-->

Pendekar Bunga Cinta Jilid 10

jilid 10 

SEJENAK penjahat itu menghentikan larinya, dan mengawasi kedua orang yang merintangi dia, lalu dia perdengarkan suara mengejek dan mendahului menyerang memakai goloknya, kepada salah seorang penghadang yang bersenjata sepasang Poan-koan pit (semacam alat tulis cina

); akan tetapi pada waktu penghadang itu hendak menangkis, maka si penjahat membatalkan niatnya buat menyerang, sebaliknya secara diluar dugaan dia menendang penghadang yang seorang lagi, yang bersenjata sepasang siang-kauw; dan tendangannya itu ternyata dengan jitu telah mencapai sasaran pada betis si penghadang, membikin orang itu rubuh sambil perdengarkan suara memaki.

Tio Bun Wan yang tiba tepat disaat si penghadang itu jatuh terguling, menjadi terkejut karena sempat dia mengenali bahwa si penghadang itu justeru adalah si pemuda bermuka hitam yang pernah dia tempur bersama- sama dara Ma Kim Hwa.

Teringat dengan dara Ma Kim Hwa, maka Tio Bun Wan menjadi tersenyum seorang diri oleh karena selama pertemuan dan perkenalannya dengan dara yang pemarah itu; Pouw Keng Thian merahasiakan nama yang sebenarnya, sebaliknya dia sengaja memakai nama ‘Tio Bun Wan’, demi untuk merahasiakan tentang perjalanan yang hendak mencari musuh yang telah membinasakan orang tuanya. Tetapi, kemudian terpikir olehnya, bahwa tidak ada gunanya buat dia merahasiakan tentang nama maupun tentang perjalanannya yang hendak mencari jejak musuhnya sehingga seterusnya dia akan menggunakan nama yang sebenarnya, yakni Pouw Keng Thian.

Namun demikian, saat itu Pouw Keng Thian tidak sempat berpikir lama, oleh karena dia justeru melihat sipenjahat hendak membacok sipemuda bermuka hitam sehingga untuk menolong maka Pouw Keng Thian telah menangkis golok sipenjahat, sehingga golok mereka saling bentur dengan keras, mengakibatkan keluarnya lelatu anak api.

Si penjahat itu agaknya merasa terkejut dengan terjadinya benturan senjata tadi, oleh karena dia merasakan suatu dorongan tenaga yang tidak kecil. Akan tetapi belum sempat dia mengatur diri, maka sipenghadang yang seorang lagi, yang ternyata berupa seorang laki-laki setengah baya yang usianya kira-kira sudah mencapai 40 tahun lebih, telah menyerang memakai sepasang senjatanya membikin penjahat itu kelihatan repot dan terdesak mundur.

Segera penjahat itu menyadari bahwa dia sedang berhadapan dengan para penghadang yang mahir ilmu silatnya. Adalah menjadi niatnya hendak melarikan diri, namun dia terlibat dalam pertempuran melawan dua orang lawan yang tidak mau melepaskan dia.

Disuatu saat sipenjahat dapat membebaskan diri dari serangan bergelombang dari laki-laki setengah baya yang menghadang, namun baru saja dia lompat dan hendak melarikan diri, maka pemuda Pouw Keng Thian telah melakukan berbagai serangan yang amat membahayakan kedudukan si penjahat itu, bahkan waktu baru saja si penjahat berhasil menghindar dari suatu serangan yang dilakukan oleh Pouw Keng Thian, dan tahu-tahu pemuda itu telah menendang membikin si penjahat rubuh terguling, terjatuh didekat tempat si pemuda bermuka hitam yang sedang berdiri meringis menahan rasa sakit; namun kesempatan itu tidak disia-sia oleh si pemuda bermuka hitam, karena dengan suatu pukulan bagaikan guntur yang menyambar, maka kepala si penjahat remuk terkena senjata siang kauw sipemuda bermuka hitam itu.

"Ah, sayang kau binasakan dia ...” kata laki-laki yang setengah baya itu; waktu dia mendekati tubuh si penjahat yang sudah tewas.

Si pemuda bermuka hitam tidak menghiraukan kata penyesalan itu, sebaliknya dia menjadi gusar waktu dia melihat dan mengenali pemuda Pouw Keng Thian yang juga sudah ikut mendekati. "Ah, kiranya kau ....!" kata si pemuda bermuka hitam singkat tetapi tegas, lalu dengan senjatanya yang masih berlumuran darah dia menyerang Pouw Keng Thian.

Pouw Keng Thian sangat terkejut karena gerak pemuda bermuka hitam itu yang sangat diluar dugaan. Dengan tubuh yang lincah dia berhasil lompat menghindar, dan waktu pemuda bermuka hitam itu hendak mengulang serangannya, maka laki-laki setengah baya itu membentak :

"Dungu ! hentikan seranganmu ...!" demikian bentak laki laki setengah baya itu; dan si pemuda bermuka hitam itu patuh menurut.

Laki laki setengah baya itu kemudian mendekati Pouw Keng Thian, dia memberi hormat dan mengucap kata-kata maaf atas perbuatan si pemuda bermuka hitam tadi; sampai mereka saling berkenalan dan Pouw Keng Thian mengetahui bahwa laki laki setengah baya itu bernama Tio Kang Ho, dan si pemuda bermuka hitam itu adalah muridnya yang bernama Sie Peng An, atau yang sehari-hari dipanggil si Dungu atau si Bodoh.

Tengah mereka bercakap-cakap, mendadak terdengar suara beberapa orang yang sedang berlari-lari mendatangi, dan mereka itu ternyata adalah para penjaga malam yang tadi ikut mengejar.

"Pouw hiantit, mari kita pergi ..." ajak Tio Kang Ho; lalu dia mendahului lari dengan menggendong Sie Peng An yang masih belum sanggup lari sebab kakinya yang pincang.

Ternyata Tio Kang Ho dan Sie Peng An menginap disebuah rumah penginapan yang letaknya di sebelah barat kota Pao-kee tin.

Menurut keterangan yang diberikan oleh Tio Kang Ho, maka dikatakan bahwa Sie Peng An berasal dari suatu keluarga pencari kayu didaerah pegunungan Leng-siauw san, namun sejak kecil sudah menjadi anak piatu, sampai kemudian dia bertemu dan berguru pada Tio Kang Ho.

Pemuda bermuka hitam yang bertenaga kuat tersebut, ternyata adalah seorang anak yang dungu namun jujur, disamping adatnya yang berangasan atau pemarah.

Tio Kang Ho berdua Sie Peng An sedang melakukan perjalanan hendak menyambangi seorang sahabat, dan di kota Pao kee tin itu mereka mendengar tentang adanya penjahat yang sedang melanda keamanan dengan melakukan perampokan dan perkosaan, sehingga mereka menunda perjalanan karena bermaksud menangkap si penjahat.

Guru dan murid itu melakukan penyelidikan secara terpisah, sehingga hari itu Sie Peng An bertemu dan bertempur melawan Pouw Keng Thian berdua dara Ma Kim Hwa, tetapi mengenai peristiwa itu Sie Peng An tak memberitahukan kepada gurunya.

Adalah menjadi hasrat Sie Peng An untuk malam harinya mendatangi dan menantang Pouw Keng Thian bertempur lagi, dari itu setelah berpisah dengan gurunya, maka si pemuda bermuka hitam itu langsung mendatangi tempat Pouw Keng Thian menginap, namun ditengah perjalanan dan secara diluar dugaan, waktu itu Sie Peng An dapat bertemu dengan si penjahat yang memakai tutup muka dengan secarik kain warna hitam, hingga terjadi keduanya itu bertempur.

Beberapa kali Sie Peng An terjatuh kena tendangan si penjahat yang tinggi ilmunya itu, namun si pemuda bermuka hitam itu memiliki tenaga besar dan tidak kenal rasa takut, membikin si penjahat kewalahan menghadapinya, sampai akhirnya si penjahat melukai paha kiri Sie Peng An dengan sebatang pisau.

Akan tetapi, meskipun dengan langkah kaki yang pincang dan banyak mengeluarkan darah dari lukanya, Sie Peng An tetap melakukan perlawanan, sampai kemudian Tio Keng Ho sempat datang memberikan bantuan, membikin si penjahat kabur dan Sie Peng An terjatuh duduk karena dia lemas akibat banyaknya kehilangan darah. Tio Kang Ho tidak dapat mengejar si penjahat karena dia harus menolong muridnya, yang lalu dia bawa pulang ketempat penginapan, dan diberikan pengobatan pada lukanya yang terkena pisau, sampai kemudian mereka meneruskan usahanya mencari si penjahat dan malam itu mereka bertemu dengan pemuda Pouw Keng Thian.

