-->

Pedang Ular Emas Bab 24

Bab ke 24

Orang itu memakai pakaian kasar dan sepatunya sepatu rumput, di bebokongnya ada golok panjang, Sin Qe lantas kenali, dia adalah Cui Hie Bin, keponakannya Cui Ciu San.

"Ada apakah?" ia tanya pemuda itu.

Hie Bin tidak lantas menyahuti, ia hanya keluarkan sesampul surat dari sakunya, ia haturkan itu kepada ini "paman cilik" (siau susiok),

Sin Cie awasi surat itu, ia baca alamatnya, "Kepada murid-muridku!" ia kenali surat gurunya, maka ia lantas menjura, habis itu ia menyambuti dengan kedua tangan nya. Kemudian ia buka sampul itu, akan keluarkan suratnya untuk dibaca,

Guru itu menulis ringkas saja.

"Kami kaum Hoa San Pay mempunyai pesan turun menurun ialah sesuatu murid tak dapat pangku pangkat di dalam pemerintahan Karena sekarang Giam Ong sudah berhasil dengan pergerakannya yang besar, murid-murid kita pun sudah lakukan tugasnya, maka sesuatu murid mesti lantas undurkan diri Nanti di malaman bulan purnama dari bulan keempat kamu mesti berkumpul di puncak Hoa San.

Surat itu dibubuhkan tanda tangan dua huruf "Jin Ceng".

Sin Cie kaget

"Kalau begitu temponya rapat tidak ada satu bulan lagi kita mesti berangkat sekarang!" kata dia.

"Memang, Pamanku juga hendak lantas berangkat," Hie Bin kasih tahu.

"Mari kita pulang!" Sin Cie mengajak Maka mereka berjalan dengan cepat

Begitu lekas Sin Cie memasuki gang di mana terletak rumahnya, ia dengar ramai suara beradunya pelbagai alat senjata, ia juga dengar suara cacian, ia jadi kaget maka ia lantas lari

Beberapa serdadu Beng kelihatan lari serabutan.

Tentara Beng Tiau sudah buyar kenapa di sini masih ada lagi?" pemuda ini pikir.

ia lari semakin keras, hingga tibalah ia di depan rumahnya.

Di ambang pintu, Ho Tek Siu sedang labrak belasan serdadu Beng, yang berada di dalam rumah yang nampaknya hendak nerobos keluar Untung untuk mereka ini mereka hanya diancam saja, untuk dicegah lo!os, Kapan Tek Siu lihat gurunya datang, ia bersenyum ia lantas lompat minggir

Maka serentak belasan serdadu peng itu lari keluar, saling tabrak hingga ada yang ngusruk jatuh, sebentar saja tidak kelihatan bajangan mereka juga,

Selagi gurunya pandang dia, Tek Siu tertawa, "Serdadu-serdadu Beng itu lihat rumah kita besar, mereka menyerang masuk untuk menggarong!" katanya,

Sin Cie bersenyum,

"Syukur aku keburu pulang, kalau tidak celakalah mereka!" bilangnya,

"Bertiga mereka masuk ke dalam, justru mereka berpapasan dengan Ang Seng Hay, yang mendatangi sambil berlari keras, mukanya pucat sekali romannya sangat tegang,

"Celaka! Celaka!" demikian teriakannya beru1ang-ulang, "Ada apakah?" tanya Sin Cie yang menjadi kaget

Thia.... Thia... Thia Lo hucu...!" kata Seng Hay yang tak dapat bicara jelas,

Melihat demikian, Sin Cie serta yang lainnya segera memburu ke kamarnya Thia Ceng Tiok, ketua dari Ceng Tiok Pay. Begitu sampai di dalam kamar, semua orang kaget tidak terkira,

Thia Ceng Tiok berlutut dengan tubuh sudah menjadi mayat golok tajam mengkilap nancap di dadanya,

Tangkap si pembunuh!" berteriak See Thian Kong yang menjadi gusar bukan kepa1ang. Malah ia segera mendahului lompat keluar jendela,

Ou Kui Lam Ho Tek Siu dan beberapa yang lain turut lompat keluar untuk susul si pembunuh,

Sin Cie cari tahu napasnya Ceng Tiok hidungnya benar- benar napasnya ketua Ceng Tok Pay itu sudah berhenti, malah tubuhnya pun sudah jadi dingin, Jadi dia telah menutup mata sejak sekian lama, jadi kematiannya diketahui sesudah terlambat Kemudian anak muda itu perhatikan golok yang nancap di dada kawan itu. Di gagang golok terikat selembar kertas yang ada tulisannya, terdiri hanya dari delapan huruf yang artinya, "Hamba yang rendah mati bersama-sama Sri Baginda."

Surat peninggalan itu membuktikan Thia Ceng Tiok bukan mati dibunuh, dia hanya bunuh diri berkorban untuk junjungannya, Rupanya bekas pahlawan raja ini telah lantas dengar kematian dari kaisar Cong Ceng dan segera korbankan diri karenanya, untuk unjuki kesetiaannya terhadap raja itu yang dia tetap cintai.

Tanpa merasa, saking terharu, Sin Cie meneteskan air mata. ia kagumi ketua dari Ceng Tiok Pay ini yang tidak melupakan junjungannya walaupun dia telah diperlakukan tak selayaknya oleh junjungan itu.

Lantas anak muda itu perintah orang susul See Thian Kong semua sambil berbareng perintah orang lekas beli peti mati dan lainnya barang keperluan untuk urusan jenazahnya Ceng Tiok,

Sebagai ketua dari Ceng Tiok Pay, jenazah Thian Ceng Tiok tidak dapat dirawat sembarangan saja, akan tetapi suasana sedang kacau, terpaksa segala apa dilakukan secara sederhana, Semua anggota Ceng Tiok Pay juga tidak dapat diberi kabar lagi Di itu hari juga, jenazah dikubur dengan semua orang unjuk hormat mereka yang terakhir

Selama kerepotan mengurus jenazah itu, Ceng Ceng seorang saja yang tidak kelihatan muncul Mulanya Sin Cie tidak menaruh perhatian adalah kemudian ia tanyakan Wan Jie. "Mana Nona Hee?"

"Sudah sekian lama aku tidak lihat, nanti aku panggil dia," kata nona Ciau yang lincah, ia lantas pergi ke kamar Ceng Ceng, akan terus mengetok pintuk dengan perlahan, "Adik Ceng, adik Ceng!" ia memanggil

Tidak ada jawaban,

Wan Jie ulangi ketokan pada pintu, ia pun memanggil berulang-ulang tetapi tetap tidak ada jawaban, sampai Sin Cie datang sendiri Karena heran, anak muda ini tolak pintu yang terus terbuka, Nyata kamar itu kosong, malah pakaian pedang dan abu ibunya si nona telah bawa semua!

Setelah melengak sekian lama, Sin Cie coba memeriksa kamar itu, sampai di bawah bantal ia dapatkan sepotong kertas yang ada tulisannya ringkas saja bunyinya.

"Karena sudah ada kim-kie giok yap, buat apa ada aku si orang rakyat jelata."

Kembali Sin Cie melongo sebab pikirannya kusut sekali ia mengerti kenapa Ceng Ceng kabur sebab dia bercemburu terhadap A Kiu alias Tiang Peng Kong-cu. Kata "kim-kie giok yap" itu - "cabang emas dan daun kumala" - berarti putri raja. ia menyesal untuk sifat cupat dari nona itu yang masih tidak bisa mengatasi diri

"Adik Ceng, kelihatannya tetap kau belum mengerti aku," ia mengeluh di dalam hati ia pun berkhawatir sekali ia langit "DuIu dia buron, hampir dia celaka di tangan orang asing, sekarang dia kabur pu!a, selagi suasana begini keruh, Kemudian dia pergi?"

Duduk di atas pembaringan, Sin Cie berdiam saja,

Wan Jie heran, ia pergi keluar, untuk memberi kawan- kawannya maka orang lantas pada masuk, antaranya ada yang menghiburkan, ada yang memberi pikiran,

Wan Jie masih muda tetapi cerdas sekali "Wan Siangkong," katanya "Sekarang ini tidak ada faedahnya akan kau berkhawatir atau berduka saja, Nona Hee gagah, siapa berani main gila terhadapnya? Aku pikir baik urusan jatuh begini waktunya rapat di gunung Hoa San sudah sangat mendesak, baik siangkong segera berangkat bersama paman A Pa, enci Ho serta lainnya, Biar aku sendiri berdiam di sini untuk rawat enci A Kiu, See Siokhu bersama Thie Losu, Ou Siokhu dan semua orang Kim Liong Pang pun akan tetap berdiam di sini untuk berikhtiar membantu cari nona Hee. Kiia nanti kirim pemberitahuan ke seluruh tujuh propinsi supaya semua saudara nanti tolong mencari juga serta memperhatikan nona Hee itu."

