-->

Pendekar Bunga Cinta Jilid 05

Jilid 05

SEJENAK liehiap Liu Giok Ing terdiam bagaikan terpukau. Selama beberapa hari tinggal menumpang dirumah ciangkun itu, memang telah dilihatnya betapa besar perhatian Sie Pek Hong terhadap dirinya, segala kebutuhannya tak pernah ada yang dilalaikannya, selalu diperlihatkannya sikap manis; bahkan kadang-kadang seperti berlebihan. Cuma satu hal yang tidak dilakukan oleh ciangkun Sie Pek Hong, yakni memperkenalkan isterinya terhadap Liu Giok Ing. Mengapa ? Ini pernah Liu Giok Ing menanya didalam hatinya, akan tetapi lambat laun dia menyadari, bahwa diam-diam ciangkun itu mempunyai minat terhadap dirinya.

Kini sekali lagi Sie Pek Hong perlihatkan perhatiannya dengan menyatakan rasa cemasnya, sehingga diam-diam liehiap Liu Giok Ing menjadi terharu, oleh karena disaat yang seperti itu, dia memang sedang membutuhkan rasa kasih-sayang. Tanpa terasa, dia menunduk dan mengalirkan air-mata tak mampu mengucap apa-apa.

“Giok-moay, mengapa kau mengeluarkan air-mata...?" tanya Sie Pek Hong, yang memberanikan diri memakai istilah adik; dan dia bahkan memberanikan diri memegang sepasang pundak liehiap Liu Giok Ing.

Sekali lagi Liehiap Liu Giok Ing bagaikan terpukau ketika mendengar kata-kata Sie Pek Hong, yang memakai istilah Giok-moay. Berulang lagi dia teringat lagi dengan laki-laki yang telah berhasil mencuri hatinya, sehingga saat itu dia membiarkan sepasang pundaknya yang dipegang oleh Sie Pek Hong. Dalam khayalnya dia membayangkan seolah-olah Kwee Su Liang yang sedang memegang sepasang pundaknya.

Akan tetapi, waktu Sie Pek Hong memegang dan mengangkat bagian mukanya, sehingga terlihat oleh liehiap Liu Giok Ing bahwa yang sedang berdiri dihadapannya adalah ciangkun Sie Pek Hong, maka secara mendadak Liu Giok Ing melangkah mundur memisah diri dari Sie Pek Hong. “Ciangkun, aku tidak apa-apa. Soal penjahat tadi, biarlah esok siang saja kita bicarakan, sebab malam ini aku ingin istirahat,” kata Liu Giok Ing. Secara halus dia menghendaki Sie Pek Hong meninggalkan dia.

Dalam hati Sie Pek Hong merasa sangat kecewa, akan tetapi dia memang seorang laki-laki yang pandai merayu, sehingga menghadapi Liu Giok Ing yang dia ketahui kegagahannya seperti seekor macan betina, maka dia merasa perlu menyadarkan diri, dan dia bahkan sedang memikirkan sesuatu siasat buruk buat memperkosa Liu Giok Ing.

Dengan perlihatkan muka manis Sie Pek Hong tinggalkan Liu Giok Ing, dan dia memerlukan memangggil Ma Kong berdua Ma Kiang, setelah itu dia memanggil seorang pelayan perempuan yang tugasnya dibagian dapur.

Pada malam berikutnya liehiap Liu Giok Ing merasa gelisah berada seorang diri di-dalam kamarnya. Sebab waktu makan-malam tadi, dia merasakan dadanya sering berdebar keras, bahkan jiwanya terasa bergetar. Seorang diri dia berusaha tenangkan diri, akan tetapi bayang2 suaminya kembali menghantui dia.

Teringat lagi oleh liehiap Liu Giok Ing betapa lembut dan mesra suaminya membelai dia, pada bagian rambutnya, pindah ke-bagian belakang kepala dan ke bagian leher dekat daun-telinga, yang merupakan bagian kelemahannya. Setelah itu, suaminya pasti akan memberikan sebuah kecupan yang hangat, sebuah kecupan dibagian pipi yang kemudian pindah kebagian bibirnya; sehingga Iiehiap Liu Giok Ing merasa terangsang dan ikut memberikan kecupan kepada suaminya, yang bahkan dia rangkul erat-erat. Tetapi kini setelah suaminya marhum, terasa betapa hidupnya, tiada lagi orang yang membelai dia mendambakan dia, dan membisikkan kata-kata merayu penuh kasih-sayang. Tanpa terasa, liehiap Liu Giok Ing menggigit bagian bibirnya, selagi dia membayangkan kecup-mesra dari suaminya yang sudah marhum, sehingga dia merasakan semakin berdebar pada bagian dadanya, bahkan sampai dia mengeluarkan sedikit peluh dibagian lehernya.

Segera Liu Giok Ing membuka daun-jendela kamar, membiarkan angin-malam mulai masuk mengurangkan rasa panas yang sedang dia rasakan. Tidak disadari olehnya bahwa waktu itu sebenarnya dia sedang terpengaruh akibat obat perangsang 'lian-hoan lo hap sie yang sengaja diberikan oleh ciangkun Sie Pek Hong, dicampur pada arak yang diminum oleh Liu Giok Ing, sehabis waktu bersantap- malam tadi.

Selagi berdiri didekat daun-jendela kamar dan selagi merasakan lembutnya tiupan angin malam, maka ganti bayang2 bo-im kiamhiap Kwee Su Liang yang direnungkan oleh liehiap Liu Giok Ing.

Selagi masih akrab dan melakukan perjalanan sama- sama, Kwee Su Liang pernah menderita kena penyakit demam, waktu itu mereka sedang melakukan perjalanan didaerah pegunungan yang sunyi, tidak ada rumah penginapan dan tidak ada tabib buat mengobati penyakit Kwee Su Liang.

Hanya ada sebuah kuil tua yang sudah tidak dirawat dan tidak dipergunakan lagi, sehingga ditempat itu mereka beristirahat dan berlindung dari serangan air hujan.

Kwee Su Liang rebah dilantai beralas jerami kering dan berbantal bungkusan pakaian, selagi dia menderita penyakit demam seluruh tubuhnya menggigil sehingga rebahnya menjadi gelisah tidak tenang, sementara Iiehiap Liu Giok Ing bersusah payah menyalakan api, hendak membikin air panas buat minum Kwee Su Liang. Sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa, Iiehiap Liu Giok Ing tidak pernah merasa cemas atau gelisah menghadapi ancaman bahaya maut, akan tetapi sebagai seorang perempuan yang hatinya sudah tercuri oleh Kwee Su Liang, waktu itu dia merasa cemas bahkan dia gugup, menghadapi kekasihnya yang sedang menggigil karena kedinginan.

"Liang-ko..." dia bersuara setelah duduk dekat Kwee Su Liang yang rebah dilantai, selagi menunggu panasnya air yang sedang dia masak.

Bo im kiamhiap Kwee Su Liang bagaikan tak sanggup mengucap kata-kata, meskipun dia mendengar suara Iiehiap Liu Giok Ing. Tubuhnya tetap menggigil dan ia bahkan perdengarkan suara bagaikan merintih, cuma sepasang matanya yang lembut-sayu mengawasi Iiehiap Liu Giok Ing.

Tak kuasa Liu Giok Ing mengatasi rasa haru, dan air matanya segera mengalir keluar sementara sebelah tangannya memegang muka Kwee Su Liang yang terasa begitu dingin sehingga tangan itu pindah ke bagian punggung.

"Giok-moay ..." akhirnya Kwee Su Liang sanggup bersuara, meskipun terdengar gemetar, dan dia tidak meneruskan perkataannya meskipun kelihatan dia ingin mengucap kata-kata lagi.

"Liang-ko..." semakin Iiehiap Liu Giok Ing merasa terharu, dan semakin banyak air-matanya yang berlinang keluar, sehingga bagaikan tanpa sadar, dia ikut rebahkan diri, rebah sebelah tangannya sedang berusaha hendak merangkul tubuh Kwee Su Liang, supaya berkurang rasa dingin yang sedang diderita oleh Kwee Su Liang. "Giok-moay, mengapa kau mengeluarkan air-mata. ?”

tanya Kwee Su Liang selagi dirangkul oleh Liu Giok Ing. Mungkin sudah berkurang rasa-dinginnya, sehingga sanggup dia mengucap kata-kata yang sering dia ucapkan, kalau dia melihat liehiap Liu Giok Ing sedang risau dan mengeluarkan air-mata. “Liang-ko, kau sakit.., jangan kau tinggalkan aku.......aku   " untuk yang kesekian kalinya tak

ada kekuatan liehiap Liu Giok Ing buat mengucap kata “aku cinta padamu!”, dan bahkan tambah terisak menangis sehingga dia menelusupkan kepalanya dibagian dada Kwee Su Liang, bagaikan dia merasa aman dan terlindung berada didalam rangkulan laki-laki yang telah mencuri hatinya.

