , ,” kata ketiga orang piauwsu yang baru diterima bekerja, sementara Ong Tiong Kun diam berpikir. “ , , peristiwa ketiga terjadi dengan membawa sedikit titik terang buat kita mencari jejak pihak musuh , , " piauwtauw Lie Tiauw Eng berkata; yang kemudian meneruskan bercerita :

Hari itu telah terjadi lagi iringan kereta piauw yang dihadang hendak dirampas, sehingga terjadi pertempuran antara pihak pengawal dengan para penghalang. Secara tidak diduga kemudian datang seorang pemuda yang ikut memasuki kancah pertempuran dan membantu pihak Intay piauwkiok; akan tetapi mereka yang memberikan perlawanan akhirnya tewas semuanya, termasuk pemuda tidak dikenal yang memberikan bantuan itu mengakibatkan akan hilang lagi jejak peristiwa itu, sekiranya seseorang tidak ikut menyaksikan peristiwa itu.

Seseorang itu adalah seorang pemuda anak keluarga hartawan, pedagang bahan cita terbesar di kota raja. Dia sedang melakukan perjalanan bersama seorang sahabatnya seorang pemuda perkasa yang bernama Pui Keng Han.

(Diam-diam Ong Tiong Kun menjadi terkejut waktu dia mendengar disebutnya nama itu namun dia diam mendengarkan dengan memusatkan perhatiannya).

Kedua pemuda itu sedang melakukan perjalanan bersama sama waktu mereka berdua melihat adanya peristiwa penghadangan kereta piauw oleh sejumlah orang- orang yang semuanya berpakaian serba hitam serta memakai tutup muka dengan secarik kain warna hitam yang menutup bagian bawah mata sampai kebatas bagian bawah mulut sehingga tak mungkin buat orang orang mengenali wajah muka mereka, kecuali pada baju bagian dada sebelah kiri terdapat tanda atau lambang berupa kepala seekor binatang rase dalam suatu lingkaran putih. Pemuda Pui Keng Han terjun kedalam kancah pertempuran sementara temannya lari ke arah kota hendak mencari bala bantuan kepada pihak tentara negeri, akan tetapi ditengah perjalanan dia bertemu dengan rombongan Lie Thian Pa yang kebenaran sedang dalam perjalanan pulang habis mengantar kereta piauw.

Waktu diajak oleh Lie Thian Pa untuk kembali ketempat terjadinya peristiwa perampasan pemuda itu pada mulanya ketakutan, sebab melihat rombongan Lie Thian Pa tidak sebanyak orang orang yang sedang melakukan perampasan, akan tetapi setelah dibujuk oleh Lie Thian Pa maka pemuda itu akhirnya mau juga mengantarkan rombongan Lie Thian Pa akan tetapi mereka tiba disaat itu sudah selesai dan kereta piauw sudah hilang dirampas oleh pihak penghadang.

“...suatu hal yang merupakan petunjuk bagi kita adalah pihak penjahat belum sempat menghilangkan mayat orang- orang kita kecuali pihak mereka yang sempat mereka bawa kabur...” piauwtauw Lie Tiauw Eng meneruskan memberikan keterangannya sehabis dia menunda untuk minum arak.

“...meskipun sudah tidak bisa bicara, akan tetapi salah seorang anggota pengawal kita dapat menunjuk bagian belakang telinganya, dan disitu kedapatan suatu liang kecil dengan setitik darah hitam, sehingga jelas bahwa orang itu terkena serangan jarum halus yang mengandung bisa racun maut...”

“Jadi semua korban tewas karena terkena serangan jarum halus yang mengandung bisa racun....” seorang piauwsu yang baru diterima bekerja ikut bicara.

“Semua mayat-mayat yang ditemukan oleh Lie hiantit, ternyata memang terkena serangan jarum-jarum halus yang serupa, mungkin korban-korban yang terdahulu pun

demikian pula. ” sahut piauwtauw Lie Tiauw Eng dengan muka kelihatan berobah menjadi muram.

“Dikalangan rimba persilatan pada waktu ini orang- orang yang biasa menggunakan senjata rahasia berupa jarum-jarum halus, antara lain adalah Gin ciam Tio Tiang Cun yang sekarang khabarnya dia sedang mengembara ke wilayah selatan, kemudian Tok pinnie Bok lan siancu. ”

kata seorang piauwsu yang baru, agaknya sudah banyak pengalamannya di kalangan rimba persilatan atau hanya pernah mendengar dari lain orang.

"Benar...!" sahut pemuda Lie Thian Pa yang mewakili pamannya, dan dia meneruskan perkataannya.

“ , , , akan tetapi tidak semua mengetahui bahwa Tok pin nie Bok lan siancu sudah mengasingkan diri, sedangkan jarum-jarum milik Gin ciam Tio Tiang Cun berwarna putih seperti perak sedangkan jarum jarum maut yang kami temukan pada korban ternyata berwarna agak kehitam- hitaman."

“Selain dari itu...,” kata piauwsu Lie Tiauw Eng yang

menggantikan bicara, dan menambahkan lagi:

".. dengan Gin ciam Tio Tiang Cun kita mempunyai hubungan baik, serta diapun telah menetap jauh di selatan dan diketahui bahwa dia tidak mempunyai sesuatu gerombolan, sedangkan peristiwa yang kita hadapi semuanya terjadi di daerah Kanglam serta kita menghadapi sesuatu gerombolan yang berseragam serba hitam, dan dengan lambang kepala seekor binatang rase. Entah dari persekutuan mana mereka. "

Untuk setiap penjuru daerah Kanglam, kami mengetahui tidak ada pihak penjahat yang berani berlaku kurang ajar terhadap kita; kecuali satu persekutuan yang aku ragukan, yakni orang orang dari persekutuan Hek liong pang. Akan tetapi lambang mereka berupa kepala naga hitam, sedangkan yang kita harap sekarang adalah lambang kepala rase .. " Lie Thian Pa menyambung pembicaraan pamannya; namun selekas itu pula dijawab oleh Ong Tiong Kun:

"Akan tetapi aku yakin, bukan pihak Hek liong pang yang telah melakukan penjegalan dan perampasan ...”

