-->

Pendekar Bunga Cinta Jilid 02

Jilid 02  

AKAN tetapi, mengingat Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing sudah menikah dan menjadi isterinya pangeran Gin Lun, maka pada mulanya sri baginda raja tidak yakin kalau peristiwa pembunuhan itu dilakukan oleh Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing; sampai kemudian diterima laporan oleh sri baginda raja tentang Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing yang katanya telah melakukan penyerangan terhadap istana pangeran Gin Lun, sehingga terjadi pertempuran antara Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing melawan pasukan pengawal istana pangeran Gin Lun, bahkan pangeran Gin Lun ikut bertempur dan mendapat cidera ....

“Jelas sri baginda raja menjadi sangat marah waktu menerima laporan itu, apalagi waktu diterimanya bahwa Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing hendak melakukan makar, melawan pemerintah dengan mempergunakan pengaruh suaminya, Giok Lun Hoat-ong; menghasut suaminya supaya merebut kekuasaan dan mengangkat diri menjadi raja. Sri baginda raja mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Giok Lun Hoat-ong dan isterinya, tetapi ternyata cuma Giok Lun Hoat-ong yang berhasil ditangkap dan ditahan, sedangkan Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing menghilang tanpa diketahui jejaknya "

“   Kemudian sri baginda raja juga mengetahui tentang

adanya sengketa antara Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing dan anda, Kwee tay-jin; sehingga sri baginda raja mengutus aku untuk datang di tempat anda, memerintah anda melakukan penangkapan terhadap Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing, dan membawanya ke kota-raja setelah anda berhasil melakukan tugas ini ”

Terbelalak sepasang mata Kwee Su Liang setelah menteri kersa Toan Teng Hong menyudahi perkataannya, jelas perintah raja tidak mungkin untuk dihindari oleh Kwee Su Liang. Mengapa dia yang ditugaskan untuk menangkap Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing? Mengapa sri baginda ikut mengetahui tentang adanya sengketa antara dia dan Liu Giok Ing ? Sengketa apa ?

Jelas ada seseorang yang telah berbicara atau memberitahu 'sengketa' itu kepada sri baginda raja, jelas seseorang itu telah menghasut sri baginda raja, entah siapa seseorang itu, dan entah berupa 'sengketa' apa yang di beritahukan kepada sri baginda raja !

Untuk yang kesekian kalinya, terbayang lagi oleh Kwee Su Liang dengan kejadian lama, terbayang semua pengalamannya waktu tempo dulu; apakah nasib yang hendak mempertemukan lagi antara dia dan Liu Giok Ing, setelah lebih dari 10-tahun lamanya mereka terpisah? Dan, ah ! Mendadak Kwee Su Liang pun teringat dengan pertemuannya dan dengan pembicaraan si orang-tua sakti Lauw Tong Sun. Apakah akan menjadi kenyataan atas ramalan yang diucapkan oleh orang itu?

“Baiklah Toan tayjin, tolong beri kabar kepada sri baginda raja bahwa aku Kwee Su Liang menerima tugas yang diperintahkan. Dalam waktu secepatnya aku akan berangkat.'' akhirnya kata Kwee Su Liang kepada menteri kesra Toan Teng Hong.

Akan tetapi, selekas Kwee Su Liang sudah berkumpul lagi dengan isterinya jelas tidak mudah buat dia mengajak isterinya bicara. Haruskah dia mengatakan secara terus- terang tentang perintah sri baginda raja ? Haruskah dia memberitahukan bahwa sri baginda raja memerintahkan dia menangkap Ceng-hwa lie hiap Liu Giok Ing ? Jelas Liu Gwat Hwa akan tertawa kalau suaminya mengatakan hal itu. Tawa yang bukan wajar tertawa, tawa sebab Lie Gwat Hwa juga mengetahui tentang sengketa tempo dulu antara Kwee Su Liang dan Liu Giok Ing ! Dan mengenai rahasia hati isterinya ? Untuk yang kesekian kalinya Kwee Su Liang menjadi risau kalau dia teringat dan meraba-raba tentang rahasia hati isterinya!

“Suko, setiap orang tentu memiliki rahasia yang tersimpan didalam hatinya." itulah kata-kata Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing yang sukar dilupakan oleh Kwee Su Liang, disaat dahulu mereka cukup akrab bergaul.

“Cuma orang yang bodoh yang mau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hasrat hatinya..” dan inilah kata- kata Kwee Su Liang yang pernah dia ucapkan dihadapan Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing.

(“Giok moay seharusnya aku girang mendengar kau sudah menikah dengan Giok Lun Hoat-ong...”) bisik Kwee Su Liang didalam hati; akan tetapi, mengapa terjadi peristiwa seperti yang diceritakan oleh menteri kesra Toan Teng Hong. Kenapa? Jelas Kwee Su Liang harus melakukan perjalanan meninggalkan rumah dan meninggalkan anak isterinya. Bukan buat menangkap Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing, akan tetapi untuk bertemu, untuk menanyakan dan untuk memperoleh penjelasan. Setelah itu

? Ya, setelah itu apa yang harus dia laporkan kepada sri baginda raja ?

Hampir semalaman suntuk Kwee Su Liang harus melakukan pembicaraan dengan isterinya, juga dengan kedua bibiknya, membicarakan tentang tugas yang dia terima dari sri baginda raja, akan tetapi tidak dia jelaskan tentang adanya senjata-rahasia 'bunga cinta', apalagi tentang Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing yang tidak dia sebut-sebut namanya, selagi dia bicara dengan isteri dan kedua bibiknya. Yang dia bicarakan justeru lebih banyak tentang hatinya yang merasa risau, karena harus meninggalkan isteri dan anaknya, di saat dia baru saja bertemu dan melakukan pembicaraan dengan si kakek Lauw Tong Sun, “Akan terjadi malapetaka…” kata si kakek Lauw Tong Sun; “dan anda akan banyak melakukan perjalanan jauh meninggalkan rumah dan meninggalkan keluar….”

(“Akh, mengapa begitu cepatnya ramalan itu menjadi suatu kenyataan….?”) pikir Kwee Su Liang didalam hati; dan tentang malapetaka itu? Benar-benar sangat merisaukan hati Kwee Su Liang: sehingga berbalik isterinya yang harus menghibur dan membesarkan hati Kwee Su Liang, juga kedua bibiknya yang berjanji akan memperketat melakukan penjagaan, selama Kwee Su Liang tidak berada ditempat.

Maka terjadilah Kwee Su Liang meninggalkan kota perbatasan Gan-bun-koan meninggalkan rumah dan meninggalkan isteri serta anaknya; juga meninggalkan kedua bibiknya dan kedua keponakannya, Kwee Giok Cu dan Sie Pek Lian.

Peristiwa apakah yang sebenarnya telah terjadi di kota raja ??

Biasanya, setiap malam tanggal limabelasan merupakan malam sang rembulan bersinar terang; akan tetapi malam itu rembulan kelihatan bersinar suram, agak gelap menyeramkan. Terlebih karena banyaknya asap dupa dan hio yang tertiup angin sepoi-sepoi dari hampir setiap rumah di kota raja; bagaikan menambah suasana menjadi remang- remang menyeramkan.

Kemudian cuaca pun ikut berobah menjadi hitam pekat, mendung menandakan hujan akan segera turun; sehingga tiada banyak orang yang keluar berkeluyuran sebaliknya mereka cepat-cepat pulang ke rumah masing-masing, bersiap-siap menghindar dari curahan air hujan yang hendak turun.

Akan tetapi, sang hujan tak kunjung turun membasahi bumi meskipun malam kian bertambah larut, dan keadaan bertambah sepi sebab awan hitam masih tetap menyelubungi kota raja bagaikan sang hujan selalu mengancam akan turun sewaktu-waktu. Tidak ada suara orang yang bernyanyi-nyanyi, tidak ada suara orang yang berlalu-lintas; cuma sisa suara burung malam dan burung hantu yang perdengarkan suara, menambahkan keadaan semakin jadi menyeramkan.

Justeru disaat yang sedang sesunyi itu, disaat tiada sinar rembulan yang tertutup dengan gumpalan awan-awan hitam; maka secara tiba-tiba kesunyian itu terpecahkan karena terdengarnya pekik suara banyak orang, pekik suara dari orang-orang yang menjadi penghuni rumah menteri pertahanan dan keamanan Wie Kok Ceng, sebab malam itu menteri hankam Wie Kok Ceng tewas, menjadi korban keganasan yang kesekian kalinya senjata rahasia berbentuk bunga Ceng-hwa yang mengandung bisa racun maut !!