Kemudian adalah menjadi giliran Pouw Keng Thian yang menceriterakan tentang kisahnya, namun mengenai dara Ma Kim Hwa tidak Pouw Keng Thian katakan tentang nama ayah dara pemarah itu, sehingga tidak diperhatikan oleh Tio Kang Ho; akan tetapi mengenai suami isteri Gan Hong Bie yang menjadi musuhnya Pouw Keng Thian, dikatakan oleh Tio Keng Ho bahwa nama Lie Bie Nio sebenarnya sudah terkenal sejak dia belum menikah dengan Gan Hong Bie.

Pada waktu mudanya nama Lie Bie Nio sudah banyak dibicarakan orang sebagai si 'Dewi-angin’, karena segala kebiasaannya bagaikan mengikuti arah tiupan angin; berpihak kepada siapa saja atau kemana saja, demi untuk kepentingan dan kepuasan pribadi.

Banyak laki-laki yang jadi merana karena dipermainkan oleh Lie Bie Nio yang bermuka cantik, pandai merayu tapi berhati kejam dan tak kenal puas, sampai kemudian dia bertemu dan menjadi istrinya Gan Hong Bie; seorang lelaki tampan tetapi mempunyai kebiasaannya yang sama seperti Lie Bie Nio, sehingga mereka berdua merupakan pasangan yang sejiwa atau sependirian.

Mula pertama pasangan suami isteri itu menetap di kota Kay hong. Suatu hal yang cukup mengherankan bagi pandangan seseorang yang berpikiran sehat namanya saja sepasang insan itu menjadi suami isteri; namun moral mereka sama sama bejad, karena Lie Bie Nio tetap sering merayu setiap laki-laki yang disenangi, dan Gan Hong Bie tetap sering mencari hiburan dengan perempuan lain, bahkan tak segan-segan melakukan dengan kekerasan, baik dengan cara menculik atau memperkosa, sehingga didalam sekejap nama sepasang insan suami isteri itu dikenal sebagai Kay hong siang koay, atau hantu kejadian dari kota Kay hong.

Perbuatan terkutuk dari Kay hong siang koay itu kemudian mendapat tentangan dari sekelompok para pendekar, dan pada saat itu Cheng Hwa liehiap Liu Giok Ing sedang menghadapi "bulan madu" sebagai isterinya Pangeran Giok Lun, sehingga si Pendekar Bunga Cinta itu tidak mengetahui perihal sepak terjang dari Kay hong siang koay. Sebagai akibat dari banyaknya tentangan dari kelompok para pendekar, maka Kay hong siang koay kemudian mengungsi entah kemana sampai kemudian terdengar berita bahwa Gan Hong Bie dengan isterinya menjadi pemimpin dari persekutuan Hong bie pang yang belum jelas azas tujuannya, namun sudah menyebar pengaruh secara meluas.

Sementara itu Tio Kang Ho menunda ceritanya dan mengajak Pouw Keng Thian minum, selagi si dungu Sie Peng An sudah tertidur pulas, mungkin karena letih atau mungkin karena luka yang masih belum sembuh.

"... dengan demikian, hendaklah hiantit menyadari bahwa kau bukan menghadapi musuh sembarang musuh, terlebih dibelakang Gan Hong Bie suami isteri masih terdapat seseorang atau sekelompok orang-orang kuat yang sengaja mendukung atau sengaja menempatkan Gan Hong Bia dengan isterinya sebagai pemimpin dari persekutuan ..." demikian kata Tio Kang Ho sebagai penambah keterangannya.

Pouw Keng Thian diam berpikir tentang pengaruh dan kekuatan pihak musuh yang bakal dia hadapi, sampai kemudian terdengar Tio Kang Ho berkata lagi :

"Meskipun demikian, hendaklah hiantit jangan berkecil hati. Aku tahu gurumu sangat luas pengalamannya, disamping kau mempunyai empat saudara seperguruan yang tentunya bersedia membantu usaha kau ..."

"Bagaimana susiok tahu bahwa aku mempunyai empat saudara seperguruan...?” tanya Pouw Keng Thian karena dia teringat tidak pernah memberitahukan hal itu kepada Tio Kang Ho.

Tio Kang Ho tertawa sambil melintir kumisnya yang tidak banyak tumbuh, setelah itu baru dia menjawab :

"Aku kenal dengan seorang piauwtauw yang bernama Ma Heng Kong, dan Ma Heng Kong ini bersahabat erat dengan gurumu; sehingga banyak yang aku ketahui perihal gurumu itu ..."

Pouw Keng Thian tidak merasa tertarik dengan disebutnya nama piauwtauw Ma Heng Kong, sehingga dia tidak menanyakan lebih lanjut perihal Ma Heng Kong yang sebenarnya merupakan paman dari Ma Kim Hwa; sebaiknya Pouw Keng Thian mengucap terima kasih dengan keterangan tentang suami isteri Gan Hong Bie yang diberikan oleh Tio Kang Ho, setelah itu dia pamitan karena hari sudah mendekati subuh. Siang hari berikutnya Pouw Keng Thian meninggalkan kota Pao kee tin, menuju ke-dusun Lam hoan ceng buat menyambangi makam orang tuanya.

Di sepanjang perjalanan itu Pouw Keng Thian memikirkan perkataan Tio Kang Ho tentang kedua musuhnya, yang ternyata merupakan Kay hong siangkoay atau sepasang jejadian dari Kay hong. Sekarang bahkan menjadi pemimpin persekutuan Hong bie pang, sehingga pemuda ini menyadari bahwa dia menghadapi musuh yang punya kedudukan kuat disamping banyak jumlahnya. Akan mampukah dia membalas dendam kedua orang tuanya ?

Diluar tahu Pouw Keng Thian, perjalanannya yang sedang menuju dusun Lam hoan ceng itu ternyata dibayangi oleh empat orang lelaki yang berpakaian serba hitam, dan mereka justru merupakan teman teman si penjahat yang telah dibinasakan dikota Pao kee tin.

Si penjahat yang mengacau di kota Pao kee tin sebenarnya bukan merupakan sembarang penjahat, oleh karena dia adalah salah seorang tokoh Hong bie pang yang bernama Oey Koan Bie, yang mahir ilmu silatnya serta dikenal sebagai si "Garuda Bertanduk Tunggal”.

Kedatangan Oey Koan Bie di kota Pao kee tin adalah sebagai utusan dari Hong bie pang buat menemui pejabat pemerintah setempat untuk membicarakan kemungkinan dibukanya cabang Hong bie pang di kota Pao kee tin.

Liang tay jin atau pejabat pemerintah kota Pao kee tin, sudah tentu tidak mau dengan mudah menyetujui usul pihak Hong bie pang, sekiranya Oey Koan Bie tidak membawa sepucuk surat dari 'seseorang' yang sangat berwibawa atau berpengaruh, yang memang dengan seenaknya dapat memerintah si pejabat kota Pao kee tin itu. Dalam pembicaraan selanjutnya, Liang tay jin menanyakan tentang perlunya pembiayaan untuk membentuk cabang Hong bie pang di kota Pao-kee tin, namun pertanyaan si pejabat pemerintah itu hanya dijawab dengan tawa dari Oey Koan Bie dan sejak saat itu di kota Pao kee tin sering terjadi perkara perampokan barang- barang berharga yang ternyata dilakukan oleh Oey Koan Bie, dengan hasilnya untuk digunakan buat membuka cabang Hong bie pang, disamping buat Liang tayjin yang ikut mendapat bagian sehingga adanya pasukan penjaga keamanan yang katanya untuk menangkap si penjahat sudah tentu melulu buat menutup mata masyarakat setempat, sedangkan si penjahat dapat merajalela seenaknya, bahkan menumpang tinggal didalam rumah si pejabat pemerintah setempat, sehingga tidak mungkin dapat ditangkap oleh pasukan tentara keamanan.

Kemudian Hong bie kauwcu mengirim lagi empat orang utusan untuk diperbantukan bagi rencana kerja Oey Koan Bie, dan empat orang ini justru sedang mencurigai Pouw Keng Thian, karena ia heran berada ditempat pemuda itu menginap, pada waktu terjadi pertempuran antara Pouw Keng Thian dan Ma Kim Hwa, melawan si pemuda bermuka hitam Sie Peng An, sampai kemudian terjadi pembicaraan antara Pouw Keng Thian berdua Ma Kim Hwa yang menyinggung nama Hong bie pang.

