-->

Pendekar Bunga Cinta Jilid 06

jilid 06 

DAN Kwee Su Liang mengulang lagi perbuatannya, menghisap bagian paha Liu Giok Ing yang terluka, dan dia membiarkan waktu rambutnya dijambak semakin erat oleh sang adik yang binal itu. Akan tetapi ketika Kwee Su Liang merasa sudah selesai melakukan pertolongannya; ternyata Liu Giok Ing bagaikan tidak membiarkan Kwee Su Liang mengangkat mukanya laki laki itu dari bagian paha sang adik yang binal !

Sebelah tangan kiri liehiap Liu Giok Ing masih mendekap bagian belakang kepala Kwee Su Liang, sementara itu sebelah tangannya yang lain menelusup masuk kebagian dalam baju yang dipakai oleh Kwee Su Liang yang sudah banyak bagian yang terkoyak. Sejenak Kwee Lu Liang merasa curiga, selagi jantungnya semakin berdebar keras, akan tetapi kemudian dirasakannya ada hawa panas dari telapak tangan sang adik yang binal itu yang ternyata sedang menyalurkan tenaga dalamnya, buat memulihkan tenaga Kwee Su Liang yang bekas kena gempur dan terlalu lelah keadaannya.

Diam-diam Kwee Su Liang merasa terharu dengan perbuatan sang adik yang binal itu; yang ternyata sangat memperhatikan keadaannya. Dia berusaha tenangkan hati dan ikut mengerahkan kesaktiannya, buat menerima saluran tenaga yang diberikan oleh sang adik yang binal itu, sehingga tidak pernah Kwee Su Liang mendapat kesempatan buat mengucap kata-kata cinta; yang sedemikian lamanya dia pendam, meskipun dia sudah menikah dan mempunyai seorang anak.

Setelah liehiap Liu Giok Ing selesai menyalurkan tenaga dalamnya buat Kwee Su Liang, maka ganti Kwee Su Liang yang menyalurkan tenaga dalamnya buat memulihkan kesehatan liehiap Liu Giok Ing. Untuk sesaat Liu Giok Ing merasakan bagaikan dirangkul oleh laki-laki yang dia cintai, meskipun dengan cara dia memunggungi Kwee Su Liang. Semakin terasa tergetar jiwa liehiap Liu Giok Ing, akan tetapi dia menyadari bahwa Kwee Su Liang sudah menjadi milik lain perempuan; sehingga tanpa terasa sekali lagi dia mengalirkan air mata. Sementara itu Kwee Su Liang kemudian mulai meneliti keadaan didalam liang itu, sambil kadang-kadang dia meraba-raba dibagian dinding batu maupun dibagian lantai yang merupakan bagian dasar dari liang itu; yang ternyata cukup lebar dan luas, namun tidak ditemui adanya jalan lain buat mereka keluar, kecuali melalui bagian atas yang sangat tinggi dan yang sudah tertutup oleh lantai bekas mereka terperangkap tadi.

Bagian atas yang merupakan sebagai penutup dari liang itu, terlalu tinggi sehingga tidak mungkin perbuatan seseorang itu lompat naik, dan meskipun keadaan liang itu sedang membuka. Sedangkan ciangkun Sie Pek Hong agaknya sengaja hendak menyiksa Liu Giok Ing berdua Kwee Su Liang; membiarkan tawanan itu mati secara lambat tanpa diberikan makan maupun minum.

Pada mulanya ciangkun Sie Pek Hong tidak mengetahui bahwa orang yang datang mengacau dirumahnya adalah Bo im kiamhiap Kwee Su Liang, akan tetapi kemudian dia diberitahukan oleh Kim Wan tauw to, dan si pendeta gadungan ini bahkan menjelaskan bahwa Kwee Su Liang dahulu merupakan kekasih Liu Giok Ing; sehingga ciangkun Sie Pek Hong menjadi merasa cemburu dan ingin membunuh kedua tawanan itu, membiarkan mati kelaparan.

Di pihak Liu Giok Ing, dia bagaikan merasa putus asa sehingga tak ada niatnya buat berusaha mencari kebebasan, meskipun dia membiarkan Kwee Su Liang yang sedang meraba-raba. Hatinya terasa sangat pedih, sehingga selama hidupnya, belum pernah dia berputus asa seperti saat itu; terasa hilang gairahnya untuk hidup. Hampa tak ada lagi orang yang menyayangi dia, karena suaminya sudah binasa; sedangkan laki-laki yang telah 'mencuri' hatinya, menjadi miliknya perempuan lain. "Liang-ko , .." akhirnya dia bersuara perlahan, merasa terharu melihat Kwee Su Liang yang masih mencari jalan hendak meloloskan diri; mungkin laki-laki itu sedang memikirkan isteri dan anaknya.

"Giok-moay ..." Kwee Su Liang ikut bersuara perlahan dan mendekati sang adik yang binal itu sedang duduk, seperti sedang bersemedhi.

"Sia-sia kau berusaha, Liang-ko; rupanya kita bakal mati disini ..."

Sejenak Kwee Su Liang terdiam tak bersuara, dan dia duduk lagi didekat tempat Liu Giok Ing.

"Giok-moay, biasanya kau yang lebih bersemangat. Selama kita masih bernapas, kau tidak pernah berputus-asa. Tetapi mengapa sekarang "

Batal Kwee Su Liang melengkapi perkataannya, sebab didengarnya sang adik yang binal itu seperti terisak menangis; lalu ketika dia meraba-raba dan berhasil memegang sepasang tangan Liu Giok Ing, maka sang adik itu tiba-tiba merangkul dan tambah terisak menangis.

"Liang-ko, oh Liang-ko "

"Giok moay, kau kenapa?” Kwee Su Liang menanya; akan tetapi Liu Giok Ing tidak menjawab, bahkan tambah dia terisak menangis, dan tambah erat sang adik merangkul.

"Giok moay, kau tidak boleh berputus asa. Kita tidak boleh mati disini, selagi rasa penasaran dan dendam terhadap perbuatan orang yang memfitnah kau, belum sempat kita balas "

Bagaikan orang yang baru tersadar, tiba-tiba Liu Giok Ing melepaskan rangkulannya dan berkata : "Liang ko, tadi kau mengatakan bahwa daIang dari semua perbuatan fitnah itu adalah Kim Lun Hoat-ong; coba kau ceritakan lagi."

Kwee Su Liang tidak langsung memberikan jawaban kepada sang adik itu, sebaliknya dia memerlukan memegang lagi sebelah tangan Liu Giok Ing sambil dia menarik napas panjang; setelah itu baru dia berkata:

"Pada mulanya aku juga tidak mengetahui tentang perbuatan Kim Lun Hoat-ong. Aku dipanggil oleh sri baginda raja untuk menyelidiki peristiwa pembunuhan yang terjadi dikota-raja dan didalam istana kerajaan sedangkan sipelaku pembunuhan itu dituduhkan sebagai perbuatan kau, berhubung adanya senjata rahasia yang berbentuk bunga cinta. Kemudian aku mengetahui bahwa kau juga mengacau ditempat Gin Lun Hoat-ong sehingga benar- benar aku menjadi sangat heran dan dibingungkan oleh perbuatan kau mengapa kau harus melakukan pembunuhan-pembunuhan itu dan mengapa kau harus memusuhi Gin Lun Hoat-ong, sedangkan setahu aku, kabarnya kau telah menikah dan menjadi isteri dari pangeran Giok Lun. Aku harus mencari kau sampai secara diluar dugaan aku bertemu dengan Thio Hek..,"

"Thio susiok ....?" Liu Giok Ing memutus perkataan Kwee Su Liang, sebab dia seperti baru teringat dengan Thio Hek yang dia sebut sebagai paman Thio, atau Thio susiok; dan Kwee Su Liang membenarkan lalu dia menceritakan tentang pertemuannya dengan Thio Hek, sampai kemudian Thio Hek wafat tetapi sempat membuka rahasia ciangkun Sie Pek Hong dan pangeran Kim Lun.

Jelas liehiap Liu Giok Ing menjadi sangat terkejut waktu diketahuinya Thio Hek juga sudah ikut binasa. Semakin dia bertambah marah dan dendam terhadap ciangkun Sie Pek Hong, juga terhadap Kim Lun Hoat-ong. "Si keparat Sie Pek Hong dan Kim Lun Hoat-ong. Aku akan mati penasaran jika aku tidak membinasakan mereka

... !" Liu Giok Ing memaki seperti menyumpah; setelah itu dia menangis lagi, teringat dengan Thio Hek yang juga menyayangi dia, akan tetapi yang sekarang telah binasa.