Sudah cukup banyak nyawa yang menjadi korban keganasan senjata rahasia yang mengandung bisa racun itu, mula pertama peristiwa itu terjadi dikalangan para pengawal istana kerajaan, disusul kemudian terhadap beberapa menteri yang terkenal setia terhadap raja dan negara; mereka semua tewas terkena senjata rahasia yang berbentuk bunga Ceng-hwa, atau bunga cinta, namun tak ada seorang pun yang melihat pelakunya. Cuma dikatakan memakai pakaian malam serba hitam dan serba ketat, tinggi langsing bentuk tubuhnya dan pesat cepat gerak tubuhnya, seolah-olah si pelaku itu dapat terbang di udara, tidak kena sasaran anak panah yang semakin bertambah ketat melakukan penjagaan, melindungi keselamatan sri baginda raja yang sewaktu-waktu ikut terancam nyawanya !!

Memang sudah tidak asing lagi buat orang-orang dikalangan rimba persilatan, bahwa senjata rahasia berbentuk bunga Ceng hwa itu merupakan senjata yang khas dari Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing; hal ini juga diketahui oleh orang-orang yang bertugas menjadi pengawal istana kerajaan, bahkan juga oleh sri baginda maharaja. Lebih dari 10 tahun yang lalu, Ceng hwa liehiap Liu Giok-Ing pernah "mengacau" di kota raja, bahkan didalam istana kerajaan, dan kemudian liehiap Liu Giok Ing menikah dengan pangeran Giok Lun, dan sejak itu Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing menghilang dari kalangan rimba persilatan. Oleh karenanya, sri baginda raja ikut meragukan, entah apa yang menyebabkan sehingga Ceng- hwa liehiap Liu Giok Ing mulai melakukan kegiatan lagi, bahkan melakukan pembunuhan terhadap para pengawal istana kerajaan; dan melakukan pembunuhan terhadap para menteri yang diketahui setia mengabdi terhadap raja dan negara. Mungkinkah bukan Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing yang melakukannya, ataukah ada maksud tidak baik dari pangeran Giok Lun yang kepingin melakukan perbuatan makar?

Sri baginda maharaja merasa cukup bijaksana untuk segera tidak mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing, juga terhadap pangeran Giok Lun yang merupakan puteranya.

Sementara itu, Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing ikut menjadi terkejut ketika mendengar berita tentang peristiwa pembunuhan itu; padahal sesungguhnya bukan dia yang melakukannya.

Senjata rahasia berbentuk bunga ceng-hwa atau bunga- cinta, memang merupakan senjata rahasia yang khas menjadi milik dia. Dengan sebatang pedang pusaka dan dengan senjata rahasia yang berbentuk bunga ceng-hwa itu, untuk banyak tahun lamanya dia berkelana dan merajalela dikalangan rimba-persilatan, sehingga berhasil dia memperoleh julukan sebagai Ceng-hwa liehiap. Cuma sebuah nama julukan atau semacam 'gelar' dia pergunakan untuk segala perbuatannya yang mempertaruhkan nyawa, cuma sebuah 'gelar' buat ganti sekian banyaknya nyawa yang tewas sebagai korban pedang dan senjata-rahasia berbentuk bunga ceng-hwa. Melulu untuk sebuah 'gelar' dia bahkan harus menghadapi berbagai macam penderitaan dan kepedihan; suatu kepedihan yang terasa begitu menyakitkan hatinya, yang tak mudah dia lupakan selama hidupnya.

Setelah 10-tahun lamanya dia menikah dengan pangeran Giok Lun, dan setelah 10-tahun lamanya dia menghilang dari segala kegiatan sebagai seorang pendekar; maka sekarang secara tiba-tiba ada seorang-orang lain yang meraja-lela memakai senjata-rahasia berbentuk bunga ceng- hwa. Dalam hati Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing menyadari adanya seseorang yang melakukan perbuatan itu, sengaja melakukan pembunuhan-pembunuhan memakai senjata rahasia yang khas menjadi miliknya, dengan maksud mencemarkan bahkan memfitnah dia. Jelas bahwa orang- orang itu merupakan seorang musuh yang masih menyimpan dendam terhadap dia, tetapi siapakah orang- orang itu; siapa musuh itu?

Sekilas Liu Giok Ing teringat dengan seseorang. Seseorang yang pernah menyakitkan hatinya, begitu sakitnya sehingga dia bagaikan hidup merana untuk waktu yang cukup lama. Seseorang yang pernah dia tempur, seseorang yang dia benci tetapi juga yang dia rindukan.

( “Liang-ko, mengapa kau begitu kejam?") kata-kata ini terlalu sering dia ucapkan di dalam hati, dulu dan sekarang, setelah 10-tahun lamanya dia menjadi isterinya pangeran Giok Lun, putera ketiga dari sri baginda maharaja yang saat itu sedang berkuasa.

Entah sudah berapa banyak air-mata yang dia keluarkan; meskipun kadang-kadang dia tersenyum kalau dia teringat lagi dengan Liang-ko yang dia benci dan yang dia rindukan. Juga sekarang, setelah dia menjadi mantu seorang raja, juga sekarang; selagi dia menghadapi peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang. Seseorang yang sengaja memfitnah dia, yang berhasil membakar semangatnya; dan berhasil membikin dia penasaran.

Giok Lun Hoat-ong juga mendengar tentang adanya peristiwa yang menggegerkan itu; dan pangeran ini juga menyadari bahwa isterinya sedang difitnah oleh seseorang. Difitnah; oleh karena pangeran ini tahu benar bahwa perbuatan keji itu bukan dilakukan oleh isterinya sebab isteri tersayang itu tidak pernah lepas dari rangkulannya; dan tidak pernah meninggalkan dia.

Sempat pangeran Giok Lun memperhatikan keadaan isterinya yang mendadak berobah, suka perlihatkan sikap marah-marah dan penasaran; setelah diketahuinya tentang adanya peristiwa pembunuhan keji itu. Sempat pangeran Giok Lun menyediakan waktu, pada waktu senja maupun pada waktu malam hari, buat menghibur isteri kesayangannya. Dirangkulnya tak sudahnya dikecupnya sepasang pipi isteri kesayangannya, yang kulitnya putih bersih halus seperti batu pualam; bahkan dipangkuannya yang lalu membelai dengan berbagai kata dan perbuatan mesra. Begitu besar kasih-sayangnya terhadap isterinya, yang tak mudah dia persunting dan dia peroleh. Sepuluh tahun lebih dia menjadi suami dari Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing, yang dahulu terkenal sebagai 'macan betina yang galak'; tetapi yang begitu lemah lembut dan begitu manja setelah mereka berada diranjang.

Lemah lembut manja, benarkah ini? Akh ! Kadang- kadang Giok Lun Hoat-ong meragukan. Cuma didalam hati dan cuma merupakan rahasia hati; sebab pangeran ini cukup mengetahui, ada lelaki lain yang berhasil 'mencuri' hati isterinya sebelum dia menjadi suaminya. Dan rahasia hati itu tetap dia simpan didalam hatinya, sepuluh tahun mereka hidup menjadi suami isteri, sepuluh tahun Ceng- hwa liehiap Liu Giok Ing rela menyerahkan diri; tetapi mengapa selama 10 tahun itu tidak kelihatan sang bayi nongol buat bukti nyata kasih sayang mereka ??

Giok Lun Hoat ong merupakan putera salah seorang selir dari sri baginda maharaja yang sedang berkuasa. Dalam buku pelajaran sejarah bangsa dan negara Cina dikelas es-em-pe, tidak disebutkan entah berapa banyak selir yang dimiliki oleh sri baginda maharaja ini, mungkin sampai puluhan disamping seorang permaisuri; tetapi menurut ceritera sana-sini, dari sekian banyaknya selir-selir itu, sri baginda maharaja mempunyai 13 orang putera. Cap- sha tay po, kalau menurut istilah ki-dalang wayang-boneka yang di kelenteng toa-se-bio.

Dan ketiga belas orang pangeran ini, sudah tentu suaminya memiliki rahasia hidup masing-masing yang tidak akan mungkin diketahui orang, kalau rahasia hidup atau rahasia mati itu tidak mereka uraikan dihadapan seorang- orang yang tekun mencatat; sehingga di kemudian hari diketahui tentang mereka. Ada yang bermaksud, dengan melakukan perbuatan makar, dan menyimpan dendam terhadap ayahnya sendiri, ada yang merindukan sang ibu tiri dan ada juga yang senang hidup menyendiri.