Sin Cie manggut-manggut mendengari nona Ciau itu. "Bagus pikiran kau, nona Ciau," katanya. "Baik, aku

nanti bekerja menuruti kau. Hanya mengenai Tek Siu, aku

pikir baik ia tidak usah turut, ia boleh berdiam saja sama kau di sini. sekarang ini ia belum resmi menjadi anggota partai kami Hoa San Pay."

Kedua matanya Tek Siu bersinar kapan ia dengar perkataannya guru ini. Tadinya ia hendak bicara, tetapi mendadakkan ia bata ikan itu, Tiba-tiba saja ia ingat Ceng Ceng juga agaknya cemburui ia. jadi kalau ia ikut anak muda itu, si anak muda akan jadi kurang merdeka. Akhirnya terus tutup mufut, ia melainkan bersenyum, Tetapi, di dalam hatinya ia kata. "Kau tidak suka ajak aku pergi ke Hoa San, aku toh bisa pergi sendiri!"

Nona Ho ada bekas pemimpin Ngo Tok Kau, ia sudah biasa ambil putusan sendiri, sudah biasa ia bertindak sendirian, walaupun ia telah ubah haluan, masih ada sisa- sisa adatnya ilu. Maka itu, setelah ambil putusan akan pergi seorang diri ke Hoa San, ia terus pikirkan dayanya bagaimana agar ia bisa bertamu sama Couspe, pemimpin dari Hoa San Pay.

1143 Setelah bersiap, Sin Cie menghadap Tiong Ong untuk beritahukan maksud kepergian berapat di Hoa San, untuk pamitan, ia juga ambil selamat berpisah dari Lic Gam.

Tiong Ong memberi persen banyak barang pcrmata, Tempo Sin Cie hendak menampik, Lie Gam kedipi mata padanya, maka ia lantas terima sambil menghaturkan terima kasih,

Ketika Lie Gam antar saudara ini keluar dari istana, ia menghela napas dan kata, "Saudara kau telah berhasil lantas sekarang kau undurkan diri, inilah tindakan paling tepat Di sini aku merasai gencetannya manusia rendah akan tetapi tak dapat aku meletaki jabatanku, maka aku ingin pertaruhan jiwaku untuk membalas budinya Tiong 0ng. "

Wajahnya jenderal ini menjadi guram,

"Toako, jaga saja dirimu hati-hati," Sin Cie pesan, "Umpama kata kau menghadapi sesuatu bahaya, meski juga aku berada jauh selaksa lie, pasti aku akan datang untuk menyusulmu!"

Sambil linangan air mata, dua saudara angkat ini berpisahan,

Besoknya Sin Cie berangkat dengan menunggang kuda hitam hadiah dari Giam Ong bersama ia turut A Pa si empe gagu, Cui Ciu San,. Cui Hie Bin, An Toa Nio, An Siau Hui dan Ang Seng Hay enam orang berikut Thay Wie dan Siau Koay, kedua binatang piaraannya, Mereka ambil tujuan Barat, menuju ke Hoa San. Mereka menunggang kuda pilihan, maka itu dengan lekas mereka telah sampai di Wan-peng dimana mereka singgah di holcl, untuk beristirahat

Besoknya pagi habis bersantap dengan matanya yang awas, Seng Hay lihat seekor kalajengking dan seekor kelabang di pojok tembok, dipantek dengan paku, ia bercckat hati, segera ia tarik ujung baju Sin Cie untuk kisiki majikan ini,

Kapan si anak muda saksikan dua ekor binatang berbusa itu diam-diam ia manggut ia mengerti, dua binatang itu mesti ada hubungannya sama Ngo Tok Kau, maka ia sayangi Ho Tek Siu tidak turut bersama, kalau tidak tentulah murid itu bisa memberi penjelasan

Seng Hay cerdik, ia dekati jongos untuk diajak bicara hal yang tidak ada kepentingannya, setelah mana, ia tunjuk kala dan kelabang itu sambit kata, "Dua binatang berbisa di tembok itu tentulah dipantek oleh beberapa orang yang berbicara dengan lidah Selatan?"

Sang jongos tidak curiga, malah ketika ia menJawab, ia tertawa,

"Jikalau tidak karena telah dapat uang ingin aku buang saja dua makhluk jahat itu. S unggun menyebalkan." demikian jawabnya, ia tekuk-tekuk jarinya, "Belum sampai dua hari, orang-orang yang menanyakan itu seperti kau tuan ada belasan banyaknya!"

"Srapa sebenarnya yang telah pantek binatang itu?" "Seorang pengemis wanita tua!"

Seng Hay segera lirik Sin Cie.

"Siapa saja yang telah menanyakannya?" tanya dia sambil dia sesapkan sepotong perak hancur di tangannya

si jongos,

"Kalau bukan segala tukang minta-minta tentu segala orang tidak karuan!" sahut jongos itu sambil tertawa, "Aku tidak sangka, tuan kau pun menanyakannya! Ah, kau upahi aku. " "Ketika si uwa pantek paku itu, siapa saja yang melihat dia?" Sin Cie turut menanya.

"ltu hari sungguh kebetulan!" berkata si jongos. "Mulanya satu siangkong muda dan cakap, yang minum

arak sendirian saja"

"Beberapa usianya siangkong itu? Bagaimana dandanannya?"

"Nampaknya dia lebih muda sedikit daripada kau siangkong. Dia demikian cakap hingga tadinya aku menyangka kepada anak wayang, Setelah dilihat pedang di pinggangnya, baru aku ubah dugaanku itu. Dia seperti lagi kematian sanaknya, mukanya lesu, sepasang alisnya mengkerut, Dia minum arak akan tetapi kedua matanya merah, Melihat dia, orang bisa merasa kasihan. "

Orang segera menduga pada Ceng Ceng.

"Eh, kau jangan omong sembarangan!" Hi'e Bin menegur ia anggap sial akan sebut Ceng Ceng kematian orang di rumahnya. "

Kaget jongos itu tapi ia terus susuti meja.

"Apakah tuan-tuan hendak berangkat sekarang?" dia tanya,

"Habis bagaimana?" Sin Cie masih tanya.

Jongos itu masih melirik pada Hie Bin, baru ia menyahut "Selagi siangkong itu minum, aku dengar tindakan kaki di tangga lauteng, lantas aku lihat datangnya seorang tua, Rambutdan kumis jenggotnya putih semua, akan tetapi roman dan tubuhnya masih kekar sekali Dia membawa sepotong tongkat yang ia taruhnya sambil diketruki keras di lantai sampai cawan-cawan di atas meja turut menggetar.

Sin Cie terkejut

1146 "ltulah Un Beng San," pikirnya. "Ceng Ceng bertemu sama Samyayanya, cara bagaimana dia dapat loloskan diri...?"

"Orang tua itu duduk di meja di samping mejanya siangkong itu," jongos melanjuti, Dia lantas minta arak dan sayurannya, Dia baru duduk, lantas datang seorang tua tain, Anehnya beruntun telah datang semuanya empat orang tua, semua rambut dan kumisnya putih, mukanya merah segar Senjata mereka ini ada yang tombak cagak pendek, ada yang runcing kulit Mereka tidak melihat satu pada lain akan tetapi mereka duduk masing-masing di satu meja yang aneh ialah mereka kitari si siangkong. Hal itu membuat aku sangat heran, Habis itu tidak lama datanglah si pengemis wanita tua. Mulanya majikan hendak usir pengemis ini siapa tahu, Trang!" ia membuat satu suara nyaring, hingga aku terkejut Tuan sangka apa sudah terjadi?"

"Apakah itu?" Hie Bin balik tanya,

"lni dia yang dibilang, Malaikat Uang berkeredong kulit anjing, orang tidak dapat dilihat dari wajahnya saja." jawab si jongos yang tegas kekagumannya, "Suara nyaring itu adalah sepotong besar perak, yang dilemparkan di meja kuasa, Kemudian, sambil memandang dan menuding kepada empat orang tua itu ia bilang, "Uang mukanya semua tuan-tuan itu masuki dalam perhitunganku Tuan, pernahkan tuan bertemu dengan pengemis wanita itu?"

