-->

Pedang Ular Emas Bab 19

Bab ke 19

Semua orang terperanjat, akan tetapi sedangnya begitu, pengemis itu bawa sumpitnya ke mulutnya, atau tahu-tahu kelabang itu telah tercaplok masuk ke dalam mulutnya, terus saja dikunyah, dimakan secara sangat bernapsu, hingga semua orang jadi celangap, melainkan Ceng Ceng yang merasa enek, hampir saja dia muntah! Dia melengos ke samping, tak sudi dia melihatnya.

Tentu saja, karena pemandangan itu, semakin tidak ada orang yang berani gunai sumpitnya.

Tuan rumah lihat orang jeri, nampaknya dia sangat puas. Lantas saja dia hadapi Sian Tiat Seng, yang ia awasi dengan tajam.

"Kau adalah kuku garuda dari kantor negeri!" berkata dia dengan tidak sungkan-sungkan lagi. "Rupanya kau datang kemari untuk mendapatkan uang kas negara! Hm! Kau tahu, siapa aku ini?"

Sian Tiat Seng berlaku sabar, ia merendah.

"Maaf, aku tak dapat kenali kau, tuan," sahutnya. "Aku mohon tanya tuan punya she yang mulia dan nama yang besar. "

Ornag itu kembali tertawa, berkakakan. Ia tenggak araknya, ia jepit pula sepotong daging, entah binatang apa, yang ia caplok dan kunyah dengan bernapsu seperti tadi. Kemudian ia tertawa pula.

"Aku yang rendah adalah orang she Cee nama In Go," katanya kemudian.

"Aku adalah satu bu-beng siau-cu, orang yang tidak ternama, maka juga, saudara, mana kau kenal aku!"

Tapi Sian Tiat Seng terkejut, lekas-lekas ia berbangkit. "Oh, tuan jadinya ada Kim-ie Tok Kya!" katanya.

"Sudah lama aku yang rendah telah dengar nama besarmu

itu. "

Sin Cie sendiri belum pernah dengar nama julukan Kim- ie Tok Kay itu, atau "Pengemis Berbisa Berbaju Sulam", akan tetapi melihat sikapnya Sian Tiat Seng, mungkin dia

873 seorang kenamaan, hanya ketika kemarin ini ia saksikan orang tempur ular berbisa, ia tidak lihat si pengemis punyakan kepandaian luar biasa. Maka ia heran kenapa kepala opas ini nampaknya jeri sekali.

Kembali Sian Tiat Seng berkata: "Agama tuan biasa disebarkan hanya di dua propinsi Kwiesay dan Kwietang serta juga Inlam dan Kwie-ciu, itulah karenanya maka aku tak dapat ketika untuk mengunjunginya. "

"Memang!" jawabnya Cee In Go itu. "Kami datang ke kota raja ini pun Baru beberapa bulan."

"Sebenarnya sudah lama aku tidak dahar lagi nasi negara," berkata pula Sian Tiat Seng, "karena itu aku jadi tidak dapat tahu, Cee Enghiong, tentang kunjungan rombonganmu ini, hingga karenanya, pihak kami sudah tak sempurna melakukan penyambutan terhadap kamu, hingga kami telah lakukan hal yang tidak selayaknya. Maka itu sekarang, Cee enghiong, aku datang untuk haturkan maaf kita."

Kata ini disusul dengan pemberian hormat menjura yang dalam dan berulang-ulang.

Cee In Go terlalu repot dengan arak dan barang hidangannya yang "lezat" sekali itu, ia tidak balas pemberian hormat itu, tidak perduli itu adalah cara menghormat yang sangat hormat sekali.

Ceng Ceng saksikan kelakuan Sian Tiat Seng, di dalam hatinya, dia berkata: "Biasanya kalau orang-orang polisi berurusan dengan rakyat jelata, mereka bengis dan garang bagaikan srigala dan harimau, sebaliknya apabila mereka berhadapan sama pihak tangguh, mereka jadi lemah dan rendah sekali, sekarang aku dapatkan buktinya. Aku hendak lihat, bagaimana lanjutnya urusan ini.  " "Saudara-saudaraku semua tolol sekali," demikian Sian Tiat Seng berkata-kata pula, "tanpa merasa mereka sudah lakukan kesalahan terhadap Cee Enghiong beramai. Sekarang ini, Cee Enghiong, apa pun yang kau titahkan kami lakukan, asal itu ada dalam kesanggupan kami, kami bersedia untuk melakukannya."

Baru sekarang pengemis she Cee itu berhenti makan. "Sampai pada batas hari ini," katanya dengan tetap

secara tekebur," sama sekali kita telah ambil uang negara

sejumlah sembilan-ribu lima-ratus tail perak! Itu jumlah sangat kecil, sangat kecil. Aku pikir kalau nanti kita sudah ambil cukup!"

Nyata sekali Tiat Seng terperanjat akan dengar jumlah itu, akan tetapi tetap dia bawa sikap merendah. Katanya: "Jikalau Hok Tayjin dari Kas Negara serta Ciu Tayciangkun yang menjabat Kiu-bun Teetok ketahui tentang Cee Enghiong beramai, pasti sekali mereka bakal menghadap Pangeran Seng Ong untuk menghaturkan maaf, dari itu mengenai kami, yang menjadi orang sebawahan, kami cuma hendak mohon supaya Cee Enghiong sudilah memberi kita sesuap nasi..."

Kim-ie Tok Kay tidak bilang suatu apa atas pengutaraan kepala opas iti, hanya dengan mata terputar, dia kata dengan keras: "Kau sekarang telah ketahui, semua uang negara itu telah berada di dalam balai istirahat Pangeran Seng Ong ini, maka apakah kau masih memikir untuk keluar dari gedung ini dengan masih berjiwa?"

Sikap itu, suara itu, bengis sekali. Maka ruang perjamuan itu menjadi sangat tegang, dengan sendirinya rata-rata tetamu bergelisah.

Ceng Ceng tidak mengerti, ia pun panas hatinya, tetapi di saat ia hendak membuka mulut, mendadak terdengar

875 satu suara tajam dan luar biasa, yang datang dari lain bagian gedung itu. Suara itu menggiriskan dan berulang kali, beruntun, hingga tanpa merasa, sesuatu orang menjadi bergidik sendirinya.

"Apakah itu?" tanya Ceng Ceng, yang pun terkejut, hingga ia cekal keras tangan Sin Cie.

Si anak muda berbalik memegang keras juga tangan si nona, ia tidak bilang suatu apa.

Cee In Go sendiri sudah lantas berbangkit.

"Kau-cu mulai bersidang!" katanya dengan nyaring. "Kamu semua boleh pergi mendengarkan putusan! Tentang nasib kamu, lihat saja peruntungan kamu masing-masing!"

Sian Tiat Seng kaget tidak kepalang.

"Jadi Kau-cu pun telah datang ke Pakkhia?" tanyanya. "Kau-cu" ada kepala atau raja agama.

Cee In Go tidak menjawab, dia cuma tertawa menyengir, sikapnya jumawa dan dingin. Lantas saja ia bertindak ke dalam.

"Suasana hebat sekali, mari lekas kita berlalu!" kata Sian Tiat Seng, uang ketakutan tak terhingga. "Jikalau benar raja agama dari Ngo Tok Kau telah datang sendiri, jikalau kita mati, tulang-tulang kita pun tidak bakal ketinggalan sepotong jua!"

Ngo Tok Kau adalah Agama Lima Racun.

Sin Cie ingin lihat perkembangan terlebih jauh, akan tetapi ia merasakan tangan Ceng Ceng gemetar, sedang suasana benar-benar tegang sekali, dari itu, ia urungkan niatnya. "Baik, marilah kita keluar dahulu!" katanya. "Nanti diluar Baru kita pikir pula. "

Baru orang banyak itu putar tubuh mereka, untuk berlalu, mendadak ruang kamar menjadi gelap-petang, sampai lima jari mereka tidak dapat mereka lihat. Suara menggabruk yang nyaring hebat pun segera terdengar di sebeblah belakang mereka, entah itu suara jatuhnya lempengan besi atau batu besar.

Mau tidak mau, semua orang menjadi kaget, apapula kapan suara hebat itu disusul sama suara yang seram aneh seperti bermula tadi. Itulah suara yang mirip dengan riuhnya burung-burung hantu atau pekiknya pelbagai kutu berbisa.

Selagi orang berada dalam kekuatiran dan terbenam dalam kegelapan itu, sekonyong-konyong bekelebat cahaya terang sekali, yang menyilaukan mata, lalu di antara sinar terang itu nampak dua kacung yang mengenakan pakaian serba hitam. Mereka ini menghampirkan, lantas mereka menjura.

"Kau-cu memanggil kamu untuk menghadap si singgasana!" katanya.

"Entah mahluk aneh macam apa adanya Kaucu itu. "

pikir Sin Cie. "Baik aku pergi ke istana, untuk tengok cecongornya. "

Maka ia tarik tangan Ceng Ceng, untuk diajak pergi ke singgasana, Semua kawannya ikuti ia. Maka mereka semua jadi mengintil di belakangnya dua kacung serba hitam itu.

Dari ruang makan itu, mereka melalui satu lorong yang panjang, lalu membelok, beberapa kali, akhirnya sampailah mereka di sebuah pendopo, yang si kacung sebutkan istana atau singgasana. Di tengah-tengah ruangan itu ada sebuah kursi besar, yang dikerebongi sutra sulam warna merah, di kedua samping kursi itu berdiri masing-masing dua tongcu atau kacung.

Kedua kacung serba hitam itu ajak sekalian tetamunya sampai di singgasana ini, lantas mereka sendiri memisahkan diri ke kedua sisi dimana pada setiap sisinya, lima kacung dengan pakaiannya masing-masing serba merah, kuning, biru, putih dan hitam. Dan yang serba merah itu Sin Cie kenali adalah dua kacung pencuri uang negara yang kemarin ini dikepung-kepung Sian Tiat Seng. Hanya sekarang ini, mereka berdua berdiri dengan tegak dengan kepala dikasih tunduk, sama sekali mereka tidak perdulikan tetamu-tetamu yang dipimpin masuk dalam ruangan itu.

Segera juga terdengar suara lonceng berulang-ulang dari arah belakang singgasana itu, suara mana disusul sama munculnya sambil berlerot rapi sejumlah orang, lelaki dan perempuan, yang tubuhnya tinggi dan kate tidak ketentuan. Sesampai di dekat kursi kebesaran itu, mereka ini memecah diri dalam dua rombongan kiri dan kanan, di setiap sisinya, delapan orang, maka itu ketahuanlah mereka semua berjumlah enam-belas orang.

Kim-ie Tok Kay Cee In Go ada di dalam rombongan ini, dia berdiri di barisan kiri, sebagai yang nomor lima. Di barisan kanan, sebagai yang nomor dua, ada seorang perempuan dengan hidung bengkung dan mata celong, kulit mukanya pucat-pias bagaikan kulit mayat, daging pada mukanya itu tidak rata, ada yang muncul, ada yang ceglok. Melihat dandanannya, dia adalah satu pengemis wanita tua-bangkotan.

"Dia pasti ada si pengemis yang telah melukai Thia Lo- hucu," Sin Cie menduga setelah ia pandang pengemis wanita itu yang romannya jelek dan menyeramkan.

878 "Apa yang mereka lagi bikin?" Sin Cie kemudian berbisik pada Sian Tiat Seng.

Mukanya kepala opas ini sangat pucat.

"Mereka ini adalah rombongan Ngo Tok Kau asal dari propinsi Inlam," ia menjawab, suaranya pelahan dan menggetar. "Kali ini matilah kita semua!. "

"Ngo Tok Kau itu sebenarnya apa?" tanya Sin Cie.

"Oh, Wan Siangkong...." kata kepala opas itu, suaranya masih tak tenang. "Ngo Tok Kau adalah semacam kumpulan agama yang sesat, yang tak jeri membunuh sesama manusia secara sangat telengas dan kejam. Yang menjadi kaucu, kepala agamanya, ada Ho Tiat Chio. Apakah siangkong tidak kenal mereka?"

Sin Cie goyang kepala.