Sebagai seorang putera-raja, meskipun cuma dari seorang selir; Giok Lun Hoat-ong yang dalam urutan merupakan putera ketiga dari sri baginda maharaja, memperoleh pendidikan yang sempurna, mengerti ilmu surat, ilmu silat dan sedikit menggambar sehingga ada lukisan sketsa wajah- muka sang isteri tercinta yang sempat menghias kulit halaman muka buku-buku ceritera-silat. Tentang isteri tersayang yang mahir ilmu-silatnya itu memang sudah diketahui Giok Lun Hoat-ong bahwa isterinya merupakan murid-tunggal dari Touw-liong cuncia, seorang laki-laki yang tinggi ilmu dan hidup menyendiri dekat perbatasan Inlam, Tali; bahkan di bagian pedalaman, ditempat yang masih banyak dihuni oleh suku-bangsa Biauw yang liar, yang gemar makan daging orang.

Isteri tersayang yang cantik-jelita dan mahir ilmu-silatnya itu bahkan dikenal orang sebagai 'macan betina yang galak' disamping gelar ‘Ceng-hwa liehiap' atau pendekar bunga- cinta; dan isteri tersayang ini pernah menyebar maut dikalangan rimba-persilatan bahkan di kota-raja dan di dalam istana kerajaan. Menyebar maut dikalangan orang- orang yang jahat; tetapi kalau menurut pengakuan isteri tersayang itu; dan Giok Lun Hoat-ong cuma manggut- manggut mesra kalau mereka membicarakan lagi urusan itu. Berdua, dalam kamar, akan tetapi, apakah 'orang orang jahat' itu tidak mempunyai sanak? Mungkin sang isteri tersayang lupa, waktu itu sebaliknya Giok Lun Hoat-ong tidak lupa dan tidak pernah melupakan, bahwa diantara sekian banyaknya 'orang orang jahat' itu, ada yang menyimpan dendam dan benci terhadap isteri kesayangannya. Bahkan mungkin ada yang menyimpan rindu, seperti laki laki perkasa yang pernah 'mencuri' hati isterinya. Dulu !

Sekarang tibalah saatnya buat seorang 'orang jahat' itu untuk melakukan balas dendam terhadap isteri kesayangannya itu.

Balas dendam memakai cara memfitnah, mencemarkan nama isterinya dan menyebar berita bahwa sang isteri tersayang bermaksud menggunakan pengaruh kedudukan suaminya, hendak melakukan perbuatan makar, menggulingkan pemerintah yang sekarang sedang berkuasa; dalam arti kata hendak menggeser bahkan mungkin membunuh ayah mertuanya !

Jelas Giok Lun Hoat ong harus cepat-cepat menghadap ayah tercinta, perlu memberikan penjelasan; tetapi Giok Lun Hoat ong tidak mudah untuk menemui sang ayah tercinta bahkan tak mudah memperoleh kesempatan buat menghadap, selalu ada rintangan dari pihak istana, rintangan yang sengaja diatur dan direncanakan pihak orang orang yang juga ikut dendam terhadap Giok Lun Hoat ong. Dikatakannya sang ayah tercinta sedang sibuk, di istana bukan tempat melakukan kegiatan pemerintahan; tetapi sibuk entah ditempat selir yang keberapa !

Giok Lun Hoat ong pusing menghadapi masalah itu, tetapi dihadapan isteri tersayang, dia berusaha menghibur, selalu dia membelai dengan kata-kata dan perbuatan mesra, seperti pada senja itu selagi mereka berdua duduk di dalam ruangan yang berdekatan dengan taman bunga.

Untuk yang kesekalian kalinya; sempat Giok Lun Hoat- ong merangkul pinggang isterinya yang ramping; sempat dia memangku sang isteri tersayang, sempat dia mengecup pada bagian pipi, lalu pindah kebagian leher, dekat daun telinga sehingga sang isteri tersayang bergelinjang dan merengek manja, setelah itu baru Giok Lun Hoat-ong berkata :

“Moay-moay, mengapa kau kelihatan muram? Apa yang sedang kau pikirkan ..."

Begitu halus, begitu lembut Giok Lun Hoat-ong mengucap kata-kata, dan selembut itu juga dia membelai rambut ikal isteri kesayangannya, sehingga sekilas Liu Giok Ing merasa bagaikan tersentak.

Hilang lenyap rasa gelinjang bekas kena sentuh dan kecup suaminya; dan begitu tiba-tiba ada sedikit air mata yang menggenang disepasang matanya yang biasanya bersinar jernih tajam. Air mata yang untuk kesekian kalinya tak jemu-jemu membasahi mukanya. Mengapa ? Pasti dan selalu suaminya akan menanya, tetapi tahukah suaminya apa sebab air-mata itu tak bosan-bosan membasahi mukanya; tahukah suaminya untuk siapa air-mata itu dia keluarkan? Akh ! Suami yang malang dan suami tersayang.

“Moay-moay, mengapa kau mengeluarkan air-mata ?"

dan buru-buru Giok Lun Hoat ong mengeringkan air-mata itu memakai jari-jari tangannya; lembut mesra dia melakukannya, sehingga berhasil menambah derasnya air- mata itu keluar, untuk yang kesekian kalinya, berulang lagi seperti biasa.

Dan Giok Lun Hoat-ong cukup menyadari, cukup mengetahui. Air-mata pertama yang isterinya keluarkan, merupakan air-mata yang isterinya keluarkan buat laki-laki yang pernah mencuri hati isterinya, dan yang masih tetap dikenang oleh isterinya, akibat kata-kata suaminya yang lembut-mesra, seperti yang pernah diucapkan oleh laki-laki pencuri hati itu yang sangat berkesan dihati isterinya. Sedang air mata berikutnya Liu Giok Ing keluarkan buat suaminva yang begitu menyayangi dia, begitu mencintai, cumbu merayu; ingin memperoleh cinta kasih sepenuhnya. Mungkinkah itu ??

“Siang-kong, betapa aku tidak merasa risau, aku bahkan merasa marah dan penasaran karena perbuatan seorang yang sedang memfitnah aku. Bukan kepada siang-kong aku marah-marah, dari itu maafkan…"

Cepat-cepat Giok Lun Hoat-ong menutup mulut isterinya memakai jari tangannya, tidak dibiarkannya isterinya melengkapi perkataannya; lalu ganti dia yang berkata: “Moay-moay, aku dapat mengerti perasaan kau. Esok pagi akan kuperintahkan Lim ciang-kun buat melakukan penyelidikan dan penangkapan terhadap si pelaku itu.”

Liu Giok Ing melepaskan diri dari rangkulan suaminya, pindah duduk dari atas pangkuan suaminya; memilih sebuah kursi yang letaknya berhadapan dengan suaminya itu.

“Siang-kong, sesungguhnya aku bukan tidak menghargai ilmu kepandaian Lim ciangkun. Akan tetapi seseorang yang melakukan perbuatan keji itu, pasti merupakan seseorang yang tinggi ilmu kepandaiannya. Siang-kong tentu menyadari betapa tinggi ilmu yang dimiliki oleh menteri hankam, seorang menteri yang mengatur pertahanan dan keamanan negara. Rumahnya bahkan dijaga ketat, akan tetapi ternyata dia tewas. Dari itu perkenankanlah siang- kong, perkenankanlah untuk sekali ini aku sendiri yang akan melakukan penyelidikan. Hal ini perlu aku lakukan, bukan melulu buat kepentingan aku; tetapi kepentingan kita, sebelum sri baginda ...." dan mendadak Liu Giok Ing menghentikan perkataannya; tanpa suaminya mencegah untuk dia meneruskan perkataannya. Tetapi, suami itu kelihatan menunduk lesu, dan ada air mata yang membasahi mukanya. Kenapa??

Buru-buru Liu Giok Ing bangun lagi dari tempat duduknya, mendekati dan berlutut di dekat suaminya; dengan sepasang tangan berada diatas pangkuan sang suami:

“Siang-kong, mengapa siang-kong mengeluarkan air mata ...?''

Ikut Liu Giok Ing mengeluarkan air mata. Untuk yang kesekian kalinya, dia bagaikan kehilangan jiwa pendekar yang dimilikinya; menghadapi sang suami yang bersikap lemah lembut.

“Moay-moay…" Giok Lun Hoat-ong bersuara dan memerlukan menghapus air mata isteri kesayangannya, sebaliknya membiarkan air matanya sendiri yang masih membasah di mukanya; lalu dia meneruskan berkata:

“…Kalau aku memberikan perkenan, jelas moay-moay akan mengulang perbuatan seperti dulu, dan moay-moay akan pergi meninggalkan aku….”

Terisak menangis Liu Giok Ing waktu didengarnya perkataan suaminya, begitu lembut, begitu mesra; menyimpan rasa takut ditinggalkan. Dan Liu Giok Ing menelungkupkan kepalanya diatas pangkuan suaminya, belakangan kepalanya.

