-->

Pedang Ular Emas Bab 23

Bab ke 23

Ho Tiat Chiu manggut.

"Mari!" ia mengajak, sambil ia jalan di muka, menuju ke arah barat. Di sepanjang jalan, pemimpin Ngo Tok Kau ini puji A Kiu, untuk kecantikannya, untuk kegagahannya juga. Tidak disangka ada puteri raja, demikian muda, demikian kosen juga.

Sin Cie antap orang godai ia, ia lawan dengan membungkam saja.

Mereka jalan jauhnya kira lima lie, sampailah mereka di sebuah kuil tua, yang bernama Hoa Giam Sie. Di luar kuil berkumpul beberapa orang Ngo Tok Kau, sebagai penjaga, kapan mereka lihat pemuda kita, mereka memandang dengan tampang bermusuhan.

Sin Cie tidak gubris mereka itu, ia terus ikuti Ho Tiat Chiu masuk ke dalam kuil, sampai di ruang pendopo. Di muka pendopo Tay Hiong Poo-thian, di antara tikar tergelar, rebah anggauta-anggauta Ngo Tok Kau, yang kemarin ini menjadi kurban-kurbannya.

Tanpa buang tempo lagi, Sin Cie hampirkan mereka satu demi satu, untuk ditotok, hingga di lain saat, sembuhlah mereka semua, dapat mereka bergerak pula dengan merdeka sebagai sediakala.

Lantas setelah itu, pemuda ini kata dengan nyaring: "Aku tidak bermusuhan dengan saudara-saudara beramai, cuma disebabkan salah mengerti yang kecil sekali, kejadian aku berbuat keliru terhadap saudara-saudara, maka itu, di sini aku haturkan maaf pada saudara-saudara!"

Pemuda ini tidak cuma mengucap kata-kata, ia pun menjura kepada semua orang Ngo Tok Kau itu. Rupanya masih panas hatinya orang-orang Ngo Tok Kau itu, mereka tidak membalas hormat, mereka pelengoskan muka, tidak ada satu yang suka bicara.

Sin Cie tidak menjadi berkecil hati. Ia anggap ia sudah lakukan keharusannya, maka tanpa bilang suatu apa lagi, ia bertindak keluar. Cuma satu kali, ketika ia kebetulan menoleh ke samping pendopo, di situ ia tampak sepasang mata yang mencorong tajam menghadapi Ho Tiat Chiu, yang antar ia keluar. Ia tidak kenali mata siapa itu, tetapi menampak sinar mata orang, ia terkejut. Itulah sinar mata yang penuh dengan kebencian hebat.

Masih Sin Cie mencoba melihat pula tapi kali ini sepasang mata itu telah lenyap, kelihatan tubuhnya berkelebat, lantas hilang. Tapi karena ia lihat tubuh berkelebat, segera ia menduga kepada Ho Ang Yo, si uwah yang romannya menyeramkan.

Sesampainya di luar, selagi Sin Cie pandang Ho Tiat Chiu, ia pun heran. Lenyap cahaya terang dan riang- gembira dari pemimpin agama ini, tak suka ia bicara, romannya jadi pendiam dan keren. Hingga Ho Kaucu jadi bukan seperti Ho Kaucu yang ramah-tamah tadi.

Di luar pekarangan, kedua orang saling memberi hormat, untuk pamitan. Sin Cie berjalan pulang, ketika kemudian ia menoleh, Ho Tiat Chiu sudah masuk. Ia jadi curiga, timbul keinginannya untuk mendapat tahu sebab dari perubahan sikapnya kaucu itu. Maka itu, sesudah jalan terus sekira satu lie, hingga ia percaya, tidak nanti orang intai ia, lekas- lekas ia kembali. Ia sangat kuatir orang mempunyai daya keji, untuk mengganggu ia atau pihaknya. Tidak perduli jalanan jadi lebih jauh dan ambil lebih banyak tempo, ia mutar ke selatan, dari sana ia menuju ke belakang Hoa Giam Sie, dimana tidak ada orang, maka dengan merdeka ia bisa hampirkan tembok, untuk lompat naik dan masuk ke

1081 pekarangan dalam. Segera ia dengar suitan istimewa dari Ngo Tok Kau, tanda undangan berapat.

Untuk sementara Sin Cie umpeti diri di atas pohon, antara daun-daun yang lebat, kemudian setelah duga, orang tentunya sudah berkumpul, ia turun dari atas pohon, dengan hati-hati ia menuju ke belakang Tay Hiong Poo- thian. Ia bersukur ia tidak ketemui siapa juga, hingga ia bisa tempatkan diri tepat di belakang pendopo, untuk pasang kuping.

Dengan lantas ia dengar suara-suara keras, dari pertentangan. Ia masih dapat kenali suara orang. Ialah suara tajam dari Ho Ang Yo, suara nyaring dari Cee In Go. Mereka ini sedang serang Ho Tiat Chiu, yang dikatakan karena main cinta sudah melupakan musuh besar dari Ngo Tok Kau, sehingga dia jadi berkhianat, bahwa dia telah bersekongkol sama musuh, hingga dia pun merusak usaha menjunjung satu raja baru, hingga itu pun berarti merusak harapan Ngo Tok Kau untuk pentang sayap dan pengaruh.

Selama diserang pergi-datang, Ho Tiat Chiu sendiri cuma mendengari sambil perlihatkan senyum ewah. Adalah kemudian Baru ia tertawa dingin, ia tanya: "Sekarang, habis kamu mau apa?"

Itulah pertanyaan yang sangat ringkas, yang segera membuat semua anggota menjadi bungkam.

Lama orang terbenam dalam kesunyian, baru terdengar Ho Ang Yo buka mulutnya.

"Kita mesti angkat satu kaucu baru!" kata uwah ini.

Tiat Chiu tidak jadi gentar, dia bersikap tenang tapi keren.

"Selama beberapa ratus tahun adalah aturan Ngo Tok Kau, kalau kaucu menutup mata barulah diangkat kaucu

1082 baru sebagai penggantinya!" katanya. "Habis, apakah kamu inginkan aku mati?"

Kembali orang bungkam. Inilah pertanyaan hebat. Melihat orang semua berdiam, Tiat Chiu tanya:

"Siapakah yang memikir suka menjadi kaucu baru?"

Kembali satu pertanyaan ringkas tetapi tak kurang hebatnya.

"Siapa memikir untuk jadi kaucu baru?" Tiat Chiu ulangi pertanyaannya.

Masih semua orang bungkam.

Siasia saja Ho Tiat Chiu ulangi pertanyaannya itu sampai tiga kali, maka akhirnya ia tertawa berkakakan.

"Sekarang hayolah kamu memikir dengan seksama!" katanya kemudian. "Coba kamu pikir, siapa di antara kamu yang mempunyai kepandaian untuk menangkan aku! Siapa yang memikir demikian, silakan maju! Silakan dia rampas kedudukan kaucu kita! Siapa yang takut nanti antarkan jiwanya secara kecewa, dia mesti gunai ketikanya ini, untuk tutup bacot!"

Sin Cie dengar semua itu, lantas saja ia mengintip di sela- sela pintu. Ia lihat Ho Tiat Chiu sendirian duduk di sebuah kursi, jauh di sebelah depan ia, orang-orang Ngo Tok Kau pada memandang sambil berdiri, nampaknya mereka semua berjeri hati.

Di dalam hatinya, Sin Cie kata: "Aku telah tempur semua orang Ngo Tok Kau, tidak ada satu di antara mereka yang nempil sama kaucu ini. Tapi sekarang dia menindih orang dengan kekerasan, aku percaya tak dapat dia menjadi kaucu yang kekal-abadi." Sampai di situ, pemuda ini dapat kenyataan orang Ngo Tok Kau tidak kandung niat memusuhkan terus padanya atau pada Ceng Ceng, maka ia anggap baik ia pulang saja, tak ada perlunya ia mencampuri urusan dalam dari mereka itu. Benar selagi ia hendak memutar tubuh, ia tampak satu cahaya berkelebat. Itulah Ho Ang Yo yang bertindak maju dengan sebatang senjata yang aneh, yang pemuda kita belum pernah lihat.

Senjata itu yang besar, mirip dengan gunting. Dari gurunya, Sin Cie belum pernah dengar senjata semacam itu, maka bisa dimengerti, ia juga tak tahu cara menggunainya. Karena ini ia batal pergi, ia terus mengintai lagi.

"Aku sendiri, tidak memikir untuk jadi kaucu!" berkata Ho Ang Yo secara menyindir. "Dan aku juga tahu, aku bukannya tandingan kau! Tapi aku terpaksa bertindak, untuk Ngo Tok Kau kita! Kita harus ingat kepada tujuh leluhur kita serta tiga puteranya, bahaimana susah-payah mereka, sesudah bergulat empat-puluh tahun lebih, Baru mereka dapat berdirikan perkumpulan agama kita, hingga terutama sejak seratus tahun yang terakhir ini, Baru kita dapat malang-melintang di Selatan. Maka itu, sekali-kali tidak boleh Ngo Tok Kau mesti termusna-ludas di tanganmu, kacung hina!"

Ho Tiat Chiu tidak jawab itu bibi, hanya dia tanya semua orang.

"Apakah hukumannya untuk penghinaan terhadap kaucu?"

"Sudah sedari siang-siang aku tidak anggap lagi kau sebagai kaucu!" Ho Ang Yo sengapi. "Mari maju!"

Uwah ini geraki kedua tangannya, untuk buka senjata semacam gunting itu, hingga terdengar suara nyaring. Benar-benar senjata istimewa itu mirip gunting, mirip sepit untuk menjepit!

Ho Tiat Chiu bersenyum dingin, ia tidak bergeming dari kursinya.

Ho Ang Yo maju terus menghampirkan, hingga dua kali gunting itu menggunting. Rupanya ia jeri terhadap kaucu itu, sebelumnya menyerang, ia coba dulu senjatanya, sekalian dipakai mengancam. Adalah setelah ketiga kalinya, sesudah datang dekat, Baru ia menyerang betul-betul.

Tiat Chiu cuma berkelit dari serangan, ia tidak membalas.

Sin Cie heran, hingga ia mengawasi terus.

Orang-orang Ngo Tok Kau maju dengan pelahan, sikap mereka mengurung.

Baru sekarang si anak muda mengerti, pemimpin agama itu mengambil sikap menjaga diri, "menutup pintu". Tadinya ia tidak menduga demikian, karena sempitnya sela- sela pintu, ia melainkan lihat ruang pendopo kecil, lurus panjang saja.

Sampai sekian lama, masih tidak ada satu anggauta juga yang berani mulai dengan penyerangannya, mereka cuma maju untuk mengancam, bersikap mengurung.

"Mahluk-mahluk tak berguna, takut apa?" teriak Ho Ang Yo. "Hayo, semua maju!"

Ia memberi tanda dengan guntingnya.

Baru sekali ini, semua orang maju sambil berseru-seru.

Tiat Chiu lompat, kedua tangannya bergerak, maka terdengarlah suara bentrokan, suara berisik, sebab kursi yang dia pakai sebagai alat penangkis, rusak terkena bacokan-bacokan. Di lain pihak, dua anggauta menjerit dan rubuh, karena mereka dihajar gaetan!

Segera setelah itu, terlihatlah bajangan putih berkelebat sana-sini, gesit sekali.

Sin Cie adalah satu ahli silat, walaupun pertempuran tampaknya sangat kalut, ia toh bisa lihat tegas sesuatu pukulan atau tendangan, apalagi itu waktu, gerakannya orang-orang liehay dari Ngo Tok Kau masih rada ayal, sebab mereka itu Baru saja ditotok sembuh olehnya, sedang mereka itu rebah sudah lama juga.

Ho Tiat Chiu tidak pikir untuk menyingkir dari kepungan puluhan anggauta-anggautanya itu. Jikalau ia inginkan itu, menurut Sin Cie ketikanya ada banyak. Maka terang sudah, kaucu ini hendak tindih orang-orangnya itu dengan kegagahannya.

Pertempuran berjalan terus.

Sin Cie terus pasang mata, sampai perhatiannya ketarik oleh gerak-geriknya salah satu penyerang. Dia ini tidak merangsak seperti yang lainnya, walaupun dengan pelahan- lahan ia coba dekati Ho Tiat Chiu. Dalam genggaman tangannya, orang ini menyekal suatu apa, entah barang atau senjata apa itu. Adalah setelah mengawasi sekian lama, pemuda kita kenali Kim-ie Tok Kay Cee In Go, si pengemis tidak berbudi. Setelah datang cukup dekat, mendadak pengemis ini berseru dengan keras, kedua tangannya diangsurkan ke depan dengan cepat, cekalannya dilepaskan, maka terlihatlah suatu benda bersinar kuning emas mencelat ke arah Ho Tiat Chiu.