Untuk sejenak Lie Thian Pa mengawasi Ong Tiong Kun tanpa dia mengucap apa apa, sementara pada sinar sepasang matanya, jelas kelihatan dia seperti merasa curiga, lalu dia berkata dengan nada suara seperti mengejek:

"Bagaimana Ong heng dapat memastikan ?” demikian tanya si tangan-geledek.

Tanpa ragu ragu, Ong Tiong Kun lalu memberikan jawaban:

"Meskipun aku belum kenal atau bertemu dengan pemuda Pui Keng Han yang ikut binasa waktu memberikan bantuan, akan tetapi aku tahu bahwa pemuda itu pernah menjadi tunangan puterinya ketua persekutuan Hek-liong pang ”

“Puterinya ketua persekutuan Hek liong pang?” tanya Lie Thian Pa yang merasa heran; bahkan juga Lie Tiauw Eng dan yang lain ikut perdengarkan suara heran sehingga hal ini justeru menjadi suatu tanda tanya bagi Ong Tiong Kun kalau-kalau orang luar bahkan tidak mengetahui tentang nama ketua persekutuan Hek liong pang.

“Apakah Ong hiantit kenal dengan puterinya ketua Hek liong pang? dan siapakah nama ketua persekutuan Hek liong pang itu? Oleh karena sesungguhnya kami belum pernah mendengar siapa gerangan namanya yang rupanya sangat dirahasiakan,.." demikian piauwtauw Lie Tiauw Eng ikut menanya.

Ong Tong Kun jadi terkejut. Dia benar-benar tidak mengetahui kalau nama ketua Hek liong pang begitu dirahasiakan.

"Dalam hal ini aku terikat dengan suatu janji persahabatan sehingga tidak boleh aku mengatakan tentang nama mereka, akan tetapi aku yakin tidak mungkin pihak Hek liong pang memusuhi kita," akhirnya kata Ong Tiong Kun; namun banyak orang yang perdengarkan suara merasa kurang puas.

“Kami sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencari jejak pihak penjahat itu. Selama dua bulan ini kami bahkan tidak menerima sesuatu pekerjaan oleh karena demi nama baik, maka semua tenaga yang ada kami kerahkan untuk mencari jejak pihak penjahat itu. Penerimaan tenaga kalian sebagai tenaga piauwsu juga bukan disebabkan Intay piauwkiok terlalu banyak menghadapi pekerjaan mengantarkan barang kiriman, sebaliknya tenaga kalian untuk melakukan penyelidikan..." kata lagi piauwtauw Lie Tiauw Eng.

"Kalau menurut pendapatku justru bertambah sukar buat kita mencari jejak sipenjahat tanpa kita melakukan pengiriman barang sebab kita seharusnya memasang perangkap,” kata Ong Tiong Kun; namun cepat cepat diputus oleh Lie Tiauw Eng.

“Mungkin benar perkataan Ong hiantit, akan tetapi kita jangan lupa harus melindungi nama baik kita. Untuk ketiga kiriman barang-barang yang dirampas, pihak Intay piauwkiok telah memberikan ganti rugi sepenuhnya, dan kami menutup peristiwa perampasan ini agar tidak tersiar diluar." “Kalau begitu kita coba dengan suatu kiriman palsu artinya kita siapkan suatu iringan kereta tanpa barang berharga lalu kita sengaja siarkan berita seolah-olah kita sedang mengantar barang barang yang sangat berharga. Dalam iringan iringan ini lebih baik kita jangan lakukan perjalanan dalam satu kelompok, akan tetapi harus ada kelompok lain yang mengawal dari jauh secara menyamar, sehingga jika iringan kereta dijegal pihak penjahat, maka kawan kita yang lain telah siap untuk memberikan bantuan.”

"Bagus ! Satu pemikiran yang sangat sempurna. Besok kita siarkan berita dan dihari kedua kita lakukan perjalanan

... " kata piauwtauw Lie Tiauw Eng yang jadi girang setelah mendengar usul serta siasat yang dikemukakan oleh Ong Tiong Kun.

( X ) ooo ( X )

PADA HARI yang sudah ditentukan, maka iringan kereta piauw sudah siap untuk diberangkatkan.

Piauwtauw Lie Tiauw Eng telah mengatur persiapan sedemikian rupa, seolah-olah kiriman yang akan diberangkatkan pada hari itu, merupakan kiriman yang terbesar yang pernah dilakukan oleh pihak Intay piauwkiok.

Beberapa orang pengawal, bahkan beberapa orang piauwsu sengaja ditugaskan memesan perbekalan makanan dibeberapa rumah makan; dan mereka itu sengaja melepas berita tentang rencana perjalanan mereka yang hendak mengantar piauw yang bernilai sangat besar.

Tiga orang piauwsu dengan lagak dan gaya yang sangat gagah perkasa; telah memperkuat barisan pengawal iringan kereta piauw itu; sementara pada kelompok kedua yang mengikuti perjalanan iringan kereta piauw itu adalah Ong Tiong Kun bersama lima orang pembantu, dan mereka tidak memakai pakaian sebagai para piauwsu akan tetapi mereka menyamar sebagai orang orang perantau yang sedang melakukan perjalanan jauh; kemudian kelompok ketiga terdiri dari si tangan geledek Lie Thian Pa dengan lima orang pembantu, juga dengan melakukan penyamaran.

Dihari kedua iringan kereta piauw yang kosong itu memasuki sebuah dusun yang tidak terlalu banyak penduduk, namun yang sering kali menjadi tempat persinggahan kaum pelancong, sehingga tak heran bila satu- satunya rumah penginapan di dusun itu selalu banyak tamunya.

Piauwsu yang memimpin iringan kereta memutuskan untuk beristirahat semalaman di dusun itu, sebab hari sudah mendekati magrib sedangkan lewat dusun itu terdapat sebuah daerah pegunungan yang sunyi merupakan belukar, sehingga sangat sukar buat mereka berkemah.

