-->

Pendekar Bunga Cinta Jilid 08

jilid 8

KECUALI lelatu anak api yang ganas berbahaya itu, ternyata asap yang mengepul keluar dari huncwee juga tidak kurang berbahayanya; sebab ternyata mengeluarkan bau yang tidak sedap, yang bisa bikin orang jadi 'fly fly' seperti kena isap asap-ganja, yang bahkan terasa menyesakkan dada liehiap Liu Giok Ing.

Kemudian liehiap Liu Giok Ing menyadari, bahwa ketiga laki laki yang memakai tutup muka itu tidak terpengaruh oleh bau asap huncwee, sebab hidung mereka terlindung atau tertutup dengan secarik kain. Sedangkan orang setengah baya yang memiliki huncwee itu, sudah tentu memiliki semacam obat untuk melawan bau asap hasil senjatanya yang istimewa itu. Dengan demikian maka teringat liehiap Liu Giok Ing dengan seseorang dari daratan barat Thibet, yang merajalela didaratan cina dan seseorang itu adalah See thian tok-ong Sila Ponchay, si biang racun dari barat! "Apakah kau yang bernama See-thian tok ong Sila Ponchay . , . ?" tanya liehiap Liu Giok Ing yang ingin memperoleh sesuatu ketegasan.

"ha ha ha ! ternyata kuntianak penyebar cinta ini mengetahui juga namaku . , ,!" Sila Ponchay tertawa dan berkata, yang secara tidak langsung telah membenarkan pertanyaan liehiap Liu Giok Ing; namun sengaja dia telah berkata secara mengejek, bahkan dengan memakai istilah 'kuntianak' yang sanggup membikin darah liehiap Liu Giok Ing menjadi bertambah 'mendidih' namun yang sekaligus menjadi terkejut.

Justeru selagi liehiap Liu Giok Ing merasa terkejut karena tidak menduga bakal mendapat kesempatan bertemu dan bertempur melawan biang racun dari barat itu, maka Sila Ponchay telah menyerang lagi memakai senjatanya yang istimewa, dan pada waktu senjatanya itu yang kena ditangkis oleh pedang 'Ku tie kiam' maka ternyata pedang yang tajam dan ampuh itu sekali ini tidak berdaya memapas buntung huncwee yang istimewa itu sebaliknya justeru asap hitam jadi mengepul keluar, ditambah dengan percikan lelatu anak api yang semuanya mengarah ke Liu Giok Ing tanpa dapat dikendalikan.

Benturan senjata yang tadi terjadi, telah pula mengakibatkan tenaga dalam Liu Giok-Ing jadi tergempur, disamping lagi-lagi serangan asap yang bau telah memasuki paru paru melewati hidungnya, meskipun Liu Giok-Ing dapat menghindar dari percikan lelatu anak api !

Adalah merupakan hal yang sangat mengherankan, bahwa Liu Giok Ing yang mahir tenaga dalam, dengan mudah telah tergempur meskipun oleh lawan yang memiliki tenaga besar. Adanya Liu Giok Ing yang tak kuasa melawan atau menahan gempuran itu, melulu oleh karena dia telah terkena asap racun yang keluar dari senjata lawannya, disamping tanpa dia menyadari, saat itu sebenarnya Liu Giok Ing sedang hamil; menyimpan benih dari si pendekar tanpa bayangan Kwee Su Liang !

Disaat berikutnya, Liu Giok Ing diserang oleh musuh yang bersenjata golok. Dia tidak mau menangkis karena ragu-ragu dengan tenaganya yang mendadak sudah berkurang banyak, dari itu dengan gerak belibis putih terbang ke sawah dia lompat kesebelah kiri untuk menghindar, akan tetapi dia menjadi kaget, karena dia merasakan geraknya ikut menjadi sangat lambat, merasa hilang kegesitan dan kelincahan tubuhnya, sehingga lengan bajunya terkena tikaman golok dan robek.

Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing menjadi sangat cemas. Dia menyadari bahwa dia sedang menghadapi lawan-lawan berat, disamping dia sudah terkena asap racun yang dapat melumpuhkan tubuhnya. Sia-sia dia berlaku nekad karena benar-benar tak kuasa lagi dia mengendalikan kemampuannya. Hanya di dalam hati dia berteriak, mengapa ajalnya secepat itu tiba, selagi dia hendak menyusul dan ingin bertemu dengan si pendekar tanpa bayangan Kwee Su Liang, disamping dia belum mampu membalas dendam suaminya yang tewas karena fitnah !

Kemudian datang lagi serangan dari See-thian tok-ong Sila Poncay !

Oleh karena merasa tidak mungkin berhasil menghindar buat berkelit dari serangan itu, maka dengan mengerahkan sisa tenaganya yang ada, liehiap Liu Giok Ing menangkis memakai pedang 'Ku-tie-kiam', sehingga terjadi lagi senjata mereka saling bentur, dengan akibat pedang Ku-tie-kiam terlempar lepas dari tangan liehiap Liu Giok Ing, sementara dari senjata See thian tok-ong Sila Ponchay kembali telah mengeluarkan percikan lelatu anak api serta asap hitam yang mengulak mengandung racun. Menyusul kemudian punggung liehiap Liu Giok Ing terkena serangan senjata gada besi dari seorang musuh lain, yang membikin liehiap Liu Giok Ing memuntahkan darah dari mulutnya, dan dia roboh lupa diri!

oooo( -)oooo

WAKTU kemudian Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing tersadar lagi, maka dia mendapatkan dirinya sedang duduk bersandar pada sebuah pohon; masih ditempat bekas pertempuran tadi, namun bekas lawannya sudah tak kelihatan, sebaliknya didekatnya dia melihat adanya seorang pendeta dari kuil Siao lim yang dia kenal bernama Lee-ceng taysu, dan seorang pendeta lagi yang kelihatannya masih muda usianya, namun yang dia tidak kenal dan yang bertubuh tinggi serta bermuka hitam.

Namun demikian, Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing merasa yakin bahwa jiwanya sudah ditolong dengan kehadirannya Lee-ceng taysu berdua dari itu dalam keadaan yang masih lemah dia paksakan diri untuk bersenyum dan mengucap terima kasih.

Kemudian Lee-ceng taysu memperkenalkan teman seperjalanannya yang katanya bernama Toan ho touwsu, seorang pendeta dari suku bangsa Biauw, berasal dari perbatasan propinsi Kui-ciu, Inlan (Tali).

Sekilas Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing jadi terkejut, ketika dia mendengar nama Toan ho touwsu yang katanya bertempat kediaman di propinsi Kui ciu, Inlan (Tali); yang merupakan asal tempat kediaman Touw liong cuncia yang gurunya liehiap Liu Giok Ing, didalam hati liehiap Liu Giok Ing merasa yakin bahwa Touw-ho touwsu merupakan salah seorang pendata yang menyebar agama Llama yang pakaiannya memang berbeda dengan Lee ceng taysu yang dari kuil Siao-lim. Akan tetapi, nama Toan-ho touwsu tidak dikenal dan belum pernah didengar oleh liehiap Liu Giok Ing, sebaliknya Touw ho-touwsu yang bersahabat dengan Lee ceng taysu, diluar tahu liehiap Liu Giok Ing ternyata pendeta itu memang kenal dengan Touw liong cuncia.

Sementara itu dikatakan oleh Lee ceng taysu, bahwa luka yang diderita oleh Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing sebagai akibat pertempurannya, adalah luka dibagian dalam bekas kena pukulan gada besi dan terkena asap beracun dari See thian tok-ong Sila ponchay.

Dikatakan selanjutnya oleh Lee ceng taysu, bahwa teman seperjalanannya telah memberikan obat kepada liehiap Liu Giok Ing akan tetapi obat itu bukanlah untuk menyembuhkan penyakit terkena bisa racun yang diderita liehiap Liu Giok Ing, melainkan sekedar untuk menghilangkan rasa sakit dan mencegah menjalarnya bisa racun yang masih mengeram dalam paru-paru liehiap Liu Giok Ing. Ada baiknya bila liehiap Liu Giok Ing terkena pukulan gada besi sehingga dia muntahkan darah, sehingga bagian dari bisa racun itu sudah keluar tanpa disengaja, tapi bisa racun yang masih mengeram didalam paru-paru, setiap waktu bisa mengakibatkan Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing menjadi lumpuh yang sukar ditolong, disamping juga akan mempengaruhi benih bayi didalam kandungannya !

