-->

Pendekar Bunga Cinta Jilid 01

Jilid 01

Mula-cerita:

Mongolia yang pada mulanya dianggap sebagai Suatu negara kecil oleh pemerintah kerajaan Cina, kemudian ternyata justeru berhasil menjajah negeri cina; yakni pada permulaan abad ke-13 oleh seorang Khan yang bernama Temudsyin atau Jengis Khan (Khan/yang besar).

Alangkah dahsyatnya penyerbuan tentara berkuda bangsa Mongolia itu, sebanyak tidak kurang dari 20.000 orang prajurit pilihan dan dipimpin oleh seorang Khan yang ketangkasannya tiada taranya!

Tembok besar Ban-lie yang dibangun untuk dijadikan pelindung negri cina, ternyata tidak dapat menahan penyerbuan tentara berkuda itu, yang ternyata sangat kejam, membunuh tentara cina yang menjadi musuh mereka, bahkan juga merampok rakyat jelata, membakar rumah-rumah dan memusnahkan kota yang mereka lalui sambil mereka perdengarkan pekik yang bergemuruh; sehingga sejarah mencatat sebagai suatu kekejaman yang tidak ada taranya atau tidak ada bandingannya; bahkan ditambah dengan ceritera dongeng bahwa Temudsyin atau Jengis Khan yang dilahirkan dengan segumpal darah beku di tangannya, mengakibatkan benar-benar dia menjadi seorang-orang yang haus darah, bahkan boleh dianggap sebagai iblis penyebar maut !

Ada empat orang puteranya Temudsyin atau Khan yang besar itu, di waktu dia sudah berhasil menjajah sebagian negeri cina. Keempat putera Jengis Khan itu adalah Juji, Jagatai, Ogotai dan Tuli.

Pada waktu Temudsyin wafat selagi negeri Cina terbagi menjadi dua, maka Juji yang putera tertua telah berebut kekuasaan dengan putera kedua; sementara putera ketiga kelihatan acuh seperti juga dengan si bungsu Tuli. Akan tetapi Ogotai ini yang kemudian menjadi raja oleh bantuan Tuli yang melakukan perang dalam membantu kakaknya dan oleh karena Tuli yang ramah dan berbudi luhur, ternyata sangat pandai bergaul di berbagi kalangan, bahkan dikalangan orang-orang cina sehingga Tuli sangat disukai tidak hanya oleh kawan, juga oleh pihak lawan. Sehingga Kwee-Ceng yang waktu itu bertugas menjaga perbatasan negeri cina sebelah selatan yang masih dikuasai oleh pihak pemerintah bangsa cina, telah mengangkat saudara dengan Tuli yang dalam tugas negara merupakan seorang musuh!

Selagi negara berada dalam keadaan perang, belakangan Ogotai mendapat penyakit yang berat dan yang sukar disembuhkan. Tuli yang sangat menyintai kakak yang ketiga itu, tidak bosan-bosan melakukan upacara sembayang dihadapan patung malaikat yang waktu itu di pujanya; bahkan dengan kerelaannya untuk mencari cara apapun asal Ogotai bisa sembuh dan meneruskan memegang kekuasaan yang saat itu sudah berhasil menguasai negeri cina.

Dengan bantuan seorang Mongolia, akhirnya Tuli berhasil juga menemukan obat dan ternyata Ogotai akhirnya sembuh dari penyakitnya.

Sudah tentu Ogotai merasa berhutang budi bahkan berhutang nyawa terhadap si bungsu yang sangat menyintai dia. Selama hidupnya, Ogotai menjamin dan member kecukupan bagi jandanya Tuli berikut anak-anaknya; bahkan menjelang akhir hayatnya, Ogotai meninggalkan pesan supaya pimpinan kerajaan diserahkan kepada Mangu, putera pertama dari Tuli.

Akan tetapi, selekas Ogotai wafat, pimpinan kerajaan justeru dikuasai oleh permaisuri (lsterinya Ogotai) yang merasa tak puas dan tak menyetujui keputusan suaminya, yang membelakangi atau melupakan anak-anaknya sendiri.

Beberapa tahun lamanya permaisuri mengabaikan wasiat dan mengangkat diri menjadi ratu, menunggu puteranya cukup umur untuk meneruskan menjadi raja, yang akhirnya tahun 1246 kerajaan dipimpin puteranya yang bernama Kuyuk. Belum cukup 3 tahun Kuyuk menjadi raja, 1248 dia telah wafat muda; dan terjadi sedikit kekacauan di kerajaan sebab permaisurinya ternyata mengambil alih lagi pucuk pemerintahan, dan untuk yang kedua kalinya mengangkat diri menjadi raja, mengakibatkan menteri-menteri yang tinggi kedudukannya mengadakan konperensi tingkat tinggi, yang harus mereka lakukan secara berulangkali bahkan secara rahasia, sebab takut pihak permaisuri yang kejam takut ikut mengetahui. Akhirnya konperensi tingkat tinggi itu berhasil mengeluarkan keputusan mengangkat Mangu yang putera Tuli untuk menggantikan menjadi raja. Peristiwa ini terjadi ditahun 1251, sehingga selama tiga tahun keadaan istana dan keadaan negara menjadi bertambah kacau selama permaisuri mengambil alih kekuasaan dan terjadi pertentangan dikalangan pejabat tinggi, sampai dikalangan rakyat jelata.

Dalam konperensi tingkat tinggi itu segala usaha memperjuangkan Mangu agar ditetapkan menjadi raja, yang paling berjasa ternyata adalah Kubilay, sehingga waktu di tahun 1259 sribaginda Mangu wafat, maka yang menerima tampuk kerajaan adalah Kubilay Khan yang juga merupakan cucu dari Jengis Khan.

Kubilay Khan menjadi raja di tahun 1260 sampai tahun 1294, cukup lama dan cukup waktu buat dia meneruskan cita-cita Jengis Khan, sehingga berhasil bangsa Mongolia menjajah diseluruh daratan negeri cina ! Dan Kubilay Khan ternyata pandai memerintah bahkan pandai bergaul dan menyelami adat kebiasaan orang-orang cina, berhasil dia mengamankan negara jajahannya dari berbagai kekacauan, sampai kemudian segala kerusakan- kerusakan akibat peperangan diperbaiki dan diperindah, mengakibatkan arus lalu lintas menjadi ramai dalam keadaan aman-tenteram, sedangkan bangsa cina sudah tidak merasa rendah diri lagi untuk bergaul dengan bangsa Mongol bahkan sudah banyak terjadi pernikahan antara dua suku bangsa itu tanpa adanya perbedaan.

Akan tetapi saat Kubilay Khan wafat di tahun 1294, penggantinya ternyata tidak mempunyai kemampuan memegang pemerintahan, bahkan mudah dihasut sehingga negeri cina kembali dilanda oleh berbagai kekacauan; baik yang berupa keganasan kaum perampok, maupun akibatnya terjadinya pertentangan di kalangan istana, terutama akibat adanya 13 pangeran yang saling bertentangan dan saling berlomba ingin menggantikan menjadi raja, meskipun harus dilakukan dengan cara-cara yang keji dan kejam, bahkan sampai membunuh sanak-saudara sendiri.

Dan ditengah kekacauan yang sedang melanda negeri cina itu, justeru muncul seorang pendekar perempuan gagah perkasa yang kemudian dikenal dengan nama “Tjeng-hwa Liehiap'' atau pendekar Bunga - Cinta !

---o~dwkz^)(^hendra~o---

SATU

SEMENTARA itu di kota perbatasan Gan-bun-koan, berkuasa seorang gubernur yang arif-bijaksana, sehingga kota itu kelihatan aman dan tenteram; bahkan sampai didesa para kaum tani hidup tenang melakukan pekerjaannya. Semua penduduk dari desa sampai ke kota tidak ada yang bermalas-malasan, semua rajin bekerja hidup dari hasil jerih-usaha mereka untuk memupuk keluarga. Di wajah mereka kelihatan semangat kegairahan bekerja, membanggakan hasil-karya mereka tanpa ada rasa iri. Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan yang dapat mendatangkan rasa iri menjurus ke arah tindakan sesat. Tak ada waktu untuk berjudi atau melakukan perbuatan maksiat, tak ada waktu untuk berpikiran jahat untuk melakukan perbuatan mencuri atau merampok, semua taat dengan hukum pemerintahan yang berlaku, juga taat pada hukum alam.

