-->

Pendekar Bunga Cinta Jilid 12

jilid 12 

SELAGI Tio Tiang Cun mengamuk di tengah belasan para pengepungnya, maka di pihak musuh kembali datang tiga orang yang berlari-lari; namun kedatangan mereka ternyata bukan untuk bantu melakukan pengepungan, sebaliknya mereka membawa berita bahwa diruangan belakang telah terjadi sesuatu kebakaran, sedangkan si tawanan berhasil melarikan diri!

Tio Tiang Cun sempat mendengar berita yang baru dibawa oleh ketiga orang-orang itu. Didalam hati dia menyadari bahwa yang dikatakan "si tawanan" oleh pihak musuh, ternyata bukan dia. Akan tetapi pada saat itu Tio Tiang Cun tidak sempat berpikir tentang siapa gerangan si tawanan itu sebaliknya dia menjadi kecewa karena melihat Goei Han Siang meninggalkan tempat pertempuran itu, oleh karena agaknya Goei Han Siang lebih mementingkan untuk mengatasi bahaya kebakaran yang mengancam gedungnya itu.

Sementara itu Tio Tiang Cun menjadi sangat kecewa, sebab dia tidak mendapat kesempatan buat mengejar Goei Han Siang. Pihak pengepungnya telah melakukan penyerangan secara rapat sehingga dia bahkan merasa sukar buat menolong diri, dan kemungkinan dia justeru akan tertangkap dan dibinasakan oleh pihak musuh.

Di lain saat kelihatan Tio Tiang Cun merobah cara dia bertempur, oleh karena kelihatannya dia sudah tidak menghiraukan lagi keselamatan dirinya; sehingga seringkali dia melakukan serangan nekad selagi dia diserang, dan perbuatan nekadnya itu ternyata membawa hasil tiga orang yang dapat dia binasakan.

Namun demikian, cara bertempur yang nekad dari Tio Tiang Cun itu, sudah pasti tidak dapat berlangsung lama; sebab setiap detik dapat mengakibatkan tewasnya pemuda itu. Syukur bagi Tio Tiang Cun, disaat jiwanya sedang terancam, maka datang bantuan berupa seorang mahasiswa muda yang memakai pakaian serba putih serta dengan senjata istimewa yang berupa sebuah kipas dari bahan baja.

Gerak tubuh mahasiswa muda berbaju putih itu sangat lincah dan gesit. Dia melesat kian kemari dan dimana saja dia tiba, atau kapan saja dia mendekati salah seorang lawan yang sedang mengepung Tio Tiang Cun; maka sudah pasti lawan itu kena dirubuhkan tidak berdaya, entah karena kena tangan atau pun kena senjatanya yang istimewa itu ! "Lekas lari ... !" seru mahasiswa muda berbaju putih itu didekat Tio Tiang Cun.

Suaranya tegas mengandung wibawa, sehingga bagaikan orang yang terpengaruh maka Tio Tiang Cun patuh menurut, membuka jalan darah dengan dibantu oleh si mahasiswa muda berbaju putih itu; sehingga dalam waktu yang cukup singkat Tio Tiang Cun telah berhasil keluar dari rumah gedung yang membahayakan nyawanya itu.

Setelah berhasil melewati tembok halaman yang dia lompati; maka Tio Tiang Cun melarikan diri dengan dikejar oleh beberapa orang musuh. Tetapi ditengah kesibukan orang orang yang berlalu lintas, maka Tio Tiang Cun berhasil membebaskan diri dari para pengejarnya. Tetapi suatu hal yang disesalkan oleh pemuda itu adalah dia telah kehilangan si mahasiswa muda berbaju putih yang telah menolong dia.

Betapa pun halnya, Tio Tiang Cun tahu benar bahwa penolongnya setelah berhasil melepas diri dari kepungan musuh, bahkan pula keluar dari rumah gedung yang berbahaya itu. Tetapi si mahasiswa muda berbaju putih itu menghilang ditengah kesibukan lalu lintas di jalanan tadi, sehingga Tio Tiang Cun yakin bahwa penolongnya sengaja memisahkan diri.

Tetapi siapakah si mahasiswa muda berbaju putih itu? Kembali Tio Tiang Cun merasa ditimbuni dengan suatu pemikiran baru; sedangkan yang dia sudah pecahkan adalah perihal 'orang atasan' yang ternyata adalah Goei Han Siang, yang rupanya sengaja memakai dua nama !

Dan langkah kaki Tio Tiang Cun menuntun dia untuk mendaki gunung Tong kiong san, sehingga di lain saat dia telah memasuki gubuk Goei Han Siang, dimana dia beristirahat sambil memikirkan si mahasiswa muda berbaju putih yang tinggi ilmu silatnya, melebihi kepandaian yang dia miliki.

oooo)X(oooo

Mungkin karena sangat letihnya, atau mungkin juga terlalu banyak yang dipikirkannya; maka tanpa terasa Tio Tiang Cun pulas tertidur sampai hari melewati waktu lohor.

Waktu dia terbangun dari tidurnya, dia duduk termenung seorang diri, oleh karena dia baru saja bermimpi lagi bahwa dia telah kedatangan kekasihnya dengan tubuh penuh berlumuran darah !

Teringat dengan mimpinya itu, maka Tio Tiang Cun tinggalkan gubuk milik Goei Han Siang, untuk dia mendatangi makam Lie San Nio.

Akan tetapi didekat makam kekasihnya itu dia berdiri terpesona bagaikan suatu patung yang tidak bernyawa; sebab pada saat itu dia melihat kekasihnya sedang berdiri membelakangi dia atau dengan kata lain, Lie San Nio sedang mengawasi makamnya sendiri, dan makam itu kelihatan habis dibongkar seseorang; karena yang kelihatan hanya satu liang kosong !

Meskipun Tio Tiang Cun menjadi seorang pemuda yang mahir ilmu silatnya, namun pada saat dia sedang memikir tentang kemungkinan dia menghadapi hantu kekasihnya, maka terasa bulu kuduknya bangun berdiri, lalu bagaikan tanpa terasa dia menyapa dengan suara perlahan :

"Lie-moay    ?”

Tio Tiang Cun terkejut sendiri karena mendengar dia menyebut nama panggilan yang biasanya dia gunakan buat kekasihnya, dan pemuda itu menjadi lebih terkejut lagi sebab melihat hantu kekasihnya itu memutar tubuh; mengawasi dia dengan sinar mata hampa, disertai dengan air mata yang membasah.

Kemudian dilihat pula oleh Tio Tiang Cun, bahwa secara mendadak hantu kekasihnya berlari mendekati dia; lalu menerkam dan merangkul lehernya !

('mati aku ... !') teriak Tio Tiang Cun didalam hati; namun dia benar-benar tak kuasa lari karena saat itu dia bagaikan sedang kehilangan tenaga.

“Suko ! oh, suko ..." terdengar suara dara Lie Sian Nio dengan disertai oleh suara isak tangisnya.

"Lie moay, apakah kau hantu --?"

Dara Lie Sian Nio melepaskan rangkulannya dan menatap muka kekasihnya. Sempat dia tersenyum meskipun ada bintik-bintik air mata yang berlinang.

"Apakah kau menganggap aku hantu ?" Lie Sian Nio balik menanya.

"Apakah kau bukan hantu ...?" masih Tio Tiang Cun mengulang pertanyaannya; sementara tubuhnya lemas membikin dia terduduk ditanah dan kekasihnya ikut duduk di dekatnya, tanpa perduli mereka duduk tidak memakai alas apa apa.

"Suko, aku belum mati .." kata dara Lie Sian Nio sambil dia memegang sepasang tangan Tio Tiang Cun yang waktu itu mengeluarkan keringat dingin.

"Lantas, yang mati siapa ..?"

"Yang mati adalah ayah dan ibu .." sahut dara Lie Sian Nio; sementara air matanya mulai keluar lagi.

"Dan makam yang satu itu ..?" "Kau lihat, itulah suatu makam yang kosong ..” sahut dara Lie Sian Nio sambil dia menghapus air mata yang membasahi mukanya.