Menurut keterangan seorang pembantu yang ikut didalam kelompok rombongan Ong Tiong Kun, katanya didaerah pegunungan yang belukar itu adalah tempat terjadinya peristiwa dijegalnya rombongan piauwsu Sun Ang Jin.

Malam harinya, seorang diri Ong Tiong Kun mengadakan pengintaian disekitar tempat penginapan itu; namun sampai sedemikian lamanya dia tidak menemukan sesuatu tanda yang mencurigai hatinya, sampai kemudian dia menyusuri hampir semua pelosok dusun itu.

Ada sebuah rumah yang dicurigai oleh Ong Tiong Kun didalam melakukan penyelidikan itu. Dusun itu memang tidak besar dan tidak ramai, akan tetapi rumah yang mendatangkan rasa curiganya itu justeru merupakan sebuah rumah yang sangat besar dan buat ukuran rumah dusun, Iagi pula kelihatan ada sinar lampu yang sangat terang dibeberapa ruangan.

Dengan gerak dan langkah berhati hati; Ong Tiong Kun mendekati sampai kemudian dia lompat naik keatas genteng rumah itu. Dekat ruangan terbesar dan masih menyala terang, maka Ong Tiong Kun berhenti, lalu dengan tubuh bergelantungan dia mengintai kebagian dalam ruangan.

Belasan orang berada didalam ruangan itu yang kelihatan sedang melakukan sesuatu pembicaraan; diantaranya terdapat tiga orang laki laki bangsa Mongolia yang kelihatan membekal senjata golok yang khas buatan Mongolia. Kemudian ada seorang laki laki muda bangsa cina yang lagak dan gayanya menandakan dia mahir ilmu silatnya, bahkan jelas kelihatan dia menjadi pemimpin atau atasan dari ketiga orang laki laki bangsa Mongolia yang bersenjata golok.

Lawan bicara dari ke empat orang laki laki itu adalah seorang laki laki tua yang usianya kira-kira sudah mencapai lima puluh tahun berpakaian sebagai seorang pedagang hartawan tetapi lincah gerak dan gayanya. Dia ditemani oleh belasan orang laki laki yang semuanya memakai pakaian warna hitam, membekal senjata dan pada bagian dada sebelah kiri baju mereka kelihatan memakai lambang seekor kepala binatang rase dalam lingkaran putih.

Ong Tiong Kun yang sedang mengintai, menjadi terkejut bercampur girang, karena dia merasa yakin bahwa dia telah menemukan orang orang dari persekutuan yang telah menumpas kereta piauw dari Intay piauwkiok.

“ .. sesuai dengan isi surat Hoat ong..” demikian antara lain terdengar perkataan si laki laki muda bangsa cina; yang masih meneruskan perkataannya: “.... memang menjadi siasat Hoat ong untuk mengadu domba orang orang yang dicurigai mempunyai hubungan baik dengan Gin Lun Hoat ong, sementara itu Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing katanya sedang umpatkan diri diwilayah orang orang suku bangsa Biauw, jauh diperbatasan Inlam, Tali . , ,"

('entah siapa gerangan laki laki muda itu dan entah dia mengabdi dengan pangeran yang mana .,.') pikir Ong Tiong Kun didalam hati, dan dia terus mengintai hendak mendengarkan percakapan mereka selanjutnya,

".....,kemudian sudah pula diketahui oleh Hoat ong bahwa persekutuan Hek liong pang adalah yang paling besar pengaruhnya di wilayah utara ini dan Hoat ong berpendapat bahwa Kanglam liehiap Soh Sim Lan bermaksud menghubungi Hek liong pang untuk menjadi pendukung Gin Lun Hoat ong. Maksud kehendak Kang lam liehiap Soh Sim Lan ini harus dicegah supaya tidak menjadi biang penyakit dikemudian hari, dari itu Hoat ong memerintahkan supaya kauwcu yang mewakilkan Hoat ong buat mengikis habis orang orang Hek liong pang , .”

“Akan tetapi Lie ciangkun tentu mengetahui bahwa untuk bermaksud itu diperlukan banyak tenaga dan keuangan ..” sahut si hartawan yang disebut kauwcu atau pemimpin persekutuan.

"Benar , ," sahut Lie ciangkun, laki laki muda bangsa cina yang mengabdi pada pihak yang disebut 'Hoat ong' itu, dan dia menyambung perkataannya :

" .. akan tetapi bukankah pihak Hoat ong sudah memberikan perlindungan sehingga pihak pejabat Pemerintah setempat 'menutup mata dan telinga' membiarkan pihak kauwcu melakukan berbagai perbuatan perampokan, perdagangan kaum wanita muda dan berbagai perbuatan lain yang sebenarnya menyalahkan undang undang negara dan sekarang kauwcu bahkan meminta bantuanku secara pribadi buat ikut merampas iringan kereta piauw milik Intay piauwkiok , ..."

Ong Tiong Kun menjadi sangat terkejut waktu dia mendengar kalimat perkataan yang terakhir itu. Jelas bagi dia bahwa yang berulangkali telah merampas kereta piauw adalah orang orang yang memakai lambang kepala binatang rase akan tetapi apakah nama persekutuan itu dan dimanakah markas atau pusatnya ? Rumah yang sedang mereka gunakan untuk pertemuan sudah pasti bukan merupakan markas mereka; dan lelaki hartawan itu siapakah dia sebenarnya ?

Segera Ong Tiong Kun bermaksud meninggalkan tempat itu buat dia menghubungi pihak Lie Thian Pa serta pihak piauwsu yang mengawal kereta piauw; agar mereka mengatur siasat yang sebaik baiknya supaya pihak musuh benar benar akan masuk perangkap.

