-->

Pendekar Bunga Cinta Jilid 11

jilid 11 

KEMUDIAN POUW KENG THIAN menemukan sebatang pedang bekas dipakai menyerang dia tadi, dan pemuda itu lalu turun dari atas kereta; menuju ke bagian belakang untuk dia menyingkap tenda kereta, khawatir kalau-kalau masih ada musuh lain yang umpetkan diri.

Akan tetapi, sekali lagi Pouw Keng Thian menjadi sangat terkejut, sebab isi kereta itu ternyata lima orang dara remaja bermuka cantik, namun semuanya kelihatan dalam keadaan terikat kaki dan tangannya, sementara mulut-mulut mereka disumbat memakai secarik kain.

Kelima dara dara remaja itu kelihatan ketakutan waktu Pouw Keng Thian menyingkap tenda kereta memakai sebatang pedang yang tajam, akan tetapi setelah melihat muka Pouw Keng Thian yang tampan, tidak menyeramkan; maka agak berkurang rasa takut mereka.

Segera Pouw Kheng Thian menolong salah seorang dari kelima dara dara remaja itu; lalu dia minta dara itu menolong teman-temannya yang lain. Kemudian dari keterangan singkat yang diperoleh Pouw Keng Thian, maka pemuda itu mengetahui bahwa mereka merupakan korban penculikan dari kota Hwa an, yang diangkut memakai kereta kuda oleh kelima orang laki laki garang, serta seorang dara remaja yang berhati kejam.

Sekarang jelas bagi Pouw Keng Thian bahwa kereta kuda itu justeru milik dari gerombolan si penculik yang terdiri dari lima orang laki laki tadi, bukan milik si pengemis tua. Sebaliknya si pengemis tua itu rupa-rupanya sudah mengetahui tentang penculikan itu, lalu memegat jalan dan terjadi sipengemis tua itu dikepung. Kemudian waktu Pouw Keng Thian datang memberikan bantuan, maka si pengemis tua lebih mengutamakan supaya Pouw Keng Thian menolong kelima dara dara yang diculik itu, dengan pesan menyerahkan kepada siapa saja di kota terdekat, karena letak kota Hwa an cukup jauh terpisah dan Pouw Keng Thian tidak mempunyai waktu buat mengantar dara dara remaja itu ketempat kediaman mereka.

Konon waktu itu perhatian Pouw Keng Thian justeru menjadi lebih tertarik dengan katanya ada seorang dara yang berhati kejam, yang menjadi teman pihak si penculik. Pouw Keng Thian ragu-ragu dengan dara dara Gan Leng Soan berdua Kwa Leng Cu, melulu karena dia mendapat sebuah kalung yang mirip didalam mimpi yang dia lihat dipakai oleh kedua dara dara yang pernah menjadi teman seperjalanannya.

Rasa hati Pouw Keng Thian kemudian menjadi tenang, waktu mendapat gambaran mengenai wajah muka yang katanya berhati sangat kejam itu, oleh karena gambaran itu ternyata tidak sama dengan wajah muka dara-dara Gan Leng Soan maupun Kwa Leng Cu.

Sesuai dengan pesan si pengemis tua, maka Pouw Keng Thian meneruskan untuk melarikan kereta kuda itu. Niatnya akan dia datangi rumah salah seorang hartawan, untuk dia meminta bantuan buat mengantarkan dara itu dikembalikan ke kota Hoa-an.

Kota terdekat yang dijumpai Pouw Keng Thian adalah kota Liok-hui, sebuah kota kecil namun tak kalah ramainya dengan kota Pao kee tin.

Didalam kota Liok hui ini terdapat seorang hartawan yang mempunyai rumah besar dan luas. Hartawan ini bernama Liu Hok Bun, seorang pendatang baru di kota Liok hui yang tidak diketahui dari mana asalnya, padahal dia adalah bekas seorang kepala rampok yang lari dari Tiongkok bagian utara.

Belum cukup setahun Liu Hok Bun menetap dikota Liok hui, namun dalam waktu yang singkat itu dia berhasil menawan hati masyarakat setempat, sering memberikan pinjaman uang tanpa meminta bunga bahkan dia gemar menolong masyarakat setempat yang tidak mampu, menampung dara dara remaja yang diberi pekerjaan dirumahnya.

Diluar tahu masyarakat setempat, Liu Hok Bun ini sebenarnya merupakan pemimpin persekutuan Hong bie pang cabang kota Liok hui, yang baru dibentuk dan belum meluas kegiatannya.

Perintah yang diterima oleh Liu Hok Bun dari markas pusat Hong bie pang, dia diharuskan menampung sebanyak mungkin dara dara remaja yarg bermuka cantik; dan dara remaja itu harus dikirim ke kota Soan hoa buat disampaikan kepada Hong bie pang cabang setempat, yang dipimpin oleh seseorang yang katanya bernama Ma Tay Him.

Mengenai untuk apa dara dara remaja itu ditampung didalam kota Soan-hoa, tidak diketahui oleh Liu Hok Bun. Akan tetapi sesuatu pesan yang ditegaskan didalam perintah itu, yang bahkan disertai dengan ancaman hukuman, bahwa dara dara remaja itu tidak boleh diganggu kehormatannya, harus benar-benar perawan!

doodoo)X(cdOodo

Hari itu hartawan Liu Hok Bun mendapat laporan tentang datangnya tamu, yang terdiri dari seorang pemuda dengan membawa lima orang dara dara remaja.

Hartawan Liu Hok Bun mendatangi ruang tamu, dan dia merasa heran karena tidak mengenal dengan pemuda itu, juga dengan kelima dara dara remaja yang dibawanya.

“Liu wangwee, maafkan kami bahwa kami mengganggu kau. Namaku Pouw Keng Thian," demikian pemuda itu perkenalkan diri,

( "Suatu nama yang baru kali ini aku dengar ....") kata Liu Hok Bun didalam hati; namun dengan paksaan diri untuk tersenyum ramah, dia perkenalkan namanya dan persilahkan Pouw Keng Thian duduk.

“ . , . kedatangan kami adalah hendak minta bantuan Liu wangwee .... " kata Pouw Keng Thian setelah dia duduk berhadapan dengan hartawan Liu Hok Bun; serta si pemuda ini kemudian mengatakan maksudnya, mengharap bantuan hartawan Liu Hok Bun untuk mengatur pengembalian dara dara remaja ke kota Hwa an, sebab mereka katanya telah menjadi korban penculikan.

“Diculik.....?" ulang   hartawan   Liu   Hok   Bun   yang

kelihatan terkejut dan heran.

Rasa terkejut dan rasa heran hartawan Liu Hok Bun itu bukanlah oleh karena pemuda itu telah mengatakan dara dara itu menjadi korban penculikan; tetapi ada sesuatu hal yang benar-benar diluar dugaan bahwa pemuda itu telah berhasil menolong dara dara itu lalu membawanya kepada dia yang dapat dikatakan sebagai si biang culik !

Disamping itu, hartawan Liu Hok Bun memang telah menerima berita akan datangnya rombongan dari Hong bie pang cabang kota Hwa-an. Mereka akan singgah di kota Liok-hui untuk menyerahkan lima orang dara dara remaja, yang kemudian akan diteruskan pengiriman dara dara remaja itu ke kota Soan-hoa oleh pihak hartawan Liu Hok Bun.

Jelas bagi hartawan Liu Hok Bun, bahwa pemuda Pouw Keng Thian telah menjegal pihak Hong-bie pang kota Hwa an dan menolong kelima dara dara remaja itu; sehingga terpikir oleh hartawan Liu Hok Bun, betapa gagahnya pemuda Pouw Keng Thian yang sanggup mengalahkan kelima orang pengawal laki laki dari Hong bie pang cabang kota Hwa an, ditambah dengan seorang anggota perempuan yang menjadi utusan dari markas pusat sesuai seperti yang Liu Hok Bun terima laporannya.

Dengan demikian, berbagai macam pikiran berada didalam hati hartawan Liu Hok Bun, namun terhadap tamunya dia berlaku wajar dan menyatakan kesediaannya buat mengatur pengiriman dara-dara remaja itu ke kota Hwa an, sesuai dengan permintaan Pouw Keng Thian.