"Giok-moay, aku cuma kena serangan sakit demam .." sahut Kwee Su Liang yang sempat membelai rambut sang adik yang binal, akan tetapi yang waktu itu sedang jinak berada di dalam rangkulannya.

“Liang-ko apa kau..," sekali lagi Liu Giok Ing batal meneruskan perkataannya, padahal ingin dia menanya, apakah kau cinta padaku?

"Tidak Giok-moay. Aku tidak apa apa. " sahut Kwee Su

Liang, menganggap sang adik yang binal sedang merisaukan dia yang sedang kena serangan penyakit demam sehingga menyimpang dari maksud pertanyaan Liu Giok Ing.

Di dalam hati Liu Giok Ing merasa kecewa akan tetapi dia merasa terhibur ketika dirasakannya tangan Kwee Su Liang ikut merangkul dia sehingga untuk sesaat lamanya mereka berdua saling rangkul, cuma saling-rangkul tanpa kecup-cium, akan tetapi cukup membikin Liu Giok Ing lupa dengan air yang sedang dimasaknya, sampai tempat masak air itu berbunyi hangus sebab kekeringan air. Dan bayang-bayang kasih-mesra itu sekarang menghantui liehiap Liu Giok Ing, selagi dia berada didalam pengaruh obat-perangsang lian-hoan lo-hiap sie; selagi suaminya sudah marhum dan Bo-im kiamhiap Kwee Su Liang bahkan memusuhi dia, hendak menangkap dia membawa tugas dari sri baginda maharaja yang lalim.

Cuma ciangkun Sie Pek Hong yang agaknya menyimpan rasa kasih-sayang buat dia, cuma ciangkun Sie Pek Hong yang berada didekat dia, yang sewaktu-waktu mau membelai dan mencumbu dia; sayangnya ciangkun sudah menikah; sudah mempunyai isteri.

Lesu langkah-kaki liehiap Liu Giok Ing waktu dia meninggalkan tempatnya didekat jendela, membiarkan daun jendela itu tetap membentang lebar; lalu dia merebahkan tubuhnya diatas ranjang, yang bahkan menambahkan dirinya bertambah gelisah.

Ada bunyi suara yang tidak wajar diatas genteng rumah, yang sempat didengar oleh telinga liehiap Liu Giok Ing yang cukup terlatih. Dan bunyi suara yang tidak wajar itu, berhasil mengalahkan pengaruh pekerjaan obat-perangsang; sehingga lekas itu juga Liu Giok Ing bergerak menyambar pedang Ku-tie kiam yang dia tempatkan dibawah bantal, menyusul kemudian tubuhnya melesat keluar lewat daun jendela, dan pada gerak berikutnya dia sudah berada diatas genteng, melihat ada seorang asing yang memakai tutup muka dengan secarik kain berwarna hitam, yang waktu itu sudah bertempur melawan ciangkun Sie Pek Hong !

Terasa panas hati liehiap Liu Giok Ing yang segera bangkit amarahnya, sebab dia yakin seorang yang memakai tutup muka hitam itu adalah Kwee Su Liang; dan Kwee Su Liang datang hendak menangkap dia ! Cuma itu yang terpikir oleh liehiap Liu Giok Ing, sehingga dia berteriak memaki dan langsung ikut menyerang Kwee Su Liang, yang dia kepung berdua ciangkun Sie Pek Hong.

Seorang yang memakai tutup muka dengan secarik kain warna hitam itu, memang adalah Kwee Su Liang; dan Kwee Su Liang datang dapat disiasat ciangkun Sie Pek Hong yang sedang berada diatas genteng, didekat kamar Iiehiap Liu Giok-Ing, sebab ciangkun ini bermaksud hendak mengintai, ingin mengetahui keadaan Iiehiap Liu Giok Ing yang sedang kena pengaruh obat-perangsang. Ingin memasuki kamar Iiehiap Liu Giok Ing, kalau dilihatnya janda muda itu sedang terangsang; akan tetapi batal dan tak sempat dia melakukan niatnya, sebab Kwee Su Liang keburu datang dan Kwee Su Liang bahkan yang langsung menyerang, sehingga terpaksa dia harus melayani tanpa sempat dia bersuara, berteriak memanggil teman-teman.

Maksud kedatangan Kwee Su Liang sebenarnya ingin mengajak Liu Giok Ing bicara, akan tetapi dia menjadi sangat marah waktu menemui ciangkun Sie Pek Hong yang sedang mengintai kedalam kamar Liu Giok Ing; sebab dia memang sudah melihat tentang niat tidak baik dari ciangkun yang hendak merayu sang adik yang binal itu, yang keadaannya sedang dia risaukan.

Akan tetapi Kwee Su Liang jadi mengeluh didalam hati waktu sang adik yang binal itu pun ikut menyerang dia, bahkan memaki, dan dia menjadi lebih mengeluh lagi, waktu dibagian bawah sudah berkumpul barisan pengawal yang mengetahui adanya pertempuran itu.

Segera Kwee Su Liang perhebat serangannya terhadap ciangkun Sie Pek Hong, disamping berulangkali dia harus berkelit menghindar dari berbagai serangan Liu Giok Ing, dan dia bahkan berteriak kepada Liu Giok Ing. "Giok-Moay, kau telah tertipu oleh mereka. ,” cuma itu

yang sempat Kwee Su Liang ceritakan, sebab ciangkun Sie Pek Hong sudah ikut berteriak:

“Tangkap mata-mata! Siapkan barisan tukang Panah !”

Dalam keadaan marah bercampur penasaran, Kwee Su Liang lompat kebagian bawah dan mengamuk dikalangan tentara yang sedang mempersiapkan barisan tukang-panah. Sepasang kaki Kwee Su Liang ikut bergerak lincah sehingga dua-kali Ma Kong dan Ma-Kiang kena tendang, membikin kedua perwira itu berteriak marah-marah dan mengepung lagi, tetap memakai golok-golok mereka.

Jelas tidak mungkin buat Kwee Su Liang mengajak bicara sang adik yang binal, sebaiknya dia harus menjebol kepungan pihak musuh yang demikian ketatnya; bagian punggungnya bahkan kena gebuk gagang-pedang Ku-tie kiam, waktu dia sedang memusatkan penyerangannya terhadap Ma Kong berdua Ma Kiang; sehingga Kwee Su Liang terjerumus kebagian depan, hampir terkena tikaman golok Ma Kiang.

Melulu karena geraknya yang gesit dan tangkas, Kwee Su Liang berhasil mendahului memukul Ma Kiang memakai gagang pedangnya, mengakibatkan Ma Kiang terdorong mundur dan nyaris goloknya mencapai sasaran; dan Kwee Su Liang masih sempat menyampok golok Ma Kong memakai pedangnya, berhasil membikin golok Ma Kong terlempar lepas dari pegangan, akan tetapi waktu Kwee Su Liang memutar tubuh mengawasi Liu Giok Ing, maka terlihat pada bagian mulutnya mengeluarkan darah, akibat dia terkena pukulan Liu Giok Ing tadi.

Bagaikan merasa terpengaruh karena melihat darah yang mengalir keluar dari mulut Kwee Su Liang, maka Liu Giok Ing membatalkan serangannya yang hendak menikam memakai pedang Ku tie kiam. Sejenak Liu Giok Ing terdiam mengawasi, juga Kwee Su Liang ikut diam mengawasi; akan tetapi ciangkun Sie Pek Hong telah menggunakan kesempatan itu dengan baik, membacok dengan gerak tipu tay-san ap-teng atau gunung tay-san menindih.

Kwee Su Liang sangat terkejut bagaikan baru tersadar bahwa mereka sedang berada didalam gelanggang pertempuran, bergegas dia lompat mundur buat menghindar dari bacokan pedang ciangkun Sie Pek Hong; akan tetapi di luar dugaannya; ciangkun Sie Pek Hong justeru membarengi bergerak memakai tipu 'Sun ciu twie coan', atau mengikuti tangan sambil mendorong perahu, menendang kena tepat dibagian betis Kwee Su Liang, sehingga Kwee Su Liang rubuh terguling.

Ma Kong berdua Ma Kiang ikut bergerak membacok Kwee Su Liang yang sedang rubuh terguling, akan tetapi dua bersaudara itu tidak berhasil mencapai niat mereka, meskipun sampai berulangkali mereka melakukannya; sebab tubuh Kwee Su Liang masih lincah bisa menghindar bahkan masih sanggup dia lompat berdiri dan dia melarikan diri, namun tiga-butir senjata rahasia berbentuk bunga cinta membenam dibagian paha dan betisnya sehingga dia rubuh lagi bahkan dia kena ditangkap hidup-hidup atas perintah ciangkun Sie Pek Hong.

