-->

Pendekar Bunga Cinta Jilid 16

jilid 16

AGAKNYA baju bulu itu mengandung racun yang berbisa, dan pemuda bermuka pucat itu mahir ilmu tenaga dalam; sehingga dia membiarkan dirinya kena serangan tangan Kim-an Yo Gie, sedangkan pekik peringatan Yo Toa sia sia belaka sebab gerak yang sangat cepat dari adiknya yang pemarah itu.

Kim-an Yo Gie rebah pingsan dan Yo Jim yang menjadi orang kedua dari persaudaraan Yo, berusaha memberikan pertolongan; sementara Yo Toa, Yo Sam dan Yo Sun telab siapkan senjata mereka yang berupa golok, dan melakukan penyerangan terhadap si pemuda bermuka pucat seperti mayat hidup itu, yang kemudian dibantu oleh kedua pengawalnya yang berpakaian seperti pendeta.

Suatu keistimewaan telah diperlihatkan oleh si pemuda yang bermuka pucat seperti mayat hidup itu, oleh karena sambil bertempur melawan Yo Toa maka dia sempat melepaskan tiga senjata rahasia kearah Yo Jim yang sedang berusaha menolong adiknya.

Yo Jim sempat menghindar dari senjata rahasia itu, akan tetapi sebatang diantaranya membenam dileher Yo Gie yang masih rebah pingsan; mengakibatkan sipemarah itu hanya kelihatan berkelejat setelah itu tubuhnya kaku tanpa mampu perdengarkan suara sebaliknya Yo Jim yang berteriak haru dan marah, lalu bergegas dia menyiapkan goloknya. Akan tetapi tepat pada saat itu sebatang senjata rahasia telah membenam didada sebelah kirinya !

Tangan kanan Yo Jim melepaskan goloknya, sebab dia gunakan buat mencabut senjata rahasia yang membenam di dadanya; dan untuk kagetnya dia mengenali senjata rahasia itu adalah 'tok piao' atau piao beracun yang khas menjadi senjata penyebar maut dari Hong bie kauwcu Gan Hong Bie yang sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi lima persaudaraan Yo itu.

“twa ko, awas; dia adalah Gan Hong Bie yang kita sedang cari ... !” teriak Yo Jim dengan suara parau akibat pengaruh bisa racun, namun dia masih memaksa diri buat memberitahukan kepada kakaknya yang sedang bertempur melawan si pemuda bermuka pucat itu, yang merupakan penyamaran dari Gan Hong Bie alias Hong bie kauwcu !

Sehabis dia berteriak, maka terasa oleh Yo Jim bahwa kepalanya sangat pening, pandangan matanya menjadi samar, dan disaat dia hendak jatuh, sebatang pisau belati terbang menembus di tenggorokannya membikin dia segera rubuh tewas !

Kim an Yo Toa menjadi sangat terharu dan geram, karena menyaksikan sekaligus dua adiknya telah menjadi mangsa keganasan Hong bie kauwcu yang sedang dia tempur.

Dengan perdengarkan pekik kegusarannya yang meluap, maka Yo Toa perhebat serangannya; akan tetapi Hong bie kauwcu perdengarkan suara tawa dan sempat dia bicara.

"... dahulu waktu di kota San-hay koan kalian telah berkomplot dengan pangeran Gin Lun dan mengganyang markas Hong-bie pang cabang di kota itu; sayang waktu itu aku tidak ada dikota itu sehingga aku tidak bisa menghadapi kalian. Sekarang kita bertemu disini dan kalian harus melunaskan hutang itu, kelak pangeran Gin Lun juga akan mendapat bagian... "

Kim an Yo Toa tidak menghiraukan yang dibicarakan oleh Hong bie kauwcu Gan Hong Bie, meskipun dia tidak melupakan tentang kejadian itu, waktu dia bersama-sama Kang lam liehiap Soh Sim Lan serta beberapa orang gagah yang mendukung pangeran Gin Lun, telah mengganyang markas cabang Hong bie pang di kota San hay koan. Dan selagi bertempur Kim an Yo Toa sedang memikirkan perihal ujut muka Gan Hong Bie, sebab dia ketahui katanya sudah berusia empat puluh tahun lebih sedangkan yang sekarang dia tempur dan yang mengaku sebagai Gan Hong Bie, ternyata merupakan seorang pemuda bermuka pucat seperti mayat hidup, yang umurnya belum mencapai tigapuluh tahun.

"... siapa kau sebenarnya ? mengapa kau mengaku sebagai Hong bie kauwcu ..,.?" akhirnya Kim an Yo Toa menanya, sambil dia harus lompat mundur dari serangan lawan yang bermuka pucat itu, yang sekarang telah menggunakan senjata Kim-sie joan pian (cambuk lemas) yang mengandung bisa racun. "... hmmm ! Bukan kau yang harus menanya, akan tetapi kau harus menjawab pertanyaanku ...” sahut Hong bie kauwcu Gan Hong Bie, sedangkan senjatanya yang istimewa mencari sasaran pada leher Yo Toa, memakai gerak tipu 'tok liong hie sui" (naga beracun bermain didalam air), sehingga dengan cara memperdengarkan bunyi suara angin yarg mendesir, maka Cambuk emas itu bergerak mengurung disekitar tubuh lawannya, membikin jelas kelihatan bahwa Yo Toa terdesak dan berada dalam ancaman bahaya maut.

“.....sekarang kau katakan, dimana gerangan Kanglam liehiap Soh Sim Lan, sebab aku dengar perempuan jalang itu berteman baik dengan Liu Goat Go, sedangkan Liu Goat Go itu adalah adiknya Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing yang harus ditangkap dan dibawa menghadap kepada pangeran Kim Lun !" Hong bie kauwcu Gan Hong Bie berkata dengan suara membentak; namun sepasang matanya yang tajam sempat melihat bahwa seorang rekannya yang sedang bertempur melawan Yo Sam sedang terdesak, sehingga satu gerak cepat yang pesat tiga batang 'tok piao' terbang mencari sasaran pada tubuh Yo Sam; membikin Yo Sam secara tiba-tiba berteriak kesakitan karena lengan kanannya terkena sebatang "tok piao", mengakibatkan senjata lepas dari pegangannya, dan kesempatan itu tidak disia-siakan oleh lawannya, yang dalam waktu sekejap telah berhasil menghabiskan Yo Sam.

Sekiranya Yo Toa mempunyai kesempatan buat menangis maka pasti dia telah menangis sebanyak tiga kali sebab tiga adiknya secara berturut-turut telah tewas ditangan si pemuda bermuka pucat seperti mayat hidup, yang mengaku sebagai Gan Hong Bie atau Hong bie kauwcu. Yo Toa cuma sempat berteriak untuk melepas rasa marah dan penasarannya; namun tindakannya itu justeru membikin pertahanannya menjadi lemah, apalagi waktu didengarnya suara tawa mengejek dari si pemuda bermuka pucat itu yang sekarang sedang mengintai dia.

"....ajalmu telah kian mendekat, apakah kau belum mau memberitahukan dimana gerangan kedua perempuan jalang itu, atau malahan kau mengetahui dimana gerangan Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing umpatkan diri.,..!" terdengar pemuda bermuka pucat itu berbicara lagi.

“Binatang! Bedebah! Percuma aku bicara padamu...!”

seru Yo Toa dengan marahnya yang meluap.

'Ha ha ha.. !" tawa si pemuda bermuka pucat itu, yang lalu menyambung dengan perkataannya :

"...rupanya kau benar-benar sudah bosan berada didalam dunia ini ..."

"Mayatku akan tetap berada didunia ini.." sahut Yo Toa sambil dengan jurus "lutung putih memetik buah" dia berusaha menyerang mengarah bagian sepasang mata si pemuda bermuka pucat itu.

“Akan aku hancurkan mayatmu supaya tidak bermukim di dunia ,,.!” kata si pemuda bermuka pucat itu yang berhasil menghindar dari serangan lawannya; bahkan sempat dia balas menyerang dengan gerak tipu 'tok liong cut tong' (naga berbisa keluar dari goa).

"Tulangku akan tetap berada didalam dunia ....!" kata lagi Yo Toa yang sengaja hendak mencari luang dengan membikin lawannya lengah karena marah.