"Justru kepala agamanya belum keluar, mari kita berdaya untuk menyingkir dari sini....." Sian Tiat Seng berbisik.

"Kita lihat dulu!" kata Sin Cie, yang tetap tenang.

Tapi nampaknya Tok-gan Sin-liong takut bukan kepalang, rupanya telah bulat tekadnya untuk angkat kaki.

"Kalau begitu, maafkan aku!" katanya.

Belum sempat dia tutup rapat mulutnya, tubuhnya sudah bergerak, dia lari ke arah tembok. Teranglah sudah, dia berniat melompati tembok itu, untuk menyingkirkan diri.

Menyusul bergeraknya kepala polisi ini, dari barisan kiri dari rombongan Ngo Tok Kau itu, orang yang nomor dua telah lompat maju, gerakannya sangat gesit, sambil berlompat, dia sambar kaki kiri dari Sian Tiat Seng, yang tercengkeram sebatas mata kaki. Sian Tiat Seng juga bukan sembarang orang, dia mengerti ilmus ilat dengan baik, walaupun dia sedang ketakutan, pikirannya tidak kacau, maka itu selagi kakinya disambar, ia geraki tubuhnya, untuk membungkuk, berbareng dengan mana, ia ayun tangannya yang kanan, akan hajar kepalanya si penyerang.

Orang nomor dua itu, yang tubuhnya tinggi besar, gunai sebelah tangannya, akan tangkis serangan kepada batok kepalanya itu, hingga kedua tangan jadi bentrok, menyusul mana, berdua mereka jatuh ke tanah. Sebab selagi mereka saling serang, tubuh mereka sedang berlompat ke arah tembok.

Habis itu, orang nomor dua itu tidak bertindak lebih jauh, hanya sambil tertawa dingin, dia kembali ke dalam barisannya.

Keadaan ada lain lagi dengan Sian Tiat Seng. Si Naga Sakti Mata Satu ini telah terluka pada kaki kirinya, pada telapakan tangannya yang kanan, yang tadi dipakai menyerang musuh. Luka-luka itu seperti luka terkena senjata tajam, sakitnya bukan main, terasa sampai di hati. Ketika ia angkat tangannya, untuk diperiksa, ia tampak lima luka lobang kecil dari mana mengucur keluar darah hitam, yang masih terus mengucur saja, hingga ia kaget tidak terkira. Dan ketika ia periksa kakinya, kagetnya bertambah-tambah, sebab luka di kakinya itu pun berupa lima lobang kecil yang sama rupanya. Kepala opas ini demikian kaget dan takut, hingga lantas saja dia rubuh terguling di tanah.

Nyatalah orang nomor dua itu, pada sepuluh jari dari kedua tangannya, ada kuku-kuku yang memakai sarung yang lancip-tajam, yang semua ada bisanya, tidak heran kalau Sian Tiat Seng telah terluka dan luka itu lantas mengeluarkan darah hitam, sebab racun bekerja dengan

880 segera. Pantas kalau si kepala opas jadi ketakutan bukan main, hingga ia jadi putus asa.

Sin Cie segera hampiri Tok-gan Sin-liong, untuk dipimpin bangun. Selagi ia berbuat begitu, sepuluh kacung keluarkan dari masing-masing kantongnya sebuah suitan yang luar biasa macamnya, yang mereka lantas tiup nyaring beberapa kali, menyusul mana, semua dua-puluh lebih orang Ngo Tok Kau di dalam ruangan itu pada jatuhkan diri untuk mendekam!

Segera setelah itu, dari belakang singgasana bertindak keluar dua orang perempuan yang cantik.

Dalam anggapan Sin Cie dan rombongannya, karena orang-orang Ngo Tok Kau itu semua beroman tidak keruan dan aneh, kaucu mereka atau kepala agama pun mestinya lebih-lebih tak keruan lagi, maka itu, tercenganglah mereka kapan mereka saksikan dua wanita yang eilok ini.

Setelah mendekati kursi, di samping mana mereka berdiri, dua nona ini lantas berseru dengan suaranya yang nyaring tapi halus: "Kaucu naik di singgasana!"

Segeralah terhembus bau yang harum, yang keluar dari belakang singgasana itu, bau harum mana diiringi satu wanita dengan pakaiannya serba dadu dan mentereng. Dia ini mempunyai sepasang mata yang bagus, yang dikatakan "mata burung hong", yang sinarnya menakjubkan, sepasang alisnya panjang, wajahnya tersungging senyuman manis dan menggairahkan. Dia berumur kurang lebih tiga puluh tahun, dan parasnya cantik sekali. Tapi, walaupun cantik dan pakaiannya indah, dan dari tubuhnya tersiar bau harum, kedua kakinya telanjang, dia tidak memakai sepatu, dan pada setiap kakinya, dan kedua tangannya juga, ada terselubung masing-masing dua buah gelang emas, hingga berbareng     sama     tindakannya,     gelang-gelang     itu perdengarkan suara beradu berkontrangan.... Kulitnya pun putih dan halus, seperti kumala saja, sedang rambutnya yang bagus, terurai turun ke pundaknya, bongkotnya tergelung dengan satu gelang emas juga.

Nona manis ini menghampiri kursi kebesaran, untuk duduk di atasnya.

Di belakang nona ini mengikuti dua nona lain, yang masih muda sekali, yang membawa kipas dari bulu burung.

Nona ini tertawa sebelumnya dia buka mulutnya.

"Aha, ada begini banyak tetamu!" katanya. "Lekas siapkan kursi. Silahkan duduk!"

Beberapa kacung segera lari ke dalam, untuk balik lagi bersama beberapa buah kursi, yang mereka bawa kepada Sin Cie beramai, yang mereka undang duduk.

Sin Cie beramai telah terbenam dalam teka-teki, hingga mereka memikir tak sudahnya.

Apakah si cantik ini yang disebutkan Ho Tiat Chiu, kepala dari Ngo Tok Kau, yang Sian Tiat Seng jerikan bagaikan serigala atau harimau? Apa mungkin kepala agama ini masih begini muda dan cantik sekali rupanya?

"Aku mohon tanya she dan nama besar dari sekalian tetamuku," kemudian berkata si juwita itu, dengan suaranya yang halus dan merdu, sedang matanya mengawasi dengan tajam.

"Aku adalah she Wan dan ini semua adalah sahabat- sahabatku," Sin Cie menjawab. "Apa aku boleh tanya she nona yang mulia?"

"Aku she Ho," sahut si nona. Bercekat hatinya pemuda kita. "Benarlah dia kaucu dari Ngo Tok Kau," pikirnya.

Kemudian si nona menanya: "Apakah tuan datang untuk urusan uang negara?"

"Untuk aku sendiri, bukan," jawab Sin Cie. Ia terus tunjuk Sian Tiat Seng, sambil menambahkan: "Ini sahabatku she Sian makan gaji negara, kami sebagai rakyat jelata, kami Baru saja berkenalan dengannya. Mengenai urusan negara, kami tidak berani campur tahu. "

"Bagus!" kata si nona. "Tapi kamu telah datang kemari, apa kehendakmu?"

"Aku ada punya satu sahabat she Thia," sahut Sin Cie. "Aku tidak tahu, dalam hal apa dia telah berbuat salah kepada pihakmu, dia telah mendapat luka yang hebat. Karena itu aku datang kemari, untuk minta keterangan. Andai kata ini ada urusan salah mengerti dengan satu dua patah kata saja, urusan bisa dibikin habis."

"Oh, kiranya kamu ada sahabat-sahabatnya Lo-hucu Thia Ceng Tiok!" kata si nona. "Inilah lain. Tadinya aku menyangka Wan Siangkong termasuk dalam rombongan kuku-kuku garuda! Mana orang-orang. Suguhkan air teh!"

Beberapa kacung bergerak pula, untuk gotong meja kecil, buat menyediakan teh.

Sin Cie beramai lihat air teh bersemu hijau guram, entah teh apa itu, walaupun baunya wangi, mereka tidak berani lancang meminumnya.

"Menurut katanya Cee Suheng," si nona berkata pula. "Wan Siangkong ada seorang yang manis budi dan gemar bersahabat, dan siangkong pun mempunyai mustika kodok es, maka dari bermula aku telah menduga, siangkong pasti bukannya bangsa kuku garuda. " Heran juga Sin Cie. Nona ini menjadi kaucu, kenapa dia bahasakan suheng, kakak seperguruan kepada Cee In Go? Bukankah, melihat kenyataan, orang she Cee ini adalah anggota, orang sebawahan?

"Mustika kodok dari Wan Siangkong mukjizat sekali," kata pula si nona. "Apakah siangkong sudi akan perlihatkan itu kepadaku agar mataku jadi terbuka?"

Tak sudi Sin Cie serahkan mustikanya itu kepada nona ini, ia kuatir orang tidak nanti mengembalikan, seperti perbuatannya Cee In Go, maka itu, ketika ia keluarkan itu, lantas saja ia tempelkan di lukanya Sian Tiat Seng, siapa memang membutuhkan pertolongannya.

Semua orang Ngo Tok Kau itu segera saksikan bekerjanya mustika, darah beracun dari lukanya si kepala opas sudah lantas disedot keluar, maka itu, semua mereka nampaknya sangat ketarik hati.

"Sungguh dahsyat!" seru si nona. "Aku cuma kuatir, kalau bisa yang paling beracun, dia tak dapat memunahkannya..."

Sin Cie heran juga. Kenapa si nona masih sangsikan mustikanya itu? Tapi ia cerdik.

"Itulah mungkin," katanya. "Di kolong langit ini, benda atau mahluk yang berbisa ada sangat banyak macamnya. Mustika sekecil ini, mana dia dapat berbuat demikian banyak?"

Akan tetapi Ceng Ceng berpikir lain, ia tak puas. Maka ia campur bicara.

"Itulah tidak bisa jadi!" demikian katanya.

Si nona puas dan girang mendengar perkataannya Sin Cie, tetapi kapan ia dengar suaranya Ceng Ceng, ia perdengarkan suara di hidung: "Hm!" Lalu ia tambahkan: "Ambil Ngo-seng!"

"Ngo-seng" itu berarti "lima nabi".

Lima kacung segera keluar dari barisannya, untuk pergi ke dalam, kemudian mereka keluar pula dengan membawa lima peti besi, sedang lima kacung lainnya menggotong sebuah meja, yang mereka letaki di tengah-tengah singgasana. Habis itu, semua sepuluh kacung itu berdiri mengitari meja.

Menarik perhatian adalah kelima bocah itu, mereka masing-masing memegang peti besi yang warna catnya sama dengan warna pakaian mereka: merah-merah, kuning- kuning, demikian seterusnya.

"Nampaknya gerak-gerik mereka ini mirip dengan cara siluman," pikir Sin Cie, "tetapi mereka mengatur diri menurut ngoheng, mereka tak bertindak sembarangan..."

Setelah itu muncullah satu orang dari barisan kiri, yang nomor dua, yang dandan sebagai suku bangsa Ie. Dia bertubuh kekar. Dia menghampiri meja, untuk berdiri di pinggiran, kemudian dari sakunya, dia keluarkan sehelai bendera hijau. Dengan pelahan, dia kibarkan itu. Atas ini, kelima bocah buka tutupnya masing-masing peti besi mereka.

Kapan Ceng Ceng telah lihat apa isinya semua itu, tanpa merasa, dia keluarkan seruan tertahan. Dari dalam sesuatu peti itu mencelat keluar masing-masing seekor binatang berbisa, ialah ular hijau, kelabang, kalajengking, kawa-kawa dan kodok dingdang.

Kembali si orang she Ie kibaskan benderanya. Menyusul ini, semua sepuluh kacung undurkan diri dari samping meja. Sebaliknya, sebagai gantinya, dari dalam kedua barisan , keluar empat orang, yang hampirkan meja, untuk berdiri di sekitarnya, untuk lantas beraksi sendiri-sendiri, ada yang membaca mantera, ada yang jalan dengan tangan sebagai kaki.

Sin Cie menyaksikan sambil pikirannya bekerja.

"Jikalau pertempuran sampai mesti terjadi, mungkin pihakku tidak bakal kalah, akan tetapi tindak-tanduk mereka ini luar biasa, maka tak dapat aku berlaku semberono. Tak dapat mereka dipandang enteng..."