Rasa curiga ke empat orang Hong bie pang terhadap Pouw Keng Thian itu, sudah mereka laporkan kepada Oey Koan Bie; akan tetapi sebelum mereka sempat mengambil sesuatu tindakan, ternyata Oey Koan Bie justeru tewas ketika malam itu sedang melakukan pekerjaannya.

Dengan tewasnya Oey Koan Bie sudah tentu ke empat orang Hong bie pang itu mencurigai sebagai perbuatannya Pouw Keng Thian, sehingga mereka segera mendatangi tempat pemuda itu menginap, akan tetapi mereka datang setelah Pouw Keng Thian berangkat, sebab berita tentang tewasnya Oey Koan Bie sampai siang baru mereka peroleh.

Dengan memakai empat ekor kuda mereka melakukan pengejaran, sehingga dalam waktu yang singkat mereka telah berhasil menyusul Pouw Keng Thian, lalu secara membabi buta mereka melakukan penyerangan dan pengepungan.

Sesungguhnya Pouw Keng Thian sangat heran karena dia tidak mengetahui, dengan siapa atau dengan pihak gerombolan mana yang sedang mengepung dia.

Pemuda ini sedang asyik melakukan perjalanan sambil melamun. Lalu secara tiba-tiba dia hampir diseruduk oleh dua ekor kuda, padahal dia sudah menyisih waktu mengetahui adanya beberapa pengendara kuda yang hendak melewati dia.

Belum sempat Pouw Keng Thian memaki, maka tiba- tiba suatu senjata rantai baja dengan bandul bagaikan mata tombak, menyambar kearahnya.

Dengan gerak 'belut hijau mencari liang’, maka Pouw Keng Thian berhasil menghindar dari serangan rantai baja itu; namun seorang musuh lain menerkam dia sambil membacok memakai golok.

Secepat kilat Pouw Keng Thian siapkan goloknya dan menangkis serangan musuh itu, sehingga golok-golok mereka saling bentur dengan keras, dan Pouw Keng Thian bahkan berhasil melontarkan golok lawannya yang terlempar jauh lepas dari pegangan lawan itu.

Lawan itu menjadi terkejut dan merasa kesakitan pada tangannya, tetapi Pouw Keng Thian tidak dapat membalas menyerang lawan itu, sebab dia telah dikepung oleh tiga lawan lain: termasuk orang yang bersenjata rantai baja, karena senjata itu dapat digulung dan digunakan sebagai senjata jarak dekat.

Dilain saat, musuh yang goloknya terlepas tadi, juga sudah memungut goloknya dan ikut melakukan pengepungan, sehingga Pouw Keng Thian harus melakukan pertempuran melawan empat orang musuh.

Bagi Pouw Keng Thian, pertempuran melawan empat orang musuh itu benar-benar merupakan suatu pertempuran yang berat yang harus dia alami sejak dia meninggalkan tempat gurunya. Namun demikianlah, si pemuda ini melakukan perlawanan dengan gigih menutup diri dari setiap kesempatan bagi pihak lawannya, bahkan sekali waktu dia sempat melakukan serangan balasan yang membahayakan jiwa lawannya.

Dipihak ke empat lawan itu, agaknya mereka juga menyadari akan kegagahan pemuda lawan mereka. Oleh karenanya, segera mereka mengganti siasat, tidak bertempur secara rapat mengepung, namun mereka hadapi Pouw Keng Thian secara silih berganti, agar dengan cara itu mereka akan bisa membikin pemuda lawan mereka menjadi lelah kepayahan, sebaliknya pihak mereka secara silih berganti dapat beristirahat.

Dengan cara bertempur dari keempat lawannya itu benar-benar Pouw Keng Thian jadi kepayahan, sehingga didalam hati pemuda itu mengeluh, entah bagaimana kalau dia harus menghadapi musuh dari pihak Hong bie-pang, yang tentunya merupakan tugas yang amat berat bagi dia.

Seringkali Pouw Keng Thian hampir berhasil mengalahkan lawan yang sedang dia hadapi, akan tetapi lawan itu berlaku cerdik, selalu cepat-cepat menghindar dari kancah pertempuran, dan tempatnya diganti oleh rekannya; atau kalau lawan itu tak sempat menghindar karena desakan Pouw Keng Thian maka cepat-cepat seorang kawannya membantu dan membiarkan rekan yang terdesak itu beristirahat.

Lawan yang dianggap paling ringan dari ke empat lawan yang mengepung Pouw Keng Thian, adalah lawan yang bersenjata golok yakni yang goloknya pernah dilontarkan oleh Pouw Keng Thian; dan lawan yang terlemah itu justeru hanya kadang-kadang saja menghadapi Pouw Keng Thian bertempur, oleh karena dia lebih banyak hanya berdiri dengan sikap siaga, membiarkan ketiga kawannya memeras tenaga menentang maut.

-ooooOjooo —

TERINGAT dengan tuntutan dendam yang belum sempat dia lunaskan, maka Pouw Keng Thian perhebat perlawanannya bahkan dia merobah siasat, baik pada waktu menyerang maupun pada waktu melakukan pertahanan. Seringkali dia memberikan umpan seolah-olah dia sudah tidak berdaya menghadapi serangan lawan, lalu secara tiba-tiba dia berkelit sambil membarengi menikam, sehingga disuatu saat Pouw Keng Thian berhasil membinasakan seorang lawannya, dan melukai pundak kiri musuh yang bersenjata golok.

Sisa lawan Pouw Keng Thian sekarang hanya dua orang, dan kedua lawan itu bagaikan sudah merasa putus asa, tak sanggup mengalahkan pemuda lawan mereka, bahkan keselamatan nyawa mereka justeru yang jadi terancam. Namun demikian, kedua lawan yang merupakan tokoh- tokoh persekutuan Hong bie pang dan yang waktu itu tidak diketahui oleh Pouw Keng Thian, tidak mau mereka melarikan diri meninggalkan kawan-kawan mereka, sampai disuatu saat salah seorang dari kedua tokoh Hong bie pang itu, secara diluar dugaan sudah menikam rekannya yang terluka, sehingga rekan itu tewas seketika! Pouw Keng Thian jadi terpesona menyaksikan kekejaman lawan-lawan itu, yang rela membinasakan kawan mereka sendiri; dan selagi pemuda itu terpesona, maka kesempatan itu telah dipergunakan oleh kedua lawannya buat melarikan diri memakai kuda mereka.

Pouw Keng Thian kemudian duduk beristirahat dibawah pohon disisi jalan yang sunyi itu. Dia merenungkan peristiwa yang baru saja dia alami, sampai kemudian dia teringat kalau seseorang akan lewat di jalan itu, dan melihat adanya dua mayat yang rebah bergelimpangan; sehingga memungkinkan Pouw Keng Thian jadi terlibat dengan urusan yang memusingkan kepala.

Oleh karena itu, maka Pouw Keng Thian bergegas hendak meninggalkan tempat itu, namun tiba-tiba dia melihat adanya dua ekor kuda milik lawannya yang sudah menjadi mayat.

Segera Pouw Keng Thian mendekati dan memilih seekor kuda yang dia anggap lebih bagus dan lebih sehat; setelah itu dia meneruskan perjalanannya dengan memakai kuda.

Waktu sudah lewat magrib, Pouw Keng Thian tiba disebuah dusun yang cukup ramai, dimana dia mencari sebuah rumah penginapan untuk dia beristirahat dan bermalam.

Setelah membersihkan tubuh dan ganti pakaian, maka Pouw Keng Thian duduk diruang tamu sambil menunggu waktu makan, dan pada waktu itu dia melihat seorang pengendara kuda yang berhenti dan memasuki rumah penginapan itu, karena orang itu agaknya hendak bermalam dirumah penginapan itu.

Perhatian Pouw Keng Thian menjadi tertarik, oleh karena melihat orang yang baru datang itu adalah seorang dara remaja bermuka cantik, berpinggang ramping dan kelihatan membekal pedang dipinggangnya yang kecil langsing, menandakan dara cantik itu pandai ilmu silat.

Sekilas pandangan mata Pouw Keng Thian terbentur dengan pandangan dara cantik itu, namun keduanya cepat cepat mengalihkan pandangan mata mereka dengan lagak kemalu-maluan.

Dara yang cantik itu mendekati meja tempat pengurus rumah penginapan untuk memesan sebuah kamar, dan setelah itu dia menuliskan namanya; sementara Pouw Keng Thian yang memperhatikan secara diam-diam, sempat melihat muka si pengurus rumah penginapan itu berseri-seri dan berkata :

"Oh, jadi kouwnio yang bernama Soh Sim Lan     ?”

