-->

Pedang Ular Emas Bab 22

Bab ke 22

Si uwah jelek berhenti sebentar, untuk menghela napas, guna entengi hatinya.

"Begitu aku dapat tahu dia ambil tiga-tiganya mustika, segera aku merasakan firasat jelek," dia melanjuti selang sesaat. "Maka aku lantas desak dia supaya dia tinggalkan Kim-coa-cui dan peta bumi itu. "

"Peta apakah itu?" Ceng Ceng memotong. "Ayahku cuma berniat keras mencari balas, mustahil dia kehendaki juga peta bumi kamu?"

"Aku sendiri tidak tahu, peta itu ada peta apa," sahut Ho Ang Yo. "Apa yang kami tahu itu adalah mustika yang telah diwariskan sejak beberapa puluh turunan. Hm! Dia benar-benar kandung maksud tidak baik! Dia tidak perdulikan permintaanku, dia cuma awasi aku sambil tertawa. Sudah disebutkan, adalah aturan Ngo Tok Kau kita, siapa memasuki guha Tok-liong-tong, kita dilarang mengenakan pakaian meski cuma selembar, maka bisalah dimengerti keadaan kita berdua pada waktu itu. Demikian aku, tanpa aku sadar, aku telah lantas serahkan diri kepada dia. Sejak itu, aku tidak tanyakan suatu apa lagi terhadapnya.

Secara demikian, kita telah curi ketiga mustika. Dia sudah bilang padaku, setelah selesai mencari balas, dia bakal kembali, untuk kembalikan tiga mustika itu. Setelah dia pergi, setiap hari aku harap-harap kembalinya, tetapi, sampai dua tahun, dari dia tidak ada kabar-ceritanya. Baru belakangan aku dengar cerita antara kaum kangouw bahwa di Kanglam telah muncul satu pendekar luar biasa yang bersenjatakan sebatang pedang aneh serta bor emas, karena mana, dia dijuluki Kim Coa Long-kun, Pendekar Ular Emas. Aku percaya betul, pendekar itu mesti dianya. Aku terus pikiri dia, aku menduga-duga, sudahkah dia menuntut balas atau belum. Lewat lagi sekian lama, kaucu bercuriga, dia lantas periksa guha Tok-liong-tong, dengan kesudahannya pecahlah rahasia pencurian ketiga mustika. Atas itu, kaucu wajibkan aku menghukum diriku sendiri. Dan sebagai kesudahan beginilah jadinya rupaku. "

"Kenapa kau jadi begini?" Ceng Ceng tegasi.

Ho Ang Yo ada sangat murka, tak sudi ia menjawabnya.

Tapi Ho Tiat Chiu, dengan pelahan dia kata kepada ahliwarisnya Kim Coa Long-kun: "Ketika itu yang menjadi kau-cu ada ayahku, Ayah sangat berduka yang adiknya sendiri melakukan pelanggaran hebat itu, saking malu dan berduka, ia dapat sakit, terus dia menutup mata. Bibi telah jalankan aturan agama kita, ia hukum diri dengan masuk ke dalam guha ular, hingga ribuan ular gigiti dia. Begitulah, rusaknya muka bibi."

Ceng Ceng menggigil, dia jeri sendirinya, akan tetapi berbareng, terhadap si uwah dia tidak lagi membenci seperti tadinya.

"Setelah bibi obati diri dan sembuh," Ho Tiat Chiu terangkan lebih jauh, "ia lantas bikin perjalanan sebagai pengemis. Adalah aturan perkumpulan kita, siapa lakukan pelanggaran hebat, dia mesti hidup sebagai pengemis lamanya tiga-puluh tahun, selama mana dia dilarang mencuri uang baik satu bun atau mencuri nasi satu butir, malah dia dilarang juga menerima tunjangan dari sesama kaum Rimba Persilatan."

Ho Ang Yo perdengarkan suara di hidung. "Mulanya masih saja aku ingat dia, maka itu sembari mengemis di sepanjang jalan, aku susul dia di Kanglam," cerita terus uwah ini. "Begitu lekas aku memasuki wilayah Ciatkang, aku lantas dengar kabar hal dia sudah bunuh orang di Kie-ciu, untuk pembalasannya. Ingin aku menemui dia, maka aku cari padanya. Tapi ia tidak punyakan tempat kediaman yang tentu maka adalah sulit untuk cari ketemu padanya. Ketika akhirnya aku bertemu juga dengannya di Kim-hoa, waktu itu dia telah kena ditawan orang. Beberapa kali aku mencoba menolongi dia, selalu aku tidak berhasil. Musuh-musuhnya telah jaga dia kuat sekali hingga tak bisa aku turun tangan. Dia telah dibawa ke Utara. Aku merasa sangat heran, aku tidak tahu, kenapa dia ditangkap dan dibawa pergi. Baru kemudian aku dengar kabar, orang hendak paksa dia supaya dia serahkan peta yang dicurinya. Nyata peta itu ada peta lukisan dari suatu tempat simpan harta besar. Pada satu wkatu, bisa juga aku dapatkan ketika akan bicara sama dia. Dia kasi tahu aku bahwa orang telah bikin putus semua urat-uratnya, hingga ia jadi seorang yang bercacat. Menurut dia, semua pengantarnya ada orang- orang liehay, maka sendirian saja, tidak nanti aku bisa tolongi dia. Dia bilang, dia punya cuma satu harapan untuk bisa hidup terus. Ialah kapan ia bisa pancing musuh- musuhnya pergi ke puncak gunung Hoa San. Dan itu waktu, dia sedang memancingnya."

"Bibi," tanya Ho Tiat Chiu, "kejadian selanjutnya lebih- lebih aku tidak tahu. Apa maksud sebenarnya memancing musuh ke gunung Hoa San itu?"

"Dia bilang di kolong langit ini cuma satu orang yang bisa tolong dia," sahut Ho Ang Yo. "Orang itu ada Pat-chiu Sian Wan Bok Jin Ceng si Lutung Sakti Tangan Delapan dari Hoa San Pay." Gegetun Sin Cie akan dengari penuturan orang itu, sampai ia tak tahu, berhubung sama sepak-terjangnya Kim Coa Long-kun itu, ia mesti membencinya atau mengasihaninya. Di lain sebelah, ia jadi sangat ketarik akan dengar disebut-sebutnya nama gurunya.

Juga Ceng Ceng sangat ketarik mendengar namanya Bok Jin Ceng, gurunya pemuda pujaannya itu.

Demikian semua orang pasang kuping mendengari Ho Ang Yo mulai pula dengan perlanjutan penuturannya: "Aku tanya dia, siapa itu Bok Jin Ceng. Dia bilang, orang she Bok itu ada ahli pedang yang di kolong langit ini tidak ada tandingannya. Menurut dia, sebenarnya dia tidak kenal Bok Jin Ceng, dia belum pernah menemuinya juga, dia melainkan dengar, orang she Bok itu ada satu orang jujur dan pembela keadilan, Dia percaya, asal Bok Jin Ceng dapat tahu bagaimana dia telah dipersakiti, pendekar itu pasti akan suka tolongi dia. Katanya Ngo Heng Tin dari lima persaudaraan Un ada sangat liehay, sudah begitu, mereka dibantu oleh imam-imam dari Ngo Bie Pay, maka kecuali Bok Jin Ceng, lain orang tak dapat mengalahkan mereka. Maka itu dia suruh aku lekas-lekas pergi ke Hoa San, akan cari Bok Tayhiap, untuk minta bantuan. Ia anjurkan aku untuk memohon sambil menangis, supaya Bok Tayhiap suka menolong. Aku telah terima baik permintaannya itu, aku malah sudah lantas ambil putusan, umpama kata Bok Tayhiap tidak sudi meluluskan, akan membantu, aku hendak bunuh diri di depannya. Aku telah berkeputusan akan tolongi dia. Karena penjagaan kuat sekali, tidak berani aku bicara lama dengannya. Ketika aku hendak berlalu, aku rangkul dia. Dengan tiba-tiba aku dapat cium bau harum pada dadanya, bau dari wewangian orang perempuan, maka aku merogo ke dalam sakunya, hingga aku tarik keluar satu kantong sulam hiang-ho-pau dalam mana ada termuat segumpal rambut wanita serta sebuah tusuk konde emas yang mungil. Tubuhku sampai menggigil saking ku gusar. Aku tanya, siapa yang berikan itu kepadanya, dia tidak mau memberitahukan. Aku telah ancam dia, apabila dia tetap tidak mau beritahu, aku tidak mau cari Bok Tay-hiap, tapi dia tetap tutup mulutnya. Dia telah perlihatkan sikapnya yang angkuh. Dan, lihat, lihat! Sikapnya bocah ini juga sama angkuhnya dengan dia!"

Dan si uwah jelek ini tuding Ceng Ceng. Ia bicara dengan suara keras, akan tetapi pada itu ada tercampur irama kedukaan hebat. Habis itu, ia melanjuti: "Tadinya aku hendak desak dia, untuk paksa dia memberitahukannya, apamau orang Cio Liang Pay yang menjaga dia telah keburu balik, dengan terpaksa, aku tinggalkan dia. Bukan main masgulnya hatiku. Aku telah menderita untuk dia, siapa tahu, dia justru siasiakan aku dan punyakan lain kekasih. Ketika kemudian dia telah sampai di Hoa San, aku tidak pergi cari Bok Tayhiap. Dengan bisaku sendiri, aku telah racuni dua imam yang jagai dia. Rupanya pihak Un tidak menyangka bahwa diam- diam ada orang mencoba tolongi orang tawanannya itu. Begitulah, selagi mereka beralpa, aku bawa dia lari, aku sembunyikan dia di dalam sebuah guha. Ketika keluarga Un mendapat tahu dia terhilang, mereka jadi heran dan sibuk, mereka mencari ubak-ubakan tanpa hasil, hingga kesudahannya mereka saling curigai orang sendiri, sampai mereka berselisih. Di akhirnya, mereka memencar diri, untuk geledah seluruh gunung Hoa San. Kesudahannya, mereka membangkitkan amarahnya Bok Tay-hiap, hingga Tay-hiap telah gunai akal, membikin mereka ketakutan sendiri dan lantas lari kabur. Pada malam itu, aku desak dia untuk beritahu aku she dan namanya kekasihnya itu. Dia tetap menolak, mungkin dia insaf, satu kali aku mendapat tahu, aku bisa pergi cari kekasihnya itu, untuk dibunuh. Dia

1031 sendiri sudah tidak punya guna, tidak nanti bisa susul aku, dia kuatir nanti tak dapat dia melindungi kekasihnya itu. Karena dia terus tutup mulut, aku jadi sangat murka, beruntun selama tiga hari, setiap pagi aku rangket dia dengan rotan, begitupun setiap tengah-hari dan sore. "

"Hai, perempuan jahat!" teriak Ceng Ceng. "Bagaimana kau tega menyiksa ayahku!. "

"Dia yang berbuat, dia mesti terima bagiannya!" kata Ho Ang Yo dengan sengit. "Makin lama aku hajar dia, makin aku sengit, akan tetapi dia, dia tertawai aku, dia tertawa makin besar. Dia bilang, sejak mulanya dia tidak menyukai aku, bahwa kekasihnya ada cantik sekali, manis dan lemah- lembut, orangnya jelita, lebih memang seratus kali daripada aku! Setiap patah kata dia ucapkan, setiap rotan aku berikan, tetapi setiap kali aku rangket dia, setiap kali juga dia banggai kekasihnya itu, si perempuan hina! Aku telah hajar dia sampai akhirnya tidak ada tubuhnya yang utuh, akan tetapi terus-terusan ia tertawa, terus saja ia masih puji dan banggai kekasihnya itu.... Sampai di hari ketiga, selagi dia jadi sangat lemah, aku sendiri pun jadi sangat lelah, lelah karena terlalu mendongkol, sebab habis tenaga. Kemudian aku pergi keluar, untuk cari bebuahan. Ketika aku pulang, dia tunggu aku di mulut guha, dia larang aku masuk. Dia mengancam, satu tindak berani aku melangkah, dia akan tikam aku. Aku tidak berani sembarang masuk. Aku kasi tahu padanya, asal dia beritahukan aku she, nama dan alamat kekasihnya, aku suka maafkan dia untuk tak berbudinya, tetapi dia tertawai aku, dia tertawa terbahak- bahak. Dia bilang, dia cintai kekasihnya melebihi jiwanya sendiri! Secara demikian, kami bentrok. Aku ada punya bebuahan untuk dimakan, dia sendiri, dia mesti menahan lapar. Aku dapat tahu, Bok Tay-hiap telah pergi turun gunung, mungkin dalam satu-dua tahun, dia tidak akan kembali, maka itu, tidak nanti ada orang yang tolongi dia. "

"Secara demikian, bibi, kau bikin dia mati kelaparan?" tanya Ho Tiat Chiu.