Sedih hati liehiap Liu Giok Ing bercampur terkejut, waktu dia mendengar keterangan dari pendeta Lee-ceng taysu dari kuil Siao-lim yang terkenal sakti ilmunya. Sedih karena dia menderita luka parah selagi dia hendak menyusul Kwee Su Liang, dan sebelum dia mampu melakukan balas dendam terhadap tewasnya suaminya. Apa yang harus dilakukannya kalau dia sampai menjadi lumpuh? Apalagi setelah diketahuinya bahwa dia sedang hamil, seperti yang telah dikatakan oleh Lee-ceng taysu. Sementara itu Toan ho touwsu kemudian menambahkan keterangan yang sudah diberikan oleh Lee ceng taysu bahwa dikota Lam yang, Toan ho touwsu mempunyai seorang sahabat yang bernama Liauw Tek Jin, seorang thabib bangsa cina yang pernah lama menetap di Kui ciu (Inlan), sehingga banyak dia belajar berbagai pengetahuan tentang bisa racun, baik yang berasal dari kotoran, binatang ataupun dari tumbuh-tumbuhan. Dianjurkan supaya liehiap Liu Giok Ing menemui si thabib Liauw Tek Jin, karena Toan-ho touwsu merasa yakin thabib itu dapat menolong liehiap Liu Giok Ing.

Dengan hati terharu Cheng-hwa liehiap Liu Giok Ing sekali lagi mengucap terima kasih kepada dua pendeta yang telah menolong dia; kemudian oleh karena pendeta itu masih mempunyai urusan lain yang katanya sangat penting, maka liehiap Liu Giok Ing hanya disewakan sebuah kereta kuda, untuk dia segera berangkat ke kota Lam-yang.

Sementara itu, dipihak musuh yang mengepung Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing, agaknya mereka merasa sangat penasaran, oleh karena disaat mereka hampir berhasil membinasakan si pendekar bunga cinta, mendadak datang dua orang pendeta sakti yang memaksa mereka melarikan diri. Mereka tidak dikejar, dari itu mereka tidak lari jauh. Mereka kehilangan jejak Liu Giok Ing, akan tetapi dari pengurus tempat Liu Giok Ing menginap, mereka mengetahui bahwa Liu Giok Ing telah datang mengambil pakaiannya, dan melakukan perjalanan memakai sebuah kereta kuda.

Dengan seringkali menanya kepada orang-orang yang mereka temui disepanjang perjalanan, mereka terus melakukan pengejaran sampai kemudian mereka ikut memasuki kota Lam yang, namun tak mudah mereka menemukan Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing. Sementara itu, menurut catatan lama yang kertasnya sudah pada kuning hijau merah warnanya, dan yang menyangkut urusan tentang perkembangan partay-partay ilmu silat didaratan negeri cina - katanya golongan partay dari Siao-lim-sie dan partay Bu tong berasal dari satu aliran yang kemudian saling bertentangan. Asal mula pertentangan itu katanya disebabkan urusan kitab pelajaran ilmu silat hasil karya Tat-mo couwsu, seorang pendeta sakti yang hidupnya lebih banyak dibaktikan kepada sang Budha yang maha pengasih.

Kemudian antara partai Ngo bie dan Kun lun juga pernah terjadi pertentangan dalam urusan pedang sakti, namun pertentangan antara dua golongan ini agaknya sudah dapat diredakan, terbukti adanya jalinan hubungan baik antara Tek seng sian jin dari golongan Kun lun, dengan Cay hong suthay dari golongan Ngo bie.

Sudah lama Cay hong suthay mengasingkan diri, menghindar segala urusan orang-orang rimba persilatan yang selalu memusingkan kepala. Akan tetapi berdasarkan pengalaman dan hubungan luas dimasa mudanya, maka meskipun dia telah hidup menyendiri, tapi masih banyak rekan-rekan seperjuangannya tempo dulu yang masih suka menyambangi, sehingga segala perkembangan dikalangan rimba persilatan banyak dia ketahui.

Demikian pada hari itu, Secara mendadak Cay hong suthay kedatangan tiga orang teman yang berupa Kun lun sam kiamhiap yang terdiri dari Lee Beng Yan, Lim Ceng Yio dan Song Thian Hui.

Ketiga pendekar pedang dari Kun lun ini masih gemar keliaran dikalangan rimba persilatan, meskipun mereka sudah merupakan kakek-kakek, sehingga nama mereka seringkali disebut-sebut oleh -ki dalang- yang sering 'nung- nung kweng’ dikelenteng toa se bio. Perjalanan Kun lun sam kiamhiap bertiga adalah dalam rangka urusan sarung tangan sakti Ciam hua giok siu, yang dahulu kala sering merajalela dengan ganasnya, dan senjata itu sekarang katanya digunakan oleh Koay-to ong Pek Tiong Thian, si biang hantu aneh yang kejam, yang bahkan telah berhasil membinasakan 3 persaudaraan Kim yang menjadi saudara seperguruan dari Cay hong suthay.

Sudah tentu Cay hong suthay menjadi sangat terkejut waktu menerima berita itu. Sepasang tangannya yang putih halus cepat-cepat meraih bunga-bunga tasbih yang mengalungi lehernya, sedang didalam hati dia memuji sang Budha, tak hentinya menyebut 'om-to-hud'; berdoa supaya rasa dendam menghindar dari dirinya.

Jelas ketiga persaudaraan Kim merupakan orang-orang dari golongan 'ngo bie', seperti juga Cay hong suthay; tetapi Kun lun sam-kiamhiap merupakan orang-orang 'kun-lun'; tapi sebagai bukti rasa setia kawan, ketiga pendekar dari 'Kun-lun' melakukan perjalanan hendak menuntut balas dendam terhadap diri Koay-lo ong Pek Tiok Thian.

Memang, sejak dahulu kala telah terjadi pertentangan antara Pek Tiong Thian dari golongan Thiang pek pay dan Kun-lun pay sebenarnya merupakan hasil fitnah Pek Tiong Thian yang terkenal pintar menghasut.

"Heran, mengapa sarung tangan Ciam-hua giok-siu milik Koay-hiap Jie Cu Lok bisa berada pada Pek Tiong Thian.......?" gerutu Cay-hong suthay yang kelihatan berpikir, dan gerutunya itu cukup didengar oleh ketiga tamunya.

"Benar. Sarung tangan Ciam hua giok siu memang milik Koay-hiap Jie Cu Lok, akan tetapi sudah diberikan kepada murid tunggalnya...” Kiamhiap Sang Thian Hai yang terdengar memberikan penjelasan kepada Cay hong suthay, dan ternyata sanggup membikin muka bhiksuni tua itu jadi berobah merah, teringat dengan pengalaman tempo dulu.

"Tayhiap Wei Beng Yam ?" Cay hong suthay bersuara perlahan.

"Benar. Akan tetapi kami ragukan tindakan Wei Beng Yam yang kelihatannya erat hubungannya dengan Pek Tiong Thian." Kiam-hiap Lim Ceng Yao yang ganti bicara, sambil dia mengawasi bhiksuni tua itu dengan sepasang matanya yang masih bersinar tajam.

"Sampai sejauh bagaimana hubungan baik antara tayhiap Wei Beng Yam dan Pek Tiong Thian, kalau menurut penilaian Lim heng?" Cay hong suthay bersuara menanya, terasa cepat tanpa dia menyadari, sementara nada suaranya jelas bahwa dia berada di pihak Wei Beng Yam.

Sebagai saudara seperguruan yang tertua dan banyak mengetahui tentang hubungan baik yang pernah terjalin antara Cay-hong suthay dengan Wei Beng Yam, maka cepat-cepat Lee Beng Yan yang ganti bicara :

"Lepas dari persoalan hubungan baik antara Pek Tiong Thian dengan Wei Beng Yam, kami bermaksud mendaki gunung Thiang Pek-san buat minta keadilan kepada Hong Jin Eng, buat urusan ketiga persaudaraan Kim..."

"Atau barangkali Lee-heng menghendaki siao moay yang turun gunung buat mencari Pek Tiong Thian ..?" kata Cay hong suthay; terlalu cepat tetapi tetap lembut terdengar nada suaranya.

Mendengar nada suara Cay hong suthay, maka Kun lun sam-kiam-hiap merasa yakin bahwa biarawati itu sudah tersinggung perasaannya; meskipun dia sengaja memakai istilah 'siao-moay’ sebagai kata ganti dirinya, seperti yang biasa terjadi diwaktu usia mereka masih sama-sama muda. Baik Lee Beng Yan maupun Lim Ceng Yao dan Song Thian Hui, sejenak mereka jadi terdiam tidak memberikan jawaban.