Kwee Su Liang adalah nama gubernur yang arif bijaksana itu, menjalankan tugasnya dengan adil serta penuh wibawa; disertai wataknya yang menyintai sesamanya. Adil tetapi keras dalam memberantas kejahatan, meskipun umur Kwee Su Liang masih cukup muda, baru tiga puluh tahun lebih. Namun dia menjadi contoh teladan yang baik bagi kaum pejabat pemerintah yang memegang kekuasaan, yang mengabdi untuk negara dan untuk rakyat jelata, disamping dia rajin bekerja demi kebahagiaan keluarganya, juga demi kebahagiaan masyarakat disekitarnya; rela membelakangi kepentingan sendiri.

Tidak banyak orang yang mengetahui, bahwa Kwee Su Liang sesungguhnya memiliki ilmu kepandaian silat dan pernah berkelana dikalangan rimba persilatan sebelum dia menjabat kedudukan gubernur, di perbatasan kota Gan- bun-koan adalah tempat kediamannya, Kwe Su Liang menetap dengan isterinya yang masih tetap cantik-jelita, Lie Gwat Hwa, yang juga mahir ilmu-silatnya. Pasangan muda yang gagah perkasa dan hidup penuh bahagia ini, juga telah memiliki seorang anak laki-laki yang sudah berusia 10 tahun, yang mereka beri nama Bun San.

Kecuali anak dan isterinya, dirumahnya Kwee Su Liang juga ikut menetap dua orang bibiknya yang sudah janda. Kwee hujin yang merupakan bibik-dalam dari Kwee Su Liang, memiliki seorang anak perempuan, Kwee Giok Cu yang waktu itu sudah berumur 11 tahun; dan Sie-hujin yang merupakan bibik-luar dari Kwee Su Liang, memiliki seorang anak perempuan, Sie Pek Lian yang waktu itu sudah berumur 12 tahun. Baik Kwee hujin maupun Sie hujin yang waktu itu umurnya sekitar 40 tahun, dua-duanya bukan merupakan perempuan lemah, akan tetapi juga memilliki kepandaian silat yang sakti; sehingga Kwee Giok- Cu maupun Sie Pek Lian menerima didikan ilmu silat.

Pagi itu saat matahari bersinar cerah, disaat para petani baru saja mengalami musim panen, sehingga tugas pekerjaan mereka menjadi ringan, hanya menjaga dan merawat tanaman mereka agar tidak kekurangan mau pun kelebihan air, maka hari itu Kwee Su Liang mengajak puteranya berburu.

Mereka mengajak belasan tentara berkuda sebagai pengawal dan membantu berburu, dan saat itu Kwee Su Liang menunggang kuda berbulu putih, tanpa memakai pakaian seragam sebagai pejabat pemerintah, namun kelihatan tampan dan gagah perkasa; membekal senjata berupa pedang dan anak panah.

Dengan menjalankan kudanya perlahan-lahan, berulang kali Kwee Su Liang memerlukan melirik puteranya, Kwee Bun San yang juga menunggang seekor kuda bulu coklat, ikut menjalankan kudanya perlahan-lahan disampingnya. Puteranya itu walau baru berumur 10 tahun lebih, namun kelihatan gagah dan memiliki sifat kalem, duduk tenang dipunggung kuda seperti seorang ahli dan ikut membawa senjata berupa sebatang pedang pendek,sebuah busur dan anak panah yang khusus berukuran kecil.

Tanpa terasa berulang kali Kwee Su Liang tersenyum seorang diri, merasa bangga memiliki putera yang tampan dan gagah. Masih teringat oleh Kwee Su Liang, bahwa pagi tadi sebelum berangkat berburu, berulang kali isterinya memesan agar berhati-hati menjaga puteranya, sebab Kwee Bun San baru pertama kali itu diajak pergi memburu, apalagi yang diburu justeru merupakan binatang harimau yang terkenal galak dan buas.

“Sebenarnya Bun jie masih terlalu kecil untuk diajak pergi memburu. Di hutan banyak sekali binatang buas.." Lie Gwat Hwa berusaha mencegah niat suaminya; namun Kwee Su Liang tertawa dan membelai isterinya, lalu berkata dengan kata-kata mesra membujuk;

“Bun-jie telah cukup besar dan harus dapat mandiri, moay-moay jangan terlalu khawatir, dia harus belajar menghadapi kenyataan hidup dan harus tabah menghadapi berbagai macam ancaman bahaya. Lagipula aku yang mendampingi, mungkinkah aku membiarkan Bun-jie diterkam harimau?"

“Ah, siangkong mengapa mengucapkan kata-kata yang mengerikan itu?" sahut Lie Gwat Hwa yang buru-buru menelusupkan kepalanya dibagian dada suaminya yang bidang. Meskipun dia merupakan seorang perempuan yang gagah-perkasa dan sering menghadapi ancaman bahaya maut, akan tetapi dalam menghadapi keluarga dan puteranya yang tercinta, Lie Gwat Hwa tak luput dari rasa cemas dari seorang ibu umumnya. Kadang-kadang bahkan dia berlaku lembut, begitu manja sehingga kadang-kadang dia berhasil membikin Kwee Su Liang lupa bahwa isterinya gagah-perkasa, bahkan pernah membunuh sesama manusia yang menjadi lawan atau musuhnya!

Sementara itu Kwee Su Liang tertawa lagi, tetap sambil membelai rambut isterinya yang kepalanya berada didadanya dan selembut itu juga dia berkata:

“Moay-moay, apakah kau lupa dahulu, selagi kau masih kecil; kita suka bermain di hutan, dan bahkan kita sering bersama-sama menunggang seekor kerbau yang cukup besar

?”

Lie Gwat Hwa yang tetap cantik jelita, yang mukanya selalu cerah seperti sinar bulan yang sesuai dengan namanya; saat itu berulang berlaku manja. Dia memukul lembut bagian dada suaminya dengan sepasang kepalan tangannya yang kecil dan putih-halus kulitnya, sementara mukanya kelihatan berobah merah; tetapi sewaktu dilihatnya suaminya tetap perdengarkan suara tawa, maka Lie Gwat Hwa mencubit hidung suaminya, cukup keras dan cukup membikin suaminya berhenti tertawa, bahkan sempat berteriak mengaduh manja, tangannya masih memegang hidung yang bekas dicubitnya, berhasil membikin Lie Gwat Hwa ikut tertawa, menganggap perbuatan suaminya jenaka.

Sekali lagi Kwee Su Liang tersenyum seorang diri selagi dia menjalankan kudanya perlahan mendampingi puteranya yang berhasil diajak berburu, dan teringat lagi dengan kenangan tempo dulu, selagi dia belum menjabat kedudukan sebagai gubernur di kota perbatasan, dan selagi dia berkelana dikalangan rimba persilatan, sampai akhirnya dia memperoleh Lie Gwat Hwa menjadi isterinya, padahal waktu itu Lie Gwat Hwa sejak kecil sudah ditunangkan dengan laki-laki lain, akan tetapi laki-laki itu kemudian tewas didalam suatu pertempuran, dan Kwee Su Liang berhasil merebut kasih sayang Lie Gwat Hwa. Terlalu banyak kenangan tempo dulu yang saat itu sempat Kwee Su Liang pikirkan. Terlalu banyak pengalaman penuh bahaya yang dia hadapi, namun kadang- kadang terasa nikmat dapat mengalami kehidupan sebagai seorang pendekar tanpa mendapat cidera, bahkan berhasil memperoleh seorang isteri yang cantik jelita dan gagah perkasa.

Tempo dulu, yang saat itu Kwee Su Liang sedang renungkan selagi dia melakukan perjalanan santai menuju tempat perburuan. Tempo dulu yang penuh dengan pengalaman pahit maupun pengalaman yang manis dulu yang kadang-kadang sesuatu yang perlu dirahasiakan, sebab hampir setiap orang memiliki rahasia hidup masing-masing yang kalau mungkin akan tetap dirahasiakan sampai di- akhir hayat, juga dia memiliki rahasia hati, juga isterinya, tentunya.

Berulang kali Kwee Su Liang tersenyum seorang diri, teringat dengan rahasia hati yang disimpannya, dan teringat isterinya juga mungkin masih menyimpan rahasia hati, yang selalu dirisaukan oleh Kwee Su Liang. Mengapa harus risau ? Dan Kwee Su Liang menambah senyumnya, teringat bahwa dia merasa risau sebab dia merasa cemburu, dan dia merasa cemburu sebab dia teringat dengan rahasia hatinya sendiri. Mungkinkah rahasia yang disimpan didalam hati isterinya, sama seperti rahasia yang dia simpan didalam hatinya ? Hal inilah yang merisaukan dia, setiap saat, setiap waktu. Dari dulu, sampai sekarang setelah mereka memperoleh seorang putera yang sudah berumur 10 tahun lagi !