"Makam itu baru dibongkar oleh seseorang. Pagi tadi masih utuh waktu aku datang. Siapakah yang membongkar makam itu .. ?" tanya lagi Tio Tiang Cun; sementara dia mulai merasa agak tenang.

“Justeru aku tidak tahu siapa yang telah melakukannya

..” sahut dara Lie Sian Nio.

"Dan siapakah yang membikin makam itu ?"

"Aku yang membikinnya ..” terdengar jawab seseorang, suara seorang laki laki yang membuat Tio Tiang Cun kaget dan mengawasi, lalu dia jadi bertambah kaget sebab laki laki itu ternyata adalah Goei Han Siang atau yang juga memakai nama Goei Han Seng.

"Bangsat ! kurang ajar ...!" maki Tio Tiang Cun; lalu tubuhnya melesat dan menendang membikin tubuh Goei Han Siang rubuh terguling karena agaknya laki laki itu tidak menduga akan diserang secara begitu mendadak.

Waktu Tio Tiang Cun menyiapkan pedangnya dan hendak mengulang serangannya terhadap Goai Han Siang yang sudah bangun berdiri, maka dara Lie Sian Nio terdengar berteriak melarang:

"Suko tahan ...!"

Tio Tiang Cun menunda gerak pedangnya membiarkan kekasihnya mendekati dan kekasih itu yang menambahkan pembicaraan:

“Suko, memang benar makam itu dibikin oleh Goei

suheng; akan tetapi untuk maksud menolong aku  " "Goei suheng menolongmu ... ?" Tio Tiang Cun mengulang perkataan kekasihnya, karena dia benar benar merasa tidak mengerti. Dan agaknya pertemuan dengan sang kekasih itu bukannya membuka tabir rahasia berbagai peristiwa yang sedang dia hadapi; bahkan menambah lagi dengan berbagai persoalan yang memungkinkan kepalanya menjadi pecah !

Akan tetapi waktu dara Lie San Nio hendak bicara lagi, maka dengan mendadak Tio Tiang Cun menarik lengan kekasihnya, sambil berbareng Tio Tiang Cun mendorong tubuh Goei Han Siang; sehingga bertiga mereka terpencar dari tempat mereka berdiri tadi dan ditempat itu membenam belasan senjata rahasia dari berbagai corak dan ragam !

"Awas kita dikepung.....!" Tio Tiang Cun berkata cukup keras; dan tepat pada saat itu belasan laki laki garang bermunculan datang dan melakukan penyerangan terhadap muda mudi itu.

"Sekarang kalian tidak akan lepas lagi,” bentak seseorang

yang rupanya menjadi pemimpin dari para pengepung itu.

"Bun Houw, kau jangan terlalu menghina aku --!" seru Goei Han Siang yang kelihatan marah; sementara dia juga telah menyiapkan pedangnya. Juga dara Lie Sian Nio sudah siap buat melakukan suatu pertempuran.

“Ha ha ha ! saudaramu sendiri tidak menghiraukan kau, apalagi aku !" terdengar kata laki laki yang bernama Bun Houw; dan kalimat perkataannya itu, benar-benar telah menambah tabir gelap bagi Tio Tiang Cun, sehingga pemuda ini ingin rasanya menutup sepasang telinganya supaya perhatiannya tidak terpecah untuk dia menghadapi musuh yang sedang mengurung. Dilain pihak, dengan geram Goei Han Siang menyerang laki laki yang bernama Bun Houw itu, sehingga dilain saat terjadi suatu pertempuran yang ramai, karena serentak semuanya telah ikut bergerak.

Betapapun halnya, perhatian Tio Tiang Cun tetap menjadi terpecah; sebab dia harus memperhatikan musuh yang sedang mengepung dan menyerang, disamping dia harus memperhatikan Goei Han Siang yang dia khawatir sewaktu-waktu akan menyerang dia secara menggelap. Akan tetapi Tio Tiang Cun menjadi bertambah bingung; sebab melihat perlawanan yang gigih dari Goei Han Siang terhadap lawannya yang bernama Bun Houw.

“Katakan lekas siapa sebenarnya Goei Han Siang .." tanya Tio Tiang Cun dekat kekasihnya; sambil dia mewakilkan sang kekasih menangkis suatu serangan musuh.

"Goei Han Siang adalah Goei Han Siang. Murid ayah .." sahut dara Lie Sian Nio; sambil pedangnya menikam seorang musuh, dan pedang itu penuh berlumuran darah sebab musuh itu terkena tikamannya tadi.

"Dan, siapakah Goei Han Seng ...?” Tio Tiang Cun menanya lagi; padahal dia penasaran karena pedangnya tidak mencapai hasil bahkan lawannya hampir berhasil merobek perutnya, waktu lawan itu menghindar sambil menunduk sementara golok musuh itu menyerang hendak merobek perut Tio Tiang Cun.

"Goei Han Seng adalah Goei Han Seng, Ketua ... eh, kurang ajar ....!" Lie Sian Nio batal meneruskan perkataannya yang hendak menjelaskan tentang Goei Han Seng; sebaliknya dia memaki seorang musuh, karena secara diluar dugaan tangan kiri musuh itu bergerak hendak memegang bagian dada Lie Sian Nio. Membarengi suara makiannya itu, pedang dara Lie Sian Nio bergerak cepat, menabas tangan musuh itu sehingga musuh itu kehilangan sebelah tangannya, dan lompat mundur sambil perdengarkan pekik suara mengerikan; lalu dia rubuh pingsan diluar kancah pertempuran.

"Ketua apa ...?" Tio Tiang Cun mendesak mengajukan pertanyaan kepada kekasihnya; akan tetapi dia berteriak marah waktu pundak kirinya kena tikaman ujung tombak musuh sedangkan pundak yang kena tikaman itu, justeru tepat pada bekas luka dia terkena sebatang piao dulu; yang baru mengering karena pengaruh obat yang dia gunakan. Untung bagi Tio Tiang Cun, tombak musuh itu tidak menikam dalam, sebab dia berhasil balas menikam, membarengi gerak musuh itu sehingga musuh itu mendahului Tio Tiang Cun berpulang lagi kealam baqa.

"Eh, suko; kau terluka ... !" seru dara Lie Sian Nio yang kelihatan merasa cemas; karena melihat darah mulai mengalir keluar dari lukanya Tio Tiang Cun. Akan tetapi dara itu harus cepat-cepat menghindar dari suatu serangan musuh, bahkan sebelah kakinya sempat menendang musuh lain; dan nasib jelek diperoleh musuh itu, sebab dia terjerumus mendekati seorang kawannya yang sedang menabas batang leher Tio Tiang Cun, sehingga musuh itu yang kena tendangan tadi, jadi mewakilkan Tio Tiang Cun, membiarkan kepalanya putus terkena tabasan golok kawannya.

"Biarin, cuma sedikit, tetapi kau belum menjawab pertanyaanku..." sahut Tio Tiang Cun; sementara pedangnya berhasil membinasakan musuh yang tadi membinasakan kawannya sendiri, dan musuh itu tewas karena dia sedang terpesona bagaikan patung akibat perbuatannya tadi yang tidak disengaja telah membunuh kawannya sendiri. "Pertanyaan apa ..?” balik tanya dara Lie Sian Nio, sebab dia lupa pertanyaan apa dari kekasihnya yang belum dia jawab. Akan tetapi dara perkasa itu hampir saja tak sempat melengkapi perkataannya, sebab dia harus cepat cepat menghindar dari serangan tiga batang panah tangan kecil, tetapi amat berbahaya sebab mengandung bisa racun; dan si pelepas panah tangan mengandung bisa racun itu adalah seorang laki laki muda bernama Cong Keng Bun, murid Leng hoat tay su, seorang pendeta gadungan yang terkenal sakti dan yang berasal dari gunung Hong san !

Malang bagi dara Lie Sian Nio, karena waktu habis lompat menghindar atau berkelit; sebelah kakinya tersandung mayat seorang musuh sehingga dia tergelincir hampir terjatuh, namun sempat dia merangkul pinggang kekasihnya sehingga tidak terjadi dia terjatuh.