Di atas meja, ular hijau panjangnya satu kaki lebih, tidak ada bagiannya yang istimewa, sedang empat binatang lainnya, semua biasa saja, cuma sedikit lebih panjang atau besar dari umumnya.

Lima macam binatang itu lantas bergerak-gerak, jalan memutari muka meja; lantas mereka perlihatkan sikap seperti hendak saling serang, untuk terkam, terutama hawa- hawa beracun itu, tak henti-hentinya dia muntahkan jaringnya, untuk ia membuat bentengan di satu pojokan.

Sang kala adalah yang paling tak tahan sabar, dialah yang paling dulu serang bentengnya sang kawa-kawa. Satu kali saja dia menerjang, dia telah putuskan beberapa tali jaring, lantas dia mundur pula. Sang kawa-kawa awasi sang kala, lalu ia muntahkan pula galagasinya, untuk perbaiki jaringnya yang dirusak itu. Kembali sang kalajengking menerjang, lalu itu diulangi sampai beberapa kali, karena itu, tubuhnya lantas ketempelan galagasi, hingga dengan sendirinya, gerakannya menjadi lebih lambat. Ada beberapa kakinya yang terlibat sampai tak dapat dibebaskan.

Adalah setelah itu, sang kawa-kawa mulai dengan serangan pembalasannya, saban kali dia menerjang, dia muntah, hingga kesudahannya, tubuh sang kala terlibat jaringnya itu. Baru setelah itu, sang kawa-kawa merayap ke depan musuhnya ini, untuk diawasi dengan tajam.

Satu kali sang kawa-kawa ulur sebuah kakinya kepada musuh, sang kala geraki ekornya, untuk mengantup, tetapi begitu dia menyambar, penyerangnya segera tarik pulang kakinya, sambil mundur pula. Sang kala gesit, sang kawa- kawa lebih gesit pula.

Serangan sang kawa-kawa itu, yang merupakan gangguan, diulang beberapa kali, hingga sang kala jadi sangat gusar, satu kali dia kerahkan antero tenaganya, dia lompat menerkam. Sang kawa-kawa berkelit, dia luput dari bahaya. Tapi sang kala, dia telah berlompat keras, tak dapat dia pertahankan diri lagi, dia terjatuh ke dalam jaring musuh dimana dia ngamuk kelabakan, untuk loloskan diri.

Sang kawa-kawa lihat jaringnya ada yang putus, lekas- lekas ia menambalnya, untuk memperbaiki, hingga sang musuh tetap masih terkurung.

Sesudah berontak-rontak sekian lama, sang kala jadi kendor dengan perlawanannya, rupanya mulai habislah tenaganya. Maka menggunai ketikanya yang baik, sang kawa-kawa menubruk, terus dia menggigit.

Sedang sang kawa-kawa hendak binasakan korbannya, mendadak sang kodok datang menerjang. Binatang ini semburkan bisanya, dia dobolkan jaring musuh, lantas dia ulur lidahnya, untuk sambar tubuh sang kala, untuk ditarik keluar dari jaring. Cuma dengan satu kali caplok, dia telah telan sang kala masuk ke dalam perutnya!

Sang kawa-kawa menjadi gusar, dia terjang musuh baru ini.

Sang kodok bersiap-sedia, begitu serangan datang, dia ulur lidahnya, akan sambar kawa-kawa itu, untuk dibetot masuk ke dalam perutnya. Tapi sang kawa-kawa pentang mulutnya, dia sambar dan gigit lidah musuh. Sang kodok pun liehay, cepat-cepat dia tarik pulang lidahnya.

Setelah itu, sang kawa-kawa merayap ke kirinya sang kodok, tidak perduli sang kodok ini waspada, dia muntahkan benangnya, terus dia berlompat ke atas bebokong sang kodok, untuk melewatinya, benangnya diulur sekalian, sembari lompat lewat, dia gigit bebokong musuh. "Binatang ini cerdik," kata Ceng Ceng, yang menjadi kagum.

Ketika sang kodok egos tubuhnya, sang kawa-kawa sudah lompat lewati dia, di lain pihak, bisanya sang kawa- kawa sudah lantas bekerja, maka di lain saat, tergulinglah sang kodok ini, dia rebah celentang, terus dia mati!

Di pihak lain, sang ular hijau sedang dikejar oleh sang kelabang, agaknya dia ketakutan sekali, hingga dia lari di samping tubuh sang kodok, sembari lewat, mendadak dia pentang mulutnya, dia sambar sang kawa-kawa, untuk dicaplok masuk ke dalam perutnya! Kemudian dengan satu caplokan lain, dia sambar juga tubuh sang kodok.

Melihat demikian, sang kelabang lalu sambar bangkai kodok itu, hingga sekarang mereka jadi berkutatan, saling tarik. Rupanya sang kelabang tahu, apabila berhasil sang ular makan tiga kurbannya, musuh ini bakal jadi terlalu tangguh untuknya, sebab tiga macam racun, empat dengan kepunyaannya sendiri, sang ular pasti sukar untuk dikalahkan.

Dalam pertempuran tenaga itu, sang ular kalah ulet, dengan pelahan, dia kena terbetot sang kelabang, dan sang kelabang sudah mulai gigit tubuhnya sang kodok.

Bingung sang ular, ingin dia lepaskan tubuh sang kodok, untuk pergi lari, agaknya dia sangsi. Pun sulit untuk dia

888 muntahkan tubuh sang kodok itu, karena biasanya dia punya gigi, bagaikan gaetan, menyantel barang, dan biasanya dia cuma menelan, tak bisa melepehkan.

Benar saja, sebentar kemudian sang ular telah jadi kurbannya sang kelabang.

Setelah menjadi juara, dengan perut pun kenyang, kelabang itu jalan putari meja, dia angkat kepalanya, agaknya dia sangat puas dan bangga.

Sin Cie lihat kelabang itu, dengan perutnya gendut, tidak kendor gerak-geriknya, ia menjadi heran.

"Binatang ini kuat makannya," kata dia pada Ceng Ceng.

"Dia telah makan empat macam bisa, dia sekarang menjadi Tay-seng, nabi terbesar," Ho Tiat Chiu, kepala dari Ngo Tok Kau, nyeletuk terhadap Sin Cie. "Dia sekarang jadi bertambah tangguh, hingga dia sanggup telan lagi beberapa ekor lainnya!"

Sin Cie agaknya tidak percaya keterangan itu, melihat demikian, kaucu dari Ngo Tok Kau perintah kacungnya: "Pergi ambil Ceng-jie!"

Seorang kacung pergi ke dalam, untuk muncul bersama tujuh ekor ular hijau, ialah yang si kepala agama namakan "Ceng-jie", si "hijau". Semua ular itu dilepas di atas meja, yang kelung itu.

Melihat ada musuh baru, sang kelabang lantas lompat maju, untuk menerkam.

Tujuh ekor ular itu kumpulkan diri menjadi satu lingkaran, masing-masing keluarkan kepalanya, untuk tangkis serbuan. Dengan begitu, pertempuran sudah lantas berlangsung. Beberapa kali sang kelabang menerjang, akhirnya dia dapat gigit lehernya seekor musuh, yang terus dia betot keluar dari dalam rombongannya.

Setelah berhasil, sang kelabang tidak lantas makan daging musuh, ia hanya letaki itu di belakang, ia sendiri mulai lagi dengan penyerangannya terlebih jauh kepada musuh-musuhnya, hingga pertarungan jadi berlangsung pula.

Dalam saat itu, mendadak Kim-ie Tok Kay keluar dari dalam barisannya, dia hampirkan Ho Tiat Chiu di depan siapa ia berlutut dengan kaki sebelah.

"Kau-cu, Kim-jie bergerak tak hentinya," katanya. "Kelihatannya tak dapat tidak, dia mesti dikasih keluar..."

Wanita cantik itu kerutkan alisnya. "Ah, dia usil!" katanya. "Baiklah!"

Cee In Go rogoh sakunya, untuk keluarkan satu bumbung atau pipa besi, terus ia buka sumpelnya, untuk keluarkan isinya, ialah itu ular kecil warna kuning emas yang ia tangkap beberapa hari yang lalu sehabisnya si ular kecil tempur si ular besar.

Begitu keluar dari lobang bumbung, ular kuning itu lantas saja unjuk kegagahannya. Dia berlompat ke atas meja, dia segera maju ke depan enam ekor ular hijau, untuk menghalang.

Melihat ular kuning ini, sang kelabang mundur dengan segera.

Enam ular hijau berkumpul jadi satu, mereka ringkaskan tubuh mereka. Mereka berlaku begini begitu lekas tampak ular kuning emas itu, yang dipanggil si "Kim-jie", si "emas". Ular kuning itu, tak perduli tubuhnya kecil sekali, sudah lantas serang sang kelabang.

Sin Cie dan Ceng Ceng sudah saksikan kegagahannya, mereka tahu pasti, sang kelabang tidak punya pengharapan. Benar saja, belum lama, sang kelabang kena digigit hingga dia mati seketika.

Lantas keenam ular hijau rubungi ular kuning emas itu, ada yang menjilat-jilat dengan lidahnya, rupanya untuk hunjuki rasa syukur.

"Tidak disangka, dalam kalangan ular pun ada pendekarnya!" kata Sin Cie sambil tertawa.

Dengan tiba-tiba saja timbul keinginannya si Nona Hee, rupanya dia ingat suatu apa.

"Aku inginkan ular kuning emas itu!" katanya. Ia berbisik di kuping pemuda kita.

"Omongan bocah cilik!" Sin Cie bilang. "Mana orang sudi memberikannya?"

"Kau ingat tidak?" Ceng Ceng berbisik pula. "Apakah julukannya ayahku?"

Sin Cie tergetar hatinya.

"Apa mungkin Kim Coa Long-kun ada hubungannya sama ular kuning emas ini?" katanya. Ular kuning emas adalah "Kim-coa".

Sementara itu si uwah awasi Ceng Ceng tak hentinya, rupanya dia dengar perkataannya Sin Cie, mendadak dia berlompat dari dalam rombongannya, dia berlompat kepada si Nona Hee seraya ulur kedua tangannya ke arah pundak nona itu.

"Kau pernah apa dengan Kim Coa Long-kun?" tanya dia. Aneh luar biasa! Begitu jelek romannya uwah ini, suaranya nyaring-halus bagaikan suara burung kenari, sedap didengarnya.

Ceng Ceng kaget, dia lompat mundur. "Apa kau mau?" dia menegur.

Hampir berbareng dengan itu, dua orang yang mendampingi kiri dan kanannya Ho Kau-cu telah berlompat ke kedua sampingnya si uwah. Dengan berbareng mereka pun menegur: "Dimana adanya sekarang si orang she Hee itu?"

Sin Cie telah saksikan cara berlompat musuh yang gesit sekali, dia mengerti kedua orang itu bukannya orang-orang sembarangan, maka ia mengawasi dengan waspada. Ia tampak mereka bertubuh tinggi kurus dan sedang, dan yang tubuhnya sedang itu bermuka hitam, romannya sebagai petani. Rata-rata mereka berumur kurang-lebih lima-puluh tahun.

Dulu Ceng Ceng belum tahu asal-usul dirinya, dia merasa malu sendirinya, akan tetapi setelah dia dengar keterangan ibunya, dia jadi beruba sikap, dia malah sangat bangga terhadap ayahnya, kebanggaan itu tak pernah kunjung padam. Maka itu, atas teguran kedua orang ini, dia angkat kepalanya.

"Kim Coa Long-kun itu ayahku," dia jawab. "Apa perlunya kau tanya tentang ayahku itu?"

Si wanita tua tertawa dengan sekonyong-konyong, suara tertawanya panjang, lagunya membuat orang jadi gentar hati.

"Jadinya dia belum mampus dan dia telah tinggalkan kau sebagai turunan celaka!" bentaknya. "Ada dimana dia sekarang?" si jangkung-kurus menegur. Ceng Ceng angkat kepalanya.

"Perlu apa aku jawab kamu?" katanya secara menantang.