Tanpa terasa mereka telah tiba di kaki gunung Touw- bok-san dimana terdapat sebuah hutan yang lebat dan liar, penuh binatang-binatang seperti harimau, kelinci, kijang, babi dan lain-lain binatang buruan. Yang diutamakan Kwee Su Liang adalah memburu harimau dan memburu kijang. Memburu harimau lebih menggembirakan hati, karena diliputi oleh suasana yang tegang. Kalau bertemu dengan harimau, para pengawal menggiring dan mengurungnya, kemudian Kwee Su Liang akan menghadapi dengan sepasang tangan tanpa memakai senjata, membunuhnya dengan berbagai pukulan maut. Ini merupakan suatu latihan baginya, disamping kegembiraannya memperoleh kulit dan daging harimau. Akan tetapi bila harimau itu terlalu gesit sehingga tidak mungkin digiring apalagi dikurung oleh para pengawal, maka Kwee Su Liang akan menggunakan anak panahnya. Sedangkan kijang mempunyai daging lezat, dan untuk memburu kijang, maka Kwee Su Liang memakai anak panah.

Akan tetapi hari itu, sudah setengah harian mereka memburu, tapi hanya beberapa ekor kijang yang mereka peroleh, mereka belum memperoleh harimau yang menghilang tidak kelihatan, suatu hal yang cukup mengherankan bagi Kwee Su Liang, sebab biasanya ditempat itu terdapat banyak harimau liar.

Jelas Kwee Su Liang merasa kesal dan kecewa, akan tetapi Kwee Bun San yang baru pertama kali ini ikut berburu, kelihatan riang-gembira. Pekerjaan memburu itu merupakan suatu permainan yang menarik hati buat dia, terlebih bila menghadapi suasana tegang; sebab dua kali mereka pernah bertemu dengan ular-ular yang besar dan mengandung bisa, namun dengan cekatan para pengawal menggunakan panah dan menewaskan ular-ular itu. Mereka menguliti dan mengambil kulit-kulit ular itu yang berwarna indah.

“Kita teruskan memasuki rimba belukar ini   " akhirnya

Kwee Su Liang mengajak putera dan rombongannya, sebab dia merasa penasaran belum memperoleh harimau; dan para perajurit menurut meskipun dengan hati resah, sebab hari sudah mulai senja sehingga mengingatkan mereka akan kegelapan didalam hutan yang belukar. Kalau mereka tersesat, pasti kemalaman pulang, sedangkan Kwee Su Liang belum pernah melakukan pemburuan sampai malam apalagi kalau sampai menginap; sehingga sudah pasti akan merisaukan orang-orang yang menunggu dirumah.

Selama memasuki hutan yang makin belukar lebat dengan berbagai tanaman liar, para pengawal bergerak dibagian depan, dibagian kiri dan kanan, juga dibagian belakang. Mereka seringkali harus membabat berbagai rintangan yang merupakan pohon alang-alang yang liar dan berduri, bahkan juga menebang pohon-pohon yang tidak terlalu besar, untuk Kwee Su Liang berdua puteranya yang berjalan dibagian tengah para pengawal itu.

Sementara itu secara tiba-tiba kuda Kwee Su Liang meringkik dan menghentikan langkahnya. Kwee Su Liang tersenyum karena dia sudah mengenal dengan watak kudanya, dan kuda itu pasti sudah mencium bau tajam dari seekor harimau. Sesaat kemudian, benar-benar terdengar adanya auman seekor harimau, suatu suara aum yang keras yang menggetarkan rimba tempat mereka berada. Tergetar hati Kwee Bun San yang ikut mendengarnya, lalu mendekati kudanya dengan tempat ayahnya, dan dia ikut turun dari kudanya selekas dilihatnya ayahnya turun, juga para pengawal. Sepasang mata Kwee Bun San yang jernih tajam mengawasi sekitar tempat itu, mencari-cari asal suara aum harimau itu terdengar, akan tetapi gema suara aum harimau itu seolah-olah terdengar disekeliling tempat mereka berada, sehingga sukar untuk menentukan dimana letak tempat harimau itu berada. Para pengawal sudah persiapkan berbagai macam senjata yang mereka bawa, dan mereka mulai menyebar, menyelinap diantara semak belukar, berusaha mengurung harimau yang mereka duga sedang umpatkan diri di tempat yang lebat dengan tumbuh- tumbuhan alang-alang. Mereka mengambil batu-batu dan menimpuk, juga membikin berbagi gerak suara dengan tombak dan berbagai senjata mereka. Kemudian terdengar lagi suara aum harimau itu, lalu tiba-tiba kelihatan kepala seekor harimau yang amat besar. Kwee Bun San ikut mengawasi dengan sepasang mata membelalak. Itulah saat pertama dia melihat harimau hidup di alam bebas, bukan dalam keadaan mati atau dalam keadaan terkurung dalam kerangkeng.

Terasa jantungnya berdebar bertambah keras, bukan sebab merasa takut, akan tetapi karena merasa tegang. Dia sudah cukup digembleng oleh ayahnya untuk memiliki ketabahan, sehingga saat itu dia tidak merasa takut. Betapapun besarnya harimau itu dan betapapun galaknya; akan tetapi dia berada di tempat yang banyak pengawal- pengawal; bahkan ayahnya berada didekatnya. Ayah yang gagah-perkasa, pasti dengan mudah dapat memukul mati harimau itu. Suatu kesempatan bagi dia melihat dan membuktikan kegagahan ayahnya, dan mempelajari gerakan-gerakan ayahnya untuk menghadapi harimau galak itu. Akan tetapi, tiba-tiba dia terkejut sehingga dia bersuara tanpa terasa :

“Dia membawa anak   !!" demikian kata Kwee Bun San

yang tidak dapat menahan kata-katanya, yang dia ucapkan keras-keras ketika dilihatnya kepala harimau itu menunduk waktu melenyapkan dirinya dalam semak-semak yang belukar; tapi sempat dilihatnya, mulut harimau itu menggigit bagian punggung seekor anak harimau, seperti seekor kucing yang membawa anaknya!

Tidak ada kesempatan buat Kwee Su Liang mencegah puteranya bersuara karas-keras. Harimau itu kaget dan mempercepat larinya, bahkan melompat jauh ke sebelah depan. Seorang pengawal yang menjaga dibagian itu, berusaha mencegah dan berusaha mengusir supaya harimau itu kembali ke tempatnya semula, dengan menusukkan tombaknya. Akan tetapi harimau yang besar itu menggerakan kaki depannya, menyepak dan berhasil membikin tombak pengawal itu patah menjadi dua; sedangkan pengawal itu robon terpelanting, dan harimau itu meneruskan lari.

Kwee Su Liang siapkan sebatang anak panah, diincarnya leher harimau itu; akan tetapi pada saat itu harimau menunda larinya, mengawasi kepada Kwee Su Liang: sehingga oleh geraknya panah Kwee Su Liang berobah sasaran sehingga yang kena dipanah adalah bagian perut dari anak-harimau yang sedang digigit oleh induk-harimau, Anak-harimau itu kelihatan berkelejat seperti meronta, sehingga lepas gigitan induk-harimau dan harimau yang besar itu melompat lari menghilang dengan meninggalkan anaknya yang kena di panah, tetapi sempat harimau itu meninggalkan bunyi suara aum bagaikan menyimpan dendam !

Kwee Bun San lari mendekati anak harimau yang kena dipanah oleh ayahnya. Dilihatnya anak-harimau itu rebah tewas berlumuran darah, dengan sepasang mata masih membelalak membentang.

“Ayah, mengapa ayah membunuh anaknya......?" tanya Kwee Bun San selagi ayahnya datang mendekati; nada suaranya terdengar mengharukan dan menyesal merasa kecewa.

Kwee Su Liang memegang sebelah pundak anaknya, dan berkata perlahan : “Bukan maksud ayah hendak membunuh anaknya. Tadi ayah mengincar bagian leher induk-harimau, tetapi secara mendadak induk harimau itu membalikkan kepala, mengawasi ayah sehingga sasarannya menjadi berobah, dan yang kena adalah anak harimau ini. "

Kwee Bun San terdiam tak bersuara, akan tetapi sepasang matanya merah menyimpan haru dan rasa kecewa; hilang seleranya untuk pemburuan, juga ayahnya.

Karena cuaca pun sudah berobah mulai gelap, maka Kwee Su Liang mengajak rombongannya pulang, membawa hasil buruan yang berupa 4 ekor kijang, ditambah anak harimau yang bernasib malang itu.

