-->

Pedang Ular Emas Bab 21

Bab ke 21

Heran Wan Jie karena orang gotong joli secara demikian rupa, dari heran, hatinya lantas kebat-kebit, ia berkuatir juga sedikit. Ia tidak menduga bahwa keempat tukang gotong itu adalah orang yang bertenaga besar dan berkepandaian silat. Pun dengan menangkel di kolong joli, ia merasakan hawa yang sangat dingin. Itu waktu ada di musim dingin, ada salju yang nempel di joli, sekarang salju itu jatuh ke mukanya, disebabkan hawa panas pada mukanya itu, salju lumer menjadi air. Tidaik berani ia susut mukanya, ia kuatir dengan geraki tangannya, ia akan menerbitkan goncangan hingga orang bisa timbul kecurigaannya.

Perjalanan Baru dilakukan kira setengah jam, mendadak Wan Jie dengar suara bentakan keras, menyusul mana, joli dihentikan dengan tiba-tiba. Tentu saja keempat tukang joli dan nona di dalamnya dengar bentakan itu.

Segera menyusul bentakan lain, suaranya seorang lelaki: "Kacung she Ho yang hina-dina, lekas kau keluar untuk terima binasa!"

"Aneh!" pikir Wan Jie. "Aku rasa kenali suara ini. Siapa

dia?"

Habis itu, menyusul bentakan lain lagi: "Kamu kaum Ngo Tok Kau malang-melintang di dunia, siapa tahu kamu toh ketemu harimu ini!"

" Itulah Bin Cu Hoa!" ingat si nona Ciau. "Ya, suara yang pertama ada suara suhengnya, Tong Hian Toojin. "

Segera terdengar tindakan kaki berisik disekitar joli, rupanya ada sejumlah orang yang datang mengurung.

Joli segera dikasi turun, keempat tukang gotongnya lantas hunus senjata.

Wan Jie singkap ujung tenda, untuk mengintai, Di arah timur terlihat lima orang, semua memakai jubah suci, tangan mereka menyekal pedang. Yang berada di depan nampaknya ada Tong Hian Toojin.

"Di arah barat, utara dan selatan, tentu ada kawan- kawan mereka..." pikir pula nona Ciau. "Rombongan Bu Tong Pay ini rupanya berniat mencari balas untuk guru mereka."

Selagi ia memikir demikian, Wan Jie rasai joli bergoyang.

Itulah gerakan disebabkan Ho Tiat Chiu telah berloncat keluar dari jolinya itu.

"Bukankah Cui In si imam telah mampus?" demikian bentakannya pemimpin Ngo Tok Kau ini. "Sungguh besar nyali kamu semua? Apakah kamu mau?"

"Kasi tahu kami, sebenarnya dimana adanya guru kami, Uy Bok Too-tiang?" Tong Hian tanya "Lekas bicara, supaya kau bisa bebas dari siksaan!"

Ho Tiat Chiu tertawa terbahak-bahak.

"Guru kamu bukannya bocah cilik umur tiga tahun," katanya, "Gurumu hilang, kenapa kamu menanyakannya kepadaku? Apa memangnya gurumu itu diserahkan dibawah penilikanku? Baiklah, kita sama-sama kaum Rimba Persilatan, aku nanti bantu kamu mencari dia! Kasihan kalau sampai dia terlantar diluaran, tidak ada yang urus!..."

"Hai, suaranya orang ini benar-benar halus dan merdu..." pikir Wan Jie. "Dia omong keras tetapi manis didengarnya... Tadinya aku sangka dia bicara sama Wan Siangkong dengan lagu-suara dibikin-bikin, untuk menarik hati orang..." Lalu terdengar suara penuh kemurkaan dari Tong Hian Toojin.

"Kamu kaum Ngo Tok Kau telah malang-melintang dimana-mana!" demikian suaranya imam ini. "Sekarang kami hendak bikin kamu insyaf, perbuatan jahat mesti terima pembalasan jahat juga!"

Tong Hian geraki pedangnya, tubuhnya juga, agaknya ia hendak lantas menyerang.

Masih Ho Tiat Chiu tertawa manis.

"Bu Tong Pay kesohor sebagai partai jantan," katanya, "tapi buktinya kamu tidak pernah secara terang-terangan mencari aku! Begitulah sekarang, selagi orang aku banyak yang terluka, diam-diam bagaikan hantu-hantu, kamu sembunyi di sini untuk memegat aku!. Ha-ha-ha-ha!"

Beraneka warna suara tertawanya ketua Ngo Tok Kau ini, lalu sebelum berhenti suara tertawanya itu, diarah barat utara terdengar satu suara jeritan hebat: "Aduh!"

Nyatalah nona ini sudah lantas mendahului turun- tangan, karena mana, ia menambah membangkitkan hawa- amarah musuh-musuhnya, maka tidak ampun lagi, orang lantas maju, untuk terjang padanya.

Pertempuran sudah lantas terjadi, Ho Tiat Chiu berlima segera kena dikurung. Sebab kali ini orang-orang Bu Tong Pay telah kumpul dalam jumlah besar, berikut semua anggautanya yang liehay.

Keempat tukang gotong telah terluka dan rubuh saling susul saking hebatnya kepungan, walaupun pertempuran berjalan belum seberapa lama.

Wan Jie mengintai terus, hingga ia bisa saksikan cara berkelahinya orang-orang Bu Tong Pay itu. Ilmu silat pedang mereka benar-benar liehay. Ia tetap berdiam di kolong joli, tak mau ia lantas keluar. Kalau ia muncul, ia kuatir ia nanti disangka ada orangnya Ngo Tok Kau.

Berkilau-kilaulah kira-kira duapuluh batang pedang yang lagi kurung Ho Tiat Chiu, siapa benar-benar liehay. Dia benar tidak bisa lantas pecahkan kurungan, akan tetapi dia bisa berkelahi dengan baik.

Satu imam muda sangat bernapsu, dia lompat maju kepada si nona, untuk menyerang dengan hebat, tetapi pedangnya ditangkis dengan gaetan, gaetan mana terus mampir di pundaknya. Maka tidak ampun lagi, ia menjerit dan rubuh pingsan, hingga ia perlu digotong keluar kawan- kawannya.

Kembali lewat beberapa puluh jurus, setelah ini Barulah kelihatan Ho Tiat Chiu kena terdesak.

Bin Ciu Hoa merangsak hebat, sampai mendadak pedangnya menyambar batang lehernya ketua Ngo Tok Kau itu. Tiat Chiu berkelit, menyusul mana, dua pedang lain membarengi menikam dia. Maka sibuklah dia dengan tangkisannya.

Tiba-tiba Wan Jie dengar suara nyaring pelahan, lalu serupa barang jatuh menggelinding ke kolong joli, kearah dia. Dia jumput itu, ialah sebuah anting-anting.

Menampak ini, Wan Jie girang berbareng kuatir. Ia girang karena ia percaya, kali ini Ho Tiat Chiu tidak bakal lolos dari kebinasaan, apabila dia mati, itu artinya Sin Cie jadi bebas dari gangguan nona liehay ini. Tapi ia berkuatir andai-kata Tiat Chiu terbinasa, nanti nasibnya Ceng Ceng tak ketahuan. Ada kemungkinan sisa orang-orang Ngo Tok Kau tidak sudi menyerahkannya. Masih Ho Tiat Chiu melakukan perlawanan. Selang lagi dua-puluh jurus, Barulah ia lelah benar-benar, rambutnya terlepas dan kusut, nampaknya tidak lagi ia mampu membalas menyerang.

Tong Hian Toojin rupanya bisa lihat nyata keadaannya lawan, sampai di situ, ia perdengarkan seruannya, maka beberapa puluh pedang segera perkeras kurungan mereka.

"Dimana adanya guru kami?" Tong Hian tanya. "Dia masih hidup atau sudah meninggal dunia? Lekas bilang!"

Ho Tiat Chiu kempit gaetan emasnya, ia pakai tangannya untuk singkap rambutnya yang riap-riapan, setelah itu, mendadak ia tertawa, gaetannya berkelebat, maka di pihak lawan, satu imam telah terluka pula!

Hal ini membikin semua imam jadi gusar sekali, kembali mereka menyerang, secara hebat.

Dalam saat sangat terancam dari Ho Tiat Chiu itu, dari kejauhan terdengar suara suitan istimewa, mendengar mana, ketua Ngo Tok Kau itu tertawa pula.

"Dengar, itulah orang-orangku datang!" ia berseru. "Baik kamu lekas menyingkir, atau kamu nanti dapat susah!. "

Wan Jie dengar ancaman yang berupa nasihat itu. "Jikalau ini bukannya saat mati atau hidup," pikirnya

"mendengar suaranya ini, yang begini halus, orang pasti

mengira ia sedang pasang omong dengan kekasihnya. "

Ia kagumi suara orang yang merdu itu. Tong Hian tidak gubris nasihat itu.

"Baik bereskan dulu ini kacung hina!" katanya kepada kawan-kawannya. Serangan diperkeras dengan kesudahan Tiat Chiu mendapat dua luka enteng pada kakinya. Meski begitu, ia masih melawan dengan tampangnya bersenyum-senyum.

"Jangan kau tertawa saja!" seru satu imam muda, yang hatinya tak tega kalau nona begini cantik-manis mesti terbinasa di ujungnya puluhan pedang yang tajam. "Kau menyerah atau tidak?"

"Eh, tootiang, apa katamu?" tanja Tiat Chiu, menegasi.

Masih ia tertawa.

Ditanya begitu, imam muda itu tercengang, selagi ia hendak menjawab, mendadak ada sinar berkelebat.

"Awas!" seru Bin Cu Hoa. Sia-sia saja pemberian ingat ini, gaetan emas dari Ho Tiat Chiu telah mampir ditubuh si imam.

Selagi kepungan diperkeras, Tong Hian pecah delapan orangnya, akan sambut bala-bantuannya pemimpin Ngo Tok Kau itu. Maka tak jauh dari mereka, segera terdengar suara beradunya pelbagai alat-senjata, suatu tanda, pihak Bu Tong Pay sudah mulai bentrok sama bala-bantuannya Tiat Chiu.

Kembali Tong Hian memecah orangnya, guna bantu delapan kawannya itu.

Tiat Chiu dapat juga bernapas sedikit karena dipecahnya kekuatan yang mengepung dia, akan tetapi kendati demikian, ia tidak sanggup toblos kurungan, untuk persatukan diri dengan kawan-kawannya itu.

Selagi orang bertempur seru, mendadak terdengar suaranya satu imam: "Bagus, bagus! Tiang Pek Sam Eng, tiga dorna penjual negara, kamu juga datang?" "Habis bagaimana?" jawab satu suara kasar dan bengis. "Kau tahu kami liehay, lekas kamu pergi semua!"

Heran Ciau Wan Jie mendengar suara si imam, yang menyebut Tiang Pek Sam Eng, ialah tiga jago dari Tiang Pek San. Mereka bertiga adalah yang mengadu-biru dalam hal membikin celaka ayahnya, mereka sudah ditawan Sin Cie, oleh ayahnya mereka telah dikirim pada kantor negeri di Lamkhia, maka heran, kenapa mereka itu sekarang datang kemari.