Sejenak dara cantik itu diam mengawasi si pengurus rumah-penginapan, sinar matanya mengandung pertanyaan

; sementara pada mukanya kelihatan berobah agak merah.

" . , .dua hari yang lalu kami kedatangan tiga orang tamu

..." kata lagi si pengurus rumah penginapan; "Mereka terdiri dari dua orang pemuda dan seorang pemudi. Masing- masing mengatakan bernama Sun Bian Hee, Siang Cun Gee dan Tan Hong Lan. Kemarin siang mereka berangkat dan meninggalkan pesan, kalau Soh Kouwnio datang, maka diminta supaya menyusul ke kota Soan-hoa…”

Dara cantik yang diajak bicara dengan si pengurus rumah penginapan itu, tidak kelihatan terkejut waktu menerima pesan itu; sebaliknya justeru Pouw Keng Thian yang ikut mendengarkan, yang menjadi terkejut oleh karena ketiga nama yang disebutkan oleh pengurus rumah penginapan tadi, semuanya adalah nama-nama dari ketiga saudara seperguruannya. Disamping rasa terkejutnya, Pouw Keng Thian juga merasa heran, karena dia tahu benar bahwa ketiga saudara seperguruannya itu bepergian secara terpisah, mengurus keperluan masing-masing. Ada yang mendapat tugas dari guru mereka, ada pergi untuk keperluan pribadi. Dari itu agak mengherankan kalau mereka berada bersama-sama dan sedang menuju ke kota Soan hoa dengan memesan dara Soh Sim Lan menyusul. Sedangkan nama dara Soh Sim Lan itu, seperti pernah didengar oleh Pouw Keng Thian pada waktu dulu dia masih berkumpul dengan Tan Hong Lan, menjadi "sucie' atau kakak seperguruan perempuan.

Selain dari Pouw Keng Thian yang menjadi terkejut karena mendengar perkataan si pengurus rumah penginapan, ternyata ada tiga orang lelaki yang duduk tidak jauh terpisah dengan Pouw Keng Thian, yang ikut terkejut dan serentak mereka mengawasi dara Soh Sim Lan dan si pengurus rumah penginapan, dengan sinar mata seperti menyelidik.

Sikap ketiga orang lelaki itu sudah tentu tidak lepas dari perhatian Pouw Keng Thian, terlebih muka garang dari ketiga orang lelaki itu telah mendatangkan rasa curiga bagi pemuda itu.

Waktu kemudian dara Soh Sim Lan sudah diantar ke dalam kamar yang dipesannya, maka salah seorang dari ketiga lelaki itu kedengaran berkata dengan suara perlahan :

"Rupanya dia adalah kawan dari mereka bertiga   "

"Ma heng, jangan kau bicara sembarangan " terdengar

kata yang seorang lagi, dengan suara yang lebih perlahan; namun cukup didengar oleh Pouw Keng Thian.

"Kalian tunggu disini     " kata lelaki yang ketiga, sambil

dia berdiri dari tempat duduknya, lalu dia mendatangi tempat si pengurus rumah penginapan, dan terjadi percakapan antara lelaki itu dengan si pengurus rumah penginapan, tetapi mereka berbicara dengan suara perlahan, sehingga tidak didengar oleh Pouw Keng Thian. Dan suatu hal yang menambah rasa curiga pemuda ini, adalah sempat dia melihat si pengurus rumah penginapan itu seperti orang yang terkejut dan ketakutan.

Lelaki yang berbicara dengan pengurus rumah penginapan itu kemudian kembali ke tempat duduknya, akan tetapi dia tidak mengatakan sesuatu, bahkan sampai waktu mereka makan malam, mereka bertiga tidak kedengaran membicarakan perihal dara Soh Sim Lan.

Pouw Keng Thian yang ikut makan, sengaja dia perlambat cara dia makan; membiarkan ketiga orang lelaki itu mendahului dia dan meninggalkan ruang makan setelah itu dengan langkah-kaki tenang dia mendekati si pengurus rumah penginapan.

Si pengurus rumah penginapan kelihatan menjadi bertambah ketakutan, waktu dia mendengar Pouw Keng Thian justeru menanyakan tentang siapa gerangan ketiga orang laki laki tadi. Sejenak dia mengawasi tamunya dan mendapati wajah muka yang tampan serta sikap sopan dari Pouw Keng Thian, sehingga dengan suara perlahan dan gemetar dia berkata :

"Siangkong, kau kasihanilah aku; jangan kau tanyakan padaku perihal ketiga orang-orang tadi ..."

Sejenak Pouw Keng Thian tidak mengucap sesuatu. Didalam hati dia menduga dan mencari sebab yang menjadikan si pengurus rumah penginapan itu sangat takut terhadap ketiga orang laki laki tadi. Terpikir oleh Pouw Keng Thian, bahwa tiga orang laki laki itu pasti merupakan orang orang kejam yang amat ditakuti oleh masyarakat setempat.

"Apakah mereka sering makan disini... ?" akhirnya Pouw Keng Thian menanya lagi.

Pengurus rumah makan itu hanya manggut membenarkan.

“Dimana tempat mereka ... ?”

"Siangkong, sudah aku katakan, jangan kau tanya aku tentang mereka " sahut pengurus rumah penginapan itu;

bertambah perlahan dan bertambah gemetar suaranya. Pouw Keng Thian paksakan diri untuk bersenyum.

"Apa yang ditanyakan oleh mereka tadi?" masih Pouw Keng Thian berusaha ingin mengetahui, namun dilihatnya si pengurus rumah penginapan itu mengawasi kesekitar ruangan dan tidak menjawab pertanyaan Pouw Keng Thian.

"Dimanakah letak kota Soan hoa ..?"

Si pengurus rumah penginapan sekarang menatap muka pemuda tamunya, dengan pandangan mata penuh pertanyaan, akan tetapi mau juga dia menjawab :

"Kota Soan hoa merupakan sebuah kota kecil yang letaknya tidak jauh terpisah dari kota Siang yang "

Sejenak Pouw Keng Thian terdiam berpikir. Kota Siang yang merupakan kota perbatasan antara Tiongkok sebelah utara dengan Tiongkok sebelah selatan; kota itu dahulu kala pernah dipertahankan oleh Kwee Ceng berdua isterinya selagi Tiongkok belum sepenuhnya dijajah oleh bangsa Mongolia.

Sesaat kemudian Pouw Keng Thian meninggalkan tempat si pengurus rumah penginapan setelah dia mengucapkan terima kasih, dan dengan pandangan mata yang tajam, sempat dia melirik ke arah buku penerimaan tamu, sehingga dia mengetahui kamar yang disewa dara Soh Sim Lan.

Pada saat berikutnya, sejenak Pouw Keng Thian berdiri didepan pintu kamar dara Soh Sim Lan, yang dia ketahui sebagai pendekar wanita dari kanglam atau Kanglam liehiap, dara perkasa dari wilayah utara yang namanya sudah cukup menyemarak dikalangan rimba persilatan, dan yang tembus menjelajah ke wilayah sebelah selatan.

Mengapa dara yang perkasa itu sekarang berada didusun itu dan untuk apa saudara seperguruannya menantikan Kanglam liehiap Soh Sim Lan dikota Soan hoa?

Akan tetapi, oleh karena dia dalam keadaan ragu-ragu, maka akhirnya Pouw Keng Thian membatalkan diri buat memasuki kamar dara Soh Sim Lan; sebaliknya dia memutar tubuh dan memasuki kamarnya sendiri; di mana dia rebahkan diri dan memikirkan berbagai masalah yang harus dia lakukan.

Letak kota Soan-hoa amat jauh terpisah dari tempat tujuan Pouw Keng Thian, akan tetapi pemuda itu merasa yakin akan adanya sesuatu urusan yang sangat penting, yang menyebabkan ketiga kakak seperguruannya berkumpul dan bersama-sama menuju ke kota Soan hoa.

Pikiran Pouw Keng Thian menjadi ragu-ragu menghadapi dua pilihan, apakah dia harus mengutamakan urusan pribadinya atau dia harus menyusul ketiga kakak seperguruannya; yang entah sedang menghadapi urusan apa, sedangkan untuk menanya dara Soh Sim Lan yang dia yakin menjadi sahabat atau kenalan dari ketiga kakak seperguruannya, tak ada keberaniannya karena terkalahkan oleh rasa malu untuk berbicara dengan seorang dara yang belum dikenalnya.

