-->

Pedang Ular Emas Bab 17

Bab ke 17

Sore itu, selagi duduk berkumpul dan pasang omong, Ceng Ceng tanya A Kiu: "Adik Kiu, ketika itu hari kami hajar tentara negeri, hingga kami merasa sangat puas, kemudian ternyata kau menghilang. Sebenarnya kemana kau pergi?"

"Ah!. " bersuara si nona, yang mukanya menjadi merah

dengan tiba-tiba. Kemudian, dengan menyimpang, dia bilang: "Encie Ceng, coba kau dandan, kau pasti baru ternyata eilok benar!"

Ceng Ceng heran, kapan ia lihat nona muda ini suka tengok kiri dan kanan. Tadinya ia hendak menanyakan lebih jauh tapi ia batal kapan ia tampak Ceng Tiok, yang duduk di depannya, kedipi mata. Maka akhirnya, sambil tertawa, ia jawab nona itu: "Kita sedang bikin perjalanan, kepala dan muka kita biasa penuh debu, habis kita berdandan, kepada siapa hendak dikasi lihatnya?"

A Kiu bersenyum.

Tidak lama setelah itu, orang bubaran, untuk masuk tidur.

Selagi Sin Cie hendak naik ke pembaringannya, Thia Ceng Tiok datang padanya.

"Wan Siangkong, aku hendak bicara denganmu untuk satu urusan," kata ketua Ceng Tiok Pay, yang datangnya secara tiba-tiba.

Sin Cie menyambut dengan gembira. "Baik!" sahutnya. "Silakan duduk."

"Lebih baik kita pergi keluar, ke tempat terbuka dan sepi," Ceng Tiok bilang hampir berbisik.

Sin Cie merasa pasti, urusan ada penting, maka ia pakai pula bajunya, lalu keduanya keluar, akan terus berlari-lari ke bukit malah mendaki puncak, akan duduk atas sebuah batu besar. Ketua Ceng Tiok Pay melihat ke sekitarnya, yang sunyi.

"Wan Siangkong," kata dia kemudian, "aku hendak omong tentang A Kiu, muridku itu. Dia ada satu anak dengan asal-usul istimewa. Ketika dia mulai angkat aku sebagai guru, aku pernah berjanji untuk tidak buka rahasia tentang dirinya."

"Aku pun lihat dia bukannya orang sembarangan," Sin Cie bilang. "Karena kau telah beri janjimu, tak usah kau menerangkannya kepadaku."

"Sekalian pengiringnya ada orang-orang negeri, maka itu, tentang maksud bekerja kita ini, mereka tak boleh mendapat tahu," kata pula Ceng Tiok.

Mau atau tidak, Sin Cie toh tercengang.

"Jadi benar mereka ada hamba-hamba negeri?" tegaskannya.

Ceng Tiok manggut-manggut.

"Aku mau percaya, muridku ini tidak bakal jual kita," kata ia kemudian, "akan tetapi dia masih berusia sangat muda, tak dapat diduga yang pikirannya bisa tidak berubah."

"Kalau begitu, di depan A Kiu baik kita waspada," Sin Cie bilang.

Ceng Tiok manggut.

Sampai di situ, urusan telah selesai, maka keduanya segera berangkat pulang. Sesampainya di muka hotel, Sin Cie lihat seorang lewat di jalan besar, datangnya dari arah timur, dia itu menenteng sebuah lentera, dalam sekelebatan saja, dia itu terus masuk ke dalam hotel. Dengan matanya yang tajam, Sin Cie rasa kenali orang itu, melainkan tak segera ia ingat dimana mereka pernah bertemu. Maka selagi rebah di atas pembaringannya, pemuda kita terus mengingat-ingat hingga ia mengingat mundur sampai rapat di gunung Tay San, pelbagai kejadian di Lamkhia dan Cio- liang. Juga di dalam barisan Giam Ong, tak ingat dia pernah bertemu sama orang itu. Tetapi ia tak bisa lupa romannya orang itu.

"Di mana aku pernah lihat atau bertemu dengannya?" taya ia berulang-ulang di dalam hatinya.

Tiba-tiba ia dengar ketokan perlahan pada pintu kamarnya. Segera ia pakai bajunya dan turun dari pembaringan, akan nyalakan api.

"Apakah kau tidak niat dahar sesuatu?" begitu pertanyaan dari luar, disusul dengan suara tertawa dari Ceng Ceng, si juita nakal.

Dengan lekas pemuda kita membukakan pintu.

Ceng Ceng membawa sebuah nenampan di atas mana ada dua mangkok, dalam setiap mangkoknya ada tiga butir telur ayam. Rupanya Baru saja dia habis dari dapur dimana dia matangi telur itu.

"Terima kasih," kata Sin Cie. "Kenapa kau masih belum tidur?"

"Aku pikirkan si A Kiu, dia aneh, dia membuat aku tak dapat tidur," sahut si nona. "Aku kira kau pun sedang memikirkan dia itu hingga kau pun belum tidur. "

Ia bicara dengan pelahan sekali.

"Aku pikirkan dia? Untuk apa?" Sin Cie tanya. "Memikirkan dia karena dia sangat cantik! Coba bilang,

bukankah dia cantik sekali?"

Kembali si nona tertawa. Sin Cie tahu baik perangai nona Hee ini. Apabila ia menjawab A Kiu cantik, Ceng Ceng tentu tak puas; kalau ia menyangkal, itulah jawaban yang tak tepat dengan bukti- kenyataannya. Maka ia jumput sendoknya, akan sendok sebutir telur, untuk dimasuki ke dalam mulutnya. Baru ia menggigit sekali atau dengan sekonyong-konyong ia lemparkan sendoknya.

"Ya dia! Ya dia!" ia pun berseru tertahan. Ceng Ceng terperanjat.

"Apa dia- dia?" tanyanya kemudian. "Apakah telur itu busuk?"

Sin Cie tertawa.

"Kita jangan dahar dulu! Mari kau turut aku!" kata si anak muda.

Tak puas Ceng Ceng melihat orang tak dahar telurnya.

Tidakkah ia telah sengaja rebus itu untuk kawan ini? "Kita pergi kemana?" ia tanya.

Masih Sin Cie tidak menjawab, sebaliknya, dari dampingnya Ang Seng Hay, ia jumput pedangnya orang itu.

"Kau pegang ini!" katanya.

Ceng Ceng menyambuti. Baru sekarang ia mengerti, orang hendak menghadapi musuh rupanya.

Selagi Sin Cie menggigit telur, dengan tiba-tiba saja ia ingat suatu kejadian dimana ia masih kecil, ketika ia menumpang di rumah An Toa-nio, di waktu ada orang jahat mencoba culik Siau Hui, hingga dengan nekat ia bela nona itu, sukur tepatlah datangnya An Toa-nio, yang menolongi terlebih jauh. Dengan tiga butir telur, nyonya An itu sudah serang Ou Lo Sam, si culik, hingga Lo Sam

774 kabur. Dan tadi, orang yang ia lihat, yang ia rasa kenali tapi tak ingat benar, adalah si Ou Lo Sam itu! Dia coba ingat, apakah yang dikehendaki dan dikerjakan oleh Ou Lo Sam. Sekarang, setelah ingat, pemuda ini hendak mencari tahu. Maka dia ajak Ceng Ceng pergi bersama.

Dengan berindap-indap, dengan hati-hati, keduanya pergi keluar, akan hampirkan sesuatu kamar, di setiap jendela, mereka mendekam, untuk pasang kuping, akan dengari suara orang bicara, guna cari Ou Lo Sam. Lalu di sebuah kamar yang besar, mereka dengar pembicaraan dari tujuh atau delapan orang, yang bicara dengan lagu-suaranya orang kangouw.

"Bagaimana dapat kita berlalu dari sini?" kata satu orang. "Apabila ada terjadi onar, apakah kita masih punyakan jiwa kita?"

"Di pihaknya An Tayjin, inilah urusan penting sekali," kata satu suara lain.

"Orang yang dikirim dari kota raja itu, mana dia keburu sampai? Di depan kita telah menantikan satu jasa istimewa, apabila kita lewatkan itu, tidakkah sangat sayang?"

Orang itu berdiam sekian lama.

"Begini saja!" terdengar satu suara yang berat. "Kita pecah dua rombongan kita ini, ialah yang separuh berdiam di sini, yang separuh lagi pergi pada An Tayjin, untuk terima titahnya. Jikalau nanti kita berhasil jasanya kita cicipi bersama-sama!"

Orang yang pertama rupanya telah tepuk pahanya, karena telah terdengar satu suara nyaring, disusul sama suaranya yang keras. "Bagus! Memang, suka dan duka, kita mesti terima bersama! Umpama terjadi onar, kita sama- sama menanggungnya!" "Marilah kita mengadakan undian!" seorangusulkan. "Undianlah yang menetapkan, siapa pergi dan siapa berdiam, supaya jangan ada yang mengiri."

"Akur!" menyatakan banyak suara.

"Urusan besar apakah itu yang menyebabkan mereka tak dapat pergi dari sini?" Sin Cie tanya dirinya sendiri. "Apa soalnya An Tayjin itu dan itu jasa istimewa? Aneh juga. "

Selagi mendengari lebih jauh, dari dalam terdengar golok dan pedang saling beradu, suatu tanda bahwa orang telah selesai mengadakan undian, dan mereka telah bersiap untuk keluar.

Segera si anak muda bisiki Ceng Ceng: "Pergi bisiki See Thian Kong beramai untuk siap-sedia untuk sesuatu, aku sendiri hendak kuntit mereka, untuk lihat apa yang mereka hendak lakukan."

Si nona manggut.

"Tapi kau harus waspada," ia pesan.

Itu waktu terdengar suara pintu dibuka, cahaya api lilin lantas menyorot keluar.

Sin Cie dan Ceng Ceng sudah mendahului umpetkan diri di tempat yang gelap.

Orang yang pertama muncul adalah Ou Lo Sam, di belakang ia turut delapan orang lainnya dengan gegaman mereka masing-masing di tangan. Karena terangnya api lilin, mereka itu ternyata ada orang-orang atau pengiring- pengiringnya A Kiu. Setelah mereka keluar dan sudah meloncati tembok pekarangan, pintu kamar ditutup pula.

"Itulah orang-orangnya!" kata Ceng Ceng, dengan pelahan. "Memang aku sangsikan nona itu bukannya orang sembarangan. " Sin Cie pun merasa heran sekali.

Sampai di situ, pemuda dan pemudi ini berpisahan, si pemuda segera susul sembilan orang itu, untuk dikuntit.

Sin Cie dapat kemerdekaan untuk membayangi itu sembilan orang karena ilmu entengi tubuh warisan gurunya telah sempurna, sedang ajaran Bhok Siang Toojin ialah "Pek pian kwie eng" atau "Seratus kali berubah bajangan iblis" dia telah yakinkan tujuh atau delapan bahagian sempurna. Ia mengintil terus hingga keluar dari dusun, masih mereka itu berjalan satu lie jauhnya, akan akhirnya menuju ke sebuah rumah besar.

Ou Lo Sam adalah yang mengetok daun pintu yang dicat hitam, apabila daun pintu telah dipentang, kesembilan orang itu diijinkan masuk. Sin Cie lekas-lekas jalan mutar ke belakang, untuk meloncati tembok, untuk bisa masuk ke dalam, sesampainya di dalam, ia cari tempat di mana ada cahaya api, ialah dari sebuah jendela, sesudah itu, ia lompat naik ke atas genteng. Di sini ia mendekam, dengan hati-hati ia buka selembar genteng, untuk melongok ke bawah, ke dalam kamar.