"Hm, tidak secara demikian gampang aku membikin dia mati!" sahut sang bibi. "Lagi beberapa hari, setelah dia habis tenaganya, aku masuk ke dalam guha, aku bikin patah kedua kakinya. "

Ceng Ceng menjerit, dalam sakitnya, dia berlompat untuk bangun, akan serang uwah itu.

Ho Tiat Chiu tekan pundak orang, akan bikin anaknya Kim Coa Long-kun tak dapat bangun.

"Kau dengari sampai bibi berceritera habis," katanya. "Puncak Hoa San ada sangat tinggi dan berbahaya,

dengan kedua kakinya patah, tidak nanti dia bisa turun

gunung lagi," demikian Ho Ang Yo meneruskan ceritanya. "Begitulah aku pergi turun gunung, akan cari kekasihnya itu. Adalah keputusanku, apabila aku berhasil mendapatkan kekasih itu, aku bakal bikin rusak mukanya hingga jadi jauh terlebih jelek daripada mukaku, setelah itu, aku nanti gusur dia ke Hoa San, untuk dipertemukan dengannya, aku ingin lihat, dia masih memuji-muji dan membanggai atau tidak! Setengah tahun sudah aku mencari, tidak pernah aku peroleh endusan. Aku niat kembali ke Hoa San, untuk tengok dia, aku kuatir, mungkin Bok Jin Ceng sudah pulang ke gunungnya, mungkin Bok Tay-hiap dapat menemukan dia dan menolongnya. Aku telah saksikan sendiri liehaynya Bok Tay-hiap ketika ia usir keluarga Un, maka apabila Bok Tay-hiap nanti bantu dia, bisa celaka aku. Maka aku segera balik ke gua gunung. Di luar sangkaanku, aku tidak dapat ketemukan dia di dalam guha, aku cari dia di puncak, tidak juga aku menemukannya. Entah dia telah ditolongi Bok

1033 Tay-hiap atau oleh orang lain. Seterusnya, selama dua- puluh tahun, tidak pernah aku dengar pula tentang dia, percuma saja aku cari dia di segala penjuru, hingga tak tahu aku manusia tidak punya liangsim itu sudah mati atau masih hidup. "

Mendengar sampai di sini, tahulah sekarang Sin Cie sebabnya kenapa Kim Coa Long-kun keram diri di dalam guhanya yang istimewa itu, terang dia menyingkir dari orang Ngo Tok Kau ini yang dia tidak sanggup lawan karena dia sudah tidak berdaya lagi, dia lebih suka terbinasa daripada mesti minta bantuannya lain orang.

Selagi pemuda ini berpikir, tiba-tiba ia dengar bentakannya Ho Ang Yo.

"Aku tidak sangka dia justru tinggalkan kau sebagai keturunan celaka!" demikian uwah itu, yang tuding Ceng Ceng, suaranya sangat bengis. "Mana ibumu? Aku tahu shenya she Un tapi aku tidak tahu dia tinggal di mana! Hayo bilang, dimana adanya ibumu sekarang. Jika tidak, aku nanti korek biji matamu!"

Diancam begitu, Ceng Ceng justru tertawa besar.

"Kau jahat! Jahat!" jawabnya. "Benar apa yang ayahku bilang, ibuku ada jauh terlebih baik daripada kau, bukan cuma seratus kali, hanya seribu kali, selaksa kali!"

Tak kepalang murkanya Ho Ang Yo hingga ia ulur kedua tangannya, untuk dengan sepuluh jarinya cakar muka orang!

Ceng Ceng tarik kepalanya, sedang Ho Tiat Chiu tahan tangan bibinya itu.

"Kau mesti bikin dia kasi tahu tempat kediaman ibunya, Baru aku suka kasi ampun padanya!" dia menjerit terhadap pemimpin dari Ngo Tok Kau. "Sabar, bibi," kata ketua itu. "Bukankah kamis edang punya urusan besar? Kenapa untuk urusan pribadi kau ingin ciptakanonar? Bukankah urusan dengan Bu Tong Pay juga disebabkan gara-garamu?"

"Hm, itu disebabkan Uy Bok Toojin ngaco-belo sendiri!" kata si uwah jelek. "Kenapa dia sebut-sebut bahwa dia kenal Kim Coa Long-kun? Kenapa dia bikin aku dapat dengar ocehannya itu? Tentu saja karena ocehannya itu aku paksa dia mesti sebutkan tempat sembunyinya itu manusia tak berbudi!"

"Kau telah kurung dia begitu lama, dia tetap tidak hendak memberitahukannya," kata pula Ho Tiat Chiu, "Mungkin dengan sebenar-benarnya dia tidak tahu orang punya alamat. Sama sekali tidak ada faedahnya untuk kau menambah musuh. "

Diam-diam Sin Cie manggut-manggut.

"Jadi inilah sebabnya bentrokan Ngo Tok Kau dengan Bu Tong Pay," pikir dia. "Menurut dia ini, jadinya Uy Bok Toojin masih belum terbinasa, dia cuma masih ditahan."

Ho Ang Yo sengit ditegur kaucunya itu. Maka dia kata pada pemimpinnya ini: "Binatang she Wan itu sudah kangkangi pedang Kim Coa Kiam kita, dengan Kim-coa-cui dia binasakan anjing kita, dia pun masih simpan peta kita - tiga-tiga pusaka kita berada di dalam tangannya! Kau sebagai kaucu, kenapa kau tidak hendak berdaya untuk dapat pulang itu semua?"

Ho Tiat Chiu tertawa.

"Cukup, bibi!" kata dia. "Aku ketahui semua itu!

Sekarang silakan kau keluar dulu, untuk beristirahat. "

Masih si bibi penasaran. "Aku telah bilang semua!" katanya. "Kau suka turut rencanaku atau tidak, kau suka tolong lampiaskan kemendongkolanku atau tidak, semua terserah pada kau!"

Kaucu dari Ngo Tok Kau lawan tertawa pada bibinya itu, ia tidak mengiakan atau menampik.

"Mari keluar, aku hendak bicara denganmu!" kata Ho Ang Yo.

"Bukankah di sini sama saja?" tanya si nona kaucu. "Tidak! Mari kita keluar!" Ang Yo desak.

Kalah juga Tiat Chiu, ia suka keluar.

Sin Cie lihat dua orang itu berlalu, ia tunggu sampai rasanya orang sudah pergi jauh, lantas ia merayap keluar dari kolong pembaringan.

"Adik Ceng, mari kita pergi!" katanya.

Ceng Ceng tidak lantas menjawab, hanya dengan muka perongosan ia awasi Wan Jie, rambut siapa kusut, muka siapa berlepotan debu.

"Hm!" katanya. "Untuk apa kamu berdua bersembunyi?"

Wan Jie tercengang, mukanya merah, sampai ia diam saja.

"Lekas bangun," Sin Cie bilang, tanpa menjawab pertanyaan itu. "Mereka itu kandung maksud tidak baik, mereka sedang memikir daya untuk celakai kau. "

"Lebih baik lagi jikalau mereka bikin aku mati! Aku tidak mau pergi!"

"Apa juga adanya urusan, di rumah nanti kita damaikan," Sin Cie membujuk. "Di waktu begini apa kau masih hendak mensiasiakan ketika? Kau hendak mengacau?"

1036 "Aku justru hendak mengacau!"

Sibuk juga Sin Cie. Ia ingat orang punya adat berandalan. Ia tahu, asal mereka berayalan, sulit untuk mereka keluar dari istana itu. Di lain pihak urusan raja ada penting sekali.

"Adik Ceng, kau kenapa?" ia tanya. Ia ulur tangannya, dengan niat tarik pemudi itu.

Ceng Ceng sedang sengit, ia sambuti tangan orang, untuk dibawa ke mulutnya, untuk digigit!

Sin Cie tidak menyangka, hampir saja tangannya itu kena tergigit, baiknya ia dapat kesempatan untuk tarik pulang. Ia tapinya heran.

"Kau angot?" tanya dia. "Habis?"

Ceng Ceng singkap selimut, untuk tungkrap kepalanya.

Sin Cie mendongkol berbareng bingung, hingga ia banting-banting kaki.

"Wan Siangkong," kata Wan Jie, "kau tunggu bersama Nona Hee, aku hendak keluar sebentar."

"Kau hendak pergi kemana?"

Wan Jie tidak menjawab, ia tolak daun jendela, untuk loncat keluar.

Sin Cie duduk di tepi pembaringan, ia masgul. Ceng Ceng membalik tubuh, akan madap kedalam.

Pemuda kita kuatir sekali Ho Tiat Chiu nanti kembali.

Tiba-tiba ada terdengar suara tindakan di arah pintu, tidak tempo lagi, Sin Cie enjot tubuhnya, akan loncat naik ke penglari di mana ia lintangkan tubuhnya. Itulah Ho Kaucu, yang telah balik. Dia ini palang pintu, lantas dengan tindakan pelahan, dia dekati Ceng Ceng.

Sin Cie siapkan dua batang bor, asal kaucu itu turun tangan, ia hendak menyerang.

"Hee siangkong," katanya dengan pelahan, sambil ia awasi tubuh orang. "Aku hendak bicara sama kau..."

Ceng Ceng berpaling.

"Bibiku sangat menyintai ayahmu, coba bilang, adalah dia seorang rendah?" tanya Tiat Chiu.

Ditanya begitu, Ceng Ceng menjadi heran. Inilah pertanyaan yang ia tidak sangka. Maka ia tercengang.

"Itu berarti cinta yang sangat, bagaimana bisa dibilang rendah?" ia jawab. Lantas ia menambahkan dengan suara tinggi: "Siapa tidak berpribudi, dia Barulah rendah!"

Tiat Chiu heran. Tak tahu ia, kata yang belakangan ini ditujukan kepada Sin Cie. Tapi ia girang.

"Ayahmu itu tidak berjodo dengan bibiku, dia tak dapat dipersalahkan," kata kaucu ini. "Dia pun rela mati daripada menyebutkan tempat kediaman ibumu, dia tetap melindunginya, sebenarnya dia ada seorang yang menyinta sangat, dia setia."

"Sayang jarang ada orang semacam ayah!" bilang Ceng Ceng.

"Umpama ada seorang semacam dia, yang tidak hiraukan jiwa sendiri untuk lindungi kau bisakah kau ingat dia untuk selamanya?" Ho Tiat Chiu tanya pula.

"Aku tidak punyakan itu macam rejeki!"

"Dulu tak mengerti aku mengapa bibi demikian tergila- gila   terhadap   seorang   lelaki,"   kata   pula   Tiat   Chiu. "Aku....aku ya, sudahlah, aku tidak ingin kau bilang apa-

apa lagi.... Sukur jikalau kau ingat aku, tidak ingat juga tidak apa. "

Ia balik tubuhnya, untuk pergi keluar pula.

Ceng Ceng berbangkit, akan duduk dengan bengong.