Akan tetapi waktu itu ada seorang peronda yang berhasil melihat Ong Tiong Kun. Pada mulanya peronda itu hanya melihat ada suatu bayangan hitam bagaikan seekor kelelawar yang hinggap diatas tiang kaso rumah. Dia memanah akan tetapi dia menjadi terkejut waktu melihat bayangan hitam itu lompat gesit keatas genteng rumah, lalu berpeta sebagai manusia. Segera dia memukul-mukul alat tabuhannya sehingga dalam waktu sekejap Ong Tiong Kun telah dikurung oleh sejumlah musuh yang sangat mahir dengan ilmu ringan tubuh.

“Kurang ajar siapa kau yang berani mengintai kami..." Lie ciangkun membentak sesudah dia juga lompat naik keatas genteng. Ong Tiong Kun tidak mau dilihat dalam suatu pertempuran melawan sedemikian banyak musuh yang tinggi ilmunya. Menggunakan waktu selagi Lie ciangkun belum siaga, maka tiba tiba dia lompat menerkam; menyerang Lie ciangkun (perwira Lie) dengan satu pukulan tangan kanan, bagaikan "bu siong membelah gunung" yang cukup dahsyat; akan tetapi dengan gerak yang tenang Lie ciangkun hanya miringkan sedikit tubuhnya untuk kemudian secepat kilat dia sudah mengeluarkan pedang yang hendak dia gunakan untuk balas menyerang.

Ong Tiong Kun memang bukan bermaksud hendak bertempur dengan Lie ciangkun. Gerak terkamannya tadi hanya merupakan satu ancaman belaka, karena selekas ujung kakinya tiba didekat Lie ciangkun; maka Ong Tiong Kun lompat lagi dan langsung hendak turun dari atas genteng akan tetapi geraknya kalah cepat dengan si hartawan tua atau si kauwcu, yang waktu itu telah menyabet Ong Tiong Kun memakai senjata cambuk lemas (joan pian) membikin tubuh Ong Tiong Kun yang sedang lompat melayang tidak mungkin berkelit dari cambuk yang menyerang itu, dan andaikata pada waktu itu Ong Tiong Kun mengetahui dengan siapa sebenarnya saat itu dia berhadapan, sudah pasti dia tidak berani menangkis atau menangkap cambuk lawan memakai tangan kosong, sebab cambuk lemas itu penuh duri yang mengandung bisa racun sedangkan si hartawan itu adalah laki laki yang pernah mengaku bernama Cio Eng Liong dihadapan Pouw Keng Thian dan dia adalah Hong bie kauwcu Gan Hong Bie.

Ong Tiong Kun tidak takut karena dia beIum pernah bertemu dengan si biang racun itu. Langkah termudah buat dia menghindar dari hajaran cambuk adalah menangkap ujung cambuk, lalu membiarkan dirinya ditarik sekiranya musuh akan menarik agar dengan meminjam tenaga tarikan itu, dia akan berhasil terlempar jauh, lalu meninggalkan tempat itu buat dia menghubungi kawan kawannya. Akan tetapi disaat Ong Tiong Kun hendak menyambuti dan memegang ujung cambuk, ternyata dia kalah cepat dengan gerak seorang pemuda yang ternyata adalah Pouw Keng Thian dan pemuda itu entah dari mana datangnya telah melayang mendatangi lalu dengan goloknya dia menangkis cambuk Hong bie kauwcu Gan Hong Bie membikin sejenak cambuk itu melibat goloknya Pouw Keng Thian gagal diraih oleh Ong Tiong Kun; lalu dengan lincah dan gesit Pouw Keng Thian berhasil melepas libatan cambuk musuh pada goloknya sampai dilain saat dia melancarkan serangan bergelombang terhadap Hong bie kauwcu yang telah dia ketahui sebagai musuhnya berdasarkan pengakuan dari sihartawan tua itu yang merupakan ujud penyamaran dari Gan Hong Bie dan Hong bie kauwcu terus didesak sampai dia harus lompat turun dari atas genteng namun telah disusul oleh Pouw Keng Thian yang kemudian dibantu oleh seorang dara yang perkasa yang menggunakan senjata sebatang pedang. Meskipun diluar rencana, namun Ong Tiong Kun membatalkan niatnya yang hendak meninggalkan tempat itu, sebaliknya dia Iompat turun hendak membantu Pouw Keng Thian berdua dara yang perkasa itu yang sudah dikepung oleh pihak musuh akan tetapi selekas Ong Tiong Kun sudah lompat turun maka dia langsung diserang oleh Lie ciangkun yang juga bersenjata pedang, dengan gerak bagaikan seekor burung elang yang menyambar anak kelinci.

Ong Tiong Kun berkelit menghindar meskipun pedangnya sudah siap ditangannya. Waktu sekali lagi dia diserang maka dia sudah siap memasang kuda kuda dan dia menangkis membikin pedang mereka saling bentur dengan keras sampai mengeluarkan lelatu anak api sehingga keduanya sama terkejut karena telah berhasil menjajaki kekuatan tenaga masing-masing. Akan tetapi dipihak Ong Tiong Kun, kepelan tangan kirinya lalu bergerak hendak memukul dan waktu Lie ciangkun berhasil menghindar maka kaki kanan Ong Tiong Kun yang menendang membikin sekali lagi Lie ciangkun harus buru buru lompat berkelit.

"Bagus... !" seru Lie ciangkun memuji; akan tetapi dia tidak menunda geraknya, karena dia telah menikam lagi memakai pedangnya untuk kemudian keduanya mengadu kepandaian ilmu pedang mereka!

Sementara itu, rasa penasaran telah menyebabkan Pouw Keng Thian membatalkan maksudnya yang hendak menyambangi makam kedua orang tuanya, dan rasa penasaran membikin pemuda ini memutar haluan perjalanan, mengikuti jejak berdarah dari Hong bie kauwcu Gan Hong Bie, yang sudah dia ketahui berujud sebagai seorang hartawan setengah tua dan mengakui bernama Cio Eng Liong.

Hari sedang panas terik waktu Pouw Keng Thian memasuki sebuah dusun, tetap dengan memakai kudanya; sementara pakaiannya basah dengan peluh bercampur debu.

Pouw Keng Thian singgah disuatu kedai nasi yang tidak terlalu besar, karena dia ingin beristirahat dan memesan makanan.

