-->

Pendekar Bunga Cinta Jilid 13

jilid 13 

DALAM kagetnya, Coa Giok Seng sempat memegang pergelangan tangan dara cantik itu, lalu tanpa ragu ragu dia mengerahkan tenaganya, membikin dara cantik berteriak karena kesakitan, namun Coa Giok Seng tidak menghiraukan, bahkan dia mendorong dara cantik itu kearah pintu kamar sampai kemudian secara tidak disengaja dia mendorong bagian dada dara cantik itu, sehingga saking kagetnya maka Coa Giok Seng buru buru melepaskan pegangannya.

Dara cantik itu terjerumus beberapa langkah kebelakang, namun tak sampai dia terjatuh karena tubuhnya tertahan dengan daun pintu.

"Kurang ajar ! kau telah menghina aku ! kau akan mati dan kau akan menderita ...!” teriak dara cantik itu, yang merasa gusar bercampur malu sebab bagian dadanya kena disentuh oleh Coa Giok Seng tadi. Coa Giok Seng berdiri terpesona, tak mampu dia mengucap apa apa karena dia jadi merasa malu, sehingga pemuda ini bahkan tetap berdiri bagaikan patung, waktu dara cantik itu pergi meninggalkan kamarnya, dengan tidak lupa mengambil pedangnya yang terjatuh tadi.

Hampir semalam suntuk Coa Giok Seng tidak dapat pulas tertidur, memikirkan perempuan cantik yang melakukan penyerangan tadi. Dia yakin bahwa perempuan itu merupakan anggota Hong bie pang, seperti yang pernah dia diberitahukan oleh almarhum Ong Sin Kian.

Esok paginya Wie Keng Siang datang mengunjungi Coa Giok Seng ditempat penginapan, dan keduanya kemudian keluar meninggalkan tempat penginapan itu.

Ditengah perjalanan Coa Giok Seng menceriterakan tentang peristiwa semalam, bahwa dia didatangi oleh seorang perempuan yang dia duga adalah anggota Hong bie pang. Juga perihal dia menerima sekeranjang buah buah yang mengandung racun, dan si pengirim memakai nama Dywa Sin Hok dari Kay pang.

Sudah tentu Wie Keng Siang ikut menjadi gusar waktu dia mendengar kejadian itu, akan tetapi sebelum dia sempat mengucap sesuatu; maka Coa Giok Seng mendahului berkata dengan suara perlahan :

"Harap susiok jangan melihat kearah belakang, sebab aku sempat melihat bahwa perempuan yang semalam sedang mengikuti kita," demikian kata Coa Giok Seng dengan suara perlahan; namun cukup didengar oleh Wie Keng Siang.

"Tindakan apa yang sebaiknya kita lakukan ?” tanya Wie Keng Siang; juga dengan suara perlahan dan tidak menghentikan langkah kakinya. Sejenak Coa Giok Seng diam berpikir, setelah itu baru dia berkata :

"Kita pancing dia sampai mendekati markas Kay pang, lalu kita tangkap dan kita paksa dia bicara tentang Hong bie pang."

"Dengan demikian, secara terang-terangan kita melibatkan pihak Kay pang didalam permusuhan dengan pihak Hong bie pang .." sahut Wie Keng Siang; yang agaknya tidak menyetujui niat Coa Giok Seng.

"Tanpa kita lakukan hal itu, apakah susiok anggap pihak Hong bie pang tidak memusuhi Kay pang? aku bahkan mencurigai bahwa mereka sedang menunggu perintah dari atasan mereka untuk melakukan penyerangan terhadap pihak Kay pang; dan dengan adanya perbuatan mereka yang berani memakai nama Dywa pangcu waktu mengirimkan buah buah untuk aku, itu sudah merupakan suatu bukti bahwa mereka tidak memandang mata terhadap pihak Kay pang , ,” sahut Coa Giok Seng; membikin Wie Keng Siang tidak lagi membantah.

Letak bangunan markas Kay pang cabang kota Soan hoa merupakan suatu bangunan tua yang terpencil didaerah yang cukup sunyi. Waktu sudah mendekati tempat itu, maka mendadak Coa Giok Seng lompat kebagian belakang lalu dengan suatu gerakan yang saling susul pesat dan ringan, maka dalam waktu sekejap Coa Giok Seng sudah berdiri saling berhadapan dengan dara cantik yang semalam mendatangi dia dirumah penginapan; dan yang sekarang sedang mengikuti dia.

Dara cantik itu sangat terpesona dengan gerak yang amat lincah dan ringan dari Coa Giok Seng. Sejenak dia mengawasi pemuda yang sedang berdiri dan bersenyum bagaikan sedang mengejek; lalu secepat kilat dara cantik itu mencabut pedangnya, dan melakukan serangkaian serangan secara membabi buta, namun dengan tenang dan tetap perlihatkan senyumnya, Coa Giok Seng sempat menghindar dari berbagai serangan dara cantik yang galak itu, sampai kemudian Coa Giok Seng juga menyiapkan goloknya; dan dengan sekali menyontek, pemuda ini berhasil melontarkan pedang dara cantik itu, sampai jauh terlempar lepas dari pegangannya.

"Siapa kau dan apa perlunya kau mengikuti aku. ?”

tanya Coa Giok Seng; sementara dara cantik itu kelihatan tidak berdaya dibawah ancaman golok pemuda itu.

"Silahkan kalau kau hendak membunuh aku..” geram dara cantik itu dengan muka mengejek.

"Aku tidak perlu membunuh kau kalau kau mau bicara

.." kata lagi Coa Giok Seng.

"Aku tidak mau bicara   !” sahut dara cantik itu dengan

suara ketus.

"Bagus. Sekarang berputarlah dan kita memasuki markas Kay pang ...!" perintah Coa Giok Seng dengan nada suara yang berobah jadi bengis.

Perlahan dara cantik itu bergerak memutar tubuh, dan Coa Giok Seng menggunakan kesempatan itu hendak memungut pedang dara cantik itu yang terjatuh tadi; akan tetapi sebelum pemuda itu sempat melakukan niatnya, maka secepat kilat dara cantik itu menerkam dan menendang tangan Coa Giok Seng yang memegang golok.

Golok Coa Giok Seng terlempar lepas dari pegangan pemuda itu, namun Coa Giok Seng berhasil menarik lengan dara cantik itu yang hendak dia putar; akan tetapi dara cantik itu sekarang tidak gugup dan ternyata dia memiliki tenaga yang besar, bahkan licik dan berbahaya, sebab dengan kalap dia menghantam pemuda lawannya dengan lututnya sementara tangan kirinya hendak mencakar muka Coa Giok Seng.

Rambut dara cantik yang sedang mengamuk itu terurai lepas kebagian mukanya, yang menyeringai merah karena kemarahannya; dan dia berhasil melepas diri dari pegangan. Coa Giok Seng berhasil mengait kaki dara cantik itu; membikin dara cantik itu jatuh terguling.

Dengan gaya yang lincah dan gesit, gadis itu cepat cepat bangun berdiri, sementara di tangan kanannya kelihatan dia memegang sebatang pisau belati.

Tanpa menghiraukan lagi adanya pisau belati yang dipegang oleh dara cantik itu, maka secara tiba tiba Coa Giok Seng lompat menerkam, membikin keduanya rubuh terguling dan terlibat dalam suatu pergumulan yang cukup seru, sampai disaat berikutnya dengan susah payah Coa Giok Seng berhasil merampas pisau belati itu, akan tetapi dara cantik itu sempat memukul bagian leher pemuda itu sampai terasa kejang.

Dara cantik itu kemudian menerjang lawannya yang dia hantam memakai lututnya, lalu dia berusaha hendak melarikan diri, namun Coa Giok Seng berhasil memeluk pinggang dara cantik itu, dan keduanya berguling lagi sampai mendekati tempat Wie Keng Siang berdiri, sementara orang tua itu bagaikan patung berdiri diam; seperti bingung atau terpesona.