Tidak mengerti ia sikapnya kaucu dari Ngo Tok Kau itu.

Sin Cie melayang turun.

"Nona tolol, dia menyintai kau!" katanya sambil tertawa. "Apa?" tanya Ceng Ceng dengan heran.

Sin Cie tertawa.

"Dia menyangka kau lelaki!" katanya.

Perkataan pemuda ini membikin sang pemudi insaf. Pantas selama tertawan, sikapnya Ho Tiat Chiu terhadapnya ada baik, malah manis-budi. Untuk sementara ia telah melupakan dandanan penyamarannya itu. Maka akhirnya, ia tertawa sendirinya. Itulah lucu!

"Bagaimana sekarang?" ia tanya.

"Kau menikah dengan Ngo Tok Hujin itu!" Sin Cie bergurau. ("Ngo Tok Hujin" berarti "Nyonya dari Ngo Tok Kau".)

Di saat Ceng Ceng hendak berkata pula, daun jendela terpentang dengan tiba-tiba dan Ciau Wan Jie lompat masuk, di belakangnya turut Lo Lip Jie, yang bertangan satu.

Melihat nona itu, kembali air mukanya Nona Hee guram, lenyap senyumannya yang manis.

"Wan Siangkong," berkata Wan Jie dengan sikapnya sungguh-sungguh tetapi tenang. "Aku bersukur sangat yang kau telah berikan bantuanmu yang besar hingga berhasil

1039 aku mencari balas, maka sekarang ingin aku memberitahukan bahwa besok pagi aku berniat pulang ke Kimleng. Di masa hidupnya ayah, ia ada sangat kagumi kau, sedang Lo Suko ini sangat berterima kasih kepadamu yang sudah ajarkan dia ilmu silat golok bertangan satu, hingga kau mirip dengan gurunya. "

Sin Cie awasi nona itu, kata-kata siapa membuat ia heran.

"Sekarang, siangkong," kata Wan Jie meneruskan, "kami berdua hendak memohon sesuatu kepadamu.  "

"Jangan kesusu," berkata pemuda kita, walaupun ia belum mengerti maksud orang. "Mari kita berlalu dulu dari istana ini, Baru kita bicara."

"Tidak, Wan Siangkong," Nona Ciau mendesak. "Aku Cuma mau minta supaya kau menjadi wakil kami, supaya kau ijinkan perjodoanku dengan Lo Suko ini!"

Dua-dua Ceng Ceng dan Sin Cie terperanjat mendengar perkataan nona itu, bukan terperanjat karena kaget tetapi saking heran.

Malah Lo Lip Jie sendiri tidak menjadi kecuali. "Su. sumoay!" kata ini kakak seperguruan, "Apakah kau

bilang?"

"Apakah kau tidak suka aku?" Wan Jie tanya sambil ia awasi suheng itu.

Lip Jie kembali tercengang. "Aku....aku " katanya, tergandat.

Mendadak saja, Ceng Ceng menjadi sangat gembira. "Bagus!" seru dia. "Aku kasi selamat pada kamu berdua!" Sin Cie cerdik, segera ia insaf maksudnya Nona Ciau. Ialah Wan Jie hendak buktikan, dia tidak ada punya hubungan apa-apa sama ia, bahwa pergaulan dan persahabatan mereka berdua ada putih-bersih, maka itu tanpa likat lagi, nona ini kemukakan perjodoannya dengan Lo Lip Jie. Dengan cara ini, Wan Jie hendak singkirkan kecurigaan dan cemburunya Ceng Ceng, untuk sekalian juga membalas budinya. Maka itu, tak kepalang bersukurnya ia kepada nona yang cerdas ini.

Ceng Ceng juga cerdik, ia bisa menduga hatinya Nona Ciau, walaupun ia memberi selamat, ia jengah sendirinya. Tapi ia polos, ia jujur, malah lantas ia jabat tangan Wan Jie.

"Adik, aku berlaku tidak pantas terhadapmu," katanya, mengakui. "Aku minta kau tidak berkecil hati."

"Mana bisa aku berkecil hati terhadapmu, enci," Wan Jie kata.

Meski ia mengucapkan demikian, puteri almarhum Ciau Kong Lee toh melinangkan air mata. Ia bersedih karena orang telah curigai ia, hingga sebagai satu nona, ia bertindak di luar garis. Sebenarnya tidak tepat ia yang meminta perkenan dari Sin Cie untuk perjodoannya dengan Lip Jie. Tetapi keadaan memaksa, ia terpaksa tebali muka.

Ceng Ceng insaf kekeliruannya, ia turut berduka, hingga ia pun ikut menangis.

Ketenteraman mereka berempat segera terganggu oleh suara tindakannya tujuh atau delapan orang, yang lagi mendatangi ke arah mereka.

Sin Cie segera geraki tangannya, selaku tanda.

Sebat luar biasa, Lip Jie lompat ke jendela, untuk menolak daunnya. Berbareng dengan itu, di pintu terdengar suara membentak dari Ho Tiat Chiu: "Sebenarnya siapa menjadi kau-cu?"

Lalu terdengar suara Ho Ang Yo: "Kenapa kau tidak mau bertindak menuruti aturan kita? Baiklah kita bersembahyang kepada Cousu, untuk angkat satu kaucu baru!"

Segera terdengar suara seorang laki: "Binatang itu ada musuh besar dari Ngo Tok Kau, kenapa Kaucu terus- terusan hendak melindungi dia?"

Terdengarlah suara tertawa dari Ho Tiat Chiu, yang kata: "Aku larang kamu masuk ke dalam kamar ini! Siapa berani maju?"

Kaucu ini tertawa tetapi dia menantang, suaranya keren. "Mari kita bereskan dulu itu binatang!" kata seorang

lelaki lain.

"Urusan kita, kita boleh bereskan belakangan!"

Suara tindakan kaki berat dan sebat terdengar maju ke arah pintu, menyusul itu terdengarlah satu jeritan hebat, disusul sama suara terbantingnya satu tubuh ke lantai. Rupanya orang itu telah jadi korbannya Ho Tiat Chiu.

Sin Cie lantas beri tanda pula kepada tiga kawannya.

Lo Lip Jie lompati jendela, disusul oleh Wan Jie, di belakang siapa, Ceng Ceng pun menyusul.

Itu waktu, di muka pintu terdengar bentrokan pelbagai senjata. Teranglah, perang saudara telah terjadi di dalam Ngo Tok Kau - Ho Tiat Chiu telah tempur saudara- saudaranya separtai. Setelah sedikit lama, Sin Cie dengar dupakan pada pintu kamar, hingga daun pintu menjeblak, tubuh seorang nerobos masuk.

Sin Cie lantas saja lompat ke jendela, untuk angkat kaki.

Orang yang Baru masuk itu lihat satu bebokong berkelebat dan lenyap, hingga tak sempat ia untuk mengenalinya bebokong siapa.

"Lekas, lekas!" dia berteriak-teriak. "Binatang itu kabur!"

Ho Tiat Chiu terkejut, juga kawan-kawannya, hingga pertempuran berhenti seketika, semuanya lantas memburu ke dalam kamar, hingga mereka lihat kamar kosong dari manusia dan daun jendela menjeblak terpentang.

Tanpa ayal lagi, Ho Tiat Chiu lompat ke luar jendela, Ia bermata tajam, masih ia dapat lihat satu bajangan nyelusup masuk ke tempat banyak pepohonan, segera ia menyusul. Tapi menyusul dengan kandung maksud sendiri-diri. Dia kira bajangan itu ada dari Ceng Ceng, ingin dia lindungi "pemuda" itu, untuk cegah ia terjatuh ke dalam tangan kawan-kawannya.

Bajangan di depan itu berlari-lari teurs, dia putari beberapa pekarangan, akhirnya dia melenyapkan diri di tembok merah dari keraton.

Sin Cie sengaja menyingkir paling belakang, ia pun ambil jurusan lain daripada yang diambil Ceng Ceng bertiga. Ia lihat bagaimana Ho Tiat Chiu terus susul padanya, ia sengaja lari untuk segera lenyap dari pandangan mata kaucu itu. Adalah setelah menduga Ceng Ceng bertiga sudah keluar jauh dari istana, Baru ia lenyapkan diri di belakang tembok keraton tadi.

Selagi menghampirkan sebuah pintu, Sin Cie lantas mencium bau harum berkesiur-siur halus. Ia tolak daun

1043 pintu, untuk sembunyikan diri di lain sebelah dari pintu itu, sembari sembunyi ia mengawasi ke sekitarnya. Kapan ia telah melihat nyata, ia jadi jengah sendirinya, kupingnya ia rasai panas tak keruan-ruan....

Nyatalah ia berada di dalam sebuah kamar yang indah dan lengkap perabotannya. Kelambu ada kelambu sulam, permai sepre dan selimutnya. Permadani kuning telur juga ada tersulam bunga mawar merah yang besar. Di meja dekat jendela ada terdapat pelbagai rupa alat berhias dari seorang perempuan. Perabotan lainnya adalah barang- barang kuno.

"Mungkin ini kamarnya satu selir...." Pikir anak muda ini. "Tidak seharusnya aku berdiam di sini. "

Selagi ia hendak bertindak ke pintu, lantas kupingnya dengar pelbagai tindakan halus disusul sama orang-orang perempuan bicara sambil tertawa-tawa. Maka ia merandak.

"Jikalau aku paksa keluar, aku bakal bersomplokan dengan nona-nona keraton ini," ia pikir. "Satu kali aku kepergok, keraton bakal jadi kacau, mungkin aksinya Co Thaykam jadi terganggu dan tertunda. Maka lebih baik aku sembunyikan diri, untuk melihat selatan."

Karena ini ia lompat ke belakang sekosol yang bergambar seorang wanita cantik serta bunga bou-tan.

Sebentar saja, daun pintu telah ditolak terpentang, empat dayang bertindak masuk sambil iringi satu perempuan muda.

"Thianhee ingin beristirahat atau hendak membaca buku dulu?" tanya satu dayang.

Mendengar itu, Sin Cie terkejut. "Jadinya ini ada kamarnya puteri raja," pikirnya. "Ah, baiklah kau tidur saja, tak usah baca buku lagi " ia harap-

harap.

Si nona, atau kiongcu, puteri raja, tidak menyahuti tegas, ia hanya jatuhkan diri di atas pembaringan.

"Apakah perlu membakar dupa?" satu dayang tanya pula.

Kembali puteri itu perdengarkan jawaban tak nyata. "Ehm. " Terdengarnya.

Selang tidak lama, Sin Cie dapat cium bau dupa yang wangi-halus, hingga tanpa merasa, ia jadi lesu dan ingin tidur....

"Bawa kemari akupunya pit dan gambar, habis kamu semua pergi keluar," kemudian berkata si puteri raja. (Pit adalah alat menulis.)

Sin Cie terperanjat.

"Satu suara yang aku kenal baik...." pikirnya. Berbareng ia pun sibuk. Kalau puteri ini melukis gambar, pasti dia akan ambil banyak tempo. Bagaimana dapat ia berdiam lama-lama di dalam kamar ini?

Dayang-dayang telah lantas siapkan perabot-tulis dan alat melukis lainnya, setelah itu, semuanya segera undurkan diri.

Kamar menjadi sunyi pula, cuma kadang-kadang saja terdengar suara meretak di dalam pendupaan, dari kayu cendana yang terbakar.

Tidak berani Sin Cie berkutik.

Tidak lama terdengarlah elahan napas dari si puteri, yang terus menyanyikan sebuah syair dengan pelahan: "Musim semi dari berlaksa lie membawa tetamu datang Bunga dari sepuluh tahun membuat si cantik menjadi tua

Tahun yang lampau di masa bunga mekar, aku jatuh sakit

Tapi tahun ini, menghadapi sang bunga, masih terlalu pagi."

Itulah suara halus dan merdu akan tetapi sifatnya sedih.