“Senjataku sanggup menghancurkan tulang-tulangmu sampai menjadi tepung, yang nanti akan aku buang ketengah laut Tong hay.....” sahut pemuda bermuka pucat

itu, yang benar-benar menjadi marah.

“Ha ha ha ! apakah laut kau anggap bukan didalam dunia.. ?” kata Yo Toa sambil dia tertawa, untuk kemudian dia menyerang memakai kakinya, dengan suatu tendangan geledek; tepat pada betis lawannya sehingga membikin si pemuda bermuka pucat itu terpental. Akan tetapi waktu goloknya Yo Toa bergerak dengan suatu bacokan maut bagaikan gunung Tay san menindih, maka si pemuda bermuka pucat itu berhasil menghindar, sehingga sebuah meja batu menjadi sasaran goloknya Yo Toa, sampai meninggalkan noda cacad bekas terkena bacokan golok.

Meskipun dia sudah berhasil menghindar dari bacokan maut lawannya, namun Gan Hong Bie yang sedang menyamar sebagai seorang pemuda bermuka pucat itu tidak segera dapat bangun berdiri, karena kakinya terasa sakit akibat kena tendangan geledek tadi.

Akan tetapi dengan tubuh yang masih rebah, si pemuda bermuka pucat itu menyerang dengan tiga batang 'tok-piao'; dan pada saat Yo Toa sanggup menghindar dengan berkelit dan menangkis memakai goloknya; maka tiga batang pisau terbang ikut melayang ke tiga bagian tubuh Yo Toa.

Dua batang pisau terbang nyaris mencapai sasaran, akan tetapi yang sebatang lagi mengarah bagian muka, dengan tabah telah digigit oleh Yo Toa.

Meskipun Yo Toa sudah berhasil menggigit pisau terbang itu, akan tetapi pisau belati itu terasa sangat licin sekali; dan berhasil menggurat bibirnya dan melalui luka yang kecil itu, maka bisa racun menjalar memasuki tubuh Yo Toa; sehingga disaat berikutnya Yo Toa merasakan kepalanya pening, pandangan matanya ikut menjadi samar waktu dia melihat si pemuda bermuka pucat itu mendekati dengan langkah kaki yang pincang, lalu sebatang pisau belati lain telah membenam di perut Yo Toa, dan pisau belati itu kemudian membedah kebagian atas, mengakibatkan ususnya Yo Toa ikut keluar sedangkan si pemuda bermuka pucat alias Gan Hong Bie tidak menghiraukan waktu darah menghambur dan membasahi tangannya yang berhasil menyebar maut!

Si pemuda bermuka pucat seperti mayat hidup itu kemudian tertawa, dan dia menjadi lebih tertawa lagi waktu dilihatnya kedua rekannya juga telah berhasil mengalahkan Yo Sun yang mereka kepung berdua.

Hong Bie kauwcu Gan Hong Bie dalam ujut muka seperti pemuda yang pucat itu kemudian mengawasi si pemilik kedai yang waktu itu berada berdua dengan pelayannya, sehingga membikin kedua orang itu menjadi sangat ketakutan sekali.

Didalam hati mereka mengutuk perbuatan kejam dari si pemuda bermuka pucat yang mengaku bernama Gan Hong Bie itu, atau yang katanya menjadi ketua dari persekutuan mengharap agar tujuh turunan mereka jangan sampai menemui manusia buas yang seperti itu lagi.

Kemudian mereka melihat si pemuda bermuka pucat seperti mayat hidup itu mendekati mereka, sambil dia perdengarkan lagi suara tawanya, yang membikin si pemilik kedai dan pelayannya menjadi saling rangkul dan sekali lagi mereka berdo'a semoga mayat hidup itu tidak membunuh mereka berdua, dan mereka berdua rela umur mereka dikurang tujuh hari ... )

cooo)X(oooo

"DAN SEKARANG ternyata kalian masih hidup ..." kata Pouw Keng Thian setelah si pemilik kedai menyudahi kisahnya; sambil sempat dia melirik ke arah sipelayan yang waktu itu sedang mencuci mangkok mangkok kotor di ruangan dalam.

"Pada mulanya kami pun tidak menyangka kalau nyawa kami tidak direnggut oleh simayat hidup itu. Sekiranya kami mengetahui bahwa kami akan tetap hidup, maka ..."

"Maka kenapa ... ?" tanya Pouw Keng Thian yang melihat sipemilik kedai tidak meneruskan bicara.

"Maka kami menyesal bahwa kami sudah menyatakan kesediaan hidup kami dikurang 7 hari, sebab . , .."

“Sebab., ?" sekali lagi Pouw Keng Thian mendesak. "Sebab, jangankan dikurang tujuh hari meskipun hanya

tujuh menit kami tidak rela mengurangi kesempatan hidup

kami ..."

"Bagaimana kalau dikurangi tujuh detik..?” tanya Pouw

Keng Thian yang jadi menggoda.

“Hayaa ! siangkong telah bergurau ..." sahut sipemilik kedai dengan muka bersungut; akan tetapi dia tidak marah maupun tersinggung.

"Dan tentang kuda yang ada didepan itu, apakah miliknya si mayat hidup itu ...?" tanya Pouw Keng Thian sehabis sejenak dia perlihatkan senyumnya; padahal didalam hati dia sedang memikirkan tentang penyamaran Hong bie kauwcu alias Gan Hong Bie. Mungkinkah ujut muka 'si hartawan' Cio Sin Eng juga merupakan penyamaran belaka ?

Sementara itu si pemilik kedai terdengar memberi jawaban atas pertanyaan Pouw Keng Thian.

"Hayaa! kalau kuda kuda itu miliknya si mayat hidup, tentu artinya mereka akan datang lagi dan kalau mereka datang lagi, artinya kami akan bertemu lagi dengan mereka padahal kami sudah bersumpah untuk tujuh turunan jangan lagi bertemu dengan rombongan itu..."

"Jadi kuda kuda itu adalah miliknya ..."

"Sudah tentu miliknya itu lima orang orang gagah dari kota Kim an, yang mayat mayat mereka sudah kami pendam kedalam liang kubur...." sahut si pemilik kedai yang memutus perkataan Pouw Keng Thian.

Pouw Keng Thian menjadi tertawa karena lagak dan gaya bicara si pemilik kedai yang jenaka: setelah itu dia menanya lagi.

"Tentang Leng In Liang itu; apakah pernah datang setelah terjadinya peristiwa itu ?” Sejenak si pemilik kedai terdiam seperti berpikir, setelah itu baru dia berkata :

"Heran, biasanya Leng suhu tentu sudah datang, akan tetapi entah kenapa, selama lebih dari sepuluh hari ini kami tidak pernah kedatangan dia …"

Ganti pemuda Pouw Keng Thian yang jadi terdiam berpikir, sampai sesaat kemudian dia menanyakan tentang alamat Leng In Liang; yang ternyata menetap diatas gunung Lam san, bukan didalam dusun Liok hap cung.

Perjalanan mendaki gunung Lam-san, apa lagi untuk mencapai tempat kediaman Leng In Liang; ternyata bukan merupakan perjalanan yang mudah bagi seorang biasa. Akan tetapi Pouw Keng Thian kelihatan tidak menghadapi kesukaran, oleh karena dia telah pergunakan ilmu ringan tubuh, berlompatan dari satu bukit kelain tebing, sampai akhirnya dia berhasil mencapai tempat tujuan.

Akan tetapi, pemuda ini kemudian menjadi terkejut dan terpesona, sebab yang dia temukan adalah sejumlah mayat- mayat yang sudah kaku dan kebanyakan dari mayat-mayat itu adalah menjadi korban dari senjata rahasia "tok piao" dan pisau belati penembus tenggorokan yang khas merupakan senjata rahasia dari Gan Hong Bie alias Hong bie kauwcu !

Pouw Keng Thian kemudian mendekati salah satu mayat dan dia mencabut salah satu pisau belati itu, yang ternyata terdapat huruf huruf 'coan yo shin jie'.