Sin Cie menjadi sibuk, dia gelisah,

"Empat jago dari Cio Liang Pay sudah tak dapat dilawan Ceng Ceng, sekarang muncul Ho Ang Yo! itulah hebat - pikirnya,

Gembira sangat si jongos dengan penuturannya, tanpa tunggu jawaban si anak muda, ia sudah meneruskan

1147 "Walaupun uang arak mereka telah dibayarkan, empat orang tua itu tidak memperdulikannya, mereka terus repot dengan arak mereka sendiri Maka si uwa jadi mendongkol dengan tiba-tiba ia berseru, sebelah tangannya diayun, lantas satu benda putih mengkilap menyambar orang tua yang membawa tongkat."

"Jangan ngeberahol!" Hie Bin tertegun "Mungkinkah pengemis wanita itu punya pedang wasiat?"

"Untung apa aku mendusta?" balik tanya si jongos, "Memang itu bukannya pedang wasiat akan tetapi bedanya tak banyak! Si orang tua angkat sumpitnya, akan tanggapi serangan Segera terdengar suara nyaring, suara bentrokan di antara senjata dan sumpit itu. Habis itu aku tampak sumpit merupakan gagang rencengan Ketika aku mulanya melihat aku kaget bukan main! Tahukah kau apa adanya benda yang dipakai menyerang itu?"

"Apakah itu?" Hie Bin tanya,

"ltu adalah serenceng sarung kuku! Dan semuanya kena tercantol di antara sumpit! Saking kagum, aku berseru dengan pujianku, Selagi aku memuji, aku dengar satu suara nyaring, Apakah suara itu kau tahu?"

"Apakah itu?" "Kau lihat ini."

"Jongos itu tarik tangan Hie Bin untuk bawa dia kepada buah meja, untuk unjuki pinggiran meja itu.

Di atas meja itu ada satu lubang yang kecil, ketika jongos ambil sebatang sumpit dan memasukinya ke dalam lubang itu, tepat busurnya.

"lnilah sumpitnya si orang tua, yang ditancapkan ke meja ini," jongos itu menjelaskan "Tidakkah itu ada kepandaian yang luar biasa? Mungkin si pengemis wanita melihat dia tidak punya kesanggupan melawan dia lantas lari keluar Kemudian, setelah si siangkong berlalu ber-sama-sama empat orang tua itu, Rupanya mereka ada dari satu rombongan, yang mengatur diri demikian rupa untuk layani si pengemis wanita tua itu. "

"Ke arah mana perginya mereka itu?" tanya Sin Cie diakhirnya,

"Mereka menuju ke Liang hiang, dusun di barat selatan sana," sahut sang jongos, Tidak lama seberangkatnya mereka itu si pengemis wanita tua datang puIa, kali ini dia tinggalkan kala dan kelabangnya itu. Dia lelah berikan sepotong perak kepadaku dengan pesan agar aku jagai itu kedua binatang berbisa supaya jangan ada yang ganggu, Selama ini keamanan ada sangat terganggu, majikan lelaki ingin tutup perusahaannya ini, nyonya majikan tidak mengijinkannya maka perusahaan di1an-jutinya. "

Sin Cie tidak tunggu sampai orang ngoceh habis, ia lantas lari keluar.

"Mari kita susul!" serunya pada kawan-kawannya, Maka semua memburu keluar untuk naik atas kuda mereka dan kabur.

Pada hari itu ia minggat, Ceng Ceng sedang mendongkol dan berduka, Setelah ambil putusan akan bawa abu ibunya ke Hoa San, untuk dikubur jadi satu dengan jenazah ayahnya, Malah ia telah ambil keputusan sesudah penguburan ayah dan ibunya itu ia akan habiskan jiwanya dengan bunuh diri di samping kuburan ayah dan bundanya itu.... ia merasa sangat tidak beruntung, sebab dapati bakal suami yang tidak mencinta....

Ceng Ceng mampir di Wan peng dengan niatan menghibur diri ia tidak sangka disitu ia bertemu sama

1149 keempat yayanya yang segera kurung padanya, kemudian datang Ho Ang Yo yang sudah adu kepandaian, hingga Un Beng San perlunjuki kelihayannya akan bikin kuncup nyalinya pahlawan Ngo Tok Kau itu hingga nyonya itu mundur sendirinya,

Tahu bahwa dia tidak punya harapan akan lolos lagi dari tangannya keempat yaya itu, Ceng Ceng dapat mengatasi diri, hingga selanjutnya ia tidak jeri Iagi. ia hanya khawatir ia nanti lantas dibikin mati di situ juga sedang giatnya adalah supaya ia bisa lebih dahulu mempersatukan dan mengubur abu ibunya dengan tu!ang-tulang ayahnya. ia ada cerdik, dalam saat berbahaya itu, ia masih dapat akal

Toa yaya," ia mendengar Un Beng Tat sambil ia hampirkan yaya yang terus itu, untuk beri hormatnya, sesudah mana ia juga kasih hormat kepada ketiga yaya lainnya,

Empat yaya itu heran menampak orang tak jeri sedikit juga terhadap mereka hingga mereka mengawasi saja.

"Suwie-yaya hendak pergi ke mana?" kemudian Ceng ceng tanya sambil ia tertawa.

"Kau sendiri hendak pergi ke mana?" Beng San tanya, "Aku sedang tunggu sahabatku she Wan karena kita

lelah berjanji akan bertemu di sini." Ceng Ceng jawab

dengan karangannya belaka, "la masih belum sampai. "

Kelihatannya keempat yaya itu terkejut mendengar disebutnya nama Sin Cie, malah Un Beng Gie, si Jie yaya segera berbangkit

"Lekas ikut kami!" katanya,

"Aku lagi tunggu kawan. " Ceng Ceng berpura-pura, Beng Gie ulur sebelah tangannya bagaikan berke1e- batnya kilat, sampai tahu-tahu Ceng Ceng merasai lengannya tercekal keras nadinya kena dipencet, hingga tanpa berdaya, ia mesti ikut bertindak keluar rumah makan, ia terus diajak naik bersama ke atas seekor kuda yang segera dilarikan keras ke luar kota, terus sampai di suatu tempat yang sepi sekali, Di sini mereka berhenti dan turun di bawah sebuah pohon besar, Tapi si nona dijoroki hingga dia jatuh terjungkal

"Anak hina dina, anak tidak tahu malu!" begitu ia segera didamprat "Hari ini Thian adalah yang membikin kau bertemu kami!"

Ceng Ceng lantas menangis, "Yaya, aku salah apa?" dia tanya, "Aku minta yaya beri ampun padaku, Lain kali aku nanti dengar kata. "

"Hm, kau masih mengharap hidup?" bentak Un Beng Gie, jie yaya itu. Malah dia segera hunus pisau belatinya yang tajam,

"Jie yaya, kau hendak bunuh aku?" tanya Ceng Ceng sambil menangis,

"Kau berdosa, pantas kau terima kematianmu!" kata Un Beng Gie, si Ngo yaya.

"Sam yaya," kata Ceng Ceng tanpa perdulikan ngo yaya itu, "lbuku adalah anak perempuan kandung dari kau maka kepadamu aku minta tolong dalam satu ha1. "

"Tetapi buat minta dikasih tinggal hidup itulah kau jangan harap!" kata engkong luar itu.

Ceng Ceng menangis pula,

"Kalau nanti aku telah mati," katanya, "Aku minta kau tolong sampaikan sepucuk suratku kepada itu sahabat she Wan, kau pesan supaya dia sendiri saja yang pergi cari mustika, tidak usah dia tunggu aku lagi-"

Tergerak hatinya keempat yaya itu mendengar kata-kata "cari mustika".

