-->

Pedang Ular Emas Bab 25

Bab ke 25

Nyata di mulutnya tengkorak, terjepit di antara gigi, terdapat sepotong tusuk konde, yang pendek sekali, yang tidak nampak apabila tidak diperhatikan Ho Ang Yo cabut tusuk konde itu dengan tangannya, dia tidak berhasil Jeriji-jeriji tangannya tidak dapat menjemput dengan seksama.

Rupanya Kim Coa Long kun gigit tusuk konde di waktu hidupnya sampai ia mati maka perhiasan rambut itu jadi terjepit keras, itu adalah sebuah tusuk konde emas,

Ho Ang Yo penasaran, ia mencoba lagi sekali. Kali ini gigi-gigi tengkorak pada copot, maka tusuk konde itu jatuh sendirinya, Lantas ia pungut untuk disusuti debu-nya.

"Sekonyong-konyong saja uwa ini terperanjat hingga wajahnya turut berubah, ia menjerit ketika ia tanya, "Apakah ibumu bernama Gie?" tanyanya.

"Huruf "Gie" dari ibunya Ceng Ceng beda dari huruf "Gie" dari "Saat Gie" namanya ayah si nona,

Ceng Ceng manggut dengan perlahan

Ho Ang Yo berduka berbareng panas hatinya, hingga ia kertak gigi,

"Baik, baik!" katanya dengan sengit "Meskipun disaat kematianmu kau masih ingat saja si perempuan hina dina! Sampai kau gigit tusuk kondenya!"

Mengawasi dua huruf "Un Gie" yang terukir di gagang tusuk konde, sinar matanya uwa ini bagaikan api hendak menyambar, dalam sengitnya, ia masuki tusuk konde itu ke dalam mulutnya, terus ia gigit dan ganyam hingga mulutnya itu mengeluarkan darah.

Ceng Ceng lihat kelakuan itu, ia percaya, pikiran sehat dari Ho Ang Yo sudah menjadi kabur ia pun insyaf, saat yang paling berbahaya bakal sampai, maka lantas saja ia keluarkan guci kecil yang memuat abu ibunya, ia buka tutup guci, akan tabur isinya ke dalam lubang, supaya bercampuran sama tulang-tulang rerongkong ayahnya,

Ho Ang Yo bengong mengawasi kelakuan si nona ini. "He, kau lagi bikin apa?" tegurnya kemudian.

Ceng Ceng tidak berikan jawaban hanya setelah menuang habis, ia keruki tanah untuk dipakai menutupi lubang kubur itu, di dalam hatinya, ia memuji. "Ayah dan ibu, harap ketahui, anakmu sudah kubur ayah dan ibu bersama-sama. "

Ho Ang Yo sambar guci kosong, ia pandang sebentar, segera ia sadar.

"Ha! ini jadinya abu ibumu!" serunya, Ceng Ceng manggut dengan perlahan

Cepat luar biasa tangannya si uwa menyambar, Ceng Ceng lihat itu, ia berkelit, tidak urung pundaknya terkena juga, hingga ia terpelanting hampir ia rubuh.

Ho Ang Yo lantas menjerit-jerit, "Aku larang kau kubur mereka bersama-sama.

ia jadi seperti kalap, dia garuki lagi tanah untuk dibongkar pula,

Akan tetapi abu sudah bercampuran sama tulang-tulang dan tanah tidak dapat di angkat untuk dipisahkan lagi, Tapi dalam sengitnya, uwa ini tarik keluar semua tu!ang,

"Aku nanti bakar kamu menjadi abu!" teriaknya, "Aku nanti sebar abumu di kaki gunung Hoa San ini supaya terbang berhamburan ke empat penjuru, buyar ke segala jurusan, hingga kau tidak dapat berkumpul sama si kacung hina dina!" Ceng Ceng menjadi gusar berbareng sibuk, ia tubruk si uwa untuk mencegah, ia menyerang, akan tetapi ia kalah kosen, baru beberapa jurus saja ia telah kena dirubuhkan, Untung untuknya, uwa ini tidak serang ia dengan kuku- kukunya yang lihay,

Ho Ang Yo buka baju luarnya, untuk pakai itu sebagai umpan api setelah tulang ditumpuk di atas bajunya itu, ia mulai sulut itu. Kemudian ia kipasi api menjadi berkobar

Dilain saat tulang-tulang telah mulai terbakar nyala, hingga asap lantas mengu!ak di dalam kamar baru itu.

Memandang tulang-tulang terbakar Ho Ang Yo tertawa berkakakkan, tandanya ia sangat puas, Tiba-tiba saja ia melengak tatkala merasakan bau asap yang luar biasa, segera ia berteriak "Hee-Iong, oh, bagaimana kau kejam!"

Ceng Ceng juga lantas merasakan bau asap yang luar biasa itu, selagi ia merasa heran, ia pun segera merasakan kepalanya pusing, matanya kabur, hingga ia jadi kaget Tapi ia masih bisa lihat si uwa bengis menghadapi api unggun yang luar biasa itu berulang-ulang dia menyedot dan mengeluarkan napas, akan akhirnya dia berseru beru1ang- u!ang.

"Baik, baik! Memangnya ingin aku mati bersama-sama kau."

Mendadak saja ia angkat kepala, akan berpaling kepada Ceng Ceng.

Nona ini menjerit sekuat-kuatnya kapan ia tampak wajah bengis orang yang menakutkan, ia balik tubuhnya, akan lari ke arah mulut gua, akan tetapi baru ia lari beberapa tombak, tak tahan ia dengan rasa pusingnya, begitu kakinya dirasakan lemas, ia terus saja rubuh, Sin Cie sementara itu kaburkan kudanya bersama-sama kawannya, ia bisa menduga dua binatang berbisa dari Ho Ang Yo di rumah makan adalah si uwa sedang memanggil kumpul-kumpul anggota-anggota Ngo Tok Kau untuk ikuti jejaknya, ia mengerti ancaman apa menghadapi Ceng Ceng. Tidak perduli di tangan siapa kaum Cio Liang Pay atau Ngo Tok Kau Ceng Ceng mesti bercelaka juga, Maka itu, ia gelisah bukan main.

Di sepanjang jalan sambil tanya sana sini, Sin Cie dengar hal hal kebinasaannya tiga di antara empat jago Cio Liang Pay ia dapat menduga kepada mereka itu, karena di situ tidak ada lain orang yang berombongan sebagai tertua-tua dari Cio liang Pang itu, ia jadi sangat berkhawatir, hingga ia jadi tidak nafsudahar, tidak tenang tidur Apa yang juga rada melegakan hatinya adalah jurusan yang diambil oleh orang- orang Cio Liang Pay itu ada jurusan Hoa San. Dengan begitu, tidak usahlah ia menjadi nyasar diwaktu mengikuti jejak mereka itu, dan tidak usah ia gagal menghadapi rapat kaumnya, Begitulah mereka telah mendekati kaki gunung,

Ang Seng Hay bermata jeli, selagi singgah sebentar di paseban, ia tampak gundukan tanah yang mencurigai, lantas saja ia bongkar gundukan tanah itu, hingga untuk kegirangannya, ia dapati mayatnya Un Beng Tat.

"Dengan matinya dia ini, pasti Ceng Ceng telah jatuh ke dalam tangan Ngo Tok Kau," Sin Cie beri kepastian, "Mari kita lekas susul ke atas gunung!"

An Toa Nio menghiburi, dia kata, "Sekarang ini saat rapatnya Hoa San Pay, umpama kata Bok Locianpwe sendiri masih belum datang tetapi Uy Cin Suheng atau salah satu di antaranya tentu sudah sampai lebih dahulu, Maka itu apabila kaum Ngo Tok Kau naik ke gunung, pihakmu pasti akan beri pertolongannya kepada Nona Hee itu."

1179 "Jikalau Ngo Tok Kau berani mendaki Hoa San, pasti mereka sudah siap sedia dari siang-siang!" Sin Cie bilang, "Maka itu kita mesti jaga supaya jangan ada orang kita yang rubuh di tangan orang-orangnya berbisa itu...." inilah kekhawatiran yang bertambah-tambah dari si anak muda,

"Kalau Cousu juga telah datang apa yang kita mesti jerikan?" kata Cui Hie Bin. "Mari lekas kita mendaki gunung!"

Oleh karena kuda tak dapat mendaki gunung, semua kuda lantas dititipkan pada seorang desa, dengan jalan kaki dengan berlari-lari, orang mulai mendaki gunung,

Selagi mendaki puncak, Sin Cie dengar suara-suara mengaung di udara, tanda dari senjata-senjata rahasia, segera ia jadi girang seka1i.