Cukup jelas Liu Giok Ing mengetahui dan menyadari betapa besar kasih sayang suaminya terhadap dirinya. Suaminya tidak membolehkan dia hidup berkelana menyambung nyawa, suaminya takut dia mendapat cedera dan takut kehilangan dia, bahkan takut dia bakal bertemu lagi dengan laki-laki 'pencuri-hati' itu. Tetapi tahukah suaminya bahwa dia masih menyimpan rasa benci tetapi rindu terhadap laki-laki itu ?? Akh, suami yang malang !! Dan buru-buru Liu Giok Ing mengangkat kepalanya, sebelum air mata berikutnya sempat dia keluarkan; dia mengawasi muka suaminya dan dia berkata:

“Siang-kong, meskipun tidak aku ucapkan, akan tetapi didalam hati aku sudah berjanji, bahwa aku tidak bakal meninggalkan kau, tidak bakal kembali hidup berkelana seperti dulu. Aku cuma minta perkenan supaya diboIehkan melakukan penyelidikan dan penangkapan terhadap manusia keji itu. Aku cuma keluar malam untuk melakukan penyelidikan setelah itu aku akan kembali lagi berada disini siangkong. "

“Jadi, moay-moay bukan bermaksud pergi lama meninggalkan rumah dan mening. "

“Tentu tidak, siangkong.,.." sahut Liu Giok Ing yang memutus perkataan suaminya, berhasil dia membikin suami itu merangkul lagi, mengecup lagi dan mengulang lagi dengan belaian kasih-mesra.

---o~dwkz^)(^hendra~o---

MEMANG cuma malam yang memungkinkan buat Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing melakukan penangkapan terhadap si pelaku pembunuhan keji itu, sebab si pembunuh tentu akan umpatkan diri diwaktu siang. Akan tetapi, tetap bukan merupakan suatu pekerjaan yang mudah buat Liu Giok Ing menemukan jejak si pembunuh, apalagi menangkap basah selagi si pembunuh melakukan kejahatannya. Liu Giok Ing bahkan harus menghindar dari petugas pemerintah yang mencurigai dia, dan yang diperintahkan mematai dia oleh sri baginda raja. Jelas akan terjadi pertempuran antara pihak sendiri, andaikata pihak petugas pemerintah menemukan dia yang sedang berkeliaran diwaktu malam; jelas pihak pemerintah akan tambah mencurigai sebagai perbuatannya semua pembunuhan itu. Oleh karenanya, Liu Giok Ing bahkan harus memakai tutup-muka dengan sehelai kain warna hitam diwaktu dia melakukan penyelidikan hendak menangkap si pembunuh yang hendak memfitnah dia.

Di malam pertama Liu Giok Ing mulai melakukan usahanya mencari jejak si pembunuh, yakni sesaat setelah dia bicara dengan suaminya; maka terasa sangat gelisah hati Giok Lun Hoat-ong yang melepas isterinya. Gelisah dan cemas oleh karena dengan setulus-ikhlas dia menyintai isterinya. Ingin dia memerintahkan Lim ciangkun buat membayangi dan memberikan perlindungan bagi isterinya, akan tetapi isteri tersayang itu justeru menertawakan Lim ciangkun; isteri tersayang itu mengatakan bahwa kemungkinan justeru dia yang harus melindungi Lim ciangkun, andaikata Lim ciangkun ditugaskan ikut mencari jejak si pembunuh. “Bukan tandingan Lim ciangkun "

kata isterinya sambil tertawa jenaka; waktu membicarakan tentang ilmu kepandaian si penjahat. Dan perkataan isteri tersayang itu, sudah tentu menambah rasa cemas Giok Lun Hoat-ong, khawatir kalau-kalau isterinya akan mendapat cidera diwaktu menghadapi penjahat itu. Tetapi apa daya dan yang harus dilakukannya. Isteri tersayang itu terkenal 'keras-kepala' kalau sudah membawakan peranan sebagai seorang pendekar; seorang jago-pedang yang tidak pernah mengenal rasa takut !

Kembali berulang Giok Lun Hoat-ong membayangkan kejadian lama, selagi dulu Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing belum menjadi isterinya. Dua-kali pantatnya kena tendang 'macan-betina yang galak' itu. Pertama kali pada waktu Giok Lun Hoat-ong menerima perintah dari ayahnya, sri baginda maharaja; buat menangkap 'macan betina yang galak’ itu, yang waktu itu sedang mengacau di kota raja. Giok Lun Hoat-ong menerima perintah tanpa mengenal rasa 'takut' meskipun sudah dia ketahui betapa macan betina itu sangat galak. Ikut Giok Lun Hoat-ong menyaksikan pasukannya mengepung 'macan-betina yang galak' itu, bahwa ikut Giok Lun Hoat-ong majukan diri, siap tempur melawan ‘macan betina yang liar' itu. Pakai pedang pusaka, dia waktu itu; tapi cuma sekali sentuh, pedangnya hilang entah kemana dibawa terbang dan tahu- tahu pedang pusaka itu sudah berada di tangan kiri 'macan- betina yang pandai terbang' itu. “Pedang yang bagus ….!" macan-betina yang galak itu berkata jenaka; lalu seenaknya dia bawa pergi pedang- pusaka itu, membikin Giok Lun Hoat-ong marah-marah waktu itu. Berteriak Giok Lun Hoat-ong berusaha mengejar 'macan-betina yang maling pedang' itu. Cepat-cepat lari 'macan-betina yang maling' itu, dan cepat-cepat Giok Lun Hoat-ong berusaha mengejar, meninggalkan pasukannya; sisa dia sendirian yang masih terus melakukan pengejaran. Sampai disuatu tempat yang sunyi, disebelah barat tembok kota-raja, 'Macan betina yang maling pedang' itu duduk menunggu dia, duduk seenaknya diatas rumput menyandar dahan pohon beringin. Ngomel-ngomel Giok Lun Hoat- ong, nuding-nuding pakai jari tangannya yang lurus tegak tetapi gemetar menahan rasa marah, waktu itu; tetapi 'macan betina yang maling pedang' itu tenang-tenang bersenyum simpul dan mengunyah kwaci.

Bertambah marah Giok Lun Hoat-ong. Menambah ngomel-ngomel dan menambah nuding-nuding, dan macan betina yang maling itu mencegah dengan menggoyang- goyang sebelah tangannya, sementara mulutnya perdengarkan suara menirukan bunyi suara cecak, lalu menambah dengan kata-kata :

“Mau apa nguber nguber   ?"

“Mau pedang !" cukup keras suara Giok Lun Hoat-ong

berteriak, akan tetapi 'macan galak' itu berobah menjadi 'macan jenaka' :

“Nih, ambil " katanya dan menyertai seberkas senyum

jenaka-manja.

Buru-buru Giok Lun Hoat-ong melangkah tambah mendekati, kesandung sebelah kakinya pada akar pohon beringin yang tidak dilihatnya, terjerumus tubuhnya bagaikan ingin menerkam 'macan jenaka' yang masih duduk tenang, dengan sebelah tangannya menyodorkan pedang pusaka.

Kaget pangeran Giok Lun yang muda dan sangat tampan itu: takut dia menyentuh tubuh macan jenaka dan takut dia dianggap sebagai laki-laki yang tidak sopan. Hampir dia berteriak memerintahkan macan jenaka itu cepat-cepat minggir menghindar jangan sampai kena dia terkam. Tetapi sia-sia dan sepasang tangannya sudah merangkul. Merangkul dahan pohon beringin sebab 'macan jenaka' itu sudah terbang entah kemana; tetapi tahu-tahu pantatnya kena tendang, dan "macan yang jenaka" itu menghilang, meninggalkan suara tawa yang merdu jenaka, tetap membawa lari pedang pusaka yang dicurinya tadi.

Itulah saat yang pertama kali Giok Lun-Hoat-ong kena tendang 'macan betina yang galak" itu, dan yang kedua kali terjadi di rumah pangeran muda yang tampan itu; sebab diluar dugaan, 'macan betina yang maling' itu datang 'mengaduk-aduk' rumah pangeran Giok Lun, bertempur dan melukai entah berapa banyak pasukan 'sie-wie' yang ditugaskan menjaga keselamatan rumah dan nyawa pangeran yang anak raja; namun yang tidak berdaya menghadapi dan mencegah niat 'macan betina yang maling’ itu, yang katanya hendak bertemu dengan pangeran Giok Lun.

"Mau apa nguber-nguber ??” tanya pangeran Giok Lun, meminjam istilah 'macan betina yang galak' itu, waktu dibawah pohon beringin dulu.

“Eh, aku bukan nguber-nguber ….” bantah macan betina

yang galak itu, mengulang bersenyum jenaka seperti dulu.