Kemudian hartawan Liu Hok Bun meminta supaya tamunya menunggu sebentar diruang tamu, dan hartawan Liu Hok Bun mengantarkan dara dara remaja itu keruangan lain lalu dia keluar bersama pelayan yang membawakan minuman buat Pouw Keng Thian dan didalam minuman itu sudah tentu dicampur dengan larutan obat bius, karena hartawan Liu Hok Bun hendak menangkap Pouw Keng Thian untuk diserahkan kepada markas pusat Hong bie pang ! Sambil mengajak tamunya minum dan menunggu bekerjanya pengaruh obat bius itu, maka atas pertanyaan hartawan Liu Hok Bun oleh Pouw Keng Thian diceriterakan tentang tujuan perjalanannya yang hendak kekota Soan hoa, dan ditengah perjalanan itu dia menemukan seorang pengemis tua yang sedang bertempur melawan kelima orang pengepungnya sampai kemudian dia memberikan bantuan dan melarikan kereta kuda yang berisi dara dara remaja itu.

"Pengemis tua yang perkasa, kenalkah congsu siapa gerangan nama dia... ?" tanya hartawan Liu Hok Bun ingin mengetahui.

Congsu (panggilan untuk seorang gagah).

Pouw Keng Thian bersenyum, lalu dia menyatakan bahwa dia belum sempat menanyakan nama si pengemis tua itu.

Sementara itu pengaruh obat bius telah perIihatkan gejala, karena tiba-tiba Pouw Keng Thian merasa sangat mengantuk. "Tentu tujuan cong-su ke kota Soan hoa, bolehkah aku mengetahui maksud keperluan kau...?" tanya lagi hartawan Liu Hok Bun; dan tanpa merasa curiga, maka Pouw Keng Thian memberitahukan bahwa dia bermaksud menemui ketiga kakak seperguruannya, yakni Kiang Cun Gee, Tan Hong Lan dan Soen Bian Hie.

Dengan demikian, semakin bertambah jelas diketahui oleh Liu Hok Bun, bahwa dia sedang berhadapan dengan salah seorang pendekar golongan muda yang menentang pihak Hong bie pang; seperti yang beritanya memang sudah dia dengar dari markas pusat persekutuan itu.

Sementara itu Pouw Keng Thian tak kuasa menahan rasa kantuknya, dan dia tertidur sehingga dengan mudah dia ditangkap dan disimpan disuatu kamar tahanan. Hari itu juga hartawan Liu Hok Bun menulis sepucuk surat buat markas pusat Hong-bie pang, untuk mengirim Pouw Keng Thian dan menerangkan siapa adanya pemuda itu. Lalu sepucuk surat lagi buat Hong bie pang cabang kota Hwa an, merupakan berita bahwa kiriman mereka telah dijagal oleh seorang pengemis tua yang belum diketahui namanya, dibantu seorang pemuda bernama Pouw Keng Thian, dan surat ketiga dibikin oleh hartawan Liu Hok Bun buat Hong bie pang cabang kota Soan hoa, untuk hal pengiriman lima orang dara dara remaja yang berasal dari Hong bie pang cabang kota Hwa an, disertai dengan pesan bahwa didalam kota Soan hoa sedang berkumpul sejumlah orang orang gagah yang belum diketahui maksud dan kegiatannya, tetapi perlu diperhatikan dan Hong bie pang cabang Soan-hoa perlu berhati hati.

Petang itu juga hartawan Liu Hok Bun memerintahkan para pembantunya buat melaksanakan pengiriman surat surat dan dara dara remaja itu; bahkan tidak lupa Liu Hok Bun mengurus beberapa orang buat menyelidiki perihal si pengemis tua, sedang Pouw Keng Thian belum sempat dibawa ke markas pusat Hong bie pang, sebab hartawan Liu Hok Bun kekurangan tenaga.

Malam harinya, secara diluar dugaan markas Hong bie pang cabang kota Liok hui itu diserbu oleh lima orang gagah, yang dipimpin oleh si pengemis tua yang namanya belum diketahui oleh hartawan Liu Hok Bun.

Si pengemis tua yang gagah perkasa itu sebenarnya adalah seorang tokoh persekutuan 'Kay pang' yang bernama Ciu Thong Han, (Kay pang : persekutuan orang orang gelandangan).

Si pengemis tua Ciu Thong Han sedang menjelajah wilayah selatan dan tengah, dalam rangka urusan persekutuan Kay pang yang pada saat itu sedang 'dimusuhi' oleh pihak pemerintah kerajaan Mongolia; dan secara kebenaran Ciu Thong Han bertemu dengan rombongan orang-orang Hong bie pang cabang kota Hwa-an, sampai kemudian Ciu Thong Han sudah mengetahui bahwa orang- orang tersebut sedang melaksanakan tugas pengiriman dara dara remaja hasil penculikan, yang hendak dikirim ke kota Soan hoa.

Memang sudah seringkali terdengar oleh Ciu Thong Han, tentang banyaknya kaum penculik dara dara remaja diberbagai kota. Akan tetapi Ciu Thong Han tidak mengetahui kalau penculikan itu dilakukan secara terpimpin oleh pihak Hong bie pang, dan persekutuan Hong bie pang itu, Cu Thong Han bahkan tidak mengetahui dimana pusatnya, juga dia tak mengetahui siapa nama pemimpinnya; sebab yang pernah dia dengar hanyalah dikenal dengan nama Hong bie kauwcu dan Hong bie niocu.

Seorang diri Ciu Thong Han melakukan penghadangan dikepung oleh lima orang Hong bie pang cabang kota Hwa an sampai kemudian datang pemuda Pouw Keng Thian yang memberikan bantuan; dan Ciu Thong Han lalu memerintahkan pemuda itu melarikan kereta kuda yang berisi dara dara remaja hasil penculikan, oleh karena Ciu Thong Han menganggap akan sanggup dia mengalahkan para pengepungnya.

Diluar dugaan Ciu Thong Han, meskipun dia sudah berhasil membinasakan seorang lawannya, namun sisa empat lawannya ternyata tidak mudah dia kalahkan; bahkan lambat laun kelihatan Ciu Thong Han terdesak bagaikan kehabisan tenaga.

Disaat yang berbahaya bagi kedudukan Ciu Thong Han datang bantuan yang berupa dua orang pemuda perkasa dan dua orang pengemis muda. Dengan dua orang pengemis muda itu, sudah tentu Ciu Thong Han memang kenal masing-masing bernama Boe Hong Giap dan Boe Hong Kim; dua bersaudara yang sejak kecil sudah menjadi pengemis, sampai mereka belajar ilmu silat dan menjadi anggota Kay pang.

Dengan datangnya tenaga bantuan yang perkasa itu sudah tentu pihak Ciu Thong Han memperoleh kemenangan, dan semua orang orang Hong bie pang itu dapat dibinasakan.

Setelah diperkenalkan maka diketahui oleh Ciu Thong Han bahwa nama kedua pemuda itu adalah Cie Keng Hong dan Tio Tiang Cun.

Sementara itu Ciu Thong Han kemudian mengajak ke 4 laki laki muda itu memasuki kota Liok hui, dan ditengah perjalanan itu sempat Ciu Thong Han menceriterakan tentang adanya seorang pemuda yang dia perintahkan melarikan kereta kuda, yang berisi dara dara korban penculikan.

Waktu sudah memasuki kota Liok hui dan selagi mereka melewati rumahnya hartawan Liu Hok Bun, maka Ciu Thong Han menjadi girang sebab dia melihat adanya sebuah kereta kuda, dan kereta kuda itu justeru adalah yang dilarikan oleh Pouw Keng Thian.

Segera terpikir oleh Ciu Thong Han bahwa pemuda Pouw Keng Thian telah memilih keluarga hartawan, buat dia menyerahkan isi kereta dan tentunya telah meminta bantuan hartawan itu, buat mengatur pengembalian dara dara korban penculikan ketempat mereka masing masing.

Ciu Tong Han kemudian mengajak ke empat teman seperjalanannya buat memasuki rumah hartawan itu, akan tetapi pemuda Tio Tiang Cun mencegah, sebab waktu itu Tio Tiang Cun sempat melihat adanya seorang laki laki yang berdiri didekat kereta kuda.

"Ciu lopek, aku teringat dengan lelaki yang berdiri didekat kereta itu. Dia adalah bekas perampok yang melarikan diri dari utara " demikian kata Tio Tiang Cun,

sehingga batal dia memasuki rumah hartawan Liu Hok Bun, sebaliknya mereka memasuki sebuah rumah penginapan, buat beristirahat sambil hendak mencari keterangan perihal keluarga hartawan yang sedang didatangi oleh Pouw Keng Thian, sehingga dari seorang pelayan kemudian mereka mengetahui nama hartawan itu adalah Liu Hok Bun, yang katanya merupakan seorang hartawan dan dermawan yang banyak disukai oleh masyarakat setempat.