Bagaikan tanpa sadar, sekali lagi liehiap Liu Giok Ing merangkul Kwee Su Liang, dan laki-laki itu juga ikut merasa terharu, sehingga dia membelai rambut Liu Giok Ing yang sudah lepas terurai bekas melakukan pertempuran. Segera terbayang lagi Kwee Su Liang, betapa dahulu dia merindukan dapat merangkul sang adik yang binal dan besar kepala itu, sehingga kadang-kadang dia merasa tersiksa menyimpan rasa rindu, menganggap dia 'bertepuk- sebelah-tangan', karena dia merasa tidak pernah menerima cinta-kasih dari sang adik itu, yang bahkan sampai berulangkali dia tempur, karena adanya sisa dendam Liu Giok Ing akibat perbuatan orang tua mereka.

Kini selagi sama-sama menghadapi ancaman bahaya maut, selagi mereka berputus-asa merasa tiada harapan untuk melepas diri dari dalam liang itu, secara tiba-tiba Kwee Su Liang teringat lagi dengan pengalaman mereka, dan bagaikan tanpa sadar dia berkata dengan perlahan :

"Giok-moay, mengapa kau begitu keras kepala ... ?”

Perlahan-lahan Liu Giok Ing melepaskan dirinya dari rangkulan Kwee Su Liang, dan dia berusaha untuk mengawasi muka laki-laki yang dicintainya itu, meskipun sukar buat dia melakukannya sebab keadaan didalam liang yang sangat gelap; setelah itu diapun ikut berkata perlahan:

"Apa maksud kau, Liang-ko. ?"

Kwee Su Liang diam seperti tak mampu memberikan jawaban, dia pun berusaha ingin melihat muka Liu Giok Ing, menerobos kegelapan didalam liang itu; kemudian terdengar dia menarik napas dan berkata :

"Begitu lama kita berkelana bersama-sama, begitu sering kita mengalami ancaman mara-bahaya; akan tetapi kadang- kadang aku merasakan kau begitu jauh, bahkan kadang- kadang aku merasakan kau begitu membenci aku "

"Tidak Liang-ko. Aku tak pernah membenci kau, tetapi

..." terlalu cepat liehiap Liu Giok Ing memberikan jawaban; namun dia tidak melengkapi perkataannya, sebaliknya selekas itu juga dia tertunduk seperti merasa malu, meskipun Kwee Su Liang tidak melihat keadaannya.

"Tetapi kenapa, Giok-moay ….?" ganti Kwee Su Liang

yang menanya.

“Tetapi justeru kau yang seperti tidak memperhatikan

aku. Kau terlalu tinggi hati Liang ko "

Sekali lagi Kwee Su Liang menjadi terdiam bahkan diapun menunduk, tetapi dia berusaha menambahkan perkataannya :

“Padahal aku sangat menyintai kau "

“Aku juga   "

Seperti tersentak Kwee Su Liang waktu didengarnya pengakuan sang adik yang binal itu. Sekilas dia teringat dengan kebiasaannya yang lama; lalu tiba-tiba dia berkata lagi :

“Tetapi kau menikah dengan Giok Lun Hoat-ong "

“Dan kau menikah dengan Lie Gwat hwa." sahut Liu

Giok Ing; seperti dulu tak mau mengalah.

Sekali lagi Kwee Su Liang diam tak bersuara, juga Liu Giok Ing; sehingga keadaan menjadi hening, cuma suara napas mereka yang terdengar. Kemudian Kwee Su Liang yang terdengar berkata lagi :

“Giok moay ..”

“Liang ko , , .” sahut Liu Giok Ing lembut perlahan

suaranya; terdengar mengharukan.

“Kita bakal mati disini ...”

“Kau takut mati; Liang ko; atau kau . ,” batal Liu Giok Ing melengkapi perkataannya, sebab mendadak hatinya merasa pedih lagi; teringat dengan Lie Gwat Hwa dan menganggap Kwee Su Liang sedang memikirkan isterinya.

“Aku bukan takut mati, Giok moay. Akan tetapi aku merasa penasaran, mengapa justeru baru sekarang aku mengetahui bahwa kau juga menyintai aku ..."

Ganti Liu Giok Ing yang meraba-raba dan mencari sepasang tangan Kwee Su Liang, yang lalu dia pegang erat- erat, baru dia berkata :

“Liang ko; mungkin sudah merupakan nasib kita bahwa kita tidak mungkin menjadi suami isteri di alam nyata. Akupun menyadari bahwa kita bakal mati ditempat ini, karena itu aku mau mengeluarkan isi hatiku yang sekian lamanya aku simpan, tidak mungkin aku merebut kau, Liang ko: setelah aku mengetahui bahwa kau telah menikah dengan perempuan lain , , .,”

“Giok moay .. " cuma itu yang Kwee Su Liang ucapkan, dan buru-buru dia merangkul sang adik yang dikasihnya itu.

Liehiap Liu Giok Ing membiarkan dirinya dirangkul oleh laki-laki yang telah 'mencuri' hatinya itu, dan dia bahkan mempererat rangkulannya. Seperti dalam mimpi, liehiap Liu Giok Ing merasakan betapa hangatnya pelukan laki-laki yang sekian lamanya dia cintai. Dia memang masih terpengaruh oleh obat perangsang, sehingga dia yang mulai mencium Kwee Su Liang; dan Kwee Su Liang yang seperti kehilangan kesadaran telah mengimbangi perbuatan sang adik yang dikasihinya, sehingga untuk sesaat dia lupa dengan anak dan isterinya, bahkan sempat melupakan keadaan mereka yang sedang diancam bahaya maut.

— o O-o—

MATAHARI bersinar terik waktu esok harinya ciangkun Sie Pek Hong datang menghadap Kim Lun Hoat ong, memberi laporan tentang liehiap Liu Giok Ing berdua Kwee Su Liang yang berada didalam liang perangkap.

Kim Lun Hoat-ong memang sudah mengetahui tentang peristiwa semalam yang terjadi ditempat ciangkun Sie Pek Hong, sebab dia sudah menerima laporan dari Kim Wan tauw-to berdua ‘toan-lo sin-koay' Kong Tek Liang: dan Kim Lun Hoat ong memutuskan supaya membiarkan liehiap Liu Giok Ing berdua Kwee Su Liang tewas didalam liang itu sesuai seperti yang direncanakan Sie Pek Hong.

Tidak mungkin untuk membiarkan Liehiap Liu Giok Ing tetap hidup, sebab si macan-betina yang galak itu pasti akan mengacau terus, sukar dibikin jinak apalagi untuk dijadikan bini. Juga Kwee Su Liang harus mati, sebab Kim Lun Hoat- ong sudah mengetahui bila Kwee Su Liang yang bertugas sebagai gubernur diperbatasan kota, sedang melakukan tugas dari sri baginda maharaja, buat melakukan penyelidikan tentang peristiwa pembunuhan yang terjadi di kota-raja dan di istana kerajaan; yang diduga sebagai perbuatannya ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing. Akan tetapi Kwee Su Liang yang memang diketahui berhubungan akrab dengan liehiap Liu Giok Ing, maka kemungkinan Kwee Su Liang sudah berhasil memperoleh keterangan tentang niat Kim Lun Hoat ong yang hendak mengadakan perbuatan makar, sehingga laki-laki itu harus dibikin mati ! Atas saran si pendeta gadungan Kim Wan tauw to, kemudian Kim Lun Hoat ong mengirim seorang utusan keluar perbatasan kota disebelah barat, untuk menemui seorang rekannya yang mengabdi kepada pemerintah kerajaan Watzu, Tartar; sedangkan perintah mengacau didalam kota raja dan di kota San hay koan untuk sementara dihentikan, Kim Lun Hoat ong bertekad hendak mempercepat rencana gerakannya, sebelum pihak sri baginda maharaja mengetahui tentang niatnya itu; dia bahkan memerintahkan Kim Wan tauw to dan Kong Tek Liang, untuk secara terpisah menghubungi rekan-rekan mereka yang bakal diajak bekerja sama, dan memerintahkan ciangkun Sie Pek Hong berangkat ke kota Kam leng, buat menghubungi Seng-Lun Hoat ong yang katanya ingin mendukung gerangan Kim Lun Hoat ong.

Dengan demikian ciangkun Sie Pek Hong menjadi ikut sibuk, mengatur bawahannya yang menjaga keamanan dirumahnya, sebab dia harus berangkat keluar kota. Dan ciangkun Sie Pek Hong bahkan melupakan isterinya, yang tidak sempat dia beritahukan tentang kepergiannya yang mendapat perintah dari Kim Lun Hong ong.