"Apa mungkin mereka itu buron dari penjara? Atau apa mereka sudah sogok pembesar negeri, untuk kebebasan mereka?" pikir si nona, yang menduga-duga.

Selama itu, desakan Ngo Tok Kau menjadi hebat, segera ternyata, pihak Bu Tong Pay kena terdesak. Maka tidak ayal lagi, Tong Hian Toojin beri tanda untuk pihaknya mundur. Dalam hal ini, mereka ini bisa bekerja dengan sempurna, mereka dapat mundur dengan teratur.

Ho Tiat Chiu tampak orang mundur dengan rapih, ia cegah pihaknya mengejar, sembari tertawa, ia ejek musuh- musuhnya itu, katanya: "Jikalau ada waktu yang senggang, lain kali kamu boleh datang pula untuk main-main lagi! Siaumoay tak dapat antar padamu!..."

Ia menggunakan kata-kata "siaumoay," - adik yang rendah.

Pihak Bu Tong Pay tidak perdulikan ejekan itu. Mereka muncul dengan mendadak, mundurnya pun secara cepat sekali. Maka dilain saat, kesunyian datang kembali, tak lagi ada suara bentrokan senjata, cuma ada siurannya angin malam yang membawa datangnya sang salju.

Wan Jie mengintai pula, ia lihat beberapa puluh orang, yang berkumpul bergunduk-gundukan. Seorang perempuan tua, yang dandan sebagai pengemis, kata: "Pandai sekali mereka itu serep-serepi kabar! Mereka tahu orang-orang kita sedang terluka, mereka datang membokong!"

"Syukur bibi telah dapat lekas mengumpul bala- bantuan," berkata Ho Tiat Chiu. "Lebih syukur keempat lopeh Keluarga Un dan Tiang Pek Sam Eng pun kumpul bersama, coba tidak, rada sulit untuk memukul mundur mereka itu."

Seorang tua, yang kumis-jenggotnya putih, menanya: "Apakah pihak Bu Tong Pay itu berserikat sama Hoa San Pay?"

Seorang lain, yang suaranya kasar, menyahuti: "Kim Liong Pang berkonco sama si binatang she Wan! Kami bertiga saudara telah gunai akal merenggangkan, untuk membunuh orang sambil meminjam golok, maka orang she Wan itu pasti bakal hajar pihak Bu Tong Pay!"

Si orang tua lantas tertawa besar.

"Bagus! Biar mereka saling bunuh!" katanya.

Mendengar pembicaraan itu, Wan Jie di kolong joli mengeluarkan keringat dingin.

"Hm, jadi tiga jahanam inilah yang telah bunuh ayahku!" katanya di dalam hati.

Sampai di situ, terdengarlah suaranya Ho Tiat Chiu: "Sekarang mari kita pergi ke istana! Tak usah duduk joli lagi. "

Maka pergilah rombongan orang itu. Yang jalan di depan ada Ho Tiat Chiu bersama Tiang Pek Sam Eng dan empat orang tua. Ciau Wan Jie tunggu sampai orang sudah melalui beberapa puluh tindak, Baru ia keluar dari kolong joli, kapan ia telah melihat ke sekitarnya, ia terperanjat sendirinya. Nyata ia telah berada diluar Kota Terlarang. Ia pun bisa lihat rombongan Ho Tiat Chiu memasuki istana.

Tidak berani Nona Ciau berdiam lebih lama di tempat sunyi itu, dengan berlari-lari, ia berangkat pulang, langsung ke gang Ceng-tiau-cu. Ia segera ketemui Sin Cie, akan tuturkan pengalamannya barusan.

Sin Cie awasi nona ini sekian lama, akhirnya ia tunjuki jempolnya.

"Nona Ciau, besar nyalimu, dan kau cerdik sekali!" ia memuji.

Merah mukanya si nona, ia tidak bilang suatu apa, hanya ia beri hormatnya.

Tidak berani Sin Cie ulur kedua tangannya, akan angkat bangun si nona, ia malah bertindak ke pinggir, untuk tidak terima pemberian hormat itu. Tapi ia mengerti maksud Nona Ciau, maka ia kata: "Tentang sakit hati ayahmu, nona, kau letaki itu dibahuku, tetapi dengan menjalankan ini kehormatan besar, nona seperti tidak memandang mata kepadaku...." Kemudian setelah berpikir sedetik, ia tambahkan : "Tak dapat kita berayal lagi, sekarang juga aku mesti pergi ke istana!"

"Entah bagaimana duduknya, kawanan jahanam itu bisa masuk dalam istana kaisar." kata Wan Jie. "Istana ada terjaga kuat sekali, aku rasa kurang tepat untuk kau memasukinya, Wan Siangkong. "

"Jangan kuatir, tidak ada halangannya," Sin Cie bilang. "Aku mempunyai suatu barang berharga. Sebenarnya aku sudah mesti gunai itu sedari siang-siang, siapa tahu setibanya di kota raja ini, kejadian-kejadian saling-susul sampai aku tidak punya tempo senggang lagi..."

Ia rogo sakunya, akan tarik keluar sesampul surat.

Itulah suratnya To Jie Kun, pangeran Kiu Ong dari Boan-ciu, yang dialamatkan kepada Su-lee Thaykam Cio Hoa Sun didalam istana, yang tadinja dibawa oleh Ang Seng Hay tapi tak sempat Seng Hay menyerahkannya. Ia percaya, surat itu bakal ada faedahnya, maka Sin Cie simpan itu. Sekarang surat ini hendak digunakan.

"Bagus!" menyatakan si nona. "Aku akan turut kau, Wan Siangkong. Aku nanti menyamar sebagai kacungmu."

Sin Cie tahu orang hendak membalas sakit hati dengan tangan sendiri, itu artinya kebaktian, tak suka ia merintanginya.

"Baiklah," ia manggut.

Wan Jie lantas masuk ke dalam, untuk bersihkan tubuh dan tukar pakaiannya. Memangnya pakaiannya sudah kotor sebab tadi ia keluar-masuk di kolong joli. Ia dandan pantas sekali sebagai seorang kacung.

"Sekarang tak dapat aku panggil kau Nona Ciau!" kata Sin Cie sambil tertawa.

"Panggil saja aku Wan-jie," kata si nona, yang pun tertawa." Mungkin lain orang sangka aku pwee-jie atau wan-jie. "

Namanya si nona memang bersuara sama dengan "wan- jie" -"mangkok". Dan "pwee-jie" artinya "cawan."

Sin Cie bersenyum.

Selagi dua orang ini hendak keluar, mendadak Gou Peng dan Lo Lip Jie datang masuk, agaknya mereka kesusu. Mereka bawa warta bahwa penjagaan di kantor ada keras

988 sekali, hingga mereka mesti tunggu sampai datang giliran tukar orang, Baru mereka bisa lemparkan tubuhnya Sian Tiat Seng.

"Bagus"" kata Sin Cie sambil manggut.

"Wan Siangkong, su-moay, apa aku boleh turut kamu?" kemudian tanya Lip Jie setelah ia dapat tahu kemana dua orang ini hendak pergi.

Wan Jie awasi Sin Cie, tak berani ia lancang mengajak.

Anak muda kita berpikir: "Memasuki istana ada tindakan berbahaya, penjagaan di sana kuat, di sana pun terdapat banyak orang liehay, untuk lindungi Wan Jie, aku repot, bagaimana lagi aku bisa ajak lain orang?"

Selagi Sin Cie berpikir, Gou Peng tarik ujung bajunya Lip Jie, sambil mengedipi, ia bilang: "Lo Sutee, luka tanganmu Baru sembuh, kesehatanmu belum kembali seluruhnya, maka biarlah Wan Siangkong ajak sumoay saja. "

Mendengar itu, Sin Cie lalu berpikir:

"Agaknya Gou Peng ingin mengantapkan aku berada berdua dengan Wan Jie. Ketika kemarin malam aku pergi kepada Cui In Toojin, aku pun berdua saja sama Nona Ciau, mungkin itu menyebabkan timbulnya kecurigaan mereka. Aku boleh tak usah kuatir, akan tetapi menyingkirkan curiga ada terlebih baik lagi ."

Maka itu, ia lantas jawab Lip Jie: "Lo Toako suka turut, itu berarti tambahan pembantu untuk aku. Nah, pergilah kau lekas salin pakaian!"

Lip Jie jadi sangat girang, ia lari ke dalam, untuk mengenakan dandanan sebagai kacung.

Gou Peng turut masuk. "Lo Sutee, kali ini kau berlaku tolol!" katanya sambil tertawa.

"Apa suheng bilang?" Lip Jie heran, ia sampai tercengang.

"Wan Siangkong telah melepas budi sangat besar terhadap Kim Liong Pang kita," kata Gou Peng, "dan terhadap dia, agaknya su-moay ada menaruh hati..."

"Jadi kau maksudkan biar sumoay berjodoh dengan Wan Siangkong?" Lip Jie tegaskan.

"Roh suhu didunia baka pasti sangat girang," kata pula Gou Peng. "Kau hendak turut mereka, apa perlunya?"

Lip Jie sadar.

"Suheng benar!" katanya, "Ya, aku tak jadi pergi."

"Tapi sekarang, kalau kau batal pergi, kau bakal mendatangkan kecurigaan," Gou Peng bilang. "Kau boleh pergi, asal kau bisa lihat selatan. Tidak ada urusan yang terlebih baik daripada terangkapnya jodoh mereka!"

Lip Jie manggut, walaupun hatinya tak keruan rasa.

Sebenarnja sudah sejak beberapa tahun lip Jie menaruh hati pada Wan Jie, hanya sebegitu lama belum berani dia mengutarakannya, si nona elok dan manis, suka ia tertawa atau bersenyum, tetapi dalam semua tindakannya, ia bersungguh-sungguh, terutama selama ada urusan ayahnya, nona ini repot sekali, sikapnya keren. Sementara itu, Lip Jie pun dibikin bersangsi dengan tangannya, yang kutung sebelah, dia malu sendirinya, sampai omong pun ia tidak berani omong banyak sama si nona. Maka itu, mendengar perkataan Gou Peng, dia jadi putus asa. Tapi ia bisa berpikir, "Wan Siangkong gagah, dengan sumoay dia sembabat sekali, dengan sumoay bisa pernahkan diri untuk hari kemudiannya, mesti aku bergirang untuknya!"

Karena ini, ia keluar dengan hati tetap dan tenang.

Dari dalam peti besi, Sin Cie keluarkan banyak rupa barang permata, ia membuat satu bungkusan besar, ia minta Lip Jie yang bawa, lalu bersama-sama Wan Jie, ia berangkat ke istana. Dimuka pintu istana ia ucapkan tanda rahasia pada serdadu pengawal, kapan pengawal tahu, orang ada tetamunya Co Thaykam, ia menyambut dengan sangat hormat, ia pimpin tetamunya kedalam, setelah mana, ia undurkan diri, sebab di sini ada satu thaykam muda yang gantikan ia antar Sin Cie kedalam.