"ltulah Bhok Siang Tojin di atas! Dia lagi memanggil kita!" katanya dengan kegirangan ia keluarkan tiga biji caturnya ia pun menimpuk ke udara sampai sekejap saja, tiga biji senjata rahasia itu lenyap sendirinya, akan lagi sebentar tiga-tiganya tampak pula sedang turun ke arah mereka.

"Sungguh hebat, siau susiok!" Hie Bin memuji, Sin Cie niat tanggapi ketiga biji caturnya, ketika tahu-tahu muncul beberapa senjata rahasia lain dari arah samping, yang menimpa ketiga biji catur itu hingga tiga-tiganya jstuh.

Me nyusul itu muncullah satu orang dengan sebelah tangannya mencekal shuipoa, alat penghitung, yang digoyang pergi datang, sembari dia itu tertawa gembira,

"Suhu," seru Hie Bin, apabila ia tampak orang itu. "Suhu sudah datang lebih dahulu."

Orang itu memang Tong-pit Thie shuiphoa Uy Cin. Lantas Hie Bin lari kepada gurunya itu, tanpa perdulikan tempat itu tempat apa, ia jatuhkan diri untuk berlutut, untuk paykui tiga kali, maka waktu ia sudah berbangkit kelihatan jidatnya benjut! Sebab ia manggut-manggut sampai membentur batu gunung,...

Melihat kelakuan tunangannya itu Siau Hui mendongkol berbareng merasa kasihan ia mendongkol melihat ketololan orang tapi berkasihan dan terharu melihat kejujurannya, Ketika Hie Bin kembali padanya ia lantas sesali, Tapi Hie Bin tidak memperdulikannya dia hanya tertawa saja.

Sin Cie hampirkan suheng itu, untuk beri hormat akan tanyakan ini dan itu sejak mereka berpisah, sebagaimana sang suheng juga menanyakan dia. Kemudian, selagi ia hendak tanya suheng itu kalau-kalau dia lihat Ceng Ceng atau orang Ngo Tok Kau, sekonyong-konyong Tay Wie dan Siau Koay berpekik beru1ang-ulang, terus saja keduanya lari ke arah jurang,

"Celaka, mereka minggat!" teriak Hie Bin. ia mau mengejar untuk melawan

"lni ada tempat asal mereka mau pergi biarkan saja," Sin Cie bilang,

Meski ia mengucap demikian pemuda ini heran juga sebab melihat dua binatang piaraan itu pergi tanpa sikap ragu-ragu, hingga ia mengawasi saja sampai keduanya pergi jauh, Selagi Sin Cie mengawasi, tiba-tiba ia lihat asap mengepul dari arah guanya Kim Coa Long-kun, ia menjadi kaget Adalah ke sana Tay Wie dan Siau Koay lari, lalu di sana kedua binatang itu goyang pulang pergi tangannya seperti menunjuk ke tempat asap, ^seperti memanggil mereka,

Siau Hui juga lihat sikapnya kedua binatang itu, Toako dua binatang itu bukannya buron," katanya. "Lihat mereka lagi memanggil-manggil kau!"

"Benar!" jawab Sin Cie, yang terus menerjang A Pa, untuk memberi tanda dengan tangan nya.

Melihat demikian, A Pa segera lari ke gua mereka sendiri, untuk ambil dadung dan obor, lantas dengan diikuti kawan-kawannya ia lari ke arah jurang,

"Nanti aku yang masuki gua itu!" kata Sin Cie yang bilang, cuma ia sendiri ketahui baik keadaannya gua itu. ia terus robek ujung bajunya, guna dipakai menyumpal hidungnya

Dengan sebelah tangan memegang obor, pemuda ini turun di dadung, yang sudah dipasang A Pa.

Tay Wie dan Siau Koay masih berpekik saja, kaki dan tangannya tidak berhentinya digerak-geraki, nampaknya mereka sangat gelisah,

sebentar saja, Sin Cie sudah sampai di dalam gua, Segera ia diserang asap, hingga ia merasakan sukar bernapas. Untung baginya, hidungnya telah disumpal siang-siang, ia maju terus sambil berlari di jalan gua itu, sampai ia tampak satu tubuh manusia rebah di tengah terowongan, ia kaget kapan ia telah lantas kenali Ceng Ceng. ia segera membungkuk ia taruh tangannya di depan hidung si nona, ia tidak rasai hembusan napas, akan tetapi waktu ia meraba dadanya, ia dapatkan dada itu turun naik dengan perlahan sekali,

Di saat itu Sin Cie juga lihat seorang lain di dalam gua, ia pun sedang rebah. MuIanya ia niat hampirkan orang itu, atau mendadak ia rasakan kepalanya pusing, matanya kabur, berdirinya pun limbung, hampir saja ia rubuh, Maka segera ia insyaf, asap itu mengandung racun, Tidak ayal lagi ia angkat tubuh Ceng Ceng, untuk di-pondong keluar ia sambar dadung yang terus tarik-tarik,

A Pa terus tarik naik dadung itu, ia dibantu Seng Hay, hingga dalam tempo yang cepat, Sin Cie sudah bergelantungan dengan sebelah tangannya tetap me- mondong Ceng Ceng, Di sini di luar gua, baru Sin Cie berani bernapas, ia menahan sebisa-bisanya, Baru dua kali ia bernapas, ia merasa perutnya mual, tanpa tertahan lagi ia muntah-muntah,

Semua orang di atas jadi berkhawatir, Kalau anak muda ini tak dapat pertahankan diri asal cekalannya terlepas, celakalah dia berdua Ceng Ceng, Maka itu, walaupun mereka menarik dengan cepat, A Pa dan Seng Hay toh berhati-hati, supaya mereka tidak menarik dengan kaget!

Ciu San bersama He Bin dampingi dua orang itu, untuk berikan bantuan mereka kalau saja A Pa dan Seng Hay membutuhkan itu, Mereka juga siap untuk sambuti Sin Cie.

Selagi itu dua orang terangkat hampir sampai, mendadak terdengar suara nyaring dari arah gua, seperti gua itu meledak gempur, lantas kelihatan asap mengepul naik dan batu-batu terbang berhamburan. Semua orang terperanjat tidak terkecuali Seng Hay, hingga ia hampir lepaskan cekalannya, syukur A Pa si gagu yang pekak, tidak dengar apa-apa dan masih menarik dengan tenang,

Diakhirnya, untuk kelegaan semua orang, sampailah Sin Cie di atas, Akan tetapi setelah ia injak batu gunung, kakinya lemas, lantas saja ia rubuh, lupa akan dirinya,

Ketika itu Bhok Siang Tojin pun sudah berkumpul di antara mereka, maka guru ini segera tolong muridnya, juga Ceng Ceng untuk pijat dan uruti mereka, Dari dalam gua, suara peledakan masih menyusul berulangkali

Orang tidak tahu apa yang menyebabkan itu dan beberapa banyak tersimpannya bahan peledak di da!am- nya. Orang saling memandang dengan merasa heran,

Tidak antara lama, Sin Cie sadar, lantas ia bernapas dengan beraturan ia merasa sangat lelah,

"Sungguh berbahaya..." ia mengeluh sebentar lagi, Ceng Ceng pun ingat akan dirinya akan tetapi begitu lekas ia buka mata dan lihat si anak muda," ia lepaskan tangisan,

Baru sekarang semua orang berhati lega,

Untuk sementara, Bhok Siang antapkan muridnya itu beristirahat di situ, sedang suara perledakan sudah berhenti, tinggal asapnya yang masih sedikit mengepul

"Nanti aku lihal!" kata Hie Bin dengan berani.

Ciu San setuju, ia ikat orang punya pinggang, akan kasih turun anak muda itu, yang dipesan mesti lantas membetot dadung andaikata ada ancaman bahaya di gua itu.

Kapan Hie Bin sampai di lubang gua, ia tidak lihat suatu apa, karena lubang itu telah tertutup rapat, hingga terpaksa ia mesti kembali dengan tangan kosong,

Sin Cie tuturkan bagaimana ia ketemukan Ceng Ceng, sedang Ceng Ceng ceritakan pengalamannya yang penuh bahaya di dalam gua itu menghadapi Ho Ang Yo yang sudah kalap,

Mendengar itu, Bhok Siang Tojin menghela napas, "Ketika baru ini aku lihat panahnya Kim Coa Long-kun

yang disembunyikan di dalam  peti, aku sudah kagumi

kepintarannya," berkata imam ini, "Siapa sangka sekarang terbukti kepintarannya begini luar biasa, Jauh sekali pandangannya. "

"Siapa juga tidak akan menyangka sekali pun di dalam tengkorak dia masih simpan bisa," nyatanya Uy Cin yang tidak kurang kagumnya,

"Suhu, inilah aneh!" seru Hie Bin si sembrono, "Ba- gaimana bisa itu bisa disimpan di dalam mulut tengkorak? Dia toh sudah mati dia tinggal rerongkongnya saja?"