Dilain pihak, Pouw Keng Thian sangat mencurigai ketiga laki-laki yang sangat ditakuti oleh sipengurus rumah penginapan, dan pemuda ini berpendapat bahwa ketiga orang laki-laki itu mempunyai niat yang tidak baik terhadap diri dara Soh Sim Lan. Teringat dengan niat tidak baik dari ketiga orang laki laki itu, maka Pouw Keng Thian lalu menyiapkan alat tulis yang memang tersedia didalam kamarnya; lalu dia menulis surat-surat singkat buat dia sampaikan kepada dara Soh Sim Lan.

Isi surat yang singkat itu, melulu merupakan peringatan bagi dara Soh Sim Lan yang sedang diintai oleh 'tiga musuh' yang dia tidak kenal.

Akan tetapi, setelah surat itu selesai dia bikin; maka datang lagi rasa ragu-ragu yang mengakibatkan dia batal menyampaikan surat itu kepada dara Soh Sim Lan. Akhirnya terpikir oleh Pouw Keng Thian bahwa sebaiknya secara diam-diam dia akan mengikuti perjalanan dara Soh Sim Lan sambil dia siaga terhadap serangan gelap dari ketiga orang laki laki yang dia curigai itu. Dengan putusan ini, Pouw Keng Thian tidak perduli bahwa dia bakal batal menyambangi makam keluarganya, sedangkan dengan mengikuti perjalanan dara Soh Sim Lan, dia yakin akan menuntun dia untuk berkumpul dengan ketiga kakak seperguruannya.

Lalu, bagaimana dengan dara Ma Kim Hwa yang katanya hendak menyusul ?

("Perduli dengan dia ..!") pikir Pouw Keng Thian didalam hati; sebab dia berpendapat sebaiknya menjauhi diri dari api kalau tak mau terbakar ! Tengah malam itu Pouw Keng Thian meninggalkan kamarnya lewat jendela, kemudian dia duduk umpatkan diri diatas sebuah pohon; sementara pandangan matanya penuh perhatian ditujukan kepada jendela kamarnya dara Soh Sim Lan, dengan sikap siaga kalau-kalau ketiga orang laki-laki yang dicurigai mendatangi kamar dara yang cantik dan perkasa itu.

Malam itu hawa udara cukup dingin, dan Pouw Keng Thian terpaksa membiarkan dirinya digigit nyamuk atau kutu-kutu malam lainnya; namun sia-sia pengorbanannya, karena sampai mendekati waktu subuh tidak terjadi sesuatu, sehingga terpaksa Pouw Keng Thian kembali kedalam kamarnya.

Pemuda ini kemudian tidur dan terus tidur sampai matahari naik tinggi, dan dia bangun kelabakan memanggil pelayan dan membersihkan tubuh secara tergesa-gesa, karena dari pelayan itu dia mendapat keterangan bahwa dara Soh Sim Lan sudah berangkat sejak pagi-pagi meninggalkan rumah penginapan itu !

Pouw Keng Thian larikan kudanya secepat kuda itu sanggup lari, namun pemuda ini tahu benar bahwa dara Soh Sim Lan melakukan perjalanan dengan naik kuda, sehinga tidak mudah buat dia melakukan pengejaran, karena sudah tertinggal cukup lama.

Didekat perbatasan dusun berikutnya Pouw Keng Thian melihat adanya sebuah kedai-nasi yang letaknya disebelah kiri sisi jalan.

Pouw Keng Thian singgah untuk beristirahat dan mengisi perut, terutama kudanya juga memerlukan hal yang sama.

Kedai nasi itu kelihatan sunyi, tidak ada tamu lain yang sedang makan. Pouw Keng Thian duduk dan memesan makanan, untuk dia juga untuk kudanya yang dia minta diberikan makanan pada seorang bocah laki laki; setelah itu dia menanyakan kalau kalau si pemilik kedai pernah menerima kunjungan dara perkasa yang melakukan perjalanan dengan memakai kuda.

Sejenak si pemilik kedai itu mengawasi tamunya dengan pandangan mata yang agak juling, setelah itu dia mengatakan tidak dapat mengetahui tamu mana yang dimaksud oleh Pouw Keng Thian, sebab katanya hari itu dia menerima tamu yang terdiri dari perempuan perempuan muda yang kelihatan cantik dan gagah perkasa !

“Banyak dara dara perkasa ... ?" ulang Pouw Keng Thian bagaikan dia bicara pada dirinya; sementara didalam hatinya terselip pertanyaan; entah ada berapa banyak dara- dara perkasa didalam dunia ini, dan entah bagaimana jadinya kalau dara-dara perkasa itu dikumpulkan menjadi satu kelompok!

Selagi Pouw Keng Thian bersantap dengan pikiran melayang tak menentu, tiba-tiba dia melihat datangnya dua orang penunggang kuda yang juga singgah dikedai nasi itu, dan kedua tamu yang baru datang itu ternyata berupa dua dara remaja yang kelihatan perkasa !

("Ah ... lagi-lagi dua dara perkasa ....") Pouw Keng Thian berkata seorang diri didalam hati; sementara kedua dara perkasa itu memilih tempat duduk yang menghadap ke tempat Pouw Keng Thian duduk, dan kedua-duanya ternyata memiliki wajah muka yang sama cantiknya tinggal menentukan mana yang lebih menarik, menurut selera masing-masing orang yang melihatnya.

Kedua dara perkasa itu ternyata bukan merupakan dara- dara yang pemalu. Setelah memesan makanan, maka keduanya bercakap-cakap dengan muka cerah penuh suasana yang lincah meriah, sedangkan gerak sepasang matanya seringkali melirik liar ketempat pemuda Pouw Keng Thian duduk; sehingga sekali pernah terjadi, pandangan mata mereka saling bertemu, membikin pemuda Pouw Keng Thian tunduk agak kemalu-maluan sementara kedua dara perkasa itu kelihatan bersenyum manis.

Salah seorang dari kedua dara perkasa itu kemudian berdiri dan mendekati tempat Pouw Keng Thian duduk. Dia bersenyum manis waktu melihat pemuda itu dengan gugup menunda makan; dan senyum manis itu justeru menambah gugupnya si pemuda Pouw Keng Thian.

"Maaf ... bukankah siangkong bernama Nio Beng Hui...

?” dara perkasa yang mendekati Pouw Keng Thian itu menanya dengan suara yang halus merdu; sementara Pouw Keng Thian ikut berdiri dengan sikap sopan.

"Bu .. bukan Namaku Pouw Keng Thian ... " sahut Pouw Keng Thian dengan suara gugup.

"Maaf ...siangkong mirip dengan kenalan kami yang bernama Nio Beng Hui itu. Namaku Gan Leng Soan dan nama temanku Kwa Leng Cu , .." kata Iagi dara perkasa itu, tetap dengan muka cerah dan hiasan seberkas senyum manis; sementara dia telah memanggil temannya untuk ikut mendekati.

"Bolehkah kami duduk dekat siangkong...?" kata dara Gan Leng Soan setelah temannya berdiri disisinya, juga dengan menyertai seberkas senyum yang menawan.

"Si ...silahkan ..." undang pemuda itu sambil memaksa diri untuk tidak berlaku gugup.

"Apakah Pouw siangkong tidak kenal dengan teman kami yang bernama Nio Beng-Hui itu ...?” ganti tanya dara Kwa Leng Cu, nada suara yang tidak kalah merdunya; serta dengan menyertai seberkas senyum yang bisa mengguncang-guncang hati Pouw Keng Thian, seperti mengajak dang-dut.

“Tidak ..." Pouw Keng Thian singkat nunduk karena takut 'ngadu' mata.

"Sayang sekali...” dara Kwa Leng Cu menyambung perkataannya; lembut perlahan tetapi tetap terdengar merdu.

"Mengapa sayang.. ?" Pouw Keng Thian ganti menanya tanpa dia menyadari.

"Sebab rupanya siangkong belum banyak pengalaman .. " dara Kwa Leng Cu yang bicara lagi sambil menyertai senyumnya; sedangkan dara Gan Leng Soan terdengar tertawa perlahan.

Pouw Keng Thian tambah kemalu-maluan, namun kedua dara-perkasa itu ternyata pandai bicara; cerah dan lincah sehingga berhasil mereka mengajak pemuda itu ikut bicara bahkan ikut tertawa ria, lupa dengan dara-dara Soh Sim Lan berdua Ma Kim Hwa !

"Kemana tujuan Siangkong .... " tanya dara Gan Leng Soan ditengah percakapan mereka.

"Aku hendak ke kota Soan hoa ..." sahut Pouw Keng Thian sejujurnya.