Dipihak Ceng-hwa Iiehiap Liu Giok Ing, dia bagaikan tidak sadar waktu dia menyerang Kwee Su Liang memakai senjata rahasia itu, dan masih sempat pula sekilas dilihatnya bahwa Kwee Su Liang mengawasi dia; setelah itu Kwee Su Liang dikepung rapat oleh sedemikian banyaknya tentara negri yang menangkap hidup-hidup, namun yang dalam anggapan Liu Giok Ing bahwa saat itu Kwee Su Liang pasti sudah tewas. Secara tiba-tiba Ceng-hwa Iiehiap Liu Giok Ing berteriak cukup keras akan tetapi terdengar begitu mengharukan; setelah itu dia rubuh pingsan lupa diri !

Ciangkun Sie Pek Hong bergerak cepat mendekati Iiehiap Liu Giok Ing, yang lalu dia bopong, diangkatnya tubuh yang pingsan itu memakai sepasang tangannya. Sempat ciangkun Sie Pek Hong memerintahkan membawa Kwee Su Liang ke dalam kamar tahanan sementara yang letaknya dibelakang rumah, setelah itu dia membawa Iiehiap Liu-Giok Ing kekamar janda muda itu, yang kemudian dia rebahkan diatas ranjang.

Sejenak ciangkun Sie Pek Hong mengawasi Iiehiap Liu Giok Ing yang masih lupa diri. Alangkah cantiknya dan betapa lamanya dia menyimpan rasa rindu, ingin meraba dan ingin menikmati tubuh yang merangsang itu. Baru sekarang dia mendapat kesempatan, akan tetapi saatnya agaknya tidak tepat, sebab kedatangan Kwee Su Liang yang mengacau.

Sekilas ciangkun Sie Pek Hong kelihatan bersenyum seorang diri, lalu dia bangun berdiri dan menuang secangkir air teh yang memang terdapat didalam kamar Iiehiap Liu- Giok Ing. Dari dalam kantong baju kemudian diambilnya sebungkus kecil obat perangsang itu didalam cangkir yang berisi air teh.

Dia melangkah dan duduk ditepi ranjang mengawasi muka liehiap Liu Giok Ing yang rebah celentang dalam keadaan pingsan. Lembut tetapi sedikit gemetar sebelah tangannya waktu dia meraba muka yang halus dan putih itu, lalu pindah meraba kebagian leher.

Keadaan liehiap Liu Giok Ing masih lemah dan terasa pening kepalanya, waktu dia siuman dan merasakan belaian lembut dari tangan ciangkun Sie Pek Hong; namun yang waktu itu dia anggap sebagai belaian mesra dari tangan suaminya, yang begitu besar kasih sayangnya.

"Siangkong..." dia berbisik lemah membiarkan tangan ciangkun Sie Pek Hong yang masih membelai bagian lehernya, didekat daun-telinga yang menjadi bagian kelemahannya.

''Giok-moay, kau minumlah air teh ini..." kata ciangkun Sie Pek Hong, dan sebelah tangannya pindah kebagian punggung Liu Giok Ing duduk buat minum.

Liehiap Liu Giok Ing membiarkan waktu punggungnya dipegang, dia bahkan menurut dan bergerak duduk; bagaikan tanpa sadar diminumnya air teh yang diberikan ciangkun Sie Pek Hong. Pikirannya sedang terpengaruh waktu didengarnya suara ciangkun Sie Pek Hong yang menawarkan minum tadi akan tetapi pandangan matanya kelihatan agak samar, mengawasi muka Sie Pek Hong yang dilihatnya bercampur antara muka suaminya dan muka Kwee Su Liang yang dia benci; tetapi yang telah mencuri hatinya.

Sekali lagi dia membiarkan waktu tubuhnya direbahkan diatas ranjang; dan dia masih membiarkan waktu tangan ciangkun Sie Pek Hong membelai rambutnya yang masih tetap indah, sampai sekali lagi ciangkun Sie Pek Hong membelai bagian belakang daun telinga.

“Giok moay, alangkah cantiknya kau..." kata Sie Pek Hong membisik lembut, sementara sebelah tangannya pindah meraba ke belakang dada.

Dalam keadaan terpengaruh kena obat perangsang, tubuh Liu Giok Ing menggeliat bagaikan bergelinjang saat menikmati rabaan tangan ciangkun Sie Pek Hong. Dibiarkannya waktu Sie Pek Hong mencium pipinya, dengan hangat dia ikut mencium waktu bibir Sie Pek Hong menutup mulutnya; bahkan sepasang tangannya ikut merangkul tubuh Sie Pek Hong.

"Siangkong, oh siangkong..," bagaikan merintih Liu Giok Ing bersuara; tenggelam di dalam alam bercinta dengan suaminya.

Akan tetapi, selagi tangan-tangan tjiangkun Sie Pek Hong hendak melepaskan pakaiannya, secara mendadak Liu Giok Ing teringat bahwa suaminya sudah marhum; kemudian waktu sepasang matanya terbentang membuka, maka dia menjadi sangat terkejut mendapati dirinya berada didalam rangkulan tjiangkun Sie Pek Hong. Bagaikan tersentak dia bergerak mendorong tubuh Sie Pek Hong sehingga tjiangkun Sie Pek Hong yang tidak siaga menjadi terpental jatuh dari tempat ranjang.

"Giok-moay ..." tjiangkun Sie Pek Hong bersuara gemetar, selagi dia berusaha hendak bangun berdiri; sementara Iiehiap Liu Giok Ing juga sudah terduduk diatas ranjang, merah sepasang matanya mengawasi ciangkun Sie Pek Hong, menyimpan rasa dendam dan marah, disamping dia merasa malu.

"Giok moay, maafkan aku; akan tetapi aku sangat menyintai kau ..." ciangkun Sie Pek Hong memberanikan bicara, selagi lambat-lambat dia mendekati.

“Cinta ...?" ulang Liu Giok Ing menunduk, sebab diam- diam dia sedang berusaha mengatasi diri dari rasa terangsang akibat pengaruh obat 'lian hoan lo-hap sie, "bukankah ciangkun sudah mempunyai isteri ...?''

Sejenak ciangkun Sie Pek Hong terdiam, berdiri mengawasi Iiehiap Liu Giok Ing; dalam hati dia merasa cemas, takut kalau Iiehiap Liu Giok Ing akan marah dan menyerang dia secara mendadak; akan tetapi waktu dilihatnya Iiehiap Liu Giok Ing masih menunduk, maka dia berkata :

"Giok moay, kalau kau tidak bersedia dimadu, aku bersedia menceraikan isteriku—“

Liehiap Liu Giok Ing mengangkat mukanya mengawasi ciangkun Sie Pek Hong yang masih berdiri diam dihadapannya!

“Ciangkun, begitu cepat kau memutuskan hendak menceraikan isterimu; selekas kau merasa jatuh-cinta dengan lain perempuan..." kata liehiap Liu Giok Ing yang harus mengatasi rasa marah sebab masih teringat olehnya akan kebaikan budi ciangkun Sie Pek Hong, yang telah bersedia menampung dia merasa sebatang-kara.

“Tetapi Giok-moay, aku..,"

Liehiap Liu Giok Ing memutus perkataan Sie Pek Hong memakai gerak sebelah tangannya, lalu ganti dia yang berkata lagi:

"Sie ciangkun, sebaiknya kau tinggalkan aku. Aku ingin berada seorang diri. "

Si ciangkun Sie Pek Hong meninggalkan kamar Liu Giok Ing. Dia merasa sangat kecewa akan tetapi dia tidak berputus-asa, akan dia usahakan cara lain buat dia memperoleh janda muda yang merangsang itu.

—oOo—

KEADAAN Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing masih dalam pengaruh obat perangsang 'lian-hoan lohap sie’, waktu ciangkun Sie Pek Hong sudah meninggalkan dia seorang diri dikamarnya. Secara mendadak Liu Giok Ing kemudian teringat lagi dengan Kwee Su Liang yang waktu itu sudah ditangkap dan ditahan. Terbayang lagi oleh liehiap Liu Giok Ing, betapa mesra waktu dahulu mereka berdua melakukan petualangan dikalangan rimba- persilatan; bagaikan dalam keadaan tidak sadar, Liu Giok Ing meninggalkan kamarnya menuju keruang penjara yang letaknya dibagian belakang dari gedung tempat kediaman ciangkun Sie Pek Hong.