Uy Cin tertawa, tetapi dia kata, "Nanti saja kau coba sendiri, sesudah kau mati!"

Guru ini sebal-sebal geli untuk ketololan muridnya ini. Tentu saja semua orang tertawa ramai,

"Orang tidak tahu makanya dia menanya..." mendumal si pemuda she Cui itu.

"Hee Losu Kim Coa Long-kun ada seorang pintar luar biasa dan sangat teliti." Sin Cie kasih tahu, "Dia tahu bahwa semasa hidupnya dia mempunyai banyak musuh, dia mestinya telah menduga walaupun dia sudah mati, mesti ada musuh-musuhnya yang bakal terus cari pada-nya, untuk musnahkan tulang-tulangnya, dari itu karena dia sendiri ada ahli bisa, dia lantas buatkan persiapannya disaat dia hendak hembuskan napasnya yang terakhir Secara demikian, sampai dia sudah tinggal rerongkong-nya, dia masih bela dirinya. "

Mendengar ini Hie Bin tepok pahanya,

"Sekarang tahulah aku!" dia berseru. "Dengan persiapannya itu, kalau nanti ada orang bakar tulang- tulangnya, maka racun yang disembunyikan di dalam tutang-tu!ang itu nanti bekerja sendirinya. ", "Hanya...." kata dia pula bilang sesaat "Kenapa gua itu bisa meledak? Apakah dia simpan juga bahan peledak di dalam tu1ang-tulangnya itu?"

Kembali orang bersenyum karena pertanyaan ini.

"Masa dia sembunyikan bahan peledak di dalam tulang- tulangnya?" kata Siau Hui, "Pasti dia sembunyikan itu di dalam tanah!"

Sin Cie tidak perhatikan kata-kata orang itu, ia manggut- manggut, ia menghela napas pula,

"Adalah keinginannya ibunya adik Ceng supaya ia dapat dikubur bersama suaminya, sekarang keinginannya itu telah tercapai," katanya,

Hie Bin sendiri masih saja terheran-heran, hingga ia ulur lidah nya.

"Kim Coa Long-kun benar-benar lihay!" katanya, "Dia sudah menutup mata belasan tahun lamanya, dia masih bisa layani musuh-musuhnya. Sudah selayaknya saja kalau wanita tua dan jahat dari Ngo Tok Kau itu nerima kebinasaannya."

"Meskipun dia jahat, akan tetapi cintanya adalah sejati harus dihargai," Sin Cie bilang, "Dia bersengsara karena cinta. "

Siau Hui sementara itu usap-usap kepalanya Tay Wie dan Siau Koay,

"Kalau tidak getapnya mereka ini, asal lambat sedikit saja oh, bagaimana hebatnya kejadian inL." katanya,

"Ya, itu benar," kata beberapa orang.

Maka sekarang orang kagumi kedua binatang piara-an itu yang mempunyai perasaan luar biasa. Sampai di situ orang berangkat ke dalam gua, An Toa Nio dan gadisnya memayang Ceng Ceng yang masih lemah sekali, Dia telah ditukari pakaiannya lantas di-rebahkan di atas pembaringan untuk dia beristirahat

Bhok Siang lojin berikan obat pulung, untuk punahkan racun, akan tetapi itu tidak lekas dapat menolong, karena racunnya Kim Coa Long-kun lihay sekali dan Ceng Ceng terkenanya cukup lama, Malah selang satu malam, mukanya si nona menjadi berobah hitam, keadaannya jadi bertambah berat, ada kalanya dia jadi tak sadarkan dtri, atau kalau dia mendusin, dia lantas menangis sendirinya, dia mengaco, Dalam tidurnya dia suka mengimpi, dia suka mengigau dengan katakan Sin Cie tidak punya budi rasa....

Sin Cie sendiri jadi sangat lesu dan putus asa, hingga melihat dia, orang merasa kasihan, malah orang ber- khawatir untuk kesehatannya.

Kapan anak muda ini ditinggal berduaan saja sama Ceng Ceng, yang rebah tidak berdaya ia coba hiburkan nona itu, ia berikan janjinya bahwa ia tidak mencintai nona lain siapa juga,

Ceng Ceng tidak bilang suatu apa, masih saja dia suka keluarkan muntah cair hitam, mukanya sendiri kadang- kadang bersemu merah dadu tetapi lebih banyak hitam-nya.

Sin Cie lihay ilmu silatnya, sekarang ia habis daya. Maka ia lebih banyak bercokol atau rebah dengan air mata berlinang-linang, ia tidak punya obat untuk tolong kekasih ini, karena mustika kodok es sudah Habis,

Di luar orang ramai bicarakan Kim Coa Long-kun. Biar bagaimana orang anggap jago Ular Emas ini telah membahayakan anak dara nya sendiri....

Karena ini orang umumnya tidak gembira. Dihari itu mendekati magrib, Tay Wie dan Siau Koay perdengarkan suara mereka yang berisik. Nyata telah datang rombongannya Kwie Sin Sie suami istri serta murid- murid mereka ialah Bwee Kiam Hoo. Lau Pwee Seng, Sun Tiong Kun dan lainnya, jumlah berenang Kapan Kwie Jie Nio dengar Ceng Ceng terkena racun ia berikan sisa obat anaknya yaitu hok-leng dan ho-siu-au.

Setelah makan obat ini, Ceng Ceng bisa tidur dengan tenang,

Ketika sang magrib datang, murid kepala dari Uy Cin datang bersama delapan suteenya serta dua putranya, Lebih dulu mereka kasih hormat pada Bhok Siang Tojin, baru guru mereka jie susiok Kwie Sin Sie suami dan istri,

Murid kepala dari Uy Cin itu lihat Sin Cic, sang sam- susiok masih muda daripada anaknya yang pertama, maka untuk tekuk lutut di depan paman guru ketika ini, ia merasa sungkan, Maka itu ketika ia toh memanggil.

"susiok", ia tetap ragu-ragu.

Sin Cie lihat ini sutit, keponakan murid, berumur empat puluh lebih, dadanya lebar, pinggangnya tegar, suatu tanda tubuhnya kuat, sedang tubuh itu ada terlebih tinggi daripada tubuhnya sendiri Maka diam-diam ia memuji ia anggap pantas toa-suhengnya punyakan murid yang beroman gagah ini. Dia ini beda sangat jauh dari Hie Bin si toloL

"Tidak usah berlutut," ia mencegah, ketika ia tampak sembilan sutit itu hendak berlutut di depannya. "Jangan pakai banyak adat peradatan!"

Segera Hie Bin perkenalkan saudara seperguruannya yang tertua itu. "Toasuheng ini she Phang bernama Lan Tek," kata-nya, "Di dalam kalangan kangouw dia digetarkan Pat-bin Wie- hong." (Gelaran itu mempunyai arti "Keangkeran di delapan penjunC),

"Pasti saudara Phang telah mewariskan kepandaian toasuheng," Sin Cie bilang,

Phang Lan Tek merendahkan diri

Uy Cin tidak bilang suatu apa murid kepalanya itu tidak tekuk lutut terhadap sutee buncit itu, terutama sebab ia tahu, muridnya ini telah punyakan nama baik, ia sendiri juga memang paling sedernana,

Sesudah itu baru Lan Tek suruh dua putranya berlutut kepada semua orang yang lebih tua, mulai dari Bhok Siang Tojin sampai pada Kiam Hoo berantai

Dua anak itu ada Phang Put Po yang lebih tua, usianya dua puluh satu tahun, dan Phang Put Cui yang kedua, yang baru berumur tujuh belas, Untuk di wilayah Kam Liang, karena mengandal pada nama ayahnya, mereka telah punya nama juga, sedang kepandaian mereka sendiri boleh dibilang sudah cukup berarti sekarang Put Po lihat, paman gurunya yang termuda baru berumur kurang lebih dua puluh tahun, maka walaupun mereka berlutut, hati mereka tidak puas, Mustahil orang dengan usia demikian muda menjadi yang tertua lebih tinggi dua tingkat derajatnya? Mereka juga tidak melihat mata karena tampak susiok itu beroman lesu dan kucel air mukanya, bekas-bekas air matanya masih belum Icnyap,

Dua saudara Phang itu bergaul rapat dengan muridmu rid nya Kwie Sin Sie suami istri, malah mereka tahu, Sun Tiong Kun adalah yang paling jumawa dan kepala besar, ilmu silatnya pun sempurna, maka diam-diam mereka ini berdamai untuk sebentar ogok-ogok si Nona Sun, agar dia

1189 coba-coba kepandaiannya paman cilik itu, ingin mereka membuat paman guru cilik itu dapat malu di depan sucou dan guru dan paman guru mereka, Mereka percaya, umpama ayah mereka ketahui perbuatannya tidak nanti mereka dipersalahi.,

Begitulah besoknya, pagi-pagi sekali mereka sudah bangun, lantas mereka pergi keluar, akan cari Sun Tiong Kun, Kebetulan, mereka ketemu Cio Cun, susiok mereka yang ke delapan,

Cio Cun ini juga muda usianya dan gemar cari gara-gara ilmu silatnya berimbang sama mereka berdua saudara sebab di pipi kanannya ada tahi lalat biru orang juluki dia Chee- bian-sin, Malaikat Muka Biru, Dia ingin menegor kapan dia saksikan roman luar biasa dari engko dan adik itu,

"Hai, katamu bikin apa?" demikian teguran nya.