"Apakah itu yang hendak dicari?" tanya mereka hampir berbareng,

"Aku bakal mati, tak dapat aku buka rahasia," jawab Ceng Ceng, "Aku cuma minta supaya suratku tolong disampaikan. "

Nona ini robek ujung bajunya, ia ambil sepotong jarum dari sakunya, dengan itu dia tusuk jari tangannya, akan keluarkan darahnya itu, ia menulis di atas itu robekan baju,

Masih keempat yaya itu tanya mustika apa itu yang hendak dicari, tetapi Ceng Ceng menulis terus, ia tidak berikan jawabannya, Ketika telah selesai ia menulis ia serahkan surat darah itu pada engkongnya,

"Untuk sampaikan surat ini, sama yaya tidak usah kau menemukan sendiri orang she Wan ilu," ia bilang, "Cukup jikalau kau kirim orang ke Wang peng ke rumah makan di mana kita lelah bertemu itu."

Meskipun ia sedang bersandiwara, tapi kapan ia ingat Sin Cie, yang dikatakan "tidak setia", Ceng Ceng toh bersedih, hingga ia menangis pula dengan sedih, air matanya mengucur tak hentinya.

Kecmpat yaya itu tidak tahu orang sedang permainkan mereka, mereka tidak tahu apa sebabnya cucu ini menangis demikian sedih.

Ketiga yaya dekali Beng San, untuk baca surat darah itu. Ceng Ceng menulis begini

Toako Sin Cie!

1152 Dalam penghidupan kita ini, tidak dapat kita bertemu pula satu dengan lain, Maka itu mustika kepunyaan ayahku, semuanya aku hadiahkan kepadamu, Pergilah kau yang gali sendiri, tidak usah kau tunggu aku pula.

Hormatnya adikmu si Ceng

"Mustika apakah itu!" Beng Go bentak "Mungkinkah kau ketahui tempat simpannya itu?"

Ceng Ceng cuma manggut dengan per1ahan.

"Fui, kau menjual orang!" Ngo yaya itu bentak pula, "Mana ada mustika! Ayahmu yang sudah mampus menjadi setan telah perdayakan kami, sekarang kau kembali hendak main gila pu!a!"

Ceng Ceng tidak menyahuti, hanya sambil tunduk, ia keluarkan dari sakunya sepasang kumala yang disu1am-kan kepada sepotong ikat pinggang sutera, itulah kumala model kupu-kupu yang dapat dari satu-di antara sepuluh peti harta karun, Karena kupu-kupu itu indah ukirannya dan mungil, ia sengaja ambil untuk disimpan,

Setelah keluarkan kupu-kupu kumala itu, hingga dapat dilihat keempat yaya itu mendadak ia berbangkit untuk berdiri tegak untuk kata juga secara menantang, Terserah kepada kamu, suratku ini hendak kamu sampaikan kepada aiamatnya atau tidak! sekarang kamu bunuhlah aku."

Di antaranya suaranya itu, kumalanya itu jatuh ke tanah sambil menerbitkan suara, ia lantas membungkuk untuk memungutnya, akan tetapi Un Beng Go telah dahulu ia menyambar

Merah matanya keempat yaya itu sesudah mereka lihat tegas itu kumala kupu-kupu. Mereka ada penjahat-penjahat dari puluhan tahun, cara bagaimana mereka tidak kenal mustika berharga, Maka itu goncanglah hati mereka semua,

1153 "Darimana kau peroleh ini?" akhirnya mereka tanya, Ceng Ceng tetap membisu,

"Kau kasih tahu pada kami, mungkin kami akan selamatkan jiwamu." Beng San lantas membujuk

"ltulah satu di antara barartg-barang mustika yang aku maksudkan," sahut Ceng Ceng dengan roman ter-paksa, "Bersama-sama Wan Toako itu, setelah kami pahamkan pengunjukan petanya, aku telah berhasil mendapat tempat mustika disimpan dan membongkarnya, Sama sekali ada sepuluh peti, yang memuat pelbagai batu permata dan uang, Adatah sukar untuk bawa itu semua, maka aku ambil ini sepasang kupu-kupu. Sekarang kita hendak pergi pula untuk ambil semua peti itu. "

Kembali ia menangis,

Keempat yaya itu jauhkan diri mereka untuk berdamai Mereka tidak takut si nona nanti kabur, sebab di tempat sepi seperti itu dengan gampang mereka dapat mengejarnya,

"Nyatalah sekarang benar halnya mustika simpanan itu," kata Un Beng San.

"Baik, kita paksa dia antar kita, untuk kita yang ambil," Beng Gie usulkan.

Tiga saudara itu manggut

"Lebih dahulu kita dustakan dia bahwa kita akan memberi keampunan," Beng San utarakan tipu dayanya, "Kalau nanti mustika sudah ada di dalam tangan kita, baru kita hukum dia!"

Tiga saudara itu setuju.

"Aku ada punya satu cara gampang," kata Beng Gie. "Lcbih dahulu kita ambil mustikanya, setelah itu kacung hina dina ini kita belesaki ke dalam lubang bongkaran itu,

1154 untuk diuruk pula, maka kalau nanti si binatang she Wan itu datang menggali, dia bakal gali hanya mustika hidupnya ini! Tidakkah itu bagus?"

Tiga saudara itu tertawa berkakakkan,

"Bagus pikiran ngotee!" kata mereka, yang puji adik bungsu itu,

Mereka itu girang karena sudah dapatkan Ceng Ceng diluar dugaan, mereka juga bakal dapat harta karun. Mereka hampirkan Ceng Ceng, untukdidesak akan antar mereka ke tempat simpanan mustika dengan si nona dijanjikan jiwanya akan dikasih tinggal hidup....

Ceng Ceng sedang bersandiwara, ia menampik akan antari semua yaya itu, adalah setelah dibujuk pulang pergi dan diancam juga, baru ia mau sebutkan, tempat simpan harta karun itu adalah di puncak gunung Hoa San. ia telah pikir, selagi empat yaya itu repot bongkar tanah ia mau cari ketika akan cari kuburan ayahnya, supaya bisa dikubur bersama dengan abu ibunya, Sesudah itu seperti rencananya, ia hendak bunuh diri,

Karena ia telah unjuk bukti dan alasan yang masuk di akal, empat tertua dari Cio Liang Pay itu percaya omongan nona ini.

Ketika dahulu Ngo Cou dapat bekuk Kim Coa Long kun, yang dibawanya ke Hoa San, mereka memang sudah dengar halnya harta karun itu dipendam di gunung tersebut, hanya itu waktu, kecuali Kim Coa Long kun bisa mengingat, mereka juga tidak peroleh suatu apa. Belakangan pun terjadi lelakonnya Thio Cun Kioa dan si pendeta yang dapat sergap Sin Cie dengan kesudahan mereka mati semua, perjalanan dilanjutkan dengan segera, dengan cepat luar biasa, malah hari itu, mereka tidak singgah lagi, Sebabnya dari perjalanan cepat luar biasa ini karena kekhawatirannya keempat yaya itu nanti Sin Cie dapat susul mereka, karena mereka mengerti, asal mereka kesusul si anak muda, usaha mereka bisa gagal, jiwa mereka sendiri bisa hilang,

Maka bukan main lelahnya mereka berempat ketika itu sore mereka sampai di tapal batas propinsi Shoasay, Lantas saja mereka cari hotel di mana paling dahulu mereka minta disajikan barang hidangan,

Beng Gie ada orang yang paling sembrono di antara keempat saudaranya itu pun paling kuat daharnya maka dialah yang berteriak-teriak minta arak, sayur, dan mie.

Jongos telah bekerja sebat untuk layani tetamu- tetamunya ini.

Seperti biasanya, begitu lekas barang makanan sudah diatur di atas meja, Beng Gie lantas mendahului saudara- saudaranya, daharnya sangat bernapsu.

Ceng Ceng diperkenankan duduk dahar bersama, disaat nona ini dan Beng Tat bertiga angkat sumpit serupa benda, melihat mana, dia kaget tidak terkira, sampai tubuhnya berdiri tegak bagaikan patung, lantas rubuh.

Beng Tat bersama dua saudaranya, juga Ceng Ceng kaget bukan main, Benda yang dijepit sumpitnya Beng Gie itu adalah seekor kawa-kawa yang hitam dan besar Tiga saudara itu juga heran ketika mereka dapati eng Gie masih saja berdiam, maka Beng Tat lantas mendekati untuk raba tubuhnya.