Di tengah-tengah kamar kelihatan duduk seorang umur hampir lima-puluh tahun, yang tubuhnya kekar sekali. Ou Lo Sam serta delapan pengiringnya A Kiu masuk ke dalam kamar ini, mereka semua memberi hormat, agaknya orang ini ada pembesar mereka.

"Tadi di dalam dusun hamba dapat lihat Ong Hu-ciehui," berkata Ou Lo Sam.

"Hamba dapat kenyataan mereka sedang singgah, maka itu hamba segera ajak ini sejumlah kawan pembantu."

"Bagus, bagus!" kata orang itu. "Apakah katanya Ong Hu-ciehui?" "Ong Hu-ciehui bilang, apabila An Tayjin ada urusan, dia bersedia membantu," jawab Lo Sam.

"Terang pangkatnya ida ini tidak kecil," pikir Sin Cie. "Apakah dia hendak perbuat di waktu malam buta-rata ini?"

"Jikalau kita berhasil, jasa kita bukan main besarnya!" terdengar pula suara si An Tayjin itu, terus dia tertawa: "Ha-ha-ha-haha!"

"Kami semua mengandalkan atas bantuan tayjin!" kata Lo Sam beramai.

"Kita beramai bakal terpecah menjadi lwee-teng sie-wie dan kim-ie-wie," kata An Tayjin itu. "Kita semua akan keluarkan tenaga untuk Sri Baginda!"

"Benar, Tayjin!" menyambut sembilan orang itu. "Kami bersedia akan dengar sesuatu titah dari Tayjin!"

"Bagus! Sekarang berangkatlah!"

Kaget Sin Cie akan ketahui rombongan itu ada pahlawan-pahlawan dari istana kaisar, apapula mengenai rombongan pahlawan kim-ie-wie, yang ia dengar biasa pergi kemana-mana untuk celakai orang, siapa kena ditawan katanya bisa kejadian "Kakinya dikutungi, kulitnya dikeset," kejamnya bukan main.

"Entah mereka hendak pergi kemana untuk siksa orang lagi?" pikir pemuda ini. "Dia bertemu denganku, tak dapat tidak aku harus campur-tahu!"

Sebentar kemudian An Tayjin itu keluar bersama orang- orangnya, Sin Cie hitung jumlahnya ada enam-belas dan di antara mereka ada enam orangnya si tayjin sendiri. Ia tunggu sampai orang sudah jalan jauh juga, lantas ia kuntit mereka itu. Jalanan yang diambil adalah tempat tegalan, yang makin lama makin sunyi, sekira tujuh atau delapan lie, mereka itu lantas bicara kasak-kusuk, setelah mana, mereka pencarkan diri, akan tetapi tujuan mereka adalah sebuah rumah yang mencil sendirian di tempat itu. Mereka ambil sikap mengurung, di depan dan belakang, di kiri dan kanan. Mereka maju dengan hati-hati, sambil berindap-indap, tanpa menerbitkan suara apa juga.

Sin Cie melad contoh, akan terus bayangi mereka itu, hingga ia pun turut datang dekat kepada rumah yang lagi diarah itu. Mungkin ada orang lihat padanya sebagai bajangan tetapi mungkin juga ia dianggap kawan, hingga ia tidak dicurigai.

Tayjin itu lantas dapat kenyataan, pengurungannya sudah selesai, dengan satu tanda ulapan tangan, ia titahkan semua orangnya mendekam, sesudah itu, ia hampirkan pintu, untuk mengetok.

"Siapa?" demikian pertanyaan dari dalam, dari suaranya seorang perempuan.

An Tayjin tidak segera menjawab, ia diam sebentar. "Kau siapa?" ia balik tanya.

"Oh, kau! Tengah malam buta." Demikian suaranya si orang perempuan pula.

An Tayjin tertawa berkakakan.

"Ini dia yang dibilang, bukannya musuh akan berkumpul pula!" sahutnya. "Kiranya kau ada di sini. Lekas kau buka pintu!"

"Aku sudah bilang, tak sudi aku menemui pula padamu!" kata wanita itu. "Kenapa kau datang pula?"

An Tayjin kembali tertawa. "Kau tidak sudi menemui aku, aku justeru kangen dengan nyonyaku!" jawabnya.

"Siapakah nyonyamu?" bentak si wanita, agaknya dia murka. "Satu bacokan golok toh telah membelah kami menjadi dua? Jikalau kau tak bisa lepaskan aku, pergi kau lepas api bakar rumahku ini! Aku lebih suka terbinasa daripada melihat pula kau, orang yang kalap karena sakit jiwa! Kau temahai harta dan pangkat hingga ludas rasa pri- kemanusiaanmu!"

Perhatian Sin Cie luar biasa tertarik mendengar suaranya wanita itu, hingga akhirnya ia terperanjat sendirinya.

"Itu toh An Toa-nio!" katanya di dalam hati. "Jadi An Tayjin ini ada suaminya - ayah Siau Hui?"

An Tayjin cekikikan.

"Bagaimana sengsara aku mencari kau..." katanya. "Bagaimana aku tega membakarmu? Marilah kita hidupkan pula kasih kita yang lama!..."

Walaupun dia mengucap demikian, tapi dengan kakinya An Tayjin mendupak pintu, sampai dua kali.

Dari suara dupakan itu, Sin Cie bisa duga-duga liehaynya ini tayjin.

Karena dupakan yang keras, daun pintu terbuka terpentang, menyusul mana An Toa-nio lompat keluar dengan pedangnya berkelebat menyambar!

An Tayjin lompat mundur.

"Bagus, kau hendak bunuh suamimu!" ia berseru. Dia kuatir di dalam rumah masih ada orang lain, tak mau ia menerjang masuk, hanya di situ, dengan tangan kosong, ia melayani si nyonya. Sin Cie merayap maju, untuk bisa menyaksikan dari dekat.

An Tayjin itu benar liehay, dengan tangan kosong, ia bisa berkelahi dengan tenang, malah sambil kadang-kadang tertawa. Senantiasa ia berkelit dari sesuatu bacokan atau tikaman, tubuhnya gesit dan lincah, hingga dia membuat An Toa-nio, dalam murkanya, jadi bertambah sengit, hingga sambil menyerang terus berulang-ulang, nyonya ini pun mencaci, mendamprat.

An Tayjin tetap tidak perdulikan kemurkaan orang yang ia sebut isterinya itu.

"Setan alas!" menjerit si nyonya, yang membarengi membacok dengan hebat.

An Tayjin berkelit sambil majukan sebelah kakinya, dengan begitu, ia jadi dekati si nyonya, tangan siapa dia lantas sambar, untuk dicekal dan ditekuk, maka di lain saat pedangnya nyonya itu terlepas jatuh, kedua tangannya kena ditelikung, sedang kedua kakinya pun dijepit oleh kedua kakinya si tayjin ini. Secara demikian, matilah kutunya si nyonya.

"Kelihatannya tidak nanti orang she An ini lantas celakai An Toa-nio," Sin Cie berpikir. "Baik aku melihat terlebih jauh sebelumnya aku turun tangan akan menolongi!..."

An Tayjin tertawa bergelak-gelak karena kemenangannya itu, sampai ia meleng beberapa kali, sedang An Toa-nio, dalam murkanya, memaki kalang- kabutan. Justru itu, sebat luar biasa, Sin Cie menyusup ke pojok pintu, dengan tempel tubuh kepada tembok, terus saja ia gunai gerakannya "Pek-hou yu-chong," atau "Cecak memain di tembok", akan melesat naik ke atas, hingga ia bisa sampaikan penglari dimana ia tempatkan dirinya. "Ou Lo Sam, nyalakan api!" teriak An Tayjin.

Rupanya lilin di dalam kamar padam sendirinya selagi si nyonya berkutatan.

Ou Lo Sam dengar titah itu, dengan api di tangan, ia hampirkan pintu, selagi melongok ke dalam, ia letaki goloknya di depannya, untuk lindungi diri, kemudian ia jumput sepotong batu, untuk menimpuk ke dalam, habis itu ia diam, ia pasang kuping, akan dengar gerak-gerik dari dalam.

Sekian lama, kamar menjadi sunyi saja. Maka sekarang orang she Ou ini berani bertindak masuk. Paling dulu ia nyalakan lilin di atas meja.

An Tayjin monyongi mulutnya ke arah Lo Sam, atas mana dia ini keluarkan tambang, yang terus dipakai membelenggu tangan dan kaki An Toa-nio.

Kembali An Tayjin tertawa.

"Kau bilang tak sudi kau menemui aku pula!" katanya. "Kau lihat, apakah sekarang aku tidak bertemu pula denganmu? Kau lihat, dengan berapa lembar uban rambutku bertambah!"

An Toa-nio tutup rapat kedua matanya, ia tutup juga mulutnya.

Dari atas penglari, Sin Cie mengawasi An Tayjin itu, hingga ia dapati seorang dengan usia pertengahan tetapi wajahnya tetap cakap dan keren. Rupanya di waktu muda dia cakap sekali sembabat dengan An Toa-nio yang eilok.

An Tayjin usap-usap mukanya An Toa-nio.

"Bagus!" katanya sambil tertawa. "Sudah sepuluh tahun kita tidak bertemu, mukamu masih putih bagaikan salju dan halus. " Tiba-tiba pembesar ini berpaling kepada Ou Lo Sam. "Pergi kau!" dia mengusir.

Lo Sam tertawa, ia ulurkan lidahnya, lantas ia berlalu, dengan rapati pintu di belakangnya.

Tayjin itu berdiam sekian lama, lalu ia menghela napas. "Mana Siau Hui?" katanya. "Selama tahun-tahun yang

belakangan ini, setiap hari aku pikirkan saja padanya. "

Tetap An Toa-nio tidak perdulikan orang ini.

"Dahulu kita masih sama-sama muda, kita menikah dan suka berselisih saja menuruti perangai masing-masing," kata An Tayjin kemudian, "sekarang sesudah ada umur, setelah berpisahan banyak tahun, selayaknya kita ubah adat kita dan hidup pula dengan rukun seperti sediakala. "

Dengan tiba-tiba An Toa-nio membentak: "Kau tahu bagaimana binasanya ayah dan kandaku!"

Tayjin itu menghela napas.

"Ayah dan kandamu dibinasakan oleh kim-ie-wie, itulah benar," saaut dia, "akan tetapi tak dapat dengan sebatang gala kejen kau sapu habis orang-orang dalam satu perahu. Di dalam kim-ie-wie juga ada orang-orang yang baik dan busuk. Aku berkerja untuk Sri Baginda Raja, untuk kemuliaan leluhur kita. "

"Fui! Fui! Fui!" An Toa-nio meludah berulang-ulang sebelum orang sempat tutup mulutnya.

An Tayjin berdiam, sampai sekian lama, Baru ia bicara pula.

"Aku selalu ingat Siau Hui," katanya. "Aku telah kirim orang untuk sambut dia, mengapa kau menyingkir sana dan menyingkir sini, teurs kau tidak ijinkan dia bertemu denganku?"

An Toa-nio sangat jemu tapi ia menjawab juga.

"Aku telah beritahukan kepadanya bahwa ayahnya sudah lama menutup mata," jawabnya. "Aku bilang bahwa ayahnya ada gagah sekali dan bersemangat tetapi sayang dia pendek umurnya, mati muda-muda!"

"Ah, mengapa kau dustakan dia?" tanya An Tayjin, suaranya duka. "Mengapa kau sumpahi aku?"

"Ayahnya dahulu adalah satu pemuda yang bersemangat dan baik," kata An Toa-nio. "Keluargaku larang aku menikah dengannya, akan tetapi atas mauku sendiri, dengan diam-diam aku ikuti padanya, siapa tahu. "

Nyonya ini tak dapat bicara terus, ia menangis sesenggukan.