Sampai tiga kali Sin Cie dapatkan pergantian tiga thaykam, selama itu ia perhatikan jalanan atau bagian- bagian perdalaman istana yang ia lewati. Paling belakang ia diajak ke taman, dimana ada jalanan yang banyak tikungannya, terus sampai disebuah kamar yang kecil tapi indah perlengkapannya. Di sini ia dipersilakan duduk dan disuguhkan teh wangi.

Kira-kira dua jam Sin Cie sudah duduk menantikan, Co Thaykam masih belum juga muncul. Selama itu, orang kebiri yang temani dia juga tidak omong suatu apa kecuali ia mengundang minum teh. Adalah selang lagi sekian lama, Baru datang satu orang kebiri lain, umurnya kira-kira tiga- puluh tahun. Ia ini majukan beberapa pertanyaan, dalam kata-kata rahasia Sin Cie menyahuti menurut pengajaran Ang Seng Hay. Habis itu, thaykam manggut-manggut, lantas ia masuk pula kedalam.

Selang tidak lama, thaykam itu balik lagi bersama satu orang kebiri yang usianya tinggi, tubuhnya gemuk, mukanya putih. Sin Cie lantas menduga kepada Co Hoa Sun apabila ia lihat orang itu berpakaian mewah dan roman agung- agungan. Inilah orang kedua yang paling berpengaruh di dalam keraton disampingnya kaisar.

"Inilah Co Kong-kong!" kata thaykam yang tadi

Sin Cie, bersama-sama Lip Jie dan Wan Jie, tekuk lutut untuk memberi hormat. Pemuda ini sedang membawa lelakon, ia mesti bawa sikap wajar.

"Jangan pakai banyak adat-peradatan!" kata Co Thaykam sambil tertawa. "Silakan duduk. Apakah Kiu Ong-ya banyak baik?"

"Ong-ya ada baik," sahut Sin Cie. "Ong-ya titahkan siaujin menanyakan kewarasan kong-kong."

Ketawa orang kebiri yang usianya tinggi itu.

"Beberapa potong tulang tua dari aku masih mendapat perhatiannya Ong-ya!" katanya sambil tertawa, tandanya ia puas sekali. "Ang Lauko, kau datang dari tempat demikian jauh, entah kau bawa pesan apa dari Ong-ya?"

"Ong-ya hendak tanya kong-kong kalau-kalau kong-kong sudah mengatur sempurna rencana," kata Sin Cie, yang pakai namanya Ang Seng Hay.

"Junjungan kami bertabeat keras dan kukuh," jawab thaykam itu. "Beberapa kali telah aku kemukakan usul kepadanya tetapi ia bilang, meminjam angkatan perang untuk menindas pemberontak adalah pekerjaan yang banyak bahayanya kelak di belakang hari. Baginda cuma mengharapkan kedua negara bebaskan diri dari bahaya perang. Baginda bilang, kalau nanti kerajaan Beng sudah dapat tindas huru-hara, dia akan menghaturkan terima kasih pada Kiu Ong-ya." Sebenarnya Sin Cie tidak tahu jelas hubungan diantara Kiu Ong-ya dari Boanciu itu serta ini Thaykam Co Hoa Sun. Ang Seng Hay juga tidak tahu betul, sebab kedudukan Seng Hay rendah sekali, tetapi setelah ia bicara sama orang kebiri ini, ia me-raba-raba, maka itu, goncanglah hatinya. Jadi orang bersekongkol dan raja hendak dijerumuskan, untuk pinjam angkatan perang Boan, guna dipakai menindas huru-hara didalam negeri. Terang sudah, Kiu Ong-ya itu, atau bangsa Boan, mengandung maksud tidak baik terhadap Tiong-goan, untuk itu, Co Thaykam yang dipakai sebagai pekakas. Itulah urusan penting sekali, yang bisa mencelakai negara.

Sin Cie tabah, ia bisa berpikir, akan tetapi karena urusan demi kian besar, wajahnya berubah juga sedikit...!

Co Thaykam lihat air muka orang, akan tetapi ia menyangka lain. Ia menduga Ang Seng Hay tidak puas karena ia belum bekerja sempurna. Maka lekas-lekas ia kata: "Saudara Ang, jangan sibuk! Satu jalan tidak memberi hasil, masih ada lain jalan lagi!"

"Ya, ya, kong-kong," Sin Cie bersandiwara. "Kong-kong cerdik, inilah ongya ketahui, ongya sangat mengaguminya."

Atas pujian itu, Co Thaykam tidak bilang suatu apa, ia cuma tertawa.

Kemudian Sin Cie bertkata: "Ongya menitahkan siaujin membawa bingkisan yang tidak berharga, harap kongkong suka terima." Ia lantas menunjuk ke bebokongnya Lip Jie, maka Wan Jie lantas turunkan bungkusan di belakang saudara seperguruan itu, untuk diletaki di atas meja untuk segera dibuka juga.

Matanja Co Hoa Sun bersinar, lantas ia berdiri diam. Ia biasa hidup di dalam keraton, ia pernah lihat banyak permata mulia, akan tetapi apa yang sekarang ia tampak di

993 depan matanya, membikin ia kagum, karena ini terutama ada untuk ia sendiri. Serenceng dari seratus butir mutiara saja, yang besar, harganya sudah bukan main besarnya, belum batu pualam dan lainnya, yang banyak sekali. Yang aneh adalah singa-singaan dari batu huicui serta sebuah bola dari batu mirah merah.

Lantas orang kebiri ini periksa satu demi satu permata itu, ia seperti tidak hendak melepaskannya. Ia ingin kasi presen pada Sin Cie tapi ia sangsi akan memberikan yang mana, ia angkat yang satu, ia tukar dengan yang lainnya.

"Baik aku beri hadiah uang saja," akhirnya ia bilang. "Kenapa ongya menghadiahkan begini banyak barang?"

katanya, berpura-pura.

Sin Cie pandai berpikir, tahu ia bagaimana harus mainkan peranan.

"Ongya juga tahu Baginda bijaksana dan urusan pinjam tentera ada sulit," katanya, "akan tetapi ongya percaya betul pada kongkong dan mengharap kong-kong berdaya sebisa- bisanya."

Bukan kepalang puasnya orang kebiri ini, ia tertawa girang.

"Pergi kamu beristirahat di luar," kemudian ia kata pada Lip Jie dan Wan Jie.

Sin Cie manggut, maka kedua kacung itu menurut ketika ada thaykam muda yang ajak mereka keluar.

Co Hoa Sun sendiri yang menutup pintu, setelah itu, ia cekal tangannya pemuda kita.

"Apakah kau tahu apa syaratnya untuk Ongya kerahkan angkatan perangnya?" ia tanya dengan pelahan. "Aku hendak korek rahasia dari mulutnya, aku mesti buka rahasia padanya," pikir Sin Cie. "Kenapa aku tidak hendak ngaco-belo?"

Maka ia lantas jawab: "Kong-kong ada orang sendiri, tidak ada halangannya untuk aku beri tahu, tetapi urusan ada sangat besar, maka urusan ini kecuali Ongya, cuma kongkong dan aku yang mengetahuinya."

Kedua matanya thaykam itu bersinar.

Sin Cie maju mendekati, ia kata dengan pelahan: "Aku pikir, walaupun Kiu Ongya hargakan aku, dia tetap ada orang asing, maka itu, biar bagaimana, aku mengharap bantuan kongkong juga, supaya kemudian aku bisa angkat kehormatan leluhurku..."

Co Hoa Sun bisa menduga hati orang.

"Tentu dia inginkan pangkat," pikirnya. Maka ia tertawa, ia kata: "Saudara Ang, kau percayakan saja urusanmu kepadaku!"

Sin Cie pikir, main sandiwara tidak boleh kepalang tanggung, maka terus ia berlutut, untuk haturkan terima kasihnya.

Melihat orang punya kelakuan itu, Co Hoa Sun pun pikir: "Ini orang sangat lincah, dia ada orang kepercayaan Kiu Ongya, aku mesti dapatkan dia sebagai orangku sendiri.

Maka ia lantas tanya: "Ang Lautee, kau ada asal mana?" Asal Kwie-tang," sahut Sin Cie.

"Jikalau nanti kita sudah berhasil, bagaimana jikalau aku angkat kau menjadi congpeng dari Kwietang?" tanya dia.

"Kongkong ada baik sekali," kata Sin Cie, yang kembali haturkan terima kasihnya. "Terhadap kongkong, tak dapat

995 aku sembunyikan apa-apa. Pikirannya Kiu Ongya adalah..." Ia berhenti, akan celingukan kekanan-kiri, Baru ia melanjuti, dengan pelahan sekali: "Aku harap kongkong bisa pegang rahasia, jikalau tidak, jiwaku tidak bakal tertanggung pula..."

"Kau jangan takut, aku jamin padamu," kata thaykam itu.

Sin Cie unjuk roman berhati lega, tetapi ketika ia bicara lagi, ia tetap bicara dengan sangat pelahan. Ia kata: "Setelah angkatan perang Boan memasuki kota perbatasan, pasti sekali kaum pemberontak akan dapat ditindas. Syarat dari Kiu Ongya adalah supaya sri baginda kerajaan Beng hadiahkan dia semua daerah di Hoopak dan Shoatang kearah utaranya, tapal batas negara adalah sungai Hong Hoo, agar selanjutnya kedua negara jadi negara-negara persaudaraan."

Pemuda kita sudah karang cerita akan tetapi Co Hoa Sun percaya, tidak ia sangsi sedikit juga, sebab kesatu ia terima suratnya To Jie Kun, kedua ia telah dibekali banyak barang permata. Ia tahu, bangsa Boan memangnya liehay.

Sekian lama orang kebiri ini berpikir, lalu ia manggut- manggut.

"Sekarang ini keamanan sedang sangat terganggu," katanya kemudian. "Turut kabar pagi ini, kota Tong-kwan sudah dipukul pecah pemberontak Lie Giam dan Peng-pou Siangsie Sun Toan Teng telah binasa berkorban, dengan kebinasaannya menteri perang itu, kerajaan Beng mempunyai panglima perang siapa lagi? Memang, kalau tidak sekarang Kiu Ongya bergerak, kota Pakkhia ini tentulah bakal diserbu pemberontak."

Diam-diam Sin Cie bergirang mendengar Tongkwan sudah jatuh dan Sun Toan Teng, kepala perang kesohor itu,

996 telah terbinasa. Untuk sembunyikan wajahnya, yang bercahaya, ia lekas-lekas tunduk.

"Sebentar malam aku nanti majukan pula usulku kepada Sri Baginda," berkata Co Thaykam, "jikalau dia tetap berkukuh, maka untuk kebaikan negara aku nanti. "

Goncang hatinya Sin Cie mendengar perkataannya orang kebiri ini.