Sin Cie heran. Kenapa satu puteri raja mesti berduka? Ia pun heran, mengapa suara itu seperti ia kenal baik. Sementara itu, ia merasa lucu untuk kedudukannya ini.

"Aku ada seorang kangouw, kecuali kali ini, belum pernah aku datang ke kota raja, maka dimana pernah aku bertemu sama puteri raja seperti dia ini? Tidak, aku tidak kenal dia..... Dia mungkin mirip dengan salah satu kenalanku. "

Si puteri telah bertindak ke dekat meja, lantas terdengar suara ia menggerak-geraki alat tulisnya, rupanya ia sudah mulai melukis.

Sin Cie menantikan dengan pikiran terbenam. Itu waktu, pintu telah ditutup dan daun jendela pun sudah dirapatkan. Tanpa menggunai kekerasan, tak dapat ia keluar dari kamar ini....

Sang puteri masih terus melukis, sampai terdengar ia lempangkan pinggangnya, mungkin ia merasa letih.

"Lagi dua-tiga hari, gambar ini akan selesai," kata dia seorang diri. "Setiap hari aku memikirkanmu, apakah kau juga setiap saat mengingat-ingat aku?" Ia berbangkit, ia pindahkan gambarnya ke kursi, lalu kursi itu dipindahkan ke depan pembaringan.

"Kau diam di sini, untuk temani aku. " katanya pula.

Kemudian ia buka baju luarnya, untuk naik ke pembaringan.

Keheranan Sin Cie bertambah-tambah. Siapa itu yang dilukis puteri ini, yang dibuat ingat-ingatan?

Tak dapat pemuda ini menguasai dirinya, ia geraki kepalanya, untuk memandang ke depan pembaringan, ke arah kursi, guna lihat gambar buatannya si puteri. Apabila ia telah lihat gambar itu, keheranannya memuncak, hingga ia terperanjat.

Itulah gambarnya Wan Sin Cie! Gambar itu sudah berpeta jelas walaupun katanya belum sempurna. Di situ ia terlukiskan sedang bersenyum riang-gembira.

Inilah tidak disangka si anak muda, tanpa merasa, ia perdengarkan suara herannya: "Ah!. "

Kuping si puteri terang luar biasa, ia dapat dengar suara sangat pelahan, tangannya mencabut tusuk konde, tanpa memutar tubuh lagi, tangannya itu dikasi melayang!

Sin Cie terkejut, menyusul suara angin menyambar, ia angkat tangannya, akan tanggapi tusuk konde itu.

Menyusul serangannya itu, si puteri telah putar tubuhnya, maka sekarang kedua orang jadi saling mengawasi, dengan kesudahannya dua-duanya tergugu melongo! Sebab segera mereka saling mengenali.

Sin Cie kenali A Kiu, muridnya Thia Ceng Tiok. Memangnya ia curigai nona itu, yang dilindungi oleh siewie, ia menduga kepada seorang tak sembarangan, ia hanya tidak sangka, si nona adalah satu puteri raja. Muka A Kiu pucat, lalu bersemu merah.

"Wan Siangkong, mengapa kau ada di sini?" akhirnya dia tanya. Dengan cepat ia dapat tenteramkan diri.

Sin Cie lantas memberi hormat.

"Siaujin bersalah," ia mengakui. "Dengan lancang aku telah menerobos masuk ke dalam kamar kiongcu ini. "

Mukanya A Kiu bersemu merah. "Silakan duduk," ia mengundang.

Puteri ini sadar yang baju luarnya telah dilolosi, dengan sebat ia sambar itu, untuk dipakai.

Di pintu lantas terdengar ketokan pintu yang pelahan. "Thian-hee memanggil?" tanya satu dayang.

"Tidak, aku lagi baca buku!" sahut sang puteri dengan cepat. "Pergilah kamu tidur, tidak usah kamu menunggui di sini."

"Baik, thianhee. Silakan thianhee beristirahat siang- siang."

A Kiu tidak jawab dayangnya itu, ia goyangi tangan kepada Sin Cie, lantas ia tertawa dengan pelahan. Tapi, kapan ia menoleh ke arah gambar lukisan, mukanya menjadi merah, ia jengah sendirinya. Lekas-lekas ia geser kursi itu ke pinggir.

Kemudian, keduanya kembali berdiri berhadapan dengan diam saja.

"Apakah kau kenal orang-orang Ngo Tok Kau?" akhirnya Sin Cie tanya.

A Kiu manggut. "Co King-kong bilang Lie Giam telah kirim banyak pembunuh ke kota raja, untuk mengacau," jawabnya, "maka itu Co Kong-kong undang serombongan orang gagah masuk ke keraton, untuk melindungi Sri Baginda. Katanya kaucu Ho Tiat Chiu dari Ngo Tok Kau liehay sekali."

"Gurumu, Thia Lo-hoocu, telah dilukai mereka, apakah thianhee ketahui?" tanya Sin Cie.

A Kiu kaget, hingga air mukanya berubah.

"Apa?" tanyanya. "Kenapa mereka lukai suhu? Apakah suhu terluka parah?"

"Tidak, tidak seberapa," sahut Sin Cie, yang terus berbangkit. "Sekarang sudah jauh malam, baik kita tidak bicara terlalu banyak. Kami tinggal di gang Ceng-tiau-cu. Apa bisa besok thianhee datang melongok gurumu itu?"

"Baik!" A Kiu jawab. "Dengan menerjang bahaya kau telah datang menyambangi aku, aku berterima kasih. " Ia

bicara dengan pelahan sekali ketika ia menambahi: "Kau telah lihat bagaimana aku sudah lukiskan gambarmu, maka tentang hatiku, kau sudah ketahui jelas. "

"Inilah hebat," pikir Sin Cie. "Rupanya dia telah menyintai aku, kedatanganku sekarang membuat ia dapat kesan yang keliru. Ini perlu penjelasan. "

Tapi ia belum sempat bicara, atau A Kiu sudah kata pula: "Sejak pertemuan kita di Shoa-tang-too, dimana kau rintangi Tie Hong Liu melukai aku, aku senantiasa ingat saja budi-kebaikanmu..... Coba lihat lukisan ini mirip atau tidak?"

Sin Cie manggut.

"Thianhee," katanya, "aku datang kemari karena. "

Tapi A Kiu segera memotong. "Jangan panggil aku thianhee," katanya. "Aku pun tidak akan panggil siangkong lagi kepadamu. Pada mula kalinya kita bertemu, kau kenal aku sebagai A Kiu, maka itu untuk selamanya, aku tetap ada A Kiu. Aku dengar enci Ceng panggil kau toako, aku pikir, umpama itu hari aku pun bisa panggil toako padamu, itu Barulah tepat. Di saat aku dilahirkan, menteri tukang tenung telah ramalkan aku bahwa apabila aku hidup tetap di dalam keraton, aku tidak bakal panjang usia, karena itu, Sri Baginda Ayah perkenankan aku pergi berkelana."

"Pantas kau belajar silat pada Thia Lo-hucu dan ikut dia berkelana," kata Sin Cie.

"selama berada di luar, pengetahuan dan pengalamanku jadi tambah banyak," A Kiu bilang. "Aku tahu yang rakyat sangat menderita. Umpama kata aku pakai uang di istana akan tolong rakyat, masih tidak seberapa jumlahnya yang bisa ditolong."

Sin Cie kagum mendengar puteri ini bersimpati kepada rakyat.

"Karena itu wajiblah kau nasihati Sri Baginda dan minta Sri Baginda menjalankan pemerintahan secara bijaksana," ia kata. "Asal rakyat dapat makan dan pakai cukup, tidak kelaparan dan kedinginan, pasti negara aman-sentausa."

Puteri itu menghela napas.

"Jikalau Sri Baginda Ayah sudi dengar perkataan orang, itulah bagus," katanya. "Sekarang Sri Baginda Ayah dikitari segala dorna, yang kata-katanya sangat dipercayai benar."

"Kau berpengetahuan luas melebihi Sri Baginda," Sin Cie puji. Tadinya pemuda ini pikir, baik atau tidak ia beber rahasia Thaykam Co Hoa Sun, akan tetapi sebelum ia ambil putusan, A Kiu sudah tanya dia: "Apakah Thia Lo-hucu pernah omong tentang diriku?"

"Tidak. Dia bilang dia pernah bersumpah, dari itu tak dapat dia omong tentang kau. Tadinya aku menyangka kau mempunyai dendaman yang hebat, yang mengenai kaum kangouw, tidak tahunya kau ada puteri raja."

A Kiu bersenyum.

"Thia Suhu ada pahlawan Sri Baginda Ayah, dia sangat setia kepada junjungannya," ia beritahu.

"Oh, jadinya dia pun ada satu sie-wie?" kata Sin Cie dengan heran.

A Kiu manggut.

"Ketika dahulu Sri Baginda Ayah masih tinggal di istana pangeran Sin Ong-hu, Thia Suhu menjadi kepala sie-wie," ia menerangkan lebih jauh. "Kemudian setelah Sri Baginda marhum wafat, Sri Baginda Ayah adalah yang menggantikan naik di tahta. Pada masa itu, semua orang di dalam istana ada orang-orang kepercayaan Gui Tiong Hian. Maka juga Thia Suhu bilang, waktu itu, keadaan ada sangat berbahaya, sampai Sri Baginda Ayah dan sekalian pahlawannya, siang dan malam tak bisa tidur dengan tenang. Semua barang makanan diantar dari istana Sin Ong-hu. Beberapa kali Gui Tiong Hian si dorna niat celakai Sri Baginda Ayah, saban-saban Thia Suhu serta Co Kong- kong dan lainnya yang menggagalkannya, hingga bahaya dapat dihindarkan. Itulah sebabnya kenapa sampai sekarang ini Sri Baginda Ayah tetap percaya Co Kong- kong."

"Meski begitu, tak dapat dia dipercayai sepenuhnya!" Sin Cie bilang. "Itu benar. Di antara Thia Suhu dan Co Kong-kong tidak terdapat kecocokan."

"Jadi itulah sebabnya kenapa Thia Suhu jadi keluar dari istana?" Sin Cie tegaskan.

"Bukan. Katanya karena urusan Wan Cong Hoan."

Terperanjat juga Sin Cie mendengar disebutkan nama ayahnya.

"Bagaimana itu?" tanya dia.

"Di waktu kejadian, aku masih belum terlahir," jawab A Kiu, "Baru belakangan aku dengar hal itu dari suhu. Suhu bilang Wan Cong Hoan ada panglima perang besar di Kwan-gwa yang menolak serangan bangsa asing, dia telah dirikan banyak sekali jasa, hingga bangsa asing jeri bukan main akan lihat dia. Adalah belakangan, bangsa Boan sudah gunai tipu-daya merenggangkan, cerita-burung disiarkan bahwa Wan Cong Hoan berniat berontak. Sri Baginda Ayah percaya itu, tanpa pikir panjang lagi, Wan Cong Hoan dihukum mati. Thia Suhu tahu Wan Tayswee difitnah, dia pernah melindunginya, hingga karenanya, suhu jadi bentrok sama Sri Baginda Ayah. Sri Baginda Ayah sedang panas hati, dia lupa, dia telah gaplok suhu, maka saking gusar, suhu lantas meninggalkan istana, dia sumpah untuk selamanya tak sudi menemui pula Sri Baginda Ayah."

Sin Cie terharu berbareng bersukur, ia tahan keluarnya air mata, matanya menjadi merah.

"Thia Suhu bilang, Sri Baginda Ayah tak dapat membedakan orang setia dan dorna," A Kiu melanjuti. "Suhu kuatirkan, akhir-akhirnya negara bakal runtuh di tangan Sri Baginda Ayah. Beberapa tahun kemudian, Sri Baginda Ayah menyesal. Karena katanya tak dapat aku hidup di istana, aku lantas dikirim kepada suhu, untuk terus ikuti suhu. Aku tidak tahu, kenapa suhu bentrok sama Ngo Tok Kau."