Sekali lagi dara cantik itu berontak dan berhasil melepas diri; dan dia bahkan sempat lari sampai kedekat tembok halaman markas Kay pang. Akan tetapi Coa Giok Seng berhasil lagi menangkapnya, bahkan berhasil menjepit tubuh dara cantik itu yang dia tekan sehingga punggungnya menempel dengan tembok halaman markas Kay pang itu, dan sekali ini tindakan Coa Giok Seng bagaikan tidak mengenal belas kasihan, meskipun dara cantik itu sudah menggeliat karena sukar bernapas, sampai akhirnya dara cantik itu rubuh pingsan tidak berdaya.

Tanpa menghiraukan sesuatu Coa Giok Seng cepat cepat memanggul tubuh dara cantik itu memasuki markas Kay pang; diikuti Wie Keng Siang yarg sudah memungut golok Coa Giok Seng dan pedang dara cantik yang liar itu !

Sementara itu, para anggota Kay pang yang memang mendapat perintah dari ketua mereka untuk menghindar dari pihak Hong bie pang, sejak tadi mereka tidak perlihatkan diri waktu terjadi perkelahian antara Coa Giok Seng dengan dara cantik itu, dan mereka segera menutup pintu setelah Coa Giok Seng dan Wie Keng Siang memasuki markas mereka.

Coa Giok Seng kemudian menyerahkan orang tawanannya kepada Dywa Sin Hok, sementara dia memasuki ruangan belakang untuk membersihkan muka dan pakaiannya, yang penuh debu bekas pergumulan tadi. Niatnya dia akan berusaha mencari keterangan mengenai Hong bie pang melalui orang tawanannya; akan tetapi begitu dia keluar lagi dan memasuki ruang tamu, maka dilihatnya ada dua orang laki laki sebagai utusan pihak Hong bie pang yang sedang bicara dengan Dywa Sin Hok dan Wie Keng Siang.

Dua orang utusan dari Hong bie pang itu kelihatan bertubuh agak pendek penuh otot. Pakaian mereka merupakan seragam serba-hitam dengan masing-masing membekal senjata golok, sementara mata mereka bersinar kaku dan dingin; menandakan mereka sangat tidak memandang mata terhadap pihak Kay pang. Coa Giok Seng memasuki ruang tamu itu dan Wie Keng Siang mengawasi sambil dia mengerling, sementara Dywa Sin Hok duduk menghadapi kedua utusan Hong bie pang itu. Kelihatan wajah mukanya kumal menahan marah.

Kedua utusan dari Hong bie pang itu berdiri waktu mereka melihat masuknya Coa Giok Seng. Salah seorang dari mereka lalu berkata :

"Coa siaohiap, ketua kami dari Hong bie pang mengundang kau ..."

Coa Giok Seng tidak segera menjawab orang itu. Dia diam mengawasi dengan sepasang sinar mata menyala, sementara temannya orang itu lalu menambahkan bicara:

"Kau harus berangkat sekarang juga, berikut rekan kami yang kau tawan .. ,!"

Coa Giok Seng mengalihkan pandangan matanya mengawasi kedua orang yang sedang bicara itu, lalu dengan nada suara tegas dia berkata :

"Bagaimana kalau aku menolak .. ,"

"Kehendak ketua kami harus dipenuhi perintahnya harus dipatuhi ...!" sahut orang itu dengan perlihatkan muka mengejek.

“Tidak. Kalau Ma Tay Him hendak bertemu dengan aku, silahkan dia datang ketempat aku menginap ... !" sahut Coa Giok Seng, juga dengan suara menghina.

Orang pertama yang tadi bicara dengan Coa Giok Seng meraba gagang golok dipinggangnya; dan Coa Giok Seng yang sempat melihat, dengan tenang dan tetap dengan sinar mata yang menyala dia mendekati orang itu lalu secara tiba- tiba dia menampar muka orang itu memakai sebelah tangannya. Suatu perbuatan yang dia lakukan sebagai tanda bahwa dia tidak memandang mata orang itu, bahkan juga terhadap Ma Tay Him !

"Penghinaan ini tak akan aku lupakan ... ,!" desis orang itu sambil dia meraba mukanya; "... tetapi kami mematuhi perintah dan kami menganggap kau sebagai seorang pengecut jika kau menolak undangan itu ...!”

"Baik, aku akan ikut kalian dan aku ingin melihat apa yang Ma Tay Him hendaki dari aku ... !" sahut Coa Giok Seng yang pantang dianggap sebagai seorang pengecut.

Wie Keng Siang ingin mencegah kehendak Coa Giok Seng, akan tetapi pemuda itu memberi aba-aba memakai sebelah tangannya.

"Rekan kami yang kau tawan harus dibawa....." kata utusan Hong bie pang yang kedua, karena melihat Coa Giok Seng sudah melangkah hendak segera berangkat.

"Dia tetap kami tahan sampai sesudah terjadi pertemuanku dengan Ma Tay Him .. !" sahut Coa Giok Seng dengan suara tegas, dan dia bahkan mendahului melangkah keluar dari ruang tamu itu.

Kedua utusan pihak Hong bie pang itu bagaikan terpaksa mengikuti Coa Giok Seng; sampai mereka keluar dari markas Kay pang, dimana segera Coa Giok Seng melihat terdapat tiga ekor kuda yang ditambat.

Coa Giok Seng menduga bahwa segala sesuatu yang baru terjadi itu, rupanya memang sudah diatur oleh pihak Hong bie pang. Adanya ketiga ekor kuda yang ditambat, jelas bahwa dara yang sedang dia tahan datang bersama- sama dengan kedua rekannya itu.

Markas Hong bie pang cabang kota Soan-hoa ternyata sangat jauh terpisah dengan letak tempat markas Kay pang, sebab sampai di sebelah barat perbatasan kota, berupa sebuah bangunan besar dan lama, dengan bagian belakang membentang sebuah laut yang sangat lebar, jadi bukan dirumah Ma Tay Him yang dulu dan yang sudah diketahui oleh Coa Giok Seng.

Dua orang utusan Hong bie pang yang membawa Coa Giok Seng mengajak pemuda itu memasuki ruang tamu yang besar dan luas, dimana mereka menunggu cukup lama; sementara seorang petugas lain memberitahukan kedatangan mereka kepada Ma Tay Him.

Ruang tamu itu sangat luas dan banyak terdapat buku- buku, disamping banyaknya hiasan-hiasan dinding serta berbagai macam barang peninggalan kuno, yang semuanya merupakan barang barang yang amat mahal harganya.

Lewat beberapa saat si petugas yang tadi memberitahukan kedatangan mereka, kembali memasuki ruangan tamu itu, dan mengajak Coa Giok Seng memasuki ruangan lain; meninggalkan kedua utusan yang semula membawa pemuda itu.

Setelah melalui jalan yang berliku-liku di dalam bangunan markas Hong bie pang itu akhirnya Coa Giok Seng diajak memasuki suatu ruangan; dimana Ma Tay Him sudah menunggu, dan Ma Tay Him yang sekarang dilihat oleh Coa Giok Seng ternyata benar-benar lebih dahsyat dari pada dahulu untuk pertama kali pemuda itu kenal.

Dia memakai pakaian dari bahan sutera yang mahal, dengan sulaman yang tidak dimengerti maknanya oleh Coa Giok Seng. Kepalanya yang memiliki rambut panjang, dikepang dua dan dibiarkan lepas kebagian punggung, dan rambut itu hitam mengkilat karena banyaknya minyak yang dia pakai. Badannya yang gemuk mengakibatkan tidak kelihatan bagian leher yang menghubungkan kepalanya dengan bahu dan dada yang lebar, tetapi kakinya kecil bagaikan tak sanggup menahan beban berat tubuhnya.

Seorang perempuan muda dengan dandanan yang menyolok, dari bahan sutera tipis yang tembus pandang; sedang duduk menumbuki sepasang kaki Ma Tay Him; sedangkan dua orang perempuan muda lainnya sedang sibuk melayani si beruang raksasa itu menghisap candu memakai alat yang lebar panjang.

"Hayaaa, Coa Giok Seng. Aku sudah menduga kau akan datang dan kau benar-benar datang...!" Ma Tay Him menyapa dengan suara yang benar-benar seperti suara seekor beruang; "..bagaimana keadaanmu sejak kita berpisah? kau lihat aku sekarang banyak berubah. Tidak lagi aku menjadi seorang okpa yang kejam, sehingga sekarang kita dapat bersahabat .. ,"

"Hmm. Aku lihat kau tetap seperti dulu. Tanda cacad pada mukamu masih tetap ada," sahut Coa Giok Seng dengan nada suara menghina.