Nama isterinya ciangkun Sie Pek Hong adalah The Eng Lian. Dahulu dia merupakan selir dari sri baginda maharaja, tetapi kemudian dia kena dirayu oleh ciangkun Sie Pek Hong; sehingga waktu ciangkun Sie Pek Hong harus melarikan diri dari kota raja, maka The Eng Lian mendampingi bahkan The Eng Lian yang membeayai keperluan hidup mereka, dengan menjual semua barang perhiasan yang pernah dia terima dari sri baginda maharaja; sampai kemudian ciangkun Sie Pek Hong diterima bekerja dan mengabdi pada Kim-Lun Hoat ong.

Penderitaan The Eng Lian selama ikut Sie Pek Hong yang hidup dalam pelarian, kemudian menjadi tambah menderita karena ternyata suaminya tidak setia, sering menyeleweng dengan perempuan lain bahkan berani menyimpan selir dalam rumah. Berulangkali terjadi pertikaian antara The Eng Lian dengan suaminya, akan tetapi Sie Pek Hong dengan cara yang kejam seringkali memukul isterinya itu, membuat The Eng Lian sudah menyesali diri; karena tidak berdaya memberikan perlawanan.

Kemudian diketahui juga oleh The Eng Lian, tentang suaminya yang mengajak Liu Giok Ing menumpang tinggal dirumah; sehingga diam-diam dia menyimpan dendam terhadap Liu Giok Ing. Akan tetapi berdasarkan laporan yang dia terima dari seorang pelayan yang setia, maka diketahuinya bahwa Liu Giok Ing adalah jandanya pangeran Giok Lun, dan Liu Giok Ing sebenarnya adalah seorang pendekar perempuan yang namanya sudah menyemarak dikalangan rimba persilatan.

Hasyrat hatinya, ingin sekali The Eng Lian menemui liehiap Liu Giok Ing. Ingin dia ceritakan tentang kejahatan ciangkun Sie Pek Hong, bahkan tentang niat buruk dari Kim-Lun Hoat-ong yang dia ikut mengetahuinya, tetapi The Eng Lian sangat takut akan perbuatannya itu diketahui suaminya, dan dia merasa tidak mendapat kesempatan buat bertemu dengan Liu Giok Ing. Hari itu The Eng Lian mengetahui tentang suaminya yang pergi meninggalkan rumah, berangkat keluar kota membawa tugas dari Kim Lun Hoat-ong. Dengan bantuan pelayannya yang setia, The Eng Lian berusaha hendak bertemu dengan liehiap Liu Giok Ing, tetapi tetap dia harus berhati-hati, sebab barisan pengawal melakukan penjagaan secara ketat, disamping adanya dua bersaudara Ma Kong dan Ma Kiang. Tidak mudah The Eng Lian mencari liehiap Liu Giok Ing yang ternyata tidak ada dikamarnya; akan tetapi The Eng Lian kemudian menjadi terkejut, waktu diketahuinya liehiap Liu Giok Ing terperangkap didalam liang, bersama seorang laki- laki yang katanya Kwee Su Liang, si pendekar tanpa bayangan.

Memang tidak banyak orang yang mengetahui tentang adanya liang-rahasia didalam rumah itu, yang kemudian dijadikan sebagai liang perangkap oleh ciangkun Sie Pek Hong. Mungkin cuma The Eng Lian berdua suaminya yang mengetahui; bahwa liang itu merupakan tembusan yang bisa menembus ke suatu daerah pegunungan, didekat perbatasan luar kota Oei-kee tin sebelah utara.

Oleh karena The Eng Lian bertekad hendak bertemu dengan liehiap Liu Giok Ing, ingin membicarakan tentang kejahatan suaminya yang sudah dia benci dan menyimpan dendam sekian lamanya; maka The Eng Lian mengajak pelayannya meninggalkan rumah, menuju kedaerah pegunungan yang bisa menembus ke dalam liang rahasia itu.

Kepergian The Eng Lian berdua pelayannya itu, sempat diketahui oleh Ma Kong berdua Ma Kiang, akan tetapi sudah tentu mereka tidak berani mencegah sebab tidak ada perintah dari majikan mereka, dan mereka bahkan tidak berani menanyakan tentang maksud kepergian nyonya- majikan itu.

Secara diam-diam kemudian Ma Kong memerintahkan 3 orang anak buahnya, mengawasi The Eng Lian berdua pelayannya; sampai kemudian ketiga orang laki-laki itu menjadi bingung dan heran, sebab melihat tujuan The Eng Lian berdua pelayannya mencapai daerah pegunungan, bahkan menuruni sebuah tebing yang cukup curam.

Dipihak The Eng Lian yang melakukan perjalanan berdua pelayannya, secara mendadak dia mengetahui adanya tiga orang tentara yang menyamar yang sedang mengikuti perjalanannya. Sudah terlalu jauh dia meninggalkan rumah dan dia bahkan sudah hampir mencapai tempat tujuan, sehingga tidak mau membatalkan niatnya. Diaturnya rencana bersama pelayannya, lalu dengan secara tiba-tiba dia menghilang umpatkan diri, membiarkan pelayannya melakukan perjalanan seorang diri. Setelah diketahuinya ketiga tentara itu terus mengikuti pelayannya, maka The Eng Lian memilih jalan lain buat mencapai tempat tujuan.

Ada sebuah besi-pelat yang dipakai buat penutup liang yang bisa menembus ke tempat Liu Giok Ing berdua Kwee Su Liang terperangkap, dan bersusah payah The Eng Lian menggeser besi penutup liang itu. Sukar buat The Eng Lian melakukannya, sebab dia bertenaga lemah tidak memiliki kepandaian ilmu-silat, namun dia bertekad melakukannya dan mengerahkan tenaganya yang ada.

Diluar dugaan dan diluar tahu The Eng Lian, dia kena menyentuh beberapa bagian yang menonjol tertutup batu- batu gunung; kemudian waktu The Eng Lian sudah berhasil menggeser besi penutup liang itu, maka diapun harus bersusah-payah turun melewati anak-tangga yang sengaja dibikin dari bahan besi, yang ternyata sangat licin penuh lumut, sehingga tiba-tiba dia tergelincir dan terjatuh.

Tubuh The Eng Lian terbanting dibagian dasar liang yang banyak terdapat batu-batu gunung, sehingga The Eng Lian jatuh sakit bahkan sebelah kakinya terkilir sehingga tidak mungkin lagi dia melangkah meneruskan perjalanannya dan terpaksa harus merangkak seperti menyeret tubuhnya, mengakibatkan dia semakin merasa sakit dan pedih, karena dalam liang itu ternyata penuh dengan batu-batu cadas yang tajam runcing, sehingga seluruh tubuhnya penuh luka-luka mengeluarkan darah. Bagian-bagian yang menonjol dan yang kena disentuh oleh The Eng Lian tadi, sebenarnya merupakan tempat curahan sumber air gunung. Dari celah-celah yang membuka kena disentuh oleh kaki The Eng Lian, kemudian mengalir air gunung yang lambat laun semakin besar dan semakin banyak mengeluarkan air; lalu tanah disekitar sumber mata-air itu menjadi bobol, mengeluarkan air yang sangat derasnya, dan semua air itu langsung masuk kedalam liang bekas tempat The Eng Lian masuk dan terjatuh.

The Eng Lian menjadi sangat terkejut waktu secara mendadak merasakan tubuhnya basah dengan air, selagi dia merangkak hendak mencapai tempat tujuan. Kemudian dia menjerit ketakutan, waktu didengarnya suara gemuruh air yang dengan sangat cepatnya sedang mendatangi kearah dia.

Sementara itu keadaan liehiap Liu Giok Ing sangat lemah sekali, menderita rasa lapar dan haus, dan disamping itu juga menderita sakit karena luka yang dia derita. Juga keadaan Kwee Su Liang serupa seperti liehiap Liu Giok Ing.

Akan tetapi oleh karena mereka berada berdua; oleh karena mereka sempat melepas hasrat-cinta yang sekian lamanya terpendam dalam hati mereka. Dalam keadaan yang seperti itu, mereka rela menghadapi kematian; bahkan tak ingin mereka melepaskan rangkulannya, sampai secara sayup-sayup mereka mendengar pekik-suara seseorang, pekik suara seorang perempuan yang terdengar sedang dalam keadaan ketakutan.

Sempat Kwee Su Liang berdua Liu Giok Ing saling mengawasi. Ada sedikit sinar yang menerobos dari sebelah utara, sehingga keduanya semakin menjadi bertambah heran, akan tetapi mereka bagaikan tidak berdaya untuk bergerak, sebab keadaan mereka yang sangat lemah tidak bertenaga, sampai kemudian mereka pun ikut mendengar suara gemuruh air yang sedang mendatangi.