Hampir saja Sin Cie bilang: "Ngo Tok Kau berniat bikin celaka ayahmu, sebab mereka tahu Thia Lo-hucu setia kepada Sri Baginda, jadi Thia Lo-hucu hendak dibinasakan." Tiba-tiba ia tampak lilin, yang tinggal sepotong pendek, hingga ia ingat: "Keadaan ada begini mendesak, kenapa aku mesti bicara begini banyak sama dia ini?"

Maka ia lantas berbangkit.

"Masih banyak yang mesti dibicarakan, besok saja kita teruskan lebih jauh," katanya.

Mukanya A Kiu merah, ia tunduk, terus dia manggut.

Hampir di waktu itu, pintu kamar diketok secara kesusu dan di luar kamar terdengar suaranya beberapa orang: "Thianhee, thianhee, lekas buka pintu!"

A Kiu kaget.

"Ada apa?" dia tanya.

"Oh, thiangee tidak kurang suatu apa?" tanya satu dayang.

"Aku lagi tidur. Ada apakah?"

"Katanya ada orang lihat ada penjahat nyelusup masuk ke dalam keraton. "

"Ngaco-belo! Penjahat apa sih?"

"Thianhee," kata satu suara lain, "ijinkan kami masuk untuk melihat-lihat. "

Sin Cie segera bisiki sang puteri: "Itulah Ho Tiat Chiu!" "Jikalau ada penjahat, cara bagaimana aku bisa tenang seperti ini?" kata A Kiu. "Lekas pergi, jangan bikin berisik di sini!"

Orang-orang di luar itu lantas diam, mereka tahu sang puteri gusar.

Dengan berindap-indap, Sin Cie pergi ke jendela, niatnya untuk tolak jendela, buat nerobos pergi. Baru saja ia pegang kain alingan jendela dan menyingkapnya sedikit, ia lihat cahaya api terang-terang, hingga ia tampak juga belasan thaykam, ialah orang-orang yang menyekal obor.

"Jikalau aku nerobos, siapa bisa rintangi aku?" pikir pemuda ini. "Dengan aku berlalu dengan paksa, nama baiknya puteri bakal tercemar. Tidak dapat aku berbuat demikian. "

Maka ia balik pada A Kiu, akan bisiki bahwa tak bisa ia berlalu dengan paksa atau sang puteri bakal dapat malu.

Puteri itu kerutkan alis.

"Jangan takut," katanya kemudian. "Kau diam saja di sini untuk sekian lama lagi."

Sin Cie terpaksa, ia menurut.

Tidak terlalu lama, kembali ada suara mengetok pintu. "Siapa?" tanya A Kiu.

Kali ini datang penyahutan Thaykam Co Hoa Sun.

"Sri Baginda dengar ada orang jahat nyelusup ke istana, Sri Baginda berkuatir, dari itu kacung diperintah menanyakan keselamatan thianhee," sahut thaykam itu, yang membahasakan diri "kacung". "Tidak berani aku membikin kong-kong banyak cape," kata A Kiu. "Silakan kong-kong kembali, tolong sampaikan bahwa aku tidak kurang suatu apa."

"Thianhee ada orang penting, tak dapat thianhee menjadi kaget," kata pula orang kebiri itu. "Baik ijinkanlah kacung masuk untuk memeriksa kamar."

A Kiu mendongkol kepada orang kebiri itu. Ia percaya, waktu Sin Cie datang, mesti ada orang lihat padanya, kalau tidak, thaykam itu tidak nanti berani demikian mendesak.

Dugaan ini benar separuhnya. Memang Co Hoa Sun dapat kisikan dari Ho Tiat Chiu bahwa ada orang nyelusup masuk ke keraton puteri, Tiang Peng Kiongcu. Sebab lainnya adalah Co Hoa Sun tahu puteri pandai silat, dia bercuriga, dia curiga puteri ini punya hubungan sama orang kangouw sedang dia berniat celakai baginda Cong Ceng. Maka ingin dia mendapat kepastian. Dia berpengaruh, dari itu, dia berani memaksa. Puteri pun memang tak dapat terlalu rintangi orang kebiri itu.

Maka akhirnya, setelah berpikir, Tiang Peng Kiongcu gerak-geraki kedua tangannya kepada Sin Cie, untuk beri tanda agar si anak muda naik ke atas pembaringannya, untuk sesapkan diri di bawah selimut.

Dalam keadaan seperti itu, Sin Cie sangat terpaksa, maka ia pergi ke pembaringan, setelah lolosi sepatunya, ia naik, terus ia tutupi diri dengan selimut sulam, hingga ia dapat cium bau sangat harum. Ia kerebongi tubuh, dari ujung kaki sampai di kepala.

Kembali terdengar suaranya Co Hoa Sun, yang mendesak minta dibukai pintu.

"Baiklah," kata Tiang Peng Kiongcu akhirnya, "kau boleh periksa!" Puteri ini loloskan baju luarnya, ia bertindak ke pintu, untuk angkat palangan, setelah mana, tanpa buka pintu lagi, ia lompat naik ke atas pembaringan, untuk segera kerebongi diri sebatas leher.

Hatinya Sin Cie memukul ketika A Kiu rebahkan diri berdampingan dengan dia, pakaian mereka nempel satu dengan lain, sedang hidungnya dapat cium bau lebih wangi lagi. Tapi ia berdiam terus, tidak berani dia berkutik, apalagi setelah ia merasa Co Hoa Sun dan Ho Tiat Chiu sudah masuk ke dalam kamar. Ia merasakan bagaimana tubuhnya sang puteri sedikit bergemetar.

Ting Peng Kiongcu berpura-pura masih lungu-lungu, ia pun berlagak menguap, tetapi toh ia tertawa.

"Co Kong-kong, kau baik sekali. Terima kasih!" katanya.

Co Hoa Sun memandang ke sekelilingnya, ia tak lihat ada orang lain dalam kamar itu.

Ho Tiat Chiu turut memeriksa, ia berpura-pura bikin jatuh saputangannya, untuk pungut itu, ia membungkuk, dengan begitu ia jadi bisa melongok ke kolong pembaringan.

"Aku pun telah periksa kolong pembaringan, aku tidak sembunyikan orang jahat!" tertawa A Kiu.

"Harap thianhee ketahui, Co Kongkong kuatir thianhee kaget," kata ketua Ngo Tok Kau itu.

Ketika kaucu ini melihat ke kursi, dimana ada gambar Sin Cie, ia kaget sekali, sukur ia masih bisa tetapkan hati, maka ia lantas berpaling.

Co Thaykam kedipi mata, ia kata: "Mari kita periksa lain-lain bagian lagi." Tapi kepada empat dayang, ia pesan: "Kamu berempat temani thianhee di sini, jangan kamu tinggal pergi. Umpama kata thianhee titahkan kamu, masih kamu tidak boleh malas dan mencuri tempo dan keluar. Mengerti?"

"Kami akan dengar titah kongkong," jawab empat dayang itu.

Co Hoa Sun beramai minta perkenan dari puteri, lantas mereka keluar dari kamar.

A Kiu pun segera perintah turunkan kelambu. "Aku hendak tidur," katanya.

Dua dayang kasi turun kelambu dengan hati-hati, yang satu tambahkan kayu cendana, setelah buang ujung lilin, mereka pergi ke pojok tembok untuk numprah sambil menyender.

Lega hatinya A Kiu, akan tetapi ia bergirang berbareng malu. Di luar sangkaannya, di luar keinginannya, sekarang ia rebah berdampingan sama orang yang ia buat kenangan setiap saat. Pikirannya jadi terbenam, tidak berani ia buka suara, tidak berani ia geraki tubuhnya. Ia seperti sedang mimpi.

"Bagaimana?" Sin Cie berbisik, selang sekian lama. "Mesti dicari daya untuk aku keluar dari sini. "

"Oh...." Si nona bersuara, dengan pelahan sekali. Ia bergerak sedikit, lengan dan kaki digeser. Tiba-tiba saja ia terperanjat. Ia telah bentur barang dingin. Kapan ia meraba, ia kena pegang pedang, yang diletaki nyelang di antara mereka berdua.

"Apa ini?" ia tanya.

"Aku nanti terangi, tapi kau jangan kecil hati."

"Aku masuk kemari di luar keinginanku. Aku menyesal telah mesti rebah di sini bersama-sama kau. Tapi ini karena

1057 sangat terpaksa. Aku bukan seorang ceriwis dan kurang ajar."

"Aku tidak persalahkan kau," A Kiu bilang. "Singkirkan pedangmu itu, nanti aku kena dilukai."

"Aku kenal adat sopan-santun, tetapi tetap aku ada seorang anak muda, aku sekarang rebah berdampingan sama kau, satu gadis rupawan dan cantik sekali, aku kuatir nanti tak dapat atasi diriku. "

A Kiu tertawa.

"Jadi kau palangkan pedangmu? Ah, tolol, toako tolol!. "

Dua-dua mereka kuatir suara mereka nanti terdengar empat dayang, selain mereka bicara dengan pelahan, kepala mereka pun digeser dekat sekali satu dengan lain. Maka Sin Cie dapat cium harumnya hawa segar dari mulutnya si nona, hingga hatinya goncang. Sebisa-bisa ia tenangkan diri.

"Adik Ceng sangat menyintai kau, jangan kau tersesat!" demikian ia peringati dirinya sendiri.

"Seng Ongya itu siapa?" kemudian ia tanya. Ingin ia simpangkan perhatian.

"Dia adalah pamanku," jawab A Kiu.

"Tepat!" kata Sin Cie pula. "Mereka hendak tunjang dia menjadi kaisar, kau tahu tidak?"

A Kiu terkejut.

"Apa? Siapa mereka?"

"Co Hoa Sun telah bikin perhubungan rahasia sama Kiu Ongya dari Boanciu, dia niat pinjam tentera Boan untuk tindas pemberontakan Giam Ong." "Fui! Apakah artinya tentara Boan? Negara kita toh lebih kuat!"

"Benar! Sri Baginda tidak setujui usul pinjam tentara asing itu. Karena ini, Co Hoa Sun beramai niat tunjang Seng Ongya, untuk diangkat jadi kaisar pengganti. "

"Ini memang mungkin. Seng Ongya ada bangsa tolol, pasti dia suka pinjam tentara asing untuk tindas pemberontak."

"Yang aku kuatirkan mereka nanti bekerja malam ini. "

A Kiu kembali terkejut.

"Ah, kenapa kau tidak omong dari siang-siang? Kita mesti lekas tolongi Sri Baginda Ayah!"

Sin Cie rapatkan kedua matanya, ia ragu-ragu. Kaisar Cong Ceng justeru ada musuh besarnya, yang sudah hukum mati ayahnya! Selama belasan tahun, tidak ada satu hari dilewatkan tanpa ia tak ingat permusuhan itu, adalah keinginannya akan dengan tangan sendiri membunuh musuhnya. Sekarang timbul ini suasana genting. Sebenarnya ini ada ketika yang bagus sekali. Bukankah, tanpa berbuat sesuatu apa, ia bisa saksikan musuh besarnya itu terbunuh mati? Tidakkah itu akan memuaskan hatinya? Tapi di sebelah itu, jikalau Co Hoa Sun berhasil, dan dia pinjam tentara Boan, untuk tumpas gerakannya Giam Ong, tidakkah itu hebat? Bagaimana kalau Giam Ong gagal? Bagaimana kalau tentara Boan menduduki seluruh Tionggoan? Tidakkah negara menjadi musna dan cucu Uy Tee semua menjadi kacung?

A Kiu tidak tahu apa yang orang pikirkan, ia menyenggol dengan pundaknya pada pemuda itu.

"Kau pikirkan apa?" tanya dia. "Lekas bantui aku tolongi Sri Baginda Ayah!" Sin Cie berdiam, masih ia bersangsi.