"Kurang ajar..!" Tio Tiang Cun memaki; karena sempat melihat orang yang menyerang kekasihnya memakai senjata gelap sementara tangan kirinya meraup beberapa batang jarum jarum 'Pek kong ciam', sehingga pada detik itu juga Cong Keng Bun rubuh terguIing, tewas dengan muka berobah menjadi biru !

"Suko, kau gunakan lagi jarum jarum terkutuk itu... !" Lie Sian Nio menjadi geram dan melepaskan rangkulannya pada pinggang kekasihnya; dan pada sepasang matanya mengandung sinar kebencian sehingga dara itu tidak menghiraukan adanya ancaman serangan seorang musuh terhadap dirinya.

Tio Tiang Cun menangkis tikaman musuh yang mengarah kekasihnya, setelah itu baru dia berkata :

"Tetapi dia yang mulai. Aku tidak melanggar sumpahku

....!" Dalam hati dara Lie Sian Nio mengakui bahwa kekasihnya tidak bersalah. Semangatnya bangkit lagi dan pedangnya menikam ke bagian bagian belakang tanpa dia memutar tubuh dan pedangnya itu membenam ditubuh seorang lawan, membikin lawan itu tewas seketika; namun sempat menyemburkan darah yang menodai pakaian dara Lie Sian Nio, disaat tangan kiri dara Lie Sian Nio memegang sarung pedang, sempat menangkis golok seorang musuh lain, dan pedangnya yang tajam itu lalu menyudahi gerak berikutnya sehingga musuh itu tak berdaya untuk menghindar dari maut.

"Lie moay, kau belum menjawab pertanyaanku.   " Tio

Tiang Cun yang bicara lagi dan didalam hati dia merasa bangga melihat kekasihnya yang bertambah tangkas.

"Pertanyaan yang mana....?” dara Lie Sian Nio ganti bertanya; sementara pikirannya lebih condong memikirkan masa Ialu waktu Tio Tiang Cun mengucap sumpah, tidak akan menggunakan lagi jarum-jarum maut 'pek kong ciam', kalau dia tidak lebih dahulu diserang memakai senjata rahasia.

"Pertanyaan tentang Goei Han Seng ” ulang Tio Tiang

Cun, sementara pedangnya berhasil merampas daun telinga lawannya, sampai lawan itu lari terbirit-birit dan terkencing- kencing sebab menduga kepalanya telah melayang hilang !

“Oh ... !" dara Lie Sian Nio berseru kaget; sebab dilihatnya dalam waktu sekejap pihak musuh pada melarikan diri secara simpang siur, akibat amukan seorang mahasiswa muda berbaju putih yang datang secara mendadak, namun tepat disaat musuh sedang mengancam nyawa Goei Han Siang yang mendapat lawan berat, berupa lelaki yang bernama Bun Houw atau yang memimpin rombongan para pengepung itu. Si mahasiswa berbaju putih yang perkasa itu tidak memberi kesempatan pada Tio Tiang Cun maupun dara Lie Sian Nio mengucap sesuatu perkataan; sebab si mahasiswa itu telah mengajak ketiga muda mudi itu cepat-cepat meninggalkan bekas tempat pertempuran, dan dia bahkan mendahului lari mendaki gunung Tong kiong-san, mengambil jalan memutar untuk kemudian tiba dirumah almarhum Lie Kong Cin.

Pada mulanya Tio Tiang Cun merasa heran mengapa si mahasiswa muda berbaju putih itu harus memilih jalan memutar untuk mencapai rumah almarhum Lie Kong Cin; akan tetapi kemudian dia menyadari bahwa si mahasiswa muda itu sengaja hendak menyesatkan pihak musuh sekiranya pihak lawan mencari jejak mereka.

Dilain pihak, agaknya Goei Han Siang sudah kenal dengan si mahasiswa muda berbaju putih; juga dara Lie Sian Nio sudah kenal oleh karena dara ini justeru yang memperkenalkan kekasihnya, sehingga Tio Tiang Cun mengetahui bahwa si mahasiswa muda berbaju putih itu bernama Kiang Cun Gee, yang menjadi kakak seperguruan dari Pouw Keng Thian.

Setelah memperkenalkan kekasihnya dengan si mahasiswa muda berbaju putih itu, maka dara Lie Sian Nio masuk ke bagian dalam, dan keluar lagi dengan membawakan sekedar hidangan berupa arak dan penganan kering.

Dengan demikian, maka ternyata bahwa rumah almarhum Lie Kong Cin tidak kosong: akan tetapi ada penghuninya.

Namun sengaja diatur sedemikian rupa seolah-olah rumah itu sudah kosong tidak dirawat. Setelah terjadi pertemuan itu, maka mulai jelas bagi pemuda Tio Tiang Cun bahwa Goei Han Seng dan Goei Han Siang merupakan anak kembar dari keluarga hartawan Goei Teng Kok.

Usianya Goei Han Seng hanya dua jam lebih tua dari Goei Han Siang, dan keduanya memiliki wajah muka dan potongan tubuh yang sama; hanya watak dan sifat mereka yang amat berlainan.

Sejak kecil Goei Han Seng dan Goei Han Siang sudah mendapat didikan ilmu silat dan ilmu surat; sampai kemudian Goei Han Seng banyak merantau sedangkan Goei Han Siang lebih senang bergaul dengan masyarakat setempat, tanpa memandang kedudukan kaya maupun miskin; dan Goai Han Siang kemudian terpikat dengan dara Lie Sian Nio, akan tetapi pemuda itu dapat menyesuaikan diri waktu diberitahukan bahwa Lie Sian Nio sudah bertunangan.

Berdasarkan pergaulannya yang erat antara Goei Han Siang dengan dara Lie Sian Nio dan Lie Kong Cin; maka terjadi Goei Han Siang mendapat tambahan pelajaran ilmu silat dari Lie Kong Cin, dan Goei Han Siang menganggap orang tua itu sebagai guru dan memperlakukan dara Lie Sian Nio sebagai seorang adik seperguruan.

Adapun mengenai Goei San Hok yang pernah dikenal oleh Tio Tiang Cun, dan yang kemudian tewas bersama- sama isterinya; sebenarnya adalah merupakan kakak misan dari Goei Han Siang. Akan tetapi oleh karena adanya pertikaian urusan keluarga, maka suami isteri Goei San Hok sudah tidak diakui lagi sebagai keponakan dari hartawan Goei Teng Kok, namun diluar tahu ayahnya ternyata Goei Han Siang tetap akrab dengan kakak misannya itu. Kemudian datang Goei Han Seng dari perantauan, dengan membawa sejumlah kawan kawan dari persekutuan Hong-bie pang. Dari kedatangan mereka justeru adalah hendak membentuk persekutuan Hong bie pang cabang dusun Tong kiong-tin dengan Goei Han Seng sebagai ketua.

Hartawan Goei Teng Kok yang tidak mengetahui perihal keganasan sepak terjang kaum Hong bie pang, tidak menentang kehendak puteranya itu; sebaliknya Goei Han Siang yang melihat gejala tidak baik telah berusaha menentang, namun berakibat dia dimusuhi oleh kakaknya, bahkan juga ayahnya kemudian ikut memusuhi dia.

Sementara itu dikalangan masyarakat dusun Tong kiong tin juga terjadi kegelisahan dan kecemasan, berhubung mereka menghadapi cara cara kekerasan dari pihak orang- orang Hong bie pang yang semakin hari menjadi bertambah ganas.

Goei Han Siang dan Goei San Hok berdamai hendak mengatasi keadaan, namun mereka tidak berdaya meskipun mereka telah menemui dan membincangkan keadaan itu bersama Lie Kong Cin; bahkan keadaan menjadi kian memburuk ketika hartawan Goei Teng Kok dan isterinya meninggal dunia akibat keracunan. Dalam hal ini sudah tentu Goei Han Siang mencurigai sebagai perbuatan kakaknya, sehingga terjadi pertengkaran antara mereka berdua, yang mengakibatkan keduanya bertempur; dan pihak Goei Han Seng dibantu dengan gerombolannya memaksa Goei Han Siang meninggalkan rumah orang tuanya.