Setelah selesai bersantap, maka Pouw Keng Thian lekas lekas meneruskan perjalanannya tanpa menghiraukan panas terik dari sinar matahari yang memancarkan sinarnya.

Waktu hendak melintas jalan pegunungan yang sunyi, tiba-tiba Pouw Keng Thian mendengar pekik suara seorang perempuan; sehingga dia lalu percepat lari kudanya untuk mendekati asal suara tadi sampai disaat berikutnya dia melihat adanya seorang laki laki bermuka hitam menyeramkan, sedang berusaha hendak merebut sebuah bungkusan dari seorang perempuan muda.

Agaknya perempuan muda itu sedang mempertahankan miliknya dari rampasan laki laki yang bermuka hitam itu; sampai kemudian secara tiba tiba perempuan muda itu memukul muka laki laki itu memakai kepalan tangannya.

Laki laki bermuka hitam menyeramkan itu melompat mundur, menghindar dari pukulan tadi. Dia marah dan memaki ;

"Kurang ajar ! Rupanya kau berani melakukan perlawanan ... !"

Sehabis dia memaki, maka laki laki itu bersiap siap hendak membalas menyerang perempuan muda itu yang rupanya juga pandai ilmu silat.

Tangan kanan laki laki yang besar dengan muka hitam menyeramkan itu lalu menghajar mengarah dada calon korbannya, akan tetapi dengan tangkas perempuan muda itu berkelit mundur selangkah, lalu kakinya yang kecil menendang muka laki laki yang bengis itu.

Diluar dugaan Pouw Keng Thian yang menyaksikan, tendangan perempuan muda itu tepat mengenai sasaran; sehingga terdengar pekik teriak dari laki laki yang tubuhnya ikut menjadi limbung akan tetapi sempat dia mengeluarkan senjatanya yang berupa sebatang golok.

“Kurang ajar ! Rupanya kau benar benar sudah bosan hidup...!” laki laki itu membentak lagi; lalu dia mulai melakukan penyerangan dengan suatu bacokan maut.

Perempuan muda itu berkelit dari serangan golok yang mengarah bagian pundaknya, akan tetapi dengan sengit laki laki bermuka hitam dan menyeramkan itu sudah mengulang serangannya secara bertubi-tubi, sehingga berhasil dia membikin perempuan muda itu repot dan kewalahan, terlebih oleh karena perempuan muda itu tidak memiliki senjata.

Sampai disitu Pouw Keng Thian tidak dapat menonton lebih lama. Dengan gerak 'burung walet menembus angkasa' maka Pouw Keng Thian melesat dari atas kudanya sementara goloknya yang sudah siap ditangannya, langsung menangkis golok laki laki galak yang sedang mengarah perempuan muda itu.

Suatu bunyi suara yang keras terdengar, sebagai akibat benturan kedua senjata itu.

Laki laki mukanya hitam menyeramkan itu lompat mundur, untuk memeriksa goloknya dan mengawasi Pouw Keng Thian yang menjadi perintangnya :

“Kurang ajar ! siapa kau yang berani mencampuri urusan lain orang , , . !" laki laki itu membentak dengan suara galak.

Pouw Keng Thian tersenyum mengejek dan berkata : "Disiang hari begini, kau hendak merampok milik seorang perempuan, apakah aku harus diam , . ?”

“Kurang ajar . ,!” seru laki laki itu bertambah marah, IaIu dengan gerak tipu 'tay-san ap teng' atau gunung tay san menindih, goloknya datang menyambar hendak membelah kepala Pouw Keng Thian.

Pada benturan senjata mereka tadi, Pouw Keng Thian telah mengetahui bahwa laki laki bermuka hitam menyeramkan itu memiliki tenaga yang besar. Oleh karena itu serangan lawan itu dia tidak tangkis; sebaliknya dia hanya membungkuk membiarkan golok musuh lewat disisinya, lalu dia membarengi menikam memakai goloknya, dengan gerak tipu 'ular berbisa keluar dari liang'. “Kurang ajar , , ,!” teriak laki laki galak itu yang harus bergerak mundur beberapa langkah kebelakang, karena tidak sempat dia menangkis serangan Pouw Keng Thian tadi. Akan tetapi waktu Pouw Keng Thian mengulang serangannya memakai gerak tipu yang sama, maka goloknya menyapu hendak menangkis memakai gerak tipu 'angin barat menyapu daun'.

Menghadapi musuh yang bertenaga banteng, Pouw Keng Thian perlihatkan kelincahan tubuhnya serta kegesitan serangannya yang cepat dapat berganti haluan. Goloknya berputar sedemikian rupa, mengikuti arah tangkisan golok musuh sehingga selalu terhindar dari suatu benturan, sebaliknya goloknya itu berhasil merobek baju dan melukai pundak kiri lawannya.

"Kurang ajar..!" teriak lagi laki laki itu sambil dia lompat mundur, dan menutup luka pada pundaknya memakai sebelah tangannya.

"Kalian tunggu, aku akan kembali untuk merebut nyawa kalian,..!"

Sehabis dia berkata demikian, maka laki laki itu kabur dengan sangat cepatnya.

"Syukur inkong datang tepat pada waktunya…" perempuan muda itu berkata malu-malu, sambil dia memberi hormat dan mengucap terima kasih.

"Namaku Pouw Keng Thian...” sahut Pouw Keng Thian yang tidak mau disebut inkong atau 'tuan penolong’ dan sekaligus dia telah perkenalkan namanya.

"Namaku Go Hong Lian , . " perempuan muda itu ikut perkenalkan namanya, namun tetap dengan lagak malu- malu, dan atas pertanyaan Pouw Keng Thian; maka dikatakan oleh Go Hong Lian, bahkan sebenarnya baru semalam dia telah kecurian bungkusan berikut pedangnya; waktu dia menginap disebuah rumah penginapan.

"Kemana tujuan Lian moay ... ?” kemudian Pouw Keng Thian menanya lagi; dan dia memakai istilah 'adik'; oleh karena usia dia telah tua dari usia Go Hong Lian.