"Asal kau tidak melupakan aku, aku tetap ada kepunyaan kau," A Kiu bilang. Nona bangsawan ini menduga keliru. "Di belakang hari masih ada saat-saatnya untuk kita berkumpul seperti ini..."

Lagi-lagi Sin Cie terkejut.

"Ah, kiranya dia menyangka aku tak mau bangun karena terpengaruh oleh keadaan seperti ini. " Pikirnya. "Baiklah,

biar aku lihat keadaan...." Maka ia bisiki puteri raja itu: "Pergi kau totok semua dayang itu, habis kau tutupi mereka dengan selimut supaya mereka tak dapat melihat, supaya kita bisa keluar dari sini."

"Aku tidak mengerti tiam-hiat-hoat. Di bagian mana aku mesti totok mereka?" A Kiu tanya.

Menyesal Sin Cie. Ia tak tahu, puteri ini tidak mengerti tiam-hiat-hoat, ilmu menotok jalan darah. Terpaksa ia mesti mengajarinya dahulu. Maka terpaksa ia cekal tangannya puteri itu, untuk dibawa ke dadanya sendiri, ke ujungnya tulang iga yang ke sebelas. Ia telah pegang tangan yang halus dan lemas.

"Ini dia yang dinamai jalan darah ciang-bun-hiat," katanya. "Dengan jari tangan, kau totok ujung tulang mereka, mereka bakal lantas tidak mampu bergerak. Jangan totok terlalu keras, nanti mereka kehilangan jiwa mereka. "

A Kiu ingat letak anggauta yang ditunjuk itu. Untuk tolongi ayahnya, ia tidak bisa berpikir banyak lagi. Ia lantas turun dari pembaringan.

Melihat puteri itu bangun, keempat dayang itu berbangkit, untuk tanya: "Thianhee perlu apa?" "Kemari kau!" ia panggil satu dayang sambil ia pergi ke samping pembaringan, hingga ketiga dayang lainnya tidak lihat ia berdua dayang yang pertama itu.

Menuruti ajaran Sin Cie, A Kiu totok dayangnya ini. Karena ia mengerti ilmu silat, ia bisa menotok dengan baik. Ketika dayang itu sudah rubuh dengan tidak bersuara, ia panggil yang kedua dan ketiga, untuk ditotok semua. Ketika ia totok yang keempat, kenanya kurang tepat, dayang itu menjerit, maka lekas-lekas ia bekap mulutnya, untuk ditotok buat kedua kalinya, Baru orang pingsan.

Sin Cie sudah pakai sepatunya dan telah turun dari pembaringan ketika A Kiu telah selesai dengan tugasnya, sama-sama mereka hampirkan jendela, akan singkap sero. Begitu lekas dapati di luar tidak ada orang, keduanya menolak jendela, untuk lompat keluar.

0o-d.w-o0

"Mari ikut aku!" A Kiu mengajak.

Puteri ini ajak kawannya ke kamar Kaisar Cong Ceng, ayahandanya. Selagi mendekati kamar, dari jauh sudah kelihatan bajangan dari banyak orang, jumlah mereka itu mungkin beberapa ratus jiwa.

"Kawanan dorna sudah kurung Sri Baginda Ayah!" kata A Kiu. "Mari lekas!"

Keduanya berlari-lari.

Baru kira belasan tumbak, kedua orang ini berpapasan sama satu thaykam. Orang kebiri itu kaget kapan ia kenali Tiang Peng Kiongcu, tetapi karena puteri ini cuma bersama satu pengiring, ia tidak buat kuatir.

"Thianhee masih belum tidur?" tanyanya sambil menjura. "Minggir!" membentak Tiang Peng Kiongcu. Bersama- sama Sin Cie, puteri ini telah melihat nyata, di depan dan belakang kamar ayahnya telah berkumpul thaykam- thaykam dan siewie-siewie, yang semua memegang senjata, suatu tanda keadaan sangat mengancam.

Dengan satu tolakan tangan yang keras, A Kiu bikin thaykam di depannya itu terpelanting, lantas ia maju terus.

Di muka pintu keraton menjaga beberapa siewie, akan tetapi mereka ini kena ditolak minggir oleh Sin Cie.

Semua orang kebiri tidak berani turun tangan apabila mereka tampak tuan puteri itu. Satu diantaranya sebaliknya lari kepada Co Thaykam untuk melaporkan hal kedatangannya puteri itu.

Co Hoa Sun ada satu dorna yang cerdik tetapi licik, nyalinya kurang cukup besar, walaupun sekarang ia yang kepalai gerakan menjunjung Seng Ong, ia tidak berani muncul sendiri, ia cuma berikan titah-titah saja. Kapan ia dengar laporan, ia tidak kuatir, Ia anggap, Tiang Peng Kiongcu sendirian saja, apa puteri itu bisa bikin.

"Tetap perkuat penjagaan!" ia ulangi titahnya.

A Kiu ajak Sin Cie maju terus, sampai ke kamar dimana biasanya kaisar Cong Ceng memeriksa surat-surat negara. Di pintu kamar terdapat belasan thaykam dan siewie, di situpun terdapat tujuh atau delapan mayat yang telah bermandikan darah. Rupa-rupanya korban-korban ini ada mereka yang setia kepada raja.

Semua siewie dan thaykam melongo kapan mereka lihat tuan puteri.

A Kiu tidak perdulikan mereka itu, ia tarik tangannya Sin Cie, untuk diajak menerobos masuk ke dalam kantor raja itu. "Tahan!" berseru satu siewie sambil ia maju memegat, goloknya diangkat naik untuk dipakai membacok pemuda kita.

Sin Cie berkelit sambil tangannya terus menyambar dada, maka siewie itu terpelanting jatuh.,

Begitu berada di dalam kantor, Sin Cie lihat api lilin terang sekali, di situ berdiri belasan orang.

"Hu-hong!" seru A Kiu sambil ia lari untuk tubruk satu orang dengan jubah kuning. (Hu-hong adalah panggilan untuk ayah yang menjadi raja.)

Sin Cie awasi orang itu, muka siapa putih bersih dan perok, akan tetapi dalam keadaan kaget dan gusar.

"Inilah dia kaisar Cong Ceng musuh ayahku...." pikir pemuda ini.

Belum sampai Tiang Peng Kiongcu dapat tubruk ayahnya, dua orang yang tubuhnya besar menghalang di depan raja, golok mereka dibalingkan.

Kaisar lihat puterinya itu.

"Perlu apa kau datang kemari?" tegurnya. "Lekas pergi!" Dekat kaisar berdiri seorang umur kurang-lebih empat-

puluh tahun, tubuhnya gemuk terokmok, mukanya penuh

berewok. Dia kata dengan keren:

"Pemberontak sudah pukul pecah Hun-ciu dan Thaygoan, segera juga mereka bakal sampai ke kota raja ini! Kau tidak hendak minta bala-bantuan bangsa asing, apa maksudmu?"

Kata-kata kasar itu ditujukan kepada kaisar. "Siok-hu!" seru A Kiu kepada si terokmok itu, yang sikapnya keren. "Kau berani berlaku begini kurang ajar terhadap Junjunganmu?"

Mendengar si nona, Sin Cie tahu, dia itu adalah Pangeran Seng Ong.

Pangeran ini lantas tertawa berkakakan.

"Kurang ajar?" dia mengulangi. "Dia hendak bikin ludas negara indah warisan leluhur kita, maka kami, setiap anggauta keluarga Cu, tidak dapat antapkan dia!"

Kata-kata jumawa ini dibarengi sama terhunusnya pedang, yang cahayanya berkilauan, hingga semua orang di kiri-kanannya terkejut.

Kemudian, dengan roman sangat bengis, pangeran ini bentak raja:

"Lekas bilang, bagaimana putusanmu!" Kaisar menghela napas.

"Apa Tim kurang bijaksana hingga negara jadi kacau," kata dia, "sampai tentara pemberontak hendak menuju ke kota raja buat bikin terbalik pemerintah, akan tetapi meminjam tentara Boan juga bakal sama membahayakan untuk negara.... Jikalau Tim mesti mati untuk rakyat, itu tak usah dibuat menyesal, tetapi yang harus disesalkan adalah kalau nanti negara indah dari leluhur kita ini mesti diserahkan kepada lain bangsa. "

Dengan acungi pedangnya, yang panjang, Seng Ong maju satu tindak.

"Jika begitu, lekas kau keluarkan maklumat untuk undurkan diri, untuk serahkan kedudukanmu kepada pengganti yang bijaksana!" dia berseru dengan sikapnya sangat mengancam. Tubuhnya raja bergemetar.

"Apakah kau hendak bunuh rajamu?" dia tanya. Seng Ong menoleh ke belakangnya, ia kedipi mata.

Di belakang pangeran ini ada satu opsir dari Kim-ie Wie- kun, pasukan istimewa dari raja, dia ini cabut goloknya yang panjang, dengan suara nyaring, dia bilang: "Jikalau raja sudah gelap pikiran dan bu-too, setiap orang dapat membinasakan dia!"

Artinya "bu-too" adalah "tidak adil" (tidak bijaksana). Sin Cie awasi opsir itu, karena ia ingat suara orang itu.

Segera juga ia kenali, orang itu ada An Kiam Ceng, suami

An Toa-nio, ayah dari An Siau Hui.

A Kiu jadi sangat gusar, hingga ia menjerit dengan bentakannya. Ia sembat sebuah kursi, ia lompat ke depan ayahnya, untuk menghalangi opsir itu. Dan ketika An Kiam Ceng toh terusi membacok raja, ia menangkis, terus-terusan sampai tiga kali beruntun.

Sampai di situ, lain-lainnya siewie lantas maju, untuk turut kepung raja atau tuan puteri itu.

Dari tadi Sin Cie masih diam saja, akan tetapi setelah tampak A Kiu keteter, ia tidak bisa berdiri terus sebagai penonton, maka ia lompat maju, untuk ceburkan diri dalam pertempuran itu. Begitu lekas ia geraki tangan kirinya, dua siewie kena dibikin terpelanting, hingga ia bisa dekati A Kiu, untuk serahkan pedang Kim Coa Kiam kepada puteri itu, kemudian ia sendiri maju ke samping kaisar, akan lindungi raja ini yang menjadi musuhnya....

Belasan siewie menerjang raja, sesuatu dari mereka lantas dihajar ini anak muda, yang gunai kedua tangan dan kakinya, hingga bukan saja mereka tak dapat maju, mereka sendiri yang rubuh dengan urat putus atau tulang-tulang patah!

A Kiu sendiri, dengan pedang mustika Ular Emas di tangan, hingga ia tidak membutuhkan lagi kursinya, sudah lantas unjuk kegagahannya. Baru saja beberapa jurus, ia sudah tabas kutung golok besar dan panjang dari An Kiam Ceng.

Seng Ong terperanjat. Tidak ia sangka, kaisar bisa dapat bantuan tangguh di saat yang sangat terjepit itu.

"Orang-orang di luar, semua maju!" ia lantas berteriak- teriak.

Teriakan itu disambut dengan munculnya Ho Tiat Chiu, Ho Ang Yo dan Lu Jie Sianseng berikut empat jago tua anggauta Ngo Cou dari Cio Liang Pay. Tapi mereka ini tercengang kapan mereka saksikan kaisar Cong Ceng dilindungi ulh Sin Cie, si anak muda yang liehay, yang sedang labrak beberapa sie-wie yang masih bandel.

Akhir-akhirnya Un Beng Tat mendelik dengan matanya mengeluarkan sinar tajam bagaikan api menyala, dia terus menjerit: "Lebih dahulu bereskanlah binatang ini!"

Lalu, bersama tiga saudaranya, dia lompat maju.