Engko ini kaget sekali, apabila ia telah kena raba tubuh yang lantas mulai jadi dingin, sedang napas di hidungnya adik itu pun sudah berhenti berjalan Dia kaget berbareng gusar sekali,

Dalam murkanya Beng San hampirkan kuasa restoran untuk dijambak, rubuh kuasa ini demikian keras, hingga tulang betisnya orang ini patah, hingga si kuasa pingsan,

Beng San tunggu sampai orang sadar sendirinya, ia jambak dada orang, dilain pihak dia jepit bangkai kawa- kawa dengan sumpitnya untuk di antar ke depan muka kuasa itu.

"Kau bernyali sangat besar! Kau berani racuni kita!

Apakah ini?" dia tanya dengan bengis.

Kuasa itu kaget dan takut bukan main,

"Rumah makan kami sudah dibuka selama tujuh puluh tahun.,." katanya dengan tubuh bergemetar dan suara tidak lancar, "Kita juga selalu jaga kebersihan dapur kita. Heran

entah darimana datangnya ini binatang. "

Beng San samber pipi orang, sekali ia memencet, terpentanglah mulut si kuasa restoran itu, menyusul mana, bangkai kawa-kawa dimasuki ke dalam mulutnya, dijejaii, hingga bangkai itu kena tertelan.

Boleh dibilang dalam sekejap saja, kuasa restoran itu rubuh binasa, kulit di seluruh tubuhnya berubah menjadi hitam,

Karena ini, kacaulah keadaan di rumah makan itu.

Beng Tat takut Ceng Ceng lari, ia sambar nona ini, untuk diseret keluar begitu lekas dia kempit tubuhnya Beng Gie,

Beng San dan Beng Go jadi seperti kalap, mereka keluarkan senjata mereka dengan apa mereka menyerang kalang kabutan, akan obrak-abrik rumah makan itu, dimana ada beberapa jongos dan tetamu lainnya hingga sama sekali rubuh tujuh atau delapan korban, Kemudian sesudah melepas api akan bakar rumah penginapan berikut rumah makan itu, baru mereka angkat kaki.

Tidak ada orang lainnya yang berani maju mencegah.

Beng Tat pergi jauh juga, baru ia turunkan mayat adiknya buat bersama dua saudaranya menggali lubang, akan kubur secara sembarangan pada saudara itu. Kemudian mereka singgah di sebuah kuil tua.

Tiga saudara itu gusar dan berduka dengan berbareng, Mereka menduga pada kejahatan kaum Ngo Tok Kau, karena tidak bisa jadi orang hotel berbuat demikian jahat

Ceng Ceng tahu lihaynya pihak Ngo Tok Kau, ia juga menduga pada kaum agama yang memuja bisa itu,

"Pasti ini ada perbuatan Ho Ang Yo, si pengemis tua," terkanya, "Rupanya dia telah bayangi kita...." Karena kejadian hebat itu, ketika dilain harinya mereka mampir di rumah makan, untuk bersantap, Beng Tat suruh jongos cobai dulu semua barang makanan yang disajikan, sesudah didapat kenyataan, barang hidangan itu tidak ada racunnya, baru mereka dahan

Beberapa hari selanjutnya, perjalanan dilanjuti tanpa kejadian sesuatu, hingga hatinya tiga saudara Un itu menjadi sedikit lega, mereka melainkan tetap waspada,

Pada suatu malam di rumah penginapan, mendadak terdengar suara berisik di istal, jongos berteriak-teriak ada pencuri kuda,

Beng Go kaget, ia pun gusar, sebab itulah kudanya, yang diganggu, ia lantas pergi ke belakang, untuk memeriksa, Baru saja ia sampai di depan istal, mendadak ia dengar suara siur-siur dari tempat gelap di sampingnya, Dengan sebal ia berkelit Tapi itulah semprotan barang cair,

1158 karenanya tidak dapat ia hindarkan diri, terutama mukanya yang kena tersemprot. Dengan lantas ia dapat cium bau amis, ia lantas menduga jelek, Karena ia lihay, sebab ia tidak rubuh seketika, ia masih sempat cabut ruyungnya, ia menyerang ke arah si pencuri kuda. ia bisa mendengar tegas hingga ia tahu ke mana ia mesti arahkan senjatanya, ia pun merasa bagaimana ia telah menyerang dengan jitu dan dengar suara senjatanya mengenai tubuh musuh, yang bebokongnya kena terhajar hingga tulangnya patah.

"Ha, tua bangka kau masih galak!" demikian satu bentakan yang dibarengi dengan satu bacokan.

Masih sempat Beng Go menyerang pula, Lebih dahulu ia menangkis, hingga ia dapat lilit kampaknya si penyerang, sesudah mana, ia membetot dengan keras, Musuh tidak dapat pertahankan diri, dia terbetot keras, sampai tubuhnya terlempar, tepat mengenai tembok, hingga kepalanya pecah dengan kepala hancur, tubuhnya terus rubuh binasa!

Beng Tat dan Beng San menduga pada orang-orang jahat tidak berarti, mereka percaya, Beng Go seorang cukup untuk hajar si pencuri kuda, baru mereka kaget ketika mereka dengar saudara itu berkaok-kaok, hingga mereka lompat memburu,

Beng Go kedapatan sedang menggaruk-garuk mukanya, masih saja ia perdengarkan suaranya, sampai Beng Tat lompat untuk peluk tubuhnya.

"Kau kenapa ?" tanya ini kanda sulung,

Beng San sendiri segera lompat keluar, untuk cari musuh, akan tetapi sia-sia saja, ia tak dapatkan siapa juga, Maka ia lantas kembali ia kaget kapan ia dapat si kanda nya peluki adiknya sambil kanda itu menangis menggerung- gerung. Nyatalah, dalam waktu yang pendek sekali, setelah dia berhenti menggaruki mukanya, Beng Go telah berhenti bernapas, mukanya telah jadi tidak karuan, terutama bekas digaruk pulang pergi tak hentinya, Karena ia telah terkena semprotan bisa, yang pertama membuat ia merasa gatal, hingga ia tak tahan akan tak menggaruki mukanya, sedang matanya terus tidak dapat dibuka lagi.

"Ketika duapuluh tahun dahulu Kim Coa Long kun minggat dari tangan kita," katanya Beng Tat sambil menangis, "Dia sudah terputuskan urat-uratnya, dia telah jadi satu manusia bercacad, maka itu waktu, aku menyangka dia telah ditolongi orang-orang Ngo Tok Kau. "

"Kau benar," Beng San bilang, "Teranglah sudah, Ngo Tok Kau telah memusuhkan kami, secara diam-diam. Kita telah diundang Co Hoa Sun untuk bekerja sama-sama, walaupun usaha kita bermusuh satu pada lain, maka itu kenapa Ngo Tok Kau seterukan kami, Nyata Ngo Tok Kau ada di pihak Kim Coa Lon kun.

Un Beng Tat berpikir sebentar, lantas berjingkrak,

"ltulah mungkin," katanya. "Kim Coa Long kun punya bisa yang lihay, pasti dia punyakan perhubungan dengan Ngo Tok Kau."

Dua saudara ini jadi ingat benar ketika dulu Kim Coa Long kun datang mengacau di Cio-Iiang untuk menuntut balas, Karena ini diam-diam hati mereka gentar

Tanpa banyak omong lagi, mereka rawat mayat Un Beng Go untuk dikubur, sesudah mana mereka ambil putusan untuk berangkat terus ke Hoa San, guna cari dan bongkar harta karun, sesudah itu mereka hendak berdaya mencari balas, Tetap mereka khawatir nanti diakali, maka itu baik diwaktu berislirahat, terutama diwaktu dahar, mereka

1160 berlaku sangat hati-hati. Diwaktu malam, mereka sampai takut untuk mondok di hotel.

Pada suatu hari, Beng Tat dan Beng San ajak Ceng Ceng berhenti di sebuah kuil tua di tengah perjalanan Beng Tat, meskipun sudah tua, tenaganya tetap besar, maka dengan gampang ia angkat dua potong batu penggilingan yang berat, untuk dipakai menggalang pintu depan dan pintu belakang, supaya tidak ada orang yang bisa dobrak pintu itu di luar tahu mereka. Secara demikian baru mereka dapat tidur dengan hati tentram

Tepat tengah malam, ada terdengar suara berkelisik, Sebagai ahli-ahli ilmu silat, atu orang-orang kangouw ulung, terang kupingnya dua saudara Un ini. Mereka mendusin dengan lantas,

Mulanya terdengar suara seperti suara tikus, mereka tidak perhatikan maka mereka tidur pula,

Un Beng San sudah tidur pula sayup-sayup tatkala ia dapat cium bau harum, hingga ia merasakan hatinya, dirinya lega benar, hingga ia merasa sangat gembira, lantas seperti lagi melayang-layang, bagaikan ia berada di atas sorga, Tidak lama dari itu, hatinya goncang dengan tiba- tiba hingga ia mendusin sambil terus lompat bangun dengan berjingkrak.