Kaucu ini berkelit sambil lompat jumpalitan, akan tetapi "senjata rahasia" dari Cee In Go pun aneh, dia seperti bisa bergerak sendiri, dia dapat menyambar kepada Ho Tiat Chiu, selagi dia ini pun sibuk karena desakannya empat

1086 atau lima macam senjata lainnya disebabkan desakan penyerang-penyerang, maka akhirnya, dengan perdengarkan jeritan kaget dan menyeramkan, kaucu itu terkena juga itu senjata rahasia.

Sekarang pun Sin Cie dapat lihat tegas senjata rahasia aneh itu, yang sebenarnya bukan semacam gegaman, hanya seekor ular hidup, ialah ular berbisa kuning emas yang ditangkap Cee In Go, ular yang dikatakan "nabi"!

Selagi menjerit, Ho Tiat Chiu rasai matanya gelap, akan tetapi dia masih sempat ulur tangannya, akan sambar ular yang menggigit pundaknya, sedang dengan gaetannya, ia masih bisa gaet mati dua penyerangnya yang terdekat.

Segera terdengar teriakannya Ho Ang Yo: "Si kacung hina sudah kena dipagut ular emas, hayo desak dia, supaya bisa ular dapat lantas bekerja!"

Ho Tiat Chiu tidak dapat lagi lakukan perlawanan, dengan tubuh sempoyongan, ia menyingkir ke arah belakang pendopo. Tapi hatinya masih kuat, ia bisa pertahankan diri untuk tidak rubuh. Dengan ancaman gaetannya yang liehay, ia juga membikin orang tidak berani melintang di depannya, untuk memegat.

Menampak orang tak dapat dirintangi, Ho Ang Yo berlompat maju, ia terus menyerang dengan gunting istimewanya, untuk gunting batok kepala orang.

Masih sempat Tiat Chiu berkelit sambil tunduki kepala, dan dengan gaetannya, ia coba balas menyerang.

Tapi karena ini, ia dihalangi oleh Phoa Siu Tat dan Thia Kie Su.

Dalam keadaan sangat berbahaya itu, Ho Tiat Chiu meraba dan menekan ke pinggangnya, maka menyusul itu menyambarlah senjata rahasia jarum berbisa! Phoa Siu Tat tidak menyangka, dia tidak sempat berkelit, malah dia tidak dapat berteriak juga, sebatang jarum mengenai dia, terus dia rubuh dan binasa.

Tapi juga Tiat Chiu sendiri, racun ular sudah bekerja, walaupun ia masih bisa memberikan perlawanan, ilmu silatnya sudah kacau, tubuhnya tidak berdiri tegak lagi. Nampaknya, pikirannya pun sudah mulai was-was.

Tidak tega Sin Cie setelah ia menyaksikan sampai sebegitu jauh. Ia ingat, Ho Tiat Chiu jadi bentrok dengan kaum sendiri boleh dibilang disebabkan tipu-dayanya merenggangkan mereka. Maka ia anggap, ia bertanggung- jawab, pantas jikalau ia tolongi nona yang liehay itu. Ia pun tidak berayal-ayalan lagi.

"Semua berhenti!" mendadak dia berseru sambil ia pun lompat keluar dari belakang pendopo.

Semua orang Ngo Tok Kau kaget, hingga tertunda sendirinya serangan mereka. Inilah hal yang mereka tidak sangka sama sekali.

Akan tetapi Tiat Chiu sudah kalap, dia tidak kenali Sin Cie, dia malah menggaet, menyerang ini anak muda.

Sin Cie berkelit ke samping, tangan kirinya diulur, untuk menyekal lengan orang.

Dalam keadaan seperti itu, masih ingat Tiat Chiu dengan jalannya ilmu silat, maka ketika ia merasa lengannya ada yang tangkap, ia kasi turun lengannya, membarengi mana, ia menyerang dengan gaetannya dengan "Uy hong cie" atau "Antupan tawon galuh".

"Aku hendak tolongi kau!" Sin Cie serukan sambil ia kelit dari gaetan itu. Masih Tiat Chiu kalap, masih ia menyerang pula, malah dengan hebat sekali, maka mau atau tidak, Sin Cie mesti melayani. Setelah beberapa jurus, dia sambar kaki orang dengan kaki kanannya.

"Brak!" demikian tubuh si nona rubuh terbanting. Tapi berbareng dengan itu, dia pentang kedua matanya, melihat Sin Cie, dia berseru dengan kaget: "Wan Siangkong, apakah aku sudah mati?"

"Aku hendak tolongi kau!" Sin Cie jawab. Dan ia sambar kedua lengan orang, untuk diangkat, buat dibawa menyingkir ke arah pintu.

Selama Tiat Chiu terjang Sin Cie secara buta-tuli, orang- orang Ngo Tok Kau berdiri menonton. Mereka pun Baru saja sadar dari kaget dan herannya atas munculnya secara mendadak pemuda yang liehay. Tapi begitu lihat si anak muda itu hendak bawa lari kaucu mereka itu, mereka merangsak sambil berseru-seru.

"Siapa berani maju!" bentak Sin Cie seraya ia berbalik.

Ancaman ini ada hebat, entah siapa yang mulai, ketika di bagian belakang ada orang menjerit, dan lari, yang lain- lain lantas memutar tubuh, untuk kabur juga, untuk mereka gabruki pintu di belakang mereka!

Sin Cie tertawa sendirinya akan menyaksikan orang demikian jeri terhadapnya. Maka itu ia tidak terus angkat kaki, ia malah dapat ketika akan periksa lukanya Tiat Chiu, pundak kiri siapa sudah bengkak, sedang muka dadu dari si nona sekarang mulai berubah menjadi hitam.

Pemuda kita tahu, Tiat Chiu telah terluka hebat, kalau toh ia dapat pertahankan diri sampai sebegitu jauh, ini ada akibatnya karena dulu-dulu dia selalu memain dengan bisa ular. Tapi si nona perlu ditolong, tidak leluasa, tidak selamat untuk ia berdiam lama-lama di kuil Hoa Giam Sie ini, sarang Ngo Tok Kau itu, maka tanpa sangsi lagi, Sin Cie pondong tubuh kaucu itu, untuk dibawa lari pulang.

Ceng Ceng semua heran ketika mereka lihat si anak muda pulang sambil pondong Ho Tiat Chiu, mereka juga kaget.

"Hai, kenapa kau pondong dia?" Ceng Ceng berseru. "Lekas turunkan!"

"Lekas! Lekas ambil kodok es!" Sin Cie berseru.

Selagi lain-lain orang masih berdiam, Wan Jie sudah maju akan bantui Sin Cie, untuk bawa Ho Tiat Chiu ke dalam untuk segera ditolongi.

Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa serta kawan- kawannya menjadi heran berbareng gusar akan saksikan kaucu dari Ngo Tok Kau itu, sebab kaucu ini adalah musuh besar mereka.

Sin Cie keluar pula dengan cepat, dengan demikian dapat ia tenteramkan hati kawan-kawannya dan kepada mereka itu ia tuturkan apa yang terjadi di Hoa Giam Sie, sampai ia tolongi kaucu dari Ngo Tok Kau itu. Ia juga jelaskan, bantuan apa yang Tiat Chiu sudah berikan kepada pihaknya.

"Lagi satu hal," kemudian Sin Cie tambahkan, pada rombongannya Tong Hian Toojin, "hal gurumu, Uy Bok Toojin, sebentar dapat kita tanyakan kepadanya sesudah ia sadar."

Orang-orang Bu Tong Pay itu girang menerima keterangan anak muda ini, dengan lantas mereka haturkan terima kasih mereka.

Tidak antara lama, Wan Jie keluar. "Bisanya sudah tersedot keluar dengan pelahan-lahan akan tetapi orangnya masih belum sadar," ia beri tahu.

"Kau kasi dia makan obat pelepas racun, lantas antapkan dia tidur, untuk dia beristirahat," Sin Cie bilang.

Wan Jie jawab, "Baiklah," akan tetapi selagi ia hendak masuk kembali, kelihatan Lip Jie datang masuk sambil berlari-lari, lalu dia berseru-seru: "Wan Siangkong, selamat, selamat!"

"Kaulah yang harus dikasi selamat!" menyambut Ceng Ceng sambil tertawa.

Mukanya Wan Jie menjadi merah, lekas-lekas ia berlalu.

Lo Lip Jie tidak layani godaannya Nona Hee, ia kata pula: "Pasukan besar dari Giam Ong sudah rampas Jie-lim dan Han-tiong!"

Warta ini benar-benar menggirangkan semua orang. "Apa kabar ini sudah pasti?" tegaskan Sin Cie yang teliti. "Warta ini aku dapatkan dari Saudara Thio yang

ditugaskan pergi mencari ini.... Bin Jieya," jawab Lip Jie.

"Menurut dia, ketika dia sampai di Siamsay, dia dapatkan tentaranya Giam Ong sedang menyerang kota, hingga suara meriam menggelegar tak henti-hentinya, karena itu, tidak dapat dia jalan lebih jauh. Begitulah dia telah lihat sendiri pasukan Beng Tiau kena dilabrak hingga kalah besar dan congpeng dari kota itu dapat dibinasakan."

"Bagus kalau begitu!" kata Sin Cie. "Dengan begitu bisa diharap kedatangannya sembarang waktu dari tentara rakyat itu ke kota raja ini, itu waktu kita nanti menyambut dari dalam."

Karena ini Sin Cie lantas ambil ketika untuk mengatur rencana penyambutan, supaya penyerangan bisa dilakukan berbareng, dari luar dan dalam. Ia tetapkan siapa mesti melepas api, siapa mesti rampas kota, siapa mesti bunuh jendral pembela ibu-kota. Karena ini ada urusan rahasia, ia tidak lantas umumkan itu pada kawan-kawannya.

Untuk beberapa hari, Sin Cie menjadi repot, ia perlu hubungkan kawan-kawan seperjuangan lainnya yang berada di dalam kota, untuk janjikan mereka turun tangan bersama begitu lekas angkatan perang Giam Ong sudah sampai. Ketika itu hari ia pulang habis bekerja, Wan Jie ketemui dia dengan wajah Nona Ciau ini masgul sekali.

"Wan Siangkong, masih saja Ho Kaucu tak sadar akan dirinya," kata dia.

Sin Cie menjadi heran.

"Sudah beberapa hari tetapi ia masih belum sadar juga!" katanya.

Lantas bersama Wan Jie, ia masuk ke dalam, untuk melongok.

Ho Tiat Chiu rebah dengan muka seperti tidak ada darahnya, napasnya jalan seperti tinggal satu tarikan demi satu tarikan.

Menyaksikan itu, pemuda ini menjadi sangat berduka, hingga ia berdiam saja. Tapi otaknya bekerja. Selang sesaat, mendadak ia berjingkrak sambil berseru: "Celaka!"

Wan Jie terkejut.

"Kenapa, Wan Siangkong?" tanya nona ini.

"Aku lupa satu hal," Sin Cie jawab. "Jikalau seorang biasa terkena racun, asal racunnya sudah dapat dikeluarkan, dia bisa lantas sembuh. Dengan Ho Kaucu, keadaan ada lain. Sedari kecil dia bergaul dengan pelbagai binatang berbisa, mungkin juga ia telah makan entah obat apa yang mengandung bisa. Ya, binatang berbisa yang umum tidak dapat meracuni dia, tidak demikian apabila dia terkena bisa yang hebat, sekali terkena, dia bisa keracunan secara hebat sekali. Demikianlah kali ini. Selama beberapa hari ini, aku terlalu repot, sampai aku tidak ingat itu. "

"Habis sekarang, bagaimana?" Nona Ciau tanya. Sin Cie berpikir, ia ragu-ragu.

"Nampaknya tidak ada lain jalan kecuali kasi dia makan kodok es itu," sahut ia kemudian. "Meski begini, kita cuma mencoba saja. Kesangsianku disebabkan urusan lain lagi. Kalau kita kasi dia makan kodok es itu, lalu kita dapat gangguan pula dari orang-orang Ngo Tok Kau, asal ada orang kita yang terluka dan keracunan, pasti dia mesti terima nasibnya, tidak ada pertolongan lagi. "

Wan Jie benar-benar berduka. Kekuatiran itu beralasan. Sin Cie terus berpikir, sampai tiba-tiba ia tepuk pahanya. "Marilah kita kasi dia makan obat itu!" katanya

kemudian. "Dia bukannya sanak, bukannya kadang kita,

akan tetapi tak tega aku untuk awasi dia mati tersiksa secara begini di depan kita. "

Wan Jie bersangsi, karena percobaan itu benar-benar berbahaya. Kalau Tiat Chiu ketolongan, kalau tidak, bukankah obat mujarab itu lenyap dan ancaman di belakang hari tak dapat dielakkan lagi? Akan tetapi ia toh serahkan kodok es itu, yang terus diaduki arak, untuk terus dicekoki kepada Ho Tiat Chiu.

Habis itu, orang duduk menantikan akibatnya.