Sepasang alisnya si uwah terbangun, kedua tangannya menyambar muka Ceng Ceng.

Inilah hebat untuk nona Hee, yang tak keburu berkelit, sedang sepuluh jarinya wanita tua itu berkuku tajam semua. Coba kuku beracun itu mengenai muka yang putih-bersih dan halus itu?

Sin Cie ada di dekat Ceng Ceng, segera ia ayun tangan kanannya, yang ujung bajunya panjang, ia sampok kedua lengannya si penyerang, ia teruskan putar naik tangannya, untuk libat kedua lengan orang, setelah mana, dia mendorong.

Tidak ampun lagi, uwah itu terpelanting, dia jumpalitan, maka ketika tubuhnya mengenai tanah, dia jadi duduk numprah.

Kejadian itu membuat kaget semua anggauta Ngo Tok Kau, sebab si wanita tua itu, Ho Ang Yo namanya, si Bunga Merah, adalah salah satu jago mereka, malah derajatnya lebih tinggi setingkat daripada kaucu mereka. Apa tidak aneh sekarang, jago itu rubuh di tangannya seorang anak muda yang tidak dikenal? Dan jatuhnya pun secara demikian gampang?

Segera si jangkung-kurus, yang bernama Phoa Siu Tat, dan si orang tani, yang bernama Thia Kie Su, yang dalam rombongannya berkedudukan sebagai Co-yu Hu-hoat, atau pelindung kiri dan kanan dari ketua Ngo Tok Kau, saling berpaling dan manggut, kemudian Siu Tat kata secara menantang: "Biarkan aku yang terima pengajaran!" Dan ia terus maju. "Wan Siangkong, biar aku yang sambut dia," kata See Thian Kong pada Sin Cie.

Anak muda kita percaya, orang she See ini tentu bukan tandingan musuh itu, akan tetapi tidak leluasa untuk ia mencegah, maka ia pesan: "Saudara See, gunai kipasmu! Jeriji tangan bersarung lancip, itulah senjata dia!"

See Thian Kong menurut, ia lantas keluarkan kipasnya, kipas Im-yang-sie, maka di lain saat, ia sudah bertempur sama musuh itu.

Di sebelah ini, seperti yang berjanji, Thia Kie Su majukan diri dan disambut A Pa, si empeh gagah, malah berdua mereka lantas saja bertempur dengan seru sekali.

Pertempuran kalut menyusul dua rombongan yang pertama ini. Orang-orang Ngo Tok Kau mulai lebih dahulu, maka itu Ou Kui Lam bersama Thie Lo Han dan Ceng Ceng terpaksa hunus senjata, untuk layani mereka, jikalau tidak, pasti See Thian Kong dan A Pa akan kena dikeroyok.

Adalah si uwah jelek, Ho Ang Yo, yang sebagai orang kalap lompat ke arah Ceng Ceng, agaknya dia sangat musuhkan si Nona Hee.

Sin Cie percaya pengemis wanita tua itu mengandung kebencian hebat terhadap Ceng Ceng, entah ada dendaman apa, ia cuma duga, mestinya itu ada hubungannya dengan Kim Coa Long-kun, jikalau tidak, tidak nanti karena dengar disebutnya nama jago she Hee itu, uwah ini segera unjuk kemurkaan luar biasa. Ia pun insyaf, tidak dapat uwah itu diijinkan turun tangan jahat terhadap Ceng Ceng, yang pasti bukan tandingannya. Maka itu, begitu lekas orang telah datang dekat, selagi si uwah hendak serang Nona Hee, dengan sebat dia lompat ke sampingnya, akan jambak bebokong orang itu, akan terus diangkat tubuhnya dan dilemparkan!

894 Ho Thiat Chiu saksikan kejadian itu, air mukanya lantas berubah menjadi padam, segera ia bawa telunjuk kanannya ke mulutnya, untuk perdengarkan suitan, beberapa kali beruntun.

Kalau tadi orang-orang Ngo Tok Kau maju dengan cepat sekali, untuk terjang musuh, maka sekarang, atas bunyinya suitan itu, mereka mundur dengan tak kurang sebatnya, semua lantas berkumpul di sebelah belakang kaucu mereka, berdiri rapi dalam dua barisan.

Setelah itu, ratu agama itu perlihatkan senyumannya. "Wan Siangkong," katanya dengan sabar dan manis,

"nampaknya kau begini lemah-lembut, tidak disangka-

sangka, ilmu kepandaianmu liehay sekali. Wan Siangkong, biarlah aku yang main-main barang beberapa jurus denganmu..."

Sin Cie tidak lantas terima tantangan itu.

"Satu hal membuat aku tidak mengerti," katanya. "Sahabat-sahabatku ini semua tidak kenal-mengenal dengan rombonganmu, tak tahu kami, di bahagian mana kami telah bersalah terhadap kamu. Walaupun demikian, aku yang rendah bersedia untuk menghaturkan maaf."

Wajahnya Ho Tiat Chiu merah karena pertanyaan itu yang berupa teguran.

"Sebenarnya, kami cuma berurusan dengan pihak pembesar negeri," kata dia dengan pelahan, suaranya halus. "Pasti sekali Wan Siangkong tidak mengerti duduknya hal. Tapi ini biarlah. Barusan ada disebut-sebut nama Kim Coa Long-kun, hal menjadi lain. Sekarang siau-moay mohon tanya, Kim Coa Long-kun itu ada di mana?" Sin Cie berlaku hormat dan merendah, ratu agama itu pun bersikap manis, hingga ia membahasakan diri siau- moay, adik yang kecil.

Ceng Ceng tarik tangannya Sin Cie. "Jangan beri tahu," dia kisiki itu pemuda.

"Apakah kau-cu memang kenal Kim Coa Long-kun?" Sin Cie balik menanya.

"Dengan kaumku, dia punya hubungan yang sangat erat," sahut kepala agama dari Ngo Tok Kau itu. "Ayahku telah meninggal dunia karena dia. Karenanya, dari dua puluh ribu anggauta Ngo Tok Kau kami, tidak ada satu anggauta yang tidak berniat mencari padanya!"

Diam-diam Sin Cie terperanjat, juga Ceng Ceng. Itulah hebat! Apakah urusan itu? Sayang mereka belum pernah ketemu sama Kim Coa Long-kun, hingga mereka tidak dapat tanyakan sebabnya urusan itu. Mereka heran, kenapa Kim Coa Long-kun telah tanam permusuhan dengan rombongan agama yang memuja bisa ini? Terang sekali kebencian sangat dari pihak Ngo Tok Kau itu.

"Kim Coa Long-kun berada di satu tempat yang terpisah laksaan lie dari sini," sahut Sin Cie. "Aku kuatir tuan-tuan tak akan dapat cari dia sekalipun untuk selama-lamanya. "

"Jikalau begitu, tinggalkanlah puteranya ini di sini, untuk kami pakai dia sebagai kurban sembahyang roh ayahku!" kata Ho Tiat Chiu.

Kau-cu ini percaya Nona Hee ada satu putera, sebab Ceng Ceng dandan sebagai satu pemuda. Ia pun mempunyai gerak-gerik yang luar biasa sekali. Ia gampang bersenyum, lagaknya mirip dengan nona-nona remaja yang kebanyakan, suaranya pun lembut, akan tetapi satu waktu, dia bisa unjuk keangkaran dan suaranya jadi keren. Demikian kali ini.

Sin Cie tetap berlaku tenang dan sabar.

"Adalah pembilangan sejak jaman purbakala, siapa melakukan sesuatu, dia sendiri yang harus bertanggung- jawab," katanya. "Kamu mempunyai sangkutan dengan Kim Coa Long-kun, baiklah kamu pergi cari dia itu sendiri."

Ho Tiat Chiu pun menjadi sabar pula ketika ia berkata lagi.

"Ketika dahulu ayahku almarhum menutup mata, siau- moay Baru berusia tiga tahun," katanya. "Sudah dua-puluh tahun kami cari locianpwee she Hee itu, tidak juga siau- moay berhasil. Itulah sebabnya kenapa siau-moay ingin tahan puteranya ini. Kalau locianpwee itu ketahui puteranya berada di sini, pasti dia bakal datang mencari. Asal dia datang kemari maka urusan kita yang telah tertangguh lama itu segera akan menajdi beres."

Ceng Ceng jadi sangat gusar. Dia hendak ditahan, untuk dijadikan "manusia tanggungan". Itulah hebat. Maka tak dapat dia kendalikan diri lagi.

"Hm, bagus pikiranmu!" dia menjengeki. "Aku nanti beritahu ayahku tentang tingkah tengik kamu ini, supaya dia bunuh mampus kamu semua!"

Ho Tiat Chiu tidak ladeni nona ini. Dia menoleh pada Ho Ang Yo.

"Adakah dia ini mirip dengan ayahnya?" tanya dia. "Romannya mirip benar satu dengan lain, dan tabeatnya

pun hampir sama!" jawab si uwah.

Kaucu itu segera hadapi Sin Cie. "Wan Siangkong, aku persilakan kamu semua pergi pulang," kata dia. "Kami cuma hendak menahan ini satu Hee Kongcu."

Dan ia geraki tangannya, sebagai tanda untuk mempersilahkan tetamu-tetamunya berangkat pergi.

Sin Cie berpikir dengan cepat.

"Dia cuma inginkan Ceng Ceng satu orang, karena keadaan di sini berbahaya, baik aku dului antar dia keluar. Yang lain-lain umpama kata mereka tidak dapat lolos, mereka tentu tidak terancam bahaya hebat..."

Maka lantas saja dia menjura kepada kepala agama itu. "Nah, sampai ketemu pula!" katanya.

Berbareng dengan ucapannya itu, Sin Cie sambar pinggang Ceng Ceng dengan tangan kiri, sambil pondong si nona, ia lompat ke arah tembok yang tinggi, tetapi ia tidak perdulikan itu. Lagi sekali dia lompat, untuk enjot kedua kaki, pondongannya diangkat ke tinggi, untuk dilemparkan ke atas, untuk mana, tangan kanannya membantu menolak dengan keras.

"Hati-hati, adik Ceng!" dia pesan.

Orang-orang Ngo Tok Kau saksikan kejadian itu, mereka jadi sangat murka, untuk merintangi, beberapa di antaranya segera menyerang dengan senjata rahasianya masing- masing.

Sin Cie kibaskan pulang-pergi tangannya, yang bertangan baju panjang, dengan itu ia halau sesuatu senjata rahasia musuh itu, yang pada jatuh ke tanah.

Ceng Ceng telah membarengi berlompat ketika ia diapungi Sin Cie, ia jambret tembok, untuk naik keatasnya. Justru itu, Ho Tiat Chiu lompat dari kursinya, dia serang Sin Cie dengan tangan kirinya.

Anak muda ini terkesiap karena penyerangan kau-cu itu. Tangan yang menyerang belum sampai, anginnya sudah menyambar hidungnya. Sejak dia turun gunung, belum pernah dia ketemu musuh yang liehay sekali, kecuali dia punya Jie-suko Kwie Sin Sie. Makanya, di sebelah terkejut, dia pun kagumi kepala agama Ngo Tok Kau ini.

"Bagus!" dia berseru seraya egos tubuhnya, sambil berbuat mana, matanya segera tampak, tangan yang dipakai menyerang dia merupakan gaetan lancip dan tajam, warnanya hitam, hingga kembali ia jadi kaget.

Selagi menyerang Sin Cie, tangan kanannya Ho Tiat Chiu terayun ke tinggi, ke arah Ceng Ceng, menyusul mana sebelah gelang emasnya melesat naik ke tembok.

"Kau turun!" dia berseru, suaranya nyaring tapi tetap halus.

Ceng Ceng merasakan sangat sakit pada kaki kirinya, tak dapat ia pertahankan itu, kedua tangannya pada tembok terlepas, ia rubuh ke kaki tembok.

Ho Ang Yo perdengarkan suara tertawanya yang panjang dan menyeramkan, dia berlompat kepada puterinya Kim Coa Long-kun, sepuluh jarinya yang tajam dan liehay, yang beracun, diarahkan kepada nona dalam penyamaran itu.