Ketiga persaudaraan Kim yang dikatakan tewas ditangan Pek Tiong Thian adalah orang-orang dari golongan Ngo bie pay, oleh karenanya memang sudah merupakan suatu 'kewajiban' bagi Cay hong suthay yang menyelesaikan urusan itu. Namun karena mengingat dengan persahabatan mereka, maka ketiga jago-jago Kun lun itu sudah menyediakan diri terlebih merekapun mengetahui tentang adanya hubungan baik antara Wei Beng Yam dengan Cay hong suthay, serta keadaan Cay-hong suthay yang sekarang sudah mengasingkan diri.

Sejak masih merupakan bocah yang ingusan, Cay hong suthay memang bertetangga dengan Wei Beng Yam. Kemudian Cay hong suthay mengikuti gurunya jauh ke atas gunung Ngo bie san untuk belajar ilmu silat, sehingga kedua bocah itu menjadi terpisah.

Wei Beng Yam adalah putera tunggal dari Wei Tan Wie, seorang pendekar perkasa yang pernah menjelajah rimba persilatan dengan sebatang pedang sakti dan sebuah cincin terbang (hui hian sin kiam).

Kemudian Wai Tan Wie tewas tanpa Wei Beng Yam mengetahui siapa sebenarnya yang telah membinasakan ayahnya. Dalam usianya yang masih muda, Wei Beng Yam merantau melakukan penyelidikan, sampai dia bertemu dan menjadi murid tunggal dari Koayhiap Jie Cu Lok, dan keduanya menghilang dari pergaulan umum, sampai disuatu saat Wei Beng Yam muncul sebagai seorang pendekar muda yang sakti.

Sesuai dengan gelarnya, koayhiap Jie Cu Lok adalah seorang gagah yang aneh sepak terjangnya, mengakibatkan banyaknya pertentangan pendapat dikalangan orang-orang rimba persilatan, terlebih oleh mereka yang pernah menyaksikan betapa hebatnya ilmu 'tay-yang sin jiauw' atau tenaga cakar sakti, serta betapa ampuhnya sarung tangan Ciam hua-giok siu yang tak mempan kena berbagai macam senjata tajam !

Kebanyakan orang-orang gagah dari berbagai golongan, merasa 'ogah' perlihatkan sikap yang menentang jika mereka berhadapan koayhiap Jie Cu Lok, tetapi lain halnya jika mereka berhadapan dengan Wie Beng Yam yang masih muda usianya, sehingga didalam perantauan hendak mencari jejak musuh yang telah membinasakan ayahnya, maka Wie Beng Yam menghadapi banyak kesukaran dan rintangan, terlebih kalau orang mengetahui bahwa dia adalah muridnya koay hiap Jie Cu Lok, sehingga sering terjadi pertempuran akibat Wie Beng Yam tak kuasa membendung amarah !

Kemudian terjadi pertempuran antara Wie Beng Yam dan dara sakti Lian Cay Hong, bekas teman bermain selagi mereka merupakan bocah-bocah yang bertetangga, dan sebagai kelanjutan persahabatan mereka, maka terjalin hubungan yang akrab dan mesra, namun berakhir dengan suatu derita bagi dara Lian Cay Hong, akibat terlalu banyaknya orang-orang yang menentang Wie Beng Yam, termasuk gurunya Lian Cay Hong sehingga dara sakti yang kehilangan kasih mesra itu untuk seterusnya tidak menikah, sebaliknya Wie Beng Yam kemudian menikah dengan anaknya Sin eng Kiu It yang bernama Kiu Siok Hwa, dan pasangan suami isteri yang perkasa itu kemudian menghilang dari kalangan rimba persilatan, sampai tiba-tiba Kun lun sam kiamhiap datang membawa berita tentang sarung tangan Tjiam hua giok siu yang biasanya tak pernah berpisah dari Wei Beng Yam ! Akan tetapi, kedatangan Kun lun sam kiamhiap hanya mengakibatkan mereka merasa kecewa, sebab mereka merasa menghadapi sikap yang acuh dari Cay hong suthay yang sudah mereka kenal sejak masih memakai nama Lian Cay Hong.

Dua hari setelah Kun lun sam kiamhiap meninggalkan gunung ngo bie san, maka Cay hong suthay yang biasanya hidup tenang mengabdi sang Buddha, keadaannya berobah diliputi rasa gelisah dan resah, bahkan sampai berulangkali Cay hong suthay harus menyebut 'omi to hud', oleh karena secara mendadak jiwanya bergetar dan hatinya ikut berguncang-guncang, teringat dengan 'api lama' selagi dia memadu kasih dengan tayhiap Wei Beng Yam !

Berulangkali Cay hong suthay mengulang memuji sang Budha dengan menyebut ,o-mie to-hud', tapi selalu dia gagal mengatasi rasa gelisah dan resah itu, sampai akhirnya Cay-hong suthay memanggil nenek Ong untuk bantu mengawasi dua bocah muridnya yang sedang mempelajari ilmu silat, setelah itu dia pergi meninggalkan gunung Ngo- bie san dengan tujuan hendak menemui Hong Jin Eng diatas gunung Thiang-pek san !

Setelah jauh meninggalkan gunung Cou-lay san maka Cay-hong suthay bertemu dengan si golok maut Go Bun Heng, seorang pemuda yang menjadi ahliwaris dari See gak hua kunbun golongan hurup Heng.

Dahulu pendiri partay See gak hua kunbun adalah Pek see siansu atau orang tua sakti dari pasir putih. Pek see siansu mempunyai 5 orang murid yang kemudian saling bertentangan yang mengakibatkan mereka memisah diri dan saling membentuk kelompok, sehingga terjadi 5 Kelompok orang orang See gak hua kunbun yang dikemudian hari dikenal sebagai golongan golongan hurup Heng, Hee, Thian; yakni berdasarkan nama-nama dari kelima orang murid yang saling bertentangan itu.

Dalam pertemuan dan pembicaraan yang mereka lakukan, si golok maut Go Kun Heng menyebut nama Yap Seng Lim, seorang piauw-tauw terkemuka di wilayah selatan, membikin Cay hong suthay jadi teringat lagi dengan kejadian tempo dulu waktu dia masih muda.

Akibat urusan Wei Beng Yam, maka dara Lian Cay hong pernah bertempur dengan piauwtauw Yap Seng Lim; padahal piauwsu kepala itu sangat dimalui dikalangan rimba persilatan, tidak melulu sebab kepandaian ilmu silatnya, tetapi juga karena sikapnya yang ramah tamah dan setia kawan. Dara Lian Cay hong bertempur melawan Yap Seng Lim, melulu sebab Yap Seng Lim sangat membenci Wei Beng Yam.

“Apakah piauwtauw kenal siapa sebenarnya Wei Beng Yam .,.,?" tanya dara Lian Cay hong ditengah pertempuran yang sedang mereka lakukan.

"Kenapa tidak?" sahut piauwtauw Yap Seng Lim, yang bahkan menyambung perkataannya :

"... aku bahkan kenal siapa gurunya, si pendekar gila Jie Cu Lok yang ternyata memang benar-benar orang sinting !"

Dara Lian Cay Hong tertawa, tetap merdu suaranya meskipun pada waktu itu mereka sedang bertempur, setelah itu berkata :

"Tetapi Wei Beng Yam adalah puteranya almarhum

tayhiap Wei Tan Wie !”

"Siapa kau bilang ?" sahut piauwtauw Yap Seng Lim yang kaget setengah mati, sampai batal dia menyerang lawannya yang sedang bersenyum manis, bahkan dia lompat mundur tiga langkah kebelakang, takut kena sasaran pedang dara sakti itu.

"Puteranya tayhiap Wei Tan Wie !" ulang dara Lian Cay Hong sambil menyertai seberkas senyum yang menawan hati, dan Yap Seng Lim sampai tertawa tak hentinya setelah mendapat penjelasan, seterusnya hilang rasa bencinya terhadap Wei Beng Yam, bahkan bertiga mereka merupakan sahabat-sahabat yang akrab.

Jelas bahwa waktu itu, melulu sebab salah mengerti akibat perbuatan koayhiap Jie Cu Lok, yang mengakibatkan seringkali orang-orang menjadi salah mengerti dengan Wei Beng Yam; dan sekarang Cay hong suthay mendengar berita dari si golok maut Go Bun Heng; bahkan bekas piauwsu tua Yap Seng Lim katanya berada di kota Lam yang, sedang menjadi tamu Cin wan piauwkiok, sebuah perusahaan pengangkutan yang dipimpin oleh seorang gagah bernama Ma Heng Kong yang menjadi sahabatnya Yap Seng Lim.

Perjalanan jarak jauh yang ditempuh oleh Cay hong suthay, sesungguhnya telah membangkitkan kenangan lama sehingga berulang kali dia bersenyum, sambil pandangan matanya terpesona mengawasi sesuatu; dan dilain kesempatan kelihatan wajahnya muram, bahkan tanpa terasa dia sering berlinangkan butir-butir air mata.