"Kita lagi ajari Sun Su kou!" sahut Put Cui sambil tertawa, "Katakan selama di Shoatang, su-kou sudah rubuhkan banyak orang Put Hay Pay, maka kita ingin dia beri penuturan kepada kita."

"Bagus!" Cio Cun nyatakan akur. "Tadi aku lihat dia lagi berlatih sama Bwee Suko, mari kita tengok padanya!"

Lantas tiga orang ini lari ke gunung belakang,

Di sepanjang jafan, dua saudara Phang ini pikirkan, kata- kata apa mesti dihaturkan kepada Sun Tiong Kun supaya sukou itu sang bibi guru jadi panas hatinya terhadap Sin Cie.

"Jikalau dia sedang berlatih pedang, baik bilang saja Wan Siau-susiok-cou cela ilmu pedangnya itu," kata Put Cui.

"Akur!" sahut Put Po sambil terlawa. Selagi mereka mendekati ke tempat di mana katanya Sun Tiong Kun dan Bwee Kiam Hoo lagi berlatih silat, tiga orang ini sudah lantas dengar suara nyaring dan bengis dari Sun Tiong Kun seperti sang bibi guru lagi damprat orang, Mereka heran, maka mereka lari untuk lekas menemui.

Kelihatan Sun Tiong Kun lagi kejar seorang lelaki umur tiga puluh tahun lebih, dia ini sambil lari sambil mengupat caci mengatakan Sun Tiong Kun sebagai "wa-nita bangsat! dan "wanita hina dina", Tidak selamanya dia lari lcrus, Karcna dia pun mencekal golok, saban-saban ia berhenti, untuk lakukan perlawanan Nyata dia kalah lihay, saban- saban ia lari pula, kalau kecandak, kembali dia bikin perlawanan Dia mencaci terus selagi si nona damprat ia berulang-ulang,

"Mari kita pegal binatang itu, supaya dia tidak mampu lolos!" Put Cui mengajak,

Secara kalap terdengarlah suaranya orang yang dikejar- kejar Sun Tiong Kun itu, "Kau telah bunuh istriku serta anak-anakku, maka kenapa kau bunuh juga ibuku yang sudah berumur tujuh puluh tahun lebih?"

Air mukanya Sun Tiong Kun merah padam "Manusia tidak punya malu!" si nona mendamprat.

"Umpama kala di rumahmu ada terlebih banyak orang lagi, aku pun akan bunuh semua!"

Mereka itu berkelahi dengan sengit sekali, karena sama- sama sedang sangat mendongkol

"Hai, kenapa Sun Su-kou tidak pakai pedang?" seru Phang Put Po. "Dia menggunai sebatang gaetan, tak leluasa nampaknya gerakannya." Cio Cun dan Put Cui pun segera lihat, itu bibi guru lagi gunai senjata yang tidak cocok. Maka orang she Cio ini lantas cabut pedangnya ia balik itu untuk pegang tajamnya,

"Sun Suci, sambut pedang ini!" kata dia sambil lemparkan pedangnya itu,

Berbareng sama terlemparnya pedang, dari sam-ping, di mana ada pepohonan lebat, melesat satu bajangan, yang terus sambuti pedang itu, akan talangi Tiong Kun.

Ciu Cun bertiga terperanjat melihat kesehatan orang, kemudian mereka jadi kenali, bajangan itu adalah Bwee Kwie Hoo, murid kepala dari Kwie Sin Sie, Susiok Cou mereka,

"Bwee Susiok!" Cio Cun memanggil

"Ya," Bwee Kiam Hoo menyahuti, sambil manggill, setelah mana, dia lemparkan kembali pedang itu, seraya tambahkan, "Sun Su kou telah pahamkan lain alat, tidak lagi pedang."

Ciu Cun heran, hingga ia perdengarkan seruan tertahan ia memang tidak tahu, sebab Tiong Kun lelengas, dia sudah dilarang memakai pedang,

pertempuran masih berjalan terus, Lama-lama, orang lelaki itu repot juga, maka setelah terdesak hebat, tangannya kena ditendang si nona, goloknya terlepas, hingga dilain saat dadanya jadi terbuka untuk tusukan gaetan.

"Tahan!" mendadak Kiam Hoo berseru dengan cegahannya,

-ooo0ooo-

Bagian ke tiga puluh empat Sun Tiong Kun heran, hingga ia tunda serangannya, karena mana, lawannya itu dapat kesempatan untuk angkat kaki ke arah bawah gunung,

"Kasih ampun pada nya!" kata Kiam Hoo sambil tertawa, "Biarlah sucou nanti beri pujian padamu!"

Sun Tiong Kun bersenyum,

Orang itu lari beberapa puluh tindak jauhnya, ia berhenti, akan putar t ubun nya, buat kembali caci musuh nya, ia mengatakan pula, "Perempuan bangsat! perempuan busuk dan hina!"

Kali ini bukan cuma Sun Tiong Kun, juga Kiam Hoo dan Cio Cun serta kedua saudara Phang turut jadi gusar Put Cui sampai mencaci. "Makhluk apa itu berani datang mengacau di Hoa San?"

Dengan bawa ruyung besi nya, ia lantas mengejar

Sun Tiong Kun dalam murkanya sesumbar "Jikalau aku tidak bunuh binatang itu, aku sumpah tak mau jadi manusia! Aku tidak perduli biar Sucou kutungi lagi sebatang jerijiku!"

Dia pun mengejar seraya putar gaetannya,

Bwee Kiam Hoo paling sayangi sumoay ini, dipihak lain, ia khawatir sang sumoay nanti kembali bunuh orang, untuk cegah itu, ia ingin mendahului bekuk orang itu.

untuk hajar adat pada nya, supaya adik seperguruan ini puas hati, maka itu ia pun berlompat lari akan mendahului ilmu entengkan tubuhnya ada di atas semua kawannya itu sebentar saja ia sudah berada di sebelah depan mereka.

Musuhnya Tiong Kun itu tampak gelagat jelck, dia lari ke kiri di mana kebetulan ada jalan cagak, Cio Cun bersama dua saudara Phang segera menyerang dengan senjata rahasianya masing-masing, Baru hui hongsekdari Put Po menuju ke arah bebokongorang itu, Dia ini gesit, dia bisa dengar sambaran angin, maka ia berkelit ke kanan. Tetapi "Sreet!" panah tangan dari Ciu Cun mengenai kempolannya, bahna sakit, ia ter-huyung-huyung terus dia rubuh terguling.

Disaat itu, Bwee Kiam Hoo sudah sampai dia lompat untuk mencekuk,

Berbareng dengan itu dari samping terdengar desiran angin, menyambar ke tubuh orang itu, tubuh siapa dilain saat sudah lantas mencelat hampir menubruk orang she Bwee ini.

Kiam Hoo terkejut, dia berkelit ke samping, sekarang dia bisa lihat tubuh orang itu kena terkelit beberapa puluh lembar tambang dan telah terbetot

Sun Tiong Kun dan yang lainnya memburu sampai di situ, mereka lihat kejadian itu, mereka terperanjat

Nyata orang yang toIongi orang yang dikeroyok itu ada satu wanita yang cantik, bajunya putih bagaikan salju, rambutnya yang panjang terurai ke belakang. Tetapi nona ini tak bersepatu dan kedua kaki dan tangannya memakai gelang emas, dandanannya bukan dandanan orang Han, bukan orang suku bangsa Ic. Dan sehabis menoIongi dia lantas berdiri diam sambil tertawa manis, juga di tangan kanannya, yang putih seperti salju, ada terpegang setabung tambang entah terbuat dari kawat entah dari benang,

Dan di belakang si cantik ini berdiri lagi satu wanita muda yang tubuhnya tertutup jubah putih dari kepala sampai ke kaki, hingga terlampak saja wajahnya, Dia beroman cantik tetapi kulitnya pias, tidak gembira, Mereka ini adalah Ho Tek Siu dan A Kiu.