An Tayjin keluarkan sapu tangannya, akan susuti air mata isterinya, sembari menghiburi, ia dekati mukanya kepada muka si nyonya, atau mendadak dia menjerit seraya berjingkrak, mukanya mengucurkan darah, sebab An Toa- nio telah gigit padanya!

Sin Cie menyaksikan, diam-diam ia tertawa dalam hatinya.

An Tayjin susut mukanya, ia menjadi gusar. "Kenapa kau gigit aku?" dia menegur.

"Kau telah binasakan suamiku yang baik, kenapa aku tidak boleh gigit padamu?" jawab si nyonya, yang masih sengit. "Aku menyesal aku tak dapat bunuh padamu!"

"Ah, heran!...." kata An Tayjin. "Akulah suamimu, cara bagaimana aku bisa bikin celaka suamimu itu?" "Suamiku adalah satu laki-laki yang bersemangat!" kata An Toa-nio tetap sengit. "Entah kenapa kemudian dia kena kepincuk oleh harta-dunia dan kebesaran, dia tak kehendaki pula isterinya, dia tak perdulikan pula puterinya, dia cuma ingin pegang pangkat besar, ingin punya harta bertumpuk!... Suamiku dulu itu, yang baik hatinya, sudah mati, sudah mati, tak dapat aku lihat pula kepadanya. "

Sin Cie jadi sangat terharu. Beginilah kiranya lelakon hidup dari nyonya janda yang baik hati itu. Ia pun mau percaya, hati An Tayjin ini tentu tergerak.

An Toa-nio melanjuti kata-katanya. "Suamiku itu bernama An Kiam Ceng. Bukankah ia telah dibinasakan oleh kau, An Tayjin? Suamiku itu mempunyai guru silat yang berbudi, ialah Lokunsu Ciok Toa Too, akan tetapi ia kena dibinasakan oleh An Tayjin yang telah terpincuk pangkat dan harta. Dan isteri dan anak perempuan Ciok Lokunsu itu juga mati karena dipaksa oleh An Tayjin. "

"Berhenti!" An Tayjin membentak. "Aku larang kau sebut-sebut itu pula!"

"tapi manusia berhati serigala, berpeparu anjing, kau pikir saja sendiri!" An Toa-nio pun membentak.

"Pembesar negeri panggil Ciok Toa Too untuk ditanyai keterangannya," berkata An Tayjin ini, "belum pasti dia bakal dibikin celaka, maka kenapa ia gunai goloknya hendak membinasakan aku? Kalau isteri dan anak daranya bunuh diri sendiri, siapa yang mesti dipersalahkan?"

"Memang, memang Ciok Toa Too matanya buta!" seru An Toa-nio. "Kenapa dia didik satu murid yang demikian jempol? Murid itu telah kedinginan, ia kelaparan, ia tinggal mampusnya saja, akan tetapi Ciok Toa Too dengan sungguh-sungguh telah ajarkan ia ilmu silat, telah rawat ia hingga umur dewasa, malah kemudian ia telah dinikahkan..."

An Toa-nio jadi semakin sengit, hingga An Tayjin keprak meja.

"Hari ini kita suami-isteri bisa bertemu pula, mengapa kau timbulkan soal-soal lama?" tegurnya.

"Jikalau kau hendak bunuh aku, bunuhlah!" An Toa-nio menantang. "Aku hendak sebut-sebut pula semua kejadian dulu itu, habis apa kau mau?"

Sin Cie berpikir. Menurut An Toa-nio ini, jadinya An Kiam Ceng telah ditolong gurunya dari bahaya kedinginan dan kelaparan, lalu dididik, tapi setelah ia dapat berdiri sendiri, ia kemaruk harta dunia dan gila pangkat, hingga untuk itu, dia sampai binasakan gurunya sendiri, sampai keluarganya sang guru turut binasa semua karenanya. Maka itu, pantas An Toa-nio jadi gusar dan putuskan perhubungan suami-isteri dengannya. Dahulu An Toa-nio tinggal menyendiri, sampai Ou Lo Sam mencoba culik Siau Hui, lantas dia menyingkir sana dan menyingkir sini, rupanya dia mau menyingkir dari suaminya ini, satu manusia buruk.

"Dia ini harus menjadi bagian mati..." pikir Sin Cie terlebih jauh. "Ketika dahulu dia celakai gurunya sekeluarga, keadaan pasti sangat menyedihkan. Sayang tak dapat aku segera hajar dia mampus sekarang juga. Entah bagaimana pikiran yang sebenarnya dari An Toa-nio, maka tak dapat aku berlaku semberono. "

Karena ini, ia berdiam terus di atas penglari, akan pasang mata dan kupingnya lebih jauh.

Untuk sementara, suami-isteri itu berdiam masing- masing. Selagi kamar ada sunyi, tiba-tiba samar-samar terdengar suara tindakan kaki kuda, atas itu An Kiam Ceng geser ciaktay ke jendela, terus dia cabut goloknya, kemudian dengan pelahan dia mengancam: "Kalau sebentar orang datang, kau berani bersuara memberi tanda, untuk minta pertolongan, aku bakal tak perdulikan lagi perhubungan kita sebagai suami-isteri!"

An Toa-nio tidak jawab suaminya itu.

An Tayjin ketahui baik tabeat isterinya ini, maka ia potong sejuir kelambu, dengan itu ia sumpel mulut orang. Ketika suara tindakan kuda datang semakin dekat, Kiam Ceng angkat tubuh isterinya, untuk dipindahkan ke pembaringan, habis itu, kelambunya dia turunkan. Ia sendiri lantas saja sembunyikan diri di belakang pembaringan.

Sin Cie saksikan semua kejadian di depan matanya itu. Ia tahun An Kiam Ceng bersedia untuk bokong orang yang bakal datang ke dalam rumahnya An Toa-nio ini. Belum tahu siapa orang itu, tetapi pemuda kita menduga, dia mesti ada penolong si nyonya. Maka ia pun siap sedia akan tolongi An Toa-nio serta penolongnya nyonya ini.

Anak muda kita lantas kumpuli debu di penglari, lalu ia ludahi itu dan aduk-aduk hingga rata, hingga debu itu merupakan sepotong tanah lempung, kemudian tanpa bersangsi lagi, ia menimpuk ke arah lilin, hingga apinya padam seketika, hingga kamar jadi gelap-petang.

Di dalam hatinya, An Tayjin mengutuk

Dalam gelap-gulita itu, Sin Cie loncat turun dari atas penglari. Tak mau ia tunggu sampai si tayjin menyulut api pula. Ia bertindak ke pintu, untuk pergi ke luar, tanpa ada orang yang lihat padanya. Dengan mutar sedikit, ia sampai di ujung rumah dimana ada satu pahlawan kim-ie-wie

787 sedang mendekam dengan golok di tangan, matanya terus- menerus diarahkan ke pintu rumah.

Dengan hati-hati, Sin Cie merayap mendekati. "Ada orang!" kata ia dengan pelahan.

"Oh!..." pahlawan itu gugup. "Mendekam!" ia peringati kawan-kawannya.

Sementara itu, Sin Cie telah ulur tangannya, untuk menotok, maka di lain saat, pahlawan itu tak mampu bergerak lagi. Dengan cepat pemuda ini buka baju seragamnya orang itu, untuk ia pakai. Guna menutupi mukanya, ia robek bajunya orang itu. Ia menutup muka dengan kedua mata dibikin bisa melihat. Kemudian, dengan pondong tubuh si pahlawan, ia merayap ke samping pintu.

Di dalam gelap-gulita, suara derapnya kuda terdengar semakin nyata. Sebentar kemudian, lima ekor kuda telah sampai di depan rumah, lalu tujuh orang berlompat turun.

Segera terdengar tepukan tangan tiga kali, suaranya pelahan, datangnya dari luar rumah. Dari dalam, An Tayjin menyambut dengan tiga kali tepukan tangan juga. Habis itu, dia nyalakan lilin, ia sendiri segera sembunyi di belakang pintu.

Dibarengi dengan suara menjeblak daun pintu lantas terpentang sedikit, menyusul mana, satu kepala orang melongok ke dalam rumah.

Dengan sebat An Tayjin membacok, kepala orang itu kutung, darahnya menyembur dari lehernya, tapi kapan di antara cahaya api si tayjin mengawasi, ia terkejut bukan main. Ternyata orang yang ia bunuh ada orangnya sendiri, satu pahlawan kim-ie-wie. Karena ini, ia hendak menjerit, akan kaoki sekalian kawannya. Tiba-tiba, sebelum An Tayjin keburu buka mulut, satu orang berlompat masuk. Dia tutup mukanya dengan topeng. Cepat luar biasa, dia ulur tangannya ke tubuh si tayjin, hingga tayjin ini kena tertotok tanpa berdaya. Menyusul itu, dengan satu sampokan dengan tangannya yang lain, Sin Cie totok jalan darah "tay-twie-hiat" hingga An Tayjin berdiri tanpa bergeming. Lalu, bekerja lebih jauh dengan tidak kurang sebatnya, pemuda ini sambuti golok orang itu, untuk diletaki di lantai.

An Kiam Ceng pandai bugee, ia terima pendidikan untuk belasan tahun dari Ciok Toa Too, guru silat yang kesohor, kemudian setelah pangku jabatan, belum pernah ia alpa akan terus melatih diri, karena ia memikir untuk naik pangkat dan naik pangkat, ambekannya besar. Tapi, menghadapi Sin Cie, justru ia lagi kaget, ia tak dapat berdaya sama sekali, maka dengan gampang ia rubuh sebagai korban.

Setelah itu, Sin Cie lompat ke pembaringan, untuk kasi bangun pada An Toa-nio. Denga keluarkan sedikit tenaga, pemuda ini putuskan tambang belengguan di kaki dan tangan.

"Encim An, aku datang menolongi kau!" ia kata dengan pelahan kepada si nyonya, supaya nyonya itu ketahui dan tak kaget atau curiga.

An Toa-nio kaget berbareng girang. Ia kenali suaranya anak muda itu. Hanya ia terkejut akan saksikan orang punya seragam kim-ie-wie, sedang mukanya ditutupi topeng.

"Kau siapa, tuan?" tanyanya, ragu-ragu.

Baru nyonya itu menanya demikian, mendadakan ada dua bajangan yang melompat menerjang masuk ke dalam, bajangan itu masing-masing mempunyai dua tangan yang

789 berbulu, sedang mulutnya perdengarkan pekik. Terus saja mereka tubruk Sin Cie.

Anak muda ini terkejut, ia berbalik, untuk menangkis, akan tetapi kapan ia tampak kedua banjangan itu adalah orang-orang hutan, ia menjejak dengan kedua kakinya, akan mencelat naik ke penglari.

Di belakang kedua orang hutan itu menyusul lima orang, satu di antaranya, yang masuk paling dulu, sudah panggil An Toa-nio. Si nyonya menyahuti. Tapi orang itu lantas juga berdiri tercengang.

Sin Cie sendiri segera kenali, kedua binatang liar itu adalah dua orang hutannya yang ia pelihara di atas gunung Hoa San, hingga ia jadi sangat girang.

"Tay Wie! Siau Koay!" ia segera memanggil.

Kedua binatang itu telah dapat cium bau majikannya, maka itu keduanya mendahului menerjang masuk ke dalam, mereka tubruk si anak muda, bukan untuk diserang, tapi majikannya lompat naik ke penglari, atas panggilan itu, mereka pun turut menyusul ke atas penglari, keduanya peluki majikan itu.

Orang-orang yang menyerbu masuk itu heran melihat ada mayat pahlawan di dalam rumah itu, mereka juga tak mengerti sikapnya kedua orang hutan itu, maka juga, mereka tercengang.

Di luar, kawanan pahlawan kim-ie-wie lihat orang datang, mereka kuatirkan keselamatan An Tayjin, yang berada sendirian di dalam, maka itu, dua diantaranya lari ke pintu, untuk menerjang masuk.