Go Hong Lian tidak segera menjawab. Dia mengawasi muka Pouw Keng Thian sampai dia merasa yakin bahwa laki laki muda yang baru menolong itu dapat dia percaya; setelah itu baru dia berkata :

"Aku bermaksud hendak mendaki gunung Lam san; buat menemui Leng In Liang suhu,,"

Pouw Keng Thian terkejut setelah mengetahui maksud perjalanan Go Hong Lian; sebab dia tahu akan sia sia perjalanan yang jauh itu.

"Aku kenal dengan Leng suhu akan tetapi telah binasa,," akhirnya kata Pouw Keng Thian yang telah mendaki gunung Lam San dan menemukan sekian banyaknya mayat mayat yang menjadi korban keganasan Hong bie kauwcu Gan Hong Bie.

"Heran padahal sudah dua bulan ayah pergi, katanya hendak membayangi Leng suhu. Oleh karena belum pulang, maka aku menyusul..,.”

"Siapakah nama ayah Lian moay..,?” Pouw Keng Thian

menanya lagi.

"Go Ciang Hin ,," sahut Go Hong Lian.

“Go Ciang Hin yang dikalangan rimba persilatan dikenal sebagai si tangan pasir besi...?" tanya Pouw Keng Thian menegaskan. "Benar,” sahut Go Hong Lian yang bersenyum karena kelihatannya dia merasa bangga dengan nama ayahnya yang cukup terkenal.

“Lian moay, ada suatu berita mengenai ayahmu yang hendak aku beritahukan; akan tetapi sebaiknya kita jangan bicara disini sebab kemungkinan siberandal tadi akan kembali membawa kawannya."

"Apakah kau takut menghadapi mereka ?” tanya Go

Hong Lian yang kelihatan kecewa.

"Bukan begitu, akan tetapi apa gunanya kita harus merepotkan diri melawan segala kurcaci ?"

"Akan tetapi pedangku dicuri orang, aku justru menduga komplotannya orang tadi yang telah melakukan pencurian itu; sedangkan pedangku itu adalah pedang 'ku tie kiam'."

"Ku tie kiam ?" ulang Pouw Keng Thian yang kembali menjadi terkejut berbareng heran, sebab 'ku tie kiam' atau pedang 'besi hitam' itu adalah miliknya tayhiap Wie Tan Wie yang kemudian adalah sudah menjadi milik anaknya, yakni Wie Beng Yam, bagaimana mungkin pedang itu bisa menjadi miliknya Go Hong Lian? Adakah sesuatu hubungan antara Go Ciang Hin dengan Wei Beng Yam?

“Tidak jauh dari sini ada sebuah dusun bekas semalam aku menginap, marilah kita kesana buat aku ceritakan tentang kisah pedang ku tie kiam, dan kau ceritakan tentang berita mengenai ayahku,,,” akhirnya kata Go Hong Lian yang dapat meraba tentang yang sedang dipikirkan oleh Pouw Keng Thian.

“Baiklah, tadipun aku beristirahat didusun itu .,” sahut Pouw Keng Thian dan dia memaksa Go Hong Lian naik diatas kudanya sedangkan dia mengikuti dengan menuntun tali kendali sehingga lagak mereka mirip seperti pasangan suami isteri orang orang dusun yang sedang menuju ke kota.

Dalam melakukan perjalanan yang lambat itu maka Pouw Keng Thian menceritakan perihal dia yang pernah mendaki gunung Lam san sampai kemudian dia menemukan mayat Go Ciang Hin yang memang pernah dikenal oleh Pouw Keng Thian, sebab sejak dulu Go Ciang Hin pernah datang menyambangi gurunya pemuda itu.

“Mereka semuanya tewas sebagai korban keganasan orang orang Hong bie pang,” kata Pouw Keng Thian yang menambahkan penjelasannya.

Tidak hentinya Go Hong Lian menangis waktu dia mendengar berita tentang ayahnya yang sudah binasa, dia bahkan hampir pingsan diatas kuda, sekiranya dia tidak berusaha mengatasi diri.

“Heran, ayah cukup gagah; terutama dengan ilmu tangan pasir besi; lagi pula tidak kurang dari lima belas orang yang berkumpul diatas gunung Lam san seperti yang kau katakan dan mereka semuanya pasti bukan merupakan sembarangan orang; akan tetapi mengapa mereka dapat dikalahkan oleh rombongan orang orang Hong bie pang..?" kata Go Hong Lian sehabis dia menangis.

"Menurut dugaanku dan berdasarkan hasil penyelidikan yang aku lakukan tentunya pihak orang2 Hong bie pang telah melakukan serangan secara menggelap; memakai senjata rahasia yang mengandung bisa racun, atau mungkin pula mereka menyebar pada makanan atau minuman, sehingga mereka yang sedang berkumpul diatas gunung Lam san dapat dibinasakan semuanya,.." sahut Pouw Keng Thian, untuk kemudian dia pun menceritakan tentang kisah perjalanannya sehubungan dengan tewasnya kedua orang tuanya ditangan Hong bie kauwcu berdua Hong bie niocu. "Kalau kau bertemu lagi dengan Hong bie kauwcu, tentunya kau dapat mengenali dia, bukan ..?” tanya Go Hong Lian yang jadi ikut merasa iba dengan nasib pemuda yang sudah piatu itu.

"Tentu , ," sahut Pouw Keng Thian; dan lalu dia menjelaskan wajah muka Hong bie kauwcu sebagai si hartawan yang mengaku bernama Cio Eng Liong.

"Cio Eng Liong. Tidak pernah ayah bercerita tentang adanya nama seperti itu dari orang orang dikalangan rimba persilatan…" kata Go Hong Lian seperti pada dirinya sendiri, sementara mereka pun telah memasuki dusun tempat tadi Pouw Keng Thian beristirahat dan bersantap siang.