Kwee Su Liang berdua Liu Giok Ing menjadi sangat terkejut, mereka menduga pihak musuh ingin membunuh mereka, membiarkan mereka mati kelelap di air. Semakin erat Kwee Su Liang merangkul kekasihnya, juga Liu Giok Ing melakukan perbuatan yang sama; tetapi mereka sempat meraih pedangnya, bagaikan siap menghadapi ancaman binatang air yang buas, yang mungkin sengaja dilepaskan oleh pihak musuh.

Waktu air mulai membasahi dan merendam tubuh mereka berdua yang rebah saling berangkulan, sempat Kwee Su Liang serta Liu Giok Ing kena minum air itu, tanpa mereka sengaja melakukannya sehingga rasa haus itu mendadak hilang, maka ada sedikit tenaga Kwee Su Liang serta Liu Giok Ing, dan mereka mulai berenang melawan arus air, meskipun tenaga mereka belum pulih semuanya.

Kemudian Liu Giok Ing beserta Kwee Su Liang menjadi semakin terkejut, ketika mereka menemukan mayat seorang perempuan yang mengambang mengikuti arus air yang sangat deras; tetapi saat itu mereka tak sempat menghiraukan mayat itu, dan bersusah-payah mereka berenang sangat lambat melawan arus air, hendak mencapai pusat sinar yang secara samar-samar kelihatan masuk.

Sementara itu air sudah semakin memenuhi liang tempat mereka berdua, sehingga hampir menyentuh bagian atas dari dinding liang; dan mereka tiba ditempat penutup liang, disaat air sudah mulai meluap tinggi sehingga tak perlu lagi mereka menaiki anak tangga.

"Liang-ko, ternyata kita selamat ..." Liu Giok Ing bersuara lemah, rebah beristirahat didekat sumber mata-air, tanpa menghiraukan tempat disekitarnya sudah mulai digenangi air yang meluap.

"Ya, kita selamat     " sahut Kwee Su Liang, juga lemah

suaranya; namun dengan merangkak dia mengajak Liu Giok Ing menjauhi tempat itu, mencapai dataran yang lebih tinggi, khawatir air semakin banyak yang meluap.

Matahari mulai membenam disebelah barat, waktu Kwee Su Liang berdua Liu Giok Ing bersusah payah berada didaerah pegunungan, didekat tempat bekas mereka keluar dari ruang perangkap. Tidak ada makanan yang mereka dapat makan, akan tetapi mereka sudah minum cukup, sehingga ada sedikit tenaga mereka buat jalan secara lambat-lambat, tetap sambil saling berpegangan tangan; sampai mendadak mereka menemukan mayat seorang perempuan; yang tewas dengan tubuh luka-luka bekas kena senjata tajam, serta dalam keadaan telanjang bekas diperkosa orang. Dari pakaian perempuan yang mereka temukan, Kwee Su Liang berdua Liu Giok Ing merasa yakin bahwa perempuan itu seorang pelayan, entah pelayan siapa dan entah perbuatan siapa, tidak diketahui oleh mereka berdua; akan tetapi Liu Giok Ing sangat marah karena melihat kaumnya telah dihina orang.

Dia bertekad hendak segera mendatangi ketempat ciangkun Sie Pek Hong, buat melakukan balas dendam, akan tetapi Kwee Su Liang dapat membujuk, mengingat keadaan mereka sangat lemah, disamping pihak musuh terlalu banyak bahkan beberapa orang yang sakti ilmunya. Oleh Kwee Su Liang kemudian disarankan, bahwa mereka berdua akan mengunjungi pangeran Gin Lun dikota San- hay koan, membentangkan semua niat buruk dari pangeran Kim Lun; untuk kemudian mereka mengumpulkan tenaga menggempur pangeran Kim Lun; menggagalkan niat buruk pangeran itu dan sekaligus menangkapnya untuk dibawa menghadap kepada sri baginda maharaja.

Sejenak Liu Giok Ing terdiam mendengarkan sarannya Kwee Su Liang, dan sekilas dia teringat dengan pertemuannya pada Kanglam liehiap Soh Sim Lan, sehingga terpikir olehnya kalau-kalau ada hubungan yang erat antara Soh Sim Lan dengan pangeran Gin Lun, dan terpikir juga olehnya tentang nasibnva sendiri yang telah ditinggal mati oleh suaminya, Giok Lun Hoat Ong, sedangkan Kwee Su Liang tentu bakal kembali kepada anak dan isterinya.

“Liang ko ..." tiba-tiba Liu Giok Ing bersuara perlahan, dan air matanya ikut berlinang keluar, berhasil membikin Kwee Su Liang terkejut dan menanya :

“Giok moay; mengapa kau mengeluarkan air mata ...?"

“Liang ko, Aku sebenarnya ingin mati bersama-sama kau

..." sahut Liu Giok Ing yang semakin membikin Kwee Su Liang jadi bingung tidak mengerti.

"Giok-moay, apa sebabnya kau berkata begitu...?'' tanya laki laki itu, yang memerlukan memegang sepasang tangan liehiap Liu Giok Ing; yang kelihatan semakin terisak menangis.

"Aku malu, Liang ko. Malu kalau aku nanti bertemu dengan istrimu..."

Sejenak Kwee Su Liang ikut terdiam, bagaikan dia baru teringat dengan anak dan istrinya, tetapi dia merangkul Liu Giok Ing erat-erat, lalu seperti membisik dia berkata didekat telinga kekasihnya.

"Giok-moay,aku yakin aku bisa memberikan pengertian kepada Gwat-moay. Dia memang mengetahui bahwa hatiku tak mungkin melupai kau, meskipun aku telah menikah dengan dia...,”

Tambah erat Liu Giok Ing merangkul laki-laki yang dicintainya itu, dan tambah terisak dia menangis. Benar- benar dia menjadi bingung dan gelisah; sebab dia tidak menduga bahwa dia bakal hidup lagi, setelah dia merasa tiada kemungkinan buat meloloskan diri dari perangkap. Dia memang sungguh-sungguh menyintai Kwee Su Liang, akan tetapi dia tidak mau mengorbankan Lie Gwat Hwa yang sudah menjadi isteri dari laki-laki yang dicintainya itu; apalagi mereka telah mempunyai seorang anak.

Dalam keadaan yang seperti itu; liehiap Liu Giok Ing merasa ingin mati supaya tak berpisah lagi dengan laki-laki yang dicintainya, tetapi Kwee Su Liang berhasil membujuknya, sehingga dia menurut seperti yang disarankan Kwee Su Liang.

Mereka terpaksa harus menunggu sampai malam, setelah itu Kwee Su Liang mendatangi tempat dia menginap buat mengambil bungkusan pakaiannya, sekalian dia membeli seperangkat pakaian buat liehiap Liu Giok Ing, dan mereka tinggalkan kota Oei-kee tin, tanpa mereka mengetahui bahwa dirumah ciangkun Sie Pek Hong sedang menghadapi kesibukan, sebab adanya air yang membikin keadaan rumah menjadi banjir, disamping mereka sedang kehilangan isterinya Sie Pek Hong yang pergi meninggalkan rumah, tanpa mereka mengetahui bahwa The Eng Lian sudah binasa didalam liang-perangkap, sedangkan pelayannya ikut tewas sebagai korban keganasan anak buahnya Ma Kong.

Sementara itu, selama tiga hari Kwee Su Liang melakukan perjalanan menuju kota San hay koan, mendampingi liehiap Liu Giok Ing yang sekarang sudah dia anggap menjadi isterinya, sehingga sempat mereka memadu kasih selama melakukan perjalanan itu, akan tetapi selekas mereka tiba ditempat tujuan, sudah tentu dipihak istana Gin Lun Hoat ong menjadi sangat terkejut, hampir menjadi pertempuran andaikata Kwee Su Liang tidak berhasil memberikan penjelasan dan pengertian.

Lo-ciangkun atau perwira-tua yang sebelah kakinya kena dibikin buntung oleh liehiap Liu Giok Ing, ternyata telah tewas membunuh diri, sehingga liehiap Liu Giok Ing ikut mengeluarkan air-mata menyesali akan perbuatannya. Sedangkan Gin Lun Hoat-ong yang ikut mendengarkan penjelasan dari Kwee Su Liang, merasa sangat terkejut dan penasaran ketika tahu siasat adu-domba yang dilakukan pihak Kim Lun Hoat-ong, yang sengaja telah memfitnah liehiap Liu Giok Ing dan hendak melakukan perbuatan makar melawan sri baginda maharaja.

Pangeran Gin Lun kemudian menyadari bahwa perbuatannya liehiap Liu Giok Ing yang datang dikota Oei kee tin, bukan maksud mengacau; sebaliknya justeru pangeran Gin Lun yang telah dihasut oleh pihak anak buahnya tjiangkun Sie Pek Hong, yang sengaja datang membawa kabar, mengatakan liehiap Liu Giok Ing hendak datang mengacau; sehingga pangeran Gin Lun telah mengatur persiapan memasang perangkap, sebab waktu pangeran Gin Lun menganggap benar-benar liehiap Liu Giok Ing yang menjadi pelaku peristiwa pembunuhan dikota-raja, juga di istana tempat kediaman pangeran Gin Lun.