Jelas bagi pemuda Pouw Keng Thian bahwa Hong bie kauwcu telah menyebar maut di atas gunung Lam san, bahkan tempat bersemayam Leng In Liang; seorang guru silat yang terkenal tinggi ilmunya. Entah berapa banyak gerombolan orang orang Hong bie pang yang dibawa oleh Hong bie kauwcu untuk melakukan pembantaian itu sementara yang tewas ada lima belas orang banyaknya, termasuk Leng In Liang yang tewas dengan usus berantakan dan muka rusak, disamping itu ada juga orang- orang Hong bie pang yang tewas, terbukti dengan pakaian mereka yang serba hitam dengan lambang kepala seekor seekor binatang rase didalam sebuah lingkaran.

Pouw Keng Thian yakin bahwa pihak Gan Hong Bie sudah mengetahui tentang orang-orang yang ikut melakukan pengganyangan terhadap markas Hong bie pang cabang kota Soan hoa; sehingga mereka mulai melakukan pembelaan.

Peluh membasahi muka dan tubuh Pouw Keng Thian, ketika seorang diri pemuda itu melakukan pemakaman terhadap semua mayat itu, dan dia mencantumkan nama nama mereka yang dia kenal, sedangkan yang tidak dikenalnya diberikan pula catatan sebagai mayat mayat yang tidak dikenal, dengan menambahkan pula keterangannya pada papan hiasan, bahwa mereka yang tewas adalah menjadi korban pembantaian pihak orang orang Hong bie pang. Setelah selesai melakukan pemakaman terhadap mayat mayat itu, maka Pouw Keng Thian beristirahat dan terpaksa bermalam di tempat bekas kediamannya Leng In Liang, dan esok paginya ia meneruskan perjalanannya sampai memasuki kota Po teng yang ramai.

Didalam kota Po teng itu, secara tidak disengaja Pouw Keng Thian bertemu dengan Cay hong suthay yang sedang melakukan perjalanan seorang diri, sehabis bhiksuni yang sakti itu berpisah dengan Piauwtauw Ma Heng Kong serta keponakannya, yakni dara Ma Kim Hwa yang sudah dikenal oleh Pouw Keng Thian.

Dengan bhiksuni yang sakti itu, pemuda Pouw Keng Thian memang sudah kenal bahkan pernah dia datang menyambangi, selagi dia mendapat tugas membawa surat dari gurunya buat Cay hong suthay, dan pada kesempatan pertemuan itu, Pouw Keng Thian memberitahukan juga perihal tewasnya Leng In Liang dan Kim an ngo kiat yang menjadi korban keganasan orang orang Hong bie pang.

“Kim an ngo kiat tewas...?" tanya Cay hong suthay yang kelihatan sangat kaget, dan bhiksuni yang sakti itu bahkan tak lupa menyebut 'o mi to hud’.

“Benar suthay ..” sahut Pouw Keng Thian yang lalu menambahkan keterangannya, mengatakan bahwa mayat mayat Kim an ngo kiat secara darurat telah dimakamkan didekat gunung Lam san oleh pemilik kedai arak ditempat itu.

(“Kim an ngo kiat tewas oleh orang orang Hong bie pang

? bukankah ilmu lima tenaga harimau tidak mudah dikalahkan .,.?”) pikir Cay hong suthay didalam hati; dan dia benar-benar merasa sangat penasaran sekali sebab bhiksuni yang sakti ini mengetahui bahkan ikut melatih lima persaudaraan Yo itu, waktu mereka dulu belajar ilmu 'ngo houw-tay sin ciang' atau ilmu tenaga sakti lima harimau yang bersatu padu.

Dahulu, ayahnya lima bersaudara Yo adalah dari Pat kwa bun golongan utara, yang bermusuhan dengan Ong Sin Ho dari Pat kwa bun golongan barat.

Yo Kian Cong, ayahnya lima bersaudara Yo akhirnya tewas di tangan Ong Sin Ho; sementara itu ruman tangga Yo Kian Cong berantakan dan lima bersaudara Yo hidup terpisah satu dengan lain.

Semua peristiwa itu, bahkan segala unsur yang menjadikan pertentangan antara orang-orang Pat kwa bun golongan barat dengan Pat kwa bun golongan utara; diketahui oleh Cay hong suthay dari ayahnya.

Ayahnya Lian Cay Hong (atau Cay hong suthay) bahkan mengetahui dengan baik segala rahasia ilmu silat Pat kwa bun golongan barat maupun golongan utara. Mengetahui bagian-bagian yang ampuh ataupun bagian-bagian kelemahannya. Akan tetapi ayahnya Lian Cay Hong terikat dengan janji untuk tidak mencampuri segala urusan pertentangan kaum Pat kwa bun, sehingga dia tidak berdaya untuk membantu pihak Yo Kian Cong.

Waktu terjadi pertempuran yang menentukan antara Yo Kian Cong melawan Ong Sin Ho, maka ayahnya Lian Cay Hong yakin bahwa suatu melapetaka akan menimpa keluarga Yo Kian Cong; dari itu lekas-lekas dia mendatangi rumah Yo Kian Cong, mengumpulkan lima persaudaraan Yo yang waktu itu masih merupakan bocah bocah yang masih kecil. Kelima telapak tangan kanan dari lima bersaudara Yo ditempatnya diatas meja, lalu bagian belakang dari lima telapak tangan itu digurat panjang lurus memakai ujung golok sampai mengeluarkan darah; setelah itu diberikan obat bubuk supaya luka luka itu segera mengering.

Lewat sepuluh tahun setelah terjadinya peristiwa tewasnya Yo Kian Cong itu, maka perguruan Pat kwa bun golongan barat semakin meluas, sedangkan Pat kwa bun golongan utara tidak lagi terdengar suaranya.

Semua kisah peristiwa yang diketahui oleh ayahnya Lian Cay Hong, telah diberitahukan kepada puterinya, yakni ketika Lian Cay Hong sudah menyelesaikan pelajaran ilmu silat diatas gunung Ngo bie san. Dan kepada Lian Cay Hong telah pula diserahkan sebuah kitab ilmu silat ngo how tay sin kang yang khusus buat dipelajari dan dipergunakan oleh kelima dari persaudaraan Yo untuk melakukan balas dendam terhadap Ong Sin Ho.

Setelah ayahnya wafat, maka Lian Cay Hong mulai mencari lima persaudaraan Yo untuk memenuhi pesan ayahnya. Akan tetapi pekerjaan mencari lima bersaudara itu bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah, oleh karena sejak ayah mereka tewas di tangan Ong Sin Ho, mereka berlima tidak diketahui jejaknya bahkan menjadi orang buruan pihak Ong Sin Ho yang hendak membasmi semua keluarga Yo Kian Cong.

Dalam usaha melakukan pencarian itu Lian Cay Hong tiba di Hang ciu dan singgah di Hui eng piauwkiok, perusahaan pengangkutan ‘garuda terbang' yang pemiliknya memang dikenal oleh Lian Cay Hong; dan diluar dugaan diperusahaan itu dia bertemu dengan Yo Jim, putra kedua dari almarhum Yo Kian Cong yang memang sedang dicari.

Waktu itu Yo Jim merupakan seorang pemuda gagah perkasa yang gemar memakai pakaian serba putih. Dikalangan rimba persilatan Yo Jim mendapat gelar sebagai si Gagak putih yang perkasa, sampai kemudian dia bekerja sebagai piauwsu di perusahaan Hui eng piauwkiok; dan didalam menunaikan tugasnya mengawal kereta piauw, tak banyak rintangan yang dia hadapi di tengah perjalanan; berkat kegagahan dan berkat nama Hui-eng piauwkiok yang sudah sangat terkenal !

Adalah cacad luka guratan ujung golok pada telapak tangan kanan, yang menyebabkan Lian Cai Hong mengenali Yo Jim sebagai puteranya almarhum Yo Kian Cong.

Pada mulanya Yo Jim kelihatan heran, oleh karena ada seorang dara jelita yang perkasa dan yang mengetahui tentang dia dan nama ayahnya; akan tetapi setelah Lian Cay Hong menceritakan, maka dengan hati-hati dan semangat yang membara, Yo Jim bertekad hendak melakukan balas dendam.