"Ha ha ha    !" tiba tiba pemuda Tio Tiang Cun tertawa,

membikin si pelayan menjadi heran, juga Ciu Thong Han dan dua bersaudara Boe Hong Kim dan Boe Hong Giap, kecuali Cie Keng Hong dan Cie Keng Hong ini lalu memerintahkan si pelayan meninggalkan mereka, disebabkan Tio Tiang Cun hendak menceriterakan tentang si hartawan Liu Hok Bun yang dianggap sebagai seorang hartawan yang dermawan itu.

Ternyata Tio Tiang Cun berdua Cie Keng Hong merupakan orang orang yang pada mulanya menetap di utara, dan kedua orang pemuda itu pernah ikut rombongan para pendekar yang mengganyang penjahat diatas gunung Khin san, sehingga kedua pemuda itu tidak merasa asing lagi dengan nama Liu Hok Bun, maupun dengan pembantunya yang tadi dilihat berada didekat kereta kuda yang katanya bernama Ang Sin Tiu.

Setelah mengetahui siapa nama sebenarnya hartawan Liu Hok Bun, maka Ciu Thong Han berlima melakukan penyerangan kerumah hartawan itu pada malam harinya, namun pada waktu itu mereka belum mengetahui kalau bekas perampok dari gunung Khin san itu, justeru merupakan ketua Hong bie pang cabang kota Liok hui, mereka berlima bahkan tidak mengetahui bahwa saat itu pemuda Pouw Keng Thian sedang menjadi orang tahanan.

Serangan kelima orang itu sudah tentu diluar dugaan pihak hartawan Liu Hok Bun, terlebih pada waktu itu dia baru kekurangan tenaga, karena banyak yang ditugaskan ke luar kota.

Namun demikian, hartawan Liu Hok Bun mengerahkan sisa tenaga yang ada untuk melakukan perlawanan secara gigih disamping dia mengutus seorang pembantunya untuk meminta bantuan kepada pejabat pemerintah setempat, dengan mengatakan rumahnya sedang diserbu kawanan perampok.

Sementara itu, kedua pemuda Tio Tiong Cun serta Cie Keng Hong yang sempat menghadapi hartawan Liu Hok Bun telah mengepung dan melakukan berbagai serangan yang dahsyat, oleh karena mereka bertiga merupakan musuh-musuh lama sejak berada di utara.

Di pihak hartawan Liu Hok Bun, meskipun dia dikepung oleh dua orang pemuda yang perkasa; namun dia memberikan perlawanan yang sukar dikalahkan; sampai kemudian Ciu Thong Han membantu sehingga hartawan Liu Hok Bun dapat dibinasakan.

Kedua pengemis muda Boe Hong Kim dan Boe Hong Giap kemudian berhasil menemukan tempat Pouw Keng Thian ditahan, sehingga pemuda itu dapat ditolong, dan kemudian pemuda ini memberitahukan bahwa hartawan Liu sebenarnya adalah ketua Hong bie pang cabang kota Liok hui, sesuai dengan keterangan yang diperoleh Pouw Keng Thian selama dia berada didalam tahanan. Setelah mengetahui bahwa rumah hartawan Liu Hok Bun dipakai sebagai markas Hong bie pang cabang kota Liok hui, maka keenam orang-orang gagah itu membakar rumah hartawan Liu, membikin masyarakat kota Liok hui menjadi terkejut dan berduyun-duyun datang hendak memberikan bantuan, namun mereka terhalang dengan banyaknya pihak tentara pejabat pemerintah setempat, yang sudah mengurung rumah hartawan Liu Hok Bun dengan lagak hendak menangkap kawanan perampok.

Ditengah kesibukan banyaknya orang-orang itu, maka Ciu Thong Han berhasil mengajak teman temannya untuk kembali ke tempat penginapan, dan malam itu juga mereka kemudian meninggalkan kota Liok hui, untuk menghindar dari terjadinya mereka harus menghadapi pihak tentara negeri.

Sepanjang melakukan perjalanan ditengah malam itu maka Pouw Keng Thian menceritakan segala pengalamannya, sampai dia terperangkap dengan muslihat hartawan Liu Hok Bun.

"Kemana tujuan Pouw hiantit sebenarnya .. , .?" akhirnya tanya si pengemis tua Ciu Thong Han; dan Pouw Keng Thian lalu memberitahukan niatnya yang hendak ke kota Soan hoa, untuk menemui ketiga kakak seperguruannya, yakni Kang Cun Gee, Tan Hong Lan dan Soan Bian Hee.

"Ah, kalau begitu Pouw hiantee adalah adik seperguruan dari Kiang heng , .." tiba-tiba kata pemuda Tio Tiang Cun dengan muka berseri-seri; namun dilain saat kelihatan pandangan matanya menjadi hampa.

“Apakah Tio heng kenal dengan Kiang suheng ...?" balik tanya Pouw Keng Thian yang kelihatan girang. Sejenak kelihatan Tio Tiang Cun diam berpikir, setelah itu dia menceritakan kisah pertemuannya dengan Kiang Cun Gee kakak seperguruan dari Pouw Keng Thian.

Ternyata waktu 'mengungsi’ dari utara ke selatan, Tio Tiang Cun tidak bersama-sama dengan pemuda Cie Keng Hong.

Di selatan, pemuda Tio Tiang Cun teringat dengan dara kekasihnya yang juga berasal dari utara dan yang telah mendahului pindah. Dara kekasihnya Tio Tiang Cun itu bernama Lie Sian Nio, Putri tunggal suami istri Lie Kong Cin yang terkenal mahir ilmu silatnya.

Menurut berita yang Tio Tiang Cun peroleh dari kekasihnya; katanya Lie Kong Cin menetap dan menjadi ketua di dusun Tong-kiong tin, dekat gunung Tong kiong san; oleh karena itu tidak sukar buat Tio Tiang Cun mencari rumah kekasihnya.

Akan tetapi, rumah yang ditemui oleh Tio Tiang Cun ternyata adalah sebuah rumah yang kosong, tiada penghuninya dan tidak dapat pemuda itu menanya kepada seseorang, sebab didekat rumah itu tidak terdapat adanya rumah orang lain.

Selagi pemuda Tio Tiang Cun berdiri terpesona mengawasi rumah yang kosong itu, tiba-tiba ada seseorang yang menyapa dia :

"Apakah hengtiang mencari seseorang.  ?”

Tio Tiang Cun memutar tubuh menghadapi orang yang menyapa dia. Itulah seorang pemuda yang usianya kira-kira sama dengan usia Tio Tiang Cun, dan tentunya mahir ilmu silatnya, karena terbukti kehadirannya tidak diketahui Tio Tiang Cun, sebelum pemuda itu bersuara menyapa. "Kalau aku boleh menanya, bukankah ini rumahnya paman Lie Kong Cin.....?" tanya Tio Tiang Cun; dan pemuda itu menjadi terkejut waktu mendengar perkataan 'paman’ tadi.

"Ah, rupanya hengtiang pendatang baru di dusun ini. Marilah kau ikut dan singgah di tempatku....." akhirnya pemuda itu berkata dan mengajak Tio Tiang Cun.

Meskipun dia merasa curiga, namun Tio Tiang Cun mengikuti pemuda itu yang kemudian memperkenalkan diri bernama Goei Han Siang dan mengaku menjadi murid dari Lie Kong Cin.

Rumah pemuda Goei Han Siang ternyata merupakan sebuah gubuk kecil yang letaknya diatas gunung Tiang- Kiong san, dan pemuda Goei Han Siang itu lalu mengatakan bahwa Lie Kong Cin bersama anak dan isterinya telah wafat, sejak setengah bulan yang lalu.

Sudah tentu Tio Tiang Cun menjadi sangat terkejut waktu mendapat keterangan itu. Bagaimana mungkin Lie Kong Cin tewas sekaligus bersama anak dan isterinya ? Apakah sebab menjadi korban penyakit menular atau menjadi korban pembunuhan ?

"Mereka menjadi   korban   pembunuhan,”   kata   lagi

pemuda Goei Han Siang yang memberikan ketegasan.

“Dan Lie susiok tidak melakukan perlawanan .. ?" tanya Tio Tiang Cun yang merasa penasaran, bahkan menjadi bertambah curiga karena dia tahu kemampuan Lie Kong Cin membela diri.

“Sayang bahwa itu aku tidak berada di tempat suhu , ..." sahut pemuda Goei Han Siang dengan perlihatkan muka muram. “Tetapi setidaknya hiantee dapat melihat pada bekas- bekas yang terdapat didalam rumah Lie susiok .." kata lagi Tio Tiang Cun seperti mendesak.