"Seharusnya kongkong menggunai segala daya dahulu Barulah kongkong turun tangan," ia kata, Tapi keraslah sudah pikirannya Co Thaykam.

"Hum! Jikalau Sri Baginda tetap tidak berdaya menindas pemberontakan, terpaksa mesti diangkat satu raja baru!" kata dia. "Kerajaan Beng boleh musna, negara boleh terjatuh ke tangan lain orang, tidak apa, tetapi mustahil kita mesti antari jiwa karenanya?"

"Sebenarnya kongkong mempunyai daya apa?" Sin Cie tanya. "Tetap hatiku apabila aku bisa dapat mengetahui. "

"Sungai Hong Hoo menjadi tapal batas negara ada terlebih baik daripada kerajaan terjatuh ke dalam tangan pemberontak," kata thaykam itu, "Apabila dia tetap berkeras, apa mungkin. "

Tilbaa saja orang kebiri ini merandak. Ia dapat ingat: "Meskipun orang ini ada orang kepercayaannya Kiu Ongya, aku toh Baru pertama kali ini bertemu padanya, apa boleh aku beber seluruh rahasia terhadapnya?"

Dengan tiba-tiba, ia tertawa.

"Ang Lautee," katanya, melanjuti, "dalam tempo tiga hari, aku nanti berikan kabar baik pada Kiu Ongya! Kau tunggu saja di sini. " Thaykam ini lantas menepuk tangan, lantas muncul empat thaykam muda, mereka benahkan barang-barang permata, setelah mana dengan iringi thaykam tua itu, mereka kembali kedalam.

Dilain pihak, empat thaykam kecil lainnya lantas pimpin Sin Cie serta dua kacungnya ke sebuah kamar disebelah kiri dimana mereka lantas disuguhkan barang-barang santapan sore yang terpilih, karena cuaca pun sudah lantas mulai gelap.

Kemudian lagi, setelah memberi selamat malam, keempat thaykam kecil itu undurkan, diri.

"Co Thaykam ini sedang mengatur suatu rencana besar," Sin Cie beritahu kedua kawannya. "Urusan hebat sekali, sebab ini mengenai keselamatan negara. Kamu berdua tunggu di sini, aku hendak mencari rahasia sekalian untuk cari tahu apa Nona Hee ditahan didalam istana atau bukan..."

" Aku turut kau, Wan Siangkong," Wan Jie meminta. "Jangan, kau tunggu disini bersama Lo Toako," Sin Cie

bilang. "Ada kemungkinan Co Thaykam kurang percaya

atau hatinya tak tenteram hingga ia bisa kirim orang akan melihat kita."

"Aku kira cukup aku berdiam sendiri di sini," menyatakan Lo Lip Jie. "Ada baiknya untuk siangkong dapat tambahan satu tenaga."

Sin Cie lihat Wan Jie sangat bernapsu, ia merasa berat untuk menampik lebih jauh, maka ia manggut.

Setelah itu keduanya pergi ke kamar sebelah dimana berdiam empat thaykam muda yang tadi. Sebelum mereka tahu apa-apa, Sin Cie sudah totok yang dua hingga mereka jadi seperti gagu. Dua yang lain kaget, sampai mereka

998 lompat turun dari pembaringan mereka, mereka mengawasi dengan buka mata lebar-lebar.

Wan Jie keluarkan tempuling ngo-bie-cie yang tajam- mengkilap, ia ancam itu di dada kedua thaykam ini.

"Asal kamu buka mulut, aku nanti kirim kamu menghadap Gui Tiong Hian." kata nona ini, suaranya pelahan tetapi berpengaruh. Ujung senjata itu mengenai baju sampai terus nempel dikulit dada.

Sin Cie bersenyum. Tak ia sangka, dalam keadaan seperti itu, si nona masih bisa guyon. Gui Tiong Hian adalah thaykam jahat di jaman Kaisar Hie Cong dan telah terbunuh mati.

Lantas Sin Cie buka bajunya kedua thaykam itu, untuk ia pakai berdua Wan Jie.

Untuk ia salin pakaian Wan Jie tiup lilin, hingga kamar jadi gelap.

Sin Cie totok thaykam yang satunya lagi, sedang yang keempat, ia cekal nadinya, lantas ia tuntun keluar.

"Jangan bicara!" ia ancam. "Kau bawa kami kepada Co Kongkong."

Thaykam itu tidak berdaya, ia rasai separuh tubuhnya kaku, terpaksa ia tutup mulut, akan antar orang ke kamar thaykam kepala.

Mereka jalan lama juga, beberapa kali mereka nikung, Baru mereka sampai di depan sebuah lauteng besar.

"Co Kong-kong tinggal disana," thaykam ini kasi tahu.

Sin Cie tidak tunggu orang bicara lebih jauh, segera ia menotok untuk bikin orang kebiri itu tak dapat berkutik, kemudian ia angkat tubuhnya thaykam itu, untuk diletaki di tempat lebat dengan pepohonan bunga. Kemudian bersama Wan Jie, dengan berindap-indap, ia maju ke lauteng sekali.

Di tingkat kedua kelihatan api terang-terang.

Selagi Sin Cie hendak tarik tangan Wan Jie, untuk diajak lompat naik ke atas lauteng, ia dengar suara tindakan kaki di belakang mereka, lantas ia dengar suara orang menanya: "Apakah Co Kong-kong ada di atas lauteng?"

"Aku pun Baru sampai. Mungkin kong-kong ada di atas," ia jawab, seraya menoleh ke belakang, akan lihat lima orang lagi mendatangi, seorang yang jalan di depan menenteng sebuah lentera merah. Lima orang itu dandan sebagai orang-orang kebiri. Orang yang tadi menanya sedang mendumal. Mereka jalan dengan pelahan.

Sin Cie dan Wan Jie tunduk, supaya orang tak lihat muka mereka.

Di waktu melewati pintu, mukanya lima orang itu terkena sinar api berbalik dari daun pintu yang dicat mengkilap. Sin Cie yang awas dapat lihat muka mereka, ia terkejut. Lekas ia tarik ujung bajunya Wan Jie, untuk ayalkan tindakan.

"Itulah Tiang Pek Sam Eng," kemudian Sin Cie bisiki kawannya setelah lima orang itu mendaki tangga lauteng.

Nona Ciau kaget.

"Orang-orang jahat yang membunuh ayahku?" Tanya dia. "Jadi mereka sudah jadi thaykam?"

"Sama sebagai kita, melainkan lagi menyamar," Sin Cie bilang. "Mari kita naik!"

Wan Jie ikuti kawannya ini. Di lauteng pertama ada thaykam yang menjaga tetapi mereka tidak merintangi, hingga Sin Cie berdua pun dapat lewat dengan merdeka.

Di lauteng kedua, dua thaykam pengantar ajak Tiang Pek Sam Eng masuk dalam sebuah kamar.

Sin Cie ajak Wan Jie berhenti di luar sebuah pintu kamar itu, hingga mereka dengar orang kebiri yang bawa lentera kata: "Silakan tunggu di sini, Co Kong-kong akan lantas. "

Selanjutnya, suara mereka tidak terdengar nyata. Habis itu, kedua thaykam itu turun dari lauteng.

Lantas Sin Cie tarik tangan Nona Ciau, untuk diajak masuk ke dalam kamar itu, ialah sebuah kamar tulis, karena disitu, sekitar tembok ada digantungi gambar-gambar dan pigura-pigura tulisan. Tiang Pek Sam Eng duduk di tengah ruangan. Diaorang ini lihat masuknya dua thaykam tetapi diaorang tidak menaruh perhatian.

Sin Cie dan Wan Jie sengaja jalan kedepan tiga jago dari Tiang Pek San itu, Baru sekarang mereka angkat kepala, akan awasi kedua orang kebiri ini.

Wan Jie, sambil tertawa dingin, lantas menegur: "Su Siok-hu, Lie Siok-hu, ayahku undang kamu bertiga bersantap!. "

Tiga orang itu kaget apabila mereka kenali nona Ciau, malah Lie Kong mencelat berjingkrak.

"Bukan...bukankah ayahmu telah meninggal dunia?" tanyanya.

"Benar! Makanya ayah undang siok-hu bertiga bersantap!" sahut Wan Jie.

Su Peng Bun kerutkan alis, dengan mendadak saja ia cabut goloknya hingga menerbitkan suara "Sret!" Tetapi Sin Cie berlaku sangat gesit, begitu ia lompat, kedua tangannya telah cekuk masing-masing batang lehernya Peng Bun serta saudaranya, sedang kakinya mendupak bebokong dari Lie Kong, di betulan jalan darah hong-bwee-hiat.

Su Peng Kong mencoba memutar tubuh, ia jotos dadanya pemuda kita.

Sin Cie tidak perdulikan jotosan, ia hanya lebih perlukan rangkap kedua tangannya dengan kaget, hingga kepalanya dua saudara Su saling bentur dengan keras, hingga sekejab saja, keduanya tak sadar akan dirinya. Tubuhnya Lie Kong pun rubuh.

Wan Jie sangat kagum. Sebelum ia melihat tegas, Tiang Pek Sam Eng sudah kena dibikin tidak berdaya. Ia lantas keluarkan senjatanya, untuk tikam dadanya Su Peng Kong.

Sin Cie lekas tahan tangan orang.

"Lekas sembunyi, ada orang!" katanya berbisik. Benar-benar di tangga terdengar tindakan kaki.

Dengan sebat Sin Cie tengteng dua-dua Peng Bun dan Peng Kong, untuk letaki tubuhnya di belakang para-para buku, kemudian ia pondong tubuhnya Lie Kong, untuk bersama Wan Jie pun sembunyi di belakang para-para itu.

Segera setelah itu, muncullah beberapa orang.

"Silakan tuan-tuan menanti di sini," kata satu orang. "Co Kongkong akan segera keluar."

"Kau banyak cape!" terdengar satu suara wanita, satu suara yang merdu.

Dua-dua Sin Cie dan Wan Jie kenali suaranya Ho Tiat Chiu, pemimpin dari Ngo Tok Kau. Berdua mereka saling memegang tangan dengan keras, tandanya mereka sama- sama kenali orang she Ho itu.

Sebentar lagi datang pula beberapa orang, mereka ini lantas bicara sama pihak Ho Tiat Chiu.

Kembali Sin Cie terkejut.

"Kiranya empat jago tua Keluarga Un dari Cio Liang Pay dari Kieciu pun datang kemari...." pikirnya. "Rupanya merekalah itu empat orang tua yang tadi malam Wan Jie lihat membantu pihak Ho Tiat Chiu, pantas Tong Hian beramai tak sanggup lawan mereka. Apa perlunya mereka datang kemari?"

Baru habis mereka itu bicara, untuk belajar kenal juga, lantas terdengar datangnya Co Hoa Sun bersama beberapa orang lainnya lagi - orang-orang kangouw, sebagaimana Sin Cie ketahui ketika ia dengar Co Thaykam perkenalkan mereka dengan rombongannya Ho Tiat Chiu dan empat jago dari Cio Liang Pay, di antaranya ada Lu Jie Sianseng.