“Mau apa nyari-nyari ?" Giok Lun Hoat-ong meralat pertanyaan marah suaranya, meskipun bernada menanya. 'Macan betina yang jenaka' itu menambah senyumnya, berobah menjadi 'macan betina yang memikat'; berhasil membetot sebelah hati pangeran muda yang tampan itu, sampai terasa berguncang-guncang. Akan tetapi cepat pangeran Giok Lun tersadar, waktu didengarnya suara 'macan betina yang memikat' itu berkata .

“Mau kembalikan pedang..” dan sebelah tangan kiri 'macan betina yang memikat' itu memberikan pedang pangeran Giok Lun yang dahulu dia bawa lari.

“Tidak perlu ..." pangeran Giok-Lun seperti ngambek- ngambek; ogah menerima pedang pusaka yang hendak dikembalikan.

“Aku juga tidak perlu ..." kata 'macan-betina yang memikat' itu, lembut merdu suaranya dan tetap menyertai seberkas senyum yang memikat; namun berhasil membikin pangeran Giok Lun marah, merasa diejek, merasa dihina; terlebih sebab mendadak dia teringat bahwa dia pernah kena tendang pertama. Cepat-cepat dia berkata, balas mengejek: “Ambil saja dan anggap saja sebagai tanda mata

..."

“Tanda mata ...?" ulang macan betina yang memikat itu merasa tidak mengerti; berpikir dan hilang lenyap senyum yang menghias mukanya.

“Ya, tanda mata. Buat aku lamar kau menjadi bini ..."

Marah 'macan betina yang memikat' itu, berobah dia menjadi 'macan betina yang galak'. Disodoknya ke perut pangeran Giok Lun memakai tangan kirinya yang memegang pedang pusaka milik pangeran muda yang tampan itu. Gerak tangan kiri itu seperti gerak ular belang melepas bisa, tetapi gerak tangan ini begitu lembut-lambat, sehingga tidak sukar buat pangeran Giok Lun menghindar, bahkan dia berhasil memegang pedang pusaka yang masih terbungkus dalam sarung, yang sedang mengarah bagian perut.

Tetapi, selekas sebelah tangan pangeran Giok Lun memegang pedang pusaka itu, maka secepat itu juga Liu Giok Ing melepaskan pegangannya, bagaikan dia sengaja mengembalikan pedang pusaka itu; lalu dia lompat hendak meninggalkan pangeran Giok-Lun.

Bertambah marah pangeran Giok Lun yang merasa kena tipu, berteriak dia keras-keras:

“Tangkap dia ...!!"

Meluruk semua pasukan sie-wie yang ada, cuma mengurung, cuma merintang; takut dekat-dekat, takut kena pedang kalau 'macan-betina yang galak' itu mengamuk- ngamuk lagi. Sedangkan pangeran Giok Lun yang merasa penasaran, lompat tinggi dan jatuh memakai ilmu 'burung belibis menyeberang pantai'. Sedikit lewat dia hinggap berdiri membelakangi Liu Giok Ing yang lagi jalan tenang- tenang mau pulang, lalu sebelah kaki Liu Giok Ing menendang pantat pangeran itu yang dia anggap melintang di jalan. Itulah saat yang kedua kali pangeran Giok Lun kena tendang 'macan betina yang galak' itu, yang sekarang menjadi isterinya.

Seorang diri Giok Lun Hoat ong tersenyum karena teringat dengan kejadian tempo dulu, selagi dia duduk menunggu isterinya yang sedang keluar malam. Kemana? Entah, dia juga tidak tahu. Yang jelas isteri tersayang itu sedang mengejar seorang lelaki, seorang lelaki yang sedang menyebar maut dan memfitnah suaminya; seorang lelaki? Akh ! Buru buru Giok Lun Hoat ong menghapus rasa cemburu, karena mendadak dia teringat dengan 'rahasia hati' yang disimpannya. Rahasia hati' tentang lelaki yang pernah 'mencuri' hati isterinya. Dia menghapus rasa cemburu itu, sebab dia tahu lelaki itu sudah menikah, dan juga sudah mempunyai seorang anak yang umur 10-tahun lebih dan lelaki 'pencuri hati' istrinya sekarang bertugas jauh diperbatasan kota Gan-bun koan, yang berbatasan dengan orang-orang Manchuria !

Dan selagi pangeran Giok Lun terbawa hanyut dalam lamunan kejadian lama, maka tidak diketahui olehnya bahwa sejak tadi seorang pelayan perempuan berdiri menunggu dia.

Pelayan perempuan itu masih muda usianya, baru 16 tahun lebih sedikit, manis mukanya dan putih halus kulitnya; tubuhnya sedang tumbuh merangsang, terutama pada bagian badan yang membusung segar.

Siu Lan nama perawan yang bekerja sebagai pelayan itu. Sejak tadi dia menunggu majikannya yang sedang ditinggal pergi oleh isterinya, sering dia mencuri lihat muka tampan sang pangeran yang masih kelihatan muda dan mendadak dia tersipu malu ketika pandangan matanya bertemu dengan pangeran Giok Lun yang sekilas melirik dia.

“Eh, Siu Lan. Mengapa kau masih berdiri disitu…?”

tanya pangeran Giok Lun yang baru menyadari.

Cepat-cepat Siu Lan berlutut, seperti biasa sesuai dengan peraturan yang berlaku; menunduk dia tak berani mengangkat muka mengawasi sang pangeran, dan agak gemetar suaranya waktu dia berkata;

“Ampun ong-ya. Hamba masih menunggu perintah ong- ya. Mungkin ong-ya masih membutuhkan sesuatu yang dapat hamba lakukan ….."

Sejenak pangeran Giok Lun terdiam mengawasi Siu Lan yang tugasnya sebagai pelayan, sempat dilihatnya Siu Lan melirik; begitu tajam lirikan matanya. Dan, mulutnya yang karena gin-cu, benar-benar merangsang seperti mulut isterinya yang sudah seringkali dia gigit lembut-mesra. Tetapi akh ! Mengapa dia harus membiarkan diri terbawa hanyut oleh sebuah lirikan mata Siu Lan yang pelayan ? Tidak pernah dia memikirkan perempuan lain, dan sama sekali tidak pernah dia mempunyai niat buat membagi kasih-sayang kepada perempuan lain. Cuma Giok Ing yang berhak menerima kasih sayangnya, cuma Giok Ing yang dia cintai setulus hatinya. Dia bahkan terkenang dan bagaikan terdengar lagi kata-kata ayahnya yang pernah diucapkan dihadapannya:

“Giok-jie, sudah kau pikirkan benar-benar tentang pilihan kau? Tidak kau menyadari siapa dia ?"

“Dia akan berobah menjadi seekor 'macan betina yang jinak', pie-he," sahut pangeran Giok Lun yang sempat mengajak ayahnya bergurau, berhasil membikin sri baginda maharaja ikut bersenyum, sementara pangeran Giok Lun berkata lagi :

“Bagaikan dua batu pualam yang dipersatukan; pasti

akan menghasilkan seorang anak yang berupa Giok-Giok !"

Sekali lagi sri baginda maharaja ikut bersenyum menghadapi lagak-jenaka puteranya. Akan tetapi setelah 10- tahun menikah dan sang Giok-Giok tak kunjung nongol; maka ganti ayahnya yang berkata :

“Mana Giok-Giok yang kau harapkan ?”

Terdiam pangeran Giok Lun menunduk malu dan ayahnya yang berkata lagi :

“Mungkin isterimu mandul !”

Ingin pangeran Giok Lun membantah, akan tetapi batal dia lakukan, sebab waktu itu dilihatnya ayahnya sedang marah-marah. Bukan marah-marah kepada sang putera yang ketiga akan tetapi marah-marah sebab salah seorang selirnya ketangkap basah, ada main dengan seorang sie-wie; seorang perwira pengawal istana !

“Kau harus cari bini muda !” ayahnya lagi yang berkata, masih bernada marah-marah; batal pangeran Giok Lun membantah meskipun mulutnya sudah terbuka, dan sang ayah lagi yang nyerobot bicara ;

“Ambil selir, sebanyak-banyaknya. Kalau kurang di kota- raja, cari dipelosok kota dan di desa-desa!"

“Cukup ! Aku masih sibuk dengan urusan lain…." dan ayahnya mengusir dia pulang, sebab ayahnya sedang sibuk mengurusi bini-bini yang tak terhitung banyaknya.

(“Cari selir, cari bini-muda. He-he-he…") kata pangeran Giok Lun didalam hati, dan tertawa juga didalam hati; teringat dengan kata-kata ayahnya, sebaliknya terlupa dengan Siu Lan yang masih berlutut, belum berani bangun sebelum mendapat perintah untuk bangun, sesuai dengan peraturan yang berlaku.