Kemudian pangeran Gin Lun yang juga turut merasa menyesal dan ikut berduka-cita, ketika diketahuinya bahwa kakaknya, pangeran Giok Lun, ikut menjadi korban sehingga tewas akibat perbuatan fitnah yang dilakukan oleh pihak pangeran Kim Lun!

Mengenai Kanglam liehiap Soh Sim Lan yang sudah tidak ada lagi di kota San-hay koan, dikatakan oleh pangeran Gin Lun bahwa waktu itu Kanglam liehiap Soh Sim Lan hanya singgah, membawa pesanan dari pangeran Bok Lun buat disampaikan kepada pangeran Gin Lun. Waktu itu Kanglam liehiap Soh Sim Lan juga menjadi bingung waktu menghadapi perbuatan Liu Giok Ing, hasrat hatinya ingin benar dia melakukan penyelidikan, akan tetapi Kanglam liehiap Soh Sim Lan sedang sibuk, membawa tugas rahasia dari pangeran Bok Lun yang berkedudukan dikota Ceng-kang, sebab waktu itu pihak perampok bangsa Jepang sedang meraja-lela di sepanjang pesisir Tay-ciu, yang letaknya di sebelah timur kota Ceng kang.

Gin Lun Hoat ong kemudian menyetujui usul Kwee Su Liang, untuk menggempur pihak Kim Lun Hoat ong dan berusaha menangkap untuk dibawa menghadap kepada sri baginda maharaja, tetapi untuk maksud itu, pangeran Gin Lun perlu menyusun tenaga, disamping siasat tersebut perlu juga harus diusahakan tenaga bantuan, mengingat pangeran Kim Lun mempunyai para pembantu yang tinggi dan sakti ilmunya. Akhirnya diputuskan bahwa liehiap Liu Giok Ing ditugaskan untuk melatih para perwira yang bertugas di istana pangeran Gin Lun, sementara Kwee Su Liang akan berangkat ke kota-raja buat memberikan laporan kepada sri baginda maharaja; setelah itu Kwee Su Liang berjanji akan kembali berkumpul dengan liehiap Liu Giok Ing di kota San-hay koan, untuk bersama-sama mengganyang istana pangeran Kim Lun di kota Oei- kee tin.

--0-~

KWEE SU LIANG tiba di kota-raja akan tetapi dia tidak berhasil menemui sri baginda maharaja, yang selalu sibuk mengurusi selir-selir kesayangannya; sehingga Kwee Su Liang hanya menghadap menteri kehakiman Pouw Goan Leng dan menteri Pouw Goan Leng menjadi sangat terkejut sekali pada saat mendengarkan laporan dari Kwee Su Liang, bahkan semua peristiwa pembunuhan yang terjadi di kota raja maupun di kota San hay koan, ternyata didalangi oleh pangeran Kim Lun, dan pangeran Kim Lun bahkan sedang merencanakan perbuatan pemberontakan.

Menteri kehakiman Pauw Goan Leng kemudian berjanji kepada Kwee Su Liang, bahwa dia akan meneruskan laporan itu kepada sri baginda maharaja, selekas dia mendapat kesempatan buat menghadap; dan menteri yang tua-tua keladi itu kemudian memberitahukan kepada Kwee Su Liang, bahwa selama Kwee Su Liang pergi meningggalkan perbatasan kota Gan bun koan, maka sekelompok kawanan perampok dari suku bangsa Watzu, Tartar, dikabarkan telah berulangkali melakukan penyerangan terhadap kota Gan bun koan dan melakukan kejahatan merampok didalam kota, sehingga Hui thian liong-li Lie Gwat Hwa yang mewakilkan tugas suaminya, berulangkali mengirim laporan ke kota raja dan minta tenaga bantuan, akan tetapi sri baginda maharaja melalaikan laporan itu, sebab tetap sedang dibikin sibuk oleh para selir-selir.

Sudah tentu Kwee Su Liang menjadi sangat terkejut waktu dia mendengar berita itu, sekilas mukanya berobah pucat, karena mendadak dia teringat dengan ucapan si orang-tua sakti Lauw Tong Sun, waktu dia mengajak puteranya pergi memburu diatas gunung Touw bok san. Akan terjadi malapetaka yang bakal menimpa puteranya, oleh karena dia bakal pergi meninggalkan kota Gan bun koan; kata-kata ini yang pernah diucapkan oleh Lauw Tong Sun.

Oleh karena itu, cepat-cepat Kwee Su Liang pamitan dari menteri Pauw Goan Leng; bahkan dia minta tolong menteri tua itu memberikan kabar kepada pangeran Gin Lun bahkan untuk sementara dia harus lekas lekas pulang ke perbatasan kota Gan bun koan, setelah itu baru dia kembali ke kota San hay koan.

Kwee Su Liang melakukan perjalanan secara tergesa- gesa, tetap dia memakai kuda kesayangannya; akan tetapi disepanjang perjalanan itu, masih tetap dia merasa gelisah memikirkan keselamatan puteranya, disamping itu dia pun memikirkan Liu Giok Ing.

Mengenai kawanan perampok suku bangsa Watzu yang berani menyerang dan melakukan pengacauan didalam kota Gan bun koan, sesungguhnya adalah diluar dugaan Kwee Su Liang. Tidak terpikir olehnya tentang adanya kemungkinan pihak bangsa Watzu yang bakal menyerang negeri Cina, meskipun diketahuinya bahwa suku bangsa itu sedang membentang pengaruh. Untuk menghadapi serangan atau gangguan pihak kawanan perampok, sebenarnya ada isterinya yang gagah perkasa yang bakal sanggup menghadapi, disamping masih ada Kwee hujin berdua Sie hujin yang bukan merupakan sembarang wanita lemah. Cemas hati Kwee Su Liang memikirkan keadaan isteri dan kedua bibiknya itu, yang dia khawatir mendapat cedera, juga mengenai puteranya yang katanya bakal menghadapi bencana, sebagai akibat perbuatan Kwee Su Liang yang telah membunuh seekor anak harimau !

Tanpa mengenal lelah sekali Kwee Su Liang melakukan perjalanan siang maupun malam; tetapi selekas dia sudah mendekati kota perbatasan Gan-bun koan disebelah selatan, dia semakin menjadi terkejut dan cemas; sebab dia melihat banyaknya penduduk kota Gan bun koan yang mengungsi; berduyun-duyun meninggalkan kota yang sedang dilanda keganasan kawanan perampok suku bangsa Watzu, yang bahkan membakari rumah-rumah penduduk dan melakukan pembunuhan serta memperkosa wanita. "Pihak tentara tak mampu mengatasi kekacauan, selagi Kwee tiehu tidak ada ditempat ..." demikian Kwee Su Liang memperoleh keterangan dari para penduduk yang sedang mengungsi meninggalkan kota Gan bun koan, dalam suasana cemas dan ketakutan.

Kwee Su Liang merasa sangat pedih hatinya, disamping dia marah terhadap kawanan perampok yang sedang mengacau. Dia pun semakin merasa cemas memikirkan keadaan anaknya, serta isteri dan kedua bibinya, sehingga Kwee Su Liang meneruskan perjalanannya, menerobos diantara sekian banyaknya penduduk yang mengungsi, yang berduyun-duyun mengambil arah yang berlawanan dengan tujuan Kwee Su Liang, sampai mendadak Kwee Su Liang menghadapi peristiwa kawanan perampok yang sedang melanda kota kekuasaannya, tanpa ada pihak tentara yang merintangi atau menghalau kawanan perampok itu.

Mereka dengan ganasnya sedang merampok dan membakar rumah-rumah dusun yang sedang dilewati oleh Kwee Su Liang, sehingga terlihat api yang berkobar menyala, serta terdengar berbagai macam pekik suara dari kawanan perampok yang sedang mengacau serta dari penduduk setempat yang sedang dilanda keganasan.

Mayat-mayat para penduduk banyak yang bergelimpangan; dijalan raya maupun dirumah-rumah, sementara pekik teriak suara wanita yang diperkosa ataupun yang ketakutan karena diancam bahaya maut, membikin meluap rasa marah Kwee Su Liang, sehingga dia ikut berteriak sekeras yang mampu dia lakukan, setelah itu dengan pedangnya dia mulai mengamuk dikalangan kawanan perampok.