"Agaknya memang telah terjadi suatu pertempuran, mayat suhu berlumuran darah dengan tangan masih memegang goloknya.."

"Dan mayatnya Lie moay ...?" tanya pemuda Tio Tiang Cun yang memutus perkataan Goei Han Siang.

Pemuda Goei Han Siang tidak langsung menjawab pertanyaan Tio Tiang Cun. Sejenak dia mengawasi tamunya, setelah itu baru dia berkata :

"Agaknya sumoay juga telah melakukan perlawanan, dia masih memegang pedang waktu aku menemukan mayatnya

.. ,"

"Dimana hiantee berada waktu peristiwa pembunuhan itu terjadi ... ?"

"Aku diperintah oleh suhu ke kota Tong kiong shia, waktu aku kembali, mereka semua sudah binasa ..." sahut Goei Han Siang sambil dia menunduk.

Sejenak Tio Tiang Cun tidak mengucapkan sesuatu perkataan, sementara pemuda Goei Han Siang kemudian mengawasi lagi tamunya yang kelihatan seperti sedang berpikir.

“Dimana mereka dimakamkan...?" akhirnya tanya Tio Tiang Cun; dan pemuda Goei Han Siang kemudian mengajak tamunya mengunjungi tempat makam Lie Kong Cin bertiga; yang memang tidak terlalu jauh terpisah dari gubuknya Goei Han Siang, diatas gunung Tong-kiong san.

Tio Tiang Cun berdiri mengawasi ketiga makam yang baru selesai dibikin itu. Dia mengheningkan cipta sambil memikirkan, entah perbuatan siapa gerangan yang telah membinasakan kekasihnya berikut kedua orang tuanya. Didalam hati dia bersumpah dihadapan makam kekasihnya, bahwa dia akan melakukan balas dendam kekasihnya.

Setelah berpisah dari Goei Han Siang maka Tio Tiang Cun segera mencari sebuah rumah penginapan didusun Tong-kiong tin.

Dalam peristiwa pembunuhan kekasihnya berikut kedua orang tuanya itu, Tio Tiang Cun condong pada hatinya yang mencurigai pemuda Goei Han siang; dari itu dia tidak mengatakan akan bermalam di dusun Tong kiong tin pada waktu dia berpisah dari pemuda yang mengaku menjadi muridnya Lie Kong Cin itu.

Malam harinya Tio Tiang Cun tidur gelisah didalam kamarnya. Dia bermimpi buruk merasa kedatangan kekasihnya dengan tubuh yang penuh berlumuran darah.

Disaat Tio Tiang Cun tersadar dari mimpinya yang buruk itu, mendadak telinganya mendengar bunyi suara yang tidak wajar di atas genteng kamarnya.

Dengan meringankan tubuh, Tio Tiang Cun mendekati daun jendela kamar yang lalu dia buka. Setelah itu dengan gerak yang ringan dia melesat keluar kamar, dilain saat dia sudah berdiri diatas genteng, dengan pedang siap ditangannya.

Diatas genteng itu, dia tidak akan bisa menemui adanya seseorang: akan tetapi jauh disebelah barat, dilihatnya ada sesuatu bayangan hitam yang sedang melarikan diri, sehingga tanpa membuang waktu Tio Tiang Cun melakukan pengejaran. Bayangan hitam itu lari dengan amat pesatnya, dan Tio Tiang Cun sudah ditinggalkan cukup jauh, sehingga tak mungkin dia mengejar. Namun demikian pemuda itu bisa melihat bayangan hitam lari ke arah gunung Tong kiong san, untuk kemudian mendaki gunung itu.

(“pasti dia.....!") pikir pemuda Tio Tiang Cun didalam hati, karena segera dia menduga bayangan hitam itu adalah Goei Han Siang.

Ditempat yang belukar diatas gunung Tong kiong san itu, Tio Tiang Cun kehilangan bayangan hitam yang dikejarnya, akan tetapi dengan senyum mengejek pemuda itu meneruskan langkah kakinya untuk dia mendatangi gubuknya Goei Han Siang.

Gubuk tempat tinggalnya Goei Han Siang kelihatan gelap tiada sedikitpun adanya alat penerangan. Dalam keadaan gelap seperti itu, biasanya tidak mungkin akan ada seseorang didalam gubuk itu; akan tetapi Tio Tiang Cun merasa yakin bahwa Goei Han Siang pasti umpatkan diri didalam gubuknya.

Dengan hati geram Tio Tiang Cun mendekati pintu gubuk itu, pedangnya tetap dipegang ditangannya; lalu secara tiba-tiba dia menendang membuat pintu gubuk itu terbuka dengan perdengarkan bunyi yang ribut.

Akan tetapi, bagian dalam gubuk itu tetap gelap dan tiada seseorang yang dilihatnya.

Sudah tentu Tio Tiang Cun tidak mau sembarang memasuki gubuk yang amat gelap itu. Oleh karenanya dia lompat naik keatas sebuah pohon didekat gubuk itu, untuk dia umpatkan diri sambil menunggu perkembangan.

Lebih dari sejam lamanya Tio Tiang Cun terdiam diatas pohon itu, namun tetap tak ada seseorang yang dilihatnya; bahkan tak ada bunyi suara yang menandakan didalam gubuk itu terdapat seseorang.

Oleh karena merasa sia-sia menunggu, maka Tio Tiang Cun kembali ke tempat penginapan, dan dia memutuskan akan mendatangi Goei Han Siang esok harinya.

Tetapi, waktu Tio Tiang Cun tiba didalam kamarnya, dia menjadi sangat terkejut sebab kamarnya telah didatangi seseorang; dan seseorang itu telah meninggalkan sepucuk surat singkat, ditusuk dengan sebatang pisau belati yang membenam diatas meja :

"Hati hati, kau menghadapi musuh kuat..!" demikian isi surat itu, yang tidak diterangkan nama pengirimnya.

Dengan hati gusar dan penasaran, Tio Tiang Cun menyimpan belati dan surat itu didalam kantong bajunya. Dia yakin bahwa dia sedang diancam oleh Goei Han Siang, supaya dia jangan melakukan penyelidikan mengenai peristiwa pembunuhan terhadap Lie Kong Cin sekeluarganya.

Esok paginya Tio Tiang Cun mendekati gunung Tong kiong san, akan tetapi sengaja dia tidak langsung mendekati gubuk Goei Han Siang, sebaliknya dia menyambangi makam kekasihnya.

Diluar dugaan, dia menjadi terkejut karena menemui seseorang yang sedang berlutut didekat makam kekasihnya, dan orang itu justeru adalah Goei Han Siang!

(“Haaaa ! agaknya dia mencintai Lie moy, akan tetapi cintanya ditolak oleh Lie moy dan terjadi pertikaian antara mereka ...”) pikir Tio Tiang Cun didalam hati. Akan tetapi sanggupkah Goei Han Siang mengalahkan Lie Kong Cin berdua puterinya ? Maka terpikir pula oleh Tio Tiang Cun bahwa Goei Han Siang pasti telah memakai akal muslihat, atau mungkin mendapat bantuan seseorang atau sekelompok orang-orang.

"Tadi malam aku datang ketempatmu …” tiba-tiba Tio Tiang Cun bersuara menyapa setelah dia berdiri disebelah belakang Goei Han Siang yang masih berlutut dekat makam Lie Sian Nio.

Sudah tentu pemuda Goei Han Siang menjadi sangat terkejut karena mendengar suara itu, akan tetapi wajah mukanya tidak terlihat oleh Tio Tiang Cun; oleh karena dia sedang berlutut membelakangi Tio Tiang Cun yang menyapa.

“Aku tahu..." akhirnya Goei Han Siang menyahut; akan tetapi dia tetap berlutut dan membelakangi Tio Tiang Cun.

"Bagaimana kau mengetahui ..." sengaja Tio Tiang Cun menanya.

"Aku datang ketempat kau menginap, lalu aku melihat kau mengejar seseorang yang lari kearah gunung Tong- kiong san ..." sahut Goei Han Siang namun masih tetap dia berlutut menghadapi makam Lie Sian Nio.

"Dari mana kau mengetahui tempat aku menginap   ?”

masih Tio Tiang Cun menanya lagi. "Secara tidak disengaja "

"Bohong ! kau bukan sengaja telah membayangi aku   !"

kata Tio Tiang Cun dengan nada suara marah.

"Apa perlunya aku mengikuti kau ...?" ganti Goei Han Siang yang menanya, akan tetapi tetap sambil dia berlutut ditempatnya.