Pada kesempatan hendak mendaki gunung Tiang-pek san, maka Cay hong suthay memutuskan akan singgah di kota Lam-yang menyambangi piauwtauw Ma Heng Kong dari Cin wan piauwkiok, sekaligus ingin bertemu lagi dengan bekas piauwsu-tua Yap Seng Lim.

oooZXZooo

DISEBELAH barat dari kota Lam-yang terdapat sebuah perusahaan pengangkutan yang memakai merek Cin wan piauwkiok, yang dipimpin oleh seorang gagah bernama Ma Heng Kong yang menjadi sahabatnya bekas piauwsu tua Yap Seng Lim.

Usia piauwtauw Ma Heng Kong waktu itu sudah 40 tahun lebih, perusahaannya berkembang baik dengan mendapat kemajuan pesat, sehingga dia memiliki banyak pembantu pembantu yang muda usia dan gajah perkasa, antara lain terdapat seorang pemuda yang bernama Cin Yam Hui yang sangat lincah dan gesit gerak tubuhnya.

Waktu Cay hong suthay sudah memasuki kota itu dan sedang melewati sebuah daerah perdagangan yang ramai, tiba-tiba perhatian Cay hong suthay tertarik dengan adanya pertempuran yang dilakukan oleh seorang dara remaja melawan beberapa orang laki-laki yang sedang mengepung.

Mula pertama perkelahian mereka saling tidak mengeluarkan senjata; akan tetapi waktu dara remaja itu kelihatan repot menghadapi para pengepungnya yang terdiri dari 7 orang laki-laki, maka dara remaja itu memakai pecut kuda yang dia jadikan senjata, sedangkan dipihak para pengepungnya telah menggunakan berbagai macam senjata tajam.

Banyak orang yang sedang berbelanja atau berdagang menjadi ketakutan dan lari simpang siur; menambah keadaan menjadi kacau balau.

Cay hong suthay mendekati tempat pertempuran dan menanyakan keterangan, sampai akhirnya dia mengetahui bahwa pangkal terjadinya pertempuran adalah karena beberapa orang laki laki itu yang mulai menggoda dara remaja itu.

Disuatu saat Cay hong suthay melihat adanya seorang laki-laki yang juga hendak membokong dara remaja itu, sehingga tangan Cay hong  suthay bergerak mengambil beberapa butir kacang tanah dalam keranjang tempat orang jualan, lalu dia menimpuk membikin laki-laki itu terkejut, dan dara remaja itu kemudian memecut memakai senjatanya yang istimewa, membikin laki-laki itu berteriak terkuing-kuing dan lari terbirit-birit dan yang lain juga ikut melarikan diri bahkan ada yang kecepirit, sebab mereka melihat datangnya serombongan orang-orang dari Cin wan piauw kiok, yang datang naik kuda serta membekal senjata, mirip seperti polisi yang hendak menangkap gerombolan kawanan pencopet.

Ternyata orang-orang dari Cin wan piauw kiok itu sudah kenal dengan dara remaja yang bertempur tadi. Setelah saling berdekatan, kelihatan orang-orang dari Cin wan piauwkiok memberi hormat dan mengucap maaf; karena mereka terlambat datang sehingga tidak sempat memberikan bantuan bagi dara remaja itu.

Sebaliknya dara remaja itu kelihatan bersikap acuh dan sombong, dengan perlihatkan senyum mengejek, setelah itu dia mengikut orang-orang Cin-wan piauwkiok meninggalkan bekas pertempuran tadi.

Diluar tahu Cay-hong suthay, perbuatannya yang membantu dara remaja tadi, tak lepas dari perhatian seseorang dan seseorang itu adalah seorang perempuan yang berpakaian sangat sederhana, seperti layaknya seorang pembantu rumah tangga alias si ‘inem', berumur kira-kira sudah 40 tahun, dan saat itu yang sedang berbelanja membawa keranjang sayur.

Si 'Inem' yang setengah baya itu mengawasi kepergian Cay hong suthay memakai sudut matanya, sambil dia menyertai seulas senyum dibibir, setelah itu dia pun melangkahkan kakinya dan memasuki Cin-wan piauwkiok lewat pintu belakang, oleh karena dia adalah pembantu dibagian dapur dari perusahaan itu. Piauwtauw Ma Heng Kong memerlukan keluar menyambut waktu dia mendapat warta tentang datangnya seorang biarawati yang mencari dia; dan piauwtauw yang kenamaan itu tertawa girang meskipun dia tidak pernah menduga bakal kedatangan Cay hong suthay yang katanya sudah mengasingkan diri.

Setelah dipersilahkan duduk diruangan tamu maka Cay hong suthay memberitahukan tentang pertemuannya dengan si golok maut Go Bun Heng, yang menyatakan bekas piauwsu tua Yap Seng Lim sedang berada dirumah piauwtauw Ma Heng Kong, sehingga dia sengaja datang menyambangi piauwtauw Ma-Heng Kong, sekaligus ingin bertemu dengan bekas piauwsu tua Yap Seng Lim, yang sudah belasan tahun tak pernah bertemu.

Sementara itu piauwtauw Ma Heng Kong menambah tawanya, lalu mengatakan bahwa memang pernah lo piauwtauw Yap Seng Lim datang menyambangi dan menginap ditempatnya, namun pada saat itu ternyata sudah pergi lagi pulang ketempatnya di kota San hay koan.

Cay hong suthay perlihatkan senyumnya, meskipun didalam hati sebenarnya dia merasa sedikit kecewa, karena tidak berhasil dia bertemu dengan lo piauwtauw Yap Sang Lim selanjutnya membicarakan urusan yang bertalian dengan kejadian tempo dulu, sampai pembicaraan mereka beralih dengan membicarakan urusan perkembangan perusahaan miliknya piauwtauw Ma Heng Kong, namun yang kurang menarik perhatian Cay hong-suthay, sebab dia memang sudah mengasingkan diri, sehingga lebih banyak Cay hong suthay hanya perlihatkan senyumannya namun dia menerima waktu Ma Heng Kong menawarkan tempat buat dia menginap dirumah piauwtauw yang ramah tamah itu. Cay hong suthay kemudian menanyakan tentang dara remaja yang tadi dilihatnya bertempur dan kemudian jalan bersama-sama dengan orang-orang Cin wan piauwkiok, sedangkan piauwtauw Ma Hang Kong memanggil dara remaja itu, yang ternyata bernama Ma Kim Hwa, seorang keponakan Ma Heng Kong yang baru datang dari kota lain.

Dara Ma Kim Hwa merupakan seorang dara remaja yang haus dengan pelajaran ilmu silat. Adanya dia sering datang mengunjungi piauwtauw Ma Heng, adalah untuk dia belajar ilmu silat. Dia tidak tahu sampai dimana batas kemampuan pamannya, akan tetapi dia pun tidak sering mengeluh, menganggap sang paman sangat kikir dalam memberikan pelajaran, oleh karena dia yakin bahwa ilmu silatnya belum memadahi untuk dia menjagoi dikalangan rimba persilatan.

Malam harinya, oleh karena mengetahui bahwa Cay- hong suthay menginap dirumah pamannya, maka dengan penuh perhatian dan harapan, Ma Kim Hwa menanyakan keterangan yang mendalam perihal Cay-hong suthay, sampai kemudian dia mendesak sang paman supaya dibicarakan agar dia diterima menjadi muridnya biarawati yang katanya sakti itu.

Dipihak Cay-hong suthay, didalam kamarnya malam itu Cay-hong suthay tak dapat mudah tertidur. Pada kesempatan waktu makan malam tadi, perhatian biarawati ini tertuju kepada seorang pelayan perempuan yang menyiapkan hidangan. Dia seperti teringat kepada seseorang yang entah dimana dan siapa gerangan namanya. Tapi waktu dia menanya kepada Ma Heng Kong, maka dikatakan oleh piauwtauw itu, bahwa nama si pelayan perempuan itu adalah Lim Cay Nio, yang baru mulai bekerja sejak dua bulan yang lalu. Namun demikian, pikiran Cay hong suthay ingat terpengaruh, sehingga didalam kamar dia masih berpikir, sampai kemudian dia teringat bahwa perempuan yang bekerja menjadi si ‘Inem' itu, adalah isteri seorang Pangeran di kota-raja yang sebelumnya namanya pernah menyemarak dikalangan rimba persilatan sebagai Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing !

Benar-benar Cay hong suthay merasa heran tidak mengerti, mengapa Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing yang sudah menjadi istri seorang pangeran, sekarang bekerja di Cin-wan piauwkiok, bahkan menjadi seorang ‘inem' ?