"Heh, kebetulan sekali, kami juga sedang menuju ke kota itu......" kata dara Kwa Leng Cu girang, tanpa menghiraukan temannya mengawasi dia dengan rasa heran dan dengan pandangan mata bertanya.

Dilain pihak, Pouw Keng Thian juga heran waktu mendengar perkataan dara Kwa Leng Cu. Apakah mereka juga merupakan teman teman dari ketiga kakak seperguruannya ?

Hasrat hatinya ingin Pouw Keng Thian bertanya kalau- kalau kedua dara Gan Leng Soan dan Kwa Leng Cu kenal dengan ketiga kakak seperguruannya; namun entah karena apa niatnya itu tidak dia laksanakan. Sebaliknya dia kelihatan girang, waktu kedua dara Gan Leng Soan dan Kwa Leng Cu ingin melakukan perjalanan bersama-sama, karena dengan demikian berarti pemuda itu mendapat kawan seperjalanan yang lincah dan periang, membikin tidak membosankan melakukan perjalanan jauh yang harus dia tempuh itu. Akan tetapi, mendadak dia teringat akan niatnya yang hendak mengejar dara Soh Sim Lan, sehingga dia lalu berkata :

"Akan tetapi, aku sedang tergesa gesa perIu melakukan

perjalanan secepat mungkin...”

"Apakah siangkong anggap tenaga kami tidak dapat mengimbangi tenaga siangkong ? Lagipula, guna apa harus tergesa gesa ...?" kata dara Kwa Leng Cu yang membikin dara Gan Leng Soan tertawa tak hentinya; dan Pouw Keng Thian terpaksa ikut tertawa batal mengatakan bahwa dia hendak mengejar atau menyusul dara Soh Sim Lan.

Dengan demikian Pouw Keng Thian jadi melakukan perjalanan bersama-sama dua dara yang cantik dan perkasa. Perjalanan yang mereka lakukan cukup cepat, akan tetapi tidak tergesa-gesa seperti yang dikatakan oleh Pouw Keng Thian, sebab pemuda itu sudah memutuskan akan sia-sia dia mengejar dara Soh Sim Lan; sebaliknya dia berpikir bahwa sebaiknya dia tetap menuju ke kota Soan hoa, disana mereka nanti akan bertemu.

Malam itu, Pouw Keng Thian dengan dua temannya memasuki sebuah kota kecil dan mencari sebuah rumah penginapan. Sebelum waktu tidur, dua dara Gan Leng Soan dan Kwa Leng Cu mendatangi kamar Pouw Keng Thian, dimana mereka berdua melakukan percakapan dengan disertai minum arak; penuh dengan suasana ria dan tawa karena amat pandainya dua dara periang itu bergurau.

Setelah dia tidur, Pouw Keng Thian bermimpi bahwa dia kedatangan dara Gan Leng Soan. Dara cantik yang periang itu langsung duduk dekat dia yang rebah diatas tempat tidurnya dan melarang Pouw Keng Thian yang hendak bangun untuk duduk; melarang dengan menekan sepasang pundak Pouw Keng Thian memakai sepasang tangannya yang putih halus, sementara bau harum dari bedak yang dipakai oleh dara Gan Leng Soan, tercium oleh pemuda Pouw Keng Thian, yang agaknya terpaksa membiarkan dirinya rebah, sedangkan dara Gan Leng Soan tidak menarik pulang sepasang tangannya yang masih memegang bagian pundak Pouw Keng Thian sebaliknya sedikit demi sedikit muka dara Gan Leng Soan kian mendekati muka pemuda itu, sampai keduanya saling rangkul.

Didalam mimpi indah itu, Pouw Keng Thian merasa menjadi terangsang, karena belum pernah mendapat perlakuan atau saling rangkul dengan seorang perempuan; terlebih waktu kemudian sebelah tangan dara Gan Leng Soan terasa meraba muka pemuda itu dengan mesra, sampai kemudian dara Gan Leng Soan mencium muka pemuda itu; dan waktu Pouw Keng Thian balas mencium, maka terjadi keduanya saling rangkul dengan eratnya, bahkan saling bergumul diatas ranjang.

Sebelah tangan dara Gan Leng Soan kemudian liar bergerak tak menentu, meraba sekujur tubuh pemuda yang masih merangkul dia; sambil kemudian Pouw Keng Thian membiarkan pakaiannya dilepas oleh dara cantik yang periang itu yang bahkan sangat pandai merayu. Kemudian didalam mimpinya juga, Pouw Keng Thian melihat tubuh polos dara Gan Leng Soan yang sudah ikut menanggalkan pakaiannya sehingga sempat pula pemuda itu melihat bahwa dara Gan Leng Soan memakai kalung dileher, dan pada kalung itu terdapat gambar kepala seekor binatang rase.

Dara Gan Leng Soan yang sudah menanggalkan pakaiannya itu kemudian mendekati dan duduk disisi pemuda Pouw Keng Thian yang rebah tanpa sehelai benang yang menutup tubuhnya, dan pemuda Pouw Keng Thian bagaikan tidak sabar, meraih dan menarik tubuh dara Gan Leng Soan, sehingga mereka terjadi lagi bergumul dan saling cium sementara tangan-tangan mereka sama sama liar bergerak dan meraba.

Entah berapa lama sudah kedua insan muda itu bermain cinta. Rintih suara dara Gan Leng Soan bagaikan hilang ditelan oleh napas Pouw Keng Thian yang memburu, sampai kemudian dara Gan Leng Soan meninggalkan pemuda Pouw Keng Thian yang rebah terkulai dengan tubuh terasa letih.

Pemuda Pouw Keng Thian belum sempat memakai pakaiannya, ketika disaat lain dia bagaikan melihat datangnya dara Kwa Leng Cu dan dara yang pandai merayu dan memikat hati, ternyata juga sangat merangsang; melebihi dara Gan Leng Soan sehingga Pouw Keng Thian lupa dengan tubuhnya yang sudah merasa sangat lelah, sampai kemudian pemuda itu juga melihat tubuh polos dari dara Kwa Leng Cu, dan herannya dara Kwa Leng Cu juga memakai sebuah kalung juga; mirip seperti yang dipakai dara Gan Leng Soan !

Akan tetapi, waktu itu Pouw Keng Thian tidak menghiraukan soal kalung dengan gambar seekor binatang rase yang dipakai oleh dara Kwa Leng Cu; sebab perhatiannya lebih dia tujukan pada bagian dada dara Kwa Leng Cu.

Maka sekali lagi terjadi pergumulan diatas ranjang yang sama, akan tetapi dengan isi perempuan yang lain, sementara Pouw Keng Thian bagaikan tak menyadari yang dilakukannya, sehingga akhirnya dia rebah terkulai kehabisan tenaga.

Esok harinya Pouw Keng Thian terbangun dari tidurnya. Segera dia teringat dengan mimpinya; dan dia berkata perlahan seorang diri :

"Syukur hanya terjadi didalam mimpi.”

Pouw Keng Thian turun dari tempat tidurnya dengan tubuh masih terasa sangat letih. Dengan rasa enggan dia merapihkan pakaiannya yang bekas dia pakai tidur, dan dia kelihatan terkejut waktu dia mendapati ada noda noda pada pakaian itu; namun akhirnya dia tersenyum hampa dan didalam hati dia merasa heran, karena baru pertama kali itu dia mengalami mimpi yang mengakibatkan dia lemas bagaikan kehabisan tenaga.

Hari sudah siang waktu Pouw Keng Thian keluar dari dalam kamarnya, dan dia menemui dua dara Gan Leng Soan dan Kwa Leng Cu yang sudah siap diruang tamu, dengan memperlihatkan wajah muka mereka yang cerah serta dihias dengan seberkas senyum yang memikat.

Bagaikan tanpa terasa, sepasang mata Pouw Keng Thian melirik kebagian dada dari dara Kwa Leng Cu; namun secepat itu juga dia tunduk dengan muka terasa panas.

Ketiga insan muda mudi itu kemudian meneruskan perjalanan mereka dengan tetap memakai kuda. Tetapi belum dua jam mereka melakukan perjalanan, terasa Pouw Keng Thian sudah merasa sangat letih, sehingga dia mengajak kedua teman seperjalanannya untuk beristirahat, duduk dibawah pohon ditepi jalan.

"Hi hi hi, ternyata Pouw siangkong benar-benar kalah tenaga dengan kami berdua,,..” kata dara Kwa Leng Cu dengan tertawa dan menggoda; membikin muka Pouw Keng Thian merah karena merasa malu:

“Entah kenapa, tenagaku hari ini benar-benar sangat lemah. " kata Pouw Keng Thian dengan muka muram.