"Hajar!" berseru Sin Cie. Ini ada seruan yang biasa si anak muda perdengarkan di waktu dia latih dua binatang piaraannya itu. Sudah lama kedua orang hutan itu tidak pernah dengar suara majikannya ini, toh mereka masih ingat dengan baik, maka keduanya lantas loncat turun, tepat di atasannya dua pahlawan, kedua kakinya merangkul, kedua tangannya menyambar ke lehernya masing-masing pahlawan itu. Maka itu, kapan terdengar suara meretek, patahlah leher hamba-hamba istana itu, tubuhnya dilepaskan dan jatuh.

Menyusul kedua pahlawan itu, menerobos masuk kawan-kawan mereka.

Sekarang Sin Cie sudah lompat turun, dia sambar sesuatu orang untuk dilemparkan kembali ke luar. Ada beberapa pahlawan, yang bisa melawan beberapa jurus, mereka pun akhirnya kena dilemparkan, ada yang kena ditoyor, ada yang kena ditendang. Maka di lain saat, semua pahlawan itu menjadi pusing kepala dan mata kabur, terpaksa mereka berbangkit bangun, untuk kabur.

Selama kejadian itu, lima orang yang tadi nerobos masuk diam saja menyaksikan juga kedua orang hutan.

Sin Cie robek bajunya satu pahlawan, ia pakai itu untuk belenggu An Kiam Ceng, untuk tutup mata dan kupingnya, agar dia tak melihat suatu apa, tak dengar apa juga, kemudian Baru ia singkirkan topengnya dan baju seragam, akan hadapi lima orang itu sambil bersenyum.

"Lie Ciangkun, banyak baik?" menegur dia sambil tertawa kepada salah satu orang. "Apakah Giam Ong pun ada banyak baik?"

Orang yang ditanya itu tercengang, ia mengawasi, akhirnya dia tertawa berkakakan, tangannya menyambar tangan si anak muda, untuk digoyang-goyang. Lie Ciangkun itu ada Lie Gam, orang sebawahannya Giam Ong.

Maka pertemuan itu sangat menggirangkan mereka semua.

"Encim An, apakah encim masih kenali aku?" tanya Sin Cie kemudian sambil berbalik, akan pandang nyonya An.

Sebelas tahun telah berselang sejak Sin Cie menumpang pada An Toa-nio, maka sekarang, setelah ia jadi satu pemuda yang cakap dan gagah, Toa-nio tidak bisa lantas kenali dia, hingga ia mesti asah otaknya.

Sin Cie rogoh sakunya, akan keluarkan gelang emas pemberian nyonya itu, sambil tunjuki itu kepada si nyonya, ia kata: "Setiap hari aku bawa-bawa ini di tubuhku, maka untuk selama-lamanya tak aku lupakan encim!"

Baru sekarang nyonya itu ingat betul, ia tarik tangan orang itu akan bawa muka si anak muda ke dekat lilin, hingga ia tampak samar-samar luka bekas golok di ujung alis sebelah kiri dari si anak muda.

"Ah, anak!" seru dia, kaget dan girang. "Kau telah jadi begini besar, ilmu silatmu liehay sekali?..."

"Aku pernah ketemu adik Siau!" Sin Cie bilang.

"Ya, tanpa merasa, anak-anak telah jadi besar," kata si nyonya, seperti pada dirinya sendiri. "Sungguh cepat lewatnya sang waktu!. "

Kemudian nyonya ini pandang suaminya, yang rebah di lantai, ia menghela napas.

"Tidak kusangka, anak, kaulah yang tolongi aku," kata dia pula.

Lie Gam tak tahu hubungan di antara si nyonya dan si anak   muda,   mendengar   nyonya   itu   berulang-ulang

792 menyebut "anak, anak", dia sangka mereka ada sanak dekat satu dengan lain.

"Kejadian ini sungguh berbahaya!" kata dia kemudian sambil tertawa. Lalu dia tambahkan pada Sin Cie: "Atas titahnya Giam Ong, aku datang ke Hoopak untuk bikin pertemuan dengan beberapa kawan. Entah bagaimana, liehay kupingnya kawanan kim-ie-wie, mereka dengar tentang kami, lantas mereka siap-sedia di sini untuk bokong kami."

"Apakah sahabat-sahabat itu telah pada datang?" Sin Cie tanya.

Itu waktu, sebelum Lie Gam menjawab, terdengar suara berlari-larinya beberapa ekor kuda.

"Nah, itulah mereka!" kata jendral ini.

Beberapa pengiring Lie Ciangkun pergi keluar, tidak lama mereka bersama tiga orang, yang masing-masing ada orang she Lee, Hoan dan Hau, semua jago dari Hoopak, dan dengan mereka itu, Sin Cie pernah bertemu di rumah Beng Pek Hui. Sesudah beri hormat pada Lie Gam, ketiga orang itu hampirkan Sin Cie, secara menghormat sekali, mereka menjalankan kehormatan kepada pemuda ini.

"Bengcu! Adakah bengcu banyak baik?" kata mereka. Heran Lie Gam menyaksikan itu.

"Kamu telah kenal satu pada lain?" tanya dia.

"Wan Bengcu adalah ketua pusat dari tujuh propinsi, kami semua mendengar titah-titahnya," sahut si orang she Hau.

"Oh, begitu?" kata jendral itu. "Untuk membantu Giam Ong, aku senantiasa sangat repot di Shoasay, sampai segala kabaran dari Timur seperti terputus bagiku. Aku tidak sangka telah terjadi musyawarah besar itu. Inilah menggirangkan, kamu harus diberi selamat!"

"Itu adalah kejadian Baru satu bulan yang lampau," terangkan Sin Cie. "Sekalian sahabat baik telah memandang mata padaku, mereka telah berikan aku itu macam panggilan. Sebenarnya aku masih terlalu muda, tak sanggup aku menerimanya. "

"Ilmu silat Wan Bengcu liehay dan ia cerdik dan cerdas juga," berkata si orang she Hoan. "Umpama kita tidak menyebutkannya tiga sifat itu, kemurahan hati dan pribudi tinggi bengcu siapakah di dalam dunia Rimba Persilatan yang tidak menghargainya?"

"Itulah bagus, bagus!"  kata Lie  Gam dengan  girang.

Kemudian dia utarakan titahnya Giam Ong.

Nyata Giam Ong telah melihat suasana, ia percaya bahwa telah datang saatnya untuk maju ke kota raja, maka ia merencanakan tanggal-bulannya untuk menyerang Tongkwan, dari itu, ia utus Lie Gam memasuki Hoopak secara rahasia, untuk menghubungi pelbagai kawan seperjuangan, supaya mereka itu nanti membarengi menyambut di waktu ia mulai angkat senjata.

"Nah, bagaimana bengcu niat bertindak?" tanya si orang she Lee.

"Gerakan Giam Ong ada gerakan mulia, orang-orang gagah di seluruh negeri harus menyambutnya," sahut Sin Cie. "Aku akan segera menyampaikan pelbagai berita ke segala penjuru. Ini adalah saatnya untuk semua enghiong di tujuh propinsi mendirikan jasa!"

Mereka menjadi girang sekali, begitupun Lie Gam, maka itu, mereka lantas pasang omong lebih jauh dengan gembira. "Tentara Beng telah jadi buruk sekali," menyatakan Lie Gam. "Aku percaya begitu lekas tentara kemerdekaan sampai, mereka bakal jadi seperti rumput-rumput kering yang dicabuti, usaha kita akan sama gampangnya seperti membelah bambu. Cuma sekarang muncul satu soal Baru, yang sulit. "

"Apakah itu, Ciangkun?" tanya Sin Cie.

"Baru saja aku terima laporan penting," jawab Lie Gam, "Aku dengar bahwa sepuluh buah meriam besar buatan asing hendak diangkat ke Tong-kwan, untuk diberikan kepada Sun Toan Teng. Orang she Sun itu memang pandai mengatur bala tentara, tapi dia masih kalah terhadap Giam Ong, yang berbahaya adalah itu sepuluh buah meriam yang hebat sekali. "

Terkejut Sin Cie mendengar keterangan itu.

"Siautee sendiri pernah lihat itu sepuluh buah meriam besar di tengah perjalanan," berkata dia. "Memang, dilihat dari macamnya, meriam-meriam itu mesti liehay sekali. Jadi itu bukan untuk dikirim ke Sanhay-kwan buat hajar bangsa Boan?"

Dari tempat jauh ribuan lie, meriam-meriam itu diangkut kemari, memang tujuan asalnya adalah Sanhay-kwan," sahut Lie Gam. "Akan tetapi tentang pergerakan Giam Ong, Kaisar Cong Ceng telah mendengar kabar, bahwa mereka rupanya telah ubah haluan. Menurut warta yang aku Baru terima, semua meriam itu hendak dibawa ke Tongkwan."

Sin Cie kerutkan alis.

"Memang adalah kebiasaan raja-raja Beng, mereka menjaga gerakan rakyatnya lebih hebat daripada mereka menjaga serangan-serangan bangsa asing," ia kata. "Kalau tidak demikian, tidak nanti ayahku terbinasa karenanya. Lie Ciangkun, bagaimana sekarang kau hendak bertindak?"

"Jikalau kita tunggu sampai meriam-meriam itu telah diangkut sampai di Tongkwan," mengutarakan Lie Gam, "penyerangan kita di sana adalah sama dengan darah- daging dipakai menggempur besi-baja, meski umpama kata kita tidak bakal kalah, sudah terang pengorbanan mesti besar sekali. "

"Kalau begitu, perlu kita mendahului, untuk merebutnya di tengah jalan!" Sin Cie bilang.

Lie Gam tepuk tangan saking girang.

"Saudara Wan," katanya, "dalam hal ini aku mengandal kepadamu untuk kau dirikan jasa istimewa!"

Tapi Sin Cie berdiam, ia berpikir keras.

"Senjata api dari bangsa asing itu sangat liehay, untuk rampas meriam-meriam besar itu, perlu kita menggunakan tipu-daya," katanya. "Sulit juga untuk ditetapkan dari sekarang apa ikhtiar kita bakal berhasil atau tidak. Tapi

ini adalah urusan sangat penting, aku nanti mencoba sebisa- bisanya. Semoga dengan mengandali rejeki Giam Ong, aku akan berhasil. Itu pun ada untuk kebahagiaan rakyat!"

Sampai di situ, mereka lalu bicara tentang gerakan tentara mereka, akan kemudian Lie Gam suruh salah satu pengiringnya keluarkan sebilah pedang dari dalam pauhok mereka. Itulah Kim-coa-kiam. Dengan kedua tangannya sendiri, Lie Gam serahkan pedang itu kepada Sin Cie.

"Saudara Wan," berkata dia, "sejak pertemuan kita di Siamsay, walaupun kita tak berkesempatan untuk bicara banyak, aku toh telah ketahui, kau adalah satu pemuda yang berarti, maka ketika kau titipkan pedangmu ini kepadaku, tidak pernah aku pisahkan diri dari senjata ini.

796 Sebenarnya ketika itu aku rada-rada sangsi, aku berkuatir untuk usiamu yang masih muda sekali, sebab kau kurang pengalaman. Jikalau kau berkelana dengan bawa-bawa pedang yang luar biasa ini serta dua binatang piaraanmu, aku kuatir kau menjadi terlalu menyolok mata, kau bisa diperdayakan atau dicelakai orang. Akan tetapi sekarang buktinya lain. Kau masih muda sekali tapi toh kau telah berhasil secara luar biasa! Maka sekarang pedang ini dan kedua orang-hutan aku kembalikan kepada tuannya!"

Dengan hormat, Sin Cie sambuti pedangnya itu, ia pun mengucap terima kasih.