(“ ... , dan, akh ! Dia bahkan kelihatannya sedang hamil muda ....”) Cay-hong suthay berkata didalam hati; karena sempat dia tadi memperhatikan si 'lnem' yang istimewa itu.

Terpikir oleh Cay-hong suthay, bahwa besok pagi terlebih dulu dia hendak mengajak piauwtauw Ma Heng Kong bicara. Ingin dia menanyakan, dengan pangeran yang mana gerangan Liu Giok Ing menikah; dan sesudah membicarakan hal itu baru dia hendak memberitahukan tentang adanya Cheng hwa liehiap dirumahnya piauwtauw Ma Heng-Kong.

Begitu pandainya Liu Giok Ing menyamarkan diri, sehingga sepintas dia kelihatan bertambah tua; sehingga berhasil dia mengelabui piauwtauw Ma Heng Kong, seorang jago yang kenamaan yang namanya cukup menyemarak dikalangan rimba persilatan. Mungkinkah Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing sedang umpatkan diri ? Mengapa ? dan kenapa dia meninggalkan istana tempat suaminya ?

Cay hong suthay merasa sangat penasaran, sehingga tidak sabar lagi buat dia menunggu sampai esok paginya; segera dia turun dari tempat tidurnya, niatnya hendak mendatangi kamar Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing buat dia menanyakan keterangan tanpa lain orang ikut mengetahui. Tetapi pada saat itu mendadak telinganya yang tajam mendengar adanya suara yang tidak wajar dekat jendela kamarnya !

"Siapa yang berada diluar jendela...?” sengaja Cay hong suthay menyapa dengan suara yang cukup keras, supaya didengar oleh seseorang yang berada diluar jendela kamarnya, akan tetapi tiada suara jawaban yang didengar oleh Cay hong suthay, sebaliknya sempat dilihatnya sesuatu bayangan hitam yang lompat naik keatas genteng.

Dengan geraknya yang sangat gesit dan ringan, Cay hong suthay membuka daun jendela dan lompat naik keatas genteng, sehingga sempat pula dilihatnya suatu bentuk tubuh yang kecil langsing yang sedang lari menjauh, dan Cay hong suthay yakin bahwa orang itu adalah dara Ma Kim Hwa !

Cay hong suthay membiarkan dara Ma Kim Hwa menghilang, sebaliknya dengan langkah kaki yang tenang dia menuju kearah belakang hendak mencari kamarnya Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing yang sedang menyamar menjadi seorang 'inem', lalu tiba-tiba dia dikejutkan dengan terdengarnya bunyi suara berbagai senjata yang saling bentur, menandakan telah terjadi suatu pertempuran.

Dalam kagetnya Cay hong suthay lompat melesat kearah bunyi pertempuran itu, dan di lain saat dilihatnya ada beberapa orang pegawai piauwkiok yang sedang bertempur melawan beberapa orang yang semuanya memakai tutup muka dengan secarik kain warna hitam.

Disuatu sudut Cay hong suthay melihat adanya piauwtiauw Ma Heng Kong bersama pemuda Cin Yam Hui, yang sedang berdiri dengan sikap siaga. Cay hong suthay kemudian mendekati tempat kedua orang itu berdiri. Dia menanyakan kalau-kalau Ma Heng Kong mengetahui siapa gerangan pihak yang datang menyerang itu.

Akan tetapi piauwtauw Ma Heng Kong menggelengkan kepalanya. Dia bahkan menyatakan keheranannya disamping dia merasa sangat penasaran karena perusahaannya ada yang berani datang menyerang, sedangkan biasanya dia sangat dimalui dan tidak banyak mendapat rintangan selama dia mengurus perusahaan tersebut.

Disaat piauw Ma Heng Kong sedang berpikir, tiba-tiba dia dikejutkan dengan adanya teriak suara seseorang yang memaki dia :

"Ma Heng Kong ! Lekas keluarkan simpananmu si kuntianak penyebar cinta Liu Giok Ing. Kami adalah murid-murid dari Kwan gwa sam eng yang hendak menuntut balas dendam , ... !"

Setelah selesai teriak suara itu, maka kelihatan berlompatan tiga orang yang juga memakai tutup muka dengan secarik kain warna hitam, dan mereka sudah langsung menyerang terhadap Ma Heng Kong.

Piauwtauw Ma Heng Kong berkelit mundur, dan pemuda Cin Yam Hui mewakilkan dia untuk bertempur melawan dua orang yang baru datang itu, dan waktu seorang lagi telah mengulang lagi serangannya terhadap Ma Heng Kong, maka piauwtiauw itu menekan senjata orang itu memakai goloknya sambil dengan nada suara bengis dia berkata :

"Kau ulangi lagi perkataan kalian tadi...!'' demikian kata Ma Heng Kong yang ingin mendapat ketegasan; oleh karena sesungguhnya dia menjadi sangat terkejut dan heran, ketika dia dituduh menyimpan Liu Giok Ing yang namanya sudah tidak asing lagi baginya dan dia bahkan ikut mengetahui bahwa Liu Giok Ing telah menjadi isterinya pangeran Gin Lun di kota raja.

"Kami menghendaki Liu Giok Ing untuk membalas dendam guru kami, dan kau telah menyembunyikan dia !" sahut orang itu sambil dia mengerahkan tenaga untuk melepas tekanan pada senjatanya.

"Kurang ajar ! Kau telah menuduh secara sembarangan

!" bentak piauwtauw Ma Heng-Kong dengan marah, namun didalam hati dia tambah terkejut.

Meskipun belum pernah bertemu muka, akan tetapi piauwtauw Ma Heng Kong sudah tidak asing lagi dengan nama Liu Giok Ing yang pernah menyemarak dikalangan rimba persilatan, mendampingi si pendekar tanpa bayangan Kwee Su Liang, sehingga ada sebagian orang yang menyiarkan berita bahwa Liu Giok Ing merupakan pacarnya si pendekar tanpa bayangan Kwee Su Liang, namun dilain saat ada yang menyebar beritanya bahwa antara Liu Giok Ing dengan Kwee Su Liang sebenarnya merupakan musuh turunan yang saling menyimpan dendam dan ingin saling membunuh. Kemudian diketahui pula oleh piauwtauw Ma Heng Kong tentang Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing yang menikah dengan Pangeran Giok Lun di kotaraja, sedangkan si pendekar tanpa bayangan juga telah menikah dengan Lie Gwat Hwa dan menjabat pangkat sebagai Gubernur yang berkuasa di perbatasan kota Gan bun koan; dan dua berita ini memang pernah membikin dia goyang-goyang kepala, namun dia tidak mau mencampuri urusan lain orang. Akan tetapi mengapa sekarang dia justeru dituduh telah 'menyimpan' bini orang ? Dan bini Pangeran itu bahkan katanya dia 'simpan' didalam rumahnya itu ? Dilain pihak, lawannya Ma Heng Kong telah berhasil melepaskan senjatanya dari tekanan goloknya Ma Heng Kong; setelah itu lawan ini mengulang serangannya, bergerak bagaikan seekor burung elang yang gesit; karena dia tak mau terulang senjatanya dibikin tidak berdaya lagi.

Melihat cara lawannya Ma Heng Kong bertempur, maka Cay hong suthay merasa yakin bahwa orang itu benar-benar merupakan muridnya Kwan gwa sam eng, atau tiga garuda dari Kwan gwa.

Dahulu memang Cay hong suthay pernah bertempur melawan Kwan gwa sam eng yang terkenal ganas kejam, hanya dia tidak tahu entah ada permusuhan apa antara Kwan gwa sam eng dengan Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing, karena seperti yang tadi dikatakan bahwa kedatangan orang-orang yang menyerang Cin wan piauwkiok itu hendak membalas dendam Kwan gwa sam eng. Apakah Kwan-gwa sam eng sudah terkalahkan dan gugur ditangan Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing?

Kemudian lebih tidak diketahui lagi oleh Cay hong suthay, bahwa sebenarnya murid-muridnya Kwan gwa sam eng itu merupakan kaki tangan dari pangeran Kim Lun yang hendak melakukan perbuatan makar, atau hendak merebut kekuasaan Negara.

Disamping menyimpan dendam pribadi oleh karena guru mereka dibinasakan oleh Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing berdua Bo-im kiamhiap Kwee Su Liang, maka ketiga muridnya Kwan gwa sam eng itu memang sedang melakukan tugas hendak membunuh Liu Giok Ing; sampai kemudian mereka dibantu oleh See thian tok ong Sila Ponchay, dan akhirnya mereka kehilangan jejak Liu Giok Ing didalam kota Lam yang. Akan tetapi berkat mereka dengan gigih terus berusaha, maka sempat mereka mengetahui bahwa Liu Giok Ing berdiam didalam rumah Ma Heng Kong, meskipun mereka tidak mengetahui bahwa Liu Giok Ing menyamar dan bekerja sebagai seorang 'inem'.