Bagi Yo Jim memang dia masih belum jelas mengenai permusuhan antara ayahnya dengan pihak Ong Sin Ho. Setelah dia mengetahui dari Lian Cay Hong, yang juga telah menceritakan tentang ilmu 'ngo houw-tay sin kang' dan tentang cacad pada tangan kanannya; maka dia bertekad hendak mencari ke empat saudaranya.

“Bagus! kau carilah mereka dan aku pun akan terus membantu mencari. Lagi dua bulan kita nanti bertemu disebuah kuil rusak yang letaknya diatas bukit Kim nia, terpisah tidak terlalu jauh dari dusun Ong kee po..." kata dara Lian Cay Hong yang kelihatan girang dan bersemangat.

(Dusun Ong kee po yang dimaksud oleh Lian Cay Hong, adalah tempat tinggalnya Ong Sin Ho).

"Terima kasih, Lian kouwnio ..." sahut Yo Jim waktu itu, sambil dia memberi homat. Setelah itu Lian Cay Hong meneruskan perjalanannya, hendak mencari ke empat persaudaraan Yo.

Pada suatu hari dara Lian Cay Hong yang melakukan perjalanan seorang diri, telah menyewa sebuah kereta kuda berikut saisnya; dan di tengah perjalanan kereta itu dihentikan oleh seorang yang hendak ikut menumpang dan seseorang itu duduk dibagian atas kereta di sisi sais.

Dari tempat duduknya yang tertutup rapat, Lian Cay Hong tidak dapat melihat muka laki laki yang ikut menumpang itu sampai kemudian mereka tiba didusun Han kee cip, dan Lian Cay Hong turun serta membayar uang sewa kereta, lalu dia memasuki suatu kedai arak untuk beristirahat.

Waktu Lian Cay Hong baru saja duduk memesan makanan; maka dia mendengar ada suara ribut ribut dari orang orang yang sedang bertengkar. Dari tempat duduknya itu Lian Cay Hong lalu mengawasi sehingga diketahui olehnya bahwa yang sedang bertengkar adalah sais kereta tadi dengan laki laki yang menumpang yang ternyata sedang memaksa hendak minta diantarkan terus sampai ke dusun Ong kee po.

Pada waktu itu dusun Ong kee po sudah sangat terkenal sebagai suatu dusun yang galak orang orangnya; terutama mereka yang mengaku menjadi murid murid Pat kwa bun golongan barat. Sudah seringkali terjadi bahwa para pendatang atau orang orang yang sedang lewat didusun Ong kee po kena dianiaya oleh murid murid Pat kwa bun golongan barat yang dipimpin oleh Ong Sin Ho.

Sais kereta itu agaknya tidak berani datang ke dusun Ong kee po dari itu dia menolak waktu diminta mengantarkan oleh si penumpang tadi; dan si penumpang yang memang kelihatan galak, menjadi marah sampai kemudian dia menarik tubuh sais itu yang sedang berdiri diatas kereta, sampai sais itu terjatuh lalu ditendang sehingga terguling- guling.

Agaknya laki laki galak itu masih belum merasa puas dengan perbuatannya, sebab dia telah mengambil pecut kuda, yang lalu digunakan buat memecut sais itu; sehingga sais itu berteriak kesakitan sedangkan pakaiannya sampai ada yang robek bekas kena dipecut.

Banyak orang orang yang ikut menyaksikan kejadian itu, akan tetapi tidak ada seorang pun yang berani memberikan bantuan atau pertolongan bagi sais yang malang itu, sebab ada orang orang yang mengetahui bahwa laki laki galak itu katanya adalah orang Pat kwa bun golongan barat dari dusun Ong kee po; sehingga orang orang menjadi ketakutan bahkan mengeluarkan suara penyesalan dengan mengatakan sais itu sudah berani membangkang.

Setelah Lian Cay Hong ikut mengetahui bahwa laki laki yang galak itu katanya orang Pat kwa bun golongan barat; maka dia mengawasi dengan penuh perhatian dari tempat duduknya, sampai dia teringat bahwa laki-laki itu bernama Coa Wi Su, orang keempat dari lima ular belang yang memang terkenal paling galak.

Dahulu waktu ayahnya masih menetap di dusun Ong kee po, memang pernah beberapa kali Lian Cay Hong pulang dan diajak berkunjung ke rumah Ong Sin Ho, sehingga antara mereka sudah saling mengenal, bahkan Ong Sin Ho selalu menyebut Lian Cay Hong dengan sebutan 'si jelek'.

Kata kata "jelek” itu bukan dalam arti kata Lian Cay Hong bermuka jelek, akan tetapi Ong Sin Ho memakai istiIah “jelek" buat menyindir ayahnya Lian Cay Hong yang dianggap adatnya jelek, berhubung ayahnya Lian Cay Hong tidak mau berpihak pada Ong Sin Ho dalam menghadapi urusan pertentangan dengan pihak Kian Cong.

Adapun selagi Coa Wie Su hendak mengulang perbuatannya memecut sais kereta itu, maka muncul seorang pemuda yang bergerak dengan gesit menangkap ujung pecut yang hampir menghajar sais itu lagi.

Pemuda tidak dikenal itu menarik ujung pecut yang masih dipegang oleh Coa Wie Su, maksudnya adalah untuk membikin Coa Wie Su terjerumus karena tarikannya, akan tetapi pemuda itu menjadi terkejut ketika mendapati Coa Wie Su tidak tergeser dari tempatnya, oleh karena agaknya Coa Wie Su telah mengerahkan tenaganya sambil dia perlihatkan senyum menghina.

“Bagus ...!” seru pemuda tidak dikenal itu lalu dia menarik lagi dengan menambah kekuatan tenaganya.

Maka terjadilah tubuh Coa Wie Su terlempar keatas udara dari tempat dia berdiri diatas kereta, sedangkan pemuda tidak dikenal itu juga ikut terlempar tinggi, karena agaknya kedua-duanya sama-sama menarik memakai tenaga yang besar yang mengakibatkan pecut kuda itu terputus menjadi dua.

Dara Lian Cay Hong yang masih tetap duduk ditempatnya sempat melihat pemuda yang tidak dikenal itu yang berpakaian semacam orang desa, memakai tudung bercaping lebar yang bagian tengahnya bolong, mengakibatkan bagian atas kepalanya atau kondenya jadi nongol keluar kalau dia sedang memakai tudung caping yang lebar itu, sedangkan disekitar tudung caping itu sangat tipis dan tajam, karena sesungguhnya tudung caping itu dibuat dari bahan baja pilihan. Jelas bahwa tudung caping itu bukan sembarang tudung, akan tetapi merupakan senjata yang istimewa. Dipihak Coa Wi Su yang memang terkenal galak, segera dia mengeluarkan senjatanya yang berupa sebatang golok, lalu dia mulai melakukan serangan maut dengan mengerahkan ilmu silat golok Pat kwa to, sehingga pemuda tidak dikenal itu harus buru-buru menyiapkan tudungan yang istimewa yang ternyata benar benar merupakan senjatanya.

Dengan perlihatkan kegesitannya, secara lincah pemuda yang tidak dikenal itu menghindar dari setiap serangan golok lawannya, bahkan sempat melancarkan serangan balasan memakai tudungnya yang istimewa, tanpa menghiraukan tudungnya yang istimewa itu terbentur dengan golok lawan yang dipakai untuk menangkis sehingga bunyi suara nyaring seringkali terdengar sampai memantul akibat kedua benda logam itu saling bentur.

Didalam hati Lian Cay Hong memuji kecerdasan pemuda itu. Dilihat dari cara dia bertempur yang gesit gerak tubuhnya, serta penuh dengan berbagai serangan tipu daya disamping dia memiliki senjata yang istimewa, sewaktu-2 dapat dia lontarkan semacam "piring terbang” yang mencari sasaran, lalu senjatanya itu kembali lagi ketangannya karena cara melontarkannya berputar sedemikian rupa, dapat diarahkan kemana saja yang hendak dia tujukan dengan cara yang sangat terlatih.