Ditengah perjalanan itu, mendadak mereka mendengar bunyi suara harimau lain, bunyi suara aum yang lebih keras dari aum induk harimau yang anaknya tewas kena dipanah, bunyi suara aum yang benar-benar sangat menggetarkan tempat disekeliling mereka berada, sehingga mengakibatkan semua kuda, juga kuda Kwee Su Liang terdiam berdiri gemetar, ikut menjadi ketakutan, bahkan ada beberapa ekor kuda yang meronta-ronta dan berdiri dengan kaki bagian belakang, merubuhkan penunggangnya. Juga kuda tunggangan Kwee Bun San ikut berdiri dengan dua kaki belakang, meringkik ketakutan dan melompat jauh berlari- lari, membikin Kwee Bun San harus erat-erat memegang tali kendali dan ikut dibawa kabur oleh kuda itu, tanpa dia mampu mengendalikan atau menguasai kudanya yang mendadak menjadi liar.

“Bun-jie ! Bun-jie !!" Kwee Su Liang berteriak memanggil anaknya; namun untuk sejenak dia gugup, tak tahu apa yang harus dia perintahkan terhadap anaknya.

“Ayah ! Ayah !" Kwee Bun San ikut berteriak. Semua pengawal menjadi bingung bahkan ada yang ikut menjadi ketakutan. Kudanya jadi liar berusaha kabur simpang siur tak bisa dikuasai, lalu dengan mengerahkan ilmu lari cepat ia berusaha mengejar anaknya yang baru dibawa lari oleh kuda tunggangnya.

Akan tetapi waktu itu Kwee Bun San dan kudanya sama sekali sudah tidak kelihatan, sehingga Kwee Su Liang lari mengejar pada arah yang dilihatnya kuda itu kabur. Terus dia mengejar memasuki hutan belantara yang lebat dan liar.

Sementara itu Kwee Bun San tetap berpegangan erat diatas punggung kuda tunggangannya, sehingga dia tidak sampai terjatuh; namun tetap dibawa lari tanpa arah tujuan menentu, sampai mendadak dari dalam semak-semak belukar muncul seekor harimau yang menghadang. Seekor harimau yang jauh lebih besar kalau dibandingkan dengan induk harimau yang anaknya kena dipanah tadi, dan harimau besar itu berdiri menghadang dengan memperdengarkan bunyi suara aum yang menggetarkan, sehingga kuda Kwee Bun San berhenti dengan kaki gemetar ketakutan, bahkan terjatuh lemas tak bertenaga, sehingga Kwee Bun San buru buru lompat berdiri.

Menghadapi harimau yang begitu besar dan menyeramkan, untuk pertama kalinya Kwee Bun San merasa ketakutan, sehingga sepasang lututnya ikut tergetar. Bulu bulu harimau itu putih panjang, dan Kwee Bun San merasa takut sebab saat itu dia berada sendirian; tanpa pengawal bahkan tanpa ayahnya disisi-nya. Akan tetapi darah pendekar yang mengalir ditubuhnya, membikin dia bagaikan tanpa sadar telah menghunus pedang pendek bekalnya, yang dipegangnya erat-erat pada tangan kanannya, siap buat dia pakai membela diri kalau harimau itu menerkam dia ! Harimau berbulu putih itu berdiam mengawasi Kwee Bun San, sepasang matanya liar, sementara kaki bagian depan bergerak tak hentinya menggaruk-garuk tanah yang diinjaknya; sambil dia perdengarkan suara aum yang menyeramkan.

Sejenak hilang rasa takut Kwee Bun San, siap dia buat melakukan perlawanan, buat membela diri dari ancaman maut. Sepasang kakinya bergerak memasang kuda-kuda, sesuai seperti yang telah diajarkan ayahnya; sampai kemudian teringat pada busur dan anak-panah yang dibawanya, sehingga terpikir olehnya bahwa sebaiknya dia menggunakan anak panah selagi ada kesempatan buat dia untuk mengatur persiapan.

Sebelah tangan kirinya bergerak perlahan-lahan, meraba busur dan anak panah yang berada dibagian punggungnya, sementara tangan kanannya tetap siap memegang pedang pendek, siap dia gunakan kalau secara mendadak harimau itu mendahulukan menyerang.

Sepasang mata Kwee Bun San tak pernah lepas memperhatikan setiap gerak harimau besar itu, selagi sebelah tangan kirinya meraba dan mengambil busur berikut anak panah, sampai kemudian berhasil dia melakukannya, lalu pedangnya dia gigit dibagian mulutnya, selagi tangan kanannya dia perlukan buat mempersiapkan busur berikut anak panah. Siap sudah Kwee Bun San menarik tali busur, siap untuk melepaskan anak panah yang sasarannya dia incar pada sepasang mata harimau itu.

Harimau berbulu putih tidak kelihatan takut menghadapi seorang bocah, masih sebelah kaki depannya menggaruk- garuk tanah, lalu dia melangkah tambah mendekati, tenang langkah kakinya bagaikan dia bukan bermaksud menyerang atau menerkam Kwee Bun San. Akan tetapi Kwee Bun San langsung melepaskan anak panahnya, menuju sasaran yang diincarnya. Memang kecil ukuran anak panah itu, anak panah itu untuk digunakan oleh seorang bocah, bukan untuk seorang dewasa, akan tetapi mata anak panah itu tetap tajam dan terbungkus bahan timah, kalau tepat mencapai sasaran pada bagian antara sepasang mata harimau dan menembus kebagian kepala, memungkinkan harimau itu akan tewas.

Akan tetapi, harimau putih itu ternyata sangat gesit dan tangkas, kelihatan tenang tetapi cepat gerak sebelah kaki depan harimau itu. Bergerak bukan untuk menghalau anak panah yang menyambar, sebaliknya bergerak mencengkeram anak panah itu. Hebat, bagaikan seorang- orang yang menangkap anak panah yang sedang meluncur !

Sejenak Kwee Bun San berdiri terpukau mengawasi dengan sepasang mata membelalak kemudian sempat dilihatnya harimau itu membuang anak panahnya, lalu bergerak lagi tambah mendekati, membikin Kwee Bun San tersadar dan buru-buru membuang busur yang sudah tak ada gunanya buat dipakai, sebaliknya tangan kanannya kembali siap dengan sebatang pedang pendek.

“Pergi ! Hush, pergi !" Kwee Bun San berusaha mengusir atau menghalau harimau putih yang sedang melangkah mendekati dia.

Akan tetapi harimau putih itu membandel dan terus mendekati, membikin Kwee Bun San tambah erat memegang pedangnya, bertekad hendak melawan harimau yang besar itu; sampai tiba-tiba dia yang mendahulukan menyerang, sebelum dia diserang oleh harimau itu. Menyerang dengan sebuah tikaman pedang, memakai gerak tipu burung belibis menangkap ikan, seperti yang diajarkan ayahnya; menyerang mengarah bagian mata harimau. Akan tetapi sekali lagi harimau putih itu mengangkat sebelah kaki depannya, menangkis dan menyampok sehingga pedang pendek itu menyeleweng, bahkan terlempar lepas dari pegangan Kwee Bun San; bahkan tubuhnya ikut terhuyung miring, dan sekali lagi sebelah kaki depan harimau itu bergerak dengan cepat bagaikan memukul, kena bagian leher Kwee Bun San, membikin bocah itu rebah terkulai tak sadar diri, pingsan kena tamparan harimau itu.

Harimau putih itu tidak menerkam juga tidak mencakar tubuh Kwee Bun San yang sudah rebah tidak sadar, sebaliknya dengan hidungnya harimau putih itu mencium, mengendus-endus muka Kwee Bun San, lalu dia membuka mulutnya lebar-lebar, mengigit lembut baju Kwee Bun San di bagian punggung, dan dibawanya bocah yang sedang pingsan itu.

Lambat perlahan gerak kaki harimau putih itu yang sedang membawa tubuh Kwee Bun San, sampai kemudian dia percepat langkah kakinya, dan berlari memasuki hutan belantara, lalu mendaki gunung Touw-bok san.

---o~dwkz^)(^hendra~o---

SEMENTARA itu Kwee Su Liang masih menghadapi kesukaran dalam mencari dan mengejar puteranya yang dibawa lari kuda, sampai kemudian Kwee Su Liang naik ke atas sebuah pohon yang cukup tinggi, mengawasi dan meneliti keseluruh tempat dia berada, sampai mendadak dia ikut mendengar bunyi suara aum harimau putih itu. Dia turun dari atas pohon dan mendekati arah suara aum harimau tadi, sampai mendadak dia menemukan busur berikut pedang pendek milik puteranya, akan tetapi tidak dilihatnya puteranya, juga harimau itu; sehingga mendadak terasa pedih hati Kwee Su Liang, merasa yakin puteranya memperoleh cidera bahkan mungkin sudah tewas menjadi mangsa harimau ganas, dan mayat puteranya telah dilarikan oleh harimau itu. Kemana??