Un Beng Tat juga lantas bangun, tapi ia berotak sangat cerdas, masih ia ingat Ceng Cehg, tangan kiri siapa ia tarik, Maka dilain saat, keduanya sudah berada di samping meja. Dari sini di antara sedikit sinar terang, mereka lihat Un Beng San sedang bersilat dengan tongkatnya yang lihay, sampai dia kena hajar patung Buddha sampai patung itu patah dan rubuh, suara hajaran dan rubuhnya keras sekali,

Serubuhnya patung itu, dari belakang patung muncul dua bocah yang mengenakan pakaian serba kuning. Bo-cah

1161 yang satu yang bersenjatakan golok dengan berani terjang Beng San. Bocah yang lain memegang sebatang pipa sumpitan, dia bersedia akan sumpit atau semprot jago she Un itu,

Menampak demikian, Toa-yaya tidak ayal lagi dengan panah di tangannya, maka kapan senjata rahasia itu sudah melesat, kedua bocah baju kuning itu rubuh saling susul jiwa mereka terbang melayang,

Meski sudah tidak ada musuh, Un Beng San masih terus berkelahi

"Shatee, musuh sudah tidak ada," Beng Tat teriaki adik itu,

Beng San seperti tidak gubris pemberitahuan itu, ia terus saja bersilat, malah gerak-gerakannya makin hebat, Rupanya ia telah terkena pengaruh hebat dari bau harum tadi. "Celaka!" pikir Beng Tat yang dari heran menjadi kaget, hingga ia bercuriga, ia lantas lompat maju, dengan niat rampas tongkat adik itu, akan tetapi Samyaya putar tongkatnya sangat cepat dan rapat, hingga ia tidak sanggup merapatinya,

Selagi bersilat terus, mendadak yang ketiga dari Ngo Cou berteriak keras sendirinya, tanpa sebabnya habis mana, ujung tongkatnya diarahkan kepada dadanya sen-diri, hingga ia terserang sangat hebat, berbareng sama memuntahkan darah hidup, ia rubuh terguling, terus saja tubuhnya menjadi kaku.

BengTat kaget tidak kepalang, tidak terkecuali Ceng Ceng, ia telah saksikan ketiga yayanya binasa secara hebat, terbinasa oleh pihak Ngo Tok Kau, Tidak lagi ia mempunyai rasa simpati kepada semua yayanya itu, toh sekarang ia merasa terharu juga, tanpa merasa ia ber- linangkan air mata. Beng Tat sampai tidak sanggup berkata-kata lagi, dengan tenang ia pondong tubuh adiknya untuk dibawa keluar, akan digalikan lubang, buat dipendam secara demikian saja. Dia ada seorang yang hatinya paling keras, bagaikan baja, maka itu meski ia beri hormat penghabisan kepada adiknya itu, tidak ia menangis.

"Mari kita berangkat!" kata dia pada Ceng Ceng.

Kendati juga yayanya tinggal seorang, Ceng Ceng masih jeri, dengan terpaksa ia mengikut, akan lakukan perjalanan dimalam yang gelap petang itu, sebelum mereka kenyang tidur,

Kali ini Un Beng Tat berlaku luar biasa waspada,

Pada suatu hari semasuknya dalam wilayah Siamsay, Un Beng Tat lihat satu bocah dengan pakaian serba merah menghampirkan dia sampai dekat seka1i. Mungkin dia ingat bocah-bocah serba kuning, ia jadi curiga, malah tanpa bilang suatu apa, dengan mendadak saja ia menyerang.

Tidak ampun lagi, bocah itu pecah batok kepalanya, tubuhnya rubuh binasa dalam sekejap.

Ceng Ceng kaget, ia ngeri tetapi terus ia bungkam, ia jeri akan saksikan roman bermuram durja dari yaya itu yang wajahnya menjadi gelap dan bengis,

sementara itu orang sekarang mulai menuju ke kaki bukit Hoa San, sebagaimana gunungnya sudah tertampak dari kejauhan, Mereka sudah jalan setengah harian, maka keduanya merasa sangat berdahaga, Karena ini, mereka singgah di sebuah paseban, untuk minum air, sedang kuda mereka dilepas untuk beristirahat

Sebentar kemudian, Un Beng Tat dihampirkan oleh seorang   tani   yang   berlidah   Siamsay,   sebagaimana terdengarnya itu ketika dia menanya, "Apakah aku bicara sama Un Loya-cu?"

Beng Tat berbangkit

"Apa kau mau?" tanyanya dengan bengis.

"Tadi ada orang upahkan aku dua rencengan uang, aku diminta sampaikan surat untukmu," sahut petani itu.

"Mana dia orang itu?"

"Dia sudah pergi lama, dia menunggang kuda."

"Coba sambuti suratnya!" Beng Tat perintah Ceng Ccng, ia ada sangat licin, hingga ia tidak mau terima sendiri surat itu,

Ceng Ceng sambuti surat itu yang tertutup dalam sampul, rupanya seperti surat biasa, tidak ada yang men- curigaL Baru setelah itu, jago tua ini berani menerima itu dari tangan si nona,

Sama sekali surat itu ada tiga, Yang pertama memuat tulisan:

"Un Lo-toa,

Saat kematianmu sudah sampai.

Panas hatinya Beng Tat, hingga ia jadi sangat gusar ia mau lihat surat yang kedua, tapi surat ini terlepit, sukar dibuka lepitannya, akan tetapi ia telah jadi tidak sabaran, maka ia tempel jari tangannya ke mulut, ia basahkan surat dengan air ludahnya, Baru sekarang surat itu dapat dibuka, Bunyinya:

"Jikalau kau tidak percaya bacalah surat yang ketiga." Meluap hawa amarahnya jago tua ini. Surat yang ketiga juga tertutup rapat, untuk dapat membukanya Beng Tat mesti bawa pula jari tangannya ke dalam mulutnya, untuk basahi itu dengan air ludah di lidahnya, maka setelah kena dibasahkan, barulah surat ketiga itu dapat dibuka, untuk dibaca,

Akan tetapi kali ini, surat itu tidak ada huruf-hurufnya, Apa yang terlihat lukisan gambarnya seekor kelabang besar serta gambarnya satu tengkorak manusia.

Dalam murkanya, karena sangat mendongkol Beng Tat lemparkan surat itu ke tanah.

Boleh dibilang hampir berbareng dengan itu ketua dari Cio Liang Pay rasai sedikit sakit atau perih pada jari telunjuk dari tangannya yang kanan dan ujung lidahnya, Segera ia ingat suatu apa, mendadak saja ia rasakan tubuhnya panas dingin.

"Aku telah terpedaya!" pikirnya, kagetnya bukan kepalang, ia merasa pasti sudah jadi korban kelihayan musuh.

Surat-surat itu rupanya sengaja dilempel, supaya jadi sukar untuk buka lepitannya, supaya kalau toh mesti dibuka, ada diperlukan air untuk membasahkannya. Air untuk membuka surat, yang paling gampang ialah air ludah, Lebih dahulu daripada itu, mestinya racun telah dikenakan kepada surat bagian yang ditempel lekat itu, supaya dengan menggunai ludah, orang akan keracunan tanpa merasa,

Ini adalah satu di antara tiga puluh enam tipu daya dari kaum Ngo Tok Kau, Dahulu Kim Coa Long kun dapat pelajari ini dari Ho Ang Yo maka ia bisa kenakan racun itu pada "Kim Co Pit Kipriya" yang palsu, hingga Thio Cun Kiu rubuh sebagai korban, Beng Tat teliti dan waspada, tetapi ia tidak ingat sampai begitu jauh, Maka sekarang ia telah menjadi korban,

Begitu ia insyaf, ketua dari Cio Liang Pay lantas ingat si petani, Kapan ia angkat kepalanya, ia tampak orang sudah jalan pergi beberapa puluh tindak, Dalam gusarnya, ia lompat untuk mengejar Baru ia sampai di luar paseban, ia rasai kepalanya sangat pusing, matanya berkunang-kunang, ia kuatkan hati tidak perduli kepalanya lantas terasakan sangat sakit, ia kerahkan tenaganya, ia menimpuk dengan panah tangannya.