Menghadapi kawanan perampok bangsa Watzu yang kejam dan ganas, Kwee Su Liang ikut menjadi buas, sehingga dalam sekejap sudah ada belasan perampok yang menjadi mangsa pedangnya; selagi dia mengamuk dan tetap sambil menunggang kuda.

Dilain kesempatan Kwee Su Liang lompat turun dari atas kuda, dan tubuhnya melesat kesuatu rumah yang didengarnya ada suara pekik teriak dari seorang wanita. Sebelah kaki Kwee Su Liang menendang daun pintu yang tertutup, setelah itu dilihatnya ada seorang perampok bertubuh tinggi-besar, yang sedang berusaha hendak memperkosa seorang wanita muda.

Ada lima orang kawanan perampok yang sedang tertawa menyaksikan perbuatan rekan mereka, dan mereka menjadi sangat terkejut ketika secara mendadak Kwee Su Liang lompat masuk sambil menendang daun pintu. Mereka tidak berdaya merintangi, ketika dengan marah Kwee Su Liang meraih bagian punggung laki-laki yang hendak memperkosa wanita muda itu dan tubuh laki-laki yang tinggi besar itu dengan mudah dilempar keluar pintu oleh Kwee Su Liang, setelah itu dia tempur ke 5 kawanan perampok yang sudah mulai menyerang dia.

Kawanan perampok itu merasa sukar mengepung Kwee Su Liang didalam rumah yang tidak besar itu; sehingga mereka keluar dan Kwee Su Liang mengejar terus, dan terjadi mereka bertempur di jalan raya; sedangkan kawanan perampok semakin banyak yang ikut mendekati tempat pertempuran itu dengan mengambil sikap mengurung, sebab ternyata 5 orang perampok yang sedang ditempur oleh Kwee Su Liang, merupakan pimpinan dari kawanan perampok yang melakukan keganasan.

Dengan mengerahkan ilmu 'pek ban kiam hoat' yang khusus diciptakan oleh tayhiap Pek Ban Tong, gurunya; maka Kwee Su Liang mengamuk dalam kepungan 6 orang pimpinan kawanan perampok bangsa Watzu. Pedangnya dengan gesit menyambar silih berganti arah melancarkan berbagai serangan maut. Akan tetapi, ternyata tidak mudah buat Kwee Su Liang mengalahkan 6 orang kawanan perampok, yang ternyata mahir ilmu silatnya; sementara Kwee Su Liang bertambah cemas ketika melihat semakin banyaknya rumah penduduk yang sedang terbakar serta masih terdengarnya pekik teriak mereka yang sedang ketakutan.

Dalam keadaan yang seperti itu, dan selagi Kwee Su Liang seorang diri mengamuk ditengah kepungan para perampok; mendadak datang serombongan tentara yang dipimpin oleh seorang perwira muda. Mereka segera ikut bertempur menghadapi kawanan perampok, dan pada kesempatan lain perwira muda berhasil mendekati tempat Kwee Su Liang yang sedang mengamuk, dan perwira muda itu berteriak girang ketika melihat sang gubernur yang sudah pulang :

"Kwee tay-jin ---!”

Kwee Su Liang yang memang sempat mengetahui kedatangannya pihak tentara negeri, segera mengenali perwira itu yang ternyata bernama Lim Su Kie.

"Lim ciangkun, jangan biarkan ada kawanan perampok yang melarikan diri. Habiskan mereka semua ...!" Kwee Su Liang ikut berteriak, membakar semangat pembantunya yang masih muda itu; sehingga Lim Su Kie menjadi bertambah girang dan bertambah semangat tempurnya menghadapi kawanan perampok yang ganas itu.

Sementara itu, penduduk setempat yang juga ikut mengetahui bahwa gubernur mereka sedang bertempur menghadapi kawanan perampok, maka kaum laki-laki yang masih muda, ikut membantu memberikan perlawanan terhadap kawanan perampok; sehingga dalam sekejap kawanan perampok itu menjadi bercerai-berai, banyak yang berusaha hendak melarikan diri, namun tidak diberi kesempatan oleh pihak tentara negeri, maupun oleh penduduk yang sudah bangkit semangat perlawanan mereka.

Dipihak Kwee Su Liang, dia ikut memperhebat serangannya, sehingga berhasil melumpuhkan dua orang pimpinan kawanan perampok yang sedang mengepung; dan kedua kawanan perampok itu lalu dibinasakan oleh serombongan tentara negeri.

Pimpinan perampok yang bertubuh tinggi besar, yang tadi kena dilempar oleh Kwee Su Liang; terdengar berteriak marah ketika dilihatnya dua orang rekannya kena ditewaskan. Dengan tenaganya dahsyat, dia membacok Kwee Su Liang memakai goloknya yang berat; akan tetapi dengan lincah Kwee Su Liang berhasil menghindar dari bacokan itu, lalu dengan gerak tipuan 'sin liong jip hay' atau naga sakti terjun ke laut, dia menikam ke bagian dada lawannya yang tetap mencapai sasaran, sehingga perampok bertubuh tinggi besar itu rubuh tewas seketika !

Pihak kawanan perampok semakin menjadi berkecil hati, ketika tiga orang pemimpin mereka telah ditewaskan; mereka berusaha hendak melarikan diri, akan tetapi mereka tidak diberikan oleh pihak tentara negeri maupun oleh pihak penduduk yang telah bangkit kemarahannya, dan yang saat itu langsung dipimpin oleh gubernur mereka, Kwee Su Liang.

Mayat-mayat kawanan perampok akhirnya habis tewas semuanya, tanpa ada seorang pun yang berhasil dengan melarikan diri; sedangkan Kwee Su Liang kemudian memerlukan memberi perintah kepada pihak tentara, untuk bantu memadamkan api yang sedang berkobar-kobar membakar rumah penduduk, serta memberikan pesan kepada ciangkun Lim Su Kie supaya berusaha mengamankan daerah setempat; setelah itu Kwee Su Liang buru-buru meneruskan perjalanannya, hendak menemui anak dan isterinya, oleh karena hatinya semakin menjadi cemas ketika Lim ciangkun memberitahukan bahwa gedung tempat kediamannya, sudah beberapa kali diserbu oleh kawanan perampok yang ternyata banyak rombongannya.

Hari sudah mendekati magrib ketika Kwee Su Liang memasuki kota Gan-bun koan, dan dia langsung menuju gedung tempat kediamannya, yang kelihatan dijaga ketat oleh sepasukan pengawal bersenjata siap bagaikan keadaan perang.

Kedatangan Kwee Su Liang sudah tentu disambut dengan gembira oleh para perwira, maupun oleh segenap tentara yang sedang bertugas dibawah perintah Kwee Su Liang, akan tetapi pada wajah mereka kelihatan jelas bahwa mereka dalam keadaan gugup dan cemas, menambah keadaan Kwee Su Liang semakin jadi bertambah gelisah.

Sementara itu, hui thian Hong lie Lie Gwat Hwa langsung menangis didalam rangkulan suaminya, juga Sie Kim Lian berdua Kwee Giok Cu yang kebenaran berada didekat bibik mereka, ikut terisak menangis.

“Gwat moay, tenangkan hatimu dan ceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi ..." Kwee Su Liang berusaha menghibur isterinya, meskipun keadaannya sendiri sedang merasa gelisah dan cemas, karena dia tidak melihat kehadiran puteranya, juga kedua bibiknya.

'Hui thian liong li' Gwat Hwa masih terisak menangis, waktu dia berusaha menceritakan kepada suaminya, tentang peristiwa yang telah terjadi selama suaminya sedang menjalankan tugas ke kota raja : “Malapetaka telah terjadi setelah siang-kong pergi; kawanan perampok bangsa Watzu secara mendadak memasuki kota dan melakukan perampokan; sehingga . , . sehingga ..”

Kwee Su Liang merasa sangat tegang ketika isterinya seperti tidak sanggup meneruskan perkataannya. Bagaimana dengan keadaan puteranya dan kedua bibiknya

?

“Teruskan, moay-moay ..." akhirnya Kwee Su Liang berkata secara lembut, sambil dia membelai bagian kepala isterinya.

“Anak kita; Siangkong; Bun jie. Dia, dia...”

Bertambah kaget Kwee Su Liang, dan semakin dia menjadi merasa cemas.

“Bun jie, kenapa dia moay-moay ?”

“Setengah bulan yang lalu, siangkong, waktu pertama kali terjadi kawanan perampok melakukan penyerangan terhadap tempat kita, Bun jie mendadak hilang ..."

“Hilang ? Maksud moay-moay ditawan kawanan perampok atau ..," tak sanggup Kwee Su Liang melengkapi kalimat pertanyaannya tidak ada kemampuannya untuk menyebut kata-kata ‘mati' buat anaknya, Kwee Bun San !