"Sebab kau takut aku melakukan penyelidikan dan mengetahui rahasia perbuatanmu !'' "Maksud kau ...?" perlahan suara Goei Han Siang yang menanya lagi.

"Kau yang melakukan pembunuhan terhadap Lie susiok sekeluarga .. !"

Perlahan tetapi tenang Goei Han Siang bergerak bangun berdiri, lalu dia memutar tubuh menghadapi Tio Tiang Cun; sementara Tio Tiang Cun mundur beberapa langkah kebelakang siap menghadapi segala kemungkinan.

"Jadi kau menuduh aku yang melakukan pembunuhan terhadap Lie suhu dan ..."

"Benar ...!” Tio Tiang Cun memutus dengan suara singkat dan tegas.

"Atas dasar apa kau menuduh aku berbuat begitu ... ?" tetap perlahan suara Goei Han Siang menanya.

"Sebab kau menyintai Lie-moay, dan .."

"Ha ha ha ..!” tiba-tiba Goei Han Siang tertawa dan memutus perkataan Tio Tiang Cun; lalu dia pun berkata :

"... lalu kau mengatakan aku menyintai Lie sumoay itu memang benar dan kuakui, akan tetapi "

Ganti Tio Tiang Cun yang memutus perkataan Goei Han Siang :

“Akan tetapi cintamu tidak dibalas dan kau .. ,”

Tio Tiang Cun tidak sempat melengkapi perkataannya, sebab dia mendengar datangnya bunyi suara serangan yang datang dari sebelah belakang.

Dengan tangkas Tio Tiang Cun melompat kesamping. Juga Goei Han Siang ikut lompat menghindar karena tadi dua batang piao sedang menyerang mereka ! "Kurang ajar ! Kau menyiapkan orang untuk membokong .... !?” Tio Tiang Cun memaki sambil dia menghunus pedangnya.

"Awas dibelakangmu .. , !" tiba tiba Goei Han Siang bersuara memberi peringatan.

Sekali lagi Tio Tiang Cun lompat kesamping, untuk menghindar dari suatu serangan dan serangan itu berupa serangan senjata golok yang dilakukan oleh seorang laki laki bermuka bengis dengan tubuh penuh otot; dan laki laki itu kemudian diserang oleh pemuda Goei Han Siang yang juga memakai senjata pedang; sehingga kejadian ini benar- benar sangat tidak dimengerti oleh Tio Tiang Cun.

"OOOOO 1000 —

BAGI TIO TIANG CUN; saat itu kabut rahasia kematian Lie Kong Cin sekeluarga menjadi semakin gelap, oleh karena pemuda Goei Han Siang yang dia duga sebagai pelaku-pelaku peristiwa pembunuhan itu ternyata sedang bertempur melawan seseorang yang justru menyerang Tio Tiang Cun.

Apakah ini suatu sandiwara belaka? Suatu muslihat dari Goei Han Siang karena rahasianya hampir terbuka ?

Namun demikian, saat itu Tio Tiang Cun tidak sempat berpikir lama, sebab pada detik berikutnya kembali muncul seorang laki laki lain yang bertubuh agak kurus, usianya sudah mendekati limapuluh tahun, dan dengan geraknya yang lincah; laki laki setengah baya itu menyerang Tio Tiang Cun, memakai sepasang senjata tombak pendek bercagak tiga !

Tio Tiang Cun berkelit dari serangan musuh yang dia tidak kenal itu. Dan musuh ini kelihatan bersenyum menghina, lalu dia lompat menerkam sementara senjata yang ditangan kirinya menyerang bagian muka Tio Tiang Cun, memakai gerak tipu 'cai pit hoa bie', atau melukis alis memakai pit.

Tio Tiang Cun menundukkan kepala untuk berkelit menghindar dari tikaman senjata lawannya; sementara dengan membarengi geraknya itu, pedangnya menyabet tubuh lawannya memakai gerak tipu 'liam hee siok-chung' (berhias dibawah tirai), dan lawan itu dengan tertawa telah menangkis dengan mengerahkan tenaga.

Diluar dugaan lelaki setengah baya itu, tenaga serangan Tio Tiang Cun ternyata tak ringan, sehingga lelaki itu harus mundur beberapa langkah kebelakang, untuk menjaga supaya tidak terjatuh.

Di pihak Tio Tiang Cun, pemuda ini juga merasa agak sakit pada tangannya yang memegang pedang, tetapi untungnya pedangnya tidak rusak dan tidak lepas dari pegangannya, sehingga menggunakan kesempatan selagi lawannya mundur tidak siaga maka Tio Tiang Cun menyusul dengan sebuah tendangan geledek, memakai gerak tipu ‘ma ciek lok hua’(kuda binal menendang bunga- bunga) tetapi waktu lawan hendak menikam kakinya yang sedang menendang, maka dengan mengerahkan tenaga, Tio Tiang Cun memukul senjata musuh itu, membikin sekali lagi senjata mereka saling bentur, mengakibatkan keduanya harus lompat mundur karena tenaga dalam mereka telah saling tergempur !

Sejenak kedua-duanya berdiri diam mengatur pernapasan mereka, lalu secara tiba-tiba laki laki itu menyerang Tio Tiang Cun memakai tiga batang piao.

Tio Tiang Cun menangkis, menyampok piao-piao itu memakai pedangnya, akan tetapi sebatang piao membenam dipundak kirinya. Tio Tiang Cun marah dan penasaran. Musuh ini telah menggunakan sebuah senjata rahasia, bahkan musuh ini yang tadi membokong dia. Dari itu tanpa ragu-ragu Tio Tiang Cun meraup segumpal jarum-jarum "pek kong ciam" yang lalu dia lontarkan ke arah musuh itu.

Musuh itu melihat adanya sinar gemerlapan terkena pantulan sinar matahari, dan sinar-sinar itu mendatangi dengan pesatnya kearah dia. Dalam kagetnya laki laki setengah baya itu bergerak hendak menghindar, tapi entah berapa banyak jarum-jarum halus itu membenam didalam badannya, bahkan juga pada mukanya, dan berbareng dengan itu suatu sinar pedang berkelebat dan merobek perutnya, membikin dia roboh tewas dengan perdengarkan pekik suara yang menyeramkan!

Segera Tio Tiang Cun mengawasi ketempat pertempuran yang dilakukan oleh Goei Han Siang, dan dia menjadi terkejut sebab melihat pemuda itu sudah dikalahkan oleh lawannya, dan tubuh Goei Han Siang waktu itu sedang dibawa lari oleh lawannya.

Dengan geraknya yang lincah dan pesat, maka Tio Tiang Cun segera mengejar musuh yang sedang membawa lari Goei Han Siang itu.

Sambil lari mengejar, Tio Tiang Cun menyiapkan jarum- jarum 'pek kong-ciam', yang lalu dilontarkan kearah kaki musuh yang dikejarnya, sehingga musuh itu jatuh terguling dan terperosok kedalam jurang yang curam, sementara tubuh Goei Han Siang terlempar kedalam semak-semak belukar.

Setelah dia tiba ditempat Goei Han Siang terlempar, maka Tio Tiang Cun segera memasuki semak-semak belukar itu, namun dia tak berhasil menemukan tubuh pemuda Goei Han Siang. Sedikit suara langkah kaki seseorang terdengar oleh Tio Tiang Cun, sehingga pemuda ini yakin akan adanya musuh lain yang belum perlihatkan diri. Dari itu dia bertindak waspada dan mencari, sampai tiba-tiba dia melihat adanya suatu surat dengan pisau belati, yang membenam pada sebuah pohon kecil.

Pisau belati itu mirip benar dengan pisau belati yang masih disimpan oleh Tio Tiang Cun, sedangkan suratnya juga mirip benar tulisannya dengan surat yang Tio Tiang Cun temukan didalam kamarnya dirumah penginapan. Dari itu pemuda ini merasa yakin bahwa si pengirimnya adalah orang yang sama.

"Jangan khawatir, temanmu berada padaku."

Hanya itu isi surat yang dibaca oleh Tio Tiang Cun. Tiada nama si pengirim dan tidak diketahui pula dimana si pengirim surat itu berada.

Tio Tiang Cun kemudian kembali ketempat penginapan buat dia beristirahat, sementara pikirannya terus bekerja karena berbagai macam peristiwa yang sedang dia hadapi, yang semuanya terasa gelap bagaikan ditutup oleh kabut yang tebal.