"Dengan anggauta keluarganya tidak lengkap," pikir Sin Cie, "Keluarga Un tidak lagi bisa berkelahi dengan gunai Ngo Heng Tin. Akan tetapi di sini ada rombongannya Ho Tiat Chiu, seorang diri tidaklah sanggup aku melayani mereka. "

"Eh, mana Tiang Pek Sam Eng?" tiba-tiba pertanyaan Co Hoa Sun.

"Tuan Su bertiga sudah datang," sahut satu thaykam, "entah mereka pergi kemana. "

"Coba cari," Co Thaykam menitah.

Sin Cie lantas totok tiga jago dari Tiang Pek San, maka umpama kata mereka sadar, tak dapat mereka buka mulut mereka. Beberapa thaykam, yang diperintah cari Tiang Pek Sam Eng, balik dengan sia-sia, katanya tak dapat mereka cari tiga orang itu.

"Sudahlah, tak usah kita tunggui mereka," kata Co Thaykam. "Mereka sendiri yang sia-siakan ketika baik ini, tak dapat mereka sesalkan kita."

Lantas terdengar suara berisik dari digesernya kursi- kursi, tandanya orang mulai duduk berkumpul.

Co Hoa Sun batuk-batuk dua kali, seperti ia hendak legakan tenggorokannya.

Sin Cie pasang kuping. Ia menduga orang hendak bicarakan urusan rahasia.

"Pemberontak Lie Giam sudah pukul pecah kota Tong- kwan, Peng-pou Siang-sie Sun Toan Teng telah binasa di medan perang," demikian Co Thaykam mulai bicara.

Beberapa suara terdengar sebagai gerutuan, rupanya ada orang-orang yang kaget mendengar berita perang itu.

"Maka itu," Co Thaykam melanjuti, "jikalau kita tidak lekas bertindak, nanti keburu pemberontak merangsak ke Pakkhia ini. Aku telah pikir, apabila tetap Sri Baginda tidak sudi pinjam bantuan tentara asing, guna tindas huru-hara, baiklah kita angkat satu raja lain untuk melindungi Kerajaan Beng..."

"Jikalau begitu, Seng ongya yang harus diangkat!" kata Ho Tiat Chiu sambil tertawa.

"Betul!" Co Thaykam membenarkan. "Maka itu aku hendak andali bantuan tuan-tuan untuk tunjang raja yang baru. Mengenai ini, aku yang akan bertanggung jawab, akan tetapi hasilnya, kita beramai yang icipi bersama- sama!" Nyata semua hadirin setuju sama pikirannya orang kebiri itu, maka tanpa ambil tempo lagi, mereka itu lantas rencanakan pembagian tugas.

"Lagi satu jam," kata kemudian Co Thaykam dengan titah-titahnya, "aku minta keempat losianseng dari Keluarga Un nanti bawa saudara-saudara yang boleh dipercaya untuk pergi ke keraton, akan sembunyi di sekitar kamar raja, untuk cegah orang luar memasuki keraton. Aku minta Hoo Kau-cu beramai sembunyi di luar kamar tulis. Nanti Seng Ong sendiri yang menghadap raja, untuk beri nasihatnya yang terakhir."

"Ciu Tayciangkun berkuasa atas tentara," tanya Lu Jie Sianseng; "dia setia kepada raja; perlu atau tidak untuk lebih dulu singkirkan dia?"

Co Hoa Sun tertawa.

"Ciu Tayciangkun itu bersama Hok Siangsie," katanya; "dengan sedikit tipu-dayaku, sudah aku singkirkan! Ho Kau-cu, cobalah kau berikan penuturanmu. "

Ho Tiat Chiu tertawa.

"Siang-siang telah diketahui baik-baik oleh Co Kongkong, apabila Seng Ong hendak ditunjang menaiki singgasana kerajaan, Ciu Tayciangkun dan Hok Siang-sie adalah rintangan-rintangan paling besar," berkata dia; "maka itu siau-moay telah diberi tugas untuk melumpuhkan mereka. Begitulah selama beberapa hari, siau-moay sudah perintah orang pergi curi uang negara yang menjadi tanggung-jawab mereka itu. Tentu saja itu adalah kejadian yang paling tidak disukai sri baginda. Kabarnya tadi sri baginda sudah keluarkan perintah memecat dan menangkap kedua menteri itu, untuk perkaranya diperiksa lebih jauh." Orang banyak itu tertawa riuh, luar biasa kegirangan mereka.

Untuk Sin Cie, Baru sekarang ia ketahui sepak- terjangnya si bocah-bocah serba merah, jadi mereka itu mencuri bukan karena kemaruk uang, pada itu ada rahasia di belakang layer. Itulah daya busuk untuk mencelakai Negara. Tidak heran kalau kaisar Cong Ceng kena dikelabui, sebab tindak-tanduk pengkhianat ada licin sekali.

"Nah, sekarang silakan tuan-tuan pergi beristirahat," kemudian kata Co Thaykam, "sebentar lagi aku nanti mengundang berkumpul pula."

Lu Jie Sianseng bersama empat jago Keluarga Un dan lainnya lantas berbangkit, untuk undurkan diri.

Ho Tiat Chiu jalan paling belakang.

"Heran, kenapa Tiang Pek Sam Eng tidak hadir!" kata dia sesampainya di pintu. "Mungkinkah mereka pergi ke istana untuk membocorkan rahasia?"

"Ho Kau-cu pandai berpikir," kata Co Thaykam. "Tapi mereka itu ada orang-orang kepercayaan Kiu Ungya, malah paling belakang ini mereka sudah mendirikan jasa besar sekali, untuk mereka berkhianat terhadap Kiu Ongya, rasanya tak mungkin. "

"Apakah jasa besarnya mereka itu?" Tiat Chiu Tanya. "Mereka telah berhasil mencuri pisau-pusaka dari

seorang she Bin dari Bu Tong Pay," sahut Co Hoa Sun,

"dengan gunai pisau-pusaka itu, mereka sudah pergi bunuh Ciau Kong Lee, ketua dari Kim Liong Pang. Karena ini pastilah kaum Rimba Persilatan di Kanglam bakal saling bunuh sendirinya, hingga kalau di belakang hari kita menyingkir ke Kanglam, keselamatan kita jadi terlebih terjamin. " Wan Jie telah percaya sembilan bahagian bahwa pembunuh ayahnya mesti ada Tiang Pek Sam Eng, maka sekarang, kepercayaannya itu jadi terpenuhi seluruhnya.

Sin Cie kuatir nona ini nanti tak dapat kendalikan diri, dengan lancang ia ulur tangannya, akan bekap mulutnya si nona. Pemuda ini kuatir beradanya mereka di dalam kamar itu nanti diketahui Ho Tiat Chiu, sebab ketua Ngo Tok Kau ini ada sangat liehay, asal orang berkerisik sedikit saja, mungkin dia curiga.

Terdengarlah tawanya Ho Tiat Chiu.

"Kongkong sangat cerdik," memuji pemimpin Ngo Tok Kau itu kepada thaykam. "Kongkong berdiam di dalam keraton tetapi mengenai sepak-terjang kaum kangouw, kongkong ketahuinya dengan jelas."

Co Hoa Sun tertawa puas.

"Tentang segala apa di dalam istana, aku ketahui banyak sekali," katanya. "Di dalam istana, tidak ada satu orang yang tidak kemaruk sama harta dan pangkat, maka siapakah yang bicara tentang pri-kemanusiaan dan kehormatan? Lain adalah sahabat-sahabat kaum kangouw! Mereka ini, satu dibilang satu, dua dibilang dua. Begitulah dalam usahaku yang besar ini, aku tidak berdamai sama menteri yang mana juga, aku hanya justru berurusan sama kamu semua, untuk mohon bantuan kamu. "

Begitulah mereka keluar sambil bicara.

Tegang sekali perasaannya Sin Cie. Urusan ada sangat penting. Ia tidak cuma menghadapi urusan golongan kangouw saja, sekarang ia menghadapi ancaman untuk Negara. Apa ia mesti perbuat? Dalam sesaat itu, tak dapat ia lantas memikir daya yang sempurna.

Wan Jie lihat orang sedang berpikir keras. "Apa mesti diperbuat terhadap tiga jahanam ini?" tanyanya. "Ingin aku segera membinasakan mereka!"

Nona ini bicara pelahan sekali.

"Baiklah," sahut Sin Cie. "Tapi jangan keja mereka keluarkan darah, nanti kita kepergok."

Ia angkat kepalanya Su Peng Kong, akan tunjuki kedua pilingannya.

"Apakah kau mengerti tipu-pukulan Ciong kou cee- beng?" tanyanya.

"Ciong kou cee beng" berarti "Lonceng dan tambur berbunyi dengan berbareng".

Ciau Wan Jie manggut.

Meski demikian, Sin Cie toh petakan cara menyerangnya.

"Ya, begitu," katanya pula, setelah si nona beraksi.

Wan Jie lakukan serangannya hingga ia perdengarkan juga sedikit suara, dengan begitu, tanpa bersuara lagi, binasalah orang she Su itu. Maka sehabis itu, dengan tipu- pukulan yang serupa, Wan Jie bikin tamat lelakon hidupnya Su Peng Bun dan Lie Kong.

Puas hatinya nona ini karena telah berhasil mencari balas dengan tangannya sendiri, dengan tiba-tiba saja ia terharu, sehingga tanpa likat lagi, ia mendekam di pundaknya Sin Cie untuk menangis dengan menahan suara.

"Sekarang mari kita lekas keluar," Sin Cie mengajak. "Mari kita lihat kemana perginya Ho Tiat Chiu."

Wan Jie angkat kepalanya, dan tangannya juga, dari pundaknya si pemuda, untuk susuti air matanya, lalu tanpa bilang suatu apa, ia ikut pemuda itu keluar dari kamar tulis itu. Masih mereka dapat lihat Co Thaykam dan ketua Ngo Tok Kau lagi menikung di sebuah pengkolan yang bercabang dua dimana keduanya berpisah, sedang dua thaykam muda, yang membawa lentera, jalan terus di muka Ho Tiat Chiu beramai, menuju ke barat.

Sin Cie berdua Wan Jie terus mengikuti dari kejauhan. Mereka masih tetap dandan sebagai orang kebiri, hati mereka tenang, sebab mereka tidak kuatir nanti ada yang pergoki, tak takut mereka ada yang kenali andaikata mereka berpapasan dengan lain-lain orang kebiri.

Ho Tiat Chiu jalan terus melewati beberapa pekarangan, sampai ia masuk dalam sebuah rumah.

Dengan berani Sin Cie ajak Wan Jie turut masuk ke dalam rumah itu. Begitu lekas mereka menindak di pintu, mereka segera dengar cacian nyaring dari Ceng Ceng, yang keluar dari sebuah kamar sebelah timur. Nona itu asyik mencuci-maki Ngo Tok Kau dan Ho Tiat Chiu.