Atas sarannya Go Hong Lian yang merasa penasaran dengan pihak si penjahat yang telah mencuri pedangnya serta memegat perjalanannya, maka keduanya lalu memesan dua kamar ditempat bekas semalam Go Hong Lian menginap.

Sambil melewatkan waktu, keduanya itu duduk diruang tamu sambil saling menceriterakan perihal diri masing masing. Agaknva mereka sengaja berlaku hendak menarik perhatian orang-orang, terutama agar diketahui oleh pihak si penjahat bahwa mereka belum pergi meninggalkan dusun itu.

Tiat see ciang Go Ciang Hin atau tangan pasir besi sebenarnya sudah belasan tahun menjelajah dikalangan rimba persilatan. Dia dimalui banyak orang karena mahirnya ilmu tangan pasir besi yang dia miliki. Sikapnya yang agung dan terkadang sangat ganas dalam menghadapi lawan, telah mengakibatkan dia kurang disukai oleh beberapa orang sahabatnya. Tiat see ciang Go Ciang Hin menetap di dusun Oei kee cip bersama isteri dan seorang anak perempuan yang bernama Go Hong Lian, akan tetapi sejak kecil anak perempuannya itu belajar ilmu silat digunung Oei san, yang letaknya tidak terlalu jauh terpisah dari dusun Oei kee cip, dan gurunya Go Hong Lian adalah pasangan suami isteri perkasa, yakni tayhiap Wei Beng Yam dan isterinya, Kiu Siok Ing; puteri tunggal Sin eng Kiu It, si garuda sakti yang kenamaan.

Dahulu tayhiap Wei Beng Yam pernah merajai kaum rimba persilatan, sehingga dia mendapat gelar tayhiap atau pendekar besar, akan tetapi sangat banyak pengalaman pahit yang dia hadapi, sehingga setelah menikah dengan Kiu Siok Ing nama pasangan suami isteri itu menghilang dan hidup menyendiri diatas gunung Oei san.

Tayhiap Wei Beng Yam memilih tempat gunung Oei san buat dia hidup menyendiri bersama isterinya, sebab diatas gunung Oei san itu dahulunya merupakan tempat bersemayam Thian hiang siancu almarhum, yang menjadi guru dari Kiu Siok Ing (isterinya Wei Beng Yam), sedangkan Thian hiang siancu ini adalah bekas isteri almarhum gurunya Wie Beng Yam yang bernama Jie Cu Lok.

Jelas bahwa Kiu Siok lng itu bukan merupakan sembarangan perempuan yang lemah, oleh karena dia adalah ahli waris tunggal dari Thian hiang siancu yang terkenal sakti ilmunya dan Go Hong Lian tidak melulu menjadi muridnya tayhiap Wei Beng Yam, akan tetapi dara ini mendapat pula didikan dari Kiu Siok Ing; yang bahkan telah menggembleng dalam ilmu Hui eng cip cap jie sut bo tie sin ciang (ilmu silat burung garuda merebut maut yang terdiri dari 72 jurus ganti berganti), berhasil menjadi kebanggaan Sin eng Kiu It, si garuda sakti yang kenamaan; serta ilmu thoh siang hui (terbang di atas rumput), serta ilmu melepas senjata rahasia Lian hoan cu po piao; atau piao induk yang apabila dia tersentuh maka akan pecah selubungnya, dan didalam selubung induk piao itu tersimpan jarum-jarum halus tok beng oei hong ciam yang mengandung bisa racun yang dahsyat. Kedua macam ilmu itu adalah peninggalan dari Thian hiang siancu.

Oleh karena sudah lama ayahnya pergi padahal waktu pamit katanya hendak menyambangi Leng In Liong diatas gunung Lam san maka dara Go Hong Lian menjadi cemas, terlebih karena dia mengetahui bahwa ayahnya banyak musuhnya. Dari itu dia menyatakan hasratnya hendak menyusul ayahnya.

Setelah mendapat persetujuan dari ibunya maka Go Hong Lian memerlukan pamitan dari kedua gurunya diatas gunung Oei san, sementara tayhiap Wei Beng Yam yang mengetahui niat muridnya telah pula menitipkan salamnya buat Leng In Liang yang memang dikenalnya serta dia meminjamkan pedang 'ku tie kiam' buat bekal Go Hong Lian ditengah perjalanan.

(Untuk jelasnya pedang ku tie kiam atau pedang besi hitam ini ada sepasang, yang sebatang merupakan pedang laki laki yang ternyata berada pada Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing, sedangkan yang sebatang lagi merupakan pedang 'perempuan', yang berada ditangan liehiap Kui Siok Ing atau isterinya tayhiap Wei Beng Yam. Tentang kisah pedang ku tie kiam ini, mempunyai kisah tersendiri yang berjudul 'Kisah Sepasang Pedang Mustika’)

Sementara itu; dalam melakukan perjalanannya menuju keatas gunung Lam san yang letaknya dibelahan sebelah barat, maka Go Hong Lian sengaja menyamar dengan berpakaian semacam seorang pemuda pelajar; oleh karena dia tidak ingin adanya orang orang mengganggu dia; melulu disebabkan mukanya yang cantik.

Di hari ketiga setelah meninggalkan gunung Oei san, maka dara manis yang sedang menyamar sebagai seorang pemuda itu memasuki daerah pegunungan yang sunyi; sampai kemudian secara mendadak dara dalam penyamaran itu menjadi tersentak, sebab telinganya yang tajam mendengar bunyi suara senjata yang saling bentur, menandakan didekat tempat itu terdapat seseorang yang sedang bertempur.

Oleh karena merasa ingin mengetahui, maka dara dalam penyamaran itu mendekati sampai disaat berikutnya dia melihat ada seorang dara remaja yang sedang bertempur melawan dua orang laki-laki bermuka bengis, dan kedua laki laki itu sedang melancarkan berbagai serangan maut, membikin dara remaja itu kelihatan terdesak dan terancam nyawanya.

"Budak hina, kau serahkan saja peta itu pada kami; dan kami akan mengampuni nyawamu... !” bentak salah seorang dari kedua laki laki itu; tanpa dia mengurangi desakan serangannya.