Petani itu memang ada orang Ngo Tok Kau yang sedang menyamar ia sudah serahkan suratnya, ia percaya ia sudah berhasil, maka ia berlalu dengan tenang, ia menjerit dengan keras ketika tahu-tahu ia merasa bebokongnya tertancap panah tangan, terus tubuhnya rubuh, jiwanya melayang pergi.

Un Beng Tat tertawa seram beberapa kali habis itu tubuhnya rubuh terjengkang, tidak sanggup dia pertahankan diri lagu

"Toa yaya, kau kenapa?" tanya Ceng Ceng dengan kaget Nona ini masih belum tahu, suatu apa, ia tidak

menyangka je1ek. Malah ia hampiri yaya itu sambil

membungkuk ia hendak melihat muka orang,

Mendadak Beng Tat geraki tangan kirinya, menyusul itu, tombaknya melesat nyambar,

Ceng Ceng kaget bukan main. Mana dapat ia berkelit lagi? jarak mereka berdua ada terlalu dekat

ia cuma lihat berkelebatnya satu cahaya putih perak, menuju ke arah dadanya, Disaat nona ini tutup kedua matanya, untuk terima binasa, mendadak ia dengar suara barang keras beradu, menyusul rasa sakit pada belakang kakinya, Kapan ia buka kedua matanya, ia dapatkan tombak pendek terletak di dekat kakinya, Adalah tombak itu yang membuat ia merasa sakit, sekarang ia ingin tahu siapa-siapa sudah tolongi padanya, pada waktu ia berbalik mendadak ia rasakan bebokongnya terpegang keras, sampai ia tak dapat berbalik, Selagi ia heran dan bingung, tahu-tahu kedua tangannya telah ditelikung ke belakang, diikat dengan keras. Adalah sesudah ia tidak berdaya baru, bisa menoleh. Tapi kapan ia kenali siapa yang tawan padannya ia kaget melebihi waktu ia ditangkap keempat yayanya,

Orang itu adalah Ho Ang Yo dari Ngo Tok Kau, si uwa beroman jelek dan bengis yang menyeramkan

Ceng Ceng merasa, di tangan perempuan tua ini, ia bakalan tinggal dunia dalam cara lebih hebat lagi. "

Ho Ang Yo tapinya tertawa pada nona ini tertawa dingin sekali,

"Kau inginkan kematian cara apa?" si uwa tanya, "Kau pilih mati dengan satu kali bacok? Atau kau inginkan dipaguti seribu ekor ular selama tujuh kali tujuh menjadi empat puluh sembilan hari, sesudah mana baru kau mati.,.?"

Ceng Ceng bergidik, ia meramkan mata, ia tidak menyahut.

"Kau antar aku mencari ayahmu yang tidak berbudi itu!" kata pula si uwa. "Dengan antari aku, aku akan bikin kau tidak sampai tersiksa. "

Ceng Ceng segera berpikir "Memangnya aku hendak cari tulang-tulang ayah, Baik aku antar padanya, Sampai di sana, aku mau lihat, apa dia bisa bikin. "

Maka ia menyahut dengan gagah,

"Aku juga hendak tengok ayahku, mari kita pergi bersama!"

Ho Ang Yo curiga orang terima tawarannya demikian gampang, Tapi Kim Coa Long kun telah jadi seorang bercacat, tidak perduli ilmu silatnya bagaimana lihay, ia toh tidak usah takut, begitu ia pikir,

"Baik, mari kau antar aku," katanya sambil tertawa. "Kau merdekakan dulu aku, supaya aku bisa kubur

mayat toa-yaya," Ceng Ceng minta,

"Merdekakan kau? Hm."

Dia jemput tombak pendek dari Un Beng Tat, seorang diri terus dia menggali lubang di tepi jalanan, sesudah dia buatkan satu lubang cukup besar, dia gusur tubuhnya Beng Tat, juga tubuh orangnya sendiri untuk dilempar ke dalam lubang itu, yang dia lantas uruki sekedarnya.

Sembari nguruk, uwa itu ngoceh seorang diri. "Meski juga ayahmu ada satu telur busuk, tidak nanti aku antapkan dia diperhina orang 1ain. Empat tua bangka ini adalah yang membikin ayahmu mati tidak, hidup pun tidak, Sudah sekian lama aku hendak mencari balas kepada mereka, Mengapa kau panggil dia yaya?"

Ceng Ceng tidak mau menjawab, ia hanya jalan, mendaki gunung,

Selama hari itu, dua orang ini cuma bisa jalan kira lima puluh lie, jalanan terus menanjak Mereka berhenti di tengah gunung, Untuk dapat beristirahat supaya si nona tidak berdaya dan tidak dapat kabur, kecuali kedua tangannya ditelikung terus, Ho Ang Yo juga belenggu kedua kakinya, Untuk itu ia telah sediakan tali kulit

Besoknya pagi, baru terang tanah, orang sudah berjalan pula, Makin tinggi, jalanan makin sukar hingga dari bertindak saja, orang perlu bantuan kedua tangan, untuk pegangan Ho Ang Yo sudah kehilangan tangan kirinya, tidak dapat ia bantu tarik Ceng Ceng sebab tangan kanannya dipakai jambret batu atau oyot, maka itu, terpaksa ia buka ikatan tangan si nona. ia suruh si nona jalan di depan ia sendiri di belakang, untuk sambil mengawasi.

Ceng Ceng belum pernah sampai di gunung Hoa San, maka itu si uwa yang berbalik mesti menunjuki ia jalanan.

Malam itu mereka tidur di cabang pohon di tepi jurang tapi Ceng Ceng tak dapat tidur dengan tenang, ia berpikir banyak, terutama pikiri nasibnya di tangan orang jahat ini. Saban-saban ia juga dengar pekik orang hutan,

Besoknya perjalanan dilanjuti, Adalah di hari ketiga baru sampailah mereka di puncak Hoa San, gunung kesohor di arah Barat,

Dari Sin Cie, Ceng Ceng pernah dengar penuturan perihal keadaan di tempat dimana ayahnya dikubur, sekarang ia perhatikan daerah gunung di sekitarnya ia merasa tepat sekali lukisannya si anak muda, Maka itu mulailah hatinya goncang, hingga sendirinya, ia jadi ber- duka, tidak dapat ia cegah mengalir keluar air matanya,

"Dimana dia sembunyi?" tanya Ho Ang Yo dengan bengis, ia tidak perdulikan orang sedang berduka sangat

"Disana," Ceng Ceng menunjuk kepada jurang, "Di sana ada sebuah gua, ayah di dalamnya. " "Baik! Mari kita pergi bersama!" si uwa mengajak

Ceng Ceng bergidik waktu ia tampak wajah uwa itu. Roman dia ini nampaknya jadi lebih bengis dan menakuti,

Mereka mesti jalan mutar untuk sampai di jurang,

Mereka baru jalan beberapa puluh tindak ketika keduanya dengar suara tertawa yang datangnya dari arah suatu tikungan,

Ho Ang Yo tarik tangannya Ceng Ceng untuk diajak mendekam di antara rumput yang tinggi dan lebat, di sini lima jari tangannya yang berkuku lihay ditaruh dekat lehernya si nona,

"Jangan bersuara!" ia mengancam

Tentu saja Ceng Ceng takut, sebab satu kali ia bersuara, tenggorokannya bakal kena tercengkeram sebelum ia sempat berdaya,

Segera kelihatan dua orang mendatangi Yang satu ada imam tua, yang lain ada seorang tani dari usia pertengahan.

Ceng Ceng segera kenali Kwie eng cu. Bhok Siang Tojin serta Tong-pit Thie shuipoa Uy Cin, masing-masing guru dan saudara seperguruan yang tertua dari Sin Cie, ia tahu mereka itu lihay tapi ia tidak berani menjerit untuk minta tolong, ia jeri untuk lima kuku beracun dari Ho Ang Yo.

"Suhu bakal sampai lagi beberapa hari!" terdengar suara Uy Cin yang berbicara sambil tertawa,

"Juga suteenya yang kecil bakal datang dalam lagi beberapa hari ini, maka itu waktu, lotiang tidak usah khawatir nanti tidak ada lawanmu main catur."