"Isteriku telah dengar tentang kau, saudara Wan, ia menyesal tak dapat menemui kau," Lie Gam kata pula kemudian. "Ketika itu isteriku tidak berada di Siamsay, akulah yang memberitahukan dia."

"Satu kali pasti aku akan membuat kunjungan," Sin Cie bilang.

"Isteri dari Lie Ciangkun adalah orang gagah dalam kalangan wanita," An Toa-nio campur bicara. "Orang kangou beri ia julukan Ang Nio Cu. Dia tidak melainkan cantik, ilmu silatnya pun sempurna. Eh, anak, sudahkan ada orang yang menjadi cita-cita kawan hidupmu?"

Tiba-tiba saja Sin Cie ingat Ceng Ceng, wajahnya menjadi berubah merah. Ia tidak menjawab, ia cuma bersenyum.

"Entah nona siapa yang mempunyai rejeki untuk mendampingimu, anak," kata pula si nyonya sambil menghela napas. "Kau begini cakap dan gagah. Ah. "

Toa-nio lantas ingat gadisnya, hingga ia berpikir: "Siau Hui dan dia hidup sama-sama semasa kecil, berdua mereka pun telah sama-sama mengalami ancaman bencana, coba dia menjadi baba-mantuku, pasti hidupnya Siau Hui telah ada jaminannya. Sayang Siau Hui, dia justru mencintai Cui Hie Bin yang tolol-tololan! Dasar peruntungan masing- masing. "

Melihat orang bicara urusan pribadi, Hoan, Lee dan Hau tak ingin campur omong, maka mereka lantas berbangkit, untuk pamitan.

"Wan Bengcu," kata si Hoan, "besok pagi kami bertiga akan siapkan saudara-saudara kami untuk menantikan segala titahmu."

"Baik, samwie!" sahut Sin Cie.

Seberlalunya tiga orang itu, Sin Cie melanjuti pasang omong dengan Lie Gam, mengenai usaha mereka, mengenai sesama orang gagah, hingga persahabatan mereka jadi tambah kekal, hingga agaknya mereka menyesal tak bertemu terlebih siang daripada itu. Mereka bicara dengan asyik, sampai sang fajar datang, hingga ayam-ayam jago telah berkokok saling-sahutan.

Satu kali kedua orang ini menoleh kepada An Toa-nio, kelihatan nyonya itu, sambil bertopang dagu, lagi mengawasi dengan bengong kepada suaminya....

"An Toa-nio!" Lie Gam lalu memanggil, dengan pelahan.

Nyonya itu angkat kepalanya.

"Bagaimana hendak diperbuat terhadap orang ini?" Lie Gam tanya.

Nyonya itu masih kacau pikirannya, ia menggeleng kepala, tak dapat ia menjawab.

Lie Gam tahu orang sedang bingung, ia tidak mendesak menanya. "Saudara Wan, sudah waktunya kita berpisah," kata ia kepada Sin Cie.

"Aku nanti antarkan ciangkun," Sin Cie bilang.

Mereka manggut kepada An Toa-nio, lalu dengan bergandengan tangan, sambil berendeng, mereka bertindak keluar.

Pengiring-pengiringnya Lie Gam, serta kedua orang hutan, lantas mengikuti.

Di sepanjang jalan, masih saja kedua orang ini pasang omong, hingga mereka telah melalui tujuh atau delapan lie.

"Mengantar sampai seribu lie juga, akhirnya orang toh mesti berpisah," kata Lie Gam, "maka, saudara, silakan kau kembali."

Wan Sin Cie bersangsi, agak berat rasanya untuk ia pisahkan diri.

Mendadak, Lie Gam berkata: "Kita ada sahabat-sahabat Baru tetapi mirip dengan sahabat-sahabat kekal, maka jikalau kau tidak menampik, sukakah kau untuk kita angkat saudara?"

Sin Cie setuju, ia malah girang sekali. "Akur!" ia menyatakan.

Di situ juga, di tepi jalan, mereka berdua lantas menjalankan upacara angkat saudara, sebagai gantinya hio, mereka memakai tanah lempung. Sin Cie panggil koko atau kanda kepada jendral itu.

Habis itu, masih mereka bicara seketika lama sebelum mereka berpisahan, keduanya sangat terharu hingga mata mereka mengembeng air mata... Sin Cie awasi saudara itu dan pengiring-pengiringnya naik kuda, dan pergi, Baru ia ajak Tau Wie dan Siau Koay berjalan pulang ke hotel, begitu ia sampai, di sana Hoan, Lee dan Hau telah menantikan dia, bersama mereka bertiga ada beberapa puluh kawannya yang semua kelihatannya bersemangat. Karena itu, ruang besar dan perkarang hotel jadi seperti penuh dengan mereka itu. Sebaliknya Ceng Ceng, A Pa, Ang Seng Hay dan lainnya, tak tertampak di dalam hotel itu.

Berbareng dengan itu Sin Cie dapat kenyataan semua pengiringnya A Kiu berkumpul di dalam kamar mereka, mereka tidak kasi kentara apa-apa, tidak pernah ada yang keluar dari kamar. Rupanya mereka ambil sikap ini karena mereka tampak demikian banyak orang.

Sin Cie tahu, orang-orangnya si nona adalah pelbagai sie- wie atau pahlawan istana, ia pun tak perdulikan mereka.

"Hoan toako," kemudian ia kata kepada si orang she Hoan, yang bernama Hui Bun, "tolong kau ajak beberapa saudara pergi ke selatan akan cari tahu, orang-orang asing itu serta semua meriamnya menuju ke utara atau ke selatan. Harap kau lekas pergi dan lekas kembali!"

Hoan Hui Bun terima tugas itu, ia lantas pilih tiga kawan, yang ia ajak pergi keluar, lalu dengan menunggang kuda, mereka pergi menjalankan tugasnya.

Baru Hui Bun pergi, atau See Thian Kong muncul bersama Thia Ceng Tiok. Girang mereka lihat si anak muda, yang tak kurang suatu apa.

"Oh, Wan Siangkong, kau telah kembali!" kata mereka. Belum lagi Sin Cie sempat menyahuti, atau di situ muncul Ceng Ceng bersama A Pa, rambutnya si nona kusut bekas tertiup angin, mukanya bersemu merah. Nona itu tampaknya girang, akan tetapi lekas juga, dia kerutkan alisnya.

"Kenapa kau Baru kembali?" tanya dia, agaknya menyesali.

Sekarang Sin Cie tahu kemana perginya kawan-kawan itu, nyata mereka kuatiri ia dan pergi mencari. Ia terharu untuk Ceng Ceng, yang romannya kusut. Maka ia lantas ajak nona itu ke kamarnya dimana ia tuturkan pengalamannya tadi malam.

Ceng Ceng tunduk, tak sepatah kata ia ucapkan. Si anak muda lihat sikap orang itu.

"Aku telah membuat kau berkuatir," katanya dengan pelahan.

Masih Ceng Ceng diam, dia malah melengos.

Sin Cie tahu orang marah tapi ia tak tahu sebabnya. "Baru saja aku angkat saudara sama satu enghiong

besar," katanya kemudian. "Adik Ceng, kau dapat tambah satu koko. "

Karena kebiasaan, masih Sin Cie memanggil "adik" - adik lelaki - kepada si nona Hee. Panggilan ini agaknya menyukai Ceng Ceng.

"Satu koko sudah tidak punya liangsim, buat apa tambah koko lagi. " katanya.

"Aku bikin kau berkuatir, adik Ceng, baiklah, aku janji, lain kali aku tidak akan membuatnya pula," Sin Cie bilang. "Lain kali adalah lain orang yang akan kuatirkan dirimu!" kata si nona. "Kenapa aku mesti kuatirkan kau?. "

"Eh, siapakah dia itu?" Sin Cie tanya. Ceng Ceng tidak menyahut.

"Itu wanita asing!" sahut Ceng Ceng dan bangkit untuk banting kakinya, terus ia pergi ke kamarnya sendiri. Sampai tengah-hari, dia tidak keluar lagi, malah dia tidak dahar juga. Sin Cie perintah jongos bawakan barang makanan. Ia menduga-duga, kenapa nona itu agaknya gusar, ia mau menemui pula, untuk minta maaf kalau perlu. Ia percaya, si nona bermaksud baik sudah berkuatir atas dirinya. Tapi jongos kembali dengan barang makanan masih utuh.

"Si nona tidak ada di dalam kamarnya," kata jongos itu. Sin Cie terkejut.

"Inilah hebat," pikirnya. Maka ia letaki sumpitnya, ia lair ke kamar Ceng Ceng. Benar-benar ia dapati sebuah kamar kosong, kosong juga dari pauhok dan senjatanya si nona.

"Ha, kemana dia pergi?"

Dalam bingungnya, anak muda ini berpikir keras.

"Dia ngambek. Kemana dia pergi? Dia pandai silat, tetapi dia gampang menghadapi bahaya.... Aku lagi bertugas, bagaimana aku bisa susul dia?"

Akhirnya terpaksa pemuda ini keluar, akan minta tolong Ang Seng Hay pergi mencari. Dia pesan pengikut ini untuk Baru kembali setelah mengetahui jelas di mana adanya si nona.

Seng Hay terima tugasnya, dia lantas berlalu.

Mendekati magrib, Hoan Hui Bun pulang. Begitu memasuki pintu, dia kata dengan kesusu: "Benar-benar barisan meriam asing itu memutar ke selatan! Mari kita susul mereka!"

Sin Cie lompat bangun.

"Mari!" katanya. Ia cuma tinggalkan A Pa dan kedua orang-hutan, akan menunggui kamar, lantas ia ajak semua kawannya pergi menyusul. Thia Ceng Tiok, See Thian Kong, Ou Kui Lam dan Thie Lo Han turut bersama. Mereka kaburkan kuda mereka di malam yang gelap, terus- terusan. Mereka percaya, karena lerotan meriam jalannya ayal, mereka bakal dapat menyandak. Kemudian seterusnya di waktu malam, mereka singgah, untuk bersantap dan tidur, atau pagi-pagi sekali, mereka sudah berangkat pula.

Di hari ketiga, pagi-pagi, setelah lewati sebuah dusun kecil, Sin Cie beramai lihat sepuluh buah meriam besar sedang ditunda di depannya satu rumah makan, setiap meriamnya dijaga oleh enam serdadu dengan senapan di tangan.

"Sudah lapar, aku sudah lapar!" kata Thie Lo Han berulang-ulang.

"Baiklah, sebentar saja kita ketemukan dua opsir asing itu," jawab Sin Cie.

Berdelapan mereka hampirkan rumah makan, untuk terus naik ke loteng. Thie Lo Han adalah yang jalan di muka, tetapi begitu lekas dia muncul di atas loteng itu, dia keluarkan seruan tertahan.

Ceng Ceng berada di situ, beberapa serdadu asing sedang ancam dia dengan senapan mereka, jeriji tangan mereka mengenakan pelatuk, yang tinggal ditarik saja. Duduk di kursi ada Peter dan Raymond serta si juwita asing, Catherine. Menampak datangnya beberapa orang itu, Raymond mengucapkan kata-kata yang tak dimengerti Sin Cie beramai, atas mana beberapa serdadu lain yang tujukan senapan mereka kepada orang-orang yang Baru datang ini.

"Angkat tangan!" demikian kira-kira titah serdadu- serdadu itu, yang berseru.

Sin Cie sudah lantas bertindak, ia sambar sebuah meja, dengan apa ia terjang serdadu-serdadu itu, lalu ia menyusuli dengan meja yang kedua, setelah mana, ia lompat kepada Ceng Ceng, sambil tekan kepala si nona, ia mendek jongkok. Perbuatannya ini diturut si nona demikianjuga kawan lainnya.