Dara remaja itu tidak menghiraukan perkataan lawannya, sebaliknya dia memusatkan segenap perhatiannya untuk membikin pertahanan yang rapat, sehingga pedangnya berputar-putar sedemikian rupa sehingga membikin kedua lawannya tak mudah untuk melukai atau mengalahkan dia.

Akan tetapi lelaki yang membentak tadi sebenarnya bukan sembarang lawan. Dia adalah pembantu dan kepercayaan ciangkun Sie Pek Hong, perwira yang mengabdi pada Kim Lun Hoat ong; dan lelaki itu bernama Ong Bun Kiat yang terkenal ganas dan kejam. Ong Bun Kiat memiliki senjata yang istimewa yakni sepasang kait baja berukuran yang sama dengan pedang; dan keistimewaan senjata itu disamping dapat mengait kepala atau tubuh lawan juga dapat digunakan buat merebut senjata lawan.

Agaknya dara remaja itu merasa jeri dengan lawan yang bernama Ong Bun Kiat itu. Dia berusaha mendekati musuh yang seorang lagi yang sebenarnya merupakan seorang perwira pembantu pada pemerintah daerah setempat, namun yang pada saat itu keduanya tak memakai pakaian seragam militer.

Kawannya Ong Bun Kiat yang bersenjata sebatang golok, merasa mendongkol dan penasaran karena menyadari bahwa lawannya menganggap dia sebagai orang yang terlemah. Dia perlihatkan perlawanan yang dahsyat dan untuk mengatasi keadaannya yang terdesak maka dia bermaksud memberikan tekanan yang berat bagi lawannya dan usahanya itu kelihatan berhasil berkat bantuan yang diberikan oleh Ong Bun Kiat.

Melihat keadaan yang gawat bagi dara remaja yang tidak atau belum dikenalnya itu maka Go Hong Lian siapkan pedangnya dan memasuki kancah pertempuran. Pedang ku tie kiam yang ampuh bergerak menangkis serangan golok yang sedang mengarah dara remaja yang dibantunya sehingga bertepatan dengan terdengarnya bunyi benda logam yang saling bentur, maka golok itu putus menjadi dua, sementara pedang yang tajam itu dengan meminjam tenaga benturan tadi telah meluncur terus mencari sasaran pada tenggorokan si pemilik golok bagaikan seekor ular yang melepas bisa!

Meskipun terkejut karena datangnya bantuan dari pihak lawan mereka, namun Ong Bun Kiat bergerak gesit mendorong tubuh rekannya; sehingga rekan itu terjerumus hampir jatuh, akan tetapi nyaris menjadi mangsa pedang ku tie kiam.

Kemudian ketika pedang yang ampuh itu merobah sasaran; menyerang Ong Bun Kiat dengan gerak tipu 'burung garuda mementang sayap’, maka dengan berani Ong Bun Kiat hanya menunduk; lalu dia menyabet memakai senjatanya yang istimewa, dengan satu gerak tipu 'nelayan melepas jangkar', dan selagi dara dalam penyamaran itu lompat untuk menghindar, maka Ong Bun Kiat juga turut lompat keluar dari kancah pertempuran, langsung kabur menyusul rekannya yang telah mendahulukan dia.

Go Hong Lian yang sedang menyamar sebagai seorang pemuda, merasa penasaran hendak mengejar dua lawan itu, akan tetapi dia membatalkan niatnya ketika dengan langkah kaki ragu-ragu atau malu-malu dilihatnya dara remaja yang dibantunya sedang mendekati dia.

“Terima kasih atas bantuan kongcu.." kata dara remaja itu, menganggap yang membantunya adalah seorang pemuda.

Dara dalam penyamaran itu tersenyum dan balas memberi hormat, membikin dara remaja itu bertambah menjadi malu.

“Mengapa kouwnio bertempur dengan mereka ?” tanya

Go Hong Lian membawa lagak seperti seorang pemuda.

"Akupun tidak mengetahui , . " sahut dara remaja itu setelah sejenak dia kelihatan berpikir dan merasa ragu ragu, setelah itu dia menambahkan perkataannya :

" , . telah berulang kali mereka menghadang aku jika aku sedang melakukan perjalanan. Mungkin ayah dapat memberikan penjelasan.” "Apakah kouwnio menetap didekat tempat ini ?" Go Hong Lian kemudian menanya lagi, tetap dengan membawa lagak seperti seorang pemuda.

Dara remaja itu manggut membenarkan, dan berkata: "Sekiranya kongcu sudi singgah, ayah pasti akan

gembira.. ,”

Dara dalam penyamaran itu perlihatkan senyum nakal sehingga senyuman itu sekali lagi telah mengakibatkan dara manja itu menjadi merasa malu, namun keduanya kemudian jalan berdampingan, menuju ketempat kediaman dara remaja itu, yang mengaku bernama Lauw Lan Nio.

Ayahnya Lauw Lan Nio adalah seorang laki laki tua yang umurnya sudah lebih dari lima puluh tahun, memiara jenggot sebatas dada, bertubuh masih sehat, dan mengaku bernama Lauw Keng Lim.

Dihadapan orang tua itu, juga dihadapan dara Lauw Lan Nio, sengaja Go Hong Lian umpatkan namanya dan mengaku bernama Go Hong Gie. Akan tetapi orang tua yang luas pandangan dan pengamat itu, ternyata tak dapat dikelabui, karena dia segera mengetahui tentang penyamaran Go Hong Lian, sehingga dara dalam penyamaran itu lalu mengakui dan mengatakan hal yang sebenarnya.

"Akh, ternyata kau adalah puterinya Tiat see ciang Go Ciang Hin, dan menjadi muridnya tayhiap Wei Beng Yam ,

," kata Lauw Keng Lim yang kelihatan terkejut, namun pada saat berikutnya, wajah mukanya kelihatan menjadi girang, bahkan tanpa ragu ragu dia telah menceritakan suatu rahasia kepada Go Hong Lian.