A Kiu sendiri sudah lantas lompat ke samping ayahnya, dengan bersenjatakan pedang mustika, ia bisa pukul mundur setiap penyerang yang maju merangsek, sampai pahlawan-pahlawannya Seng Ong jeri juga. Karena ini ia dapat kesempatan akan tampak Sin Cie sedang dikerubuti enam sie-wie, hingga ia merasa, dalam keadaan seperti itu, pemuda itu pasti sukar bantu ia. Mau atau tidak, ia berkuatir juga.

Selagi tuan puteri ini pasang mata sambil berpikir keras, mendadak ia lihat si orang perempuan tua, yang romannya

1066 sangat jelek, yang dandan sebagai pengemis, mata siapa bersinar sangat tajam, lompat ke arahanya sambil angkat kedua tangannya, untuk perlihatkan sepuluh jarinya yang tajam bagaikan kuku garuda. Si jelek dan begis ini berseru dengan suaranya yang menyeramkan: "Lekas kembalikan Kim Coa Kiam padaku!"

Pada waktu itu, Sin Cie sudah ambil keputusan. Sekarang ia hendak tolongi kaisar Cong Ceng supaya gagallah usaha dorna-dorna mengundang masuk angkatan perang Boanciu, supaya kerajaan Beng dapat dihindarkan dari kemusnaan. Ia pikir, baik ia tunggu sampai tentaranya Giam Ong masuk ke kota raja, Baru ia wujudkan pembalasan sakit hatinya. Jadi, urusan negara dulu, Baru kepentingan pribadi.

Sementara itu, ia sudah lantas dikepung oleh empat Ngo Cou dari Cio Liang Pay, siapa sudah liehay tetapi sekarang dibantu pula oleh Lu Jie Sianseng dan Ho Tiat Chiu, hingga tak sempat ia membantu A Kiu siapa, dengan rambut riap- riapan, lagi putar pedangnya secara hebat akan layani penyerang-penyerangnya. Sebab anggauta-anggauta Kim-ie Wie-kun desak si nona dari tiga jurusan.

Dalam saat segenting itu, tiba-tiba saja pemuda ini dapat satu pikiran. Sambil berkelit disusl sama lompatan, ia loloskan diri dari huncwee yang liehay dari Lu Jie Sianseng dan sapuan berbahaya dari tongkat panjang Un Beng San, lantas ia melejit ke depan Ho Tiat Chiu.

"Menyesal; kami terpaksa mengerubuti!" kata kaucu dari Ngo Tok Kau sambil tertawa seraya dengan gaetannya ia sambuti si anak muda.

Sin Cie berkelit.

"Apakah kau sudah tidak sayangi lagi jiwanya beberapa puluh anggautamu?" tegur Sin Cie. Tercengang Ho Tiat Chiu kapan ia ingat orang-orangnya yang lagi terancam bahaya itu. Justru itu, Sin Cie gunai ketikanya untuk loncat keluar dari kepungan.

Un-sie Su Lo, empat ketua Keluarga Un, tidak mau lepaskan musuh lawas ini, mereka maju untuk mengepung pula. Un Beng Tat dengan siang-kek, sepasang tumbak cagaknya, serang bebokongnya Sin Cie sebagai sasaran. Tapi ia ini egos tubuhnya.

"Kau gantikan aku menahan mereka!" tiba-tiba saja Sin Cie kata pada Ho Tiat Chiu.

"Apa?" tanya kaucu dari Ngo Tok Kau.

Si anak muda tidak lantas menjawab, ia kelit dulu dari serangannya Un-sie Su Lo dan Lu Jie Sianseng.

"Aku nanti ajak kau pergi lihat adik Ceng she Hee!" kata dia kemudian.

Memang sejak melihat Ceng Ceng kaucu ini sudah runtuh hatinya, maka mendengar katanya Sin Cie, hatinya sekarang memukul keras. Hampir tidak berpikir lagi, ia angkat tangan kirinya, akan dengan itu gaet Un Beng Go, orang yang berada paling dekat dengannya.

Ngo yaya tidak pernah sangka kawan ini bakal berkhianat, dia kaget bukan main melihat datangnya serangan secara demikian tiba-tiba, tetapi ia masih bisa geraki cambuk kulitnya, untuk menangkis gaetan.

Akan tetapi Ho Tiat Chiu gesit dan telengas, setelah gagal bokongannya itu, ia mendesak dengan hebat sekali, sama sekali ia tidak hendak memberi ketika kepada Cio Liang Pay itu, tidak perduli orang liehay. Baru tiga desakan berulang-ulang, ujung gaetannya telah mampir di bahu kiri dari Beng Go, hingga bahu itu tergurat. Oleh karena gaetan itu ada racunnya, dalam sesaat itu, mukanya Ngo yaya menjadi pucat, bahunya membengkak dengan cepat, hingga di lain saat, tubuhnya menjadi limbung, tangan kanannya dipakai mengucak-ucak kedua matanya.

"Aku tak dapat melihat apa-apa! Aku.... Aku terkena racun!. " Ia berseru.

Un-sie Sam Lo bingung melihat saudara muda itu, dengan tidak perdulikan lagi kepada musuh, mereka lompat menghampirkan, untuk menolongi. Lebih dahulu mereka pepayang saudara itu.

Sin Cie menjadi senggang karena berkurangnya desakan tiga jago Un itu, di lain pihak, hatinya bercekat kapan ia ingat bagaimana telengasnya kaucu dari Ngo Tok Kau itu. Tapi juga ia tidak punya kesempatan akan berlengah, sebab tempo ia mencuri lihat kepada A Kiu, ia dapatkan puteri itu sedang terdesak hebat oleh Ho Ang Yo dan An Kiam Ceng, yang berlompatan gesit di kiri dan kanannya.

Justru itu waktu Ho Tiat Chiu sudah serang Lu Jie Sianseng, tanpa buang tempo lagi, Sin Cie berlompat dengan pesat ke arah Ho Ang Yo, dia sampai justru sedangnya si uwah seram membaliki belakang, dengan sebat sekali dia jambret bebokong orang, terus dia angkat tubuhnya nyonya itu, untuk segera dilemparkan!

An Kiam Ceng terkejut melihat kawannya kena dirobohkan secara demikian rupa, selagi begitu, ujung pedangnya A Kiu mampir di paha kirinya, tidak ampun lagi, ia rubuh terguling!

Di sana, pertempuran di antara Ho Tiat Chiu dan Lu Jie Sianseng berlanjut terus. Sianseng ini telah saksikan rubuhnya Un Beng Go, dengan sendirinya, hatinya jeri, semangatnya lumer, maka setelah tiga percobaannya

1069 mendesak hebat gagal, dengan sekonyong-konyong dia berlompat keluar kalangan.

"Maaf, lohu tak dapat melayani lama-lama!" serunya.

Dan terus ia angkat kaki.

Ho Tiat Chiu sambut seruan itu sambil tertawa.

"Lu Jie Sianseng, sampai ketemu pula! Sampai ketemu pula!"

Ketika itu Un Beng Go telah tak sadar akan dirinya, karena bekerjanya racun.

Un-sie Sam Lo, tiga saudara Un, kaget bukan kepalang kapan mereka kenali lukanya saudara ini mirip dengan luka dulu dari tangan liehay Kim Coa Long-kun, hati mereka memukul keras. Sedetik saja, mereka saling memandang, untuk memberikan tanda rahasia, habis mana Beng Gie sambar tubuh Beng Go, untuk dipeluk dan diangkat, buat dibawa lari, sedang Beng Tat dan Beng San berlompat, yang satu untuk membuka jalan, yang lain guna memegat, melindungi di belakang.

Ho Tiat Chiu berlompat, untuk menyusul, tetapi bukannya buat menyerang, hanya guna melemparkan satu bungkusan.

"Inilah obat untuk luka itu! Sambutilah!" ia berseru.

Un Beng San, Sam Yaya, berhenti berlari, ia putar tubuhnya, untuk sambuti obat itu, setelah mana, ia lari pula.

Ho Tiat Chiu tertawa, ia pun kembali.

Sampai itu waktu, pertempuran telah memberi rupa lain. Dengan tidak adanya jago-jago Co Liang Pay dan Lu Jie Sianseng, kawanan Kim-ie Siewie menjadi repot, dengan cepat mereka kena dihajar kalang-kabutan oleh A Kiu dan Sin Cie, akan akhirnya mereka lari bubaran!

Baru saja Kim-ie Siewie lari ke pintu, atau Thaykam Co Hoa Sun muncul di situ bersama sepasukan Gie-lim-kun.

Sin Cie lihat datangnya barisan itu, ia berseru: "A Kiu! Ho kaucu! Mari kita lindungi Sri Baginda keluar dari sini!"

A Kiu dan Tiat Chiu berikan jawaban mereka.

Maka lantas mereka bertiga kurung kaisar Cong Ceng.

Di saat mereka ini hendak maju menerjang, terdengarlah seruannya Co Thaykam secara tiba-tiba: "Dorna bernyali besar! Kau berani ganggu Sri Baginda! Lekas bunuh dia!"

Itu waktu, tentara Gie-lim-kun telah bertempur sama Kim-ie Siewie. Yang belakangan ini hendak loloskan diri tetapi karena dipegat dan diserang, terpaksa mereka bikin perlawanan.

Seng Ong menjadi kaget, hingga ia melengak.

"Co Kongkong! Kau.....kau...... Bukankah kau dengan aku telah. "

Setelah sadar, pangeran ini tegur thaykam serikatnya itu, akan tetapi belum habis dia bicara, ujung pedangnya Co Hoa Sun telah nancap di dadanya!

Semua Kim-ie Sie-wie kaget melihat perbuatannya thaykam ini, malah Sin Cie, Ho Tiat Chiu dan A Kiu juga tak kurang herannya.

Cuma kaisar Cong Ceng seorang yang puji orang kebiri itu sebagai hamba yang setia....

Co Hoa Sun tetap berdiam di tempatnya "sembunyi" selama pertempuran berlangsung, orang-orang kepercayaannya terus memasang mata dan setiap saat memberi laporan saling-susul, maka itu ia lantas dapat tahu ketika Ho Tiat Chiu tukar haluan, hingga Sin Cie dan A Kiu jadi dapat angin, hingga pertempuran jadi salin rupa untuk kerusakan pihaknya. Jadi gagallah usaha mereka akan mengusir atau membunuh kaisar. Dia sangat cerdik, di saat segenting itu, dia lantas saja tukar haluan, tanpa ayal, dia bawa pasukan Gie-lim-kun, katanya untuk tolongi Sri Baginda.

Semua Kim-ie Siewie lantas letaki senjata mereka. "Tawan! Tawan mereka!" Co Thaykam berikan

perintahnya.

Serdadu-serdadu Gie-lim-kun segera tangkap semua siewie itu.

"Gusur mereka keluar! Hukum mati mereka semua!" Co Thaykam berikan titahnya terlebih jauh. Ia melancangi raja.

Titah ini pun telah dijalankan dengan lantas, maka di dalam tempo yang pendek, binasalah semua siewie itu, hingga musnah juga semua orang yang turut dalam komplotan itu.

Itulah tindakan hebat untuk menutup mulut orang!

Ho Tiat Chiu lihat pertempuran telah selesai, ia berpaling kepada Wan Sin Cie, dan tertawa.

"Wan Siangkong, besok aku tunggu kau di bawah pohon besar di tempat sepuluh lie di luar kota!" katanya, sehabis mana ia tarik tangannya Ho Ang Yo untuk diajak berlalu.

Itu waktu, si uwah jelek, yang tidak terluka hebat, memang sudah dekati pemimpinnya itu.

Selagi orang memutar tubuh, kaisar Cong Ceng memanggil. "Kau....kau..." Kaisar ini hendak memberi pujian dan hadiah kepada si juwita itu akan tetapi Tiat Chiu tidak memperdulikannya, terus saja ia ajak bibinya berlalu.