“Bun-jie….!" Kwee Su Liang berteriak keras-keras, cemas tetapi penuh harap semoga puteranya berhasil menghindari ancaman harimau, dan sedang umpatkan diri entah dimana.

Akan tetapi, tak ada suara puteranya yang didengarnya, sehingga bertambah dia gelisah dan cemas; lalu dia melompat naik lagi ke atas pohon yang terdekat, dan sekali lagi dia mengerti, sehingga sempat dilihatnya harimau putih itu yang sedang berlari-lari dengan membawa tubuh puteranya yang tidak diketahui nasibnya.

(“Oh Tuhan….”) Kwee Su Liang mengeluh di dalam hati; tapi selekas itu juga dia lompat turun dari pohon dan berusaha mengejar harimau putih yang sedang mendaki gunung Touw bok san. Pada saat itu, Kwee Su Liang melupakan semua pengawalnya, yang diingatnya cuma puteranya yang dia harapkan selamat nyawanya.

Segera Kwee Su Liang mengerahkan ilmu lari cepat “kyoh-siang-hui!" atau terbang di atas rumput; tubuhnya melesat bagaikan dia benar-benar terbang, sebab dengan caranya yang khas, dia lompat melesat dan sebelah kakinya ganti berganti menyentuh setiap pohon yang dilewatinya sehingga tubuhnya melesat lagi dengan sangat cepatnya.

Ketika tiba di bagian lereng gunung Touw bok san; saat itu hari sudah semakin bertambah senja, semakin menjadi gelap keadaan di sekelilingnya, sehingga semakin menambah kegelisahan hati Kwee Su Liang; sampai kemudian secara mendadak dia menemukan seekor harimau-putih itu dan sedang setengah-rebah tengkurap, sedangkan tubuh Kwee Bun San juga rebah di tanah, didekat mulut harimau itu, yang terdiam tengkurap tanpa bergerak, bagaikan tetap mengawasi Kwee Su Liang yang kian mendekati.

Dalam keadaan gugup dan cemas, Kwee Su Liang tidak sempat memperhatikan keadaan disekeliling tempat dia berada. Dia menunda langkah kakinya, akan tetapi sepasang matanya tak lepas dari harimau putih itu, bagaikan dia khawatir bergerak mengagetkan harimau itu, yang kemungkinan akan menggigit puteranya.

Dalam keadaan seperti itu, Kwee Su Liang bahkan tidak menyadari adanya sesuatu bayangan putih yang bagaikan sedang umpatkan diri dibalik sebuah pohon yang cukup lebat. Bayangan putih dibalik pohon itu bagaikan sedang memperhatikan segala gerak-gerik Kwee Su Liang, tanpa dia perdengarkan bunyi suara.

Sementara itu dengan gerak yang tenang Kwee Su Liang mempersiapkan diri; memasang kuda-kuda, dengan sebelah tangan kanannya memegang sebatang tombak bekas milik pengawalnya. Diincarnya bagian leher harimau itu, diarahkannya tombaknya supaya jangan sampai nyasar dan kena tubuh puteranya sendiri seperti yang dia lakukan tadi dengan anak panah, yang mengakibatkan kena anak harimau; sedangkan harimau putih itu tetap diam setengah tengkurap bagaikan mendekam, tanpa bergerak meskipun dia melihat semua gerak Kwee Su Liang.

Tombak meluncur dengan amat pesatnya, yakin Kwee Su Liang bahwa tombaknya tidak akan meleset dari sasaran, apalagi menyentuh tubuh anaknya; akan tetapi bagaikan kena ilmu gaib secara mendadak tombak itu menyeleweng, merobah arah membikin Kwee Su Liang hampir perdengarkan pekik-suaranya, tetapi untungnya tombak itu menyeleweng dan menancap ditanah, bukan pada tubuh puteranya sendiri. Mengapa bisa terjadi begitu ? Tak hentinya Kwee Su Liang tak habis berpikir. Dia merasa begitu terkejut, dia merasa begitu heran, seumur hidupnya ia belum pernah dia menghadapi kejadian seperti itu, melepas tombak mengarah harimau yang mendekam tanpa bergerak, tetapi mendadak arah tombak yang meluncur bisa berobah arah.

Mungkinkah ia sedang berhadapan dengan seekor harimau-jejadian ? Dewa harimau malaikat penunggu gunung? Dan Kwee Bun San, apakah puteranya itu masih hidup, atau sudah mati?

Segera Kwee Su Liang menyiapkan tenaga, mengerahkan ilmu 'pek kong-ciang' atau pukulan udara kosong; lalu dia lompat menerkam harimau itu menyertai pukulannya yang dahsyat.

Terasa telak kena pukulannya, tetapi bukan kena dibagian kepala harimau yang dituju; sebaliknya kena sesuatu benda yang cukup lunak tetapi kokoh-kuat, dan benda lunak itu ternyata telapak tangan seorang laki-laki tua yang memakai pakaian seperti orang desa, atau seorang petani; dengan kumis dan jenggot yang sudah putih semua.

Yakin Kwee Su Liang bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang tua sakti, yakin dia bahwa tombaknya tadi menyeleweng, juga hasil perbuatan orang tua sakti itu, yang pada mulanya sama sekali tidak terpikir olehnya akan adanya seseorang yang umpatkan diri disekitar tempat itu. Dan orang tua yang sakti itu mendahulukan bertanya, selagi Kwee Su Liang belum mampu mengucap kata-kata : “Tay- jin; apa sebab anda hendak membunuh macan ini ?"

Diam-diam Kwee Su Liang merasa terkejut. Jelas orang tua yang sakti itu sudah mengetahui tentang dirinya yang gubernur penguasa daerah itu, meskipun dia tidak memakai pakaian dinas. Akan tetapi pada waktu itu perhatian Kwee Su Liang lebih dia utamakan terhadap puteranya yang masih rebah tidak bergerak. Diliriknya dan diperhatikannya, sehingga dia yakin bahwa puteranya cuma pingsan, tidak mati. Lega hatinya dan ganti dia mengawasi laki-laki tua yang sakti itu, akan tetapi oleh karena saat itu dianggapnya laki-laki tua itu berpihak atau membela harimau itu, maka dia lalu berkata :

“Lo-jinkee, tidakkah anda melihatnya di-dekat harimau itu ada seorang bocah ? Bocah itu adalah anakku yang dibawa lari oleh harimau itu. apakah tidak selayaknya kalau aku hendak membunuh harimau yang buas itu--?" memang lembut terdengar kata-kata Kwee Su Liang; akan tetapi mengandung nada penasaran.

Laki-laki tua itu perlihatkan senyumnya, kelihatan ramah tetapi sepasang matanya bersinar penuh wibawa, bagaikan dia tidak merasa gentar menghadapi seorang pejabat-pemerintahan yang menguasai daerah itu. Seorang gubernur !!

“Tay-jin, apakah tidak boleh macan itu membawa lari putera anda, untuk dia jadikan makanannya? Mengapa tay- jin harus membunuh dia ?"

(“Sialan......!") tetapi cuma didalam hati Kwee Su Liang memaki. Untung dia berdarah pendekar yang sudah biasa berkelana di kalangan rimba persilatan, sudah biasa dia menghadapi berbagai kejadian aneh, sudah biasa dia menghadapi lagak seseorang yang memperolok seseorang lainnya. Andaikata dia hanya teringat dengan kedudukannya sebagai seorang gubernur kepala daerah, sudah pasti akan ditangkapnya laki-laki tua itu, atau akan diusirnya dan tidak dibolehkan berada di daerah kekuasaannya.

“Sebagai seorang ayah, tidakkah wajib aku melindungi

anakku dan membela dia selagi dia hendak dibunuh oleh harimau itu. ?" sahut Kwee Su Liang masih menyabarkan

diri.

Laki-laki tua itu mendengarkan suara tawanya. Tawa halus tetapi cukup nyaring menggema didaerah yang sunyi itu. Wajar suara dia berkata, waktu dia menjawab Kwee Su Liang :

“Ah tay-jin. Tahukah anda apa arti jahat. Dan tahukah anda bahwa sesungguhnya anda ternyata lebih bodoh dari pada macan ini? Anda baru saja membicarakan tentang kejahatan, siapakah yang lebih jahat, anda atau macan ini

?"