Dilain harinya setelah keberangkatan Sin Cie berantai meninggalkan kota raja, Ou Kui Lam dapat kaburnya halnya Wan Peng tertampak empat jago tua Cio Liang Pay serta Ho Ang Yo berikut Ceng Ceng, maka se pulangnya ia terus beritahukan itu padanya, ia terus beritahukan itu pada kawan-kawannya,

Mendengar halnya ada binatang berbisa dipantek di pojok lemKok, Hb Tek Siu tahu itulah tanda Ngo Tok Kau untuk mengumpuIi orang, ia jadi khawatir Ceng Ceng dapat celaka, ia jadi niat memberi pertolongan kepada si nona, untuk kebaikan Sin Cic. Untuk segera berangkat ia bersangsL ia sudah janjikan Sin Cie akan rawati A Kiu. Bukankah keadaan di kota raja masih kalut? Bukankah A Kiu ada putri raja yang menarik perhatian umum? Maka tidak dapat ia tinggalkan A Kiu seorang diri di kota yang berbahaya itu. Hebat kalau sampai putri ini menghadapi sesuatu, Sesudah lama bersangsi, akhirnya ia ambil putusan akan ajak tuan putri ini.

Ketika A Kiu diberitahukan bahwa ia hendak diajak pergi susul Ceng Ceng, dia menyatakan akur, maka itu, malam itu mereka menulis surat, dan setelah dengan diam- diam A Kiu bersembahyang di kuburan ayahnya, almarhum kaisar Cong Ceng, ia ikut Tek Siu berangkat dari kota raja,

A Kiu belum sembuh betul dari lukanya, akan tetapi ia dapat pelayanan istimewa dari Tek Siu, seorang yang banyak pengalamannya yang pun anggap ia sebagai adik kandungnya, maka walaupun perjalanan dilakukan cepat, ia tidak terlalu menderita, Selama di tengah perjalanan, lukanya terus mendapat kemajuan, ia jadi sangat bersyukur kepada bekas kaucu dari Ngo Tok Kau itu hingga keduanya jadi rapat betul satu dengan lain, Ketika hari itu mereka

1195 mendaki Hoa San, kebetulan mereka saksikan Ang Seng Hay sedang dikepung Sun Tiong Kun beramai maka Tek Siu dengan bandringan Joan-ang-cu-so, "benang kawa- kawa" sudah lantas tolongi orang shc Ang itu,

Memang Seng Hay adalah orang yang hendak ditangkap Kiam Hoo itu.

Dua-dua Bwee Kiam Hoo dan Sun Tiong Kun tidak tahu yang Ang Seng Hay telah turut Sin Cie, mereka juga tidak tahu Ho Tek Siu dan A Kiu orang-orang macam apa, tentu saja mereka jadi gusar, sebab mereka dapat anggapan, orang-orang asing ini berlaku kurang ajar di atas gunung Hoa San, yang menjadi daerah pengaruh mereka,

"Siapa kamu?" Tiong Kun membentak "Apakah kamu semua dari Pun Hay Pay?"

Ho Tek Siu tidak gusar karena teguran itu, ia malah tertawa terus,

"Enci apa shemu yang mulia dan namamu yang besar?" ia tanya dengan hormat

"Entah di dalam hal ini telah bersalah terhadapmu Apakah boleh siaumoay membikin akur kamu berdua pihak?"

Ho Kaucu sengaja membahasakan diri "siaumoay" - adik yang kecil

Tiong Kun dengar suara merdu orang tetapi suara itu mengandung sedikit kejumawaan, sedang dandanan orang luar biasa. ia tetap tidak senang,

"Kamu siluman dari mana?" tanya dia. "Apakah kamu tahu ini tempat apa?"

Tek Siu tidak jawab pertanyaan sombong itu, ia tertawa saja, "Nona Ho, bangsat perempuan ini ada manusia paling jahat!" Seng Hay kasih tahu, "Dia yang dipanggil Hui Thian Ho-Iie si Hantu Wanita, istri serta anak-anakku, juga ibuku yang sudah berumur tujuh puluh lebih, semua terbinasa di tangan dia!"

Seng Hay gusar sekali, hingga matanya bersinar mirip api.

Mendengar perkataan Seng Hay ini, Bwee Kiam Hoo lantas ambil sikap Iain. Memang sejak di Kim-Ieng ia peroleh pengajaran dari Sin Cie, ia telah jadi kuncup banyak, ia juga mengerti, cousunya bakal datang kalau tidak hari ini, tentu besok, maka ia anggap baik jangan timbulkan onar

"Sudah pergi kamu turun gunung, jangan bikin rcwel di sini!" katanya dengan maksud menyudahi urusan.

Phang Put Cui pun turut berkata. "Kamu dengar tidak perkataan susiok ku ini? Lekas kamu pergi, lekas!"

ia lompat mendekati A Kiu niatnya untuk mengusir.

Nona ini memegang tongkat bambu Ceng-tiok-thung di tangan kanannya, ia mengawasi dengan roman agung, Bir,i bagaimana, dia adalah putri raja, dia mempunyai keangkuhan dan keangkerannya sendiri, Maka melihat sikap itu Put Cui heran.

"Apakah kamu datang untuk antari jiwa?" akhirnya Put Cui menegur ia tidak takut, sebaliknya ia jadi gusar: ia lantas ulur tangannya akan sambar baju A Kiu, guna dorong putri ini.

Meski ia belum sembuh anteronya dari lukanya, kendati tangannya tinggal sebelah A Kiu tidak lupa ilmu silatnya warisan dari Thia Ceng Tiok, kematian siapa membuat ia sangat bersih- Maka itu tidak senang ia lantas perlakukan

1197 kasar dari pemuda itu, Tanpa bilang suatu apa, ia geraki tongkatnya,

Tiba-tiba saja Put Cui menjadi limbung, terus ia rubuh celentang, Tetapi ia tidak dilukai, begitu bebokongnya kena tanah ia bisa kerahkan tenaga untuk mencelat bangun, ia masih muda dan tabiatnya keras, dibikin rubuh secara demikian gampang, ia jadi murka, mukanya menjadi merah. ia lantas angkat ruyungnya untuk menyerang,

Tek Siu mengawasi kembali ia tertawa,

Tuan-tuan tok dari Hoa San Pay?" katanya, "Kita adalah orang-orang sendiri!"

"Siapa sudi jadi orang sendiri dengan kamu siluman?" bentak Put Po.

Bwee Kiam Hoo khawatir suasana jadi keruh, ia lantas kedipi dua saudara Phang itu, Sebagai seorang kangouw ia pun telah cukup berpengalaman, ia percaya nona di depannya itu bukan orang tanpa asal-usuL ia juga telah saksikan kepandaiannya,

"Siapakah itu gurumu?" dia tanya,

"Guruku she Wan," Tek Siu jawab, "Namanya di atas Sin, di bawah Cie. Guruku itu ada dari Hoa San Pay."

Bwee Kiam Ho menoleh pada Sun Tiong Kun, selagi sumoay ini pun berpaling kepadanya sebab keduanya heran. Mereka sangsi,

Cio Cun tapinya tertawa, dia kala. "Wan Susiok sendiri masih satu bocah cilik, ilmu silat kaum kita ia baru dapat pelajarkan tiga bagian, maka cara bagaimana dia boleh menerima murid?"

Tek Siu tidak gusar, ia tetap tertawa, "Oh, begitu," tanyanya. Sun Tiong Kun pernah dapat malu dari Sin Cie, malah dia telah ditegur sucounya dan jari tangannya dibabat kutung maka biar bagaimana tidak puas hatinya, Sebagai orang perempuan, ia pun tetap kurang luas pandangannya, Kalau ia dengar orang sebut nama Sin Cie, ia jadi "gatal", kumat kebenciannya, Tapi susiok itu lihay, derajatnya tetap lebih tinggi, ia tidak bisa berbuat suatu apa, Lain dari itu, sekarang ini guru dan subonya hormati sekali paman guru cilik itu, yang pernah to!ongi jiwa anak gurunya, dan saban menyebut nama Sin Cie, kedua guru itu nampaknya sangat berterima kasih hingga ia mesti telan saja kebenciannya, Tapi sekarang ia dengar nona asing ini ada muridnya itu paman guru cilik, tiba-tiba hatinya jadi panas pula,

"Apa benar kau ada murid Hoa San Pay?" dia tanya dengan bengis. "Kenapa kau justru bergaul sama ini manusia tidak tahu malu?"