Merah muka Ma Tay Him waktu dia mendengarkan perkataan yang mengejek dari Coa Giok Seng. Sebelah tangannya meraba mukanya, memegang tanda cacad bekas kena guratan ujung golok Coa Giok Seng dulu.

Matanya bersinar merah waktu dia mengawasi Coa Giok Seng yang masih berdiri, dari bagian teratas sampai kaki. Tetapi tiba-tiba dia tertawa sampai perutnya yang gendut ikut berguncang-guncang:

"Silahkan duduk, temanku., " katanya setelah selesai dia tertawa.

"Tidak. Terima kasih. Aku lebih senang berdiri dan aku merasa kita tetap saling bermusuhan ...!" sekali lagi Coa Giok Seng berkata dengan sikap mengejek. "Ha ha-ha ! Kau benar-benar seorang jantan yang keras kepala, dan aku menyukai orang yang semacam kau,” suara Ma Tay Him sekarang terdengar agak lembut; tetapi tetap dengan nada yang dapat membikin orang jadi gemetar. “ ... kau mungkin akan terkejut kalau mengetahui kegiatan pekerjaanku sekarang. Aku yakin kau akan menyukai pekerjaanku dan kita dapat bekerja sama kalau ..."

"Aku tidak mau bekerja untuk suatu persekutuan penghianatan dan seorang pembunuhan dingin... !" sahut Coa Giok Seng yang memutus perkataan Ma Tay Him.

"Atau kau ingin membunuh Ma Tay Him dan menghancurkan Hong-bie pang, barangkali ? Dalam hal ini, kau bermimpi terlalu muluk ...!" Ma Tay Him berkata dan kelihatannya dia mulai menjadi kheki.

"Kita lihat nanti...!" sahut Coa Giok Seng singkat dan tegas.

Ma Tay Him menggerutu. Dia menggeser tubuhnya, mengusap bagian perutnya yang gendut dan memerintahkan semua perempuan didekatnya menyingkir. Suasana didalam ruangan itu dalam sekejap berobah menjadi tenang tetapi tegang.

"Aku tahu kau gagah, Coa Giok Seng. Kau seorang gagah akan tetapi kau jangan lupa, bahwa sekarang kau berhadapan dengan suatu persekutuan, dan persekutuan itu pengaruhnya dapat melumpuhkan suatu negara .. "

"Suatu hal yang hendak aku tanyakan kepadamu, mengapa kau bunuh Ong Sin Kian.." Coa Giok Seng memutus perkataan Ma Tay Him.

"Siapa...?" tanya si beruang raksasa seperti terkejut. Coa Giok Seng tertawa mengejek, lalu dia berkata lagi : “Ong Sin Kian. Kau pasti kenal dengan nama itu ..." "Apakah kematian Ong Sin Kian penting artinya bagimu

,...?" tanya Ma Tay Him dengan menyipitkan matanya. "Dia pernah menjadi sahabatku "

"Dia seorang pemabuk; pengecut dan penghianat bagi

persekutuan tempat dia mengabdi  ,.”

"Penghianat sebab dia telah menemui kau ....?" tanya Coa Giok Seng dengan nada mengejek.

"Itu sudah menyalahkan kewajiban sebab bukan dia yang bertugas untuk menemui kau, lagipula kedatanganmu kekota ini bukanlah karena sahabatmu itu akan tetapi untuk Lie Hwat Bie; kakak misanmu. Aku menawarkan kebebasannya jika kau mau bekerja sama dengan pihak kami, sebab masih ada pekerjaan lain yang memerlukan tenaga semacam kau .... " sahut Ma Tay Him yang sempat perlihatkan senyumnya, suatu senyum yang membanggakan diri dan sekaligus membanggakan persekutuan yang sedang dia bicarakan.

"Aku mempunyai cara sendiri untuk menolong kakak misanku. Dan aku tetap menolak bekerja sama dengan kau. !'' sahut Coa Giok Seng, tetap dengan suara ketus.

"Jadi kau memilih cara permusuhan ..?” geram Ma Tay Him.

"Anggaplah sekehendakmu, sebab sejak dahulu aku memang bukan sahabatmu..!"

oooo)X(oooo

SECARA tiba-tiba Coa Giok Seng mendengar ada suara langkah kaki yang halus memasuki ruangan itu, menyusul suatu bau-harum semerbak memenuhi ruangan yang sebenarnya sedang diliputi oleh suasana tegang. Segera Coa Giok Seng menengok dan melihat datangnya seorang perempuan muda yang kecantikannya belum pernah Coa Giok Seng lihat keduanya. Dan perempuan muda itu terus melangkah melewati Coa Giok Seng, bagaikan dia menganggap pemuda itu tidak ada, sampai didekat Ma Tay Him dia menyapa dengan suaranya yang merdu, namun yang sangat mengejutkan hati Coa Giok Seng, karena ternyata perempuan muda itu adalah isterinya Ma Tay Him. Suatu pasangan yang benar-benar sangat diluar dugaan pemuda ini.

Didalam hati Coa Giok Seng mengutuk, betapa perempuan yang muda dan secantik itu kesudian menjadi isterinya si gemuk terokmok yang berhati binatang !

"Kami sedang membicarakan sesuatu urusan…” kata Ma Tay Him kepada isterinya; sementara kepada Coa Giok Seng kemudian dia menambahkan perkataannya :

“Kalau kau tetap menolak kehendak aku, maka aku

memperingatkan ..."

"Aku tidak takut kepadamu, Ma Tay Him ... !" tukas Coa Giok Seng yang sekali lagi telah memutus perkataan Ma Tay Him; dan dia bahkan menyertai senyum mengejek.

Si beruang raksasa Ma Tay Him mendekati Coa Giok Seng; namun dia dicegah oleh isterinya, dan dengan perlihatkan suatu senyum yang memikat, isterinya Ma Tay Him itu mendekati Coa Giok Seng dengan langkah kaki perlahan-lahan dan dengan gaya yang menggairahkan terutama pada bagian pinggulnya, yang membikin Coa Giok Seng jadi menahan napas; merasa tegang melebihi maut yang sedang mendekati dia.

Setelah berdiri berhadapan, isterinya Ma Tay Him itu berkata kepada Coa Giok Seng dengan suaranya yang terdengar lembut merdu: "Kau marah karena kematian kawanmu, dan aku ikut bangga dengan sikapmu itu. Akan tetapi saat ini bukanlah saat untuk kau memikirkan nasib seorang sahabat, sebaliknya kau harus memikirkan nasib kakak misanmu ..."

“Aku mengerti ..." sahut Coa Giok Seng juga dengan suara perlahan. Seolah-olah dia menjadi jinak karena dihadapi oleh seorang perempuan muda yang cantik dan merangsang, sementara didalam hati pemuda itu jadi berpikir karena ternyata isterinya Ma Tay Him mengetahui urusan yang sedang mereka perbincangkan.

Sementara itu tetap dengan suara yang lembut merdu isterinya Ma Tay Him itu berkata lagi :

"Betapapun halnya, dan meskipun kau tak sudi menjadi anggota Hong-bie pang; namun aku menghendaki kau melakukan satu tugas, tugas bagi kami, dan untuk itu kau akan memperoleh imbalan kebebasanmu dan kebebasan kakak misanmu .. "

Sekali lagi Coa Giok Seng menjadi terkejut setelah dia mendengar perkataan perempuan muda yang cantik dan merangsang itu. Agaknya kedatangannya kedalam markas Hong bie pang itu sudah dianggap menjadi seorang tawanan.

Dengan sudut matanya, Coa Giok Seng mengawasi sekitar isi ruangan itu; hanya ada Ma Tay Him daa isterinya, serta dua orang pengawal yang menjaga.

"Coa siangkong, apakah kau heran atau terkejut karena mendengar perkataanku tadi , . ?" tanya isterinya Ma Tay Him, yang memperhatikan segala gerak gerik Coa Giok Seng; dan istrinya Ma Tay Him meneruskan perkataannya :

"  janganlah Coa Siangkong terlalu memandang remeh

dengan Hong bie pang. Setiap orang yang datang ditempat ini, tak akan mungkin dapat keluar tanpa mendapat perkenan dari aku ...!"