Sadar Kwee Su Liang bahwa dia sedang dipermainkan oleh laki-laki tua itu. Dia yang kedudukannya sebagai seorang bangsawan, atau pejabat pemerintah, dia yang disebut 'tay-jin' (istilah buat seorang pejabat pemerintah yang berpangkat tinggi), tetapi lelaki tua itu 'berani' mengejeknya. Untuk sesaat Kwee Su Liang menjadi paham kebiasaan orang-orang dikalangan rimba-persilatan. Dengan geram dia berkata buat menjawab perkataan laki- laki itu tadi:

“Lo-jinkee, apa maksud anda mengatakan aku lebih jahat dan lebih bodoh dari pada harimau ini. ?"

Laki-laki tua yang sakti itu tetap perlihatkan senyumnya, mungkin dia dapat menyelami perasaan Kwee Su Liang; dan dia tetap berkata ramah, meskipun sepasang matanya tetap bersinar tajam mengandung wibawa :

“Tay-jin, sebelum bertemu dengan anda, sudah seringkali aku mendengar nama anda yang katanya melakukan tugas jabatan secara adil; akan tetapi setelah sekarang aku bertemu dengan anda, ingin aku bertanya, dimana rasa keadilan anda? Baru saja anda melakukan pembunuhan terhadap anak macan ini tanpa anak macan itu mempunyai dosa atau bersalah terhadap anda; tetapi sebaliknya, waktu macan ini membawa lari putera anda, yang dia tak sakiti apalagi membunuhnya, ternyata tay-jin malah hendak membunuh dia. Apakah ini adalah suatu keadilan..?"

Sekali lagi Kwee Su Liang kelihatan terkejut, tidak diduganya bahwa harimau ini merupakan harimau jantan yang anaknya dia bunuh tadi; tidak disangkanya bahwa laki-laki tua itu mengetahui perbuatannya. Entah sejak kapan laki-laki tua itu memperhatikan segala perbuatannya. Sejenak dia berdiri terdiam, setelah itu dia baru berkata:

“Lo-jin-kee, tidak salah perkataan anda bahwa aku telah membunuh anak harimau ini, bahwa aku tidak memiliki rasa keadilan terhadap harimau ini. Akan tetapi lupakah anda bahwa harimau ini adalah golongan binatang sedangkan aku adalah manusia ? Mungkinkah kedudukan manusia disamakan dengan kedudukan binatang….?"

Laki-laki tua yang sakti itu menambah senyumnya, bahkan dia menggangguk bagaikan membenarkan perkataan Kwee Su Liang, akan tetapi diluar dugaan Kwee Su Liang, laki-laki tua itu berkata lagi:

“Tay-jin, anda gemar berburu binatang, memburu harimau. Apakah kau hendak makan dagingnya, apakah kau tidak mampu membeli makanan lain atau ditempat anda sedang kekurangan pangan? Atau anda hanya menggemari kulit harimau untuk anda jadikan sekedar sebagai benda hias ? Jelas anda berburu hanya karena menurutkan nafsu hati atau mencari kesenangan belaka; sebaliknya harimau ini, dia bagaikan sudah ditakdirkan oleh sang dewata, bahwa dia harus berburu untuk menyambung hidupnya dan memupuk keluarganya. Tanpa berburu dia tidak mungkin makan, tidak mungkin menyambung hidup, berburu merupakan pekerjaannya seperti pekerjaan manusia dibidang mencari nafkah buat menyambung hidup dan memupuk keluarga. Masihkah anda berpendapat bahwa anda tidak bersalah ?"

Sekali lagi Kwee Su Liang terdiam tidak mampu mengucap apa-apa, terasa begitu tertusuk perasaannya, cukup lama dia terdiam berpikir setelah itu baru dia berkata dengan memaksa diri :

“Tetapi aku bukan seorang manusia merupakan tinggi derajatnya. Aku hanya melakukannya berdasarkan kebiasaan yang dilakukan oleh semua orang "

Laki-laki tua itu perdengarkan lagi suara tawanya; tetap seperti tadi, seperti menggema ditempat yang sunyi itu. Setelah itu baru dia berkata lagi :

“Tay-jin, seorang laki-laki yang berjiwa besar seperti anda, mengapa sekarang anda bagaikan mencari perlindungan terhadap kebiasaan orang-orang. Mengapa anda harus mencontoh perbuatan seorang-orang yang berjiwa pengecut ? Apakah memang begini yang anda pelajari dari guru anda, tayhiap Pek Ban Tong atau dari ayah anda, Kwee Cun Gie, si mahasiswa-sakti yang terkenal arif-bijaksana ?''

Pucat muka Kwee Su Liang waktu orang tua itu menyebut nama guru dan nama ayahnya, bertambah dia yakin bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang lo- canpwee, atau dia seorang dedengkot dari kaum rimba persilatan. Cepat-cepat Kwee Su Liong berlutut memberi hormat :

“Lo-cianpwee, maafkan aku yang memiliki sepasang mata buta. Maafkan segala kesalahanku dan kalau boleh aku menanya, siapa gerangan nama locianpwee ?" Untuk yang kesekian kalinya laki-laki tua itu perdengarkan suara tawanya, bertambah lembut-ramah waktu dia mengucap kata-kata: ”Tay-jin, jangan anda merendahkan diri di hadapan aku seorang petani biasa. Aku bukan pendeta, bukan petapa, aku cuma seorang petani biasa, namaku Lauw Tong Sun. Silahkan anda bangun dan kita bicara."

Sementara itu Kwee Bun San tersadar dari pingsannya, dan teringat dia dengan peristiwa yang baru dialami. Ternyata dia masih hidup dan dilihatnya harimau yang dia tempur tadi, sedang mendekam diam didekat dia, tanpa perlihatkan sikap galak atau buas, sebaliknya dilihat amat indahnya, mengeluarkan sinar yang berwarna seperti hijau, sementara bulunya lembut seperti bulu seekor kucing.

Datang keberanian Kwee Bun San, lalu didekati harimau itu, diraihnya dan dielusnya bagian leher harimau itu, yang ternyata kelihatan jinak bahkan menjilat-jilat tangan Kwee Bun San, membikin Kwee Bun San tersenyum lalu mengawasi ayahnya yang sedang bicara dengan seorang kakek tua, dan dia berkata ;

“Ayah, kau lihat. Harimau ini besar dan bagus sekali, ternyata dia tidak galak dan tidak buas, sedang tadinya aku pikir dia akan membunuhku ..."

Kwee Su Liang menunda bicara dengan lelaki itu, mengawasi anaknya dengan sinar mata haru pengganti rasa cemas; dan dia lalu memanggil puteranya untuk diajak memberi hormat kepada si kakek.

“Lauw lo-cianpwee, hari ini aku berjanji dihadapan anda, mulai saat ini aku tak akan melakukan perburuan terhadap harimau, juga terhadap binatang lain "

Si kakek Louw Tong Sun memperlihatkan senyumnya : “Pekerjaan berburu merupakan pekerjaan yang cukup baik, asal untuk kebutuhan. Tuhan memang menciptakan segala sesuatu untuk menyenangkan hati umat manusia yang dikasihinya, tetapi janganlah melakukan sesuatu yang melampaui batas. Kalau manusia lapar dan membunuh harimau untuk dimakan, itu wajar; sewajar seekor harimau menangkap kelinci untuk dimakannya. Tetapi bila membunuh sekedar membunuh, itu keji namanya, tak wajar dan bersifat merusak. Alangkah bodohnya merusak segala ciptaan Tuhan yang memang diciptakan untuk kita, bukan untuk dimusnahkan. Disamping itu, pertemuan kita ini memang sudah ditentukan oleh sang dewata, bahwa putera anda akan ikut bersamaku ke puncak gunung Leng-san, untuk menuntut ilmu. Anda harus tega melepaskannya, tay- jin ..."

Terkejut Kwee Su Liang waktu mendengar perkataan itu. Mungkinkah dia melepaskan putera tunggalnya? bagaimana dengan isterinya yang begitu menyayangi anaknya. Yakin dia bahwa Lie Gwat Hwa pasti tidak akan menyetujui.

Seperti takut Kwee Su Liang memegang sebelah tangan anaknya erat-erat; bagaikan dia merasa takut untuk terlepas. Dan kepada Lauw Tong Sun dia berkata :

“Lauw lo-cianpwee, bukan aku tak menyukai Bun-jie menuntut ilmu di bawah pengawasan Lauw lo-cianpwee, tetapi terasa berat buatku berpisah dengan puteraku yang cuma satu-satunya. Terlebih dengan ibunya anak ini, yang begitu menyintai, begitu menyayangi putera kami ..."