Pertama kali Tio Tiang Cun mencurigai Goei Han Siang yang melakukan pembunuhan terhadap Lie Kong Cin sekeluarga, dan Goei Han Siang juga yang menulis surat buat dia dengan maksud mengancam supaya Tio Tiang Cun gentar menghadapi "musuh kuat" sehingga Tio Tiang Cun tidak mencampuri urusan tewasnya Lie Kong Cin sekeluarga.

Kemudian Tio Tiang Cun menemui Goei Han Siang yang sedang berlutut didekat makam Lie Sian Nio. Apakah waktu itu Goei Han Siang sedang menangis ? Sayang hal itu tidak sempat dilihat oleh Tio Tiang Cun. Akan tetapi waktu didesak, kelihatannya Goei Han Siang mulai mengakui bahwa pemuda itu memang mencintai dara Lie Sian Nio; jadi bertambah kuat kecurigaan Tio Tiang Cun bahwa Goei Han Siang yang melakukan pembunuhan terhadap Lie Kong Cin sekeluarga karena rupanya dara Lie Sian Nio tidak membalas cintanya Goe Han Siang membikin pemuda itu melakukan perbuatan nekad, merencanakan suatu pembunuhan terhadap Lie Kong Cin sekeluarga, dan dalam hal ini Goei Han Siang pasti telah bersepakat dengan beberapa orang untuk melakukan pembunuhan itu.

Kemudian terjadi Tio Tiang Cun diserang secara membokong memakai senjata piao.

Akan tetapi serangan itu tidak berhasil mencapai sasaran, sehingga terjadi pertempuran pagi tadi didekat makam Lie Kong Cin sekeluarga, dan Goei Han Siang ikut bertempur.

Mengapa Goei Han Siang ikut bertempur? Dalam hal ini menurut pemikiran Tio Tiang Cun rupanya Goei Han Siang sengaja melakukan hal itu, sebagai suatu dalih untuk mencegah supaya rahasianya tidak terbuka. Rahasia bahwa dia bersekongkol dengan pihak penyerang itu, terbukti Goei Han Siang berlagak terluka (berlagak pingsan); sengaja membiarkan dirinya dilarikan oleh pihak 'lawan' nya, yang sebenarnya adalah kawannya (orang upahannya).

Tio Tiang Cun lalu melakukan pengejaran dan berhasil melukai orang yang melarikan Goei Han Siang, memakai jarum-jarum halus 'pek kong ciam', dan orang itu mungkin tewas terjatuh kedalam jurang yang curam, tetapi mengapa Goei Han Siang hilang? Apakah benar-benar dia ditolong seseorang atau dia itu sengaja menghilang ? Apakah surat surat yang ada pada Tio Tiang Cun memang benar-benar dibikin oleh Goei Han Siang ? Ataukah dibuat orang yang menolong Goei Han Siang ? Kalau surat itu dibikin oleh Goei Han Siang sudah pasti pemuda itu benar-benar sedang mempermainkan Tio Tiang Cun. Tetapi kalau surat-surat itu dibuat oleh orang yang benar-benar menolong Goei Han Siang, maka orang itu telah "salah raba" sebab orang itu mengatakan bahwa Goei Han Siang adalah sahabatnya Tio Tiang Cun. Demikian yang dipikir oleh Tio Tiang Cun dalam menghadapi kabut rahasia kematian Lie Kong Cin sekeluarga.

Dan, siapakah seseorang itu . , . ?

Mendekati waktu magrib Tio Tiang Cun keluar meninggalkan rumah penginapan untuk berkeliling dusun Tong-kiong tin; sampai kemudian perhatiannya tertarik dengan sebuah rumah gedung mentereng dan terbesar didusun Tong kiong tin itu.

Perhatian Tio Tiang Cun tertarik tidak melulu sebab rumah gedung itu besar dan mentereng, tetapi dia tertarik sebab dia melihat gedung itu dijaga oleh dua orang petugas yang berpakaian serba ringkas, dan bermuka garang seperti orang yang tadi pagi bertempur melawan Goei Han Siang, ditambah lagi dengan adanya beberapa orang yang memasuki maupun yang keluar dari rumah gedung itu, yang rata-rata kelihatan mahir ilmu silat.

Kepada seseorang yang Tio Tiang Cun temui dijalan raya itu; maka pemuda itu menanya kalau kalau orang itu mengetahui siapa gerangan penghuni atau pemilik rumah gedung itu, tetapi orang itu kelihatan ketakutan untuk memberikan keterangan, dan orang itu bahkan cepat-cepat pergi setelah sejenak memperhatikan muka Tio Tiang Cun.

Oleh karena merasa heran dan penasaran, maka Tio Tiang Cun menanya lagi kepada seseorang yang lain, namun orang itu juga kelihatan ketakutan dan menjauhi Tio Tiang Cun tanpa dia memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepadanya !

Kembali pikiran Tio Tiang Cun harus bekerja keras, memikirkan berbagai peristiwa aneh yang sedang dia hadapi; sampai tanpa terasa dia telah tiba ditempat dia menginap.

Tio Tiang Cun memasuki ruang tamu memilih tempat duduk yang masih kosong, karena waktu itu kelihatan cukup banyak para tamu yang sedang makan malam dan mereka tidak melulu terdiri dari tamu-tamu yang menginap ditempat penginapan itu, akan tetapi juga merupakan tamu- tamu yang datang khusus untuk makan, sebab rumah penginapan itu merangkap sekaligus sebagai rumah makan.

Selagi Tio Tiang Cun asyik menghadapi makanannya sambil pikirannya sedang bekerja, maka sempat dilihatnya datangnya empat orang laki laki, yang dengan langkah kaki garang sedang mendekati meja tempat Tio Tiang Cun; lalu bagaikan orang yang tidak sengaja, kaki salah seorang laki- laki itu menggaet kaki meja, membikin meja itu terbalik, dan semua isinya terguling jatuh dilantai.

"Kurang ajar   !" maki laki laki itu sambil dia mendekati

Tio Tiang Cun lalu sebelah tangannya dia gunakan buat memukul kepala pemuda itu.

Tio Tiang Cun insaf bahwa dia sedang berhadapan dengan orang-orang yang sengaja hendak mencari ribut dengan dia; oleh karenanya dia sudah siap sedia.

Dengan mangkok makanan yang masih dipegangnya Tio Tiang Cun memukul lengan orang yang sedang bergerak hendak memukul kepalanya. Mangkok itu hancur terkena lengan orang itu, akan tetapi orang itu berteriak kesakitan sebab lengannya luka berdarah kena pecahan mangkok itu. Disaat berikutnya Tio Tiang Cun telah berdiri dari tempat duduknya sehingga waktu dia diserang lagi oleh seorang laki-laki yang lain, maka pemuda itu mengangkat kursi bekas dia duduk buat dipakai menangkis pukulan tangan laki-laki itu.

Laki-laki itu tak kuasa menahan laju serangannya. Tangannya menghantam kursi sehingga dia berteriak kesakitan, sedangkan sisa dua temannya segera mencabut golok mereka buat menyerang Tio Tiang Cun !

Sementara itu banyak para tamu yang menjadi ketakutan dengan adanya perkelahian itu; yang dilakukan oleh kelompok orang-orang yang memang sudah mereka kenal dan mereka sangat takut.

Para tamu itu lari simpang siur dan Tio Tiang Cun yang melihat keadaan itu, segera lompat keluar dari ruang tamu; sehingga di lain saat dia sudah berdiri dibagian luar dari rumah penginapan, dan dengan tangan siap memegang pedangnya.

""Mari kita lari .. !" tiba-tiba seseorang mendekati dan mengajak Tio Tiang Cun lari; dan seseorang itu adalah seorang pemuda yang usianya sedikit lebih tua dari Tio Tiang Cun.

"Mengapa harus lari.....?" tanya Tio Tiang Cun; namun bagaikan terpengaruh, dia membiarkan sebelah tangannya ditarik dan dia ikut lari.

"Kau lihat mereka segerombolan telah mengejar kita ..'' kata laki-laki muda itu ditengah mereka sedang melarikan diri.

Tio Tiang Cun memerlukan melihat ke arah sebelah belakang dan dilihatnya ada belasan orang yang sedang melakukan pengejaran, sehingga pemuda ini menjadi terkejut, karena menyadari bahwa dia sedang diarah oleh satu musuh yang kuat dan besar pengaruhnya, namun yang belum dia ketahui entah siapa gerangan musuh itu.

"Kemana kita lari .......?" tanya Tio Tiang Cun yang masih terus mengikuti dan lelaki muda itu sudah percepat larinya, karena agaknya dia mahir ilmu lari cepat dan ringan tubuh yang sudah mencapai batas kemampuannya.