Sementara itu, Sin Cie telah mesti layani Ho Tiat Chiu, yang habis serang Ceng Ceng dengan senjata rahasianya terus terjang pula anak muda ini, Tadi tidak sangka nona ini bisa membarengi menyerang Ceng Ceng, kalau tidak, tentu ia sudah menghalanginya. Sekarang ia mesti layani serangan sangat hebat dari ini kepala agama. Meski begitu, ia masih sempat perhatikan Ceng Ceng, maka tempo ia tampak serangan berbahaya dari Ho Ang Yo, dengan sebat ia serang uwah itu dengan beberapa butir biji caturnya, hingga semua sepuluh sarung kukunya si wanita tua jadi copot dari jeriji-jerijinya dan jatuh ke tanah, hingga Ceng Ceng jadi lolos dari ancaman malapetaka.

"Bagus!" Ho Tiat Chiu puji lawannya, yang ia kagumkan kepandaiannya menggunai senjata rahasia itu, berbareng dengan mana, tangan kirinya tetap mendesak dua kali beruntun, karena tak pernah ia hambat serangannya.

Sin Cie pun heran akan saksikan kedua tangannya lwan wanita ini, kedua tangan yang ia telah lihat dengan tegas. Tangan kanan si nona putih dan halus, bagaikan es atau salju, lima jarinya lurus dan lentik, kelima kukunya dipakaikan cat kuku terbuat dari sarinya bunga hongsian, kapan tangan kanan itu dipakai menyerang, berbareng sama keliehayannya, pun ada menyiarkan bau harum. Akan tetapi tangan kirinya, entah kenapa, seperti telah dikutungi sebatas telapakan tangan, sebagai gantinya dipasangi gaetan terbuat dari besi yang tajam sekali, gaetan mana bisa dikasi bekerja sama liehaynya dengan tangan biasa.

"Saudara See, lekas kamu cari jalan keluar!" seru Sin Cie sambil terus layani si nona.

See Thian Kong beramai sebaliknya sudah dikurung rapat oleh orang-orang Ngo Tok Kau itu, mereka berjumlah jauh lebih kecil, sulit untuk mereka menoblos kurungan.

Dalam melayani musuh, Sin Cie pergunakan "Hok-hou- ciang", ilmu silat "Menaklukkan Harimau". Ia sebenarnya harus berlaku telengas, akan tetapi ia dapati lawannya desak ia dengan hebat tapi tanpa serangan-serangan yang membahayakan, orang seperti memandang-mandang kepadanya, ia pun jadi berlaku tenang. Rupanya, kalau bisa, si nona hendak dapat rabah tubuh si anak muda, untuk ditangkap tanpa berdaya...

Selama pertempuran berlangsung itu, Ceng Ceng numprah saja di tanah, tak dapat ia bangun berdiri. Sin Cie lihat keadaan kawannya itu, ia niat menolong, maka ia lantas desa Ho Tiat Chiu, lalu selagi si nona mundur, mendadak dia lompat pada Nona Hee, untuk dikasi bangun.

Hampir berbareng dengan itu, Sin Cie dengar suara beradu keras. Itulah Thie Lo Han, yang bentrok hebat dengan Thia Kie Su. Atas bentrokan itu, tautoo ini berseru, lalu ia menyerang lagi, dengan hebat, hanya kali ini, Baru beberapa jurus, ia telah rasai tangannya sakit dan berat. Sebab tangan itu menjadi bengkak dengan lekas sekali, hingga berbareng sangat mendongkol, dia pun sibuk.

"Tangan musuh ada racunnya semua, awas!" dia teriaki kawan-kawannya, untuk diberi peringatan.

Mendengar seruan dari kawan itu, mendadak Sin Cie ingat, semua musuh dari Ngo Tok Kau itu telah pahamkan Tok-see-ciang, ilmu "Tangan Pasir Beracun" yang liehay, asal orang kena terserang, mesti dia jadi kurbannya racun. Karena ini ia anggap, benar-benar pihaknya sedang terancam bahaya hebat, bila tidak lekas-lekas mereka loloskan diri, mereka akan hadapi malapetaka, semua bakal terkubur di sarang penjahat itu.

Ho Tiat Chiu berlaku gesit, menampak lawannya tolongi puterinya Kim Coa Long-kun, dia mendesak pula.

"Ho Kau-cu!" Sin Cie berkata, "kita berdua tidak kenal satu dengan lain, kita tidak pernah bermusuhan, kenapa kau desak kami begini rupa? Jikalau kau tidak ijinkan kami berlalu dari sini, jangan nanti kau sesalkan aku keterlaluan!" Nona she Ho itu, kepala dari Ngo Tok Kau, tertawa manis, hingga kelihatanlah sepasang sujennya.

"Kami cuma menghendaki supaya Hee Kongcu ditinggal di sini," katanya. "Untuk yang lain-lain, silahkan pergi!"

Tentu saja tak sudi Sin Cie tinggal Ceng Ceng. Maka ia sambut jawaban itu dengan sapuan kaki kiri sambil berbareng tangan kanannya menyambar ke muka si nona.

Ho Tiat Chiu tolong diri sambil berlompat seraya tangannya yang sebelah dipakai menangkis, untuk papaki tangan kanan lawannya itu. Akan tetapi sebelum kedua tangan bentrok, cepat-cepat dia egos tangannya itu, ia baliki untuk pakai jarinya menotok lawan punya jalan darah kiok- tie-hiat. Sebat luar biasa perubahan gerakan tangannya ini.

"Bagus!" Sin Cie memuji dengan suaranya pelahan seraya ia elakkan tangannya itu dari totokan, sedang dengan tangan kirinya, ia membabat batang leher lawan itu. Ia telah dapat kenyataan, walaupun si nona bertangan beracun, dia toh jeri untuk serangan-serangannya. Habis ini, ia mengubah serangan dengan "Poh-giok-kun", ilmu silat "Memecahkan batu kumala", ilmu pukulan mana Lau Pwee Seng tidak sanggup melayaninya selama lima jurus meskipun Pwee Seng dijuluki "Sin-kun Thay-Po", "pahlawan kepala".

Ho Tiat Chiu liehay, akan tetapi didesak dengan ini ilmu pukulan yang Baru, dia repot juga, tidak berani dia sembarang menangkis, kalau tadinya ia sering bersenyum, sekarang romannya jadi sungguh-sungguh, tandanya ia tidak berani memandang enteng lagi. Ia segera perlihatkan keentengan tubuhnya, kelincahannya, untuk bisa melayani terus. Tapi, selagi ia berlaku cepat, gerakannya Sin Cie lebih gesit pula. Kemudian, sedangnya si nona mundur karena terdesak, hingga mereka datang dekat kepada Kim-ie Tok Kay Cee In Go, dengan mendadak pemuda kita serang si pengemis tak berbudi itu - dengan kepalan tangan.

"Bagus!" berseru Cee In Go, yang lihat serangan itu sambil menangkis dengan tangannya yang kiri, untuk bentur tangan lawan.

Sin Cie mendak, tangan kanannya ditarik pulang, sebaliknya, tangan kirinya dipakai menyambar ujung baju lawannya itu, untuk dipegang, berbareng dengan mana, kaki kanannya dimajukan, untuk dipakai menggaet kedua kaki lawan itu, sedang kaki kirinya, sebat sekali, ia pakai menjejak dengkul kanan lawan tepat bahagian batok dengkul itu.

Cee In Go tidak berdaya untuk pelbagai serangan berbareng itu, tak sempat ia singkirkan kakinya itu, malah tak bisa ia berbuat demikian, karena kaki kanan musuhnya sudah mendahului melibat. Dengan hebat ia kena terjejak, sampai batok dengkulnya seperti mau copot, hingga ia merasakan sakit bukan kepalang. Tidak ampun lagi, ia rubuh mendeprok!

Ou Kui Lam adalah yang lawan Kim-ie Tok Kay, melihat sang lawan rubuh, dia lantas meninggalkannya, untuk pergi hampirkan tiga musuh yang sedang kerubuti See Thian Kong.

"Mundur ke tembok!" teriak Sin Cie. "Aku nanti yang menolongi!"

Mendengar itu, Kui Lam batal membantui Thian Kong, sebaliknya ia dekati Ceng Ceng, untuk bawa dia ini ke tepi tembok, kemudian ia pun kumpuli Thie Lo Han dan Sian Tiat Seng yang pada terluka.

Sin Cie sendiri segera perhatikan lain-lain kawannya. Ia lihat bagaimana See Thian Kong dan A Pa masing-masing melayani tiga musuh yang sedang kepung mereka itu. Tidak tempo lagi, ia bergerak untuk berikan pertolongannya. Untuk ini, ia tendang bergantian dua orang Ngo Tok Kau, yang menerjang kepadanya, setelah mereka ini rubuh, ia lompat kearah See Thian Kong.

Tiga penyerangnya orang she See itu pun telah mendapatkan luka-luka tak berarti, masih mereka mengepung terus. Sin Cie lantas serang mereka itu, tapi ia tidak ingin mencelakai terlalu banyak orang, iapun segar bentur tangan-tangan Tok-see-ciang, maka ia berkelahi dengan ilmu silatnya "Hun-kin Co-kut-chiu", saban-saban ia bikin orang rubuh pingsan atau tak mampu bergerak lagi.

Sebentar saja, See Thian Kong telah dapat dibebaskan dari kepungan, maka itu, pemuda ini lantas hampirkan A Pa, si empeh gagu. Dia ini dikepung bertiga, tidak bisa dia kalahkan musuh-musuhnya tetapi ia sendiri masih cukup gagah, leluasa ia melayaninya, sebab ia telah wariskan cukup baik ilmu silat Hoa San Pay.

Ho Tiat Chiu tampak keadaan merugikan pihaknya, ia perdengarkan pula suitannya, maka sekarang orang-orang Ngo Tok Kau meluruk pada Sin Cie dan si empeh gagu. Melihat demikian, Sin Cie unjuk kegesitannya, dengan cepat ia rubuhkan satu lawan dan lukai lengannya yang lain, sedang A Pa dapat kesempatan toyor musuhnya yang ketiga selagi dia ini terkesiap mendapatkan dua kawannya kena dikalahkan.

A Pa telah jadi sangat sengit, ingin ia susuli musuhnya yang telah mengeluarkan kecap dari hidungnya, akan tetapi Sin Cie tarik ia kekaki tembok dimana kawan-kawan mereka sudah berkumpul menjadi satu, sedang dilain pihak, orang-orang Ngo Tok Kau pun sudah berkumpul, untuk taati titah kepala agamanya, akan serbu musuh. Rombongan Ngo Tok Kau ini menjagoi diwilayah Inlam, sesuatu orang kangouw, atau Sungai Telaga, mendengar nama mereka saja sudah kerutkan alis dan menggeleng kepala, semua jeri, karena tidak saja mereka liehay ilmu silatnya, yang sangat dimalui adalah kuku-kuku mereka yang berbisa, siapa terkena kuku itu, asal lecet saja, tentu bakal terbinasa. Akan tetapi, siapa nyana, di Utara ini, Baru mereka datang, mereka telah menghadapi musuh yang liehay, maka disebelahnya kaget dan heran, mereka pun mendongkol dan gusar sekali. Begitu Ho Tiat Chiu, dengan suitannya, ia telah beri tanda untuk orang-orangnya meluruk kepada musuh mereka.

"Kamu semua lekas menyingkir, aku nanti pegat mereka!" seru Sin Cie pada kawannya.

Ou Kui Lam, yang kepandaiannya entengi tubuh cukup liehay, taati seruannya pemuda itu, yang berbareng jadi beng-cu, ketua ikatan, dari tujuh propinsi. Dengan kepandaiannya "Pek-hou yu chong kong," atau "Cecak memain ditembok," dia merayap ditembok, untuk naik keatasnya, lalu dengan dibantu A Pa dan Thian Kong, ia sambut kawannya yang terluka. Si empeh gagu dan Thian Kong adalah yang naik paling belakang.

Sin Cie sementara itu sudah tangkis serbuan musuh- musuhnya, dengan cepat ia telah rubuhkan belasan orang, sesudah mana, dengan angkat kedua tangannya, ia beri hormat pada kaucu dari Ngo Tok Kau.