Belum selang setengah jam, muka pucat dari Ho Kaucu mulai berubah, kelihatan sinar semu dadu, dan napasnya pun tidak empas-empis lagi. Sin Cie masih mengawasi sekian lama, lantas ia dapat kepercayaan nona itu bakal ketolongan, dari itu ia lantas tinggal pergi keluar, justru Ang Seng Hay sedang cari dia.

"Wan Siangkong, orang Ngo Tok Kau datang mencari!" kata pengiring ini begitu lekas ia lihat majikannya. Ia nampaknya tergesa-gesa.

Hatinya Sin Cie bercekat, sepasang alisnya mengkerut. "Berapa jumlah mereka?" ia tegasi.

"Baru satu orang sampai di luar, entah yang menyusul belakangan," Seng Hay jawab.

Sin Cie berpikir keras.

"Kecuali Ho Kaucu, ilmu silatnya orang-orang Ngo Tok Kau itu biasa saja," pikir ia. "Yang berbahaya adalah racun mereka. Mereka telah jeri terhadapku, perlu apa sekarang mereka datang pula? Mesti ada yang mereka buat andalan maka mereka berani cari aku! Mustika kodok sudah dimakan habis oleh Ho Tiat Chiu, andaikata ada orang dari pihakku yang terluka, habislah dia "

Tapi ia tidak bisa buang tempo.

"Pergi wartakan semua orang," ia titahkan Seng Hay. "Semua mesti berkumpul di thia besar, tanpa titah atau tanda dari aku, aku larang siapa juga keluar akan hadapi orang-orang Ngo Tok Kau! Pergi lekas!"

Ang Seng Hay menurut, maka dengan separuh lari, ia pergi untuk sampaikan titah itu kepada semua kaumnya.

Sin Cie sendiri lekas pergi keluar, begitu sampai di ambang pintu, ia sudah lantas dapat lihat satu orang Ngo Tok Kau, yang separuh tubuhnya telanjang, celananya sudah rombeng, sedang berdiri di depan pintu, berdiri dengan kedua tangan, kepalanya di bawah, kedua kakinya di atas. Ia tidak merasa aneh, karena ia sudah kenal dengan laga-lagunya orang-orang kaum "Lima Macam Bisa" itu. Ia juga lantas kenali, orang itu ada Kim-ie Tok Kay Cee In Go.

Hanya kali ini, "dandanan" orang she Cee ini ada lebih istimewa.

Di kedua pundak, di bebokongnya, juga di kedua bahu- tangannya, Cee In Go telah tancapkan sama sekali sembilan batang golok panjang yang tajam-mengkilap, ujung golok nancap dalam, darahnya yang masih segar masih mengalir keluar.

Sin Cie mengawasi dengan waspada, ia mesti siap sedia. Orang berlaku aneh, ia menduga-duga apa In Go lagi gunai ilmu siluman.

"Kau datang kemari, apakah kau mau?" ia tegur.

Cee In Go tidak menjawab, ia hanya mengoceh sebagai pembaca mantera: "Sembilan golok menembusi lobang, itulah pendekarnya Agama Iblis!"

"Kita berdua harus ambil jalan masing-masing, maka jangan kamu ganggu pula pihakku!" Sin Cie kata pula. "Aku janji bahwa aku pun tidak bakal ganggu kamu lebih jauh. Lekas pergi!"

Cee In Go tidak menyahuti, dia tetap mengoceh dengan manteranya itu, malah mulutnya berkemik semakin cepat mengucapkan "Sembilan golok menembusi lobang, itulah pendekarnya Agama Iblis!"

Sin Cie heran bukan main, ia terus mengawasi, dengan lebih teliti. Sekarang ia dapat lihat pada setiap batang golok diikatkan semacam mahluk berbisa, ada kalajengking, ada kelabang, semuanya masih bergerak berkutik-kutik. Itu waktu Ang Seng Hay telah berhasil mengumpulkan semua kawan, tidak terkecuali Ceng Ceng, ia ajak mereka semua berkumpul di thia, dengan begitu, mereka ini jadi bisa turut saksikan tindak-tanduk luar biasa dari Kim-ie Tok Kay Cee In Go si Pengemis Berbisa Berbaju Sulam....

Sin Cie melirik kepada Ang Seng Hay, pengiring ini ada seorang cerdik, karena ia pun dapat dengar nyata ocehannya si orang she Cee, lekas-lekas ia masuk ke dalam, bersama-sama Ciau Wan Jie, ia masuk ke kamarnya Ho Tiat Chiu.

"Ho Kaucu, apakah artinya 'Sembilan golok menembusi lobang, itulah pendekarnya Agama Iblis'?" tanya ia kepada pemimpin Ngo Tok Kau itu.

Tiat Chiu sudah mulai sadar, mendengar pertanyaan Seng Hay, ia geraki tubuhnya untuk bangun berduduk.

"Siapa yang telah datang?" dia baliki menanya.

"Satu pengemis yang tidak pakai baju," sahut Seng Hay. "Baik," kata kaucu itu. "Eh, nona, tolong kau pegangi

aku, antar aku keluar." Ia bicara kepada Wan Jie.

Nona Ciau bersangsi. Ia tahu orang Baru saja sadar, tubuhnya pasti masih sangat lelah. Selagi ia hendak mencegah, Tiat Chiu sudah goyangi tangan pada Seng Hay, untuk menyuruh orang lelaki ini undurkan diri, kemudian ia ambil bajunya, yang panjang, untuk dipakai. Semua gerakannya sangat lambat.

"Tak dapat kau keluar," Wan Jie bilang.

"Lekas tolong pegangi aku!" kata Kaucu itu, yang tidak perduli cegahan. Wan Jie jadi kewalahan, ia terpaksa menurut. Ia ulur tangannya, untuk membanguni pemimpin Ngo Tok Kau itu.

Ho Tiat Chiu ulur tangan kanannya, akan cekal tangan Nona Ciau kita.

Begitu ia kena dicekal, Wan Jie terperanjat. Tangannya kau-cu ini kuat dan keras sekali, ia merasa bagaikan tangannya kena dijepit, hingga seperti tidak berdaya, ia ikut nona itu bertindak keluar. Dengan sendirinya ia merasa jeri berbareng kagum terhadap ratu bisa ini.

Begitu lekas Ho Tiat Chiu sampai di muka pintu, ia berseru: "Kau lihat! Bukankah aku ini masih hidup?"

Parasnya Cee In Go memperlihatkan roman girang, ia kerahkan tenaga kedua tangannya, lantas ia berjumpalitan, sampai dua kali, tetap ia berdiri dengan kedua tangannya itu, kepalanya di bawah, kedua kakinya di atas.

"Kenapa kau datang untuk menghaturkan maaf?" tanya Ho Tiat Chiu. "Jikalau kau tidak mendapatkan ancaman malapetaka, tidak nanti kau mendapat kesadaranmu!"

Baru sekarang Kim-ie Tok Kay mau bicara.

"Oh, kaucu yang bijaksana!" demikian katanya, "aku yang rendah telah berdosa hingga mesti terbinasa berlaksa kali. Aku telah melukai tubuh yang suci dari Kaucu. Bersukur kepada Cit-cou Sam-cu, yang melindungi dan memberkahi, Kaucu selamat, tidak kurang suatu apa!"

"Cit-cou Sam-cu" ialah yang dimaksudkan "Tujuh leluhur, tiga putera".

Ho Tiat Chiu membentak: "Rupanya kau percaya, dengan pakai si ular emas untuk melukai aku, jiwaku pasti bakal melayang! Jikalau aku telah mati, maka dengan menuruti aturan kaum kita, dengan sendirinya kaulah yang menggantikan jadi kau-cu! Bukankah benar begitu?"

Cee In Go tekuk kedua tangannya, lantas ia lonjorkan itu kedua samping, dengan begitu dahinya jadi mengenai tanah, dengan dahi itu yang mengganjal tubuhnya, ia masih berdiri dengan kaki di atas. Dengan ini ia jalankan kehormatan.

"Aku tanya kau, kenapa kau datang untuk menghaturkan maaf kepadaku?" Ho Tiat Chiu tanya.

"Aku yang rendah tidak berani mendustai Kaucu," Cee In Go menyahut. "Memang, menurut aturan kaum kita, adalah aku yang rendah yang mesti menjadi kaucu pengganti. Tapi si uwah pengemis tidak setuju, dia bentrok sama aku, kesudahannya aku yang rendah tidak sanggup lawan dia..."

"Memang aku tahu hatimu tidak lurus!" Ho Tiat Chiu kata. "Sekarang kau insaf, kau hendak bersetia kepadaku, baik, aku suka kasi ampun pada satu jiwamu!"

Kaucu ini hampirkan Kim-ie Tok Kay. Ia membungkuk, akan cabut sebatang golok di pundak.

Cee In Go jadi sangat girang, ia memberi hormat pula, lantas ia berjumpalitan lagi, untuk berdiri dengan kedua kakinya, habis mana, ia putar tubuhnya, terus ia ngeloyor pergi.

Dengan tetap dipepayang Wan Jie, Tiat Chiu bertindak ke thia, semua orang ikuti dia. Dan semua orang itu terbenam dalam keanehan berhubung sama "pertunjukan" barusan itu...

Ho Tiat Chiu tertawa. "Dia telah didesak sampai di jalan buntu, maka itu dia datang untuk minta bantuanku," ia kata pada orang banyak.

"Apakah artinya semua golok itu?" Ceng Ceng tanya.

Tiat Chiu masih pegangi goloknya Cee In Go, ia loloskan seekor kalajengking yang diikat kepada golok itu, ia bungkus dengan saputangannya, dalam beberapa lepitan, lalu ia masuki ke dalam sakunya.

"Ini adalah ilmu siluman dari kita," kata Tiat Chiu sambil tertawa. "Aku harap saudara-saudara tidak mentertawakan kami. Semua sembilan golok itu ada binatang berbisanya masing-masing, bisa itu dapat dipakai mengobati, dengan cara bisa lawan bisa. Siapa keracunan bisanya semacam binatang, ia mesti diobati dengan bisanya semacam binatang juga, cuma dengan dicampuri obat lainnya, lukanya bisa disembuhkan. Mulai hari ini dan selanjutnya, setiap tahun di musim semi, apabila lukanya terkena bisa itu kambuh, aku lantas obati dengan sebungkus obat pemunah bisa."

Ceng Ceng manggut-manggut.

"Secara demikian untuk selamanya, setiap tahun dia menjadi seperti kacungmu," kata dia, "tidak nanti dia berani berkhianat pula."

"Tepat dugaan Hee Siangkong!" kata Tiat Chiu sambil tertawa.

"Apakah tidak boleh jikalau dia sendiri yang cabuti golok-golok di tubuhnya itu?" Ceng Ceng tanya pula.

"Golok-golok itu justru dia sendirilah yang tusuki di anggauta-anggauta tubuhnya itu," Tiat Chiu terangkan lebih jauh, "dengan dia datang kepadaku, untuk minta tolong dicabuti, itu adalah bukti pernyataannya bahwa ia takluk kepadaku. Dia telah lukai aku dengan ular emas itu, jikalau

1099 dia tidak pakai itu cara menusuk diri dengan sembilan golok, dia mengerti bahwa aku tidak bakal terima baik padanya."

"Jikalau begitu, kenapa kau tidak hendak cabut saja semua golok itu sekaligus?" lagi-lagi Ceng Ceng tanya. "Pada tubuhnya itu masih ada delapan golok yang nancap tajam, bagaimana sakitnya. "

Ho Kaucu tertawa.

"Memang aku kehendaki dia menderita lebih banyak!" sahutnya. Ia berhenti sebentar, lalu ia menambahkan: "Jikalau Hee Siangkong juga suka memberi keampunan kepadanya, baik besok aku nanti cabut semua sekaligus!"

"Terserah kepadamu!" Ceng Ceng bilang. "Tak dapat aku mengasihani orang jahat sebangsa dia!"

Sampai di situ, Tong Hian Toojin anggap pembicaraan mengenai lelakon Cee In Go sudah sampai di akhirnya, maka ia berbangkit, akan hadapi pemimpin Ngo Tok Kau itu.

"Ho Kaucu," berkata dia, "aku ingin bicara perihal guru kami. Dengan memandang kepada Wan Siangkong, aku minta sudilah kau memberikan keterangan kepada kami."

Begitu sang imam bicara, semua murid Bu Tong Pay lainnya lantas pada berbangkit.

Ho Tiat Chiu pandang imam itu, ia tertawa dingin. "Wan Siangkong telah melepas budi besar kepadaku,

tetapi kamu dari Bu Tong Pay tidak ada sangkutannya

dengan aku!" kata dia dengan tandes. "Kesehatan tubuhku masih belum pulih, apakah kamu hendak gunai kelemahan diriku ini untuk memaksa kepadaku? Jikalau itu benar, aku Ho Tiat Chiu, aku tidak takut!" Adalah di luar dugaan umum yang nona ini bicara dengan sikap demikian keras.

Diam-diam Sin Cie kedipi Tong Hian Toojin, kepada siapa ia berpaling.