"Tidak apa apa, lain kali akan siao-moay berikan obat kuat penambah tenaga, kalau siangkong hendak melakukan perjalanan jarak jauh ..." dara Gan Leng Soan ikut bicara; juga dengan menyertai tawa yang menggoda tetapi yang terdengar merdu oleh pemuda Pouw Keng Thian.

Pouw Keng Thian tidak menghiraukan perkataan dara Gan Leng Soan yang dia anggap sebagai suatu gurau belaka, dan dia pun tidak tersinggung dengan dara Kwa Leng Cu yang tertawa tak sudahnya; waktu mendengar perkataan dara Gan Leng Soan tadi.

Dengan adanya Pouw Keng Thian merasa lemah tenaganya, maka perjalanan yang semula dia rencanakan dapat dilakukan dengan cepat ternyata mereka lakukan dengan sangat lambat dan pada malam harinya, diwaktu tidur kembali pemuda Pouw Keng Thian memperoleh mimpi indah yang serupa, bermain cinta dengan kedua dara Gan Leng Soan dan Kwa Leng Cu, sehingga lagi lagi Pouw Keng Thian merasa sangat letih seperti kehilangan tenaga. Tetapi untung didalam mimpi itu dia mendapat sebutir obat kuat pemberian dara Gan Leng Soan, yakni sehabis mereka berdua bermain cinta; sehingga waktu kemudian Pouw Keng Thian didatangi oleh dara Kwa Leng Cu yang siap menunggu giliran, maka pemuda itu bagaikan sudah pulih tenaganya dan sanggup dia mengulang bermain cinta dengan dara itu.

Dengan demikian sampai tiga malam berturut-turut Pouw Keng Thian memperoleh mimpi yang indah, namun yang menghabiskan tenaganya itu, dan dimalam yang keempat, mereka tiba dan beristirahat didusun Soen kee po.

Pada malam itu, kedua dara Gan Leng Soan dan Kwa Leng Cu tidak mendatangi kamar Pouw Keng Thian untuk berkelakar sambil minum arak seperti biasanya, sehingga pemuda itu menduga bahwa kedua dara teman seperjalanannya merasa sangat letih. Dan pada waktu tidur Pouw Keng Thian tidak lagi mendapat mimpi indah bermain cinta dengan dua dara Gan Leng Soan dan Kwa Leng Cu.

Pagi harinya waktu Pouw Keng Thian bangun dengan tenaga utuh dan merasa segar akan tetapi dengan hati yang kosong hampa karena kehilangan mimpinya yang indah itu.

Dia sudah rapi berkemas dan menunggu kedua dara Gan Leng Soan dan Kwa Leng Cu, namun kedua dara yang ditunggu itu tetap tidak perlihatkan diri, sampai Pouw Keng Thian memanggil seorang pelayan buat membangunkan kedua dara teman seperjalanannya.

Pelayan itu berdiri terpesona mengawasi pemuda tamunya, setelah itu baru dia berkata :

“Bukankah siangkong tahu bahwa mereka batal menginap, dan sudah berangkat sejak semalam.,.?”

Sekarang ganti Pouw Keng Thian yang berdiri terpesona, diam tak bersuara dan tak bergerak seperti sebuah patung. Bahkan dia bagaikan tak percaya dengan perkataan yang didengarnya dari si pelayan itu. Setengah berlari Pouw Keng Thian mendatangi kamar dara Gan Leng Soan dan Kwa Leng Cu, namun dia mendapatkan kamar itu benar-benar tidak ada penghuninya. Dan waktu dia mendatangi pengurus tempat penginapan, maka mendapat keterangan yang sama seperti yang dikatakan oleh si pelayan tadi; hanya sebagai penambah, dikatakan bahwa sewa kamar sudah dilunaskan oleh kedua dara dara 'yang aneh' itu.

000x000 (. ) 000X000

SESUNGGUHNYA Pouw Keng Thian tidak mengetahui bahwa semua yang dia alami bukanlah terjadi dalam mimpi belaka. Tanpa sadar pemuda itu sudah terkena semacam obat bius 'yang yen hui' yang diberikan kedua dara dara Gan Leng Soan dan Kwa Leng Cu, dicampur didalam arak yang menyebabkan Pouw Keng Thian lupa daratan, kena rangsang dan bermain cinta bagaikan berada dalam alam mimpi.

Kedua dara Gan Leng Soan dan Kwa Leng Cu adalah merupakan anggota inti persekutuan Hong bie pang khusus yang berada dibawah pimpinan Hong bie niocu alias Lie Bie Nio atau isterinya Gan Hong Bie.

Kedua dara Gan Leng Soan dan Kwa Leng Cu sedang melakukan tugas dari Hong bie-niocu, dan mereka bertemu dengan pemuda Pouw Keng Thian yang tampan dan muda usia yang lalu mereka jadikan 'teman iseng’ selama mereka melakukan perjalanan; sedangkan dusun Soen kee po itu justru menjadi tempat tujuan mereka. Sehingga mereka meninggalkan dan tidak menghiraukan lagi pemuda Pouw Keng Thian, oleh sebab itu pada saat itu juga mereka harus menemui seorang tokoh kenamaan dikalangan rimba persilatan, khususnya bagi golongan hitam. Tokoh kenamaan yang hendak ditemui oleh dara Gan Leng Soan berdua dara Kwa Leng Cu itu, sebenarnya adalah Leng hoat taysu, seorang tua yang sakti berasal dari gunung Hong san; namun yang pada saat itu sedang berada didusun Soen kee po, menjadi tamu dari si hantu muka hitam Gouw Sun Beng, yang terkenal kejam dan banyak anak buahnya.

Didusun Soen kee po itu, kedua dara Gan Leng Soan dan Kwa Leng Cu tidak berani mengulang perbuatan mereka terhadap Pouw Keng Thian, bahkan mereka tidak berani berada bersama-sama dengan pemuda itu; khawatir dilihat oleh anak buahnya Gouw Sun Beng dan dilaporkan kepada si hantu muka hitam, dengan kemungkinan diteruskan kepada Hong bie niocu.

Setelah bertemu dengan Leng hoat taysu, maka kedua dara Gan Leng Soan dan Kwa Leng Cu menyerahkan surat dari Hong bie niocu.

Meskipun tidak menjadi muridnya Leng hoat taysu, tetapi Hong bie niocu atau Lie Bie Nio pernah mendapat tambahan pelajaran ilmu silat dari orang tua yang sakti itu, yang dia panggil paman, tetapi tidak pantang untuk mereka berdua melakukan perbuatan maksiat; bahkan dari kakek yang sakti itu, Lie Bie Nio berhasil belajar membikin 'obat kuat' buat menambah napsu laki laki maupun perempuan.

Didalam isi suratnya itu, Hong bie niocu mengharapkan supaya Leng hoat taysu mau membantu usahanya, untuk memperkuat persekutuan Hong bie pang; dan Hong bie niocu kemudian mengharapkan juga bantuan dari Leng hoat taysu, untuk menghubungi sebanyak mungkin teman teman sealiran, supaya mereka semuanya mendukung persekutuan Hong-bie pang. Selanjutnya dikatakan pula didalam suratnya, bahwa persekutuan Hong bie pang mendapat dukungan dari seorang 'Pangeran' yang mempunyai harapan bakal menggantikan menjadi raja dan nama 'pangeran' itu sengaja tidak dicantumkan didalam surat itu, namun akan diberitahukan secara lisan kalau Leng-hoat taysu sudah bertemu dengan Hong bie niocu.

Garis besar pokok tujuan persekutuan Hong bie pang adalah hendak menggulingkan pemerintah kerajaan yang sekarang, bergerak diwilayah Tiongkok selatan dan tengah, dengan mendapat bantuan secara diam-diam dari "Pangeran" yang katanya kelak bakal menggantikan menjadi raja itu, dan yang menjanjikan 'kedudukan baik' bagi segenap anggota inti Hong bie pang kalau gerakan mereka ini akan membawa hasil.

“He he he ! Tak kusangka si Ah-bie dan lakinya pintar melakukan pekerjaan besar ..." kata Leng hoat taysu yang waktu itu sedang ditemui Gouw Sun Beng; sementara sepasang matanya yang liar menjadi blingsatan waktu melihat kecantikan dara dara Gan Leng Soan berdua Kwa Leng Cu yang berdiri dengan sikap hormat.