Dia maksudkan Ang Seng Hay.

"Dia adalah pengiring guruku," TekSiu jawab. Turut penglihatanku, dia bukannya tidak tahu malu! Eh, Seng Hay, kenapa kau menyebabkan nona ini gusar kepada-mu? Kau salah apa?"

sementara itu ke situ telah datang Phang Lan tek bersama Lwee Seng dan lainnya, sebab mereka telah lantas dapat dengar suara berisik dari perselisihan itu,

"Ayah," kata Put Po. "lni anak perempuan bilang dia ada seorang she Wan punya eh, muridnya siau susiok-cou,.,."

"Hm! Apakah yang direwelkan?" Lian Tek tanya.

Put Cui lantas dului kandanya, untuk memberi penuturan

Di dalam tingkat ketiga dari Hoa San Pay, Phang Lian Tek adalah yang usianya paling tinggi, dia pun masuk

1199 belajar paling dahulu, maka itu dalam kalangan kangou dia telah diperoleh nama, hingga dengan sendirinya, dia adalah kepala di dalam kalangannya itu. Ketika dia sudah dengar keterangan anaknya, dia lantas berpaling kepada Sun Tiong Kun.

"Sun Sumoay, bagaimana duduknya maka kau bermusuhan dengan nya ?H ia lanya, ia maksudkan Seng Hay,

Mukanya Tiong Kun menjadi bersemu merah. Kiam Hoo segera menalangi sumoay nya itu,

"lni jahanam mempunyai satu kanda angkat," demikian katanya, "Dia tidak tahu selatan, dia berani melamar Sun Sumoay untuk dijadikan istrinya, karena itu, lamarannya ditolak, dia dimaki..."

"Dia mau terima baik atau menampik ia mara n, itu memang ada hak dia!" Seng Hay nyeletuk. "Akan tetapi kenapa dia tebas kutung kedua kuping saudara angkatku itu?"

"Siapa tanya kau?" memotong Lian Tek dengan mata mendelik

Bwee Kiam Hoo melanjuti, "Jahanam ini lantas kumpul sejumlah kawannya mereka gunai ketika selagi Sun Sumoay berada sendirian, mereka tangkap sumoay dan dibawa lari! Syukur aku bersama suhu keburu dapat tahu dan susul mereka dengan begitu sumoay dapat ditolong."

Kedua matanya Lian Tek berputar, sinarnya tajam sekali,

"Sungguh bernilai besar!" bentaknya kepada Seng Hay, "Jadi sekarang kau masih tidak puas mencari rewel?" "Mereka menculik orang untuk dipaksa suka me-nikah, itu adalah salah mereka," kata Tek Siu yang belakan Seng Hay. "Untuk itu bukankah Sun Sumoay telah bunuh saudara angkatnya itu? Bukankah kau telah diperoleh kepuasan? Maka kenapa kau masih satroni rumah dia ini dimana kau binasakan lagi istrinya, anak-anaknya, dan ibunya yang sudah tua yang telah berumur tujuh puluh tahun lebih? Dalam hal ini aku ingin penjelasan!"

Lian Tek semua lantas merasa, adik seperguruan itu benar keterlaluan

"Pulang pergi, asalnya adalah kau yang jahat!" Put Po masih salahkan Seng Hay, "Sekarang orang sudah mati, habis kau hendak apakah?"

"Cukup!" Tek Siu memotong "Sebentar aku nanti menemui guruku, untuk minta dia yang kasih pertimbangannya."

"Wan Susiok beramai sedang repot, mereka tidak ada tempo." kata Lau pwee Seng.

"Mana suhu?" Kim Hoo tanya,

"Suhu bersama subo, supeh dan susiok lagi repot berdamai untuk menolongi orang," Pwee Seng jawab,

"Kalau begitu," Lian Tek bilang, "Baik ringkus dulu semua mereka ini! sebentar kita minta putusannya suhu dan susiok semua. "

Put Po dan Put Cui menyahuti, lantas mereka maju untuk tangkap tiga orang itu. Put Cui tidak kapok.

Tek Siu menjadi tidak puas melihat orang begini galak, Dia sudah tukar haluan, dia telah coba merubah adat, tetapi belum lenyap semua sifatnya sebagai kaucu, kepala agama. Tadinya dialah yang biasa memerintah maka bagaimana sekarang ia yang hendak diringkus? walaupun ia mendongkol ia masih bisa tertawa geli,

"Kamu hendak meringkus orang?" katanya, "Di sini aku ada sedia tambangnya!"

Dia lantas acungkan Joan-ang Cu-so.

Put Cui melotot

"Siapa kesudian itu!" katanya. Dia lantas maju bersama saudaranya, untuk hampirkan Seng Hay,

Bekas jago dari Put Hay Pay itu tentu saja tidak suka mendekati dirinya diringkus, Kalau tadi dia diam saja, dia suka mengalah kepada Ho Tek Siu, yang ia tahu ke- lihayannya dalam sepak terjang dan dalam ilmu silat

Disaat ketiga"orang itu hampir bergebrak, mendadak mereka dengar suara tertawa di samping mereka, dengan tiba-tiba saja dua saudara Phang merasa kaki meraka terangkat terangkat bersama-sama tubuh mereka, jumpalitan di atas tanah, seperti awan, hingga mereka kaget, semangat mereka seperti terbang, Sebelum mereka jatuh, mereka dengar pula suara tertawa tadi, disusul sama ajaran "Lekas bergerak dengan'Lee-hie hoan sin"! itulah ilmu yang paling rendah, tentu ayahmu sudah mengajari- nya...!"

Phang Put Po turut itu ajaran, dia putar terus tubuhnya dengan gerakan "Lee hie hoan sin" itu ~ "lkan tambra lompat berbalik", maka ketika kedua kakinya turun ke tanah, ia berdiri dengan tetap,

Tidak demikian dengan Put Cui, yang tabiatnya keras, dia justru mencoba menggunai gerakan "Hui pau liu coan" atau "Air tumpah mengalirkan air", benar gerakannya bagus, tetapi dia terlambat, tubuhnya mendahului turun, hingga ia jatuh di tanah dengan duduk numprah, dia

1202 terbanting keras, hingga ia merasakan sangat sakit, sedang malunya bukan main, muka dan kupingnya menjadi merah.

Dua-dua mereka seperti tidak tahu kenapa tubuh mereka terangkat naik dan jadi jumpalitan di udara...

Phang Lian Tek jadi sangat murka karena anaknya dipermainkan

"Hai, siluman!" dia membentak. "Tapi kau bilang kau ada kaum Hoa San Pay, kami sangsi, tapi sekarang kau gunai kepandaianmu yang rendah ini, terang kau bukan orang golongan kami! Mari maju!"

Tidak sempat Pat-bin Wie hong buka kancing bajunya satu demi satu, dengan tangan kirinya ia membetot sebelah baju nya, maka berbareng sama suara memberebet pada putuslah kancing bajunya itu, sesudah mana, baru ia buka bajunya untuk dilemparkan, hingga sekarang terlihat pakaiannya yang berwarna biru dan sepan, sehingga ia nampaknya jadi sangat keren, berdirinya pun tegak bagaikan menara besi,

Masih saja Ho Tek Siu tertawa manis,

"Ai, suheng, apakah kau hendak berlatih silat dengan siaumoay?" tanyanya, itulah bagus! Kita bertaruh secara apa?"

Lian Tek lihat kegesitan orang barusan, tetapi ia tidak jeri, ia percaya benar kepandaiannya, sedang ia ada sangat ternama di See-keng. ia tidak lihat mata pada nona ini. Tapi, meski ia beroman bengis, dan adatnya keras juga, ia welas asih, Maka melihat si nona manis budi, hawa amarahnya menjadi kurangan dengan cepat

Begitulah ia berkata, "Kami berantai adalah orang-orang yang masih dapat diajak bicara, Kalau sebentar Kwie Jie- nio yang keluar, hm... kau nanti tahu rasa. Dia paling benci

1203 kejahatan, kalau dia lihat orang semacam kau, tidak nanti dia mau melepaskannya! sekarang hayo kamu lekas angkat kaki!"