Ketika kaisar kemudian berpaling kepada puterinya, ia dapatkan, puteri itu asyik pandang Sin Cie dengan air muka berseri-seri. Barulah sekarang hatinya menjadi tenteram benar. Tertawanya sang puteri berarti bahaya benar-benar sudah lewat. Ia lantas jatuhkan diri di atas kursi.

"Siapakah dia ini?" tanya ia kepada puterinya. Ia tunjuk pemuda kita. "Jasanya tidak kecil. Tim akan beri hadiah padanya."

Raja ini anggap, setelah ia berikan janjinya itu, Sin Cie nanti berlutut di depannya, untuk haturkan terima kasih. Di luar sangkaannya, anak muda itu berdiri tetap dengan gagah dan agung.

A Kiu tarik ujung bajunya si anak muda.

"Lekas menghaturkan terima kasih," ia membisikkan.

Putera Wan Cong Hoan tidak tekuk lutut, sebaliknya ia awasi kaisar itu. Segera ia teringat kepada ayahnya, yang sudah bela negara dengan melupakan diri-sendiri, yang jasanya sangat besar, akan tetapi toh oleh kaisar ini, ayahnya itu telah dijatuhkan hukuman mati secara hebat. Maka juga, kemurkaan dan kesedihannya telah berkumpul jadi satu.

"Apakah namamu?" raja tanya, dengan suara lemah lembut. "Di mana kau pegang jabatanmu?"

Kaisar ini menanya demikian oleh karena ia lihat pemuda ini dandan sebagai seorang kebiri, ia menyangka orang ada salah satu thaykamnya.

Masih Sin Cie awasi kaisar itu. "Aku ada orang she Wan," akhirnya ia jawab juga, sikapnya gagah, suaranya keren. "Aku ada putera Peng-pou Siang-sie Wan Cong Hoan yang dahulu telah membela negara di tanah Liau!"

Kaisar Cong Ceng tercengang, sampai ia agaknya seperti tak mendengar nyata.

"Apa kau bilang?" ia menegasi.

"Ayahku telah berjasa besar sekali untuk negara tetapi oleh Raja dia telah dihukum mati!" Sin Cie kata pula, suaranya jadi lebih keras.

Kaisar itu terkejut. Sekarang tak lagi ia mendengar tak nyata. Ia pun lantas menjadi lesu.

"Sekarang Baru aku menyesal, sesudah kasip..." ia akui. Ia berhenti sebentar. Kemudian ia tanya: "Hadiah apakah yang kau kehendaki?"

Bukan kepalang girangnya A Kiu akan dengar pertanyaan ayahnya itu. Kembali ia tarik ujung bajunya si anak muda. Ia ingin pemuda ini gunai ketika yang baik itu untuk minta menjadi Hu-ma, menantu raja.

Tapi jawabannya orang yang dipuja ini di luar dugaannya.

Dengan suara yang menyatakan kemurkaannya, Sin Cie jawab: "Aku tolongi kau melulu untuk keselamatannya negara; buat apakah hadiah? Hm! Sekarang Sri Baginda sudah menyesal, maka sekarang aku minta supaya Sri Baginda cuci bersih penasarannya ayahku almarhum!"

Biar bagaimana, raja tetap raja, ia ada punya keangkuhan. Maka itu, melihat sikapnya pemuda ini, mendengar kata-katanya Sin Cie, ia berdiam. Ia sudah menyatakan kemenyesalannya, itu sudah cukup, tapi untuk aku kesalahannya, inilah lain.

Selagi begitu, Thaykam Co Hoa Sun, yang tadi telah pergi bersama barisannya, sudah kembali bersama-sama barisannya itu. Ia memberi hormat pada raja, ia tanyakan kewarasannya junjungan ini. Habis itu ia melaporkan bahwa semua pemberontak sudah dihukum mati. Ia juga beritahu bahwa keluarganya Pangeran Seng Ong sudah ditawan semua. Ia menantikan keputusannya raja.

Kaisar Cong Ceng manggut-manggut. "Bagus!" katanya. "Dasar kau setia!"

Hampir Sin Cie bongkar rahasianya orang kebiri ini apabila ia dengar laporan itu. Ia marasa sangat sebal untuk kelicinannya dorna ini. Tapi di saat sepenting itu, ia ingat suatu apa, lantas ia bisa sabarkan diri. Ialah ia ingat, pasukan perang Giam Ong bakal lekas sampai di kota raja, maka dengan adanya manusia rendah ini di damping raja, itu akan ada untungnya untuk pergerakannya.

Tanpa perdulikan lagi kaisar, Sin Cie manggut pada A Kiu.

"Mari kembalikan pedang itu padaku, aku hendak pergi!" katanya.

Tiang Peng Kiongcu terperanjat.

"Kapan kau akan tengok aku pula?" tanyanya. Ia sampai lupa bahwa di situ ia ada bersama kaisar dan Thaykam Co Hoa Sun.

"Harap thianhee rawat diri saja baik-baik," kata Sin Cie seraya ia ulur tangannya, untuk sambuti pedangnya.

A Kiu tarik tangannya. "Untuk sementara baiklah pedang ini dititipkan padaku di sini," katanya. "Lain kali, apabila kita bertemu pula, Baru aku kembalikan padamu "

Sin Cie ragu-ragu, apapula ia tampak roman heran dari kaisar dan Co Hoa Sun. Kemudian, lantas saja ia manggut pula kepada tuan puteri, lalu ia putar tubuhnya dan bertindak keluar.

A Kiu menyusul sampai di luar, di pintu keraton.

"Kau jangan kuatir, tidak nanti aku lupakan kau," katanya dengan pelahan.

Sin Cie niat menutur segala apa, akan tetapi ia lihat istana itu bukan tempatnya, ketika itu bukan saatnya juga, maka ia bilang: "Di dalam negeri bakal terbit perubahan besar, maka daripada berdiam menyendiri di dalam istana, lebih baik kau pergi jauh berkelana. Kau ingat baik-baik perkataanku ini."

Inilah nasihat supaya A Kiu berlalu dari istana, sebab Giam Ong segera bakal sampai di kota raja, waktu itu suasana ada sangat mengancam. Akan tetapi A Kiu tak dapat tangkap maksud itu, yang tersembunyi. Malah dia tertawa.

"Benar," katanya. "memang aku lebih suka ikuti kau pergi berkelana ke mana saja, itu jauh terlebih senang daripada kehidupan mewah di istana. Nanti saja, apabila kau telah datang pula, Baru kita-orang bicara pula dengan jelas!"

Sin Cie menghela napas, tak bisa ia mengatakan apa-apa lebih jauh. Setelah ia geraki tangan, untuk pamitan, ia loncati tembok, untuk berlalu dari istana. Ia lihat obor terang-terang di segala penjuru istana, rupanya masih saja dilakukan penggeledahan untuk cari sisa-sisa pemberontak....

Anak muda kita sangat kuatirkan keselamatan Ceng Ceng, maka itu ia lakukan perjalanan pulang dengan cepat sekali. Kapan ia sudah sampai di rumahnya di gang Ceng- tiau-cu, Baru hatinya lega. Di sana kedapatan Ceng Ceng bersama-sama Wan Jie dan Lip Jie dengan tidak kurang suatu apa.

Baru sekarang, setelah tak tidur satu malaman, dan habis keluarkan tenaga banyak, Sin Cie ingat keletihannya dan mengantuk, dari itu, setelah bicara sedikit, ia pergi ke kamarnya untuk tidur.

Waktu sudah siang, kira jam tujuh atau delapan pagi, Baru Sin Cie mendusin. Ketika ia pergi keluar, di thia sudah menantikan Tong Hian Toojin bersama Bin Cu Hoa serta enam murid Bu Tong Pay lainnya.

Tong Hian beramai datang ke rumah Sin Cie sebab dapat kabar kaum Ngo Tok Kau melakukan penyerangan, mereka niat memberikan bantuan, tidak tahunya, pertempuran sudah berhenti.

"Terima kasih," Sin Cie menghaturkan kepada tetamu- tetamunya itu.

Kemudian ia bilang, mungkin sekali Uy Bok Toojin masih belum mati.

Kabar ini, walaupun masih samar-samar, sangat menggirangkan orang-orang Bu Tong Pay itu. Karena Sin Cie sendiri belum dapat kepastian, mereka tidak menanyakan melit-melit, mereka cuma sampaikan harapan untuk si anak muda suka membantu lebih jauh.

Sekalian orang sudah datang, Sin Cie minta Tong Hian semua berdiam terus di rumahnya itu, untuk bantu

1077 melindungi andaikata bantuan mereka dibutuhkan, setelah itu seorang diri ia pergi ke luar kota sebelah barat, ia jalan terus sampai kira sepuluh lie, lalu di bawahnya sebuah pohon besar, ia tampak Ho Tiat Chiu asik menantikan dia.

Nona kepala Ngo Tok Kau itu bersenyum berseri-seri, ia menyambut sambil tertawa, sikapnya manis dan hormat.

"Wan Siangkong!" katanya; tetap masih tertawa. "Tadi malam aku telah sempurnakan urusan baikmu! Kau lihat, cukup atau tidak perbuatanku sebagai sahabat kekal?"

"Keadaan tadi malam memang sangat berbahaya," Sin Cie jawab. "Beruntung sekali Ho Kaucu telah beri bantuanmu secara tiba-tiba, hingga onar besar bisa dapat dicegah. Aku sangat bersukur kepada kau, kaucu."

Masih saja kaucu itu tertawa.

"Wan Siangkong, kau beruntung bukan main!" katanya pula. "Kau telah dapatkan satu puteri raja yang cantik molek yang berikan cintanya kepadamu, maka jikalau kemudian kau menjadi Hu-ma, apa mungkin kau nanti melupakan orang-orang kangouw semacam kami?"

Sin Cie heran.

"Ah, jangan main-main, Ho Kaucu!" katanya, dengan roman sungguh-sungguh.

Tapi kaucu itu tetap tertawa.

"Hai, kau masih menyangkal?" katanya. "Dia demikian menyinta padamu, mustahil kau tidak lihat itu? Laginya, jikalau kau tidak cintai dia, mengapa kau serahkan pedang Kim Coa Kiam kepadanya? Dan kenapa kau tolongi ayahanda rajanya secara demikian mati-matian?"

"Itulah melulu untuk keselamatannya negara," Sin Cie jawab. "Ya, untuk keselamatan negara!" kata si nona. Ia terus tertawa dengan manis. "Untuk keselamatan negara dengan cara mencuri kau tidur bersama dalam satu pembaringan dengan puteri orang! Haha-haha!"

Merah mukanya Sin Cie, bukan main sibuknya ia. "Apa....apa?....." tanya dia. "Kenapa kau. "

"Kau hendak tanya, kenapa aku ketahui itu, bukankah?" tertawa Ho Kaucu. "Ketika aku turut Co Hoa Sun masuk dalam kamarnya tuan puteri, aku telah lantas dapat tahu, bersama ia di bawah selimutnya ada tersembunyi satu orang lain! Kita ada sesama kaum kangouw, apa kau sangka mataku buta? Hihi-hihi! Mulanya aku berniat menyingkap selimut, akan tetapi ketika aku menoleh ke kursi dan lihat gambar lukisan kau, Wan Siangkong, aku dapat pikiran lain. Aku anggap baiklah aku ikat persahabatan denganmu. "

Bukan main malunya Sin Cie, tak ada tempat untuk ia sembunyikan mukanya.

"Ya, A Kiu telah tidak sempat sembunyikan gambar lukisannya itu," pikirnya.

Ho Tiat Chiu mengawasi pemuda ini, yang merah mukanya sampai ke kuping-kuping Baru setelah itu, ia ubah sikapnya.

"Bukankah Hee Siangkong sudah kembali dengan tidak kurang suatu apa?" tanyanya.

Sin Cie manggut.

"Sekarang aku datang untuk obati saudara-saudaramu yang terluka," katanya.

0o-d.w-o0