Tanpa sangsi lagi, Sin Cie memburu ke kamar timur itu, langsung ia nerobos masuk, hingga ia tampak dua thaykam muda sedang layani Ceng Ceng masak obat, nona itu sendiri sedang rebah di pembaringan.

Dengan totokannya yang liehay, Sin Cie bikin kedua thaykam muda mati daya.

Segera Ceng Ceng kenali pemuda itu. "Engko!" dia memanggil.

Sin Cie menghampirkan ke pembaringan. "Bagaimana dengan lukamu?" ia tanya.

"Tidak seberapa," sahut si nona. "Oh, kau pun datang?" tanyanya, kapan ia lihat Wan Jie di belakang si anak muda.

Nona Ciau manggut.

1009 "Apakah lukamu tidak berbahaya, nona Hee?" ia Tanya.

"Hum!" bersuara Ceng Ceng, yang tidak menjawab. Tapi pada Sin Cie, ia bilang: "Engko, kalau sebentar Ho Tiat Chiu datang, kau hajar padanya!"

Sin Cie sendiri memikir lain.

"Mereka itu sedang bekerja, untuk sementara baik aku sembunyi dulu...." Maka ia lekas kata pada si nona: "Adik Ceng, sekarang tak dapat aku turun tangan terhadapnya. Baik kau pancing dia supaya dia jelaskan apa perlunya dia culik kau dan membawanya ke istana."

"Apa, istana?" Ceng Ceng tanya.

"Oh, jadinya kau masih belum tahu kau sekarang berada di dalam istana?" Sin Cie balik tanya.

Justru itu ada terdengar suara tindakan kaki di luar, karena di situ tidak ada tempat sembunyi, Sin Cie sambar kedua thaykam, untuk dibleseki ke dalam lemari, ia sendiri, dengan tarik tangannya Wan Jie, segera nyelusup masuk ke kolong pembaringan.

Selagi Ceng Ceng melengak, Ho Tiat Chiu kelihatan bertindak masuk, wajahnya ramai dengan senyuman. Di belakangnya ada si uwah jelek.

"Banyak baik, Hee Kongcu?" tanya dia sambil tertawa. "Eh, mana orang-orang yang layani kau? Pasti mereka malas!"

"Aku yang suruh mereka pergi!" jawab Ceng Ceng. "Siapa kesudian dirawati mereka?"

Tiat Chiu tak ambil mumat senggapan itu, ia masih tertawa.

"Adat bocah!" katanya, sambil ia bertindak menghampirkan obat. "Eh, obat sudah matang!"

1010 Ia ambil sepotong kain kecil yang putih meletak seperti salju, ia pakai itu untuk alaskan cangkir perak, lalu ia tuangkan obatnya ke dalam cangkir itu. Habis itu, ia singkirkan saringan itu.

"Inilah obat paling manjur untuk luka-luka," kata dia sambil tertawa pula. "Jangan kau kuatir, umpama obat ini dicampuri racun, cangkirnya bakal berubah menjadi hitam."

Ceng Ceng awasi pemimpin Ngo Tok Kau ini, hatinya bekerja keras. Ia girang pertama kali melihat Sin Cie, menyusul itu hatinya adem karena Wan Jie ada bersama si anak muda, apapula kapan ia tampak Sin Cie tarik tangan si nona, untuk diajak masuk ke bawah pembaringan. Sekarang ia hadapi Ho Tiat Chiu, ia dapat alasan untuk udal kemendongkolannya.

"Kamu main muslihat, apa kamu kira aku tidak tahu?" demikian katanya.

"Muslihat apa sih?" tanya Tiat Chiu sambil terus tertawa.

"Kamu permainkan aku!" kata Ceng Ceng. "Kamu sedang perhina aku yang bersengsara karena tidak punya ayah dan ibu! Kau tidak punya liangsim, setan. "

Sin Cie dengar itu.

"Dia caci siapa itu?" ia menduga-duga.

Wan Jie sebaliknya masgul. Ia merasa, Ceng Ceng sedang menyindir terhadapnya. Karena masgul, ia sampai menggigil sendirinya.

Sin Cie rasai gerakan tubuh si nona, tiba-tiba ia mengerti maksudnya Ceng Ceng. Karena ini, ia jadi menyesal untuk Nona Ciau. Ia pun tak dapat bicara, untuk menghibur. Maka dengan pelahan-lahan, ia tepuk-tepuk pundak si nona. "Ah, jangan kau bawa adat!" kata Tiat Chiu sambil tertawa. Ia masih tak tahu hatinya Ceng Ceng. "Sebentar lagi aku akan antar kau pulang."

"Siapa kesudian kau yang antarkan?" Ceng Ceng membentak. "Apa kau kira aku sendiri tak kenali jalanan?"

Tiat Chiu terus tertawa.

"Eh, bocah she Hee!" campur bicara Ho Ang Yo, dengan suaranya yang bengis, dengan romannya yang menyeramkan. "Kau telah terjatuh ke dalam tangan kami, apakah kau kira Ho Ang Yo bisa antap kau pulang secara baik-baik? Di mana adanya ayahmu? Di mana adanya itu perempuan hina yang melahirkanmu?"

Meluap kemurkaannya Ceng Ceng karena orang perhina ibunya, ia sambar cawan obat di atas meja kecil, dengan itu ia sambit wanita jelek itu.

Ho Ang Yo berkelit, maka cawan itu, berikut obatnya, mengenai tembok, cawannya hancur, obatnya berhamburan. Masih ada sedikit air obat, yang muncrat ke mukanya ini uwah, hingga ia jadi gusar.

"Anak celaka, kau tak inginkan lagi jiwamu?" ia membentak.

Sin Cie di kolong pembaringan dengar semua pembicaraan itu, iapun bisa lihat gerak-geriknya Ho Ang Yo, maka ia sudah pikir, asal wanita itu lompat kepada Ceng Ceng, ia hendak membarengi hajar kaki orang.

Sebelum si wanita tua lompat, satu bajangan putih telah berkelebat mendahulukan ia, maka kesudahannya, Ho Tiat Chiu ada di antara ia dan pembaringan. "Bibi," katanya nona ini, "aku telah janjikan si orang she Wan akan antarkan dia ini pulang, tak dapat aku membikin hilang kepercayaan kita."

Ho Ang Yo tertawa dingin. "Untuk apakah itu?" tanyanya.

"Banyak orang kita telah ditotok dia, tanpa dia datang sendiri, mereka tak dapat ditolong," Tiat Chiu terangkan.

Ang Yo berpikir.

"Baik!" katanya. "Kita tidak dapat bikin dia mampus, tapi kita mesti kasi dia merasai kesengsaraan! He, bocah she Hee, kau lihat aku, aku cantik atau tidak?"

Ceng Ceng perdengarkan suara kaget, di matanya, roman wanita ini jadi semakin jelek, sedang muka itu dibawa semakin dekat kepadanya, hingga ia bergidik.

"Bibi, buat apa takut-takuti dia?" kata Tiat Chiu. Suaranya pemimpin ini menyatakan hatinya tidak puas. "Hm!" bersuara si jelek itu. "Ya, bocah ini cakap sekali,

kau hendak lindungi dia!..."

"Apa kau bilang?"

Mendadak Ho Tiat Chiu jadi gusar.

"Apakah kau sangka aku tak tahu hatinya satu pemudi?" Ho Ang Yo baliki. "Aku juga pernah muda! Kau lihat, inilah aku di masa dahulu!"

Ia merogo ke dalam sakunya di mana segera terdengar suara berkeresekan, entah barang apa itu yang dia rogo. Dua-dua Tiat Chiu dan Ceng Ceng kaget, keduanya berkuatir. "Kamu merasa aneh, bukankah?" kata Ho Ang Yo sambil tertawa, tertawa meringis. "Ha-ha-ha! Ha-ha-ha! Aku pun dulu pernah cantik!"

Ia rogo keluar tangannya, ia lemparkan segulung kain kecil, yang ternyata ada gambar sulaman, gambar mana lantas terbeber sendirinya di atas lantai.

Dari kolong pembaringan, Sin Cie bisa lihat sulaman itu, yang berpetakan satu nona umur kurang lebih dua-puluh tahun, kedua pipinya merah-dadu, tetapi dia dandan sebagai seorang suku-bangsa Ie, dan kepalanya pun digubat dengan pelangi, romannya sangat cantik, potongan mukanya mirip sama potongan mukanya si uwah jelek yang menyeramkan ini.

Segera terdengar pula suaranya Ho Ang Yo. "Kenapa sekarang aku jadi begini jelek? Kenapa? Kenapa?" tanyanya berulang-ulang. "Itulah disebabkan ayahmu yang tidak punyakan pri-kemanusiaan!"

"Ah......" Ceng Ceng bersuara tertahan. "Ada hubungan apa di antara ayahku dengan kau? Ayah ada seorang baik, tidak nanti dia perlakukan orang secara tak selayaknya. "

Ho Ang Yo jadi sangat gusar.

"Hai, hantu cilik, ketika itu kau masih belum terlahir!" serunya. "Kau tahu apa? Jikalau dia punya perasaan pri- kemanusiaan, tidak nanti dia berlaku tak pantas kepadaku! Bagaimana bisa aku jadi begini? Bagaimana kemudian bisa terlahir kau, hantu cilik?"

"Makin lama kau bicara, kau makin aneh!" kata Ceng Ceng. "Kamu kaum Ngo Tok Kau berada di Inlam, ayah dan ibuku menikah di Ciatkang - terpisahnya tempat ada ribuan lie, maka, ada apa hubungannya dengan kau?" Ho Ang Yo jadi semakin gusar, hingga ia ayun tangannya ke arah mukanya Ceng Ceng.

Dengan tangan kanannya, Ho Tiat Chiu mencegah. "Jangan gusar, bibi." Kata nona ini. "Bicaralah dengan

sabar." Ang Yo menjadi sengit.

"Ayah kandungmu mati mendongkol karena Kim Coa Long-kun!" serunya. "Kau sekarang lindungi dia ini! Apakah kau tidak malu?"

"Siapakah yang lindungi dia?" seru Ho Tiat Chiu, yang pun menjadi murka. "Jikalau kau bikin celaka dia ini, itu artinya mencelakai juga jiwanya empat-puluh orang anggauta kita! Kau tahu tidak? Aku pandang kau sebagai orang dari tingkatan lebih tua, karena aku memandang kau, aku mengalah, jikalau kau langgar aturan kita, bisa aku tak memberi keringanan kepadamu!"

Melihat orang tonjolkan diri sebagai pemimpin, Ho Ang Yo jadi sangat mendongkol, akan tetapi ia toh kuncup, maka juga ia jatuhkan diri di kursi dengan roman lesu sekali, dengan kedua tangannya, ia pegangi kepalanya. Lama ia berdiam secara demikian, ketika kemudian ia bicara pula, ia bisa berlaku tenang.