Para penjaga yang bertugas menjaga penjara itu dengan ketat, semuanya sudah kenal dengan liehiap Liu Giok Ing; sehingga membiarkan waktu liehiap Liu Giok Ing memasuki ruangan penjara, dan melihat Kwee Su Liang yang waktu itu sedang duduk dilantai, bersandar pada dinding batu dengan sepasang kaki dan tangan terbelenggu memakai rantai besi, sementara pakaiannya banyak yang robek bahkan penuh berlumuran darah, bekas kena siksa selagi tadi dia melakukan perlawanan waktu ditangkap.

Keadaan Kwee Su Liang tidak dalam pingsan, akan tetapi dia kelihatan lemah tidak bertenaga. Tiada suara keluhan maupun rintihan yang dia perdengarkan; bahkan sepasang sinar matanya merah menyala menyimpan rasa dendam dan marah; dan sepasang mata itu cepat berobah menjadi sayu selekas dilihatnya kehadiran Liu Giok Ing yang berdiri diam diluar pintu kamar tahanan.

Sementara itu Liu Giok Ing memerintahkan petugas penjara membiarkan dia berada seorang diri ditempat itu; dan sepasang sinar matanya ikut berobah sayu waktu dia mengawasi Kwee Su Liang.

“Liangko..." Liu Giok Ing bersuara lembut perlahan; dan menunduk tak kuasa menatap sepasang mata Kwee Su Liang.

Sejenak Kwee Su Liang terdiam mengawasi sang adik yang binal itu, yang tidak meneruskan bicara. Akan tetapi secara mendadak berulang lagi 'penyakit lama’ yang menjadi kebiasaan Kwee Su Liang; kalau dia sedang marah- marah terhadap sang adik yang binal itu.

"Sudah puas kau melihat keadaan aku?"

Terdengar menyakitkan telinga waktu Kwee Su Liang mengucap kata-kata itu, sehingga lembut-lesu waktu Liu Giok Ing mengangkat muka, mengawasi laki-laki yang sudah mencuri hatinya dan yang selama sepuluh tahun lebih tidak pernah dia lihat. Ada sedikit air mata yang dia keluarkan, namun dia berusaha mengatasi diri dan berkata :

“Liang ko; kau kelihatan gemuk ..”

“Persetan ! Aku datang bukan untuk maksud itu !"

Tetap terdengar menyakitkan telinga waktu Kwee Su Liang mengucap kata-kata itu berhasil membikin Liu Giok Ing menunduk lagi, sampai sesaat kemudian baru dia berkata :

“Aku tahu. Kau datang hendak menangkap aku , , . kau kejam, Liang ko ..."

Bergerak tubuh Kwee Su Liang dari tempat dia duduk, bagaikan dia ingin mendekati tempat Liu Giok Ing yang berdiri di bagian luar dari pintu kamar-tahanan; akan tetapi mukanya meringis menahan rasa sakit dan dia berkata kepada Liu Giok Ing:

"Kejam? Tidak moay, aku datang bukan untuk menangkap kau, aku...akh.,.!"

Tersentak dan terkejut Liu Giok Ing waktu dia mendengar suara Kwee Su Liang, yang mengeluh menahan rasa sakit. Dia mengawasi disaat Kwee Su Liang sedang menekan bagian dada memakai sebelah tangannya, lalu bagaikan tanpa sadar, pedang Ku-tie kiam membabat putus kunci pintu kamar tahanan itu, dan dia menerobos masuk: “Liang-ko, kau.  ”

Tak kuasa Liu Giok Ing meneruskan perkataannya, sudah berulang lagi seperti dulu air-matanya cepat keluar kalau melihat Kwee Su Liang menderita sakit.

“Aku tidak apa-apa, Giok-moay..." Kwee Su Liang berkata lembut perlahan-lahan, selagi dia melihat Liu Giok Ing mengalirkan air-mata seperti dulu; dan dia cepat cepat menyambung bicara :

"Aku datang untuk memberitahukan kau, bahwa kau kena tipu muslihat Kim Lun Hoat-ong yang dibantu oleh ciangkun Sie Pek Hong. Mereka.....akh ....!" sekali lagi Kwee Su Liang menunda perkataannya, bagian dadanya terasa sesak, bekas kena siksa dan terlalu memikirkan keadaan sang adik yang binal.

Di pihak liehiap Liu Giok Ing, dia kaget waktu mendengar perkataan Kwee Su Liang: tetapi dia sangat cemas ketika melihat keadaan Kwee Su Liang :

"Liang-ko, kau ..." cuma itu yang liehiap Liu Giok Ing ucapkan, tetapi pedang Ku-tie kiam yang tajam sekali lagi bekerja, memutuskan belenggu yang mengikat kaki dan tangan Kwee Su Liang.

Bertepatan pada saat itu, ciangkun Sie Pek Hong menerobos masuk dengan dikawal oleh dua-saudara Ma Kong dan Ma Kiang, serta sepasukan tentara.

"Giok-moay ! Apa yang kau lakukan disini ..?" tanya ciangkun Sie Pek Hong; tetapi dia menjadi sangat terkejut waktu dilihatnya belenggu yang mengikat Kwee Su Liang sudah lepas berantakan.

Liehiap Lu Giok Ing bangun berdiri, sehabis tadi memeriksa keadaan Kwee Su Liang; tetapi secara mendadak dia merasakan tubuhnya bergetar, dan sepasang lututnya bagaikan tak bertenaga. Tidak disadarinya bahwa dia minum obat perangsang yang melampaui batas, dan dia telah berusaha mengatasi diri menahan rangsang, sehingga dia bagaikan kehabisan tenaga.

Sementara itu Kwee Su Liang jadi terkejut waktu melihat keadaan Liu Giok Ing, disamping dia terkejut waktu melihat kedatangan ciangkun Sie Pek Hong. Tenaganya segera pulih selekas dia menyadari bahwa dia perlu melindungi sang adik yang binal.

Dengan perdengarkan suara gerengan bagaikan seekor harimau yang terluka, tubuh Kwee Su Liang bergerak menyambar pedangnya yang tergeletak diatas lantai, dan secepat itu juga dia membabat lengan Sie Pek Hong, disaat ciangkun itu hendak meraih tubuh Liu Giok Ing yang sedang terhuyung hendak jatuh.

"Giok-moay, kau kenapa ... ?" tanya Kwee Su Liang, selekas dia berhasil meraih tubuh liehiap Liu Giok lng; sementara ciangkun Sie Pek Hong berkelit mundur dari serangan pedang, membatalkan niatnya yang hendak meraih tubuh Liu Giok Ing.

Sementara itu liehiap Liu Giok Ing bagaikan kehilangan tenaganya, sehingga dia lemas bergantung dalam rangkulan Kwee Su Liang; dan Kwee Su Liang bergerak tangkas memanggul tubuh sang adik yang binal itu, disaat dia mendengar teriak suara Sie Pek Hong.

"Tangkap dan bunuh mereka ... !" teriak ciangkun Sie Pek Hong dalam marahnya; dan dia bahkan mendahului menyerang dengan suatu tikaman memakai pedangnya, bergerak dengan jurus 'ular-belang melepas bisa'.

Bo-im kiamhiap Kwee Su Liang sudah siap dengan sebelah tangan memegang pedang, dan juga yang sebelah tangan lagi dia gunakan buat memegang Liu Giok Ing yang dia gendong dibagian punggungnya.

Dengan suatu sampokan Kwee Su Liang bergerak ingin membabat pedang Sie Pek Hong yang sedang menikam; akan tetapi waktu Sie Pek Hong batal meneruskan penyerangannya, maka pedang Kwee Su Liang bergerak terus mencari sasaran terhadap Ma Kong yang sudah ikut mendekati.

Gerak pedang Kwee Su Liang memakai jurus 'am-in- koan-jit' atau awan-gelap menutupi rembulan, menyapu bagian muka Ma Kong; sehingga Ma Kong ikut-ikut membatalkan diri menyerang Kwee Su Liang, dan pedang itu berputar terus mencari sasaran pada Ma Kiang yang juga ikut menyerang dengan sebuah tikaman, dan Ma Kiang tidak sempat menghindar dari benturan sebuah senjata, sehingga goloknya terlempar lepas dari pegangannya.

Untung bagi Ma Kiang bahwa Kwee Su Liang tidak sempat mengulang melakukan penyerangan, sebab Kwee Su Liang sudah langsung dikepung oleh sejumlah tentara; sehingga Kwee Su Liang harus mengamuk di dalam ruangan kamar tahanan yang tidak luas.

"Giok moay ..." bisik Kwee Su Liang yang merisaukan keadaan Liu Giok Ing, yang belum dia ketahui entah apa yang menyebabkan, sehingga sang adik yang binal itu mendadak kelihatan lemah tidak bertenaga.

"Liang ko ..."Liu Giok Ing ikut bersuara lemah, menandakan dia masih memiliki kesadaran; sehingga cukup menggirangkan bagi Kwee Su Liang.