Tembakan segera terdengar dar-der-dor, tetapi peluru semua lewat di atasan kepala, asapnya mengepul, antaranya ada juga yang mengenai meja.

"Turun!" teriak Sin Cie, sambil ia sendiri tarik Ceng Ceng, untuk diajak lompat ke tangga, untuk segera loncat turun, perbuatan mana diturut kawan-kawannya, yang pada loncat keluar dari jendela.

Raymond gusar, dia keluarkan pistolnya dengan apa dia menembak.

"Aduh!" teriak Thie Lo Han, yang tertembak kempolannya. Saking sakit, dia rubuh. Tapi See Thian Kong sambar ini kawan, untuk dibawa lari terus keluar, akan dilain saat mereka sudah kabur bersama kuda mereka.

Pada masa itu, senapan masih senapan model kuno, setelah dipakai menembak satu kali, tak bisa diulangi dengan cepat, selama serdadu-serdadu itu mengisi pula orang telah lari jauh, benar mereka bisa menembak pula tetapi tidak ada hasilnya.

Sin Cie duduk di atas seekor kuda bersama Ceng Ceng.

804 "Kenapa kau bentrok dengan mereka itu?" tanya pemuda ini.

"Siapa tahu. ?" sahut si pemudi, yang romannya jengah.

Sin Cie bisa duga orang malu, dia bersenyum, dia tidak menanya lagi, hanya dia larikan kudanya keras-keras, diikuti oleh semua kawan-kawannya.

Sesudah lari jauhnya dua-puluh lie lebih, semua orang tahan kuda mereka, untuk berhenti, akan beristirahat. Ou Kui Lam segera gunai pisau kecil, untuk tolong Thie Lo Han keluarkan peluru yang masuk ke dalam daging kempolannya, hingga dia ini berkaok-kaok dan mengumpat- caci kalang-kabutan, saking menahan sakit.

Terharu Ceng Ceng menampak "tersiksanya" kawan itu. Sebab ialah yang menjadikan gara-gara. Ia tarik Sin Cie ke samping, untuk kata dengan pelahan sekali kepada anak muda ini: "Siapa suruh dia dandan bagaikan siluman, bahunya dipertontonkan sekalian! Tak tahu malu. "

Sin Cie heran, tak mengerti dia. "Kau maksudkan siapa?" tanyanya. "Itu wanita asing!" sahut Ceng Ceng.

"Oh!" si anak muda heran. "Apakah halangannya dia denganmu?"

"Tak sedap aku pandang dia! Maka dengan dua potong uang, aku hajar rusak anting-antingnya!" jawab si nona.

Sin Cie tertawa geli.

"Ah, kau benar-benar jail!" katanya. "Habis?" Ceng Ceng tertawa.

"Opsir asing pecundangku itu segera kenali aku, dia lantas titahkan serdadu-serdadunya ancam aku dengan

805 senapan mereka. Tak mengerti aku apa katanya opsir itu, aku menyangka dia hendak tantang aku untuk adu pedang pula. Tentu saja, aku bersedia untuk sambut tantangan itu. Adalah waktu itu, kamu semua muncul!"

"Apa sebabnya kau keluar sendirian?" Sin Cie tanya. Wajah nona Hee bersenyum, atau sedetik kemudian,

wajah itu berubah menjadi keren.

"Hm, kau masih tanya aku?" baliki dia. "Apakah kau tak insyaf perbuatanmu sendiri?"

Tentu saja pemuda ini tak mengerti.

"Aku tidak mengerti," katanya. "Apakah yang aku telah perbuat?"

Ceng Ceng melengos, ia tak menjawab.

Sin Cie kenal tabeat orang, percuma ia menanya terus, tidak nanti nona ini ladeni dia. Ia anggap baiklah ia bersikap tak memperdulikannya terlebih jauh. Ia percaya, lama-lama si nona bakal timbulkan itu sendirinya. Maka ia menukar lain soal.

"Adik Ceng, senjata api asing itu demikian liehay, coba kau pikir, cara apa kita harus gunai untuk rampas meriam- meriam besar mereka itu?"

"Siapa bicara tentang ini?" tanya si nona, agaknya mendongkol.

"Baiklah, kalau begitu, aku nanti bicara sama See Thian Kong beramai saja," kata Sin Cie, yang terus putar tubuhnya.

Ceng Ceng tarik ujung baju orang.

"Aku larang kau pergi!" katanya. "Kita belum bicara habis. " Sin Cie tertawa, ia duduk.

Ceng Ceng berdiam sekian lama, Baru ia buka mulutnya. "Bagaimana dengan adik Siau Huimu?" tanya dia.

"Sejak itu hari kita berpisah, aku tak bertemu lagi dengannya," jawab Sin Cie. "Siapa tahu dia berada di mana sekarang?"

"Kau berdiam bersama ibunya, satu malam kamu bicara asyik sekali, seperti tak hendak berpisahan, tentu kamu bicarakan tentang dia...." kata nona dengan tabeat kukoay ini.

Mendengar ini, Baru sekarang Sin Cie sadar. Jadi nona Hee ini curigai dia.

"Ah, adik Ceng," katanya dengan sungguh-sungguh. "Apa mungkin kau masih belum mengerti sikapku kepadamu?"

Mukanya si nona bersemu merah, ia melengos pula. "Sejak sekarang dan selanjutnya, tak nanti aku berpisah

dari kau! Apakah sekarang hatimu tenang?" kata si pemuda.

"Habis, kenapa sih kau baik sekali dengan Siau Hui itu?" si pemudi tegasi, dengan pelahan sekali.

"Kenapa tidak?" jawab si pemuda. "Di waktu kecil, kita tinggal bersama. Selama itu, ibunya perlakukan aku baik sekali, ia pandang aku bagaikan puteranya sendiri. Tentu sekali, aku berterima kasih sangat kepada itu ibu dan anaknya. Lain dari itu, tidakkah kau lihat bagaimana rapatnya perhubungan di antara Siau Hui dengan murid- keponakanku?"

"Pemuda itu?" kata Ceng Ceng, yang memainkan bibirnya. "Orang demikian tolol dan tak ada kepandaiannya! Kenapa sih dia sukai ia itu?. "

807 Sin Cie tertawa.

"Tidakkah kwacay dan lobak disukai sesuatu orang?" kata dia. "Aku sendiri begini tolol dan tak punya guna, mengapa kau suka sekali kepadaku?"

Dengan tiba-tiba Ceng Ceng tertawa geli.

"Fui! Cis!" katanya. "Tak tahu malu! Siapa sih sukai kau?"

Sin Cie tidak menjawab, dia hanya bersenyum.

Habis itu, siraplah gelombang kecil, lalu keduanya jadi akur pula. Malah kali ini, makin rapatlah perasaan mereka satu pada lain.

Sin Cie kemudian tarik tangannya Ceng Ceng. "Mari kita dahar!" ia mengajak.

"Tunggu dulu," Ceng Ceng menahan. "Masih ada satu pertanyaan. Coba bilang, Nona A Kiu itu, cantik atau tidak?"

"Eh, apa sih hubungannya dia dengan aku?" si pemuda baliki. "Di mataku, dia ada seorang dengan kelakuan aneh. Aku pikir baiklah kita berhati-hati terhadapnya."

Ceng Ceng agaknya puas dengan jawaban ini, ia manggut-manggut.

Segera mereka kembali ke hotel, untuk berdamai sama See Thian Kong dan Thia Ceng Tiok beramai soal merampas meriam asing.

"Biar sebentar malam aku pergi membuat penyelidikan," Ou Kui Lam mengusulkan. "Kalau ada ketikanya, aku nanti curi beberapa buah senapannya. Atau dengan pelahan-lahan, aku nanti mencurinya semuanya, supaya selanjutnya tak usah kami jeri lagi terhadap mereka." "Usul ini baik," Sin Cie menyatakan akur. "Sebentar malam aku nanti temani kau."

"Buat apa kau keluar sendiri, bengcu?" kata See Thian Kong. "Baik siautee saja yang temani saudara Kui Lam."

"Aku berniat menyelidiki cara digunainya alat-alat asing itu," Sin Cie bilang. "Ini ada baiknya untuk kita, supaya setelah kita curi semua senapan mereka, kita lantas dapat menggunakannya. Tidakkah dengan demikian kita jadi bisa balik pakai senjata itu terhadap mereka sendiri?"

Semua orang setuju dengan pikirannya ketua ini.

Ceng Ceng tertawa, ketika ia kata: "Dia hendak lihat pula itu wanita asing yang cantik!"

Mendengar itu, semua orang tertawa.

Sin Cie bersenyum, dia antapkan orang goda padanya.

Lohor itu, Sin Cie berdua Ou Kui Lam naik kuda mereka, untuk kuntit barisan meriam asing itu dari kejauhan, sampai mereka itu singgah di sebuah hotel.

Lalu malamnya, kira-kira jam tiga, mereka datangi hotel, untuk segera loncat naik ke atas genteng.

Ou Kui Lam kalah dari Sin Cie dalam hal ilmu entengkan tubuh akan tetapi ia pun punyakan tubuh enteng bagaikan burung walet, tubuhnya lincah, gerakannya sebat.

Segera juga mereka dengar suara bentroknya senjata tajam, yang keluar dari sebuah kamar. Maka segera mereka hampirkan jendelanya kamar itu, untuk mengintai ke dalamnya. Hingga mereka dapat saksikan kedua opsir asing, Peter dan Raymond, sedang bertempur dengan hebat sekali.

Sin Cie heran akan dapatkan dua kawan itu bertempur satu pada lain. Ia pun berbareng perhatikan jalannya

809 pertempuran. Raymond hebat, desakannya keras sekali. Di sebelah dia, Peter sangat tenang, benar dia ini lebih banyak mundur, akan tetapi satu kali dia balas menyerang, tusukannya berbahaya sekali. Maka dengan lantas pemuda kita bisa duga, lagi sedikit waktu, Raymond bakal kena dikalahkan.

Pertarungan berjalan terus, sampai di saat sangat serunya, mendadak ujung pedang Peter menusuk ke kiri, selagi Raymond berkelit, pedang diteruskan ke arah tengah. Sibuk Raymond, sambil menarik pulang pedangnya, ia egos tubuhnya sambil miring. Tapi Peter gunai ketika ini, akan menyampok pedang lawan sampai pedang itu terlepas dari cekalan dan jatuh ke lantai, untuk dia injak dengan kakinya, sedang ujung pedangnya sendiri diancamkan ke dada lawan. Dia pun lantas ucapkan beberapa kata-kata, yang tak dimengerti Sin Cie dan Kui Lam.

Tubuhnya Raymond menggetar, terang dia sangat panas hati hingga dia keluarkan kutukan.

Karena orang diam saja, Peter jumput pedang lawannya, untuk diletaki di atas meja, lalu ia memutar tubuh, akan membuka pintu, buat pergi keluar.

Raymond masih sangat mendongkol, ketika ia sambar pedangnya, ia bulang-balingkan itu di dalam kamarnya. Tapi tidka l;ama, mendadak ia berhenti bermurang-maring. Rupanya dengan tiba-tiba saja ia dapat akal. Ia segera pergi keluar, akan kembali bersama sebatang sekop dengan apa ia lantas menggali satu lobang di lantai.

Sin Cie dan Ou Kui Lam berniat undurkan diri ketika mereka saksikan perbuatan aneh itu, hingga mereka lantas berdiam terus, untuk mengawasi terlebih jauh. Mereka menduga-duga, barang apa yang di simpan di dalam tanah itu. Raymond menggali terus, tanah galian dikumpulkan di kolong pembaringan. Dia membuat lobang dua kaki persegi, dalamnya kira-kira dua kaki juga. Kemudian dia ampar selimut tebal di atas lobang, untuk tutup lobang itu, di atas selimut, dia menguruki dengan tanah tipis-tipis, untuk selimutkan lobang rahasia itu. Di akhirnya, setelah tertawa mengejek beberapa kali, dia buka pintu, akan pergi keluar.