"Ibumu?" tanyanya kepada Ceng Ceng. "Ibumu pasti eilok dan manis luar biasa maka juga ia bisa bikin tergila- gila pada ayahmu, bukankah?" Ia lantas menghela napas. "Beberapa kali aku telah bermimpi, dalam impian aku telah lihat ibumu, akan tetapi mengenai roman mukanya, aku tidak dapat melihat jelas, cuma samar-samar. Benar-

benar ingin aku melihat dia. "

"Ibu telah menutup mata," Ceng Ceng kasi tahu. "Apa, mati?" Ho Ang Yo terkejut. "Ya," Ceng Ceng pastikan.

Lantas suaranya si uwah jelek jadi sedih, tetapi tajam. "Aku telah desak dia untuk kasi tahu dimana adanya

ibumu, biar bagaimana, tak mau dia menyebutkannya," katanya pula. "Kiranya ibumu itu sudah menutup mata. Baik, baik, sakit hatiku ini tak bakal terbalas untuk selama- lamanya..... Sekarang aku bebaskan kau, binatang, tetapi mesti ada harinya yang kau bakal terjatuh pula ke dalam tanganku! Bukankah ibumu itu mirip dengan kau?"

Oleh karena orang berlaku kasar begitu, Ceng Ceng balikkan tubuh, untuk madap ke dalam. Tak mau ia meladeninya.

Ho Ang Yo lantas berpaling kepada pemimpinnya.

"Kau-cu," katanya, "si orang she Wan itu mesti terlebih dahulu tolong orang-orang kita, Baru bocah ini boleh dilepas pulang!"

"Itulah pasti!" Ho Tiat Chiu jawab.

Ho Ang Yo lantas membungkuk, hingga dua-dua Sin Cie dan Wan Jie jadi kaget sekali, tapi sukur dia tidak mendapat lihat, dia cuma gunai jeriji tangannya akan mencoret beberapa huruf di atas lantai.

Sin Cie lihat orang menulis enam buah huruf yang artinya: "Bisa kawa-kawa yang bekerjanya selang tiga tahun kemudian."

Heran pemuda ini.

"Apakah artinya ini?" tanya ia kepada dirinya sendiri, berulang-ulang. Kemudian: "Ah, aku mengerti sekarang!" Dan ia bergidik sendirinya. "Sebelum dia merdekakan Ceng Ceng, dia hendak racuni dulu dengan bisa kawa-kawa yang bekerjanya nanti sesudah lewat tiga tahun, tentu itu waktu, tidak ada obat untuk punahkan bisa itu, secara begitu, ia jadi telah bisa balas sakit hatinya. Ha, inilah hebat! Kenapa dia begini telengas? Sukur aku dapat tahu, jikalau tidak "

Tanpa merasa, pemuda ini keluarkan keringat dingin.

Habis itu, Ho Ang Yo bertindak keluar, selagi melangkah di pintu, rupanya dia bersangsi, maka ia membaliki tubuh.

"Apakah kau benar-benar dengar perkataanku?" dia tegasi Ho Tiat Chiu.

"Tentu," sahut pemimpin itu. "Cuma...tak dapat kita hilangi kepercayaan kita terhadap orang lain. "

Suaranya Ho Ang Yo menunjuki kemurkaan ketika ia bilang: "Aku tahu, kau jatuh hati terhadapnya! Teranglah kau tidak kandung niatan akan membalaskan sakit hatinya ayahmu yang telah menutup mata!. "

Dia lantas kembali, untuk jatuhkan diri di kursi, mungkin untuk tenangkan diri, mungkin guna pikirkan daya-upaya lain akan bikin celaka Ceng Ceng.

Maka itu, kamar jadi sunyi sekali.

Sin Cie berdua Wan Jie menahan napas. Memang sejak tadi, mereka tidak berani berkutik sama sekali.

Dalam kesunyian itu, mendadak Ceng Ceng berseru: "Kamu tidak mau keluar, kamu hendak tunggu apa?" Ia pun tumbuk pembaringan.

Sin Cie kaget, ia menyangka jelek, hampir ia munculkan diri, sukur Wan Jie tarik dia.

Lalu terdengar suaranya Ho Tiat Chiu, dengan pelahan: "Sekarang kau boleh tenangi diri dan tidur, sebentar setelah terang tanah, aku nanti antar kau pulang. " Ceng Ceng bersuara "Hm!" seraya kembali tumbuki pembaringan, hingga debu di kayu pembaringan itu meluruk ke kepala, ke leher dan tubuhnya dua orang yang lagi mendekam sembunyi. Hampir Sin Cie berbangkis, baiknya ia bisa cepat bernapas dengan beraturan.

Sebenarnya Ceng Ceng habis sabar, di dalam hatinya, ia kata: "Ho Tiat Chiu dan Ho Ang Yo bukan tandingan kau, kenapa kau masih sembunyi saja? Sebenarnya apa yang kamu berdua pikir?"

Ia jadi pikirkan Sin Cie dan Wan Jie. Ia tidak tahu, Sin Cie mempunyai pikiran lain. Tanggung jawab pemuda ini sekarang ditambah sama soal keselamatannya negara.

Kalau Ceng Ceng habis sabar, Ho Ang Yo adalah mendongkol sangat.

"Kau ada kaucu!" katanya pada Tiat Chiu, "semua urusan Ngo Tok Kau berada dalam kekuasaanmu, malah dengan gaetan emas Kim-kau diwariskan kepadamu, kau berhak untuk menghukum mati atau menghidupkan orang! Namun walaupun demikian, ingin aku bicara padamu! Memang partai kita tidak melarang soal mengendalikan napsu-birahi, akan tetapi pengalamanku, apakah pengalamanku tidak cukup hebat untuk menyadarkan kepadamu?"

Ditegur begitu macam, Ho Tiat Chiu tertawa.

"Bibi menemui lelaki yang tidak ingat budi," katanya, "lantas bibi samakan, semua lelaki di kolong langit tidak berbudi juga. "

"Pasti ada orang-orang lelaki yang baik hatinya," sahut Ho Ang Yo. "Tetapi kau tengoklah ini puteranya Kim Coa Long-kun! Lihat, dia beroman sangat mirip dengan ayahnya, tidak ada bedanya, maka siapa bisa bilang tabeatnya juga tidak akan sama dengan tabeat ayahnya?"

"Jadinya ayahnya sama cakapnya dengan puteranya ini?" kata Ho Tiat Chiu, "Pantaslah bibi jadi demikian jatuh hati terhadap ayahnya itu!"

Sampai sebegitu jauh, Sin Cie dapat perasaan Ho Tiat Chiu pun ketarik hati terhadap Ceng Ceng. Ia anggap ini ada lucu, sebab sebagai seorang kosen dan cerdik, kenapa pemimpin Ngo Tok Kau ini tidak dapat bedakan kelaminnya Nona Hee itu.

"Kau kukuh, kau tetap tak sadar akan dirimu," kata Ho Ang Yo kemudian sambil menghela napas. "Aku nanti tuturkan hal-ichwalku kepadamu, agar selanjutnya, kebaikan atau kecelakaan, semua terserah kepadamu sendiri. "

"Memang aku paling gemar dengar kau dongeng, bibi," kata Tiat Chiu, "sekarang kau hendak bercerita di depan ini anak muda, apakah itu tidak ada halangannya untuk rahasiamu itu?"

"Aku sengaja hendak bercerita supaya dia tahu perbuatan busuk dari ayahnya, supaya kalau kemudian dia mati, dia akan mati puas!" si uwah jelek bilang.

Ceng Ceng berteriak bahna gusar.

"Kau karang cerita yang bukan-bukan!" dia berseru. "Ayahku ada satu enghiong terbesar, satu laki-laki sejati, mana sudi dia berbuat demikian busuk? Tidak, aku tidak sudi dengar, aku tidak sudi dengar!"

Ho Tiat Chiu tertawa, agaknya ia girang sekali.

"Nah, kau dengar, bibi," katanya. "Dia tidak suka dengar ceritamu. Bagaimana?" "Aku hendak bercerita untukmu," sahut sang bibi. "Dia suka dengar atau tidak, masa bodoh!"

Ceng Ceng tutupi kepalanya dengan selimut, akan tetapi kemudian, ia kalah dengan perasaannya ingin tahu, ia singkap juga sedikit ujung selimutnya, untuk mendengari Ho Ang Yo tuturkan lelakonnya dengan Kim Coa Long- kun.

"Inilah kejadian pada dua-puluh tahun dulu," demikian si uwah jelek dengan penuturannya. "Ketika itu, usiaku berimbang dengan usiamu sekarang. Dan ayahmu, dia Baru saja menggantikan memangku kedudukan sebagai kaucu baru. Dia telah angkat aku menjadi chungcu, ketua, dari dusun Ban Biau San-chung, tugasku adalah menjaga kita- punya guha ular. Pada suatu hari selagi senggang, aku pergi ke bukit belakang, untuk berburu burung, untuk dibuat main. "

"Aneh, bibi," Tiat Chiu memotong. "Kau menjadi chungcu tapi toh kau sempat menangkap burung. "

"Hum," bersuara sang bibi. "Seperti aku telah bilang, ketika itu usiaku masih muda, aku mirip dengan bocah saja. Aku berhasil menangkap dua ekor burung ikan-ikanan, bukan main girangku. Dalam perjalanan pulang, aku lewat di guha ular kita. Tiba-tiba saja aku dengar suara 'ser! ser!' yang datangnya dari arah pepohonan. Aku tahu itulah suara ular, mestinya ada ular yang minggat, maka aku lantas susul. Benar-benar aku dapati seekor ular belang. Aku heran! Biasanya semua ular kita jinak, maka tak mengerti aku, kenapa ini seekor bolehnya buron. Aku tidak lantas menangkap, diam-diam aku menguntit. Ular itu menggeleser ke belakang pepohonan lebat, ia menghampirkan ke arah satu orang. Kapan aku lihat orang itu, aku terkejut." "Kenapa, bibi?" Tiat Chiu tanya. Ho Ang Yo kertak giginya.

"Itulah si manusia celaka!" katanya. "Dia ada satu hantu bagiku!"

"Bibi maksudkan Kim Coa Long-kun?" sang kaucu tegaskan.

"Pada ketika itu, aku belum tahu siapa dia," sahut sang bibi. "Aku cuma lihat dia bermuka putih dan cakap, tubuhnya tinggi. Dia sedang pegangi sebatang hio wangi, yang ada apinya. Jadinya ular itu dapat cium bau wnagi itu dan dia pergi menghampirkannya. Anak muda itu lihat aku, ia pandang aku sambil bersenyum."

Ho Tiat Chiu tertawa.

"Ketika itu bibi ada eilok sekali, dia lihat bibi, pasti dia jadi tersengsam!. "

"Fui!" sang bibi berludah. "Aku sedang cerita dari hal benar, siapa guyon-guyon denganmu?" Ia terus melanjuti: "Aku lihat dia seorang asing, aku kuatir dia nanti dipagut ular itu, maka aku lantas teriaki padanya: "Hai, awas! Ular itu berbisa, jangan kau ganggu dia! Nanti aku tangkap."