“Eh, Siu Lan. Tidak Siu Lan, aku tidak perlu apa-apa. Silahkan kau istirahat sebab saya juga mau tidur…." dan pangeran Giok Lun melangkah lesu menuju ke kamar tidur. Lesu sebab bakal tidur sendirian selagi isteri tersayang keluyuran.

Lembut perlahan Siu Lan bangun berdiri; lesu, dia masih berdiri waktu dilihatnya sang pangeran sudah memasuki kamar tidur. Hasrat hatinya, ingin benar dia diajak tidur oleh sang pangeran; yang sejak lama dirindukan, dan sejak lama dia tunggu-tunggu supaya dia diambil menjadi selir. Kenapa? Mengapa tak ada sedikit pun perhatian pangeran terhadap dirinya ? Kurang cantik atau kurang daya-tarik ? Akh ! menurut juru masak kepala, 'kau cantik dan memiliki tubuh yang merangsang, Siu Lan ...' Atau karena nio-cu yang menyebabkan pangeran takut mengambil bini muda ? Nio-cu memang terkenal galak, sebab dulu biasa ngebelangsak dikalangan gelandangan; tidur diatas pohon pun jadi. Sekarang nio-cu sudah menjadi isteri seorang pangeran, sudah hidup senang diatas kasur yang empuk hangat; mungkin dia bertambah galak diranjang, sebab dihadapan orang-orang kelihatannya nio- cu bersikap ramah, lembut, mesra terhadap suaminya.

(“Apa kelebihan nio-cu kalau dibanding dengan aku

….?") pikir Siu Lan didalam hati. Aku bahkan bisa bikin anak, bukan seperti nio-cu yang mandul tidak pernah bisa bikin anak, meskipun sudah 10 tahun menikah !

Jelas Siu Lan merasa penasaran; masih dia berdiri diam didekat kamar tidur majikannya. Ingin dia nekad membuka pintu kamar tidur majikannya dan membuka pakaiannya, supaya majikannya membuka mata, melihat betapa mulus tubuh yang dimilikinya. Akan tetapi batal dia lakukan, takut dia pecat, bukan diajak tidur !

Tambah lesu langkah kaki Siu lan, waktu dia melangkah menuju tempatnya, diruangan sebelah belakang. Dia melangkah lesu perlahan sambil menunduk, sehingga tidak diketahuinya bahwa diatas kaso rumah, sedang meringkuk seorang yang berpakaian serba hitam, juga memakai tutup muka dengan secarik kain warna hitam. Seseorang yang meringkuk setengah rebah diatas kaso rumah, dibagian sudut yang gelap, tidak terlihat oleh Siu Lan bahkan tidak terlihat oleh petugas-petugas yang sedang meronda !

Sementara itu Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing keluyuran tanpa tujuan menentu. Sengaja dia menunggu sampai keadaan sudah cukup larut dan cukup sunyi, lalu dia lompat melesat diatas genteng sebuah rumah yang cukup tinggi. Yakin dia bahwa dia harus berlaku waspada, terhadap musuh yang dicarinya dan terhadap petugas negara yang meronda.

Angin malam yang sepoi-sepoi meniup lembut rambutnya yang dibungkus rapih membangkitkan semangat dan gairah, bahkan membangkitkan kenangan lama selagi dia biasa berkelana dikalangan rimba-persilatan. Naluri seorang pendekar yang dimilikinya, kembali dikuasainya seperti 10-tahun yang lalu, waspada terhadap setiap gerak dan suara.

Sepuluh tahun dia hidup mengabdi sebagai seorang isteri, sepuluh-tahun dia dibelai oleh kasih-sayang suaminya; seorang pangeran yang tampan dan kaya-raya, anak dari seorang raja meskipun dari seorang selir. Waktu masa-remaja dahulu, dia hidup begitu bebas, kadang- kadang seperti liar, mengikuti naluri hati remaja; setelah itu dia hidup bagaikan dalam kerangkeng didalam istana seorang pangeran. Ternyata dia mampu mengendalikan diri, mampu menguasai dorongan hati dan bahkan berlaku sebagai seorang isteri yang bijaksana; meskipun kadang- kadang dia suka teringat dan mengenangkan kejadian lama. Terasa bagaikan dalam mimpi kalau dia mengenangkan tempo dulu; kemudian di saat lain dia tersenyum seorang diri, kalau dia sedang berada didalam rangkulan suaminya.

Terasa dia begitu kecil, begitu lemah; kalau dia sedang hanyut dibelai kasih sayang suaminya. Kadang-kadang dia bahkan bagaikan merasa kehilangan kepercayaan terhadap diri dan kemampuan sendiri, dia merasa bagaikan cuma suaminya yang mampu memberikan perlindungan baginya.

‘Tempat berlindung' ! dia berkata seorang diri yang lalu dia bantah. Lebih tepat sebagai tempat pelarian, bukan tempat pelindung. Pelarian dari apa ? Dan, satu demi satu bintang-bintang menghilang dari angkasa.

'Tempat pelarian ...'

Memang tepat kalau dia mengatakan sebagai tempat pelarian. Tempat pelarian didalam rangkulan seorang suami yang begitu menyintai dia.

“Suamiku yang malang........” bisik Liu Giok Ing didalam hati, untuk yang kesekian kalinya, yang tak bosan- bosan dia lakukan. Sama banyaknya seperti dia membisik: “Liang-ko, mengapa kau begitu kejam…?”

Cinta memang aneh. Tetapi, adakah seorang-orang yang dapat menghindar dari cinta?

“Tidak Giok moay. Kita tidak dapat menghindar dari cinta sebab cinta merupakan sebagian dari asal manusia dan cinta adalah bahan-alam yang diperintah oleh khayal….”

Tersenyum Liu Giok Ing kalau dia teringat lagi dengan kata-kata Kwee Su Liang yang sudah berhasil 'mencuri' hatinya. Padahal, siapakah Kwee Su Liang ?? Dan dia, si pendekar bunga-cinta yang juga terkenal sebagai 'macan betina yang galak'. Dia bahkan yang sudah membunuh ibunya Kwee Su Liang !

“Liang-ko….” “Giok-moay…”

“Kau tahu apa itu cinta….?”

“Kelemahan manusia yang tak dapat diberi ampun, itulah …..”

Cinta memang indah kalau pandai memupuknya, akan tetapi cinta merupakan suatu kehancuran, kalau ... Ada air mata yang berlinang keluar kalau Liu Giok Ing teringat lagi dengan cinta. Terasa sakit, begitu pedih. Padahal dia bukan seorang yang lemah hati, dia sudah menerima ajaran dari gurunya yang terkenal keras hati. Membunuh atau dibunuh; inilah yang bakal kau hadapi dalam menempuh hidup di alam nyata. Sebab alam nyata sangat kejam !

“Alam nyata terlalu kejam; Liang-ko; aku lebih senang

hidup di alam khayal, membayangkan ...”

Ada bayangan hitam yang lompat melesat dari suatu sudut gelap, yang cukup jauh terpisah dari tempat Liu Giok Ing berada. Gesit dan pesat gerak bayangan hitam itu, dan secepat itu juga Liu Giok Ing melesat menyusul meninggalkan alam khayal yang sedang dia bayangkan.

Sejenak Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing harus menunda niatnya buat mengejar bayangan itu, ketika dia tiba ditempat bekas bayangan itu melarikan diri. Rumah menteri pertanian Siauw Cu Leng, dan ada pekik teriak yang didengar oleh Liu Giok Ing :

“Tangkap si pembunuh! Kejar ...!"

Jelas malam itu telah terjadi lagi peristiwa pembunuhan, dan menteri pertanian Siauw Cu Leng yang mendapat giliran. Seorang menteri yang sudah cukup tua usianya, seorang menteri yang terkenal setianya terhadap sri baginda raja yang sekarang sedang berkuasa!

Tak dapat Liu Giok Ing menghindar dari suatu pertempuran yang harus dilaksanakan, pertempuran melawan petugas pengawal dirumah menteri pertanian Siauw Cu Leng, yang berhasil menemui dia selagi dia berdiri terpaku. Sukar buat Liu Giok Ing memberikan penjelasan kepada para petugas pengawal yang sedang mengepung dia, sebab dia menyadari bahwa dia memang sedang dicurigai. Dicurigai sebagai pelaku pembunuhan yang sedang meraja- lela di kota-raja !

Terpaksa Liu Giok Ing harus melakukan pertempuran itu, akan tetapi tidak ada niatnya untuk melukai orang- orang yang mengepung dia, apalagi membunuhnya. Dia hanya bertempur buat mencari jalan menghindar dan melarikan diri dari tempat itu.