"Kau bukan guruku, hak apa kau punya untuk usir aku?" tanya Tek Siu tetap dengan saban

Put Cui masih tidak puas, tidak perduli sudah dua kali ia peroleh hajaran, Rasa malunya membuat ia nekat. Maka ia kedipi engko,

"Mari kita maju, jangan tanggung-tanggung," katanya. Hampir berbarengi dua saudara itu lompat maju.

Tek Siu lihat sikap dua pemuda itu. ia tertawa.

"Baik, aku akan berdiri diam, tidak bergerak Kamu akur?" dia tanya akan tetapi sikapnya agak menantang, ia lantas lilit tambang Joan-ang Cu-so di pinggangnya, ia pun masuki kedua tangannya ke dalam saku,

Dua saudara Phang maju menyerang, ruyung besi mereka turun menyambar ke arah kepala si nona, Dia ini benar-benar diam saja, tidak menangkis atau berkelit Ketika kedua ruyung hampir mengenai kepala orang, dengan tiba- tiba Put Po dan Put Cui tahan turunnya lebih jauh. Mereka pernah terdidik, maka mereka tidak mau sembarang lukai orang,

"Keluarkan senjatamu!" Put Cui kata.

Tidak usah," jawab Tek Siu sambil tertawa, "Kamu boleh serang aku, tidak nanti kakiku berkisar meski setengah dim, tidak nanti aku tarik keluar tanganku dari saku, asal aku berbuat demikian, anggap saja aku kalah, Kamu akur atau tidak?"

"Jikalau kami kesalahan turun tangan hingga kau jadi terluka, jangan kau penasaran," Put Po bilang, Masih Tek Siu tertawa,

"Jangan omong saja, bocah-bocah." katanya,

Mukanya Put Po menjadi merah, maka tiba-tiba saja ruyungnya melayang dengan gerakan "Keng tek gie kah" atau "Ou-tie Kiong meloloskan jubah perang."

Tek Siu berkelit tanpa ia geser kakinya, maka serangan lewat di tempat kosong.

Di sebelah itu Put Cui yang jadi sengit, lantas hajar pundak orang, ia jadi panas hati mengingat dua kali ia kena dibikin malu,

Tek Siu tetap tidak angkat kakinya, ia cuma berkelit saja, dan ketika dua saudara itu serbu dia saling ganti, tubuhnya kelihatan bergoyang-goyang, tinggi dan rendah, keempat penjuru. Malah ia masih bisa kasih dengar tertawa nya.

Orang banyak menjadi kagum, mereka saling mengawasi Entah ilmu silat apa yang nona ini pertunjuki, sebab sekalipun ujung bajunya tidak dapat terbentur ruyung, itu bukanlah pelajaran dari Hoa San Pay.

Dua saudara Phang jadi kewalahan, tapi mereka penasaran, maka akhirnya dengan satu tanda seruan, dua- duanya menyerang ke bawah, Mereka pikir biar bagaimana tangguh kuda-kuda si nona, dia toh mesti rubuh atau dia mesti angkat kedua kakinya,

"Hati-hati kamu!" seru Tek Siu sambil tertawa, tubuhnya lantas bergerak mendahului ke kiri dan ke kanan, kedua sikunya masing-masing membentur tubuh Put Po dan Put Cu, hingga mereka ini merasakan sakit, tanpa merasa, mereka lepaskan ruyungnya masing-masing, tubuh mereka terhuyung-huyung,

Dalam herannya Phang Uan Tek berseru, "Bwee Sutee, wanita ini aneh, biar aku mencoba-coba." Bwee Kiam Hoo manggut

Lian Tek lantas lompat maju, "Mari aku belajar kenal!" katanya.

Tek Siu lihat tindakan kaki yang antap itu, ia tahu dia ini berkepandaian tinggi, akan tetapi ia tetap masih tertawa, hingga kelihatan lesungnya yang manis, Hanya diam-diam saja ia waspada,

"Jikalau aku tidak sanggup melayani, harap kau tidak tertawakan aku!" dia minta,

"Baik!" jawab Lian Tek. "Kau mulailah."

ia geraki kedua tangannya, lantas ia rangkap itu,

Tek Siu rangkap kedua tangannya, untuk membalas hormat

Gerakan Lian Tek ada "Phe-giok-kun" atau "Kepala memecahkan batu kumala", selagi ia bergerak, anginnya menyambar, tetapi balasan Tek Siu telah menolak mundur anginnya itu, hingga ia jadi kagum

"Bagus!" katanya di dalam hati,

Disaat Pat Biw Wie hong hendak mulai dengan serangannya, tiba-tiba mereka dengar suara berisik di tengah gunung, terdengar teriakan-teriakan rupanya dari orang yang sedang berkelahi atau saling kejar Saking heran, ia merandek, matanya mengawasi si nona,

Tek Siu tertawa.

"Apa kau curigai aku membawa kawan?" kata si nona sambil tertawa, "Mari kita lihat dulu, sebentar baru kita mulai bertanding, Tidakkah baik begitu?" Lian Tek tidak lantas menjawab, ia hanya berpaling ke arah darimana suara itu datang, Suara itu terdengar semakin dekat Malah di antaranya ada suara orang perempuan, yang gusar dan mencaci

"Baik," katanya kemudian seraya manggut

Semua orang lantas memburu, untuk bisa melihat dari dekat

"Seorang wanita dengan pakaian serba merah, lagi berlari-lari mendaki, di belakangnya mengejar empat orang lelaki dengan tubuh mereka besar-besar, semuanya dengan mencekal senjata, Wanita itu dapat lihat ada orang di atas gunung, dia lari semakin keras. Malah segera ia lihat tubuh besar dari Phang Lian Tek.

"Pat bin Wie hong tolongi aku!" dia berteriak,

Phang Lian Tek terkejut, ia mengawasi "Ha, itu toh Ang Nio Cu!" serunya,

Sebentar saja, wanita yang dipanggil Ang Nio Cu itu sudah sampai di antara Phang Lian Tek. Nyata dia telah bermandikan darah dan lebih bukan main, Barusan ia telah habiskan setakar tenaganya, maka begitu ia sampai terus saja ia rubuh, dengan pingsan juga,

Empat orang itu juga sudah lantas sampai, mereka tidak perdulikan orang banyak, mereka lari terus pada Ang Nio Cu itu, yang rupanya mereka hendak bekuk,

Phang Lian Tek lantas majukan tangannya yang kiri untuk cegah majunya orang yang pa!ing terdepan,

Orang itu menjaga dengan tangan kanannya, ketika kedua tangan bentrok, terdengar suara beradunya yang keras sesudah mana keduanya mundur sendirinya tanpa merasa, Maka itu, mereka saling mengawasi dengan hati heran, Sebab mereka masing-masing merasakan ketangguhan orang.

Lantas orang ini kata, dengan suara membentak "Kami datang kemari atas titah Song Kunsu dari markas Giam Ong, untuk tawan ini Ang Nio Cu, istri pengkhianat Lie Gam! Kenapa kau berani menghalangi kami?"

Begitu dengar orang sebut nama Lie Gam, ada saudara angkat gurunya, Maka tanpa tunggu jawabannya Lian Tek, ia maju ke depan,

"Lie Gam itu ada satu enghiong, di kolong langit ini, siapakah tidak kenal dia?" katanya sembari tertawa. "Aku minta tuan suka memandang kepada siaumoay, harap dia tidak dibikin susah."

Orang itu bersikap sangat jumawa, rupanya ia andali sangat ilmu silatnya, sama sekali ia tidak pandang mata pada si nona Ho. ia titahkan tiga kawannya pergi ringkus si Ang Nio Cu, si nona Baju Merah,

"Baik!" kata Tek Siu. "Nyata kamu sudah tidak inginkan jiwamu!"

Dengan tangan kanannya, ia meraba ke pinggangnya di mana ada tersimpan paku rahasia beracun, "Hum see shia eng", atau "Menggenggam pasir, memanah bajangan". Begitu ia menekan pesawatnya, senjata rahasia itu lantas menyerang,

Orang yang maju di muka segera terserang jitu, mukanya tertancap tujuh atau delapan batang paku berbisa, tanpa menjerit lagi, dia rubuh, jiwanya lantas melayang,

Tiga orang lainnya menjadi sangat kaget, hingga mereka melongo, wajah mereka berubah,

"Siapa kau?" tanya mereka berubah "Sampai sebegitu jauh, Ho Tiat Chiu terus sembunyikan tangan kirinya, di dalam tangan bajunya yang panjang malah ketika tadi ia layani dua saudara Phang, ia tidak pernah perlihatkan itu, tetapi sekarang atas teguran orang, dengan lantas ia kibaskan tangan bajunya, ia kasih lihat tangannya yang merasakan gaetan itu,

Bukan main kagetnya tiga orang itu, apa pula yang menjadi kepala,

HKau... kau.,., Ho Kaucu dari Ngo Tok Kau.,.?" katanya, menegasi,

Ho Tiat Chiu bersenyum, ia lantas mengibas dengan tangan kanan, hingga ia perlihatkan gaetan emasnya,

Melihat itu, tanpa bilang suatu apa lagi, tiga orang itu putar tubuh mereka, untuk segera lari turun gunung, sampai tak mau mereka memondong pergi mayat kawan mereka, itulah menyatakan semangat mereka seperti sudah terbang, Malah satu orang lagi dia terpeleset dan rubuh, tubuhnya berge1indingan.