Akhirnya Coa Wie Su menjadi mati daya terlebih waktu goloknya terlempar jauh lepas dari tangannya, kena tangkisan dahsyat dari pemuda lawannya, dan diapun kena tendangan geledek sehingga dia rubuh terguling untuk dilain saat pemuda itu sudah menyusul dia, menginjak tubuhnya memakai sebelah kaki, lalu senjata yang istimewa itu siap hendak dipakai buat membinasakan Coa Wie Su. "Tunggu..,.!” teriak dara Lian Cay Hong yang sudah lompat melesat dari tempat duduknya sehingga selekas itu juga dia sudah berdiri didekat kedua laki laki itu.

Gerak yang gesit dan ringan dari Lian Cay Hong telah mempesona seorang pemuda itu, sehingga dia menunda senjatanya dan mengawasi wajah muka yang cantik yang sedang berdiri didekatnya dengan seberkas senyum yang menawan hati.

Di pihak Coa Wie Su, dia kelihatan girang melihat Lian Cay Hong yang memang dia sudah kenal; padahal sejak tadi tidak mengetahui bahwa dia bahkan berada didalam kereta yang sama. Akan tetapi dalam keadaan yang tidak berdaya, Coa Wie Su tidak menyapa sebab dia merasa malu sebaliknya dia diam mendengarkan percakapan yang dilakukan antara dara Lian Cay Hong dengan pemuda yang tidak dikenal itu.

"Lepaskan dia, supaya dia pulang ke dusun Ong kee po..." demikian terdengar kata Lian Cay Hong sambil menunjuk Coa Wie Su yang masih diinjak dengan sebelah kaki oleh pemuda itu.

Pemuda yang tidak dikenal itu kelihatan masih tetap seperti terpesona. Agaknya terlintas didalam pikirannya, bahwa dara jelita yang sedang berdiri dihadapannya itu, tentu dari pihak orang orang Ong kee po.

"Apakah kouwnio dari pihak mereka ...?” akhirnya tanya

pemuda itu dengan perlihatkan senyum menghina.

"Bukan   " sahut dara Lian Cay Hong wajar dan tenang;

lalu dia menambahkan perkataannya :

"…akan tetapi bukankah kau bermaksud mengunjungi Ong-kee po ? dengan melepaskan dia, maka dia dapat mengabarkan tentang maksud kedatangan kau itu…." Pemuda yang tidak dikenal itu menjadi bertambah heran terpesona. Dari mana gerangan dara jelita itu mengetahui maksudnya yang hendak mengunjungi dusun Ong-kee po?

Sesungguhnya pemuda yang tidak dikenalnya itu tidak mengetahui, bahwa pandangan mata yang tajam dari Lian Cay Hong, telah melihat adanya tanda cacad bekas kena guratan golok pada tangan kanan pemuda itu; oleh karenanya Lian Cay Hong yakin bahwa dia telah menemukan lagi seorang persaudaraan Yo. Dan adanya pemuda itu didusun yang letaknya berdekatan dengan Ong kee po, sudah tentu mengandung maksud hendak mendatangi Ong Sin Ho !

Pemuda itu memang adalah Yo Sun, orang ke empat dari lima persaudaraan Yo. Pernah dia mendengar tentang ayahnya yang katanya tewas ditangan Ong Sin Ho dan tentang empat saudaranya yang terpencar.

Tidak mudah buat Yo Sun mencari dan menemukan ke empat saudaranya, yang dia sudah lupa dengan wajah muka mereka; dari itu seorang diri mendatangi dusun Ong kee po dengan maksud hendak melakukan balas dendam.

"Bagaimana kouwnio mengetahui maksudku yang hendak mendatangi dusun Ong kee po?" akhirnya Yo Sun menanya dengan heran.

Untuk yang kesekian kalinya Lian Cay Hong perlihatkan senyumnya yang menawan hati; sementara sudut matanya melirik ke arah Coa Wie Su yang kelihatan sedang meringis kesakitan; setelah itu baru dia berkata:

"Kau lepaskan dia, setelah itu kita bicara..”

"Apakah kouwnio juga bermaksud kedusun Ong kee po...?” tanya lagi Yo Sun, namun bagaikan orang yang terpengaruh, dia mengangkat sebelah kakinya, membiarkan Coa Wie Su lari terbirit-birit, setelah terlebih dahulu dia mengambil goloknya yang terlempar tadi.

"Mengapa tidak....?" sahut dara Lian Cay Hong tanpa dia menghiraukan bahwa Coa Wie Su sempat mendengar jawabannya itu.

Sambil berkata demikian maka Lian Cay Hong mendekati sais kereta yang waktu itu sedang menyambung tali pecut kuda yang putus tadi.

Setelah berdiri berhadapan dengan sais itu, maka Lian Cay Hong mengeluarkan sejumlah uang perak yang nilainya melebihi harga kereta itu lalu dia serahkan uang perak itu kepada sais kereta; sambil dia berkata : "Lo pek, kami memerlukan kereta kau, dari itu kau harus menerima uang ini untuk kau membeli kereta lain yang baru ..”

Sejenak sais kereta itu berdiri terpaku mengawasi uang perak itu, untuk dilain saat ganti dia mengawasi orang yang bicara, bagaikan dia tidak percaya dengan kenyataan yang sedang dia hadapi, sampai kemudian dia menganggap bahwa sehabis menghadapi malapetaka, maka Tuhan melimpahkan dia dengan mendapat keuntungan yang berlimpah, sehingga berulangkali dia mengucap terima kasih sambil dia manggut manggut.

Dilain saat, sais itu sempat melihat bahwa pemuda gagah yang bertempur tadi telah menjadi sais menggantikan dia, dan dara jelita yang banyak duitnya itu duduk menjadi penumpang tunggal.

Cambuk kuda berbunyi melengking diudara meninggalkan gema suara, dan kuda itu lari menarik kereta yang meluncur dengan amat pesatnya, mengambil arah dusun Ong kee-po, dan sais tua yang memegang sejumlah uang perak itu, tetap berdiri mengawasi sampai kereta itu hilang dari pandangan matanya. (•) (X) ()  

COA WIE SU lari cepat terbirit-birit menuju dusun Ong kee po dengan menahan rasa marah dan malu, karena dia telah dipecundangi dihadapan banyak orang; dan orang orang itu justeru sudah kenal dia sebagai seorang jagoan yang galak !

Didekat hutan pohon pek yang masih jauh terpisah dengan dusun Ong kee po, dia bertemu dengan serombongan teman-temannya, yang sebenarnya sedang menerima tugas mengambil upeti; dan pemimpin rombongan yang terdiri dari sembilan orang itu adalah Coa Wie San, si ular belang ketiga yang menjadi kakaknya Coa Wie Su.

Kepada kakaknya itu, maka Coa Wie Su menceritakan tentang dia yang telah bertempur, serta telah bertemu dengan dara Lian Cay Hong.

"Mereka sekarang sedang menuju kemari, untuk terus menuju dusun Ong kee po ... " kata Coa Wie Su yang menambahkan keterangannya.

"Kalau begitu mari kita pegat mereka, di hutan pohon Pek ini justru sangat baik buat kita sergap dia ... " sahut Coa Wie San yang ikut menjadi marah dan penasaran, karena mendengar sang adik kena dikalahkan oleh seorang pemuda yang tidak dikenal.

"Akan tetapi apakah si ‘jelek' tidak akan berpihak pada pemuda itu ... ?” kata lagi Coa Wie Su yang gentar terhadap Lian Cay Hong yang memang sudah dia kenal dan ketahui kegagahannya; sedangkan tadi dia masih meragukan sikap dan pendirian dara yang perkasa itu.

"Kita lihat keadaan nanti ... " sahut Coa Wie San yang sebenarnya juga gentar terhadap dara Lian Cay Hong, namun pada saat itu dia sudah mulai mengatur para pembantunya memilih tempat buat umpatkan diri.

Coa Wie Sun mengikuti saran kakaknya yang memang lebih lihay ilmu silatnya, bahkan juga lebih cerdas otaknya. Seorang diri memang Coa Wie Su telah dikalahkan, bersama kakaknya apalagi banyaknya orang-orang yang akan membantu, maka dia ikut yakin akan dapat mengalahkan pemuda itu buat membalas dendam kekalahannya.

Dilain pihak, Yo Sun larikan kereta kudanya dengan pesat sampai kemudian dia menyusuri hutan pohon pohon Pek; lalu dengan secara tiba tiba dia diserang dengan beberapa batang anak panah.