Sin Cie dan Kui Lam heran, tak dapat mereka lantas menduga maksud orang.

Tidak lama, Raymond telah kembali, di belakang ia, Peter mengikuti.

Segera Raymond mengucapkan kata-kata nyaring, atas mana, Peter main menggeleng kepala.

Sekonyong-konyong sebelah tangan Raymond melayang, menyambar ke samping muka Peter hingga menerbitkan suara keras. Barulah karena ini penghinaan, Peter menjadi gusar, hingga ia cabut pedangnya.

Tidak tempo lagi, keduanya kembali bertarung.

Beda daripada tadi, kali ini Raymond tidak berlaku ganas, sebaliknya, dia main mundur-mundur ke arah lobang yang ia gali.

Baru sekarang Sin Cie insyaf kelicikan orang, untuk berlaku curang. Jadinya Peter hendak dijebak. Sebenarnya ia tidak benci dua opsir asing itu, akan tetapi kelicinan Raymond membangkitkan sifat kejantanannya, maka ia lantas bersiap-sedia.

Selama itu, beberapa kali Raymond mencoba mendesak, tapi habis mendesak, ia lekas mundur, ada kalanya sampai dua tindak. Tak pernah ia berhasil dengan tikamannya. Peter selalu bisa menangkis, habis menangkis, segera ia membalas.

Tidak pernah Peter menduga atas kecurangan lawan, ia maju setiap kali orang mundur, sampai mendadak, kaki depannya kena injak lobang jebakan, hingga tak dapat dicegah lagi, dia kejeblos, tubuhnya ngusruk ke depan. Dan membarengi itu, Raymond, yang lompat ke samping, segera tikam bebokongnya!

Berbareng dengan itu juga Sin Cie telah berlompat masuk sambil menolak jendela, ujung pedang Kim Coa Kiam dipakai menggaet pedang Raymond, untuk terus ditarik, hingga opsir ini gagal dengan bokongannya itu, tubuhnya turut tertarik juga sedikit!

Peter lolos dari bahaya, dia lantas berlompat.

Oleh karena usahanya dibikin gagal, Raymond jadi sangat gusar, tanpa bilang suatu apa, ia tusuk Sin Cie.

"Hm!" pemud akita kasih dengar suaranya, seraya menangkis, hingga ujung pedang opsir itu kena dipapas kutung, apabila ia melakukan pembalasan, dengan menyabet bolak-balik, hingga Raymond sibuk menangkis, saban-saban ujung pedangnya opsir ini kena dibikin putus pula, hingga akhirnya, pedangnya yang panjang telah menjadi pendek!

Baru sekarang Raymond berhenti beraksi, dia berdiri bengong

Sin Cie tidak berhenti sampai disitu, selagi orang tercengang, ia maju sambar sebelah lengannya opsir curang itu, untuk angkat tubuhnya, buat dilemparkannya ke dalam lobang buatannya sendiri, kepalanya di bawah, kakinya di atas, menyusul mana, dia lompat keluar jendela, untuk angkat kaki.' Ou Kui Lam sambut kawannya itu, ia tertawa. Ia terus mengikuti.

"Wan Siangkong, kau lihat!" kata dia.

Sin Cie dapatkan sang kawan menyekal tiga buah pistol. "Dari mana kau peroleh ini?" tanyanya.

Si malaikat pencuri menunjuk ke arah jendela. Nyatalah tadi, selagi si anak muda lompat masuk, dia mengikuti, dengan sebat dia sambar senjata-senjata api itu.

"Tidak kecewa julukan Seng-chiu Sin-tau!" Sin Cie memuji.

Tidak ayal lagi, mereka lari pulang.

Di rumah penginapan, See Thian Kong semua asyik menunggui, mereka girang melihat pulangnya dua orang ini, kemudian semua orang bergirang mendengar keterangan mereka berdua.

Ceng Ceng sambuti sebuah pistol, nampaknya ia sangat ketarik, ia lihat itu sambil dibulak-balik, sampai di luar tahunya, dia kena tarik pelatuknya.

"Dar!" demikian satu suara nyaring, disusul sama mengepulnya asap.

See Thian Kong duduk di depan nona ini, dia terkejut, cepat-cepat dia berkelit, tetapi tidak urung, ikat kepalanya kena juga kesambar peluru hingga berlobang dan hangus.

Ceng Ceng kaget tak terkira. "Maaf!" ia memohon.

See Thian Kong ulur lidahnya. "Sungguh liehay!" katanya. Karena ini, orang periksa dua batang pistol lainnya, yang masih terisi patronnya.

"Obat pasang adalah bangsa kita yang mendapatkannya," berkata Sin Cie. "Kita pakai itu untuk membuat petasan atau memburu binatang liar, akan tetapi bangsa asing gunai untuk membunuh sesamanya! Barisan asing itu terdiri dari seratus serdadu, itu artinya seratus buah senapan mereka tidak boleh dipandang enteng."

Karena ini, semua orang lantas berpikir.

"Wan Siangkong, aku mempunyai satu pikiran, etah dapat dipakai atau tidak," berkata Ou Kui Lam. "Inilah ada semacam akal iblis. "

"Memang kau tak dapat pikirkan hal yang wajar!" tertawa Thie Lo Han.

"Coba utarakan itu, Ou Toako, nanti kita pikir bersama," kata Sin Cie.

Ou Kui Lam tidak berayal untuk beber tipunya, mendengar mana Ceng Ceng adalah yang paling dulu bertepuk tangan dan memujinya. "Benar-benar bagus!" puji Thian Kong dan yang lainnya juga.

Sin Cie pikirkan daya yang diusulkan itu, akhirnya ia nyatakan setuju. Akal itu berbahaya tetapi ada harganya. Maka itu, ia lantas mengatur orang, untuk mewujudkannya.

Ketika itu di hotel dimana tertara asing singgah, permusuhan di anatara Raymond dan Peter telah dihentikan. Gara-gara adalah disebabkan kedua opsir itu perebuti Catherine. Sebenarnya Peter dan Catherine menyinta satu pada lain, lalu Raymond menyelak. Karena Raymond ada sepnya, Peter mengalah, selanjutnya dia jaga diri baik-baik saja. Besoknya pagi, perjalanan dilanjuti, sampai di dusun Ban-kong-cun dimana penduduknya terdiri dari dua sampai tiga-ratus rumah. Mereka mondok di rumah abu keluarga Ban. Karena mereka singgah sesudah magrib, tidak lama kemudian, semua lantas masuk tidur.

Tepat pada tengah malam, mendadak terdengar suara berisik, lalu serdadu jaga melaporkan bahwa ada bencana api di dalam kampung.

Peter dan Raymond segera bangun, mereka lantas lihat, api berkobar, mendatangi dekat ke arah pondok mereka.

"Lekas!" kedua opsir itu menitah, untuk serdadu- serdadunya angkut mesiu keluar rumah abu, buat dikumpulkan di tanah kosong.

Banyak orang kampung datang bersama tahang air dan lainnya, untuk padamkan api, sedang beberapa puluh di antaranya lantas membanjuri rumah abu itu.

Raymond membentak, untuk mencegah. Dia tanya, kenapa orang sirami rumah abu itu.

Beberapa puluh orang itu memberi keterangan kepada Cia Thong Su, si juru bahasa, atas mana, dia ini kata kepada opsir itu: "Rumah ini ada rumah abu keluarga mereka, katanya perlu rumah ini dibanjur guna mencegah api nanti merembet kemari."

Alasan itu pantas. Raymond tidak melarang lebih jauh.

Akan tetapi orang kampung yang menyiram itu tidak teratur, mereka siram sana dan siram sini, mereka siram juga mesiu.

"Jangan!" berseru beberapa serdadu asing, yang mencegah, malah sampai mereka gunai gagang senapan, untuk kemplang orang-orang kampung itu, akan tetapi, pergi yang satu, datang yang lain, saban-saban mesiu disiram, malah ada serdadu asing juga yang disiram sehingga keadaan jadi kalut sekali.

Tidak antara lama, tidak melainkan mesiu, juga semua senapan dan meriam kebasahan anteronya, sebab cara menolong itu, dan api pun dapat dibikin padam.

Sampai terang tanah, setelah kekacauan itu, Raymond dan Peter jadi tidak tenteram hatinya. Mereka merasa, tempat itu tak aman untuk mereka, sehingga mereka memikir lebih baik mereka lekas berlalu dari situ. Di saat mereka hendak memberi titah, datanglah laporan oleh satu opsir sebawahan bahwa binatang penarik kereta, entah kenapa, telah kabur semuanya, mungkin kaburnya sejak tadi malam.

"Celaka!" menjerit Raymond, yang dalam murkanya, telah cambuki orang sebawahannya itu, yang pun ia caci.

"Coba cari dan kumpuli," kemudian Raymond titahkan Cian Thong Su, si jurubahasa.

Thong Su ajak beberapa serdadu asing masuk ke kampung, untuk mencari, maksudnya ini sia-sia belaka, bukan saja binatang mereka sendiri, kuda dan keledai orang kampung pun tak ada barang seekor jua. Rupanya binatang piaraan orang kampung itu telah diumpetkan.

Dalam mendongkol dan habis akal, Raymond titahkan Peter bersama Thong Su dan empat serdadu pergi ke kota, untuk beli binatang penarik meriam itu. Peter pergi dengan ajak Catherine, sehingga ia membuat sepnya itu tambah mendongkol.

Seberlalunya Peter, Raymond perintah serdadu- serdadunya bekerja, untuk keluarkan semua mesiu, untuk dijemur di tegalan, dengan diampar di atas tikar. Matahari hari itu bagus, setelah sore, semua mesiu sudah kering. Semua meriam dan senapan pun telah disusuti habis airnya. Maka itu, datang saatnya untuk simpan rapi pula semua mesiu itu.

Benar di saat semua serdadu hendak bekerja, mendadak datang menyambar beberapa puluh batang panah api, yang datangnya dari rumah-rumah penduduk yang berdekatan. Kalau mesiu bertemu api, gampang diramalkan apa kesudahannya.

Sekejab saja, nyalalah mesiu itu, sehingga di antara suara berisik, asap pun mengepul-ngepul, sehingga semua serdadu jadi kaget. Tapi di bawah pimpinan keras dari Raymond, mereka mencoba menolong sebisa-bisanya. Raymond juga perintahkan menembak ke arah rumah-rumah penduduk itu, dari mana lantas kabur beberapa puluh orang, yang menghilang di antara pepohonan lebat.

Kapan kemudian Raymond bikin pemeriksaan, delapan bahagian mesiunya telah musnah terbakar, sehingga ia jadi sangat mendongkol dan bersusah hati. Karena ini, ia atur penjagaan kuat.

Selang tiga hari, Peter dan Cian Thong Su balik bersama beberapa puluh ekor keledai dan kuda, yang mereka dapati di kota, lantas dengan itu, Raymond lanjuti perjalanannya. Kepada Peter sep ini tuturkan serbuan panah api oleh orang-orang yang tidak dikenal, sehingga mereka nampak kerugian besar.

Perjalanan dilakukan terus menerus untuk empat atau lima hari, sampai mereka mesti melalui satu jalanan sukar, jalanan pegunungan yang sempit dan sangat tak rata. Jalanan pun menurun.

Raymond dan Peter mesti bekerja keras. Setiap meriam diikat keras, sepuluh serdadu diperintah pegangi ujung

817 dadung, untuk dipakai menahan, supaya meriam-meriam menggelinding turun dengan pelahan-lahan. Kalau tidak, semua meriam bakal langsir ke bawah dan ringsek.