"Giok moay, berpeganglah yang erat ..." Kwee Su Liang berkata lagi, siap hendak menerobos kepungan pihak musuh. "Liang ko, kau saja yang lari, Biarkan aku disini ..." tetap lemah terdengar suara Liu Giok Ing.

"Tidak Giok moay, aku akan melindungi kau dan aku perlu memberikan penjelasan kepada kau..."

Tanpa menunggu Liu Giok Ing bersuara lagi, maka Kwee Su Liang mulai mengamuk, berusaha menerobos dari dalam kamar tahanan yang tidak luas; dan berhasil dia melakukannya namun pihak tentara tetap mengepung, meskipun sambil mereka bergerak mundur, sedangkan Sie Pek Hong tak hentinya berteriak memerintahkan pihak tentara jangan melepas tahanan mereka, dan memaksa Ma Kong berdua Ma Kiang ikut melakukan pengepungan.

"Liang ko, penjelasan apa yang hendak kau berikan kepada ..?" tanya Liu Giok Ing dekat telinga Kwee Su Liang; lembut lemah suaranya akan tetapi bagi Kwee Su Liang dapat mengalahkan pekik suara Ma Kong dan Ma Kiang yang memerintahkan pihak tentara tambah rapat melakukan pengepungan.

"Kau kena tipu mereka, Giok moay. Pangeran Kim Lun yang menjadi dalang perbuatan pembunuhan yang terjadi di kota raja, juga didalam istana kerajaan.." dan pedang Kwee Su Liang berhasil membabat putus tiga tombak tentara yang sedang menyerang.

"Mengapa kau berkata begitu ? Bukankah pangeran Gin Lun yang menjadi dalang dari perbuatan itu ?" tanya Liu

Giok Ing yang merasa heran; namun tetap terdengar lemah suaranya.

“Tidak Giok moay. Bukan pangeran Gin Lun, akan tetapi justeru perbuatan pangeran Kim Lun yang dibantu oleh ciangkun Sie Pek Hong !” berhasil pedang Kwee Su Liang membabat putus sebelah daun telinga Ma Kong, membikin Ma Kong berteriak kesakitan, dan tempatnya diganti oleh adiknya, Ma Kiang.

Sejenak Liu Giok Ing terdiam tidak bersuara, agaknya dia sedang memikirkan perkataan Kwee Su Liang, selagi Kwee Su Liang mengamuk dan mengerahkan jurus 'hiu hie liang po' atau ikan paus menerjang gelombang, berhasil membikin pihak pengepung bergerak mundur lagi, sampai mereka berada disuatu ruangan yang cukup besar dan luas.

Akan tetapi, pihak pengepung ternyata semakin bertambah banyak; sebab datangnya bantuan dari istana pangeran Kim Lun berada, sejumlah tentara yang dipimpin oleh dua orang perwira muda; dibantu dengan Coa Keng berdua Coa Beng.

Merasa ada harapan karena menganggap liehiap Giok Ing terluka, maka Coa Beng berdua Coa Keng ingin merebut jasa, mendekati Kwee Su Liang yang mereka serang secara berbareng, mengerahkan ilmu 'siam-say ciang hoat' yang khas dari golongan siam-say sebelah utara, masing-masing bergerak dari sebelah kiri dan kanan Kwee Su Liang. Akan tetapi dengan pergunakan kelincahan gerak tubuhnya, si pendekar tanpa bayangan Kwee Su Liang secara mendadak bagaikan menghilang dari hadapan dua bersaudara Coa Keng dan Coa Beng, dan golok Coa Keng bahkan membenam ditubuh seorang tentara, tanpa Coa Keng dapat membatalkan gerak serangannya.

Berteriak Coa Keng marah-marah, dan mengejar Kwee Su Liang yang waktu itu sedang dihadang dan diserang oleh dua orang perwira muda dari istana Kim Lun Hoat ong; namun sekali lagi Kwee Su Liang perlihatkan kelincahan tubuhnya, menghindar dari serangan Coa Keng beserta kedua orang perwira muda itu dari istana Kim Lun Hoat ong, bahkan berhasil dia menendang Ma Kong yang ikut- ikut ingin membokong ! Pekik teriak suara Ma Kong yang kesakitan; berhasil mengalahkan pekik teriak Coa Keng yang tadi marah- marah, sementara Kwee Su Liang harus menghadapi ciangkun Sie Pek Hong yang ikut turun tangan, sebab merasa malu dengan Coa Keng berdua Coa Beng yang datang dari istana pangeran Kim Lun.

“Liang ko, kau lepaskan aku, biar aku bantu kau dan kita ganyang mereka ..." sempat Liu Giok Ing bicara karena melihat Kwee Su Liang repot bertempur seorang diri, bahkan sambil menggendong dia.

“Tetapi Giok moay, keadaan kau ..."

“Tidak apa-apa, Liang ko. Aku cuma ..” tak mau Liu Giok Ing meneruskan perkataannya; padahal dia sudah menyadari, bahwa keadaannya yang lemah dan merasa diri terangsang, pasti pengaruh obat perangsang yang dia kena minum tanpa dia mengetahui. Pasti perbuatan ciangkun Sie Pek Hong !

Terasa tergetar jiwa Kwee Su Liang waktu dia mendengar perkataan sang adik yang binal. Teringat lagi dan terbayang lagi dia dengan kejadian tempo dulu, disaat mereka sama-sama menghadapi kepungan musuh. Dua pedang mereka dapat bersatu padu, menghalau musuh bagaikan tiada lawan yang berani merintangi mereka. Akan tetapi, dalam keadaan lemah seperti sekarang, mungkinkah Liu Giok Ing dapat melakukannya ?

"Liang ko, kau lepaskan aku   " sekali lagi Liu Giok Ing

mengulangi permintaannya.

"Baik kau berhati-hatilah. Perkuat pertahanan tetapi biarkan aku yang melakukan penyerangan...” Kwee Su Liang memesan selagi dia mengendorkan pegangannya, membiarkan tubuh Liu Giok Ing merosot turun. Cukup gesit dan tangkas waktu liehiap Liu Giok Ing mencabut pedang Ku tie kiam dari dalam sarungnya, untuk sesaat dia bagaikan lupa dengan keadaannya yang masih lemah. Semangat tempurnya bangkit dan berhasil mengalahkan getaran rasa terangsang akibat pengaruh obat ‘lian hoan lo-hap sie'.

Sengaja Liu Giok Ing perdengarkan pekik teriaknya yang nyaring memekak telinga; setelah itu pedang Ku tie kiam mulai bergerak mencari sasaran; bukan untuk bertahan seperti yang dipesankan oleh Kwee Su Liang. Seperti sepuluh tahun yang lalu, sang adik kembali menjadi binal; memaksa Kwee Su Liang harus mengimbangi, sehingga dalam saat berikutnya, bergerak bersatu-padu sepasang pedang mereka bagaikan sejiwa dan sehati, sebab mereka sedang mengerahkan ilmu ‘siang kiam hiap kek' atau sepasang pedang dari dua orang pendekar.

Segera terdengar berbagai suara pekik teriak kesakitan, sebab banyaknya tubuh tentara negeri yang bergelimpangan terluka mau pun binasa, bahkan sebelah tangan kiri Coa Keng ikut putus.

Pihak pengepung mulai bercerai-berai, mereka memisah diri dan lari menyingkir kalau melihat Kwee Su Liang berdua Liu Giok Ing mendekati mereka, dan mereka maju lagi kalau melihat pasangan yang gagah perkasa itu sedang mengejar rekan-rekan mereka.

Coa Keng tewas waktu dia terlibat dalam suatu pertarungan singkat melawan pasangan yang gagah itu, Sedangkan Coa Beng tidak berdaya memberikan bantuan, sebab dilihatnya Ma Kong berdua Ma Kiang sudah mendahului lari terbirit-birit, bahkan ciangkun Sie Pek Hong ikut lari memasuki gedungnya. Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing mengejar Sie Pek Hong yang hendak dia bunuh, sehingga Kwee Su Liang terpaksa harus mengikuti sang adik yang binal itu, namun berulangkali dia harus menangkis dan menghindar dari serangan anak panah, sebab barisan tentara telah mengerahkan pasukan panah, selekas mereka lihat pasangan yang gagah perkasa itu sedang mengejar ciangkun Sie Pek Hong.

Sebatang anak panah berhasil membenam dibagian paha liehiap Liu Giok Ing, selagi dia terus memusatkan perhatiannya kepada ciangkun Sie Pek Hong yang telah melarikan diri.

Terpaksa liehiap Liu Giok Ing menunda pengejarannya terhadap ciangkun Sie Pek Hong. Setengah bersandar pada dinding tembok, dia berusaha mencabut anak-panah yang membenam dibagian pahanya; dan bertepatan pada saat itu Kwee Su Liang datang mendekati.