“Kita menuju kerumahku   " sahut lelaki muda itu, lalu

tiba-tiba dia lompat ke atas genteng, tetap dengan diikuti dengan Tio Tiang Cun dan setelah melompati beberapa rumah, maka mereka lari dijalan lain yang sunyi dan gelap, sampai kemudian mereka memasuki sebuah rumah kecil yang sederhana tetapi kelihatan bersih dan teratur.

Seorang perempuan muda dan cantik membukakan pintu, dan membiarkan Tio Tiang Cun berdua masuk, lalu menutup lagi pintu itu.

Perempuan muda itu ternyata adalah istrinya laki laki muda yang mengajak Tio Tiang Cun lari, dan laki laki muda itu kemudian perkenalkan namanya sebagai Goei San Hok.

Tio Tiang Cun memberi hormat dan mengucap terima kasih, setelah itu dia perkenalkan namanya dan menanyakan, kalau-kalau Goei San Hok mengetahui gerombolan yang secara tiba-tiba telah mengepung tadi.

Sebelum menjawab pertanyaan tamunya, maka secara meneliti Goei San Hok mengawasi Tio Tiang Cun, setelah itu baru dia berkata :

"Sebelum aku menjawab pertanyaan Tio hiantee, ingin aku menanya apa sebab kau bermusuhan dengan mereka ..

?" "Bermusuhan dengan mereka? aku bahkan tidak kenal dengan mereka,” sahut Tio Tiang Cun yang sesungguhnya merasa tidak mengerti.

"Hmm, apakah Tio hiantee melakukan sesuatu yang menyebabkan mereka marah..?" masih Goei San Hok menanya lagi. "Aku sedang duduk makan, secara tiba-tiba masuk empat orang laki-laki, dan salah seorang dari mereka terkait kakinya dengan kaki meja; lalu dia memukul aku tanpa mengucap sesuatu ..."

"Terkait kaki meja atau memang sengaja dia melakukannya ...?" Goei San Hok menanya lagi; ingin memperoleh ketegasan.

"Aku yakin dia lakukan dengan sengaja....” sahut Tio Tiang Cun.

"Nah, kalau begitu mereka sengaja mencari jalan hendak membikin keributan dengan hiantee; dan rupanya mereka menerima perintah demikian, sebab hiantee ..."

“Aku kenapa ...?” tanya Tio Tiang Cun karena melihat Goei San Hok ragu-ragu meneruskan perkataannya.

“Karena agaknya hiantee telah melakukan sesuatu, atau hiantee memang merupakan musuh lama dari atasan mereka ..."

“Musuh lama? siapakah nama atasan mereka ... ?" tanya Tio Tiang Cun yang semakin jadi tambah tidak mengerti.

Sekali lagi Goei San Hok mengawasi bagaikan meneliti tamunya, setelah itu baru dia berkata:

"Namanya Goei Han Seng ..."

"Goei Han Seng ? Aku tidak kenal dengan nama itu , .." sahut Tio Tiang Cun sambil dia berpikir, lalu dia menambahkan perkataannya : "..sebaliknya aku kenal dengan seorang pemuda yang bernama Goei Han Siang.."

Mendengar perkataan itu, maka Goei San Hok yang kelihatan terkejut; dan cepat-cepat dia berkata ;

"Dimana dan sejak kapan hiantee kenal dengan Goei Han Siang .. ?"

Didalam hati Tio Tiang Cun merasa heran karena melihat Goei San Hok terkejut waktu dia menyebutkan nama Goei Han Siang, lalu secara tiba-tiba dia teringat baik orang yang sedang berhadapan dengan dia (Goei San Hok), maupun 'orang atasan' yang katanya memusuhi dia (Goei Han Seng), dan bahkan Goei Han Siang; mereka semua terjadi dari marga Goei !

Oleh karena teringat dengan hal itu, maka Tio Tiang Cun berlaku hati-hati; dan dia berkata dengan suara yang terdengar tenang:

"Baru kemarin aku bertemu dan berkenalan dengan Goei Han Siang ..."

"Dimana .. ?" tanya Goei San Hok bagaikan tak sabar. "Dekat rumah keluarga Lie Kong Cin. ”

"Almarhum ...." tambah Goei San Hok sambil dia menarik napas lega.

Tio Tiang Cun ingin mengajukan pertanyaan, namun dia menunda karena kedatangan istrinya Goei San Hok yang membawakan minum.

Pada waktu Goei sie ( istrinya Goei San Hok ) menempatkan mangkok arak dekat Tio Tiang Cun, secara tidak disengaja mangkok arak itu terjatuh dan membasahi bagian pundak pemuda itu. Dalam kaget atau gugup, Goei sie membersihkan pakaian pemuda itu memakai saputangan yang dia pegang.

Tepat pada saat itu, terdengar bunyi suara yang tidak wajar dari bagian luar rumahnya Goei San Hok, membikin Goei San Hok lompat membuka pintu dan keluar; disusul oleh Tio Tiang Cun, sehingga keduanya sempat melihat adanya sesuatu bayangan hitam yang lari kearah sebelah barat.

Segera Tio Tiang Cun mengajar bayangan hitam itu, sedangkan Goei San Hok tidak ikut mengejar; mungkin karena dia khawatir terperangkap dengan pihak musuh yang datang lebih dari satu orang.

Bayangan hitam yang dikejar oleh Tio Tiang Cun itu terus lari dengan pesatnya, membikin Tio Tiang Cun terus melakukan pengejaran karena dia merasa penasaran.

Meskipun mereka terpisah cukup jauh, namun Tio Tiang Cun dapat melihat rambut panjang yang lepas terurai dibagian belakang tubuh bayangan hitam itu, sehingga pemuda ini merasa yakin bahwa yang dikejarnya itu adalah seorang perempuan.

Bayangan hitam itu lari terus dan mendaki gunung Tong kiong san, dan Tio Tiang Cun kehilangan orang yang dikejarnya, karena gelapnya keadaan disekitar tempat itu, serta banyaknya jalan semak-semak yang belukar. Tio Tiang Cun terus mencari bayangan hitam itu, sampai dia tiba digubuknya Goei Han Siang; namun gubuk itu kelihatan tetap gelap. Pintunya tetap terbentang rusak dan tiada seseorang yang ditemui ditempat itu.

Terpaksa Tio Tiang Cun kembali dengan hampa, dan dia berlari-lari menuju kerumah Goei San Hok; karena dia masih perlu untuk menanyakan sesuatu untuk dapat dia memecahkan tabir rahasia berbagai peristiwa yang sedang dia hadapi.

Akan tetapi, waktu Tio Tiang Cun tiba di depan rumah Goei San Hok, suatu firasat tidak enak terasa oleh pemuda ini, sehingga dengan langkah kaki berhati-hati dia memasuki rumah itu yang pintunya terbuka, serta meja kursi yang terbalik menandakan telah terjadi sesuatu keributan; sampai akhirnya Tio Tiang Cun menyaksikan bekas-bekas penyembelihan yang terjadi ditempat itu !

Mayat Goei San Hok ditemukan oleh Tio Tiang Cun dengan perut robek dan kepala remuk, sedangkan mayat Goei-sie juga dengan perut robek bagaikan dibedah, dan tubuh perempuan itu dalam keadaan telanjang bulat, sehingga Tio Tiang Cun merasa yakin bahwa Goei sie sudah diperkosa sebelum dia dibunuh !

(“suatu perbuatan biadab .....!") Tio Tiang Cun memaki didalam hati; dan terpaksa dia harus menggali liang untuk mengubur mayat sepasang suami istri itu, sementara didalam hatinya merasa bertambah banyak yang harus dia pikirkan, diantaranya siapakah sebenarnya Goei San Hok ? Apakah Goei San Hok dibunuh, karena telah menolong dan mengajak Tio Tiang Cun lari ?

Dan siapakah Goei Han Seng yang dikatakan sebagai 'orang atasan' itu ? Mengapa namanya mirip benar dengan nama Goei Han Siang ? Sekaligus tiga nama marga Goei yang telah dikenal oleh Tio Tiang Cun; yang dua sudah dia temui orangnya yakni Goei Han Siang dan Goei San Hok. Hanya Goei Han Seng yang belum dia temui orangnya ! Tetapi dimanakah tempatnya Goei Han Seng itu ? Apakah dirumah gedung besar dan mentereng itu ?