Dengan perkataannya itu, maka Coa Giok Seng berpendapat bahwa didalam tubuh Hong bie pang cabang kota Soan hoa agaknya bukan Ma Tay Him yang berkuasa; akan tetapi adalah perempuan muda yang cantik dan merangsang ini. Benarkah dia isterinya Ma Tay Him atau ada rahasia lain dibalik keadaan ini?

"Jadi maksud kau, bahwa aku sudah ditawan ...?" sengaja Coa Giok Seng menanya; sementara didalam hati dia sedang memikirkan sesuatu daya yang akan dia lakukan.

"Sampai sekarang tidak..." sahut perempuan muda itu; tetap dengan perlihatkan senyumnya yang memikat dan merangsang akan tetapi pada sinar matanya terdapat sinar kekejaman bagaikan iblis yang haus darah !

"Jangan kau mendesak aku dengan menyertai ancaman, aku tidak menyukai perlakuan seperti itu ..." kata Coa Giok Seng perlahan tetapi tegas.

Sementara itu agaknya Ma Tay Him menjadi habis sabar. Dia memberikan aba aba, dan kedua pengawalnya mendekati Coa Giok Seng; dengan sikap mengurung dan hendak menangkap.

Coa Giok Seng perlihatkan senyum mengejek. Dia membiarkan kedua laki laki itu mendekatinya, lalu secara tiba-tiba dengan tangan kirinya yang memegang golok berikut sarungnya, dia menghantam lengan kanan salah seorang laki laki yang terdekat dengan dia, membikin laki laki itu menjerit dan senjatanya lepas dari tangannya.

Dengan sebelah kakinya, Coa Giok Seng kemudian menendang golok laki laki itu yang jatuh dilantai sementara kawannya yang seorang lagi, menerjang Coa Giok Seng dengan membenamkan goloknya ke perut pemuda itu, namun Coa Giok Seng menangkis dengan golok yang tetap masih ada didalam sarung; dan pemuda ini bahkan menempel senjata mereka sambil dia mendorong tubuh laki laki itu, membikin si pengawal itu terperosok kebagian belakang dan rubuh telentang.

Ma Tay Him berteriak gusar, dan isterinya berdiri disuatu sudut dengan muka kelihatan kagum melihat gerak serba cepat dari Coa Giok Seng.

"Kau sangat bodoh dengan melakukan perbuatan itu .. !” seru Ma Tay Him; menyusul kemudian dia berteriak memanggil belasan orang pengawal yang menyerbu memasuki ruangan itu.

Coa Giok Seng menyadari akan bahaya yang sedang mengancam dirinya. Dia harus menggunakan isterinya Ma Tay Him buat dijadikan perisai untuk dia membebaskan diri dari goa harimau itu.

Dengan suatu terkaman yang mendadak, Coa Giok Seng berhasil memegang sebelah lengan perempuan muda yang cantik dan merangsang itu; lalu lengan yang putih halus yang dia telikung kebagian belakang, membikin semua pihak musuh tidak berani bergerak.

Perempuan muda yang cantik dan merangsang itu merasakan kesakitan pada lengannya yang ditelikung, akan tetapi dia tidak berteriak ataupun mengaduh; sebaliknya dengan suara yang merdu merangsang dia berkata :

"Coa siangkong, tidak selayaknya kau menyakiti aku; sebab aku tentu rela berada didalam rangkulanmu .. "

Sambil mengucap demikian, perempuan cantik yang merangsang itu menyandarkan kepalanya di bagian dada yang bidang dari Coa Giok Seng yang berdiri dibagian belakang perempuan itu, sehingga rambut harum menyentuh hidung Coa Giok Seng membikin pemuda itu terangsang dan tanpa sadar dia mengendorkan pegangannya lalu secara tiba tiba sikut perempuan muda itu bekerja, mencari sasaran pada tulang iga Coa Giok Seng membikin sejenak terasa kesemutan dan hilang tenaga pemuda itu, dan sebuah pukulan menghajar bagian dada pemuda itu, oleh karena secepat kilat perempuan muda itu telah memutar tubuh dan menyerang membikin tubuh Coa Giok Seng terlempar kebelakang beberapa langkah, dengan mulut mengeluarkan darah !

"Tangkap dan jangan ganggu dia ....!" seru perempuan muda itu; sementara entah berapa banyak orang pengawal sudan bergerak mematuhi perintah itu.

Meskipun sudah terluka dibagian dalam namun Coa Giok Seng masih melakukan perlawanan, sampai tiba tiba suatu benda berat menghajar kepalanya, dan dia jatuh pingsan tidak berdaya.

Coa Giok Seng tidak mengetahui entah berapa lama sudah dia pingsan, dan dia mulai membuka matanya lalu mendapatkan dirinya rebah disebuah ranjang kayu, sementara telinganya sempat mendengar suara tawa sedangkan hidungnya mencium bau candu, sehingga dia mengawasi keadaan tempat dia berada.

Itulah suatu ruangan atau kamar yang besar dan luas. Disuatu sudut, diatas lantai yang beralas permadani, dia melihat perempuan muda yang mengaku isterinya Ma Tay Him, yang saat itu sedang polos keadaan tubuhnya, rebah dan sedang digumuli oleh dua orang pemuda bermuka tampan yang juga tanpa memakai pakaian; sedangkan perbuatan yang sedang mereka lakukan benar-benar bukan merupakan perbuatan manusia yang beradab, akan tetapi lebih merupakan perbuatan binatang binatang biadab. Semua tingkah dan perbuatan mereka, dilakukan bagaikan antara sadar dan tidak sadar, sebab mereka semuanya berada dalam keadaan mabuk kena pengaruh candu !

Perempuan muda yang cantik itu kelihatan bergerak- gerak tak menentu, terutama pada bagian pinggulnya dan pada bagian dadanya yang membusung tinggi; sementara mulutnya perdengarkan suara rintihan seolah-olah dia sedang menikmati suatu kepuasan, sedangkan kedua pemuda itu menggumuli bagaikan tak bosan-bosan; mengecup bahkan menjilat-jilat seluruh tubuh perempuan muda itu yang polos keadaannya sambil kedua pemuda itu perdengarkan berbagai ocehan yang tidak jelas.

Dilain sudut Ma Tay Him sedang asyik menyedot candu dengan dilayani oleh dua perempuan muda yang bertubuh telanjang.

Ma Tay Him mengawasi perbuatan isterinya sedangkan kedua tangannya tak bosan-bosan menyusuri dan menjamahi tubuh kedua perempuan muda yang mendampingi dia, tanpa dia perduli bahwa perbuatannya itu telah mengakibatkan kedua perempuan muda itu menjadi terangsang, sedang mulut mereka perdengarkan suara rintihan halus akibat harus menahan rasa geli.

"Dia sudah siuman ... !” akhirnya kata salah seorang dari kedua perempuan muda yang dekat Ma Tay Him; yang agaknya sejak tadi telah mengawasi dan terpesona dengan muka tampan dari pemuda Coa Giok Seng.

Suara perempuan muda yang bicara itu cukup perlahan, akan tetapi sangat didengar oleh isterinya Ma Tay Him, dan secara tiba-tiba dia hentikan permainannya dengan kedua pemuda didekatnya; lalu dia memberi tanda supaya kedua pemuda itu pergi. Dengan geraknya yang lesu akan tetapi sinar-matanya bagaikan iblis, isterinya Ma Tay Him lantas menutupi tubuhnya dengan pakaiannya; tanpa dia memakai pakaian dalam sehingga tubuhnya itu masih membayang karena sangat tipisnya pakaian yang dia pakai.

Pinggulnya bergerak indah waktu dia melangkah dekat ranjang tempat Coa Giok Seng rebah dengan kaki dan tangan terikat. Sejenak perempuan muda itu berdiri mengawasi dengan menyertai seberkas senyum iblis; lalu tubuh perempuan muda itu membungkuk sehingga mukanya jadi berdekatan dengan muka Coa Giok Seng, namun pemuda itu buru-buru menutup sepasang matanya.

“Bagaimana siangkong, apakah kau sedang bermimpi?” tanya perempuan muda itu; dan bau harum dari tubuhnya telah dikalahkan oleh bau candu yang keluar dari mulutnya.