Goei Han Siang membikin suatu rumah gubuk di atas gunung Tong Kiong san, dan di luar tahu kakaknya dia berhasil melarikan sejumlah besar harta almarhum ayahnya, berupa barang-barang permata dan uang emas. Dipihak Goei Han Seng, sudah tentu dia menjadi gusar waktu mengetahui hilangnya barang barang berharga itu, yang sebenarnya sangat dia butuhkan buat membeayai perkembangan Hong bie pang. Sejak saat itu maka Goei Han Seng selalu mengancam Goei Han Siang, dan Goei Han Siang pasti sudah dibinasakan, andaikata pihak Goei Han Seng sudah memperoleh harta warisan itu.

Kecurigaan Goei Han Seng kemudian dialihkan kepada Lie Kong Cin, karena Goei Han Seng menganggap adiknya sengaja menitipkan harta warisan itu kepada Lie Kong Cin. Dengan demikian, maka pada suatu hari Goei Han Seng mengajak sejumlah orang-orang Hong bie pang yang tinggi ilmunya untuk mendatangi rumah keluarga Lie Kong Cin, sehingga terjadi pertempuran yang mengakibatkan maut bagi Lie Kong Cin dan isterinya, sementara Lie Sian Nio terluka parah terkena senjata rahasia yang mengandung bisa racun, namun untung dapat dilarikan oleh Goei Han Siang yang datang tepat disaat dara itu terancam nyawanya.

Dipihak Goei Han Seng, sengaja dia tidak membinasakan adiknya sebelum dia berhasil menemukan harta yang dia cari. Dari itu dia biarkan adiknya melarikan diri bersama dara Lie Sian Nio, yang dia anggap menjadi kekasih adiknya.

Disaat dara Lie Sian Nio menderita karena lukanya, maka waktu itu Goei Han Siang bertemu dengan Kiang Cun Gee, si mahasiswa muda berbaju putih, dan Kiang Cun Gee menolong mengobati luka Lie Sian Nio, sambil dia mendengarkan kisah yang diceriterakan oleh Goei Han Siang, mengenai kegiatan Hong bie pang yang memang sudah dikenal oleh Kiang Cun Gee.

Kemudian diatur siasat seolah-olah dara Lie Sian Nio tewas karena luka terkena senjata rahasia yang mengandung bisa racun, dan dibuat tiga makam yang dicantumkan nama sebagai makam dari Lie Kong Cin sekeluarga sedangkan pada makam dara Lie Sian Nio digunakan sebagai tempat buat menyimpan harta warisan yang hendak direbut oleh pihak Goei Han Seng.

Ketiga muda mudi itu kemudian menempati rumah almarhum Lie Kong Cin, yang ternyata mempunyai ruang dibawah tanah yang tidak mudah diketahui orang; sedangkan Kiang Cun Gee kemudian memerintahkan seorang pengemis buta, melakukan penjalanan ke kota Tong kiong shia, mengambil tenaga bantuan dari pihak orang-orang Kay-pang, untuk selanjutnya mereka hendak membasmi persekutuan Hong bie pang cabang Tong kiong tin.

"Dengan adanya dia berwenang meminta bantuan dari orang-orang Kay pang, tentunya dia pernah memberikan jasa baik bagi persekutuan kita ..” tiba-tiba si pengemis tua Ciu Thong Han nyelak bicara, karena sesungguhnya dia merasa tertarik dengan kisahnya Tio Tiang Cun.

“Kiang toako merupakan buyut dari Kiang locianpwee yang dulu menjadi penasehat dari Kwee lo pangcu..” si pengemis muda Boe Hong Kin ikut bicara, mewakilkan Tio Tiang Cun buat memberikan penjelasan kepada Ciu Thong Han, sedangkan dengan "Kwee lo pangcu" yang dia maksud adalah Kwee Ceng dedengkot kaum Kay pang setelah Kwee Ceng menikah dengan Oey Yong.

Sementara itu si pengemis tua Ciu Thong Han juga menjadi teringat dengan cerita lain tentang sejarah orang orang gelandangan, dan dia kemudian menanya lagi;

"Lalu bagaimana selanjutnya dengan Goei Han Siang itu

, ..?"

"Goei Han Siang tewas dalam pertempuran mengganyang orang-orang Hong bie pang cabang Tong kiong tin, juga Goei Han Seng; sedangkan Tio sieko telah menikah dengan Lie kouwnio....." si pengemis muda Boe Hong Giap yang ganti memberikan penjelasan.

Si pengemis tua Cun Thong Han manggut manggut sambil bersenyum, sementara Tio Tiang Cun kelihatan bermuka merah.

Mendekati waktu subuh, mereka yang melakukan perjalanan sambil bercerita itu tiba disuatu desa, dimana mereka beristirahat sambil makan bubur ayam; setelah itu mereka meneruskan perjalanan mereka langsung menuju kota Soan hoa.

Dilain pihak, untuk mengetahui sebab sebab yang membikin si mahasiswa muda berbaju putih Kiang Cun Gee berkumpul didalam kota Soan hoa, bersama kedua saudara seperguruannya serta beberapa orang pendekar muda lainnya, maka perlu kita ikuti perjalanan pemuda Coa Giok Seng yang menjadi kakak seperguruan ketiga dari Pouw Keng Thian, dan perjalanan pemuda Coa Giok Seng ini adalah untuk menunaikan tugas dari seorang gurunya, yang memerintahkan dia menolong seseorang yang sedang menjadi tawanan pihak orang orang Hong bie pang di kota Soan hoa.

Seseorang yang sedang ditawan pihak orang orang Hong-bie pang itu bernama Lim Hwat Bie, terhitung masih kakak misan dari Coa Giok Seng; sebab ibunya Coa Giok Seng (almarhum) dengan ibunya Lim Hwat Bie merupakan kakak beradik.

Gurunya Coa Giok Seng ini mengetahui perihal kejadian penahanan ini dari seorang temannya yang bernama Wie Keng Siang, dan Wie Keng Siang ini sudah mendahului berangkat ke kota Soan hoa setelah dia menulis surat buat gurunya Coa Giok Seng; sehingga gurunya Coa Giok Seng memerintahkan supaya cepat-cepat menyusul ke kota Soan hoa mengingat antara Coa Giok Seng dengan Lim Hwat Bie masih bersaudara misan.

Coa Giok Seng tiba dikota Soan hoa tetapi dia tidak dapat segera menemukan Wie Keng Siang, sebab pemuda itu tidak mengetahui dimana Wie Keng Siang menginap; lagipula dia tidak mengetahui dimana dan oleh pihak mana Lim Hwat Bie ditawan, sebab didalam suratnya itu Wie Keng Siang tidak mencantumkan nama Hong bie pang yang menahan Lie Hwat Bie.

Bagi pemuda Coa Giok Seng, kota Soan hoa merupakan kota yang sudah dua kali dia kunjungi. Dahulu untuk yang pertama kalinya dia singgah dikota Soan hoa, dia terlibat dalam satu pertempuran karena dia menolong seseorang yang sedang menghadapi gerombolan seorang okpa (tuan- tanah) yang ganas.

Kota Soan hoa yang sekarang dia lihat, sudah banyak mengalami perobahan, terutama akibat banyaknya perpindahan orang orang cina dari wilayah utara, dan mereka umumnya menyeberang keselatan melalui kota Siang-yang yang menjadi kota perbatasan antara Tiongkok selatan dan Tiongkok utara.

Segera setelah memasuki kota Soan hoa maka Coa Giok Seng mencari sebuah rumah penginapan, sementara diluar tahunya, seseorang telah melihat dia waktu dia memasuki rumah penginapan itu dan seseorang itu tidak menemui dia, sebaliknya orang itu cepat-cepat pergi dan menghilang ditengah kesibukan orang banyak.