“Waktu itu sedang terjadi pertempuran yang serba kacau; dengan secara mendadak datang seekor harimau putih yang besar, dan ... dan ..."

“Harimau putih ... ?" bagaikan tak sadar Kwee Su Liang mengulang perkataan isterinya; dan secara mendadak dia pun teringat dengan si kakek yang sakti, Lauw Tong Sun. Mungkinkah anaknya dibawa lari oleh harimau putih yang miliknya si kakek sakti itu? "Ada beberapa orang tentara yang melihat, bahwa Bun jie naik dibagian punggung harimau itu, dan harimau itu melarikan Bun jie; sedangkan Kwee subo, dia ... dia mati--"

"Hah, Kwee subo mati ? Dia digigit oleh harimau itu ...?" Semakin bertambah gugup waktu Kwee Su Liang mengajukan pertanyaannya, setelah diketahuinya bahwa Kwee subo atau ibunya Kwee Giok Cu dikatakan sudah binasa.

"Kwee subo tewas waktu melakukan pertempuran lawan kawanan perampok ..." sahut Lie Gwat Hwa yang memberikan penjelasan; dan Kwee Su Liang menanya lagi :

“Dan Sie Subo, bagaimana keadaannya ?”

“Dia terluka parah; sedang dalam perawatan didalam

kamarnya ..."

Sangat pedih hati Kwee Su Liang waktu itu, dia sampai menarik napas panjang, sementara Kwee Giok Cu berdua Sie Kim Lian semakin terisak menangis, juga Lie Gwat Hwa jadi menangis lagi.

Lesu keadaan Kwee Su Liang waktu dia terduduk dan ditemani oleh isterinya, sementara Kwee Giok Cu berdua Sie Kim Lian sudah masuk buat melihat Sie hujin yang katanya terluka parah. Air mata Kwee Su Liang mulai membasahi mukanya, karena dia teringat dengan bibiknya, Kwee hujin yang telah binasa ditangan kawanan perampok bangsa Watzu; sedangkan puteranya hilang dibawa lari oleh harimau putih. Jelas malapetaka telah melanda rumahnya selagi dia sedang bepergian, tepat seperti yang dikatakan atau diramalkan oleh Lauw Tong Sun; waktu mereka bertemu diatas gunung Touw bok san. Begitu cepat ramalan itu menjadi kenyataan yang sangat menyedihkan hati Kwee Su Liang. Kawanan perampok bangsa Watzu telah melanda kota kekuasaannya, bahkan juga dirumahnya. Kawanan perampok itu sangat kejam dan buas, mereka tidak cuma merampok akan tetapi mereka bahkan membakar rumah, melakukan pembunuhan secara kejam dan memperkosa kaum wanita secara biadab. Semuanya ini terjadi selagi dia sedang tidak berada dirumah; dan sebagai akibat dari perbuatannya yang telah membunuh anak harimau, seperti yang dikatakan oleh si kakek Lauw Tong Sun !

Jelas waktu itu tidak diketahui oleh Kwee Su Liang, bahwa kawanan perampok yang menyerang dan melanda kota Gan bun koan sebenarnya bukan merupakan kawanan perampok. Mereka justeru adalah tentara dari negara Watzu yang sengaja mendapat tugas buat mengacau dengan menyamar sebagai kawanan perampok. Dalam keadaan marah Kwee Su Liang bahkan telah menulis sepucuk surat resmi selaku gubernur kepala daerah, berupa surat protes kepada pihak pemerintah kerajaan bangsa Watzu; disamping Kwee Su Liang juga menulis sepucuk surat pengaduan yang dikirim ke kota-raja.

Secara resmi, sebagai gubernur kepala daerah di kota perbatasan Gan bun koan, Kwee Su Liang merasa tidak berwenang buat memasuki daerah kekuasaan negara Watzu, buat dia mencari dan melakukan balas dendam terhadap kawanan perampok yang telah melanda dirumah dan di kotanya; oleh sebab itu Kwee Su Liang telah menulis sepucuk surat protes. Disamping itu, dia sedang memikirkan suatu daya buat secara menyamar memasuki daerah kekuasaan Watzu, sekalian buat mencari kawanan perampok itu.

Setelah menyambangi Sie hujin yang rebah terluka parah didalam kamarnya, maka Kwee Su Liang mendapat tambahan keterangan tentang keganasan kawanan perampok itu.

Sie hujin berdua Kwee hujin memang merupakan bukan sembarang wanita. Diwaktu mudanya mereka biasa berkelana menjelajah kalangan rimba persilatan tanpa mengenal rasa takut, sehingga mereka sangat marah ketika mengetahui kawanan perampok bangsa Watzu memasuki kota Gan bun koan dan melakukan keganasan.

Kedua nyonya yang perkasa itu memimpin sejumlah tentara, melakukan pengejaran, pertempuran melawan kawanan perampok; akan tetapi kawanan perampok itu ternyata berjumlah sangat banyak, sehingga pihak Kwee hujin berdua yang jadi terkepung. Bahkan pihak pimpinan kawanan perampok, yang sebenarnya merupakan para perwira suku bangsa Watzu yang menyamar; ternyata sangat gagah dan tinggi ilmunya, sehingga tidak mudah bagi Kwee hujin berdua Sie hujin menerobos kepungan pihak para perampok, sebaliknya pihak tentara negeri banyak yang tewas, menjadi korban keganasan kawanan perampok.

Dalam pertempuran yang kacau itu, Kwee Hujin berdua Sie hujin mendapat luka, tetapi dia tetap melakukan perlawanan; akhirnya Kwee hujin tewas dan Sie hujin tertolong berkat datangnya bala bantuan tentara yang dipimpin oleh ciangkun Lim Su Kie, atas perintah Lie Gwat Hwa yang merasa cemas memikirkan kedua bibik itu.

Esok paginya Kwee Su Liang mengumpulkan sisa perwira yang masih dimilikinya, lalu dia memecah tenaga mereka secara berkelompok melakukan perondaan dan penjagaan disekeliling kota, juga Kwee Su Liang ikut keluar melakukan pemeriksaan. Rombongan Kwee Su Liang sengaja memilih daerah yang berbatasan dengan negara Watzu, namun sampai beberapa hari mereka tidak menemukan rombongan kawanan perampok yang datang mengacau; bahkan sampai setengah bulan lamanya tidak pernah terjadi lagi adanya rombongan perampok yang melanda didalam kota Gan-bun koan.

Diluar tahu Kwee Su Liang, pihak pemerintah Watzu sudah mengetahui tentang kembalinya Kwee Su Liang dari perjalanan ke kota-raja; dan mereka bahkan telah menerima laporan tentang tewasnya sejumlah perwira berikut tentara mereka ditangan Kwee Su Liang; waktu perwira dan tentara itu secara menyamar melakukan pengacauan di kota Gan bun koan.

Sudah tentu pihak pemerintah bangsa Watzu menjadi sangat marah, ingin mengerahkan semua tentara mereka buat melakukan penyerangan ke kota Gan-bun koan; tetapi kehendaknya itu untuk sementara ditunda, sebab pihak pemerintah bangsa Watzu kedatangan utusan dari Kim Lun Hoat-ong, yang mengatakan bahwa didalam waktu yang dekat, akan datang sejumlah orang-orang gagah dari negeri cina. Mereka merupakan teman-teman Kim Lun Hoat ong, yang akan membantu pemerintah bangsa Watzu melakukan penyerangan terhadap negeri cina; sementara Kim Lun Hoat ong akan melakukan gerakan dari disebelah dalam. Tentang waktu untuk melakukan gerakan itu, akan diberitahukan oleh Kim Lun Hoat ong, setelah mereka memperoleh kekuatan yang mencukupi.

Sementara itu bantuan tentara dari kota raja yang dinantikan oleh Kwee Su Liang; ternyata tak kunjung datang; sebaliknya di negara Watzu mulai mengalir berdatangan orang-orang gagah dari golongan 'hitam'. Kedatangan mereka adalah atas hasil undangan dari Kim Lun Hoat ong, yang disampaikan melalui Kim Wan tauw to berdua 'toan lo sin koay' Kong Tek Liang.

Oo0oo

ADA lima macan dari Kwan gwa, atau Kwan gwa ngohouw yang ikut menggabungkan diri pada pihak pemerintah bangsa Watzu, mereka dahulunya merupakan kepala perampok yang ganas diwilayah Kwan gwa, akan tetapi sarang mereka pernah diganyang oleh pasangan si pendekar tanpa bayangan Kwee Su Liang berdua 'ceng hwa liehiap' Liu Giok Ing. Sekian lamanya mereka menyimpan dendam terhadap pasangan yang gagah perkasa itu, namun tak pernah mereka memperoleh kesempatan untuk melaksanakan niat mereka. Setelah mereka berada di negara Watzu dan setelah mengetahui bahwa si pendekar tanpa bayangan Kwee Su Liang justeru menjadi gubernur yang berkuasa di kota Gan-bun koan; maka selagi pihak pemerintah negara Watzu masih menunggu datangnya rombongan orang-orang gagah yang lain, 5 macan dari Kwan-gwa ini menyarankan dan mengajukan diri, buat secara menyamar melakukan pengacauan dikota Gan-bun koan.