Coa Giok Seng terus meramkan sepasang matanya, sampai kemudian hidungnya terasa terbentur dengan sesuatu benda lunak; karena agaknya perempuan muda itu sengaja menggesek-gesek bagian dadanya pada hidung Coa Giok Seng, membikin napas pemuda itu jadi memburu dan terasa geli pada kulit yang halus dan peka dari perempuan muda itu; sampai kemudian perempuan muda itu mendekatkan mulutnya pada mulut pemuda itu, membikin bau candu semakin terasa oleh pemuda itu. Lalu pada waktu mulut pemuda itu disentuh oleh mulut perempuan muda itu, maka secara tiba-tiba Coa Giok Seng menggigit, membikin perempuan iblis itu berpekik melengking seperti suara biang kuntianak, sementara telapak tangannya kemudian menampar muka Coa Giok Seng; membikin mulut pemuda itu mengeluarkan darah lagi.

"Kurang ajar, rupanya kau benar-benar sudah bosan hidup ...!" seru perempuan iblis itu; sementara dengan suaranya yang lantang dia memanggil beberapa orang pengawal dan memerintahkan para pengawal itu memindahkan Coa Giok Seng kedalam kamar tahanan.

Dengan sepasang kaki dan tangan tetap terikat, Coa Giok Seng dipindahkan kesebuah kamar tahanan dibawah tanah yang gelap; tak kenal siang maupun malam.

Setelah lewat sesaat dia tinggalkan didalam kamar tahanan yang gelap itu, maka Coa Giok Seng merasa bahwa dia tidak berada seorang diri didalam kamar tahanan itu.

Seseorang pasti berada didekat dia, dan seseorang itu entah berupa seorang tahanan yang juga terikat seperti dia; atau seseorang yang dapat bergerak bebas tetapi sengaja umpatkan diri untuk mengawasi dia. Suatu hal yang sudah tidak asing lagi bagi Coa Giok Seng adalah suatu bau harum dari seorang perempuan, menandakan bahwa seseorang itu bukan seorang laki laki.

"Siapa kau dan apa tugasmu didalam kamar tahanan yang gelap ini ....?" sengaja Coa Giok Seng bersuara menyapa, namun dia berlaku waspada, siap menghadapi segala kemungkinan, meskipun dia dalam keadaan terikat.

Sesaat tak terdengar suara jawaban seseorang. Lalu disaat berikutnya terdengar suara helaan napas, suara dari seorang perempuan, tepat seperti yang diduga oleh Coa Giok Seng.

Masih Coa Giok Seng menunggu jawaban yang tak kunjung terdengar sampai kemudian dia terkejut waktu mendengar perempuan itu mengucap perkataan, sebab suara itu sudah tidak asing lagi buat dia :

"Aku sudah duga, kau pasti kena ditawan ketika aku mengetahui kau berkunjung kesini ..." Suara perempuan itu sudah tidak asing lagi buat Coa Giok Seng, sebab perempuan itu adalah orang yang pernah mendatangi dia di rumah penginapan, dan yang pernah bergumul dengan dia didalam suatu pergulatan yang cukup seru; akan tetapi mengapa dara yang binal dan galak itu berada didalam kamar yang gelap ini ? Bukankah dia sudah ditawan dan berada didalam markas Kay pang?

“Kau berhasil melarikan diri dari markas Kay pang, atau

kau ditolong oleh kawan-kawanmu. ?" tanya Coa Giok Seng; karena dia merasa cemas memikirkan pihak Kay pang dan Wie Keng Siang, kalau-kalau sudah terjadi suatu penyerbuan dari pihak Hong bie pang ke markas persekutuan orang orang gelandangan.

"Aku sekarang tidak mempunyai teman teman lagi   "

tiba-tiba sahut dara binal itu; suatu jawaban yang tidak dimengerti maknanya oleh Coa Giok Seng.

"Aku tidak mengerti dengan perkataan kau ..." kata Coa Giok Seng yang tidak sabar.

"Sejak aku ditangkap oleh kau, sudah tidak ada niatku buat membebaskan diri, apa lagi melarikan diri ..”

"Mengapa begitu, bukankah setiap orang yang ditawan pihak musuh, akan berusaha melarikan diri ?"

"Peraturan Hong bie pang sangat keras. Setiap anggota yang sudah ditawan pihak musuh adalah bagian mati, sebab dicurigai telah membuka rahasia persekutuan. Dari itu akan sia-sia aku melarikan diri, sebab bukan saja aku menjadi buronan pihak musuh, bahkan pihak Hong-bie pang akan mencari dan terus mengejar untuk membunuh aku. ” sahut

perempuan binal itu dengan nada suara yang terdengar seperti merasa putus asa. "Akan tetapi kenyataannya sekarang kau berada lagi didalam markas Hong-bie pang, dan kau masih hidup ..." kata Coa Giok Seng dengan nada suara mengejek.

"Aku tertangkap dan keadaanku sekarang sama seperti kau, terikat dan disekap didalam kamar tahanan yang gelap ini !"

Coa Giok Seng tidak percaya dengan perkataan dara binal itu, namun dia menanya lagi :

"Apa sebabnya kau melarikan diri dari markas Kay pang, kalau kau tahu kau bakal dihukum oleh pihak Hong-bie pang; dan bagaimana caranya kau membebaskan diri dari pihak Kay-pang!"

"Sebab kau ... !" sahut dara binal itu dengan suara perlahan tetapi tegas; dan dia lalu menambahkan lagi perkataannya :

“.... aku tahu bahwa kedua rekanku akan mendatangi pihak Kay-pang, akan tetapi aku tidak menduga kau berlaku nekad dan bodoh dengan mendatangi markas Hong bie- pang seorang diri...!"

Coa Giok Seng terpesona dengan jawaban dara binal itu, karena bernada rasa kasih sayang; sementara dara binal itu kemudian meneruskan perkataannya :

"... aku berhasil membebaskan diri dan melarikan diri dari pihak Kay pang, akan tetapi aku terpaksa harus melukai lima orang orang gelandangan dan tidak dihiraukan oleh si biang pengemis serta temannya yang marah-marah. Aku segera menyusul kau kemarkas Hong bie pang, akan tetapi sial bagiku, baru saja aku tiba aku sudah ditangkap, karena perintah dari niocu rupanya sudah dikeluarkan " "Siapa niocu yang kau maksud itu . ,?” tanya Coa Giok Seng yang masih tidak mengerti.

"Isterinya Ma Tay Him, tentu   "

"Ceritakan padaku tentang dia...” Coa Giok Seng memutus perkataan dara binal itu, selekas dara binal itu memberitahukan bahwa 'niocu' itu adalah istrinya Ma Tay Him.

"Hai! Rupanya kau terpikat dengan kecantikannya, kau tidak tahu bahwa dia adalah iblis yang berhati kejam "

dara binal itu berkata dengan suara mengejek bercampur kheki.

"Aku tahu, tapi aku ceritakan tentang dia," Coa Giok Seng memaksa.

Akan tetapi dara binal itu menjadi semakin kheki dan cepat-cepat dia berkata :

“Tolol ! Sekarang bukan waktunya buat memikirkan lain orang. Sebaiknya kau gunakan otakmu buat memikirkan daya supaya bisa membebaskan diri dari sini, sebelum maut merampas nyawamu !"

"Aku belum memikirkan suatu daya, apakah kau mempunyai harapan buat kita membebaskan diri .. ?" Coa Giok Seng menanya.

"Dengan berada bersama kau, maka aku yakin kita dapat membebaskan diri . , .."

Coa Giok Seng tak kuasa mengucap sesuatu perkataan. Rupanya dara binal itu tak kenal rasa malu, membuka isi hatinya. Dia menepuk tangan sebelah, pikir Coa Giok Seng didalam hati, akan tetapi dia berkata.

"Daya apa yang ada padamu buat membebaskan diri…?"

demikian katanya. "Hihi hi ! dengan berada berdua bersama kau, senjataku menjadi berguna .." sempat dara binal itu tertawa tiga kali "hi”, sebelum dia mengucap perkataannya.

"Senjata apa …?” tanya Coa Giok Seng heran, sebab dengan sepasang kaki dan sepasang tangan terikat erat, bagaimana mungkin dara binal itu menggunakan sesuatu senjata?