Yo Sun yang berdiri diatas kereta dengan sebelah tangan kiri memegang tali kendali dan sebelah tangan kanannya memegang pecut kuda, cepat cepat dia menghentikan larinya sang kuda, sementara pecutnya bergerak memukul beberapa batang anak panah yang mengarah dirinya.

Waktu kemudian dia diserang lagi dengan beberapa batang anak panah; maka dia telah melompat turun dari atas kereta, dan dilain saat, dia telah dikurung oleh sepuluh orang laki laki yang sudah siap dengan senjata mereka ditangan masing masing.

Sementara itu Lian Cay Hong juga sudah melompat keluar dari dalam kereta, dan terus dia didekati oleh Coa Wie San, si ular belang yang ketiga.

“Lian kouwnio, kami mendapat berita tentang adanya seorang pemuda yang hendak datang mengacau didusun Ong kee po, dan pemuda itu sekarang ternyata yang berada bersama-sama dengan Lian kouwnio, apakah dia sahabatmu ... ?" tanya Coa Wie San pada Lian Cay Hong. Lian Cay Hong perdengarkan suara mengejek dan memberikan jawaban singkat ;

"Bukan ...” katanya.

“Bagus! Kalau begitu kami akan memegat dia, apakah

Lian kouwnio akan membantu dia ...?"

Sekali lagi Lian Cay Hong perdengarkan suara mengejek dan berkata :

"Hmm ! Apakah kalian sanggup mengalahkan dia sehingga kalian anggap aku perlu memberikan bantuan padanya .. ?"

Coa Wie San mendongkol dengan sikap mengejek dari 'si jelek', akan tetapi didalam hati dia merasa girang; karena dengan perkataannya itu; 'si jelek' seolah-olah sudah berjanji tidak akan membantu si pemuda yang tidak dikenal itu sebab yang dia takuti justeru kegagahannya Lian Cay Hong.

Coa Wie San kemudian tinggalkan dara Lian Cay Hong, buat dia mendekati kawan-kawannya yang tetap mengurung Yo Sun, namun masih menunggu dia yang sedang berbicara dengan dara Lian Cay Hong.

Dengan menyiapkan senjatanya yang berupa seutas rantai baja dengan kedua ujung memakai mata tombak, maka Coa Wie San memasuki lingkaran orang orang yang sedang mengurung Yo Sun yang waktu itu sedang berdiri berhadapan dengan Coa Wie Su.

Sementara itu Yo Sun juga sudah siap dengan senjata tudung capingnya yang istimewa. Agaknya dia tidak gentar menghadapi Coa Wie San berdua Coa Wie Su disamping ada delapan orang orang yang mengurung dan siap mengepung dia. Coa Wie San kemudian memutarkan senjata rantai baja sampai perdengarkan bunyi suara menderu-deru, memperlihatkan tenaganya yang dahsyat: lalu dia mulai membuka serangan dari jarak jauh, mengarah bagian dada Yo Sun, sehingga dengan demikian menjadi kelihatan jelas bahwa Yo Sun bakal sukar balas menyerang, karena senjata Yo Sun hanya berupa tudung caping yang bundar pendek.

Waktu itu Yo Sun lompat berkelit dari serangan rantai baja yang mengarah dadanya, akan tetapi dia langsung disusul dengan suatu serangan bacokan dari goloknya Coa Wie Su; sehingga pemuda ini harus menangkis golok itu memakai senjatanya yang istimewa bahkan sempat dia balas menyerang bekas pecundangnya itu.

Kemudian terdengar deru rantai baja Coa Wie San, tepat disaat Coa Wie Su sedang lompat menghindar dari serangan Yo Sun dan Yo Sun tak sempat mengejar Coa Wie Su, sebab dia harus menghindar dari rantai baja yang bermata tombak itu.

Dalam usahanya untuk menghindari dari rantai baja itu Yo Sun justeru lompat mendekati Coa Wie San, yang lalu dia serang memakai senjata tudungnya yang istimewa dengan gerak tipu 'petani bongkok membabat rumput', yakni dengan tubuh membongkok dia membabat pinggang Coa Wie San.

Dalam kagetnya Coa Wie San menangkis memakai bagian ujung lain dari senjatanya.

Biasanya, senjatanya Coa Wie San itu memang dapat digunakan buat menangkis bahkan dapat melibat senjata lawan yang lalu dia betot membikin senjata lawan terlepas dari pegangan. Akan tetapi sekali ini dia berhadapan dengan senjata Yo Sun yang bundar berupa tudung, sehingga tidak mungkin dia libat hanya berhasil dia menangkis sehingga perdengarkan bunyi suara nyaring bagaikan bunyi suara cecer tukang obat!

Membarengi selagi Coa Wie San berhasil menangkis senjatanya, maka telapak tangan kiri Yo Sun bergerak memukul tubuh lawannya, dengan suatu pukulan 'tangan besi' yang khas dari golongan ‘tiat ciang pay'.

"Bagus , . , !" seru dara Lian Cay Hong tidak sengaja; karena dia yang terus memperhatikan pertempuran itu, mengenali ilmu pukulan golongan 'tiat ciang pay' yang waktu itu sedang berkembang.

Sementara itu tubuh Coa Wie San terlempar beberapa langkah menyamping, dengan mulut mengeluarkan sedikit darah akibat terkena pukulan tadi; akan tetapi Coa Wie San yang memang memiliki tenaga besar, tidak sampai dia terjatuh meskipun dia harus berdiri sempoyongan seperti pohon tua ditiup angin musim rontok.

Dipihak Yo Sun, meskipun dia sudah berhasil memukul Coa Wie San; namun dia tidak sempat mengulang serangannya, sebab dia sudah dihadang dan diserang oleh Coa Wie Su.

Lima kali serangan berturut-turut dari golok Coa Wie Su dapat dihindarkan atau ditangkis oleh senjata Yo Sun, setelah itu Yo Sun balas menyerang dengan gerak tipu 'rumput kering mengikuti tiupan angin', sehingga dengan gerak tubuhnya yang lincah dan gesit, dia berhasil melakukan serangkaian serangan berupa tabasan memakai tudungnya, sampai kemudian terdengar teriak menyeramkan dari Coa Wie San yang memerintahkan semua teman-temannya mengepung!

Coa Wie Su nyaris dari maut karena Yo Sun harus melayani para pengepungnya. Pemuda itu mengamuk bagaikan seekor harimau galak, tudungnya yang istimewa berhasil mencari mangsa beberapa orang pengepungnya, sedangkan pukulan tangan kirinya juga tidak kurang berbahayanya.

Dara Lian Cay Hong masih diam menyaksikan pertempuran itu, lalu terdengar lagi pekik marah dari Coa Wie San :

“Semua minggir...!" demikian teriak Coa Wie San yang kemudian telah memutar senjata rantainya dan disaat teman-temannya sudah memisah diri, maka dengan suatu gerak tipu 'thian tee chong san' atau geledek menggempur gunung, maka rantai baja itu dengan dahsyat menghantam Yo Sun.

Yo Sun berkelit menghindar, akan tetapi dia tidak berkesempatan mendekati tempat Coa Wie San berdiri; sebab rantai baja Coa Wie San berputar terus mencari sasaran.

Dengan tabah kemudian Yo Sun melakukan berbagai penangkisan memakai senjatanya yang istimewa, sampai kelihatan mengeluarkan lelatu anak api, dan disuatu saat rantai baja Coa Wie San terhenti dari perputaran dan kena dipegang dengan tangan kiri Yo Sun, lalu dengan mengerahkan tenaganya dia menarik secara tiba tiba.

Coa Wie San masih terpesona menghadapi ketabahan lawan yang berani menangkis memakai senjata yang tipis dan pendek, dari itu dia tidak siaga waktu rantainya ditarik; sehingga tubuhnya Coa Wie San ikut terbang dan terbentur dengan sebatang pohon Pek yang besar, dan Coa Wie san terjatuh duduk dengan kepala terasa pusing.