Berempat mereka tidak berani menyerbu kedalam rumah piauwtauw Ma Heng Kong sehingga mereka lalu memberikan laporan kepada Kim Lun Hoat ong, dan Kim Lun Hoat-ong mengirimkan bala bantuan tanpa dapat menyertai ciangkun Sie Pek Hong yang kebenaran sedang menghadapi tugas lain.

Sementara itu waktu Cay hong suthay mengawasi kearah pertempuran yang dilakukan oleh pemuda Cin Yan Hui, maka dilihatnya dara Ma Kim Hwa sudah ikut terjun dalam pertempuran itu, membantu pemuda Cin Yam Hui, sedangkan dibagian lain kelihatan para piauwsu sedang sibuk menghadapi para penyerang yang sudah bertambah banyak, tidak kurang dari dua puluh orang !

Mau tidak mau, Cay hong suthay merasa wajib untuk memberikan bantuan bagi pihak Ma Heng Kong. Akan tetapi selagi dia bergegas hendak memasuki arena pertempuran, tiba-tiba terlihat adanya sesuatu tubuh orang yang melesat keatas tembok halaman, lalu dari tempat itu dia melepaskan beberapa senjata rahasia mengarah pihak orang-orang yang datang menyerang, sambil dia perdengarkan pekik teriaknya yang nyaring :

"Kalian mencari Cheng hwa liehiap Liu-Giok Ing, aku berada disini !"

ooo-O-ooo

ORANG PERTAMA yang melihat kehadirannya liehiap Liu Giok Ing adalah Cay hong suthay. Dilihatnya waktu itu liehiap Liu Giok Ing memakai pakaian serba putih, dengan kepala memakai tudung lebar berikut cadar dari kain warna putih juga, membuat mukanya tidak terlihat nyata.

Sehabis dia berteriak maka Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing tidak menyerbu ketempat pertempuran, sebaliknya dia lompat keluar tembok halaman; sedangkan orang-orang yang datang menyerang Cin wan piauwkiok serentak melakukan pengejaran.

Pemuda Cin Yam Hui berdua dara Ma Kim Hwa merasa penasaran karena ditinggalkan lawan-lawan mereka, sehingga mereka ikut melakukan pengejaran, sedangkan para piauwsu yang juga hendak ikut mengejar, telah dilarang oleh piauwtauw Ma Heng Kong.

"Heran . , .apakah benar-benar liehiap Liu Giok Ing berada didalam rumahku ..." gumam piauwtauw Ma Heng Kong waktu dia telah berada didekatnya Cay hong suthay.

"Dia memang berada disini ...” sahut Cay hong suthay sambil bersenyum, sehingga Ma Heng Kong jadi terpesona mengawasi, sementara Cay-hong suthay lalu menceritakan tentang pertemuan dengan Cheng-hwa lie hiap Liu Giok Ing pada waktu makan malam tadi, yang menyamar sebagai pembantu dapur.

"Hayaa ! Kalau begitu aku telah berlaku kurang hormat terhadap dia ......," kata piauwtauw Ma Heng Kong sambil dia membanting kaki, kelihatan sangat menyesal dan penasaran.

Dengan mengucapkan kata kata yang menghibur, maka Cay hong suthay minta diantar ke kamarnya liehiap Liu Giok Ing, tapi mereka tidak lagi menemukan pakaian liehiap Liu Giok Ing yang sudah dibawa semua, melainkan ada sepucuk surat dari Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing yang ditujukan buat piauwtauw Ma Heng Kong. Dipihak Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing sebenarnya dia memang mengetahui bahwa pihak musuh terus membayangi dia. Dengan mengikuti bisikan hatinya, kemudian liehiap Liu Giok Ing menyamar dan melamar kerja sebagai pelayan pada Cin wan piauwkiok; dan oleh karena dia menyamar dengan cara yang cermat sebagai seorang perempuan setengah baya golongan tidak mampu, maka berhasil dia mengelabui piauwtauw Ma Heng Kong, bahkan Cay hong suthay tidak segera mengenali pada saat mereka bertemu.

Dengan cara penyamarannya dan bekerja di perusahaan pengangkutan Cin wan piauw kiok, maka untuk sementara Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing menjadi terhindar dari pihak musuh-musuhnya, padahal hampir setiap hari mengunjungi thabib Liauw Tek Jin untuk mengobati penyakitnya, yakni disaat dia sekalian keluar belanja keperluan dapur.

Tetapi, diluar tahu liehiap Liu Giok Ing, adalah pihak musuh tidak berani melakukan penyerangan terhadap gedung piauwkiok yang dipimpin oleh Ma Heng Kong, sehingga mereka memerlukan minta bala bantuan dari Kim Lun Hoat-ong.

Selama umpatkan diri ditempat piauwtauw Ma Heng Kong, maka tanpa terasa kandungan liehiap Liu Giok Ing telah genap berusia 3 bulan, sehingga sudah mulai bisa dilihat oleh orang orang termasuk Cay hong suthay.

Malam itu waktu Cin-wan piauwkiok diserang, sebenarnya liehiap Liu Giok Ing tak bermaksud perlihatkan diri sebab kesehatannya belum pulih benar. Dengan adanya Cay hong suthay, dia yakin bahwa pihak musuh tidak sukar untuk diusir pergi, tetapi kemudian dia teringat bahwa Cay- hong suthay sudah hidup mengasingkan diri, sehingga biarawati yang sakti itu pantang melakukan pembunuhan dan sudah tidak mau lagi mencampuri urusan orang-orang rimba persilatan, sehingga terpaksa Cheng hwa liehiap memperlihatkan diri, supaya dia tidak membikin susah pihak Cin wan piauwkiok.

Demikian, setelah dia persiapkan diri dan tidak lupa menulis sepucuk surat buat piauw tauw Ma Heng Kong, maka dia muncul dan sengaja dia 'mengajak' pihak musuh supaya mereka tidak bertempur didalam tempatnya piauwtauw Ma Heng Kong.

Disuatu tempat belukar yang jauh terpisah dari Cin-wan piauwkiok, maka Cheng-hwa liehiap Liu Giok Ing sengaja menunggu pihak musuh yang sedang mengejar, sehingga dilain saat terjadi dia bertempur melawan tiga orang musuh, sampai kemudian ditambah lagi dengan empat orang musuh yang ikut menyusul.

Dengan tabah dan berlaku lincah Cheng-hwa liehiap Liu Giok Ing membiarkan dia dikepung pihak musuh dan dia mengerahkan ilmu 'coan hwa-jiauw-sie' (menembus bunga melihat pohon), suatu ilmu kelincahan tubuh yang sukar dicari tandingannya, sementara didalam hati dia merasa penasaran karena tidak dapat melihat kehadirannya See thia tok ong Sila Ponchay, sebab dia hendak membalas dendam terhadap si biang racun dari barat yang licik !

Akan tetapi, yang dia harapkan itu tidak kelihatan muncul, sebaliknya yang datang dan memasuki arena pertempuran adalah pemuda Cin Yam Hui berdua dara Ma Kim Hwa, sehingga pihak musuh memisah diri, empat orang mengepung pasangan muda mudi itu sedangkan tiga orang yang lainnya tetap menghadapi Liu Giok Ing; namun dilain saat muncul lagi rombongan musuh yang semuanya telah meninggalkan rumah piauwtauw Ma Heng Kong; dan semuanya telah ikut mengejar liehiap Liu Giok Ing yang hendak mereka bunuh mati. Kembali semangat tempur liehiap Liu Giok Ing menjadi bangkit lagi, seperti dulu selagi dia belum menikah dengan pangeran Giok Lun, dan saat itu dia bahkan melupakan kandungannya yang telah berusia tiga bulan.

Dalam menghadapi musuh yang belasan orang jumlahnya, dan yang semuanya memiliki ilmu yang cukup mahir, maka liehiap Liu Giok Ing berlaku bengis, sehingga meskipun dia dikepung, namun pihak dia justeru yang banyak melakukan penyerangan dengan pedang 'Ku tie kiam' yang terkenal ampuh serta kadang-kadang dia menyebar bunga-bunga cinta, yang mengakibatkan dalam sekejap telah ada beberapa tubuh yang bergelimpangan menjadi mayat atau terluka parah.