“Gigi.." sahut dara binal itu singkat, tetapi lagi-lagi dengan menyertai tawa tiga kali "hi".

Coa Giok Seng tersadar. Memang, dengan mereka berada berdua, yang seorang dapat menolong melepaskan tali ikatan memakai gigi, lain halnya jika berada seorang diri.

"Senjataku lebih kuat .. " akhirnya Coa Giok Seng berkata dengan suara girang, sehingga dia ikut memakai istilah "senjata" buat kata ganti gigi.

"Bagus ! akan tetapi jangan kau sembarang gigit aku ..." dara binal itu bersuara menggoda dan tertawa lagi.

Coa Giok Seng merasakan mukanya panas menahan rasa malu, namun dia segera menggulingkan tubuhnya, berusaha mendekati tempat dara binal itu berada, dan dia berhenti kaget waktu hidungnya menyentuh bagian lembut pada dada dara binal itu sementara bau harum tubuh dara binal itu tercium olehnya.

Dara yang binal itu juga ikut merasakan bagian dadanya yang kena disentuh oleh hidung pemuda itu. Dia tidak marah oleh karena dia yakin pemuda itu tidak melakukan dengan sengaja, sebaliknya dia merasakan hatinya berdebar keras lebih cepat dari biasanya terlebih waktu dia ingat bahwa pemuda itu bahkan pernah menjamah bagian dadanya itu. "Mana tanganmu...?” terdengar tanya Coa Giok Seng dengan nada suara gemetar; bukan karena ketakutan.

"Nih , , " sahut dara binal itu, sambil dia ikut bergerak ditempat yang gelap itu, sehingga terjadi beberapa kali tubuh mereka saling menyentuh; sampai kemudian Coa Giok Seng mulai melakukan usahanya untuk membebaskan tali yang mengikat dara binal itu.

“Hey ! dengus napasmu membikin aku jadi merasa geli

,,," kata dara binal itu sambil dia tertawa lima kali 'hi'.

Setelah Coa Giok Seng berhasil membebaskan tali tali yang mengikat dibagian tangan dara binal itu maka dengan tangannya itu si dara binal melepaskan tali tali yang mengikat dibagian kakinya; setelah itu baru dia membebaskan tali tali yang mengikat pada tangan Coa Giok Seng, sampai keduanya berhasil membebaskan diri, dan Coa Giok Seng lalu berkata dengan suara perlahan, supaya perbuatannya itu jangan sampai diketahui oleh pihak orang-orang yang melakukan penjagaannya :

"Sekarang apa yang harus kita lakukan ?"

“Menunggu , .." sahut dara binal itu sambil dia bersenyum; namun sayangnya senyum yang menawan hati itu tidak dapat dilihat oleh Coa Giok Seng, oleh karena dia berada didalam ruangan yang gelap.

"Menunggu .. ?" Coa Giok Seng mengulang perkataan dara binal itu, karena dia merasa heran tidak mengerti.

"Ya, kita menunggu sebab mereka tentu tidak membiarkan kita mati kelaparan, sedangkan cara untuk menghukum orang-orang semacam kita biasanya hanya dilakukan pada malam hari. Katanya untuk menyembah dewa-dewa mereka . , , ," "Dewa dewa ?" sekali lagi Coa Giok Seng mengulang perkataan dara binal itu. "Ya; orang orang Hong bie pang mempunyai dewa-dewa sendiri, yang mereka sembah dan puja ., , ."

"Persekutuan apa sebenarnya Hong bie pang itu, dan siapa sebenarnya ketua mereka .,,?"

"Eh ! Kau mau aku menceritakan tentang nio-cu yang telah memikat hatimu, atau kau mau aku bercerita mengenai Hong bie pang?" tanya dara binal itu, sedangkan nada suaranya terdengar menggoda.

"Dua-duanya    "

"Hmm ! Aku benci dengan sifat serakah."

Coa Giok Seng tidak menghiraukan perkataan dara binal itu, dia menunggu dan menunggu, akan tetapi dara binal itu tak mengucap sesuatu.

"Hey ! Mengapa kau diam saja   ?"

"Aku benci dengan sikap orang serakah. Lebih baik aku diam dan kau tidak mendapat apa-apa.,,"

"Baik, aku mengalah. Kau ceritakan aku tentang Hong bie pang "

"Nah, itu baru benar. Kau harus mau sering-sering mengalah, supaya hubungan kita tidak mudah retak. Dahulu ibuku seringkali mengatakan bahwa aku anak yang manja. "

“Hmm ..”

''Kenapa hemm…?"

"Kagak apa apa ... " sahut Coa Giok Seng yang mulai merasa tobat menghadapi dara binal yang ternyata bisa berlaku manja itu. "Eh, apa kau sudah tahu siapa namaku -- ?" dara manja itu yang berkata lagi; lupa menceritakan soal persekutuan Hong bie pang.

"Bagaimana aku tahu kalau kau tidak memberitahu ?" sahut Coa Giok Seng dengan nada suara ganti menanya.

"Mengapa kau tidak menanya ...?"

"Sekarang aku menanya ..." terasa habis kesabaran Coa Giok Seng; akan tetapi dara manja itu justeru menjadi tertawa tiga kali 'hi', “Hi hi hi! namaku Sin Cu, Oey Sin Cu.”

“Hmmm ..."

“Kenapa hemmm ...?"

"Sebuah nama yang bagus ... !”

"Hi hi hi ! terima kasih.."

Dara binal itu kemudian diam dan terus tidak bersuara, sampai Coa Giok Seng menegur dia :

"Hey! mengapa kau belum mau bercerita...?”

"Kau belum memberitahukan namamu.."

“Hayaaa, bukankah kau sudah mengetahui... ?" benar- benar menjadi tobat Coa Giok Seng menghadapi Oey Sin Cu yang manja dan sekaligus binal !

"Hayaaa ! aku kepingin kau sendiri yang memberitahukan .." sahut dara Oey Sin Cu yang semakin berlaku manja jenaka.

"Coa Giok Seng .." sahut Coa Giok Seng yang memberitahukan namanya.

"Umurmu ..?" masih Oey Sin Cu menanya. "Dua puluh tujuh tahun .." “Hmm , ,”

"Kenapa hmmm , ," ganti Coa Giok Seng menanya. "Aku dua puluh satu tahun. Aku mempunyai seorang

kakak laki laki yang telah berumur dua puluh tiga tahun, sebaiknya aku memanggil kau 'toako' dan kau harus memanggil aku moay-moay .. "

"Hmm .. "

"Kenapa hmm ..?"

“Kagak apa-apa .." sahut Coa Giok Seng yang tertawa didalam hati.

"Panggil aku moay-moay., “

"Moay-moay .. " Coa Giok Seng menurut; tapi selekas itu juga dia menelan ludahnya.

"Hi hi hi , . " tawa dara manja itu; lalu mulai dia menceritakan tentang persekutuan Hong bie pang :

"Barangkali kau juga sudah mengetahui bahwa persekutuan itu merupakan persekutuan para penghianat bangsa yang bekerja sama dengan pihak pemerintah bangsa Mongolia."

"Dan kau kesudian menjadi anggota Hong bie pang ?” Coa Giok Seng bersuara menggerutu, memutus perkataan dara Oey Sin Cu secara tidak disengaja.

"Hei, kau mau aku bercerita tentang Hong bie pang atau kau mau mengetahui tentang aku? Sudah barang tentu ada beberapa sebab yang membikin aku kesudian menjadi anggota Hong bie oang. Panjang untuk aku menceriterakan kalau kau mau mengetahui tentang sebab-sebab aku kesudian menjadi anggota Hong bie pang ..." sahut dara Oey Sin Cu dan kali ini agaknya dia benar-benar merasa tersinggung perasaannya. "Baik..baik; aku minta maaf dan kau teruskan ceritamu

..." sekali lagi Coa Giok Seng mengalah. "Hi hi hi! cerita yang dulu...?"

"Mengenai Hong bie pang ..." sahut Coa Giok Seng menegaskan.

"Kau tidak berminat mengetahui tentang diriku?” tanya

dara Oey Sin Cu dengan nada suara manja.

"Pada giliran berikutnya, kau ceritakan tentang urusan kau..."