Pihak pemerintah negara Watzu menyetujui usul ke 5 macan dari Kwan gwa itu, dan mereka diberikan sepasukan tentara yang semuanya menyamar sebagai kawanan perampok; sehingga terjadilah hari itu mereka memasuki kota Gan bun koan secara berkelompok yang terpisah, lalu mereka berkumpul dan mulai melanda melakukan pengacauan.

Kwee Su Liang yang selalu waspada meskipun merasa kekurangan tenaga, sebab bantuan dari kota raja belum kunjung tiba; segera dia mengerahkan pasukannya dan melakukan pengejaran. Pasukan Kwee Su Liang ini kelihatan bersemangat sebab dipimpin langsung oleh gubernur mereka yang terkenal gagah perkasa, dan mereka langsung melakukan penyerangan terhadap sekawanan perampok yang sedang mengganas, tanpa mereka mengetahui bahwa mereka sedang berhadapan dengan pihak tentara dari negara Watzu, yang waktu itu sedang dipimpin oleh lima macan dari Kwan gwa yang terkenal ganas dan kejam !

Ciangkun Lim Su Kie yang masih muda usianya dan belum kenal dengan lima macan dari Kwan gwa itu, justeru merupakan orang pertama yang langsung menghadapi kepala rampok yang ganas itu. Merasa tobat pemuda ini waktu dia berhadapan dan diserang oleh Toa houw dan Jie houw, si macan pertama dan macan kedua yang bertubuh tinggi besar. Hampir tewas ciangkun Lim Su Kie, kalau dia tidak lekas lekas ditolong oleh si pendekar tanpa bayangan Kwee Su Liang.

"Kwee Su Liang, apakah kau masih ingat dengan kami lima bersaudara dari Kwan gwa ....?!" tanya Toa houw dengan nada suara menghina, pada waktu dia berhadapan dengan si pendekar tanpa bayangan yang menjadi musuh yang sudah sedemikian lamanya dia dendam.

"Kwan gwa ngo houw…" Kwee Su Liang bersuara tanpa sadar; sebab dia benar-benar sedang dihadapi oleh rasa heran. Mengapa perampok bangsa Watzu justeru dipimpin oleh lima kawanan perampok bangsa cina ?

Akan tetapi waktu itu Kwee Su Liang tidak sempat berpikir lama, sebab Toa houw berdua Jie houw sudah langsung melakukan penyerangan; bahkan kemudian dibantu oleh tiga saudara mereka yang lain.

Sudah tentu pertarungan antara Kwee Su Liang melawan kelima macan dari Kwan-gwa itu terjadi sangat hebatnya, sedangkan ciangkun Lim Su Kie yang sekali-kali ikut menyerang memberikan bantuan bagi Kwee Su Liang, ternyata berulangkali terjatuh kena tendang, atau karena kalah mengadu tenaga dengan macan-macan dari Kwan gwa yang terkenal kejam itu.

Bagian lengan kiri Lim Su Kie sudah terluka kena tikaman golok si macan Sam houw, tetapi dia maju menyerang lagi, sehingga pantatnya kena ditendang oleh si macan kedua Jie houw lalu dia maju lagi tetapi punggungnya kena dihajar oleh kepelan si macan ke 4 Su houw, sehingga dia terjerumus nungging hampir jatuh tengkurup, sedangkan dari mulutnya keluar sedikit darah, menandakan tenaga dalamnya kena gempur.

Terpaksa sejenak ciangkun Lim Su Kie memisah diri, mengamuk dikalangan tentara bangsa Watzu yang menyamar sebagai kawanan perampok. Berhasil dia membinasakan dua orang tentara Watzu, setelah itu kembali dia mendekati Toa houw yang dia tikam dari bagian punggung, akan tetapi si macan pertama bagaikan memiliki mata dibagian belakang, sehingga secara mendadak sebelah kaki Toa houw menendang kebagian belakang, kena betis ciangkun Lim Su Kie, sampai pemuda ini jatuh celentang.

Akan tetapi cepat-cepat ciangkun Lim Su Kie bangun kembali. Dan segera mengamuk kembali dikalangan tentara bangsa Watzu meskipun sebelah kakinya pincang; dan berhasil dia melukai dua orang tentara Watzu yang lalu dibinasakan oleh tentara yang menjadi pasukannya Lim Su Kie.

Setelah melukai dua orang tentara bangsa Watzu, kembali ciangkun Lim Su Kie berhasil memberikan bantuan kepada Kwee Su Liang yang kelihatan repot dikepung oleh lima lawan kuat. Sengaja Ciangkun Lim Su Kie mendekati si macan-kelima, Ngo houw yang dia ketahui paling lemah kalau dibanding dengan keempat macan yang lain. Akan tetapi ciangkun Lim Su Kie tetap kalah ilmu dan kalah pengalaman, sehingga sekali lagi dia kena ditendang terpental ke arah kawanan tentara yang sedang bertempur, dan sekali lagi pedangnya yang tajam berhasil membelah kepala seorang tentara bangsa Watzu.

Dipihak Kwee Su Liang, sesungguhnya Kwee Su Liang menghadapi lawan berat yang merupakan Kwan gwa ngo- houw, atau lima macan dari Kwan-gwa. Dahulu dia pernah mengalahkan kawanan berandal itu, hanya melulu karena dia didampingi oleh liehiap Liu Giok Ing; sehingga mereka mengerahkan ilmu sepasang pedang yang bersatu padu akan tetapi sekarang hanya seorang diri dia harus menghadapi lima macan yang tinggi ilmunya itu, serta merupakan orang-orang yang ganas dan kejam!

Dengan mengandalkan ilmu silat pedang pek-bankiam- hoat" atau sejuta pedang, berhasil Kwee Su Liang menutup diri dari berbagai serangan pihak lawan yang mengepung akan tetapi terasa sukar buat dia melakukan serangan balasan, sebab pihak lawan secara silih berganti tak putusnya melakukan serangan secara gelombang.

Sementara itu Kwee Su Liang juga merasa cemas memikirkan isterinya yang dirumah yang sedang menemani bibiknya yang terluka parah. Dia khawatir bahwa pihak berandal memecah tenaga dan melakukan penyerangan dirumahnya, sehingga sukar isterinya memberikan perlawanan, disamping harus melindungi sang bibik yang sedang terluka, dan melindungi kedua keponakan mereka, Sie Kim Lian dan Kwee Giok Cu yang masih belum dewasa, meskipun mengerti ilmu silat.

Dalam memberikan perlawanan terhadap lima orang para pengepungnya, masih sempat Kwee Su Liang memperhatikan keadaan ciangkun Lim Su Kie. Pemuda itu memang gigih bertempur, meskipun dia sudah terluka dan beberapa kali kena ditendang, pemuda itu memang berhasil membinasakan dan melukai beberapa orang pasukan kawanan berandal, akan tetapi kawanan berandal itu sangat besar jumlahnya, sedangkan dipihak tentara negeri juga sudah banyak yang menjadi korban binasa atau terluka.

Jelas Kwee Su Liang berada didalam keadaan gelisah dan cemas, selagi dia harus menghadapi pertempuran yang berat, yang sewaktu-waktu bisa membinasakan dia. Terasa dia sangat penasaran karena pihak berandal bangsa Watzu, ternyata sekarang sudah bekerja sama dengan pihak berandal bangsa cina: sedangkan pihak kota-raja ternyata tidak ada perhatian buat mengirimkan bala bantuan. Entah apa yang akan terjadi, kalau pihak tentara bangsa Watzu yang datang menyerang; sukar buat dia melakukan pertahanan tanpa adanya bala-bantuan dari kota raja.

Selagi keadaan Kwee Su Liang dalam gelisah dan cemas serta diancam oleh bahaya maut, secara mendadak datang bantuan berupa dua orang pendekar perempuan, yang datang dengan naik kuda, akan tetapi langsung lompat turun dan memberikan bantuan kepada Kwee Su Liang.

Sudah tentu Kwee Su Liang menjadi sangat girang dan bertambah semangat tempurnya, sebab dua pendekar perempuan yang memberikan bantuan itu, ternyata adalah Kanglam liehiap Soh Sim Lan berdua liehiap Liu Gwat Go yang adiknya Liu Giok Ing.