Menggunakan kesempatan selagi Coa Wie San belum sanggup bangun berdiri, maka Yo Sun lompat dengan gerak 'burung walet menembus angkasa'. Sebelah tangan kiri Yo Sun kemudian meraih leher baju Coa Wie San, sementara senjata ditangan kanannya siap hendak membabat batang leher Coa Wie San yang sudah mati daya.

Coa Wie Su tidak berdaya menolong kakaknya, meskipun dia sudah bergerak mendekati dengan golok siap hendak menyerang; sementara Yo Sun perdengarkan suara menghina tetapi tidak meneruskan membunuh Coa Wie San.

“Lekas kalian pulang ke dusun Ong kee po. Beritahukan

bahwa aku Yo Sun akan membasmi kalian semua...!"

Sehabis mengucap demikian maka Yo Sun melepaskan tubuh Coa Wie San, dan Coa Wie San buru-buru ngeloyor mengajak semua teman-temannya yang mengepung tadi.

"Ternyata kau juga memiliki ilmu tangan besi dari golongan tiat ciang pay ......" kata Lian Cay Hong yang mendekati dan memberikan pujian.

"Terima kasih ..." sahut Yo Sun yang turut perlihatkan senyum.

Sejenak Lian Cay Hong terdiam sebentar dan berpikir, setelah itu dia berkata lagi :

"Kau telah berhasil mengalahkan dua dari kelima ular belang dari dusun Ong kee po. Artinya didusun itu masih ada tiga ular belang yang belum kau kenal dan ada si Singa hitam bekas berandal diatas gunung Hee gak san, serta beberapa tokoh orang orang rimba persilatan yang tidak dapat dipandang ringan, terlebih kau tidak boleh melupakan si golok patkwa Ong Sin Ho yang tinggi ilmunya. Dialah orang yang telah membunuh ayahmu. ”

"Lian kouwnio tahu tentang rahasia tewasnya ayahku?" tanya Yo Sun yang bermuka muram. "Aku bahkan mengetahui tentang kau lima bersaudara yang masih terpisah ..." sahut Lian Cay Hong yang terus saja menjelaskan tentang dirinya; sampai kepada pertemuannya dengan Yo Jim yang bekerja sebagai piauwsu pada Hui eng piauwkiok di Heng ciu.

"Jadi si gagak putih Yo Jim yang terkenal dikalangan rimba persilatan itu, adalah aku punya kakak yang kedua

....?" tanya Yo Sun yang perlihatkan muka girang bercampur bangga.

Dara Lian Cay Hong bersenyum dan manggut membenarkan. Lalu dia juga mengatakan tentang rencananya sampai pada janji pertemuannya dengan sigagak putih Yo Jim.

"... dari itu kau harus bersabar sampai kalian berlima berkumpul diatas bukit Kim-nia, buat kalian mengatur siasat melakukan balas dendam ..." demikian akhirnya kata Lian Cay Hong.

"Terima kasih, Lian kouwnio; aku akan menurut dengan rencanamu, dan aku akan mencari ketiga saudaraku ... " sahut Yo Sun yang menjadi terharu dengan kesediaan dara jelita itu memberikan bantuan bagi mereka berlima.

Demikian, mereka berdua lalu berpisah, setelah berjanji akan bertemu lagi nanti, dan mereka batal menuju kedusun Ong kee po, sedangkan dara Lian Cay Hong kemudian singgah didusun yang terdekat dengan hutan pohon pek itu, buat dia beristirahat dan bermalam.

Esok paginya Lian Cay Hong keluar dari tempat dia menginap, hendak mencari tempat buat dia sarapan.

Didusun itu ada seorang tukang besi namanya Yo Toa, bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam. Usianya masih muda dan tenaganya sangat besar; terbukti dengan palu besi yang dia biasa gunakan beratnya ratusan kati, sehingga penduduk setempat menamakan dia sebagai ‘toapekong dapur' yang masih hidup sebab meskipun dia kelihatan galak, akan tetapi murah hati dan ramah tamah.

Pagi itu dia bekerja dengan kesibukan yang luar biasa. Peluh membasahi tubuh dan mukanya, sehingga muka itu kelihatan bertambah hitam bahkan berminyak.

Yo Toa bekerja tanpa menghiraukan lain orang orang yang berlalu lintas didekat tempat dia bekerja seorang diri; tanpa memakai pembantu, sampai dilain saat datang serombongan orang orang ketempat dia bekerja itu.

Mereka yang datang itu terdiri dari tujuh orang laki laki galak, dipimpin oleh seorang laki laki tinggi kurus, berkumis tipis panjang dan umurnya kira kira sudah mencapai empat puluh tahun lebih.

Laki laki yang tinggi kurus itu bernama Kong sun Wie, juru keuangan dari Ong Sin Ho.

Pat kwa to Ong Sin Ho sangat marah waktu menerima laporan perihal kekalahan rombongan Coa Wie San berdua Coa Wie Su, melawan seorang laki laki muda yang katanya mengaku bernama Yo Sun; dari itu dia segera memerintahkan Coa Wie Tong, si ular belang yang tertua membawa belasan orang, termasuk Coa Wie Go si ular belang yang paling muda; dan tak ketinggalan Kong sun Wie si juru keuangan. Disamping perintah untuk menerima upeti, kepada mereka ditugaskan juga buat mencari si pemuda yang katanya bernama Yo Sun, serta mengambil pesanan enam puluh batang golok Pat kwa pada si tukang besi Yo Toa.

Waktu Kong sun Wie dengan rombongan datang ke tempat si tukang besi Yo Toa, maka Coa Wie Tong dengan rombongannya yang lain sedang berada disebuah rumah makan terbesar, berpesta pora dengan memesan beberapa orang perempuan lacur.

"Hey, tukang besi; apakah pesanan kami sudah kau sediakan .. ?" tanya Kong sun Wie dengan lagak tengik, ketika dia telah berhadapan dengan Yo Toa yang masih bekerja sendirian, dengan sebuah palu baja ditangan kanan memukul besi yang membara ditangan kiri.

Yo Toa memang sudah kenal dengan Kong sun Wie yang bahkan dia benci, dan yang dia anggap sebagai anjing buduk yang berlagak. Saat itu dia memang sedang tidak bersemangat melakukan pekerjaannya, sebab selama dia mendapat impi yang dia anggap buruk; dari itu dia jadi mendongkol waktu mendengar pertanyaan dan melihat lagak Kong sun Wie. Dia diam tidak menghiraukan sebaliknya dia terus memukul-mukul besi yang masih membara, sampai banyak mengeluarkan lelatu anak api.

Kong sun We perlihatkan lagak marah. Dia mendorong tubuh Yo Toa memakai huncwee atau alat dia merokok.

"Hey tukang besi, kau berlagak tuli ya..!" bentak Kong sun Wie.

Yo Toa menunda pekerjaannya. Sepasang matanya bersinar menyala waktu dia mengawasi Kong sun Wie dan dengan dua jari tangan kirinya kemudian dia mendorong tangkai huncwee yang ditekankan pada tubuhnya.

"Baru selesai empat puluh batang .. ,” sahut Yo Toa

singkat.

Sehabis berkata demikian, maka Yo Toa melangkah ketempat golok golok yang sudah selesai dia bikin; sedangkan tangan kanannya masih tetap dia memegang palu baja yang besar dan berat. Kong sun Wie mengikuti dengan langkah kaki yang dibuat-buat, lalu dia memeriksa golok-golok bikinan Yo Toa; setelah itu tiba tiba dia berkata :

"Kau berani membangkang perintah kami ya .. !" bentaknya sambil meraih perut Yo Toa dengan tangan kiri, sedangkan ditangan kanannya dia memegang sebatang golok yang baru selesai dibikin. Lagaknya seperti orang yang ingin merobek perut Yo Toa.

Yo Toa mundur beberapa langkah kebelakang, diikuti oleh Kong sun Wie yang tetap memegang bagian perut Yo Toa dan tetap mengancam dengan golok yang dipegangnya, sampai Yo Toa tidak mungkin mundur lagi sebab tubuhnya sudah memepet dengan tiang rumah yang berada disebelah belakang; sementara Kong sun Wie tertawa dan berkata dengan nada suara mengejek :

"Hey, anak anak ...!" teriak Kong sun Wie yang ditujukan kepada orang orang bawahannya yang menunggu dibagian luar, sedang berkumpul dengan orang-orang lain yang ikut menyaksikan adegan itu dan Kong sun Wie meneruskan perkataannya;

".,. kalian semua lihat, aku hendak menguji ketajaman golok ini pada perut si tukang besi laknat...!"