Pedang Ku-te kiam atau pedang besi hitam yang dipegangnya ditangan kirinya, tetap berada didalam sarung; dan dia gunakan pedang itu hanya untuk menangkis setiap serangan senjata orang-orang yang mengepung dia, sedangkan kepalan tangan kanannya menghantam setiap lawan yang berusaha mendekat atau merintangi dia.

Cukup beberapa orang yang dia hajar rebah terkulai, setelah itu terbuka kesempatan buat dia lompat keatas genteng rumah; lalu melesat lagi memilih arah bayangan hitam tadi menghilang.

Semakin marah dan semakin penasaran Liu Giok Ing menghadapi si pembunuh yang keji itu. Terus dia melakukan pengejaran tanpa dia perhatikan arah yang ditempuhnya, entah kesebelah barat entah kesebelah selatan; sampai tahu-tahu dia berada diatas genteng rumahnya sendiri, rumah pangeran Giok-Lun!

Ada suara ribut-ribut dihalaman rumahnya itu, suara teriak orang-orang 'tangkap si-pembunuh' seperti yang didengarnya dirumah menteri pertanian tadi. Keadaan dihalaman rumah itu kelihatan kacau balau karena banyaknya petugas yang sedang lari tanpa arah menentu, bergegas mencari si pembunuh yang tidak diketahui jejaknya; dan keadaan menjadi tambah kacau ketika Liu Giok Ing melesat turun ditengah-tengah mereka, sebab mereka langsung melakukan penyerangan sambil berteriak tambah keras 'tangkap pembunuh.'

Terpaksa Liu Giok Ing harus menghalau setiap serangan yang dilakukan oleh orang-orangnya sendiri, tetapi Liu Giok Ing cepat menyadari, bahwa dia sedang memakai tutup muka dengan secarik kain warna hitam; sehingga orang-orang itu tidak mengenali dia. “Tahan ...!" teriak Liu Giok Ing sambil dia melepaskan tutup muka yang dipakainya; sehingga perbuatannya itu mengakibatkan semua orang-orang menjadi kaget bercampur-heran.

(“Ternyata si pelaku pembunuhan adalah sang nyonya majikan, seperti berita yang pernah mereka dengar ... ") pikir orang-orang itu yang serentak terdiam tidak bersuara; terpaku dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, sampai Lim ciangkun yang memberitahukan, bahwa ada seseorang yang berusaha hendak membunuh pangeran Giok Lun.

Liu Giok Ing terkejut bagaikan disambar halilintar, dia lompat melesat meninggalkan Lim ciangkun tanpa mengucap apa-apa; dan dia tiba dikamar tidur, menemukan suaminya terluka dibagian sebelah kaki dan sebelah tangan, sementara Siu Lan sibuk berusaha untuk menolong sang majikan.

“Siangkong ….!!" Liu Giok berteriak dan melompat bagaikan hendak menerkam suaminya, berhasil membikin Siu Lan menjerit ketakutan, menganggap sang nio-cu mau membunuh majikannya; padahal Liu Giok Ing turut cemas melihat keadaan suaminya.

“Moay-moay, cepat kau kejar pembunuh keji itu….!"

kata pangeran Giok Lun selekas dilihatnya isterinya yang lompat memasuki kamar. Nada suaranya marah bercampur penasaran, sedangkan sebelah tangannya masih memegang pedang pusaka; bekas dia gunakan buat bertempur melawan seseorang yang berusaha hendak membunuh dia.

“Tetapi siangkong terluka," kata Liu Giok Ing yang sejenak menjadi ragu-ragu.

Terpaksa Liu Giok Ing tinggalkan suaminya. Dia bahkan tidak sempat melihat luka yang diderita oleh suaminya; entah terkena senjata apa padahal pada sebelah tangan suaminya, ada dua butir senjata rahasia berbentuk bunga- cinta yang dipegangnya, senjata melukai sebelah kaki dan sebelah tangannya.

Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing melakukan pengejaran berdasarkan arah yang diberitahukan oleh Lim ciangkun dan Lim ciangkun bahkan ikut melakukan pengejaran, meskipun dia tertinggal sangat jauh oleh sang nio-cu; sebab saat itu Liu Giok Ing sedang mengerahkan ilmu lari cepat 'pat-pou kan-sian' atau delapan langkah mengejar dewa.

Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing menyadari bahwa tidak mudah buat dia melakukan pengejaran, sebab dia sudah ketinggalan waktu selama tadi dia bicara dengan suaminya; sedangkan si penjahat sudah melarikan diri. Tetapi, disuatu saat secara mendadak dia diserang oleh senjata rahasia. Telinganya yang memang sudah terlatih, dan sepasang matanya yang tajam; cepat mengetahui datangnya serangan gelap itu. Dia berkelit dan menangkis memakai pedang ku- te kiam ditangan kirinya, yang masih tetap berada didalam sarung.

Sempat Liu Giok Ing melihat adanya bayangan hitam yang lompat melesat, selagi dia menunda langkah kakinya sehabis berkelit dan menangkis serangan gelap. Dengan gerak 'yan-cu coan-in' atau burung walet menembus angkasa, Liu Giok Ing melompat dengan melesat mengejar bayangan hitam itu; lalu dengan tiga kali lompatan dan tubuhnya jungkir balik diudara bebas; maka pada detik berikutnya dia telah menghadang arah lari bayangan hitam itu.

“Berhenti !" bentaknya, dan nada suaranya penuh wibawa, kembali seperti 10-tahun yang lalu, sementara sepasang kakinya siap memasang kuda-kuda, sedangkan tangan kiri siap dengan pedang ku-tie kiam, meskipun masih berada didalam sarungnya.

Bayangan hitam itu tertawa. Dia tidak memakai tutup muka sehingga mudah dilihat oleh Liu Giok Ing bahwa orang itu adalah seorang laki-laki, yang seingatnya belum pernah dia temui dan tidak dia kenal.

“Liu Giok Ing, setelah sekian lamanya menunggu; ternyata malam ini aku berhasil 'memancing' kau keluar dari kerangkeng !”

Sepasang mata Liu Giok Ing bersinar tajam menyimpan rasa marah. Dia meneliti, akan tetapi tetap dia merasa tidak kenal dengan laki-laki itu ;

“Siapa kau dan mengapa kau melakukan perbuatan keji

dengan memfitnah aku ?”

“Ha-ha-ha ! Liu Giok Ing. Namamu dulu begitu menyemarak di kalangan rimba persilatan: sayang waktu itu aku belum mempunyai kesempatan untuk menghadapi kau. Tetapi sekarang, setelah 10-tahun kau menghilang dan mendengar perkataan dari perkataan kamu, maka aku menganggap nama kau sebagai Ceng-hwa liehiap ternyata kosong belaka. Apa arti senjata rahasia yang berbentuk bunga ceng-hwa itu? Bagiku hanya merupakan benda permainan belaka, sehingga sesungguhnya aku tidak mengerti, entah apa yang menyebabkan sehingga dengan senjata mainan itu kau berhasil menyemarak di kalangan rimba persilatan. Aku bukan hendak memfitnah kau, Liu Giok Ing; aku cuma hendak memancing kau keluar membebaskan diri dari rangkulan suamimu. Ketahuilah olehmu bahwa masih banyak orang yang menyimpan dendam terhadap kau. juga aku, juga Gin Lun Hoat ong …"

“Gin Lun Hoat-ong?" Liu Giok Ing bersuara tanpa terasa; berhasil sejenak memutus perkataan lelaki itu, dan lelaki itu tertawa sambil berkata :

“Ha-ha-ha ! Liu Giok Ing, Liu Giok Ing. Mengapa kau lupakan Gin Lun Hoat ong dan cuma teringat pada Giok Lan Hoat-ong ? Mengapa kau justeru memilih pangeran Giok Lun yang harus kau jadikan suami, bukan kau pilih pangeran Gin Lun yang lebih gagah dan lebih berbakat untuk menjadi raja? Dahulu pangeran Gin Lun ingin memilih kau buat dijadikan isterinya, buat menjadi calon seorang permaisuri raja; tetapi kau justeru memilih pangeran Giok Lun dan membiarkan pangeran Gin Lun menyimpan dendam terhadap kau, juga terhadap pangeran Giok Lun. Sekarang sedang terbuka kesempatan buat pangeran Gin Lun yang bakal menggantikan jadi raja; menggantikan si tua yang sudah tidak berguna akan tetapi yang masih gila perempuan. Pangeran Gin Lun sekarang sedang menyusun kekuatan dan menyebar pengaruh, juga didalam kalangan istana kerajaan; dan pangeran Gin Lun memerintahkan aku dan beberapa orang teman, buat membunuh orang orang yang dianggap masih setia terhadap raja sekarang yang sudah tua tidak berguna, termasuk suami kau; sedangkan terhadap kau, pangeran Gin Lun masih berbelas kasihan dan menyimpan rindu. Kau masih akan diterima menjadi selir, kalau kau mau ikut berpihak dengan pangeran Gin Lun; sebaliknya kalau kau

..."