"Kesehatan Ho Kaucu sedang terganggu, nanti saja pelahan-lahan kita bicarakan pula urusan ini," ia malang di tengah.

Belum sempat Tong Hian menyatakan sesuatu, sambil perdengarkan suara di hidung, Tiat Chiu pegang tangannya Wan Jie, untuk ajak Nona Ciau masuk ke dalam. Dengan begitu saja ia tinggalkan orang-orang Bu Tong Pay itu, sedang yang lainnya pada melongo.

Orang-orang Bu Tong Pay perdengarkan gerutuan mereka, suatu tanda mereka merasa sangat tidak senang. Mereka merasa seperti dihinakan.

"Serahkan urusan ini padaku," Sin Cie kata pada sekalian tetamunya itu. "Aku bertanggung-jawab untuk cari tahu tempat di mana beradanya Uy Bok Toojin."

Baru setelah dengar janji ini, orang-orang Bu Tong Pay itu bisa tenangi hati.

Besoknya pagi, benar saja Cee In Go datang pula. Ho Tiat Chiu cuma cabut sebatang golok.

Demikian seterusnya, setiap hari Kim-ie Tok Kay datang, untuk pemimpinnya cabuti goloknya itu. Di hari kesembilan, ketika ia datang pula - di waktu tengah hari - adalah Ang Seng Hay yang memberi warta pada Ho Tiat Chiu.

Ketika itu, Tiat Chiu telah pulih kesehatannya.

Juga Thia Ceng Tiok, See Thian Kong, si empe gagu A Pa, Thie-Lo-Han Gie Seng dan Ou Kui Lam, sudah sembuh

1101 seluruhnya, mereka ingin saksikan, setelah Ho Kaucu cabut golok yang terakhir itu, bagaimana sikapnya kaucu ini terhadap Cee In Go. Maka itu, mereka semua turut pergi keluar.

Kim-ie Tok Kay sudah berdiri pula dengan kedua tangan menggantikan kakinya, ia unjuk air muka sangat terang, tanda kegirangannya.

Ho Tiat Chiu tidak lantas cabut golok di bebokong orang itu, ia menoleh pada Ceng Ceng, ia tertawa.

"Hee Siangkong," katanya, "orang ini punyakan sifat buruk, akan tetapi ilmu silatnya baik sekali, maka bagaimana kau pikir jikalau aku berikan dia kepadamu untuk dia jadi kacungmu? Dengan kau simpan obat pemunah racun dalam tanganmu, tidak nanti dia berani bantah setiap perkataanmu."

Ceng Ceng bersenyum.

"Aku ada seorang perempuan, untuk apa aku mempunyai seorang kacung lelaki buruk sebagai dia?" dia menjawab dengan pelahan.

Ho Tiat Chiu terperanjat, hingga ia melongo. Sejak ia lihat Ceng Ceng, seterusnya saban kali ia menemui pula, selamanya justru nona Hee sedang dandan sebagai satu pemuda, maka itu, makin lama ia melihat, makin tertarik hatinya, makin keras cintanya. Selama itu, tidak pernah ia curigai puterinya Kim Coa Long-kun ini. Oleh karena ini, jawaban si nona bikin ia heran bukan main.

"Apa?" tegasi dia.

"Aku tidak inginkan kacung itu," sahut Ceng Ceng.

"Kau membilang tentang seorang perempuan?...." Tiat Chiu tegasi pula. Wan Jie tertawa, ia campur bicara.

"Ini adalah nona Hee," ia kasi tahu. "Sejak masih kecil dia gemar sekali dandan sebagai seorang pria. Tidak heran jikalau kau tidak dapat tahu, juga aku pada mulanya bertemu, aku tidak dapat mengenalinya."

Tiat Chiu merasai matanya berkunang-kunang, maka ia tercengang memandang "pemuda" di depannya itu. Sekarang ia lihat tegas satu kulit muka yang putih-halus, sepasang alis yang lentik melengkung! Ya, itulah kulit dan alisnya seorang wanita. Maka ia kaget, ia mendongkol, ia penasaran....

"Hai, mengapa aku jadi begini tolol!" dalam hatinya ia tegur dirinya sendiri, ia menyesalinya. "Kenapa untuk seorang perempuan, aku berontak terhadap agamaku, aku tentangi kawan-kawanku? Benar-benar tak pantas aku hidup lebih lama pula!. "

Kaucu ini ada seorang luar biasa, walaupun dia berhati keras bagaikan baja, semakin dia gusar, semakin murah tertawanya, senyumannya. Juga kali ini, ia lantas tertawa, sujennya nampak nyata.

"Benar-benar aku tolol!" katanya. Ia bertindak ke tangga, akan hampirkan Cee In Go. Ia membungkuk, sikapnya hendak mencabut golok di bebokongnya Kim-ie Tok Kay, yang sekarang rebah tertelungkup. Ia ada seorang dengan hati kuat, akan tetapi perubahan kejadian ini telah sangat pengaruhi dia, maka itu, sesaat itu, hatinya gentar, ia bimbang, tanpa ia kehendakinya, kakinya lemas, hingga ia berdiri dengan limbung.

Ciau Wan Jie berada dekat kaucu ini, ia maju, untuk menolongi. Itu waktu semua mata ditujukan kepada Cee In Go dan Ho Tiat Chiu, karena kaucu ini limbung tubuhnya, perhatian dipindahkan kepada dia seorang diri. Maka orang tidak lihat ketika tahu-tahu, dari pinggir jalanan, tertampak orang berlari-lari dan berlompat kepada Kim-ie Tok Kay, setelah datang dekat, orang itu berseru dengan nyaring, sesudah membungkuk kepada In Go, dia lompat mundur pula. Tapi hampir berbareng sama lompatannya orang itu, In Go perdengarkan jeritan dari kesakitan yang hebat, dia rebah tertelungkup dengan golok yang panjang di bebokongnya, nancap dalam sekali.

Itulah kejadian sangat cepat, sedetik saja. Orang semua kaget. Walaupun di situ ada Sin Cie, ada Thia Ceng Tiok, See Thian Kong dan lain-lain orang liehay, masih mereka tak dapat cegah kejadian hebat itu. Adalah sesudah orang lompat mundur, Baru orang kenali, si pembokong itu ada Ho Ang Yo, si uwah jelek.

Sekarang uwah ini, dengan semparkan pulang pergi tangan kirinya dengan mulut berteriak-teriak lompat berjingkrakan dengan kedua kakinya. Nyatalah seekor ular kuning emas telah menyantel di belakang telapakan tangannya, sia-sia ia berlaku kalap secara demikian, ular itu tak mau terlepas!

"Bagus! Bagus!" berseru Cee In Go sambil ia angkat kepalanya. Tapi setelah mengucap demikian, kepalanya lemas, tubuhnya berkelejat, terus dia diam saja. Karena rohnya telah melayang pergi.

Sekarang semua mata ditujukan kepada Ho Ang Yo.

Uwah yang romannya begis ini nampaknya jadi bertambah menyeramkan, suatu tanda ia berada dalam ketakutan yang sangat. Masih dia berjingkrakan, masih dia kibas-kibaskan tangannya, tetap sang ular tidak mau copot dari belakang telapakan tangannya itu. Beberapa kali ia coba ulur tangan kanannya, akan cekal ular itu, untuk ditarik, tetapi saban-saban dengan lekas ia tarik pulang tangannya itu, disebabkan dia takut nanti tangan kanannya juga disantok ular berbisa itu seperti tangan kirinya. Ia telah disantok tadi ketika ia pegang gagang golok, yang ia terus tuncapkan di bebokongnya Cee In Go. Si ular kuning emas adalah binatang berbisa dari gagang golok itu.

Ho Tiat Chiu telah dapat berdiri pula dengan tetap, ia turut tonton tingkahnya Ho Ang Yo, benar ia tertawa tetapi ia tidak kata apa-apa.

Akhir-akhirnya Ho Ang Yo ingat suatu apa, ia tidak lagi berjingkrakan, tangan kanannya dimasuki ke dalam sakunya, untuk tarik keluar sebuah golok, begitu lekas golok itu berkelebat, tangan kirinya telah ia babat kutung sebatas ugal-ugalan! Rupanya ia insaf, percuma ia binasakan atau singkirkan ular itu sesudah ia kena dipagut, ia toh bakal bercelaka karena bisanya. Setelah itu ia robek ujung bajunya, untuk dipakai membalut tangannya itu, kemudian ia lari kabur bagaikan orang kalap.

Semua penonton tercengang karena menghadapi pemandangan yang hebat itu.

Ho Tiat Chiu hampirkan tubuhnya Cee In Go, untuk ambil sebuah pipa besi, yang ia pakai menindih tubuhnya sang ular emas, kemudian dengan gaetan kirinya, ia gurat daging tangannya Ho Ang Yo, hingga daging itu terpotong, maka itu, bersama sisa daging, yang masih dipagut terus, ular itu dikasi masuk ke dalam pipa, yang terus ditutup rapat.

"Dari mana datangnya ular kuning ini?" Sin Cie tanya. Tiat Chiu tertawa meringis. "Orang she Cee itu minta pertolonganku, dia tetap masih tidak tenteram hatinya, dia kuatir aku nanti bikin dia celaka, maka itu ular ini ia simpan di dalam gagang goloknya yang kesembilan itu," ia kasi keterangan. "Umpama kata aku cabut goloknya itu, tidak ada soal lagi, itu artinya aku tidak ganggu dia, akan tetapi apabila aku niat bunuh dia, dia akan pakai ular itu untuk balas pagut tanganku. Hm! Bibi sebaliknya tidak suka mengasi ampun pada In Go, dia mencoba membinasakan kawan sendiri, untuk kekejamannya itu, ia peroleh pembalasannya, hingga sekarang tangannya pun mesti buntung sebelah. Coba dia berlambat sedikit saja, dia juga pasti tidak bakal ketolongan lagi. "

Sin Cie menghela napas.

"Apakah tangan kirimu pun dikutungi secara demikian?" Ceng Ceng tanya Tiat Chiu.

Ho Kaucu deliki ini nona, dia tidak menjawabnya, hanya sambil tutupi mukanya, dia lari ke dalam.

"Sungguh orang aneh!" kata Nona Hee dengan sengit, karena ia "ketemu batunya!"

Ciau Wan Jie diam saja, ia malah perlihatkan roman masgul.

"Nanti aku pergi temani dia, supaya tidak terbit onar lain," katanya, yang terus masuk ke dalam, untuk susul pemimpin Ngo Tok Kau itu.

Akan tetapi ia pergi tidak lama, ia kembali dengan tergesa-gesa.

"Wan Siangkong, Ho Kaucu kurung diri di dalam kamar, ia kunci pintu, aku panggil-panggil, dia tidak memperdulikannya," ia kasi tahu. "Biarkan dia beristirahat sebentar," Sin Cie jawab. "Bukan begitu, siangkong. Aku kuatir. "

"Baik, mari kita lihat!" kata si anak muda.

Ia lantas bertindak ke dalam, Wan Jie dan Ceng Ceng turut dia.

Wan Jie lantas ketok pintu, tidak ada jawabannya; ia ulangi itu, tetap tidak ada jawabannya. Ia berkuatir, ia jadi bercuriga, maka ia lari ke jendela, untuk mengintip. Mendadak ia menjerit.

"Celaka! Wan Siangkong, lekas kemari!" ia berseru.

Akan tetapi, walaupun ia teriaki Sin Cie, ia toh tidak tunggu sampai pemuda itu lari menghampiri dia, dengan ayun kedua tangannya, dengan gerakan "Heng teelan to" atau "Lintangi gili-gili untuk mencegah ombak", ia hajar daun jendela menjeblak terpentang, menyusul mana, ia enjot tubuhnya untuk berloncat ke dalam.

Sin Cie dan Ceng Ceng jadi bercuriga, mereka lari ke jendela, dengan saling susul, mereka juga lompat ke dalam kamar. Bila si anak muda lihat Ho Tiat Chiu, mukanya menjadi merah.

Nona she Ho itu, pemimpin dari Ngo Tok Kau, sudah buka bajunya, hingga kelihatanlah buah dadanya yang putih bagaikan salju, orangnya sendiri sedang tekuk lutut di depan sebuah boneka kayu yang mungil, tangan kanannya sedang pegangi si ular kuning emas, yang ia hendak bawa ke dadanya itu!

Tanpa ragu-ragu barang sedetik juga, Sin Cie ayun tangan kanannya, segera dua bitir biji caturnya menyambar kepada mulutnya ular kuning emas itu! Ho Tiat Chiu kaget, ia sampai lepaskan cekalannya, tapi segera setelah itu, ia mendekam di atas meja, untuk menangis menggerung-gerung.

Ceng Ceng sambar pipa besi, untuk dikasi masuk ular itu ke dalamnya.

"Kenapa kau berlaku nekat begini?" ia terus tanya kaucu itu, suaranya lembut. "Orang-orang kaummu tidak sukai lagi kepadamu, kau toh bisa turut kami. Bukankah itu bagus?"