"Giok-moay, kau terkena anak panah....?” Kwee Su Liang bertanya cemas; dan selekas itu juga dia merobek baju yang dipakainya, buat dia gunakan untuk membalut luka dibagian paha sang adik yang binal, yang bekas kena anak panah. Akan tetapi tepat selagi Kwee Su Liang berlutut dihadapan Liu Giok Ing, maka sebatang anak panah meluncur dan membenam dibagian punggungnya, tanpa dia sempat menghindar atau menangkis.

Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing berteriak marah ketika diketahuinya Kwee Su Liang ikut terkena anak panah, segera dia mengambil segenggam senjata rahasia berbentuk bunga-cinta, lalu dengan gerak 'thian ie san-hwa' atau air- hujan menyebar bagaikan bunga; sehingga bunga-bunga- cinta itu bertebaran bagaikan air-hujan yang tak mungkin dihindari, mencari sasaran terhadap pasukan-panah yang segera bergelimpangan. Bagaikan orang yang lupa diri, Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing kemudian meneruskan pengejarannya terhadap ciangkun Sie Pek Hong yang hendak dia bunuh mati; dan dia bagaikan lupa dengan Kwee Su Liang dibagian punggungnya masih membenam sebatang anak panah, sedangkan Kwee Su Liang juga ikut melakukan pengejaran, merasa cemas terhadap sang adik yang binal sehingga dia membiarkan bagian punggungnya yang masih membenam sebatang anak panah.

Jelas bahwa anak-panah itu mengandung bisa-racun, sebab sempat Kwee Su Liang merasakan punggungnya nyeri bercampur gatal. Dengan mengerahkan tenaga dalamnya, dia berusaha menahan rasa sakit dan terus mengikuti liehiap Liu Giok Ing yang masih mengejar ciangkun Sie Pek Hong.

Beberapa orang tentara pengawal ciangkun Sie Pek Hong berusaha merintang, akan tetapi liehiap Liu Giok Ing yang sedang lupa diri, mengganyang mereka sehingga berulang kali dia harus menyebar maut.

Betapapun halnya, liehiap Liu Giok Ing masih dalam keadaan lemah sebagai akibat dari pengaruh obat perangsang 'lian-hoan lahap sie', ditambah dia terkena sebatang anak panah yang mengandung bisa-racun dibagian betisnya. Langkah kakinya agak pincang dan tenaganya semakin berkurang sewaktu dia hendak melakukan penyerangan terhadap ciangkun Sie Pek Hong, setelah dia mengganyang habis barisan pengawal yang merintang tadi.

Dipihak Kwee Su Liang, laki-laki ini juga merasa bagaikan kehabisan tenaga, akibat tadi dia kena siksa, setelah itu dia pun terkena sebatang anak-panah yang mengandung bisa racun. Ingin dia berusaha mencegah niat liehiap Liu Giok Ing yang hendak meneruskan melakukan pengejaran terhadap ciangkun Sie Pek Hong, namun saat itu tidak sempat dia bersuara, sebab sudah didahului oleh suara tawa seseorang. Tawa yang terdengar begitu menyeramkan, sehingga sejenak dia berdiri terdiam, juga liehiap Liu Giok Ing ikut diam mendengarkan.

Itulah suara tawa Kim Wan tauw-to si pendeta gadungan yang pada waktu itu ditemani 'Toan lo sin-koay' Kong Tek Liang yang membekal senjata berupa tongkat sakti.

“Liu Giok Ing ! Dalam pie-bu aku tidak berhasil mengalahkan kau, akan tetapi sekarang kau boleh rasakan tongkatku ... !" Toan lo sin-koay Kong Tek Liang memaki dan mendahului menyerang liehiap Liu Giok Ing; menyerang memakai tongkat-sakti dan memukul dengan gaya 'tay-san ap teng' atau gunung tay-san menindih.

Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing menyadari bahwa si tongkat-sakti Kong Tek Liang memiliki tenaga yang besar, sehingga tidak mau dia menangkis memakai pedang; menghindar dari adu tenaga selagi keadaannya terasa lemah, disamping dia meragukan bahwa pedang Ku-tie kiam akan mampu membabat putus tongkat-sakti Kong Tek Liang yang terkenal sakti. Dengan kelincahan tubuhnya, dia berusaha mengimbangi si tongkat sakti Kong Tek Liang, bergerak memakai jurus kim-eng liuhie' atau burung kenari bermain dipohon yang-Liu.

Dipihak si tongkat-sakti Kong Tek Liang segera dia perlihatkan kemahirannya memakai ilmu “Thian-lo sin- koay hoat', ilmu tongkat sakti dari langit yang terdiri dari 6 perubahan; dan tiap pecahan terdiri dari 8 jurus, sehingga jumlah semuanya menjadi 48 jurus ilmu pukulan tongkat- sakti yang sudah terkenal keampuhannya dikalangan rimba- persilatan.

Sementara itu tidak ada kesempatan buat Kwee Su Liang membantu sang adik yang binal; sebab dia segera dihadang oleh Kim Wan tauw-to, tanpa si pendeta gadungan ini kelihatan membekal senjata, akan tetapi sempat dia memaki

:

"Bo-im kiam-hiap Kwee Su Liang, ketahuilah olehmu bahwa sepuluh tahun yang lalu, adikku Kim Cin Jie pernah kau kalahkan setelah kau berdua Liu Giok Ing mengepung. Sebenarnya ingin aku melawan kalian berdua selagi hari ini sempat bertemu, akan tetapi temanku Tek Liang mempunyai dendam terhadap Liu Giok Ing; sehingga perempuan itu menjadi bagian dia, dan aku kebagian kau!"

Si pendeta gadungan Kim Wan tauw to menyudahi perkataannya dan melakukan penyerangan terhadap Kwee Su Liang, bergerak memakai jurus 'sin chiu pa houw' atau tangan sakti menggempur macan. Dia memukul memakai sepasang kepalan tangannya yang kelihatan besar, akan tetapi lengan bajunya yang lebar berkibaran, juga memiliki tenaga pukulan yang sangat luar biasa sekali !

Menghadapi lawan yang tidak menggunakan senjata tajam, maka Kwee Su Liang juga tidak pergunakan pedangnya. Dengan geraknya yang masih cukup lincah dan gesit, dia menghindar, sementara tangan kirinya yang masih memegang pedang yang berada didalam sarungnya; dia bergerak balas memukul menggunakan tipu 'die-hwee siao nian' atau angkat obor membakar langit.

Berkat gerak yang gesit dan tangkas dari Kwee Su Liang itu, maka Kim Wan tauw to perdengarkan geram suara marah, namun dengan tabah hendak dia pukul lengan Kwee Su Liang yang sedang memukul dia, tapi Kwee Su Liang buru-buru menghindar tidak menghendaki mengadu tenaga, sebab Kwee Su Liang menyadari kelemahannya, sebaliknya dengan jurus 'yu liong tam jiauw' atau naga perlihatkan cakar, ganti telapak tangan kanan Kwee Su Liang yang bergerak menghajar dada Kim Wan tauw to. “Bagus !" Kim Wan tauw to bersuara memuji, dan tubuhnya yang tinggi besar, ternyata dapat bergerak lincah dan gesit, lompat mundur tiga langkah kebelakang; sehingga serangan Kwee Su Liang tidak berhasil mencapai sasaran !

Bo im kiam hiap Kwee Su Liang merasa penasaran karena serangannya tidak mencapai hasil dia bergerak maju dan mengulang melakukan penyerangan; bergerak memakai jurus 'twie cang beng goat' atau membuka jendela mengawasi rembulan, sepasang tangannya bergerak saling menyusul melakukan serangan-serangan maut, namun selalu dia menghindar kalau dilihatnya pihak lawan hendak menangkis, sebab dia tetap menyadari kelemahannya yang tidak memungkinkan buat dia mengadu tenaga.

Untuk sesaat kelihatan Kim Wan tauw-to bagaikan terdesak menghadapi serangan yang bertubi-tubi dari lawannya. Dia bergerak menggunakan ilmu 'tek seng ciu' atau tangan memetik bintang, sebab berulangkali dia kepingin meraih tangan lawannya yang hendak dia bentur dengan tenaganya yang dahsyat, atau hendak dia pegang atau patahkan; tetapi kelincahan atau ketangkasan lawan yang sudah luka itu, ternyata tidak mudah buat Kim Wan tauw-to melaksanakan niatnya.