Petang harinya Coa Giok Seng menerima sepucuk surat yang katanya dibawa oleh seorang pedagang bakso dan si pedagang bakso itu katanya sudah pergi lagi; sebelum Coa Giok Seng sempat menemui. Surat itu ternyata dari seseorang yang mengaku bernama Ong Sin Kian dan Ong Sin Kian ini justeru adalah orang yang pernah ditolong oleh Coa Giok Seng waktu dulu terjadi Ong Sin Kian dikepung oleh pihak si okpa yang ganas.

Didalam suratnya itu Ong Sin Kian mengatakan bahwa secara kebenaran dia melihat kedatangannya Coa Giok Seng dikota Soan hoa, namun dia mengatakan penyesalannya karena adanya sesuatu hal yang sangat gawat, yang menyebabkan dia tidak berani menemui Coa Giok Seng dirumah penginapan, sebaliknya dia mengharapkan Coa Giok Seng menemui dia malam itu sebelum pukul delapan, disuatu tempat yang memang sudah tidak asing lagi buat Coa Giok Seng.

Kebiasaan Coa Giok Seng adalah berlaku hati-hati dalam menghadapi berbagai macam masalah, disamping dia berjiwa ksatrya yang tidak kenal rasa takut.

Coa Giok Seng tidak mengetahui entah apa gerangan yang membikin Ong Sin Kian takut menemui dia dirumah penginapan. Hal ini benar-benar merupakan suatu kecurigaan buat Coa Giok Seng, sehingga terpikir olehnya; kalau-kalau bukan Ong Sin Kian yang menulis dan mengirim surat itu, akan tetapi justeru adalah pihak musuh yang hendak memasang perangkap buat menangkap dia.

Namun demikian Coa Giok Seng memutuskan akan pergi ketempat yang dijanjikan sesuai dengan surat yang dia terima.

Sejak Coa Giok Seng akan keluar meninggalkan rumah penginapan, ternyata dia sudah diikuti oleh seseorang; dan seseorang itu adalah seorang pengemis setengah baya, bertubuh kurus tapi cukup gesit gerak tubuhnya. Coa Giok Seng membiarkan dirinya yang diikuti oleh sipengemis itu, sementara didalam hati dia berpikir bahwa dia tidak pernah bermusuhan dengan pihak orang-orang "Kay pang" (persekutuan orang orang gelandangan) yang waktu itu sedang 'dimusuhi' oleh pihak pemerintah bangsa Mongolia. Atau mungkinkah pengemis itu merupakan pihak musuh yang sengaja melakukan penyamaran ?

Sengaja Coa Giok Seng tidak memilih jalan yang langsung menuju ketempat yang dijanjikan, akan tetapi dia mengambil jalan yang memutar memilih beberapa tempat yang ramai namun si pengemis itu dengan lincah dapat terus mengikuti, menerobos arus orang-orang yang berlalu lintas; sampai disuatu tempat yang merupakan pusat tempat perjalanan, si pengemis itu menghilang dari pandangan mata Coa Giok Seng.

Sebagai gantinya, seorang penjual bakso kelihatan mengikuti Coa Giok Seng, kearah mana saja pemuda itu menuju; sehingga perbuatan penjual bakso itu dapat diketahui oleh Coa Giok Seng.

Penjual bakso itu sudah tua usianya, sedikit lebih tua dari si pengemis yang mengikuti Coa Giok Seng tadi. Penjual bakso itu botak kepalanya, memakai pakaian serba hitam yang kumal dan kelihatan noda-noda debu bercampur keringat; memikul barang dagangannya dengan kaki memakai sepatu rumput yang ringan. Suaranya melengking pada waktu dia berteriak menawarkan barang dagangannya, padahal sebenarnya perhatian dia pusatkan kepada orang yang sedang dia ikuti.

Langkah kaki Coa Giok Seng membawa dia kearah suatu kuil, dimana pada malam itu kebenaran sedang ramai karena banyak orang, oleh karena malam itu merupakan malam pertama kuil itu dibuka untuk umum; adalah merupakan suatu kuil yang baru selesai dibangun, dan sebagai gantinya dari kuil lama yang letaknya terpisah tidak terlalu jauh dari kuil yang baru itu.

Penjual bakso itu kemudian kian mendekati, sampai dia jalan berdampingan dengan Coa Giok Seng, dan pemuda ini sudah siap siaga untuk menghadapi sesuatu serangan mendadak; namun si penjual bakso itu justru menyapa, menawarkan barang dagangannya.

"Tidak, perutku masih kenyang .." sahut Coa Giok Seng kepada si penjual bakso, tetap dengan sikap waspada.

"Bukankah aku sedang bicara dengan Coa Siang kong

..?” si penjual bakso yang bicara lagi; menyimpang dari

maksud menjual barang dagangannya.

Bagi Coa Giok Seng, memang dia sudah teringat dengan kata pelayan tempat penginapan, bahwa surat yang dia terima berasal dari seorang penjual bakso. Akan tetapi Coa Giok Seng belum mengetahui, entah siapa dan dari pihak mana si penjual bakso yang mengetahui namanya itu.

"Benar ...." sahut Coa Giok Seng yang lalu meneruskan perkataannya : " .. bukankah kau yang membawa surat petang tadi ...?”

"Hendaklah Coa Siangkong mendatangi kuil yang lama, yang sudah tidak dipakai lagi dan siangkong masuk dari pintu sebelah belakang..." kata si penjual bakso; dan jawabnya itu sekaligus merupakan pengakuan bahwa memang benar dia yang membawa surat tadi.

“Siapakah yang akan aku jumpai disana.....?" sengaja

Coa Giok Seng bertanya.

"Seorang sahabat lama, singkong tentu belum lupa dengan nama dia, dan dia sekarang menjadi menentukan meskipun puteriku sudah binasa, tidak lama setelah mereka menikah." "Baiklah, aku akan kesana ..." kata Coa Giok Seng, namun dia memerlukan mengawasi sekeliling tempat itu, untuk memastikan kalau kalau sipengemis masih mengikuti dia.

Si pengemis itu tetap tidak terlihat lagi, dan Coa Giok Seng sudah mulai memisah diri dari kelompok orang banyak; mengikuti langkah kakinya menuju ketempat yang semakin sepi, sampai kemudian dia tiba dikuil tua yang gelap tanpa ada lampu penerangan, karena memang sudah tidak digunakan lagi. Coa Giok Seng menuju kebagian belakang dari kuil tua itu, sesuai seperti yang mereka beritahukan; dan dengan memakai kakinya dia mendorong pintu yang ternyata tidak dikunci. Tangan kanannya siap pada gagang golok yang dia pegang ditangan kirinya waktu dia memasuki kuil tua yang gelap itu.

Hanya satu kegelapan yang meliputi bagian dalam dari kuil tua itu. Coa Giok Seng merapatkan punggungnya pada dinding tembok yang dingin, sambil dia membiasakan matanya untuk berada diruangan yang gelap itu sementara hidungnya sempat mencium bau arak bercampur dengan bau keringat seseorang !

"Coa Hiantee, aku tahu kau memang pasti datang. Apa kabar dengan kau.....?” demikian terdengar seseorang menyapa Coa Giok Seng; dan pemuda itu masih ingat dengan suara itu, suara Ong Sin Kian yang dulu pernah dia tolong.

Dengan matanya yang sudah mulai terbiasa didalam ruangan yang gelap itu, maka Coa Giok Seng melihat Ong Sin Kian duduk disuatu sudut, sementara diatas meja tua yang sudah rusak, terdapat guci tempat arak.

"Ong heng, rupanya kau sudah mulai mabok ..." "Benar hiantee, saat ini hanya arak yang menjadi temanku. Hanya arak menjadi tempat pelarianku dari segala derita yang selalu mengejar aku...." sahut Ong Sin Kian dengan suara hampa, seperti orang yang sedang berputus asa.

Coa Giok Seng kian mendekati tempat Ong Sin Kian duduk. Dilihatnya orang yang pernah ditolongnya itu sangat berbeda dengan waktu pertama kali mereka berkenalan. Ong Sin Kian yang sekarang tidak terawat lagi rambut dan kumisnya, yang tumbuh secara tidak teratur; sedangkan tubuhnya jauh menjadi kurus, hilang segala sifat kegagahannya.