Tiat Chiu nangis terus, ia tidak menjawab.

"Ho Kaucu," Sin Cie turut bicara, "Ngo Tok Kau ada satu perkumpulan agama yang sesat, dengan kau menukar haluan, dengan putuskan perhubunganmu dengan mereka, tidakkah itu bagus? Kenapa kau mesti berduka?"

Itu waktu Thia Ceng Tiok dan lainnya pun telah datang berkumpul kapan mereka telah ketahui duduknya hal, mereka lantas membujuki dan menghibur.

Penyesalan dan penasarannya Tiat Chiu rupanya terlalu hebat, hingga untuk sesaat itu, pikirannya jadi butek, hingga ia lupa segala apa, ia mau habisi jiwa sendiri, tetapi setelah orang tolongi dia dan sekarang mendengar bujukan dan hiburan, setelah nyata orang semua bersimpati kepadanya, kecerdasannya datang pula. Ia pun segera ingat suatu apa. Maka ia angkat kepalanya, dengan matanya yang tajam, ia awasi semua orang di sekitarnya. Tiba-tiba saja ia tertawa.

"Wan Siangkong," katanya, "asal kau suka terima baik satu permintaanku, aku tidak akan bunuh diri!" Melihat tingkah nona itu, Ceng Ceng berpikir: "Ini orang sangat aneh! Baru saja dia nekat, dia menangis, atau sekarang dia sudah bisa tertawa pula! Untuk apa dia menangis? - Oh, inilah hebat! Mungkinkah dia jatuh hati kepada dia?. " Dengan "dia", dia maksudkan Sin Cie. Maka mendadak saja, kumat pula hati cemburunya. Karena itu, segera dia dului si anak muda.

"Apakah yang kau hendak minta dari dia?" dia tanya.

Ho Tiat Chiu tidak jawab si nona, ia hanya pandang si anak muda.

"Wan Siangkong, kau bilang dulu, kau suka terima atau tidak?" dia mendesak.

"Sebenarnya aku tidak tahu, apakah yang Ho Kaucu inginkan aku lakukan?" Sin Cie tanya.

Juga anak muda ini mulai curiga. Maka tak mau ia lantas berikan jawaban yang mengiakan.

Ho Tiat Chiu awasi Ceng Ceng dan Wan Jie, tiba-tiba saja ia tertawa pula, kemudian dengan mendadak, ia berlutut di depan Sin Cie, ia manggut berulang-ulang.

Sin Cie terperanjat, ia heran, tetapi ia pun sibuk membalas hormat itu, hingga ia juga manggut berulang- ulang.

"Sudah, sudah, jangan jalankan kehormatan." ia mencegah.

Sampai di situ, Baru Tiat Chiu mau bicara.

"Jikalau kau tidak terima aku sebagai muridmu, aku tidak hendak bangun!" katanya.

Ceng Ceng melongo, akan tetapi segera hatinya menjadi lega, hingga ia bisa tertawa.

"Kaucu punya bugee sudah liehay sekali, siapa sanggup menjadi gurumu?" kata dia.

Kaucu itu tertawa pula. "Suhu, jikalau tetap kau tidak terima aku sebagai murid, aku nanti berlutut di sini buat selama-lamanya!" kata dia pula.

Sin Cie berlega hati, ia pun merasa lucu, tetapi ia kewalahan.

"Belum satu tahun sejak aku keluar dari rumah perguruan, mana dapat aku menjadi guru?" kata dia. "Jikalau Ho Kaucu tidak cela kebisaanku yang masih cetek, baiklah kita saling menyakinkan saja, untuk memahamkan lebih jauh ilmu silat kita. Mungkin dengan cara itu kita sama-sama akan memperoleh faedah. Tentang soal angkat guru baik kita jangan sebut-sebut."

Tiat Chiu tidak menjawab, tetap dia tekuk lutut, tidak mau dia berbangkit.

"Mari bangun!" kata Sin Cie, lalu dengan terpaksa ia ulur kedua tangannya, untuk memegang dan memimpin bangun.

Kaucu itu tarik tangannya.

"Awas! Tanganku ada bisanya!" kata dia. Dia tertawa. Iapun kibaskan lengan kirinya, yang bercagak hitam dan mengkilap, untuk gaet tangannya Sin Cie itu, hingga cahayanya berkelebat!

Sin Cie tidak tarik pulang tangannya itu, malah ia majukan dua-duanya. Di saat seperti itu ia unjuk kesebatannya luar biasa. Ia sambar kedua bahu orang, ia kerahkan tenaganya, maka dalam sekejab saja, di luar kehendaknya Tiat Chiu, tubuhnya dia ini terangkat naik!

Akan tetapi pemimpin Ngo Tok Kau benar-benar liehay, begitu lekas tubuhnya terangkat naik, ia tekuk pinggangnya ke dalam, ia angkat kedua kakinya, berbareng dengan mana, kedua bahunya pun dikibaskan! Sin Cie tidak mau dada atau mukanya kena didupak, ia lepaskan cekalannya, kakinya mundur setindak menyusul mana Ho Tiat Chiu poksay, jumpalitan, hingga di lain saat, dia injak tanah dengan kedua kakinya, tidak ia rubuh, hanya dia terus berlutut pula!

Kagumlah semua penonton, tanpa merasa, mereka bertampik-sorak. Mereka telah saksikan kepandaian yang luar biasa sekali dari pemuda dan pemudi itu.

"Ho Kaucu, silakan kau beristirahat sebentar, aku hendak keluar untuk menemui tetamu," kemudian Sin Cie bilang. Diam-diam ia pun kagumi kaucu ini. Ia terus bertindak keluar.

Tiat Chiu menjadi sibuk, dia berteriak: "Wan Siangkong, apa benar-benar kau tidak sudi terima aku sebagai murid?"

"Menyesal aku tidak sanggup," jawab Sin Cie.

"Baiklah kalau begitu!" kata kaucu itu dengan nyaring. "Nona Hee, mari! Mari aku gunai tempo setengah malaman ini untuk kasi dengar kau, dongeng tentang gambar lukisan ditaruh di muka pembaringan!"

Ceng Ceng melongo. Ia tidak mengerti.

Muka Sin Cie sebaliknya, menjadi merah. Ia merandek, ia berbalik.

"Hebat orang she Ho ini," pikir dia. "Dia pasti berani lakukan apa yang dia pikir. Mana bisa dibiarkan dia beber rahasianya A Kiu dan aku..."

Kalau sampai teruwar bagaimana ia rebah berdampingan sama satu nona bukan sanak bukan kadangnya, bagaimana ia dan A Kiu tak bakal dapat malu? Bukan saja Ceng Ceng bakal jadi murka, ia pun akan malu sekali. Karena itu, ia goyang-goyang tangannya. Tiat Chiu tertawa pula.

"Suhu, terima baiklah permintaanku!" katanya pula. Sin Cie kasi dengar suara tidak nyata: "Oh, oh. "

Tapi Tiat Chiu lantas saja jadi sangat girang.

"Bagus, suhu telah meluluskan!" serunya. Ia geraki kedua dengkul, begitu berdiri, dia lompat ke depan si anak muda, untuk paykui, untuk jalankan kehormatan besar!

Sin Cie jadi sangat terdesak, terpaksa ia balas separuh dari itu pemberian hormat.

Atas itu, orang banyak lantas kasi selamat, pada itu murid dan guru.

Tinggallah Ceng Ceng menjadi sangat heran, ia bingung. "Kau hendak berdongeng cerita apa" ia tanya Tiat Chiu. Ho Kaucu tertawa, tetapi ia lantas menyahuti.

"Di dalam kalangan agamaku ada semacam ilmu gaib," katanya, "asal kita lukiskan gambarnya satu orang, lalu gambar itu kita taruh di depan pembaringan, terus kita kasi hormat dengan manggut-manggut kepadanya sambil membaca mantera, pasti itu orang akan sakit jantung dan kepalanya, beruntun selama tiga bulan, dia tidak akan sembuh-sembuh."

Ceng Ceng mendengari dengan perhatian, ia separuh percaya dan separuh tidak.

Tetapi Sin Cie menjadi lega hatinya. Meski demikian, ia kata dalam hatinya: "Di kolong langit tidak ada orang yang angkat guru dengan cara ancaman sebagai ini! Dia masih belum bisa ubah hatinya, pasti tak dapat aku ajari ia ilmu silat." Maka ia kata dengan sungguh-sungguh: "Sebenarnya aku tidak punyakan ilmu silat yang bisa diajari kepadamu, akan tetapi kau begini bersungguh hati, baiklah untuk sementara aku namanya saja menjadi guru, kita akan tunggu sampai aku sudah memberi keterangan kepada guruku. Apabila guruku itu telah memberi perkenannya, Baru aku nanti ajari kau ilmu silat Hoa San Pay."

Alasan ini kuat. Ho Tiat Chiu tidak bisa mendesak lebih jauh.

"Baik, baik," ia terima janji Sin Cie itu. Ia girang sekali. "Ho Kaucu. " Kata Ceng Ceng.

Tetapi kaucu itu memotong:

"Tidak dapat kau menyebut aku kaucu lagi!" katanya. "Suhu, silakan kau berikan satu nama untukku."

Sin Cie berpikir.

"Baiklah, kau pakai saja nama Tek Siu," kata dia kemudian. "Tek ialah jeri untuk segala kekeliruan yang sudah-sudah, dan Siu untuk menjaga dan menjalankan prilaku baik."

"Bagus, bagus!" kata Tiat Chiu dengan girang. "Hee Susiok, kau panggilah aku Tek Siu!"

"Kau berusia lebih tua daripada aku, bugeemu juga terlebih tinggi, cara bagaimana kau memanggil susiok padaku?" kata Ceng Ceng ("Susiok" ialah "paman guru").

Tiat Chiu dekati Nona Hee itu, ia berbisik: "Sekarang aku panggil kau susiok, lain kali aku akan panggil kau subo!"

Kedua pipinya Ceng Ceng menjadi merah. "Subo" itu berarti "nyonya guru". Akan tetapi, diam-diam ia toh girang bukan main. Sekarnag ia jadi dapat anggapan baik terhadap

1113 kaucu ini. Tadinya ia masih hendak menegur, tetapi segera ia batalkan niatnya itu, sebab itu wkatu kelihatan Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa bertindak masuk.

Melihat dua orang Bu Tong Pay itu, Sin Cie lantas kata pada Tiat Chiu: "Sekarang kita sudah jadi orang sendiri, coba kau beri tahu kepada tootiang ini berdua, Uy Bok Toojin itu sebenarnya masih hidup atau sudah mati. "

Ho Tek Siu bersenyum.

"Dia ada di Inlam, di Tay. "

Ia Baru mengucap sampai di situ, sekonyong-konyong mendengung suara nyaring dan hebat, sampai meja dan tehkoan bergerak, sampai cawan-cawan pada bergoyang.

Semua orang terjaga. Baru saja hati mereka mulai "tetap", atau suara hebat itu terdengar pula, kali ini terus, berulang-ulang.

"Itulah dentuman meriam!" kata Thia Ceng Tiok. Segera semua orang lari ke depan.

Justru itu Ang Seng Hay datang sambil berlari-lari. "Balatentara Giam Ong sudah sampai!" katanya.

Dentuman meriam masih terus terdengar, dari arah luar kota kelihatan cahaya api menyambar-nyambar berkelebatan dibarengi sama riuhnya suara pertempuran.

Jadi terang sudah pasukan perang Giam Ong sudah sampai di luar kota raja.

"Tootiang," berkata Sin Cie pada Tong Hian Toojin, "dia sekarang telah angkat aku menjadi guru, maka tentang guru kamu, baik kita tunda dulu membicarakannya. "

Akan tetapi Ho Tiat Chiu segera menyambungi: "Uy Bok Toojin itu kena dikurung bibiku di dalam guha Tok Liong Tong di Tay-ke, Inlam. Pergi kamu bawa ini, untuk memerdekakannya!"

Sembari berkata begitu, ia serahkan sebuah suitan besi hitam-legam yang beroman ular-ularan.

Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa girang tak kepalang mendengar guru mereka masih hidup, berulang-ulang mereka menghaturkan terima kasih mereka. Tong Hian lantas sambuti suitan itu.

"Inilah akupunya leng-hu." Ho Tiat Chiu kasi keterangan. "Kamu mesti berangkat dengan segera, supaya kamu bisa mendahului sampai di sana. Anggauta-anggauta Ngo Tok Kau di Inlam masih belum tahu aku sudah undurkan diri dari kalangan mereka, asal mereka lihat lenghu ini, sudah pasti mereka akan merdekakan gurumu."

Kembali Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa mengucap terima kasih, dengan tergesa-gesa mereka pamitan dari Sin Cie beramai, lantas mereka berlalu.

Sin Cie juga sudah lantas kirim orang, untuk serep-serepi kabar pasti, supaya ia bisa berikan pertandaannya untuk semua kawan seperjuangannya di dalam kota bergerak serentak menuruti rencana yang ia sudah atur, ialah melepas api berbareng mengadakan serangan secara mendadak, untuk sambuti serangan dari luar.