Bhok Siang tertawa dengan nyaring, "Jikalau bukannya karena ingin main catur, untuk apa aku datang kemari justru kamu kaum Hoa San Pay hendak berapat?" kata imam itu. "Apa untuk bantu meramaikan saja? Tidak!"

Mereka bicara sambil jalan terus, hingga mereka tinggalkan Ceng Ceng dan Ho Ang Yo.

Uwa itu tidak berani berkutik ia insyaf lihaynya kaum Hoa San Pay, tidak mau ia nanti kepergok! Sesudah orang lewat jauh baru ia muncul pula, Untuk pergi ke gua, ia keluarkan dadungnya yang ujungnya ia ikat kepada sebuah pohon besar

"Mari kita turun!" Dia ajak Ceng Ceng. Tubuh si nona bersama tubuhnya sendiri ia ikat bersama untuk bisa turun ke gua.

"Di sini!" kata Ceng Ceng, setelah ia lihat lubang gua.

Hatinya Ho Ang Yo goncang keras, Setelah dua-puluh tahun memikiri saja, tak sedetik juga ia me1upa-kannya, maka sekarang ia dapat cari tempat sembunyinya orang yang ia cintai, yang kemudian ia anggap sudah sia-siakan padanya, Segera ia bakal bertemu sama orang yang dibuat pikiran itu. ia berpikir keras, Apa ia mesti siksa lelaki itu, untuk kemudian baru bikin dia binasa? Atau apa baik ia memberi ampun?

Kecuali berdebar hatinya, Ho Ang Yo pun bergemetar, tangannya dirasakan dingin. Dengan tangan kanan, ia mulai singkirkan batu-batu di mulut gua, setelah itu, ia suruh Ceng Ceng merayap di depan.

Tadinya mulut gua sempit setelah Sin Cie babati dengan pedang mustika, jalanan itu jadi cukup lebar, leluasa untuk orang keluar masuk. Ho Ang Yo mengikuti dengan hati-hati ia siap sedia kalau-kalau Kim Coa Long kun nanti terjaga ia secara diam-diam, Masih ia khawatirkan Jago Ular Emas itu.

Ceng Ceng memasuki gua dengan air matanya berlinang- linang, kemudian ia menangis sesenggukan

Ketika mereka sampai di bagian yang gelap, Ho Ang Yo nyalakan api. Sebagai sumbu atau obor, ia sulut ujung dadungnya, ia suruh si nona pegangi itu untuk maju lebih jauh,

Ceng Ceng berkhawatir.

"Kalau dadung itu terbakar habis, cara bagaimana kita bisa keluar dari sini?" demikian pikirnya,

"Tidak heran kalau aku tidak kembali sebab di sini telah knmpul ayah dan ibuku, Tapi dia ini, apa dia juga tidak mau keluar pula?"

Nona ini tidak tahu, Ho Ang Yo juga sudah nekat, tidak mau ia keluar pula dengan masih hidup dari gua itu.

jalan lagi sedikit jauh uwa ini mulai bercuriga, ia lihat tempat bukan seperti ditempati manusia, Mendadak ia jambak pundak si nona,

"Hai, kau hendak main gila sama nyonyamu?" tegur-nya. "Awas, aku nanti bikin kau mampus secara kecewa!"

Ceng Ceng cuma bisa berserah.

Jalan lagi sedikit, tiba-tiba ada angin dingin menyambar Lalu di depan mereka berdiri sebuah kamar ba1u.

Ho Ang Yo angkat obor untuk awasi di sekitarnya, pada empat penjuru tembok ia tampak gambar-gambar peta dari ilmu silat ia pun segera dapat baca pemberian tahu yang Sin Cie pernah ketemukan, yaitu: "Mustika berharga, ilmu rahasia, diberikan kepada yang berjodoh, Siapa yang masuk dalam pintuku, menemui bencana jangan penasaran"

Ho Ang Yo kenali hurufi Tulisan Kim Coa Long kun. Melihat surat itu lenyap kesangsiannya. Tapi hatinya terus memukul pu!a, suratnya ada, orangnya belum nampak.

"Saat Gie, kau keluar," ia memanggil

Suara itu nyaring halus, kamar ada kecil, maka terdengarnya nyata sekali, Akan tetapi, jawabannya tidak ada. Maka Ho Ang Yo lantas berdiam akan tenangkan diri,

Kamar batu itu kosong dari manusia,

"Dimana dia?" tiba-tiba ia bentak Ceng Ceng, sesudah sia-sia saja ia memanggil lagi beberapa kali.

"Di sini!" sahut si nona sambil menangis, dengan tangannya menunjuk ke tanah,

Dengan tiba-tiba saja Ho Ang Yo merasa matanya gelap, kepalanya pusing, hingga ia sambar lengan si nona, untuk ia pegangan, kalau tidak, ia bisa rubuh terguling,

"Apa?" tanyanya kemudian dengan suara serak,

"Ayah dikubur di sini," sahut Ceng Ceng, yang menangis terus,

Ho Ang Yo menjerit dengan tertahan, "Qh... oh, kiranya dia sudah mati. "

Tak kuat lagi dia menahan tubuhnya, ia rubuh men- delepok di atas batu di mana Kim Coa Long kun biasa berduduk,

Sekejap saja, hilang penasarannya sejak puluhan tahun, sekarang teringatlah ia akan cintanya kepada orang yang dicintainya itu. "Nah, pergilah kau, aku beri ampun padamu..." akhirnya ia kata pada Ceng Ceng, suaranya lemah,

Melihat orang demikian berduka, tanpa merasa, Ceng Ceng jadi berbalik merasa kasihan, ia ingat biar bagaimana, ayahnya toh telah sia-siakan uwa ini yang tadinya ada satu nona cantik dan mencinta keras, Memang ada sebab kenapa ayahnya belum ingin ketemui kekasih ini, sampai mereka jadi terpisah untuk se1ama-lamanya.

Karena rasa kasihannya ini, dengan tidak merasa Ceng Ceng peluk uwa itu, yang ia tadinya takuti bagaikan melihat iblis, ia menangis dengan keras.

"Pergi kau, lekasan," kata pula Ho Ang Yo. "Kalau sebentar dadung telah terbakar habis, kau tidak bakalan bisa keluar 1agi. "

"Kau sendiri?" tanya si nona.

"Aku hendak berdiam di sim" untuk temani ayahmu." 1 "Aku juga tidak mau keluar lagi," kata Ceng Ceng,

Ho Ang Yo sudah terbenam dalam kedukaan, ia tidak perdulikan lagi nona itu.

Ceng Ceng menangis terus,

Tiba-tiba saja Ho Ang Yo berbangkit untuk dengan tangannya lantas mengkeruki tanah untuk digali ia bekerja bagaikan kalap,

"Kau hendak bikin apa?" tanya Ceng Ceng kaget,

"Aku telah pikir dia untuk dua puluh tahun," sahut si uwa dengan sedih, "Selama itu, tidak pernah aku ketemui orangnya, maka melihat saja tulang-tulangnya pun boleh juga. "

Ceng Ceng kaget dan berkhawatir. ia tampak orang punya roman dan sikap yang berubah,

1174 Ho Ang Yo terus menggali, tangannya bekerja seperti pacul saja, setelah berselang lama juga, muncullah tulang- tulang manusia,

itulah tulangnya Kim Coa Long kun, yang Sin Cie kubur dengan baik. Sesudah sekian lama semua tulang itu masih tinggal utuh,

Ceng Ceng menangis, ia tubruk tulang-tulang ayahnya itu,

Ho Ang Yo masih menggali, sampai ia dapat angkat sebuah tengkorak, ia rangkul itu, ia menangis ia ciumi

"Hee-long, Hee-long, aku datang melongok pada-mu..." katanya dengan sedih, ia memanggil suami kepada tengkorak itu, ia menangis lalu ia nyanyi dengan perlahan sekali.,.,"

Ceng Ceng dengar itu nyanyian, sepatah kata juga ia tidak mengerti

Habis menyanyi, Ho Ang Yo ciumi tengkorak itu dengan bernafsu ia jadi seperti kalap, baru ia berhenti ketika ia menjerit dengan tiba-tiba. Sebab ada apa yang tajam yang menusuk mukanya hingga ia merasa sakit dan kaget, Lantas ia bawa tengkorak itu ke depan api untuk diawasi dengan seksama,

0o-d.w-o0