Dipihak si tukang besi Yo Toa, sudah tentu dia menjadi sangat marah sebab dia dikatakan tukang besi laknat, sambil dia didesak dan diancam memakai golok bikinannya sendiri

!

"Kalian sangat menghina aku...!" seru Yo Toa dengan suaranya yang keras seperti guntur dan dia menambahkan perkataannya:

"...kalian sangat memaksa aku...!” "Ha ha ha ! kalian lihat, si tukang besi laknat berteriak ketakutan seperti babi yang mau dipotong !” tawa Kong sun Wie kepada orang orang diluar, dan suara tawanya itu sudah tentu diikuti dengan suara tawa orang-orang bawaannya. Akan tetapi secepat itu pula Kong Sun Wie menjadi sangat terkejut ketika tiba-tiba tangan kiri Yo Toa bergerak mendorong tubuhnya.

Tak kuasa lagi Kong sun Wie memegang bagian kulit perut Yo Toa yang banyak lemaknya, dan tak kuasa juga dia hendak menyembelih perut itu; sebab dorongan tangan kiri Yo Toa telah mengakibatkan tubuhnya terpental keluar, menerjang beberapa orang bawaannya, lalu semuanya meluruk jatuh menjadi bahan tertawa orang-orang lain yang ikut melihat kejadian itu.

Kong sun Wie buru-buru bangun berdiri. Dia marah dan malu, sebab banyak orang-orang yang menertawakan dia; akan tetapi tawa orang-orang itu cepat berhenti setelah Kong sun Wie mengawasi mereka sambil melotot.

Dengan marahnya Kong-sun Wie kemudian memerintahkan semua orang-orang yang dia bawa buat mengepung Yo Toa, sehingga Yo Toa juga ikut lompat keluar ke jalan raya dengan tetap membawa palu-baja miliknya.

Dalam waktu sekejap Yo Toa segera dikurung didalam suatu lingkaran:

"Kalian telah memaksa aku ! kalian telah memaksa aku...!" demikian berulangkali Yo Toa berteriak, dan waktu ada seorang musuh yang datang mendekati dia dengan niat membacok memakai golok, maka Yo Toa berhasil mendahului memukul dengan palu baja miliknya yang besar dan berat, tepat pada kepala orang itu yang langsung menjadi pecah sampai keluar berantakan otaknya ! “Kurang ajar ! Si tukang besi laknat sudah membunuh orang, tangkap dia , , . !" teriak Kong sun Wie yang tetap memegang golok, akan tetapi tidak berani dia mendekati Yo Toa.

Orang orang lain yang semula ikut menyaksikan kejadian itu kebanyakan sudah buru-buru lari ketakutan; mereka bahkan ada yang berteriak mengatakan si tukang besi Yo Toa sedang mengamuk !

Sementara itu, orang orang yang menjadi bawaannya Kong sun Wie bergerak-gerak seperti hendak melakukan penyerangan, akan tetapi mereka jeri untuk mendekati Yo Toa yang masih memutarkan palunya yang besar dan berat.

Ketika kemudian terdapat kesempatan, maka bergeraklah semua orang-orang yang sedang mengepung, melakukan penyerangan secara serentak, memaksa Yo Toa melakukan perlawanan sehingga terjadi ada beberapa orang yang berhasil dia lontarkan senjatanya; sedangkan kepelan tangan kirinya berhasil memukul orang-orang yang berada didekat dia.

Disuatu saat seorang musuh hampir berhasil membokong Yo Toa; akan tetapi tanpa sebab orang itu berteriak bagaikan merasa kesakitan membikin Yo Toa mengetahui perbuatan orang itu lalu dia menghantam memakai palunya kena dibagian punggung yang membikin orang itu tewas dengan mulut muntahkan darah segar!

Orang yang bermaksud membokong Yo Toa itu sebenarnya terkena serangan gelap berupa mata uang cie yang dilontarkan oleh seorang pemuda yang sejak tadi memainkan mata uang itu pada tangan kanannya.

Adegan pemuda itu memberikan bantuan secara diam- diam, sempat pula dilihat oleh dara Lian Cay Hong yang baru ikut hadir; dan pandangan mata dara yang perkasa itu, sedang tertuju pada kepalan tangan pemuda itu, yang terdapat tanda cacad bekas guratan ujung golok.

Bergegas Lian Cay Hong hendak mendekati tempat pemuda itu berdiri akan tetapi dia menunda niatnya; sebab dia mendengar seseorang penduduk setempat yang sedang berteriak:

"Tukang besi, lekas kau lari ! bantuan dari orang-orang Ong kee po sudah datang... !"

Yo Toa juga mendengar teriak suara itu. Dia mengawasi ke suatu arah dan dilihatnya ada belasan orang yang sedang lari mendatangi; oleh karenanya dia lalu memutarkan lagi palunya untuk mengancam, dan waktu musuh-musuhnya menghindar, maka dia lari meninggalkan tempat pertempuran.

"Lekas kejar ...!" teriak Kong sun Wie; akan tetapi dia sendiri tidak ikut mengejar sedangkan Yo Toa ternyata sangat cepat larinya, sudah jauh meninggalkan tempat itu.

Pemuda yang membantu Yo Toa secara diam-diam tadi segera bergerak hendak meninggalkan tempat itu; dan Lian Cay Hong yang ingin menyusul buat menyapa, lagi-lagi dia harus menunda niatnya, sebab dia terpesona mendengar suatu percakapan antara para penduduk setempat:

"Kasihan si tukang besi Yo Toa. Dia sudah bersabar akan tetapi orang orang Ong kee-po sangat mendesak dia. Pernah dia berkata padaku; sebenarnya ada permusuhan antara dia dengan kepala desa Ong kee po, disuatu saat dia pasti akan datang untuk membalas dendam..."

"Siapa nama si tukang besi tadi..?” tanya Lian Cay Hong bagaikan gugup, dan bahkan sambil memegang lengan baju orang yang dia ajak bicara. “Yo Toa,” sahut orang itu singkat, dan kelihatan heran sambil dia mengawasi sebab dara yang menyapa itu masih memegang lengan bajunya.

"Maaf...” akhirnya kata Lian Cay Hong bagaikan baru saja menyadari perbuatannya, lalu secepat daun kering yang tertiup angin topan, dara yang perkasa itu lari cepat-cepat menyusul kearah Yo Toa yang menghilang tadi !

<•) (X) ()

MENURUT KATA Pek bie thian sin Lauw Ek Bu, si kakek muka putih yang mendidik dia dalam pelajaran ilmu silat dan ilmu pengobatan: katanya ayahnya mati dibunuh oleh Pat kwa to Ong Sin Ho, dia lima bersaudara telah pencar.

Dengan membawa bekal pemberian dari gurunya, maka Yo Sam yang memakai pakaian semacam seorang tabib muda melakukan perjalanan hendak mencari ke lima saudaranya untuk kemudian bersama-sama hendak menuntut balas dendam terhadap musuh mereka.

Hari itu secara diluar dugaan dia melihat Yo Toa yang sedang dikepung oleh orang-orang Ong kee po; akan tetapi Yo Sam berpikir sebaiknya dia tidak membikin pihak musuh mengetahui niat dan kehadirannya, sehingga dia hanya membantu Yo Toa dari suatu serangan membokong, dengan menggunakan mata uang cie yang sedang dia pegang.

Jelas bahwa pada saat itu Yo Sam tidak mengetahui kalau Yo Toa adalah kakaknya yang pertama, dan dia bahkan tidak mengetahui bahwa ada seorang dara jelita yang sedang memperhatikan dia.

Setelah pertempuran itu berakhir dan Yo Toa menghilang, maka Yo Sam memasuki sebuah rumah makan; namun dia menjadi sangat tersinggung waktu pelayan menolak kedatangannya, dengan mengatakan hari itu tidak menerima tamu umum, berhubung katanya sudah diborong oleh rombongan orang orang yang sedang mengadakan pesta.