"Coa hiante, sejak kepergian kau dulu, hidupku mengalami masa masa gelap penuh kesukaran. Aku menyesali diriku yang tidak memiliki ketabahan untuk hidup merantau. Sebaliknya aku terpaksa bekerja dengan Ma Tay Him, si okpa yang dulu kita tempur, dan Ma Tay Him yang sekarang benar-benar bagaikan seekor raksasa yang bertambah sayap, bertambah mengganas menyebar kekejaman dan kebuasan ..."

"Tetapi apa yang menyebabkan Ong heng kesudian untuk bekerja sama dia...?" tanya Coa Giok Seng dengan suara yang mengandung penasaran bercampur tidak mengerti.

"Panjang untuk mencerita hal-hal itu, akan tetapi saat ini tidak ada kesempatan buat aku menceriterakan padamu. Aku diintai karena dicurigai, namun aku merasa perlu menemui kau, sebab ada sesuatu yang amat penting buat kau, dan kau adalah satu-satunya sahabatku ..."

Ong Sin Kian menunda perkataannya karena dia terbatuk, dan batuk itu agaknya merupakan suatu penyakit yang sudah lama dia derita. "... kau kembali datang kekota ini tentu karena mendapat berita tentang seseorang yang bernama Lim Hwat Bie, yang menjadi tawanan pihak musuh, benarkah begitu...?”

Coa Giok Seng hanya manggut membenarkan dan Ong Sin Kian yang bicara lagi:

"Dan kalau hiantee ingin mengetahui pihak musuh itu, justeru adalah Ma Tay Him dengan gerombolannya ..."

Sekali lagi Ong Sin Kian harus menunda perkataannya karena batuknya.

"... patutlah hiantee ketahui bahwa kedatangan kau ke kota ini, memang sudah diatur dan menjadi siasatnya Ma Tay Him.”

Sejenak Ong Sin Kian menghentikan perkataannya buat dia mengawasi sahabatnya. Agaknya dia merasa puas melihat Coa Giok Seng kelihatan terkejut heran, dan setelah itu baru Ong Sin Kian menyambung perkataannya:

"... oleh karena Lim Hwat Bie menentang kegiatan Hong-bie pang, maka dia ditangkap dan dibuang ke pulau Hay-ciu, diseberang kota Soan hoa yang menjadi tempat orang orang buangan atau orang hukuman pihak pemerintah bangsa Mongolia. Kemudian Ma Tay Him mengetahui bahwa tawanannya itu merupakan kakak misan dari kau, oleh karena itu dia membiarkan seseorang membawa berita buat kau, dan mengharapkan kau akan datang ke kota Soan hoa. "

"Kabar itu tidak langsung buat aku, akan tetapi buat seorang sahabat di kota Cin an yang sudah mendahului berangkat ke kota ini ..." kata Coa Giok Seng, selagi Ong Sin Kian menunda lagi perkataannya karena batuknya.

"Bagus kalau begitu; sebab artinya kau tidak seorang diri; kau bahkan perlu mencari bantuan banyak kawan-kawan buat membasmi Hong bie pang, kalau mungkin sampai ke pusatnya; disamping itu Ma Tay Him sangat dendam terhadapmu karena golokmu masih meninggalkan tanda cacad pada mukanya yang sebelah kiri "

Secara tiba tiba Ong Sin Kian menghentikan perkataannya. Kali ini bukan karena dia terbatuk, akan tetapi karena mendengar suara yang tidak wajar; seperti yang juga didengar oleh Coa Giok Seng.

Pada mulanya Coa Giok Seng ingin keluar untuk melihat, akan tetapi dia dicegah oleh suatu gerak tangan dari Ong Sin Kian.

Untuk sesaat keduanya terdiam tidak bersuara. Setelah tidak terjadi sesuatu, maka Ong Sin Kian lalu berkata lagi :

"Aku kira sebaiknya aku pergi sekarang, mudah- mudahan kau berhasil, hiantee "

Ong Sin Kian kemudian bergerak mendekati daun pintu, akan tetapi dia hentikan langkah kakinya, waktu dia mendengar Coa Giok Seng bicara :

"Dimana kau tinggal, Ong heng ? Marilah aku antar kau

..."

"Jangan. Hal itu bahkan akan mengakibatkan suatu rintangan buat tugas kau. Berilah aku waktu dua menit untuk keluar dari kuil ini, setelah itu baru kau keluar. Satu lagi pesanku, berhati-hatilah, terutama dengan anggota perempuan dari Hong bie pang , , , ,"

Sehabis mengucapkan perkataannya itu, maka Ong Sin kian menghilang dari pintu kuil; dan Coa Giok Seng menunggu sambil dia memikir berbagai masalah buat dia menghadapi pihak Hong bie pang dan menolong Lim Hwat Bie, disamping dia memikirkan masalah Ong Sin Kian yang kesudian mengabdi kepada Ma Tay Him, bekas musuh pribadinya.

Coa Giok Seng terkejut waktu kemudian dia mendengar pekik nyaring yang mengerikan dari Ong Sin Kian. Dia memburu keluar dan cukup jauh terpisah jaraknya dari kuil tua itu dia melihat banyak orang sudah berkumpul mengitari mayat Ong Sin Kian, yang tewas dengan sebatang pisau belati dibagian punggungnya. Tidak banyak darah yang keluar dan itu memang tidak perlu, sebab pisau belati itu mengandung bisa racun yang amat dahsyat !

ooooo) X (ooooo

FIRASAT Coa Giok Seng mengatakan bahwa si pengemis tua yang tadi membayangi dia, berada disekitar tempat terjadinya peristiwa pembunuhan terhadap Ong Sin Kian. Si pengemis itu tentu tidak membayangi untuk hampa belaka !

Coa Giok Seng tidak mengenal dan dia mencurigai kalau kalau pengemis itu bukan pengemis sesungguhnya. Mungkin si pengemis itu justeru adalah orang yang telah membunuh Ong Sin Kian, atau setidaknya melihat waktu terjadinya peristiwa pembunuhan itu.

Mengenai sebab sebab Ong Sin Kian dibunuh, sudah jelas bagi Coa Giok Seng. Sahabatnya itu telah dibunuh oleh pihak Hong bie pang, sebab Ong Sin Kian dicurigai atau dianggap sudah berhianat.

Secara tiba-tiba Coa Giok Seng melihat sipengemis tua itu, tepat selagi si pengemis mengawasi dia. Dan pada muka sipengemis itu, jelas kelihatan seperti dia sedang merasa ketakutan, dan sejenak dia terpesona mengawasi Coa Giok Seng. Coa Giok Seng bergerak cepat mendekati ketempat si pengemis berdiri, namun sipengemis tua cepat-cepat pula menyelusup diantara orang banyak; dan terus berusaha menyingkir dari Coa Giok Seng, sementara pemuda itu terus mengikuti kearah mana saja sipengemis itu coba menjauhi.

Si pengemis itu kemudian lari dan lari semakin cepat ketika dia telah berada dibagian tempat yang sepi; namun sudah tentu dia tidak sanggup melawan ilmu lari cepat dari Coa Giok Seng, sehingga pada saat berikutnya dia sudah tidak berdaya dihadapan pemuda itu.

"Maafkan aku, Coa siangkong. Akan tetapi percayalah bahwa aku bukan pihak musuh.." kata sipengemis seperti meratap.

"Hm ! kau kenal namaku ... !" Coa Giok Seng bersuara geram, dan menyambung lagi :

" . , . sejak tadi kau ikut aku, siapakah kau    ?"

"Namaku Lie Kiu. Aku diperintah oleh pangcu untuk mengundang kau, akan tetapi aku dilarang menemui kau ditempat orang banyak "

"Siapakah nama pangcu itu ....?” tanya Coa Giok Seng, yang sejenak menjadi ragu ragu.