"Nona Kau-cu, sampai ketemu pula, sampai ketemu pula!" katanya, kemudian dengan bebokongnya ditempel pada tembok, hingga dilain saat, ia sudah nyerosot naik ditembok itu. Sebentar saja, ia pasti akan sudah sampai diatas. Ho Ang Yo si wanita tua menjerit melihat orang hendak kabur, ia enjot kedua kakinya, untuk apungi diri, akan sambar musuh itu, sedang lima jari tangannya mendahului, menyerang ke jurusan tubuh sang lawan. Ia percaya, selagi nyerosot naik, musuh itu tidak bakal sanggup menangkis atau mengelakkan serangannya itu.

Sin Cie memang berada dalam keadaan keponggok, tak bisa ia berkelit, akan tetapi kedua tangannya ada merdeka, begitu diserang, ia kibaskan tangan kirinya, yang ujung bajunya panjang, hingga tangannya si uwah jelek jadi kena tersampok, sampai tangan dengan kuku-kuku yang liehay itu berbalik menyerang ke arah dirinya sendiri.

Kaget sekali wanita tua-bangkotan ini.

"Apakah kau ada muridnya Kim Coa Long-kun?" tegur dia.

Heran Sin Cie mendengar ini. "Mesti ada hubungannya di antara dia dan Kim Coa Long-kun," pikirnya. Karena uwah ini kenali diapunya ilmu pukulan menghalau serangan kuku yang berbahaya itu.

Walaupun ia heran, Sin Cie toh tidak berhentikan gerakan tubuhnya, malah belum sempat dia menjawab, dia sudah sampai di atas tembok, akan terus lompat kesebelah luar, untuk susul kawan-kawannya.

A Pa beramai telah lindungi Ceng Ceng sampai ditembok yang keempat, justru itu, mereka dengar satu suara berkeresek yang nyaring menyusul mana pada tembok terbukalah satu lowongan beberapa kaki lebarnya.

Sin Cie tahu, itulah pintu rahasia, maka untuk lindungi A Pa semua, ia lompat melesat kearah pintu rahasia itu, tanpa berayal lagi ia menyerang dengan kedua tangannya dengan tipu-silatnya "Pay san to hay" atau "Mendorong gunung untuk menguruk lautan."

Berbareng sama terpentangnya pintu rahasia, serombongan orang Ngo Tok Kau tertampak meluruk datang, untuk keluar dari situ, tetapi dua yang maju paling depan telah jadi kurban serangannya anak muda kita, tanpa ampun mereka rubuh jumpalitan beberapa kali, kembali kesebelah dalam, karena mana kawan-kawannya jadi merandak, tak berani mereka lancang maju.

Phoa Siu Tat licik, dia lantas berikan tanda titahnya, atas mana empat anggauta Ngo Tok Kau segera angkat bumbung mereka, yang merupakan sumpitan, untuk menyemburkan barang cair kearah Sin Cie. Itu adalah air racun mereka.

Sin Cie kaget sekali, belum ia sampai kena tersemprot, hawa busuk telah bikin kepalanya rada pusing, syukur ia dapat berlompat mundur dengan cepat, ia jadi lolos dari bahaya. Dengan menyingkir jauh-jauh, semprotan air racun tidak sampai kepadanya, air racun itu jadi menyiram melulahan disebelah depan dia. Air racun itu bersemu hitam dan baunya keras.

Tembok di belakang Sin Cie ada tembok kuning, yang jauh lebih kate daripada tembok-tembok lainnya disebelah dalam, maka itu di sini ia tidak gunai ilmu merayapnya "Cecak main ditembok," ia hanya enjot tubuhnya, untuk berlompat, hingga dilain saat, ia sudah sampai kebahagian atas tembok. Dari sini ia lompat keluar dengan tidak memutar tubuh lagi, hanya sambil lompat jumpalitan, secara begini ia jadi tidak mensiasiakan tempo.

Ho Tiat Chiu dapat lihat cara berlompat itu. "Bagus!" serunya tanpa dia merasa. Sin Cie susul kawannya terus sampai ditembok terakhir, yang warnanya hitam. Ia tidak lihat orang mengejar akan tetapi tak mau ia membuang-buang tempo. Malah untuk bisa lari lebih cepat lagi, ia sambar Ceng Ceng, untuk dipanggul dibelakangnya, bersama semua kawannya itu, ia kabur terus.

Benar disaat mereka mendatangi dekat rumah mereka, Sin Cie merasakan gatal-gatal pada pundaknya, ada hawa panas yang menghembusnya, apabila ia menoleh ke belakang, Ceng Ceng tertawai ia, si nona cekikikan pelahan. Maka legalah hatinya, sebab itu ada suatu tanda kawan ini tidak terluka parah.

Segera setelah sampai didalam rumah, Sin Cie lantas keluarkan mustikanya, untuk tolongi Thie Lo Han dan Sian Tiat Seng, kemudian Baru ia periksa lukanya Ceng Ceng, yang menjadi kurban senjata rahasia yang berupa gelang dari kepala agama Ngo Tok Kau.

Kakinya si nona, yang terkena gelang, yang tadinya putih-bersih, sekarang telah menjadi berwarna hitam dan bengkak juga, suatu tanda liehaynya serangan dari Ho Tiat Chiu. Sin Cie lantas mengobatinya.

Adalah kemudian, selagi semua orang beristirahat, Sin Cie minta keterangan pada Sian Tiat Seng tentang Ngo Tok Kau, itu pengemis yang memuja ular berbisa.

"Ngo Tok Kau itu biasanya tidak pernah melintas keluar dari wilayah mereka, keempat propinsi Inlam, Kwiecioo, Kwiesay dan Kwietang, sama sekali belum pernah mereka datang ke Utara," sahut Tokgan Sin-Liong dengan keterangannya, "meskipun demikian, umum ketahui baik keliehayan mereka. Sekalipun dalam kalangan Rimba Persilatan, asal orang omong tentang Ngo Tok Kau, wajah muka orang pasti berubah karena gelisah sendirinya. Sebegitu jauh yang aku ketahui, tak pernah ada orang yang berani main gila terhadap rombongan pengemis itu."

Thia Ceng Tiok diam saja sedari tadi, ia telah kerutkan alis ketika ia dengar hal pertempuran di gedung Pangeran Seng Ong itu, akan tetapi, seperti orang yang ingat suatu apa, sehabis katanya Sian Tiat Seng, ia campur bicara.

"Wan Siangkong," katanya, "orang bilang Uy Bok Toojin dari Bu Tong Pay telah terbinasa ditangannya kawanan Ngo Tok Kau itu..."

"Bagaimana cara kematiannya itu? Siapakah yang telah menyaksikannja?" Sin Cie tanya.

"Jikalau ada yang telah menyaksikan, mestinya saksi itu sendiri tidak akan luput dari tangannya orang-orang Ngo Tok Kau," sahut Ceng Tiok. "Menurut kalangan orang kangouw, kebinasaannya Uy Bok Toojin itu ada dalam cara sangat hebat dan menyedihkan. Pernah orang-orang Bu Tong Pay meluruk ke Inlam, untuk mencari balas, akan tetapi tidak ada hasilnya. Ngo Tok Kau itu adalah satu rahasia untuk umum..."

Tiba-tiba See Thian Kong perdengarkan suara tak nyata, kemudian dia tegasi Ceng Tiok: "Saudara, Thia, apa benar- benar kau tidak kenal pengemis wanita tua itu?"

Ditanya begitu, Thia Ceng Tiok perlihatkan roman duka.

"Aku percaya saudara-saudara merasa heran, sebenarnya aku mempunyai kesulitan, yang sukar untuk aku menjelaskannya," kata dia kemudian.

See Thian Kong tertawa.

"Aku pernah tempur kau, aku tahu, makin tua kau makin gagah!" katanya. "Siapa juga tidak nanti bilang bahwa kau takut mati!"_ "Aku telah terima pesan orang, untuk itu aku telah beri kata-kataku dengan sumpah berat," kata pula Thia Ceng Tiok, "maka itu, tak dapat aku bicara. Itu juga sebabnya kenapa aku tak ingin datang kebalai istirahat dari Pangeran Seng Ong itu."

Orang tahu, sebagai ketua dari Ceng Tiok Pay, Ceng Tiok tidak nanti bicara dusta, karenanya, orang tidak desak dia untuk menjelaskan kesulitannya itu. Tapi karena itu, untuk sesaat, semua orang berdiam, mereka pada tunduk kepala, hingga gedung menjadi sunyi-senyap.

Dalam suasana terbenam itu, mendadak satu bujang datang masuk.

"Ada satu Nona Ciau mohon ketemu sama Wan Siangkong l" katanya.

Ceng Ceng kerutkan alis dengan tiba-tiba. "Dia datang, apakah dia mau?" katanya.

"Undang dia masuk !" Sin Cie perintah bujangnja.

Bujang itu menyahuti, lantas ia keluar. Tidak lama ia sudah kembali bersama Ciau Wan Jie.

Begitu lekas ia berhadapan sama Sin Cie, Nona Ciau segera berlutut, ia memberi hormat sambil menangis menggerung-serung.

Sin Cie lihat orang pakai pakaian berkabung, hatinya sudah bercekat, tetapi karena si nona berlutut, ia lekas-lekas berlutut juga untuk membalas hormat.

"Silahkan bangun, Nona Ciau," katanya kemudian, mempersilahkan.

"Apakah ayahmu baik?" Masih nona itu menangis. "Ayah, ayah telah dibunuh si orang she Bin..." katanya dengan tak lancar.

Sin Cie terperanjat, sampai ia berjingkrak. "Bagainianakah duduknya hal?" tanya dia dengan

bernapsu.

Wan Jie sudah berbangkit, ia lolosi satu bungkusannya, untuk diletaki diatas meja, terus ia buka. Isinya itu sebatang pisau belati yang tajam mengkilap dimana antaranya ada sisa tanda-tanda darah terotolan.

Sin Cie jumput senjata itu, untuk diperiksa. Maka melihatlah ia ukiran huruf-huruf pada gagangnya, yang dikelam dengan emas, bunyinya "Bin Cu Hoa, murid Bu Tong Pay golongan huruf Cu".

Itu adalah senjata warisan atau tanda mata kepada setiap murid Bu Tong Pay, yang biasa diberikan kepada setiap murid yang telah rampungkan pelajarannja dan diijinkan turun gunung, keluar dari rumah perguruan.

"Ketika itu hari ayah pulang habis menghadirkan rapat besar di gunung Tay San," Ciau Wan Jie segera menerangkan, "kami telah mampir di Cieciu untuk bermalam didalam sebuah rumah penginapan. Dihari besoknya, sampai siang ayah masih belum keluar dari kamar, maka aku pergi kekamarnya, untuk mengasi bangun. Akan tetapi ayah kedapatan sedang rebah dengan sudah tidak bernapas, didadanya tertancap sebatang pisau belati ini... Wan Siangkong, aku mohon sukalah kau pikirkan jalan untuk aku..."

Kembali Wan Jie menangis menggerung-gerung.

Mulanya Ceng Ceng heran atas kedatangan Nona Ciau itu, timbullah kecurigaannya, akan tetapi sekarang, melihat kesulitan orang itu dan menyaksikan keadaannya yang

911 menyedihkan, timbullah rasa simpati dan kasihannya, lantas saja ia menghampirinya, untuk pegang tangannya Nona Ciau, akan susuti air matanya nona yang bernasib malang itu.

"Toako," kata Ceng Ceng dilain pihak kepada Sin Cie, "orang she Bin itu sudah berjanji untuk bikin habis persengketaan, kenapa sekarang dia lakukan perbuatan hina-dina ini, membunuh secara menggelap? Tak dapat kita sudahi perkaranya ini!"

Sin Cie tidak lantas menyahuti, hanya dia berdiam. Dia berpikir.

"Nona Ciau," tanyanja kemudian, "apakah setelah itu kau pernah bertemu sama orang she Bin ini?"

"Dua kali aku pernah bertemu padanya," sahut Wan Jie dengan masih menangis sesenggukan, "maka kami telah susul dia. Baru kemarin kami sampai di sini..."