Lagi lagi dara Oey Sin Cu perdengarkan suara tawa yang merdu dan manja, setelah itu dia bercerita lagi;

"Hong bie pang dipimpin oleh Hong bie kauwcu dan Hong bie niocu, kegiatan mereka antara lain...”

"Tunggu dulu, aku ingin mengetahui nama lengkap dari Hong bie kauwcu dan Hong bie niocu itu.." Coa Giok Seng memutus perkataan dara Oey Sin Cu.

"Nama Hong bie kauwcu adalah Gan Hong Bie; dan nama Hong bie niocu adalah Lie Bie Nio."

"Hayaaa ! Ternyata mereka !" seru Coa Giok Seng yang menjadi terkejut.

"Kau kenal mereka ?” dara Oey Sin Cu menanya dan merasa heran, sebab setahu dia, nama ketua Hong bie pang itu tidak banyak dikenal oleh orang orang.

Sementara itu Coa Giok Seng memberikan jawaban : "Suami isteri itu cukup terkenal sebagai Kay hong

siangkoay, sepasang jejadian dari kota Kay hong."

"Benar, jadi kau sudah kenal mereka ?" "Tidak, tetapi ada salah seorang adik seperguruanku yang dendam dengan mereka. Jadi untuk menghadapi Hong bie kauwcu berdua Hong bie niocu itu, adalah menjadi tugas dan kewajiban adik seperguruanku itu."

Dara Oey Sin Cu membiarkan Coa Giok Seng menyelesaikan perkataannya, setelah ia meneruskan keterangannya mengenai Hong-bie pang :

"Hong bie pang mempunyai banyak cabang-cabang diberbagai kota. Kegiatan mereka sedang melakukan penculikan-penculikan terhadap kaum wanita muda dan wanita-wanita muda itu mereka seberangkan keperbatasan atau tepatnya kepulau Hay ciu dan penyeberangan melalui laut dilakukan dari kota Soan hoa ini; sebaliknya ..."

Secara tiba-tiba dara Oey Sin Cu menghentikan perkataannya. Dari sela-sela pintu kemudian terlihat sinar terang, menandakan adanya seseorang yang datang dengan membawa api obor.

Coa Giok Seng mendahului lompat kebalik pintu kamar tahanan itu, disusul kemudian oleh dara Oey Sin Cu. Mereka berdua dapat bergerak cepat karena adanya sedikit sinar terang yang berasal dari api obor dari bagian luar kamar tahanan itu.

Pada saat berikutnya terdengar suara pintu kamar tahanan itu dibuka seseorang, lalu pintu itu didorong untuk dibuka.

Yang datang itu ternyata adalah seorang pengawal laki- laki, yang membawakan makanan buat Coa Giok Seng berdua Oey Sin Cu.

Pengawal itu tak mengetahui bahwa kedua orang tahanan itu sudah berhasil membebaskan diri, dan Coa Giok Seng memukul bagian tengkuk pengawal itu, membikin dia rubuh pingsan tak sempat perdengarkan suara.

Dengan membawa api obor, dara Sin Cu mengajak Coa Giok Seng menyusuri lorong ruangan dibawah tanah; kemudian mereka menaiki anak tangga; dan api obor itu dipadamkan oleh dara Oey Sin Cu.

Sejenak dara itu memasang telinga pada tutup lantai yang terdapat dibagian atas kepalanya, setelah itu dengan berhati-hati dia mendorong dan membuka tutup lantai itu, sehingga pada saat berikutnya mereka berdua sudah berada diruangan atas, yang terang-benderang dengan sinar api obor, karena hari agaknya sudah malam.

Baru beberapa detik mereka berada diruangan atas itu, lalu tiba-tiba ada suara angin tidak wajar dari bagian belakang Coa Giok Seng; dan pemuda ini cepat-cepat lompat menghindar sementara kakinya menendang ke arah orang yang menyerang dia, dan merampas goloknya; lalu dengan golok itu dia menikam orang kedua yang sedang mengancam dara Oey Sin Cu.

Orang yang kena tendangan Coa Giok Seng segera berteriak memanggil kawan-kawannya, sambil dia lompat bangun hendak melarikan diri; akan tetapi Coa Giok Seng menimpuk memakai golok rampasannya, dan golok itu membenam dipunggung orang yang sudah mulai melarikan diri itu.

Dengan suatu lompatan ringan, Coa Giok Seng mendekati tubuh korbannya. Dia mencabut golok yang membenam dan membersihkan golok itu dari noda darah pada baju korbannya yang sudah rebah tewas.

"Lekas ikuti aku ..." kata dara Oey Sin Cu yang mendahulukan lari kearah sebelah selatan, dan ditangan dara binal itu sudah memegang sebatang golok rampasan dari tubuh orang yang ditikam oleh Coa Giok Seng.

Dara Oey Sin Cu mengajak Coa Giok Seng mengambil jalan belakang, yang tidak mungkin diketahui oleh orang luar semacam Coa Giok Seng; dan mereka tiba ditangga yang menghubungi dermaga, tempat ditambatnya banyak perahu-perahu besar maupun kecil karena rupanya dari dermaga itulah, tempat orang-orang Hong bie pang melakukan penyeberangan kepulau Han ciu dengan mengangkut wanita-wanita muda korban penculikan mereka.

Coa Giok Seng kemudian mendorong sebuah perahu kecil, sementara dara Oey Sin Cu sudah berada diatas perahu itu, menyiapkan dua buah kayu pengayuh.

Keduanya kemudian mendayung perahu kecil itu, secepat yang mereka sanggup lakukan, karena mereka yakin bahwa pihak musuh pasti akan melakukan pengejaran dalam jumlah yang besar.

Dua buah perahu dengan ukuran sedikit lebih besar dengan yang digunakan Coa Giok Seng, kemudian meluncur dengan amat pesatnya; lalu dibagian belakang mengikuti beberapa perahu yang ikut melakukan pengejaran.

Coa Giok Seng yakin bahwa jarak terpisah mereka bertambah dekat, maka pihak pengejar pasti akan melakukan penyerangan dengan menggunakan berbagai macam senjata rahasia dan panah, sedangkan ditempat yang sangat gelap serta ruang gerak yang terbatas, akan sangat sukar bagi mereka berdua untuk menghindar dari serangan senjata rahasia itu. Oleh karenanya, tanpa mikir panjang lagi pemuda itu ceburkan diri kedalam laut, lalu mulai dia berenang sambil dia mendorong perahu yang berisi dara Oey Sin Cu.

Dara Oey Sin Cu menjadi amat kagum dengan kemahiran berenang yang dimiliki oleh Coa Giok Seng, juga tenaganya yang besar karena perahu itu menjadi amat pesat meluncur meninggalkan pihak para pengejarnya.

Berulangkali dara Oey Sin Cu berteriak memberi aba-aba memilih arah, sampai kemudian mereka memasuki daerah semak-semak belukar yang menghubungi laut itu dengan sebuah muara.

"Lekas kau naik, atau kau akan menjadi umpan binatang buaya , .!" teriak dara Oey Sin Cu; ketika perahu mereka telah memasuki perairan belukar yang dangkal; lepas dari pengejaran pihak musuh.

Coa Giok Seng mendengar pekik suara dara Oey Sin Cu. Dia naik keatas perahu, mendapati dara itu sedang mengawasi dia dengan menyertai seberkas senyum bangga.

Pakaian Coa Giok Seng basah kuyup, dia biarkan dara Oey Sin Cu mendayung perahu mereka, sementara dia duduk dengan sepasang mata dimeramkan, untuk mengatur pernapasan karena amat banyaknya tenaga yang dia sudah kerahkan tadi.

Sesaat kemudian perahu itu menepi dan mereka mendarat di tempat pilihan dara Oey Sin Cu, dan Coa Giok Seng lalu menyeret perahu itu menempatkan disuatu semak belukar; lalu dia memotong daun-daun pohon buat dia menyapu bekas-bekas jejak mereka, setelah itu dia mengikuti dara Oey Sin Cu yang sudah mendahului dia mendarat.

Agaknya dara Oey Sin Cu sudah kenal benar dengan tempat belukar yang merupakan daerah pegunungan yang tidak dikenal oleh Coa Giok Seng. Setelah menerobos berbagai tanaman liar, akhirnya mereka mencapai sebuah perkampungan yang sudah sunyi.