“Dywa Sin Hok, dan dia menunggu kau bersama Wie

toaya. "

"Wie toaya, Wie Heng Siang maksud kau , ,?” "Benar.”

"Hm! kau ikuti aku sampai aku memasuki kuil tua itu, kau pun tentu juga mengetahui tentang orang yang membunuh Ong Sin Kian tadi .." Coa Giok Seng berkata lagi; tetap dengan suara geram. 'Tidak .." sahut si pengemis lalu dengan ragu-ragu dia menambahkan perkataannya:

".. aku melihat adanya beberapa orang-orang dari Hong bie pang, dari itu aku terus mengawasi pintu kuil sampai kau keluar. Aku bermaksud berteriak kalau orang-orang Hong bie pang menyerang kau, namun yang mereka bunuh adalah lain orang ..."

"Baiklah, mari kita pergi menemui Dywa pangcu .." akhirnya Coa Giok Seng berkata.

Dywa Sin Hok dan Wie Keng Siang sedang duduk bermain catur, waktu Coa Giok seng memasuki markas orang orang Kay pang cabang kota Soan hoa.

Coa Giok Seng mendekati Wie Keng Siang yang menjadi sahabat gurunya, untuk dia memberi hormat dan menyebut paman; kemudian dia diperkenalkan dengan Dywa Sin Hok.

Usia Dywa Sin Hok sudah lebih dari lima puluh tahun, sedikit lebih muda dari Wie Keng Siang. Dia memiliki wajah muka hitam dan kelihatan garang, namun nada suaranya kedengaran ramah tamah.

"Silahkan duduk, kau tentu sudah kenal dengan pembantuku, Lie Kiu .. " demikian kata Dywa Sin Hok; dan Coa Giok Seng manggut sambil dia mengucap terima kasih.

" .. Lie Kiu memang tepat bertugas di bagian penyelidik. Dia berhasil menemui kau, padahal dia belum pernah bertemu dengan kau ..." kata lagi si biang pengemis itu.

"Kau harus memberikan laporanmu, bagaimana dengan keadaan gurumu, dan pengalaman apa yang kau peroleh selama didalam perjalanan menuju ke kota ini.." kata Wie Keng Siang yang ikut bicara. "Suhu dalam keadaan sehat, dan tiada rintangan yang aku hadapi selama di dalam perjalanan. Akan tetapi, dapatkah susiok memberikan keterangan kepadaku, perihal Hong-bie pang di kota ini ... ?" sahut Coa Giok Seng yang balik menanya.

Wie Keng Siang berdua Dywa Sin Hok saling mengawasi waktu mendengar pertanyaan Coa Giok Seng. Sejenak kedua orang tua itu tak mengucapkan sesuatu perkataan, sampai kemudian Dywa Sin Hok yang mendahului bicara :

"Ternyata kau sudah mengetahui bahwa Lim Hwat Bie menjadi tawanan pihak Hong bie pang ..."

"Benar, pangcu. Akan tetapi, sebelum membicarakan perihal Lim piauwko; ingin aku mengetahui perihal Hong- bie pang ..." sahut Coa Giok Seng.

"Tidak banyak yang kami ketahui tentang persekutuan itu, kami bahkan tidak mengetahui siapa nama yang sebenarnya dari pimpinan mereka, dan dimana markas pusat mereka. Pemimpin mereka hanya dikenal dengan nama Hong-bie kauwcu berdua Hong-bie niocu, pengaruhnya luas dengan memiliki cabang dibanyak tempat. Segala kegiatan mereka adalah untuk kepentingan pihak pemerintah bangsa Mongolia, sehingga benar benar merupakan penghianat bangsa...”

"... dikota ini yang menjadi cabang adalah Ma Tay Him, seorang bekas okpa yang kejam. Kegiatan yang mereka lakukan dikota ini, kebanyakan adalah merupakan bagian pengiriman perempuan perempuan muda yang cantik, hasil penculikan yang mereka lakukan diberbagai tempat atau kota, dan perempuan-perempuan muda itu mereka bawa ke pulau Hay Ciu, untuk kepentingan orang orang Mongolia yang berada dipulau itu yang bertugas mengawasi orang- orang buangan atau orang orang hukuman, disamping mereka ditugaskan membangun ..."

Coa Giok Seng mendengarkan dengan penuh perhatian, akan tetapi dia merasa kecewa waktu Dywa Sin Hok menyudahi keterangannya, sebab ternyata yang diketahui oleh si biang pengemis mengenai Hong bie pang memang sangat terbatas sekali.

"Tahukah pangcu bahwa Lim piauwko justeru ditahan di pulau Hay ciu, tidak dikota ini seperti beritanya yang kita terima.....?" tanya Coa Giok Seng; dan perkataannya itu benar-benar telah mempesona si biang pengemis, juga Wie Keng Siang, sehingga keduanya lagi-lagi telah saling mengawasi, sementara Coa Giok Seng lalu menceritakan perihal pertemuannya dengan Ong Sin Kian, sampai Ong Sin Kian tewas setelah secara singkat memberitahukan penahanan atas diri Lim Hwat Bie.

Kemudian Coa Giok Seng juga menceritakan perihal perkenalannya dengan Ong Sin Kian, sampai terjadi Coa Giok Seng bertempur melawan Ma Tay Him; yang waktu itu menjadi okpa atau tuan tanah yang amat kejam; dan sebagai akibat dari pertempuran itu, maka Coa Giok Seng berhasil melukai Ma Tay Him, luka pada bagian muka yang sebelah kiri, dan untuk itu Ma Tay Him menjadi dendam terhadap Coa Giok Seng lalu sengaja membiarkan adanya berita tentang Lim Hwat Bie yang katanya pada saat itu ditahan didalam kota Soan hoa; sebab Ma Tay Him sedang memasang perangkap hendak menuntut balas terhadap Coa Giok Seng.

"... jelas bahwa dalam hal ini Ma Tay Him menghendaki aku seorang diri, dan aku pasti akan menghadapi dia ..." kata Coa Giok Seng yang menyudahi keterangannya; dengan sikap ksatrya yang pantang mundur. "Tunggu dulu, hiantit..." kata Wie Keng Siang yang memang sudah mengenal jiwa Coa Giok Seng; dan orang tua ini insaf betapa besar bahayanya jika terjadi pemuda itu menghadapi pihak Hong-bie pang tanpa perhitungan yang cermat.

" .. meskipun kau telah menanam permusuhan secara pribadi dengan Ma Tay Him, akan tetapi hendaklah kau jangan lupa bahwa Ma Tay Him yang sekarang adalah ketua Hong bie pang cabang dikota ini; dan Hong-bie pang adalah persekutuan para penghianat bangsa yang menjadi musuh kita semua. Bersama Dywa pangcu, aku sedang mengatur persiapan mengundang kawan kawan seperjuangan kita; dari itu aku harapkan kau jangan sampai bertindak terburu napsu yang dapat mengakibatkan rusaknya rencana kita ... " demikian Wie Keng Siang menambahkan perkataannya kepada Coa Giok Seng: dan pemuda ini tidak mengatakan sesuatu, namun kelihatan dia seperti sedang berpikir.

“Kami dari pihak Kay-pang,” kata Dywa Sin Hok yang mendapat kesempatan bicara; "... sebenarnya kami merasa malu karena kami tidak mempunyai kekuatan buat menumpas pihak Hong-bie pang sebab kami insyaf dengan kurangnya tenaga kami; terlebih oleh karena sebagian besar dari para rekan kami sedang mengadakan musyawarah berkenaan pihak pemerintah yang sekarang sedang memusuhi kami ..."

Coa Giok Seng tetap tidak mengucap apa-apa, sementara Lie Kiu yang sejak tadi mengundurkan diri, telah kembali dengan memberitahukan bahwa hidangan makan malam telah disediakan.

"Coa hiantit, dimana kau menginap ...?” tanya Dywa Sin

Hok ditengah mereka bersantap; dan Coa Giok Seng lalu memberitahukan, dengan menambahkan bahwa dia yakin tempatnya itu sudah diketahui oleh Lie-Kiu.