“Teruskan...!" kata Liu Giok Ing bagaikan menantang, sebab dilihatnya lelaki itu tidak meneruskan perkataannya; sementara itu didalam hati, terlalu banyak yang Liu Giok Ing sedang pikirkan.

“Kalau kau menolak, maut adalah menjadi bagian kau

...!” dan laki-laki itu menyudahi perkataannya, dengan menyertai serangannya yang berupa tikaman memakai golok.

Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing berkelit menghindar, tetapi serangan lelaki itu ternyata saling-susul sebanyak, sebab dia sedang mengerahkan jurus 'sin-liong jip-hay' atau naga-sakti bermain dilaut.

Lelaki itu menganggap dia sudah melakukan penyerangan yang serba cepat, juga gerak serangannya yang saling-susul amat gesit dan pesat; akan tetapi lawannya ternyata dapat bergerak gesit dan lincah, sebab Liu Giok Ing juga sedang mengerahkan ilmu 'coan-hwa jiauw-sie' menembus bunga, melibat pohon, suatu ilmu kelincahan tubuh.

Dengan ilmu 'coan-hwa jiauw-sie' atau menembus bunga, melibat pohon yang mengutamakan kelincahan tubuh itu, Liu Giok Ing berhasil berkelit menghindar dari tiga serangan golok yang datang saling susul. Masih Liu Giok Ing belum mengeluarkan pedang ku-tie kiam yang tetap berada didalam sarungnya, meskipun diketahuinya bahwa laki-laki lawannya sedang merasa penasaran, dan mengulang serang golok yang saling menyusul, kali ini dengan menggunakan jurus 'lian-hoan sam-to' atau tiga golok saling susul. Tetapi Liu Giok Ing berlaku cepat dan gesit mengandalkan kelincahan tubuhnya, sehingga berhasil lagi dia menghindar dari serangan golok yang datang saling susul, membikin laki-laki lawannya menjadi semakin penasaran bahkan sampai perdengarkan pekik suara marah, setelah itu laki laki ini mengulang serangannya mengerahkan ilmu kim-kee co-siok atau ayam mas mematuk gabah, disambung dengan serangan memakai gerak tipu co-yu hong-goan atau dari kiri-kanan bertemu sumber, mengakibatkan goloknya menyambar seperti membabat dari arah sebelah kiri maupun dari arah sebelah kanan.

“Bagus !" seru Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing yang untuk sekilas berhasil dibikin sibuk; sekaligus berhasil membangkitkan semangat tempurnya seperti 10-tahun yang lalu.

Laki-laki yang tidak dikenal itu juga memperhebat serangannya; bahkan dia menyerang lagi secara berantai memakai goloknya, menggunakan jurus 'lian-goan sam-ki’ atau tiga tikaman yang berantai. Akan tetapi Liu Giok Ing tetap melawan dengan mengerahkan ilmu 'toan-hwa jiauw- sie' yang mengutamakan kelincahan tubuhnya; masih belum mau dia menggunakan pedang ku-tie kiam yang terkenal ampuh dan tajam, sampai dia merobah geraknya menggunakan ilmu 'soan-hong sin hoat' atau gerakan angin puyuh, yang mengakibatkan gerak tubuhnya semakin bertambah gesit dan pesat, seolah-olah berada disekitar lawan bahkan dua kali dia berhasil menendang pantat laki- laki lawannya, sempat membikin laki-laki itu berteriak mengaduh dan berteriak marah-marah :

“Sialan !" laki-laki itu berteriak marah.

“Dukk !" kena dia pukulan jurus 'pek-poh sin-kun' atau kepalan sakti seratus langkah. Terasa sakit muka laki-laki itu, sedangkan tubuhnya berputar tanpa dapat dia kendalikan.

“Sialan !" laki-laki itu berteriak kesakitan.

“Dukk ! Duk !" dua kali duk-duk, bukan duduk; sebab dua-dua kepalan Liu Giok Ing bekerja, menghantam dengan jurus 'tong-cu cin-hiang' atau kacung dewa bersembahyang.

Habis sudah daya perlawanan laki-laki itu; dia rubuh terjengkang rebah celentang dan dia tewas tanpa dia mampu berteriak memaki ataupun menjerit kesakitan, sedangkan dibagian kepalanya membenam tiga butir senjata rahasia berbentuk bunga ceng hwa !

Hampir-hampir Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing yang berteriak kaget. waktu dilihatnya senjata berbentuk bunga cinta itu yang membikin laki-laki itu tewas. Bukan dia yang melakukannya sebab dia memang tidak bermaksud membinasakan laki-laki itu yang hendak dia ajak bicara lagi, memaksa mencari keterangan.

Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing mengawasi arah sekelilingnya selagi dia setengah berlutut didekat mavat laki-laki itu, meneliti dan mencari arah datangnya serangan gelap tadi; dan berhasil dia melihat adanya sesuatu bayangan hitam yang sedang lari menjauhkan diri dari tempat itu.

“Kurang ajar ...!!" Liu Giok Ing bersuara memaki; bergerak pesat menyusul, melupakan laki-laki bekas lawannya yang sudah tewas.

Yakin Liu Giok Ing bahwa seseorang yang sedang dikejarnya itu memiliki ilmu yang begitu lebih tinggi dari pada laki-laki itu yang sudah tewas, terbukti orang itu berhasil melepas serangan gelap tanpa dia mengetahui kehadiran orang itu yang umpatkan diri. Mengapa ? Mengapa orang itu harus umpatkan diri, mengapa orang itu bukan ikut bertempur ?

Terlalu pesat dan terlalu cepat lari orang yang dikejarnya itu, dan Liu Giok Ing semakin penasaran dan semakin mengerahkan ilmu pat-pou kan sian atau delapan-langkah mengejar dewa. Entah iblis, entah dewa; tetapi kali ini benar-benar Liu Giok Ing harus memeras tenaga buat melakukan pengejaran.

Terus orang itu melarikan diri, terus Liu Giok Ing melakukan pengejaran; tanpa menghiraukan mereka sekarang sudah keluar dari pintu perbatasan kota-raja disebelah selatan dan masih Liu Giok Ing melakukan pengejaran meskipun sudah jauh dia meninggalkan kota- raja !

---o~dwkz^)(^hendra~o---

SESAAT setelah Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing melakukan pengejaran terhadap seseorang yang melepas senjata berbentuk bunga-cinta; maka ditempat bekas terjadinya pertempuran tadi, datang rombongan orang orang yang naik kuda. Sebanyak tiga belas orang semuanya.

Seorang laki-laki berpakaian seragam perwira tentara kerajaan, yang agaknya merupakan pimpinan dari rombongan itu, lompat turun dari kudanya dan mendekati mayat laki-laki yang pecundang Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing.

Dua orang laki-laki lain, secara tiba-tiba muncul dari suatu sudut yang cukup jelas. Kedua laki-laki yang baru muncul ini, tidak memakai pakaian seragam sebagai tentara kerajaan; tetapi mereka langsung mendekati perwira yang sedang meneliti mayat bekas pecundang liehiap Liu Giok Ing.

“Sie ciangkun, kami Ma Kong berdua Ma Kiang siap memberikan laporan ..." kata salah seorang dari kedua laki- laki yang baru muncul itu, sambil dia memberi hormat secara militer kepada si perwira yang dia sebut Sie ciangkun, atau panglima Sie; yang pangkatnya sebenarnya adalah kapten.

Kaptan Sie atau Sie ciangkun yang nama lengkapnya Sie Pek Hong, ikut berdiri sehabis begitu tadi dia jongkok; dan ikut memberi hormat secara militer, setelah itu baru dia berkata ;

"Jie-wie Ma-heng; silahkan kalian bicara !"

"Sesuai dengan perintah dan sesuai dengan rencana; kami berdua sudah menunggu disini selagi Nie ciangkun berhasil membawa Liu Giok Ing ketempat ini, sampai mereka berdua bertempur lalu kelihatan jelas Nie ciangkun terdesak bakal kalah, sedangkan kami lalu melepaskan serangan gelap memakai senjata yang berbentuk bunga- cinta, sementara Liu Giok Ing mengejar Oey ciangkun yang sengaja melarikan diri menuju kota San hay koan.”

---o~dwkz^)(^hendra~o---