Bwee Kiam Hoo semua heran kenapa tiga orang itu yang tadinya demikian garang, takut kepada si nona asing sampai sedemikian rupa. Cuma Phang Lian Tek dan Bwce Kiam Hoo yang pernah dengar nama besar kaum Ngo Tok Kau.

Dua saudara ini lantas mencoba memimpin bangun Ang Nio Cu dengan niat minta keterangan kenapa dia dikepung empat orang itu. Tapi belum sampai mereka menanya mereka dapat dengar satu suara yang nyaring sekali,

"Hai, tiga manusia tidak punya guna! Pergi kamu semua!"

Suara nyaring itu seperti suara mendengungnya lonceng kuil, yang berkumandang di tengah lembah, dan orang yang mengeluarkannya ada satu imam jangkung sekali yang

1209 tubuhnya kurus dia perdengarkan suaranya itu sambil memandang kepada tiga orang yang kabur tadi,

Tiga orang itu dengar suara nyaring itu, mereka berhenti Iari, apabila mereka lihat si imam, nampaknya mereka menjadi girang, maka bukannya mereka lari terus, sebaliknya mereka mendaki lagi, untuk menghampirkan,

Semua orang serombongan Bwee Kiam Hoo mengawasi imam itu, jubah siapa mewah sekali, bukan terbuat dari sutera bukan juga dari cita biasa, Dan kopiahnya telah ditabur dengan sepotong batu pualam yang indah tanpa bandingannya, sinarnya menyorot ke empat penjuru.

Imam ini menggendol sebatang pedang panjang di bebokongnya. Dia mempunyai sepasang alis panjang yang hampir menyambung sama rambut di pelipisnya, roman- nya suci dan agung, usianya kira-kira lima puluh tahun.

Phang Lian Tek lantas maju untuk memberi hormat "Totiang,"   katanya,   "Maukah   totiang   perkenalkan

gelaranmu yang mulia kepada kami? Adakah totiang

menjadi sahabat dari cousu kami?"

imam itu tidak menjawab, ia kibaskan tangannya yang kanan di mana ia cekal sebatang hudtim, kebutan suci, kemudian ia awasi semua orang.

"Kamu berkumpul di sini, apa kamu sedang bikin?" dia tanya.

"Coucu kami mengumpulkan semua murid untuk berapat," Lian Tek jawab.

"Ha apakah Bok Jin Ceng sudah datang?" tanya si imam.

Lian Tek dengar orang sebut langsung nama cou-sunya ia mau percaya benardugaan bahwa imam jangkung kurus ini ada sahabat kekal dari cousunya karena itu, tidak berani dia berlaku ayal

"Cousu masih belum tiba," sahutnya dengan lebih hormat

imam itu tersenyum, terus ia berpaling sambil menunjuk Sun Tiong Kun, Tek Siu dan A Kiu bertiga,

"Lau Bok telah dapatkan bukan sedikit murid-murid perempuan yang cantik molek!" katanya, ia gunai kata-kata "Lau Bok" atau "Bok si tua" kepada Bok Jin Ceng. "Sungguh dia sangat beruntung! Eh, mari kamu bertiga, mari datang dekat kepadaku sini, untuk aku lihat."

Semua orang terperanjat itu ada kata-kata tidak sopan. "Kau siapa?" tanya Sun Tiong Kun yang keras tabiat-

nya.

Si imam tertawa,

"Sudahlah!" katanya, "Mari kamu turut toya pulang, nanti dengan perlahan-lahan toya beri keterangan kepada kamu,.,."

Sun Tiong Kun jadi makin gusar, Nyata imam ini ceriwis sekali,

"Kau makhluk apa berani kurang ajar di sini!" ia bentak sambil ia maju setindak,

Masih imam itu tertawa, malah sekarang ia tertawa haha hihi, ia pun angkat sebelah tangannya, untuk dibawa ke muka Tiong Kun, guna usap pipi orang, setelah mana, ia bawa pula tangannya itu ke arah hidungnya untuk diciumi

"Sungguh harum!" katanya pula, terus sambil tertawa.

Dalam murkanya yang meluap, Sun Tiong Kun menikam dengan sebilah gaetannya, Si imam cuma geraki sedikit tangan atau tahu-tahu ia sudah cekal tangannya si Nona Sun, terpencet, hingga habis segera tenaga nona itu, seluruh tubuhnya jadi lemas.

Secara sangat cepat dan gampang imam itu sudah lantas rangkul Tiong Kun muka siapa ia pun cium.

"Sungguh tidak jelek nona kecil ini!" katanya pula. "Phang Lian Tek, Bwee Kiam Hoo dan Lau Pwee Seng

jadi sangat kaget berbareng sangat gusar, dengan serentak

mereka maju untuk menerjang.

Si imam menjejak dengan kedua kakinya, sekejap saja ia sudah lompat mundur beberapa tindak, dengan tangan kirinya, ia masih pcluki Tiong Kun. ia bawa orang gerakannya toh gesit dan enteng,

Menampak gerakan ini, kecuali persaudaraan Phang dan lainnya, Ciu Cun semua terperanjat Mereka lantas insyaf, imam ini sangat lihay. Mereka tergugu, Tahulah mereka, mereka bukan tandingan si imam, Akan tetapi, Sun Tiong Kun masih dipeluki orang, nona itu tidak mampu berontak, pasti sekali tak dapat mereka peluk tangan saja, Maka dengan terpaksa mereka maju,

imam itu tersenyum, tangan kanannya bergerak, Cepat luar biasa, orang segera lihat suatu benda berkilau, angin mendesir dingin, Tahu-tahu si imam sudah hunus pedangnya yang tadi tergendol di bebokongnya.

Bu-eng-cu Bwee Kiam Hoo si Tak Ada Bajangannya, bertubuh paling gesit diantara saudara-saudara seperguruannya, ia pun paling menyayangi Sun Tiong Kun, tidak heran kalau dialah yang lompat paling depan, Akan tetapi, kapan ia telah saksikan pedang si imam, tidak berani ia bentur pedang itu, yang mesti ada pedang musti ka. Maka ketika tiga kali ia mendesak, setiap kalinya ditangkis, ia egos pedangnya, ia menyerang hanya lempat-lempat kosong.

Menghadapi pedang mustika, Kiam Hoo sudah punyakan sedikit pengalaman ialah ketika di Lamkhia ia tempur Wan Sin Cie, beberapa tebasan pedangnya paman guru cilik itu membuat pedangnya sendiri kutung, hingga karenanya, ia insyaf kepandaiannya masih jauh belum sempurna, dari itu belakang ia minta gurunya ajarkan dia terlebih jauh ilmu pedang, Selama setengah tahun, Tidak pernah ia keluar dari pintu pekarangan, karenanya ia telah peroleh kemajuan pesat. Demikian sekarang ia bisa berkelahi dengan baik.

"Tidak jelek!" memuji si imam apabila ia telah saksikan serangan orang beruIang-u1ang.

Memang tiga serangan saling susul itu ada serangan- serangan Kiam Hoo yang paling berbahaya dan telengas,

Akan tetapi pujian si imam belum habis diucapkan atau dengan tiba-tiba pedang penyerangnya telah kutung menjadi dua, atas mana, Kiam Hoo kaget tidak terkira,

Menurut kebiasaan di kalangan ilmu silat, siapa pedangnya terbabat kutung ia mesti timpuk lawannya dengan ujung pedang, habis itu ia mesti lekas lompat mundur, akan berdaya terlebih jauh guna lawan musuh, Kiam Hoo tidak berbuat demikian, ia khawatir dengan menyambit si imam, nanti Tiong Kun yang dapat celaka, Dari itu ia lantas lompat mundur Walau demikian kendati ia ada si Tak Ada Bajangannya, meski tubuhnya sangat enteng dan gerakannya gesit sekali, ketika ia berlompat, tidak urung "Sret!" ikat rambut di embun-embunannya telah tersabet putus!

0o-d.w-o0