Lie Kiu yang juga ikut sama-sama bersantap, tidak mengucap apa apa; akan tetapi dia kelihatan bersenyum bangga.

"Apakah tidak lebih baik hiantit menginap  ditempat

kami   ?” Dywa Sin Hok yang berkata lagi.

"Terima kasih, pangcu; akan tetapi didalam urusan menghadapi pihak musuh, aku pikir sebaiknya aku tetap menginap di rumah penginapan; bahkan sebaiknya pihak musuh tidak mengetahui bahwa aku mempunyai hubungan dengan pihak Kay pang " sahut Coa Giok Seng.

Wie Keng Siang manggut membenarkan perkataan Coa Giok Seng, membikin Dywa Sin Hok tidak memaksa; dan setelah selesai mereka bersantap malam, maka Coa Giok Seng lalu pamitan.

Sebelum pemuda ini meninggalkan kedua orang tua tersebut, maka sempat Coa Giok Seng berkata kepada Wie Keng Siang :

"Susiok, sebenarnya ada sesuatu yang hendak aku tanyakan kepada susiok akan tetapi biarlah aku tunda pada lain kesempatan nanti…"

“Pertanyaan apa yang hendak hiantit ajukan ?" tanya Wie Keng Siang; namun pemuda itu hanya bersenyum, dan dia meninggalkan kedua orang tua itu, tanpa dia menghiraukan Wie Keng Siang menjadi berpikir tentang apa gerangan maksud Coa Giok Seng.

Coa Giok Seng tiba ditempat penginapan tanpa dia menghadapi rintangan dijalan, bahkan tidak ada tanda tanda bahwa dia diikuti oleh seseorang, dan hal ini malah menjadi bahan pemikiran bagi Coa Giok Seng, sebab dia malah menduga bahwa pihak Ma Tay Him akan segera mengganggu dia.

Seorang pelayan menyambut kedatangan Coa Giok Seng dengan muka berseri seri, dan tangan memegang sekeranjang buah buah yang katanya buat Coa Giok Seng; dikirim oleh pihak Kay pang yang dibawa oleh seorang pengemis muda.

Sejenak Coa Giok Seng tersenyum tercengang mengawasi si pelayan, sementara tangannya belum mau menerima sekeranjang buah buah itu. Dia justeru baru saja habis mengunjungi pihak Kay pang dan Dywa Sin Hok tidak pernah mengatakan sesuatu tentang kiriman buah buah itu. Jelas ada pihak lain yang mengirimkan buah buah itu dengan memakai nama Kay pang, dan pihak lain itu pasti adalah pihak musuh; yakni pihak Hong bie pang atau si Ma Tay Him !

"Mana si pengemis yang mengantarkan buah buah ini ?" akhirnya Coa Giok Seng menanya.

"Si pengemis sudah pergi. Buah buah ini sudah lama kami terima, yakni sesaat sejak siangkong keluar tadi," sahut si pelayan; tetap dengan muka berseri seri.

Semula Coa Giok Seng tidak mau menerima buah buah itu, akan tetapi kebiasaannya yang melakukan tabah menghadapi segala sesuatu menghendaki dia menyelidiki perihal buah buah yang dihadiahkan untuknya itu.

Oleh karenanya, segera Coa Giok Seng menerima sekeranjang buah-buah itu sambil dia mengucap terimakasih; lalu dia melangkah mendekati letak kamarnya. Sikapnya bertambah waspada waktu dia membuka kunci pintu kamarnya dan menendang terbuka daun pintu kamar itu. Kamarnya itu ternyata kosong. Dia memasuki dan mengunci lagi pintu kamarnya dari bagian dalam, lalu dia menempatkan keranjang buah itu diatas meja, dan dia memasang api pelita.

Kemudian Coa Giok Seng mulai memeriksa buah buah itu ternyata merupakan buah buah Leng sebesar buah apel; sementara di bagian teratas terselip selembar surat :

"Buat Coa siaohiap, dari Dywa pangcu      "

Didalam hati Coa Giok Seng tertawa sehabis dia membaca surat singkat itu, kemudian dia mulai meneliti tanpa menyentuh buah buah itu, lalu dia dekati hidungnya untuk membaui; namun tak ada bau yang mencurigakan melainkan bau harum yang keluar dari buah buah itu.

Dari dalam kantong bajunya Coa Giok Seng lalu mengambil sebatang tusuk sanggul perak yang dia bungkus dengan sehelai sapu tangan; dan tusuk sanggul itu adalah pemberian atau peninggalan dari almarhum ibunya.

Coa Giok Seng memilih salah satu dari buah-buah itu, yang lalu dia tusuk memakai tusuk sanggul itu; kemudian dia menunggu dan meneliti. Cairan sari buah yang menempel pada tangkai tusuk sanggul lambat laun berobah menjadi cairan yang berwarna biru kehitam-hitaman, menandakan buah itu mengandung racun maut!

Coa Giok Seng perdengarkan suara mendesir, menandakan dia sangat gusar dengan perbuatan pihak musuh yang telah memilih tindakan pengecut buat membinasakan dia.

Segera Coa Giok Seng keluar dari kamarnya dengan membawa semua buah buah itu. Diluar rumah penginapan sudah sunyi waktu Coa Giok Seng membuang buah-buah itu ditempat sampah, setelah itu Coa Giok Seng kembali hendak memasuki kamarnya.

Dua kesalahan telah dilakukan oleh Coa Giok Seng waktu dia keluar membuang buah buah itu. Kesalahan pertama dia keluar tanpa dia mengunci pintu kamarnya, dan kesalahan kedua goloknya sebagai senjatanya dia tidak bawa. Sudah tentu Coa Giok Seng tidak berpikir waktu dia melakukan kesalahan itu, sebab kepergiannya hanya memerlukan waktu sejenak, tidak ada dua menit lamanya; akan tetapi waktu yang dua menit itu sudah dipergunakan dengan sebaik-baiknya oleh pihak musuh.

Sebatang pedang menyambar Coa Giok Seng pada waktu pemuda itu baru saja memasuki kamarnya. Syukur dia sempat bergerak cepat untuk berkelit menyingkir, namun serangan berikutnya menyusul dengan amat pesatnya; membikin tak sempat Coa Giok Seng memperhatikan wajah muka penyerangnya. Dan serangan itu terus dilakukan secara bertubi-tubi; oleh karena pemuda itu masih sanggup untuk berkelit menghindarkan diri.

Setelah lewat belasan serangan, maka Coa Giok Seng sempat pula melihat wajah muka si penyerang, dan pemuda ini hampir terpesona, karena dia mendapati penyerangnya adalah seorang dara cantik dengan tubuh ramping menarik; namun amat lincah dan galak bagaikan seekor harimau betina yang sedang mengancam mangsa.

Disuatu saat serangan dara cantik itu berhasil menusuk lengan baju Coa Giok Seng yang sebelah kiri; namun dengan tangan kanannya Coa Giok Seng berhasil membikin dara cantik itu melepaskan pedangnya. Akan tetapi, diluar dugaan Coa Giok Seng, maka dara cantik itu dapat bergerak dengan amat gesitnya, karena tangan kirinya yang memegang sarung pedang, terayun mengarah muka Coa Giok Seng dengan suatu pukulan yang keras. Dalam kagetnya Coa Giok Seng cepat cepat melompat mundur, akan tetapi dara cantik itu tidak mengambil lagi pedangnya yang sudah lepas dari tangannya; sebaliknya selagi Coa Giok Seng lompat mundur, maka dara cantik itu lompat menerkam dengan kegalakan seekor harimau betina menerkam anak kecil.

Coa Giok Seng mengelak menyamping, dan berhasil dia menangkap pinggang dara cantik itu; namun dengan suatu gerak berputar, dara cantik itu menghantam punggung Coa Giok Seng memakai sarung pedang, dan waktu sarung pedang itu tidak berhasil mencapai sasaran, maka dengan jari-jari tangan kanan yang memiliki kuku panjang, dara cantik itu berusaha hendak mencakar muka Coa Giok Seng