Dipihak Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing, ternyata dia pun menghadapi kesukaran didalam menghadapi lawan kuat yang berupa 'Toan-lo sin koay' Kong Tek Siang. Bagian pahanya yang bekas kena anak panah, mengakibatkan berkurang kelincahan tubuhnya; bahkan masih terasa nyeri dan gatal-gatal yang mengganggu perhatiannya, disamping dia pun memikirkan keadaan Kwee Su Liang yang dia ketahui dibagian punggungnya masih membenam sebatang anak panah. Lebih dari sepuluh tahun lamanya dia mengharapkan dapat bertemu lagi dengan laki laki yang telah mencuri hatinya itu. Akan tetapi, ketika baru sekejap mereka bertemu dan baru sekejap mereka sempat bicara berdua; keadaan mereka sekarang diancam oleh bahaya maut. Terasa begitu pedih hatinya, sehingga perhatiannya terhadap lawannya jadi semakin terganggu.

Berulangkali kelihatannya liehiap Liu-Giok Ing bagaikan terdesak, menghadapi serangan yang bertubi-tubi dari si tongkat-sakti Kong Tek Liang, yang masih memainkan jurus 'thian-lo sin koay hoat'. Pedang Ku-tie kiam bagaikan tidak berdaya dan tidak mampu lagi memapas buntung tongkatnya Kong Tek Liang, yang ternyata kelihatan benar- benar ampuh; dan pedang Ku-tie kiam bahkan terlempar hampir lepas dari pegangan liehiap Liu Giok Ing, waktu sekali terjadi suatu benturan yang cukup keras yang tidak dapat dihindarkan oleh liehiap Liu Giok Ing.

Sukar buat liehiap Liu Giok Ing buat mendekati tempat Kwee Su Liang yang sedang menghadapi Kim Wan tauwto, sehingga tidak memungkinkan buat mereka berdua menggunakan ilmu silat pedang 'siang-kiam hiapkek; sebab kedua lawan mereka seolah-olah sudah mengetahui dan sengaja mencegah buat Liu Giok Ing saling berdekatan dengan Bo-im kiamhiap Kwee Su Liang.

Sementara itu pasukan tentara yang tadi mengepung; masih tetap berdiri siaga bagaikan siap hendak menangkap Liu Giok Ing atau Kwee Su Liang, sekiranya mereka bermaksud melarikan diri, sedangkan ciangkun Sie Pek Hong juga kelihatan sibuk mengatur sisa anak buahnya; namun tak ada niatnya buat ikut mengepung Liu Giok Ing yang sedang ditempur oleh 'toan lo sin koay' Kong Tek Liang; ataupun mengepung Kwee Su Liang yang sedang berhadapan melawan Kim Wan tauw to. Didalam hati dia masih mengharapkan supaya Liu Giok Ing jangan sampai tewas ditangan Kim Wan touw to, sebab dia masih menyimpan rasa penasaran, ingin memiliki janda muda yang merangsang akan tetapi yang galak seperti macan betina. Ciangkun Sie Pek Hong kelihatan cemas ketika diketahuinya keadaan Liu Giok Ing dalam bahaya, dan dia tidak mampu bersuara untuk mencegah supaya 'toan lo sin koay' Kong Tek Liang jangan membunuh Liu Giok Ing, sebab dia mengetahui bahwa si tongkat sakti merupakan tamu Kim Lun Hoat ong yang dihormati, disamping itu dia pun tidak berani memasuki gelanggang pertempuran buat memberikan bantuan bagi Liu Giok Ing, sebab perbuatan seperti itu sudah merupakan perbuatan yang menentang Kim Lun Hoat ong.

Dalam keadaan bingung dan cemas itu, ciangkun Sie Pek Hong mendadak melihat Liu Giok Ing kena ditendang oleh 'toan lo sin koay' Kong Tek Liang. Hampir dia menjerit ketika dilihatnya tubuh Liu Giok Ing terpental, dan dia menjadi lebih terkejut ketika Liu Giok Ing jatuh terguling mendekati dia.

Hilang lenyap niat dan maksudnya yang hendak menangkap Liu Giok Ing, saat itu dia bahkan ingin memberikan suatu pertolongan. Akan tetapi, secara mendadak tubuh liehiap Liu Giok Ing mencelat bangun seperti ikan gabus meletik; langsung memberikan sebuah tikaman maut memakai pedang Ku-tie kiam.

Selagi menghadapi lawannya yang berupa tongkat-sakti Kong Tek Liang, agaknya liehiap Liu Giok Ing sempat melihat kehadirannya ciangkun Sie Pek Hong; dendamnya meluap sehingga dia bagaikan membiarkan waktu pantatnya kena ditendang oleh Kong Tek Liang, sebab dengan menggunakan tenaga tendangan dari lawan itu, sempat Liu Giok Ing mendekati ciangkun Sie Pek Hong yang lalu hendak dia tikam.

Dalam kagetnya, untung ciangkun Sie Pek Hong dapat bergerak cepat. Tubuhnya melesat melewati kepala sepasukan tentara yang berada dibagian belakangnya, dan dia terus kabur ke ruangan dalam dirumahnya yang besar dan luas itu; sebab dia sedang memikirkan suatu rencana lain.

Liehiap Liu Giok Ing merasa sangat penasaran, dengan gerak 'yan-cu coan-in' atau burung walet menembus angkasa; dia melesat menyusul ke arah ciangkun Sie Pek Hong lompat melarikan diri. Akan tetapi oleh karena tubuhnya yang sudah lemah dan bagian pahanya yang terluka bekas kena anak-panah, maka dia melayang sangat rendah dibagian atas kepala sepasukan tentara yang sedang siaga, sehingga bagian celananya kena ujung tombak dari beberapa orang tentara, sehingga celananya itu menjadi koyak dibeberapa bagian akan tetapi untung tidak sampai melukai dia.

Bo-im kiamhiap Kwee Su Liang sempat melihat gerak dan perbuatan liehiap Liu Giok Ing, sehingga dalam kagetnya dia pun ikut meninggalkan Kim Wan tauw-to; lompat melesat menyusul sang adik yang binal, yang waktu itu sedang mengejar ciangkun Sie Pek Hong.

Dengan memakai gerak 'pek wan hoan-sin' atau monyet- putih jungkir-balik, dengan cepat Bo-im kiamhiap Kwee Su Liang berhasil mendekati sang adik yang binal, disaat liehiap Liu Giok Ing juga sudah berhasil mendekati ciangkun Sie Pek Hong yang berlari-lari sambil berlompatan. Akan tetapi disuatu saat lantai tempat liehiap Liu Giok Ing berdua Kwee Su Liang menginjakkan kaki- kaki mereka, secara mendadak bergerak terangkat dan membuka, sehingga tubuh-tubuh mereka tergelincir jatuh kedalam sebuah liang !

— o O-o —

SEMPAT Bo im kiamhiap Kwee Su Liang meraih lengan kiri Liu Giok Ing disaat tubuh-tubuh mereka tergelincir jatuh kedalam liang; bahkan sempat laki-laki itu merangkul sehingga tidak sampai terbanting tubuh-tubuh mereka waktu mencapai dasar liang yang sangat dalam.

"Liang-ko, kita kena perangkap ..." liehiap Liu Giok Ing bersuara lemah, selagi mereka berdua duduk didasar liang; sedangkan sepasang matanya seperti hampa mengawasi kebagian atas yang lantainya sudah menutup lagi, sehingga dalam sekejap keadaan dalam dasar liang itu menjadi gelap gulita.

Kwee Su Liang kedengaran menarik napas seperti mengeluh, dan secara tiba-tiba liehiap Liu Giok Ing teringat, bahwa dibagian punggung Kwee Su Liang masih membenam sebatang anak panah; yang juga mengandung bisa racun, seperti sebatang anak panah yang tadi membenam dibagian pahanya, yang masih terasa nyeri bercampur gatal.

"Liang-ko, dibagian punggungmu, masih membenam sebatang anak panah ...,” liehiap Liu Giok Ing berkata, sambil sepasang tangannya meraba-raba; ingin berusaha menolong mencabut anak panah itu, dan yang kena dia raba justeru adalah bagian paha Kwee Su Liang.

Sementara itu Kwee Su Liang memang sedang menghadapi kesukaran buat dia sendiri yang mencabut anak panah yang masih membenam dibagian punggungnya, oleh karena itu dia menurut dan memutar tubuhnya yang sedang duduk, selekas diketahuinya liehiap Liu Giok Ing hendak menolong dia. Terasa pedih hati liehiap Liu Giok Ing waktu sebelah tangannya telah berhasil memegang anak panah, dengan sementara sebelah tangannya yang lain memegang bagian punggung laki-laki yang telah 'mencuri' hatinya, yang sedemikian lamanya dia kenangkan dan rindukan. Dia yakin bahwa laki-laki itu menderita sakit selagi anak panah itu dia cabut, dan rasa sakit itu bagaikan ikut dia rasakan sehingga ada sedikit air mata yang dia keluarkan, selagi dia mencabut anak panah itu, lalu secara tiba-tiba dia menempelkan mulutnya di bagian punggung Kwee Su Liang yang terluka menyedot dan mengeluarkan darah yang mengandung bisa racun.