Dilain kesempatan hanya sisa tiga orang musuh yang masih tetap bertahan melakukan pengepungan atas diri Liu Giok Ing; akan tetapi ketika Liu Giok Ing mengerahkan ilmu simpanannya yang terdiri dari 36 jurus dan yang dapat dipecah menjadi 3 bagian, maka sebagai hasilnya, dua musuh berteriak mengerikan dan rubuh tewas kena 13 kali tikaman dan bacokan pedang liehiap Liu Giok Ing, sedangkan yang seorang lagi berusaha hendak melarikan diri, namun kalah cepat, dengan melayangnya bunga-bunga cinta yang dilepas oleh liehiap Liu Giok Ing, sehingga sisa musuh itu pun ikut rebah tewas seketika.

Disaat liehiap Liu Giok Ing hendak membantu pemuda Cin Yam Hui berdua Ma Kim Hwa yang masih bertempur dan dikepung oleh sejumlah musuh, maka mendadak dia mendengar suara tawa seseorang, lalu muncul See thian tok ong Sila Ponchay, yang bahkan memerlukan dan berkata dengan mengejek :

"Aku sangka si kuntianak sudah masuk ke liang kubur, ternyata dia masih mampu bernapas bahkan membawa tambur !” Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing menjadi sangat gusar waktu melihat musuh yang pernah mencelakai dia, sehingga batal dia yang hendak membantu pemuda Cin Yam Hui berdua dara Ma Kim Hwa, sebaliknya dengan suatu gerak 'macan betina keluar dari goa', dia melompat menerkam sementara pedangnya menyambar memakai gerak tipu 'macan betina melihat tiang'.

See thian tok-ong Sila Ponchay mengangkat senjatanya yang istimewa. Dengan mengerahkan tenaganya dia menangkis, mengakibatkan senjata mereka saling bentur dan dari senjatanya yang istimewa itu berhamburan asap disertai dengan percikan lelatu anak api, yang semuanya menyambar kearah Cheng Hwa liehiap Liu Giok Ing.

Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing kali ini sudah siaga untuk menghadapi asap yang mengandung bisa racun itu, berkat pertemuannya dengan si thabib sakti Liauw Tek Jin; sehingga tanpa ragu-ragu dia membiarkan senjata mereka saling bentur. Akan tetapi, sebagai akibat mereka mengadu tenaga dalam, maka tubuh keduanya tergempur, saling mundur tiga langkah kebelakang !

"Hm ...!" desis Cheng-hwa liehiap Liu Giok Ing, lalu dengan gesit dia mengulang serangannya, dengan suatu tikaman memakai gerak tipu ‘macan betina melepas mustika'; sedangkan See-thian tok ong Sila Ponchay sekarang melayani dengan kelincahan tubuh, tidak lagi saling mengadu kekuatan tenaga dalam.

Berbagai macam ilmu silat yang berasal dari Thibet telah diperlihatkan oleh See thian-tok-ong Sila Ponchay, akan tetapi sekarang Cheng-hwa liehiap Liu Giok Ing dapat mengimbangi diri oleh karena dia tidak takut lagi dengan asap beracun dari senjata lawannya. Kecuali senjatanya yang istimewa itu, sekarang See thian tok-ong Sila Ponchay menggunakan juga telapak tangan kirinya buat melakukan berbagai serangan, dan ternyata dia memakai jurus-jurus semacam ilmu 'tay-yang-sin-ciang' (pukulan tangan-sakti) yang memang sudah dikenal dengan baik oleh liehiap Liu Giok Ing.

Disuatu saat See-thian tok-ong Sila Ponchay bahkan menggunakan senjata rahasia berupa jarum-jarum halus yang juga mengandung bisa racun, sehingga dalam usahanya untuk menghindar dengan berkelit atau mengibas memakai lengan bajunya, maka mengakibatkan kedudukan mereka terpisah cukup jauh.

Ketika telah kehabisan jarumnya, maka tiba-tiba See- thian tok-ong Sila Ponchay perdengarkan suara seruan yang aneh bagi pendengaran Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing, setelah itu tubuh See thian tok ong Sila Ponchay mencelat tinggi hendak menerkam lawannya !

Telapak tangan kiri See thian tok ong Sila Ponchay merentang tegang bagaikan hendak mencakar, sedangkan senjatanya yang berupa huncwee yang istimewa disiapkan hendak memukul memakai gerak tipu 'tay-san ap-teng' atau gunung tay-san menindih.

Liehiap Liu Giok Ing tidak gentar menghadapi ancaman serangan yang nekad dari lawannya. Tubuhnya lalu ikut terbang buat menyambuti lawan. Tenaga tangan dilawan dengan tenaga tangan, dan senjata mereka ikut saling bentur dengan kerasnya !

Kesudahannya tubuh liehiap Liu Giok Ing terpental jatuh dengan mulut mengeluarkan darah, sementara punggungnya terpukul dan pundak kirinya terluka kena senjata musuh dalam pertempuran yang serba cepat dan pedang 'ku tie kiam' sudah lepas dari tangan Liu Giok Ing, masih membenam didalam perut lawannya !

Dilain pihak, See thian tok ong Sila Ponchay terjatuh dengan perut masih membenam pedang lawannya, sementara darah segar sudah membasahi tubuh dan pakaiannya.

Dengan wajah muka meringis menahan rasa sakit, See thian tok ong Sila Ponchay mengawasi musuhnya yang terduduk lemah dan terluka.

See thian tok ong Sila Ponchay kemudian memaksa diri buat bangun berdiri, lalu dengan langkah kaki perlahan dia mendekati Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing. Senjata huncwee dia siapkan untuk melakukan serangan terakhir terhadap musuhnya yang dia anggap sudah tidak berdaya !

Cheng-hwa liehiap Liu Giok Ing masih sadar mengetahui bahwa maut sedang mendekati dia. Dengan sepasang tangan menekan tanah dia berusaha hendak berdiri, tetapi sia-sia percobaannya karena keadaannya yang sangat lemah.

Waktu kemudian See thian tok-ong Sila-Ponchay sudah bertambah mendekati, maka sepasang tangan liehiap Liu Giok Ing meraba pinggangnya, mencabut dua batang pisau terbang atau hiu kim; lalu dengan mengerahkan sisa tenaganya, maka liehiap Liu Giok Ing melontarkan sepasang hui kiam itu yang terbang dan membenam didada sebelah kiri dan sebelah kanan See thian tok-ong Sila Ponchay sehingga sekali lagi See thian tok-ong Ponchay kelihatan meringis menahan rasa sakit, namun tubuhnya lemas dan kehabisan darah, dan dia terjatuh tewas didekat tempat liehiap Liu Giok Ing terduduk lemah.

Sekali lagi Liu Giok Ing sempat memperhatikan pertempuran yang dilakukan oleh muda mudi Cin Yam Hui berdua Ma Kim Hwa, meskipun seluruh tubuhnya merasa sangat lemas. Lalu dengan sinar mata yang samar sempat diketahuinya bahwa pasangan muda mudi itu juga telah berhasil mengalahkan musuh mereka yang kabur melarikan diri.

Kedua muda mudi itu kemudian lari mendekati liehiap Liu Giok Ing yang mereka lihat terluka parah.

"Kau ....?" kata dara Ma Kim Hwa waktu dilihatnya muka liehiap Liu Giok Ing yang dia kenal sebagai pelayan dirumah pamannya.

Cheng-hwa liehiap Liu Giok Ing paksakan diri untuk bersenyum, meskipun dia harus menahan rasa sakit yang bukan kepalang. Akan tetapi waktu Ma Kim Hwa bermaksud mengajak dia pulang dengan memerintahkan pemuda Cin Yam Hui bantu mengangkat tubuh Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing: maka liehiap Liu Giok Ing secara tiba- tiba berkata; "Saya mendengar suara sesuatu mungkin masih ada musuh yang mengintai kita. Coba periksa disekitar tempat ini "

Ma Kim Hwa berdua Cin Yam Hui bergerak memisah diri untuk memeriksa sekitar tempat itu, sementara liehiap Liu Giok Ing yang menggunakan kesempatan itu, telah bangun berdiri dengan mengerahkan sisa tenaga yang masih ada.

Dengan susah payah kemudian liehiap Liu Giok Ing mencabut pedang Ku tie kiam, yang masih membenam diperut See thian-tok ong Sila Ponchay; dan dengan pedang itu kemudian dia menulis diatas tanah setelah itu dengan langkah kaki yang lemah dia berusaha pergi meninggalkan tempat itu, dengan membawa luka ditubuh, sekaligus luka dihati. Waktu kemudian Ma Kim Hwa berdua pemuda Cin Yam Hui kembali karena tidak menemukan seseorang maka dia tidak melihat ada liehiap Liu Giok Ing; sebaliknya diatas tanah terdapat pesan tulisan memakai ujung pedang;

"Pulang ke Kuiciu.”