Belum terlalu lama, satu taubak telah datang bersama sepucuk surat, katanya surat dari Tie-Ciangkun Lie Gam, jenderalnya Giam Ong, yang sengaja kirim itu dengan utus satu penyelundup.

"Bagus!" Sin Cie memuji. Lantas dia bertindak, mengirim orang-orang ke empat penjuru kota. Maka di waktu magrib, di mana-mana tersiarlah ko-yau atau cerita- cerita burung yang merupakan nyanyian, yang dinyanyikan ramai oleh anak-anak kecil dan orang pengangguran.

Umpama ko-yau di kota Barat oleh anak-anak berbunyi: "Pagi mencari satu SENG,

Sore mencari satu HAP, Selama ini, orang melarat sukar hidup,

Maka lekas-lekas buka pintu, Menyambut Giam Ong.

Pasti semua, tua dan muda, Akan jadi girang-senang!"

Sedang di kota Timur, kaum pengangguran bernyanyi: "Makan dari ibunya,

Berpakai dari ibunya,

Makan dan berpakai tak habis. Sebab adanya Giam Ong!

Tidak usah bekerja, Tidak usah bayar cuke!"

Di dalam kota telah terbit kekacauan, tentara Beng Tiau sudah sibuk sendirinya, tak sempat mereka mengurus "ocehan" rakyat itu, maka tidak ada yang melarang ko-yau itu.

Sin Cie punya barang-barang permata sepuluh peti besar, dengan diam-diam telah dijual dijadikan uang kontan, uang itu telah dipecah di antara banyak kawan yang dapat dipercaya, untuk disebar di antara tentara dan opsir-opsir yang bertanggung-jawab atas penjagaan atau pembelaan kota, dengan begitu, sepak-terjang mereka jadi semakin leluasa.

Besoknya, Sha-gwee Cap-pwee, yaitu bulan tiga tanggal delapan-belas, Sin Cie bersama Ceng Ceng, Ho Tek Siu, Thia Ceng Tiok dan See Thian Kong beramai, dengan menyamar sebagai serdadu-serdadu Beng Tiau, telah pergi ke tembok kota, untuk memandang keluar, hingga mereka bisa pandang tentara sukarela yang semua mengenakan seragam warna kuning, jumlahnya semua mungkin beberapa ratus ribu jiwa, nampaknya bagaikan awan kuning saja....

Dentuman meriam masih senantiasa terdengar, karena kota asik diserang terus. Di pihak lain, pembelaan tentara pemerintah sudah kacau sekali, tak dapat mereka bertahan lama, sedang mereka, yang sudah makan sogokan, memanah secara sembarangan saja. Maka bisa diharap jatuhnya kota akan terjadi di sembarang waktu.

Sin Cie semua menjadi girang, lekas-lekas mereka undurkan diri, untuk beri titah supaya orang mulai melepas api di empat penjuru pintu kota, supaya penyerangan segera dimulai. Malah rakyat melarat turut sambut aksi itu.

Begitulah, kota menjadi kacau.

Selagi orang bertempur seru dan berteriak-teriak, Sin Cie lihat sepasukan serdadu asik iringi satu thaykam yang mengenakan pakaian sulam, mereka itu berseru-seru untuk membuka jalan. Di antara cahaya api terang-terang, pemuda kita segera kenali Co Hoa Sun.

"Semua ikut aku!" ia berteriak. "Mari kita bekuk dorna itu!" Ho Tek Siu dan Thie Lo Han segera mendahului membuka jalan, semua lantas memburu, untuk menyerbu. Tentu saja pasukan serdadu pengiring itu tak dapat bertahan terhadap rombongan orang gagah ini.

Co Hoa Sun tampak gelagat buruk, dia putar kudanya, untuk kabur.

Akan tetapi Sin Cie sudah datang dekat, dengan satu lompatan pesat, anak muda ini sambar thaykam itu, untuk digusur turun dari kudanya.

Co Thaykam kenali ini anak muda, dia kaget dan ketakutan.

"Kau hendak pergi kemana?" Sin Cie membentak.

"Sri Baginda titahkan siaujin pimpin perlawanan di Ciang-gie-mui!" sahut thaykam itu dengan suara tak tegas.

Thaykam ini segera diiringi sampai di atas pintu kota yang disebutkan itu, mereka naik ke atas tembok, hingga, memandang ke luar kota, mereka bisa tampak pasukan perang sukarela.

Dengan senantiasa diiringi sebuah bendera besar, satu orang yang memakai tudung yang lebar, yang duduk atas seekor kuda hitam, mundar-mandir dengan kuda tunggangannya itu, memimpin penyerangan. Dia adalah Giam-Ong Lie Cu Seng!

"Lekas buka pintu kota, sambut Giam Ong!" Sin Cie berseru sambil ia cekal keras Co Thaykam, hingga dia ini kesakitan hampir pingsan.

Co Hoa Sun insaf, ia telah berada di tangan orang, tidak berani ia melakukan perlawanan. Ia juga lihat buruknya suasana, yang tidak dapat ditolong lagi, maka sebagai seorang licik, segera ia dapat pikiran, kalau sekarang ia tukar haluan, dengan menyambut junjungan yang baru, mungkin ia nanti dapat hadiah. Maka itu, tidak ayal lagi, ia lantas berikan titahnya untuk pentang pintu kota!

Sambil bersorak-ramai, tentara Giam Ong meluruk ke pintu kota, untuk menerjang ke dalam.

Sin Cie gunai ketikanya itu akan ikut tentara Beng Tiau yang kalah lari masuk ke kota-dalam, dimana pasukan pembela kota ada berjumlah besar, hingga dengan datangnya pasukan dari luar ini, kota-dalam menjadi seperti penuh-sesak.

Ketika itu, cuaca sudah mulai gelap.

Di luar kota, tentara sukarela telah bunyikan gembreng, untuk tunda penyerangan, buat mereka beristirahat.

Dalam waktu kalut itu, Sin Cie beramai dengan diam- diam nyeplos pulang ke rumah mereka, tidak ada opsir atau tentara Beng Tiau yang perhatikan mereka, sebab mereka itu masih terlalu sibuk sendiri.

Sesampainya di rumah, Sin Cie beramai salin pakaian mereka yang berlepotan darah, mereka lantas duduk bersantap, habis itu mereka naik ke genteng, untuk memandang ke sekeliling tempat. Di segala penjuru kelihatan api terang-terang.

"Besok pagi pastilah kota-dalam bakal terpukul pecah, maka sebentar malam ada saatnya untuk aku mencari balas dengan tanganku sendiri!" kata Sin Cie.

Orang tahu pemuda ini hendak membunuh kaisar Cong Ceng.

"Kita hendak turut!" kata kawan-kawan itu.

"Saudara-saudara sudah bercape-lelah satu harian, malam ini pantas kamu beristirahat," Sin Cie bilang. "Besok pun masih banyak kerjaan penting yang mesti dilakukan. Dalam waktu kacau sebagai ini, penjagaan di istana tentunya longgar, untuk membunuh raja ada pekerjaan segebrak saja, dari itu, cukup aku bekerja sendiri!"

Orang anggap dugaan pemimpin ini beralasan, mereka tidak memaksa hendak mengikut.

Sin Cie lantas minta Ceng Ceng pasang lilin dan hio, ia masuk, lengpay dengan huruf-huruf "Sian-kun Peng-pou Siang-sie Cie Liau Tok-swee Wan", yang berarti "Almarhum ayahanda Wan Cong Hoan, Peng-pou Siang- sie merangkap jenderal yang berperang di tanah Liau". ("Peng-pou Siang-sie" berarti "menteri peperangan.)

Pemuda ini hendak siapkan meja abu, untuk sebentar, setelah mengutungi batang leher kaisar Cong Ceng, ia hendak bawa kepala musuh itu untuk dipakai bersembahyang, terhadap roh ayahnya almarhum itu. Iapun sudah rencanakan, habis sembahyang ia hendak bawa kepala raja itu akan ditunjuki kepada tentara kerajaan, supaya mereka itu jadi kaget, takut dan buyar.

Apabila temponya sudah sampai, dengan bekal sebuah kantong kulit, dengan bekal sepotong golok panjang, seorang diri Sin Cie pergi ke arah istana kaisar.

Api terang di mana-mana, dalam saat kacau-balau itu, opsir-opsir dan tentara Beng, yang kabur dari hadapan musuh, menggunai ketika untuk menggarong rakyat.

Sin Cie tidak sempat perhatikan kekacauan itu, ia menuju langsung ke istana. Kapan akhirnya ia sampai, ia menjadi heran. Istana sepi dan kosong, tidak ada serdadu penjaganya, tidak tertampak orang-orang kebiri. Mungkin semua mereka itu sudah angkat kaki. "Jikalau kaisar buron atau sembunyi, sia-sia usahaku ini...." Pikir pemuda kita, yang hatinya terasa seperti mencelos. Tapi ia lari ke arah keraton. Baru ia sampai di muka pintu, ia sudah dengar suara nyaring dari seorang perempuan, yang sedang menegur hebat. Ia hampirkan pintu, untuk mengintai ke dalam. Begitu ia mendapat lihat, ia jadi girang luar biasa.

Kaisar Cong Ceng sedang duduk di atas sebuah kursi, di depannya ada seorang wanita dengan dandanan sebagai permaisuri sedang menuding-nuding seraya perdengarkan suaranya yang nyaring dan keras itu.

"Sudah semenjak belasan tahun, asal kau suka dengar sedikit beberapa kata-kataku, tidak nanti kejadian seperti hari ini! Kau telah bikin kuil leluhur dan negara terjatuh ke dalam tangan pemberontak, mana kau punya muka akan menemui leluhurmu?"

Demikian permaisuri itu.

Raja tunduk, dia berdiam saja.

Habis itu, sambil menangis dengan menutupi muka, permaisuri lari ke dalam.

Baru Sin Cie hendak tolak pintu, untuk menerjang masuk, ia lihat munculnya satu bajangan dari arah samping, bajangan mana merupakan satu nona rupawan yang menyekal pedang.

"Hu-hong, keadaan sudah mendesak, mari lekas pergi dari istana!" demikian nona itu sesampainya ia di depan raja.

Sin Cie segera kenali Tiang Peng Kiongcu atau A Kiu hingga hatinya jadi bercekat. "Ong Kong-kong, tolong kau layani Sri Baginda," kemudian kata si nona, pada satu thaykam yang berada di damping raja.

Thaykam itu, Ong Sin In namanya, lantas mengucurkan air mata.

"Baik, kiongcu thianhee," sahutnya. "Silakan, thianhee pergi bersama-sama..."

"Tidak," sahut A Kiu. "Aku masih hendak berdiam di sini buat sekian waktu."

"Kota Terlarang segera bakal pecah, dengan berdiam di dalam keraton ini, nanti thianhee terancam bahaya," membujuk orang kebiri itu.

"Aku hendak tunggu satu orang," tuan puteri bilang. Wajahnya kaisar berubah.

"Kau hendak tunggu puteranya Wan Cong Hoan?" tanya dia.

Mukanya A Kiu menjadi merah.

"Tidak salah!" jawabnya. "Hari ini sin-jie hendak berpisah dari hu-hong..."

"Sin-jie" berarti "aku" untuk anak raja terhadap ayahnya. "Mau apa kau menantikan dia?" Cong Ceng tanya pula. "Dia telah janjikan aku, sebentar dia bakal datang." "Coba kasikan pedang itu padaku," kata raja pula.

A Kiu angsurkan pedangnya.

Raja sambuti pedang itu, pedang Kim Coa Kiam, mendadak saja sinarnya, yang hitam, berkelebat, lantas ujung pedang menyambar kepada A Kiu. Tiang Peng Kiongcu menjerit kaget, tubuhnya limbung.

Sin Cie kaget. Tidak ia sangka kaisar berlaku demikian kejam terhadap puterinya sendiri. Ia teraling dengan pintu, jarak di antara mereka pun masih cukup jauh, tidak bisa ia lompat untuk mencegah atau menolongi tuan puteri itu. Ia Baru sampai di tengah jalan, A Kiu sudah rubuh!

Masih kaisar hendak ulangi bacokannya, akan tetapi sekarang si anak muda sempat berlompat kepadanya, sebelum bacokan pedang turun, tangan kirinya Sin Cie sudah menotok tangan kanan raja yang memegang pedang itu, hingga pedang lantas terlepas. Dengan kesebatannya, dengan tangan kiri masih menyekal lengannya kaisar, dengan tangan kanannya, Sin Cie sambar Kim Coa Kiam.

Kapan ini anak muda ambil kesempatan, akan menoleh kepada A Kiu, tuan puteri itu rebah dengan mandi darah, bahu kirinya telah terbacok putus, maka itu, ia gusar bukan main.

"Hun-kun!" berteriak dia. "Kau telah aniaya ayahku, sekarang aku ambil jiwamu!"