Dara Oey Sin Cu kemudian memilih sebuah rumah kecil yang berupa sebuah rumah gubuk; dan selama menunggu pintu rumah itu dibuka oleh penghuninya, maka Coa Giok Seng menanya :

"Rumah siapakah ini?"

“Rumah pamanku, Oey Sun Kie." sahut dara Oey Sin Cu, lagi-lagi dia menyertai seberkas senyum yang menawan meskipun mukanya agak kotor habis menerobos daerah belukar tadi.

Ternyata paman Oey tinggal seorang diri dirumah pendek itu, tiada anak maupun isteri.

Paman Oey Sun Kie adalah kakak misan dari almarhum ayahnya dara Oey Sin Cu. Dengan demikian Coa Giok Seng mengetahui bahwa dara Oey Sin Cu memang merupakan asal penduduk kota Soan hoa.

Setelah memperkenalkan Coa Giok Seng dengan pamannya, maka Oey Sin Cu lalu meminjamkan pakaian pamannya buat dipakai oleh pemuda itu, oleh karena pakaian Coa Giok Seng masih basah kuyup dan kotor.

Dara Oey Sin Cu kemudian membiarkan pemuda itu bercakap-cakap dengan pamannya sedangkan dia kedapur untuk masak nasi dan merebus ayam muda, yang dia ambil dari kandang.

Esok paginya Coa Giok Seng membangunkan dari tidurnya, dan mendapatkan pakaiannya sudah dicuci oleh dara Oey Sin Cu serta sedang dijemur, sementara dara yang binal itu dilihatnya sedang sibuk didapur, sehingga Coa Giok Seng lalu membantu membelah kayu memakai golok rampasannya semalam.

Dara Oey Sin Cu tersenyum waktu melihat cara Coa Giok Seng membelah kayu itu. Dilain saat waktu Coa Giok Seng berhenti untuk menghapus keringat dan mengawasi dia, maka dara itu berkata:

"Aku lihat kau memang tepat untuk menjadi seorang tukang kayu. Dalam sehari, jari tanganmu pasti akan hilang sepuluh ..."

Coa Giok Seng tersenyum malu waktu mendengar perkataan itu. Untung datang paman Oey yang lalu memberi contoh cara membelah kayu-kayu itu.

Disaat berikutnya dara Oey Sin Cu mendekati Coa Giok Seng, akan tetapi dia tidak mendapat kesempatan untuk menggoda, sebab pemuda itu telah mendahului berkata,

"Kita harus cepat-cepat berangkat ke markas Kay pang, mereka tentu gelisah memikirkan kita ..."

Dara Oey Sin Cu tidak segera memberikan jawaban atas pertanyaan pemuda itu. Dia diam mengawasi sambil berpikir sementara Coa Giok Seng menunda pekerjaannya dan ikut mengawasi dara itu.

"Mereka tentunya mencari kita kemarkas Kay pang .." akhirnya kata dara Oey Sin Cu dengan suara perlahan; sementara dengan 'mereka', sudah tentu yang dia maksud adalah orang-orang Hong bie pang.

"Justru karena itu kita harus memperingatkan pihak Kay pang ..." sahut Coa Giok Seng yang jadi cemas memikirkan, sebab yakin pihak Kay pang tak akan berani sanggup menghadapi orang orang Hong bie pang. "Pihak Kay pang bukan anak-anak kecil, mereka tentu dapat menjaga diri .." Sin Cu berkata lagi; tetap perlahan suaranya.

"Setidaknya kita perlu memberikan bantuan, kalau pihak Hong bie pang datang menyerang. Dengan umpatkan diri kita menjadi seorang pengecut .. ," Coa Giok Seng berkata lagi seperti mendesak mengajak pergi.

“Pihak Hong bie pang tidak akan menyerang pihak Kay pang, lain halnya kalau mereka mengetahui bahwa kita berada dimarkas Kay pang .." Sin Cu menyatakan pendapatnya.

Coa Giok Seng segera menjawab perkataan dara Oey Sin Cu. Didalam hati dia mengakui bahwa Ma Tay Him memang sengaja memusuhi dia; sedangkan dara Oey Sin Cu merupakan seorang pelarian yang dianggap sudah berhianat.

"Pihak Ma Tay Him tidak berani menyerang pihak Kay pang, sebelum mendapat perintah dari pusat. Lain halnya kalau pihak Kay pang yang mulai menyerang, dan Ma Tay Him melakukan pertahanan atau bela diri ..." dara Oey Sin Cu lagi yang bicara; dan sekali lagi Coa Giok Seng mengakui bahwa perkataan dara Oey Sin Cu mengandung kebenaran. Waktu itu pihak Kay-pang memang merupakan persekutuan yang besar pengaruhnya, terutama dikalangan masyarakat orang-orang cina, sehingga meskipun pihak pemerintah kerajaan Mongolia mencurigai dan memusuhi orang-orang Kay pang, namun secara resmi mereka belum dibubarkan atau diperlakukan sebagai persekutuan yang dilarang.

"Sebaiknya kau memikirkan daya mencari tenaga bantuan, kalau kau bermaksud membasmi Ma Tay Him dan Hong bie pang cabang kota Soan hoa. Sudah lebih dari setahun aku menyusup kedalam tubuh Hong bie-pang dengan memaksa diri menjadi anggota mereka. Dan sampai sedemikian lamanya, aku terpaksa harus menahan kesabaran mencari saat buat aku melepas dendam ..."

Bertambah perlahan suara dara Oey Sin Cu waktu dia mengucapkan perkataannya itu, bahkan kelihatan ada bintik-bintik air mata yang membasahi sepasang matanya; dan Coa Giok Seng yang sedang mengawasi dengan perasaan heran, segera dia mengajukan pertanyaan :

"Kau berjanji hendak menceritakan tentang kau ...”

Dara Oey Sin Cu memaksa diri buat bersenyum, akan tetapi dia tak kuasa membendung air mata yang semakin banyak berlinang keluar. Agaknya dia menghadapi suatu peristiwa sedih yang menyebabkan dia kesudian menjadi anggota Hong bie pang.

Ternyata dara Oey Sin Cu ini adalah muridnya Leng ie siancu dari atas gunung Leng siauw san.

Untuk belasan tahun lamanya dara Oey Sin Cu mengikuti gurunya belajar ilmu silat, sementara ibunya yang sudah menjadi janda sejak Sin Cu masih kecil; hanya ditemani oleh kakaknya yang bernama Oey Sin Hong.

Karena arus pergaulan yang menuntun, maka pemuda Oey Sin Hong kemudian ikut menjadi Hong bie pang cabang kota Soan-hoa. Akan tetapi akhirnya pemuda itu sadar bahwa dia telah memasuki suatu persekutuan yang sesat, dan dia berusaha hendak meninggalkan persekutuan itu, namun orang-orang Hong bie pang kemudian mendatangi rumahnya, dan Oey Sin Hong berdua ibunya dibinasakan secara keji dan kejam.

Sudah tentu dara Oey Sin Cu menjadi sangat dendam, waktu dia pulang dan mengetahui adanya peristiwa itu. Waktu dia menemui pamannya, maka dia mengetahui bahwa kematian kakak serta ibunya adalah menjadi korban keganasan orang-orang Hong-bie pang.

Dara Oey Sin Cu yakin bahwa dia tidak akan sanggup seorang diri menentang persekutuan Hong bie pang, dari itu dia memikirkan suatu daya; sampai kemudian dia memasuki persekutuan itu dan lambat laun dia mendapat kepercayaan sehingga cukup banyak dia mengetahui tentang rahasia persekutuan dan akhirnya terjadi pertemuannya dengan pemuda Coa Giok Seng yang langsung telah menambat hatinya.

"Aku mempunyai harapan terhadap diri kau, toako; dari itu aku segera menyusul kau mendatangi markas Hong bie pang, waktu aku mengetahui kau berani menghadapi mereka seorang diri. Aku merasa sudah tiba saatnya buat aku menuntut balas dendam setelah itu aku akan mengikuti kau, kemana saja kau pergi ..." dara Oey Sin Cu menyudahi perkataannya sambil dia menundukkan kepala. Mukanya kelihatan merah dan basah dengan air mata.