"Pulang ke Kuiciu ?" ulang dara Ma Kim Hwa, lalu bagaikan baru menyadari, maka dia membanting kaki dan menyatakan penyesalannya. Adalah menjadi niatnya dia hendak mencari seseorang berilmu buat dia memperdalam pelajaran ilmu silat, dia tidak pernah menduga bahwa si pelayan memiliki ilmu sedemikian tingginya, sehingga dia telah membuang kesempatan dengan sia-sia, dan merasa sangat menyesal sekali.

"Tetapi dirumah masih ada Cay hong suthay dari Ngo bie pay, mari kita pulang ...” ajak pemuda Cin Yam Hui bagaikan mengingatkan Ma Kim Hwa sehingga dilain saat keduanya berlari-lari untuk pulang ke Cin wan piauwkiok, dan menceritakan semua yang mereka ketahui kepada Ma Heng Kong dan Cay hong suthay yang sedang menunggu kedatangan mereka.

Oleh piauwtauw Ma Heng Kong kemudian dijelaskan kepada pasangan muda mudi itu, tentang siapa sebenarnya Cheng-hwa liehiap serta memperlihatkan juga surat peninggalan Liu Giok Ing yang mengucap terima kasih serta maaf yang sebesar-besarnya karena dia terpaksa umpatkan diri di Cn-wan piauwkiok, selama dia menderita luka dan sedang berobat.

"Sayang dia tidak kembali ke tempat kita, sehingga aku tidak sempat belajar ilmu silatnya yang begitu sakti ...” kata dara Ma Kim Hwa yang menyatakan penyesalannya.

Cay-hong suthay yang turut mendengarkan perkataan itu, menjadi bersenyum dan berkata : "Kalau Ma kouwnio benar-benar ingin beIajar, tak susahnya buat kau menyusul ke Kui-ciu ”

Ma Kim Hwa berdiri terpesona mendengar perkataan Cay hong suthay. Pada mulanya adalah menjadi hasratnya, bahwa setelah gagal belajar dari liehiap Liu Giok Ing, maka dia bermaksud hendak belajar dengan Cay-hong suthay. Akan tetapi setelah dia mendengar perkataan itu, dengan mendadak dia batal mengajukan pertanyaan itu sebab dia bertekad hendak menyusul Cheng-hwa liehiap Liu Giok Ing ke Kui ciu, di Inlam, Tali.

iti-Z X Z !i!

SEMENTARA itu Bo im kiamhiap Kwee Su Liang yang merasa sia-sia menunggu kedatangan bala bantuan tentara dari kota raja, maka pada suatu hari dengan menyamar sebagai seorang penduduk desa, Kwee Su Liang melakukan penyelidikan memasuki daerah kekuasaan suku bangsa Watzu.

Pada dusun pertama yang letaknya terdekat dengan perbatasan kota Gan-bun koan, Kwee Su Liang mempunyai seorang kenalan bangsa Watzu yang mempunyai kedudukan sebagai kepala desa, namanya In Kek See, yang usianya sudah mendekati lima puluh tahun.

Dengan menyamar sebagai seorang penduduk desa yang berpakaian sangat sederhana, Kwee Su Liang memasuki dusun itu tanpa mendatangkan rasa curiga pihak penduduk setempat akan tetapi sebaliknya Kwee Su Liang yang sudah setahun tidak pernah menemui kenalannya, menjadi agak heran ketika mendapati dusun itu sudah berubah, sangat berbeda dengan waktu dulu.

Penduduk dusun itu sekarang kelihatan bertambah banyak, bahkan bercampur dengan orang orang cina yang menetap di dusun itu menandakan kedua negara itu sedang dalam suasana damai, tidak ada rasa permusuhan. Akan tetapi, suku bangsa cina yang menetap di dusun itu, kelihatannya bercampur dari berbagai daerah, ada yang berasal dari daerah Kanglam, bahkan ada yang dari propinsi Kwie say, yang letaknya sangat jauh terpisah dari perbatasan kota Gan bun koan.

Kwee Su Liang langsung mendatangi rumah kepala desa In Kek See, dan hasrat hatinya ingin dia menanyakan keterangan tentang perkembangan di desa itu, terutama tentang banyaknya orang-orang cina yang berasal dari berbagai daerah itu yang benar-benar sangat mengherankan hatinya.

Rumah kepala desa itu kelihatan sunyi bagaikan tidak ada penghuninya, meskipun lalu lintas dibagian depan rumah masih kelihatan cukup ramai, lalu dia mengetuk pintu yang ditutup.

Sesaat kemudian Kwee Su Liang mendengar adanya suara langkah kaki seseorang dari bagian dalam rumah. Suara langkah kaki yang halus menandakan dari seorang perempuan, dan dilain saat daun pintu itu dibuka, lalu seorang perempuan muda berdiri berhadapan dengan Kwee Su Liang.

Umur perempuan itu kira-kira baru 20 tahun lebih, bermuka cantik bahkan kelihatan genit. Dia perlihatkan senyum yang menawan, membikin sejenak Kwee Su Liang kelihatan seperti menjadi gugup gelisah, disamping dia merasa heran, sebab perempuan muda itu adalah orang cina, bukan suku bangsa Watzu !

"Maaf, apakah rumah ini masih menjadi miliknya In Kek See yang kedudukannya sebagai kepala desa ...?" tanya Kwee Su Liang, khawatir kalau In Kek See sudah pindah rumah. Perempuan muda itu menambah senyumnya, dan halus merdu suaranya waktu dia memberikan jawaban :

"Benar, akan tetapi dia sedang pergi. "

Tetap Kwee Su Liang merasa gugup gelisah, meskipun perempuan muda itu sudah membenarkan pertanyaannya. Lirikan mata dan senyuman menawan dari perempuan muda itu, benar-benar membikin Kwee Su Liang bertambah gugup, disamping dia merasa heran entah ada hubungan apa antara ln Kek See dengan perempuan muda bangsa cina itu.

"Isterinya In Kek See, apakah dia berada dirumah .. , .?" akhirnya Kwee Su Liang menanya lagi, masih merasa gugup sehingga lagaknya itu berhasil membikin perempuan itu bersenyum lagi, yang terasa semakin menawan bahkan merangsang.

"Juga sedang pergi ..." sahut perempuan muda itu singkat, tetapi senyum dan lirikan matanya, benar benar bisa membikin hati Kwee Su Liang berguncang-guncang berontak, seperti ngajak dangdut, sehingga untuk sesaat Kwee Su Liang jadi terdiam bagaikan tak sanggup mengucap kata kata, dan perempuan muda itu kemudian bicara lagi :

"Kalau siangkong mau menunggu silahkan masuk . , ."

“ ... siangkong . , .” katanya, bukan main bikin hati Kwee Su Liang tambah anjlok seperti keluar dari rel.

"Eh, oh ... " bertambah gugup gelisah keadaan Kwee Su Liang, tetapi waktu perempuan muda itu menyisi dan memberikan jalan buat Kwee Su Liang memasuki bagian dalam dari rumah itu, maka bagaikan tanpa sadar Kwee Su Liang melangkahkan kakinya dan dia bahkan masih seperti tak sadar waktu dia duduk diruangan tamu. "Eh, siao kouwnio pernah apa dengan In Kek See ... ?" tanya Kwee Su Liang setelah dia duduk dan perempuan muda itu berdiri didekatnya, tetap gugup gelisah keadaan Kwee Su Liang; dan dia memakai istilah 'siao kouwnio' atau nona kecil, buat lawan istilah 'siangkong' atau baba yang digunakan perempuan muda tadi.

Sementara itu perempuan muda itu menjadi tambah bersenyum yang menawan dan merangsang, sehingga sekilas Kwee Su Liang ingin menggigit mulut perempuan muda itu, yang kelihatan kecil dengan bibir merah membasah !

“Hi hi, siao kouwnio...'' ulang perempuan muda itu sambil dia tertawa dua kali hi yang entah dapat belajar dari mana; setelah itu buru-buru perempuan itu menambahkan perkataannya :

"...kalau siangkong menganggap aku sebagai bocah yang masih ingusan, apakah aku harus menganggap siangkong sebagai lo ya atau lo kung-kung ..." dan dia tertawa lagi; terdengar manja bercampur jenaka: sehingga berhasil dia membikin Kwee Su Liang menjadi tersipu anjlok-anjlok yang bukan cuma satu kali anjlok, dan bertambah gugup waktu dia berkata :

"Eh, oh; maaf. Tetapi . , , . "