"Bagus!" seru Ceng Ceng. "Dia ada di Pakkhia, mari kita cari padanya! Adikku, kau sabar, kau tenangkan diri, pasti aku nanti membalas dendam untukmu!"

Thia Ceng Tiok, See Thian Kong dan yang lain-lain berdiam saja. Ceng Ceng tahu, itulah tentu disebabkan mereka tak ketahui duduknya hal. Maka nona Hee lantas ceritakan pengalamannya Sin Cie di Kim-leng dimana pemuda itu telah pecahkan ilmu silat "Liang Gie Kiam- hoat" untuk mengakurkan perselisihan diantara Ciau Kong Lee dan Bin Cu Hoa.

Mendengar ini, Ceng Tiok semua menjadi tidak puas. Teranglah Bin Cu Hoa sudah langgar kehormatan kaum kangouw, perbuatannya itu ada sangat busuk. "Mahluk apa Bin Cu Hoa itu?" tanya See Thian Kong dalam sengitnya. "Ingin aku si tua-bangka she See mencoba menempur dia!"

Ciau Wan Jie lantas menjura kepada Thian Kong beramai.

"Aku mohon semua paman untuk membelakan pri- keadilan," minta dia.

Thia Ceng Tiok pun sengit sekali, hingga dia keprak meja.

"Dimana adanya Bin Cu Hoa sekarang?" dia tanya. "Tidak perduli Bu Tong Pay banyak anggautanya dan berpengaruh, aku si orang she Thia tak gentar terhadap mereka!"

"Setelah kebinasaan ayah," kemudian Ciau Wan Jie menerangkan lebih jauh, "bersama beberapa suko aku rawat jenasahnya, tetapi sekarang ini jenasah itu masih dititipkan dirumahnja In Piausu dari Kong Bu Piau Kiok di Cieciu. Segera setelah itu, aku mencoba mengundang sejumlah sesama orang kangouw, untuk mereka tolong cari tahu dimana beradanya Bin Cu Hoa. Aku bersyukur kepada roh ayahku, selang beberapa hari telah datang kabar dari sahabat-sahabat di Hoolam, ada diantara mereka yang dapat lihat orang she Bin itu sedang dalam perjalanan dari Hoolam ke Pakkhia. Atas warta itu, pihak kami sudah lantas bekerja. Pelbagai hiocu dalam dan luar dari Kim Liong Pang bersama semua tocu dari semua pelabuhan darat dan air telah berpencar diri, untuk mencari dan memegat, dua kali telah dilakukan pertempuran, saban- saban dia bisa loloskan dirinya. Tidak beruntung adalah aku, karena aku tidak punya guna, pernah satu kali,aku kena dilukai dia..." Sin Cie lihat, pundak kiri dari si nona masih dibalut. Ia merasa kasihan berbareng kagum. Pasti nona ini, meskipun kalah tangguh dari Bin Cu Hoa, untuk membalas sakit hati ayahnya, sudah berlaku nekat, dia tempur mati-matian musuh besarnya itu. Tentu sekali dia ini bukannya tandingan Bin Cu Hoa.

"Sampai kemarin kami terus kuntit orang she Bin itu," Wan Jie melanjuti keterangannya. "Sekarang kami telah ketahui dimana dia telah pernahkan diri."

"Dimana?" tanya Ceng Ceng dengan bernapsu. "Mari lekas kita satroni dia, supaya dia jangan keburu mabur lagi!"

"Dia bertempat di gang Hu Kee Hootong di dalam sebuah rumah," sahut Wan Jie. "Seratus lebih orangku sudah memasang mata disekitar rumah itu."

Diam-diam Sin Cie manggut-manggut.

"Meskipun nona ini masih muda tapi ia cerdik dan pandai bekerja," memuji ia dalam hatinya. "Kaum Kim Liong Pang telah keluar dalam rombongan seluruhnya, pasti sekali sebelum mereka dapat binasakan Bin Cu Hoa, belum mereka mau sudah..."

"Barusan saja ditengah jalan aku telah bertemu sama satu sahabat yang juga Baru kembali dari rapat di Tay San," menambahkan Nona Ciau itu, "dari dia itu aku dapat tahu bahwa kau justru berada di sini, Wan Siangkong..."

See Thian Kong tunjuki jempolnja, dia bersenyum puas. "Nona Ciau,  sempurna sekali  tindakan  kau ini!"  dia

memuji. "Menurut kau, sudah terang Bin Cu Hoa itu telah

berada didalam genggamanmu, tetapi kau toh masih datang kemari untuk minta keadilan dari bengcu kita, supaja kaum kangouw nanti mengutuk Bin Cu Hoa yang harus dibikin binasa itu! Bagus, bagus!" "Kapan kamu hendak turun tangan?" kemudian Sin Cie tanya.

"Sebentar malam jam dua," jawab Wan Jie, yang terus bungkus rapi pula pisau belati yang meminta jiwa ayahnja itu.

"Ya, simpan senjata ini, adik," kata Ceng Ceng. "Sebentar kau gunakan ini untuk tikam mampus musuhmu itu !"

Nona Hee pun sengit seperti yang lain-lainnya, hingga lenyap kecurigaan atau cemburuannya.....

Wan Jie manggut terhadap nona ini.

Diam-diam Sin Cie menghela napas. Ia berkasihan terhadap Ciau Kong Lee, ia sayangi ketua Kim Liong Pang itu. Ia tahu jago ini berbudi, siapa sangka dia mesti binasa ditangan jahat. Di sebelah itu, ia menyesal sekali, iapun berkuatir. Permusuhan ini akan menghebat dendaman diantara Bu Tong Pay dan Kim Liong Pang. Apabila orang saling dendam tak putusnya, sampai kapan itu dihabiskannya? Untuk selanjutnja, pasti bahaya akan saling menimpa satu pada lain...

Pemuda kita lantas tahan Wan Jie bersama, untuk si nona beristirahat, untuk diajak bersantap sama-sama kapan sang sore telah sampai, sesudah mana, ia bersiap. Ceng Ceng dan Thie Lo Han tak dapat turut karena mereka sedang terluka. Juga Sian Tiat Seng tidak ikut, karena kepala opas itu telah diantar pulang ke rumahnya. Maka itu cuma Thia Ceng Tiok, See Thian Kong, A Pa, Ou Kui Lam dan Ang Seng Hay yang bisa memberikan bantuannya.

Begitu sang malam sampai, berenam mereka berangkat dengan Ciau Wan Jie jalan di muka untuk jadi petunjuk jalan ke gang Hu Kee Hootong. Ceng Ceng menyesal yang ia tidak dapat turut, saking masgul dan mendongkol, ia lantas kutuki Ho Tiat Chiu yang telah lukai padanya.

Kapan Sin Cie beramai sampai didekat gang, beberapa muridnya Kong Lee, yang sedang memasang mata, papak mereka. Lantas saja mereka kisiki bahwa Bin Cu Hoa masih ada di dalam rumah bersama Tong Hian Toojin, suhengnya dia itu. Mereka pun girang sekali menampak Sin Cie telah dapat diundang. Semua orang telah ketahui baik keliehayannya anak muda ini.

"Wan Siangkong, apa boleh kita turun tangan sekarang juga?" Wan Jie tanya pemuda kita.

Nona ini cerdik dan bisa memikir panjang, tak mau ia mendahului beng-cu itu.

"Sabar dulu," Sin Cie bilang. ..Sekarang minta semua orang berjaga-jaga seperti biasa, mari kita sendiri pergi mengintai dulu."

"Baik," jawab nona itu, yang terus kisiki kawan- kawannya. Maka mereka itu lantas undurkan diri.

Sin Cie ajak semua kawannya mendekati rumah, lantas mereka saling susul lompati tembok, untuk masuk kedalam.

Seng Hay masih belum sempurna ilmunya entengkan tubuh, diwaktu ia lompat turun ketanah, ia menerbitkan suara, benar suaranya enteng sekali, akan tetapi didalam rumah, didalam kamar, api padam seketika.

Sampai waktu itu Ciau Wan Jie tak dapat kendalikan lagi hatinya. Ia pun rupanja kuatir musuh nanti lolos pula. Maka ia lantas perdengarkan suara suitannya. Suara itu pelahan, akan tetapi menyambut itu, di empat penjuru rumah, di pojok tembok, segera muncul pelbagai kepala orang - ialah orangnya yang mengurung rumah itu. Habis itu, Wan Jie perdengarkan suaranya yang keren: "Orang she Bin, lekas kau keluar! Kau lihat, siapa telah datang kemaril" Sunyi rumah itu, tidak ada suara jawaban.

"Nyalakan api!" Wan Jie berseru. "Semua nyerbu kedalam!"

Orang-orang Kim Liong Pang, dan sahabat-sahabat mereka, yang datang membantu, taati seruan itu. Mereka memang telah siapkan obor. Maka sebentar saja, teranglah cahaya api.

Empat anggauta, yang memegang obor, maju di depan, golok mereka dipakai melindungi diri.

Dengan tiba-tiba saja terdengar beberapa kali suara beruntun, menyusul itu, tiga batang obor padam apinya, hingga tinggal yang satu, kemudian menyusul itu, dua bajangan kelihatan lompat mencelat lari arah rumah itu.

Dengan serentak, orang-orang Kim Liong Pang lompat menerjang, hingga selanjutnja, riuhlah suara pelbagai senjata beradu satu pada lain.

Kembali terdengar suara suitan, kali ini itu disusul sama merangsaknya orang-orang di empat penjuru, sedang api obor pun jadi bertambah, sehingga pekarangan disitu jadi terang sekali, bagaikan siang saja.

Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa telah lakukan perlawanan dengan membaliki belakang satu sama lain, dengan jalan ini mereka hendak cegah mereka nanti terbokong. Mereka perlihatkan ilmu pedang mereka, sebab rupanya mereka insyaf, saat ini adalah saat mati atau hidup mereka. Tidak heran, karena cara berkelahi mereka, sebentar saja sudah ada tujuh atau delapan orang Kim Liong Pang yang kena dilukai. Akan tetapi, delapan orang mundur, serombongan yang lain maju menggantikannya, sebab diaorang ini sangat gusar, mereka setia kepada kawan, sehingga mereka tak takut mati.

Repot juga Bin Cu Hoa dan suhengnya itu menghadapi demikian banyak musuh, yang nekat semua. Benar mereka bisa lukai beberapa orang lagi, tetapi mereka sendiri pun tak bebas dari serangan-serangan musuh-musuh yang seperti kalap itu. Begitulah Tong Hian terluka pada bahu kirinya, sehingga ia mesti geser pedangnya ke tangan kanan.

Kedua orang Bu Tong Pay ini berkelahi menurut ilmu silat Liang Gie Kiam-hoat, Tong Hian mencekal pedang ditangan kiri, Bin Cu Hoa ditangan kanan, dengan itu, mereka bisa bergerak dengan leluasa. Sekarang dua-dua pedang berada ditangan kanan, perlawanan mereka menjadi kipa, gerakan mereka jadi kendor sendirinya.

Lagi beberapa saat, Tong Hian terluka pula dan Cu Hoa pun tak terluput, dalam keadaan seperti itu, mereka juga tidak sempat menyingkirkan diri, saking hebat dan rapatnya kepungan. Tidak semua musuh liehay tapi mereka nekat, mereka tak dapat dipandang ringan.

Sin Cie lihat kedua orang sudah dapat beberapa luka, ia anggap tak boleh ia menonton lebih lama pula. Ia juga beranggapan, satu jiwa mesti diganti dengan satu jiwa, cukuplah kalau Bin Cu Hoa sendiri yang dibikin binasa, tak usah Tong Hian Toojin kawani suteenya itu pergi menghadap Raja Akherat. Maka itu, disaat dua jago Bu Tong itu tinggal rubuh binasa, mendadak ia loncat keantara mereka, pedang Kim Coa Kiam ia babatkan ditengah- tengah.

Sekejab saja, kedua pedangnya Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa sapat terkutung, begitu juga beberapa ujung pedangnya orang-orang Kim Liong Pang yang sedang mengepung hebat. "Tahan!" Sin Cie berseru.