Menurut pendapat Tio Tiang Cun, dia yakin bahwa Goei Han Siang dan Goei Han Seng merupakan kakak beradik. Lalu apa kedudukan Goei San Hok didalam hubungan marga Goei itu?

Sukar rasanya buat Tio Tiang Cun membuka tabir rahasia dari berbagai peristiwa yang sedang dia hadapi. Dia beristirahat sebentar sehabis dia mengubur jenazah Goei San Hok dan isterinya; setelah itu dia meninggalkan rumah itu untuk dia kembali ke tempat penginapan.

Tepat seperti yang memang diduga oleh Tio Tiang Cun, didekat tempat dia menginap kelihatan dijaga oleh beberapa orang diantaranya dia kenali sebagai bekas lawan dia bertempur tadi.

Oleh karena merasa tidak ada gunanya untuk bertempur lagi melawan orang-orang itu, maka Tio Tiang Cun menghindar; dan melalui genteng dia memasuki kamarnya, dengan merusak daun jendela memakai pedangnya.

Didalam kamarnya itu Tio Tiang Cun mengemasi bungkusan bawaannya, setelah itu dia meninggalkan uang perak diatas meja; dan melalui jendela pula dia meninggalkan tempat penginapan itu.

Diantara kegelapan malam Tio Tiang Cun kemudian berlari-lari mendaki gunung Tong-kiong san, sampai kemudian dia tiba dan memasuki gubuknya Goei Han Siang.

Setelah memasang api pelita, maka Tio Tiang Cun sempat melihat seluruh isi gubuk Goei Han Siang; namun dia tidak menemui sesuatu yang mencurigai hatinya. Segala perabot yang terdapat didalam gubuk itu, merupakan barang-barang sederhana yang kebanyakan dibikin dari bahan kayu, termasuk tempat tidur yang juga dibikin dari bahan kayu. Kemudian Tio Tiang Cun memperhatikan pintu bekas dia tendang rusak, setelah itu dia tutup dan dia beristirahat diatas tempat tidur, sehingga dia pulas sampai hari esoknya.

Pagi harinya Tio Tiang Cun menyambangi lagi makam Lie Kong Cin sekeluarga. Di dekat kekasihnya, Tio Tiang Cun mengenangkan masa-masa lampau selagi mereka masih bersama-sama berada di wilayah utara, yang tentunya merupakan kenangan manis selama mereka saling memadu kasih.

Kemudian Tio Tiang Cun menyusuri gunung Tong kiong san hendak mencari sarapan pagi, dan secara kebenaran dia menemukan seorang penjual tudung caping yang lebar, sehingga dengan memakai tudung itu mukanya tidak mudah terlihat orang.

Tio Tiang Cun memilih sebuah tudung yang sesuai ukurannya buat dia. Sebelum dia membayar harga tudung itu, secara iseng dia menanya, kalau kalau orang itu kenal dengan nama Goei Han Seng.

Diluar dugaannya, begitu mendengar Tio Tiang Cun menyebut nama Goei Han Seng, maka si penjual tudung caping itu lari kabur, tanpa menghiraukan dia belum menerima uang !

Karena terpesona dengan kejadian itu, maka Tio Tiang Cun lupa mengejar. Sebaliknya lagi-lagi dia harus berpikir; namun menambah keyakinannya bahwa Goei Han Seng adalah sipenghuni rumah gedung yang mentereng, karena orang-orang sangat takut waktu Tio Tiang Cun menanyakan siapa si penghuni rumah gedung itu, sama seperti si penjual tudung yang menjadi ketakutan ketika dia menanyakan nama Goei Han Seng.

Jadi kalau menurut seperti keyakinan Tio Tiang Cu, maka Goei Han Seng adalah si pemilik rumah gedung yang mentereng itu; dan apa yang dikatakan sebagai orang atasan adalah Goei Han Seng itu.

Sambil terus berpikir, maka tanpa merasa Tio Tiang Cun telah mengikuti langkah kakinya dan mendatangi dusun Tong kiong tin, dimana dia lalu mencari sebuah kedai nasi yang kecil dan dia makan sekaligus sebagai sarapan pagi dan makan siang.

Selama menghadapi makanannya, Tio Tiang Cun tetap memakai tudungnya yang lebar, dan pemuda ini bergirang hati karena agaknya orang-orang tidak mengenali dia yang membikin keributan didepan rumah penginapan kemarin; secara demikian Tio Tiang Cun dapat menghindar dari gerombolannya Goei Han Seng.

Sehabis bersantap, maka Tio Tiang Cun lalu menuju ke arah tempat letak rumahnya Goei Han Seng; oleh karena Tio Tiang Cun hendak melakukan penyelidikan.

Didekat pintu rumah gedung yang besar dan mewah itu, Tio Tiang Cun melihat adanya empat orang penjaga. Oleh karena itu maka Tio Tiang Cun jalan terus dengan menundukkan kepala, lalu ketika dia mendapati dijalanan itu keadaannya sunyi serta tiada seseorang yang memperhatikan dia, maka dengan menggunakan ilmu 'pek- houw yu chong' (cecak merayap ditembok) dengan cepat Tio Tiang Cun merambat naik keatas tembok halaman rumah yang tinggi, lalu secara berhati-hati dia melihat kebagian dalam dari halaman rumah itu, dan waktu dia tidak melihat adanya seseorang, maka dengan tabahkan hati Tio Tiang Cun lompat turun untuk disaat berikutnya dia berada diatas pohon yang cukup lebat, untuk dia meneliti keadaan disekitar rumah gedung yang mentereng dan besar itu. ('memasuki sarang harimau, harus menangkap biang harimau ....') pikir Tio Tiang Cun didalam hati; sehingga dia memutuskan hendak menangkap Goei Han Seng supaya semua anak buahnya mati daya. Tetapi, dimanakah Goei Han Seng berada pada saat itu ?

Dibeberapa ruangan didalam rumah gedung itu, Tio Tiang Cun melihat adanya berbagai kesibukan yang dilakukan oleh beberapa orang lalu ada ruangan lain yang kelihatan sunyi. Oleh karena itu Tio Tiang Cun lompat turun dari atas pohon, dan dia berlari dengan waspada keruangan yang kelihatan sunyi itu.

Baru beberapa detik Tio Tiang Cun berada didalam ruangan itu, mendadak dia melihat adanya tiga orang yang sedang lari mendatangi sambil berteriak :

"Lekas tangkap, ada tawanan melarikan diri ...!"

Tio Tiang Cun terkejut dan heran, oleh karena menganggap orang-orang itu menyangka dia sebagai tawanan yang hendak melarikan diri. Dan pada saat itu Tio Tiang Cun tak sempat berpikir lama, sebab dengan suatu gerak yang cepat dia telah memanfaatkan pedangnya, sehingga dalam waktu sekejap dia berhasil membinasakan ketiga orang-orang yang berteriak dan mendekati itu.

Sebagai akibat dari suara teriakan ketiga orang tadi, maka ada lima orang rekan mereka yang kemudian memergoki Tio Tiang Cun, dan sekali ini Tio Tiang Cun tidak dapat dengan mudah membinasakan para pengepungnya, oleh karena kelima orang itu memiliki kepandaian silat yang lebih baik daripada yang tiga orang tadi.

Dengan menutup diri dan mengatur penyerangan bagaikan angin topan yang mengamuk; akhirnya Tio Tiang Cun merubuhkan dua orang dari kelima para pengepungnya; sementara yang tiga orang itu tetap melakukan perlawanan meskipun mereka harus terdesak mundur.

Belum lagi Tio Tiang Cun dapat mengalahkan musuh yang tiga orang itu, maka di ruangan itu telah bertambah dengan belasan musuh lain dipimpin oleh seorang pemuda yang cukup dikenal oleh Tio Tiang Cun dan yang sangat mengejutkan hatinya, sebab pemuda yang memimpin belasan orang itu ternyata adalah Goei Han Siang !

('kurang ajar ! Benar benar aku telah ditipu ...') Tio Tiang Cun memaki didalam hati; lalu dengan gerak tipu "harimau buas menerkam anak kelinci', maka tubuh Tio Tiang Cun melayang dan dia menyerang Goei Han Siang, namun ada tiga orang yang telah mewakili pemuda itu untuk menangkis serangan Tio Tiang Cun.

Dengan hati geram Tio Tiang Cun lakukan perlawanan yang dahsyat, hasrat hatinya ingin benar dia menyerang dan membikin Goei Han Siang tidak berdaya; akan tetapi rintangan yang dia hadapi ternyata bukan merupakan sembarangan perintang, sebab mereka merupakan lawan lawan berat yang tak mudah dikalahkan.