Hilang senyum Lauw Tong Sun, dan orang yang sakti ini bahkan memerlukan menarik napas panjang; dia seperti merasa menyesal dan kecewa. Sejenak dia berpikir, setelah itu baru ia berkata : “Tay-jin, kau harus menyadari kehendak sang dewata yang tak bisa dirobah oleh kita kaum manusia. Perbuatan anda hari ini, rasanya akan mendatangkan mala petaka bagi anda dan terutama anak anda ini. Merupakan syarat buat anak ini menghindarkan diri dari malapetaka itu, yakni dia akan ikut dengan aku, untuk selama waktu 5 tahun. Dia akan menjadi muridku dan akan menjadi sahabat si putih yang sudah kehilangan anaknya, wajib anak anda menghibur si putih, pasti dia akan hidup merana. Aku tidak memaksa dan sebaliknya aku hanya memberi jalan yang baik buat anda dan keluarga anda, apalagi pada saat mendatang, anda akan banyak melakukan perjalanan jauh meninggalkan rumah dan meninggalkan keluarga; alangkah baiknya bila putera anda dititipkan kepadaku ..."

“Maaf Lauw lo-cianpwee. Tak mungkin puteraku kulepaskan sebelum mendapat persetujuan dari ibunya."

Sekali lagi Lauw Tong Sun memerlukan menarik napas panjang. Kelihatan pedih hatinya waktu ia mengelus bagian kepala harimau berbulu putih yang berada disisinya, dan diajaknya harimau itu bicara :

“Putih, kau harus terima kenyataan ini. Memang tak ada makhluk didunia ini yang begitu mementingkan dirinya sendiri, selain dari manusia," dan kepada Kwee Su Liang, maka Lauw Tong Sun menambahkan perkataannya:

“Tay-jin bila memang sudah demikian keputusan anda, biarlah kita serahkan kepada takdir Illahi. Begitu pun juga, si putih sewaktu-waktu dapat mengantar puteramu ketempatku. Nah, selamat berpisah ...,"

Lauw Tong Sun lalu melangkah perlahan-lahan meninggalkan tempat Kwee Su Liang berdua puteranya; sedangkan si putih mengikuti dengan langkah lesu dibagian belakang si kakek itu ! "Lo-pek, tunggu..." tiba-tiba Kwee Bun San berteriak memanggil, dan bocah ini berlari-lari menyusul, lalu dia merangkul harimau putih itu yang menghentikan langkahnya bagaikan menunggu; dan harimau itu ikut-ikut menjilat tangan bahkan muka Kwee Bun San yang sedang membelai dia. “Macan yang baik, sebaiknya kau ikut dengan aku ...." kata Kwee Bun San, terdengar mengharukan suaranya, bahkan ada sedikit air mata yang berlinang keluar.

Harimau putih itu perdengarkan suara gerengan tertahan, bagaikan dia ikut merasa terharu, akan tetapi waktu diketahuinya si kakek sudah meneruskan langkah kakinya maka harimau itu mengejar meninggalkan Kwee Bun San yang masih berdiri terdiam, dan bertambah banyak air-mata yang dikeluarkannya.

Kwee Su Liang mendekati puteranya, membelai bagian kepalanya dan perdengarkan suara tarikan napas panjang; menyadari betapa rasa kecewa dan rasa terharu dari puteranya.

“Hari sudah hampir malam, mari kita pulang sebab ibu cemas memikirkan...” akhirnya Kwee Su Liang berkata kepada putranya; dan Kwee Bun San bagaikan tersentak waktu didengarnya kata-kata 'ibu'. Ya, ibu yang menyayangi dan ibu yang dia sayangi. Ibu pasti akan ikut girang dan ikut merasa heran kalau dia menceritakan tentang pengalaman pertemuannya dengan harimau berbulu-putih itu; pikir Kwee Bun San didalam hati, dan dia membiarkan ayahnya menuntun dia, hendak diajak pulang.

Ketika tiba ditempat kediamannya, Kwee Su Liang disambut rasa cemas oleh keluarganya, terlebih oleh isterinya. Kemudian Kwee Su Liang dan puteranya menceritakan tentang pertemuan dengan si kakek Lauw Tong Sun, dihadapan Lie Gwat Hwa, juga dihadapan kedua bibinya yang ikut mendengarkan.

Mendengar cerita suaminya bahwa si kakek Lauw Tong Sun hendak mengambil puteranya untuk dijadikan murid, kelihatan pucat muka Lie Gwat Hwa. Tidak ada kerelaan hatinya untuk melepas puteranya, akan tetapi dihadapan kedua bibiknya, Lie Gwat Hwa tidak mengucap apa apa.

Sementara itu, Sie hujin yang ibunya Sie Kim Lian, kelihatan berpikir lalu dia berkata:

“Lauw Tong Sun. Serasa pernah aku mendengar nama Lauw Tong Sun ini. Ya aku ingat, dahulu ketika aku masih berkumpul dengan ayah; pernah ayahku menyebut nama ini sebagai salah seorang tokoh sakti yang tidak pernah mau mencampuri urusan dunia, hidup sebagai petani biasa diatas gunung Leng-san di Ciauw-leng, ditapal batas propinsi Hok-kian. Ada orang-orang yang menganggap Lauw Tong Sun memiliki ilmu kesaktian yang berasal dari golongan Siao-lim, akan tetapi yang dia robah dan bercampur baur dengan ilmu yang diciptakannya. Siapa kira hari ini kalian bertemu dengan dia dan bahkan hendak mengambil Bun-jie sebagai murid. Hemmm.....” Sie hujin tidak melengkapi perkataannya; akan tetapi Kwee Su Liang yakin dari pandang mata bibiknya, bahwa bibiknya menganggap hal itu amat baik buat Kwee Bun San.

“Orang yang dapat memelihara seekor harimau putih yang besar, tentu merupakan seorang yang memiliki kesaktian luar-biasa. Tetapi aku sendiri belum pernah mendengar nama Lauw Tong Sun…" Kwee hujin ikut bicara; dan ibunya Kwee Giok Cu ini juga terkenal sakti ilmunya.

Malam harinya dan setelah berada berdua dengan suaminya didalam kamar, maka Lie Gwat Hwa menangis, mengeluarkan segala kekhawatirannya; membikin sejenak Kwee Su Liang menjadi bingung dan menghibur ;

“E-eh, moay-moay mengapa menangis…." tanyanya lembut-mesra; dan dirangkulnya isteri kesayangannya itu.

Lie Gwat Hwa makin terisak. Sejenak dia lupa dengan jiwa pendekar yang dimilikinya, akan sebaliknya dia bersikap sebagai seorang yang lemah-lembut manja; sehingga dia menerima perlakuan yang mesra dari suaminya, maka dia jadi semakin terisak, menempatkan kepalanya dibagian dada suaminya yang bidang, sebuah tempat yang dia anggap paling aman didalam dunia ini dan diantara suara isak tangisnya dia berkata:

“Siangkong….aku….aku khawatir sekali…."

Tambah erat Kwee Su Liang merangkul dan membelai rambut ikal isterinya; dan selembut itu juga dia berkata:

“Apa yang moay-moay khawatirkan ? Tentang anak kita, Bun-jie…. ?"

Lie Gwat Hwa mengangguk dan berkata dalam rangkulan suaminya:

“Tentang kata kata Lauw Tong Sun lo-cianpwee itu, dan tentang akan ada hukuman kalau anak kita tidak dibawanya. Entah apa maksud perkataannya; akan tetapi aku benar-benar ngeri, siangkong…"

Kwee Su Liang yang amat mencintai isterinya itu memerlukan mengecup sebelah pipi isterinya, menghibur dan berkata untuk menghilangkan rasa khawatir isterinya :

“Apa yang harus ditakutkan bila aku di sini, moay-moay. Kalau aku berada disini, siapakah yang akan berani mengganggu Bun-jie atau kita ? Disamping itu, moay-moay juga bukan merupakan seorang ibu yang boleh dipandang ringan, belum lagi kedua bibik yang dulu di kalangan rimba persilatan terkenal galak. Siapa berani main-main hendak mengganggu anak kita…?"