"Hun-kun" ada cacian: "raja yang gelap pikiran". Cong Ceng kenali Sin Cie, ia lantas menghela napas.

"Kau benar," katanya. "Aku telah rusaki negara, sekarang aku menyesal, sudah kasip..... Kau turunilah tanganmu!"

Raja ini lantas tutup rapat kedua matanya.

Dua thaykam lompat, untuk tarik Sin Cie, tetapi mereka disambut dengan dua tendangan saling-susul, hingga mereka rubuh terbanting.

Sin Cie ayun tangan kanannya, justru itu A Kiu membuka   matanya,   kapan   nona   ini   lihat   keadaan mengancam itu, ia lompat bangun, segera ia tubruk ayahnya, untuk dipeluki.

"Jikalau kau hendak bunuh hu-hong, bunuh aku lebih dahulu!" katanya. Dengan mata guram dan roman lesu, nona ini awasi anak muda di depannya itu. Tapi tak lama ia bisa peluki ayahnya, ia pingsan dan rubuh.

Tidak tega Sin Cie akan lihat puteri itu bermandikan darah. Dia tolak tubuh kaisar sampai Cong Ceng terjengkang dari kursinyadan rubuh, lantas ia membungkuk, untuk peluk A Kiu, untuk terus totok pundak kirinya, seluruh bebokongnya juga, guna cegah darah mengalir terus. Dan selagi darah keluar hanya dengan pelahan, ia keluarkan obat luka yang ia bekal, untuk diborehkan di tempat yang terluka, sesudah mana, dengan robekan ujung baju, ia balut luka itu.

Dengan pelahan-lahan, A Kiu sadar akan dirinya.

Ong Sin In, dengan dibantu beberapa thaykam, lekas- lekas pimpin bangun junjungan mereka, tidak tempo lagi, mereka ajak raja itu lari ke pintu.

"Kemana kau hendak kabur?" membentak Sin Cie, kapan ia lihat orang mencoba lari. Ia lantas rebahkan tubuh A Kiu, untuk dilepaskan, buat ia memburu. Akan tetapi tuan puteri, dengan sebelah tangannya, memeluk dengan keras, sambil menangis, dia ini kata: "Jangan bunuh dia......

Jangan bunuh dia.   "

"Baik!" jawab ini anak muda, yang pikir, raja itu toh tidak bakal mampu buron, sebab kota-dalam segera akan pecah. Ia pun sangat terharu terhadap puteri ini.

Hati A Kiu lega, kendorlah pelukannya, kembali ia pingsan. Melihat kekacauan dan keraton boleh dibilang sudah kosong, hingga di situ A Kiu tidak bakal dapat rawatan, Sin Cie pikir baik ia bawa puteri ini pulang ke rumahnya. Ia ambil putusan dengan lantas, terus ia pondong puteri itu, buat dibawa pulang.

Sudah kira-kira jam tiga ketika anak muda ini keluar dari keraton. Ia lihat cahaya terang di pelbagai jurusan, ia dengar teriakan riuh dan tangisan menyedihkan dari sana- sini. Teranglah, selagi kalah perang dan kabur, tentara Beng terus menggarong rakyat, penduduk kota.

Kapan Sin Cie sampai di Ceng-tiau-cu, di rumahnya, orang asik duduk menunggui dia. Orang terperanjat dan heran, akan lihat ia pulang sambil pondong seorang perempuan yang bermandikan darah, malah Ceng Ceng lantas unjuk roman tidak puas. Akan tetapi ia segera kenali A Kiu.

"Mana kepala raja?" ia tanya.

"Aku tidak bunuh dia." Sin Cie jawab. "Nona Ciau, tolong kau capekan hati lagi untuk merawat dia ini."

Wan Jie bersiap-sedia, ia lantas gantikan pondong A Kiu, untuk dibawa ke dalam.

"Kenapa kau tidak bunuh raja?" Ceng Ceng tanya Sin Cie.

Si anak muda menunjuk ke dalam.

"Dia minta aku jangan membunuhnya," ia menyahut. "Dia? Dia siapa?" tanya Ceng Ceng, yang menjadi gusar.

"Kenapa kau dengari perkataan dia?"

Belum Sin Cie sempat menjawab, Ho Tek Siu sudah menyela. "Nona demikian cantik, mengapa dia kutung sebelah tangannya?" kata Nona Ho ini sambil tertawa. "Suhu, mana lukisan gambar? Apakah kau tidak bawa sekali?"

Sin Cie kedipi mata kepada muridnya yang nakal itu.

Sebenarnya Tek Siu masih hendak mengganggu, tetapi melihat roman sang guru, dan menampak sikapnya Ceng Ceng, ia batal, ia ulur lidahnya, terus ia tutup mulut.

"Gambar apa itu?" Ceng Ceng tanya Tek Siu.

"Nona tadi pandai menggambar," nona Ho jawab. "Aku pernah lihat dia melukis gambar dirinya sendiri, bagus sekali."

"Apakah benar itu?" tegasi Ceng Ceng, matanya melotot.

Tapi tanpa tunggu jawaban, ia ngeloyor ke dalam.

Tek Siu menoleh kepada Sin Cie, ia leletkan lidahnya pula....

Anak muda kita lantas pergi ke kamarnya, untuk beristirahat. Ia merasa sangat pusing.

Kapan sang fajar datang, Ang Seng Hay lari masuk. "Wan Siangkong, See Ceecu telah dapat tawan thaykam

Ong Siau Giau," ia melaporkan. "Tentara telah dipimpin

untuk buka pintu Soan-bu-mui!" Sin Cie lompat bangun.

"Apakah pasukan sukarela sudah memasuki kota- dalam?" dia tanya.

"Pasukan Ciangkun Lau Cong Bin sudah masuk," jawab Seng Hay.

"Bagus! Mari kita menyambut!"

Setelah berkata begitu, pemuda ini pergi ke thia. "Suhu jangan kuatir," Tek Siu bilang pada gurunya. "Aku nanti urus mereka itu."

Sin Cie manggut. Murid ini maksudkan Ceng Ceng semua.

Thia Ceng Tiok ada bekas siewie, malah dia ada pemimpin pahlawan dari kaisar Cong Ceng, karenanya, ia tidak mau campur tahu dalam sepak-terjangnya Sin Cie menyambut datangnya Giam Ong. Malah paling belakang ini, ia keram diri di dalam kamar, ia tidak mau tanya segala apa, ia tidak mau dengar apa-apa juga. Sin Cie tahu jago itu masih ingat bekas junjungannya, ia tidak bilang suatu apa, ia membiarkan saja ketua dari Ceng Tiok Pay itu.

Sampai itu waktu, See Thian Kong dan Thie Lo Han masih belum kembali, anak muda ini lantas ajak A Pa, Ou Kui Lam dan Seng Hay pergi ke pintu Tay-beng-mui. Di jalanan ia lihat awan mendung berkumpul, salju putih beterbangan turun. Serdadu-serdadu masih saja lari serabutan, sedang di antara rakyat ada yang berseru: "Pintu Ceng-yang-mui, Cee-hoa-mui, Tong-tit-mui, semua sudah dipukul pecah!"

Semakin jauh Sin Cie jalan, makin berkurang serdadu yang merat.

Sekarang Sin Cie lihat orang pada berdiri di muka pintu rumahnya masing-masing, di atas pintunya, mereka tempelkan kertas kuning dengan huruf-huruf memujikan selamat kepada pemerintah yang baru. Semua penduduk itu berseru-seru kegirangan, malah ada yang sajikan barang makanan di depan pintu, untuk jamu tentara sukarela.

"Rakyat ada begini bersimpati, bagaimana Giam Ong tidak akan berhasil!" kata Sin Cie pada tiga kawannya. Mereka jalan terus, sampai mereka dengar suara trompet ramai, lantas tampak mendatangi sebarisan dari beberapa

1127 ribu orang, di muka barisan kelihatan See Thian Kong bersama Thie Lo Han. Mereka inilah yang pimpin pasukan pejuang di dalam kota, untuk labrak sesuatu barisan Beng, sampai musuh terpukul hancur dan buyar.

Kapan pasukan tentara itu lihat si anak muda, mereka bertampik-sorak.

"Giam Ong segera akan datang!" Thie Lo Han berseru.

Hampir menyusul seruan imam ini, dari arah depan kelihatan mendatangi sambil berlari-lari beberapa penunggang kuda, satu di antaranya membawa sebuah bendera besar dengan huruf-huruf "Cie-Ciangkun Lie" yang berarti "Lie, pejabat Jenderal".

Dan selagi beberapa penunggang kuda itu mendatangi lebih dekat, Sin Cie lihat Lie Gam, pejabat jenderal itu, dengan jubah kuningnya, kudanya dikaburkan.

"Toako!" ia berseru memanggil, sambil ia berlompat ke depan kuda, untuk memapaki.

Lie Gam tercengang, tetapi sekejab saja, iapun sudah lantas loncat turun dari kudanya.

"Jie-tee!" seru dia sambil tertawa. "Kaulah yang berjasa nomor satu atas pecahnya kota!"

"Jasa apa yang siautee punyakan?" Sin Cie bilang. "Begitu lekas sampai pasukan besar dari Giam Ong, tentara Beng bubar sendirinya."

Dua sahabat ini saling jabat tangan.

Pertemuan yang menggirangkan juga dilakukan dengan beberapa penunggang kuda lain, yang datang bersama Cie- ciangkun Lie Gam ini, karena mereka ada Lau It Hou dari Lau Ya San, Cui Ciu San, Cui Hie Bin, juga An Toa Nio dan An Siau Hui, jadi semua ada sahabat-sahabat kekal, apapula Ciu San, guru pertama dari Sin Cie.

Selagi mereka bergembira sekali, mereka dengar suara terompet, yang disusul sama seruannya pasukan tentara. "Tay-ong sampai! Tay-ong sampai!"

Dengan "Tay-ong" yaitu "Raja besar" dimaksudkan Giam Ong.

Sin Cie semua menyingkir ke tepi jalanan, dari situ mereka lihat datangnya sebarisan dari seratus lebih penunggang kuda, di sebelah depan, dengan menunggang kuda bulu hitam, ada Lie Cu Seng yang memakai tudung lebar dan jubah hijau muda, yang mendatangi dari pintu Tek-seng-mui.

Lie Gam maju, untuk papaki pemimpinnya itu, dengan siapa ia ucapkan beberapa patah kata.

"Bagus! Silakan undang saudara Wan kemari!" berkata pemimpin besar itu.

Lie Gam melambaikan Sin Cie, ini anak muda bertindak maju menghampirkan.

"Saudara Wan, kau telah dirikan jasa besar!" kata pemimpin itu sambil tertawa. "Apakah kau tidak punya kuda?"

Lie Cu Seng terus lompat turun, akan serahkan kudanya sendiri pada orang yang dianggap berjasa besar itu.

Sin Cie menjura menghaturkan terima kasihnya.

Semua orang gembira sekali, mereka berseru "Ban-swee!"

Lie Cu Seng menukar kuda lain, lantas ia ajak semua orang mulai jalan lagi, menuju ke pintu Sin-thian-mui. Selagi jalan, ia menoleh pada Sin Cie, sembari tertawa, dia kata: "Kau menyambungi semangat ayahmu, aku menyambungi karunia Thian!"

Namanya Sin Cie dapat diartikan: "Sin" = "menyambungi/menerima" dan "Cie" = "Semangat/angan- angan". Dan "menyambungi karunia Thian" adalah "Sin Thian". ("Thian" dimaksudkan "Tuhan").

Setelah berkata demikian, Giam Ong tarik busurnya, membidik ke atas, maka melesatlah sebatang gandewanya, menyambar tepat huruf "Thian" dari nama pintu kota "Sin- thian-mui" di tembok kota!

Orang menjadi kagum , sebab kecuali gapah dan jitu, tenaga Giam Ong pun besar, anak panah itu dapat nancap dalam sekali di tembok. Maka lagi sekali orang bertampik- sorak riuh.

Sesampai mereka di muka pintu kota, di situ Thaykam Ong Tek Hoa menyambut bersama tiga-ratus thaykam lainnya.

Giam Ong tertawa, ia lempar cambuknya.

"Saudara Wan," katanya pada Sin Cie terhadap siapa ia berpaling, "ketika dahulu kau pergi ke Siamsay dimana kau menemui aku, apa pernah kau pikir bakal terjadi seperti hari ini?"

"Tay-ong bakal berhasil dengan usaha yang besar, semua orang pandai di kolong langit sudah mengetahuinya sejak siang-siang," jawab Sin Cie, "akan tetapi sekali-kali tidak ada orang dapat pikir kejadiannya ada begini lekas!"

Lie Cu Seng bertepuk tangan, ia tertawa pula.

Itu waktu ada orang berlari-lari ke depan Giam Ong, untuk segera melaporkan: "Tay-ong, ada satu thaykam memberitahukan bahwa dia lihat kaisar Cong Ceng lari ke bukit Bwee San!"