Gerakan ini membuat kedua pihak tercengang, tapi ia sendiri pun melengak sesaat, saking kagum sendirinya. Ini adalah untuk pertama kali ia gunai pedang Ular Emas itu, diluar dugaannya, pedang itu sangat tajam. Sebenarnja dia hendak halau semua senjata tidak tahunya, semua senjata yang bentur Kim Coa Kiam telah kutung sendirinya.

Bin Cu Hoa telah mandi darah, kaget ia menampak Sin Cie. Dalam saat itu juga, habislah pengharapannya. Melayani musuh-musuh Kim Liong Pang saja sudah berat, bagaimana dapat ia tempur jago muda itu, yang sekarang malah bersenjatakan pedang mustika?

Tong Hian Toojin juga putus asa, sehingga ia lantas lemparkan pedangnya yang sudah buntung Tapi ia tertawa menyengir.

"Tak tahu aku, dalam hal apa kami dua saudara, telah berbuat salah terhadap kau, tuan, maka kau telah desak kami begini rupa?" tanya imam itu.

Dimulutnya, Tong Hian mengucap demikian, diam-diam ia rogo keluar pisau belati dipinggangnya, pisau mana ia terus pakai menikam dadanya. Rupanya dalam berputus asa, ia jadi berpikiran pendek juga.

Sin Cie lihat kenekatan itu, ia ulur kedua tangannya, secara sangat sebat. Dengan tangan kiri ia menolak dada orang itu, dengan tangan kanan ia menyambar ke lengan si imam, maka dilain saat, ia telah dapat rampas pisau belati itu yang tajam berkilauan.

Malah dalam sekelebatan itu, Sin Cie bisa lihat huruf- huruf ukiran pada gagangnya belati yang berbunyi: "Tong Hian Toojin murid Bu Tong Pay golongan huruf Cu," Dan pisau belati itu mirip benar macamnya dengan pisau belati Bin Cu Hoa yang dipakai membunuh Ciau Kong Lee.

Mukanya Tong Hian Toojin jadi merah-padam, lalu pucat-pias.

"Satu laki-laki boleh dibunuh tetapi tak dapat diperhina!" dia berseru. "Aku tahu ilmu silatku belum sempurna, aku bukannya tandingan kau. Maka biarlah aku binasa dengan kau tonton! Lekas kembalikan pisauku itu kepadaku!"

Imam ini nyata bernyali besar, keras hatinya.

Sin Cie kuatir orang bunuh diri, tidak saja ia tidak kembalikan pisau itu, ia malah selipkan dipinggangnya.

"Mari kita bicara dulu sampai terang, Baru nanti aku kembalikan kepadamu." katanya, dengan sungguh-sungguh.

Tapi Tong Hian Toojin sedang gusar, dia jadi bertambah murka.

"Jikalau kau hendak bunuh aku, bunuhlah!" menjerit dia." Tak dapat kau terlalu menghina!"

Jeritan ini disusul sama satu sampokan tangan ke muka si anak muda.

Sin Cie kelit dengan mundur satu tindak.

"Kapannya aku hinakan kau?" dia tanya. Benar-benar ia heran.

Tong Hian masih sengit, dia hunjuk roman bengis. "Pisauku itu ada pisau hadiah dari Cousu kami dari Bu

Tong Pay!" kata dia dengan nyaring. "Maka pisau itu

biarnya aku mesti hilang jiwa, tak dapat dibiarkan jatuh ditangan lain orang l"

Kembali Sin Cie heran hingga is tercengang. Berbareng dengan itu kecurigaannya jadi semakin besar.

920 "Kalau pisau ini dipandang begini suci, kenapa Bin Cu Hoa tinggalkan ditubuh Ciau Kong Lee sehabis dia bokong ketua Kim Liong Pang itu?" demikian dia berpikir.

Ia keluarkan pisau itu, untuk dikasi pulang kepada pemiliknya.

"Tootiang, ada satu hal untuk mana aku mohon keterangan kau," kata ia, dengan sikapnya yang sabar.

Imam dari Bu Tong Pay itu sambuti pisaunya, karena ia dengar orang punya suara menghormat, iapun tidak bersikap keras lagi.

"Silahkan," sahut dia dengan ringkas. Sin Cie berpaling kepada Ciau Wan Jie.

"Nona Ciau, mari bungkusan kau, kasikan padaku!" dia minta

Wan Jie menghampirkan, akan serahkan bungkusannya yang berisikan pisau belati Bin Cu Hoa. Ia belum tahu tindakan Sin Cie.

Lebih jauh, ia pun tak hendak menanyakannja, akan tetapi ia cekal keras sepasang goloknya. Ia awasi dengan bengis pada Bin Cu Hoa, siapa sebaliknya berdiri diam didampingnya Tong Hian Toojin.

Dengan sabar Sin Cie buka bungkusan itu, hingga kelihatanlah isinya, menampak mana, Tong Hian Toojin dan Bin Cu Hoa perdengarkan seruan tertahan dari mereka, lebih-lebih Bin Cu Hoa sendiri yang kenali pisaunya itu.

Dipihak lain, orang-orang Kim Liong Pang yang melihat bukti senjata pembunuhan ketua mereka, lantas ingat kebinasaan hebat dan menyedihkan dari ketua mereka itu, berbareng sedih, kemurkaan mereka pun timbul pula secara tiba-tiba, hingga dengan roman sangat bengis, mereka bertindak maju.

"Ini... ini... adalah senjataku!" seru Bin Cu Hoa. "Darimana kamu dapatkan ini?" tanya dia, sambil ulur tangannya, untuk ambil pulang pisau belati itu.

Sin Cie tarik pulang tangannya, tetapi disebelah dia, Ciau Wan Jie membacok dengan goloknya, kepada lengan orang, hingga Bin Cu Hoa mesti dengan sebat tarik pulang tangannya.

Panas Wan Jie, maka ia maju, untuk membacok pula. "Sabar," kata Sin Cie, yang lintangi tangannya, untuk

mencegah. "Mari kita tanya jelas dulu."

Karena tak dapat ia menyerang lebih jauh, Wan Jie menangis, air matanya bercucuran dengan deras.

Bin Cu Hoa agaknya tidak mengerti, dia berseru : "Ketika dulu kita bikin pertemuan di Lamkhia, urusan telah dibereskan, persengketaan kedua pihak telah didamaikan dan dibikin habis, kenapa orang-orang Kim Liong Pang tidak pegang kepercayaan dan kehormatannya? Kenapa kamu berulang-ulang kali dengan cara gelap hendak bikin celaka padaku? Sekarang kamu suruhlah Ciau Kong Lee keluar, mari kita berpadu diri, untuk bicara biar jelas! Jikalau benar aku siorang she Bin yang bersalah, dihadapan kamu aki nanti bereskan diriku sendiri, tidak nanti aku menyangkal!"

Belum sempat Bin Cu Hoa tutup mulutnya, beberapa orang Kim Liong Pang telah bentak dia: "Ketua kami telah kau bunuh, sekarang kau masih berpura-pura, kau hendak mencoba bersihkan dirimu, manusia hina-dina dan busuk!"

Bin Cu Hoa, begitu juga Tong Hian Toojin, melengak.

Mereka kaget dan heran bukan main. "Apa?" tanya mereka. "Ciau Kong Lee telah terbinasa?"

Sin Cie tampak wajah orang itu sungguh-sungguh, ia mau percaya mereka itu bukannya sedang bersandiwara.

"Ah, benar-benar mesti ada halnya dalam urusan ini," pikir ia. Maka ia lantas tegasi: "Apakah benar-benar kamu tidak ketahui bahwa ketua Kim Liong Pang telah terbinasa?"

"Tidak!" sahut Bin Cu Hoa. "Sejak itu hari aku kalah dan aku serahkan rumahku, aku tak punya muka lagi akan hidup dalam dunia kangou, aku lantas pergi ke Kayhong kepada toa-suhengku Cui In Tootiang yang mewariskan guru kami menjadi ketua, untuk memberi penjelasan kepadanya, untuk kami berdamai, sayang itu waktu aku tak dapat bertemu sama suhengku itu. Adalah sekembalinya dari Kayhong, dengan tak aku ketahui apa sebab musababnya ditengah jalan, dua kali aku dipegat orang- orang Kim Liong Pang hingga kita mesti bertempur hebat. Aku tidak mengerti kenapa Ciau Kong Lee terbinasa?"

Ciau Wan Jie ada seorang yang pintar, mendengar perkataannya orang she Bin ini, melihat wajah orang itu, dia mulai bercuriga. Tiba-tiba saja ia menangis pula, dengan sesenggukan.

"Ayahku.... ada....ada orang bunuh secara menggelap dengan pisau belati ini!" katanya dengan susah-payah. "Umpama kata benar bukannya kau yang lakukan pembunuhan itu, mestinya dia adalah sahabatmu!"

Bin Cu Hoa terkejut. "Ah, ah, inilah..."

"Inilah apa?" bentak Ciau Wan Jie. Bin Cu Hoa bungkam, agaknya ia hendak bicara tetapi batal, nampaknya ia merasakan suatu kesulitan.

Orang-orang Kim Liong Pang menjadi panas pula, sedang tadinya mereka pun sudah melengak, mereka mau percaya, benar-benar musuh ini berdusta, maka lantas mereka maju pula.

Tong Hian Toojin ambil pedang buntung dari tangannya Bin Cu Hoa, dia lempar itu ke tanah sebagaimana pedangnya sendiri tadi, kemudian ia angkat dadanya.

"Jikalau tuan-tuan lebih suka sakit hatinya Ciau Lopangcu tak terbalas untuk selamanya-lamanya dan kamu kehendaki supaya si penjahat diam-diam tertawai kamu dari samping, baiklah, kami berdua saudara suka serahkan jiwa kami! Sama sekali kami tidak takut mati!" demikian katanya.

"Menampak keberanian orang itu, orang-orang Kim Liong Pang merandek, sangsi mereka untuk serbu imam itu.

Sin I'jie lantas berkata pula:

"Jikalau begini, kelihatannya Ciau Lopangcu bukanlah kau yang bunuh, saudara Bin?" tanya dia.

"Aku mengaku aku si orang she Bin tidak punyakan kepandaian cukup," jawab Bin Cu Hoa, "akan tetapi aku mengerti benar hidupnya seorang didalam dunia mengandali kepercayaan, kehormatannya! Aku telah kalah di tangan kamu, selagi sekarang ada orang jahat yang mainkan perannya secara diam-diam, bagaimana aku bisa datang pula ke Lamkhia untuk melanjuti permusuhan?"

"Tetapi Ciau Lopangcu bukannya terbunuh di Lamkhia," Sin Cie terangkan.

Bin Cu Hoa heran. "Dimanakah itu terjadinya?" dia tanya. "Di Cie-ciu."

"Inilah terlebih aneh pula!" kata Tong Hian Toojin. "Kami dua saudara, sudah lebih daripada sepuluh tahun belum pernah injak pula kota Cie-ciu! Kecuali kami mempunyai pedang-terbang, tidak nanti kami bisa rampas jiwa orang di tempat jauhnya ribuan lie!"

"Apakah ini benar?" Sin Cie tegaskan. Tong Hian tepuk batang lehernya. "Kepalaku ada di sini!" ia jawab.

"Habis, dari mana datangnya pisau belati ini?" tanya Wan Jie.

"Jikalau sekarang aku berikan keteranganku, aku kuatir kamu tidak dapat mempercayai aku!" sahut Tong Hian. "Sekarang mari aku ajak kamu beramai kesuatu tempat, di sana kamu nanti Baru ketahui duduknya hal."

"Suheng, jangan!" mencegah Bin Cu Hoa, yang agaknya jadi sangat gelisah.

"Wan Siangkong dan Nona Ciau ada sahabat-sahabat baik, sama sekali tidak ada halangannya", bilang Tong Hian.

Bin Cu Hoa bungkam.

"Kemana kita pergi?" Wan Jie tanya.

Tong Hian Toojin tidak segera menjawab, hanya ia kata "Aku cuma hendak ajak Wan Siangkong berdua dengan kau saja, Nona Wan. Lebih banyak lagi, tak dapat!"

0o-d.w-o0