Terasa Lie Gwat Hwa terhibur mendengar perkataan suaminya, berbareng bangkit juga jiwa pendekar yang dimilikinya. Adakah seorang-orang yang hendak coba-coba bermain gila dihadapannya ? Sejenak berkurang rasa khawatirnya, tetapi mendadak dia pun teringat dengan perkataan Lauw Tong Sun tentang suaminya yang katanya akan banyak melakukan perjalanan meninggalkan rumah:

“Tetapi siang-kong, tentang kepergian siangkong seperti

yang dikatakan oleh…"

Dan Kwee Su Liang buru-buru memutus perkataan isterinya:

“Sudahlah moay-moay, tidak akan aku pergi meninggalkan rumah dan meninggalkan kalian, itu cuma gertak belaka dari Lauw lo cianpwee yang menghendaki mengambil anak kita buat dijadikan muridnya. Dianggapnya kita akan ketakutan kalau mendengar gertakannya itu…."

Akan tetapi, didalam hati Kwee Su Liang ikut merasa cemas dan ikut memikirkan perkataan Lauw Tong Sun. Mungkinkah Lauw Tong Sun pandai meramalkan sesuatu yang bakal terjadi ? Sejenak jiwanya terasa bergetar, sehingga tanpa terasa dia mempererat rangkulannya bagaikan dia mencari tempat perlindungan kepada isterinya; isteri yang sangat dicintainya.

Percakapan mereka pun menjadi terhenti, sebab keduanya bagai sedang tenggelam dan membiarkan diri terbawa hanyut oleh kasih-mesra yang telah lama mereka cinta akan merupakan suatu kehancuran bila    pikir Kwee

Su Liang selagi saling-rangkul dengan isterinya. Dan, rahasia yang selama ini mereka simpan didalam hati sanubarinya, apakah merupakan rahasia hati yang untuk kesekian kalinnya menghantui hatinya. Ia buru-buru mengusir rasa hati yang menjadi risau kalau dia teringat dengan rahasia hati. Rahasia hati yang menjadi rahasia hidup isterinya, dan rahasia hatinya sendiri.

Alangkah lemah hatinya kalau dia menghadapi seorang perempuan, padahal dia merupakan seorang pendekar yang terkenal gagah perkasa, biasa menghadapi kekerasan dan biasa menentang maut. Akan tetapi kalau berhadapan dengan seorang perempuan ??

Berulang lagi Kwee Su Liang teringat dengan kejadian lama, kejadian tempo dulu. Akh mengapa justeru Lie Gwat Hwa yang berhasil dia persunting menjadi isterinya; isteri kesayangannya ? Mengapa bukan Akh, entah dimana dia

sekarang. Mungkin dia juga sudah menikah; mungkin dia juga sudah mempunyai anak.

Dan, satu demi satu bintang-bintang menghilang dari angkasa, bagaikan takut dan umpatkan diri di balik awan hitam.

Apalagi yang harus ditakuti ? Sunyi, yang begitu pedih. Ada sedikit air mata yang berlinang di sepasang mata Kwee Su Liang, waktu dia teringat dengan kejadian tempo dulu; untung isterinya tidak terlihat.

---o~dwkz^)(^hendra~o---

ESOK PAGINYA selagi Kwee Su Liang baru saja selesai menghadapi sarapan bersama isterinya, datang seorang pelayan yang mengabarkan, bahwa di kantor sudah ditunggu utusan dari kota-raja; dari istana sri baginda maharaja !! Sejenak Kwee Su Liang terdiam mengawasi pelayan itu, lalu ganti mengawasi isterinya. Jelas Kwee Su Liang merasa terkejut juga isterinya. Tidak biasa pihak istana mengirim utusan langsung, buat dia yang berkedudukan diperbatasan kota. Ada apakah gerangan? Serasa tidak pernah dia melakukan sesuatu kesalahan, daerah kekuasaan dalam keadaan aman tenteram. Sebaliknya dibeberapa daerah lain justeru sering terjadi kekacauan, baik yang berkorupsi, perampok yang meraja-lela, di beberapa tempat lagi terdengar adanya perbuatan makar atau niat untuk melakukan berontak untuk melawan pemerintah yang berkuasa.

Daerah kekuasaan Kwee Su Liang memang berbatasan dengan negara Watzu, Tartar, dan Kwee Su Liang menyadari bahwa suku-bangsa Watzu sedang menyebar pengaruh, menyusun kekuatan. Pengaruh suku-bangsa Watzu bahkan sudah menjalar sampai kebagian Asia- tengah, dekat dengan perbatasan dengan negara Iran, Persia; akan tetapi selama itu, Kwee Su Liang tak merasakan adanya sesuatu ancaman dari pihak suku-bangsa Watzu, tiada tanda-tanda bahwa mereka akan melakukan penyerangan memasuki wilayah negeri cina yang sedang dijajah oleh bangsa Mongolia. Suasana kelihatan tenang, mengapa tiba-tiba datang utusan dari kota-raja, bahkan dari pihak istana kerajaan?

Sementara itu Lie Gwat Hwa buru-buru menyediakan pakaian dinas suaminya, dan dia membantu suaminya ganti pakaian; setelah itu dengan hati risau Lie Gwat Hwa meninggalkan dia, buat menemui utusan yang sudah menunggu.

Setelah siap menerima utusan dari kota raja, maka Kwee Su Liang menjadi tambah terkejut, oleh karena yang datang ternyata adalah seorang menteri, bukan seorang utusan biasa; sehingga semakin bertambah yakin Kwee Su Liang tentang adanya sesuatu urusan yang sangat penting. Menteri yang diutus oleh sri baginda raja, ternyata adalah menteri urusan kesejahteraan negara, Toan Teng Hong; sudah tua orangnya, sudah 80 tahun lebih umurnya dan sudah putih semua rambutnya, juga kumis dan jenggotnya yang tidak panjang.

Menteri Toan Teng Hong membawa sepucuk surat dari istana kerajaan, disamping itu menteri Toan Teng Hong menambahkan keterangannya secara lisan.

Ternyata di kota raja sedang terjadi sesuatu peristiwa yang menghebohkan. Peristiwa itu bahkan merupakan peristiwa berdarah yang meminta korban nyawa manusia.

Dikatakan oleh menteri bahwa menteri pertahanan ikut tewas menjadi korban diantara banyaknya korban lain dari istana kerajaan. Pelaku peristiwa pembunuhan itu pada mulanya tidak diketahui perbuatan siapa gerangan, akan tetapi korban keganasan yang luka-luka maupun yang tewas, ternyata terkena senjata rahasia berbentuk bunga ceng-hwa atau bunga cinta, yang mengandung bisa racun maut. Senjata rahasia berbentuk bunga Ceng hwa itu sudah tidak asing lagi buat orang-orang yang biasa berkelana di kalangan rimba persilatan, suatu senjata yang khas menjadi miliknya Ceng hwa liehiap Liu Giok-Ing !!

Ya, Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing, si pendekar bunga- cinta; dan baru semalam Kwee Su Liang teringat dengan kejadian lama. Baru semalam, untuk yang kesekian kalinya dia mengalirkan air mata; terasa pedih, begitu pedih.

Dan satu demi satu bintang-bintang menghilang dari angkasa, bagaikan takut, dan umpatkan diri dibalik awan hitam. Kwee Su Liang bagaikan ikut merasakan menghadapi suatu pertempuran antara Kwee Su Liang melawan si pendekar bunga-cinta Liu Giok Ing. Takut menghadapi suatu pertempuran yang bakal dilakukan antara dua jago pedang kenamaan. Mengapa mereka harus bertempur; kenapa ? Apa sebab benci tapi rindu ?

Dan Kwee Su Liang menjadi lebih terkejut lagi; ketika diketahuinya dari menteri kesra Toan Teng Hong, bahwa Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing sebenarnya sudah menikah dengan pangeran Giok Lun yang bertempat kediaman di kota raja. Sudah 10-tahun mereka menikah dan Kwee Su Liang tidak mengetahui, dia bahkan menganggap si pendekar bunga-cinta masih merana dan berkelana dikalangan rimba persilatan. Dia bahkan masih memikirkan; masih merisaukan dan masih mengalirkan air mata, kalau dia teringat dengan kejadian lama.

Sementara itu menteri kesra menyambung pembicaraannya yang berhubungan dengan maksud kedatangannya :

Nama Ceng-hwa liehiap Liu Giok Ing sudah tidak asing lagi di kota raja, dan sri baginda raja sudah mengetahui bahwa Ceng hwa liehiap Liu Giok Ing adalah muridnya Touw-liong cuncia yang terkenal sangat gemar bergaul dengan Suku bangsa Biauw yang masih liar sehingga Touw- liong cuncia sangat pandai mengolah berbagi macam bisa racun, bahkan menguasai ilmu hitam yang berasal dari suku bangsa Biauw….”

---o~dwkz^)(^hendra~o---