Selagi semua serdadu asing itu bekerja keras, tiba-tiba datanglah serbuan anak panah, yang datangnya dari kiri dan kanan, dari tempat-tempat sembunyi. Sebentar saja, beberapa serdadu rubuh sebagai korban. Yang hebat adalah waktu anak-anak panah mengenai keledai dan kuda, saking kesakitan, semua binatang itu kabur, mereka menarik dengan kaget semua meriam, tanpa serdadu-serdadu yang menahan dapat mencegahnya. Maka di lain saat, semua meriam jatuh ke lembah, bertumpuk dan rusak, bercampur sama bangkai sejumlah keledai dan kuda, berikut mayatnya sejumlah serdadu juga.

Maka dalam sekejab, habislah semua sepuluh buah meriam besar itu.

Raymond dan Peter kaget bukan kepalang. Saking kaget dan takut, Catherine jatuh pingsan. Tapi masih kedua opsir ini bisa memberi perintah untuk sisa serdadunya bikin perlawanan.

Musuh tidak dikenal itu sembunyi rapi, tidak ada peluru yang bisa mengenai mereka, tidak demikian semua serdadu, yang cuma pada mendekam atau tengkurap, sehingga mereka merupakan sasaran dari anak-anak panah musuh.

Selama dua jam, masih tak dapat tentara asing itu melepaskan diri dari kepungan.

"Mesiu kita tinggal sedikit, kita mesti menerjang!" akhirnya Raymond kata.

"Baik, suruh Cian Thong Su tanyakan, apa maunya orang-orang jahat itu," Peter usulkan. "Bikin pembicaraan sama bandit?" Raymond membentak. "Apakah artinya itu? Jikalau kau tidak berani, nanti aku yang maju!"

"Bandit menggunai panah, buat apa unjuk kegagahan tak ada perlunya?" kata Peter.

Raymond mendelu bukan main. Ia menoleh pada Catherine, lalu ia berludah.

"Cis! Pengecut, pengecut!" katanya. Mukanya Peter menjadi pucat-pias.

"Baik, sekarang aku tak sudi layani kau," katanya dengan pelahan. "Kalau nanti bandit-bandit sudah dipukul mundur, kau lihat apa adanya pembayaranku untuk hinaan ini!. "

Raymond lantas lompat maju.

"Siapa yang berani, hayo turut aku!" ia berseru.

"Hai, kolonel, apakah kau cari mampusmu?" Peter berseru. Ia kaget, ia ingin mencegah.

Tidak ada satu serdadu juga, yang hendak telad pemimpin itu, yang telah jadi nekat.

Raymond maju sambil cekal pistolnya, ia jalan Baru beberapa tindak, lantas ia rubuh, jiwanya putus, karena sebatang anak panah tepat mengenai dadanya, nancap dalam.

Peter dan tentaranya melakukan perlawanan sambil umpetkan diri, mereka bisa cegah pihak penyerang datang dekat kepada mereka. Sudah satu hari dan satu malam mereka bertempur, dari pihak negeri, tidak ada datang bala- bantuan.

Di waktu itu memang ada sangat sukar untuk minta bantuan   dari   pemerintah   Beng,   yang   sudah   buruk keadaannya. Untuk surat-menyurat saja, dibutuhkan tempo berhari-hari.

Maka di hari kedua, magrib, setelah semua serdadu kelaparan, kepala mereka pusing, mata mereka berkunang- kunang, dengan terpaksa mereka kerek naik bendera putih, untuk menyerah.

"Kami menyerah! Menyerah!" Thong Su berteriak berulang-ulang.

"Letaki senjata api semua!" ada syaratnya penyerbu. "Kami tak dapat lakukan itu!" sahut Peter.

Pihak penyerang lantas berdiam, mereka juga tidak menyerang lagi.

Setelah sirap sekian lama, di waktu angin mendesir, angin itu ada membawa bau makanan wangi dan lezat menyerang hidungnya semua serdadu asing itu, selagi mereka ini sangat lelah, ngantuk dan lapar. Tanpa perkenan dari Peter lagi, semua serdadu lemparkan senapan mereka, semua lari keluar dari tempat sembunyi.

Peter jadi habis daya, terpaksa ia keluarkan perintah penyerahan.

Semua serdadu tumpuk senapan mereka, habis itu mereka berteriak-teriak minta makanan.

Menyusul itu terdengar suara terompet nyaring dari pihak penyerbu, dari kedua lamping bukit muncul beberapa ratus orang yang romannya keren, dengan panah siap untuk dilepaskan, semua panah diarahkan kepada tentara asing itu. Delapan atau sembilan pemimpin mereka ini, dengan pelahan, bertindak ke arah musuh.

Peter lihat orang yang pertama maju adalah seorang dengan baju panjang, siapa ia kenali adalah orang yang di dalam hotel tolongi ia dari bokongannya Raymond. Di samping pemuda ini ada satu pemuda lain, ialah si nona yang menyamar sebagai seorang pria, yang kopiahnya pernah ditembak Raymond.

"Hai, itu kawanan tukang sulap!" Catherine berseru. Peter lantas cabut pedangnya, ia maju beberapa tindak,

dengan kedua tangannya, ia lintangi pedangnya itu. Itu

adalah tanda menyerah. Dan tak malu ia akan menyerah terhadap seorang sebagai Sin Cie - demikian si anak muda.

Mulanya Sin Cie tercengang, tapi segera ia insyaf tanda menyerah orang. Lantas ia goyangi tangan, ia kata pada Cian Thong Su: "Bilang padanya, jikalau pihak asing datang dengan meriam-meriam untuk bantu Tiongkok membela tanah-daerah, untuk lawan penyerangan pihak asing, kami akan bersyukur, kami akan pandang mereka sebagai sahabat.

Thong Su salin pengutaraan itu kepada Peter. Opsir asing ini angguk-angguk kepala, kemudian ia ulur tangannya, untuk jabat tangannya Sin Cie.

"Tetapi jikalau kamu pergi ke Tong-kwan, untuk bantu kaisar membunuh rakyat, pasti aku tidak mengijinkannya!" Sin Cie kata pula.

Thong Su salin pula kata-kata ini.

"Apakah kami hendak dipakai untuk serang rakyat Tiongkok? Inilah aku tidak ketahui," Peter bilang.

Sin Cie lihat orang beroman sungguh-sungguh, maka ia percaya keterangan itu dan ia menambahkan: "Sekarang ini rakyat Tiongkok bersengsara sampai mereka tidak punya nasi untuk didahar, mereka mengharap-harap ada orang yang pimpin mereka, untuk merubuhkan raja, untuk menyingkir dari kesengsaraan ini. Raja ketahui ini, dia

821 ketakutan, dari itu, dia telah perintah kamu gunai meriam- meriammu untuk labrak rakyat."

Kelihatannya Peter tertarik simpatinya.

"Aku juga asal orang melarat, aku tahu apa artinya kemiskinan," ia bilang. "Sekarang aku telah mengerti duduknya hal, aku akan segera berangkat pulang ke negeriku."

"Bagus! Sekarang pergi bawa tentaramu!" Sin Cie bilang. Peter lantas keluarkan perintah, akan kumpul tentaranya.

Sin Cie pun titahkan pihaknya menghidangkan barang makanan dan arak untuk tentara asing itu, sampai mereka telah dahar puas.

Peter angkat tangannya, untuk kasih hormat pada Sin Cie, habis itu, ia beri titah untuk tentaranya mulai berangkat.

"Kenapa kamu tidak bawa senjatamu?" Sin Cie tanya. Thong Su salin kata-kata itu.

Peter menjawab: "Itulah hasil kemenanganmu. Kamu telah merdekakan kami, untuk itu kamu tidak minta uang tebusan, itu saja telah membuat kami bersyukur untuk kebaikan hatimu."

Sin Cie tertawa.

"Kamu telah kehilangan meriam, apabila kamu pulang tanpa senapan, mungkin kamu ditegur seatasanmu," katanya. "Pergilah kamu bawa!"

"Apakah kamu tidak takut kami nanti pakai senapan itu untuk tembak kamu?" Peter tanya.

Sin Cie tertawa berkakakan. "Kalau satu laki-laki telah mengucapkan suatu kata-kata itu tidak dapat dicandak empat ekor kuda!" ia bilang. "Kami putera-putera Tiongkok ada bangsa laki-laki, maka setelah kami percaya kamu, mustahil kami balik mencurigai?"

Peter jadi kagum dan terharu.

"Baiklah," kata ia, yang terus perintah barisannya ambil senapan mereka, sesudah mana, ia ajak mereka berlalu.

Di sepanjang jalan mendaki, Peter terus kagumi anak muda kita. Jalan belum jauh, tiba-tiba ia perintah barisannya berhenti, ia sendiri ajak Thong Su kembali pada Sin Cie. Ia keluarkan satu bungkusan dari sakunya.

"Kau ada baik sekali, aku mempunyai serupa barang untuk dihaturkan kepadamu!" kata dia, untuk mana, dia minta Thong Su salin kata-katanya.

Sin Cie sambuti bungkusan itu, untuk dibuka. Itu adalah selembar kertas tebal. Ia buka itu, untuk dibeber, hingga ia tampak peta bumi, peta dari sebuah pulau. Karena di sana- sini ada tanda-tanda dalam huruf asing, ia tak mengerti.

"Inilah satu pulau besar di laut selatan," Peter bilang, "terpisahnya seribu lie lebih dari darat. Hawa udara di atas pulau hangat, polowijonya subur. Aku sendiri pernah pergi ke sana."

"Apakah maksudmu memberikan peta ini kepadaku?" Sin Cie tanya.

"Daripada kamu berperang di sini dengan bersusah- payah, lebih baik kau ajak rakyat yang bersengsara, yang tak punya makanan, pergi ke pulau itu," Peter jawab.

Mendengar ini, Sin Cie tertawa dalam hatinya.

"Sebagai orang asing, hatimu baik," pikir dia, "tetapi kau tidak tahu, negara kita berapa luasnya, rakyat kita berapa juta banyaknya, maka tidak perduli berapa besarnya pulau itu, tidaklah itu cukup besar untuk tampung kami semua!" Tapi ia tanya: "Apakah pulau itu tidak ada penduduknya?"

"Ada waktunya bajak-bajak bangsa Spanyol berdiam di sana, ada waktunya kosong sama sekali, "Peter terangkan. "Aku percaya kamu tidak akan jeri terhadap bajak-bajak Spanyol itu."

Melihat orang benar bermaksud baik, Sin Cie haturkan terima kasihnya. Ia terima peta itu, untuk disimpan. Kemudian dia ambil selamat berpisah dari Peter.

Cian Thong Su hendak ikut opsir asing itu, selagi ia putar tubuhnya, Ceng Ceng sambar kuping orang itu; nona ini kata: "Jikalau lain kali aku ketemukan kau banyak tingkah dan berani menghina pula sesama bangsa kita, hati-hatilah jiwa anjingmu!"

Thong Su menahan sakit.

"Lain kali aku tidak berani pula. " jawabnya.

Sin Cie lantas ajak kawannya pergi turun ke lembah, untuk periksa meriam-meriam besar itu, yang rusak tak keruan, maka sekalian ia suruh pendam itu.

Kemenangan ini menggirangkan Sin Cie semua, maka itu hari bersama Hoan Hui Bun beramai, ia mengadakan pesta besar, kemudian, besoknya, Baru ia berkumpul bersama A Pa, Ang Seng Hay, untuk lanjuti perjalanan mereka ke Utara, ke Pakkhia.

Kali ini Ou Kui Lam adalah yang berjasa, karena semua itu ada atas buah pikirannya, hingga orang puji dia dan tak lagi ada yang pandang enteng kepadanya, yang asal pencuri...

0o-d.w-o0