"Mendengar aku, orang itu tertawa. Dari bebokongnya, dia kasi turun sebuah peti kayu. Di ujung peti kayu itu dicangcang seekor kodok, kodok itu berloncatan tetapi tidak dapat loloskan diri. Tentu saja, menampak kodok itu, ular kita hendak menerkamnya, untuk dimakannya. Dengan merayap pelahan, dia dekati peti kayu itu, kemudian ia ulur kepalanya, untuk santok sang kodok. Tiba-tiba saja orang itu tarik tali yang melekat pada peti, dan peti itu lantas terbalik tutupnya. Ular itu mencoba berhenti merayap tapi sekarang sudah kasep. Orang muda itu ulur tangannya yang kiri, dua jarinya terus menjepit leher ular, Dia sangat sebat

1021 dan jitu tangkapannya. Aku lihat, gerakan tangannya itu beda dari gerakan tangan kita. Begitu lekas dijepit, ular belang itu lantas diam saja, agaknya dia jadi jinak sekali. Aku tahu, pemuda itu seorang ahli, aku tidak berkuatir lagi untuknya.

"Aneh, aneh!" tertawa Ho Tiat Chiu. "Bibi Baru pernah lihat orang itu, lantas saja bibi sangat memperhatikan dia!"

"Hai, jangan kau potong ceritanya!" Ceng Ceng nyeletuk, sedang tadi katanya tak suka ia mendengari cerita. "Kau dengari saja!"

Tiat Chiu kembali tertawa.

"Tadi kau sendiri yang bilang tak sudi mendengari?" dia baliki.

"Sekarang aku jadi suka mendengarnya!" Nona Hee akui. "Toh boleh, bukan?"

Untuk kesekian lamanya, Tiat Chiu tertawa.

"Baiklah, aku tidak akan memotong-motong lagi!" katanya.

Ho Ang Yo deliki kaucu yang jail itu.

"Itu waktu aku mulai curiga," dia menyambungi. "Aku pikir-pikir, siapa dia? Kenapa dia bernyali demikian besar, berani datang ke tempat kita untuk menangkap ular berbisa? Mustahil dia tidak pernah dengar nama Ngo Tok Kau? Aku terus awasi dia. Setelah itu tangan kanannya mengeluarkan sebatang besi kecil, mirip ruyung, ujung besi itu ia sodorkan ke muka ular. San ular lantas saja menyamber, akan santok ujung besi itu.

Aku mengawasi dengan teliti. Aku pun datang lebih dekat. Nyata ruyung itu kosong dalamnya, kapan bisa ular keluar, bisa itu mengalir masuk ke dalam bungbung besi itu. Sekarang Baru aku mengerti! Hm! Nyata dia datang untuk curi bisa ular! Pantas selama beberapa hari ini, beberapa ularku sungkan dahar, tubuhnya kurus dan menjadi malas- malasan! Lantas aku teriaki dia, "Hai, lepas ular itu!" Berbareng dengan itu, aku keluarkan suitanku peranti menakluki ular, aku terus tiup. Rupanya dia tidak sangka, suitanku ada punya suara yang luar biasa, dia menoleh karenanya. Justru itu, si belang lepaskan catolannya pada pipa dan berbalik santok dia! Dia lekas-lekas lemparkan ular itu, dia hendak buka peti kayunya, mungkin untuk ambil obat pemunah bisa. Aku tidak kasi ketika padanya, aku berlompat dan serang mukanya. Di luar dugaan, liehay ilmu silatnya, Cuma dengan satu kali tangkis, ia bikin aku terpelanting jatuh. "

"Pasti sekali, mana kau bisa jadi tandingannya!" Ceng Ceng bilang.

Ho Ang Yo mendelik.

"Walaupun aku tidak bisa menangi dia, aku toh bisa libat padanya!" katanya dengan sengit. "Aku ganggu dia hingga dia tak punyakan kesempatan akan keluarkan obatnya. Aku tunggu sampai dia rubuhkan aku yang ketiga kali, lantas bisa ular bekerja, tanpa ampun, dia rubuh dengan pingsan. Selagi aku hampirkan dia, tiba-tiba aku merasa tak tega, aku anggap sayang sekali kalau dia, dalam usianya begitu muda, binasa secara demikian kecewa. Ia pun ada punya ilmu silat yang bagus sekali. "

"Maka itu bibi lantas tolongi dia!" kata Ho Tiat Chiu. "Bibi bawa dia pulang secara diam-diam, disembunyikan, dia diobati, setelah dia sembuh, lantas bibi menyintai dia. "

Ho Ang Yo menghela napas. "Tidak tunggu sampai ia sembuh, aku sudah menyintai dia," bibi ini aku. "Tatkala itu aku maish berusia muda, semua suheng dan sutee perlakukan aku baik sekali, entah kenapa, tidak ada satu di antara mereka yang memperoleh perhatianku, dan dia itu, di luar kekuasaanku, dia bikin aku jatuh hati. Selang tiga hari, dia telah mulai sembuh dari lukanya, Barulah itu waktu aku tanya dia, apa perlunya dia datang ke wilayah kami. Dia jwab, karena aku telah tolong jiwanya, apa juga dia suka kasi tahu aku. Dia bilang dia orang she Hee, dia ada punya dendaman yang hebat, benar ilmu silatnya sudah sempurna, akan tetapi musuhnya tangguh dan besar jumlahnya, ia jadi sangsi akan berhasil dengan pembalasannya. Maka itu, ketika ia dengar kabar Ngo Tok Kau ada utamakan bisa ular, ia sengaja datang ke Inlam untuk mendapatkan bisa itu. "

Mendengar sampai di sini, Sin Cie dan Ceng Ceng Barulah mengerti apa hubungannya Kim Coa Long-kun dengan Ngo Tok Kau.

Ho Ang Yo lanjuti penuturannya: "Setelah berselang sekian lama bekerja dengan diam-diam dia bilang, dia mulai mengerti dalam hal mengerjakan bisa, maka itu dia lantas datangi guha ular kita, untuk mencuri bisa. Dia kata dia hendak bikin semacam senjata rahasia guna nanti dipakai menghadapi musuh-musuhnya. Lewat lagi dua hari, sesudah merasa segar, dia menghaturkan terima kasih padaku, dia pamitan, untuk pulang. Berat bagiku untuk membiarkan dia pergi. Begitulah aku berikan dia dua botol bisa ular. Untuk balas budiku, dia lantas bikin ini gambarku, sebagai tanda peringatan. Aku telah tanya dia, apa lagi kesukarannya dalam hal mencari balasnya itu, apa dia membutuhkan aku, untuk membantu. Sambil tertawa dia bilang, ilmu kepandaianku masih jauh dari sempurna, bahwa aku tak dapat membantu dia. Aku lantas minta supaya dia kembali sehabisnya dia mencari balas. Dia manggut, dia berikan janjinya. Aku tanya dia, kapan kiranya dia bakal kembali, dia menjawab bahwa dia tak dapat menentukannya. Dia bilang juga, untuk mewujudkan pembalasannya itu, dia masih membutuhkan serupa senjata tajam. Katanya di Ngo Bie San ada sebuah pedang pusaka, maka lebih dahulu dia mau pergi ke gunung itu, akan coba curi pedang itu. Dia sangsi apa benar-benar ada pedang yang dimaksudkan itu. Umpama ada, dia bilang, masih belum bisa dipastikan ia bakal dapat curi itu atau tidak."

Mendengar sampai di situ, Sin Cie kata dalam hatinya: "Kim Coa Long-kun sungguh norek! Untuk mencari balas, dia tidak perdulikan apa juga, tanpa pikir panjang, dia lakukan apa jua!. "

Kembali Ho Ang Yo menghela napas ketika ia melanjuti pula: "Pada waktu itu, aku benar-benar telah sangat tersesat, disebabkan aku amat tergila-gila terhadapnya. Keinginanku satu-satunya adalah supaya ia suka tinggal lebih lama pula sama aku, Aku ada bagaikan gila, sampai apa juga, aku tak takuti, sampaipun hal yang aku tahu tak dapat aku lakukan, aku berani melakukannya. Aku merasa, untuk dia, semakin berbahayanya urusan, semakin itu menyenangkan hatiku. Hingga pun aku berpikir, rela aku mati, asal untuk dia. Ya, benar-benar waktu itu, aku seperti dipengaruhi iblis. Begitulah aku beritahukan dia bahwa aku tahu hal sebatang pedang mustika, yang tajam luar biasa, yang bisa dipakai membabat kutung senjata lainnya macam apa juga. Dia girang tidak kepalang mendengar hal pedang itu, sampai dia berjingkrakan. Lantas saja dia tanya aku, dimana adanya pedang itu. Tanpa pikir lagi, aku kasi dia tahu bahwa pedang itu adalah pedang Pek-hiat Kim-coa-kiam kepunyaan Ngo Tok Kau!" Terkejut Sin Cie akan dengar kata-kata terakhir ini, hingga tanpa merasa ia raba pedangnya.

"Jadi inilah pedang mustika Ngo Tok Kau itu?" tanyanya pada dirinya sendiri.

Masih Ho Ang Yo meneruskan penuturannya: "Aku telah beritahu dia, pedang itu ada satu di antara tiga mustika Ngo Tok Kau, bahwa disimpannya di dalam Tok- liong-tong, guha Naga Beracun di Leng Coa San, gunung Ular Sakti, di distrik Tay-lie, bahwa guha itu dijaga oleh delapan-belas murid Ngo Tok Kau. Dia lantas saja desak aku, dia minta aku antar padanya, untuk dia curi pedang itu. Dia bilang, dia hendak pakai pedang itu untuk satu kali saja, sehabis dia berhasil menuntut balas, dia nanti kasi kembali. Ia sangat mendesak aku, sampai hatiku jadi lemah. Begitulah telah terjadi, aku curi leng-pay dari koko. Dengan bawa itu, aku ajak dia pergi ke Leng Coa San. Karena adanya lengpay dan yang antar pun aku sendiri, penjaga- penjaga guha ijinkan kita masuk ke dalam guha."

"Bibi," tanya Tiat Chiu, "apa mungkin kau berani memasuki guha itu dengan berpakai pakaian?"

"Meski juga nyaliku besar, aturan kita itu tak berani aku langgar," jawab Ho Ang Yo. "Aku telah buka semua pakaianku, dengan telanjang bulat, sambil separuh merayap, aku masuk ke dalam guha. Dia turut masuk dengan menelad contohku. Pedang dan dua mustika lainnya ditaruh di atas naga-nagaan batu. Dia pandai berlompat tinggi, dengan gampang dia bisa naik ke atas naga-nagaan. Begitulah dia ambil pedang mustika itu. Aku tidak sangka, dia kandung hati yang kurang lurus, kecuali pedang Pek-hiat Kim Coa Kiam, sekalian dia ambil dua mustika lainnya, ialah dua-puluh empat batang bor ular emas Kim-coa-cui serta peta bumi kita." 0o-d.w-o0