Giam Ong memandang Sin Cie.

"Saudara Wan, pergi lekas bawa orang untuk tawan dia!" ia titahkan.

Sin Cie terima titah itu sambil menyahuti "Ya", lalu dengan ulapkan tangan, ia ajak Ou Kui Lam beramai pergi memburu ke Bwee San.

Bwee San ada satu bukit kecil, kapan rombongannya Sin Cie sampai di atas bukit itu, semua mereka terperanjat. Di situ, pada sebuah pohon besar, tergantung tubuhnya dua orang, satu di antaranya riap-riapan rambutnya, bajunya baju biru pendek dengan garis putih, rompinya dari sutera putih, celananya putih juga, kaki kirinya telanjang, kaki kanannya pakai sepatu merah berikut kaosnya.

Setelah Sin Cie datang dekat, ia kenali yang rambutnya riap-riapan itu ada Cong Ceng, kaisar terakhir dari Kerajaan Beng. Pada bajunya kaisar ini ada tulisan memakai darah sebagai berikut:

"Sejak tim naik atas tahta-kerajaan, tujuh-belas tahun telah lampau, selama itu, empat kali musuh telah menyerbu masuk ke dalam perbatasan, hingga sekarang ini pemberontak mendesak sampai di kota raja. Walaupun tim tidak bijaksana akan tetapi sebenarnya adalah menteri- menteri yang telah menyesatkan tim. Sekarang ini, meskipun tim mati, tim tidak punya muka untuk bertemu sama leluhurku di dunia baka, maka itu tim singkirkan kopiaku, tim tutupi muka dengan rambutku. Biarlah kaum pemberontak cincang mayat tim tetapi janganlah bikin celaka kendati satu saja rakyat negeri." Membaca firman wasiat itu, Sin Cie jadi sangat terharu, ia berduka sekali. Dua puluh tahun ia mendendam sakit hati, sekarang ia dapat membalasnya, itu adalah hal yang menggirangkan, siapa nyanya, ia mesti saksikan akhir yang menyedihkan ini dari musuh besarnya. Ia menghela napas.

"Sekaranglah kau bisa menulis begini macam," kata dia. "Kau memesan untuk kami jangan bikin celaka sekalipun jiwanya seorang rakyat jelata. Coba sejak dahulu kau menyayangi rakyat, coba kau tidak tindas rakyat sampai mereka kelaparan dan tak berdaya, mana mungkin bisa terjadi seperti hari ini?"

"Wan Siangkong, orang yang satunya lagi ada satu thaykam," Ang Seng Hay kasi tahu.

"Satu raja mati cuma dengan ditemani satu thaykam, ini dia yang dibilang, tanah ambruk, genteng hancur, semua orang berbalik, memisahkan dirinya," berkata Sin Cie. "Sekarang, Seng Hay, pergi kau singkirkan semua mayat ini, supaya tidak sampai diganggu orang."

Seng Hay menyahuti ia akan urus mayat itu, maka setelah itu, Sin Cie ajak rombongannya balik untuk memberi laporan pada Giam Ong.

Lie Cu Seng sendiri sudah menuju ke istana, disana ada serdadu-serdadu pihaknya, yang menjaga, mereka menyambut, untuk mengantari masuk ke dalam.

Kapan kemudian Sin Cie masuk ke istana, ia dapatkan Giam Ong sedang duduk di kursi dengan seorang anak muda yang pakaiannya tidak rapi berdiri di sampingnya.

"Bagus, saudara Wan!" kata pemimpin itu apabila ia lihat si anak muda. "Mana raja? Bawa dia menghadap!"

"Cong Ceng telah mati gantung diri," Sin Cie kasi tahu. "Inilah surat wasiatnya." Lie Cu Seng tercengang, tapi kemudian, ia sambuti surat wasiat itu, untuk dibaca.

Mendengar hal raja mati, si anak muda dengan pakaian kusut itu menangis menggerung-gerung, hampir saja ia pingsan.

"Inilah thaycu!" kata Giam Ong pada Sin Cie.

"Oh," kata si anak muda, yang lantas mengasih bangun pada thaycu - putera mahkota itu.

"Kenapa kau kehilangan negaramu? Kau tahu tidak sebabnya?" Giam Ong tanya putera raja itu.

"Sebab hu-hong keliru mempercayai dorna Ciu Yan Jie dan lainnya," jawab thaycu.

"Aku juga ketahui itu," kata Giam Ong sambil tertawa. Tapi ketika ia menambahkan, ia hunjuk roman keren: "Aku kasih tahu padamu, ayahanda-rajamu tolol dan kejam, dia sudah membuat rakyat hidup bersengsara! Memang harus dibuat sedih yang ayahandamu hari ini telah mati gantung diri, akan tetapi selama tujuh-belas tahun pemerintahannya, setahu sudah berapa ribu, beberapa laksa anak negeri yang dia paksa mati menggantung diri, nasib mereka itu lebih- lebih hebat dan menyedihkan."

Thaycu tunduk, ia tidak bilang suatu apa. Akan tetapi, selang sedikit lama, ia kata: "Sekarang baik kau bunuhlah aku!"

Sin Cie tidak nyana putera ini berhati keras, ia jadi kuatirkan keselamatan dirinya.

Tetapi Giam Ong bilang: "Kau masih anak-anak, kau tidak punya dosa, mana bisa aku sembarang bunuh orang?"

"Kalau begitu, aku hendak majukan beberapa permohonan," kata putera raja itu. "Coba sebutkan, aku ingin dengar," Giam Ong jawab.

"Aku minta kau jangan ganggu kuburannya leluhurku, supaya kau juga kubur baik-baik jenazah hu-hong dan bu- hou," minta thaycu. Ia masih ingat kepada ayahnya dan ibunda-raja.

"Itulah pasti. Tentang itu tak usah kau minta."

"Di sebelah itu, aku minta kau jangan bunuh-bunuhi rakyat."

Giam Ong tertawa berkakakan.

"Bocah tak tahu apa-apa! Aku justru ada si rakyat jelata! Adalah kami rakyat jelata yang pukul pecah kota-rajamu ini! Kau mengerti tidak?"

"Jadinya kamu tidak membunuh rakyat?" thaycu tegasi.

Giam Ong lantas buka bajunya, akan perlihatkan dada dan pundaknya yang penuh tanda-tanda bekas hujan cambukan.

Melihat tanda-tanda bekas siksaan itu, orang semua gegetun.

Lie Cu Seng lantas kata: "Aku juga ada rakyat jelata yang taat terhadap undang-undang, akan tetapi pembesar jahat sudah siksa aku, aku pernah dipukuli, hingga saking habis daya, terpaksa aku berontak. Ayahmu itu, - hm!- dan juga kau sendiri, kamu berpura-pura saja menyayangi rakyat, buktinya tentara kita, dari yang berpangkat tinggi sampai serdadu biasa, tidak ada satu yang tidak pernah merasai siksaanmu!"

Thaycu tunduk pula, ia berdiam. Lie Cu Seng pakai pula bajunya. "Sekarang pergi kau mundur," ia menitahkan. "Mengingat kau adalah putera mahkota aku angkat kau menjadi pangeran. Dengan begini aku hendak hunjuk kepadamu, kami rakyat jelata, kami tidak mendendam sakit hati! Pangeran apa aku hendak angkat kau? Karena ayahmu persembahkan negaranya kepada kami, sekarang aku angkat kau jadi pangeran Song-ong."

Huruf "Song" dari Song-ong itu sama suara-bacanya dengan huruf "song" = "mengantar".

Bersama thaycu itu ada Thaykam Co Hoa Sun.

"Lekas kau haturkan terima kasih kepada Sri Baginda," ia ajari putera mahkota.

Thaycu menoleh, ia memandang dengan bengis pada orang kebiri itu. Dengan mendadak saja sebelah tangannya melayang, ke mukanya thaykam she Co itu.

"Plok!" demikian suara nyaring, yang menyusuli gaplokan itu. Lalu di pipinya sang thaykam menggalang tapak lima jari tangannya si putera mahkota.

Giam Ong tertawa terbahak-bahak.

"Bagus!" serunya. "Dia ada orang tidak setia dan tidak berbudi, bagus dia dihajar! Mana orang? Gusur dia keluar, penggal batang lehernya!"

Co Hoa Sun kaget tidak terkira, mukanya pucat dengan mendadakan, terus ia rubuhkan diri, akan berlutut di depan pemimpin rakyat itu. Ia manggut berulang-ulang, sampai jidatnya mengenai lantai dan boboran darah. Dengan sangat ia mohon dikasihani.

Giam Ong tak gubris orang itu; ia tendang orang kebiri itu, sampai dia terguling kemudian ia titahkan orangnya hukum mati thaykam jahat itu. Thaycu sendiri, dengan sikap agung, bertindak keluar.

"Ini anak berhati keras, aku suka orang yang bersifat sebagai dia," kata Giam Ong sambil tertawa pada Sin Cie. Terus ia menoleh ke samping, pada Kunsu Song Hian Cek, ahli pemikirannya yang tubuhnya kate. Ia kata: "Kabarnya kaisar Cong Ceng ada punya seorang puteri, entah ada di mana puteri itu."

"Kaisar Cong Ceng telah bacok kutung sebelah lengannya puteri itu, aku bawa dia pulang untuk dirawat," Sin Cie wakilkan sang ahli pemikir menjawab. "Kalau nanti dia sudah sembuh, aku nanti bawa ia menghadap Tay-ong."

"Bagus, bagus!" Giam Ong tertawa. "Jasamu tidak kecil, aku justru lagi pikiri dengan apa aku mesti hadiahkan kau. Nah, kau ambillah puteri raja itu untukmu!"

Sin Cie terkejut.

"Tidak, tidak, itulah   " katanya.

"Saudara Wan, malu apa? kata Song Hian Cek, yang potong kata-katanya anak muda ini. "Memang benar, satu enghiong mestilah satu orang muda! Lau Ciangkun dan lainnya juga berjasa besar akan tetapi Tay-ong cuma hadiahkan mereka beberapa dayang."

Ahli pemikir ini bicara sambil tertawa, bagi Sin Cie, sikap dan perkataannya, ada mengandung sindiran, maka itu, ia mengawasinya dengan melengak. Ia lihat orang bertubuh tinggi tidak tiga kaki, malah kaki kanannya lebih pendek dari kaki kirinya, hingga tubuhnya dia itu menjadi dengdek, miring sebelah.... Untuk tunjang diri, kunsu ini pegangi sebatang tongkat. Dia pun mempunyai muka gepeng dan panjang, romannya sangat licin, suatu tanda dari kecerdikannya. Dia masih bersenyum-senyum waktu dia terus awasi padanya. Justeru itu waktu, Lie Gam datang dengan cara kesusu sekali.

"Tay-ong!" katanya begitu ia sudah datang dekat, "Lau Ciangkun beramai sedang mengacau tak keruan!"

"Ada kejadian apakah?" tanya Lie Cu Seng.

"Mereka telah tangkap-tangkapi sejumlah pembesar dan hartawan, mereka siksa orang-orang itu, untuk peras uangnya," sahut Lie Gam. "Katanya sudah tidak sedikit orang yang mereka bunuh."

Mendengar ini, Kunsu Song Hian Cek tertawa. Ia mendahului tayongnya bicara. Ia bilang: "Mereka itu telah berperang mati-matian, mereka rampas negara sesudah mengadu-jiwa, sekarang mereka lagi membikin uang, itulah tidak apa. "

Lie Gam tidak puas dengan kata-kata ini, ia gusar. "Tidak demikian!" katanya. "Kanglam masih belum

dapat dibikin tetap, Gou Sam Kui di San-hay-kwan masih

belum menakluk, selagi hati umum masih belum tenang, bagaimana orang-orang yang mengepalai tentara bisa memikir untuk mengumpul uang? Apakah artinya itu?"

"Kenapa sih kalau orang mengumpul uang?" kata pula Song Hian Cek dengan tawar. "Yang dikuatirkan adalah kalau orang terkena bujukan orang lain, lantas dia kandung maksud jelek terhadap Tay-ong - itu Barulah jelek. "

Otot-otot di mukanya Lie Cu Seng bergerak-gerak sedikit, tanpa diingini, ia melirik kepada Lie Gam.

Masih Lie Gam murka.

"Kami telah berhasil dengan usaha besar kami ini, bukankah itu disebabkan kami tahu hati rakyat, hingga rakyat tunjang kita?" kata pula dia dengan keras. Tidak enak hatinya Sin Cie akan lihat orang berselisih. Ia bukannya orang lama dari Giam Ong, tidak mau ia campur perselisihan itu. Maka ia lantas memberi hormat pada Giam Ong, terus ia undurkan diri dari istana. Tidak lagi ia sempat bicarakan urusan hadiah puteri raja itu. Ketika ia Baru keluar dari pintu istana, di depan ada seorang berlari-lari kepadanya.

"Siau-susiok, aku cari kau dimana-mana!"

0o-d.w-o0