Si hantu muka hitam Gouw Sun Beng turut melirik ke arah dara Gan Leng Soan berdua dara Kwa Leng Cu, dan si hantu muka hitam Gouw Sun Beng kemudian menjadi tertawa melihat lagak Leng-hoat taysu yang semakin tua semakin jadi; sementara Leng hoat taysu kemudian ikut tertawa, membikin kedua dara Gan Leng Soan dan Kwa Leng Cu jadi tersenyum nakal.

Melihat senyum-senyum yang nakal itu maka si hantu muka hitam Gouw Sun Beng lalu meraih dan menarik sebelah tangan dara Kwa Leng Cu, membikin dara Kwa Leng Cu terduduk diatas pangkuan si muka hitam, namun dara Kwa Leng Cu meronta manja sambil dia perdengarkan suara nakal yang membakar.

"Gouw susiok, janganlah kau mengganggu kami yang lemah tidak berdaya. "

Si hantu muka hitam Gouw Sun Beng tidak menghiraukan. Matanya mengawasi Leng hoat taysu yang waktu itu sudah meraih dan menarik sebelah lengan dara Gan Leng Soan.

Kedua dara Gan Leng Soan dan Kwa Leng Cu memang merupakan dara dara yang cantik. Akan tetapi si hantu muka hitam Gouw Sun Beng memilih dara Kwa Leng Cu yang dia lihat lebih montok dan tubuhnya kelihatan lebih kuat dari pada Gan Leng Soan yang lebih ramping.

Dilain pihak, dara Gan Leng Soan sebenarnya merasa kecewa, karena dia mendapat pasangan berupa Leng hoat taysu yang umurnya lebih tua dari si hantu muka hitam Gouw Sun Beng; bahkan Leng hoat taysu lebih kurus, tidak seperti Gouw Sun Beng yang memiliki otot otot baja meskipun mukanya hitam menyeramkan, ditambah dengan muka yang penuh berewok pendek tajam.

Namun demikian, dara Gan Leng Soan takut terhadap Hong bie niocu kalau dia menolak kehendak Leng hiat taysu, dari itu dia membiarkan dirinya ditarik sampai dia terduduk diatas pangkuan orang tua itu, lalu dengan lagak manja dan merangsang, dia menuang arak dan membiarkan si kakek minum sebanyak yang si kakek sanggup minum, sehingga kalau si kakek mabok, tentu tak sanggup lagi si kakek mengajak dia bermain cinta.

Akan tetapi, si kakek ternyata sangat kuat minumnya. Tidak kelihatan tanda-tanda si kakek mabok, sampai kemudian si kakek tidak sabar lagi mengajak dara Gan Leng Soan masuk kedalam kamar, tanpa menghiraukan si hantu muka hitam Gouw Sun Beng tertawa; sampai dilain saat Gouw Sun Beng juga memboyong dara Kwa Leng Cu memasuki kamar yang lain.

Dilain pihak, Pouw Keng Thian meneruskan perjalanannya seorang diri dengan hati hampa seolah-olah dia kehilangan sesuatu yang dia anggap sangat berharga, berhubung dengan menghilangnya kedua dara Gan Leng Soan dan Kwa Leng Cu, yang pergi tanpa meninggalkan pesan.

Disepanjang perjalanannya itu, tak hentinya Pouw Keng Thian berpikir kalau-kalau dia telah membikin kesalahan, atau telah menyinggung perasaan kedua dara-dara itu yang mengakibatkan kedua dara-dara itu pergi ngambek.

Untuk menghilangkan rasa kesal didalam hatinya, maka dilain saat, Pouw Keng Thian melakukan perjalanannya yang sangat cepat, sehingga memaksa dia harus mencurahkan segala perhatiannya kepada perjalanan yang sedang dia tempuh; sampai mendadak dia menghentikan lari kudanya, karena dihadapannya membentang suatu kancah pertempuran !

Pertempuran itu dilakukan oleh siorang pengemis yang sudah cukup tua umurnya, sudah lebih dari limapuluh tahun, melawan lima orang lelaki bermuka garang dan bertubuh kuat penuh otot. Sementara disisi jalan terdapat sebuah kereta kuda tanpa ada saisnya.

Sekilas terpikir oleh Pouw Keng Thian, mungkin kereta kuda itu dikendalikan oleh si pangemis tua, yang kemudian dihadang lima orang lelaki yang sedang mengepung itu. Tetapi untuk apa mereka menghadang ? Apakah yang hendak dirampok dari seorang pengemis ?

Namun demikian, hati nuraninya memerintahkan Pouw Keng Thian supaya dia memberikan bantuan bagi si pengemis tua, dari itu dia lompat turun dari kudanya dengan golok siap ditangannya lalu dia memasuki kancah pertempuran, hingga sampai pada saat berikutnya dia berdiri punggung menempel punggung dengan si pengemis itu.

"Ha ha ha ! Bagus kau datang anak muda," kata si pengemis tua itu dengan disertai tawa ria; lalu pada tiap kesempatan dia berkata perlahan kepada Pouw Keng Thian

:

' . , .. kalau kau rela membantu, kau tolong larikan kereta kuda itu. Lima musuh ini biar aku seorang diri yang menghadapi ..."

Sejenak Pouw Keng Thian menjadi ragu-ragu, akan tetapi segera terpikir olehnya, bahwa isi kereta kuda yang tertutup kain tenda itu, tentunya merupakan barang berharga bagi si pengemis tua itu diselamatkan; sehingga dia terus menanya :

“Kemana dan kepada siapa harus kuserahkan kereta itu

... ?" demikian dia menanya; sambil dia menghalau serangan seorang musuh.

"Kepada siapa saja dikota yang terdekat dari sini ..." sahut si pengemis tua, sambil dia menyerang musuh yang tadi menyerang Pouw Keng Thian; dan tongkatnya yang semacam linggis, kelihatan sangat ditakuti oleh pihak lawannya.

Semakin kuat dugaan Pouw Keng Thian tentang isi kereta yang tentunya merupakan barang penting yang perlu diselamatkan; dari itu segera dia membuka jalan dari kepungan, setelah itu dia mendekati kudanya buat dia mengambil bungkusan bekalnya, menyusul kemudian dia lari mendekati kereta kuda itu. Seorang musuh rupanya mengetahui niat Pouw Keng Thian. Musuh itu lompat hendak menyusul, namun dia jatuh terguling karena kakinya kena sebuah peluru besi yang dilepaskan oleh si pengemis tua; dari itu dengan bebas Pouw Keng Thian naik ketempat sais, lalu dia larikan kereta kuda itu.

Belum jauh Pouw Keng Thian larikan kereta kuda itu, secara mendadak dia merasakan adanya angin serangan yang datang dari arah belakangnya. Pemuda ini miringkan tubuhnya, membiarkan ujung pedang lewat dekat kepalanya; selanjutnya sebelah tangan kiri Pouw Keng Thian bergerak menyambar tanpa dia melihat orang yang menyerang dia, sebab dia perhatikan larinya kuda-kuda kereta.

Telapak tangan kiri Pouw Keng Thian telah berhasil memukul bagian dada penyerangnya, disusul dengan terdengarnya suara perlahan yang menahan rasa sakit dari sipenyerang itu; akan tetapi suara itu adalah suara seorang perempuan, sementara Pouw Keng Thian merasakan bahwa dia memukul bagian yang lembut dari dada si penyerang.

Segera teringat oleh Pouw Keng Thian, bahwa didalam mimpinya dia pernah memegang buah dada dara dara Kwa Leng Cu dan Gan Leng Soan !

Dengan cara yang sangat mendadak kemudian Pouw Keng Thian buru-buru menarik pulang tangan kirinya, dan diluar dugaannya karena gugupnya maka secara tidak disengaja dia menarik rantai kalung yang dipakai oleh si penyerang, dan kalung itu tetap terpegang oleh Pouw Keng Thian sementara tubuh si penyerang terguling dari kereta yang sedang melaju pesat. Bagaikan orang yang sedang menyerang seekor ular, Pouw Keng Thian menjadi sangat terkejut waktu sempat dia melihat kalung yang dia pegang, sebab kalung itu ternyata bergambar kepala seekor bintang rase; sangat mirip dengan kalung yang dipakai oleh dara-dara Gan Leng Soan berdua Kwa Leng Cu, yang pernah dilihat oleh Pouw Keng Thian didalam mimpinya !

Bertepatan dengan rasa kagetnya itu, maka pada saat itu pula Pouw Keng Thian menarik tali kendali; menghentikan lari keretanya, lalu dia berdiri dan mengawasi arah terjatuhnya si penyerang tadi, namun sekilas sempat dia melihat sesosok tubuh langsing yang lari memasuki daerah belukar yang terdapat di sisi jalan raya.