Kwee Su Liang merasa terkejut ketika bibir sang adik yang binal itu menempel di bagian punggungnya, akan tetapi dia menyadari bahwa darah yang mengandung bisa racun itu memang harus dikeluarkan, oleh karena itu dia mengerahkan tenaga kesaktiannya menyalurkan darahnya yang sedang disedot oleh mulut sang adik yang binal itu.

Selagi berusaha menolong mengeluarkan darah yang mengandung bisa racun dibagian punggung Kwee Su Liang, keadaan liehiap Liu Giok Ing sebenarnya masih dalam terpengaruh bekas kena obat-perangsang ‘lian-hoan lohap sie'. Jelas dia menjadi terangsang lagi selekas dia menyentuh tubuh laki-laki yang sudah 'mencuri' hatinya itu; sehingga bagaikan tanpa sadar sepasang lengannya merangkuI Kwee Su Liang, diwaktu bibirnya menempel dibagian punggung Kwee Su Liang yang terluka, darah mengandung bisa racun dan mengulang menyedot selagi tubuhnya rapat menyentuh bagian punggung Kwee Su Liang.

Lebih dari sepuluh-tahun lamanya dia menyimpan rasa rindu, ingin bertemu dan ingin menyentuh lagi laki-laki yang didambakannya itu; sehingga dalam keadaan yang seperti itu, dia bagaikan melupakan segala galanya, melupakan bahwa keadaan mereka masih berada dalam ancaman bahaya maut sebab mereka masih berada didalam tahanan pihak musuh.

Sementara itu Kwee Su Liang juga merasakan bergetar jiwanya, apalagi pada waktu ikut merasakan bagian dada yang lembut dari sang adik yang binal, yang kena menyentuh dibagian punggungnya. Terasa agak kacau pikirannya; meskipun waktu itu dia sedang memusatkan kesaktiannya buat mengeluarkan semua sisa darah yang mengandung bisa racun akibat kena anak panah.

Kemudian diketahuinya oleh Kwee Su Liang bahwa sang adik yang binal itu sudah menghentikan perbuatannya, sudah tidak lagi menyedot darah dari bagian punggungnya; akan tetapi sang adik yang binal itu masih tetap merangkul bahkan terasa kepala sang adik masih menyentuh dibagian punggungnya, sehingga Kwee Su Liang menganggap sang adik itu sedang bersedih hati. Secara tiba-tiba Kwee Su Liang teringat bahwa sang adik juga sedang kena keracunan bekas anak panah yang membenam dibagian pahanya.

Jelas diketahui bahwa liehiap Liu Giok-Ing belum mengeluarkan darah yang mengandung bisa racun, yang masih mengeram didalam tubuhnya; sebab liehiap Liu Giok Ing tak mungkin menghisap luka yang dia derita dibagian pahanya. Tidak mungkin untuk dia lakukan sendiri.

Haruskah Kwee Su Liang yang melakukannya? Menghisap bagian paha yang luka bekas luka anak-panah itu? Merah muka Kwee Su Liang tetapi untung tidak mungkin dilihat oleh sang adik yang binal, selagi mereka berada ditempat yang gelap-gulita; dan terasa berdebar keras jantung Kwee Su Liang memukul. Namun dia memaksa diri dan berkata perlahan : "Giok-moay, kau juga terluka ..."

Liehiap Liu Giok Ing tidak segera bersuara memberikan jawaban, meskipun didengarnya pertanyaan Kwee Su Liang. Masih dia merangkul bagian punggung dari laki-laki yang telah 'mencuri' hatinya itu, masih dia menikmati rasa hangat bahkan sampai air matanya berlinang keluar, tanpa dia ingat dengan lukanya sendiri. Akan tetapi, mendadak dia bagaikan baru tersadar, dan jantungnya ikut kian berdebar; membayangkan kalau sampai Kwee Su Liang yang harus menghisap bagian pahanya yang terluka.

"Liang-ko, aku tak apa-apa ..." akhirnya dia berkata dengan suara perlahan; bahkan terdengar terlalu perlahan oleh Kwee Su Liang, akan tetapi cukup membuat Kwee Su Liang seperti tersentak, dan dia memutar tubuh sehingga dia duduk menghadapi sang adik yang binal, meskipun cuma secara samar nampak berpeta.

"Giok moay; darah yang mengandung bisa-racun itu harus dikeluarkan ...." kata Kwee Su Liang; terdengar gemetar nada suaranya.

"Tetapi aku tidak mungkin melakukannya ....,” sahut

liehiap Liu Giok Ing; juga gemetar nada suaranya.

Sejenak Kwee Su Liang terdiam tak bersuara, akan tetapi jantungnya semakin berdebar keras. Dia merasa ragu-ragu oleh karena luka yang diderita Liu Giok Ing justeru dibagian paha, sehingga melanggar kesopanan bila dia yang harus melakukannya, menghisap bagian paha itu untuk mengeluarkan darah yang mengandung bisa-racun.

"Giok moay, akan berbahaya bagi keselamatan kau andaikata bisa racun itu tidak dikeluarkan. Bolehkah aku yang melakukannya..?" akhirnya Kwee Su Liang berkata; tetap perlahan dan agak gemetar nada suaranya. Ganti liehiap Liu Giok Ing yang terdiam tidak bersuara, mukanya merah merasa malu akan tetapi untungnya tidak terlihat oleh Kwee Su Liang, sebab keadaan ditempat itu yang cukup gelap; kepalanya menunduk sedangkan dadanya semakin terasa berdebar keras, dan Kwee Su Liang yang berkata lagi :

"Giok moay, aku tahu perasaan kau; akan tetapi didalam hal ini, aku harap memaafkan. Kau telah menolong aku, mengeluarkan bisa racun dari luka dibagian punggungku; dari itu perkenankanlah aku lakukan buat menolong kau

...,”

"Liang-ko, kau lakukanlah , .." akhirnya kata Liu Giok Ing, semakin perlahan suaranya dan dia bahkan bagaikan harus menahan napas.

Kwee Su Liang menggeser tubuhnya, sebab dia harus agak rebah tengkurup waktu dia mulai menghisap sebelah paha Liu Giok Ing yang terluka bekas kena anak panah beracun, sementara sepasang telapak tangannya agak menekan bagian paha sang adik yang binal itu.

Terdengar Liu Giok Ing bersuara seperti mengeluh, waktu tengah-tengah Kwee Su Liang mulai menyentuh bagian paha dan dia seperti bergelinjang waktu merasakan bibir Kwee Su Liang yang hangat mulai menyentuh pahanya.

Keadaan Liu Giok Ing waktu itu masih di dalam pengaruh obat perangsang lian hoan lohap sie sehingga dia merasa sangat menderita menahan gejolak napsu birahi, apalagi yang sedang menghisap bagian pahanya yang luka itu, adalah laki-laki yang telah mencuri hatinya. Sanggup dia menahan rasa sakit pada luka yang dia derita; akan tetapi sukar buat dia mengatasi napsu birahi yang sedang merangsang, sehingga dia menggigit bibirnya keras-keras, sementara sepasang tangannya meraba-raba untuk mencari sesuatu buat dia berpegang, sehingga bagaikan tanpa sadar, akhirnya sebelah tangannya menjamah rambut dikepala Kwee Su Liang yang berada dibagian pahanya.

Dipihak Kwee Su Liang, laki-laki ini juga merasa seperti terangsang waktu sepasang tangannya mulai menyentuh bagian paha sang adik yang binal, yang sudah cukup lama dia kenal namun baru sekali itu dia berani menyentuh bagian paha Liu Giok Ing. Kemudian diapun merasakan kepalanya bagaikan dibelai oleh sang adik yang binal, sampai kemudian terasa rambutnya seperti dijambak erat erat, sehingga Kwee Su Liang menganggap sang adik yang binal itu sedang menahan rasa sakit.

Suara napas Liu Giok Ing kemudian terdengar seperti memburu; sementara bagian pinggulnya ikat bergerak tak menentu, akhirnya dia mengeluh seperti merintih : “Liang ko, oh Liang ko .. ,"

Kwee Su Liang terpaksa menunda perbuatannya yang sedang menghisap, berusaha mengeluarkan darah yang mengandung bisa racun; dia memerlukan mengawasi muka Liu Giok Ing, namun tak mungkin dia dapat melihat jelas karena keadaan yang gelap. Terpikir oleh Kwee Su Liang bahwa sang adik yang binal merasa kesakitan, sehingga dia memerlukan bersuara menghibur:

"Giok-moay, kuatkan hatimu, Sebentar lagi akan selesai..."